Ekonomi Kerakyatan versus Ekonomi Neoliberal

advertisement
Ekonomi Kerakyatan versus Ekonomi Neoliberal
Nazamuddin
The Aceh Institute
Ekonomi kerakyatan seringkali diplesetkan ke dalam bahasa Aceh menjadi “ekonomi
keu-rakyat-tan” (bermakna suatu kebijakan ekonomi yang tidak tidak bermanfaat bagi
rakyat kebanyakan). Apakah ini sekedar plesetan atau lebih jauh merupakan kekecewaan
dari banyak anggota masyarakat atas ketidakadilan pembagian “kue” ekonomi selama ini.
Maka, tidak mengherankan jika akhir-akhirnya isu ekonomi kerakyatan sebagai sebuah
ideologi ekonomi muncul kembali seiring dengan munculnya diskursus tentang sistem
ekonomi neoliberalisme, terutama ketika ekonomi Boediono dipilih oleh SBY sebagai
pendampingnya dalam Pemilihan Presiden Indonesia pada Juli mendatang.
Ekonomi neoliberal? Siapa takut? Barangkali isu mengenai system ekonomi Indonesia
memang belum tuntas. Terdapat beragam tafsir (ambiguity) tentang system ekonomi
Indonesia, sehingga sampai ke daerah pun penafsiran masing-masing daerah tentang
system ekonomi yang mesti dijalankan berbeda-beda. Di satu sisi, Undang-undang Dasar
RI 1945 mengamanatkan “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas
azas kekeluargaan”, “Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”, dan “Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Tapi di sisi lain, kita melihat begitu banyak kebijakan ekonomi yang lebih memihak
kepada “orang sedikit” (minoritas orang kaya yang kapitalis), bukan “orang banyak”
(mayoritas kaum pekerja). Perlakuan-perlakuan istimewa, baik dari sudut aturan, maupun
dari sudut privilege diberikan kepada pemilik modal besar, khususnya mereka yang dekat
sekali atau dalam lingkaran kekuasaan. Maka de facto kapitalisme menurut sebagian
orang adalah system ekonomi yang dianut oleh Indonesia, kendati de jure sebenarnya
system ekonomi Indonesia berwatak sosialis. Dalam banyak buku tentang ekonomi
kerakyatan, selaku disebutkan bahwa koperasi merupakan sokoguru perekonomian dan
merupakan bentuk paling kongkrit dari usaha bersama. Juga disebutkan bahwa roda
perekonomian digerakkan tidak semata-mata oleh rangsangan ekonomi, melainkan juga
oleh rangsangan social dan dan moral. Sifat egalitarian (pemerataan) semestinya
merupakan cerminan dari kehendak kuat dari masyarakat, serta nasionalisme menjiwai
setiap kebijaksanaan ekonomi. Tapi itu semua lebih sering terlihat dalam literatur
akademik dan menjadi wacana diskusi ilmiah kaum teknokrat. Sementara dalam dunia
nyata kaum birokrat berkoalisi (lebih tepatnya berkolusi) dengan kaum kapitalis dan
borjuis mengakumulasi kekayaan (wealth). Maka, terjadilah keadaan si kaya semakin
kaya, si miskin semakin miskin.
Ketimpangan distribusi pendapatan (equity) menjadi isu penting yang dijadikan
argumentasi melawan mereka yang sangat antusias dengan pertumbuhan (growth). Mana
lebih penting pertumbuhan atau pemerataan. Mana lebih penting membesarkan kue dulu,
baru kemudian membaginya, atau biarkan kue yang masih kecil langsung saja dibagi rata.
Risiko membagi kue yang masih kecil adalah kue masing-masing lama mengembang
menjadi besar. Bagi sebagian orang, kue perlu diperbesar dulu. Maknanya, kejarlah
pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, tentu tak dapat dihindari kebijakan ekonomi
yang kurang egaliter, seraya pada waktu yang bersamaan meluncurkan program-program
penyejuk hati sejenis BLT, Askeskin, Jamkesmas, dan sejenisnya. Tidak lupa juga
program beasiswa pada berbagai jenjang pendidikan untuk anak-anak dari keluarga
miskin. Tidak lupa juga proyek-proyek yang dapat menyerap tenaga kerja yang banyak,
walaupun mungkin tidak segera mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan cepat.
Kembali kepada sistem ekonomi. Indonesia sebagaimana banyak negara lain di dunia
dewasa ini menganut sistem ekonomi campuran (mixed economy). Sebuah sistem
ekonomi campuran adalah gabungan kapitalisme dan sosialisme di mana kepemilikan dan
kontrol sumber-sumber ekonomi sebagian dikuasai oleh swasta dan sebagian lagi oleh
pemerintah. Ada swasta yang berkembang bebas, tapi ada juga BUMN dan BUMD.
Hanya saja masalahnya adalah ada swasta yang dimanjakan, ada swasta yang
dianaktirikan. Ada yang terlalu besar, ada usaha kecil dan menengah ”bak kerakap
tumbuh di batu”, hidup segan, mati tertunda dulu. Lain pula halnya BUMN, sering
menjadi sapi perahan si penguasa dan manajemen yang tidak baik. Lain lagi BUMD,
setiap tahun mendapat suntikan dana dari anggaran daerah, tapi setiap tahun pula
mengalami kerugian. Kemana dana-dana itu?
Bagi rakyat yang penting ada peluang usaha, ada peluang kerja, ada infrastruktur yang
baik, dan ada keadilan ekonomi. Barangkali tidak benar juga kalau ada yang mengatakan
banyak usaha kecil dan menengah tidak berkembang karena kurang modal. Mungkin ya
sampai batas tertentu, tapi kelemahan dalam kewirausahaan (enterpreneurship) dan
kecakapan bisnis adalah juga faktor penting. Tapi yang terakhir ini jarang dilakukan.
Lebih sering adalah kebijakan pemerintah menyediakan kredit bersubsidi yang di banyak
negara umumnya kebijakan demikian lebih sering gagal. Sungguh mengherankan jika
kesalahan yang sama dilakukan berulang-ulang di Aceh, misalnya. Nama programnya
sering langsung mendapat dukungan politis dari berbagai pihak. Tapi kenyataannya, yang
terjadi kolusi dan koalisi jahat menguras uang rakyat. Contoh, dana Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat (PER) oleh pemerintah daerah Aceh. Dari sejumlah lebih dari Rp. 47
milyar yang diluncurkan sejak 2001 hingga 2008, rata-rata kredit macet (Non-Performing
Loan) mencapai 92,4 persen. Artinya, dana yang semestinya bergulir dari satu orang ke
orang lain yang membutuhkan, ternyata hanya kurang dari 10 persen yang kembali. Ke
mana sisanya mengalir? Apakah uang yang milyaran itu mengalir ke orang-orang yang
tepat? Atau segelintir kaum kapitalis yang kerjanya mengakumulasi kekayaan? Dan
kekayaan itu digunakan kembali yang melanggengkan kekuasaan. Karena kekuasaan
pada gilirannya berkoalisi dan berkolusi lagi dengan mereka. Inikah yang disebut
ekonomi kerakyatan? Atau ekonomi keu-rakyat-tan !
Download