Logika Dalam Filsafat

advertisement
KELOMPOK 8
A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU





Logika berasal dari kata yunani “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi,
dan ilmu.
Logika sebagai ilmu merupakan elemen dasar setiap ilmu pengetahuan.
Logika sebagai seni atau ketrampilan yakni seni atau asas-asas pemikiran yang
tepat, lurus, dan semestinya. Sebagai ketrampilan, logika adalah seni dan
kecakapan menerapkan hukum-hukum atau asas-asas pemikiran itu agar
bernalar dengan tepat, teliti, dan teratur.
Hadiatmaja dan Kuswa Endah (2011:9) menyatan bahwa logika adalah cabang
filsafat umum yang membicarakan masalah berpikir tepat, yaitu mengikuti
kaisdah-kaidah berpikir yang logis.
Pembahasan dalam ilmu logika ialah ukuran atau norma berpikir, yaitu
kemampuan akal budi manusia untuk mencapai kebenaran. Maksudnya
cabang filsafat yang membicarakan aturan-aturan berpikir agar dapat
mengambil simpulan secara benar dan tepat. Kalau begitu filsafat ilmu juga
mengajak para ilmuwan untuk berpikir logika, agar ilmu yang dimiliki
semakin terpercaya







Dipandang dari aspek waktu dan kecanggihan, logika dibagi menjadi dua, yaitu
Logika tradisional atau logika naturalis, yaitu cara berpikir yang sederhana yang
berdasarkan kodrat atau naluri fitrah manusia yang sejak lahir sudah dilengkapi
alat berpikir.
Logika modern atau logika artifisialis yang dipelopori oleh Aristoteles dalam
bukunya “Organeri” yang berarti instrumen atau alat untuk berpikir.
Logika artifisialis dibedakan menjadi dua macam yaitu
Logika formal yaitu ilmu logika yang mempelajari cara-cara atau pekerjaan akal
serta menilai hasil-hasil dari logika formal yang diuji dengan kenyataan-kenyataan
dalam praktik di lapangan.
Logika material mempelajari sumber-sumber pengetahuan, alat-alat pengetahuan,
proses terjadinya ilmu pengetahuan, yang kemudian merumuskan metode ilmu
pengetahuan itu.
Logika merupakan argumentasi yang nalar ketika digunakan untuk memandang
sebuah fenomena. Setiap ilmu memiliki objek yang khas dibanding pengetahuan
yang tidak tergolong ilmu. Setiap ilmu selalu menggunakan logika tertentu untuk
memperoleh kebenaran. keterkaitan ilmu, logika, dan filsafat tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Semua ilmu memanfaatkan penalaran. Lewat filsafat
ilmu orang dapat berpikir logis tentang masalah yang dihadapi.



Logika adalah ilmu dan sekaligus ketrampilan berpikir.
Ketrampilan menalar dengan tepat adalah kecapakan yang diperoleh dari
latihan yang terus-menerus sehingga tercipta suatu kebiasaan yang mantap
pada akal budi kita untuk berpikir sesuai dengan hukum-hukum atau
prinsip-prinsip pemikiran.
Penalaran (bentuk pemikiran) berkaitan sangat erat dengan aktivitas akal
budi manusia “berpikir”. Berpikir itu merupakan bagian dari kehidupan
manusia. Semua orang sudah melakukannya. Dengan berpikir, kita
mampu berdialog, menulis, mengkaji suatu uraian, mendengarkan
penjelasan-penjelasan, dan mencoba menarik kesimpulan.
B. MANFAAT LOGIKA DALAM PERKEMBANGAN ILMU
Logika memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia. Setiap orang
sejak masa lampau tentu sudah memikirkan dunia ini dengan logika.
Ketika sekoalh SD dulu, pasti ada pelajaran logika, yang diselipkan pada
aneka pelajaran, seperti IPS, IPA, matematika, dan bahasa. Ketika guru
menjelaskan benda yang berat jenisnya lebih berat dibanding air, akan
tenggelam, disitulah permainan logika. Ketika guru menjelaskan hitungan
dengan model gunggung susun atau para gapit, itulah logika matematika
yang ditanamkan. Banyak sekali ilmu yang dikuasai manusia, harus diraih,
dan diterima dengan logika.

Menurut aristoteles “logika” adalah persiapan yang mendahului ilmu-ilmu atau
alat (organon) untuk mempraktikkan ilmu pengetahuan. Orang pertama yang
menggunkan istilah “logika” adalah Cicero (abad pertama sebelum masehi) dalam
pengertian “seni berdebat”. Pada permulaan abad ketiga masehi, Alexander
Aphrodisias menggunakan kata istilah “logika” dengan arti yang dikenal sekarang.
Immanuel kant (Abad XVIII) mengatakan logika tidak mengalami perkembangan.
Akan tetapi pada pertengahan abad XIX logika mengalami perkembangan karena
ada usaha dari beberapa tokoh yang mencoba menerapkan matematika ke dalam
logika. Gejala itu kini dikenal sebagai saat munculnya logika modern. Sejak saat
itu logika dibedakan menjadi logika tradisional/klasik dan logika modern yang
lazim dikenal sebagai logika matematika/simbolik.

Logika tradisional/klasik adalah sistem ciptaan Aristoteles yang berfungsi untuk
menganalisa bahasa. Sedangkan logika modern berusaha menerapkan prinsipprinsip matematik terhadap logika tradisional dengan menggunakan lambanglambang non-bahasa. Dengan demikian keduanya berkaitan erat satu dengan yang
lain. Oleh karena itu memahami kedua macam logika dengan baik merupakan
bantuan yang sangat besar dalam berpikir yang teratur, tepat, dan teliti.
Manfaat Logika antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsipprinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu
pengetahuan (bahkan seluruh lapangan kehidupan).
Logika menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian
melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan
disiplin intelektual.
Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu kita peroleh
berdasarkan autoritas, emosi, dan prasangka.
Logika – di masa yang sekarang dikenal sebagai “era of reason’”–
membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu
memberakan yang benar dari yang palsu.
Logika membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan
teratur karena dengan berpikir demikian ia dapat memperoleh
kebenaran dan menghindari kesehatan.
C. MACAM - MACAM LOGIKA


Ilmu memiliki objek pemikiran dua macam yaitu : (1) Logika dan (2) Konfirmasi.
Maksudnya. Ilmu seharusnya bermain diatas logika dan didukung oleh data
(konfirmasi). Tanpa logika ilmu kurang bermakna. Logika akan mengarahkan
seorang peneliti ketika mencari kebenaran. Logika mengutamakan kesadaran dan
nalar yang jernih dalam segala hal. Logika yang nalar harus didukung oleh
konfirmasi, artinya ada penjelasan dan pemahaman mendalam. Konfirmasi dapat
menjadi jalan mencapai kebenaran ketika didukung oleh strategi berpikir logis.
Konfirmasi merupakan langkah pembuktian ilmu, yang didukung data-data
mantap.
Dalam filsafat ilmu yang hendak dilacak pada dasarnya ada dua, yaitu : (1)
kebenaran dan (2) fakta. Kebenaran menjadi cita-cita tertinggi yang dikejar oleh
filsafat ilmu. Kebenaran pun perlu didukung oleh fakta. Kebenaran yang didukung
oleh fakta, diperoleh melalui aplikasi berpikir metodologis. Berpikir metodologis
dilandasi oleh fakta-fakta yang lengkap. Fakta-fakta yang signifikan dalam
mencari kebenaran, sering disebut data. Dengan kata lain, data merupakan modal
untuk menemukan kebenaran yang logis. Kebenaran dan fakta selalu bermain
diatas logika.
First order yaitu cara berpikir yang menggunakan logika
matematika. Fakta, dalam logika matematika harus didasarkan pada
fakta objektif. Logika matematika selalu dibangun atas dasar faktafakta yang andal. Daya tahan logika matematika memang agak
lama, logika matematika dilandasi oleh apa aja yang ditangkap oleh
indra kita.
b) Second order (bahasa) biasanya banyak digunakan untuk
mengambil kesimpulan fakta-fakta bahasa dan sastra. Ada dua teori
yang terkait second order, yaitu (1) formal thinking, yaitu teori
bahasa platonik, untuk doktor linguistik. Manusia itu sebenarnya
mampu berpikir formal. Lahirlah kata benda, kerja, sifat. Orang
mampu berpikir normal sehingga ada subjek, predikat, dan objek.
(2) subjective thinking yaitu teori bahasa comski, untuk doktor
sastra. Yang diekspresikan yang ada dalam pikiran kita.
a)
1.
2.
3.
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus
sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang
subjektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ilmiah memperhalus,
mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang
merumuskan asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Logika ilmiah
dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau paling tidak dikurangi.
Logika kodratiah ada pada setiap manusia karena kodratnya sebagai makhluk rasional.
Sejauh manusia itu memiliki rasio maka ia dapat berpikir. Atau dengan akal budi manusia
dapat bekerja menurut hukum-hukum logika entah secara spontan atau disengaja. Misalnya
manusia dapat berpikir secara spontan atau disengaja. Misalnya manusia dapat berpikir
secara spontan bahwa si A berada dengan si B atau “makan” tidak sama dengan “tidur”. Jadi
tanpa belajar logika ilmiah pun orang dapat berpikir logis dengan mendasarkan pikirannya
pada akal sehat saja. Contoh yang lain misalnya, seorang pedagang tidak perlu belajar
logika ilmiah untuk maju dibidangnya.
Logika ilmiah adalah ilmu praktis normatif yang mempelajari hukum-hukum, prinsipprinsip, dan bentuk-bentuk pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing kita
mencapai kesimpulan-kesimpulan yang lurus/sah. Logika ilmiah membentangkan metode
yang menjamin kita bernalar secara tepat/semestinya. Bagaimana menghindari kekeliruan
dan kesesatan dalam berpikir? Namun harus disadari bahwa logika ilmiah adalah
keterangan lebih lanjut atau penyempurnaan atas logika kodratiah.
Dari tiga macam logika itu, selalu memiliki kegunaan untuk menemukan
kebenaran. Logika menawarkan pemikiran analitik dan sintetik untuk
menyusun suatu kebenaran. Ada perbedaan antara kebenaran bentuk dan
kebenaran isi. Logika yang membicarakan tentang kebenaran bentuk disebut
logika bentuk/formal (formal logic) sedangkan logika yang membahas tentang
kebenaran isi disebut logika material (material logic). Kedua logika berpikir
ini saling melengkapi dalam hidup manusia. Selanjutnya logika formal disebut
juga logika minor dan logika material disebut juga logika mayor. Sebuah
argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik
secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang
terkadang dalam argumentasi tersebuut. Yang harus diperhatikan disitu ialah
penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar
penyimpulan.
Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan
bentuk yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Jadi
tanda-tanda M, P, dan S dapat diganti dengan pengertian apa saja, asal
susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi
sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu
tepat/sahih.
Misalnya : Malaikat itu benda fisik.
Batu itu malaikat.
Maka, batu itu benda fisik.
Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid)
sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran
suatu argumen dari segi bentuk da nisi adalah prasyarat mutlak-conditio sine qua non
dalam ilmu pengetahuan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa secara
apriori sebuah argument memiliki empat kemungkinan yakni :
 Sahih dari segi bentuk tetapi tidak benar dari segi isi :
Misalnya :“Manusia adalah binatang berkaki empat.
Alibaba adalah manusia.
Jadi, Alibaba adalah binatang berkaki empat.”
 Tidak sahih dari segi bentuk, tetapi benar dari segi isi :
Misalnya :“Semua ayam mempunyai kaki.
Dadang bukanlah ayam.
Jadi, Dadang mempunyai kaki.”
 Sahih dari segi bentuk dan benar dari segi isi :
Misalnya :“Kota yang terletak di sebelah utara Roma lebih sejuk daripada Roma.
London adalah kota yang terletak di sebelah utara Roma.
Jadi, London lebih sejuk daripada Roma.”
 Tidak sahih dari segi bentuk dan tidak benar dari segi isi :
Misalnya :“Semua yang lebih ringan daripada batu mengambang dalam air.
Air lebihringan daripada batu.
Jadi, betul mengambang dalam air.”
Bernalar adalah suatu proses berpikir yang menyangkut cara
mengambil/menarik suatu kesimpulan sebagai suatu pengetahuan menurut
suatu alur atau kerangka berpikir tertentu.
Ada dua macam penalaran ilmiah. Pertama, penalaran induktif adalah
proses penarikan kesimpulan yang umum (berlaku untuk semua/banyak)
atas dasar pengetahuan tentang kasus-kasus individual (khusus). Kedua,
penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan bertitik tolak dari
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum, kita menarik kesimpulan yang
bersifat khusus. Kesimpulan induktif dan deduktif tergantung bagaimana
permainan silogisme.
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha
untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan
suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan
kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya
menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik,
serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini
diselidiki serta dirumuskan dalam logika. Dengan berpikir,
manusia mengolah dan mengerjakan pengetahuan yang telah
diperolehnya. Suatu pemikiran disebut lurus dan tepat,
apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta
aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam logika. Dengan
demikian kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah
dan aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan
suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
D. PROPOSISI, LOGIKA DAN OBJEKTIVITAS
PROPOSISI
LOGIKA
OBJEKTIVITAS
PROPOSISI
Proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang bernilai benar atau salah
atau pernyataan yang terstruktur untuk mencapai sebuah simpulan.
Dalam Logika Proposisi mempunyai 3 unsur yakni :
1. Subjek
2. Predikat
3. Kopula/Penghubung
Dalam logika dikenal adanya 2 macam Proposisi menurut sumbernya yaitu :
1. Proposisi analitik adalah dimana P mempunyai pengertian yang sudah
terkandung pada S.
Contoh : Panda adalah hewan.
2. Proposisi Sintetik adalah Proposisi P mempunyai pengertian yang bukan
menjadi keharusan bagi subyeknya
Contoh : Salak itu asam
Kopi itu manis
Objektivitas adalah sikap yang tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau
golongan didalam mengambil keputusan.
 Ciri Objektivitas : ilmu menunjukan pada keharusan unuk bersikap objektif
dalam mengkaji suatu kebenaran ilmiah tanpa melibatkan unsur emosi dan
kesukaan atau kepentingan pribadi
Contoh seperti keberhasilan ilmu pengetahuan alam membuat banyak orang
memandangnya sebagai model ideal ilmu.
Download