PENYELENGGARAAN MAKANAN BAGI PENDERITA HIPERTENSI

advertisement
PENYELENGGARAAN MAKANAN BAGI PENDERITA HIPERTENSI DI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PARIAMAN
YULIA MAYA SARI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Wisuda Periode Juni 2013
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penyelenggaraan makanan di
RSUD Pariaman. Penelitian ini bersifat deskriptifdengan melibatkan informan
pelaksana gizi, tenaga pengolah, tenaga distributor, dan pasien hipertensi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan makanan di RSUD meliputi 3
tahapan, yaitu: 1) perencanaan yang terdiri dari perencanaan menu dengan siklus
10 hari. Bahan makanan dimulai dari pembelian bahan makanan dengan
menunjuk pelanggan di pasar induk. Penyimpanan bahan makanan dengan sistem
FIFO, 2) pengolahan makanan, yang dimulai dari penimbangan bahan makanan
yang dilakukan oleh pelaksana gizi yang dimulai dari nasi, lauk pauk, sayuran,
buah dan garam untuk terapi diet rendah garam pasien. Pencucian bahan makanan
dan pengolahan sampai penyajian makanandilakukan oleh tenaga pengolah.
Peralatan terdiri dari 3 jenis yaitu alat persiapan(meja persiapan, bowl, talenan,
pisau, mixer, blender, saringan dan cetakan), pengolahan (kompor, wajan, panci,
sendok sayur, sendok kayu), dan penyajian (piring stainlessteel dan rantang
stainlessteel, 3) penyajian serta distribusi makanan di RSUD Pariaman
menggunakan cara sentralisasi dan desentralisasi.
Kata kunci :penyelenggaraan makanan, hipertensi, terapi diet
Abstract
This study purposetodescribethe implementation offoodin RSUDPariaman.This is
a descriptivestudyinvolvinginformantsnutritionist, cook,fooddistributors, and
hypertension patients. The results showedthat theimplementation offoodin RSUD
Pariamanincludethreestages, that is: 1) planningconsists ofplanningthe menuwith
a10dayscycle. Groceryplanning starting fromgrocerypurchasesby pointingthe
customerinthe wholesale market.Foodstoragesystem withFIFO, 2)food processing,
whichstartsfrom theweighingis donebynutritionist that isrice, side dishes,
vegetables, fruitandsalttolow-saltdiettherapypatients.Washingandprocessingtothe
presentationfood madebycook. The equipment consistsof apreparation
tooltypes(prep table, bowl, cutting board, knife, mixer, blender, strainerandmold),
processing(stove,
frying
pan,
pot,
ladle,
woodenspoon),
andpresentation(stainlessteel
plateandhamperstainlessteel,
3)
the
presentationanddistribution
offoodin
hospitalsPariamanusingcentralizedanddecentralizedmanner.
Keywords: implementation offood, hypertension, diettherapy
1
PENYELENGGARAAN MAKANAN BAGI PENDERITA HIPERTENSI DI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PARIAMAN
Yulia Maya Sari1, Baidar2, Yuliana2
Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
FT Universitas Negeri Padang
Email: [email protected]
Abstract
This
study
purposetodescribethe
implementation
offoodin
RSUDPariaman.This is a descriptivestudyinvolvinginformantsnutritionist,
cook,fooddistributors, and hypertension patients. The results showedthat
theimplementation offoodin RSUD Pariamanincludethreestages, that is: 1)
planningconsists ofplanningthe menuwith a10dayscycle. Groceryplanning
starting fromgrocerypurchasesby pointingthe customerinthe wholesale
market.Foodstoragesystem withFIFO, 2)food processing, whichstartsfrom
theweighingis donebynutritionist that isrice, side dishes, vegetables,
fruitandsalttolow-saltdiettherapypatients.Washingandprocessingtothe
presentationfood madebycook. The equipment consistsof apreparation
tooltypes(prep table, bowl, cutting board, knife, mixer, blender,
strainerandmold), processing(stove, frying pan, pot, ladle, woodenspoon),
andpresentation(stainlessteel
plateandhamperstainlessteel,
3)
the
presentationanddistribution
offoodin
hospitalsPariamanusingcentralizedanddecentralizedmanner.
Kata Kunci: penyelenggaraan makanan, hipertensi, terapi diet
A. Pendahuluan
Indonesia sehat tahun 2010 merupakan Pembangunan Nasional bangsa
Indonesia yang menitikberatkan kepada masalah kesehatan, dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Menurut Depkes
RI (1992) menyatakan:
“Derajat kesehatan yang optimal dapat diwujudkan melalui upaya
kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan kesehatan, pencegahan,
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan
secara
menyeluruh,
terpadu
dan
berkesinambungan”.
1 Prodi
2Dosen
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga untuk wisuda periode Juni 2013
Jurusan Kesejahteraan Keluarga FT UNP
2
Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang memegang
peranan penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Fungsi dari
rumah sakit memberikan pelayanan yang sempurna baik pencegahan maupun
pengobatan sesuai dengan penyakit yang diderita, salah satunya penyakit
hipertensi (tekanan darah tinggi).
Hipertensi menurut Iwan (2005) adalah, “suatu gangguan pada pembuluh
darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah
terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya, yang mengakibatkan
jantung harus bekerja lebih keras memenuhi kebutuhan”. Penyebab hipertensi
salah satunya disebabkan oleh konsumsi makanan yang banyak mengandung
garam, lemak/kolesterol.
Pada penderita hipertensi dengan tekanan darah tinggi ≥ 160/gram
mmHg, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan
merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu
menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal.
Menurut Casey (2011) prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai
berikut: (1) Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang, (2) Jenis dan komposisi
makanan disesuaikan dengan kondisi penderita, (3) Jumlah garam dibatasi sesuai
dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet. Oleh karena itu,
salah satu penanggulangan bagi penderita hipertensi adalah dengan adanya
penyelenggaraan makanan institusi.
Penyelenggaraan makanan merupakan suatu keharusan, baik di
lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga. Penyelenggaraan
3
makanan di luar lingkungan keluarga diperlukan oleh sekelompok konsumen
dikarenakan tidak dapat makan bersama dengan keluarganya di rumah. Mereka itu
dapat terdiri dari para karyawan pabrik atau perusahaan, pekerja perkebunan,
orang sakit, penghuni asrama atau panti asuhan, dan sebagainya. Mereka ini
memerlukan pelayanan makanan di luar rumah yang diselenggaraan secara khusus
untuk mereka. Penyelenggaraan makanan bagi sekelompok konsumen yang bukan
merupakan satu keluarga, tetapi merupakan satu kesatuan dikenal dengan istilah
penyelenggaraan makanan kelompok (Moehyi, 1992).
Moehyi (1992: 17) mengatakan bahwa, “penyelenggaraan makanan
terdiri dari beberapa tahapan yaitu: 1) perencanaan mulai dari bahan makanan
sampai menu yang akan dihidangkan dalam satu kali perputaran siklus, 2)
pengolahan makanan, dan 3) penyajian serta distribusi makanan. Berdasarkan
survei awal peneliti di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Pariaman, peneliti
mendengar adanya keluhan dari pasien maupun keluarga pasien yang mengatakan
bahwa menu yang disajikan oleh pihak rumah sakit dalam waktu tiga hari
berturut-turut mendapatkan menu yang sama, sehingganya pasien merasa bosan
dan melalaikan terapi diet hipertensi yang diberikan. Akibatnya pasien lebih
sering meminta pihak keluarga untuk membelikan makanan diluar.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana
gambaran penyelenggaraan makanan bagi penderita hipertensi di RSUD Pariaman
yang dimulai dari perencanaan, pengolahan makanan, dan penyajian serta
distribusi makanan.
B. Metodologi Penelitian
4
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini, maka penelitian
ini digolongkan kedalam jenis penelitian deskriptif.Informan dalam penelitian ini
adalah pelaksana gizi yang berjumlah 6 orang dengan kode A (001-006), tenaga
pengolah yang berjumlah 5 orang dengan kode B (01-05), tenaga distributor yang
berjumlah 2 orang dengan kode C (007 dan 008).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan alat
bantu pedoman wawancara, panduan observasi, dokumentasi dan angket untuk
pasien hipertensi.Dalam penelitian menggunakan teknik analisis data model
interaktif dari Miles dan Huberman yang diterjemahkan oleh Tjetjep dalam
Moleong (1992: 16) yakni teknik analisis data kualitas yang meliputi tiga alur
kegiatan yakni : 1. reduksi data, 2. penyajian data, 3. pengambilan kesimpulan.
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Perencanaan
Perencanaan menu di RSUD Pariaman menurut informan A terdiri
dari perencanaan bahan makanan yang didapat dari kebijakan rapat tahunan
semua pelaksana gizi, sehingga didapatkan daftar bahan makanan dan diolah
menjadi master menu dengan siklus yang telah ditetapkan. Akan tetapi
berdasarkan hasil observasi peneliti, menu yang dihidangkan tidak sesuai
dengan menu yang telah direncanakan.
Setelah didapatkan daftar, tahap selanjutnya adalah pembelian bahan
makanan. Hasil wawancara tentang pembelian bahan makanan dilakukan
dengan menunjuk salah satu pelanggan di pasar induk Pariaman dengan
spesifikasi yang telah ditetapkan oleh pihak pelaksana gizi. Setelah bahan
5
makanan sampai di instalasi gizi RSUD Pariaman dilakukan pengecekan
ulang yang dilakukan oleh kepala instalasi. Jika ada bahan makanan yang
tidak sesuai dengan spesifikasi maka pihak instalasi akan meminta pelanggan
untuk menukar bahan makanan yang sesuai dengan spesifikasi.
Selanjutnya bahan makanan yang disimpan pada ruang penyimpanan.
Penyimpanan bahan makanan di instalasi gizi menggunakan teknik
penyimpanan FIFO (first in first out). Berdasarkan hasil observasi ruang
penyimpanan di instalasi gizi ada 2 ruang, yakni ruang penyimpanan bahan
basah dan bahan kering. Namun, berdasarkan hasil observasi peneliti,
penyimpanan bahan makanan masih dicampur antara bahan basah dan bahan
kering dan juga dalam penyimpanan bahan makanan di RSUD Pariaman,
pihak instalasi tidak memberikan label tanggal pembelian bahan tersebut.
Sebagaimana dikatakan oleh Moehyi (1992: 73) bahwa, “bahan
makanan harus dipisah menurut jenisnya. Pemberian label pada pembelian
makanan juga berperan penting sebab, akan menghindarkan bahan makanan
dari kadaluarsa.
2. Pengolahan Makanan
Pengolahan makanan di instalasi gizi RSUD Pariaman terdiri dari
proses persiapan bahan makanan. Persiapan bahan makanan dimulai dari
penimbangan bahan makanan yang dilakukan oleh pihak pelaksana gizi.
Penimbangan dilakukan pada bahan makanan yang akan diolah untuk
hidangan terapi diet hipertensi, yakni nasi, lauk pauk, sayuran, buah dan
6
garam. Selanjutnya proses pencucian, pengolahan sampai penyajian
dilakukan oleh tenaga pengolah.
Pengolahan makanan di instalasi gizi, dilaksanakan berdasarkan
instruksi dari pelaksana gizi dengan menggunakan beberapa teknik.
Berdasarkan hasil observasi peneliti menemukan teknik pengolahan makanan
di instalasi gizi RSUD Pariaman yang dominan digunakan adalah teknik
menggoreng, menumis, dan menggulai. Akibatnya penggunaan santan dan
minyak juga lebih dominan dipakai. Mangukusumo (2003) mengatakan
bahwa, “makanan yang dianjurkan pemakaian minyak hanya diperbolehkan
jika itu margarin tanpa garam. Penggunaan bahan telur yang dikategorikan
sering juga tidak diperbolehkan.Telur hanya boleh dikonsumsi oleh pasien
hipertensi maksimal 3 kali dalam satu minggu.Sedangkan menurut Purwati
(2005) yang mengatakan bahwa, “dalam pengaturan diet hipertensi yang
harus dihindari adalah penggunaan minyak kelapa, santan, lemak hewan,
mentega dan margarine”. Akibatnya komposisi rasa dan tekstur dalam
penyelenggaraan makanan di RSUD Pariaman adalah rasa dan tekstur gulai.
Hasil observasi peneliti, peralatan yang digunakan pada pengolahan
makanan di instalasi gizi RSUD Pariaman terdiri dari 3 yaitu: peralatan
persiapan, pengolahan dan penyajian. Alat-alat persiapan, pengolahan dan
penyajian di instalasi gizi, berdasarkan hasil pengamatan observasi yang
peneliti lakukan sudah dikatakan kategori baik yakni peralatan mudah
dibersihkan dan tidaknya adanya peralatan yang rusak.Alat persiapan seperti
meja persiapan terbuat dari batu keramik yang mudah dibersihkan. Wadah
7
(bowl) yang digunakan terbuat dari stainlessteel yang mudah dibersihkan dan
tidak mudah berkarat.Timbangan yang digunakan terbuat dari plastik yang
berjumlah 3 buah.Saringan santan ada 4 buah yang berbentuk bulat terbuat
dari plastik dan talenan yang terbuat dari bahan plastik dan kayu yang
masing-masing berjumlah 2 buah. Pisau yang digunakan ada pisau cater yang
berjumlah 4 buah, pisau besar untuk pemotong daging yang berjumlah 2
buah, dan pisau ukuran sedang yang terbuat dari stainlessteel dan pegangan
dari plastik.
Alat-alat persiapan lainnya seperti mixer terdiri dari 3 buah.Semuanya
berfungsi dengan baik.Blender di instalasi gizi berdasarkan hasil observasi
peneliti terdiri dari 3 buah, dua buah blender digunakan untuk menghaluskan
bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah dan lainlain.Alat penghalus bumbu lainnya yangdigunakan adalah batu cobekan, tapi
jarang sekali digunakan karena tenaga pengolah lebih sering menggunakan
blender.Sedangkan blender yang satu lagi digunakan untuk menghaluskan
buah-buahan untuk juice.Untuk cetakan terdiri dari 15 buah cetakan agar-agar
ukuran sedang yang terbuat dari plastik. Cetakan bolu kukus terdiri dari 60
buah yang terbuat dari aluminium dan cetakan bolu biasa ukuran 22x22 cm
yang terdiri dari 5 buah dengan ukuran diameter 22cm yang terbuat dari
aluminium.
Selanjutnyaadalah alat pengolahan, semuanya dikategorikan baik
karena peralatan tersebut mudah dibersihkan dan tidak berkarat. Alat
pengolahan yang ada di instalasi yang terdiri dari kompor yang berjumlah 3
8
buah, tapi yang digunakan hanya 2 buah karena 1 kompor rusak dan belum
diperbaiki. Tiga buah wajan besar, 4 buah panci dan 1 buah panci besar untuk
penyimpanan air bersih di instalasi yang terbuat dari aluminium dan
pengaduk makanan seperti sendok sayuran terbuat dari bahan stainlessteel
dan ada campuran dari plastik, serokan terbuat dari aluminium dan pegangan
dari kayu. Ada juga sendok kayu untuk pengaduk nasi yang berjumlah 4
buah.Untuk pencetak nasi makanan biasa tenaga pengolah menggunakan
mangkok kecil yang terbuat dari kaca yang berjumlah 6 buah.
Untuk peralatan penyajian, berdasarkan wawancara peneliti kepada
pelaksana gizi, informan A (001) mengatakan bahwa “pihak instalasi hanya
menyediakan tempat untuk makan saja.Sementara untuk gelas dan alat makan
seperti sendok dan garpu pihak keluarga pasien yang menyediakan”.
Informan A (002), (003), (004), (005), dan (006) juga mengatakan bahwa:
“alat penyajian yang disediakan hanya piring maka”. Informan A (001)
menambahkan bahwa: “hal ini bertujuan untuk menghindari penularan
penyakit”. Berdasarkan hasil observasi peralatan penyajian di instalasi gizi
RSUD Pariaman terdiri dari 2 jenis yakni piring stainlessteel dan rantang
stainlessteel.Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan A (001)
mengatakan bahwa, “ada beberapa pembagian ruang rawat inap di rumah
sakit ini yaitu ruang VIP, Utama, Kelas 1, 2 dan 3.Untuk ruang VIP, utama
dan kelas 1 digunakan rantang stainlessteel dan untuk kelas 2 dan 3
digunakan piring stainlessteel”.
3. Penyajian serta Distribusi Makanan
9
Berdasarkan observasi peneliti, penyajian makanan dimulai dari
persiapan alat penyajian yang akan digunakan. Alat penyajian piring
stainlessteel disusun di atas meja persiapan dan terlebih dahulu diberi
potongan kertas yang berisikan nama pasien dan penyakit yang diderita.
Sementara untuk rantang di buka satu persatu dan di kelompokkan
berdasarkan isi yang akan dimasukkan ke dalamnya. Khusus untuk penderita
hipertensi, makanan yang sudah selesai diolah dituang terlebih dahulu ke
dalam sebuah wadah untuk diberi garam yang sudah ditimbang sebelumnya.
Penyajian pada minuman yaitu susu, berdasarkan hasilobservasi
peneliti tidak menemukan dalam daftar menu. Tetapi pada kenyataannya
minuman susu disediakan pihak instalasi gizi menyediakan susu bubuk yang
sudah ditakar kemudian dimasukkan dalam plastik. Hal ini dilakukan karena
pihak instalasi tidak menyediakan gelas untuk pasien, sehingga susu yang
telah ditakar tersebut dibuat sendiri oleh keluarga pasien.
Setelah makanan selesai disajikan, tahap selanjutnya adalah
pendistribusian makanan sampai ke tangan pasien. Berdasarkan hasil
wawancara informan dengan C (007) dan (008) mengatakan bahwa:
“Pendistribusian makanan dilaksanakan oleh pihak tenaga distributor setelah
penyajian
makanan
selesai”.
Menurut
informan
C
(007),
“tahap
pendistribusian makanan ada dua cara yakni dengan cara sentralisasi dan
desentralisasi”.
Berdasarkan wawancara peneliti tentang waktu distribusi makanan,
informan C (008) mengatakan bahwa: “Pendistribusian makanan dilakukan
10
lima menit sebelum waktu makan tiba”. Berdasarkan hasil observasi peneliti
makanan yang dihidangkan ke pasien jarang mengalami kekurangan atau
kelebihan makanan. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, sebelum
memulai semua proses pihak pelaksana gizi akan melakukan pengecekan
terhadap jumlah pasien per hari. Pendistribusian makanan ke pasien, dibawa
melalui trolly tertutup dalam jumlah banyak sehingga tenaga distributor tidak
perlu bolak balik ke dapur instalasi. Sementara untuk pendistribusian pada
rantang stainlessteel pihak instalasi menggunakan trolly terbuka.
Dalam hal pendistribusian makanan, pihak instalasi terlalu cepat
dalam
mendistribusikan
makan.Sementara
makanan
menurut
yaitu
Moehyi
5
menit
(1992),
sebelum
mengatakan
waktu
bahwa
“pendistribusian makanan haruslah tepat waktu sesuai dengan jam
makan.Jangan terlalu cepat atau terlalu lambat yang menyebabkan makanan
menjadi cepat dingin sampai di tangan pasien”.
E. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
Berdasarkan
wawancara,
hasil
dokumentasi
penelitian
maka
yang
dapat
diperoleh
diambil
dari
observasi,
kesimpulan
sebagai
berikut:Tahapan penyelenggaraan makanan di RSUD Pariaman terdiri dari
perencanaan menu yang ditangani oleh pelaksana gizi dengan siklus menu 10
hari yang diganti satu kali setahun. Perencanaan menu di instalasi gizi tidak
dilaksanakan sesuai dengan master menu yang direncanakan sebelumnya.
Perencanaan
bahan
makanan
dilakukan
dengan
mengadakan
rapat
11
tahunan.Pembelian bahan makanan dengan menunjuk pelanggan yang ada di
pasar yang spesifikasi bahan makanan dari pihak pelaksana gizi.Penyimpanan
bahan makanan di RSUD Pariaman menggunakan teknik FIFO yakni first in
first out.
Pada tahap pengolahan makanan terdiri dari proses persiapan bahan
makanan yakni proses penimbangan dilakukan oleh pelaksana gizi.
Selanjutnya proses pencucian dan pemotongan sampai pada proses memasak
dilakukan oleh tenaga pengolah. Peralatan pada instalasi gizi RSUD Pariaman
tidak jauh berbeda dengan peralatan industri catering lainnya, yang terdiri
dari: alat persiapan (meja persiapan, bowl stainlessteel, talenan, pisau,
timbangan, mixer, blender dan cetakan), alat pengolahan (kompor, wajan, dan
panci), serta alat penyajian (piring dan rantang stainlessteel). Pengolahan
makanan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Rumah Sakit Umum
Daerah Pariaman dilakukan oleh tenaga pengolah sesuai dengan instruksi dari
pelaksana gizi. Sedangkan dalam proses pengolahan makanan teknik
pengolahan yang dominan adalah teknik menggulai yang menggunakan
santan.
Penyajian makanan yang dihidangkan tidak menggunakan garnish
dikarenakan riwayat pendidikan tenaga pengolah hanya tamatan SD yang
tidak mengetahui cara menghias suatu makanan di sebuah institusi dan
pendistribusian makanan di RSUD dilaksanakan 5 menit sebelum jam makan
yang mengakibatkan makanan agak dingin setelah sampai ke pasien.
12
Pendistribusian makanan di instalasi gizi menggunakan 2 cara yaitu
sentralisasi dan desentralisasi.
2. Saran
Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari penelitian ini belum
sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisan skripsi
ini, untuk itu peneliti menyarankan:Bagi dapur instalasi gizi di Rumah Sakit
Umum Daerah Pariaman untuk bisa melengkapi lagi peralatan yang kurang,
baik itu peralatan persiapan, peralatan pengolahan dan peralatan penyajian.
Bagi penyelenggara makanan di RSUD untuk lebih memperhatikan lagi
keadaan makanan yang disajikan dan waktu pendistribusian makanan,
sehingga makanan sampai ke pasien tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu
dingin. Jika makanan tetap hangat sampai ke tangan pasien hendaknya pihak
instalasi melengkapi dengan alat pemanas makanan.Bagi pasien agar lebih
mematuhi aturan dalam menjalani terapi diet hipertensi yang diberikan.Dan
bagi keluarga pasien jangan terlalu sering membelikan pasien makanan
diluar.Bagi
peneliti
selanjutnya
untuk
dapat
lebih
mengkaji
dan
mengembangkan lebih dalam lagi teori yang sudah dijelaskan dalam
penelitian ini.
Catatan: artikel ini disusun berdasarkan skripsi penulis dengan Pembimbing I:
Dra. Hj. Baidar, M.Pd dan Pembimbing II: Dr. Yuliana, S.P,M.Si
Daftar Pustaka
13
Casey,
Aggie.
2011.
DASH
Diet
Information.
http://medicine.georgetown.edu/divisions/nephrology/knowledge/224249
.html. Diakses [21 Oktober 2012]
DepKes
RI.
1992.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
No.983/MenKes/SK/XI/1992. Derajat Kesehatan Masyarakat.
Dep Kes RI. 2003. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Bina Kesehatan
Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat
Mangunkusumo, Cipto. 2003. Penuntun Diit. Jakarta: PT. Gramedia.
Moehyi, Sjahmien. 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga.
Jakarta: Bharata.
Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Purwati, Susi. 2005. Perencanaan Menu Untuk Penderita Darah Tinggi. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Iwan,
Hadibroto.
2005.
Penanggulangan
Tekanan
Darah
Tinggi.
http://medicine.georgetown.edu/divisions/nephrology/knowledge/224249
.html. Diakses [21 Oktober 2012]
Download