bab-5-lulut-u

advertisement
Nama
: Lulut Ulfatin
NIM
: 1402408085
Rombel
:4
BAB 5
TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI
Morfologi adalah salah satu cabang linguistik yang menjadikan morfem sebagai kajiannya
juga memiliki satuan gramatikal dan satuan semantik.
5.1. MORFEM
Morfem adalah suatu kajian morfologi dan bisa berupa satuan gramatik terikat dan
satuan gramatik bebas. Morfem ini merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai
makna.
5.1.1. Identifikasi Morfem
Untuk mengetahui bentuk morfem atau bukan, kita harus membandingkan
bentuk tersebut dengan bentuk yang lain dan mengenal maknanya. Sebuah kata bisa
disebut morfem karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan
mempunyai makna sama.
5.1.2. Morf dan Alomorf
Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui status atau
maknanya. Alomorf adalah nama untuk semua bentuk yang sudah diketahui
maknanya.
5.1.3. Klasifikasi Morfem
Morfem dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, diantaranya
adalah :
5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat
muncul dalam pertuturan. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa
digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.
5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Morfem utuh adalah (satu) dan satu morfem terbagi
Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang
terpisah.
5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem
segmental. Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh
unsur-unsur suprasegmental.
5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero
Morfem beralomorf zero atau nol (Ø) yaitu morfem yang salah satu
alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi
(unsur suprasegmental) melainkan berupa “kekosongan”.
5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren
telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu
dengan morfem lain.
Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada
dirinya sendiri. morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannya
dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.
5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)
Bentuk dasar atau dasar (base) digunakan untuk menyebut sebuah bentuk
yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.
Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi
atau proses pembubuhan afik inflektif.
Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis
lebih jauh lagi.
5.2. KATA
Kata adalah satuan gramatik bebas, bisa berupa bentuk tunggal atau kompleks yang
memiliki arti leksikal.
5.2.1. Hakikat Kata
Menurut para tata bahasawan tradisional kata adalah satuan bahasa yang
memiliki satu pengertian/kata adalah deretan huruf yang diapit oleh 2 buah spasi
dan mempunyai satu artian. Batasan kata yang dibuat Bloomfield yaitu kata adalah
satuan bebas terkecil (a minimal free form) tidak pernah diulas/dikomentari seolaholah batasan itu sudah bersifat final dan pembatasan kata yang umum kita jumlai
dalam berbagai buku linguistik eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang ke
dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar
mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.
5.2.2. Klasifikasi Kata
Klasifikasi kata adalah penggolongan kata/penjelasan kaa dalam peristilahan
bahasa Inggris disebut part of speech. Para tata bahasawan tradisional
menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk
mengidentifikasi kelas verba, nomina, dan adjectiva. Sedangkan kriteria fungsi
digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomia, dll.
5.2.3. Pembentukan Kata
Untuk digunakan di dalam kalimat/pertuturan tertentu, maka setiap bentuk
dasar terutama dalam bahasa fleksi dan aqulturasi harus dibentuk lebih dahulu
menjadi sebuah kata gramatikal baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi
maupun proses komposisi.
5.2.3.1. Inflektif
Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain
yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya.
5.2.3.2. Derivatif
Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru/kata yang
identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.
5.3. PROSES MORFEMIS
Proses-proses morfemis diantaranya adalah:
5.3.1. Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/ bentuk dasar.
Unsur-unsur yang terlibat adalah (1) dasar/bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna
gramatikal yang dihasilkan.
Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan
pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang
dibentuknya, dibedakan ada 2 jenis afiks yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif.
Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar yang biasanya dibedakan adanya
prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan tranfiks.
5.3.2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfem yang mengulang bentuk dasar, baik secara
keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi. Proses
reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat
derivasional.
5.3.3. Komposisi
Komposisi adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan
morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah
konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda/yang baru.
5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi
Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain
tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi internal adalah proses pembentukan
kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam
morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)
Suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau
hampir tidak tampak lagi.
5.3.5. Pemendekan
Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan
leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama
dengan makna bentuk utuhnya. Hasil pemendekan biasanya dibedakan atas
penggalan, singkatan dan akronim.
5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis
Produktivitas dalam proses morfemis adalah dapat tidaknya proses
pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan
berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah
bentuk baru dengan proses tersebut.
5.4. MORFOFONEMIK
Morfofonemik disebut juga morfonemik, morfologi atau morfonologi atau peristiwa
berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi,
maupun komposisi.
Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:
1. Pemunculan fonem
3. Peluluhan fonem
2. Pelepasan fonem
4. Perubahan fonem, dan
5. Pergeseran fonem
Download