BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengetahuan
1.
Pengertian pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ”tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (Notoatmodjo,2003).
2.
Sumber Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo 2003, sumber pengetahuan dapat diperoleh melalui,
pengalaman langsung, media massa (misalnya: Surat kabar dan majalah), media
elektronik (misalnya: radio dan televisi), Buku petunjuk, Petugas kesehatan dan Media
poster
3.
Pengukuran pengetahuan
Universitas Sumatera Utara
Pengetahuan dapat diukur dengan tekhnik wawancara, penyebaran kuesioner
dengan daftar pertanyaan yang relevan dengan aspek yang akan di ukur
(Notoatmodjo,2003).
B.
Bayi Baru Lahir
5
Dikatakan bayi baru lahir adalah dengan
batas usia 0 -1 bulan (Nurhayati, 2008).
Masa bayi baru lahir merupakan periode yang tersingkat dari semua periode
perkembangan, masa bayi baru lahir merupakan
masa terjadinya penyesuaian yang
radikal. Masa ini juga merupakan periode yang berbahaya (Hurlock, 2004).
Secara umum, bayi segera menangis sesudah lahir. Apabila bayi tidak menangis
berarti ada kelainan. Setelah 24 jam, bayi akan diperiksa dan dinilai lagi dengan penilaian
maturitas untuk menilai kondisi fisik dan neurologis bayi. Sebab, walaupun berat badan
lahir bayi sama, maturitas belum tentu sama antara bayi satu dengan bayi yang lainnya
(Indriati, 2007).
C.
Hipotermi
1.
Defenisi hipotermi
Hipotermi adalah suhu tubuh bayi baru lahir yang tidak normal (<36ºC) pada
pengukuran suhu melalui aksila, dimana suhu tubuh bayi baru lahir normal adalah
36,5ºC-37,5ºC (suhu aksila). Hipotermi merupakan suatu tanda bahaya karena dapat
menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan
Universitas Sumatera Utara
kegagalan fungsi jantung paru dan kematian (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
2007).
Hipotermi adalah temperatur tubuh yang rendah, seperti yang disebabkan oleh
pemajanan terhadap cuaca dingin, atau keadaan tubuh yang diinduksi dengan cara
menurunkan metabolisme dan dengan demikian menurunkan kebutuhan oksigen
(Maimunah, 2005)
2.
Penyebab Terjadinya Hipotermi
Suhu tubuh rendah (Hipotermi) dapat disebabakan oleh karena terpapar dengan
lingkungan yang dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan yang dingin atau basah)
atau bayi dalam keadaan basah atau tidak berpakaian (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2007)
Hipotermi dapat terjadi sangat cepat pada bayi sangat kecil atau bayi yang
diresusitasi atau dipisahkan dari ibu. Dalam kasus-kasus ini, suhu dapat cepat turun <
35ºC (Saifuddin, 2002).
Jika bayi sangat kecil (<1500 gram atau <32 minggu) sering terjadi masalah yang
berat misalnya sukar bernafas, kesukaran pemberian minum, ikterus berat dan infeksi
sehingga bayi rentan terjadi hipotermi jika tidak dalam inkubator (Saifuddin, 2002).
Hipotermi dapat disebabkan oleh beberapa keadaan, antara lain:
a. Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan, seperti lingkungan
dingin, basah atau bayi yang telanjang, cold linen, selama perjalanan dan beberapa
keadaan seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian infus serta
pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan penguapan.
Universitas Sumatera Utara
b. Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif luas,
kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan
memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan hilangnya
panas yang lebih besar.
c.
Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensi brown fat,
misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem saraf pusat
sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage, hipoksia dan hipoglikemi.
Menurut Departemen Kesehatan RI 2007, diagnosa bayi baru lahir yang
mengalami hipotermi dapat ditinjau dari riwayat asfiksia pada waktu lahir, riwayat bayi
yang segera dimandikan sesaat sesudah lahir, riwayat bayi yang tidak dikeringkan
sesudah lahir, dan tidak dijaga kehangatannya, riwayat terpapar dengan lingkungan yang
dingin dan riwayat melakukan tindakan tanpa tambahan kehangatan pada bayi.
Menurut Departemen Kesehatan RI 2007, mekanisme kehilangan panas pada bayi
baru lahir dapat melalui 4 cara, yaitu:
a. Radiasi yaitu dari bayi ke lingkungan dingin terdekat
b. Konduksi yaitu langsung dari bayi ke sesuatu yang kontak dengan bayi
c. Konveksi yaitu kehilangan panas dari bayi ke udara sekitar
d. Evaporasi yaitu penguapan air dari kulit bayi.
3.
Tanda-Tanda Hipotermi
Gejala awal hipotermi adalah apabila suhu bayi baru lahir <36ºC atau kedua kaki
dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah
Universitas Sumatera Utara
mengalami hipotermi sedang (suhu 32ºC-36ºC). Disebut hipotermi berat apabila suhu
tubuh bayi <32ºC (Saifuddin, 2006)
Menurut Saifuddin 2006, penilaian tanda-tanda hipotermi pada bayi baru lahir
meliputi bayi tidak mau minum/menetek, bayi tampak lesu atau mengantuk, tubuh bayi
teraba dingin, dalam keadaan berat denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi
mengeras (sklerema).
Tanda-tanda hipotermi sedang antara lain meliputi aktifitas bayi berkurang
(letargis), tangisan bayi lemah, kulit berwarna tidak rata (Cutis mamorata), kemampuan
menghisap lemah dan kaki teraba dingin (Saifuddin 2006).
Tanda-tanda hipotermi berat sama dengan hipotermi sedang antara lain bibir dan
kuku kebiruan, pernafasan lambat, pernafasan tidak teratur dan bunyi jantung lambat
(Saifuddin 2006).
4.
Pencegahan Hipotermi
Untuk mencegah akibat buruk dari hipotermi karena suhu lingkungan yang rendah
atau dingin harus dilakukan upaya untuk merawat bayi dalam suhu lingkungan yang
netral, yaitu suhu yang diperlukan agar konsumsi oksigen dan pengeluaran kalori
minimal. Keadaan ini dapat dicapai bila suhu inti bayi (suhu tubuh tanpa berpakaian)
dapat dipertahankan 36,5ºC-37,5ºC. Kelembaban relatif sebesar 40-60% perlu
dipertahankan untuk membantu stabilitas suhu tubuh bayi, yaitu dengan cara mengurangi
kehilangan panas pada suhu lingkungan yang rendah, mencegah kekeringan dan iritasi
pada selaput lendir jalan nafas, terutama saat mendapat terapi oksigen dan selama
Universitas Sumatera Utara
pemasangan intubasi endotrakea atau nasotrakea dan mengencerkan sekresi yang kental
serta mengurangi kehilangan cairan insesibel dari paru (Surasmi, 2003).
Menurut Departemen Kesehatan RI 2007, langkah-langkah pencegahan terjadinya
hipotermi adalah jangan memandikan bayi sebelum berumur 12 jam, kemudian rawatlah
bayi kecil di ruang yang hangat tidak kurang 25ºC dan bebas dari aliran angin. Jangan
meletakkan bayi dekat dengan benda yang dingin misalnya dinding dingin atau jendela
walaupun bayi dalam inkubator atau di bawah pemancar panas dan jangan meletakkan
bayi langsung dipermukaan yang dingin misalnya alas tempat tidur atau meja periksa
dengan kain atau selimut hangat sebelum bayi diletakkan.
Pada waktu di pindahkan ketempat lain, jaga bayi tetap hangat dan gunakan
pemancar panas atau kontak kulit dengan perawat, bayi harus tetap berpakaian atau
diselimuti setiap saat, agar tetap hangat walau dalam keadaan dilakukan tindakan
misalnya bila dipasang jarum infus intravena atau selama resusitasi dengan cara memakai
pakaian dan mengenakan topi, bungkus bayi dengan pakaian yang kering dengan lembut
dan selimuti, buka bagian tubuh yang diperlukan untuk pemantauan atau tindakan,
berikan tambahan kehangatan pada waktu dilakukan tindakan misalnya menggunakan
pemancar panas, ganti popok setiap kali basah (Departemen Kesehatan RI 2007).
Bila ada sesuatu yang basah ditempelkan di kulit misalnya kain kasa yang basah,
usahakan agar bayi tetap hangat, jangan menyentuh bayi dengan tangan yang dingin dan
ukur suhu tubuh: bila bayi sakit frekuensi pengukurannya setiap jam, bila bayi kecil
frekuensi pengukurannya setiap 12 jam dan bila keadaan bayi membaik frekuensi
pengukurannya setiap sekali sehari (Departemen Kesehatan RI 2007).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Wahyuningsih 2008, metode mencegah terjadinya hipotermi umumnya
dapat dilakukan dengan cara menghangatkan dahulu setiap selimut, topi atau pakaian
sebelum kelahiran kemudian segera keringkan bayi baru lahir. Kemudian mengganti
selimut yang basah setelah mengeringkan bayi baru lahir dan hangatkan dahulu area
resusitasi bayi baru lahir. Kemudian mengatur suhu ruangan kelahiran pada 24ºC, jangan
melakukan pengisapan pada bayi baru lahir diatas tempat tidur yang
basah, tunda
memandikan bayi baru lahir sampai suhu bayi stabil selama 2 jam kemudian atur agar
tempat perawatan bayi baru lahir jauh dari jendela, dinding-dinding luar atau pintu keluar
serta pertahankan kepala bayi baru lahir tetap tertutup dan badannya dibedung dengan
baik setiap 48 jam.
5.
Penanganan Hipotermi
Seorang bayi yang cukup bulan yang sehat dan berpakaian akan mempertahankan
suhu tubuh sebesar 36-37 ºC asalkan suhu lingkungan dipertahankan antara 18 dan 21 ºC,
gizi cukup dan gerakannnya tidak terhambat oleh bedong yang ketat. Laju metabolisme
bayi berbeda-beda, tetapi masing-masing bayi harus diawasi tidak boleh terlalu panas.
Hipotermi padat terjadi jika bayi berada dekat pada sumber radiasi panas. Aktivitas
berkeringat akan berlangsung terutama didaerah dahi, walaupun kemampuan ini masih
terbatas pada bayi baru lahir (Wahyuningsih, 2008).
Saat merawat bayi beresiko, harus melakukan pengukuran ekstra untuk
mempertahankan suhu lingkungan yang netral (neutral thermal environment [NTE])
untuk bayi tersebut. Suhu lingkungan yang netral adalah suhu lingkungan dimana bayi
tertentu akan mempertahankan suhu normal tanpa menggunakan energi berlebihan untuk
Universitas Sumatera Utara
melakukannya. Bayi yang mengalami hipotermi akan meningkatkan kecepatan
metabolismenya untuk meningkatkan suhu tubuhnya dalam kisaran normal (Jensen,
2005).
Penanganan bayi hipotermi berat dapat dilakukan tindakan yaitu segera hangatkan
bayi dibawah alat pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya, bila mungkin
gunakan inkubator atau ruangan hangat bila perlu. Kemudian ganti baju yang dingin dan
basah bila perlu beri pakaian yang hangat, pakai topi dan selimuti dengan selimut hangat.
Bayi harus dihindari dari paparan panas yang berlebihan dan usahakan agar posisi bayi
sering diubah bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas lebih 60 atau kurang 40
kali/menit, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi)
Tindakan selanjutnya yaitu memasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan
dosis rumatan, dan selang infus tetap terpasang di bawah pemancar panas, untuk
menghangatkan cairan. Kemudian periksa kadar glukosa darah, bila kadar glukosa darah
kurang 45 mg/dL (2,6 mmol/L), berikan penanganan terhadap hipoglikemi. Nilailah
tanda bahaya setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam sampai suhu
tubuh kembali dalam batas normal. Lalu ambil sampel darah dan beri antibiotik sesuai
dengan yang disebutkan dalam penanganan kemungkinan besar sepsis. Anjurkan ibu
menyusui segera setelah bayi siap tetapi bila bayi tidak dapat menyusu berikan ASI perah
dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum. Bila bayi tidak dapat
menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan beri ASI perah begitu suhu bayi
mencapai 35ºC (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007):
Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik paling tidak 0,5 ºC/jam,
berarti upaya menghangatkan berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi
Universitas Sumatera Utara
setiap 2 jam. Periksa suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu ruangan
setiap jam, setelah suhu tubuh bayi normal: lakukan perawatan lanjutan untuk bayi serta
pantau bayi selama 12 jam kemudian dan ukur suhunya setiap 3 jam. Kemudian pantau
bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu bayi tetap dalam batas
normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan
perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dan nasehati ibu bagaimana cara
menjaga agar bayi tetap hangat selama di rumah (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2007):
Penanganan bayi yang mengalami hipotermi sedang dapat dilakukan tindakan
yaitu dengan mengganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangat,
memakai topi dan selimut dengan selimut hangat. Apabila ada ibu atau pengganti ibu,
anjurkan menghangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit dengan kulit (perawatan
bayi lekat) akan tetapi apabila ibu tidak ada: hangatkan kembali bayi dengan
menggunakan ala pemancar panas. Gunakanlah inkubator dan ruangan hangat bila perlu.
Kemudian periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI perah dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan sesuaikan pengatur suhu.
Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering diubah (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu,
berikan ASI perah menggunakan salah satu alternatif cara pemberian susu. Kemudian
mintalah ibu untuk mengamati tanda bahaya misalnya gangguan nafas kejang dan segera
mencari pertolongan bila terjadi hal tersebut. Periksa kadar lukosa darah, bila <45 m/dL
(2,6 mmol/L), berikan penanganan terhadap hipoglikemi. Setelah itu nilai tanda bahaya,
Universitas Sumatera Utara
periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5ºC/jam berarti usaha
menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam tetapi apabila suhu tidak
naik atau naik terlalu pelan, kurang 0,5ºC/jam, cari tanda sepsis. Setelah suhu tubuh
normal: lakukan perawatan lajutan dan pantau bayi selama 24 jam berikutnya, periksa
suhu setiap 3 jam. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik
serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan, bayi dapat dipulangkan.
Kemudian Nasihati ibu bagaimana cara merawat bayi dirumah (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2007).
Menurut Departemen Kesehatan RI 2007, menghangatkan dan mempertahankan
suhu tubuh bayi dapat dilakukakan dengan cara melakukan kontak kulit, cara ini
digunakan untuk semua bayi. Tempelkan kulit bayi langsung pada permukaan kulit ibu
misalnya dengan merangkul, menempelkan payudara atau meneteki. Cara ini digunakan
untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau menghangatkan bayi hipotermi (3236,4ºC) apabila cara lain tidak mungkin dilakukan.
Cara menghangatkan bayi dengan Kangaroo Mother Care (KMC) digunakan
untuk menstabilkan bayi dengan berat badan <2,500 gram, terutama direkomendasikan
untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat badan <1,800 gram. Cara ini tidak
untuk bayi yang sakit berat (sepsis,gangguan nafas berat) dan tidak untuk ibu yang
menderita penyakit berat yang tidak dapat merawat bayinya. Pada ibu yang sedang sakit,
cara ini dapat dilakukan oleh keluarga (pengganti ibu) (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2007):
Universitas Sumatera Utara
Cara menghangatkan bayi dengan pemancar panas digunakan untuk bayi sakit
atau bayi dengan berat 1,500 gram atau lebih untuk memeriksa awal bayi, selama
dilakukan tindakan atau menghangatkan kembali bayi hipotermi (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2007).
Lampu penghangat digunakan bila tidak tersedia pemancar panas, dapat
digunakan lampu pijar maksimal 60 watt dengan jarak 60 cm.
Inkubator merupakan penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1,500
gram yang tidak dapat dilakukan KMC. Untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan nafas
berat) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007)
Boks penghangat diigunakan bila tidak tersedia inkubator, dapat digunakan boks
penghangat dengan menggunakan lampu pijar maksimal 60 watt sebagai sumber panas.
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Ruangan hangat digunakan untuk merawat bayi dengan berat <2,500 gram yang
tidak memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan, tidak untuk bayi sakit
berat (sepsis, gangguan nafas berat) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Universitas Sumatera Utara
Download