Analisis Kelayakan Usaha Pupuk Organik Kelompok Tani

advertisement
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK
KELOMPOK TANI BHINEKA I, DESA BLENDUNG,
KABUPATEN SUBANG
SKRIPSI
SYAHRA ZULFAH
H34050039
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
88
RINGKASAN
SYAHRA ZULFAH. Analisis Kelayakan Usaha Pupuk Organik Kelompok
Tani Bhineka I, Desa Blendung, Kabupaten Subang. Skripsi. Departemen
Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Di
bawah bimbingan POPONG NURHAYATI).
Industri pupuk organik di Indonesia sangat prospektif untuk
dikembangkan. Hal ini dikarenakan berkembanganya pertanian organik yang ikut
meningkatkan penggunaan input-input pertanian organik dimana salah satunya
adalah pupuk organik. Berdasarkan data Departemen Pertanian tahun 2008,
kebutuhan pupuk organik baru dapat dipenuhi 2 persen dari total kebutuhan
sebesar 17 juta ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar pupuk
organik di Indonesia sangat besar.
Kelompok tani (Poktan Bhineka I) adalah salah satu UKM pupuk organik
di Kabupaten Subang. Usaha ini berdiri sejak tahun 2008 dengan dukungan dana
dari Pemerintah Kabupaten Subang. Sejak berdiri pada tahun 2008 hingga
September 2009, Poktan Bhineka I menghadapi permintaan yang meningkat
hingga 90 persen. Akan tetapi permintaan tersebut belum terpenuhi semuanya
karena keterbatasan kapasitas produksi. Oleh karena itu, Poktan Bhineka I
berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi pupuk organiknya menjadi dua
kali lipat pada tahun 2010 .
Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis aspek kelayakan non finansial
dan finansial usaha pupuk organik Poktan Bhineka I yang telah berjalan selama
ini dan (2)Menganalisis kelayakan usaha pupuk organik jika kapasitas produksi
ditingkatkan. Manfaat dari penelitian ini yaitu : (1) Bagi penulis, penelitian ini
dapat menambah pengalaman dan latihan dalam menerapkan ilmu-ilmu yang telah
diperoleh selama kuliah, (2) Bagi perusahaan, penelitian ini dapat menjadi
referensi dan membantu perusahaan dalam mengambil keputusan pelaksanaan dan
pengembangan usaha pupuk organik oleh Poktan Bhineka I, dan (3) Bagi
pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi penelitian
dan pengembangan lebih lanjut mengenai bisnis pupuk organik.
Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung pada bulan Mei hingga
September 2009. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Metode
yang digunakan dalam mengolah dan menganalisis data pada penelitian ini adalah
metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kelayakan non finansial dilakukan
secara deskriptif dengan mengkaji lima aspek yaitu (1) Teknis dan teknologi, (2)
Pasar, (3) Manajemen, (4) Hukum dan (5) Sosial Lingkungan. Analisis kelayakan
finansial dilakukan dengan mengkaji arus kas menggunakan program Microsoft
Excel. Kriteria-kriteria kelayakan finansial diukur dari nilai NPV, IRR, Net B/C
dan Payback Period.
Analisis kelayakan non finansial usaha pupuk organik Poktan Bhineka I
dikatakan layak jika ditinjau dari aspek : (1) Teknis dan teknologi, (2) Pasar, (3)
Manajemen, dan (4) Sosial dan lingkungan. Aspek teknis usaha dikatakan layak
karena : (a) Pemilihan teknologi yang tepat, (b) Ketersediaan bahan baku terjamin
dan (c)Lokasi usaha yang strategis. Aspek pasar dikatakan layak karena
permintaannya yang meningkat dan kondisi pasar yang kompetitif dan teratur
dengan adanya APPOS. Aspek manajemen dikatakan layak karena adanya
89
struktur organisai usaha, pembagian tugas dan pembagian wewenang yang
sederhana dan jelas. Aspek sosial dan lingkungan dikatakan layak karena usaha
ini berdampak positif terhadap lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi
kepada masyarakat peternak, pengusaha budidaya jamur dan UKM kerupuk di
lingkungan sekitar usaha.
Analisis kelayakan finansial usaha Poktan Bhineka I dilakukan pada kondisi
yang sudah berjalan (Skenario I) dan bila kapasitas produksi ditingkatkan dua kali
lipat (Skenario II). Hasil analisis menunjukkan usaha layak pada kedua kondisi
tersebut. Peningkatan kapasitas produksi (Skenario II) menghasilkan laba per
tahun dan NPV lebih besar daripada Skenario I. Analisis sensitivitas usaha ini
menggunakan nilai pengganti (switching value, SV) yaitu kenaikan harga bahan
baku, kenaikan upah dan penurunan harga jual. Hasil analisis sensitivitas pada
skenario I usaha menunjukkan bahwa batas kenaikan harga bahan baku, kenaikan
upah kerja dan penurunan harga jual yang masih membuat usaha ini layak adalah
4,41 persen, 19,2 persen, dan 14,4 persen. Sedangkan Hasil analisis sensitivitas
pada skenario II
menunjukkan bahwa batas kenaikan harga bahan baku,
kenaikan upah kerja dan penurunan harga jual yang membuat usaha ini tetap
layak adalah 4,16 persen, 17,85 persen, dan 11,25 persen. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa usaha ini sangat sensitif terhadap kenaikan biaya bahan baku
karena biaya bahan baku memiliki proporsi terbesar dalam anggaran usaha.
Penetapan harga jual sebesar Rp 500 pada skenario I ataupun skenario II
menyebabkan usaha ini tidak layak karena pada skenario I, harga pasar minimal
adalah Rp 556,4 sedangkan pada skenario II adalah Rp 576,8.
90
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK
KELOMPOK TANI BHINEKA I, DESA BLENDUNG,
KABUPATEN SUBANG
SYAHRA ZULFAH
H34050039
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
91
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis
Kelayakan Usaha Pupuk Organik Kelompok Tani Bhineka I, Desa Blendung,
Kabupaten Subang” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka
dibagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2010
Syahra Zulfah
H34050039
92
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 8 September 1987 dari pasangan
Bapak Muhammad Zulfan dan Ibu Rahmawati. Penulis menyelesaikan pendidikan
di SDN 060900 Medan pada tahun 1997. Pada tahun yang sama penulis diterima
di SLTPN 2 Medan dan lulus pada tahun 2002. Kemudian pada tahun 2005,
penulis menyelesaikan pendidikan di SMUN 2 Medan. Pada tahun 2005, penulis
diterima di Institut Pertanian Bogor, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Departemen Agribinis melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB).
Selama kuliah penulis aktif pada kegiatan organisasi dan kepanitian di
lingkungan kampus. Penulis aktif dalam anggota Bina UKM FEM. Penulis juga
aktif di kegiatan luar kampus sebagai pengajar Ekonomi di bimbingan belajar di
Bogor.
93
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penelitian dalam rangka penulisan skripsi untuk mendapatkan
gelar sarjana. Skripsi ini berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Pupuk Organik
Kelompok Tani Bhineka I, Desa Blendung, Kabupaten Subang” yang secara
umum bertujuan untuk menentukan kelayakan usaha pupuk organik yang
dijalankan oleh kelompok tani. Hasil analisis penelitian ini diharapkan dapat
menjadi bahan masukan bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan investasi.
Selain itu, hasil analisis penelitian ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan
bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan dalam pengembangan industri pupuk
organik khususnya di Subang.
Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak termasuk
penulis, pembaca, pemerintah dan terutama untuk perusahaan tempat penulis
melakukan penelitian. Penulis juga mengharapkan masukan yang bersifat
membangun untuk perbaikan di masa mendatang.
Bogor, Maret 2010
Penulis
94
UCAPAN TERIMA KASIH
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
berkat, rahmat dan anugerah-Nya serta jalan dan kemudahan yang Engkau
tunjukkan kepada penulis.
Penulis menyadari dalam menyelesaikan skripsi ini banyak pihak yang
telah membantu memberikan bimbingan, bantuan, dukungan dan doa. Dalam
kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Popong Nurhayati, MM. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
memberikan motivasi, bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan
skripsi ini.
2. Ibu Eva Yolynda, SP, MM. selaku dosen penguji utama yang telah
meluangkan waktunya serta memberikan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Bapak Rahmat Yuniar, SP, MM. selaku dosen penguji dari wakil komisi
pendidikan Departemen Agribisnis atas segala saran yang telah diberikan.
4. Ibu dan Ayah, atas segala doa dan dukungan baik moral maupun material.
5. Bapak Haji Dedi Sobandi dan keluarga, terima kasih atas segala kebaikan dan
bimbingan yang diterima penulis selama penelitian, kesempatan untuk
melakukan penelitian, dan pengalaman-pengalaman yang berharga.
6. Kepada para stakeholder (pemasok input, pembeli pupuk dan lain-lain) usaha
Potan Bhineka I atas informasi dan data yang telah diberikan.
7. Bapak Suta Suntana (Ketua APPOS) yang telah memberikan informasi dan
bimbingan selama penelitian
8. Penyuluh pertanian Kecamatan Purwadadi atas informasi yang diberikan
9. Teman-teman Agribisnis 42 dan FEM yang telah memberikan inspirasi,
semangat dan dukungan yang besar kepada penulis.
10. Keluarga besar Arafah, Lorong 10, PPH, Pondok Bu Haji dan Nurul Fikri
yang telah memberi dukungan yang
besar
kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi.
11. Semua pihak yang turut membantu dalam pembuatan skripsi ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.
95
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ..........................................................................................
x
DAFTAR TABEL ..................................................................................
xii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................
xiv
I.
PENDAHULUAN .........................................................................
1
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
Latar Belakang .......................................................................
Perumusan Masalah ................................................................
Tujuan Penelitian ...................................................................
Kegunaan Penelitian ...............................................................
Ruang Lingkup Penelitian .......................................................
4
4
6
6
7
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................
8
2.1. Karakteristik Pupuk Organik ...................................................
2.1.1 Bahan-Bahan Penyusun Pupuk Organik ..........................
2.1.2 Standar Kualitas Pupuk Organik .....................................
2.2 Metode Pengomposan .............................................................
2.3 Program Go Organik 2010 .......................................................
2.4 Definisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah .............................
2.5 Penelitian Terdahulu ................................................................
8
9
11
12
13
14
14
III. KERANGKA PEMIKIRAN .........................................................
16
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ...................................................
3.1.1. Studi Kelayakan Proyek .................................................
3.1.2. Teori Biaya dan Manfaat ................................................
3.1.3. Analisis Kelayakan Investasi.........................................
3.1.4. Analisis Finansial ..........................................................
3.1.4.1 Laporan Laba Rugi ............................................
3.1.4.2 Net Present Value (NPV) ....................................
3.1.4.3 Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) ........................
3.1.4.3 Internal Rate of Return (IRR) ..............................
3.1.6 Analisis Sensitivitas .......................................................
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional.............................................
16
18
19
20
20
20
20
21
21
21
22
IV. METODE PENELITIAN ..............................................................
25
II.
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................
Data dan Sumber Data .............................................................
Metode Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data ..............
Analisis Kelayakan Investasi ...................................................
4.4.1. Analisis Kelayakan Non Finansial..................................
4.4.2. Analisis Kelayakan Finanisial.........................................
25
25
25
26
26
27
96
4.5 Asumsi Dasar yang digunakan ..................................................
30
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ........................................
34
5.1.
5.2.
5.3.
5.4.
Karakteristik Wilayah Penelitian .............................................
Asosiasi Produsen Pupuk Organik Subang (APPOS) ...............
Kelompok Tani Bhineka I .......................................................
Profil Usaha Pembuatan Pupuk Organik Bhineka I ..................
34
35
36
37
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................
39
6.1 Analisis Aspek Kelayakan Non Finansial .................................
6.1.1 Aspek Teknis dan Teknologi...........................................
6.1.2 Hasil Analalisis Aspek Teknis dan Teknologi ...............
6.1.3 Aspek Pasar ....................................................................
6.1.4 Hasil Analisis Aspek Pasar .............................................
6.1.5 Aspek Manajemen ..........................................................
6.1.6 Hasil Analisis Aspek Manajemen....................................
6.1.7 Aspek Hukum .................................................................
6.1.8 Hasil Analisis Aspek Hukum ..........................................
6.1.9 Aspek Sosial Lingkungan ..............................................
6.1.10 Hasil Analisis Aspek Sosial Lingkungan .......................
6.2 Analisis Aspek Kelayakan Finansial ........................................
6.2.1 Analisis Kelayakan Finansial Skenario I .........................
6.2.1.1 Arus Manfaat (Inflow)........................................
6.2.1.2 Arus Biaya (Outflow) .........................................
6.2.1.3 Laporan Laba Rugi ............................................
6.2.1.4 Hasil Analisis Kelayakan Finansial ....................
6.2.1.5 Analisis Sensitivitas ...........................................
6.2.1 Analisis Kelayakan Finansial Skenario II
(Peningkatan Kapasitas Produksi) ..................................
6.2.1.1 Arus Manfaat (Inflow)........................................
6.2.1.2 Arus Biaya (Outflow) .........................................
6.2.1.3 Laporan Laba Rugi ............................................
6.2.1.4 Hasil Analisis Kelayakan Finansial ....................
6.2.1.5 Analisis Sensitivitas ...........................................
6.3 Perbandingan Hasil Analisis Finansial
Skenario I dan Skenario II .......................................................
39
39
49
51
55
57
59
60
60
60
61
62
62
63
64
67
68
69
KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................
78
7.1. Kesimpulan ..............................................................................
7.2. Saran ........................................................................................
78
79
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................
80
LAMPIRAN ............................................................................................
82
V.
70
70
71
73
74
75
76
97
DAFTAR TABEL
Nomor
1.
Halaman
Kebutuhan dan Ketersediaan Berbagai Jenis Pupuk
Di Indonesia Tahun 2008 ........................................................
3
2.
Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik di Indonesia ........
11
3.
Data Kepemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan ..............
34
4.
Komposisi Bahan Baku Produksi 10 Ton Pupuk Organik
Bhineka I ................................................................................
39
5.
Ketersediaan Kotoran Hewan di Kecamatan Purwadadi ..........
40
6.
Rincian Peralatan dan Fungsinya dalam Pembuatan Pupuk
Bhineka I ................................................................................
42
7.
Penjualan Pupuk Organik Tahun 2008 hingga September 2009
52
8.
Penerimaan Usaha Pupuk Organik Bhineka I ..........................
63
9.
Nilai Sisa Invetasi (Skenario I) ................................................
64
10. Rincian Investasi Usaha Pupuk Organik Bhineka I (Skenario I)
65
11. Rincian Biaya Variabel Produksi 10 Ton Pupuk Organik
Tahun 2008 ............................................................................
67
12. Rincian Biaya Variabel Produksi 10 Ton Pupuk Organik
Tahun 2009 .............................................................................
67
13. Rincian Biaya Tetap Usaha Pupuk Organik Bhineka I .............
67
14. Proyeksi Laporan Laba Rugi Usaha Usaha Bhineka I ..............
68
15. Hasil Analisis Kelayakan Finansial (Skenario I) .....................
68
16. Hasil Analisis Sensitivitas (Skenario I) ....................................
70
17. Penerimaan Pupuk Organik (Skenario II) ................................
71
18. Rincian Penambahan Biaya Investasi (Skenario II)..................
71
19. Rincian Biaya Variabel per Tahun (Skenario II) ......................
72
20. Rincian Biaya Tetap (Skenario II) ..........................................
73
21. Rincian Laba Rugi Usaha Bhineka I pada (Skenario II) ..........
74
22. Hasil Analisis Kelayakan Finansial (Skenario II).....................
74
23. Hasil Analisis Sensitivitas (Skenario II) ..................................
75
24. Perbandingan Hasil Analisis Kelayakan Finansial
Skenario I dan II......................................................................
74
98
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Grafik Peningkatan Konsumsi Urea di Indonesia ...................
1
2.
Kerangka Pemikiran ................................................................
24
3.
Struktur Organisasi Kelompok Tani Bhineka I ........................
36
4.
Skema Pembuatan Pupuk Organik Poktan Bhineka I ...............
43
5.
Susunan Tumpukan Kompos ..................................................
45
6.
Bagan Pola Distribusi Langsung Pupuk Organik Bhineka I .....
55
7.
Bagan Pola Distribusi Tidak Langsung Pupuk Organik Bhineka I
55
8.
Bagan Organisasi Usaha Pupuk Organik Poktan Bhineka I ......
57
9.
Grafik Arus Manfaat Skenario I dan Skenario II ......................
76
99
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.
Halaman
Komposisi Unsur Hara Kotoran ternak dari Beberapa Jenis
Ternak di Indonesia ...............................................................
82
Komposisi dan Aplikasi Bahan Aditif untuk Memperbaiki
Kondisi Proses Dekomposisi dan Kualitas Kompos .................
83
3.
Alokasi penggunaan Lahan Desa Blendung Tahun 2007 ........
84
4.
Gambar Bahan Baku Pupuk Organik .......................................
85
5.
Gambar Proses Produksi Pupuk Organik .................................
86
6.
Diagram Grant Siklus Produksi ...............................................
87
7.
Layout Usaha Pupuk Organik Bhineka I ..................................
89
8.
Rincian Biaya Investasi dan Reinvestasi Skenario I .................
91
9.
Rincian Biaya Penyusutan Skenario I ......................................
92
10. Cashflow Usaha pupuk Organik Bhineka I Skenario I .............
93
11. Analisis Sensitivitas terhadap Penurunan Harga Jual
Skenario I ...............................................................................
95
12. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Harga Bahan
Baku Skenario I.......................................................................
96
13. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Harga Upah
Skenario I ................................................................................
97
14. Rincian Biaya Investasi, Reinvestasi dan Nilai Sisa Usaha
Skenario II ..............................................................................
98
15. Rincian Biaya Penyusutan Skenario II .....................................
99
16. Cashflow Usaha Pupuk Organik Skenario II ............................
100
17. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Harga Jual
Skenario II ..............................................................................
102
18. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Harga Bahan Baku
Skenario II .............................................................................
103
19. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Upah Skenario II ......
104
2.
100
I PENDAHULUAN
1. 1
Latar Belakang
Semenjak dimulainya revolusi hijau (1970-an), kondisi lahan pertanian
khususnya lahan pertanian intensif di Indonesia semakin kritis. Sebagian besar
lahan pertanian Indonesia mengalami degradasi yang menggerus kandungan
bahan organik tanah sehingga menurunkan produktifitas lahan. Hasil penelitian
Balai Penelitian Tanah (Balitan) 2005 menunjukkan bahwa sebagian besar lahan
pertanian di Indonesia, baik lahan kering maupun lahan sawah,
mempunyai
kandungan bahan organik (BO) sangat rendah yaitu kurang dari dua persen
(<2%). Padahal BO sangat berperan sebagai faktor pengendali (regulating factor)
dalam proses-proses penyediaan hara bagi tanaman dan mempertahankan struktur
tanah. Rendahnya kandungan hara menyebabkan kebutuhan lahan terhadap
pupuk anorganik sebagai asupan hara semakin meningkat. Urea adalah salah satu
pupuk anorganik yang pada umumnya digunakan petani Indonesia sebagai asupan
hara pokok tanaman. Total konsumsi pupuk urea di Indonesia meningkat dari 0,39
juta ton (1975) menjadi 5,9 juta ton (2008).
6000
5000
Ton
4000
3000
2000
1000
0
1975 1985 1990 1995 2000 2005 2008
Tahun
Gambar 1: Grafik Peningkatan Konsumsi Urea di Indonesia
Akan tetapi, peningkatan kebutuhan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan
ketersediaan pupuk urea sehingga mengakibatkan kelangkaan pupuk dan kenaikan
harga urea di pasar. Dampaknya secara tidak langsung adalah kesejahteraan petani
yang semakin terancam. Kenaikan harga pupuk urea menyebabkan peningkatan
biaya usaha tani dan penurunan pendapatan usaha tani. Kenaikan harga urea juga
meningkatkan beban pemerintah karena anggaran subsidi ikut meningkat. Pada
101
tahun 2009, anggaran subsidi urea mencapai Rp 7 Triliun untuk 5,5 ton urea dan
pada tahun 2010 mencapai Rp 11 Triliun untuk 6 ton urea1. Salah satu alternatif
dalam penyelesaian masalah penurunan produktifitas lahan dan kelangkaan pupuk
adalah sistem pemupukan terpadu dimana penggunaan pupuk anorganik dikurangi
dengan penambahan pupuk organik dalam komposisi pemupukan. Pupuk organik
adalah pupuk yang bahan bakunya berasal dari sisa makhluk hidup yang telah
mengalami proses pembusukan oleh mikroorganisme pengurai. Pupuk organik
biasanya berasal dari pengomposan kotoran ternak,sisa panen seperti jerami dan
sampah kota. Hasil penelitian pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak
(Crops Livestock System, CLS) pada lahan percobaan di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat
mengurangi pemakaian pupuk anorganik 25-35 persen dan meningkatkan
produktivitas 20-29 persen. Mengacu pada hasil penelitian tersebut, pengurangan
pemakaian pupuk anorganik dapat meningkatkan pendapatan usaha tani sebesar
20-29 persen dan menghemat anggaran subsidi pemerintah sekitar 30 persen atau
sekitar Rp 3,3 Triliun pada tahun 2010.
Pengembangan industri pupuk organik tidak hanya berdasarkan atas
faktor kerusakan lahan tetapi juga nilai bisnis dan ekonominya. Pertanian organik
mengalami perkembangan yang pesat sehingga permintaan pupuk organik ikut
meningkat. International Federation for Organic Agriculture Movement
(IFOAM), sebuah organisasi internasional yang menjadi payung gerakan organik
seluruh dunia, memprediksi bahwa pertumbuhan pasar organik berada di kisaran
20-30 persen setiap tahun.
Pengembangan pertanian organik mendapat dukungan besar dari
pemerintah melalui program Go Organik yang dicanangkan sejak tahun 2005.
Pada tahun anggaran 2007, Departemen Pertanian (Deptan) mengalokasikan dana
Rp 30 Milyar untuk pengembangan pertanian organik dan lingkungan hidup.
Anggaran dialokasikan ke semua Direktorat jendral (Ditjen) teknis di bawah
Deptan yang memiliki program-program teknis pengembangan pertanian organik.
Program-program yang mendapatkan dukungan ini berupa pengembangan pilot
1
Koran Republika. Harga Eceran Pupuk Urea 2010 Naik . Jumat, 11 September 2009
102
proyek organik,
seperti sosialisasi pertanian organik,
studi kelayakan,
pengembangan saprodi organik, pengenalan budidaya, panen dan sertifikasi
organik. Selain itu, Deptan juga akan memberikan dukungan bagi kelompok tani
berupa pemberian kredit usaha 2. Pemerintah mulai menggalakkan pengembangan
pertanian organik beberapa tahun terakhir. Pengembangan pertanian organik di
Indonesia mengacu pada sasaran Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan
(RPPK) 2005 yang antara lain berkaitan dengan aspek produktifitas dan efisiensi,
khususnya pada tanaman yang membutuhkan produksi besar dan menyangkut
hajat hidup orang banyak seperti tanaman pangan.
Industri pupuk di Indonesia pada umumnya terdiri dari usaha kecil
menengah dan bersifat parsial. Hal ini mengakibatkan kebutuhan pupuk organik
di Indonesia masih belum terpenuhi karena ketersediaan pupuk organik masih
relatif kecil dan akses untuk memperolehnya relatif sulit. Menurut data dari
Deptan pada tahun 2008 bahwa kebutuhan pupuk organik baru dapat dipenuhi
sebesar 2 persen dari total kebutuhan sebesar 17.000.000 ton.
Hal tersebut
menunjukkan bahwa potensi pasar industri pupuk organik di Indonesia sangat
besar.
Tabel 1. Kebutuhan dan Ketersediaan Berbagai Jenis Pupuk di
Indonesia Tahun 2008
Jenis Pupuk
Kebutuhan
(Ton)
5.817.974
Ketersediaan
Pupuk (Ton)
4.300.000
Sp-36
2.443.169
800.000
1.643.169
ZA
1.164.744
700.000
467.744
NPK
1.269.406
900.000
369.406
17.000.000
345.000
16.655.000
Urea
Organik
Selisih (Ton)
1.517.917
Sumber : www.deptan.go.id
Kabupaten Subang adalah salah satu kabupaten yang berperan besar dalam
ketahanan pangan nasional sebagai salah satu lumbung padi nasional yang
menyumbangkan produksi padi mencapai 1.020.606 ton terhadap stok padi
2
www.biocert.or.id/.../edition_87fdaf7e36e714da66073a3ce1a2741cc39f86ad.pdf Rp 30 milyar
Untuk Pengembangan Pertanian Organik.2007. Diakses pada tanggal 6 juli 2009
103
nasional. Subang mengarahkan pengembangan ekonomi daerah berbasis pertanian
yang tertuang dalam visi Pemerintah Kabupaten (Pemkab Subang). Subang
sebagai salah satu kabupaten yang mengembangkan program Go organik 2010.
Langkah awal kebijakan Go Organik 2010 yang dilakukan Pemkab Subang yaitu
melakukan pengalihan secara bertahap pemakaian input-input pertanian anorganik
menjadi organik. Salah satunya adalah mengurangi pemakaian pupuk anorganik
dan
mensubstitusikannya
pensubstitusian
dengan
penggunaan
pupuk
pupuk
organik.
anorganik
Tujuan
menjadi
utama
organik
dari
adalah
menyehatkan lahan pertanian di Kabupaten Subang. Untuk mendukung kebijakan
tersebut, langkah yang diambil adalah menumbuh-kembangkan industri kecil
pupuk organik. Pada tahun 2007, Pemkab Subang memberikan bantuan dana
sekitar Rp 1 Milyar kepada 32 pelaku usaha yang ingin mendirikan usaha pupuk
organik dan mengembangkannya. Sebagian besar pelaku usaha tersebut adalah
kelompok tani yang tersebar di beberapa desa di Kabupaten Subang. Pelakupelaku usaha tersebut kemudian membentuk APPOS (Asosiasi Produsen Pupuk
Organik Subang). Kelompok Tani (Poktan) Bhineka I adalah salah satu UKM
yang tergabung dalam APPOS yang menjalani usaha pupuk organik sejak awal
tahun 2008.
1.2
Perumusan Masalah
Salah satu alasan penting pengembangan pertanian organik adalah
kerusakan lahan pertanian yang semakin buruk. Penggunaan pupuk kimia yang
terus-menerus menjadi penyebab menurunnya kesuburan lahan bila tidak
diimbangi dengan penggunaan pupuk organik. Hasil penelitian Lembaga
Penelitian Tanah (LPT) menunjukkan bahwa 79 persen tanah sawah di Indonesia
memiliki bahan organik (BO) yang sangat rendah 3. Kondisi ini berarti bahwa
sawah di Indonesia sudah sangat miskin hara bahkan dapat dikatakan sakit
sehingga tidak hanya membutuhkan makanan (pupuk kimia), namun juga
memerlukan penyembuhan. Cara penyembuhannya adalah dengan menambahkan
3
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=60687. Falik Rusdayanto.
Potensi pasarproduk pertanian organik. 2007. Diakses pada tanggal 13 Juni 2009.
104
BO yang telah diolah menjadi pupuk organik sehingga tanah dapat menjadi lebih
sehat. Untuk meningkatkan kandungan BO, dibutuhkan tambahan bahan-bahan
organik (pupuk organik) berkisar 5-10 ton/ha.
Faktor penting dari pengembangan pertanian organik adalah ketersediaan
input-input yang menunjang sistem pertanian organik, dimana salah satunya
adalah ketersediaan pupuk organik. Dari data Departemen Pertanian tahun 2008,
kebutuhan pupuk organik baru dapat dipenuhi 2 persen dari total kebutuhan
sebesar 17 juta ton. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi karena jumlah
industri pupuk organik yang berkembang di Indonesia sangat lambat. Pupuk
organik hanya diproduksi secara parsial dengan skala industri rumah tangga
(home industry) sehingga jumlah produksi yang dihasilkan relatif kecil dan tidak
kontinu. Oleh karena itu, industri pupuk organik di Indonesia sangat penting dan
prospektif untuk dikembangkan. Kebutuhan pupuk organik yang tinggi sedangkan
ketersediaannya tidak mencukupi menunjukkan suatu peluang bisnis yang
prospektif. Gap yang besar antara kebutuhan dan ketersediaan pupuk organik
menunjukkan market potential pupuk organik cukup besar. Market potential yang
besar tersebut menjadi peluang pasar bagi para produsen untuk mengembangkan
usaha pupuk organik.
Kabupaten Subang memiliki luas areal pertanian
sebesar 63 persen
(129.975 Ha) dari total luas lahan (205.176 Ha). Berdasarkan anjuran pemakaian
bahan organik (Balitan 2005) dimana setiap hektar lahan memerlukan minimal 2
ton pupuk organik per tahun, maka kebutuhan pupuk organik Subang sekitar
259.950 ton per tahun. Akan tetapi, menurut ketua APPOS, Bapak Suta Suntana,
produksi pupuk organik di Subang hanya mencapai 200 ton per bulan atau 2200
ton per tahun pada tahun 2009. Hal ini dikarenakan usaha pembuatan pupuk
organik baru berkembang sejak tahun 2007 dan rata-rata skala usahanya masih
tergolong dalam usaha kecil. Poktan Bhineka I adalah salah satu pelaku usaha
pembuatan pupuk organik di Subang yang tergabung dalam APPOS. Poktan ini
baru menjalankan usaha pembuatan organik sejak awal tahun 2008. Pendirian
usaha ini mendapat bantuan Pemkab Subang senilai Rp 32.000.000. Penjualan
pupuk organik Poktan Bhineka I meningkat 90 persen dari 120 ton pada tahun
2008 menjadi 230 ton pada September 2009. Menurut pengelola permintaan
105
pupuk organik sangat tinggi sehingga terkadang tidak dapat dipenuhi. Pada bulan
Juli 2009 terjadi penolakan permintaan sebesar 20 ton. Alasan penolakan
permintaan karena usaha ini memiliki kapasitas produksi yang terbatas. Usaha
Poktan Bhineka I hanya mampu menghasilkan 25 ton pupuk per bulan. Oleh
karena itu, pengelola Poktan Bhineka I berencana meningkatkan kapasitas usaha
menjadi dua kali lipat untuk memenuhi permintaan pasar.
Penelitian ini mengkaji kelayakan usaha pupuk organik Poktan Bhineka I
dalam jangka waktu sepuluh tahun. Analisa kelayakan usaha ditinjau dari aspek
finansial dan non finansial untuk menentukan keputusan mengenai layak atau
tidaknya suatu usaha dijalankan hingga kemudian ditingkatkan kapasitas
produksi. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa perumusan
masalah dalam penelitian ini diantaranya :
1.
Bagaimana kelayakan usaha pupuk organik yang telah dijalankan oleh
Poktan Bhineka I selama ini bila ditinjau dari aspek non finansial dan
finansial?
2.
Bagaimana kelayakan usaha pupuk organik Poktan Bhineka I bila dilakukan
peningkatan kapasitas produksi?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang dan perumusan masalah, maka
penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Menganalisis kelayakan finansial dan non finasial usaha pupuk organik
Poktan Bhineka I yang telah berjalan
2.
Menganalisis kelayakan usaha pupuk organik Poktan Bhineka I bila
kapasitas produksi ditingkatkan
1.4
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi
berbagai pihak yaitu:
1.
Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah pengalaman dan latihan dalam
menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama kuliah.
106
2.
Bagi Perusahaan, penelitian ini dapat menjadi referensi dan membantu
perusahaan dalam mengambil keputusan pelaksanaan dan pengembangan
usaha pupuk organik oleh Kelompok Tani Bhineka I
3.
Bagi pembaca diharapkan dapat memberikan informasi bagi penelitian dan
pengembangan lebih lanjut mengenai bisnis pupuk organik.
1.5
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis kelayakan usaha pupuk organik yang
dijalankan oleh Kelompok Tani Bhineka I di Desa Blendung, Kabupaten Subang
dalam jangka waktu 10 tahun, dimulai dari berjalannya usaha pupuk organik
Poktan Bhineka I (tahun 2008). Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan
menganalisis aspek non finansial dan finansial. Aspek non finansial dijelaskan
secara deskriptif dan aspek finansial ditentukan berdasarkan proyeksi arus kas
usaha.
107
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Karakteristik Pupuk Organik
Berdasarkan komponen utama penyusunnya, pupuk dibedakan atas pupuk
organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik yaitu pupuk yang bahan bakunya
berasal dari sisa makhluk hidup yang telah mengalami proses pembusukan oleh
mikroorganisme pengurai sehingga warna, rupa, tekstur, dan kadar airnya tidak
serupa lagi dengan aslinya. Pupuk anorganik yaitu pupuk yang bahan bakunya
berasal dari bahan mineral, senyawa kimia yang telah diubah menjadi proses
produksi sehingga menjadi bentuk senyawa kimia yang dapat diserap tanaman.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.2/Pert/Hk.060/2/2006
tentang pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri
atas bahan organik, berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui
proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair dan digunakan untuk
memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan
bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan
organik daripada kadar haranya. Nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda
dengan pupuk anorganik.
Karakteristik umum yang dimiliki pupuk organik adalah sebagai berikut :
1.
Kandungan hara rendah
Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tapi bervariasi
tergantung pada jenis bahan dasarnya.
2.
Ketersediaan unsur hara lambat
Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia
tanah kemudian dialihrupakan dari bentuk ikatan kompleks organik yang tidak
dapat dimanfaatkan oleh tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik
sederhana yang dapat diserap oleh tanaman.
3.
Menyediakan hara dalam jumlah terbatas
Penyediaan hara yang berasal dari pupuk organik biasanya terbatas dan
tidak dapat memenuhi asupan hara yang dibutuhkan tanaman.
Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang,
sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa),
limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah
108
kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan
hasil perombakan oleh fungi, aktinomiset, dan cacing tanah. Pupuk hijau
merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti
sisa batang dan tunggul akar misalnya sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan
tanaman paku air Azolla. Pupuk kandang merupakan hasil pengomposan kotoran
ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa tulang-tulang,
darah, dan sebagainya. Limbah industri yang menggunakan bahan pertanian
contohnya seperti limbah pabrik gula, limbah pengolahan kelapa sawit,
penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya. Limbah kota yang
dapat menjadi kompos berupa sampah kota yang berasal dari tanaman, setelah
dipisah dari bahan-bahan yang tidak dapat dirombak misalnya plastik, kertas,
botol, dan kertas. Dalam penelitian ini, pupuk organik yang dimaksud adalah
pupuk organik yang sumber organiknya berasal dari pengomposan kotoran hewan,
jerami dan bahan lainnya.
2.1.1 Bahan-Bahan Penyusun Pupuk organik
Menurut Isroi (2009), bahan-bahan yang umumnya digunakan dalam
pembuatan pupuk organik adalah sebagai berikut :
1.
Bahan Organik
a.
Kompos
Kompos sebagai bahan baku utama dalam pembuatan pupuk
organik. Kompos adalah bahan organik padat yang telah mengalami
dekomposisi parsial. Bahan baku kompos adalah bahan organik padat,
seperti sampah organik, serasah, sisa daun, jerami dan lain-lain. Bahan
organik yang telah matang dalam proses pengomposan mempunyai rasio
C/N yang cukup rendah atau kurang dari 25.
b.
Pupuk kandang
Pupuk kandang juga termasuk jenis kompos, tetapi berbahan baku
kotoran hewan. Pupuk kandang bisa dibuat dari kotoran ternak (sapi,
kambing, kerbau, unggas atau kotoran manusia). Kotoran ternak ayam,
sapi, kerbau, dan kambing mempunyai komposisi hara yang bervariasi
(Lampiran 1). Secara umum, kandungan hara kotoran ternak lebih rendah
daripada pupuk kimia sehingga takaran aplikasinya lebih besar.
109
c.
Gambut
Gambut mirip dengan kompos, namun proses dekomposisinya
belum sempurna. Gambut tidak dijadikan sebagai bahan baku utama pupuk
organik. Umumnya gambut digunakan sebagai bahan baku organik
tambahan untuk pupuk organik
2.
Perekat
Perekat berfungsi untuk merekatkan pupuk organik agar pencampuran
bahan sempurna dan menghasilkan tekstur pupuk yang padat. Beberapa bahan
yang biasa digunakan sebagai perekat antara lain adalah molase, tepung tapioka,
kalsium, bentonit, kaoline dan lain sebagainya. Perekat ditambahkan dalam
jumlah sedikit (kurang dari 10 %).
3.
Bahan Aditif (Bahan Tambahan)
Bahan aditif adalah semua bahan yang dapat ditambahkan saat
melaksanakan proses pengomposan dengan tujuan memperbaiki struktur kompos
dalam timbunan. Bahan-bahan aditif yang umumnya digunakan
a.
Fosfat alam
Fosfat Alam ditambahkan untuk meningkatkan P didalam pupuk
organik.
b.
Dolomit
Penambahan dolomit digunakan untuk meningkatkan kandungan
Magnesium (Mg) dalam pupuk organik.
c.
Kapur Pertanian (kaptan)
Kaptan adalah kapur yang biasa digunakan dalam budidaya
pertanian untuk meningkatkan pH tanah, khususnya di tanah-tanah yang
bereaksi masam. Dalam pembuatan pupuk organik, kaptan juga berfungsi
untuk meningkatkan pH pupuk karena bahan-bahan dalam pupuk organik
bereaksi masam.
d.
Zeolit
Zeolit memiliki pengaruh yang baik untuk tanah, yaitu dapat
meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Peningkatan kapasitas tukar
kation tanah akan meningkatkan efiensi penyerapan hara oleh tanaman.
110
e.
Abu atau arang sekam
Abu atau arang sekam memiliki kandungan K2O yang cukup tinggi yaitu
kurang lebih 30 persen. Penambahan abu atau arang sekam digunakan
untuk meningkatkan kandungan hara K.
Menurut Sutanto (2002), keberhasilan proses pengomposan dalam
pembuatan pupuk organik sangat tergantung pada kesesuaian komposisi bahan.
Perlakuan yang paling tepat terhadap bahan dasar untuk berlangsungnya proses
dekomposisi sangat tergantung pada karakteristik limbah organik yang digunakan
(Lampiran 2).
2.1.2 Standar Kualitas Pupuk organik
Mutu atau kualitas adalah segala hal yang menunjukkan keistimewaan atau
derajad keunggulan suatu produk. Menurut Sutanto (2002) spesifikasi dari pupuk
organik yang berkualitas baik adalah :
1.
Kandungan total bahan organik minimal 20 persen
2.
Kandungan lengas tidak boleh melampaui 15 persen hingga 25 persen.
Pada kenyataannya makin rendah kandungan air, maka kualitas pupuk
organik menjadi lebih baik.
3.
Nisbah C/N dari bahan organik antara 10/1 sampai 15/1
4.
Memiliki pH 6,5 hingga 7,5
Sedangkan standarisasi atas pupuk organik yang telah ditetapkan oleh Deptan
diuraikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik di Indonesia
No
Kandungan
Parameter
Padat
Cair
1
C-organik (%)
Min 16
>6
2
C/N ratio
12 – 25
-
3
Kadar Air (%)
<2
-
- As (ppm)
< 10
< 10
- Hg (ppm)
<1
<1
- Pb (ppm)
< 50
<50
- Cd
<10
<10
pH
>4 - < 8
>4 - < 8
Kadar logam berat
4
5
111
No
Kandungan
Parameter
Padat
Cair
6
Kadar total (N + P2O5 + K2O) (%)
Dicantumkan
Dicantumkan
7
Mikroba patogen (E, coli, salmonella)
Dicantumkan
Dicantumkan
8
Kadar unsur mikro (Zn, Cu, Co, Fe) (ppm)
Dicantumkan
Dicantumkan
2.2 Metode Pengomposan
Terdapat
bermacam-macam
metode
pengomposan
yang
telah
dikembangkan di Indonesia, baik yang bersifat sederhana maupun modern sesuai
dengan skala industri. Masing-masing metode tersebut merupakan usaha untuk
memanipulasi agar mampu mempercepat laju proses pengomposan. Pemilihan
teknologi dan modifikasinya tergantung kepada jenis bahan yang akan
dikomposkan dan ketersediaan peralatan dan bahan pendukungnya.
a.
Metode Indore
Metode pengomposan Indore biasa digunakan di Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Prinsip dasar pengomposan metode Indore ada
dua yaitu; (1)
menggunakan lubang galian (Indore Pit Method) dan (2) menggunakan timbunan
(Indore Heap Method). Metode Indore sesuai diterapkan di daerah yang bercurah
hujan tinggi dengan lama proses pengomposan kurang lebih tiga bulan.
b.
Metode Bangalore
Metode pengomposan ini dikembangkan di Bangalore India pada tahun
1939. Timbunan bahan disusun sama seperti metode Indore tetapi lubang
dipersempit 60 cm dan dilapisi limbah cair. Proses dekomposisi yang berlangsung
akan mempertahankan hara yang dikandung dan bahan kompos lebih kaya
nitrogen dibandingkan metode Indore. Metode ini cocok untuk wilayah yang
memiliki curah hujan yang rendah.
c.
Metode Berkeley
Pada metode ini, bahan yang dikomposkan merupakan campuran bahan
organik kaya selulosa dan bahan organik kaya nitrogen. Proses pengomposannya
terjadi dengan cepat dan dalam waktu yang relatif singkat
d.
Metode Vermikompos
Vermikompos merupakan bahan campuran hasil proses pengomposan
bahan organik yang memanfaatkan kegiatan cacing tanah.
112
e.
Metode Jepang
Dalam metode ini, lubang galian diganti dengan bak penampung yang
terbuat dari anyaman bambu. Dengan metode ini, kehilangan nitrat dapat
dihindarkan.
2.3
Program Go Organik 2010
Program pengembangan pertanian organik (Go Organik 2010) adalah salah
satu pilihan program untuk mempercepat terwujudnya pembangunan agribisnis
berwawasan lingkungan (eco-agribisnis) guna meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani. Program ini dicanangkan pemerintah mulai tahun
2005. Misi yang diemban dalam program Go Organik 2010 adalah meningkatkan
kualitas hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan alam Indonesia, dengan
mendorong berkembangnya pertanian organik yang berdaya saing dan
berkelanjutan. Tujuan yang ingin dicapai dalam program Go Organik 2010 adalah
mewujudkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor pangan
organik utama di dunia pada tahun 2010. Sesuai dengan fungsinya sebagai
fasilitator dan katalis pembangunan, maka serangkaian strategi yang dilakukan
pemerintah dalam hal ini departemen pertanian untuk mewujudkan Go organik
2010 antara lain:
1.
Memasyarakatkan pertanian organik kepada konsumen
2.
Memfasilitasi percepatan, penguasaan, penerapan, pengembangan, dan
penyebarluasan teknologi pertanian organik
3.
Memfasilitasi kerjasama terpadu antar masyarakat agribisnis untuk
mengembangkan sentra-sentra pertumbuhan pertanian organik
4.
Memberdayakan potensi dan kekuatan masyarakat untuk mengembangkan
infrastruktur fisik dan kelembagaan pendukung pertanian organik
5.
Merumuskan kebijakan, norma, standar teknis, sistem dan prosedur yang
kondusif untuk pengembangan pertanian organik.
2.4
Definisi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Definisi usaha mikro Menurut Keputusan Menteri Keuangan No.
40/KMK.06/2003, tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil, adalah
113
usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia (WNI)
dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 per tahun.
Definisi usaha kecil Menurut UU No. 9/1995, adalah: (1) Usaha produktif
milik WNI, yang berbentuk badan usaha orang perorangan, badan usaha yang
tidak berbadan hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi, (2)
Bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai atau berafiliasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Usaha
Menengah atau Besar (UMB), dan (3) Memiliki kekayaan bersih paling banyak
Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki
hasil penjualan paling banyak Rp. 100.000.000 per tahun. Berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan (Kepmenkeu) 571/KMK 03/2003 maka pengusaha kecil adalah
pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan barang kena pajak
dan atau jasa kena pajak dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan
brutto tak lebih dari Rp 600.000.000.
Definisi usaha menengah menurut Instruksi Presiden (Inpres) No. 10/1999,
tentang Pemberdayaan Usaha Menengah adalah ; (1) Usaha produktif milik WNI,
yang berbentuk badan usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan
hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi; (2) Berdiri sendiri,
dan bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai atau berafiliasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan usaha
besar, (3) Memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000, sampai
denganb Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha,
atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 per tahun.
2.5
Penelitian Terdahulu
Mujiati (2004) menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis kelayakan
finansial pada tingkat diskonto 12 persen, 16 persen dan 18 persen, usaha
pengomposan layak untuk diusahakan. Namun usaha pengomposan ini sensitif
terhadap perubahan harga input variabel, harga output dan kapasitas produksi.
Pada kenaikan harga input variabel, penurunana harga output dan penurunan
kapasitas produksi masing-masing 1 persen, usaha ini layak pada tingkat diskonto
12 persen, akan tetapi tidak layak pada tingkat 18 persen.
114
Manalu (2006) dalam penelitiannya mengenai kelayakan finansial usaha
kompos limbah ternak sapi perah di CV Cisarua Integrated Farming 2006
menyimpulkan bahwa usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan dengan
pertimbangan NPV positif dalam keadaan normal dengan DR (14 % − 20 %) dan
BCR (Benefit Cost Ratio) lebih besar dari satu. Dalam usaha ini, komposisi
limbah ternak sebesar 60 persen dari total bahan baku, harga limbah ternak Rp
2500 per karung dan harga jual pupuk sebesar Rp 750 per kilogram dalam skala
kecil dan Rp 400 per kilogram dalam skala besar.
Widiastuti (2008) dalam penelitiannya mengenai studi kelayakan usaha
pupuk organik cair di PT Mulyo Tani Tani, menyimpulkan bahwa usaha tersebut
layak dijalankan dengan pertimbangan NPV bernilai positif (Rp 2.159.141) dan
IRR 15 persen dengan tingkat DR sebesar 12 persen. Berdasarkan analisis
sensitifitas yang dilakukan dalam penelitian tersebut, usaha pupuk organik cair
sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan baku, dan jika terjadi kenaikan
bahan baku 10 persen menyebabkan usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan.
Khaddafy (2009) dalam penelitiannya mengenai kelayakan usaha pupuk
organik di CV Saung Wira di Kabupaten Bogor didapat kesimpulan bahwa usaha
tersebut layak dijalankan pada kondisi normal dengan nilai NPV > 0
(121.292.526), Net B/C >1 (3,22), IRR 47,88 persen dan PP 2,28. Dalam usaha
tersebut, asumsi yang digunakan adalah harga jual Rp 2000 per kilogram.
Dalam penelitian ini, usaha pupuk organik yang diteliti merupakan usaha
kecil yang dikelola oleh kelompok tani di Kabupaten Subang. Usaha ini didirikan
dengan bantuan pemerintah Kabupaten Subang. Analisis yang dilakukan meliputi
analisis aspek finansial dan non finansial. Analisis aspek non finansial dijelaskan
secara deskriptif mengenai: (1) Aspek Teknis dan teknologi, (2) Aspek
Pemasaran, (3) Aspek Manajemen, (5) Aspek Hukum, dan (4) Aspek Sosial dan
Lingkungan. Analisis aspek finansial dalam penelitian ini menggunakan laporan
laba rugi dan arus kas dalam menentukan NPV, IRR, Net B/C dan PP. Dalam
aspek finansial juga dilakukan analisis sensitivitas menggunakan switching value.
115
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1
Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Studi Kelayakan Proyek
Menurut Gray et al (1985), proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat
direncanakan
dan
dilaksanakan
dalam
satu
bentuk
kesatuan
dengan
mempergunakan sumber-sumber untuk mendapatkan benefit. Menurut Gittinger
(1986) proyek yang bergerak dalam bidang pertanian adalah suatu kegiatan
investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang modal
yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode
waktu. Sumber-sumber yang dimaksud dapat berupa barang-barang modal, tanah,
bahan setengah jadi, bahan mentah, tenaga kerja dan waktu.
Menurut Subagyo (2007), Objek studi kelayakan terbagi dalam 3 jenis
yang berbeda, yaitu :
1.
Pendirian, berarti objek yang dipelajari dan diteliti merupakan usaha baru
yang akan didirikan
2.
Pengembangan, berarti objek yang dikaji usahanya sudah berdiri dan
mempunyai rencana untuk dikembangkan terutama pada aspek-aspek
tertentu, misalnya pembelian teknologi baru karena adanya permintaan
pasar yang meningkat.
3.
Merger atau akuisisi, berarti objek merupakan usaha yang sudah berdiri
kemudian digabungkan dan diambil alih oleh perusahaan lain.
Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang kemampuan suatu
proyek dilaksanakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono, 2000). Suatu
proyek dapat dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria manfaat investasi
sebagai berikut :
1.
Manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (umumnya disebut
sebagai manfaat finansial).
2.
Manfaat proyek bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan (disebut juga
manfaat ekonomi nasional).
3.
Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat di sekitar proyek.
Tujuan dilakukan analisis proyek adalah (1) untuk mengetahui tingkat keuntungan
yang dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, (2) menghindari pemborosan
116
sumber-sumber, yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang tidak
menguntungkan, (3) mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada
sehingga kita dapat memilih alternatif proyek yang paling menguntungkan, dan
(4) menentukan prioritas investasi (Gray, et al, 1992).
Dalam penelitian ini, ada enam aspek yang dipertimbangkan dalam
mengambil keputusan yaitu :
1.
Aspek Pasar
Untuk mencapai hasil pemasaran yang diinginkan, suatu perusahaan harus
menggunakan alat-alat pemasaran yang membentuk suatu bauran pemasaran.
Adapun yang dimaksud dengan bauran pemasaran menurut Kottler (2002) yaitu
seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan terus menerus untuk
mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Analisis aspek pasar mencakup
permintaan, penawaran, harga, program pemasaran yang akan digunakan, serta
perkiraan penjualan.
2.
Aspek Teknis
Aspek teknis mencakup masalah penyediaan sumber-sumber dan
pemasaran hasil-hasil produksi, seperti lokasi proyek, besaran skala operasional
untuk mencapai kondisi yang ekonomis, kriteria pemilihan mesin dan equipment,
layout, proses produksi, serta ketepatan penggunaan teknologi.
3.
Aspek Manajemen
Tujuan analisis kelayakan usaha dari aspek manajemen adalah untuk
mengetahui apakah pembangunan dan implementasi usaha dapat direncanakan,
dilaksanakan dan dikendalikan, sehingga pada akhirnya rencana usaha dapat
dikatakan layak atau tidak layak. Aspek-aspek yang diperhatikan pada studi
kelayakan terdiri dari manajemen pada masa pembangunan yaitu pelaksana
proyek, jadwal penyelesaian proyek, dan pelaksana studi masing-masing aspek,
dan manajemen pada saat operasi yaitu bentuk organisasi, struktur organisasi,
deskripsi jabatan, personil kunci, dan jumlah tenaga kerja yang digunakan
4.
Aspek Hukum
Aspek hukum terdiri dari bentuk usaha yang akan digunakan, jaminan-
jaminan yang dapat diberikan apabila hendak meminjam dana seperti akta,
sertifikat dan izin yang diperlukan dalam menjalankan usaha.
117
5.
Aspek Sosial Lingkungan
Aspek sosial lingkungan terdiri dari pengaruh proyek terhadap
peningkatan kesejahteraan masyarakat, peluang kerja, dan pengembangan wilayah
dimana proyek dilaksanakan.
6.
Aspek Finansial
Aspek finansial terdiri dari uraian mengenai modal kerja, modal investasi,
menganalisis laporan keuangan dan arus kas usaha dan memutuskan apakah usaha
ini layak berdasarkan indikator-indikator finansial.
3.1.2 Teori Biaya dan Manfaat
Dalam menganalisa suatu proyek tujuan analisa harus disertai dengan
definisi biaya dan manfaat. Biaya diartikan sebagai salah satu yang mengurangi
suatu tujuan, sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu
terlaksananya suatu tujuan (Gittinger, 1986). Biaya dapat juga didefinisikan
sebagai pengeluaran atau korbanan yang dapat menimbulkan pengurangan
terhadap manfaat yang diterima. Biaya dapat dibedakan sebagai berikut :
1.
Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaannya
bersifat jangka panjang, seperti tanah , bangunan, pabrik, dan mesin.
2.
Biaya operasional atau modal kerja merupakan kebutuhan dana yang
diperlukan pada saat proyek mulai dilaksanakan, seperti biaya bahan baku
dan biaya tenaga kerja.
3.
Biaya lainnya, seperti pajak, bunga, dan pinjaman.
Manfaat dapat diartikan sebagai suatu yang dapat menimbulkan kontribusi
terhadap suatu proyek. Manfaat proyek dapat dibedakan menjadi :
1.
Manfaat langsung yaitu manfaat yang secara langsung dapat diukur dan
dirasakan sebagai akibat dari investasi seperti peningkatan pendapatan dan
kesempatan kerja.
2.
Manfaat tidak langsung yaitu manfaat yang secara nyata diperoleh dengan
tidak langsung dari proyek dan bukan merupakan tujuan utama proyek.
Kriteria yang biasa digunakan sebagai dasar persetujuan atau penolakan
suatu proyek yang dilaksanakan adalah kriteria investasi. Dasar penilaian investasi
adalah perbandingan antara jumlah nilai yang diterima sebagai manfaat dari
investasi tersebut dengan manfaat dalam situasi tanpa proyek. Nilai perbedaannya
118
adalah berupa tambahan manfaat bersih yang akan muncul dari investasi dengan
adanya proyek (Gittinger, 1986).
3.1.3 Analisis Kelayakan Investasi
Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan
biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek. Dalam mengukur manfaat suatu proyek
dapat digunakan dua cara. Pertama, menggunakan perhitungan berdiskonto, yaitu
suatu teknik yang dapat “menurunkan” manfaat yang diperoleh pada masa yang
akan datang dan arus biaya menjadi nilai biaya pada masa sekarang. Kedua,
menggunakan perhitungan tidak berdiskonto. Perbedaan dua cara ini terletak pada
konsep Time Value of Money yang digunakan pada model perhitungan
berdiskonto. Model perhitungan tidak berdiskonto memiliki kelemahan umum
dibandingkan
perhitungan
berdiskonto
yaitu
ukuran
tersebut
belum
mempertimbangkan secara lengkap mengenai lamanya arus manfaat yang
diterima (Gittinger, 1986).
Konsep Time Value of Money menyatakan bahwa nilai sekarang (present
value) adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang
(future value) yang disebabkan dua hal, yaitu: (1) time preference (sejumlah
sumber yang tersedia untuk dinikmati pada saat ini lebih disenangi dibandingkan
jumlah yang sama yang tersedia di masa yang akan datang), (2) Produktifitas atau
efisiensi modal
(modal yang dimiliki saat ini memiliki peluang untuk
mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang melalui kegiatan yang
produktif) yang berlaku baik secara perorangan maupun bagi masyarakat secara
keseluruhan (Kadariah, 2001).
Kedua unsur tersebut berhubungan secara timbal balik di dalam pasar
modal untuk menentukan tingkat harga modal yaitu tingkat suku bunga, sehingga
dengan tingkat suku bunga dapat dimungkinkan untuk membandingkan arus
biaya dan manfaat yang penyebarannya dalam waktu yang tidak merata. Untuk
tujuan itu, tingkat suku bunga ditentukan melalui proses “discounting”
(Kadariah,2001).
119
3.1.4
Analisis Finansial
Analisis finansial adalah analisis yang digunakan untuk membandingkan
antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan
menguntungkan selama umur proyek (Husnan dan Suwarsono, 2000). Analisis
Finansial terdiri dari:
3.1.4.1 Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi melaporkan pendapatan dan beban selama periode
waktu tertentu berdasarkan konsep penandingan atau pengaitan. Menurut Warren,
et al (2005) laporan laba rugi melaporkan kelebihan pendapatan yang dihasilkan
selama periode terjadinya beban tersebut. Kelebihan ini disebut laba bersih atau
keuntungan bersih. Jika beban melebihi pendapatan, maka disebut kerugian.
Adanya laporan laba rugi akan memudahkan untuk menentukan besarnya aliran
kas tahunan yang diperoleh suatu perusahan (Nurmalina, Sarianti dan Karyadi,
2009).
3.1.4.2 Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus
kas yang ditimbulkan oleh investasi. Menurut Keown (2004), NPV diartikan
sebagai nilai bersih sekarang dari arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan
pengeluaran awal. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga
yang relevan. Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu:
a.
NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu memberikan tingkat
pengembalian sebesar modal sosial Opportunity Cost faktor produksi
normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung maupun rugi.
b.
NPV > 0, artinya suatu proyek dinyatakan menguntungkan dan dapat
dilaksanakan.
c.
NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang
dipergunakan, atau dengan kata lain proyek tersebut merugikan dan
sebaiknya tidak dilaksanakan.
3.1.4.3 Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Rasio)
Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C Rasio) merupakan angka
perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present
120
value dari net benefit yang negatif. Kriteria investasi berdasarkan Net B/C Rasio
adalah:
a.
Net B/C = 1, maka NPV = 0, artinya proyek tidak untung ataupun rugi
b.
Net B/C > 0, maka NPV > 0, artinya proyek tersebut menguntungkan
c.
Net B/C < 0, maka NPV < 0, proyek tersebut merugikan
3.1.4.4 Internal Rate Return (IRR)
Internal Rate Return adalah tingkat bunga yang menyebabkan present
value kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk yang
diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan Net
Present value (NPV) sama dengan nol.
Menurut Gittinger (1986) IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern
tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan
persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga yang dapat dibayar oleh
proyek untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dianggap layak apabila
memiliki nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan suatu
investasi dianggap tidak layak apabila memiliki nilai IRR yang lebih kecil dari
tingkat suku bunga yang berlaku.
3.1.4.5 Payback Period (PP)
Payback Period atau tingkat pengembalian investasi merupakan suatu
metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur
periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal kembali, maka
akan semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang kembali
dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono,
1999).
3.1.5 Analisis Sensitivitas
Analisis senstivitas dilakukan untuk meneliti kembali analisa kelayakan
proyek yang telah dilakukan. Tujuannya yaitu untuk melihat pengaruh yang akan
terjadi apabila keadaan berubah. Hal ini merupakan suatu cara untuk menarik
perhatian pada masalah utama proyek yaitu proyek selalu menghadapi
ketidakpastian yang dapat terjadi pada suatu keadaan yang telah diramalkan
(Gittinger, 1986).
121
Pada proyek di bidang pertanian terdapat empat masalah utama yang
mengakibatkan proyek sensitif terhadap perubahan, yaitu:
a.
Perubahan harga jual
b.
Keterlambatan pelaksanaan proyek
c.
Kenaikan biaya
d.
Perubahan volume produksi
Untuk menentukan ukuran sensitivitas, digunakan formula switching value.
Menurut Gittinger (1986), analisis switching value adalah suatu analisa untuk
dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubahubah. Pendekatan switching value (nilai ganti), mencari beberapa perubahan
maksimum yang dapat ditolerir agar proyek masih bisa dilaksanakan. Perubahanperubahan yang terjadi misalnya perubahan pada tingkat produksi, harga jual
output maupun kenaikan harga input. Analisis ini dilakukan dengan teknik trialerror terhadap perubahan yang terjadi sehingga dapat diketahui tingkat kenaikan
dan penurunan maksimum yang boleh terjadi dalam suatu usaha. Switching value
menggambarkan tingkat perubahan tertentu yang menyebabkan NPV mendekati
atau sama dengan nol, IRR sama dengan tingkat suku bunga dan Net B/C sama
dengan satu.
Parameter
yang diambil adalah perubahan yang
sangat
mempengaruhi kelayakan usaha. Dalam penelitian ini, parameter yang diambil
yaitu perubahan harga, harga bahan baku dan upah tenaga kerja.
3. 2 Kerangka Pemikiran Operasional
Program pengembangan pertanian organik (Go Organik 2010) adalah salah
satu pilihan program untuk mempercepat terwujudnya pembangunan agribisnis
berwawasan lingkungan (eco-agribisnis) guna meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani. Langkah awal Go Organik 2010 yang dilakukan
Pemkab Subang yaitu menumbuh-kembangkan industri kecil pupuk organik.
Tujuannya yaitu meningkatkan ketersediaan pupuk organik sehingga petani
beralih dari pupuk kimia ke organik secara bertahap. Untuk mensukseskan
program tersebut, maka pada tahun 2007 Pemkab Subang memberikan bantuan
dana dengan total sekitar satu milyar rupiah kepada 32 kelompok tani yang
mengembangkan usaha pembuatan pupuk organik yang tersebar di beberapa desa
122
di Kabupaten Subang. Kelompok tani tersebut kemudian tergabung dalam APPOS
(Asosiasi Produsen Pupuk Organik Subang).
Kelompok tani Bineka I adalah salah satu produsen pupuk organik yang
ada di Subang. Usaha ini berdiri sejak awal tahun 2008. Poktan Bhineka I dapat
menghasilkan 25 ton pupuk organik per bulannya atau 300 ton per bulannya.
Akan tetapi permintaan tersebut diperkirakan akan meningkat mengingat
terjadinya peningkatan permintaan 54 persen dari tahun 2008 ke tahun 2009.
Bahkan menurut pengelola, pernah terjadinya penolakan permintaan pupuk
sebesar 20 ton karena tidak mampu dipenuhi. Menurut Ketua APPOS, potensi
pasar pupuk organik yang baru terserap baru sekitar satu persen sehingga
diharapkan UKM pupuk organik memanfaatkannya dengan meningkatkan skala
produksi. Oleh karena itu, pengelola berencana meningkatkan kapasitas produksi
dengan meningkatkan luas bangunan pengomposan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pengembangan usaha
pupuk organik Poktan Bhineka I. Analisis kelayakan dilakukan dengan
menganalisis aspek non finansial dan finansial. Aspek non finansial yang menjadi
kriteria kelayakan suatu
investasi, yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek
manajemen, aspek hukum dan aspek sosial. Analisis finansial mancakup kajian
mengenai NPV, IRR, Net B/C Rasio, Payback Period dan kemudian dilakukan
analisis sensitivitas usaha dengan switching value. Adapun kerangka operasional
penelitian ini adalah sebagai berikut.
123
Program Go Organik 2010
Pemkab Subang


Usaha Pupuk Organik Poktan
Bhineka I didirikan pada tahun 2008
Permintaan meningkat Kapasitas
terbatas
Peningkatan Kapasitas Produksi :
25 ton per bulan
50 ton per bulan
Studi Kelayakan
Aspek Non Finansial
1. Aspek Teknis
2. Aspek Pasar
3. Aspek Manajemen
4. Aspek Hukum
5. Aspek Sosial
Lingkungan
Aspek Finansial
1. Laba Rugi
2. NPV
3. Net B/C
4. Payback Period
Analisis
Sensitivitas
Tidak Layak
1. Relokasi sumberdaya
2. Reevaluasi aspek-aspek
Layak
Usaha Pupuk organik
dikembangkan
Gambar 2: Kerangka Pemikiran
124
IV METODE PENELITIAN
4.1
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di usaha pembuatan pupuk organik oleh kelompok
tani Bhineka I, di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang.
Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei hingga September 2009.
4.2
Jenis Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara, pemberian kuesioner maupun
survey langsung ke pemasok bahan baku pupuk, Poktan Bhineka I dan konsumen
pupuk. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS),
internet, pustaka, dan literatur-literatur lainnya yang mendukung pelaksanaan
penelitian ini.
4.3
Metode Pengambilan, Pengolahan dan Analisis Data
Metode pengambilan responden (sampling) yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan teknik non probabality sampling yang terdiri dari dua
cara yaitu purpossive sampling dan snowball sampling. Pemilihan Poktan Bhineka
I dilakukan secara sengaja purposive sampling yaitu menentukan dengan sengaja
objek yang akan diteliti untuk menggambarkan beberapa sifat di populasi tersebut
dengan pertimbangan bahwa objek yang dipilih memiliki potensi untuk
pengembangan industri pupuk organik. Penentuan stakeholder sebagai sumber
informasi dilakukan secara snowball sampling atas rekomendasi pengelola usaha
Poktan Bhineka I (Bapak Haji Dedi Sobandy). Menurut Siagian dan Sugiarto
(2008), teknik snowball sampling sangat tepat dilakukan bila populasinya kecil
dan sangat spesiifk. Metode yang digunakan dalam mengolah dan menganalisis
data pada penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif
digunakan untuk mengetahui keragaan usaha pupuk organik, sedangkan metode
kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha pupuk organik
secara finansial berdasarkan analisis kelayakan usaha. Pengolahan data dilakukan
dengan bantuan software Microsoft Excel untuk membuat proyeksi cash flow dari
total biaya dan manfaat yang dihasilkan oleh usaha ini beberapa tahun ke depan.
125
Data dan informasi kuantitatif yang telah diolah disajikan dalam bentuk
tabulasi yang bertujuan untuk mengklasifikasikan serta memudahkan dalam
menganalisis data. Sedangkan untuk data yang bersifat kualitatif yaitu aspek
pasar, aspek teknis, aspek bahan baku, aspek manajemen, aspek hukum, dan aspek
sosial ekonomi dan lingkungan selanjutnya akan disajikan dalam bentuk analisis
deskriptif.
4.4
Analisis Kelayakan Investasi
Analisis kelayakan investasi dalam penelitian ini mengakaji aspek non
finansial dan aspek finansial. Aspek non finansial yang dikaji adalah (1) Aspek
teknis, (2) Aspek Pasar, (3) Aspek Manajemen, (4) Aspek Hukum, (5) Aspek
Sosial Lingkungan. Aspek finansial yag dikaji dalam penelitian ini yaitu arus kas
usaha yang menghasilkan kriteria-kriteria investasi yaitu NPV, IRR, Net B/C dan
Payback period.
4.4.1 Analisis Kelayakan Non Finansial
Dalam penelitian ini, aspek kelayakan non finansial dikaji secara deskriptif
dan kualitatif
a.
Aspek Teknis
Aspek teknis mencakup lokasi dimana suatu proyek akan didirikan, skala
operasi yang ditetapkan untuk mencapai skala ekonomis, kriteria pemilihan
peralatan, proses produksi dan layout pabrik, serta ketepatan penggunaan
teknologi. Dalam penelitian ini, aspek teknis dikaji secara deskriptif dan kualitatif.
b.
Aspek Pasar
Aspek pasar mengkaji permintaan dan market potential serta proyeksi
permintaan, harga, program pemasaran, serta perkiraan penjualan yang bisa
dicapai perusahaan.
c.
Aspek Manajemen
Aspek manajemen yang dikaji dalam penelitian ini adalah struktur
organisasi yang dijalankan, jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan pembagian
kerja.
d.
Aspek Hukum
Aspek hukum yang dikaji dalam usaha ini yaitu bentuk badan usaha yang
digunakan dan perizinan usaha dalam menjalankan usaha.
126
e.
Aspek Sosial Lingkungan
Aspek sosial merupakan manfaat dan pengorbanan sosial yang mungkin
dialami oleh masyarakat yang biasa disepakati secara bersama. Aspek sosial yang
dikaji dalam penelitian ini adalah manfaat ekonomi dan sosial yang diterima
masyarakat
seperti
pengurangan
pengangguran,
peningkatan
pendapatan
masyarakat dan dampak usaha terhadap lingkungan.
4.4.2 Analisis Kelayakan Finansial
Kriteria kelayakan finansial yang digunakan dalam penelitian meliputi Net
Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return, serta
Payback Periode.
a.
Laba Rugi
Laba rugi adalah ikhtisar pendapatan dan beban selama periode waktu
tertentu. Dalam penelitian ini, laba rugi dianalisis dalam periode satu tahun pada
kondisi kapasitas maksimum. Pendapatan dari usaha ini adalah penjualan pupuk
organik. Beban usaha terdiri dari beban adiministrasi, listrik dan penyusutan.
Beban penyusutan dalam penelitian ini dihitung dengan metode garis lurus
(linear) dengan rumus :
Beban penyusutan per tahun =
Harga pembelian Aktiva − Nilai Akhir
Umur Ekonomis
Kondisi dimana pendapatan lebih besar dari beban usaha disebut laba atau
sebaliknya. Laba bersih setalah dikurangi beban bunga tetapi sebelum pajak
disebut EBT (Earning Before Tax) dan laba setelah dikurangi nilai pajak disebut
EAT (Earning After Tax). Beban bunga yang ditetapkan dalam penelitian ini
adalah sebesar 16 persen. Bunga dalam perhitungan merupakan bunga sederhana
(simple interest) yaitu bunga yang dihitung secara linear dan tidak ditambahkan
ke dana pokok untuk menghitung perolehan berikutnya (Soeharto,2002).
Beban bunga per tahun =
Total pinjaman X 16 %
Umur tahun
127
b.
Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) suatu proyek menunjukkan manfaat bersih yang
diterima proyek selama umur proyek pada tingkat suku bunga tertentu. NPV juga
dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh
investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang
relevan. Rumus perhitungan sebagai berikut:
NPV =
𝑛 𝐵𝑡−𝐶𝑡
𝑡=1 (1+𝑖)𝑡
Dimana:
Bt
: Manfaat proyek pada tahun ke-t (Rp)
Ct
: Biaya proyek pada tahun ke-t (Rp)
i
: Tingkat suku bunga (%)
t
: Umur proyek ke- (per tahun)
n
: Jumlah umur ekonomis
Adapun kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu:
a.
NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan
dan dapat dilaksanakan.
b.
NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya
yang dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan
dan sebaliknya.
c.
NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis
sebesar modal sosial Opportunities Cost faktor produksi normal.
Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi.
c.
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net Benefit and Cost Ratio menyatakan besarnya pengembalian terhadap
setiap satu satuan biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek. Net B/C
merupakan angka perbandingan antara present value dari net benefit yang positif
dengan present value dari net benefit yang negatif.
Rumus perhitungan Net B/C:
Net B/C =
n Bt −Ct
t=1(1−i)t
n Bt −Ct
t=1(1−i)t
Dimana
Bt  Ct  0
Bt  Ct  0
128
Keterangan:
Bt = manfaat yang diperoleh setiap tahun
Ct = biaya yang dikeluarkan setiap tahun
t = umur proyek
n = jumlah tahun atau jumlah umur ekonomis
i = tingkat bunga (diskonto)
Adapun kriteria investasi berdasarkan Net B/C ratio adalah sebagai berikut:
d.
a.
Net B/C > 0, maka NPV>0, proyek menguntungkan
b.
Net B/C < 0, maka NPV<0, proyek merugikan
c.
Net B/C = 1, maka NPV=0, proyek tidak untung dan tidak rugi
Internal Rate Return (IRR)
Internal Rate Return adalah tingkat bunga yang menyamakan present
value kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk yang
diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan
NPV sama dengan nol. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:
IRR =
i
NPV

i'  i
'
NPV  NPV
Keterangan:
i = Discount rate yang menghasilkan NPV positif
i’ = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif
NPV = NPV yang bernilai positif
NPV’ = NPV yang bernilai negatif
Gittinger (1986) menyebutkan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata
keuntungan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan
dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga
maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan.
Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku
bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku
bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.
e.
Payback Period (PP)
Payback periode atau tingkat pengembalian investasi adalah salah satu
metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur
129
periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu dapat
kembali, semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang kembali
dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono, 2000).
Adapun perhitungan Payback Periode adalah sebagai berikut:
Payback Period =
I
Ab
Keterangan:
I = Besarnya investasi yang dibutuhkan
Ab = Benefit bersih yang dapat diperoleh setiap tahunnya
f.
Analisis Sensitivitas
Analisis Sensitivitas adalah teknik untuk mengantisipasi perubahan yang
mungkin terjadi pada parameter-parameter yang diperkirakan dalam perencanaan.
Melalui analisis sensitivitas akan diketahui faktor-faktor apa saja yang paling
sensitif. Untuk mengukur tingkat sensitivitas digunakan formula Switching Value
(SV) yang menggambarkan tingkat perubahan paremater tertentu yang
menyebabkan NPV=0
𝑆V = i+ +
(NPV+)
∗ (i− − i+)
(NPV+ − NPV−)
Keterangan :
i+
=Tingkat diskon yag membuat nilai NPV positif
i-
= Tingkat diskon yag membuat nilai NPV negatif
NPV+ = Nilai NPV positif
NPV- = NIlai NPV negatif
4.5 Asumsi Dasar yang Digunakan
Asumsi dasar yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1.
Analisis aspek finansial dan non finansial dalam penelitian ini dilakukan
dalam jangka waktu umur proyek. Umur proyek adalah 10 tahun,
didasarkan pada umur investasi yang paling berpengaruh signifikan
terhadap proses produksi dan paling lama, yaitu bangunan.
2.
Dilakukan dua skenario dalam usaha ini yaitu :
130
a.
Skenario I yaitu kondisi usaha dengan perolehan bahan baku yang telah
dilaksanakan saat ini dan tanpa penambahan kapasitas produksi 25 ton per
bulan selama umur proyek. Kapasitas produksi sesuai dengan luas
bangunan pengomposan. Pada skeanrio I modal yang digunakan adalah
modal sendiri ditambah bantuan pemerintah senilai Rp 32.000.000. Akan
tetapi bantuan pemerintah tidak dimasukkan dalam perhitungan dalam
nalisis arus kas penelitian ini karena arus kas yang dianalisis adalah arus
kas incremental yaitu arus kas yang mempengaruhi kondisi kelayakan
finanisial secara langsung selama proyek berlangsung.
b.
Skenario II yaitu kondisi usaha dengan peningkatan kapasitas produksi
menjadi dua kali lipat dari 25 ton menjadi 50 ton per bulan. Pada seknario
II dilakukan penambahan luas bangunan pengomposan dan alat produksi.
Peningkatan kapasitas akan dilakukan pada tahun ke-3 (Tahun 2010)
menyebabkan peningaktan investasi. Modal untuk peningkatan investasi
pada skenario II diperoleh dari pinjaman.
3.
Pada skenario I, tingkat diskon yang digunakan dalam analisis arus kas
merupakan tingkat suku bunga deposito Bank Rakyat Indonesia (BRI)
pada tanggal 1 September 2009 sebesar 7 persen. Hal ini dikarenakan
modal yang digunakan adalah modal sendiri sehingga oppourtunity cost
dalam investasi adalah bunga deposito. Pada skenario II, tingkat bunga
yang digunakan dalam analisis arus kas adalah bunga pinjaman Kredit
usaha Rakyat (KUR) dengan tingkat bunga 16 persen. Hal ini dikarenakan
pada skenario II, usaha ini memperoleh pinjaman KUR untuk peningkatan
investasi. Bank BRI menjadi acuan dalam penentuan tingkat bunga karena
BRI adalah bank mitra dari pengelola usaha pupuk organik Poktan
Bhineka I.
4.
Inflow dan Outflow pada tahun 2010 hingga akhir umur proyek merupakan
proyeksi berdasarkan pada penelitian dan informasi yang didapatkan pada
tahun 2008 dan tahun 2009.
5.
Harga input produksi pupuk organik Bhineka I adalah harga perolehan
ditempat produksi (farm gate price) dimana marjin pemasaran tidak
termasuk dalam harga. Harga input yang digunakan pada tahun ke-3
131
hingga selanjutnya merupakan harga pada tahun 2009 dan tidak berubah
sepanjang umur proyek.
6.
Semua bahan baku habis di produksi sehingga tidak ada persediaan bahan
baku di awal dan akhir tahun.
7.
Harga pupuk Bhineka I yang digunakan mulai tahun ke-3 hingga tahun ke10 adalah harga yang berlaku pada tahun 2009 yaitu Rp 650 per kilogram.
Tingkat harga yang digunakan adalah tingkat harga ditempat produksi
(farm gate price)
8.
Produk yang dihasilkan habis terjual sehingga tidak ada persediaan di
akhir dan di awal tahun.
9.
Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-1 dan biaya reinvestasi
dikeluarkan
untuk
peralatan-peralatan
yang
telah
habis
umur
ekonomisnya. Nilai dari investasi dan reinvestasi merupakan nilai
perolehan barang modal (investasi) pada tahun 2008.
10.
Pajak yang digunakan dalam usaha ini adalah pajak penghasilan untuk
orang pribadi karena usaha ini belum memiliki bentuk badan usaha.
Besarnya pajak yang dikenakan berdasarkan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan:
a.
Tidak dikenakan pajak apabila perusahaan menderita kerugian
b.
Tarif 5 % untuk nilai penghasilan kena pajak per tahun
Rp 50.000.000
c.
Tarif 10 % untuk nilai penghasilan kena pajak per tahun
Rp 50.000.000 – Rp 250.000.000
d.
Tarif 15 % untuk nilai penghasilan kena pajak per tahun
Rp 250.000.000 – Rp 500.000.000
e.
Tarif 5 % untuk nilai penghasilan kena pajak per tahun
Rp 500.000.000 hingga lebih.
11.
Analisis sensitivitas yang dilakukan dengan switching value yaitu:
a.
Kenaikan harga bahan baku
Asumsi ini didasarkan pada kenaikan harga bahan baku mencapai
14,25 persen dari tahun 2008 hingga tahun 2009. Hal ini sangat
132
berpengaruh terhadap arus kas karena biaya bahan baku
mempunyai proporsi 80,17 persen terhadap anggaran
b.
Kenaikan harga tenaga kerja per HOK
Asumsi ini didasarkan pada peningkatan upah 20 persen dari tahun
2008 hingga tahun 2009. Biaya upah mempunya proporsi terhadap
anggaran biaya sebesar 13,9 persen.
c.
Perubahan harga jual
Asumsi ini didasarkan karena adanya perkiraan penurunan harga
jual pupuk organik kedepannya. Perkiraan ini didasarkan atas
kebijakan pemerintah dalam pemasaran pupuk organik. Untuk
mendukung pertanian organik, pemerintah membuat kebijakan
yang menunjuk perusahaan pupuk nasional menawarkan ke pasar
pupuk organik bersubsidi dengan harga eceran tertinggi Rp 500.
Kebijakan ini akan diterapkan di Kabupaten Subang pada tahun
2010. Secara tidak langsung, kondisi ini memicu penurunan harga
pupuk organik.
133
V GAMBARAN UMUM
5.1
Karakteristrik Wilayah Penelitian
Desa Blendung merupakan salah satu desa dari 11 desa di Kecamatan
Purwadadi, Kabupaten Subang. Desa Blendung merupakan dataran rendah yang
memiliki luas 567.318 hektar dan termasuk kawasan yang bebas banjir. Dari total
luas lahan di Desa Blendung, 80 persen adalah lahan pertanian dan 59 persen
adalah lahan perkebunan milik perorangan (Lampiran 3). Karakter iklim dari Desa
Blendung yaitu :
1.
Curah hujan 1.721 mm dengan jumlah bulan hujan yaitu 6 bulan hujan
2.
Suhu rata-rata harian 29 derajat celcius
3.
Ketinggian tempat 35 mdl
Jumlah penduduk Desa Blendung yaitu 3354 jiwa. Sebagian besar
masyarakat Desa Blendung bermata pencaharian sebagai petani dengan status
pemilik lahan rata-rata kurang dari satu hektar.
Tabel 3. Data Kepemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan Desa
Blendung
Karakteristik
Memiliki lahan pertanian
Tidak memiliki lahan pertanian
Memiliki lahan < 1 ha
Memiliki lahan 1,0-5,0 ha
Memiliki lahan 5,0-10 ha
Memiliki >10 ha
Jumlah total keluarga petani
Jumlah (keluarga)
1.014
15
870
108
21
15
1.014
Sumber : Profil Desa Blendung, 2007
Desa Blendung memiliki empat Poktan dan dan satu gabungan kelompok
tani (gapoktan). Kelompok tani tersebut tersebar di empat dusun yaitu;
Dusun I
: Kelompok Tani Bhineka III (Ketua : Bapak Ubay Jasana)
Dusun II
: Kelompok Tani Bhineka II (Ketua : Bapak Adang Jaya Kusumah)
Dusun III
: Kelompok Tani Bhineka IV (Ketua : Bapak H. Jumadi)
Dusun IV
: Kelompok Tani Bhineka I (Ketua : Bapak Ust. Sukarya)
Keempat Poktan tersebut kemudian tergabung dalam Gapoktan Bina
Usaha yang diketuai oleh Bapak Dedi Sobandi. Keberadaan empat kelompok tani
dan Gapoktan di Desa Blendung diharapkan dapat menjadi sarana utama bagi
134
petani dalam penyerapan informasi dan teknologi baru. Dengan adanya kelompok
tani dapat menunjang pembangunan desa dalam pengembangan agribisnis
pedesaan.
Kelompok tani Bhineka II, III, dan IV termasuk Poktan pemula yang
dibentuk pada tahun 2007. Poktan Bhineka I merupakan Poktan yang sudah
berdiri lama yang menjadi pelopor pembentukan Poktan di Desa. Aktifitas Poktan
Bhineka I yaitu usaha pembuatan emping dan kripik nangka, pembibitan dan
pembuatan pupuk organik.
Pendirian Poktan Bhineka II, III, IV di Desa Blendung dirancang
sedemikian rupa oleh hasil musyawarah dengan aparat desa dan masyarakat
dimana setiap Poktan mengelola jenis usaha yang spesifik. Poktan Bhineka I
difokuskan dalam pengolahan dan penyediaan input, Bhineka II dalam usaha
peternakan, Poktan Bhineka III dalam usaha perikanan dan Bhineka IV dalam
usaha padi.
5.2
Asosiasi Produsen Pupuk Organik Subang (APPOS)
APPOS didirikan sejak tahun 2006 atas dasar inisiatif oleh anggota dan
dukungan dari Pemkab Subang. Tujuan didirikan APPOS adalah mengembangkan
usaha pupuk organik Subang untuk mendukung berkembangnya pertanian organik
di Subang. APPOS teridiri dari 32 produsen pupuk organik yang ada di
Kabupaten Subang. Mayoritas anggota APPOS adalah produsen pupuk skala
kecil yang dikelola oleh kelompok tani. Rata-rata kapasitas produksi dari
produsen pupuk anggota APPOS adalah 10 ton per bulan. Struktur organisasi dari
APPOS sebagai berikut :
1.
Ketua
: Bapak Suta Suntana
2.
Wakil
: Pak Odeng
3.
Sekretaris
: Elis Selangi
4.
Bendahara
: Bapak Dedi Sobandi
Dalam mencapai tujuannya, strategi yang dilakukan APPOS antara lain:
1.
Melakukan sosialisasi mengenai keberadaan APPOS sebagai suatu
organisasi pupuk organik di Subang.
2.
Melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik kepada petani
3.
Meningkatkan kemitraan untuk memperluas pasar produsen APPOS.
135
4.
Meningkatkan pengetahuan dan teknologi mengenai pupuk organik
kepada para anggotanya
Sejak
didirikannya,
APPOS
telah
memberikan
kontribusi
bagi
pengembangan UMKM pupuk organik di Subang terutama dalam hal pemasaran
dan teknologi pembuatan pupuk. Dalam hal pemasaran, APPOS telah
memberikan kemudahan akses pasar sehingga meningkatkan penjualan yang
diproduksi oleh anggotanya. APPOS menjalin kerjasama dengan pemerintah
dalam memenuhi kebutuhan pupuk untuk program sosialisasi pertanian organik.
APPOS juga berperan layaknya koperasi bagi anggotanya dimana APPOS
menyediakan bahan baku seperti zeolit dan kaptan bagi UMKM pupuk organik di
Subang. APPOS juga menetapkan harga eceran terendah pupuk organik yaitu Rp
650 per kilogram untuk pupuk organik yang dipasarkan di Subang. Dalam hal
teknologi pembuatan, APPOS telah melakukan bimbingan terhadap UMKM
pupuk Subang mengenai teknik pembuatan pupuk yang baik.
5.3
Kelompok Tani Bhineka I
Poktan Bhineka I didirikan sejak tahun 1998 atas dasar inisiatif dari para
petani di Desa Blendung. Lokasi sekretariat Poktan Bhineka I berada di rumah
Bapak Sukarya, RT 26/08 Dusun IV Desa Blendung, Purwadadi-Subang. Poktan
ini terdiri dari 20 anggota yang diketuai oleh Bapak Sukarya.
Visi dari Kelompok Tani Bhineka I adalah ”Melalui Pertanian Kami
Hidup Dan Berkembang”. Misi dari kelompok tani Bhineka I adalah
Meningkatkan kesejahteraan dan pengetahuan petani Desa Blendung melalui
kelembagaan kelompok tani.
Ketua
Sukarya
Sekretaris
Opik
Bendahara
Ajo
Anggota kelompok tani
Bhineka I
Gambar 3. Struktur Organisasi Kelompok Tani Bhineka I
136
Motivasi awal dari pembentukan kelompok tani Bhineka I adalah ingin
mengatasi masalah-masalah usahatani bersama-sama terutama dalam hal
pemasaran dan budidaya rambutan. Seiring dengan berkembangnya pola pikir
anggota petani, usaha dari Poktan ini tidak hanya dalam hal budidaya tetapi juga
pembibitan tanaman, pengolahan hasil panen dan pembuatan pupuk organik.
Usaha yang dilakukan oleh Poktan Bhineka I adalah :
1.
Usaha pembibitan dilakukan sejak tahun 2005 yang terdiri dari pembibitan
melinjo, rambutan, durian dan jenis tanaman keras yang dikelola oleh
Bapak Dedi Sobandi.
2.
Usaha pengolahan yaitu pembuatan kripik nangka dan emping melinjo
yang dilakukan sejak tahun 2004. Usaha ini dikelola oleh Bapak Sukarya
3.
Usaha pembuatan pupuk organik dilakukan sejak tahun 2008 yang
dikelola oleh Bapak Dedi Sobandi.
5.4
Profil Usaha Pembuatan Pupuk Organik Bhineka I
Usaha pembuatan pupuk organik yang dimulai sejak tahun 2008 oleh
Poktan Bhineka I atas dasar dorongan dari Pemkab Subang dan inisiatif oleh
anggota kelompok tani. Pemkab Subang mempunyai proyek yaitu menumbuhkembangkan industri kecil pupuk organik di Subang sebagai program penunjang
Go Organik 2010. Motivasi dari petani sendiri atas pembentukan usaha pupuk
organik yaitu kebutuhan pupuk organik yang meningkat karena semakin sadarnya
para petani akan kerusakana lahan pertanian mereka. Penggunaan pupuk
anorganik yang semakin meningkat sementara jumlah pupuk yang ada terbatas
menyebabkan seringnya terjadi kelangkaan pupuk. Akibat dari hal tersebut adalah
perkembangan usahatani di Desa Belendung menjadi terkendala. Oleh karena itu,
para petani berinisiatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk
anorganik khususnya urea dengan cara melakukan pemupukan terpadu dimana
mengurangi pemakaian pupuk anorganik dengan penambahan pupuk organik
dalam komposisi pemupukan.
Usaha pembuatan pupuk organik ini berlokasi di Dusun IV, Desa
Blendung. Usaha ini dikelola oleh Bapak Dedi Sobandi. Dalam pendirian usaha
ini, usaha ini mendapat bantuan dari Pemkab Subang senilai Rp 32.000.000.
Usaha ini baru berproduksi sejak Februari 2008. Produksi awal usaha ini adalah
137
12 ton perbulan. Kemudian seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman,
produksi meningkat menjadi 25 ton per bulan. Kapasitas usaha adalah 25 ton per
bulan diukur berdasarkan luas bangunan sebagai tempat produksi yaitu 7m x 20m
diatas lahan seluas 1500m2. Lokasi usaha ini berada di lahan milik pengelola yaitu
Bapak Dedi Sobandi. Kepemilikan usaha atas nama Poktan Bhineka I. Pupuk
organik yang dibuat oleh Poktan Bhineka I berbahan baku utama yaitu kotoran
hewan, jerami dari limbah jamur dan arang sekam. Produk dijual dalam bentuk
pupuk organik curah dengan kemasan karung 50 kilogram. Pada awal usaha,
target pasar usaha ini adalah petani setempat terutama petani tanaman pangan.
Sekarang, penjualan pupuk organik tidak hanya diperuntukkan oleh petani
tanaman pangan, tetapi juga untuk perkebunan seperti perkebunan coklat, pepaya,
rambutan, kacang koro dan kelengkeng.
138
VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1
Analisis Aspek Kelayakan Non Finansial
Aspek kelayakan non finansial penting untuk dianalisis karena sebagai
gambaran terhadap usaha yang akan dijalankan maupun yang sudah dijalankan.
Kelayakan aspek non finansial menjadi penentu atas kelayakan aspek finansial
suatu usaha. Dalam analisis kelayakan usaha pupuk organik Poktan Bhineka I,
aspek yang ditinjau meliputi ; (1) Aspek teknis dan teknologi, (2) Aspek pasar, (3)
Aspek manajemen, (4) Aspek hukum, dan (5) Aspek sosial lingkungan.
6.1.1 Aspek Teknis dan Teknologi
Kajian aspek teknis dan teknologi menitikberatkan pada penilaian atas
kelayakan proyek dari sisi teknis dan teknologi. Penilaian meliputi pemilihan
bahan baku dan peralatan, penentuan metode dan penentuan lokasi usaha.
1.
Bahan Baku dan Peralatan Produksi Pupuk Organik Bhineka I
Setiap bahan organik memberikan kandungan khusus dalam pupuk
organik. Menurut Bapak Suta Suntana, Ketua APPOS, komposisi pupuk organik
yang baik yaitu:
1. Kotoran hewan
: 40-50 persen
2. Jerami
: 20-30 persen
3. Arang sekam
: 20 persen
4. Bahan Tambahan (Molase, zeolit,dll)
: 10 persen
Komposisi bahan baku pupuk organik Bhineka I diuraikan pada tabel berikut.
Tabel 4. Komposisi Bahan Baku 10 Ton Pupuk Organik Bhineka I
No
Jenis Bahan Baku
Jumlah
Total (Kg)
1
Kotoran Hewan
460 karung
13800
Proporsi
(%)
48.75
2
Arang Sekam
180 karung
5400
19.07
Karung @30 kg
3
Jerami
9 bak mobil
9000
31.79
Bak @500kg
4
Zeolit
1 kwintal
100
0.35
Kwintal@100kg
5
Molase
10 kg
10
0.04
6
Dekomposer
10 botol
-
-
Botol @ 1 liter
7
Air
1500 liter
-
-
1500 liter
23810
100
Total
Keterangan
Karung @30 kg
139
a.
Kotoran Hewan
Produksi pupuk organik yang dilakukan Bhineka I menggunakan kotoran
sebagai salah satu sumber bahan organik utama. Kotoran hewan yang digunakan
dalam usaha ini berasal dari kotoran sapi pedaging, sapi perah, domba dan ayam.
Menurut pengelola, penggabungan dari beragam jenis kotoran ini meningkatkan
kualitas pupuk karena setiap kotoran memiliki karakter sendiri (Lampiran 1).
Kotoran sapi pedaging lebih banyak digunakan daripada sapi perah karena
kandungan airnya lebih sedikit. Pada tahun 2008, sebagian besar kotoran dipasok
dari PT Kresna yaitu sebuah perusahaan peternakan terbesar di Kecamatan
Purwadadi. Pada tahun 2009, sebagian besar pasokan kotoran berasal dari
peternakan milik warga Desa Blendung dan sekitarnya. Menurut pengelola
kualitas kotoran dari peternakan warga lebih baik dibandingkan yang berasal dari
peternakan besar karena kandungan sampah ransum dan air lebih rendah.
Tabel 5. Ketersediaan Kotoran Hewan di Kecamatan Purwadadi
No
Jenis Ternak
Total Produksi
Kotoran per Bulan
(Kg)
708
Rata-rata Produksi
Kotoran per hari
(kg)
3
Jumlah (Ekor)
1
Sapi
2
Kambing, Domba
5619
0.5
84.285
3
Ayam Buras, Itik
5650
0.2
33.900
Total
63.720
181,905
Sumber: diolah, Warta Penelitian Pengembangan Pertanian Vol 27. No 25. 2006 dan Laporan
Penyuluh Pertanian Desa BLendung, 2007
Seperti diuraikan pada Tabel 3, kebutuhan kotoran dalam pembuatan 10
ton pupuk organik yaitu 20.7 ton per bulan. Jika diasumsikan pasokan kotoran
diperoleh dari desa-desa sekitar Kecamatan Purwadadi, maka ketersediaan
kotoran terjamin karena ketersediaan kotoran sebesar 181, 9 ton per bulan.
b.
Jerami dari Limbah Jamur
Fungsi jerami dalam pupuk organik yaitu memberikan kandungan karbon
dalam pupuk. Jerami yang baik digunakan untuk pembuatan pupuk organik yaitu
jerami yang tercacah kasar dan kering agar mudah dikomposkan. Dalam usaha
pupuk organik Poktan Bhineka I, jerami yang digunakan berasal dari limbah
usaha budidaya jamur yang sudah tercacah dan terurai sehingga proses
140
pengomposan menjadi lebih cepat. Selain itu, alasan penggunaan jerami dari
limbah jamur adalah ketersediaanya cukup banyak, harganya lebih murah dan
akses memperolehnya lebih dekat.
c.
Arang sekam
Fungsi arang sekam yaitu memberikan kandungan unsur K dalam pupuk
organik. Dalam usaha pupuk organik Bhineka I, arang sekam berasal dari usaha
penggorengan kerupuk dan pembuatan batu bata. Arang sekam yang berasal dari
limbah penggorengan kerupuk lebih banyak digunakan dibandingkan dari
pembuatan bata. Alasannya adalah arang sekam dari limbah penggorengan
kerupuk tidak terlalu matang dalam pembakaran sehingga lebih banyak
mengandung K2O dan tidak berbentuk abu.
d.
Molase
Fungsi molase yaitu sebagai katalisator perkembangan mikroba pembusuk
pada proses pengomposan.
Selain itu, menurut Isroi (2009), molase sebagai
bahan tambahan dalam pembuatan pupuk organik juga dapat berperan sebagai
perekat agar pupuk organik yang dihasilkan tidak remah. Pada proses produksi
pembuatan pupuk organik Poktan Bhineka I digunakan molase sebanyak 10 kg
untuk memproduksi 10 ton pupuk organik. Takaran penggunaan molase tersebut
dapat bertambah atau berkurang tergantung kondisi bahan kompos. Jika bahan
kompos terlalu basah maka penggunaan molase akan dikurangi. Dan sebaliknya
jika kondisi bahan kompos terlalu kering maka takaran molase ditambah.
e.
Dekomposer
Dekomposer berbentuk cairan yang berisi bakteri pembusuk yang
berfungsi mendekomposisi sampah organik (timbunan). Menurut Djaja (2008),
dekomposer pada prinsipnya hanya sebagai pemacu mikroorganisme dalam proses
pengomposan, tetapi tidak dapat menaikkan kandungan unsur hara dari bahan
penyusun kompos. Pembuatan kompos tanpa dekomposer membutuhkan waktu
pengomposan yang lebih lama. Poktan Bhineka I menggunakan dekomposer
dalam pembuatan 10 ton
pupuk yaitu sebanyak 1 liter dekomposer yang
dilarutkan dengan 150 liter air. Pemakaian tersebut sesuai dengan aturan pakai
yang tertera pada label dekomposer. Merek dagang dekomposer yang banyak
beredar dipasar yaitu merek Superfarm dan Em4. Merek dekomposer yang
141
digunakan dalam usaha ini yaitu Superfarm yang diproduksi oleh Greenland
Agrotecht Industries (Lampiran 4, Gambar 5). Alasan dari penggunaan Superfarm
karena mempunyai bakteri lebih banyak sehingga hasil pengomposan lebih baik.
Pembelian dekomposer melalui APPOS.
f.
Kaptan
Kaptan dalam pembuatan pupuk organik beperan sebagai zat adiktif untuk
mengontrol PH dan kandungan silikat. Kaptan yang digunakan dalam pembuatan
ini bermerek dagang Zeolit dan dibeli dalam bentuk curah (karung 50 kg). Kaptan
didapatkan dari Jawa Tengah dan pembelian melalui APPOS.
g.
Mesin dan peralatan
Mesin dan peralatan yang digunakan oleh Bhineka I dalam proses produksi
tergolong sederhana dapat dilihat pada Tabel 6.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Tabel 6. Rincian Peralatan dan Fungsinya dalam Pembuatan Pupuk
Organik Bhineka I
Jumlah
Jenis Peralatan
Fungsi
(Unit)
Sebagai alas tumpukan kompos
Alas bambu
1
dalam proses pengomposan
Menghaluskan pupuk organik
Mesin giling
1
yang masih kasar
Menjahit karung kemasan pupuk
Mesin kemas
1
organik
Timbangan gantung 100
Menimbang bahan baku dengan
1
kg
kapasitas beban dibawah 100 kg
Menimbang bahan baku dan
Timbangan duduk 500 kg
1
pupuk organik dengan kapasitas
beban dibawah 500 kg
Sebagai penutup dan alas
Terpal
1
sewaktu menjemur
Sebagai alat pengaduk bahan
Cangkul
4
kompos
Sebagai alat pengaduk bahan
Sekop
3
kompos
Ayakan
1
Menyaring partikel kompos
10
11
12
Drum
Garu
Embrat /Penyiram
2
1
1
Sebagai tempat penampung air
Pengaduk bahan kompos
Sebagai alat penyiram
13
Sepatu Boot
2
Melindungi kaki pekerja
14
Ember dan gayung
2
Menampung dan mengambil air
142
2.
Penentuan Metode Produksi
Proses produksi yang dilakukan oleh Poktan Bhineka I dapat dilihat dari
Gambar 4. Proses produksi dimulai dari penyediaan bahan baku hingga
penyimpanan produk jadi. Kapasitas produksi Poktan Bhineka I yaitu 25 ton
pupuk setiap bulannya. Nilai kapasitas ini diukur berdasarkan luas bangunan
pengomposan.
Penanganan dan penyimpanan
bahan baku
Membuat Tumpukan Kompos
15-20 hari
Memberikan perlakuan
berdasarkan suhu dan
kelembapan
Pemanenan
Penjemuran
Pengayakan
Penimbangan dan Pengemasan
Penyimpanan Pupuk organik
Gambar 4. Skema Pembuatan Pupuk Organik Poktan Bhineka I
1.
Penanganan dan Penyimpanan Bahan Baku
Penanganan dan penyimpanan bahan baku mempengaruhi kualitas
pengomposan. Bahan baku seperti kotoran dan limbah jamur tidak dapat dibiarkan
lama di ruangan terbuka karena bahan baku tersebut menjadi padat dan bersifat
anaerobik. Jika demikian, maka kualitas dari pupuk organik yang dihasilkan akan
menurun. Menurut Djaja (2008), bahan baku seperti kotoran, jerami limbah jamur
dan arang sekam diletakkan dan disimpan di tempat yang teduh dan tertutup agar
143
tidak terkena air hujan, angin, dan panas. Tempat yang terbuka memungkinkan zat
hara bahan baku tercuci oleh air hujan atau menguap karena terbawa angin dan
panas. Namun, tempat yang sangat tertutup pun tidak dianjurkan, karena uap
bahan baku dapat menumpuk, sehingga bisa menimbulkan alergi pada pekerja,
dan keracunan. Jadi, tempat penyimpanan dan penimbunan yang baik adalah
tempat setengah terbuka dan beratap. Poktan Bhineka I hanya memiliki bangunan
untuk pengomposan sedangkan ruang penyimpanan bahan baku tidak ada. Bahan
baku seperti kotoran dan limbah jamur disimpan di luar tanpa atap (Lampiran 4,
Gambar 2 ) dan tidak beralas sehingga dapat dikatakan dalam proses
penyimpanan bahan baku, penanganan yang dilakukan kurang baik.
2.
Membuat Tumpukan Kompos
Proses pengomposan yang dilakukan Poktan Bhineka I dengan metode
Jepang. Tumpukan dibuat dengan meggunakan alas bambu untuk mempercepat
proses pengomposan. Menurut Sutanto (2002) dan Djaja (2008) tinggi tumpukan
kompos yang dianjurkan adalah 1 - 1,5 meter. Pada metode ini, tidak digunakan
lubang galian untuk pengomposan tetapi menggunakan bak penampung yang
terbuat dari anyaman bambu yang disusun bertingkat (alas bambu). Fungsi dari
alas bambu tersebut adalah sebagai aerasi (saluran udara). Menurut Sutanto
(2002), keunggulan dari metode Jepang adalah memudahkan pengadukan dalam
proses pengomposan dan menghindari dari pengurangan nitrat berlebihan akibat
pelindian. Sedangkan menurut pengelola, pemilihan metode ini karena mudah
diterapkan dan menghasilkan kualitas kompos yang baik.Tumpukan kompos yang
terlalu tinggi menyebabkan kekurangan aerasi pada pengomposan. Dalam usaha
ini, bahan kompos disusun menurut aturannya dengan tinggi tumpukan kurang
lebih 1,5 meter. Setelah tumpukan dibuat, maka yang dilakukan adalah penaburan
molase dan penyiraman dengan larutan dekomposer.
Keterbatasan luas bangunan produksi dan pasokan bahan baku
menyebabkan proses pengomposan dilakukan secara bertahap. Dalam waktu satu
bulan, Poktan Bhineka I hanya dapat memproduksi 25 ton pupuk atau 5
tumpukan. Tumpukan kompos dibuat setiap 3 hari sekali dengan volume
tumpukan sekitar 12 meter kubik (1,5m x 1,5 m x 4m) atau dengan berat sekitar 5
ton.
144
Zeolit
Kapur
Kotoran Sapi/Domba
Arang Sekam
Jerami Limbah Jamur
Kotoran Ayam
Alas Bambu
Gambar 5. Susunan Tumpukan Kompos
Pada Lampiran 6 dapat dilihat alur proses pengomposan bertahap. Setelah
tumpukan 1 dibuat maka tahap berikutnya adalah membiarkan tumpukan
mengalami proses pengomposan sambil memberi perlakuan (pembalikan atau
penyiraman). Lima hari kemudian, tumpukan kedua dibuat dan sambil tetap
mengontrol kondisi tumpukan 1 hingga matang. Proses ini berlangsung terus
menerus selama bahan baku tersedia.
3.
Memberikan perlakuan berdasarkan suhu dan kelembapan
Setelah dilakukan penumpukan, maka dalam beberapa hari suhu tumpukan
akan naik perlahan-lahan yang menandakan bakteri sedang bekerja. Kondisi
tumpukan harus terus terpelihara agar kegiatan pelapukan bahan oleh jasad renik
berlangsung dengan baik. Perlakuan yang dilakukan antara lain:
a.
Pemantauan suhu
Suhu yang diinginkan selama proses pelapukan berkisar antara 45-65oC.
Pengukuran suhu biasanya hanya dirasakan dengan tangan. Bila suhu tumpukan
diatas 65oC maka harus dilakukan pembalikan sekaligus penyiraman. Tujuan
pembalikan yaitu : (1) meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, (2)
membuang panas yang berlebihan, (3) memasukkan udara segar kedalam
tumpukan, (3) meratakan pemberian air, dan (4) membantu penghancuran bahan.
Jika suhu dibawah 45 oC maka yang dilakukan adalah dengan menutup sedikit
tumpukan dan penambahan dekomposer.
b.
Pemeriksaan kelembapan
Kondisi kelembapan yang ingin dicapai yaitu 50 persen dimana jika bahan
kompos diremas maka akan terdapat sedikit air pada sela tangan. Jika bahan
145
terlalu kering, dimana saat diremas tidak keluar air dan terlalu remah sehingga
harus dilakukan penyiraman. Akan tetapi, jika saat diremas terlalu banyak air
maka harus dilakukan pembalikan agar uap air keluar dari tumpukan kompos.
4.
Pemanenan
Kompos yang siap dipanen memiliki ciri-ciri yaitu suhu rata-rata setelah
dua minggu menurun hingga dibawah 45oC dimana bahan kompos telah
menyerupai tanah dan warnanya coklat kehitaman. Setelah pengomposan selesai,
bahan kompos dijemur terlebih dahulu beberapa jam sebelum dikemas.
5.
Penjemuran
Bahan kompos yang telah matang kemudian dijemur atau dikeringkan
terlebih dahulu sebelum dikemas. Hal ini bertujuan untuk menormalkan suhu
bahan kompos dan mengeringkannya. Penjemuran membutuhkan waktu 1-3 hari
tergantung dari hasil pengomposan dan cuaca. Jika hasil pengomposan cukup
kering saat cuaca kemarau maka penjemuran bisa dilakukan dalam waktu sehari.
Penjemuran dilahan kosong disebelah ruang pengomposan. Lokasi penjemuran
belum bersemen sehingga digunakan terpal sebagai alas penjemuran (Lampiran 5,
Gambar 5).
6.
Pengayakan
Pengayakan dilakukan untuk memisahkan sampah dan bahan yang tidak
terkomposkan sehingga didapatkan pupuk organik bersih.
7.
Penimbangan dan Pengemasan
Bahan kompos yang telah diayak kemudian dimasukkan ke dalam karung
dan ditimbang. Masing-masing karung berisi pupuk organik seberat 50 kilogram.
Setelah ditimbang, karung tersebut kemudian dijahit dan pupuk siap dijual.
Kemasan yang digunakan Poktan Bhineka I adalah karung goni plastik.
8.
Penyimpanan pupuk organik
Pupuk yang dikemas kemudian disimpan di tempat yang teduh dan beratap
agar tidak terkena cahaya matahari langsung dan hujan. Proses penyimpanan
pupuk organik dalam usaha ini kurang baik. Pupuk disimpan diruang terbuka
menyebabkan pupuk mengalami pengikisan air hujan dan terlalu kering saat
kemarau (Lampiran 5, Gambar 6).
146
3.
Penentuan Lokasi
Lokasi kantor dan pabrik pupuk organik berada di dusun IV Desa
Blendung pada lahan seluas 1500m2 dengan luas bangunan 8m x 20m. Lokasi
usaha ini berdekatan dengan lokasi usaha pembibitan Poktan Bhineka I, usaha
peternakan ayam milik pengelola, usaha perikanan dan usahatani padi sawah
milik warga. Denah lokasi dari usaha ini dapat dilihat pada Lampiran 4.
1.
Letak pasar yang dituju
Jarak lokasi usaha dengan pasar mempengaruhi besarnya biaya pemasaran.
Oleh karena itu, kedekatan lokasi usaha dengan pasar penting untuk di analisis.
Penjualan pupuk organik yang dilakukan oleh Poktan Bhineka I dengan cara
penjualan di tempat dimana biaya pengangkutan tidak ditanggung oleh penjual.
Oleh karena itu, jarak tidak menjadi masalah yang berarti bagi penjual. Sebagian
besar pembeli pupuk berlokasi di wilayah sekitar Kabupaten Subang. Konsumen
menganggap bahwa lokasi dari usaha ini cukup terjangkau.
2.
Kedekatan dengan bahan baku
Bahan baku utama dari usaha ini adalah kotoran hewan, jerami dari limbah
jamur dan arang sekam. Kotoran hewan seperti sapi dan domba didapat dari
peternak sekitar lingkungan usaha yaitu peternak dari Desa Blendung sendiri dan
dari desa sekitar seperti Desa Koranji dan Panyingkiran. Sedangkan untuk kotoran
ayam diperoleh dari kandang ayam milik pengelola (Bapak Dedy Sobandi).
Limbah jamur diperoleh dari Desa Rancabango dimana di daerah tersebut terdapat
20 pengusaha budidaya jamur. Arang sekam diperoleh dari limbah usaha
pembuatan kerupuk dan usaha pembuatan bata yang berada di Kalijati yang
berjarak sekitar 10 km dari lokasi usaha. Untuk bahan bantu seperti fosfat alam,
molase, zeolit dan lain-lain diperoleh dari luar Subang yaitu Jakarta dan Bandung
dan dipesan melalui APPOS.
3.
Air dan listrik
Air sebagai bahan bantu, berperan penting dalam keberhasilan proses
produksi. Oleh karena itu, ketersediaan air penting bagi usaha ini. Usaha ini
menggunakan air tanah dalam proses produksi. Berdasarkan laporan penyuluhan
pertanian 2007, Desa Blendung memiliki drainase yang baik sehingga
ketersediaan air cukup dan terjamin.
147
4.
Suplai tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan rata-rata per bulannya yaitu 5 orang
yang berasal dari lingkungan sekitar dengan tingkat pendidikan terakhir SD.
Ketersediaan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses produksi pupuk organik
Poktan Bhineka cukup terjamin.
5.
Fasilitas transportasi
Desa Blendung memiliki jalan utama desa dalam kondisi baik dan
beraspal. Lokasi usaha berada sekitar 300 meter dari jalan utama desa dengan
kondisi jalan kurang baik dan belum beraspal.
6.
Iklim dan keadaan tanah
Menurut Djaja (2008), cuaca berpengaruh dalam pembuatan pupuk
organik terutama dalam pengomposan. Cuaca yang terlalu kering
dengan
temperatur yang tinggi menyebabkan penguapan yang tinggi. Sedangkan pada
musim hujan mengakibatkan terjadinya pencucian mineral bahan baku jika
penyimpanan bahan baku tidak dilakukan dengan baik. Cuaca yang terlalu basah
dengan kelembapan yang tinggi juga mengakibatkan bahan baku mudah busuk.
Lokasi usaha berada di Desa Blendung yang terletak di wilayah dataran sedang
dengan ketingggian 35 mdl. Wilayah ini memiliki curah hujan 1.721 mm dengan
6 bulan hujan dan 6 bulan kering. Suhu rata-rata harian adalah 29 derajat celcius.
Berdasarkan kondisi geografisnya, maka Desa Blendung cocok dijadikan lokasi
pengomposan. Tingkat produksi yang lebih tinggi dapat dilakukan pada saat
musim kemarau daripada musim hujan karena saat musim kemarau proses
pematangan kompos lebih cepat.
7.
Sikap masyarakat
Proses pembuatan pupuk organik menghasilkan bau sehingga pemilihan
lokasi
harus
mempertimbangkan
kedekatan
dengan
lokasi
pemukiman
masyarakat. Lokasi usaha pembuatan pupuk organik Bhineka I berada jauh dari
pemukiman penduduk sehingga tidak menimbulkan masalah sosial. Selama
berlangsungnya usaha pembuatan pupuk organik, Poktan Bhineka I mendapat
dukungan dari masyarakat.
148
8.
Rencana untuk perluasan usaha
Lokasi tempat proses pembuatan pupuk organik ini berada dilahan seluas
2
1500m milik pengelolanya yaitu Bapak Dedi Sobandi. Luas banguan proses
pengomposan yaitu 7x20 meter. Pemanfaatan lahan ini sebagai lokasi usaha baru
sekitar 50 persen sehingga perluasan usaha dapat dilakukan.
6.1.2 Hasil Analisis Aspek Teknis dan Teknologi
Analisis yang dilakukan terhadap aspek teknis dan teknologis usaha
Poktan Bhineka I menghasilkan beberapa hal yang menjadikan usaha ini layak
untuk dijalankan dan dikembangkan. Kriteria-kriteria yang menyebabkan usaha
ini menjadi layak untuk dikembangkan berdasarkan analisis aspek teknis dan
teknologi :
1.
Ketersediaan dan kualitas bahan baku
Usaha Poktan Bhineka I memanfaatkan 90 persen limbah sebagai bahan
baku utama pupuk organik. Ketersediaan dari bahan baku seperti limbah jamur,
arang sekam dan kotoran hewan cukup melimpah di daerah sekitar tempat usaha.
Berdasarkan data produksi kotoran hewan di sekitar Desa Belendung (Tabel 5),
ketersediaan kotoran hewan mencapai 181,9 ton per bulan. Sedangkan
pemanfaatan kotoran hewan baru mnecapai 7,5 persen (13,8 ton). Peningkatan
kapasitas produksi dua kali lipat tidak akan mengalami kendala dalam pasokan
kotoran hewan. Ketersediaan jerami juga cukup terjamin mengingat disekitar
Desa Belendung merupakan sawah padi. Berdasarkan data luas panen padi sawah
di Kecamatan Purwadai Tahun 2007 denga produksi jerami 5 ton per hektar maka
ketersediaan jerami yaitu sekitar 1750 ton per bulan. Sedangkan pemanfaatan
jerami baru mencapai 24,5 ton (12,5 persen). Poktan Bhineka I memiliki banyak
pemasok dan tidak tergantung pada satu pasokan. Hal ini juga menyebabkan
Poktan Bhineka I dapat mengontrol kualitas pasokan bahan baku. Kotoran hewan
dipasok dari peternakan anggota Bhineka I, peternakan warga sekitar atau
peternakan besar (PT Kresna). Begitu juga dengan arang sekam yang memiliki
beberapa pemasok (usaha-usaha kerupuk, usaha-usaha pembuatan batu bata) dan
jerami (usaha-usaha jamur dan petani-petani setempat). Sedangkan untuk bahan
tambahan seperti molase, dekomposer, zeolit dan lain-lain, ketersediaannya cukup
dan tidak menjadi masalah. Hal ini dikarenakan bahan-bahan tambahan tersebut
149
diperoleh dari APPOS yang juga dapat berfungsi layaknya koperasi bagi
anggotanya. Jika kedepannya usaha ini mengalami peningkatan kapasitas dua kali
lipat, maka kebutuhan bahan baku untuk memenuhi permintaan tersebut
dipastikan tercukupi.
2.
Lokasi produksi
Lokasi usaha produksi pupuk organik Bhineka I sangat strategis dimana
usaha ini berada di Desa Blendung yang memiliki jalan desa cukup baik. Akses
lokasi terhadap bahan baku dan pasar juga terjangkau. Kondisi geografis lokasi
usaha juga mendukung. Selain itu, lokasi produksi berada jauh dari pemukimam
penduduk dan berada di lahan yang cukup luas. Sehingga jika dilakukan
pengembangan usaha, tidak akan terhambat dengan masalah lokasi produksi.
3.
Pemilihan teknologi pengomposan yang tepat
Metode pengomposan yang dilakukan oleh Poktan Bhineka I merupakan
metode yang sederhana dan mudah dilakukan yaitu metode Jepang. Kelebihan
dari metode ini dibandingkan dengan metode lain untuk diterapkan Bhineka I
adalah : (1) Lebih menghemat tenaga kerja karena proses pembalikan dan
penumpukan praktis sehingga mengurangi biaya upah, (2) Sesuai dengan kondisi
geografis lokasi pengomposan dan jenis bahan kompos yang digunakan dan (3)
Dapat mengomposkan lebih banyak bahan kompos dengan luas bangunan yang
terbatas.
Akan tetapi, terdapat juga pertimbangan-pertimbangan yang menyebabkan
usaha ini menjadi tidak layak jika ditinjau dari aspek teknis yaitu belum ada uji
mutu pupuk organik. Pupuk organik yang dihasilkan oleh Poktan Bhineka I belum
ada uji mutu sesuai standarisasi pupuk organik yaitu kandungan C organik, C/N
ratio, kadar air, kadar logam berat dan bahan ikutan. Uji mutu pupuk organik
penting untuk meningkatkan keyakinan pembeli terhadap kualitas produk. Hasil
uji mutu pada umumnya ditunjukkan dalam kemasan pupuk organik (Lampiran 5,
Gambar 7). Menurut pengelola, belum dilakukannya pengujian mutu organik
karena belum adanya tuntutan dari pembeli terhadap uji mutu dan keterbatasan
dana.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka secara umum usaha
pembuatan pupuk organik Poktan Bhineka I dinilai layak untuk ditingkatkan
150
kapasitas usaha jika dikaji secara aspek teknis dan teknologi. Hal ini dikarenakan
atas pertimbangan yang berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan skala
usaha dan keberlanjutan usaha yaitu ketersediaan bahan baku dan lokasi strategis.
6.1.3 Aspek Pasar
Aspek pasar digunakan untuk mengkaji mengenai potensi pasar produk
pupuk baik dari sisi permintaan, penawaran maupun harga yang berlaku, juga
strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan menyangkut bauran pemasaran
yaitu harga, tempat, promosi, dan distribusi.
1.
Bentuk Pasar
Bentuk pasar yang dihadapi oleh Poktan Bhineka I jika dilihat dari sisi
produsen adalah pasar oligopoli. Karakteistik pasar oligopoli yaitu ; (1)Terdapat
beberapa perusahaan (penjual) yang menguasai pasar, baik secara independen
(sendiri-sendiri) maupun secara bersama-sama, (2) Terdapat rintangan untuk
memasuki pasar, dan (3) Setiap keputusan harga yang diambil oleh suatu
perusahaan (penjual) harus dipertimbangkan oleh perusahaan lain atau melalui
kesepakatan. Menurut Sudarsono (1995) masing-masing perusahaan dalam pasar
oligopoli mempunyai hubungan interdependensi diantara yang satu dengan yang
lainnya. Dalam industri pupuk organik di Kabupaten Subang terdapat 32 produsen
pupuk organik yang tergabung dalam APPOS. APPOS berperan dalam
pembentukan harga Rp 650 per kilogram untuk pupuk organik curah yang telah
distandarisasi atas kesepakatan bersama.
2.
Permintaan dan penawaran pupuk organik
Subang memiliki luas areal pertanian yang cukup besar yaitu 63 persen
(129.975 Ha) dari total luas lahan (205.176 Ha). Berdasarkan anjuran pemakaian
bahan organik (Balitan 2005) dimana setiap hektar lahan memerlukan minimal 2
ton pupuk organik per tahun, maka kebutuhan pupuk organik Subang sekitar
259.950 ton per tahun. Dari kebutuhan tersebut, hanya 1 persen atau 2200 ton per
tahun yang dapat disediakan oleh APPOS. Hal itu menunjukkan prospek pasar
dari usaha penyediaan pupuk organik kedepannya sangat prospektif.
Sejak berdiri dari tahun 2008 hingga Agustus 2009, Poktan Bhineka I
menghadapi permintaan yang meningkat hingga 90 persen dari 120 ton pada
tahun 2008 menjadi 230 ton hingga Agustus 2009 (Tabel 4). Bahkan menurut
151
pengelola, ada permintaan yang tidak dapat dipenuhi sekitar 20 ton pada bulan
Juli 2009. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Poktan Bhineka I karena
kapasitas produksi. Poktan Bhineka I berencana
meningkatkan kapasitas
produksinya, dimasa yang akan datang agar dapat memenuhi semua permintaan
yang datang.
Tabel 7. Penjualan Pupuk Organik Tahun 2008 hingga September 2009
Jumlah Penjualan (ton) Bulan ke-
Tahun
1
2
3
4
2008
-
-
-
4
2009
6
4
4
5
5
11
Total
6
7
8
9
10
11
12
30
20
20
20
-
20
6
120
20
50
90
40
-
-
-
230
3.
Strategi Pemasaran
a.
Segmentation, Targeting and Positioning (STP)
Segmentasi adalah penggolongan konsumen yang ada dan potensial bagi
produk dan jasa atas dasar kebutuhan dan keinginan mereka secara umum.
Segmen pasar dari pupuk organik Bhineka I adalah pelaku agribisnis budidaya
tanaman perkebunan, pangan maupun hias yang berlokasi di sekitar Kabupaten
Subang. Segmen pasar diklasifikasikan berdasarkan jenis usaha adalah:
1.
Pelaku Bisnis Tanaman Perkebunaan
Aktivitas agribisnis perkebunan di Kabupaten Subang cukup tinggi
sehingga diperkirakan
permintaan pupuk cukup tinggi dari segmen ini.
Permintaan pupuk organik Poktan Bhineka I datang dari perkebunan pepaya,
rambutan, kacang koro, coklat dan kelengkeng yang berada di Desa Blendung dan
desa sekitarnya.
2.
Petani Tanaman Pangan
Petani yang mengusahakan tanaman pangan seperti padi, cabai dan
berbagai jenis sayuran yang berada di sekitar Desa Blendung menjadi segmen
pasar dari Poktan Bhineka I. Jumlah permintaan pupuk oleh segmen pasar ini
cukup tinggi dan kontinu walaupun dalam jumlah yang relatif kecil. Rata–rata
permintaan pupuk dari kelompok ini adalah 2 ton per bulannya.
152
3.
Pelaku Bisnis Tanaman Hias
Pelaku bisnis tanaman hias merupakan segmen pasar dari upuk organik
Bhineka I dengan ukuran pasar yang kecil. Permintaan dari segmen pasar ini
relatif tidak kontinu dan dalam jumlah kecil.
Setelah dilakukan pengelompokan konsumen (segmentation), maka hal
yang kemudian dilakukan adalah menetukan target pasar. Pelaku bisnis
perkebunan menjadi terget pasar karena permintaan dari segmen ini paling besar
yaitu sekitar 80 persen.
Penetapan posisi (positioning) yaitu tindakan merancang tawaran dan citra
perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (diantara para pesaing) di dalam
benak pelanggannya. Positioning produk pupuk organik Bhineka I dipasar adalah
produk yang berkualitas standar dengan harga standar. Produk yang dihasilkan
oleh Bhineka I memiliki standar umum pupuk organik. Citra khusus dari pupuk
organik UMKM termasuk Poktan Bhineka I adalah pupuk organik karya petani
kecil. Citra tersebut mengartikan bahwa dalam pembelian pupuk organik dari
anggota APPOS tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi tetapi juga sosial
karena telah meningkatkan kesejahteraan kelompok tani. Dengan citra tersebut,
Poktan Bhineka I mendapat dukungan besar dari pemerintah terutama dalam hal
promosi. Pemerintah Daerah Subang merekomendasikan kepada perkebunan
besar untuk membeli pupuk organik dari anggotan APPOS.
Persaingan yang dihadapi oleh Poktan Bhineka I dalam usaha pupuk tidak
berasal dari usaha-usaha lain yang tergabung dalam APPOS akan tetapi dari
perusahaan pupuk BUMN yang berlokasi di Subang seperti Petrokimia dan
Kujang. Perusahaan pupuk tersebut berencana akan memproduksi pupuk organik
dan memasarkannya pada tahun 2010 atas kebijakan pemerintah dengan harga
yang telah disubsidi yaitu Rp 500 per kilogram. Kebijakan tersebut dikhawatirkan
akan menyebabkan industri pupuk oganik yang ada di Subang gulung tikar. Untuk
menghadapi masalah tersebut, APPOS telah melakukan perundingan dengan
pemerintah Subang dan pihak perusahaan pupuk Kujang. Hasil kesepakatan awal
adalah bahwa industri kecil pupuk organik berperan sebagai pemasok bahan baku
bagi pupuk Kujang dan Petrokimia. UKM penghasil pupuk memasok bahan
mentah pupuk yang sudah dikomposkan. Menurut pihak APPOS, hasil
153
kesepakatan ini masih belum menjadi solusi yang tepat untuk dijalankan karena
masih merugikan bagi pihak industri kecil.
b.
Kebijakan produk
Produk yang dihasilkan oleh Poktan Bhineka I adalah pupuk organik
padat. Pupuk dijual dalam bentuk curah dengan satuan pembelian yaitu karung isi
50 kilogram. Kualitas pupuk organik yang diproduksi oleh Kelompok Tani
Bhineka I dikatakan cukup baik jika dilihat secara fisik. Kualitas pupuk organik
secara kimia tidak diketahui karena belum pernah dilakukan uji laboratorium.
Kualitas fisik dari pupuk organik Bhineka I baik dilihat dari sifat fisik organik
antara lain; (1) Warna yang gelap menuju hitam, (2) Bau seperti tanah, (3) Ukuran
partikel serbuk gergaji dan (4) Bila dikepal tidak mengumpal keras.
c.
Kebijakan Harga
Kelompok tani Bhineka I menetapkan harga berdasarkan kesepakatan yang
ditetapkan oleh APPOS yaitu 650 per kilogram. Harga tersebut dikenakan untuk
pembelian dengan syarat FOB shipping point dimana pembeli yang menanggung
biaya transportasi.
d.
Kebijakan Promosi
Poktan Bhineka I tidak melakukan kegiatan promosi. Produsen pupuk
yang tergabung dalam APPOS tidak melakukan promosi sendiri-sendiri tetapi atas
nama APPOS. Promosi APPOS termasuk didalamnya Poktan Bhineka I didukung
oleh Pemkab Subang melalui Dinas Pertanian, Dirjen Perkebunan Subang dan
Dinas Perindustrian. Promosi yang dilakukan APPOS tersebut dilakukan dari
mulut ke mulut, melalui pameran, dan internet.
e.
Kebijakan Distribusi
Distribusi pemasaran pupuk organik kelompok tani Bhineka I dilakukan
secara langsung dan tidak langsung. Pada pola distribusi langsung, penjualan
dilakukan dengan syarat FOB shipping point dimana biaya angkut dalam proses
penjualan ditanggung oleh produsen. Harga jual adalah Rp 650 per kilogram.
154
Pelaku bisnis
perkebunan
Poktan Bhineka I
Petani tanaman
pangan
Pelaku bisnis
tanaman hias
Gambar 6. Bagan Distribusi Langsung Pupuk Organik Poktan Bhineka I
Pada pola distribusi tidak langsung, pupuk dipasarkan melalui APPOS
dengan harga Rp 650 per kilogram dengan pembelian ditempat produksi.
Kemudian APPOS menyalurkan kepada konsumennya (pelaku bisnis perkebunan
dan tanaman pangan) sebesar Rp 800 per kilogram. Konsumen dari penyaluran
pupuk organik APPOS adalah petani sayur, petani buah dan pelaku bisnis
perkebunan.
Pelaku bisnis
Perkebunan
Kelompok
Tani Bhineka I
APPOS
Petani Tanaman
pangan
Gambar 7. Bagan Distribusi Tidak Langsung Pupuk Organik Bhineka I
6.1.4
Hasil Analisis Aspek Pasar
Pengkajian aspek pasar berfungsi menghubungkan manajemen suatu
organisasi dengan pasar yang bersangkutan melalui informasi. Dari hasil analisis
terhadap aspek pasar dapat dinilai apakah suatu usaha marketable atau tidak.
Analisis yang dilakukan terhadap aspek pasar usaha Poktan Bhineka I
menghasilkan beberapa hal yang menjadikan usaha ini layak untuk dijalankan dan
dikembangkan. Kriteria-kriteria yang menyebabkan usaha ini menjadi layak untuk
dikembangkan berdasarkan analisis pasar :
155
1.
Potensi pasar
Ketersediaan pupuk organik di Indonesia baru mencapai dua persen dari
total kebutuhan. Hal ini menunjukkan potensi pasar pupuk organik di Indonesia
sangat besar. Untuk Kabupaten Subang, ketersediaan pupuk organik baru
mencapai 1 persen dari total kebutuhan pupuk organik. Permintaan puupk organik
yang dihadapi oleh Poktan Bhineka I meningkat hingga 90 persen dari 120 ton
pada tahun 2008 menjadi 230 ton hingga Agustus 2009 (Tabel 4). Bahkan
menurut pengelola, ada permintaan yang tidak dapat dipenuhi sekitar 20 ton pada
bulan Juli 2009. Permintaan juga kedepannya diperkirakan akan meningkat
dengan adanya sosialisasi pemakaian pupuk organik menuju Subang Go Organik
2010 yang dilakukan oleh Pemkab Subang.
2.
Adanya APPOS yang mengatur pasar pupuk organik di Subang
APPOS memiliki peran yang besar dalam kelangsungan usaha kecil pupuk
organik di Subang. APPOS menetapkan harga eceran terendah pupuk organik
untuk melindungi produsen. Selain itu, APPOS juga membantu mempromosikan
pupuk organik buatan anggotanya. Adanya APPOS membuat posisi tawar
(bargaining position) dari UKM pupuk orgnaik di Subang cukup kuat.
Akan tetapi, terdapat ancaman yang menyebabkan usaha ini tidak layak
kedepannya yaitu penurunan harga jual karena masuknya supply pupuk organik
bersubsidi. Penunjukan perusahaan pupuk nasional sebagai supplier pupuk
organik memberikan dampak positif bagi konsumen tetapi dampak negatif bagi
produsen. Pemerintah menunjuk PT Petrokimia dan PT Kujang sebagai supplier
pupuk organik di Subang dan berencana akan memasok pupuk organik bersubsidi
seharga Rp 500 per kilogram. Hal ini akan mempengaruhi harga pasar mengalami
penurunan harga hingga Rp 500. Menurut ketua APPOS, UKM pupuk organik di
Subang tidak dapat menutupi biaya produksi dengan harga Rp 500. Hal ini
dikhawatirkan akan menyebabkan industri pupuk kecil di Subang akan gulung
tikar. Untuk mengatasi masalah tersebut, APPOS telah melakukan perundingan
dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk menyelesaikan masalah ini. Akan
tetapi, hingga September 2009 perundingan belum mencapai kesepakatan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka secara umum usaha
pembuatan pupuk organik Poktan Bhineka I dinilai layak untuk ditingkatkan
156
kapasitas usaha jika dikaji secara aspek pasar. Hal ini dikarenakan atas faktor
yang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan skala usaha pupuk organik
Bhineka I dan keberlanjutan usaha yaitu potensi pasar dan kekuatan pasar
(bargaining position) yang kuat karena adanya APPOS.
6.1.5 Aspek Manajemen
Usaha pupuk organik Bhineka I didirikan pada tahun 2007 atas mandat
dari Pemkab Subang dimana setiap desa hendaknya memiliki usaha pembuatan
pupuk organik yang dikelola oleh kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan
pupuk organik di setiap desa. Tujuan dari usaha ini didirikan adalah memenuhi
kebutuhan organik petani Desa Blendung dan sekitarnya. Visi dan misi dari usaha
ini sama dengan visi dan misi Poktan Bhineka I. Anggota Poktan Bhineka I
menyerahkan tanggung jawab pengelolaan usaha ini kepada Bapak Dedi Sobandi.
Struktur organisasi dari usaha memiliki tipe organisasi lini. Tipe organisasi
ini memiliki struktur organisasi sederhana, jumlah karyawan kecil dan spesialisasi
kerja belum tinggi. Bagan organisasi dapat dilihat pada Gambar 8 dimana terdiri
dari pengelola,
penanggung jawab produksi, penjualan dan keuangan. Pusat
wewenang dari usaha pupuk organik Bhineka I telah diberikan kepada Bapak
Dedi Sobandi. Menurut Schroef dalam Wibowo (2002), pusat wewenang adalah
orang yang memegang kewenangan tertinggi untuk mengambil keputusan,
memerintah, dan sekaligus bertanggung jawab atas keberhasilan organisasi
mencapai sasaran.
Pengelola
Dedi Sobandi
Penanggung Jawab
Produksi
Urip
Penanggung Jawab
Penjualan
Agus
Penanggung Jawab
Keuangan
Adok
Gambar 8. Bagan Organisasi Usaha Pupuk Organik Poktan Bhineka I
Struktur organisasi dari usaha pupuk organik Poktan Bhineka I sangat sederhana
dan jelas. Pada umumnya skala usaha kecil memiliki bentuk organisasi yang
157
sangat sederhana untuk memudahkan dalam mengendalikan organisasi. Tugas dan
wewenang dari penanggung jawab diuraikan sebagai berikut :
1.
Penanggung Jawab Produksi
Penanggung jawab produksi usaha ini adalah Bapak Urip yang merupakan
anggota Bhineka I dan juga memiliki ikatan keluarga dengan pengelola. Tugas
yang diberikan yaitu melakukan pengawasan terhadap proses produksi sedangkan
wewenangnya adalah pengendali produksi dan penentu tenaga kerja yang
digunakan dalam produksi pupuk organik. Bapak Urip memiliki usia 42 tahun
dengan pendidikan terakhir yaitu Sekolah Dasar. Bapak Urip juga berperan
sebagai pekerja pembuatan pupuk organik.
2.
Penanggung Jawab Penjualan
Penanggung jawab penjualan diberikan kepada Bapak Agus yang juga
merupakan anggota Bhineka I dan memiliki ikatan keluarga dengan pengelola.
Bapak Agus berusia 23 tahun dengan pendidikan terakhir Sekolah Lanjutan
Pertama (SLTP). Bapak Agus juga berperan sebagai tenaga kerja dalam
pengemasan pupuk organik. Tugas dari Bapak Agus yaitu melayani pembelian
pupuk organik, mencatat transaksi penjualan dan melaporkannya kepada
pengelola. Wewenang yang diberikan yaitu mengatur penjualan dan memilih serta
merekrut tenaga kerja dalam pengemasan.
3.
Penanggung Jawab Keuangan
Penanggung jawab keuangan adalah Bapak Adok yang merupakan
anggotan Bhineka I dan memiliki ikatan darah dengan pengelola. Bapak Adok
berusia 36 tahun dengan pendidikan terakhir Sarjana Pendidikan. Tugas dari
Bapak Adok adalah mencatat pendapatan dan pengeluaran uang (kas) dari usaha
ini kemudian melaporkannya kepada pengelola. Wewenang dari Adok adalah
sebagai pemegang kas.
Sistem penggajian dari usaha pupuk organik Bhineka I untuk tenaga kerja
langsung dalam produksi yaitu sistem HOK dimana satu hari kerja 8 jam. Tenaga
kerja berasal dari Desa Blendung. Harga per HOK yaitu Rp 25.000 pada tahun
2008 dan Rp 30.000 pada tahun 2009. Sedangkan untuk tenaga kerja pengemasan
diberi upah per hasil karung yang dikemas yaitu Rp 1000 per karung pada tahun
158
2008 dan Rp 1500 per karung. Untuk penanggung jawab, tidak diberikan gaji
tetapi berupa bagi hasil dari pemilik.
6.1.6
Hasil Analisis Kelayakan Aspek Manajemen
Berdasarkan hasil kajian terhadap aspek manajemen usaha ini,
secara umum usaha ini dinilai layak jika ditinjau dari aspek manajemen. Usaha
pupuk organik Bhineka I telah memiliki pembagian tugas dan wewenang yang
jelas. Usaha ini telah menjalankan manajemen usaha sederhana yang cukup baik
dimana telah terjadi pembagian tugas dan wewenang. Akan tetapi terdapat
beberapa hal yang menjadi kendala dalam peningkatan skala usaha ini
kedepannya, yaitu :
1.
Rangkap tugas penanggung jawab
Dalam usaha pupuk organik Bhineka I, penanggung jawab produksi dan
penjualan merangkap juga sebagai pekerja. Hal ini dapat menyebabkan tugas dan
wewenang yang diberikan kepada penanggung jawab tidak dapat dilaksanakan
dengan baik.
2.
Administrasi
Sistem pembukuan atau administrasi usaha Poktan Bhineka I dinilai
kurang baik. Pencatatan yang dilakukan hanya pencatatan pengeluaran dan
pemasukan kas per transaksi. Pencatatan dinilai tidak rapi dan tidak sistemik.
Menurut Wibowo (2002) dalam bukunya yang berjudul “Pedoman Mengelola
Perusahaan Kecil”, sistem pembukuan usaha kecil yang baik setidaknya memuat
beberapa hal penting yaitu : (1) Daftar inventaris, (2) Catatan keluar masuk kas,
(3) Buku penjualan dan pembelian, (3) Catatan perjanjian dagang dan (5) Catatan
produksi
3.
Pengelolaan keuangan yang kurang baik.
Salah satu akibat dari pembukuan yang buruk adalah pengelolaan
keuangan yang kurang baik. Usaha ini belum menyusun laporan keuangan seperti
laporan laba rugi, arus kas dan neraca. Penyusunan anggaran belanja usaha hanya
dilakukan diawal pendirian usaha saja sedangkan selanjutnya tidak. Pengaturan
keuangan merupakan hal yang sering diabaikan oleh usaha kecil yang
menyebabkan usaha kecil sulit berkembang. Menurut Iqbal dan Simanjuntak
(2004) dalam bukunya yang berjudul “Solusi Jitu Bagi Pengusaha Kecil dan
159
Menengah” menyatakan seringnya usaha kecil kurang mengontrol pengeluaran
dan pemasukan uang menyebabkan kurangnya penyertaan modal dalam usaha
kecil.
6.1.7 Aspek Hukum
Usaha yang dikelola oleh Bhineka I ini merupakan usaha atas nama
bersama yaitu kelompok tani Bhineka I tetapi tanggung jawab pengelolaannya
diserahkan kepada Bapak Dedi Sobandi. Bapak Dedi Sobandi bertanggung jawab
terhadap untung rugi usaha. Hal ini dikarenakan modal usaha dalam menjalankan
usaha ini sebagian besar dari Bapak Sobandi. Usaha ini akan terus berjalan atas
nama Poktan Bhineka I karena mandat dari Pemerintah Kabupaten Subang. Dari
awal usaha hingga September 2009, usaha ini belum memiliki SIUP dan
pengelola berencana membuat SIUP pada tahun 2010.
6.1.8
Hasil Analisis Kelayakan Aspek Hukum
Usaha pupuk organik Poktan Bhineka I belum memiliki bentuk badan
usaha dan SIUP. Hal ini menyebabkan usaha ini sulit memperoleh pinjaman
modal dari bank untuk pengembangan usaha. Persyaratan dalam memperoleh
Kredit Usaha Rakyat untuk badan usaha kecil menengah adalah menyertakan
minimal SIUP untuk batas pinjaman maksimal 100 juta. Pengelola berencana
mengurus izin usaha tersebut pada tahun 2010.
Usaha pupuk organik memiliki status kepemilikan yang belum jelas.
Selama ini usaha berjalan atas nama Poktan Bhineka I, akan tetapi pengelolaan
mutlak dimilki oleh Bapak Dedi Sobandi dan keluarga. Adanya badan usaha dan
kejelasan dari kepemilikan usaha sangat penting dalam berjalannya suatu usaha
terutama dalam pengurusan izin usaha. Berdasarkan uraian tersebut, maka secara
umum dapat dinilai bahwa usaha Poktan Bhineka I dikatakan tidak layak ditinjau
dari aspek hukum. Hal ini dikarenakan faktor ketidakjelasan kepemilikan usaha.
6.1.8 Aspek Sosial dan Lingkungan
Usaha yang dikelola oleh kelompok tani Bhineka I bukan merupakan suatu
usaha yang hanya berorientasi pada keuntungan (profit oriented) bagi anggota
akan tetapi juga suatu usaha yang bersifat sosial. Pada dasarnya, usaha ini
160
didirikan bertujuan untuk meningkatkan pertanian organik khususnya di Desa
Blendung dan juga memperbaiki kondisi lahan yang telah rusak. Masyarakat Desa
Blendung sangat mendukung berdirinya usaha ini karena usaha ini dianggap
memberi keuntungan sosial bagi mereka. Adanya dukungan besar masyarakat
karena usaha ini telah memberikan lapangan kerja baru dan meningkatkan
pendapatan peternak yang ada di sekitar Desa Blendung. Masyarakat menyatakan
tidak ada dampak negatif seperti pencemaran udara atau air yang mereka rasakan
selama usaha ini berjalan.
6.1.9 Hasil Analisis Kelayakan Aspek Sosial dan Lingkungan
Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek sosial lingkungan usaha pupuk
organik Poktan Bhineka I, maka usaha ini dinilai sangat layak dijalankan dan
dikembangkan karena memberikan benefit social yang besar bagi lingkungannya..
Dampak negatif atau kerugian sosial dari berjalannya usaha ini tidak dirasakan
oleh masyarakat. Oleh karena itu, usaha ini mendapat dukungan dari masyarakat
dan juga pemerintah Berdirinya usaha ini, memberikan manfaat sosial dan
ekonomi bagi masyarakat antara lain :
1.
Memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat peternak
Masyarakat peternak di Desa Blendung dan desa sekitarnya berperan
sebagai pemasok kotoran hewan. Penjualan kotoran hewan meningkatkan
pendapatan masyarakat peternak dan menjadi manfaat ekonomi dari berjalannya
usaha ini. Nilai manfaat ekonomi yang diberikan usaha ini per bulannya adalah
Rp 3.220.000 (penjualan 1,38 ton kotoran).
2.
Memberikan manfaat ekonomi bagi UMKM sekitar
Usaha ini memberikan tambahan pendapatan bagi usaha pembudidayaan
jamur dan UKM kerupuk. Bagi usaha budidaya jamur, usaha ini telah
memberikan tambahan pendapatan dari penjualan limbah jamur senilai Rp
600.000 per bulannya. Bagi UKM kerupuk, usaha ini memberikan tambahan
pendapatan dari penjualan limbah sekam penggorengan kerupuk senilai Rp
540.000.
3.
Mengurangi pengangguran di Desa Blendung
161
Kegiatan produksi dalam usaha pupuk organik Bhineka I telah menyerap
tenaga kerja rata-rata 5 orang per bulannya. Oleh karena itu, usaha ini berperan
dalam pengurangan pengangguran.
4.
Ikut serta dalam melestarikan lingkungan
Usaha ini memanfaatkan 90 persen limbah sebagai bahan baku utama. Hal
ini memberikan dampak positif bagi lingkungan dengan mengurangi sampah.
6.2
Analisis Aspek Kelayakan Finansial
Analisis aspek finansial dalam usaha pupuk organik bertujuan untuk
menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat dengan
membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan sehingga dapat ditentukan
layak atau tidaknya suatu pengusahaan tersebut. Kriteria penilaian investasi yang
digunakan yaitu NPV, IRR, Net B/C dan PP. Untuk menganalisis keempat kriteria
tersebut, digunakan arus kas (cashflow) sehingga dapat diketahui besarnya
manfaat dan biaya yang dikeluarkan oleh Poktan Bhineka I dalam pengusahaan
pupuk organik.
Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk
mengetahui kelayakan pengusahaan pembuatan pupuk organik. Analisis
kelayakan finansial yang dilakukan pada dua kondisi yaitu kondisi yang telah
berjalan sekarang (Skenario I) dan kondisi yang akan datang dengan peningkatan
kapasitas produksi (Skenario II). Kapasitas produksi ditingkatkan dua kali lipat
dari 25 ton per bulan menjadi 50 ton per bulan. Peningkatan kapasitas produksi
atas dasar : (1) menyerap potensi pasar besar yang 99 persen belum terserap, (2)
memenuhi permintaan dan (3) Memanfaatkan lahan usaha yang masih kosong.
Kapasitas hanya ditingkatkan dua kali lipat dengan alasan keterbatasan
kemampuan manajemen pengelola dan keterbatasan dana. Untuk mengetahui hasil
kelayakan pengusahaan pembuatan pupuk organik akan dilihat dari kriteriakriteria kelayakan finansial yang meliputi NPV, Net B/C, IRR, dan Payback
Periode.
6.2.1 Analisis Kelayakan Finansial Skenario I (Tanpa Peningkatan
Kapasitas Produksi)
162
Kelayakan finansial suatu usaha ditentukan dengan menganalisis laporan
arus kas. Analisis kelayakan finansial skenario I dilakukan pada usaha Poktan
Bhineka I dengan kondisi usaha berjalan seperti saat sekarang dimana tingkat
produksi yang dihasilkan yaitu 25 ton perbulannya. Perhitungan umur proyek
dalam analisis ini dimulai dari tahun ke-1 yaitu tahun 2008. Umur proyek adalah
10 tahun berdasarkan umur bangunan sebagai alat investasi utama.
6.2.1.1 Arus Manfaat (Inflow)
Manfaat (Inflow) adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan
pendapatan suatu
proyek. Pada usaha pembuatan pupuk organik ini, inflow
diperoleh dari hasil penjualan dan nilai sisa dari investasi.
a. Penerimaan Penjualan
Rata-rata penjualan pupuk Poktan Bhineka I per bulan yaitu 25 ton. Harga
jual pupuk sebesar Rp 650 per kilogram. Pada tahun 2008, penjualan produk
dimulai dari bulan April. Total penjualan pada tahun 2008 yaitu 120 ton per
tahun. Hingga September tahun 2009, terjadi peningkatan penjualan mencapai 90
persen menjadi 230 ton (Tabel 6). Penjualan hingga akhir tahun 2009 diasumsikan
sebesar 300 ton. Hal ini dikarenakan kemampuan produksi dalam satu tahun yaitu
300 ton. Tahun-tahun berikutnya diperkirakan tidak terjadi peningkatan lagi sebab
sudah mencapai batas maksimum kapasitas produksi.
Tabel 8. Penerimaan Usaha Pupuk Organik Bhineka I (Skenario I)
1
2
Penjualan
(Ton)
120
300
Harga
(Rp)
650
650
Penerimaan Total
(Rp)
78,000,000
195,000,000
3
300
650
195,000,000
4
300
650
195,000,000
5
6
300
300
650
650
195,000,000
195,000,000
7
300
650
195,000,000
8
300
650
195,000,000
9
10
300
300
650
650
195,000,000
195,000,000
Tahun
b.
Nilai Sisa (Salvage Value)
163
Selain dari penjualan pupuk, penerimaan perusahaan juga diperoleh dari
nilai sisa (salvage value) biaya investasi yang terdapat hingga akhir umur proyek
sehingga dapat ditambahkan sebagai manfaat proyek. Penentuan umur ekonomis
alat investasi berdasarkan pengalaman pengelola dalam pemakaian alat investasi
tersebut. Nilai sisa pada proyek dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 9. Nilai Sisa Investasi (Skenario I)
Jenis Investasi
Jumlah
Harga
satuan
(Rp)
Nilai (Rp)
Umur
Ekonomi
Tanah
1500m2
Bangunan
(7x20)m
38,000,000
38,000,000
10
-
Alas bambu
1 unit
500,000
500,000
1
-
Mesin giling
1 unit
3,000,000
3,000,000
5
-
Mesin kemas
Timbangan gantung
100kg
Timbangan duduk
500 kg
1 unit
650,000
650,000
5
-
1 unit
300,000
300,000
5
-
1unit
500,000
500,000
7
200,000
Terpal
1 Rol
500,000
500,000
2
-
Cangkul
4 unit
30,000
120,000
2
-
Sekop
3 unit
40,000
120,000
2
-
Ayakan
1 unit
10,000
10,000
2
-
Ember+ gayung
2 unit
20,000
40,000
1
-
Garu
1 unit
15,000
15,000
2
-
Embrat/penyiram
1 unit
20,000
20,000
2
-
2 pasang
50,000
100,000
2
-
2 unit
100,000
200,000
2
-
Sepatu boot
Drum
22,500,000
Nilai Sisa
(Rp)
Total
66,575,000
22,500,000
22,700,000
Dari tabel ditas dapat dilihat bahwa investasi pada usaha ini memiliki nilai sisa
pada tanah dan timbangan duduk. Tanah tidak memiliki umur ekonomis sehingga
nilai tanah tidak menyusut. Asumsi nilai sisa tanah pada penelitian ini sama
dengan nilai pada pembelian di awal proyek.
6.2.1.3 Arus Biaya (Outflow)
Biaya adalah segala sesuatu yang menjadi biaya dan mengurangkan nilai
suatu proyek. Arus pengeluaran terdiri dari pengeluaran untuk biaya investasi dan
biaya operasional.
a.
Biaya Investasi dan Reinvestasi
164
Biaya investasi dikeluarkan pada tahun pertama proyek (tahun 2008).
Total biaya investasi usaha Poktan Bhineka I senilai Rp 66.575.000. Biaya
investasi dikeluarkan oleh pengelola (Dedi Sobandi) setengahnya dari total biaya
yaitu Rp 34.575.000 dan sisanya dari bantuan Pemkab Subang (Rp 32.000.000).
Biaya investasi terbesar yang dikeluarkan usaha ini adalah bangunan yang seluas
7x20 meter persegi. Nilai investasi tersebut didapat pada tahun 2008.
Tabel 10. Rincian Investasi Usaha Pupuk Organik Bhineka I (Skenario I)
Jenis Investasi
Tanah
Bangunan dan instalasi
listrik
Alas bambu
Mesin giling
Mesin kemas
Timbangan gantung 100kg
Timbangan duduk
500 kg
Terpal
Cangkul
Sekop
Ayakan
Ember+ gayung
Garu
Embrat/penyiram
Sepatu boot
Drum
Total
Jumlah
Harga
satuan
(Rp)
1500m2
Nilai
(Rp)
22,500,000
(7x20)m
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
38,000,000
500,000
3,000,000
650,000
300,000
38,000,000
500,000
3,000,000
650,000
300,000
1unit
1 rol
4 unit
3 unit
1 unit
2 unit
1 unit
1 unit
2 pasang
2 unit
500,000
500,000
30,000
40,000
10,000
20,000
15,000
20,000
50,000
100,000
500,000
500,000
120,000
120,000
10,000
40,000
15,000
20,000
100,000
200,000
66,575,000
Selain biaya investasi juga ada biaya reinvestasi yang dikeluarkan oleh
perusahaan apabila ada komponen pada investasi telah habis umur ekonomisnya.
Komponen investasi yang mengalami reinvestasi jika memiliki umur ekonomis
tidak sepanjang umur proyek. Rincian dari biaya reinvestasi dapat dilihat pada
Lampiran 8. Total biaya reinvestasi yang dikeluarkan oleh Poktan Bhineka I dari
tahun ke-2 hingga umur proyek selesai adalah Rp 36.250.000. Nilai dari biaya
reinvestasi per unit diasumsikan tetap atau sama dengan nilai per unit pada tahun
2008.
b.
Biaya Operasional
165
Biaya operasional terdiri dari biaya
variabel dan biaya tetap. Biaya
variabel meliputi biaya bahan baku dan upah tenaga kerja produksi. Biaya tetap
meliputi beban listrik, beban administrasi. Terjadi peningkatan biaya variabel
sebesar 17, 14 persen dari tahun 2008 hingga tahun 2009.
Total produksi pupuk pada tahun 2008 adalah 120 ton pupuk sehingga
total pengeluaran biaya variabel adalah Rp 54.996.000.Pembelian bahan baku
dilakukan dengan cara FOB destination dimana harga bahan baku sudah termasuk
biaya pengangkutan hingga ke tempat. Dari tabel diatas dapat dilihat rincian biaya
produksi pada tahun 2008. Pada tahun 2008, bahan baku merupakan biaya dengan
proporsi terbesar yaitu 82.22 persen.
Tabel 11. Rincian Biaya Variabel Produksi 10 Ton Pupuk pada Tahun 2008
Uraian
Bahan baku :
Kotoran Hewan
Arang Sekam
Jerami
Zeolit
Dekomposer
Molase
Total bahan baku
Karung
Benang
Tenaga kerja produksi
Upah kemas
Total
Jumlah
Tahun 2008
Nilai per satuan
(Rp)
2 bak mobil
180 karung
9 bak mobil
1 kwintal
10 botol
10 kg
1,000,000 /mobil
4000/ karung
200.000/ 3 mobil
78,000/kwintal
2500/ botol
3000/ kg
200 karung
2 gulung
15 HOK
1000/karung
10,000/gulung
25,000/HOK
1000/karung
Nilai Total
(Rp)
2,000,000
540,000
600,000
78,000
250,000
30,000
3,788,000
200,000
20,000
375,000
200,000
4,583,000
Proporsi
biaya (%)
44.71
16.10
13.41
1.74
5.59
0.67
82.22
4.47
0.45
8.38
4.47
100.00
Pada tahun 2009, proporsi biaya bahan baku sebesar 80,17 persen dimana
komposisi biaya bahan baku terbesar adalah kotoran hewan. Total produksi pupuk
pada tahun 2009 adalah 300 ton pupuk sehingga total pengeluaran biaya variabel
adalah Rp 16.940.000. Total biaya variabel mengalami kenaikan pada tahun 2009
sebesar 17,14 persen. Biaya bahan baku mengalami kenaikan sebesar 14,25
persen dimana kenaikan terbesar pada kotoran hewan sebesar 27,5 persen. Hal ini
dikarenakan semakin berkembangnya usaha-usaha yang memanfaatkan kotoran
hewan sehingga harga kotoran meningkat. Biaya bahan baku yang mengalami
penurunan yaitu arang sekam yang turun hingga 33,33 persen. Hal ini dikarenakan
166
sebagian pasokan arang sekam dialihkan dari industri batako ke industri
Uraian
Tahun 2009
Nilai per satuan
(Rp)
Jumlah
Proporsi
Biaya
(%)
Perubahan
biaya
(2008-2009)
2,760,000
540,000
600,000
78,000
320,000
30,000
4,328,000
300,000
20,000
51.13
10.00
11.12
1.44
5.93
0.56
80.17
5.56
0.37
27.54
-33.33
0.00
0.00
21.88
0.00
14.25
33.33
0.00
450,000
300,000
5,398,000
8.34
5.56
100
16.67
33.33
17.14
Nilai Total
(Rp)
Bahan baku :
Kotoran Hewan
Arang Sekam
Jerami
Zeolit
Dekomposer
Molase
460 karung
@ karung =30 kg
180 karung
9 bak mobil
1 kwintal
10 botol
10 kg
6000 /karung
3000/karung
200.000 / 3mobil
78,000/ kwintal
25,000 /botol
3000/kg
200 karung
2 gulung
1500/karung
10,000
15 HOK
-
30,000/HOK
1500 per karung
Total bahan baku
Karung
Benang
Tenaga kerja
produksi
Upah kemas
Total
penggorengan kerupuk. Arang sekam dari penggorengan kerupuk jauh lebih
murah dibandingkan industri batako. Pada tahun berikutnya (tahun ke-3 hingga
ke-10) diasumsikan biaya tidak mengalami perubahan lagi. Biaya yang
mengalami kenaikan paling tinggi dan sangat dirasakan oleh pengelola yaitu
biaya tenaga kerja dan harga karung pembungkus sebesar 33,3 persen.
Tabel 12. Rincian Biaya Variabel 10 Ton Pupuk pada Tahun 2009
Selain biaya variabel, yang juga menjadi pengeluaran usaha ini adalah
beban operasi meliputi beban administrasi dan komunikasi, beban listrik, dan
beban pajak.
Tabel 13. Rincian Biaya Tetap Usaha Pupuk Organik Poktan Bhineka I
No
Uraian
Nilai Per Tahun
(Rp)
1
Beban Administrasi dan Komunikasi
360.000
2
Listrik
1.020.000
Total
1.386.000
Biaya administrasi termasuk biaya pembukuan dan komunikasi senilai Rp
30.000 per bulannya atau Rp 360.000 per tahun. Beban listrik selama setahun
167
senilai Rp 1.020.000 dihitung dari rata-rata pembayaran iuran listrik per bulan
yaitu Rp 85.000 dikali 12 (jumlah bulan dalam setahun). Pada tahun-tahun
berikutnya, diasumsikan nilai biaya administrasi dan listrik tetap per bulannya.
6.2.1.3 Laporan Laba Rugi (Skenario I)
Laporan laba rugi usaha dapat dilihat pada Tabel 14. Laporan laba rugi
Poktan Bhineka I diasumsikan sama mulai dari tahun ke-2 hingga ke-10 dimana
usaha ini telah mencapai kapasitas penuh.
Tabel 14. Proyeksi Laporan Laba Rugi per Tahun Usaha Pupuk Organik
Poktan Bhineka I (Skenario I)
Uraian
Pendapatan:
I. Pendapatan penjualan
II. Pengeluaran
1.Beban Pokok produksi:
Bahan baku
Karung
Benang
Tenaga kerja produksi
Upah kemas
2.Beban Operasi:
Beban Administrasi
Beban Listrik
Beban Penyusutan
Total Beban (a+b)
III. Laba (I-II)
Beban Pajak
IV.Laba setelah pajak
Tahun ke
1
2,3…10
78,000,000
195,000,000
44,136,000
2,400,000
240,000
4,500,000
2,400,000
129,840,000
9,000,000
600,000
13,500,000
9,000,000
360,000
1,020,000
5,743,929
60,799,929
17,200,071
860,004
16,340,068
360,000
1,020,000
5,743,929
169,063,929
25,936,071
1,296,804
24,639,268
Beban pajak dihitung berdasarkan laporan laba rugi usaha per tahun.
Beban pajak yang ditanggung usaha ini sebesar 5 persen dari laba. Pada kondisi
yang terjadi (aktual), usaha ini tidak mengeluarkan pajak.
Pertimbangan
dimasukkan beban pajak adalah agar penilaian laba dan NPV usaha tidak terlalu
tinggi (overstated). Pada tahun pertama (tahun 2008) usaha ini mendapat laba
setelah dikurangi pajak usaha sebesar Rp 16.340.068 dan pada tahun ke-2 hingga
tahun berikutnya sebesar Rp 24.639.268.
6.2.1.4 Hasil Analisis Kelayakan Finansial (Skenario I)
Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C, IRR,
dan payback periode. Discount rate yang digunakan dalam analisis arus kas
168
skenario I sebesar 7 persen (suku bunga deposito BRI September 2009). Hasil
analisis kelayakan finansial Poktan Bhineka I dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 15. Hasil Analisis Finansial Skenario I
Kriteria
Net Present Value (NPV)
Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C)
Internal Rate Return (IRR)
Payback Periode (PP)
Hasil
Rp 156,179,316
4.5104
65%
2.7948
Berdasarkan analisis finansial di atas, dapat disimpulkan bahwa usaha
pembuatan pupuk organik yang dijalankan oleh Poktan Bhineka I layak
dijalankan. NPV usaha ini bernilai Rp 156.179.316 lebih besar dari nilai investasi
sebesar Rp 66.575.000. Usaha ini memperoleh NPV>0 yaitu sebesar 156,179,316
yang artinya bahwa usaha ini layak untuk dijalankan. NPV yang bernilai Rp
156.179.316 menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha ini selama
umur proyek terhadap tingkat diskon (discount rate) yang berlaku. Kriteria lain
yang dianalisis adalah Net B/C, pada Skenario I usaha ini diperoleh nilai Net B/C
>0 yaitu sebesar 4,5 yang menyatakan bahwa usaha isi ini layak dijalankan. Nilai
Net B/C sama dengan 4,5 artinya setiap Rp 1 yang dikeluarkan selama umur
proyek menghasilkan Rp 4,5 satuan manfaat bersih. IRR yang diperoleh dari
analisis finansial pada skenario I adalah 65 persen dimana IRR tersebut lebih
besar dari discount factor (rate) yang berlaku yaitu 7 persen. IRR juga
menunjukkan bahwa usaha ini akan layak jika nilai DR masih dibawah 52 persen.
Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 71
persen dan karena IRR>8 persen, maka usaha ini layak dan menguntungkan.
Usaha pupuk organik ini memiliki periode pengembalian (payback periode) 2
tahun 9 bulan. Berdasarkan keempat kriteria kelayakan finansial usaha tersebut,
maka dapat disimpulkan usaha ini sangat layak untuk dijalankan.
6.2.1.5 Analisis Sensitivitas (Skenario I)
Analisis sensitivitas dilakukan dengan menggunakan nilai pengganti
(switching value) sampai memperoleh nilai NPV yang mendekati nol, IRR 7
persen dan Net B/C mendekati satu. Nilai pengubah dalam analisis ini adalah
biaya bahan baku, upah tenaga kerja ( upah produksi dan kemas) dan harga jual.
169
Penentuan nilai pengganti terhadap bahan baku dan upah tenaga kerja berdasarkan
analisis terhadap perubahan biaya pada tahun 2008 dan 2009 dimana bahan baku
dan tenaga kerja mengalami peningkatan yang cukup besar (Tabel 8).
Pertimbangan perubahan harga jual sebagai nilai pengganti atas dasar adanya
kecenderungan penurunan harga akibat masuknya pasokan pupuk organik
bersubsidi dengan harga Rp 500 di Subang tahun 2010. Hasil switching value
adalah sebagai berikut.
Tabel 16. Hasil Analisis Sensitivitas (Skenario I)
Perubahan
Kenaikan Biaya
Bahan Baku per tahun
Kenaikan Upah
Tenaga Kerja per Tahun
Penurunan Harga Jual
Persentase (%)
4,41
19,20
14,4
Hasil analisis sensitivitas usaha Poktan Bhineka I menunjukkan bahwa
batas kenaikan harga bahan baku, kenaikan upah kerja dan penurunan harga jual
yang membuat usaha ini masih layak adalah 4,41 persen, 19,20 persen, dan 14,4
persen. Dari hasil analisis sensitivitas dapat dilihat bahwa perubahan harga bahan
baku yang paling mempengaruhi kelayakan finansial usaha ini. Kenaikan bahan
baku sebesar diatas 4,41 persen per tahun menyebabkan usaha ini tidak layak.
Kenaikan upah tenaga kerja diatas 19,20 persen per tahun menyebabkan usaha ini
tidak layak untuk dijalankan. Penurunan harga jual dibawah 14,4 persen
menyebabkan usaha ini tidak layak dijalankan. Batas harga jual dari pupuk
organik ini adalah Rp 556,4 per kilogram. Oleh karena itu, jika harga pasar pupuk
organik ditetapkan Rp 500 merugikan usaha ini dan UKM pupuk organik lainnya
yang ada di Subang.
6.2.2 Analisis Kelayakan Finansial Usaha Skenario II (Peningkatan
Kapasitas)
170
Peningkatan kapasitas produksi dari 300 ton menjadi 600 ton per tahun
dilakukan dengan penambahan luas tempat usaha dan penambahan investasi.
Rencana ini akan dilakukan pada tahun 2010.
6.2.2.1 Arus Manfaat (Inflow)
Manfaat adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan pendapatan suatu
proyek. Pada usaha pembuatan pupuk organik ini, inflow diperoleh dari hasil
penjualan dan nilai sisa dari investasi.
a.
Penerimaan penjualan
Peningkatan kapasitas produksi menjadi dua kali lipat juga meningkatkan
penerimaan penjualan dua kali lipatnya. Peningkatan kapasitas dilakukan pada
tahun ke-3 sehingga penjualan meningkat pada tahun tersebut menjadi 50 ton per
bulan. Harga jual pupuk diasumsikan tetap sebesar Rp 650 per kilogram selama
umur proyek.
Tabel 17. Penerimaan Pupuk Organik (Skenario II)
Tahun
b.
Jumlah pupuk
(Ton)
Harga
(Rp)
Penerimaan Total
(Rp)
1
120
650
78,000,000
2
300
650
195,000,000
3
600
650
390,000,000
4
600
650
390,000,000
5
600
650
390,000,000
6
600
650
390,000,000
7
600
650
390,000,000
8
600
650
390,000,000
9
600
650
390,000,000
10
600
650
390,000,000
Nilai Sisa
Biaya-biaya investasi pada usaha ini yang masih memiliki nilai hingga
akhir umur proyek tanah, bangunan tambahan investasi, dan timbangan duduk.
Total nilai sisa hingga akhir umur proyek adalah Rp 51.080.000 (Lampiran 14).
6.2.2.2 Arus Biaya(Outflow)
171
Skenario II adalah suatu kondisis dimana terjadi peningkatan kapasitas
produksi dua kali lipat. Arus pengeluaran pada Skenario II terdiri dari pengeluaran
untuk biaya investasi, biaya operasional, dan biaya tetap.
a.
Biaya Investasi dan Reinvestasi
Biaya investasi dikeluarkan pada pada tahun pertama dan ketiga proyek.
Pada tahun ketiga, kapasitas produksi ditingkatkan sehingga biaya investasi
dikeluarkan lagi. Investasi yang mengalami penambahan diuraikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Rincian Penambahan Investasi pada Skenario II
Jenis Investasi
Jumlah
Bangunan
Alas bambu
Mesin kemas
Timbangan gantung 100kg
Terpal
Cangkul
Sekop
Ayakan
Ember+ gayung
Garu
Embrat/penyiram
Sepatu boot
Drum
Total
(15m x 20m)
1 unit
1 unit
1 unit
1 Rol
4 unit
3 unit
1 unit
2 unit
1 unit
1 unit
2 pasang
2 unit
Harga Satuan
(Rp)
70,000,000
500,000
650,000
300,000
500,000
30,000
40,000
10,000
20,000
15,000
20,000
50,000
100,000
Nilai (Rp)
70,000,000
500,000
650,000
300,000
500,000
120,000
120,000
10,000
40,000
15,000
20,000
100,000
200,000
73,575,000
Bangunan yang ditambah dalam peningkatan kapasitas produksi seluas 15 m x 20
m. Bangunan tersebut digunakan untuk ruang pengomposan seluas (7m x 20 m)
dan ruang penyimpanan produk (8mx20m). Peningkatan kapasitas produksi
membutuhkan tambahan peningkatan mesin dan peralatan. Akan tetapi ada
beberapa investasi yang
tidak memerlukan penambahan yaitu
luas lahan,
timbangan duduk 500 kg dan mesin giling. Luas lahan yang ada masih dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan kapasitas produksi. Menurut pengelola, mesin
giling dan timbangan duduk tidak perlu ditambah jumlahnya
karena
pemanfaatannya selama ini belum optimal. Selain biaya investasi juga ada biaya
reinvestasi yang dikeluarkan oleh perusahaan apabila ada komponen pada
investasi telah habis umur ekonomisnya. Komponen investasi yang mengalami
172
reinvestasi jika memiliki umur ekonomis tidak sepanjang umur proyek. Rincian
dari biaya reinvestasi dapat dilihat pada Lampiran 14.
b. Biaya Operasional
Biaya operasional pada skenario II terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap.
Biaya variabel pada skenario II mengalami peningkatan dua kali lipat karena
penggunaan input variabel juga ikut meningkat dengan proporsi yang sama.
Asumsi harga pada setiap input variabel tidak mengalami perubahan dari tahun
2009.
Tabel 19. Rincian Biaya Variabel per Tahun Skenario II
Tahun ke1
Jumlah produksi
(ton)
120
Total Biaya variabel
(Rp)
53,676,000
2
300
161,940,000
3
600
323,880,000
4
600
323,880,000
5
600
323,880,000
6
600
323,880,000
7
600
323,880,000
8
600
323,880,000
9
600
323,880,000
10
600
323,880,000
Selain biaya variabel, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagai
biaya operasional adalah biaya tetap. Biaya tetap pada skenario II memiliki nilai
sama dengan skenario I karena biaya ini tidak terpengaruh terhadap peningkatan
kapasitas produksi.
Tabel 20. Rincian Biaya Tetap Usaha Produksi Pupuk Organik (Skenario II)
No
Uraian
Nilai Per Tahun
(Rp)
1
Beban Administrasi dan Komunikasi
360,000
2
Listrik
1,020,000
Total
1,386,000
173
Biaya administrasi termasuk biaya pembukuan dan komunikasi senilai Rp.
30.000 per bulannya atau Rp 360.000 per tahun. Beban listrik selama setahun
senilai Rp 1.020.000 dihitung dari rata-rata pembayaran iuran listrik per bulan
yaitu Rp 85.000 dikali 12 (jumlah bulan dalam setahun). Pada tahun-tahun
berikutnya, diasumsikan nilai biaya administrasi dan listrik tetap per bulannya.
6.2.2.3 Laporan Laba Rugi (Skenario II)
Laporan laba rugi Poktan Bhineka I diasumsikan sama mulai dari tahun
ke-3 hingga ke-10 dimana usaha ini telah mencapai kapasitas penuh (50 ton per
bulan). Diasumsikan pada tahun ketiga terjadi kenaikan kapasitas usaha yang ikut
meningkatkan penjualan. Laba setelah pajak per tahunnya setelah peningkatan
kapasitas yaitu sebesar Rp 46.737.268. Laba tersebut merupakan laba bersih
setelah dikurangi beban bunga senilai 16 persen dari total investasi (Rp
73.575.000). Asumsi dikeluarkan bunga pada tahun ketiga dan seterusnya karena
modal untuk meningkatkan kapasitas di tahun ke-3 merupakan pinjaman.
Tabel 21. Proyeksi Laba Rugi per Tahun Usaha Bhineka I (Skenario II)
Tahun ke
Uraian
1
2
3
Pendapatan:
78,000,000
195,000,000
390,000,000
44,136,000
129,840,000
259,680,000
Karung
2,400,000
9,000,000
18,000,000
Benang
240,000
600,000
1,200,000
Tenaga kerja produksi
4,500,000
13,500,000
27,000,000
Upah kemas
2,400,000
9,000,000
18,000,000
360,000
360,000
360,000
Beban Listrik
1,020,000
1,020,000
1,020,000
Beban Penyusutan
5,743,929
5,743,929
13,993,929
Total Beban (a+b)
60,799,929
169,063,929
339,253,929
Laba (I-II)
17,200,071
25,936,071
50,746,071
I. Pendapatan penjualan
II. Pengeluaran
1.Beban Pokok produksi:
Bahan baku
2.Beban Operasi:
Beban Administrasi
Beban Bunga (16 %)
Laba setelah bunga
Beban Pajak
Laba setelah pajak
-
1,471,500
17,200,071
25,936,071
49,274,571
860,004
1,296,804
2,537,304
16,340,068
24,639,268
46,737,268
174
6.2.2.4 Analisis Kelayakan Finansial (Skenario II)
Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C, IRR,
dan payback periode. Pada Skenario II, Discount Rate yang digunakan sebesar 16
persen (Suku bunga pinjaman KUR BRI September 2009). Pertimbangan nilai
tersebut karena modal untuk peningkatan investasi merupakan modal pinjaman.
Tabel 22. Hasil Analisis Finansial Skenario II
Kriteria
Net Present Value (NPV)
Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C)
Internal Rate Return (IRR)
Payback Periode (PBP)
Hasil
Rp164,690,803
4.0936
68%
3.1822
Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa pada skenario II
yang akan dijalankan oleh Poktan Bhineka I memperoleh NPV>0 yaitu sebesar
Rp164,690,803 yang artinya bahwa usaha ini layak untuk dijalankan. NPV yang
bernilai Rp164,690,803 menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha ini
selama umur proyek terhadap tingkat diskon
(discount rate) yang berlaku.
Kriteria lain yang dianalisis adalah Net B/C. Pada Skenario II usaha ini diperoleh
nilai Net B/C >0 yaitu sebesar 4 yang menyatakan bahwa usaha ini ini layak
dijalankan. Nilai Net B/C sama dengan 4 artinya setiap Rp 1 yang dikeluarkan
selama umur proyek menghasilkan Rp 4 satuan manfaat bersih. IRR yang
diperoleh dari analisis finansial pada skenario I adalah 68 persen dimana IRR
tersebut lebih besar dari discount factor (rate) yang berlaku yaitu 16 persen.
Payback period dengan adanya peningkatan kapasitas yaitu enam tahun enam
bulan.
6.2.2.5 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat pengaruh yang akan terjadi
apabila keadaan berubah dengan menggunakan nilai pengganti (switching value).
Nilai pengganti (switching value) didapat setelah memperoleh nilai NPV yang
mendekati nol. Dengan pertimbangan yang sama pda analisis sensitivitas skenario
I, nilai pengubah dalam skenario II adalah biaya bahan baku, upah tenaga kerja
(upah produksi dan kemas) dan harga jual. Hasil switching value pada Skenario II
adalah sebagai berikut.
Tabel 23. Hasil Analisis Sensitivitas (Skenario II)
175
Perubahan
Persentase
(%)
Kenaikan Biaya Bahan Baku
Kenaikan Upah Tenaga Kerja
Penurunan Harga Jual
4,16
17,85
11,25
Hasil switching value pada skenario II menunjukkan bahwa batas perubahan
terhadap kenaikan harga bahan baku, kenaikan upah kerja dan penurunan harga
jual yang membuat usaha ini tetap layak adalah 4,16 persen, 17,85 persen, dan
11,25persen. Kenaikan bahan baku sebesar diatas 4,16 persen per tahun selama
umur proyek menyebabkan usaha ini tidak layak. Kenaikan upah tenaga kerja
diatas 17,85 persen per tahun menyebabkan usaha ini tidak layak untuk
dijalankan. Penurunan harga jual dibawah 11,25 persen menyebabkan usaha ini
tidak layak dijalankan. Pada skenario II, batas harga jual dari pupuk organik ini
adalah Rp 576,8 per kilogram. Hasil analisis switching value skenario II tidak jauh
berbeda dengan skenario I. Walaupun usaha ini meningkatkan output, kenaikan
harga bahan baku masih sangat sensitif.
6.2.3 Perbandingan Hasil Analisis Finansial Skenario I dan Skenario II
Hasil kelayakan finansial untuk skenario I dan skenario II menunjukkan
bahwa
usaha Poktan Bhineka I pada kedua kondisi tersebut layak untuk
dijalankan. Menurut Soeharto (2002), penilaian pengembangan suatu proyek
dapat dilihat dari peningkatan arus kas bersih yang bersifat incremental.
Peningkatan kaapsitas produksi meningkatkan arus kas bersih (netflow) dari usaha
ini.
Skenario I
Skenario II
150,000,000
100,000,000
50,000,000
(50,000,000)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
(100,000,000)
Gambar 9: Grafik Arus manfaat Skenario I dan Skenario II
176
Peningkatan kapasitas produksi menjadi dua kali lipatnya (skenario II)
menyebabkan peningkatan nilai pendapatan setelah dikurangi pajak per tahunnya,
nilai NPV dan Net B/C. Peningkatan kapasitas juga memperpanjang periode
pengembalian (PP) karena nilai investasi terlalu besar.
Tabel 24. Perbandingan Hasil Analisis Kelayakan Finansial Skenario I dan
Skenario II
Uraian
Skenario I
Skenario II
Kriteria Laba Rugi
Laba per tahun (setelah pajak)
Rp 24,639,268
Rp 46,737,268
DR
7
%
DR 16 %
Kriteria Kelayakan Cashflow
NPV
Rp 156,179,316
Rp164,690,803
Net B/C
4.5104
4.0936
IRR
65%
68%
PP
2.7948
3.1822
Analisis Sensitivitas
Kenaikan Biaya
Bahan Baku per tahun
Kenaikan Upah Kerja per tahun
4,41%
4,16%
19,2%
17,85%
Penurunan Harga Jual
14,4%
11,25%
Dari perbandingan hasil analisis sensitivitas, skenario I dan skenario II dapat
dilihat bahwa pada kedua skenario usaha sangat sensitif terhadap perubahan biaya
bahan baku. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara sensitivitas usaha
sebelum peningkatan kapasitas dan setalah terjadi peningkatan kapasitas.
Penetapan harga jual sebesar Rp 500 pada skenario I ataupun skenario II
menyebabkan usaha ini tidak layak. Pada skenario I, batas harga terndah yang
menyebabkan usaha ini layak adalah Rp 552,5 sedangkan pada skenario II adalah
Rp 544,7.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dinilai bahwa peningkatan
kapasitas produksi layak dilakukan dalam kondisi yang sesuai dengan asumsiasumsi penelitian ini. Hal ini dikarenakan peningkatan kapasitas produksi
menyebabkan penambahan net inflow, peningkatan laba per tahun, NPV dan IRR.
177
VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka kesimpulan yang didapat :
1.
Analisis kelayakan non finansial usaha pupuk organik Poktan Bhineka I
dikatakan layak jika ditinjau dari aspek : (1) Teknis dan teknologi, (2)
Pasar, (3) Manajemen, dan (4) Sosial dan lingkungan. Aspek teknis usaha
dikatakan layak karena pemilihan teknologi yang tepat, ketersediaan bahan
baku terjamin dan lokasi usaha yang strategis. Aspek pasar dikatakan
layak karena permintaan pasar pupuk organik di Subang sangat potensial
dan kondisi pasar yang kompetitif dan teratur dengan adanya APPOS.
Aspek Manajemen dikatakan layak karena struktur organisai usaha,
pembagian tugas dan pembagian wewenang sederhana dan jelas. Aspek
sosial dan lingkungan dikatakan layak karena usaha ini berdampak positif
terhadap lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat
peternak, pengusaha budidaya jamur dan UKM kerupuk di lingkungan
sekitar usaha.
2.
Hasil analisis kelayakan finansial usaha Poktan Bhineka I pada kondisi
yang sudah berjalan (Skenario I) dan jika kapasitas produksi ditingkatkan
(Skenario II) yaitu usaha ini layak dalam kedua kondisi tersebut.
Peningkatan kapasitas produksi (Skenario II) mendapatkan nilai NPV
lebih besar daripada Skenario I. Hasil analisis sensitivitas pada skenario I
usaha menunjukkan bahwa batas kenaikan harga bahan baku, kenaikan
upah kerja dan penurunan harga jual yang masih membuat usaha ini layak
adalah 4,41 persen, 19,2 persen, dan 14,4 persen. Sedangkan hasil analisis
sensitivitas pada skenario II menunjukkan bahwa batas kenaikan harga
bahan baku, kenaikan upah kerja dan penurunan harga jual yang membuat
usaha ini tetap layak adalah 4,16 persen, 17,85 persen, dan 11,25 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa usaha ini sangat sensitif terhadap
kenaikan biaya bahan baku karena biaya bahan baku memiliki proporsi
terbesar dalam anggaran usaha. Penetapan harga jual sebesar Rp 500 pada
178
skenario I ataupun skenario II menyebabkan usaha ini tidak layak. Pada
skenario I, harga pasar minimal adalah Rp 556,4 sedangkan pada skenario
II adalah Rp 576,8.
7.2 Saran
Dari hasil peneleitian ini, maka saran yang bisa direkomendasikan sebagai
berikut :
1. Perusahaan sebaiknya memperbaiki aspek-aspek usaha yang menyebabkan
perkembangan usaha ini menjadi terkendala. Dari aspek teknis yang harus
diperbaiki adalah uji mutu produk dan penanganan bahan baku dan produk
jadi. Sedangkan dalam aspek hukum, yang perlu diperbaiki adalah bentuk
badan usaha dan status kepemilikan usaha. Sebaiknya Poktan Bhineka I
membentuk badan usaha sendiri untuk usaha pupuk organik bila
kedepannya usaha ini dikembangkan.
2. Pemerintah sebaiknya meninjau kembali penetapan harga eceran pupuk
untuk wilayah Subang. Penetapan harga eceran ini menyebabkan industri
pupuk yang sudah cukup berkembang di Kabupaten Subang menjadi
gulung tikar. Selain itu, sebaiknya pemerintah memberikan subsidi pupuk
organik tidak hanya kepada produsen yang ditunjuk (pupuk nasional)
tetapi kepada industri kecil juga.
179
DAFTAR PUSTAKA
Djaja W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan
Sampah. Jakarta : PT Agro Media Pustaka.
Gittinger J P. 1985. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Jakarta : UIPress.
Gray C, Simanjuntak P, Sabur LK, Maspaitella PFL, Varley RCG. 1992.
Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
Husnan S dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta : Unit
Penerbit dan Pencetak AMP YPKN.
Isroi.
2009. Pupuk Organik Granul. Sebuah
http://isroi.wordpress.com. [2 Juli 2009]
Petunjuk
Praktis.
Iqbal M dan Simanjuntak KMM. 2004. Solusi Jitu Bagi Pengusaha Kecil dan
Menengah. Jakarta: PT. Elek Media Komputindo.
Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek Analisis Ekonomi. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Keown AJ, Scott DF, Martin JD and Petty JW. 2002. Financial Management.
Singapore : Simon and Schuster (Asia) Pte. Ltd.
Khadaffy M. 2009. Analisis kelayakan usaha pupuk organik di CV Saung
Wira Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor :
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Kottler P. 2005. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jakarta : PT Indeks
Kottler P. 2005. Manajemen Pemasaran Jilid 2. Jakarta : PT Indeks
Mujiati. 2004. Analisis kelayakan finansial usaha pengomposan di Kawasan
Peternakan Sapi Perah Pondok Ranggon [Skripsi]. Bogor : Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Manalu P. 2006. Analisis kelayakan finanisal Usaha Kompos Limbah Ternak
Sapi Perah ( Studi Kasus di CV. Cisarua Integrated Farminng)
[Skripsi]. Bogor : Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. 2009. Modul Pembelajaran Studi
Kelayakan Bisnis. Bogor: Lembaga Penerbit Departemen Agribisnis,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Siagian D dan Sugiarto. 2000. Metode Statistika untuk Ekonomi dan Bisnis.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Simanungkalit RDM. 2006. Prospek Pupuk hayati dan Pupuk Organik di
Indonesia.http://balitan.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/.../pupuk/p
upuk13.pdf. [22 Agustus 2009].
Soeharto I. 2002. Studi Kelayakan Proyek Industri. Jakarta : Erlangga
180
Subagyo A. 2007. Studi Kelayakan Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT Elex
Media Komputindo.
Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi 8. Jakarta : PT Pustaka
LP3ES Indonesia
Suriadikarta DA dan Styorini D. 2005. Laporan Hasil Penelitian Standar Mutu
Pupuk Organik. http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/
pupuk%20organik. [2 Juli 2009]
Sutanto R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Pemasyarakatan dan
Pengembangannya. Yogyakarta : Kanisius
Sutanto R. 2002. Pertanian Organik. Menuju Alternatif dan Berkelanjutan.
Yogyakarta : Kansisius
Husein U. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Kedua. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Rusastra W, Saptana dan Djulin A. 2005. Road Map Pengembangan Pupuk
Organik Dalam Mendukung Pembangunan Pertanian di Indonesia.
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Anjak_2005_VI_05.pdf.c
om [8 Juli 2009].
Wibowo S. 1999. Petunjuk Mendirikan Usaha Kecil. Jakarta : PT. Penebar
Swadaya
Wibowo S. 2002. Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil. Edisi Revisi.
Jakarta : PT. Penebar Swadaya
Widiastuti W. 2008. Studi kelayakan usaha pupuk organik cair ( Kasus PT
Mulyo Tani, Salatiga, Jawa tengah) [Skripsi]. Bogor : Fakultas
Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
[BPP Purwadadi Subang]. Badan penyuluhan Pertanian Purwadadi. 2007.
Program Penyuluhan Desa Blendung, Purwadadi-Subang. Subang :
BPP Purwadadi
[BPP Purwadadi]. Badan penyuluhan Pertanian Kecamatan PurwadadiSubang. 2007. Program Penyuluhan pertanian Kecamatan Purwadadi
Kabupaten Subang. Subang : BPP Purwadadi
[Dinas Pertanian Subang]. 2007. Profil Pertanian Kabupaten Subang. Subang
: Dinas Pertanian Subang.
181
Lampiran 1. Komposisi Unsur Hara Kotoran Ternak dari Beberapa
Jenis Ternak
Kadar Hara (%)
Jenis
ternak
Keterangan
Nitrogen
Fosfor
Kalium
Air
-Padat
0,55
0,30
0,40
75
-Cair
1,40
0,22
1,60
90
-Padat
0,40
0,20
0,10
85
-Cair
1,00
0,50
1,50
92
-Padat
0,60
0,30
0,34
85
-Cair
1,00
0,15
1,50
92
-Padat
0,60
0,30
0,17
60
-Cair
1,35
0,05
2,10
85
-Padat
0,75
0,50
0,45
60
-Cair
1,35
0,05
2,10
85
-Padat
0,95
0,35
0,40
80
-Cair
0,40
0,10
0,45
87
-Padat
1,00
0,80
0,40
55
-Cair
1,00
0,80
0,40
55
Kuda
Pupuk panas
Sapi
Pupuk dingin
Kerbau
Pupuk dingin
Kambing
Pupuk dingin
Domba
Pupuk panas
Babi
Pupuk panas
Ayam
Pupuk dingin
182
Lampiran 2. Komposisi dan Aplikasi Bahan Aditif untuk Memperbaiki
Kondisi Proses Dekomposisi dan Kualitas Kompos
Bahan Aditif
Kompos standar
Komposisi dan Aplikasi

Kaya akan mikroorganisme untuk inokulasi
pematangan bahan dasar

Berasal dari alga yang hidup di permukaan batu
kapur
Kapur alginik

Mengandung hara dan bakteri

Sangat cocok untuk menetralisir keasaman
tanah gambut dan kulit kayu
Makanan alga

Karakter hampir mirip dengan kapur alginik
tetapi kandungan kalsium lebih rendah
Darah kental

Bahan pupuk nitrogen organic
Gerusan batu halus,

Mengandung hara dan mineral
basalt, kalsium bentonit,

Memperbaiki stabilisasi biologi bahan yang
granulasi lempung
Kapur pertanian
Serbuk tulang
dikomposisi

Digunakan bila terjadi kekahatan kalsium atau
pH bahan dasar atau tanah terlalu rendah

Mengandung kapur fosfor yang bersifat asam

Berguna untuk meningkatkan kandungan fosfor
dan kalsium
Batuan fosfat (Fosfat
alam)

Batuan sedimen alami dalam bentuk gerusan

Kandungan fosfat larut air sangat rendah tetapi
dapat ditingkatkan dengan mikroorganisme

Pasir
Mengandung asam silikat dan digunakan dalam
jumlah kecil

Berperan dalam pertumbuhan tanaman
183
Lampiran 3. Alokasi Penggunaan Lahan Desa Blendung Tahun 2007
Alokasi Penggunaan
1.Tanah Sawah
- Sawah tadah hujan
2.Tanah kering
- Pemukiman
- Pekarangan
3.Tanah Basah
- Tanah GG
4.Tanah Perkebunan
- Tanah perkebunan perorangan
5.Tanah Fasilitas Umum
- Prasarana Umum lainnya
- Lapangan Olahraga
- Perkantoran Pemerintah
- Tempat pemakaman
desa/umum
- Bangunan Sekolah
- Usaha Perikanan
Total Luas Lahan
Luas
50,600 ha
92,340 ha
73,247 ha
0,1 ha
334,937 ha
1,884 ha
1,951 ha
0,864 ha
2,800 ha
3,908 ha
4,687 ha
567,318 ha
184
Lampiran 4. Gambar Bahan Baku Pupuk Organik
Gambar 1 : Tumpukan Kohe
Gambar 2. Tempat Penumpukan
Jerami di Bawah Pohon
Gambar 3 : Arang Sekam
Gambar 4 : Molase
Gambar 5: Dekomposer 1 Liter
Merek Super farm
Gambar 6 : Zeolit
185
Lampiran 5. Gambar Proses Produksi
Gambar 1: Proses Pengomposan
Pupuk Organik
Gambar 3. Penimbanagn Pupuk Organik
Gambar 3: Penimbangan Pupuk Organik
Gambar 5A : Tempat Penjemuran
pupuk organik Poktan Bhineka I (
Tidak berlantai /beralas terpal)
Gambar 2: Penjemuran Pupuk Organik
Gambar 4 : Pengemasan Pupuk Organik
Gambar 5B : Tempat Penjemuran
yang dianjurkan ( Usaha Pupuk
Organik Poktan Mekarsari )
186
Lanjutan Lampiran 5. Gambar Proses Produksi
Gambar 6A : Tempat
Penyimpanan Pupuk Organik
Poktan Bhineka I ( Diluar/ Tidak
Beratap )
Gambar 6B : Tempat
penyimpanan pupuk organik yang
dianjurkan
Gambar 7A: Pupuk organik
dalam kemasan yang
dianjurkan
Gambar 7B: Pupuk organik
dalam kemasan yang
melampirkan komposisi
pupuk dan merek
187
Lampiran 6. Diagram Grant Siklus Usaha dan Produksi Poktan Bhineka I
1
2
3
Siklus Usaha Tahun 2008
Tahun ke-1`
4
5
6
7
8
9
10
11
12
3
Siklus Usaha Tahun 2009
Tahun ke-2
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Pengurusan administrasi usaha
Pembangunan tempat pengomposan
Penyediaan Peralatan
Penyediaan bahan baku
Produksi
Penjualan
1
2
Pengurusan administrasi usaha
Pembangunan tempat pengomposan
Penyediaan Peralatan
Penyediaan bahan baku
Produksi
Penjualan
88
Lanjutan Lampiran 6
Siklus Produksi per Bulan
Aktivitas
Penyediaan Bahan
Baku
Kohe
Limbah Jamur
Arang sekam
Bahan Tambahan
Membuat Tumpukan
Kompos
Tumpukan 1
Tumpukan 2
Tumpukan 3
Tumpukan 4
Tumpukan 5
Pengomposan
Tumpukan 1
Tumpukan 2
Tumpukan 3
Tumpukan 4
Tumpukan 5
Pemanenan dan
Penjemuran
Tumpukan 1
Tumpukan 2
Tumpukan 3
Tumpukan 4
Tumpukan 5
Pengemasan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Hari ke16 17 18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
2
89
Lampiran 7. Layout Usaha Pupuk Organik Bhineka I.
Longyam
Bapak Dedi Sobandi
Sawah Warga
Penyimpanan Alat
dan Saung Istirahat
Tempat Penjemuran
Tempat
Penumpukan
Kohe dan
Limbah Jamur
Pembibitan
Ruang Kompos
Jalan Desa
90
Lampiran 8. Rincian Biaya Investasi dan Reinvestasi Skenario I
Jenis Investasi
Jumlah
Harga
satuan
Umur
Ekonomi
Investasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
Tanah
1500m2
Bangunan
(7x20)m
38,000,000
10
38,000,000
Alas bambu
1
500,000
1
500,000
Mesin giling
1
3,000,000
5
3,000,000
3,000,000
Mesin kemas
Timbangan gantung
100 kg
Timbangan duduk
500 kg
1
650,000
5
650,000
650,000
1
300,000
5
300,000
300,000
1
500,000
7
500,000
1 Rol
500,000
2
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
Cangkul
4
30,000
2
120,000
120,000
120,000
120,000
120,000
Sekop
3
40,000
2
120,000
120,000
120,000
120,000
120,000
Ayakan
1
10,000
2
10,000
10,000
10,000
10,000
10,000
Ember+ gayung
2
20,000
1
40,000
40,000
40,000
40,000
40,000
Garu
1
15,000
2
15,000
15,000
15,000
15,000
15,000
1
2
pasang
20,000
2
20,000
20,000
20,000
20,000
20,000
50,000
2
100,000
100,000
100,000
100,000
100,000
2
100,000
2
200,000
200,000
200,000
200,000
200,000
Terpal
Embrat/penyiram
Sepatu boot
Drum
22,500,000
Total
Total Reinvestasi
66,575,000
500,000
500,000
1,625,000
500,000
1,625,000
4,450,000
1,625,000
1,000,000
1,625,000
500,000
36,250,000
91
Lampiran 9. Rincian Biaya Penyusutan Skenario I
Jenis Investasi
Jumlah
Penyusutan per
tahun
10
1
5
5
5
Nilai
Investasi
22,500,000
38,000,000
500,000
3,000,000
650,000
300,000
500,000
7
500,000
71,429
1 Rol
500,000
4
30,000
3
40,000
1
10,000
2
20,000
1
15,000
1
20,000
2
50,000
pasang
2
100,000
Total Penyusutan
2
2
2
2
1
2
2
2
500,000
120,000
120,000
10,000
40,000
15,000
20,000
100,000
250,000
60,000
60,000
5,000
40,000
7,500
10,000
50,000
2
200,000
66,575,000
100,000
5,743,929
Tanah
Bangunan
Alas bambu
Mesin giling
Mesin kemas
Timbangan gantung
100 kg
Timbangan duduk 500
kg
Terpal
Cangkul
Sekop
Ayakan
Ember+ gayung
Garu
Embrat/penyiram
Sepatu boot
Drum
Harga
satuan
1500m2
(7x20)m 38,000,000
1
500,000
1
3,000,000
1
650,000
1
300,000
1
Umur
Ekonomi
3,800,000
500,000
600,000
130,000
60,000
92
Lampiran 10. Cashflow Usaha Pupuk Organik Bhineka I (Skenario I)
Tahun
Uraian
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
78,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
INFLOW
1. Penjualan
2. Nilai Sisa
Total Inflow
22,700,000
78,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
195,000,000
217,700,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Tanah
Bangunan dan instalasi
listrik
22,500,000
38,000,000
Alas bambu
500,000
Mesin giling
3,000,000
3,000,000
Mesin kemas
650,000
650,000
Timbangan gantung 100 kg
300,000
300,000
Timbangan duduk 500 kg
500,000
Terpal
500,000
500,000
500,000
500,000
500,000
Cangkul
120,000
120,000
120,000
120,000
120,000
Sekop
120,000
120,000
120,000
120,000
120,000
Ayakan
10,000
10,000
10,000
10,000
10,000
Ember+ gayung
40,000
40,000
40,000
40,000
40,000
Garu
15,000
15,000
15,000
15,000
15,000
Embrat/Penyiram
Sepatu boot
500,000
20,000
20,000
20,000
20,000
20,000
100,000
100,000
100,000
100,000
100,000
93
Tahun
Uraian
1
Drum
2
200,000
3
4
200,000
5
6
200,000
7
8
200,000
9
10
200,000
2. Biaya Operasional
a. Biaya Variabel
Bahan baku
44,136,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
129,840,000
Karung
2,400,000
9000000
9000000
9000000
9000000
9000000
9000000
9000000
9000000
9000000
Benang
240,000
600,000
600,000
600,000
600,000
600,000
600,000
600,000
600,000
600,000
Tenaga kerja produksi
4,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
13,500,000
Upah kemas
2,400,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
9,000,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
Listrik
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
Pajak
860,004
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
1,296,804
Total Outflow
122,491,004
165,116,804
166,241,804
165,116,804
166,241,804
169,066,804
166,241,804
165,616,804
166,241,804
165,116,804
Net Benefit
(44,491,004)
29,883,196
28,758,196
29,883,196
28,758,196
25,933,196
28,758,196
29,383,196
28,758,196
52,583,196
1.0000
0.9346
0.8734
0.8163
0.7629
0.7130
0.6663
0.6227
0.5820
0.5439
PV DF 7%
(44,491,004)
27,928,221
25,118,523
24,393,590
21,939,490
18,490,011
19,162,801
18,298,378
16,737,532
28,601,775
PV Negatif
(44,491,004)
PV Positif
200,670,320
NPV
156,179,316
b. Biaya Tetap
Administrasi
DF 7%
Net B/C
IRR
Payback Period
4.5104
65%
2.7948
94
Lampiran 11. Analisis Sensitivitas terhadap Penurunan Harga Jual Skenario I (14,4%)
Uraian
Tahun ke1
2
(44,491,004)
29,883,196
678,196
1,803,196
678,196
(2,146,804)
678,196
1,303,196
678,196
24,503,196
1.0000
0.9346
0.8734
0.8163
0.7629
0.7130
0.6663
0.6227
0.5820
0.5439
PV DF 7%
(44,491,004)
27,928,221
592,363
1,471,945
517,393
(1,530,641)
451,911
811,565
394,716
13,328,115
PV Negatif
(44,491,004)
PV Positif
43,965,589
NPV
(525,415)
Net Benefit
DF 7%
Net B/C
IRR
Payback Period
3
4
5
6
7
8
9
10
0.9882
7%
-
95
Lampiran 12. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Harga Bahan Baku pada Skenario I (4,41 %)
Tahun ke-
Uraian
1
2
3
4
(44,491,004)
29,883,196
22,635,352
17,367,491
1.0000
0.9346
0.8734
0.8163
PV DF 7%
(44,491,004)
27,928,221
19,770,593
14,177,046
PV Negatif
(44,491,004)
Net Benefit
DF 7%
PV Positif
NPV
5
9,567,704
0.7629
7,299,156
6
(226,440)
0.7130
(161,449)
7
8
9
10
(4,677,924)
(11,650,301)
(20,207,722)
(4,664,963)
0.6663
0.6227
0.5820
0.5439
(11,761,078)
(2,537,431)
(3,117,098)
(7,255,222)
44,342,737
(148,266)
Net B/C
0.9967
IRR
Payback
Period
7%
-
96
Lampiran 13. Analisis Sensitivitas Kenaikan Upah pada Skenario I (19,2 %)
Tahun ke-
Uraian
1
2
3
4
5
(44,491,004)
29,883,196
24,438,196
20,413,756
13,150,624
1.0000
0.9346
0.8734
0.8163
PV DF 7%
(44,491,004)
27,928,221
21,345,267
16,663,706
PV Negatif
(78,282,554)
Net Benefit
DF 7%
PV Positif
NPV
Net B/C
IRR
Payback Period
6
7
8
9
10
3,008,970
(2,887,481)
(12,658,452)
(25,675,448)
(16,621,708)
0.7629
0.7130
0.6663
0.6227
0.5820
0.5439
10,032,548
2,145,354
(1,924,051)
(7,883,047)
(14,943,345)
(9,041,108)
78,115,096
(167,458)
0.9979
7%
-
97
Lampiran 14. Rincian Biaya Investasi, Reinvestasi dan Nilai Sisa Usaha (Skenario II)
Jenis Investasi
Tanah
Jumlah
total
Harga
satuan
Investasi
Umur
Ekonomi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1500m2
(7x20)m+
(15x30)m
38,000,000
10
38,000,000
Alas bambu
2
500,000
1
500,000
Mesin giling
1
3,000,000
5
3,000,000
Mesin kemas
Timbangan gantung
100 kg
Timbangan duduk
500 kg
2
650,000
5
650,000
650,000
650,000
650,000
260,000
2
300,000
5
300,000
300,000
300,000
300,000
120,000
1
500,000
7
500,000
500,000
200,000
2 roll
500,000
2
500,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
Cangkul
8
30,000
2
120,000
240,000
240,000
240,000
240,000
Sekop
6
40,000
2
120,000
240,000
240,000
240,000
240,000
Ayakan
2
10,000
2
10,000
20,000
20,000
20,000
20,000
Ember+ gayung
4
20,000
1
40,000
80,000
80,000
80,000
80,000
Garu
2
15,000
2
15,000
30,000
30,000
30,000
30,000
Embrat/penyiram
2
20,000
2
20,000
40,000
40,000
40,000
40,000
Sepatu Boot
2
50,000
2
100,000
100,000
100,000
100,000
100,000
Drum
4
100,000
2
200,000
400,000
400,000
400,000
400,000
Bangunan
Terpal
Total
22,500,000
Nilai Sisa
66,575,000
22,500,000
70,000,000
500,000
1,000,000
28,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
3,000,000
500,000
74,100,000
1,000,000
3,150,000
4,950,000
3,150,000
2,450,000
3,150,000
1,000,000
51,080,000
98
Lampiran 15. Rincian Biaya Penyusutan Skenario II
Total Investasi
Bangunan
Jumlah
Total Nilai Investasi
Umur
Ekonomi
Penyusutan per tahun
(7x20)m+ (15x30)m
108,000,000
10
10,800,000
Alas bambu
2
1,000,000
1
1,000,000
Mesin kemas
2
1,300,000
5
260,000
Mesin giling
1
3,000,000
5
600,000
Timbangan gantung 100kg
2
600,000
5
120,000
Timbangan duduk 500 kg
1
500,000
7
71,429
Terpal
2 Rol
1,000,000
2
500,000
Cangkul
8 unit
240,000
2
120,000
Sekop
6 unit
240,000
2
120,000
Ayakan
2 unit
40,000
2
20,000
Ember+ gayung
4 unit
160,000
1
160,000
Garu
2 unit
15,000
2
7,500
Embrat/penyiram
2 unit
30,000
2
15,000
4 pasang
200,000
2
100,000
4 unit
200,000
2
100,000
Sepatu boot
Drum
Total Penyusutan
116,525,000
13,993,929
99
Lampiran 16. Cashflow Usaha Pupuk Organik (Skenario II)
Tahun
Uraian
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
78,000,000
195,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
INFLOW
1. Penjualan
2. Nilai Sisa
Total Inflow
51,080,000
78,000,000
195,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
390,000,000
441,080,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Tanah
22,500,000
Bangunan
38,000,000
70,000,000
Alas bambu
500,000
Mesin giling
3,000,000
Mesin kemas
650,000
650,000
650,000
650,000
Timbangan gantung 100 kg
300,000
300,000
300,000
300,000
Timbangan duduk 500 kg
500,000
Terpal
500,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
1,000,000
Cangkul
120,000
240,000
240,000
240,000
240,000
Sekop
120,000
120,000
120,000
120,000
120,000
10,000
10,000
10,000
10,000
10,000
Ayakan
500,000
1,000,000
3,000,000
500,000
100
Tahun
Uraian
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Ember+ gayung
40,000
80,000
80,000
80,000
80,000
Garu
15,000
30,000
30,000
30,000
30,000
Gembrot/penyiram
Sepatu Boot
Drum
20,000
40,000
40,000
40,000
40,000
100,000
100,000
100,000
100,000
100,000
400,000
400,000
400,000
200,000
400,000
10
2. Biaya Operasional
a. Biaya Variabel
Bahan baku
44,136,000
129,840,000
Karung
2,400,000
9000000
Benang
240,000
600,000
Tenaga kerja produksi
4,500,000
Upah kemas
259,680,000
259,680,000
259,680,000
259,680,000
259,680,000
259,680,000
259,680,000
259,680,000
18000000
18000000
18000000
18000000
18000000
18000000
18000000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
1,200,000
13,500,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
27,000,000
2,400,000
9,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
18,000,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
360,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
1,020,000
860,004
1,296,804
2,537,304
2,537,304
2,537,304
2,537,304
2,537,304
2,537,304
2,537,304
2,537,304
Total Outflow
122,491,004
165,116,804
401,767,304
328,797,304
330,817,304
332,747,304
330,817,304
330,247,304
330,817,304
328,797,304
Net Benefit
(44,491,004)
29,883,196
(11,767,304)
61,202,696
59,182,696
57,252,696
59,182,696
59,752,696
59,182,696
112,282,696
1.0000
0.8621
0.7432
0.6407
0.5523
0.4761
0.4104
0.3538
0.3050
0.2630
PV DF 16%
(44,491,004)
25,761,376
(8,745,023)
39,209,977
32,686,076
27,258,754
24,291,079
21,142,268
18,052,229
29,525,070
PV Negatif
(53,236,027)
PV Positif
217,926,830
NPV
164,690,803
18000000
b. Biaya Tetap
Administrasi
Listrik, Air, Telepon
Pajak
DF 16%
Net B/C
IRR
4.0936
68%
101
Tahun
Uraian
1
Payback Period
2
3
4
5
6
7
8
9
10
3.1822
Lampiran 17. Analisis Sensitivitas terhadap Penurunan Harga Skenario II (11,25 %)
Uraian
Tahun ke1
2
3
4
5
Net Benefit
DF 16%
(44,491,004)
1.0000
29,883,196
0.8621
(55,642,304)
0.7432
17,327,696
0.6407
15,307,696
0.5523
PV DF 16%
(44,491,004)
25,761,376
(41,351,296)
11,101,122
8,454,304
PV Negatif
(85,842,299)
PV Positif
NPV
Net B/C
IRR
Payback Period
6
7
8
9
10
13,377,696
0.4761
15,307,696
0.4104
15,877,696
0.3538
15,307,696
0.3050
68,407,696
0.2630
6,369,295
6,282,925
5,617,998
4,669,237
17,988,008
86,244,266
401,966
1.0047
16%
-
102
Lampiran 18. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Biaya Bahan Baku Skenario II (4,16 %)
Uraian
Tahun ke5
6
1
2
3
4
(44,491,004)
29,883,196
(55,642,304)
17,327,696
15,307,696
13,377,696
15,307,696
15,877,696
15,307,696
68,407,696
1.0000
0.8621
0.7432
0.6407
0.5523
0.4761
0.4104
0.3538
0.3050
0.2630
PV DF 16%
(44,491,004)
25,761,376
(41,351,296)
11,101,122
8,454,304
6,369,295
6,282,925
5,617,998
4,669,237
17,988,008
PV Negatif
(61,264,184)
Net Benefit
DF 16%
PV Positif
NPV
Net B/C
IRR
Payback
Period
7
8
9
10
61,227,067
(37,117)
0.9994
16%
-
103
Lampiran 19. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Upah Skenario II (17,85 %)
Uraian
Tahun ke1
2
3
4
5
(44,491,004)
29,883,196
(19,799,804)
43,703,895
30,527,859
15,450,471
1.0000
0.8621
0.7432
0.6407
0.5523
PV DF 16%
(44,491,004)
25,761,376
(14,714,479)
27,999,236
16,860,265
PV Negatif
(59,205,483)
Net Benefit
DF 16%
PV Positif
NPV
Net B/C
IRR
Payback Period
6
7
8
9
10
1,886,273
(15,803,638)
(37,892,944)
(10,153,446)
0.4761
0.4104
0.3538
0.3050
0.2630
7,356,170
774,206
(5,591,794)
(11,558,312)
(2,669,879)
58,931,268
(274,215)
0.9954
16%
-
104
105
Download