PEMBANGUNAN SOSIAL MASYARAKAT TERASING DI ERA

advertisement
PEMBANGUNAN SOSIAL MASYARAKAT
TERASING DI ERA OTONOMI DAERAH:
STUDI KASUS MASYARAKAT SUKU ANAK
DALAM DI MUAROJAMBI
MAHMUD MY & EDY KUSNADI
Abstrak
Pembangunan sering kali mengesampingkan aspirasi dari bawah dan
menggunakan paradigma dari atas (top-down). Dalam era otonomi daerah
sekarang, pembangunan model tersebut ditinggalkan, diganti dengan
paradigma bottom-up. Namun, pembangunan model terakhir ternyata tidak
luput dari kegagalan. Artikel ini berusaha membahas faktor yang
menghambat pembangunan sosial dengan mengambil kasus pada Suku
Anak Dalam di Sungai Segandi, Desa Nyogan, Kecamatan Mestong,
Kabupaten Muarojambi.
Kata Kunci: paradigma pembangunan sosial, otonomi daerah, SAD.
Pendahuluan
Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) adalah masyarakat terasing
yang hidup di Sumatera bahagian selatan, termasuk di Provinsi Jambi.
Masyarakat SAD seperti masyarakat terasing lainnya, merupakan
penduduk yang secara turun-temurun menduduki wilayah geografis
tertentu.
Pemerintah pada dasarnya telah memberikan perhatian kepada
masyarakat terasing dalam aspek pembangunan sosial. Pemerintah
berusaha untuk meningkatkan dan memperbaiki kehidupan sosioekonomi masyarakat itu. Salah satu aspek utamanya adalah meningkatkan tahap kesejahteraan mereka dengan cara memberikan pendidikan
yang secukupnya kepada masyarakat, memberikan layanan kesehatan,
membangun sistem ekonomi, dan sebagainya.
Namun apa yang dilakukan oleh pemerintah tidak sepenuhnya
berhasil. Program-program pembangunan yang bersifat top-down
332
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
sering kali mengalami kegagalan sehingga mengakibatkan terabaikannya
kepentingan masyarakat terasing itu sendiri. Keadaan tersebut dapat
dilihat dalam program pelaksanaan pembangunan sosio-ekonomi
masyarakat SAD di Jambi, yakni banyak program yang dilaksanakan
mengalami kegagalan. Hal itu ditandai dengan perkampunganperkampungan masyarakat yang dibangun pemerintah ditinggalkan
oleh masyarakat. Mereka kembali lagi ke dalam hutan-hutan dan
perkampungan tersebut telah dihuni oleh masyarakat-masyarakat lain.
Kegagalan program pemerintah dalam membangun masyarakat
terasing secara umumnya di Indonesia dan masyarakat SAD secara
khususnya bukanlah permasalahan yang baru terjadi pada masa otonomi
daerah ini saja, tetapi permasalahan ini telah berlangsung cukup lama
di Indonesia. Pada dasarnya pemerintah Indonesia telah melakukan
program pembangunan masyarakat ini sejak tahun 1968, ketika
berdiri Orde Baru. Usaha yang dilakukan Orde Baru (1968-1998)
adalah mendirikan Departmen Sosial (Depsos) yang bertujuan
menangani masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, memelihara
anak-anak yatim dan piatu, warga tua, dan masalah sosial lainnya serta
melaksanakan pembangunan masyarakat terasing.
Seiring perkembangan sistem politik di Indonesia yang mengalami
perubahan pada 1998, program pemerintah juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya program tersebut diletakkan di bawah
pemerintah pusat, setelah perubahan politik, program berada pada
pemerintah daerah. Perubahan dikarenakan perubahan sistem dari
sentralisasi ke desentralisasi atau otonomi daerah. Perubahan terlaksana pada 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang meletakkan
pelaksanaan otonomi itu pada daerah kabupaten atau kota. Dengan
undang-undang itu, pembangunan masyarakat terasing tidak lagi
dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah pusat, melainkan menjadi
kewajiban pemerintah daerah. Akibatnya dana peruntukan yang
sebelumnya disediakan pemerintah pusat telah dihentikan dan dibebankan kepada pemerintah daerah.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
333
Berdasarkan kenyataan di atas, artikel ini berusaha melihat pembangunan masyarakat SAD di Jambi, khususnya di Desa Nyogan dan
Sungai Sekandi, Kecamatan Sebapo, Kabupaten Muarojambi, setelah
pelaksanaan otonomi daerah. Pertanyaan yang berusaha dijawab adalah
mengapa program pembangunan tersebut masih kurang berhasil,
faktor apa saja yang memengaruhinya dan bagaimana implikasi yang
ditimbulkan.
Proses Pembangunan di Wilayah SAD
SAD termasuk salah satu masyarakat terasing di Indonesia yang
mendapatkan perhatian dari para sosiolog, di antaranya Qyvind
(1984), Muntholib (1995), Amilda (1999), Warsi (2000), Ali M.A.
Rahman (2000), Wientre (2001), dan sebagainya. Mereka meneliti
tentang kehidupan masyarakat SAD di Jambi. Dengan kata lain, para
ahli tersebut meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat SAD, baik
dari kebiasaan cara berburu, adat istiadat, dan sebagainya. Sementara
peneliti seperti Amilda (1999) melihat kehidupan mereka dalam
pembangunan, dalam arti kata mereka melihat tingkah laku masyarakat
tersebut sebelum dan sesudah mereka dibina.
Qyvind (1984) adalah di antara ahli yang meneliti tentang
keberadaan SAD ini. Dalam penelitian beliau yang berjudul Kubu
Conception of Reality, Qyvind meneliti tentang kehidupan dan tingkah
laku SAD atau dengan kata lain dia lebih menekankan kepada aspek
kehidupan sosial mereka sehari-hari. Penelitiannya dilakukan di daerah
Bukit Duabelas, Provinsi Jambi. Dari penelitiannya didapati bahwa
masyarakat SAD juga mempunyai struktur organisasi sebagaimana
masyarakat umum lainnya. Pada keseluruhan masyarakat tersebut,
terdapat pemimpin yang dinamakan tumenggung. Pemimpin ini harus
orang yang menjalani adat secara rutin dan tidak pernah melanggar
adat mereka.
Istilah pembangunan itu sendiri menunjukkan makna yang subjektif
dan merujuk kepada sesuatu proses. Dalam arti kata, proses dari satu
tahap ke tahap lain, atau proses perkembangan dan usaha untuk
334
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
memajukan serta menyejahterakan kehidupan masyarakat. Oleh karena
itu, di dalam istilah pembangunan, akan terdapat dua kata yang saling
berlawanan, yaitu satu merujuk kepada “yang terbelakang” atau “mundur”
dan satu lagi merujuk kepada “maju”.1
Konsep pembangunan diartikan sebagai suatu tranformasi secara
“menyeluruh” masyarakat tradisional atau masyarakat pramodern
menjadi masyarakat yang bercorak teknologi serta organisasi sosialnya
berkaitan seperti yang terdapat di negara-negara maju.2 Konsep ini
sering dinamakan dengan modenisasi, yakni pergantian teknik produksi
daripada cara-cara tradisional ke cara-cara modern yang tertampung
dalam pengertian revolusi industri. Namun, revolusi industri itu
sendiri merupakan salah satu aspek dari proses yang jauh lebih luas.
Oleh karena itu, pembangunan ialah “suatu proses transformasi, suatu
perubahan masyarakat segala aspek-aspeknya”.3
Ada tiga dimensi penting dalam pembangunan sosial, yaitu 1)
meningkatkan kualitas kehidupan sosial, 2) aspek elemen sosial, dan
3) meningkatkan penyertaan komunitas. Dalam artikel ini, ketiga
elemen tersebut dijadikan model dalam pembangunan sosial. Dalam
usaha meningkatkan kualitas kehidupan sosial, terdapat beberapa
komponen penting yang perlu dicapai di dalam pembangunan kualitas
kehidupan sosial, yaitu kesehatan, pangan, pendidikan, perumahan,
kerohanian (agama), lapangan pekerjaan, dan fasilitas umum lainnya.
Dalam hal ini, minimal ada tiga implikasi penting, yaitu: a)
masyarakat harus dapat memengaruhi proses usulan kebijakan yang
berkaitan dengan pelaksanaan dan penggunaan sumber pembangunan
sosial yang produktif; b) masyarakat harus dilibatkan di dalam setiap
perencanaan usulan dan pelaksanaan aktivitas yang boleh meningkatkan taraf kehidupan sosial mereka; c) penyertaan masyarakat
haruslah befungsi untuk memastikan bahwa mereka paling layak
1
2
3
Ali M.A. Rahman, Masyarakat Kecil dalam Era Global, (Bangi: Penerbit Universiti
Kebangsaan Malaysia, 2000), hlm. 163.
Soejono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, ( Jakarta: Rajawali, 2001).
Soekanto, Sosiologi.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
335
menerima bagian pembangunan sosial tersebut dan diberikan peluang
yang sewajarnya.
Di samping itu, penyertaan masyarakat dalam pembangunan sosial
juga harus disertai keyakinan bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk mengubah keadaan mereka sendiri ke arah kehidupan
yang lebih baik dan mapan. Dengan adanya keyakinan ini, masyarakat
tidak bergantung sepenuhnya kepada pembangunan yang selalunya
dilaksanakan dari atas (top-down) atau pemerintah sehingga mereka
dapat berdikari untuk mengubah kehidupan mereka sendiri (buttonup).4
Program pembangunan masyarakat SAD di Jambi secara umumnya
dan di Desa Nyogan khususnya telah dimulai sejak 1970-an. Namun,
berbagai persoalan timbul dalam proses pembangunan kualitas hidup
masyarakat SAD di daerah Jambi, termasuk pascareformasi dan
otonomi daerah di Indonesia. Walaupun berbagai cara untuk memajukan hak masyarakat tersebut dan melindungi kepentingan mereka
terus diperjuangkan, ternyata belum juga berhasil dan bahkan banyak
masyarakat tersebut yang hidup miskin dan kurang terarah.
Menurut Agus Sukamto,5 di kawasan Sungai Segandi, pembangunan dimulai pada 2003. Pemerintah telah membangun berbagai
fasilitas seperti 66 rumah hunian untuk 66 kepala keluarga (KK).
Pemerintah telah membangun sebuah balai pertemuan yang berfungsi
sebagai tempat serbaguna dan sebuah musala. Pemerintah juga
memberikan bantuan kepada masyarakat di kawasan tersebut seperti
beras, minyak sayur sebanyak 5 kg sebulan untuk satu keluarga, kopi
500 g, garam 2 kg, gula 3 kg, baju, peralatan pertanian seperti cangkul
dan parang, serta sarana ibadah.
Bantuan-bantuan kepada masyarakat SAD tersebut diberikan
selama dua tahun berturut-turut hingga awal 2006, sebelum mereka
benar-benar dilepaskan oleh pemerintah untuk hidup mandiri.
4
5
Taliziduhu Ndraha, Pembangunan Masyarakat Mempersiapkan Masyarakat Tinggal
Landas, ( Jakarta: Rineka Cipta, 1990).
Wawancara, 14 Desember 2010.
336
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
Pembangunan Sosial Masyarakat Suku Anak Dalam
Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pada dasarnya
mempunyai orientasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Usaha-usaha peningkatan kesejahteraan tersebut tidak semata faktor
ekonomi, tetapi juga pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan,
keagamaan, dan fasilitas lainnya. Berikut faktor-faktor tersebut akan
dibahas lebih lanjut.
Pendidikan
Usaha untuk meningkatkan pendidikan bagi masyarakat SAD di Desa
Nyogan telah dilaksanakan oleh Kementerian Sosial bersamaan dengan
pelaksanaan program untuk membangun masyarakat tersebut. Pelaksanaan program pendidikan yang dilaksanakan adalah pendidikan
formal yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada.
Terdapat sebuah sekolah dasar (SD) saja di Sungai Segandi, Desa
Nyogan, yaitu SD No. 238/IX Sungai Segandi, Desa Nyogan, dan
baru dua lokal. Walaupun pemerintah telah mendirikan SD di Sungai
Segandi, sekolah tersebut masih kekurangan guru. Menurut Hasan
yang merupakan guru SD No. 238/IX, mereka sekarang kekurangan
guru. SD tersebut hanya memiliki satu guru tetap dan satu honor.6
Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat SAD di Desa Nyogan telah dibentuk
oleh pemerintah. Secara umum dapat dikatakan pemerintah menghendaki masyarakat tersebut hidup menetap dengan pertanian tetap.
Sistem tersebut juga dibuat karena semua kawasan di sekitar Desa
Nyogan telah menjadi milik perusahaan swasta, terutama perusahaan
kelapa sawit. Bahkan kawasan perkampungan masyarakat SAD
sekarang diapit oleh perkebunan-perkebunan sawit sehingga tidak
memungkinkan untuk membuka ladang atau kebun lagi.
Jika dilihat peluang pekerjaan masyarakat SAD Nyogan terhadap
6
Wawancara, 17 Desember 2010.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
337
perkebunan sawit, mereka menyatakan tidak ada yang bekerja sebagai
buruh perkebunan kelapa sawit. Ketika ditanyakan mengapa pihak
perkebunan sawit enggan mengambil mereka sebagai pekerja, jawabannya karena orang Jawa lebih rajin jika dibandingkan dengan SAD.
Mungkin adat dan kebiasaan masyarakat SAD selama ini yang telah
terbiasa bekerja sendiri tanpa peraturan, tidak sesuai dengan yang
dikehendaki perusahaan.
Dengan demikian, masyarakat SAD Sungai Segandi Desa Nyogan
yang dulu adalah penduduk Jatang Mageris, tidak mempunyai pekerjaan tetap. Oleh karena itu, kebanyakan dari mereka hanya hidup
bergantung kepada pemberian pemerintah pada masa pembinaan.
Selebihnya mereka hanya mencari ikan untuk keperluan sehari-hari.
Kesehatan
Masalah kesehatan berhubungan dengan tahap kesejahteraan masyarakat. Jika masyarakat tidak mengalami peningkatan kesehatan, berarti
kurang sejahtera. Di Desa Nyogan, terdapat sebuah puskesmas yang
melayani kesehatan masyarakat, namun tempatnya berada di pangkal
kampung. Dengan demikian cukup jauh jaraknya dari Sungai Segandi,
kira-kira 10 kilometer. Di Sungai Segandi, Desa Nyogan, sarana
kesehatan tidak ada, sehingga banyak penduduk yang mengidap
penyakit. Jika ada penduduk yang mengalami sakit, mereka hanya
menggunakan obat tradisional. Jika penyakitnya cukup serius, mereka
baru pergi ke puskesmas. Dalam anggapan mereka, bila mereka
menderita penyakit ringan, cukup berobat ke dukun dan tidak perlu
ke puskesmas, karena kebiasaan mereka sedari dulu demikian.
Begitu juga dengan kesehatan ibu mengandung dan anak-anak.
Karena tidak tersedia klinik kesehatan, ibu yang mengandung hanya
dikunjungi oleh petugas kesehatan 1 hingga 3 bulan sekali. Namun
apabila melahirkan, mereka melahirkan di rumah dan hanya dibantu
dukun kampung.7
7
Wawancara dengan Sugina, 18 Desember 2010.
338
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
Keagamaan
Masyarakat Sungai Segandi, Desa Nyogan, semua beragama Islam.
Pembangunan dalam bidang keagamaan untuk SAD di Sungai
Segandi, Desa Nyogan, sangat kurang. Hal ini ditandai bahwa sejak
awal pembangunan, tidak terdapat guru agama atau guru mengaji.
Menurut Yan,8 hingga sekarang belum ada guru mengaji di kampung
mereka, sehingga mereka tidak tahu mengaji sama sekali dan mereka
tidak tahu salat.
Memang pernah ada seseorang yang menjadi imam di masjid
mereka, bernama Hasan. Namun selama tiga tahun ini dia pindah.
Sejak itu pula masjid mereka tidak pernah dipakai. Mereka mengatakan bahwa alasan tidak pernah ke mesjid karena mereka tidak
diajarkan mengaji dan salat.
Menurut Pak Kubung, pada masa awal pembangunan, ada guru
agama yang datang, namun tidak lama. Setelah itu tidak pernah datang
lagi ke kawasan tersebut. Menurutnya lagi, mereka hanya mengajar
anak-anak. Guru agama yang datang mengajarkan mengaji Alquran
dan membaca tulisan bahasa Indonesia. Dengan demikian, pembangunan mental dan spritual masyarakat SAD di kawasan ini sangat
kurang.
Mulyadi mengatakan, dia tidak tahu sama sekali mengaji dan
sembahyang karena semenjak dibina, tidak pernah mendapatkan
pengajaran tentang agama. Mereka tahu agama Islam tanpa mengerti
isi atau ajaran Islam.9 Sepengakuan mereka, Islam itu hanya sebutan,
namun mereka tidak pernah menjalankan ibadah. Jika ada yang
meninggal dunia, mereka memanggil imam masjid dari tempat lain.
Pandangan Masyarakat SAD terhadap Pembangunan
Bagi penduduk atau masyarakat SAD di Nyogan yang telah dibangun,
pada mulanya mereka setuju dan berterima kasih kepada pemerintah
8
9
Wawancara, 8 Desember 2010.
Wawancara, 17 Desember 2010.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
339
yang telah membina mereka. Hal itu dikarenakan kehidupan mereka
sebelum ini susah dan berada di dalam hutan yang semakin sedikit
serta sering kali terjadi konflik antara mereka dan pihak lain. Namun
sebagian tidak melihat adanya kemajuan dan beberapa keluarga tidak
tahan dengan sistem kehidupan di luar hutan. Untuk mencukupi
keperluan hidup sehari-hari keluarga terasa berat karena mereka tidak
mempunyai pekerjaan tetap. Oleh karena itu, sebagian pindah ke
tempat lain.
Dalam bidang pendidikan, masyarakat di kawasan Nyogan menilai
bahwa sarana pendidikan di kawasan Nyogan kurang karena baru
setahun belakangan sekolah dasar dibangun. Apalagi tenaga pengajar
di sana juga sangat kurang. Untuk fasilitas kesehatan, mereka juga
menilai pemerintah kurang memerhatikan mereka, dalam hal ini tidak
ada pegawai kesehatan yang berkunjung ke kawasan tersebut. Kalaupun ada, pada waktu awal mereka dipindahkan dahulu. Menurut
mereka, seharusnya di kampung mereka tersebut disediakan klinik
desa dan seorang bidan desa yang tinggal di sana. Itu karena untuk
berobat ke dokter jauh dan biayanya mahal, sehingga jika mereka sakit
biasanya memanggil dukun atau berubat ke Pak Kubung.10
Dalam wawancara dengan Pak Kubung dan beberapa penduduk
lainnya, mereka umumnya hanya meminta beberapa hal lagi, yaitu
peluang pekerjaan. Dalam aspek ini, mereka meminta agar pemerintah
memerhatikannya.
Melihat pandangan penduduk di kawasan tersebut, dapat dikatakan
bahwa masyarakat SAD setuju dengan pembangunan yang dijalankan
pemerintah. Itu karena mereka sulit hidup di hutan yang semakin
sempit. Namun, mereka mengharapkan pembangunan tersebut difokuskan kepada peluang pekerjaan untuk keperluan hidup mereka dan
mengharapkan bahwa daerah pembangunan tersebut di dekat kawasan
hutan yang dapat membantu menambah penghidupan mereka. Selain
itu, mereka mengharapkan bahwa pendidikan juga harus dijadikan
10
Wawancara dengan Yan, 12 Desember 2010.
340
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
prioritas oleh pemerintah.
Hambatan dan Halangan yang Dihadapi Pemerintah dalam
Pembangunan Sosial Masyarakat SAD di Desa Nyogan
Kementerian Sosial sendiri telah mengeluarkan pandangannya tentang
hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh pelaksana dalam pembangunan masyarakat SAD. Menurut Kementerian Sosial, hambatan
dan tantangan tersebut adalah:
a. Kurangnya tenaga ahli di bidang pembangunan masyarakat
terasing yang berani tampil untuk membangun masyarakat SAD,
sehingga tenaga yang digunakan hanyalah mereka yang berani
untuk ikut serta di dalam program dengan pelatihan yang diberikan sekadarnya.
b. Perkampungan atau kawasan masyarakat terasing jauh dan sukar
didatangi, terutama transportasi yang tidak dapat masuk ke
kawasan tersebut.
c. Masalah bahasa dan adat istiadat masyarakat terasing.
d. Kurangnya dukungan nyata dari berbagai sektor atau pihak terkait
di lapangan.
e. Kurangnya kerja sama atau hubungan antara departemen yang
pada dasarnya mempunyai hubungan secara langsung dengan
pembangunan masyarakat terasing.
Dengan adanya laporan-laporan dari hasil pemberdayaan masyarakat
SAD, ada beberapa perubahan kebijaksanaan yang dibuat pemerintah.
Selama Orde Baru (1966-1998), bentuk pelaksanaannya merupakan
bentuk pelaksanaan dari atas ke bawah (top-down) yang merupakan
suatu program pemaksaan agar masyarakat terasing ikut serta dengan
program pemerintah. Sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru,
sistem tersebut telah mengalami perubahan, yakni pemerintah melakukan kebijaksanaan dengan sistem pemberdayaan.
Namun, usaha-usaha yang dilaksanakan tersebut masih menemui
banyak hambatan dan tantangan. Dari laporan-laporan penyelidikan
terhadap pembangunan masyarakat SAD, Kementerian Sosial juga
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
341
merumuskan beberapa hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan
pembangunan.
Pertama, pada tingkat lokal, persepsi yang berbeda dalam pemberdayaan masyarakat terasing atau komunitas adat terpencil (KAT),
seperti dalam penetapan sasaran pemberdayaan yang kurang tepat.
Dengan kata lain, sasarannya bukanlah komunitas adat terpencil,
melainkan masyarakat yang berada di desa pedalaman. Selain itu, para
pekerja sosial yang ikut mendampingi pelaksanaan pembangunan yang
sebelumnya berasal dari pekerja sosial kecamatan (PSK), kini tidak
lagi. Pekerja sosial yang ikut mendampingi pelaksanaan pembangunan
kemudian punya kemampuannya tidak seperti yang diharapkan.
Kedua, pada tingkat nasional, ada beberapa masalah yang dihadapi,
yaitu:
a. Keterbatasan anggaran dana. Dalam pelaksanaan pembangunan
komunitas adat terpencil, anggaran yang disediakan pemerintah
tidak seimbang dengan permasalahan kompleks yang dihadapi
komunitas adat terpencil. Pelaksanaan pembangunan sosial
masyarakat hanya dilaksanakan dengan anggaran dana yang tersedia. Anggaran rutin yang dulu ada untuk mendukung kegiatankegiatan pembangunan sosial masyarakat, kini tidak tersedia lagi.
b. Di beberapa daerah, untuk menangani masalah masyarakat
terpencil tidak menjadi fokus daerah. Itu karena besarnya biaya
yang diperlukan untuk pembangunan sosial masyarakat tersebut.
c. Dari pengamatan beberapa kalangan, komunitas adat terpencil
atau masyarakat terasing tidak perlu ditangani secara khusus. Itu
dikarenakan keberhasilan pembangunan ekonomi secara otomatis
akan berpengaruh kepada kehidupan masyarakat ini dan dengan
sendirinya masyarakat akan lebih maju sejalan pembangunan
ekonomi yang semakin meningkat.
d. Kurangnya keprihatinan masyarakat luar dalam pembangunan
masyarakat terasing.11
11
Departemen Sosial, Membangun Jaringan Kerja Sama Pemberdayaan Komunitas Adat
342
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
Permasalahan yang dihadapi pemerintah antara sebelum perubahan
dan sesudah perubahan hampir sama, di antaranya kurangnya anggaran dana yang diperuntukkan pemerintah bagi pembangunan
masyarakat terasing dan kurangnya tenaga ahli dalam pembangunan
tersebut. Bagi pelaksana pembangunan masyarakat SAD di Jambi,
terutama di Desa Nyogan, masalah juga hampir sama dengan
hambatan dan halangan yang dihadapi pemerintah pada tingkat
nasional secara keseluruhan. Menurut Agus Sukamto,12 masalah utama
yang dihadapi oleh mereka adalah kurangnya dana pelaksanaan yang
diberikan pemerintah. Kekurangan dana membawa kesan kepada
kurangnya tenaga kerja yang ahli digunakan.
Sementara hambatan yang dihadapi pegawai, menurut Agus Sukamto,
adalah kurangnya tenaga yang betul-betul ahli dan terlatih membangun
masyarakat SAD. Keadaan itu membawa implikasi lambannya proses
sosialisasi dan pembangunan masyarakat SAD; petugas banyak tidak
mengetahui petunjuk pelaksanaan yang diberikan oleh pusat.
Tantangan dan hambatan yang juga dihadapi adalah kurangnya
kerja sama antarkementerian terkait. Setiap kementerian, ketika diminta
untuk ikut serta membangun, terlambat merespons bahkan terkadang
tidak ada sama sekali respons yang diberikan. Di Desa Nyogan,
misalnya, Kementerian Sosial telah meminta Dinas Pendidikan untuk
mengirim atau meneliti keperluan pendidikan di kawasan tersebut.
Demikian hambatan dan tantangan yang dihadapi pemerintah dan
petugas di lapangan dalam membangun masyarakat SAD. Secara garis
besar, dapat disimpulkan bahwa hambatan dan tantangan yang dihadapi pemerintah dapat dibagi kepada dua bentuk, yaitu pelaksanaan
di lapangan dan hambatan dari masyarakat SAD itu sendiri. Yang
perlu dilihat dalam tantangan dan hambatan tersebut, budaya malas
menurut perspektif petugas pembangunan tidak dapat dijadikan
12
Terpencil, ( Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Departemen
Sosial RI., 2004), hlm. 6-10.
Wawancara, Desember 2010.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
343
alasan bagi lambatnya pembangunan masyarakat SAD. Hal itu karena
sikap malas bergantung kepada individu dan bukan komunitas secara
keseluruhan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kesungguhan
pemerintah untuk membangun masyarakat SAD sehingga masyarakat
ini juga merasakan pembangunan sama seperti masyarakat lainnya.
Implikasi Pembangunan Sosial Masyarakat SAD di Desa Nogan
Dari hasil penelitian penulis terkait pembangunan masyarakat SAD
di Desa Nyogan, tampak banyak kekurangan dalam pembangunan
tersebut. Salah satunya adalah relokasi yang dilaksanakan tanpa melihat
lingkungan kawasan yang sesuai dengan budaya dan cara hidup
masyarakat SAD. Ini mengakibatkan masyarakat yang tidak mempunyai keterampilan akan kehilangan arah dan bahkan kehidupan
mereka benar-benar miskin. Masalah relokasi pada dasarnya bukan
hanya dilaksanakan di Indonesia, bahkan banyak negara ikut dalam
model relokasi.
Masalah pembangunan kesejahteraan atau peningkatan kualitas
hidup masyarakat terasing, terutama masyarakat SAD, tidak dapat
dilepaskan dari usaha yang serius dari pemerintah. Di Jambi, tepatnya
di Desa Nyogan, kesejahteraan hidup masyarakat belum tercapai. Hal
itu diakui oleh Agus Sukamto yang menilai bahwa masyarakat di
Sungai Segandi, Nyogan, adalah masyarakat yang miskin.
Kurangnya kualitas hidup masyarakat SAD di Desa Nyogan di
masa pembangunan pada dasarnya karena kesalahan pemerintah yang
terlalu cepat mengubah cara hidup masyarakat tanpa melihat adat dan
kebiasaan serta tata cara kehidupan masyarakat SAD itu sendiri.
Kemudian pemerintah terlalu menyamaratakan semua masyarakat
terasing. Padahal, setiap masyarakat memiliki segi kehidupan masingmasing.
Pembangunan masyarakat SAD punya beberapa implikasi bagi
mereka, baik implikasi negatif maupun positif. Dari hasil penelitian,
terdapat beberapa implikasi positif, yaitu masyarakat SAD Desa
Nyogan sebagian besar percaya dan yakin bahwa pembangunan dan
344
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
perubahan penting untuk mereka, terutama sekali untuk anak-anak
mereka. Mereka sendiri juga berkeyakinan bahwa peningkatan kualitas hidup seperti pendidikan, kesehatan, pangan, dan sebagainya
penting untuk mengubah kehidupan sosial menjadi lebih baik.
Keyakinan tersebut seperti tampak pada keinginan mereka yang
mengharapkan adanya tenaga pendidik untuk mendidik mereka,
khususnya dalam bidang rohaniah dan mendidik anak-anak mereka.
Walau demikian, kadangkala masalah ekonomi sangat memengaruhi
keinginan mereka untuk lebih cepat berubah.
Kemudian masyarakat SAD sedikit-banyak telah mengenal keadaan
luar dan telah banyak berinteraksi dengan masyarakat di luar mereka,
seperti dengan penduduk lokal ataupun masyarakat transmigran.
Selain itu, pemerintah atau dinas yang terkait pembangunan kualitas
hidup masyarakat SAD dapat mengetahui apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan dari program yang dilaksanakan oleh mereka
dan menjadi pengalaman bagi pembangunan masyarakat SAD lainnya. Hal itu mengingat banyak program pembangunan yang gagal
dilaksanakan oleh pemerintah. Oleh karena itu, program pembangunan di Desa Nyogan harus dijadikan sebagai pelajaran bagi
pemerintah di dalam membangun masyarakat terasing tersebut dan
memastikan bahwa masyarakat tersebut tidak lagi menjual tanahtanah yang diperuntukkan bagi mereka ke orang lain.
Adapun implikasi negatifnya, masyarakat kehilangan arah, terutama
sekali dalam mencari kerja. Masyarakat yang direlokasi tidak tahu apa
yang harus mereka kerjakan untuk memenuhi keperluan hidup mereka.
Itu karena pemerintah terlihat hanya bertugas memindahkan mereka
ke kawasan baru dan memberikan program kepada masyarakat SAD.
Selanjutnya, sistem relokasi mengakibatkan masyarakat SAD
kehilangan hak atas tanah yang mereka tinggali dahulu. Padahal,
pemerintah pusat telah merencanakan bahwa pembangunan tersebut
seharusnya tidak merugikan masyarakat itu sendiri dan sebaliknya
memberikan pengaruh yang kuat agar masyarakat maju dan dapat
berpartisipasi di dalam pembangunan.
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
345
Selain itu, akibat dari ketiadaan perubahan situasi kawasan, mengakibatkan masyarakat terlalu tergantung kepada pemerintah. Itu karena
ekonomi mereka yang semakin tidak menentu. Padahal, apabila
mereka dibangun di kawasan mereka sendiri, sistem ketergantungan
untuk hidup tidaklah berlebihan, apalagi kawasan baru mereka tidak
dapat menghasilkan apa-apa. Kawasan tanah yang diberikan pemerintah
tidak dapat ditanami dengan tanaman, walaupun pihak pemerintah,
Dinas Sosial dan Dinas Pertanian, telah memberikan berbagai bibit.
Sementara, untuk menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit juga
sulit. Akibatnya, mereka terlalu berharap bekalan hidup mereka
daripada pemerintah.
Sistem relokasi masyarakat SAD ke kawasan baru dan diambilnya
tempat mereka yang lama untuk perkebunan kelapa sawit dan perusahaan penebangan hutan dengan alasan peningkatan pendapatan daerah
dan pembangunan, mengakibatkan kerusakan alam yang sangat besar
dan mengakibatkan musnahnya habitat hutan yang seharusnya dijaga.
Bagi masyarakat SAD sendiri, itu merupakan salah satu bentuk
kehancuran kawasan hutan mereka dan sebagai bentuk peminggiran
mereka dari kehidupan lama.
Demikianlah implikasi-implikasi positif dan negatif utama yang
dihasilkan dari program pembangunan masyarakat SAD di Nyogan,
di samping implikasi-implikasi lainnya seperti kemiskinan, karena
mereka menganggap bahwa kehidupan dulu dan kehidupan sekarang
tidak jauh berbeda, yaitu tidak dapat mengubah pekerjaan mereka
dahulu yang mencari ikan pada sektor lain. Meski demikian, tidak
dapat dipungkiri bahwa dengan pembangunan sosial oleh pemerintah,
cukup banyak perubahan pada kehidupan sosial keseharian mereka.
Kesimpulan
Masyarakat SAD di Desa Nyogan pada mulanya hidup berpindahpindah dan pada waktu tertentu akan kembali lagi ke tempat asal
mereka. Mereka berpindah-pindah karena membuka ladang-ladang
yang kemudian, setelah ladang tersebut tidak menghasilkan, mereka
346
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
membuka ladang baru di kawasan lain yang dianggap lebih baik.
Masyarakat SAD di Desa Nyogan pertama kali direlokasi di
Dusun Sungai Segandi. Mereka ditempatkan pada perkampungan
baru dan diberikan rumah serta tanah agar mereka dapat menetap dan
berladang di tanah yang diberikan pemerintah. Selain itu, pemerintah
juga memberikan bahan makanan untuk beberapa bulan sewaktu
proses pembangunan dijalankan. Namun, dalam fase perkembangannya, perkampungan masyarakat telah banyak dikuasai oleh masyarakat
luar.
Demikian pula, masyarakat SAD tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Pekerjaan mereka hanya menangkap ikan di sungai untuk keperluan
hidup harian. Tanah yang dijanjikan pemerintah untuk 66 kepala
keluarga ternyata hanya dapat direalisasikan setengahnya. Masyarakat
SAD Sungai Segandi mendapati tanah kurang baik untuk mereka
berkebun. Akibatnya, masyarakat tidak tahu apa yang harus mereka
perbuat dan bahkan akibat dari sikap ketidaktahuan dan ketidaktentuan hidup mereka, banyak yang keluar dan menjual taanah kepada
orang luar.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa masyarakat SAD sebelum
dibina di tempat yang baru dan setelah dibina, kualitas kehidupan
sosial mereka tidak banyak berubah. Walaupun ada pembangunan
infrastruktur, kehidupan sosial ekonomi mereka tidak mengalami
perubahan bahkan lebih buruk, yakni mereka kehilangan unsur-unsur
pengetahuan dan kebudayaan dalam kehidupan mereka.
Keadaan tersebut semakin bertambah buruk ketika pelaksanaan
pembangunan tersebut sering kali menyimpang dari aturan yang
dibuat oleh pemerintahan pusat. Petugas di lapangan sering mengambil keputusan sendiri atau mengambil jalan mudah seperti menarik
masyarakat ke kawasan baru mereka dengan membuat janji-janji yang
menarik namun tidak terbukti. Ketidakberhasilan pelaksanaan program
pembangunan sosial pemerintah terhadap masyarakat SAD di Desa
Nyogan disebabkan beberapa faktor penting, di antaranya ketika
pemerintah membuat suatu perencanaan pembangunan, masyarakat
Mahmud MY & Edy Kusnadi, “Pembangunan Sosial Masyarakat Terasing...” |
347
tidak terlibat. Walhasil, apa yang menjadi masalah masyarakat tersebut
tidak diketahui dengan jelas.
348
| Media Akademika Volume 25, No. 4, Oktober 2010
DAFTAR PUSTAKA
Chamsyah, Bahtiar, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesejahteraan Sosial, ( Jakarta: Depsos RI, 2002).
Departmen Sosial, Pedoman Teknis pemberdayaan Komunitas Adat
Terpencil, ( Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat
Terpencil Departemen Sosial RI, 2003).
Departemen Sosial, Membangun Jaringan Kerja Dama Pemberdayaan
Komunitas Adat Terpencil, ( Jakarta: Direktorat Pemberdayaan
Komunitas Adat Terpencil Depaertemen Sosial RI, 2004).
Idris, Nor Aini Haji, Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi,
(Malaysia: Universiti Kebangsaan Malaysia, 2003).
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1999
tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil
Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 06/PEGHUB/
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas
Adat Terpencil.
Muntholib, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat
Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”, disertasi di Universitas
Padjadjaran Bandung, 1995.
Ndraha, Taliziduhu, Pembangunan Masyarakat Mempersiapkan
Masyarakat Tinggal Landas, ( Jakarta: Rineka Cipta, 1990).
Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yokyakarta: LkiS, 2007).
Rahman, Ali M.A., Masyarakat Kecil dalam Era Global, (Bangi:
Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 2000).
Sztompka, Piotr, Sosiologi Perubahan Sosial, terj. Alimandan, ( Jakarta:
Prenada Media, 2005).
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.
Download