Lampiran 1. Peta Kelurahan Cigondewah Kaler

advertisement
1
MAKALAH KOLOKIUM
Nama Pemrasaran/NIM
Departemen
Pembahas
Dosen Pembimbing/NIP
Judul Rencana Penelitian
:
:
:
:
:
Tanggal dan Waktu
:
Muhammad Ajron Abdullah / I34100152
Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Ganies Oktaviana /I34100091
Dr. Ivanovich Agusta, SP. M.Si/19700816 199702 1 001
Modal Sosial dalam Usaha Pengelolaan Limbah Industri
dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kesejahteraan (Kasus
Pelaku Usaha Pengelolaan Limbah Industri di Kelurahan
Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota
Bandung)
3 Maret 2014 pukul 08.00-09.00 WIB
1. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Industrialisasi menempati posisi sentral dalam ekonomi masyarakat modern dan
merupakan motor penggerak yang memberikan dasar bagi peningkatan kemakmuran dan
mobilitas perorangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada sebagian besar penduduk
dunia, terutama di negara-negara maju (Kristanto , 2002). Sampai tingkat tertentu industri pasti
mencerminkan karakter komunitas di mana industri itu bertempat: sarana transportasinya,
lokasinya di tepi sungai atau jalan kereta api atau danau, sikapnya terhadap kerja, terhadap
manajemen, terhadap buruh (Scheneider 1986). Begitu juga dengan hadirnya industri di
pedesaan, kemunculannya memberikan perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat di
pedesaan.
Industri diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat, terutama
masyarakat yang berada di sekitar lingkungan industri. Undang Undang dasar No.5 Tahun 1984
menyatakan dalam pasal 3 bahwa salah satu tujuan pembangungan industri adalah untuk
meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan
memanfaatkan sumber daya alam, dan/atau hasil budidaya serta dengan memperhatikan
keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.
Kehadiran industri tidak selamannya memberikan dampak positif secara langsung bagi
masyarakat. Industri-industri yang sangat tergantung pada sumber daya lingkungan dan banyak
menimbulkan pencemaran tumbuh dengan pesat di negara-negara sedang berkembang, di mana
pertumbuhan di negara tersebut memang sangat dibutuhkan (Kristanto 2002). Di Indonesia pada
tahun 2007 tercatat ada sekitar 13 ribu industri besar dan menengah yang berpotensi mencemari
air permukaan dan air tanah (SLHI 2010). Beberapa kasus yang terjadi di berbagai daerah di Jawa
Barat, kehadiran industri banyak menimbulkan masalah baru, baik yang berkaitan dengan kondisi
sosial ekonomi maupun kerusakan lingkungan.
Salah satu limbah buangan dari proses inudstri dikategorikan sebagai limbah padat.
Limbah padat yaitu limbah yang berbentuk larutan buangan proses, seperti plastik-plastik dan
resin-resin buangan proses, logam berat, dan katalis buangan proses, garam-garam anorganik
yang terbuang, dan organik padat buangan proses (Susilo 2012). Limbah pada dasarnya bersifat
merugikan lingkungan. Limbah yang dihasilkan oleh industri dapat mencemari udara,
tanah,bahkan sumber air yang terdapat di sekitar wilayah industri. Sampai pada kategori yang
sangat parah, pencemaran lingkungan akibat timbunan limbah industri akan mengancam
kehidupan mahluk hidup, termasuk manusia.
Philips Kristanto (2002) mengemukakan klasifikasi limbah padat menjadi limbah yang
dapat didaur ulang/bernilai ekonomis (misalnya plastik, tekstil, potongan logam) dan limbah yang
tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang bernilai ekonomis diolah dengan tiga cara pemisahan,
penyusutan, dan pengomposan (Kristanto 2002). Pengolahan limbah tersebut dapat dilakukan
oleh perusahaan/industri yang bersangkutan atau dilakukan oleh masyarakat sekitar industri.
Masyarakat di sekitar industri merasakan dampak negatif dari cemaran yang dihasilkan limbah
2
industri. Lebih jauh lagi, akumulasi dari jumlah limbah yang tidak terkelola akan merusak
lingkungan tempat dimana masyarakat tinggal.
Kasus yang terjadi di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota
Bandung menunjukan pengolahan limbah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar industri.
Kemunculan industri di wilayah Kelurahan Cigondewah Kaler yang memproduksi berbagai macam
pakaian dan kebutuhan rumah tangga berbahan dasar tekstil telah mengubah mata pencaharian
kebanyakan penduduk di Kelurahan Cigondewah Kaler. Pengelolaan limbah yang dilakukan oleh
masyarakat di desa Kelurahan Cigondewah Kaler melibatkan banyak masyarakat yang kemudian
membentuk usaha pengelolaan limbah industri di kawasan Kelurahan Cigondewah Kaler, bahkan
beberapa diantaranya telah bergeser menjadi kegiatan jual beli kain kiloan sekaligus jual beli
pakaian jadi. Kegiatan usaha yang dilakukan masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler kemudian
mengalami pertumbuhan. Usaha tersebut tidak hanya mengelola limbah kain saja tetapi mulai
mengelola limbah-limbah plastik, kardus, dan berbagai produk sampingan kegiatan industri
lainnya.
Kegiatan usaha pengelolaan limbah industri lambat laun menjadi matapencaharian yang
banyak digeluti oleh masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler. Banyak bermunculan usaha
pengelolaan limbah industri dari skala rumah tangga sampai skala industri. Usaha pengelolaan
limbah industri tersebut banyak menyerap tenaga kerja di Kelurahan Cigondewah Kaler. Potensi
yang dimiliki Kelurahan Cigondewah Kaler tersebut dapat dikembangkan sebagai salah satu
alternatif kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
Potensi UKM mengacu pada jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49, 8 juta
unit usaha atau 99,99 persen terhadap total unit usaha di Indonesia, sementara jumlah tenaga
kerjanya mencapati 91, 8 juta orang atau 97,3 persen terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia
(BPS 2008). Kemampuan sektor ini menahan goncangan krisis dibandingkan perusahaanperusahaan besar, membuat ada keyakinan bahwa masa depan perekonomian Indonesia berada
di sektor ini (Supriyanto 2006). Sejalan dengan usaha yang digalakan oleh pemerintah dalam
menggalakan kegiatan usaha kecil menengah, kegiatan usaha pengelolaan limbah industri di
wilayah Cigondewah mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Bandung. Pada tahun 2007
Pemerintah Kota Bandung memasukan wilayah Cigondewah ke dalam kawasan strategis melalui
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung 2011-2031 kategori sentra tekstil (sentra
kain Cigondewah).
Sejak kemunculan industri tekstil skala nasional pada tahun 85-an di Kelurahan
Cigondewah Kaler, kegiatan usaha pengelolaan limbah tersebut masih berlangsung sampai hari
ini. Banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler, salah satunya
perubahan pada aspek fisik (pembangungan insfrastruktur) dan aspek sosial ekonomi (tingkat
kesejahteraan). Selain modal fisik dan modal finansial, masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler
memiliki modal sosial yang memperkuat kegiatan usaha mereka. Modal sosial dalam usaha
pengelolaan limbah industri di Kelurahan Cigondewah Kaler menjadi isu yang menarik untuk dikaji.
Penelitian mengenai modal sosial dalam kegiatan usaha telah dilakukan oleh beberapa
peneliti di tempat dan waktu yang berbeda. Salah satunya adalah Meri Nurami yang meneliti peran
modal sosial pada pemberdayaan ekonomi masyarakat pada usaha daur ulang di Desa
Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon, Sidoarjo. Pemanfaatan modal sosial secara optimal
dalam usaha daur ulang mampu memberdayakan masyarakat Desa Kedungwonokerto yang dapat
dilihat dari munculnya peluang-peluang usaha baru seperti jasa pengangkutan, penyerapan
tenaga kerja, dan meningkatnya potensi ekonomi masyarakat (Nurami 2013).
1.2. MASALAH PENELITIAN
Pengelolaan limbah oleh masyarakat telah membantu upaya perusahaan dalam
penanggulangan dampak negatif munculnya limbah padat bagi kerusakan lingkungan, bahkan
telah membantu mengurangi biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mengolah limbah padat
tersebut. Pengolahan limbah yang telah berubah menjadi kegiatan usaha akan menjadi salah satu
matapencaharian alternatif di tengah-tengah kondisi sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Nilai
manfaat yang didapatkan oleh pelaku usaha pengelolaan limbah industri dapat menjadi salah satu
faktor pemercepat pertumbuhan ekonomi dan peningkatan status kesejahteraan. Oleh karena itu
3
yang akan dikaji pada penelitian ini adalah sejauhmana usaha pengelolaan limbah industri
berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan
Hubungan yang dijalin oleh industri dengan masyarakat sekitar industri memiliki pengaruh
terhadap akses limbah-limbah yang dihasilkan oleh industri. Tidak semua masyarakat memiliki
akses (mendapatkan jatah) limbah-limbah yang dihasilkan oleh perusahaan. Disamping modal fisik
dan modal finansial terdapat modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat pengelola limbah industri.
Oleh karena itu perlu dianalisis apa saja modal sosial yang dimiliki oleh pelaku usaha pengelolaan
limbah industri.
Dinamika perdagangan mendorong kelompok usaha pengelolaan limbah industri untuk
bersaing dengan para pelaku usaha dari wilayah lain. Tidak sedikit para pelaku usaha yang
mengalami pailit. Keadaan tersebut tidak menguntungkan bagi kegiatan usaha tersebut. Karena itu
menarik untuk dikaji sejauhmana modal sosial berpengaruh terhadap tingkat pendapatan usaha
pengelolaan limbah industri .
Kegiatan pengelolaan limbah industri diharapkan dapat meningkatkan perekonomian
masyarakat. Nilai jual limbah yang bertambah setelah dilakukan pengolahan akan menjadi sumber
pendapatan bagi masyarakat. Pendapatan tesebut diperoleh dari proses produksi, penjualan,
sampai pendistribusian barang yang telah diolah. Oleh karena itu perlu dianailisis bagaimana
bentuk-bentuk pengelolaan limbah industri yang dilakukan oleh pelaku usaha pengelolaan limbah
industri.
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka tujuan umum pada penelitian ini adalah
mengukur sejauhmana modal sosial dalam usaha pengelolaan limbah industri berpengaruh
terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Adapun tujuan-tujuan khusus pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis sejarah pengelolaan limbah industri oleh pelaku usaha pengelolaan
limbah industri.
2. Menganalisis modal sosial yang dimiliki oleh pelaku usaha pengelolaan limbah industri
3. Menganalisis pengaruh modal sosial terhadap tingkat pendapatan usaha pengelolaan
limbah industri
4. Menganalisis pengaruh tingkat pendapatan pada usaha pengelolaan limbah industri
terhadap tingkat kesejahteraan.
1.4. KEGUNAAN PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan untuk berbagai pihak, antara lain:
1. Bagi kalangan akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah
penelitian mengenai pengaruh pengelolaan limbah industri terhadap kesejahteraan
masyarakat. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan atau literatur bagi
akademisi yang ingin meneliti lebih jauh mengenai pengaruh pengelolaan limbah
industri terhadap kesejahteraan.
2. Bagi pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,
melalui kementrian dan dinas terkait, berusaha memberikan gambaran utuh mengenai
kondisi real masyarakat di sekitar industri serta peluang pengembangan kegiatan
usaha kecil menengah yang berbasis pengelolaan limbah industri.
3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
pengaruh pengelolaan limbah industri terhadap tingkat kesejahteraan pada masyarakat
di sekitar industri.
4
2. PENDEKATAN TEORETIS
2.1.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Limbah Industri
Karakteristik komunitas yang tinggal di sekitar wilayah industri sangat dipengaruhi oleh
jenis industri yang didirikan. Sampai tingkat tertentu industri pasti mencerminkan karakter
komunitas di mana industri itu bertempat: sarana transportasinya, lokasinya di tepi sungai atau
jalan kereta api atau danau, sikapnya terhadap kerja, terhadap manajemen, terhadap buruh
(Schneider 1986). Termasuk dampak yang ditimbulkan oleh industri, salah satunya adalah limbah.
Komunitas sekitar industri dihadapkan pada permasalahan lingkungan yang timbul akibat
penimbunan limbah industri, terutama yang bersifat merugikan. Padahal dalam pasal 7 UU. No 44
Tahun 1982 menyatakan setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara
kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang
pembangunan yang berkesinambungan. Limbah , baik dalam jumlah besar maupun kecil, dalam
jangka panjang ataupun pendek akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada lingkungan
(Kristanto, 2012).
Skema sistem input-output dan kemungkinan limbah pada proses industri :
Input
Proses
Proses
Limbah
- Bahan
Baku
- Tenaga
Kerja
- Mesin dan
Peralatan
- Limbah
- Industri
Primer
- Industri
Sekunder
- Industri
tersier
- Produk
utama
- Produk
Sampingan
- Limbah
- Bernilai
ekonomis
- Tak
bernilai
ekonomis
Gambar 1. Skema sistem output-input dalam proses industri
(Kristanto 2002)
Taufik (2006) menjelaskan pasal 14 Peraturan Pemerintah menyatakan bahwa sesuai
dengan Izin Usaha Industri yang diperolehnya, perusahan industri wajib :
a. Melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam serta
pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup akibat
kegiatan industri yang dilakukan;
b. Melaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselamatan alat, proses
serta hasil produksinya termasuk pengangkatannya, dan keselamatan kerja;
c. Melaksanakan upaya hubungan kerja sama antar para pengusaha nasoinal untuk
mewujudkan keterkaitan yang saling menguntungkan.
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomi (Kristanto 2002). Proses produksi pada
sebuah industri menghasilkan limbah industri. Limbah dalam bentuk apapun (apakah padat, cair,
maupun gas) jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak yang buruk bagi
lingkungan.
Kristanto (2002) mengklasifikasikan limbah berdasarkan nilai ekonomis dan limbah yang
tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang memiliki nilai ekonomis yaitu limbah di mana dengan
melalui suatu proses lanjut akan memberikan suatu nilai tambah. Limbah non-ekonomis adalah
5
suatu limbah walaupun telah dilakukan proses lanjut dengan cara apapun tidak akan memberikan
nilai tambah kecuali sekedar mempermudah sistem pembuangan.
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur, dan bubur
yang berasal dari sisa proses pengolahan (Kristanto 2002). Mulia (2005) mendefinisikan limbah
padat sebagai segala sesuatu yang tidak terpakai dan berbentuk padatan atau semi padatan.
Lebih lanjut lagi Mulia (2005) menegaskan bahwa limbah padat merupakan campuran dari
berbagai bahan baik yang tidak berbahaya seperti sisa makanan maupun yang berbahaya seperti
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berasal dari industri.
Tabel 1. Beberapa sumber dan jenis limbah padat
Sumber
Fasilitas
Domestik
Rumah tangga, apartemen
Komersial
Industri
Pertokoan, restoran, hotel, institusi,
dan lain-lain
Kilang minyak, pabrik, pertambangan,
dan lain-lain
Konstruksi
Sumber : Wageningen University(1999) dalam Mulia (2005)
Mekanisme pengolahan
Jenis
Sisa
makanan,
pembungkus
makanan, dan lain-lain
Kertas, kardus, abu, dan lain-lain
Limbah industri, Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3), dan lain-lain
Tanah, Semen, baja, dan lain-lain
limbah dikemukakan oleh Ir. Philips Kristanto (2002) sebagai
berikut :
Bahan Baku
Sumber Daya Lingkungan
Limbah
Industri
Beracun dan Berbahaya
Produk
Konsumen
Pengolahan
Daur Ulang
Produk
Konsumen
Limbah
Pembuangan
Pengolahan
Limbah
Pembangunan
memenuhi
syarat
Gambar 2. Mekanisme pengolahan limbah (Kristanto 2002)
Usaha Mikro Kecil Menengah
Pengolahan limbah industri yang dilakukan masyarakat di sekitar industri telah banyak
dilakukan, khususnya limbah yang masih bernilai ekonomis seperti potongan kain, limbah plastik,
dan limbah kertas. Lambat laun kegiatan tersebut menjadi kegiatan yang mendatangkan banyak
manfaat secara ekonomis. Sampai pada tingkat jual beli dengan konsumen dalam jumlah besar,
akhirnya kegiatan pengolahan limbah hingga menjadi barang yang bernilai ekonomis berubah
menjadi kegiatan jual beli, meskipun cakupannya masih dalam skala Usaha Mikro dan Usaha Kecil
Menengah (UKM).
Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
menjelaskan beberapa hal pokok mengenai UMKM :
6
1. Pengertian Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan.atau
2.
3.
badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini (aset maksimal 50 juta dan omset maksimal 300 juta)
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau
bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi
kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. (aset >50 juta
– 500 uta dan omset >300 juta - 2,5 M)
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil dan usaha besar dengan
jumlah kekauaan bersih atau hasil penjualan diatur dalam Undang-Undang ini. (Aset
> 500 juta - 10 M dan omzet > 2,5 M – 50 M)
Modal Sosial
Respon masyarakat sekitar industri digambarkan melalui kegiatan pemanfaatan limbah
industri. Selain membantu industri dalam penanganan dampak negatif limbah, karakteristik
masyarakat pun terbentuk oleh aktivitas tersebut. Masyarakat memiliki modal sosial (social capital)
yang mempedomani mereka dalam hubungannya dengan industri, baik sebagai hubungan
industrial maupun sebagai pemangku kepentingan dalam cakupan wilayah yang sama dengan
industri.
Putnam (1995) dalam Sumardjo (2010) mendefinisikan modal sosial sebagai bagian dari
organisasi sosial berupa hubungan sosial dan rasa saling percaya yang memfasilitasi koordinasi
dan kerja sama untuk kepentingan bersama. Modal Sosial dapat menjadi kekuatan yang
menggerakan masyarakat, yang terbentuk melalui berbagai interaksi sosial dan institusi sosial
(Sumardjo 2010). Dikutip dalam Supriono et all Bank Dunia (1999) meyakini modal sosial adalah
sebagai suatu yang merujuk ke dimensi institusional, hubungan-hubungan yang tercipta, dan
norma-norma yang membentuk kualitas serta kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat
Definisi lain modal sosial seperti Colleta dalam Nasdian (2005) adalah sebagai suatu
sistem yang mengacu kepada atau hasil dari organisasi sosial dan ekonomi, seperti pandangan
umum (world view), kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran ekonomi
dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal
(formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya (fisik,
manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi
dan pembangunan.
Dimensi-dimensi yang terkandung dalam modal sosial meliputi :
1. Integrasi (integration), yaitu ikatan yang kuat antara anggota keluarga, dan keluarga
dengan tetangga sekitarnya. Contohnya ikatan berdasarkan kekerabatan, etnik, dan
agama
2. Pertalian (linkage), yaitu ikatan dengan komunitas lain di luar komunitas asal, berupa
jejaring (network) dan asosiasi-asosiasi yang bersifat kewarganegaraan yang
menembus perbedaan kekerabatan, etnik dan agama
3. Integritas organisasional (organizational integrity), yaitu keefektifan dan kemampuan
institusi negara untuk menjalankan fungsinya, termasuk menciptakan kepastian
hukum dan menegakan peraturan
4. Sinergi (sinergy), yaitu relasi antara pemimpin dan institusi pemerintah dengan
komunitas (state-community relations).
7
Robert M.Z. Lawang (2004) membagi kapital sosial1 ke dalam kepercayaan, norma, dan
jaringan. Sedangkan konsep-konsep tambahan terdiri dari tindakan sosial, interaksi sosial, dan
sikap. Beberapa konsep tersebut adalah :2
1. Kepercayaan (trust)
Hubungan antar dua pihak atau lebih yang mengandung harapan yang menguntungkan
salah satu atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial.
2. Jaringan (network)
Sumber pengetahuan yang menjadi dasar utama dalam pembentukan kepercayaan
strategik. Salah satu karekteristiknya adalah ada ikatan antar simpul (orang atau kelompok)
yang dihubungkan dengan media (hubungan sosial). Hubungan sosial ini diikat dengan
kepercayaan, boleh dalam bentuk strategik, boleh pula dalam bentuk moralistik. Terdapat
jaringan antar personal, jaringan antar individu dan institusi, serta jaringan antar institusi.
3. Norma
Norma itu muncul dari pertukaran saling menguntungkan (Blau 1963, Fukuyama 1999)
artinya kalau dalam pertukaran itu keuntungan dinikmati oleh salah satu pihak saja,
pertukaran selanjutnya pasti tidak akan terjadi. Karena itu norma yang muncul di sini bukan
sekali jadi melalui satu pertukaran saja. Norma bersifat reosiprokal, artinya isi norma
menyangkut hak dan kewajiban suatu kegiatan tertentu. Yang melanggar prinsip keadilan
akan dikenakan sanksi yang keras juga (Blau).
Tingkat Kesejahteraan
Kesejahteraan dapat diposisikan sebagai output/hasil dari sebuah proses Pengelolaan
input (sumberdaya) yang tersedia, dimana kesejahteraan sebagai ouput pada suatu titik dapat
menjadi sumberdaya atau input untuk diproses menghasilkan tingkat kesejahteraan keluarga pada
tahap berikutnya (Sunarti 2006). Keluarga sebagai sebuah kumpulan terkecil dari individu-individu
yang saling berinteraksi. Selanjutnya Sunarti (2006) menggolongkan kesejahteraan keluarga ke
dalam kesejahteraan ekonomi (family well-being) yang diukur dari pemenuhan input keluarga
(misalnya diukur dari pendapatan, upah, asser, dan pengeluaran keluarga) dan kesejahteraan
material (family material well-being) yang diukur dari berbagai bentuk barang dan jasa yang
diakses oleh keluarga.
(Ferguson, Horwood, dan Beutrais 1981) dalam Sunarti (2006) mendefinisikan
kesejahteraan ekonomi sebagai tingkat terpenuhinya input secara finansial oleh keluarga. Input
yang dimaksud berupa pendapatan, niali aset keluarga, maupun pengeluaran, sementara indikator
output memberikan gambaran manfaat langsung dari investasi tersebut pada tingkat individu,
keluarga, dan penduduk. Kesejahteraan ekonomi merupakan sebuah variabel yang bisa diukur
baik secara kuantitaif maupun kualitatif.
Pengukuran kesejahteraan sering menggunakan pembagian kesejahteraan ke dalam dua
bagian yaitu kesejahteraan subyektif dan obyektif (Sunarti 2006). Mengacu pada UU No.10 Tahun
1992 yang memuat didalamnya konsep kesejahteraan keluarga, BKKBN (1998) mengembangkan
indikator Keluarga Sejahtera yang memuat 23 indikator turunan (Sunarti 2006). Martin (2006)
dalam Sunarti (2006) menyebutkan terminologi yang sering digunakan dalam penelitian yang
membahas kesejahteraan adalah “living standar, will being, welfare, quality life”. Kanada
menggunakan 19 indikator kualitas hidup masyarakatnya yang meliputi (Sunarti 2006 ):
1. Indikator Ekonomi : GDP per kapita, pendapatan per kapita, inovasi, lapangan kerja,
melek hurup, dan tingkat pendidikan
2. Indikator Kesehatan : usia harapan hidup, status kesehatan, tingkat kematian bayi
(IMR), aktivitas fisik,
3. Indikator lingkungan : kualitas udara, kualitas air, biodiversity, lingkungan yang sehat
1
Robert M.Z. Lawang memilih istilah kapital sosial dibandingkan dengan modal sosial, penjelasan ilmiah
mengenai hal tersebut dapat dilihat melalui bukunya yang berjudul Kapital Sosial Dalam Perspektif
Sosiologik Suatu Pengantar (2004), pada Hal 2-84.
2 Diambil dari Buku Robert M.Z. Lwaang yang berjudul Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologik Suatu
Pengantar terbitan dari FISIP UI Press Tahun 2004.
8
4. Indikator keamanan dan keselamatan masyarakat : kesukarelaan, keragaman
(diversity), partisipasi dalam aktivitas budaya, partisipasi dalam kegiatan politik,
kemanan dan keselamatan
BKKBN merumuskan konsep keluarga sejahtera yang dikelompokan secara bertahap
menjadi keluarga sejahtera tahap 1, keluarga sejahtera tahap II, keluarga sejahtera tahap III, serta
keluarga sejahtera tahap III plus. Batasan operasional keluarga sejahtera adalah kemampuan
keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan sosial, kebutuhan psikologis, kebutuhan
pengembangan, dan kepedulian sosial (Sunarti 2006). Dikutip dalam Sunarti (2006) bahwa
penelitian Rambe (2004) menunjukan bahwa indikator Kesejahteraan BKKBN dianggap paling baik
karena selain mudah dalam pengoperasiannya hingga ke level administrasi terendah dan dengan
cepat dapat mengklarifikasikan keluarga miskin.
BKKBN (1998) dalam Iskandar (2012) mengukur pengelompokan konsep keluarga
sejahtera dengan 23 indikator. Dua puluh tiga indikator tersebut adalah :
1. Melaksanakan Ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga;
2. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih;
3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja,
sekolah, dan bepergian;
4. Bagian terluas dari lantai rumah bukan dari tanah;
5. Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber-KB, dibawa ke sarana kesehatan;
6. Anggota keluarga memperoleh melaksanakan ibadah secara teratur;
7. Paling kurang seminggu sekali keluarga menyediakan daging/telur/ikan;
8. Seluruh anggota keluarga paling tidak memperoleh paling kurang satu setel pakaian
baru per-tahun;
9. Luas lantai paling kurang 8 meter persegi untuk tiap penghuni rumah;
10. Seluruh anggota keluarga untuk tiga bulan terakhir dalam keadaan sehat;
11. Paling kurang satu anggota keluarga usia 15 tahun ke atas berpenghasilan tetap;
12. Seluruh anggota keluarga yang berusia 10-60 tahun bisa baca tulis huruf latin;
13. Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini;
14. Bila anak yang masih hidup dua atau lebih, keluarga pasangan usia subur memakai
kontrasepsi (kecuali sedang hamil);
15. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama
16. Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarganya;
17. Biasanya makan bersama paling sedikit sekali sehari dan kesempatan itu dapat
dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar keluarga;
18. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya;
19. Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali dalam 6 bulan
20. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/radio/TV/majalah
21. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana tranportasi sesuai kondisi daerah;
22. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi
kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk material;
23. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan, yayasan,
instansi, dan masyarakat.
Dua puluh tiga indikator tersebut diklasifikasikan ke dalam empat kategori keluarga
sejahtera3. Kategori pertama adalah Keluarga Pra-Sejahtera , yaitu keluarga yang belum dapat
memenuhi kebutuhan dasar secara minimal. Kebutuhan dasar itu mencakup indikator (1 s.d 5).
Kategori kedua adalah Keluarga Sejahtera I, yaitu keluarga yang telah terpenuhi kebutuhan dasar
(1 s.d 5) tetapi kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi. Kebutuhan sosial psikologi tersebut
mencakup indikator (6 s.d 14). Kategori ketiga adalah Keluarga Sejahtera II, yaitu keluarga yang
telah mampu memenuhi kebutuhan nomor 1 s.d 14 tetapi kebutuhan pengembangannya belum
sepenuhnya terpenuhi. Kebutuhan pengembangan tersebut mencakup indikator (15 s.d 21).
Kategori keempat adalah Keluarga Sejahtera III, yaitu keluarga yang telah memenuhi kebutuhan
3
Penjelasan dua puluh tiga indikator kesejahteraan dari BKKBN ini dikutip dari Iskandar (2012). Paradigma
Baru (Banchmarking) Kemiskinan (Suatu Studi ke Arah Penggunaan Indikator Tunggal)
9
fisik, sosial, psikologi dan pengembangannya ( memenuhi indikator 1. Sd 21) tetapi kepedulian
sosial belum terpenuhi. Kepedulian sosial tersbut mencakup indikator (22 s.d 23). Kategori kelima
adalah Keluarga Sejahtera III Plus, yaitu keluarga yang telah memenuhi kebutuhan fisik, sosial,
psikologis, dan pengembangannya, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi (memenuhi
indikator 1 s.d 23).
2.2.
KERANGKA PEMIKIRAN
Tujuan dari penelitian ini salah satunya adalah mengetahui sejauhmana modal sosial
memiliki pengaruh dalam kegiatan usaha pengelolaan limbah industri. Kegiatan Usaha
pengelolaan limbah industri oleh masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler melibatkan modal fisik,
modal finansial, dan modal sosial. Modal sosial terdiri dari tingkat kekuatan norma, tingkat
kepercayaan, dan tingkat jaringan. Hasil penelitian Santoso (2012) menunjukan bahwa modal
sosial telah berperan diantara para pedagang warung angkringan di Kota Ponorogo. Modal sosial
tersebut yakni saling memberikan informasi dan bantuan, baik terkait dengan informasi peluang
usaha, lokasi usaha yang strategis, modal usaha, kelompok usaha maupun tempat tinggal
(Santoso 2012).
Modal sosial yang pertama adalah tingkat kekuatan norma. Tingkat kekuatan norma ini
diukur oleh tingkatan norma yang terdiri dari cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan
(mores) dan adat istiadat (customs). (Nurami 2013) menjelaskan bahwa pemilihan pelanggan baik
yang memilih dengan sistem bayar tunai, tepat waktu maupun melalui proses hutang piutang,
semua itu tidak terlepas dari peran norma yang melekat pada pola kerja sama yang terjalin
Modal sosial yang kedua adalah tingkat kepercayaan. Lawang (2004) menjelaskan bahwa
inti dari kepercayaan antar manusia ada tiga hal yang saling terkait : (i) hubungan sosial antara
dua orang atau lebih, termasuk dalam hubungan ini adalah institusi yang dalam pengertian ini
diwakili orang; (ii) harapan yang terkandung dalam hubungan itu, yang kalau direalisasikan tidak
akan merugikan salah satu atau kedua belah pihak; (iii) interaksi sosial yang memungkinakan
hubungan dan harapan itu terwujud. Dengan ketiga dasar itu pula, kepercayaan yang
dimaksudkan di sini menunjuk pada hubungan antara dua pihak atau lebih yang mengandung
harapan yang menguntungkan salah satu atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial (Lawang
2004). Tingkat kepercayaan pada penelitian ini diukur oleh: (i) intensitas transaksi jual beli dan (ii)
intensitas melakukan kegiatan pinjaman / kredit usaha. Hasil penelitian Nurami (2013) berkaitan
dengan modal sosial dalam usaha daur ulang di Desa Kedungwonokerto, Sidoarjo menunjukan
dengan pemilihan rekanan penyedia bahan yang amanah dan dapat dipercaya bahkan dapat
menjanjikan keuntungan karena dapat mengurangi biaya survey bahan baku dalam hal ini akan
mengurangi ongkos produksi yang harus dikeluarkan dan juga menghemat waktu. Siregar (2011)
dalam Nurami (2013) menyebutkan bahwa eksistensi kepercayaan dalam transaksi ini menjadi
faktor kunci sebagai modal sosial, yang menyebabkan biaya transaksi dan biaya kontrol menjadi
rendah.
Modal sosial yang ketiga adalah tingkat jaringan. Lawang (2004) menjelaskan masih
dalam fungsinya untuk memperlancar (pelumas) kegiatan ekonomi, jaringan sosial harus memiliki
sifat keterbukaan pada semua orang untuk memberikan kesempatan kepada publik menilai
fungsinya yang mendukung kepentingan umum. Lebih lanjut lagi Lawang (2004) menyebutkan
fungsi akses menunjuk pada kesempatan yang dapat diberikan oleh adanya jaringan dengan
orang lain dalam penyediaan suatu barang atau jasa yang tidak dapat dipenuhi secara internal
oleh organisasi (Otsgaard and Birley 1994). Tingkat jaringan pada penelitian ini diukur oleh
(i)tingkat akses pelaku usaha terhadap barang dan jasa; (ii)tingkat keterbukaan jaringan usaha ;
dan (iii)intensitas interaksi antar pelaku usaha pengelolaan limbah industri.
Selain mengetahui sejauhmana modal sosial memiliki pengaruh dalam kegiatan usaha
pengelolaan limbah industri, penelitian ini ingin mengetahui sejauhmana pengaruh kegiatan usaha
pengelolaan limbah industri terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Cigondewah
Kaler. Tingkat kesejahteraan tersebut diukur oleh beberapa indikator kualitas hidup. Indikator
tersebut adalah : tingkat pendapatan, tingkat melek hurup, tingkat pendidikan, status kesehatan,
10
dan tingkat partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (kegiatan publik) (Sunarti 2006 4).
Penggolongan keluarga sejahtera mengacu pada kriteria keluarga sejahtera yang disusun oleh
BKKBN yang dalam indikatornya memuat indikator kualitas hidup ( tingkat melek hurup, tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan, status kesehatan dan tingkat partisipasi dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan).
Akan dianalisis secara kualitatif bagaimana kegiatan pengelolaan limbah industri oleh
kelompok usaha pengelolaan limbah industri di Cigondewah berpengeruh terhadap penyerapan
limbah yang dihasilkan oleh industri. Penyerapan tersebut menyangkut perbandingan jumlah
limbah yang digunakan usaha dan yang tidak digunakan sebagai bahan baku usaha. Akan diuji
melalui pendekatan studi kasus beberapa industri penghasil limbah yang digunakan langsung
oleh
pelaku
usaha
pengelolaan
limbah
sebagai
bahan
baku.
4
Sunarti (2006) mengambil 19 indikator kualitas hidup masyarakat dari negara Kanada. Indikator Keluarga
Sejahtera : Sejarah Pengembangan, Evaluasi, dan Keberlanjutannya. 2006. Fakultas Ekologi Mannusia
Institut Pertanian Bogor
11
Modal Sosial
Kekuatan Norma
- Tingkat kekuatan norma
dalam kelompok usaha
Tingkat penyerapan limbah
industri
Tingkat Kepercayaan
- Intensitas Transaksi Jual Beli
- Intensitas pinjaman/ kredit
usaha
Tingkat Jaringan
- Tingkat akses barang dan
jasa
- Tingkat keterbukaan jaringan
- Intensitas interaksi antar
pelaku usaha
Tingkat Usaha Pengelolaan Limbah
Industri
-
Mempengaruhi (kuantitatif)
Hubungan (kualitatif)
GAMBAR 2. KERANGKA PEMIKIRAN
Tingkat pendapatan Usaha/
omzet
Jumlah tenaga kerja
Jumlah Aset
Tingkat teknologi Pengelolaan
limbah
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
-
Tingkat Pendidikan,
Tingkat Melek Huruf
Tingkat Kesehatan,
Tingkat Pendapatan
Akses terhadap sarana kesehatan
Tingkat Partisipasi dalam kegiatan
Publik
12
2.3.
HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis penelitian ini disajikan sebagai berikut:
1. Semakin tinggi modal sosial yang dimiliki oleh kelompok usaha pengelolaan limbah industri
maka semakin tinggi nilai ekonomi usaha tersebut
2. Semakin tinggi usaha pengelolaan limbah industri maka semakin tinggi tingkat
kesejahteraan masyarakat
2.4.
DEFINISI OPERASIONAL
Tabel 2. Definisi Operasional
Variabel
Definisi Operasional
Indikator
Jenis Data
Intensitas
Intensitas aktivitas
- Rendah
Ordinal
Transaksi Jual Beli transaksi jual beli barang
- Tinggi
barang komoditi
pengelolaan limbah industri
yang dilakukan oleh pelaku
usaha pengelolaan limbah
industri
Tingkat kekuatan
Tingkatan sanksi yang
Sanksi dalam
Ordinal
norma
akan diberikan oleh
tingkatan norma:
masyarakat pelaku usaha
- Usage
pengelolan limbah industri
- Folkways
jika ada anggota
- Norm
komunitasnya yang
- Custom
melanggar norma
Tingkat akses
barang dan jasa
Tingkat kemampuan
seseorang untuk
mendapatkan kesempatan
memperoleh barang dan
mendapatkan jasa dalam
usaha pengelolaan limbah
industri dari jaringan bisnis
yang sudah terbentuk
Tingkat
Tingkat
pengetahuan
keterbukaan
masyarakat
di
luar
jaringan
kelompok usaha terhadap
usaha pengelolaan limbah
industri dalam satu.
Intensitas interaksi hubungan
bisnis,
antar kelompok
pertukaran informasi, dan
usaha
banyaknya
kehadiran
dalam
forum
bersama
sesama
pelaku
usaha
pengelolaan
limbah
industri.
Tingkat
akumulasi
keuntungan
Pendapatan/omzet yang
diperoleh
usaha
selama satu tahun terakhir
Jumlah
tenaga banyaknya tenaga kerja
kerja
yang dipekerjakan dalam
proses usaha selama satu
tahun terakhir.
Jumlah aset
kepemilikan terhadap aset
berupa
:
bangunan/gudang,
alat
- Sulit
Nominal
- Mudah
- Terbuka
Nominal
- Tertutup
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Sedikit
- Banyak
Nominal
- Sedikit
- Banyak
Nominal
13
timbang
kain,
sistem
pengolahan
data
(kalkulator/komputer), alat
transportasi (mobil pickup,
truk) selama satu tahun
terakhir
Tingkat teknologi sejauhmana
teknologi
pengelolaan
dilibatkan dalam proses
limbah
usaha selama satu tahun
terakhir.
Tingkat pendidikan tinggi rendahnya tingkat
pendidikan
yang
didapatkan oleh kelompok
masyarakat yang terlibat
langsung dalam kegiatan
usaha pengelolaan limbah
industri dalam satu tahun
terakhir.
Tingkat
huruf
melek tinggi rendahnya tingkat
kemampuan baca yang
dimiliki
oleh
kelompok
masyarakat yang terlibat
langsung dalam kegiatan
usaha Pengelolaan limbah
industri dalam satu tahun
terakhir.
Status kesehatan
tinggi rendahnya kualitas
kesehatan yang dimiliki
oleh kelompok masyarakat
yang
terlibat
langsung
dalam
kegiatan
usaha
pengelolaan limbah industri
dalam satu tahun terakhir
Akses
terhadap kesempatan yang dimiliki
sarana kesehatan pelaku usaha pengelolaan
limbah
industri
untuk
mendapatkan
pelayanan
kesehatan ketika berobat
atau sedang sakit selama
satu tahun terakhir.
Tingkat partisipasi Tingkat keterlibatan dalam
dalam
kegiatan kegiatan kemasyarakatan
publik adalah
selama satu tahun terakhir.
Tingkat
perbandingan
volume
penyerapan
limbah
industri
yang
limbah industri
digunakan
sebagai
komoditi
usaha
pengelolaan limbah industri
dengan volume limbah
yang
tidak
digunakan
sebagai komoditi usaha
dalam satu tahun terakhir.
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Sulit
Nominal
- Mudah
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
- Rendah
- Tinggi
Ordinal
14
3. PENDEKATAN LAPANGAN
3.1.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif yang didukung oleh data
kualitatif. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei.
Penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan
menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun et al. 1989).
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengujian hipotesa atau penelitian penjelasan
(explanatory research) yang tergolong dalam metode penelitian survei. Penelitian pengujian
hipotesa merupakan penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel
melalui pengujian hipotesa (Singarimbun et al. 1989).
Pendekatan kualitatif dilakukan untuk mendeskripsikan bagaimana industri tekstil dan
masyarakat sekitar industri bersinergi dalam pengelolaan limbah yang dihasilkan dalam proses
industri. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menganalisis sejauhmana modal sosial berperan
dalam kegiatan usaha pengelolaan limbah industri dan sejauhmana pengaruhnya terhadap tingkat
kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Cigondewah Kaler. Pendekatan penelitian kualitatif dan
kualitatif digunakan untuk memperoleh data primer.
Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode survei. Kuisioner
(lampiran 1)yang diberikan kepada responden mengenai kondisi sosial ekonomi responden yang
berupa tingkat pendapatan usaha, tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan, tingkat melek
huruf, tingkat kesehatan, dan tingkat partisipasi dalam kegiatan masyarakat. Selain itu, kuisioner
tersebut diberikan kepada responden untuk mengetahui modal sosial yang terdiri dari tingkat
kepercayaan, kekuatan norma, dan kekuatan jaringan.
Pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam (lampiran 2) terhadap
informan dan narasumber. Informan dan narasumber tersebut terdiri dari pemilik usaha
pengelolaan limbah industri, tokoh masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler, instansi terkait
dengan bidang UKM, dan bidang pengelolaan limbah. Penentuan informan dan narasumber
ditentukan dengan metode purposive sampling.
3.2.
LOKASI DAN WAKTU
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota
Bandung (lampiran 3). Kelurahan Cigondewah Kaler merupakan wilayah yang ditetapkan oleh
pemerintah Kota Bandung sebagai kawasan strategis melalui Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Bandung 2011-2031 kategori sentra tekstil (sentra kain Cigondewah). Selain itu di
wilayah Kelurahan Cigondewah Kaler banyak berdiri kegiatan usaha pengelolaan limbah, baik
limbah langsung dari kegiatan industri maupun limbah-limbah dari bahan plastik dan kertas.
Pengambilan data sekunder dilakukan pada bulan Maret 2014. Pengambilan data primer
dilakukan pada bulan Maret 2014 sampai dengan April 2013, pengolahan data dilakukan pada
bulan Mei 2014. Analisis data dan penulisan dilakukan pada bulan Mei 2014. Kegiatan penelitian
meliputi peyusunan proposal penelitian, kolokium, pengambilan data lapangan, pengolahan data
dan analisis data, penulisan draft skripsi, sidang skripsi, dan perbaikan laporan penelitian. Lama
pelaksanaan penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 3. Pelaksanaan Penelitian Tahun 2014
Kegiatan
Penyusunan
proposal skripsi
Kolokium
Januari
Februari
Maret
April
Mei
15
Perbaikan
proposal
penelitian
Pengambilan
data lapangan
Pengolahan
data
dan
analisis data
Penulisan draft
skripsi
Sidang skripsi
Perbaikan
skripsi
3.3.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler
Kaler, Kecamatan Bandung Kulon. Responden adalah kelompok masyarakat Kelurahan
Cigondewah Kaler yang terlibat dalam kegiatan usaha pengelolaan limbah industri. Sehingga
populasi sampel dalam penelitian ini adalah kelompok masyarakat yang memiliki kegiatan usaha
dan / terlibat dalam kegiatan usaha pengelolaan limbah industri di Kelurahan Cigondewah Kaler,
Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Unit analisis penelitian adalah rumah tangga pelaku
usaha pengelolaan limbah industri di Kelurahan Cigondewah Kaler. Hal tersebut sesuai dengan
tujuan penelitian, yaitu mengetahui sejauhmana pengelolaan limbah industri berpengaruh terhadap
tingkat kesejahteraan.
Metode sampling
adalah pembicaraan bagaimana menara berbagai teknik dalam
penarikan atau pengambilan sampel penelitian, bagaimana kitamerancang tata cara pengambilan
sampel agar menjadi sampel yang refresentatif (Bungin 2005). Teknik penarikan sampel
menggunakan teknik simple random sampling dimana data pelaku usaha akan diacak kemudian
diambil sebanyak 35 responden yang mewakili rumah tangga pelaku usaha pengelolaan limbah
industri.
3.4.
TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data
sekunder didapatkan dari studi literatur yang berkaitan dengan proses industri, pengolahan limbah
industri oleh perusahaan, sejarah berdirinya industri tekstil di wilayah Kelurahan Cigondewah
Kaler, potensi wilayah , dan data mengenai perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Menengah
(UMKM) di Kota Bandung dari Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Bandung. Data primer
diperoleh dari hasil pengambilan data langsung di lapangan melalui kuisioner dan wawancara
mendalam kepada responden dan
informan. Kuisioner diberikan kepada 35 responden.
Responden merupakan pelaku usaha pengelolaan limbah industri dan/ orang yang terlibat dalam
kegiatan pengelolaan limbah industri. Kuisioner yang diberikan kepada responden terdiri dari tiga
bagian. Ketiga bagian tersebut adalah (i)modal sosial berupa tingkat kepercayaan, kekuatan
jaringan, dan kekuatan norma sosial (ii)karakteristik usaha berupa tingkat pendapatan
usaha/omzet, jumlah tenaga kerja, jumlah aset, dan jenis teknologi yang digunakan dalam
pengelolaan limbah (ii)tingkat kesejahteraan yang diukur oleh tingkat pendapatan, tingkat melek
hurup, tingkat pendidikan, status kesehatan, dan tingkat partisipasi dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan. Wawancara mendalam diberikan kepada responden dan informan berdasarkan
panduan pertanyaan yang telah disiapkan dan diikuti dengan pemikiran responden yang
berhubungan dengan pertanyaan. Wawancara tersebut digunakan untuk mengetahui sejauhmana
16
pengaruh pengelolaan limbah industri terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Kelurahan
Cigondewah Kaler.
Data yang telah dikumpulkan menggunakan kuisioner akan diolah secara kuantitatif
dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS for Windows versi 19.0. Pengolahan data
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan tabel frekuensi, tabulasi silang dan uji korelasi
spearman. Uji korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
antar dua variabel yang berskala ordinal dan tidak menentukan prasyarat data terdistribusi normal.
Rank Spearman digunakan untuk uji korelasi yang menghubungkan variabel-variabel pada modal
sosial terhadap variabel-variabel pada tingkat usaha pengelolaan limbah industri. Rank Spearmen
digunakan juga untuk uji korelasi yang menghubungkan variabe-variabel pada tingkat usaha
pengelolaan limbah industri terhadap variabel-variabel pada tingkat kesejahteraan.
Selain analisis data kuantitatif, dilakukan pula analisis data kualitatif sebagai pendukung data
kuantitatif. Data kualitatif akan diolah melalui tiga tahap analisis data kualitatif, yaitu reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penyimpulan hasil penelitian dilakukan dengan
mengambil hasil analisis antar variabel yang konsisten.
17
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik.2011. Perkembangan Industri Manufaktur.
[UU] Undang- undang No.5 Tahun 1984 Tentang Industri.
[UU] Undang-undang No.44 Tahun 1982 Tentang Mendirikan Usaha.
[UU] Undang-undang No.20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
Badan Pengawasan Pasar Modal. 2002. Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan
Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur. Jakarta
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta [ID] : Kencana Prenada M Group
Iskandar, A. 2012. Paradigma Baru Benchmarking Kemiskinan Suatu Studi ke Arah Penggunaan
Indikator Tunggal. [ID] Bogor : IPB Press.
Kementrian Lingkungan Hidup RI. 2010. Status Lingkungan Hidup 2010. [Internet][diunduh tanggal
27 Februari 2014] Dapat diunduh dari http://www.menlh.go.id/DATA/SLHI_2010.pdf
Kristanto, Ir. Philip. 2004.Ekologi Industri. Yogyakarta [ID]: ANDI.
Lawang, R. MZ. 2004. Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik, Suatu Pengantar. Jakarta [ID] :
FISIP UI Press.
Mulia, Ricki M. 2005. Kesehatan Lingkungan. [ID] Yogyakarta : Graha Ilmu dan UIEU-University
Press
Nasdian, F. Tonny. 2006. Modul Kuliah Pengembangan Masyarakat. Tidak Diterbitkan. Institut
Pertanian Bogor [ID].
Nurami, Meri. 2013. Peran Modal Sosial pada Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Studi pada
Usaha Daur Ulang di Desa Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon, Sidoarjo).
[Internet][diunduh
tanggal
27
Februari
2014]Dapat
diunduh
dari
http://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/327
Scheneider, Eugeuene V. 1986. Sosiologi Industri. Jakarta [ID]: AKSARA PERSADA.
Sumardjo, Prof. 2010. Pembangunan Perdesaan dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan
Masyarakat. Bogor[ID]: IPB Press
Sunarti, Euis. 2006. Indikator Keluarga Sejahtera : Sejarah Pengembangan, Evaluasi, dan
Keberlanjutannya. [Internet][diunduh tanggal 27 Februari 2014 ]Dapat diunduh dari
http://euissunarti.staff.ipb.ac.id/files/2012/04/Dr.-Euis-Sunarti-Indikator-KeluargaSejahtera.pdf
Supriono, A.,Flassy, D J.,Rais S. 2009. Modal Sosial : Definisi, Dimensi , dan Tipologi.
[Inernet][diunduh tanggal 27 Februari 2014 ] Dapat diunduh dari :
http://www.scribd.com/doc/62161204/Modal-Sosial-Definisi-Dimensi-Dan-Tipologi
Susilo, Rachmad K.D. 2012. Sosiologi Lingkungan. Jakarta : Rajawali Press
Sutrisna, Endang.2008. Dampak Industrialisasi Terhadap Aspek Sosial Ekonomi Masyarakat.
Jurnal Industri dan Perkotaan. [Internet] [diunduh tanggal 11 November 2013].08(22).
Dapat diunduh dari :
http://adiyatnapages.files.wordpress.com/2011/04/dampakindustriliasi-terhadap-aspek-sosial-ekonomi-masyarakat1.pdf
18
Lampiran 1. Peta Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung,
Provinsi Jawa Barat.
Keterangan :
Nama Wilayah : Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung.
Batas-batas geografis :
Timur : berbatasan dengan wilayah kelurahan Caringin dan Perumahan Sumber Sari
Barat : berbatasan dengan jalan tol Padalarang Cileunyi
Utara : berbatasan dengan kelurahan Gempol Asri
Selatan: berbatasan dengan kelurahan Cigondewah Rahayu
19
Lampiran 2. Kuesioner
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
MODAL SOSIAL DALAM USAHA PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI DAN PENGARUHNYA
TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN
Petunjuk :
 Berilah centang (√) pada kolom yang telah disediakan
 Untuk kolom yang di dalamnya terdapat titik-titik, maka isilah sesuai dengan
informasi yang ditanya
I.
1
2
3
3
4
5
6
7
8
Identitas Responden
No Responden
Tanggal Survei
Nama Lengkap
Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat Rumah
No telepon
(HP/Rumah)
Pendidikan
:
:
:
:
:
:
:
.........................
.........................
………………………………………………
……………………………………………… tahun
Laki-Laki / Perempuan
…………………………………………………………………...
…………………………………………………………………...
(
(
(
(
(
(
) Tidak Tamat SD
) Tamat SD
) Tamat SLTP/SMP
) Tamat SLTA/SMA
) Perguruan Tinggi
) Lainnya :…………………………………………………
II.
Identitas Usaha Pengelolaan Limbah Industri
A. Pelaku Usaha
No
Jabatan/
Posisi kerja
Jenis
Kelamin
(L/P)
Upah dalam satu bulan terakhir
(Rupiah)
Lama Bekerja
(tahun)
20
B. Aset Usaha
I. Kepemilikan Gudang/Tempat Usaha
No
Kepemilikan
*)
Luas
Harga Sewa
i.
Lama
penggunaan
*) 1.Milik Pribadi
2. Menyewa
3. Menumpang
4. Lainnya, sebutkan .............
II. Aset Lainnya
No
Nama Barang
Jumlah
Kepemilikan
Harga Sewa
21
Identitas Usaha Pengelolaan Limbah Industri
III.
1
2
Tehun
Mendirikan
Usaha
3
Penghasilan
Bersih Usaha
selama satu
tahun terakhir
Jumlah
Tenaga Kerja
4
Sumber
limbah/
bahan
baku
usaha
(Kode)
Lainnya..
...............
...............
...............
...............
.........
Kode Kol 4
1. Langsung membeli dari
pabrik (industri)
2. Langsung membeli dari
industri rumah tangga
3. Pindahan (nyolek)
4. Dikumpul dari pemulung
5. Lainnya sebutkan!
5
Jenis
Limbah
yang
dikelola
(Kode)
Lainnya..
...............
...............
...............
...............
.........
Kode Kol 5
Kode Kol 6
1. Potongan Kain
2. Plastik
3. Karung
4. Sterofom
5. Kardus
6. Kain Rolan
7. Tali
8. Dekron
9. Lainnya sebutkan !
1. Mesin Jahit
2.Mesin pencacah
plastik
3. Mesin Pencetak
bijih plastik
4. Mesin penggiling
kain
5. Mesin Potong
6. Teknologi rajut
7.Lainnya, sebutkan !
6
Teknologi
yang
digunakan
(Kode)
Lainnya....
................
................
................
................
.......
7
Barang
Hasil
Usaha
(Kode)
Lainnya..
...............
...............
...............
...............
.........
Kode Kol 7
1.
2.
3.
4.
5.
Jaket
Kaos sablon
Topi
Sarung bantal
Potongan Kain
terpilah
6. Kardus terpilah
7. Bijih plastik
8. Plastik terpilah
9. Lem
10. Kain kiloan
11. Bahan industri
rumah tangga
12. Lainnya sebutkan !
22
IV.
Mengukur Tingkat Kepercayaan
A
Intensitas Transaksi Jual Beli
9
Apakah Anda memiliki
pelanggan atau konsumen
tetap dalam satu tahun
terakhir ini?
Kapan terakhir kali Anda
bertransaksi dengan pelanggan
tetap ?
Apakah ada hubungan lain selain
hubunngan bisnis ?
Jika ada Sebutkan!
Berapa kali Anda melakukan
transaksi jual beli dengan
pelanggan tetap tersebut?
Apa bentuk pembayaran yang
dilakukan dilakukan ?
10
11
12
13
14
(1)Ya
(2) Tidak
( ) Ada, Hubungan ......................................................
( ) Tidak Ada
(
(
(
(
)Cash (tunai)
)Cashbound (berhutang)
)Ditukar dengan barang
)Lainnya..................................................................
Apakah Anda melakukan
pembayaran pada transaksi jual beli
dengan berhutang (cashboound) ?
Apakah pembayaran hutang
dilakukan tepat waktu ?
Kegiatan pinjaman/ kredit usaha
( ) Ya
( ) Tidak
16
Apakah anda pernah/sedang
melakukan pinjaman uang / kredit
usaha dalam satu tahun terakhir ini
?
( )Ya
17
Kapan terakhir kali Anda melakukan
peminjaman uang/ kredit usaha
dengan pelanggan tetap ?
Kepada siapa Anda melakukan
( )Lembaga peminjaman milik swasta
peminjaman uang/ kredit usaha
( )Lembaga peminjaman milik pemerintah
dalam satu tahun terakhir ini?
( )Kerabat/Tetangga/Saudara
( )Lainnnya.................................................................
Berapa kali Anda melakukan
peminjaman uang / kredit usaha
dalam satu tahun terakhir ini ?
Berapa kali Anda melakukan
pengembalian uang pinjaman
sebelum jatuh tempo dalam satu
tahun terakhir ini ?
Berapa kali Anda melakukan
pengembalian uang pinjaman
setelah jatuh tempo dalam satu
tahun terakhir ini ?
15
B
18
19
20
21
( )Ya
( )Tidak
( ) Tidak
23
Mengukur Kekuatan Norma
V.
Tingkat Kepatuhan Norma
Bentuk Aturan
Aturan
1.Tertulis
2.Tidak Tertulis
1.Pernah
2.Tidak Pernah
Sanksi Bagi yang melanggar (Tuliskan untuk masing-masing aturan di atas) :
VI.
A
22
23
24
Mengukur Kekuatan Jaringan
Tingkat Akses Barang dan Jasa
Selama satu tahun terakhir ini,
apakah Anda mendapatkan
informasi barang (harga jual dan
harga beli) dari rekan bisnis Anda
dengan mudah?
Selama satu tahun terakhir ini,
apakah Anda mendapatkan
barang/limbah dari sesama rekan
bisnis untuk diolah kembali (sistem
nyolek) dengan mudah ?
Selama satu tahun terakhir ini,
apakah Anda memasarkan/ menjual
limbah hasil olahan kepada rekan
bisnis anda dengan mudah?
( ) Ya
( ) Tidak
( ) Ya
( ) Tidak
( ) Ya
( ) Tidak
B
Tingkat Keterbukaan Jaringan
25
Apakah masyarakat mengetahui
( ) Ya
jaringan bisnis Pengelolaan limbah ( ) Tidak
ini ?
Apakah masyarakat umum bisa
( ) Ya
masuk menjadi bagian dari usaha
( ) Tidak
Pengelolaan limbah ini ?
Berapa lama Anda memulai usaha
pengelolaan limbah industri sampai
kembali balik modal ?
26
27
Melanggar
24
C
Intensitas interaksi antara pelaku Usaha Pengelolaan Limbah
28
Apakah terdapat
lembaga/perkumpulan komunitas
pengusaha pengelola limbah?
Apakah terdapat aktivitas
lembaga/perkumpulan komunitas
pengusaha pengelola limbah
tersebut dalam satu bulan terakhir
ini ?
Berapa kali Anda berinteraksi
dengan sesama pengusaha limbah
di luar kegiatan jual beli dalam satu
bulan ?
Berapa kali Anda melakukan
kegiatan bersama (misal : berlibur,
mendapatkan undangan dari luar
kota dalam urusan bisnis) sesama
pengusaha limbah industri pada
dalam satu tahun terakhir ?
Apa kegiatan di luar bisnis yang
Anda lakukan ketika berkumpul
dengan sesama pelaku Usaha
Pengelolaan Limbah ?
29
30
31
32
( ) Ada
( ) Tidak Ada
( ) Ada
( ) Tidak Ada
(
(
(
(
(
(
) Memancing
) Memainkan permainan Burung Merpati
) Menghadiri pengajian rutinan
) Melakukan kegiatan sosial di masyarakat
) Melakukan perjalanan ke luar kota
) Lainnya................................................................
..............................................................................
VI. Karakteristik Rumah Tangga
25
Pekerjaan
No.
Jumlah Keluarga
Nama Anggota
Keluarga
JK
Umur
Status
Perkawinan
Tingkat
Pendidikan
Utama Tambahan
Terakhir
Kemampuan
Melek Huruf
VII.
Mengukur Tingkat Pendapatan Keluarga
26
Periode
Anggota
Rumah
Jenis
Tangga
Pekerjaan
(ART)
1. Suami
Rp/hr
a.
b.
c.
2. Istri
a.
b.
c.
3. Anak
a.
b.
c.
4. ART lain
Hari
a.
b.
C
Hr/mg
Minggu
Rp/mg
Mg/bln
Bulan
Rp/bln
Bln/thn
27
5. Usaha
Keluarga
a.
b.
c.
TOTAL
Total
Pengeluaran
Rumah
Tangga
bulan:
Total Investasi Rumah Tangga per bulan:
per
28
IV. Mengukur Tingkat Konsumsi
Pengeluaran Konsumsi/Bulan
Diisi oleh Responden
33. Pengeluaran/Bulan
Rp.
Rincian Pengeluaraan :
34
Beras
Rp.
35
Ikan
Rp.
36
Daging
Rp.
37
Telur dan susu
Rp.
38
Sayur-sayuran
Rp.
39
Buah-buahan
Rp.
40
Minyak dan Lemak
Rp.
41
Bumbu-bumbuan
Rp.
42
Tembakau dan sirih
Rp.
43
Makanan dan minuman jadi
Rp.
44
Konsumsi Lainnya : ……...…..
Rp.
Berapa kali Anda dan keluarga mengkonsumsi makanan dibawah ini dalam satu minggu?
1
45
46
47
48
Daging
Telur dan susu
Ayam
Ikan
49
50
Sayur-sayuran
Buah-buahan
51. Berapa kali Anda dan keluarga makan dalam satu hari?
1 kali dalam satu hari
2 kali dalam satu hari
3 kali dalam satu hari
4 kali dalam satu hari
x
29
IV. Tingkat Kesehatan
Pernah sakit dalam 6 bulan
terakhir,
1. Ada
2. Tidak ada
a.
b.
c.
d.
Muntaber/ diare
Demam berdarah
Campak
Infeksi Saluran Pernapasan
Akut (ISPA)
e. Malaria
f. Flu burung
g. TBC
h. Gizi buruk/ busung lapar
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Berapa kali berobat dalam 6 bulan terakhir
a. Rumah Sakit
b. Puskesmas
c. Pustu
Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat?
Jumlah
penderita
Di anggota
keluarga
Jumlah yang
meninggal di
anggota
keluarga
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
d. Dokter
e. Bidan Praktek
f. lainnya
1. Ya 2. Tidak
VIII. Karakteristik Tempat Tinggal
Kondisi Fisik dan Fasilitas Bangunan
Indikator
52
Luas lantai
………...m²
53
Jenis lantai
1. Keramik
2. Bambu
3. Kayu murah
4. Tanah
5. Lainnya…
54
Jenis dinding
1. Tembok
2. Bambu
3. Kayu
4. Rumbia
5. Lainnya
55
Fasilitas MCK
1. Sendiri
2. Bersama
3. Umum
4. Tidak Ada
56
Sumber penerangan
1. Listrik PLN
2. Listrik non-PLN
3. Petromak
4. Obor/senter
5. Lainnya….
30
57
Sumber air minum
58
Bahan bakar untuk memasak
59
Barang yang dimiliki
1. Air dalam Kemasan
2. ledeng
3. pompa/sumur
4. Mata air/air hujan/
air sungai
5. Sungai
6. Lainnya……
1. Listrik
2. Gas
3. Minyak Tanah
4. Kayu Bakar
5. Lainnya……
1. Mobil
2. Sepeda motor
3. Komputer
4. Emas
5. Lemari es
6. Televisi
7. HP
8. Tape Radio
IX. Tingkat Partisipasi dalam kegiatan publik
Berapa kali Anda beraktivitas seperti di bawah ini dalam satu tahun ?
1
60
61
62
63
64
65
Mengikuti kegiatan kerja Bakti
membangun tempat ibadah
Mengikuti kegiatan kerja bakti
membersihkan lingkungan
sekitar rumah
Mengikuti kegiatan bakti
sosial yang diadakan karang
taruna
Mengikuti kegiatan peringatan
hari besar islam yang
diadakan warga
Mengikuti kegiatan
tahlilan/ngariung/sholawatan
malam jumat
Mengikuti kegiatan ronda
malam yang sudah terjadwal
x
31
Lampiran 2. Pertanyaan mendalam
A. Profil Lokasi Penelitian
Untuk Lurah Cigondewah Kaler, Tokoh Masyarakat, dan informan lainnya yang mampu
memberikan informasi terkait
Hari/ tanggal wawancara
:
Lokasi wawancara
:
Nama dan umur informan
:
Jabatan
:
1 Bagaimana perkembangan kependudukan di wilayah Kelurahan Cigondewah Kaler,
khususnya yang berkaitan dengan tenaga kerja (lapangan pekerjaan)?
2 Bagaimana perkembangan kondisi insfrastuktur publik (sarana pendidikan, sarana
ibadah, ruang publik) yang ada di wilayah Kelurahan Cigondewah Kaler ?
3 Apa saja potensi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh
wilayah Cidondewah kaler? Baik yang sudah maupun yang belum dikembangkan.
4 Bagaimana perkembangan industri yang terdapat di wilayah Kelurahan Cigondewah
Kaler ?
5 Bagaimana tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler ?
6
Bagaimana bentuk-bentuk matapencaharian warga Kelurahan Cigondewah Kaler?
7
Bagaimana perkembangan usaha Pengelolaan limbah industri yang berkembang di
Kelurahan Cigondewah Kaler?
Apa saja tradisi dan budaya yang sampai saat ini masih dipegang oleh masyarakat
Kelurahan Cigondewah Kaler?
8
B. Usaha Pengelolaan Limbah Industri
Untuk Lurah Cigondewah Kaler, Tokoh Masyarakat, Pelaku usaha Pengelolaan limbah industri,
Pimpinan Industri (penyuplai limbah) dan informan lainnya yang mampu memberikan informasi
terkait
Hari/ tanggal wawancara
:
Lokasi wawancara
:
Nama dan umur informan
:
Jabatan
:
1 Bagaimana sejarah Pengelolaan limbah industri oleh masyarakat Kelurahan
Cigondewah Kaler ?
2 Bagaimana mekanisme mendapatkan limbah dari perusahaan ?
3
Bagaimana pola waktu pengambilan limbah dari perusahaan?
4
Bagaimana perusahaan mengelola limbah jika tidak disalurkan kepada msayarakat
Kelurahan Cigondewah Kaler untuk dikelola ?
Bagaimana respon masyarakat terhadap adanya usaha Pengelolaan limbah industri di
wilayah Kelurahan Cigondewah Kaler?
Berapa persentase warga masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler yang terlibat dalam
usaha Pengelolaan limbah industri?
Bagaimana bentuk-bentuk Pengelolaan limbah yang dilakukan oleh masyarakat
Kelurahan Cigondewah Kaler ?
Siapa sajakah stakeholder yang terlibat dalam usaha Pengelolaan limbah industri di
Kelurahan Cigondewah Kaler ?
5
6
7
8
32
9
Apa saja peran Stakeholder tersebut dalam usaha Pengelolaan limbah industri di
Kelurahan Cigondewah Kaler ?
C. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Untuk Lurah Cigondewah Kaler Kaler, Tokoh Masyarakat, Pelaku usaha Pengelolaan
limbah industri, dan informan lainnya yang mampu memberikan informasi terkait
Hari/ tanggal wawancara
:
Lokasi wawancara
:
Nama dan umur informan
:
Jabatan
:
1
Apa saja matapencaharian masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler sebelum dan setelah
adanya industri dan Pengelolaan limbah industri ?
2
Bagaimana tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler?
3
4
Bagaimana dengan matapencaharian sebagai petani, apakah masih ada? Bagaimana posisi
mereka (pelaku usaha tani) di tengah-tengah kondisi lahan pertanian yang semakin sempit?
Bagaimana perkembangan aktivitas sosial di masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler?
5
Bagaimana perkembangan aktivitas keagamaan di masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler?
6
Bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler?
7
Bagaimana akses masyarakat Kelurahan Cigondewah Kaler terhadap fasilitas kesehatan?
33
Lampiran 3. Outline Proposal Skripsi
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Masalah Penelitian
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Kegunaan Penelitian
2. PENDEKATAN TEORETIS
2.1. Tinjauan Pustaka
2.2. Kerangka Pemikiran
2.3. Hipotesis
2.4. Definisi Operasional
3. PENDEKATAN LAPANGAN
3.1. Lokasi dan Waktu
3.2. Teknik Pengumpulan Data
3.3. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
4. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
4.1. Kondisi Geografis
4.2. Kondisi Ekonomi
4.3. Kondisi Sosial
5. USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
5.1. Kawasan Strategis Sentra Industri Kain Cigondewah
5.2. Usaha Pengelolaan Limbah Industri Masyarakat Cigondewah
5.3. Ikhtisar
6. MODAL SOSIAL USAHA PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI
6.1. Identifikasi Modal Sosial Pelaku Usaha Pengelolaan Limbah Industri
6.2. Peran Modal Sosial Terhadap Tingkat Pendapatan Usaha
6.3. Ikhtisar
7. HUBUNGAN MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI TERHADAP
TINGKAT KESEJAHTERAAN
7.1. Hubungan Modal Sosial Dengan Tingkat Pendapatan
7.2. Hubungan Tingkat Pendapatan Dengan Tingkat Kesejahteraan
8. PENUTUP
8.1. Kesimpulan
8.2. Saran
9. DAFTAR PUSTAKA
10. LAMPIRAN
11. RIWAYAT HIDUP
Download