usulan penelitian

advertisement
USULAN PENELITIAN
ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT PENGEMBALIAN DAN RISIKO
INVESTASI ANTARA PASAR MODAL DAN PASAR VALAS
(Study Kasus di Pasar Keuangan Indonesia Periode 2005-2007)
Oleh:
TUTIK EFITYA
03610238
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2007
ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT PENGEMBALIAN DAN RISIKO
INVESTASI ANTARA PASAR MODAL DAN PASAR VALAS
(Study Kasus di Pasar Keuangan Indonesia Periode 2005-2007)
A. Latar Belakang Masalah
Kondisi perekonomian di Indonesia sempat terpuruk ketika badai
moneter menghantam beberapa tahun silam. Tingkat kerusakan akibat krisis
moneter, bukan terjadi di sektor riil saja namun juga melanda bagian-bagian
yang paling sensitif dari seluruh bagan industri ekonomi seperti pasar modal
dan pasar valas.
Pasar keuangan Indonesia awal tahun 2007 diawali dengan antusiasme
yang tinggi, terutama didorong oleh ekonomi makro yang stabil, Indek Harga
Saham Gabungan (IHSG) di bursa efek Jakarta dan Kurs rupiah yang relative
stabil, sementara suku bunga Sertifikat Bank Indonesia terus menurun. Indek
Harga Saham Gabungan (IHSG) terus meningkat hingga mencapai rekor
tertinggi sepanjang sejarah bursa di level 2.016,33 di bulan april tahun 2007.
Aliran dana investor asing terlihat cukup kuat mendorong Indek Harga
Saham Gabungan (IHSG) di tahun ini. Seiring dengan tekanan inflasi yang
terus melemah hingga hanya mencapai 6,6 persen pada akhir 2006 juga
memungkinkan tingkat bunga patokan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk
terus turun hingga mencapai 9 persen. Dengan mempertahankan di posisi 9
persen kemungkinan Bank Indonesia ingin menjaga ekspektasi inflasi dan
stabilitas nilai tukar rupiah.
Data dan fakta di atas, bukan berarti risiko bagi ekonomi Indonesia
menjadi nihil. Arah sentimen ataupun kepercayaan pasar tetap menjadi faktor
penting bagi ekonomi Indonesia. Selain instabilitas politik dan keamanan,
infrastruktur finansial yang masih belum memadai menyebabkan ekonomi
Indonesia masih sangat rentan terhadap pembalikan arah sentimen pasar.
Gejolak eksternal memiliki peranan yang besar dalam memacu krisis di
Indonesia. Serta Sumbernya
Menigkatnya nilai tukar rupiah RP 9.100/USD dan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) yang terus naik sampai berada di level 2.016.
mencerminkan keadaan modal di dalam negeri sedang stabil. Dalam
pembangunan ekonomi, modal mempunyai peran penting dalam proses
pertumbuhan yaitu diperlukan untuk menigkatkan daya serap perekonomian.
Semakin tinggi modal yang tersedia, maka semakin tinggi pula kemampuan
perekonomian tersebut untuk menyarap tenaga kerja. Untuk menghimpun
dana atau modal di suatu negara tidak lepas dari peran penting dari para
investor.
Investor merupakan pihak yang memiliki modal untuk diinvestasikan
baik berupa penanaman modal pada asset riil maupun pada asset sekuritas,
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.
Investasi yang dilakukan oleh seorang investor dapat berupa financial asset
maupun real asset. Investasi pada financial asset dapat dilakukan di pasar
modal dan pasar uang, sedangkan investasi pada real asset dapat berupa
mesin, modal kerja, gedung dan sebagainya.
Salah satu sarana berinvestasi di pasar uang adalah pasar modal
merupakan lembaga sumber pendanaan di luar sektor perbankan. Sekuritas
yang di perdagangkan di pasar modal adalah saham. Saham adalah bukti
kepemilikan atau tanda penyertaan seseorang/badan atas suatu perusahaan
tertentu. (Dianata Eka Putra, 2003: 19). Banyaknya investor yang bersedia
menanamkan modalnya pada sekuritas dan perusahaan yang bersedia
menerbitkan sekuritas setelah go publik merupakan faktor yang sangat penting
dalam menunjang keberhasilan berjalannya transaksi jual beli saham di pasar
modal. Tujuan para investor menanamkan dananya pada sekuritas (saham)
adalah untuk mendapatkan pengembalian (return). Hasil tersebut tentunya di
harapkan lebih besar dari pada tingkat bunga yang di berikan oleh perbankan.
Investasi lainnya dapat berupa valuta asing (valas). Valuta asing
(foreign exchange) yaitu suatu pasar keuangan yang memperdagangkan atau
mentransaksikan berbagai valuta asing. (Taufik Hidayat, 2005: 2).
Perdagangan valas tidak harus dilakukan melalui bursa sebagaimana
perdagangan saham dan future, namun bisa dilakukan setiap saat melalui
telpon atau jaringan elektronik lain. Dengan 24 jam sehari (5 hari seminggu),
perdagangan valas dilakukan setiap harinya dari Sidney, lalu kemudian
bergerak keseluruh pusat keuangan dunia di Tokyo, London, dan New York.
Valuta asing (foreign exchange) juga menjadi alternatif yang populer
karena pengembalian nilai investasi yang telah di tanam, serta profit yang
akan di peroleh bisa melebihi rata-rataperdagangan pada umumnya. (sumber:
www. wikipedia. valutaasing. co.id). akibat pergerakan yang cepat, maka
valuta asing juga berisiko tinggi apabila investor tidak mempunyai
pengetahuan dan informasi yang cukup tentang pasar valas. Mata uang yang
diperdagangkan dalam transaksi valas adalah semua mata uang dunia dan
mata uang tersebut memiliki daya jual tinggi diantaranya Dollar Amerika
(USD), Euro (EUR), Yen Jepang (JPY), Poundsterling Inggris (GBP), Dollar
Austaralia (AUD), Franc Swiss (CHF), dan Dollar Canada (CAD).
Penggunaan pasar modal dan pasar valas sebagai pembanding, karena
keduanya mempunyai hubungan erat, karena keduanya merupakan sarana
dalam berinvestasi oleh para investor. Apalagi ketika terjadi depresiasi rupiah
terhadap dollar Amerika, maka Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) juga
berfluktuasi. Alasan pasar modal menggunakan saham merupakan pilihan
investasi terbaik dibanding dengan instrumen lain yang diperdagangkan, dan
dalam pasar valas sering menggunakan dollar Amerika sebagai patokan dalam
melaksanakan transaksi, karena dollar merupakan mata uang yang mudah
diperdagangkan. Sumbernya mana
Investor jika ingin mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi
biasanya harus menanggung risiko yang tinggi pula. Kenyataanya banyak
investor yang menginginkan tingkat pengembalian tinggi dan risiko yang
rendah. Dikarenakan rupiah yang belum begitu stabil, maka banyak investor
yang memilih berinvestasipada mata uang dollar Amerika. Investasi tidak
terlepas dari risiko, baik itu di pasar modal ataupun pasar valas. Dengan
memperhatikan hak tersebut maka investor harus mampu memilih sarana
investasi mana yang sebaiknya digunakan agar dengan risiko tertentu dapat
memperoleh tingkat pengembalian yang sebesar-besarnya atau dengan risiko
yang rendah dapat memperoleh tingkat pengembalian tertentu sesuai dengan
yang diharapkan.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk
membahas mengenai “ Analisis Perbandingan Tingkat Pengembalian dan
Risiko Investasi Antara Pasar Modal dan Pasar Valas (Study pada
Pasar
Keuangan Indonesia Periode 2006-2007)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan tersebut, dapat
diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat perbedaan antara tingkat pengembalian dan risiko
investasi di pasar modal dan di pasar valas
2. Apakah rata-rata tingkat pengembalian pada investasi di pasar modal lebih
besar atau lebih kecil di bandingkan di pasar valas
3. Apakah rata-rata tingkat risiko pada investasi di pasar modal lebih besar
atau lebih kecil di bandingkan di pasar valas
C. Batasaan Penelitian
Dalam
penelitian
ini
agar
pembahasan
permasalahan
dapat
terfokusakan maka dibatasi sebagai berikut:
a. Indikator pasar modal Indonesia adalah pengembalian yang diharapkan
dan risiko Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
b. Indikator pasar valas Indonesia adalah pengembalian yang diharapkan dan
risiko kurs RP/USD
c. Data yang digunakan adalah data harian dengan periode tahun yang
digunakan adalah antara tahun 2005-2007
d. ini nanti masuk analaisis / atao definisi operasional variable
e. Batasan ini yang mengarahkan kita dalam mengalisis nya
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.
Tujuan Penelitian(bukan pertanyaan tapi pernyataaan ; tak bole
apakah atau yang laiannya Q Mark
a.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara tingkat
pengembaliann dan risiko investasi antara pasar modal dan pasar
valas
b.
Untuk mengetahui di antara pasar modal dan pasar valas, pasar
manakah yang rata-rata tingkat pengembaliannya lebih besar
c.
Untuk mengetahui di antara pasar modal dan pasar valas, pasar
manakah yang rata-rata risikonya lebih besar
2.
Kegunaan Penelitian
a.
Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi investor
dalam berinvesatasi di pasar modal maupun di pasar valas
b.
Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang
diperlukan oleh pemegang saham untuk berinvestasi di pasar modal
maupun di pasar valas
c.
Bagi Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu
acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang pasar modal
dan pasar valas
E. Landaasan Teori Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Berkaitan dengan topik kajian yang dilakukan oleh penulis dalam
penelitian ini, maka penulis menggunakan penelitian terdahulu sebagai
pembanding. Penelitian yang dilakukan oleh Latifa Kusumawati (2005)
dengan judul “Analisis Perbandingan Tingkat Pengembalian dan Risiko
Investasi antara Pasar Modal dan Pasar Valuta Asing periode 2001-2005”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan antara tingkat pengembalian dan risiko investasi antara Pasar
Modal dan Pasar Valas, dan untuk mengetahui diantara Pasar Modal dan
Pasar Valas, pasar manakah yang rata-rata tingkat pengembaliannya lebih
besar, serta untuk mengetahui diantara Pasar Modal dan Pasar Valas, pasar
manakah yang rata-rata risiko lebih besar. Variable yang digunakan adalah
Rm, E(Rm), Rm, dan Rv dimana variable-variabel tersebut digunakan
untuk mengetahui tingkat pengembalian dan tingkat risiko.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pengembalian
investasi pasar modal E(Rm) adalah 0,4262%. Sedangkan pengembalian di
pasar valas adalah E(Rv) 0,1357%. Untuk tingkat risiko investasi di pasar
modal adalah Rm 3.2256%. Sedangkan tingkat risiko investasi di pasar
valas adalah Rv 2.1652%.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Latifa Kusumawati,
berinvestasi di pasar modal ternyata lebih menguntungkan dibandingkan
berinvestasi di pasar valas, tetapi juga menanggung konsekuensi risiko
yang tinggi pula sedangkan investor yang menginvestasikan dananya di
pasar valas akan cenderung memperoleh return dan risiko yang lebih
rendah.
2. Tinjauan Teori
a. Investasi
Investasi pada dasarnya adalah uang yang dipakai untuk
menghasilkan uang. Untuk maksud itu uang ditanam dalam obyek
yang memberikan hasil. Jumlah pokok tetap ada, disamping itu yang
didapat sebagai hasilpun ada, disebut bunga atau dividen. Mengadakan
investasi mengandung risiko. Pilihan investasi tidak dapat hanya
mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan. Apabila
pemodal mengharapkan memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi,
maka ia harus bersedia menanggung risiko yang tinggi pula. Karena
itulah perlu dipahami proses investasi yaitu dimulai dari perumusan
kebijakan investasinya sampai dengan evaluasi kinerja investasi
tersebut.
Proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya
melakukan investasi untuk mengambil keputusan tersebut diperlukan
langkah-langkah sebagai berikut: (Husnan, 2001:48)
a) Menentukan Kebijakan Investasi yaitu, pemodal perlu menentukan
apa tujuan investasinya, dan berapa banyak investasi tersebut akan
dilakukan. Karena ada hubungan positif antara risiko dan
keuntungan investasi, maka pemodal tidak bisa mengatakan bahwa
tujuan investasinya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya. Ia harus menyadari bahwa ada kemungkinan untuk
menderita rugi. Jadi tujuan investasi harus dinyatakan dengan baik
dalam keuntungan dan risiko.
b) Analisis Sekuritas yaitu, melakukan analisis terhadap individual
(atau sekelompok) sekuritas. Ada berbagai cara untuk melakukan
analisis ini yaitu, analisis teknikan dan analisis fundamental.
Analisis teknikal menggunakan data (perubahan) harga di masa
yang lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas
dimasa yang akan datang. Sedangkan analisis fundamental
berupaya mengindentifikasikan prospek perusahaan (lewat analisis
terhadap
analisis
yang
mempengaruhinya)
untuk
bisa
memperkirakan harga saham di masa yang akan datang.
c) Pembentukan portofolio yaitu identifikasi sekuritas-sekuritas mana
yang akan dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan
pada masing-masing sekuritas tersebut.
d) Melakukan revisi portofolio yaitu, pengulangan terhadap tiga tahap
sebelumnya, dengan maksud kalau perlu melakukan perubahan
terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau dirasa bahwa
portofolio yang sekarang dimiliki tidak optimal, maka pemodal
dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang
membentuk portofolio tersebut.
e) Evaluasi kinerja portofolio yaitu, pemodal melakukan penilaian
terhadap kinerja (performance) portofolio, baik dalam aspek
tingkat
keuntungan
ditanggung.
yang
diperoleh
maupun
risiko
yang
Investasi dapat diklasifikasikan menurut berbagai macam cara:
(Warsono, 2001:02)
a) Berdasarkan jangka waktu perputaran dananya, investasi dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Investasi jangka pendek, yaitu investasi yang perputaran
dananya kurang dari atau sama dengan satu tahun. Bentuk
investasi jangka pendek ini, misalnya investasi pada modal
kerja ataupun investasi pada sekuritas jangka pendek, seperti
deposito.
2. Investasi jangka panjang, yaitu investasi yang perputaran
dananya lebih dari satu tahun. Bentuk investasi jangka panjang
ini, misalnya investasi pada aktiva tetap dan surat berharga
jangka panjang seperti saham dan obligasi.
b) Berdasarkan pihak yang mengadakan investasi di kelompokkan
menjadi dua macam, yaitu:
1. Investasi Swasta, yaitu investasi yang dilakukan individu
maupun institusional swasta. Tujuan invesatsi ini, biasanya
lebih bersifat profit oriented.
2. Investasi
Pemerintah,
yaitu
investasi
yang
dilakukan
pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah tujuan
investasi pemerintah ini, biasanya bersifat sosial oriented.
c) Berdasarkan bentuk asetnya investasi dapat diklasifikasikan
menjadi dua macam, yaitu:
1. Investasi pada aset riil, yaitu investasi yang dilakukan pada
aset-aset nyata, seperti investasi pada gedung, mesin, modal
kerja dan sebagainya.
2. Investasi pada aset sekuritas, yaitu investasi yang dilakukan
pada surat berharga, seperti investasi pada saham, obligasi,
sertifikat deposito dan sebagainya.
b. Tingkat Pengembalian dan Risiko Investasi di Pasar Modal
Tingkat pengembalian merupakan salah satu faktor yang
memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas
investasi
yang
dilakukannya
(Tandelilin,
2001:47).
Tingkat
pengembalian yang minus berarti investasi tersebut mengalami
kerugian, sedangkan tingkat pengembalian positif berarti mengalami
keuntungan. Suatu pengamatan, dilakukan jika harga dari suatu
sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Secara khusus
dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami
kenaikan harga jika indeks harga saham naik. Harga saham turun,
kebanyakan saham mengalami penurunan harga. Hal ini menunjukkan
tingkat keuntungan suatu saham tampaknya berkolerasi dengan
perubahan pasar. Perubahan pasar dapat dinyatakan sebagai tingkat
indeks pasar atau indeks harga saham gabungan.
Pemilihan dari indeks pasar tidak tergantung dari suatu teori
tetapi tergantung dari hasil empirisnya. Indeks pasar yang dapat dipilih
untuk pasar BEJ misalnya adalah IHSG (Indeks Harga Saham
Gabungan). Jika digunakan IHSG, maka return pasar untuk waktu ke-t
dapat dihitung sebesar: (Jogiyanto, 2000:204)
Rm =
IHSG t  IHSG t 1
x100
IHSG t 1
Keterangan:
Rm
= Tingkat pengembalian pasar modal
IHSGt
= Indeks harga saham gabungan pada periode yang
Bersangkutan
IHSGt-1
= Indeks harga saham gabungan pada periode sebelumnya
Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif, semakin
besar risiko yang ditanggung, semakin besar return yang harus
dikompensasikan. Sebaliknya, semakin kecil return yang diharapkan,
semakin kecil risiko yang ditanggung. Dalam risiko realisasi, metode
yang banyak digunakan untuk mengukur risiko ini adalah deviasi
standar yang mengukur standar absolut penyimpangan nilai yang
sudah terjadi dengan nilai rata-ratanya.
Deviasi standar adalah pengukuran statistik terhadap varians
atau penyimpangan suatu distribusi di sekitar rata-ratanya juga
merupakan akar kuadrat dari varians (Husnan, 2001:53). Semakin
besar deviasi standar pengembalian, semakin besar penyimpangan
hasil pengembalian, semakin besar risiko investasi, untuk menghitung
risiko menggunakan deviasi standar yang dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
N
Rm  E ( Rm )2
iI
n

Rm =
Keterangan:
Rm
= Deviasi standar pasar modal
Rmt
= Tingkat pengembalian pasar modal
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar modal
n
= Banyaknya periode pengamatan.
b. Tingkat Pengembalian dan Risiko Investasi di Pasar Valas
Valuta asing (valas) Foreign exchange (Forex) atau Foreign
currency diartikan sebagai mata uang asing dan alat pembayaran
lainnya yang digunakan untuk melakukan atau membiayai transaksi
ekonomi keuangan internasional dan yang mempunyai catatan kurs
resmi pada Bank Sentral. (Hady, 2001:15). Mata uang yang sering
digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung dalam
transaksi ekonomi dan keuangan internasional di sebut ard currency,
yaitu mata uang nilainya relatif stabil dan kadang-kadang mengalami
apresiasi atau kenaikan nilai dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Ada tinga prinsip pokok dalam bursa valas adalah: (Hady,
2001:16)
a. Pengertian kurs jual dan beli selalu dilihat dari sisi atau pihak Bank
atau Money Changer atau Pedagang valas.
b. Kurs jual selalu lebih tinggi dari pada kurs beli atau sebaliknya
kurs beli lebih rendah kurs jual.
c. Kurs jual atau beli suatu mata uang (valas) adalah sama dengan
kurs beli atau jual mata uang (valas) lawannya.
Tingkat pengembalian pasar valas dapat diperoleh dari kurs
penjualan, dikurangi kurs pembelian dibagi dengan kurs pembelian,
yang dapat dihitung dengan rumus sebagia berikut: (Kuncoro, 2001:
128).
Rv =
Kurso  Kursb
x 100
Kursb
Keterangan:
Rv = Tingkat pengembalian pasar valuta asing
Po = Kurs jual
Pb = Kurs beli
3. Kerangka Pikir
Gambar : 1
Analisis Perbandingan Tingkat Pengembalian dan Risiko Investasi Antara
Pasar Modal dan Pasar V alas
Investor
Pasar modal
Investasi
Pasar valas
IHSG
Tingkat pengembalian
Kurs
Risiko Investasi
Analisis Perbandingan Tingkat Pengembalian
dan Risiko Investasi Antara Pasar Modal dan
Pasar Valas
4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan tinjauan
pustaka dapat diambil suatu hipotesis sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan antara tingkat pengembalian dan risiko investasi
antara pasar modal dan pasar valas
2. Rata-rata tingkat pengembalian pada pasar modal lebih besar dari pada
rata-rata tingkat pengembalian di pasar
3. Rata-rata tingkat risiko pada pasar modal lebih besar dari pada ratarata tingkat risiko di pasar valas
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini merupakan study kasus, dalam arti
kesimpulan dan implikasinya hanya dapat diterapkan di Indonesia dan
obyek penelitian periode Mei 2005 sampai Mei 2007.
2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penellitian ini adalah
dokumenter dengan sumber data sekunder yaitu data yang dikumpulkan,
diolah dan disajikan oleh pihak lain. Data sekunder meliputi:
1. Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tahun 2005 –
2007
2. Data nilai kurs USD yang merupakan nilai tengah antara kurs beli dan
kurs jual selama tahun 2005 – 2007
3. Definisi Operasional Variabel
1. Pengembalian pasar adalah total keuntungan/kerugianyang dialami
pemilik modal/investor dalam satu periode tertentu yang dinyatakan
sebagai suatu tarrif persentase.
a. Tingkat pengembalian investasi saham di pasar modal dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Jogiyanto, 2000:204)
Rm
=
IHSGt  IHSGt 1
x100
IHSGt 1
Keterangan:
Rm
= Tingkat pengembalian pasar modal
IHSGt
= Indeks harga saham gabungan pada periode yang
Bersangkutan
IHSGt-1
=
Indeks
harga saham
gabungan
pada periode
sebelumnya
b. Tingkat pengembalian investasi valas dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut: (Kuncoro, 2001:128)
Rv =
Kurso  Kursb
x 100
Kursb
Keterangan:
Rv
= Tingkat pengembalian pasar valuta asing
Po
= Kurs jual
Pb
= Kurs beli
2. Risiko pasar adalah kemungkinan adanya kerugian/variabilitas
pendapatan dihubungkan dengan aktiva tertentu.
a.
Risiko investasi di pasar modal dengan mnggunakan deviasi
standar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Husnan,
2001:53)
N
Rm  E ( Rm )2
iI
n

Rm =
Keterangan:
Rm
= Deviasi standar pasar moal
Rm
= Tingkat pengembalian pasar modal
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar modal
n
b.
= Banyaknya periode pengamatan.
Risiko investasi di pasar valas dengan menggunakan deviasi
standar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Husnan,
2001:53)
N
Rv  E ( Rv )2
iI
n

Rm =
Keterangan:
Rv
= Deviasi standar pasar valas
Rv
= Tingkat pengembalian pasar valas
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar valas
n
= Banyaknya periode pengamatan
4. Teknik Analisis Data
Analisis diskriptif kuantitatif membandingkan investasi di pasar.
modal dan pasar valas dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat pengembalian investasi saham di pasar
modal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Jogiyanto,
2000:204)
Rm =
IHSGt  IHSGt 1
x100
IHSGt 1
Keterangan:
Rm
= Tingkat pengembalian pasar modal
IHSGt
= Indeks harga saham gabungan pada periode yang
Bersangkutan
IHSGt-1
= Indeks harga saham gabungan pada periode sebelum
2. Untuk mengetahui tingkat pengembalian diharapkan di pasar modal
dapat dihitung dengan rumus: (Warsono, 2001:174)
n
 Rm
E(Rm) =
t 1
n
Keterangan:
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pada pasar modal
n
= Banyaknya periode
3. Untuk menghitug risiko investasi di pasar modal dengan mnggunakan
deviasi standar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Husnan,
2001:53)
N
Rm  E ( Rm )2
iI
n

Rm =
Keterangan:
Rm
= Deviasi standar pasar modal
Rm
= Tingkat pengembalian pasar modal
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar modal
n
= Banyaknya periode pengamatan.
4. Untuk mengetahui nilai kurs tengah
X =
Xjual  Xbeli
2
Keterangan:
X = Nilai kurs tengah
5. Untuk mengetahui tingkat pengambalian investasi valas dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut: (Kuncoro, 2001:128)
Rv =
Kurso  Kursb
x100
Kursb
Keterangan:
Rv = Tingkat pengembalian pasar valuta asing
Po = Kurs jual
Pb = Kurs beli
6. Untuk mengetahui tingkat pengembalian diharapkan dipasar valas
dapat dihitung dengan rumus: (Warsono, 2001:174)
n
 Rv
E(Rv) =
t 1
n
Keterangan:
E(Rv)
= Tingkat pengembalian rata-rata pada pasar valas
n
= Banyaknya periode
7. Untuk mengetahui risiko investasi di pasar valas dengan menggunakan
deviasi standar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Husnan,
2001:53)
Rm =
N
Rv  E ( Rv )2
iI
n

Keterangan:
Rv
= Deviasi standar pasar valas
Rv
= Tingkat pengembalian pasar valas
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar valas
n
= Banyaknya periode pengamatan.
8. Uji hipotesis
Teknik pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
beda dua rata-rata. Alasan penggunaan uji beda dua rata-rata karena
tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan antara tingkat
pengembalian dan risiko investasi antara pasar modal dan pasar valas.
Adapun teknik pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Menentukan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha) yaitu:
Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat
pengembalian dan risiko investasi antara pasar modal dan
pasar valas.
Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat
pengembalian dsn risiko investasi antara pasar modal dan
pasar valas.
2
Dalam pengambilan keputusan untuk hasil uji hipotesis harus
didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
a. Ho ditolak, Ha diterima apabila t hitung > t tabel atau t hitung
< -t tabel
Artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat
pengembalian dan risiko antara pasar modal dan pasar valas.
b. Ho diterima, Ha ditolak apabila t hitung < t tabel dan –t tabel <
t hitung
Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat
pengembalian dan risiko investasi antara pasar modal dan
pasar valas.
3. Jika t hitung > t tabel, menyatakan bahwa terdapat perbedaan
tingkat pengembalian dan risiko investasi antara pasar modal dan
pasar valas, maka hipotesis pertama diterima.
4. Jika E(Rm) > E (Rv), menyatakan bahwa tingkat pengembalian
rata-rata pada pasar modal lebih besar dari pada tingkat
pengembalian rata-rata pada pasar valas, maka hipotesis kedua
diterima.
5. Jika Rm > Rv, menyatakan bahwa tingkat risiko investasi pada
pasar modal lebih besar dari pada tingkat risiko investasi pada
pasar valas, maka hipotesis ketiga diterima.
Ok silahkan direvisi selanjut di konsulatasi dengan dosen yang lain selanjutnya
dirseminarkan
Dan kirimkan slide seminarnya
Malang 23.05.07
DAFTAR PUSTAKA
Eka Putra, Dianata. 2003. Berburu Uang di Pasar Valas. Effhar. Semarang.
Hady, Hamdy. 2001. Valas untuk manajer. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Hidayat, Taufik. 2005. Learn to Earn Trading Valas Via Internet. Andi.
Yogyakarta.
Husnan, Suad. 2001. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi
3. UPP – AMP YKPN. Yogyakarta.
Latifa Kusumawati, 2005. Perbandingan Tingkat Pengembaliandan Risiko
Investasi Antara Pasar Modal dan Pasar Valas Periode 2001-2005.
Skripsi pada FE UMM. Tidak dipublikasikan.
Jogiyanto. 2006. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi kedua. BPFE.
Yogyakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2001. Manajemen Keuangan Internasional. Edisi kedua.
BPFE. Yogyakarta.
Warsono. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama.
UMM Press. Malang.
Hady, Hamdy. 2001. Valas untuk manajer. Ghalia Indonesia. Jakarta
Husnan, Suad. 2001. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi
3. UPP – AMP YKPN. Yogyakarta.
Jogiyanto. 2006. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi kedua. BPFE.
Yogyakarta
Kuncoro, Mudrajad. 2001. Manajemen Keuangan Internasional. Edisi kedua.
BPFE. Yogyakarta.
Warsono. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama.
UMM Press. Malang.
Download