BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Diabetes Mellitus 1. Definisi

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Mellitus
1. Definisi
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Perkeni, 2011). Diabetes
Mellitus (DM) merupakan suatu sindrom klinik yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (glukosa puasa ≥ 126
mg/dl atau postpradial ≥ 200 mg/dl). Bila diabetes mellitus tidak segera
diatasi akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan protein, dan resiko
timbulnya gangguan mikrovaskular atau makrovaskular meningkat
(Gunawan, 2008).
2. Patofisiologi
Hiperglikemia timbul akibat berkurangnya insulin sehingga glukosa
darah tidak dapat masuk ke sel-sel otot, jaringan adipose atau hepar.
Dalam keadaan normal, kira-kira 50% glukosa yang dimakan terganggu,
glukosa tidak dapat masuk ke sel sehingga energi terutama diperoleh dari
metabolisme protein dan lemak. Lipolisis bertambah dan lipogenesis
terhambat, akibatnya dalam jaringan banyak tertimbun asetil KoA (zat
yang penting pada siklus asam sistrat dan prekursor utama dari lipid dan
steroid, terbentuk dengan cara menggabungkan gugus asetil pada koenzim
A selama oksidasi karbohidrat, asam lemak atau asam-asam amino), dan
senyawa ini akan banyak diubah menjadi zat keton karena terhambatnya
siklus TCA (Tricarboxylic Acid Kreb’s Cycle). Zat keton merupakan
sumber energi yang berguna terutama pada saat puasa. Metabolisme zat
keton pada pasien DM meningkat, karena jumlahnya yang terbentuk lebih
banyak daripada yang dimetabolisme. Keadaan ini disebut ketoasidosis
yang ditandai dengan napas yang cepat dan dalam disertai adanya bau
aseton (Tjay, 2007).
4
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
3. Jenis Diabetes Mellitus
a. Tipe 1
Diabetes ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit populasinya,
diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi penderita
diabetes (Depkes RI, 2005). Pada DM tipe 1 disebabkan karena rusaknya
sel-β pankreas dan seringkali terjadi pada pasien di bawah 15 tahun
(Walker R, 2003). Namun ada pula yang disebabkan oleh bermacammacam virus, diantaranya virus Cocksakie, Rubella, herpes dan lain
sebagainya. Ada beberapa tipe autoantibodi yang dihubungkan dengan
DM tipe 1, antara lain: ICCA (Islet Cell Cytoplasmic Antibodies), ICSA
(Islet Cell Surface Antibodies), dan antibodi terhadap GAD (Glutamic
Acid Decarboxylase) (Depkes RI, 2005).
b. Tipe 2
Diabetes Mellitus tipe 2 paling banyak menyerang orang dewasa.
Penderita DM tipe 2 mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi diabetes,
yang umumnya berusia diatas 45 tahun, tetapi akhir-akhir ini DM tipe 2 di
kalangan remaja dan anak-anak populasinya meningkat (Depkes RI,
2005). Pada DM tipe 2 lebih disebabkan karena faktor genetik dan obesitas
(Walker R, 2003). Berbeda dengan DM tipe 1, pada penderita DM tipe 2
terutama yang berada pada tahap awal umumnya dapat dideteksi jumlah
insulin yang cukup didalam darahnya, disamping kadar glukosa yang juga
tinggi. Jadi, awal patofisiologis DM tipe 2 bukan disebabkan oleh
kurangnya sekresi insulin tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau
tidak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazin disebut
sebagai “Resistensi insulin” (Depkes RI, 2005).
4. Komplikasi
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan
komplikasi akut dan kronis. Berikut ini akan diuraikan beberapa
komplikasi yang sering terjadi dan harus diwaspadai (Depkes RI, 2005).
5
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
a. Hipoglikemia
Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis penderita
merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan berkunang-kunang, pitam
(pandangan menjadi gelap), keluar keringat dingin, detak jantung
meningkat, sampai hilang kesadaran. Apabila tidak segera ditolong
dapat terjadi kerusakan otak dan akhirnya kematian (Depkes RI, 2005).
Pada hipoglikemia, kadar glukosa plasma penderita kurang dari 50
mg/dl, walaupun ada orang-orang tertentu yang sudah menunjukkan
gejala hipoglikemia pada kadar glukosa plasma diatas 50 mg/dl. Kadar
glukosa darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak
mendapat pasokan energi sehingga tidak dapat berfungsi bahkan dapat
rusak. Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita diabetes
mellitus tipe 1, yang dapat dialami 1-2 kali per minggu. Dari hasil
survei yang pernah dilakukan di Inggris diperkirakan 2-4% kematian
pada penderita diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh serangan
hipoglikemia. Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, serangan
hipoglikemia lebih jarang terjadi, meskipun penderita tersebut
mendapat terapi insulin. Serangan hipoglikemia pada penderita
diabetes umumnya terjadi apabila penderita:
1) Lupa atau sengaja meninggalkan makan (pagi, siang atau malam)
2) Makan terlalu sedikit, lebih sedikit dari yang disarankan oleh
dokter atau ahli gizi
3) Berolahraga terlalu berat
4) Mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis lebih besar dari pada
seharusnya
5) Minum alcohol
6) Stres
7) Mengkonsumsi obat-obatan lain yang dapat meningkatkan resiko
hipoglikemia
6
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Disamping penyebab diatas, pada penderita DM perlu diperhatikan
apabila penderita mengalai hipoglikemik, kemungkinan penyebabnya
adalah :
1) Dosis insulin yang berlebihan
2) Saat pemberian yang tidak tepat
3) Penggunaan glukosa yang berlebihan misalnya olahraga anaerobik
berlebihan
4) Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kepekaan individu
terhadaap insulin, misalnya gangguan fungsi adrenal atau hipofisis
(Depkes RI, 2005)
b. Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak
secara tiba-tiba. Keadaan ini dapat disebabkan oleh stress, infeksi, dan
konsumsi obat-obatan tertentu. Hiperglikemia ditandai dengan
poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang parah (fatigue), dan
pandangan kabur. Apabila diketahui dengan cepat, hiperglikemia dapat
dicegah tidak menjadi parah. Hiperglikemia dapat memperburuk
gangguan-gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi,
dan infeksi jamur pada vagina. Hiperglikemia yang berlangsung lama
dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya,
antara lain ketoasidosis diabetik (Diabetic Ketoacidosis = DKA) yang
dapat berakibat fatal dan membawa kematian. Hiperglikmia dapat
dicegah dengan kontrol kadar gula darah yang ketat (Depkes RI,
2005).
c. Komplikasi makrovaskular
Tiga jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang
pada penderita diebates adalah penyakit jantung koroner (coronary
heart disease = CAD), penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit
pembuluh darah perifer (peripheral vascular disease = PVD).
Walaupun komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada dapat
7
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
juga terjadi pada DM tipe 1, namun yang lebih sering merasakan
komplikasi makrovaskular ini adalah penderita DM tipe 2 yang
umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau kegemukan.
Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi makrovaskular dikenal
dengan
berbagai
nama,
antara
lain:
Syndrome
X,
Cardiac
Dysmetabolic Syndrome, Hyperinsulinemic Syndrome, atau Insulin
Resistance Syndrome. Karena penyakit-penyakit jantung sangat besar
resikonya pada penderita diabetes, maka pencegahan komplikasi
terhadap jantung sangat penting dilakukan, termasuk pengendalian
tekanan darah, kadar kolesterol dan lipid darah. Penderita diabetes
sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 130/80
mmHg. Untuk itu penderita harus dengan sadar mengatur gaya
hidupnya, termasuk mengupayakan berat badan ideal, diet dengan gizi
seimbang, berolahraga secara teratur, tidak merokok, mengurangi
stress dan lain sebagainya (Depkes RI, 2005).
d. Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes
mellitus tipe 1. Hiperglikemia yang persiten dan pembentukan protein
yang terglikasi (HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah
menjadi makin lemah dan rapuh serta terjadi penyumbatan pada
pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang mendorong
timbulnya
komplikasi-komplikasi
mikrovaskular,
antara
lain
retinopati, nefropati, dan neuropati. Disamping karena kondisi
hiperglikemia, ketiga komplikasi ini juga dipengaruhi oleh faktor
genetik. Oleh sebab itu dapat terjadi dua orang yang memiliki kondisi
hiperglikemia
yang
mikrovaskularnya.
sama,
Namun
berbeda
demikian
resiko
prediktor
komplikasi
terkuat
untuk
perkembangan komplikasi mikrivaskular tetap lama (durasi) dan
tingkat keparahan diabetes. Satu-satunya cara yang signifikan untuk
mencegah atau memperlambat jalan perkembangan komplikasi
mikrovaskular adalah dengan pengendalian kadar gula darah yang
8
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
ketat. Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin
multi-dosis atau dengan pompa insulin yang disertai dengan
monitoring kadar gula darah mandiri dapat menurunkan resiko
timbulnya komplikasi mikrovaskular sampai 60% (Depkes RI, 2005).
5. Penatalaksanaan DM Tipe 2
Pengaturan Pola Hidup
Lakukan setiap step jika target tidak tercapai (umumnya HbA1c <7.0%)
Lini 1
Sulfonilurea atau
Penghambat αglukosidase
Metformin
Lini 2
Sulfonilurea
Metformin
(jika bukan lini 1)
atau
Penghambat αglukosidase atau
DPP-4 atau
Thiazolidinedione
Lini 3
Basal Insulin
atau
Pre-Mix Insulin
atau
Penghambat αglukosidase atau
DPP-4 atau
Thiazolidinedione
atau
GLP-1
agonist
Lini 4
Basal+
meal-time
insulin
Basal insulin, atau
Pre-mix insulin
(Later basal+mealtime)
= Pendekatan Umum
= Pendekatan Alternatif
Gambar 1. Algoritma terapi DM 2 menurut International Diabetes Federation (IDF),
2012.
9
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
a. Terapi Farmakologi
1) Insulin
Insulin tergolong hormon polipeptida yang awalnya diekstraksi
dari pankreas babi maupun sapi, tetapi kini telah dapat disintesis
dengan teknologi rekombinan DNA menggunakan E. Coli.
Hormon ini dimetabolisme terutama di hati, ginjal, dan otot
(Depkes RI, 2000)
2) Obat Hiperglikemik Oral (OHO)
Secara umum, DM dapat diatasi dengan obat-obat antidiabetes
yang secara medis disebut obat hipoglikemia oral (OHO). Obat ini
tidak boleh sembarangan dikonsumsi karena dikhawatirkan
penderita menjadi hipoglikemia. Pasien yang mungkin berespon
terhadap obat hipoglikemik oral adalah mereka yang diabetesnya
berkembang kurang dari 5 tahun. Pasien yang sudah lama
menderita diabetes mungkin memerlukan suatu kombinasi obat
hipoglikemik dan insulin untuk mengontrol hiperglikemiknya.
Obat-obat hipoglikemik oral dibagi atas 5 golongan:
a) Golongan sulfonilurea
Sulfonilurea
menstimulasi
sel-sel
beta
dari
pulau
langerhans, sehingga sekresi insulin ditingkatkan. Disamping
itu, kepekaan sel-sel beta bagi kadar glukosa darah juga
diperbesar melalui pengaruhnya atas protein transport glukosa.
Obat ini hanya efektif pada penderita diabetes mellitus tipe 2
yang tidak begitu berat, yang sel-sel betanya masih bekerja
cukup baik. Ada indikasi bahwa obat-obat ini juga
memperbaiki kepekaan organ tujuan bagi insulin dan
menurunkan absorbsi insulin oleh hati (Tjay, 2007).
b) Golongan biguanide
Metformin adalah satu-satunya golongan biguanid yang
tersedia,
bekerja
menghambat
glukoneogenesis
dan
meningkatkan penggunaan glukosa jaringan. Obat ini hanya
10
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
efektif bila terdapat insulin endogen. Kelebihan dari golongan
biguanid adalah tidak menaikkan berat badan, dapat
menurunkan kadar insulin plasma, dan tidak menimbulkan
masalah hipoglikemia (Depkes RI, 2000).
c) Golongan penghambat alfa glukosida
Obat ini merupakan obat oral yang biasanya diberikan
dengan dosis 150-600 mg/hari yang menghambat alfaglukosidase, suatu enzim pada lapisan sel usus yang
mempengaruhi digesti sucrose dan karbohidrat kompleks.
Obat ini efektif pada pasien dengan diet tinggi karbohidrat dan
kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl. Akarbose
bekerja
menghambat
alfa-glukosidase
sehingga
memperlambat dan menghambat penyerapan karbohidrat
(Depkes RI, 2000).
d) Thiazolidindion
Thiazolidindion
merupakan
obat
baru
yang
efek
farmakologinya berupa penurunan kadar glukosa darah dan
insulin dengan jalan meningkatkan kepekaan insulin dari otot,
jaringan lemak, dan hati. Zat ini tidak mendorong pankreas
untuk
meningkatkan
pelepasan
insulin
seperti
pada
sulfonilurea (Tjay, 2007).
e) Meglitinida
Kelompok obat terbaru ini bekerja menurunkan suatu
mekanisme khusus, yaitu mencetuskan pelepasan insulin dari
pancreas segera sesudah makan. Meglitinida harus diminum
cepat sebelum makan, dan karena reabsorpsinya cepat maka
mencapai kadar puncak dalam satu jam. Insulin yang
dilepaskan
menurunkan
glukosa
darah
secukupnya.
Ekskresinya juga cepat dalam satu jam sudah dikeluarkan
tubuh (Tjay, 2007).
11
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
b. Terapi Non Farmakologi
Pokok pangkal penanganan diabetes adalah makan dengan
bijaksana atau diet. Semua pasien harus memulai diet dengan
pembatasan kalori, terutama pada pasien dengan berat badan berlebih.
Makanan perlu dipilih secara seksama terutama pembatasan lemak
total dan lemak jenuh untuk mencapai normalitas kadar glukosa dan
lipid darah (Tjay, 2007).
Bila terdapat resistensi insulin, gerak badan secara taratur
(olahraga) dapat mengurangi permasalahan tersebut. Hasilnya insulin
dapat dipergunakan secara baik oleh sel tubuh dan dosisnya pada
umumnya dapat diturunkan (Tjay, 2007).
B. Drug Related Problems (DRPs)
Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu peristiwa atau keadaan
dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil
terapi yang diinginkan (Bemt and Egberts, 2007; Pharmaceutical Care
Network Europe Faoundation, 2010).
Klasifikasi DRPs menurut Pharmaceutical Care Network Europe
Foundation (PCNE V 6.2).
Tabel 1. Klasifikasi dasar menurut PCNE V 6.2
Masalah
Penyebab
Kode
V6.2
P1
P2
P3
P4
C1
C2
C3
C4
C5
C6
C7
C8
Domain utama
Efektifitas terapi
Reaksi yang tidak diinginkan
Biaya pengobatan
Lainnya
Pemilihan obat
Bentuk obat
Seleksi obat
Durasi pengobatan
Pemakaian obat/ proses administrasi
Logistik
Pasien
Lainnya
12
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Kode Domain utama
V6.2
I0
Tidak ada intervensi
Intervensi
I1
Pada tahap peresepan
I2
Pada tahap pasien
I3
Pada tahap obat
I4
Lainnya
O0
Hasil tidak diketahui
Hasil Intervensi
O1
Seluruh masalah terselesaikan
O2
Sebagian masalah terselesaikan
O3
Masalah tidak terselesaikan
Sumber : Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010.
Tabel 2. Klasifikasi masalah DRPs menurut PCNE V 6.2
Domain utama
Kode
V6.2
P1.1
P1.2
P1.3
P1.4
P2.1
P2.2
P2.3
P3.1
P3.2
P4.1
Masalah
Tidak ada efek terapi dari obat / kegagalan terapi.
Efek terapi tidak optimal.
Efek yang tidak diinginkan dari terapi.
Indikasi yang tidak ditangani.
Kejadian yang tidak diinginkan (non alergi).
Reaksi yang tidak
Kejadian yang tidak diinginkan (alergi).
diinginkan
Toksisitas akibat reaksi obat yang tidak diinginkan.
Obat lebih mahal dari yang diperlukan.
Biaya pengobatan
Obat yang tidak perlu.
Pasien tidak puas dengan terapi akibat hasil terapi dan biaya
Lain-lain
pengobatan.
P4.2 Masalah atau keluhan yang tidak jelas. Klasifikasi lain
diperlukan.
Sumber : Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010.
Efektifitas terapi
Tabel 3. Klasifikasi penyebab terjadinya DRPs menurut PCNE V 6.2
Domain utama
Pemilihan obat
Kode
V6.2
C1.1
C1.2
C1.3
C1.9
C2.1
Obat yang tidak tepat.
Pemberian obat tanpa indikasi.
Kombinasi yang tidak tepat atau adanya interaksi obat
dengan makanan.
Adanya duplikasi obat pada terapi atau bahan aktif.
Indikasi bagi penggunaan obat tidak ditemukan.
Terlalu banyak obat yang diresepkan pada indikasi.
Terdapat obat lain yang lebih cost effective.
Dibutuhkan obat yang sinergistik/pencegahan namun tidak
diberikan.
Indikasi baru bagi terapi obat muncul.
Bentuk obat yang tidak sesuai.
C3.1
C3.2
C3.3
C3.4
C3.5
Dosis terlalu rendah.
Dosis terlalu tinggi.
Regimen dosis tidak cukup.
Frekuensi regimen dosis berlebih.
Tidak ada monitoring terapi.
C1.4
C1.5
C1.6
C1.7
C1.8
Bentuk sediaan obat
yang tidak tepat.
Pemilihan dosis
Penyebab
13
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Domain utama
Kode
V6.2
C3.6
Penyebab
Masalah farmakokinetik yang membutuhkan penyesuaian
dosis.
C3.7 Memburuknya/ membaiknya tahap penyakit yang
membutuhkan penyesuaian dosis.
C4.1 Durasi terapi terlalu singkat.
Durasi terapi
C4.2 Durasi terapi terlalu lama.
C5.1 Waktu penggunaan atau interval dosis yang tidak tepat.
Proses penggunaan
C5.2 Obat yang dikonsumsi kurang.
obat
C5.3 Obat yang dikonsumsi lebih.
C5.4 Obat sama sekali tidak dikonsumsi.
C5.5 Obat yang digunakan salah.
C5.6 Penyalahgunaan obat.
C5.7 Pasien tidak dapat menggunakan obat sesuai interuksi.
C6.1 Obat yang diminta tidak tersedia.
Ketersediaan
C6.2 Kesalahan peresepan.
C6.3 Kesalahan dispensing (salah obat / salah dosis).
C7.1 Pasien lupa mengkonsumsi obat.
Pasien
C7.2 Pasien menggunakan obat yang tidak diperlukan.
C7.3 Pasien mengkonsumsi makanan yang berinteraksi dengan
obat.
C7.4 Pasien tidak benar menyimpan obat.
C8.1 Penyebab lain.
Lain-lain
C8.2 Tidak ada penyebab yang jelas.
Sumber : Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010.
Tabel 4. Intervensi yang diberikan berdasarkan PCNE V 6.2 jika terjadi DRPs
Domain utama
Kode
V 6.2
I0.0
I1.1
I1.2
I1.3
I1.4
Intervensi
Tidak ada intervensi
Menginformasikan kepada dokter
Mengajukan informasi dari dokter
Mengajukan intervensi yang diperbolehkan oleh dokter
Mengajukan intervensi yang tidak diperbolehkan oleh
dokter
I1.5
Mengajukan intervensi yang hasilnya tidak diketahui
I2.1
Konseling pasien (obat)
Pada tahap pasien
I2.2
Hanya memberikan informasi tertulis
I2.3
Mempertemukan pasien dengan dokter
I2.4
Bebicara dengan keluarga pasien
I3.1
Obat diganti dengan ….
Pada tahap obat
I3.2
Dosis diganti menjadi ….
I3.3
Formulasi diganti menjadi ….
I3.4
Intuksi untuk penggunaan diganti menjadi ….
I3.5
Obat dihentikan
I3.6
Obat baru mulai digunakan
I4.1
Intervensi lain (spesifik)
Intervensi atau aktivitas
I4.2
Melaporkan efek samping kepada otoritas
lain
Sumber : Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010.
Tidak ada intervensi
Pada tahap peresepan
14
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Tabel 5. Hasil dari intervensi menurut PCNE V 6.2
Domain utama
Kode
V 6.2
O0.0
O1.0
O2.0
O3.1
Hasil intervensi
Hasil dari intervensi tidak diketahui
Seluruh masalah terselesaikan
Sebagian masalah terselesaikan
Masalah tidak terselesaikan, karena pasien tidak
kooperatif
O3.2
Masalah tidak terselesaikan, karena dokter tidak
kooperatif
O3.3
Masalah tidak terselesaikan, karena intervensi yang
dilakukan tidak efektif
O3.4
Masalah yang tidak perlu atau tidak mungkin
terselesaikan
Sumber : Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010.
Tidak diketahui
Terselesaikan
Sebagian terselesaikan
Tidak terselesaikan
*catatan: satu masalah (atau kombinasi intervensi) hanya dapat menyebabkan satu tingkat
pemecahan masalah (PCNE V 6.2).
C. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan
gabungan alat ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai
kesatuan personal terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani
masalah medik modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud
yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik ( Siregar,
2003).
Pada umumnya tugas rumah sakit adalah menyediakan keperluan
untuk pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Menurut KEPMENKES RI
Nomor : 983/Menkes/SK/XI/1992,
Rumah
Sakit
mempunyai
tugas
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk
menjalankan tugas sebagaimana dimaksudkan, Rumah Sakit mempunyai
fungsi :
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit;
2. Pemeliharaan
dan
peningkatan
kesehatan
perorangan
melalui
pelayanankesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis;
15
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalamrangka peningkatan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan;
dan
4. Penyelenggaraan
penelitian
dan
pengembangan
serta
penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.
D. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
Instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) adalah suatu unit/ bagian di rumah
sakit yang melakukan pekerjaan kefarmasian dan memberikan pelayanan
kefarmasian menyeluruh, khususnya kepada pasien, profesional kesehatan,
rumah sakit, serta masyarakat pada umumnya, dipimpin oleh seorang
apoteker yang sah, kompeten dan profesional (Siregar, 2004).
Kriteria penetapan prioritas penerapan fungsi dan pelayanan IFRS
didasarkan pada berbagai hal berikut:
1. Fungsi yang memastikan tersedianya obat yang paling sesuai, efektif,
aman, rasional, dan memadai.
2.
Fungsi yang memastikan, langsung mempengaruhi penulisan serta
penggunaan obat yang paling tepat dan rasional.
3. Fungsi yang memastikan upaya peningkatan keamanan dan kepatuhan
pasien dalam penggunaan obat.
4. Fungsi dan pelayanan yang segera dapat dilakukan tanpa penambahan
biaya yang besar.
5. Fungsi dan pelayanan yang menjadi keahlian serta keterampilanapoteker.
6. Fungsi dan pelayanan atas permintaan profesional kesehatan lainnya.
(Siregar, 2004).
E. Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker
untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien.
16
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Yang berhak menulis resep ialah :
1. Dokter
2. Dokter gigi, terbatas pada pengobatan gigi dan mulut.
3. Dokter hewan, terbatas pengobatan hewan.
Dalam resep harus memuat :
1. Nama, alamat, dan nomor izin praktek Dokter, Dokter gigi dan Dokter
hewan
2. Tanggal penulisan resep (inscription)
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat atau
komposisi obat (invicatio)
4. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatur).
5. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai denganperundangundangan yang berlaku (subscriptio)
6. Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep Dokter hewan
7. Tanda seru dan paraf Dokter untuk resep yang mengandung obat yang
jumlahnya melebihi dosis maksimal (Anief, 1988).
F. Rekam Medik
Setiap Rumah Sakit dipersyaratkan mengadakan dan memelihara rekam
medik yang memadai dari setiap penderita, baik untuk penderita rawat tinggal
maupun rawat jalan. Rekam medik harus secara akurat didokumentasikan,
segera tersedia, dapat dipergunakan, mudah ditelusuri kembali (retrieving),
dan lengkap informasi. Rekam medik adalah sejarah ringkas, jelas dan akurat
dari kehidupan dan kesakitan penderita, ditulis dari sudut pandang rekam
medik. Definisi rekam medik menurut Surat Keputusan Direktur Jendral
Pelayanan Medik adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang diberikan kepada seorang penderita selama riwayat di
Rumah Sakit, baik rawat jalan maupun rawat tinggal (Siregar, 2003).
17
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Kegunaan Rekam Medik:
1. Digunakan sebagai dasar perencanaan dan keberlanjutan perawatan
penderita.
2. Merupakan suatu sarana komunikasi antar dokter dan setiap profesional
yang berkontribusi pada perawatan penderita.
3. Melengkapi bukti dokumen terjadinya/penyebab kesakitan penderita dan
penanganan/pengobatan selama tiap tinggal di Rumah Sakit.
4. Digunakan setiap dasar untuk kaji ulang study dan evaluasi perawatan yang
diberikan kepada penderita.
5. Membantu perlindungan kepentingan hukum penderita, rumah sakit dan
praktisi yang bertanggung jawab.
6. Menyediakan data untuk digunakan dalam penelitian dan pendidikan.
7. Sebagai dasar perhitungan biaya dengan menggunakan data dalam rekam
medik, bagian keuangan dapat menetapkan besarnya biaya pengobatan
seorang penderita (Siregar, 2003).
18
Kontribusi Apoteker Dalam…, Intan Purnama Dewi, Fakultas Farmasi UMP, 2016
Download