Modul Kewarganegaraan [TM14]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
GOOD
GOVERNANCE
Mengetahui pengertian good
governance dan
pelaksanaanya
Fakultas
Program Studi
Tatap Muka
14
Fakultas
Kode MK
Disusun Oleh
RINA KURNIAWATI, SHI, MH
Abstract
Kompetensi
Mengetahui
pengertian
good
governance serta pelaksanaanya
dalam kehidupan demokrasi
Mahasiswa mampu memahami
kehidupan demokrasi dan
pemerintahan yang baik
PENGERTIAN GOOD GOVERNANCE
Terdapat tiga terminologi yang masih rancu dengan istilah dan konsep good
governance, yaitu: good governance (tata pemerintahan yang baik), good government
(pemerintahan yang baik), dan clean governance (pemerintahan yang bersih). Untuk
lebih dipahami makna sebenarnya dan tujuan yang ingin dicapai atas good governance,
maka adapun beberapa pengertian dari good governance, antara lain :
1. Menurut Bank Dunia (World Bank) Good governance merupakan cara kekuasaan
yang digunakan dalam mengelola berbagai sumber daya sosial dan ekonomi untuk
pengembangan masyarakat.
2. Menurut UNDP (United National Development Planning) Good governance
merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan.
Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua tingkatan.
Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu:
1. Kesejahteraan rakyat (economic governance)
2. Proses pengambilan keputusan (political governance)
3. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance)
Dalam proses memaknai peran kunci stakeholders (pemangku kepentingan), mencakup
3 domain good governance, yaitu:
1. Pemerintah yang berperan menciptakan iklim politik dan hukum yang kondusif
2. Sektor swasta yang berperan menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan
3. Masyarakat yang berperan mendorong interaksi sosial, ekonomi, politik dan
mengajak seluruh anggota masyarakat berpartisipasi
Makna dari governance dan good governance pada dasarnya tidak diatur dalam sebuah
undang-undang (UU). Tetapi dapat dimaknai bahwa governance adalah tata
pemerintahan, penyelenggaraan negara, atau management (pengelolaan) yang artinya
kekuasaan tidak lagi semata-mata dimiliki atau menjadi urusan pemerintah. Governance
itu sendiri memiliki unsur kata kerja yaitu governing yang berarti fungsi pemerintah
bersama instansi lain (LSM, swasta dan warga negara) yang dilaksanakan secara
seimbang dan partisipatif. Sedangkan good governance adalah tata pemerintahan yang
baik atau menjalankan fungsi pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa (struktur,
fungsi, manusia, aturan, dan lain-lain). Clean government adalah pemerintahan yang
bersih dan berwibawa. Good corporate adalah tata pengelolaan perusahaan yang baik
dan bersih. Governance without goverment berarti bahwa pemerintah tidak selalu di
warnai dengan lembaga, tapi termasuk dalam makna proses pemerintah.
Istilah good governance lahir sejak berakhirnya Orde Baru dan digantikan dengan
gerakan reformasi. Sejak itu pula sering diangkat menjadi wacana atau tema pokok
dalam setiap kegiatan pemerintahan. Namun meski sudah sering terdengar ditelinga
legislatif, pengaturan mengenai good governance belum diatur secara khusus dalam
2016
2
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bentuk sebuah produk, UU misalnya. Hanya terdapat sebuah regulasi yaitu UU No. 28
tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme yang mengatur penyelenggaraan negara dengan Asas Umum
Pemerintahan Negara yang Baik (AUPB). Good governance sebagai upaya untuk
mencapai pemerintahan yang baik maka harus memiliki beberapa bidang yang
dilakukan
agar
tujuan
utamanya
dapat
dicapai,
yang
meliputi:
1. Politik
Politik merupakan bidang yang sangat riskan dengan lahirnya msalah karena seringkali
menjadi penghambat bagi terwujudnya good governance. Konsep politik yang kurang
bahkan tidak demokratis yang berdampak pada berbagai persoalan di lapangan. Krisis
politik yang saat ini terjadi di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari penataan sistem
politik yang kurang demokratis. Maka perlu dilakukan pembaharuan politik yang
menyangkut berbagai masalah penting seperti:





UUD NRI 1945 yang merupakan sumber hukum dan acuan pokok
penyelenggaraan pemerintahan maka dalam penyelenggaraannya harus
dilakukan untuk mendukung terwujudnya good governance. Konsep good
governance itu dilakukan dalam pemilihan presiden langsung, memperjelas
susunan dan kedudukan MPR dan DPR, kemandirian lembaga peradilan,
kemandirian kejaksaan agung dan penambahan pasal-pasal tentang hak asasi
manusia.
Perubahan UU Politik dan UU Keormasan yang lebih menjamin partisipasi dan
mencerminkan keterwakilan rakyat.
Reformasi agraria dan perburuhan
Mempercepat penghapusan peran sosial politik TNI
Penegakan supremasi hukum
2. Ekonomi
Ekonomi Indonesia memang sempat terlepas dari krisis global yang bahkan bisa
menimpa Amerika Serikat. Namun keadaan Indonesia saat ini masih terbilang krisis
karena masih banyaknya pihak yang belum sejahtera dengan ekonomi ekonomi rakyat.
Hal ini dikarenakan krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila
tidak teratasi akan mengganggu kinerja pemerintahan secara menyeluruh. Permasalahan
krisis ekonomi di Indonesia masih berlanjut sehingga perlu dilahirkan kebijakan untuk
segera
.
3. Sosial
Masyarakat yang sejahtera dengan terwujudnya setiap kepentingan masyarakat yang
tercover dalam kepentingan umum adalah perwujudan nyata good governance.
Masyarakat selain menuntut perealisasikan haknya tetapi juga harus memikirkan
kewajibannya dengan berpartisipasi aktif dalam menentukan berbagai kebijakan
pemerintahan. Hal ini sebagai langkah nyata menjalankan fungsi pengawasan yang
2016
3
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Namun keadaan Indonesia
saat ini masih belum mampu memberikan kedudukan masyarakat yang berdaya di
hadapan negara. Karena diberbagai bidang yang didasari kepentingan sosial masih
banyak timbul masalah sosial. Sesuai dengan UUD NRI Pasal 28 bahwa “Kemerdekaan
berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Masyarakat diberikan kesempatan
untuk membentuk golongan dengan tujuan tertentu selama tidak bertentangan dengan
tujuan negara. Namun konflik antar golongan yang masih sering terjadi sangat kecil
kemungkinan good governance bisa ditegakkan. Maka good governance harus
ditegakkan dengan keadaan masyarakat dengan konflik antar golongan tersebut
4. Hukum
Dalam menjalankan pemerintahan pejabat negara memakai hukum sebagai istrumen
mewujudkan tujuan negara. Hukum adalah bagian penting dalam penegakan good
governance. Setiap kelemahan sistem hukum akan memberikan influence terhadap
kinerja pemerintahan secara keseluruhan. Karena good governanance tidak akan dapat
berjalan dengan baik dengan hukum yang lemah. Penguatan sistem hukum atau
reformasi hukum merupakan kebutuhan mutlak bagi terwujudnya good governance.
Hukum saat ini lebih dianggap sebagai komiditi daripada lembaga penegak keadilan dan
kalangan kapitalis lainnya. Kenyataan ini yang membuat ketidakpercayaan dan
ketidaktaatan pada hukum oleh masyarakat.
Good governance diartikans sebagai tindakan atau tingkah laku yang didasarkan pada
nilai-nilai yangbersifat mengarahkan, mengendalikan dan memperngaruhi masalah
public untuk mewujudkan nilai-nilai dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari .Good
govermant adalah suatu kesepakatan menyangkut pengaturan negara yang diciptakan
bersama pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Prinsip-prinsip good governance, yaitu :
1. Partisipasi (participation) bahwa msyarakat berhak dalam pengambilan keputusan
baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah untuk mewakili
kepentingan mereka.
2. penegakan hukum sebagaimana karakter penagakan hukum yaitu, a) supremasi
hukum the supremacy of law, b). keputusan hakim legal certaintly. c). hukum yang
responsive. d). penegakan hukum yang konsisten dan non diskriminatif. E)
independensi peradilan.
3. Transparansi (transparency) menurut Gaffar bahwa delapan aspek penyelenggaraan
negara yang harus ditransparansikan, yaitu ; A) penetapan posisi, jabatan atau
kedudukan. B) kekayaan pejabat public. C) pemberian pengharhgaan. D) penetapan
kebijakan yang terkait dengan pencerahan kehidupan. E) kesehatan. F) moralitas para
pejabat dan aparatur pelayanan public. G) keamanan dan ketertiban. H) kebijakan
strategis untuk pencerahan kehidupan masyarakat.
2016
4
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
4. responsive (responsiveness) yakni pemerintah harus pekah dan cepat tanggap
terhadap persoalan-persoalan masyarakat.
5. Konsensus (consensus orientation) yakni pengambilan keputusan secara musyawarah
dans emaksimal mungkin berdasarkan kesepakatan bersama.
6. kesetaraan dan keadilan (equity) yaitu kesetaraan dan keadilan baik suku, agama, ras,
etnik, budaya, geopolitik, dan lain sebagainya.
7. efektifitas (effectiveness) dan efesiensi (efficiency) atau tepat guna dan tepat waktu
8. akuntabilitas (accountability) artinya pertanggung jawaban pejabat public terhadap
masyarakat yang memberikan delegasi atau kewenangan dalam berbagai urusan untuk
kepentinganmereka.
9. visi strategis (strategic vision) adalah pandangan-pandangan strategis untuk
menghadapi masa akan datang
Eksistensi dan Penegakan Hukum Mewujudkan Good Governance di
Indonesia
Mewujudkan konsep good governance dapat dilakukan dengan mencapai keadaan yang
baik dan sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil dalam
pengelolaan sumber-sumber alam, sosial, lingkungan dan ekonomi. Prasyarat minimal
untuk mencapai good governance adalah adanya transparansi, akuntabilitas, partisipasi,
pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, dan keadilan. Kebijakan publik yang
dikeluarkan oleh pemerintah harus transparan, efektif dan efisien, serta mampu
menjawab ketentuan dasar keadilan. Sebagai bentuk penyelenggaraan negara yang baik
maka harus keterlibatan masyarakat di setiap jenjang proses pengambilan keputusan.
Namun dalam mengeluarkan kebijakan publik masih dikeluarkan produk hukum berupa
keputusan, kebijakan, dan/atau ketetapan yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum
yang berlaku. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ketentuan hukum yang berlaku
adalah syarat lahirnya kebijakan publik dan sesuai dengan kewenangan pejabat negara
yang melahirkan kebijakan publik tersebut. Pengawasan adalah salah satu caranya
dalam rangka mewujudkan good governance. Pengawasan terhadap pejabat negara atas
setiap kebijakan yang berdampak pada masyarakat baik personal, kelompok, maupun
masyarakat pada umumnya. Jika dilahirkannya sengketa atas kebijakan publik yang
dikeluarkan maka disinilah fungsi lembaga kehakiman. Dalam Undang-Undang No. 9
tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 5 tahun 1986 Tentang
Peradilan Tata Usaha Negara (UU No. 9 tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 5
tahun 1986 tentang PTUN) pasal 4 disebutkan “Peradilan Tata Usaha Negara adalah
salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa
Tata Usaha Negara”.
2016
5
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) melahirkan keputusan untuk menyelesaikan
sebuah produk hukum yang dinilai ilegal. PTUN berperan menjalankan prinsip-prinsip
good governance melalui fungsinya sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Adapun
prinsip good governance tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ekonomi
Mencakup proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi tidak hanya kegiatan
ekonomi dan faktor-faktor terkait lainnya, namun hal-hal lainnya menyangkut isu
keadilan, kemiskinan dan kualitas hidup.
2. Politik
Mempertimbangkan keseluruhan proses pengambilan keputusan dalam bentuk
penyusunan kebijakan.
3. Administrasi
Berkaitan dengan sistem implementasi kebijaksanaan di tingkat nasional dan regional.
Konsep good governance dapat diartikan menjadi acuan untuk proses dan struktur
hubungan politik dan sosial ekonomi yang baik. Human interest adalah faktor terkuat
yang saat ini mempengaruhi baik buruknya dan tercapai atau tidaknya sebuah negara
serta pemerintahan yang baik. Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan
bahwa setiap manusia memiliki kepentingan. Baik kepentingan individu, kelompok,
dan/atau kepentingan masyarakat nasional bahkan internasional. Dalam rangka
mewujudkan setiap kepentingan tersebut selalu terjadi benturan. Begitu juga dalam
merealisasikan apa yang namanya “good governance” benturan kepentingan selalu
lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak dan sekat antar individu dan kelompok
yang membuat sulit tercapainya kata “sepakat”.
Sesuai dengan UUD NRI 1945 Pasal 28 bahwa “Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan
dengan undang-undang”, dan Pasal 28E yaitu “Setiap orang berhak atas kebebasan
berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Dalam ketentuan dua pasal dalam
konstitusi tersebut dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk
berserikat. Serikat dalam bentuk kelompok itu memiliki kepentingan masing-masing
yang pada kenyataannya hak berserikat disalahgunakan. Kepentingan setiap individu
yang terkoalisi dalam kepentingan umum yang seharusnya menjadi hal utama malah
terbiaskan menjadi hal yang kedua yang harus didahulukan. Dalam pembuatan UU
misalnya, sesuai dengan pernyataan Mahfud MD selaku Ketua Mahkamah Konstitusi
bahwa sering terjadinya “pesan pasal” dalam pembuatan sebuah regulasi. Kepentingan
partai politiklah yang mendorong pencorengan citra pejabat politik seperti itu bisa
terjadi.
Pengambilan keputusan untuk melahirkan sebuah produk harus diambil pada tingkat
yang serendah mungkin dengan pengambilan tindakan yang efektif. Hukum memiliki
2016
6
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
fungsi sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan negara yang termuat dalam
Pembukaan UUD NRI 1945, yaitu :
1.
2.
3.
4.
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
Setiap warga negara Indonesia menginginkan dreams come true untuk good
governance, hukum adalah alat negara untuk membuat itu bisa terjadi. Sebagai negara
hukum sebagai disebutkan dalam UUD NRI 1945 Pasal 1 ayat (3) maka Indonesia
harusnya hidup dalam penyelenggaraan negara yang baik. Dengan good governance
juga diharapkan tercipta format politik yang demokratis yang dilandasi oleh kedaulatan
rakyat dan menekankan perlindungan hak-hak dasar warga negara.
Hukum dan penegakannya yang baik adalah problem solving untuk mencapai
penyelenggaraan negara yang baik. Hubungan yang baik antara pemerintah dengan
masyarakat juga adalah jawaban untuk good governance. Partisipasi masyarakat umum
dalam penyelenggaraan negara memberikan jaminan bisa tercapainya Indonesia yang
lebih baik yang sampai saat ini masih menjadi mimpi. Kelompok masyarakat miskin
dan marjinal sangat ingin didengar suaranya. Mereka juga diberikan kesempatan untuk
berperan aktif dalam menjalankan setiap ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan
pemerintah. Masyarakat tidak hanya menunggu haknya diwujudkan tetapi juga
menjalankan haknya. Pemerintah juga tidak hanya memberikan perintah dalam bentuk
peraturan tetapi juga memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Dengan keadaan Indonesia seperti saat ini banyak hal mendasar yang harus dibenahi
yang kompleks dan membutuhkan waktu. Politik yang bertujuan untuk penegakan
demokrasi harus dilakukan, menegakkan hak asasi manusia (HAM), memperbaiki
pandangan dan merubah wawasan masyarakat yang sempit dan primordial menjadi
wawasan yang luas dan universal. Setiap komponen masyarakat mempunyai hak dan
kewajiban yang sama yang ditegakkannya dan diberlakukan sesuai hukum yang berlaku
(law in order dan law inforcement). Good governance sangat membutuhkan masyarakat
yang aktif dan peduli untuk dapat mengawasi (function of controlling) kinerja
pemerintah.
Demi mennggapai mimpi pemerintahan yang baik, reformasi birokrasi juga menjadi
salah satu jawaban. Menuju nagara dan pemerintahn yang baik tentu harus memiliki
birokrasi yang berkompeten agar memicu usaha peningkatan kapasitas dan kwalitas
birokrasi. Tidak lagi dengan birokrasi yang cenderung berbelit-belit, dipersulit dan
lama. Banyak jalur birokrasi yang harus dipangkas dan beberapa jalan pintas yang legal
dan bisa ditenpuh dalam mencapai birokrasi yang mudah dan cepat. Hal ini tentu akan
berdampak pada mininya celah terjadinya korupsi melalui administrasi.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara
bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan
2016
7
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara. Negara
berperan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dengan sistem peradilan
yang baik dan sistem pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban kepada publik.
Meruju pada 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan. Dalam pembangunan ekonomi,
lingkungan, dan pembangunan manusia. Good governance menyentuh 3 (tiga) pihak
yaitu pihak pemerintah (penyelenggara negara), pihak korporat atau dunia usaha
(penggerak ekonomi), dan masyarakat sipil (menemukan kesesuaiannya). Ketiga pihak
tersebut saling berperan dan mempengaruhi dalam penyelenggaraan negara yang baik.
Sinkronisasi dan harmonisasi antar pihak tersebut menjadi jawaban besar. Namun
dengan keadaan Indonesia saat ini masih sulit untuk bisa terjadi.
Tata pemerintahan yang baik dibangun dengan dasar pengelolaan pengaturan lembaga
yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Partisipasi masyarakat, supremasi
hukum, dan transparansi bagian-bagian penting yang mendorong pemerintahan yang
baik bisa dicapai. Respon yang baik antara pemerintah, masyarakat demi pemerintahan
yang efektif dan efisien dalam mengeluarkan kebijakan akan memberikan pandangan
baik kepada masyarakat atas akuntabilitas kinerja pemerintah.
Keterlibatan masyarakat dalam berbagai keputusan publik dalam proses penegakan
hukum yang bersifat fair dan adil belum kunjung mampu dibuktikan dalam dunia nyata.
Masih menjadi kata-kata manis yang keluar dari mulut masyarakat dan pemerintah.
Transparansi dalam tata kelola arus informasi yang transparan dan akses publik yang
dapat dipertanggungjawabkan juga hanya sebatas angan-angan. Sampai dicapainya
kesepakatan atas perbedaan-perbedaan kepentingan yang terjadi diantara stakeholder
maka good governance hanya akan menjadi mimpi indah sulit untuk terjadi. Indonesia
jangan sampai terjatuh karena menggantungkan mimpi yang terlalu tinggi. Pelaksanaan
tata pemerintahan yang baik maka seharusnya memperhatikan bagaimana mengelola
sumberdaya lembaga yang ada agar sesuai dengan kebutuhan yang ada dan tujuan yang
ingin dicapai, sehingga efisiensi kerja dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang
direncanakan.
Good governance sebagai acuan untuk menentukan suatu bentuk kepemerintahan suatu
negara berjalan dengan baik atau tidak. Lalu dengan keadaan negara yang banyak
mendapat kritikan yang buruk saat ini. Membuat pemerintahan yang baik sesungguhnya
ditentukan oleh indikator yang cenderung belum jelas. Keadaan negara dan sistem
pemerintahan yang buruk saat ini seharusnya ditanggapi dengan dewasa. Bukan dengan
respon yang saling menyalahkan antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah yang
berperan sebagai regulator dan memastikan praktek pemerintahan yang dilakukan sesuai
dengan prinsip-prinsip good governance. Tidaklah bijak membuat kesimpulan bahwa
rakyat tidak menjalan regulasi yang sudah diturunkan dari singgasana pemerintahan.
Pemerintah juga harus bisa memastikan bahwa penegakan hukum dan penghormatan
kepada HAM telah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan kaidah yang benar.
Masyarakat tidak bisa hanya bergerak aktif menyalahkan pemerintah tanpa beralasan
kuat dengan dasar hukum yang baik. Masyarakat mempunyai daya kontrol yang
tangguh dalam tata pelaksanaan pemerintahan berkaitan dengan pelayanan publik.
Masyarakat mandiri dan bekerja secara independen serta tidak mudah dipengaruhi
adalah perlengkapan perang yang harus dikenakan untuk meningkatkan tingkat
partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pemerintahan.
2016
8
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dalam keberlanjutan dilaksanakannya tata kelola pemerintahan yang baik harus
dipastikan terlebih dahulu orientasi pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan publik
sebagai bukti transparansi. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, faktor internal
dan eksternal dalam pemerintah juga harus diperhatikan. Dengan menjalankan prinsipprinsip good governance dan mempersiapkan langkah preventif. Pemerintahan yang
baik dan bersih tidak akan lagi menjadi mimpi indah yang tentu harus dibarengi dengan
konsistensi hubungan baik pemerintah dan masyarakat. Penyelenggaraan pemerintahan
yang baik harus sesuai dengan AUPB sebagai tertuang dalam Pasal 1 angka 6 UU No.
28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme yaitu “Asas Umum Pemerintahan Negara yang Baik adalah asas
yang menjunjung tinggi norma kesusilaan, kepatutan, dan norma hukum, untuk
mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan
nepotisme”.
Dengan berbagai statement negatif yang dilontarkan terhadap pemerintah atas keadaan
Indonesia saat ini. Banyak hal mendasar yang harus diperbaiki, yang berpengaruh
terhadap clean and good governance, diantaranya:

Integritas Pelaku Pemerintahan
Peran pemerintah yang sangat berpengaruh, maka integritas dari para pelaku
pemerintahan cukup tinggi tidak akan terpengaruh walaupun ada kesempatan untuk
melakukan penyimpangan misalnya korupsi.

Kondisi Politik dalam Negeri
Jangan menjadi dianggap lumra setiap hambatan dan masalah yang dihadirkan oleh
politik. Bagi terwujudnya good governance konsep politik yang tidak/kurang
demokratis yang berimplikasi pada berbagai persoalan di lapangan. Maka tentu harus
segera dilakukan perbaikan.

Kondisi Ekonomi Masyarakat
Krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila tidak teratasi akan
mengganggu kinerja pemerintahan secara menyeluruh.

Kondisi Sosial Masyarakat
Masyarakat yang solid dan berpartisipasi aktif akan sangat menentukan berbagai
kebijakan pemerintahan. Khususnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang
merupakan perwujudan riil good governance. Masyarakat juga menjalankan fungsi
pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Namun
jika masyarakat yang belum berdaya di hadapan negara, dan masih banyak timbul
masalah sosial di dalamnya seperti konflik dan anarkisme kelompok, akan sangat kecil
kemungkinan good governance bisa ditegakkan.

2016
Sistem Hukum
9
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Menjadi bagian yang tidak terpisahkan disetiap penyelenggaraan negara. Hukum
merupakan faktor penting dalam penegakan good governance. Kelemahan sistem
hukum akan berpengaruh besar terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan.
Good governanance tidak akan berjalan dengan baik di atas sistem hukum yang lemah.
Oleh karena itu penguatan sistim hukum atau reformasi hukum merupakan kebutuhan
mutlak bagi terwujudnya good governance.
Mencari orang yang jujur dan memilik integritas tinggi sama halnya dengan mencari
jarum dalam tumpukan jerami. Memilih aparatur atau pelaku pemerintahan yang unggul
akan berpengaruh baik dengan penyelenggaraan negara. Korupsi yang masih tetap eksis
sampai saat ini adalah salahsatu faktor yang mempersulit dicapainya good governance.
Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) menjadi agenda wajib yang tidak
pernah lelah untuk dilakukan. Inilah satu hal yang tidak boleh dilewatkan untuk
mencapai pemerintahan yang baik. Mencegah (preventif) dan menanggulangi (represif)
adalah dua upaya yang dilakukan. Pencegahan dilakukan dengan memberi jaminan
hukum bagi perwujudan pemerintahan terbuka (open government). Jaminan kepada hak
publik seperti hak mengamati perilaku pejabat, hak memperoleh akses informasi, hak
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan hak mengajukan keberatan bila ketiga
hak di atas tidak dipenuhi secara memadai. Jaminan yang diberikan jika memang benarbenar bisa disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Good governance diyakini
bisa terjadi apabila hal tersebut memang bisa dilakukan. Sedangkan penanggulangan
dapat dilakukan dengan mempercepat pembentukan Badan Independen untuk mengatasi
KKN. Badan tersebut berfungsi melakukan penyidikan dan penuntutan kasus KKN.
Saat ini yang benar-benar sudah terrealisasi adalah pembentukan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) yang memperkenalkan hakim-hakim khusus yang diangkat khusus
untuk kasus korupsi (hakim ad hock) dan memperlakukan asas pembuktian terbalik
secara penuh.
Banyak pihak yang pada dasarnya memiliki peran masing-masing untuk menjalankan
dan menjadi problem solving atas good governance yang sampai saat ini belum tercapai
sepenuhnya. Dalam bidang ekonomi transparansi setiap anggaran baik daerah maupun
nasional sangat diharapkan oleh masyarakat. Mengembalikan kepercayaan terhadap
perekonomian Indonesia maka harus bisa menunjukkan keadilan, kemanfaatan, dan
kepastian hukum. Jaminan keamanan dan penegakkan hukum bagi seluruh masyarakat,
konsistensi, disiplin dan kejelasan kebijakan pemerintah, integritas dan profesionalisme
birokrat, stabilitas sosial dan politik, dan adanya kepemimpinan nasional yang kuat
adalah hal-hal penting dalam pemerintahan yang baik. Fungsi dan kinerja Lembaga
Sosial Masyarakat (LSM) juga dimaksimalkan untuk memonitoring penegakan
kebijakan pemerintah. Kemandirian lembaga peradilan juga tentu harus ditingkatkan
demi perbaikan masalah sosial. Oleh karena itu masyarakat bersama pemerintah harus
melakukan tindakan pencegahan terhadap daerah lain yang menyimpan potensi konflik.
Konstitusi sebagai sumber hukum bagi seluruh tata penyelenggaran negara. Perlu
dilakukan penataan ulang sistem hukum yang benar. Diawali dari penataan konstitusi
yang oleh banyak kalangan masih banyak mengandung celah kelemahan. Salah satunya
oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai salah satu lembaga kekuasaan kehakiman
berperan lebih maksimal agar masyarakat dapat mengadukan/mengkritisi masalahmasalah yang berkaitan dengan konstitusi. Sedangkan PTUN hanya mengatasi masalah
2016
10
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bila adanya sengketa PTUN dan sebagai langkah pencegahan mengurungkan niat
pejabat negara menyebabkan terjadinya sengketa TUN.
DAFTAR PUSTAKA
Luluhima, Globalisasi dan Manajemen Politik Luar Negeri, 2005
Mar’ie Muhammad, Indonesia menghadapi Abad XXI, Makalah Pada Forum Ilmiah ITB 2005
Sulistyo Dkk, Good Corporate Governance: Berhasilkah Diretpkan di Indonesia, Jurnal Widya
Warta, 2003
Sedarmayanti, Good Governance dalam Rangka Otonomi Daerah, Bandung : Mandar Maju,
2003
2016
11
Good Governance
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download