asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan bayi berat badan

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN BAYI
BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI BIDAN PRAKTIK
MANDIRI (BPM) BIDAN HJ. ENTIN SURYATINI, S.ST
LEUWIDAHU KOTA TASIKMALAYA
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai
Gelar Ahli Madya Kebidanan
Oleh :
TULUS SUCI RAHAYU
NIM. 13DB277138
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
2016
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN
BBLR DI BPM HJ.ENTIN SURYATINI,SST 1
TulusSuciRahayu2Sandriani,SST3Dini Ariani4
INTISARI
BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap
kematian perinatal dan neonatal. Dikemukakan berdasarkan data yang di
dapatkan di BPM Hj. Entin Suryatini SST, pada tahun 2016 dari bulan JanuariApril yaitu jumlah bayi baru lahir sebanyak 32 bayi, dari data tersebut di dapatkan
bayi yang mengalami BBLR sebanyak 41 bayi. Salah satu penyebab mortilitas
pada bayi baru lahir adalah Sindrom aspirasi mekoneum, hipoglikemia,
hiperbilirubinema, dan hipotermia ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan BBLR.
Tujuan penyusunan laporan tugas akhir ini untuk memperoleh
pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
dengan BBLR, menggunakan pendekatan proses manajemen kebidanan.
Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan BBLR ini dilakukan di BPM Hj.
Entin Suryatini SST.
Dari hasil penyusunan laporan tugas akhir ini mendapatkan gambaran
dan pengalaman nyata dalam pembuatan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
dengan BBLR. Kesimpulan dari hasil pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi
baru lahir dengan BBLR di BPM Hj. Entin Suryatini SST dilaksanakan sesuai
kewenangan bidan.
Kata kunci
: BBLR
Kepustakaan : 13 buku (2006-2015), 10 Media Elektronik
Halaman
:i-xii, 62 Halaman, 8 Lampiran
1
Judul PenulisanI lmiah2Mahasiswa STIKes Muhammadiyah
Ciamis3Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakangMasalah
Masa neonatal adalahmasasejaklahirsampaidengan 4 minggu (28
hari)
sesudahkelahiran.Neonatusadalahbayiberumur
0
(barulahir)
sampaidenganusia 1 bulansesudahlahir. Neonatusdiniadalahbayiberusia 0-7
hari.Neonatuslanjutadalahbayiberusia 7-28 hari. (WafiNurMuslihatun, 2010).
Padawaktukelahiran,
tubuhbayibarulahirmengalamisejumlahadaptasipsikologis.Bayimemerlukanpe
mantauantetapuntukmenentukanmasatransisikehidupannyakekehidupanluar
uterus
berlangsungbaik.Bayibarulahirjugamembutuhkanasuhan
yang
dapatmeningkatkankesempatanuntuknyamenjalanimasatransisidenganbaik
(Muslihatun, 2010).
BayiBeratLahirRendah
(BBLR)
adalahbayi
yang
lahirdenganberatbadanlahirkurangdari
2500
gram.Pertumbuhandanpematangan
(maturasi)
organ
danalat-
alattubuhbelumsempurna.BBLR
akibatnyaseringmengalamikomplikasidanseringberujungpadakematian
(Harsono, 2011).
BBLR
biasanyamemerlukanperawatan
yang
sangatistimewadimanamemerlukaninkubatordandalampengawasanketat
ruang
Neonatal
Intensive
Care
di
Unit
(NICU).BayiberatBadanlahirrendahdengantubuh
yang
kecilsangatsensitifterhadapperubahansuhu,
olehkarenaitulahbayiperludimasukkankedalaminkubator
yang
telahdiaturkestabilansuhunya (Proverawati, 2010).
Prevalensi
BBLR
secara
hinggasaatinimasihtetapberadadikisaran
lahirhidupsetiaptahunya.
jutabayimengalami
WHO
BBLR
10-20%
(2011)
global
dariseluruhbayi
memperkirakansekitar
setiaptahundanhampir
5%
terjadi
yang
25
di
negaramajusedangkan 95% terjadi di negaraberkembang. Di India prevalensi
BBLR mencapai 26%, dan di AmerikaSerikatmencapai 7%.Di seluruhdunia,
1
2
kematianbayiadalah 20 kali lebihbesarpadabayi yang mengalami BBLR
dibandingkandengan yang tidak BBLR (Jayant, 2011).
Untukangkakematianbayi
2013
BadanPusatStatistik
(BPS)
melakukanpublikasisesuaidengan SDKI 2012, dimanaprovinsiJawa Barat
mempunyaiangkakematianbayisebesar
30
per
1000
kelahiranhidupdibandingkanangkakematianbayi
makaterjadipenurunansebesar
6
poin,
2009,
yaitudari
36
per
1000
kelahiranhidupmenjadi 30 per 1000 kelahiran (ProfilkesehatanJabar 2013).
ProporsiKematianBayi
di
ProvinsiJawa
setiaptahunmengalamipenurunansebesar
9,1%
Barat
dari
tahun
4.803
2013
tahun2012
menjadi 4.108 tahun 2013 denganjumlahkelahiranhidupsebanyak 943.962
jiwa,
lima
kabupatendenganproporsikematianbayitertinggiterdapat
kotaBanjar,
KabupatenMajalengka,
KabupatenTasikmalaya,
di
KabupatenIndramayu,
danKabupatenSukabumi
(ProfilKesehatanJabar,
2013).
SementaraDinasKesehatan
Kota
Tasikmalayatahun
2015
angkakematianbayiyaitu 118 Penyebabutamakematianbayiyaitu BBLR 41,
Ikterus 1, asfiksia 29, kelainankongenital 12, phenomonia 5, diagnosa lain 24,
dansepsis 5. (Dinkes, Tasikmalaya 2015).
Data di BidanPraktikMandiri (BPM) BidanHj. EntinSuryatini, S.ST
Leuwidahu
Kota
Tasikmalayamemilikikunjunganbayibarulahir
yang
relatiftinggidengan rata-rata kunjungandenganjumlah 103 bayipadatahun
2015. Bayidengan BBLR sebanyak 20 bayi (Data bukukunjunganbayi).
Seperti
yang
di
terangkandalam
Al-Qur’an
sebagaipedomanhidupumatislamyaitudalamAl Qur’an Surat Az Zumar Ayat 6
yaitu :
3
Artinya:Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan
daripadanyaistrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang
berpasangandari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadiandemi kejadian dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam
tigakegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu,
Tuhanyang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selainDia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan. (QS. Az Zumar; 06)
Makna yang dikandungnya :
Berdasarkan ayat di atas mengandung beberapa makna bahwa
sesungguhnya asal manusia dari satu jiwa (Adam). Kemudian Allah
menciptakan dari diri Adam pasangan hidupnya (Hawa). Kemudian dari
keduanya
lahirlah
manusia-manusia
sampai
sekarang.
Allah
juga
menciptakan binatang secara berpasangan. Jantan dan betina. Dari hasil
perkawinan keduanya berkembanglah binatang di muka bumi ini.Allah
menciptakan manusia dengan berbagai peristiwa dalam perut ibunya.
Peristiwa-peristiwa itu merupakan proses penciptaan manusia, mulai dari
nutfah (cairan sperma), 'alaqah (segumpal darah), kemudian menjadi
mudghah (segumpal daging). Setelah itu Allah memasukkan roh pada jasad
tersebut sehingga bernyawa.Tiga kegelapan yang dimaksud dalam ayat di
atas adalah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim dan kegelapan
dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.Inilah proses penciptaan
manusia, berasal dari bahan yang hina. Tidak ada yang perlu dibanggakan
oleh manusia dan manusia akan kembali kepada kehinaan, kecuali orang
yang beriman dan beramal shaleh.Semua ini adalah kekuasaan Allah. Tak
seorang pun sanggup melakukannya, selain dia.Kita tak mungkin berpaling
dari kekuasaan-Nya. Dialah Tuhan kita. Tak ada Tuhan selain Dia.
Bayibarulahirdenganberatbadannyakurangdari
2500
gram
disebutdenganBayiBeratBadanLahirRendah
(BBLR)
kelahiranbayiberatbadanlahirrendahterusmeningkatpertahunnya
negaramajusepertiAmerikaSerikat,
sedangkan
kelahiranbayiberatbadanlahir
diikuti
rendah
di
kematian
di
Indonesia
bayi,
sehingga
kelahiran bayi berat badan lahir rendah tidak bisa diabaikan (Surasmi,2010).
BayiBeratBadanLahirRendah
lahirdenganberatbadankurangdari
(BBLR)
adalahbayi
2500
dibandingkandenganberatbadanseharusnyauntukmasagestasibayiitu.
yang
gram
4
Beratbadanlahirrendah
(kurangdari
merupakansalahsatufaktorutama
yang
2500
gram)
berkontribusiterhadapkematian
perinatal dan neonatal.Beratbadanlahirrendah (BBLR) di bedakandalam 2
kategoriyaitu : BBLR karenaprematur (usiakandungankurangdari 37 minggu)
BBLR
karenaintrauterin
growth
retardation
(IUGR)
yaitubayicukupbulantetapiberatkuranguntukusianya (DepKes RI. 2010).
AngkaKematianBayimenjadisesuatu
yang
pentinguntukdicegahkarenamasihmerupakanmasalah
di
bidangkesehatan.Kualitaskehidupanbayisecaratidaklangsungakanmenjadiest
imasikualitaskehidupanbangsa di masa yang akandatang. Selainitu, AKB
turutmenjadisalahsatuindikatordalammenilaitingkatkesejahteraandanderajatk
esehatansuatubangsa.Setiapkeluargamendambakehadirandankelahiranbayi
yang
akanmeneruskansilsilahkeluarga.
inisudahmenjadi
Olehkarenaitu,
permasalahanbangsa,
masalah
negara,
AKB
ataupundunia,
melainkanjugamenjadipermasalahankeluarga(Sariana,2010).
Makadariitu,
upayapenurunan
AKB
inijugamerupakantanggungjawabkeluargasebagailingkuporganisasi
yang
pertama.Membangunkesadarankeluargadalammemeliharadanmemperhatika
nkesehatanbayisejaksedinimungkinmerupakanupayapertama
kemudianakanmemudahkanpengorganisasian
ataupunkebijakan
yang
program-program
pemerintahdalammenurunkan
AKB,
khususnyadalamrangkapencapaian target MDGs pada 2015 (Sariana,2010).
Pertumbuhandanpematangan
(maturasi)
organ
danalat-
alattubuhbelumsempurna.
BBLR
akibatnyaseringmengalamikomplikasidanseringberujungpadakematian
(Harsono, 2011).
BerdasarkanhasilpenelitianparapakarPerinatologididapatkananalisiste
rkinibahwasekitartigajutakematianbayidenganbayiberatlahirrendah
(BBLR)
dapatdicegahdenganmenggunakanintervensidengantepatgunayaitupeawata
nmetodekanguru (Pratomo, 2006).
Berdasarkan
data
kasus
terjadidenganjumlahmasalahbayiberatlahirrendah
cukupbanyakpenulistertarikuntukmengambilstudikasusdenganjudul
yang
yang
5
“AsuhanKebidananpadabayi baru lahir denganBayiBeratBadanLahirRendah
(BBLR) di BPM Hj. EntinSuryatini, S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya”.
B. RumusanMasalah
Latarbelakangdiatas,
memberikanlandasanbagipenulisuntukmembuatrumusanmasalah,
“Bagaimanaasuhankebidananpadabayibarulahirdenganbayiberatbadanlahirr
endah (BBLR) di BidanPraktikMandiriBidanHj.EntinSuryatini,S.STLeuwidahu
Kota Tasikmalaya” .
C. Tujuan
1. Tujuanumum
Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan bayi
berat badan lahir rendah (BBLR) dengan pendekatan manajemen
langkah-langkah varney dan mendokumentasikan dalam bentuk SOAP.
2. Tujuankhusus
a. Mengkaji data subjektif dan obektif pada bayi baru lahir dengan bayi
berat badan lahir rendah di Bidan Praktik Mandiri Bidan Hj. Entin
Suryatini, S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
b. Menentukan interprestasi data pada bayi baru lahir dengan bayi berat
badan lahir rendah di Bidan Praktik Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini,
S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
c. Melakukan identifikasi diagnosa atau potensial masalah pada bayi
baru lahir dengan bayi berat badan lahir rendah di Bidan Praktik
Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini, S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
d. Mengidentifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan pada bayi
baru lahir dengan bayi berat badan lahir rendah di Bidan Praktik
Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini, S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
e. Membuat perencanaan pada bayi baru lahir dengan bayi berat badan
lahir rendah di Bidan Praktik Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini, S.ST
Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
f.
Memberikan
asuhan
secara
tepat
dan
rasional
berdasarkan
perencanaan yang dibuat pada bayi baru lahir dengan bayi berat
badan lahir rendah di Bidan Praktik Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini,
S.ST Leuwidahu Kota Tasikmalaya.
6
g. Mengetahui hasil atau evaluasi asuhan kebidanan yang telah
diberikan pada bayi baru lahir dengan bayi berat badan lahir rendah di
BidanPraktik Mandiri Bidan Hj. Entin Suryatini, S.ST Leuwidahu Kota
Tasikmalaya.
D. Manfaat
1. BagiLahanPraktik
Manfaatbagilahanpraktik,
dapatmempertahankansemuapelayanan
yang
sudahmaksimaldandapatmeningkatkanpelayanankebidananpadakliensec
arakomprehensif,
sehinggakliendapatmerasapuasdansenangataspelayanan
yang
telahdiberikan.
2. BagiInstitusiPendidikan
Dapatmemberikanmanfaatbagilembagapendidikanuntukmengemba
ngkanmateriperkuliahankebidanandansebagaibahaninformasiuntukmelak
ukanasuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Teori
1. Neonatus
a. Pengertian
Neonatus atau bayi baru lahir adalah mulai dari lahir sampai
usia satu bulan periode neonatal adalah bulan pertama selama
periode neonatal bayi mengalamai pertumbuhan dan perubahan
(Hamilton,2010).
Bayi baru lahir (Neonatal) adalah bayi dari lahir sampai usia 4
minggu, lahir biasanya dengan usia kehamilan 38-42 minggu. Bayi
baru lahir harus memenuhi sejumlah tugas perkembangan untuk
memperoleh dan mempertahankan ekstensi fisik secara terpisah dari
ibunya (Wong,2009).
b. Ruang Lingkup
Dalam ruang lingkup Asuhan Neonatus terdapat suatu
kelainan kongenital. Kelainan kongenital adalah kelainan dalam
pertumbuhan janin yang terjadi sejak konsepsi dan selama dalam
kandungan. Diperkirakan 10-20% dari kematian janin
dalam
kandungan dan kematian neonatal disebabkan oleh kelainan
kongenital. Khususnya pada bayi berat badan lahir rendah
diperkirakan kira-kira 20% diantaranya meninggal karena kelainan
kongenital dalam minggu pertama kehidupannya (Saifuddin,2009).
B. Konsep Dasar BBLR
1. Pengertian
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi.Berat lahir
adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.
Dari pengertian tersebut bayi BBLR dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu:
7
8
a. Prematuritas Murni
Bayi lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai berat badan untuk masa kehamilan atau disebut
Neonatus Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK) (Walyani,
2015).
b. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa kehamilan. Dismatur dapat terjadi pada preterm,
aterm, dan posterm. Dismatur sering disebut juga Neonatus Kurang
Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NKB-KMK). (Wahyuni, 2009).
2. Bayi Prematuritas
Kelahiran bayi prematur BBLR merupakan salah satu masalah
kesehatan utama dalam masyarakat dan merupakan penyebab utama
kematian neonatal serta gangguan perkembangan saraf dalam jangka
panjang.Penelitian epidemiologi dan mikrobiologi-imunologi akhir-akhir ini
telah mengatakan bahwa penyakit periodontal dapat menjadi faktor risiko
untuk terjadinya kelahiran bayi prematur BBLR. Mekanismenya mencakup
perpindahan patogen periodontal ke jaringan plasenta serta aksi dari
lipopolisakarida dan mediator inflamasi.
Defenisi Bayi Prematur Berberat Badan Lahir Rendah Usia
kehamilan normal bagi manusia adalah 40 minggu. Menurut World Health
Organization
(WHO), usia
kehamilan
pada bayi yang baru lahir
dikategorikan menjadi prematur, normal, dan lebih bulan. Kelahiran
prematur terjadi sebelum 37 minggu usia kehamilan dan bisa dibagi dalam
moderate premature atau prematur sedang, very premature atau sangat
prematur ,dan extremely premature atau amat sangat prematur. Usia
kehamilan ini dihitung dari hari pertama setelah siklus menstruasi terakhir.
Prematuritas ini juga dibedakan dalam dua kelompok:
a.
Prematuritas murni. Merupakan bayi yang lahir dengan berat badan
sesuai dengan masa kehamilan, seperti masa kehamilan kurang dari
37 minggu dengan berat badan 1800-2000 gram.
9
b.
Bayi dismatur/ small for gestational age. Merupakan bayi dengan berat
badan lahir tidak sesuai dengan masa kehamilan, seperti bayi lahir
setelah sembilan bulan dengan berat badan tidak mencapai 2500
gram.
Faktor Risiko Kelahiran Bayi Prematur Berberat Badan Lahir
Rendah Berbagai faktor telah dikaitkan dengan kelahiran bayi prematur
BBLR. Kurang lebih 25% dari kelahiran bayi prematur berberat badan lahir
rendah terjadi tanpa adanya faktor risiko, yang menunjukkan pemahaman
terbatas mengenai penyebab dan patofisiologi dari masalah tersebut.
Walaupun upaya telah dilakukan untuk mengurangi dampak dari faktor
risiko melalui perawatan sebelum kelahiran, insidens dari kelahiran bayi
prematur BBLR belum berkurang secara signifikan selama dekade terakhir.
Sebagian
besar
kelahiran
prematur
terjadi
tanpa
diketahui
penyebabnya, namun faktor risiko utama yang dikaitkan dengan prematur
BBLR adalah:
1.
Faktor Demografik Ras telah dipelajari secara luas sebagai faktor
risiko selama beberapa tahun. Wanita berkulit hitam mengalami rasio
kelahiran prematur dua kali lebih banyak dari wanita berkulit putih dan
dihitung untuk hampir sepertiga dari seluruh bayi prematur. Selain itu,
usia ibu hamil yang kurang dari 17 tahun atau lebih dari 34 tahun serta
status soal ekonomi yang rendah.
2.
Faktor Tingkah Laku Nutrisi kehamilan yang buruk meningkatkan risiko
kelahiran bayi prematur BBLR. Perokok dan penyalahgunaan obatobatan
berperan
penting
dan
kemungkinan
menghasilkan
vasokontriksi dari uteroplasenta yang mendorong peningkatan rasio
kelahiran tiba-tiba. Perawatan prenatal yang inadekuat juga sering
dihubungkan dengan kelahiran prematur.
3.
Kondisi Medis Kehamilan Sejarah kelahiran prematur pada kehamilan
sebelumnya atau komplikasi perinatal menempatkan wanita pada
risiko yang lebih tinggi untuk kelahiran prematur. Faktanya, kelahiran
prematur pada anak pertama merupakan ramalan terbaik bagi
kelahiran prematur berikutnya. Komplikasi kehamilan lain mencakup
kelainan
uterin
dan
servikal,
trauma,
perdarahan
vagina,
polyhydramnios, ruptur prematur dari membran, dan chorioamnionitis.
10
Penyakit kehamilan akut ataupun kronis seperti infeksi saluran kemih,
hipertensi , preeclampsia, dan diabetes juga merupakan faktor risiko.
4.
Faktor Janin Kehamilan kembar, infeksi kronis janin (seperti infeksi
TORCH yaitu toxoplasmosis, rubella, and cytomegalovirus),dan
anomali kromosom dan kongenital merupakan faktor risiko.
5.
Polusi Udara Paparan polusi udara seperti zat-zat ozon, karbon
monoksida,dan nitrat dioksida, telah dilaporkan dalam beberapa
penelitian meningkatkan risiko kelahiran prematur dalam dosis
tertentu.
6.
Infeksi Infeksi bakteri vaginosis dan intraurin merupakan faktor risiko
umum dari kelahiran prematur. Bakteri vaginosis dapat meningkatkan
faktor risiko kelahiran sangat prematur sebanyak dua kali lipat, dan
infeksi intraurin berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi. Infeksi
yang terlokalisasi pada organ lain selain saluran reproduksi juga
penting, salah satunya infeksi periodontal yang memiliki risiko lebih
dari dua kali lipat untuk kelahiran prematur.
Mekanisme Periodontitis sebagai Faktor yang Mempengaruhi
Kelahiran Bayi Prematur Berberat Badan Lahir Rendah Penyakit
periodontal adalah kelompok penyakit infeksi yang disebabkan oleh
beberapa bakteri terutama oleh bakteri gram-negatif, anaerobik, dan
mikrofilik yang berkolonisasi pada daerah subgingiva.
Dari berbagai hasil penelitian ditemukan empat bakteri yang
berhubungan dengan pematangan plak dan periodontitis progresif, yaitu
Bacterioides
forsythus,
Porphyromonas
gingivalis,
Actinobacillus
actinomycetemcomitans,dan Treponema denticola. Bakteri-bakteri tersebut
ditemukan lebih banyak jumlahnya pada perempuan yang melahirkan bayi
prematur BBLR dibandingkan dengan perempuan yang melahirkan bayi
normal. Bakteri tersebut mampu menghasilkan lipopolisakarida, protein,
dan sitokin pemicu peradangan dalam aliran darah, bakteri tersebut
merupakan bakteri genital yang terdapat pada kasus kelahiran prematur
yang sama dengan bakteri pada penyakit periodontal(Hill,2009).
Offenbacher,dkk melakukan penelitian terhadap 124 ibu hamil dan
ibu yang telah melahirkan. Hasil secara statistik menunjukkan bahwa
penyakit periodontal merupakan faktor risiko kelahiran bayi prematur BBLR
11
dengan odd ratio 7.9 untuk seluruh kasus kelahiran bayi prematur BBLR,
dan 7.5 untuk kasus kelahiran bayi pertama yang prematur BBLR. Dapat
diartikan wanita dengan infeksi periodontal mempunyai risiko tujuh kali
lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur BBLR.
Kelahiran bayi prematur BBLR terjadi sebagai akibat dari infeksi dan
dimediasi secara tidak langsung, terutama oleh perpindahan produk bakteri
seperti endotoksin (lipopolisakarida atau LPS) dan aktivasi dari mediator
inflamasi pada kehamilan. Molekul aktif biologis seperti prostaglandin E2
(PGE2) dan tumor necrosis factor (TNF) terlibat dalam proses kelahiran
normal. Dengan adanya proses infeksi, level sitokin dan PGE2 menjadi
meningkat yang dapat menstimulasi terjadinya kelahiran prematur.
Produk bakteri seperti endotoksin yang dihasilkan bakteri gram
negatif, menstimulasi produksi sitokin dan prostaglandin. Sitokin tertentu
seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor alpha
(TNF-α) menstimulasi sintesa PGE2 dari plasenta dan chorioamnion.
Sitokin ini dapat mencapai peredaran darah, melewati membran plasenta,
masuk ke cairan amnion. Pada kehamilan normal, mediator pada intra
amnion meningkat secara fisiologis sampai batas ambang tercapai pada
titik kelahiran, menyebabkan dilatasi servikal dan kelahiran. Produksi
abnormal dari mediator pada infeksi meningkat pada saat yang tidak tepat
sewaktu kehamilan menyebabkan kontraksi uterin dan ruptur prematur dari
membran memicu terjadinya kelahiran bayi prematur BBLR.
1. Diagnosis dan Gejala Klinik
Menurut Rustam (2006), diagnosis dan gejala klinik dibagi dua yaitu :
a.
Sebelum bayi lahir:
Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus dan lahir mati, pembesaran uterus tidak dengan tuanya
kehamilan, pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat,
pertambahan
berat
badan
ibu
sangat
lambat
tidak
menurut
seharusnya, sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion,
hiperemesis gravidarum dan perdarahan antepartum.
12
b.
Setelah bayi lahir:
1)
Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
2)
Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda
bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas,
verniks caseosa sedikit atau tidak ada, kulit tipis, kerang, berlipatlipat, mudah diangkat.
3)
Bayi prematur
4)
Verniks caseosa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit, menangis
lemah, tonus otot hipotoni, kulit tipis, kulit merah dan transparan.
C. Etiologi
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati
dan Ismawati, 2010) :
1. Menurut penanganan dan harapan hidupnya
a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 10001500 gram.
c. Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang
dari 1000 gram.
2. Menurut faktor ibu
a. Penyakit
(1) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung
kemih.
(2) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
(3) Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
b. Ibu
1) Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilan pada
usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1
tahun).
3) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
13
c. Keadaan sosial ekonomi
1) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini
dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang
kurang.
2) Aktivitas fisik yang berlebihan
3) Perkawinan yang tidak sah
3. Menurut faktor janin
Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik
(infeksi congenital, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan
kembar.
4. Menurut faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa,
solutio plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik),
ketuban pecah dini.
5. Faktor lingkungan
Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di
dataran tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.
6. Tanda-tanda klinis menurut (Sariana,2009).
D. Gambaran klinis BBLR secara umum adalah:
1)
Berat kurang dari 2500 gram
2)
Panjang kurang dari 45 cm
3)
Lingkar dada kurang dari 30 cm
4)
Lingkar kepala kurang dari 33 cm
5)
Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
6)
Kepala lebih besar
7)
Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
8)
Otot hipotonik lemah
9)
Pernafasan tidak teratur dapat terjadi apneu
10) Ekstermitas paha abduksi
11) Kepala tidak mampu tegak
12) Pernafasan 40-50 kali/menit
13) Nadi 100-140 kali/menit
14
7. Komplikasi klinis menurut (Saifuddin,2009)
a. Hipotermia mengakibatkan Ketidakstabilan suhu tubuh Dalam
kandungan ibu, bayi berada pada suhu lingkungan 36°C- 37°C dan
segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang
umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini memberi pengaruh
pada kehilangan panas tubuh bayi. Hipotermia juga terjadi karena
kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan
menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan
otototot yang belum cukup memadai, ketidakmampuan untuk
menggigil, sedikitnya lemak subkutan, produksi panas berkurang
akibat lemak coklat yang tidak memadai, belum matangnya sistem
saraf pengatur suhu tubuh, rasio luas permukaan tubuh relatif lebih
besar dibanding berat badan sehingga mudah kehilangan panas.
b. Gangguan pernafasan Akibat dari defisiensi surfaktan paru, toraks
yang lunak dan otot respirasi yang lemah sehingga mudah terjadi
periodik apneu. Disamping itu lemahnya reflek batuk, hisap, dan
menelan dapat mengakibatkan resiko terjadinya aspirasi.
c. Imaturitas imunologis Pada bayi kurang bulan tidak mengalami
transfer IgG maternal melalui plasenta selama trimester ketiga
kehamilan karena pemindahan substansi kekebalan dari ibu ke
janin terjadi pada minggu terakhir masa kehamilan. Akibatnya,
fagositosis dan pembentukan antibodi menjadi terganggu. Selain itu
kulit dan selaput lendir membran tidak memiliki perlindungan seperti
bayi cukup bulan sehingga bayi mudah menderita infeksi.
d. Masalah gastrointestinal dan nutrisi Lemahnya reflek menghisap
dan
menelan,
motilitas
usus
yang
menurun,
lambatnya
pengosongan lambung, absorbsi vitamin yang larut dalam lemak
berkurang, defisiensi enzim laktase pada jonjot usus, menurunnya
cadangan kalsium, fosfor, protein, dan zat besi dalam tubuh,
meningkatnya resiko NEC (Necrotizing Enterocolitis). Hal ini
menyebabkan nutrisi yang tidak adekuat dan penurunan berat
badan bayi.
e. Imaturitas hati Adanya gangguan konjugasi dan ekskresi bilirubin
menyebabkan timbulnya hiperbilirubin, defisiensi vitamin K sehingga
15
mudah terjadi perdarahan. Kurangnya enzim glukoronil transferase
sehingga konjugasi bilirubin direk belum sempurna dan kadar
albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin dari
jaringan ke hepar berkurang.
f.
Hipoglikemi Kecepatan glukosa yang diambil janin tergantung dari
kadar gula darah ibu karena terputusnya hubungan plasenta dan
janin menyebabkan terhentinya pemberian glukosa. Bayi berat lahir
rendah dapat mempertahankan kadar gula darah selama 72 jam
pertama dalam kadar 40 mg/dl. Hal ini disebabkan cadangan
glikogen yang belum mencukupi. Keadaan hipotermi juga dapat
menyebabkan hipoglikemi karena stress dingin akan direspon bayi
dengan
melepaskan
noreepinefrin
yang
menyebabkan
vasokonstriksi paru. Efektifitas ventilasi paru menurun sehingga
kadar oksigen darah berkurang. Hal ini menghambat metabolisme
glukosa dan menimbulkan glikolisis anaerob yang berakibat pada
penghilangan glikogen lebih banyak sehingga terjadi hipoglikemi.
Nutrisi yang tak adekuat dapat menyebabkan pemasukan kalori
yang rendah juga dapat memicu timbulnya hipoglikemi.
g. Gangguan dan cairan elektrolit
Sindrom nafas gawat
h. Anemia.
16
8. Kerangka Teori
Bagan 1.1 Kerangka Teori (Sumber : Proverawati, 2011; Depkes RI,
2008).
f.
Faktor predisposisi BBLR
g.
 Faktor ibu : penyakit, ibu,
h.
keadaan sosial ekonomi
i.
 Faktor janin
j.
 Faktor k.
plasenta
Bayi lahir dengan BBLR
 Faktor l.lingkungan
Peralatan yang
dibutuhkan
Pelaksanaan
perawatan
metode kanguru
Persiapan pasien
Prosedur PMK
Hal-hal yg harus
diperhatikan selama
PMK
Metode
Kanguru
Peningkatan
Perawatan
metode
kanguru
kebutuhan energi :
 Ketidakstabilan suhu
 Stress fisik
Imaturitas imunologis
Gastrointestinal &
nutrisi
Kurang aktivitas
Pertumbuha
n fisik BBLR
Berat
Badan
17
Tabel 2.1 Suhu incubator yang direkomendasikan menurut umur dan berat
Suhu inkubator (°C) menurut umur
Berat bayi
< 1500 gr
35°C
34°C
33°C
32°C
1-10 hari
11 hari - 3 minggu
3-5 Minggu
>5 minggu
1500-2000 gr
1-10 hari
2100-2500 gr
1-2 hari
11 hari-4
minggu
3 hari-3
minggu
> 2500 gr
1-2 hari
>4 minggu
>3 minggu
>2 hari
Tabel 2.2 Kapasitas lambung berdasarkan umur
Umur
d.
Kapasitas(ml)
Bayi baru lahir
10-20
1 minggu
30-90
2-3 minggu
75-100
1 bulan
90-150
3 bulan
150-200
1 tahun
210-360
Perawatan Metode Kanguru/Kangaroo Mother care
1. Pengertian
Perawatan metode kanguru merupakan suatu cara khusus
dalam merawat bayi BBLR dengan melakukan kontak langsung
antara kulit bayi dengan kulit ibu yang berguna untuk membantu
perkembangan kesehatan bayi melalui peningkatan kontrol suhu,
menyusui, pencegahan infeksi, dan kontak ibu dengan bayi (KMC
India Network,2008).
Depkes RI (2004) mendefinisikan perawatan metode kanguru
sebagai suatu cara perawatan untuk bayi BBLR terutama dengan
berat lahir < 2000 gram melalui kontak kulit dengan kulit antara ibu
dengan bayinya dimulai di tempat perawatanditeruskan di rumah,
dikombinasi dengan pemberian ASI yang bertujuan agar bayi tetap
hangat.
18
Gambar 2.1 Metode Kanguru
e. Manfaat Perawatan Metode Kanguru
Perawatan metode kanguru memberikan manfaat tidak hanya
untuk perkembangan kesehatan bayi tetapi juga bagi penyembuhan
psikologis ibu sehubungan dengan kelahiran preterm dan memperoleh
kembali peran keibuan. Adapun manfaat perawatan metode kanguru
sebagai berikut (Depkes RI, 2008) :
1)
Manfaat pada bayi
a) Mempertahankan suhu tubuh, denyut jantung, dan frekuensi
pernapasan relatif terdapat dalam batas normal.
b) Memperkuat sistem imun bayi sehingga menurunkan kejadian
infeksi nosokomial, penyakit berat, atau infeksi saluran
pernafasan bawah.
c)
Kontak dengan ibu menyebabkan efek yang menenangkan
sehingga menurunkan stress pada bayi.
d) Menurunkan respon nyeri fisiologis dan perilaku
e) Meningkatkan
berat
badan
dengan
lebih
cepat
dan
memperbaiki pertumbuhan pada bayi prematur.
f)
Meningkatkan ikatan ibu dan bayi.
g) Memiliki pengaruh positif dalam meningkatkan perkembangan
kognitif bayi.
h) Waktu tidur bayi menjadi lebih lama.
i)
Memperpendek masa rawat.
j)
Menurunkan resiko kematian dini pada bayi.
19
k)
Mencegah kolik pada bayi.
l)
Meningkatkan perkembangan motorik bayi.
m) Mempertahankan homeostasis.
2)
Manfaat
bagi
ibu
Berdasarkan
beberapa
penelitian,
PMK
memberikan manfaat pada ibu antara lain :
a)
Mempermudah pemberian ASI
b)
Ibu lebih percaya diri dalam merawat bayi.
c)
Hubungan lekat antara ibu dan bayi lebih baik.
d)
Ibu lebih sayang pada bayinya.
e)
Memberikan pengaruh psikologis ketenangan bagi ibu.
f)
Meningkatkan produksi ASI.
g)
Meningkatkan
lama
menyusui
dan
kesuksesan
dalam
menyusui.
3)
Manfaat bagi petugas kesehatan Memberikan manfaat dari segi
efisiensi tenaga, karena ibu lebih banyak merawat bayinya sendiri.
Dengan demikian beban kerja petugas akan berkurang.
4)
Manfaat bagi institusi kesehatan Ada tiga manfaat bagi fasilitas
pelayanan kesehatan melalui penerapan PMK yaitu:
a)
Lama perawatan lebih pendek, sehingga tempat perawatan
dapat digunakan bagi pasien lain yang memerlukan
b)
Pengurangan penggunaan fasilitas (listrik, inkubator, alat
canggih lain)
c)
5)
Efisiensi anggaran
Pemberian ASI dini dan eksklusif
a)
ASI merupakan nutrisi terbaik untuk BBLR.
b)
Merupakan hal yang normal jika dalam menyusui BBLR cepat
lelah, isapannya lemah, menghisap sebentar.
c)
Frekuensi pemberian ASI dianjurkan setiap 2 jam.
d)
Bila bayi tidak menghisap ASI dengan baik, anjurkan untuk
memberikan ASI panas melalui sendok/cangkir (Sukarni dan
Sudarti,2014).
20
Dengan firman Allah pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233 yaitu:
Artinya: “Para ibu bendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua
tabun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan
penyusuannya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena
anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian.Apabila keduanya ingin menyapih
(sebelum dua tabun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika
kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada
dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang
patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa
Allah Mahamelihat apa yangkamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah:
233).
Berdasarkan ayat diatas menjelaskan bahwa hendaklah para ibu
menyusui bayinya selama dua tahun, atau paling tidak menyusui selama
enam bulan.Selain menyempurnakan pertumbuhan kembang bayi, juga
dapat meningkatkan berat badan bayi.Dikatakan dalam teori Sukarni dan
Sudarti (2015) asuhan BBLR sehat adalah pemberian ASI dini dan
Eksklusif.
21
E.
Manajemen Kebidanan
1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah metode kerja profesi dengan
menggunakan langkah-langkah sehingga merupakan alur kerja dan
perorganisasian pikiran dan bertindak sebagai suatu langkah-langkah
yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi bidan.
(Muslihatun,2009).
Proses manajemen ini terdiri dari 7 langkah berurutan dimana
disetiap langkah disempurnakan secara periodik, proses ini dimulai
dari pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Dengan
adanya proses manajemen asuhan kebidanan ini maka mudah kita
dapat
mengenali
dan
mengidentifikasi
masalah
selanjutnya,
merencanakan dan melaksanakan suatu asuhan yang aman dan
efektif. (Muslihatun,2009).
2. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
a.
Langkah 1. Pengkajian Data
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data
yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir.
1) Pengkajian Segera Setelah Lahir
Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi bayi
baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke kehidupan luar
uterus,
yaitu
dengan
penilaian
APGAR,
meliputi
apparence(warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace
(reflek atau respon terhadap rangsangan), activity (tonus otot)
and respiratory effort (usaha bernafas).Pengkajian sudah
dimulai sejak kepala tampak dengan diameter besar di vulva
(crowning).
2) Pengkajian Keadaan Fisik
Setelah
pengkajian
segera
setelah
lahir,
untuk
memastikan bayi dalam keadaan normal atau mengalami
penyimpangan.
Data subjektif bayi baru lahir yang harus dikumpulkan,
antara lain:Riwayat kesehatan bayi baru lahir yang penting
dan harus dikaji, adalah:
22
a) Faktor genetik, meliputi kelainan/gangguan metabolic
pada keluarga dan sindroma genetik.
b) Faktor maternal (ibu), meliputi adanya penyakit jantung,
diabetes mellitus, penyakit ginjal, penyakit hati, hipertensi,
penyakit kelamin, riwayat penganiayaan, riwayat abortus,
RH/ isoimunisasi.
c) Faktor antenatal, meliputi pernah ANC/tidak, adanya
riwayat perdarahan, preeklamsia, infeksi, perkembangan
janin
terlalu
besar/terganggu,
diabetes
gestasional,poli/oligohidramnion.
d) Faktor perinatal, meliputi premature/postmatur, partus
lama, penggunaan obat selama persalinan, gawat janin,
suhu ibu meningkat, posisi janin tidak normal, air ketuban
bercampur meconium, amnionitis, ketuban pecah dini
(KPD), perdarahan dalam persalinan, prolapses tali pusat,
ibu hipotensi, asidosis janin, jenis persalinan.
3) Data objektif bayi baru lahir yang harus dikumpulkan antara
lain:
a) Pemeriksaan Fisik
Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami
masalah apapun, lakukan pemeriksaan fisik yang lebih
lengkap.
Pemeriksaan Umum:
(1) Pernafasan
Pernafasan BBL normal 30-60 kali per menit, tanpa
retraksi dada dan tanpa suara merintih pada fase
ekspirasi.Pada bayi kecil, mungkin terdapat retraksi
dada ringan dan jika bayi berhenti nafas secara
periodic selama beberapa detik masih dalam batas
normal.
(2) Warna kulit
Bayi baru lahir aterm kelihatan lebih pucat dibanding
bayi preterm karena kulit lebih tebal.
23
(3) Denyut jantung
Denyut jantung BBL normal antara 100-160 kali per
menit, tetapi dianggap masih normal jika di atas 160
kali per menit dalam jangka waktu pendek, beberapa
kali dalam satu hari selama beberapa hari pertama
kehidupan, terutama bila bayi mengalami distress.
Jika ragu, ulangi penghitungan denyut jantung.
(4) Suhu aksiler 36,50C sampai 37,50C.
(5) Postur dan gerakan
Postur normal BBL dalam keadaan istirahat adalah
kepalan tangan longgar, dengan lengan, panggul dan
lutut semi fleksi.Pada bayi kecil ekstremitas dalam
keadaan sedikit ekstensi. Pada bayi dengan letak
sungsang selama masa kehamilan, akan mengalami
fleksi penuh pada sendi panggul dan lutut atau sendi
lutut estensi penuh, sehingga kaki bisa dalam
berbagai posisi sesuai bayi intra uterin. Jika kaki
dapat
diposisikan
dalam
posisi
normal
tanpa
kesulitan, maka tidak dibutuhkan terapi.Gerakan
ekstremitas bayi harus secara spontan dan simetris
disertai gerakan sendi penuh.Bayi normal dapat
sedikit gemetar.
(6) Tonus otot/tingkat kesadaran
Rentang normal tingkat kesadaran BBL adalah mulai
dari diam hingga sadar penuh dan dapat ditenangkan
jika rewel.Bayi dapat dibangunkan jika diam atau
sedang tidur.
(7) Ekstremitas
Periksa posisi, gerakan reaksi bayi bila ekstremitas
disentuh, dan pembengkakan.
(8) Kulit
Warna
kulit
dan
adanya
verniks
kaseosa,
pembengkakan atau bercak hitam, tanda lahir/tanda
mongol.Selama bayi dianggap normal, beberapa
24
kelainan kulit juga dapat dianggap normal.Kelainan
ini termasuk milia, biasanya terlihat pada hari
pertama atau selanjutnya.Kulit tubuh, punggung dan
abdomen yang terkelupas pada hari pertama juga
masih dianggap normal.
(9) Tali pusat, normal berwarna putih kebiruan pada hari
pertama, mulai kering dan mengkerut/mengecil dan
akhirnya lepas setelah 7-10 hari.
(10) Berat badan, normal 2500-4000 gram.
Pemeriksaan fisik(Head to Toe)
a) Kepala
: Ubun-ubun, sutura, moulase, caput
succedaneum,
cephal
haematoma
Hidrosefalus, ubun-ubun besar, ubunubun kecil, sutura, moulase, caput
succedaneum, cephal haematoma.
b) Muka
: Terdapat pucat, odem atau tidak pada
muka,
pewarnaan
pada
muka
bagaimana apakah pucat, kuning,
atau biru.
c) Mata
:
Keluar nanah, bengkak pada kelopak
mata, perdarahan subkonjungtiva dan
kesimetrisan.
d) Telinga
: Kesimetrisan
letak
dihubungkan
dengan mata dan kepala.
e) Hidung
:
f)
: Labio/palatoskisis,
Mulut
Kebersihan
trush,
sianosis,
mukosa kering/basah.
g) Leher
:
Pembengkakan dan benjolan.
h) Klavikuladan
:
Gerakan, jumlah jari.
lengan
tangan
25
i)
Dada
:
Bentuk dada, puting susu, bunyi
jantung dan pernafasan.
j)
Abdomen
:
Penonjolan sekitar tali pusat pada
saat menangis, perdarahan tali pusat,
jumlah pembuluh darah pada tali
pusat, dinding perut dan adanya
benjolan,
distensi,
gastrokisis,
omfalokel, bentuk.
k) Genetalia
Kelamin laki- :
Testis berada dalam skrotum, penis
laki
berlubang dan berada di ujung penis.
Vagina, uretra berlubang, labia mayor
:
dan labia minor.
Kelamin
perempuan
l)
Tungkai dan :
Gerakan, bentuk, dan jumlah jari.
kaki
m) Anus
:
Berlubang/tidak, fungsi spingter ani.
n) Punggung
:
Spina bifida, mielomeningokel.
o) Reflek
:
Moro,
Rooting,
Walking,
Graphs,
Sucking, Tonicneck.
p) Antropometri
:
BB, PB, LK, LD, PB, LLA.
:
BBL normal biasanya kencing lebih
Melakukan identifikasi
q) Eliminasi
dari enam kali per hari. BBL normal
biasanya berak cair enam sampai
delapan kali per hari. Dicurigai diare
apabila
frekuensi meningkat, tinja
hijau atau mengandung lender atau
darah. Perdarahan vagina pada BBL
dapat terjadi selama beberapa hari
pada
minggu
pertama
danhal ini dianggap normal.
kehidupan
26
b) Langkah 2. Interpretasi Data
Melakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis,
masalah dan kebutuhan bayi berdasarkan data yang telah
dikumpulkan pada langkah 1.
Contoh :
Diagnosis
1) Bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan, dengan
asfiksia sedang.
2) Bayi kurang bulan, kecil
3) Masa
kehamilan
dengan
hipotermi
dan
gangguan
pernafasan.
Masalah
1) Ibu kurang informasi.
2) Ibu menderita PEB.
3) Ibu post SC sehingga tidak bisa melakukan skin to skin
contact secara maksimal.
Kebutuhan : perawatan rutin bayi baru lahir.
c) Langkah 3. Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang
mungkin terjadi berdasarkan diagnosis atau masalah yang
sudah diidentifikasi.
Contoh
Diagnosis potensial
1)
Hipotermi potensial terjadi gangguan pernafasan.
2)
Hipoksia potensial terjadi asidosis.
3)
Hipoglikemia potensial terjadi hipotermi.
Masalah potensial: Potensial terjadi masalah ekonomi bagi
orang tua yang tidak mampu, karena bayi membutuhkan
perawatan intensif dan lebih lama.
d) Langlah 4. Identifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang
Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan
atau dokter danatau ada hal yang perlu dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai
27
kondisi bayi, contohnya adalah bayi tidak segera bernafas
spontan dalam 30 detik, segera lakukan resusitasi.
e) Langkah 5. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai
dengan temuan pada langkah sebelumnya.
Contoh
f)
1)
Mempertahankan suhu tubuh tetap hangat.
2)
Perawatan mata.
3)
Memberikan identitas bayi.
4)
Memperlihatkan bayi pada orang tuanya/keluarga.
5)
Memfasilitasi kontak dini pada ibu.
6)
Memberikan vitamin K1.
7)
Konseling.
8)
Imunisasi.
Langkah 6. Melaksanakan Perencanaan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan
secara efektif dan aman.
Contoh
1)
Mempertahankan suhu tubuh tetap hangat
Dengan cara memastikan bayi tetap hangat dan
terjad kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu,
mengganti handuk/kain basah dan bungkus bayi dengan
selimut dan memastikan bayi tetap hangat dengan
memeriksa telapak kaki setiap 15 menit. Apabila telapak
kaki teraba dingin, memeriksa susu aksila bayi.
2)
Perawatan mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1%
dianjukan
untuk
mencegah
penyakit
mata
karena
clamidia. Obat mata perlu diberikan pada jam pertama
setelah persalinan.
3)
Memberikan Identitas bayi
Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu
dipasang segera setelah lahir.
28
a) Alat pengenal yang digunkan hendaknya tahan air,
dengan tepi halus, tidak mudah melukai, tidak mudah
sobek dan tidak mudah lepas.
b) Pada alat pengenal, harus mencantumkan nama
(bayi dan ibu), tanggal lahir, nomor bayi, jenis
kelamin dan unit perawatan.
c) Di tempat tidur bayi juga harus dicantumkan tanda
pengenal yang mencantumkan nama (bayi dan ibu),
tanggal lahir dan nomor identitas.
d) Sidik telapak kaki bayi dan sidik ibu jari ibu harus
dicetak di catatan yang tidak mudah hilang. Hasil
pengukuran antropometri dicatat dalam
catatan
medis.
4)
Memperlihatkan bayi kepada orang tuanya/keluarga.
5)
Memfasilitasi kontak dini bayi dengan ibu:
a) Berikan bayi kepada ibu sesegera mungkin. Kontak
dini
antara
ibu
dan
bayi
penting
untuk:
mempertahankan suhu bayi baru lahir, ikatan batin
bayi terhadap ibu dan pemberian ASI dini.
b) Dorongan ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi
telah siap (reflek rooting positif). Jangan paksakan
bayi untuk menyusu.
c) Bila memungkinkan, jangan pisahkan ibu dengan
bayi, biarkan bayi bersama ibu paling tidak 1 jam
setelah bayi lahir.
6)
Memberikan vitamin K 1
Untukmencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi
vitamin K1 pada bayi baru lahir, lakukan hal-hal sebagai
berikut.
a) Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan
perlu diberi vitamin K per oral 1 mg/hari selama 3
hari.
b) Bayi resiko tinggi diberikan vitamin K1 parenteral
dengan dosis 0,5-1 mg IM.
29
7)
Konseling
8)
Ajarkan pada ibu/orang tua bayi untuk:
a) Menjaga kehangatan bayi.
b) Pemberian ASI.
c) Perawatan tali pusat.
(1) Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan
terbuka agar terkena udara dan tutupi dengan
kain bersih secara longgar.
(2) Lipatlah popok di bawah sisa tali pusat.
(3) Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja, cuci
dengan sabun dan air bersih dan kering.
9)
Mengawasi tanda-tanda bahaya.
Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi
baru lahir, adalah:
a) Pernafasan, sulit atau lebih dari 60 kali per menit,
terlihat dari retraksi dinding dada pada waktu
bernafas.
b) Suhu, terlalu panas >380C (febris), atau terlalu
dingin <360C (hipotermi).
c) Warna abnormal, kulit/bibir biru (sianosis), atau
pucat, memar atau bayi sangat kuning (terutama
pada 24 jam pertama), biru.
d) Pemberian ASI sulit, hisapan lemah, mengantuk
berlebihan, banyak muntah.
e) Tali pusat, merah, bengkak, keluar cairan, bau
busuk, berdarah.
f)
Infeksi, suhu meningkat, merah, bengkak keluar
cairan (pus), bau busuk, pernafasan sulit.
g) Gangguan
gastrointestinal,
misalnya
tidak
mengeluarkan meconium selama 3 hari pertaam
setelah lahir, muntah terus menerus, muntah dan
perut
bengkak,
tinja
berdarah/berlendir.
h) Tidak berkemih dalam 24 jam.
hijau
tua
atau
30
i)
Menggigil atau suara tangis tidak biasa, lemas,
mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bisa
tenang, menangis terus menerus.
j)
Mata bengkak dan mengeluarkan cairan.
10) Imunisasi
Dalam wkatu 24 jam dan sebelum ibu dan bayi
dipulangkan,berikan imunisasi BCG, anti polio oral dan
hepatitis B.
g) Langkah 7. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan,
mengulangi kembali proses manajemen dengan benar
terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan
tetapi belum efektif (Muslihatun, 2010).
31
Alur pendokumentasian manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan
SOAP.
Alur pikir bidan
Pencatatan dari asuhan kebidanan
Proses Manajemen Kebidanan
Dokumentasi
Kebidanan
7 Langkah
Varney
Data
5 Langkah
Kompetensi
Bidan
Data
SOAP NOTES
Masalah
Diagnosa
Subjektif
Objektif
Antisipasi
masalah
potensial/
diagnosa lain
Assemsement
atau diagnosa
Assessment
Diagnosa
Menetapkan
kebutuhan
segera untuk
konsultasi,
kolaborasi
Plan :
Konsul
Tes
diagnostik/Lab
Rujukan
Perencanaan
Perencanaan
Pendidikan/
Konseling
Follow up
Implementas
Implementas
Evaluasi
Evaluasi
Gambar 2.2 Keterkaitan antara manajemen kebidanan dan system
pendokumentasian SOAP Sumber: Muslihatun (2013).
32
F.
Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada BBLR
Konsep dasar asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) menurut
Ai Yeyeh (2010)
diagnosa BBLR adalah sebagai berikut :
1. Data Subjektif
LangkahI : Pengkajian
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data
yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir
(Sudarti, 2010).
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang
akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien.Data yang dikumpulkan terdiri dari data subjektif dan
data objektif.
a.
Biodata
1)
Nama bayi : untuk mengetahui identitas bayi
2)
Umur bayi : untuk mengetahui berapa umur bayi yang nanti
akan disesuaikan dengan tindakan yang akan dilakukan Dan
untuk mengetahui tingkat keparahan BBLR yaitu jika timbul
pada 24 jam sesudah kelahiran termasuk BBLR sedangkan
jika timbul pada hari kedua-ketiga termasuk ikterus fisiologis.
3)
Tanggal/jam lahir : untuk mengetahui kapan bayi baru lahir,
sesuai atau tidak dengan perkiraan lahirnya. Dan untuk
mengetahui tingkat kenaikan kadar billirubin pada bayi cukup
bulan atau bayi kurang bulan.
4)
Jenis kelamin : untuk mengetahui jenis kelamin bayi dan
membedakan dengan bayi yang lain.
5)
Nama ibu/ayah : untuk mengetahui nama penanggung
jawab.
6)
Umur ibu/ayah : untuk mengetahui umur penanggung jawab.
7)
Suku
bangsa
:
untuk
mempermudah dalam
mengetahui
bahasa
sehinga
berkomunikasi dengan keluarga
pasien.
8)
Agama:dengan
diketahui
agama
pasien,
akan
mempermudah dalam memberikan dukungan mental dan
33
dukungan spiritual dalam proses pelaksanaan asuhan
kebidanan.
9)
Pendidikan
orang
tua
:
tingkat
pendidikan
akan
mempengaruhi sikap dan perilaku kesehatan. Dikaji untuk
mempermudah penulis dalam menyampaikan informasi
pada pasien.
10)
Pekerjaan : mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan
terhadap permasalahan kesehatan pasien dan untuk menilai
sosial ekonomi pasien.
11)
Alamat : mempermudah hubungan dengan anggota keluarga
yang lain apabila diperlukan dalam keadaan normal.
b. Riwayat kehamilan ibu
Untuk mengetahui hari pertama haid terakhir (HPHT), hari
perkiraan lahir (HPL), frekuensi pemeriksaan Ante Natal Care
(ANC), yang memeriksa, keluhan, dan imunisasi. Komplikasi
kehamilan
Rh).Riwayat
(ibu
menderita
penggunaan
DM,
obat
inkompatibilitas
selama
ibu
ABO
hamil
dan
yang
menyebabkan ikterus (sulfa, anti malaria, nitro furantoin, aspirin)
dan riwayat ikterus pada anak sebelumnya (Depkes, 2007).
c. Riwayat persalinan
Yang perlu dikaji pada saat persalinan adalah : jenis
persalinan, penolong persalinan, lama persalinan, tanda gawat
janin, masalah selama persalinan, pecah ketuban : spontan atau
dipecah oleh petugas kesehatan, jam saat ketuban dipecahkan,
komplikasi selama persalinan (Maryunani, 2008).
d. Riwayat kebutuhan nutrisi
Nutrisi terbaik untuk bayi baru lahir adalah ASI yang dapat
diberikan segera setelah bayi lahir, pemberiannya on demand atau
terjadwal sesuai kebutuhan bayi. Menurut WHO (2009), kebutuhan
cairan yang dibutuhkan bayi (mL/kg) dengan berat badan >1500 g,
yaitu :
1) Hari 1 : 60cc/kgBB/hari
2) Hari 2 : 80cc/kgBB/hari
3) Hari 3 : 100cc/kgBB/hari
34
4) Hari 4 : 120cc/kgBB/hari
5) Hari 5+ : 150cc/kgBB/hari
Memberikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal 3 jam sekali).
Apabila bayi telah mendapat minum 160ml/kg berat badan per hari
tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum.
2. Data Objektif
Menurut Priharjo (2010), pemeriksaan fisik bayi melalui data
obyektif. data obyektif adalah data yang diperoleh dari pengkajian dan
pemeriksaan fisik pasien guna menegakan diagnosa.
a. Pemeriksaan umum
Menurut
Muslihatun
(2010),
sebelum
melakukan
pemeriksaan fisik bayi, dilakukan penilaian keadaan umum bayi.
b. Tanda-tanda vital
1) Tanda-tanda vital pada bayi normal menurut (Frasser,2009)
meliputi :
a) Suhu aksila
: 36 - 370C.
b) Nadi
: 120-160 x/menit.
c) Pernafasan
: 30-60 kali per menit.
2) Pemeriksaan
Antropometri
pada
bayi
normal
menurut
Djitowiyono (2010) adalah :
a)
Berat badan 2500 - 4000 gram.
b)
Panjang badan 48 - 52 cm.
c)
Lingkar dada 30 – 38 cm.
d)
Lingkar kepala 33 – 35 cm.
Bayi biasanya mengalami penurunan berat badan
dalam beberapa hari pertama yang harus kembali normal
pada hari ke-10.Bayi dapat ditimbang pada hari ke-3 atau
ke-4 untuk mengkaji jumlah penurunan berat badan,
tetapi bila bayi tumbuh dan minum dengan baik, hal ini
tidak diperlukan.Sebaiknya dilakukan penimbangan pada
hari ke-10 untuk memastikan bahwa berat badan lahir
telah kembali.
35
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik menurut Muslihatun )2010) adalah:
1)
Kepala
: memeriksa ubun-ubun, sutura, moulase, caput
succedaneum, cephal hematoma, hidrosefalus,
ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil (Sudarti,
2010).
2)
Muka
: memeriksa kesimetrisan muka, tanda tanda
paralis. Bayi ikterus warna kulit terlihat kuning.
Suriadi, (2010)
3)
Mata
: memeriksa bagian sklera pucat atau kuning dan
konjungtiva apakah merah muda atau tidak.
Bayi BBLR Suriadi, (2010).
4)
Hidung
: memeriksa
lubang
hidung
tampak
jelas,
biasanya berisi cairan mukosa, palatoskizis.
5)
Mulut
: bentuk
simetris/tidak,
mukosa
mulut
kering/basah, lidah, palatum, bercak putih pada
gusi,
refleks
menghisap,
adakah
labioskizis/palatoskiziz, trush, sianosis.
6)
Telinga
: memeriksa kesimetrisan letak dihubungkan
dengan
mata
dan
kepala,
serta
adanya
gangguan pendengaran.
7)
Leher
: memeriksa
kelainan
pembengkakan
tyroid,
dan
benjolan,
hemangioma,
tanda
abnormalitas.
8)
Dada
: memeriksa bentuk dada, putting susu, bunyi
jantung dan pernafasan.
9) Abdomen : memeriksa distensi abdomen, defek pada
dinding perut atau tali pusat dimana usus atau
organ perut yang lain keluar, untuk melihat
bentuk dari abdomen.
10) Punggung : memeriksa spina bifida, mielomeningokel.
11) Genitalia
: memeriksa bagian genitalia jika perempuan
labia mayora sudah menutupi labia minora,
36
sedangkan laki-laki testis sudah turun, skrotum
sudah ada.
12) Anus
: memeriksa terdapat lubang anus.
13) Ekstremitas : memeriksa posisi, gerakan, reaksi bayi bila
disentuh, dan pembengkakan Sudarti, (2010).
14) Kulit
: memeriksa warna kulit, ada tidak nya vernik
scaseosa, lanugo, bercak, tanda lahir.
d. Refleks
1) Refleks moro: timbulnya pergerakan tangan yang simetris
apabila kepala tiba-tiba digerakkan.
2) Refleks rooting: bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh
pipi.
3) Refleks graphs: refleks genggaman telapak tangan dapat
dilihat dengan meletakkan pensil atau jari di telapak tangan
bayi.
4) Reflekssucking : terjadi ketika bayi yang baru lahir secara
otomatis menghisap benda yang ditempatkan di mulut mereka.
5) Refleks tonicneck : pada posisi telentang, ekstremitas di sisi
tubuh
dimana
kepala
menoleh
mengalami
ekstensi,
sedangkan di sisi tubuh lainnya fleksi.
e. Eliminasi
Pengeluaran
pertama
pada
24
jam
pertama
adalah
mekonium dan urin. bayi yang normal berkemih (6-8 kali sehari)
dan buang air besar dalam sehari (3-4 kali perhari pada hari ke-3
sampai hari ke-4, 4-6 kali perhari pada hari ke-4 sampai ke-6, 8-10
kali perhari dari usia 1 minggu hingga 1 bulan. BayiBBLRurin dan
tinja terlihat pekat, warna seperti tehSurasmi, (2008).
f.
Data penunjang
Data penunjang adalah data yang diperoleh selain dari
pemeriksaan.Data penunjang meliputi pemeriksaan Hb dan
golongan
darah
serta
USG
dan
rontgen
(Manuaba,
2007).Pemeriksaan laboratorium bayiBBLR adalah Rh darah ibu
dan janin berlainan. Kadar bilirubin bayi aterm lebih 12,5 mg/dL,
premature lebih 15 mg/dL(Maryati, 2011).
37
3. Analisa Data
LangkahII : Interpretasi Data
Untuk melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah
atau diagnosa yang berdasarkan interpretasi diatas, pada langkah ini
data dikumpulkan dan diinterpretasikan menjadi masalah atau
menjadi diagnosa kebidanan.(Varney, 2007).
a.
Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan
dalam lingkup kebidanan (Varney, 2007).
Diagnosa : NCB, SMK , umur..... hari dengan BBLR
(Muslihatun,2010).
b.
Masalah
Merupakan hal-hal yang berkaitan pengalaman klien yang
ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai diagnose.
Masalah-masalah yang sering dijumpai pada bayi baru lahir
dengan ikterik adalah gangguan sistem pernafasan, reflek hisap,
dan menelan minuman, kesadaran menurun atau sering tidur
(Manuaba, 2010).
c.
Kebutuhan
Hal-hal
yang
dibutuhkan
oleh
pasien
dan
belum
terindentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan
dengan melakukan analisis data (Varney, 2007).Kebutuhan yang
harus diberikan pada bayi baru lahir dengan ikterik adalah
oksigen
sesuai
terapi,
pemberian
cairan
yang
cukup,
mengobservasi keadaan umum bayi secara intensif menjaga
supaya lingkungan sekitar tetap nyaman dan hangat (Ngastiyah,
2005).
LangkahIII : Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang
mungkin akan terjadi berdasarkan diagnosis atau masalah yang
sudah
diidentifikasi.
Misalnya
diagnosa
potensial
neonatorum potensial terjadi Ensefalopati Billirubin
2010).
ikterus
(Sudarti,
38
LangkahIV : Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau ada hal yang perlu dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai
kondisi bayi, contohnya adalah pemberian minum sedini mungkin
dengan
jumlah
cairan
dan
kalori
yang
mencukupi
dan
pemantauan perkembangan BBLR (Sudarti, 2010).
4. Penatalaksanaan
Langkah V :Perencanaan
Merencanakan asuhan yang rasional sesuai dengan temuan pada
langkah sebelumnya. Rencana asuhan dari diagnosa yang akan
diberikan dalam kasus bayi baru lahir dengan ikterus fisiologis antara
lain :
a. Mengobservasi keadaan umum dan tanda vital.
b. Memenuhi kebutuhan nutrisi.
c. Menjemur bayi pada sinar matahari pagi,jam 7 – 8 pagi selama 15
sampai 30 menit.
d. Memeriksa
billirubin
dalam
darah
dengan
pemeriksaan
laboratorium.
e. Memberikan rasa aman (emotional security) baik secara kontak
fisik maupun psikis dengan dibawa mendekat ke tubuh ibunya dan
digendong dengan lembut.
f.
Selalu berinteraksi dengan bayi untuk memberikan stimulasi.
g. Lakukan pencegahan infeksi seperti cuci tangan, ganti baju bila :
mandi, basah terkena muntahan, kotor, Ganti popok bila BAK/BAB
(Surasmi, 2010).
Langkah VI : Pelaksanaan
Menurut Varney (2007), pada langkah ini rencana asuhan
menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima, dilaksanakan
secara efisien dan aman. Penatalaksanaan ini bisa dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien atau tenaga kesehatan
lainnya. Walaupun bidan tidak melakukannya sendiri tetapi dia tetap
memikul tanggung jawab untuk mengarahkan penatalaksanaan
39
manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta
meningkatkan mutu dan asuhan pada bayi baru lahir dengan BBLR.
Langkah VII : Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan, mengulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek
asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif. (Sudarti, 2010).
G. Kewenangan Bidan
Pengertian Kewenangan Bidan adalah pelayanan kepada wanita,
pada masa pranikah termasuk remaja putri, prahamil, kehamilan, persalinan,
nifas, dan menyusui. Hukum Kewenangan Bidan yaitu peraturan resmi yang
dikukuhkan oleh pemerintah yang mengatur tentang pelayanan kepada
wanita, pada masa pranikah termasuk remaja putri, prahamil, kehamilan,
persalinan, nifas, dan menyusui. (Permenkes, 1464/2010).
1. Kewenangan Bidan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,
kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
Pasal 9
a. Bidan dalam penyelenggaraan praktik, berwenang untuk memberikan
pelayanan meliputi :
b. Pelayanan kesehatan ibu
c. Pelayanan kesehatan anak
d. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
Pasal 11
a. Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
diberikan pada bayi baru lahir, bayi, anak balita, dan anak pra
sekolah.
b. Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk :
c. Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, inisiasi menyusui dini, injeksi vitamin K1,
perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan
perawatan tali pusat.
40
d. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk.
e. Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan.
f.
Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah.
g. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra
sekolah.
h. Pemberian konseling dan penyuluhan.
i.
Pemberian surat keterangan kelahiran, dan Pemberian surat
keterangan kematian.
H. Pandangan Islam
Manusia diciptakan Allah SWT melalui tiga tahapan, sesuai dengan
Firman Allah pada Al Qur’an Surat Az Zumar Ayat 6 berikut ini :
Artinya:
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan
daripadanyaistrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang
berpasangandari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadiandemi kejadian dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam
tigakegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu,
Tuhanyang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selainDia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan. (QS. Az Zumar; 06)
Makna yang dikandungnya :
Berdasarkan ayat di atas mengandung beberapa makna bahwa
sesungguhnya asal manusia dari satu jiwa (Adam). Kemudian Allah
menciptakan dari diri Adam pasangan hidupnya (Hawa). Kemudian dari
keduanya
lahirlah
manusia-manusia
sampai
sekarang.
Allah
juga
41
menciptakan binatang secara berpasangan. Jantan dan betina. Dari hasil
perkawinan keduanya berkembanglah binatang di muka bumi ini.Allah
menciptakan manusia dengan berbagai peristiwa dalam perut ibunya.
Peristiwa-peristiwa itu merupakan proses penciptaan manusia, mulai dari
nutfah (cairan sperma), 'alaqah (segumpal darah), kemudian menjadi
mudghah (segumpal daging). Setelah itu Allah memasukkan roh pada jasad
tersebut sehingga bernyawa.Tiga kegelapan yang dimaksud dalam ayat di
atas adalah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim dan kegelapan
dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.Inilah proses penciptaan
manusia, berasal dari bahan yang hina. Tidak ada yang perlu dibanggakan
oleh manusia dan manusia akan kembali kepada kehinaan, kecuali orang
yang beriman dan beramal shaleh.Semua ini adalah kekuasaan Allah. Tak
seorang pun sanggup melakukannya, selain Dia. Kita tak mungkin berpaling
dari kekuasaan-Nya. Dialah Tuhan kita. Tak ada Tuhan selain Dia.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 233
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2009).Bayi Berat Lahir
Rendah.Dengan BBLR.Tersediadalam :www.depkes.go.id. Diaksesmaret
2016.
Dewi, V.N.L. (2010) Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita.Jakarta :Salemba
Medika.
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, (2016).Angka Kematian Bayi.
Dinas Kesehatan Jawa Barat, (2016). Angka Kematian Bayi. Tersedia dalam
:http://www.diakses.jabarprov.go.id/. Diakses April 2016.
Lestari, T.B, dkk (2013). Penelitian Metode Kanguru terhadap Berat Badan Lahir
Rendah tersedia dalam :http://journal.unair.ac.id/article.7120.media130
category3.html. DiaksesApril.
Rukiyah, AY. Yulianti L (2013). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta :
CV Trans Info medika.
Saifuddin, Basri. (2008). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatus. Jakarta : Bina Pustaka.
Wahyuni Sari. (2011). Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita.Jakarta :EGC .
WHO, (2011). http://.wordpress.com/2008/07/16prevalensi-bblr-WHO. diakses
April 2016.
Yeyeh,
RA., Yulianti.L. (2010). Patologi Kehamilan, Persalinan,
danNeonatusResiko Tinggi.Jakarta : Trans Info Medika.
Nifas,
Rukiyah, Ai Yeyeh,dkk et al. 2010. Asuhan Kebidanan 1.Jakarta: CV. Trans Info
Media.
Maryunani anik, dkk. 2008. Asuhan Kegawatan Dan Penyulit Pada Neonatus.
Jakarta: Trans Info Medika.
Priharjo, Robert, 2010.Pengkajian Fisik Keperawatan. Buku kedokteran EGC.
Muslihatun, WafiNur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Fitramaya.
61
62
Djitowiyono, S. dan Weni Kristiyanasari. 2010. Asuhan Keperawatan Neonatus
Dan Anak. Nuha Medika. Cetakan I : Jakarta.
Suriadi, Yuliani, Rita. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi 2.Jakarta :
CV. Sagung Seto.
Soepardan, Suryani. 2008. Kosep Kebidanan. Jakarta: EGC
Purwoastuti, E., dan Walyani, E.S., 2015. Ilmu Obstetri dan Ginekologi Sosial
untuk Kebidanan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Walyani, E.S., dan Purwoastuti, T.E., 2015. Asuhan Kebidanan Persalinan dan
Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Download