UNIVERSITAS INDONESIA HEPATOPROTEKTOR TUGAS

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
HEPATOPROTEKTOR
TUGAS FITOTERAPI
PULAN WIDYANATI
1106107214
DOSEN: DR. ABDUL MUN’IM, M.Si., APT.
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM MAGISTER HERBAL
UNIVERSITAS INDONESIA
2012
Pulan Widyanati_1106107214
Page 0
PENDAHULUAN
Etiologi
Hati merupakan organ vital yang penting bagi manusia. Hati mempunyai fungsi
sebagai pusat metabolisme nutrisi spt karbohidrat, protein dan lipid dan eksresi metabolit.
Selain itu hati juga berfungsi sebagai metabolisme dan eksresi obat dan zat xenobiotik
lainnya dari tubuh untuk melindungi tubuh dari zat asing dengan cara detoksifikasi dan
eliminasi.
Hati dapat rusak karena berbagai penyebab. Penyebab kerusakan sel hati dapat
berupa penggunaan obat kemoterapi, karbon tetraklorida (CCl4), tioasetamid (TAA),
penggunaan obat-obat dalam dosis besar atau dalam jangka wa ktu yang lama seperti
parasetamol, serta konsumsi alkohol yg berlebihan. (Saleem, et al., 2010)
Istilah yang Berhubungan dengan Kerusakan Hati

Acute renal failure (gagal ginjal akut) – Terminologi yg digunakan adanya disfungsi
sintetik hepatitis yg berhubungan dg koagulopati secara signifikan, biasanya waktu
protrombin atau tingkat faktor V kurang 50% dari normal. Penyebab utama: obat & virus
hepatitis.

Acute viral hepatitis (viral hepatitis akut) -
Bahan viral hepatitis akut
diklasifikasikan atas 2 bagian: Enterically transmitted agents seperti virus Hepatitis A, virus
Hepatitis E virus dan Bloodborne agents seperti virus Hepatitis B, virus Hepatitis D
danvirus Hepatitis C.

Chronic viral hepatitis (viral hepatitis kronik) – Adanya inflamasi persisten di hati
selama 6 bulan atau lebih setelah pemaparan dan/atau deteksi inisial penyakit hati.
Penyebab utama: infeksi virus.

Drug induced hepatotoxicity (obat yang mengakibatkan hepatotoksisitas) –
Hepatotoksisitas merupakan reaksi idiosinkratik pada penggunaan dosis terapetik utk
pengobatan atau sbg konsekuensi dari toksisitas bahan intrinsik.
Serum alanine dan
aspartate aminotransferase dan lactate dehydrogenase dpt meningkatkan 10-100 kali
kerusakan hepatoselular akut
Pulan Widyanati_1106107214
Page 1

Cirrhosis (sirosis) -
Proses difusi karena fibrosis dan konversi hati normal.
Perubahan struktur hati menyebabkan kerusakan fungsi hati yang ditunjukkan dg adanya
jaundice (kuning), ascites, sindrom hepatorenal, hepatic encephalopathy, bakteri peritonitis
spontan.

Portal hypertension (hipertensi portal) – Adanya peningkatan tekanan darah vena
portal dan fungsi aliran darah di vena portal dan resistensi hepatik dan portokolateral.
(Sharma, et al., 2011)
Obat Herbal untuk Hepatoprotektor
Paradigma penggunaan obat herbal untuk penyakit hati yaitu mensinergikan
kekuatan sistem pengobatan tradisional dengan konsep modern berdasar evidence based,
standardisasi dan uji klinik menggunakan randomized controlled placebo trial (RCT) untuk
mendukung manfaat secara klinis. Ada sekitar 160 phytoconstituents (zat aktif) dari 101
tumbuhan yang diklaim mempunyai aktivitas melindungi hati (Saleem, et al., 2010).
Mekanisme hepatoprotektor obat herbal dengan adanya berbagai / multipel efek
yaitu:

Antioksidan

Antiviral

Antiinflamatori

Antiprotozoa

Meningkatkan sintesi protein dalam hepatosit atau menurunkan pembentukan
leukotrien , prostaglandin dan TNFα oleh sel Kupffer. (Negi, et al., 2008)
Pulan Widyanati_1106107214
Page 2
RASIONALISASI FORMULA MENGANDUNG HERBAL YANG DIGUNAKAN
SEBAGAI HEPATOPROTEKOR
A.
FORMULA I
Komposisi:
Ekstrak Phyllanthi herba 250 mg
Ekstrak Curcuma domestica 50 mg
Ekstrak Curcuma xanthorrhiza 30 mg
I.
Klaim
: membantu memelihara kesehatan fungsi hati
Dosis
: 1-2 x sehari 1 kapsul
Nama produk
: Gramuno
Produsen
: PT. Graha Farma, Solo
Nomor Registrasi
: TR031326651
Ekstrak Phyllanthi Herba
Nama latin
: Phyllanthus niruri L.
Suku
: Euphorbiaceae
Nama Indonesia
: Meniran
Bagian tumbuhan yang digunakan
: Herba
Pulan Widyanati_1106107214
Page 3
1.
Senyawa Kimia
Lignan,
alkaloid
dan
bioflavonoid.
Senyawa
yang mempunyai
aktivitas
antihepatoksisitas yaitu filantin dan hipofilantin yang merupakan golongan lignan (Negi, et
al., 2008).
2.
Aktivitas Biologi
Meniran efektif melawan infeksi hepatitis dan gangguan hati lainnya. Fraksi heksan
ekstrak etanol herba meniran potensial mempunyai aktivitas hepatoprotektor. Efek
melindungi hati herba meniran terbukti dalam penelitian secara in vitro dan in vivo di tikus
dan mencit.
Dari hasil uji klinik diketahui bahwa herba meniran mempunyai perlindungan hati
dan mempunyai aksi detoksi pada penyakit hepatitis dan penyakit kuning (jaundice) untuk
anak-anak. Di India, herba meniran digunakan sebagai obat tunggal untuk pengobatan
penyakit kuning pada anak-anak. Sedangkan penelitian di Inggris, anak yg diobati dengan
ekstrak herba meniran untuk hepatitis akut dapat memulihkan fungsi hati dlm waktu 5 hari.
Hasil penelitian di Cina, aksi perlindungan hati dengan herba meniran berefek pada
hepatitis kronik dewasa.
Berdasar penelitian yang telah dilakukan, filantin dan hipofilantin dpt melindungi
hati terhadap CCl4 dan galaktosamin serta alkohol yang diinduksi pada hati tikus. (Negi, et
al., 2008).
3.
Mekanisme Aksi
Efek perlindungan hati ekstrak meniran yaitu adanya penangkapan aktivitas radikal
bebas (free radical scavenging activity). Ekstrak meniran dapat mengatasi radikal
superoksida dan hidroksi, menghambat peroksidasi lipid. Senyawa filantin dilaporkan
sebagai antigenotoksik (Negi, et al., 2008).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 4
4.
Toksisitas dan Efek Samping
Masih sedikit laporan jurnal yang membahas tentang toksisitas filantin dan
hipofilantin. Tikus yang diberik esktrak air daun Phyllanthus amarus menunjukkan efek
toksik pada parameter hematologi dan biokimia serum (Negi, et al., 2008).
Struktur filantin dan hipofilantin
5.
Kegunaan
Kegunaan lain herba meniran selain sebagai hepatoprotektor, yaitu:

Analgesik, antibakteri, antidiare, antifungal, antihiperkolesterol, antihiperglikemik,
antihiperlipidemik, antipiretik, antispasmodik, antitumor, antiviral (Ross, 1999).

Immunomodulator (Acuan Sediaan Herbal, 2007).
6.
Dosis

Sebagai dekokta: 15-30 g herba meniran dalam 250 mL air, diminum 2-3 kali per
hari

Dosis harian: 50 mg ekstrak meniran (Acuan Sediaan Herbal, 2007).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 5
II.
1.
Ekstrak Curcuma domestica
Nama latin
: Curcuma domestica Val.
Sinonim
: Curcuma longa L.
Suku
: Zingiberaceae
Nama Indonesia
: Kunyit
Nama Umum
: Turmeric
Bagian tumbuhan yang digunakan
: Rimpang
Senyawa Kimia
Ada
tiga
(3)
komponen
utama
kunyit
yaitu
kurkumin
(60–80%),
demetoksikurkumin (10–20%), dan bisdemetoksikurkumin.
Struktur kurkumin
Pulan Widyanati_1106107214
Page 6
2.
Aktivitas Biologi
Ekstrak rimpang kunyit menunjukkan aktivitas melindungi hati yang diinduksi
CCl4 pada penelitian in vivo dan in vitro. Kurkumin mempunyai aktivitas antioksidan
yang sangat baik. Kurkumin dapat menghambat peroksidasi lipid d mikrosom, membran
eritrosit dan homogenasi otak pada hati tikus.
Selain itu aktivitas hepatoprotektor terhadap hati yang diinduksi alkohol dengan
memonitor perubahan tingkat serum enzim aspartat transaminase (AST) dan alkalin
fosfatase. Kurkumin juga menunjujkkan aktivitas antihepatotoksik pada hati tikus yg
diinduksi parasetamol.
Kurkimin rendah diabsorbsi di usus halus setelah pemberian oral. Pemberian oral
kurkumin pada tikus menunjukkan hampir 75% dieksresikan di feses dan beberapa
ditemukan di urin (Negi, et al., 2008).
3.
Mekanisme Aksi
Aktivitas hepatoprotektif kurkumin karena aktivitas antioksidannya. Kurkumin
merupakan perlindungan potensial terhadap berbagai reaktif oksigen termasuk radikal
superoksida anion, radikal hidroksi, radikal nitrogen dioksida, oksigen singlet, dan lainlain. Kurkumin menunjukkan aktivitas penghambatan yang potensial terhadap P450 pada
hati tikus.
Salah satu metabolit kurkumin yaitu tetrahidrokurkumin mempunyai efek
perlindungan yg lebih baik dibandingkan dengan silymarin, karena mengandung gugus
hidroksil dan metoksil dari cincin fenil dan 1,3-diketo. Aktivitas antioksidan meningkat
ketika ada hidroksil fenolik pada orto di gugus metoksil. Berdasar hubungan ikatan
menggunakan teori fungsi density / density function theory (DFT), dapat dimengerti bahwa
mekanisme antioksidan kurkumin dikarenakan abstraksi atom hidrogen dari gugus fenolik
dan bukan dari gugus pusat metilen pada cincin heptadienon (Negi, et al., 2008).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 7
Metabolit utama kurkumin pada hewan pengerat dan manusia
4.
Toksisitas dan Efek Samping
Kunyit telah dikonsumsi di seluruh dunia dan tidak ada laporan toksisitas sejauh ini.
Pada percobaan di tikus, kurkumin ditemukan berbahaya jika digunakan sampai dosis 2
g/kg walau tanpa ada kematian. Dosis tunggal akut 500 mg/kg BB tidak dapat menginduksi
micronucleated polychromic erythrocytes tapi menyebabkan aberasi kromosomal yg lebih
tinggi (Negi, et al., 2008).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 8
Masalah perut dapat terjadi bila digunakan secara berlebihan atau melebihi dosis
(Gruenwald, Brendler, & Janicke, 2004).
5.
Kegunaan
Kegunaan lain rimpang kunyit selain sebagai hepatoprotektor, yaitu:

Antioksidan, antikanker, mengatasi masalah saluran pencernaan, mengobati kolitis
dan ulcer, mempunyai efek hipoglikemik, antihiperkolesterol (DerMarderosian & Beutler,
2008).

Antiinflamasi,
antiviral,
antifungal,
mencegah
aterosklerosis,
antimikroba,
antihiperkolesterolemia, immunomodulator (Akram, et al., 2010).
6.
Dosis

Dosis rata-rata 1,5-3 g. Bentuk serbuk digunakan 2-3 kali sehari setelah makan;
bentuk teh (2-3 cangkir) digunakan di antara makan.

Dosis tinktur 10-15 tetes 2-3 kali sehari (Gruenwald, et al., 2004).

Dosis tinggi: 3-6 g / hari (melindungi ulcer) (DerMarderosian & Beutler, 2008).
III.
Ekstrak Curcuma xanthorrhiza
Nama latin
: Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Suku
: Zingiberaceae
Nama Indonesia
: Temulawak
Nama Umum
: Java Turmeric
Bagian tumbuhan yang digunakan
: Rimpang
Pulan Widyanati_1106107214
Page 9
1.
Senyawa Kimia
Temulawak
mengandung
sembilan
sesquiterpenoids
yaitu
α-curcumene,
arturmerone, xanthorrhizol, germacrone, β-curcumene, β-sesquiphellandrene, curzerenone,
α-turmerone,
and
β-turmerone
serta 3
kurkuminoid
yaitu
curcumin, mono-
demethoxycurcumin, and bisdemethoxycurcumin (Hwang & Rukayadi).
C. xanthorrhiza digunakan sbg tonik di Indonesia dan obat kolerik di Eropa. Selain
kurkuminoid, spesies ini mgdg bisabolen aktif, seperti α-curcumen (5), ar-turmerone (6)
and xanthorrhizol (7) (Figure 2). Tiga komponene tersebut mempunyai akstivitas antikanker yg kuat terhadap Sarcoma 180 pada mencit (Itokawa, Shi, Akiyama, MorrisNatschke, & Lee, 2008).
2.
Mekanisme aksi

Kurkumin sebagai antioksidan mempunyai mekanisme potensial terhadap berbagai
reaktif oksigen termasuk radikal superoksida anion, radikal hidroksi, radikal nitrogen
dioksida, oksigen singlet yang berperan sebagai hepatoprotektor (Negi, et al., 2008).

Xanthorrhizol sebagai antibakteri (Hwang & Rukayadi).
3.
Kegunaan
Kegunaan lain rimpang temulawak selain sebagai hepatoprotektor, yaitu:
antikanker, antibakteri, immunomodulator, antiinflamasi, antimikroba, aktivitas estrogen
(Anggakusuma, Yanti, Lee, & Hwang, 2009; Itokawa, et al., 2008; Kim, Kim, Shim, &
Hwang, 2007; Mangunwardoyo, Deasywaty, & Usia, 2012).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 10
Analisa Rasionalisasi Formula I
No
1.
2.
Komposisi
Kandungan
Mekanisme
Kimia
Hepatoprotektor
Ekstrak Phyllanthi
Filantin,
Antioksidan
Antiviral
herba
hipofilantin
Ekstrak Curcuma
Kurkumin
Antioksidan
Antiinflamasi,
domestica
3.
Kegunaan
antiviral
Ekstrak Curcuma
Kurkumin,
Antioksidan
xanthorrhiza
Xanthorhizol
Antiinflamasi
Antimikroba
Kesimpulan: Formula tersebut rasional karena saling mendukung satu sama lain
kegunaannya sebagai hepatoprotektor
B.
FORMULA II
Komposisi
:
Ekstrak Cardui mariae fructus 100 mg
Ekstrak Cynarae folium 50 mg
Ekstrak Curcuma longa rhizoma 20 mg
Klaim
: membantu menjaga kesehatan fungsi hati
Dosis
: Hasil terbaik bila diminum setelah makan. Pencegahan: Dewasa; 1
kapsul 2-3x sehari. Anak-anak; menurut petunjuk dokter. Pengobatan: Dewasa; 2
kapsul 3x sehari, lama pengobatan minimal 4-8 minggu atau sampai teramati
adanya perbaikan, bila sudah membaik dosis diturunkan mjd 1 kapsul 3x sehari
Nama produk : Hepagard
Produsen
: PT. Phapros
Pulan Widyanati_1106107214
Page 11
I.
1.
Ekstrak Cardui mariae fructus
Nama latin
: Silybum marianum (L.) Gaertn.
Suku
: Compositae
Nama Umum
: Milk thistle, Cardui mariae
Bagian tumbuhan yang digunakan
: Biji
Senyawa Kimia
Ekstrak aktif Silybum marianum (L.) Gaertn. disebut sebagai silymarin, yang
merupakan campuran dari flavanolignan, yaitu silibinin (1), silydianin (2), dan silychristine
(3). Semua bagian tanaman digunakan utk pengobatan tapi biji mengandung silymarin
tertinggi. Senyawa kimia yg paling berperan sbg hepatoprotektor adl silybin (silibinin),
merupakan kandungan utama (60-70%) silymarin (Negi, et al., 2008).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 12
2.
Aktivitas Biologi
Silibinin merupakan kandungan utama campuran silymarin yang mempunyai
aktivitas antihepatotoksik thd Amanita phalloides, etanol, parasetamol (acetaminofen) dan
karbon tetraklorida yang diinduksi pada hati. Silymarin mempunyai efek hepatoprotektif
pada viral hepatitis akut, alkohol yg berhubungan dg sirosis hati pada dosis 280-800
mg/hari.
Pada penelitian farmakokinetik, silymarin diabsorbsi ke dalam darah. Konsentrasi
puncak plasma di dalam darah dicapai setelah 2 jam dan eliminasi t1/2 adalah 6 jam. Sekitar
3-8% silymarin dieksresikan di urin, dapat ditemukan (20-40%) dlm bentuk konjugasi
glukuronida dan sulfat dari kandung empedu
Berdasar data uji klinik tersamar ganda, terapi silymarin pada viral hepatitis akut
menurunkan komplikasi dan pemulihan cepat dengan meningkatkan imunitas dalam waktu
singkat. Pada uji klinik dengan metode yang sama juga dilakukan utk melihat efek
Pulan Widyanati_1106107214
Page 13
antihepatotoksik silymarin thd penyakit hati karena alkohol, diketahu secara signifikan ada
perbaikan di berbagai parameter (Negi, et al., 2008).
3.
Mekanisme Aksi
Mekanisme aksi silymarin kurang dapat dimengerti. Beberapa laporan melaporkan
bahwa silymarin bekerja dengan berbagai cara. Silymarin meningkatkan aktivitas
superoksida dismutase dlm eritrosit dan limfosit, serta menunjukkan aktivitas antioksidan.
Silymarin menstabilkan struktur membran hepatosit dan melalui resirkulasi
enterohepatik. Silymarin dapat meningkatkan regenerasi hati dengan menstimulasi
polimerase A nukleolar dan meningkatkan sintesis ribosom protein. Juga melindungi
deplesi glutation pada kultur hepatosit manusia dan melindungi sel dan metotreksat dan
etanol yang diinduksi secara in vitro. Silymarin juga ditemukan fungsinya secara spesifik
pada berbagai transporter dan reseptor pada sel membran.
Kesimpulan, mekanisme aksi hepaproteksi silymarin adalah efek antioksidan yang
dapat mengatasi radikal bebas dan menghambat peroksidasi lipid (Negi, et al., 2008).
4.
Toksisitas dan Efek Samping

Silymarin mempunyai toksisitas lemah tanpa ada kematian atau tanda efek samping
pada dosis oral 20 g/kg pada mencit dan 1 g/kg pada anjing. Infus IV, LD50 400 mg/kg
pada mencit, 385 mg/kg pada tikus dan 140 mg/kg pada kelinci dan anjing.

Meski silymarin termasuk aman, ada beberapa laporan yaitu adanya gangguan
pencernaan dan alergi kulit kemerahan.

Data toksisitas akut, subakut dan akut silymarin sangat rendah (Negi, et al., 2008).
5.
Kegunaan
Kegunaan lain biji silymarin selain sebagai hepatoprotektor, yaitu: antiinflamasi,
antifibrosis, antikanker, menghambat lipid peroksidasi dan menstimulasi biosintesis protein
(DerMarderosian & Beutler, 2008).
Pulan Widyanati_1106107214
Page 14
6.
Dosis:

Dalam bentuk biji, 12-15 g/hari untuk hepatitis dan kondisi hati lainnya

Efektif dosis pada uji klinik 420-600 mg/hari dalam bentuk ekstrak, tablet atau
kapsul terstandardisasi mengandung 70% silymarin. (DerMarderosian & Beutler, 2008)
II.
Ekstrak Cynarae folium
Nama latin
: Cynara scolymus L.
Sinonim
: Cynara cardunculus L.
Suku
: Asteraceae
Nama Umum
: Artichoke
Bagian tumbuhan yang digunakan
: Daun
1.
Senyawa Kimia

Cynarin, asam kafeat

Flavonoid: Luteolin (Assessment Report on Cynara scolymus L., Folium, 2010)
Pulan Widyanati_1106107214
Page 15
2.
Mekanisme Aksi

Efek antioksidan artichoke pada hati telah banyak dilaporkan.

Ekstrak artichoke diketahui efektif dalam regenerasi hati tikus.

Mempunyai efek antioksidan dan melindungi secara potensial hepatosit tikus
(Assessment Report on Cynara scolymus L., Folium, 2010)
3.
Toksisitas dan Efek Samping

Toksisitas akut:

Total ekstrak daun artichoke oral LD30 dan intraperitoneal LD10 pada tikus
jantan (19% caffeoylquinic acids) >2000 mg/kg dan >1000 mg/kg BB.

Pada ekstrak murni
(46% caffeoylquinic acids)
oral LD40 dan
intraperitoneal LD50 adl 2000 mg/kg dan 265 mg/kg

Toksisitas subakut: Ektrak hidroalkohol daun oral dan intraperitoneal median lethal
doses adl 2,0 g/kg and 1,0 g/kg BB

Toksisitas kronik: Tikus yg diberi cynarin 400 mg/kg menunjukkan irrigative-
perubahan degeneratif pada hati dan ginjal

Efek samping: Reaksi alergi, menurunkan nafsu makan, kembung, lemah.
(Assessment Report on Cynara scolymus L., Folium, 2010).
4.
Kegunaan
Kegunaan lain daun artichoke selain sebagai hepatoprotektor, yaitu: menurunkan
lipid darah dan kolesterol, efek hepatobiliari yg mempengaruhi koleresis, antidispepsia dan
Pulan Widyanati_1106107214
Page 16
efek pd saluran pencernaan, sindrom iritabel bowel, antioksidan, antimikroba, antidiabetes
(Assessment Report on Cynara scolymus L., Folium, 2010).
5.
Dosis
Ekstrak daun artichoke 1,5 g/hari untuk menurunkan serum kolesterol dan
trigliserida pada penelitia survei post marketing (DerMarderosian & Beutler, 2008).
III.
Ekstrak Curcuma longa rhizoma
Ekstrak curcuma longa rhizoma telah dijelaskan sebelumnya pada formula I
Analisa Rasionalisasi Formula II
No
Komposisi
Kand Kimia
Mekanisme
Kegunaan
Hepatoprotektor
1.
Ekstrak
Cardui
Silibinin
Antioksidan
mariae fructus
Antiinflamasi,
menghambat lipid
peroksidasi dan
menstimulasi biosintesis
protein
2.
Ekstrak
Cynarae
folium
Cynarin,
Asam Kafeat,
Luteolin
3.
Ekstrak Curcuma
Kurkumin
Antihepatosit
Antioksidan
Antioksidan
efek hepatobiliari yang
mempengaruhi koleresis
Antiinflamasi, antiviral
longa rhizoma
Kesimpulan: Formula tersebut rasional karena saling mendukung satu sama lain
kegunaannya sebagai hepatoprotektor
Pulan Widyanati_1106107214
Page 17
PENUTUP
Berdasar hasil telaah pustaka dengan didukung hasil penelitian secara praklinik dan
atau klinik, diketahui bahwa formula I yang berisi ekstrak herba meniran, ekstrak rimpang
kunyit dan ekstrak rimpang temulawak dapat digunakan sebagai hepatoprotektor. Begitu
juga dengan formula II yang mengandung ekstrak biji silymarin, ekstrak daun artichoke dan
ekstrak rimpang kunyit dapat digunakan sebagai hepatoprotektor. Selain itu formula I dan
formula II rasional komposisinya untuk digunakan sebagai hepatoprotektor
Pulan Widyanati_1106107214
Page 18
DAFTAR ACUAN
Acuan Sediaan Herbal. (2007).
(1 ed. Vol. 3). Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
Akram, M., shahab-uddin, Ahmed, A., Usmanghani, K., Hannan, A., Mohiuddin, E., et al.
(2010). Curcuma longa and curcumin: a review article. Rom. J. Biol. – Plant Biol.,
55(2), 65-70.
Anggakusuma, A., Yanti, Y., Lee, M., & Hwang, J. K. (2009). Estrogenic activity of
xanthorrhizol isolated from Curcuma xanthorrhiza Roxb. Biol. Pharm. Bull. ,
32(11), 1892-1897.
Assessment Report on Cynara scolymus L., Folium. (2010). London: European Medicines
Agency.
DerMarderosian, A., & Beutler, J. A. (Eds.). (2008). The Review of Natural Products: The
Most Complete Source of Natural Product Information (5 ed.). Missouri: Wolters
Kluwer Health.
Gruenwald, J., Brendler, T., & Janicke, C. (2004). PDR for Herbal Medicine (3 ed.). New
Jersey: Thomson PDR.
Hwang, J. K., & Rukayadi, Y. Challenges and opportunities in applying temulawak
(Curcuma xanthorrhiza roxb.) for industrial oral care products. 25-32.
Itokawa, H., Shi, Q., Akiyama, T., Morris-Natschke, S. L., & Lee, K. H. (2008). Recent
advances in the investigation of curcuminoids. Chinese Medicine 3(11), 1-13.
Kim, A. J., Kim, Y. O., Shim, J. S., & Hwang, J. K. (2007). Immunostimulating activity of
crude polysaccharide extract isolated from Curcuma xathorrhiza Roxb. Biosci.
Biotechnol. Biochem., 71(6), 1428-1438.
Mangunwardoyo, W., Deasywaty, D., & Usia, T. (2012). Antimicrobial and identification
of active compound Curcuma xanthorrhiza roxb. IJBAS-IJENS 12(1), 69-78.
Negi, A. S., Kumar, J. K., Luqman, S., Shanker, K., Gupta, M. M., & Khanuja, S. P. S.
(2008). Recent advances in plant hepatoprotectives: a chemical and biological
profile of some important leads. Inc. Med Res Rev, 28(5), 746-772.
Pulan Widyanati_1106107214
Page 19
Ross, I. A. (1999). Medicinal Plants of the World: Chemical Constituents, Traditional and
Modern Medicinal Uses. New Jersey: Humana Press.
Saleem, T. S. M., Chetty, C. M., Ramkanth, S., Rajan, V. S. T., Kumar, K. M., &
Gauthaman, K. (2010). Hepatoprotective herbs – a review. Int. J. Res. Pharm. Sci. ,
1(1), 1-5.
Sharma, A., Sharma, M. S., Mishra, A., Sharma, S., Kumar, B., & Bhandari, A. ( 2011). A
review on thar plants used in liver diseases. IJRPC, 1(2), 224-236.
Pulan Widyanati_1106107214
Page 20
Download