Hipocalcemia - WordPress.com

advertisement
Hipocalcemia
Hipocalcemia adalah kondisi yang dikarakterisasikan dengan kurangnya calcium pada
Extracelullar Fluid dalam jumlah yang besar.
Chronic hypocalcemia dapat diakibatkan :
o Kegagalan sekresi PTH
o Kegagalan responsive PTH
o Defisiensi vitamin D
o Resistensi vitamin D
Hypocalcemia acute paling sering terjadi akibat konsekuensi dari respon adaptive yang
berlebihan seperti pada rhabdomyolysis (putusnya serat otot lurik), dimana phosphate yang
putus mengisi ECF dan phosphate akan mengikat calcium, sehingga calcium fungsional
dalam darah berkurang.
Clinical Features
Sebagian besar sign and symptom hypocalsemia terjadi akibat peningkatan exitability
neuromuscular, seperti : tetany, paresthesia (perasaan kesemutan), seizure (kejang) dan
organic brain syndrome atau karena deposisi kalsium di jaringan lunak (soft tissue), seperti :
katarak, kalsifikasi basal ganglia.
a. Manifestasi Neuromuskular
Perubahan kadar ion calcium dalam ECF menyebabkan efek fisiologis yang ekstrim.
Normalnya, homeostasis calcium dijaga dalam rentang yang sangat ketat, sehingga
jika terdapat sedikit perubahan, maka efeknya akan sangat ekstrim.
Salah satu manifestasi neuromuscular hypocalcemia adalah tetany. Tetany adalah
keadaan terjadinya kontraksi tonik dari otot secara spontan. Biasanya terjadi jika
kadar kalsium dalam darah < 9 mg/dl. Tetany akan dijelaskan kemudian secara
terperinci.
Tetany kadang disertai dengan adanya tingling paraesthesia (baal, kesemutan, kebas)
di jari dan sekitar mulut, tapi yang paling klasik adalah carpopedal spasm.
Carpopedal spasm ini adalah adduksi ibu jari yang diikuti dengan fleksi sendi
metacarpophalangeal, ekstensi sendi interphalangeal dan fleksi pergelangan tangan
yang menimbulkan postur main d’accoucher. Hal ini menimbulkan rasa sakit.
Efek paling berbahaya dari tetany adalah laryngospasm, yang menimbulkan
kesulitan dalam bernafas dan dapat menyebabkan kematian. Tetany dapat terlihat
dengan electromyography (EMG).
Bila kadar kalsium hanya turun sedikit (7-9 mg/dL) maka akan terjadi latent tetany,
yang dapat ditest dengan chvostek’s sign dan Trousseau’s sign
Hipokalsemia merupakan predisposisi terhadap timbulnya kejang local maupun
umum
Adapun efek terhadap Central Nerve System :
 Pseudotumor cerebri
 Papilledema (edema optic disc)
 Kebingungan
 Kelelahan
 Organic brain syndrome
 Kalsifikasi basal ganglia
 Retardasi mental (pada 20% anak dengan chronic hypocalcemia)
Manifestasi lain Hipokalsemia
(1) Cardiac effects
Penundaan repolarisasi dengan perpanjangan interval QT. Dapat terjadi kerusakan
excitation-contraction coupling dan gagal jantung.
(2) Ophthalmologic effects
Dapat menyebabkan subscapsular cataract. Keparahan bergantung pada durasi dan
level hypocalsemia.
(3) Dermatologic effects
Kulit seringkali kering dan rapuh
Causes of Hypocalcemia
1. Hypoparathyroidism
Dapat disebabkan oleh surgical, autoimmune, familial atau idiopathic
Ciri hypoparathyroid : hypocalcemia, hyperphosphatemia dan kadar PTH yang rendah
atau tidak ada sama sekali.
Surgical Hypoparathyroidism
 Penyebab paling sering dari hypoparathyroidism adalah operasi di leher, dengan
pemindahan atau destruksi kelenjar parathyroid. Operasi tersebut antara lain :
operasi kanker, total thyroidectomy dan parathyroidectomy.
 Tetany muncul setelah 1-2 hari operasi, pada 50% pasien pulih kembali karena
devitalized parathyroid remnant telah menerima supply darah lagi dan
mensekresi PTH lagi. Pada beberapa pasien, hypocalcemia baru timbul
beberapa tahun setelah operasi.
Idiopathic Hypoparathyroidism
 Polyglandular Syndrome
 Berhubungan dengan chronic mucocutaneus candidiasis dan primary
adrenal insufficiency. Syndrome ini dikenal dengan Autoimmune
Polyendocrine Syndrome type I (PAS I). Disebabkan oleh mutasi pada
autoimmune regulator (AIRE) yang merupakan faktor transkripsi yang
terlibat dalam fungsi endokrin dan imunitas.
 Syndrome ini biasanya muncul pada anak-anak (5-9 tahun), disusul
beberapa tahun kemusian dengan onset candidiasis, disusuk beberapa tahun
kemudian dengan hypoparathyroidism lalu adrenal insufficiency.
 Isolated Hypoparathyroidism
 Adanya circulating parathyroid antibodies (autoimmune disease) pada
isolated atrophy parathyroid gland
 Autoantibody parathyroid ini melawan CaR (calcium sensing receptor)
diparathyroid, antibody yang berikatan ke reseptor menyebabkan PTH
tidak disekresi.
Familial Hypoparathyroidism
 Jarang terjadi
 Kelainan ini ditransmisikan secara autosomal dominant atau autosomal
rescessive.
 Pada autosomal recessive, terjadi mutasi pada gen PTH.
 Pada autosomal dominant, terjadi aktifasi mutasi pada CaR gen yang memediasi
supresi sekresi PTH.
Neonatal Hypoparathyroidism
 Merupakan bagian dari DiGeorge Syndome (dysmorphia, cardiac defect, immune
deficiency, hypoparathyroid) karena microdelesi pada kromosom 22q11.2
 HDR syndrome (hypoparathyroid, sensorineural deafness, renal anomalies)
karena kehilangan copy of GATA 3 transcription factor.
Magnesium Depletion (Kehilangan Megnesium)
 Dapat menyebabkan hypoparathyroid karena magnesium dibutuhkan untuk
stimulus coupling pada proses sejresi PTH
2. Pseudohypoparathyroidism (PHP)
Merupakan heritable disorder dari ketidakresponan sel target terhadap hormon
parathyroid.
Manifestasinya : hypocalcemia, hyperphosphate tetapi kadar PTH meningkat dan
pasien tidak responsive terhadap PTH
Terdapat 2 type pseudohypoparathyroidism berdasarkan asal prental mutant allel :
(a) PHP type 1A
Resistensi
multihormonal
disertai
dengan
Albright’s
hereditary
osteodystrophy (AHO), suatu kelainan somatic fenotip.
Kehilangan fungsi satu alel yang mengkode gen pengaktifkan G protein α
subunit (Gsα) atau GNASI membuat resistensi yang melibatkan 3 hormon :
 PTH
:
memperlihatkan
manisfestasi
klinis
hypocalcemia,
hypophosphatemia dan PTH meningkat
 TSH : biasanya ringan
 LH/FSH : dimanifetasikan dengan hypergonadotropik hypogonadisme
pada wanita
Albright Syndrome memiliki karakter : defect skeletal dan pertumbuhan.
Seperti : pendek, obesitas, tulang metacarpal atau metacarpal pendek serta
mental deficit.
(b) PHP type 1B
Resistensi terhadap PTH, namun tidak disertai somatic phenotype. Kadar G
protein α subunit (Gsα) atau GNASI normal, namun terdapat mutasi.
Resistensi hormon yang terjadi hanya pada PTH
Manifestasi klinis : hypocalcemia, hyperphosphate dan secondary
hyperparathyroidism.
3. Defisiensi vitamin D
Terjadi karena tidak cukup terpapar matahari, nutrisi yang tidak cukup atau
malabsorbsi.
Konsumsi obat-obatan yang dapat mengaktifkan katabolisme vitamin D seperti
phenytoin dan Phenobarbital dapat memperparah defisiensi vitamin D
4. Vitamin D-Dependent Rickets (VDDR) Type I
Disebut juga pseudovitamin D deficiency
Merupakan autosomal recessive disease yang jarang terjadi. Mutasi terjadi pada gen
25(OH)D 1-hydroxylase.
Pasien tidak merespon vitamin D pada dosis rendah, tetapi merespon dalam dosis
pharmacologic atau calsitriol dalam dosis fisiologis.
5. Vitamin D-Dependent Rickets (VDDR) Type II
Disebut juga hereditary 1,25 (OH)2 D3 resistance ricket
Disebabkan inaktifasi mutasi pada gen VDR. Lokasi mutasi menentukan keparahan
penyakit.
Selain menunjukkan defisiensi vitamin D, pasien juga menunjukkan alopecia
(kebotakan)
6. Hypocalcemic Disorder lainnya
Hypoalbuminemia dapat menyebabkan low total serum calcium. Hal ini dikarenakan
penurunan bound fraction dari calcium, namun free calcium tetap normal.
Download