peran ppr dalam radiologi diagnostik dan intervensional

advertisement
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
PERAN PPR
DALAM RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL
Togap Marpaung
Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Jalan Gajah Mada No.8, Jakarta, 10120
Abstrak
PERAN PPR DALAM RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL. Latar belakang
tulisan ini adalah adanya persepsi yang kurang tepat mengenai status PPR secara legal, selain itu peran
PPR hanya dianggap sekedar persyaratan teknis untuk memenuhi peraturan Masyarakat sains nuklir yang
bekerja di bagian radiologi rumah sakit, khususnya Radiografer menganggap PPR suatu profesi, pendapat
ini masuk akal karena pada umumnya PPR adalah praktisi medik yang berasal dari bagian radiologi.
Berdasarkan UU No. 10 Tahun 1997 dinyatakan bahwa PPR adalah “kedudukan sesuai tanggung jawab”
dan “setiap petugas tertentu (PPR) di dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi pengion wajib
memiliki izin berupa surat izin bekerja (SIB)”. PP No. 33 Tahun 2007 menegaskan bahwa PPR adalah
petugas yang ditunjuk oleh Pemegang Izin (PI) dan oleh BAPETEN dinyatakan mampu melaksanakan
pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi. Klassifikasi PPR terdiri dari 3 tingkatan dan mereka
adalah PPR Medik Tingkat 2. Hingga bulan September 2010, sesuai data [email protected], jumlah PPR Medik Tingkat
2 adalah 2.350 personil. Masa berlaku SIB adalah 4 tahun dan untuk perpanjangan SIB maka PPR wajib
mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh BAPETEN. Dasar hukum adalah Perka BAPETEN No.15
Tahun 2008. Perwujudan peran PPR dapat tercermin dari terpenuhinya persyaratan administrasi terkait
dengan masalah perizinan dan persyaratan keselamatan radiasi penggunaan pesawat sinar-X. Semua
persyaratan tersebut menjadi tanggung jawab PPR. Ruang lingkup adalah pembahasan peran PPR terkait
dengan tanggung jawabnya dalam rangka menjamin implememtasi dari program proteksi dan keselamatan
radiasi (Program P & KR).
Kata kunci: PPR, Radiologi Diagnostik dan Intervensional, Pesawat Sinar-X, Program P & KR.
Abstract
RULE OF RPO IN DIAGNOSTIC AND INTERVENTIONAL RADIOLOGY. The Background of
this paper is there is an incorrect perception on status of RPO legally, besides that the role of RPO just
consider as a technical requirement to comply with the regulations. Nuclear scientists who work at radiology
department in hospital, especially Radiographers consider that RPO as a profession, this opinion makes
sense because they are medical practitioners in general, coming from department of radiology. Based on Act
No. 10 Year 1997 stated that RPO is “a status related with responsibility” and “every particular personnel
(RPO) in installation which utilize ionizing radition shall have a license as a working permit (WP)”.
Government Regulation No. 33 Year 2007 states that RPO is a personnel which is pointed by Licensee and by
Regulatory Authority declared they are capable to perform their job which is relevant to radiation protection.
Classification of RPO consits of 3 levels and they are RPO of Medical Level 2. Until September 2010, refer
to [email protected] data, number of RPO Medical Level 2 are 2,350 personnels. Validity of WP is 4 years and to extend
it, RPO shall follow a refresher course conducted by BAPETEN. Legal basis is Chairman Regulation of
BAPETEN No. 15 Year 2008. Realization of the role of RPO can be reflected from by complying with the
administrative requirement related to a problem of licensing process and radiation safety requirement for the
use of X-ray equipment. All those requirements become a responsibility of RPO. Scope is a discussion of the
Togap Marpaung
99
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
role of RPO related to their reponsibility in the frame of ensuring the implementaion of radition protection
and safety program (RP & S Program).
Keywords: RPO, Diagnostic Radiology and Interventional, X-ray equipment, R P & S Program.
PENDAHULUAN
Pemahaman oleh sebagian besar masyarakat sains
nuklir yang bekerja di bagian radiologi rumah sakit,
khususnya Radiografer bahwa PPR merupakan
suatu profesi yang sama dengan profesi lain, hal ini
dapat menjadi masuk akal karena pada umumnya
PPR adalah tenaga kesehatan yang berasal dari
bagian radiologi. Namun pendapat ini suatu hal
yang keliru karena tidak sesuai dengan fakta juridis
sebagaimana diatur dalam UU No. 10 Tahun 1997
tentang Ketenaganukliran, PPR adalah suatu
kedudukan sesuai tanggung jawab. Demikian
halnya dalam ketentuan umum PP No. 33 Tahun
2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan
Keamanan Sumber Radioaktif, dijelaskan bahwa
PPR adalah petugas yang ditunjuk oleh PI dan oleh
BAPETEN dinyatakan mampu melaksanakan
pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi
radiasi.
Namun demikian seseorang dapat menjadi
PPR harus terlebih dahulu menjadi personil yang
profesional bahkan secara ideal yang bersangkutan
telah memiliki pengetahuan yang komprehensif
terkait dengan tanggung jawab yang dipikulnya
dalam hal penerapan proteksi radiasi sedemikian
sehingga
dapat menjamin terselenggaranya
keselamatan radiasi hingga terwujudnya budaya
keselamatan.
Terminologi Keselamatan Radiasi atau
Keselamatan Radiologik dan Proteksi Radiasi atau
Proteksi Radiologik adalah sering digunakan secara
bersamaan yang dapat dipertukarkan sebagai
contoh, Petugas Proteksi Radiasi-PPR (Radiation
Protection Officer-RPO) atau Petugas Keselamatan
Radiasi-PKR (Radiation Safety Officer-RSO).
Dalam publikasi Badan Tenaga Atom Internasional
(International Atomic Energy Agency-IAEA) juga
disebutkan dua terminologi tersebut (RPO dan
RSO), sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia
menggunakan penyebutan PPR, negara Amerika
dengan penyebutan PKR, bahkan negara Inggris
dengan penyebutan Penasehat Proteksi Radiasi-PPR
(Radiation Protection Adviser-RPA). Nomenklatur
sebagai PPR atau PKR mempunyai peran yang
sama, hal itu tergantung dari Badan Pengawas suatu
negara menetapkan personil sebagai PPR atau PKR.
Oleh sebab itu, suatu saat boleh saja penyebutan
personil tersebut berubah menjadi Petugas Proteksi
dan Keselamatan Radiasi (PP&KR).
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
Untuk pemanfaatan tenaga nuklir di bidang
medik, PPR dapat berasal dari tenaga kesehatan
dengan profesi yang berbeda-beda, misalnya
sebagai radiografer, fisikawan medik, dokter
spesialis radiologi atau dokter gigi. Namun
demikian PI sebagai penanggung jawab utama
dalam hal keselamatan radiasi seharusnya
menentukan
personil
PPR
berdasarkan
kompetensinya dengan beberapa pertimbangan
yang objektif bukan karena faktor subjektif.
Nilai Tambah Sebagai PPR
Menjadi PPR merupakan suatu pilihan, idaman,
rasa bangga serta kepuasan tersendiri karena
pimpinan rumah sakit, klinik, praktek dokter atau
puskesmas
akan menunjuk PPR sebagai
penanggung jawab keselamatan radiasi. Manfaat
penunjukan sebagai PPR ini dapat memberikan nilai
tambah, sebagai contoh penambahan pendapatan
berupa uang karena PPR merupakan salah satu
persyaratan izin penggunaan pesawat Sinar-X yang
wajib dipenuhi oleh Pemohon Izin.
Kebijakan BAPETEN mengenai PPR di
Bidang Medik ini dapat bertugas untuk 3 (tiga)
instansi, misalnya rumah sakit, klinik dan praktek
dokter asalkan lokasinya berdekatan. Apabila PPR
adalah seorang praktisi medik dengan profesi
sebagai Radiografer maka yang bersangkutan dapat
merangkap tugasnya yang sekaligus bertindak
sebagai PPR. Menurut ketentuan dari Kementerian
Kesehatan seorang Radiografer dapat melaksanakan
tugas rangkap profesi untuk 2 (dua) intansi. Sesuai
dengan Perka BAPETEN No. 15 Tahun 2008
tentang Persyaratan untuk Memperoleh Surat Izin
Bekerja bagi Petugas Tertentu di Instalasi yang
Memanfaatkan Sumber Radiasi Pengion, untuk
radiologi diagnostik dan intervensional adalah PPR
Medik Tingkat 2 (dua).
Nilai tambah lain sebagai PPR adalah bagi
PPR khususnya yang bekerja di intansi pemerintah,
seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dapat
mengajukan diri sebagai tenaga fungsional
pengawas radiasi. Demikian halnya potensi PPR
yang juga bekerja di lingkungan rumah sakit milik
tentara (angkatan darat, laut dan udara) serta
kepolisian dapat menjadi tenaga fungsional
pengawas radiasi. Kesempatan sebagai tenaga
100
Togap Marpaung
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
fungsional pengawas radiasi yang berasal dari luar
instansi BAPETEN sudah ada, yaitu staf Badan
Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejak beberapa
tahun yang lalu. Salah satu ketentuan menjadi
tenaga fungsional adalah PPR wajib mengikuti dan
lulus
pelatihan
tenaga
fungsional
yang
diselenggarakan oleh BAPETEN.
PPR juga sebagai mitra kerja dari BAPETEN
dalam berbagai situasi, misalnya ketika proses
permohonan
izin,
inspektur
BAPETEN
melaksanakan inspeksi, dalam hal terjadi situasi
abnormal atau insiden (paparan berlebih),
konsultasi publik mengenai draf peraturan atau
sosialisasi mengenai peraturan yang baru, dan
sistem perizinan. Jelasnya PPR merupakan kontak
person dari pihak BAPETEN tetapi bukan sebagai
perpanjangan tangan dari BAPETEN.
terpidana dipidana dengan kurungan paling
lama 6 (enam) bulan.
Selanjutnya UU No. 10 Tahun 1997 ini
mengamanatkan beberapa hal yang terkait dengan
PPR dalam bentuk peraturan pelaksanaannya, yaitu
PP dan Perka BAPETEN.
a.
Dalam ketentuan umum PP No. 33 Tahun 2007
tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan
Keamanan Sumber Radioaktif sebagai pelaksanaan
ketentuan pasal 16 UU No. 10 Tahun 1997,
ditetapkan bahwa PPR adalah petugas yang
ditunjuk oleh PI dan oleh BAPETEN dinyatakan
mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan
dengan proteksi radiasi. Pada pasal 6 ayat 1,
ditetapkan bahwa penanggung jawab keselamatan
radiasi terdiri dari: (a) pemegang izin (PI); dan (2)
pihak lain yang terkait dengan pelaksanaan
pemanfaatan tenaga nuklir.
Pada ayat 2, tanggung jawab PI, terkait
dengan peran PPR, sebagai berikut:
1. membentuk dan menetapkan pengelola
keselamatan radiasi di dalam fasilitas atau
instalasi sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya.
2. menyusun, mengembangkan, melaksanakan,
dan mendokumentasikan Program P & KR,
yang dibuat berdasarkan sifat dan risiko untuk
setiap pemanfaatan tenaga nuklir.
Dalam hal ini, PI dalam melaksanakan
tanggung jawabnya dapat mendelegasikan kepada
atau menunjuk personil yang bertugas di fasilitas
atau instalasinya untuk melakukan tindakan yang
diperlukan dalam mewujudkan keselamatan radiasi.
Pendelegasian atau penunjukan tidak membebaskan
PI dari pertanggung jawaban hukum jika terjadi
situasi yang dapat membahayakan keselamatan
pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan hidup.
Penanggung jawab keselamatan radiasi wajib
mewujudkan budaya keselamatan pada setiap
pemanfaatan tenaga nuklir dengan cara:
1. membuat standar operasi prosedur dan
kebijakan yang menempatkan proteksi dan
keselamatan radiasi pada prioritas tertinggi;
2. mengindetifikasi dan memperbaiki faktorfaktor yang mempengaruhi proteksi dan
keselamatan radiasi sesuai dengan tingkat
potensi bahaya;
3. mengidentifikasi secara jelas tanggung jawab
setiap personil atas proteksi dan keselamatan
radiasi;
4. menetapkan kewenangan yang jelas masingmasing personil dalam setiap pelaksanaan
proteksi dan keselamatan radiasi;
DASAR HUKUM MENGENAI PERAN PPR
U U No. 10 Tahun 1997
Dalam Undang-undang (UU) No. 10 Tahun 1997
tentang Ketenaganukliran, pada Bab V Pengawasan,
pasal 19 ayat 1, menetapkan bahwa “setiap petugas
yang mengoperasikan reaktor nuklir dan petugas
tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di
dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi
pengion wajib memiliki izin. Pada ayat 2 ditetapkan
bahwa, “persyaratan untuk memperoleh izin
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diatur oleh
Badan Pengawas.
Pada bagian penjelasan ayat 1 diuraikan
bahwa kedudukan petugas dalam pengoperasian
reaktor nuklir dan pemanfaatan sumber radiasi
sangat penting. Mengingat peranannya dapat
menentukan aman atau tidaknya pengoperasian dan
pemanfaatan itu, maka untuk mendapatkan izin,
petugas tersebut harus menjalani suatu pengujian
untuk membuktikan kualifikasinya. Sedangkan
yang dimaksud petugas tertentu adalah, antara lain,
ahli radiografi, operator radiografi, petugas proteksi
radiasi, petugas dosimetri dan petugas perawatan.
Oleh karena ada kewajiban bagi petugas
tertentu, khususnya PPR memperoleh izin dari
Badan Pengawas maka UU No. 10 Tahun 1997 ini
juga mengatur mengenai sanksi pidana terkait
dengan pelanggaran ketentuan tersebut, yang
ditetapkan pada bab VIII, Ketentuan Pidana, pasal
42, yaitu:
ayat 1: Barang siapa melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan ketentuan pasal 19 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
ayat 2: Dalam hal tidak mampu membayar
denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Togap Marpaung
PP No. 33 Tahun 2007
101
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
5.
6.
membangun jejaring komunikasi yang baik
pada seluruh tingkatan organisasi, untuk
menghasilkan arus informasi yang tepat
mengenai proteksi dan keselamatan radiasi; dan
menetapkan kualifikasi dan pelatihan yang
memadai untuk setiap personil.
4.
5.
6.
terjadi;
perubahan rona lingkungan yang berpengaruh
pada proteksi dan keselamatan;
kemungkinan terjadinya kesalahan prosedur
penmgoperasian, dan akibat yang ditimbulkan;
dan/atau
dampak terhadap proteksi dan keselamatan,
jika dilakukan modifikasi.
PP. No. 29 Tahun 2008
Perka BAPETEN No.15 Tahun 2008
Dalam PP No. 29 Tahun 2008 tentang Perizinan
Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan
Nuklir, sebagai pelaksanaan pasal 17 UU No. 10
Tahun 1997 tersebut, pada pasal 14 ayat 1, bagian
ketiga, ditetapkan bahwa Persyaratan Teknis untuk
pemanfaatan tenaga nuklir di bidang medik, sebagai
berikut:
1. prosedur kerja;
2. spesifikasi teknis sumber radiasi pengion atau
bahan nuklir yang digunakan, sesuai dengan
standar keselamatan radiasi;
3. perlengkapan proteksi radiasi dan/atau
peralatan keamanan sumber radioaktif;
4. Program P & KR dan/atau keamanan sumber
radioaktif;
5. laporan verifikasi keselamatan radiasi dan/atau
keamanan sumber radioaktif;
6. hasil pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi;
7. data kualifikasi personil, yang meliputi:
a. PPR dan personil lain yang memiliki
kompetensi;
b. personil yang menangani sumber radiasi
pengion; dan/atau
c. petugas keamanan sumber radioaktif atau
bahan nuklir.
Selanjutnya dalam bagian penjelasan
diuraikan bahwa Program PK & R berisi tentang:
1. penyelenggara keselamatan radiasi;
2. personil yang bekerja di fasilitas atau instalasi;
3. pembagian daerah kerja;
4. pemantauan
paparan
radiasi
dan/atau
kontaminasi radioaktif di daerah kerja;
5. pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar
fasilitas atau instalasi;
6. program jaminan mutu proteksi dan
keselamatan radiasi; dan
7. rencana penanggulangan keadaan darurat;
Sedangkan Laporan Verifikasi Keselamatan
Radiasi antara lain berisi tentang:
1. sifat dan besarnya paparan potensial, serta
kemungkinan terjadinya;
2. batasan dan kondisi teknis untuk pngoperasian
sumber
3. kemungkinan terjadinya kegagalan struktur,
sistem, komponen, dan/atau kesalahan prosedur
yang terkait dengan proteksi dan keselamatan,
serta dampak yang ditimbulkan jika kegagalan
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
Ketentuan yang mengatur mengenai kualifikasi PPR
adalah Perka BAPETEN No. 15 Tahun 2008
tentang Persyaratan untuk Memperoleh Surat Izin
Bekerja bagi Petugas Tertentu di Instalasi yang
Memanfaatkan Sumber Radiasi Pengion. Perka ini
merupakan amanat langsung dari pasal 19 UU No.
10 Tahun 1997. Pada Bab II, bagian kesatu PPR,
Pasal 3, ditetapkan PPR dikelompokkan menjadi 2
(dua), meliputi:
1. PPR untuk Industri; dan
2. PPR untuk Medik
PPR untuk Medik diklassifikasikan menjadi:
1. PPR Medik Tingkat 1 (satu);
2. PPR Medik Tingkat 2 (dua); dan
3. PPR Medik Tingkat 3 (tiga);
PPR Medik Tingkat 1 (satu) melipiti PPR
yang bekerja pada instalasi yang memanfaatkan
sumber radiasi pengion untuk kegiatan:
1. ekspor zat radioaktif;
2. impor dan pengalihan zat radioaktif dan/atau
pembangkit radiasi pengion;
3. penggunaan
dan/atau
penelitian
dan
pengembangan dalam:
a. radioterapi;
b. kedokteran nuklir diagnostik in vivo;dan
c. kedokteran nuklir terapi.
PPR Medik Tingkat 2 (dua) meliputi PPR
yang bekerja pada instalasi yang memanfaatkan
Sumber Radiasi Pengion untuk kegiatan:
1. pengalihan zat radioaktif dan/atau pembangkit
radiasi pengion; dan
2. penggunaan
dan/atau
penelitian
dan
pengembangan dalam radiologi diagnostik dan
intervensional.
PPR Medik Tingkat 3 (tiga) adalah PPR yang
bekerja pada instalasi yang memanfaatkan sumber
radiasi pengion untuk kegiatan penggunaan
dan/atau penelitian dan pengembangan dalam
kedokteran nuklir diagnostik in vitro.
Dalam hal ini, setiap orang untuk dapat
menjadi PPR wajib memiliki Surat Izin Bekerja
(SIB) dan wajib lulus ujian untuk memperoleh SIB
yang diselenggarakan oleh Kepala BAPETEN.
Ujian untuk memperoleh SIB PPR, meliputi ujian
tertulis dan lisan. Adapun persyaratan ujian untuk
memperoleh PPR, meliputi:
102
Togap Marpaung
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
1.
2.
berusia paling rendah 18 (delapan belas tahun);
berijazah serendah-rendahnya D-III jurusan
eksakta atau teknik;
3. berbadan sehat; dan
4. lulus pelatihan PPR.
Masa berlaku untuk PPR Medik Tingkat 1
berlaku selama 3 (tiga) tahun, untuk PPR Medik
Tingkat 2 berlaku selama 4 (empat) tahun; dan
untuk PPR Medik Tingkat 3 berlaku selama 5 (lima)
tahun.
Pemegang SIB PPR wajib mengikuti 1 (satu)
kali Pelatihan Penyegaran yang diselenggarakan
oleh Kepala BAPETEN selama masa berlaku SIB.
Selanjutnya SIB PPR berakhir jika:
1. habis masa berlaku SIB; atau
2. dicabut oleh Kepala BAPETEN.
Kepala BAPETEN langsung mencabut SIB
PPR jika:
1. Pemegang SIB PPR menyampaikan data yang
tidak benar dalam dokumen persyaratan untuk
memperoleh SIB;
2. Pemegang SIB PPR karena perbuatannya
terbukti menurut peraturan perundangundangan menyebabkan terjadinya kecelakaan
radiasi.
banyak profesi sebagai praktisi medik tersebut
tergantung dari status rumah sakit, misalnya tipe
atau kelasnya, yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain: jumlah pasien (beban kerja),
jumlah dan jenis pesawat sinar-X yang tersedia
serta kualifikasi personil (sumber daya manusia).
Untuk layanan radiologi yang sederhana PPR dapat
dirangkap oleh radiografer bahkan untuk praktek
dokter gigi perorangan, seorang Pemilik pesawat
sinar-X gigi dapat berfungsi ganda, yaitu sebagai
PI, PPR, Operator dan Dokter gigi yang kompeten
untuk membaca citra radiologi. Dalam halini,
Radiografer tidak hanya kompeten mengerjakan
pembuatan citra sesuai permohonan dokter yang
memberi rujukan tetapi juga tetap dalam koridor
proteksi dan keselamatan radiasi.
Kementerian Kesehatan melalui lembaga
pendidikan politeknik kesehatan (Poltekkes) yang
menyelenggarakan
tenaga
kesehatan
untuk
radiologi juga telah meningkatkan kemampuan
personilnya. Untuk bidang atau disiplin ilmu
tertentu, yang pada awalnya pendidikan seorang
Radiografer hanya strata D3 (diploma tiga)
ditingkatkan menjadi D4 (dilpoma empat).
Kebutuhan peningkatan komptensi Radiografer
karena tuntutan prosedur yang semakin kompleks,
peralatan yang semakin canggih dan sistem
manajemen radiologi yang berbasis mutu. Semua
hal
ini
didedikasikan
demi
terwujudnya
keselamatan pasien dari semua aspek (tidak hanya
aspek keselamatan radiasi tetapi juga aspek
lainnya). Radiografer yang sudah berpendidikan D4
ini juga dapat sebagai PPR, apalagi yang
bersangkutan telah ditunjuk PI sebagai Kepala
ruangan radiologi.
Pilihan yang ideal sebagai PPR seharusnya
berasal dari latar belakang pendidikan fisika medis
berdasarkan beberapa pertimbangan yang objektif,
sebagaimana lazimnya di negara maju (misalnya
Amerika, Australia, Jepang dan Jerman) dan negara
berkembang (Filipina, Malaysia, Thailan, dan
Singapur). Tenaga Fisika Medis adalah tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi dalam bidang
fisika medik klinik dasar. Bahkan untuk rumah sakit
yang memiliki fasilitas layanan nuklir yang
lengkap, meliputi: radiologi diagnostik dan
intervensional, radioterapi dan kedokteran nuklir,
PPR adalah seorang pakar, yaitu seorangi Fisikawan
Medis dengan latar belakang pendidikan S (3) atau
setidaknya S (2) yang sangat kompeten dalam
bidangnya. Tenaga Ahli (Qualified Expert) adalah
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam
bidang fisika medik klinik lanjut, telah mengikuti
clinical residence, dan telah bekerja di instalasi
radiologi paling kurang 5 (lima) tahun.
Personil Berkualifikasi, Tugas dan Tanggung
Jawab
Personil Berkualifikasi
Salah satu hal penting yang diatur dalam draf Perka
BAPETEN terkait penggunaan pesawat sinar-X
adalah kualifikasi personil dan peran PPR yang
diuraikan dalam bentuk tugas dan tanggung jawab.
Penanggung jawab utama keselamatan radiasi
adalah PI, namun pihak terkait lain juga tetap
memiliki tanggung jawab sesuai peran tiap personil
yang berkualifikasi meliputi: (1) PPR; (2)
Radiografer; 3) Dokter yang Kompeten; (4)
Fisikawan Medis; (5) Tenaga Ahli (Qualified
Expert). Personil ini adalah tenaga kesehatan yang
bertindak sebagai praktisi medik di bagian radiologi
sesuai dengan profesinya.
Menjadi PPR harus terlebih dahulu menjadi
seorang yang profesional bahkan secara ideal yang
bersangkutan telah memiliki pengetahuan yang
mumpuni atau komprehensif terkait dengan
tanggung jawab yang dipikulnya dalam hal proteksi
dan keselamatan radiasi. Oleh karena itu, seseorang
menjadi PPR dapat berasal dari praktisi medik yang
berprofesi antara lain sebagai Radiografer,
Fisikawan Medis dan Dokter yang kompeten
(misalnya Dokter spesialis radiologi-DSR, Dokter
spesialis kardiologi, Dokter spesialis radiologi
kedokteran gigi, Dokter umum, dan Dokter gigi).
Idealnya yang menjadi PPR dari sekian
Togap Marpaung
103
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
Tugas dan Tanggung Jawab
5.
Ketersinggungan hubungan kerja antara PPR dan
Fisikawan Medis saling menunjang dan melengkapi
sebagaimana diuraikan dalam tugas dan tanggung
jawab masing-masing personil tersebut di bawah
ini.
6.
7.
8.
Tugas dan Tanggung Jawab PPR
Tugas dan tanggung jawab PPR adalah sebagai
berikut:
1. mengetahui, memahami dan melaksanakan
semua ketentuan keselamatan kerja radiasi;
2. membuat dan memutakhirkan Program P &
KR;
3. memantau aspek operasional Program P & KR;
4. memastikan ketersediaan dan kelayakan
perlengkapan proteksi radiasi, dan memantau
pemakaiannya;
5. meninjau secara sistematik dan periodik,
program pemantauan di semua tempat di mana
pesawat sinar-X digunakan;
6. memberikan konsultasi yang terkait dengan
proteksi dan keselamatan radiasi;
7. berpartisipasi dalam mendesain fasilitas
radiologi;
8. memelihara rekaman;
9. mengidentifikasi
kebutuhan
dan
mengorganisasi kegiatan pelatihan;
10. melaksanakan latihan penanggulangan dan
pencarian keterangan dalam hal paparan
darurat;
11. melaporkan kepada PI setiap kejadian
kegagalan operasi yang berpotensi kecelakaan
radiasi; dan
12. menyiapkan
laporan
tertulis
mengenai
pelaksanaan Program P & KR, dan verifikasi
keselamatan yang diketahui oleh PI untuk
dilaporkan kepada Kepala BAPETEN
Tugas dan Tanggung Jawab Jawab Fisikawan
Medis
Tugas dan tanggung jawab Fisikawan Medis adalah
sebagai berikut:
1. mengetahui, memahami dan melaksanakan
semua ketentuan keselamatan kerja radiasi;
2. berpartisipasi dalam meninjau ulang secara
terus menerus keberadaan sumber daya
manusia, peralatan, prosedur, dan perlengkapan
proteksi radiasi;
3. melakukan uji kesesuaian pesawat sinar-X
apabila instalasi tersebut memiliki peralatan
yang memadai;
4. melakukan perhitungan dosis terutama untuk
menentukan dosis janin pada wanita hamil;
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
merencanakan, mengimplementasikan, dan
supervisi prosedur jaminan mutu;
berpartisipasi dalam investigasi dan evaluasi
kecelakaan radiasi;
memberikan kontribusi terhadap program
pelatihan proteksi radiasi; dan
bersama DSR dan Radiografer, memastikan
kriteria penerimaan mutu hasil pencitraan dan
justifikasi dosis paparan radiasi sinar-X yang
diterima oleh pasien
Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli
(Qualified Expert)
Tugas dan tanggung jawab Tenaga Ahli adalah
sebagai berikut
1. mengetahui, memahami, dan melaksanakan
semua ketentuan keselamatan kerja radiasi.
2. meninjau ulang Program P & KR; dan
3. memberikan pertimbangan berdasarkan aspek
Keselamatan Radiasi, praktik rekayasa yang
teruji, dan kajian keselamatan secara
komprehensif untuk peningkatan layanan
radiologi diagnostik dan intervensional kepada
PI.
RADIOLOGI
DIAGNOSTIK
INTERVENSIONAL
DAN
Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang
berhubungan dengan penggunaan semua modalitas
yang menggunakan radiasi untuk diagnosis dan
prosedur terapi dengan menggunakan panduan
radiologi, termasuk teknik pencitraan dan
penggunaan radiasi dengan sinar-X dan radioaktif.
Berdasarkan modalitas yang digunakan berupa
pesawat sinar-X maka layanan radiologi terdiri atas
radiologi diagnostik dan radiologi intervensional.
Secara umum di Indonesia, pesawat sinar-X
untuk radiologi diagnostik dan intervensional dapat
diklasifikasikan dalam 3 (tiga) jenis berdasarkan
bentuk fisik dan penginstalasiannya, meliputi:
1. Pesawat sinar-X dapat dijinjing/portabel
(portable);
2. Pesawat sinar-X mudah dipindahkan (mobile);
dan
3. Pesawat sinar-X terpasang tetap (stationery).
Penggunaan pesawat sinar-X radiologi
diagnostik dan intervensional semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Hingga bulan September 2010,
sesuai data [email protected], jumlah rumah sakit, klinik,
praktek dokter dan puskesmas sebanyak 1.359
(seribu tiga ratus lima puluh sembilan) instansi,
jumlah izin total sebanyak 3.662 (tiga ribu enam
ratusenam puluh dua) dan jumlah PPR Medik
Tingkat 2 (dua) sebanyak 2.350 (dua ribu tiga ratus
lima puluh) orang.
104
Togap Marpaung
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
c. Pesawat sinar-X C-arm/U-arm angiografi; dan
d. Pesawat sinar-X CT-scan angiografi.
Pesawat sinar-X selain digunakan untuk
radiologi diagnostik secara umum, ada juga pesawat
sinar-X untuk penunjang radioterapi terdiri atas:
a. Pesawat sinar-X simulator;
b. Pesawat sinar-X CT-scan untuk simulator;
c. Pesawat sinar-X CT-scan simulator; dan
d. Pesawat sinar-X C-arm untuk brakhiterapi.
Satu jenis lain adalah pesawat sinar-X untuk
penunjang kedokteran nuklir, yaitu pesawat sinar-X
CT-scan.
Radiologi Diagnostik
Radiologi diagnostik adalah kegiatan yang
berhubungan dengan penggunaan semua modalitas
yang menggunakan radiasi (pengion maupun bukan
pengion) untuk diagnosis dengan menggunakan
panduan radiologi. Pesawat Sinar-X digunakan
untuk menghasilkan citra dari objek yang diperiksa
dengan teknik radiografi atau fluoroskopi dan
pesawat sinar-X ini secara khusus dapat
dikelompokkan sesuai fungsinya sebagai suatu
peralatan penunnjang medik meliputi: (1)
diagnostik; (2) intervensional; (3) penunjang
radioterapi; dan (4) penunjang kedokteran nuklir.
Pesawat sinar-X diagnostik sangat beragam
jenisnya terdiri atas:
a. Pesawat sinar-X terpasang tetap untuk
pemeriksaan umum;
b. Pesawat sinar-X mobile, yang ditempatkan
dalam:
1. ruangan;
2. mobile station.
c. Pesawat sinar-X tomografi;
d. Pesawat sinar-X densitas tulang;
e. Pesawat sinar-X ESWL, dengan jenis:
1. C-arm; dan
2. konvensional.
f. Pesawat sinar-X C-arm bedah;
g. Pesawat sinar-X mamografi;
yang
ditempatkan dalam:
1. ruangan;
2. mobile station.
h. Pesawat sinar-X kedokteran gigi, meliputi:
1. intraoral konvensional;
2. intraoral digital;
3. ekstraoral konvensional;
4. ekstraoral digital;
5. CBCT-scan.
i. Pesawat sinar-X fluoroskopi; dan
j. Pesawat sinar-X CT-scan.
Jenis Pesawat Sinar-X Berdasarkan Jenis Uji
Kesesuaian
Untuk memelihara kinerja pesawat sinar-X supaya
tetap handal sesuai standar maka pesawat sinar-X
harus diuji oleh petugas uji yang berkualifikasi
secara rutin, menggunakan protokol uji yang dan
alat uji yang standar. Bahkan pesawat sinar-X yang
baru juga harus terlebih dahulu diuji sebelum
digunakan terhadap pasien. Ketentuan mengenai
kewajiban uji kesesuain (compliance testing)
pesawat sinar-X ini telah diatur dalam PP. No. 33
Tahun 2007 tentang Keselamatan Radasi Pengion
dan Keamanan Sumber Radioaktif, Secara efektif
mulai diberlakukan bulan Juni 2012.
Dari sekian banyak jenis penggunaan pesawat
sinar-X untuk radiografi dan fluoroskopi maka
pesawat sinar-X diagnostik dapat dikelompokkan
sebagai berikuti:
a. Pesawat sinar-X mobile (mobile X-ray
equipment)
b. Pesawat
sinar-X
mamografi
(mammographic X-ray equipment)
c. Pesawat sinar-X terpasang tetap/besar
(major/fixed X-ray equipment)
d. Pesawat sinar-X fluoroskopi (fluoroscopic
X-ray equipment)
e. Pesawat sinar-X gigi (dental X-ray
equipment)
f. Pesawat sinar-X CT- scan (computed
tomographic X-ray equipment)
Jenis pesawat sinar-X portabel tidak masuk
dalam lingkup pengujian berdasarkan literatur buku
kerja (work book) yang diterbitkan oleh Australia
Barat. Pesawat sinar-X gigi meliputi pesawat yang
menggunakan film atau alat penerima citra
elektronik (electronic image receptors) intra-oral,
dan
pesawat
tomografi
panoramik
atau
chepalometri yang menggunakan film maupun alat
penerima citra elektronik extra-oral. Demikian
halnya dengan jenis pesawat sinar-X CT-Scan yang
digunakan di ruang radioterapi untuk simulator dan
pesawat sinar-X CT- Scan untuk angiografi di ruang
kardiologi serta pesawat sinar-X untuk PET- CT di
Radiologi Intervensional
Radiologi intervensional adalah cabang ilmu
radiologi yang terlibat dalam terapi dan diagnosis
pasien, dengan melakukan terapi dalam tubuh
pasien melalui bagian luar tubuh dengan
memasukan berbagai macam instrumen antara lain
kateter, kawat penuntun, stent, dan lain-lain dengan
menggunakan sinar-X yang merupakan terapi
alternatif selain bedah pada berbagai kondisi dan
mengurangi kebutuhan perawatan.
Jenis pesawat sinar-X untuk intervensional
terdiri atas:
a. Pesawat sinar-X fluoroskopi;
b. Pesawat sinar-X CT-scan fluoroskopi;
Togap Marpaung
105
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
ruang kedokteran nuklir tidak dibedakan dengan
pesawat sinar-X CT-Scan di ruang radiologi.
Berbagai jenis pesawat sinar-X, sebagaimana pada
gambar berikut:
Gambar 4. Pesawat Sinar-X Fluoroskopi
Gambar 1. Pesawat Sinar-X Mobile
Gambar 5. Pesawat Sinar-X Gigi
Gambar 2. Pesawat Sinar-X Mamografi
Gambar 6. Pesawat Sinar-X CT- Scan
Gambar 3. Pesawat Sinar-X Terpasang Tetap
Gambar 7. Pesawat Sinar-X Portabel
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
106
Togap Marpaung
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
Persyaratan Administrasi
Persyaratan Manajemen
Sebagaimana diuraikan dalam tugas dan tanggung
jawab PPR untuk membantu PI, maka dalam hal
proses permohonan izin baru maupun perpanjangan
pesawat sinar-X, PPR harus memahami persyaratan
izin penggunaan pesawat sinar-X sebagai berikut:
a. fotokopi identitas pemohon izin, untuk
orang atau badan yang baru mengajukan
izin, meliputi:
1. kartu tanda penduduk (KTP), kartu izin
tinggal sementara (KITAS), paspor,
atau
surat
keterangan
domisili
perusahaan; dan
2. akta pendirian badan hukum atau badan
usaha.
b. izin pelayanan kesehatan yang diterbitkan
oleh instansi yang berwenang di bidang
kesehatan.
c. data lokasi Penggunaan Pesawat Sinar-X.
d. dokumen denah ruangan dan sekitarnya,
meliputi:
1. ukuran;
2. bahan; dan
3. ketebalan dinding ruangan.
e. fotokopi spesifikasi teknis atau manual
pesawat sinar-X dari pihak pabrikan;
f. rekaman hasil pengukuran paparan radiasi
di sekitar fasilitas yang dibuat oleh PPR
dari perusahaan yang memasang pesawat
sinar-X
g. fotokopi ijazah semua personil yang
berkompeten dalam bidang radiologi
diagnostik dan intervensional;
h. fotokopi surat izin bekerja (SIB) dari PPR;
i. fotokopi bukti permohonan pelayanan
pemantauan dosis perorangan atau hasil
evaluasi pemantauan dosis perorangan,
sesuai dengan jumlah pekerja radiasi yang
akan dicantumkan dalam Izin;
j. fotokopi bukti kepemilikan dosimeter
pembacaan langsung; dan
k. dokumen Program P & KR.
Persyaratan ini terkait dengan penyelenggaran
proteksi dan keselamatan radiasi (bentuk
organisasi), kualifikasi setiap personil, tanggung
jawab, dan rekaman.
Persyaratan Proteksi Radiasi
Persyaratan ini terkait dengan justifikasi
penggunaan pesawat sinar-X, limitasi dosis, dan
penerapan optimisasi proteksi dan keselamatan
radiasi. Optimisasi ini diterapkan melalui prinsip
optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi,
meliputi: Pembatas dosis untuk personil dan
anggota masyarakat, dan Tingkat panduan paparan
medik untuk pasien.
Persyaratan Teknik
Persyaratan ini terkait dengan standar pesawat
sinar-X sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI)
atau standar lain yang tertelusur (misal ISO),
peralatan
penunjang
radiologi,
ketentuan
operasional, ketentuan fasilitas, dan instalasi
pesawat sinar-X.
Verifikasi Keselamatan
Verifikasi ini harus dilakukan melalui dokumen
spefisikasi teknik pesawat sinar-X sesuai dengan
SNI atau standar lain yang tertelusur yang
diterbitkan oleh pihak pabrikan atau laboratorium
terakreditasi di negara asal, pemantauan paparan
radiasi, dan uji kesesuaian pesawat sinar-X serta
hasilnya harus dicatat dalam Logbook.
PERAN PPR DALAM PENERAPAN
PROGRAM P & KR
Salah satu tugas penting PPR adalah menyusun
dokumen Program P & KR sebagai salah satu
persyaratan izin, isinya disesuaikan dengan
Pedoman yang diberikan oleh BAPETEN. Prosedur
terkait dengan proteksi dan keselamatan radiasi juga
harus disusun oleh PPR dan prosedur ini dapat
dibuat tersendiri sesuai dengan jenis pesawat sinarX. Mengenai Instruksi Kerja untuk setiap
radiografer hendaknya juga dibuat oleh PPR.
Selanjutnya PI akan mensyahkan dokumen tersebut
setelah terlebih dahulu dievaluasi oleh BAPETEN.
Dokumen P & KR ini bersifat dinamis, sangat
terbuka untuk dikembangkan dan dimutakhirkan
secara periodik sesuai situasi dan kondisi baik atas
inisiatif pihak pengguna sendiri maupun
berdasarkan masukan yang disampaikan oleh
BAPETEN, antara lain melalui inspektur pada saat
Persyaratan Keselamatan Radiasi
Demikian
halnya
dengan
persyaratan
keselamatan radiasi untuk radiologi diagnostik
maupun intervensional, PPR senantiasa harus
menjamin terpenuhinya persyaratan tersebut,
meliputi:
a. persyaratan manajemen;
b. persyaratan proteksi radiasi;
c. persyaratan teknik; dan
d. verifikasi keselamatan.
Togap Marpaung
107
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
pelaksanaan inspeksi.
Tujuan Program P & KR adalah menunjukkan
tanggung jawab penyelenggara proteksi dan
keselamatan radiasi melalui penerapan struktur
manajemen, kebijakan, dan prosedur yang sesuai
dengan sifat dan tingkat risiko sedemikian sehingga
budaya keselamatan dapat terselenggara secara
konsisten.
Dokumen Program P & KR akan dibuat secara
tersendiri untuk Radiologi Diagnostik dan
Intervensional sesuai dengan sistematika di bawah
ini.
BAB I.
PENDAHULUAN
I.1.
Latar Belakang
I.2.
Tujuan
I.3.
Ruang Lingkup
I.4.
Definisi
BAB II. PENYELENGGARA PROTEKSI DAN
KESELAMATAN RADIASI
II.1. Struktur Organisasi (jika penyelenggara
dalam bentuk organisasi)
II.2. Tanggung Jawab
II.3. Pelatihan
BAB III. DESKRIPSI FASILITAS, PESAWAT
SINAR-X
DAN
PERALATAN
PENUNJANG,
DAN
PERLENGKAPAN
PROTEKSI
RADIASI
III.1. Deskripsi Fasilitas
III.2. Deskripsi Pesawat Sinar-X dan
Peralatan Penunjang
III.3. Deskripsi
Perlengkapan
Proteksi
Radiasi
BAB IV. PROSEDUR
PROTEKSI
DAN
KESELAMATAN RADIASI
IV.1. Proteksi dan Keselamatan Radiasi
dalam Operasi Normal
IV.1.1. Pengoperasian Pesawat Sinar-X
IV.1.2. Proteksi dan Keselamatan Radiasi
untuk Personil
IV.1.3. Proteksi dan Keselamatan Radiasi
untuk Pasien
IV.1.4. Proteksi dan Keselamatan Radiasi
untuk Pendamping Pasien
IV.2. Rencana Penanggulangan Keadaan
Darurat
BAB V.
REKAMAN DAN LAPORAN
V.1.
Keadaan Operasi Normal
V.2.
Keadaan Darurat
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
SARAN
1.
2.
3.
PPR wajib dimiliki fasilitas/instalasi yang
memanfaatakan tenaga nuklir dan PPR bukan
merupakan suatu profesi tetapi suatu
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
kedudukan yang mempunyai peran penting
yang diatur dalam UU No.10 Tahun 1997
tentang Ketenaganukliran.
Apabila kewajiban mengenai PPR ini
dilanggar sebagai salah satu persyaratan izin
pemanfaatan tenaga nuklir maka sanksi pidana
akan dikenakan sesuai yang ditetapkan dalam
UU No. 10 Tahun 1997.
Seseorang dapat memproleh SIB sebagai PPR
setelah dinyatakan lulus pelatihan PPR dan
juga dinyatakan lulus ujian SIB.
PPR bagaikan seorang bintang (star) yang
mempunyai peran penting di suatu instalasi
radiologi diagnostik dan intervensional karena
PPR bertindak sebagai pemeran utama sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam
hal penerapan Program P & KR.
Oleh karena PPR berasal dari tenaga kesehatan
maka PPR juga dapat mengembangkan pilihan
potensi kariernya sebagai fungsional tenaga
kesehatan atau fungsional tenaga pengawas
radiasi.
PPR juga berperan sebagai mitra kerja dari
BAPETEN tetapi PPR bukan sebagai
perpanjangan tangan dari BAPETEN.
Program P & KR merupakan salah satu
persyaratan izin dan suatu dokumen yang
dinamis, sangat terbuka untuk dikembangkan
dan dimutakhirkan secara periodik sesuai
situasi dan kondisi baik atas inisiatif pihak
pengguna sendiri maupun berdasarkan
masukan yang disampaikan oleh BAPETEN,
antara lain melalui inspektur pada saat
pelaksanaan inspeksi.
Prosedur dapat disusun secara tersendiri untuk
setiap jenis penggunaan pesawat sinar-X,
misalnya Prosedur Radiologi Khusus untuk
Angiografi.
108
Agar PI semakin memberdayakan PPR dengan
memberikan peran yang lebih besar lagi sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya untuk
menjamin penerapan Program P & KR.
Agar BAPETEN semakin meningkatkan
pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir di
bidang medik melalui kebijakan yang dapat
meningkatkan peran PPR sebagaimana diatur
dalam Perka BAPETEN.
Agar BAPETEN juga dapat melakukan
kegiatan
sosialisasi
mengenai
jabatan
fungsional
pengawas
radiasi
dengan
mengundang peserta PPR dari penggunaan
tenaga nuklir di bidang medik.
Togap Marpaung
SEMINAR NASIONAL VI
SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 18 NOVEMBER 2010
ISSN 1978-0176
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
BAPETEN, “Undang-undang No. 10 Tahun
1997 tentang Ketenaganukliran”, BAPETEN ,
Jakarta (1998).
BAPETEN, “Peraturan Pemerintah No. 33
Tahun
2007
tentang
Keselamatan
RadiasiPengion dan Keamanan Sumber
Radioaktif”, BAPETEN Jakarta (2007).
BAPETEN, “Peraturan Pemerintah No. 29
Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan
Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir”
BAPETEN, Jakarta (2008).
BAPETEN, “Draf Perka BAPETEN tentang
Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan
Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan
Intervensional”, BAPETEN, Jakarta (2009).
Marpaung, Togap; “Memahami Konsep
Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi”,
BAPETEN, Jakarta (2010).
IAEA, Building Competence in Radiation
Protection and the Safe Use of Radiation
Sources, IAEA, Vienna (2001).
Togap Marpaung
109
STTN-BATAN & Fak Saintek UIN SUKA
Download