Adulthood Through Old Age

advertisement
Adulthood Through Old Age
High-Yield Brain & Behavior
Barbara Fadem, Edward A. Monaco III
Oleh :
Titian Rakhma
Pembimbing :
dr. FX Soetedjo Widjojo., Sp. S (K)
I. Masa Dewasa

Kasus 2.1
Seorang ahli bedah ortopedi berusia 48 tahun bercerita
kepada dokter ahli penyakit dalamnya bahwa dia telah
memutuskan untuk mengakhiri praktiknya dan membuka
sebuah toko peralatan golf profesional. Dalam argumennya,
dia menjelaskan, “Sebenarnya saya menyukai pekerjaan saya
sebagai dokter ahli ortopedi, tetapi saya merasa saya
semakin tua dan hanya sekadar melewatkan hidup saja”. Ahli
bedah ortopedi tersebut baru-baru ini didiagnosis menderita
penyakit jantung koroner. Dokter penyakit dalam yang
menangani pasien tersebut mengatakan bahwa pasien
tersebut sedang mengalami krisi paruhbaya (mid-life crisis).



Periode transisional → laki-laki yang memasuki usia paruh
baya, dan tidak berpengaruh besar terhadap status
pekerjaan, profesi, perkawinan/maritalnya
Dipicu penyakit medis tertentu atau terjadinya perubahan
tatanan atau gaya hidup yang masif
Orang yang mengalami perubahan tatanan atau gaya hidup
saat menginjak usia paruh baya → resiko untuk permasalahan
fisik dan psikologis (depresi dan penyalahgunaan konsumsi
alkohol) → klinisi memperhatikan perkembangan dan
memantau status pasien melalui kunjungan yang teratur
A. Perubahan Yang Terjadi Pada Otak
Manusia Dewasa
MIELINASI
PEREMAJAAN
SINAPTIK
BERAT OTAK
• Berlangsung pada dekade ke -5 pada beberapa area otak
tertentu
• Masa dewasa (dekade ke-2 hingga ke-8) → bukti panjang total
serabut-serabut yang termyelinasi (total lenght of myelinated
fibers) menurun
• Berlanjut selama masa dewasa
• Tidak berperan sebagai salah satu determinan mayor yang
menentukan struktur makro otak
• Stabil selama masa dewasa hingga mencapai usia 45-50 tahun
• Terjadinya 2 proses : penyusutan volume substansia alba pada
usia 40 tahun dan pengaburan serta penyusutan volume
substansia grisea
B. Karakteristik Psikologis Selama Periode
Usia Dewasa Muda
Periode reapraisal
Peran individu dewasa dalam masyarakat mulai terbentuk
Perkembangan fisik mencapai puncak maksimal
Individu mulai menuntut independensi
Erikson → tahap intimasi versus isolasi
Apabila individu tidak pernah memperoleh kesempatan atau
mengalami hubungan yang intim dengan orang lain (misal,
kedekatan, hubungan seksual, dsb) isolasi → emosional
C. Karakteristik Psikologis Selama Periode Usia
Lansia (41-64 Tahun)
Karakteristik
Memiliki kekuatan dan kekuasaan yg lebih besar dibandingkan beberapa periode
kehidupannya sebelumnya
Tanggung Jawab
insting melakukan hal yang produktif, berkelanjutan atau mengalami kehampaan
Tahap generativitas vs stagnansi [generativity vs. stagnation]) dalam teori Erikson
Hubungan
krisis paruh baya dan dihubungkan dengan kesadaran individu atas proses
penuaan yang dialaminya, kematian dan terjadinya perubahan tatanan atau gaya
hidup yang tidak diinginkan
Seksualitas
Masters dan Johnson), 4 tahap : eksitasi (excitement), plateau, orgasme, dan
resolusi
A. Peranan hormon-hormon seksual dalam
seksualitas manusia
Testosteron
Peranan
hormon seksual
Estrogen
Kadar tinggi →
menentukan dan
meregulasi fungsi
seksual
Kadar rendah →
permasalahan terkait
hubungan, penyakit yang
tak teridentifikasikan
dan stres
Menopause → tidak
mereduksi dorongan
seksual asalkan
kesehatan yang baik
B. Ketertarikan seksual (libido) → laki-laki
maupun wanita tidak mengalami perubahan
signifikan
C. Terapi menggunakan estrogen, progestin,
atau antiandrogen dapat menurunkan
testosteron
via
mekanisme
feedback
hipotalamus → penurunan ketertarikan seksual
dan gangguan behavioral
Karakteristik dari Masing-Masing Tahap dalam Siklus Respons
Seksual pada Pria dan Wanita
TAHAP
Eksitasi
LAKI-LAKI
ereksi penis
PEREMPUAN
Ereksi klitoris
LAKI-LAKI DAN
PEREMPUAN
Peningkatan detak jantung
tekanan darah, respirasi serta
ereksi puting susu
Pembesaran labial
Lubrikasi vagina
Tenting efek (pengencangan
dan naiknya uterus pada
kavitas pelvis)
Plateau
Peningkatan ukuran serta pergerakan ke
atas dari testis
Kontraksi lapisan luar dari
ketiga dinding vagina, formasi
orgasmic platform (perluasan
dan pembesaran 1/3 atas
vagina)
Sekresi beberapa tetes cairan yg berisi
sperma
Orgasme
Ekspulsi cairan semen yang kuat dan
bertenaga
Peningkatan detak jantung,
tekanan darah, dan respirasi
Peningkatan aliran darah
(flushing) pada dada dan
wajah
Kontraksi dari vagina dan
uterus
Kontraksi sphinter anus
Peningkatan detak jantung,
tekanan darah serta respirasi
Lanjutan ...
D. Klimakterium (climacterum) →
perubahan fungsi fisiologis selama usia
paruh baya
laki-laki
•
•
•
•
•
penurunan kekuatan otot & ketahanan
performa seksual berkurang (ereksi lambat)
intensitas ejakulasi berkurang
periode refrakter lebih lama
Diperlukan keberadaan stimulasi direk
Wanita
•
•
•
•
Perubahan fisik → penipisan dinding vagina
vagina kering
pemendekan panjang vagina
Perubahan psikologis
KARAKTERISTIK DISFUNGSI SEKSUAL BERDASARKAN THE
DIAGNOSTIC AND STATISTICAL MANUAL OF MENTAL DISORDERS,
EDISI KE-4, TEXT REVISION (DSM-IV-TR)
GANGGUAN
KARAKTERISTIK
Gangguan dorongan hubungan Penurunan ketertarikan untuk melakukan dan dalam aktivitas
seksual seksual/ hipoaktif
seksual
Keengganan untuk
berhubungan seksual/
Gangguan seksual aversi
Keengganan untuk melakukan dan menghindarkan diri dari
hubungan seksual
Gangguan seksual pada
wanita
Ketidakmampuan untuk memelihara lubrikasi vagina sampai
hubungan seksual sempurna walaupun ada stimulasi fisik
adekuat (20% dari wanita)
Gangguan ereksi pada lakilaki (impoten)
Jangka panjang atau primer
Tak pernah mengalami ereksi yang adekuat untuk melakukan
penetrasi
, jarang
Akuisita atau sekunder
Tidak dapat mempertahankan ereksi, riwayat ereksi normal
sebelumnya
Umum ditemukan terjadi pada seluruh gangguan seksual pada
Lanjutan ...
GANGGUAN
Ejakulasi dini
(prematur
ejaculation)
KARAKTERISTIK
Terjadi ejakulasi saat sebelum si pria menginginkannya terjadi
Ketiadaan fase plateau atau singkatnya fase plateau pada siklus
respons seksual
Biasanya disertai dengan terjadinya ansietas (kecemasan)
Merupakan gangguan seksual kedua terbanyak oleh pria
Vaginismus
Spasme (kontraksi) yang kuat dan menimbulkan rasa nyeri pada
sepertiga luar vagina, yang mengakibatkan sulit dilakukannya
penetrasi/koitus atau pemeriksaan pelvis dalam
Dispareunia
Nyeri yang oersisten yang terjadi akibat koitus yang tanpa disertai
dengan terjadinya patologi pada pelvis (dispareunia fungsional)
Dapat juga disebabkan oleh patologi yang terjadi pada pelvis:
pelvic inflamatory disease (PID) yang diakibatkan oleh infeksi
Chlamydia/chlamydiosis (paling umum terjadi) atau gonorrhea

Instabilitas vasomotorik, dikenal sebagai hot
flashes atau flushes → sekumpulan permasalahan
fisik yang ditemukan pada berbagai wanita dari
berbagai negara dan adat budaya dan dapat
terjadi selama bertahun-tahun
Peresepan agen-agen estrogen atau terapi sulih
estrogen/progesteron → dapat meredakan
berbagai gejala tersebut
II. Periode Lanjut Usia (˃ 65 tahun)

Kasus 2.2
Pasien usia 85 tahun bercerita kepada dokter bahwa dirinya
sering lupa alamat dan nomor telepon yang baru diperolehnya dari
orang-orang yang baru saja ditemuinya dan memerlukan waktu
lebih lama untuk menamatkan teka-teki silang yang terbit setiap
hari Minggu dalam majalah kesukaannya. Pasien tersebut bermain
kartu poker secara teratur dengan teman-temannya, berpenampilan
rapi, dan masih mampu berbelanja kebutuhan dan memasak bagi
dirinya sendiri.
Pasien memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung koroner
selama 10 tahun terakhir dan tidak memiliki riwayat penggunaan
atau penyalahgunaan obat tertentu



Paska seminggu mengunjungi dokternya, pasien
terkena infark miokard masif kemudian meninggal
Pemeriksaan makroanatomi otak saat otopsi →
peningkatan volum dari berbagai ventrikel dalam
otak
Pemeriksaan mikroskopis → granula lipofuscin
dalam sitoplasma neuron dan reduksi mielinisasi,
tidak terjadi perubahan mayor pada densitas
sinaptik atau jumlah total neuronal
A. Populasi Lansia



Pada tahun 2020, diperkirakan > 15% dari
populasi total penduduk Amerika Serikat akan
berusia > 65 tahun
Segmen populasi yang paling cepat bertambah
adalah populasi individu yang berusia > 85 tahun
Seiring dengan terjadinya proses penuaan, juga
terjadi penurunan progresif dari aspek somatis
dan fungsi neurologis
Perubahan Somatis Yang Dihubungkan Dengan
Proses Penuaan Yang Terjadi
KATEGORI
Status
Kesehatan
secara umum
Fungsi Fisik
Pancai ndera
PERUBAHAN
PERUBAHAN SOSIAL DAN BIOLOGIS
Penurunan massa dan kekuatan
otot
Jatuh dan fraktur (alasan yang paling
sering disampaikan dalam penempatan
lansia di panti jompo atau rumah singgah)
Osteoporosis
Konstipasi, inkontinensia, retens urine
Penurunan fungsi ginjal dan
gastrointestinal
Penurunan kontrol terhadap
kandung kemih
Penurunan kenyamanan dalam kontak
sosial, yang dapat mengakibatkan
terjadinya penarikan diri dari lingkungan
sosial (social withdrawal)
Penurunan ekspenditur energi, kelelahan
Penurunan fungsi paru dan
jantung
Penurunan kekuatan, fatig
Pengurangan daya penglihatan
dan pendengaran
Penurunan tajam pendengaran dan
penglihatan, yang dapat mengakibatkan
penarikan diri dari lingkungan
Penurunan responsivitas
terhadap perubahan suhu
luka bakar yang tak disengaja dan
dehidrasi
Perubahan Neurologis Dikaitkan Dengan
Proses Penuaan Yang Tejadi
KATEGORI
Neuroanatomi
PERUBAHAN
Penurunan berat total otak
PERUBAHAN BIOLOGIS DAN
SOSIAL
Penurunan kecepatan dalam
mempelajari hal baru (intelegensi
umumnya tetap stabil)
Peningkatan ukuran ventrikel dan sulcus Penurunan memori jangka pendek
Penurunan aliran darah serebral
(cerebral blood flow; CBF)
Penurunan jumlah total neuronal (1050%)
Waktu respons (response time)
yang lambat
Akumulasi pigmen (granula lipofuscin) Perubahan kemampuan kognitif
pada sitoplasma neuron-neuron
minor biasanya tidak
mempengaruhi fungsi atau
kemampuan sesorang untuk hidup
secara independen
Degradasi selubung myelin
Ditemukannya penampakan berupa
plak senilis dan kumparan neurofibriler
Lanjutan ...
KATEGORI
Neurokimiawi
PERUBAHAN
PERUBAHAN SOSIAL
DAN BIOLOGIS
Penurunan availabilitas norepinefrin, Gejala psikiatri, mis
dopamin Akumulasi pigmen (granula depresi dan kecemasan
lipofuscin) pada sitoplasma neuronneuron
, ϒ-aminobutyric acid, dan asetilkolin
Penurunan availabilitas enzim-enzim
yang
terlibat
dalam
sintesis
neurotransmiter
Peningkatan availabilitas/konsentrasi
monoamin oksidase (yang bertugas
mendegradasi
berbagai
neurotransmiter)
Perubahan Neurologis Yang Terjadi Pada
Lansia
Penurunan jumlah neuron
Perubahan densitas sinap
Penurunan berat total otak
Peningkatan volume
ventrikel otak
Degradasi selubung mielin
Perubahan Psikologis



Dengan budaya yang berfokus pada kehidupan
anak muda, penyesuaian proses penuaan yang
terjadi menjadi tantangan warga negara Amerika
Meskipun demikian, sebagian besar populasi lansia
memiliki kebanggaan atas pencapaian dan
umumnya telah mencapai integritas ego
Perubahan psikologis berkaitan proses penuaan
yang terjadi berupa gangguan psikiatri
menyerupai gangguan kognitif (demensia)
Lanjutan...

Guna mengetahui gambaran sesungguhnya terkait
derajat fungsional lansia, sebaiknya lansia
diperiksa pada tempat dan lingkungan yang
telah dikenal pasien (seperti, dalam rumahnya
sendiri)
Perubahan Psikologis Yang Dikaitkan Dengan
Proses Penuaan Yang Terjadi
Kategori
Perubahan
Perubahan Sosial dan Biologis
Kepercayaan diri
Aspek integritas ego (kepuasan dan
kebanggaan keberhasilan dan pencapaian
di masa lampau) atau perasaan putus asa
dan tidak berharga (Erikson’s stage of ego
integrity vs despair)
Sebagian besar umumnya
dapat mencapai integritas ego
Depresi
sering pada populasi lansia dibandingkan
populasi umum lain
Dihubungkan dengan kematian atau
perpisahan pasangan, anggota keluarga
lainnya, teman dekat; penurunan status
sosial, penurunan status kesehatan
Dihubungkan dengan penurunan
kemampuan memorikal dan kognitif;
diterapi baik melalui peresepan
psikoterapi supportif yang
dilakukan bersamaan dengan
pemberian terapi
farmakoterapi atau terapi
elektrokonvulsif
Ansietas dan
ketakutan
Kecemasan dan ketakutan dalam
menghadapi berbagai situasi yang
menginduksi perasaan takut
Peresepan agen psikoaktif
memberikan efek berbeda bagi
lansia dibandingkan pada
pasien ebih muda
Perbaikan dan Regenerasi Sistem
Saraf


A. Bukti Berlangsungnya Neurogenesis Pada Sistem Saraf
Manusia
Ahli neurosains memiliki dogma → sistem saraf pusat (SSP)
tidak memiliki kapasitas atau kemampuan memperbaiki dan
regenerasi dirinya
Ramon y Cajal → “Jaras persarafan SSP manusia dewasa
terdapat bagian-bagian menetap dan tak termutasi.
Segalanya dapat mati, tetapi tak satupun yang dapat
meregenerasi dirinya sendiri.”
Berbagai studi pada burung, hewan pengerat, primata non
manusia, dan manusia → SSP manusia dewasa dapat
terjadi perbaikan dan regenerasi neuron-neuron
(neurogenesis)
Bukti Yang Menunjang Keberadaan dan
Berlangsungnya Neurogenesis SSP
Modalitas pengukuran replikasi DNA (tritiated
thymidine dan bromodeoxyuridine)→ proliferasi
neuronal otak manusia dewasa
Sel progenitor atau prekursor → dibiakkan in
vitro (memiliki kapasitas atau kemampuan
memperbaharui diri dan berdiferensiasi menjadi
neuron)
Teknik
molekuler,
diamati
→
migrasi,
diferensiasi, dan integrasi berbagai sel-sel
prekursor pada SSP
B. Karakteristik Neurogenesis


Hambatan yang merintangi dan menjadi tantangan
dalam studi dan pemahaman terkait neurogenesis
→ neurogenesis berlangsung terutama pada 2
(bulbus olfaktorius dan girus dentatus pada
hipokampus)
Alasan neurogenesis terpusat pada 2 lokasi →
permisivitas lingkungan mikro neuronal (neuronal
microenvironmental permissiveness)
 Sel
prekursor pada area nonneurogenik
ditransplantasikan pada area neurogenik
→ berdiferensiasi menjadi neuron
 Sebaliknya, ketika sel prekursor area
neurogenik ditransplantasikan pada area
nonneurogenik → berdiferensiasi menjadi
glia 4

Neurogenesis yang terjadi saat usia dewasa vs .
selama masa embrionik
Contoh, neuron-neuron pada zona subventrikularis
(subventricular zone [SVZ]) pada ventrikel lateralis dibentuk
dalam surplus members.
 Hanya terdapat satu fraksi neuron baru yang dapat
bertahan hidup hingga mencapai dan melewati
maturasi/pematangan → terjadi dan dimediasi oleh
kematian sel terprogram (apoptosis)



Pemahaman proses neurogenesis mengembangkan →
modalitas perbaikan sistem saraf paska cedera atau
penyakit neurodegeneratif
PROSES NEUROGENESIS MAYOR YANG TERJADI PADA
SSP MAMALIA
TEMPAT
LOKASI PREKURSOR
JALUR MIGRATORIK
PRODUK NEURON
Bulbus olfakorius
Zona subventrikular dari
ventrikel lateralis
Rantai migrasi via
aliran migratorik dari
rostral menuju bulbus
olfaktorius
Mayoritas
berkembang menjadi
granul-granul
neuronal, sebagian
kecil berkembang
menjadi interneuron
periglomeruler
Girus dentatus
Zona subgranular pada
girus dentatus
Migrasi jarak pendek
menuju lapsan sel-sel
granula;
mengakibatkan
migrasi sel-sel dendrit
menuju lapisan
molekuler dan akson
menuju CA3
Sel-sel granul
hipokampal
IV. Kehidupan Dan Kematian
A. Angka harapan hidup dan Lamanya Kehidupan
 Rerata angka harapan hidup saat kelahiran di
Amerika Serikat mencapai 76 tahun; bervariasi
dipengaruhi oleh jenis kelamin dan ras. Populasi yang
hidup paling lama → populasi Asian Americans
(China), yang hidup paling singkat adalah penduduk
African Americans
 Perbedaan angka harapan hidup antar ras dan jenis
kelamin yang terjadi mengalami penurunan dari
waktu ke waktu

Beberapa faktor yang dihubungkan dengan
lamanya kehidupan (longevity) → genetik,
aktivitas fisik dan okupasional yang
berkelanjutan, tingginya derajat pendidikan,
dan sistem penunjang sosial (seperti,
pernikahan)
Angka Harapan Hidup (Dalam Tahun) Saat Kelahiran di
Amerika Serikat Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kelompok Etnik
Jenis
Kelamin
African
American
Native
American
Hispanic
American
White
American
Chinese
American
Pria
64,9
66,1
69,6
73,2
79,8
Wanita
74,1
74,4
77,1
79,6
86,1
B. Pasien-pasien yang berada dalam risiko
untuk mengalami kematian


Di Amerika Serikat, klinisi memberikan informasi
kepada seluruh pasien dewasa yang kompeten,
termasuk lansia, mengenai kondisi yang
sebenarnya terkait diagnosis dan prognosis
penyakit yang dideritanya
Dengan seizin pasien, klinisi dapat memberitahu
keluarga pasien terkait informasi yang
berhubungan dengan kondisi pasien saat atau
setelah memberitahukan informasi terkait penyakit
dan prognosisnya kepada pasien
C. Tahapan kematian
Menurut Elizabeth Kubler-Ross tahapan kematian sbb:
Penyangkalan
(denial)
Kemarahan
(anger)
Penawaran
(bargaining)
Depresi
(depression)
Penerimaan
(acceptance)
D. Bereavement (kondisi berkabung yang normal)
versus depresi (kondisi berkabung yang abnormal)
Paska kematian seorang individu yang disayangi atau
akibat kehilangan lainnya → reaksi berkabung normal
Ciri reaksi berkabung normal :
 Mereda paska 1-2 tahun setelah onset, berbagai
gejala yang berhubungan dengan kondisi berkabung
dapat muncul beberapa hari atau kesempatan tertentu
(anniversary reaction)
 Beberapa stressor dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan fisik → terjadinya angka kematian yang
tinggi diantara para keluarga dekat (terutama pria
yang berstatus duda) pada 1 tahun pertama periode
berkabung
KARAKTERISTIK REAKSI BERKABUNG YANG NORMAL
(BEREAVEMENT) DAN DEPRESI
Bereavement
Depresi
Timbulnya perasaan bersalah (seperti, merasa Timbulnya perasaan bersalah yang intens
bersalah karena tidak hadir saat kematian atau ketidakbergunaan (seperti, kematian
orang yang disayanginya)
tersebut terjadi karena ketiadaan pasien)
Penurunan berat badan ringan (< 2,5 kg)
Penurunan berat badan yang signifikan (>
2,5 kg)
Perasaan bersedih dan menangis
Kecenderungan
atau
melakukan bunuh diri
Kesulitan untuk tidur
Tidak memiliki kantuk, termasuk terbangun
lebih awal pada pagi hari
usaha
untuk
Usaha untuk kembali bekerja dan melakukan Tidak memiliki usaha untuk embali bekerja
kegiatan sosial
atau melakukan kegiatan sosial
Lanjutan...
Bereavement
Depresi
Gejala terjadi dalam intensitas sedang Gejala-gejala yang terjadi
dan mereda atau menghilang periode 1 selama period waktu > 2 tahun
tahun
Terapi: dukungan klinisi yang bertugas di
sarana
pelayanan kesehatan primer,
berupa pemberian agen sedatif atau obat
tidur beronset cepat untuk mengatasi
gangguan tidur sementara
bertahan
Terapi: hospitalisasi apabila memiliki
kecenderungan untuk bunuh diri, peresepan
agen antidepresan, antipsikotik, terapi
elektrokonvulsif
V. Permasalahan Etik Terkait Kematian dan Proses
Kematian
A. Standar resmi atas definisi kematian
1. Di Amerika Serikat → berakhirnya keseluruhan fungsi
otak, termasuk batang otak
o Respons terhadap kejadian disekitarnya atau respons
terhadap stimuli nyeri
o Repirasi spontan
o Refleks sefalik (refleks pupil, kornea, faringeal)
o Potensial listrik otak > 2 mV yang diukur melalui 2
elektroda yang serupa yang ditempatkan pada lokasi
yang simetris pada jarak yang terpisah > 10 cm.
o Aliran darah serebral selama > 30 menit
2. Para klinisilah yang menyatakan penyebab kematian (seperti,
kematian alamiah, bunuh diri, kecelakaan) dan menandatangani
surat kematian
3. Apabila pasien dinyatakan meninggal berdasarkan standar resmi,
maka klinisi yang menangani memperoleh dan berkuasa untuk
mencabut alat penunjang kehidupan yang masih terpasang.
Keberadaan izin resmi secara hukum dari pihak keluarga biasanya
tidak diperlukan.
4. Organ-organ pasien tidak dapat diminta paska kematian, kecuali
pasien yang meninggal tersebut (atau apabila pasien tersebut
masih berusia dibawah umur) telah menandatangani dokumen
pendonoran organ (seperti, kartu donor organ) atau terdapat
keluarga yang menyatakan keinginan pasien untuk mendonorkan
organnya
B.Eutanasia

Berdasarkan kode etik medis (seperti, yang
dikeluarkan oleh the American Medical Association
dan berbagai organisasi kesehatan lainnya),
eutanasia (mercy killing, membunuh untuk kebaikan
pasien) merupakan suatu bentuk tindakan
kriminal dan tak pernah dianggap sebagai hal
yang wajar dan layak untuk dilakukan

Bunuh diri yang difasilitasi oleh klinisi
(physician-assisted suicide) → bertentangan
dengan hukum, tetapi tidak digolongkan
tindakan indictable offense selama klinisi
tersebut bukan merupakan oknum yang
melakukan tindakan tersebut (seperti, pasien
menyuntikkan substansi tertentu ke dalam
tubuhnya sendiri).

Beberapa kondisi tertentu, pemberian nutrisi, cairan,
dan perawatan medis dapat dihentikan pada
pasien-pasien yang tidak mengalami mati otak,
mengalami kondisi neurologis tertentu seperti pada
pasien yang tidak memiliki prospek adekuat untuk
kembali sembuh. Terdapat pasien meskipun
tampaknya dalam kondisi sadar (seperti, terbaring
dengan mata terbuka), pasien tersebut tidak dapat
diharapkan kembali sadar atau responsif terhadap
berbagai kejadian yang terjadi disekitarnya →
kondisi status vegetatif persisten (persistent
vegetative status)
TERIMA KASIH
Download