Analisa-Kuantitatif-07-new

advertisement
KIMIA ANALISA
KUANTITATIF
Ana Hidayati M
Larutan Standard
Yaitu larutan yang sudah diketahui
konsentrasinya
Macam larutan standar ada 2 yaitu
a. standar primer
b. standar sekunder
Contoh larutan standard primer :
H2C2O2 2H2O, Na2B4O7 10 H2O, NaCl,
ZnSO4 7H2O, KIO3
Syarat standar primer
1. Murni dengan kadar pengotor < 0,02%
2. Stabil secara kimiawi :
a. Mudah dikeringkan
b. Tidak bersifat higroskopis.
3. Memiliki berat ekivalen besar 
meminimalkan kesalahan akibat
penimbangan
Zat kimia yang murni :
- bila ditimbang dengan tepat
- dilarutkan dalam volume tertentu dengan
tepat  ditentukan konsentrasinya
 larutan standar primer
Larutan standar sekunder  Larutan dari
bahan kimia yang tidak murni dan bersifat
higroskopis  walaupun dengan
menimbang dan melarutkan dengan teliti
 tidak dapat ditetapkan konsentrasinya
secara langsung tetapi harus melalui
titrasi /standarisasi dengan menggunakan
larutan standar primer
Metode titrimetri
Yaitu cara analisis kuantitatif yang
didasarkan pada prinsip stoikiometri
Reaksi kimia antara komponen analit
dengan titran
Reaksi dasar dinyatakan dengan
persamaan umum :
a A + b B  produk
a A + b B  produk
a = jumlah mol analit (A)
b = mol titran (B)
a dan b  koefisien reaksi dalam persamaan
reaksi setaranya
Analit : Komponhendak ditetapkan en dari larutan
sampel yang kuantitasnya
Titran : Larutan standar
Titran ditambahkan ke dalam larutan analit 
dengan buret sampai tercapai titik ekivalen 
ditandai oleh perubahan zat tertentu
Supaya terjadi perubahan  ditambahkan suatu
zat yang disebut indikator
• Titik ekivalen (titik akhir teoritis) :
saat dimana reaksi sempurna tercapai
yaitu titrat A tepat habis bereaksi dengan
titran B
• Titik akhir titrasi (TAT) adalah saat tepat
terjadinya perubahan warna indikator atau
saat terjadinya pengendapan
• Idealnya TAT = titik ekivalen
• Dalam praktek TAT sedikit menyimpang
dari titik ekivalen
• Terjadinya Perubahan indikator:
Semua analit telah bereaksi dengan titran  Titik
ekivalen dan kelebihan sedikit titran bereaksi dengan
indikator  terjadi perubahan pada indikator
(misal perubahan warna, terbentuknya endapan)
• Titrasi : proses penambahan titran ke dalam analit
didasarkan pada proses pengukuran volume titran untuk
mencapai titik ekivalen
• Istilah metode titrimetri  lebih cocok diterapkan
untuk analisis kuantitatif dibandingan metode
volumetri  sebab pengukuran volume tidak selalu
berkaitan dengan titrasi
Jenis metode titrimetri
• Dasar : jenis reaksi kimia yang terlibat
dalam proses titrasi
• Metode titrimetri  4 golongan, yaitu :
1. Asidi-alkalimetri
2. Oksidimetri : Permanganometri,
Yodometri, Yodimetri, bikromatometri,
bromometri, Cerimetri dll.
3. Kompleksometri
4. Titrasi pengendapan
Metode titrimetri harus memenuhi 4 (empat)
persyaratan pokok :
1. Reaksi kimia yang berlangsung harus mengikuti
persamaan reaksi tertentu dan tidak ada reaksi
sampingan  prinsip stoikiometri
2. Reaksi pembentukan produk dapat berlangsung
sempurna pada titik akhir titrasi, atau tetapan
kesetimbangan reaksinya harus sangat besar
3. Harus ada metode yang tepat untuk menetapkan titik
ekivalen  + indikator
4. Reaksi berlangsung cepat proses titrasi hanya
berlangsung dalam beberapa menit  titik ekivalen
segera diketahui dengan cepat
• Reaksi antara analit asam klorida / HCl
yang akan ditetapkan kuantitasnya dengan
menggunakan larutan standar NaOH  memenuhi 4
kriteria yang ditetapkan
Reaksinya tunggal : H3O+ + OH-  2H2O
– Tetapan kesetimbangan sangat besar :
H3O+ + OH -  2H2O K = 1  10-14
– Dapat digunakan indikator fenolftalen PP yang
menghasilkan perubahan warna dari tak berwarna
menjadi merah pada titik ekivalennya
– Dapat pula digunakan instrumen pH meter untuk
mendeteksi titik ekivalen.
– Reaksinya berlangsung sangat cepat
1. Asidi-alkalimetri
• Asidi-alkalimetri  didasarkan pada reaksi asam basa
atau prinsip netralisasi
Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi
dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya
Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa 
reaksi antara analit dengan titran dirumuskan:
HA + OH ‾
 A‾ + H2O
BOH + H3O +  B + + 2H2O
Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau
basa kuat, misalnya larutan HCl dan larutan NaOH
• Asidimetri adalah titrasi terhadap larutan basa dengan larutan
standar asam
Contoh : Titrasi larutan NaOH dengan larutan standar HCl
Titrasi larutan Na2B4O7 10 H2O dg larutan standar HCl
• Alkalimetri adalah titrasi terhadap larutan asam dengan larutan
standar basa
Contoh : Titrasi larutan H2C2O4 2H2O dg larutan standar NaOH
Titrasi larutan CH3COOH dengan larutan standar NaOH
• Indikator yang dipakai dalan reaksi netralisasi :
PP (Phenol phtalein), MO(Metyl orange), MR (Metyl red)
• Jenis Indikator, Daerah pH, dan perubahan warna
Indikator
PP
MO
MR
Phenol red
Daerah pH
8,3 – 10,0
3,1 – 4,4
4,2 – 6,3
6,8 – 8,4
asam
tak berwarna
orange
merah
kuning
basa
merah
kuning
kuning
merah
Standarisasi Larutan NaOH
1. Tugas
2. Prinsip
3. Reaksi
4.Reagen
: Standarisasi larutan NaOH.
: Reaksi penetralan asam basa
: H2C2O4 2H2O + 2 NaOH  Na2C2O4 + 2H 2 O
: - Larutan NaOH 0,01N
- Larutan baku primer H2C2O4 2H2O 0,0100 N
- Indikator PP
5. Cara Kerja
:
Dipipet 10,0 ml larutan baku primer H2C2O4 2H2O 0,0100N dan
dimasukkan dalam erlenmeyer
Kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator PP dan dititrasi dengan
larutan NaOH 0,01N sampai terjadi warna merah yang konstan.
6. Perhitungan
: N1. V1 = N2 . V2
N NaOH = N H2C2O4 2H2O x V H2C2O4 2H2O
V NaOH
Pembuatan larutan baku primer H2C2O4 2H2O 0,0100N
sebanyak 100,0 mL ( BE H2C2O4 2H2O= 126/2)
•
•
•
N H2C2O4 2H2O = Berat H2C2O4 2H2O (g)
BE H2C2O4 2H2O x Vol (L)
Berat H2C2O4 2H2O = N H2C2O4 2H2O x BE H2C2O4 2H2O x Vol (L)
= 0,0100 x (126/2) x (100/1000)
= 0,0630 gram
Data Penimbangan H2C2O4 2H2
Wadah + Zat
= a gram
Wadah + Sisa zat ( wadah kosong) = b gram Berat Zat H2C2O4 2H2O
= (a - b) gram
Koreksi Normalitas H2C2O4 2H2O =
Berat Zat yang tertimbang x 0,0100 N
Berat Zat sesungguhnya
= …………. N
Data Titrasi
No.
1
2
3
4
Vol. H2C2O42H2O (mL) Vol NaOH (mL)
10,0
10,0
10,0
10,0
0,00- 10,14
0,00- 10,12
0,00- 10,19
0,00- 10,16
No
Hasil titrasi (mL)
1
2
3
10,14
10,12
10,16
Volume rata-rata =
10,14
Penyimpangan
(Deviasi)
0,00
0,02
0,02
Devisiasi rata – rata
d = 0,0133
Hitung simpangan / selisih volume titrasi yang
dicurigai dengan volume rata-ratadibagi deviasi ratarata
Dari contoh data titrasi :l 10, 19 – 10,14 l : 0,0133
= 3,75
3,75 > 2,5  data titrasi yang dicurigai ditolak berarti
volume rata-rata dari 3 data  Volume rata-rata= 10.14ml
Perhitungan
N1. V1 = N2 . V2
N NaOH = N H2C2O4 x V H2C2O4
V NaOH
= 10,0 x 0,0100
10,14
= 0,00986 = 0,0099
Standarisasi Larutan HCl
1. Tugas
2. Prinsip
3. Reaksi
4. Reagen
: Standarisasi larutan HCl.
: Reaksi penetralan asam basa
: Na2B4O7 10H2O + 2 HCl  H3BO3 + 2NaCl
: - Larutan HCl 0,01N
- Larutan baku primer Na2B4O7 10H2O 0,0100 N
- Indikator MR
5. Cara Kerja :
Dipipet 10,0 ml larutan baku primer Na2B4O7 10H2O 0,0100N dan
dimasukkan dalam erlenmeyer.
Kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator MR dan dititrasi dengan
larutan HCl 0,01N sampai terjadi perubahan warna dari kuning
menjadi merah yang konstan.
5. Perhitungan
: N1. V1 = N2 . V2
N HCl = N Na2B4O7 x V Na2B4O7
V HCl
2. Kompleksometri
• Kompleksometri didasarkan pada
pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara
analit dengan titran
• Standar sekunder adalah Na 2 EDTA (Natrium
Etilen diamina tetraasetat)  pengompleks
berbagai ion logam
• Standar Primer yang digunakan : ZnSO4 7H2O
• Reaksinya molekuler  satuan M, karena 1 mol
logam (bervalensi 2, 3, atau 4) bereaksi dengan
1 mol Na 2 EDTA
•
Indikator untuk Titrasi Kornpleksometri
Indikator : EBT (Eriochrome Black T),
Mureksida, dan Xylenol orange (XO)
• Indikator EBTpH = 7 -10 (Hin) berwarna biru,
dengan ion logam akan berubah menjadi
merah
• Reaksi:
Mg2+ +
HIn  MgIn + H+
biru
merah
MgIn + H4Y (Na EDTA)  MgY (Mg- EDTA) +HIn
Merah
biru
Pelaksanaan Titrasi
Kompleksometri
•
•
Titrasi Langsung
Larutan ion logam dititrasi langsung dengan
larutan standar EDTA yang telah dibuffer pH
10
Titrasi Kembali
Larutan ion logam ditambah larutan standar
EDTA berlebih dan kemudian dibuffer pH 10
Kelebihan larutan EDTA dititrasi kembali
dengan larutan standar ion logam lain
Penggunaan Titrasi
Kompleksimetri
•
•
•
Penentuan Kesadahan air
Dilakukan pada pH ≥10, sampel dibuffer dan indikator
yang digunakan EBT
Jika ion Mg 2+ diperkirakan tidak ada, titrasi dilakukan
secara langsung. Tapi jika ada, ion Mg diendapkan
dulu dengan larutan NaOH. Kemudian sesudah
Mg(OH) 2 mengendap, titrasi dilakukan dengan larutan
baku EDTA pada pH 13
Penentuan ion Al, Zn, dan Pb
Orang yang keracunan Pb diselidiki dengan larutan
standar EDTA sebagai berikut :
Pb (II) + Na 2EDTA  Pb-EDTA + Na (II)
( badan )
( badan )
STANDARISASI LARUTAN Na 2 EDTA
1. Tugas
: Standarisasi larutan Na 2 EDTA
2. Prinsip
: Pembentukan senyawa kompleks.
3. Reaksi
: Zn 2+ + Na2EDTA Na2ZnY + 2 H +
4. Reagen : - Larutan Na2EDTA 0,01M
- Larutan standar primer ZnSO4 0,0100 M
- Larutan buffer pH 10 & Indikator EBT
5.Cara Kerja : 1. Dipipet 10,0 ml Larutan standar primer
ZnSO47H2O 0,0100 M masukkan dalam
erlenmeyer
2. Ditambahkan 1 mL buffer pH 10 dan sedikit EBT
3. Dititrasi dengan larutan Na2EDTA 0,01M sampai
terjadi perubahan warna dari merah anggur
menjadi biru
6. Perhitungan
:
M1. V1 = M2 . V2
M Na2EDTA = M ZnSO4 x V ZnSO4
V Na2EDTA
3. Titrasi Pengendapan
• Titrasi Pengendapan didasarkan reaksi
pengendapan analit oleh larutan standar /
titran yang secara spesifik dapat
mengendapkan analit
• Metode ini banyak digunakan untuk
menetapkan kadar ion halogen dengan
pengendap Ag +
Ag+ + X-  AgX(s)
( X- = Cl -, Br -, l -, SCN -)
Metode Argentometri ada 3 macam :
Mohr, Volhard, dan Fayan`s
a. Metoda Mohr (reaksi pengendapan bertingkat)
Ion halogen, misalnya ion klorida, indikator yang dipakai K2CrO4 ,
dan suasana reaksi netral.
Cl- + Ag +
 AgCl mengendap putih
Ksp= 1,20 x 10-10
CrO42- + 2Ag+  Ag2CrO4 mengendap merah Ksp= 1,70 x 10 -12
Untuk menetralkan larutan yag terlalu asam  garam MgO
Reaksi Argentometri Mohr harus netral, karena :
- bila suasana asam  terjadi reaksi antara CrO4 2- dengan H +
 CrO4 2- akan berkurang
harga Ksp Ag2CrO4 tidak terlampaui  sulit terjadi endapan
- bila suasana basa  di dalam larutan akan terbentuk pula
AgOH dengan harga Ksp =2,30 x 10-8
Standarisasi larutan AgNO3
1. Tugas
2. Prinsip
: Standarisasi larutan AgNO3
: Pengendapan Cl- dengan larutan AgNO3 secara
bertingkat dengan metoda Argentometri Mohr
3. Reaksi
: Cl- + AgNO3  AgCl  putih + NO32 AgNO3 + K 2 CrO4  Ag 2CrO4  c m+ 2 KNO3
4. Reagen
: - Larutan AgNO3 0,01N
- Larutan standar primer NaCl 0,0100 N
- Indikator K 2 CrO 4 5%
- Mg O
5.Prosedur
: - Dipipet 10, 0 ml Larutan standar primer NaCl
0,0100 N masukkan dalam erlenmeyer. Tambahkan 1 ml K 2CrO 4
5%. Tambahkan serbuk MgO - Titrasi dengan larutan AgNO3 0,01
N sampai terbentuk endapan merah bata.
6. Perhitungan :
N1. V1 = N2 . V2
N AgNO3 = N NaCl x V NaCl
V AgNO3
b. Metoda Volhard
• Ion halogen ( klorida, bromida, iodida ) ditambahkan
AgNO3 berlebihan
• Setelah terjadi pengendapan sempurna, kelebihan
AgNO3 dalam suasana asam akan dititrasi dengan
larutan standar KCNS
• Indikator yang dipakai asalah Fe Allum 40 %.
• Prinsip : Pembentukan senyawa yang larut
• Reaksi :
Cl- + Ag+
 AgCl  putih Ksp = 1,20 x 10 -10
Ag + + CNS-  AgCNS  putih Ksp = 7,10 x 10 -13
Fe3+ + 6 CNS-  Fe(CNS)6 3- Larutan merah
• Perhitungan :
(VxN) AgNO3 = (VxN NaCl ) + ( V x N KCNS)
c. Metoda Fayan`s
• Prinsip : Reaksi adsorbsi
• Ion halogen ditambahkan larutan AgNO3 dan sebelum tercapai titik
ekivalen, endapan AgCl yang terbentuk akan mengadsorpsi ion
halogen dalam larutan  terdapat lapisan pertama, sedang
lapisan kedua akan teradsorpsi ion Na+ dan bila indikator yang
digunakan fluorescein fl maka pada ion fl- akan teradsorpsi oleh endapan yang terdapat
pada lapiosan kedua, sehingga permukaan endapan AgCl terbentuk
senyawa Argentum fluorescein (Agfl) yang berwarna merah.
• Reaksi :
K I + AgNO3  AgI  kuning + KNO3
• AgI mengadsorpsi ion I - sehingga ion I -  lapisan pertama
lapisan kedua  ion K +, sehingga fluorescein bebas dalam larutan,
dan akhirnya endapan AgI bereaksi dengan indikator fluorescein 
endapan merah muda.
• Perhitungan : (VxN) AgNO3 = (Vx N halogenida )
Molaritas (M) = mol/L
Normalitas (N) = ek/L
• Hitung berat Na2CO3 yang diperlukan untuk
membuat 250 mL larutan 0,15 N Na2CO3
bila larutan Na2CO3 dititrasi dengan larutan HCl
mengikuti persamaan:
CO32-+ 2 H+  CO2 + H2O
• Penyelesaian :
1 mol CO32- memerlukan 2 mol H +  ek = ½ mol
1 ek Na2CO3 = ½ mol x 106 g/mol = 53 g
0,15 N = 0,15 ek/L = 0,0375 ek/250 mL
Berat 0,0375 ek Na2CO3 = 0,0375 ek x 53 g/ek
= 1,99 g.
• Jadi berat Na2CO3 yang diperlukan untuk membuat
250 mL larutan 0,15 N adalah 1,99 gram
3. Oksidimetri
• Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi - reduksi
(redoks) antara analit dan titran
• Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi
dengan titran yang berupa larutan standar dari
oksidator atau sebaliknya
• misalnya penetapan ion besi (II) Fe 2+ dalam analit
dengan titran larutan stnadar cesium (IV) Ce 4+
Fe 2+ + Ce 4+  Fe 3+ + Ce 3+
Oksidator lain  kalium permanganat (KMnO4 )
misalnya pada penetapan kadar ion besi (II) dalam
suasana asam
5 Fe 2+ + 8H+  5 Fe 3+ + Mn 2+ + 4H2O
OKSIDIMETRI
1. Permanganometri
5C2O42- + 2MnO4- + 6H+ 
2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
5Fe2+ + MnO4- + 8H + 
5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O
STANDARISASI LARUTAN BAKU KMnO4
1. Tugas
: menstandarisasi larutan baku KMnO 4 .
2. Prinsip
: Reaksi reduksi – oksidasi
3. Reaksi
:
5H 2 C 2 O4 + 2KMnO4 + 5 H2 SO4  K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O+ 10CO2
Reagen
: - H 2SO4 2N
- larutan KMnO4 0,01 N
- larutan H2C2O4 0,01 N
4. Prosedur
:
Dipipet 10,0 mL larutan H2 C 2 O4 standar dan masukkan dalam
erlenmeyer. Tambahkan 5 mL asam sulfat 2 N, panaskan sampai suhu
< 80 C. Titrasi segera dengan KMnO4 0,01 N sampai terbentuk warna
merah muda
5. Perhitungan :
N1. V1 = N2 . V2
N KMnO4 = N H2 C2 O4 x V H2 C2O4
V KMnO4
STANDARISASI LARUTAN Na2S2O3
1. Tugas
: menentukan kadar Na2S 2O3
2. Prinsip
: Reaksi reduksi – oksidasi
3. Metoda
: Iodometri
4. Reaksi
:
KIO3 + 5 KI + 3 H 2 SO4 3 K 2 SO4 + 2 H 2 O+ 3 I 2
I2
+ 2 Na2S 2O3
 2 NaI
+ Na2S 4O6
5. Reagen
: - Larutan baku primer KlO3 0.0100 N
- H 2 SO4 2 N
- Larutan Na2S 2O3 0,01 N
- Indikator Amylum 1%
6. Prosedur
:
Dipipet 10,0 mL larutan standar KlO 3 dan masukkan dalam stop erlenmeyer.
Tambahkan 5 mL KI 5% dan 5 mL asam sulfat 2 N Titrasi dengan Na2S 2O3 0,01 N
sampai terjadi warna kuning muda (kocok pelan-pelan, titran cepat)
Tambahkan dengan indikator Amylum 1%  biru.Titrasi dilanjutkan dengan Na2S 2O3
0,01 N sampai warna biru tepat hilang (kocok kuat, titran tetes demi tetes)
7. Perhitungan :
N1. V1 = N2 . V2
N Na2S 2O3 = N KlO3 x V KlO3
V Na2S 2O3
2. Titrasi Tak Langsung (Iodomotri)
Zat yang akan ditentukan direaksikan dengan iod
digunakan larutan KI berlebih
Zat oksidator direduksi dengan membebaskan I 2 yang
jumlahnya ekivalen. I2 kemudian dititrasi dengan
S2O3 2- sehingga terjadi reaksi:
KIO3 + 5 KI + 3 H2SO4  3 K2SO4 + 2 H2O+3 I2
I2 + S2O3 2-  S4O6 2- + 2 I 3. Titrasi Langsung (Iodimetri)
Yaitu Titrasi dilakukan langsung dengan larutan
standard iod sebagai oksidator karena larutan iod
oksidator lemah, dengan indikator amilum
S2O3 2- +I2  S4O6 2- + 2 I -
• Larutan baku iod dapat dibuat dari unsur murninya yang
dicampur dg KI supaya larut membentuk I 3 Standarisasinya dapat dilakukan dengan asam arsenit
(H 3 AsO3 ) sebagai standard primernya.
• Kelemahannya adalah:
(1) larutan iod adalah oksidator lemah, tak stabil karena
mudah menguap.
(2) dapat mengoksidasi karet, gabus. dan zat-zat organik
lainnya;
(3) dipengaruhi oleh udara
4 I- + O-2 + 4 H+  2I2 + 2 H2O.
(4) tidak dapat dilakukan pada suasana basa, yakni
pada pH > 9 karena akan terjadi reaksi :
I2 + OH-  HOI + 2 H 2O
3HOI + 3OH-  2 I- + IO3- + 3 H2O
Kanji/amilum  sebagai indikator dalam titrasi
dengan larutan I2 karena dapat membedakan warna
biru dari amilosa I3 -
• Amilosa + I3 - 
Amilosa I3 • I3- merupakan larutan I2 dalam KI
• Kelemahan indikator amilum :
(1) karena amilum itu karbohidrat, maka dapat
rusak oleh kerja bakteri dalam beberapa hari
(2) kepekaannya berkurang pada pemanasan
(3) gelatine, alkohol dan gliserol dapat
menghambat absorbansi ion iodida oleh kanji
(4) kepekaannya juga berkurang pada
lingkungan asam keras
Cara mengatasi kelemahan amilum
(1) Indikator ini harus dibuat baru
(2) Jika ingin disimpan dalam waklu lama, tambahkan
disinfektan sepcrti HgCl2 atau formalin beberapa tetes
atau HgCI2
(3) Hindarkan dari pengaruh gelatine, alkohol dan
gliscrol
(4) Penambahan indikator harus diberikan menjelang
titik ekivalen karena bila (I3 - ) terlalu tinggi yang
menyebabkan ion I3 - diabsorpsi oleh kanji dengan akibat
I2 tidak akan cepat bereaksi
4. Bikromatometri
•
•
Digunakan larutan baku kalium bikromat,
sebagai oksidator yang lebih lemah dari
KMnO4. Larutan baku kalium bikromat lebih
stabil dari KMnO4. Pengasaman dapat
dilakukan dengan H2SO4, HClO4 atau HCl
Cr2O7 2- + 14 H+ + 6e

Cr 3+ + 7H2O
jingga
tak berwarna
5. Serimetri
•
Digunakan larutan baku garam Cerium
yang jika dibandingkan KMnO4 lebih
stabil, hasil reduksinya hanya satu dan
tidak dapat mengoksidasi ion Cl Kelemahannya, tidak dapat digunakan
pada suasana netral /basa karena
peristiwa hidrolisis dan warna kuning dari
Ce4+ tidak cukup terang
Ce 4+ + e  Ce 4+ E o = 1,60 V
STANDARISASI LARUTAN I2
1. Tugas
2. Prinsip
3. Metoda
4. Reaksi
5. Reagen
: menentukan kadar I2
: Reaksi reduksi – oksidasi
: Iodimetri
: 2 Na2S2O3 + I2  2 NaI + Na2S4O6
: - Larutan baku primer KlO3 0,0100 N
- H2SO4 2 N
- Larutan Na2S2O3 0,01 N
- Larutan I2 0,01 N
- Indikator Amylum 1%
6.Prosedur
:
Dipipet 10,0 mL larutan Na2S2O3 yang sudah diketahui normalitasnya masuk dalam
erlenmeyer. Ditambahkan 1 mL indikator Amylum 1%  jernihdan dititrasi dengan I2
0,01 N sampai terbentuk warna biru
7. Perhitungan :
N1. V1 = N2 . V2
N I 2 = N Na2S2O3 x V Na2S2O3
V I2
Hubungan Mol dengan Ekivalen
• Dalam menetapkan kuantitas komponen analit lebih
banyak digunakan satuan ekivalen (ek) dibandingkan
satuan mol terutama untuk asidi-alkalimetri dan
oksidimetri
• I (satu) ekivalen asam atau basa menyatakan berat
asam atau basa tersebut dalam gram yang dibutuhkan
untuk melepaskan 1 (satu) mol H + atau 1 mol OH • 1 (satu) ekivalen oksidator atau reduktor menyatakan
berat oksidator atau reduktor tersebut dalam gram yang
dibutuhkan untuk menangkap atau melepaskan 1 (satu)
mol elektron dalam peristiwa oksidasi-reduksi
Reaksi presipitasi/ pengendapan
(Argentometri)
1 grek = banyaknya gram zat yang setara dengan
1 Mol Ag + atau 1 Mol ion halogenida
Reaksi pembentukan kompleks
(Kompleksometri)
1 grek = banyaknya gram zat yang setara dengan
1 Mol Ag + atau 1Mol ion sianida
Hubungan antara reaksi, mol dan ekivalen
Reaksi
Hubungan antara mol dan ek
H3PO4  H+ + H2PO4
1 mol = 1 ek
H3PO4  2H+ + HPO42-
1 mol = 2 ek
NaOH  Na+ + OH-
1 mol = 1 ek
Ca(OH) 2
 Ca 2+ + 2 OH-
MnO4 - + e  MnO4 2-_
1 mol = 2 ek
1mol = 1 ek
MnO4 - + 8 H + + 5e  Mn 2+ + 4H2O 1 mol = 5 ek
MnO4 - + 4 H + + 3e  MnO2 + 2H2O 1mol = 3 ek
C2O4 2-  2CO2 + 2e
1 mol = 2 ek
Soal standarisasi Larutan
1. Ditimbang saksama 0,2875 g ZnSO4 7.H2O murni
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 200,0 mL.
Dilarutkan dengan akuades sampai tanda batas dan
dihomogenkan. Dipipet 10,00 mL ZnSO4 7.H2O tersebut
dan dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan
1mL buffer pH 10 dan indikator EBT kemudian dititrasi
dengan larutan Na2EDTA sampai terbentuk warna biru
memerlukan volume 7,35 mL (MR ZnSO4 7.H2O =
287,5 dan BE ZnSO4 7.H2O = MR/2)
Hitunglah : a. Molaritas dari larutan ZnSO4 7.H2O
b. Molaritas larutan Na2EDTA
Standarisasi dengan cara penimbangan
standar primer secara langsung
2. Ditimbang dengan saksama 100 mg serbuk
Na2B4O7 10.H2O dilarutkan dengan 50 ml
akuades dan indikator MR kemudian dititrasi
dengan larutan HCl sampai terbentuk warna
merah memerlukan 12,85 mL.
(BE Na2B4O7 10.H2O = MR/2,
MR Na2B4O7 10.H2O= 381,3 )
Hitunglah Normalitas larutan HCl?
I. Standarisasi Larutan
secara tidak langsung
a. N Standar Primer =
massa standar primer (g) dibagi
(BE standar primer x volume lar.(L))
b. (V.N) standar sekunder = (V.N) standar primer
N standar sekunder = (V.N) standar primer
dibagi Volume standar sekunder (mL)
II. Standarisasi secara langsung
N Standar sekunder =
massa standar primer (mg) dibagi
(BE standar primer x mL titrasi)
Download