BAB IV PEMBAHASAN 1. Riwayat Hidup Adolf Hitler Dalam sejarah

advertisement
BAB IV
PEMBAHASAN
1. Riwayat Hidup Adolf Hitler
Dalam sejarah kelam dunia, yang paling terkenal adalah kekejaman
Partai NAZI yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Politik rasial yang dikembangkan
Hitler sangat mempengaruhi pola pikir orang Jerman, dengan cara mengagungagungkan ras bangsa Jerman khususnya ras Arya. Meski tercatat sebagai orang
yang bertanggungjawab atas peristiwa kematian ratusan jiwa. Semasa Perang
Dunia II, Hitler tetap tercatat sebagai penentu sejarah dunia. Hal ini diketahui
karena Hitler merupakan salah satu dari sedikit tentara yang berpangkat rendah
yang sanggup tampil menjadi pemimpin dunia. Terbukti dengan membawa
Jerman lepas dari cengkeraman sekutu dan bangkit menjadi penguasa Eropa, hal
ini merupakan wujud dari upaya besar bahkan sangat tidak mungkin dilakukan
oleh seorang jendral sekutu. ( Luger Ballack, 2007:18)
Adolf Hitler lahir tanggal 20 April 1889 di Brunau yang terletak
dipinggir Sungai Inn. Letak daerah Brunau adalah sisi sungai diantara 2 daerah
yaitu di dalam kawasan Austria sedangkan di sisi lain adalah diseberang sungai
merupakan wilayah Jerman. Ayah Hitler bernama Alois Schiklgruber seorang
pegawai negeri, sedangkan ibunya bernama Klara Polzl seorang ibu rumah tangga
yang merupakan istri ketiga. Hitler memiliki seorang adik perempuan yang
bernama Paula yang lahir pada tanggal 21 Januari 1896 tetapi dalam sejarah hidup
Hitler, nama Paula tidak sering disebut-sebut karena hubungan saudara diantara
mereka tidak begitu dekat. (Agustinus Pambudi,2005:19-20)
Hitler sangat mengagumi tanah kelahirannya dan juga sejarah Jerman
karena memiliki pahlawan seperti Johanes Palm dari Nuremberg seorang penjual
buku yang membenci Perancis dan mati untuk perjuangan bangsa Jerman. Selain
itu terdapat nama Leo Schlageter yang menentang Perancis, Leo ditangkap dan
diserahkan oleh wakil pemerintahan Jerman sendiri. (Mein Kampf,2007:16)
Sifat dan watak Hitler yang keras didapatkan dari sifat dan watak
ayahnya. Hal itu menyebabkan sering terjadi pertengkaran berbeda pendapat
37
antara Ayah dan anak. Tetapi masalah perbedaan pendapat tersebut yang paling
sulit diselesaikan adalah keinginan sang ayah untuk memasukkan Hitler kesekolah
khusus, dimana sekolah tersebut terletak di Realschule yang mencetak seseorang
menjadi pegawai negeri. Sedangkan Hitler menginginkan masuk sekolah seni
melukis yang berada di Vienna. Keadaan ekonomi keluarga Hitler terbilang kaya,
kekayaan yang diperoleh tidak semata-mata dari warisan sang kakek tetapi
meripakan hasil kerja keras Alois. Waktu menginjak dewasa, Alois melarikan diri
dari rumah untuk mengubah nasib sebagai anak dari keluarga miskin. Akhirnya
perjuangan Alois berhasil dengan bukti mendapat pekerjaan sebagai pegawai
negeri yang merupakan pekerjaan yang punya masa depan cerah di kala itu.
Melihat hal itu Alois berkeinginan untuk
Hitler menjadi penerusnya kelak.
(Mein Kamp,2007: )
Asal mula nama keluarga (family name) Hitler dapat dirunut dari riwayat
hidup Alois yaitu ayah Hitler. Alois adalah anak yang lahir di luar ikatan
pernikahan resmi dari seorang wanita yang bernama Marianne Schiklgruber.
Ketika Alois atau ayah Hitler berusia 5 tahun, Marianne menikah dengan J.
George Hiedler, yang memiliki adik perempuan bernama J. Nepomuk Hiedler.
Karena J. George sifatnya pemalas seorang pengangguran sehingga kehidupan
ekonomi keluarga tersebut hancur dan akhirnya keluarga tercerai berai. Melihat
hal itu J. Nepomuk tidak tinggal diam, ia menyelamatkan Alois dengan
mengasuhnya karena keadaan ekonominya jauh lebih mampu. Alois lalu
mengubah namanya dari Schiklgruber menjadi Hiedler yang lantas berubah
menjadi Hitler. Klara Polzl yang kemudian dinikahi Alois dan melahirkan Adolf
Hitler. (Agustinus Pambudi,2005:20-21)
Saat Hitler berusia 13 tahun, ayahnya meninggal dunia karena serangan
Apolexia. Dengan perginya Alois maka secara otomatis semua biaya hidup
ditanggung oleh ibunya. Hitler tetap meneruskan sekolah sebagai pegawai negeri
seperti yang pernah diamanahkan ayahnya, walaupun saat itu kondisi keuangan
sudah tidak memungkinkan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Hitler akhirnya
keluar dari sekolah disamping tidak memiliki biaya, terdapat alasan lain yaitu
Hitler terserang penyakit paru-paru yang mengharuskan untuk beristirahat total.
Setelah sembuh, Hitler ingin meraih impiannya yaitu sebagai seorang pelukis,
maka akhirnya ia melarikan diri ke kota Vienna. Alasan Hitler pergi kesana adalah
di kota tersebut terdapat sekolah akademi seni lukis Von Hansen yang terkenal.
Hitler pun memberanikan diri untuk mengikuti ujuan masuk akademi tersebut,
dengan modal bakat lukis yang telah diakui sebagai yang terbaik di Realschule.
Hitler merasa sangat optimis untuk dapat lulus ujian, tetapi dalam kenyataannya ia
gagal dengan alasan lukisan yang ia gambar tidak sesuai dengan seni menggambar
karena cenderung lebih mengarah pada arsitektur. Tahun 1908, Hitler kehilangan
ibunya. Untuk mendapatkan pensiunan yatim-piatu, maka Hitler berpura-pura
melanjutkan studinya di Vienna. Hitler memilih berdiam diri di rumah, Hitler
mulai mengetahui konsep-konsep tentang superioritas ras Arya dari Lanz von
Liebenfels yang karyanya diterbitkan dalam majalah. (George Sanford, Gerhard
L. Weinberg,2007:13)
Hitler menjadi buronan polisi Austria karena telah menolak wajib militer.
Namun, setelah Hitler berhasil ditangkap ternyata Hitler dibebaskan karena
dinyatakan menderita penyakit paru-paru. Setelah peristiwa tersebut, Hitler
memutuskan untuk meninggalkan Vienna
dan menetap di Munich sampai
akhirnya terjadi Perang Dunia II. Hitler melepaskan kewarganegaraan Austria dan
menggantinya dengan kewarganegaraan Jerman. Kota Munich dianggap sebagai
kota bersejarah bagi Hitler, karena di kota tersebut menumbuhkan sifat
nasionalisme terhadap Jerman. (Agustinus Pambudi,2005:27)
Munculnya sifat nasionalisme fanatik dalam diri Hitler, maka Hitler
mengambil keputusan untuk mendaftarkan diri menjadi militer. Dengan usaha
yang keras, akhirnya Hitler berhasil bergabung dalam militer dan menjadi pasukan
infantri Resimen Bavaria ke-16. Pada tahun 1918 Hitler diangkat menjadi kopral,
tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena Hitler harus dirawat di rumah sakit
akibat semburan gas mustard (gas bentuk serbuk) yang menyebabkan buta
sementara. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:14)
2. Hitler Menjadi Kanselir
a) Keadaan Setelah Jerman Kalah Terhadap Sekutu
Kekalahan Jerman pada Perang Dunia I mengharuskan Jerman
menandatangani Perjanjian Versailles yang berlangsung pada tahun 1919 yang
menjadi perjanjian damai secara resmi. Dalam penandatanganan Perjanjian
Versailles melibatkan Perdana Menteri. Inggris yaitu David Liold George, dari
Italia yaitu Vittorio Orlando, Perdana Menteri Perancis yaitu George Clemenceau
serta dari Amerika Serikat yaitu Woodrow Wilson. Perjanjian Versailles antara
lain berisi :
1. Jerman harus menarik mundur pasukannya dari Perancis, Belgia,
Luxemburg dan Prusia Timur.
2. Jerman harus menyerahkan sebagian wilayahnya, seperti Rhineland,
sebagian Prusia Timur serta menyerahkan koloninya di Afrika dan
Pasifik.
3. Jerman harus menyerahkan kembali Provinsi Alsace dan Loraine
yang diperoleh ketika Perang Prusia-Perancis tahun 1871.
4. Jerman harus menyerahkan 5.000 arteleri, 25.000 senapan mesin,
5.000 lokomotif, 5.000 truk, 15.000 gerbong,1.700 pesawat tempur,
serta semua kapal selam dan kapal terbang Jerman harus dikirim ke
Scapa Flow untuk dibagi-bagikan oleh sekutu.
5. Jerman harus memberikan ganti rugi sebesar 5 miliar dolar AS dalam
bentuk emas atau setara mulai bulan Mei 1921.
6. Jerman tidak boleh memiliki tank, pesawat tempur bomber, dan kapal
perang.
7. Industri perang Jerman akan diawasai dengan ketat.
8.
Jerman hanya diperbolehkan memiliki 100.000 tentara. (Luger
Ballack,2007:8)
Perang Dunia I telah selesai, namun tidak terjadi kedamaian di Jerman.
Jerman telah kalah serta jatuh ke dalam depresi sosial dan ekonomi. Perjanjian
Versailles membawa kesengsaraan tersendiri bagi rakyat Jerman. Akibatnya,
jumlah pengangguran melambung tinggi, inflasi mata uang Jeerman menjadi tidak
berarti, dan sebuah pemerintahan beru yaitu Republik Wiemar yang dianggap
sebagai negara boneka oleh sekutu sudah tidak ada kepercayaan dari rakyat.
(Judith Sandeen Bartel,2005:5)
Saat terjadi Perjanjian Versailles, Hitler masih berada dalam rumah sakit.
Hitler merasa sangat kecewa dengan hasil keputusan pemerintahan Jerman yang
menyerah kepada sekutu. Setelah keluar dari rumah sakit, Hitler ikut seleksi untuk
menjadi pembicara politik oleh markas besar tentara lokal, yang akan memberikan
pelatihan khusus serta memberikan kesempatan pada Hitler untuk mempraktikan
pembicaraan publiknya. Hitler terpilih sebagai seorang pengawas kelompok
politik di Jerman. Kelompok politik tersebut merupakan tempat berkumpulnya
para kaum nasionalis, kelompok rasis yang mulai berkembang setelah Perang
Dunia I. Hitler menjadi pengawas Partai Pekerja Jerman. (George Sanford,
Gerhard L. Weinberg,2007:14)
b) Sejarah Partai NAZI (National Sozialistische Deutsche Artebeiter Partei)
Menurut Luger Ballack (2007:21) Partai Pekerja Jerman adalah sebuah
partai kecil yang didirikan oleh Anton Dexler bersama dengan Gottfried Feder,
Dietrich Eckart serta Karl Harer pada tanggal 7 Maret 1918. Hitler terjun dalam
Partai Pekerja Jerman atau Deutsche Arbeiter Partei (DAP), jumlah anggotanya
masih 25 orang.
Akibat dari aktivitas Hitler di partai ini, akhirnya Hitler dipecat dari
pekerjaannya. Hal ini disebabkan seorang pengawas partai politik harus bersikap
netral. Dengan adanya pemecatan terhadap Hitler maka membulatkan tekad Hitler
untuk berkembang di dunia politik dan menanggalkan seragam militernya. Visi
politik Partai Pekerja Jerman adalah mengembalikan harkat serta martabat bangsa
dan negara Jerman setelah Perang Dunia I. Pada tahun 1919 sampai tahun 1921,
Hitler mencapai puncak dalam Partai Pekerja Jerman yaitu menjadi pemimpin
partai. Ini karena bantuan dari keahlian Hitler dalam berpidato yang dapat
mempengaruhi setiap orang dalam partai tersebut. (Agustinus Pambudi,2005:30)
Tidak lama setelah Hitler menjadi pemimpin yang telah menggeser
posisi Dexler, Hitler mengganti nama dari Partai Pekerja Jerman (Deutsche
Artebeiter Partei atau DAP) menjadi NSDAP (National Sozialistische Deutsche
Artebeiter Partei atau sering disebut NAZI) pada bulan November 1921. Partai
NAZI tersebut memusatkan propaganda terhadap Perjanjian Versailles, penganut
paham Marxisme, kaum Yahudi.Partai dengan
lambang swatika ini semakin
berkembang, dengan bukti bergabungnya Perwira Tentara Jerman yaitu Ernst
Roehm yang meras tidak puas karena satuan milisi yang telah dibentuknya
dibubarkan oleh pemerintah. (Luger Ballack,2007:23)
Hitler cepat mendapatkan kepercayaan dari para pendukung partai.
Banyak diantara para pendukung awalnya kelak akan diangkat menjadi pembantu
utamanya dalam pemerintahan Jerman pada kekuasaan NAZI. Para pembantu
Hitler antara lain Hermann Wilhelm Goring yang akan menjadi pemimpin
Gestapo, Paul Joseph Goebbels ahli propaganda, Walter Richard Rudolf Hess
pendukung fanatik Hitler, Otto Skorzeny ahli perang serta orang yang paling
ditakuti di Eropa, Martin Bormann tangan kanan Hitler, Heinrich Luitpold
Himmler pemimpin S.S nantinya. (Agustinus Pambudi,2005:30)
Di bawah kepemimpinan Hitler, kaum NAZI seakan mendapatkan
energi. Perekrutan anggota berjalan dengan lancar, hal ini karena banyak rakyat
yang mulai simpati pada Hitler. Seiring berkembangnya partai NAZI, Hitler
memiliki kesempatan untuk membentuk barisan pengawal elite yang lebih bersifat
militeristik ketimbang tentara reguler. Pada tahun 1923, perekonomian Jerman
runtuh, sejak Perang Dunia I, inflasi meroket, rakyat panik dengan harga-harga
kebutuhan hidup. Saat itu rakyat Jerman membutuhkan pemimpin yang tegas dan
juga berani. Situasi Jerman sudah sangat buruk, maka menurut Hitler Jerman
hanya dapat diselamatkan melalui kediktatoran. Hitler berencana untuk
menyiapkan langkah pengambilalihan kekuasaan. (Agustinus Pambudi,2005:31)
c) Peristiwa Beer Hall Putcsh
Pada tanggal 8 November 1923, Hitler yakin bahwa pemerintahan
Republik Wiemar hampir runtuh. Kondisi Jerman memang memungkinkan terjadi
adanya perebutan kekuasaan, karena Republik Wiemar saat itu dalam kondisi
lemah, negara Jerman hampir mengalami kebangkrutan serta adanya konflik antar
ideologi kepartaian semakin meruncing. Melihat situasi tersebut, maka Hitler yang
dibantu oleh Jenderal Ludendorff serta para nasionalis lokal menggalang dan
mencari cara untuk menjatuhkan pemerintahan Bavarian di Munich. Tanggal 9
November 1923, pemimpin Pemerintahan Bavarian yaitu Gustav von Kahr akan
berpidato di gedung Beer Hall di Munchen atau Munich. Hitler bersama dengan
beberapa pengikutnya yaitu Max’amann, Alfred Rossenberg, serta Ulrich Kahr
mengganggu jalannya pidato kenegaraan. Tidak lama berserang 25 anggota S.A
yang dipimpin oleh Hermann Goring memasuki gedung. Pelurupun ditembakkan
ke langit-langit gedung, dan disambut terikan Hitler yang mengatakan bahwa
pemerintahan Bavarian telah disingkirkan. Peristiwa yang terjadi malam itu sering
disebut dengan Beer Hall Putcsh. Keesokan harinya, Hitler beserta Jenderal
Ludendorff bersama dengan 3.000 orang pendukung NAZI berjalan ke Munich.
Tetapi perjalanan tersebut dihadang oleh polisi Jerman, sehingga bentrokan tidak
dapat dicegah lagi. Bentrokan antara pengikut partai NAZI dengan polisi Jerman
tersebut memakan korban sebanyak 16 orang. Hermann Goring terluka sehingga
mengharuskan dia dibawa ke rumah sakit. Kudeta yang dilakukan oleh Hitler ini
berakhir dengan ditangkapnya Hitler oleh polisi Jerman. Tanggal 26 Februari
1924, Hitler diadili Dan dihukum selama 5 tahun penjara di Benteng Landsberg.
Sejak ditangkapnya Hitler maka partai NAZI dibubarkan serta dilarang oleh
pemerintah. (Luger Ballack,2007:25)
d) Mein Kampf
Masa-masa Hitler berada dalam penjara merupakan periode yang sangat
krusial dalam perjalanan politiknya. Hitler dapat mengonsolidasikan kekuatan
politiknya. Dalam menjalani hukuman, Hitler tidak merasa sengsara, karena
sering adanya kunjungan rutin dari para pendukungnya, Hitler menyadari bahwa
dengan adanya ia dipenjara maka popularitasnya akan semakin berkembang.
Selain itu, karena di dalam penjara Hitler merasa suasana lebih baik dibandingkan
di luar penjara. Namun, yang lebih penting adalah Hitler mendapatkan
kesempatan untuk menggariskan visi dan misi politiknya secara terperinci.
Penjara merupakan tempat ideal bagi Hitler untuk mematangkan konsep-konsep
politiknya, mengkonsolodasikan pendukung NAZI serta menyusun rencana untuk
mencapai tujuannya. (Agustinus Pambudi,2005:33)
Selama menjalani masa hukuman di penjara, Hitler menyerahkan kendali
partai NAZI kepada Alfred Rossenberg. Walaupun hal itu dilakukan sembunyisembunyi karena adanya larangan dari pemerintah terhadap semua kegiatan partai
NAZI itu. Rossenberg mengedit surat kabar partai yaitu Kischen Beobacter
(peneliti popular), tetapi dalam hal ini Rossenberg tidak pandai dalam
administratif. Akibatnya, Hitler dapat dengan mudah memulai kontrol penuh
terhadap semua kegiatan NAZI. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:19)
Hitler mengarang buku dengan judul Mein Kampf (Perjuanganku). Dalam
membuat buku itu, Hitler dibantu oleh Rudolf Hess yang merupakan pengikutnya
yang juga masuk dalam penjara untuk menuliskan setiap kata yang diucapkan oleh
Hitler. Mein Kampf dianggap sebagai kitab suci bagi anggota NAZI. Karya Hitler
itu terbagi menjadi dua volume, dengan buku volume pertama ditulis saat Hitler
berada dalam penjara, sedangkan buku volume dua ditulis Hitler setelah keluar
dari penjara.buku tersebut memuat tentang ide-ide serta cita-cita Hitler yang
menyakini pandangan Lanz von Liebenfels bahwa ras Arya yang berpusat di
Jerman akhirnya menang dan memimpin seluruh dunia. Menurut pandangan
Hitler, sejarah merupakan catatan pertarungan ras-ras manusia. Dalam buku Mein
Kampf, Hitler mengutuk bangsa-bangsa yang dianggap sebagai ras rendah, oleh
karena itu harus dimusnahkan. Ide lain Hitler adalah Lebensraum (konsep ruang
hidup). Sebagai bangsa yang besar, Jerman memerlukan sejumlah besar wilayah
taklukan. Hal ini karena setelah Perang Dunia I banyak wilayah pendudukan
Jerman yang dikuasai Sekutu, sehingga penopang perekonomian Jerman runtuh.
(Agustinus Pambudi,2005:33)
f) Mendirikan Pasukan S.S (Schutzstaffel)
Setelah keluar dari penjara, Hitler mulai menyusun kembali pasukan
NAZI. Pada bulan April 1925, Hitler memerintahkan pada Julius Schreck selaku
sopir pribadi serta pengawal pribadi yang bernama Stosstrupe untuk membentuk
suatu pasukan pengawal baru yang dikenal dengan nama Schutzstaffel atau
disingkat dengan S.S. Pada awal pembentukan pasukan Schutzstaffel ini hanya
terdiri dari 8 anggota. Melihat peminatnya sedikit, maka Schreck mengambil S.S
suatu keputusan dengan merancang S.S sampai meliputi wilayah Jerman. Dengan
membawa program NAZI, maka perekrutan berhasil mendapatkan peminat yang
banyak terutama dari kalangan remaja Jerman dan dapat berjalan lancar. Dalam
perekrutan pasukan S.S, seorang calon tentara diharuskan mengucapkan sumpah
setia serta loyal kepada Hitler. Pasukan S.S ini secara resmi dibentuk tahun 1926,
dengan
pemimpin
yang
pertama
adalah
Josef
Berch
Told.
(Luger
Ballack,2007:29)
Pasukan S.S merupakan pasukan kebanggaan Hitler. Satuan S.S yang
merupakan tentara pribadi Hitler yang dilatih dengan disiplin yang sangat ketat.
Pada awal pembentukan satuan S.S adalah hanya sebagai pengawal pribadi Hitler,
tetapi dalam perkembangannya pasukan S.S akhirnya digunakan untuk mencapai
berbagai tujuan terutama yang terkait dengan teror politik, pengumpulan data
intelejen, hingga melakukan aksi pembantaian terhadap kaum Yahudi Dan juga
digunakan dalam Perang Dunia II, yang keberadaannya sangat ditakuti oleh para
musuh. (Agustinus Pambudi,2005:35)
Pasukan yang dibentuk untuk membendung kekuatan politis S.A atau
Angkatan Bersenjata resmi Jerman. Meskipun Hitler telah menghimpun kekuatan
dalam rangka menguasai Jerman tetapi revolusi yang sebenarnya belum terjadi.
Hal ini karena pasukan S.A dapat digunakan kekuatannya oleh Erns Roehm
selaku pimpinan untuk melakukan kudeta, mengingat anggota S.A jumlahnya
banyak. Heinrich Lutpold Himmler merupakan salah satu orang kepercayaan
Hitler. Himmler diangkat menjadi wakil komandan S.S. Karier Himmler menjadi
lebih cemerlang ketika komandan S.S yaitu Enhard Heiden mengundurkan diri
pada Januari 1929 maka Himmler menjadi komandan S.S. Ditangan Himmler
angkatan kecil ini berkembang menjadi pasukan yang besar pada masa Reich
Ketiga. Hanya dalam waktu empat tahun, jumlah personel S.S menjadi 52.000
orang. Hingga pada tahun 1945, pasukan S.S jumlahnya berkembang sampai
800.000 orang. Pasukan S.S diseleksi berdasarkan kecerdasan serta eugenetika,
dimana orang tersebut harus berasal dari ras Arya. Bagi orang-orang yang
memiliki kecerdasan tinggi maka akan ditempatkan sebagai pasukan penggerak
partai. Usaha Himmler untuk menjaga kemurnian ras Arya maka pada tahun 1931,
Himmler mengadakan kode perkawinan untuk anggota S.S. Anggota S.S dilarang
menikah dengan pasangan yang tidak bisa membuktikan kemurnian ras Arya.
Selain usaha itu, Himmler mendirikan sekolah pengantin S.S serta mendirikan
institusi keibuan Lebensborn, tempat dimana gadis-gadis Jerman ras Arya murni
dipilih untuk berhubungan seks dengan anggota S.S. Hal ini diharapkan akan
menurunkan generasi yang lebih unggul. Sedangkan untuk menyaingi kekuatan
S.A maka Himmler mengusahakan mengganti seragam S.S yang pada awalnya
sama dengan S.S diubah menjadi lebih elit. (Luger Ballack,2007:151)
Perkembangan selanjutnya, Himmler membentuk suatu pasukan baru
lagi, tujuannya tidak lain untuk menyingkirkan S.A. Pasukan tersebut diberi nama
Waffen S.S. Pasukan itu dikembangkan dari tiga divisi menjadi 35 divisi. Waffen
S.S dibentuk menjadi angkatan militer pesaing Wehrmacht atau Angkatan Darat
Jerman. Kedudukan Waffen S.S ini secara de jure berada di bawah S.S sedangkan
secara de facto di bawah Wehrmacht. (Luger Ballack,2007:158)
Lahirnya Schutzstaffel bersenjata atau Waffen SS merupakan kebutuhan
terhadap pelaksanaan secara nyata mengenai propaganda NAZI tentang
komunisme internasional. Pada awalnya Waffen SS tidak dibentuk dari divisidivisi dengan kekuatan besar terlebih dahulu melainkan dengan kekuatan sebesar
resimen (standarte). Memang telah ada SS biasa (Algemeine SS), Gestapo, Kripo,
serta satuan-satuan polisionil lainnya. Akan tetapi semua itu hanya terbatas pada
aksi personil berupa pembersihan, penangkapan, serta sejenisnya. Himler
menginginkan agar ada satuan yang dapat berfungsi lebih berupa aksi militer
terutama di wilayah penduduk yang dianggap mesih berpotensi melawan Third
Reich. Untuk itu perlu dibentuk satuan militer lainnya yang dapat melakukan aksi
militer dengan skala penuh sehingga lahirlah apa yang disebut dengan Waffen SS
atau SS bersenjata. ( Fernando R. Srivanto,2007:7)
Anggota Waffen SS direkrut dari orang-orang sipil yang memenuhi
kriteria rasial secara fisik sesuai dengan dokrin NAZI. Misalnya bentuk fisik yang
sempurna, warna rambut serta mata, gigi yang masih lengkap juga pengetahuan
tentang doktrin NAZI. Lahirnya Waffen SS sendiri merupakan kontroversi.
Pertama, Waffen SS adalah pasukan yang memiliki loyalitas penuh pada Hitler,
namun tanggung jawab diberikan kepada Himler meski pun Goering pada
awalnya terlibat dalam pembentukan Waffen SS. Artinya, Himmler memiliki
kuasa penuh sebagai pimpinan tertinggi SS yang tidak saja membawahi SS,
Gestapo, Kripo dan unit-unit personil lain, tetapi juga Waffen SS sebagai unit
militer. Kedua, adanya keberatan dari pihak Angkatan Bersenjata Jerman
(Wehrmacht) dengan adanya angkatan keempat di luar Komando Angkata
Bersenjata (Oberkommando der Wehrmacht – OKW) yakni Angkatan Darat
(Heer), Angkatan Laut (Kriegsmarine), serta Angkatan Udara (Luftwaffe).
Apalagi rekrutmen dilakukan terpisah dari Angkatan Bersenjata sehingga hal ini
menggelisahkan para petinggi Wehrmacht namun karena Himmler bersikeras serta
didukung oleh Hitler dengan alasan dibutuhkannya sebuah pasukan yang tidak
hanya loyal kepada negara tetapi juga pada fuhrer sekaligus, maka SS-VT mulai
dipersenjatai walau terbatas hanya kepada senjata infantri serta mobilitas yang
masih menggunakan sepeda motor dan truck. Itu pun juga senjata serta kendaraan
kelas dua. Alasan yang digunakan Himmler selain pasukan yang loyal adalah janji
kepada para petinggi Wehrmacht bahwa pasukan SS-VT hanya digunakan pada
acara-acara seremonial partai sehingga tidak perlu dikhawatirkan tentang
perannya yang akan tumpang tindih dengan Angkatan Bersenjata. Selain itu
beberapa perwira Heer juga dipinjam untuk melatih Dan membentuk SS-VT
dengan konversi pangkat serta jabatan dalam struktur Waffen SS.
Sebenarnya sejak awal rekrutmen telah terlihat begaimana perbedaanperbedaan yang cukup nyata antara Wehrmacht dan Waffen SS. Wehrmacht yang
masih memegang teguh tradisi militer ala Prusia yang cukup konservatif, merekrut
banyak perwira dari pemuda yang latar belakang intelektual serta didikan yang
tinggi, diantaranya adalah orang-orang yang berasal dari keluarga yang memang
turun temurun berkarir dalam bidang militer. Pemuda dengan latar belakang
seperti itu akan ditemukan pada kota-kota besar dan merupakan kelas menengah.
Sedangkan Waffen SS yang memberikan prioritas fisik serta pendidikan ideologi
mendapatkan sumber tenaga justru dari daerah pedesaan di mana banyak pemuda
yang mendaftar memang memiliki kualitas fisik tetapi pendidikan formalnya
terbatas, bahkan ada beberapa yang buta huruf. Tidak heran dengan
dipinjamkannya beberapa perwira Heer adalah untuk mengkombinasikan
kekurangan dan kelebihan yang ada sehingga diharapkan akan lebih unggul dari
pada Wehrmacht.
Konsep pelatihan yang dimiliki Waffen SS berlangsung selama beberapa
bulan dengan pelatihan dasar (basic training)serta memiliki tiga tujuan yakni
pelatihan fisik, kemampuan senjata ringan, serta indoktrinasi politik. Ketiga
tujuan itu harus dipenuhi dan lulus oleh para kandidat mengingat situasi yang
ditekankan bahwa mereka bukanlah pelamar sukarela, melainkan orang-orang
yang terpilih secara individu masuk dalam Waffen SS. Setelah pelatihan dasar
selesai
maka
mereka
dikirim
ke
sekolah-sekolah
spesialis
misalnya
Panzertruppenschule yaitu untuk mereka yang dipilih sebagai awak tank atau
kavaleri.
Dalam pembentukan satuan tempur, Waffen SS menggunakan metode
yang berbeda dengan Angkatan Bersenjata. Kekompakan serta ras kebersamaan
dikembangkan sedemikian rupa sehingga dalam pelatihan dasar tidak dibedakan
antara perwira, bintara, serta prajurit. Hal tersebut berbeda dengan Wehrmacht
yang masih sangat tradisional dengan memisahkan atasan dengan bawahan.
Konsekuaensi dari metode itu adalah kekompakan serta rasa kebersamaan yang
diperkuat oleh keyakinan ideologis sehingga menjadi berguna ketika dalam medan
tempur. Pelatihan yang digunakan tersebut ternyata menciptakan kohesi satuansatuan tempur dengan penghargaan timbal balik antara atasan dengan bawahan
bukan hanya sekedar disiplin kaku. Dalam Waffen SS tidak dibutuhkan untuk
memberi salam kepada perwira Dan bentuk salam yang diambil dari salam Heil
namun dalam posisi yang lebih rileks. Selain itu dengan menyebut perwira dengan
kata Herr atau tuan juga dilarang dan cukup hanya dengan menyebut pangkatnya
saja. (Fernando R. Srivanto,2007:11-14 Jika satuan SS berseragam hitam, maka
Waffen SS pada awalnya menggunakan seragam yang nyaris serupa dengan Heer
yakni abu-abu lapangan (feldgrau). Variasi lain yang dikembangkan selanjutnya
adalah kamuflase misalnya dengan warna daun oak musim gugur. Inilah yang
membedakan antara Waffen SS dengan Wehrmacht. Selain itu ciri khas yang
digunakan adalah tanda runik huruf SS yang terbentuk dua petir menyambar
sebagai simbol kesatuan. Tanda tersebut juga digunakan di kerah baju sebelah
kanan terutama untuk perwira menengah ke bawah dan tanda pangkat di kerah
sebelah kiri. Hal ini juga membedakan Waffen SS dengan Wehrmacth yang
menggunakan tanda pangkat di bahu serta elang bersayap di dada sebelah kanan.
Bagi tentara sekutu sulit untuk membedakan SS dengan Wehrmacht pada
umumnya terutama jika sama-sama menggunakan kamuflase. Terlebih antara
awak tank Waffen SS dengan Wehrmacht yang sama-sama menggunakan seragam
berwarna hitam serta memiliki simbol tengkorak. (Fernando R. Srivanto,2007:16)
Kudeta yang yang dilakukan oleh Hitler pada tahun 1923 mengalami
kegagalan dan mengharuskan Hitler menjalani hukuman di penjara. Melihat
kenyataan tersebut, Hitler memutuskan untuk memusatkan kekuatan dalam
merebut kekuasaan melalui jalan konstitusional. Hitler tidak lagi memakai cara
pemberontakan untuk meraih kekuasaan dengan paksa, melainkan melalui
kombinasi antara propaganda serta intimidasi politik. Hitler menyadari bahwa
penggunaan kekerasan untuk merebut kekuasaan tidak akan mendapatkan simpati
dari rakyat Jerman.(Agustinus Pambudi,2005:37)
Dalam proses perluasan kekuatan NAZI, Hitler bersama teman-teman
serta pengikutnya bekerja bersama-sama. Para pendukung Hitler berusaha penuh
untuk membantu, pengikut Hitler yang setia antara lain Hermann Goring yang
merupakan seorang pilot tempur pada Perang Dunia I yang tertarik akan
pembentukan partai NAZI. Selanjutnya adalah Joseph Goebbels adalah seorang
penulis yang penuh inspirasi dalam mengembangkan tehnik propaganda. Rudolf
Hess merupakan mantan pilot tetapi akhirnya menjadi sekretaris Hitler. Ernst
Roehm adalah seorang opsir tentara yang terlibat dalam peningkatan dukungan
tentara reguler Jerman untuk membangun tentara NAZI. Selain itu Heinrich
Himmler yang memulai pekerjaannya di NAZI dalam bidang kesekretaritan tetapi
beralih ke S.S yang selanjutnya akan menjadi komandan pasukan tersebut.
Max’amann yang diberi tugas untuk mengolah surat kabar partai serta perusahaan
penerbitan. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:20)
Pada pemilu tahun 1928, NAZI memperoleh 12 kursi. Propaganda yang
dimainkan oleh partai berlambang swastika itu mengalami peningkatan.
Agresivitas Hitler beserta kawan-kawannya dalam berkampanye membuat partai
NAZI tidak dapat diremehkan. Walaupun partai NAZI merupakan partai yang
kecil, tetapi ancaman akan partai tersebut sudah mulai terlihat. Dalam waktu yang
singkat mampu mengimbangi partai-partai yang sudah mapan, hal ini karena
banyak rakyat Jerman yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap partai-partai
yang lebih dahulu berdiri. Pada pemilu tahun 1930 partai NAZI menerima lebih
dari 18,3% suara dan melambungkan partai terkecil di Jerman ini masuk ke
peringkat dua terbesar. Pemilih partai NAZI melonjak dari 810.000 orang menjadi
6.409.000 orang. Hal ini menyebabkan partai NAZI menambahkan wakilnya di
Reinchstag (parlemen) dari 12 menjadi 107 kursi. Perolehan suara yang sangat
signifikan, menjadikan lawan politik Hitler melakukan perhitungan. Akibat
perasaan yang takut untuk tersaingi, maka lawan-lawan politik Hitler menempuh
strategi yang lebih kooperatif. Dengan cara menawarkan jabatan-jabatan yang
strategis kepada para petinggi NAZI.(Agustinus Pambudi,2005:40)
Bulan Maret 1930, Republik Wiemar berakhir, dengan berdasarkan pada
sebuah mayoritas dalam reichstag (parlemen Jerman) merasa sudah tidak mampu
untuk menanggulangi masalah yang terjadi di Jerman pada saat itu. Presiden Paul
von Hindenburg menunjuk sebuah pemerintahan yang baru dengan Heinrich
Bruning sebagai kanselir. Namun, Heinrich serta reichstag tidak setuju dengan ide
Presiden Hindenburg untuk menyelesaikan persoalan itu. Presiden mengambil
langkah yaitu membubarkan badan pembuat undang-undang serta menjalankan
pemerintahan dengan dekrit darurat hal ini dianggap lebih baik daripada melalui
prosedur legislatif. Kemenangan yang diraih oleh partai NAZI mengakibatkan
para investor menarik uangnya dari Jerman, karena kemenangan partai tersebut
dianggap telah melakukan kecurangan dengan melakukan berbagai macam
kebohongan. Dengan para investor menarik uang di Jerman, mengakibatkan
sistem perbankan Jerman mengalami kebangkrutan, pengangguran semakin
banyak.
Dalam pemilu 1932 partai NAZI menerima lebih banyak suara di
bandingkan dengan partai-partai yang lain. Dengan kemenangan partai NAZI
dalam pemilu tersebut, maka menambah keyakinan Hitler untuk mencalonkan diri
sebagai kanselir Jerman. Hitler pun mendesak untuk dapat menjadi kanselir dalam
pemilihan pemimpin Jerman. Kenyataan berkata lain, Hitler mengalami
kekalahan, suara yang diperoleh Hitler adalah 13.418.001 sedangkan Hindenburg
memperoleh 19.359.650 suara. Kekalahan ini tidak membuat Hitler putus asa,
malah membuat Hitler semakin berambisi. Hitler mendesak presiden Hindenburg
untuk menunjuk dirinya sebagai kanselir. Permintaan Hitler tersebut ditolak oleh
Hindenburg. Tetapi terdapat sekelompok kecil orang disekitar Presiden Hindnburg
yang mendesak untuk mengangkat Hitler sebagai kanselir. Kelompok tersebut
merasa bahwa Hitler bisa di kontrol serta popularitas dan juga bakatnya dapat
digunakan untuk perkembangan selanjutnya. Karena Heinrich Bruning menolak
untuk menjadi kanselir, maka Presiden Hindenburg menunjuk Franz von Papen.
Usaha yang dilakukan Papen untuk menormalkan kembali Jerman tidak berhasil.
Hal tersebut membuat Hindenburg kecewa, akhirnya Hindenburg melakukan
pergantian dengan menunjuk Kurt von Schleicher yaitu pemimpin politik pada
tentara. Tindakan yang dilakukan presiden mengakibatkan rasa kecewa dari
Papen. Kekecewaan tersebut dilampiaskan dengan bergabungnya Papen ke NAZI.
Papen beserta anggota NAZI lainnya membicarakan tentang kesenioran
Hindenburg yang menunjuk Hitler sebagai perdana menteri dalam satu kabinet
yang di dalamnya Papen akan menjadi menteri, sedangkan menteri yang lain akan
berasal dari luar partai NAZI. Akhirnya pada tanggal 30 Januari 1933, Hitler
diangkat sebagai kanselir. (Luger Ballack,2007:30)
Faktor lain, kemenangan Hitler adalah peran Gobbels yang merupakan
ahli propaganda NAZI. Paul Joseph Goebbels melakukan kontak pertama dengan
partai NAZI terjadi saat Goebbels melakukan demonstrasi kampanye melawan
pendudukan Perancis di daerah Ruhr pada tahun 1923 dan akhirnya Goebbels
bergabung dengan NAZI. Namun, ketika Hitler menjalani hukuman di penjara,
Goebbels menjadi menganggur. Pada tahun 1924 partai NAZI bangkit kembali
setelah Hitler terbebas dari penjara, Goebbels pun bergabung kembali. Goebbels
merupakan pengikut Hitler yang setia, hal ini disebabkan oleh pemikirannya yang
sama dengan Hitler yaitu membenci Yahudi. Pada bulan Oktober 1926 Goebbels
ditunjuk sebagai pemimpin partai lokal NAZI di distrik Berlin- Bradenburg yang
merupakan daerah yang kecil serta penuh dengan konflik. Tantangan tersebut
dapat diatasi oleh Goebbels dengan baik, dengan mendirikan serta menerbitkan
koran mingguan menggunakan nama Anggriff (The Attack). Selain menggunakan
koran Goebbels juga menggunakan poster-poster propaganda, melakukan pawaipawai serta melakukan hasutan-hasutan tentang program anti semit. Dengan cara
Goebbels tersebut tidak mengherankan jika anggota partai NAZI semakin lama
semakin bertambah. (Luger Ballack,2007:73-76)
Dalam kepemimpinan Hitler di partai NAZI, Goebbels banyak
melakukan tindakan kekerasan terutama pertempuran jalanan. Selain itu,
Goebbels juga melakukan penyerangan untuk menekan dominasi Partai Sosial
Demokrat serta Partai Komunis. Kemampuan propaganda Goebbels dimanfaatkan
juga pada saat Hort Wessel yang merupakan salah satu anggota Goebbles
terbunuh. Goebbels merubah kesan Hort dari germo menjadi seorang martir
NAZI. Selain itu Goebbels juga menyajikan gambaran yang berupa kebohongan,
menyebarkan pesan-pesan yang menenai paham nasional sosialisme ke seluruh
Jerman. (Luger Ballack,2007:77)
3. Masa Pemerintahan Hitler
Diangkatnya menjadi kanselir, belum dapat menurunkan ambisi untuk
meraih
kekuasaan
bagi
Hitler.
Pemikiran
Hitler
dalam
menjalankan
pemerintahannya, banyak dipengaruhi oleh pemikiran Darwin serta Mussolini.
Hitler menganggap bahwa Mussolini merupakan seorang manusia besar di tingkat
dunia.
Sehingga
dalam
pemerintahan
Fasisme.(Jules Archer,2005:141)
masa
Hitler
dijalankan
paham
Fasisme adalah pengaturan pemerintahan dan masyarakat secara totaliter
oleh suatu kediktatoran partai tunggal yang rasialis, nasionalis,serta militeris. Cari
khas dari fasisme adalah tumbuh dikalangan bangsa-bangsa yang secara
teknologis maju. Berbeda dengan faham komunis yang tumbuh dari bangsa yang
hidupnya melarat serta terbelakang.(William Eberstein,2006:106)
Fasisme dapat berkembang dari adanya depresi ekonomi suatu negara
industri. Dalam negara tersebut terdapat hubungan sebab akibat dari berbagai
lapisan masyarakat. Ini terbukti dengan adanya seorang pengusaha kecil merasa
kesulitan hidupnya berasal dari pengusaha besar. Kaum buruh yang merasa
penderitaan yang dialami berasal dari para pengusaha pabrik. Para petani
menyalahkan kebijakan pemerintah yang seakan tidak memihak pada mereka.
Yang terakhir adalah golongan pengangguran. Golongan tersebut tidak dapat
dibilang sebagai golongan yang sedikit. Golongan pengangguran merasa sebagai
golongan yang terbuang, tidak memiliki masa depan sehingga dikucilkan dari
masyarakat. Melihat banyak sekali perbedaan serta perasaan yang tidak percaya
antara golongan satu dengan golongan yang lain, maka kaum fasis memberi jalan
keluar. Untuk membangkitkan perasaan bangga, percaya diri serta menghapus
perbedaan maka paham fasis meyakinkan bahwa semua lapisan masyarakat dalam
negara tersebut adalah suatu suku bangsa yang teratas. Usaha tersebut terbukti
efektif dalam perkembangan paham ini seterusnya. Hal ini disebabkan karena
dengan meyakinkan bahwa bangsanya adalah bangsa teratas maka rasa percaya
diri mulai timbul, serta yakin bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat
yang terhormat sehingga negara tersebut tidak mengenal adanya perbedaan dalam
lapisan masyarakat tetapi hanya mengenal perbedaan dengan golongan ras dari
bangsa lain.
Terdapat unsur-unsur utama dari pandangan fasisme antara lain:
a. Ketidakpercayaan akan pertimbangan akal.
Dalam pandangan fasisme, terdapat suatu pemikiran yang fanatik.
Fasisme tidak ada kepercayaan akan pertimbangan urusan-urusan kemanusiaan.
Cenderung meletakkan titik berat dalam unsur-unsur tidak rasional, sentimentil
serta tidak dapat terkontrol oleh manusia itu sendiri. Dasar kepercayaan tidak
dapat dipersoalkan secara kritis. Dalam hal ini seperti adanya kepercayaan bahwa
hanya Hitler sebagai fuhrer atau pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan
bangsa Jerman.
b.Penyangkalan terhadap persamaan manusia pada dasarnya.
Fasisme menolak adanya pemikiran mengenai persamaan sebagai suatu
konsep lunak dan sama sekali tidak benar. Paham fasis mengemukakan adanya
perbedaan tersebut dijadikan tantangan. Konsep ketidaksamaan yang paling
mudah diterangkan dalam bentuk kontras antara superior dan inferior. Hitler
menanamkan pemikiran bahwa bangsa Jerman lebih kuat serta terhormat
dibandingkan bangsa lain. Penegasan fasis tentang ketidaksamaan didasarkan atas
kekuatan.
c. Kode tingkah laku fasisme
kode tingkah laku fasis meletakkan titik berat pada cara kekerasan serta
kebohongan dalam segala hubungan manusia, lingkungan, serta hubungan dengan
bangsa-bangsa yang lain. Menurut pandangan fasis, politik diberi sifat oleh
hubungan kawan-musuh. Pandangan tersebut bertolak belakang dengan arti politik
dalam negara demokrasi. Arti politik dalam negara demokrasi adalah suatu alat
untuk menyelesaikan konflik-konflik sosial yang dilakukan secara damai. Fasisme
menghendaki adanya suatu penghapusan secara total. Dengan adanya pandangan
tersebut maka Hitler mendirikan berbagai kamp konsentrasi yang dapat digunakan
untuk menghapus musuh-musuh yang dianggap sebagai penghambat cita-cita
bangsa Jerman.
d. Pemerintahan oleh golongan terpilih (elite)
Dalam fasisme terdapat suatu konsep yang menyatakan bahwa hanya ada
satu golongan kecil dari penduduk yang ditentukan oleh kelahiran, pendidikan
serta status sosial yang sanggup mengerti apa yang baik bagi masyarakat
seluruhnya. Prinsip kepemimpinan fasisme menunjukkan kepercayaan bahwa
seorang pemimpin tidak mungkin salah karena seorang pemimpin tersebut
diyakini memiliki kekuatan lebih dibanding manusia biasa.
e. Sistem Totaliter
Fasisme menekankan bahwa sistem totaliter sebagai cara hidup dalam
seluruh hubungan manusia. Fasisme menggunakan otoritas dan kekerasan dalam
segala macam hubungan sosial serta politik. Dalam pemikiran negara fasisme
keberadaan seorang perempuan diposisikan sebagai golongan nomor dua. Kaum
perempuan harus tinggal dengan urusan mereka sendiri. Kewajiban seorang
perempuan menurut negara Jerman adalah Kinder (anak-anak), Kuche (dapur),
serta Kirche (gereja). Kaum perempuan Jerman dianjurkan untuk menghasilkan
anak-anak untuk negara Jerman di luar perkawinan. Fasisme menolak untuk
mempekerjakan kaum perempuan terlalu banyak dalam bidang pendidikan. Hal
itu disebabkan karena pendidikan merupakan tahap awal untuk mencetak
kepribadian seseorang. Dengan adanya kaum perempuan maka dikhawatirkan
dapat merusak kedisiplinan serta ketegasan. Fasisme totaliter cenderung
menggunakan berbagai macam ancaman, pembunuhan, ataupun dalam bentuk
kekerasan yang lain. Sedangkan bentuk otoriter klasik lebih bersifat menahan diri
dalam menggunakan cara-cara lain dan hanya melakukan pembunuhan terbatas.
Jadi apabila ada seorang pemimpin yang mengalami kekalahan maka
diperbolehkan untuk mengungsi ke negara lain beserta keluarganya.
f. Rasialisme dan imperialisme
Rasialisme serta imperialisme adalah dua dasar pokok bagi kaum fasisme
untuk menjalankan prinsip ketidaksamaan dan kekerasan dalam rangka hubungan
dengan masyarakat bangsa-bangsa lain. Menurut doktrin fasisme terdapat kaum
terpilih yang paling unggul dari yang lain. Kaum terpilih tersebut berhak
memaksakan keinginan kepada golongan-golongan lain dengan cara kekerasan.
Dalam rencana Jerman untuk menguasai dunia termasuk penghapusan bangsabangsa tertentu melalui pembunuhan secara besar-besaran dan telah direncanakan.
g. Oposisi terhadap undang-undang dan aturan internasional.
Oposisi terhadap undang-undang dan aturan internasional adalah akibat
yang logis dari kepercayaan fasis tentang ketidaksamaan kekerasan, rasialisme,
imperialisme dan peperangan. Organisasi internasional berbentuk pemerintahan
dengan persetujuan yang langsung menentang prinsip fasis tentang pemerintahan
dengan paksa. Negara-negara fasisme senantiasa menjauhkan diri dari organisasi
dengan persetujuan yang berlangsung menentang prinsip fasis tentang
pemerintahan dengan paksa. Negara-negara fasisme senantiasa menjauhkan diri
dari organisasi internasional ketika negara tersebut harus mematuhi keputusankeputusan mayoritas. Organisasi yang didalamnya pengaturan segala sesuatu
dijalankan dengan cara-cara diskusi dan tidak dengan cara kekerasan. Jerman
menarik diri dari Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1933. Pada bidang diplomatik,
negara fasisme menjauhkan diri dari persetujuan umum yang bersifat multirateral.
Negara fasis lebih suka persetujuan bilateral terutama dengan negara yang masuk
dalam rencana untuk dikuasai. Hitler senantiasa menawarkan pakta persahabatan
atau pakta non agresi kepada negara kecil. Masyarakat dunia yang lain telah
menduga negara itu adalah korban Hitler berikutnya. Dalam menjalankan taktik
menguasai dunia, Jerman menggunakan taktik yang sama dengan italia terutama
pada pemerintahan Mussolini. (William Eberstein,2006:126-142)
Terdapat tiga hal penting yang terdapat dalam pandangan dan cita-cita
Hitler untuk membangun Jerman. Hal ini yang menjadi ciri khas fasisme Jerman
yaitu:
1) Nasionalisme
yang
fanatik,
nasionalisme
berguna
untuk
membangkitkan kembali keyakinan dan kehormatan serta persatuan
bangsa Jerman. Hitler memberikan pandangannya tentang hal ini
dengan menyatakan :
“ Kita hanya mengenal dua Tuhan, Tuhan yang berada di surga dan
Tuhan yang berada di bumi dan itu adalah tanah air kita.”
2) Antidemokrasi dan parlementerisme, karena kedua hal itu mengekang
otoritas serta kepemimpinan dari seseorang yang diberi kekuasaan
untuk mempertanggung jawabkan kekuasaannya.
3) Menghapuskan keyakinan tentang kerukunan, saling pengertian,
perdamaian dunia. Liga Bangsa-Bangsa serta solidaritas internasional
akan melemahkan mental dan kekuatan seseorang untuk menuntut
haknya secara penuh. (Erry Syahrian,2003:16)
Perbedaan ajaran antara Hitler dengan Mussolini adalah tentang adanya
ajaran mengenai ras manusia yang hanya terdapat pada ajaran NAZI. Adanya
ajaran ras tersebut dipengaruhi oleh teori Darwin.
Teori Darwin menjadi dasar dari pemikirannya yang diwujudkan dalam
berbagai kebijakan yang Hitler keluarkan. Hitler mengatakan bahwa untuk
mempertahankan hidup manusia maka membutuhkan pertarungan. Hitler
terinspirasi konsep eugenetika yang akan menjadi dasar pijakan pandangan
evolusionis NAZI. Eugenetika berarti perbaikan ras manusia dengan membuang
orang-orang yang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu yang sehat.
Menurut teori Darwin, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara hewan
berkualitas baik dihasilkan dengan perkawinan hewan yang sehat serta hewan
yang cacat dan berpenyakit harus dimusnahkan. Dalam hal ini Hitler menghimbau
para remaja Jerman untuk berhubungan seks tanpa harus menikah. Pada tahun
1935 untuk menunjang teori Darwin maka Hitler membangun yang disebut ladang
reproduksi dimana di dalamnya tinggal remaja putri ras Arya serta para perwira
SS untuk berhubungan. Dengan program tersebut maka dipercaya negara akan
dibangun berdasarkan konsep keunggulan ras Arya. (Luger Ballack,2007:27)
Ada tiga hal penting yang menjadi ciri dari pemikiran Hitler mengenai
ras, yaitu :
1) Ras merupakan ciri biologis yang dapat menentukan kualitas moral,
kebudayaan dan kepribadian seseorang atau bangsa. Semakin tinggi
kedudukan rasnya maka semakin tinggi kualitas moralnya.
2) Ketahanan suatu masyarakat atau bangsa terhadap segala perubahan
dalam lingkungannya baik fisik maupun mental tergantung dari
rasnya.
3) Sebagai kesimpulan, ras yang paling unggul atau superior harus
menjadi pemimpin bagi masyarakatnya atau bangsanya walaupun ras
tersebut merupakan kelompok minoritas. (Erry Syahrian,2003:16)
Pada tanggal 27 Februari 1933 terjadi peristiwa yang menggemparkan
rakyat Jerman yaitu terbakarnya gedung parlemen (Reinchstag). Hitler dengan
cepat menuduh bahwa tindakan tersebut sebagai bagian dari satu rencana (plot)
yang disusun komunis untuk menguasai Jerman. Dengan mengkambing hitamkan
seorang pemuda Belanda sebagai pelaku pembakaran yaitu Van der Luppe. Hitler
langsung mengumumkan adanya pemberlakuan Undang-Undang Darurat yang
isinya antara lain memberikan kewenangan kepada kanselir untuk menyusun
undang-undang atau peraturan yang tidak harus sejalan dengan konstitusi
sehingga persetujuan parlemen tidak diperlukan. Langkah yang ditempuh Hitler
selanjutnya adalah memerintahkan pengawal pribadinya yang sekarang telah
menjadi kesatuan tentara sendiri untuk menjaga keamanan Jerman. (Agustinus
Pambudi,2005:41)
Setelah terjadi pembakaran gedung parlemen, Hitler melakukan
pembersihan musuh politiknya, baik kaum komunis maupun kelompok lain yang
menuntut pemerintahan demokratis. Banyak pejabat pemerintahan yang diganti
dengan orang-orang NAZI. Selain itu, Hitler membujuk Hindenburg untuk
mempermasalahkan sebuah dekrit yang menangguhkan seluruh kebebasan warga
Jerman. Dekrit darurat tersebut berisi:
“Pembatasan terhadap terhadap kebebasan pribadi dan hak untuk
kebebasan mengeluarkan pendapat, termasuk kebebasan pers, terhadap hak
berkumpul dan berserikat serta pelanggaran kerahasiaan komunikasi pos, telegraf
dan telepon serta surat kuasa, penggeledahan rumah, perintah penyitaan dan juga
pembatasan terhadap properti, juga dianjurkan di luar batasan hukum yang
dianut.”
Hitler juga memasang anggota NAZI yang loyal dal pos-pos penting di
birokrasi, mahkamah agung serta pemerintahan provinsi di Jerman. Hitler
mengganti semua serikat buruh dengan front buruh Jerman yang dikontrol NAZI
dan menyatakan melarang semua partai politik kecuali partai NAZI.
Pada tanggal 23 Maret 1933, para dewan (legislator) patuh dengan
enabling act dimana kekuasaan legislatif parlemen diambil alih kabinet. Aksi
tersebut secara tidak langsung mendukung pemerintahan diktatorial Hitler serta
menandai berakhirnya Republik Wiemar.
4. Holocaust
a. Sejarah Antisemit
Holocaust berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Holo yang berarti
keseluruhan dan Caustos yang berarti terbakar. Pada dasarnya kata tersebut
merujuk pada sebuah penawaran untuk dibakar atau sebuah pengorbanan
keagamaan dengan cara dimusnahkan oleh api. Holocaust juga dikenal dengan
nama-nama seperti Ha-Shoah (bahasa Yahudi) yang berarti bencana atau
kehancuran total. Nama selain itu adalah Khurbn (bahasa Yindi), Parajmos
(bahasa Romania), Calopalenie atau Zaglada (bahasa Polandia). Semua sebutansebutan tersebut digunakan untuk mendiskripsikan genocide atau kata penghalus
dari pemusnahan suatu kelompok bangsa sacara teratur serta sistematis, yang
dilakukan NAZI yang dipimpin Adolf Hitler terhadap kelompok minoritas di
Eropa.(Stephane Downing,2007:7)
Kebencian terhadap orang Yahudi tersebut sering dikenal dengan
antisemit. Menurut Judith Sandeen Bartel (2000:44) menyatakan bahwa
“Antisemit merupakan kebencian dan diskriminasi terhadap Yahudi”. Sedangkan
menurut Stephane Downing (2007:12) menyatakan bahwa “Antisemit merupakan
istilah yang dipakai secara umum untuk menunjukkan bentuk terkeras dari
pemusnahan kaum Yahudi”. Menurut George Sanford, Gerhard L. Weinberg
(2007:61) kata Semit pada awalnya diaplikasikan untuk semua keturunan Shem,
anak tertua nabi Nuh dalam lingkup patriarki Bibel. Tetapi dalam penggunaan
selanjutnya kata tersebut mengacu pada sekelompok orang di Barat Daya yaitu
Yahudi”. Kata antisemit menunjukkan permusuhan terhadap kaum Yahudi.
Untuk mengetahui asal-usul Yahudi tidak dapat lepas dari tokoh Ibrahim
yang dipandang sebagai nenek moyang dari tiga agama monotheistic dan semitik,
Yahudi, Kristen dan Islam. Ibrahim berasal dari Babylonia, anak dari seorang
pemahat patung istana yang bernama Azar atau Terach. Ibrahim dan ayahnya
selalu berseteru tentang keyakinan mereka yang pada akhirnya Ibrahim membakar
seluruh patung. Akibat perbuatan Ibrahim tersebut maka mendapat hukuman
bakar tapi Ibrahim berhasil selamat dan hijrah ke Kanaan yaitu Palestina Selatan.
Ibrahim memiliki istri yang bernama Sarah, mereka berdua tinggal di Mesir.
Namun kedua manusia tersebut belum memiliki keturunan. Untuk meneruskan
garis keturunan Ibrahim, maka ia menikah lagi dengan seorang budak pemberian
raja Fir’oun bernama Hajar. Pernikahan Ibrahim dan Hajar dikaruniai seorang
anak yang bernama Ismail. Karena perasaan cemburu dari Sarah, Hajar pun diusir
dari rumahnya dan dikirim ke Makkah. Setelah menunggu sekian lama akhirnya
Ibrahim dan Sarah dikaruniai anak yang bernama Ishaq. Ishaq setelah dewasa dan
menikah, dikarunai seorang anak yang bernama Yaqub yang diberi gelar Israel.
Anak turun Yaqub atau Israel ini berkembang dan menjadi nenek moyang bangsa
Yahudi, yang juga disebut Bani Israel (anak turun Israel). (http://media.isnet.org)
Anak turun Yaqub digambarkan dalam Al- Qur’an sebagai bangsa yang
membuat kerusakan di bumi, berlaku angkuh, sombong, suka memberontak,
chauvinis, merasa paling unggul dan benar sendiri. Sekitar tujuh abad sebelum
masehi bangsa Babylonia yang dipimpin Nebukadnezar datang menyerbu
Yerusalem tempat tinggal anak turun Israel. Terjadi kerusakan parah kota tersebut
dan mengharuskan penghuninya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Setelah situasi di Yerusalem maka anak turun Israel kembali lagi dan menetap
disana. Tetapi dalam tujuh puluh masehi, bani Israel menolak kerasulan Nabi Isa
dan Bani Israel menyiksa para pengikutnya. (http://media.isnet.org)
Akibat dari penolakan itu, maka orang Kristen menganggap Yahudi
sebagai pemberontak terhadap agama sejati dan bertanggung jawab untuk
kematian Kristus dan secara umum sebagai wujud kejahatan. Atas kebijakan raja
Titus dari Roma meratakan Yerusalem yang merupakan tempat tinggal Yahudi.
Tidak ada yang tersisa dari penyerangan tersebut, kecuali tembok ratap (tempat
orang-orang Yahudi meratapi nasib mereka). Bangsa Yahudi mengalami
Diaspora, mengembara ke berbagai negara karena mereka tidak memiliki tanah
air. (Stepanie Downing,2007:10)
Kebencian terhadap kaum Yahudi diawali pada tahun 70 SM saat Kaisar
Italia yaitu Pompeius Agung memaksa Yahudi untuk menyembah dewa-dewi
Roma. Kebencian terhadap Yahudi bertambah luas setelah adanya peristiwa
kematian Yesus yang merupakan putra Tuhan. Sekalipun kematian Yesus karena
perintah Romawi dan bukan Yahudi, tetapi orang Kristen percaya bahwa orang
Yahudi
bertanggung
jawab
atas
penyaliban
Yesus.(Judith
Sandeen
Bartel,2005:13)
Antisemit berlanjut pada tahun 1870 di Prusia setelah negeri tersebut
dikalahkan Napoleon sewaktu para reformis mengubah struktur politik sehingga
golongan bangsawan kehilangnan hak istimewa dan kelas menengah yang
sebagian besar merupakan Yahudi memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Hal
tersebut
menimbulkan
reaksi
dari
kalangan
bangsawan
sehingga
menimbulkan ledakan anti Yahudi.(Hannah Arent,2003:45)
Antisemit selanjutnya terjadi di Jerman pada saat proses emansipasi
kaum Yahudi dilengkapi dengan pembentukan kekaisaran Jerman 1871. Adanya
diskriminasi
atas
dasar rasisme muncul
karena teori-teori
rasis
yang
diformulasikan selama dekade sebelumnya memberikan dasar bagi sebuah
pengelompokan partai antisemit yang baru setelah perang Franco-Prusia dan
adanya krisis ekonomi tahun 1873. Banyak penjelasan mengenai fenomena
antisemit yang telah mencapai kemajuan. Suatu teori yang secara luas diterima
oleh para ilmuan sosial, menunjukkan bahwa antisemit itu terjadi dalam periode
instabilitas dan krisis sosial seperti yang terjadi di Jerman. Medan politik Jerman
ditandai oleh kehadiran setidaknya satu partai antisemit yang bersifat terbuka
sampai tahun 1933. sewaktu antisemit menjadi resmi pemerintahan di bawah
Sosialisme Nasional (Nazisme). (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:6263)
b) Kebijakan Hitler
Keberhasilan Hitler menjadi kanselir, maka cita-cita untuk memurnikan
ras Arya semakin lebar. Pemikiran-pemikiran yang telah tertuang dalam buku
Mein Kampf mulai dilaksanakan oleh Hitler. Dengan memulai kebijakan untuk
membersihkan ras Arya dari segala unsur yang tidak diharapkan sekaligus
mengeliminasi ras lain yang dianggap sebagai inferior dan berbahaya bagi bangsa
Jerman.
Langkah awal kebijakan Hitler dalam pemerintahan adalah menarik
keanggotaan Jerman dalam Liga Bangsa-Bangsa (League of Nation). Liga
Bangsa-Bangsa yang dimaksudkan untuk menengahi konflik-konflik internasional
dan dengan adanya Liga Bangsa-Bangsa tersebut akan berguna untuk mencegah
perang di masa depan. (www.Wikipedia.com)
Dalam buku Mein Kampf , Hitler mengatakan bahwa jika berbicara
mengenai co-operative union biasanya berarti sebuah kelompok asosiasi yang
mempunyai tujuan memfasilitasi pekerjaan, menjalin semacam hubungan yang
saling menguntungkan untuk berkolaborasi dalam sebuah pemahaman yang sama
yang menunjuk sebuah diktatoral pada umumnya dengan berbagai tingkat
kekuasaan yang kemudian menghasilkan suatu keputusan untuk melaksanakan
tindakan. Dengan mendirikan kerjasama antara satu dengan yang lain, maka akan
menghasilkan suatu dasar persamaan pemikiran. Dimana anggota di dalamnya
akan bersatu dan menghapuskan segala perbedaan yang ada. Perkumpulan adalah
penyatuan kekuatan dari kelompok-kelompok lemah sehingga sekarang telah
dapat berdiri sendiri dengan dorongan negara yang kuat. Tetapi menurut Hitler
anggapan seperti itu salah. Hitler menilai bahwa negara kedaulatan tidak akan
terbentuk berdasarkan keinginan kompromi yang melekat dalam kualisi tetapi
hanya akan terbentuk dengan menggunakan tangan besi yang merupakan sebagai
penggerak tunggal sehingga akan mendapatkan kemenangan dalam perjuangan
untuk mencapai tujuan negara. (Mein Kampf,2007:147)
Hitler segera memulai untuk menciptakan negara sosialis nasionalis
dengan menghapuskan semua kelas pekerja serta oposisi demokratis
liberal.
Pengadilan Reinchstag bertindak sebagai ajaran yang tidak hanya menekan partaipartai komunis dan demokratis sosial tetapi juga mencabut semua konstitusi Dan
hak-hak sipil serta melembagakan kamp konsentrasi kelak.
Untuk melakukan tugasnya, Hitler membentuk suatu organisasi militer
yang bernama Gestapo (Geheime Staatspolizei atau Polisi Rahasia Negara).
Gestapo dibentuk pada tanggal 26 April 1933 dengan pemimpin pertama yaitu Dr.
Rudolf Diel. Gestapo dibentuk sebagai suatu badan yang relatif kecil terdiri atas
polisi politik (Politische Polizei) di Berlin, dengan tujuan meneruskan tradisi
Polisi Rahasia Prusia dengan tugas utama yaitu memantau serta membasmi lawanlawan politik Hitler. Gestapo bekerja sebagai polisi politik dan tidak terikat
dengan organisasi militer lainnya.
Atas persetujuan Hitler, pada tanggal 1 Mei 1933, Gobbles mengatur
demonstrasi serta parade dalam rangka menyambut Hari Buruh Nasional. Pada
tanggal 10 Mei 1933, Goebbels melakukan uapacara pembakaran 20.000 buku di
Opernpaltz, Berlin. Buku-buku yang dibakar itu merupakan karya kaum Yahudi.
Ketika partai NAZI berhasil menguasai parlemen tahun 1933, Goebbels segera
melakukan tindakan untuk membersihkan Yahudi di segala aspek pekerjaan.
Selain itu Gobbels menyebarkan fitnah bahwa kaum Yahudi berusaha untuk
memboikot Jerman sehingga membuat NAZI harus mengambil kebijakan
serangan balasan. (Luger Ballack,2007:83)
Pada tahun 1934, Adolf Hitler melakukan tindakan yang dianggap
sebagai pelecehan terhadap keberadaan Liga Bangsa-Bangsa. Tindakan yang
dilakukan Hitler adalah dengan mengirimkan tentara NAZI yang merampas serta
menduduki wilayah sekitar Sungai Rhein.selain tindakan tersebut, Hitler juga
mengajak masyarakat Austria untuk membunuh Kanselir Austria yaitu Engelber
Dolfuss. Tetapi usaha tersebut dihalangi oleh Bennito Mussolini yang merasa
cemas akan tindakan Hitler yang semakin mengancam perdamaian dunia. Usaha
yang dilakukan oleh Mussolini adalah dengan mengirimkan tentaranya di
berbatasan Austria. Selain Mussolini, seakan-akan tidak ada yang berani
menghalangi tindakan Hitler. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan Liga BangsaBangsa tidak memiliki kekuatan yang riil untuk mencegah serta mengatasi
konflik. Sikap acuh negara Amerika Serikat yang tidak mengeluarkan pernyataan
sedikitpun, hal ini karena Amerika Serikat sedang sibuk mengatasi krisis ekonomi
dalam negeri sendiri.
c) Malam Pisau Panjang (Night of The Long Knives)
Konflik lama antara Hitler dengan petinggi S.A (Sturm Abteilung :
pasukan serbu partai NAZI yang bertugas mengacaukan pertemuan musuh politik
dan melindungi Hitler dari serangan balasan sewaktu Hitler belum menjadi
kanselir) yaitu Ernst Roehm muncul kembali pada tahun 1934. Roehm yang
meyakini bahwa revolusi NAZI harus berlanjut. Roehm juga menyarankan agar
pasukan S.A dijadikan sebagai tentara NAZI yang resmi menggantikan angkatan
bersenjata reguler resmi. Tetapi Hitler yang sudah menjadi kanselir tidak
menyetujuinya. Hitler tidak mau bermusuhan dengan angkatan resmi Jerman atau
elit konservatif yang telah mendukung dirinya untuk menjadi kanselir.
Ketidaksepahaman itu akhirnya dimanfaatkan oleh Goring, Himmler serta
Gobbels untuk menyingkirkan Roehm. Hitler yang awalnya ragu-ragu untuk
menyingkirkan Roehm karena Roehm merupakan sahabat lamanya dan juga
berjasa telah mendukung kariernya, tetapi pada akhirnya Hitler merasa yakin
bahwa Roehm pantas disingkirkan. Keyakinan Hitler untuk menyingkirkan
Roehm akibat kurang loyalnya pasukan S.A kepada Hitler.
(Luger
Ballack,2007:32)
Rencana pembunuhan para petinggi S.A telah disusun oleh Hermann
Goring, Werner von Blommberg, Heinrich Luitpold Himmler. Pemimpin
serangan pembunuhan terhadap pemimpin S.A yang dinamakan dengan peristiwa
Malam Pisau Panjang (Night of The Long Knives) adalah Hermann Goring.
Roehm dianggap sebagai ancaman bagi partai NAZI, karena meskipun Hitler telah
menghimpun kekuatan dalam rangka untuk menguasai Jerman, tetapi revolusi
yang sebenarnya belum terjadi. Hal tersebut telah disadari oleh Hitler, karena
pasukan S.A akan dapat digunakan Roehm untuk melaksanakan kudeta,
mengingat jumlah anggota S.A sangat banyak. Pembersihan terhadap petinggi S.A
juga disambut baik oleh Reinhard Heydrich yaitu Kepala Dinas Intelejen Partai
atau Sicherheitsdienst yang lebih dikenal dengan sebutan S.D, selain itu didukung
juga oleh Kurt Daluege serta Walter Schelenberg. (Luger Ballack,2007:154)
Pada tanggal 30 Juni 1934 serangan pembersihan dilaksanakan. Gobbels
mengirimkan Kode Rahasia Colibri ke Berlin sebagai tanda bahwa dimulainya
aksi pembersihan. Eksekusi terhadap Roehm dilakukan oleh Theodore Eike yaitu
seorang Standertenfuhrer dan Komandan S.S Totenkopf Verbande. Pelaksanaan
pembunuhan terhadap petinggi S.A tersebut dapat dikatakan sangat mudah karena
tidak adanya suatu perlawanan yang berarti. Aksi tersebut berhenti setelah
berhasil membunuh sekitar 1000 orang yang disebut Hitler sebagai “pelaku
subversi dan musuh negara” telah dilenyapkan, termasuk mantan Kanselir Jerman
era Republik Weimar Jendral Kurt von Schleicher serta mantan Menteri
Pertahanan Jenderal Ferdinand von Bredow. Hal ini disebabkan karena kedua
tokoh tersebut secara terang-terangan menentang Hitler serta rencana pe-nazi-an
Angkatan Bersenjata Jerman. (Darma aji,2005:2)
Peristiwa Malam Pisau Panjang (Night of The Long Knives) merupakan
isyrat bagi para petinggi militer bahwa: a) Hitler masih dapat mengendalikan
pasukan Jerman; b) Hitler sangat serius dengan ambisinya untuk meraih
kekuasaan absolut di Jerman dengan cara menyingkirkan berbagai penghalang
termasuk pembantunya yang loyal; c) pembunuhan itu merupakan ancaman secara
tidak langsung bagi siapun yang berani menantang ambisi kekuasaan Hitler.
Pada tanggal 20 Juli 1934 Hitler mengumumkan bahwa pasukan S.S
(Schutzstaffel) berdiri sendiri, tidak lagi berada di bawah naungan pasukan S.A
(Sturmabteilung). Tanggal 2 Aguatus 1934 Presiden Hindenburg meninggal
secara mendadak. Dengan adanya kejadian tersebut maka jalan Hitler untuk
menuju tambuk kekuasaan absolut semakin lebar. Para Jenderal akhirnya
menyetujui jika Hitler memegang kekuasaan yang menyeluruh di Jerman. Untuk
mendapatkan legitimasi bagi kedudukan yang rangkap yaitu sebagai kanselir,
presiden juga menjadi panglima besar militer, maka Hitler mengadakan suatu
pemilihan umum. Pemilihan tersebut bertujuan untuk meminta pendapat berkaitan
dengan kedudukan Hitler sebagai penguasa mutlak. Pemilihan umum tersebut
diwarnai dengan adanya berbagai bentuk ancaman serta propaganda yang
dilakukan oleh NAZI. Dengan menggunakan dua hal tersebut maka tidak
mengherankan jika akhirnya Hitler memenangkan 90% suara. Setelah berhasil
memenangkan pemilihan umum tersebut, langkah pertama yang dilakukan oleh
Hitler adalah menyingkirkan para petinggi dalam segala bidang yang kurang loyal
digantikan dengan para anggota NAZI yang tentu saja loyal terhadap Hitler.
(Agustinus Pambudi,2005:43)
Selain menggantikan seseorang yang berada dalam posisi-posisi penting
di berbagai bidang dengan anggota NAZI yang loyal, usaha lain yang dilakukan
Hitler adalah Angkatan Bersenjata Jerman dipaksa untuk mengucapkan sumpah
suci yaitu sumpah setia kepada pribadi Adolf Hitler selaku Fuehrer. Sehingga
tidak ada lagi sumpah setia kepada Republik tetapi hanya kepada satu orang saja.
Sumpah setia kepada sang Fuehrer tersebut berbunyi:
“Demi Tuhan saya bersumpah. Bahwa saya mempersembahkan kepada
Adolf Hitler, fuhrer Jerman dan rakyat Panglima Tertinggi Angkatan
Bersenjata; kepatuhan tanpa syarat. Dan bahwa saya siap sebagai
prajurit yang berani, mengorbankan jiwa serta raga kapan pun demi
sumpah ini”. (Darma aji,2005:4)
Alasan para perwira tinggi mematuhi Hitler adalah karena sebagian besar
perwira tinggi digembleng dalam tradisi kepatuhan tanpa syarat kepada Kaisar,
dengan menentang sumpah berarti mengkhianati Kepala Negara Jerman yang
dalam hal ini adalah Kaisar. Selain itu ada faktor lain seperti adanya ambisi dan
ketakutan terhadap Hitler. Banyaknya perwira tinggi yang menginginkan
mendapat bintang, serta posisi puncak dalam karirnya.(Darma aji,2005:19)
Bagi para tentara S.A sendiri Hitler telah memikirkan untuk ke depannya.
Anggota
SA pindah ke dalam SS serta membentuk unit-unit baru seperti
Schutzstaffel Verfugungtrupe atau disingkat SS-VT. Satuan ini merupakan satuan
khusus Pasukan Serba Guna yang nantinya akan menjadi divisi kedua Das Reich
di dalam Waffen SS. SS-VT terdiri dari 3 resimen yakni Deutschland, Germania
dan De fuhrer. Selain SS-VT juga terdapat SS-TV (Tottenkopf Verbande) yang
direkrut dari kamp konsentrasi dan menjadi cikal bakal divisi ketiga yakni
Tottekopf yang terkenal kejam.
Dapat dikatakan bahwa ketiga bakal divisi itu nantinya akan berkembang
dan menjadi tulang punggung kekuatan Waffen SS yang ada. Akselerasi
pembentukan satuan-satuan Waffen SS dari tingkat resimen hingga divisi
dilakukan sangat cepat karena situasi perang. Pengakuan-pengakuan terhadap
ketangguhan Waffen SS ini secara perlahan mulai di dapat meski posisi mereka
selama Operasi Fall Weiss di Polandia, Operasi Fall Gelb yaitu penyerbuan ke
Perancis, dan negara-negara Benelux (Belgia, Nederland, serta Luxemburg) masih
merupakan kekuatan cadangan, dengan pengecualian divisi Leibstandarte Adolf
Hitler (LSAH) yang digunakan untuk mencegat pasukan-pasukan Inggris yang
mundur melalui Dunkirk. Dengan kata lain pada saat Perang Dunia II meletus,
Jerman telah memiliki sekurangnya 4 resimen Waffen SS. (Fernando R.
Srivanto,2007:8)
Tanggal 16 Maret 1935 Hitler mengeluarkan perintah yaitu wajib militer
bagi warga negara Jerman. Perintah wajib militer tersebut dikeluarkan sebagai
bentuk penentangan terhadap Perjanjian Versailles selain itu langkah ini juga
dipersiapkan Hitler untuk mewujudkan ambisinya.(Stephane Downing,2007:155)
Rencana Adolf Hitler adalah membuat struktur militer dan sosial yang
mendukung ideologinya sekarang. Selain membentuk Gestapo, Hitler membentuk
juga organisasi militer lainnya yaitu Hitler Jugend (Pemuda Hitler). Pemuda
Hitler tersebut menggambarkan penguatan terhadap partai NAZI. Pemuda Hitler
terdiri atas anak yang telah diberikan didikan tentang NAZI sejak umur 4 tahun
sehingga nantinya akan membantu Hitler secara sukarela karena telah menjadi
pengikut Hitler yang fanatik. (Judith Sandeen Bartel,2005:15)
Sejak awal pemerintahan Hitler pada tahun 1933, struktur demokrasi
Jerman digantikan dengan sebuah kondisi tersentralisasi seutuhnya, otonomi yang
sebelumnya dilatih dalam banyak hal oleh pemerintahan provinsi dihapuskan dan
pemerintahan subnasional ditransfortasikan ke dalam instrumen pemerintahan
pusat yang dikontrol dengan ketat. Reinchstag hanya menguasai fungsi seremonial
belaka, bukan fungsi legislatif. Dengan suatu proses koordinasi (gleichschaltung)
semua perusahaan bisnis pribadi, buruh serta pertanian dan juga pendidikan serta
budaya harus tunduk di bawah kontrol serta arahan partai NAZI. Bahkan gereja
protestan pun mulai mengajarkan doktrin sosialis nasional. Legislatif khusus pun
dibuat untuk mengeluarkan umat Yahudi dari proteksi hukum Jerman.
Dalam bidang ekonomi, masalah yang paling krusial yang dihadapi
Negara Jerman adalah pengangguran. Industri Jerman kemudian berjalan sekitar
58 % dari kapasitas yang sebenarnya. Perkiraan jumlah pengangguran sebelum
Hitler berkuasa manjadi kanselir antara 6-7 juta orang. Diantara anggota partai
NAZI, mengharapkan Hitler menepati janji-janji tentang anti kapitalis yang
merupakan propaganda sosialis nasionalis, mengakhiri perusahaan-perusahaan
dan kartel (gabungan perusahaan) monopolistik serta menghidupkan industri
melalui pembentukan sejumlah besar bisnis.
NAZI dibawah kepemimpinan Adolf Hitler tampak sedang berusaha
memulihkan Jerman setelah mengalami keterpurukan akibat kekalahan pada
Perang Dunia I, terbukti dengan banyak pemuda Jerman yang menjadi anggota
NAZI. Selain itu,
banyak proyek pekerjaan umum yang didirikan untuk
membantu mengurangi kaum pengangguran. Adolf Hitler juga mendirikan pabrik
senjata, usaha tersebut untuk mempersenjatai masyarakat Jerman sekaligus
berguna untuk menciptakan lapangan pekerjaan. (Grolier, 1988:209)
Solusi lain dalam mengurangi masalah pengangguran adalah dengan
menciptakan tatanan baru. Dengan cara menggunakan industri Jerman yang
seutuhnya serta mampu menguntungkan, bisa dicapai hanya dengan memperbaiki
Jerman dengan membentuk sebuah posisi kepemimpinan di dunia perdagangan,
industri serta keuangan. Sumber-sember serta bahan-bahan mentah yang
dibutuhkan harus didapatkan kembali dan dikontrol. Perdagangan serta sistem
transportasi berupa rel modern, transportasi udara harus dibangun. Peindustrian
harus diatur kembali agar lebih efisien sehingga mampu mencukupi kebutuhan
dalam negara Jerman sendiri. Negara Jerman juga mengembangkan pengganti
sintetis bagi bahan-bahan kebutuhan Jerman, di mana kebutuhan tersebut sangat
diperlukan dan negara lain tidak bisa mencukupi. Persediaan makanan yang
dijamin dengan mengontrol pertumbuhan pertanian. Dalam mencapai tatanan
baru, Hitler mengeluarkan kebijakan yaitu penghapusan serikat serta kerja sama
perdagangan, penyitaan finansial dan aset-aset lain, mengurangi tawar menawar
kolektif diantara para pekerja dengan majikan, melarang pemogokan kerja, serta
membutuhkan keanggotaan hukum dari semua pekerja Jerman dalam Deutsche
Arbeitsfront atau DAF (Front Buruh Jerman) yang dikontrol negara. Upah
ditentukan oleh menteri ekonomi nasional, pejabat pemerintahan yang memanggil
wakil buruh dan ditunjuk oleh menteri ekonomi nasional yang menangani semua
pertanyaan berkenaan dengan upah serta jam dan kondisi kerja. Asosiaso
perdagangan pemilik bisnis serta industrialis Republik Wiemar ditransformasikan
ke dalam organ-organ kontrol negara keanggotaan para pekerja pun diwajibkan.
Pengawasan terhadap asosiasi-asosiasi
diberikan kepada menteri ekonomi
nasional yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur organisasi-organisasi
perdagangan. Selain itu sebagai wakil tunggal dari cabang-cabang industri,
mengatur asosiasi baru memecah atau menyatukan perusahaan yang telah ada,
serta menunjuk dan memberhentikan pemimpin dari semua asosiasi tersebut. Hak
kepemilikan pribadi dilindungi sedangkan perusahaan yang sebelumnya sudah
dinasionalisasi pun diprivatisasi kembali. Privatisasi yaitu kembali berubah
menjadi kepemilikan pribadi dengan syarat harus tunduk kepada kontrol negara.
(George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:56-58)
Hjalmar Schahct yang merupakan menteri perekonomian pada masa
Hitler, berhasil menghapus pengangguran di Jerman dengan cara menciptakan
banyak tenaga kerja, seperti proyek pembangunan Autobahn serta proyek
persenjataan militer Jerman. NAZI juga menambah anggaran militer pada tahun
pertama kekuasaan sampai-sampai militer tidak mampu menghabiskan seluruh
biaya yang dianggarkan. Proyek-proyek tersebut membawa Jerman ke dalam
keadaan tenaga kerja penuh (full employment). Rakyat mendapat pekerjaan serta
penghasilan sehingga masyarakat dapat membeli makanan. Persenjataan juga
menghapus rasa malu terhadap dunia karena kekalahan Jerman masa Perang
Dunia I. Tahun 1935, Inggris merasa bersalah dengan Jerman karena telah
memaksakan Perjanjian Versailes yang isinya memberatkan rakyat Jerman.
Inggris mengadakan perjanjian baru dengan Hitler, yang berisi memperbolehkan
membangun Angkatan Laut melebihi batas yang diinginkan dalam Perjanjian
Versailes. Hal tersebut mempercepat industri Jerman, terutama industri
persenjataan serta perangkat perang. Selain itu, sangat membantu Hitler dalam
hubungannya mewujudkan impian untuk menguasai Eropa untuk memperluas
kegiatan Aryanisasi juga pemusnahan kaum Yahudi. (Luger Ballack,2007:34)
Untuk menanggulangi masalah ras di Jerman, Hitler telah memikirkan
beberapa kebijakan. Ras Yahudi yang dianggap sebagai inferior oleh Hitler
sehingga layak untuk dimusnahkan. Dalam buku Mein Kampf (Adolf
Hitler,2007:25) mengatakan:
“Bagi bangsa Jerman adalah lebih baik jika tidak pernah terjadi
percampuran darah. Karena percampuran darah membawa sebuah perubahan yang
akan merendahkan tingkat ras yang lebih tinggi. Hasil akhir dari proses seperti ini
akibatnya akan menjadi kerusakan pada kualitas-kualitas sebelumnya.”
Setelah tanggal 7 April 1933, parlemen Jerman mengeluarkan undangundang yang memperbolehkan pemerintah menghapus umat Yahudi dari
pelayanan sipil Jerman. Isi undang-undang lainnya yaitu memberikan kuota untuk
membatasi jumlah pelayanan Yahudi, pemboikotan toko milik Yahudi,
mempensiunkan para veteran Perang Dunia I yang bukan merupakan ras Arya.
Semua kebijakan yang diambil semata-mata untuk membatasi gerak orang
Yahudi. Tetapi ternyata hal tersebut masih dianggap jauh dari tujuan Hitler yang
ingin memurnikan ras Arya.(Stephane Downing,2007:155)
Pada tanggal 15 September 1935 parlemen Jerman (Reichstag)
mengadakan sidang di Nuremberg. Hasil persidangan tersebut adalah disahkannya
dua peraturan perundang-undangan yang dikenal dengan nama Undang-Undang
Nuremberg. Undang-undang kewarganegaraan reich yang menetapkan bahwa
hanya orang-orang berdarah Jerman yang bisa menjadi warga negara reich
Jerman. Undang-undang perlindungan terhadap darah Jerman dan martabat
Jerman yang memformalkan pemisahan antara orang Yahudi serta Jerman asli,
melarang perkawinan dan hubungan seks antara orang Yahudi dengan bangsa
Arya. (Norcholis,2007:4)
Undang-undang
Nuremberg
berisi
tentang
ketentuan
tentang
kewarganegaraan Jerman. Undang-undang Nuremberg berfungsi untuk memilah
antara orang Yahudi dengan orang Arya, dengan berisi:
a) Siapapun yang berasal dari sekurang tiga, menurut ras, kakek/nenek
Yahudi asli. Seseorang kakek/nenek dianggap Yahudi asli tanpa
prasyarat lebih jauh apapun, bila dahulu atau sekarang menjadi
anggota dari komunitas agama Yahudi.
b) Separuh Yahudi juga dianggap Yahudi jika seseorang memiliki dua
kakek/nenek Yahudi: (i) yang tergabung dalam komunitas agama
Yahudi pada tanggal 15 September 1935 atau yang menjadi anggota
dalam komunitas tersebut atau setelah waktu tersebut, (ii) telah
dinikahi oleh orang Yahudi sejak tanggal 15 September 1935 atau
menikahi orang Yahudi setelah tanggal 15 September 1935 , (iii)
yang orang tuanya dinikahi oleh orang Yahudi setelah tanggal 15
September 1935, (iv) hasil hubungan di luar nikah dengan seorang
Yahudi dan dilahirkan di luar ikatan perkawinan setelah 31 Juli
1936. (Stephane Downing, 2007:21)
Hukum yang kedua adalah hukum memproteksi darah dan kemuliaan
orang Jerman, yang memformalisasi berbagai rintangan antara orang Yahudi
dengan bangsa Jerman. Melarang adanya pernikahan dan hubungan seksual
diantara orang Yahudi dengan orang Jerman. Dengan kebijakan tersebut, maka
pemerintahan NAZI menghilangkan hak-hak sipil orang Yahudi Jerman serta
secara efektif mengeluarkan orang Yahudi dari kehidupan sosial dan kultural.
Kebijakan bertujuan untuk mengambil alih kemiskinan orang Yahudi dengan
sebuah pandangan, untuk memaksa orang Yahudi bermigrasi dari Jerman.
(George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:80)
Pada bulan Januari 1937 Hitler mengeluarkan kebijakan rasial untuk
selanjutnya. Kebijakan tersebut antara lain dengan melarang orang Yahudi untuk
menduduki pekerjaan profesional misalnya seorang akuntan dan dokter gigi.
Selain itu, Hitler mengeluarkan kebijakan bahwa orang Yahudi hanya dapat
memperoleh paspor untuk bepergian dalam kasus-kasus tertentu. (Stephane
Downing,2007:157)
Langkah awal Hitler untuk menguasai Eropa adalah pada tanggal 7 Maret
1936 Hitler mengirimkan pasukan Jerman ke Rhineland yang dimaksudkan untuk
menguji reaksi negara-negara sekutu. Namun, karena tidak adanya reaksi dari
Sekutu, maka Jerman melakukan invasi pertamanya yaitu ke negara Austria pada
tanggal 12 Februari 1938. Kanselir Austria yaitu Schuschnigg dipaksa mendatangi
persetujuan untuk mempersatukan Austria dengan Jerman. Pada tanggal 12 Maret
1938, tentara Jerman mulai masuk Austria. Rakyat Jerman menyambut hangat
atas kebijakan yang dilakukan Hitler yaitu pengambilalihan Austria dan
Rhineland. Rakyat Jerman menganggap dengan adanya hal itu merupakan sebagai
isyarat bahwa negara Jerman mulai mendapatkan kekuatannya kembali serta harga
dirinya yang telah hilang pada Perang Dunia I. (Luger Ballack,2007:35)
Langkah Hitler selanjutnya yaitu mengangkat Heinrich Luitpold
Himmler sebagai Kepala Kepolisian Jerman pada tanggal 17 Juni 1936. Himmler
terkenal dengan sikapnya yang brutal sekaligus sadis di kalangan tentara S.S, hal
tersebut akan membantu mempercepat tercapainya tujuan Hitler dalam mengatasi
orang Yahudi. Setelah pengangkatan, Himmler segera melakukan restrukturisasi
dalam badan kepolisian. Himmler mengeluarkan ketetapan dengan membagi dua
tugas serta fungsi kepolisian yang berada di bawah S.S yaitu Ordnungs Polizei
(polisi reguler dan berseragam) dengan Sicherheits Polizei (polisi keamanan yang
tidak
berseragam).
Selain
itu,
Himmler
juga
mengusahakan
untuk
menggabungkan kesatuan detektif non politik Jerman yaitu Kripo (polisi yang
bertugas untuk menangani kejahatan negara) dengan Gestapo (polisi yang
bertugas untuk menangani rahasia negara) dalam suatu badan yang bernama
Sicherheitspolizei Komando Ordnungspolizei diserahkan kepada Reinhard
Heydrich. Namun, usaha tersebut mengalami kegagalan karena kontrol
operasional dari Kripo masih dipegang kuat oleh orang-orang administrasi sipil.
(Luger Ballack,2007:155)
Meskipun Hitler telah melakukan aksi secara besar-besaran namun,
Hitler menyadari bahwa kekuatan Eropa yang nantinya akan muncul. Untuk
menanggulangi kemungkinan terjadi peperangan besar maka Hitler mangambil
langkah dengan mencari sekutu. Dengan harapan untuk memenangkan dukungan
Italia yang merupakan salah satu negara besar. Pada tahun 1936 Hitler bersama
dengan Mussolini yang merupakan pemimpin Italia membentuk Poros RomaBerlin. Pada perkembangan selanjutnya tahun 1940 Poros Roma-Berlin diperluas
dengan masuknya Jepang sehingga berkembang menjadi Poros Roma-TokyoBerlin. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:27)
Dalam menindak lanjuti keinginan Hitler untuk memurniakan ras Arya
maka hitler membangun kamp-kamp penampungan orang Yahudi. Menurut
Goldhagen yang dikutip oleh Stephane Downing (2007:38), Kamp adalah inovasi
kelembagaan Jerman yang terbesar serta terpenting selama periode NAZI.
Banyaknya kamp yang didirikan, dijaga, serta memiliki pegawai sangat
mencengangkan. Ada kamp transito, kamp kerja, kamp tawanan perang, kamp
untuk anak, kamp untuk wanita, kamp konsentrasi, dan kamp pemusnahan. Kamp
yang pertama adalah kamp di Dachau di Jerman Selatan. Setelah itu berdirilah
kamp seperti Ravensbruck, Sachsenhausen, Mauthausen, Buchenwald serta
Bergen-Belsen. Enam kamp pemusnahan adalah Auschwitz, Birkenau, Treblinka,
Sobibor, Majdanek, Belzec dan Chelmno. Pada umumnya kamp dibangun di
lokasi dengan banyak narapidana berkumpul sehingga bisa dibunuh seketika, atau
dibunuh setelah dibebani kerja paksa terlebih dahulu. Mayoritas narapidana yang
mengisi kamp adalah orang Yahudi, tetapi ada juga orang non Yahudi.
Narapidana orang non Yahudi seperti Kristen penganut Jenovah, homoseksual,
kelainan mental, orang penyakit kronis, serta musuh rezim NAZI.
Keadaan di dalam kamp, biasanya ketika sebuah angkutan tiba maka
akan disambut oleh penjaga kamp. Semua yang selamat di perjalanan dihela
meninggalkan kereta dengan cacian, cambukan, juga tembakan. Orang-orang
tersebut dibariskan di halaman stasiun. Jika kamp mempunyai fasilitas
pemusnahan, orang-orang ini harus menjalani proses Seleksi. Yang muda dan
sehat dipilih untuk tetap hidup dan bekerja. Sedangkan anak-anak, wanita yang
membawa bayi serta orang-orang tua digiring ke kamar gas. Di sana mereka
disemprot gas sampai mati, selanjutnya mayatnya di kubur secara massal atau di
bakar oleh pekerja paksa Yahudi. (Stephane Downing,2007:40)
Pada bulan Januari 1937 Hitler mengeluarkan kebijakan rasial yang
selanjutnya. Kebijakan tersebut antara lain melarang orang Yahudi untuk
menduduki pekerjaan profesional misalnya akuntan dan dokter gigi. Selain itu
Hitler mengeluarkan kebijakan bahwa orang Yahudi hanya dapat memperoleh
paspor pada kasus-kasus spesial saja. (Stephane Downing,2007:157)
Langkah Hitler dalam meraih kekuasaan yang lebih mutlak yaitu dengan
menyingkirkan para perwira yang dianggap sudah tidak sepaham serta tidak loyal
lagi terhadap Hitler. Sasaran Hitler selanjutnya adalah Panglima AD Jenderal
Werner von Fritsch, Menteri Luar Negeri Konstantin von Neurath, serta Menteri
Peperangan Marsekal Medan von Blomberg. Ketiga tokoh tersebut menentang
keputusan Hitler untuk memperkuat Angkatan Bersenjata Jerman sesegera
mungkin, dengan alasan program ambisius itu hanya akan membuat bangkrut
ekonomi Jerman serta menyulut amarah Inggris serta Perancis yang akan malah
terjadi peperangan. (Darma aji,2005:4)
Dalam usaha menyingkirkan para perwira tersebut, Hitler melakukan
berbagai cara yang tidak lain dengan adanya fitnahan. Menteri Peperangan
Marsekal Medan von Blomberg adalah seorang duda karena istrinya meninggal
dunia. Setelah empat tahun menduda, akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi
dengan Erna Gruhn yaitu sekretaris pribadinya. Blomber meminta restu kepada
Hitler karen Blomberg sadar bahwa korps perwira tertinggi tidak boleh menikahi
orang sembarangan. Akan tetapi, beberapa hari sebelum pernikahan tersebut, para
Jenderal menerima telepon dari klub malam yang mengatakan bahwa Erna berasal
dari klub malam tersebut. Mendengar hal itu Kepolisian Berlin menemukan
dokumen tentang pembenaran dari berita tersebut, segera dokumen itu diserahkan
pada Heinrich von Helldorf. Dokumen tersebut selanjutnya diserahkan kepada
Jenderal Wilhem Keitel dengan harapan agar Keitel yang karirnya dulu dibantu
Blomberg dapat mencegah bahaya yang lebih besar dalam karir Blomberg.
Namun, ternyata Keitel memiliki rencana lain, hal ini karena Keitel berambisi
untuk menaikkan jabatannya. Keitel mengembalikan dokumen tersebut kepada
Helldorf dengan pesan agar disampaikan kepada Herman Goering. Panglima
Luftwaffe (Angkatan Udara) yang mengincar Menteri Peperangan menyampaikan
dokumen tersebut kepada Hitler tanggal 25 Januari 1938. dokumen tersebut dapat
dijadikan alasan Hitler untuk menyingkirkan Blomberg. Namun, sebelum hal itu
terjadi, Blomberg mengundurkan diri sebagai Menteri Peperangan. (Darma
aji,2005:6)
Setelah Blomberg dapat disingkirkan Hitler maka giliran Panglima AD
Jenderal Werner von Fritsch. Kepala Polisi Negara dan Pemimpin Besar S.S
Heinrich Himmler menyusun suatu jebakan. Kedua tokoh tersebut memfitnah
bahwa Fritsch adalah seorang homoseksual. Homoseksual merupakan suatu
tindakan pidana berat di negara Jerman. Mendengar fitnahan tersebut, Fritsch
langsung menemui Hitler serta bersumpah jika laporan tentangnya adalah suatu
kebohongan. Tetapi Heinrich Himmler telah memikirkan apa yang akan terjadi,
sehingga ia telah menyewa seorang homoseksual yang bernama Hans Schmidt
untuk mengaku sebagai teman kencan Fritsch. Adanya kejadian tersebut maka,
Hitler menyarankan agar Fritsch mengundurkan diri, tetapi hal ini ditolak.
Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1938 Hitler mengumumkan bahwa mulai saat
itu Hitler mengambil alih komando seluruh Angkatan Bersenjata. (Darma
aji,2005:8)
Usaha Hitler dalam memperluas daerah kekuasaannya salah satunya
dengan memberikan uang kepada Jenderal Walther von Brauchitsch untuk
menyelesaikan kasus perceraian serta untuk merestui pernikahan jenderal tersebut
dengnan Ulrich von Hassel seorang Duta Besar Jerman di Italia. Dengan begitu,
sang jenderal dapat dikendalikan oleh Hitler akibat hutang budi. Selain usaha
tersebut Hitler juga melakukan pembersihan atas semua orang anti NAZI Dan non
NAZI di pemerintahan. Menteri Ekonomi Jerman yaitu Dr. Halmar Schacht yang
menentang kebijakan pembangunan militer akhirnya dipecat. Dalam Departemen
Luar Negeri, Hitler juga memecat Menteri Luar Negeri Jerman yaitu Konstantin
von Neurath karena menentang kebijakan ekspansi dan menentang keputusan
Hitler membatalkan keanggotaan Jerman di Liga Bangsa-Bangsa. Selain itu, tiga
diplomat senior yaitu Ulrich von Hassel (dubes di Italia), Herbert von Dirksen
(dubes di Jepang), serta Franz von Papen (dubes di Australia). (Darma
aji,2005:10)
Sedangkan usaha Hitler dalam mencapai ambisinya yang lain adalah
menguasai Eropa. Salah satu tujuan utama Hitler yaitu menyatukan semua orang
yang berbahasa Jerman di Eropa. Untuk mewujudkan impian tersebut, Hitler
mengejar Anschluss (serikat) antara Jerman dan Austria. Austria merupakan
negara sisa kekaisaran Austria-Hungaria yang berbahasa Jerman, yang dipecah
setelah Perang Dunia I. Penyatuan Jerman dan Austria telah dilarang oleh sebuah
pakta yang mengakhiri Perang Dunia I. Sebuah batasan yang dibenci oleh kedua
negara tersebut. Hitler yang lahir dari etnis Jerman di Austria selalu mengharap
dapat menggabungkan Jerman-Austria ke dalam kekaisaran Jerman yang Hitler
namakan dengan Reich. Penyatuan kedua negara tersebut akan meningkatkan
populasi Jerman, memperkuat tentara-tentara Jerman, serta membuka sebuah jalan
menuju Eropa Tenggara. Usaha-usaha untuk menyempurnakan Anschluss yaitu
dengan adanya tekanan ekstenal serta kudeta internal mengalami kegagalan. Pada
tahun 1933-1934. Taktik yang sangat berat tersebut memperkecil antusiasme
negara Austria untuk bersatu dengan Jerman. Pada tahun 1937 Hitler secara
terbuka mengancam pemerintahan Austria dan menempatkan tentaranya di
sepanjang perbatasan Austria. Pada bulan Maret 1938 Perdana Menteri Austria di
lengserkan serta digantikan oleh seorang anggota partai NAZI yang berada di
wilayah Austria. Tanggal 12 Maret 1938 memerintahkan tentaranya untuk
bergerak menuju Austria. Tentara NAZI tidak menemui perlawanan dan pada hari
berikutnya di Vienna, Hitler memproklamasikan secara resmi penyatuan Austria
dengan Jerman. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:28)
Kebijakan tentang Antisemit telah tercium negara-negara lain di dunia.
Negara-negara tersebut menyayangkan kebijakan Hitler terhadap orang Yahudi.
Negara-negara yang menolak kebijakan Hitler tersebut sebelumnyatelah
tergabung
dalam
Liga
Bangsa-Bangsa.
Liga
Bangsa-Bangsa
akhirnya
mengadakan konferensi yang diadakan di Evian, Perancis pada tanggal 6 Juli
1938 yang dihadiri 32 negara. Konferensi tersebut membicarakan tentang
mempertimbangkan untuk membantu pengungsi-pengungsi Yahudi dari eksekusi
NAZI. semua negara yang menghadiri konferensi tersebut menunjukkan
ketidaksukaan terhadap perlakuan Jerman. Namun negara-negara tersebut
menolak untuk menampung orang-orang Yahudi. Dengan menggunakan cara
menetapkan kuota-kuota yang diawasi secara ketat sehingga tidak semua engungsi
yang tertampung. Hal ini membuktikan kepada Hitler bahwa negara-negara lain
tidak dapat mengusik rencananya untuk membersihkan Yahudi. Selain itu, juga
membuktikan bahwa Liga Bangsa-Bangsa tidak memiliki kekuatan riil untuk
mengambil tindakan terhadap Jerman.(Judith Sandeen Bartell,2005:19)
Sepanjang bulan Maret sampai bulan Oktober 1938 Hitler mengeluarkan
berbagai kebijakan baru yang bertujuan untuk membatasi gerak orang Yahudi.
Kebijakan tersebut antara lain pada tanggal 26 April, orang-orang Yahudi di
Jerman dipaksa untuk mendaftarkan aset-aset kekayaan pada negara. Pada tanggal
14 Juni bisnis orang Yahudi dipaksa untuk melakukan registrasi. Tanggal 25 Juli
dokter-dokter Yahudi tidak diperbolehkan melakukan praktek serta para
pengacara Yahudi tidak diperbolehkan untuk menjalankan praktek hukumnya.
Jalan-jalan yang memakai nama Yahudi diganti. Tanggal 17 Agustus undangundang menetapkan orang Yahudi Jerman ditandai dengan huruf “J” (huruf depan
Jews yang berarti Yahudi). Tanggal 28 Oktober 15.000 orang Yahudi tanpa
kewarganegaraan akibat adanya Undang-Undang Nuremberg di deportasi ke
Polandia. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:157)
Merasa tindakan-tindakan yang dilakukan Hitler tidak mendapatkan
teguran dari pemimpin negara-negara di dunia, maka aksi Hitler pun menjadi
semakin tidak terkontrol. Setelah berhasil menyatukan Austria dengan Jerman
secara paksa, Hitler beserta tentara NAZI melakukan parade dengan memasuki
Vienna. Parade yang dilakukan Hitler tersebut ternyata tidak mendapatkan reaksi
dari negara lain terutama Inggris dan Perancis. Melihat hal tersebut maka Hitler
merencanakan invasi lagi dengan merebut wilayah Sudetenland yaitu wilayah
Cekoslavia. (Agustinus Pambudi,2005:50)
Pada tanggal 26 September 1938 Hitler berpidato dengan mengatakan
bahwa Austria telah berada dalam kekuasaan Jerman serta mengklaim area
kawasan Czechoslovakia yang dikenal dengan nama Sudetenland dimana etnis
Jerman banyak yang tinggal disana. Hitler juga mengatakan bahwa jika terdapat
suatu negara yang memiliki sebagian besar warga etnis Jerman maka negara
tersebut menjadi milik negara Jerman. Hitler berencana untuk menghancurkan
Czechoslovakia menggunakan etnis Jerman yang jumlahnya cukup besar disana.
Dengan menjadikan orang-orang etnis Jerman yang tinggal Czechoslovakia
tersebut menjadi tentara NAZI. Tentara-tentara baru tersebut berfungsi untuk
mengusir penduduk yang bukan etnis Jerman. Untuk melancarkan aksinya, Hitler
membuat sebuah kampanye propaganda yang menggambarkan penindasan serta
diskriminasi dari bangsa Czech terhadap warga etnis Jerman. Akibat tindakan
yang dilakukan Hitler tersebut, malah membuat Hitler kekurangan dukungan dari
dalam negara Chezchoslovakia juga mendapat tekanan dari luar negeri yang
mengharapkan
tidak
adanya
invasi.
Mussolini
mendesak
Hitler
untuk
bernegosiasi, sedangkan Inggris mengambil langkah mendukung Czechoslovakia.
Hitler memilih menghentikan invasi dan memilih diadakannya negosiasi. Invasi
yang dilakukan Hitler berakhir dengan ditandatanganinya Pakta Munich. Dalam
perjanjian tersebut, Czechoslovakia menyerahkan kepada Jerman porsi daerahnya
yang didiami oleh etnis Jerman yaitu Sudentenland. (George Sanford, Gerhard L.
Weinberg,2007:29)
Pada tanggal 7 November 1938 tarjadi sebuah peristiwa yang
menggemparkan warga Jerman.Ernst Vom Rath yang merupakan seorang
diplomat Jerman di kedutaan Paris ditembak oleh Herschel Grynzpan yang
merupakan
seorang
pengungsi
Yahudi
Polandia.
Grynzpan
melakukan
penembakan dengan alasan dendam, setelah menerima kabar bahwa keluarganya
telah diusir dari Jerman dan dideportasi ke kamp pengungsi di perbatasan
Polandia-Jerman. (Judith Sandeen Bartell,2005:18)
Ernst Vom Rath akhirnya meninggal dunia akibat aksi penembakan
tersebut. Setelah kematian Ernst Vom Rath, pada tanggal 9 November 1938
diselenggarakan acara Percobaan Revolusi Burgerbiau Keller di Munich Altes
Rathaus (Old Town Hall) dalam rangka memperingati Kudeta Beer Hall. Acara
tersebut dihadiri oleh sekumpulan massa veteran partai NAZI. Saat itu Joseph
Gobbels sebagai menteri propaganda NAZI Jerman berusaha meminta persetujuan
Hitler untuk memberikan kebebasan terhadap pasukan S.A untuk membalas
dendam kepada para Yahudi, Hitler pun akhirnya menyetujui. Gobbels
memerintahkan diadakan demonstrasi dadakan (Spontaneous Demonstraction)
melawan seluruh Yahudi Jerman serta Austria. (Luger Ballack,2007:84)
Mendengar tentang kematian Ernst Vom Rath, kebencian rakyat Jerman
terhadap orang Yahudi semakin besar. Anti semit warga Jerman pun semakin
pada puncaknya pada malam tanggal 9 November 1938. banyak warga Jerman
yang mengikuti saran Gobbels untuk melakukan aksi balas dendam, aksi tersebut
sering disebut peristiwa
Kristallnacht (Malam Kaca Pecah). Selama malam
tersebut, tentara NAZI membunuh lebih dari 90 orang Yahudi, melukai ratusan
orang, membakar 191 tempat ibadah orang Yahudi, serta merampas ribuan toko
dan bisnis Yahudi, mengirimkan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Peristiwa
Kristallnacht menandai sebuah tonggak krusial dalam aksi-aksi NAZI melawan
Yahudi. Kristallnacht juga merupakan peristiwa kekerasan pertama di era modern
yang berskala luas yang diarahkan terhadap orang Yahudi di Eropa Barat. (George
Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:81)
Setelah peristiwa Kristallnacht, orang-orang Yahudi diperintahkan untuk
membayar reparasi sebesar 1 miliar reichmark. Orang Yahudi diwajibkan untuk
memperbaiki semua kerusakan dengan biaya mereka sendiri. Orang-orang Yahudi
tidak
diperbolehkan
lagi
memiliki
bisnis.
Orang-orang
Yahudi
tidak
diperbolehkan masuk dalam pentas drama, bioskop, konser atau pameran. Sekitar
26.000 orang Yahudi ditangkap serta dikirim ke kam konsentrasi. Anak-anak
Yahudi yang masih bertahan di sekolah-sekolah Jerman di pindahkan ke sekolahsekolah Yahudi. Semua bisnis milik orang Yahudi ditutup, orang-orang Yahudi
tidak diperbolehkan berada dalam daerah-daerah tertentu pada waktu-waktu
tertentu. Pemerintahan lokal diperbolehkan menghadang orang-orang Yahudi di
jalan-jalan, untuk menyerahkan surat ijin berkendara dan registrasi mobil mereka.
Orang Yahudi harus menjual bisnis, real estate serta menyerahkan surat berharga
beseta perhiasan. Orang Yahudi tidak lagi diperbolehkan memasuki universitasuniversitas Jerman. Semua kebijakan tersebut telah ditetapkan dalam dekrit
mengenai
Aryanisasi
pada
tanggal
13
Desember
1938.
(Stephane
Downing,2007:159)
Pada musim dingin tahun 1938-1939 merupakan tahun dimana Hitler
melakukan berbagai aksi untuk menunjukkan kepada dunia tentang ambisinya.
Hitler merasa yakin bahwa waktunya telah tiba untuk perang melawan Perancis
serta Inggris. Namun, Inggris seta Perancis masih mengharapkan peperangan
tersebut dapat dihindari. Akibatnya, para pemimpin London serta Paris berusaha
keras untuk menyelesaikan permasalahan internasional yang mungkin muncul dan
dapat menghindari peperangan. Tanda-tanda Jerman mencari ekspansi lebih jauh
membuat pemerintahan Inggris serta Perancis memutuskan bahwa jika pada awal
tahun Jerman melakukan aksi tersebut terhadap negara lain dan negara itu
menentang, Inggris serta Perancis akan berperang dengan Jerman. Jerman tidak
lagi mengindahkan Pakta Munich, hal ini terbukti dengan didudukinya daerah
Czechoslovakia pada bulan Maret 1939 sehingga menekan sebagian besar orang
Inggris serta Perancis yang telah menandatangani persetujuan tersebut. (George
Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:30)
Hitler meraih kemenangan dengan cepat, hal ini karena militer
Czechoslovakia tidak sebanding dengan militer Jerman sehingga dalam
peperangan Jerman tidak mendapatkan suatu perlawanan yang berarti. Direbutnya
wilayah tersebut mengakibatkan melambungnya euforia Hitler. Jerman yang
terbawa dalam suasana maka mengecilkan keberadaan Inggris serta Perancis yang
masih saja bersikap pasif. Menurut Hitler, Inggris serta Perancis takut akan
kekuatan Rusia. (Agustinus Pambudi,2005:51)
Setelah dapat menguasai Czekoslovakia, korban NAZI berikutnya adalah
Polandia. Sejak awal, Hitler menyadari bahwa invasinya ke Polandia akan
menyebabkan komplikasi politik yang serius di benua Eropa. Namun, Hitler lebih
mencemaskan reaksi Soviet dibanding Inggris dan Perancis. Polandia memang
telah menjalin persekutuan dengan Inggris dan Perancis. Namun, mengingat apa
yang telah terjadi pada saat NAZI menduduki Austria dan Czekoslovakia, Hitler
tidak takut. Negara Inggris dan Perancis tidak akan terjun berperang kecuali jika
diserang langsung terlebih dahulu. Dalam kenyataan Hitler lebih takut pada
kekuatan militer Soviet. Menurut Hitler kalaupun Inggris dan Perancis
menyatakan perang,Hitler masih sanggup menghadapi di front barat tetapi jika
dalam waktu yang bersamaan Soviet juga ikut berperang di front timur maka
Jerman tak sanggup menghadapi tiga negara sekaligus. Akhirnya Hitler
mempersiapkan rencana dengan cara menanda tangani perjanjian tidak saling
menyerang (pakta non agresi) dengan stanlin pada 22 agustus 1939.(Agustinus
Pambudi,2005:36)
Alasan Stanlin bekerja sama dengan Hitler adalah adanya permainan
curang dari Inggris serta Perancis. Permainan curang yang dilakukan kedua negara
tersebut
yaitu dengan memperpanjang negosiasi dengan Stanlin untuk
pembentukan organisasi pertahanan kolektif terhadap penyerbu yang mungkin
akan muncul serta mengusulkan kondisi-kondisi untuk kesimpulan kesepakatan
yang secara jelas tidak dapat diterima oleh Stanlin. Melihat Inggris dan Perancis
tidak ingin bekerja sama dengan Republik Sosialis Uni Soviet, demi
mempertahankan kedamaian, Stanlin berpikir untuk mempertahankan keamanan
negara dengan cara bekerja sama dengan Hitler. (G.F. Alexandrov,2007:152)
Tanggal 17 Agustus 1939 mulai direncanakannya penyerangan Jerman
terhadap Polandia. Hitler melancarkan taktik liciknya untuk memulai serangan,
hal ini dilakukan agar serangan yang dilakukan Hitler sebagai serangan untuk
membalas dendam. Penyusunan taktik penyerangan
dimulai pada tanggal
tersebut, dengan menggunakan 13 narapidana dari kamp konsentrasi di
Oranienbug di Jerman Timur. Proyek dengan nama sandi Operasi Barang
Kalengan tahap pertama dilakukan pada tanggal 31 Agustus, 12 narapidana yang
dipilih tadi diperintahkan untuk menggunakan seragam tentara Polandia
sedangkan yang seorang lain tidak. Narapidana yang memakai seragam tentara
Polandia tersebut disuntik dengan obat yang mematikan, setelah itu dibawa ke
hutan kecil dekat Hochlinde yaitu sekitar 16 kilometer sebelah barat perbatasan
Polandia-Jerman. Di sana kedua belas narapidana ditembak, mayatnya diletakkan
sedemikian rupa sehingga seolah-olah mereka tewas sewaktu akan menerobos
perbatasan Jerman. Taktik yang kedua dilaksanakan pada hari itu juga, dengan
menggelandang narapidana yang satu tadi menuju ke Gleiwitz. Operasi ini
dibawah kendali Mayor Alfred Naujock. Noujock memerintahkan lima pasukan
anggota SS yang menggunakan pakaian sipil untuk menyerbu stasiun radio. Salah
satu anggota SS dengan bahasa Polandia mengeluarkan pernyataan yang
membakar semangat bahwa Polandia sedang menyerang Jerman serta mengajak
seluruh warga Polandia ikut bergabung. Setelah pernyataan tersebut disusul
dengan sandiwara perkelahian antara pasukan yang menyamar sebagai warga sipil
tersebut dengan petugas radio. Suara keributan tersebut diperdengarkan lewat
mikropon lalu disertai dengan suara tembakan. Pada hari berikutnya, pukul 10.00
pagi dalam pidato di depan Reincstag di Berlin, Hitler menyebut sandiwara
tersebut sebagai salah satu peristiwa agresi Polandia ke Jerman. Hitler telah
mengumumkan bahwa ia telah mengerahkan seluruh kekuatan Jerman untuk maju
melawan Polandia.
Operasi penyerangan terhadap Polandia disebut dengan Blitzkrieg yang
artinya adalah perang kilat. Pasukan terkoordinasi yang terdiri atas divisi panser
lapis baja, pembom terbang tinggi, pembom penukik serta infanteri bermotor.
Tembakan yang pertama dilepaskan di Danzig, di jalan penghubung Polandia
yang memisahkan Prusia Timur dari Jerman. Dikuasainya pelabuhan lama Hanse
oleh Polandia pada jaman dahulu menjadi target utama Jerman. Keberhasilan
Hitler untuk merebut pelabuhan Hanse kembali ketangan Jerman, memiliki nilai
simbolik. Konsep perang Blitzkreig (perang kilat) memiliki keuntungan non
militer, konsep perang tersebut akan melahirkan serangan singkat yang
menentukan sehingga tidak akan membebani ekonomi Jerman; secara politis, jika
Hitler berhasil membawa kemenangan maka hubungan antara Hitler dengan
rakyat Jerman akan semakin erat sehingga Hitler akan mendapat keperayaan
untuk menguasai Jerman lebih lama lagi.
Untuk mewujudkan konsep perang tersebut sangat sulit dilaksanakan
karena banyak perwira Jerman yang menentang. Hal ini disebabkan karena jangka
waktu sangat singkat, padahal untuk melaksanakan perang kilat membutuhkan
perlengkapan maupun persenjataan yang sangat canggih. Pada tahun 1939 tentara
Polandia mulai melemah. Kelemahan tentara Polandia disebabkan sebagian
karena kekurangan uang, sebagian karena kekurangan tenaga yang terlatih dalam
perang berperalatan serba mesin dan sebagian karena kepercayaan diri yang mulai
menghilang. Polandia hanya mampu memobilisasi sebagian kecil sebagian kecil
angkatan bersenjata, pesawat terbang, tank serta artileri penangkis udara serta anti
tanknya yang sudah kuno. Polandia tidak dapat menyediakan senjata serta
perbekalan lain kepada pasukannya karena Polandia tidak memiliki pusat industri
yang kuat. Dalam perang jangka lama, Polandia harus mendatangkan perbekalan
dari luar negeri. Suku cadang kendaraan misalnya, harus didatangkan dari
Perancis ke Marseille. Setelah dari Marseille dilanjutkan dengan diangkut dengan
kapal barang sejauh 3.200 kilometer melintasi Laut Tengah serta menembus Laut
Aegea, Selat Dardanella, Selat Bosporus, dan Laut Hitam. Setelah dibongkar di
sebuah pelabuhan Rumania, barang diteruskan dengan kereta satu jalur sejauh 800
kilometer sampai perbatasan Polandia. Dari sana kiriman dipindahkan ke alat
angkutan lain dan diteruskan ke front lewat siste, angkutan Polandia yang bahkan
untuk kebutuhan di masa damai pun tidak memadai. (Grolier, 1988:18-26)
Jerman akhirnya mendapatkan kemenangan atas Polandia. Langkah yang
diambil Hitler setelah meraih kemenangan tersebut adalah mengambil anak-anak
Polandia yang memiliki karakter Arya dan mengirimkannya untuk dibesarkan
oleh warga Jerman. Para pemimpin Polandia ditembak, sementara banyak orang
Polandia dipaksa pindah agar penduduk Jerman dapat menetap di wilayah
tersebut.(Judith Sandeen Bartell,2005:19)
Reaksi Inggris serta Perancis ternyata di luar dugaan pihak Jerman.
Kedua negara itu ternyata telah habis kesabarannya terhadap tingkah laku Hitler.
Inggris menyatakan perang terhadap pemerintahan NAZI Jerman pada tanggal 3
September 1939, setelah beberapa saat disusul dengan pernyataan perang dari
Perancis .(Agustinus Pambudi,2005:54)
Pada saat itu, Hitler mengalami masa puncak kejayaannya. Hitler
melanjutkan misinya untuk memurnikan ras Arya. NAZI mencari solusi terakhir
bagi pertanyaan mengenai nasib orang Yahudi. Para pemimpin NAZI bermaksud
untuk menciptakan solusi teritorial bagi orang Yahudi Eropa. Pemimpin S.S
merupakan suatu komponen elite partai NAZI dalam memberikan pengajuan
usulan dalam menyelesaikan pertanyaan tentang orang Yahudi tersebut. (George
Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:82)
Jerman mengendalikan serta memusatkan orang Yahudi di bagian kota
yang disebut dengan ghetto. Orang Yahudi hanya diperbolehkan untuk membawa
sepasang baju ganti serta suatu perlengkapan tidur, juga sedikit jatah makanan.
Salah satu fungsi ghetto adalah sebagai tahanan sementara sampai orang Yahudi
tersebut sampai dipindahkan ke kamp konsentrasi ataupun kematian. Selama
hidup di ghetto, orang Yahudi berusaha mengumpulkan serta menyembunyikan
makanan maupun perlengkapan lain dari pengawasan tentara NAZI.(Judith
Sandeen Bartell,2005:20)
Einsatzgruppen merupakan pasukan pembunuh bergerak yang dibentuk
untuk mengikuti tentara Jerman saat menduduki tanah Eropa Timur dan
membunuh para Yahudi. Pada tanggal 21 September 1939, Heydrich selaku
pemimpin di NAZI mengeluarkan instruksi-intruksi rahasia terhadap pasukan
Einsatzgruppen (mobile killing yaitu unit-unit pasukan pembunuh aktif ) untuk
mengkonsentrasi orang-orang Yahudi ke ghetto-ghetto di sepanjang jalur kereta
api sebagai langkah pertama menuju solusi final atas permasalahan Yahudi.
Semua orang Yahudi diharuskan menyerahkan radio-radio pada pihak kepolisian.
Pada tanggal 12 Oktober 1939 deportasi orang-orang Yahudi pertama dari Austria
dan Moravia ke daerah dudukan NAZI di Polandia. Dikeluarkannya kebijakan
tentang biaya reparasi yang harus dibayar oleh orang-orang Yahudi Jerman naik
menjadi 1,25 miliar reichmark serta batas pembayaran adalah 15 November 1939.
pemberitahuan kepada seluruh penduduk Polandia yang berada dalam kekuasaan
NAZI, orang-orang Yahudi Polandia diwajibkan untuk mengenakan tanda bintang
kuning
(yellow
star)
sebagai
tanda
identitas
mereka.
(Stephane
Downing,2007:161)
Bulan April 1940, NAZI mendirikan kamp konsentrasi Auschwitz di
bawah arahan Heinrich Himler. Auschwitz terletak di Selatan Polandia di luar
kota Oswiecin (orang Jerman menyebutnya Auschwitz) di pinggiran Sungai Wisla
(Vistula) sekitar 50 km atau 30 mil bagian barat daya Krakow. Pada dasarnya,
kamp tersebut tujuannya merumahkan para tawanan perang dari negara Polandia
yang telah dikuasai Hitler serta merumahkan tawanan dari kamp konsentrasi yang
ada di Jerman. (George Sanford, Gerhard L. Weinberg,2007:103)
Selama Perang Dunia, kamp-kamp konsentrasi untuk orang-orang
Yahudi dan mereka yang dianggap ”berbahaya” tersebar di seluruh Eropa, dengan
kamp-kamp baru yang dibangun dekat pusat-pusat populasi-populasi mereka yang
dianggap ”berbahaya”, seringnya di daerah-daerah yang banyak orang Yahudi,
kaum terpelajar Polandia, kaum komunis, atau populasi Roma dan Sinti (Gipsi).
Kamp-kamp konsentrasi juga ada di Jerman sendiri. Kebanyakan kamp-kamp ini
dialokasikan di daerah dudukan General Goverment di Polandia, namun ada juga
kamp-kamp di setiap negara yang diduuki oleh Nazi. Pemindahan para narapidana
seringnya dilakukan dalam kondisi yang menakutkan dengan menggunakan
gerbong-gerbong barang. Banyak dari para narapidana yang meninggal sebelum
mereka sampai ke tempat tujuan mereka. Sebagai tanda ijin masuk ke kampkamp, para narapidana sering ditato dengan sebuah tanda pengenal (Prisoner ID).
Mereka yang layak bekerja dikirim untuk bekerja 12 hingga 14 jam per hari.
Sebelum dan sesudah, akan ada panggilan bergilir yang dapat berlangsung selama
beberapa jam; kadang-kadang, narapidana ini meninggal karena kelelahan.
(Stephane Downing, 2007 : hal 25)
Untuk mewujudkan cita-cita Hitler untuk menyatukan Eropa dalam satu
kepemimpinan maka setelah menyerang Polandia Hitler semakin bernafsu
menyerang negara-negara sekitar yang belum berhasil Hitler dikuasai. Pada
tanggal 6 Oktober 1939 Hitler menawarkan perjanjian dengan Perancis serta
Inggris. Perjanjian tersebut ditolak oleh Inggris serta Perancis sehingga menyulut
adanya peperangan. Hitler pun mulai menyusun rencana untuk berperang
melawan dua negara besar tersebut pada tanggal 10 Januari 1940. Namun, rencana
terebut diundur karena bocor ke pihak musuh. Selain itu, pada saat tersebut
sedang musim salju.
Pada tanggal 3 April 1940, pihak Inggris menerima laporan dari intelnya
bahwa Jerman sedang bersiap-siap untuk menyerang Skandinavia dengan
menggunakan tujuh divisi pasukan yang terdiri dari 4.000 orang dan 8.00 pesawat
perang. Negara yang pertama kali diserang adalah Denmark yang dengan mudah
ditundukkan pada tanggal 9 April. Pada hari yang sama, pasukan Hitler juga
menyerang Norwegia. Meskipun Inggris dan Perancis sempat memberi bantuan,
akhirnya Norwegis menyerah pada tanggal 7 Juni. Ketika sedang melawan
Norwegia, Jerman juga melakukan persiapan perang terhadap Perancis, tepatnya
pada tanggal 9 Mei 1940. Kekuatan yang dikerahkan Jerman sebanyak 134 divisi,
sedangkan pasukan gabungan Perancis pada saat itu 135 divisi. Untuk menyerang
Perancis harus melewati negara-negara Skandinavia, maka negara-negara tersebut
harus ditaklukkan terlebih dahulu. Negara-negara tersebut adalah Belanda, Belgia
serta Luxemburg. Ketiga negara itu diserang Jerman dalam jangka waktu yang
berdekatan. Negara yang paling mudah ditaklukkan adalah Luxemburg yang
merupakan negara kecil. Belanda diserang pada tanggal 10 Mei sedangkan Belgia
diserang pada tanggal 11 Mei. Waktu yang dibutuhkan oleh Jerman untuk
menaklukkan Belanda hanya sekitar lima hari sedangkan waktu yang dibutuhkan
oleh Jerman untuk menaklukkan Belgia lebih lama dari pada Belanda. Hal ini
disebabkan adanya bantuan dari Inggris serta Perancis. Tetapi, akhirnya Belgia
menyerah kepada Jerman pada tanggal 28 Mei karena pasukan sekutu ditarik
untuk membantu pasukan di Perancis. Penyerangan Jerman terhadap Perancis
dilakukan bersamaan dengan penyerangan terhadap Belgia. Serangan dimulai dari
daerah perbatasan Perancis yaitu Ardenes dan terus menuju Paris. Pada tanggal 14
Juni pasukan Jerman berhasil masuk Paris. Perancis secara resmi menyerah pada
tanggal 22 Juni. Perancis merupakan negara besar pertama dan terakhir yang
berhasil dikuasai oleh Jerman. Sementara itu, serangan Jerman ke Inggris Dan
Rusia mengalami kegagalan. Hal tersebut disebabkan banyak hal, seperti adanya
musim dingin, kurangnya penguasaan medan tempur, serta teknologi dan
kemampuan persenjataan yang masih kurang canggih dibandingkan dengan pihak
musuh. ( Luger Ballack,2007:37)
Dalam penyerangan Jerman secara besar-besaran ini, Jerman menjalin
kerja sama dengan Jepang serta Italia. Kesepakatan kerja sama tersebut
ditandatangani pada tanggal 27 September 1940. kerja sama ketiga negara tersebut
dikenal dengan sebutan Aliansi Axis. Pada bulan Februari 1941, Hitler
mengeluarkan perintah kepada Jenderal Rommel agar menyerang Libya. Negara
Hungaria bergabung dengan Aliansi Axis pada tanggal 20 November, disusul
dengan Rumania serta Slovakia. Pada tanggal 6 April 1941, pasukan udara Jerman
menyerang Beograd, Yugoslavia. Yugoslavia menyerah dua minggu kemudian.
Sementara itu, dalam rangka persiapan menyerang Rusia, Jerman terlebih dahulu
menyerang Kreta yang akan digunakan sebagai pusat armada pesawat tempur
Luftwaffe. Operasi tersebut dilaksanakan pada tanggal 25 April yang dikenal
dengan Operasi Merkuri. (Luger Ballack, 2007:40)
Di lain pihak, Hitler juga mengambil kebijakan di dalam negeri dengan
mengeluarkan kebijakan rasialnya. Sejumlah pembantaian terencana (pograms)
pada populasi-populasi lokal terjadi selama Perang Dunia II, beberapa dengan
dorongan Nazi, dan beberapa terjadi secara spontan. Hal ini termasuk pogram
NAZI di Romania pada tanggal 30 Juni 1941 di mana 14.000 orang Yahudi
dibunuh oleh warga dan polisi Romania, dan pogram Jedwabne yang
menewaskan antara 380 hingga 1.600 orang Yahudi oleh warga lokal Polandia.
Catatan-catatan yang dimiliki oleh Reichssicherheitshauptamt (Reich Security
Main Office – Kantor Utama Keamanan Reich) menunjukkan bukti penganiayaan.
RSHA Amt VII, Written Records – yang diawasi oleh Profesor Franz Six –
bertanggung jawab atas tugas – tugas ”ideologi”, yang tujuannya adalah
terciptanya propaganda anti-semitik (anti-semitic). Walaupun jumlahnya tidak
diketahui secara akurat, namun diperkirakan antara 80.000 hingga 200.000 orang
Freemason dibantai di bawah rezim Nazi. Tahanan-tahanan kamp konsentrasi
yang merupakan orang Free-masonik digolongkan narapidana-narapidana
”politik”, dan mengenakan tanda segitiga merah (red triangle) terbaik. (Stephane
Downing, 2007:27)
Pada 2 Juli 1941, Reinhard Heydrich, kepala Sicherheitsdienst (SD;
Pasukan Keamanan Jerman dan figur
instrumental dalam mengorganisasi
pembasmian umat Yahudi, mengeluarkan Perintah Pemimpin Partai untuk
mengeksekusi orang Yahudi yang mempunyai posisi resmi dalam administrasi
Soviet. Namun, komandan Einsatzgruppen secara luas menerjemahkan perintah
ini dengan memaknainya sebagai semua lelaki dewasa Yahudi. Sejumlah besar
dari mereka segera menembak tanpa memerhatikan apakah mereka mendapatkan
posisi atau jabatan di dalam kekuasaan Soviet secara resmi atau tidak. (George
Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007:84)
Pada tanggal 19 Juli 1942, Heindrich Himmler memerintahkan mulainya
deportasi orang-orang Yahudi dari ghetto-ghetto ke kamp-kamp kematian. Pada
tanggal 22 Juli 1942, deportasi-deportasi dari Ghetto Warsaw dimulai; 52 hari
kemudian (hingga 12 September 1942) kira-kira 300.000 orang dipindahkan
dengan menggunakan kereta api ke kamp pemusnahan Treblinka, hanya dari
Ghetto Warsaw saja. Banyak ghetto-ghetto lainnya yang hampir kosong. Ghetto
pertama yang memberontak terjadi pada bulan September 1942 di kota kecil
Lachwa di Polandia Selatan. Walaupun terdapat pula usaha-usaha perlawanan
bersenjata di ghetto-ghetto yang lebih besar pada tahun 1943, seperti di
Pemberontakan Ghetto Warsaw (Warsaw Ghetto Uprising) dan Pemberontakan
Ghetto Bialystok (Bialystok Ghetto Uprising), namun pada setiap kasus mereka
gagal melawan pasukan militer Nazi, dan sisa-sisa orang Yahudi yang lain
dibunuh atau dikirim ke kamp-kamp pemusnahan. (Stephane Downing, 2007: 29)
Pada Agustus 1941, pembunuhan diperluas dengan memasukkan wanita
dan anak-anak. Misainya, pada 1 Agustus 1941, Heinrich Himmler, kepala SS,
mengeluarkan sebuah perintah kepada unit-unit SS untuk mempersiapkan
penyisiran pada Pripet Marshes di Belarus: ”Semua lelaki Yahudi harus ditembak.
Sedangkan wanita Yahudi harus digelandang ke rawa-rawa yang penuh dengan
endemi malaria. ”Pejabat SS yang terbebani operasi tersebut menasihatkan
kesuperiorannya bahwa ”Menggelandang wanita dan anak-anak ke rawa-rawa
tidak memiliki tingkat keberhasilan yang diinginkan karena, rawa-rawa tidak
cukup dalam bagi kaum Yahudi untuk ditenggelamkan.” Dimulai pada akhir
September 1941, pasukan Jerman melaksanakan aksi berskala besar di mana,
seluruh masyarakat Yahudi dihancurkan. Misalnya, 33.000 umat Yahudi di Kiev,
Ukraina dibunuh pada 29 dan 30 September 1941,
dalam sebuah jurang di
pinggiran Kiev yang disebut Babi Yar. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg,
2007 hal 85)
Musim semi tahun 1941, ketika melakukan persiapan diam-diam untuk
melakukan invasi terhadap USSR, Hitler memproklamasikan bahwa sebuah
perang
penghancuran
akan
dimulai.
Dia
menyebut
pembasmian
bagi
kepemimpinan Bolshevik, sehingga hal itu mendasari pembantalan dari apa yang
Hitler anggap menjadi sumber Bolshevisme biologis: kaum Yahudi USSR. Pembunuhan dilakukan oleh empat unit SS yang disebut Einsatzgruppen (skuad aksi),
yang masing-masing terdiri dari 1.000 orang. Selain Einsatzgruppen, ada juga unit
SS dan polisi lain yang bertugas untuk menembak orang Yahudi yang berkumpul
di depan galian kuburan massa orang Yahudi sendiri. Pada banyak peristiwa
setelah kampanye militer yang dimulai pada Juni 1941, tentara Jerman diminta
untuk memberikan dukungan kepada unit-unit SS dan polisi. Jadi, total jumlah
orang Jerman yang terlibat dalam penembakan massal orang Yahudi adalah
sekitar 30.000. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007:84)
Di akhir tahun, 1941, kelompok Nazi pun mulai mendeportasi semua
kaum Yahudi yang berada di Eropa ke bagian Timur (Polandia dan Uni Soviet
bagian barat) agar bisa memusnahkan mercka. Pada waktu itu, di Jerman mereka
sudah menjalankan program pemusnahan tersebut, tapi itu dilakukan untuk orangorang yang secara fisik cacat atau mereka yang mengalami cacat mental. Dalam
program yang disebut eutanasia, yang dimulai pada akhir tahun 1939, para. dokter
Nazi membunuh orang Jerman dengan cacat mental atau fisik. Sepuluh ribu orang
dibunuh, kebanyakan dari mereka dibunuh dengan cara diberikan kantong metal
berukuran besar yang.berisi gas karbon monoksida. Selain itu, banyak juga dari
mereka yang dibunuh dalam gerbong berisi gas mematikan. Hitler memerintahkan
program eutanasia tidak dilanjutkan pada Agustus 1941 karena itu menyebabkan
kegelisahan publik. Namun, pengalaman yang didapatkan tersebut malah
digunakan dalam ”solusi final”, sebuah program pembunuhan bagi semua kaum
Yahudi yang ada di negara-negara yang diduduki Nazi yang terkenal itu. Gerbong
gas mematikan dan personel mereka dari program eutanasia dikirim ke Eropa
timur dan ditempatkan pada pembuangan Odilo Globocnik, pejabat SS yang
diserahi tugas di area Lublin di negara Polandia yang sudah diduduki Nazi.
(George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007:86)
Pada bulan Desember 1941, pasukan Nazi membuka kamp Chelmno,
kamp pertama dari 7 kamp-kamp pemusnahan lainnya, yang dibangun dengan
tujuan untuk pembantaian massal dengan skala indusri (besar), berlawanan
dengan kamp-kamp kerja paksa dan konsentrasi. Lebih dari tiga juta orang Yahudi
meninggal di kamp-kamp pemusnahan ini. (Stephane Downing, 2007 : hal 33)
Tim eutanasia tiba di timur pada akhir 1941, mereka mulai merencanakan
konstruksi fasilitas pembunuhan. Dari September hingga Desember 1941, mereka
menguji jenis gas beracun yang berbeda. Pada September 1941, mereka
menjalankan eksperimen gas sianida di Auschwitz, dengan membunuh 600
tawanan perang dari Soviet dengan gas sianida yang dihasilkan dari ZyklonB,
nama komersial bagi sebuah pestisida yang didasarkan pada zat asam hidrosianik
(hydrocyanic acid). Pada November 1941, 30 tawanan dibunuh dalam sebuah
gerbong berisi gas di kamp konsentrasi Sachsenhausen, di utara Berlin. Pada
kamp konsentrasi Chelmno, tidak jauh dari Udi, tempat perkampungan besar
Yahudi di Polandia barat, pembunuhan dengan gas beracun dimulai pada 8
Desember 1941. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 87)
Ketika Nazi memperbaiki teknik pembunuhan dengan gas, mereka pun
memutuskan untuk mendeportasi semua kaum Yahudi dari negara Eropa yang
mereka duduki menuju kamp kematian di timur. Negara-negara dari tempat umat
Yahudi diderpotasi termasuk negara-negara di bawah pendudukan jerman seperti
Norwegia, Prancis, Netherland, Belgia, Luxemburg, Czechoslovakia, Polandia,
Yugoslavia, dan Yunani -dan juga negara-negara yang beraliansi dengan Jerman.
-seperti Italia dan Hungaria. Pada 20 januari 1942, sebuah pertemuan pejabat
tingkat tinggi dikepalai oleh Heydrich bersidang di sebuah rumah milik SS di
Berlin sebelah Wannsee. Pertemuan ini dikenal dengan Konferensi Wannsee.
Dibekali surat panggilan untuk menghadiri Konferensi Wannsee, ada arahan dari
pemimpin Nazi Hermann Goring kepada Heydrich untuk mempersiapkan. sebuah
”solusi final” di seluruh Eropa untuk menjawab pertanyaan mengenai mau
diapakan umat Yahudi itu. Heydrich berkata pada para. peserta konferensi bahwa
umat Yahudi yang tidak bisa bekerja dibunuh saja dan orang Yahudi yang tetap
hidup dan menunjukkan stamina fisik yang prima dijadikan buruh, baru kemudian
setelah itu ada alasan untuk membunuhnya. Konferensi Wannsee menjadi papan
arah yang penting bagi evolusi kebijakan pemusnahan, sebab dari konferensi
itulah para. peserta diinstruksikan untuk mengoordinasikan usaha-usaha
pemusnahan umat Yahudi. Pendeknya, setelah Konferensi Wannsee, pemusnahan
umat Yahudi di Eropa diintensifkan. Baris pertama adalah tiga juta orang Yahudi
Polandia. Pada Juli 1942, Himmler membuat sebuah jadwal untuk melakukan
eliminasi mereka di kamp-kamp kematian. Selama operasi ini, yang mempunyai
nama kode Operation Reinhard, tiga pusat ruang gas utama dibangun: Belzec dan
Sobibor, di tenggara Polandia tidak jauh dari Lublin, dan terakhir Treblinka, timur
laut Warsawa. Proses pembunuhan dengan gas itu dimulai di tiga kamp tersebut
dalam periode dari Maret hingga Juli 1942. Dari 750.000 hingga 950.000 orang
Yahudi dibunuh dengan gas di Treblinka; dari 500.000 hingga 600.000 di Belzec;
dan sekitar 200.000 di Sobibor. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007:89)
Sedangkan kamp-kamp yang lain dibangun dengan mengombinasikan
tempat buruh bekerja dan fasilitas pemusnahan. Dua kamp yang dibangun dekat
Auschwitz (Oswiecim di Polandia), sebuah kota kecil di kawasan Silesia Atas.
Kamp paling kecil dikenal sebagai Auschwitz I. Sedangkan kamp paling besar
disebut Auschwitz II dan juga dikenal sebagai Birkenau. Kebanyakan proses
pembunuhan terjadi di kamp terbesar: sekitar 1 juta orang Yahudi mati di sana
dengan cara dimasukkan ke dalam gas beracun, dibiarkan kelaparan, xtau karena
penyakit. Pada saat yang sama, orang Yahudi Polandia juga dikirim ke kamp
kematian. ini dan kemudian dibunuh di sana. Juga terjadi penderpotasian kaum
Yahudi dari bagian Eropa lain yang diduduki Nazi menuju timur, yakni kawasan
kamp konsentrasi. Di berbagai negara. Eropa, tim SS dikirimkan untuk langsung
menggelandang dan mendeportasi kaum Yahudi dengan kereta api ke pusat-pusat
pembunuhan dan kamp-kamp konsentrasi di Polandia. Operasi ini diawasi
langsung oleh Adolf Eichmann yang bekerja di bawah koordinasi langsung
Heydrich
dan
dipercaya
untuk
bertanggung
jawab
melaksanakan
dan
mengoordinasi ”solusi final” tersebut. Tugas mereka dilakukan dalam beberapa
tahap: Pertama anggota dari sebuah komunitas Yahudi yang paling miskin
dikumpulkan, kemudian orang Yahudi asing dan pengungsi Yahudi, dan tahapan
akhirnya adalah sisa komunitas Yahudi. Sebagian orang Yahudi di Eropa barat
digelandang menuju berbagai perkampungan Yahudi di timur dan kemudian
dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Sedangkan yang lain dikirimkan secara
langsung ke pusat-pusat pembantaian. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg,
2007: 90)
Pada tahun 1942, pasukan Nazi memulai tahapan penghancuran masa
Holocaust mereka yang paling parah, dengan Aktion Reinhard, pembukaan kampkamp Belzec, Sobibor, dan Treblinka. Lebih dari 1,7 juta orang Yahudi dibunuh
di ketiga kamp Aktion Reinhard ini pada bulan Oktober 1943. Kamp kematian
(death camp) terbesar yang dibangun adalah kamp AuschwitzBirkenau, yang
memiliki sebuah kamp kerja paksa (Auschwitz) dan sebuah kamp pemusnahan
(Birkenau). Kamp Birkenau memiliki empat kamar gas dan kremasi. Di kamp
inilah diperkirakan 1,6 juta orang Yahudi meninggal (termasuk kira-kira 438.000
orang Yahudi dari Hungaria hanya dalam waktu beberapa bulan), 75.000 orang
Polandia dan pria-pria homoseksual, dan 19.000 orang Roma. Pada puncak
operasi-operasi ini, kamar-kamar gas Birkenau menewaskan kira-kira 8.000 orang
per hari. Pada saat para tahanan memasuki kamp-kamp ini, semua barang
berharga diambil paksa, dan para tahanan wanita harus mencukur habis rambut
mereka. Berdasarkan dokumen Nazi, rambut-rambut ini digunakan untuk
membuat stocking. Para narapidana dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang
terlalu lemah untuk bekerja segera dieksekusi di kamar-kamar gas (yang biasanya
disamarkan dengan ruang-ruang mandi) dan mayatmayat mereka langsung
dibakar, sementara yang lain pertama-tama digunakan sebagai pekerja paksa di
pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan industri yang berlokasi di dalam atau di
dekat kamp. Sepatu-sepatu, stocking-stocking, dan bahan-bahan lainnya yang
berharga milik para narapidana didaur ulang menjadi produk-produk yang
bermanfaat untuk mendukung usaha perang Nazi, tanpa mempedulikan apakah
narapidana tersebut akan dibunuh atau tidak. Beberapa narapidana dipaksa bekerja
di tumpukan atau pembuangan mayat, dan disuruh untuk mencabut gigi-gigi emas
dari mayat-mayat. (Stephane Downing, 2007:34)
Berdasar data-data yang tersedia, telah dideterminasi bahwa Jerman
membuat satu seri kamar gas ukuran besar (untuk 3 atau lebih terhukum). Kamar
gas ini digunakan untuk tujuan eksekusi dan mulai berfungsi pada akhir 1941
sampai akhir 1944.Diawali dengan tempat yang diduga sebagai kamar gas
pertama di lantai dasar di Auschwitz I, dua rumah pertanian yang diubah fungsi di
Birkenau (Auschwitz II) yang dikenal sebagai Rumah Merah dan Putih atau
bunker 1 dan 2. Krema I di Auschwitz dan Krema II, III, IV, V di Birkenau serta
fasilitas percobaan di Majdanek, diduga telah menggunakan asam sianida dalam
bentuk Zyklon B sebagai gasnya. Di Majdanek diduga juga menggunakan gas
karbon monoksida (CO).Menurut literatur resmi yang terdapat di Museum Negara
bagian Auschwitz dan Majdanek, fasilitas eksekusi ini berlokasi di kompleks
konsentrasi dibangun di area padat industri. Para tahanannya dipekerjakan sebagai
buruh kerja paksa di pabrik-pabrik yang memproduksi material untuk keperluan
perang. Fasilitas-fasilitas juga termasuk krematorium untuk pembuangan orangorang yang dieksekusi.Sebagai tambahan, fasilitas-fasilitas lain yang diduga
hanya menggunakan CO sebagai gas eksekusi berlokasi di Belzec, Sobibor,
Treblinka, dan Chelmno. Fasilitas-fasilitas tambahan ini kabarnya dihancurkan
selama atau setelah perang dunia II, tidak diperiksa, dan tidak secara langsung
menjadi subyek laporan ini.
Gas karbon monoksida (CO), bagaimanapun akan dipertimbangkan
secara ringkas pada bagian ini. Gas CO adalah gas eksekusi yang relatif lemah.
Gas ini butuh waktu yang sangat lama untuk memberikan efek mematikan,
mungkin selama 30 menit. Bila sirkulasi tidak bagus dibutuhkan waktu lebih lama
lagi. Agar gas CO dapat digunakan, dibutuhkan 4000 ppm CO untuk membuat
tekanan dalam kamar mendekati 2,5 atmosfer. Sebagai tambahan CO 2 (karbon
dioksida) juga disarankan. CO2 tidak seefektif CO. Gas-gas ini diduga diproduksi
melalui mesin diesel. Mesin diesel memproduksi gas yang sangat sedikit
mengandung karbon monoksida. Kamar gas harus diberi tekanan dengan udara
atau campuran gas supaya memiliki gas yang mematikan. Karbon monoksida
dalam konsentrasi 3000 ppin atau 0,30% akan mengakibatkan mual dan sakit
kepala setelah paparan selama satu jam dan mungkin kerusakan jangka panjang.
Konsentrasi 4000 ppm ke atas akan berakibat fatal untuk paparan di atas
1 jam. Akan disampaikan bahwa sebuah kamar yang diisi sesuai kapasitasnya,
dengan orang-orang yang menempati hampir 9 kaki persegi atau kurang (minimal
area yang dibutuhkan untuk memastikan sirkulasi gas di sekitar penghuni),
penghuni akan mati lemas akibat kekurangan udara. Itu sebelum gas tambahan
memberikan efek. Demiklanlah penutupan yang sederhana untuk eksekusi di
tempat yang terbatas akan menyingkirkan kebutuhan CO dan CO2 dari sumber
luar.Fasilitas eksekusi di Auschwitz I (Krema 1) dan Majdanek masih ada dan
diduga masih dalam bentuk aslinya. Di Birkenau, Krema II, III, IV, dan V dirobohkan sampai pondasinya. Bunker I (Rumah Merah) hilang dan Bunker II
(Rumah Putih) telah diperbaiki dan digunakan sebagai rumah pribadi. Di
Majdanek, minyak pembakar utama telah dipindahkan dan krematorium dengan
kamar gas dibangun ulang derigan oven-oven yang masih asli.Krema I di
Auschwitz, Krema II, III, IV, dan V di Birkenau, juga krematorium yang ada di
Majdanek diduga kombinasi krematorium dan kamar gas. Rumah Merah dan
Putih di Birkenau diduga hanya digunakan untuk kamar gas. Di Majdanek, kamar
gas eksperimen tidak berdampingan dengan krematorium. Dan krematorium
terpisah yang sekarang sudah tidak ada. (Stephane Downing, 2007 : 99- 101)
Negara Yang Terlibat Dalam Holocaust
1) Bulgaria
Di beberapa daerah Yunani Utara serta Macedonia, pemerintahan
setempat tidak menghalangi pendeportasian orang-orang Yahudi di daerah
tersebut menuju ke kamp konsentrasi Jerman.
2) Italia
Di negara Italia, pada tahun 1938 telah terdapat undang-undang yang
membatasi tentang kebebasan-kebebasab sipil orang Yahudi. Masa pemerintahan
Mussolini, tidak pernah mengesahkan kebijakan untuk mendeportasikan orangorang Yahudi ke kamp konsentrasi. Tetapi, setelah jatuhnya pemerintahan
Mussolini, orang-orang Yahudi mulai dideportasikan ke kamp konsentrasi.
Keikutsertaan Italia dalam peristiwa holocaust, terbukti dengan ditemukannya
kamp-kamp kecil yang dibangun di Italia yang diberi nama Risvera di Sabba yang
memiliki kamar kremasi. Kamp Risvera berhasil membunuh 2.000 sampai 5.000
orang Yahudi.
3) Romania Antonescu
Romania Antonescu bertanggung jawab langsung atas kematian 280.000
sampai 380.000 orang Yahudi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bukti
sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Romania yang berisi:
“Dari semua sekutu NAZI Jerman, Romania bertanggung jawab akan
lebih banyak kematian orang-orang Yahudi daripada negara-negara lain selain
Jerman sendiri. Pembantaian yang dilakukan di Lasi, Odessa, Bogdanovka,
Domanovka, serta Pecioza adalah aksi yang paling mengerikan yang pernah
dilakukan terhadap orang-orang Yahudi selama masa holocaust.”
Dalam kerjasama dengan pasukan Einsatzgruppen Jerman dan pasukan
pembantu Ukaina, bangsa Romania membunuh ratusan ribu orang Yahudi di
Bessarabia, Bukovina Utara serta Transnitria, pembunuhan massal yang dilakukan
di Romania pada tanggal 21 dan 31 Desember 1941. Bangsa Romania melakukan
pembunuhan massal di kamp Domanevka serta Akhmetchetka.
4) Hungaria
Pada
masa
Horthy
Hungaria,
negara
tersebut
telah
berhasil
mendeportasikan sebanyak 20.000 orang Yahudi dari negara gabungan
Transcarpathian Ukaina, pada tahun 1941 ke Kamianets Podilskyi di daerah
dudukan
Jerman.
Pembantaian
massal
yang
dilakukan
oleh
pasukan
Einsatzgruppen Jerman. Pada bulan Januari 1942 Angkatan Hungaria serta unitunit kepolisian membunuh ribuan orang Yahudi di Novisad. Tetapi pada rezim
Horthy Hungaria, Hungaria menolak mendeportasi orang Yahudi- Hungaria. Masa
akhir Perang Dunia II Rezim Horthy kehilangan kekuasaan sehingga diganti
dengan Partai Arraow Cross, dimana partai tersebut adalah partai NAZI versi di
Hungaria. Kepolisian Hungaria tetap bekerja sama dengan pasukan S.S dalam
pengumpulan 440.000 orang Yahudi untuk dideportasikan ke kamp pemusnaham.
Selain itu, 20.000 orang Yahudi Budapest ditembak mati di dekat sungai Dunabe,
sekitar 70.000 orang Yahudi lainnya ditembak mati.
5) Slowakia
Slowakia membantu NAZI Jerman dalam masa holocaust yaitu pada
masa rezim Tisoslowakia. Rezim tersebut berhasil mendeportasi sekitar 70.000
orang Yahudi. 65.000 orang Yahudi diantaranya dibunuh, sisanya digunakan
untuk kerja paksa.
Dalam masa holocaust, terdapat negara-negara Eropa yang ikut berperan
dalam membantu NAZI. Peran serta negara Eropa tersebut adalah dalam
pengumpulan orang-orang Yahudi untuk dideportasi ke kamp pemusnahan Jerman
atau partisipasi langsung dengan membunuh orang-orang Yahudi sendiri.
1) Vichy Perancis
Philipphe Petain adalah seorang perdana menteri Perancis yang baru saja
diangkat setelah Perancis jatuh ke tangan Jerman. Petain kemudian diangkat oleh
Jerman
menjadi
kepala
pemerintahan
yang
diberi
nama
Vichy
yang
dikolaborasikan dengan paham NAZI. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk
memperkecil kekerasan dari pendudukan Jerman. Antisemitisme seperti yang
diperlihatkan Dreyfus Affair pada akhir abad ke-19 telah menybar ke wilayah
Perancis. Pemerintahan Vichy dengan tidak sabar berpartisipasi pada masa
holocaust, sebagai contoh adanya peristiwa Rafle du Vel’d hiv pada tanggal 16
Juli 1942 yaitu 12.884 orang Yahudi ditangkap, termasuk 4.051 anak-anak cacat.
Setelah itu, orang-orang Yahudi tersebut dikirim ke kamp transit di Drancy. Selain
itu, adanya warga Perancis yang bernama Klaus Barbie yang berhasil menangkap
dan mendeportasi 44 anak Yahudi yang disembunyikan di desa Izieu, membunuh
pemimpin perlawanan bernama Jean Maulin serta bertanggung jawab atas
pendeportasian 7.500 orang, pembantaian 4.342 orang juga penangkapan dan
penyiksaan 14.311 pejuang perlawanan.
2) Ustase Kroasia
Rezim Ustase Kroasia menyebabkan tewasnya ratusan ribu orang Serbia,
20.000 orang Yahudi, 26.000 orang Roma, khususnya di kamp konsentrasi Ustase
di Jesenovac dekat Zagreb. Rezim tersebut juga mengirim 7.000 orang Yahudi
menuju kamp konsentarsi Jerman.
3) Serbia
Serbia menjadi negara boneka NAZI dibawah Jenderal Angkatan Darat
Serbia yaitu Milan Nedic. Urusan dalam negeri Serbia disesuaikan dengan
undang-undang rasial Jerman yang telah diperkenalakan ke semua daerah
dudukan Jerman. Hal tersebut secara langsung berimbas terhadap orang Yahudi.
Terdapat dua kamp konsentrasi di Serbia yaitu Sajmiste serta Banjica. Dari 40.000
orang Yahudi Serbia ditangkap dan sekitar setengahnya tewas di kamp NAZI di
Serbia serta reichs Jerman. NAZI mengeluarkan suatu kebijakan yang dirasakan
sangat sewenang-wenang. Kebijakan tersebut adalah, jika terdapat seorang tentara
Jerman yang tewas maka 100 orang Serbia yang bertanggung jawab atas kematian
tersebut. Selain itu jika terdapat seorang tentara Jerman yang luka maka 50 orang
Serbia harus dibunuh. Kebijakan tersebut menambah rasa kebencian warga Serbia
terhadap tentara NAZI, dan akhirnya menimbulkan perlawanan. Perlawanan
warga Serbia tersebut bekerja sama dengan orang Yahudi Serbia, keduanya
merasa memiliki persamaan nasib dan juga persamaan dalam tujuan. Maka tidak
heran, pada akhir Perang Dunia II nanti akan terdapat 152 orang Serbia yang
mendapatkan penghargaan dari orang Yahudi karena telah bekerja sama untuk
menyelamatkan orang Yahudi selama peristiwa holocaust.
4) Yunani
Orang-orang Yahudi Yunani kebanyakan tinggal di daerah sekitar
Tesalonika. Daerah tersebut banyak terjadi konflik antara Yahudi dengan Yunani.
Pada daerah tersebut telah ada partai yang bernama National Union of Grecee
atau Ethniki Enosis Ellados atau yang disingkat dengan EEE. Partai tersebut
pada awalnya sudah dibubarkan tetapi dihidupkan kembali oleh NAZI karena
memiliki kesamaan yaitu antisemitisme.anggota EEE mendesak kepada partai
NAZI agar mengidentifikasi orang-orang Yahudi serta berpartisipasi terhadap
pendeportasian orang Yahudi. Hal tersebut dilakukan atas dasar kebencian etnik
atau dapat juga dengan alasan seperti keinginan untuk mendapatkan keuntungan.
Korban NAZI tidak hanya orang-orang Yahudi saja tetapi orang-orang
yang dianggap perilakunya menyimpang atau juga orang-orang yang dianggap
menghambat kemurnian ras Arya. Korban NAZI selain orang-orang Yahudi
antara lain:
1) Orang lumpuh
Orang lumpuh digolongkan oleh Hitler sebagai orang yang tidak layak
hidup. Penggolongan yang pada awalnya hanya mencangkup anak-anak Yahudi
yang pincang, menjadi meluas hingga akhirnya penggolongan mencangkup semua
orang Yahudi dan non Yahudi yang pincang,pecandu alkohol, gelandangan,
penderita TBC, penderita kanker, serta bayi yang menderita Down Sindrome,
Hydrocephalus. Para korban yang masuk dalam penggolongan orang yang tidak
layak hidup tersebut dimusnahkan dengan program euthanasia.
2) Homoseks
Penganiayaan NAZI atas homoseks disetujui secara luas oleh penduduk
Jerman. Homoseksualitas telah digolongkan sebagai tindak kriminal di Jerman
selama ratusan tahun. NAZI pun mengambil tindakan terhadap mereka yang
ditemukan bersalah atasnya. NAZI menganggap homoseksualitas sebagai
ancaman atas moralitas Jerman, kekuatan militer,kemurnian serta pembentukan
ras Arya. Satuan Polisi Kriminal Khusus dibentuk untuk memerangi
homoseksualitas. Pada tahun 1943 Himler mengeluarkan perintah rahasia untuk
mengeksekusi semua SS serta polisi yang ketahuan menjadi gay atau telah
berencana melakukan tindakan homoseks.
Para homoseks ditangkap dan selanjutnya dikirim ke kamp konsentrasi.
Dalam kamp konsentrasi, para homoseks dapat dikenali dengan tanda segitiga
merah muda. Dalam menyembuhkan orang-orang tersebut, banyak para homoseks
dijadikan sebagai bahan eksperimen pseudomedis dengan menggunakan bahan
kimia berbahaya.
Pelaku homoseksual yang selamat atas peristiwa holocaust setelah
Perang Dunia II tidak mendapatkan ganti rugi. Hal ini terjadi karena masyarakat
Jerman yakin bahwa perilaku homoseksual adalah sesat dan penderitaan yang
mereka alami dibenarkan.
3) Penganut Jenovah
Penganut Jenovah merupakan orang Jerman dimana doktrin mereka tidak
mengakui fuhrer State (Bapak Negara) yaitu Adolf Hitler, tetapi mempercayai
Kingdom of Jenovah. Organisasi penganut Jenovah dianggap terlarang meskipun
pada kenyataannya secara religius penganut Jenovah juga merupakan religius
penganut Jenovah juga merupakan religius penganut Jenovah juga merupakan
religius penganut Jenovah juga merupakan religius penganut Jenovah juga
merupakan anti-semit. Anak anak penganut Jenovah dipisahkan dari orang tuanya
untuk dipelihara oleh negara. Para penganut Jenovah merasa nasib yang dialami
sekarang adalah bukti untuk masa depan keselamatan sehingga para penganut
Jenovah ini sangat mamatuhi perintah penjaga kamp.
4) Orang Gipsi/ Roma
Seperti halnya orang Yahudi, orang Gipsi merupakan kaum minoritas
yang diasingkan oleh masyarakat Jerman. Pada tahun 1936 orang Gipsi
digolongkan sebagai asosial dan kantor pusat Jerman untuk Pemberantasan
Ancaman Gipsi dibentuk. Penggolongan orang Gipsi tersebut dilengkapi dengan
foto serta cap jari.
5) Tawanan Perang Soviet
Dengan invasi NAZI ke Uni Soviet pada bulan Juni 1941, untuk
perolehan atas Lebensraum (ruang hidup) bangsa Jerman dimulai. Hal ini
berkaitan dengan ketetapan NAZI untuk membasmi Yahudi. Perintah dikeluarkan
penghapusan semua Commissar atau para petinggi Partai Komunis Uni Soviet.
Para Commissar yang dilepaskan dari pasukan Jerman dan selanjutnya akan
diserahkan kepada SS untuk dibunuh bersama-sama dengan orang Yahudi. Dari
5,7 juta tawanan tentara Soviet, hanya 2,4 juta yang selamat dari perang.
Diperkirakan 3,3 juta mati karena eksekusi SS.(Stephane Downing,2007:43-56)
Berbeda halnya dengan orang Yahudi Athena yang merupakan kelompok
minoritas yang tidak antisemitisme. Hampir semua orang Yahudi Athena dapat
diselamatkan dari pendeportasian karena ditolong oleh bangsa Yunani yang ada di
daerah tersebut.
Pendudukan NAZI di Serbia selain menghidupkan partai EEE, juga
membentuk partai lain yaitu ESPO (Ethiko Socialis Patriotike Organosis). Partai
tersebut diharapkan dapat membantu NAZI dalam mengumpulkan serta
mendeportasi orang-orang Yahudi. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh
NAZI tidak dapat dihalangi oleh ketiga pemerintahan Yunani. Ketiga
pemerintahan tersebut adalah Georgios Tsolakoglau, Konstantinos Logotheho,
serta yang terakhir Leannis Rallis.
Di daerah-daerah yang diduduki Jerman, unit-unit kaki tangan NAZI
menyediakan pasukan untuk Jerman dengan jumlah 450.000 personel yang telah
terorganisir dengan nama Schutzmannschaften. Mayoritas pasukan tersebut
direkrut dari Ukraina Barat, daerah Baltik, serta daerah Soviet. Para nasionalis
Ukraina membunuh 4.000 orang Yahudi Lviv pada bulan Juli 1941. Pasukan
Einsatzgruppen
NAZI, bersama dengan unit-unit tambahan Ukraina telah
menewaskan 33.000 orang Yahudi Kievan di Babi Yar pada bulan September
1941. pasukan tambahan Ukraina berpartisipasi dalam sejumlah pembunuhan
orang-orang Yahudi.
Setelah Norwegia diserang oleh pasukan Jerman, maka pemerintahan
diambil alih oleh Jerman. Kekuasaan yang terdapat di Norwegia diberi nama
dengan Reichkommisioner Jerman, yang dipimpin oleh Josef Terboven serta
pemimpin fasis yaitu Vidkun Quisling. Pasukan Norwegia bersama dengan
pasukan NAZI mengumpulkan 750 orang Yahudi. Dengan adanya kerjasama
tersebut menimbulkan perasaan benci dari warga Norwegia sehingga muncul
berbagai perlawanan. Warga Norwegia yang merasa tidak sepaham dengan NAZI
melakukan kerja sama dengan bangsa Yahudi. Namun, sejumlah warga Yahudi
sebagian besar terlah terdaftar oleh tentara NAZI sebagai target pembunuhan.
Dengan adanya daftar tersebut menambah kemudahan untuk mengidentifikasi
seseorang.
Beberapa
Schutzmannschft
unit
dengan
militer
pasukan
Lithuania
serta
Einsatzgruppen
Latvia
atau
berpartisipasi
disebut
dalam
pembantaian orang Yahudi. Komando Arajs adalah sebuah unit kepolisian
sukarelawan Latvia, telah berhasil menembak 26.000 orang Yahudi Latvia, selain
itu unit ini juga bertanggung jawab atas bantuan mereka dalam pembunuhan lebih
dari 60.000 orang Yahudi.
Dari 140.000 orang Yahudi Belanda, pasukan NAZI berhasil
mendeportasi sekitar 107.000 orang, 101.800 orang berhasil dibunuh. Jumlah
tersebut merupakan jumlah terbesar yang pernah dicapai NAZI dalam
pendeportasian orang Yahudi.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
yaitu : (1) rezim pendudukan di Belanda dibentuk oleh pasukan NAZI; (2)
tingginya level efisiensi organisasi pemerintahan sipil Belanda sebelum perang;
(3) bentang alam Belanda yang umumnya tidak memiliki pegunungan ataupun
hutan sulit dijadikan untuk tempat berlindung; (4) mayoritas orang Yahudi
Belanda banyak yang tinggal di kota-kota besar hal tersebut memudahkan mereka
untuk dijadikan target; (5) pilihan pemimpin Yahudi untuk menghindari hal yang
terburuk maka sebuah kebijakan kolaborasi dengan pasukan NAZI; (6)
masyarakat Belanda pra perang yang dapat dikategorikan konglomerat dari
kelompok-kelompok tinggal terpisah dari satu kelompok dengan kelompok yang
lain; (7) bangsa Yahudi diasingkan dari kehidupan publik sehingga mereka telah
kehilangan dukungan yang mereka butuhkan; (8) adanya bantuan aktif dari
kelompok Henneike Column yaitu kelompok antisemit yang terhasil mengirim
8.000 orang Yahudi Belanda untuk dideportasi. (Stephane Downing,2007:53)
Robert Gellately yaitu seorang sejarawan Universitas Oxford (dikutip
dari Stephane Downing,2007) menyatakan bahwa sejumlah besar orang-orang
Jerman berpartisipasi dengan mengizinkan dan aktif mendukung masa Holocaust,
orang-orang Jerman juga mendokumentasikan bahwa kolom-kolom mengenai
pekerja paksa adalah hal-hal yang umum, kenyataan mengenai kamp-kamp
konsentrasi serta kamp-kamp pemusnahan, telah diketahui secara luas oleh orangorang Jerman.(Stephane Downing,2007: 58)
Banyaknya partisipasi warga Jerman dalam peristiwa Holocaust menjadi
daya tarik tersendiri. Menurut Stanley Milgram yaitu seorang ahli psikologis
(dikutip Stephane Downing,2007) menyatakan bahwa orang yang memiliki akal
yang sehat, ketika diberi instruksi dari seseorang yang lebih berkuasa maka secara
tidak langsung akan melaksanakan perintah tersebut. Dipatuhinya perintah
tersebut akan berguna untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman apabila tidak
mematuhi perintah dari orang yang berkuasa tersebut. Alasan yang lain adanya
perubahan besar yang tidak terlihat jika perubahan tersebut berlangsung setahap
demi setahap. Mekanisme kumpulan (herding) yang fundamental dan sangat kuat
yang berkumpul di sistem serta memastikan individu-individu menyesuaikan diri
dari kelompok. Menyesuaikan dengan kelompok lebih mudah daripada keluar dari
kelompok tersebut. Walaupun sudah tidak sepaham dengan kelompok tersebut.
Adanya perubahan secara bertahap dalam kelompok kecil maka akhirnya dapat
membawa kelompok tersebut ke dalam keadaan di mana mereka telah terbawa
terlalu jauh. Para pelaku Holocaust merasa ketakutan untuk melawan kekuatan
Hitler, walaupun mereka tidak sepaham dengan apa yang telah Hitler perintahkan.
Para pelaku Holocaust tersebut tetap memilih untuk bertahan dengan kelompok
yang mendukung Hitler, hal ini dilakukan semata-mata untuk mencari
keselamatan. Menurut Carl Jung keikutsertaan warga Jerman dalam Holocaust
disebabkan terjadinya kekalahan Jerman pada Perang Dunia I, hancurnya ekonomi
Republik Wiemar, adanya pemaksaan untuk membayar ganti rugi perang, semua
itu membuat warga Jerman mengalami depresi maka warga Jerman menjadi
marah dan mencari orang untuk melampiaskan kemarahan yang pada akhirnya
terjadilah peristiwa Holocaust. Adanya kebencian antar agama serta rasisme
menambah sederetan alasan orang untuk ikut berpartisipasi dalam peristiwa
Holocaust. Tentara NAZI telah menganggap hal tersebut merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan cita-cita Jerman. Tentara NAZI harus
rela menahan perasaan kasihan terhadap kaum Yahudi. Tetapi, terdapat beberapa
orang yang pada sebelumnya telah menaruh kebencian terhadap orang Yahudi,
kebencian tersebut akibat adanya ideologi tentang kebancian agamawi serta rasial.
Beberapa orang berpendapat bahwa akar dari antisemitisme telah ada di
dunia Barat sejak adanya fondasi kekristenan. Sentimen-sentimen tersebut tidak
jauh berbeda pada saat pra perang di Jerman maupun tempat lain. Tokoh kristen
yang paling awal menyebarkan antisemitisme adalah Martin Luther yang
merupakan
pemimpin
Jerman
dari
reformasi
protestan.
Martin
Luther
mengeluarkan perintah tertulis yang berisi agar warga segera mengeksekusi orang
Yahudi, membakar gereja maupun sekolah Yahudi, larangan berkhotbah bagi
pendeta Yahudi, serta rumah-rumah Yahudi dihancurkan. Martin Luther
menganggap bahwa orang Yahudi harus diusir dari bumi untuk selamnya karena
merupakan racun bagi umat lain.
Sikap acuh serta apatis sering dipakai untuk menggambarkan reaksi
dunia atas Holocaust. Kegagalan pada kenyataannya diistilahkan dengan lebih
baik sebagai kelambanan. Dalam kenyataannya banyak politisi, diplomat,
pemimpin gereja, ahli strategi militer, para pemimpin bisnis serta masyarakat,
hanya sedikit yang membantu Yahudi serta korban-korban NAZI yang lain.
Orang-orang tersebut bahkan tidak mengadakan perlawanan secara tidak langsung
atau bahkan memerangi tentara NAZI.(Nurcholis,2007:7)
Terdapat beberapa bukti tentang adanya kelambanan bangsa lain dalam
mengambil tindakan untuk menanggulangi Holocaust. Agen rahasia Inggris,
Amerika Serikat serta Uni Soviet misalnya telah memiliki laporan yang akurat
tentang Holocaust sejak awal, tetapi negara-negara tersebut memilih untuk tidak
ikut campur tangan. Banyak bukti-bukti tentang adanya Holocaust yang sengaja
dimusnahkan. Pihak gereja mengumpulkan informasi dari para pendeta serta
warga yang tinggal di sekitar kamp konsentrasi, tetapi tidak melakukan
penyelamatan. (Stephane Downing,2007:62)
Pada awal bulan November 1941, terdapat laporan berkode yang dikirim
ke Berlin mengenai pembunuhan massal oleh einsatzgruppen, tetapi dalam
perjalanan kode tersebut berhasil direbut oleh pasukan Uni Soviet. Kode tersebut
akhirnya berhasil dipecahkan oleh intelejen Inggris. Laporan-laporan tersebut
mengenai pembunuhan massal serta pemindahan orang-orang Yahudi di negaranegara yang berhasil di duduki NAZI. Orang Yahudi kemudian dikirim dari
organisasi Yahudi di Switzerland dan di serahkan pada pemerintahan Inggris serta
Amerika Serikat. Pada pertengahan tahun 1944, dua orang Yahudi Slovakia
melarikan diri dari kamp Auschwitz dan memberikan laporan mengenai
pemusnahaan kaum Yahudi di kamp tersebut. Setelah Perang Dunia II berakhir,
pejabat Inggris mengatakan bahwa Inggris tidak ingin mengungkapkan jika agenagen Inggris berhasil memecahkan laporan berkode mengenai komunikasi bangsa
Jerman. Para pemimpin sekutu berkata bahwa mereka tidak percaya bahwa misi
penyelamatan yang sudah begitu jauh ke wilayah Timur akan berhasil. (George
Sanford, Gerhard L,Weinberg, 2007: 93)
Selain itu sejak awal perang, pemerintahan Polandia yang diasingkan
menerbitkan dokumen-dokumen dan mengorganisir pertemuan-pertemuan untuk
menyebarkan berita mengenai nasib yang dijalani oleh orang Yahudi. Pada awal
tahun 1941, Inggris telah menerima informasi lewat memo yang ditangkap oleh
Churchill bahwa orang-orang Yahudi menjadi target pasukan NAZI. Pada akhir
tahun 1941, Inggris juga menerima informasi mengenai sejumlah pembantaian
massal atas orang-orang Yahudi yang ditaklukkan oleh kepolisian Jerman. Pada
keterangan yang tertulis dalam buku harian Freidrich Kellner, pada tanggal 28
Oktober 1941, inspektor peradilan Jerman Freidrich Kellner merekam
percakapannya di Laubach dengan seorang tentara Jerman yang menyaksikan
sebuah pembantaian di Polandia. Churchill yang mengetahui laporan-laporan
intelejen yang didapatkan dari transmisi-transmisi pembaca sandi Jerman,
pertama-tama mulai menyebutkan mengenai pembunuhan massal di masyarakat
pada saat yang bersamaan. Pada tahun 1942, organisasi buruh Yahudi melaporkan
kepada London bahwa 700.000 orang Yahudi Polandia telah tewas, dan stasiun
BBC menanggapi hal tersebut dengan serius, walau pemerintahan Amerika
Serikat tidak.
Di Amerika Serikat, pada bulan November 1942, sebuah telegram dari
Eropa yang menjelaskan tentang rencana Hitler yang dibocorkan oleh Stephen
Wise dari Kongres Dunia Yahudi (World Jewish Congress) setelah menunggu
lama untuk mendapatkan ijin dari pemerintah. Hal ini membawa organisasiorganisasi Yahudi untuk menekan Roosevelt untuk bertindak sebagai perwakilan
Yahudi- Eropa. Usaha-usaha orang Yahudi untuk memasuki Inggris maupun
Amerika Serikat hanya sia-sia.
5.Kekuasaan Hitler Runtuh
Seperti yang dikatakan oleh Jenderal De Gaulle (dikutip oleh Jules
Archer,2006) bahwa kediktatoran adalah petualangan yang besar yang akan
runtuh dengan meminta darah dan pengorbanan. Kehancuran Third Reich diawali
oleh adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh para pejabat. Hal ini disebabkan
adanya sebagian orang yang menginginkan jabatan yang tinggi ataupun sebagian
yang merasa tidak sepaham dengan pemikiran Hitler. Penyebab yang lain adalah
adanya perlawanan dari para tahanan di kamp konsentrasi. Selain itu juga
penyerangan yang dilakukan oleh sekutu.
Perlakuan sewenag-wenang NAZI menimbulkan rasa kebencian sebagian
orang. Kebencian tersebut dituangkan dalam bentuk perkumpulan jaringan
konspirasi anti NAZI yang berada di Wehrmacht (Angkatan Bersenjata), Abwehr
(Badan Intelejen Militer), Departemen Luar Negeri, Intelektual yang bergabung
dalam Lingkar Kreisau, Gereja serta pemerintahan sipil. Tanpa memikirkan latar
belakang sosial, profesi, ataupun pandangan politik, anggota konspirasi tersebut
bersatu karena dasar kesamaan cita-cita yaitu untuk menyingkirkan Hitler yang
telah meracuni Jerman. (Darma aji,2005:11)
Tokoh penggerak konspirasi anti NAZI yaitu Kepala Staf AD Ludwig
Beck. Ludwig Beck membenci Hitler sejak Hitler memerintahkan dirinya untuk
menyusun rencana serbuan ke Ceko-Slovakia. Kebencian tersebut semakin besar
saat melihat penyingkiran Jenderal Fritsch yaitu dengan memfitnah sebagai
seorang homoseksual. Seringnya terjadi perbedaan pendapat mengharuskan Beck
untuk mengundurkan diri. (Darma aji,2005:13)
Tokoh penggerak yang lain adalah Kepala Abwehr Laksamana Wilhelm
Canaris. Alasan Canaris untuk membenci Hitler sama dengan Ludwig Beck yaitu
tidak setuju dengan penyerangan ke Ceko-Slovakia serta pemecatan Jenderal
Fritsch. Dalam upaya menghentikan tindakan Hitler, Canaris dibantu oleh
beberapa temannya yaitu Deputi Kepala Abwehr Kolonel Hans Oster yaitu
mantan bawahan Jenderal Bredow yang telah dibunuh Hitler. Canaris memburu
informasi di luar lingkup militer, menyusun jaringan rahasia sehingga orang-orang
Departemen Pertahanan dapat mendeteksi dini plot yang disusun Kantor Kanselir
(Hitler), Gestapo (Himmler Dan Heydrich) serta Karinhall (Goering). (Darma
aji,2005:15)
Politisi anti NAZI dipimpin oleh mantan Walikota Leipzig Dr. Carl
Goerdeler, ia bertugas untuk mencari dukungan Inggris dan Amerika Serikat.
Sewaktu Goerdeler masih menjabat Walikota menentang adanya kebijakan
Antisemit. Pembantaian SA serta pembunuhan Jenderal Bredow Dan Schleicher
memperkuat kebenciannya kepada Hitler. Jaringan yang telah dibentuk Goerdeler
mencapai Stockholm Swedia, di sana Goerdeler mendapatkan teman yang juga
membenci Hitler yaitu Jacob Wallenberg. (Darma aji,2005:17)
Dalam Departemen Luar Negeri terdapat diplomat senior seperti Ernst
von Weizsacker Dan mantan Duta Besar Jerman di Italia yaitu Ulrich von Hassel
serta diplomat muda seperti Theoserta Erich Kordt , Count Ewald von Kleist
Schmenzim dan Hans Bernd von Haeften. Count Ewald von Kleist Schmenzim
masuk daftar orang yang harus dimusnahkan Hitler pada akhir 1934. (Darma
aji,2005:17)
Polisi rahasia Jerman menaruh kebencian terhadap Hitler. Agen polisi
rahasia tersebut antara lain adalah Dr. Hans Bernd Gisevius dari Gestapo (Geheim
Staatzpolizei atau Polisi Rahasia Negara) serta Arthur Nebe, Kepala Kripo
(Kriminal Polizei atau Polisi Kriminal). Turut bergabung pula Kepala Polisi
Berlin yaitu Heinrich von Helldorf. Selain itu di luar pemerintahan terdapat
kelompok intelektual anti NAZI yang bergabung dalam Lingkar Kreisau yang
dipimpin oleh Count Helmuth von Moltke. Kelompok ini menjalin kontak dengan
sahabat maupun kerabat yang bekerja di dalam pemerintahan. Tokoh yang paling
aktif dalam kelompok ini adalah Adam von Trott. Dalam bidang kerohaniawan
ada Pastor Dietrich Bonhoeffer. ( Darma aji,2005:17)
Kelompok konspirasi dalam usaha menggulingkan Hitler dilakukan
dengan cara mengirimkan sejumlah utusan ke Inggris guna melobi pemerintahan
di London agar menghalangi langkah Hitler. Utusan tersebut dalam menjalankan
tugasnya membawa dokumen keterangan dan samaran yang disediakan oleh
Kepala Abwehr Laksamana Wilhelm Canaris. Para utusan tersebut adalah
diplomat Count Ewald von Kleist Scmenzin, Adam von Trott, Letnan Kolonel
Count Gerhard von Schwerin, serta Dr. Carl Goerdeler. Tetapi usaha kelompok
konspirasi tersebut mengalami kegagalan. (Darma aji,2005:33)
Melihat usaha mengalami kegagalan, kelompok konspirasi tidak putus
ada. Untuk menyakinkan London maka kelompok ini membocorkan rahasia yang
diperoleh dari Jenderal Beck. Informasi tentang rencana jangka panjang Hitler
untuk menguasai Eropa, serta keadaan militer Jerman yang tidak siap jika terjadi
peperangan. Tetapi upaya ini kurang ditanggapi oleh pejabat Inggris. Meskipun
demikian terdapat sejumlah pejabat serta tokoh Inggris Dan Amerika Serikat yang
menghargai para utusan tersebut Dan melakukan apa yang bisa mendukung
kelompok tersebut. Tokoh yang membantu misalnya Lady Astor yang
mendengarkan pendapat Adam von Trott yang sengaja mengundang Trott dalam
jamuan makan di Clivedon Estate dan memberinya kursi di dekat Lord Halifax
sehingga pembicaraan mereka sampai pada ring satu kekuasaan London. Para
pendukung konspirasi anti Hitler mencangkup Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri
Inggris MI-6 yaitu Sir Stewart Menzies, Kepala Intelijen Amerika Serikat OSS
(Office of Strategic Service yaitu cikal bakal CIA), William J. Donovan serta
Kepala Stasiun OSS di Berne Swiss, Allen Dules. Tetapi ketiga tokoh tersebut
tidak memiliki kekuatan politik untuk membujuk para perwira Tinggi negara
mereka untuk melawan Hitler. (Darma aji,2005:37-39)
Sepanjang musim panas tahun 1938 Kepala Staf AD Jenderal Ludwig
Beck meminta Panglima AD Marsekal Medan Walther von Brauchitsch
mengadakan pertemuan seluruh anggota jenderal. Agenda pertemuan tersebut
adalah mengundurkan diri serentak jika Hitler tetap meneruskan menyerbu CekoSlovakia. Para jenderal sepakat terhadap hasil pertemuan tersebut, mereka
akhirnya bernegosiasi dengan Hitler. Tetapi para jenderal mengalami kegagalan
dalam membujuk Hitler serta gagal pula mengundurkan diri massal. Kegagalan
dalam mengundurkan diri massal dikarenakan para jenderal takut menghadapi
Hitler. Hanya Beck yang masih gigih melanjutkan aksi pengunduran dirinya. Pada
awalnya permohonan diri Beck ditolak oleh Hitler setapi setelah Hitler
mengetahui bahwa aksi tersebut merupakan ide Beck maka akhirnya permohonan
pengunduran diri tersebut dikabilkan.(Darma aji,2005:41-42)
Kelompok konspirasi berada dalam posisi yang kuat karena telah berhasil
menggalang beberapa tokoh. Antara lain Ernst von Weiszacker, Ulrich von Hassel
dari Deplu, Jenderal Karl Heinrich von Stuelpnagel, Jenderal Georg Thomas dari
Badan Ekonomi Peperangan, Perwira Gestapo Dr. Hans Bernd Gisevius, Kepala
Kripo Arthur Nebe, Kepala Polisi Berlin Heinrich von Helldorf, Panglima Militer
BerlinJenderal Erwin von Witzleben serta Jenderal Count Walter von Brockdorff
Ahlefeld, Panglima divisi Infantri ke-23 di Postdam. (Darma aji,2005:43)
Gisevius bersama dengan Brockdorff bertugas untuk menggambar sketsa
bangunan Dan menulis catatan keadaan tempat-tempat yang dicurigai. Tanggal 12
September 1938 kudeta siap dilancarkan. Beck, Canaris, Oster, Witzleben dan
kelompoknya yakin bahwa Hitler akan menggunakan kesempatan untuk
mengultimatum Ceko-Slovakia yang akan memancing terjadi peperangan. Hitler
berkunjung ke Munich untuk berpidato, tapi setelah pidato tersebut berakhir
terjadi kerusuhan yang mengakibatkan 11 orang keturunan Jerman tewas dalam
operasi keamanan. Tanggal 28 September 1938 terjadi ketegangan, dimulainya
peperangan antara Jerman Dan Ceko-Slovakia semakin mendekat. Dalam hal ini
Ceko-Slovakia dapat bantuan dari Inggris. Para panglima Jerman telah bersiapsiap menerima perintah sedangkan para perwira yang tergabung dalam kelompok
konspirasi juga telah bersiap-siap melancarakan kudeta dengan rencana akan
menculik Hitler Dan membujuk agar menhindari peperangan, selanjutnya
kekuasaan Hitler akan digulingkan. Akan tetapi rencana kelompok konspirasi anti
Hitler tidak sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan kedatangan duta besar
Italia datang di Berlin dengan tawaran mediasi dari Mussolini guna mengakhiri
krisis. Hitler pun menerimanya sehingga peperangan dapat dihindari tetapi alasan
untuk menggulingkan Hitler sudah tidak ada. (Darma aji,2005: 44-52)
Kelompok konspirasi tidak kehilangan semangat mereka untuk
mewujudkan tujuannya yaitu menyingkirkan Hitler. AD sebagai andalan untuk
melancarkan kudeta. Namun Kepala Staf AD Jenderal Franz Halder berpendapat
AD memiliki kendala. Perang kilat di Polandia memang telah memperbesar nama
AD tetapi isinya sebagian besar adalah perwira fanatik NAZI dan pasukan yang
sudah percaya penuh terhadpa doktrin Sosialisme Nasional. Halder mengaku
sangat sulit untuk mencari pasukan yang dapat diandalkan dalam usaha
melaksanakan kudeta. Selain itu, Halder juga khawatir bila Inggris serta Perancis
malah menyerbu Jerman ketika AD melancarkan kudeta. Untuk menyikapi
masalah tersebut maka kelompok konspirasi selalu menjalin komunikasi antara
Inggris dengan Perancis. Jalur kontak komunikasi antara ketiga negara tersebut
melalui vatikan oleh Dr. Josef Mueller, aktivis katholik dan pengacara di Munich
serta melalui Berne Swiss oleh Theodor Kordt. (Darma aji,2005:60-62)
George Elser adalah seorang pandai kayu Dan pembuat jam tangan dari
Swiss. Elser bekerja di Jerman sebagai seorang buruh biasa. Elser termasuk orang
yang membenci Hitler tetapi ia tidak bergabung dengan kelompok konspirasi anti
Hitler. Alasan Elser membenci Hitler karena banyaknya larangan yang
diberlakukan rezim NAZI kepada kaum buruh. Karena kebencian elser telah
mendalam maka ia memutuskan untuk menghabisi nyawa Hitler dengan bom
waktu. Tempat serta waktu peledakan telah diperhitungkan dengan seksama dan
rapi, hanya tinggal menunggu kedatangan Hitler. Hitler akhirnya datang dan
menyampaikan pidatonya, tetapi diluar dugaan, Hitler menyelesaikan pidato lebih
cepat dari yang telah diperhitungkan oleh Elser. Kejadian tersebut membuat
rencana yang telah Elser buat berantakan, Hitler selamat dari ledakan Bom
sedangkan Elser akhirnya tertangkap dan dipenjara. (Darma aji,2005:67:72)
Sebagian orang beranggapan bahwa pada masa holocaust tidak ada
perlawanan sedikitpun untuk menentang atau mempertahankan diri terhadap
NAZI. Tetapi sesungguhnya perlawanan tersebut ada baik yang dilakukan oleh
orang Yahudi maupun non Yahudi. Perlawanan yang dilakukan orang-orang
tersebut dengan berbagai bentuk. Tetapi pada dasarnya ada banyak jenis
perlawanan berupa fisik. Bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan para tahanan
misalnya pemberontakan dalam artian perlawanan fisik, aktivitas partisan,
melarikan dari dari kamp, serta dengan jalan bunuh diri. (Stephane
Downing,2007:58)
Perlawanan terhadap NAZI memang tidak meluas tersebar di berbagai
daerah. Hal ini disebabkan adanya penentangan oleh orang Yahudi dibuat lebih
sulit, karena adanya penduduk lokal yang mayoritas anti semit. Di seluruh Eropa
yang diduduki NAZI, orang yang menentang NAZI serta mereka yang negaranya
berada dalam pendudukan NAZI mulai mengatur gerakan perlawanan. (George
Sanford, Gerhard L.Weinberg,2007:90)
Perlawanan terhadap Hitler serta pasukannya terbagi menjadi dua yaitu
perlawanan yang dilakukan oleh para tahanan kamp konsentrasi serta perlawanan
yang dilakukan dalam tubuh militer Jerman sendiri. Perlawanan dalam militer ini
dilakukan oleh para petinggi Jerman yang merasa tidak sepaham dengan
kebijakan Hitler. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai percobaan pembunuhan
terhadap Hitler.
Terdapat dua perlawanan yang dilakukan oleh para tahanan kamp
konsentrasi yang membuat tenaga tentara NAZI hampir terkuras. Perlawanan
yang pertama adalah perlawanan yang dilakukan oleh para saksi Yenova. Para
saksi Yenova adalah orang Jerman yang menolak mengucap janji kesetiaan pada
partai NAZI serta menolak mengabdi dalam pasukan militer. Sebelum
menjatuhkan hukuman kepada saksi Yenova, NAZI memberikan suatu pilihan
yaitu jika para saksi Yenova tersebut mengucapkan janji kesetiaan terhadap
NAZI, menyerahkan hak-hak mereka, serta mendukung pasukan militer Jerman
maka mereka dapat meninggalkan kamp atau penjara. Tetapi dalam kenyataannya,
para saksi Yenova menolak tawaran tersebut, mereka lebih baik mengadakan
perlawanan dengan tentara NAZI. Perseteruan antara tentara NAZI dengan para
saksi Yenova, akhirnya dimenangkan oleh tentara NAZI. Hal ini terbukti dengan
dimasukkannya 12.000 orang saksi Yenova ke kamp konsentrasi.
Perlawanan yang kedua, dilakukan oleh bangsa Yahudi yang dikenal
dengan sebutan Perlawanan Ghetto Warsawa. Perlawanan tersebut terjadi pada
bulan April sampai dengan Mei 1943. Perlawanan terjadi ketika deportasi final
dari ghetto ke kamp konsentrasi akan segera dilaksanakan, sehingga para pejuang
Yahudi bangkit untuk melawan. (Stephane Downing,2007:36)
Dalam perlawanan terhadap NAZI, banyak deretan nama pejuang Yahudi
bermunculan, antara lain:
1) Janusz Korczak (1879-1942)
Janusz Korczak lahir dengan nama Henryk Goldmit, di Warsawa tahun
1879. Janusz mendirikan sebuah panti asuhan bagi warga Yahudi, pada tahun
1912. Janusz berprofesi sebagai dokter, penulis, kepala sekolah serta merupakan
panutan bagi warga Yahudi di Warsawa. Saat mengunjungi Kibbuts ( sebuah
pertanian atau perkampungan suku ), ia menjadi yakin bahwa semua Yahudi patut
pindah ke Palestina. Setelah Jerman menduduki Warsawa, panti asuhan pindah ke
dalam ghetto. Korczak menolak untuk mengenakan Bintang Daud yang
merupakan simbol untuk membedakan Yahudi. Melihat penolakan tersebut maka
pemerintah Jerman mengeluarkan perintah untuk memenjarakan Korczak. Setelah
ghetto di Warsawa ditutup, Korczak dan keluarganya dipindahkan ke Treblinka.
Disana Korczak menolak untuk melarikan diri dan tewas bersama anak-anaknya
di kamar gas. Dalam penjara tersebut, Korczak menulis buku tentang
pengalamannya sebagai bukti, buku tersebut sekarang telah banyak beredar dalam
berbagai bahasa.
2) Hannah Senesh ( 1921-1944 )
Hannah Senesh adalah seorang asli Hongaria yang bergabung dengan
pasukan Inggris dan berlatih terjun payung di belakang garis tempur Jerman untuk
membuat
kontak
dengan
kelompok-kelompok
pemberontak.
Setelah
menghabiskan tiga bulan dengan barisan Tito di Yugoslavia, ia gagal dalam upaya
menyelinap ke Hongaria. Setelah berbulan-bulan mengalami penyiksaan, Hannah
akhirnya diputuskan untuk menjalani hukuman mati. Semasa hidupnya, Hannah
menulis buku harian dan puisi-puisi, setelah buku tersebut ditemukan lalu dicetak
dan diberi judul Blessed is the Match yang merupakan bukti kekejaman Jerman.
3) Mordecai Anielewicz ( 1920-1943 )
Mordecai Anielewicz merupakan komandan pemberontak di ghetto
Warsawa. Setelah NAZI menyatakan perang terhadap polandia, ia melarikan diri
ke Rumania, namun kembali ke ghetto Warsawa tahun 1940 untuk mengatur
sebuah pemberontakan. Pada tanggal 19 April 1943, Mordecai dan para
pemberontak dengan bersenjata dua senapan mesin, 500 pistol, dan 15 senapan
mengadakan pemberontakan. Aksinya tersebut, Mordecai berhasil membuat
tentara NAZI luka parah, dan mengalami kerugian cukup besar karena banyak
gedung yang dibakar. Para tahanan banyak yang melarikan diri melalui saluran
pembuangan bawah tanah, untuk menghambat maka tentara NAZI mennggunakan
gas beracun yang dibuang ke saluran pembungan tersebut. Akibatnya 100 orang
tahanan yang berhasil melarikan diri tersebut tewas karena gas beracun termasuk
Mordecai Anielewicz.
4) Vladka Meed ( 1923 -
)
Seorang anggota organisasi perlawanan Yahudi di Warsawa, Vladka
tinggal diluar ghetto diantara warga Polandia untuk mengamankan senjata bagi
kelompok perlawanan. Dengan cara membuat surat identitas palsu Vladka
berhasil meyakinkan warga non-Yahudi bahwa ia bukan orang Yahudi. Dengan
begitu, Vladka berhasil menyelundupkan senjata-senjata melalui tembok-tembok
perkampungan. Selain itu, Vladka juga berhasil menyelundupkan orang keluar
dari perkampungan dan mencari tempat bagi orang Yahudi untuk bersembunyi.
Bersama Mordecai, Vladka membakar pabrik-pabrik Jerman, membuat bom
Molotov, dan mengumpulkan senjata untuk melawan kekejaman NAZI. Saat ini
Vladka adalah direktur Holocaust and Jewish Resistance Summer Fellowship
Program di Israel.
5) Simon Wiesenthal ( 1908-…)
Simon Wiesenthal lahir di Buczacz, Ukraina, saat tentara NAZI
menyerang Soviet ia dan istrinya dikirim ke beberapa kamp kerja paksa. Setelah
1942, saat Solusi Akhir diterapkan, Wiesenthal selamat dari beberapa kamp
pembantaian di Mauthausen, Wiesenthal dibebaskan saat ia akan menjalani
hukuman mati. Setelah perang, Wiesenthal bekerja keras untuk mengumpulkan
informasi untuk menghukum para penjahat perang. Setelah pengadilan
Nuremberg, Wiesenthal menjadi pemburu NAZI dan berjasa dalam membawa
banyak penjahat perang untuk diadili, termasuk Adolf Eichmann. Wiesenthal
adalah seorang penulis dan juga pendiri Simon Wiesenthal Centre dan Museum of
Tolerance.
6) Sabina Zimering ( 1923-…..)
Sabina Zimering seorang Yahudi Polandia yang pada Perang Dunia II
berusia 16 tahun. Selama tiga tahun Sabina menghabiskan hidupnya untuk
bersembunyi dari tentara NAZI setelah Gestapo menyerbu kota asalnya di
Piotrkow, Polandia pada tahun 1942. kartu identitas palsu dari teman-teman
Katolik semasa kecil menyelamatkan saudara perempuannya dari kamar gas di
Treblinka. Sabina dan adiknya selamat sebagai warga Polandia Katolik Jerman
dan bekerja dalam sebuah Hotel Gestapo. Setelah perang, Sabina belajar di
sekolah Medis Munich meraih gelarnya dan berimigrasi ke Minneapolis dan
berpraktek kedokteran selama 42 tahun. Sabina mulai menulis sebuah memoir
pengalaman Holocaust saat Sabina pensiun dari karirnya di kedokteran pada 1996.
Memoir Holocaust Zimmering, Hidding in the Open menjadi sebuah Radio Buku
bagi para tunanetra dan sebuah drama panggung.
7) Henry Oertelt ( 1920 - …)
Henry Oertelt seorang yahudi yang lahir di Berlin, keluarganya lolos
dari tentara NAZI sampai tahun 1943, tetapi akhirnya tertangkap juga dan dikirim
ke kamp Auschwitz. Henry adalah seorang penulis, dalam bukunya yang berjudul
An Unbroken Chain: My Journey Through the NAZI Holocaust, yang isinya
menggambarkan tentang keselamatan Henry beserta keluarganya dari peristiwa
Holocaust. Menurut Henry keselamatannya tersebut sebagai rangkaian mata
rantai, bila salah satu mata rantai tersebut putus maka Henry dan keluarganya
tidak akan selamat. Hal ini dibuktikan ketika Henry berhasil lolos dari hukuman
mati di Kamp pembantaian Auschwitz serta waktu ia dipindahkan di Flossenberg.
Henry mengatakan bahwa banyak mata rantai yang tidak terduga untuk
menyelamatkannya seperti tubuhnya yang kecil, keahliannya dalam bidang
perkayuan. (Judith Sandeen Bertel,2007:40)
Perlawanan yang dilakukan orang Yahudi seakan sia-sia, karena setiap
perlawanan dapat digagalkan oleh tentara NAZI. Beberapa rintangan yang
dihadapi para pejuang Yahudi antara lain:
a) Kekuatan persenjataan Jerman yang unggul
Untuk melakukan suatu perlawanan, diharuskan adanya persenjataan
yang canggih juga banyak. Jika bangsa Polandia, Perancis, serta negara lain tidak
sanggup menghadapi persenjataan Jerman, maka dapat dibayangkan perlawanan
Yahudi akan cepat dipatahkan mengingat persenjataan yang tidak memadai.
b) Taktik tanggung jawab kolektif Jerman
NAZI memiliki kebijakan bahwa komunitas bertanggung jawab penuh
untuk aksi penentangan atau pemberontakan dari individu anggotanya. Sebagai
contoh adalah seluruh populasi ghetto Dolhynov di Lithuania dibunuh karena dua
anak kecil berhasil melarikan diri. Di kamp Treblinka penjaga menembak 26
narapidana setelah 4 yang lain kabur pada musim dingin 1942.
c) Pengasingan kaum Yahudi dan ketiadaan senjata
Bahkan ketika seorang Yahudi mempunyai kehendak untuk menentang,
mereka menghadapi berbagai rintangan. Hanya sedikit atau sama sekali tidak ada
akses untuk senjata, makanan, atau tempat persembunyian. Serta mustahil bagi
mereka untuk bersatu dengan populasi non Yahudi di wilayah Eropa. Adanya
deportasi menyebabkan orang Yahudi menjadi asing di tempat tinggalnya sendiri.
Kebanyakan populasi lokal yaitu orang Jerman enggan untuk membantu orang
Yahudi sebab mereka juga anti semit atau terlalu takut ditembak oleh tentara
NAZI jika ketahuan membantu Yahudi.
d) Kerahasiaan serta kecepatan deportasi dan tindakan lain terhadap kaum Yahudi
NAZI dengan bebas menggunakan penipuan, kerahasiaan, serta
kecepatan tinggi untuk mencegah adanya perlawanan. Orang yang dideportasi
diberitau supaya berkemas untuk bertransmigrasi (yang secara langsung menuju
kamp pemusnahan) Dan diberi sebuah sabun yang terbuat dari batu ketika mereka
digiring menuju pemandian (kamar gas). (Stephane Downing,2007:59-61)
Keberadaan kamp-kamp sering dibahan antara pemimpin-pemimpin
Amerika Serikat dengan Inggris pada Konferensi Bermuda pada April 1943. kamp
Auschwitz akhirnya diperiksa dengan menggunakan pesawat pada bulan April
1944. Beberapa bulan kemudian Angkatan Udara Jerman tidak lagi menjadi
ancaman yang serius. Walaupun kota-kota penting Jerman serta pusat-pusat
produksinya dibom oleh pihak sekutu hingga akhir perang, tidak ada usaha yang
dilakukan
untuk
menghancurkan
sistem
pembataian
massal
dengan
menghancurkan struktur-struktur yang berhubungan dengan pembantaian tersebut
atau dengan menghancurkan rel-rel kereta api, walaupun Churchill adalah
pendukung pemboman daerah-daerah di kompleks Auschwitz. Sepanjang perang,
Inggris juga menekan pemimpin-pemimpin Eropa untuk menghalangi imigrasi
ilegal Yahudi serta mengirimkan kapal-kapal untuk menghalangi rute laut ke
Palestina, juga mengembalikan banyak pengungsi. (Stephane Downing,2007:55)
Setelah melihat respon negara-negara adi kuasa yang seharusnya tidak
melakukan tindakan untuk menghentikan Hitler, maka beberapa orang di berbagai
negara melakukan tindakan sendiri untuk membantu orang Yahudi. Upanya
penyelamatan orang Yahudi akan sangat sullit dilakukan daripada ikut
berpartisipasi untuk memburu para Yahudi. Seseorang yang memilih untuk
menyelamatkan korban NAZI harus memiliki keberanian karena orang tersebut
akan mempertaruhkan hidupnya sekaligus hidup keluarganya.
Tidak semua negara mematuhi perintah Hitler. Ada beberapa negara
yang menolak mendeportasikan populasi orang Yahudi. Raja Cristian X berasal
dari Denmark serta warga negaranya yang telah berhasil menyelamatkan hampir
7.500 orang Yahudi Denmark, dengan cara membawa orang Yahudi ke Swedia
dengan menggunakan perahu pemancing pada bulan Oktober 1943. Pemerintahan
Bulgaria yang merupakan sekutu NAZI, tetapi dalam kepemimpinan Bogdan
Filov orang Yahudi sebanyak 50.000 orang tidak dideportasi. Hal ini disebabkan
karena setelah adanya penekanan dari pembicara wakil parlemen yaitu Dimitar
Pashev serta gereja ortodok Bulgaria. Di Roma terdapat 4.000 orang Yahudi Italia
serta para tawanan perang, berhasil selamat dari deportasi. Kebanyakan orangorang Yahudi di sembunyikan di tempat-tempat persembunyian dan dievakuasi
dari Italia oleh kelompok-kelompok terorganisir oleh seorang pendeta Irlandia,
Monsignor Hugh O’ Flaherty dari Holy Office. O’ Flaherty yang pernah menjadi
ambasador Vatikan ke Mesir menggunakan koneksi-koneksi politiknya untuk
menjamin perlindungan bagi orang-orang Yahudi yang hak kewarganegaraannya
telah dicabut.Aristides de Sousa Mendes adalah seorang diplomat Portugis
berhasil mengeluarkan 30.000 visa bagi orang Yahudi serta kelompok minoritas
lainnya. Pada tahun 1941, Dictator Portugis Salazar memecat diplomat Portugis
tersebut sehingga Mendes tidak memiliki lagi kewenangan. Pada bulan April
1943, beberapa anggota dari perlawanan Belgia menghentikan kereta api
Twentieth Convoy serta berhasil membebaskan sekitar 231 orang Yahudi.
Beberapa kota serta gereja juga membantu menyembunyikan orang-orang Yahudi.
Seperti yang dilakukan di kota Perancis, LE Chambon Sur Lignon, yang
memberikan tempat tinggal bagi beberapa ribu orang Yahudi. Aksi-aksi
penyelamatan individu serta keluarga juga terjadi di seluruh Eropa, seperti yang
digambarkan dalam kasus Anne Frank yang merupakan warga Yahudi semua
anggota keluarganya berhasil diselamatkan ke negara Belanda. Dalam beberapa
kasus, diplomat-diplomat serta para tokoh yang berpengaruh juga terlibat dalam
penyelamatan. Seperti halnya dengan Oskar Schindler, Nicholas Winton, yang
melindungi sejumlah orang-orang Yahudi. Diplomat Swedia yaitu Raoul
Wallenberg, diplomat Italia yaitu Giorgio Perlasca, diplomat Cina yaitu Ho Feng
Shan serta yang lainnya berhasil menyelamatkan puluhan ribu jiwa orang Yahudi
dengan memberikan kartu-kartu dilpomatik palsu bagi orang-orang Yahudi.
Chiune Sugihara menyelamatkan
beberapa
ribu
orang Yahudi
dengan
memberikan visa Jepang, dengan melawan pemerintahannya sendiri. (Stephane
Downing,2007:39-40)
Orang-orang yang berhasil menyelamatkan orang-orang Yahudi tersebut
dijuluki dengan nama Righteous Among The Nation ( Yang Berbudi di antara
Bangsa-Bangsa) atau Righteous Gentile (Orang Non Yahudi Yang Berbudi).
Terdapat data yang diperoleh oleh Yad Vashem yang menunjukkan jumlah data
orang-orang yang berhasil menyelamatkan orang Yahudi di setiap negara, antara
lain:
NEGARA
JUMLAH Righteous Among
The Nation
Polandia
4.613
Belanda
3.805
Perancis
1.306
Belgia
735
Ukraina
578
Jerman
299
Cekoslovakia
307
Hungaria
313
Lithuania
289
Italia
178
Yunani
181
Swiss
19
Bulgaria
13
Denmark
12
Inggris
9
Swedia
7
Moldavia
5
Norwegia
6
Spanyol
3
Armenia
3
Luxemburg
2
Amerika Serikat
1
Yugoslavia
147
Rusia/ Belarusia
162
Austria
78
Albania
50
Romania
46
Latvia
51
Estonia/ Brazil
1
Portugal
1
Jepang
1
Turki
1
( sumber Stephane Downing,2007:60)
Usaha pembunuhan terhadap Hitler pada bulan Juli 1944, menimbulkan
kemarahan bagi Hitler. Terbongkarnya jaringan komplotan Stauffenberg semakin
menambah
kebencian
Hitler
terhadap
Jenderal-Jenderal
Wehrmacht.
Persengkongkolan itu menimbulkan rusaknya hubungan antara Hitler dan para
Jenderal AD-nya.
Suatu peristiwa yang sangat tidak diharapkan dan sekaligus merugikan
bagi Jerman karena pada saat itu terjadi ketika benteng pertanahan Jerman di
Atlantik jebol dan tentara sekutu mulai menuju Jerman.
Tentara Jerman mulai terdesak di seluruh front, tetapi Hitler
memerintahkan serangan all out yang diyakini akan menjadi titik balik bagi
kemenangan pihak Jerman. Hitler memerintahkan serangan ke Jantung Sekutu
yang dikenal sebagai The battle of the Bulge pertempuran di Belgia. Hitler
menyakinkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jerman yaitu Marsekal Van
Rundstedt bahwa serangan tersebut akan membalikkan kekalahan Jerman menjadi
sebuah kemenangan, tetapi dalam kenyataannya serangan Jerman tersebut
mengalami kegagalan.
Menyadari besarnya pengaruh kepemimpinan Jenderal Eisenhower
terhadap keberhasilan sekutu. Hitler juga mengirim pasukan khusus komando
Jerman yang berseragam tentara Amerika (GI) pergi ke markas Eisenhower di
Perancis untuk membunuh panglima sekutu itu. Rencana pembunuhan
Eisenhower gagal, dan pasukan komando Jerman itu tertangkap atau tewas oleh
pasukan sekutu.
Tahun 1945, setelah Rusia mencapai Berlin, Adolf Hitler mulai tinggal di
ruang bawah tanah (bunker) yang terletak dibawah istana konselir di Berlin.
Sebagian besar kegiatan kantor – kantor kementrian telah dipindahkan ke selatan
dengan iringan – iringan truk yang sarat dokumen penting milik negara. Pejabat –
pejabat penting yang resah berusaha menyelamatkan diri dengan keluar dari
Berlin. Hitler mengirimkan sebagian besar staf kerumahtanggaan istana ke
Berchtesgaden sepuluh hari sebelumnya untuk mempersiapkan villanya di
pegunungan yaitu istana Berghof Pasukan Amerika dan Rusia bergerak cepat
menyeberangi Sungai Elbe. Sedangkan pasukan Inggris telah berada di gerbang
antara Hamburg dan Bremen dan mengancam memutuskan hubungan antara
Jerman dan Denmark yang saat itu diduduki pasukan Jerman. Artinya tentara
Jerman yang sedang menduduki Denmark sedang terancam bahaya terisolasi. Di
Italia sendiri, Bologna telah jatuh dan pasukan sekutu sedang menerobos masuk
ke lembah Sungai Po. Hitler telah meninggalkan markas besarnya di Rastenburg
di Prussia Timur. Untuk terakhir kalinya tanggal 20 November 1944, ketika
gerakan pasukan Rusia dimana – mana semakin sulit terbendung (Agustinus
Pambudi 2005 : 73 – 75).
Di Front Timur, pasukan Jerman telah dipukul mundur oleh pasukan
Rusia. Di Front Barat, keberhasilan pendaratan sekutu yang spektakuler di pantai
Normandia pada Juni 1944 diikuti dengan serangkaian kemenangan pasukan
tempur sekutu untuk membebaskan Perancis, Belgia, Belanda dari pendudukan
Jerman. Hitler memerintahkan sebuah serangan balik yang bersifat habis-habisan
(all out coun tera Hack) terhadap pasukan Rusia di wilayah pinggilan selatan kota
Berlin. Jenderal S.S. Felix Steiner ditunjuk sebagai pimpinannya. Sampai saat itu,
Hitler merasa lebih aman menggunakan kesatuan-kesatuan S.S dari pada pasukan
reguler. Padahal, Himmler sebagai pucuk pimpinan S.S telah berkhianat dengan
melarikan diri dari Berlin (Agustinus Pambudi,2005: 96).
Perhatian Hitler beralih pada dokumen-dokumen, Hitler memilih mana
dokumen yang akan dihancurkan dan memberikan dokumen-dokumen tersebut
pada salah satu pengawal pribadinya yang bernama Julius Schaub untuk
membakarnya. Tindakan yang Hitler lakukan mencerminkan bahwa Hitler sadar,
musuh setiap saat akan masuk ke bunker dan menggeledah dokumen-dokumen
rahasia (Agustinus Pambudi, 2005 : 100).
Marsekal Goering yang telah lama menanti hari untuk menggeser posisi
Hitler ternyata jauh lebih teliti daripada yang sebelumnya diduga. Goering
memiliki kemampuan analisis situasi yang sangat tajam. Goering menyadari
dirinya sedang menghadapi dilema yaitu jika dia bertindak maka akan dikatakan
sebagai pengkhianat tetapi jika tidak bertindak maka ia dituduh telah gagal
melaksanakan tugas. Goering meminta Hans Lammers, sekretaris konselir yang
pada saat itu berada di Berchtesgaden untuk memberi nasehat resmi dan juga
mengambilkan dari brankasnya sebuah salinan dekrit yang dikeluarkan Hitler
pada tanggal 29 Juni 1941. Didalam dekrit menjelaskan bahwa apabila Hitler
meninggal maka Goering akan menjadi penggantinya dan jika apabila Hitler tidak
mampu melaksanakan tugasnya maka Goering akan bertindak atas namanya. Hal
ini berarti sesuai isi dekrit tugas Goering untk mengambil alih kepemimpinan
militer maupun pemerintahan. Para pembantu – pembantu Hitler yang dahulu setia
sekarang berbalik arah kepada Goering dengan harapan akan mendapatkan posisi
yang lebih baik.
Dalam kenyataannya, tidak hanya Goering yang menginginkan posisi
sebagai pengganti Hitler tetapi Himmler pun juga menginginkannya. Tanggal 23
April 1942 Heinrich Himmler mengadakan pertemuan dengan Pangeran
Bernadotte di kantor konsulat Swedia di Luebeck yang berada di wilayah Baltik.
Dalam pertemuannya, Himmler mengatasnamakan dirinya sebagai pengganti
Hitler. Himmler memaksa Bernadotte segera membuka kontak dengan Jenderal
Eisenhower bahwa Jerman akan menyerahkan diri kepihak barat.
Baik Goering maupun Himmler telah bertindak terlalu cepat, sehingga
dengan cepat diketahui Hitler. Walaupun Rusia telah mengepung Berlin dan telah
mengisolasi Hitler sehingga Hitler tidak kontak dengan dunia luar tetapi Hitler
memiliki radio pemancar yang menghubungkan dirinya dengan pasukannya serta
para menteri.
Telegram Hermann Goering saat itu telah tiba di Istana Kanselir dan
diterima oleh Martin Bormann, sekretaris jenderal partai Nazi. Melihat sebuah
peluang di depan matanya, Bormann sang ahli intrik menyampaikan sendiri
telegram itu kepada sang Fuehrer. Tanpa diminta, Borman mengomentari
telegram itu sebagai suatu ‘ultimatum’ dan pengkhianatan dari Goering untuk
‘merebut’ kekuasaan dari tangan Hitler. Hitler memang menunjuk Hermann
Goering sebagai penggantinya, tetapi itu diputuskan tahun 1941, ketika Luftwaffe
yang dipimpin Goering berjaya di angkasa Eropa. Setelah Battle of Britain, di
mana AU Jerman kehilangan superioritas udaranya, dan terutama setelah pesawatpesawat Sekutu membom Jerman tanpa perlawanan, tampaknya Hitler menyadari
telah menunjuk orang yang salah. Tapi Hitler tidak mengubah dekrit yang
menunjuk Goering sebagai ”putra mahkota” Reich Ketiga. (Agustinus Pambudi,
2005 :113)
Jangankan mendorong pasukan untuk bergerak, untuk menyelamatkan
diri saja para tentara sudah tidak bisa, sedangkan orang-orang yang masih punya
kekuatan pasukan telah berpangku tangan. Pengkhianatan nampaknya telah
menggantikan kesetiaan! Kami tetap tinggal di sini. Istana Kanselir sudah hancur
menjadi puing-puing. Selanjutnya malam itu Bormann mengirimkan pesan lain
kepada
Doenitz : Schoerner, Wenck dan pemimpin pasukan lainnya harus
membuktikan kesetiaan mereka kepada Fuehrer dengan jalan menolong
menyelamatkan Fuehrer secepatnya. Sebetulnya Bormann sedang berbicara atas
kepentingan dirinya sendiri. Hitler telah mengambil keputusan yang mantap untuk
menemui ajalnya dalam satu dua hari ke depan ia minta dievakuasi. (Agustinus
Pambudi, 2005 :121)
Di samping Bormann, terdapat seorang pejabat Nazi lain di dalam bunker
yang ingin hidup. Dia adalah Hermann Fegelein, seorang perwira penghubung
Himmler di markas Fuehrer, tipikal orang Jerman yang memasuki kalangan elite
dibawah peraturan Hitler. Pada 26 April Fegelein diam-diam meninggalkan
bunker. Menjelang siang, Hitler mengetahui dia kabur. Kecurigaan Fuehrer pun
bangkit, dan dengan penuh amarah dia mengirimkan sekelompok pasukan S.S.
bersenjata lengkap untuk mencari Fegelein. Fegelein tertangkap dalam pakaian
sipil, ketika sedang beristirahat di rumahnya di daerah Charlottenberg, wilayah
yang hampir seluruhnya dikuasai oleh pasukan Rusia. Ia digelandang balik ke
Istana Kanselir, dipecat dari S.S., dan ditahan. (Agustinus Pambudi, 2005:122)
Pada tanggal 28 April 1945 kabar yang dinanti-nantikan mengenai
serangan balasan Wenck, atau serangan balasan pasukan Jerman dari kesatuan
mana pun juga, tak kunjung tiba. Menurut salinan berita tersebut, Herr Heinrich
Himmler-de treue Heinrich – telah mengkhianati tanah air Jerman yang sedang
tenggelam. Kantor berita Reuter memberitakan negosiasi rahasia Himmler dengan
Pangeran Bernadotte, dan tawaran Himmler untuk mengatur penyerahan pasukan
Jerman kepada tentara Eisenhower di front barat. (Buku hal 125)
Himmler dan Goering, dua orang terdekat Hitler dalam Partai Nazi
maupun pemerintahan Reich Ketiga, ternyata keduanya sama-sama pengkhianat.
Bagi mereka yang kini berkumpul di bunker, dosa Himmler jauh lebih berat
apabila dibandingkan Goering. Paling tidak, Goering meminta izin Sang Lehrer
untuk mengambil alih kekuasaan militer maupun pemerintahan. Tetapi Himmler,
pimpinan S.S., pasukan Partai Nazi yang kejam dan paling loyal kepada Fuehrer
itu, bahkan tak mau repot-repot bertanya lebih dahulu. Secara diam-diam
Himmler langsung menghubungi musuh tanpa permisi sepatah kata pun ke Berlin.
Ini
merupakan
pengkhianatan
kawan
sendiri
yang
benar-benar
menyakitkan.Hanya tinggal beberapa meter lagi. Menurut perhitungan pihak
Jerman
yang paling optimis sekalipun, paling lambat pasukan Rusia
membutuhkan waktu satu hari untuk sampai ke ruangan di mana Hitler menerima
kabar pengkhianatan Himmler. Berarti sekitar tiga puluh jam ke depan, atau di
pagi buta tanggal
Pambudi, 2005:126)
30 April. Situasi saat itu benar-benar genting. (Agustinus
Keadaan itu memaksa Hitler segera mengambil keputusan terakhir dalam
hidupnya. Menjelang fajar dia menikahi Eva Braun, menyusun wasiatnya,
mengirim Greim dan Hanna Reitsch untuk memimpin Luftwaffe melakukan
pemboman habis-habisan (all-out bombing) terhadap pasukan Rusia yang sedang
mendekati Istana Kanselir, dan sekaligus memerintahkan keduanya agar
menangkap Himmler sebagai pengkhianat. Hitler menekankan perintahnya
dengan sangat tegas, ”Seorang pengkhianat tidak pantas menggantikan aku
sebagai Fuehrer! Kalian harus memastikan bahwa dia tidak akan menggantikan
aku.” Hitler tidak dapat menunggu terlalu lama untuk membalas dendam kepada
Himmler. Liaison officer S.S. sekaligus tangan kanan Himmler, si bodoh Fegelein,
telah berada di cengkeraman tangan Fuehrer. Kini si mantan joki yang menaiki
karir sebagai jenderal S.S. itu sedang menjalani interogasi yang sangat intensif,
untuk menggali informasi seputar pengkhianatan Himmler. Dia tidak lagi
dipersalahkan karena desersi. Tuduhannya jauh lebih serius; Fegelein didakwa
bersekongkol dalam plot pengkhianatan Himmler.Akhirnya, atas perintah Fuehrer,
si bodoh Fegelein digelandang ke halaman Istana Kanselir dan ditembak mati.
Fakta bahwa Fegelein adalah suami adik Eva Braun, calon isteri Hitler, tidaklah
membantu menyelamatkan nyawanya dari sergapan peluru sebagai hukuman. Eva
Braun sendiri sama sekali tidak berusaha sedikitpun untuk menyelamatkan nyawa
adik iparnya. Perempuan yang paling dekat dengan Hitler itu malah berbisik di
telinga Hanna Reitsch, mengungkapkan keprihatinan dan rasa kasihannya kepada
Adolf yang malang-yang ditinggalkan semua orang pada saat-saat paling genting,
dan yang dikhianati para sahabat dekat. (Agustinus Pambudi, 2005:127)
Ketika Berlin jatuh ke tangan Sekutu, ada dua dokumen sangat penting
yang dapat diselamatkan, seperti yang dikehendaki oleh Hitler. Yang pertama
adalah Political Testament atau pengakuan politik Hitler yang berisi semacam
argumentasi di balik kebijakan anti-Semitisme yang di anut. Yang kedua adalah
wasiat Hitler, sang penguasa fasis Jerman yang telah menyengsarakan seluruh
dunia.’Pengakuan Politik” atau Political Testament begitu Hitler menyebut
dokumen terakhir yang dibuatnya sebelum meninggal, dibagi menjadi dua bagian.
Yang pertama memuat harapannya terhadap generasi Jerman mendatang, yang
kedua adalah panduan khusus bagi generasi masa depan Jerman. Beginilah isi
Political Testament Adolf Hitler :
Lebih dari 30 tahun telah berlalu sejak aku menyumbangkan
yang terbaik sebagai seorang sukarelawan pada Perang Dunia Pertama,
yang mendorong berdirinya Reich.
Dalam tiga dasawarsa ini, hanya cinta dan kesetiaan kepada
rakyatku sajalah yang telah memandu pikiran, tindakan dan kehidupanku.
Dua hal itu memberiku kekuatan untuk mengambil keputusan-keputusan
tersulit yang pernah menghadang manusia
Tidaklah benar kalau dikatakan bahwa aku, atau siapapun orang
Jerman lainnya, menginginkan perang pada tahun 1939. Perang itu
sebenarnya diinginkan dan diprovokasi secara khusus oleh negarawannegarawan dunia, baik yang berasal dari keturunan Yahudi, maupun yang
bekerja untuk kepentingan Yahudi.
Aku telah memberikan terlalu banyak penawaran untuk
pembatasan dan pengendalian senjata, yang akan dihargai oleh generasi
mendatang, sebagai pertanggungjawabanku atas pecahnya perang ini.
Lebih jauh lagi, setelah Perang Dunia Pertama yang menyengsarakan itu,
aku tidak pernah menginginkan peristiwa itu terulang sekali lagi, baik
melawan Inggris maupun Amerika. Waktu akan terus berlalu, tetapi dari
puing-puing kota dan monumen bersejarah kami, akan selalu muncul
kebencian terhadap mereka yang paling bertanggung jawab. Mereka
adalah orang-orang yang harus kita ucapkan terima kasih atas semua
musibah ini: yaitu jaringan internasional Yahudi dan antek-anteknya.
(Agustinus Pambudi, 2005:138)
Lalu Hitler beralih ke alasan di balik keputusan untuk tetap tinggal di
Berlin hingga menemui ajalnya Setelah enam tahun berperang, kendati kekalahan
ini akan dikenang dalam sejarah sebagai wujud sebuah perjuangan mulia dan
heroik untuk mempertahankan keberadaan suatu bangsa, aku tidak dapat
meninggalkan kota yang telah menjadi pusat negeri ini ... Aku ingin berbagi nasib
dengannya, seperti yang juga dikorbankan oleh jutaan orang lain untuk dirinya
sendiri dengan tetap tinggal di dalam kota ini. Lagipula, aku tidak akan jatuh ke
tangan musuh, yang menginginkan tontonan baru, yang disajikan oleh orang-orang Yahudi, dengan mengalihkan massa histeris mereka. Dengan demikian aku
memutuskan bertahan di Berlin dan memilih kematian secara sukarela pada suatu
saat ketika Fuehrer dan Istana Kanselir tidak dapat lagi dipertahankan: Aku mati
dengan hati penuh kebahagiaan sembari mengingat pengorbanan dan pencapaian
yang tak ternilai dari kaum petani dan buruh kami, serta suatu sumbangan yang
unik dalam sejarah ketika para pemuda kami berjuang demi namaku. (Agustinus
Pambudi, 2005: 139)
Bagian kedua dari Political Testament membahas masalah suksesi. Meski
Reich Ketiga sedang terbakar dan dihuJani bom yang semakin dahsyat, Hitler
tidak dapat berpamitan kepada seisi dunia tanpa menyebut nama penggantinya
dan mendiktekan komposisi rinci pemerintahan yang harus disiapkan oleh
penggantinya. Pertama-tama, Hitler harus menyingkirkan ”putera mahkota”-nya
dari daftar:
”Sebelum kematianku, aku memecat Reich Marshal Hermann
Goering dari partai dan mencabut semua hak yang telah diberikan
kepadanya oleh Dekrit 20 Juni 1941... Sebagai penggantinya aku
menetapkan Laksamana Doenitz sebagai Presiden Reich Ketiga dan
Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jerman.Sebelum kematianku aku
memecat Reichsfuehrer S.S. merangkap Menteri Dalam Negeri,
Heinrich Himmler, dari partai dan dari seluruh jabatannya di
pemerintahan. (Agustinus Pambudi, 2005:142)
Setelah memecat para pengkhianat dan menyebutkan nama
penggantinya, kemudian Hitler memberitahu Doenitz tentang siapa saja yang
harus ia pilih dalam pemerintahan barunya. Menurut Hitler, mereka adalah orangorang terhormat yang akan menunaikan tugas untuk melanjutkan perang dengan
segala cara. Joseph Goebbels harus diangkat menjadi Kanselir, dan Martin
Bormann menjadi ’Menteri Partai’, sebuah pos baru dalam ’kabinet pasca-Hitler'.
(Agustinus Pambudi, 2005:143)
Seyss-Inquart, seorang pengkhianat Austria, menjadi menteri luar negeri.
Sedangkan Albert Speer, sepertinya halnya Joachim von Ribbentrop, dipecat.
Tetapi Pangeran Schwerin von Krosigk, yang telah menjabat menteri keuangan
sejak tahun 1932, tetap dipertahankan pada jabatan itu. Memang, lelaki ini tidak
cukup cerdas, tetapi harus diakui bahwa dia orang yang tangguh dan mampu
bertahan hidup dalam segala situasi. Kemudian Hitler cepat-cepat mendiktekan
wasiat pribadi terakhirnya. Dalam wasiat ini Sang Manusia Penentu Takdir
kembali menampakkan karakteristiknya yang manusiawi sebagai manusia kelas
menengah ke bawah asal Austria. Hitler menjelaskan mengapa akhirnya menikah,
dan mengapa Hitler beserta mempelai wanitanya memutuskan untuk bunuh diri.
Dalam wasiat itu, Hitler mewariskan harta kekayaannya, yang mudah-mudahan
cukup untuk menopang hidup kerabatnya dalam standar kehidupan yang wajar.
(Agustinus Pambudi, 2005:144)
Surat wasiat itu dimanfaatkan Hitler untuk menuliskan alasan-alasan
mengapa ia akhirnya toh menikahi Eva Braun:
Meski selama tahun-tahun perjuangan aku tidak yakin bahwa
aku dapat memenuhi tanggung jawab dari suatu pernikahan, namun
kini, sesaat sebelum akhir hidupku, aku telah memutuskan untuk
mengambil sebagai isteriku, wanita yang setelah bertahun-tahun
menjalin persahabatan sejati, yang telah datang ke kota yang terkepung
ini, berdasarkan kemauannya sendiri untuk berbagi nasib denganku. la
akan menjemput kematiannya bersamaku berdasarkan keinginannya
sendiri sebagai isteriku. Pernikahan ini akan menjadi pengganti bagi
kami berdua atas apa yang telah hilang selama tugas pengabdianku
kepada rakyat. (Agustinus Pambudi, 2005:145)
Third Reich hanya bertahan selama tujuh hari setelah kematian
pendirinya. Saat setelah pukul 22.00 tanggal 1 Mei, pada saat mayat Dr. Goebbles
dan istrinya sedang dibakar di taman Istana Kanselir dan para penghuni bunker
berduyun-duyun meloloskan diri melalui sebuah terowongan bawah tanah di
Berlin. Seperti pada proses, awal pembentukannya, Third Reich mengakhiri
riwayatnya dengan sebuah tipuan. Berita itu jelas bohong, sebab kematian Hitler
tidaklah terjadi sore itu, melainkan sehari sebelumnya. Selain itu, berita. radio
Hamburg tersebut juga mengandung nada-nada propaganda, yang mengingkari
kenyataan, karena menyebutkan Hitler gugur dalam perjuangan hingga hembusan
nafas terakhir. Mereka tidak menyebut-nyebut fakta bahwa Hitler mati karena
bunuh diri. Namun disiarkannya kebohongan seperti itu memang diperlukan
apabila para pewaris tahtanya berkeinginan untuk meneruskan legenda Fuehrer,
dan juga bila mereka ingin memegang kendali atas angkatan bersenjata yang
masih berjuang mempertahankan negeri. Pasti, pasukan Jerman yang sedang
berjuang mati-matian akan merasa dikhianati oleh pemimpinnya sendiri, jika
mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi. (Agustinus Pambudi, 2005:181)
Akhirnya terjadilah yang tak tertahankan itu. Pada tanggal 4 Mei 1945
komando pasukan Jerman di barat laut Jerman, Denmark dan Belanda menyerah
kepada pasukan Jenderal Montgomery. Hari berikutnya, 5 Mei, Angkatan Darat
Grup G pimpinan Kesselring, yang terdiri dari Divisi Pertama dan Ke-19 di sisi
utara Gunung Alpen, juga menyerahkan diri dan dilucuti. Pada hari yang sama,
Laksamana Hans von Friedeburg, Kepala Staf Angkatan Laut Jerman yang baru,
tiba di markas besar Jenderal Eisenhower di Reims untuk merundingkan
penyerahan diri.Tujuan Jerman, seperti yang diperjelas dengan dokumendokumen terakhir OKW, adalah untuk memperpanjang waktu selama beberapa
hari agar memiliki cukup kesempatan memindahkan sebanyak-banyaknya
pasukan dan pengungsi Jerman dari jalur pendudukan pasukan Rusia, sehingga
mereka dapat menyerahkan diri kepada pasukan Sekutu. Namun upaya itu pun
(yang dilakukan untuk menghindari akhir yang lebih buruk), tidak bisa berjalan
secara maksimal. Jenderal Einsenhower mengetahui permainan itu. (Agustinus
Pambudi, 2005:183)
Jenderal Jodl kemudian menyampaikan tuntutan Jenderal Einsenhower
itu kepada Doenitz. Pada pukul 01.30 tanggal 7 Mei, Doenitz dari markas
besarnya yang baru di Flensburg, menghubungi lewat radio jenderal Jerman yang
masih memiliki kekuatan lengkap yang masih bertahan di perbatasan Denmark.
Doenitz memerintahkan jenderal itu menandatangani dokumen penyerahan tanpa
syarat. Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pukul 02.41 dinihari pada
tanggal 7 Mei 1945. Dokumen penyerahan diri Jerman ditandatangani oleh
Jenderal Bedell Smith dari pihak Sekutu, dengan Jenderal Ivan Susloparov
menambahkan tanda tangan sebagai saksi bagi Rusia dan Jenderal Francois Sevez
untuk Perancis. Laksamana Friedeburg dan Jenderal Jodl membubuhkan tanda
tangan untuk Jerman. (Agustinus Pambudi, 2005:184)
Jerman pasca-Hitler adalah Jerman yang lebih baik, walaupun belum
sempurna seperti yang terwujud di penghujung akhir abad 20. Setelah 12 tahun, 4
bulan dan 8 hari, era kegelapan bagi bangsa Jerman berakhir. Ironisnya, era
kegelapan itu berujung pada kesengsaraan lain yang kelak dirasakan oleh bangsa
Jerman selama lebih dari empat dekade. Berlin dibelah dua oleh tembok yang
kokoh, kuat, tanah Jerman dibagi menjadi dua, dan sebagian rakyat Jerman
meneruskan kehidupannya dalam wilayah antidemokrasi-sebelum mereka
dibebaskan oleh reunifikasi yang ditandai runtuhnya tembok Berlin. (Agustinus
Pambudi, 2005:187)
Di bawah kekuasaan Hitler, negara Jerman tumbuh sebagai kekuatan
militer yang luar biasa. Dibawah komando Hitler, pasukan Jerman melakukan
penaklukan-penaklukan yang begitu menakutkan seluruh bangsa lain. Wilayah
pendudukan Jerman dalam masa pemerintahan Nazi mencapai ukuran yang tak
pernah dicapai oleh siapa pun dalam sejarah-bahkan Napoleon Bonaparte. Namun
segalanya berlangsung singkat. Semua kejayaan itu lenyap tak berbekas dalam
waktu yang tidak begitu lama. Jerman kehilangan segalanya, bahkan nyaris
kehilangan kepercayaan diri, walaupun perang telah selesai. Tahun 1945 tidak ada
lagi kekuatan Jerman pada tingkat manapun. Jutaan pasukan darat, tentara AU dan
AL menjadi tawanan perang di tanah mereka sendiri. Jutaan penduduk sipil (dari
kota hingga seluruh pelosok desa) diperintah oleh pasukan-pasukan musuh yang
menang perang. Kepada pasukan asing, penduduk sipil Jerman tidak hanya
bergantung soal hukum dan peraturan. Sepanjang musim panas dan musim dingin
1945 yang sangat menggigit, penduduk sipil juga mendapatkan dari pasukan asing
suplai makanan dan bahan bakar untuk mempertahankan hidup mereka.
(Agustinus Pambudi, 2005:188)
Solusi yang diberikan Sekutu untuk membangun kembali Jerman dari
reruntuhan perang, dapat mempercepat kebangkitan seluruh negeri. Pundak
Jerman tidak diberatkan dengan beban membayar seluruh biaya peperangan,
seperti yang terjadi di tahun 1918. Justru beban penduduk diringankan melalui
skema bantuan untuk merehabilitasi sarana dan prasarana yang hancur akibat
perang. (Agustinus Pambudi, 2005 :189)
6.Dampak Holocaust
a).Mencari Keadilan
Beberapa Nazi kabur ke negara lain, khususnya ke Amerika Selatan.
Adolf Eichman, figur kunci dalam penerapar ”Solusi Akhir”, ditangkap di Buenos
Aires, Argentina, Mei 1960. Eichman ditangkap oleh Kesatuan Keamanan Israel
dan dieksekusi setelah diadili. Hukumannya menandai sekali-kalinya seorang
tahanan dihukum mati di Israel. Pemburu Nazi dan korban selamat Simon
Wiesenthal mengoperasikan sebuah pusat dokumentasi Nazi di Wina. Klaus
barbie. ”penjagal Lyon” ditangkap dan diadili pada 1987. la dijatuhi hukuman
penjara seumur hidup. ”Malaikat kematian”, Dokter Josef Mengele, berhasil
sembunyi dari pemburu Nazi sampai mati tenggelam pada 1979. (Judith Sandeen
Bartel, 2005 hal 38)
Perang Dunia II memberi andil dalam pengembangan hukum
internasional. Sekutu mendapatkan kemenangan, memainkan peran penentu dalam
membawa peradilan terhadap mereka yang diyakini sebagai pihak yang
bertanggung jawab serta pemicu munculnya perang dan juga melakukan banyak
kekejaman. Pada akhir Perang Dunia II, pihak sekutu mengadakan sidang militer
internasional. Sidang militer tersebut bertujuan untuk mengadili mereka yang
melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan serta kejahatan
perdamaian. Pengadilan militer internasional tersebut diadakan pada tanggal 20
November 1945 sampai 1 Oktober 1946 di Nuremberg. Pengadilan yang agenda
utamanya adalah menghukum Jerman yang terutama para petinggi NAZI.
Pengadilan Nuremberg tersebut diadakan atas usulan para pemimpin
aliansi yaitu Roosevelt, Churchill, serta Stanlin. Robert Jackson dari Mahkamah
Agung Amerika Serikat membawa tuntutan dan memperkenalkan untuk pertama
kali dalam sejarah dengan mengajukan tuntutan kejahatan yaitu: malawan
perdamaian (merencanakan, mempersiapkan, memulai dan berperang); kejahatan
perang (pelanggaran atas peraturan umum tentang peperangan); kejahatan
terhadap kemanusiaan (semua kejahatan yang terkait dengan pembunuhan sipil
atau genosida). Pengadilan militer internasional terdiri dari hakim Inggris,
Amerika Serikat, Perancis, dan Rusia. (Stephane Downing,2007:68)
Dalam pengadilan yang menjadi terdakwa utamanya adalah para petinggi
NAZI. Adolf Hitler merupakan pucuk pimpinan NAZI, tentu saja Hitler
merupakan orang terpenting serta orang yang paling bertanggung jawab atas
serangkaian peristiwa sekitar Perang Dunia II. Namun, pada kenyatannya Hitler
beserta isinya yaitu Eva Braun memilih untuk melakukan aksi bunuh diri serta
menyuruh tentara NAZI untuk membakar mayat keduanya. Hal tersebut dilakukan
karena Hitler tidak menginginkan nasibnya sama dengan Mussolini, dimana
mayat Mussolini digantung secara terbalik serta diarak menuju alun-alun untuk
dipertontonkan. Asisten setia Hitler yaitu Paul Joseph Goebbels beserta
keluarganya juga melakukan aksi yang sama yaitu memilih untuk melakukan
bunuh diri. Menurut keluarga Goobbels, setelah kematian Hitler, mereka merasa
kehilangan kepercayaan diri dengan menggunakan dalih kesetiaan serta menolak
untuk berkhianat.
Nasib para petinggi NAZI lainnya yang berhasil selamat diajukan ke
pengadilan Nuremberg. Para petinggi NAZI tersebut antara lain Hermann Wilhem
Goering, Walter Richard Rudolf Hess, Martinn Bormann, serta Heinrich Luitpold
Himmler. Goering ditangkap oleh pasukan sekutu pada tanggal 8 Mei 1945.
Selama proses peradilan, Goering sering malakukan kebohongan pada penuntut
umum. Setelah kematian Hitler serta Gobbels, Goering menjadi orang yang paling
menonjol diantara terdakwa yang lain. Hal ini karena kedudukannya di NAZI
yang paling tinggi diantara terdakwa yang lain. Namun, tindakan yang dilakukan
Goering gagal untuk meyakinkan hakim dan akhirnya Goering dinyatakan
bersalah atas empat tuduhan yaitu konspirasi dalam perang, kejahatan melawan
kedamaian, kejahatan perang, serta melakukan kejahatan peperangan terhadap ras
manusia. Dalam hal tersebut tidak ada pengurangan hukuman atas Goering, dan
hukuman yang dijatuhkan hakim adalah hukuman mati dengan digantung pada
tanggal 15 Oktober 1945. Namun, dua jam sebelum dilaksanakannya eksukusi,
Goering memilih bunuh diri dalam selnya dengan cara menelan pil Sianida. Mayat
Goering dikremasi serta abunya dilarung di Sungai Isair.
Selama Perang Dunia II berlangsung, Walter Richard Rudolf Hess berada
dalam penjara Inggris. Hal ini terjadi akibat misi rahasia yang Hess lakukan.
Ketika Jerman merencanakan penyerbuan terhadap Inggris, Hess sangat tidak
setuju. Hess melakukan kebohongan, dengan mengaku sebagai utusan Hitler. Hess
kemudian melakukan misi rahasia dengan melakukan penerbangan menuju
Inggris serta Skotlandia dengan membawa proposal perdamaian antar kedua
negara. Proposal perdamaian berisi bahwa Jerman dan Hitler hanya ingin
mendapatkan ruang hidup bagi bangsanya serta tidak ada keinginan untuk
menghancurkan persahabatan sesama bangsa Eropa, Jerman akan mengembalikan
semua daerah Eropa yang telah ditaklukkan oleh Jerman kepada pemerintahan
yang sah, tetapi militer-militer Jerman tetap berada di wilayah-wilayah tersebut,
Jerman juga akan membayar semua kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan
oleh Jerman selama perang, dan pemberitahuan kepada Inggris serta Skotlandia
bahwa Jerman akan menyerang Uni Soviet. Usaha yang dilakukan Hess
mengalami kegagalan, Hess dimasukkan kepenjara selain itu akibat tindakannya
Hitler menjadi marah karena merasa telah dikhianati segera mencopot jabatan
Hess dan menyerahkannya kepada Martin Bormann. Baru ketika perang telah
berakhir dan para petinggi NAZI dihadapkan di depan pengadilan perang
Nuremberg, Hess turut diadili serta dijatuhi dengan hukuman seumur hidup.
Rudolf Hess meninggal pada 17 Agustus 1987 dalam usia 92 di kebun Penjara
Spandau. (Luger Ballack,2007:104)
Sedangkan nasib Martin Bormann tidak pernah diketahui oleh
masyarakat dunia. Kabar kematian Bormann ada beberapa versi sehingga
menimbulkan kontroversi. Sejarah mencatat bahwa Bormann di tembak mati oleh
tentara Rusia saat berusaha menerobos kepungan tentara Rusia, dua hari setelah
Hitler bunuh diri. Menurut sopir pribadi Hitler yaitu Erick Kempka, Bormann
terbunuh saat mencoba melintasi barisan pasukan Rusia menggunakan tank dan
tank tersebut berhasil dibakar oleh pasukan Rusia. Namun, kesaksian tersebut
dibantah oleh ahli sejarahwan karena pada saat itu Erick mengalami cidera yang
mengakibatkan kebutaan. Kesaksian yang lain yaitu Pemimpin Organisasi
Kepemudaan Hitler yaitu Arthur Axmann mengaku telah melihat Bormann
melakukan bunuh diri dengan menelan pil Sianidapada 2 Mei 1945 di
Invalidenstrasse, bagian Utara Sungai Spree, Berlin.laporan lainnya mengenai
kehadiran Bormann di sebuah biara di Italia Utara pada tahun 1946. Bormann
datang ke biara untuk menghadiri pemakaman istrinya yaitu Gerda. Akibat
banyaknya informasi yang menjadi kontroversi maka pengadilan Nuremberg pada
tanggal 1 Oktober 1946 menjatuhkan hukuman mati kepada Bormann. Meskipun
tanpa kehadiran Bormann pada persidangan tersebut. (Luger Ballack,2007:144)
Himmler pada masa tugasnya melakukan pengkhianatan kepada Hitler
sehingga memaksa Hitler untuk mencopot jabatannya. Kondisi serta statusnya
yang telah terhimpit mengharuskan Himmler untuk lari ke Flensburg, dengan
membuat identitas palsu.namun seseorang dari unit pasukan Inggris mencurigai
Himmler, hal ini karena dokumen-dokumen terlihat janggal serta tidak sesuai
dengan biasanya. Pada tanggal 22 Mei 1945 Himmler ditangkap oleh Sersan
Arthur Britton dari pasukan Inggris di Bremen dan diajukan dalam pengadilan
militer Nuremburg. Himmler di penjara di Luneburg, dalam selnya Himmler
memutuskan
untuk
bunuh
diri
dengan
menelan
pil
Sianida.
(Luger
Ballack,2007:165)
Pengadilan putaran kedua dikenal sebagai Subsequent Nuremberg
Proceedings, diadakan oleh Pengadilan Militer Amerika Serikat. Pengadilan
tersebut mengadili 185 terdakwa yang dibagi menjadi 12 kelompok. Ini meliputi
para dokter NAZI, anggota Einsatzgruppen, para [etugas kamp, hakim Jerman,
para jenderal, juga pimpinan utama perusahaan Jerman yang telah memakai
tenaga kerja budak, perusahaan yang dibangun untuk melakukan kerja paksa atau
memproduksi serta menjual gas Zyklon-B. seperti pada pengadilan pertama
pembelaan pada umumnya para terdakwa mengatakan bahwa mereka hanya
mengikuti perintah. Meskipun demikian ada beberapa vonis hukuman mati serta
hukuman penjara, juga terdapat pembebasan dari tuduhan.
Setelah itu badan pendudukan Aliansi terus mengadili anggota NAZI.
Secara keseluruhan terdapat 5.025 penjahat NAZI dihukum antara tahun 19451949 di Amerika Serikat, Inggris, serta Perancis seperti halnya mereka yang
diadili di Soviet. Komisi Kejahatan Perang Perserikatan Bangsa-Bangsa juga
menyiapkan daftar para penjahat perang yang kemudian diadili di negara-negara
Aliansi juga negara-negara yang tadinya di bawah pendudukan NAZI. Pengadilan
Polandia telah mengadili kurang lebih 40.000 penjahat perang NAZI. Pengadilan
Jerman mulai berfungsi sejak tahun 1945. pada pengadilan 1958 Jerman Barat
membentuk agen khusus di Ludwigsburg untuk menopang penyelidikan kejahatan
perang dan menyiapkan gugatan untuk pengadilan. Mulai 1989 kurang lebih
105.000 warga Jerman telah diselidiki serta lebih dari 6.000 telah dihukum.
Kehormatan khusus hendaknya diberikan pada Simon Wiesenthal.
Simon
Wiesenthal lahir di Buczacz, Ukraina, saat tentara NAZI menyerang Soviet ia dan
istrinya dikirim ke beberapa kamp kerja paksa. Setelah 1942, saat Solusi Akhir
diterapkan, Wiesenthal selamat dari beberapa kamp pembantaian di Mauthausen,
Wiesenthal dibebaskan saat ia akan menjalani hukuman mati. Setelah perang,
Wiesenthal bekerja keras untuk mengumpulkan informasi untuk menghukum para
penjahat perang. Setelah pengadilan Nuremberg, Wiesenthal menjadi pemburu
NAZI dan berjasa dalam membawa banyak penjahat perang untuk diadili,
termasuk Adolf Eichmann. Wiesenthal adalah seorang penulis dan juga pendiri
Simon Wiesenthal Centre dan Museum of Tolerance.
Setelah Blokade tahun 1948 yang membuat Jerman lebih kuat dan untuk
kepentingan geo-politik Amerika Serikat, dewan grasi dibentuk untuk
memberikan keringanan kepada banyak pendukung NAZI yang menjadi terdakwa.
Hanya dalam beberapa tahun saja, hukuman tersebut diperingan, ampunan
diberikan, serta narapidana diberi kesempatan untuk berbuat baik. Mulai 1951
sebuah amnesti umum diberikan, 77 narapidana NAZI dibebaskan. Industriawan
Alfred Krupp adalah salah satu diantara para tahanan yang dibebaskan.
Kekayaannya
dikembalikan
serta
ia
dikembalikan
sebagai
pemimpin
perusahaannya yang telah mendapat keuntungan besar dari tenaga kerja budak.
Hanya lima orang tetap dihukum mati, yang semua itu telah berpartisipasi secara
langsung dalam pembunuhan massal. Beberapa pemimpin NAZI yang dibebaskan
atau melarikan diri mengambil identitas baru di Jerman, Austria, Amerika Serikat
atau negara-negara Arab. Banyak yang terlibat untuk membantu mengatasi
masalah tersebut antara lain institusi serta organisasi yang meliputi ODESSA
(organisasi mantan SS), gereja katolik, bahkan agen imteligen yang ingin
menggunakan keahlian militer serta ilmiah mereka dalam perang melawan
komunisme dahulu.
Adolf Eichmann yang merupakan pegai SS yang bertanggung jawab atas
deportasi orang Yahudi, tersebut melarikan diri ke Argentina sampai tahun 1960.
setelah itu Eichmann diculik oleh agen Israel serta dibawa ke pengadilan.
Eichmann diputuskan bersalah dan digantung. (Stephane Downing,2007:67-73)
b)Memulai Hidup Baru
Setelah perayaan dan kesadaran bahwa mereka bebas, korban selamat
menghadapi tugas untuk kembali dalam kehidupan nyata. Dengan perasaan
campur baur, beberapa orang mencari sanak keluarga, yang sebagian besar telah
tewas. Beberapa kembali ke ”rumah” mereka yang telah hancur selama perang.
Dalam tahun yang sama, Amerika Serikat menandatangani Perundangan
Penempatan Warga 1948. Perundangan ini mengurangi pembatasan terhadap
imigran, tapi juga memuat sentimen antisemit yang kuat dan membatasi jumlah
Yahudi yang diijinkan untuk berimigrasi. Kamp-kamp Penempatan dibuat untuk
membantu korban selamat bersatu kembali dengan keluarga dan teman, dan
beradaptasi dengan masyarakat. Di sana, orang-orang menunggu untuk diterima di
negara-negara seperti Amerika Serikat dan Palestina berdasarkan mandat Inggris.
Di bawah pengawasan Inggris, hanya sedikit orang yang diijinkan masuk ke
Palestina tanpa dokumen yang benar. (Judith Sandeen Bartel, 2005 hal 36)
c)Lahirnya Negara Baru
Untuk mengakhiri skandal penanganan korban selamat ini, pada 1947
Komisi Khusus Palestina Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNSCOP) menyarankan
agar Palestina dibagi meniadi negara Arab dan Yahudi. Para Yahudi menerima
pembagian ini, namun bangsa Arab menolaknya. (Judith Sandeen Bartel, 2005 hal
36)
Rencana tersebut diadopsi pada 29 November 1947, sebagian besar karena
dukungan Harry S. Truman. Tidak lama kemudian menjadi jelas bahwa rencana
ini tidak akan berhasil. Bangsa Arab menyatakan perang untuk menyingkirkan
Yahudi dari Palestine. Pada akhir 1948, garis-garis gencatan senjata dengan resmi
dibentuk. Kota Suci Yerusalem dibagi atas bagian Israel (barat) dan bagian yang
dikendalikan oleh Yordania (timur). Bagian Yordania mencakup kota tua
bertembok yang memiliki beberapa lokasi religius penting Yahudi, Muslim, dan
Kristen. (Judith Sandeen Bartel, 2005 hal 37)
Pada 1978 Presiden Amerika Serikat jimmy Carter mengumumkan
pembentukan Komisi Presiden untuk Holocaust. Salah satu tujuannya adalah
membuat sebuah memorial bagi korban jiwa dan selamat Holocaust. Pada 1993,
Museum Memoria Holocaust Amerika Serikat dibuka di Raoul Wallenberg Place
di Washington D.C. Museum meliputi beberapa pameran permanen termasuk
Remember the Children: Daniel’s Story and the Holocaust, yang berada di tiga
lantai. Gedung itu juga memuat perpustakaan penelitian, dua teater, sebuah
Tembok Kenangan, dan sebuah tempat untuk mengenang kembali, The Hall of
Remembrance. (Judith Sandeen Bartel, 2005 hal 38)
d)Yad Vashem
Dibentuk di Yerusalem pada 1953. Yad vashem adalah Kewenangan
Pengenangan Martir dan Pahlawan Holocaust. Merupakan memorial rakyat
Yahudi bagi mereka yang dibunuh oleh Nazi. Yad Vashem adalah arsip terbesar
di dunia tentang informasi Holocaust – lebih dari 63 juta halaman dokumenter,
hampir 300.000 foto, ribuan film, dan kesaksian korban selamat. Yad Vashem
juga mencakup beberapa museum, sejumlah memorial, dan sebuah Institut Studi
Holocaust Internasional. (Judith Sandeen Bartel, 2005 hal 38)
e)Kompensasi dan Perbaikan terhadap Holocaust
Pada tahun berikutnya setelah Perang Dunia II berakhir, sebagian
kekayaan, uang kontan, dan aset-aset lain milik Yahudi yang dirampas oleh Nazi
dikembalikan kepada para korban Holocaust atau ahli waris mereka, atau ketika
tidak ada korban atau ahli warisnya, diserahkan kepada organisasi amal Yahudi.
Banyak orang Yahudi mengklaim bahwa jumlah yang dikembalikan itu tidak
sama jumlahnya dengan yang telah hilang, dan tidak ada cara untuk menghitung
ukuran, ekonomi atau yang lainnya, atas penderitaan dan kehilangan kehidupan
yang mereka alami. Banyak peneliti mencatat bahwa tidak ada ganti rugi yang
bisa dipersamakan nilainya dengan siksaan dan cobaan berat yang dialami orang
Yahudi Eropa selama Holocaust. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007
hal 98)
Pada awal tahun 1950-an, negosiator bagi pemerintahan jerman Barat
dan negara Israel, dan juga wakil dari Konferensi Klaim Kekayaan Yahudi
terhadap Jerman (sebuah kelompok yang memayungi 22 organisasi Yahudi),
setuju bahwa kekayaan yang hilang akan menjadi dasar kompensasi satu-satunya.
Kekayaan yang hilang ini diperkirakan berjumlah $14 miliar. Sebagai akibat dari
persetujuan dengan Konferensi Klaim Kekayaan Material dart negara Israel,
pemerintahan Jerman Barat mengundang-undangkan Hukum Jaminan Kekayaan
yang Hilang Federal Jerman pada tahun 1952. Menurut hukum ini, Jerman Barat
mengabulkan untuk memberikan barang-barang yang bernilai kira-kira $720 juta
kepada Israel selama periode 12 tahun dan membayar sekitar $100 juta untuk
rekonstruksi komunitas Yahudi di Eropa. Pembayaran tambahan diberlakukan
bagi buruh budak Yahudi. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 98)
Setelah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur pada tahun 1990,
klaim konferensi dan Organisasi Restitusi Yahudi Dunia mulai bernegosiasi
dengan bank Swiss, agen-agen asuransi, dan industri-industri Jerman, untuk
membentuk sebuah program kompensasi tambahan bagi korban selamat dari
peristiwa Holocaust tersebut. Negosiasi-negosiasi tersebut bertujuan untuk
mengembalikan harta kekayaan kaum Yahudi yang telah diambil alih atau dijual
secara paksa selama tahun-tahun rezim Nazi. (George Sanford, Gerhard L,
Weinberg, 2007 hal 98)
Berbagai negosiasi juga berhasil menciptakan undang-undang legislasi
restitusi di negara-negara Eropa berkenaan dengan rekening bank yang dirampas,
dicuri di kamp-kamp, dan kerja seni yang dirampas. Selain itu, pada Agustus
1998, sekitar $1,25 miliar penyelesaian dengan bank Swiss dicapai. Kesepakatan
itu bisa memberikan dana bagi korban selamat Holocaust untuk mengganti harta
dan aset-aset mereka yang dirampas yang bisa dilacak di bank-bank Swiss atau
memberikan lapangan kerja di perusahaan-perusahaan milik Swiss bagi budak dan
buruh Yahudi atau bagi perusahaan yang telah mendepositokan aset-asetnya di
Switzerland. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 99)
f)Aksi-Aksi Gereja
Pada tahun 1960-an, atas inisiatif Paus John XXIII, Dewan Vatikan
Kedua melontarkan deklarasi Nostra Aetate (Di Masa Kita) yang di dalamnya
menyatakan ”Menyesali kebencian, penyiksaan dan penampakan anti-Semitisme
yang diarahkan terhadap kaun Yahudi”. Pada tahun 1990-an, konfetensi uskupuskup Katolik d Hungaria, Jerman, Polandia, dan Prancis mengambil resolusi
yang berisi celaan terhadap ajaran anti-Semit dan atas kebungkaman Gereja
Katolik selama peristiwa Holocaust. Pada Maret 1998, d bawah Paus John Paul II,
Vatikan mengeluarkan pernyataan ”Kita Ingat: Sebuah Refleksi terhadap Shoah,”
yang secara terbuka meminta permohonan maaf atas kejahatan dan kesalahan
yang dilakukan atas nama gereja. Pada Maret 2000, John Paul II mengunjungi
Yad Vashem, sebuah tempat memorial Holocaust di Jerusalem, untuk
memberikan penghormatan terhadap jutaan orang Yahudi yang dibunuh dalam
peristiwa Holocaust. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 99)
Berbagai pernyataan yang dibuat oleh Gereja Katolik pada tahun 1990an menunjukkan bahwa gereja menolak terbebani tanggung jawab sejarah atas
peran penganiayaan anti-Semit yang dimainkan selama Perang Dunia. II. Namun,
dengan mencela anti-Semitisme, yang mengekspresikan penyesalan atas
Holocaust, dan meminta maaf atas kebungkaman umat Kristen yang menyaksikan
pembunuhan massal tersebut, pernyataan-pernyataan yang dibuat gereja di akhir
abad ke-20 menguraikan dasar baru dalam memperbaiki hubungan dan dalam
perang melawan prasangka. Permulaan tahun 1970-an, sebuah perubahan serupa
dilakukan di gereja-gereja Protestan Jerman. Banyak teolog Jerman yang mencela
tradisi anti-Yahudi pads gereja-gereja Protestan dan mengakui kegagalan mereka
untuk bertindak selama Holocaust. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007
hal 100)
g)Tugu Peringatan Holocaust
Berbagai tugu peringatan dan museum yang berkenaan dengan
Holocaust dibangun di seluruh dunia. Di Jerman dan negara-negara Eropa yang
berada di bawah penjajahan Nazi, di berbagai bekas kamp konsentrasi dan pusatpusat pembunuhan telah diubah menjadi museum dan tugu peringatan. Di negaranegara yang tidak terlibat dengan peristiwa Holocaust tersebut, pemerintah dan
organisasi-organisasi yang didirikan para korban Holocaust, juga turut serta dalam
mendirikan tugu peringatan dan juga museum. Di antara mereka adalah di Yad
Vashem, Sumber Kenangan Para Martir dan Pahlawan Holocaust (the Holocaust
Martyrs’ and Heroes’ Remembrance Authority), yang dibangun padsa tahun 1953
di Jerusalem oleh sebuah aksi parlemen Israel untuk menghormati kaum Yahudi
yang dibunuh oleh Nazi. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 100)
Di Amerika Serikat sendiri dibangun dua museum yang dibuka pada
tahun 1993: the United States Holocaust Memorial Museum yang terletak di
Washington, D.C., yang didedikasikan untuk menghadirkan sejarah Holocaust,
dan the Museum of Tolerance yang terletak di Los Angeles, California, yang
didedikasikan untuk menentang prasangka, intoleransi, kekerasan atas hak-hak
asasi manusia, dan juga pembunuhan massal.
h)Ilmuwan Holocaust
Para ilmuwan mulai melakukan investigasi sistematis terhadap
Holocaust pada tahun 1960-an. Kajian tentang peran anti-Semitisne dalam
ideologi Nazi, munculnya Nazi ke tampuk kekuasaan, dan struktur rezim Nazi
dipublikasikan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Ilmuwan holocaust pada tahun
1980-an dikarakterisasi oleh sebuah perdebatan di antara yang disebut kaum
intensionalis, yang mempertahankan pendapat seputar Nazi yang meluncurkan
program ”solusi akhir” dengan sistem ujicoba (trial and error).
Pada tahun 1990-an, fokusnya berganti menuju berbagai motivasi
pelaku dan memori Para korban serta reprsentasi holocaust itu sendiri.
Pertanyaan
tentang keunikan
dan
universalitas
Holocaust
serta politik
pembunuhan massal menjadi fokus utama penelitian oleh Para ilmuwan pada saat
abad ke-21 mulai menampakkan batang hidungnya. Para ilmuwan ini menggali
berbagai pemasalahan seperti, apakah ada perbedaan antara pembunuhan massal
secara umum dengan Holocaust; apakah korban-korban Nazi yang lain juga
adalah korban Holocaust, dan apakah ada perbedaan di antara kebijakan Nazi
terhadap kaum Yahudi dengan kebijakan-kebijakan mereka terbadap korbankorban yang lain. (George Sanford, Gerhard L, Weinberg, 2007 hal 101)
Download