3.1. Gambaran Umum Sistem

advertisement
BAB 3
PERANCANGAN SISTEM
Gambaran Umum Sistem
Sistem ini terdiri dari 2 bagian besar, yaitu, sistem untuk bagian dari panel
surya ke baterai dan sistem untuk bagian dari baterai ke lampu jalan. Blok
diagram untuk sistem ini ditunjukkan pada gambar 3.1 berikut ini:
DC-DC Converter
Battery
PWM
Solar Panel
V
V
I
uC
I
Street Light
DC-DC Converter
Relay
PWM
3.1.
uC
I
Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem
Sistem Charge Controller
Panel surya yang digunakan adalah panel surya yang diproduksi oleh PT.
Swadaya Prima Utama. Panel surya ini dapat menghasilkan daya sampai
dengan 52.717 W. Spesifikasi dari panel surya yang digunakan dapat dilihat
pada gambar 3.2 berikut ini:
63
64
Gambar 3.2 Spesifikasi Panel Surya
Topologi DC-DC converter yang digunakan adalah buck+boost converter, di
mana DC-DC converter ini berfungsi untuk menaikkan (step-up) atau
menurunkan (step-down) tegangan input yang diterimanya dari panel surya
sesuai dengan tegangan dan arus yang dibutuhkan oleh baterai. Naik atau
turunnya tegangan output dari converter ini diatur melalui duty cycle yang
diberikan terhadapnya. Untuk menghasilkan daya yang maksimum dari panel
surya, maka panel surya harus dioperasikan pada titik MPP seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.6. Dengan menggunakan salah satu algoritma
MPPT, maka titik MPP ini akan tercapai. Penulis menggunakan algoritma
65
Perturb & Observe (P&O) (Faranda & Leva, 2008) untuk mendapatkan titik
MPP ini. Algoritma P&O bekerja dengan cara membandingkan nilai daya
yang didapatkan sekarang dengan nilai daya yang didapatkan sebelumnya.
Daya yang diukur adalah daya input sehingga diperlukan sensing arus input
dan tegangan input oleh kontroler. Dengan membandingkan nilai daya ini,
maka nilai duty cycle dari converter akan diubah sedemikian rupa untuk
mendapatkan titik MPP.
Sensing tegangan output digunakan untuk mengetahui apakah baterai sudah
terisi penuh atau belum.
Sistem LED Driver
Di antara baterai dan DC-DC Converter lampu jalan terdapat sebuah relay, di
mana relay ini digunakan untuk memutuskan atau menyambungkan baterai
dengan lampu jalan. Pemutusan atau penyambungan ini didasarkan kepada
apakah hari sudah malam atau belum dan dilakukan oleh kontroler yang
terdapat pada sistem charge controller (kontroler ini mendeteksinya dari
tegangan dan arus diukurnya dari panel surya).
Topologi DC-DC converter yang digunakan pada bagian ini adalah boost
converter. Converter ini berfungsi untuk menaikkan (step-up) tegangan
baterai menjadi tegangan yang lebih tinggi, di mana tegangan yang lebih
tinggi ini digunakan untuk menyalakan lampu jalan. Tegangan output ini
diatur berdasarkan duty cycle yang diberikan kepada converter. Penulis
menggunakan LED sebagai lampu jalan (OSRAM, 2009). LED ini disusun
menjadi 3 string yang masing-masing string-nya terdiri dari 5 buah LED
dengan arus di tiap string-nya adalah 350 mA.
66
3.2.
Perancangan Perangkat Keras
3.2.1. Perancangan DC-DC Converter untuk Charge Controller
Pada bagian charge controller, DC-DC Converter yang digunakan adalah
buck+boost converter. Buck+boost converter yang digunakan merupakan
gabungan dari buck converter dengan boost converter.
Perancangan Buck Converter
Tegangan input dan tegangan output dari buck converter ini secara berturutturut adalah 15V sampai 21V dan 14V. Berikut ini merupakan cara penulis
merancang buck converter yang mengacu kepada dasar teori pada BAB 2:
Nilai kapasitor output yang dipilih sepuluh kali lebih besar dari perhitungan
di atas sehingga:
67
Perhitungan di atas dilakukan dengan asumsi bahwa tegangan yang jatuh
pada
dan diode diabaikan. Dari perhitungan di atas, dapat
disimpulkan bahwa nilai L, C dan frekuensi berturut-turut adalah
,
, dan 150 kHz.
Perancangan Boost Converter
Tegangan input dan tegangan output dari boost converter ini secara berturutturut adalah 1V sampai 13V dan 14V. Untuk arus maksimum yang mungkin
dihasilkan adalah 3.57 A. Berikut ini merupakan cara penulis merancang
boost converter yang mengacu kepada dasar teori pada BAB 2:
68
Perhitungan di atas dilakukan dengan asumsi bahwa tegangan yang jatuh
pada
dan diode diabaikan. Dari perhitungan di atas, dapat
disimpulkan bahwa nilai L, C dan frekuensi berturut-turut adalah
,
100uF dan 150 kHz.
Berikut ini merupakan skematik dari buck+boost converter yang telah
dirancang berdasarkan perhitungan di atas:
Gambar 3.3 Rangkaian Buck+boost Converter untuk Charge Controller
Modul IR2184 MOSFET Gate Driver:
69
Gambar 3.4 Rangkaian MOSFET Driver untuk Charge Controller
Penjelasan IC MAX4378
Penulis menggunakan IC MAX4378 sebagai IC sense arus pada input dan
output converter. Cara kerja dari IC ini seperti yang sudah dijelaskan pada
BAB 2. Output dari IC ini berupa tegangan yang dihubungkan dengan pin
ADC kontroler. Arus output yang di-sense adalah arus yang mengalir ke
baterai setelah arus tersebut dikurangi dengan arus yang mengalir ke
rangkaian internal lainnya, seperti, IR2184, MAX4378, dan kontroler. Jadi,
nantinya daya output total yang didapatkan adalah daya dari keseluruhan
sistem.
Berikut ini merupakan skematik dari MAX4378:
70
Gambar 3.5 Rangkaian MAX4378 Current Sense
3.2.2. Perancangan DC-DC Converter untuk LED Driver
Pada bagian LED driver, DC-DC converter yang digunakan adalah boost
converter. Tegangan input dan tegangan output dari boost converter ini
secara berturut-turut adalah 11V sampai 14V dan 16V. Untuk arus output
yang dihasilkan adalah 1.05 A. Berikut ini merupakan cara penulis
merancang boost converter yang mengacu kepada dasar teori pada BAB 2:
71
Perhitungan di atas dilakukan dengan asumsi bahwa tegangan yang jatuh
pada
dan diode diabaikan. Dari perhitungan di atas, dapat
disimpulkan bahwa nilai L, C dan frekuensi berturut-turut adalah
,
330uF dan 150 kHz
Berikut ini merupakan skematik dari boost converter yang telah dirancang
berdasarkan perhitungan di atas:
Gambar 3.6 Rangkaian Boost Converter untuk LED Driver
Input pada boost converter ini didapat melalui “Power_1” ke induktor.
Sedangkan “OUT_DRIVER” terhubung ke output dari MOSFET driver
(IR2184) bagian output low-side-nya. Sedangkan output boost converter-nya
72
“BOOST_OUT” yang terhubung ke lampu. Berikut skematik dari MOSFET
driver yang digunakan untuk boost converter baterai ke LED:
Gambar 3.7 Rangkaian MOSFET Driver untuk LED Driver
MOSFET Driver diatas input-nya diambil dari “PWM” dimana terhubung ke
pin kontroler. Sedangkan output low-side nya terhubung ke gate dari
MOSFET.
3.2.3. Perancangan Modul Kontroler untuk Charge Controller
Perancangan Modul Kontroler
Berikut skematik dari modul kontroler yang digunakan pada buck+boost
converter :
Gambar 3.8 Rangkaian Kontroler untuk Charge Controller
73
Pada kontroler di atas, pin PA4 sampai dengan PA7 digunakan untuk ADC
(ADC3 – ADC6) tegangan, arus input dan juga tegangan, arus output).
Kemudian Pin PA0-PA3 digunakan untuk jalur data ke LCD. Pin PB1 dan
PB3 digunakan untuk menghasilkan PWM yang akan terhubung ke buck
boost converter. Pin PB0 dan PB2 terhubung ke LCD dimana PB0 digunakan
sebagai enable dan PB2 digunakan sebagai RS.
ATTiny461 diatas
menggunakan sumber clock (XTAL) eksternal yang terhubung ke PB4 dan
PB5. PB6 akan terhubung relay. Pin PB7 dihubungkan ke push button
sebagai tombol reset. P3 (header 10 pin) untuk penghubung ke LCD.
Resistor Sensing
Untuk sense tegangan maka digunakan pembagi tegangan. Berikut skematik
dari pembagi tegangan untuk sense tegangan:
Gambar 3.9 Rangkaian Resistor Sense untuk Charge Controller
Resistor R2 dan R4 digunakan pembagi tegangan untuk sense Vin, dimana
akan dihubungkan ke PA5. Nilai resistor ditentukan dengan asumsi bahwa
Tegangan input maksimal adalah 25 V maka tegangan yang jatuh di R4
maksimal adalah 5V. Sedangkan resistor R3 dan R5 digunakan untuk sense
74
tegangan output. Sama halnya dengan nilai resistor pada Vin, nilai resistor
pada Vout di-design, sehinga nilai yang jatuh pada R5 tidak melebihi 5V.
Sedangakan Pin ADC untuk arus input dan output (PB2 dan PB4) terhubung
langsung dengan IC sense current yang ada pada buck+boost converter.
Relay
Relay digunakan untuk mengatur nyalanya boost converter dengan
memutuskan atau menyambung jalur baterai ke boost converter. Berikut
skematik dari relay:
Gambar 3.10 Rangkaian Relay
Input untuk mengatur relay akan terhubung ke “RELAY” atau terhubung ke
pin PB6. Sedangkan untuk menghubungkan output relay ke boost converter
menggunakan terminal block (H3).
3.2.4. Perancangan Modul LED Driver
Perancangan Modul Kontroler
Berikut skematik dari modul kontroler yang digunakan pada boost controller:
75
Gambar 3.11 Rangkaian Kontroler untuk LED Driver
Kontroler pada modul LED driver, hanya membutuhkan input berupa arus
pada satu string. Untuk sense arus pada satu string, maka ADC digunakan
untuk sense tersebut adalah mode differential yaitu pin PA0 dan PA1. Cara
pengukuran arus dengan menggunakan metode low-side, sehingga PA0 akan
dihubungkan resistor sense, sedangkan PA1 dihubungkan ke ground. PA2
dan PA3 digunakan untuk LCD, yaitu sebagai enable dan RS. PA4 sampai
dengan PA7 digunakan sebagai pin data ke LCD. Pin PB3 digunakan untuk
menghasilkan PWM yang akan dihubungkan ke input MOSFET driver boost
controller. Kemudian PB4 dan PB5 digunakan sebagai input XTAL. Dan
PB6 dan PB7 masing masing terhubung ke push button.
Resistor Sense
Berikut skematik dari Resitor sense yang digunakan.
76
Gambar 3.12 Rangkaian Resistor Sense untuk LED Driver
Nilai resistor yang digunakan adalah 1 ohm. Dan untuk tiap string
dihubungkan ke dua buah resistor yang saling di-paralel-kan.
3.2.5. Perancangan Step-Up Regulator LM2577
LM2577 merupakan IC step-up regulator yang dalam hal ini digunakan
untuk menghasilkan tegangan output sebesar 24 V. Tegangan output dari
regulator ini akan dihubungkan pada kaki VB dan VCC IC MOSFET driver
IR2184 yang men-drive MOSFET high-side. Mengapa penulis tidak
menggunakan baterai sebagai sumber tegangan VB dan VCC IC MOSFET
driver IR2184? Hal ini dikarenakan IC MOSFET driver IR2184
membutuhkan tegangan minimal sebesar 10 V diantara kaki VB dan VS, di
mana kaki VB dihubungkan dengan output dari LM2577 dan kaki VS
dihubungkan dengan induktor yang tegangannya sama dengan tegangan dari
baterai sehingga perbedaan tegangan minimal yang terdapat pada pin VB dan
VS ketika kondisi baterai full (sekitar 14 V) adalah 24 V - 14 V = 10 V dan
tegangan minimal VB - VS masih terpenuhi.
Berikut ini merupakan rangkaian dari LM2577 yang penulis gunakan:
77
Gambar 3.13 Rangkaian LM2577 Step-Up Regulator
3.3.
Perancangan Perangkat Lunak
3.3.1
Perancangan Modul Kontroler untuk Buck+Boost Converter
Di bawah ini adalah flowchart program yang dipergunakan untuk mengendalikan
buck+boost converter:
START
Initialization
Delay
Update sense
value
Update Buck/
Boost mode
Charge Baterai
Update Duty Cycle
Gambar 3.14 Flowchart Kontroler untuk Charge Controller
78
Untuk mengupdate duty cycle ke pin output dari kontroler, dibutuhkan sebuah
mekanisme khusus karena nilai dari duty cycle yang hendak diisi adalah 10bit
sedangkan OCR yang digunakan sebagai pembanding, hanya berkapasitas sebesar
8bit. Variabel D digunakan sebagai penyimpan untuk nilai duty cycle. Nilai D baru
akan di-update dan dikeluarkan melalui pin output dari AVR ketika proses “Update
Duty Cycle” terjadi di mana terjadi mekanisme pengisian nilai OCR 10bit
menggunakan bantuan register TC1H. Cara pengisian OCR 10bit dapat dilihat pada
datasheet.
Proses ‘Delay” dilakukan agar komponen-komponen analog pada rangkaian dapat
merespon nilai duty cycle yang baru diterapkan. Setelah proses delay dilakukan, baru
kita mengambil data ADC, antara lain tegangan dan arus dari panel surya (Vin dan
Iin dari DC-DC converter), serta tegangan dan arus baterai (Vout dan Iout dari DCDC converter). Pada bagian inisialisasi terdapat pengesetan nilai awal untuk duty
cycle sehingga proses delay dibutuhkan setelah inisialisasi dilakukan.
Setelah itu, penentuan mode Buck atau mode Boost dilakukan. Flowchart dari
penentuan mode ini dijelaskan pada bagian 3.3.2 . Setelah itu, algoritma untuk
charging baterai dilakukan. Proses charging baterai dibuat berdasarkan 3 fase
charging baterai yang telah dijelaskan pada bagian dasar teori. Pada bagian inilah
algoritma MPPT diimplementasikan. Flowchart dari algoritma charging baterai dan
algoritma MPPT ini berturut-turut dijelaskan pada bagian 3.3.3 dan 3.3.4. Algoritma
MPPT dipergunakan untuk menentukan arah dari maximum power. Penambahan atau
pengurangan duty cycle terjadi setelah algoritma charging baterai ini dilakukan.
79
3.3.2
Update Buck+boost Mode
Di bawah ini adalah flowchart dari algoritma untuk menentukan mode buck atau
mode boost:
START
Vout < Vin
No
Vout > Vin
Yes
Yes
bb == BOOST
bb == BUCK
Yes
Yes
bb = BUCK
bb = BOOST
No
PWM buck = on,
PWM boost = off
No
No
PWM buck = off,
PWM boost = on
END
Gambar 3.15 Flowchart Update Mode Buck+boost
Dari algoritma diatas, dapat kita lihat bahwa penentuan dilakukan menggunakan
parameter Vin dan Vout. Bila Vout lebih kecil dibandingkan Vin, maka mode yang
disimpan dalam variabel bb harus diubah menjadi mode buck. Bila mode bb sekarang
adalah boost dan seharusnya buck, maka pengubahan nilai bb akan dilakukan setelah
itu setting PWM dari register-register yang bersangkutan dilakukan. Bila bb sudah
buck (atau bukan boost), maka program akan langsung keluar. Demikian pula yang
terjadi ketika Vout lebih besar dari Vin. Bila hasil sensing menyatakan bahwa Vout
sama dengan Vin, maka mode tidak diubah.
3.3.3
Charging Baterai
Di bawah ini adalah flowchart dari algoritma untuk charging baterai:
80
START
Vout < 11V
Yes
stateOfCharge =
TRICKLE
Iout < 0.5A
No
Vout < 13.8V
Yes
stateOfCharge =
BULK
No
Iout > 0.5A
Yes
Yes
MPPT
Decrease Iout
No
No
stateOfCharge =
FLOATING
Vout > last_Vout
MPPT
No
Vout < last_Vout
Yes
Yes
Decrease Iout
Increase Iout
No
END
Gambar 3.16 Flowchart Charging Baterai
Pada bagian dasar teori telah dijelaskan tentang cara mengisi baterai, yaitu adanya 3
fase atau state of charge. Fase pertama yang disebut juga fase trickle harus dilakukan
ketika tegangan baterai dibawah 11V. Pada fase ini, arus charging baterai maksimal
adalah 0,5A. Algoritma MPPT digunakan bila arus yang masuk ke baterai di bawah
0,5A. Fase kedua yang disebut juga fase bulk dilakukan ketika tegangan baterai
berada diantara 11V dan 13,8V. Pada fase bulk, diharapkan daya dari panel surya
ditransfer secara maksimal ke baterai menggunakan algoritma MPPT Perturb and
Observe. Fase yang terakhir adalah fase floating dimana tegangan baterai dijaga
tetap konstan.
3.3.4
MPPT Algorithm
Di bawah ini adalah flowchart dari algoritma MPPT yaitu Perturb and Observe:
81
START
Pin < last_Pin
Yes
toggle
No
END
Gambar 3.17 Flowchart MPPT Perturb and Observe (P&O)
Algoritma MPPT ini digunakan untuk menentukan arah (direction) dari duty cycle
mengikuti kurva karakteristik dari panel surya (daya maksimum yang hendak dicari
adalah daya maksimum dari panel surya). Grafik panel surya dapat dilihat pada
gambar 2.6. Ketika DC-DC converter sedang berada pada bagian kiri dari grafik
panel surya, maka direction akan diarahkan ke kanan (direction sama dengan ‘R’).
Penambahan duty cycle akan menyebabkan daya input yang didapat akan menjadi
lebih besar dibandingkan daya input yang sebelumnya sehingga direction tidak
diubah. Bila penambahan duty cycle terjadi ketika nilai duty cycle telah berada pada
MPP, maka daya input turun sehingga Pin < last_Pin menjadi terpenuhi. Ketika
penurunan daya terdeteksi, maka direction akan diubah dari fungsi toggle. Ketika
toggle, maka daya input akan kembali lebih besar dibandingkan dengan daya input
sebelumnya. Suatu ketika bila duty cycle terus diturunkan, maka Pin < last_Pin akan
terpenuhi sehingga toggle direction akan kembali dilakukan. Hasil dari algoritma
MPPT Perturb and Observe akan menghasilkan duty cycle yang berosilasi di
sekitar daerah MPP.
3.3.5
Toggle Direction
Di bawah ini adalah flowchart dari toggle direction:
82
START
Direction == ‘R’
No
Yes
Direction = ‘L’
END
Direction = ‘R’
No
Gambar 3.18 Flowchart Toggle Direction
Toggle direction dipergunakan untuk mengubah direction ‘R’ menjadi ‘L’ dan
sebaliknya. Karena fungsi ini sering dipergunakan, maka penjelasan dibagi menjadi
bagian tersendiri. Ketika direction sekarang adalah ‘R’, maka direction akan diganti
menjadi ‘L’ kemudian program akan selesai. Namun bila direction tidak sama
dengan ‘R’, maka direction akan dimasukkan dengan nilai ‘R’. Karena nilai direction
hanya ‘L’ dan ‘R’, maka program tidak perlu mengecek apakah direction sekarang
bernilai ‘L’ atau tidak.
3.3.6
Update Duty Cycle
Di bawah ini adalah flowchart dari update duty cycle:
83
START
bb == BUCK
bb == BOOST
Yes
Yes
Direction == ‘R’
No
Yes
D < maxD
Direction == ‘L’
Direction == ‘R’
Yes
Yes
D>0
No
Yes
D+=2
No
D-=2
No
Direction == ‘L’
Yes
D>0
D < maxD
No
No
Yes
Yes
toggle
No
toggle
D-=2
No
No
Yes
toggle
D+=2
toggle
END
Gambar 3.19 Flowchart Update Duty Cycle
Perubahan nilai duty cycle dilakukan setelah kontroler menentukan arah pergerakan
yang diputuskan oleh algoritma charging baterai. Rangkaian buck dan boost
menggunakan IC MOSFET driver IR2184 yang dapat driving MOSFET high-side
dan low-side yang saling berkebalikan fase. Rangkaian DC-DC converter yang
dipergunakan membutuhkan 2 buah IC MOSFET driver IR2184. Jika driver low-side
diberikan logic input low, maka output dari driver yang akan masuk ke gate
MOSFET akan bernilai high, dan sebaliknya. Karena itu, penentuan naiknya atau
turunnya duty cycle saling berbeda antara mode buck dan mode boost.
Ketika mode buck, jika direction bernilai ‘R’ (pergerakan ke arah kanan kurva panel
surya), maka duty cycle dari kontroler harus ditambah karena high-side output dari
MOSFET driver sefase dengan output PWM dari kontroler. Demikian sebaliknya
bila direction bernilai ‘L’ (pergerakan ke arah kiri kurva panel surya). Ketika mode
boost, jika direction bernilai ‘R’ maka duty cycle harus dikurangi karena low-side
84
output dari MOSFET driver berbeda fase 180° dari output PWM yang dikeluarkan
oleh kontroler. Demikian sebaliknya bila direction bernilai ‘L’.
Sebelum penambahan atau pengurangan duty cycle, dilakukan pengecekan terhadap
nilai maksimum dan minimum dari duty cycle supaya nilai variabel D tidak melebihi
batas 0% sampai 100% duty cycle. Bila nilai D sudah mencapai maksimum dan
algoritma MPPT meminta untuk menambah nilai duty cycle, maka fungsi toggle
dipanggil. Fungsi ini akan membalik nilai direction sehingga duty cycle tidak
melebihi batas dan juga tidak mempengaruhi kinerja dari algoritma MPPT. Demikian
pula ketika nilai D sudah mencapai minimum.
3.3.7
Perancangan Modul LED Driver
Di bawah ini adalah flowchart program yang dipergunakan untuk mengendalikan
boost converter:
START
Initialization
Update sense
value
Isense < 100
Yes
Reset Duty Cycle
No
Isense < Idesired –
thBawah && D>0
No
Isense > Idesired +
thAtas && D<maxD
Yes
Yes
D--
D++
No
Gambar 3.20 Flowchart LED Driver
85
Rangkaian LED driver digunakan untuk menjaga arus yang mengalir pada LED tetap
konstan karena LED membutuhkan arus yang konstan agar terangnya tetap konstan.
Arus sense atau Isense dihubungkan ke satu dari 3 string LED yang kami pergunakan
dimana masing-masing string akan dialiri arus konstan 350mA ketika malam hari
dan 0mA atau mati pada siang hari.
Pada siang hari, charge controller akan memutuskan hubungan dari baterai ke input
rangkaian Boost sehingga tidak ada supply daya input dari baterai yang dapat
mengalir ke lampu jalan. Ketika keadaan ini terjadi, pastilah arus yang dideteksi oleh
kontroler LED driver dibawah 100mA sehingga kontroler LED driver dapat
mengetahui kalau keadaan sedang siang, karena itu, nilai duty cycle akan direset ke
suatu nilai default yang telah kami tentukan supaya rangkaian dapat mengantisipasi
bila sewaktu-waktu kontroler charge controller memberikan daya input ke rangkaian
Boost.
Pada malam hari, charge controller akan langsung memberikan daya input dari
baterai ke rangkaian Boost yang berada di bawah kendali LED driver. Nilai duty
cycle default yang telah di-setting pada LED driver telah diatur sehingga arus yang
tiba-tiba mengalir ke LED tidak sangat besar sehingga dapat merusak LED dan tidak
sangat kecil sehingga tidak dapat dideteksi. Karena itu, ketika charge controller
memberikan supply daya input dari baterai ke rangkaian Boost antara baterai dan
lampu jalan, LED driver akan dapat langsung menaikkan dan menurunkan duty cycle
sehingga arus output yang mengalir ke lampu jalan stabil di 350mA yang merupakan
kondisi yang diinginkan.
Arus pada lampu jalan tidak akan dapat tepat 350mA. Karena itu, untuk menghindari
adanya osilasi pada duty cycle tertentu dan menyebabkan lampu jalan sedikit
86
berkedip-kedip, kami berikan threshold sebesar 10mA. Adanya threshold ini akan
menyebabkan arus yang mengalir di lampu jalan minimal 340mA dan maksimal
360mA.
3.4.
Rancang bangun
Berikut ini merupakan penampakan fisik dari modul charge controller,
modul LED driver, dan susunan LED pada lampu jalan.
Gambar 3.21 Tampak Depan Box Charge Controller
Gambar 3.22 Tampak Belakang Box Charge Controller
87
Gambar 3.23 Tampak Atas Modul LED Driver
Gambar 3.24 Susunan LED Pada Lampu Jalan
Download