BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Keuangan Manajemen

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan memainkan peranan penting dalam perkembangan
sebuah perusahaan. Dalam penerapannya, manajemen keuangan tidak dapat
berdiri sendiri. Manajemen keuangan selalu berkaitan, ilmu ekonomi mikro dan
makro, manajemen pemasaran, manajemen produksi, metode kuantitatif dan
manajemen sumber daya manusia. Pengertian manajemen keuangan menurut
Sustrisno (2001:3) :
“Manajemen
keuangan
dapat
diartikan
sebagai
semua
aktivitas
perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana
perusahaan dengan biaya murah serta usaha menggunakan dan
mengalokasikan dana tersebut secara efisien.“
Dan menurut Van Horn (2005:3) bahwa:
“Manajemen keuangan adalah segala aktivitas berhubungan dengan
perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan
umum sebagai latar belakangnya.“
Sedangkan menurut Husnan dan Pudjiastuti (2006:4) bahwa:
“Manajemen keuangan menyangkut kegiatan perencanaan, analisis dan
pengendalian kegiatan keuangan. Mereka yang melakukan kegiatan ini
sering disebut sebagai manajer keuangan.“
Dari
ketiga
pengertian
diatas
dapat
diambil
kesimpulan
bahwa
manajemen keuangan merupakan koordinator dan pengendali bidang-bidang
lainnya yang ada dalam perusahaan. Semua keputusan bisnis mempunyai
implikasi keuangan dan semua manajer yang ada di perusahaan harus
berkoordinasi dengan manajer keuangan yang digunakan sebagai standar.
Kemampuan seseorang manajer keuangan untuk beradaptasi dengan
perubahan, mencari dana, menginvestasi aktiva serta mengelolanya secara
bijaksana akan sangat mempengaruhi kesuksesan perusahaan dan ekonomi
secara menyeluruh.
2.1.1 Tujuan Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan yang efisien membutuhkan adanya tujuan dan
sasaran yang digunakan sebagian standar dalam memberikan penelitian
koefisienan keputusan keuangan. Memaksimalkan nilai perusahaan merupakan
tujuan yang ingin dicapai oleh manajemen keuangan. Menurut Atmaja (2008:4)
tujuan ini melandasi keputusan manajemen yaitu dengan mempertimbangkan
resiko dan waktu dalam kaitannya dengan laba perusahaan yang diharapkan
manajemen keuangan dapat memaksimumkan harga saham biasa perusahaan.
Dengan
nilai
perusahaan
yang
maksimal
artinya
perusahaan
dapat
memaksimalkan kekayaan pemegang saham.
2.1.2 Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan yang efektif haruslah memiliki fungsi yang jelas
agar dapat dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin oleh penggunanya.
Manajamen keuangan juga harus memiliki fungsi yang dapat mendukung
keputusan. Fungsi manajemen keuangan menurut Sutrisno (2001:5) terdiri dari
tiga keputusan utama yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan, yaitu :
1. Keputusan Investasi
Keputusan
investasi
adalah
bagaimana
manager
keuangan
harus
mengalokasikan dana ke dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat
mendatangkan keuntungan di masa depan. Investasi akan mengandung
banyak risiko dan ketidakpastian. Risiko dan hasil yang diharapkan dari
investasi itu akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan, kebijakan
maupun nilai perusahaan.
2. Keputusan Pendanaan
Manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dana dan menganalisis
kombinasi dari sumber-sumber dana yang ekonomis bagi perusahaan guna
membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta usahanya.
3. Keputusan Deviden
Deviden merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibayarkan
kepada para pemegang saham. Keputusan deviden merupakan keputusan
keuangan untuk menentukan (1) besarnya persentase laba yang dibagikan
kepada para pemegang saham dalam bentuk cash deviden, (2) stabilitas
deviden yang dibagikan, (3) deviden saham (stock devident), (4) pemecahan
saham (stock split), (5) penarikan kembali saham yang beredar, yang
semuanya ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang
saham.
Setiap perusahaan, khususnya perbankan membutuhkan manajemen
keuangan agar dana yang diperoleh bank dari masyarakat dapat dialokasikan
atau diinvestasikan dengan baik ke aset produktif sehingga didapatkan hasil
yang menguntungkan.
2.1.3 Kegiatan Manajer Keuangan
Manajer keuangan adalah seseorang atau orang-orang yang akan
mengelola keuangan yang akan dialokasikan atau mengatur dana yang akan
didapat perusahaan untuk kelangsungan hidup serta kegiatan perusahaan.
Menurut Irawati (2006:4) tugas utama manajer keuangan, yaitu membuat
planning tentang pengadaan dan pengalokasian dana guna memaksimumkan
nilai perusahaan. Dimana di dalamnya menyangkut kegiatan sebagai berikut:
1.
Peramalan dan Perencanaan
Manajer keuangan harus berhubungan dengan para eksekutif yang lain
dalam memprediksi masa depan perusahaan.
2.
Keputusan Investasi dan Pembiayaan
Manajer keuangan harus dapat menyediakan modal untuk bahan pendukung
dalam pertumbuhan perusahaan. Sumber dana yang dapat digunakan untuk
meningkatkan pertumbuhan
perusahaan adalah
modal
internal dan
eksternal.
3.
Pengkoordinasian dan Pengendalian
Manajer keuangan juga harus bersikap kooperatif atau bekerja sama dengan
eksekutif bidang lain agar perusahaan dapat beroperasi seefisen mungkin.
4.
Interaksi dengan Pasar Modal
Dikarenakan pasar modal sebagai salah satu tempat penyedia dana, maka
manajer keuangan harus selalu berhubungan dengan pasar modal.
2.2 Investasi
2.2.1 Pengertian Investasi
Investor melakukan sejumlah investasi untuk memperoleh keuntungan.
Investasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung bagaimana investor
yang memilihnya. Pengertian Investasi menurut Bodie, Kane, Marcus (2004:3)
sebagai berikut:
“An investment is the current commitment of money or other resources in
the expectation of reaping future benefits.“
Artinya bahwa suatu investasi adalah komitmen yang dibuat sekarang mengenai
uang atau sumber daya lainnya dengan harapan mendapat keuntungan di masa
yang akan datang.
Manajemen investasi atau yang lebih dikenal dengan portofolio itu sangat
dibutuhkan dalam proses pengaturan uang dan juga dalam proses pembelian
dan penjualan saham.
Investasi itu sendiri adalah penyaluran sumber dana yang ada sekarang
dengan mengharapkan keuntungan di masa mendatang dan tujuannya untuk
memperoleh penghasilan selama jangka waktu tertentu. Definisi Investasi
menurut Jogiyanto (2007:5) sebagai berikut:
“Penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang
efisien selama periode waktu tertentu.“
Sedangkan definisi Investasi menurut Tandelilin (2010:2) sebagai berikut:
“Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya
yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah
keuntungan di masa datang.“
Istilah
investasi
bisa
berkaitan
dengan
berbagai
macam
aktivitas.
Menginvestasikan sejumlah dana pada aset real (tanah, emas, mesin atau
bangunan) maupun aset financial (deposito, saham ataupun obligasi) merupakan
aktivitas investasi yang umumnya dilakukan.
2.2.2 Kepemilikan Aktiva Financial
Kegiatan investasi pada hakikatnya memiliki tujuan untuk memperoleh
keuntungan
tertentu.
Dalam
melaksanakan
investasi,
seorang
investor
dihadapkan pada dua hal, yaitu tingkat pengembalian dan juga risiko yang
mungkin timbul akibat adanya ketidakpastian. Investasi dapat dilakukan dengan
cara memiliki aktiva financial. Menurut Sunariyah (2003:4) bahwa kepemilikan
aktiva financial dalam rangka investasi pada sebuah entitas dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu :
1.
Investasi langsung (direct investing) dan investasi tidak langsung (indirect
investing). Investasi langsung diartikan sebagai suatu kepemilikan suratsurat berharga secara langsung dalam suatu entitas yang secara resmi telah
Go-Public dengan harapan mendapatkan keuntungan berupa penghasilan
dividen atau capital gains.
2.
Investasi tidak langsung terjadi bilamana surat-surat berharga yang dimiliki
diperdagangkan kembali oleh perusahaan investasi (investment company)
yang berfungsi sebagai perantara.
2.2.3 Tujuan Investasi
Investasi dilakukan untuk tujuan tertentu agar investor mendapatkan
manfaat dari kegiatan tersebut. Tujuan dari investasi menurut Tandelilin (2007:5)
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa yang akan datang.
Seseorang yang bijaksana akan berfikir bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana
mempertahankan tingkat pendapatan yang ada sekarang agar tidak
berkurang di masa yang akan datang.
2.
Mengurangi tekanan inflasi.
Dengan melakukan inflasi dalam pemilihan perusahaan atau obyek lain,
seseorang dapat menghindarkan diri agar kekayaan atau harta miliknya tidak
merosot nilainya karena digerogoti oleh inflasi.
3.
Dorongan untuk menghemat pajak.
Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang sifatnya
mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui fasilitas perpajakan
yang diberikan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidangbidang usaha tertentu.
Untuk mendapatkan tingkat return yang diharapkan, investor dituntut
keberaniannya dalam menanggung risiko. Pada investasi terdapat dua atribut
berbeda yang melekat pada investasi yaitu risiko dan waktu. Pada beberapa
kasus, elemen waktu merupakan faktor yang mendominasi, sedangkan pada
kasus lainnya risiko dapat menjadi atribut yang dominan. Namun bisa juga baik
waktu maupun risiko menjadi faktor yang penting.
Pilihan investasi yang dihadapi oleh pemodal tidak hanya mengandalkan
pada tingkat keuntungan yang diharapkan saja, karena pemodal dihadapkan
pada risiko yang harus diambil ketika melakukan kegiatan investasi. Apabila
pemodal mengharapkan tingkat keuntungan yang tinggi maka pemodal juga
harus bersedia menanggung risiko yang tinggi pula.
2.2.4 Proses Investasi
Seorang investor yang ingin membentuk portofolio perlu melakukan
langkah-langkah dalam penilaian investasi yang disebut sebagai proses
investasi. Husnan (2005:47) mengatakan bahwa proses investasi menunjukkan
bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas : yaitu
sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut dan kapan
investasi tersebut akan dilakukan. Untuk mengambil keputusan tersebut
diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Menentukan kebijakan investasi
Pada tahap ini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya, dan
berapa banyak investasi tersebut akan dilakukan. Karena ada hubungan
yang positif antara risiko dan keuntungan investasi, maka pemodal tidak bisa
mengatakan bahwa tujuan investasinya adalah untuk mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya. Pemodal harus menyadari bahwa ada
kemungkinan untuk menderita rugi. Jadi tujuan investasi harus dinyatakan
baik dalam keuntungan maupun risiko.
2.
Analisis Sekuritas
Tahap ini berarti melakukan analisis terhadap individual (sekelompok)
sekuritas. Ada dua filosopi dalam melakukan analisis sekuritas. Pertama
adalah mereka yang berpendapat bahwa ada sekuritas yang misspriced
(harganya dalam, mungkin terlalu tinggi, mungkin terlalu rendah), dan
analisis dapat mendeteksi sekuritas-sekuritas tersebut. Ada berbagai cara
untuk melakukan analisis sekuritas, tetapi pada garis besarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis tehnikal dan analisis fundamental.
Analisis tehnikal menggunakan data (perubahan) harga di masa lalu sebagai
upaya memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Analisis
fundamental berupaya mengidentifikasi prospek perusahaan (lewat analisis
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya) untuk bisa memperkirakan
harga saham di masa yang akan datang.
Kedua adalah mereka yang berpendapat bahwa harga sekuritas adalah
wajar. Kalaupun ada sekuritas yang misspriced analisis tidak mampu untuk
mendeteksinya. Pada dasarnya mereka yang menganut pendapat ini
berpendapat bahwa pasar modal efisien. Dengan demikian pemilihan
sekuritas bukan didasarkan atas preferensi risiko para pemodal (pemodal
yang bersedia menanggung risiko tinggi akan memilih saham yang lebih
berisiko), dan sebagainya. Keuntungan yang diperoleh pemodal, sesuai
dengan pendapat ini, adalah sesuai dengan risiko yang mereka tanggung.
3.
Pembentukan portofolio
Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi
sekuritas. Sekuritas mana yang akan dipilih, dan berapa proporsi investasi
yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Pemilihan
banyak sekuritas (dengan kata lain pemodal melakukan diversifikasi)
dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung. Sebagaimana telah
disebutkan di atas, pemilihan sekuritas dipengaruhi antara lain oleh
preferensi risiko, pola kebutuhan kas, status pajak, dan sebagainya.
4.
Melakukan revisi portofolio
Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan
maksud kalau perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah
dimiliki. Kalau dirasa bahwa portofolio yang sekarang dimiliki tidak lagi
optimal, atau tidak sesuai dengan preferensi risiko pemodal, maka pemodal
dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang membentuk
portofolio tersebut.
5.
Evaluasi kinerja portofolio
Dalam
tahap
ini
pemodal
melakukan
penilaian
terhadap
kinerja
(performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang
diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Tidak benar kalau suatu portofolio
yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik dari
portofolio lainnya. Faktor risiko perlu dimasukkan, karena itu perlu dilakukan
standar pengukurannya.
Menurut Arifin (2005:21), sebuah keputusan investasi dikatakan optimal
jika pengaturan waktu konsumsi tersebut dapat memaksimumkan ekpektasi
utilitas (expected utility). Untuk memaksimumkan utilitas seseorang hanya akan
melakukan investasi jika ekspektasi manfaat dari penundaan konsumsi lebih
besar dibandingkan dengan jika uang tersebut dibelanjakan sekarang. Namun
ekspektasi manfaat tersebut nilainya tidak pasti. Untuk itu, lebih lanjut Arifin
(2005:21) mengatakan bahwa investor mempunyai beberapa tahap sebelum
berinvestasi, tahap pertama, mengidentifikasi pilihan-pilihan yang tersedia dan
tahap kedua, investor memilih satu pilihan yang terbaik.
2.2.5 Return dalam Investasi
Dikatakan bahwa suatu investasi mempunyai risiko, berarti bahwa
investasi tersebut tidak akan memberi return yang pasti. Dengan kata lain, return
yang diperoleh bersifat tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu para pemodal
hanya akan mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu.
Menurut Jogiyanto (2007:147) mengukur return dan risiko untuk sekuritas
tunggal memang penting, tetapi mengukur return dan risiko seluruh sekuritas di
dalam portofolio lebih diperlukan. Bagaimanapun juga menghitung return dan
risiko untuk sekuritas tunggal juga berguna karena nilai-nilai tersebut akan
digunakan untuk menghitung return dan risiko portofolio.
Return realiasasi portofolio (portofolio realized return) merupakan ratarata tertimbang dari return-return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di
dalam portofolio. Secara matematis, return realisasi portofolio menurut Jogiyanto
(2007:147) dapat ditulis sebagai berikut :
Rp = ∑
Dimana:
Rp
= Return realisasi portofolio
Wi
= Porsi dari sekuritas i terhadap seluruh sekuritas di portofolio
Ri
= Return realisasi dari sekuritas ke i
n
= Jumlah dari sekuritas tunggal
Sedangkan
menurut Jogiyanto (2007:148) return ekspektasi portofolio
(portofolio expected return) merupakan rata-rata tertimbang dari return-return
ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio. Return
ekspektasi portofolio dapat dinyatakan secara matematis sebagai berikut:
E(Rp) = ∑
Dimana:
E(Rp) = Return ekspektasi dari portofolio
Wi
= Porsi dari sekuritas i terhadap seluruh sekuritas di portofolio
E(Ri) = Return ekspektasi dari sekuritas ke i
n
= Jumlah dari sekuritas tunggal
2.2.6 Risiko dalam Investasi
Tidak seperti halnya return portofolio yang merupakan rata-rata
tertimbang dari seluruh return sekuritas tunggal, risiko portofolio (portofolio risk)
tidak merupakan rata-rata tertimbang dari seluruh risiko sekuritas tunggal. Risiko
portofolio mungkin dapat lebih kecil dari risiko rata-rata tertimbang masingmasing sekuritas tunggal. Dengan kata lain, risiko merupakan kemungkinan
tingkat keuntungan yang sesungguhnya (actual return) dan tingkat keuntungan
yang diharapkan (expected return). Jogiyanto (2007:149)
Pengertian Risiko menurut Van Horne (2005:145) sebagai berikut:
“Risiko
adalah
perbedaan
antara
pengembalian
aktual
dengan
pengembalian yang diharapkan.“
Sedangkan pengertian Risiko menurut Tandelilin (2010:103) sebagai berikut:
“Risiko investasi bisa diartikan sebagai kemungkinan perbedaan antara
return aktual yang diterima dengan return yang diharapkan.“
Risiko portofolio dapat dinyatakan secara sistematis sebagai berikut:
=∑
.
+∑
∑
Dimana:
= Variance portofolio
= Variance saham i
= Covariance saham i dan j
Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko
suatu investasi. Sumber-sumber tersebut menurut Tandelilin (2010:103) antara
lain:
1.
Risiko Suku Bunga
Perubahan suku bunga dapat mempengaruhi variabilitas return
suatu
investasi. Perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara
terbalik, ceteris paribus. Artinya, jika suku bunga meningkat, maka harga
saham akan turun, ceteris paribus. Demikian pula sebaliknya, jika suatu
bunga turun, harga saham naik.
2.
Risiko Pasar
Fluktuasi pasar yang secara keseluruhan mempengaruhi variabilitas return
suatu investasi disebut sebagai risiko pasar. Fluktuasi pasar biasanya
ditunjukkan oleh berubahnya indeks pasar saham secara keseluruhan.
3.
Risiko Inflasi
Inflasi yang meningkat akan mengurangi kekuatan daya beli rupiah yang
telah diinvestasikan. Oleh karenanya, risiko inflasi juga bisa disebut sebagai
risiko daya beli. Jika inflasi mengalami peningkatan, investor biasanya
menuntut tambahan premium inflasi untuk mengkompensasi penurunan
daya beli yang dialaminya.
4.
Risiko Bisnis
Risiko dalam menjalankan bisnis dalam suatu jenis industri disebut sebagai
risiko bisnis. Misalnya perusahaan pakaian jadi yang bergerak pada industri
tekstil, akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik industri tekstil itu sendiri.
5.
Risiko Finansial
Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan
utang dalam pembiayaan modalnya. Semakin besar proporsi utang yang
digunakan perusahaan, semakin besar risiko finansial yang dihadapi
perusahaan.
6.
Risiko Likuiditas
Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan
perusahaan bisa diperdagangkan, semakin liquid sekuritas tersebut,
demikian sebaliknya. Semakin tidak liquid suatu sekuritas semakin besar
pulas risiko likuiditas yang dihadapi perusahaan.
7.
Risiko Nilai Tukar Mata Uang
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik (negara
perusahaan tersebut) dengan nilai mata uang negara lainnya. Risiko ini juga
dikenal sebagai risiko mata uang (currency risk) atau risiko nilai tukar
(exchange rate risk).
8.
Risiko Negara (Country Risk)
Risiko ini juga disebut sebagai risiko politik, karena sangat berkaitan dengan
kondisi perpolitikan suatu negara. Bagi perusahaan yang beroperasi di luar
negeri, stabilitas politik dan ekonomi di negara bersangkutan sangat penting
diperhatikan untuk menghindari risiko negara yang terlalu tinggi.
Disamping berbagai sumber risiko di atas, dalam manajemen investasi
modern menurut Tandelilin (2010:104) juga dikenal pembagian risiko total
investasi ke dalam dua jenis risiko, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak
sistematis. Risiko sistematis atau yang dikenal dengan risiko pasar merupakan
risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara
keseluruhan. Perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return
suatu investasi. Sedangkan risiko tidak sistematis atau dikenal dengan risiko
spesifik (risiko perusahaan) adalah risiko yang tidak terkait dengan perubahan
pasar secara keseluruhan. Risiko perusahaan lebih terkait pada perubahan
kondisi mikro perubahan penerbit sekuritas. Dalam manajemen protofolio, risiko
perusahaan bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada
sekian banyak jenis sekuritas.
2.3 Pasar Modal
2.3.1 Pengertian Pasar Modal
Investasi di pasar modal adalah bagian dari investasi pada pasar
keuangan secara keseluruhan. Pada dasarnya pengertian pasar modal dan
bursa efek merupakan dua hal yang berbeda, meskipun demikian sebagian
orang masih seringkali menganggap bahwa keduanya merupakan hal yang
sama. Ada beberapa definisi pasar modal sebagai berikut:
Menurut Bab 1, Pasal 1, Undang-undang Pasar Modal RI No. 8 Butir 13
Tahun 1995 tentang Pasar Modal, secara spesifik Pasar Modal mempunyai
pengertian:
“Kegiatan
yang
bersangkutan
dengan
penawaran
umum
dan
perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkan, serta lembaga profesi yang berkaitan dengan efek.“
Sedangkan Gitman (2006:25) mengemukakan pengertian dari Pasar Modal,
sebagai berikut:
“The capital market is a market that‘s enable suppliers and demanders of
long term funds to make transaction.“
Artinya bahwa Pasar Modal adalah sebuah pasar yang mana para investor dan
pihak yang membutuhkan pendanaan jangka panjang memungkinkan untuk
melakukan suatu transaksi.
Selanjutnya Tandelilin (2010:26), mengemukakan bahwa:
“Pasar modal merupakan pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang
umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan
obligasi.“
Sedangkan mengenai pengertian dari Bursa Efek (Stock Exchange) menurut UU
No. 8, Pasal 1 Butir 4 tentang Pasar Modal adalah:
“Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan
sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli efek
pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek di antara
mereka.“
Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pasar
modal bisa dalam pengertian abstrak ataupun dalam pengertian kongkrit. Dalam
perdagangan abstrak maka, perdagangan surat berharga tidak harus terjadi
pada sutau tempat tertentu. Dalam hal ini yang dimaksud pasar abstrak dikenal
dengan istilah over-the-counter (OTC). Berikut ini kutipan mengenai OTC yang
diambil dalam artikel “Coller‘s Year Book“ pada situs (www.encarta.msn.com,
2005), bahwa tidak adanya pasar yang pasti dalam pengertian lokasi yang
tertentu di mana para pembeli dan penjual, atau agen-agen mereka, bertemu
untuk bertransaksi pada surat berharga. Hampir sama dengan pasar OTC adalah
merupakan suatu jaringan pedagang sekuritas yang melengkapi seluruh negara,
dihubungkan dengan pesawat telepon, teletip, dan telegram, atau dengan surat.
Sedangkan dalam pengertian konkrit maka Pasar Modal adalah bursa efek (stock
exchange). Lalu, komiditi yang diperdagangkan di pasar modal adalah suratsurat berharga jangka panjang. Kesimpulan terakhir, bursa efek merupakan
pasar yang sangat terorganisir karena terdapat serangkaian peraturan yang
mengikat pihak-pihak yang terkait di dalamnya.
Dengan demikian
dalam
jelaslah bawa pasar modal merupakan pasar, baik
pengertian abstrak maupun konkrit, sedangkan bursa efek adalah
lembaga yang menyelenggarakan atau menyediakan sistem guna terlaksananya
transaksi yang ada di pasar modal.
2.3.2 Peranan Pasar Modal
Pasar modal mempunyai peranan penting dalam suatu negara yang pada
dasarnya mempunyai kesamaan antara satu negara dengan negara yang lain.
Hampir semua negara di dunia ini mempunyai pasar modal yang bertujuan
menciptakan fasilitas bagi keperluan industri dan keseluruhan entitat dalam
memenuhi permintaan dan penawaran modal.
Peranan pasar modal menurut Sunariyah (2003:7) sebagai berikut:
1. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk
menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjual-belikan. Ditinjau
dari segi lain, pasar modal memberikan kemudahan dalam melakukan
transaksi sehinggan kedua belah pihak dapat melakukan transaksi tanpa
melalui tatap muka.
2. Pasar modal memberi kesempatan kepada para pemodal untuk menentukan
hasil (return) yang diharapkan.
3. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual kembali
saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
4. Pasar
modal
berpartisipasi
menciptakan
dalam
kesempatan
perkembangan
suatu
kepada
masyarakat
perekonomian.
untuk
Masyarakat
berpenghasilan kecil mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan
alternatif cara penggunaan uang mereka. Selain, menabung, uang dapat
dimanfaatkan melalui pasar modal dan beralih ke investasi yaitu dengan
membeli sebagian kecil saham perusahaan publik.
5. Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga. Pasar
modal dapat menyediakan kebutuhan terhadap informasi bagi para pemodal
secara lengkap.
Kelima aspek tersebut merupakan aspek mikro yang ditinjau dari sisi
kepentingan para pelaku pasar modal. Selanjutnya Sunariyah (2003:8)
menyatakan bahwa pasar modal pun mempunyai peranan dalam suatu
perekonomian negara. Peranan tersebut antara lain:
1. Fungsi Tabungan (Savings Function)
Dengan membeli surat berharga sebagai tabungan, masyarakat diharapkan
dapat mengantisipasi standar hidup yang lebih baik.
2. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)
Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka
panjang dan jangka pendek sampai dengan kekayaan tersebut dapat
dipergunakan kembali.
3. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat-surat berharga, bisa dilikuidasi melalui
pasar modal dengan risiko yang sangat minimal dibandingkan dengan aktiva
lain.
4. Fungsi Pinjaman (Credit Function)
Pasar
modal
bagi
suatu
perekonomian
negara
merupakan
sumber
pembiayaan pembangunan dari pinjaman yang dihimpun dari masyarakat.
2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pasar Modal
Pasar modal sebagai tempat bertemunya penjual (emiten) dan pembeli
(investor) tentu memiliki faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Faktor-
faktor yang mempengaruhi pasar modal seperti yang dikemukakan Suad Husnan
(2005:8) antara lain adalah:
1. Supply sekuritas, yang berarti harus banyak perusahaan yang bersedia
menerbitkan sekuritas di pasar modal.
2. Demand akan sekuritas, ini berarti bahwa masyarakat harus mempunyai dana
yang cukup besar untuk dipergunakan dalam membeli sekuritas-sekuritas
yang ditawarkan di pasar modal.
3. Kondisi politik dan ekonomi, dimana politik yang stabil akan mendorong
pertumbuhan ekonomi yang akhirnya mempengaruhi penawaran dan
permintaan sekuritas.
4. Masalah hukum dan peraturan, hukun yang jelas akan melindungi pemodal
dari informasi yang tidak jelas.
5. Keberadaan lembaga-lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan
pasar modal dan berbagai lembaga yang memungkinkan dilakukan transaksi
secara efisien akan membantu kegiatan pasar modal secara tepat. Lembaga
ini antara lain adalah BAPEPAM, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan,
lembaga penyimpanan dan penyelesaian, perusahaan efek, reksa dana,
kustodian, biro administrasi efek, wali amanat (trustee), akuntan, notaris,
konsultan hukum, dan penilai.
2.3.4 Instrumen Pasar Modal
Instrumen
pasar modal pada prinsipnya adalah semua surat-surat
berharga (efek) yang umum diperjualbelikan melalui pasar modal. Pengertian
efek menurut Undang-undang Pasar Modal RI No. 8 Tahun 1995 Butir 5 tentang
Pasar Modal, sebagai berikut :
“Efek adalah surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham,
obligasi, sekuritas kredit, tanda bukti utang, setiap rights, waran, opsi atau
setiap turunan (derivative) dari efek, atau setiap instrumen yang
ditetapkan sebagai efek.“
Menurut “Panduan Bursa Efek Jakarta (2004)” mengenai instrumen pasar
modal yang diperdagangkan di Pasar Modal Indonesia, antara lain adalah:
1.
Saham Biasa (Common Stock)
Merupakan kepemilikan atas suatu perusahaan, keuntungan yang dinikmati
oleh pemilik saham berasal dari dividen dan kenaikan harga saham (capital
gain). Besar kecilnya saham yang diterima oleh pemegang saham tidak tetap
tergantung pada rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk keputusankeputusan yang memerlukan pemungutan suara, seperti pembagian dividen,
pengangkatan direksi dan komisaris, dan sebagainya.
2. Saham Preferen (Preferent Stock)
Saham preferen merupakan saham yang akan menerima sejumlah dividen
dengan jumlah yang tetap. Biasanyan pemilik tidak mempunyai hak pilih
dalam RUPS.
3. Obligasi
Obligasi yaitu surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi
pinjaman (dalam hal ini pemodal) dengan yang memberi pinjaman (emiten).
Obligasi dapat diartikan sebagai surat tanda hutang jangka panjang yang
diterbitkan oleh pemerintah. Obligasi tersebut membayarkan bunga yang
ditunjukkan oleh coupon rate yang tercantum pada obligasi tersebut.
4. Obligasi Konversi
Obligasi konversi sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya
memberikan kupon tetap, memiliki jatuh tempo, dan memiliki nilai pari. Hanya
saja obligasi konversi memiliki keunikan, yaitu obligasi dapat dikonversi
(ditukar) menjadi saham biasa sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
5. Right Issue
Bukti right (Right Issue) merupakan produk turunan dari saham. Right issue
merupakan hak bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan
emiten.
Karena merupakan
hak,
maka
investor
tidak
terikat
harus
membelinya. Biasanya hak ini diberikan kepada pemegang harga saham lama
sewaktu dilakukan penawaran umum terbatas kepada pemegang saham lain.
6. Reksadana
Reksadana (Mutual Fund) adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa
pemiliknya menitipkan uang kepada pengelola reksadana (disebut manajer
investasi), untuk digunakan sebagai modal berinvestasi di pasar uang atau
pasar modal.
7. Waran
Waran merupakan sekuritas yang memberikan hak kepada pemegangnya
untuk membeli saham dari perusahaan yang menerbitkan waran tersebut
dengan harga tertentu pada waktu tertentu. Biasanya waran dijual bersamaan
dengan surat berharga lain, misalnya obligasi dan saham. Namun, setelah
obligasi atau saham disertai waran memasuki pasar, baik obligasi, saham
maupun waran dapat diperdagangkan secara terpisah.
2.3.5 Mekanisme Perdagangan di Pasar Modal (BEI)
Dapat dikatakan bahwa suatu saham tercatat di bursa, berarti saham
bersangkutan dapat dijual atau dibeli di lantai bursa. Agar perusahaan tercatat
dalam bursa, perusahaan tersebut harus melalui proses penawaran perdana,
yang diawali dengan penyampaian daftar emisi saham. Di pasar perdana inilah
perusahaan untuk pertama kalinya menjual sekuritasnya, dan menurut Tandelilin
(2010:27) proses itu disebut dengan istilah Initial Public Offering (IPO) atau
Penawaran Umum.
Setelah melalui penawaran perdana, selanjutnya saham diperjual-belikan
di lantai bursa. Harga saham selanjutnya ditentukan oleh tingkat penawaran dan
permintaan atas saham tersebut. Jadi dari penjelasan di atas kita dapat melihat
bahwa di pasar modal dan bursa efek ada dua hal yang saling berkaitan yaitu
pasar primer, tempat dimana sekuritas pertama kali diterbitkan dan dijual.
Sedangkan pasar sekunder yaitu tempat pemilik saham memperdagangkan
sahamnya.
2.4 Saham
2.4.1 Pengertian Saham
Pasar modal (capital market) pada prinsipnya merupakan pasar untuk
sekuritas jangka panjang baik berbentuk hutang maupun ekuitas (modal sendiri)
serta berbagai produk turunannya. Sekuritas yang diperjualbelikan di pasa modal
Indonesia, salah satunya adalah saham. Menurut Coyle (2002:112) menyatakan
definisi saham sebagai berikut:
“A short-term unsecured promissory note. The issuer of the note promises
to pay its holder a specified amount at a specified future date.“
Artinya bahwa saham merupakan suatu bukti kepemilikan jangka pendek. Surat
perjanjian yang pembayarannya akan diberikan kepada pemilik (stockholder) di
kemudian hari.
Kemudian Bodie, Kane, Marcus (2004:97) mendefinisikan saham sebagai
berikut:
“Short term unsecured issued by large corporation.“
Sedangkan menurut Tandelilin (2007:18) definisi Saham sebagai berikut:
“Saham merupakan surat bukti bahwa kepemilikan atas asset-asset
perusahaan yang menerbitkan saham.“
Selanjutnya menurut Tandelilin (2007:18) dengan memiliki saham suatu
perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan
kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban
perusahaan. Saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup populer
diperjual-belikan di pasar modal.
Oleh karena itu, maka tidak heran bila dikatakan bahwa saham adalah
jenis sekuritas yang paling berisiko, investor akan menanggung risiko penuh
sebesar modal sahamnya tersebut bilamana perusahaan itu bangkrut. Ada dua
kemungkinan yang diharapkan seorang investor dalam membeli saham, yaitu
pertama, dividen atau keuntungan yang dibagikan. Untuk mendapatkan dividen
seorang investor harus menunggu saat RUPS dilakukan, oleh karena itu maka
dividen adalah daya tarik bagi investor yang membeli saham untuk kepentingan
jangka panjang. Sedangkan yang kedua adalah capital gain atau selisih harga
jua dengan harga beli. Investor akan mengalami keuntungan bila harga jual lebih
tinggi dari harga ketika ia membeli dan demikian juga sebaliknya.
Harga saham suatu perusahaan dapatlah dijadikan salah satu indikator
untuk melihat apakah perusahaan itu baik atau tidak. Bila harga saham suatu
perusahaan turun apalagi secara drastis misalnya, maka dapatlah kita katakan
bahwa kinerja perusahaan itu terganggu, apakah oleh faktor eksternal atau
internal, kendati harga saham tidaklah mencerminkan secara komprehensif
kondisi perusahaan yang sesungguhnya.
2.4.2 Jenis-Jenis Saham
Di dalam prakteknya terdapat beberapa jenis saham, yang dibedakan
menurut cara peralihan dan manfaat yang diperoleh para pemegang saham.
Ditinjau dari peralihannya, saham dibedakan menjadi saham atas tunjuk dan
saham atas nama. Saham atas tunjuk adalah saham yang di dalam sertifikatnya
tersebut tidak dicatat nama pemiliknya agar mudah dipindah-tangankan dari
seorang investor kepada investor lainnya. Jadi siapapun pemegang saham
semacam ini berhak untuk duduk dalam RUPS dan mendapatkan dividen.
Sedangkan saham atas nama adalah saham yang di dalam lembarannya tertulis
nama pemiliknya.
Ditinjau dari segi manfaat untuk pemiliknya saham digolongkan menjadi
saham biasa dan saham preferen. Gruber (2003:17) menjelaskan pengertian
saham biasa sebagai berikut:
“Common stock represents an ownership claimant the earnings and asset
of a corporation. After holders of debt claim are paid, the management of
the company can either pay out the remaining earnings to stakeholders in
the form of dividends or reinvest par or all of the earnings in the business.“
Artinya bahwa saham biasa menunjukkan suatu kepemilikan yang dapat
memberikan pendapatan dan aset suatu perusahaan. Setelah kewajiban hutang
dibayar, manajemen suatu perusahaan dapat memberikan pembayaran kepada
stakeholders dalam bentuk dividen atau menginvestasikan kembali sebagian
atau seluruh pendapatannya ke dalam bisnis.
Menurut Sunariyah (2003:12) ada dua jenis saham biasa, yaitu saham
atas nama dan saham atas unjuk. Saham atas nama yaitu saham yang nama
pemilik saham tertera di atas saham tersebut. Sedangkan saham atas unjuk yaitu
nama pemilik saham tidak tertera di atas saham, tetapi pemilik saham adalah
yang
memegang
saham
tersebut.
Pada
saat
ini
saham-saham
yang
diperdagangkan di Indonesia adalah saham atas nama.
Para pemegang saham pada suatu perusahaan mempunyai hak-hak
yang melekat dalam pemilikan saham biasa yang dijamin oleh undang-undang.
Hak pemegang saham biasa menurut Sunariyah (2003:129) antara lain:
1.
Mempunyai hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan
Rapat Umum Luar Biasa (RULBS). Ketentuannya adalah satu saham satu
suara.
2.
Mempunyai wewenang untuk memilih direktur perusahaan, memilih
manajemen seperti komisaris dan direksi perusahaan.
3.
Mempunyai hak terlebih dahulu untuk membeli saham pada perusahaan
yang bersangkutan sebelum dibeli oleh investor baru.
4.
Pemegang saham diberi hak atas laba bersih perusahaan sebagai hasil atas
dana yang diinvestasikan.
5.
Pada saat likuidasi pemegang saham biasa bertanggung jawab sebesar
jumlah saham yang dimiliki atas kewajiban-kewajiban perusahaan.
6.
Risiko pemegang saham terbatas sesuai dengan modal yang ditanam dalam
perusahaan tersebut.
Selain saham biasa, perusahaan juga biasanya mengeluarkan saham
preferen
untuk
diperjual-belikan
kepada
publik.
Sunariyah
(2003:132)
menjelaskan pengertian saham preferen (preffered stock) sebagai berikut:
“Saham preferen adalah jenis saham lain sebagai alternatif saham biasa.
Disebut preferensi karena pemegang saham pereferensi mempunyai hak
keistimewaan di atas pemegang saham biasa, untuk hal-hal tertentu yang
diperjanjikan saat emisi saham.“
Selanjutnya Sunariyah (2003:133) menjelaskan mengenai hak-hak
istimewa pemegang saham preferen tersebut adalah:
1.
Masing-masing pemegang saham preferensi mempunyai dividen yang
ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak yaitu pemegang saham dan
manajemen.
2.
Dalam hal pembagian dividen, pemegang saham preferensi mempunyai hak
untuk menerima dividen terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa
dibayarkan.
3.
Pada kasus likuidasi, pemegang saham preferensi mempunyai hak klaim
terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa.
4.
Pemegang saham preferensi tidak mempunyai hak suara (voting).
2.5 Portofolio
Investasi dapat dilakukan dalam dua bentuk, investasi pada real assets
dengan melakukan pembelian aset produktif, pendirian pabrik, dan lainnya.
Bentuk lain investasi adalah investasi pada financial assets dapat dilakukan di
pasar uang (berupa sertifikat deposito, commercial paper, dan lainnya) maupun
di pasar modal (berupa saham, obligasi, dan lain-lain). Investor pada umumnya
merupakan pihak yang sangat tidak menyukai risiko tetapi menginginkan return
yang maksimal, untuk itulah dewasa ini, investasi di pasar modal menjadi pilihan
dikalangan investor karena menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi
dibandingkan dengan investasi di sektor real assets maupun di pasar uang.
Meskipun investasi di pasar modal menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi,
namun perlu diingat bahwa semakin tinggi return suatu investasi, maka akan
semakin tinggi pula risikonya. Untuk itulah para investor dapat melakukan
strategi diversifikasi untuk meminimalisir risiko dengan membentuk portofolio.
Jadi yang dimaksud dengan Portofolio menurut Sunariyah (2003:194) diartikan
sebagai berikut:
“Portofolio
adalah
serangkaian
kombinasi
beberapa
aktiva
yang
diinvestasi dan dipegang oleh pemodal, baik perorangan maupun
lembaga.“
Seorang pemodal yang menginvestasikan dananya di pasar modal
biasanya tidak hanya memilih satu saham saja. Alasannya dengan melakukan
kombinasi saham, pemodal dapat meraih return yang optimal sekaligus akan
memperkecil risiko melalui diversifikasi.
Pembentukan portofolio berawal dari usaha diversifikasi investasi guna
mengurangi risiko. Menurut Sunariyah (2003:194), terbukti bahwa semakin
banyak jenis efek yang dikumpulkan dalam keranjang portofolio, maka risiko
kerugian saham yang satu dapat dinetralisir oleh keuntungan yang diperoleh dari
saham lain.
Selanjutnya Sunariyah menyatakan, dalam konteks portofolio pasar,
harus dipahami adanya risiko investasi yang terdiri dari 2 (dua) komponen, yaitu:
1.
Risiko tidak sistematik (unsystematic risk)
2.
Risiko sistematik (systematic risk)
Risiko tidak sistematik merupakan risiko yang terkait dengan suatu saham
tertentu yang umumnya dapat dihindari (diversifiable), sedangkan risiko
sistematik merupakan risiko pasar yang bersifat umum dan berlaku bagi semua
saham dalam pasar modal yang bersangkutan. Risiko ini tidak mungkin dapat
dihindari oleh pemodal melalui diversifikasi.
Teori
pemilihan portofolio pertama kali dikembangkan oleh Markowitz
dengan beberapa asumsi sebagai berikut: Sunariyah (2003:194)
1.
Seorang pemodal mempunyai sejumlah uang tertentu.
2.
Sejumlah uang tersebut diinvestasikan untuk jangka waktu tertentu disebut
holding period.
3.
Pada akhir masa tertentu (holding period) pemodal akan menjual sahamnya.
4.
Pemodal akan selalu mencoba menghindari risiko (risk averse).
5.
Untuk menghindari risiko, pemodal mencoba melakukan diversifikasi
investasinya.
6.
Pemodal mengahadapi beberapa portofolio dimana harga sudah pasti.
Masalahnya adalah bagaimana mengalokasikan uang diantara portofolio
untuk memaksimalkan hasil yang diharapkan.
7.
Pemodal mampu mengestimasikan hasil yang diharapkan dari masingmasing portofolio.
8.
Pilihan untuk investasi tidak tergantung pada pemodal lain.
Asumsi tersebut dipakai sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan
portofolio investasi. Ini berarti, apabila asumsi-asumsi tersebut tidak dipenuhi,
maka kesimpulan yang diambil harus dengan kehati-hatian. Banyaknya asumsi
yang
dipertimbangkan,
mempengaruhi
portofolio
menunjukkan
investasi
banyaknya
sekaligus
variabel
menunjukkan
yang
dapat
kompleksnya
permasalahan yang harus dipertimbangkan.
2.6 Model Indeks Tunggal (Single Index Model)
Banyak metode yang dapat digunakan untuk pembentukan portofolio,
diantaranya model Markowitz dan Single Index Model (Model Indeks Tunggal).
Dalam penelitian ini metode pembentukan portofolio optimal yang digynakan
adalah Single Index Model (Model Indeks Tunggal). Jogiyanto (2007:231)
menyatakan bahwa Single Index Model (Model Indeks Tunggal) dikembangkan
oleh William Sharpe (1963). Model ini dapat digunakan untuk menyederhanakan
perhitungan di model Markowitz. Single Index Model didasarkan pada
pengamatan bahwa tingkat keuntungan suatu sekuritas dipengaruhi oleh tingkat
keuntungan portofolio pasar. Saham cenderung mengalami kenaikan harga jika
indeks harga saham naik, begitu pula sebaliknya jika indeks harga saham turun
maka saham akan mengalami penurunan harga. Menurut Jogiyanto (2007:231)
pengertian Single Index Model sebagai berikut:
“Single Index Model didasarkan pada pengamatan harga dari suatu sekuritas
berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar.“
Selanjutnya Tandelilin (2010:132) mendefinisikan Single Indeks Model dengan
persamaan sebagai berikut:
Dimana:
= Tingkat keuntungan sekuritas individual emiten
= Bagian dari tingkat keuntungan suatu saham yang tidak dipengaruhi
oleh perubahan saham
= Koefisien beta untuk sekuritas i
= Tingkat keuntungan ekspektasi pasar
Selanjutnya,
persamaan
tersebut
dapat
dianalogikan sebagai persamaan garis lurus Y = a + bX. Maka harga-harga
dan
dapat diperoleh dengan regresi linier sebagai berikut:
=
Dimana:
a
=
b
=
X
=
Y
=
2.6.1 Asumsi-asumsi
Model Indeks Tunggal menggunakan asumsi-asumsi yang merupakan
karakteristik model ini sehingga menjadi berbeda dengan model-model lainnya.
Menurut Jogiyanto (2007:235) asumsi utama dari Model Indeks Tunggal adalah
kesalahan residu dari sekuritas ke-i tidak berkovari (berkorelasi) dengan
kesalahan residu sekuritas ke-j atau
tidak berkovari dengan
untuk semua
niali dari i dan j. Selanjutnya Jogiyanto (2007:235) merumuskan asumsi tersebut
sebagai berikut:
Cov (
)=0
2.6.2 Varian Return Sekuritas Model Indeks Tunggal
Jogiyanto (2007:238) menyatakan bahwa rumus varian return sekuritas
berdasarkan Model Indeks Tunggal adalah sebagai berikut:
Risiko (varian return) sekuritas yang dihitung berdasarkan model ini terdiri dari
dua bagian, yaitu risiko yang berhubungan dengan pasar (market related risk)
yaitu
.
dan risiko unik masing-masing perusahaan (unique risk) yaitu
2.6.3 Kovarian Return Antar Sekuritas Model Indeks Tunggal
Kovarian return antara dua sekiritas i dan j, menurut Jogiyanto (2007:241)
dapat dituliskan:
ij
E Ri
E Ri . Rj
E Rj ]
2.6.4 Analisis Portofolio Menggunakan Model Indeks Tunggal
Selain hasil dari Model Indeks Tunggal dapat digunakan sebagai input
analisis portofolio, Model Indeks Tunggal dapat pula digunakan secara langsung
untuk analisis portofolio. Analisis portofolio menyangkut perhitungan return
ekspektasi portofolio dan risiko portofolio. Menurut Jogiyanto (2007:246) rumus
expected return portofolio:
Rp = ∑
i Ri
Atau
Rp = ∑
i ai + ∑
i
iR
Sedangkan untuk rumus varians portofolio (risiko portofolio) adalah:
=
∑
Dimana:
= Tingkat pendapatan pasar
= Varian pasar
= Risiko tidak sistematis
= Nilai pengharapan dari
= Elemen acak dari
yang mempunyai nilai nol
= Varian saham portofolio
= Varian saham i
= Kovarian tingkat pendapatan saham i dan j
2.6.5 Memperkirakan Beta
Penggunaan Model Indeks Tunggal memerlukan ukuran beta dari sahamsaham yang dimasukkan ke dalam portofolio. Beta yang mengukur risiko
sistematis adalah risiko yang relevan karena tidak dapat dihilangkan melalui
diversifikasi sedangkan risiko tidak sistematis dapat dihilangkan dengan
menambah jumlah sekuritas dalam portofolio. Beta diartikan sebagai kepekaan
tingkat pengembalian saham terhadap perubahan-perubahan pasar. Menurut
Gruber (2003:139), beta adalah:
“Beta is risk measure that arises from the relationship between the return
on a stock and the return on the market.“
Artinya bahwa beta adalah ukuran risiko yang timbul dari hubungan antara
tingkat pengembalian suatu saham dengan tingkat pengembalian pasar.
Saham dengan beta lebih dari satu merupakan saham yang sangat peka
terhadap perubahan pasar, dan sebaliknya. Saham dengan beta lebih besar dari
satu disebut saham agresif, sedangkan yang mempunyai beta kurang dari satu
disebut saham defensif. Dengan demikian untuk saham-saham yang agresif,
kalau terjadi perubahan (baik naik ataupun turun) tingkat pengembalian portofolio
saham sebesar 10% maka tingkat pengembalian saham tersebut berubah
dengan arah yang sama sebesar 10%. Keadaan sebaliknya berlaku untuk
saham-saham yang defensif. Sekuritas dengan koefisien beta lebih dari satu
akan memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar dari rata-rata pasar bila
kondisi pasar melemah (bearish)
Risiko sistematis yang diukur oleh beta ini nilainya dapat dihitung dengan
menggunakan nilai-nilai tingkat pengembaliann pasar setiap bulannya selama
periode penelitian. Rumus mencari beta menurut Suad Husnan (2005:108) dapat
dituliskan sebagai berikut:
i
iM
2
M
Dimana:
i
= Beta saham
iM
= Kovarian antara saham dengan pasar
2
M
= Risiko pasar
2.7 Pemilihan Portofolio
2.7.1 Konsep Dasar Pemilihan Portofolio
Ada tiga konsep dasar menurut Tandelilin (2010:156) yang perlu diketahui
sebagai dasar untuk memahami pembentukan portofolio, yaitu:
1.
Portofolio efisien dan portofolio optimal
2.
Fungsi utilitas dan kurva indiferen
3.
Aset berisiko dan aset bebas risiko
Menurut Tandelilin (2010:157), dalam pembentukan portofolio, investor
selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat risiko
tertentu yang bersedia ditanggung atau mencari portofolio yang menawarkan
risiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik portofolio seperti ini
disebut sebagai portofolio yang efisien.
Untuk menentukan portofolio yang optimal, terlebih dahulu harus
menentukan portofolio yang efisien. Karena semua portofolio yang optimal
adalah portofolio yang efisien. Pengertian portofolio yang efisien menurut
Jogiyanto (2007:180) yaitu:
“Portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan tingkat
risiko yang sudah pasti atau portofolio yang mengandung risiko terkecil
dengan tingkat return ekspektasi yang sudah pasti.“
Untuk membentuk portofolio yang efisien, kita harus berpegang pada
asumsi tentang bagaimana perilaku investor dalam pembuatan keputusan
investasi yang akan diambilnya. Salah satu asumsi yang paling penting menurut
Tandelilin (2010:157) adalah bahwa semua investor tidak menyukai risiko (risk
averse). Investor seperti ini jika dihadapkan pada dua pilihan investasi yang
menawarkan return yang sama dengan risiko yang berbeda, akan cenderung
memilih invetasi dengan risiko yang lebih rendah. Sedangkan pengertian
portofolio optimal menurut Tandelilin (2010:157) sebagai berikut:
“Portofolio optimal merupakan portofolio yang dipilih sesuai preferensi
investor dari himpunan portofolio yang efisien.“
Tentunya portofolio yang dipilih investor adalah portofolio yang sesuai dengan
preferensi investor bersangkutan terhadap return maupun terhadap risiko yang
bersedia ditanggungnya.
2.7.2 Fungsi Utilitas dan Kurva Indiferen
Menurut Tandelilin (2010:157). Fungsi utilitas dapat diartikan sebagai
suatu fungsi matematis yang menunjukkan nilai dari semua alternatif pilihan yang
ada. Semakin tinggi nilai suatu alternatif pilihan, semakin tinggi nilai utilitas
alternatif tersebut. Dalam konteks manajemen portofolio, fungsi utilitas
menunjukkan preferensi seorang investor tehadap berbagai pilihan investasi
dengan masing-masing risiko dan tingkat return yang diharapkan.
Fungsi utilitas dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai kurva
indiferen. Gambar 2.1 di bawah ini menunjukkan tiga kurva indiferen yang
dilambangkan sebagai k , k2, dan k . Garis horizontal menggambarkan risiko,
sedangkan garis vertikal menggambarkan return yang diharapkan. Setiap kurva
indiferen menggambarkan suatu kumpulan portofolio dengan return yang
diharapkan dan risikonya masing-masing. Setiap titik-titik yang terletak di
sepanjang suatu kurva indiferen menggambarkan kombinasi return yang
diharapkan dan risiko yang akan memberikan utilitas yang sama bagi investor.
Misalnya pada kurva indiferen k , terdapat dua titik, titik k
a
dan k
b
yang masing-
masing menunjukkan kombinasi return diharapkan dan risiko tertentu. Titik k
a
mempunyai return diharapkan dan risiko yang lebih kecil daripada titik k b.
Seorang investor akan mempunyai preferensi yang sama terhadap setiap titik
dalam suatu kurva indiferen, karena titik-titik dalam kurva indiferen tersebut
menunjukkan seberapa besar tingkat risk averse seorang investor. Kemiringan
(slope)
positif
kurva
indiferen
menggambarkan
bahwa
investor
selalu
menginginkan return yang lebih besar sebagai kompensasi atas risiko yang lebih
tinggi yang harus ditanggung.
Gambar 2.1 Kurva Indiferen
Return yang diharapkan
(
)
Risiko (
)
Dalam gambar 2.1 di atas terlihat bahwa semakin jauh suatu kurva
indiferen dari sumbu horizontal, semakin tinggi utilitas nya bagi seorang investor.
Semakin tinggi utilitas suatu kurva indiferen, berarti semakin tinggi tingkat return
yang diharapkan pada setiap tingkat risiko.
2.7.3 Aset Berisiko dan Aset Bebas Risiko
Dalam berinvestasi, investor bisa memilih menginestasikan dananya pada
berbagai aset, baik aset yang berisiko maupun aset yang bebas risiko, ataupun
kombinasi dari kedua aset tersebut. Pilihan investor akan tergantung pada
preferensi investor terhadap risiko. Semakin enggan seorang investor terhadap
risiko (risk averse), maka pilihan investasinya akan cenderung lebih banyak pada
aset-aset yang bebas risiko.
Aset berisiko menurut Tandelilin (2010:159)
adalah aset-aset yang
tingkat return aktualnya di masa depan masih mengandung ketidakpastian.
Salah satu contoh aset berisiko adalah saham. Sedangkan menurut Tandelilin(
2010:159) yang dimaksud aset bebas risiko merupakan aset yang tingkat returnnya di masa depan sudah bisa dipastikan saat ini, dan ditunjukkan oleh varians
return yang sama dengan nol. Salah satu contoh aset bebas risiko adalah
obligasi jangka pendek yang diterbitkan pemerintah dan Sertifikat Bank
Indonesia (SBI).
2.7.4 Memilih Portofolio Optimal
Pemilihan portofolio optimal didasarkan pada preferensi investor terhadap
return yang diharapkan dan risiko yang ditunjukkan oleh kurva indiferen. Gambar
2.2 berikut ini menunjukkan portofolio yang efisien dan portofolio yang optimal.
(Tandelilin, 2010:161)
Gambar 2.2
Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal
Return Harapan
(
Garis
Permukaan
Efisien
)
B-C-D-E
E
D
C
G
B
Titik-titik
Portoflio
Optimal
H
A
Risko (
)
Garis vertikal pada gambar 2.2 di atas menunjukkan tingkat return yang
diharapkan, sedangkan garis horizontal menggambarkan tingkat risiko portofolio.
Bidang ABCDEFGH dalam gambar di atas menunjukkan kumpulan potofolio
yang tersedia bagi investor. Bagian yang ditunjukkan oleh garis BCDE disebut
sebagai permukaan efisien (efficient frontier), yaitu kombinasi aset-aset yang
membentuk portofolio yang efisien. Bagian ini merupakan bagian yang
mendominasi (lebih baik dibanding) titik-titik lainnya (A,G,H). Bagian yang
ditunjukkan oleh titik BCDE merupakan pilihan-pilihan portofolio terbaik bagi
investor dibanding bagian AGH, karena BCDE mampu menawarkan tingkat
return yang lebih tinggi dengan risiko yang sama dibanding bagian AGH. Oleh
karena itu, pilihan investor nantinya akan berada di titik-titik yang ditunjukkan
oleh garis BCDE dalam gambar tersebut.
Salah satu titik kombinasi portofolio yang dipilih investor dari garis BCDE
disebut sebagai portofolio optimal. Pemilihan portofolio optimal ditentukan oleh
preferensi investor terhadap return yang diharapkan dan risiko. Preferensi
investor ditunjukkan oleh kurva indiferen (
dan
2 ).
Dalam gambar di atas,
terlihat bahwa kurva indiferen investor bertemu dengan permukaan efisien pada
titik D. Artinya, portofolio optimal bagi investor tersebut adalah portofolio pada
titik D, karena portofolio D tersebut menawarkan return yang diharapkan dan
risiko yang sesuai dengan preferensi investor tersebut.
2.7.5 Memilih Kelas Aset yang Optimal
Pada dasarnya, manajemen portofolio terdiri dari tiga aktivitas utama,
yaitu: (1) pembuatan keputusan alokasi aset, (2) penentuan porsi dana yang
akan diinvestasikan pada masing-masing kelas aset, dan (3) pemilihan aset-aset
dari setiap kelas aset yang telah dipilih. (Tandelilin, 2010:162)
Selanjutnya, Tandelilin (2010:162) menjelaskan pengertian kelas aset,
yaitu pengelompokkan aset-aset berdasarkan jenis-jenis aset seperti saham,
obligasi, real estatate, sekuritas luar negeri, emas, dan sebagainya (Tabel 2.1
memperlihatkan salah satu contoh pembagian kelas aset). Setelah dilakukan
pengelompokkan aset selanjutnya investor harus membuat keputusan yang
disebut sebagai keputusan alokasi aset. Menurut Tandelilin (2010:163)
keputusan ini menyangkut pemilihan kelas aset-aset yang akan dijadikan
sebagai pilihan investasi, dan juga berapa bagian dari keseluruhan dana yang
dimiliki investor yang akan diinvestasikan pada kelas aset tersebut. Dan
selanjutnya Tandelilin mengatakan bagian dari dana yang diinvestasikan pada
setiap kelas aset disebut sebagai porsi dana atau bobot dana. Masing-masing
bobot dana tersebut akan berkisar antara 0% sampai 100%.
Keputusan alokasi aset tidak hanya meliputi penentuan alokasi dana pada
kelas aset di satu negara saja, tapi bisa dilakukan pada berbagai negara.
Investor bisa saja mendiversifikasikan dananya pada saham perusahaan tertentu
di negara A, obligasi berjangka waktu tertentu di negara B, emas dan properti di
negara C, dan seterusnya. Menurut Tandelilin (2010:162) manfaat yang bisa
diperoleh dari diversifikasi tersebut, yaitu manfaat pengurangan risiko pada
tingkat tertentu dari return yang diharapkan. Jika ada portofolio kelas aset yang
sesuai dengan preferensi investor, maka portofolio tersebut nantinya akan
menjadi portofolio optimal.
Tabel 2.1
Kelas Aset untuk Investasi Portofolio
SAHAM BIASA
EKUITAS DOMESTIK
Kapitalisasi Besar
Kapitalisasi Kecil
EKUITAS INTERNASIONAL
Pasar Modal Negara Maju
Pasar Modal Negara Berkembang
OBLIGASI
OBLIGASI PEMERINTAH
OBLIGASI PERUSAHAAN
Rating AAA
Rating BAA
Obligasi Berisiko TInggi (Junk Bond)
OBLIGASI DENGAN JAMINAN
OBLIGASI INTERNASIONAL
INSTRUMEN PASAR UANG
TREASURY BILLS
COMMERCIAL PAPER
GUANRANTEED INVESTMENT CONTRACTS
REAL ESTATE
MODAL VENTURA
Sumber : Tandelilin (2010:164)
Download