PERKEMBANGAN MORFOLOGI JUWANA KUDA LAUT

advertisement
1
PERKEMBANGAN MORFOLOGI JUWANA KUDA LAUT
(Hippocampus barbouri, Jordan & Richardson, 1908)
DALAM WADAH TERKONTROL
SKRIPSI
Oleh :
ANDRIYANTO SAMIN
L11108265
Pembimbing
Dr. Ir. Syafiuddin, M.Si (Ketua)
Dr. Inayah Yasir , M.Sc (Anggota)
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
1
2
PERKEMBANGAN MORFOLOGI JUWANA KUDA LAUT
(Hippocampus barbouri, Jordan & Richardson, 1908)
DALAM WADAH TERKONTROL
Oleh
ANDRIYANTO SAMIN
L11108265
Skipsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pada Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan
Universitas Hasanuddin
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
2
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi
: Perkembangan Morfologi Juwana Kuda Laut (Hippocampus
barbouri, Jordan & Richardson, 1908) Dalam Wadah
Terkontrol
Nama Mahasiswa : Andriyanto Samin
Nomor Pokok
: L 111 08 265
Program Studi
: Ilmu Kelautan
Skripsi telah diperiksa
dan disetujui oleh:
Pembimbing Utama,
Pembimbing Anggota,
Dr. Ir. Syafiuddin, M.Si
NIP. 19660120 199103 1 002
Dr. Inayah Yasir, M.Sc
NIP. 19661006 199202 2 001
Mengetahui,
Dekan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,
Ketua Program Studi
Ilmu Kelautan,
Prof. Dr. Ir. A. Niartiningsih, MP.
NIP. 196112011987032002
Dr. Ir. Amir Hamzah Muhidin, M.Si.
NIP. 196311201993031002
Tanggal Lulus:
Mei 2013
iii
iv
RIWAYAT HIDUP
Andriyanto Samin dilahirkan pada tanggal 11 Februari
1990 di Kota Makssar, Sulawesi Selatan.
Anak pertama
dari dua bersaudara, dari pasangan Samin dan Anah.
Menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri Lariangbanggi
III Makassar Pada tahun 2001, Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama di SMP Negeri 05 Makassar pada tahun 2004, dan
Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 16 Makassar pada
tahun 2007. Pada tahun 2008, penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi di universitas negeri terbesar di Indonesia Timur, Universitas
Hasanuddin. Penulis diterima masuk pada Jurusan Ilmu Kelautan melalui jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Selama menggeluti dunia kemahasiswaan, penulis juga aktif dalam
beberapa organisasi ekstra kampus, seperti pernah mengikuti OMBAK
(Oreantasi Mahasiswa Baru Kelautan) yang dilaksanakan SEMA ITK UNHAS
(Senat Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin) pada
tahun 2008 dan menjadi pengurus pada tahun 2009, pelatihan selam one star
scuba diver dan sekaligus menjadi anggota di MSDC-UH (Marine Scince Diving
Club Universitas Hasanuddin), Melakukan kegiatan Reef check di pulau Barrang
Lompo, Samalona dan Barrang caddi pada tahun 2009, Mengikuti Pendidikan
dan latihan SAR-UH (Search and Rescue Universitas Hasanuddin) sekaligus
menjadi pengurus pada tahun 2010, mengikuti lomba orientering tingkat nasional
pada tahun 2011, mengukiti pelatihan selam open water ADS (Associaton of
Diving School International) pada tahun 2012 dan mengikuti pendidikan magang
bagian Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Dinas Perikanan
Kelautan dan Pertanian Kota Bontang pada tahun 2012.
Penulis menyelesaikan rangkaian tugas akhir pada tahun 2010, yaitu
Praktik Kerja Lapang (PKL) dan Kuliah Kerja Nyata Reguler di Desa Tasiwalie,
Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinang. Ketertarikan dalam bidang marikultur
selama menjalani dunia perkuliahan yang akhirnya menginspirasi penulis untuk
melakukan penelitian dengan judul “Perkembangan Morfologi Juwana Kuda Laut
(Hippocampus barbouri, Jordan & Richardson, 1908) dalam Wadah Terkontrol”
pada tahun 2013.
iv
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt yang telah melimpahkan segala
rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang
berjudul “Perkembangan Morfologi Juwana Kuda Laut (Hippocampus barbouri,
Jordan & Richardson, 1908) Dalam Wadah Terkontrol” sebagai salah satu syarat
kelulusan di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin. Salawat serta salam
kepada Nabiullah Muhammad Saw atas segala
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan hambatan
namun berkat usaha, kemauan dan doa serta dukungan dari berbagai pihak
sehingga penulis dapat mengatasinya. Untuk itu penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua penulis, Bapak Samin dan Ibu Anah yang telah
membesarkan, memberikan dukungan moril maupun materil untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi dan senantiasa mendoakan
penulis.
2. Bapak Dr. Ir. Syafiuddin, M.Si selaku pembimbing utama sekaligus
membantu menemukan ide-ide tema penelitian dan ibu Dr. Inayah Yasir,
M.Sc. selaku pembimbing kedua yang telah meluangkan banyak waktu dan
pikiran untuk membimbing, memotivasi, memberikan saran, ilmu dan
perhatian selama penulis menyelesaikan laporan akhir.
3. Para dosen penguji Ibu Prof. Dr. Ir. A. Niartiningsih, MP., Prof. Dr. Andi
Iqbal, ST., M.Fish.,Sc., dan Bapak Dr. Ahmad Bahar, ST, M.Si. yang telah
meluangkan waktu dalam memberikan perhatian, kritik dan saran terhadap
skripsi penulis.
v
vi
4. Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu
kelautan yang terus memberikan semangat dan dorongan bagi penulis
selama masa studi hingga tahap penyelesaian skripsi.
5. Bapak Dr. Muh. Farid Samawi, M.Si. selaku penasehat akademik yang
selalu memberi masukan dan motivasi masalah akademik.
6. Anggi Azmita F. Marpaung, S. Kel yang banyak membantu penulis dalam
memecahkan masalah pribadi, menemani penulis dalam segala hal serta
menjadi motivasi tersendiri bagi penulis untuk menyelesaikan studi.
7. Teman-teman MEZEIGHT (Marine Scince Zero Eight) yang telah banyak
meluangkan waktu bagi penulis terutama untuk Andry, Sulaeman Natsir,
Arif. Terima kasih juga kepada Dayat, Haidir (Ritol), Anto Kopass, Anca,
Rahmadi, Haerul, Accank, Matte, Nirwan, Ivan (mangko), Adi sabbang, Kiki,
Cikal, Januar, Arik, Rufi, Baso, terkhusus untuk Azo yang menjadi teman
seperjuangan di Lab Penangkaran, Herman, Ucca, Nik, Halid dan Mufti.
Kemudian untuk para darma wanita MEZEIGHT Rabuana, Emma, Ipah,
Anti bolla, Darmiati, Adlien, Rizka dan Rara dan semua teman yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
8. Rekan-rekan seperjuangan SAR Universitas Hasanuddin Tole Arkeologi,
Rudi, Widya, Nur. Teman seperjuangan KKN Gelombang 82 Opik, Ical dan
Azhari
9. Teman-teman Kelautan yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang
telah menemani penulis selama kuliah di jurusan ilmu kelautan.
Terimakasih untuk semua bantuan, motivasi, kebersamaan, dan canda
tawamu di koridor yang tidak pernah padam.
Penulis
vi
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .........................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................
ii
RIWAYAT HIDUP ...........................................................................
iii
KATA PENGANTAR ......................................................................
iv
DAFTAR ISI ...................................................................................
iv
DAFTAR TABEL ............................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................
ix
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................
x
I. PENDAHULUAN .........................................................................
1
A. Latar Belakang ..................................................................
1
B. Tujuan dan Kegunaan .......................................................
2
C. Ruang Lingkup ..................................................................
2
II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................
3
A. Klasifikasi dan Morfologi....................................................
3
B. Karakteristik Tingkah Laku Kuda Laut ...............................
4
C. Perkembangan Embrio .....................................................
6
D. Pertumbuhan ....................................................................
7
III. METODE PENELITIAN .............................................................
10
A. Waktu dan Tempat ..........................................................
10
B. Alat dan Bahan ................................................................
10
C. Prosedur Penelitian .........................................................
10
1. Tahap Persiapan........................................................
10
2. Pengadaan dan Pemeliharaan Induk .........................
11
3. Pemeliharaan Juwana Kuda Laut...............................
11
D. Pengamatan Morfologi .....................................................
11
vii
viii
E. Analisis Data ....................................................................
12
IV. HASIL dan PEMBAHASAN ......................................................
13
A. Perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut H. barbouri
14
B. Perkembangan bentuk badan H. barbouri........................
16
C. Perkembangan bentuk ekor juwana H. barbouri ..............
20
V. KESIMPULAN dan SARAN .......................................................
22
A. Kesimpulan .......................................................................
22
B. Saran ................................................................................
22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
ix
DAFTAR TABEL
No
1.
Halaman
Rata-rata petumbuhan panjang dan berat juwana kuda laut
Hippocampus barbouri .............................................................
8
2.
Panjang kepala juwana kuda laut Hippocampus barbouri ........
14
3.
Panjang badan juwana kuda laut Hippocampus barbouri .........
16
4.
Panjang ekor juwana kuda laut Hippocampus barbouri ............
20
ix
x
DAFTAR GAMBAR
No
Halaman
1. Morfologi Kuda Laut ...................................................................
4
2. Pengamatan dan Pengukuran Bagian Tubuh Kuda Laut
H. barbouri .................................................................................
12
3. Perkembangan Bentuk kepala Juwana Kuda Laut
H. barbouri .................................................................................
15
4. Perkembangan Mahkota Juwana Kuda Laut H. barbouri............
15
5. Perkembangan Bentuk Badan Juwana Kuda Laut H. barbouri ...
18
6. Perkembangan Juwana Kuda Laut H. barbouri ..........................
19
7. Perkembangan Bentuk ekor Juwana Kuda Laut H. barbouri ......
21
x
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No
Halaman
1. Perkembangan bentuk juwana kuda laut H. barbouri
selama penelitian ..............................................................................
25
2. Hasil pengukuran juwana kuda laut H. barbouri selama penelitian ....
29
3. Perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut H. barbouri
Selama penelitian..............................................................................
30
4. Perkembangan bentuk badan juwana kuda laut H. barbouri
Selama penelitian..............................................................................
31
5. Perkembangan bentuk ekor juwana kuda laut H. barbouri
Selama penelitian..............................................................................
32
xi
xii
Abstrak
ANDRIYANTO SAMIN (L11108265) “Perkembangan Morfologi Juwana Kuda
Laut (Hippocampus barbouri) dalam Wadah Terkontrol” di bawah
bimbingan Syafiuddin sebagai pembimbing utama dan Inayah Yasir
sebagai anggota
Kuda laut mempunyai morfologi kepala yang menyerupai kepala kuda
dan faktanya bahwa kuda laut jantan mempunyai kantong pengeraman yang
tidak dijumpai pada jenis ikan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati
perkembangan morfologi juwana kuda laut (Hippocampus barbouri) setelah
keluar dari kantong pengeraman (Brood pouch) jantan, dilaksanakan pada bulan
Januari hingga Februari 2013 di Laboratorium Penangkaran dan Rehabilitasi
Ekosistem Laut, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,
Universitas Hasanuddin. Pengamatan dilakukan secara morfometrik (panjang
kepala, panjang badan, panjang ekor dan panjang total) dan secara meristik
(bentuk mahkota, bentuk dan jumlah cincin badan serta cincin ekor). Data hasil
penelitian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar.
Berdasarkan hasil yang didapatkan adalah pada awal kelahiran panjang kepala
adalah 0,32 cm kemudian pada akhir penelitian mencapai 0,93 cm. Bagian
mahkota berkembang dari awalnya tidak memiliki percabangan kemudian
berubah dengan empat percabangan. Pada awal kelahiran panjang badan
juwana adalah 0,41 cm kemudian pada akhir penelitian mencapai 1,29 cm.
Perubahan yang terlihat terdapat pada bagian cincin yaitu pada akhir penelitian
terlihat 11 cincin badan. Pada awal kelahiran panjang ekor juwana adalah 0,51
cm kemudian pada akhir penelitian mencapai 1,52 cm. Duri dan cincin ekor
belum tampak setelah kelahiran kemudian pada hari terakhir terdapat duri
berujung tumpul diikuti dengan 24 jumlah cincin pada bagian ekor. Kesimpulan
yang didapatkan pada formasi duri badan pada akhir penelitian adalah panjang,
pendek, pendek dan panjang, sedangkan pada ekor adalah panjang, pendek,
panjang dan begitu seterusnya. Perubahan mahkota pada awal kelahiran belum
memiliki cabang kemudian berubah menjadi empat percabangan.
Kata Kunci : Perkembangan morfologi, Juwana Kuda Laut, Hippocampus barbouri
xii
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wilayah pesisir merupakan ekosistem yang unik, karena pada kawasan
ini terjadi interaksi antara ekosistem daratan dan ekosistem laut. Secara sosioekonomi, kawasan pesisir merupakan kawasan yang sangat potensial dari segi
kandungan sumberdaya alamnya, baik yang bersifat biotik maupun abiotik.
Menurut Widodo, et al (1998), perairan Indonesia merupakan daerah
terkaya akan jenis-jenis ikan hias laut dibandingkan dengan beberapa negara
penghasil ikan hias lainnya. Di Indonesia terdapat lebih kurang 253 jenis ikan
hias laut, diantaranya adalah kuda laut.
Kuda laut cukup komersial dan unik karena mempunyai morfologi yang
berbeda dengan ikan-ikan yang lain. Kuda laut memiliki daya tarik tersendiri
yaitu, bentuk kepala kuda laut yang menyerupai kepala kuda dan faktanya
bahwa kuda laut jantan mempunyai kantong pengeraman yang tidak dijumpai
pada jenis ikan yang lain menjadi daya tarik tersendiri. Daya tarik lain adalah
posisi
badannya
yang
tegak
saat
berenang
serta
kemampuan
untuk
menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sehingga penampilannya
makin menarik untuk pajangan akuarium. Hal tersebut mendorong terjadinya
penangkapan yang intensif di alam sehingga membahayakan kelestariannya.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian kuda laut adalah
dengan melakukan pengembangan ke arah budidayanya.
Penelitian tentang perkembangan morfologi juwana kuda laut secara
morfologi sangat kurang dilakukan. Penelitian yang dilakukan pada umumnya
hanya mengamati laju pertumbuhan atau petumbuhan mutlak dari juwana kuda
laut seperti pertumbuhan panjang dan bobot pada waktu tertentu.
1
2
Latuconsina (2006) mengamati perkembangan embrio selama masa
pengeraman telur dalam kantong pengraman jantan kuda laut. Berdasarkan hal
tersebut penelitian ini mengamati perkembangan juwana kuda laut secara
morfologi setelah juwana dikeluarkan dari kantong pengeraman jantan hingga
berukuran benih dalam wadah pemeliharaan juwana kuda laut.
B. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan morfologi
juwana kuda laut (Hippocampus barbouri) setelah keluar dari kantong
pengeraman (Brood pouch) jantan. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan
menjadi bahan informasi mengenai aspek biologi kuda laut khususnya terhadap
pemeliharaan kuda laut.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini meliputi pengukuran juwana kuda laut (H.
barbouri) yang dipelihara selama 28 hari. Pengamatan dilakukan secara
morfometrik (panjang kepala, panjang badan, panjang ekor dan panjang total)
dan secara meristik (bentuk mahkota, bentuk dan jumlah cincin badan serta
cincin ekor).
2
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi dan Morfologi
Taksonomi kuda laut menurut Burton dan Maurice (1983) adalah sebagai
berikut :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class
: Pisces
Subclass : Teleostei
Order : Gasterosteiformes
Family : Syngnathidae
Genus : Hippocampus
Species : H. barbouri (Jordan dan Richardson, 1908)
Meski tubuh kuda laut menyimpang dari bentuk ikan pada umumnya,
organ-organ yang identik dengan organ tetap dapat ditemukan, seperti insang
sebagai organ respirasi, sirip punggung yang digunakan untuk bergerak dan
tulang punggung yang menjadi penopang tubuhnya (Thayib, 1977).
Seluruh tubuh kuda laut terbungkus oleh semacam baju baja yang terdiri
atas lempengan-lempengan tulang atau cincin. Kepala kuda laut mempunyai
mahkota (coronet), terdapat mata yang kecil, dan memiliki mulut yang panjang
seperti pipa. Tubuh kuda laut agak pipih dan melengkung, permukaan perut
kasar, memiliki sirip dada yang pendek dan lebar serta sirip punggung yang
cukup besar. Kuda laut memiliki ekor yang dapat dililitkan (prehensil) dan tidak
mempunyai sirip ekor. Kuda laut jantan memiliki kantong pengeraman (Broud
pouch) yang terletak di bawah perut sedangkan betina tidak memliki kantong
pengeraman (Gambar 1).
3
4
Gambar 1. Morfologi Kuda Laut (Burton dan Maurice, 1983)
B. Karakteristik Tingkah Laku Kuda Laut
Al Qodri, et al (1999) menyatakan bahwa kuda laut adalah hewan diurnal
yaitu hewan yang aktif pada siang hari atau selama ada penyinaran cahaya
matahari. Pemijahan berlangsung baik pada pagi, siang atau sore hari. Pada
siang hari kuda laut melakukan semua aktivitas kehidupannya secara aktif.
Kuda laut menggunakan matanya untuk mencari mangsa, karena kuda
laut mempunyai pandangan ganda (binocular vision). Jika kuda laut tidak mampu
berpindah dengan cepat untuk memburu mangsanya, maka kuda laut akan
menggunakan moncong mulutnya yang menyerupai pipa kecil. Dengan sekali
hentakan kepala, organisme seperti larva, plankton atau makhluk hidup lain yang
ukurannya cukup untuk masuk ke dalam mulut akan dihisap. Namum dalam
4
5
percobaan di laboratorium, Hippocampus ingens telah terbukti menjadi pemakan
yang suka memilih makanan (Mann, 1998).
Selain cara makan yang unik, ada fakta unik lainnya yaitu pada umumnya
kuda laut adalah monogami, Di alam, sifat monogami dan kesetiaan pasangan
pada kuda laut memberikan peran dalam keberhasilan reproduksi kuda laut,
karena kuda laut yang kehilangan pasangannya tidak dapat bereproduksi lagi
sampai menemukan kembali pasangan baru (Lourie et al , 1999).
Walaupun kuda laut monogami ternyata kuda laut dapat dipasangkan
dengan yang bukan pasangannya. Hal ini dibuktikan oleh Masonjones & Lewis
(2000) dalam Syafiuddin (2010), bahwa kuda laut jenis Hippocampus zosterae
betina
dapat
melakukan
percumbuan
berulang-ulang
(2-3
hari)
untuk
mengevaluasi folikel yang matang yang dapat ditransfer ke dalam kantong
pengeraman jantan. Kuda laut betina secara fisiologis dapat melakukan
percumbuan atau perkawinan dengan seketika setelah bertemu dengan seekor
jantan yang mau menerima dan dapat melakukan perkawinan ulang sebelum
akhir dari rata-rata siklus kehamilan jantan (Masonjones & Lewis 2000; Vincent &
Sadler 1995 dalam Syafiuddin 2010).
Salah satu faktor yang memengaruhi pematangan gonad untuk
melakukan reproduksi adalah suhu. Suhu air yang rendah atau tinggi di dalam
wadah pemeliharaan dapat memengaruhi waktu mencapai matang gonad. Suhu
28ºC optimal untuk perkembangan dan pematangan gonad kuda laut H. barbouri
(Syafiuddin, 2010).
Kuda laut jantan dalam melakukan pemijihan menggunakan ekornya
untuk menggapai pasangannya. Proses pemijahan diawali dengan masuknya
sirip dubur kuda laut betina ke dalam kantong kuda laut jantan. Selanjutnya sel
telur kuda laut betina disemprotkan ke dalam kantong telur kuda laut jantan untuk
selanjutnya dibuahi. Saat telur-telur menetas, larva dan anaknya diasuh dalam
5
6
kantong induk jantan sampai dianggap kuat dan dikeluarkan dari kantong
(Hidayat dan Silfester, 1998).
Kuda laut jantan mengerami telur selama 10-14 hari dalam kantong
pengeraman yang dilengkapi semacam placenta untuk suplai oksigen. Anakan
dilepaskan ke perairan sebagai juwana dengan bentuk seperti kuda laut dewasa.
Setelah berumur kurang lebih 30 hari, juwana akan berkembang menjadi benih
kuda laut dan ekornya mulai dapat dililitkan. Pada umur 90 hari, organ
reproduksinya mulai berkembang dan kuda laut sudah memasuki fase dewasa.
Sebagian besar kuda laut menghasilkan telur antara 100-200 butir bahkan ada
yang mencapai 600 butir. Pengeraman larva sepenuhnya dilakukan oleh kuda
laut jantan (Mann, 1998).
C. Perkembangan Embrio
Menurut Sumantadinata (1983), pembuahan adalah penggabungan
antara inti sel telur dengan inti sperma sehingga membentuk zigot yang menjadi
awal perkembangan embrio.
Perkembangan dari embrio sampai juvenil bervariasi dari satu jenis ikan
ke jenis ikan lain, dari ukuran tubuh sampai perubahan morfologi secara detail
(Blaxter, 1988). Faktor-faktor yang mempengaruhi diversitas perkembangan fase
larva, antara lain :
1.
Masa keberadaan kuning telur, yang bergantung pada jenis ikan, ukuran
telur dan temperatur
2.
Lama periode larva, berkisar dari beberapa hari sampai beberapa bulan
bergantung pada batas toleransi temperatur setiap jenis ikan.
Pada masa embrio terdapat dua fase stadia larva yaitu pralarva dan
postlarva. Pralarva adalah larva yang masih mempunyai kuning telur, sedangkan
postlarva adalah larva yang telah kehabisan kuning telur sampai terbentuk organ
6
7
baru. Pada masa akhir dari postlarva, secara morfologis telah mempunyai bentuk
yang sama dengan induknya yang biasanya disebut juvenil (Effendie, 1985).
Periode pralarva kuda laut, diawali saat embrio berumur 5 hari (±120 jam)
yaitu sejak telur menetas hingga umur 10 hari (±240 jam). Pada umur 120 jam
atau hari kelima, embrio yang baru menetas masih transparan. Terdapat bintikbintik pigmen yang menyebar diseluruh tubuh. Bakal vertebra (tulang belakang)
nampak berwarna putih sehingga segmen-segmen tubuh terlihat seperti garis
yang hampir membentuk ruas-ruas vertebra hingga ke ujung ekor namun garis
tersebut belum menyatu (Latuconsina, 2006).
Menurut Al Qodri (1998) bahwa ciri embrio Hippocampus kuda sebelum
dilahirkan telah memiliki saluran pencernaan yang sudah lengkap, mulut sudah
sempurna dan bentuk tubuh sudah sempurna. Pigmen tubuh makin nyata,
tonjolan pada cincin tubuh dan cincin ekor makin berkembang meskipun masih
terlihat kuning telur dengan butiran-butiran pada bagian perut.
D. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah resultan dari pertambahan panjang dan berat
individu dalam suatu waktu tertentu (Effendie, 1979). Pertumbuhan terjadi bila
jumlah energi makanan yang dicerna melebihi jumlah energi makanan yang
diperlukan untuk mempertahankan hidup (Sastrawidjaja, 1992).
Proses pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor
internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa : keturunan, umur, ketahanan
terhadap serangan penyakit dan kemampuan untuk memanfaatkan pakan.
Faktor eksternal adalah salinitas, suhu, kuantitas pakan, kadar oksigen terlarut,
pH serta ruang gerak kuda laut (Lockyear, 1998).
Faktor pemberian pakan sangat mempengaruhi pertumbuhan kuda laut.
Juwana kuda laut yang tidak diberi pakan hingga 12 jam, besar kemungkinan
akan menolak untuk makan pada malam berikutnya. Hal ini akan mengakibatkan
7
8
pertumbuhannya
terhambat
dan
bahkan
dapat
menyebabkan
kematian
(Sudaryanto dan Al Qodri, 1993).
Al Qodri (1997) mengatakan bahwa ketersediaan pakan merupakan salah
satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan selama pemeliharaan juwana
kuda laut. Jenis, mutu, dosis dan frekuensi pemberian pakan yang tepat sangat
berpengaruh terhadap peningkatan kelangsungan hidup juwana tersebut.
Selanjutnya dikatakan bahwa pemberian pakan awal copepoda dengan dosis 3 –
5 ekor/ml air media pemeliharaan memberikan hasil yang baik pertumbuhan
juwana kuda kuda laut yang berumur 1 sampai 2 hari dengan tingkat
kelangsungan hidup mencapai 33–57%. Selanjutnya Hoar et al, (1979)
mengatakan pertumbuhan juwana sama apabila konsumsi makanan yang
diberikan sama dan berat serta panjang ikan pada awal juga sama.
Mangampa et al (2002) mengemukakan, bahwa kematian pada
pemeliharaan kuda laut banyak terjadi pada saat pemeliharaan awal sampai
umur 30 hari karena kegagalan dalam proses osmoregulasi dan fluktuasi suhu
yang tinggi.
Menurut (Mann, 1998) anakan kuda laut yang baru dilahirkan
berukuran sekitar 6-12mm (Tabel. 1).
Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan panjang dan berat juwana kuda laut
Hippocampus kuda. (Sudaryanto dan Al Qodri, 1999)
Umur
1 Hari
10 Hari
20 Hari
30 Hari
60 Hari
90 Hari
Panjang
0.82 cm
1.37 cm
3.02 cm
3.90 cm
4.87 cm
5.69 cm
Berat
0.0019 gr
0.0142 gr
0.1300 gr
0.2120 gr
0.301 gr
0.502 gr
8
9
Juwana kuda laut yang telah berumur 30 hari sudah dapat dikatakan
benih karena juwana tersebut telah dapat menggunakan ekornya untuk
bertengger. Beberapa lainnya sudah dapat mengalami perubahan warna dari
hitam ke kuning, sudah dapat memakan artemia dewasa atau rebon dan tahan
bila dipindahkan dari satu wadah ke wadah yang lain (Al Qodri, et al , 1999).
9
10
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2013 di
Laboratorium Penangkaran dan Rehabilitasi Ekosistem Laut, Jurusan Ilmu
Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.
B. Alat dan Bahan
Wadah yang digunakan pada penelitian ini adalah bak beton yang
berukuran 170 x 100 x 70cm, kurungan induk berukuran 80 x 40 x 60cm yang
dilapisi dengan kain organdi berwarna hitam. Kurungan dilengkapi dengan aerasi
dan tempat kuda laut melilitkan ekornya. Mikroskop dilengkapi dengan
micrometer untuk mengamati dan mengukur perubahan morfologi kuda laut,
cawan petri digunakan untuk meletakkan sampel, lup (kaca pembesar)
digunakan untuk mengamati morfologi kuda laut, alat tulis dan gambar untuk
mencatat data dan menggambar hasil pengamatan, botol sampel untuk
menyimpan sampel, kamera untuk mendokumentasikan perubahan morfologi
pada kuda laut.
Bahan yang digunakan adalah induk kuda laut, Mysid (awang awang) dan
udang rebon yang telah dibekukan sebagai pakan induk kuda laut, Nauplii
artemia sebagai pakan juwana kuda laut, alkohol 70% digunakan untuk
mengawetkan sampel, air laut sebagai media pemeliharaan
C. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini meliputi penyiapan wadah pemeliharaan dan alat-alat yang
digunakan dalam penelitian. Wadah penelitian diisi air laut yang
bersalinitas 32 ‰ yang terlebih dahulu disaring menggunakan
catridge dan filter bag berukuran 1 mikron.
10
filter
11
2. Pengadaan dan Pemeliharaan Induk
Induk diperoleh dari hasil tangkapan nelayan Pulau Lantang Peo
Kepulauan Tanakeke Kabupaten Takalar berukuran 12-14cm sebanyak
16 ekor. Induk kuda laut dipelihara dan dipijahkan dalam kurungan
dengan perbandingan jantan dan betina 1:1 yang ditempatkan dalam bak
beton volume 850 liter. Selama masa pemeliharaan, induk kuda laut
diberi pakan berupa Mysid shrimp (awang-awang) dalam keadaan hidup
dan udang rebon yang telah dibekukan. Frekuensi pemberian pakan
dilakukan dua kali sehari yaitu pagi jam 08.00 dan sore jam 16.00
3. Pemeliharaan Juwana Kuda Laut
Setelah induk jantan mengeluarkan juwana kuda laut di kantong
pengeraman. Selanjutnya juwana dipindahkan ke dalam baskom volume
5 liter dengan padat penebaran 10 ekor/baskom. Juwana kuda laut
dipelihara selama 28 hari dan diberi pakan berupa Nauplii artemia secara
ad satiation dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi
jam 08.00, siang jam 12.00 dan sore jam 16.00.
D. Pengamatan Morfologi
Pengamatan morfologi juwana kuda laut dilakukan setelah juwana
dikeluarkan dari kantong pengeraman sampai umur 28 hari. Pengamatan
morfologi dilakukan setiap hari dengan cara mengambil sampel juwana kuda laut
secara acak di dalam wadah pemeliharaan. Sampel kemudian diletakkan di
cawan petri untuk diamati di bawah mikroskop. Pengamatan yang dilakukan
meliputi bentuk tubuh, bentuk mahkota, warna tubuh, bentuk duri punggung dan
dada, perhitungan cincin badan dan ekor.
Setelah
pengamatan
morfologi
dan
meristik
dilanjutkan
dengan
pengukuran morfometrik yaitu pengukuran panjang kepala yang dimulai dari
11
12
ujung mulut sampai dengan tulang penutup insang (operculum), panjang badan
diukur dari tulang penutup insang (operculum) sampai dengan ujung sirip dubur
(anal fin), panjang ekor diukur dari sirip dubur (anal fin) sampai dengan ujung
ekor (Gambar 2)
Keterangan:
1. Panjang Mulut
2. Panjang Kepala
3. Panjang Badan
4. Panjang ekor
5. Mahkota
6. Cincin Badan
7. Cincin ekor
1
3
6
7
4
Gambar 2. Pengamatan dan Pengukuran Bagian Tubuh Kuda Laut
H. barbouri
E. Analisis Data
Data hasil penelitian perkembangan dan perubahan morfologi juwana
kuda laut dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar.
12
13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Ikan selama hidupnya mengalami lima periode yaitu embrionik, larva,
juvenil, dewasa dan tua. Dalam periode larva, ikan dibagi dalam dua fase yaitu
pralarva dan postlarva. Setiap fase mengalami perubahan-perubahan baik
morfologi maupun anatomi. Pada masa juvenil perubahan tidak terlalu signifikan
karena
morfologi
dan
anatomi
ikan
sudah
menyerupai
ikan
dewasa
(Effendie,1993).
Secara umum kuda laut terlihat serupa, kepala berbentuk segitiga,
moncong berbentuk pipa, badan keras dan panjang, ekor menyerupai ekor kuda
dan dapat dililitkan (prehensil). Menurut Lourie et al, (1999) beberapa aspek
yang umum digunakan dalam menentukan jenis kuda laut adalah
1. Panjang total tubuh dari kuda laut
2. Jumlah cincin badan
3. Moncong kepala sebagai proporsi panjang kepala
4. Perkembangan pada duri di bagian tubuh
5. Bentuk duri pipi dan mata
6. Jumlah cincin ekor
Selain yang disebutkan di atas, untuk H. barbouri warna juga dapat
digunakan untuk menentukan jenis kuda laut. Namun perbedaan warna tidak
dapat menjadi dasar untuk menyatakan satu kuda laut berbeda jenis dari yang
lain. (Al Qodri dkk, 1998; Simon dan Schuster, 1997; Hidayat dan Silfiester,
1998). Menurut Lourie, et. al (1999) H. barbouri memiliki beberapa bentuk yang
bervariasi, namun yang mendukung taksonomi subdivision H. barbouri adalah
genetikanya melalui analisis DNA dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
dapat memutuskan benar atau tidak kuda laut tersebut memiliki dua atau lebih
spesies tersendiri.
13
14
A. Perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut H. barbouri
Panjang kepala juwana kuda laut pada umur satu hari (pada awal
kelahiran) adalah 0,32cm dan pada akhir penelitian mencapai 0,93cm (Tabel 2
dan Lampiran 2)
Tabel 2. Panjang kepala juwana kuda laut H. barbouri
Hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Panjang Kepala (cm)
0,32
0,32
0,41
0,47
0,44
0,48
0,5
0,4
0,66
0,62
0,68
0,63
0,61
0,63
Hari
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Panjang Kepala (cm)
0,74
0,76
0,74
0,87
0,87
0,87
0,87
0,89
0,73
0,73
0,87
0,79
0,88
0,93
Menurut Lourie, et al, (1999) mahkota yang terdapat pada bagian kepala
kuda laut H. barbouri berbentuk bintang atau spines yang merupakan ciri khusus
dari H. barbouri. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa mahkota pada umur
satu hari (awal kelahiran) terlihat seperti layar perahu dengan duri kecil yang
tumpul dibagian kepala. Juwana pada umur empat hari, mahkotanya berbentuk
seperti segitiga yang menyerupai tanduk. Mahkota semakin tampak dengan
empat percabangan dan duri awal yang semakin pendek dan tumpul dengan
pembentukan mahkota pada umur 11 hari. Kemudian pada umur 22 hari
mahkota menyerupai bintang dengan percabangan empat. Pada pengamatan
umur 28 hari duri mahkota yang semakin panjang yang berbentuk bintang
sedangkan duri yang ada pada awal kelahiran semakin tumpul.
14
15
Pada juwana kuda laut, duri mata baru terlihat pada umur lima hari yang
berbentuk double. Menurut Lourie et al, (1999), H. barbouri memiliki ciri khusus
yaitu memiliki dua duri di bawah mata.
Secara keseluruhan perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut
selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 3, 4 dan Lampiran 3
Gambar 3. Perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut H. barbouri
(Keterangan: a. Mahkota, b. Duri di bawah mata)
Hari ke-1
Hari ke-4
Hari ke-10
Hari ke-28
Gambar 4. Perkembangan Makhota juwana Kuda Laut H. barbouri
15
16
C. Perkembangan Bentuk Badan H. barbouri
Menurut Tahyib (1977) bahwa sepanjang permukaan tubuh kuda laut
seakan-akan dilapisi oleh tulang pipih menonjol yang menyerupai perisai dan
berbentuk seperti cincin yang berfungsi sebagai kerangka luar (eksoskeleton).
Bentuk yang unik pada kuda laut adalah bentuk badan. Bentuk badan
kuda laut memanjang vertikal dengan duri yang terdapat di seluruh tubuh kuda
laut. Juwana kuda laut H. barbouri mirip dengan kuda laut dewasa. Panjang
badan juwana kuda laut pada umur satu hari (awal kelahiran) adalah 0,41cm dan
pada akhir penelitian mencapai 1,29cm. Panjang badan juwana kuda laut selama
penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Panjang badan juwana kuda laut H. barbouri
Hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Panjang Badan (cm)
0,41
0,51
0,57
0,59
0,66
0,56
0,66
0,52
0,88
0,89
0,99
0,9
0,94
0,92
Hari
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Panjang Badan (cm)
1,18
0,95
1,01
1,07
1,01
1,08
1,08
1,04
1,17
1,17
1,19
1,15
1,17
1,29
Ciri-ciri yang membedakan kuda laut dengan ikan lainnya adalah kuda
laut memiliki cincin badan yang mengelilingi tubuhnya. Pada umur tiga hari
terlihat garis-garis halus yang mengelilingi badan juwana. Kemudian pada umur
lima hari cincin badan tampak jelas dan bertambah menjadi delapan cincin pada
hari ke-7. Pada hari ke-10, badan terlihat membesar dengan sebelas cincin
badan yang jumlahnya tidak bertambah lagi hingga dewasa.
16
17
Berbeda dengan ikan laut yang umumnya memiliki sisik, kuda laut
memiliki duri pada bagian badannya. Pengamatan juwana pada umur satu hari,
duri pada bagian badan tampak seperti benjolan-benjolan. Kemudian pada hari
ke tiga benjolan tersebut menjadi tumpul. Duri melancip, panjang dan besar pada
hari ke lima. Duri selang-seling yang diawali dengan duri panjang, pendek,
panjang dan begitu seterusnya terlihat pada hari ke-7 sampai hari ke-22. Pada
pengamatan juwana umur 28 hari, duri badan masih terlihat selang-seling tetapi
dengan interval satu duri panjang kemudian diikuti dua duri pendek lalu duri
panjang dan begitu seterusnya (Gambar 6).
Menurut Lourie, et al (1999) bentuk formasi cincin dan duri badan pada
tubuh kuda laut dewasa adalah berujung tumpul dengan indeks keberadaan duri
(panjang, pendek, pendek dan panjang). Hal ini menjelaskan bahwa forrmasi
cincin dan duri badan kuda laut (H. barbouri) dewasa sama dengan formasi
cincin dan duri badan juwana kuda laut.
Untuk lebih jalasnya perubahan pada bagian badan kuda laut seluruhnya
dapat dilihat pada Gambar 5 dan Lampiran 4 sedangkan perubahan untuk
seluruh bagian tubuh dapat dilihat pada Gambar 6.
17
18
Gambar 5. Perkembangan bentuk badan juwana kuda laut H. barbouri
(Keterangan: a. Cincin badan, b Duri badan)
18
19
19
20
D. Perkembangan bentuk ekor juwana kuda laut H. barbouri
Juwana kuda laut memiliki ekor lebih panjang daripada badan (lampiran
2). Hal ini didukung pernyataan Hansen dan Cummins, (2002) bahwa kuda laut
memiliki ciri khusus lain yaitu memiliki ekor yang lebih panjang dari pada badan
dan tubuhnya.
Pada awal kelahiran panjang ekor kuda laut berukuran 0,51cm. Kemudian
panjang ekor mencapai 1,52cm pada akhir penelitian (Tabel 4).
Tabel 4. Panjang ekor juwana kuda laut H. barbouri
Hari Panjang Ekor (cm)
0,51
1
0,67
2
0,69
3
0,65
4
0,67
5
0,51
6
0,79
7
0,61
8
1,17
9
1,18
10
1,28
11
1,25
12
1,21
13
1,14
14
Hari Panjang Ekor (cm)
1,42
15
1,21
16
1,32
17
1,46
18
1,46
19
1,49
20
1,37
21
1,46
22
1,49
23
1,49
24
1,43
25
1,28
26
1,49
27
1,52
28
Pada Tabel 4 telihat bahwa panjang ekor juga tidak diiringi dengan
bertambahnya umur sama halnya dengan perkembangan kepala dan badan. Ini
disebabkan kurangnya intensitas cahaya pada wadah pemeliharaan juwana.
Danakusumah dan Imanishi (1984) mengatakan bahwa pertumbuhan ikan dapat
dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, oksigen
terlarut, pada penebaran serta jumlah pakan dan kualitas pakan yang diberikan.
Selain ukuran ekor lebih panjang dari badan dan kepala. Kuda laut
memiliki cincin dan duri pada bagian ekor. Cincin ekor kuda laut baru mulai
tampak pada hari ke tiga setelah kelahiran. Ekor juwana pada umur tiga hari
20
21
tampak kasar dengan duri pada bagian samping dan terdapat 10 cincin ekor.
Pada umur lima hari terdapat 11 cincin ekor dengan duri samping. Kemudian
pada umur tujuh hari cincin ekor bertambah menjadi 14, dengan duri pendek dan
tumpul. Sampai pada umur 25 hari cincin ekor berjumlah 24 sama pada hari ke28 (Lampiran 1 dan Gambar 7).
Secara keseluruhan perkembangan bentuk kepala juwana kuda laut
selama penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 5
b
b
a
a
b
a
b
a
Gambar 7. Perkembangan bentuk ekor juwana kuda laut H. barbouri
(Keterangan: a. Cincin ekor, b Duri ekor)
Lourie et al (1999) mengatakan jumlah keselurahan cincin pada tubuh
kuda laut berkisar 34-35 dengan formasi duri adalah panjang, pendek, dan
panjang kemudian begitu seterusnya. Pada juwana kuda laut didapatkan 24
cincin ekor dan 11 cincin badan sehingga total keseluruhan cincin adalah 35. Ini
membuktikan jumlah cincin juwana pada umur 28 hari dan kuda laut dewasa
memiliki jumlah sama dengan formasi duri panjang, pendek, panjang dan begitu
seterusnya.
21
22
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Panjang kepala pada awal kelahiran adalah 0,32cm kemudian pada
akhir penelitian mencapai 0,93cm. Bagian mahkota berkembang dari
awalnya tidak bercabang menjadi mahkota dengan empat percabangan.
2. Pada awal kelahiran panjang badan juwana adalah 0,41cm dan tidak
memiliki cincin kemudian pada akhir penelitian mencapai 1,29cm
dengan 11 cincin badan.
3. Pada awal kelahiran panjang ekor juwana adalah 0,51cm tanpa duri dan
cincin ekor. Pada akhir penelitian panjangnya mencapai 1,52cm dengan
24 cincin ekor dan duri yang berujung tumpul dan
4. Formasi duri badan pada akhir penelitian adalah panjang, pendek,
pendek dan panjang sedangkan formasi pada ekor adalah panjang,
pendek, panjang dan begitu seterusnya.
B. Saran
Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengamati perubahan morfologi pada
saat menjelang dewasa dan untuk mendapatkan gambaran yang maksimal
mengenai perkembangan kuda laut jumlah sampel diperbanyak.
22
23
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. Hartono, P. Anwar, K, 1999. Pembenihan Kuda Laut (Hippocampus
spp). Ditjen Balai Budidaya Laut Lampung
Al Qodri AH, Sudjiharno, Hermawan A. 1998. Pemeliharaan induk dan
pematangan gonad. Di dalam: Pembenihan kuda laut (Hippocampus
spp). Lampng: Deptan, Ditjenkan. Bali Budidaya Laut.
Al Qodri, A.H., Sudjiharno dan P.Hartono, 1999. Rekayasa Teknologi
Pembenihan Kuda Laut (Hippocampus, spp). Ditjen Balai Budidaya
Laut.Lampung.
Ballard. W. W. 1964. Comparative and Embriology.The Ronald Press.Co. New
York. 89-164
Blaxter, J.H.S. 1988. Pattern and Variety in Development.In Physiology W.S.
Hoar and Randall. Vol.XI: The Phisiology of Developing Fish. Academic
Pres. New York. P:3-49
Burton, R. dan Maurice. 1983. Sea Horse. Departemen of Icthyology American
Museum of Natural History American.
Danakusumah, E. Dan K. Imanishi. 1984. On The Station of Grouper
(Epinephelus tawrina). Laporan Penelitian Perikanan Laut (30): 63-66
Effendie, M.I. 1985. Biologi Perikanan, Bagian I: Studi Natural History. Fakultas
Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Hal: 43-102
Effendie, M.I., 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor
Hansen, C and H. Cummins., 2002. Tropical Marine Ecology. http : // www. pbs.
org/ wgbh/ nova/ seahorse. htm (diakses 18 Maret 2004).
Hidayat dan Silfester., 1998. Biologi Kuda Laut. Pembenihan Kuda Laut
(Hippocampus spp). Direktorat Jenderal Perikanan. Balai Budidaya Laut.
Lampung.
Hoar, W. S.. D.J. Randal, and J.R. Brett. 1979. Fish Physiology. Bioenergetics
and Growth. Academic Press, Inc. London. Volume III.
Isnansetyo, Alim dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton &
Zooplankton. Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta. 116 pp.
Khairuman dan K. Amri. 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia
Pustaka, Tangerang. 83 pp
Latuconsina, R.S. 2006.Studi Pendahuluan Perkembangan Embrio Kuda Laut
(H. barbouri).Skripsi Jurusan Budidaya Perairan. Universitas Hasanuddin.
Makassar
23
24
Lockyear, J, 1998. Studi Pendahuluan Pemijahan di Bak Terkontrol dan
Pembesaran Kuda Laut KNYSNA (Hippocampus copensis). Department
of Ichthyology and Fisheries Science Rhodes University. Graham Stown.
South Africa.
Lourie, S. A., A. C. J Vincent., H. J Hall., 1999. Seahorses “An Identification
Guide To The Words Species And Their Conservation. Project Seahorse.
London. UK.
Mangampa, M., Burhanuddin dan H.S. Suwoyo. 2002. Studi Pendahuluan
Penggunaan Air Tambak sebagai Media Pemeliharaan Juwana Kuda
Laut (H. barbouri). Disampaikan pada Seminar Nasional Memacu
Pengembangan Agribisnis Melalui Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan
Penerapan Teknologi Spesifik Lokasi. Balai Penelitian Perikanan
Pantai. Makassar, 22 - 23 Oktober 2002.
Mann, R. H. 1998. Guiding Giant Seahorse. California Wild – Here At The
Academy. http: // www. Calacademy. org/calwild archives/ seahorse. htm
(diakses 22 Maret 2004).
Nikolsky, G. V. 1963. Theory of Fsh Populastion Dynamik, As The Biological
Background of Rational and Management of Fishery Resource, translated
by Bradley. Oliver dan Boyd. 323 p
Sastrawidjaja, T.M.F., 1992. Pengaruh Pemberian Ransum Uji Dengan Kadar
Protein. Aneka Ilmu, Semarang.
Smith, S. 1957. Early Developmnet and Hatching.In M.E. Brown (Eds).The
Phisiology of Fishes. Volume I : Metabolism. Academic Press, Inc
Published. New York
Sudaryanto, & A.H. Al Qodri. 1993. Pemeliharaan Juwana Kuda Laut
(Hippocampus spp) di bak Terkontrol. Departemen Pertanian. Dirjen
Perikanan. Balai Budidaya Laut Lampung. Buletin Budidaya Laut No. 7 :
10-16.
Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia.
PT Sastra Hudaya. Jakarta.
Syafiuddin. 2010. Studi Aspek Fisiologi Reproduksi Perkembangan Ovari dan
Pemijahan Kuda Laut (H. barbouri) dalam Wadah Budidaya. Disertasi
Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Thayib, S.S, 1977. Beberapa Catatan Menarik Mengenai Tangkur Kuda
(Hippocampus ,spp). Warta Oseana G. Hal 1-5.
Widodo, J., B. Priyono dan G. Tampubulon., 1998. Potensi Penyebaran
Sumberdaya Ikan Laut Di Perairan Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi LIPI. Jakarta.
24
Download