Jurnal Kompetensi Aparatur (JKA) - Badan Diklat Jatim

advertisement
ISSN : 2581 - 1096
Jurnal
KOMPETENSI APARATUR
Jurnal Kompetensi Aparatur merupakan media publikasi ilmiah berkala yang diterbitkan 2 (dua) kali setahun
oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur.
Penasehat
Dr. A. Mudjib Afan, M.Kes
Penanggung Jawab
Mochammad Suluh, SH., M.Si
Tim Penyusun
Drs. Sudjud, M.Si
Dra. Ec. Lilik Jumiati, M.Si
Parlindungan, SH., M.Si
Abdul Halim, S.Sos
Wiwin Windriatmoko, S.Kom
Ahmad Falih Hadika, S.Fil, MKP
Tim Instrumen
Dra. EC. RR. Budi Andajani
Titin Arijatin
Tim Editor
Deddy Eko Wardyanto, A.Md
Pradistya Aryo Saputra, SH
Tim Redaksi
Badi Nurhadi, S.Sos
Dra. Sri Indrawati
Miskari, S.Sos., MM
Agus Darmawan, S.Sos
Alamat
Jl. Balongsari Tama Tandes, Surabaya – Jawa Timur
Telp : 031CALL
– 7412278,
: 031 - 7412279
FOR Fax
PAPERS
Artikel dapat diketik dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, Menggunakan font TIMES NEW ROMAN ukuran 12,
spasi 1, kertas ukuran A4, Jumlah halaman 15 – 20 ( termasuk lampiran) , Judul, Menggunakan huruf capital tebal
(BOLD), ditulis dalam dua bahasa Indonesia dan Inggris. Nama dan alamat penulis, nama ditulis dengan gelar dibawah
judul, jika penulis lebih dari satu orang maka harus ditambahkan kata penghubung “dari” (bukan lambang “&”).
Dicantumkan juga alamat bekerja/institusi serta alamat e-mail penulis. Abstrak, ditulis dalam dua bahasa : Indonesia dan
Inggris. Tulisan cetak miring (italic), spasi tunggal, maksimal 500 kata. Kata Kunci, ditulis dalam dua bahasa, Indonesia
dan Inggris, Terdiri dari 3 – 5 kata, ditulis dengan huruf cetak miring (italic). Badan artikel terdiri dari Pendahuluan,
Landasan Teori, Metode Penelitian , Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan dan Rekomendasi dan Referensi.
Kirimkan artikel beserta CV ke email : [email protected]. Artikel yang masuk akan melalui proses penilaian
redaksi dan penilaian substansi. Seluruh proses komunikasi akan dilakukan via Telp/SMS/WA. CP : Falih – 0856 4825
0086, Deddy – 081 330 185 450, Pradis – 0856 4948 2331
i
Jurnal
KOMPETENSI APARATUR
Daftar Isi
Analisa
 ANALISA STRATEGI REKRUETMEN KEPEMIMPINAN DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS DEMOKRASI
1 - 13
Dr. Akmal Boedianto, SH., M.Si
 TRANSFER PELATIHAN BERBASIS EXPERIENTIAL LEARNING
DI SEKTOR PUBLIK STUDI PADA ALUMNI
DIKLAT PRAJABATAN GOLONGAN III
15 - 32
Dr. Esti Sri Rahayu, SP., MP
 ADOPSI NILAI BENCHMARKING TO BEST PRACTICE
DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT III
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
35 - 45
Dr. Hary Wahyudi, SH., M.Si
 PERAN CHAMPION CHILD RIGHT MAINSTREAMING
DALAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN KABUPATEN/KOTA
LAYAK ANAK DI JAWA TIMUR (STUDI ALUMNI DIKLAT TEKNIS
PENINGKATAN KAPASITAS PENGARUSTAMAAN HAK ANAK)
47 - 65
Arie Cahyono, S.STP., M.Si
 PEMBERIAN KOMPENSASI DALAM MENINGKATKAN
KINERJA APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) DI LINGKUNGAN
PEMERINTAH KOTA MALANG. (COMPENSATION TO
IMPROVING THE PERFORMANCE OF THE STATE'S CIVIL
APPARATUS (ASN) IN LOCAL GOVERNMENT OF MALANG)
Rendra Kurnia Wardana
ii
67 - 81
Jurnal
KOMPETENSI APARATUR
Salam Redaksi
Dengan luapan kegembiraan dan penuh rasa syukur, sejenak kita sampaikan
terimakasih sedalam-dalamnya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, dengan kuasa-Nya
Badan Diklat Provinsi Jawa Timur dapat menerbitkan Jurnal ilmiah dengan judul Jurnal
Kompetensi Aparatur.
Jurnal Kompetensi Aparatur (JKA) yang ditangan pembaca sekarang ini, merupakan
jurnal perdana milik Badan Diklat Provinsi Jawa Timur, Jurnal Volume 01 nomor 01 yang
diterbitkan pada tahun 2017, pertama kalinya. JKA sebagai jurnal awal (masih) merupakan
first project Jurnal Ilmiah milik Badan Diklat Provinsi Jawa Timur yang nantinya akan
bermetamorfosis, dimana penyempurnaan-penyempurnaan masih sangat terasa diperlukan,
masih jauh dari kriteria jurnal yang baik. Bagaimana seharusnya Jurnal yang baik dan apa
manfaatnya?
Jurnal yang baik idealnya adalah jurnal yang sudah mendapatkan akreditasi nasional. Di
Indonesia, LIPI dan DIKTI menjadi lembaga yang berwenang menerbitkan akreditasi
jurnal ilmiah. Prakarsa akreditasi jurnal ini sebenarnya bukanlah hal yang mutlak, namu
perlu dilakukan sebagai rangkaian upaya standarisasi dalam pengelolaan jurnal sehingga
bisa mencapai kualitas yang memadai. Memang, ketika langkah tersebut dilakukan
memerlukan upaya yang serius dari seluruh pihak, dari penulis, reviewer dan sudah pasti
pengelola jurnal tersebut. Prof. Wasmen Manalu, Tim Akreditasi Jurnal DIKTI pernah
bertutur, bahwa pengelola jurnal adalah “orang gila”.
Jika kita mengikuti instrument penilaian dari LIPI maupun Dikti, terdapat berbagai
kriteria dan bobot penilaian yang digunakan. Ketika sebuah lembaga sudah memantapkan
diri untuk menjadikan Jurnal Ilmiahnya masuk ke ranah akreditasi, maka lembaga tersebut
harus siap untuk menikmati berbagai macam keruwetan dan rumitnya proses akreditasi.
Misalnya saja, dalam keberkalaan terbitan. Jurnal sudah bisa “diikutkan” untuk proses
akreditasi harus merupakan Jurnal yang berumur, artinya Jurnal yang baru saja
“mengikrarkan diri” terbit sebagai Jurnal Ilmiah tidak serta merta dapat mendaftarkan diri
untuk “diaudisi” sebagai kandidat Jurnal Akreditasi. Dari LIPI misalnya, memberi syarat
Jurnal Ilmiah dapat diakreditasi haruslah minimal sudah terbit selama 6 (enam) kali
terbitan. Jika suatu lembaga menerbitkan dalam satu tahun 2 kali terbitan, maka diperlukan
waktu 3 tahun agar Jurnal tersebut sudah dapat masuk kandidat Jurnal Akreditasi.
Kemudian, yang tidak kalah merepotkan adalah tata kelola jurnal. Penerbit Jurnal
Ilmiah dalam suatu lembaga sangat tidak diperkenankan dan tidak memiliki otoritas untuk
penilaian suatu tulisan. Tugas penerbit jurnal adalah semata mengurusi manajemen dan
menjaga kesamaan gaya selingkung (style masing-masing jurnal). Yang memiliki otoritas
penuh dalam penilaian tulisan adalah komunitas akademik yang diberbagai tempat lazim
disebut reviewer.
Satu artikel untuk Jurnal ilmiah, masing-masing didelegasikan kepada 2 (dua) orang
reviewer yang kompeten, setelah sebelumnya dilakukan proses penyuntingan untuk
memeriksa standarisasi tulisan agar sesuai dengan sistematika Jurnal. Jika satu artikel
jurnal ilmiah tersebut ditolak oleh reviewer pertama, dan reviewer kedua menerima, perlu
adanya pembanding dari reviewer ketiga untuk diputuskan. Status artikel jurnal yang
dinilai kemudian memunculkan keputusan, diterima tanpa perbaikan, diterima dengan
perbaikan, ditolak. Ukuran penolakannya juga dilihat dari berbagai macam faktor, seperti
kebaruan (novelti) dan pembeda (distingsi).
iii
Jurnal
KOMPETENSI APARATUR
Untuk Jurnal yang belum terakreditas, masalah klasik yang terjadi adalah minimnya
penulis yang mengumpulkan artikel. Pengelola jurnal ilmiah sangat kesulitan menyaring
tulisan karena minimnya artikel yang masuk ke redaksi. Namun, betapa gembiranya tatkala
project Jurnal Kompetensi Aparatur ini mendapat respon positif dari berbagai penulis,
khususnya para akademisi. Selanjutnya, dengan segala kerendahan hati, kami menyajikan
lima artikel yang terdiri atas :
1. Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas
Demokrasi, oleh Akmal Boedianto;
2. Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning di Sektor Publik Studi Pada
Alumni Diklat Prajabatan Golongan III, oleh Esti Sri Rahayu;
3. Adopsi Nilai Benchmarking to best practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, oleh Hary Wahyudi;
4. Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan Kebijakan
Kabupaten/Kota Layak Anak di Jawa Timur (Studi Alumni Diklat Teknis Peningkatan
Kapasitas Pengarustamaan Hak Anak), oleh Arie Cahyono;
5. Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang. (Compensation To Improving The
Performance Of The State's Civil Apparatus (ASN) In Local Government Of Malang),
oleh Rendra Kurnia Wardana.
Semoga, dengan berbagai keterbatasan yang ada, Jurnal Kompetensi Aparatur ini
dapat menjadi jurnal untuk meningkatkan kompetensi aparatur di negara Indonesia kita
tercinta. Proses perubahan yang konstruktif dapat terjadi jika pengembangan wacana dan
keilmuan seluruh stakeholder dapat terbangun melalui diskursus ilmiah yang dapat
diimplementasikan melalui sebuah karya dan inovasi, semoga Jurnal Kompetensi Aparatur
ini bisa menjadi wadah untuk itu.
Redaksi
iv
Analisa
ANALISA STRATEGI REKRUETMEN KEPEMIMPINAN DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS DEMOKRASI
Dr. Akmal Boedianto, SH., M.Si
Badan Pendidikan Dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur
Jl. Balongsari Tama Tandes Surabaya
Email: [email protected]
Naskah diterima: 6 Juli 2017, Naskah direvisi: 10 Juli 2017, Naskah disetujui:
20 Juli 2017
Abstrak
Rekruitmen Kepemimpinan Poloyik dapat meeningkatkan Kualitas
Demokrasi Dalam Memperkokoh Ketahanan-Nasional. konsepsi dan implementasi
pandangan mengenai rekru-itmen kepemimpinan Partai Politik terhadap peningkatan
kualitas pembangunan demokrasi untuk memperkokoh NKRI. Pancasila sebagai
pemikiran mendasar dan landasan kenegaraan yang idiil telah menyediakan nilainilai filosofis untuk diwujudkan dalam kehidupan bernegara yang memperkokoh
ketahanan nasional NKRI termasuk melalui Partai Politik.
Kata Kunci : Rekruetmen, Elite Politik, Kualitas Demokrasi
A. PENDAHULUAN
Seorang ilmwuan politik, Karl W. Deutsch, sebagaimana yang disampaikan oleh
Prof. Afan Gaffar Guru besar ilmu politik UGM pada saat lokakarya peningkatan
kapasitas kelembagaan Eksekutif–Yudikatif beberapa waktu yang lalu mengumpakanan
penyelenggara pemerintahan itu ibaratanya orang yang membawa kapal di tengah samudra
yang luas. Kepala Pemerintahan Daerah yang dikenal sebagai Kepala Daerah dalam sebuah
negara ibaratnya seorang Kapten Kapal yang tengah berlayar dalam sebuah samudra yang
sangat luas. Kapten harus tahu kemana tujuan kapal beserta muatannya hendak dibawa
berlayar. Di pelabuhan mana, pulau atau benua mana, dibarat ataukah di timur, utara atau
selatan. Seorang kepala (pemimpin) pemerintahan dalam level apapun harus tahu visi, misi
dan tujuan dari pemerintahannya. Ia harus mengendalikan laju kapal untuk dapat on the
track kapal agar mencapai tujuan tersebut.
Tugas yang kedua, seorang kapten kapal harus tahu lingkungan yang ada disekitar
kapalnya, seperti seberapa jauh kedalaman laut, derasnya arus, tinggi dan besarnya ombakgelombang, arah dan kecepatan angin. Dia juga harus tahu membaca gejala di sekitarnya.
Cuaca hari tertentu seperti apam apakah akan hujan ataukah badai. Dia juga harus mampu
membawa kapalnya supaya tidak menabrak karang, dia harus mampu mengindarkan
kapalnya supaya tidak bertabrakan dengan kapal atau lalu lintas berlayar lainnya. Seorang
pemimpin pemerintahan juga sama seperti itu. Gubernur.
Sekretaris Daerah, Kepala Badan, Kepala Dinas , Kepala Biro, Kepala Bidang,
Kepala Bagian, Kasie, Kasubag, lurah/kepala desa harus tahu lingkungan organisasi,
sumber daya, sosial yang ada dimana dia menjalankan roda pemerintahan. Bagaimana
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
1
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
masyarakat yang dilayani, kebutuhan dan harapan yang dilayani. Kalau ada aspirasi dan
bagaimana mengartikulasikan dan meresponnya. Besarnya harapan dan arus tuntutan
ibaratnya seperti besarnya arus ombak, angin dan badai yang merupakan tantangan agar
supaya kapal itu berlayar dengan selamat sampai tujuan.
Ketiga, seorang kapten kapal harus tahu kekuatan kapalnya. Kapasitas mesin
kapalnya berapa, kecepatan pacu yang sesuai dengan kapasitas mesin, volume bahan bakar
yang dibutuhkan untuk menjalankan kapal dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Dia
juga harus memahami karakter mesin kapalnya, komponen teknis yang menjadi daya
dorong kapalnya. Berapa jumlah awalnya, bagaimana karakter mereka. Seorang pemimpin
pemerintahan pemerintahan juga harus seperti itu. Seberapa besar kekuatan
pemerintahannya. Aparat birokrasinya seperti apa, sumber daya yang dimiliki dan seperti
apa karakter mereka. Dengan mengetahui komponen kapalnya maka dia akan mampu
mengkoordinasi semua kegiatan yang ada dalam kapalnya. Seorang Gubernur, Sekretaris
Daerah, Kepala Badan, Kepala Dinas , Kepala Biro, Kepala Bidang, Kepala Bagian, Kasie,
Kasubag, Lurah/Kepala Desa harus seperti itu.
Ke empat, seorang Kapten harus mampu melakukan komunikasi dengan baik
dengan pengatur lalu lintas pelayaran, dengan kapten kapal yang lain, harus mampu
berkomunikasi dengan seluruh awak kapal dari Mualim sampai dengan Tukang Masak.
Dia juga harus mampu berkomunikasi dengan baik dengan para penumpang kapal yang
ada. Seorang pemimpin harus dapat membayangkan apa yang terjadi dalam kapal itu, jika
kapten tidak mampu berkomunikasi dengan baik maka akan berakibat sangat fatal.
Lantaran itu, seorang pemimpin pemerintahan harus mampu menjalin komunikasi yang
baik dengan seluruh pemimpin lain-dalam level apapun.
Kelima, seorang kapten kapal harus mampu melakukan pengaturan yang
menyangkut pembagian tugas seluruh stafnya, mengatur para penumpang supaya tertib dan
memahami aturan dalam kapal itu, mengatur penumpang supaya dapat bekerjasama satu
sama lain, mengatur muatan supaya tidak berkurang atau tidak terlampau berlebihan.
Pemimpin pemerintahan juga harus melakukan hal yang sama, yaitu melakukan regulasi
yang berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya, membuat ketentuan dan aturan,
menjalankan dan menegakkan norma-norma agar supaya semua berjalan sesuai dengan
fungsi, dan tanggung jawab masing-masing, menjaga dan memelihara kesepakatan, dan
lain sebagainya.
Itulah hakikat dari kegiatan pemimpin pemerintahan. Dari sudut pandangan ini kita
dengan jelas dapat melihat betapa pentingnya kondisi fisik seorang pemimpin
pemerintahan. Dia harus memiliki fisik yang prima, karena dia harus selalu siap dua puluh
empat jam menghadapi persoalan yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya.
Seorang pemimpin adalah suri tauladan bagi segenap jajaran dibawahnya, yaitu kelebihan
ilmu dengan penampilan yang menyakinkan.
Pemerintahan adalah kegiatan penyelenggaraan negara guna memberikan
pelayanan dan perlindungan kepada segenap warga masyarakat, melakukan pengaturan,
meobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, serta membina hubungan baik di dalam
lingkungan negara ataupun dengan negara lain. Di tingkat lokal tentu saja membina
hubungan dengan pemerintahan nasional, dan pemerintahan daerah yang lainnya.
B. RUMUSAN PERMASALAHAN
Pada umumnya, pelaksanaan pemerintahan dimanapun mempunyai dua tugas atau
kewenangan utama, yaitu apa yang disebut dengan kewenangan yang bersifat administratif
2
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
dan kedua kewenangan politik. Tugas kewenangan administratif melekat pada jabatan
seorang eksekutif yang sehari-harinya harus mengendalikan roda pemerintahannya.
Seorang pemimpin politik setiap hari harus mengambil langkah dan kebijakan yang
bersifat administratif seperti mengangkat, mempromosikan, mendemosi dan
memberdayakan Staf. Menentukan pembagian tugas dengan jelas diantara para Staf.
Kegiatan-kegitan yang menyangkut manajemen pemerintahan sehari-hari merupakan tugas
dan kewenangan seorang kepala pemerintahan.
Oleh kalangan ahli ilmu administrasi negara kegiatan ini mencakup perencanaan,
pengorganisasian, penentuan Staf yang menjalankan tugas tertentu, memberikan
pengarahan-pengarahan apa yang hendak dan harus dilakukan oleh kalangan Staf,
melakukan koordinasi secara internal dan eksternal dengan berbagai macam lembaga atau
instansi, dan mencari serta menentukan sumber daya keuangan bagi kegiatan tersebut.
Kajian ini akan digunakan untuk menjawab rumusan masalah “Bagaimanakan peran
rekruetmean elite partai politik dalam meningkatkan kualitas pembangunan demokrasi?”
C. METODE PENELITIAN DAN KAJIAN
Menggunakan metoda deskriptif-analisis berarti penulisan yang dilakukan dengan
menggambarkan kondisi nyata untuk ditelaah secara konsepsional dalam rangka
mengembangkan langkah-langkah untuk membangun ketaha- nan nasional NKRI yang
kuat. (“sta ute-ap-proach”) yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan
peraturan perundang-undangan dan pendekatan konsepsional
Dengan pendekatan normatif berarti penulisan ini bermula dari analisis terhadap
ketentuan hukuk yang mengatur tentang Partai Politik dalam kaitannya dengan demokrasi
dan ketahanan nasional NKRI. Melalui pendekatan konsepsional berarti penelaahan
dilakukan dengan menggunakan konsepsi- konsepsi kepemimpinan, demokrasi dan
ketahanan nasional sebagai sarana untuk membahas masalah rekruitmen kepemimpinan
Partai Politik.
D. LANDASAN TEORITIK
Dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan secara jelas tugas negara dan seluruh
rakyat termasuk partai politik di Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksa-nakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Pemahaman konstitusional tersebut tentu membawa serta pengertian betapa
pentingnya menata Partai Politik dengan memahami tujuan Partai Politik secara umum
sebagaimana tercantum dalam pasal 10 UU No 2 th 2008 tentang Partai Politik yang
intinya menyatakan mewujutkan cita-cita bangsa, menjaga dan memelihara keutuhan
NKRI, mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan mewujutkan
kesejahteraan rakyat serta tujuan khususnya yaitu meningkatkan partisipasi politik anggota
dan masyarakat, memperjuangkan cita-cita partai, dan membangun etika dan budaya
politik.
Tujuan Partai Politik tersebut secara yuridis menghendaki terjadinya transformasi
kepemerintahan dan kepemimpinan nasional yang muncul dari pengurus-pengurus Partai
Politik. Jajaran pengurus Partai Politik tampak melakukan langkah-langkah politik untuk
mendapatkan kekuasaan secara total dalam penyelenggaraan negara. Dari keten-tuan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
3
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
yuridis tersebut itulah Partai Politik merupakan pintu masuk pengembangan kepemimpinan
nasional yang dapat memperkokoh NKRI.
Formulasi yuridis yang diatur dalam UU Partai Politik tersebut mengagendakan
perlunya pembinaan kepemimpinan Partai Politik secara profesional. Kualitas
pembangunan demokrasi yang baik membutuhkan Partai Politik yang mampu menjalankan
tujuannya secara profesional. Hal ini menghen- daki lahirnya kepepimpinan Partai Politik
yang benar-benar memahami cita dasar NKRI. Partai Politik dapat menjalankan peran
besar dalam mengamankan NKRI dengan menumbuhkan partisipasi politik masyarakat
yang baik..
Politisi memiliki pula tanggungjawab besar untuk mengembangkan demokrasi
Pancasila secara berkualitas demi terciptanya martabat politik yang melekat di Partai
Politik. Terjadinya kekerasaan di banyak wilayah di Indonesia tampaknya juga melibatkan
pelaku -pelaku politik yang tidak dewasa sehingga semakin memperburuk citra Partai
Politik.
Konstalasi tersebut merupakan petunjuk awal yang membuat kekuatan Partai
Politik dianggap sebagai organisasi yang rekruitmen kepemimpinannya belum
menunjukkan ke arah yang positif bagi pengembangan demokrasi. Partai Politik adalah
pihak yang dituduh masyarakat sebagai tatanan yang melahirkan kepemimpinan di daerah
maupun nasional yang mencerminkan kualitas Partai Politiknya. Hal ini disebabkan karena
partai politik sudah tidak lagi mencantumkan Pancasila sebagai asas, munculnya pemimpin
yang tidak dikenal oleh masyarakat dan juga terlalu banyaknya partai politik di Indonesia
sehingga menyebabkan kontrol negara terhadap partai politik menjadi lemah. Partai Politik
telah menjadi organisasi yang dianggap oleh masyarakat tidak memberikan kontribusi
perubahan kepemimpinan yang berkualitas dalam pengembangan demokrasi.
Kondisi demikian memang dipandang memiliki implikasi politik dan pemerintahan
yang luas sehubungan dengan kedudukan Partai Politik sebagai organisasi penyalur
aspirasi masyarakat. Kebuntuan kepemimpinan yang tidak sambung dengan kehendak
rakyat cenderung melahirkan pola kepemim-pinan yang justru tidak demokratis, melainkan
otoriter serta feodalisme.
Semakin tinggi, karena Partai Politik dan calon-calon anggota legislatif dan
calon-calon Kepala Daerah yang ditawarkan tidak memenuhi harapan masyarakat akibat
rekruitmen kepemimpinan Partai Politik yang tidak ideal. Partai Politik pada ujung
ceritanya akan menjadi penghambat demokrasi apabila tidak segera memperbaiki
mekanisme rekruitmen kepemimpinan Partai Politik dalam kerangka bernegara yang
demokratis demi ketahanan nasional.
Rekruitmen adalah suatu sarana untuk menjaring atau mendapatkan sesuatu
melalui mekanisme tertentu untuk memenuhi kebutuhan yang harus diisi dengan
mempertimbangkan kondisi obyektif. Dengan rekruitmen ini berarti akan terjadi
penyaringan secara sistematis terhadap calon-calon anggota atau pemimpin kelompok,
sehingga terdapat seleksi yang tertentu bagi kepentingan kelompok tertentu.
Kepemimpinan adalah suatu kemampuan atau seni untuk membuat. Suatu
kelompok orang terarah pada sesuatu yang dikehendaki oleh pemimpinnya. Dengan
demikian kepemimpinan adalah suatu keadaan yang menyangkut kemampuan seseorang
untuk mempengaruhi anggota kelompoknya sesuai dengan yang dicita- citakan.
Organisasi partai politik yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga
Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk
memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan
4
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
negara, serta memelihara keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
Kualitas adalah (ukuran) baik buruk suatu benda; taraf atau (kepandaian,
kecerdasan dsb). Dalam hal ini kualitas demokrasi di Indonesia yaitu nilai-nilai Pancasila
Pembangunan demokrasi seyogianya dimengerti seba-gai upaya untuk melakukan tindakan
yang mengarah kepada keadaan yang lebih baik bagi nilai-nilai pemerintahan yang berasal
dari rakyat, untuk rakyat dan akan kembali ke rakyat.
Demokrasi yang berkualitas tampak membutuhkan Partai Politik yang mampu
mengembangkan norma-norma demokrasi melalui rekruitmen kepemimpinan yang baik.
Dalam tataran kenegaraan (termasuk di dalamnya kemasyarakatan dan kebangsaan)
terdapat pesan paradigmatik bahwa Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional harus menjadi arus utama pengembangan kepemimpinan Partai
Politik. Kepemimpinan Partai Politik yang dipersepsi publik belum responsif, belum
aspiratif dan belum profesional harus menjadi dorongan bagi Partai Politik untuk menata
sistem rekruitmennya. Suatu pola kepemimpinan yang bertumpu pada Pancasila, UUD
1945.
E. ANALISA PEMBAHASAN
Rekruitmen kepemimpinan partai politik yang akan menghasilkan pemimpin
nasional maupun daerah dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional
yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dalam rangka mencapai
tujuan.
Partai Politik merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan
kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawan
Peraturan perundang-undangan sebagai perangkat hukum memang memiliki makna besar
untuk mewujudkan kepastian hukum dan keadilan hukum bagi seluruh warga NKRI
termasuk Partai Politik. Untuk itulah semua elemen Partai Politik harus tunduk dan patuh
pada ketentuan bernegara yang terformulasikan dalam peraturan perundang- undangan
bidang politik. Tanpa ketaatan kepada regulasi yang mengatur kehidupan tata gerak Partai
Politik sudah dipastikan dunia perpolitikan akan liar tanpa kendali negara
Dengan demikian betapa pentingnya UU Partai Politik memberi arahan bagi
bangunan nasional yang kepemimpinan Partai Politiknya direkruit secara matang dalam
mengembangkan masyarakat yang demokratis. Sebelum UU Partai Politik diundangkan
tampak bahwa regulasi politik belum optimal mengakomodasi dinamika dan
perkembangan masyarakat yang menuntut peran Partai Politik dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara serta tuntutan mewujudkan Partai Politik sebagai organisasi yang bersifat
nasional dan modern. Mengenai perangkat regulasi yang berkaitan dengan rekruitmen
kepemimpinan Partai Politik dapat disarikan secara khusus antara lain adalah sebagai
berikut
Kemampuan seseorang untuk menjalankan roda kepemim-pinan di tubuh Partai
Politik tentu saja juga harus memiliki kapasitas profesional agar Partai Politik mempunyai
daya saing yang handal dengan SDM yang mampu mengembangkan demokrasi secara
berkualitas guna memperkokoh NKRI. Sebagai pandangan harus diungkapkan pula bahwa
teori yang terujuk merupakan bagian dari bahan untuk penguatan penulisan ini sebagai
penulisan yang berbasis keilmuan (“scientific-mind”).
a.Kondisi Rekruitmen Kepemimpinan Partai Politik
PartaiPolitik memiliki perkembangan yang sejalan dengan perkembangan masyarakat
di mana Partai Politik itu lahir, tumbuh dan berkembang. Untuk itu tidaklah berlebihan
apabila dalam Penjelasan Umum (UU Partai Politik) memberikan diskripsi bahwa
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
5
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
dinamika peningkatan peran, fungsi, dan tanggung jawab Partai Politik dalam kehidupan
demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat dalam upaya
mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, menjaga dan memelihara keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan
Pancasila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Maka untuk mengetahui bagaimana kualitas kepemimpinan Partai Politik niscaya
dibutuhkan pengetahuan untuk mengerti tentang keanggotaan Partai Politik dan
rekruitmennya sebagai bagian dari tahapan kaderisasi Partai Politik saat ini secara yuridis.
Pendidikan politik merupakan instrumen penting dalam mendewasakan
kepemimpinan Partai Politik yang mampu melahirkan kepemimpinan Partai Politik yang
demokratis bagi penguatan ketahanan nasional NKRI. Partai Politik memiliki peran besar
untuk melakukan pendidikan politik dengan maksud utama untuk mengembangkan
demokrasi yang partisipatoris dengan kader-kader Partai Politik yang mampu melahirkan
kepemimpinan Partai Politik yang sejalan dengan pandangan dasar NKRI.
Pendidikan politik sebagaimana dimaksud dilaksanakan untuk membangun etika
dan budaya politik sesuai dengan Pancasila. Untuk itulah secara ideologis harusnya semua
pendidikan politik yang dilakukan oleh Partai Politik bersumberkan kepada Pancasila.
Pendidikan politik yang diagendakan oleh Partai Politik seyogianya mampu
menginternalisir nilai-nilai Pancasila sebagai landasan filosofis pengembangan demokrasi
yang berkualitas. Semua itu meneguhkan suatu refleksi dari mendesaknya kebutuhan suatu
pendidikan politik yang mampu melahirkan kepemimpinan Partai Politik yang baik.
Kepemimpinan Partai Politik yang berdasarkan Pancasila secara praksis tidak
otomatis dapat diimplementasikan dalam dunia politik di Indonesia. Apa yang dirumuskan
dalam UU Partai Politik saat ini membutuhkan penerapan serius dan dukungan publik agar
tidak menjadi masalah domestik NKRI
Implikasi Rekrutmen
Rekruitmen kepemimpinan ditubuh partai masih menyisakan tanda tanya, karena
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Partai Politik dipahami tidak banyak yang
mempunyai kemampuan kenegaraan yang matang. Partai Politik cenderung menampilkan
konflik yang justru memperburuk citra Partai Politik sendiri. Kualitas SDM dan tata cara
rekruitmen kepemimpinan yang feodalistik adalah parameter indikatif yang paling jelas
tentang keruwetan Partai Politik.
b. Kondisi Rekruitmen Kepemimpinan Yang Diharapkan
Tidak ada demokrasi yang berkembang dalam sebuah negara tanpa adanya Partai
Politik yang hidup dengan jiwa yang sangat demokratis. Untuk itulah adalah suatu
kewajaran apabila Partai Politik beridiri untuk menegakkan demokrasi secara benar dengan
tetap memperhatikan kondisi di mana Partai Politik tersebut berada. Partai Politik pada
konsteks demokrasi dipastikan mempunyai kepentingan untuk menjaga dan
mengembangkan demokrasi agar berkualitas untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi
dan fungsi Partai Politik bersangkutan. Partai Politik tidak akan dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik tanpa penataan kehidupan demokrasi
Anggota dan pimpinan Partai Politik seyogianya menyadari bahwa dirinya diadakan
untuk menggunakan Partai Politik sebagai instrumen demokrasi yang meneguhkan bahwa
nilai- nilai demokrasi Pancasila itu baik dan memperkokoh ketahanan nasional NKRI itu
6
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
mutlak sebagai sesuatu yang logis sebagai Warga NKRI. Partai Politik yang tidak
mengembangkan kehidupan demokrasi yang Pancasilais dan memperkokok ketahanan
NKRI adalah Partai Politik yang semestinya tidak berada di NKRI. Maka adalah tugas dan
tanggung jawab Partai Politik sendiri untuk menentukan siapa -siapa yang pantas menjadi
anggota dan pimpinan Partai Politik yang hidup di NKRI. Pimpinan Partai Politik musti
dibekali suatu ajaran atau paham yang mampu membawa Partai Politiki tetap dalam garis
edar kenegaraan NKRI yang berdirinya berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945.
Rekruitmen keanggotaan dan kepemimpinan Partai Politik yang bersumberkan pada nilainilai demokrasi Pancasila pada akhirnya adalah kebutuhan yang harus dilakukan oleh
semua komponen Partai Politik yang ada di seluruh wiilayah NKRI
c.Indikator Keberhasilan Rekruitmen Kepemimpinan Politik
Keberasilan rekruitmen kepemimpinan Partai Politik tercipta apabila mekanisme
rekruitmen keanggotaan Partai Politik sebagaimana diatur dalam AD dan ART Partai
Politik terlaksana. Rekruitmen keanggotaan dan kader Partai Politik merupakan pijakan
awal untuk keberhasilan seleksi lahirnya pemimpin-pemimpin Partai Politik yang handal.
Dengan melihat sistem rekruitmen keanggotaan Partai Politik yang diatur dalam AD/ART
Partai Politik semestinya
Akan tercipta kader-kader Partai Politik yang sejalan dengan pemahaman Partai
Politik yang bersangkutan Perkembangan demokrasi dikatakan berhasil apabila kedaulatan
rakyat mendapatkan tempat yang proporsional serta penghargaan yang besar dari Partai
Politik. Masyarakat dan anggota Partai tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan
masa tanpa cita-cita. Partai Politik dengan caranya sendiri untuk melakukan rekruitmen
kepemimpinan melalui tahapan awal keanggotaan Partai Politik jelas memiliki cita-cita
untuk merealisasikan tujuan Partai Politiknya sesuai dengan koridor yang tersedia. NKRI
telah mengeluarkan beragam regulasi Partai Politik untuk mampu mengembangkan
demokrasi Pancasila secara berkualitas agar terwujud kepemimpinan nasional yang berasal
dari Partai Politik tetapi tetap teguh dalam lingkup geografis NKRI.
Kepemimpinan nasional maupun kepemimpinan Partai Politik harus disadari
sesungguhnya akan tumbuh dengan baik dalam sistuasi Partai Politik yang mampu
mengemban demokrasi secara komplit. Keanggotaan Partai Politik dengan segala hak dan
kewanjibannya harus digunakan sebagai indikator berhasil tidaknya Partai Politik
menyusun strategi pengembangan kepemimpinan yang matang. Partai Politik harus mampu
mengembangkan tatanan demokrasi secara total yang dalam NKRI tentu berpegang teguh
kepada Pancasila. Oleh karena itulah harus dimengerti dengan benar bahwa keberhasilan
Partai Politik untuk menggalang anggota dan kader yang mengamalkan Pancasila adalah
indikatoir filosofis paling mendasar mengenai keberhasilan Partai Politik untuk untuk
menciptakan Partai Politik yang Pancasilais. Kepemimpinan Partai Politik yang dalam
Anggaran Dasarnya secara tegas mengamanatkan Pancasila sebagai patokan kehidupan
merupakan bentuk yang paling
Kepemimpinan Partai Politik yang lahir secara prosedural demokratis diseyogiakan
melahirkan kepemimpinan Partai Politik yang demokratis. Hal ini berarti bahwa apabila
rekruitmen Partai Politik yang sejak awal menggunakan nilai- nilai dasar Pancasila maka
diharapkan akan tercipta kader Partai Politik dan keanggotaan Partai Politik yang selalu
sedia mengamankan Pancasila. Kaderisasi Partai Politik dalam mempersiapkan
kepemimpinan internal Partai sangat berpengaruh signifikan secara nasional. NKRI akan
selalu berkembang demokrasi Pancasilanya dengan ketahanan nasional yang kokoh apabila
Partai-partai Politik mampu melakukan seleksi keanggotaan dan kader kepemimpinan yang
sesuai dengan jiwa terdalam Pancasila
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
7
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
Melalui sistem keanggotaan dan kaderisasi yang baik dalam Partai Politik akan
melahirkan kepemimpinan Partai Politik yang demokratis dan sanggup memperkokoh
ketahanan nasional NKRI. Untuk itulah persyaratan keanggotaan Partai Politik adalah
sistem filter yang baik untuk menjaring calon-calon pimpinan Partai Politik.
Berdasarkan uraian di atas, maka Indikator Keberhasilan Rekruitmen
Kepemimpinan Partai Politik guna Meningkatkan Kualitas Pembangunan Demokrasi
dalam rangka memperkokoh Ketahanan Nasional adalah sebagai berikut : Mekanisme
rekruitmen keanggotaan partai politik sesuai dan konsisten dengan AD dan ART Partai
Politik; Kepemimpinan Partai Politik lahir secara prosedural demokratis; Rekruitmen
Kepemimpinan Partai Politik sejak awal menggunakan nilai-nilai dasar Pancasila maka
diharapkan akan tercipta kader Partai Politik dan keanggotaan Partai Politik yang selalu
sedia mengamankan Pancasila; Kedaulatan rakyat mendapat-kan tempat yang proporsional
serta penghargaan yang besar dari Partai Politik; Rekruitmen kepemimpinan melalui
tahapan awal keanggotaan Partai Politik jelas memiliki cita- cita untuk merealisasikan
tujuan Partai Politiknya sesuai dengan koridor yang tersedia; serta Demokrtatisasi
keanggotaan Partai Politik pada akhirnya melahirkan demokratsiasi kepemimpinan Partai
Politik yang memiliki daya juang untuk mengembangkan demokrasi Pancasila serta NKRI
Untuk itu, mengawali konsep rekruitmen kepemimpinan partai politik guna
meningkatkan kualitas demokrasi dalam rangka memperkokoh ketahan nasional berikut
disajikan variable yang digunakan sebagai indikator keberhasilan yang diharapkan dapat
memberikan keyakinan kepada para pihak yang selanjutnya akan mengem-bangkan dan
mengambil langkah strategis dalam pembangunan nasional :
a. Meningkatnya pencerminan nilai-nilai pancasila dalam kepemimpinan parpol, dengan
indikator keberhasilan sebagai berikut :
1) Terumuskannya dan tersosialisinya konsep kepemimpinan yang berwawasan
kebangsaan dan mencerminkan nilai-nilai Pancasila melalui :
a) Pemerintah (Pusat/Daerah) bekerjasama melakukan penetapan visi
kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan dan mencerminkan nilai-nilai
Pancasila secara konseptual;
b) Pemerintah dan seluruh komponen bangsa melakukan penataan kerangka
berpikir dan perilaku yang mencerminkan kepemimpinan yang negarawan
yaitu kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan dan mencerminkan nilainilai Pancasila;
2) Tersosialisasinya konsep kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan dan
mencerminkan nilai-nilai Pancasila, baik secara langsung (tatap muka dengan pemimpin
parpol), maupun tidak langsung dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat
serta tokoh lainnya yang berpeluang menjadi pejabat publik melalui kendaraan partai
politik
3) Terlaksananya transformasi konsep kepemimpinan yang mencerminkan nilai-nilai
Pancasila pada setiap jenjang pendidikan dan kehidupan bermasyarakat/bernegara,
melalui kegiatan :
a) Pemerintah bersama seluruh tokoh masyarakat secara proaktif memberikan
keteladanan dalam pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila, mulai lingkungan
keluarga hingga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
b) Pemerintah dan seluruh tokoh masyarakat berupaya mensosialisasikan pentingnya
pelestarian nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila melalui jalur
pendidikan formal dan non formal;
8
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
4) Terfasilitasinya penyiapan kader kepemimpinan/pemimpin melalui jalur partai yang
telah disempurnakan dengan kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan dan
mencerminkan nilai-nilai Pancasila, melalui kegiatan :
a) Para pemimpin organisasi politik melalukan kaderisasi secara fair, matang,
profesional, berjenjang dan berkesinambungan sehingga kualitas (kepemimpinan
yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila) yang diharapkan dapat terpenuhi;
b) Proses kaderisasi kepemimpinan parpol dilaksanakan secara transparan dan adil
melalui fit and proper test sehingga masyarakat tidak keliru dalam memilih
pemimpinnya;
c) Pembudayaan wawasan kepemimpinan yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila
yang diimbangi dengan mensosialisaikan melalui jalur non formal dan
memberikan kesempatan kepada Parpol untuk mengikuti pendidikan-pendidikan
formal di pemerintahan.
5) Tersedianya mentor yang berkualitas sehingga mampu menjadi tauladan bagai
generasi muda di bawahnya dalam mengimplementasikan kepemimpinan yang
berwawasan kebangsaan dan mencerminkan nilai-nilai Pancasila;
Meningkatnya kemampuan partai politik dalam memproduksi kader-kader partai
politik yang memadai untuk menjalankan organisasi partai politik. Partai harus dapat
mendidik kader sehingga mereka mempunyai karakter dan mentalitas bahwa
keberadaannya sebagai kader partai adalah panggilan hidup, karena cita-cita atau
karena keyakinan. Mereka juga harus digembleng agar mempunyai keterampilan
menerjemahkan ideologi partai menjadi kebijakan publik. Selain itu mereka juga harus
dididik mempunyai semangat kebersamaan dan kesetaraan. Artinya, sebagai kader
mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk meniti karier sampai jenjang
tertinggi pada partai yang bersangkutan
b. Meningkatnya pendidikan politik bagi kader-kader partai politik, dengan indikator
keberhasilan sebagai berikut :
1) Terfasilitasinya Penyelenggaraan Pendidikan Politik dan Pengembangan Sistem
Politik bagi kader-kader Parpol.
2) Terfasilitasinya penyelenggaraan pendidikan politik dan pengembangan sistem
politik yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi kader-kader parpol
terhadap hak dan kewajiban politiknya dalam berbagai segi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
3) Terfasilitasnya partai politik dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan
sosialisasi dan pembinaan kader-kadernya;
4) Terfasilitasinya pendidikan politik dan pengembangan budaya politik dalam
kehidupan parpol;
5) Terfasilitasinya pembenahan secara sistematik ketembagaan, tata kerja, personil,
dan proses yang terjadi baik di tingkat suprastruktur politik maupun di tingkat
infrastruktur politik;
Terfasilitasinya pengembangan pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui
penegakan hukum secara adil dan konsisten sebagai cermin pengembangan etika
politik dan budaya politik yang positif – konstruktif
c. Meningkatnya kontrol negara terhadap partai politik, dengan indikator keberhasilan
sebagai berikut :
Terbitnya regulasi yang mewajibkan agar Partai Politik menjadikan Pancasila sebagai
asasnya. Ini adalah upaya legal yang harus ditempuh oleh NKRI demi Demokrasi
Pancasila yang berkualitas
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
9
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
Terlaksananya revisi UU Partai Politik yang membenarkan adanya asas yang tidak
menggunakan Pancasila. Langkah untuk mengubahan regulasi politik yang tidak
secara tegas menjadikan Partai Politik berasaskan Pancasila harus dilakukan
sebagai upaya pembangunan demokrasi Pancasila yang berkualitas bagi upaya
untuk memperkokoh ketahanan NKRI. Hanya melalui komitmen semua Partai
Politik yang secara sadar sebagai komponen NKRI yang harus berasaskan
Pancasila dapat dibangun demokrasi yang berkualitas dan kokohnya ketahanan
nasional NKRI. Partai Politik yang mampu mengkristalisasi nilai- nilai Pancasila
secara komprehensif adalah Partai Politik yang tidak menjadi hambatan
pembangunan Demokrasi Pancasila yang berkualitas maupun ketahanan nasional
NKRI yang kokoh.
3) Meningkatnya pengawasan dan penerapan sanksi terhadap parpol sebagai bentuk
kontrol negara dilakukan oleh sejumlah instansi, yakni Departemen Kehakiman,
Komisi Pemilihan Umum, Departemen Dalam Negeri, Pengadilan, Mahkamah
Agung, serta-jika sudah berbentuk-Mahkamah Konstitusi
4) Terciptanya anggota Parpol agar senantiasa mentaati/ menegakkan AD/ART
parpol yang diikutinya;
Kebijaksanaan untuk mengembangkan demokrasi Pancasila yang berkualitas melalui
rekruitmen kepemimpinan Partai Politik demi kokohnya ketahanan nasional jelas
membutuhkan strategi yang tepat. Untuk menindaklanjuti, maka perlu adanya penjabaran
kebijaksanaan melalui strategi yang dapat mendukung tercapainya rekruitmen
kepemimpinan partai politik guna meningkatkan kualitas pembangunan demokrasi dalam
rangka memperkokoh ketahanan nasional.
Adapun strategi yang dikembangkan adalah :
a. Strategi 1 : Menciptakan sistem rekruitmen kepemimpinan parpol yang
mencerminkan nilai-nil Partai Politik menjadi sangat tidak merefleksikan nilai dasar
Pancasila secara tepat. Pancasila pun ditafsir secara serampangan dan jauh dari kaidah
awalnya untuk menata semua perikehidupan
Konstalasi inilah yang perlu diterangkan bahwa memang terdapat dugaan bahwa
kepemimpinan Partai Politik saat ini disinyalir tidak mengembangkan Pancasila,
sehingga Pancasila seperti “kata biasa” yang tidak memiliki makna filosofis.
Kefilsafatan Pancasila sesunggungnya tidak perlu diragukan karena pandangan filsafati
merupakan pandangan ilmiah yang mendalam. Meragukan Pancasila atas nama
keilmuan merupakan tindakan yang tidak ilmiah. Pancasila sendiri adalah ilmiah untuk
menjadi pijakan Partai Politik dalam melakukan rekruitmen kepemimpinan.
b. Strategi 2 : Meningkatkan pendidikan politik kader politik
Partai Politik di Indonesia dewasa ini mengalami dinamika yang secara historis
menunjukkan adanya pengulangan kembali sejarah perkembangan Partai Politik dalam
konsteks ideologi. Pada masa pemerintahan Orde Lama bangsa Indonesia telah
mengalami kehidupan kenegaraan yang multipartai dengan segala instabilitas politik
nasional. Banyaknya Partai Politik pada era kepemimpinan Presiden Soekarno telah
membawa kehidupan yang bisa saja dilihat sebagai tatanan kenegaraan yang
demokratis, tetapi amat sangat tidak stabil, sehingga pembangunan nasional terhambat.
Partai Politik bebas tumbuh tanpa kendali negara dan berideologi yang sektoral sesuai
dengan komunitas masyarakat yang membentuknya. Akibatnya adalah perpecahan
10
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
politik masyarakat dan kemapanan pemerintahan menjadi terganggu dengan
konsekuensi terjauh tidak terwujudnya ketentraman kehidupan bernegara
Ego politik muncul sebagai akibat buruk dari kehidupan multipartai yang
mengedepankan ideologi “internal”. Paham-paham lokal dan komunal yang sangat
ekstrim terhadap Pancasila tumbuh sebagai kekuatan yang sangat tidak kondusif bagi
ketahanan nasional NKRI.
c.Strategi 3 : Meningkatkan kontrol negara terhadap partai politik. Strategi tersebut
dibutuhkan karena dalam perkem-bangan politik di NKRI terdapat kecenderungan bahwa
Partai Politik sebagai kendala pengembangan demokrasi yang berku-alitas yang mampu
memperkokoh ketahanan nasional NKRI. Dalam kerangka kepemimpinan Partai Politik
sebenarnya terdapat kendala utama yang harus diupayakan solusinya, yaitu negara telah
melegalkan asas non -Pancasila. Pasal 9 UU Partai Politikl sebagaimana diketahui
menentukan bahwa Asas Partai menginterpretasikan rumusan tersebut dengan menafikan
Pancasila. Maka sebagaimana diketahui di atas bahwa terdapat Partai- partai Politik di
bumi Pancasila yang tidak berasas Pancasila. Partai Politik dapat berargumentasi bahwa
Partai Politik tersebut tidak melakukan pertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945
tetapi dapat mengabaikan atau mengucilkan Pancasila secara elementer. Oleh karena
itulah Taskap ini mendesak Pemerintah untuk bersikap tegas dengan membuat regulasi
berasama DPRD agar Partai Politik menjadikan Pancasila sebagai asasnya. Ini adalah
upaya legal yang harus ditempuh oleh NKRI demi Demokrasi Pancasila yang berkualitas
dan ketahanan nasional yang semakin kokoh tanpa hambatan ideologis.
d. Strategi 4 : Meningkatkan kontrol negara terhadap partai politik. Upaya yang
dilakukan untuk menjalankan Strategi 4 adalah menugaskan pemerintah untuk bersikap
tegas dengan membuat regulasi berasama DPR - RI agar Partai Politik menjadikan
Pancasila sebagai asasnya. Ini adalah upaya legal yang harus ditempuh oleh NKRI demi
Demokrasi Pancasila yang berkualitas. Pemerintah perlu melakukan kajian untuk
merevisi ketentuan UU Partai Politik yang membenarkan adanya asas yang tidak
menggunakan Pancasila merupakan bentuk titik krusial politik di Indonesia. Langkah
untuk mengubah regulasi politik yang tidak secara tegas menjadikan Partai Politik
berasaskan Pancasila harus dilakukan sebagai upaya pembangunan demokrasi Pancasila
yang berkualitas bagi upaya untuk memperkokoh ketahanan NKRI. Hanya melalui
komitmen semua Partai Politik yang secara sadar sebagai komponen NKRI yang harus
berasaskan Pancasila dapat dibangun demokrasi yang berkualitas dan kokohnya
ketahanan nasional NKRI. Partai Politik yang mampu mengkristalisasi nilai-nilai
Pancasila secara komprehensif adalah Partai Politik yang tidak menjadi hambatan
pembangunan Demokrasi Pancasila yang berkualitas.
Pelaksanaan demokrasi sebagai amanat rakyat tetaplah harus berjalan diatas
koridor nilai-nilai luhur pancasila dan diperlukan adanya pengawasan negara terhadap
partai politik-partai politik, bahkan pengawasan yang diakukan perlu dibarengi dengan
sanksi. Penjatuhan sanksi diatur dalam sebuah peraturan pemerintah dilakukan secara
berjenjang dan melalui prosedur yang ditetapkan. Langkah seperti ini memerlukan
keberanian pemerintah dan seharusnya pemerintah memliki keberanian karena
diberikan wewenang untuk itu. Sejumlah instansi yakni Departemen Kehakiman,
Komisi Pemilihan Umum, Departemen Dalam Negeri, Pengadilan, Mahkamah Agung,
serta Mahkamah Konstitusi adalah perangkat yang ada untuk menyelesaikan persoalan
pelanggaran yang dilakukan partai politik. Agar efektif mungkin sekali waktu
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
11
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
pemerintah atas nama negara dapat menggugat atau menuntut pimpinan partai politik
yang terbukti melaksanakan kegiatan, dan memiliki perilaku dan pikiran yang nyata–
nyata bertentangan dengan nilai-nilai pancasila.
E. PENUTUP
Kesimpulan
a. Mekanisme rekruitmen kepemimpinan Partai Politik di Indonesia secara yuridis
normatif dilakukan melalui pentahapan keanggotaan, kader dan pengurus Partai Politik.
Ketentuan normatif yang diperintahkan oleh regulasi yuridis tidak serta merta ditaati
secara sosiologis oleh Partai Politik melalui Anggarann Dasar maupun Anggaran
Rumah Tangga Partai Politik. Rekruitmen kepemimpinan Partai Politik secara yuridis
maupun politis dewasa ini lebih mengandalkan kerangka dasar kepepimpinan
feodalistik yang jauh dari nilai-nilai dasar Pancasila.
. Rekruitmen kepemimpinan Partai Politik di Indonesia belum mampu meningkatkan
kualitas pembangunan demokrasi Pancasila untuk memperkokoh ketahanan nasional
NKRI. Suksesi kepemimpinan Partai Politik yang berkembang justru berlawanan
dengan semangat demokrasi Pancasila yang berjiwa mulia
b. Peran strategis mekanisme rekruitmen kepemimpinan Partai Politik yang didasarkan
pada profesionalitas dan demokrasi Pancasila akan meningkatkan kualitas demokrasi.
Partai Politik akan mempunyai peran besar bagi pembangunan demokrasi yang
berkualitas dalam suatu bangsa dan dapat memperkokoh ketahanan nasional NKRI
apabila mampu melaksanakan ideologi negara secara komprehensif. Tumbuhnya Partai
Politik yang lebih menonjolkan ciri kepartainnya daripada asas bernegara merupakan
kendala besar untuk membangun demokrasi yang bermutu untuk mewujudkan
ketahanan nasional NKRI yang kokoh. Partai Politik sebagai sarana demokrasi yang
paling demokratis tidak memiliki andil dalam pembangunan demokrasi Pancasila
apabila tidak berasaskan kepada Pancasila. Hanya melalui Partai Politik yang
berasaskan Pancasila akan dapat melahirkan kememimpinan yang baik.
Saran
Beranjak dari kesimpulan tersebut di atas perlu disusun langkah-langkah dan upaya
yang mengarah kepada pembangunan politik mengenai mekanisme rekruitmen kepemimpinan PartaiPolitik) dengan melakukan pengembangan kapasitas Demokrasi Pancasila.
Pancasila harus dijadikan sebagai ideologi bernegara oleh Partai Politik apapun basis
sosial-budayanya.
Untuk itulah guna menunjang kesimpulan yang telah terurai di atas, maka
dibutuhkan perubahan dan terobosan pembaruan pandangan yang mendasar sebagai saran
berikut:
a. Melakukan revisi terhadap regulasi kepartaian agar semua Partai Politik berasaskan
implikasi praktis terhadap kualitas pengembangan demokrasi di Indonesia. Penguatan
demokrasi secara berkualitas dalam kepemimpinan nasional sangat dipengaruhi oleh
mekanisme rekruitmen kepemimpinan Partai Politik, maka pimpinan Partai Politik
dalam lingkup kenegaraan yang demokratis wajib berkomitmen untuk menjadikan
Pancasila sebagai ideologi Partai Politik untuk meraih kekuasaan di NKRI.
b. Partai Politik dalam melakukan rekruitmen kepemimpinan Partai Politik harus
diselenggarakan secara demokratis dengan pertimbangan utama bahwa pengurus Partai
Politik sangat potensial memegang tampuk kekuasaan negara yang harus mampu
12
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa Strategi Rekruetmen Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi
Akmal Boedianto
mengembangkan demokrasi Pancasila secara berkualitas dalam rangka
mempertahankan NKRI.
Pendidikan politik bagi anggota Partai Politik perlu segera dilakukan oleh partai politik
dengan fasilitasi pemerintah baik pusat maupun daerah. Karena dari siniliah munculnya
kader partai dan kemudian munculnya kepemimpinan nasional dan daerah.
c. Membuka dialog seluas -luasnya dengan jajaran pimpinan partai politik dan tokoh tokoh masyarakat tentang perlunya pembatasan jumlah partai politik minimal 3 (tiga)
dan maksimal 10 (sepuluh) partai politik. Pembatasan partai akan membuat masyarakat
mudah memberikan hak politiknya sehingga kesadaran politik masyarakat akan naik
secara kualitas.
d. Pemerintah perlu diberi payung hukum untuk menjalankan fungsi pelayanan,
pengayoman, pengawasan dan pembinaan dalam kehidupan politik agar pelaksanaan
demokrasi tetap berjalan diatas koridor nilai -niai pancasila.
DAFTAR PUSTAKA
Surbakti, Ramlan, 1999, ”Implikasi UU Politik terhadap Politik Lokal”, Widyapraja, Media
Informasi Pemerintahan No.32, Tahun XXII
Mosca, Gaetano, 1989, The Ruling Class, penerjemah Hamah D.Kahn, Arthur Livingstone,
McGraw Hill, New York
Lasswell, D.Harold, 1952, The Comparative Study of Elites, Hoover Institute Studies, Series B,
Elites, No.1 Stanford
Keller, Suzanne, 1986, Penguasa dan Kelompok Elite : Peran Elit Penentu dalam Masyarakat
Modern, Rajawali
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
13
Analisa
TRANSFER PELATIHAN BERBASIS EXPERIENTIAL LEARNING
DI SEKTOR PUBLIK
Studi pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Dr. Esti Sri Rahayu, SP., MP
Badan Pendidikan Dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur
Jl. Balongsari Tama Tandes Surabaya
Email: [email protected]
Naskah diterima: 1 Juli 2017, Naskah direvisi: 10 Juli 2017, Naskah disetujui: 21 Juli 2017
Abstract
Learning transfer was defined as the effective and continuing application, by
trainees to their jobs, of the knowledge and skill gained in training (Broad and
Newstrom, 1992). This is not only important for individual as a trainee, but also
important to view it as a holistic process that include trainees and environmental
influences. One of training program in public sector that requires advanced study
was pre-service training that held for applicant of civil servant onboarding.
This study aimed to know : 1) how experiential learning approach used in
training can push trainees to perform training transfer; 2) how trainee characteristics,
training design and organizational environment influence training transfer in public
sector, and 3) to what extent training transfer resulting performance change.
Using qualitative approach by interviewing alumni of pre-service training
program with different job task and experience, the findings show that : first, alumni
underwent transfer at phase of generalization under conscious maintenance when
they actualizing training matters at workplace. Second, training intervention design
using experiential learning approach and involving supervisor can enhance self
efficacy and motivation. Third, trainees with openness to experience, high cognitive
capability and self efficacy, as well as opportunities to perform, may obtained higher
transfer level. Future research about transfer determinants in whole process from
transfer generalization, partial transfer to optimal transfer, and how transfer level be
reached are needed.
Keywords : learning transfer, experiential learning, public sector
A. PENDAHULUAN
Problematika tentang learning transfer merupakan diskursus yang menarik baik
secara empirik maupun teoritik serta memperoleh minat penelitian dari berbagai bidang
kajian, mencakup psikologi, pendidikan dan manajemen. Dalam berbagai bahasan dan
penelitian, learning transfer merujuk pada transfer of training (transfer pelatihan), yang
didefinisikan sebagai suatu tingkatan dimana pembelajar mengaplikasikan pengetahuan,
ketrampilan dan sikap secara efektif yang diperoleh dari hasil pelatihan kedalam
lingkungan pekerjaan (Newstrom, 1984; Wexley & Latham, 1991).
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
15
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Di lingkungan pemerintah, sejauh ini problematika learning transfer pasca
pelatihan belum mendapatkan perhatian yang memadai dan belum dikaji secara mendalam,
meskipun secara formal sudah ada panduan mengenai evaluasi pasca pelatihan berupa
evaluasi dampak diklat. Di sisi lain, evaluasi pasca pelatihan yang pernah dilakukan oleh
Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 menunjukkan bahwa
dari 82% alumni pelatihan yang menyusun rencana tindak lanjut, hanya 19% yang
menyatakan bahwa pengembangan hasil pelatihannya sesuai dengan rencana, sedangkan
58% menyatakan kurang sesuai dengan rencana, 15% menyatakan belum melaksanakan
dan 8% tidak melaksanakan. Masih dari sisi alumni pelatihan, 40% menyatakan telah
mengembangkan hasil pelatihan secara optimal, 44% menyatakan pengembangan kurang
optimal dan sisanya 16% tidak mengembangkan hasil pelatihan.
Dari data tersebut tampak bahwa transfer pelatihan di sektor publik perlu dipelajari
lebih dalam, apakah pembelajar melakukan transfer pelatihan, bagaimana prosesnya, apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi transfer pelatihan, serta sejauhmana hasil atau
perubahan kinerja sebagai dampak transfer.
Reviu Tentang Transfer Pelatihan
Transfer pelatihan tidak hanya menjadi urusan individu dari pihak pembelajar,
namun sebagai sebuah proses yang harus dipandang secara holistik, baik dari sisi
pembelajar maupun lingkungan yang mempengaruhinya, sifatnya kompleks, multi-aspek
dan kadang rumit, namun perlu dipahami karena sangat penting dalam kaitannya dengan
pendidikan dan pelatihan (Subedi, 2004). Studi tentang transfer pelatihan terus
berkembang sejak Baldwin & Ford (1988), baik studi determinan, model, proses maupun
studi literatur, yang masing-masing mengangkat setting maupun fokus yang beragam.
Penelitian mengenai pengalaman transfer pembelajar pernah diteliti oleh Toll (2004) yang
mengambil partisipan dari departemen yang berbeda dan pelatihan yang berbeda pula,
dengan melakukan kajian dari sisi teori pembelajaran orang dewasa (adult learning), yakni
self directed learning, situated cognition dan transformational learning. Dari pengalaman
pembelajar disimpulkan bahwa transfer dan teori adult learning saling mendukung, akan
tetapi teori adult learning memberikan pemahaman yang lebih luas dan komprehensif bagi
pembelajar dalam memaknai pengalaman transfer.
Penelitian tentang apakah seseorang yang mengikuti pelatihan melakukan transfer
dan apakah transfer tersebut menghasilkan peningkatan kinerja dilakukan oleh Ward
(2008), yang subyeknya melibatkan
peserta program pelatihan pengembangan
kepemimpinan berbasis action learning. Hasilnya menunjukkan bahwa kompetensi yang
ditransfer di tempat kerja sebesar 50% - 80%, dimana iklim organisasi dilaporkan dapat
mendukung transfer melebihi hambatan yang ada. Kinerja juga dirasakan meningkat oleh
sebagian besar partisipan, namun tidak tampak hubungan linier yang jelas antara
kompetensi yang ditransfer oleh partisipan dengan peningkatan kinerja yang dirasakan.
Oleh karena penelitian ini mempertimbangkan faktor desain pelatihan dan iklim organisasi,
maka disarankan agar penelitian mendatang mencakup keseluruhan sistem transfer yakni
desain pelatihan, iklim organisasi dan karakteristik pembelajar.
Penelitian yang
mengangkat karakteristik pembelajar diperlukan karena berpotensi dalam mempengaruhi
transfer.
Dalam perkembangan berikutnya, faktor karakteritik pembelajar diteliti oleh
Phipps (2011) melalui riset berjudul “Self-monitoring and Organizational Identification
as Moderators of The Effects of Proactive Personality on The Transfer of Learning in the
16
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Workplace: A Theoretical Inquiry”. Kemampuan praktisi untuk mengidentifikasi individu
yang sukses dalam mentransfer pembelajaran bermanfaat untuk organisasi. Individu
dengan prototipe
kepribadian proaktif mengidentifikasi peluang dan bertindak,
menunjukkan inisiatif, melakukan tindakan dan memelihara sampai terjadi perubahan
berarti. Ini memiliki implikasi untuk pengembangan sumber daya manusia karena individu
mungkin lebih sukses dalam transfer pembelajaran dilatarbelakangi oleh keinginan
bertindak dan membuat perubahan positif untuk lingkungan kerja.
Meskipun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap learning transfer cukup
kompleks, namun Grossman dan Salas (2011) berargumen bahwa organisasi tidak perlu
memasukkan setiap faktor yang berkaitan dengan transfer pembelajaran dalam program
pelatihan, tetapi lebih baik memanfaatkan serangkaian best practice atau faktor-faktor
utama yang berdampak signifikan terhadap outcomes transfer tersebut. Sementara itu,
Furman & Sibthorp (2013) mengemukakan tentang pentingnya mengungkit (leveraging)
transfer pelatihan melalui experiential learning dengan beberapa metode diantaranya
melalui problem based learning dan project based learning.
Penelitian transfer pelatihan cukup banyak dilakukan, sebagian besar membahas
determinan dengan model kuantitatif meski ada diantaranya yang kualitatif. Diantara
penelitian tersebut ada yang dilakukan pada kelompok mahasiswa di universitas
(Leberman, 1999), pada kelompok manajer, senior officer dan junior officer pasca
pelatihan tertentu (Toll, 2004), pada kelompok pegawai farmasi pasca pelatihan leadership
(Ward, 2008) dan pada kelompok profesi (Tillman-Provo, 2013). Sementara itu, studi
khusus tentang transfer pelatihan pada pegawai baru dalam masa onboarding belum
ditemui.
Tujuan
Studi ini dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana proses transfer pelatihan
terjadi pada alumni pendidikan dan pelatihan prajabatan,
yakni dapat menjawab
permasalahan pokok berikut :
“Bagaimanakah learning transfer pembelajar pasca pendidikan dan pelatihan prajabatan
golongan III di tempat kerja ?”
Tujuan khususnya adalah :

Untuk mengetahui bagaimana Diklat Prajabatan Golongan III yang menggunakan
pendekatan experiential learning dapat mendorong terjadinya transfer pelatihan pada
pembelajar

Untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor karakteristik personal, desain pelatihan
dan lingkungan kerja dapat mempengaruhi proses transfer pelatihan pada alumni
Diklat Prajabatan Golongan III

Untuk mengetahui sejauhmana perubahan yang terjadi pada alumni Diklat Prajabatan
Golongan III sebagai hasil transfer pelatihan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
17
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
B. KERANGKA TEORI DAN ALUR PEMIKIRAN
Pendekatan Experiential Learning
Belajar dari pengalaman merupakan salah satu yang paling fundamental dan natural
yang dialami oleh setiap orang. Begitu banyak teori belajar, pendidikan, pelatihan dan
pengembangan yang dikembangkan terpisah satu sama lain dan tidak ada koherensi
diantaranya. Kekuatan besar dari experiential learning adalah memberikan filosofi dasar
bahwa aksi selama mengalami berbagai teori belajar secara bersama-sama dalam kesatuan
yang lebih utuh. Teori experiential learning (ELT) memberikan model holistik dari
proses belajar dan model multilinier dari pengembangan orang dewasa. Teori experiential
learning menekankan peran sentral dari pengalaman dalam proses belajar, sebuah
penekanan yang membedakan dari teori lainnya.
Teori experiential learning yang populer dan digunakan secara luas diantaranya
adalah Teori Kolb (1984). Dalam memformulasikan teori experiential learning /
Experiential Learning Theory (ELT), Kolb (1984) mengkombinasi pragmatisme filosofis
Dewey (learning through experience), psikologi sosial Lewin (ketegangan dialektikal
antara teori dan pengalaman) dan epistemologi genetik perkembangan kognitif Piaget
(belajar untuk belajar/learning to learn), juga kontributor teori belajar lainnya (James,
Jung, Freire, Rogers). Kerangka ELT memberikan gambaran holistik dari proses belajar
dan model multi-linier perkembangan orang dewasa. ELT umumnya mendefinisikan
learning sebagai proses melalui mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi
pengalaman. Pengetahuan dihasilkan dari kombinasi penyerapan dan transformasi
pengalaman (Kolb, 1984). Lebih spesifik lagi, ELT dibangun dari enam proposisi :
1. Pembelajaran dimaknai sebagai proses bukan hasil. Pendidikan harus dimaknai
sebagai rekonstruksi pengalaman yang berkesinambungan, proses dan tujuan
pendidikan adalah satu dan sama.
2. Pembelajaran merupakan proses berkesinambungan yang bersumber dari
pengalaman. Ini sering disebut relearning. Kolb dan Kolb (2005a) menyatakan
“Learning is best facilitated by a process that draws out the students’ belief and
ideas about a topic so that they can be examined, tested, and integrated with new,
more refined ideas”
3. Pembelajaran memerlukan pemecahan konflik dialektikal melawan metode/ cara.
Konflik, perbedaan dan pertentangan mendorong proses belajar. Dalam proses
belajar, seseorang bergerak maju mundur terhadap refleksi, aksi, perasaan dan
pikiran.
4. Pembelajaran merupakan proses yang holistik dan adaptif.
Karenanya
pembelajaran tidak sekedar pencapaian kognitif, tetapi juga domain lain termasuk
pembelajaran persepsi, perilaku dan afektif.
5. Pembelajaran melibatkan komunikasi transaksional : interaksi sinergis antara
manusia dan lingkungan. Mengembangkan dari teori Piaget, Kolb dan Kolb
(2005a) mengemukakan bahwa manusia belajar melalui ekuilibrasi proses
dialektikal mengasimilasi pengalaman baru kedalam konsep saat ini dan
mengakomodasi konsep saat ini kedalam pengalaman baru.
6. Pembelajaran merupakan sarana memproduksi pengetahuan. Berakar dari filosofi
konstruktivisme, ELT memprediksi bahwa pengetahuan personal pembelajar
merupakan dasar dimana pengetahuan sosial diciptakan dan diciptakan kembali
18
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
(Kolb, 1984).
Sementara, paradigma belajar-mengajar tradisional (model
transmisi) dimana pengetahuan diperlakukan sebagai produk transmisi linier dari
pengajar ke siswa.
Proses Transfer
Transfer dikonseptualisasi sebagai sebuah proses dengan bermacam tahapan yang
melaluinya transfer dapat dilacak. Pendekatan proses merefleksikan apa yang sebenarnya
terjadi ketika pembelajar mengujicobakan ketrampilan, mempraktekkan, tidak melanjutkan
pemanfaatan atau gagal untuk menggunakan ketrampilan tersebut. Pendekatan proses juga
memampukan para praktisi untuk mengukur transfer pada berbagai titik pada suatu
kontinum waktu dan tingkat transfer pada titik tersebut. Ini merupakan tingkat transfer
yang dapat diterima dan tingkat yang optimal. Untuk proses transfer, Foxon (1993)
mengajukan tahapan sebagaimana Gambar 1.
Gambar 1. Tahapan Proses Transfer
Tiap tahap merupakan prasyarat untuk tahap berikutnya dan sampai dengan tahap
akhir dicapai, pembelajar mungkin berbalik kepada perilaku sebelum pelatihan disebabkan
kegagalan transfer. Resiko kegagalan transfer yang terbesar ada di awal tahap.
Selengkapnya proses transfer adalah sebagai berikut :



Transfer intention (intensi/niat transfer). Ini merupakan motivasi pembelajar di
akhir pelatihan untuk mengaplikasikan hasil belajar kedalam tempat kerja.
Transfer initiation (inisiasi transfer).
Inisiasi merujuk pada upaya untuk
mengaplikasikan hasil pelatihan dan merupakan precursor penting untuk transfer
secara parsial dan pemeliharaan transfer. Upaya pemanfaatan pelatihan mungkin
berhenti disebabkan berbagai alasan baik personal maupun organisasional.
Partial transfer (transfer parsial). Hal ini terjadi ketika hanya beberapa ketrampilan
yang ditransfer (sementara yang lain tidak disebabkan berbagai macam alasan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
19
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu


misalnya kurangnya kesempatan, kurang percaya diri, kegagalan penguasaan
ketrampilan selama pelatihan, motivasi rendah, dan sebagainya).
Transfer maintenance (mempertahankan/memelihara transfer). Hal ini merupakan
representasi dua tahap terakhir dari proses transfer dan merujuk pada upaya
mempertahankan aplikasi hasil belajar seiring berjalannya waktu, sehingga kinerja
meningkat secara permanen (Baldwin & Ford, 1988; Georgenson, 1982). Pada
tahap awal pemeliharaan pembelajar membuat pilihan sadar untuk memanfaatkan
ketrampilan ketika penggunaannya sesuai. Ketika pemanfaatan ketrampilan telah
mengalami kemajuan pada penggunaan alam bawah sadar, ketrampilan terintegrasi
dalam perilaku kerja dan transfer terjadi sepenuhnya.
Transfer failure (kegagalan transfer).
Meskipun upaya mengaplikasikan
ketrampilan (transfer initiation) atau aplikasi sporadik (partial transfer) oleh
pembelajar kemungkinan gagal untuk dalam mengintegrasikan pelatihan kedalam
perilaku kerja, dan kadangkala menghentikan upaya untuk menggunakan
pengetahuan dan ketrampilan baru. Transfer gagal ketika transfer maintenance atau
partial transfer tidak tercapai.
Faktor-faktor Pendorong Transfer
Dalam konteks transfer di lingkungan kerja, menurut Baldwin dan Ford (1988)
terdapat beberapa variabel yang menentukan efektivitas learning transfer yang dapat
dikategorikan kedalam 3 aspek, yakni karakteristik pembelajar, desain dan substansi
program pelatihan dalam menunjang transfer, serta lingkungan pekerjaan, yakni variabel
sistem sosial dan iklim transfer.
Beberapa faktor yang termasuk dalam karakteristik pembelajar antara lain :
kemampuan, personalitas dan motivasi. Desain pelatihan mencakup prinsip-prinsip
pembelajaran, sekuensi dan muatan pelatihan. Sedangkan lingkungan pekerjaan terkait
dengan dukungan lingkungan dan kesempatan untuk memanfaatkan hasil pelatihan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Leimbach (2010) menunjukkan bahwa
kesiapan pembelajar atau learner readiness yang meliputi motivasi belajar, persepsi
manfaat, keselarasan dengan karier dan self efficacy memiliki kontribusi terhadap
efektivitas learning transfer hingga 70%. Sedangkan, desain pelatihan yang meliputi
praktek dan modellling, penetapan tujuan dan review aplikasi memberi kontribusi sampai
37% terhadap efektivitas learning transfer (Leimbach, 2010). Pemanfaatan metode
praktek dan modeling perilaku dinyatakan mampu meningkatkan learning transfer.
Demikian pula, apabila pembelajar memahami dengan jelas tujuan pembelajaran mereka,
maka dapat berkontribusi dalam meningkatkan learning transfer. Dampak hasil pelatihan
juga dapat ditingkatkan ketika desain pelatihan memberikan review bagaimana aplikasi
pelatihan tersebut di tempat kerja.
Berikutnya, learning transfer akan berhasil apabila didukung oleh organisasi
(organizational alignment). Aspek organisasi yang berpengaruh meliputi: dukungan
pimpinan, dukungan sejawat, relevansi pelatihan dengan tugas pekerjaan dan budaya
organisasi, khususnya budaya belajar.
Level Transfer
Bertolak dari definisi bahwa learning transfer adalah aplikasi yang efektif dan
berkelanjutan oleh pembelajar terhadap kinerja individu, organisasi atau komunitas
20
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
sebagai tanggung jawab atas hasil dari aktivitas pelatihan,
maka terjadinya transfer
pelatihan mensyaratkan adanya perubahan dan/atau peningkatan kinerja, baik individu
maupun organisasi pascapelatihan. Untuk mengukur perubahan atau level transfer, dapat
digunakan beberapa pendekatan yakni pendekatan evaluasi program pelatihan oleh
Kirkpatrick (1996), level transfer oleh Guskey (2000) dan tipe perubahan sebagai hasil
transfer yang dikemukakan oleh Kirwan (2009).
Kirkpatrick (1996) membagi evaluasi program pelatihan kedalam 4 level, yakni
level reaction, learning, behavior dan result. Pada level reaksi, evaluasi dilakukan untuk
mengukur bagaimana peserta pelatihan bereaksi terhadap program pelatihan - apa persepsi
peserta ? apakah mereka menyukainya ? apakah materinya relevan dengan pekerjaan ?
Level berikutnya yakni learning, merupakan evaluasi yang mengukur sejauhmana
peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan diperoleh melalui pelatihan. Metode
pengukurannya dapat secara formal maupun informal, penilaian tim maupun self
assessment.
Intinya adalah sejauhmana hasil belajar diperoleh atau terjadi melalui
pelatihan. Level ketiga adalah behavior atau perilaku. Evaluasi pada level ini mengukur
perubahan perilaku peserta pelatihan, yakni apakah pengetahuan, sikap dan ketrampilan
yang diperoleh digunakan dalam menjalankan tugas pekerjaan. Sedangkan level keempat
yakni result, mengukur dampak pelatihan terhadap peningkatan kinerja organisasi.
Guskey (2000) menyatakan bahwa terdapat dua pertanyaan yang perlu dijawab
terkait transfer pelatihan : 1) apakah peserta menggunakan pengetahuan dan ketrampilan
baru dalam bekerja dan 2) apakah pembelajaran diterjemahkan kedalam perubahan
perilaku dan aktivitas profesional pegawai ? Berkaitan dengan hal tersebut ada lima level
transfer yang mirip dengan jenis transfer, yaitu : 1) level mekanis atau near transfer,
dimana seseorang mengimplementasikan ide baru dengan cara mekanistis dan tidak
terkoordinasi; 2) level rutin atau lateral, dimana seseorang membangun pola reguler dari
pengetahuan dan ketrampilan dengan sedikit perubahan; 3) level penyaringan atau
vertikal, dimana pembelajar menilai dampak belajar dan membuat perubahan untuk
meningkatkan efektivitasnya; 4) level integrasi atau far transfer, dimana pembelajar
menciptakan upaya yang cermat untuk mengkoordinasikan aplikasinya dengan pihak lain
yang terlibat dalam pemanfaatan pengetahuan dan ketrampilan; 5) level pembaruan, atau
high road, dimana seseorang secara aktif mencari alternatif yang efektif untuk
membangun pola.
Kirwan (2009) menggunakan aspek penilaian outcomes belajar yang diletakkan
oleh Golembiewski, Billingsley & Yeager (1976) yang mengajukan tiga tipe perubahan –
alfa, beta dan gamma. Perubahan alfa digambarkan oleh Kirwan (2009) sebagai perbedaan
langsung pada level pengetahuan dan ketrampilan dalam beberapa dimensi dengan skala
yang pasti. Contoh sederhana adalah kursus tentang bagaimana membuat spreadsheet,
membuat reservasi travel, atau kemampuan bernegosiasi harga produk. Perubahan beta
dapat digambarkan sebagai rekalibrasi skala pengukuran, dimana peserta menilai ulang
level pengetahuan sebelumnya dengan dua dimensi pengukuran. Contoh, seseorang
mungkin merasa mengikuti suatu program namun merasa tidak mempelajari sesuatu yang
baru, sifatnya hanya penguatan saja, hal yang mungkin terjadi adalah bahwa pengetahuan
dan ketrampilan prosedural ditempatkan dalam konteks deklaratif, sehingga mereka
memiliki framework dimana mereka dapat menempatkan apa yang diketahui. Disamping
itu, intervensi memungkinkan seseorang memiliki kesempatan memahami kompetensi
tertentu yang relevan (contoh bagaimana mengelola kinerja). Perubahan gamma dapat
digambarkan sebagai rekonseptualisasi, atau perubahan mayor dalam kerangka acuan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
21
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
dimana pembelajaran terjadi.
Contoh perubahan gamma mencakup bagaimana
sekembalinya peserta dari program pelatihan dengan self-insight yang lebih besar
menyangkut gaya, kekuatan dan kelemahan atau kebutuhan pengembangan. Mungkin
mereka menemukan kejelasan tentang peran, perluasan wawasan dan apa yang mungkin
terkait peran.
Kerangka Pemikiran
LEARNING
TRANSFER
PROSES
MAINTENANCE
GENERALISASI
METODE
EXPERIENTIAL
LEARNING
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG
KARAKTERISTIK
PEMBELAJAR
LINGKUNGAN
ORGANISASI
DESAIN
PELATIHAN
HASIL TRANSFER
Level Perubahan
Tipe Perubahan
Gambar 2. Kerangka Pemikiran (Logical Framework) Learning Transfer pada Alumni
Diklat Prajabatan
22
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
C. METODE
Studi ini didasarkan hasil penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan studi kasus. Melalui pendekatan penelitian kualitatif, dapat diperoleh
pemahaman tentang persepsi pembelajar tentang pengalaman transfer, pemahaman yang
mendalam terhadap materi pembelajaran, isu transfer, dan juga hal-hal yang terkait dengan
proses pembelajaran dan transfer di tempat kerja. Guna menjawab problem penelitian,
peneliti menempatkan alumni Diklat Prajabatan Golongan III yang diselenggarakaan oleh
Badan Diklat Provinsi Jawa Timur sebagai
Informan ditentukan melalui pemilihan alumni secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan latar belakang tugas pekerjaan ( bidang tugas) dan pengalaman (ragam usia
dan pengalaman kerja), yang juga mempertimbangkan proporsi alumni. Informan yang
terpilih adalah : 4 orang guru, 1 orang perawat, 1 orang staf teknis dan 2 orang staf
administrasi. Informan merupakan alumni yang sebagian mengikuti Diklat Prajabatan
Golongaan III Tahun 2015, dan sebagian lagi Tahun 2016. Adapun Diklat yang diikuti
menggunakan pendekatan experiential learning, yang
prosesnya digambarkan
sebagaimana Gambar 3.
Metode pencarian data melalui wawancara langsung kepada informan pada bulan
Desember 2015 dan Agustus 2016, selain itu juga dilakukan studi dokumen sebagai
penunjang. Data yang diperoleh melalui wawancara meliputi : pengalaman, pandangan,
karakter dan sikap pribadi; pengalaman learning transfer; pandangan alumni mengenai
desain pelatihan; aspek lingkungan kerja; tindak lanjut dan harapan tentang transfer hasil
diklat; informasi pelengkap lainnya.
Sedangkan data yang diperoleh melalui studi dokumen meliputi : desain dan
kurikulum pelatihan, lingkup tugas pekerjaan alumni, tingkat pemahaman terhadap
substansi transfer pembelajaran, dan laporan hasil transfer (laporan aktualisasi peserta
pelatihan) sebagai pendukung.
Concrete experience
pengamatan, pengalaman
film reviu,contoh kasus
Reflective observation
Active experimentation
diskusi, self dialogue,
mengkritisi, menceritakan value,
verifikasi value
menerapkan value, implementasi
rancangan aktualisasi
Abstract
conceptualization
membuat rancangan aktualisasi
Gambar 3. Pendekatan experiential learning dalam Diklat Prajabatan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
23
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Data yang diperoleh melalui wawancara meliputi hal-hal di bawah ini, yang kemudian
diberikan kode untuk mempermudah dalam analisis berikutnya :






Pengalaman, pandangan, karakter dan sikap pribadi
Pengalaman learning transfer
Pandangan alumni mengenai desain pelatihan
Aspek lingkungan kerja
Tindak lanjut dan harapan tentang transfer hasil diklat
Informasi pelengkap lainnya
Data yang terkumpul diolah melalui beberapa tahap, yaitu : 1) memindahkan data
yang telah didapat kedalam bentuk verbatim sehingga didapatkan gambaran umum dari
hasil wawancara; 2) mencari padatan faktual, tema dan kategori berdasarkan transkrip yang
telah dibuat; 3) melakukan koding pada kategori-kategori yang ditentukan dari data olahan
sementara; 4) melakukan analisis intrasubjek dengan mengaitkannya dengan teori serta
konsep yang terkait dengan penelitian; 5) melakukan analisis antarsubjek dengan
membandingkan data dari setiap subjek. Pada tahap ini dilakukan interpretasi dengan
memberi arti pada data sehingga tercapai tujuan penelitian.
D. HASIL PENELITIAN
Tahapan Transfer
Ruang lingkup transfer dalam penelitian ini mencakup 3 (tiga) dimensi, yakni: 1)
bagaimana alumni mengembangkan pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh dalam
seting pembelajaran diaplikasikan pada seting pekerjaan (generalization); 2) bagaimana
alumni berkembang kearah perubahan sebagai hasil belajar dari pengalaman belajar yang
bertahan seiring waktu (maintenance); serta 3) sejauhmana alumni menyesuaikan
pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari dalam program pelatihan, termasuk
melahirkan pendekatan dan strategi baru dalam menghadapi situasi kerja yang berbeda
atau baru (adaptability).
Dimensi generalisasi dilalui oleh pembelajar Diklat Prajabatan ketika sebagai
peserta menjalani tahap aktualisasi nilai-nilai dasar profesi ASN selama dua minggu.
Dalam masa aktualisasi tersebut, peserta melakukan serangkaian kegiatan
yang
sebelumnya telah dirancang dan dikonsultasikan dengan pembimbing (coach) dan
disempurnakan melalui seminar rancangan aktualisasi. Dengan kata lain, generalisasi
dilakukan secara terprogram serta dalam pelaksanaannya pun dalam supervisi mentor
(dalam hal ini atasan). Oleh karenanya, alumni tidak mengalami kesulitan yang berarti,
hanya sedikit kasus situasional yang menyebabkan aktualisasi tidak sepenuhnya sesuai
dengan harapan.
Dimensi maintenance adalah bagaimana alumni merawat dan mengembangkan
hasil aktualisasi seiring berjalannya waktu ketika fase generalisasi sudah terlewati, atau
alumni tidak lagi dalam kewajiban menjalani diklat. Ketika penelitian ini dilakukan,
alumni telah menjalani pascadiklat selama sekitar 3 - 6 bulan sejalan dengan rekomendasi
Kirkpatrick (1994) yang menyatakan bahwa evaluasi transfer dilakukan pada 3 – 6 bulan
pasca diklat. Pada akhir diklat, peserta memang wajib membuat komitmen tertulis untuk
menindaklanjuti hasil diklat, namun demikian dalam masa maintenance sudah tidak ada
kewajiban yang mengikat secara formal dan tidak lagi dalam pengawasan yang ketat,
sehingga alumni sendirilah yang memegang kendali terhadap learning transfer. Setelah
24
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
alumni kembali bekerja dan tidak dibawah supervisi untuk mengaktualisasikan hasil diklat,
melalui penelitian ini ingin diketahui apakah ketika kewajiban berlalu alumni diklat masih
mengingat dan mempraktekkan nilai-nilai dasar profesi sesuai harapan.
Dimensi adaptability pada alumni Diklat Prajabatan terjadi terutama karena mereka
merupakan pegawai baru yang diberikan bekal pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai
profesi sekaligus mengaktualisasikannya, sementara sejawat di lingkungan kerja umumnya
belum mengenal dengan baik berbagai perubahan paradigma yang terjadi di lingkungan
aparatur. Alumni menyadari bahwa tantangan transfer lebih disebabkan budaya kerja
yang masih menggunakan “pola lama”, dalam arti belum menerapkan nilai-nilai dasar
profesi.
Faktor-faktor Pendukung / Penghambat Transfer
Dalam melakukan transfer pelatihan, alumni Diklat Prajabatan dihadapkan pada
berbagai faktor yang mempengaruhi proses learning transfer, yang digolongkan kedalam 3
(tiga) aspek yakni karakteristik pembelajar, desain pelatihan dan lingkungan kerja. Ketiga
aspek tersebut didapati bervariasi antar individu, pembeda utamanya adalah karakteristik
personal dan lingkungan kerja. Namun demikian ada beberapa hal yang
kecenderungannya mirip, misalnya tentang persepsi terhadap transfer of value yang dinilai
penting serta perlunya menyiasati lingkungan kerja yang tidak sepenuhnya kondusif untuk
transfer.
Aspek karakteristik pembelajar, yakni kemampuan kognitif, pribadi yang terbuka,
keterbukaan terhadap pengalaman baru, afeksi positif, self efficacy, motivasi dan
pengalaman kerja diketahui mempengaruhi learning transfer, namun karena terintegrasi
dalam proses pembelajaran, maka secara umum proses generalisasi transfer berjalan lancar.
Aspek desain pelatihan yang menjadi penekanan utama dalam penelitian ini adalah
relevansi materi terhadap tugas pekerjaan, sebab relevansi materi diklat menjadi alasan
kuat apakah materi diterapkan secara optimal atau tidak. Semua informan memandang
bahwa muatan pelatihan (training content) penting dan relevan untuk tugas pekerjaan,
sehingga menimbulkan niat transfer. Aspek desain pelatihan berikutnya yang juga penting
menurut Baldwin & Ford (1988) adalah prinsip pembelajaran (principles of learning).
Prinsip pembelajaran yang diterapkan pada Diklat Prajabatan adalah experiential learning
yang mengadopsi Teori Kolb (1984) yang membagi siklus belajar menjadi 4 (empat)
mode, yakni concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization dan
active experimentation. Dari keempat mode tersebut, yang mendapat perhatian lebih oleh
informan adalah ketika menyusun rancangan aktualisasi (abstract conceptualization) dan
implementasi rancangan aktualisasi (active experimentation), serta proses evaluasi melalui
seminar hasil.
Aspek lingkungan pekerjaan yang mempengaruhi transfer meliputi dukungan
atasan dan dukungan sejawat, serta kesempatan memanfaatkan hasil diklat (opportunity to
use). Dalam kurikulum Diklat Prajabatan, ada tahap aktualisasi yang melibatkan mentor
(atasan) sebagai bagian dari proses diklat. Mentor berperan dalam membimbing peserta
ketika implementasi aktualisasi (kegiatan di unit kerja). Hal ini memberi pengaruh positif
terhadap kualitas dukungan, sebab mentor juga bertanggung jawab terhadap keberhasilan
peserta. Tingkat dukungan yang tinggi dari atasan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta
diklat untuk melakukan transfer dengan sebaik-baiknya. Dukungan atasan dan rekan kerja
lebih bermakna pada tahap maintenance, yakni pada pasca pelatihan ketika transfer bukan
lagi sebagai kewajiban yang mengikat secara formal. Faktor berikutnya yang menentukan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
25
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
transfer adalah kesempatan memanfaatkan hasil diklat (opportunity to use). Adanya
kesempatan yang lebih luas atau pemberdayaan dari atasan / lingkungan pekerjaan dapat
semakin menguatkan proses transfer nilai melalui peningkatan self efficacy dan motivasi.
Level Transfer
Temuan transfer pelatihan berikutnya yang digali antara lain : Apakah terjadi
perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku? Sejauhmana perubahan tersebut terjadi dan
berdampak? Adakah peningkatan kinerja yang dialami? Untuk mengukur perubahan atau
level transfer pada alumni Diklat Prajabatan, penelitian ini menggunakan beberapa
pendekatan yakni pendekatan evaluasi program pelatihan oleh Kirkpatrick (1996), level
transfer oleh Guskey (2000) dan tipe perubahan sebagai hasil transfer yang dikemukakan
oleh Kirwan (2009). Berdasarkan evaluasi Kirkpatrick, dikatakan terjadi transfer apabila
berada pada level 3 dan level 4, yakni level perilaku (behavior) dan level hasil (results).
Perubahan level perilaku dialami oleh informan yang merasakan adanya perubahan sikap
dan perilaku kerja pasca pelatihan. Selanjutnya berdasarkan level transfer menurut
Guskey (2000), maka para informan berada pada level yang berbeda-beda, ada yang
berada pada level penyaringan / vertikal dengan membuat perubahan untuk meningkatkan
efektivitas kinerja. Bahkan seorang informan mengalami level transfer sampai pada far
transfer atau level integrasi, ditunjukkan melalui upaya untuk berperan lebih nyata bagi
terjadinya perubahan di lingkungan kerjanya.
Pembahasan
Pendekatan experiential learning yang digunakan dalam Diklat Prajabatan dapat
mendorong terjadinya learning transfer. Dari sisi proses diklat, pendekatan EL
mengharuskan pembelajar membuat pilihan secara sadar untuk melakukan transfer parsial
dibawah supervisi. Ketika pemanfaatan hasil diklat terjadi secara kontinyu dan telah
mengalami kemajuan pada penggunaan alam bawah sadar, maka ketrampilan terintegrasi
dalam perilaku kerja, dan transfer terjadi sepenuhnya. Dari sisi teori pembelajaran orang
dewasa (adult learning theory), Diklat Prajabatan dengan pendekatan EL mampu
memenuhi 3 (tiga) kebutuhan pembelajar dewasa, yakni kebutuhan mengkoneksikan
pengalaman hidup dengan mental kritis, kemauan untuk membangun pembelajaran secara
mandiri, dan keinginan untuk menerapkan muatan pendidikan dengan konteks yang
relevan. Pengalaman pembelajar Diklat Prajabatan yang mengalami experiential learning
menguatkan orientasi belajar aliran constructivist, yakni bahwa pengetahuan terikat pada
konteks dan para individu membuat makna pribadi dari pengalaman belajar.
Ketika seorang pembelajar mengikuti pelatihan, masalah pasca pelatihan yang
sering muncul adalah, apakah hasil pelatihan aplikabel untuk diterapkan dan apakah ada
intensi dan komitmen untuk mentransfer hasil pelatihan tersebut di tempat kerja. Aplikabel
berkaitan dengan relevansi pelatihan dengan tugas pekerjaan, sedangkan intensi dalam
teori planned of behavior berkaitan dengan sikap pribadi, norma subyektif dan perceived
behavioral control. Dengan pendekatan experiential learning yang di dalamnya terdapat
tahap aktualisasi di tempat kerja, maka masalah kesenjangan (gap) antara dunia pelatihan
dan dunia kerja dapat diminimalisir, sementara intensi transfer didorong melalui kewajiban
aktualisasi yang melekat dalam proses diklat (norma subyektif) dan kesempatan untuk
mengelola transfer pelatihan (perceived behavior control). Oleh karena itu, generalisasi
transfer dapat diwujudkan melalui pelatihan dengan pendekatan experiential learning,
sedangkan untuk pemeliharaannya (transfer maintenance) bergantung pada karakteristik
pembelajar dan lingkungan kerja.
26
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Dalam model Baldwin & Ford (1988), aspek karakteristik pembelajar, desain
pelatihan dan lingkungan kerja mempengaruhi learning transfer secara
terpisah/independen, sementara dalam penelitian ini ditemukan bahwa motivasi dan self
efficacy dapat diintervensi melalui proses pembelajaran dan bimbingan. Pelibatan atasan
sebagai mentor yang melakukan supervisi ketika transfer berlangsung merupakan
dukungan organisasional yang penting bagi pembelajar.
Karakteristik pembelajar merupakan aspek penting yang menentukan sejauhmana
learning transfer terjadi. Intervensi pelatihan yang sama tetapi diterima oleh karakteristik
pembelajar yang berbeda akan menghasilkan level trasfer yang berbeda. Keterbukaan
terhadap pengalaman baru dapat mendorong seseorang untuk mencari pengalaman baru
pula terkait hasil transfer, tidak hanya sekedar menjalankan kewajiban dan rutinitas. Self
efficacy yang tinggi juga berperan dalam membangun ketahanan seseorang menghadapi
tantangan lingkungan pekerjaan termasuk tantangan memelihara dan melakukan adaptasi
transfer (transfer maintenance and transfer adaptability). Dua faktor personal tersebut
dapat berperan optimal
apabila mendapat dukungan organisasi berupa pemberian
kepercayaan dan pemberdayaan.
Dalam Model Baldwin & Ford (1988), karakteristik pembelajar dan lingkungan
kerja memiliki hubungan langsung dengan kondisi transfer (yang merupakan transfer
outcomes), sedangkan desain pelatihan masih melalui variabel perantara, yakni hasil
belajar dan retensi. Dalam penelitian ini, intervensi pelatihan tidak berhenti pada variabel
hasil belajar dan retensi, namun diintegrasikan untuk masuk wilayah kondisi transfer
(transfer outcomes).
Demikian pula dilihat dari model Foxon (1993) yang
menggambarkan proses transfer kedalam 5 (lima) tahap secara berurutan, yaitu : intensi,
inisiasi, transfer parsial, conscious maintenance dan unconscious maintenance, maka
desain pelatihan dapat dikondisikan agar pembelajar dapat berada pada tahap transfer
parsial. Sedangkan Teori Kolb tentang experiential learning yang diterapkan dalam diklat
dapat menjembatani ranah training outputs dan training outcomes yang umumnya terdapat
masalah kesenjangan. Dengan EL maka pembelajar Diklat Prajabatan difasilitasi untuk
sampai pada generalisasi transfer (transfer outcomes). Hal ini terjadi karena pendekatan
active experimentation yang diwujudkan dalam aktualisasi merupakan bentuk konkret
mentransfer pengetahuan dan ketrampilan. Ilustrasi tentang hal ini disajikan pada Gambar
4.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
27
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Acceptable Transfer
Optimal Transfer
Conscious
maintenance
Unconsious
maintenance
Partial transfer
Transfer
initiation
Transfer
intention
Training inputs
Concrete experience
Reflective observation
Training outputs
Abstract
conceptualization
Training outcomes
Active
experimentation
Gambar 4. Pendekatan EL pada Diklat Prajabatan dan Tahapan Proses Transfer
Keterbatasan Penelitian
Dari serangkaian studi transfer pelatihan yang ditujukan bagi alumni Diklat
Prajabatan Golongan III ini diperoleh beberapa temuan penting yang dapat melengkapi
penelitian terdahulu, baik menyangkut penjelasan faktor-faktor penentu transfer yang
dialami pembelajar, proses atau tahapan transfer, maupun hasil transfer. Namun demikian
ada beberapa keterbatasan yang perlu kajian lebih lanjut agar hasil penelitian mendatang
lebih lengkap dan komprehensif.
Pertama, dalam penelitian ini faktor karakteristik pembelajar, desain pelatihan dan
lingkungan kerja dikaitkan dengan proses dan hasil transfer, namun karena penelitian
bersifat kualitatif maka tidak dapat menjelaskan faktor-faktor mana yang sesungguhnya
dominan menentukan transfer, baik pada tahap generalisasi maupun pada tahap
maintenance yang mungkin pola pengaruhnya berbeda. Untuk itu perlu penelitian yang
lebih fokus pada dominasi faktor-faktor transfer di tiap tahapan.
Kedua, level dan tipe transfer yang dialami oleh alumni diklat dikupas secara
umum untuk memberi gambaran bahwa ada perbedaan antar individu dalam mencapai
hasil transfer. Kasus yang menonjol ditemui dalam penelitian ini yakni dicapainya level
transfer yang tinggi oleh seorang informan, yang dari sini diperoleh kesimpulan sementara
bahwa ketiga aspek yang kuat, karaktersitik personal, persepsi terhadap diklat dan
lingkungan kerja, menjadi pendorong dicapainya level transfer yang tinggi. Namun
28
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
demikian masih diperlukan studi lebih lanjut yang khusus meneliti mengapa dan
bagaimana perbedaan level transfer dapat terjadi pada intervensi diklat yang sama.
Ketiga, dalam penelitian ini informan bekerja di bidang tugas atau profesi yang
berbeda, yakni tenaga fungsional, tenaga teknis dan tenaga administrasi. Setiap bidang
tugas atau profesi memiliki kekhasan masing-masing, situasi, kondisi dan otonomi tugas,
yang mungkin dapat berpengaruh terhadap proses transfer. Penelitian ini tidak membahas
spesifikasi tugas dan mempelajari secara umum saja.
E. PENUTUP
Kesimpulan
a. Pengalaman transfer pelatihan melalui pendekatan experiential learning
Pengalaman transfer pelatihan dialami ketika pembelajar Diklat Prajabatan berada pada
tahap aktualisasi materi pelatihan di tempat kerja, namun transfer tersebut hanya pada
dimensi generalisasi dan masih bersifat transfer parsial yang dilakukan dengan sadar
(conscious maintenance).
Pendekatan experiential learning (EL) sebagaimana
disarankan oleh peneliti terdahulu yakni Furman & Sibthorp (2013) ternyata dapat
mengoptimalkan transfer karena setiap mode dalam siklus EL diintegrasikan kedalam
proses pembelajaran mulai dari kelas pelatihan sampai implementasinya di tempat kerja.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi learning transfer
Karakteristik pembelajar merupakan aspek yang variannya luas, ada yang bersifat
disposisi yang melekat pada kepribadian namun ada juga yang dapat diintervensi.
Motivasi dan self efficacy merupakan faktor karakteristik pembelajar yang dapat
diintervensi, tiap pembelajar dikondisikan memiliki goal setting, ada proses internalisasi
nilai, persuasi verbal, yang mendorong motivasi dan self efficacy alumni. Aspek
lingkungan kerja berupa dukungan atasan yang dikondisikan selama proses diklat
meningkatkan self efficacy alumni untuk mentransfer hasil diklat dan memeliharanya
pasca diklat.
c. Perubahan akibat transfer pelatihan dan levelnya
Alumni yang memiliki keterbukaan terhadap pengalaman baru, kapabilitas tinggi dan
kesempatan unjuk kerja yang lebih luas bisa mencapai level transfer yang tinggi, yakni
level integrasi atau far transfer, dimana pembelajar menciptakan upaya yang cermat
untuk
mengkoordinasikan aplikasinya dengan pihak lain yang terlibat dalam
pemanfaatan pengetahuan dan ketrampilan.
Sedangkan berkaitan dengan tipe
perubahan yang merujuk Kirwan (2009), alumni diklat mengalami tipe perubahan yang
berbeda-beda, ada yang mengalami perubahan beta yakni hanya berupa penguatan saja,
namun ada juga yang mengalami perubahan gamma, dimana pasca diklat alumni
memiliki self-insight yang lebih besar dan semakin menyadari kebutuhan
pengembangan dirinya. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mempelajari lebih dalam
bagaimana level transfer dan tipe perubahan bisa terjadi pada pembelajar.
Implikasi Teoritik
Mengacu pada beberapa teori dan model yang terkait learning transfer, maka
penelitian ini memiliki implikasi sebagai berikut :
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
29
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
a. Pendekatan experiential learning sebagai salah satu manifestasi pembelajaran orang
dewasa dapat mendorong transfer, hal ini menguatkan rekomendasi Furman & Sibthorp
(2013), tentang penerapan experiential learning untuk meningkatkan transfer
b. Melalui desain pelatihan yang memfasilitasi praktek atau aksi di tempat kerja, maka
model Baldwin & Ford (1988) yang menampilkan fase training output yang meliputi
hasil belajar dan retensi masih termasuk kedalam proses intervensi pelatihan, sehingga
desain pelatihan dapat secara langsung mempengaruhi generalisasi transfer
c. Desain pelatihan dapat memberikan pengaruh terhadap faktor karakteristik pembelajar
dan lingkungan kerja, dengan demikian hasil ini dapat melengkapi model Baldwin &
Ford, yakni ada garis pengaruh dari desain pelatihan menuju karakteristik pembelajar
dan lingkungan kerja, khususnya melalui pemberian motivasi, peningkatan self efficacy
dan pelibatan atasan.
d. Theory of Planned Behavior dapat menjadi acuan pencapaian learning transfer
utamanya dapat mendorong intensi, karenanya dapat memperkaya pandangan
konseptual dan teoritik untuk menguji learning transfer, melengkapi apa yang
disampaikan Thayer & Teachout (1995) sebelumnya.
Rekomendasi
Beberapa rekomendasi dihasilkan dari penelitian ini, baik untuk penelitian lebih
lanjut maupun sebagai bahan masukan bagi lembaga diklat aparatur khususnya untuk
Diklat Prajabatan, antara lain :
a. Generalisasi transfer (transfer generalization) dan pemeliharaan transfer (transfer
maintenance) merupakan dua tahap / dimensi yang berkaitan namun memiliki
‘perjalanan’ yang berbeda. Penelitian ini tidak mengungkap secara lebih rinci dan
mendalam tentang apa dan bagaimana faktor-faktor transfer berpengaruh terhadap
perjalanan keduanya sebagai sebuah continuum, sehingga penelitian mendatang
disarankan untuk mempelajarinya secara lebih utuh.
b. Perbedaan level transfer dan tipe perubahan antar alumni merupakan fenomena yang
menarik untuk dikaji lebih lanjut, yang dari penelitian ini diduga karena beberapa faktor
pendorong antara lain kapabilitas, motivasi, self efficacy dan kesempatan unjuk kerja.
Untuk menyelidiki fenomena tersebut, diperlukan penelitian baik kualitatif maupun
kuantitatif yang dapat mengungkapkan apa dan bagaimana perbedaan level transfer bisa
terjadi pada pembelajar dengan intervensi pelatihan yang sama.
c. Implementasi hasil pelatihan yang diwujudkan dalam tahap aktualisasi Diklat
Prajabatan merupakan bentuk generalisasi transfer yang bersifat parsial, dan dalam
jangka waktu tersebut masih dilakukan dengan sadar (conscious maintenance),
sementara target utamanya adalah bagaimana transfer tersebut berlanjut secara optimal
dan dilakukan dibawah sadar (unconscious maintenance). Untuk itu diperlukan sistem
monitoring yang komprehensif dan berkesinambungan.
d. Pemberian kesempatan unjuk kerja dan pengembangan diri dapat memberi ruang bagi
alumni untuk lebih mengaktualisasikan dirinya, oleh karena itu pemberdayaan alumni
pasca diklat merupakan faktor penting yang dapat diterapkan guna mengembangkan
hasil transfer.
30
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
e. Penguatan komitmen transfer
melalui forum / jejaring alumni yang terjalin secara
informal pada kasus penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi antar alumni,
terutama yang seprofesi, memiliki pengaruh yang positif bagi keberlanjutan transfer,
sebab dapat menjadi sarana saling mendorong, saling berbagi ilmu,
bahkan
berkompetisi secara sehat. Contoh tersebut dapat diterapkan dengan membangun forum
alumni yang dapat dikelompokkan menurut daerah, profesi atau menurut pertimbangan
tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Baldwin, T.T. and J.K. Ford. (1988). Transfer of Training: A Review and Directions for
Future Research. Personnel Psychology, 41, 63-105.
Broad, M. L. (1997). Overview of transfer of training: From learning to performance.
Performance Improvement Quarterly, 10(2), 7-21.
Foxon, M. J. (1993). A Process Approach to The Transfer of Training Part 1: The Impact
of Motivation and Supervisor Support on Transfer Maintenance. The Australian
Journal of Educational Technology, 9(2), 130-143.
Furman, N & Jim Sibthorp. (2013). Leveraging Experiential Learning Technique for
Transfer. New Directions for Adult and Continuing Education. Vol. 2013,
Issue 137: 17 – 26, Spring 2013.
Guskey, T. R. (2000). Evaluating professional development. Thousand Oaks, CA: Corwin
Press.
Holton, E. F., & Baldwin, T. T. (2003). Improving learning transfer in organizations. San
Francisco, CA: Jossey-Bass.
Kirkpatrick, D. (1996).
Development.
Revisiting
Kirkpatrick’s
four-level-model.
Training
&
Kirwan, C. (2009). Improving Learning Transfer. A Guide to Getting More out of What
You put into Your Training. Gower Publishing Limited. England.
Kolb, D. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of
Development. New Jersey: Prentice-Hall.
Learning and
Leberman, Sarah Isabella (1999). The Transfer of Learning from the Classroom to the
Workplace : A New Zealand Case Study. Thesis. Victoria University.
McKeough, A., Lupert, J., & Marini, A. (1995). Teaching for transfer: Fostering
generalization in learning. Mahwah, NJ: Erlbaum.
Phipps, Simone T.A & Leon C. Prito (2011). Self Monitoring and Organizational
Identification as Moderators of the Effects of Proactive Personality on the
Transfer of Learning in the Workplace : A Theoritical Inquiry. International
Journal of Management. 28 (2), 509 – 518.
Subedi, B.S. (2004). Emerging Trends of Research on Transfer of Learning. International
Education Journal Vol 5, No 4, 2004
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
31
Transfer Pelatihan Berbasis Experiential Learning Di Sektor Publik
Studi Pada Alumni Diklat Prajabatan Golongan III
Esti Sri Rahayu
Thayer, P. W., & Teachout, M. S. (1995). A climate for transfer model (Report No.
AL/HR-TP-1995-0035). Brooks Air Force Base, TX: Technical Training
Research Division, Armstrong Laboratory.
Ward, R.C. (2008). Assessing Learning Transfer And Performance Improvement in an
Action Learning Leadership Development Program. Dissertation. Teachers
College. Columbia University.
Yorks, L., Lamm, S., & O'Neil, J. (1999). Transfer of learning from action learning
programs to the organizational setting. In L. York, J. O'Neil. & V. J. Marsick
(Eds.), Action learning: Successful strategies for individual, team and
organizational development. San Francisco: Berett-Koehler Communications.
32
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Analisa
ADOPSI NILAI BENCHMARKING TO BEST PRACTICE
DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT III
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
DR. Hary Wahyudi
Badan Pendidikan Dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur
Jl. Balongsari Tama Tandes Surabaya
Email: [email protected]
Naskah diterima: 24 Juni 2017, Naskah direvisi: 8 Juli 2017, Naskah disetujui: 19 Juli 2017
Abstract
Benchmarking to Best Practice is intended to allow participants to identify the
success of innovations, obstacles in its implementation as well as the strategies
undertaken in order to overcome obstacles. So that when the implementation is done,
there is already an alternative treatment to be carried out. When the concept of
change is associated with the issue of free trade, the role of the domestic trade is
increasingly important and strategic. The implication their we face is the integration
of the domestic market into the global market, especially with the emergence of the
Asean Economic Community (AEC) which had begun since 2015.
Benchmarking is an approach that continuously measure and compare goods
and services, and processes and practices to the stringent standards set by
competitors, or those their considered to excel in the field. Through benchmarking, an
organization can determine how far they have been compared to their best.
Benchmarking should involve research and understanding of its own internal working
procedures, search for "best practices" in organizations or institutions, and then
match it to be identified and eventually adapting these practices within their own
organizations to improve performance. Basically, benchmarking is a way of learning
from others systematically, and change what needs to be changed in the School of
Ledership.
Keywords : Benchmarking, Best Practices, School of Entrepreneurial Ledership.
A. LATAR BELAKANG
Peningkatan kompetensi aparatur sipil negera merupakan salah satu program
prioritas nasinal, dalam kerangka hal tersebut penyelenggaraan kediklatan aparatur
merupakan hal yang tak bisa dihindarkan karena merupakan suatu kebutuhan. Termasuk
program diklat kepemipinan.
Sejalan dengan hal tersebut Pemerintah Propinsi Jawa Timur menyelenggarakan
Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan 50, yang dalam satau satu rangkaian tahapan
pembelajaran melakukan Benchmarking to Best Practice.
Hal dimaksud sebagaimana diamanatkan dalam peraturan Kepala LAN dalam
penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Pola Baru. Pemerintah Provinsi Kalimanaten
Selatan dipilih menjadi Lokus yang dikunjungi karena dianggap telah berhasil
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
35
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
melaksanakan kinerja yang baik (Best Practice) yang bisa dicontoh, dikaji, didalami untuk
diterapkan di Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah masing-masing
peserta diklat dengan melakukan penyesuaian agar sesuai dengan konteks yang cocok
dengan kondisi setempat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dijadikan mitra strategis dalam proses
benchmarking karena memiliki gambaran yang mirip dengan Pemerintah Provinisi Jawa
Timur, terkait dengan pasca diberlakukannnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah, khususnya adanya perubahan kewenangan dalam bidang
pendidikan, kesehatan dan perhubungan.
Sebagaimana amanat dalam undang-undang pemerintahan daerah tersebut,
kewenangan dalam pengelolaan pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah (SMA/SMK)
menjadi kewengan pemerintah provinsi, pengelolaan kewenangan dalam menata dan
mengurus terminal, angkutan juga terjadi peralihan kewenangan, demikian juga dalam
sektor kesehatan.
Proses Benchmarking to Best Practice ditujukan agar peserta bisa dengan mudah
melihat keberhasilan inovasi yang dilakukan berikut hambatan-hambatan dalam
pelaksanaannya serta strategi yang dilakukan dalam rangka mengatasi hambatan sehingga
ketika mempraktekkannya nanti sudah mendapatkan formula penanganan yang hendak
dilakukan.
B. PENGERTIAN BENCHMARKING
Pengertian benchmarking secara sederhana adalah suatu proses membandingkan
dan mengukur suatu kegiatan organisasi terhadap proses operasi yang terbaik di
kelompoknya, sebagai inspirasi dalam meningkatkan kinerja organisasi. Jadi intisari
benchmarking adalah untuk memungkinkan organisasi dapat membandingkan dengan
organisasi kompetitor dan selanjutnya menjadi alat strategi bagi manajemen untuk
meningkatkan kinerjanya.
Benchmarking adalah pendekatan yang secara terus menerus mengukur dan
membandingkan produk barang dan jasa, dan proses-proses dan praktik-praktiknya
terhadap standar ketat yang ditetapkan oleh para pesaing atau mereka yang dianggap
unggul dalam bidang tersebut.
Dengan melakukan atau melalui benchmarking, suatu organisasi dapat mengetahui
telah seberapa jauh mereka dibandingkan dengan yang terbaiknya. Benchmarking harus
melibatkan dan pemahaman tentang prosedur kerja internal sendiri, kemudian mencari
”praktik terbaik” pada organisasi atau lembaga lain, kemudian mencocokkannya dengan
yang telah diidentifikasi dan akhirnya mengadaptasi praktik-praktik itu dalam
organisasinya sendiri untuk meningkatkan kinerjanya. Pada dasarnya, benchmarking
adalah suatu cara belajar dari orang lain secara sistematis, dan mengubah apa kita kerjakan.
Berbagai definisi benchmarking antara lain 1) merupakan suatu proses untuk
mengukur kinerja terhadap perusahaan yang terbaik dalam kelasnya, kemudian
menggunakan analisis untuk memenuhi dan melebihi perusahaan tersebut. 2) pencarian
praktek terbaik yang mengarah kepada kinerja yang sangat baik apabila praktek-praktek
tersebut diterapkan .(3) proses identifikasi dan pembelajaran dari praktek terbaik
dimanapun di dunia dan 4) perbandingan sistematis terhadap proses dan kinerja untuk
menciptakan standar baru dan atau meningkatkan proses .
36
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Adapun prasyarat untuk melalukan benchmarking, antara lain:
1. Kemauan dan komitmen.
2. Keterkaitan tujuan strategik.
3. Tujuan untuk menjadi terbaik, bukan hanya untuk perbaikan.
4. Keterbukaan terhadap ide-ide.
5. Pemahaman terhadap proses, produk dan jasa yang ada.
6. Proses terdokumentasi,
7.
Kerendahan hati untuk menerima hal baru;
Dalam melakukan benchmarking, maka semua orang yang berhubungan dengan
suatu proses harus memiliki pemahaman yang sama terhadap proses yang bersangkutan.
Adanya informasi atau dokumentasi sebelum adanya perubahan berguna dalam
pengukuran peningkatan kinerja setelah dilaksanakannya benchmarking.
Hal yang harus diantisasi adalah adanya mitra benchmarking belum tentu akrab
dengan proses yang dimiliki suatu organisasi, memerlukan ketrampilan analisis proses,,
komunikasi, dan pembentukan tim.
C. Proses Tahapan dan Manfaat Benchmarking
Fokus dari kegiatan benchmarking diarahkan pada praktik terbaik dari perusahan
lainnya. Ruang lingkupnya makin diperluas yakni dari produk dan jasa, menjalar kearah
proses, fungsi, kinerja organisasi, logistik, pemasaran, dll. Benchmarking juga berwujud
perbandingan yang terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang tentang praktik dan
hasil dari perusahaan yang terbaik dimanapun perusahaan itu berada.
Praktik banchmarking berlangsung secara sistematis dan terpadu dengan praktik
manajemen lainnya, kegiatan benchmarking perlu keterlibatan dari semua pihak yang
berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang apa yang akan di- benchmarking-kan,
pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang cocok, dan kemampuan untuk
melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktik bisnis.
Secara umum manfaat yang diperoleh dari benchmarking dapat dikelompokkan dalam
beberapa langkah :
1. Menentukan Apa yang Akan Di-benchmark
Hampir segala hal dapat di-benchmark: suatu proses lama yang memerlukan perbaikan;
suatu permasalahan yang memerlukan solusi; suatu perancangan proses baru; suatu
proses yang upaya-upaya perbaikannya selama ini belum berhasil. Perlu dibentuk suatu
Tim Peningkatan Mutu yang akan menyelidiki proses dan permasalahannya. Tim ini
akan mendefinisikan proses yang menjadi target, batas-batasnya, operasi-operasi yang
dicakup dan urutannya, dan masukan (input) serta keluarannya (output).
2. Menentukan Apa yang Akan Diukur
Ukuran atau standar yang dipilih untuk dilakukan benchmark-nya harus yang paling
kritis dan besar kontribusinya terhadap perbaikan dan peningkatan mutu. Tim yang
bertugas me-review elemen-elemen dalam proses dalam suatu bagan alir dan
melakukan diskusi tentang ukuran dan standar yang menjadi fokus.
Tim yang bertugas dapat pula melakukan wawancara dengan pihak yang
berkepentingan terhadap proses tersebut (dapat pula dipandang sebagai pelanggan)
tentang tuntutan dan kebutuhan mereka dan menghubungkan atau mengkaitkan
tuntutan tersebut kepada ukuran dan standar kinerja proses.
Tim kemudian menentukan ukuran-ukuran atau standar yang paling kritis yang akan
secara signifikan meningkatkan mutu proses dan hasilnya. Juga dipilih informasi
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
37
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
seperti apa yang diperlukan dalam proses benchmarking ini dari organisasi lain yang
menjadi tujuan benchmarking.
3. Menentukan Benchmark
Langkah kemudian adalah menentukan organisasi yang akan menjadi tujuan
benchmarking ini. Pertimbangan yang perlu adalah tentunya memilih organisasi lain
tersebut yang memang dipandang mempunyai reputasi baik bahkan terbaik dalam
kategori ini.
4. Pengumpulan Data/Kunjungan
Tim mengumpulkan data tentang ukuran dan yang telah dipilih terhadap organisasi yang
akan di-benchmark. Pencarian informasi ini dapat dimulai dengan yang telah
dipublikasikan: misalkan hasil-hasil studi, survei pasar, survei pelanggan, jurnal,
majalah dan lain-lain. Barangkali juga ada lembaga yang menyediakan bank data
tentang benchmarking untuk beberapa aspek dan kategori tertentu.
Tim dapat juga merancang dan mengirimkan kuesioner kepada lembaga yang akan dibenchmark, baik itu merupakan satu-satunya cara mendapatkan data dan informasi atau
sebagai pendahuluan sebelum nantinya dilakukan kunjungan langsung.
Pada saat kunjungan langsung (site visit), tim benchmarking mengamati proses yang
menggunakan ukuran dan standar yang berkaitan dengan data internal yang telah
diidentifikasi dan dikumpulkan sebelumnya. Tentu akan lebih baik jika ada beberapa
obyek atau proses yang dikunjungi sehingga informasi yang didapat akan lebih lengkap.
Asumsi yang perlu diketahui adalah bahwa organisasi atau lembaga yang dikunjungi
mempunyai keinginan yang sama untuk mendapatkan informasi yang sejenis dari
lembaga yang mengunjunginya yaitu adanya keinginan timbal balik untuk saling membenchmark.
Para pelaku benchmarking telah dapat menyimpulkan bahwa kunjungan langsung
kepada organisasi dengan praktik terbaik dapat menghasilkan pandangan dan
pemahaman yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan cara-cara pengumpulan data
yang manapun. Kunjungan ini memungkinkan kita untuk secara langsung berhubungan
dengan “pemilik proses” yaitu orang-orang yang benar-benar menjalankan atau
mengelola proses tersebut.
5. Analisis Data
Tim kemudian membandingkan data yang diperoleh dari proses yang di-benchmark
dengan data proses yang dimiliki (internal) untuk menentukan adanya kesenjangan
(gap) di antara mereka. Tentu juga perlu membandingkan situasi kualitatif misalnya
tentang sistem, prosedur, organisasi, dan sikap. Tim mengindentifikasi mengapa terjadi
kesenjangan (perbedaan) dan apa saja yang dapat dipelajari dari situasi ini. Satu hal
yang sangat penting adalah menghindari sikap penolakan; jika memang ada perbedaan
yang nyata maka kenyataan itu harus dapat diterima dan kemudian disadari bahwa harus
ada hal-hal yang diperbaiki.
6. Merumuskan Tujuan dan Rencana Tindakan
Tim selanjutnya menentukan target perbaikan terhadap proses. Target-target ini harus
dapat dicapai dan realistis dalam pengertian waktu, sumber daya, dan kemampuan yang
ada saat ini; juga sebaiknya terukur, spesifik, dan didukung oleh manajemen dan orangorang yang bekerja dalam proses tersebut. Kemudian tim dapat diperluas dengan
melibatkan multidisiplin yang akan memecahkan persoalan dan mengembangkan suatu
rencana untuk memantapkan tindakan spesifik yang akan diambil, tahapan-tahapan
waktunya, dan siapa-siapa yang harus bertanggung jawab.
38
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Hasil ini akan diserahkan kepada para pelaksana penjaminan mutu (executive)
untuk kemudian memantau kemajuan dan mengidentifikasi persoalan-persoalan yang
timbul. Ukuran dan standar dievaluasi secara bertahap, barangkali diperlukan penyesuaianpenyesuaian terhadap rencana untuk dapat mengatasi halangan dan persoalan yang muncul.
Juga para pelaksana memerlukan umpan balik dari mereka yang berkepentingan terhadap
proses dan hasilnya (stakeholders).
Proses benchmarking ini mempunyai banyak keuntungan. Benchmarking
mendorong terciptanya suatu budaya perbaikan terus menerus, menghargai orang lain dan
prestasinya dan membangun indera dan intuisi akan pentingnya perbaikan yang dijalankan
terus menerus tersebut. Jika suatu jaringan dan kemitraan dalam benchmarking telah
terbentuk maka berbagai praktik baik dan terbaik dapat saling dibagi di antara mereka.
Manfaat benchmarking adalah dapat mengurangi biaya karena kesalahan,
menurunkan pencegahan sebelum kesalahan terjadi dan penyederhanaan proses. Tujuan
Untuk menentukan kunci atau rahasia sukses dari organisasi pesaing yang paling unggul.
Indikator kerberhasilan Terjadinya perubahan budaya organisasi yang lebih baik,
terjadinya perbaikan kinerja dan meningkatnya kemampuan SDM.
Pelaksanaan kegiatan benchmarking adalah:
(1) memilih jasa atau produk yang akan dibandingkan, (2) mengidentifikasi kunci atau
rahasia sukses dari produk tersebut, (3) memilih organisasi mitra se bagai pembanding, (4)
mengumpulkan data dan informasi serta praktek-prakteknya, (5) melakukan analisis untuk
mendapatkan peluang guna perbaikan, dan (6) implementasikan praktek-praktek terbaik.
Manfaat Benchmarking antara lian untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik;
meningkatkan kesadaran akan perubahan kebutuhan pelanggan, Menndorong inovasi,
pembembangan rekesempatan dan mengembangkan realistis, tujuan peregangan, juga
menyiapkan rencana tindakan yang realistis
D. TUJUAN BENCHMARKING
Latar pemilihan unsur terpilih yang hendak di benchmarking antara lain untuk
melakukan pengamatan dan mempelajari best practice mitra Bench Marking , Melakukan
identifikasi praktekter baik mitra Bench Marking untuk keunggulan organisasi kita dalam
pengelolaan program di masa mendatang. Identifikasi perbedaan praktek mitra
Benchmarking untuk keunggulan organaisasi, Melakukan pertukaran informasi,
Mengoreksi unsur-unsur yang di benchmark, Memanfaatkan hasil analisis, Memanfaatkan
hasil lesson learnt dan menggabungkan dengan rencana organisasi, Memperhatikan proses
adaptasi dan adopsi dalam penerapan program baru untuk meningkatkan kinerja organisasi,
Mempersiapkan rencana perubahan pengelolaan program organisasi dengan mengadopsi
dan mengadaptasi best practice mitra benchmarking, Mengimplementasikan rencana
perubahan pengelolaan program organisasi, Melakukan penyesuaian dengan
mempertimbangkan lingkungan stratejik organisasi.
Beberapa pertanyaan dalam rancang bangun benchmarking antara lain ; a) seberapa
bagus yang kita kerjakan dibandingkan instutusi lain, b) Kita ingin menjadi seperti apa, c)
Siapa yang saat ini kinerjanya terbaik, d) Bagaimana mereka dapat mencapai kinerja
terbaik tersebut, e) Bagaimana kita mengadopsi apa yang mereka lakukan untuk institusi
kita, f) Bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa kita lebih baik dibandingkan mereka..
Mengidentifikasi mitra benchmarking, dengan langkah : 1) Membandingkan
organisasi sendiri (khususnya sesuai area dan fokus perubahan) dengan organisasi yang
akan ditetapkan sebagai lokus benchmarking, 2). Mengidentifikasi kemungkinan best
practice (praktekterbaik) yang bisa diadopsi, 3) Identifikasi permasalahan instansi dalam
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
39
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
pengelolaan program (yang berkaitan dengan fokus perubahan), 4) Mempelajari best
practice apa yang diperlukan organisasi (diperlukan untuk mendukung perubahan).
Selanjutnya menentukan apa yang akan di ukur/dibandingkan dalam
benchmarking, dengan langkah : 1)Tentukan indikator kinerjanya (indikator kinerja output
/kegiatan atau indikator kinerja outcome/program), 2).Tentukan kinerja organisasi
sekarang berdasarkan indikator kinerja yang ditetapkan (kondisi sekarang).
Mengidentifikasi mitra benchmarking, dengan langkah : Membandingkan organisasi
sendiri (khususnya sesuai area dan fokus perubahan) dengan organisasi yang akan
ditetapkan sebagai lokus benchmarking, Mengidentifikasi kemungkinan best practice
(praktekterbaik) yang bisa diadopsi.
E.ADOPSI BEST PRACTICES
Pembelajaran benchmarking dengan mengadopsi best practice birokrasi
pemerintahan yang menjadi mitra sinergi yang hendak di benchmark, yakni menggali data
dan informasi terkait kebijakan, implementasi kebijakan pemerintah terhadap tema yang
diusung.
Pembelajaran benchmarkong dilaksanakan dengan menggunakan metode
experiential learning, diskusi interaktif dan presentasi dari stakeholder yang terkait dengan
tema, selanjutnya keberhasilan benchamrk dinilai dari kemampuan mengidentifikasi,
mengadopsi atau mengadaptasi best practice untuk mengelola perubahan yang inovatif
sesuai tema pada instansi masing-masing.
Selanjutnya mendorong kemampuan kemampuan menyusun Rencana Aksi
perubahan nstansional melalui pembelajaran identifikasi permasalahan tingkat instansional
sesuai tema, penetapan area perubahan dan penyusunan Rencana Aksi RB Instansional
sesuai tema yang diadopsi hasil dari pembelajaran benchmarking.
Setidaknya ada 3 (tiga) jenis kompetensi yang diadopsi selama melaksanakan
benchmarking untuk dilakukan adaptasi di instansi masing-masing, yakni :
a. Adopsi best practices kompetensi kepemimpinan manajerial yang diadaptasi dari
pengalaman best practices kepemimpinan, yang bisa dipetik dan dijadikan nilainilai dalam proyek perubahan;
b. Adopsi best practices kompetensi teknis fungsional yang diadopsi dari best
practices pengalaman bekerja secara teknis fungsional, yang bisa dipetik dan
dijadilan nilai-nilai dalam proyek perubahan;
c. Adposi kompetensi sosial kultural yang diadopsi dari pengalaman kerja best
practices berkaitan dengan pengamalaman memimpin masyarakat majemuk yang
memiliki wawasan kebangsaan, yang dijadikan nilai-nilai dalam proyek perubahan;
Pengalaman pembelajaran studi lapangan peserta Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan, mendapatkan pembelajaran yang penting pada saat ceremonial, paparan
narasumber, kunjungan lokus dan pendalaman materi, hal tersebut bisa diambil /diadopsi
sebagai nilai-nilai yang nantinya dbisa dimodifikasi/disesuaikan pada instansi peserta,
antara lain :
A.Adopsi best practice komptensi kepemimpinan manajerial;
1.Seorang pemimpin mampu menyesuaikan model kepemimpinannya sesuai keadaan
atau jamanya. Seorang pemimpin hadir dan dibentuk jamannya, seorang pemimpin
mampu menghadapi persoalan dan memberikan alternatif solusi sesuai keadaan
jaman.
40
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Lantaran itu, dalam memimpin proyek perubahan instansional, maka seorang project
leader mampu memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan instansinya dengan
proyek perubahan;
2.Seorang pemimpin memiliki semangat untuk selalu membangun jejarinng kerja dan
membangun hubungan personal dengan baik, bahkan menempatkan posisi mereka
seperti keluarga.
Lantaran itu dalam mengimplementasikan project leader proyek perubahan mampu
mengadopsi nilai-nilai kekeluargaan yang didalamnya terkadung kepercayaan,
kepedulian dalam menjalin jejaring kerja dengan stake holder dalam proyek
perubahan, baik stake holder internal, stakholder eksternal, stakehoder kunci,
stakeholder utama dan stakeholder pendukung;
3.Pemimpin yang berkarakter karier adalah pemimpin yang senantiasa bermotivasi
untuk memaksimalkan potensi diri dan memberikan yang terbaik dari dirinya,
motivasi tidak ditujukan untuk berkompetisi namun untuk mengakualisasi motivasi
dirinya.
Adopsi yang bisa diadaptasi dalam proyek perubahan adalah adanya semagat untuk
memotivasi anggota tim proyek perubahan untuk termotivasi mengembangkan
potensi secara maksimal dalam menjalankan peran penugasan menjalankan proyek
perubahan
4. Pemimpin yang selalu menjaga adanya semangat kebersamaan, meyadari makna
kebajikan, peran kerjasama, keberhasilan bersama, menyadari potensi pribadi dan
potensi bersama menjadi kepemimpinan manajerial, bukan kepemimpinan yang one
man show, namun kepemimpinan dengan kemampuan manajerial yang dapat
mengiernalisasi peran kerja sama, sinergi, dan keberhasilan bersama.
Adopsi yang bisa diadaptasi dalam proyek perubahan adalah adanya semagat
kekompakan dalam anggota tim proyek perubahan untuk mengatasi resistensi yang
ada dan mengakomodir usulan yang muncul agar resistensi dapat teratasi dengan
semangat soliditas kebersamaan dalam mewujudkn tujuan proyek perubahan;
a. Adanya semanat keberanian untuk mengeluarkan, mengekspresikan potensi dan
kebajikan yang dimiliki, menunjukkan sikap dan perilaku dalam membangun
semangat kebersamaan serta kemampuan kemampuan menunjukkan kepemimpinan
sinergistik yaitu kemampuan melakukan perubahan secara bersama-sama dengan
berbagai pihak terkait dengan menghasilkan aksi yang saling menguatkan untuk
mengatasi masalah, melalui kerjasama dalam kepemimpinan birokrasi inklusif dan
sinergistik, berbagi pengalaman self assessment.
b. Kepemimpinan kompetensi transformasional yaitu kemampuan dalam memimpin
inovasi peningkatan mutu pelayanan, menunjukkan kesadaran diri terhadap
kekuatan karakter dan kebajikan (virtues) yang dimilikinya, mengenali peluang dan
ancaman perubahan lingkungan strategis, dan mengenali langkah-langkah yang
tepat untuk memunculkan potensi inovatif suatu organisasi.
Kompetensi mengelola perubahan melalui menyusunan konsep perubahan,
merencanakan perubahan, menerapkan teknik-teknik perubahan dalam organisasi,
mengatasi permasalahan dan dampak perubahan serta memelihara kesinambungan
perubahan.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
41
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Kepemimpinan deengan kemampuan membangun koalisi yang efektif dengan
pemangku kepentingan internal dan eksternal untuk mengelola perubahan yang
inovatif melalui pembelajaran pemetaan pemangku kepentingan, strategi
berkomunikasi dan membangun koalisi yang efektif.
1.Bidang IT dalam pemanfaatn Sosial Media
a. Pembentukan group WhasAp (WA) “PATEN Nganglik” Yang beranggotakan
Camat, Sekcam, Kasie, Staf Pelaksana PATEN yang berisi pengangan keluhan dan
pelaksanaan operasional pelayanan PATEN bagi masyarakat; Hal ini bisa diadopsi
dan diterapkan, diimplemntasi pada lembaga-lembaga kecamatan pesesrta bertugas
diinstansi masing-masing;
b. Pembentukan grup WhasAp (WA) “Manggala Praja”
Yang beranggotakan Bupati, Wakil, Bupati, Sekda, Asisten, Staf Ahli dan kepala
OPD yang ditujukan untuk mempermudah komunikasi antara pejabat dilingkungan
Kabupaten Sleman, sehingga lebih efektik, efisien dan menghindari kesan birokratis
dan ceremonial; Hal ini bisa diadopsi dan diterapkan, diimplemntasi pada lembagalembaga kecamatan pesesrta bertugas diinstansi masing-masing, dengan
mengusulkan kepada kepala daerah untuk dilakuan hal serupa, terutama kabupaten
peserta yang belum membentuk hal tersebut;
c. Pembentukan grup WhasAp (WA) “Penewu Sleman”
Yang beranggotakan para camat sekabupaten Sleman yang beranggotakan para
camat, sebagai sarana komunikasi dan mobilisasi informasi terkait sharing pendapat
dan pengalaman dalam pengelolaan tata pembangunan dan pelayanan publik di
kecamatan;
Hal ini juga bisa diadopsi dan diadaptasi oleh para camat dilingkungan masingmasing dengan menyesuaikan muatan-muatan informasi yang bisa disesuiakan
dengan kebutuhan;
d. Pembentukan grup WhasAP (WA) “Jarkom Camat-Tapem”
Grup ini beranggotakan para Camat dan Pejabat Tata Pemerintahan Umum
Kabupaten Sleman yang berisi jaringan komunikasi tentang kebijakan, informasi,
regulasi yang bisa disharingkan pada grup WA.
Hal ini juga bisa diadopsi dan diadaptasi oleh para camat dilingkungan masingmasing dengan menyesuaikan muatan-muatan informasi yang bisa disesuiakan
dengan kebutuhan;
e. Pembentukan grup WhasAp (WA) “Forum Camat-Kepala Desa”
Grup ini beranggotakan para camat dan kades diwilayah masing-masing, hal ini
bermanfaat dalam menjalin hubungan kerja, pribadi, silahturahmi antar camat dan
kepala desa, sekaligus dapat digunakan mendeteksi secara diri dan antisipasi gejolak
atau dinamika sosial, politik, keamanan yang mungkin terjadi diwilayahnya.
Hal ini juga bisa diadopsi oleh instansi peserta diklat diwilayah masing-masingmasing, sehigga harmonisasi hubungan lebih terjalin dengan baik;
f. Pemanfaatan teknologi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik
melalui face book, SMS , maupun kontak pengaduan yang telah disediakan;
Hal ini juga dapat diadiposi bagi peserta yang belum menerapkan tekologi dalam
memberikan layanan informasi dan pengaduan dari masyarakat
2. Bidang Kearifan Lokal keistemewaan Jogja
42
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
3.
4.
Keistimewaan Jogja dan kepatuhan pada raja sangat kental terasa kental dalam
keseharian masyarakat dan pergaulan tata pemerintahannya, baik dalam acara formal
ceremonial dan peragulan sehari-hari yang tetap menjaga budaya menghormati bagi
tamu dengan bahasa kromo jawa khas keraton, mesti gempuran teknologi masuk
namun tetap mampu mempertahankan tradisi leluhur yang merupakan kearifan
lokalnya.
Kearifan nampak dalam memodifikasi paterm/slogan human development indeks :
Sehat, Cerdas, Kaya diganti dengan Senang, Bahagia , Mulia yang merupakan
penyesuian dengan kultur setempat, akhibatnya meskipun dari sisi ekonomi rendah
dari kabupaten lain, namun dari kebagian lebih tinggi dari yang lain, yang
diindikasikan harapan hidup yang tinggi se indonesia (76 tahun)
Kondisi tersebut juga bisa diterapkan dalam tata pemerintahan dan pergaulan peserta
diinstansinya masing-masing, dengan tetap menjaga tradisi luhur kultur setempat
Menjaga komitmen dan Kekompakan Kinerja
Camat Sleman secara rutin menerapkan rapat staf secara rutin, mingguan atau
bulanan selalu ada kegiatan rapat staf yang dilaksanakan secara terbuka diantara
sesama pegawai ASN, disamping itu dalam mematrikan semangat kebersamaan pada
tiap sudut ruangan dikecamatan dipasang beberapa kalimat yang memberikan
semangat nilai-nilai komitmen dalam meningkatkan kinerja instansi, seprti : Jangan
Melupakan Pengalaman Masa Lalu, Agar Tidak tersesat dimasa Depan”; “Arsip
Senantiasa Menceritakan Kejujuran pada Masanya, Maka menjaga Arsip sama
dengan menjaga Kejujuran”, kecamatan Ngaglik juga memberikan SMS layanan
pengaduan yang ditangani oleh seksi pelayanan.
Hal-hal tersebut dapat diadopsi dan diinstansi peserta dengan menanamkan nilai-nilai
semangat peningkatan kinerja, sesuai dengan kinerja instansinya;
Secara konsekwen melaksanakan standarisasi pelayanan (SOP).
Beberapa SOP yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan antara lain : SOP yang
berlau secara eksternal, yakni SOP Pelayanan Ijin Gangguan (HO), SOP Pelayanan
Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), SOP Pelayanan Kartu Keluarga, SOP Pelayanan
Surat Keterangan Tinggal Sementara, SOP Pelayanan Kartu Tanda Penduduk
Elektronik, SOP Surat Masuk yang berlaku internal.
Ada beberapa kewengan kecamatan namun belum ada SOP antara lain : Surat
Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPL), Surat Keterangan Tata
Bangunan dan Lingkungan (SKTBL).
Perihal yang dapat diadopsi adalah adanya komitmen untuk melakukan standarisasi
penyelenggaraan perijinan bagi masyarakat dan layanan yang belum terstandarkan
untuk segera dibuatkan SOP, termasuk Ijin Usaha Mikro Kecil. Adanya SOP yang
berkesinambungan membawa impikasi turunnya anggaran yang lumayan besar,
sebesar Rp 2 milyar, tidak termasuk anggaran kelurahan;
Dalam meningkatkan kinerja dengan mengikutkan bimtek dan diklat serta worskhop
bagi pegawai kecamatan;
Maka adopsi kinerja yang diambil adalah adanya kesepakatan dan adanya maklumat
dalam memberikan layanan kepada masyarakat, namun maklumat layanan tidak
terpampang secara memadai, hanya dalam satu lembar kertas dan ditempel di papan
informasi;
5. Pemanfaatan aula pendopo untuk kegiatan potensi warga
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
43
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Camat Ngaglik dan perangkatnya juga memberikan ruang bagi warga yang hendak
memasarkan usahanya untuk didisplaykan/ disajikan diruang bale pendopo, hal ini
nampak pada saat studi lapagan ada seorang ibu yang menawarkan TuperWere, serta
memberikan kesempatan kepada beberapa warga yang menawarkan jasa pemotretan
dan penjualan foto. Hal yang dapat diadopsi adalah adanya sifat entreneur perangkat
yang mendorong warga untuk melakukan usaha mandiri, usaha mandiri bisa disajikan
/ ditawarkan pada event-event tertentu. Hal ini bisa digiatkan pada instansi masingmasing perserta;
6.Implementasi aplikasi IT kusus untuk warga Ngaglik belum dapat dioperasikan,
aplikasi yang khusus untuk layanan perijinan belum dapat dioperasikan, karena masih
dalam tahap finalisasi konsep aplikasi.
Pembelajaran yang bisa diadopsi adalah kegigihan untuk terus memperjuangkan
gagasan penggunaan IT meski ada halangan dalam implementasinya, tetap terus
berupaya dan beriktiar untuk memberikan pelayanan publik;
F. PENUTUP
Kesimpulan
Pelaksanaan Benchmarking to Best Practice sangat bermanfaat untuk
meningkatkan pemahaman dan mengetahui kiat-kiat sukses yang dilakukan oleh lokus
yang dikunjungi sehingga memudahkan untuk mengadopsi, mengadaptasi, dan
memodifikasi sesuai Proyek Perubahan yang dilakukan agar mencapai target yang
telah ditentukan.
. Beberapa hambatan-hambatan yang sering terjadi terhadap kesuksesan
penerapan benchmarking, antara lain:
1. Soliditas Tim .
Perlu pelibatan terhadap orang-orang yang berhubungan dan menjalankan proses
organisasi sehari-hari dalam pelaksanaan benchmarking.
Tim terlalu memaksakan aspek pengumpulan dan jumlah data. Padahal aspek yang
paling penting adalah proses ketika anggota tim mengadaptasi pada instansinya,
Namun hal tersebut agak sudah diterapkan yang disebabkan anggota tim
benchmarking dari beragam instansi yang berbeda dan keanggotaan pada Tim yang
Adhoc..
2 Kekurang dekatan terhadap mitra.
Mitra benchmarking memberikan akses untuk mengamati prosesnya dan juga
menyediakan waktu dan personil kuncinya untuk membantu proses benchmarking
kepada organisasi lain, namun tidak terjadi dalam proses ini, karena proses akses
dalam waktu singkat.
Hal yang dapat diadopsi dan diadaptasi dalam proyek perubahan antara lain
:
a. Dalam Proyek Perubahan harus mengikuti standar baik dalam hal merencanakan
maupun implementasi serta mengikuti kaidah-kaidah dari pedoman yang telah
disusun.
b. Proyek Perubahan yang baik juga memerlukan pengawasan baik dari pimpinan
maupun stakeholder yang lain, agar Proyek Perubahan tidak disalahgunakan, baik
dari sisi administrasi, keuangan, dan kewenangan.
c. Memberikan penghargaan terhadap stakeholder yang telah berjasa dalam Proyek
Perubahan dalam mencapai target yang telah ditentukan
44
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Adopsi Nilai Benchmarking To Best Practice Diklat Kepemimpinan Tingkat III
Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Hary Wahyudi
Rekomendasi
Pelaksanaan Benchmarking to Best Practice untuk angkatan berikutnya sebaiknya
menuju ke lokus yang sama dengan latar belakang instansi peserta dan pada 2 (dua)
Pemerintah Daerah yang berbeda sehingga memudahkan untuk membandingkan antara
inovasi pada masing-masing daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Allan, F.C. (1993), ªBenchmarking: practical aspects for information professionalsº,
Special Libraries, Vol. 84 No. 3, pp. 123-30.
Camp, R. The search for industry best practices that lead to superior performance.
Productivity Press.1989.
J. Nazarko, 2007, in National Institute of Public Administration, Jakarta, Indonesia
Partovi, F.Y. (1994), ªDetermining what to benchmark: an analytic hierarchy approachº,
International Journal of Operations & Production Management, Vol. 14 No. 6, pp.
25-39.
Peraturan Kepala LAN No. 16 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat
Kepemimpinan II, National Institute of Public Administration, Jakarta, Indonesia
Peraturan Kepala LAN No. 17 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat
Kepemimpinan III, National Institute of Public Administration, Jakarta, Indonesia
Peraturan Kepala LAN No. 19 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat
Kepemimpinan IV, National Institute of Public Administration, Jakarta, Indonesia
Pryor, L.S. and Katz, S.J. (1993), ªHow benchmarking goes wrong (and how to do it
right)º, Planning Review, Vol. 21 No. 1, pp. 6-11.
Watson, Gregory (2010). Strategic Bechmarking. London: SAGE Publications.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
45
Analisa
PERAN CHAMPION CHILD RIGHT MAINSTREAMING
DALAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
KABUPATEN/KOTA LAYAK ANAK DI JAWA TIMUR
(Studi Alumni Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas Pengarusutamaan Hak Anak)
Arie Cahyono, S.STP., M.Si
Badan Pendidikan Dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur
Jl. Balongsari Tama Tandes Surabaya
Email: [email protected]
Naskah diterima: 11 Juli 2017, Naskah direvisi: 22 Juli 2017, Naskah disetujui: 24 Juli 2017
Abstract
Child protection as part of the focus of quality human development in
Indonesia, based on the national commitment that has been contained in the
1945 Constitution article 28 b which asserts that every child has the right to
live, grow and develop and is entitled to protection from violence and
discrimination . Internalization of child protection in ASN training is a step
forward, considering that children become cross cutting issues that can be
implemented in all OPDs. About who does what, especially the child-friendly
district / city development policy (KLA) is the mandate of the Law for local
governments to divide up all the roles of the OPD to realize the KLA.
Education and training bodies East Java has conducted Technical Training on
Capacity Building of Human Resources for Facilitator of Mainstreaming Child
Rights in KLA policy development in East Java. What is done is significant
with the acceleration of KLA development in the Regency / City in East Java,
especially for the alumni of the training area.
A. LATAR BELAKANG
Anak merupakan amanah dan karunia yang teramat sangat berharga diberikan
Tuhan Yang Maha Esa pada kehidupan kita untuk senantiasa dijaga, asah, asih dan asuh
serta dilindungi dari perlakuan salah, penelantaran, pengabaian maupun tindak kekerasan.
Jika dilihat dari perspektif sebagai suatu bangsa, anak merupakan asset utama sebagai
aktor penerus terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas dari pembangunan
nasional. Issue perlindungan anak telah menggelobal baik dari ranah domestik hingga pada
tataran internasional. Sejarah panjang telah mencatat bagaimana komitmen dunia akan
perjuangan perlindungan anak mulai dirintis pada tahun 1924, untuk pertama kalinya
deklarasi hak anak diadopsi secara internasional oleh liga bangsa-bangsa, deklarasi ini
dikenal juga sebagai deklarasai Jenewa. Hingga pada tahun 1959 majelis umum
Perserkatan Bangsa-Bangsa kembali mengeluarkan pernyataan mengenai hak anak
merupakan deklarasi kedua, yang selanjutnya pada tanggal 2 September 1990, Konvensi
Hak Anak (KHA) diberlakukan sebagai hukum internasional (Susilowati dkk., 2003 : 11).
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
47
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
Issue perlindungan anak telah menggelobal baik dari ranah domestik hingga pada
tataran internasional. Berbagai macam forum dan kesepakatan bersama di tingkat dunia
telah disepakati diantaranya Konvensi Hak Anak PBB, Agenda Habitat, World Fit For
Children, dan MDG’s merupakan bukti betapa tingginya komitmen dunia akan
perlindungan bagi anak.
Indonesia sebagai salah satu negara yang berkomitmen terhadap perlindungan anak.
Hal ini disadari komitmen tersebut mempunyai dasar latar belakang yang jelas manakala
dilihat dari peta permasalahan anak di Indonesia. Peta permasalahan anak di Indonesia
terbagai dalam 3 (tiga) domain yaitu pertama, situasi dan kondisi anak di bidang kesehatan.
Kondisi kesehatan anak pada setiap tahapan usia mempunyai kecenderungan dan
kekhususan. Pada bayi, maka kondisi yang sering terjadi adalah : Asfiksia, Berat Badan
Lahir Rendah dan penyakit-penyakit infeksi seperti radang paru dan diare. Pada tahap usia
balita, kondisi yang sering terjadi adalah : masalah kekurangan gizi, infeksi saluran
pernafasan akut, diare dan gangguan tumbuh kembang. Selanjutnya pada usia sekolah dan
remaja, mereka sering mengalami anemia, cacingan dan perilaku hidup yang tidak sehat.
Selain itu ada masalah kecacatan sering dialami pula oleh anak. Pada masa remaja,
masalah yang sering juga ditemui adalah obesitas (kegemukan), infeksi HIV/AIDS,
merokok, penggunaan Napza dan banyak pula remaja yang mengalami kehamilan yang
tidak diinginkan yang berakhir pada aborsi. Di lain pihak mereka juga mengalami
kekerasan. Situasi kesehatan pada umumnya dapat terlihat pada tingkat kesejahteraan anak
dan juga orang tuanya, terutama pada usia di bawah 5 tahun. Kondisi kesehatan anak
sangat terkait dengan kondisi sosial ekonomi pada umumnya. Kemiskinan menurunkan
kualitas kesehatan anak yang sering digunakan adalah keadaan gizi anak. Secara umum
status gizi penduduk membaik dari waktu ke waktu. Indikator prosentase penderita gizi
kurang dan gizi buruk pada anak balita menurun dari 37,47 persen pada tahun 1989
menjadi 26,36 persen pada tahun 1999 dan terus membaik menjadi 27,30 persen pada
tahun 2002. pada namun meningkat kembali menjadi 28,17 persen pada tahun 2005. Target
penurunan pada tahun 2015 adalah 18,7%.
Kedua situasi pendidikan anak, berdasarkan Human Development Report 2004
menunjukan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk usia sekolah tahun 1999 hanya 6,7
tahun dan meningkat menjadi 7,1 tahun pada tahun 2002. Data ini menunjukan walaupun
pendidikan meningkat namun secara umum hanya sampai tingkat SLTP kelas 1 dan pada
tahun 2002 rata-rata lama sekolah untuk laki-laki 7,6 tahun (SLTP Kelas 2) lebih tinggi
dibandingkan perempuan yang hanya 6,5 tahun (SLTP kelas 1). Pada tahun 2004 dan 2005
rata-rata lama sekolah meningkat menjadi 7,2 tahun dan 7,3 tahun. Pada masa tersebut
rata-rata lama sekolah laki-laki adalah 7,8 tahun lebih tinggi dari perempuan yang hanya
6,8 tahun (BPS, Inkesra: 2005).
Ketiga situasi anak yang memerlukan perlindungan pada pekerja anak, jumlah
pekerja anak usia 10-14 tahun di Indonesia selama periode tahun 2001-2002 selalu di atas
500.000 anak atau di atas 6 % dari jumlah anak usia 10-14 tahun. Pada tahun 2003, jumlah
pekerja anak usia 10-14 tahun mengalami penurunan menjadi sekitar 367.610 anak
(43,62%), namun kembali mengalami kenaikan sekitar 488.850 anak (5,83%) pada tahun
2004. sedangkan pada tahun 2005, jumlah pekerja anak usia 10-14 tahun kembali
menurun sekitar 383.210 anak (4,43%). Dari data tersebut, bisa diperkirakan bahwa pada
kurun waktu tahun 2001-2005, dalam setiap anak usia 10-14 tahun terdapat 4 sampai 6
pekerja anak, yang memiliki kondisi yang pasti berbeda dengan anak-anak lainya di usia
yang sama, bahkan kehilangan hak dan kesempatan untuk hidup selayaknya anak dalam
usia tersebut. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) anak usia 10-14 tahun menurut
48
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
provinsi berdasarkan Sakernas November 2005 di seluruh Indonesia mencapai rata-rata
4,43%. Artinya, dari 100 anak usia 10-14 tahun terdapat 4 anak yang menjadi pekerja anak.
Kualitas hidup manusia sangat ditentukan sejak usia dini. Anak merupakan
generasi penerus bangsa, merekalah yang akan menentukan nasib bangsa ini di masa
mendatang. Oleh sebab itu, pemenuhan hak dan perlindungan anak menjadi prioritas dalam
pembangunan. Dari seluruh jumlah penduduk sebanyak 245,425 juta jiwa, 49,65 persen
diantaranya adalah perempuan dan 50,35 persen laki-laki (BPS, Susenas 2013). Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk menurut jenis kelamin berimbang.
Bila dilihat menurut kelompok umurnya, dari jumlah tersebut 33,4 persen atau 82,083 juta
jiwa adalah anak-anak (penduduk usia di bawah 18 tahun), terdiri dari 42,012 juta anak
laki-laki dan 40,071 juta anak perempuan. Jumlah anak yang begitu besar atau lebih dari
sepertiga jumlah penduduk secara keseluruhan, maka peningkatan kualitas hidup anak
perlu mendapat perhatian serius. Berinvestasi untuk anak adalah investasi sepertiga lebih
penduduk Indonesia. Gambaran kondisi anak saat ini menjadi dasar penting bagi
penyusunan kebijakan yang tepat bagi anak. Kualitas hidup anak dilihat dari capaian
bidang pendidikan, salah satu indikatornya dapat diamati dari Angka Partisipasi Sekolah
(APS). Untuk anak usia 7-17 tahun APS tahun 2012 sebesar 91,46 persen (BPS, Susenas
2012). Secara umum APS anak perempuan pada setiap jenjang sekolah lebih tinggi
dibandingkan dengan APS anak laki-laki. Kualitas kesehatan anak antara lain dapat
diamati dari Angka Kematian Bayi (AKB). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI, 2012) AKB tercatat sebesar 40 setiap 1000 bayi lahir hidup atau turun
58,7 persen dibandingkan tahun 1991 (97 kematian per 1000 kelahiran hidup). Kualitas
hidup anak juga ditentukan dari perlindungan terhadap tindak kekerasan. (Renstra
Kementerian PPPA 2015-2019)
Hasil survei Kekerasan Terhadap Anak yang dilakukan tahun 2013 menemukan
bahwa anak usia 13-17 tahun menunjukkan 1 dari 3 anak laki-laki dan 1 dari 5 anak
perempuan mengalami salah satu bentuk kekerasan emosional/fisik/seksual dalam 12 bulan
terakhir. Anak mengahadapi resiko kekerasan fisik, emosional, seksual di rumah maupun
di luar rumah. Hukuman corporal/fisik sering digunakan sebagai upaya mendisiplinkan
anak di keluarga. Data menunjukkan bahwa 26 persen anak menjadi korban dari hukuman
fisik (BPS, 2014). Orang tua berperan sebagai pelaku utama dan yang paling sering
melakukan kekerasan terhadap anak di rumah. Secara khusus, anak yang tinggal dalam
“keluarga yang rusak” (broken home) atau anak di institusi (termasuk didalamnya panti
asuhan) memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kekerasan fisik, emosional,
dan pengabaian (PUSKAP UI, 2014).
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia dengan sampel 10.760
anak berusia 10-18 tahun di empat provinsi (Aceh, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur,
dan Papua) menemukan bahwa kekerasan seksual terjadi di seluruh konteks, termasuk di
rumah dan dalam bentuk kontak fisik maupun non kontak fisik. Persentasenya bervariasi
antar daerah, misalnya di Kabupaten Jayawijaya, 23 persen anak meleporkan mengalami
kekeresan seksual, sedangkan di Jayapura, Provinsi Papua hanya 14 persen. Smentara itu,
jumlah kasus kekerasan seksual relative rendah di Banda aceh 2 persen), Provinsi Aceh
sebesar 5 persen (Universitas Indonesia, 2009).
Kekerasan seksual terhadap anak-anak meyebabkan terkikisnya fondasi
kehidupan mereka, padahal anak-anak membutuhkan kehidupan secara sehat dan
produktif. Secara global, studi Sumner, et all, (2015), menunjukkan bahwa paparan
kekerasan selama masa kecil dapat meningkatkan kerentanan terhadap mental dan masalah
kesehatan fisik, mulai dari depresi dan kehamilan yang tidak diinginkan terhadap penyakit
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
49
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
kardiovaskular, diabetes, dan penyakit menular seksual, termasuk human
immunodeficiency virus (HIV)
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada awal tahun
2015 telah melakukan konsultasi secara on line yang melibatkan lebih dari 4000 anak,
remaja dan pemuda dengan rentang usia 14-25 tahun melalui internet (portal titter
@UReport-id) terkait Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA)
memperoleh beberapa masukan diantaranya perlunya program terkait kesejahteraan sosial,
pendidikan pengasuhan untuk keluarga, penegakan hukum serta peningkatan kesadaran
masyarakat, sebagaimana tertuang dalam StratNas KPPPA (2016 :4)
Upaya pengintegrasian hak anak ke dalam isu sentral pembangunan suatu Negara
bukanlah hal yang baru. Berbagai Negara telah sejak lama melakukan upaya serupa dengan
satu harapan yang memberikan yang terbaik bagi kepentingan anak. Mengetahui sejarah
dan proses perkembangnya intregrasi hak anak ke dalam pembangunan dari Negara laun
dapat menyakinkan kita tentang perlunya kesungguhan kita dalam melaksanakan
perlindungan anak.
Perlindungan anak sendiri sebagai bagian dari fokus pembangunan sumber daya
manusia yang berkualitas di Indonesia, berpijak pada komitmen nasional yang telah
tertuang ke dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 b yang menegaskan bahwa setiap
anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi.Kota Layak Anak merupakan istilah yang diperkenalkan
pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui
Kebijakan Kota Layak Anak. Karena alasan untuk mengakomodasi pemerintahan
kabupaten, belakangan istilah Kota Layak Anak menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak dan
kemudian disingkat menjadi KLA. Dalam Kebijakan tersebut digambarkan bahwa KLA
merupakan upaya pemerintahan kabupaten/kota untuk mempercepat implementasi
Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan
intervensi pembangunan seperti kebijakan, institusi, dan program yang layak anak.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak menggulirkan kebijakan pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak
di Indonesia. KLA merupakan sistem pembangunan kabupaten/kota yang
mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha
yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam program dan kegiatan
pemenuhan hak dan perlindungan anak (permeneg pppa nomor 11 tahun 2011). Sebagai
pilot project pertama kali ada 5 kabupaten/kota sejak tahun 2006 diantaranya Sidoarjo,
Gorontalo, Kutai Kartanegara, Jambi, dan Surakarta.
Perkembangannya selanjutnya Kabupaten/Kota Layak Anak yang disingkat KLA
didefinisikan sebagai Kabupaten/Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak
anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan
dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan
program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
Mempercepat pemahaman KLA bagi Aparatur Pemerintah, Pemerintah Provinsi
Jawa Timur melalui Badan Pendidikan dan Pelatihan telah menyelenggarakan Diklat
Teknis Peningkatan Kapasitas SDM Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak pada Tahun
2016. Diklat ini diikuti oleh 30 (tiga puluh) orang peserta dari OPD Pemerintah Propinsi
dan OPD Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
50
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalahnya adalah bagaimana peran alumni Diklat Teknis Peningkatan
Kapasitas SDM Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak dalam pengembangan kebijakan
KLA di Jawa Timur. Adapun pertanyaan penelitiannya antara lain :
a. Manfaat apa yang dirasakan para alumni diklat pasca mengikuti Diklat Teknis
Peningkatan Kapasitas SDM Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak Tahun 2016?
b. Apa saja yang dilakukan alumni dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator
PUHA dilapangan?
c. Inovasi apa saja yang dilakukan alumni pasca mengikuti diklat?
d. Apa yang menjadi motivasi alumni sebagai champion PUHA di masing-masing
kabupaten dalam memperjuangan perlindungan anak?
e. Kendala apa saja yang dialami dalam usaha memperjuangkan perlindungan anak di
kabupaten?
C. METODOLOGI
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian
kualitatif disini dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak
diperoleh melelui prosedur statistic atau bentuk hitungan lainnya. Pengambilan penelitian
kualitatif disini dirasa peneliti sangat tepat, karena penelitian kualitatif bias dilakukan oleh
peneliti di bidang ilmu social dan perilaku, juga oleh para peneliti dibidang yang menyoroti
masalah yang terkait dengan perilaku dan perenan manusia. Jenis penelitian ini digunakan
untuk meneliti organisasi, kelompok, dan individu.
Berbicara tentang metodologi penelitian tidak terlepas dari sekumpulan peraturan,
kegiatan dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga
merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode, sedang penelitian sendiri
merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan.
Selain itu pula dapat didefiniskan sebagai suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi
untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Setiap orang yang terlibat
dalam sebuah penelitian mempunyai motivasi yang berbeda, diantaranya dipengaruhi oleh
tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian pada dasarnya sama
yaitu merupakan sebuah refleksi dari sebuah keinginan yang selalu berusaha untuk
mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan yang
demikian ini merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk
melakukan penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar
alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan
melibatkan berbagai metode yang ada, demikian menurut Denzin dan Lincoln. Dari segi
pengertian ini, para penulis masih tetap mempersoalkan latar alamiah dengan maksud agar
hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena dan yang dimanfaatkan untuk
penelitian kualitatif adalah berbagai metode penelitian. Dalam penelitian kualitatif metode
yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.
Penelitian kualitatif merupakan satu aktivitas yang menempatkan pengamat di
dalam dunia. Penelitian kualitatif terdiri atas serangkaian praktik material interpretif yang
membuat dunia bisa disaksikan . Praktik tersebut mengubah dunia menjadi serangkaian
representasi, meliputi catatan lapangan, wawancara, percakapan, foto, rekaman, dan memo
tentang diri. Di tingkat ini, penelitian kualitatif mencakup pendekatan naturalistik
interpretif terhadap dunia. Hal ini berarti bahwa para peneliti kualitatif mempelajari bendabenda didalam setting alaminya, berupaya memahami, atau menginterpretasikan, fenomena
berdasarkan makna-makna yang dilekatkan manusia padanya. Penelitian kualitatif meliputi
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
51
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
penggunaan dan pengumpulan beraneka ragam data empiris yang sedang dipelajari-studi
kasus; pengalaman pribadi; intropeksi; kisah perjalanan hidup; wawancara; artefak; teks
dan produksi kultural; teks-teks observasional; historis; interaksional; dan visual yang
melukiskan aneka momen dan makna rutin serta problematis di dalam kehidupan individu.
Lebih lanjut Jan Jonker etc (2011) menyatakan bahwa inti dari penelitian kualitatif
adalah peneliti mencoba memahami (dan menjelaskan) bagaimana orang mengalami
situasi (kerja) mereka. Dalam penelitian kualitatif menawarkan peneliti kebebasan untuk
mengkontribusikan interpretasi sendiri untuk memperluas metodologi penelitiannya.
Populasi penelitian adalah alumni Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas SDM
Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak. Random sampling informan dalam penelitian ini
diambil khusus alumni Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas SDM Fasilitator
Pengarusutamaan Hak Anak yang berasal dari Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten
Probolinggo, Kota Mojokerto, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Nganjuk.
Diantaranya adalah :
a. Kepala Seksi Edukasi Publik Dinas PPPA Kota Blitar sebagai responden pertama.
b. Kepala Bidang PUG dan PUHA Dinas PPKBP3A Kabupaten Blitar sebagai
responden kedua.
c. Kepala Seksi PP pada Dinas PPKB Kabupaten Probolinggo Blitar sebagai
responden ketiga.
d. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Nganjuk Blitar
sebagai responden keempat.
e. Kepala Seksi PPA Dinas PPKB Kabupaten Bojonegoro Blitar sebagai responden
kelima.
f. Kepala Seksi Penguatan PUG dan PUHA Dinas P3AKB Kota Mojokerto Blitar
sebagai responden keenam.
Adapun pertimbangannya adalah
alumni dimaksud masih bekerja atau
berkecimpung dalam tugasnya pada dinas atau OPD yang membidangi urusan
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, mengingat penyesuaian restrukturisasi
OPD baru banyak alumni diklat dimaksud, yang mengalami mutasi jabatan bukan pada pos
jabatan terkait perlindungan anak. Adapun teknik pengumpulan data dalam studi penelitian
ini diantaranya dengan menggunakan beberapa cara yaitu wawancara, observasi, dokumen
dan focus group discussion.
D. LANDASAN TEORITIK
Teori peran atau dengan istilah lainnya role theory merupakan perpaduan berbagai
teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam
teater, seseorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya
sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu.
Peranan atau role menurut (Cohen, 1992: 25) juga memiliki beberapa bagian, yaitu:
1. Peranan nyata (Anacted Role) adalah suatu cara yang betul-betul dijalankan seseorang
dalam menjalankan suatu peranan.
2. Peranan yang dianjurkan (Prescribed Role) adalah cara yang diharapkan masyarakat dari
kita dalam menjalankan peranan tertentu.
3. Konflik peranan (Role Conflick) adalah suatu kondisi yang dialami seseorang yang
menduduki suatu status atau lebih yang menuntut harapan dan tujuan peranan yang saling
bertentangan satu sama lain.
4. Kesenjangan Peranan (Role Distance) adalah Pelaksanaan Peranan secara emosional.
5. Kegagalan Peran (Role Failure) adalah kagagalan seseorang dalam menjalankan peranan
tertentu.
52
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
6. Model peranan (Role Model) adalah seseorang yang tingkah lakunya kita contoh, tiru,
diikuti.
7. Rangkaian atau lingkup peranan (Role Set) adalah hubungan seseorang dengan individu
lainnya pada saat dia sedang menjalankan perannya.
8. Ketegangan peranan (Role Strain) adalah kondisi yang timbul bila seseorang mengalami
kesulitan dalam memenuhi harapan atau tujuan peranan yang dijalankan dikarenakan
adanya ketidakserasiaan yang bertentangan satu sama lain.
Peran dalam penelitian disini dimaksudkan adalah peran alumni diklat melalui
kapasitasnya sebagai pejabat pada OPD perlindungan anak di Kabupaten.
Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa memenuhi kebutuhan yang
lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih
tinggi (perwujudan diri). Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi terlebih dahulu
sebelum kebutuhan yang lebih tinggi seperti perwujudan diri mulai mengembalikan
perilaku seseorang. Hal yang penting dalam pemikiran Maslow ini bahwa kebutuhan yang
telah dipenuhi memberi motivasi. Apabila seseorang memutuskan bahwa ia menerima
uang yang cukup untuk pekerjaan dari organisasi tempat ia bekerja, maka uang tidak
mempunyai daya intensitasnya lagi. Jadi bila suatu kebutuhan mencapai puncaknya,
kebutuhan itu akan berhenti menjadi motivasi utama dari perilaku. Kemudian kebutuhan
kedua mendominasi, tetapi walaupun kebutuhan telah terpuaskan, kebutuhan itu masih
mempengaruhi perilaku hanya intensitasnya yang lebih kecil. Kelima tingkat kebutuhan
itu, menurut Maslow, ialah berikut ini:
1) Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisiologis (Physiological Needs)
Kebutuhan yang bersifat fisiologis ini merupakan kebutuhan yang paling dasar, paling
kuat dan paling jelas diantara segala kebutuhan manusia. Kebutuhan ini menyangkut
kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan makanan,
minuman, tempat berteduh, seks, tidur dan oksigen. Menurut Maslow, selama
hidupnya, praktis manusia selalu mendambakan sesuatu. Manusia adalah binatang
yang berhasrat dan jarang mencapai taraf kepuasan yang sempurna, kecuali untuk
suatu saat yang terbatas. Begitu suatu hasrat berhasil dipuaskan, segera muncul hasrat
lain sebagai gantinya.
2) Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan perlindungan, keamanan hukum kebebasan dari
rasa takut dan kecemasan. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah
kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan hidup
jangka pendek, sedang keamanan adalah pertahanan hidup jangka panjang. Menurut
Maslow, kebutuhan rasa aman sudah dirasakan individu sejak kecil ketika ia
mengeksplorasi lingkungannya. Seperti anak-anak, orang dewasapun membutuhkan
rasa aman, hanya saja kebutuhan tersebut lebih kompleks.
3) Kebutuhan cinta dan memiliki – dimiliki (Belongingness and Love Needs)
Kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Kebutuhan ini
terus penting sepanjang hidup, sebab setiap orang sangat peka dengan kesendirian,
pengasingan, ditolak lingkungan dan kehilangan sahabat atau kehilangan cinta.
Maslow mengatakan bahwa kita semua membutuhkan rasa diingini dan diterima oleh
orang lain. Ada yang memuaskan kebutuhan ini melalui berteman, berkeluarga atau
berorganisasi.
4) Kebutuhan harga diri (Self Esteem Needs)
Kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaan dan sikap percaya diri, diri
berharga, diri mampu dan perasaan berguna dan penting didunia. Sebaliknya, frustasi
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
53
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
karena kebutuhan harga diri tak terpuaskan akan menimbulkan perasaan dan sikap
inferior, lemah, pasif, tidak mampu mengatasi tuntutan hidup dan rendah diri dalam
bergaul.
5) Kebutuhan aktualisasi diri (Self – Actualization Needs)
Kebutuhan ini akan timbul pada seseorang bila kebutuhankebutuhan lainnya telah
terpenuhi. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan
dirinya sendiri, untuk menjadi apa saja yang dia dapat lakukan dan untuk menjadi
kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya.
Menurut Maslow, salah satu prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah
terpuaskannya berbagai kebutuhan yang lebih rendah, yaitu kebutuhan-kebutuhan
fisiologis, rasa aman, memiliki dan cinta serta penghargaan.
Penelitian yang sangat berpengaruh pada implementasi Konvensi Hak Anak dan
kemudian diadopsi oleh UNICEF dan UNHABITAT melalui “Child Friendly City
Inniciative” adalah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch, arsitek dari Massachusetts
Institute of Technology. Penelitian dengan judul ”Persepsi anak terhadap ruang”
dilaksanakan di 4 kota – Melbourne, Warsawa, Salta, dan Mexico City, dengan
menggunakan metode pengamatan, wawancara dan menggambar. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai:
komuniti yang kuat secara fisik dan sosial, komuniti yang mempunyai aturan yang jelas
dan tegas; adanya pemberian kesempatan pada anak; dan fasilitas pendidikan yang
memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia
mereka (Hamid Pattilima,2010)
Dengan ini kami menyerukan kepada segenap anggota masyarakat untuk
bergabung dengan kami dalam gerakan global yang akan membantu membangun suatu
dunia yang layak bagi anak dengan jalan mengokohkan komitmen kami kepada prinsipprinsip dan tujuan berikut ini :
1) Dahulukan kepentingan anak. Dalam segala tindakan yang berhubungan dengan
anak, kepentingan terbaik dari anak itulah yang harus menjadi pertimbangan utama.
2) Berantas kemiskinan: tanamkan investasi pada anak.
Kami tegaskan kembali ikrar kami untuk mematahkan lingkaran kemiskinandalam
satu generasi saja, bersatu dalam keyakinan bahwa investasi pada anak dan kesadaran
akan hak-hak mereka merupakan cara-cara paling efektif untuk memberantas
kemiskinan. Kita harus bertindak cepat untuk menghapus bentuk terburuk dari
perubahan anak.
3) Jangan sampai seorang anakpun tertinggal. Setiap anak perempuan dan anak lakilaki dilahirkan dalam keadaan merdeka dan setara dalam martabat dan hak azazi ;
oleh karenanya, segala bentuk diskriminasi yang menyangkut anak-anak harus
diakhiri.
4) Perawatan bagi setiap anak. Anak harusmendapatkan awal yang terbaik dalam
kehidupan. Ketahanan (survival) mereka, perlindungan, pertumbuhan dan
perkembangan dalam kesehatan yang baik dan dengan nutrisi yang tepat merupakan
landasan utama bagi perkembangan umat manusia. Kami akan menggalang usaha
untuk membasmi penyakit menular, menangani penyebab-penyebab utama dari
malnutrisi dan memberi makanan kepada anak-anak dalam lingkungan yang aman
yang menjadikan mereka sehat jasmani, siaga mental, secara sosial kompeten dan
mampu untuk belajar.
5) Didiklah setiap anak. Semua anak perempuan dan anak laki-laki harus mendapatkan
akses terhadap dan dapat menyelesaikan pendidikan dasar yang gratis, diwajibkan
54
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
dan bermutu baik sebagai batu pertama dari pendidikan dasar yang menyeluruh.
Ketidak srimbangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah harus ditiadakan.
6) Lindungi anak terhadap penganiayaan dan eksploitasi.
Anak harus dilindungi terhadap setiap tindakan kekerasan, penganiayaan, eksploitasi
dan diskriminasi, juga terhadap segala bentuk terorisme dan penyanderaan.
7) Lindungi anak dari peperangan. Anak-anak harus dilindungi dari rasa ngeri yang
timbul akibat konflik bersenjata. Anak-anak yang tinggal di daerah pendudukan asing
harus pula dilindungi sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum humanitarian
internasional.
8) Berantas HIV/AIDS. Anak-anak dan keluarga-keluarga mereka harus dilindungi
dari dampak yang menghancurkan dari HIV/AIDS.
9) Dengarkan anak dan pastikan partisipasi mereka.
Anak-anak dan remaja adalah waraganegara yang penuh akal, yang mampu
membantu pembangunan masadepan lebih baik bagi semua orang. Kita harus
menghormati hak mereka untuk menyatakan perasaan mereka dan ikut serta dalam
segala hal menyangkut mereka sesuai usia dan kematangan mereka.
10) Lingkungan bumi bagi anak.
Kita harus mengamankan lingkungan alam kita, dengan keberagaman hidupnya,
keindahan dan sumber –sumber dayanya, yang semuanya meningkatkan mutu
kehidupan, bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Kami akan
memberikan segenap bantuan untuk melindungi anak-anak dan meminimalkan
dampak bencana alan serta degradasi lingkungan terhadap mereka.
Amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Undang-Undang Nomor
35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan Anak pada pasal 21 menekankan pemerintah daerah berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam
penyelenggaraan perlindungan anak di daerah. Kebijakan tersebut dapat diwujudkan
melalui upaya daerah membangun Kabupaten/Kota Layak Anak.
Kota Layak Anak dan atau Kota Ramah Anak kadang-kadang kedua istilah ini
dipakai dalam arti yang sama oleh beberapa ahli dan pejabat dalam menjelaskan
pentingnya percepatan implementasi Konvensi Hak Anak ke dalam pembangunan sebagai
langkah awal untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan anak. Terdapat beberapa
perbedaan indikator KLA tahun 2015 dengan 2017 dimana indicator variabel KLA 2015
masih menggunakan 31 indikator sedangkan pada tahun 2017 hanya sejumlah 24 indikator,
lebih lengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
55
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
No
Klaster
KLA Tahun 2015
KLA TAHUN 2017
1
Kelembagaan
Jumlah Peraturan Perundangundangan atau Kebijakan Pemenu
han Hak dan Perlindungan Anak
Persentase Anggaran Pemenuhan
Hak dan Perlindungan Anak
Jumlah Sumber Daya Manusia (S
DM) Terlatih KHA
Tersedia Peraturan/Kebijakan
Daerah tentang Kabupaten/K
ota Layak Anak
Terlembaga Kabupaten/Kota
Layak Ank (KLA)
Keterlibatan lembaga masyar
akat, dunia usaha, dan media
massa dalam Pemenuhan Hak
dan Perlindungan Khusus A
nak
Keterlibatan Lembaga Masyarakat
dan Media Massa dalam Pemenu
han Hak dan Perlindungan Anak
Keterlibatan Dunia Usaha dalam P
emenuhan
Hak dan Perlindungan Anak
Jumlah Kegiatan Inovatif
2
56
Cluster I :
hak Sipil dan
Kebebasan
Persentase Anak yang Diregistrasi
dan Mendapatkan Kutipan Akta K
elahiran
Tersedia Fasilitas Informasi Laya
k Anak
Persentase Forum Anak, termasuk
Kelompok Anak, yang Ada di Ka
bupaten/Kota, Kecamatan dan Des
a/Kelurahan
Jumlah Kegiatan Peningkatan Kap
asitas Forum Anak
Persentase Anak yang Diregi
strasi dan Mendapatkan Kuti
pan Akta Kelahiran
Tersedia Fasilitas Informasi
Layak Anak (ILA)
Terlembaga partisipasi anak
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
3
4
Cluster II :
Lingkungan
Keluarga dan
pengasuhan
alternatif
Persentase Usia Perkawinan Perta
ma di Bawah 18 Tahun
Ketersediaan Lembaga Konsultasi
bagi Orang Tua/Keluarga yang Me
nyediakan Layanan Pengasuhan da
n Perawatan Anak
Tersedia Program Pengasuhan Be
rkelanjutan (Continuum of Care
for Children)
Cluster III :
Kesehatan
Dasar dan
Kesejahteraan
Angka Kematian Bayi (AKB)
Prevalensi Gizi Buruk, Gizi Kuran
g, Stunting dan Gizi Lebih pada
Balita
Persentase ASI Eksklusif
Persentase Puskesmas Ramah
Anak (PRA)
Persentase Imunisasi Dasar
Lengkap
Jumlah Lembaga yang
Memberikan Pelayanan Kesehatan
Reproduksi Remaja, Pencegahan
dan Penanganan NAPZA, HIV/AI
DS, Pelayanan Kesehatan Jiwa
Anak dan Remaja, dan Pelayanan
Kesehatan bagi Anak Penyandang
Disabilitas
Persentase Anak dari Keluarga
Miskin yang Memperoleh Akses
Peningkatan Kesejahteraan
Persentase Rumah Tangga dengan
Akses Air Bersih
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Persentase Perkawinan Anak
Tersedia Lembaga Konsultasi
Penyedia Layanan
Pengasuhan Anak bagi
Orang Tua/Keluarga
Persentase lembaga
pengasuhan alternatif terstan
darisasi
Tersedia infrastruktur (sarana
dan prasana) di ruang publik
yang ramah anak
Persentase Persalinan di Fasil
itas Pelayanan Kesehatan
Prevalensi kekurangan gizi
pada balita
Persentase Cakupan Pemberi
an Makan pada Bayi dan
Anak (PMBA) Usia diBawah
2 Tahun
Persentase Fasilitas
Pelayanan Kesehatan dengan
Pelayanan Ramah Anak
Persentase Rumah Tangga de
ngan Akses Air Minum dan
Sanitasi
Tersedia kawasan tanpa
rokok
57
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
5
Cluster IV :
Pendidikan,
Pemanfaatan
Waktu Luang,
dan Kegiatan
Budaya
6
Cluster V :
Perlindungan
Khusus
58
Angka Partisipasi Pendidikan
Anak Usia Dini
Persentase Pengembangan A
nak Usia Dini Holistik dan
Integratif (PAUD-HI)
Persentase Wajib Belajar Pendidi Persentase Wajib Belajar 12
kan 12 Tahun
Tahun
Persentase Sekolah Ramah Anak Persentase sekolah ramah
(SRA)
anak
Jumlah Sekolah yang Memiliki Pr Tersedia fasilitas untuk Kegi
ogram, Sarana dan Prasarana Perj atan Budaya, Kreativitas, da
alanan Anak yang Aman ke dan d n Rekreatif yang Ramah
ari Sekolah
Anak
Tersedia Fasilitas untuk Kegiatan
Kreatif dan Rekreatif yang
Ramah Anak, di Luar Sekolah
Persentase Anak yang Mendapat
a. Anak Korban Kekerasan y
Layanan dalam Kategori Perlindu ang terlayani
ngan Khusus
b. Persentase anak yang dibe
baskan dari Pekerja Anak (P
A) dan bentukbentuk pekerjaan terburuk u
ntuk anak (BPTA
Jumlah Proses Diversi yang Diup a. Anak Korban Pornografi,
ayakan bagi Anak yang Berkonfli NAPZA dan HIV/AIDS yan
k dengan Hukum
g terlayani
b. Anak korban bencana dan
konflik yang terlayani
Tersedia Mekanisme Penanggula Anak penyandang disabilitas
ngan Bencana yang Memperhatik , kelompok minoritas dan ter
an Kepentingan Terbaik Anak
isolasi yang terlayani
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
Cluster V : Perlin Persentase Anak yang Dibebaskan d a. Kasus Anak yang Berhadap
dungan Khusus
ari Bentukan dengan Hukum (ABH)
Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (khusus pelaku) yang
Terselesaikan melalui Pendeka
tan Keadilan Restoratif dan Di
versi
b. Perlindungan Anak Korban
Jaringan Terorisme
c. Perlindungan Anak Korban
Stigmatisasi akibat dari pelabe
lan terkait dengan kondisi
orang tuanya
Sumber : Diolah penulis dari permeneg pppa nomor 11 tahun 2011 & Indikator terbaru
2017
ANALISA PEMBAHASAN
A. Manfaat Diklat
Manfaat yang dirasakan alumni pasca mengikuti Diklat Teknis Peningkatan
Kapasitas SDM Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak cukup beragam, dan
kesemuanya menunjukkan nilai positif dan signifikan dengan output diklat.
Sebagaimana responden pertama, menyampaikan :
“Diklat fasilitator PUHA sungguh sangat bermanfaat bagi saya dalam menjalankan
tugas di perlindungan anak, banyak hal baru yang saya pelajari dan bisa
diaktualisasikan ditempat tugas”
Responden kedua : “Ada banyak hal yang saya pelajari terutama dalam
memfasilitasi sebuah kegiatan, yang semula belum cukup percaya diri sekarang
justru jauh lebih percaya diri terlebih ilmu yang didapatkan sangat aplikatif terkait
perlindungan anak termasuk implementasi KLA di Kabupaten Blitar”
Responden ketiga: “Banyak hal yang semula masih bias justru pada saat diklat
menjadi terang benderang, dan semakin memahami bahwa issu perlindungan anak
sebagai cross cutting issues lintas OPD. Sungguh kegiatan diklat yang sangat
bermanfaat, lengkap holistic dan aplikatif”
Hampir sama dengan responden sebelumnya, responden keempat menyampaikan
bahwa “Ilmu yang disampaikan oleh narasumber diklat sangat aplikatif,
kurikulumnya sangat tepat aplikatif dan semakin membuat saya memahami bahwa
anak menjadi cross cutting issue yang harus dikerjakan lintas OPD”
Sedangkan responden kelima merasakan “Saya semakin paham dan mengerti apa
yang harus saya kerjakan dilapangan terkait perlindungan anak”
Responden terakhir menyampaiakan bahwa “saya jadi tambah mengerti dan
memahami serta mengaktualisasikan bagaimana koordinasi lintas OPD dalam
perlindungan anak termasuk pengisian indicator KLA kemarin”
Keenam responden sepakat bahwa Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas SDM
Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak sangat bermanfaat bagi mereka dalam
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
59
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
mendukung tugas-tugas mereka utamanya berkaitan perlindungan anak, terlebih
implementasinya dalam kebijakan pengembangan KLA dimasing-masing
kabupaten.
B. Peran Fasilitator
Peran sebagai fasilitator yang dilakukan oleh responden pertama ada dua
sebagaimana tupoksinya yaitu penanganan kasus perlindungan perempuan dan anak
pada P2TP2A Kota Blitar serta sebagai narasumber pada forum sosialisasi
perlindungan anak di Kota Blitar. Sedangkan responden kedua lebih variatif
diantaranya keterlibatannya sebagai fasilitator pada capacity building Forum Anak
Kabupaten Blitar, fasilitator pada sosialisasi perlindungan anak lintas OPD,
Advokasi aktif dalam mempertahankan OPD PPPA bersama Bagian Organisasi dan
Bappeda sehingga pada aspek kelembagaan mempertahankan Dinas PPKBP3A
pada eselon 2 dan dua eselon tiga yang membidangi urusan anak.
Responden ketiga terlibat bukan hanya fasilitasi tapi juga advokasi yaitu fasilitator
pelatihan KHA pada dinas pendidikan dan dinas kesehatan, fasilitator pada
PATBM serta advokasi KLA pada pengambil keputusan di DPRD Kabupaten
Probolinggo.
Keterlibatan responden keempat sebagai fasilitator PUHA berkolaborasi dengan
Dinas Pendidikan setempat bertindak sebagai fasilitator road show KHA pada 8
(delapan) SMP dan SMA di Kabupaten Nganjuk serta roadshow sosialisasi
perlindungan anak pada kecamatan dan desa se Kabupaten Nganjuk.
Senada dengan responden sebelumnya keterlibatan responden kelima aktif terlibat
sebagai fasilitator pada pembentukan gugus tugas KLA pada tingkat kecamatan dan
desa serta berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dalam pelatihan KHA bagi
Kepala Sekolah di Kabupaten Bojonegoro.
Sedangkan responden keenam terlibat aktif sebagai fasilitator pada advokasi gugus
tugas KLA, menginisiasi bersama OPD lintas sektor pembuatan Perda KLA,
Fasilitator pada capacity building forum anak kecamatan dan kelurahan.
Keenam responden terlibat aktif tidak hanya sebagai fasilitator tapi juga sebagai
inisiator serta advokasi isu perlindungan anak lintas OPD dan pada masyarakat
umum. Bahkan keterlibatan mereka dalam inisiasi pembuatan perda KLA patut
kiranya menjadi sebuah prestasi tersendiri.
Peranan nyata atau anacted role merupakan suatu cara yang betul-betul dijalankan
seseorang dalam menjalankan suatu peranan, dalam hal ini para alumni diklat
teknis dimaksud, telah menjalankan sebagaimana tugas pokok dan fungsi yang
semestinya mereka jalankan. Hal ini ditunjang juga posisi mereka yang
membidangi urusan perlindungan anak di masing-masing OPD baik itu pada tataran
mereka di eselon III maupun eselon IV.
C. Inovasi Pengembangan KLA
Inovasi pengembangan KLA yang dilakukan oleh responden pertama adalah
terlibat sebagai tutor KLA pada semua OPD di Kota Blitar dengan model DESK
KLA Kota Blitar. Dengan adanya Desk KLA ini terjadi sinkronisasi program
terkait KLA.
Sedangkan responden kedua, Inisiator isu anak dalam kelembagaan OPD serta
program “BAJUKU LIBAS DOSA” (Bangkit Menuju Keluarga Religius Sejahtera
dengan Orientasi Surga) merupakan program gerankan merangkul tokoh-tokoh
agama untuk terlibat dalam penanaman karakter anak sejak dini sebagai wujud
60
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
nyata perlindungan anak di Kabupaten Blitar. Selain itupula berperan juga dalam
tutor aktif Desk KLA Kabupaten Blitar.
Responden ketiga merespon inovasi kelokalan dengan pemanfaatan potensi local
yaitu Kegiatan Gemar Makan Ikan sejak usia dini serta advokasi usulan perda
inisiasi perlindungan anak di Kabupaten Probolinggo. Berkolaborasi dengan dinas
pendidikan menyasar pada Sekolah Ramah Anak (SRA) serta sosialisasi PATBM
di tingkat grass root.
Inovasi pengembangan KLA yang dilakukan oleh responden keempat antara lain
Inisiasi Desa Layak Anak di Kabupaten Nganjuk, Optimalisasi peran Forum Anak
Kabupaten Nganjuk sebagai konselor sebaya yang terlibat program pembekalan
siswa baru, serta Integrasi Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Anak
melibatkan FORPIMDA.
Responden kelima merespon inovasi dalam pembuatan kebijakan yang respobsif
anak yaitu menyusun Peraturan Bupati Bojonegoro tentang Pencegahan
Perkawinan pada Usia Anak, Inisiasi Sekolah Ramah Anak (SRA), Puskesmas
Ramah Anak (PRA) serta kolaborasi Dinas Pendidikan dengan pengenalan
kepemimpinan sejak dini yaitu Kang Yoto Leadership Talent (KYLT). Sedangkan
responden keenam, variatif capaiannya yaitu inisiasi penyusunan Perda KLA,
Kolaborasi OPD terkait Taman Bermain Anak, Optimalisasi Program 1819 di
seluruh wilayah kelurahan se Kota Mojokerto terkait jam wajib belajar anak di
lingkungan masyarakat.
Berikut tabel capaian usulan KLA dengan nominal point pada masing-masing
Kabupaten yaitu :
Responden
Kota Blitar
Point Usulan KLA 2017
741,85
Kabupaten Blitar
740
Kabupaten Probolinggo
903
Kabupaten Nganjuk
480
Kabupaten Bojonegoro
832
Kota Mojokerto
600
Capaian nominal usulan KLA untuk Kabupaten Nganjuk lebih kecil disebabkan
pada saat pengisian indicator KLA tersebut Kabupaten Nganjuk ada musibah tanah
longsor, sehingga konsentrasi sektap KLA lebih pada penangangan korban. Ini
disebabkan bidang PPPA menyatu dengan Dinas Sosial sehingga sangat gemuk
dengan fungsi dan tidak ditunjang dengan komposisi SDM yang ada.
D. Motivasi yang Melandasi Para Champion Child Right Mainstreaming
Berbagai motivasi yang melatar belakangi responden yaitu responden pertama
menyampaikan “bahwa dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
61
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
perlindungan anak atau champion PUHA secara pribadi dimanapun ditempatkan
saya selalu all out atau totalitas pada sebuah pekerjaan”.
Sementara itu responden kedua menyampaikan bahwa “pada awal mula di mutasi
menghandle perlindungan anak sejak tahun 2009, padahal backgroundnya adalah
merasa passionnya di Dinas Perindustrian Perdagangan dan saat itu masih belum
ada chemistry. Namun setelah dijalani dan berbenturan langsung dengan kasuskasus dan permasalahan perlindungan anak akhirnya kesadaran itu muncul.
Terlebih pasca mengikuti Diklat teknis fasilitator PUHA kesadaran itu mulai
mendarah daging. Contohnya pernah saya naik mobil dan melihat orang tua yang
maksudnya ingin menghibur anaknya dengan berbocengan dan anaknya naik
berdiri diatas motor bersama orang tua ibu dan bapaknya, itupun saya ingatkan Pak,
Bu yogane dilenggahaken kemawon supados aman (Pak Bu putranya didudukkan
saja biar aman). Jadi sekarang ini tidak lagi beranggapan ini sebagai tugas tapi lebih
dari pada itu, terlebih saya sebagai seorang Ibu rumah tangga yang juga
mempunyai anak”.
Senada dengan responden kedua, responden ketiga justru mengungkapkan motivasi
yang mendasarinya aktif sebagai champion PUHA adalah “motivasi saya sebagai
Ibu rumah tangga yang juga mempunyai anak yang harus dilindungi. Saya
beranggapan bahwa anak-anak di Kabupaten Probolinggo itu adalah anak-anak
kita. Masalah mereka adalah masalah kita bersama. Yang kita perjuangkan, yang
kita lindungi adalah anak-anak penerus kita”
Responden keempat lebih mengedepankan kepentingan anak dimana memberi
ruang partisipasi pada anak adalah untuk kepentingan mereka dan anak-anak harus
dilindungi terlebih jika mereka berada pada posisi rentan.
Responden kelima justru lebih mengedepankan posisinya dalam menjalankan peran
sebagai pejabat eselon IV yang membidangi perlindungan anak dan harus
professional.
Berbeda dengan responden kelima, responden keenam justru mengetengahkan
bahwa motivasi yang mendasari saya adalah saya sebagai ibu rumah tangga yang
mempunyai anak, saya sebagai orangtua dari anak-anak saya, saya ingin anak-anak
saya maju, berprestasi dan terlindungi. Dana saya yakin keinginan ini juga sama
dengan yang diinginkan oleh semua orangtua. Oleh karena itu saya berjuang untuk
anak-anak tersebut, semua anak-anak Kota Mojokerto adalah anak saya, dan akan
saya lakukan yang terbaik untuk mereka”
Apabila dilihat dari peran para alumni serta inovasi dalam aktualisasi maupun
didukung motivasi para champion PUHA dapat dikelompokkan berdasarkan teori
motivasi Moslow sebagai berikut :
Responden
62
Motivasi Moslow
Pertama
Kebutuhan harga diri (Self Esteem Needs)
Kedua
 Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
 Kebutuhan cinta dan memiliki – dimiliki
(Belongingness and Love Needs)
 Kebutuhan aktualisasi diri (Self – Actualization
Needs)
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
Keempat
 Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
 Kebutuhan cinta dan memiliki – dimiliki
(Belongingness and Love Needs)
 Kebutuhan aktualisasi diri (Self – Actualization
Needs)
Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
Kelima
Kebutuhan harga diri (Self Esteem Needs)
Keenam
 Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
 Kebutuhan cinta dan memiliki – dimiliki
(Belongingness and Love Needs)
 Kebutuhan aktualisasi diri (Self – Actualization
Needs)
Ketiga
E. Kendala Memperjuangkan Perlindungan Anak
Keenam responden ternyata sepakat kendala yang mereka alami dalam
memperjuangkan perlindungan anak di daerah antara lain :
a. Issue anak masih dimaknai parsial bahwa itu tugas pokok dan fungsi dari OPD
perlindungan anak saja, padahal issue anak merupakan cross cutting issues dari
semua OPD.
b. Regulasi perda masih terbatas dan belum mendukung sepenuhnya pada cluster
KLA terbaru.
c. Keterbatasan advokasi secara holistic dan berkesinambungan bagi pihak
pengampu kepentingan terkait perlindungan anak.
d. Keterbatasan jumlah SDM yang memahami isu perlindungan anak yang
diterjemahkan dalam penganggaran responsive hak anak pada masing-masing
OPD.
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil temuan dan analisa penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Pertama, keenam responden sepakat bahwa Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas SDM
Fasilitator Pengarusutamaan Hak Anak sangat bermanfaat bagi mereka dalam mendukung
tugas-tugas mereka utamanya berkaitan perlindungan anak, terlebih implementasinya
dalam kebijakan pengembangan KLA dimasing-masing kabupaten.
Kedua, peranan nyata atau anacted role merupakan suatu cara yang betul-betul dijalankan
seseorang dalam menjalankan suatu peranan, dalam hal ini para alumni diklat teknis
dimaksud telah menjalankan sebagaimana tugas pokok dan fungsi yang semestinya mereka
jalankan. Hal ini ditunjang juga posisi mereka yang membidangi urusan perlindungan anak
di masing-masing OPD baik itu pada tataran mereka di eselon III maupun eselon IV.
Ketiga, banyak hal terkait inovasi yang dijalankan pasca mengikuti diklat di masingmasing kabupaten menunjukkan signifikansi antara hasil pelatihan dengan kenyataan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
63
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
dilapangan. Bahkan ke enam kabupaten/kota dimaksud secara cepat merespon pengisian
indicator KLA tahun 2017 dengan nilai point yang bervariasi.
Keempat, setidaknya ada tiga responden yang mempunyai kesamaan motivasi Kebutuhan
akan rasa aman (Safety Needs), Kebutuhan cinta dan memiliki – dimiliki (Belongingness
and Love Needs), serta Kebutuhan aktualisasi diri (Self – Actualization Needs). Sementara
kedua responden yang sama yaitu Kebutuhan harga diri (Self Esteem Needs). Dan satu
responden saja termotivasi kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs).
Kelima, kendala yang mereka alami dalam memperjuangkan perlindungan anak di daerah
antara lain : Issue anak masih dimaknai parsial bahwa itu tugas pokok dan fungsi dari OPD
perlindungan anak saja, padahal issue anak merupakan cross cutting issues dari semua
OPD ; regulasi perda masih terbatas dan belum mendukung sepenuhnya pada cluster KLA
terbaru ; keterbatasan advokasi secara holistic dan berkesinambungan bagi pihak
pengampu kepentingan terkait perlindungan anak ; Keterbatasan jumlah SDM yang
memahami isu perlindungan anak yang diterjemahkan dalam penganggaran responsive hak
anak pada masing-masing OPD.
Saran
Pertama, advokasi KIE terkait issue perlindungan anak pada semua OPD harus
terus dilakukan secara holistic dan berkesinambungan.
Kedua, diklat teknis PUHA mengasah pada kemampuan teknis manajerial serta aplikatif,
sehingga perlu menjadi prsayarat standar kompetensi yang mesti dimiliki pejabat yang
membidangi perlindungan anak dengan kata lain wajib hukumnya sebagai salah satu
prasyarat.
Ketiga, perlunya internalisasi perlindungan anak dalam diklat ASN mengingat
permasalahan anak menjadi cross cutting issue lintas OPD.
Keempat, secara teknis Diklat terkait KLA bisa diperluas secara khusus seperti Diklat
Teknis Puskesmas Ramah Anak, Diklat Teknis Sekolah Ramah Anak maupun Diklat
Teknis Fasilitasi P2TP2A dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Alex, Sobur, Psikologi Umum, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2003, hal. 273
Cahyono, Arie, 2010, Menggagas Pembangunan Yang Berpihak Pada Anak, Catatan Kritis
Child Mainstreaming Dalam Pembangunan di Era Otonomi Daerah, Sidoarjo, Jamil
Publishing.
Cohen, Bruce. J. (1992). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Denzin, Norman K, Lincoln, Yvona S, The Sage Handbook of Qualitative Research 1,
terjemahan Dariyatno, Pustaka Pelajar, 2011, hal 3-4
Deklarasi Anak di Sidang PBB pada Special Session yang ke 27, 10 Mei 2002, Unicef.
Jonker, Jan, Barthan JW Pennink, Sari Wahyuni, Metodologi Penelitian, Salemba Empat,
2011, hal 84-85
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2016. Strategi Nasional
Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak 2016-2020, Jakarta.
Moleong, Lexy, Prof. Dr, Metodologi Penelitian, Remaja Rosda Karya, 2005, hal 5
Patilima, Hamid. (2004). Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota – Studi Kasus Di
Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat. (Tesis). Jakarta: Kajian Pengembangan
Perkotaan, Pascasarjana Universitas Indonesia.
64
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Peran Champion Child Right Mainstreaming Dalam Pengembangan
Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak Di Jawa Timur
Arie Cahyono
Susilowati, Umi, dkk, 2003. Pengertian Konvensi Hak Anak, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak RI & UNICEF, Jakarta.
Strauss, Anselm & Corbin, Juliet, 2009, Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif, Tatalangkah
dan Teknik-teknik Teoritis Data, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal 4.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
65
Analisa
PEMBERIAN KOMPENSASI DALAM MENINGKATKAN KINERJA
APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) DI LINGKUNGAN
PEMERINTAH KOTA MALANG
COMPENSATION TO IMPROVING THE PERFORMANCE OF THE
STATE'S CIVIL APPARATUS (ASN) IN LOCAL
GOVERNMENT OF MALANG
Rendra Kurnia Wardana
Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang
Jl. Tugu No.1, Malang
Email : [email protected]
Naskah diterima: 15 Juli 2017, Naskah direvisi: 24 Juli 2017, Naskah disetujui:
27 Juli 2017
Abstract
As one way of improving performance for the Civil State Apparatus (ASN) is the
awarding of compensation provided in a fair, viable and worthy. Nowadays, is taboo
in the awarding of compensation received by the same earnings both for a
dilligent apparatus and lazy performers. As the organizer of a Government, the Civil
State Apparatus (ASN) is expected to improve the performance in itself in order to
provide maximum service to the community. Financial and Asset Management
Agency Regional of of Malang (BPKAD) is attempting to give a reciprocal form of
granting compensation is appropriate for any Civil State Apparatus (ASN) in the
Local Government of Malang. The purpose of this research is to know the description
of the grant of the compensation received by the Civil State Apparatus (ASN). The
method used is descriptive research methods with qualitative approaches. This
research result that Local Government strives to compensate for any Civil State
Apparatus through the awarding of additional allowances and salaries earnings given
each month. Although in practice it still felt has not met the fundamental fairness and
equitable income, Local Government seeks to improve the welfare apparatus for the
realization of the civil State Apparatus (ASN) which has quality in performing.
Keywords : Compensation, Civil State Apparatus (ASN), Improving Performance
Abstrak
Sebagai salah satu cara peningkatan kinerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)
adalah pemberian kompensasi yang diberikan secara adil, pantas dan layak. Pada era
saat ini, menjadi hal yang tabu dalam pemberian kompensasi yang diterima dengan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
67
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
besaran yang sama baik bagi aparatur yang rajin dan malas berkinerja.
Sebagai penyelenggara pemerintahan, Aparatur Sipil Negara (ASN) diharapkan
meningkatkan kinerja yang ada pada dirinya dalam rangka memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara maksimal. Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah
(BPKAD) Kota Malang berupaya untuk memberikan timbal balik berupa pemberian
kompensasi yang pantas bagi setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan
Pemerintah Kota Malang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
gambaran pemberian kompensasi yang diterima oleh Aparatur Sipil Negara (ASN).
Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian ini memberikan hasil bahwa Pemerintah Kota Malang berupaya
memberikan kompensasi bagi setiap Aparatur Sipil Negara melalui pemberian gaji
dan adanya tambahan tunjangan penghasilan yang diberikan setiap bulan. Meskipun
dalam pelaksanaannya masih dirasakan belum memenuhi asas keadilan dan
pemerataan pendapatan, Pemerintah Kota Malang berusaha untuk meningkatkan
kesejahteraan aparatur untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang
memiliki kualitas dalam berkinerja.
Kata Kunci : Kompensasi, Aparatur Sipil Negara (ASN), Peningkatan Kinerja
A. PENDAHULUAN
Dalam era otonomi daerah seperti sekarang ini, Pemerintah Daerah diberikan
keleluasaan berekspresi dalam membangun serta memajukan wilayahnya. Melalui UndangUndang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, perkembangan
penyelenggaraan pemerintahan semakin dinamis dalam bingkai otonomi daerah,
menjadikan provinsi, kabupaten dan kota untuk berusaha memberikan pelayanan yang
terbaik bagi masyarakat dengan berbagai pendekatan yang berbeda yang dimiliki oleh
masing-masing daerah. Keberhasilan dalam pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan
dari peran penyelenggara pemerintahan, yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN). Di dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, ASN berfungsi
sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik serta perekat dan pemersatu bangsa,
artinya bahwa Aparatur Sipil Negara memiliki peran sebagai perencana, pelaksana, dan
pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui
pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi
politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (Pasal 12 UU nomor 5
Tahun 2014).
Melihat peran Aparatur Sipil Negara (ASN) yang vital sebagai sumber daya
manusia yang ada di dalam lingkungan pemerintahan itu sendiri, memberikan penekanan
bahwa setiap aparatur yang ada merupakan investasi yang besar bagi organisasi. Menurut
Stockey (2003) bahwa human capital merupakan konsep yang menjelaskan manusia dalam
organisasi dan bisnis merupakan asset yang penting dan beresensi yang memiliki
sumbangan terhadap pengembangan dan pertumbuhan sama seperti halnya asset fisik
seperti mesin dan modal kerja. Sikap, skill dan kemampuan manusia memiliki kontribusi
68
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
terhadap kinerja dan produktivitas organisasi. Pengeluaran untuk pelatihan,
pengembangan, kesehatan dan dukungan merupakan investasi dan bukan hanya biaya tapi
merupakan investasi. Peran yang begitu penting dilaksanakan oleh Aparatur Sipil
Negara (ASN) sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat, tentunya
dituntut memiliki kinerja yang baik serta memiliki produktivitas kinerja yang tinggi agar
tujuan organisasi dapat tercapai.
Dengan tuntutan yang tinggi terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di
dalam organisasi pemerintah, perlu adanya upaya dalam mengembangkan serta
mengoptimalkan kinerja aparatur dengan mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi
tingkat kinerja pegawai itu sendiri. Salah satunya adalah dengan pemberian kompensasi
yang adil, pantas dan layak bagi aparatur untuk meningkatkan produktivitas, kualitas serta
pelayanan kepada masyarakat secara maksimal. Bagi sebagian pegawai, harapan untuk
mendapatkan uang adalah satu-satunya alasan untuk bekerja, namun yang lain juga
berpendapat bahwa uang hanya salah satu faktor dari banyak kebutuhan yang terpenuhi
melalui bekerja. Seseorang yang bekerja akan merasa lebih dihargai oleh masyarakat di
sekitarnya, dibandingkan yang tidak bekerja. Mereka akan merasa lebih dihargai lagi
apabila menerima berbagai fasilitas dan simbol-simbol status lainnya dari organisasi
dimana mereka bekerja. Dari uraian di atas dapat dikatakan, bahwa kesediaan pegawai
untuk mencurahkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, tenaga, dan waktunya,
sebenarnya mengharapkan adanya imbalan dari organisasinya yang dapat memuaskan
kebutuhan dari seorang
aparatur.
Menurut Yusuf dalam Hendarto (2016:9) menjelaskan arti kompensasi bahwa
keseluruhan balas jasa yang diterima oleh pegawai sebagai akibat dari pelaksanaan
pekerjaan di organisasi dalam bentuk uang atau lainnya, yang dapat berupa gaji, upah,
bonus, insentif dan tunjangan lainnya seperti tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya,
uang makan, uang cuti dan lainnya. Sedangkan menurut Hasibuan (2002),
kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau
tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada
perusahaan. Tujuan pemberian kompensasi antara lain adalah sebagai ikatan kerjasama,
kepuasan kerja, pengadaan efektif, motivasi, stabilitas karyawan, disiplin, serta pengaruh
serikat buruh dan pemerintah. Menurut Keith Davis dan Werther W.B dalam Sjafri
Mangkuprawira (2001:196) kompensasi merupakan sesuatu yang diterima karyawan
sebagai penukar dari konstribusi jasa mereka pada perusahaan. Kompensasi yang diberikan
secara layak akan menjadi lecutan semangat bagi pegawai untuk berkontribusi secara nyata
dan positif terhadap organisasi, mereka akan termotivasi untuk mencapai sasaran dan target
yang ditetapkan oleh organisasi. Sebaliknya, apabila kompensasi yang diberikan tidak
sesuai dengan apa yang diharapkan serta tidak sesuai dengan apa yang telah mereka
kerjakan, maka rentan bagi pegawai untuk mudah meninggalkan pekerjaannya serta dapat
menghambat tercapainya tujuan dari organisasi itu sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2011)
menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara kompensasi terhadap efisiensi
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
69
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
kepuasan kerja pegawai di Lingkungan Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara.
Kemudian dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Agus (2015) bahwa ada
pengaruh antara kompensasi kerja dengan kinerja pegawai Sekretariat Dewan Perwakilan
Rakyat (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur. Walaupun kompensasi yang diterima pegawai
Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur memiliki
pengaruh positif untuk dapat meningkatkan kinerja pegawai tetapi pengaruh yang terjadi
tersebut belumlah maksimal atau belum memenuhi tujuan yang ingin dicapai.
Didukung juga penelitian yang diluar negeri yang dilakukan oleh Hamzah, et
al (2014) menjelaskan bahwa adanya rekruitmen, seleksi karyawan serta pemberian
kompensasi yang adil akan meningkatkan kinerja pegawai di Malaysian Skills Institute
(MSI). Di dalam penelitian ini merekomendasikan adanya peningkatan mutu dalam
rekruitmen pegawai, serta seleksi karyawan dan pemberian kompensasi bagi para pegawai
MSI. Dalam penelitian lainnya yang dilakukan oleh Hassan (2016) menjelaskan
bahwa Studi tersebut mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara sumber
daya manusia (SDM) dengan praktek (kompensasi, perencanaan karir, penilaian kinerja,
pelatihan, dan keterlibatan karyawan) serta kinerja karyawan pada perusahaan Industri
Tekstil di Pakistan. Studi tersebut mengungkapkan bahwa kinerja karyawan dapat
ditingkatkan dengan memberikan karyawan kesempatan untuk mengambil keputusan
yang efektif. Pelatihan dan keterlibatan karyawan menjadi hal yang positif bagi organisasi.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia apabila dilaksanakan dengan
baik maka dapat meningkatkan tingkat kinerja karyawan. Penelitian ini merekomendasikan
kinerja dalam pekerjaan harus dipertimbangkan sebagai faktor penting untuk menentukan
kompensasi kinerja karyawan. Manajemen harus menghargai kontribusi dan ide-ide
yang dimiliki oleh karyawan dan memberdayakan karyawan untuk memaksimalkan
kemampuan individunya dalam membuat keputusan yang efektif.
Pemerintah Kota Malang sebagai penyelenggara urusan pemerintah daerah
yang berkedudukan di wilayah Kota Malang memiliki hak otonomi daerah, salah
satunya adalah mengelola aparatur daerah. Dalam konteks pemerintah daerah, aparatur
daerah dapat bekerja dengan baik apabila kompensasi yang diberikan kepadanya dapat
mendukung kebutuhan hidupnya. Di samping itu latar belakang pendidikan dan
pengalaman kerja pegawai juga berpengaruh terhadap perilaku pegawai dalam
melaksanakan tugas-tugasnya. Kompensasi yang diberikan dalam bentuk gaji yang
diberikan kepada pegawai negeri dirasakan belum memadai untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Malang berupaya memberikan kompensasi
tambahan berupa tunjangan penghasilan per bulan yang diberikan kepada Aparatur
Sipil Negara (ASN) Kota Malang sebagai upaya dari pemerintah untuk memberikan
kesejahteraan kepada aparatur daerah.
Berdasarkan uraian di atas, mendasari penulis untuk melakukan penelitian
terkait pemberian kompensasi dalam meningkatkan kinerja Aparatur Sipil Negara
(ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Malang, sedangkan rumusan masalah adalah apa
dan bagaimana kompensasi yanag diberikan Pemerintah Kota Malang kepada Aparatur
Sipil Negara (ASN) Kota Malang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk
70
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
mendeskripsikan serta mengetahui bentuk bentuk kompensasi yang diberikan Pemerintah
Kota Malang kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Malang.
B. LANDASAN TEORI
a. Definisi Kompensasi
Tujuan dari seseorang ingin bekerja adalah untuk mendapatkan gaji serta
menghidupi keluarganya dengan layak. Pekerjaan yang mereka lakukan pada intinya
agar mereka mendapat imbalan yang pantas atas jerih payah yang telah mereka keluarkan.
Memang, tidak semua orang beranggapan bahwa bekerja hanya untuk mendapatkan
imbalan uang, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa setidaknya gaji yang didapatkan
menjadi faktor penting bagi seseorang untuk mau bekerja. Dengan mendapatkan gaji
yang lebih tinggi, maka pengakuan terhadap kinerja mereka begitu diapresiasi oleh
organisasi, meskipun tidak serta merta akan meningkatkan produktivitas serta tercapainya
tujuan organisasi karena kompensasi merupakan salah satu faktor dari beberapa faktor
yang mempengaruhi kinerja pegawai.
Menurut Samsudin dalam Hendarto (2016:9) kompensasi adalah setiap bentuk
pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan dan timbul dari pekerjaannya
karyawan itu. Sedangkan menurut Handoko dalam Supardy, et al (2014:6),
menyatakan bahwa berangkat dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia
bekerja dengan menjual tenaga, pikiran dan juga waktu yang dimilikinya kepada
perusahaan dengan harapan mendapatkan kompensasi (imbalan). Menurut Rivai (2004 :
358) kompensasi terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :
1. Kompensasi Finansial,
Kompensasi finansial terdiri atas dua yaitu kompensasi langsung dan kompensasi
tidak langsung (tunjangan).
a. Kompensasi finansial langsung terdiri atas pembayaran pokok (gaji, upah),
pembayaran prestasi, pembayaran insentif, komisi, bonus, bagian keuntungan,
opsi saham, sedangkan pembayaran tertangguh meliputi
tabungan hari tua, saham komulatif.
b. Kompensasi finansial tidak langsung terdiri atas proteksi yang meliputi asuransi,
pesangon, sekolah anak, pensiun. Kompensasi luar jam kerja meliputi lembur, hari
besar, cuti sakit, cuti hamil, sedangkan berdasarkan fasilitas meliputi rumah, biaya
pindah, dan kendaraan.
2. Kompensasi Non Finansial.
Kompensasi non finansial terdiri atas karena karir yang meliputi aman pada jabatan,
peluang promosi, pengakuan karya, temuan baru, prestasi istimewa, sedangkan lingkungan
kerja meliputi dapat pujian, bersahabat, nyaman bertugas, menyenangkan dan kondusif.
Seperti yang terlihat pada kerangka sebagai berikut :
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
71
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
Gambar 1. Kerangka Kompensasi
Menurut J. Long dalam Supardy, et al (2014) dalam modul yang berjudul
Kompensasi mendefinisikan sistem kompensasi adalah bagian (parsial) dari sistem reward
yang hanya berkaitan dengan bagian ekonomi, namun demikian sejak adanya
keyakinan bahwa perilaku individual dipengaruhi oleh sistem dalam spektrum yang
lebih luaEkuits maka sistem kompensasi tidak dapat terpisah dari keseluruhan sistem
reward yang disediakan oleh organisasi. Sedangkan reward sendiri adalah semua hal
yang disediakan organisasi untuk memenuhi satu atau lebih kebutuhan individual.
Adapun dua jenis reward tersebut adalah :
a. Ekstrinsik kompensasi, yang memuaskan kebutuhan dasar untuk survival dan Security dan
juga kebutuhan sosial dan pengakuan. Pemuasan ini diperoleh dari faktor-faktor yang ada
di sekeliling para karyawan di sekitar pekerjaannya, misalnya : upah, pengawasan, co
worker dan keadaan kerja.
b. Intrinsik kompensasi, yang memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya
untuk kebanggaan, penghargaan, serta pertumbuhan dan perkembangan yang dapat
diperoleh dari faktor-faktor yang melekat dalam pekerjaan karyawan itu, seperti
tantangan karyawan
atau
interest
suatu pekerjaan yang diberikan, tingkatan
keragaman/variasi dalam pekerjaan, adanya umpan balik, dan otoritas pengambilan
keputusan dalam pekerjaan serta signifikansi makna pekerjaan bagi nilai-nilai
organisasional.
Tujuan pemberian kompensasi menurut Institute of International
Management Science (2012), menyebutkan tujuan dari kompensasi adalah :
a. Keadilan;
b. Menarik Sumber Daya Manusia (SDM);
72
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
c.
d.
e.
f.
g.
Mempertahankan SDM;
Kepastian keadilan;
Perilaku baru yang diinginkan;
Kontrol biaya ;
Kepatuhan terhadap hukum;
h. Kemudahan penggunaan.
b. Aparatur Pemerintah
Setiap organisasi memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai penggerak
roda organisasi dalam rangka mencapai tujuan dari organisasi. Menurut A.W. Widjaja
(2006:113) dalam bukunya “Administrasi Kepegawaian” berpendapat bahwa : “Pegawai
adalah merupakan tenaga kerja manusia jasmaniah maupun rohaniah (mental dan pikiran)
yang senantiasa dibutuhkan dan oleh karena itu menjadi salah satu modal pokok dalam
usaha kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu (organisasi)”. Pengertian lainnya
menurut Salam (2004,h.169) menjelaskan bahwa: “aparatur pemerintah adalah pekerja
yang digaji pemerintah melaksanakan tugas- tugas teknis pemerintahan melakukan
pelayanan kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang berlaku”. Dapat disimpulkan
bahwa aparatur pemerintah adalah pegawai yang diberikan gaji oleh pemerintah untuk
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya untuk mencapai tujuan pemerintahan
itu sendiri yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat.
c. Pengertian Kinerja
Istilah kinerja berasal dari kata Job performance atau performance yang berarti
prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang (Mangkunegara,
2008:67). Biasanya orang yang kinerjanya tinggi disebut orang yang produktif dan
sebaliknya orang yang tingkat kinerjanya tidak mencapai standar dikatakan sebagai orang
yang tidak produktif atau berperforma rendah. Kinerja merupakan catatan keluaran akhir
pada suatu fungsi jabatan atau seluruh aktivitas kerja dalam suatu periode tertentu yang
merupakan kombinasi antara kemampuan dan usaha untuk menghasilkan apa yang
dikerjakan, kinerja dapat berupa penampilan kerja perorangan atau kelompok. Kinerja
organisasi merupakan hasil interaksi yang kompleks dan agregasi kinerja sejumlah individu
dalam organisasi (Nasution, 2005).
Menurut (Hasibuan 2004 : 94) Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya didasarkan atas
kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Menurut Maryoto, (2000:91),
kinerja karyawan adalah hasil kerja selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, misal standar, target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama.
Gibson (1996:70) menyatakan kinerja adalah hasil yang diinginkan dari perilaku.
Kinerja individu merupakan dasar dari kinerja organisasi.
Kinerja adalah tingkat terhadap para pegawai dalam mencapai persyaratan
pekerjaan secara efisien dan efektif (Simamora, 2006:34). Kinerja pegawai merupakan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
73
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
prestasi kerja, yakni perbandingan antara hasil kerja yang dapat dilihat secara nyata dengan
standar kerja yang telah ditetapkan organisasi. Kemudian
Robbins
(2008)
mendefinisikan kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya
menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan. Robbins berpendapat bahwa
kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A), motivasi atau
motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O); artinya kinerja merupakan fungsi
dari kemampuan, motivasi dan kesempatan (Moeheriono, 2009).
Berdasarkan pengertian kinerja dari beberapa pendapat ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja karyawan erat kaitannya dengan hasil pekerjaan seseorang
dalam suatu organisasi atau perusahaan. Hasil dari pekerjaan tersebut dapat menyangkut
kualitas pekerjaan, kuantitas, kemampuan dalam bekerjasama dan ketepatan waktu.
d. Penilaian Kinerja
Meggison (Mangkunegara, 2005:9) mendefinisikan evaluasi/penilaian kinerja
adalah suatu proses yang digunakan pimpinan untuk menentukan apakah seorang karyawan
melakukan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Selanjutnya, Andew
E. Sikula yang dikutip Mangkunegara (2000:69) mengemukakan bahwa penilaian pegawai
merupakan evaluasi yang sistematis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat
dikembangkan. Penilaian dalam proses penafsiran atau penentuan nilai, kualitas atau status
dari beberapa objek orang ataupun sesuatu (barang).
Definisi yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Payaman Simanjuntak
(2005:105) yang menyatakan evaluasi kinerja adalah penilaian pelaksanaan tugas
(performance) seseorang atau sekelompok orang atau unit kerja organisasi atau
perusahaan.
Penilaian kinerja adalah salah satu tugas yang perlu dilakukan oleh seorang
manajer atau pimpinan. Penilaian kinerja faktor kunci dalam mengembangkan organisasi
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kegiatan penilaian kinerja menjadi
pentingkarena dapat digunakan untuk memperbaiki keputusan-keputusan personalia
dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang kinerja mereka.
e. Manfaat dan Tujuan Penilaian Kinerja
Hasil dari penilaian kinerja merupakan hal yang bermanfaat dalam menentukan
perencanaan kebijakan organisasi ke depan. Menurut Mangkunegara (2005:11), manfaat
dari penilaian kinerja adalah :
1. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk prestasi,
pemberhentian dan besarnya balas jasa;
2. Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya
3. Sebagai dasar mengevaluasi efektivitas seluruh kegiatan dalam perusahaan;
4. Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal kerja,
metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja dan pengawasan;
5. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan yang ada
di dalam organisasi;
74
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
6. Sebagai kriteria menentukan, seleksi, dan penempatan karyawan;
7. Sebagai alat memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan;
8. Sebagai dasar untuk memperbaiki atau mengembangkan uraian tugas (job
description).
Menurut Simanjuntak (2005) menyatakan bahwa manfaat evaluasi kinerja adalah
sebagai berikut :
1. Peningkatan Kinerja. Terutama bila hasil evaluasi kinerja menunjukkan kinerja
seseorang rendah atau dibawah standar yang telah ditetapkan, maka orang yang
bersangkutan dan atasannya akan segera membuat segala upaya untuk
meningkatkan kinerja tersebut, misalnya dengan bekerja lebih keras dan tekun. Untuk
itu, setiap pekerja perlu menyadari dan memiliki kemampuan tertentu sebagai
dasar untuk mengembangkan diri lebih lanjut, keinginan untuk terus belajar dan
meningkatkan kemampuan kerja, sikap tertarik pada pekerjaan dan etos kerja yang
tinggi, dan keyakinan untuk berhasil.
2. Pengembangan SDM. Evaluasi kinerja sekaligus mengidenfikasi kekuatan dan
kelemahan setiap individu, serta potensi yang dimilikinya. Dengan demikian
manajemen dan individu dimaksud dapat mengoptimalkan pemanfaatan keunggulan
dan potensi individu yang bersangkutan, serta mengatasi dan mengkompensasi
kelemahan – kelemahannya
melalui
program
pelatihan. Manajemen dan
individu, baik untuk memenuhi kebutuhan perusahaan atau organisasi, maupun dalam
rangka pengembangan karier mereka masing- masing.
3. Pemberian Kompensasi. Melalui evaluasi kinerja individu, dapat diketahui siapa yang
memberikan kontribusi kecil dalam pencapaian hasil akhir
organisasi atau
perusahaan. Pemberian imbalan atau kompensasi yang adil haruslah didasarkan
kepada kinerja atau kontribusi setiap orang kepada perusahaan. Pekerja yang
menampilkan evaluasi kinerja yang tinggi patut diberi kompensasi, antara lain
berupa: pemberian penghargaan dan atau uang ; pemberian bonus yang lebih besar
daripada pekerja lain, dan atau percepatan kenaikan pangkat dan gaji.
4. Program Peningkatan Produktivitas. Dengan mengetahui kinerja masing-masing
individu, kekuatan dan kelemahan masing-masing serta potensi yang mereka
miliki manajemen dapat menyusun program peningkatan produktivitas
perusahaan.
5. Program Kepegawaian. Hasil evaluasi kinerja sangat bermanfaat untuk
menyusun program-program kepegawaian, termasuk promosi, rotasi dan mutasi, serta
perencanaan karier pegawai.
6. Menghindari Perlakuan Diskriminasi. Hasil evaluasi kinerja dapat menghindari
perlakuan diskriminasi dan kolusi, karena setiap tindakan kepegawaian akan
didasarkan kepada kriteria obyektif, yaitu hasil evaluasi kinerja.
Dapat disimpulkan secara garis besar bahwa manfaat penilaian kinerja adalah
sebagai berikut :
a. Mengembangkan potensi dari sumber daya manusia yang ada di dalam
organisasi;
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
75
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
b. Mengukur kemampuan pegawai dalam bekerja sebagai dasar pemberian reward
maupun punishment bagi pegawai;
c. Sebagai alat evaluasi secara keseluruhan untuk pegawai maupun organisasi dalam
rangka penentuan perencanaan kebijakan-kebijakan organisasi ke depan.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yakni untuk membuat gambaran
mengenai situasi atau fenomena. Metode penelitian kualitatif sebagaimana yang
diungkapkan Bogdan dan Taylor (L.J. Moleong, 2011:4) sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati. Selain itu, metode penelitian kualitatif menurut Syaodih
Nana, (2007:60) adalah cara untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena,
peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual
maupun kelompok.
Lokasi penelitian berada pada lingkungan Pemerintah Kota Malang dengan
mengkaji pemberian kompensasi yang diberikan kepada aparatur sipil negara (ASN) Kota
Malang melalui penghitungan beban kerja serta pembobotan yang dilakukan oleh Badan
Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Malang. Metode yang digunakan
dalam rangka pengumpulan data, diantaranya:
1. Studi Literatur, merupakan pengumpulan bahan referensi, acuan, dan identifikasi awal
dalam kajian yaitu berupa kajian-kajian lainnya yang relevan, jurnal-jurnal baik yang
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, dan juga perundangundangan atau
peraturan-peraturan pemerintah yang relevan dengan fokus kajian.
2. Metode wawancara mendalam (in-depth interview) dilaksanakan untuk lebih
menggali informasi yang lebih detail dan mendalam dari output yang diinginkan.
D. PEMBAHASAN
a. Dasar Perhitungan Kompensasi
Menurut Gomez-Mejia, et al. (1995), dasar perhitungan kompensasi dapat
dibedakan menjadi dua kategori, yaitu menggunakan pendekatan pekerjaan atau jabatan
(job-based approaches) dan menggunakan pendekatan keterampilan (skill- based
approaches).
1. Kompensasi berdasarkan jabatan atau pekerjaan
Ada tiga komponen kunci untuk mengembangkan rencana kompensasi
berdasarkan jabatan. Pertama, mewujudkan keadilan internal melalui evaluasi jabatan;
kedua, mewujudkan keadilan eksternal melalui survei pasar; dan ketiga, mencapai
keadilan individu (Gomez-Mejia, et al., 1995). Metode evaluasi jabatan memusatkan
diri pada jabatan sebagai unit kepentingan. Beberapa metode mengevaluasi jabatan
secara keseluruhan, sedangkan beberapa lainnya menggunakan faktor-faktor yang dapat
dikompensasi. Metode evaluasi jabatan yang sudah sangat populer dipakai untuk
mengevaluasi posisi eksekutif, manajer dan professional maupun posisi teknik,
administrasi dan manufaktur adalah metode Hay Guide Chart-Profile.
76
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
Secara operasional, sistem ini mengandalkan tiga faktor utama yang bisa
dikompensasi, yaitu pemecahan masalah (problem solving), kecakapan (know how) dan
pertanggungjawaban (accountability). Menurut metode ini, faktor-faktor yang penting
mempunyai nilai tinggi, sedangkan faktor-faktor yang kurang penting mempunyai nilai
yang lebih rendah. Evaluasi jabatan ini hanya untuk internal organisasi bukan untuk
menghitung tingkat upah di pasar atau organisasi lain. Selain itu evaluasi jabatan ini
hanya fokus pada nilai tugas masing-masing jabatan, bukan pada orang yang
melaksanakannya (Schuler dan Jackson, 1999; Gomez-Mejia et al., 1995).
2. Kompensasi berdasarkan keterampilan
Para akademisi dan konsultan menegaskan bahwa pembayaran kompensasi
berdasarkan jabatan dapat dengan mudah disalahgunakan dan sudah tidak cocok lagi
dengan kebutuhan pada dewasa ini. Menurut Bridges (1994), Murlis dan Fitt (1991) dalam
Schuler dan Jackson (1999), pendekatan- pendekatan kompensasi berdasarkan jabatan yang
konvensional:
(1) Mendukung organisasi hierarkis kaku yang menekan motivasi serta kreativitas
pegawai,
(2) Beranggapan bahwa orang adalah komoditas yang dapat dibentuk untuk “cocok
dengan” peran-peran yang telah ditentukan,
(3) Tidak cocok untuk organisasi yang lebih ramping saat ini, dimana tim-tim kecil
dan fleksibel yang terdiri dari orang-orang dengan aneka keterampilan secara
ekonomis lebih masuk akal daripada sejumlah individu dengan satu keterampilan,
(4) Tidak cocok dalam sektor jasa, dimana keberhasilan masa depan terletak pada
pengetahuan yang dimiliki pekerja ketimbang jabatan yang diberikan kepada mereka.
Menurut Lawler (1983), alasan digunakannya keterampilan sebagai dasar perhitungan
kompensasi adalah :
(a) Pegawai yang berkemampuan tinggi atau yang mampu mengembangkan
keterampilannya dapat menerima kompensasi yang lebih tinggi, walaupun jabatannya
tetap.
(b) Nilai individu akan lebih tersorot daripada nilai pekerjaan yang dilakukannya.
Pegawai yang memiliki kemampuan dan keterampilan tentu akan tertarik pada
organisasi yang memberikan kompensasi berdasarkan kemampuan dan
keterampilan, sebab pada umumnya pegawai yang mempunyai keterampilan lebih,
mengharapkan kompensasi yang lebih banyak pula.
Menurut Dessler (2000) terdapat empat perbedaan antara kompensasi berdasarkan
keterampilan (skill-based pay) dan kompensasi berdasarkan pekerjaan atau jabatan
(jobbased pay) yaitu: tes kompetensi, efek perubahan jabatan, senioritas, dan peluang
promosi.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
77
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
b. Kriteria Tambahan Penghasilan
Berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 7 Tahun 2015 tentang Pemberian Tambahan
Penghasilan berdasarkan beban kerja kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS), kriteria
tambahan penghasilan PNS berdasarkan sebagai berikut :
1. PNS yang telah melakukan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan ketentuan hari dan
jam kerja efektif diberikan Tambahan Penghasilan berdasarkan beban kerja.
2. Diberikan kepada PNS berdasarkan besaran bobot jabatan masing masing PNS dan
besaran harga yang telah ditetapkan.
3. 3. Bobot jabatan untuk masing-masing jabatan dan besaran harga untuk setiap satuan
bobot jabatan dalam rangka pemberian tambahan penghasilan berdasarkan
beban kerja yang diterima oleh PNS ditetapkan dalam Keputusan Walikota.
4. Jumlah Tambahan Penghasilan berdasarkan beban kerja yang diterima oleh PNS
setiap bulan diperoleh dari hasil perkalian antara bobot jabatan dengan besaran harga
untuk setiap satuan bobot jabatan yang telah ditetapkan.
c. Ketentuan Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai
Tambahan penghasilan selain berdasarkan beban kerja, juga dipengaruhi oleh
tingkat kehadiran aparatur sipil negara (ASN) yang ditentukan berdasarkan indikator
pegawai yang meliputi :
1. Keterlambatan masuk kerja;
2. Kepulangan mendahului jam pulang kerja;
3. Ketidakhadiran kerja.
Dalam melakukan penghitungan tingkat kehadiran PNS dinas luar, meliputi
mengikuti diklat, melaksanakan perjalanan dinas luar daerah/negeri dan melaksanakan
tugas kedinasan lainnya, dihitung sebagai hari masuk kerja. Tambahan penghasilan
berdasarkan beban kerja, tidak diberikan kepada :
1. Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS);
2. Tenaga pendidik/guru/kepala sekolah/pengawas sekolah/penilik/pamong belajar;
3. PNS yang diberhentikan sementara/dinonaktifkan;
4. PNS yang diberhentikan dengan hormat atau tidak hormat;
5. PNS yang diperbantukan/dipekerjakan/dititipkan pada Badan/Instansi lain di luar
lingkungan Pemerintah Daerah;
6. PNS yang melaksanakan tugas belajar;
7. PNS yang diberikan cuti di luar tanggungan negara atau dalam bebas tugas untuk
menjalani masa persiapan pensiun;
8. PNS dengan status titipan di luar lingkungan Pemerintah Daerah; dan
9. PNS pindahan dari instansi lain di tahun anggaran berjalan.
d. Metode Penghitungan
 Indikator kehadiran PNS yang terlambat
1. Terlambat sampai dengan 30 menit tanpa keterangan sah.
TL 1 = 100 – (0,5 x jumlah hari keterlambatan)
78
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
2. Terlambat lebih dari 30 menit sampai 60 menit tanpa keterangan sah.
TL 2 = 100 – (1 x jumlah hari keterlambatan)
3. Terlambat lebih dari 60 menit sampai 90 menit tanpa keterangan sah.
TL 3 = 100 – (1,25 x jumlah hari keterlambatan)
4. Terlambat lebih dari 90 menit tanpa keterangan sah dan/tidak mengisi daftar hadir
masuk kerja.
TL 4 = 100 – (1,5 x jumlah hari keterlambatan)
 Indikator kehadiran PNS yang pulang sebelum waktunya
1. Pulang sebelum waktunya sampai dengan 30 menit tanpa keterangan sah.
PSW 1 = 100 – (0,5 x jumlah hari keterlambatan)
2. Pulang sebelum waktunya lebih dari 30 menit sampai 60 menit tanpa
keterangan sah.
PSW 2 = 100 – (1 x jumlah hari keterlambatan)
3. Pulang sebelum waktunya dari 60 menit sampai 90 menit tanpa keterangan sah.
PSW 3 = 100 – (1,25 x jumlah hari keterlambatan)
4. Pulang sebelum waktunya lebih dari 90 menit tanpa keterangan sah dan/tidak
mengisi daftar hadir masuk kerja.
PSW 4 = 100 – (1,5 x jumlah hari keterlambatan)
 Indikator ketidakhadiran PNS
1. Tidak hadir karena sakit dengan dilampiri surat keterangan sakit dari dokter.
S = 100 – (4 x jumlah hari ketidakhadiran)
2. Tidak hadir karena cuti tahunan, cuti besar, cuti bersalin dan cuti karena
alasan penting.
C = 100 – (4 x jumlah hari ketidakhadiran)
3. Tidak hadir karena cuti sakit dengan dilampiri surat keterangan sakit dari
dokter.
CS = 100 – (3 x jumlah hari ketidakhadiran)
4. Tidak hadir karena ijin dilampiri dengan surat ijin.
I = 100 – (5 x jumlah hari ketidakhadiran)
5. Tidak hadir tanpa keterangan yang sah.
TK = 100 – (6 x jumlah hari ketidakhadiran)
Prestasi kehadiran dirumuskan sebagai berikut :
Prestasi kehadiran = 100 – {1300 – (Jumlah TL (1-4) + Jumlah PSW (1-4) + S + C + CS +
I + TK)}
Sehingga besaran Tambahan Penghasilan yang diberikan PNS dapat
dirumuskan sebagai berikut :
TP PNS = (prestasi kehadiran/100) x poin bobot jabatan x harga satuan bobot jabatan
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
79
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
E. PENUTUP
Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Pemerintah Kota Malang berupaya memberikan kompensasi bagi setiap Aparatur Sipil
Negara melalui pemberian gaji dan adanya tambahan tunjangan penghasilan yang
diberikan setiap bulan. Meskipun dalam pelaksanaannya masih dirasakan belum
memenuhi asas keadilan dan pemerataan pendapatan, Pemerintah Kota Malang
berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN) Kota Malang.
2. Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Malang akan memberikan peluang
dalam penambahan kompensasi bagi ASN dengan menimbang kemampuan belanja
Pemerintah Kota Malang.
3. Setiap kompensasi yang diberikan kepada ASN memberikan kewajiban bagi
aparatur untuk bekerja secara maksimal dalam rangka pemberian pelayanan yang
maksimal kepadda masyarakat serta tujuan pembangunan daerah dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qudah, Hamzah M, Dr. Abdullah Osman, Hamzah Edris. The Effect Of Human Resources
Management Practices On Employee Performance. INTERNATIONAL JOURNAL OF
SCIENTIFIC & TECHNOLOGY RESEARCH VOLUME 3, ISSUE 9, SEPTEMBER
2014.
Anwar Prabu Mangkunegara. 2005. Evaluasi Kinerja. Bandung : Refika Aditama
Artha Wijaya, Regieansyah. 2014. Pengaruh Kemampuan dan Komitmen Organisasi Terhadap
Kinerja Karyawan Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variavel Moderasi di
Universitas Komputer Indonesia, Universitas Komputer Indonesia, Bandung.
Dessler, G. 2000. Human Resource Management. 8th edition. New Jersey: Prentice- Hall,
Inc.GomezHandoko, T. Hani. (2000). Manajemen personalia dan sumber daya manusia.
Yogyakarta: BPFE
Hassan, Saira. 2016. Impact of HRM Practices on Employee’s Performance.
International Journal of Academic Research in Accounting, Finance and
Management Sciences Vol.6, No.1, January 2016, pp. 15–22.
Hasibuan, Malayu SP, 2002. Perilaku Manajemen Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta. Hendarto, M.
Arief. 2016. Pengaruh Kompensasi Finansial, Gaya Kepemimpinan dan
Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan di PT IDK 1 Medan. FIE-USU. Universitas
Sumatera Utara.
Mangkuprawira, Sjafri, Drs., Ir. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Marandeka, Agus. 2015. Pengaruh Kompensasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor
Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Timur. eJournal Ilmu Administrasi Bisnis,
2015, 3 (2): 507-518 ISSN 2355-5408, ejournal.adbisnis.fisip-unmul.ac.id
Mejia, L.R., D.B. Balkin, dan R.L. Cardy. 1995. Managing Human Resources.
Englewood Cliffs: Prentice-Hall, Inc.
Mondy, R.W., R.M. Noe, dan S.R. Premeaux. 1999. Human Resource Management. 7th edition.
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
80
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
Pemberian Kompensasi Dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)
Di Lingkungan Pemerintah Kota Malang
Rendra Kurnia Wardana
Pariaribo, Noack (2014). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Motivasi Kerja Terhadap Kepuasan
Kerja Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Pegawai Pada Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Di Kabupaten Supiori. Thesis, Universitas Atma Jaya,
Yogyakarta.
Rival, Veithzal. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: Dari Teori ke
Praktek. Jakarta: Rajawali Pers
Schuler, R.S., dan S.E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia: Menghadapi
Abad Ke-21. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Safitri, Dewi. 2011. Pengaruh Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai (Studi Pada Kantor
Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara. Fakultas Ilmu Administrasi. Universitas
Sumatera Utara.
Simanjuntak, Payaman J. 2005. Manajemen dan Evaluasi Kerja. Lembaga Penerbit FEUI,
Jakarta.
Wijayanti, Dwi Wahyu. 2012. Pengaruh Kepemimpinan Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta Semarang. Skripsi. Universitas Negeri
Semarang.
Zusnita, Wa Ode. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan. Pekbis Jurnal,
Vol.6, No.1, Maret 2014: 1-13.
Jurnal Kompetensi Aparatur/Volume 1/No. 1/2017
81
Download