PERENCANAAN BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG

advertisement
Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang Erni Yulianti
PERENCANAAN BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG
(PENGAMAN PANTAI LABUHAN) DI KABUPATEN SUMBAWA
Erni Yulianti
Dosen Program Studi Teknik Sipil – Sumberdaya Air FTSP ITN Malang
ABSTRAKSI
Perlindungan kawasan pantai dan pemukiman nelayan menggunakan
bangunan pengaman pantai diharapkan pada masa yang akan datang
bisa mulai berkembang. Pemanfaatan ruang yang terkendali di suatu
kawasan akan menjamin kelangsungan hidup yang selaras bagi
manusia dan mahluk hidup lainnya. Sebaliknya, dengan perkembangan
kawasan yang tidak teratur dan kurang terkendali, seringkali
mengakibatkan rusaknya kelestariaan lingkungan dan terjadinya inefisiensi pemanfaatan ruang serta sumberdaya alam maupun buatan.
Untuk menghindari kondisi tersebut, maka perlu adanya upaya
perencanaan yang terintegrasi dan terpadu dengan konsep pelestarian
lingkungan serta pendekatan sosial masyarakat. Dasar ini dipakai untuk
kegiatan perencanaan bangunan pengaman pantai di kawasan
pariwisata Pantai Labuhan, Kecamatan Labuhan Badas Kabupaten
Sumbawa. Selain itu, juga melindungi pemukiman pinggiran pantai dari
abrasi akibat gelombang pasang dan menciptakan kondisi yang
seimbang antara kelangsungan hidup masyarakat, pemukiman pantai,
dan kondisi sumberdaya alamnya. Melalui analisis awal perencanaan
bangunan pemecah gelombang yang akan dilaksanakan, dapat
menunjang perkembangan pembangunan prasarana pengaman pantai
yang diharapkan memberikan manfaat besar bagi kemakmuran
masyarakat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan.
Apabila kondisi keamanan masyarakat nelayan terhadap gelombang
pasang di pantai dapat terwujud, maka kawasan wisata di daerah
tersebut mulai dapat dikembangkan, sehingga pendapatan masyarakat
sekitarnya juga dapat mengalami peningkatan, baik secara langsung
maupun tak langsung.
Kata Kunci: Pemecah Gelombang, Keamanan, Pantai Labuhan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kabupaten Sumbawa memiliki garis pantai yang cukup panjang,
dikarenakan memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang berjajar dari Barat
hingga Timur. Keberadaan pantai-pantai tersebut memiliki potensi yang baik
untuk dikembangkan. Salah satu pantai yang memiliki potensi di Kabupaten
75
Spectra
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 75-84
Sumbawa adalah Kawasan Pantai Labuhan yang memiliki akses yang baik
dan berdekatan dengan Ibukota Kabupaten yaitu Sumbawa Besar, sehingga
cukup layak untuk dikembangkan sebagai landmark (ikon) Kota Sumbawa.
Pantai Labuhan ini berada di wilayah Kecamatan Labuhan Badas, terletak
pada 117024’00” Bujur Timur dan 8020’00” Lintang Selatan. Oleh sebab itu,
sebagai upaya peningkatan pendapatan asli daerah, maka diperlukan usaha
mengoptimalisasikan potensi alam yang tersedia di sektor pariwisata dan
juga tetap menjaga kelestarian alam dengan adanya pengamanan tepi
pantai dari ancaman gelombang pasang air laut terhadap kawasan tepi
pantai dan pemukiman nelayan. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan
diusahakannya pembangunan secara terpadu dan terintegrasi pada
kawasan pantai dalam konteks pengembangan pariwisatanya, sehingga
dapat memaksimalkan potensi-potensi yang terdapat di Kabupaten
Sumbawa.
Melalui analisis perencanaan ini salah satu tujuannya untuk
melaksanakan pembangunan prasarana pengaman pantai di Pantai
Labuhan untuk mengatasi ancaman gelombang pasang pada kawasan
Pantai Labuhan. Dengan memberikan perlindungan kawasan pantai dan
pemukiman nelayan menggunakan bangunan pengaman pantai, diharapkan
pada masa yang akan datang akan dapat lebih mudah untuk diusahakan
perencanaan kawasan pariwisata di Pantai Labuhan. Selain itu, juga
melindungi pemukiman pinggiran pantai dari abrasi akibat gelombang
pasang dan menciptakan kondisi yang terintergrasi antara kelangsungan
hidup masyarakat pemukiman pantai dan kondisi sumberdaya alamnya.
Kecamatan Labuhan Badas mempunyai luas wilayah sebesar 444,21
km2. Berdasarkan hasil survey lokasi ini memiliki kemiringan antara 00
sampai 150. Daerah pemukiman yang berdekatan dengan garis pantai,
sehingga menyebabkan hempasan gelombang menerjang rumah-rumah
penduduk pada saat pasang laut terjadi. Pemukiman daerah Pantai
Labuhan ini terletak di bagian Utara Pulau Sumbawa dengan ketinggian 10
meter di atas permukaan air laut.
Kondisi Angin dan Gelombang Laut
Arah angin yang bertiup dari arah Barat Laut ke arah Tenggara adalah
paling dominan, sehingga terjadi perubahan arah gelombang yang sangat
mencolok. Kecepatan angin yang berhembus di Pantai Labuhan berkisar
antara 10 knots sampai 28 knots. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan di
lapangan yang dilakukan oleh BMG Brangbiji di Kabupaten Sumbawa.
Sedangkan gelombang yang terjadi pada Pantai Labuhan cukup besar,
dimana gelombang tersebut terdiri dari gelombang lokal yang berasal dari
sekitar Pantai Labuhan dan gelombang besar yang berasal dari Laut Flores.
Gelombang yang terbesar terjadi pada saat angin berasal dari arah Barat
Laut ke arah Tenggara yang terjadi pada bulan tertentu.
76
Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang Erni Yulianti
Kondisi Sosial Ekonomi
Penduduk yang tinggal di pemukiman daerah Pantai Labuhan
mayoritas berpenghasilan dari kegiatan nelayan dengan kondisi ekonomi
yang relatif masih rendah. Dengan adanya rencana pembangunan
prasarana pengaman pantai, diharapkan akan meningkatkan rasa aman
bagi penduduk, termasuk dengan adanya pengembangan pariwisata di
Pantai Labuhan akan dapat menciptakan peluang usaha bagi masyarakat
untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang bermukim di daerah
Pantai Labuhan.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Bangunan Pengaman Pantai
Bangunan pengaman pantai yang akan digunakan di lokasi ini adalah
bangunan pemecah gelombang bawah laut (submerged) yang merupakan
struktur tenggelam yang paralel dengan pantai dan bentuk ukuran
bangunannya bisa panjang atau pendek, dibangun untuk mengurangi
aktifitas gelombang pada pantai. Pada umumnya merupakan struktur batuan
yang dibangun sebagai sebuah tumpukan batuan homogen. Pemecah
gelombang bawah laut ini dapat dirancang secara stabil atau dapat
melakukan pembentukan ulang pada aktifitas gelombang tertentu.
Bangunan ini memiliki bagian puncak sempit pada air dangkal atau pada
air yang lebih dalam dengan bagian puncak yang lebar. Hal tersebut
dimaksudkan agar bangunan pemecah gelombang tidak mengganggu
keindahan alam, dalam arti:
• Pandangan bebas tidak terganggu
• Masih terdapat gelombang-gelombang kecil di pantai
Batu-batuan untuk konstruksi bisa berbentuk kubus untuk
mendapatkan berat yang cukup besar atau dengan bentuk khusus yang
ringan. Bentuk bangunan pemecah gelombang sangat ditentukan oleh
bahan bangunan yang tersedia di lokasi. Disamping itu, perlu pula ukuran
batu pemecah gelombang disesuaikan dengan peralatan yang akan
digunakan untuk membangun. Material penyusun biasanya terdiri dari
beberapa lapis batu yang diletakkan secara random yang dilindungi oleh
lapisan terluar yang terdiri dari butiran dengan ukuran tertentu. Pada lapisan
terluar atau pelindung, butiran, diletakkan secara random atau diatur untuk
mendapatkan ikatan yang baik antara butir yang satu dengan yang lain.
Karena dari penentuan berat batu sudah memperhitungkan tinggi
gelombang rencana, maka koefisien stabilitas bergantung pada bentuk batu
pelindung. Bangunan pemecah gelombang yang akan dibuat berbentuk
trapesium sama kaki, dengan harapan sisi miring dari bangunan tersebut
dapat meredam gelombang yang menghempas ke arah pantai.
77
Spectra
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 75-84
Tata letak Bangunan Pengaman Pantai (Pemecah gelombang)
Daerah yang akan dilindungi dari pengaruh gelombang adalah
pemukiman yang berada dekat dengan garis pantai di sepanjang Pantai
Labuhan. Perencanaan pemecah gelombang di Pantai Labuhan ini
membutuhkan data-data penunjang untuk analisis, yaitu data gelombang
tahunan dari pengukuran Stasiun Brang Biji di Kabupaten Sumbawa.
Stasiun ini juga merupakan stasiun pengamat angin yang menyebabkan
terjadinya gelombang di lokasi, sehingga tinggi gelombang rencana yang
terjadi adalah tinggi gelombang di lokasi. Dipilih lokasi pemecah gelombang
yang tegak lurus terhadap gelombang dari arah Barat Laut, sehingga
pemecah gelombang tersebut mempunyai orientasi Tenggara-Barat Laut
dengan bentuk yang sedikit melengkung dengan tujuan agar pada saat
gelombang menghantam pemecah gelombang setelah melewati puncak
gelombang yang ditransmisikan akan membelok dan mengumpul dan tidak
pecah, sehingga masih dapat memercikkan air sedikit. Tinggi gelombang
rencana sesuai dengan perhitungan sebelumnya, yaitu sebesar 2,86 m dan
periode gelombang pada gelombang Swell adalah 7 detik. Pemecah
gelombang tersebut terletak pada kedalaman kurang lebih 2,0 m dari LWL,
dan panjang pemecah gelombang direncanakan lebih kurang 500 m. Hal ini
diharapkan telah dapat melindungi pemukiman yang berada di sepanjang
Pantai Labuhan tersebut.
Tinggi Gelombang Signifikan Tahunan
Tinggi gelombang yang digunakan dalam perencanaan ini adalah
tinggi gelombang signifikan tahunan (Hs) yang merupakan data sekunder
hasil dari pengolahan data kecepatan angin dari stasiun pengukur
kecepatan angin Brangbiji. Dan periode gelombang yang dipakai adalah
periode pada gelombang Swell yang mempunyai bentuk lebih reguler
dengan puncak yang tidak terlalu tinggi dan curam sebesar 5 detik.
Tinggi Gelombang Rencana
Pada perencanaan struktur pemecah gelombang terdapat desain
alternatif, berupa bangunan pengaman pantai maupun desain pemecah
gelombang bawah permukaan air laut. Dengan ketentuan pada tabel di
bawah ini, maka jenis tinggi gelombang yang digunakan adalah Hs
(signifikan) dengan kala ulang 10 – 50 tahun. Semakin tinggi nilai daerah
yang akan dilindungi, maka semakin besar pula kala ulang gelombang
rencana yang dipilih. Karena begitu pentingnya daerah yang akan dilindungi,
yaitu pemukiman di sekitar Pantai Labuhan, maka kala ulang yang
digunakan adalah yang terbesar yaitu 50 tahun.
78
Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang Erni Yulianti
Pedoman Jenis Gelombang dan Kala Ulang Gelombang
No
Jenis Bangunan
1
2
3
Struktur Fleksibel
Struktur Semi Kaku
Struktur Kaku
Gelombang Rencana
Jenis Gelombang
Kala Ulang
Hs
H 0,1 – H 0,01
H 0,01 – H maks
10 – 50 th
10 – 50 th
10 – 50 th
Sumber : Nur Yuwono (1992: III-1)
ANALISA PERENCANAAN BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG
Penentuan Elevasi Puncak, Tinggi, dan Lebar Dinding Penahan
Pemecah Gelombang
Elevasi Puncak, Dasar dan Tinggi Penahan Gelombang
Pemecah gelombang yang direncanakan adalah dinding penahan
pemecah gelombang, dimana puncaknya berada pada 2,0 m di atas garis
elevasi normal NSL (normal sea level = + 0,00 m), sehingga sebagian
bangunan dinding penahan pemecah gelombang terendam oleh air laut
pada saat terjadi pasang. Sedangkan elevasi dasar bangunan dinding
penahan pemecah gelombang dihitung berdasarkan peta kontur dari
pengukuran elevasi pada lokasi bangunan yang akan direncanakan. Oleh
karenanya, dapat diketahui elevasi bangunan dinding penahan pemecah
gelombang dan tinggi bangunan dinding penahan pemecah gelombangnya.
Lebar Puncak
Didalam menentukan lebar puncak dinding penahan pemecah
gelombang dapat dilakukan dengan menentukan jarak bangunan yang akan
direncanakan antara garis pantai dan elevasi normal. Setelah mengetahui
jarak dan tinggi bangunannya, direncakan banyaknya anak tangga dengan
pembagian lebar puncak dengan kemiringan tertentu, permukaan puncak
yang direncanakan sebaiknya disesuaikan dengan tinggi gelombang dan
HSL (high sea level). Oleh karena itu, untuk mencari lebar puncak dilakukan
dengan cara coba-coba dengan menentukan lebar sebagai asumsi untuk
mendapatkan nilai tinggi gelombang transmisi (Ht).
Adapun data-data yang diperlukan adalah asumsi lebar puncak
rencana, tinggi gelombang rencana, periode gelombang, panjang
gelombang, permukaan pasang, dan kedalaman air pada puncak. Analisis
datanya adalah sebagai berikut :
• Lebar Puncak (B)
: 1,0 m (asumsi awal)
• Tinggi gelombang rencana (H) : 1,16 m
• Periode gelombang (T)
: 4,28 detik
• Panjang gelombang (Lo)
: 1,56T2 = 1,56x(4,282) = 28,58 m
• Permukaan Pasang (HSL)
: + 1,25 m
79
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 75-84
Spectra
• Kedalaman air pada puncak (R) : Kedalaman puncak + HSL
R = 0,50+1,25 = 1,75 m
Maka:
H / Lo = 1,16 / 28,58 = 0,040
B / Lo = 1,0 / 28,58 = 0,035
R/H
= 1,75 / 1,16 = 1,50
Setelah ditemukan hasil perhitungan tersebut, dicari nilai Koefisien
Transmisi (Kt) dengan menggunakan Grafik Tanaka, sehingga didapatkan
nilai Kt sebesar 0,30 untuk lebar puncak 1,0 m (asumsi awal). Dari hasil
tersebut, maka didapatkan tinggi gelombang transmisi dengan persamaan:
Ht = H . Kt = 1,16 x 0,30 = 0,348 m
Setelah diperoleh nilai Ht, maka dicari persentase tinggi gelombang
transmisi yang melewati pemecah gelombang yang hasilnya harus sesuai
dengan target, yaitu tidak lebih dari 50%.
Prosentase Ht =
0,348
× 100% = 30% < 50% (memenuhi)
1,16
Apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari 50%, maka perlu
ditambah lebar puncak sampai diperoleh tinggi gelombang transmisi (Ht)
yang kurang dari 50%.
Berat Butir Batu Pelindung
Spesifikasi teknis pemecah gelombang adalah jenis tumpukan batu
gunung yang banyak terdapat pada daerah tersebut. Melalui berat jenis batu
gunung (S) = 2,65 t/m3 dengan rapat massa relatif terhadap air laut (Sr) =
1,03 t/m3, maka = 2,65 / 1,03 = 2,57 t/m3 . Karena elevasi puncak yang
berada 0,5 m dibawah LSL maka perlu memperhitungkan kedalaman
puncaknya (R) = 0,5 + 1,25 = 1,75 m. Sedangkan berdasarkan analisa tinggi
gelombang rencana (Hs) = 1,16 m dan kedalaman puncak (R) = 1,75 m,
maka diperoleh R / Hs = 1,75 / 1,16 = 1,50 sehingga didapat nilai faktor
stabilitas (Ns) pada Grafik 5 sebesar 6,0, maka berat butir batu pelindung
(W) dapat diketahui dengan rumus Brebner Donnelly’s , yaitu :
W =
S. H
Ns .(Sr - 1)
3
Setelah analisa dilakukan, maka didapatkan berat batu pelindung W =
0,01 ton.
Dari analisa di atas menggunakan rumus Brebner Donnelly’s untuk
mengetahui berat butir pelindung, maka didapatkan hasil batuan gunung
dengan bobot 0,01 ton disesuaikan dengan bobot material yang akan
direncanakan sebagai bahan konstruksi.
80
Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang Erni Yulianti
Berat dan Ukuran Batuan
Dengan anggapan berat jenis batu gunung (S) = 2,65 t/m3 dan bobot
batuan sebesar 0,01 ton, maka dapat diketahui diameter batuan gunung
yang berbentuk bulat melalui perbandingan volume bola dan volume batuan.
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, dihasilkan diameter batuannya
(d) = 0,50 m.
Gambar Sketsa Potongan Melintang Pada Bangunan Pemecah Gelombang
Susunan Material Dinding Penahan Pemecah Gelombang
Penentuan susunan material disesuaikan dengan arah gelombang
yang datang (incident), dimana bobot yang terbesar diletakkan di bagian
paling luar yang langsung mendapat gelombang yang terbesar, begitu
seterusnya sampai bangunan tersebut padat secara keseluruhan dalam
menahan hantaman gelombang.
Kondisi Pasang Surut
Kondisi pasang surut Pantai Labuhan diperoleh dari Kantor Pelabuhan
Daerah Pantai Labuhan Kabupaten Sumbawa. Adapun kondisi pasang
surutnya adalah sebagai berikut:
HSL = + 1,25 m
MSL = + 0,00 m
LSL = - 1,25 m
Sedangkan kondisi dasar laut Pantai Labuhan dominan terdiri dari
lapisan pasir dengan karang sedikit dengan kemiringan dasar laut sebesar
2% (1:50).
81
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 75-84
Spectra
Tinggi Gelombang Transmisi
Tinggi gelombang transmisi yang melewati pemecah gelombang
ditetapkan yaitu kurang dari 50%. Berdasarkan data lebar puncak (B) = 35
m, dengan nilai koefisien transmisi (Kt) dari grafik 4 adalah = 0,48 dan tinggi
gelombang rencana (H) adalah = 2,86 m, maka tinggi gelombang transmisi
(Ht) dalam persentase (%) dapat diketahui sebesar 48%, dimana nilainya
kurang dari 50%, sehingga kondisi tinggi gelombang masih tidak
membahayakan terhadap bangunan pemecah gelombang yang
direncanakan.
Energi Gelombang yang Terjadi
Energi gelombang sebelum melewati pemecah gelombang cukup
besar dan dapat merusak karang maupun bangunan yang ada di sekitarnya.
Oleh karena itu, perlu diredam dengan bangunan pemecah gelombang yang
dapat mengurangi besarnya energi gelombang, sehingga setelah melewati
pemecah gelombang, maka energi gelombang dapat berkurang. Untuk
memperoleh energi gelombang sebelum maupun setelah melewati pemecah
gelombang, maka perlu diketahui tinggi gelombang sebelum melewati
pemecah gelombang dan tinggi gelombang transmisi setelah melewati
pemecah gelombang. Untuk mengetahui energi gelombang sebelum dan
sesudah melewati pemecah gelombang dilakukan melalui analisa energi
gelombang. Dari perhitungan yang sudah dilakukan, maka besarnya energi
gelombang yang terjadi sebelum melewati pemecah gelombang adalah:
E =
1
.ρ . g . H 2
8
E =
1
.1,03 . 9,81 . (2,86) 2 = 10,331 Nm (watt)
8
Sedangkan untuk mengetahui besarnya energi gelombang setelah melewati
pemecah gelombang transmisi yaitu dengan rumus:
E =
1
.ρ . g . Ht 2
8
E =
1
.1,03 . 9,81 . ( 1,658 ) 2 = 3,472 Nm (watt)
8
Berdasarkan pengamatan dan analisis kondisi batuan untuk bangunan
pemecah gelombang pada Pantai Labuhan, maka kejadian tinggi
gelombang transmisi sebesar 1,658 m yang dapat menimbulkan energi
sebesar 3,472 Nm (watt), pemukiman pada Pantai Labuhan diperkirakan
82
Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang Erni Yulianti
tidak akan mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh benturan
gelombang transmisi. Dengan demikian, pemecah gelombang yang akan
direncanakan dapat dikatakan sudah berfungsi sebagaimana yang
diharapkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis perencanaan yang telah dilakukan melalui
beberapa pengamatan dan kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Perencanaan yang telah dilakukan sebagai penunjang dan langkah
awal untuk melaksanakan pembangunan bangunan pengaman
pantai di Pantai Labuhan Sumbawa berjalan sesuai dengan yang
diharapkan, sehingga pembangunan tersebut dapat segera
direalisasikan di tempat itu karena membawa banyak sekali
manfaat dan keuntungan untuk pemerintah daerah, khususnya
untuk masyarakat yang ada di sekitarnya.
2. Kegiatan perencanaan maupun pelaksanaan yang akan
dilaksanakan di lokasi harus melakukan koordinasi dan
bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat supaya
memberikan hasil yang optimal.
3. Melalui kegiatan analisis perencanaan ini akan membawa
perkembangan bagi pembangunan yang berkelanjutan, sehingga
kawasan Pantai Labuhan ini akan menjadi kawasan yang sehat,
indah, aman, dan produktif - baik dari segi teknis maupun sosial
budayanya.
Beberapa hal yang dapat disarankan dalam kegiatan perencanaan
bangunan pengaman pantai ini adalah:
1. Sebaiknya memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar
mengenai bangunan pengaman pantai yang akan dibuat, sehingga
masyarakat dapat bekerjasama dan menunjang dalam pelaksanaan
pembangunan tersebut.
2. Sebaiknya pemerintah daerah secara rutin melaksanakan
pemantauan kegiatan perencanaan maupun pelaksanaan
pekerjaan di wilayah tersebut serta pengembangannya, sehingga
ekosistim dan wilayahnya dari segi sosial tidak terganggu apabila
terdapat bangunan baru yang berdiri di Pantai Labuhan.
3. Perlu diupayakan untuk menarik minat investor dengan studi-studi
yang intensif sampai pada tinjauan ekonomis dan finansial,
sehingga biaya yang diperlukan tidak seluruhnya dibebankan pada
pemerintah daerah.
4. Melalui pembangunan yang berkelanjutan, sebagai rangkaian
jangka panjang, sebaiknya diusahakan terwujudnya kawasan
wisata di Pantai Labuhan tersebut.
83
Spectra
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 75-84
DAFTAR PUSTAKA
Haryo Dwito Armono, Sunyoto, Widi Agus Pratikto. 1996. Perencanaan Fasilitas
Pantai dan Laut. Yogyakarta: BPFE.
Indreswari, G. 1993. Aspek Institusi dalam Pengembangan Teknik Pantai. Seminar
Teknik Pantai. LPTP-BPPT Yogyakarta.
Sugandhy, A. 1993. Pendekatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan
Pantai dari Sudut Penataan Ruang Wilayah Pesisir. Makalah Seminar Teknik
Pantai. LPTP-BPPT Yogyakarta.
Triatmadja. R. 1993. Gelombang Pasang Surut. PAU Ilmu Teknik Universitas Gajah
Mada. Makalah Kursus Singkat Perencanaan Bangunan Pantai. Yogyakarta.
Yuwono, Nur. 1982. Teknik Pantai. Volume 1 dan 2. Yogyakarta: Biro Penerbit
Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM.
84
Download