strategi pembelajaran, tipe kepribadian dan hasil belajar

advertisement
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
65
STRATEGI PEMBELAJARAN, TIPE KEPRIBADIAN
DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA SISWA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Heni Mularsih
Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Umum (UPT MKU), Universitas Tarumanagara, Jakarta 11440, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran (kooperatif dan individual) dan tipe
kepribadian (ekstrover dan introver) terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode
ekperimental dengan desain faktorial 2 x 2 dengan sampel 48 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota
Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar siswa yang mengikuti strategi pembelajaran
kooperatif lebih tinggi daripada yang mengikuti pembelajaran individual, (2) tidak ada perbedaan yang signifikan antara
hasil belajar siswa yang berkepribadian ekstrover dan introver, (3) terdapat interaksi yang positif antara strategi
pembelajaran dan tipe kepribadian siswa pada hasil belajar bahasa Indonesia, (4) hasil belajar siswa yang ekstrover,
yang mengikuti strategi pembelajaran kooperatif lebih tinggi daripada mengikuti strategi pembelajaran individual, (5)
hasil belajar siswa yang introver, yang mengikuti strategi pembelajaran individual lebih tinggi daripada mengikuti
strategi pembelajaran kooperatif. Simpulannya, strategi pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar bahasa
Indonesia siswa dengan mempertimbangkan tipe kepribadian siswa.
Instructional Strategies, Personality Types and the Outcome of Junior High School Students
on Learning Bahasa Indonesia
Abstract
The objective of the research is to study the effect of the instructional strategies (cooperative and individual learning)
and personality types (extrovert and introvert) on the outcome of students on learning Indonesian language. The
research employed the experimental method with 2 x 2 factorial design on a sample of 48 students, conducted at the
secondary school in Tangerang City. The result of the research shows that: (1) the outcome of students learning
following the instruction with cooperative strategy are higher than those following individual instruction, (2) there are
no significant differences of learning outcome between the students having extrovert type and introvert type of
personality, (3) there is a significant interaction effect between the instructional strategy and the personality type on the
secondary school outcome of the students learning Indonesian language, (4) the outcome of extrovert type students
learning, following the instruction with cooperative strategy are higher than those following individual instruction, (5)
the outcome of introvert type students learning, following the instruction with individual strategy are higher than those
following cooperative instruction. In conclusion, the instructional strategy can increase the outcome of students learning
Indonesian language by considering the students’ personality type.
Keyword: instructional strategy, learning outcome, personality types
1. Pendahuluan
peringkat 11 (Hayat: 2004). Bukti lain hasil studi
International Institute for Management Development
menempatkan Indonesia pada peringkat paling rendah
dari 49 negara dalam hal pencapaian Competitiveness
Index (CI) yang merupakan salah satu indikator tentang
Hasil survei The Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) menyimpulkan bahwa sistem
pendidikan di Indonesia berada pada peringkat terakhir
dari 12 negara dan di bawah Vietnam yang menempati
65
66
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya
(Supriyoko, 2004).
Mutu pendidikan atau kualitas pendidikan yang diwakili
oleh hasil belajar siswa tidak dapat dilepaskan dari
faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor
eksternal dan faktor internal (Soekamto, 1992). Faktor
internal adalah faktor yang berasal dari dalam siswa
yang meliputi kemampuan, perhatian, motivasi, sikap,
retensi, dan kepribadian siswa. Faktor eksternal adalah
faktor yang berasal dari luar siswa, yang meliputi
strategi mengajar, alat evaluasi, lingkungan belajar, dan
media pengajaran.
Studi ini membatasi diri pada salah satu faktor eksternal
sebagai variabel bebas, yaitu ”strategi pembelajaran”
yang terdiri atas strategi pembelajaran kooperatif dan
strategi pembelajaran individual dengan modul. Salah
satu faktor internal berfungsi sebagai variabel atribut,
yaitu ”tipe kepribadian” yang terdiri atas tipe
kepribadian ekstrover dan introver. Pilihan ini didasari
oleh suatu dugaan bahwa kedua faktor tersebut
mempengaruhi hasil belajar siswa.
Terjadi peningkatan angka ketidaklulusan pada tahun
2003/2004, SMP/MTs dari 6,96% menjadi 13,62%,
tingkat SMA/MA dari 9,22% menjadi 20,19%, dan
tingkat SMK dari 12,27% menjadi 22,48% (Azra,
2005). Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, salah
satu mata ujian untuk kelulusan, dipandang belum
berhasil. Kemampuan bahasa siswa rendah karena guru
tidak mengajarkan bahasa, tetapi hanya ”tentang bahasa”
(Dadang, 2005). Yulisma (2005) juga mengatakan
bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tidak menarik,
terjadi kekakuan pembelajaran, pengelolaan kelas tidak
tercapai, kelas menjadi ribut, dan berbagai problematika
lain. Hal tersebut menunjukkan adanya masalah dalam
pembelajaran. Indikator adanya masalah tersebut
ditunjukkan dengan menurunnya nilai hasil belajar dan
tidak tepatnya penerapan metode/strategi pembelajaran
dalam penyampaian materi ajar. Dengan ketepatan
pemilihan strategi pembelajaran diharapkan dapat lebih
memudahkan siswa dalam belajar.
Dengan demikian, permasalahannya adalah: pertama,
apakah terdapat perbedaan hasil belajar bahasa
Indonesia pada siswa yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran kooperatif dan individual. Di antara
keduanya, manakah yang memberikan hasil belajar
lebih tinggi, strategi pembelajaran kooperatif atau
individual dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada
siswa SMP? Kedua, apakah terdapat perbedaan hasil
belajar bahasa Indonesia antara siswa yang berkepribadian ekstrover dengan siswa yang berkepribadian
introver? Ketiga, apakah terdapat pengaruh interaksi
antara strategi pembelajaran dengan tipe kepribadian
terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa? Keempat,
Apakah hasil belajar siswa yang berkepribadian
ekstrover lebih tinggi jika dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran kooperatif daripada dengan strategi
pembelajaran individual dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia pada siswa SMP? Kelima, Apakah hasil
belajar siswa yang berkepribadian introvert lebih tinggi
jika dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
individual daripada dengan strategi pembelajaran
individual dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada
siswa SMP?
Belajar dan Hasil Belajar. Hergenhahn dan Olson
(1993) berpendapat bahwa belajar adalah sebagai
perubahan yang relatif tetap di dalam perilaku atau
perilaku potensial sebagai hasil dari proses pengalaman
dan bukan atribut dari perubahan atau pertumbuhan
kondisi fisik yang diakibatkan oleh sakit, keletihan atau
obat-obatan.
Hasil belajar adalah perolehan siswa setelah mengikuti
proses belajar dan perolehan tersebut meliputi tiga
bidang kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotor (Bloom, 1974). Hasil belajar memiliki ciri
(1) tingkah laku baru berupa kemampuan yang aktual,
(2) kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang
lama, dan (3) kemampuan baru tersebut diperoleh
melalui suatu peristiwa belajar (Snelbecker, 1974).
Perbuatan dan hasil belajar itu dapat dimanifestasikan
dalam wujud (1) pertambahan materi pengetahuan yang
berupa fakta; informasi, prinsip atau hukum atau kaidah
prosedur atau pola kerja atau teori sistem nilai-nilai dan
sebagainya, (2) penguasaan pola-pola perilaku kognitif
(pengamatan) proses berpikir; mengingat atau mengenal
kembali, perilaku afektif (sikap-sikap apresiasi,
penghayatan, dan sebagainya); perilaku psikomotorik
(keterampilan-keterampilan psikomotorik termasuk
yang bersifat ekspresif), dan (3) perubahan dalam sifatsifat kepribadian baik yang tangible maupun intangible
(Syamsudin, 2001).
Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bahasa merupakan
suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbolsimbol yang bersifat arbitrer/ manasuka, yang dapat
diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata.
Simbol adalah tanda yang diberikan makna tertentu,
yaitu mengacu pada sesuatu yang dapat diserap oleh
pancaindera (Keraf, 1993). Secara rinci, bahasa itu
mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu (1) merupakan
seperangkat bunyi, yang urutannya taat pada kaidah
tertentu, (2) bersifat arbitrer, hubungan antara bunyi
atau urutan objeknya bersifat arbitrer dan tidak dapat
diterka, (3) bersifat sistematis, setiap bahasa mempunyai
sistem sendiri-sendiri yang berbeda dengan sistem
bahasa mana pun, (4) bahasa merupakan seperangkat
simbol, bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara
manusia yang berwujud kata-kata, sebenarnya simbol
yang mewakili suatu benda, proses, peristiwa atau
kegiatan, (5) bersifat sempurna, yaitu telah memenuhi
amanat pembicara (Hill, 1958).
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
Secara umum, bahasa itu mempunyai suatu fungsi
tertentu, yaitu (1) alat untuk menyatakan ekspresi diri,
menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat
di dalam dada kita, (2) alat komunikasi, merupakan
saluran perumusan maksud kita yang memungkinkan
kita menciptakan kerja sama, (3) alat mengadakan
integrasi dan adaptasi sosial, bahasa merupakan alat
yang memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya
terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta
dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan
menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk
memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya, (4) alat
mengadakan kontrol sosial (Keraf, 1993).
Mengingat betapa pentingnya bahasa, pembelajaran
bahasa harus dilakukan secara tepat. Berkaitan dengan
membelajarkan bahasa secara formal kepada siswa
diperlukan teori pembelajaran bahasa yang melandasinya.
Dalam teori pembelajaran bahasa, Kumaravadivelu
(2006) berpendapat bahwa ada 4 karakteristik bentuk
aktivitas guru di dalam kelas, yaitu (1) guru harus
melakukan aktivitas yang berfokus pada makna. Dalam
pembelajaran, guru membuat siswa beraktivitas supaya
pembelajaran menjadi bermakna. Contoh pembelajaran
berdasarkan masalah dan pemecahan masalah (problem
solving/problem based learning), (2) guru menyediakan
materi yang dapat dipahami. Dalam menyampaikan
materi, guru merancang materi yang sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa, (3) guru dapat mengintegrasikan
keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, (4)
guru membuat penilaian. Guru harus memberikan
penilaian sesuai dengan proporsi kesalahan. Contoh,
dalam kalimat, jika yang salah hanya kosa kata, maka
kosa kata itu yang disalahkan bukan kalimat secara
keseluruhan.
Berkaitan dengan pembelajaran bahasa, Kumaradivelu
(2006) menjelaskan bahwa ada prosedur di dalam kelas
yang perlu diterapkan oleh guru, yaitu memodifikasi
materi dan memfasilitasi aktivitas interaksi siswa.
Modifikasi materi berkaitan dengan cara guru menyajikan
materi yang mampu membuat siswa termotivasi untuk
belajar. Dalam hal ini guru perlu menerapkan strategi
pembelajaran yang tepat. Aktivitas interaksi berkaitan
dengan cara guru menyampaikan tugas kepada siswa
untuk dibahas dengan memberikan kesempatan kepada
siswa tersebut agar berinteraksi dengan teman melalui
bentuk kerja sama.
Larsen (2000) berpendapat bahwa guru dapat menerapkan strategi pembelajaran kooperatif sebagai upaya
untuk membuat siswa termotivasi belajar dan mampu
berinteraksi dengan teman untuk bekerja sama. Esensi
pembelajaran dengan strategi kooperatif menekankan
aktivitas belajar siswa dari siswa lain di dalam
kelompok. Guru membelajarkan bagaimana siswa dapat
berkolaborasi dan terampil bersosialisasi sehingga para
67
siswa dapat bekerja bersama-sama secara efektif.
Strategi kooperatif, tidak hanya menekankan bagaimana
cara belajar, tetapi juga cara berkomunikasi untuk
bekerja sama.
Strategi Pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya
untuk membelajarkan siswa. Dalam definisi ini terkandung makna bahwa dalam pembelajaran ada kegiatan
memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode
atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil
pembelajaran yang diinginkan (Degeng, 1997). Metode
pembelajaran mengacu pada cara yang digunakan dalam
kondisi tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan, sedangkan strategi pembelajaran mengacu
pada penataan cara-cara memilih, menetapkan, dan
mengembangkan strategi pembelajaran sehingga terwujud
suatu urutan langkah yang prosedural yang dapat dipakai
untuk mencapai hasil yang diinginkan (Degeng, 1997).
Strategi pembelajaran adalah rencana dalam rangka
membantu siswa dalam usaha belajarnya untuk mencapai
setiap tujuan belajarnya. Dalam hal ini, guru dapat
menggunakan bahan ajar atau satu unit produksi sebagai
media pembelajaran (Gagne, Briggs, & Warger, 1991).
Strategi Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran
kooperatif adalah variasi metode pembelajaran di mana
siswa bekerja pada kelompok-kelompok kecil untuk
membantu satu sama lainnya dalam memahami suatu
pokok pembahasan/materi pembelajaran. Siswa diharapkan saling membantu, berdiskusi, dan berargumen
dengan yang lainnya sehingga dapat menekan perbedaan
pemahaman dan pengetahuan dalam mempelajari suatu
pokok bahasan tersebut (Slavin, 1995). Pembelajaran
kooperatif adalah bentuk pembelajaran yang berupa
kelompok kecil yang bersifat heterogen dan biasanya
beranggotakan 4 atau 5 orang. Anggota kelompok
tersebut saling bekerja sama untuk menyelesaikan suatu
tugas dan setiap anggota mempunyai tanggung jawab
secara individu dalam kelompoknya. Dengan kata lain
antaranggota terjadi saling ketergantungan yang positif
(Dumas, 2007).
Kunci utama pembelajaran kooperatif adalah peran guru
dalam pengorganisasian kelas karena pembelajaran
kooperatif berbeda dengan pembelajaran kelompok
konvensional. Hal ini ditandai dengan adanya
karakteristik pembelajaran kooperatif, yaitu (1) tujuan
kelompok (group goals), (2) tanggung jawab individu
(individual accountability), (3) kesempatan yang sama
untuk meraih kesuksesan (equal opportunities for
success), (4) kompetisi tim (team competitional), (5)
spesialisasi tugas (task specialization), dan (6) adaptasi
terhadap kebutuhan individual (adaptation to individual
need) (Slavin, 1995).
Dalam strategi pembelajaran kooperatif dikenal banyak
macam teknik pelaksanaannya, yaitu: (1) Team-Games
68
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
Tournament (TGT), (2) Student Teams-Achievement
Division (STAD), (3) Group Investigation, (4) Team
Accelererated Instruction (TAI), dan (5) Jigsaw (Slavin,
1995).
Dalam penelitian ini, teknik pembelajaran yang dipilih
adalah teknik jigsaw. Alasannya, dari berbagai teknik
dalam pembelajaran kooperatif, teknik Jigsaw lebih
menuntut keterampilan berkomunikasi secara dominan
dalam bentuk kerja sama dalam rangka menjadi ”guru”
bagi teman sekelompoknya. Selain itu, kemampuan
komunikasi juga dituntut dalam kemampuannya
berinteraksi sosial baik dengan anggota dalam maupun
luar kelompoknya. Dominasi kemampuan berkomunikasi
ini cukup relevan dengan pembelajaran bahasa yang
pada dasarnya adalah belajar berkomunikasi, termasuk
pembelajaran bahasa Indonesia.
Penerapan teknik jigsaw dalam belajar memiliki
gambaran umum sebagai berikut: (1) Setiap anggota
kelompok mempelajari sebagian informasi yang
berbeda dengan informasi anggota lainnya, (2) Setiap
anggota kelompok dituntut untuk menguasai dan
menjadi ”pakar” informasi yang menjadi bagiannya (3)
Setiap anggota kelompok bergantung pada anggota
kelompok lain dan saling berbagi informasi dengan
anggota kelompok yang lain dalam rangka memperoleh
informasi secara utuh. Dalam membelajarkan bagian
materi yang menjadi tugasnya kepada anggota lain,
mereka harus bertanggung jawab dan dapat menghargai
pendapat anggota kelompok yang lain, (4) Setiap
anggota kelompok akhirnya menjadi "pakar" informasi
secara utuh. Dalam tahap menjadi "pakar" informasi
tersebut, siswa diberikan kebebasan berpikir dalam
rangka berpikir kreatif. Siswa harus berani melontarkan
ide-idenya tanpa takut salah atau kritikan orang lain
(Johnson & Johnson, 1991).
Langkah-langkah pembelajaran dengan teknik jigsaw
adalah (1) tahap kooperatif, yaitu setiap siswa
ditempatkan dalam kelompok kecil (misalnya empat
orang) dan siswa menerima informasi (berupa tugas)
yang merupakan bagian dari suatu paket informasi yang
harus dibahas atau dipecahkan dalam kelompok
kooperatif tersebut, (2) tahap expert (tahap ahli), yaitu
setelah mendapat informasi/tugas tertentu, siswa harus
menjadi "ahli" atau menguasai informasi tersebut.
Misalnya, siswa B harus mencari siswa dari kelompok
lain yang memperoleh tugas yang sama dan melakukan
hal-hal: (a) belajar bersama dan menjadi "ahli" di
bidang informasi tersebut dan (b) merencanakan
bagaimana "mengajarkan" informasi tersebut kepada
anggota "kooperatif-nya”, dan (3) tahap lima serangkai,
yaitu siswa B tadi harus kembali pada kelompok
"kooperatifnya" dan mengajarkan kepada empat orang
anggota dalam kelompoknya. Pada tahap ini tiap-tiap
anggota kelompok telah menguasai informasi secara
utuh (sudah menjadi ahli). Akhirnya, kelompok tersebut
mengerjakan tugas yang telah disediakan, (4) tahap
evaluasi (Johnson & Johnson, 1991).
Strategi Pembelajaran Individual. Pembelajaran
individual adalah pembelajaran yang menekankan pada
cara belajar siswa yang sesuai dengan kebutuhan, minat,
dan kemampuannya (Woolfolk, 1993). Dalam praktik
pembelajaran individual di kelas, ada dua hal yang perlu
diperhatikan, yaitu: (1) guru harus menyadari adanya
tingkat perkembangan kognitif anak sehingga guru harus
memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuannya,
(2) orientasi perhatian guru lebih kepada siswa secara
individual daripada kelompok karena adanya perbedaan
perkembangan kognitifnya, (3) adanya kontrol siswa
terhadap cara belajarnya sendiri. Ada kemungkinan
waktu yang diperlukan berbeda untuk setiap siswa pada
tugas yang sama (Ginsburg, 1988).
Dalam sistem pembelajaran individual, siswa belajar
materi dalam unit-unit kecil dalam bentuk suatu teks
yang disertai dengan petunjuk. Penguasaan materi
berdasarkan urutan unit. Para siswa secara individu
dapat mengoreksi kesalahan dari tugas yang dikerjakan.
Jika belum menguasai materi, siswa diberikan
kesempatan untuk mengulangi tugas yang diberikan
sampai menunjukkan penguasaannya (Gagne, 1998).
Pembelajaran individual merupakan bentuk belajar
tuntas yang sering digunakan di sekolah. Pembelajaran
individual yang sering disebut dengan belajar tuntas
berdasarkan pada asumsi dengan memberikan waktu
yang cukup dan pembelajaran yang tepat, siswa akan
dapat menguasai materi pembelajaran (Woolfolk,1993).
Pembelajaran dengan prinsip belajar tuntas mampu
meningkatkan minat siswa dalam mencapai prestasi
belajar sampai pada taraf yang memuaskan (Joyce,
1996). Kriteria belajar tuntas, yaitu (1) berorientasi pada
siswa dalam penguasaan materi, (2) mengajarkan materi
pembelajaran, (3) memberikan tes formatif, (4)
memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan
koreksi tugasnya untuk mengetahui penguasaan
materinya dan memberikan aktivitas pengayaan pada
siswa yang sudah menguasai materi lebih cepat, dan (5)
memberikan tes sumatif pada siswa (Slavin, 1996). Ada
lima variabel yang penting dalam pelaksanaan program
belajar tuntas, yaitu (1) menekankan kualitas pembelajaran,
(2) kemampuan memahami materi pembelajaran, (3)
ketekunan dalam belajar, (4) waktu yang sesuai dengan
kecepatan belajar, (5) sikap dalam menentukan materi
belajar yang sesuai (Januszesky, 2001).
Dalam kenyataanya, guru mengalami kesulitan besar
untuk melayani minat, kebutuhan, irama belajar masingmasing siswa yang berbeda-beda itu. Untuk mengatasi
kesulitan ini, para ahli pendidikan telah memikirkan
jalan keluar, di antaranya melalui pembelajaran dengan
modul (Vembriarto, 1981). Modul adalah suatu paket
pengajaran yang memuat satu unit konsep bahan
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
pelajaran. Pembelajaran modul itu merupakan usaha
penyelenggaraan
pembelajaran
individual
yang
memungkinkan siswa menguasai satu unit bahan
pelajaran sebelum dia beralih kepada unit berikutnya
(Russel dalam Vembriarto, 1981). Modul itu disajikan
dalam bentuk yang bersifat self-instructional dimana
setiap siswa dapat menentukan kecepatan dan intensitas
belajarnya sendiri.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran individual
dengan modul, langkah-langkah yang dilalui oleh siswa
adalah sebagai berikut: (1) Mempelajari lembar kegiatan
siswa. Mempelajari/membaca lembar kegiatan untuk
mengetahui inti pelajaran sesuai dengan topik yang
disebutkan pada modul. (2) Mengerjakan tugas pada
lembaran kerja. Tugas yang dikerjakan siswa dalam
lembaran kerja bisa bermacam-macam, mungkin
membaca suatu bab dari buku sumber, mengadakan
percobaan atau mengerjakan soal. (3) Mencocokkan
dengan kunci lembaran kerja. Setelah siswa selesai
mengerjakan tugas-tugas pada lembar kerja, berarti ia
sudah selesai mempelajari lembaran kegiatan.
Kemudian siswa diberi kunci lembar kerja agar
digunakan untuk koreksi terhadap hasil pekerjaanya. Untuk
pekerjaan yang salah, siswa harus mempelajarinya lagi.
(4) Mengerjakan lembaran tes. Jika siswa telah
mengerjakan dengan benar lembar kerja, maka ia dapat
melanjutkan mengerjakan lembaran tes. Sebagai
realisasi dari prinsip maju berkelanjutan (continuous
progress), pelaksanaan tes ini dilakukan secara
perseorangan dan tes ini merupakan tes formatif, dan (5)
mencocokkan hasil tes dengan kunci lembaran tes.
Setelah siswa selesai mengerjakan lembaran tes dengan
sepengetahuan guru, maka kepadanya diberikan kunci
lembar tes untuk mencocokkan pekerjaannya. Jika siswa
tadi memperoleh 75% dari seluruh skor yang ditetapkan,
siswa tersebut dinyatakan selesai mempelajari modul
tersebut. Jika siswa belum memperoleh 75% dari skor
yang ditetapkan, maka harus mengulang lagi modul
yang bersangkutan (Suryosubroto, 1983).
Tipe Kepribadian. Kepribadian adalah kesatuan
organisasi yang dinamis sifatnya dari sistem psikhofisis
individu yang menentukan kemampuan penyesuaian diri
yang unik sifatnya terhadap lingkungannya (Allport
dalam Kartono, 1980). Jadi, setiap individu itu
mempunyai kepribadian yang khas yang tidak identik
dengan orang lain dan tidak dapat diganti atau
disubstitusikan oleh orang lain. Jadi ada ciri-ciri atau
sifat-sifat individu pada aspek-aspek psikisnya yang bisa
membedakan dirinya dengan orang lain. Kepribadian
mencakup struktur dan proses yang mencerminkan sifatsifat bawaan dan pengalaman. Kepribadian dipengaruhi
oleh masa lalu dan saat ini (Pervin, 1996).
Karakteristik Tipe Kepribadian Ekstrover dan
Introver. Ekstrover adalah suatu kecenderungan yang
mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada
69
kedalam dirinya. Karakteristik ekstrover adalah banyak
bicara, ramah, suka bertemu dengan orang-orang, suka
mengunjungi tempat baru, aktif, menuruti kata hati,
suka berpetualang, mudah bosan, dan tidak suka hal-hal
yang rutin dan monoton (Larsen, 2002).
Menurut Hall dan Lindzey (1998), orang ekstrover itu
mudah bersosialisasi, senang hura-hura, mempunyai
banyak teman, membutuhkan orang untuk diajak bicara,
tidak suka membaca atau belajar sendiri, butuh
kegembiraan, berani ambil risiko, selalu mempertahankan
pendapatnya, bertindak tanpa dipikir dulu, menurutkan
kata hati (impulsif), suka melawak, selalu mempunyai
jawaban yang segar dan umumnya menyukai
perubahan, periang, supel, optimis,dan senag tertawa.
Dia lebih suka bergerak dan melakukan kegiatan,
cenderung agresif, mudah kehilangan kesabaran. Secara
keseluruhan, perasaanya sulit untuk dijaga dan dia tidak
selalu dapat dipercaya.
Introver adalah suatu orientasi ke dalam diri sendiri.
Orang introver cenderung menarik diri dari kontak
sosial. Menurut Jung dalam Naisaban, perilaku introver
sebagai orang yang pendiam, menjauhkan diri dari
kejadian-kejadian luar, tidak mau terlibat dengan dunia
objektif, tidak senang berada di tengah kerumunan
banyak orang (Naisaban, 2003).
Hall dan Lindzey (1998) menambahkan bahwa
karakteristik introver adalah pemalu, introspektif,
menyukai buku-buku daripada manusia, suka menyendiri
dan tidak ramah kecuali pada teman dekatnya. Dia
cenderung merencanakan segala sesuatu dengan berhatihati sebelum melangkah dan tidak mudah percaya kata
hati. Dia tidak menyukai kegembiraan/keramaian,
menanggapi semua masalah dalam hidup dengan serius,
dan menyukai kehidupan yang teratur. Dia selalu
menyembunyikan perasaannya, jarang bertingkah
agresif dan tidak mudah kehilangan kesabaran. Dia
orang yang dapat dipercaya, agak pesimis. Baik
individu yang ekstrover maupun orang introver tidak
berbeda dalam tingkat aktivitas intelektualnya.
Tipe kepribadian ekstrover dan introver merupakan dua
kelompok sikap yang berbeda, yang dimiliki individu
sehingga menjadi ciri khas individu tersebut yang
tampak dalam aktivitas (activity), kesukaan bergaul
(sociability), keberanian mengambil risiko (risk taking),
penurutan dorongan hati (impulsiveness), pernyataan
perasaan (expressiveness), kedalaman berpikir (reflectiveness), dan tanggung jawab (responsibitliy) (Eysensk
& Wilson, 1980).
Hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa
SMP yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
kooperatif lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan
dengan strategi pembelajaran individual; 2) hasil belajar
70
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
siswa yang berkepribadian ekstrover lebih tinggi
daripada hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia
siswa SMP yang berkepribadian introver; 3) terdapat
interaksi yang positif antara strategi pembelajaran dan
tipe kepribadian terhadap hasil belajar dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia siswa SMP; 4) hasil belajar
siswa yang berkepribadian ekstrover lebih tinggi jika
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif
daripada dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
individual dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada
siswa SMP; 5) hasil belajar siswa yang berkepribadian
introver lebih tinggi jika dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran individual daripada dibelajarkan dengan
strategi strategi pembelajaran kooperatif dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa SMP.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental kuasi
dengan rancangan faktorial 2 x 2. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah hasil belajar bahasa Indonesia.
Variabel perlakuan adalah strategi pembelajaran
kooperatif, sedangkan variabel kontrol adalah strategi
pembelajaran individual. Variabel atribut adalah tipe
kepribadian siswa yang meliputi kepribadian ekstrover
dan introver.
Definisi Operasional. Hasil belajar Bahasa Indonesia
dalam penelitian ini adalah nilai yang dilambangkan
dengan angka atau skor yang dicapai oleh setiap siswa
melalui tes hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia
setelah mengikuti proses pembelajaran berdasarkan
subpokok bahasan (menyampaikan pesan/informasi dari
berbagai media, menguasai dan menggunakan imbuhan,
pembentukan kalimat berita negatif, kata sapaan dan
kata acuan, mendengarkan dan menangkap puisi, dan
membaca cerita anak).
Tipe kepribadian adalah skor yang diperoleh dari segala
bentuk perilaku yang terorganisasi dan relatif menetap
dalam diri seseorang yang digunakan untuk merespon
stimulus dari dalam dan dari luar dan dapat diukur
melalui kecenderungan activity, sociability, risk taking,
impulsiveness, expressiveness, reflectiveness, dan
responsibility.
Sampel. Teknik pengambilan sampel adalah multi stage
random sampling, yaitu pengambilan sampel dengan
cara acak/random dan melalui tahapan-tahapan.
Tahapan pengambilan sampel adalah sebagai berikut.
Pertama, mengambil secara acak 21 SMP negeri di
Tangerang. Hasil acak diperoleh SMP Negeri 07
Tangerang. Kedua, mengambil secara acak 2 kelas dari
8 kelas 1 SMP Negeri 07 Tangerang untuk dijadikan
sampel dan untuk menentukan kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Ketiga, dari 2 kelas sebagai sampel yang
sudah diperoleh secara acak tersebut, dilakukan
pengundian lagi secara acak untuk menentukan kelas
eksperimen yang akan diterapkan strategi kooperatif dan
satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol yang akan
diterapkan strategi individual dengan modul. Keempat,
melakukan tes kepribadian pada siswa dari kedua kelas
tersebut. Tes kepribadian ini untuk mengetahui siswa
yang berkepribadian ekstrover dan introver. Tes yang
digunakan adalah tes kepribadian yang diuji validitas
dan reliabilitasnya.
Instrumen Penelitian. Penelitian ini menggunakan dua
jenis instrumen, yaitu instrumen tes hasil belajar dan
instrumen tes kepribadian. Masing-masing instrumen
dikembangkan sendiri oleh peneliti dan diujicobakan
guna mengetahui tingkat validitas dan reliabilitasnya.
Perhitungan validitas instrumen hasil belajar menggunakan statistik point biserial correlation (rpbis) antara butir
item dengan skor total diperoleh hasil berkisar antara
0,327–0,501. Angka ini telah memenuhi syarat validitas
untuk menjaring data. Sedangkan reliabilitas instrumen
hasil belajar dihitung dengan menggunakan Kuder
Richardson Formula 20 (KR-20), dan diperoleh hasil
sebesar 0,892. Angka ini menunjukkan bahwa tes
memiliki tingkat reliabilitas tinggi.
Perhitungan validitas instrumen kepribadian menggunakan
statistik korelasi Product Moment Pearson. Antara butir
item dengan skor total. Hasil perhitungan menunjukkan
bahwa validitas instrumen berkisar antara 0,321–0,681.
Angka ini telah memenuhi syarat validitas untuk
menjaring data penelitian. Reliabilitasnya dihitung dengan
menggunakan Alpha Cronbach. Hasil perhitungan
menunjukkan tingkat reliabilitas 0,92, artinya memiliki
tingkat reliabilitas tinggi.
3. Hasil dan Pembahasan
Uji Persyaratan. Berdasarkan perhitungan melalui uji
Liliefors, kedelapan kelompok data berasal dari
populasi yang berdistribusi normal dan berdasarkan uji
Bartllet, keseluruhan kelompok data memiliki variansi
yang homogen.
Uji Hipotesis Penelitian. Berdasarkan perhitungan
Anava dua jalur (Tabel 1), diketahui bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa
yang mengikuti strategi pembelajaran kooperatif dan
hasil belajar siswa yang mengikuti strategi pembelajaran
individual (Fhitung > F tabel = 4,06).
Selain itu, terjadi interaksi strategi pembelajaran dan
tipe kepribadian (Fh = 27,31 > Ftabel = 4,06). Oleh karena
itu, uji Tukey dilakukan untuk mengetahui keunggulan
masing-masing kelompok siswa.
Hipotesis pertama teruji benar setelah data diolah
melalui perhitungan Anava dan uji lanjut dengan uji
Tukey. Rerata skor hasil belajar bahasa Indonesia yang
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
Tabel 1. Hasil Uji Tukey
μA1 > μA2
μ B1 < μB2
μA1B1 > μA2B1
Qh
2,88
1,97
7,25
Qt
2,86
2,86
2,86
Tabel 2. Hasil Perhitungan Data Hasil Belajar dengan
Anava Dua Jalur
Sumber Varians
Strategi Pembelajaran (A)
Tipe Kepribadian (B)
Interaksi (A X B)
Kekeliruan dalam sel (D)
Total
dk
1
1
1
44
47
JK
RJK
105,02 105,02
50,02 50,02
697,69 697,69
1124,08 25,55
1976,81
JK : jumlah kuadrat
RJK: rerata jumlah kuadrat
mengikuti strategi pembelajaran kooperatif (33,42) lebih
tinggi daripada rerata skor hasil belajar siswa yang
mengikuti strategi pembelajaran individual (30,46).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
kooperatif lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang
mengikuti strategi pembelajaran individual.
Hipotesis kedua tidak teruji benar setelah data diolah
melalui perhitungan Anava dan uji lanjut dengan uji
Tukey. Rerata skor hasil belajar siswa yang
berkepribadian ekstrover (32,96) berbeda dengan rerata
skor hasil belajar siswa yang berkepribadian introver
(30,92). Meskipun ada perbedaan rerata skor hasil
belajar siswa, namun setelah dilakukan uji Anava,
ternyata perbedaan tersebut tidak signifikan. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa
yang berkepribadian ekstrover tidak berbeda dengan
hasil belajar siswa yang berkepribadian introver.
Hipotesis ketiga teruji kebenarannya. Hal ini
ditunjukkan oleh hasil perhitungan melalui uji Anava,
yaitu Fhitung = 27,1 > Ftabel (0,05) = 4,06. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara
strategi pembelajaran dengan tipe kepribadian terhadap
hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas I di SMP.
Hipotesis keempat teruji kebenarannya setelah data
diolah melalui uji lanjut dengan uji Tukey. Rerata skor
hasil belajar siswa yang berkepribadian ekstrover yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif
(A1B1 = 38,25) lebih tinggi daripada rerata skor hasil
belajar siswa yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran individual (A2B1 = 27,67).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
siswa yang berkepribadian ekstrover yang dibelajarkan
dengan strategi pembelajaran kooperatif lebih tinggi
71
daripada hasil belajar siswa ekstrover yang dibelajarkan
dengan strategi pembelajaran individual dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia.
Hipotesis kelima teruji kebenarannya setelah data diolah
melalui uji lanjut dengan uji Tukey. Rerata skor hasil
belajar siswa yang berkepribadian introver yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif
(A1B2 = 28,58) lebih rendah daripada rerata skor hasil
belajar siswa yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran individual (A2B2 = 33,25). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa
Indonesia siswa yang berkepribadian introver yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran individual
lebih tinggi daripada hasil belajar siswa introver yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif.
Hasil belajar siswa yang mengikuti strategi
pembelajaran kooperatif lebih tinggi daripada hasil
belajar siswa yang mengikuti strategi pembelajaran
individual. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian
sejalan dengan teori. Pembelajaran bahasa menekankan
bahwa siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, lebih dari sekedar pengetahuan tentang bahasa.
Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan
keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan
kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan
memperluas wawasan. Mengingat karakteristik materi
ajar bahasa yang menuntut siswa untuk melakukan
banyak latihan berkomunikasi daripada sekedar teori,
guru pun dituntut untuk mampu menerapkan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik tersebut.
Strategi pembelajaran kooperatif yang diterapkan guru
sebagai salah satu pelengkap terhadap strategi pembelajaran yang lain dirasa cukup sesuai dengan karakteristik
materi ajar. Karakteristik strategi pembelajaran kooperatif sangat menuntut adanya interaksi sosial yang tinggi
antarsiswa dalam bentuk kerja sama untuk mempelajari
materi ajar yang diberikan oleh guru. Bentuk interaksi
sosial itu merupakan latihan bagi para siswa untuk
berkomunikasi dengan baik, dan hal itu merupakan
tujuan pembelajaran bahasa.
Selain kesesuaian karakteristik materi ajar dan
karakteristik strategi pembelajaran kooperatif, keberhasilan pelaksanaan strategi pembelajaran kooperatif
pun juga dipengaruhi oleh karakteristik siswa. Subjek
dalam penelitian ini adalah siswa SMP yang usianya
sekitar 13 tahun dan usia tersebut termasuk dalam usia
remaja (Hurlock, 1980). Dalam perkembangan sosial,
remaja mempunyai kecenderung-an membentuk
kelompok dengan teman sebaya. Pengaruh teman
sebaya dalam hal sikap, pembicaraan, minat,
penampilan, dan perilaku sangat besar selama masa
remaja dan lebih dominan daripada pengaruh
keluarganya.
72
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ada kesesuaian
antara karakteristik strategi pembelajaran kooperatif,
karakteristik materi ajar, dan karakteristik siswa,
merupakan landasan yang kuat untuk menjawab
hipotesis yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan strategi
pembelajaran kooperatif lebih tinggi daripada hasil
belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
strategi individual.
Hasil belajar siswa yang berkepribadian ekstrover tidak
berbeda dengan hasil belajar siswa yang berkepribadian
introver (Fhitung = 1, 96 < Ftabel = 4,06). Tipe kepribadian
ekstrover dan introver merupakan dua kelompok sikap
yang berbeda (orientasi ke luar dan ke dalam), yang
dimiliki individu sehingga menjadi ciri khas individu
tersebut dalam beradaptasi dengan lingkungan yang
tampak dalam aktivitas, kesuakaan bergaul, keberanian
mengambil risiko, penurutan dorongan kata hati,
pernyataan perasaan, kedalaman berpikir, dan tanggung
jawab. Menurut Larsen (2002), baik individu yang
ekstrover maupun yang introver tidak berbeda dalam
tingkat aktivitas intelektualnya.
Oleh karena itu, perbedaan antara kepribadian ekstrover
dan introver hanyalah pada penekanan orientasi
sikapnya terhadap lingkungannya bukan pada perbedaan
kemampuan kognitifnya. Siswa yang ekstrover tidak
berarti lebih cerdas daripada siswa yang introver dalam
menerima, memikirkan, dan menyelesaikan masalah
dalam membangun pengetahuannya terhadap semua
informasi/stimulus yang dihadapinya. Ada kemungkinan
siswa yang ekstrover berbeda hasil belajarnya dengan
kelompok siswa yang introver, tetapi perbedaan itu
terjadi
karena
kecenderungan
mereka
untuk
memfokuskan perhatian dalam mempelajari dan
mengolah bahan ajar dengan memanfaatkan stimulasi
yang sesuai dengan karakteristik dirinya.
Ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan
tipe kepribadian terhadap hasil belajar bahasa Indonesia
(Fhitung = 27,21 > Ftabel = 4,06). Kelompok siswa yang
berkepribadian ekstrover dengan karakteristik suka
bergaul/bersoasialisasi dengan orang lain dirasa lebih
cocok jika mengikuti pembelajaran dengan strategi
kooperatif yang karakteristiknya menuntut adanya
interaksi dan keterampilan berkomunikasi yang cukup
dominan.
Sebaliknya,
kelompok
siswa
yang
berkepribadian introver dengan karakteristik suka
menyendiri/tidak suka bersosialisasi dirasa lebih cocok
jika mengikuti pembelajaran dengan strategi individual
yang karakteristiknya menuntut adanya keaktifan secara
individual untuk belajar yang disesuaikan dengan irama
kecepatan belajarnya sendiri.
Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa
pengaruh tiap-tiap strategi pembelajaran baik kooperatif
maupun individual berkaitan erat dengan tipe
kepribadian setiap siswa. Dengan mengetahui tipe
kepribadian siswa, guru dapat menentukan strategi
pembelajaran yang tepat bagi siswa. Hal ini dilakukan
dalam rangka optimalisasi proses pembelajaran dan
hasil belajar.
4. Simpulan
Pertama, secara keseluruhan terdapat perbedaan yang
signifikan hasil belajar Bahasa Indonesia antara siswa
yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
kooperatif dan strategi pembelajaran individual.
Perolehan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan
strategi pembelajaran kooperatif lebih tinggi daripada
siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
individual.
Kedua, secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan
yang signifikan perolehan hasil belajar antara siswa
yang berkepribadian ekstrover dan introver. Meskipun
ada perbedaan rerata hasil belajar bahasa Indonesia pada
siswa yang berkepribadian ekstrover dan introver, tetapi
perbedaan tersebut tidak signifikan.
Ketiga, secara keseluruhan terdapat interaksi yang
positif antara strategi pembelajaran dengan tipe
kepribadian terhadap hasil belajar bahasa Indonesia
pada siswa. Interaksi tersebut tampak bahwa hasil
belajar siswa yang berkepribadian ekstrover yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran kooperatif
lebih tinggi daripada yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran individual. Hal ini berarti bahwa
penerapan strategi pembelajaran kooperatif pada siswa
yang berkepribadian ekstrover lebih efektif daripada
strategi pembelajaran individual. Sebaliknya, hasil
belajar siswa yang berkepribadian introver yang
dibelajarkan dengan strategi pembelajaran individual
lebih tinggi daripada yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran kooperatif. Hal ini berarti bahwa
penerapan strategi pembelajaran individual pada siswa
yang berkepribadian introver lebih efektif daripada
strategi pembelajaran kooperatif.
Guru dianjurkan untuk menerapkan strategi pembelajaran
kooperatif sebagai salah satu strategi pembelajaran
dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP di antara
strategi pembelajaran ceramah yang selama ini masih
dominan diterapkan. Penetapan strategi pembelajaran ini
tentu saja juga mempertimbangkan karakteristik materi
dan karakteristik siswa.
Kepala sekolah perlu memperhatikan kesulitan-kesulitan
yang dihadapi guru dalam pembelajaran, terutama
dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran
di kelas. strategi pembelajaran kooperatif sebagai salah
satu strategi pembelajaran dalam pembelajaran bahasa
Indonesia di SMP di antara strategi pembelajaran
ceramah yang selama ini masih dominan diterapkan.
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
73
Penetapan strategi pembelajaran ini tentu saja juga
mempertimbangkan karakteristik materi dan karakteristik
siswa.
Hayat, B. (2004). Penilaian kelas dalam penerapan
standar kompetensi. Buletin Puspendik, Jakarta,
Departemen Nasional 1, halaman 5.
Mengingat penelitian ini dilakukan pada jenjang SMP,
yang subjek penelitiannya adalah siswa kelas I, yang
memiliki kisaran usia 12-13 tahun, maka kemungkinan
besar dalam pengukuran tipe kepribadian masih
dipengaruhi oleh faktor usia. Perbedaan jenjang
pendidikan dan usia subjek penelitian yang berbeda
mungkin akan menunjukkan hasil penelitian yang berbeda
pula. Selain itu, sarana dan prasarana pembelajaran juga
masih terbatas, sehingga dimungkinkan penerapan
strategi pembelajaran kooperatif ini kurang optimal.
Oleh karena itu, disarankan kepada peneliti lanjutan
untuk lebih memperhatikan segala keterbatasanketerbatasan dalam penelitian ini demi lebih optimalnya
hasil penelitian lanjutan.
Hergenhahn, B.R. & Olson, M.H. (1993). An
introduction to theories of learning. Englewood Cliff,
New Jersey: Prentice Hall Inc.
Daftar Acuan
Azra, A. (2005). Krisis Pendidikan. Republika, Juli.
Bloom, B.S. (1974). Taxonomi of educational
objectives: The classification of educational goals. New
York: David McKay Company, Inc.
Dadang. (2005). Reformasi Pembelajaran Bahasa,
Buletin Puspendik, 2(1), 18.
Hill, A.A. (1958). Introduction to linguistic structures.
New York: Harcout Brace Javanovich, Inc
Hurlock, E.E. (1980). Development psychology: A life
span approach (5th ed.). New yok: McGraw-Hill.
Januszewski, A. (2001). Educational technology: The
development of a concept. Englewood, Colorado:
Libraries Unlimited, Inc.
Johnson, D.W. & Johnson, R.T. (1991). What is
Cooperative Learning? dalam Cooperation in the
classsroom. Revised Edition. Edina, Minosta:
Interaction Book.
Joyce, B. (1996). Model of teaching (5th ed.). USA:
Allyn & Bacon.
Kartono, K. (1980). Teori kepribadian. Bandung:
Penerbit Alumni.
Keraf, G. (1993). Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah.
Degeng, I.N.S. (1997). Strategi pembelajaran:
Mengorganisasi isi dengan model elaborasi. Malang:
IKIP Malang.
Dumas, A. (2007). Cooperative learning: Teaching
students in small groups. Full Document California
Dept. of Educatio. Diambil 8 Desember 2007 dari
(http://www.cde.ca.gov/iasa/cooplrng2.html).
Eysenck, H.J. & Wilson, G.D. (1980). Know your own
personality. Terjemahan D.H. Gulo. Jakarta: Sungguh
Bersaudara.
Gagne, R.M. (1998). Essential of learning for
instruction. New Jersey: Prentice Hall.
Gagne, R.M., Leslie, J.B. & Walter, W. (1992).
Principles of instructional design. USA: Harcout Brace
Javanovich.
Kumaradivelu, B. (2006). Understanding language
teaching. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.
Larsen, D. (2000). Techniques and principles in
language teaching. Second Edition. New York: Axford.
Naisaban, L. (2003). Psikologi Jung: Tipe kepribadian
manusia dan rahasia sukses dalam hidup. Jakarta:
Gramedia Widiasarana.
Pervin, L.A. (1996). The science of personality. USA:
John Wiley, Inc.
Reigeluth, C.M. (1983). Instructional design theories
and models: An overview of their current status.
Volume I. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates
Publisers, Inc.
Ginsburg, H.P. (1989). Piaget’s theory of intellektual
development (3nd ed.). New Jersey: Prentice Hall.
Slavin, R.E. (1995). Cooperative learning: Theory,
research, and practice (2nd ed.) Boston, London: Allyn
and Bacon.
Hall, C.S., Lindzey, G. & Campbell, J.B. (1998).
Theories of personality (4th ed). New York: John Wiley
& Sons, Inc.
Snelbecker, G.E. (1974). Learning theory, instructional
theory and psycho educational design. New York:
McGraw-Hill Book Company.
74
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 1, JULI 2010: 65-74
Soekamto, T. (1992). Teori belajar, teori instruksional,
dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar.
Jakarta: Pusat Antar Universitas.
Vembriarto. (1981). Pengantar pengajaran modul.
Yogyakarta: Pendidikan Paramita.
Supriyoko. (2004). Studi aspirasi masyarakat tentang
penyelenggaraan ujian nasional. Yogyakarta: Laporan
Penelitian Lembaga Studi Pembangunan Indonesia.
Yulisma.
(2005).
Upaya
memperbaiki
dan
meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola
pembelajaran: bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.
Jurnal Mimbar Pendidikan, 24, 42.
Suryosubroto. (1983).
Jakarta: Bina Aksara.
Woolfolk, A.E. (1993). Educational psychology (5th
ed.). USA: Allyn & Bacon.
Sistem
pengajaran
modul.
Download