BAB II TINJAUAN PUSTAKA

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LSL (Laki-laki Seks Laki-laki) dan Homoseksualitas
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Homoseksual
Istilah homoseksual pertama kali diciptakan pada abad ke 19 oleh seorang
psikolog Jerman yang bernama Karoly Maria Benkert. Homo sendiri berasal dari
kata yunani yang berarti sama dan seks yang berarti jenis kelamin. Istilah ini
menunjukkan adanya ketertarikan secara emosional maupun seksual terhadap sesama
jenis kelamin, misalnya pria menyukai pria atau wanita menyukai wanita. Walaupun
istilah ini tergolong baru tetapi diskusi tentang seksualitas dan homoseksualitas telah
dimulai sejak zaman Yunani kuno pada diskusi filosofis Symposium Plato dengan
teori Queer Kontemporer. Hal yang timbul dari sejarah tersebut adalah ide hukum
alam dan beberapa interpretasi hukum yang melarang homoseksual. Dengan
munculnya gerakan pembebasan gay di era pembebasan gay pasca-Stonewall,
perspektif terang-terangan gay dan lesbian mulai diajukan dalam bidang politik dan
filsafat (Stanford, 2011).
Pada abad ke-20 berlangsung huru-hara Stonewall ketika kaum waria dan gay
melawan represi polisi yang khususnya terjadi pada sebuah bar. Perlawanan ini
merupakan langkah awal dari waria dan gay dalam mempublikasikan keberadaan
mereka. Serta muncul pula gejala penyakit baru yang kemudian dinamakan AIDS.
9
10
Penyakit ini pertama kali ditemukan di kalangan gay di kota kota besar Amerika
Serikat, kemudian ternyata diketahui bahwa HIV adalah virus penyebab AIDS
Penularan HIV pertama kali ditularkan melalui hubungan seks anal antar laki-laki
(Stanford, 2011).
Di Indonesia sendiri pada tahun 1982 telah muncul organisasi gay terbuka,
yang merupakan organisasi gay terbuka yang pertama di Indonesia, setelah itu diikuti
dengan organisasi lainnya seperti Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY), Indonesian
Gay Society (IGS), dan GAYA NUSANTARA (GN) Surabaya. Setelah banyaknya
kemunculan-kemunculan tersebut, organisasi gay mulai menjamur di berbagai kota
besar seperti di Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Denpasar, Malang dan Ujung Padang.
Sebenarnya beberapa laki-laki menyadari bahwa dirinya homoseksual atau
gay. Mereka melakukan hubungan seksual jangka panjang dengan wanita dan
kadang-kadang melakukan hubungan seks dengan pria dan sering tanpa diketahui
pasangan wanitanya. Dalam kasus ini, hubungan seks mungkin dilakukan antar pria,
karena memang hanya pria saja yang tersedia sebagai pasangan seks. Perilaku
homoseksual juga sudah dikenal manusia sejak zaman Nabi Luth, yaitu kaum Sodom
dan Gomorah. Hingga kini keberadaannya tetap ada, bahkan Amerika Serikat dan
beberapa Negara Eropa seperti Belanda dan Denmark, justru telah mensahkan
perkawinan sejenis (Rhamadani, 2010).
Dalam publikasi National Academy of Science tahun 1991 mengenai sejarah
homoseksual diceritakan adanya upaya ilmuwan menguak tabir homoseksual yang
pernah dilakukan. Pada tahun 1991, ilmuwan dari California melaporkan hasil CT
scaning (penyinaran) terhadap otak pria gay dan pria bukan gay, yang ternyata
berbeda. Kemudian tahun 1993, ilmuwan dari National Institut of Health (N.I.H.) di
11
Marylnd Amerika menemukan adanya unsur DNA pada kromosom X yang
menentukan orientasi seksual seseorang.
Sementara itu, temuan menggemparkan terjadi dalam riset yang dikemukakan
Ward dari N.I.H. dalam eksperimennya, mereka menggunakan sejumlah lalat yang
telah ditransplantasi gen tunggal. Kemudian kumpulan lalat tersebut dimasukan ke
dalam botol. Hasilnya menunjukkan, lalat betina cenderung berada pada bagian atas
dan bawah botol. Sedangkan lalat jantan hanya berada pada bagian tengah dan
membentuk ikatan rantai atau bergerombol. Yang menakjubkan, lalat jantan ternyata
berperilaku homoseksual, sedangkan lalat betina tidak (Ward, 1995).
Laporan tersebut kemudian menjadi rujukan sejumlah ilmuwan bahwa
perilaku homoseksual memiliki asal usul genetik atau sifat alami (natural), sama
seperti warna kulit, rambut, mata dan lain-lain. Namun demikian, hasil riset itu masih
menyisakan pertanyaan, mengapa lalat jantan itu berperilaku homoseksual,
sedangkan lalat betina tidak. Dan sampai saat ini banyak perdebatan mengenai
penyebab dan asal-usul orientasi homoseksual dapat terjadi pada manusia, dan masih
belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Berdasarkan pada Pedoman dan Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa
(PPDGJ), perilaku homoseksual merupakan gangguan kejiwaan yang muncul
berdasarkan faktor genetik. Tetapi dalam perkembangannya homoseksual bukan lagi
dianggap sebagai gangguan kejiwaan yang timbul dari pola asuh orang tua dalam
keluarga, namun lebih kepada faktor lingkungan yang mendorong seseorang untuk
berorientasi homoseksual. Dalam lima tahun belakangan ini faktor lingkungan sosial
lebih mempengaruhi orientasi homoseksual mulai dari karir atau pekerjaan,
12
komunitas orang yang bergabung dalam klub-klub tertentu serta dengan diikuti
kejadian-kejadian yang membuat traumatik seseorang (Chaerunnisa, 2008).
Barulah kemudian setelah sejumlah penemuan ilmiah terutama oleh American
Psychiatric Association (APA) tahun 1970, semakin menguatkan teori bahwa
homoseksual bukanlah suatu penyimpangan psikologis, juga bukan penyakit, dan
bukan pula sesuatu yang abnormal sebagaimana dipahami oleh sebagian besar
masyarakat selama ini, melainkan suatu keberagaman orientasi seksual seseorang
(Mulia, 2010 : 17).
2.1.2 Pengertian
1. Pengertian Seks dan Seksualitas
Masyarakat kebanyakan sudah pernah mendengar dan menyebut kata Seks,
namun belum mengetahui apa arti kata Seks yang sesungguhnya. Banyak yang
menganggap bahwa Seks memiliki arti hubungan badan atau kelamin antara
perempuan dengan laki-laki yang sudah menikah. Dan tidak sedikit pula yang
memandang tabu apabila mendengar kata Seks dan tidak etis membicarakannya.
Padahal kata Seks merupakan kata yang memiliki makna yang sangat
sederhana yaitu jenis kelamin biologis, dimana kata Seks diambil dari bahasa Inggris
yaitu Sex. Atau definisi lengkapnya, Seks adalah perbedaan biologis antara laki-laki
dan perempuan secara kodrati atau yang ada semenjak kita dilahirkan, dimana
perbedaan biologis tersebut yang mencakup perbedaan genetik, anatomi maupun
hormonal yang sifatnya tidak dapat dipertukarkan (Youth Centre PKBI DIY, 2009).
Sedangkan seksualitas mengandung makna yang sangat luas karena
menyangkut aspek kehidupan yang menyeluruh, terkait dengan jenis kelamin
13
biologis (seks) maupun sosial (gender), orientasi seksual, identitas gender, identitas
seksual, erotisme, kesenangan, keintiman, dan reproduksi (Plu Satu Hati, 2009).
Seksualitas adalah sebuah proses sosial yang menciptakan dan mengarahkan
hasrat atau birahi manusia (the socially constructed expression of erotic desire), dan
dalam realitas sosial, seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis,
psikologis, sosial, ekonomi, politik, agama dan spiritual (Rhamadani, 2010). Dimana
seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan
atau nilai-nilai, kebiasaan, dan tingkah laku. Seksualitas sejatinya merupakan hal
yang positif, selalu berhubungan dengan jati diri seseorang dan juga kejujuran
seseorang terhadap dirinya. Sayangnya, masyarakat umumnya masih melihat
seksualitas sebagai hal yang negatif, sehingga tidak pantas atau tabu dibicarakan (Plu
Satu Hati, 2009).
2. Pengertian Sistem dan Dimensi Seksualitas
Menurut Whisik dan Pierce dalam Praptoraharjo (1998) menggambarkan
mengenai sistem seksualitas manusia mencakup konteks seks, identitas seksual,
identitas gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Berikut penjelasannya:
a. Identitas seksual merupakan penerimaan seseorang terhadap kategori jenis
kelamin tertentu, apakah seseorang mengaku sebagai laki-laki atau
perempuan. Dimana penerimaan terhadap identitas seksual tidak selalu
berkaitan dengan jenis kelamin biologis orang bersangkutan. Identitas seksual
ini ada beberapa macam, yang dikenal masyarakat umum adalah identitas
seksual sebagai laki-laki dan perempuan. Namun ada beberapa identitas
seksual lainnya, seperti:
14
1) Transseksual merupakan seseorang yang hidup atau menginginkan
hidup sebagai lawan dari jenis kelamin yang dimilikinya. Biasanya
seseorang baru disebut transseksual ketika sudah bergati kelamin.
2) Questioning merupakan istilah yang biasa digunakan bagi seseorang
yang sedang dalam proses mempertanyakan siapa dirinya, apa
identitas seksualnya termasuk apa orientasi seksualnya.
3) Interseksual merupakan seseorang yang memiliki kelamin ganda atau
yang sering disebut dengan Hermafrodit. Dimana penentuan
kecondongan dari identitas seksualnya nanti adalah sangat tergantung
dari pandangan dan identifikasi diri seseorang tersebut.
4) Queer merupakan istilah yang muncul untuk merangkul banyaknya
variasi seksualitas manusia yang tidak bisa ataupun tidak mau
dimasukkan dalam satu kelompok tertentu.
b. Identitas gender merupakan definisi kelaki-lakian atau keperempuanan yang
dikontruksikan secara kultural. Identitas gender ini diterima oleh seseorang
serta terwujud dalam tindakan, perilaku, dan nilai-nilai pribadi. Identitas
gender diperoleh seseorang melalui proses sosialisasi gender yang dialami
mulai dari lahir hingga pengakuan terhadap dirinya sebagai laki-laki atau
perempuan, maskulin atau feminin, yang semuanya berada dalam konteks
kultural dari orang yang bersangkutan. Selain itu ada yang namanya
transgender atau waria merupakan seseorang yang hidup atau menginginkan
hidup sebagai anggota gender yang lain. Seorang transgender tidak
menginginkan pergantian alat kelamin. Dan apabila terdapat kecenderungan
15
bahwa dia tidak mengidentifikasikan gendernya sebagai laki-laki ataupun
perempuan, hal tersebut dinamakan Androgenous (Plu Satu Hati, 2009).
c. Orientasi seksual menurut Youth Centre PKBI DIY (2009) merupakan
ketertarikan secara emosional dan seksual terhadap jenis kelamin tertentu.
Dimana secara garis besar ada tiga macam orientasi seksual yaitu:
1) Heteroseksual merupakan ketertarikan secara emosional dan seksual
terhadap lawan dari jenis kelaminnya.
2) Homoseksual merupakan ketertarikan secara emosional dan seksual
terhadap sesama jenis kelaminnya. Apabila seorang perempuan
memiliki ketertarikan baik secara emosional maupun seksual dengan
perempuan lainnya maka dia disebut dengan Lesbian. Sedangkan
apabila laki-laki memiliki ketertarikan baik secara emosional maupun
seksual dengan laki-laki lainnya disebut dengan Gay.
3) Biseksual merupakan ketertarikan secara emosional dan seksual
terhadap sesama dan lawan jenis kelaminnya baik dalam waktu yang
bersamaan ataupun dalam yaktu yang berlainan.
d. Perilaku Seksual merupakan cara seseorang bertindak atau berperilaku secara
seksual maupun erotis dalam melakukan aktivitas seksual. Perilaku seksual
mencakup orang-orang yang melakukan keintiman dengan orang lain maupun
dirinya sendiri (autoseksual) dan juga mencakup perilaku yang diarahkan
untuk memperoleh kenikmatan erotis. Menurut Rhamadani tahun 2010,
perilaku seksual terdiri atas dua yakni hubungan seksual (intercourse) dan
selain hubungan seksual (non intercourse). Perilaku seksual selain hubungan
seksual
(non
intercourse)
diantaranya
seperti
berpegangan
tangan,
16
berpelukan, berciuman dan masturbasi. Sedangkan yang termasuk hubungan
seksual (intercourse) yakni :
1) Orogenital
merupakan
hubungan
seksual
dengan
melakukan
rangsangan melalui mulut pada organ seks pasangannya. Orogenital
disebut juga oral seks yang berarti hubungan seksual secara oral
(mulut) dengan alat kelamin. Jika yang melakukan oral seks adalah
laki-laki, sebutannya cunnilingus. Sedangkan jika yang melakukan
oral seks adalah perempuan maka sebutannya fellatio.
2) Anogenital merupakan hubungan seksual yang dilakukan dengan
memasukkan penis ke dalam anus atau anal, sehingga anogenital
disebut juga dengan anal seks.
3) Genitogenital merupakan hubungan seksual yang dilakukan antara
kelamin dengan kelamin yaitu hubungan seksual yang memasukkan
penis ke dalam vagina atau hubungan seksual secara vaginal.
3. Pengertian LSL
Menurut CDC (Centers Diseases Control and Prevention) pada sistem
surveilansnya tahun 2009, terminologi Men Who Have Sex With Men (MSM), yang
dalam Bahasa Indonesia disebut LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki), mengindikasi
perilaku seksual pada LSL yang dapat menularkan HIV, dan tidak tidak ada
korelasinya dengan identitas seksual, identitas gender, dan orientasi seksual.
Jadi dengan kata lain pengertian LSL tidak dilihat dari latar belakang identitas
dan orientasi seksualnya melainkan dilihat dari perilaku dan pasangan seksualnya.
Hal tersebut berarti tidak memikirkan apakah seseorang
adalah gay, biseksual,
17
maupun laki-laki heteroseksual, ketiganya dapat dimasukkan dalam kategori LSL,
apabila mereka sudah pernah melakukan hubungan seksual (oral maupun anal seks)
dengan laki-laki lainnya baik dengan alasan finansial, hasrat sensual, karena cobacoba dan berbagai motif seksual lainnya.
Hampir sama seperti yang diklasifikasikan oleh YGD Bali bahwa LSL yang
dijangkau adalah termasuk laki-laki gay, biseksual, heterosekual ataupun laki-laki
yang memiliki pekerjaan sebagai PSL termasuk pelangan dari PSL tersebut.
Kebanyakan individu dan masyarakat berfikir bahwa orientasi heteroseksual
dan homoseksual adalah pola yang berbeda dan dapat mudah didefenisikan.
Kenyataannya, kecenderungan akan pasangan seksual dari jenis kelamin yang sama
tidaklah selalu merupakan keputusan yang tetap dapat dibuat sekali dan mengikat
untuk selamanya. Sebagai contoh, tidaklah jarang bagi seorang individu, terutama
laki-laki untuk melakukan eksperimen homoseksual di masa remaja, namun tidak
melakukan menjadi homoseksual di masa dewasa. Sementara beberapa individu
menjadi heteroseksual di masa remaja, namun kemudian menjadi homoseksual di
masa dewasa (Halonen dan Santrock, 1996).
Dari ulasan di atas, berarti orientasi seksual seseorang dapat berubah-ubah
sesuai dengan keadaaan. Maka dari itu kemungkinan besar seorang laki-laki dapat
berperilaku sebagai LSL. Seperti yang dimuat dalam tulisan Boellstorff tahun 2010
yang mengatakan bahwa ribuan laki-laki di Indonesia telah teridentifikasi pernah
melakukan hubungan dengan laki-laki lainnya. Namun sebenarnya, apapun alasan
seseorang berperilaku sebagai LSL, namun yang paling penting adalah bagaimana
agar perilaku tersebut tidak menjadi perilaku seksual yang berisiko terkait penularan
18
HIV, sehingga tidak akan terjadi pembedaan atau diskriminasi di masyarakat, karena
pada dasarnya setiap manusia berhak memilih perilaku dan pasangan seksualnya.
2.1.3 Perilaku Penggunaan Kondom di Kalangan LSL
1. Perilaku Barebacking Sex di Kalangan LSL
LSL sering dikaitkan dengan risiko penularan HIV, bukan karena orangnya,
melainkan cara berhubungan seksual dan faktor risiko lainnya yang menjadikan
kelompok LSL merupakan kelompok yang berisiko tinggi atau menjadi populasi
kunci dalam penularan dan penyebaran HIV.
Perilaku seksual berisiko yang dimaksud adalah berhubugan anal seks dengan
tidak menggunakan kondom dan pelicin serta kecenderungan kelompok LSL untuk
berganti-ganti pasangan seksual sangatlah tinggi, hal tersebut dikarenakan tidak
adanya hubungan atau ikatan atau status yang jelas diantara kelompok LSL.
Walaupun bukan hanya kelompok LSL saja yang bisa melakukan anal seks dan tidak
memakai kondom saat berhubungan seksual, namun kelompok LSL sangat
mendominasi perilaku berisiko tersebut.
Menurut laporan terakhir dari Bimbi dan Parsons tahun 2005 menyebutkan
bahwa sebagian besar dari kelompok LSL sudah meninggalkan praktik-praktik atau
perilaku seksual yang aman dengan mencari secara aktif pasangan seks laki-laki
lainnya dengan tujuan untuk Unprotected Anal Intercourse (UAI), yang merupakan
perilaku berisiko untuk penularan HIV yang secara umum disebut dengan
Barebaking. Istilah ‘Barebacking’ muncul di kalangan komunitas gay di pertengahan
tahun 1990, dan sebuah penelitian menyebutkan bahwa para gay telah mengerti
19
bahwa Barebacking merupakan perlaku anal seks tanpa menggunakan kondom yang
dilakukan karena kesengajaan (Halkitis and Parsons, 2003).
Dengan demikian, walaupun perilaku seksual memiliki kesamaan sampai
pada level fisik, namun dalam literatur akademis menyebutkan bahwa Bareback Seks
berbeda dari UAI dalam hal kesengajaan melakukannya. Beberapa literatur telah
menyebutkan bahwa Barebacking kemungkinan mewakili perbedaan terhadap tipetipe pengalaman seksual dari perilaku seksual berisiko lainnya.
Akan tetapi, walaupun para peneliti telah secara relatif konsisten dalam
menggunakan istilah Barebacking sebagai perilaku anal seks yang tidak aman (tidak
menggunakan kondom) dan disengaja yang dilakukan dengan para partner kasual
(bukan partner seks tetap) yang berhubungan dengan risiko penularan HIV, namun
pengertian dari Barebacking selalu berubah setiap saat. Namun persepsi di dalam
komunitas LSL mengartikan secara sederhana bahwa Barebacking sebagai anal seks
yang tidak menggunakan kondom (Parsons dan Bimbi, 2007 : 277).
2. Rendahnya Penggunaan Kondom di Kalangan LSL
Kondom merupakan metode yang paling baik untuk melindungi diri dari
penularan HIV (Davis dan Weller, 1999), dan kondom mempunyai potensi yang
besar untuk menjaga agar epidemi HIV tidak lebih meluas asalkan dipakai secara
konsisten (Walque dan Kline, 2009). Penggunaan kondom secara berkelanjutan
menjadi hal yang sangat penting untuk menurunkan insiden penyakit di kalangan
masyarakat yang telah seksual aktif, dan promosi mengenai penggunaan kondom
yang benar dan konsisten merupakan pondasi pencegahan HIV di seluruh dunia. Dari
semua penyebab kegagalan kondom, dapat diperhitungkan dan diestimasikan bahwa
20
efektifitas pemakaian kondom secara konsisten untuk pencegahan HIV yang
menduduki penyebab kegagalan paling utama yaitu sebesar 90% ke atas
(Westercamp, 2009: 3).
Di Indonesia sendiri menurut STBP tahun 2011 mengatakan bahwa
penggunaan Kondom konsisten masih tetap rendah untuk setiap tipe pasangan
seksual dan LSL yang mengalami kondom robek pada saat digunakan berhubungan
seksual cenderung meningkat. Kisaran kuantitatif dapat dilihat dalam Grafik 2.1.
Sumber: STBP 2011
Grafik 2. 1 Pemakaian Kondom di Kalangan LSL menurut STBP 2011
Sebesar 88% LSL mengaku pernah menggunakan kondom pada saat
melakukan hubungan seks anal dengan pria. 54% LSL menggunakan kondom pada
saat hubungan seks anal terakhir dengan pria, dan 22% menggunakan kondom secara
konsisten pada seks anal satu bulan terakhir. Kurang dari satu pertiga LSL
menggunakan kondom secara konsisten pada setiap tipe pasangan seksualnya.
Kisaran 66% LSL (Bandung) dan 94% (Malang) melakukan seks anal secara reseptif
21
selama sebulan terakhir, sedangkan proporsi LSL yang mengaku melakukan seks
anal secara insertif selama sebulan terakhir terendah di Bandung yaitu 71% dan
tertinggi di Semarang yaitu 99%.
Sebanyak 21% LSL menggunakan kondom secara konsisten pada hubungan
seks anal secara reseptif satu bulan terakhir. 23% LSL menggunakan kondom secara
konsisten pada hubungan seks anal secara insertif dalam satu bulan terakhir. Dan
12% LSL mengalami kondom robek pada saat digunakan ketika berhubungan seks
selama tiga bulan terakhir. Angka tersebut cenderung meningkat bila dibandingkan
dengan hasil STBP 2007 untuk kota yang sama.
Situasi pemakaian kondom di Bali, menurut Survei Perilaku Populasi Paling
berisiko dan Kepuasan Layanan di Bali tahun 2010 untuk LSL adalah sering
mengalami kenaikan dan penurunan setiap tahunnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam
Grafik 2.2, Grafik 2.3 dan Grafik 2.4.
100
80
79
58
60
42
40
20
20
Ya
Tidak
0
2009
2010
Sumber: Survei Perilaku Populasi Paling berisiko dan Kepuasan Layanan di Bali tahun 2010
untuk LSL
Grafik 2. 2 Presentase LSL berdasarkan Pembelian Kondom Sebulan Terakhir Tahun
2009 dan 2010
22
Dari Grafik 2.2 terlihat bahwa terdapat penurunan pembelian kondom dari
tahun 2009 ke tahun 2010. Dan pada Grafik 2.3 memperlihatkan bahwa
ketidakmudahan mendapatkan kondom di kalangan LSL cenderung meningkat dari
tahun 2009 ke tahun 2010. Dan pada Grafik 2.4 memperlihatkan masih rendahnya
pemakaian kondom baik pada pasangan tetap maupun tidak tetap cenderung masih
sangat rendah atau belum mencapai 50%.
Sumber: Survei Perilaku Populasi Paling berisiko dan Kepuasan Layanan di Bali tahun 2010
untuk LSL
Grafik 2. 3 Presentase LSL berdasarkan Kemudahan Mendapatkan Kondom Tahun
2009 dan 2010
23
64%
42%
47%
Pasangan Tetap
Pasangan Tidak Tetap
Semua Pasangan
2009
2010
Sumber: Survei Perilaku Populasi Paling berisiko dan Kepuasan Layanan di Bali tahun 2010
untuk LSL
Grafik 2. 4 Persentase Pemakaian Kondom Konsisten pada LSL dalam Sebulan
Terakhir, Tahun 2009 dan 2010
3. Faktor Risiko Rendahnya Pemakaian Kondom di kalangan LSL
Menggunakan atau tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan
seksual di kalangan LSL dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Dari sekian banyak
literatur dan penelitan yang meneliti tentang faktor risiko yang berhubungan atau
mempengaruhi pemakaian kondom saat berhubungan seksual di kalangan LSL, maka
dapat dirangkum dalam beberapa poin, yaitu:
a. Konsumsi dan penyalahgunaan substansi tertentu
Konsumsi dan penyalahgunaan substansi ini berhubungan dengan
kegiatan sebelum dilakukannya hubungan seksual. Substansi tersebut berupa
alkohol, obat-obatan terlarang, obat perangsang maupun obat penambah
stamina yang dikonsumsi oleh LSL maupun pasangan seksualnya secara
bersamaan maupun terpisah, sebelum melakukan hubungan seksual. Alkohol
24
merupakan substansi yang paling lazim digunakan dalam konteks hubungan
seksual, akan tetapi menghubungkan konsumsi alkohol dengan konteks faktor
risiko hubungan seksual telah menghasilkan hasil yang berbeda-beda. Di
beberapa studi menemukan bahwa minum alkohol berhubungan dengan
angka risiko perilaku seksual, akan tetapi di studi-studi lainnya tidak
ditemukan hubungan antara konsumsi alkohol dengan peningkatan risiko
dalam berhubungan seksual (Kalichman, 2003).
Dalam penelitian yang dilakukan Berg tahun 2007, yang meneliti
kelompok Barebacking Sex dan Non-Barebacking Sex. Dari penelitian
tersebut mengungkapkan bahwa kelompok MSM atau LSL, yang
mengidentifikasi dirinya sebagai Barebacker lebih sering mengonsumsi
alkohol, narkoba ataupun obat perangsang dan penambah stamina sebelum
berhubungan seksual daripada kelompok Non-Barebacker.
Dalam studi lain yaitu studi yang mencari determinan terhadap
hubungan antara sensation seeking, konsumsi alkohol dan perilaku seksual
berisiko di kalangan laki-laki gay dan biseksual, menemukan bahwa
konsumsi alkohol berhubungan dengan UAI pada pasangan seksual kasual
(Dolezal et al., 2000). Karena berada di bawah pengaruh alkohol, narkoba
dan obat perangsang, maka kebanyakan manusia tidak akan berpikir dengan
jernih, termasuk berpikir untuk menggunakan kondom saat berhubungan
seks, walaupun tingkat pengetahuannya tinggi dan kondom selalu tersedia di
dalam sakunya. Apalagi hal tersebut diperkuat dengan adanya norma
kelompoknya untuk melakukan Unprotected Sex (Parsons dan Bimbi, 2007:
277-287). Sensation Seeking erat kaitannya dengan konsumsi substansi yang
25
telah dijelaskan di atas karena dengan mengonsumsi substansi-substansi
tersebut dapat menstimulasi dan meningkatkan sensasi seksual yang
disesuaikan dengan karakteristik personal seseorang.
b. Internet Sexual Seeking and Risk Taking
Konteks dari seleksi pasangan dan negosiasi seksual
yang
berlangsung telah mengalami perubahan atau revolusi dengan adanya
internet. Beberapa studi telah mendemonstrasikan bahwa individual yang
berisiko terhadap infeksi HIV menggunakan pencarian online dan sukses
menemukan banyak pasangan seksual (Horvath et al. 2006: 1-2).
Seperti yang pernah dilaporkannya bahwa hampir 16% orang dewasa
yang berkunjung di Public Helath Clinic di Colorado, telah menggunakan
internet untuk mencari pasangan seksual. Studi lain juga melaporkan bahwa
65% orang diindikasi pernah berhubungan seksual dengan pasangan sesual
yang mereka temui di internet.
Kelompok LSL yang posistif HIV memiliki riwayat hubungan seksual
lebih sering melakukan UAI (Unprotected Anal Intercourse) (Halkitis et all,
2003). Dan untuk mendapatkan pasangan seksual mereka memanfaatkan
jejaring sosial dan internet yang bertujuan untuk menemukan pasangan yang
berbeda-beda yang disebut dengan Sexual Sensation Seeking. Kelompok LSL
yang mengidentifikasikan diri sebagai kelompok Barebacker memiliki skor
yang lebih tinggi yang mengindikasikan tingginya kecenderungan untuk
melakukan Sexual Sensation Seeking, setelah diukur menggunakan SSSS
(Sexual Sensation Seeking Scale) (Kalichman et al, 1994).
26
Fenomena penggunaan intenet untuk mencari dan bertemu pasangan
seksual lebih banyak terjadi di kalangan gay dan biseksual daripada di
kalangan pasangan heteroseksual. Para peneliti telah mulai mengidentifikasi
apakah pencarian seksual secara online berhubungan dengan perilaku seksual
berisiko dengan melihat banyak penemuan yang bertentangan satu sama
lainnya.
Salah satu penelitian melaporkan adanya hubungan antara UAI, yang
merupakan perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, dengan pencarian
pasangan melalui media online dan offline, namun hasilnya masih samarsamar. Banyak lagi penelitian yang saling bertentangan yang menyebutkan
bahwa ada ataupun tidak ada hubungannya penggunaan internet untuk
mencari dan bertemu pasangan seksual dengan perilaku seksual berisiko
seperti UAI secara pasti.
c. Type of Sexual Partnership
Pasangan seksual memiliki tipe yang berbeda tergantung persepsi,
kebutuhan dan besar kecilnya emosi yang dilibatkan dalam hubungan
tersebut. Ada beberapa tipe pasangan seksual yaitu diantara pasangan seksual
tetap, kasual (tidak tetap), dan komersial. Pasangan seksual tetap merupakan
pasangan reguler atau pasangan utama dari banyak pasangan yang dimilki
oleh seorang LSL.
Pasangan seksual tetap dikatakan sebagai satu variabel yang terkuat
diprediksikan menyebabkan terjadinya UAI termasuk di kalangan LSL.
Hubungan seksual dengan pasangan tetap di kalangan LSL selalu ada, namun
memperoleh sorotan yang minimal, kemungkinan wajar menyiratkan asumsi
27
bahwa hubungan seksual sesama jenis adalah hubungan yang bersifat hasrat
dan nafsu belaka daripada hubungan seksual di kalangan heteroseksual,
sehingga menjadikan perilaku tersebut sebagai perilaku yang berisiko karena
cenderung berganti-ganti pasangan, dan hal tersebut kurang dianggap penting
untuk melihat perilaku individu LSL itu sendiri. Padahal faktanya, dalam
studi deskriptif banyak LSL atau laki-laki gay mendiskripsikan dirinya
memiliki pasangan dengan hubungan seksual primer (Crawford, 2003).
Tipe hubungan di kalangan LSL memberikan sebuah isu dalam
pencegahan HIV maupun IMS, termasuk perbedaan antara hubungan seksual
yang berisiko dengan pasangan tetap maupun tidak tetap (kasual), HIV positif
dengan HIV negatif, dan penglibatan emosi dalam hubungan tersebut.
Hubungan seksual dengan pasangan primer di kalangan LSL
kemungkinan memiliki hubungan yang sangat kompleks terhadap perilaku
seksual bersisiko secara nyata. Banyak LSL yang mungkin melakukan
pendekatan dengan membuat suatu hubungan yang spesial dengan
pasangannya yang bertujuan untuk melakukan perilaku seksual yang tidak
aman.
Seperti yang juga terdapat pada penelitian Wolffers tahun 1999, yang
mejelaskan terjadinya perbedaan pemakaian kondom terhadap tipe pasangan
seksual di kalangan WPS, dimana apabila pasangan tersebut merupakan tamu
(pasangan komersial), maka akan lebih cenderung memakai kondom.
Sebaliknya apabila berhubungan seks dengan pasangan tetap, maka
penggunaan kondom akan menurun, dikarenakan saling mengenal dan
memilki kedekatan emosi serta saling mengetahui kesehatan pasangannya.
28
Untuk pasangan seksual komersial dapat berupa hubungan PSL
dengan pelanggannya, ataupun seorang LSL yang berhubungan dengan
pasangan seksualnya dengan tujuan untuk mendapatkan tunjangan ekonomi
maupun penghidupan finansial yang lebih baik.
Menurut studi yang dilakukan di Pakistan, proporsi terbesar yang
menjadi pasangan dari kelompok LSL adalah para PSL. Bertentangan dengan
trend pemakaian kondom di kalangan WPS, proporsi terbesar LSL yang
dilaporkan konsisten memakai kondom saat berhubungan seksual dengan
pasangan seksual yang bukan PSL dibandingkan dengan pasangan seksual
yang merupakan PSL.
Berarti penemuan tersebut menjelaskan bahwa pemakaian kondom
yang konsisten saat berhubungan seksual cenderung pada pasangan seksual
primer daripada pasangan seksual komersial, sehingga penemuan ini menjadi
bertentangan dengan penemuan yang dibahas oleh Crawford tahun 2003 dan
Wolffers tahun 1999. Hal tersebut menyiratkan bahwa karakteristik LSL di
suatu tempat sangat mempengaruhi konsistensi pemakaian kondom saat
berhubungan seksual dengan tipe-tipe pasangan seksual tertentu.
2.1.4 Kesehatan Seksual dan Reproduksi pada LSL
Perilaku Barebaking di kalangan LSL merupakan permasalahan kesehatan
masyarakat karena perilaku tersebut dapat mengantarkan pada penularan IMS dan
HIV di kalangan pasangan yang HIV positif kepada yang lainnya. Di USA, angka
IMS seperti Sifilis di kalangan LSL telah meningkat di tahun-tahun terakhir ini dan
29
dari tahun 2003 ke 2004 kasus baru penularan HIV di kalangan LSL meningkat
sebesar 8% (CDC 2006).
Menurut CDC (2011) estimasi angka infeksi baru HIV di USA (Grafik 2.5)
adalah mencapai total 41.540 kasus di masing-masing subpopulasi. Dari estimasi
tersebut, memperlihatkan bahwa LSL mendominasi kasus HIV yaitu sebanyak
28.200 kasus, dimana 11.400 dari LSL berkulit putih, 10.800 LSL berkulit hitam dan
6.000 dari LSL Hispanic.
Mayoritas dari infeksi baru di kalangan LSL berkulit hitam terjadi di
kalangan LSL berkulit hitam muda dengan rentang kelompok umur 13 sampai
dengan 29 tahun yaitu mencapai 6.500 kasus baru. Sedangkan infeksi baru pada LSL
berkulit putih hampir sama di hampir semua kelompok umur (13-29, 30-39, 40-49
tahun) yaitu rata-data 3.200 kasus sampai dengan 3.400 kasus baru. Dan di
subpopulasi LSL Hispanic paling banyak terjadi di kalangan generasi muda 13-29
tahun yaitu sebanyak 2.700 kasus baru.
12.000
11.400
10.800
10.000
8.000
6.000
6.000
5.400
1.200
940
Black
Female…
1.700
Black Male
IDUs
Black
Heterosex…
Black
Heterosex…
Hispanic
MSM
Black MSM
White MSM
0
1.700
White
Heterosex…
2.400
2.000
Hispaninc
Heterosex…
4.000
Sumber: Laporan CDC 2011
Grafik 2. 5 Situasi HIV pada Beberapa Subpopulasi di USA tahun 2008
30
Dalam studi di 21 kota besar di USA tahun 2008, kelompok LSL memiliki
level infeksi HIV yang tinggi dan banyak dari mereka yang terinfeksi tidak
mengetahuinya. Secara garis besar satu dari lima LSL yang berpartisipasi dalam
studi ini telah terinfeksi HIV (19 %). Dan dari mereka yang telah terinfeksi HIV
hampir setengahnya (44%) tidak peduli dengan status HIV-nya. Selain HIV, AIDS
juga mengklaim hidup banyak LSL. Sejak dimulainya epidemi, lebih dari 286.000
LSL meninggal dunia akibat AIDS.
Banyak faktor-faktor yang kompleks yang menyebabkan peningkatan risiko
infeksi HIV menurut laporan CDC tahun 2011, yaitu diantaranya:
1. Prevalensi HIV yang tinggi
Tingginya prevalensi HIV di kalangan laki-laki gay dan biseksual,
memiliki arti bahwa kelompok LSL memiliki risiko yang lebih besar
terhadap penularan dan infeksi HIV di setiap hubungan seksual dengan
pasangan seksualnya, terutama dengan pasangan seskual yang lebih tua.
Untuk LSL muda berkulit hitam yang berhubungan dengan pasangan
seksual berkulit hitam yang lebih tua (yang mana prevalensi HIV-nya
tinggi) juga akan membuat peningkatan risiko infeksi HIV.
2. Kurangnya pengetahuan tentang status HIV
Beberapa studi menunjukkan bahwa individu-individu yang mengetahui
dirinya telah terinfeksi HIV, telah mengambil langkah untuk melindungi
pasangan-pasangan seksual mereka. Namuan belum banyak LSL yang
peduli dengan status HIV mereka dan kemungkinan tidak mengetahui
dapat dan telah menularkan virus ke LSL lainnya. Selain itu, beberapa
LSL
kemungkinan
membuat
kesalahan
asumsi
atau
memiliki
31
ketidakakuratan informasi tentang status HIV pada pasangan seksual
mereka. Dan sangat sulit memastikan bahwa LSL yang telah seksual aktif
telah melakukan tes untuk HIV paling tidak secara rutin atau di waktuwaktu yang diperlukan.
3. Kepuasan diri terhadap risiko
Di kalangan LSL terutama yang masih muda, kepuasan diri terhadap HIV
kemungkinan memainkan peranan kunci dalam risiko HIV, dimana sejak
para LSL tersebut secara personal tidak memiliki pengalaman dan
pengetahuan tentang epidemi AIDS. Selain itu, ada tantangan lainnya
untuk para LSL termasuk memelihara secara konsisten perilaku seksual
yang aman di setiap waktu, meremehkan risiko personal dan kepercayaan
yang salah yang disebabkan perlakuan terdahulu, dimana mereka
memiliki kepercayaan bahwa HIV bukanlah ancaman kesehatan dalam
jangka panjang. Maka dari itu setidaknya kepada pihak-pihak yang
peduli dan bergerak dalam bidang penanggulangan HIV harus
menjangkau masing-masing generasi dalam kelompok LSL dan
mengembangkan program yang dapat menolong para LSL yang tersisa
atau yang belum terinfeksi terhadap epidemi HIV dan AIDS.
4. Diskriminasi sosial dan isu-isu budaya
Bagi beberapa LSL faktor-faktor
sosial dan ekonomi termasuk
homophobia, stigma dan kurangnya akses ke pelayanan kesehatan
kemungkinan besar dapat meningkatkan perilaku berisiko atau menjadi
halangan untuk mendapatkan pelayanan pencegahan terhadap HIV.
32
5. Penyalahgunaan narkotika
Beberapa LSL menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang yang
berkontribusi untuk meningkatkan risiko infeksi HIV dan beberapa IMS.
Penggunaan substansi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan HIV
melalui perilaku seksual yang berisiko ketika berada dibawah pengaruh
substansi tersebut dan melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril
berganti-gantian.
Di Indonesia sendiri untuk keadaan kesehatan kelompok LSL tidak jauh
berbeda dengan di USA, hanya saja tidak ada pembedaan menggunakan subpopulasi
dan ras warna kulit. Keadaan kesehatan LSL terutama kesehatan seksual dan
reproduksinya dapat dilihat dalam Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP)
tahun 2011 pada LSL yang dilakukan di 5 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta,
Bandung, Semarang, Malang dan Surabaya dengan mengumpulkan data perilaku dan
biologis.
Sumber: STBP 2011
Grafik 2.6 Situasi HIV dan Beberapa IMS di Daerah Jakarta, Bandung, Surabaya dan
Malang
33
Dari laporan STBP 2011 diketahui bahwa LSL di Indonesia diestimasikan
berjumlah antara 432.729 sampai dengan 1.358.572 dengan rata-rata 695.026 pada
tahun 2009. Dalam Grafik 2.6 memperlihatkan bahwa prevalensi IMS masih tinggi
dan terjadi peningkatan prevalensi Sifilis dan HIV dua sampai dengan lima kali
dibanding tahun 2007.Prevalensi IMS seperti Klamidia dan Gonore rektal berkisar
antara 25% di Surabaya dan 46% di Bandung. Prevalensi Sifilis paling tinggi
terdapat di Jakarta (17%) dan terendah di Malang (3%). Prevalensi HIV diantara LSL
berkisar dari 2.4% di Semarang sampai yang tertinggi 17% di Jakarta.
2.2 Konsep Perilaku Kesehatan
2.2.1 Batasan Perilaku: Teori S-O-R Skiner
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup
yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari segi biologis semua makhluk termasuk
binatang dan manusia, mempunyai aktivitas masing-masing. Manusia sebagai salah
satu makhluk hidup mempunyai bentangan kegiatan yang sangat luas, sepanjang
kegiatan
yang
dilakukannya.
Secara
singkat,
aktivitas
manusia
tersebut
dikelompokan menjadi dua yakni, aktivitas-aktivitas yang diamati oleh orang lain
misalnya berjalan, bernyanyi, tertawa, dan sebagainya, serta aktivitas yang tidak
dapat diamati orang lain (dari luar) misalnya berpikir, berfantasi, bersikap, dan
sebagainya.
Skinner (1938), seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku
merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Dengan demikian, perilaku manusia terjadi melalui proses “Stimulus  Organisme
34
 Respons”, sehingga teori Skiner ini disebut teori “S-O-R” (stimulus-organismerespons). Selanjutnya, teori Skiner menjelaskan adanya dua jenis respons, yaitu :
a. Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut elicting stimuli,
karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. Misalnya makanan
lezat akan menimbulkan nafsu untuk makan, cahaya terang akan
menimbulkan reaksi mata tertutup, dan sebagainya. Respon-dent respons juga
mencakup perilaku emosional, misalnya mendengar berita musibah akan
menimbulkan rasa sedih, mendengar berita suka atau gembira akan
menimbulkan rasa suka cita.
b. Operant respons atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan
berkembang kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang lain.
Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer,
karena berfungsi untuk memperkuat respon. Misalnya, apabila seorang
petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik adalah sebagai respon
terhadap gaji yang cukup. Kemudian karena kerja baik tersebut, menjadi
stimulus untuk memperoleh promosi pekerjaan. Jadi, kerja baik tersebut
sebagai reinforcer untuk memperoleh promosi pekerjaan.
Berdasarkan teori “S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu :
a. Perilaku tertutup (Covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang
masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan, dan
35
sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobsevable behavior”
atau “covert behavior” yang dapat diukur dari pengetahuan dan sikap.
Contohnya, ibu hamil tahu pentingnya periksa hamil untuk kesehatan bayi
dan dirinya sendiri (pengetahuan), kemudian ibu tersebut bertanya kepada
tetangganya dimana tempat periksa hamil yang dekat (sikap).
b. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut
sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau
“obsevable behavior”. Contohnya, seorang ibu hamil memeriksakan
kehamilannya ke Puskesmas atau ke bidan praktik, seorang penderita TB paru
minum obat anti TB secara teratur, seorang anak menggosok gigi setelah
makan, dan sebagainya. Contoh-contoh tersebut adalah berbentuk tindakan
nyata, dalam bentuk kegiatan, atau dalam bentuk praktik (practice).
TEORI “S-O-R”
STIMULUS
ORGANISME
RESPONS
TERTUTUP
Pengetahuan
Sikap
RESPONS
TERBUKA
Praktik
Tindakan
Bagan 2. 1 Teori Stimulus-Organisme-Respons (S-O-R) (Skinner, 1938)
36
2.2.2 Perilaku Kesehatan
Sejalan dengan batasan perilaku menurut Skinner tersebut, maka perilaku
kesehatan (health behavior) merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau
objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman, dan
pelayanan kesehatan.
Dengan perkataan lain perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau
kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat
diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharan dan peningkatan
kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah dan melindungi diri dari
penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari
penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan.
Oleh sebab itu, perilaku kesehatan pada garis besarnya dikelompokkan menjadi dua,
yakni :
a. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat dan meningkat. Perilaku ini
disebut perilaku sehat (healthy behavior), yang mencakup perilaku-perilaku
(overt dan covert behavior) dalam mencegah dan menghindar dari penyakit
dan penyebab penyakit atau masalah, atau penyebab masalah kesehatan
(perilaku preventif), dan perilaku dalam mengupayakan meningkatnya
kesehatan (perilaku promotif).
b. Perilaku orang yang sakit atau telah terkena masalah kesehatan, untuk
memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatannya. Perilaku
ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking behavior).
Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila sakit
37
atau terkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan atau terlepas
dari masalah kesehatan yang dideritanya. Tempat pencarian kesembuhan ini
adalah tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan, baik fasilitas atau pelayanan
kesehatan tradisional (dukun, sinshe, paranormal), maupun pengobatan
modern atau profesional (rumah sakit, puskesmas, poliklinik, dan
sebagainya).
2.2.3 Domain Perilaku
Meskipun perilaku dibedakan antara perilaku tertutup (covert), dan perilaku
terbuka (overt) seperti telah diuraikan sebelumnya, tetapi sebenarnya perilaku adalah
totalitas yang terjadi pada orang yang bersangkutan. Dengan perkataan lain, perilaku
adalah keseluruhan (totalitas) pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan
hasil bersama antara faktor internal dan eksternal.
Perilaku seseorang adalah sangat kompleks, dan mempunyai bentangan yang
sangat luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan,
membedakan adanya 3 area, wilayah, ranah atau domain perilaku ini, yakni kognitif
(cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor). Kemudian oleh para
ahli pendidikan di Indonesia, ketiga domain ini diterjemahkan ke dalam cipta
(kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotor), atau peri cipta, peri rasa, dan peri
tindak.
Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh
Bloom ini, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3
tingkat perilaku sebagai berikut :
38
a. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,
telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan
sampai menghasilkan pengetahuan tersebut dangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera
penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai
intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam
6 tingkat pengetahuan, yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah
ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau
mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaanpertanyaan pemancing ingatan.
2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut,
tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain.
39
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi
bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis
apabila orang tersebut telah dapat membedakan atau memisahkan,
mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan
atas objek tersebut.
5) Sintetis (synthetis)
Sintetis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum
atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponenkomponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintetis adalah
suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini
dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan
sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
b. Sikap (Attitude)
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau
objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan
sebagainya). Jadi di sini dikatakan bahwa sikap itu suatu sindroma atau
40
kumpulan gelaja dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu
melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain.
Newcomb tahun 1935, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan
bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum
merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan
predisposisi perilaku (tindakan atau reaksi tertutup).
STIMULUS
(Rangsangan)
PROSES
STIMULUS
REAKSI
TERBUKA
(Tindakan)
REAKSI
TERTUTUP
(Sikap)
Bagan 2. 2 Komponen Pokok Sikap (Newcomb, 1935)
Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu :
1) Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. Artinya,
bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap
objek. Sikap orang terhadap penyakit kusta misalnya, berarti bagaimana
pendapat atau keyakinan orang tersebut terhadap penyakit kusta.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya
bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang
41
tersebut terhadap objek. Seperti contoh di atas tersebut, berarti
bagaimana orang menilai terhadap penyakit kusta, apakah penyakit yang
biasa saja atau penyakit yang membahayakan.
3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah
merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka.
Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka
(tindakan). Misalnya, tentang contoh sikap terhadap penyakit kusta di
atas adalah apa yang dilakukan seseorang bila ia menderita kusta.
Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Contoh, seorang ibu mendengar
(tahu)
penyakit
demam
berdarah
(penyebabnya,
cara
penularannya,
cara
pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berpikir
dan berusaha supaya keluarganya, terutama anaknya tidak kena penyakit demam
berdarah.
Dalam hal ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu
tersebut berniat (kecenderungan bertindak) untuk melakukan 3M agar anaknya tidak
terserang demam berdarah. Ibu ini mempunyai sikap-sikap tertentu (berniat
melakukan 3M) terhadap objek tertentu yakni penyakit demam berdarah. Seperti
halnya
pengetahuan,
sikap
juga
mempunyai
tingkat-tingkat
berdasarkan
intensitasnya, sebagai berikut:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima
stimulus yang diberikan (objek).
42
2) Menanggapi (responding)
Menanggapi di sini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan
terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang
positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan
orang
lain
dan
bahkan
mengajak
atau
mempengaruhi
atau
menganjurkan orang lain merespon.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab
terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil
sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus bisa mengambil
risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.
c. Tindakan atau praktik (Practice)
Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan
untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab
untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya
fasilitas atau sarana dan prasarana.
Misalkan seorang ibu hamil sudah tahu bahwa periksa hamil itu penting
untuk kesehatannya dan janinnya, dan sudah ada niat (sikap) untuk periksa
hamil. Agar sikap ini meningkat menjadi tindakan, maka diperlukan bidan,
Posyandu, atau Puskesmas yang dekat dari rumahnya, atau fasilitas tersebut
mudah dicapainya. Apabila tidak, kemungkinan ibu tersebut tidak akan
43
memeriksakan kehamilannya. Praktik atau tindakan ini dapat dibedakan
menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yaitu:
1) Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih
tergantung pada tuntutan atau menggunakan panduan.
2) Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan
sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan
mekanis.
3) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme
saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku
yang berkualitas.
2.3 Teori Perilaku Kesehatan
2.3.1 Teori Health Belief Model
The Health Belief Model (HBM) merupakan model psikologikal yang
berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku-perilaku kesehatan dengan
memfokuskan pada sikap dan kepercayaan seseorang. HBM dikembangkan pada
tahun 1950-an sebagai bagian dari upaya dengan cara sosial psikologis di United
States Public Health Services, untuk menjelaskan kurangnya partsipasi masyarakat
dalam skrining kesehatan dan program-program pencegahan. Sejak saat itu, HBM
telah diadaptasi untuk meneliti variasi dari perilaku kesehatan baik jangka panjang
44
maupun jangka pendek, termasuk perilaku seksual yang berisiko dan penularan HIV
dan AIDS.
Teori HBM dikembangkan oleh banyak ahli seperti Hochbaum (1958) dan
Rosentock (1960). Dan di tahun-tahun ke belakang teori ini disempurnakan lagi oleh
Kirscht dan Becker (1974). Berdasarkan teori ini maka ada beberapa pertimbangan
yang menentukan perubahan perilaku kesehatan seseorang yaitu:
1. Perceived Susceptibility, yang berarti anggapan akan adanya ancaman
penyakit yang bisa menimpa seseorang. Ini berarti bahwa seseorang baru
akan bertindak jika telah merasakan adanya ancaman suatu penyakit
terhadap dirinya.
2. Perceived Severity, yaitu pertimbangan terhadap tingkat keseriusan suatu
ancaman, dimana makin serius suatu ancaman penyakit makin kuat
dorongan seseorang bertindak untuk menghindarinya.
3. Perceived Benefits, yaitu pertimbangan keuntungan yang selalu menjadi
salah satu pertimbangan utama dalam mengambil suatu tindakan. Jika
tindakan
atau
perubahan
perilaku
yang
dianjurkan
dipandang
menguntungkan maka seseorang cenderung akan bertindak atau berubah
perilakuanya. Keuntungan ini bisa berupa pertimbangan bahwa tindakan
atau perilaku yang diambil akan efektif dan efesien dalam menghindari
suatu ancaman.
4. Perceived Barriers, merupakan pertimbangan hambatan yang mungkin akan
dihadapi dalam mengambil suatu tidakan atau perubahan perilaku.
Hambatan tersebut bisa berupa pertimbangan biaya yang mahal,
45
mengandung bahaya, tidak menyenangkan ataupun memakan waktu yang
lama.
5. Other Variables, yaitu variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi
tindakan atau perubahan perilaku seperti faktor umur, pendidikan, psikologi
dan faktor-faktor sosial lainnya.
6. Self Efficacy, poin ini diambahkan oleh Bandura (1977) untuk melengkapi
Health Belief Model. Variabel ini menyangkut kemampuan diri seseorang
untuk bertindak atau mengubah perilakunya. Variabel ini jelas tampak pada
tindakan atau perubahan perilaku yang kompleks. Kebiasaan ini
menyangkut waktu yang lama dan memerlukan ketahanan individu untuk
tetap konsisten terhadap jalan perubahan yang sukar dan memerlukan waktu
yang panjang. Jika perubahan perilaku atau tindakan tersebut sifatnya
sederhana dan dalam jangka waktu yang pendek maka variabel ini tidak
akan tampak jelas peranannya.
Penelitian teori HBM telah dipakai untuk meneliti keberagaman perilaku
kesehatan pada populasi yang berbeda-beda. Dengan kedatangan dari HIV dan
AIDS, teori HBM juga telah digunakan memperoleh pengertian dan pengetahuan
yang lebih baik dari perilaku seksual berisiko (Rosenstock et al., 1994). Di telaah
pustaka dari semua studi tentang teori HBM telah dipublikasikan dari tahun 1974
sampai dengan 1984, Perceived barriers menjadi variabel yang paling berpengaruh
untuk memprediksikan dan menjelaskan kesehatan yang berhubungan dengan
perilaku (Janz dan Becker, 1984).
46
Sociodemographic Factors
(pendidikan, umur, jenis
kelamin, ras, etnik)
Expectations
 Perceived Benefits of
Action
 Perceived Barriers of action
 Perceived Sef-Efficacy to
perform action
Threat
 Perceived Susceptibility
 Perceived severity of illhealth condition
Behavior to reduce threat
base on expectations
Cues to Action
 Media
 Personal
influence
 Reminders
Sumber: Rosenstock I., Strecher, V., and Becker, M. (1994).
Bagan 2. 3 Kerangka Teori Health Belief Model
2.3.2 Teori Stages of Change
Para psikolog mengembangkan teori Stages of Change pada tahun 1992, yang
memiliki lima tahapan yaitu:
1. Precontemplation, yaitu seorang individu memiliki suatu permasalahan dan
memiliki kesadaran untuk berubah. Dalam prosesnya berisikan pemberian
informasi dan pengetahuan, pemberian role playing dan lainnya.
2. Contemplation yaitu seorang individu mengenal permasalahan dan secara
serius berpikir tentang perubahan. Dimana prosesnya berisikan tentang
evaluasi diri.
47
3. Preparation for Action, yaitu seorang individu mengenal permasalahan dan
bermaksud untuk mengubah perilaku sampai dengan bulan selanjutnya.
Beberapa perubahan perilaku berusaha untuk dilaporkan, seperti penggunaan
kondom secara konsisten. Proses di dalamnya berisikan komitmen atau
kepercayaan dalam kemampuannya untuk berubah.
4. Action, yaitu seorang individu telah menetapkan perubahan perilaku secara
konsisten selama kurang dari enam bulan. Di dalamnya berisikan proses
peguatan manajemen diri serta dukungan sosial.
5. Maintenance, yaitu seorang individu memelihara perilaku barunya tersebut
untuk 6 bulan atau lebih.
2.3.3 Teori Precede – Proceed Model
Lawrence Green dan rekan-rekannya selama satu dasawarsa terakhir,
mengembangkan
Precede-Procede
Model,
yang
sekarang
terkenal
untuk
merencanakan program-program pendidikan kesehatan. Green menganalisis perilaku
manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior
causes) dan faktor luar perilaku (non behavior causes).
Meskipun model ini mendasarkan diri pada Model Kepercayaan Kesehatan
atau Health Belief Model dan sistem-sistem konseptual lain, namun model Precede
merupakan model sejati, yang lebih mengarah kepada upaya-upaya pragmatik
mengubah perilaku kesehatan daripada sekedar upaya pengembangan teori. Green
dan rekan-rekannya menganalisis kebutuhan kesehatan komunitas dengan cara
48
menetapkan lima diagnosis berbeda, yaitu diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi,
diagnosis perilaku, diagnosis pendidikan dan diagnosis administrasi atau kebijakan.
Sesuai dengan perspektif perilaku, fase diagnosis pendidikan dan organisasi
model Precede memberi penekanan pada faktor-faktor predisposisi, pemberdayaan,
dan penguatan. Dua faktor pertama berkaitan dengan anteseden dari suatu perilaku
tersebut, sedangkan faktor penguatan merupakan sinonim dari istilah konsekuen
yang dipakai dalam analisis perilaku.
Fase diagnosis pendidikan dan organisasi menguji hubungan antara kondisi
perilaku dan lingkungan dengan status kesehatan atau kualitas hidup untuk
menentukan apa penyebabnya. Fase ini mengidentifikasi faktor-faktor yang harus
diubah untuk memulai dan mempertahankan proses perubahan perilaku dan
lingkungan. Faktor-faktor ini akan menjadi target antara dari program. Mereka
mungkin terlihat sebagai proses perubahan yang harus dilakukan jika perubahan
perilaku dan lingkungan harus segera terjadi. Selanjutnya perilaku itu sendiri
ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor :
1. Faktor predisposisi (predisposing factors)
Ialah faktor yang mempermudah atau mendasari untuk terjadinya
perilaku tertentu. Merupakan anteseden dari perilaku yang menggambarkan
rasional atau motivasi melakukan suatu tindakan, nilai dan kebutuhan yang
dirasakan, berhubungan dengan motivasi individu atau kelompok untuk
bertindak. Mereka sebagian besar berada dalam domain psikologi.
Secara
umum,
dapat
dikatakan
faktor
predisposisi
sebagai
pertimbangan-pertimbangan personal dari suatu individu atau kelompok yang
mempengaruhi terjadinya suatu perilaku. Pertimbangan tersebut dapat
49
mendukung atau menghambat terjadinya perilaku. Yang termasuk dalam
kelompok faktor predisposisi adalah pengetahuan, sikap, nilai-nilai budaya,
kepercayaan.
a. Keyakinan
Keyakinan adalah suatu bagian dari faktor predisposisi atau sering disebut
sebagai faktor yang berkaitan dengan motivasi seseorang atau kelompok
untuk melakukan segala tindakan. Keyakinan merupakan sebuah pendirian
bahwa suatu fenomena atau obyek bernilai benar atau nyata. Health Belief
Model menjelaskan kaitan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
dengan pola keyakinan tertentu. Model tersebut berdasar asumsi-asumsi
berikut tentang perubahan perilaku :
1) Orang harus mempercayai bahwa kesehatan dirinya terancam. Untuk
penyakit yang tanpa gejala seperti hipertensi atau kanker stadium
awal, orang harus percaya bahwa dirinya dapat terkena dan tidak
merasakan gejalanya.
2) Orang harus meyakini keseriusan kondisi yang akan terjadi akibat
sakit atau ketidaknyamanan yang dideritanya.
3) Dalam menilai keadaan, orang harus mempercayai bahwa keuntungan
yang berawal dari perilaku yang diharapkan menimbulkan biaya dan
ketidaknyamanan, tetapi masih mungkin untuk dilakukan.
4) Harus ada tanda atau sesuatu yang mempercepat orang tersebut
merasa perlu untuk segera melakukan tindakan.
50
b.
Nilai
Budaya merupakan pandangan antar generasi dalam hal menggambarkan
nilai yang diyakini oleh seseorang. Nilai cenderung mengelompok dalam
golongan dan lintas generasi yang mempunyai kesamaan sejarah atau
geografi. Nilai mendasarkan pada apa yang seseorang lakukan dilihat
dari terminologi etika atau moral. Nilai berkisar antara benar dan salah,
baik dan buruk dari perilaku tertentu. Dalam program promosi kesehatan
atau pendidikan kesehatan, seseorang tidak diminta untuk merubah nilai.
Seseorang diminta membantu orang untuk mengenali inkonsistensi antara
nilai yang mereka miliki dengan perilaku mereka.
2. Faktor pemungkin (enabling factors)
Ialah faktor yang memungkinkan untuk terjadinya perilaku tertentu
atau menungkinkan suatu motivasi direalisasikan. Yang termasuk dalam
kelompok faktor pemungkin adalah ketersediaan pelayanan kesehatan,
aksesibilitas dan kemudahan pencapaian pelayanan kesehatan baik dari segi
jarak maupun segi biaya dan sosial serta adanya peraturan-peraturan dan
komitmen masyarakat dalam menunjang perilaku tersebut.
Faktor pemungkin, seringkali merupakan kondisi dari lingkungan,
memfasilitasi dilakukannya suatu tindakan oleh individu atau organisasi. Juga
termasuk kondisi yang berlaku sebagai hambatan dari tindakan itu, seperti
ketiadaan sarana transportasi yang menghambat partisipasi seseorang dalam
program kesehatan. Faktor pemungkin juga meliputi ketrampilan baru yang
diperlukan seseorang, organisasi atau masyarakat untuk membuat suatu
perubahan perilaku atau lingkungan.
51
Faktor pemungkin menjadi target antara dari intervensi program pada
masyarakat atau organisasi. Terdiri dari sumber daya dan ketrampilan baru
untuk membuat suatu tindakan kesehatan dan tindakan organisasi yang
dibutuhkan untuk merubah lingkungan. Sumber daya berupa organisasi dan
aksesibilitas
fasilitas
pelayanan
kesehatan,
petugas,
sekolah,
klinik
penjangkauan atau sumber daya sejenis. Ketrampilan dalam pengaruhnya
terhadap masyarakat, seperti melalui perubahan organisasi dan kegiatan
sosial, dapat memungkinkan tindakan untuk secara langsung mempengaruhi
lingkungan fisik atau lingkungan pelayanan kesehatan.
Faktor pemungkin untuk perilaku pelayanan kesehatan meliputi
sumber daya kesehatan seperti klinik penjangkauan, rumah sakit, ruang gawat
darurat, penyedia layanan kesehatan serta fasilitas dan program lain. Biaya,
jarak, ketersediaan sarana transportasi, jam buka dan lain sebagainya
merupakan faktor yang mempengaruhi aksesibilitas dan ketersediaan fasilitas
pelayanan kesehatan. Kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi faktor
risiko penyakit, baik kondisi yang bersifat sehat maupun tidak sehat.
3. Faktor penguat (reinforcing factors)
Ialah faktor yang memperkuat (atau kadang-kadang justru dapat
memperlunak) untuk terjadinya perilaku tersebut. Merupakan faktor yang
memperkuat suatu perilaku dengan memberikan penghargaan secara terus
menerus pada perilaku dan berperan pada terjadinya pengulangan.
Faktor
penguat
merupakan
konsekuensi
dari
tindakan
yang
menentukan apakah pelaku menerima umpan balik positif dan akan mendapat
dukungan sosial. Hal yang termasuk dalam kelompok faktor penguat meliputi
52
pendapat, dukungan sosial,pengaruh teman, kritik baik dari teman-teman
sekerja atau lingkungan bahkan juga saran dan umpan balik dari petugas
kesehatan.
Faktor ini juga meliputi konsekuensi fisik dari perilaku, yang
mungkin terpisah dari konteks sosial. Sebagai contoh adalah perasaan
nyaman (atau sakit) yang disebabkan oleh latihan fisik. Keuntungan sosial
(contohnya, pengakuan dari orang lain), keuntungan fisik (contohnya
kenyamanan), penghargaan yang dapat diukur (contohnya, keuntungan
ekonomi,
bebas
biaya),
dan
penghargaan
imajinatif
(contohnya,
penghormatan dari orang lain, hubungan dengan orang terhormat yang
mempunyai perilaku yang sama) semuanya memperkuat perilaku. Faktor
penguat juga meliputi konsekuensi yang berlawanan atau hukuman, yang
dapat membawa pada perilaku yang positif.
Beberapa faktor penguat yang memberikan penguatan sosial dapat
menjadi faktor pemungkin jika berubah menjadi dukungan sosial, seperti
bantuan keuangan atau bantuan transport. Penguatan dapat bersifat imajinatif,
seperti meniru suatu perilaku sesudah tertarik dengan seseorang dalam suatu
iklan televisi yang terlihat sangat menikmati perilaku tersebut.
Penguatan bersifat positif atau sebaliknya tergantung pada sikap dan
perilaku orang-orang yang terkait, dan beberapa diantaranya mempunyai
pengaruh yang lebih besar terhadap perilaku. Dukungan sosial atau
masyarakat dapat mendorong tindakan individu untuk bekerja sama atau
bergabung dengan kelompok yang membuat perubahan. Dukungan tersebut
53
dapat berasal dari anggota masyarakat, petugas kesehatan, dan praktisi
promosi kesehatan.
2.3.4 Teori Snehandu B. Karr
Karr seorang staf pengajar Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Perilaku, Universitas California di Los Angeles, mengidentifikasikan adanya 5
determinan perilaku, yaitu:
1. Adanya niat (intention) seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek
atau stimulus di luar dirinya.
2. Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support). Di dalam
kehidupan seseorang di masyarakat, perilaku orang tersebut cenderung
memerlukan legitimasi dari masyarakat sekitarnya. Apabila perilaku tersebut
bertentangan atau tidak memperoleh dukungan dari masyarakat, maka ia akan
merasa kurang atau tidak nyaman. Demikian pula, untuk berperilaku
kesehatan orang memerlukan dukungan masyarakat sekitarnya, paling tidak,
tidak menjadi gunjingan atau bahan pembicaraan masyarakat.
3. Terjangkaunya informasi (accessibility of information), adalah tersedianya
informasi-informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil oleh
seseorang.
4. Adanya otonomi atau kebebasan pribadi (personal autonomy) untuk
mengambil keputusan. Di Indonesia, terutama ibu-ibu, kebebasan pribadinya
masih terbatas, terutama lagi di pedesaan. Seorang istri, dalam pengambilan
keputusan masih sangat tergantung kepada suami.
54
5. Adanya kondisi atau situasi yang memungkinkan (action situation). Untuk
bertindak apa pun memang diperlukan suatu kondisi dan situasi yang tepat.
Kondisi dan situasi mempunyai pengertian yang luas, baik fasilitas yang
tersedia serta kemampuan yang ada. Untuk membangun rumah yang sehat
misalnya, jelas sangat tergantung pada kondisi ekonomi dari orang yang
bersangkutan. Meskipun faktor yang lain masih tidak ada masalah, tetapi
apabila kondisi dan situasinya tidak mendukung, maka perilaku tersebut tidak
akan terjadi.
Secara matematik, teori Karr ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
B = F (bi, ss, Ai, Pa, As)
B = Behavior
F = Fungsi
Bi = Behavior intention
Ss = Social Support
Ai = Accessibility information
Pa = Personal autonomy
Aa = Action situation
2.3.5 Teori Perilaku WHO
Tim kerja pendidikan kesehatan dari WHO merumuskan determinasi perilaku
ini sangat sederhana. Mereka mengatakan, bahwa mengapa seseorang berperilaku,
karena adanya alasan pokok (determinan), yaitu:
55
1. Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling)
Hasil pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan seseorang, atau lebih
tepat diarikan pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau
stimulus merupakan modal awal untuk bertindak atau berperilaku.
2. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang
dipercayai (personal references). Di dalam masyarakat, dimana sikap
paternalistik masih kuat, maka perubahan perilaku masyarakat
tergantung dari perilaku acuan (referensi) yang pada umumnya adalah
para tokoh masyarakat setempat.
3. Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung untuk
terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Kalau dibandingkan
dengan teori Green, sumber daya ini adalah sama dengan faktor
enabling (sarana dan prasarana atau fasilitas).
4. Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap
terbentuknya perilaku seseorang. Telah diuraikan terdahulu bahwa
faktor sosio-budaya merupakan faktor eksternal untuk terbentuknya
perilaku seseorang. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku tiap-tiap etnis
di Indonesia yang berbeda-beda, karena memang masing-masing etnis
mempunyai budaya yang berbeda yang khas.
Dari uraian tersebut, teori tim WHO ini dapat dirumuskan secara matematis sebagai
berikut:
B = F (Tf,, Pr, R, C)
B = Behavior
F = Fungsi
56
Tf = Thoughts and feeling
Pr = Personal references
C = Culture
Dari pengalaman peneliti selama melakukan pengamatan dan petugas di lapangan
(masyarakat), khususnya di pedesaan, dapat disimpulkan adanya urutan terjadinya
perilaku sebagai berikut (khususnya perilaku orang dewasa).
Persepsi
Pengetahuan
Pengalaman
Keyakinan
Fasilitas
Keinginan
Sosio-Budaya
Motivasi
Perilaku
Niat
Sikap
Eksternal
Internal
Respon
Bagan 2. 4 Skema Perilaku Teori Perilaku Menurut WHO
Dari skema tersebut dapat dijelaskan bahwa perilaku terjadi diawali dengan
adanya pengalaman-pengalaman seseorang serta faktor-faktor di luar orang tersebut
(lingkungan), baik fisik maupun non-fisik. Kemudian pengalaman dan lingkuungan
tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini, dan sebagainya, sehingga menimbulkan
motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan niat tersebut yang
berupa perilaku.
Download