5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gastroenteritis

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Gastroenteritis didefinisikan sebagai inflamasi membrane mukosa
lambung dan usus halus (Betz & Linda, 2009). Diare pada dasarnya adalah
frekuensi buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi
yang lebih encer (Nursalam et al, 2008). Diare adalah defekasi encer lebih
dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan/atau lender dalam feses,
sedangkan diare akut sendiri didefinisikan dengan diare yang terjadi secara
mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Sodikin, 2011). Diare
akut didefinisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba
frekuensi defekasi yang sering disebabkan oleh agens infeksius dalam traktus
gastrointestinal (Wong, 2009).
Sehingga dapat disimpulkan dari beberapa pendapat ahli bahwa diare
adalah meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali dengan
konsistensi yang encer atau cair, dan disertai atau tidak disertai oleh lendir
maupun darah yang biasanya disebabkan oleh agen infeksius.
B. Anatomi Fisiologi
Menurut Sodikin (2012), sistem pencernaan terdiri atas sebuah saluran
panjang yang dimulai dari mulut sampai anus (rectum).
5
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
6
1.
Mulut
Mulut merupakan bagian pertama saluran cerna. Bagian atas mulut
dibatasi oleh palatum, sedangkan pada bagian bawah dibatasi oleh
mandibula, lidah, dan struktur lain dari dasar mulut. Bagian lateral mulut
dibatasi oleh pipi. Sementara itu, bagian depan mulut dibatasi oleh bibir
dan bagian belakang oleh lubang yang menuju faring (Sodikin, 2012).
Rongga mulut atau nama lainnya rongga bukal atau rongga oral
mempunyai beberapa fungsi yaitu menganalisis material makanan sebelum
menelan, proses mekanis dari gigi, lidah, dan permukaan palatum,
lubrikasi oleh sekresi saliva, dan digesti pada beberapa material
karbohidrat dan lemak (Simon, 2003 dalam Muttaqin & Kumala, 2011).
2.
Lidah
Menurut Sodikin (2012), lidah tersusun atas otot yang dilapisi, pada
bagian atas dan samping oleh membrane mukosa. Lidah menempati
rongga mulut dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam faring.
Lidah diinervasi oleh berbagai saraf. Bagian sensorik diinervasi oleh
nevrus lingualis, yang merupakan cabang saraf kranial V (trigeminal).
Nevrus ini menginervasi dua pertiga anterior lidah untuk pengecapan.
Saraf kranial VII (fasialis) meninervasi dua pertiga anterior untuk rasa
kecap. Saraf kranial IX (glosofaringeal) meginervasi sepertiga posterior
untuk raba dan rasa kecap. Sementara itu, inervasi motorik dilakukan oleh
saraf kranial XII (hipoglosus).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
7
Fungsi utama lidah meliputi 1) proses mekanik dengan cara menekan,
melunakkan, dan membagi material; 2) melakukan manipulasi material
makanan di dalam rongga mulut dan melakukan fungsi dalam proses
menelan; 3) analisis sensori terhadap karakteristik material, suhu, dan
reseptor rasa; serta 4) menyekresikan mukus dan enzim (Muttaqin &
Kumala, 2011).
3.
Gigi
Pertumbuhan
gigi
merupakan
proses
fisiologis
dan
dapat
menyebabkan salvias yang berlebihan serta rasa tidak nyaman (nyeri).
Manusia mempunyai dua set gigi yang tumbuh sepanjang masa kehidupan
mereka. Set pertama adalah gigi primer (gigi susu atau desisua) yang
bersifat sementara dan tumbuh melalui gusi selama tahun pertama serta
kedua kehidupan. Gigi susu berjumlah 5 buah pada setiap setengah rahang
(jumlah seluruhnya 20), muncul (erupsi) pada sekitar 6 bulan sampai 2
tahun. Gigi susu berangsur tanggal pada usia 6 sampai 12-13 tahun,
kemudian diganti secara bertahap oleh gigi tetap (gigi permanen) pada
orang dewasa. Set kedua atau set gigi permanen berjumlah 8 buah pada
setiap setengah rahang (jumlahnya seluruhnya 32) dan mulai tumbuh pada
usia sekitar 6 tahun. Pada usia 25 tahun ditemukan semua gigi permanen,
dengan kemungkinan pengecualian dari gigi molar ketiga atau gigi sulung
(Sodikin, 2012).
Sebuah gigi mempunyai mahkota, leher, dan akar. Mahkota gigi
menjulang di atas gigi, lehernya dikelilingi gusi, dan akarnya berada di
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
8
bawahnya. Gigi dibuat dari bahan yang sangat keras, yaitu dentin. Di
dalam pusat strukturnya terdapat rongga pulpa. Pulpa gigi berisi sel
jaringan ikat, pembuluh darah, dan serabut saraf. Bagian gigi yang
menjulang di atas gusi ditutupi email, yang jauh lebih keras daripada
dentin (Pearce, 2009).
4.
Esophagus
Esophagus adalah saluran berotot dengan panjang sekitar 25 cm dan
diameter sekitar 2 cm yang berjalan menembus diafragma untuk menyatu
dengan lambung di taut gastroesofagus. Fungsi utama dari esofagus adalah
membawa bolus makanan dan cairan menuju lambung (Gavaghan, 2009
dalam Muttaqin & Kumala, 2011).
Merupakan saluran otot yang membentang dari kartilago krikoid
sampai kardia lambung. Esophagus dimulai di leher sebagai sambungan
faring, berjalan ke bawah leher dan toraks, kemudian melalui crus sinistra
diagfragma memasuki lambung. Secara anatomis bagian depan esophagus
berbatasan dengan trachea dan kelenjar tiroid, jantung, dan diafragma.
Dibagian belakang esophagus berbatasan dengan kolumne vertebra,
sementara ditiap sisi berbatasan dengan paru-paru dan pleura. Bagian
tersempit esophagus bersatu dengan faring. Area ini mudah mengalami
cidera akibat instrument, seperti bougi, yang dimasukkan ke dalam
esophagus (Sodikin, 2012).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
9
5. Lambung
Lambung adalah bagian dari saluran pencernan yang dapat mekar
paling banyak. Terletak terutama di daerah epigastrik, dan sebagian di
sebelah kiri daerah hipokondriak dan umbilikal. Lambung terdiri dari
bagian atas yaitu fundus, batang utama, dan bagian bawah yang
horizontal, yaitu antrum pilorik. Lambung berhubungan dengan esofagus
melalui orifisium atau kardia, dan dengan duodenum melalui orisium
pilorik. Lambung terletak di bawah diafragma, di depan pankreas. Dan
limpa menempel pada sebelah kiri fundus (Pearce, 2009).
Fungsi utama lambung adalah menyimpan makanan untuk pencernaan
didalam lambung, deudenum, dan saluran cerna bawah, mencampur
makanan dengan sekresi lambung hingga membentuk campuran setengah
cair (kimus) dan meneruskan kimus ke deudenum (Sodikin, 2012).
6. Usus Halus
Usus halus terbagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum. Panjang
usus halus saat lahir 300-350 cm, meningkat sekitar 50% selama tahun
pertama kehidupan. Saat dewasa panjang usus halus mencapai ± 6 meter
(Sodikin, 2012).
Duodenum merupakan bagian terpendek usus, sekitar 7,5-10 cm,
dengan diameter 1-1,5 cm. Jejenum terletak diantara duodenum dan
ileum. Panjang jejunum 2,4 m. panjang ileum sekitar sekitar 3,6 m. Ileum
masuk sisi pada lubang ileosekal, celah oval yang dikontrol oleh sfinker
otot (Sodikin, 2012).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
10
7. Usus Besar
Usus besar berfungsi mengeluarkan fraksi zat yang tidak diserap,
seperti zat besi, kalium, fosfat yang ditelan, serta mensekresi mukus, yang
mempermudah perjalanan feses. Usus besar berjalan dari katup ileosekal
ke anus. Panjang usus besar bervariasi, sekitar ± 180 cm. Usus besar
dibagi menjadi bagian sekum, kolon asenden, kolon transversum, kolon
desensen, dan kolon sigmoid. Sekum adalah kantong besar yang terletak
pada fosa iliaka kanan. Sekum berlanjut ke atas sebagai kolon asenden.
Dibawah lubang ileosekal, apendiks membuka ke dalam sekum (Sodikin,
2012).
8. Hati
Hati merupakan kelenjar paling besar dalam tubuh dengan berat
±1300-1550 g. hati merah cokelat, sangat vascular, dan lunak. Hati
terletak pada kuadran atas kanan abdomen dan dilindungi oleh tulang
rawan kosta. Bagian tepi bawah mencapai garis tulang rawan kosta. Tepi
hati yang sehat tidak teraba. Hati dipertahankan posisinya oleh tekanan
organ lain di dalam abdomen dan ligamentum peritoneum (Sodikin,
2012).
9. Pankreas
Merupakan organ panjang pada bagian belakang abdomen atas,
memiliki struktur yang terdiri atas kaput (didalam lengkungan
duodenum), leher pankreas, dan kauda (yang mencapai limpa). Pancreas
merupakan organ ganda yang terdiri atas dua tipe jaringan, yaitu jarinagan
sekresi interna dan eksterna (Sodikin, 2012).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
11
10. Peritoneum
Peritoneum ialah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam
tubuh. Peritoneum terdiri atas dua bagian utama, yaitu peritoneum
parietal, yang melapisi dinding rongga abdominal, dan peritoneum
viseral, yang meliputi semua organ yang berada di dalam rongga itu
(Pearce, 2009).
Fisiologi saluran cerna terdiri atas rangkaian proses memakan atau
ingesti makanan dan skresi getah pencernaan kedalam sistem pencernaan.
Getah pencernaan membantu pencernaan atau digesti makanan. Hasil
pencernaan akan diabsorbsi kedalam tubuh, berupa zat gizi.
11. Kolon dan Rektum
Kolon mempunyai panjang sekitar 90-150 cm, berjalan dari ileum ke
rektum. Secara fisiologis kolon menyerap air, vitamin, natrium, dan
klorida, serta mengeluarkan kalium, bikarbonat, mukus, dan menyimpan
feses serta mengeluarkannya. Selain itu, kolon merupakan tempat
pencernaan karbohidrat dan protein tertentu, maka dapat menghasilkan
lingkungan yang baik bagi bakteri untuk menghasilkan vitamin K
(Muttaqin & Kumala, 2009).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
12
C. Etiologi
Menurut Suriadi danYuliani (2006) penyebab diare yaitu sebagai berikut:
1.
Faktor Infeksi :
a. Bakteri
: Enteropathogenic, Escherichia coli, Salmonella, Shigella,
Yersinia enterocolitica I
b. Virus : Enterovirus echoviruses, Adenovirus, Human Retrovirus
seperti Agent, Rotavirus
c. Jamur : Candida enteritis
d. Parasit : Giardia clambia, Crytosporidium
e. Protozoa
2.
Bukan Faktor Infeksi :
a. Alergi makanan: Susu, Protein, Keracunan makanan
b. Gangguan metabolik atau malabsorbsi: Penyakit Celiac
c. Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan
d. Obat-obatan: Antibiotik
e. Penyakit usus: Colitis Ulcerative, Crohn Disease, Enterocolitis
f. Emosional atau stress
g. Obstruksi usus
3.
Penyakit Infeksi : Otitis Media, Infeksi Saluran Nafas Atas, Infeksi
Saluran Kemih.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
13
D. Manifestasi Klinis
Menurut Betz dan Linda (2009) manifestasi klinis dari gastroenteritis adalah :
1. Konsistensi feses cair dan frekuensi defekasi meningkat
2. Muntah (umumnya tidak lama)
3. Demam (mungkin ada atau tidak)
4. Kram abdomen, tenesmus
5. Membran mukosa kering
6. Fontanel cekung (bayi)
7. Berat badan turun
8. Malaise
E. Patofisiologis
Menurut Ngastiyah (2005), mekanisme dasar yang menyebabkan
timbulnya diare adalah :
1.
Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbul diare.
2.
Gangguan Sekresi
Akibat rangsangnya tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
14
3.
Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya pada peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya juga
akan timbul diare.
F. Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi pada Bayi dan Anak
1. Air
Pada masa bayi, terutama bayi muda jumlah air yang dianjurkan untuk
diberikan sangat penting, dibandingkan dengan bayi yang lebih tua dan
golongan umur selanjutnya, karena air merupakan nutrien yang menjadi
medium untuk nutrien lainnya. Untuk bayi yang yang menyusu pada
ibunya, masukan air rata-rata 175-200 ml/kgbb/hari dalam 3 bulan
pertama, kemudian menurun menjadi 150-175 ml/kgbb/hari dalam 3 bulan
kedua,
130-140
ml/kgbb/hari
dalam
3
bulan
ketiga
dan
120-
140ml/kgbb/hari dalam 3 bulan terakhir (FKUI, 2007).
2. Protein
Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. Protein
hewani biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan protein nabati. Protein telur dan protein susu biasanya dipakai
sebagai standar untuk nilai gizi protein. Nilai gizi protein nabati ditentukan
oleh asam amino yang kurang, misalnya seperti protein kacang-kacangan
kekurangan asam amino sulfur mentionin dan sistin sedangkan protein
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
15
bahan makanan tepung (sereal) kekurangan lisin. Nilai protein dalam
makanan orang Indonesia sehari-hari umumnya diperkirakan 60%
daripada nilai gizi protein telur (FKUI, 2007).
3. Karbohidrat
Rekuiremen karbohidrat belum diketahui dengan pasti. Bayi yang
menyusu pada ibunya mendapat 40% kalori dari laktosa. Pada usia yang
lebih tua, kalori dan hidrat arang bertambah jika bayi telah diberi makanan
lain, terutama yang mengandung banyak tepung, seperti misalnya bubur
susu, nasi tim (FKUI, 2007).
4. Lemak
Lemak merupakan zat gizi yang berperan dalam pengangkatan vitamin
A, D, E, K yang larut dalam lemak. Komponen lemak terdiri dari lemak
alamiah sekitar 98% di antaranya trigliserida, dan gliserol sedangkan 2%nya adalah asam lemak bebas di antaranya monogliserida, digliserida,
kolesterol dan fosfolipid termasuk lesitin, sefalin, sfingomielin dan
serebrosid. Lemak merupakan sumber energy, sebagai pelindung organ
tubuh, membantu rasa kenyang, kekurangan lemak dalam tubuh dapat
menyebabkan terjadinya perubahan kulit (Hidayat, 2008)
5. Vitamin dan Mineral
Merupakan senyawa organik yang digunakan untuk mengkatalisator
metabolisme
sel
yang
dapat
berguna
untuk
pertumbuhan
dan
perkembangan serta mempertahankan organism, vitamin yang dibutuhkan
adalah vitamin A (retinol), B kompleks (thiamin), B2 (riboflavin), B12
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
16
(sianokobalamin), Vit C (asam askorbat), vitamin D, vitamin E, dan
vitamin K, yang masing-masing mempunyai fungsi dan kelemahan.
Merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok makro,
yang terdiri dari kalsium, klorida, chromium, kobalt, tembaga, flourin,
jodium, besi, magnesium, mangan, fosfor, kalium, natriun, sulfur,dan seng.
Tabel 2.1 Kebutuhan Mineral Per Hari
Barat Tinggi
Kalsium Fosfor
Besi
Seng
Umur
Badan Badan
Iodium
(mg)
(mg)
(mg)
(mg)
(kg)
(cm)
0-6 bulan
5,5
60
600
200
3
3
50
7-12 bulan
8,5
71
400
250
5
5
70
1-3 tahun
12
89
500
250
8
10
70
4-6 tahun
18
108
500
350
9
10
100
7-9 tahun
23,5
120
500
400
10
10
120
Pria
10-12
30
135
700
500
14
15
150
tahun
13-15
40
152
700
500
17
15
150
tahun
16-19
53
160
600
500
23
15
150
tahun
Perempuan
10-12
32
139
700
450
14
15
150
tahun
13-15
42
153
700
450
19
15
150
tahun
16-19
46
154
600
450
25
15
150
tahun
(Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001)
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
17
G. Komplikasi
Menurut FKUI (2007), sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit
secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti :
1. Dehidrasi (ringan, sedang, hipotonik, isotonik, atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipokalemia
(dengan
gejala
meteorismus,
hipotoni
otot,
lemah,
bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram)
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase
karena kerusakan vili mukosa usus halus
6. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan
H. Penatalaksanaan Medis
Menurut Mansjoer (2000), penatalaksanaan untuk gastroenteristis pada
anak adalah sebagai berikut :
1.
Diare cair membutuhhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat
etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan
dan elektrolit secara cepat kemudian mengganti cairan yang hilang
sampai diarenya berhenti (terapi rumatan). Jumlah cairan yang diberi
harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare atau
muntah (previous water losses =PWL) ; ditambah dengan banyaknya
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
18
cairan yang hilang melalui keringat, urine, dan pernafasan (normal water
losses=NWL) ; dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang
melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung (concomitant
water losses=CWL). Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi, berat
badan anak, dan golongan umur.
2.
Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk
menghindarkan efek buruk pada status gizi.
3.
Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak ada
manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare
dengan panas, kecuali pada disentri, suspek kolera dengan dehidrasi
berat, dan diare persisten. Obat-obatan antidiare meliputi anti motilitas
(misal loperamid, difenoksilat, kodein, opium), adsorben (misal norit,
kaolin, attapulgit). Anti muntah termasuk prometazim, klorpromazin.
Tidak satupun obat-obat ini terbukti mempunyai efek yang nyata untuk
diare akut dan beberapa malahan mempunyai efek yang membahayakan.
Obat-obat ini tidak boleh diberikan pada anak < 5 tahun.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
19
I.
Pathway
Infeksi
Malabsorbsi Makanan
Reaksi inflamasi
Makanan Beracun
Tek Osmotik meningkat
Rangsang Saraf
Sekresi cairan dan
Pergeseran cairan & elektrolit
elektrolit naik
ke usus
Isi Rongga Usus
Gangguan Moltilitas Usus
Hipermotilitas
Hipomotilitas
Sekresi air & elektrolit naik
Kurang
Pengeta
huan
Bakteri Tumbuh
Diare
Keterbatasan Informasi
Dehidrasi
Faktor Psikologis
Kerusakan mukosa usus
Defekasi sering
Output >>
Absorbsi ber <
Penuruna vol. Cairan
Ekstra sel
Penurunan cairan intertitil
Kekurangan Volume Cairan
Kemerahan
Nyeri Akut
di kulit sekitar anus
Resiko Infeksi
Ketidakseimba
ngan nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
Kerusakan integritas kulit
Hipertermi
Gambar 2.1 Pathway Gastroenteritis Akut/ Diare
Sumber : Suriadi & Yuliani R (2001), Ngastiyah (2005)
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
20
J.
Fokus Keperawatan
1. Pengkajian Menurut Nursalam (2008) :
a.
Identitas pasien/biodata
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal
lahir, umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua, pekerjaan
orang tua, dan penghasilan. Pada pasien diare akut, sebagian besar
adalah anak yang berumur dibawah 2 tahun. Insiden paling tinggi
terjadi pada umur 6-11 bulan karena pada masa ini mulai diberikan
makanan pendamping. Kejadian diare akut pada anak laki-laki hampir
sama dengan anak perempuan.
b.
Keluhan utama
Buang air besar (BAB) lebih 3 kali sehari, BAB < 4 kali dan cair
(diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi
ringan/sedang), atau BAB >10 kali (dehidrasi berat). Apabila diare
berlangsung <14 hari maka diare tersebut adalahdiare akut, sementara
apabila berlangsung selama 14 hari atau lebih adalah diare
persisten/kronik.
c.
Riwayat penyakit sekarang, yaitu :
1) Mula-mula bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan
mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, dan
kemungkinan timbul diare.
2) Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.
Warna tinja berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
21
3) Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam.
4) Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
5) Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak.
6) Diuresis : terjadi oliguri (kurang 1ml/kg/BB/jam) bila terjadi
dehidrasi. Urine normal pada diare tanpa dehidrasi. Urine sedikit
gelap pada dehidrasi ringan atau sedang. Tidak ada urine dalam
waktu 6 jam (dehifrasi berat).
d.
Riwayat kesehatan meliputi :
1) Riwayat imunisasi terutama campak, karena diare lebih sering
teradi atau berakibat berat pada anak-anak dengan campak atau
yang baru menderita campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai
akibat dari penurunan kekebalan pada pasien.
2) Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik)
karena faktor ini merupakan salah satu kemungkinan penyebab
diare.
3) Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak berusia di bawah 2
tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, dan kejang yang terjadi
sebelum, selama, atau setelah diare. Ini diperlukan untuk melihat
tanda atau gejala infeksi lain yang menyebabkan diare seperti
OMA, tonsilitis, faringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
22
e.
Riwayat nutrisi
Riwayat pemberian nutrisi makanan sebelum sakit diare meliputi :
1) Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat
mengurangi resiko diare dan infeksi yang serius.
2) Pemberian susu formula.
3) Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak merasa haus
(minum biasa). Pada dehidrasi ringan/sedang anak merasa haus
ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi berat, anak malas
minum atau tidak bisa minum.
f.
Pemeriksaan fisik
1)
Keadaan umum :
a) Baik, sadar (tanpa dehidrasi)
b) Gelisah, rewel (dehidrasi ringan atau sedang).
c) Lesu, lunglai, atau tidak sadar (dehidrasi berat).
2)
Berat badan. Menurut S. Partono (1999), anak yang diare dengan
dehidrasi biasanya mengalami penurunan berat badan sebagai
berikut:
Tabel 2.2 Penurunan Berat Badan
Tingkat Dehidrasi
% Kehilangan berat badan
Anak besar
Bayi
5% (50 ml/kg)
3% (30 ml/kg)
Dehidrasi ringan
5-10% (50 – 100 ml/kg)
6% (60 ml/kg)
10 – 15% (100 – 150 ml/kg)
9% (90 ml/kg)
Dehidrasi sedang
Dehidrasi berat
(Sumber : Partono, 1999 dalam Nursalam, 2008)
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
23
Persentase penurunan berat badan tersebut dapat diperkirakan saat
anak dirawat dirumah sakit. Sedangkan di lapangan, untuk
menentukan dehidrasi, cukup dengan menggunakan penilaian
keadaan anak sebagaimana yang telah dibahas pada bagian
konsep dasar diare.
3)
Kulit
Untuk mengetahui elastisitas kulit, dapat dilakukan pemeriksaan
turgor, yaitu dengan cara mencubit daerah perut menggunakan
kedua ujung jari (bukan kedua kuku). Apabila turgor kulit
kembali dengan cepat (<2 detik) berarti diare tersebut tanpa
dehidrasi. Apabila turgor kembali dengan lambat (dalam 2 detik),
ini berarti diare dengan dehidrasi ringan/sedang. Apabila turgor
kembali sangat lambat (>2 detik), ini termasuk diare dengan
dehidrasi berat.
4)
Kepala
Anak berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi, ubunubunnya biasanya cekung.
5)
Mata
Anak yang diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak matanya
normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan/sedang, kelopak
matanya cekung (cowong). Sedangkan apabila mengalami
dehidrasi berat, kelopak matanya sangat cekung.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
24
6)
7)
Mulut dan lidah
a)
Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
b)
Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan/sedang)
c)
Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)
Abdomen, kemungkinan mengalami distensi, kram, dan bising
usus yang meningkat.
8)
Anus, apakah ada iritasi pada kulitnya.
2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.
NOC
: Nutritional status food and fluid intake
Kriteria Hasil
:
1) Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal).
2) BB ideal sesuai dengan tinggi badan.
3) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi (pasien mengerti
jadwal makanan dan jenis makanan).
4) Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi (tanda-tanda malnutrisi dan
jenis makanan bibir pecah-pecah kulit, rambut rontok, BB
menurun dan rambut kemerahan).
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
25
5) Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan menelan (pasien
mau makan, porsi makan habis).
6) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (BB normal)
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC
: Nutrition management
Intervensi :
1) Kolaborasi dengan gahli gizi untuk menentukan nurisi yang
dibutuhkan pasien.
2) Berikan makanan yang terpilih udah dikonsultasikan dengan ahli
gizi.
3) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kolaborasi.
4) Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan.
NIC
: Nutrition monitoring
Intervensi :
1) BB pasien dalam batas normal.
2) Monitor adanya penurunan BB pasien.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
26
3) Monitor interaksi anak/orang tua selama makan.
4) Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi.
5) Monitor turgor kulit.
6) Monitor makanan kesukaan.
7) Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jangan konjungtiva.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan dan elektrolit pada tubuh.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.
NOC
: Fluid balance
Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia
2) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik.
Membran mukosa lembat, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
27
NIC
: Fluid manajement
1) Timbang pokok/pembalut jika diperlukan
2) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
3) Monitor status hidrasi (kelemahan membran mukosa, nadi adekuat)
4) Monitor vital sign
5) Monitor cairan/makanan dan hitung intake kalon harian
6) Kolaborasikan pemberian cairan IV.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan integritas kulit kembali normal.
NOC
: Tissue integrty: skin and mucous membranes.
Kriteria Hasil
:
1) Integritas kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis, tidak.
2) Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan, kulit tidak kering).
3) Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembahan kulit
dan perawat alami (pemberian baby oil/lotioon, tidak diberikan
bedak)
Keterangan
:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
28
NIC
: Pressure management
Intervensi :
1) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang normal.
2) Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
3) Monitor kulit akan adanya kemerahan.
4) Oleskan lotion/minyak/baby oil pada daerah yang tertekan.
5) Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses
keperawatan diharapkan pengetahuan pasien betambah.
NOC
: Knowledge: disease proces
Kriteria Hasil
:
1) Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis, program pengobatan.
2) Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar.
3) Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
29
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC
: Teaching: disease process
Intervensi :
1) Jelaskan patofisiologi, dan penyakit.
2) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
dengan cari yang benar.
3) Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat.
4) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang
tepat.
5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang baik dan tepat.
e. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injury biologi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses
keperawatan diharapkan nyeri akut pasien berkurang.
NOC
: Pain Level, Pain Control, Comfort Level
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
30
Kriteria Hasil :
1) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan).
2) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
3) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri).
4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC : Pain Management
Intervensi :
1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi.
2) Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
3) Gunakan
teknik
komunikasi
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
31
4) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
NIC : Analgesic Administrasion
Intervensi :
1) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
2) Cek riwayat alergi
3) Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri.
4) Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat.
f. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses
keperawatan diharapkan hipertermi tidak terjadi lagi.
NOC
: Thermoregulation
Kriteria Hasil
:
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Nadi dan RR dalam rentang normal
3) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
32
NIC
: Fever Treatment
Intervensi :
1) Monitor suhu sesering mungkin
2) Monitor IWL
3) Monitor warna dan suhu kulit
4) Monitor tekanan darah, nadi dan RR
5) Monitor intake dan output
6) Lakukan tepid sponge
7) Selimuti pasien
NIC
: Temperature Regulation
1) Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2) Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
3) Monitor TD, nadi dan RR
4) Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
5) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
g. Diare berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses
keperawatan diharapkan diare berkurang
NOC
: Bowel Elimination, Fluid Balance, Hydration, Electrolyte
and Acid Base Balance
Kriteria Hasil
:
1) Feses berbentuk, BAB sehari sekali 3 hari.
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
33
2) Menjaga daerah sekitar rektal dari iritasi
3) Tidak mengalami diare
4) Menjelaskan penyebab diare
5) Mempertahankan turgor kulit
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC
: Diarhea Management
Intervensi :
1) Evaluasi efek samping pengobatan terhadap gastrointestinal
2) Ajarkan pasien untuk menggunakan obat antidiare
3) Instruksikan pasien/keluarga untuk mencatat warna, jumlah,
frekuensi, dan konsistensi dari feses
4) Evaluasi intake makanan yang masuk
5) Identifikasi faktor penyebab diare
6) Monitor tanda dan gejala diare
7) Observasi turgor kulit secara rutin
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
34
h. Resiko Infeksi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses
keperawatan diharapkan resiko infeksi tidak terjadi
NOC
: Immune Status, Knowledge : Infection control, Risk
control
Kriteria Hasil
:
1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2) Mendeskripsikan
proses
penularan
penyakit,
factor
yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
3) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4) Jumlah leukosit dalam batas normal
5) Menunjukkan perilaku hidup sehat
Keterangan skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC
: Infection Control (Kontrol infeksi)
Intervensi :
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2) Pertahankan teknik isolasi
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
35
3) Batasi pengunjung bila perlu
4) Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
5) Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
6) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
NIC
: Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
Intervensi :
1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2) Monitor hitung granulosit, WBC
3) Monitor kerentanan terhadap infeksi
4) Batasi pengunjung
5) Saring pengunjung terhadap penyakit menular
6) Dorong masukkan nutrisi yang cukup
7) Dorong masukan cairan
8) Dorong istirahat
Ketidakseimbangan Nitrisi Kurang..., FIERA TITIS NUR KUSUMA P, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
Download