Chapter I - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan
merupakan
bagian
hidup
yang
sakral,
karena
harus
memperhatikan norma dan kaidah hidup dalam masyarakat. Perkawinan menuntut
kedewasaan dan tanggung jawab serta kematangan fisik dan mental. Untuk itu,
sebelum melangkah ke jenjang perkawinan harus selalu dimulai dengan suatu
persiapan yang matang. Perkawinan yang hanya mengandalkan kekuatan cinta tanpa
dimulai oleh persiapan yang matang, dalam perjalanannya akan banyak mengalami
kesulitan. Apalagi jika perkawinan hanya bertolak dari pemikiran yang sederhana dan
pemikiran emosional semata. Dalam perkawinan dibutuhkan pemikiran yang rasional
dan dapat mengambil keputusan atau sikap yang matang, karena perkawinan itu
sendiri merupakan suatu proses awal dari perwujudan bentuk-bentuk kehidupan
manusia.
Untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal, yang merupakan hakikat dari
tujuan perkawinan, tidak hanya dipengaruhi oleh unsur rohani, tetapi juga harus
memenuhi unsur yuridis, yakni perkawinan harus dicatatkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Bagi pasangan yang memeluk agama Islam, maka
pencatatan dilakukan di Kantor Urusan Agama, sedangkan bagi pasangan yang
memeluk agama selain Islam, pencatatan dilakukan di Kantor Catatan Sipil.
1
Universitas Sumatera Utara
2
Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
terdapat beberapa hukum yang mengatur perkawinan diantaranya : 1
1. Bagi orang Indonesia asli yang beragama Islam berlaku Hukum Agama yang
telah diresipir dalam Hukum Adat.
2. Bagi orang-orang Indonesia asli lainnya berlaku Hukum Adat.
3. Bagi orang Indonesia asli yang beragama Kristen berlaku Huwelijks
Ordonantie Christen Indonesia (S. 1993 No.74).
4. Bagi orang Timur Asing Cina dan Warga Negara Indonesia keturunan
Tionghoa berlaku ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Perdata dengan
sedikit perubahan.
5. Bagi orang Timur Asing lain-lainnya dan Warga Negara Indonesia keturunan
Timur Asing lainnya tersebut berlaku hukum adat mereka masing-masing.
6. Bagi orang - orang Eropa dan Warga Negara Indonesia Keturunan Eropa dan
yang disamakan dengan mereka berlaku Kitab Undang – Undang Hukum
Perdata.
7. Peraturan Perkawinan Campuran ( Regeling op de gemeng de Huwelijken
S.1898 No.158).
Dengan adanya perbedaan budaya dan agama yang ada, maka terjadi juga
perbedaan dalam hukum perkawinan yang berlaku. Perkawinan di Indonesia
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti adat setempat dan agama yakni
Agama Hindu, Budha, Kristen serta Agama Islam. Adanya beragam pengaruh dalam
masyarakat tersebut mengakibatkan terjadinya banyak aturan yang mengatur masalah
perkawinan. “Perbedaan dalam cara melakukan perkawinan sebagai pengaruh dari
pengaturan perkawinan membawa konsekuensi pada cara hidup kekeluargaan,
kekerabatan, dan kekayaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.”2
Di dalam menciptakan kepastian hukum dalam perkawinan yang dapat
mengatur semua warga, agama dan golongan serta kebudayaan yang ada di Indonesia.
1
Penjelasan butir 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
2
Hilman Hadikusuma. Hukum Perkawinan Indonesia, Menurut Perundangan, Hukum Adat
Hukum Agama, CV Mandar Madju, Bandung, 2003, hal.2.
Universitas Sumatera Utara
3
Akhirnya pada tanggal 2 Januari 1974 dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 1 tahun 1974 yang merupakan Undang-Undang perkawinan yang bersifat
nasional, yang bersumber dari budaya dan agama yang ada di Indonesia dan tetap
berpijak pada keanekaragaman suku bangsa dan budaya serta adat-istiadat bangsa
Indonesia dan tentunya berlaku bagi semua golongan dan daerah di seluruh wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka telah ada unifikasi hukum dalam perkawinan
di Indonesia. Sehingga pengaturan hukum tentang perkawinan telah berlaku sama
terhadap semua warga negara.
Pengertian perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang No.1 Tahun 1974
tentang Perkawinan, adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perkawinan selain merupakan
masalah keagamaan juga merupakan suatu perbuatan hukum, sebab dalam hal
melangsungkan perkawinan harus tunduk pada peraturan-peraturan tentang
perkawinan yang ditetapkan oleh Negara. Seperti yang dinyatakan dalam Pasal 2 UU
No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yakni :
1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu.
2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Universitas Sumatera Utara
4
Terdapat berbagai variasi dari pelaksanaan perkawinan di Indonesia di
antaranya perkawinan yang tidak dicatatkan dikenal dengan berbagai istilah seperti
‘kawin bawah tangan’, ‘nikah siri’, nikah secara agama, yakni perkawinan yang
dilakukan berdasarkan aturan agama atau adat istiadat dan tidak dicatatkan di kantor
pencatatan nikah, nikah tamasya, yakni perkawinan yang dipublikasikan di media
massa dan tidak dicatatkan di kantor pegawai pencatat nikah (KUA bagi yang
beragama Islam, Kantor Catatan Sipil bagi yang beragama non-Islam).3
Berdasarkan Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan, pencatatan kelahiran, pencatatan kematian, demikian pula
pencatatan perkawinan dipandang sebagai suatu peristiwa penting, bukan suatu
peristiwa hukum. 4 Akta nikah dan pencatatan perkawinan bukan merupakan satusatunya alat bukti mengenai adanya perkawinan atau keabsahan perkawinan, karena
itu akta nikah dan pencatatan perkawinan adalah sebagai alat bukti tetapi bukan alat
bukti yang menentukan. Karena yang menentukan keabsahan suatu perkawinan
adalah menurut agama.5
Menurut Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan yang tidak
dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah adalah merupakan perkawinan yang tidak
sah karena perkawinan jenis ini merupakan suatu penyimpangan dari ketentuan
3
Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang – Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
4
Bagir Manan, Keabsahan dan Syarat – Syarat Perkawinan antar Orang Islam Menurut UU
No.1 Tahun 1974, makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema Hukum Keluarga
dalam Sistem Hukum Nasional antara Realitas dan Kepastian Hukum, yang diselenggarakan
Mahkamah Agung Republik Indonesia, di Hotel Redtop, pada hari Sabtu tanggal 1 Agustus 2009,
hal.4.
5
Ibid., hal.6.
Universitas Sumatera Utara
5
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yakni dalam Pasal 2 ayat
(2) mengenai pencatatan perkawinan.
Berbagai
faktor
yang
menyebabkan
seseorang
tidak
mencatatkan
perkawinannya di lembaga pencatatan. Ada yang karena faktor biaya, karena tidak
mampu membayar administrasi pencatatan sehingga tidak dicatatkan, ada pula karena
faktor penyeludupan hukum untuk melanggar aturan asas monogami, ada pula karena
faktor malas untuk mencatatkan perkawinan karena pertimbangan- pertimbangan
tertentu.6
Berkembang pendapat mengenai perkawinan yang tidak dicatatkan bahwa
antara suami isteri tidak ada hubungan pewarisan antara yang satu dengan lainnya.
Artinya jika suami meninggal dunia, maka isteri dan anak – anak keturunannya tidak
memiliki hak mewaris dari harta suaminya. Ketentuan ini juga berlaku apabila si
isteri yang meninggal dunia.7
Mengenai status perkawinan yang tidak dicatatkan serta akibat hukumnya
terhadap kedudukan isteri yang dinikahi dan anak yang dilahirkan serta harta
kekayaannya di dalam perkawinan ini adalah masalah yang akan diteliti dalam tulisan
ini.
Bagi orang Tionghoa, di dalam melaksanakan perkawinan harus berdasarkan
adat–istiadat Tionghoa, agama, dan kepercayaan yang dianut. Pasangan yang
melakukan perkawinan tanpa melalui aturan yang digariskan oleh adat adalah tidak
6
Hasil wawancara dengan Bhaktiar Kamil, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (
MAKIN), tanggal 8 Januari 2013
7
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
6
sah dalam pandangan orang Tionghoa. 8 Sehingga sebagian besar warga Tionghoa
tidak mencatatkan perkawinannya seperti sebagaimana diatur dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan Kantor Catatan Sipil, karena perkawinan dianggap
telah sah apabila dilakukan menurut adat-isitiadat Tionghoa. Hal ini banyak terjadi di
kalangan masyarakat Tionghoa dan merupakan suatu masalah yang serius. Tidak
dicatatkannya perkawinan di kalangan masyarakat Tionghoa disebabkan karena
kurangnya kesadaran dan pengetahuan mengenai pentingnya pencatatan perkawinan.
Ada yang menganggap pencatatan perkawinan merupakan urusan yang berbelit-belit
sehingga perkawinan tidak didaftarkan. Karena suatu perkawinan adalah sah apabila
telah dilaksanakan menurut adat istiadat Tionghoa, ritual agama yang dianut, dan
diadakannya resepsi pernikahan. Resepsi pernikahan juga merupakan suatu
pemberitahuan atau pengumuman kepada segenap keluarga kedua mempelai, relasi
bisnis, sahabat, dan tetangga bahwa telah terbentuknya suatu ikatan perkawinan
antara seorang pria sebagai suami dan seorang perempuan sebagai isteri.9
Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054 tanggal
18 November 1978, terdapat 5 agama yang diakui di Indonesia yakni agama Islam,
Budha, Hindu, Kristen Protestan, Kristen Katolik. Dengan lahirnya Keputusan
Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun
8
Aan Wan Seng, Adat dan Pantang Larang Orang Cina, Penerbit Fajar Bakti, Kuala
Lumpur, 1994, hal.30.
9
Hasil wawancara dengan Bhaktiar Kamil, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (
MAKIN), tanggal 8 Januari 2013
Universitas Sumatera Utara
7
1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa, maka Konghucu
diakui sebagai agama yang diakui di Indonesia.
Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Instruksi
Presiden Nomor 14 Tahun 1967 memotivasi Warga Negara Indonesia (WNI)
keturunan Tionghoa yang menganut ajaran dan kepercayaan Konghucu melalui
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia ( MATAKIN ) menuntut pengembalian
hak – hak sipil umat Konghucu yaitu:10
1. Pelaksanaan perkawinan secara Konghucu
2. Pencantuman agama Konghucu pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk
(KTP)
3. Pemberian pelajaran agama Konghucu di sekolah-sekolah bagi murid-murid
yang beragama Konghucu
4. Menuntut suatu unit kerja di lingkungan Departemen Agama
Namun lahirnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang
Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tidak dapat dijadikan acuan
atau dasar hukum formal bagi pengakuan agama Konghucu. Keputusan Presiden
Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa memberikan kesempatan
bagi perayaan upacara agama dan adat istiadat Tionghoa yang dapat dilakukan secara
terbuka, dimana substansi Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 menyatakan
bahwa “perayaan upacara agama dan adat istiadat Tionghoa tidak dapat dilakukan
secara menyolok di depan umum”. Demikian pula terhadap penetapan Hari Raya
Imlek sebagai hari libur nasional, bukan serta merta mengakui Konghucu sebagai
10
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
8
suatu agama. Ini didasari karena penetapan hari libur tidak selalu dikaitkan dengan
hari besar keagamaan.11
Di kota Medan terdapat banyak WNI Tionghoa yang masih menganut
kepercayaan dan ajaran Konghucu. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk
mencatatkan perkawinan pada Kantor Catatan Sipil dikarenakan Pemerintah belum
mengakui secara yuridis mengenai pengakuan Konghucu sebagai agama. Ketua
Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Medan Utara , Bhaktiar Kamil,
mengatakan bahwa, apabila agama tidak dikaitkan dengan urusan pencatatan sipil,
maka bagi WNI Tionghoa yang memeluk ajaran Konghucu tidak akan ada kesulitan
dalam
pencatatan
perkawinan,
dimana
sebelum
lahirnya
Undang-Undang
Perkawinan, pencatatan perkawinan tidak dikaitkan dengan agama. Sehingga orang
yang tidak memeluk kepercayaan agama apapun dapat mencatatkan perkawinannya.12
Staf ahli Mentri Agama Musdah Mulia menyatakan bahwa “saat ini
perkawinan Konghucu sudah dapat dicatatkan di Kantor Catatan Sipil atau Kantor
Dinas Kependudukan”. Namun perjuangan umat Konghucu agar dapat mencatatkan
perkawinannya memakan waktu yang lama dan tidak produktif. Padahal banyak
penduduk Indonesia yang masih menganut kepercayaan tradisional. Oleh karena itu
menurut Penasehat Matakin, Rip Tockary, akan sangat tidak produktif jika umat dari
11
HenryIrawan,“Pembuktian Agama Konghucu adalah Agama” ,
http://asia.groups.yahoo.com/group/Junzigroup/message/288.html.diakses pada tanggal 27 Desember
2012 ,hal.5.
12
Hasil wawancara dengan Bhaktiar Kamil, Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN),
tanggal 8 Januari 2013
Universitas Sumatera Utara
9
agama-agama tradisional harus menunggu bertahun-tahun agar Pemerintah bersedia
mencatatkan perkawinan mereka.13
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa masyarakat Tionghoa yang
beragama Konghucu mengalami hambatan dalam pencatatan perkawinan di Kantor
Catatan Sipil untuk memenuhi syarat sahnya suatu perkawinan di muka hukum.
Proses yang panjang dan berbelit-belit, biaya yang mahal, jangka waktu yang panjang
mengakibatkan keengganan bagi WNI Tionghoa yang memeluk kepercayaan
Konghucu untuk mendaftarkan perkawinan mereka. Dengan tidak dicatatkannya
perkawinan, maka perkawinan yang dilakukan menurut agama Konghucu tersebut
batal demi hukum karena tidak terdaftar.14
Banyak etnis Tionghoa yang mempunyai cara pandang bahwa perkawinan
telah sah dilakukan apabila telah dilaksanakan berdasarkan adat istiadat Tionghoa
walaupun tidak dicatatkan di Dinas Kependudukan. Cara pandang yang demikian
akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari seperti mengenai status anak,
kedudukan suami isteri, harta perkawinan.
Resepsi perkawinan di dalam adat Tionghoa bukanlah suatu hal yang wajib
dilaksanakan. Hal ini tergantung kepada kesepakatan antara keluarga kedua calon
mempelai di dalam pelaksanaan resepsi perkawinan. Ada kalangan yang menganggap
resepsi tidak perlu dilaksanakan, karena perkawinan telah sah meskipun tidak
13
Majalah Gatra, Umat Konghucu Sudah Dapat Mencatatkan Perkawinan di Kantor Catatan
Sipil atau Kantor Dinas Kependudukan, edisi 7 Februari 2006, Jakarta, hal. 15.
14
Hasil wawancara dengan Bhaktiar Kamil, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia
(MAKIN), tanggal 8 Januari 2013
Universitas Sumatera Utara
10
dilaksanakan resepsi. Publikasi perkawinan tidak harus dilakukan melalui resepsi.
Publikasi dapat juga dilakukan dengan pengumuman pada media cetak seperti yang
sering kita lihat yakni nikah tamasya. Dengan adanya pemberitahuan yang demikian,
khalayak ramai telah mengetahui mengenai adanya pelaksanaan pernikahan dan
terjadinya ikatan lahir batin antara dua insan suami isteri.15
Banyak etnis Tionghoa yang mempunyai cara pandang bahwa perkawinan
telah sah dilakukan apabila telah dilaksanakan berdasarkan adat istiadat Tionghoa
walaupun tidak dicatatkan di Dinas Kependudukan. Cara pandang yang demikian
akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari seperti mengenai status anak,
kedudukan suami isteri, harta perkawinan.
Dari perkawinan akan timbul hubungan hukum antara suami-isteri dan
kemudian dengan lahirnya anak-anak, menimbulkan hubungan hukum antara orang
tua dan anak-anak mereka. Dari perkawinan mereka memiliki harta kekayaan, dan
timbullah hubungan hukum antara mereka dengan harta kekayaan tersebut.16
Pada dasarnya semua orang sebagai pendukung hak dan kewajiban
mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum ( equality before the law ) tanpa
membedakan status sosial, faktor keturunan, ras, agama, dan lain-lain. Hal ini
tentunya membawa konsekuensi yaitu adanya persamaan atas kewenangan hukum
(rechts bevoegdheid ) dari setiap subjek hukum tersebut.
15
16
Ibid.
Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, PT Abadi, Jakarta, 2001, hal.1.
Universitas Sumatera Utara
11
Kedudukan orang sebagai subjek hukum sebagaimana tersebut di atas bukan
merupakan suatu kedudukan yang berlaku mutlak. Hukum atas hak-hak tertentu dapat
memberikan pengecualian-pengecualian atas dasar factor-faktor tertentu yang
mengakbatkan terjadinya pengaturan atau dengan kata lain melakukan penyimpangan
atas hak dasar sebagaimana disebutkan di atas. Perbedaan pengaturan tersebut di
lingkungan hukum perdata membawa dampak yang antara lain adalah terjadinya
pembatasan-pembatasan kewenangan subjek hukum tertentu untuk mendapatkan hakhak tertentu. Salah satu faktor yang mempengaruhi kewenangan seseorang untuk
mempunyai dan melaksanakan hak-hak tertentu adalah status perkawinan.
Ketidaktahuan mengenai pentingnya pencatatan perkawinan tanpa disadari
menimbulkan akibat hukum tidak hanya bagi kedua suami isteri, juga pada anakanak, keluarga, dan harta perkawinan. Akibat hukum perkawinan secara adat
Tionghoa terhadap isteri adalah isteri bukan merupakan isteri yang sah sehingga tidak
berhak atas nafkah, warisan, harta gono gini dari suami dalam hal apabila terjadi
perpisahan. Terhadap anak, statusnya menjadi anak luar kawin dan karenanya ia
hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya
dan keluarga ibunya dan
sewaktu-waktu ayahnya dapat menyangkal keberadaan anak tersebut, selain itu ia
tidak berhak atas nafkah hidup, biaya pendidikan, serta warisan dari ayahnya. 17
Fenomena ini disebabkan sebagian etnis Tionghoa berpegang teguh bahwa
perkawinan telah sah apabila dilaksanakan secara adat istiadat Tionghoa walaupun
tidak dicatatkan di Dinas Kependudukan. Fenomena demikian tidak disebabkan
17
Kesimpulan penelitian Ananda Mutiara, 2008, Perkawinan Siri di Mata Undang Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan serta akibat hukumnya terhadap isteri dan anak yang
dilahirkan dalam perkawinan siri, tesis S2, UI
Universitas Sumatera Utara
12
tinggi atau rendahnya tingkat ekonomi suatu keluarga, melainkan lebih pada cara
pandang masyarakat etnis Tionghoa yang belum menyadari mengenai pencatatan
suatu perkawinan.
Pada dasarnya setiap pasangan di dalam mengikatkan dirinya dalam sebuah
ikatan pernikahan, selalu beritikad untuk menikah sekali untuk selamanya,
membentuk suatu keluarga yang kekal dan bahagia.
Namun sering kali antara
pasangan suami isteri setelah suatu waktu yang tidak ditentukan dalam kehidupan
keluarganya timbul perbedaan idealiasme yang dapat merujuk ke suatu perselisihan
yang berkepanjangan. Mungkin tidak terdapat lagi kesepakatan atau kerukunan antara
suami dan isteri, malah mungkin terjadi perselisihan yang berkepanjangan, walaupun
telah diusahakan penyelesaiannya, atau mungkin telah terjadi pertengkaran terus
menerus atau pertentangan yang tidak mungkin didamaikan kembali.18
Perkawinan yang buruk keadaannya itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,
sehingga demi kepentingan kedua belah pihak, perkawinan demikian itu lebih baik
diputuskan.19
Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah di depan hakim
pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang. Oleh karena
itu perlu dipahami jiwa dari peraturan mengenai perceraian itu serta akibat-akibat
yang mungkin timbul setelah suami-isteri itu perkawinannya putus.20
Istilah “putus” perkawinan dapat diganti istilah lain (anderword), yaitu
“penghentian” atau “pecah” perkawinan, tiga istilah tersebut mempunyai pengertian
18
Ibid., hal. 41.
Ibid., hal.41.
20
Ibid.
19
Universitas Sumatera Utara
13
(makna) sama. Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
Perkawinan dapat putus karena :21
a. Kematian
b. Perceraian
c. Atas keputusan pengadilan
Akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah : 22
1) Akibat terhadap anak dan isteri;
a) bapak dan ibu tetap berhak memelihara dan mendidik anak-anak mereka
semata-mata untuk kepentingan anak. Apabila ada perselisihan tentang
penguasaan anak, pengadilan memberikan keputusannya.
b) bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan
yang diperlukan anak itu. Apabila bapak dalam kenyataannya tidak dapat
memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menetapkan bahwa ibu
ikut memikul biaya tersebut.
c) Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan
biaya penghidupan kepada bekas isteri, dan/atau menentukan suatu
kewajiban bagi bekas isteri. (pasal 41 Undang-undang Perkawinan).
2) Akibat terhadap status
Bagi mereka yang putus perkawinan karena perceraian memperoleh status
perdata dan kebebasan sebagai berikut:
21
22
Hilman Hadikusuma, Op.Cit., hal.150.
Ibid, hal.156.
Universitas Sumatera Utara
14
a) Kedua mereka itu tidak terikat lagi dalam tali perkawinan dengan status
janda atau duda.
b) Kedua mereka itu bebas untuk melakukan perkawinan dengan pihak lain.
c) Kedua mereka itu boleh melakukan perkawinan kembali sepanjang tidak
dilarang undang-undang atau agama mereka.
3) akibat terhadap harta perkawinan23
Untuk harta bawaan dan harta perolehan tidak menimbulkan masalah, karena
harta tersebut tetap dikuasai dan adalah hak masing-masing pihak. Apabila terjadi
penyatuan harta karena perjanjian, penyelesaiannya juga disesuaikan dengan
ketentuan perjanjian dan kepatutan.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 adalah produk peraturan perundang – undangan
yang telah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kepribadian bangsa
Indonesia. Maka hukum adat dan hukum agama yang merupakan hukum yang hidup
dan hukum yang dipertahankan oleh bangsa Indonesia yang sesuai dengan
kepribadian nasional dimana hukum adat dapat diterima dan dimasukkan ke dalam
Undang – Undang Perkawinan. Pada ketentuan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 jelas terbaca bahwa harta dalam perkawinan itu sendiri terdiri dari harta
bersama dan harta bawaan. Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama
ikatan perkawinan berlangsung dan oleh karena itu menjadi milik bersama suami
23
Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadi Perceraian, Visimedia, Jakarta,
2008, hal.39.
Universitas Sumatera Utara
15
isteri. Sedangkan harta yang dibawa sebelum perkawinan berlangsung dan harta yang
diperoleh masing-masing suami/isteri sebagai hadiah atau warisan selama dalam
ikatan perkawinan disebut dengan harta bawaan.24
Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur:
“Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya
masing-masing.” Maka secara implisit jelaslah diungkapkan bahwa pada Pasal 37
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 bahwa yang dimaksud dengan:
“hukumnya masing-masing” ialah hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya.
Memperhatikan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
dan penjelasannya, ternyata Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 ini
tidak memberikan keseragaman hukum positif tentang bagaimana penyelesaian harta
bersama apabila terjadi perceraian. akibatnya timbul kesulitan bagi pihak
penyelenggara hukum untuk menyelesaikan perkara yang berhubungan dengan harta
bersama.
Kalau dicermati pada penjelasan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan
Nomor 1 Tahun 1974 , maka Undang-Undang memberikan jalan pembagian sebagai
berikut:25
1.
Dilakukan berdasarkan hukum agama jika hukum agama itu merupakan
kesadaran hukum yang hidup dalam mengatur tata cara perceraian.
24
Abdul Manaf. Aplikasi Asas Equalitas Hak dan Kedudukan Suami Istri dalam Penjaminan
Harta Bersama pada Putusan Mahkamah Agung, CV. Mandar Maju, 2006, Bandung, hal. 25.
25
M. Yahya Harahap [1], Pembahasan Hukum Perkawinan Nasional Berdasarkan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Cet. 1 Zahir Trading Co,
Medan, 1975, hal.125.
Universitas Sumatera Utara
16
2.
3.
Aturan pembagiannya akan dilakukan menurut hukum adat, jika hukum tersebut
merupakan kesadaran hukum yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang
bersangkutan
Atau hukum-hukum lainnya.
Dengan demikian, Undang-Undang perkawinan membuka peluang hukum
lainnya mengatur harta bersama tersebut. Pengaturan tersebut sangat abstrak dan
umum serta tidak bersifat rinci. Undang-Undang bagaimana tentang harta bersama
dan juga tidak menentukan tata cara pembagiannya serta jumlah masing-masing.
Dari ketentuan di atas jelaslah bahwa akibat perceraian atas perkawinan yang
tidak didaftarkan oleh masyarakat etnis Tionghoa yakni mengenai anak, dan harta
perkawinan dapat diselesaikan secara hukum agama, hukum adat pada masyarakat
etnis Tionghoa.
Banyak etnis Tionghoa yang tidak mencatatkan perkawinan dan pada saat
melangsungkan perkawinan akan mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa telah
terjadi ikatan perkawinan melalui media massa. Begitu pula halnya dengan
perceraian, sering kita lihat pada media cetak bagi etnis Tionghoa yang
perkawinannya tidak didaftarkan, maka pada saat terjadinya perceraian , juga akan
diumumkan kepada khalayak ramai bahwa telah terjadi pemutusan hubungan
perkawinan antara kedua suami istri.
Akibat dari perceraian seperti mengenai hak asuh anak, tanggung jawab
finansial, pembagian peran orang tua, pembagian harta bersama adalah hal – hal yang
tidak dapat dihindari. Untuk itu, dalam penelitian ini mencoba untuk menguraikan
aturan hukum yang akan diberlakukan untuk kasus seperti itu.
Universitas Sumatera Utara
17
Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas, maka penulis ingin meneliti lebih
lanjut mengenai permasalahan yang menjadi latar belakang diatas dan menyusunnya
dalam tesis yang berjudul : “Perceraian Atas Perkawinan yang Dilangsungkan
Menurut Hukum Adat Tionghoa dan Akibat Hukumnya”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, berikut ini dirumuskan beberapa
permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut :
1.
Bagaimana status harta yang diperoleh selama ikatan perkawinan dalam hal
terjadinya perceraian antara suami isteri yang perkawinannya dilangsungkan
menurut hukum adat Tionghoa?
2.
Bagaimana tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan nafkah anak dalam hal
terjadinya perceraian antara suami isteri yang perkawinannya dilangsungkan
menurut hukum adat Tionghoa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui status harta yang diperoleh selama ikatan perkawinan dalam
hal terjadinya perceraian antara suami isteri yang perkawinannya dilangsungkan
menurut hukum adat Tionghoa.
2.
Untuk mengetahui tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan nafkah anak
dalam hal terjadinya perceraian antara suami isteri yang perkawinannya
dilangsungkan menurut hukum adat Tionghoa.
D. Manfaat Penelitian
1.
Kegunaan Teoretis
Universitas Sumatera Utara
18
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
pengembangan Ilmu Hukum khususnya Hukum Perkawinan Indonesia yang secara
dinamis terus mengkaji perkembangan hukum sebagai upaya hukum untuk
menegakkan keadilan, kebenaran, dan ketertiban dalam negara hukum Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Pengkajian juga untuk
penyempurnaan terhadap Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
serta memperdalam tentang masalah akibat hukum dari perkawinan yang tidak
dicatatkan.
2.
Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan masukan
bagi pelaksana hukum, khususnya para notaris dalam mengambil kebijakan dalam
pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan dan peraturan pelaksanaanya serta
masukan kepada pemerintah yang saat ini sedang mengajukan rancangan Undang –
Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan . Selain itu hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai bahan acuan masyarakat dalam melaksanakan perkawinan.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik hasil-hasil
penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan, baik di Magister Ilmu
Hukum maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, belum ada
penelitian
yang
menyangkut
masalah
“Perceraian
Atas
Perkawinan
yang
Dilangsungkan Menurut Hukum Adat Tionghoa dan Akibat Hukumnya”. Memang
ada penelitian sebelumnya yang dilakukan Rehbana, NIM 017011052, Mahasiswa
Universitas Sumatera Utara
19
Program Studi Magister Kenotariatan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara, dengan judul ”Kedudukan Anak Terhadap Harta Warisan Dari Orang Tuanya
Yang Perkawinannya Tidak Dicatatkan di Dinas Kependudukan” yang memfokuskan
penelitian tentang masalah kewarisan, sedangkan penelitian ini memfokuskan pada
akibat-akibat hukum yang timbul dari perkawinan yang tidak didaftarkan seperti
mengenai status janda, hak asuh anak, pembagian harta bersama. Jadi permasalahan
yang diteleliti mempunyai cakupan yang lebih luas. Dengan demikian, penelitian ini
adalah asli sehingga dapat dipertanggung jawabkan kemurniannya karena belum ada
yang melakukan penelitian yang sama.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1.
Kerangka Teori
Perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktifitas
penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori.26 Teori berfungsi untuk
menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi27
dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat
menunjukkan ketidakbenaran. 28
26
Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, hal. 6.
J.J.J. M. Wuisman. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas-Asas, Penyunting : M. Hisyam,
Fakultas Ekonomi, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1996), hal. 203. Lihat juga M.Solly Lubis, Filsafat
Ilmu dan Penelitian. CV Mandar Maju, Bandung, 1994, hal.27. menyebutkan bahwa teori yang
dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut tetapi
merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan
pengalaman empiris. Artinya dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan. Tetapi
harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar.
28
Ibid., hal.16.
27
Universitas Sumatera Utara
20
Kerangka teori merupakan landasan teori yang digunakan sebagai pendukung
teori dari masalah yang dibahas di dalam penulisan tesis untuk memperkuat
kebenaran dari teori teori hukum yang digunakan.
Kerangka teori yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kerangka
pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, dari para penulis ilmu hukum di
bidang hukum perkawinan, yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis,
yang mungkin disetujui atau tidak disetujui.29
Teori sebagai perangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaktis yaitu
mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan lainnya
dengan tata dasar yang dapat diamati dan berfungsi sebagai wahana untuk
meramalkan dan menjelaskan fenomena yang terjadi.30
Dalam membahas akibat hukum dari perceraian atas perkawinan yang tidak
didaftarkan, digunakan teori kepastian hukum, yakni teori yang menjelaskan bahwa
suatu perkawinan yang terjadi antara suami isteri harus mempunyai kekuatan hukum
yang pasti dengan segala akibatnya dapat dipertanggungjawabkan menurut hukum,
kepastian hukum adalah tujuan utama dari hukum. 31 Tugas-tugas kaidah hukum
adalah untuk menjamin adanya kepastian hukum. Dengan adanya pemahaman
kaidah-kaidah hukum tersebut, masyarakat sungguh-sungguh menyadari bahwa
29
M. Solly Lubis. Filsafat Ilmu dan Penelitian, CV. Mandar Maju, Bandung, 1994, hal.80.
Snelbecker, dalam Lexy J. Moloeng. Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2002, hal.34.
31
J.B.Daiyo, Pengantar Ilmu Hukum, Buku Panduan Mahasiswa , PT. Prenahlindo, Jakarta,
2001, hal.120.
30
Universitas Sumatera Utara
21
kehidupan bersama akan tertib apabila terwujud kepastian dalam hubungan antara
sesama manusia.32
Menurut Sudikno Mertokusumo :
Kepastian hukum merupakan perlindungan yustiabel terhadap tindakan
sewenang - wenang, yang berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu
yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya
kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan
lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan
untuk kertertiban masyarakat.33
Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan
akhirnya timbul keresahan. Tetapi terlalu menitikberatkan kepada kepastian
hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya kaku dan akan
menimbulkan rasa tidak adil. Apapun yang terjadi peraturannya adalah
demikian dan harus ditaati atau dilaksanakan. Undang – Undang itu sering
terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat “lex dura set tamen scripta”
(Undang – Undang itu kejam tetapi demikianlah bunyinya).34
Menurut Lili Rasjidi, I.B. Wyasa Putra:
Para penganut teori hukum positif menyatakan “kepastian hukum” sebagai
tujuan hukum. Menurut anggapan mereka ketertiban atau keteraturan, tidak
mungkin terwujud tanpa adanya garis-garis perilaku kehidupan yang pasti.
Keteraturan hanya akan ada jika ada kepastian dan untuk adanya kepastian
hukum haruslah dibuat dalam bentuk yang pasti pula (tertulis).35
Dalam pandangan
Undang-Undang Nomor
1
Tahun
1974
tentang
Perkawinan, suatu perkawinan belum dianggap sah apabila belum dicatat oleh
pegawai pencatat nikah dan belum dituangkan dalam buku nikah. Sehingga hal ini
berdampak pada kedudukan si isteri, anak, dan harta kekayaan, hal ini akan menjadi
32
33
Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1995, hal 49-50.
Sudikno Mertoskusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1988,
hal.58.
34
Ibid., hal.136.
Lili Rasjidi, I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, C.V. Mandar Maju, Jakarta,
2003, hal.184.
35
Universitas Sumatera Utara
22
lebih pelik lagi apabila terjadi perpisahan dan status anak yang dilahirkan adalah anak
yang tidak sah.
Konsekuensi dari perkawinan yang tidak dicatatkan adalah anak hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibu. Anak tidak
mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya (Pasal 42 dan Pasal 43 Undang
Undang Perkawinan, pasal 250 Kitab Undang Undang Hukum Perdata). Di dalam
akta kelahiran dari anak yang perkawinan kedua orang tuanya tidak dicatatkan, hanya
dicantumkan nama ibunya karena dianggap anak di luar nikah. Tidak dicantumkan
nama ayah di dalam akta kelahiran memiliki dampak sosiologis dan psikologis bagi
anak dan ibunya.
Ketidakjelasan status hukum antara anak dan ayahnya, menimbulkan
kemungkinan bagi si ayah untuk menyangkal keberadaan anak sehingga anak tidak
berhak atas biaya hidup, biaya pendidikan, nafkah, serta warisan dari ayahnya.
Berbagai persoalan dan dampak putusnya perkawinan yang tidak dicatatkan
serta akibat hukum terhadap isteri, anak, dan harta kekayaannya akan diteliti dan
dibahas lebih lanjut dalam tesis ini.
2.
Konsepsi
Konsep merupakan hal-hal yang dianggap penting sehingga digunakan dalam
hukum, konsep ini sama pentingnya dengan asas maupun standar. Konsep adalah
suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang
Universitas Sumatera Utara
23
berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis”.36 Kerangka konsepsional
mengungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai
dasar penelitian hukum.37
Konsep merupakan salah satu bagian penting dari sebuah teori. Peranan
konsepsi dalam penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi, antara
abstraksi dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi
yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut definisi operasional.38
Di dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan
beberapa konsep dasar agar dapat diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan
tujuan yang telah ditentukan diantaranya adalah :
a.
Perkawinan yang tidak didaftarkan adalah pernikahan yang dilakukan oleh wali
atau wakil wali dan disaksikan oleh para saksi, tetapi tidak dilakukan di hadapan
Petugas Pencatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau perkawinan yang
tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam atau di
Kantor Catatan Sipil bagi yang tidak beragama Islam, sehingga dengan
sendirinya tidak mempunyai Akta Nikah yang dikeluarkan oleh Pemerintah. 39
36
Satjipto Rahardjo. Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal. 397.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 7.
38
Sutan Remy Sjahdeini. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi
Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institute Bankir Indonesia, Jakarta, 1983, hal.
10
39
Penelitian Abdullah Wasian, 2010, Akibat Hukum Perkawinan Siri ( Tidak Dicatatkan )
Terhadap Kedudukan Istri, Anak, dan Harta Kekayaannya Tinjauan Hukum Islam dan Undang –
Undang Perkawinan, Tesis S2, Universitas Diponegoro
37
Universitas Sumatera Utara
24
Yang dimaksud dengan perkawinan dalam studi ini adalah perkawinan yang
dilangsungkan menurut hukum adat Tionghoa.
b.
Catatan Sipil adalah suatu lembaga yang bertugas untuk mencatat atau mendaftar
setiap perisitiwa yang diamati oleh setiap warga masyarakat, misalnya
perkawinan, dengan tujuan untuk mendapat data selengkap mungkin agar status
perkawinan warga masyarakat dapat diketahui.40
c.
Pencatatan Perkawinan bagi Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa
dilakukan di Kantor Catatan Sipil.41
d.
Perceraian adalah terputusnya hubungan perkawinan suami isteri saat keduanya
masih hidup di depan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang
ditentukan undang-undang.42 Yang dimaksud dengan perceraian dalam studi ini
adalah pengakhiran hubungan hidup bersama antara suami-isteri yang
perkawinannya dilangsungkan menurut hukum adat Tionghoa.
G. Metode Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip, dan tata cara memecahkan suatu
masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun, dan tuntas
terhadap suatu gejala untuk merambah pengetahuan manusia43 Jadi metode penelitian
dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan
40
Nico Ngani, Cara Untuk Memperoleh Akta Catatan Sipil, Liberty, Yogyakarta, 1984, hal.6.
Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang – Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
42
Purnadi Purbacakara dan Agus Brotosusilo, Sendi-Sendi Hukum Perdata Internasional,
Suatu Orientasi, Alumni, Bandung, 1983, hal.48.
43
Soerjono Soekanto. Op.Ci.t, hal 6.
41
Universitas Sumatera Utara
25
masalah-masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian tesis
ini digunakan metode sebagai berikut :
1.
Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, yaitu penelitian yang bertujuan untuk
membuat gambaran atau lukisan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat- sifat serta hubungan fenomena yang diselidiki.44
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif yaitu
penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif, yang berawal dari
premis umum kemudian berakhir pada suatu kesimpulan khusus.
Ronald Dworkin menyebut metode penelitian yuridis normatif disebut juga
penelitan doctrinal atau doctrinal research , yaitu suatu penelitian yang menganalisis
baik hukum sebagai law as it written in the book, maupun hukum sebagai law as it is
decided by the judge through judicial process.45
2.
Sumber dan Jenis Data
Secara umum jenis data yang diperlukan dalam suatu penelitian hukum
terarah pada data sekunder dan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh
langsung dari sumbernya, sedangkan data sekunder adalah data yang telah
dikumpulkan dan disistematisir oleh pihak lain. Karena penelitian ini yuridis normatif
44
Soerjono Soekanto, Metodologi Research, Andi Offset, Yogyakarta, 1998, hal.3.
Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum,
disampaikan pada dialog interaktif tentang penelitian hukum dan hasil penulisan hukum pada Majalah
Akreditasi, Fakultas Hukum USU, tanggal 18 Februari 2003, hal.2.
45
Universitas Sumatera Utara
26
maka sumber dan jenis datanya terfokus pada data sekunder yang meliputi bahanbahan hukum dan dokumen hukum termasuk kasus-kasus hukum yang menjadi
pijakan dasar peneliti dalam rangka menjawab permasalahan dan tujuan penelitian.
Bahan-bahan hukum dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, bahan
hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
a.
Bahan hukum primer yaitu :
1) Hukum dan Peraturan Perundang – undangan tentang Perkawinan
2) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974
b.
Bahan hukum sekunder yaitu :
1) Kitab Undang – Undang Hukum Perdata
2) Undang – Undang Perlindungan Anak
3) Peraturan Perundangan dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan
pelaksanaan Hukum Perkawinan di Indonesia
4) Buku – buku , literatur, artikel, makalah, dan tulisan – tulisan yang berkaitan
dengan perkawinan yang tidak didaftarkan
c.
Bahan hukum tersier yaitu :
Ensiklopedia, kamus, jurnal hukum, media massa, dan lain – lain, sebagai
pendukung.
3.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sumber
data , karena dengan pengumpulan data ini akan diperoleh data yang diperlukan untuk
selanjutnya dianalisa sesuai dengan yang diharapkan. Berkaitan dengan penelitian
Universitas Sumatera Utara
27
yuridis normatif maka metode pengumpulan data berstandar pada data sekunder yaitu
dengan cara studi pustaka, wawancara dengan informan, studi lapangan,
studi
dokumenter, dan masalah – masalah hukum yang telah dibukukan.
4.
Analisis Data
“Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan
data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema
dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.46
Metode ini tidak bisa dipisahkan dengan pendekatan masalah, spesifikasi
penelitian, dan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian yang dilakukan. Pada
penelitian yuridis normatif ini teknik analisa datanya bersifat analisis data kualitatif
normatif. Analitis kualitatif merupakan suatu tata cara penelitian yang menghasilkan
data deskiriptif analitis.47
Kegiatan analisis dimulai dengan dilakukan pemeriksaan terhadap data yang
terkumpul baik melalui wawancara yang dilakukan, inventarisasi karya ilmiah,
peraturan perundang-undangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media
cetak dan laporan-laporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studi
kepustakaan. Kemudian data primer dan data sekunder dianalisis secara kuantitatif,
untuk pembahasan yang lebih mendalam dilakukan secara kualitatif, setelah
pengolahan data selesai dilakukan maka akan ditarik kesimpulan dengan
menggunakan metode deduktif, sehingga diharapkan akan dapat memberikan
jawaban atas permasalahan hukum yang ada dalam tesis ini.
46
47
Lexy J.Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal.101.
Soerjono Soekanto , dan Sri Mamudji, Op.Cit., hal. 13.
Universitas Sumatera Utara
Download