BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian ini berfokus pada studi tentang identitas Dayak di Kalimantan
Tengah yang terepresentasi melalui kehadiran lembaga-lembaga pengusung
“nilai-nilai” adat Dayak. Fenomena ini tumbuh dan berkembang seiring dengan
semakin melonggarnya jeratan rantai sentralisme yang selama Era Orde Baru
mengekang keberadaan lembaga-lembaga adat masyarakat etnis melalui strategi
intervensi negara pada komunitas-komunitas. Untuk itu studi ini penting untuk
dilakukan sebagai bagian dari politik identitas etnis Dayak di Kalimantan Tengah.
Sejalan dengan itu etnisitas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
Kalimantan Tengah dimaknai sebagai sesuatu yang melekat pada setiap individu
dalam kelompok-kelompok tertentu. Etnisitas dimaknai pula sebagai bentuk klaim
diri sendiri maupun klaim dari pihak lain. Etnisitas dalam konteks klaim
individual terkadang merupakan suatu pilihan bagi individu untuk memposisikan
dirinya sebagai etnis apa, pilihan mana merupakan modal survivalitas dan sarana
interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Etnisitas dalam perkembangannya juga dipengaruhi karena faktor geografis
dan faktor demografis, akibatnya pengelompokkan etnis beserta adat budaya yang
melingkupinya dalam suatu batasan wilayah tertentu dari sistem otonomi daerah
di Indonesia, tidak bisa dihindari. Hampir di tiap daerah otonom selalu ada
kelompok mayoritas dari suku bangsa tertentu, misalnya orang Bali di Provinsi
Bali, orang Sasak di NTB, orang Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, dan lainlain. Keragaman suku dan adat budaya tersebut sudah ada jauh sebelum lahirnya
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sadar akan realitas keberagaman sebagai
suatu potensi sekaligus ancamam ketika tak bisa terkelola dengan baik, maka para
pendiri bangsa sepakat menjadikan sesanti Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda
1
tetapi tetap satu, sebagai motto bangsa yang memberikan arahan bagaimana
memandang perbedaan dari suatu keberagaman sebagai bentuk kesatuan.
Makna kesatuan tersebut sempat dijadikan alat kekuasaan rezim Orde Baru
untuk memberangus perbedaan dengan aksi penyeragaman (regimentasi) dan
pemberlakuan asas tunggal Pancasila serta perilaku korporatisme negara terhadap
sejumlah organisasi bentukan rezim mulai tingkat pusat sampai ke level desa.
Sebut saja salah satunya adalah organisasi Karang Taruna. Hal ini dilakukan
negara dengan alasan meredam potensi konflik karena perbedaan atas hal-hal
yang berbau suku, agama, ras, dan antar-golongan yang ada pada masyarakat.
Menurut Asgart, negara berusaha meredam perbedaan terkait persoalan etnisitas
dengan cara represif dan hegemoni. Represif diartikan sebagai tindakan yang
menggunakan alat-alat negara yang bersifat memaksa dan mengikat, seperti
hukum dan militer, sedangkan hegemoni dilakukan dengan cara penanaman
ideologi Nasionalisme Pancasila melalui budaya dan informasi sampai ke akar
rumput (Asgart, 2004: 251-253).
Dayak merupakan suatu entitas etnik yang menunjuk pada keberadaan
identitas penduduk asli “Indigenous people” yang mendiami Kalimantan Tengah,
memiliki kultur sosial yang masih alami, namun kini secara perlahan tapi pasti
mulai membangun semangat kolektivitas etnis yang didasarkan kepada nilai-nilai
lokal. Semangat kolektivitas ini dapat dilihat dari kehadiran sejumlah lembaga
yang membawa-serta nilai-nilai adat Dayak sebagai raison d’etre berdiri dan
berkembangnya organisasi. Hal ini semakin menemukan momentum yang tepat
se-iring bergulirnya era reformasi serta semakin diperkuat lagi pasca-konflik etnis
yang terjadi di Kalimantan Tengah. Sebagai contoh semangat kolektivitas ini yaitu
Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah (LMMDDKT). Organisasi itu didirikan pada tahun 1993, ketika Orde Baru tetap kuat dan
tanpa tantangan sama sekali. Organisasi itu bertujuan mendesak Jakarta agar tidak
menunjuk seorang gubernur provinsi yang orang Jawa, melainkan memilih
seorang “putra daerah” (Manley dikutip oleh Klinken, 2007 : 214). Organisasi ini
juga turut membentuk aktor-aktor lokal pada konflik etnis antara Dayak dan
Madura di Kalimantan Tengah pada tahun 2001.
2
Awalnya, lembaga adat Dayak yang ada di Kalimantan Tengah di era Orde
Baru hanya ada satu yakni, Lembaga Adat Kedamangan yang merupakan bagian
dari pemerintahan lokal yang ada lebih dahulu. Lembaga Adat Kedamangan ini
pada era Orde Baru bersifat independen dan diakui keberadaannya sebagai
lembaga nonformal pemerintahan dan merupakan suatu kekayaan lokal yang
masih bekerja dalam ruang ke-adat-an Dayak di Kalimantan Tengah. Hanya saja
keberadaan lembaga adat Kedamangan ini ter-kooptasi oleh kepentingan negara.
Kooptasi ini dapat dilihat dari regulasi yang mengaturnya yakni Undang-Undang
(UU) Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, lembaga-lembaga adat
berada dibawah Lembaga Musyawarah Desa (LMD) dan Kepala Desa karena
Kepala Desa LMD ex officio adalah Ketua LMD. Keberadaan lembaga-lembaga
adat atau lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam UU No.5/1979, pasal 17 ayat
(1) ditegaskan : “Lembaga Musyawarah Desa adalah lembaga permusyawaratan /
permufakatan yang keanggotaannya terdiri atas Kepala-kepala Dusun, Pemimpin
Lembaga-lembaga Kemasyarakatan dan Pemuka-pemuka Masyarakat di Desa
yang bersangkutan” (Djuweng dkk., hlm. 81).
Era Reformasi dan pasca konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Tengah,
telah membawa perubahan yang begitu signifikan pada perkembangan Lembaga
Adat Kedamangan. Kini lembaga adat tersebut perlahan-lahan mulai bergeser
secara sistem, ke arah yang lebih diakui dalam arti sesungguhnya. Satu hal yang
menandai perubahan tersebut, telah terciptanya produk kebijakan bagi Lembaga
Adat Dayak yang dalam hal ini Lembaga Adat Kedamangan dalam bentuk
Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 tahun 2008
tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. Berikutnya, kehadiran
lembaga-lembaga Adat Dayak yang lain yakni Majelis Adat Dayak Nasional
(MADN), Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, beserta sub organisasi
di bawahnya yakni Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (BATAMAD),
juga merupakan “buntut” dari dikeluarkannya perda tersebut.
DAD merupakan lembaga non-formal yang pendiriannya di-akta-kan pada
notaris, memiliki struktur organisasi berjenjang dari tingkat Regional Kalimantan
(mencakup
provinsi
lain),
provinsi,
kabupaten/kota,
kecamatan,
dan
3
desa/kelurahan. Dewan adat ini telah menyelenggarakan tiga kali Musyawarah
Nasional (Munas). Munas yang pertama kali diadakan di Kalimantan Timur pada
tanggal 29 November 2004, telah berhasil memilih pengurus DAD, lalu
dilanjutkan dengan musyawarah nasional yang ke-dua di Kalimantan Barat pada
tanggal 2-5 September 2010.
Lain daripada itu, dalam konteks Kalimantan Tengah, sebagai lembaga
adat seperti Kedamangan dan perangkat-perangkat adat lainnya ini masih
dianggap penting keberadaannya sehingga statusnya sebagai bagian dari MADN
dan DAD. Hal ini dikarenakan peran serta mereka baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam menjaga nilai-nilai etnisitas ke-Dayak-an di akar rumput
masih tetap dijalankan. Sebab keberadaan mereka langsung berada di tengahtengah masyarakat dalam lingkup satu kecamatan atau beberapa desa/kampung
yang menjadi bagian dari wilayah kerja lembaga adat kedamangan beserta
perangkat-perangkat adatnya yang menyebar. Hal ini dapat dilihat dari
perselisihan-perselisihan atau segala aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan adat
Dayak masih dikerjakan oleh lembaga adat kedamangan atau aparat-aparat adat
yang memiliki wewenang untuk menjalankan tugas adat yang diamanahkan.
Mengglobalnya nilai-nilai modernisme salah satu faktanya yang ditandai
dengan ekonomi terindustrialisasi secara maju, cenderung menuntut pula
penyingkiran nilai-nilai kelokalan secara tidak langsung maupun langsung yang
berbasis pada adat. Hadir demi pencapaian-pencapaian keuntungan korporasi
dengan jalan pengerahan mesin-mesin produksi berskala besar ditengah-tengah
masyarakat. Masyarakat etnik yang dianggap kental dengan tradisionalismenya,
oleh arus korporasi yang modern dinilai sebagai penghalang atas tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Oleh karena itu, kontestasi keduanya tidak dapat terhalangi.
Menyebabkan klaim atas lingkungan alam (tanah, hutan, air, dan yang lainnya)
merupakan domain produksi keduabelah pihak yang selalu dihembuskan dari
masa ke masa, dan lembaga adat kedamangan turut hadir di dalam wilayah
tersebut.
Sejalan dengan paragraf tersebut di atas, terdapat kelompok-kelompok
berlatar-belakang etnik tertentu yang hidup serta hadir di wilayah Kalimantan
4
Tengah sebagai bagian dari perpindahan penduduk atau juga bisa terjadi karena
perpindahan yang di sengaja baik oleh negara atau faktor sejarah. Sehingga
komposisi masyarakat menjadi masyarakat multi identitas etnik, kemudian
mempengaruhi pola bertahan hidup kelompok-kelompk etnik tertentu sehingga
kontestasi antar kelompok etnik juga tidak dapat dihindari. Akibatnya gesekangesekan berupa konflik sosial dapat ditemukan serta dimungkinan terjadi sebagai
bentuk efek lanjutan dari kontestasi etnik tersebut.
Hadirnya lembaga-lembaga adat Dayak ini menjadi pertanyaan sendiri
yang harus dijawab. Lembaga-lembaga adat Dayak yang berbasis pada etnisitas
merupakan sebuah sarana untuk mengorganisir kelompok etnik. Oleh karena itu,
lembaga adat yang juga sebagai salah satu bentuk representasi politik adalah
sebuah sarana yang harus dikendarai demi tercapainya tujuan-tujuan kelompok
etnik itu sendiri. Sehingga latar belakang kehadiran lembaga-lembaga adat
menjadi penting untuk diteliti secara esensialnya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapat dari uraian di atas adalah sebagai
berikut:
1. Apa latar belakang munculnya Lembaga-Lembaga Adat Dayak di
Kalimantan Tengah ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah :
a. Untuk melihat instrumen-instrumen yang digunakan pada institusi adat Dayak
di Kalimantan Tengah.
b. Untuk melihat menguatnya identitas etnis ke-Dayak-an.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat Etnis Dayak
Masyarakat Dayak dapat memahami latar belakang pembentukan lembagalembaga Adat Dayak dalam merepresentasikan kepentingan masyarakat Dayak.
5
2. Bagi Penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi bagi peneliti
selanjutnya, yang tertarik mengkaji politik etnisitas ke-Dayak-an di Kalimantan
Tengah.
3. Referensi
Menambah referensi kekurangan kajian tentang politik etnisitas Ke-Dayak-an
secara khusus di Kalimantan Tengah.
E. Literatur review.
Secara literasi diperlukannya pemetaan terhadap kajian-kajian terdahulu.
Oleh karena itu, pemetaan dilakukan dengan cara mengumpulkan literaturliteratur terkait tesis ini kemudian menguraikannya secara singkat agar diketahui
perbedaan-perbedaan dari kajian studi yang sudah pernah dilakukan sehubungan
dengan bertaliannya konteks identitas.
Tulisan sebelumnya tentang etnisitas Dayak dilakukan dan diteliti oleh
Maunati (2004). Dalam tulisan tersebut ia menguraikan hasil penelitian
etnografinya yang berfokus pada kebudayaan dan identitas Dayak, yang secara
umum menggambarkan tentang kerasnya kehidupan sehari-hari di Desa Long
Mekar (nama desa ini bukan nama yang sebenarnya) - Kalimantan Timur. Serta
identitas Dayak sebagai suatu konstruksi yang dipertentangkan melalui proses
politik yang cukup panjang sehingga menghasilkan suatu konsep ke-Dayakan.
Konsep ke-Dayakan di sini diuraikan sebagai sesuatu yang diwacanakan sejak era
kolonisasi. Era kolonisasi ini adalah suatu masa ekspansi Belanda ke wilayah
Kalimantan Timur yang terjadi pada masyarakat Dayak Kenyah yang primitif.
Tulisan ini memetakan identitas Dayak dalam konteks industri pariwisata dan
mobilitas sosial dalam kelompok-kelompok pekerja kelas menengah yang secara
khusus dalam sektor publik di Kalimantan Timur. Dalam hal lembaga-lembaga
ke-Dayakan dalam tulisan ini dijelaskan bahwa ada lembaga yang bersifat alami
yakni Desa sebagai organisasi sosial dan politik yang tercipta oleh proses sosial
masyarakat. Selain itu dilanjutkan dengan lahirnya organisasi Dayak yang modern
dan pertama kali di Kalimantan Timur. Organisasi ini bernama Solidaritas, yang
6
berdiri pada tahun 1993 kemudian bertransformasi menjadi lembaga baru yakni
Lembaga Adat Kenyah pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2003. Lembaga ini
tidak bertahan lama dikarenakan banyaknya pertentangan, baik dari dalam
komunitas lembaga itu sendiri maupun dari komunitas luar.
Tulisan berikutnya yakni pada migran Banjar yang merupakan bagian dari
etnis di Kalimantan. Arbain (2009) dalam tulisannya mengenai studi
kependudukan menunjukkan bahwa penggunaan asosiasi sukarela (berbentuk
yayasan) dalam bingkai etnis sebagai bentuk strategi-strategi adaptasi migran
Banjar yang dilihat dari lokus dua Kelurahan di Kota Palangkaraya Propinsi
Kalimantan Tengah. Asosiasi ini hanya digunakan sebagai wadah bertemu dan
berkumpulnya etnis Banjar yang berada di Kota Palangkaraya untuk melakukan
kegiatan yang bersifat etnis-religius. Sebagai faktor-faktor penguatan intensitas
interaksi sesama etnis Banjar perantauan di Kota Palangkaraya. Secara afektif
perilaku migran Banjar ditunjukkan untuk menghindari stereotip-stereotip sebagai
efek konflik etnis Dayak-Madura yang terjadi di Kota Palangkaraya dan Kota
Sampit pada tahun 2001. Karena migran Banjar sebagai warga pendatang di kota
Palangkaraya dapat menghindari gesekan-gesekan. Dalam kehidupan berpolitik
penggunaan asosiasi sukarela migran Banjar mengarahkan partisipasinya kepada
pola dukungan calon-calon peserta tertentu pada lingkup elektoral yang bersifat
religius dan bukan atas pengaruh sentimen etnisitas.
Dilanjutkan dengan kajian yang sama terhadap asosiasi sukarela sukubangsa
di Kota Batam sebagai wadah representasi oleh Yulizar Syafri (2010). Kajian ini
memperlihatkan secara umum bahwa asosiasi sukarela etnisitas digunakan sebagai
bentuk perilaku pertahanan diri sekaligus perebutan sumberdaya-sumberdaya
ekonomi dan politik dalam situasi dan kondisi heterogenitas kesukubangsaan pada
masyarakat di Kota Batam. Baik dalam bentuk perdagangan (suplai material dari
dalam dan luar Kota Batam) dan jabatan-jabatan strategis di birokrasi dan politik.
Kesemuanya ini direbut oleh beragam sukubangsa yang ada di kota Batam dalam
dua pusat kekuasaan, yaitu Otorita Batam dan Pemerintah Kota Batam. Dalam
perjalanannya Otorita Batam diistilahkan sebagai kerajaan orang Sunda, dan
Pemerintah Kota Batam diistilahkan sebagai tempat kekuasaan orang Melayu.
7
Proses interaksi sosial dilihat dalam kajian ini yaitu dari hubungan kekerabatan
dalam sukubangsa, pertemenan dan klik (dalam hal ini dimaksudkan diluar suku
bangsa).
Temuan menarik lainnya dari Gerry van Klinken (2007) yaitu berkaitan
dengan konflik etnik terjadi pada kota Sampit serta kota-kota sekitarnya di
provinsi Kalimantan Tengah. Dalam bukunya yang berjudul Perang Kota Kecil,
Klinken mencatat bahwa situasi yang sebenarnya terjadi dalam konflik Sampit ini
adalah bagaimana aktor-aktor lokal Dayak baru terbentuk dengan menggunakan
pola strategi gerakan chauvinistis pada masyarakat etnik Dayak sendiri, dengan
menggunakan teori dynamics of contention. Dalam penelitian ini juga Klinken
hanya melihat aktivitas gerakan pada organisasi dan bukan pada level
kelembagaan adat Dayak. Organisasi ini konsentrasi utamanya beroperasi di kota
Palangkaraya, tetapi berdampak penting ketika telah terjadi chaos kecil antar etnik
Dayak dan etnik Madura kemudian setelah itu menyebar menjadi konflik yang
besar di kota Sampit.
Bertalian dengan di atas, karya selanjutnya masih bertemakan konflik etnik
Sampit di Kalimantan Tengah oleh Muhamad Sulhan (2006). Akan tetapi, hasilhasil temuan yang telah dibahas dalam buku ini lebih banyak tentang analisis teks
tentang representasi identitas etnik Dayak di media cetak dengan perbandingan
satu (1) media cetak lokal Kalimantan Tengah yaitu Kalteng Pos dengan satu (1)
media cetak nasional yaitu harian Kompas. Dalam penelitian Sulhan tersebut dia
menggunakan pisau bedah utamanya dari Teun A van Dijk tentang analisis
kognisi sosial terutama pada media cetak. Secara garis besar, Sulhan (2006 : hal
239-240) mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa kecenderungan penulisan
berita yang dilakukan pada dua media massa terteliti (kalteng Pos dan Kompas)
atas fenomena konflik (sampit Februari 2001), menghasilkan pola pemberitaan
yang spesifik dan unik pada masing-masing media. Kompas, sebagai media
nasional dalam headline-nya cenderung konflik Sampit 2001 sebagai bagian dari
beragam konflik lain yang tengah terjadi di Indonesia, baik itu konflik Maluku,
Selatpanjang, dan Sambas. Tingkat perhatian Kompas atas konflik Sampit 2001
meningkat pada hari-hari terakhir bulan Pebruari, untuk kemudian cenderung
8
menurun (tidak lagi mengangkatnya sebagai headline) pada pemberitaan bulan
Maret 2001. Sementara itu, Kalteng Pos sejak pertengahan bulan Pebruari 2001
hingga akhir Maret 2001 selalu menempatkan konflik Sampit 2001 sebagai
headline-headline mereka.
Kajian studi berikutnya masih dalam pusaran yang sama yaitu terkait
dengan warga etnik Dayak dan etnik Madura dengan lokus kajian di Desa Salatiga
Kabupaten Landak provinsi Kalimantan Barat. Dalam kajian Giring (2004) ini
lebih berfokus pada citra orang Madura di mata orang Dayak Kanayatn pada Desa
Salatiga. Hasil kajian Giring (2004 : 151) menunjukkan bahwa meskipun terdapat
adanya citra Madura itu baik, namun citra yang paling mempengaruhi sikap dan
tindakan orang Dayak Kanayatn (baik terhadap dirinya maupun terhadap orang
Madura) adalah citra orang Madura suka kekerasan. Citra orang Madura suka
kekerasan dan citra orang Madura itu keduanya merupakan citra yang menonjol
dan sekaligus berkompetisi.
Kembali ke dalam konteks Kalimantan Tengah, kajian selanjutnya diisi oleh
Anita Tristya Wenni (2011) tentang kebijakan tanah adat. Kajian tentang
kebijakan publik yang dilakukan oleh Anita (2011 : 140-141) ini menemukan
bahwa pertama, terjadinya peningkatan eksalasi konflik sengketa tanah dimana
tidak hadirnya negara untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kedua, reaksi
terorganisir masyarakat adat yang didukung oleh banyaknya organisasi
kemasyarakatan (ormas) sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi di Indonesia
yang lebih berpihak kepada masyarakat bawah. Faktor ketiga adalah merupakan
komitmen politik gubernur Kalimantan Tengah yang dilihat sebagai secret agenda
untuk
melakukan
pencitraan
sebagai
usaha
memenangkan
kepercayaan
masyarakat etnik Dayak agar dapat memimpin kembali pada posisi gubernur
untuk kedua kalinya. Faktor keempat dilihat pada kondisi aturan hukum yang
masih kurang efektif sehingga tumpang tindih kepentingan-kepentingan antara
kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah karena proses pembangunan
sebagai dampak berakhirnya sentralistiknya negara. Secara umum gambaran
kajian kelembagaan adat Dayak oleh Anita ini hanya berkutat pada fungsi sebagai
pemersatu masyarakat Dayak se-Kalimantan dan tidak menjelaskan latar belakang
9
kehadirannya. Sehingga secara utuh kita tidak dapat menemukan latar belakang
keseleruhan hadirnya lembaga adat.
Dalam lingkup demokrasi nilai-nilai kelokalan etnisitas berperan sangat
efektif untuk membangun kesadaran dalam bidang pemberdayaan sosial-ekonomi
masyarakat lokal. Perkumpulan Demos pada tahun 2003 yang mewadahi
penelitian ini, melihat pada kasus di Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah.
Dalam konteks Kalimantan Barat, E. Lalalng Wardoyo (2003 : 229-242)
menggambarkan keberhasilan A.R. Mercer dalam membangun perekonomian
serta aktifitas politik lainnya yang berkonsentrasi pertama kali di Pontianak
dengan mendirikan Credit Union (CU) dibawah Yayasan Pancur Kasih (YPK).
Pandangan Mercer beserta rekan-rekannya yang diutarakan oleh Wardoyo ini, di
yayasan tersebut dalam hal pendirian CU yaitu atas dasar keprihatinan mereka
melihat perekonomian masyarakat Dayak yang kalah dengan warga pendatang.
Kemudian CU ini menjadi besar. Lalu mulai menerima enggota-anggota CU-nya
yang baru dari warga-warga etnik lain dan bahkan ditiru untuk digunakan di
provinsi-provinsi lain.
Berdasarkan pemaparan-pemaparan yang telah dilakukan di atas
penelitian ini berbeda. Fokus penelitian ini adalah kehadiran lembaga-lembaga
adat Dayak di Kalimantan Tengah sebagai bagian dari bentuk representasi
komunitas Dayak secara umum. Hal itu dapat dilihat dari apa yang menjadi
pemicu lahirnya lembaga-lembaga adat Dayak. Penelitian ini memiliki
signifikansi secara praktis dan teoritis. Secara praktis penelitian ini hendak
menggambarkan potret identitas etnis Dayak, selain itu juga ingin melihat
berdasarkan penguatan identitas etnis ke-Dayak-an. Dari segi teoritis, penelitian
ini
menggambarkan
intrumentasi
lembaga-lembaga
tersebut
dari
faktor
rasa/sentimen etnisitas yang melihat dimensi identifikasi atas masalah-masalah
yang digunakan sebagai tolok ukurnya berdirinya lembaga adat.
10
F. Kerangka Teori
1. Konsep Etnisitas.
Etnis ataupun etnisitas memiliki definisi yang berbeda jika dilihat dari
bahasa yang dipergunakan untuk mengartikannya. Pertama, jika pengertian
etnisitas berasal dari Etnos bahasa Yunani kuno, yang pada dasar pengertiannya
adalah sekelompok manusia yang memiliki ciri-ciri yang sama dalam hal budaya
dan biologis serta bertindak menurut pola-pola yang sama. Sedangkan dalam
kamus bahasa Indonesia sendiri etnis atau etnik bertalian dengan kelompok sosial
dalam sistem sosial atau kebudayaan yg mempunyai arti atau kedudukan tertentu
karena keturunan, adat, agama, bahasa, dsb. Sedangkan dalam Cambridge
Dictionary (dalam situs www.dictionary.cambridge.org), ethnic (etnik/etnis)
dipisahkan berdasarkan maknanya, sebagai sebuah kata sifat (adjective) yaitu
ethnic yang dijelaskan from a different race, or interesting because characteristic
of an ethnic group that is very different from those that are common in western
culture, yang dalam bahasa Indonesianya diartikan sebagai dari ras yang berbeda,
atau hal-hal menarik berdasarkan karakteristik sebuah kelompok etnis yang
sangat berbeda dengan yang umum dalam budaya barat.
Sedangkan Handelman dalam Tilaar (2007:5) memiliki pendapat yang
berbeda.
Handelman
membedakan
empat
tingkat
perkembangan
yang
dipertunjukkan di dalam komunitas budaya manusia, yakni: Pertama; kategori
etnis, keterhubungan seseorang dengan masyarakat merupakan suatu ikatan yang
agak longgar dan sekadar suatu gambaran adanya perbedaan budaya antara
kelompoknya dengan dunia luar. Contoh kelompok etnis yang ikatannya telah
longgar namun tetap masih menjaga ikatan etnisnya adalah daerah Tapanuli, Aceh
dan Sulawesi Selatan, Kedua; jaringan etnis sudah terdapat interaksi yang teratur
antara anggota-anggota etnis tersebut sehingga dengan jaringan tersebut terjadi
distribusi sumber-sumber antara anggotanya. Pada tingkat asosiasi etnis, para
anggotanya telah mengembangkan minat yang sama dan membentuk organisasiorganisasi politik dalam pernyataan-pernyataan kolektif, contohnya Persaudaraan
Saudagar Bugis-Makassar yang sudah mempunyai agenda kegiatan rutin, Ketiga;
pada tingkat masyarakat etnis (ethnic community) kelompok masyarakat tersebut
11
telah memiliki teritori yang tetap serta terikat di atas organisasi politiknya seperti
misalnya yang terlihat di dalam suatu negara nasional (nation state).
Lebih lanjut Schermerhorn (dalam Tilaar, 2007: 5) melengkapinya dengan
mengatakan bahwa suatu kelompok etnis adalah suatu masyarakat kolektif yang
mempunyai atau digambarkan memiliki kesatuan nenek moyang, mempunyai
pengalaman sejarah yang sama di masa lalu, serta mempunyai fokus budaya di
dalam satu atau beberapa elemen-elemen simbolik yang menyatakan akan
keanggotaannya, seperti pola-pola keluarga, ciri-ciri fisik, aliansi agama dan
kepercayaan, bentuk-bentuk dialek atau bahasa, afiliasi kesukuan, nasionalitas,
atau kombinasi dari sifat-sifat tersebut yang pada dasarnya terdapat ikatan antar
anggotanya sebagai suatu kelompok.
Tilaar (2005) kemudian melanjutkannya dengan sifat-sifat yang melekat
pada etnis. Pada dasarnya suatu kelompok etnis mempunyai enam sifat, sebagai
berikut: 1) Memiliki nama yang khas yang mengidentifikasikan hakikat dari suatu
masyarakat, misalnya Mallarangeng dan Mappanyukki yang identik dengan etnis
Bugis, Sijaya dan Rewa yang identik dengan etnis Makassar. 2) Memiliki suatu
mitos akan kesatuan nenek moyang, kesamaan akan asal usul dalam waktu
tertentu sehingga kelompok tersebut membentuk suatu kekeluargaan yang fiktif,
misalnya etnis Bugis dan etnis Makassar yang mempercayai mitos La galigo (awal
mula dunia di huni) dan To Manurung (Pemimpin yang turun dari langit). 3)
Kelompok tersebut mempunyai ingatan historis yang sama atau mempunyai
memori masa lalu yang sama seperti pahlawan, kejadian-kejadian tertentu,
misalnya Arung Pallakka dari Bugis dan Sultan Hasanuddin dari Makassar yang
terlibat dalam Perjanjian Bungaya yang kemudian menjadi konflik yang
berkelanjutan namun terselubung sampai sekarang antara orang-orang Bugis
dengan Makassar. 4) Kelompok tersebut memiliki kesatuan elemen-elemen
budaya seperti agama, adat istiadat dan bahasa, pada dasarnya Bugis-Makasar
memiliki kesamaan adat istiadat dan agama yang dianut namun memiliki
perbedaan bahasa walaupun menggunakan aksara yang sama. 5) Kelompok
tersebut terikat dengan tumpah darah baik secara fisik maupun hanya sebagai
keterikatan simbolik terhadap tanah leluhurnya seperti pada kelompok-kelompok
12
diaspora Bugis-Makassar yang tersebar di penjuru Nusantara. 6) Memiliki suatu
rasa solidaritas dari penduduknya.
Berbagai penjelasan dari definisi-definisi etnisitas yang dijelaskan di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa dikatakan etnis adalah suatu kelompok yang
didefinisikan dalam masyarakat yang memiliki perbedaan atau karakteristikkarakteristik tertentu antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Sehingga,
dari definisi yang penulis uraikan tersebut dapat membantu penulis untuk
menjelaskan tentang gambaran identitas ke-Dayak-an pada bab ii. Selain itu,
untuk membantu menegaskan suatu kelompok etnis itu berbeda dengan kelompok
etnis yang lainnya maka terdapat karakteristik-karakteristik yang pada umumnya
menonjol. Berangkat dari definisi-definisi yang telah disebutkan di atas penulis
mengasumsikan karakteristik-karaketristiknya seperti di bawah ini :
1. Memiliki nama atau label etnis itu sendiri. Baik yang digunakan sendiri
(sebuah pengakuan), danatau yang diberikan oleh seseorang kelompok lain.
Biasanya sebuah nama atau label lahir sebagai nama utama yang melekat
atau bisa juga diperistilahkan.
2. Memiliki etno-linguistik (bahasa) dan religi. Etnik Dayak merupakan
merupakan etnik yang besar, karenanya pemilihan sub-sub etnik (sub-sub
suku) tidak dapat dihindari. Hal ini menyebabkan pemilahan sub-sub etnik
hadir dan beroperasi karena wilayah atau faktor perbedaan penempatan
aktifitas kehidupan mendekati sungai yang menjadi tolok ukur perbedaan.
Begitupun dengan religi, sebelum ada dan beroperasinya agama-agama
baru yang dibawa oleh kaum pedagang, ilmuwan, serta administrator era
kolonialis ke pulau Kalimantan, religi yang dianut pada pra-kolonialis yaitu
animisme.
3. Memiliki strata sosial. Dikatakan strata sosial karena dilihat dari alam
materialismenya sendiri yang digambarkan atas pelapisan sosial di
lingkungan masyarakatnya dari struktur piramida pertama, kedua, dan
ketiga dalam masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Dimana struktur
sosial ini memiliki perbedaan yang mencolok masing-masing.
13
4. Memiliki pola perilaku (behavioral). Dimaksudkan dengan pola perilaku
disini yaitu sebagai situasi atau kondisi dari bentuk-bentuk interaksi yang
dilakukan oleh anggota-anggota kelompok etnik, baik yang beroperasi di
dalam maupun dengan kelompok-kelompok etnik lain.
5. Adanya sebuah institusi/lembaga/organisasi etnik. Hal ini diartikan sebagai
wadah atau tempat kelompok etnik untuk mengorganisasikan diri mereka.
baik yang memiliki fungsi ke dalam kelompok maupun ke luar kelompok.
Sehingga kelompok etnik ini dapat mengatur hak-hak serta kewajibankewajibannya. Dikatakan memiliki sebuah organisasi yaitu memenuhi
syarat dengan kondisi oraganisasi/institusi hadir atas warisan masa lalu dari
pada pendahulu-pendahulunya serta ke-ada-an institusi yang bersifat
kekinian sebagai bentukkan baru pada era modern dalam pusaran
sejarahnya.
Lain dari pada itu, etnisitas juga merupakan suatu cara yang digunakan
untuk membangun, mobilisasi kepentingan pribadi dan komunitas itu sendiri,
serta merupakan suatu karakteristik yang tidak dapat dijauhkan dalam kegiatan
sosialisasi dan interaksi dalam lingkungan masyarakat. Sebab, pada dasarnya
setiap orang memiliki etnisitas di dalam dirinya maupun komunitas dimana
seseorang itu berada dan terjadilah pengidentifikasian. Pengidentifikasian ini
mengakibatkan adanya suatu bentuk pengakuan. Pengakuan tersebut bisa berasal
dari dalam dirinya dan juga berasal dari orang lain atau komunitas-komunitas
yang ada di lingkungannya.
Pengakuan ini memiliki dampak yang lain, seperti keberadaan etnis itu
sendiri yang didasari atas bahasa serta hal yang paling penting yakni kebudayaan.
Kebudayaan dalam masyarakat Dayak sendiri yakni menggunakan kebudayaan
sungai. Kebudayaan sungai ini dimaksudkan sebagai faktor utama kehidupan
masyarakat Dayak yang hidup di sekitar sungai yang ada di Kalimantan Tengah.
Air sungai tersebut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Dayak. Yang
pada umumnya digunakan dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari seperti mandi,
cuci, kakus, irigasi, dan lain-lain.
14
Etnisitas memainkan peran penting dalam kehidupan suatu komunitas etnis.
Hal tersebut dapat menjadi alasan utama, karena etnisitas merupakan suatu bentuk
yang diterima setiap manusia sejak lahir. Bahkan komunitas etnis tersebut juga
merupakan suatu bentukkan dan juga suatu pilihan. Bentukkan karena kesamaan
pandangan terhadap etnisitas yang terkonstruksi berdasarkan pengalaman dan
sejarah yang dialami oleh manusia-manusianya. Untuk pilihan karena kondisi dan
keadaan seseorang untuk memilih, membentuk, dan bergabung suatu komunitas
pada wilayah tertentu yang disesuaikan dengan kepentingan yang hendak dicapai.
Dalam pada itu, etnisitas cenderung dimaknai sebagai suatu hal yang
sempit. Misalnya seseorang yang telah mengklaim dirinya berdasarkan identitias
etnis yang telah dimiliki oleh yang bersangkutan. Atau bisa juga telah terjadi
klaim oleh orang lain terhadap seseorang atau komunitas tersebut. Sehingga
pemahaman akan etnisitas hanya berkutat pada status klaim akan sebuah identitas
yang dimiliki oleh seseorang dan bukan apa yang menjadi pilihan pada segala
tindakan yang dilakukan dalam interaksi sosial yang sedang berlangsung. Menurut
Liliweri (2005: 14) konsep etnisitas adalah konsep yang menjelaskan beberapa
hal, meliputi:
1) Status kelompok seseorang berdasarkan kebudayaan yang dia warisi dari
generasi sebelumnya.
Pada poin ini dijelaskan tentang suatu kondisi dimana segala sesuatu
diwarisi oleh kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelumnya dan bersifat
politis dalam lingkar kuasa.
2) Nilai budaya dan norma yang membedakan anggota suatu kelompok dengan
kelompok yang lain. Para anggota kelompok etnis pada umumnya
mempunyai kesadaran atas nilai dan norma budaya yang sama, bahkan
menjadikannya
sebagai
identitas
budaya
untuk
membedakan
dan
memisahkan diri dengan kelompok yang lain di sekeliling mereka.
Hal yang dimaksudkan di sini adalah kebudayaan atau norma yang berlaku
dalam masyarakat yang harus dijalankan oleh komunitas yang heterogen
pada setiap interaksi-interaksi dalam relasi sosial. Seperti misalnya falsafah
budaya Betang dalam konteks identitas pembeda.
15
3) Penggolongan etnik berdasarkan afiliasi artinya atas dasar apa sekelompok
orang berafiliasi satu sama lain bahkan itu dijadikan sebagai suatu identitas
sekaligus identifikasi dari individu bahwa mereka merupakan bagian dari
anggota kelompok etnik.
Afiliasi dinilai sebagai bentuk pengorganisasian diri dalam suatu kelompok
etnik yang telah dijalani pada kurun waktu tertentu. Sehingga menjadi
identitas tersendiri dalam bentuk yang lain.
4) Perbedaan dengan ras bahwa etnisitas merupakan proses pertukaran
kebiasaan berperilaku dan kebudayaan secara turun-temurun.
Pada poin ini sebenarnya maknanya tidak berbeda jauh dengan poin pada
nomor 2 (dua) diatas yang kurang lebih penulis mengandaikannya yaitu
sebagai bentuk pertukaran-pertuakaran dalam interaksi sosial.
5) Identitas kelompok yang didasarkan pada kesamaan identitas bahasa,
kebudayaan, sejarah dan asal usul geografis.
Untuk kategori nomor 5 ini merupakan bentuk-bentuk penegasan yang
membedakan sebagai batas-batas eksistensi dari suatu kelompok etnis.
6) Pembagian atau pertukaran kebudayaan yang berbasis pada bahasa, agama
dan kebangsaan (nasionalisme). Atas pertimbangan ini etnisitas selalu
dihubungkan dengan keyakinan yang “berlebihan” pada bahasa, agama dan
kebangsaan melebihi kelompok bahasa, agama, dan kebangsaan lain.
Pembagian atau pertukaran di sini penulis asumsikan bukanlah sebagai
pengertian dari gerakan-gerakan primordial yang sempit. Akan tetapi, ia
adalah bentuk gerakan-gerakan sosial yang dioperasikan oleh aktor-aktor
tertentu
dalam
membawa
semangat
etnisitas
sebagai
landasan
perjuangannya.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa hal konsep etnisitas diatas, dapat
disimpulkan bahwa etnisitas merupakan suatu bentukan terhadap komunitaskomunitas yang didasari atas identitas, kesamaan budaya, agama, sejarah dan
bahasa. Sehingga baik secara sengaja dan disadari membuat komunitas-komunitas
tersebut berbeda dengan komunitas yang lainnya. Hal ini dikarenakan adanya
16
proses pengenalan secara atribusi yang telah diberikan oleh pihak di luar
komunitas ataupun dari dalam komunitas itu sendiri.
Konsep etnisitas yang disebut oleh Liliweri di atas dapat diadopsi untuk
menjelaskan konsep menguatnya identitas etnis Dayak (bab iii). Konsep keDayak-an dilihat sebagai sebuah konsep yang membawa nilai-nilai ke-Dayak-an
dalam hal relasi-relasi yang terbangun. Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah
berdasarkan perjalanannya mengenal pemerintahan lokal yang secara institusional
yakni Kedamangan, yang dijabat oleh seorang Damang. Dan pada masa sekarang
mengalami transformasi menjadi Lembaga Adat Kedamangan yang telah diperdakan
oleh
pemerintah
daerah
Provinsi
Kalimantan
Tengah,
dan
kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah.
2. Politik Etnisitas.
Agnes Heller mengasumsikan politik identitas sebagai politik yang fokus
utamanya adalah perbedaan (differance) sebagai kategori politiknya yang utama.
Karena ide perbedaan lebih menjanjikan kebebasan (freedom), toleransi, dan
kebebasan bermain (free play) meskipun di balik itu bahaya lain muncul seperti
pola-pola intoleransi, kekerasan dan pertentangan etnis. Hal ini dikarenakan
perbedaan-perbedaan itu sedemikian marak. Politik identitas dapat mencakup
diantaranya pikiran rasis (races thinking), biofeminisme, dan perselisihanperselihan etnis. Isu-isu politik lingkungan atau gerakan sosial politik yang
didorong oleh para penyokong lingkungan, enviromentalisme, masuk juga dalam
kategori ini (Agnes Heller dalam Abdillah, 2002: 22).
Uraian yang telah diasumsikan oleh Heller di atas lebih menekankan atas
politik perbedaan. Dikatakan perbedaan karena setiap kelompok etnik memiliki
situasi, kondisi, batas-batas, simbol-simbol, atau karakteristik yang berbeda-beda
dalam etnis itu sendiri. Menjanjikan kebebasan merupakan suatu tujuan yang akan
dicapai atas sumberdaya-sumberdaya yang telah direbut oleh kelompok lain. Jika
kelompok etnik tertentu berada dalam wilayah kelompok etnik asli (native) maka
dimungkinkan sikap toleransi terjadi. Toleransi ini bukanlah tanpa sebab,
melainkan toleransi hadir dari struktur atas atau penguasa dalam hal ini negara
17
atau elit lokal setempat yang yang mewakili negara dan kelompok etniknya, dan
kemudian dari keinginan atau merupakan karakteristik dalam kelompok etnik itu
sendiri yang ramah terhadap kelompok-kelompok lain. Selain itu adanya
kebebasan bermain dimaksudkan dengan didukungnya oleh situasi negara yang
demokratis dalam hal pergerakan kelompok etnik yang disokong oleh siapapun
merupakan sebuah bentuk ekspresi eksistensi karena kuasa yang telah terberi
sesuai amanat konstitusional yang mengaturnya. Dari semua kebebasan yang
diberikan oleh negara dalam kondisi tertentu memang tak dapat dihindari seperti
misalnya konflik etnis yang telah terjadi di Kalimantan Tengah antara etnik Dayak
dan etnik Madura sebagai warga pendatang yang telah banyak menghasilkan
kerugian material dan korban jiwa. Artinya berdasarkan penjelasan yang telah
penulis uraikan dalam paragaraf ini yaitu merupakan bentuk isu-isu sentral tidak
dapat lepas dari gerakan politik identitas sebagai bentuk wacana yang
dikembangkan dalam kelembagaan adat demi memperebutkan sumberdayasumberdaya.
Paragraf di atas termasuk dalam kategori politik pribumi-nonpribumi.
Abillah (2002 : 19) menyebutkan bahwa politik pribumi-nonpribumi lebih
disebabkan sebagai wacana relasi antara orang dalam dan orang luar suatu
wilayah yang erat kaitannya dengan faktor-faktor migrasi dan penguasaan
wilayah, sumber-sumber ekonomi dan penghidupan. Dalam konstelasi ini, politik
pribumi merupakan upaya proteksi dan penjagaan diri terutama konteks penduduk
asli (native), yang pada kebanyakan kasus menerima kekalahan dari kaum
pendatang. Dengan kata lain, definisi atas politik pribumi-nonpribumi oleh
Abdillah di atas juga merupakan (hal. 19) politik identitas etnis dalam
perkembangannya dewasa ini lebih banyak menampilkan diri dalam wacana
politik kebudayaan. Politik identitas sendiri merupakan proses yang lahir dari
kegagalan modernitas untuk memenuhi janjinya.
Dalam pada itu, Kalimantan Tengah memiliki sumberdaya-sumberdaya
produksi yang melimpah, serta didukung perkembangan jumlah populasi natifitas
yang sedikit, menjadi tempat untuk perebutan sumber-sumber pemenuhan
kehidupan bagi warga-warga dari kelompok etnik lain. Kehadiran kelompok18
kelompok lain ini juga sebagai bentuk terbukanya pintu kehidupan bersama,
termasuk korporasi-korporasi besar modern yang mewakili pihak pasar dalam hal
perputaran uang serta bekerjanya mesin-mesin produksi dalam aspek ekonomi.
Oleh karena itu, sikap defensifitas penduduk asli tidak dapat dihindari.
Klaus Von Beyme yang menganalisis karakter gerakan politik identitas
dalam tiga tahap perkembangan; Pertama; tahap pramodern yang terjadi
perpecahan fundamental, kelompok-kelompok kesukuan, dan kebangsaan
memunculkan gerakan sosial politik yang menyeluruh, dimana terjadi mobilisasi
ideologis oleh para elite dalam persaingan memperebutkan kekuasaan dari
penguasa ke penguasa yang baru. Kedua; Pada tahap modern, gerakan muncul
dengan adanya pendekatan kondisional, keterpecahan membutuhkan sumbersumber untuk dimobilisasi, terjadi keseimbangan mobilisasi dari atas dan
partisipasi dari bawah sehingga peran pemimpin tidak dominan lagi dan bertujuan
pada pembagian kekuasaan. Ketiga; perkembangan postmodern, munculnya
gerakan berasal dari dinamikanya sendiri, protes muncul atas berbagai macam
kesempatan individual, tidak ada satu kelompok atau pecahan yang dominan. Pola
aksi dan kegiatannya berdasarkan kesadaran diri yang bersifat otonomi sebagai
tujuan finalnya (Abdillah, 2002:17). Dalam situasi negara yang terdiri dari multi
identitas, politik perbedaan tumbuh subur dan memicu munculnya perjuangan
kelompok-kelompok terpinggirkan yang mencoba menampilkan diri dan bertahan.
Dalam konteks Kalimantan Tengah, turut sertanya pemerintah daerah dalam
hal ini Pemerintah Provinsi Kal-Teng yang dimotori oleh Gubernurnya,
mendesain kelembagaan adat Dayak dalam bentuk regulasi untuk menopangnya,
Ia melihatnya sebagai permasalahan sosial-kultural dalam tubuh etnik yang harus
segera diselesaikan termasuk tujuan-tujuan lain yang menyelimutinya. Dengan
demikian tindakannya tersebut merupakan tindakan politisasi terhadap kelompok
etniknya sendiri. Deutsch (dalam Abdillah, 2002 : 21) mengemukakannya dengan
“politization is making thins political”. Suatu masalah sosial atau budaya akan
berubah menjadi masalah politik pada saat pemerintah dilibatkan untuk
memecahkan atau berkewajiban untuk melibatkan diri dalam memecahkannya.
Politisasi dalam bentuk regulasi ini sebagai wujud keterlibatan pemerintah daerah
19
provinsi Kalimantan Tengah yang dimaksudkan di sini sesuai dengan pernyataan
Foucoult tentang politik tubuh. Politik tubuh (bipolitics) dijalankan untuk
mempertahankan biopower. Biopower dipertahankan dengan dua metode :
pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan, tubuh dianggap sebagai
mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol
regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkatan
kesehatan. Biopower ditujukan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas.
Oleh karena itu, pemerintah daerah disini berinisiatif menggunakan kontrol
regulatif demi pencapaian tujuan kepentingan masyarakat Dayak dalam
kelembagaan adat. Dimana institusi adat adalah tubuh itu sendiri.
Dalam pada itu, untuk konteks kelembagaan adat Dayak ini diperlukan
sudut pandang atau sikap politik identitas etnis untuk menjelaskan apa saja
penyebab kehadiran lembaga ke-Dayak-an itu sendiri. Untuk membantu
menjelaskan kita melihatnya secara mendalam, maka diperlukan pendekatan
etnisitas. Terdapat berbagai sudut pandang pendekatan dalam etnisitas. Namun
dalam kajian ini terdapat dua pendekatan dalam memahami identitas etnis. Dalam
bukunya tentang etnistitas (ethnicity) John Huthcinson dan Anthony D. Smith
(1996 : 8-9) menyebutkan ada dua (2) pendekatan dalam memahami etnisitas,
yaitu :
1). Pendekatan Primordialis (primordialists).
[This is a term that was first used by Edward Shills (1957), who was
influenced by his reading in the sociology of religion. He sought to
distinguish certain kinds of social bond – personal, primordial, sacred, and
civil ties – and to show how even in modern, civic societies the other kinds
of social bonding persisted. It was an idea taken up by Clifford Geertz
(1963), who spoke of the ‘empowering’ and ‘ineffable quality’ attaching to
certain kinds of tie, which the participants tended to see as exterior,
coercive, and ‘given’. It is important to note here that ‘primordiality’ is
attributed by individuals to the ties of religion, blood, race, language,
region, and custom; it does not inhere in these bonds.]
20
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Edward Shills (1957), yang
dipengaruhi atas pengamatannya dalam hal sosiologi agama. Dia berusaha
untuk membedakan beberapa jenis ikatan-ikatan sosial - pribadi, primordial,
sakral, dan hubungan masyarakat sipil - dan untuk menunjukkan bagaimana
bahkan dalam, masyarakat sipil modern jenis lain dari ikatan sosial yang
ada. Hal tersebut kemudian dipungut oleh Clifford Geertz (1963), yang
berbicara tentang 'pemberian kuasa' dan 'kualitas yang tak terlukiskan' yang
melekat pada beberapa jenis ikatan sosial, yang para partisipannya
cenderung dilihat sebagai eksterior, koersif, dan 'given'. Hal ini penting
untuk dicatat di sini bahwa 'primordialis' tersebut diberikan berdasarkan
ikatan agama, hubungan darah (kekerabatan), ras, bahasa, daerah, dan adat;
hal itu melekat pada batasan-batasan tersebut.
Berdasarkan pendapat Shills dan Geertz di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa pendekatan primordialis adalah ikatan-ikatan sosial yang
terbentuk pada masyarakat yang masih alami yang dilihat dari batasanbatasan dalam etnik seperti misalnya ikatan keagamaan, hubungan
kekerabatan, ras, bahasa, daerah/kewilayahan, dan adat istiadat.
2). Pendekatan instrumentalis (instrumentalists).
[In stark contrast to ‘primordialists’, the ‘instrumentalists’ treat ethnicity as
a social, political, and cultural resource for different interest – and status
groups. One version focuses on elite competition for resources and suggests
that manipulation of symbols is vital for gaining the support of the masses
and achieving political goals (Brass, 1991; Cohen, 1974). Another version
examines elite strategies of maximizing preferences in terms of individual
‘rational choices’ in given situations; here it is assumed that actors
generally desire goods measured in terms of wealth, power, and status, and
that joining ethnic or national communities helps to secure these ends
either by influencing the state or, in certain situations, through secession
(Banton, 1983 and 1994; Hechter, 1986 and 1992). One of the central ideas
of ‘instrumentalists’ is the socially constructed nature of ethnicity, and
21
ability of individuals to ‘cut and mix’ from a variety of ethnic heritages and
cultures to forge their own individual or group identities (A. Cohen, 1996;
Bhabha, 1990; Hall, 1993; R. Cohen, 1994). instrumentalists can also be
criticized for defining interests largely in material terms, for failing to take
seriously participants sense of the permanence of their ethnies (which might
be termed participant's primordialism), and, above all, for under playing
the affective dimensions of ethnicity. this is well brought out by Connor's
subjectivist and Fishman's historical critiques.]
Berbeda sekali dengan 'primordialis', 'instrumentalis' memperlakukan etnis
sebagai sumber daya sosial, politik, dan budaya untuk kepentingan yang
berbeda - dan status kelompok. Salah satu versi berfokus pada kompetisi
elit untuk perebutan sumber daya dan menunjukkan bahwa manipulasi
simbol sangat penting untuk mendapatkan dukungan dari massa dan
mencapai tujuan politik (Brass, 1991; Cohen, 1974). Versi lain mengkaji
strategi elit dengan memaksimalkan preferensi dari segi individu sebagai
pilihan rasional dalam situasi tertentu; di sini diasumsikan bahwa pelaku
umumnya menginginkan materi diukur dalam hal kesejahteraan, kekuasaan,
dan status, dan menggabungkan dengan komunitas etnis atau nasional turut
membantu untuk mengamankan tujuan ini baik dengan mempengaruhi
negara atau, dalam situasi tertentu, atau melalui pemisahan diri (Banton,
1983 dan 1994; Hechter, 1986 dan 1992). Salah satu ide sentral
'instrumentalis' adalah sifat sosial yang dibangun oleh etnis itu sendiri, dan
kemampuan individu yang berperan untuk ‘memilih dan mencampurkan’
dari berbagai warisan etnis dan budaya untuk membentuk individu atau
kelompok identitas mereka sendiri (A. Cohen, 1996; Bhabha, 1990; Hall,
1993; R. Cohen, 1994). Pendekatan instrumentalis dapat juga dikritik
karena mendefinisikan kepentingan sebagian besar dalam hal materi, karena
kegagalan untuk membawa secara baik anggota-anggota etnis di dalamnya
dengan cara perasaan (afektif) etnis sebagai sifat yang melekat dalam
keanggotan mereka (yang mungkin disebut primordialisme anggota-
22
anggotanya), dan, di atas semua, untuk massa yang ada di bawah atau grass
root perlu dimainkannya dimensi afektif (perasaan) etnisitas.
Instrumentalis dalam berbagai uraian ataupun versi tersebut di atas dapat
diejawantahkan dengan pengertian lain. Penulis mendefinisikannya bahwa
pendekatan instrumentalis merupakan hasil produk pemikiran individu atau
kelompok etnik dalam memilih dan mencampurkan berbagai warisan serta
budaya, untuk memperlakukan etnik itu sendiri yang terukur dengan
kesejahteraan, kekuasaan, dan status etnik, yang dilakukan dengan cara
membangun sentimen (perasaan) etnisitas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehadiran
lembaga-lembaga adat Dayak di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu pada bab iv,
penulis melihat gerakan sosial etnisitas yang terbangun dalam institusi adat ini
dengan pendekatan instrumentalis. Sehingga, berdasarkan uraian-uraian tentang
politik etnisitas tersebut di atas maka instrumentasi-intrumentasi etnisitas penulis
gunakan sebagai syarat dalam bentuk politik etnisitas ke-Dayak-an sebagai bentuk
dari
membangun
rasa
etnisitas
berdasarkan
realitanya
yaitu
memecah
marjinalisasi, pelibatan kelembagaan adat Dayak, pelestarian kebudayaan,
diperolehnya status Kaharingan menjadi agama, dan penggunaan regulasi/hukum
positif. Dimana kesemuanya ini bermuara pada domain ke-Dayak-an.
Dalam konstelasi politik di Indonesia pada tataran identitas tidak mesti
selalu dikonotasikan negatif. Dapat dilihat pada contoh kasus di Provinsi Sulawesi
Utara dalam memelihara perdamaian. Di Minahasa, perdamaian dan ketertiban
berhasil dipelihara antara lain berkat penggunaan sarana kekerasaan oleh negara
lokal dengan cara yang bertanggungjawab dan bijaksana (Schulte dan Klinken,
2007 : 418). Hadirnya politik identitas sebagai akibat dominasi negara yang
koersif dan direncanakan secara ilmiah yang memaksakan identitas nasional yang
buta dan membangkitkan kekuatan pada kekuasaan tertentu, sehingga kemudian
menghadirkan
gerakan
kelompok
etnisitas
yang
merasa
identitasnya
terpinggirkan.
23
G. Definisi Konseptual
1. Konsep etnisitas dalam hal ini didefinisikan sebagai kondisi menguatnya
etnisitas itu sendiri yang ditandai dengan mengusung nilai-nilai ke-Dayak-an
yang juga didasari atas status kelompok seseorang, nilai budaya dan norma,
afiliasi, pertukaran kebiasaan dan berperilaku, identitas kelompok, dan
pembagian serta pertukaran kebudayaan.
2. Dalam penelitian ini menggunakan politik etnisitas dengan pendekatan
instrumentalis. Pendekatan instrumentalis adalah merupakan hasil produk
pemikiran individu atau kelompok etnik dalam memilih dan mencampurkan
berbagai warisan serta budaya, untuk memperlakukan etnik itu sendiri yang
terukur dengan kesejahteraan, kekuasaan, dan status etnik, yang dilakukan
dengan cara membangun sentimen (perasaan) etnisitas yang terjadi di akar
rumput.
H. Definisi Operasional
1. Konsep Etnisitas Ke-Dayak-an adalah penguatan identitas ke-Dayak-an.
Untuk mengetahui latar belakang pembentukan lembaga-lembaga adat
Dayak harus melihat terlebih dahulu penguatan identitas etnis Dayak dengan
menggunakan konsep etnisitas Liliweri (2005: 14) meliputi:
1) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan status kelompok seseorang
berdasarkan kebudayaan yang dia warisi dari generasi sebelumnya.
2) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan nilai budaya dan norma
yang membedakan anggota suatu kelompok dengan kelompok yang lain.
3) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan penggolongan etnik pada
afiliasi.
4) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan perbedaan ras bahwa
etnisitas merupakan proses pertukaran kebiasaan berperilaku dan
kebudayaan secara turun-temurun.
5) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan identitas kelompok yang
didasarkan pada kesamaan identitas bahasa, kebudayaan, sejarah dan asal
usul geografis.
24
6) Penguatan identitas etnis Dayak berdasarkan pembagian atau pertukaran
kebudayaan yang berbasis pada bahasa, agama dan kebangsaan
(nasionalisme).
2. Politik Etnisitas pendekatan instrumentalis merupakan dimobilisasinya rasa
atau sentimen ke-Dayak-an oleh elit atas dengan warisan atau budaya dengan
wujud yaitu marjinalisasi yang terjadi, keterlibatan kelembagaan adat dayak,
pelestarian kebudayaan, pengakuan agama, serta penguatan kapasitas
kelembagaan adat dengan regulasinya.
I. Alur Pikir.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang munculnya
lembaga-lembaga Adat Dayak sesuai dengan Perda Provinsi Kalimantan Tengah
Nomor 16 Tahun 2008. Penelitian ini dibatasi terhadap pisau analisis yang
digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Teori yang digunakan sebagai
pisau analisis untuk membedah yakni pendekatan instrumentalisme dan konsep
etnisitas seperti pada penjelasan teoritis diatas. Sehingga dalam penelitian ini akan
terlihat yang menjadi dasar pembentukkan lembaga-lembaga Adat Dayak di
Kalimantan Tengah.
Elit
Representasi Identitas
Gambar 1. Alur pikir penelitian model kontinum.
J. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Penelitian ini hendak mengetahui lebih dalam mengenai latar belakang hadir
dan tumbuh suburnya lembaga-lembaga Adat Dayak yang ada di Kalimantan
Tengah, untuk itu penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Pendekatan deskriptif dimaksudkan untuk menggali data dan fakta
25
yang kemudian dideskripsikan, dimana data dan fakta tersebut merupakan hasil
dari pengumpulan dokumen dan hasil wawancara yang dilakukan terhadap para
informan. Setelah data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah menyajikan data
tersebut dalam bentuk kalimat-kalimat logis untuk ditarik suatu kesimpulan.
2. Lokasi Penelitian
Mengingat keterbatasan waktu dan biaya, maka penulis menentukan lokasi
penelitian tentang apa yang melatarbelakangi hadirnya lembaga-lembaga adat
Dayak ini yaitu di Kota Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah. Lembagalembaga Adat Dayak ini berada di ibukota Provinsi dan mengarah kepada Kantor
Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) serta Dewan Adat Dayak Provinsi
Kalimantan Tengah. Lembaga-lembaga Adat tersebut mendekati induk organisasi
yang memiliki nuansa nilai-nilai Dayak dan juga akses kepada Pemerintah
Daerah, serta beberapa lokasi perusahaan besar swasta (PBS).
3. Informan Penelitian
Informan penelitian ini menggunakan informan kunci (key informan).
Informan kunci ini memiliki pengetahuan sesuai dengan bidang atau latar
belakang yang digelutinya. Dalam hal lembaga-lembaga adat Dayak ini penulis
memilih informan untuk memudahkan arah tujuan pengumpulan informasi berupa
data dan fakta yang menyangkut hal-hal yang akan diteliti nantinya.
Untuk itu, narasumber yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah:
a. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (SEKDA Provinsi
Kalimantan Tengah) DR. Siun Jarias, SH, MH atau yang mewakili.
b. Ketua Dewan Adat Dayak Propinsi Kalimantan Tengah Sabran Achmad.
c. DR. Sidik M. Usop, MA. Akademisi Fisip Universitas Palangkaraya.
d. T.T. Suan. Budayawan Kalimantan Tengah.
e. Prof. KMA. Usop, MA. Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah
Kalimantan Tengah.
f. Yanedi Jagau. Borneo Institut Kalimantan Tengah.
g. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Palangka Raya Sigit K.
Yunianto.
26
h. Serta narasumber-narasumber lepas yang tidak ingin disebutkan namanya
dalam di dalam karya ini.
4. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk
mengumpulkan data dari berbagai sumber data. Sumber data dalam penelitian ini
berupa kata-kata dan juga tindakan. Sumber data tersebut yaitu data primer dan
data sekunder. Data primer merupakan data yang bersifat inti dalam penelitian ini.
Sedangkan data sekunder yaitu data yang berupa dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan penelitian ini.
a. Observasi
Obsevasi dilakuan dengan cara mengamati secara langsung-lembaga adat
Dayak yang berada di wilayah Kota Palangkaraya Provinsi Kalimantan
Tengah. Pengamatan juga untuk melihat eksistensi dan sepak terjang kegiatan
lembaga-lembaga adat tersebut di tengah masyarakat. Dimana peneliti terlibat
secara langsung dalam kegiatan dan aktivitas baik formal maupun nonformal
namun pada batas label bukan sebagai seorang peneliti. Agar dapat
diperolehnya informasi yang akurat.
b. Wawancara
Interview atau wawancara dilakukan bersifat tidak terstruktur. Berarti bahwa
wawancara ini bersifat bebas dan tanpa menggunakan panduan. Bebas
dimaksudkan tetap mencapai tujuan untuk menemukan kesimpulan atau
jawaban dari penelitian ini.
Wawancara dilakukan secara mendalam (indepth interview) dengan cara
bertatap muka langsung dengan informan. Artinya peneliti dapat memperdalam
suatu informasi spesifik yang muncul dari informan. Wawancara ini tetap akan
digunakan untuk menjawab fokus permasalahan yang diteliti.
c. Dokumentasi
Metode
dokumentasi
merupakan
cara
pengumpulan
data
dengan
mempelajari data-data yang telah didokumentasikan. Dalam melaksanakan
27
metode dokumentasi, peneliti melakukannya dengan mengumpulkan dan
mengolah dokumen-dokumen pribadi dan dokumen resmi.
Dokumen pribadi merupakan catatan atau karangan pribadi secara tertulis
tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaannya yang ditunjukkan dalam
bentuk buku harian, laporan kegiatan, situs/blog pribadi dan autobiografi serta
yang lainnya, dimana dokumen tersebut terkait dengan lembaga-lembaga adat
Dayak yang ada di Kota Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah.
Sedangkan dokumen resmi merupakan dokumen-dokumen yang telah
disyahkan secara kelembagaan seperti Kalimantan Tengah Dalam Angka,
Palangkaraya dalam angka, dan dokumen-dokumen yang terkait dalam
penelitian ini. Dokumen ini dapat diakses pada Badan Pusat Statistik Kota
Palangkaraya dan Provinsi Kalimantan Tengah, dan lembaga-lembaga yang
lain yang memiliki kerjasama atau nonkerjasama terhadap lembaga-lembaga
adat Dayak. Dokumen resmi lainnya adalah dokumen tentang peta identitas
etnis di Kalimantan Tengah seperti sejarah singkat berdirinya Provinsi
Kalimantan Tengah, profil lembaga-lembaga Dayak yang terkait.
Kemudian dokumen tentang peta Geografis dan Provinsi Kalimantan
Tengah seperti profil penduduk yang dipilah berdasarkan kelompok etnis,
persebaran etnis, jenis pekerjaan, dan hal-hal yang terkait. Serta penulis juga
tidak mengabaikan hal-hal lain seperti even-even yang telah dan yang akan
dilaksanakan terkait dengan lembaga-lembaga adat Dayak. Serta updating
berita dari media cetak dan elektronik lokal serta nasional.
5. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif. Data yang akan dianalisis berupa keterangan-keterangan maupun
fenomena dari hasil wawancara dan observasi yang muncul di lapangan serta
dianalisis dan kemudian disusun kembali menjadi argumen kalimat yang logis dan
sistematis. Langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitin ini terdiri dari
reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Adapun tahap-tahap
teknik analisis data yang digunakan meliputi :
28
a. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses menyeleksi, memfokuskan,
menyederhanakan dan mengubah data kasar yang diperoleh dari lapangan.
Data kasar yang dimaksud disini adalah keterangan-keterangan atau informasi
yang diuraikan informan tetapi tidak relevan dengan fokus masalah penelitian
sehingga perlu direduksi.
b. Penyajian Data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang telah tersusun
dari hasil reduksi data. Hasil reduksi data kemudian disajikan dalam laporan
yang sistematis dan mudah dibaca atau dipahami.
c. Pengambilan Kesimpulan
Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan melihat hasil reduksi data
dan tetap mengacu pada rumusan masalah serta tujuan yang hendak dicapai.
K. Sistematika penulisan
Tesis ini akan ditulis dalam lima Bab, yaitu:
Bab I
Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, kerangka teori, alur pikir, metode penelitian serta sistematika
penulisan.
BAB II
Gambaran Identitas Dayak
Membahas tentang setting identitas etnis ke-Dayak-an secara umum di
Kalimantan Tengah.
BAB III Menguatnya Identitas Etnis Ke-Dayak-An
Membahas apa saja yang menjadi penyebab menguatnya identitas etnis di
Kalimantan Tengah.
BAB IV Instrumentasi Identitas Ke-Dayak-an
Membahas fungsi dari instrumen-instrumen apa saja yang digunakan dalam
lembaga adat di Kalimantan Tengah.
BAB V
Penutup
Merupakan bab terakhir akan mencoba menguraikan kesimpulan penelitian.
29
Download