plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK HERBA
MENIRAN (Phyllanthus niruri) TERHADAP PERTUMBUHAN
BAKTERI Bacillus cereus DAN Escherichia coli
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Biologi
Oleh :
Maria Endah Hapsari
NIM : 101434008
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
SKRIPSI
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK HERBA
MENIRAN (Phyllanthus niruri) TERHADAP PERTUMBUHAN
BAKTERI Bacillus cereus DAN Escherichia coli
Oleh:
Maria Endah Hapsari
NIM : 101434008
Telah disetujui oleh :
Pembimbing
Ika Yuli Listyarini, M.Pd.
Tanggal 6 April 2015
ii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
SKRIPSI
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK HERBA
MENIRAN (Phyllanthus niruri) TERHADAP PERTUMBUHAN
BAKTERI Bacillus cereus DAN Escherichia coli
Dipersiapkan dan ditulis oleh:
Maria Endah Hapsari
NIM : 101434008
Telah dipertahankan di depan panitia penguji
Pada tanggal 16 April 2015
Dan dinyatakan memenuhi syarat
Susunan Penitia Penguji
Nama lengkap
Tanda tangan
Ketua
: Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd
......................
Sekretaris
: Drs. Antonius Tri Priantoro M.For.Sc
......................
Anggota
: Ika Yuli Listyarini, M.Pd
......................
Anggota
: Retno Herrani Setyati Catarina, S.Si, M.Biotech ......................
Anggota
: Luisa Diana Handoyo, M.Si
......................
Yogyakarta, 16 April 2015
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
Dekan,
Rohandi, Ph.D.
iii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 16 April 2015
Penulis,
Maria Endah Hapsari
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta:
Nama
: Maria Endah Hapsari
Nomor mahasiswa
: 101434008
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
UJI AKTIFITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK HERBA MENIRAN
(Phyllanthus niruri) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI
Bacillus cereus dan Escherichia coli
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan
kepada perpustakaan Sanata Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan,
mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolah di internet atau media lain untuk
kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan
royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Dibuat di
: Yogyakarta
Pada tanggal : 16 April 2015
Yang menyatakan,
Maria Endah Hapsari
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERSEMBAHAN
Karyaku ini kupersembahkan kepada :
Tuhan Yesus Kristus
Bapak Markus Waljiman
Ibu Yuliana Sri Astuti
Mbak Yustina Eksi Hastarini
Adik Titus Setyo Pinurbo
Adik Rossa Septiti Caturasri
Mas Devi
Aku
dan sahabat-sahabatku tercinta
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
MOTTO
Jika tidak ada hal yang diperjuangkan, maka tidak akan ada hal yang dicapai.
(Game Tebak Gambar)
Everybody's searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
And so I learned to depend on me.
(The Greatest Love - Whitney Houston)
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengkaruniakan berkat
dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Uji
Aktifitas Antibakteri Ekstrak Herba Meniran (Phyllanthus niruri)
terhadap
Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli. Skripsi ini disusun
untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar sarjana pada Program Studi
Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak bantuan
dan dukungan yang sangat membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mempersembahkan ucapan terima
kasih kepada:
1.
Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma.
2.
Bapak Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
3.
Bapak Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Biologi yang turut memberikan semangat dan dukungan kepada
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4.
Ibu Ika Yuli Listyarini, M.Pd. selaku dosen pembimbing yang bersedia
meluangkan waktu untuk membimbing, mendorong dan memberikan
masukan-masukan yang bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5.
Segenap Dosen dan staf karyawan program studi Pendidikan Biologi
Universitas Sanata Dharma yang telah mendukung, memotivasi dan
memberikan bantuan kepada penulis.
6.
Bapak, ibu, kakak dan adik-adik yang selalu menjadi motivasi penulis untuk
menyelesaikan tugas akhir ini.
7.
Mas Devi, dan sahabat-sahabatku: Ivana, Bona, Vika, Nesya, Hadi Sutejo,
Kirun, Dhita, yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian tugas
akhir ini.
8.
Teman peneliti, mbak Ulli; teman-teman prodi pendidikan biologi angkatan
2010, saudara-saudari Keluarga Mahasiswa/i dan Pelajar Katolik Sumbagsel
(KMPKS) dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sangat berharap kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat
bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK HERBA MENIRAN
(Phyllanthus niruri) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI
Bacillus cereus DAN Escherichia coli
Maria Endah Hapsari
Universitas Sanata Dharma
2015
Penyakit infeksi merupakan penyakit dengan jumlah kejadian tinggi di
negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pengobatan untuk infeksi bakteri
dengan senyawa kimia seringkali menimbulkan resistensi. Maka perlu dilakukan
eksplorasi senyawa alam yang memiliki aktivitas antibakteri, salah satunya yaitu
tanaman meniran (Phyllanthus niruri).
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium
menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan variasi sampel
dan variasi konsentrasi ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh ekstrak meniran (Phyllanthus niruri) terhadap pertumbuhan bakteri E.
coli dan B. cereus secara in vitro, mengetahui perbedaan pengaruh ekstrak rebus
dan tumbuk terhadap bakteri uji dan mengetahui nilai Kadar Hambat Minimum
(KBM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Pengujian aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cara Kirby Bauer dan metode dilusi padat untuk
mencari nilai Kadar Hambat Minimum.
Hasil analisis anova dua arah menunjukkan adanya perbedaan bermakna
antara ekstrak rebus dan ekstrak tumbuk terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus
cereus dan Escherichia coli. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu ekstrak
tanaman meniran baik yang ditumbuk maupun yang direbus memiliki aktivitas
antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.
Ekstrak tumbuk memiliki daya antibakteri yang lebih kuat dibanding ekstrak
rebus. Nilai KHM dan KBM ekstrak rebus untuk bakteri Bacillus cereus adalah
38% dan untuk bakteri Escherichia coli adalah 39%, sedangkan nilai KHM dan
KBM ekstrak tumbuk untuk bakteri Bacillus cereus adalah 37% dan untuk bakteri
Escherichia coli adalah 38%.
Kata kunci: meniran, Bacillus cereus, Escherichia coli, antibakteri, KHM, KBM
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRACT
THE TEST OF MENIRAN (Phyllanthus niruri) HERB EXTRACT
ANTIBACTERIAL ACTIVITY TOWARD THE GROWTH OF
Bacillus cereus AND Escherichia coli
Maria Endah Hapsari
Sanata Dharma University
2015
The number of infection disease in developed countries is high, including
Indonesia. A remedy for bacterial infection with chemical compound often causes
resistance. Therefore natural compound exploration wich has antibacterial activity
is needed. One of them is meniran (Phyllanthus niruri).
This study is a laboratory experimental research uses Completely
Randomized Desaign (CRD) method with sample variation treatment and
concentration variation. The first aim of this study is to understand the effect of
meniran herb extract toward the growth of Bacillus cereus and Escherichia coli
through in-vitro. Second this study is aim to understand the difference between
two types of extract towards Bacillus cereus and Escherichia coli. The next aim is
to know Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal
Concentration (MBC). The test of antibacteria activity uses Kirby Bauer difusion
method, and solid difusion method to find out the value of MIC.
The result of Two Way Anova analisis showed that there were significant
difference between the treatment of boiled and pounded extract toward the growth
of Bacillus cereus and Escherichia coli. In conclusion both of boiled and pounded
meniran extract has antibacterial activity towards the growth of Bacillus cereus
and Escherichia coli. Pounded extract has stronger antibacterial activity power
than boiled extract. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum
Bactericidal Concentration (MBC) of boiled extract for Bacillus cereus is 38%
and for Escherichia coli is 39%. On the other hand the MIC and MBC of boiled
extract for Bacillus cereus is 37% and 38% for Escherichia coli.
Keywords: meniran herb, Bacillus cereus, Escherichia coli, antibacteria, MIC,
MBC
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.................................................v
HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... vi
MOTTO ............................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
ABSTRAK ..............................................................................................................x
ABSTRACT .......................................................................................................... xi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii
DAFTAR TABEL ................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii
BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................5
C. Batasan Masalah ..............................................................................................5
D. Tujuan Penelitian .............................................................................................6
E. Manfaat Penelitian ...........................................................................................6
F. Hipotesis ...........................................................................................................7
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II. DASAR TEORI .......................................................................................8
A. Antibakteri .......................................................................................................8
B. Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) .........................................................11
1. Klasifikasi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) ...................................11
2. Nama Lain Meniran ....................................................................................12
3. Morfologi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) ....................................12
4. Habitat Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) .........................................12
5. Manfaat Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) .......................................13
6. Kandungan Metabolit Skunder yang Terkandung dalam Tanaman Meniran
(Phyllanthus niruri) ........................................................................................14
C. Deskripsi Bakteri ...........................................................................................15
1. Bakteri Escherichia coli ............................................................................15
2. Bakteri Bacillus cereus ..............................................................................18
D. Penelitian Lain yang Relevan ........................................................................20
E. Kerangka Pemikiran .......................................................................................22
BAB III. METODE PENELITIAN ...................................................................23
A. Jenis Penelitian ..............................................................................................23
B. Variabel Penelitian .........................................................................................23
C. Populasi dan Sample ......................................................................................24
D. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................................24
E. Desain Penelitian............................................................................................24
F. Teknik Pengumpulan Data .............................................................................25
G. Instrumen Penelitian .....................................................................................39
H. Analisis Data..................................................................................................39
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................40
A. Identifikasi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri) .....................................40
B. Pengamatan Morfologi Sel Bakteri................................................................41
C. Uji Aktivitas Antibakteri ...............................................................................43
D. Kadar Hambat Minimum (KHM) ..................................................................53
E. Kadar Bunuh Minimum (KBM) ....................................................................55
F. Hambatan dalam Penelitian ............................................................................57
G. Kaitan Antara Hasil Penelitian dengan Pendidikan .......................................58
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................59
A. Kesimpulan ....................................................................................................59
B. Saran ..............................................................................................................59
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................61
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Daftar Alat yang Digunakan............................................................ 26
Tabel 3.2. Daftar Bahan yang Digunakan......................................................... 27
Tabel 3.3. Komposisi Ekstrak dan Aquades Dalam Pengenceran Ekstrak...... 29
Tabel 3.4. Perbandingan Konsentrasi Larutan dalam Pembutan Standar
Mcfarland....................................................................................... 31
Tabel 4.1. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri........................................................ 44
Tabel 4.2. Hasil Pengujian Kadar Hambat Minimun (KHM)........................... 53
Tabel 4.3. Hasil Pengujian Kadar Bunuh Minimum (KBM)............................ 56
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Tanaman Meniran..................................................................... 11
Gambar 2.2. Bakteri Escherichia coli............................................................ 15
Gambar 2.3. Bakteri Bacillus cereus............................................................. 18
Gambar 2.4. Bagan Kerangka Berpikir.......................................................... 22
Gambar 3.1. Bagan Alir Pelaksanaan Penelitian........................................... 38
Gambar 4.1. Grafik Panjang Zona Hambat Ekstrak Meniran terhadap
Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus...................................... 45
Gambar 4.2. Grafik Panjang Zona Hambat Ekstrak Meniran terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli..................................... 46
xvi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Hasil Pengukuran Daerah Hambat Antibakteri......................... 64
Lampiran 2.
Output Analisis SPSS Versi 16 pada Aktivitas Antibakteri
terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus........................ 65
Lampiran 3.
Output Analisis SPSS Versi 16 pada Aktivitas Antibakteri
terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli....................... 70
Lampiran 4
Gambar Pembuatan Ekstrak Meniran....................................... 75
Lampiran 5.
Gambar Hasil Pengamatan Morfologi Koloni dan Morfologi
Sel Bakteri Bacillus cereus....................................................... 77
Lampiran 6.
Gambar Hasil Pengamatan Morfologi Koloni dan Morfologi
Sel Bakteri Escherichia coli...................................................... 78
Lampiran 7.
Gambar Pengukuran Zona Hambat........................................... 79
Lampiran 8.
Gambar Hasil Uji Evektivitas Antibakteri terhadap
Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus....................................... 80
Lampiran 9.
Gambar Hasil Uji Evektivitas Antibakteri terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli...................................... 81
Lampiran 10. Gambar Hasil Pengujian Kadar Hambat Minimum (KHM)
terhadap Bacillus cereus dan Escherichia coli.......................... 82
Lampiran 11. Gambar Hasil Uji Kadar Bunuh Minimum pada Bakteri
Bacillus cereus dan Escherichia coli........................................ 84
Lampiran 12. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran...................... 85
xvii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang mempunyai insidensi tinggi di
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dirjen Bina Upaya
Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI, penyakit infeksi menduduki peringkat
atas dalam 10 besar penyakit terbanyak yang diderita oleh pasien rawat inap
dan rawat jalan di rumah sakit seluruh Indonesia pada tahun 2009 dan 2010.
Penyakit infeksi ini meliputi infeksi saluran pernafasan, diare dan penyakit
kulit. Gibron (1991) dalam Simanjuntak (2014) menjalaskan bahwa infeksi
karena bakteri masih mendominasi potensi terjadinya infeksi barat, sepsis,
syok septic dan disfungsi organ. Kematian pasien karena infeksi bakteri di
ruang perawatan intensif di Amerika sebanyak 40% disebabkan oleh bakteri
gram positif dan 60% oleh bakteri gram negatif (Nasronuddin, 2007). Pada
penelitian ini akan digunakan Escherichia coli yang merupakan bakteri gram
negatif dan Bacillus cereus yang merupakan bakteri gram positif.
Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menjadi
permasalahan di negara kita. Gurrant (2001) dalam Zein dkk (2004)
mendefinisikan diare sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain
memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per
hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
Kasus diare banyak ditemukan sebagai akibat infeksi mikrobia. Ada banyak
mikrobia
yang dapat
menyebabkan
diare,
antara
lain
Escherichia
coli,Staphylococcus aureus, Salmonela typhi, Shigella dysentriae, Vibrio
cholerae,
Vibrio
fulnificus,
Vibrio
parahaemolyticus,
Clostridium
perfringens, Helicobacter pylori, Bacillus cereus, dan lain-lain (Radji, 2010).
Pengobatan penyakit infeksi bakteri dapat diatasi dengan penggunaan
antibiotik. Antibiotik diharapkan mampu menghambat maupun membunuh
bakteri penyebab infeksi tersebut. namun seiring meningkatnya penggunaan
antibiotik yang salah di kalangan masyarakat, kemampuan bakteri untuk
bertahan hidup menjadi lebih kuat sehingga menyebabkan resistensi terhadap
antibiotik tertentu. Hal ini akan menjadi masalah kesehatan bagi dunia
(Simanjutak, 2014). Oleh karena itu penelitian-penelitian terkait eksplorasi
senyawa-senyawa baru yang bersifat antibakteri terus dilakukan, terutama
yang berasal dari alam. Senyawa antibakteri banyak diisolasi dari tanaman
atau ganggang. Siswoyo (2004) dalam Paribasa (2007) mengungkapkan
bahwa Indonesia mempunyai kurang lebih 30.000 spesies tanaman obat
dengan 1000 spesies yang sudah diketahui memiliki zat aktif dan 800 spesies
sudah menjadi ramuan dan telah menunjukkan khasiatnya sebagai obat suatu
penyakit.
Pengetahuan tentang khasiat dan keamanan tanaman obat di
Indonesia biasanya hanya berdasarkan pengalaman empiris yang biasanya
diwariskan secara turun temurun dan belum teruji secara ilmiah.
Meniran merupakan salah satu tanaman yang dikenal mempunyai banyak
khasiat dan telah digunakan sebagai obat tradisional. Penggunaan meniran
sebagai obat tradisional antara lain untuk menurunkan demam, melindungi
hati dari racun, antidiare, pereda batuk, antiradang, antivirus, peluruh batu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
saluran kemih, peluruh dahak, serta menurunkan kadar glukosa darah
(Noorhamdani, 2006). Penggunaan meniran sebagai obat diare dipaparkan
oleh Latief (2012), yaitu dengan cara merebus 17 herba meniran (seluruh
bagian tanaman meniran digunakan, mulai dari akar, batang, daun dan buah
atau bunga) menggunakan 3 gelas air (600 ml) hingga tersisa separuhnya saja.
Air rebusan ini kemudian disaring dan diminum. Formula inilah yang
kemudian dijadikan acuan banyaknya herba meniran yang akan digunakan
dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini akan digunakan dua metode
ekstraksi herba, yaitu dengan cara merebus dan menumbuk tanaman meniran.
Pelarut yang digunakan merupakan aquades. Pelarut air merupakan pelarut
universal yang dapat melarutkan hampir sebagian besar komponen senyawa
yang terkandung dalam tanaman. Hal ini dikarenakan aquades (air) bersifat
polar, sehingga diharap mampu menyari senyawa metabolit skunder terutama
flavonoid dan tanin yang juga bersifat polar.
Khasiat tanaman meniran diduga berasal dari kandungan berbagai
senyawa kimia hasil metabolit sekunder tanaman meniran. Senyawa
metabolit skunder yang sudah berhasil diidentifikasi antara lain alkaloid
(sekurinin), flavonoid (kuersetin, kuersitrin, isokuersitrin, astragalin, nirurin,
niruside, rutin, leukodelfinidin, dan galokatekin), lignan (filantin dan
hipofilantin) dan tanin (Mangunwardoyo, 2009).
Pengobatan penyakit infeksi menggunakan obat tradisional telah banyak
dilakukan oleh masyarkat, begitu juga dengan penyakit diare. Salah satu
tanaman yang telah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat
diare yaitu tanaman jambu biji (Psidium guajava). Telah banyak pula
penelitian yang dilakukan mengenai kemampuan jambi biji sebagai antidiare.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
Bagian tanaman jambu biji yang dapat digunakan sebagai obat diare antara
lain buah, daun, ranting muda dan akar, namun yang paling banyak dikenal
dalam pengobatan diare secara tradisional adalah daun jambu biji. Salah satu
cara pengguanaan jambu biji yaitu merebus seganggam daun jambu muda
dalam tiga gelas air sampai tersisa separuhnya. Air rebusan ini di minum
selagi hangat sebagai obat diare (Arianingrum, 2004).
Daun jambu biji banyak mengandung kuersetin (salah satu jenis
flavonoid) yang merupakan antidiare, selain itu tanin, minyak atsiri (eugenol),
minyak lemak, damar, zat samak, tanin, triterpenoid, asam malat dan asam
apfel (Arianingrum, 2004). Jambu biji dan meniran sama-sama memiliki
kandungan metabolit sekunder yang diduga sebagai agen antibakteri
penyebab diare, yaitu tanin dan flavonoid. Maka dapat diperkirakan meniran
juga dapat digunakan sebagai antibakteri terutama bakteri penyebab diare,
khususnya bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.
Dalam upaya untuk mendapat bukti secara ilmiah mengenai kemampuan
herba meniran dalam menghambat atau bahkan membunuh bakteri patogen
penyebab diare, maka dilakukan penelitian dengan judul ‘Uji Aktivitas
Antibakteri
Ekstrak
Herba
Meniran
(Phyllanthus
niruri)
terhadap
Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli’. Sejauh
pengamatan penulis, penelitian dengan judul ini belum pernah dilakukan
sebelumnya. Penelitian mengenai aktivitas antibakteri tanaman meniran
memang sudah banyak dilakukan, namun tidak ada yang menggunakan
metode ekstraksi dan bakteri uji yang sama dengan yang dilakukan penulis
pada penelitian ini.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
B. Rumusan Masalah
Dalam pengujian ekstrak tanaman meniran terhadap pertumbuhan bakteri
Escherichia coli dan Bacillus cereus, permasalahan yang perlu dikaji antara
lain:
1.
Apakah ekstrak tanaman meniran memiliki aktivitas antibakteri terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus?
2.
Apakah terdapat perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak rebus dan
ekstrak tumbuk terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan
Bacillus cereus?
3.
Berapa konsentrasi minimum ekstrak yang mampu menghambat dan
membunuh bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus?
C. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagian tanaman yang digunakan dalam ekstraksi terdiri dari seluruh
bagian tanaman meniran, mulai dari akar, batang, daun dan buah atau
bunganya, yang diperlakukan dengan dua perlakuan yaitu direbus dan
ditumbuk.
2.
Parameter dalam penelitian ini adalah diameter daerah hambat di sekitar
kertas cakram pada media kultur dengan satuan milimeter (mm).
3.
Metode yang digunakan dalam uji aktivitas antibakteri adalah metode
difusi Kirby-Bauer dengan menggunakan cakram kertas (dari kertas
saring).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
6
Media kultur yang digunakan dalam uji aktivitas antibakteri merupakan
media NA padat dalam cawan petri sebanyak 25 ml.
5.
Metode yang digunakan dalam uji kadar hambat minimal dan kadar
bunuh minimal adalah metode dilusi padat dengan parameter media
kultur yang digunakan tidak ditumbuhi bakteri setelah diinkubasi.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.
Mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak tanaman meniran terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus.
2.
Mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak rebus dan
ekstrak tumbuk terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan
Bacillus cereus?
3.
Mengetahui konsentrasi minimum ekstrak tanaman meniran yang mampu
menghambat dan membunuh Escherichia coli dan Bacillus cereus.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti yaitu untuk menambah
pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai pengaruh pemberian
ekstrak tanaman tertentu terhadap aktivitas mikroba, membantu peneliti
untuk memahami prosedur yang dilakukan dalam uji aktivitas antibakteri
dari suatu tanaman terhadap mikroba tertentu dan membantu peneliti
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
memahami banyaknya potensi antibakteri yang dimiliki oleh berbagai
tanaman.
2. Bagi Masyarakat
Manfaat penelitian ini bagi masyarakat yaitu meningkatkan
pengatahuan masyarakat mengenai manfaat tanaman meniran, sehingga
masyarakat dapat menggunakan tanaman meniran sebagai obat alternatif
untukpenyakit diare atau penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi
bakteri Bacillus cereus atau Escherichia coli. Beberapa bagian dari hasil
penelitian ini juga dapat digunakan sebagai sarana belajar bagi siswa
menengah atas maupun mahasiswa.
F. Hipotesis
1.
Tanaman meniran (Phyllanthus niruri) yang telah diekstraksi dengan
cara direbus dan ditumbuk memiliki aktivitas antibakteri terhadap
Escherichia coli dan Bacillus cereus, karena adanya kandungan senyawa
antibakteri dalam tanaman meniran, dan
2.
Terdapat perbedaan pengaruh aktivitas antibakteri yang signifikan dari
ekstrak rebus dan ekstrak tumbuk tanaman meniran.
3.
Konsentrasi minimal yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri
(KHM) Bacillus cereus untuk ekstrak tumbuk diperkirakan pada rentang
35-40 % dan untuk ektrak rebus diperkirakan pada rentang 40-45%.
Sedangkan konsentrasi minimal yang mampu membunuh Escherichia
coli untuk kedua ekstrak diperkirakan lebih tinggi dari nilai KHM.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Antibakteri
Antibakteri adalah metabolit sekunder atau substansi kimia yang
diperoleh dari mikroorganisme maupun produk sintesis, dimana pada dosis
atau konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan ketahanan dari
mikroorganisme tanpa efek toksik yang serius pada inang. Selain itu telah
ditemukan antibakteri yang berasal dari kandungan senyawa tanaman.
Tanaman merupakan sumber yang sangat penting untuk menemukan
antibakteri (Astuti, 2012).
Sedangkan Madigan (2009) dalam Kosasih (2011) menjelaskan bahwa
senyawa antibakteri merupakan senyawa alami maupun kimia sintetik yang
dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Senyawa
yang dapat membunuh organisme (bakteri) disebut bakterisidal. Senyawa
yang tidak membunuh namun dapat menghambat pertumbuhan organisme
(bakteri) disebut bakteriostatik.
Antibakteri dapat diklasifikasikan menjadi bakteriostatik, bakteriosidal,
dan bakteriolisis. Bakteriostatik secara berkala sebagai penghambat sintesis
protein dan berfungsi sebagai pengikat ribosom. Bakteriosidal mengikat kuat
pada sel target dan tidak hilang melalui pengenceran yang tetap akan
membunuh sel. Sel yang mati tidak hancur dan tetap memiliki jumlah sel
yang konstan. Beberapa bakteriosidal merupakan bakteriolisis, yakni
membunuh sel dengan terjadi lisis pada sel dan mengeluarkan komponen
sitoplasmanya. Lisis dapat menurunkan jumlah sel dan juga kepadatan kultur.
Senyawa bakteriolisis termasuk dalam senyawa antibiotik yang menghambat
8
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
sintesis dinding sel, seperti penicillin, dan senyawa kimia seperti detergen
yang dapat menghancurkan membran sitoplasma (Kosasih, 2011).
1.
Mekanisme Kerja Antibakteri
Agen antibakteri yang ideal memperlihatkan sifat toksisitas selektif,
yang berarti bahwa obat tersebut berbahaya bagi patogen tanpa
membahayakan inangnya. Jawetz dkk (2004) menyatakan bahwa obatobat antimikrobia bekerja dengan mekanisme sebagai berikut:
a. menghambat sintesis dinding sel
b. menghambat fungsi membran sel
c. menghambat sintesisi protein
d. menghambat sintesis asam nukleat
2.
Pengukuran Aktivitas Antibakteri
Pengukuran aktivitas antibakteri suatu senyawa dapat dilakukan
dengan dua metode, yaitu metode dilusi dan metode difusi. Metode dilusi
dilakukan dengan memasukkan sejumlah zat antibakteri ke dalam media
padat atau cair. Media diinokulasi dengan bakteri uji kemudian
diinkubasi. Tujuan akhirnya adalah untuk mengetahui berapa banyak
jumlah zat antibakteri yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan
atau membunuh bakteri uji (Jawetz dkk, 2004).
Metode difusi merupakan metode yang digunakan untuk mengukur
potensi antibakteri berdasarkan pengamatan zona jernih yang terbentuk
di sekitar tempat penginokulasian obat atau larutan uji. Metode difusi
dilakukan dengan cara menempatkan senyawa uji pada media padat yang
ditanami dengan biakan bakteri. Dalam metode ini terdapat beberapa
teknik, yaitu teknik paper disk plate (cara Kirby Bauer), teknik sumuran
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
dan teknik pour plate (Jawetz dkk, 2004).Syarat jumlah bakteri untuk uji
kepekaan/sensitivitas pada teknik difusi yaitu 10-8 sampai 10-6 cfu/ml
(Maryani, 2013).
3.
Respon mikroba terhadap antibakteri
Madigan (2009) dalam Kosasih (2011) menyatakan bahwa respon
tiap mikroorganisme terhadap antibakteri berbeda-beda. Bakteri memiliki
tingkat sensitivitas yang berbeda. Umumnya bakteri gram positif lebih
peka terhadap
senyawa antibakteri dibanding bakteri gram negatif.
Perbedaan sensitivitas bakteri terhadap senyawa antibakteri dipengaruhi
oleh struktur dinding sel bakteri. Target penting antibiotik terhadap
bakteri yaitu ribosom, dinding sel, membran sitoplasma, enzim
biosintesis lemak, serta replikasi dan transkripsi DNA.
Suatu zat aktif dikatakan memiliki potensi yang tinggi sebagai
antibakteri jika pada konsentrasi rendah mempunyai daya hambat yang
besar. Nazri dkk (2011) dalam Kosasih (2011) mengungkapkan bahwa
kriteria kekuatan antibakteri adalah sebagai berikut.
a. Diameter zona hambat > 20 mm
: daya hambat sangat kuat
b. Diameter zona hambat 10-20 mm
: daya hambat kuat
c. Diameter zona hambat 5-10 mm
: daya hambat sedang
d. Diameter zona hambat 0-5 mm
: daya hambat lemah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
B. Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
1. Klasifikasi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
Gambar 2.1. Tanaman meniran (Phyllanthus niruri)
Meniran (Phyllanthus niruri) teridentifikasi sebagai gulma tanaman
padi yang keberadaannya tidak dikehendaki, walaupun sebagian
masyarakat sudah mengenal dan menggunakan meniran sebagai salah
satu tanaman berkhasiat obat. Klasifikasi tanaman meniran menurut
Oktaviadiati dkk (2011) yaitu:
Kingdom
: plantae
Divisi
: spermatophyta
Subdivisi
: angiospermae
Kelas
: dicotyledonae
Ordo
: euphorbiales
Famili
: euphorbiaceae
Genus
: Phyllanthus
spesies
: Phyllanthus niruri
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
2. Nama Lain Meniran
Meniran juga dikenal dengan nama-nama daerah lain. Prasetyo
(2013) menuliskan beberapa nama lain dari tanaman meniran.
Sumatera
: ba’me tano, sidukung anak, dudukung anak, baket sikolop
Jawa
: meniran, meniran ijo, meniran abang, memeniran (Sunda)
Sulawesi
: bolobungo, sidukung anak
Maluku
: belalang babiji, gosau ma dungi, gosau ma dungi roriha
(Ternate)
China
: zhen zhu cao, hsieh hsia chu
India
: chanca piedra, quebra pedra, kilanelli
Inggris
: child pick a back
Amerika
: stone breaker, shaterrstone, chamber bitter, leafflower,
quinine weed
Brazil
: arrebenta pedira
3. Morfologi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
Meniran merupakan terna semusim yang tegak, dengan tinggi
tanaman mencapai 100 cm, tidak berbulu (berambut), pada pangkal
batangnya kadang-kadang agak berkayu. Tumbuhan ini sering ditemukan
sangat bercabang dengan tangkai dan cabang-cabang hijau yang siku-siku
(Heyne, 1987).
4. Habitat Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
Meniran merupakan tanaman daerah tropis yang tersebar di seluruh
Asia termasuk Indonesia, India, Peru, Afrika, Amerika dan Australia
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
(Oktaviadiati, 2011). Meniran dapat tumbuh subur di tempat yang lembab
pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 mdpl. Tanaman ini
biasa tumbuh secara liar di hutan, ladang, pematang sawah, kebun dan
pekarangan rumah. Meniran umumnya tidak dipelihara karena dianggap
sebagai tumbuhan rumput biasa (Latief, 2012).
5. Manfaat Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
Tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri) secara umum digunakan
untuk
bahan
minuman
sebagai
penambah
daya
tahan
tubuh
(imunomodulator). Tumbuhan meniran juga banyak digunakan sebagai
obat tradisional untuk menurunkan demam, melindungi hati dari racun
(antihepatotoksik), antidiare, pereda batuk, antiradang, antivirus, peluruh
batu saluran kemih, peluruh dahak, serta menurunkan kadar glukosa
darah (Noorhamdani dkk, 2006).
Dalam Heyne (1987) dijelaskan bahwa meniran merupakan
tumbuhan yang memiliki banyak khasiat. Beberapa jenis penyakit yang
dapat diobati dengan menggunakan meniran antara lain sakit perut mulas
(kolik), penyakit kencing batu, ayan dan kejang, sakit gigi, gonorhoe,
pereda demam dan batuk rejan. Selain itu dituliskan pula bahwa
tumbuhan meniran dikenal sebagai diureticum (pelancar air seni) yang
baik, juga sebagai pelancar haid, dan disalahgunakan sebagai obat untuk
menggugurkan kandungan. Telah diungkapkan pula bahwa penggunaan
meniran yang berlebihan dapat menyebabkan impotensi pada pria.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
6. Kandungan Metabolit Sekunder dalam Tanaman Meniran (Phyllanthus
niruri)
Herba meniran merupakan tanaman yang mempunyai banyak khasiat
dan telah digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian mengenai khasiat
ekstrak meniran (Phyllanthus niruri) sudah sering dilakukan, dan peneliti
melihat khasiat dari setiap bagian herba meniran mempunyai potensi
dapat digunakan (Nugrahani, 2012). Khasiat tanaman ini diduga berasal
dari kandungan berbagai senyawa kimia. Senyawa-senyawa kimia yang
terkandung dalam ekstrak etanol 96% herba meniran di antaranya
alkaloid, flavonoid, tanin, dan Saponin (Mangunwardoyo dkk, 2009).
Senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin,dan tanin yang
terkandung di dalam ekstrak etanolmeniran memiliki aktivitas sebagai
antimikroba. Aktivitas antimikroba dapat diketahui darikemampuan
penghambatan pertumbuhan bakteriGram positif, S. aureus dan khamir
C.
albicans.Penghambatan
pertumbuhan
mikroba
terjadi
karenapenghambatan sintesis dinding sel, pengubahanpermeabilitas
membran sel atau transpor aktifmelalui membran sel, penghambatan
sintesis
protein
dan
penghambatan
sintesis
asam
nukleat(Mangunwardoyo dkk, 2009).
Senyawa fenolik dan flavonoid termasuk dalam metabolit sekunder
dari tanaman yang mempunyai aktifitas biologi dan terdiri dari 8000
macam senyawa. Senyawa ini dapat berperan langsung sebagai
antibiotika dengan mekanisme kerja mendenaturasi protein sel bakteri
dan menghancurkan sel dinding bakteri (Astuti, 2012). Hal serupa juga
diungkapkan oleh Nuria dkk (2009), yang menyatakan flavanoid terdapat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
pada seluruh bagian tanaman, termasuk pada buah, tepung sari, dan akar.
Mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri adalah membentuk
senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga
dapat merusak membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya
senyawa intraseluler.
Tanin
tersebar
luas
dalam
tumbuhan
berpembuluh,
dalam
angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu Nuria dkk, 2009).
Tanin adalahsalah satu senyawakimiawi yang termasuk dalam golongan
polifenol yang diduga dapat mengikat protein adhesin pada sel bakteri.
Apbila hal ini terjadi maka dapat merusak ketersediaan reseptor pada
permukaan sel bakteri. Tanin dibuktikan dapat membentuk kompleks
senyawa yang irreversibel dengan prolin, suatu protein lengkap, dimana
ikatan ini mempunyai efek penghambatan sisntesisi protein untuk
pembentukan dinding sel (Noorhamdani dkk, 2006)
C. Deskripsi bakteri
1. Bakteri Escherichia coli
a. Klasifikasi Bakteri Escherichia coli
Gambar 2.2. Bakteri Escherichia coli
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
Sumber:
http://www2.canyons.edu/Faculty/takedad/PublishingImages/Plates/E.
coli_na_6-03_640x587.jpg
Escherichia coli termasuk dalam kelas Gamma Proteobacteria,
ordo Enterobacteriales, famili Enterobacteriaceae, genus Escherichia.
(Radji, 2010).
b. Morfologi dan Fisiologi Bakteri Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif dengan bentuk
batang pendek (kokobasil) hingga membentuk sepanjang ukuran
filamentous. Escherichia coli tidak menghasilkan spora. Selnya dapat
berupa sel tunggal, berpasangan dan dalam rantai pendek, biasanya
tidak berkapsul. Koloni bakteri Escherichia coli berbentuk bulat
konveks, halus, dengan pinggiran nyatapada biakan. Bakteri ini
bersifat aerob dan dapat juga anaerob fakultatif. ini merupakan
organisme koliform, yaitu organisme nonspora yang motil (dengan
flagela) atau nonmotil dan mampu memfermentasikan laktosa untuk
menghasilkan asam dan gas pada temperatur 37oC dalam waktu 48
jam (Anggraeni, 2014).
c. Habitat Bakteri Escherichia coli
Escherichia coli merupakan anggota mikroba usus normal,
artinya Escherichia coli secara normal terdapat pada saluran
pencernaan manusia dan hewan (Jawetz dkk, 1996). Escherichia coli
juga sering ditemukan hidup dan mengontaminasi air, makanan yang
belum dimasak, daging, maupun susu yang belum dipasteurisasi
(Kosasih, 2011).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
d. Penyakit-penyakit yang Ditimbulkan oleh Bakteri Escherichia coli
Beberapa penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Escherichia
coli, seperti diungkapkan Jawetz dkk (1996) diantaranya yaitu infeksi
saluran kemih yang disebut sistitis (peradangan pada selaput lendir),
diare pada anak maupun orang dewasa, sepsis, meningitis dan HUS
(Hemolytic Uremic Syndrom atau diare berdarah akut).
Diare yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli yang terdiri
dari beragam tipe, yang diklasifikasikan berdasarkan ciri khas sifat
virulensinya
dan
setiap
tipe
menimbulkan
penyakit
dengan
mekanisme yang berbeda-beda. Tipe-tipe Escherichia coli yaitu
enteropathogenic
Escherichia
coli
(EPEC),
enterotoxigenic
Escherichia coli (ETEC), enterohemorrhagic Escherichia coli
(EHEC),
enteroinvasive
Escherichia
coli
(EIEC)
dan
enteroaggregative Escherichia coli (EAEC).
EPEC adalah penyebab penting diare pada bayi, khususnya di
negara berkembang. Akibat dari infeksi yaitu diare cair yang biasanya
dapat sembuh sendiri, tetapi dapat juga menjadi kronik. ETEC sering
ditemukan sebagai penyebab ‘diare wisatawan’ dan menyebabkan
banyak kasus diare pada bayi di negara berkembang. EHEC
menghasilkan toksik yang disebut verotoksik yang menyebabkan
berbagai penyakit seperti diare berat, dan dengan sindroma uremia
hemolitik, suatu penyakit karena gangguan ginjal akut, anemia
hemolitikmikroangiopatik dan trombositopenia.
EIEC menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan shigelosis
yang banyak ditemukan menyerang anak-anak di negara berkembang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
dan wisatawan yang datang ke daerah tersebut. EAEC menyebabkan
penyakit diare akut dan kronik. Penyakit akibat EAEC ini umumnya
terjadi pada negara berkembang (Jawetz dkk, 1996).
2. Bakteri Bacilus cereus
a. Klasifikasi Bakteri Bacilus cereus
Gambar 2.3. Bakteri Bacillus cereus
Sumber:
http://www2.canyons.edu/Faculty/takedad/PublishingImages/Plates/B.
cereus_na_6-03_640x587.jpg
Bakteri Bacillus cereus termasuk dalam kelas Bacilli, Ordo
Bacillales, Famili Bacillaceae dan genus Bacillus (Radji, 2010).
b. Morfologi dan Fisiologi Bakteri Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri Gram-positif yang bersifat
anerob fakultatif, motil atau dapat bergerak, dan dapat membentuk
endospora (Botone, 2010). Selnya berbentuk batang pendek dan
sporanya tidak membengkakkan sporangiumnya. Gordon dkk (1973)
dalam Salaki (2012) menyatakan bahwa spora bakteri Bacillus cereus
terdapat pada bagian parasentral, berbentuk elips dan berwarna
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
keputihan. Spora-spora ini mengalami perkembangan yang nyata pada
umur 48 sampai 168 jam setelah inokuasi.
c. Habitat Bakteri Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan organisme saprofit yang lazim
terdapat dalam tanah, air, udara dan tumbuh-tumbuhan, yang dapat
mengontaminasi nasi atau makanan lain. Selain itu, bakteri ini bisa
juga berada dalam tinja orang normal (Jawetz dkk, 1996).
d. Penyakit-penyakit yang Ditimbulkan oleh Bakteri Bacillus cereus
Bacillus cereus adalah bakteri penyebab infeksi mata, keratitis
berat,
enoftalmitis
dan
panoftalmitis.
Bacillus
cereus
juga
berhubungan dengan infeksi lokal dan infeksi sistemik termasuk
endokarditis, meningitis, osteomielitis dan pneumonia. Bacillus cereus
menghasilkan enterotoksin penyebab keracunan yang ditandai dua
bentuk keluhan yaitu dengan muntah (emetic form) atau diare
(diarrheal form). Emetic form ditandai dengan mual, muntah dan sakit
perut dengan masa inkubasi 1-6 jam. Sedangkan diarrheal form
berlangsung lebih lambat dengan masa inkubasi 8-16 jam. Bentuk ini
ditandai dengan keluhan sakit perut dan diare (Radji, 2010).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
D. Penelitian Lain yang Relevan
Beberapa penelitian mengenai antibakteri yang relevan dengan penelitian ini
antara lain:
1.
Iskandar dkk (2005) dalam penelitian yang berjudul “Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Etanol Rumput Laut (Eucheuma cottonii) terhadap
Bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus”, menemukan bahwa
rumput laut yang diekstraksi secara sinambung dengan alat soxhlet
memiliki aktivitas antibakteri. Pengujian dilakukan menggunakan metode
difusi agar dengan berbagai konsentrasi larutan ekstrak. Dari penelitian
ini diketahuai bahwa ekstrak rumput laut memiliki daya antibakteri lebih
kuat terhadap Bacillus cereus dibandingkan terhadap Escherichia coli.
2.
Sarjno dkk (2007) melakukan penelitian mengenai aktivitas antibakteri
rimpang temu putih (Curcuma manga Vall), dengan
variasi jenis
ekstraksi sampel. Rimpang temu putih diambil filtratnya kemudian dibagi
tiga. Bagian pertama langsung diuji aktivitasnya, bagian kedua kedua
diotoklaf kemudian diuji aktivitasnya dan bagian ketiga dikeringkan
(bubuk). Ketiga filtrat tersebut diuji terhadap pertumbuhan bakteri E.coli
dengan metode kertas cakram.Dari penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa filtrat rimpang temu putih dapat dipakai sebagai antibiotik
terhadap penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli.
3. Chodidjah dkk (2007) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh
Pemberian Air Rebusan Meniran (Phyllanthus niruri) Terhadap
Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Wistar yang Terinduksi (CCl4)”,
melakukan penelitian terhadap 40 ekor tikus wistar yang dikelompokkan
dalam lima kelompok, dimana setiap kelompok mendapat perlakukan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
yang berbeda. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air rebusan
meniran dapat memperbaiki kerusakan sel hati tikus galur Wistar yang
terinduksi CCl4 (karbon tetraklorida) 10%.
4.
Melki dkk (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Uji Antibakteri
Ekstrak Gracilaria sp. (Rumput Laut) terhadap Bakteri Escherichia coli
dan Staphylococcus aureus” mendapat hasil penelitian berupa adanya
aktifitas antibakteri ekstrak 100% Gracilaria sp., yang diekstraksi
dengan metode maserasi (perendaman dalam metanol) terhadap bakteri
E. coli dan S. aureus. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa ekstrak
Gracilaria sp. menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus,
dengan konsentrasi hambat minimum ekstrak terhadap kedua bakteri
yaitu pada konsentrasi 0,05%.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
E. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan latar belakang yang disajikan dapat disusun kerangka
berpikir yang disajikan dalam bagan berikut ini:
Herba meniran
Bakteri Escherichia
(Phyllanthus niruri)
colidan Bacillus
cereus
Ekstraksi
Rebus
Tumbuk
Uji aktifitas
antibakteri masingmasing ekstrak
Uji Kadar Hambat
Minimal
Uji Kadar Bunuh
Minimal
Gambar 2.4. Bagan Kerangka Berpikir
22
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
eksperimental
laboratorium.Penelitian eksperimental merupakan penelitian yang dilakukan
dengan memberikan perlakuan (treatment) terhadap variabel perlakuan.
Penelitian eksperimental dapat memberikan penjelasan tentang hubungan
sebab akibat yang dapat diketahui oleh peneliti, yang dimungkinkan untuk
melakukan perlakuan terhadap objek penelitian (Kontour, 2003). Maka
penelitian eksperimental laboratorium dapat diartikan sebagai penelitian yang
dilakukan dengan memberikan perlakuan pada variabel penelitian, dimana
penelitian ini dilakukan dalam lingkup laboratorium.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
: metode ektraksi herba meniran (Phyllanthus niruri)
dan konsentrasi ekstrak.
2. Variabel terikat
: daya hambat dan daya bunuh terhadap pertumbuhan
bakteri Bacilluscereusdan Escherichia coli
3. Variabel kendali
: suhu inkubasi, waktu inkubasi, media inkubasidan
volume bakteri
23
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
C. Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah bakteri Bacillus cereus
dan
Escherichia coliyang diperoleh dari biakan di laboratorium Bioteknologi
Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Bakteri diidentifikasi terlebih dahulu
dengan pengamatan morfologi koloni, pengamatan morfologi sel dan
pengecatan gram.
Sampel yang digunakan adalah herbaPhyllanthus niruri (meniran) yang
diambil secara acak di kebun dan halaman laboratorium biologi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta. Herbadiekstraksi untuk mengeluarkan kompenan
metabolit sekunder. Ekstraksi dilakukanmelalui dua cara, yaitu mengambil
sari tanaman dengan cara menumbuk herba meniran tanpa diberi air dan
dengan merebus herba dalam aquades.
D. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2014 di
Laboratorium
Biologi,
Program
Studi
Pendidikan
Biologi,
Jurusan
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
E. Desain Penelitian
Penelitian
dilakukan menggunakan
metode
penelitian rancangan
acaklengkap (Completely Randomized Design) faktorial. Rancangan acak
lengkap merupakan jenis rancangan percobaan yang paling sederhana. Satuan
percobaan yang digunakan homogen atau tidak ada faktor lain yang
mempengaruhi respon di luar faktor yang diuji atau diteliti. Faktor luar yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
dapat mempengaruhi percobaan dapat dikontrol, misalnya percobaan
dilakukan di rumah kaca atau laboratorium. Rancangan ini disebut rancangan
acak lengkap, karena pengacakan perlakuan dilakukan pada seluruh unit
percobaan. Rancangan acak lengkap digunakan bila faktor yang akan diteliti
satu faktor atau lebih dari satu faktor (Setiawan, 2009). Penelitian ini
dilakukan dengan perlakuan variasi sampel dan konsentrasi ekstrak, dengan
tiga kali ulangan pada setiap perlakuan. Sebagai kontrol positif digunakan
larutan formaldehida, sedangkan kontrol negatif menggunakan aquades steril.
F. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu tahap persiapan, tahap
pelaksanaan dan tahap perlakuan. Tahap persiapan merupakan tahap
penyiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian. Tahap
pelaksanaan terdiri dari pembuatan media uji Nutrient Agar (NA), sterilisasi
alat dan media, pembuatan ekstrak sampel, pembuatan standar McFarland,
penyiapan mikroorganisme uji dan uji kemurnian mikroorganisme uji.
Sedangkan tahap perlakuan terdiri atas uji aktivitas antibakteri,uji Kadar
Hambat Minimal(KHM) dan uji Kadar Bunuh Minimal (KBM).
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti melakukan inventarisasi alat dan bahan yang
digunakan dalam penelitian. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian
dipinjam
dari
laboratorium
biologi
Universitas
Sanata
Dharma
Yogyakarta. Daftar alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini
dapat dilihat ada tabel 3.1 dan tabel 3.2.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Tabel 3.1. Daftar Alat yang Digunakan
No
Nama alat
Jumlah
1
Inkubator
1 unit
2
Autoklaf
1 unit
3
Pendingin (kulkas)
1 unit
4
Neraca analitik
1 buah
5
Rak tabung
2 buah
6
Tabung reaksi
20 buah
7
Gelas ukur 100 ml
1 buah
8
Gelas ukur 10 ml
1 buah
9
Pipet ukur 10 ml
2 buah
10 Pipet ukur 1 ml
2 buah
11 Gelas arloji
1 buah
12 Sendok tanduk
1 buah
13 Cawan petri
40 set
14 Jarum ose
2 buah
15 Erlenmeyer 250 ml
4 buah
16 Gelas beker 500 ml
2 buah
17 Vortex mixer
1 unit
18 Bunsen
2 buah
19 Sprayer alkohol
1 buah
20 Hot plate stirrer
1 unit
21 Pinset
2 buah
22 Magnetic stirrer
1 buah
23 Corong kaca
2 buah
24 Batang bengkok (spreader)
1 buah
25 Gelas beker 1 L
1 buah
26 Mortar dan stemper
1 pasang
27 Jangka sorong
1 buah
28 Pinset
2 buah
29 Penjepit tabung reaksi
2 buah
30 Batang pengaduk
2 buah
31 Kertas saring
Secukupnya
32 Mikroskop
1 unit
33 Gelas benda
3 buah
34 Gelas penutup
3 buah
35 Microcam
1 unit
36 Kertas payung
Secukupnya
26
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
Kapas
Kasa
Karet gelang
Plastik pembungkus
Cotton bud
Alumunium foil
Gelas beker 25 ml
Marker
Kertas label
Masker
Sarung tangan latex
Microbacterial safety cabinet
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
8 buah
1 buah
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
1 unit
Tabel 3.2. Daftar Bahan yang Digunakan
No Nama bahan
Banyaknya
1
Biakan Bacillus cereus
1 tabung
2
Biakan Escherichia coli
1 tabung
3
Nutrient agar oxoid
200 gram
4
Aquades
5 liter
5
Alkohol 90%
3 liter
6
Tinta China
Secukupnya
7
Cat gram (A,B,C,D)
Secukupnya
8
Minyak immersi
Secukupnya
9
Barium klorida (BaCl) 1%
10 ml
10
Asam belerang (H2S) 1%
100 ml
11
Spiritus
1 liter
12
Herba meniran
Secukupnya
13
Formalin
Secukupnya
14
Natrium hipoklorit (NaClO)
secukupnya
27
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
Sampel herba meniran(Phylantus niruri)diambil dari kebun tanaman
obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan di beberapa tempat
lain di sekitar laboratorium biologi Universitas Sanata Dharma. Tanaman
meniran yang digunakan merupakan meniran hijau dengan tinggi sampel
tanaman berkisar antara 20-50 cm. Seluruh bagian tumbuhan meniran
digunakan dalam penelitian ini, mulai dari akar, batang, daun dan buah
atau bunganya. Bakteri uji yang sudah didapat diperbanyak dengan cara
melakukan teknik cawan gores pada media agar miring.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Pembuatan Ekstrak
Terdapat dua perlakuan sampel untuk mendapatkan ekstrak.
Perlakuan pertama ekstrak diperoleh melalui metode dekoksi.Metode
dekoksi merupakan salah satu metode ekstraksi mengunakan pelarut air
pada temperatur penangas air mendidih selama waktu tertentu (minimal
30 menit) dan temperatur sampai titik didih air (BPOM, 2000).
Penggunaan meniran sebagai obat diare dipaparkan oleh Latief
(2012), yaitu dengan cara merebus 17 herba meniran (seluruh bagian
tanaman meniran, mulai dari akar, batang, daun dan buah atau bunga).
Formula inilah yang kemudian dijadikan acuan banyaknya herba
meniran yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Sebanyak 17 herba Phylantus niruridicuci menggunakan air
mengalir hingga bersih, disterilkan dengan merendam herba dalam
aquades yang diberi natrium hipoklorit (NaClO) selama 15 menit (10
ml natrium hipoklorit dimasukkan ke dalam 3 liter aquades), kemudian
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
dibilas menggunakan aquades. Herba meniran dipotong-potong
kemudian direbus dengan aquades sebanyak 3 gelas (±600 ml).
Perebusan dilakukan selama minimal 30 menit, terhitung sejak pelarut
(aquades) mulai mendidih. Hasil rebusan setelah mendidih disaring dan
dapat digunakan dalam uji aktivitas antibakteri. Hasil saringan yang
diperoleh merupakan ekstrak dengan konsentrasi 100%.
Perlakuan kedua herbaPhylantus nirurisegar ditumbuk dan diambil
sarinya. Pencucian dan sterilisasi herba dilakukan dengan cara yang
sama dengan perlakuan pertama. Kemudian herba dipotong-potong
untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil sehingga memudahkan
penumbukan.
Selanjutnya
herba
menggunakan
mortar
stempar
dan
ditumbuk
steril,
atau
dilumatkan
kemudian
disaring
menggunakan kertas saring. Sari tanaman yang diperoleh merupakan
ekstrak dengan konsentrasi 100%.
Setelah didapat stok ekstrak 100% dilakukan pengenceran
ekstrak, masing-masing ekstrak diencerkan menjadi tiga konsentrasi,
yaitu 35%, 40% dan 45% dengan menambahkan aquades steril.
Komposisi ekstrak dan aquades yang digunakan dalam pengenceran
ekstrak dijelaskan dalam tabel 3.3.
Tabel 3.3. Komposisi ekstrak dan aquades dalam pengenceran ekstrak
Konsentrasi
ekstrak yang
diinginkan
35%
40%
45%
Volume sampel
ekstrak (ml)
Volume
aquades (ml)
Volume total
(ml)
3,5
4
4,5
6,5
6
5,5
10
10
10
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
b. Pembuatan Media Uji Nutrient Agar (NA)
Sebanyak 2,8 gram NA oxoid dilarutkan ke dalam 100 ml aquades,
kemudian dipanaskan di atas hot plate stirrer. Pengadukan dilakukan
dengan memasukkan magnetic stirrer ke dalam larutan. Larutan
dipanaskan hingga NA larut dan didapatkan larutan berwarna kuning
jernih. Media yang telah homogen kemudian bisa dibagi ke dalam dua
atau tiga erlenmeyer lalu ditutup rapat dengan sumbat kapas dan
selanjutnya disterilisasi. Setelah media disterilisasi kemudian dituang
ke cawan petri atau tabung reaksi, sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Setelah media memadat kemudian diinkubasi dalam suhu ruang untuk
melihat apakah media mengalami kontaminasi atau tidak, jika media
tidak mengalami kontaminasi maka media dapat digunakan.
c. Sterilisasi Alat dan Media
Alat dan media yang digunakan dalam penelitian harus disterilkan
terlebih dahulu dengan tujuan memperkecil peluang kontaminasi.
Sterilisasi yang dilakukan yaitu sterilisasi panas bertekananyang
dilakukan pada alat-alat berbahan kaca menggunakan autoklaf,
sterlisasi dengan pemanasan (dibakar dengan api) untuk alat yang tidak
tahan panas dan sterilisasi kimia menggunakan alkohol. Sterilisasi alat
menggunakan autoklaf dilakukan pada tekanan 1 atm dan suhu 121˚C
selama 15 menit. Bahan-bahan seperti media kultur dan aquades juga
disterilisasi menggunakan autoklaf, namun waktu sterilisasi hanya 10
menit. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada
bahan (media).
d. Pembuatan Larutan Nefelometer McFarland
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
Pembuatan larutan Nefelometer McFarland dilakukan dengan
mencampurkan larutan asam belerang (H2S) 1% dan larutan barium
klorida (BaCl) 1%. Reaksi dari kedua larutan dengan konsentrasi yang
berbeda-beda akan menghasilkan larutan dengan berbagai tingkat
kekeruhan. Larutan-larutan ini dapat digunakan untuk menunjukkan
kepadatan sel bakteri yang telah dilarutkan dalam cairan, dengan cara
membandingkan tingkat kekeruhan warna. Dengan begitu peneliti
dapat memperkirakan berapa jumlah sel bakteri yang akan diteliti.
Kelemahan metode ini yaitu jumlah bakteri dalam suspensi cair tidak
dapat diperkirakan dengan tepat karena hanya mengandalkan
kemampuan mata melihat tingkat kekeruhan cairan.
Sepuluh tabung reaksi bersih dengan ukuran yang sama
disiapkan, dan diberi nomor pada masing-masing tabung. Lalu kedua
larutan ini dicampurkan dalam tabung menggunakan pipet ukur
dengan perbandingan volum yang terdapat pada tabel 3.4.
Tabel 3.4. Perbandingan Konsentrasi Larutan dalam Pembutan
Standar Mcfarland
Nomor tabung
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
BaCl (ml)
0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
H2S (ml)
9,9 9,8 9,7 9,6 9,5 9,4 9,3 9,2 9,1 9
Setelah larutan dicampurkan, mulut tabung ditutup menggunakan
alumunium foil dan disimpan. Suspensi barium sulfat yang terdapat
dalam tabung-tabung ini kira-kira sama dengan sejumah suspensi sel
bakteri per ml (Bonang dan Enggar, 1982).
e. Penyiapan Mikroorganisme Uji
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Pada mikroorganisme
uji
32
yang telah diperoleh dilakukan
perbanyakan kultur murni. Kultur murni bakteri ujidiambil sedikit
menggunakan jarum ose steril, kemudian digoreskan di atas
permukaan medium NA miring secara aseptis. Setelah itu dilakukan
inkubasi pada suhu 37˚C selama 24 jam. Meskipun sebenarnya bakteri
dapat tumbuh pada rentang suhu 25-40 ˚C, namun suhu optimum untuk
pertumbuhan bakteri umumnya sekitar 37˚C (Radji, 2010).
Untuk mempersiapkanmikroorganisme uji yang akan digunakan
dalam uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode cawan sebar
(spread plate). Biakan murni pada tabung reaksi diambil sebanyak satu
ose lalu dimasukkan dalam tabung berisi 10 ml aquades steril
kemudian dihomogenkan menggunakan vortex mixer. Dari tabung
pertama ini diambil 1 ml suspensi bakteri uji dan dimasukkan dalam
tabung kedua yang berisi 9 ml aquaqes steril, sehingga volume total
tabung kedua adalah 10 ml. Demikian seterusnya hingga tabung yang
ke lima (pengenceran 10-5) yang setara dengan 3.108 cfu/ml
Nefelometer McFarland. Kemudian suspensi bakteri pengenceran 10-5
diambil sebanyak 0,1 ml dan diteteskan ke dalam cawan petri berisi
media NA kemudian diratakan menggunakan spreader atau batang
drigalskisecara aseptis.
f. Pengamatan Morfologi Koloni dan Morfologi Sel Bakteri Uji.
Mikroorganisme uji yang digunakan di dalam penelitian ini adalah
Bacillus cereusdan Escherichia coli. Pada pengamatan morfologi
koloni dan morfologi sel mikroorganisme uji, dilakukan langkahlangkah sebagai berikut:
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
1) Pengamatan Morfologi Koloni
Mikroorganisme uji diambil sebanyak satu ose, kemudian
diinokulasikan dengan teknik cawan gores (streak plate) pada
medium NA dalam cawan petri. Selanjutnya kultur diinkubasi pada
suhu 27˚C selama 24 jam, kemudian dilakukan pengamatan
morfologi koloni mikroorganisme uji yang meliputi bentuk dan
warna koloni.
2) Pengamatan Morfologi Sel
Mikroorganisme uji diambil sebanyak satu ose, kemudian
diinokulasikan secara goresan pada medium NA miring dan
diinkubasi pada suhu 37˚C selama 24 jam. Morfologi sel
mikroorganisme uji diamati dengan menggunakan pengecatan
negatif, yaitu dengan cara membuat preparat apusan bakteri.
Pertama-tama bersihkan permukaan gelas benda dengan
alkohol, kemudian teteskan satu tetes tinta China di salah satu
ujung gelas benda. Selanjutnya campurkan satu ose biakan bakteri
dengan tinta China. Letakkan gelas benda yang lain di sisi
campuran tinta dan biakan bakteri dalam posisi miring dengan
sudut kemiringan 45º terhadap gelas benda pertama. Kemudian
dorong gelas benda kedua ke arah sisi lainnya secara perlahan,
sehingga tinta dan bakteri menyebar di permukaan gelas benda
pertama. Selanjutnya angin anginkan apusan hingga kering dan
dilakukan pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan
perbesaran kuat(Alexander dkk, 2003).
3) Pengecatan Gram
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
Pengecatan gram dilakukan untuk mengetahui sifat Gram
mikroorganisme uji. Pertama-tama, gelas benda dibersihkan dengan
alkohol dan dipanaskan dengan bunsen sampai kering. Setelah itu,
satu ose suspensi bakteri diambil secara aseptis dan diratakan
seluas ± 1 cm pada gelas benda kemudian difiksasi dengan cara
dilewatkan di atas apibunsen. Hal ini dilakukan untuk mematikan
bakteri dan membuatnya menempel pada gelas benda tanpa
merusak struktur sel bakteri.
Objek yang sudah difiksasi kemudian ditetesi cat gram A
(kristal violet) pada permukaan lapisan bakteri dan didiamkan
selama 60 detik. Hasil pengecatan cat gram A dicuci dengan air
mengalir dan dikeringkan. Setelah kering, cat gram B (iodine)
diteteskan dan didiamkan selama 60 detik, kemudian dicuci dengan
air mengalir dan dikeringkan. Selanjutnya dilakukan proses
decolorisasi, yaitu objek diberi cat gram C (alkohol) dan didiamkan
selama 15-30 detik, lalu kembali dicuci dengan air mengalir dan
dikeringkan. Kemudian, objek ditetesi dengan cat gram D
(safranin) dan didiamkan selama 60 detik, kemudian dicuci dengan
air mengalir dan dikeringkan.
Setelah kering, permukaan bakteri ditutup dengan gelas
penutup kemudian ditetesi dengan minyak immersi secukupnya,
kemudian ditutup dengan gelas penutup. Hasil diamati di bawah
mikroskop dengan perbesaran kuat, setelah didapat gambar
ditangkap menggunakan microcam. Jika sel bakteri tampak
berwarna ungu maka hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
merupakan bakteri Gram-positif, namun jika berwarna merah,
bakteri tesebut merupakan bakteri Gram-negatif (Alexander dkk,
2003).
3. Tahap Perlakuan
a. Uji Aktivitas Antibakteri
Mikroorganisme uji yang sudah diinokulasi dengan teknik cawan
tebar dalam cawan petri disiapkan tanpa melakukan inkubasi.
Kemudian dari kedua jenis ekstrak masing-masing dibuat pengenceran
konsentrasi ekstrak, yaitu 35%, 40% dan 45%. Sebelumnya peneliti
telah melakukan penelitian uji aktivitas antibakteri dengan konsentrasi
ekstrak 10%, 20% dan 30%, namun tidak menghasilkan zona hambat.
Hal ini berarti ekstrak tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
Maka konsentrasi ekstrak ninaikkan menjadi 35%, 40% dan 45%.
Selain ekstrak tanaman larutan kontrol juga disiapkan. Kontrol
positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah formaldehida atau
formalin dalam bentuk cair. Penggunaan formalin sebagai kontrol
positif dikarenakan formalin telah digunakan secara luas untuk
mengawetkan spesimen biologis dan menonaktifkan bakteri dan virus
(Radji, 2009). Sedangkan sebagai kontrol negatif digunakan aquades
yang telah disterilisasi, sehingga diyakini tidak mengandung mikroba
ketika digunakan.
Kertas saring bulat steril dicelupkan dalam tiap-tiap ekstrak dan
larutan kontrol selama 15 menit, kemudian diletakkan pada media yang
sudah diinokulasi dengan bakteri uji, kemudian diinkubasi selama 24
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
jam pada suhu 37˚C. Dalam satu cawan dibagi menjadi tiga daerah dan
diisi dengan tiga kertas saring bulat, sehingga jika zona hambat
terbentuk zona yang terbentuk di sekitar kertas saring satu tidak
bertumpuk dengan zona kertas saring yang lain. Dalam penelitian ini
dilakukan tiga kali pengulangan dalam setiap perlakuannya.
Aktifitas antibakteri dilihat dari zona hambat yang terbentuk. Jika
media di sekitar kertas saring tidak ditumbuhi bakteri menandakan
ekstrak tanaman memiliki kandungan antibakteri. Jari-jari zona hambat
diukur menggunakanjangka sorong, pengukuran dilakukan dari koloni
bakteri yang berjarak terjauh dan koloni bakteri berjarak terdekat
dengan kertas saring. Parameter untuk menilai efektivitas ekstrak
terhadap bakteri Bacillus cereus dan Escherichia colidilihat melalui
jari-jari zona penghambatan ekstrak dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
r
pq
2
Dimana:
r : jari-jari zona hambat (mm)
p : zona hambat terpanjang (mm), dan
q : zona hambat terpendek (mm)
b. Uji Kadar Hambat Minimal (KHM)
Konsentrasi terkecilekstrak yang memiliki kemampuan hambat
yang telah didapatkan dari uji aktivitas digunakan sebagai acuan dalam
menentukan konsentrasi sampel pada pengujian nilai Kadar Hambat
Minimal (KHM). Berdasarkan konsentrasi terendah yang menghambat
bakteri ini, dibuat ekstrak dengan rentang yang lebih kecil dari rentang
konsentrasi yang digunakan dalam pengujian aktivitas antibakteri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
Misalkan pada uji aktivitas antibakteri, dari 3 konsentrasi ekstrak (5%,
10%, dan 15%) konsentrasi terendah yang mampu menghasilkan zona
bening adalah konsentrasi 10%. Maka dalam uji KHM penggunaan
konsentrasi ekstrak menjadi 10%, 11%, 12%, dst. Dengan hal ini
peneliti dapat mengetahui dengan pasti berapa konsentrasi (%) ekstrak
yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri.
Pengujian dilakukan dengan metode dilusi padat. Metode ini
dilakukan dengan menginokulasikan bakteri dengan teknik cawan
tuang (pourplate).Media NA dengan suhu 45˚C dituangkan ke dalam
cawan petri yang sudah berisi mikroorganisme uji dan sampel ekstrak.
Jumlah media kultur yang digunakan sebanyak 10 ml, mikroorganisme
uji pada konsentrasi 10-8cfu/ml yang divortex dahulu sebelum
digunakan sebanyak 0,5 ml dan sampel ekstrak sebanyak 0,5 ml. Hasil
pourplate diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37˚C. Penentuan nilai
KHM dilihat dari konsentrasi terendah pada media yang tidak
ditumbuhi bakteri.
c. Uji Kadar Bunuh Minimal (KBM)
Hasil yang telah didapat pada pengujian KHM digunakan dalam
pengujian KBM dengan metode cawan gores (strek plate). Cotton bud
yang sudah disterilkan diusapkan ke permukaan media hasil KHM,
kemudian digoreskan ke media steril yang baru lalu diinokulasi selama
24 jam pada suhu 37˚C. Jika media kultur yang digunakan tetap bening
(tidak ditumbuhi bakteri) maka konsentrasi ini dapat ditetapkan
sebagai nilai KBM.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Bagan alir tahapan pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.
Penyediaan alat dan bahan
sterilisasi
Ekstraksi
sampel meniran
Tumbuk
Pembuatan
media kultur
Rebus
Pembuatan
nefelometer
McFarland
Peremajaan sel
bakteri uji
Uji morfologi
bakteri
Perlakuan:
Uji aktivitas antibakteri
Kadar hambat minimum
Kadar bunuh minimum
Gambar 3.1. Diagram alir pelaksanaan penelitian
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
G. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini dilakukan beberapa pengujian, yaitu uji aktivitas
antibakteri, uji Kadar Hambat Minimum (KHM) dan uji Kadar Bunuh
Minimum (KBM). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi
padat cara Kirby Bauer, uji KHM dilakukan dengan metode dilusi padat dan
uji KBM dilakukan dengan metode streak plate.
H. Analisis Data
Analisis data yang digunakan untuk mengetahui aktivitas ekstrak herba
Phylantus niruri dengan pertumbuhan koloni Bacilus cereusdan Escherichia
colidilakukan uji statistik Two Way ANOVA dengan tingkat kepercayaan
95%. Pengitungan dilakukan dengan program SPSS versi 16. Untuk
mendapatkan data awal maka dilakukan uji normalitas adan uji homogenitas.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data normal
atau tidak. Jika data normal dan homogen, maka dapat dilakukan analisis
varian dua arah (Two Way ANOVA). Untuk mengetahui kelompok data mana
yang memiliki perbedaan yang sigifikan maka dilakukan analisis Post Hoc
(Maryani, 2013).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Identifikasi Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri)
Berdasarkan hasil pengamatan morfologi tanaman meniran, diketahui
ciri-ciri meniran yaitu meniran merupakan tumbuhan herba dengan tinggi
batang antara 20-100 cm. Batangnya merupakan batang tegak lurus dengan
warna yang bervariasi seperti berwarna hijau pucat atau hijau tua. Batang
tanaman ini merupakan batang basah berbentuk bulat (teres), yang memiliki
sistem percabangan monopodial dengan arah tumbuh cabang mendatar
(horizontalis).
Daun tanaman meniran merupakan daun tunggal meskipun bentuknya
menyerupai daun majemuk. Meniran merupakan tumbuhan dengan pola
duduk daun folia opposita. Artinya setiap buku daun diduduki dua helai daun
yang tumbuh berpasang-pasangan atau berhadap-hadapan. Daunnya berwarna
hijau, berbentuk oval dengan tepi daun rata, dan bagian ujung serta
pangkalnya membulat (rotundatus). Daun tanaman meniran memiliki
pertulangan daun menyirip (panninervis) dan pada permukaan daunnya tidak
terdapat struktur apapun atau sering disebut glaber atau gundul.
Meniran merupakan tumbuhan berumah satu dan bunganya berkelamin
tunggal. Bunga dan buah tanaman meniran tumbuh di bagian bawah cabang
tanaman dan menghadap ke tanah, dimana di sisi-sisi cabang tersebut
menumbuhkan daun. Bunga tanaman meniran berukuran kecil dan merupakan
bunga tunggal, demikian pula dengan buahnya yang berwarna hijau muda.
40
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
Ciri-ciri tanaman meniran yang diidentifikasi oleh penulis telah sesuai dengan
ciri-ciri tanaman meniran yang diungkapkan oleh Heyne (1987).
B. Pengamatan Morfologi Sel Bakteri
Bakteri uji yang digunakan dalam penelitian ini yaituEscherichia coli dan
Bacillus cereus yang didapat dari laboratorium Bioteknologi Universitas
Gajah Mada, maka diasumsikan bahwa kedua bakteri uji merupakan koloni
murni (koloni tunggal). Selanjutnya dilakukan pengamatan morfologi koloni
bakteri uji. Bakteri Bacillus cereus yang diuji memiliki ciri koloni yang
berbentuk bulat sampai tak beraturan dan berukuran agak besar, dengan
warna koloni putih. Pada pengamatan ini jumlah koloni bakteri tidak dapat
dilakukan karena kepadatan koloni tunggal bakteri sehingga koloni bakteri
bertumpang tindih membentuk koloni besar tak beraturan. Pada pengamatan
morfologi koloni bakteri Escherichia coli dapat dilihat bahwa koloni bakteri
ini berbentuk bulat yang mengkilap, dengan ukuran koloni yang agak besar.
Pada pengamatan ini juga tidak dapat dilakukan penghitungan koloni bakteri.
Untuk pengamatan morfologi sel bakteri dilakukan pengecatan bakteri,
yaitu dengan pengecatan negatif dan pengecatan gram. Dalam teknik
pengecatan negatif bakteri, bakteri tidak diwarnai, namun yang diwarnai
adalah latar belakangnya. Jadi bakteri akan tampak terang dengan latar
belakang hitam. Zat warna yang digunakan dalam pengecatan ini adalah zat
warna nigrosin atau tinta India. Sediaan bakteri yang akan diamati dibuat
dengan cara disebar-ratakan dengan gelas objek lain, atau disebut dengan
sediaan hapus (apusan). Pengecatan ini sangat berguna untuk mengamati
bentuk keseluruhan sel yang sangat kecil (Radji, 2009).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
Pada pengecatan negatif ini digunakan tinta China, karena cat nigrosin
tidak tersedia. Dari pewarnaan negatif bakteri ini hasil yang dapat diamati
yaitu bentuk sel bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus yang keduanya
berbentuk batang (basil). Sel bakteri Escherichia coli yang diamati berbentuk
batang tunggal (monobasil), sedangkan sel bakteri Bacillus cereus berbentuk
batang dengan susunan yang ujung selnya bergandengan dengan ujung sel
bakteri lain sehingga menyerupai bentuk rantai (streptobasil).
Pada pengamatan sel bakteri yang kedua dilakukan pewarnaan gram
dengan menggunakan 4 reagen, yaitu kristal violet (pemberi warna ungu),
iodine, alkohol dan safranin (pemberi warna merah) yang diteteskan pada
suspensi bakteri uji secara berurutan. Zat warna kristal violet dan iodine akan
membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Setelah pencucian dengan
alkohol 96%, beberapa kelompok bakteri dapat melepaskan zat warna ungu
dengan mudah, sedangkan kelompok bakteri lain dapat mempertahankan
warna ungu tersebut. Bakteri yang tidak dapat mempertahankan warna ungu
pada pencucian dengan alkohol 96% merupakan bakteri gram negatif,
sedangkan bakteri yang dapat mempertahankan zat warna ungu merupakan
bakteri gram positif. Karena melepaskan warna ungu setelah pencucian
dengan alkohol 96%, bakteri gram negatif perlu diwarnai dengan zat warna
lain agar dapat diamati di bawah mikroskop, yaitu safranin. Dengan demikian
maka bakteri gram negatif akan berwarna merah. Sebaliknya zat warna ungu
yang tidak luntur pada bakteri gram positif tidak terpengaruh oleh pemberian
zat warna safranin, sehingga bakteri tetap berwarna ungu.
Dinding sel bakteri gram negatif mengandung kadar lipid yang tinggi,
sekitar 20% (Radji, 2009), lipid ini dapat larut dalam alkohol 96% sehingga
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
pori-pori dinding sel membesar dan zat warna kristal violet dapat keluar dari
sel bakteri. Ketika diberi zat warna safranin sel bakteri dapat menyerapnya,
sehingga sel bakteri berwarna merah. Sebaliknya pada bakteri gram positif
pencucian dengan alkohol 96% akan menyebabkan protein terdenaturasi,
sehingga pori-pori mengecil dan zat warna kristal violet terperangkap di
dalam sel bakteri, akibatnya bakteri tetap berwarna ungu.
Pengamatan hasil pengecatan gram kedua bakteri uji di bawah mikroskop
menunjukkan bahwa bakteri Bacillus cereus berwarna ungu dan bakteri
Escherichia coli berwarna merah. Maka dapat disimpulkan bahwa bakteri
Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif dan bakteri Escherichia coli
merupakan bakteri gram negatif. Pada pengamatan dengan mikroskop
digunakan minyak imersi dengan tujuan untuk mengurangi pembiasan
cahaya, sehingga preparat sediaan bakteri terlihat lebih jelas. Gambar hasil
pengamatan morfologi koloni dan morfologi sel bakteri Bacillus cereus dapat
dilihat pada lampiran 4 dan bakteri Escherichia coli dapat dilihat pada
lampiran 5.
C. Uji Aktivitas Antibakteri
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya aktivitas
antibakteri ekstrak herba meniran terhadap bakteri Bacillus cereus dan
Escherichia coli. Kedua bakteri uji yang digunakan diperoleh dari
laboratorium Bioteknologi Universitas Gajah Mada, sehingga diasumsikan
bahwa bakteri uji merupakan kultur murni. Pengujian daya antibakteri ini
dilakukan di microbacterial safety cabinet untuk mengusahakan kondisi
lingkungan yang lebih aseptis selama penelitian dilakukan. Pengujian potensi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
antibakteri dilakukan dengan metode difusi, teknik paper disk plate (cara
Kirby Bauer). Prinsip metode difusi yaitu menempatkan senyawa uji pada
media padat yang diinokulasikan bakteri uji dengan metode cawan tebar.
Inkubasi dilakukan selama 24 jam, karena kedua bakteri uji merupakan
bakteri dengan pertumbuhan yang tergolong cepat (fast growing), dan akan
melakukan perbanyakan diri dengan cepat selama 18-24 jam.
Hasil pengukuran zona hambat ekstrak meniran terhadap pertumbuhan
bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Hasil uji aktivitas antibakteri
Jari-jari
Diameter
Konsentrasi
Bakteri
zona hambat zona hambat
Ekstrak
(mm)
(mm)
1,362
35%
2,724
2,472
Rebusan
40%
4,944
5,132
45%
10,264
1,897
35%
3,794
Bacillus
cereus
5,400
Tumbukan
40%
10,800
6,832
45%
13,664
Kontrol positif
28,760
57,520
0
Kontrol negatif
0
1,180
35%
2,360
2,128
Rebusan
40%
4,256
2,758
45%
5,516
1,468
35%
2,936
Escherichia
2,283
coli
Tumbukan
40%
4,566
4,567
45%
9,134
Kontrol positif
15,620
31,240
0
Kontrol negatif
0
Jenis
Ekstrak
Kriteria
kekuatan
antibakteri
Lemah
Lemah
kuat
Lemah
Kuat
Kuat
Sangat kuat
Tidak ada
Lemah
Lemah
Sedang
Lemah
Lemah
Sedang
Sangat kuat
Tidak ada
Dari hasil penelitian yang didapat, ekstrak herba meniran baik yang
ditumbuk maupun yang direbus memiliki daya antibakteri terhadap kedua
bakteri uji. Hal ini ditandai dengan adanya zona hambat (zona bening yang
tidak ditumbuhi bakteri) di sekeliling kertas cakram. Zona bening dapat
terbentuk karena ekstrak yang terdapat dalam kertas cakram berdifusi ke
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
media di sekitar kertas cakram sehingga bakteri tidak tumbuh di daerah yang
telah diresapi oleh ekstrak.
16
14
12
10
rebus
8
tumbuk
6
4
2
0
35%
40%
45%
Gambar 4.1. Grafik panjang zona hambat ekstrak meniran terhadap
pertumbuhan bakteri Bacillus cereus.
Dalam uji statistik didapatkan bahwa data hasil pengukuran zona hambat
pada bakteri uji Bacillus cereus memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05
yang berarti data berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas menunjukkan
bahwa data panjang zona hambat berdasarkan variasi konsentrasi dan variasi
ekstrak menunjukkan nilai signifikansi lebih dari 0,05 (0,142 untuk variasi
konsentrasi dan 0,782 untuk variasi ekstrak) yang berarti persebaran data
homogen.
Setelah dibuktikan bahwa distribusi data normal dan homogen, maka uji
statistik dapat dilanjutkan ke tahap pengujian anova dua arah (two way
anova). Hasil pengujian two way anova menunjukkan bahwa semua variabel
independen (besarnya konsentrasi dan jenis ekstrak) berpengaruh terhadap
variabel dependen (panjang zona hambat) dengan nilai signifikansi yang lebih
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
kecil dari 0,05. Variasi konsentrasi memberikan pengaruh terhadap zona
hambat bakteri Bacillus cereus yang signifikan, dengan nilai signifikansi
sebesar 0,005 (<0,05). Variasi ekstrak memberikan pengaruh terhadap zona
hambat bakteri Bacillus cereus secara signifikan, dengan nilai signifikansi
sebesar 0,007 (<0,05). Dari hasil analisis menggunakan SPSS , disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata (mean) yang signifikan baik dari variasi
ekstrak maupun variasi konsentrasi. Dari tiga tingkatan konsentrasi (35%,
40%, dan 45%) perlu dilakukan uji lanjutan untuk mengatahui konsentrasi
manakah yang berbeda dari ketiganya, yaitu dengan melakukan uji post hoc.
Dari tabel post hoc memperlihatkan bahwa tingkat konsentrasi yang
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata yaitu konsentrasi 35% dengan
konsentrasi 45%. Output data uji statistik aktivitas antibakteri terhadap
bakteri Bacillus cereus yang dilakukan menggunakan SPSS versi 16 dapat
dilihat pada lampiran 2.
10
9
8
7
6
5
rebus
4
tumbuk
3
2
1
0
35%
40%
45%
Gambar 4.2. Grafik panjang zona hambat ekstrak meniran terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
Analisis statistik terhadap data zona hambat bakteri Escherichia coli
dimulai dengan uji normalitas, dan didapatkan hasil yang menunjukkan
bahwa data hasil pengukuran zona hambat pada bakteri uji Escherichia coli
memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 yang berarti data berdistribusi
normal. Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa data panjang zona
hambat berdasarkan variasi konsentrasi dan variasi ekstrak menunjukkan nilai
signifikansi lebih dari 0,05 (0,075 untuk variasi konsentrasi dan 0,106 untuk
variasi ekstrak) yang berarti persebaran data homogen.
Setelah dibuktikan bahwa distribusi data normal dan homogen, maka uji
statistik dapat dilanjutkan ke tahap pengujian anova dua arah (two way
annova). Hasil pengujian two way anova menunjukkan bahwa semua variabel
independen (besarnya konsentrasi dan jenis ekstrak) berpengaruh terhadap
variabel dependen (panjang zona hambat) dengan nilai signifikansi yang lebih
kecil dari 0,05. Variasi konsentrasi memberikan pengaruh terhadap zona
hambat bakteri Escherichia coli yang signifikan, dengan nilai signifikansi
sebesar 0,01 (<0,05). Variasi ekstrak memberikan pengaruh terhadap zona
hambat bakteri Escherichia coli secara signifikan, dengan nilai signifikansi
sebesar 0,018 (<0,05). Dari hasil analisis menggunakan SPSS , disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata (mean) yang signifikan baik dari variasi
ekstrak maupun variasi konsentrasi. Dari tiga tingkatan konsentrasi (35%,
40%, dan 45%) perlu dilakukan uji lanjutan untuk mengatahui konsentrasi
manakah yang berbeda dari ketiganya, yaitu dengan melakukan uji post hoc.
Dari tabel post hoc memperlihatkan bahwa tingkat konsentrasi yang
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata yaitu konsentrasi 35% dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
konsentrasi 45%. Output data uji statistik aktivitas antibakteri terhadap
bakteri Escherichia coli yang dilakukan menggunakan SPSS versi 16 dapat
dilihat pada lampiran 3.
Pada penelitian ini, panjang diameter zona hambat ekstrak terhadap
bakteri uji dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain konsentrasi ekstrak,
jenis ekstrak dan respon bakteri terhadap ekstrak. Dari hasil penelitian telah
dibuktikan bahwa kenaikan konsentrasi ekstrak baik rebus maupun tumbuk
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap panjang zona hambat.
Kenaikan konsentrasi berbanding lurus dengan panjang diameter zona hambat
bakteri, semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin
panjang diameter zona hambatannya. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
konsentrasi maka ekstrak semakin jenuh, dan makin banyak senyawa
antibakteri yang terkandung didalamnya.
Berdasarkan panjangnya zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak
meniran, dapat dilihat bahwa ekstrak tanaman meniran baik rebus maupun
tumbuk memiliki kekuatan daya antibakteri yang lemah hingga kuat untuk
pertumbuhan bakteri Bacillus cereus, dan daya anti bakteri yang lemah
hingga sedang untuk pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Perbedaan
kekuatan daya antibakteri ini disebabkan oleh perbedaan sensitivitas kedua
bakteri uji yang digunakan. Ekstrak tanaman meniran baik yang direbus
maupun yang ditumbuk menunjukkan hasil panjang diameter zona hambat
pada bakteri gram positif (Bacillus cereus ) lebih besar daripada bakteri gram
negatif (Escherichia coli).
Perbedaan sensitivitas bakteri terhadap antibakteri dipengaruhi oleh
struktur dinding sel bakteri. Bakteri gram positif cenderung lebih sensitif
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
terhadap antibakteri dibanding bakteri gram negatif. Dinding sel bakteri
secara umum terdiri dari peptidoglikan yang berfungsi mempertahankan
bentuk sel dan melindungi sel bakteri dari tekanan ekstraseluler yang tinggi
(Radji, 2009).
Secara khusus dinding sel bakteri gram positif lebih sederhana dibanding
dinding sel bakteri gram negatif. Dinding sel bakteri gram positif memiliki
ketebalan 15-80 nm, memiliki lapisan tunggal terdiri atas 90% peptidoglikan,
lapisan lemak yang rendah (1-4%) dan substansi lain berupa asam teikoat.
Asam teikoat merupakan polimer yang larut dalam air berfungsi sebagai
transport ion positif untuk keluar atau masuk sel (Pelczar dan Chan, 1986).
Sifat kelarutan dalam air inilah yang membuat dinding sel bakteri gram
negatif bersifat polar. Sedangkan ekstrak meniran yang dibuat bersifat polar,
sehingga lebih mudah masuk ke sel bakteri gram positif.
Bakteri gram negatif memiliki dinding sel yang lebih tipis (10-15 nm),
terdiri dari satu atau lebih lapisan peptidoglikan, tidak mengandung asam
teikoat, namun kandungan lipidnya tinggi, sekitar 11-22% (Pelczar dan Chan,
1986). Membran luar dinding sel bakteri terdiri dari tiga komponen, yaitu
lipoprotein, fosfolipid dan lipopilosakarida. Permeabilitas membran terluar
dinding sel bakteri gram negatif ditentukan oleh adanya molekul protein yang
disebut porin (Radji, 2009). Porin pada membran terluar dinding sel bakteri
gram negatif tersebut bersifat hidrofilik. Kemungkinan porin yang terkandung
pada membran terluar tersebut menyebabkan molekul-molekul komponen
ekstrak lebih sukar masuk ke dalam sel bakteri. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan sifat dari porin dan komponen ekstrak, dimana porin bersifat
nonpolar sedangkan ekstrak bersifat polar. Karena hal ini senyawa antibakteri
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
dalam ekstrak meniran lebih sulit masuk ke dalam sel bakteri Escherichia coli
(gram negatif), sehingga zona hambat yang dihasilkan lebih kecil
dibandingkan zona hambat pada bakteri Bacillus cereus (gram positif).
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa masing-masing ekstrak baik
yang ditumbuk maupun yang direbus memiliki daya antibakteri terhadap
kedua bakteri uji. Maka kedua metode ekstraksi yang dilakukan terbukti dapat
menyari (mengeluarkan) senyawa metabolit skunder yang memiliki sifat
antibakteri dari dalam tanaman meniran. Namun hasil pengukuran diameter
daerah hambat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan daya antibakteri
antara ekstrak meniran yang direbus dan ditumbuk. Ekstrak meniran yang
ditumbuk menghasilkan zona hambat yang lebih panjang dibanding ekstrak
rebus, baik pada bakteri gram positif (Bacillus cereus) maupun bakteri gram
negatif (Escherichia coli).
Hal ini bisa terjadi karena dalam ekstraksi tumbuk, herba meniran
ditumbuk tanpa melakukan penambahan aquades, ekstrak yang didapat
merupakan ekstrak murni dari tanaman meniran. Sedangkan dalam ekstraksi
perebusan (dekoksi) digunakan aquades sebanyak 600 ml untuk merebus
herba (herba tidak ditumbuk). Karena hal ini maka dapat dipastikan jumlah
senyawa metabolit skunder yang terekstraksi lebih banyak pada ekstrak
tumbuk daripada ekstrak rebus.
Kedua ekstrak memiliki daya antibakteri karena tanaman meniran
mengandung senyawa metabolit skunder yang mampu menghambat atau
membunuh bakteri. Senyawa dari tanaman meniran yang diduga memiliki
daya antibakteri yaitu flavonoid dan tanin. Flavonoid merupakan kelompok
senyawa fenol yang mempunyai kecenderungan untuk mengikat protein,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
sehingga
mengganggu
proses
metabolisme.
Harbone
(1987)
51
dalam
Kusdarwati (2010) menyatakan bahwa senyawa flavonoid memiliki
kemampuan membentuk kompleks dengan protein sel bakteri melalui ikatan
hidrogen.
Struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri yang
mengandung protein menjadi tidak stabil dan karena struktur protein bakteri
rusak. Hal ini menyebabkan sel bakteri kehilangan aktivitas biologisnya,
akibatnya fungsi permeabilitas sel bakteri terganggu dan sel bakteri akan
mengalami lisis yang berakibat pada kematian sel bakteri. Flavonoid juga
menyebabkan perubahan pada membran sel bakteri yang diikuti dengan
masuknya air yang tidak terkontrol ke dalam sel bakteri. Hal ini
menyebabkan pembengkakan sel bakteri dan akhirnya membran sel bakteri
pecah.
Tanin adalah salah satu senyawa kimia yang termasuk golongan polifenol
yang diduga dapat mengikat salah satu protein yang dimiliki oleh bakteri
yaitu adhesin. Apabila hal ini terjadi, maka dapat merusak ketersediaan
reseptor pada permukaan sel bakteri. Tanin telah dibuktikan dapat
membentuk kompleks senyawa yang irreversibel dengan prolin (suatu protein
lengkap) dimana ikatan ini mempunyai efek penghambatan sintesis protein
dalam pembentukan dinding sel (Noorhamdani dkk, 2006).
Cowan (1994) dalam Ngajow (2013) mengungkapkan bahwa tanin
memiliki aktivitas antibakteri yang berhubungan dengan kemampuannya
untuk mengaktifkan adhesin sel mikroba juga mengaktifkan enzim, dan
mengganggu transport protein pada lapisan dalam sel. Tanin juga mempunyai
target pada polipeptida dinding sel sehingga pembentukan dinding sel
menjadi kurang sempurna. Hal ini menyebabkan sel bakteri menjadi lisis
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
karena tekanan osmotik maupun fisik sehingga sel bakteri akan mati. Tanin
dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan bakteri,
sedangkan pada konsentrasi tinggi mampu bertindak sebagai antibakteri
dengan cara mengkoagulasi atau menggumpalkan protoplasma bakteri
sehingga terbentuk ikatan yang stabil dengan protein bakteri (Rahmah dkk,
2012).
Kontrol negatif dan kontrol positif digunakan sebagai pembanding dalam
menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrakmeniran. Kontrol negatif yang
digunakan dalam penelitian ini adalah aquades steril dan cairan formaldehida
sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol negatif
tidak menghasilkan zona hambat, artinya aquades tidak berpengaruh pada
bakteri uji. Sedangkan kontrol positif menghasilkan zona bening yang cukup
panjang pada kedua bakteri uji. Kontrol positif formaldehida memiliki zona
hambat lebih besar daripada ekstrak meniran baik yang diekstraksi dengan
cara direbus atau ditumbuk. Pada aktivitas pertumbuhan bakteri Escherichia
coli, cairan formaldehida memberikan diameter zona hambat sepanjang
31,240 mm. Sedangkan pada aktivitas pertumbuhan bakteri Bacillus cereus
kontrol positif menghasilkan diameter zona hambat yang lebih panjang, yaitu
57,520 mm. Gambar hasil pengujian kontrol positif dan kontrol negatif
terhadap bakteri Bacillus cereus dapat dilihat pada lampiran 6 dan untuk
bakteri Escherichia coli uji dapat dilihat pada lampiran 7.
Formaldehida merupakan densifektan golongan aldehida yang telah
dikenal sebagai antiseptik yang efektif. Formaldehida bekerja dengan
menonaktifkan protein dengan membentuk ikatan kovalen silang dengan
beberapa gugus organik fungsional dalam protein. Formaldehida lebih sering
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
tersedia dalam bentuk formalin, yaitu larutan 37% gas formaldehida.
Formalin pernah digunakan secara luas untuk mengawetkan spesimen
biologis dan menonaktifkan bakteri dan virus dalam pembuatan vaksin
(Radji, 2009).
D. Kadar Hambat Minimum (KHM)
Rentang konsentrasi yang digunakan dalam penentuan KHM diperoleh
dari konsentrasi terkecil ekstrak tanaman meniran pada uji aktivitas
antibakteri, yaitu 35%. Nilai KHM didapatkan dengan menggunakan metode
dilusi padat. Prinsip metode dilusi adalah pengenceran ekstrak sehingga
memperoleh beberapa konsentrasi. Rentang konsentrasi yang digunakan yaitu
35%, 36%, 37%, 38%, 39% dan 40%. Senyawa uji dikatakan memiliki daya
hambat terhadap bakteri jika media uji tidak menumbuhkan bakteri. Hasil
pengukuran nilai KHM dapat dilihat pada 4.2.
Tabel 4.2. hasil pengujian kadar hambat Minimun (KHM)
Jenis
Konsentrasi
Bakteri
Keterangan
Ekstrak Ekstrak (%)
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
35
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
Bacillus
bakteri. Hal ini ditandai dengan
Rebus
36
Cereus
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
37
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Bakteri
Jenis
Ekstrak
Konsentrasi
Ekstrak (%)
38, 39 dan
40
35
Tumbuk
36
37, 38, 39
dan 40
35
36
Rebus
37
Escherichia
Coli
38
39 dan 40
Tumbuk
35
54
Keterangan
Mampu menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
media yang bersih dan tidak
ditumbuhi bakteri.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Mampu menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
media yang bersih dan tidak
ditumbuhi bakteri.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
media yang bersih dan tidak
ditumbuhi bakteri.
Mampu menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
media yang bersih dan tidak
ditumbuhi bakteri.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Bakteri
Jenis
Ekstrak
Konsentrasi
Ekstrak (%)
36
37
38, 39 dan
40
55
Keterangan
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Tidak bisa menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
adanya koloni bakteri yang tumbuh
pada permukaan media.
Mampu menghambat pertumbuhan
bakteri. Hal ini ditandai dengan
media yang bersih dan tidak
ditumbuhi bakteri.
Berdasarkan data yang ditampilkan pada tabel dapat diketahui bahwa
nilai KHM ekstrak rebus untuk bakteri Bacillus cereus adalah 38% dan untuk
bakteri Escherichia coli adalah 39%, sedangkan nilai KHM ekstrak tumbuk
untuk bakteri Bacillus cereus adalah 37% dan untuk bakteri Escherichia coli
adalah 38%.
E. Kadar Bunuh Minimum (KBM)
Pengujian kadar bunuh minimum
dilakukan untuk
mengetahui
konsentrasi terkecil ekstrak yang mampu membunuh bakteri. Pengujian KBM
dilakukan dengan metode dilusi padat. Nilai yang sudah ditentukan sebagai
nilai KHM akan digunakan sebagai acuan untuk pengujian Kadar Bunuh
Minimum. Permukaan media yang tidak menumbuhkan bakteri (hasil KHM)
diusap dengan cotton bud steril, kemudian digoreskan ke media yang baru
kemudian diinkubasi selama 24 jam. Media dengan konsentrasi terendah yang
tidak ditumbuhi bakteri nilai konsentrasinya merupakan nilai KBM. Hasil
pengujian Kadar Bunuh Minimum dapat dilihat pada tabel 4.3.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
Tabel 4.3. Hasil Pengujian Kadar Bunuh Minimum (KBM)
Bakteri
Jenis
Ekstrak
Rebus
Bacillus
cereus
Konsentrasi
Ekstrak (%)
38
39
37
Tumbuk
Rebus
Escherichia
coli
38
39
40
38
Tumbuk
39
Keterangan
Media bening, tidak ada koloni
bakteri yang tumbuh. Artinya mampu
membunuh bakteri.
Media bening, tidak ada koloni
bakteri yang tumbuh. Artinya mampu
membunuh bakteri.
Media bening, tidak ada koloni
bakteri yang tumbuh. Artinya mampu
membunuh bakteri.
Media bening, tidak ada koloni
bakteri yang tumbuh. Artinya mampu
membunuh bakteri.
Dari tabel 4.3. dapat dilihat bahwa nilai KHM juga merupakan nilai
KBM. Nilai KBM ekstrak rebus untuk bakteri Bacillus cereus adalah 38%
dan untuk bakteri Escherichia coli adalah 39%, sedangkan nilai KBM ekstrak
tumbuk untuk bakteri Bacillus cereus adalah 37% dan untuk bakteri
Escherichia coli adalah 38%. Pada konsentrasi yang sama ekstrak tanaman
meniran mampu menghambat dan membunuh bakteri. Hal ini menunjukkan
bahwa ekstrak meniran memiliki efek aktivitas antibakteri yang bersifat
bakteriosidal. Hasil pengujian KBM menunjukkan bahwa ekstrak meniran
baik yang direbus maupun yang ditumbuk memiliki efek antibakteri lebih
kuat terhadap bakteri Bacillus cereus
(gram positif) daripada bakteri
Escherichia coli (gram negatif). Respon yang berbeda dari dua golongan
bakteri disebabkan adanya perbedaan kepekaan pada bakteri gram positif
bakteri gram negatif. Bakteri gram positif cenderung lebih sensitif terhadap
komponen antibakteri karena struktur dinding sel bakteri gram positif lebih
sederhana dibanding dinding sel bakteri gram negatif, sehingga memudahkan
senyawa antibakteri masuk ke dalam sel dan menemukan sasaran untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
bekerja menghambat atau membunuh sel. Iskandar dkk (2005) dalam
penelitiannya juga menemukan bahwa ekstrak etanol rumput laut (Eucheuma
cottonii) memiliki efek antibakteri lebih baik terhadap Bacillus cereus
dibandingkan terhadap Escherichia coli.
F. Hambatan dalam Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian antibakteri ini terdapat beberapa hambatan
yang cukup berarti, sehingga mengakibatkan perpanjangan waktu penelitian.
Hambatan-hambatan ini secara umum dikarenakan keterbatasan tempat
pelaksanaan dan peralatan yang digunakan. Dalam proses pelaksanaan
penelitian kertas cakram (disc blank) diganti menggunakan kertas saring yang
dipotong berbentuk bulat, hal ini dikarenakan bahan yang diperlukan belum
tersedia di laboratorium. Penggunan kertas saring ini tidak menjamin jumlah
senyawa yang terserap dalam tiap-tiap kertas berjumlah sama. Selain itu,
dalam proses inkubasi bakteri tidak dapat dilakukan pada suhu yang
seharusnya, melainkan hanya diinkubasi pada suhu ruang. Tindakan ini
terpaksa dilakukan karena hanya terdapat sebuah inkubator yang telah
digunakan untuk menyimpan alat-alat yang telah disterilisasi. Jadi proses
inkubasi hanya dilakukan di microbacterial safety cabinet tanpa pengatur
suhu. Selain itu inkubator juga digunakan bersama-sama dengan peneliti lain
yang
menggunakan
inkubator
untuk
mengeringkan
cabai,
yang
memungkinkan meningkatkan resiko kontaminasi alat-alat steril yang
disimpan di inkubator.
Selain hambatan-hambatan di atas terdapat juga beberapa kekurangan
dalam penelitian ini. Salah satunya yaitu penggunaan sampel tanaman
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
58
meniran hanya berdasarkan pada banyaknya batang tanaman yang digunakan
tanpa melakukan penimbangan sampel. Jadi tidak diketahui berat sampel
tanaman yang digunakan. Selain itu
jumlah bakteri uji yang digunakan
diperkirakan menggunakan larutan Nefelometer McFarland dimana metode
ini hanya mengandalkan mata untuk melihat kemiripan warna larutan dengan
suspensi cair bakteri uji. Untuk mengetahui perkiraan jumlah bakteri lebih
baik menggunakan spektrofotometer atau alat lain yang dapat menentukan
jumlah bakteri uji dengan lebih tepat.
G. Kaitan Antara Hasil Penelitian dengan Pendidikan
Berbagai aspek dalam penelitian aktivitas antibakteri ekstrak herba
meniran terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus
ini dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Aplikasi dalam dunia
pendidikan khususnya terkait dengan pembelajaran di SMA kelas X, pada
standar kompetensi memahami prinsip–prinsip pengelompokkan makhluk
hidup. Berbagai aspek dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
belajar siswa kelas X pada materi Archaebacteria dan Eubacteria. Salah
satunya yaitu Kompetensi Dasar mempelajari ciri Archaebacteria dan
Eubacteria serta peranannya bagi kehidupan. Pada materi morfologi bakteri
dapat dilakukan kegiatan laboratorium untuk mengetahui morfologi koloni
bakteri, dan bentuk sel bakteri dengan melakukan percobaan pengecatan
negatif bakteri. Contoh silabus pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) pada materi dengan kompetensi dasar mempelajari ciri
Archaebacteria dan Eubacteria serta peranannya bagi kehidupan dapat dilihat
pada lampiran 10.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan:
1.
Ekstrak tanaman meniran baik yang ditumbuk maupun yang direbus
memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus
cereus (gram positif) dan Escherichia coli (gram negatif).
2.
Terdapat perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak tanaman meniran
yang direbus dan yang ditumbuk terhadap bakteri Escherichia coli dan
Bacillus cereus. Ekstrak tumbuk memiliki daya antibakteri yang lebih
kuat dibanding ekstrak rebus.
3.
Nilai KHM dan KBM ekstrak rebus untuk bakteri Bacillus cereus adalah
38% dan untuk bakteri Escherichia coli adalah 39%, sedangkan nilai
KHM dan KBM ekstrak tumbuk untuk bakteri Bacillus cereus adalah
37% dan untuk bakteri Escherichia coli adalah 38%.
B. Saran
1.
Pelaksanaan penelitian hendaknya dilakukan pada laboratorium dengan
kondisi yang bisa dikontrol keadaannya, dengan peralatan dan bahan
yang mendukung, sehingga pertumbuhan bakteri uji lebih optimal dan
proses pelaksanaan penelitian lebih efisien.
2.
Perlu dilakukan pengujian pengaruh ekstrak tanaman meniran terhadap
Bacillus cereus dan Escherichia coli untuk mengetahui konsentrasi
59
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
maksimal penggunaan ekstrak meniran agar tidak menimbulkan efek
samping.
3.
Perlu dilakukan ekstraksi menggunakan metode dan pelarut yang tepat
sehingga senyawa metabolit sekunder yang diinginkan dapat tersari
dengan baik.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
DAFTAR PUSTAKA
Ajizah, Aulia. 2004. Sensitivitas Salmonella typhimurium terhadap Ekstrak Daun
Psidium guajava L. Jurnal BIOCENTIAE Vol. 1. No. 1
Alexander, S. K., Dennis St. dan Mary J. N. 2003. Laboratory Exercises In
Organismal and Molecular Microbiology. The Mcgraw-Hill Companies.
Anggraeni, C.D. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi N-Heksana, Fraksi
Kloroform Dan Fraksi Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana
L.) Terhadap Escherichia coli Resisten Amoksilin. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma.
Arianigrum, R. 2004. Pemanfaatan Tumbuhan Jambu Biji Sebagai Obat
Tradisional. Fakultas MIPA UNY
Astuti, S. M. 2012.Skrining Fitokimiadan Uji Aktifitas Antibakteri Antibiotika
Ekstrak Etanol Daun, Batang, Bunga dan Umbi Tanaman Binahong
(Anredera cordifolia (Ten) Steenis). Pahang: Universiti Malaysia Pahang.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan.
Bonang, G. danEnggar S. K. 1982. Mikrobilogi Kedokteran untuk Laboratorium
dan Klinik. Jakarta: Gramedia.
Botone, E. J. 2010. Bacillus cereus, A Volatile Human Pathogen. Journal Of
Clinical Microbiology Reviews Vol. 23.
Breed, R.S., E.G.D Muray dan Nathan R.S. 1957. Bergey’s Manual of
Determinative Bacteriology ed.7. Baltimore: the Wiliams and wilkins
Company.
Chodidjah, E. W. dan Utari. 2007. Pengaruh Pemberian Air Rebusan Meniran
(Phyllanthus niruri Linn) Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Tikus
Wistar yang Terinduksi CCl4. Jurnal Anatomi Indonesia. Vol. 2.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Diterjemahkan oleh Badan
Litbang Kehutanan. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Iskandar, Y. Dewi R. dan Rini R.D. 2005. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol
Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan
Bacillus cereus. Fakultas MIPA Universitas Padjajaran.
Jawetz, E., Joseph M. dan Edward A. 2004. Mikrobiologi Kedokteran Ed. 23.
Diterjemahkan oleh Huriawati H., Chaerunisa R., Alifa D. dan Aryana.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kontour, R. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PPM.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
Kosasih, Y. 2011. Aktivitas Komponen Antibakteri Mikroalga Porphyridium
cruentum Terhadap Berbagai Jenis Bakteri Patogen. Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Kusdarwati, R., ludira S. dan Akhmad T.M. 2010. Daya Antibakteri Ekstrak Buah
Adas (Foeniculum vulgare) terhadap Bakteri Micococcus luteus secara In
Vitro. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Vol. 2.
Latief, A. 2012. Obat Tradisonal. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mangunwardoyo, W., Eni C. dan Tepy U. 2009. Ekstraksi dan Identifikasi
Senyawa Antimikroba Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.). Jurnal Ilmu
Kefarmasian Indonesia Vol 7.
Maryani, C. 2013. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Jarak Tintir (Jatropha
multifida L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Secara
In Vitro. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Melki, W.A.E.P. dan Kurniati. 2011. Uji Antibakteri Ekstrak Gracilaria sp.
(Rumput Laut) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus. Program Studi Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Sriwijaya.
Ngajow, M., Jemmy A. Dan Vanda S.K. 2013. Pengaruh Antibakteri Ekstrak
Kulit Batang Matoa (Pometia pinnata) Terhadap Bakteri Staphylococcus
aureus secara In Vitro. Jurnal MIPA UNSRAT online.
Noorhamdani, A.S., Habiba A. dan Airin A. 2006. Uji Efektivitas Antimikroba
Ekstrak Daun Meniran (Phyllanthus niruri) Terhadap Bakteri E. coli
Secara In Vitro. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Nugrahani, S.S. 2012. Analisia Perbandingan Efektifitas Ekstrak Akar, Batang
dan Daun Herba Meniran dalam Menurunkan Kadar Glukosa Darah
Mencit. Unnes Journal of Public Health.
Nuria, M. C. Arvin F. dan Sumantri. 2009.Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L) Terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922 dan
Salmonella typhi ATCC 1408. Jurnal Ilmu Pertanian. Vol. 5.
Oktavidiati, E., M.A. chozin, N. Wijayanto, M. Ghulamadi dan L.K. Darusman.
2011. Pertumbuhan Tanaman dan Kandungan Total Filantin dan
Hipofilantin Aksesi Meniran (Phyllanthus sp. L) pada Berbagai Tingkat
Naungan. Jurnal Littri 17(1)
Paribasa, W.A. 2006. Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Dandang
Gendis (Clinathus nutans (Burm.f.) Lindau) terhadap Escherichia coli.
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Pelczar, M.J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi I. Diterjemahkan
oleh Ratna S.H., Teja I., S. Sutarmi T., Sri Lestari A. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
63
Pelczar, M.J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi II.
Diterjemahkan oleh Ratna S.H., Teja I., S. Sutarmi T., Sri Lestari A.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Prasetyo, A.B. 2013. Meniran. Dalam http://bpptiris.blogspot.com/2013/08/
meniran.html. diunduh pada 28 November 2014.
Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
Radji, M. 2010. Buku Ajar Mikrobilogi Kedokteran: Pandun Mahasiswa Farmasi
dan Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Rahmah, S.A., Suharti dan Subandi. 2012. Uji Antibakteri dan Daya Inhibisi
Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Terhadap Aktivitas Xantin
Oksidase yang Diisolasi dari Air Susu Sapi Segar. Universitas Negeri
Malang
Rosanti, D. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Salaki, C.L. 2012. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Indigenous (Bacillus cereus
Frank.) sebagai Agensia Pengendali Hayati terhadap Hama Kubis.
Manado: Universitas Samratulangi
Sarjono, P.R. dan Nies S. Mulyani. 2007. Aktivitas Antibakteri Rimpang Temu
Putih (Curcuma manga Vall). Jurnal Sains dan Matematika. Vol. 15(2).
Setiawan, A. 2009. Perancangan Percobaan (Buku Ajar). Bandung: Universitas
Padjajaran.
Simanjutak, J.M. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Binahong
(Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Terhadap Bakteri Staphylococcus
aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922. Yogyakarta:
Universitas Sanata Dharma
Wijaya, A. W. 2011. Data 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit (RS) di
Indinesia. Dalam http://www.infidokterku.com/indeks.php?option=com
content&view=article&id=137:data-10-penyakit-terbanyak-di-rumah-sakitrs-di-indonesia&catid=40:data&itemid=54. Diakses pada 27 November
2014.
Zein, U., Khalid H.S., Josia G. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Medan:
Universitas Sumatera Utara
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
64
Lampiran 1. Hasil Pengukuran Daerah Hambat Antibakteri
Bakteri
Jenis
Pengulangan
ekstrak
i
Rebus
ii
iii
Bacillus
cereus
i
Tumbuk
ii
iii
i
Rebus
ii
iii
Escherichia
coli
i
Tumbuk
ii
iii
Kontrol positif Bacillus cereus
Kontrol positif Escherichia coli
Jari-jari zona hambat
(mm)
35%
40%
45%
1,185 0,630 1,745
1,340 0,960 7,430
1,560 5,825 6,220
2,065 6,020 5,820
2,255 3,170 7,420
1,370 7,010 7,255
0
1,670 2,615
1,600 2,480 2,775
1,940 2,235 2,885
0,520 3,080 2,350
0,975 1,655 6,500
2,910 2,115 4,850
28,760
15,620
Rata-rata jari-jari
zona hambat (mm)
35%
40% 45%
1,362
2,472
5,132
1,897
5,400
6,832
1,180
2,128
2,758
1,468
2,283
4,567
57,520
31,240
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
65
Lampiran 2. Output Analisis SPSS Versi 16 pada Aktivitas Antibakteri
terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus
1.
UJI NORMALITAS
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kosentrasi Ekstrak
35%
Rebusan
Zona_Hambat
N
Normal Parameters
3
a,,b
Most Extreme Differences
Tumbukan
Std. Deviation
.1884365
Absolute
.212
Positive
.212
Negative
-.187
.368
Asymp. Sig. (2-tailed)
.999
N
3
a,,b
Most Extreme Differences
Rebusan
1.361667
Kolmogorov-Smirnov Z
Normal Parameters
40%
Mean
Mean
1.896667
Std. Deviation
.4658952
Absolute
.308
Positive
.221
Negative
-.308
Kolmogorov-Smirnov Z
.533
Asymp. Sig. (2-tailed)
.939
N
Normal Parameters
3
a,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
Tumbukan
2.471667
2.9087555
Absolute
.365
Positive
.365
Negative
-.263
Kolmogorov-Smirnov Z
.632
Asymp. Sig. (2-tailed)
.819
N
Normal Parameters
3
a,,b
Mean
5.400000
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Std. Deviation
Most Extreme Differences
45%
Rebusan
Absolute
.289
Positive
.210
Negative
-.289
.500
Asymp. Sig. (2-tailed)
.964
N
3
a,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
5.131667
2.9946884
Absolute
.309
Positive
.221
Negative
-.309
Kolmogorov-Smirnov Z
.534
Asymp. Sig. (2-tailed)
.938
N
Normal Parameters
3
a,,b
Most Extreme Differences
Mean
6.831667
Std. Deviation
.8800047
Absolute
.351
Positive
.252
Negative
-.351
Kolmogorov-Smirnov Z
.609
Asymp. Sig. (2-tailed)
.853
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
1.9936650
Kolmogorov-Smirnov Z
Normal Parameters
Tumbukan
66
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
67
UJI HOMOGENITAS
Kosentrasi
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic
Zona_Hambat
df1
df2
Sig.
Based on Mean
5.720
2
15
.142
Based on Median
4.047
2
15
.039
Based on Median and with
4.047
2
8.873
.056
5.363
2
15
.017
adjusted df
Based on trimmed mean
Ekstrak
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic
Zona_Hambat
df1
df2
Sig.
Based on Mean
.079
1
16
.782
Based on Median
.042
1
16
.840
Based on Median and with
.042
1
14.140
.840
.034
1
16
.855
adjusted df
Based on trimmed mean
3.
TWO WAY ANOVA
Between-Subjects Factors
Value Label
Kosentrasi
Ekstrak
N
1.00
35%
6
2.00
40%
6
3.00
45%
6
1.00
Rebusan
9
2.00
Tumbukan
9
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:Zona_Hambat
Type III Sum of
Source
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
a
4
84.220
23.985
.000
Kosentrasi
56.901
2
28.450
8.102
.005
Ekstrak
13.330
1
13.330
3.796
.007
Error
49.158
14
3.511
Total
386.040
18
Model
336.882
a. R Squared = ,873 (Adjusted R Squared = ,836)
4.
POST HOC TEST
Multiple Comparisons
Zona_Hambat
Tukey HSD
(I)
(J)
95% Confidence Interval
Kosentra Kosentra Mean Difference (Isi
si
J)
35%
40%
-2.306667
1.0818681
.119
-5.138219
.524886
45%
-4.352500
*
1.0818681
.003
-7.184052
-1.520948
35%
2.306667
1.0818681
.119
-.524886
5.138219
45%
-2.045833
1.0818681
.178
-4.877386
.785719
35%
4.352500
*
1.0818681
.003
1.520948
7.184052
40%
2.045833
1.0818681
.178
-.785719
4.877386
40%
45%
Std. Error
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 3,511.
*. The mean difference is significant at the 0,05 level.
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Homogeneous Subsets
Zona_Hambat
Tukey HSD
a,,b
Subset
Kosentra
si
N
1
2
35%
6
1.629167
40%
6
3.935833
45%
6
Sig.
3.935833
5.981667
.119
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 3,511.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000.
b. Alpha = 0,05.
.178
69
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
Lampiran 3. Output Analisis SPSS Versi 16 pada Aktivitas Antibakteri
terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli
1.
UJI NORMALITAS
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kosentra
si
Ekstrak
35%
Rebusan
Zona_Hambat
N
Normal Parameters
3
a,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
Tumbukan
Absolute
.324
Positive
.232
Negative
-.324
.561
Asymp. Sig. (2-tailed)
.911
N
3
a,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
Rebusan
1.468333
1.2690777
Absolute
.318
Positive
.318
Negative
-.227
Kolmogorov-Smirnov Z
.551
Asymp. Sig. (2-tailed)
.922
N
Normal Parameters
3
a,,b
Most Extreme Differences
Tumbukan
1.0359537
Kolmogorov-Smirnov Z
Normal Parameters
40%
1.180000
Mean
2.128333
Std. Deviation
.4154014
Absolute
.268
Positive
.199
Negative
-.268
Kolmogorov-Smirnov Z
.464
Asymp. Sig. (2-tailed)
.982
N
3
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Normal Parameters
a,,b
Most Extreme Differences
45%
Rebusan
Mean
2.283333
Std. Deviation
.7272608
Absolute
.258
Positive
.258
Negative
-.197
Kolmogorov-Smirnov Z
.447
Asymp. Sig. (2-tailed)
.988
N
Normal Parameters
3
a,,b
Most Extreme Differences
Tumbukan
Mean
2.758333
Std. Deviation
.1357694
Absolute
.216
Positive
.188
Negative
-.216
Kolmogorov-Smirnov Z
.373
Asymp. Sig. (2-tailed)
.999
N
Normal Parameters
3
a,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
4.566667
2.0894577
Absolute
.221
Positive
.189
Negative
-.221
Kolmogorov-Smirnov Z
.382
Asymp. Sig. (2-tailed)
.999
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
71
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
72
UJI HOMOGENITAS
Kosentrasi
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic
Zona_Hambat
Based on Mean
df1
df2
Sig.
4.244
2
15
.075
Based on Median
.860
2
15
.443
Based on Median and with
.860
2
6.813
.465
3.615
2
15
.052
adjusted df
Based on trimmed mean
Ekstrak
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic
Zona_Hambat
df1
df2
Sig.
Based on Mean
2.933
1
16
.106
Based on Median
2.203
1
16
.157
Based on Median and with
2.203
1
11.603
.164
2.835
1
16
.112
adjusted df
Based on trimmed mean
3.
TWO WAY ANOVA
Between-Subjects Factors
Value Label
Kosentrasi
Ekstrak
N
1.00
35%
6
2.00
40%
6
3.00
45%
6
1.00
Rebusan
9
2.00
Tumbukan
9
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
73
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:Zona_Hambat
Type III Sum of
Source
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
a
4
30.683
23.773
.000
16.734
2
8.367
6.483
.010
2.535
1
2.535
1.964
.018
Error
18.070
14
1.291
Total
140.803
18
Model
122.733
Kosentrasi
Ekstrak
a. R Squared = ,872 (Adjusted R Squared = ,835)
4.
POST HOC TESTS
Multiple Comparisons
Zona_Hambat
Tukey HSD
(I)
(J)
95% Confidence Interval
Kosentra Kosentra Mean Difference (Isi
si
35%
40%
-.881667
.6559222
.395
-2.598399
.835066
45%
-2.338333
*
.6559222
.008
-4.055066
-.621601
35%
.881667
.6559222
.395
-.835066
2.598399
45%
-1.456667
.6559222
.102
-3.173399
.260066
35%
2.338333
*
.6559222
.008
.621601
4.055066
40%
1.456667
.6559222
.102
-.260066
3.173399
40%
45%
J)
Std. Error
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 1,291.
*. The mean difference is significant at the 0,05 level.
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Homogeneous Subsets
Zona_Hambat
Tukey HSD
a,,b
Subset
Kosentrasi
N
1
2
35%
6
1.324167
40%
6
2.205833
45%
6
Sig.
2.205833
3.662500
.395
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 1,291.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000.
b. Alpha = 0,05.
.102
74
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 4. Gambar Pembuatan Ekstrak Tanaman Meniran
Gambar 1. Sampel herba meniran yang digunakan dalam penelitian
Gambar 2. Perendaman tanaman dalam larutan natrium hipoklorit
Gambar 3. Penumbukan sampel herba tanaman dilakukan di dekat api bunsen
untuk mengurangi resiko kontaminasi
75
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
76
Ekstrak rebus
Ekstrak tumbuk
Gambar 4. Ekstrak rebus dan ekstrak tumbuk tanaman meniran
Gambar 5. Ekstrak rebus yang telah diencerkan
Gambar 6. Ekstrak tumbuk yang telah diencerkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
77
Lampiran 5. Gambar Hasil Pengamatan Morfologi Koloni dan Morfologi Sel
Bakteri Bacillus cereus
Gambar 1. Hasil streak plate bakteri Bacillus cereus
Gambar 2. Hasil pengecatan negatif bakteri Bacillus cereus yang berusia 24 jam
(perbesaran 10 x 100)
Gambar 3. Hasil pengecatan gram bakteri Bacillus cereus yang berusia 24 jam
(perbesaran 10 x 100)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
Lampiran 6. Gambar Hasil Pengamatan Morfologi Koloni dan Morfologi Sel
Bakteri Escherichia coli
Gambar1. Hasil streak plate bakteri Escherichia coli
Gambar 2. Hasil pengecatan negatif bakteri Escherichia coli yang berusia 24 jam
(perbesaran 10 x 100)
Gambar 3. Hasil pengecatan gram bakteri Escherichia coli yang berusia 24 jam
(perbesaran 10 x 100)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
79
Lampiran 7. Gambar Pengukuran Zona Hambat
Gambar 1. Media yang telah diinokuasi dengan bakteri dan diberi disk yang
mengandung ekstrak (sebelum inkubasi 24 jam)
Panjang zona hambat
yang diukur, dari tepi
kertas cakram sampai
tepi koloni bakteri.
Gambar 2. Pengukuran zona hambat menggunakan jangka sorong
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
Lampiran 8. Gambar Hasil Uji Evektivitas Antibakteri terhadap Pertumbuhan
Bakteri Bacillus cereus
Gambar 1. Hasil pengujian ekstrak meniran terhadap bakteri Bacillus cereus
Zona hambatan yang
dihasilkan kontrol
positif terhadap bakteri
Bacillus cereus
Kontrol negatif tidak
menghasilkan zona
hambatan terhadap
bakteri Bacillus cereus
Gambar 2. Kontrol positif dan kontrol negatif bakteri Bacillus cereus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
Lampiran 9. Gambar Hasil Uji Evektivitas Antibakteri terhadap Pertumbuhan
Bakteri Escherichia coli
Gambar 1. Hasil pengujian ekstrak meniran terhadap bakteri Escherichia coli
Kontrol negatif tidak
menghasilkan zona
hambatan terhadap
bakteri Escherichia
coli
Zona hambatan yang
dihasilkan kontrol
positif terhadap
bakteri Escherichia
coli
Gambar 2. Kontrol positif dan kontrol negatif bakteri Escherichia coli
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
82
Lampiran 10. Gambar Hasil Pengujian Kadar Hambat Minimum (KHM)
terhadap Bacillus cereus dan Escherichia coli
Gambar 1. Hasil pengujian KHM ekstrak rebus terhadap bakteri Bacillus cereus
Gambar 2. Hasil pengujian KHM ekstrak tumbuk terhadap bakteri Bacillus cereus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
83
Gambar 3. Hasil pengujian KHM ekstrak rebus terhadap bakteri Escherichia coli
Gambar 4. Hasil pengujian KHM ekstrak tumbuk terhadap bakteri Escherichia coli
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
84
Lampiran 11. Gambar Hasil Uji Kadar Bunuh Minimum pada Bakteri Bacillus
cereus dan Escherichia coli
Gambar 1. Hasil pengujian KBM ekstrak rebus dan tumbuk meniran terhadap
bakteri Bacillus cereus
Gambar 2. Hasil pengujian KBM ekstrak rebus dan tumbuk meniran terhadap
bakteri Escherichia coli
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 12. Silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran
SILABUS
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Standar Kompetensi
: SMA Negeri 24 Yogyakarta
: Biologi
:X/I
: 2. Memahami prinsip – prinsip pengelompokkan makhluk hidup
KOMPETENSI
MATERI
KEGIATAN
DASAR
PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN
2.2. Mempelajari
 Ciri-ciri
 informasi, tanyajawab
ciri
Archaebacteria
tentang ciri-ciri
Archaebacteria
Archaebacteria melalui
dan Eubacteria
kajian pustaka
serta
 Ciri-ciri
 informasi, tanyajawab
peranannya
Eubacteria
tentang ciri-ciri
bagi kehidupan
Eubacteria melalui
kajian pustaka
 Struktur sel
 Diskusi struktur sel
bakteri
bakteri
 Macam-macam
bakteri
berdasarkan
bentuk koloni
dan alat
geraknya.
 Pengamatan koloni dan
pengecatan negatif
bakteri
INDIKATOR
 Menjelaskan
ciri-ciri
Arhaebacteria
 Menjelaskan
ciri-ciri
Eubacteria
 Membedakan
struktur bakteri
dengan
organisme lain
 Menjelaskan
macam bakteri
ALOKASI SUMBER
WAKTU BELAJAR
Jenis
6 x 45  Buku Biologi
tagihan:
menit
1 SMA dan
- Tes
MA untuk
tertulis
Kelas X,
- Penugasan
penerbit Esis
- Non tes

(kinerja
 Biologi untuk
dan
SMA/MA
portofolio)
Kelas X,
Penerbit
Erlangga
Bentuk
instrumen:
- Instrumen
tes
tertulis
- Instrumen
penilaian
kinerja
PENILAIAN
85
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KOMPETENSI
DASAR
MATERI
PEMBELAJARAN

KEGIATAN
PEMBELAJARAN
INDIKATOR
PENILAIAN
berdasarkan
bentuk koloni
dan alat gerak
praktikum
- Instrumen
prnilaian
laporan
praktikum
Pertumbuhan
dan replikasi
bakteri
reproduksi
bakteri :
o secara
transformasi
o transduksi
dan konjugasi
 Diskusi tentang
pertumbuhan bakteri
 Menjelaskan
fase-fase
pertumbuhan
bakteri secara
transformasi,
transduksi dan
konjugasi.
 Peranan bakteri
dalam kehidupan
 Tanya jawab tentang
peranan bakteri yang
menguntungkan dan
yang merugikan
 Menjelaskan
bakteri yang
bermanfaat dan
yang merugikan.
ALOKASI
WAKTU
SUMBER
BELAJAR
86
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
87
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan
: SMA Negeri 24 Yogyakarta
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
:X/I
Alokasi Waktu
: 3x45 menit
A. Standar Kompetensi
2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup
B. Kompetensi Dasar
2.1. Mempelajari ciri Archaebacteria dan Eubacteria serta peranannya bagi
kehidupan.
C. Indikator
Kognitif produk :
-
Menyebutkan macam-macam bentuk bakteri.
Kognitif proses :
-
Mengidentifikasi ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria.
-
Mengidentifikasi struktur sel bakteri beserta fungsinya.
Psikomotor :
-
Melakukan pengamatan terhadap koloni bakteri.
-
Melaksanakan pengamatan terhadap bentuk bakteri melalui percobaan
pengecatan negatif .
Afektif karakter :
-
Percaya diri saat menyampaikan hasil diskusi di depan kelas dan
mempertahankan argumentasi.
-
Kritis dalam menanggapi hasil diskusi kelompok lain.
Afektif sosial :
-
Bekerja sama dan saling menghargai pendapat teman selama berdiskusi.
D. Tujuan Pembelajaran
Kognitif produk :
-
Setelah membaca buku, siswa dapat menyebutkan macam-macam bentuk
bakteri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
88
Kognitif proses :
-
Dengan melakukan penelusuran pustaka, siswa mampu mengidentifikasi
ciri-ciri Archaebacteria.
-
Dengan melakukan pengamatan, siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri
Eubacteria.
-
Dengan melakukan diskusi, siswa mengidentifikasi struktur sel bakteri
beserta fungsinya.
Psikomotor :
-
Secara teliti siswa melakukan pengamatan terhadap koloni bakteri.
-
Dengan bertanggung jawab siswa melaksanakan pengamatan bentuk
bakteri melalui percobaan pengecatan negatif bakteri.
Afektif karakter :
-
Secara berkelompok siswa percaya diri saat menyampaikan hasil diskusi
di depan kelas dan mempertahankan argumentasi.
-
Melalui kegiatan yang dirancang oleh guru, siswa kritis dalam
menanggapi hasil diskusi kelompok lain.
Afektif sosial :
-
Melalui kegitan yang dirancang guru, siswa bekerja sama dan saling
menghargai pendapat teman selama berdiskusi.
E. Materi Pembelajaran
Prokariota adalah kumpulan organisme yang bahan inti selnya tidak
dilapisi membran, sehingga materi genetik menyebar di sitoplasma.
Organisme prokariota digolongkan dalam domain Archaebacteria dan
Eubacteria. Keduanya berbeda dalam hal penyusun dinding sel, membrane
sel, susunan RNA ribosom, dan habitatnya. Archaebacteria hidup di
lingkungan
yang
ekstrim.
Berdasarkan
fisiologinya,
Archebacteria
diklasifikasikan menjadi metanogen, ekstrem halofil, dan termoasidofil.
Ciri umum bakteri adalah uniseluler, prokariota, kosmopolit, umumnya
tidak dapat berfotosintesis, dan dinding sel berupa peptidoglikan. Bagian sel
yang terdapat pada semua sel bakteri adalah inti, sitoplasma, membran sel,
dinding sel, ribosom, mesosom. Namun biasanya bakteri memiliki organ
tambahan, seperti flagela, fili, dan lain-lain. Bentuk bakteri secara umum
dibagi menjadi tiga yaitu batang (basil), bulat (coccus) dan spiral.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
89
F. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran: Scientific
Metode pembelajaran
: Discovery, diskusi, pengamatan langsung dan
ceramah.
G. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan I (1 x 45 menit)
Kegiatan
(waktu)
Fase
Melakukan
Pendahu- apersepsi,
luan
menyampaikan
(5 menit) tujuan dan
memotivasi siswa.
Eksplorasi
Elaborasi
Inti
(30 menit)
Konfirmasi
Penutup Penghargaan
(10 menit)
Kegiatan guru dan siswa
- Guru melakukan presensi dan mengecek
kesiapan siswa.
- Guru menayangkan gambar orang yang
sedang mencuci tangan dan mengajukan
pertanyaan mengapa orang harus
mencuci tangan. Guru meminta beberapa
siswa untuk mengemukakan
pendapatnya.
- Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
- Guru menjelaskan pokok-pokok materi
pembelajaran.
- Guru membagi siswa dalam lima
kelompok yang terdiri dari 4-5 orang.
- Masing-masing kelompok diberi LKS
terkait dengan bagian-bagian sel bakteri
tersebut beserta fungsinya
- Guru meminta siswa berdiskusi dan
mengerjakan LKS dalam kelompok
kecil.
- Guru meminta perwakilan tiap-tiap
kelompok untuk mempresentasikan hasil
diskusinya.
- Guru dan siswa yang lain menanggapi
presentasi. Guru meluruskan pendapat
siswa yang kurang tepat dan
menambahkan jika perlu.
- Guru meminta siswa mengungkapkan
informasi baru yang berhasil didapat
melalui kegiatan pembelajaran.
- Memberikan penghargaan pada siswa
yang dapat menjawab dengan benar dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kegiatan
(waktu)
Fase
Kegiatan guru dan siswa
Penarikan
kesimpulan
-
Refleksi
-
Penugasan
-
Pertemuan II ( 2 x 45 menit)
Kegiatan
Fase
(waktu)
Melakukan
apersepsi,
Pendahu- menyampaikan
luan
tujuan dan
(5 menit) memotivasi siswa.
Eksplorasi
Inti
(70 menit)
Elaborasi
90
siswa yang telah melakukan presentasi.
Guru
membimbing
siswa
untuk
menyimpulkan pokok-pokok materi
yang telah dipelajari.
Guru mengajak siswa menemukan nilainilai yang didapat dalam kegiatan belajar
mengajar yang telah dilakukan.
Guru memberi tugas pada siswa untuk
mempersiapkan
materi
selanjutnya
dengan membaca materi mengenai
bentuk-bentuk bakteri.
Kegiatan guru dan siswa
- Guru melakukan presensi dan mengecek
kesiapan siswa.
- Guru menyampaikan pertanyaan kepada
siswa tentang pernahkan mereka melihat
bentuk bakteri yang pada makanan basi.
- Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
- Guru melakukan tanya jawab dengan
siswa mengenai perkiraan ukuran bakteri
dan bagaimana cara melihat bentuk
bakteri.
- Guru menyampaikan secara singkat tata
cara kegiatan pengamatan mofologi
koloni dan sel bakteri.
- Siswa dibagi dalam kelompok (masingmasing kelompok 4-5 orang), setiap
kelompok diminta mengambil LKS,
bahan dan alat yang akan digunakan
dalam kelompok.
- Guru meminta tiap kelompok mengamati
koloni bakteri (yang telah disiapkan oleh
guru sebelumnya) dan mendeskripsikan
bentuknya.
- Guru menjelaskan cara kerja pengecatan
negatif bakteri uji (Bacillus cereus dan
Staphylococcus aureus) dan pengamatan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kegiatan
(waktu)
Fase
Kegiatan guru dan siswa
-
-
-
Konfirmasi
91
-
-
-
menggunakan mikroskop.
Siswa melakukan pengecatan negatif
bakteri dan guru mengamati kinerja
siswa.
Siswa menggambarkan hasil pengamatan
dari mikroskop dan mengidentifikasi
bentuk bakteri uji.
Siswa melengkapi LKS dan guru
membimbing siswa.
Guru meminta siswa membersihkan dan
merapikan atau menyimpan peralatan
yang digunakan dalam pengamatan.
Tiap kelompok membacakan hasil
pengamatannya, dan mempersilahkan
kelompok lain menanggapi.
Guru meluruskan pendapat siswa yang
kurang tepat, dan menambahkan jika
perlu.
Guru meminta tiap kelompok
mengumpulkan LKS yang telah diisi.
Memberikan penghargaan pada siswa
yang dapat menjawab dengan benar.
Penghargaan
-
Penarikan
kesimpulan
-
Guru
membimbing
siswa
menyimpulkan pokok-pokok
yang telah dipelajari.
Refleksi
-
Guru mengajak siswa menemukan nilainilai yang didapat dalam kegiatan belajar
mengajar yang telah dilakukan.
Penugasan
-
Guru meminta tiap kelompok membuat
laporan tertulis pengamatan.
Guru
menugaskan
siswa
untuk
menyiapkan
materi
selanjutnya
mengenai bakteri yang menguntungkan
atau merugikan bagi manusia, serta jenis
kerugian
atau
keuntungan
yang
diberikan.
Penutup
(15 menit)
-
untuk
materi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
92
H. Media, Alat dan Sumber Belajar
1. Media
a. LKS
b. Power point
2. Alat/bahan
a. LCD proyektor
b. Papan tulis
3. Sumber belajar
 Buku Biologi 1 SMA dan MA untuk Kelas X, penerbit Esis

I.
Biologi untuk SMA/MA Kelas X, Penerbit Erlangga
Penilaian
1. Jenis/ Teknik penilaian
2.
a.
Tes tertulis
b.
Penugasan
c.
Non tes (kinerja)
Instrumen penilaian
a.
Instrumen tes tertulis
b.
Instrumen penilaian kegiatan diskusi
c.
Instrumen penilaian kinerja praktikum
Yogyakarta,....................
Mengetahui:
Kepala SMA N 24 Yogyakarta
Guru Mata Pelajaran
……………………………….
………………………………
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
93
LEMBAR KERJA SISWA
A. Judul : Struktur Bakteri
B. Tujuan :
1. Mengidentifikasi struktur sel bakteri beserta fungsinya.
C. Alat dan Bahan :
1. Alat tulis
2. LKS
D. CARA KERJA :
1. Bentuklah kelompok yang berjumlah 4-5 orang.
2. Dengan menggunakan buku penduan yang ada tuliskanlah nama
dan fungsi bagian-bagian sel bakteri yang telah diberi nomor.
3. Tuliskan hasil diskusi kelompok di lembar kerja.
4. Tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok di
depan kelas.
E. HASIL DISKUSI :
1. Identifikasi bagian-bagian sel bakteri berikut !
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Tabel Struktur dan Fungsi Sel Bakteri
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Nama bagian
Fungsi
94
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
95
LEMBAR KERJA SISWA
A. Judul: pengamatan morfologi koloni bakteri dan Pengecatan
negatif bakteri
B. Tujuan:
Mengetahui macam-macam bentuk koloni dan melalui pengecatan
negatif bakteri siswa dapat memaparkan bentuk bakteri uji.
C. Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Hasil streak plate bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus
aureus
Lup
Mikroskop
Bunsen
Jarum ose
Gelas benda
Gelas penutup
Penjepit
Pipet tetes
Cat warna nigrosin
Minyak immersi
Alkohol 96%
Sprayer
D. Cara Kerja
1. Amatilah koloni tunggal bakteri pada yang telah diinokulasi pada
cawan petri, jika koloni terlalu kecil gunakan lup.
2. Tentukan bentuk koloni, warna koloni, dan amati permukaan
koloni,tuliskan hasilnya dalam LKS.
3. bersihkan permukaan gelas benda dengan alkohol
4. teteskan satu tetes cat nigrosin di salah satu ujung gelas benda.
5. Selanjutnya campurkan satu ose biakan bakteri dengan tinta China.
6.
Letakkan gelas benda yang lain di sisi luar campuran tinta dan
bakteri dalam posisi miring dengan sudut kemiringan 45º terhadap
gelas benda pertama. Kemudian dorong gelas benda kedua ke arah
sisi lainnya secara perlahan, sehingga tinta dan bakteri menyebar di
permukaan gelas benda pertama.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
96
7. Lalukan gelas benda di atas api bunsen hingga apusan mengering,
tutup sebagian dengan gelas penutup lalu teteskan minyak immersi
diatasnya.
8. Lakukan pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan
perbesaran kuat.
9. Gambarlah dan fotolah apa yang anda lihat.
E. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan morfologi koloni
Gambar koloni bakteri B. cereus
Deskripsi bentuk koloni
Gambar koloni bakteri S. aureus
Deskripsi bentuk koloni
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
97
Tabel 2. Hasil pengamatan pengecatan negatif bakteri
Gambar hasil pengecatan negatif
bakteri B. cereus
Deskripsi bentuk bakteri
Gambar hasil pengecatan negatif
bakteri S. aureus
Deskripsi bentukbakteri
Poin-Poin Pembahasan (paragraf)
1.
Apakah terdapat perbedaan bentuk, warna dan permukaan koloni
bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus
2.
Apakah fungsi pengecatan negatif bakteri?
3.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok anda bentuk bakteri apakah
yang anda temukan?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
98
INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA PRAKTIKUM
No
Aspek yang Dinilai
1.
2.
Membuat preparat apusan
Keterampilan menggunakan
mikroskop
Pengamatan
Data yang Diperoleh
Kebersihan
Kesimpulan
1
3.
4.
5.
6
Rubrik Penilaian:
No
Aspek yang
Dinilai
1.
Membuat preparat
apusan
2.
Keterampilan
menggunakan
mikroskop
3
Pengamatan
4
Data yang
Diperoleh
5
Kebersihan
6.
Kesimpulan
1
Preparat tidak
bisa diamati
Penilaian
2
Penilaian
2
Preparat kurang
jelas dalam
pewarnaan
Terlalu lama
dalam mencari
fokus
mikroskop
3
3
Preparat jelas dan
sesuai dengan
prosedur kerja
Hanya dapat
Terampil dalam
menghidupkan
menyalakan
mikroskop
mikroskop dan
cepat mencari
fokus mikroskop
Pengamatan
Pengamatan
Pengamatan
tidak cermat
cermat namun cermat dan
salah dalam
interpretasi
menginterpreta- gambar benar
sikan gambar
Data tidak
Data kurang
Data lengkap,
lengkap/ hanya lengkap atau
gambar dan
gambar tanpa
hanya beberapa keterangan ada
keterangan
saja
dicantumkan
keterangan
Tidak
Membersihkan/ Membersihkan/
membersihkan/ membereskan
membereskan
membereskan
peralatan
peralatan
peralatan
praktikum
praktikum
setelah
dengan tidak
dengan tuntas dan
praktikum
tuntas/tidak
rapi
maksimal
Tidak benar
Kesimpulan
Semua benar atau
atau tidak
tidak lengkap
sesuai tujuan
sesuai tujuan
atau hanya
sebagian yang
sesuai tujuan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
99
INSTRUMEN PENILAIAN DISKUSI
Hasil penilaian diskusi
Topik
: ................................
Tanggal
: ................................
Jumlah siswa
: .......................orang
Nama
No.
siswa
Menyampaikan
pendapat
1
2
3
1
Menanggapi
2
3
4
Mempertahankan
argumentasi
1
2
3
4
Jumlah
Skor
Nilai
1.
2.
dst.
Rubrik Penilaian:
No
1.
Aspek yang
Dinilai
Menyampaikan
pendapat
Penilaian
1
Tidak sesuai
masalah
2
Sesuai dengan
masalah, tapi
belum benar
3
Sesuai dengan
masalah dan
benar
2.
Menanggapi
pendapat
Langsung
setuju atau
menyanggah
tanpa alasan
Setuju atau
menyanggah
dengan alasan
yang benar
tidak sempurna
Setuju atau
menyanggah
dengan alasan
yang benar
3
Mempertahankan
pendapat
Tidak dapat
mempertahan
kan pendapat
Mampu
mempertahankan pendapat,
alasan kurang
tepat
Mampu
mempertahankan pendapat,
alasan benar
tidak didukung
referensi.
4
Sesuai dengan
masalah dan
benar dengan
didukung
referensi
Setuju atau
menyanggah
dengan alasan
yang benar
dengan
didukung
referensi
Mampu
mempertahankan pendapat,
alasan benar
didukung
referensi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
RUBRIK PENILAIAN LAPORAN PRAKTIKUM
No Aspek penilaian
Kriteria penilaian
- Tulisan tangan rapi atau diketik
- Penulisan sistematik
- Tata bahasa komunikatif (mudah dipahami)
1
Bentuk laporan - Menyajikan dasar teori sesuai tujuan praktikum
Bila 1 dari 4 kriteria tidak terpenuhi
Bila 2 dari 4 kriteria tidak terpenuhi
Bila 3 dari 4 kriteria tidak terpenuhi
- Data dalam bentuk tabel atau bentuk lain yang
memudahkan pembacaan data
- Data lengkap, sesuai hasil pengamatan
Data hasil
- Gambar hasil pengamatan digambar dengan jelas
2
pengamatan
dan rapi
Bila 1 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
Bila 2 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
- Pembahasan sesuai dengan tujuan praktikum
- Pembasan menggunakan kata-kata sendiri dan
komunikatif
- Melakukan analisis terhadap hasil pengamatan
3
Pembahasan
Bila 1 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
Bila 2 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
Jika pembahasan hanya membaca data, tidak ada
analisis
- Kesimpulan menjawab tujuan praktikum
- Kesimpulan sesuai dengan pembahasan
- Kesimpulan dapat merangkum hasil praktikum
4
Kesimpulan
Bila 1 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
Bila 2 dari 3 kriteria tidak terpenuhi
100
Skor
30
25
20
15
20
15
10
35
30
25
20
15
10
5
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
101
KISI-KISI SOAL
Indikator
Nomor soal
Mengingat Memahami Menerapkan Menganalisis Mengevaluasi Menciptakan
1. Menyebutkan
macam-macam
bentuk bakteri.
2. Mengidentifikasi
ciri-ciri
Archaebacteria
dan Eubacteria.
3. Mengidentifikasi
struktur sel
bakteri beserta
fungsinya.
1.
5
1
3, 4
2
SOAL
Sebutkan dan jelaskan penggolongan Archaebacteria berdasarkan lingkungan
hidupnya!
2.
Perhatikan gambar di bawah ini!
1
2
4
6
3
5
7
8
9
Sebutkan dan jelaskan fungsi bagian-bagian sel sel bakteri di atas.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3.
Gambarkan tipe-tipe flagela bakteri berdasarkan letak dan jumlahnya, serta
berilah keterangan singkat!
4.
5.
102
Gambarkan bentuk sel bakteri di bawah ini, dan beri keterangan singkat!
a.
Sarkina
b.
Stapilokokus
c.
Streptobasil
d.
Spiroseta
Berdasarkan namanya, tentukan bentuk-bentuk bakteri berikut ini!
a) Bacillus subtilis
b) Thiosarcina rosea
c) Streptococcus mutans
d) Vibrio cholerae
e) Thiospirillopsis floridiana
f) Lactobacillus bulgaricus
g) Diplococcus pneumoniae
h) Enterococcus faecalis
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
103
PEDOMAN PENILAIAN (KUNCI JAWAB)
1. Berdasarkan lingkungan hidupnya, Archaebacteria digolongkan menjadi:
a) Bakteri metanogen, merupakan bakteri yang menghasilkan metana dari
hidrogen dan CO2 atau asam asetat. Bakteri metanogen hidup di rawa
sebagai pengurai.
b) Bakteri halofil, merupakan bakteri yang hidup di lingkungan yang kadar
garamnya tinggi.
c) Bakteri termoasidofil, merupakan bakteri yang hidup di lingkungan
bersuhu tinggi dan tingkat keasaman tinggi. Habitat baktei ini merupakan
daerah yang mengandung asam sulvat, misalnya kawah vulkanik.
2. fungsi bagian-bagian sel bakteri:
Nomer
Nama
1
Kapsul
2
Dinding sel
3
Membran sel
4
Sitoplasma
5
6
Ribosom
Plasmid
7
Pili
8
Flagela
9
Nukleoid
Fungsi
Mempertahankan diri dari senyawa yang
dapat menggaggu fungsi sel, melindungi
diri dari kekeringan.
Mempertahankan bentuk sel dan
perlindungan sel.
Mengatur keluar dan masuknya zat
kedalam atau keluar sel, karena bersifat
semipermeabel.
Cairan didalam sel yang merupakan
tempat terjadinya reaksi-reakasi
metabolisme.
Merupakan tempat disintesisnya protein.
Merupakan DNA nonkromosom yang
berfungsi membawa informasi genetik
tertentu.
Disebut juga bulu getar, berfungsi dalam
motolitas (pergerakan) bakteri.
Disebut juga bulu cambuk, berfungsi
dalam motolitas (pergerakan) bakteri.
Merupakan DNA kromosom, yang
berfungsi mengatur seluruh aktivitas sel
bakteri dan pembawa materi genetik.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
104
3. Tipe-tipe flagela bakteri:
A. Monotrik, yaitu satu flagela di salah satu ujung
sel bakteri.
B. Lofotrik, yaitu banyak flagela di salah satu
ujung sel bakteri.
C. Amfitrik, yaitu flagela yang terletak masingmasing satu di kedua ujung sel bakteri.
D. Peritrik , yaitu banyak flagela yang terletak
diseluruh sisi sel bakteri.
4. Beberapa bentuk sel bakteri:
Bakteri bentuk bulat yang berkumpul empat sel
dan membentuk struktur menyerupai kubus.
Sarkina
Bakteri bentuk bulat yang berkoloni membentuk
koni yang tidak beraturan sehingga bentuknya
menyerupai buah anggur.
Stapilokokus
Bentuk batang yang bergandengan memanjang,
Streptobasil
membentuk rantai.
Merupakan
Spiroseta
bakteri
berbentuk
a.
Basil (batang)
b.
Sarkina
c.
Streptokokus
d.
Vibrio
e.
Spiral
yang
bersifat lentur, pada saat bergerak selnya dapat
memanjang dan memendek.
5. Bentuk sel bakteri:
spiral
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
f.
Basil (batang)
g.
Diplokokus
h.
Kokus
105
PEDOMAN PENSKORAN
Nomor
soal
1
2
3
4
5
Kriteria penilaian
Menyebutkan dan menjelaskan tiga golongan archaebacteria dengan
tepat.
Menyebutkan dan menjelaskan dua golongan archaebacteria dengan
tepat.
Menyebutkan dan menjelaskan satu golongan archaebacteria dengan
tepat.
Menyebutkan 9 nama dan fungsi bagian sel bakteri beserta fungsinya.
Menyebutkan 7-8 nama dan fungsi bagian sel bakteri beserta
fungsinya.
Menyebutkan 5-6 nama dan fungsi bagian sel bakteri beserta
fungsinya.
Menyebutkan 2-3 nama dan fungsi bagian sel bakteri beserta
fungsinya.
Menyebutkan 1 nama dan fungsi bagian sel bakteri beserta fungsinya.
Menggambarkan dan menjelaskan 4 tipe flagela dengan tepat.
Menggambarkan dan menjelaskan 3 tipe flagela dengan tepat.
Menggambarkan dan menjelaskan 2 tipe flagela dengan tepat.
Menggambarkan dan menjelaskan 1 tipe flagela dengan tepat.
Menggambar 4 bentuk sel dan memberi deskripsi singkat dengan tepat
Menggambar 3 bentuk sel dan memberi deskripsi singkat dengan tepat
Menggambar 2 bentuk sel dan memberi deskripsi singkat dengan tepat
Menggambar 1 bentuk sel dan memberi deskripsi singkat dengan tepat
Menyebutkan 8 bentuk sel bakteri dengan tepat
Menyebutkan 4-7 bentuk sel bakteri dengan tepat
Menyebutkan 1-3 bentuk sel bakteri dengan tepat
skor
15
10
5
25
20
15
10
5
20
15
10
5
25
19
13
7
15
10
5
Download