4 kondisi umum kabupaten halmahera utara

advertisement
4
4.1
KONDISI UMUM KABUPATEN HALMAHERA UTARA
Gambaran Umum Kecamatan Tobelo
4.1.1 Kondisi kewilayahan Kecamatan Tobelo
1)
Letak geografis
Kabupaten Halmahera Utara terletak pada posisi koordinat 0o40’00”–2o40’00”
LU dan 127o25’00” – 128o45’00” BT.
Kabupaten tersebut memiliki luas wilayah
2
sebesar 24.983,32 Km , terdiri dari luas daratan sebesar 5.447,3 Km2 (22% dari luas
wilayah Kabupaten Halmahera Utara) dan luas perairannya sebesar 19.536,02 Km2 (78%
dari luas wilayah Kabupaten Halmahera Utara). Luas wilayah ini terbentang dari Utara
ke Selatan sepanjang 333 Km dan dari Timur ke Barat sepanjang 148 Km.
Kabupaten Halmahera Utara berbatasan: (1) sebelah utara berbatasan dengan
Samudera Pasifik; (2) sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Timur dan
Laut Halmahera; (3) sebelah selatan, berbatasan Kabupaten Halmahera Barat; dan (4)
sebelah barat, berbatasan Kabupaten Halmahera Barat.
2)
Letak administrasi
Kabupaten Halmahera Utara merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten
Maluku Utara Provinsi Maluku Utara, sebagaimana diamanatkan Undang–Undang
Nomor 1 Tahun 2003. Kabupaten Halmahera Utara secara administratif terdiri dari 17
kecamatan dan sebagian besar wilayah kecamatannya merupakan kecamatan pesisir.
Kecamatan Tobelo merupakan salah satu kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten
Halmahera Utara. Kecamatan ini lebih dikenal dibandingkan dengan kecamatan lainnya
karena statusnya sebagai ibukota kabupaten Halmahera Utara.
Kecamatan Tobelo
memiliki beberapa buah pulau yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni seperti
Pulau Kumo, Pulau Kakara, Pulau Tagalaya, Pulau Tulang, Pulau Rarangane dan Pulau
Tupu Tupu.
Kecamatan
Tobelo
dibentuk
berdasarkan
Peraturan
Daerah
Kabupaten
Halmahera Utara Nomor 2 tahun 2006, Kecamatan Tobelo memiliki luas wilayah 33,0
km2 , terdiri atas 10 desa dan terletak pada posisi koordinat 1270 55’ 55” BT – 1280 01’
58” BT dan 10 39 46” LU- 10 46’ 17” LU, dengan batas administratif sebelah Utara
27
berbatasan dengan Kecamatan Tobelo Utara, sebelah Timur berbatasan dengan Laut
Halmahera, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tobelo Tengah dan Laut
Halmahera
dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Barat
(BAPPEDA dan BPS, 2009).
Seiring semakin berkembangnya pembangunan di Tobelo, penataan ruang
menjadi langkah awal yang mendasari pembangunan wilayah Tobelo masa sekarang dan
masa yang akan datang. Hal ini di latarbelakangi oleh status Kecamatan Tobelo sebagai
ibukota Kabupaten Halmahera Utara, sudah waktunya bila Kecamatan Tobelo
dikembangkan sesuai dengan karakteristik sebuah kota, yaitu sebagai pusat pelayanan
sosial dan kegiatan ekonomi, pusat pemukiman dan pusat pemerintahan.
Kondisi
eksisting beserta permasalahan yang ada sedang dianalisis lebih lanjut untuk
mendapatkan perencanaan ruang dan konsep yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan
daerah.
3)
Iklim, kondisi oseanografi dan daerah penangkapan ikan
Kabupaten Halmahera Utara memiliki pantai yang cukup panjang, pantai timur
daratan Halmahera berada di sisi barat perairan Teluk Kao. Teluk Kao merupakan
perairan semi tertutup yang terletak di Pulau Halmahera dan terbuka ke arah Samudera
Pasifik. Morfologi perairan teluk ini memanjang dengan sumbu utama mengarah ke
timur laut dan barat daya. Secara umum teluk ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang
dipisahkan oleh celah yang menyempit. Di bagian dalam teluk atau kepala teluk lebih
tertutup dibandingkan bagian luar teluk atau mulut teluk yang lebar serta terbuka ke
Samudera Pasifik. Di samping itu Kabupaten ini juga memiliki berberapa pulau kecil
salah satu diantaranya adalah Pulau Morotai. Diantara Pulau Morotai dan Pulau
Halmahera terdapat selat. Gambaran teluk dan selat seperti itu menyebabkan karakter
dinamika teluk dan selat yang unik.
Kondisi iklim di Kecamatan Tobelo tidak berbeda jauh dengan keadaan iklim
yang terjadi di Kabupaten Halmahera Utara pada umumnya yang dipengaruhi oleh iklim
laut tropis terdiri atas dua musim, yaitu: musim hujan pada bulan November sampai
dengan bulan Februari, dan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai dengan
bulan Oktober yang diselingi pancaroba yang terjadi pada bulan Maret dan Oktober.
…………………………………………………………………………………………….
28
Kondisi iklim mempengaruhi pola arus, salinitas dan sebaran suhu permukaan laut (spl)
di sekitar Pulau Halmahera.
Pola arus di sekitar Pulau Halmahera pada bulan Juni sampai Oktober arus di
depan teluk cenderung bergerak ke utara sampai timur laut dengan kecepatan mencapai
75 cm/detik. Pada bulan Desember arus bergerak ke tenggara dengan kecepatan 25
cm/detik. Bulan Februari arus bergerak ke timur laut dekat pantai sedangkan di lepas
pantai masih bergerak ke tenggara.
Pengaruh musim terhadap salinitas terlihat dari sebaran salinitas rata-rata antara
bulan Februari sebagai puncak musim timur laut (musim barat kalau di Laut Jawa) dan
musim tenggara. Salinitas di sekitar mulut Teluk Kao pada bulan Februari (34.1) lebih
rendah dari pada bulan Agustus (34.4). Tingginya salinitas tersebut tidak terlepas dari
posisi mulut teluk yang berhadapan dengan Samudera Pasifik.
Suhu permukaan air laut di sekitar Pulau Morotai berkisar antara 28,99 oC sampai
dengan 30,08 oC. Pada daerah pantai yang berada di sisi barat dekat kepala teluk bagian
dalam suhu air laut di lapisan permukaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah
sekitarnya.
Wilayah perairan Kabupaten Halmahera Utara merupakan daerah penangkapan
ikan yang potensial.
Kabupaten Halmahera Utara berhadapan langsung dengan
Samudera Pasifik dan Laut Maluku, sehingga perairan Kabupaten Halmahera Utara
menjadi daerah penangkapan bagi nelayan. Jangkauan daerah penangkapan tergantung
pada besarnya armada penangkapan ikan.
4.1.2 Kondisi kependudukan
1)
Jumlah penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2007 berkisar 180.782
jiwa. Kecamatan Tobelo merupakan Kecamatan yang paling banyak jumlah
penduduknya diantara kecamatan yang lain, yaitu 20.631 jiwa dan Teluk Kao menjadi
Kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya (DKP Kabupaten Halmahera Utara,
2008). Banyaknya jumlah penduduk di Kecamatan Tobelo dimungkinkan karena Tobelo
sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan pusat pemerintahan Kabupaten (Gambar 7).
Berdasarkan Monografi Kecamatan Tobelo, sampai bulan Februari tahun 2010
penduduk Kecamatan Tobelo berjumlah 29.611 orang dengan jumlah kepala keluarga
...............................................................................................................................................
29
sebanyak 7.388.
Jumlah penduduk Kecamatan Tobelo terbesar berada di Desa
Gamsungi dengan jumlah 8.188 orang dan terkecil berada di Desa Tagalaya dengan
jumlah 495 orang. Untuk jumlah penduduk laki-laki sebanyak 15.126 orang lebih besar
jika dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan 14.485 orang (Tabel 4).
Gambar 7 Jumlah penduduk Kabupaten Halmahera Utara per kecamatan tahun 2007
Tabel 4 Jumlah penduduk Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Nama Desa
Gamsungi
Gura
Wari
Kakara
Kumo
Gosoma
Rawajaya
Mkcm
Tagalaya
Wari Ino
Jumlah
Jumlah
KK
2404
837
515
165
184
1521
889
400
108
365
7388
Jumlah Penduduk
Laki – Laki Perempuan
4263
3925
1646
1700
1157
1053
361
388
371
382
2982
2860
2518
2402
954
850
257
238
617
687
15.126
14.485
Total
(orang)
8188
3346
2210
749
753
5842
4920
1804
495
1304
29.611
Sumber: Monografi Kecamatan Tobelo, 2010
2)
Kondisi perekonomian
Kabupaten Halmahera Utara khususnya Kecamatan Tobelo memiliki sumberdaya
laut yang cukup besar baik hayati maupun non-hayati. Sumberdaya tersebut menjadi
penyedia barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Penyedia barang misalnya
30
ikan, teripang, dan garam. Sedangkan sebagai penyedia jasa, misalnya obyek pariwisata,
pelabuhan dan penelitian.
Besarnya potensi tersebut menjadi daya tarik sebagian besar masyarakat Tobelo
dan pendatang untuk memanfaatkan potensi tersebut.
Berdasarkan Monografi
Kecamatan Tobelo (2010) tercatat bahwa sebagian besar masyarakat Tobelo memiliki
mata pecaharian disektor kelautan (60 %), seperti nelayan, pedagang ikan, dan pengolah
hasil perikanan. Selain sektor kelautan, profesi yang cukup pesat berkembang adalah di
sektor jasa (6 %) dan pertokoan atau perdagangan (3 %) (Gambar 8). Hal ini disebabkan
karena Kecamatan Tobelo sebagai pusat perekonomian dan pusat pemerintahan
Kabupaten Halmahera Utara.
Gambar 8 Penyebaran mata pencaharian masyarakat Kecamatan Tobelo
3)
Agama dan kepercayaan
Masyarakat Kecamatan Tobelo merupakan masyarakat yang heterogen dari sisi
keagamaan. Agama-agama yang di peluk oleh masyarakat Tobelo antara lain: Kristen,
Katolik, Islam, Hindu dan Budha.
Sebagian besar penduduk Kecamatan Tobelo
memeluk agama Kristen (17.617 orang), sedangkan pemeluk agama Hindu dan Budha
paling sedikit (12 orang) (Tabel 5).
31
Tabel 5 Jumlah penduduk menurut pemeluk agama di Kecamatan Tobelo Kabupaten
Halmahera Utara
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Desa
Gamsungi
Gura
Wari
Kakara
Kumo
Gosoma
Rawajaya
Mkcm
Tagalaya
Wari Ino
Islam
3691
629
227
98
2015
4015
109
-
Pemeluk Agama (orang)
Kristen Katholik Hindu Budha
4404
86
7
2648
69
1888
90
5
651
747
6
3739
88
703
202
1049
646
495
1293
11
-
Jumlah
10.784
17.617
1.198
Sumber: Monografi Kecamatan Tobelo, 2010
4)
12
Jumlah
(orang)
8188
3346
2210
749
753
5842
4920
1804
495
1304
29.611
Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu barometer dalam indeks pembangunan
manusia. Pendidikan menjadi otak suatu pembangunan daerah, sehingga secara nasional
pemerintah dengan berbagai program terus mendorong masyarakat untuk bersekolah.
Hal tersebut juga menjadi salah satu prioritas pembangunan di Halmahera Utara,
termasuk di Kecamatan Tobelo.
Berdasarkan Monografi Kecamatan Tobelo 2010, dapat diketahui bahwa dari
jumlah penduduk 29.611 jiwa terdapat 4.348 jiwa yang pernah dan sedang mengikuti
pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).
Jumlah tersebut merupakan jumlah paling banyak dibanding kecamatan lain di
Kabupaten Halmahera Utara. Sebagian besar penduduk mengikuti pendidikan pada
jenjang SMA (33%) dan SD (32%), sedangkan paling sedikit (10%) adalah Perguruan
Tinggi (S1/S2) (Gambar 9 ).
32
Gambar 9 Tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Tobelo
5)
Budaya dan bahasa
Sebagian besar masyarakat Tobelo tinggal di daratan terutama di pusat kota
kecamatan.
Tetapi sebagian masyarakat Tobelo juga tingga di pulau-pulau kecil
disekitar pesisir Kecamatan Tobelo, seperti pulau Kumo, pulau Tagalaya dan pulau
Kakara. Pulau-pulau tersebut memiliki panorama pantai dan bawah laut yang indah.
Kondisi tersebut merupakan potensi untuk pengembangan wisata bahari, yang dapat
menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat dan PAD Kabupaten Halmahera
Utara.
Bahasa sehari-hari masyarakat Kecamatan Tobelo menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar.
Namun pada kegiatan-kegiatan tertentu, seperti upacara-
upacara adat biasanya menggunakan bahasa Tobelo sebagai bahasa pengantar dan
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Pada acara-acara penerimaan tamu pejabat,
ketika pejabat tersebut hendak dikukuhkan sebagai anggota keluarga besar masyarakat
adat Halmahera Utara (masyarakat Hibua Lamo), maka bahasa yang digunakan adalah
bahasa Tobelo dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
4.1.3 Keadan umum perikanan laut
1)
Potensi sumberdaya ikan
Sebagian besar (78%) wilayah Kabupaten Halmahera Utara adalah perairan laut
yang langsung berbatasan dengan Samudera Pasifik. Hal tersebut menjadi potensi dan
peluang ekonomi yang cukup besar terutama sektor perikanan (Gambar 10).
Hasil
33
penelitian Direktorat Jendral Perikanan dan Balai Penelitian Perikanan Laut tahun 1983
menyatakan bahwa perairan laut Halmahera Utara diperkirakan mempunyai potensi
sumberdaya ikan laut (standing stock) sebesar 148.473,8 ton/tahun, yang berarti
memiliki potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) sebesar 86.660,6 ton/tahun,
terdiri dari kelompok ikan pelagis sebanyak 48.946,4 ton/tahun dan kelompok ikan
demersal sebanyak 32.664,2 ton/tahun (DKP Kabupaten Halmahera Utara, 2007).
Sumber: DKP dan LIPI (2007)
Gambar 10 Estimasi potensi, produksi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di
Indonesia tahun 2001
2)
Nelayan
Jumlah nelayan di wilayah Kabupaten Halmahera Utara tahun 2007 tercatat
sebanyak 6.999 orang. Sementara untuk jumlah nelayan yang ada di Kecamatan Tobelo
sebanyak
344
orang
yang
tergabung
dalam
17
kelompok
nelayan
(DKP Kabupaten, 2010). Konsentrasi nelayan di Kecamatan Tobelo terdapat di desa
Rawajaya dengan jumlah 101 nelayan dan desa Kumo 70 nelayan serta desa Kakara 64
nelayan (Gambar11).
34
Gambar 11 Jumlah nelayan dan kelompok nelayan di Kecamatan Tobelo tahun 2007
Selain kegiatan usaha penangkapan ikan, terdapat pula nelayan yang melakukan
usaha perikanan budidaya laut untuk jenis ikan kerapu.
Namun tingkat
perkembangannya dapat dikatagorikan masih berada dalam skala belum berkembang,
karena masih banyak masalah yang berhubungan dengan teknologi serta ketersediaan
benih dan pakan yang terbatas.
3)
Unit penangkapan ikan
Sebagian armada penangkapan ikan di Kabupaten Halmahera Utara berukuran
lebih kecil dari 5 GT atau termasuk armada penangkapan skala kecil. Dengan demikian,
jangkauan daerah penangkapan ikan (fishing ground) nelayan hanya terkonsentrasi di
sekitar perairan pantai (dibawah 12 mil laut). Kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan
sebagian besar masih menggunakan teknologi yang sederhana, karena sebagian besar
nelayan mengunakan perahu tanpa motor dan perahu motor tempel serta sebagian kecil
menggunakan kapal motor (Tabel 6).
35
Tabel 6 Jenis dan jumlah armada tangkap di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera
Utara
Armada Penangkapan (Unit)
No
Nama Desa
Perahu
Perahu Motor
Kapal
Tanpa Motor
Tempel
Motor
1 Gamsungi
9
15
2
2 Rawajaya
6
15
8
3 Wari
4
7
4 Wari Ino
5
3
5 Kumo
5
6
6 Kakara
30
7
7 Tagalaya
15
3
Jumlah
74
56
10
Sumber: DKP Kabupaten Halmahera Utara, 2010
Sebagian besar nelayan di Kecamatan Tobelo menggunakan pancing untuk
menangkap ikan. Alat tangkap tersebut tergolong tradisional dalam usaha perikanan
tangkap. Selain pancing sebagian kecil masyarakat menggunakan pukat cincin, jaring
insang dan jaring angkat.
Sarana prasarana penunjang usaha perikanan merupakan salah satu komponen
utama penentu keberhasilan pembangunan di sektor perikanan. Secara umum sarana
prasarana tersebut di Kabupaten Halmahera Utara masih terbatas sehingga perlu
dilakukan upaya untuk meningkatkan baik kapasitas maupun kuantitasnya.
Kondisi
eksisting sarana dan prasarana yang ada adalah: 1 Balai Pertemuan Nelayan, 1 unit
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tobelo, 1 unit Tempat Tempat Pelelangan Ikan, 1 unit
ABF, 1 unit perbengkelan motor laut, 1 unit docking, 2 unit pabrik es, 1 unit cold
storage di PPP Tobelo, dan beberapa alat bantu penangkapan, berupa: 42 unit rumpon
laut dangkal, 5 unit rumpon laut dalam, dan 15 unit lampu celup bawah air
(Dinas Kelautan dan Perikanan Halmahera Utara, 2008).
4)
Produksi hasil tangkapan
Kekayaan potensi sumber daya laut di wilayah Kabupaten Halmahera Utara saat ini
mulai memperlihatkan tendensi kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2007 produksi
perikanan mengalami kenaikan sebesar 6,4% dari produksi tahun 2006 yaitu total
mencapai sebesar 11.799,01 ton dari 6.014 ton (DKP Kabupaten Halamahera Utara,
2008). Hal ini disebabkan kebijakan pembangunan perikanan di Kabupaten Halmahera
Utara melalui beberapa program, seperti PEMP, modernisasi dan penambahan armada
36
tangkap serta penambahan infrastruktur di bidang perikanan yang telah berhasil
meningkatkan produksi hasil perikanan.
Namun demikian tingkat pemanfaatan oleh nelayan setempat dibandingkan potensi
sumberdaya ikan di perairan Halmahera Utara masih sangat rendah. Hal ini ditunjukkan
dengan tingkat pemanfaatannya pada tahun 2007 baru sekitar 13,3% dari MSY,
walaupun menggunakan nilai estimasi potensi terkecil (86.660,6 ton/tahun). Tingkat
pemanfaatan masih rendah ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah armada
penangkapan ikan didominasi skala kecil yang sangat tergantung kondisi alam/cuaca,
dan terbatasnya jaringan pasar, sehingga ikan sulit untuk dijual. Selain itu, maraknya
penangkapan ikan illegal oleh nelayan dari daerah lain dan nelayan asing (Phillipina) di
kawasan perairan Halmahera Utara.
4.2
Kelembagaan PEMP
Program PEMP merupakan program nasional yang tergolong besar, baik dari
aspek anggaran, waktu dan banyaknya lembaga yang terlibat. Banyaknya lembaga yang
terlibat dan dibentuk dalam pelaksanaan program PEMP disebabkan karena salah satu
tahapan dan tujuan program PEMP adalah untuk penguatan kelembagaan ekonomi
masyarakat. Pelibatan dan pembentukan lembaga tersebut mulai dari pusat sampai pada
tingkat desa.
Pada tingkat kecamatan khususnya Kecamatan Tobelo, kelembagaan PEMP
terdiri atas: Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Halmahera Utara,
Konsultan Manajemen (KM), Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir-Mikro Mitra
Mina (LEPP-M3), Tim Pendamping Desa (TPD) dan Kelompok Masyarakat
Pemanfaat(KMP). Masing-masing lembaga memiliki fungsi dan peranan berbeda dalam
pelaksanaan dan pencapaian tujuan program PEMP.
Optimalisasi pelaksanaan dan pencapaian tujuan program PEMP di Kecamatan
Tobelo tergantung pada peranan dan kinerja dari kelembagaan PEMP yang ada. Dengan
demikian perlu dilakukan evaluasi peranan dan kinerja kelembagaan program PEMP.
Dalam penelitian ini evaluasi terhadap peranan dan kinerja kelembagaan PEMP
dilakukan secara partisipatif yaitu dengan melibatkan pengurus masing-masing lembaga
tersebut, sehingga hasil penilaian lebih realistis.
Download