pengaruh gaya pengambilan keputusan terhadap

advertisement
PENGARUH GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP PROKRASTINASI
AKADEMIK PADA MAHASISWA
Sri Wiworo Retno Indah Handayani, Nadiya Andromeda
Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang
[email protected], [email protected]
Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya pengaruh antara gaya pengambilan keputusan
dengan prokrastinasi akademik atau perilaku menunda Alat ukur prokrastinasi akademik menggunakan
skala yang merupakan adaptasi dari skala Sri Wiworo (2013). Sedangkan skala gaya pengambilan keputusan
akan dikembangkan dari indikator ciri-cirinya.Respondennya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi
semester II Universitas Wisnuwardhana Malang yang II angkatan tahun 2014/2015 yang berjumlah 56
orang. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah korelasi Product Moment. Hasil penelitian ini
dengan menggunakan program statistik (SPS-2000) menunjukkan pengaruh sangat signifikan antara gaya
pengambilan keputusan dengan prokrastinasi akademik artinya gaya pengambilan keputusan,
mempengaruhi prokrastinasi akademik sehingga hipotesa yang menyatakan adanya pengaruh antara gaya
pengambilan keputusan dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Wisnuwardhana
Malang diterima pada taraf kepercayaan 99 %.Pada penelitian ini juga diperoleh variabel gaya pengambilan
keputusan memberikan sumbangan efektif sebesar 70,5 % terhadap variabel Prokrastinasi akademik,
sedangkan sisanya 29,5% disebabkan faktor lain.
Kata kunci : Gaya pengambilan keputusan, prokrastinasi akademik
Abstract: The research objective was to determine the influence of the style of decision making with
academic procrastination or delay the conduct academic procrastination measuring instrument using a scale
which is an adaptation of the scale Sri Wiworo (2013). While the scale of the decision-making style will be
developed on the indicators of the students of the Faculty of Psychology cirinya.Respondennya is the second
half of the II University of Malang Wisnuwardhana force in 2014/2015 which amounted to 56 people. While
the analytical technique used is the product moment correlation. The results of this study using the statistical
program (SPS-2000) edition Sutrisno Hadi and Yuni Pamardiningsih show the influence is significant
between the style of decision making with academic procrastination means that the style of decision-making,
influencing academic procrastination thus hypothesized that the influence of the style of decision making
with academic procrastination on Wisnuwardhana Malang University students accepted at the level of 99%
.In this study also acquired decision-making style variables contribute effectively amounted to 70.5% of the
academic Procrastination variable, while the remaining 29.5% is due to other factors.
Keywords: style of decision-making, academic procrastination
(1999). Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka
I. PENDAHULUAN
Pendidikan nasional diharapkan mampu me-
pemerintah tidak hanya memperhatikan pemba-
wujudkan manusia-manusia pembangunan dan
ngunan fisik tapi juga membangun non fisik, seperti
rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung
pepatah mengatakan “Di dalam jiwa yang sehat
jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud
terdapat badan yang sehat”, artinya pemerintah
50
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
melalui bidang pendidikan hendaknya membangun
perilaku yang biasa kita jalankan dalam hidup
softskills antara lain karakter peserta didik agar
sehari–hari.
nantinya
pelaksana
melakukan sesuatu bersifat positif maka hasilnya
pembangunan diberbagai bidang dengan hasil yang
cenderung positif, demikian pula sebaliknya
memuaskan dan tepat sasaran. Fakta menunjukkan
(Yusita, 2009). Tuntutan yang demikian tidak akan
bahwa tingkat pengangguran di Indonesia pada
tercapai jika SDM (Sumber Daya Manusia) di
tahun 2003 mencapai 9.53% atau sekitar 9.5 juta
Indonesia tidak memiliki kepekaan terhadap
warga negara sama sekali tidak memiliki pekerjaan,
kualitas diri. SDM yang berkualitas bukan hanya
dan
angka
tergantung pada sarana prasarana yang ada, tingkat
pengangguran di Indonesia meningkat menjadi
pendidikan ataupun skills yang dimiliki tetapi
9,86%. Hal ini diperparah dengan semakin
bagaimana dia berperilaku dan bagaimana cara
sempitnya lapangan pekerjaan, sehingga akan
seseorang
terjadi persaingan yang sangat ketat antara sarjana
salah satu unsur yang penting pula. Intisari dari
tersebut. Terbukti pada tahun dari tahun 2003
pengambilan keputusan adalah harapan akan
sampai 2005 terjadi penyusutan lapangan pekerjaan
terciptanya suatu hasil yang baik. Secara umum
di kota dari 1,2 juta lapangan pekerjaan menjadi
pembahasan
564.000 lapangan pekerjaan, proporsi penyusutan
tidak hanya membahas pengambilan keputusannya
yang sama terjadi pula di pedesaan (Hidayati,
saja tetapi juga proses yang terjadi didalamnya.
mereka
bahkan
bisa
Januari
menjadi
tahun
2005
Apabila
kebiasaan
kita
dalam
mengambil suatu keputusan menjadi
mengenai pengambilan keputusan
2005). Persoalannya, untuk menjadi SDM yang
Berkaitan dengan keunikan atau keanekaraga-
memiliki bekal performa yang diminati oleh dunia
man pengambilan keputusan antara individu yang
kerja adalah tidak mudah. Faktor kebiasaan
satu dengan individu yang lain. Dalam hal
menjadi hal yang sangat menentukan bagi performa
mengambil keputusan, antar individu yang satu
seseorang. Karena bagaimanapun kebiasaan (habit)
dengan individu yang lain melakukan pendekatan
merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam
dengan cara yang tidak sama. Jadi ada gaya yang
kehidupan manusia. Bahkan, kesuksesan
atau
berbeda-beda antar individu yang satu dengan yang
kegagalan suatu usaha sangat ditentukan oleh
lain dalam melakukan pengambilan keputusan
kebiasaan yang dilakukan sebelumnya. Hal ini
(Brigham Young University, 1999). Greeberg dan
disebabkan
yag
Baron mendefinisikan pengambilan keputusan
disadari, dilaksanakan
sebagai proses membuat pilihan diantara beberapa
sehari–hari, serta menjadi karakter. Aristoteles
pilihan (dalam Dewi, 2006). Banyak teori-teori
menyatakan bahwa kita adalah apa yag biasa kita
yang berupaya menjelaskan model pengambilan
lakukan. Artinya, setiap hasil usaha kita apakah
keputusan di dalam individu maupun kelompok.
kebiasaan adalah
konsisten, sering
tidak
perilaku
dalam hal belajar, pekerjaan, sosial, maupun
Sebagai makhluk yang berkesadaran dan bebas
pengembangan pribadi sangat ditentukan oleh
menentukan pilihannya sendiri, jalan yang diemban
51
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
manusia terlihat demikian banyak. Apalagi pada
yang terdiri dari berbagai daerah dan tentunya
jaman yang sekompleks ini , permasalahan seperti
memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
memilih sekolah, jurusan sekolah, universitas,
jurusan kuliah,
Banyak hal mempengaruhi seseorang sehingga
pekerjaan, bidang pekerjaan,
ia dapat melakukan aktivitas dengan baik. Baik
kantor, pemimpin, pacar dll. Mengharuskan
secara internal maupun eksternal. akan tetapi aspek
manusia mengambil keputusan yang tepat dan akan
internal individu menjadi penentu utama seseorang
menghasilkan sesuatu yang baik ( Sarlito,2009).
menjadi produktif. Dalam suatu waktu, seseorang
Cara orang mengambil keputusan dapat
digambarkan
melalui
gaya
menjadi
bergairah melakukan aktivitas atau
pengambilan
mungkin diwaktu lain ia menjadi malas sehingga
keputusannya Ada dua dimensi dalam gaya
menunda penyelesaian tugas, tergantung dari
pengambilan keputusan, yakni: Orientasi nilai
kondisi psikisnya. Selanjutnya perilaku ini menjadi
(values orientation) dan Kompleksitas kognitif
menguat dan diulangi lagi sehingga menjadi
(cognitive complexity). Tipe pengambil keputusan
kebiasaan.
yang berorientasi nilai, fokus pada tugas (masalah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
teknis) dan fokus pada orang (sosial).Sedangkan
korelasi antara konsep diri dan stres denagan
tipe pengambil keputusan yang menunjukkan
prokrastinasi pada mahasiswa, ada korelasi negatif
kompleksitas kognitif mengindikasikan tingkat di
antara konsep diri dan Prokrastinasi dan ada
mana seseorang memiliki toleransi terhadap
korelasi negatif antara stres dan prokrastinasi pada
ambiguitas dan kebutuhan terhadap struktur.
mahasiswa (Sri Wiworo,2013).
Menurut Rowe & Boulgarides (1994), dua dimensi
Pengambilan keputusan terdiri dari dua
di atas (orientasi nilai & kompleksitas kognitif)
karakteristik
apabila dikombi-nasikan menghasilkan 4 gaya
individual dan pengambilan keputusan kelompok,
pengambilan keputusan, yakni , Directive, analitis,
pada penelitian ini peneliti mengambil gaya
konseptual dan behavioral.
pengambilan keputusan individu yaitu mahasiswa
Hasi penelitian Rowe dan Bulgarides (dalam
antara
laki-laki
dan
pengambilan
keputusan
yang di dalam perkembangannya masuk pada masa
Muti 2003) tentang perbedaan gaya pengambilan
keputusan
yaitu
dewasa awal.
perempuan
menunjukkan bahwa “ Didalam pekerjaan yang
Pengertian Prokrastinasi
sama laki-laki dan perempuan secara umum tidak
Pengertian Prokrastinasi Istilah prokrastinasi
memiliki perbedaan yang signifikan mengenai gaya
berasal dari bahasa Latin procrastination dengan
pengambilan keputusan”.
awalan pro yang berarti mendorong maju atau
Seperti yang terjadi pada mahasiswa semester
bergerak dan akhiran crastinus yang berarti
II Universitas Wisnuwardhana (UNIDHA) Malang
keputusan hari esok atau jika digabungkan menjadi
menangguhkan
52
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
atau
menunda
sampai
hari
berikutnya (Gufron, 2003). Sehingga, pada abad
intelegensi seseorang. Avoidance procrastination
lalu, prokrastinasi bermakna positif jika penundaan
atau behavioral procrastination adalah suatu
sebagai upaya konstruktif untuk menghindari
penundaan dalam perilaku tampak. Penundaan
keputusan impulsive dan tanpa pemikiran yang
dilakukan sebagai cara untuk menghindari tugas
matang, dan bermakna negative jika dilakukan
yang dirasa tidak menyenangkan dan sulit untuk
karena malas atau tanpa tujuan yang pasti. Ferrari
dilakukan.
(dalam Mierrina, 2005) membagi prokrastinasi
menghindari kegagalan dalam menyelesaiakan
menjadi dua : (a) Functional procrastination, yaitu
pekerjaan.
Prokrastinasi
dilakukan
untuk
penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan
Ellis (1986) menyatakan bahwa menunda
untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap
(procrastination) melaksanakan tugas/pekerjaan
dan akurat, (b) disfunctional procrastination, yaitu
dikonsepsikan sebagai tindakan negatif (Hidayat,
penundaan yang tidak bertujuan, berakibat buruk
2004) Lebih spesifik lagi Ellis menyatakan bahwa
dan menimbulkan masalah.
menunda melaksanakan tugas merupakan satu dari
Ada
dua
disfunctional
bentuk
prokrastinasi
berdasarkan
tujuan
yang
beberapa
problem
“psikis
kecil”
yang
mereka
mencerminkan kesulitan psikis yang lebih besar.
decional
Yang sering mereka gambarkan tentang dirinya
procrastination dan avoidance procrastination.
adalah keluhan bahwa dirinya tidak mampu
Decisional prokrastination adalah suatu penundaan
melakukan kegiatan apapun, merasa terlambat,
dalam mengambil keputusan. Bentuk prokrastinasi
lebih suka menangguhkan tugas dsb.
melakukan
penundaan,
yaitu
ini merupakan sebuah anteseden kognitif dalam
Prokrastinasi merupakan sikap dan perilaku
menunda untuk mulai melakukan suatu kerja dalam
yang memiliki karakteristik mengulur-ulur atau
menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stres.
memperpanjang waktu dalam melakukan suatu hal,
Selanjutnya Ferrari (Mierrina, 2005) menjelaskan
bias berupa pekerjaan, tugas, hak, maupun
prokrastinasi dilakukan sebagai suatu bentuk
kewajiban. Prokrastinasi ini sering dilakukan oleh
coping yang digunakan untuk menyesuaikan diri
kebanyakan
dalam pembuatan keputusan pada situasi-situasi
menyatakan bahwa seseorang procrastinator akan
yang dipersepsikan penuh stres. Jenis prokrastinasi
melakukan
ini
tugasnya sampai mendekati batas waktu akhir
terjadi
akibat
mengindentifikasikan
kegagalan
tugas,
yang
dalam
kemudian
orang.
Ariely
penundaan
&
dalam
Wertenbroch
mengerjakan
(Mierrina, 2005).
menimbulkan konflik dalam diri individu, sehingga
Selanjutnya Chu & Choi (2005) berpendapat
akhirnya seseorang menunda untuk memutusakan
bahwa prokrastinasi merupakan suatu hambatan
masalah. Decisional procrastination berhubungan
perilaku yang mengarah pada tindakan membuang-
dengan kelupaan, kegagalan proses kognitif, akan
buang
tetapi tidak berkaitan dengan kurangnya tingkat
meningkatkan tingkat stres.
waktu,
tampilan
kerja
buruk
dan
53
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Kebiasaan
menunda
tugas
dikatagorikan
masalah
kehidupan
yang
bahan-bahannya
sebagai gaya hidup yang keliru, yaitu tidak
seharusnya diperoleh dari pangalaman bekerja
berusaha mencapai superioritas, kurang memiliki
sebelumnya.
self-control, dan kurang memiliki penilaian positif
Sebagaimana perilaku prokrastinasi dilakukan
pada bekerja (Adler dalam Hidayat, 2004).
pada berbagai jenis tuigas atau pekerjaan, maka hal
Menurut Adler, manusia memiliki pembawaan
tersebut juga dibahas dalam teori-teori konseling
untuk mengatasi rendah diri (inferioritas) dan
dari semua aliran, baik afektif, kognitif, maupun
kelemahan untuk mencapai superioritas serta
behavioristik. Ketiganya memiliki cara pandang
kesempurnaan dengan kemampuan dan penguasaan
serupa terhadap kebiasaan menunda pekerjaan
yang dimiliki yaitu dengan cara mengubah
yang difokuskan pada penundaan belajar, yaitu
kelemahan menjadi kekuatan, mengembangkan
sebagai tindakan yang patologis. Corey (1986)
kemampuan secara maksimal, mencapai sesuatu
menyatakan dalam pendekatan afektif, teori gestalt
yang
lain.
menyebut avoidance, yaitu kebiasaan menghindar
Sebaliknya dengan self-control yang lemah,
untuk melakukan kegiatan belajar. Orang yang
seseorang kurang mandiri serta kendali diri. Ia tidak
bersangkutan selalu atau hampir selalu lebih
pernah berusaha untuk segera menyelesaikan tugas
memilih melakukan pekerjaan lain atau diam. Teori
namun karena dikalahkan oleh kenyakinan diri
Person Centered menyatakan sebagai tidak dapat
yang rendah maka aktifitas bekerjanya tidak
mengaktualisasi diri. Klien belum mengetahui,
bertahan. Ia memiliki penilaian yang kurang positif
belum
terhadap tugas kuliah. Tugas kuliah dianggap
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki.
bukan
Selanjutnya Corey (1986) menjelaskan bahwa teori
lebih
unggul
wahana
keunggulan
melalui
yang
dirinya.
lapangan
dapat
Akhirnya
mengantarkan
ia
kembali
menyadari,
dan
belum
dapat
Adler yang juga termasuk pada aliran afektif
menghindar.
menamakannya sebagai gaya hidup yang keliru.
Ellis (1986) juga menyatakan bahwa orang
Menurut Adler (1986) setiap orang memiliki gaya
yang suka menunda pekerjaan atau tugas berarti
hidup yang khas, yaitu pandangan individu tentang
mengutamakan
pendek,
diri mereka, dunia luar, perilaku, serta kebiasaan
menghindari berfikir tuntas, dan menghindari
yang digunakan untuk mencapai tujuan pribadi.
aktualisasi diri. Orang yang demikian berimplikasi
Seseorang yang terbiasa menunda belajar berarti
merusak diri (Hidayat, 2004). Menurut Ellis, salah
keliru mamandang diri sebagai orang yang tidak
satu ide irrasional seseorang menyatakan kita dapat
mampu belajar dan meningkatkan prestasi belajar
menghasilkan kesenangan yang tinggi dengan
(Hidayat, 2004).
hedonisme
jangka
sikap malas dan pasif. Ketidakrasionalan ide ini
Fee
dan
Tangney
(
Mierrina,
2005)
akan terbukti pada kenyataan jangka panjang yaitu
mengatakan bahwa procrastinator bukan hanya
ketika seseorang dituntut memecahkan masalah-
sekedar
54
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
masalah
dalam
manajemen
waktu,
melainkan suatu proses kompleks yang melibatkan
Akademik adalah program pendidikan yang
komponen afeksi, kognisi, dan perilaku.
diarahkan
Prokrastinasi berarti perilaku penundaan tugas,
tanpa
memperhatikan
alasan
terutama
pengetahuan,
melakukan
pada
teknologi,
penguasaan
dan
seni.
ilmu
Program
Pendidikan Akademik terdiri dari Program Sarjana,
penundaan, sehingga prokrastinasi dapat dibedakan
Program Magister, dan Program Doktor.
menjadi prokrastinasi yang menguntungkan dan
Prokrastinasi Akademik
yang menimbulkan masalah (Burka & Yuen, dalam
Schouwenberg (dalam Nur Lailatul M, 2008)
Nur Lailatul M, 2008). Albert Ellis dan William
mengatakan bahwa prokrastinasi akademik sebagai
Knaus (2004) menyatakan prokrastinasi sebagai
suatu perilaku penundaan dapat termanifestasi
suatu
dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan
kegagalan
untuk
memulai
melakukan
maupun menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas
diamati.
Joseph
Ferrari
pada waktu yang ditentukan. Mereka melihat
prokrastinasi
menjadi
prokrastinasi sebagai suatu perilaku yang berasal
prokrastinasi
akademik
dari pikiranpikiran irrasional yang telah menjadi
Prokrastinasi
kebiasaan (traits).
akademik
2
jenis
dan
akademik
dan
non
(1995)
membagi
tugas,
non
yaitu
akademik.
yaitu
prokrastinasi
akademik.
Prokrastinasi
Selanjutnya, dalam penelitian ini dibatasi
akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan
pengertian prokrastinasi sebagai suatu penundaan
pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan
yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang,
akademik, misalnya tugas sekolah atau kursus.
dengan melakukan aktivitas lain yang tidak
Prokrastinasi non akademik adalah penundaan
diperlukan dalam pengerjaan tugas, dengan jenis
yang dilakukan pada jenis tugas non formal atau
disfungsional procrastination, yaitu penundaan
tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-
yang
hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas sosial,
dilakukan
pada
tugas
yang
penting,
penundaan tersebut tidak bertujuan, dan bisa
tugas kantor, dan sebagainya.
menimbulkan akibat yang negatif baik yang
Di kalangan ilmuan, istilah prokrastinasi untuk
kategori decisional procrastination atau avoidance
menunjukan pada suatu kecenderungan menunda –
procrastination.
nunda penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan,
Pengertian Akademik
pertama kali digunakan oleh Brown dan Holzman
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional
RI
Nomor
merupakan
sebuah
diarahkan
terutama
pengembangan
178/U/2001,
penyampaian
pada
disiplin
(Manual surveys of study habits and attitude,
akademik
1967). Istilah prokrastinasi digunakan untuk
ilmu
yang
menggambarkan suatu kecenderungan menunda-
penguasaan
dan
nunda penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan
pengetahuan,
sehingga seseorang gagal menyelesaikan tugas-
ilmu
teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup
program
pendidikan.
Program
tugas tersebut tepat pada waktunya (Wie, 2008).
Pendidikan
55
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Solomon dan Rothblum (dalam Mierrina 2005)
Takut akan kegagalan dan keengganan pada
menyatakan suatu penundaan dikatakan sebagai
tugas adalah dua komponen penting dari penundaan
prokrastinasi, apabila penundaan itu dilakukan
(Yusita, 2009). Sejalan hal tersebut, Burka dan
pada tugas penting, dilakukan berulang-ulang
Yuen (1983) menyatakan fear of the failure adalah
secara sengaja dan meninbulkan perasaan tidak
ketakutan yang berlebihan untuk gagal. Seseorang
nyaman, secara subyektif dirasakan oleh seseorang
menunda-nunda mengerjakan tugas karena takut
procrastinator. Ferrari, dkk (dalam Yusita, 2009)
jika gagal menyelesaikannya sehingga akan
menyimpulkan bahwa pengertian prokrastinasi
mendatangkan
dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu,
kemampuannya. Akibatnya seseorang menunda-
yaitu: (1) prokrastinasi hanya sebagai perilaku
nunda untuk mengerjakan tugas yang dihadapinya.
penundaan, yaitu bahwa setiap perbuatan untuk
Ferrari (dalam Mierrina, 2005) menyebutkan
menunda dalam mengerjakan suatu tugas disebut
bahwa procrastinator sebagai sikap malas atau
sebagai prokrastinas, tanpa mempermasalahkan
manja, dimana individu itu tidak mampu untuk
tujuan serta alasan penundaan yang dilakukan. (2)
mengatur dirinya. Selanjutnya Sapadin (1996)
prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan atau pola
mengenalkan enam gaya prokrastinasi yang pokok
perilaku yang dimiliki individu, yang mengarah
yaitu: Perfection. Seseorang memiliki prinsip untuk
kepada trait, penundaan yang dilakukan sudah
mengerjakan tugas secara sempurna, sehingga
merupakan respon tetap yang selalu dilakukan
individu memilih menunda mengerjakan tugas;
seseorang dalam menghadapi tugas, biasanya
Dreamer. Banyak mempunyai ide besar tetapi tidak
disertai oleh adalanya kenyakinan-kenyakinanyang
dilakukan,
irrasional. (3) prokrastinasi sebagai suatu trait
mengabiskan waktunya untuk mempersiapkan diri,
kepribadian, dalam pengertian ini prokrastnasi
mencari
tidak hanya sebuah perilaku penundaan saja, akan
menyusun rencana pelaksanaan tugas secara teliti
tetapi prokrastinasi merupakan suatu trait yang
tetapi sebenarnya berlebihan sehingga dia menunda
melibatkan komponen-komponen perilaku maupun
mengerjakan tugas; Worrier, tidak berfikir tugas
struktur mental lain yang saling terkait yang dapat
berjalan baik, tetapi takut apa yang dilakukan lebih
diketahui secara langsung maupun tidak langsung.
jelek atau gagal, individu khawatir gagal sehingga
Berdasarkan uraian di atas, prokrastinasi
memilih untuk menunda mengerjakan tugas;
akademik
adalah
yang
procrastinator
buku-buku
yang
negatif
lebih
akan
banyak
diperlukan,
dan
menunda-nunda
Defier, tidak mau diperintah atau dinasehati oleh
pengerjaan tugas-tugas formal yang berhubungan
orang lain(suka menentang), suka disebut penunda
dengan
telah
karena dengan kebiasaan pada umumnya; Crisis
ditetapkan, yang dilakukan secara sadar oleh
Maker, suka membuat masalah dalam pekerjaan
individu tersebut.
karena terlambat memulai, Procrastinator suka
Faktor-Faktor Penyebab Prokrastinasi
menunda mengerjakan tugas menjelang batas akhir
akademik
perilaku
penilaian
pada
waktu
yang
56
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
waktu yang disediakan, sehingga sering tidak dapat
dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan,
menyelesaikan tugas pada waktunya; Over Doer,
baik oleh orang lain maupun rencana-rencana yang
terlalu banyak tugas, selalu menyatakan ‘ya’ pada
telah dia tentukan sendiri. Seorang procrastinator
tugas yang diberikan, cenderung kurang dapat
juga dengan sengaja tidak segera melakukan
mengatur waktu, sumber daya yang ada dan
tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia
menyelesaikan konflik yang terjadi. Akhirnya
miliki untuk melakukan aktivitas lain yang
sering menunda tugas yang harus diselesaikan.
dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan
Burka dan Yuen (1983) berpendapat bahwa
hiburan seperti membaca (Koran, majalah, atau
stres dapat meningkatkan prokrastinasi. Bahkan
buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan,
ditegaskan oleh mereka (dalam Yusita, 2009)
mendengarkan music, dan sebagainya, sehingga
bahwa ada aspek irrasional yang dimiliki oleh
menyita waktu yang dia miliki untuk mengerjakan
seseorang procrastinator, yaitu bahwa suatu tugas
tugas yang harus diselesaikan.
harus diselesaikan dengan sempurna, sehingga dia
Sedangkan Millgram (dalam Yusita, 2007)
merasa lebih aman untuk tidak melakukannya
mengatakan bahwa prokarastinasi adalah suatu
segera, karena itu akan manghasilkan sesuatu yang
perilaku spesifik yang meliputi : (1) suatu perilaku
tidak maksimal, dengan kata lain penundaan yang
yang meibatkan unsur penundaan baik untuk
dikatagorikan sebagai prokrastinasi adalah apabila
memulai maupun menyelesaikan suatu tugas atau
penundaan tersebut sudah merupakan kebiasaan
aktivitas. (2) menghasilkan akibat-akibat lain yang
atau
sudah
lebih jauh, misalnya keterlambatan menyelesaikan
merupakan kebiasaan atau pola yang menetap yang
tugas maupun kegagalan dalam mengerjakan
selalu dilakukan seseorang ketika menghadapi
tugas.,
suatu tugas, dan penundaan tersebut disebabkan
dipersepsikan oleh pelaku prokarstinasi sebagai
oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional
suatu tugas yang penting untuk dikerjakan,
dalam memandang tugas.
misalnya tugas kantor, tugas sekolah maupun tugas
pola
yang
penundaan
tersebut
Ferrari, dkk (dalamYusita, 2009) mengatakan
bahwa
seorang
procrastinator
rumah
(3)
melibatkan
tangga,
(4)
suatu
tugas
menghasilkan
yang
keadaan
menghabiskan
emosional yang tidak menyenangkan, misalnya
waktu secara berlebihan, maupun melakukan hal-
perasaan cemas, perasaan bersalah, marah, panik,
hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian
dan sebagainya.
suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan
Berdasarkan
pendapat
tersebut
dapat
waktu yang dimilikinya. Lebih lanjut dijelaskan
disimpulkan bahwa perilaku prokrastinasi dapat
seseorang procrastinator mempunyai kesulitan
menimbulkan keterlambatan dan kegagalan dalam
untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas
penyelesaian tugas serta menimbulkan stres.
waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang
Ciri-ciri Prokrastinasi
procrastinator sering mengalami keterlambatan
57
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Ferrari dkk. (1995) menyatakan bahwa sebagai
lambatnya kerja seseorang dalam melakukan
suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik
suatu tugas dapat menjadi diri yang utama
dapat memanivestasikan dalam indikator tertentu
dalam prokrastinasi akademik.
yang dapat diukur dan diamati melalui ciri-ciri
c. Kesenjangan waktu antara rencana dan
tertentu berupa :
kinerja
a. Penundaan
untuk
menyelesaikan
dihadapi.
memulai
kerja
pada
Seseorang
yang
maupun
tugas
aktual.
mempunyai
yang
Seorang
kesulitan
prokrastinator
untuk
melakukan
sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah
melakukan
ditetapkan
sebelumnya.
prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapi
prokrastinator
sering
harus segera diselesaikan dan berguna bagi
deadline yang telah ditentukan, baik oleh
dirinya, akan tetapi dia menunda-nunda
orang lain maupun rencana-rencana yang
untuk menyelesaikan dan berguna bagi
telah
dirinya, akan tetapi dia menunda-nunda
mungkin telah merencanakan untuk mulai
untuk menyelesaikan sampai tuntas jika
mengerjakan tugas pada waktu yang telah dia
sudah mulai mengerjakan sebelumnya.
tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya
b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas.
Orang
yang
melakukan
dia
tentukan
Seorang
tidak
memenuhi
sendiri.
Seseorang
tiba dia tidak juga melakukan sesuai dengan
prokrastinasi
apa yang telah direncanakan sehingga
memerlukan waktu yang lebih lama dalam
menyebabkan
mengerjakan suatu tugas daripada waktu
kegagalan untuk menyelesaikan tugas .
yang dibutuhkan pada orang lain umumnya.
d. Melakukan
keterlambatan
aktivitas
lain
maupun
yang
lebih
Seorang prokrastinator menghabiskan waktu
menyenangkan daripada melakukan tugas
yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri
yang harus dikerjakan. Seorang prokrastinasi
secara berlebihan, maupun melakukan hal-
dengan sengaja tidak segera melakukan
hal
dalam
tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu
tanpa
yang dia miliki untuk melakukan aktivitas
memperhitungkan keterbatasan waktu yang
lain yang dipandang lebih menyenangkan dan
dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara
mendatangkan hiburan, seperti membaca
berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang
(koran, majalah, atau buku cerita lainnya),
tidak dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu
nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan musik
tugas tanpa memperhitungkan keterbatasan
dan sebagainya, sehingga menyita waktu
waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang
yang dia miliki untuk mengerjakan tugas
kegiatan tersebut mengakibatkan seseorang
yang harus diselesaikannya.
yang
menyelesaikan
tidak
dibutuhkan
suatu
tugas,
tidak berhaasil menyelesaikan tugasnya
Ciri prokrastinasi tersebut akan digunakan
secara memadai. Keterlambatan, dalam arti
untuk susunan skala prokrastinasi akademik.
58
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Gaya Pengambilan Keputusan
dapat berlaku bagi semua orang. Setiap orang
1) Pengertian Gaya Pengambilan Keputusan
belajar mengandalkan suatu cara terbaik yang
Sweeney dan Mc Farlin (2002) mendefinisikan
berlaku
atas
dirinya
sesuai
pengalamannya.
pengambilan keputusan sebagai proses dalam
Berdasarkan
mengevaluasi satu atau lebih pilihan dengan tujuan
pengambilan keputusan ini, maka diketahui bahwa
untuk meraih hasil terbaik yang diharapkan.
gaya pengambilan keputusan ini bersifat individual,
Sedangkan
(2003)
yaitu terkait dengan kondisi masing-masing
mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai
individu. Hal ini jelas ikut menentukan gaya
suatu proses mengidentifikasi dan memilih solusi
pengambilan keputusan yang dimiliki seseorang.
Kinicky
dan
Kreiner
yang mengarah pada hasil yang diinginkan.
batasan-batasan
Harren,
dkk.
tentang
(1978)
gaya
membedakan
Pengambilan keputusan memiliki tujuan dan
pengambilan keputusan ke dalam dua (2) gaya
makna yang berbeda-beda terhadap keputusan yang
pengambilan keputusan yang berseberangan yaitu
diambil.
gaya rasional dan intuitif Penggolongan dua gaya
Ada
orang
memilih
berdasarkan
pertimbangan ekonomi, ada yang dikarenakan
ini di dasarkan atas:
pertimbangan kekerabatan, kedekatan, pertim-
a. Tingkat individu dalam menggunakan strategi
bangan rasional, ikut orang lain dan lain
pengambilan keputusan yang bersifat logis
sebagainya. Hal tersebut tergantung kebutuhan
berlawanan dengan strategi pengambilan
masing-masing individu. Ketika manusia menyada-
keputusan yang bersifat emosional.
ri dirinya membutuhkan uang maka tujuan yang
b. Cara individu dalam mengolah dan menang-
akan digapai adalah mendapatkan uang, dan tujuan
gapi informasi serta melakukan evaluasi
ini
dalam situasi pengambilan keputusan.
mengarahkan
tingkah
lakunya.
Gaya
pengambilan keputusan dipahami sebagai cara
2) Jenis Gaya Pengambilan Keputusan
respon yang dipelajari atau dibiasakan dimana
Menurut Rowe dan Boulgardes (1992) cara
melaluinya individu melakukan pendekatan dan
orang mengambil keputusan dapat digambarkan
melakukan pengambilan keputusan (Bruce & Scott,
melalui gaya pengambilan keputusannya. Ada
1999). Batasan yang lain menyatakan bahwa gaya
beberapa faktor yang menentukan yaitu :
pengambilan keputusan adalah cara-cara unik yang
a. Cara seseorang menerima dan memahami
dilakukan seseorang di dalam membuat keputusan-
tanda isyarat-isyarat tertentu
keputusan penting dalam hidupnya (Harren, 1980).
b. Suatu yang penting menurut penilaian
Dalam penjelasan berikutnya, Harren (1980) juga
menyatakan
bahwa
tanpa
seseorang
memperhatikan
c. Faktor
keputusan-keputusan yang dibuatnya, tiap-tiap
konteks
atau
situasional
saat
pengambilan keputusan dilakukan
orang mempunyai cara unik untuk mengambil
Bagaimana
keputusan. Tidak ada satupun cara terbaik yang
ia
menginterpretasi
atau
memahami, bagaimana merespons, dan apa yang
59
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
dipercaya oleh seseorang sebagai sesuatu yang
Dicirikan sebagai pengambil keputusan yang
penting mengartikan bahwa gaya pengambilan
terbaik
keputusan merefleksikan cara seseorang bereaksi
kemampuannya dalam beradaptasi, sehingga
terhadap situasi yang dihadapinya.
tidak cepat dalam mengambil keputusan.
Terdapat dua dimensi yang berbeda di dalam
c.
gaya pengambilan keputusan, yaitu orientasi nilai
dan
toleransi
terhadap
ambiguitas.
dalam
kehati-hatiannya
dan
Conceptual
Individu
Tipe
hal
cenderung
dengan
luas
gaya
konseptual,
pan-dangannya
dalam
pengambilankeputusan yang fokusnya pada tugas
mempertimbangkan berbagai alternatif. Fokus
dan masalah teknis atau fokus terhadap orang lain
mereka adalah jangka panjang, dan mereka
dan masalah sosial adalah pengambil keputusan
sangat baik dalam menemukan kreativitas
yang
terhadap
pemecahan masalah. Disamping itu, tingkat
dimana
kompleksitas kognitif dan orientasi..→ orientasi
seseorang memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap
pada manusia tinggi. Ada kepercayaan dan
struktur atau kendali dalam hidupnya . Dua dimensi
kebutuhan dalam hubungan dengan bawahan.
ini ketika dikombinasikan akan menghasilkan 4
Cenderung idealis, menekankan pada etika dan
gaya pengambilan keputusan yaitu directive,
nilai. Kreatif, cepat memahami hubungan yang
analitis, konseptuaal dan behavioral.
kompleks. Fokusnya pada jangka panjang
berorientasi
ambiguitas
a.
nilai.
Toleransi
mengindikasikan
tingkat
Directive
dengan komitment organisasi yang tinggi.
Individu dengan gaya direktif, toleransinya
Berorientasi ke masa depan pada prestasi dan
rendah
terhadap
ambiguitas,
ia
mencari
penghargaan, pengakuan, dan kemandirian.
rasionalitas. Efisien dan logis. Keputusan dibuat
Lebih sebagai “pemikir” daripada pelaksana.
dengan informasi yang minimal, dengan menilai
d.
Behavioral
beberapa alternatif. Membuat keputusan yang
Individu dengan gaya behavioral, memiliki
cepat dan fokus pada jangka pendek Cenderung
tingkat kompeksitas kognitif yang rendah,
fokus pada hal-hal yang bersifat teknis, lebih
namun
menyukai hal-hal yang terstruktur, seringkali
mendalam
agresif, serta cenderung mendominasi orang
perkembangan orang lain. Peduli dengan
lain.
prestasi rekan-rekan dan bawahan, menerima
b.
mereka
memiliki
terhadap
perhatian
organisasi
yang
dan
Analytical
saran dari orang lain, serta mengandalkan
Individu dengan gaya analitis, toleransinya
pertemuan-pertemuan
(meeting)
lebih besar terhadap ambiguitas. Fokus terhadap
berkomunikasi.
keputusan yang bersifat teknis. Berkeinginan
kompromi.
mencari
menghindari konflik untuk mencari penerimaan,
informasi
lebih
lanjut
dan
mempertimbangkan lebih banyak alternatif.
Fokus
pada
keinginan
jangka
namun kadangkala merasa tidak aman.
60
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Memiliki
untuk
untuk
pendek,
Tabel 1 . Gaya apengambilan Keputusan
Analitis
1Menyukai
pemecahan
masalah
2Menginginkan jawaban
terbaik
3Menginginkan kontrol
4Menggunakan berbagai
data
5Menyukai keragaman
6Inovatif
7Melakukan
analisis
secara hati-hati
8Mengnginkan tantangan
(N-Ach)
Directive
1Mengharapkan hasil
2Agresif
3Bertindak cepat
4Menggunakan aturan
5Menggunakan intuisi
6Memiliki kemampuan
verbal
7Kebutuhan
akan
kekuasaan
mengambil keputusan. Namun dalam penelitian
Konseptual
1Orientasi
terhadap
prestasi
2Berwawasan luas
3Kreatif
4Humanistik/ artistik
5Memberikan ide-ide
baru
6Berorientasi
masa
depan
7Independen
8Menginginkan
pengakuan
empiris yang dilakukan setelah penemuan tersebut,
Harren
kembali
menunjukan
bahwa
gaya
pengambilan keputusan dependen ini bersifat
independen atau terpisah dari gaya pengambilan
keputusan rasional dan intuitif (Sarwono, 2009)
Mengingat akan hal ini, maka dalam penelitian
ini akan digunakan dua dimensi gaya pengambilan
keputusan yang telah dikemukakan oleh Harren,
Behavioral
1Bersikap suportif
2Menggunakan persuasi
3Empati
4Mudah berkomunikasi
5Menyukai pertemuan
6Menggunakan
data
yang terbatas
7Kebutuhan
akan
afiliasi
dkk. (1978), yaitu gaya pengambilan keputusan
rasional dan intuitif (Bruce & Scott, 1999).
Berdasarkan
mengambil
uraian
kesimpulan
tersebut,
bahwa
penulis
dalam
hal
melakukan pengambilan keputusan, individu dapat
digolongkan kepada salah satu gaya pengambilan
Harren, dkk. (1978) membedakan pengambi-
keputusan. Setiap cara atau gaya pengambilan
lan keputusan ke dalam dua (2) gaya pengambilan
keputusan merupakan cara yang terbaik bagi
keputusan yang berseberangan yaitu gaya rasional
masing-masing
dan intuitif Penggolongan dua gaya ini di dasarkan
memperlihatkan eksistensi gaya pengambilan
atas:
keputusan sebagai keunikan individual. Berikut ini
individu.
Hal
ini
sekaligus
akan dipaparkan secara ringkas mengenai masing-
a. Tingkat individu dalam menggunakan strategi
pengambilan keputusan yang bersifat logis
masing.
berlawanan dengan strategi pengambilan
Persepsi dan Nilai Pengambilan Keputusan
a. Persepsi
keputusan yang bersifat emosional.
Persepsi
b. Cara individu dalam mengolah dan menang-
merupakan
unsur
penting,
sebagai “gerbang awal” masuknya informasi
gapi informasi serta melakukan evaluasi
dari lingkungan. Berangkat dari stimulus,
dalam situasi pengambilan keputusan.
individu
Pada penelitian selanjutnya Harren, dkk.
pengambil
keputusan
akan
mengguna-kan frame of reference-nya dalam
(1978) menemukan bahwa ada dimensi ketiga yang
bereaksi terhadap informasi yang diterimanya,
muncul dalam gaya pengambilan keputusan, yaitu
di mana hal ini merupakan fungsi dari
gaya pengambilan keputusan dependen, yaitu
pengalaman dan kompleksitas kognitif.
individu yang menghindari tugas pengambilan
Persepsi
keputusan dan menyerahkan pada orang lain untuk
mempengaruhi
yang
“bias,”
interpre-tasi
tentu
dan
akan
reaksi
61
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
individu terhadap situasi. Pada akhirnya akan
pernyataan dalam kuesioner bersifat favourable
membedakan antara individu yang satu dengan
dan unfavourable. Dalam memberikan penilaian
individu lainnya dalam mengambil keputusan.
terhadap jawaban- jawaban yang ada, untuk setiap
b. Nilai Pengambilan Keputusan
Unsur penting yang tidak
pernyataan favourable bernilai dari 4 sampai 1.
kalah
Pilihan sangat setuju diberi nilai 4, pilihan setuju
pentingnya dalam memahami pengambilan
diberi nilai 3, pilihan tidak setuju diberi nilai 2,
keputusan adalah nilai (values). Nilai sebagai
faktor
kunci
dalam
menentukan
pilihan sangat tidak setuju diberi nilai 1. Sebaliknya
gaya
untuk pertanyaan unfavourable nilainya bergerak
pengambilan keputusan. Nilai dapat dimaknai
dari 4 sampai 1. Pilihan sangat setuju diberi nilai 1,
sebagai pedoman normatif pada diri seseorang
yang
mempengaruhinya
dalam
pilihan setuju diberi nilai 2, pilihan tidak setuju
memilih
diberi nilai 3, pilihan sangat tidak setuju diberi nilai
sejumlah alternatif untuk bertindak. Nilai dapat
4.
dilihat sebagai penyediaan kerangka perseptual
Tempat
yang stabil dalam mempengaruhi perilaku
penelitian
akan
dilakukan
di
Universitas Wisnuwardhana Malang dengan lama
seseorang, karena dibangun dan berkembang
penelitian 10 bulan dimulai bulan April 2016 dan
melalui pengalaman.
menurut jadwal berakhir pada bulan Desember
Singkatnya, nilai dapat dilihat sebagai
2016.
refleksi dari keyakinan yang mengarahkan
Penelitian ini populasi yang hendak diteliti
tindakan, pertimbangan, dan pengambilan
adalah mahasiswa semester II UNIDHA Malang
keputusan sebagai akhir dari proses yang
yang berjumlah 120 orang, yang terdiri dari 2 kelas
terjadi dalam individu.
angkatan 2013/2014. Sampel dalam penelitian ini
Bila persepsi berperan dalam mengartikan
diambil dengan menggunakan teknik
informasi sesuai realitas subjektif, maka
sampling,
nilailah yang menggerak-kan (melalui motif)
yaitu
proses
stratified
pemilihan
sampel
sedemikian rupa sehingga semua sub kelompok
perilaku (gaya) tertentu dalam mencapai
pada populasi diwakili pada sampel dengan
tujuan.
perbandingan sesuai dengan jumlah yang ada
dalam populasi (Sumanto, 1995). ).jumlah sampel
II. METODE
dalam penelitian ini adalah 56 mahasiswa.masing-
Pengumpulan data dalam penelitian ini untuk
variabel
Prokrastinasi
prokrastinasi,
variabel
menggunakan
gaya
masing kelas diambil 28 orang.
skala
Instrumen yang digunakan dalam penelitian
pengambilan
ini adalah dengan menggunakan skala prokrastinasi
keputusan menggunakan skala gaya pengambilan
dan
keputusan dengan menggunakan skala Likert
dengan
empat
alternative
jawaban.
gaya
Pengumpulan
Aitem
variabel
62
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
skala
pengambilan
keputusan.
data dalam penelitian ini untuk
Prokrastinasi
dan
variabel
gaya
pengambilan keputusan
Prokrastinasi
dan
menggunakan skala
skala
gaya
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh
pengambilan
yang
sangat
signifikan
pengambilan
gaya
keputusan dengan menggunakan skala Likert
keputusan dengan prokrastinasi akademik pada
dengan
Aitem
mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Malang .
pernyataan dalam kuesioner bersifat favourable
Hal ini dapat diketahui dari tabel koefisien beta dan
dan unfavourable. Dalam memberikan penilaian
korelasi parsial model penuh pada seri program
terhadap jawaban- jawaban yang ada, untuk setiap
statistik (SPS-2000) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni
pernyataan favourable bernilai dari 4 sampai 1.
Pamardiningsih, diperoleh nilai r = 0,840 dengan p
Pilihan sangat setuju diberi nilai 4, pilihan setuju
sebesar
diberi nilai 3, pilihan tidak setuju diberi nilai 2,
disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada
pilihan sangat tidak setuju diberi nilai 1. Sebaliknya
pengaruh
untuk pertanyaan unfavourable nilainya bergerak
pengambilan
dari 4 sampai 1. Pilihan sangat setuju diberi nilai 1,
akademik artinya gaya pengambilan keputusan,
pilihan setuju diberi nilai 2, pilihan tidak setuju
mempengaruhi prokrastinasi akademik sehingga
diberi nilai 3, pilihan sangat tidak setuju diberi nilai
hipotesa yang menyatakan adanya pengaruh antara
4. Khusus untuk skala gaya pengambilan keputusan
gaya pengambilan keputusan dengan prokrastinasi
adaptasi dari skala prokrastinasi Sri Wiworo RIH
akademik
(2013)
Wisnuwardhana Malang diterima pada taraf
empat
alternative
jawaban.
Alat analisis data yang digunakan dalam
0,000
taraf
sangat
signifikansi
signifikan
keputusan
pada
dengan
mahasiswa
1%
antara
maka
gaya
prokrastinasi
Universitas
kepercayaan 99 %.
penelitian ini adalah teknik korelasi momen
Pada penelitian ini juga diperoleh nilai R² =
tangkar lebih dikenal dengan nama Korelasi
0,705 artinya variabel gaya pengambilan keputusan
Product Moment dari Pearson. Statistik ini
memberikan sumbangan efektif sebesar 70,5 % terhadap
disediakan untuk menguji korelasi antara dua
variabel Prokrastinasi akademik, sedangkan sisanya
29,5% disebabkan faktor lain.
variabel sinambung (interval atau rasio) dengan
asumsi bahwa korelasi itu bersifat linier. Program
Pembahasan
ini memerlukan hanya dua masukan utama, yaitu
Hasil penelitian menunjukkan ada Pengaruh
nomor-nomor rekaman dari variabel-variabel yang
yang sangat signifikan antara gaya pengambilan
akan dicari korelasinya. Jika variabel yang satu
keputusan dengan prokrastinasi akademik pada
disebut variabel bebas X dan satunya variabel
mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Malang .
terikat Y, masukan yang diperlukan adalah nomor
Gaya pengambilan keputusan sangat diperlukan
rekaman variabel Y.
untuk meminimalisir perilaku menunda, dengan
adanya gaya pengambilan keputusan seorang
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
mahasiswa akan segera memutuskan suatu pilihan
Hasil
63
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
untuk meraih hasil yang diharapkan, jadi bila ada
sebagaimana pendapat Burka dan Yuen (1983)
situasi atau kesempatan yang dapat menunda
bahwa penundaan dapat semakin meningkatkan
penyelesaian tugas akademik akan diabaikan
stres, dan stres dapat meningkatkan penundaan.
karena sudah memutuskan untuk mencapai hasil
Siklus ini sulit untuk istirahat, dan dapat
yang terbaik. Hal ini didukung oleh GaySweeney
menyebabkan
dan Mc Farlin (2002) mendefinisikan pengambilan
kemampuan untuk bekerja efektif. Mengakibatkan
keputusan sebagai proses dalam mengevaluasi satu
perasaan gugup dan tertekan. Sebaliknya, belajar
atau lebih pilihan dengan tujuan untuk meraih hasil
mengelola stres lebih efektif dapat membantu
terbaik yang diharapkan. Demikian pula Kinicky
membuat
kemajuan
dan Kreiner (2003) mendefinisikan pengambilan
dikatakan
dengan
keputusan sebagai suatu proses mengidentifikasi
meminimalisir prokrastinasi, karena seseorang
dan memilih solusi yang mengarah pada hasil yang
yang
diinginkan. Seorang mahasiswa pasti mengingin-
melakukan prokrastinasi, hal ini juga pernah diteliti
kan
oleh peneliti dalam penelitian terdahulu degan
hasil
yang
terbaik
dalam
studinya,
kerusakan
(Yusita,
tubuh
2009).
mengelola
menginginkan
kemajuan
Stres
bisa
akan
pada masalah akademik merupakan salah satu
Prokrastinasi pada Mahasiswa” (Sri Wiworo,2013)
atau
diri,
tidak
Dapat
judul
harapan
Konsep
stres
dan
prokrastinasi atau perilaku menunda khususnya
penghambat
“Hubungan
pada
dan
keinginan
Konsep diri menjadi sebuah gaya kepribadian
tersebut.Adanya gaya pengambilan keputusan
yang penting untuk ditelaah lebih jauh dalam
membuat mahasiswa segera mengambil suatu
penelitian dibidang ini karena seseorang cenderung
keputusan agar keinginan atau harapannya untuk
bertindak sejalan dengan konsep diri yang ia miliki,
menyelesaikan tugas dan menyelesaikan studi tepat
sementara
waktu tercapai.
mempengaruhi
Pada penelitian ini juga diperoleh nilai R² =
0,705 artinya
variabel
hasil
dari
konsep
tindakannya
diri
awal
juga
orang itu
(Shavelson dkk., dalam Marsh & Hattie, 1996).
gaya pengambilan
Dalam
konteks
prokrastinasi
akademik,
keputusan memberikan sumbangan efektif sebesar
kecenderungan penundaan tugas yang dilakukan
70,5 % terhadap variabel Prokrastinasi akademik,
seorang pelajar bisa dilihat dari kepercayaan,
sedangkan sisanya 29,5% disebabkan faktor lain.
persepsi, atau perasaan tertentu yang dimiliki
Faktor lain tersebut bisa Stres, konsep diri, motivasi
pelajar itu mengenai dirinya sendiri dalam ranah
belajar dan lain-lain. Stres bisa mempengaruhi
akademik.(Andreas, 2007).
prokrastinasi akademik, Stres pada mahasiswa bisa
terjadi
karena beban
tugas
DAFTAR RUJUKAN
terlalu banyak,
Albert Ellis, William Knaus. (2004). Overcoming
Procrastination, New American Library, New
York, America.
permasalahan dengan teman maupun teman dekat
bisa memicu stres. Seorang yang mengalami stres
cenderung melakukan prokrastinasi akademik,
64
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Azwar, Saifuddin. (2003). Sikap Manusia dan
Teori Pengukurannya. Pustaka
Belajar,
Yogyakarta.
______________ .(2003). Reliabilitas
Validitas. Pustaka Belajar, Yogyakarta.
Makin, P.E dan Lindley,P.A. (1994). Mengatasi
Stres Secara Positif. PT. Gramedia Pustaka
Utama Jakarta.
dan
Mierrina.(2005). Pengaruh Pelatihan Sholat
terhadap Prokrastinasi dan Stres kerja. Tesis.
Choulun, F. & Acocella, Joan Ross. (1990).
Psikologi
tentang
Penyesuaian
dan
Hubungan Kemanusiaan (Edisi ketiga), IKIP
Semarang Press. Semarang.
Mappiare,A. (1992). Psikologi Remaja. Rajawali
Press. Jakarta
Nur Lailatul Maghfiroh. (2008). Hubungan antara
Distress dengan Prokrastinasi Akademik pada
Mahasiswa yang sedang Menyusun
Hadi, Sutrisno. (2000). Manual Seri Program
Statistik (SPS) Paket Midi.
Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.
_________. (2003). Komunikasi Intrapersonal dan
Interpersonal. Kanisius
Yogyakarta.
Hidayat, A. (2004). Kebiasaan Menunda Belajar
dan Prestasi Belajar Siswa. Tesis Universitas
Negeri Malang.
Hidayati, Nur. (2005). Menghitung Angka
Pengangguran Dan Harapan Yang Raib
http://www.Kompas,
co.id/kompas
cetak/0502/12Fokus/1552012.htm.
Hurlock, Elizabeth, B. Psikologi Perkembangan.
(Terjemahan, Istiwidyanti dan Jakarta. Kaifa.
Bandung.
http://tulisanterkini.com/artikel/artikelilmiah/9098-pengertian-gaya-pengambilankeputusan.html
Joseph Ferrari, (1995). Self Handicapping by
Procrastinator : Protecting Self-Esteem,
Social Esteem, or Both?, Journal Research in
Personality, Vol.25. No.2, Hal.245-261,
http://www.sciencedirect.com. Diakses 09
November 2011 | 02.30 PM.
Lazarus, R.S. (1996). Psychological Stres and
Coping Process. Mc. Graw Hill. New York.
Lewis, A, Barbara. (2004). Character Building,
Karisma Publising Group, Batam
65
Psikovidya Vol. 21 No. 1 April 2017
Download