SIFAT ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK DAUN

advertisement
SIFAT ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI
(Ocimum basilicum L.) DAN DAUN TESPONG
(Onanthe javanica D.C.)
SHINTA DWI SETIANI
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Sifat Antibakteri Dari
Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Dan Daun Tespong (Onanthe
javanica D.C.) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2014
Shinta Dwi Setiani
NIM G44070063
ABSTRAK
SHINTA DWI SETIANI. Sifat AntibakteriDari Ekstrak Daun Kemangi
(Ocimum basilicum L.) Dan Daun Tespong (Onanthe javanica D.C.). Dibimbing
oleh DYAH ISWANTINI P dan SRI BUDIARTI.
Pengujian antimikrob pada daun kemangi dan daun tespong dilakukan
untuk mengetahui potensi antibakteri pada tanaman sebagai acuan dalam
pemanfaatan tanaman herbal. Tanaman herbal digunakan sebagai bahan baku obat
tradisional maupun modern. Pengujian antibakteri pada penelitian ini
menggunakan metode Kirby-Bauer. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak daun
kemangi, ekstrak daun tespong, antibiotik ampisilin, dan kloramfenikol tidak
dapat menghambat pertumbuhan dari bakteri E.coli dan B.cereus. Hal ini
disebabkan karena bakteri yang digunakan resisten terhadap antibiotik sintesis dan
alami.
kata kunci: daun kemangi, daun tespong, antimikrob, resistensi antibiotik
ABSTRACT
SHINTA DWI SETIANI. Characterization of ExtractsOcimum basilicum L And
Onanthe javanica D.C. As Antibacterial Substance. Superviced by DYAH
ISWANTINI P dan SRI BUDIARTI.
Antimicrobial test in the Ocimum basilicumL and Onanthe javanica D.C.
done to find out teh potential of antibacterial at the plant as a herbs plant
utilization. Herb plants used as raw material for traditional medicine and modern.
Antibacterial test was carried using Kirby-Bauer method.Based on the results of
the study, extracts of Ocimum basilicum L , Onanthe javanica D.C, ampicillin and
chloramphenicol can’t inhibit the growth of E.coli and B.cereus. This is caused
due to bacteris that are resistant to the antibiotics used in the synthesis and
natural.
Keywords:Ocimum basilicumL, Onanthe javanica D.C, antimicrobial, antibiotic
resistant
SIFAT ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI
( Ocimum basilicum L.) DAN DAUN TESPONG
(Onanthe javanica D.C.)
SHINTA DWI SETIANI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains
pada
Departemen Kimia
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi : Sifat Antibakteri Dari Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum
L.) Dan Daun Tespong (Onanthe javanica D.C.)
Nama
: Shinta Dwi Setiani
NIM
: G44070063
Disetujui oleh
Prof. Dr. Dyah Iswantini P, M.sc, Agr
Pembimbing I
Diketahui oleh
Prof. Dr. Purwatiningsih, MS
Ketua Departemen
Tanggal Lulus:
Dr.dr.Sri Budiarti
Pembimbing II
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Sifat
Antibakteri Dari Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Dan Daun
Tespong (Onanthe javanica D.C.). Salawat serta salam semoga tercurah kapada
nabi besar Muhammad SAW. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat
kelulusan Program Sarjana di Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Dyah Iswantini P,
M.Sc.Agr selaku pembimbing pertama dan Ibu Dr.dr. Sri Budiarti selaku
pembimbing kedua, yang telah memberikan arahan, bimbingan, waktu, motivasi,
dan doa selama penelitian dan penyusunan skripsi. Terima kasih juga kepada staf
dan laboran di laboratorium Kimia Fisik dan Laboratorium Mikrobilogi FMIPA
IPB.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan kakakkakak saya (Dyane Rismawanty, S.Pd dan Ruslan Heri Nugraha) yang selalu
memberikan semangat, doa, dukungan moril maupun materi. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada Nuridin Zainal Adhiyana yang telah
memberikan motivasi, doa, dan semangat pada penulis. Serta rekan-rekan
seperjuangan Kimia Angkatan 44 dan adik-adik Angkatan 45 yang telah
memberikan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Bogor, Januari 2014
Shinta Dwi Setiani
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vi
PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
1
Perumusan Masalah
1
Tujuan Penelitian
2
Manfaat Penelitian
2
METODE
2
Bahan
2
Alat
2
Prosedur
2
HASIL DAN PEMBAHASAN
SIMPULAN DAN SARAN
5
11
Simpulan
11
Saran
11
DAFTAR PUSTAKA
11
LAMPIRAN
14
RIWAYAT HIDUP
22
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
Hasil uji fitokimia ekstrak kasar daun kemangi dan daun tespong
Hasil Perhitungan Jumlah Sel E.coli ATCC 8739
Hasil Perhitungan Jumlah Sel B.cereus ATCC 10876
Hasil uji aktivitas ekstrak tunggal daun kemangi dan daun tespong pada
berbagai konsentrasi terhadap bakteri E.coli ATCC 8739
5 Hasil uji aktivitas ekstrak tunggal daun kemangi dan daun tespong pada
berbagai konsentrasi terhadap bakteri B.cereus ATCC 10876
6 Hasil Uji Kadar Air Daun Kemangi
7 Hasil Uji Kadar Abu Daun Kemangi
7
7
8
9
10
15
16
DAFTAR GAMBAR
1 Kurva Standar Pertumbuhan Bakteri E.coli ATCC 8739
2 Kurva Standar Pertumbuhan BakteriB.cereus ATCC 10876
3 Hasil uji aktivitas ekstrak daun tespong pada bakteri B.cereus ATCC
10876
4 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun kemangi terhadap bakteri
E.coli ATCC 8739 dan B.cereus ATCC 10876
5 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun tespong terhadap bakteri
E.coli ATCC 8739 dan B.cereus ATCC 10876
8
9
9
17
17
DAFTAR LAMPIRAN
1
2
3
4
Bagan alir lingkup kerja penelitian
Contoh perhitungan kadar air daun kemangi
Contoh perhitungan kadar abu daun kemangi
Contoh hasil uji antimikrob ekstrak daun kemangi terhadap bakteri
E.coli ATCC 8739dan B.cereus ATCC 10876
5 Contoh hasil uji antimikrob ekstrak daun tespong terhadap bakteri
E.coli ATCC 8739dan B.cereus ATCC 10876
13
14
15
17
17
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekargaman hayati yang
berlimpah. Pemanfaatan keanekaragaman hayati ini telah banyak dikembangkan
dalam berbagai bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Salah satu bidang
teknologi yang sedang dikembangkan yaitu pemanfaatan tanaman herbal sebagai
sediaan obat. Tanaman herbal atau tanaman obat yaitu tanaman yang berupa daun,
batang, buah, dan akarnya yang memiliki khasiat sebagai obat dan digunakan
sebagai bahan mentah dalam pembuatan obat modern maupun obat-obat
tradisional. Pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan baku, terutama obat
tradisional mencapai seribu jenis, dimana 74% diantaranya merupakan tumbuhan
liar yang hidup di hutan (Amzu&Haryanto 1990). Jagtap et al (2010),dalam
penelitiannya menggunakan ekstrak kasar dari akar, daun, dan batang beberapa
tanaman. Hasil menunjukan bahwa zat antimikrob terdapat dalam semua bagian
tanaman, antimikrob terbesar dihasilkan pada tanaman Diospyros melanoxylon
yang mampu menghambat bakteri E.coli dengan diameter hambat 39 mm.
Kandungan kimia dan formulasi di dalam tanamanlah yang mempengaruhi
kegunaannya sebagai bahan baku obat.
Kemangi dan tespong merupakan dua jenis tanaman herbal yang dapat
tumbuh di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat antibakteri
pada kedua jenis tanaman tersebut. Zat antibakteri merupakan senyawa baik alami
maupun sintetik mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses
biokimia dalam organisme khususnya dalam proses infeksi bakteri (Tenover
2006). Berdasarkan hasil penelitian Anand et al (2011), daun kemangi dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Stapylococus aereus ATCC29213,
MRSA15187, VRE (Clinical Isolate), Escherchia coli ATCC29212. Hasil
penelitian Rostinawati pada tahun 2010, daun tespong dapat menghambat
aktivitas bakteri Escherchia coli dengan diameter hambat 8 mm pada konsentrasi
0,2 g/ml. Berdasarkan informasi di atas, pada penelitian ini akan dilakukan
pengujian antibakteri pada masing-masing ekstrak.
Penelitian yang dilakukan menggunakan bakteri uji Escherchia coli dan
Bacillus cereus. Escherchia coli merupakan bakteri gram negatif yang dapat hidup
di dalam usus manusia dan penyebab penyakit diare. Penelitian Prabhu et al
(2010), E.coli dapat dihambat aktivitasnya oleh ekstrak nanopartikel perak pada
daun Ocimum sanctum. Bacillus cereus merupakan bakteri patogen yang
menyebabkan keracunan makanan dengan gejala muntah dan diare. Bakteri ini
dapat tumbuh pada usus kecil manusia dan hewan. Penelitian Meilisa (2009)
menggunakan bakteri Bacillus cereus sebagai bakteri gram positif dalam uji
antibakteri rimpang temulawak. Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan dalam teknologi nano herbal sebagai zat antibakteri.
Perumusan Masalah
Pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia digunakan
sebagai bahan dasar pembuatan obat. Kemangi dan tespong merupakan dua jenis
tanaman yang diminati masyarakat Indonesia sebagai makanan tambahan seperti
2
lalapan. Kurangnya pengetahuan akan manfaat tanaman ini menjadi acuan dalam
penelitian ini. Zat Antimikrob diharapkan terdapat dalam dua jenis tanaman
tersebut. Tanaman kemangi dan tespong berasal dari desa Cihanjuang Cimahi.
Tanaman ini akan di ekstraksi menggunakan metode maserasi sehingga dihasilkan
ekstrak kasarnya. Ekstrak kasar kemudian di uji antibakterinya.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat antibakteri pada daun
kemangi (Ocimum basilicum L.) dan daun tespong (Onanthe javanica D.C.).
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberi informasi ilmiah tentang sifat
antibakteri dari dua ekstrak tanaman.
METODE
Bahan
Bahan yang digunakan adalah daun kemangi dan daun tespong dari kebun di
daerah Kampung Babakan, Desa Cihanjuang,-Cimahi, bakteri standar Bacillus
cereus ATCC10876, bakteri standar Escherchia coli ATCC8739, etanol 30%,
media TSA (Tryptic Soy Agar), media TSB (Tryptic Soy Broth), serbuk NaCl,
pereaksi Dragendrof, pereaksi Meyer, pereaksi Wagner, kloroform, NH4OH,
H2SO4 2M, serbuk Mg, HCl 3M, Amil Alkohol, FeCl 3 1%, Eter, CH3COOH
anhidrat, Etil asetat, Metanol, n-heksana, Butanol,dan AgNO3.
Alat
Alat-alat yang digunakan adalah peralatan gelas, peralatan pemanas,
timbangan analitik, cawan petri, cawan porselen, kertas saring Whatman No. 1,
water bath, shaker,vortex, hot plate, oven, autoklaf, spektofotometer, pelat tetes,
dan petri dish.
Prosedur
Penelitian ini dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan yaitu persiapan
sampel, analisis kadar air dan kadar abu, ekstraksi sampel, uji fitokimia,
pembuatan media uji, persiapan bakteri standar, penentuan jumlah bakteri
menggunakan metode cawan tuang dan turbidimetri, dan uji antibakteri.
3
Persiapan sampel
Sampel basah daun kemangi dan daun tespong masing-masing diambil 1
kg.Sampel dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2 s.d 3 hari.Kemudian
simplisia kasar digiling dan ditimbang.
Analisis Kadar Air (AOAC 2007)
Cawan porselen dikeringkan pada suhu 105⁰C selama 15 menit lalu
didinginkan dalam deksikator selama 15 menit dan ditimbang (A).Sebanyak 2
gram sampel(baik serbuk daun kemangi maupundaun tespong) dimasukkan ke
dalam cawan yangtelah dikeringkan (B) dan dipanaskan pada suhu 105⁰C selama
5 jam, kemudian didinginkan dalam deksikator selama 15 menit dan ditimbang
sampai diperoleh bobot konstan (C). Penetapan kadar air dilakukanberdasarkan
penentuan jumlah bobot kering contoh. Penentuan kadar air dilakukan sebanyak 3
kali ulangan (triplo).
Kadar air (%) = B-Cx 100%
B-A
Keterangan:
A = Bobot cawan kosong (gram)
B = Bobot cawan + sampel sebelum dikeringkan (gram)
C = Bobot cawan + sampel setelah dikeringkan (gram)
Kadar Abu (AOAC 2007)
Cawan porselen dikeringkan terlebih dahulu di dalam oven selama 30
menit kemudian cawan didinginkan dalam deksikator selama 15 menit dan
ditimbang. Sebanyak 2 gram sampel (baik serbuk daun kemangi maupun daun
tespong) dimasukkan ke dalam cawan dan dipanaskan dengan nyala api bunsen
sampai tidak berasap selama ± 10 menit dan dilanjutkan dengan pengabuan di
dalam tanur pada suhu 600 ⁰C sampai pengabuan sempurna. Sampel yang telah
diabukan didinginkan dalam deksikator dan ditimbang. Kadar abu dihitung
dengan persamaan
Kadar abu (%) = C-A x 100%
B-A
Keterangan:
A = bobot cawan kosong (gram)
B = bobot cawan + sampel (terkoreksi kadar air) (gram)
C = bobot cawan + abu (gram)
Pembuatan Ekstrak Daun Kemangi dan Daun Tespong
Simplisia masing-masing ditimbang sebanyak 50 gram, kemudian
dimaserasi menggunakan pelarut etanol 30% dengan perbandingan antara
simplisia dan pelarut 1:10 pada suhu kamar selama 2 x 24 jam. Maserat yang
didapat disaring. Perendaman simplisia dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Filtrat
yang diperloleh kemudian diliofilisasi. Rendemen tiap ekstrak dihitung, kemudian
di analisis fitokimia dan aktivitas antimikrobnya.
4
Analisis Kualitatif Fitokimia (Harborne 1987)
Uji Flavonoid. Sebanyak 0.1 g ekstrak ditambahkan 10 ml air panas dan
dididihkan selama 5 menit.Setelah itu, disaring dan filtratnya digunakan untuk
pengujian. Filtrat dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu ditambahkan 0.5 g
serbuk Mg, 1 mL HCl, dan 1 mL amil alkohol, kemudian dikocok kuat. Uji positif
flavonoid menghasilkan warna kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol.
Uji Alkoloid. Sebanyak 0.1 g ekstrak dilarutkan dalam 10 mL CHCl 3 dan
4 tetes NH4OH. Larutan disaring dan filtratnya dimasukkan ke dalam tabung
reaksi tertutup. Ekstrak CHCl3 dalam tabung reaksi dikocok dengan 10 tetes
H2SO4 2 M dan lapisan asamnya dipisahkan kedalam tabung reaksi lainnya.
Lapisan asam ini diteteskan pada plat tetes dan ditambahkan pereaksi Mayer,
Wagner, Dragendrof yang akan membentuk endapan berturut-turut berwarna
putih, coklat, dan merah jingga jika terdapat alkaloid.
Uji Saponin. Sebanyak 0.1 g ekstrak ditambahkan 10 mL air panas dan
dididihkan selama 5 menit.Setelah itu disaring dan filtratnya digunakan untuk
pengujian. Filtrat dimasukkan kedalam tabung reaksi tertutup kemudian dikocok
selama 10 menit. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya buis yang
stabil.
Uji Triterpenoid dan steroid.Sebanyak 0.1 g ekstrak dilarutkan dengan
25 ml etanol panas (50⁰C). Larutan disaring dalam pinggan porselin dan diuapkan
sampai kering. Residu ditambahkan eter dipindahkan kedalam plat tetes.
Sebanyak 3 tetes CH3COOH anhidrat dan 1 tetes H2SO4 (Uji LiebermannBuchrad). Warna merah atau ungu menunjukkan triterpenoid, sedangkan warna
hijau atau biru menunjukkan kandungan steroid.
Uji Tanin. Sebanyak 0.1 g ekstrak ditambahkan 10 mL air panas,
dididihkan selama 5 menit,dan disaring. Sebagian filtra yang diperoleh
ditambahkan larutan FeCl3 1%.Hasil positif ditunjukkan oleh warna hijau
kehitaman.
Pembuatan Media Uji
Media Tryptic Soy Broth (TSB). Sebanyak 30 g TSB dilarutkan dalam 1
L air suling. Kemudian direbus sampai cairan menjadi bening.Setelah itu
disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121 ⁰C, 1 atm selama 15 menit.Larutan
dituangkan kedalam petri dish.
Media Tryptic Soy Agar (TSA). Sebanyak 40 g TSA dilarutkan dalam 1 L
air suling. Kemudian direbus sampai cairan menjadi bening.Setelah itu disterilkan
di dalam autoklaf pada suhu 121 ⁰C, 1 atm selama 15 menit. Larutan dituangkan
kedalam petri dish.
Persiapan Bakteri Standar
Bakteri standar E.coli ATCC8739 dan Bacillus cereus ATCC10876
ditanam pada media cair TSB kemudian diinkubasi pada suhu 35 ⁰C selama 24
jam. Kemudian kekeruhan suspensi bakteri diukur menggunakan spektrofotometer
pada panjang gelombang 620nm. Suspensi yang dihasilkan dihitung sebagai
larutan 107. Suspensi kemudian diencerkan mencapai 106, dan bakteri standar siap
digunakan.
5
Perhitungan Mikrob
Hitungan Cawan. Siapakan delapan buah botol berisi akudes steril 9 ml
(diberikan label pada masing-masing botol (A= 10-1; B= 10-2; C= 10-3 dan
seterusnya).Kemudian diambil bakteri standar dipipet sebanyak 0,1 ml kedalam
tabung A dikocok. Setelah itu, dari tabung A di pipet 0,1 ml kedalam tabung B
dan seterusnya. Pada pengenceran 10-5 dipipet 0,1 ml kedalam cawan yang telah
berisi media agar. Penuangan ke dalam cawan dilakukan hingga pengenceran 10 -7
. Setelah itu cawan yang telah berisikan bakteri di inkubasi selama 18-24 jam pada
suhu 35⁰C.
Perhitungan Massa Sel (Metode Turbidimetri). Siapakan enam tabung
reaksi. Satu tabung dibiarkan kosong (diberikan label A= 1:1) dan lima tabung di
isi media TSB sebanyak 3 ml (diberikan label pada masing-masing botol (B=1:2;
C= 1:4; D= 1:8; E= 1;16; F= blanko). Kemudian bakteri standar di pipet sebanyak
3 ml kedalam tabung B dan di kocok menggunakan vorteks. Setelah itu dari
tabung B di pipet sebanyak 3 ml dimasukkan kedalam tabung C dan seterusnya
sampai pengenceran 1:16). Kemudian kekeruhan bakteri di ukur menggunakan
spektrofotometri dengan panjang gelombang 620nm
Uji Antibakteri (Kirby-Bauer)
Uji Ekstrak Tunggal Dengan Antibiotik Kloramfenikol. Suspensi
bakteri uji dipipet sebanyak 0,1 mL pada permukaan media TSA padat. Sebagai
kontrol positif digunakan kertas cakram berisi antibiotik kloramfenikol 0,03
mg/ml dan 0,10 mg/ml. Ekstrak, kontrol positif serta kontrol negatif dipipet
sebanyak 100 µL, diteteskan di atas kertas cakram pada permukaan media yang
telah mengandung bakteri uji. Ekstrak diuji menggunakan bakteri gram negatif
Escherchia coli ATCC8739 dan bakteri gram positif Bacillus cereus pada suhu
35⁰C diinkubasi selama 18-24 jam.Aktivitas antimikrob diekspresikan dengan
zona bening sebagai daerah hambat pada bakteri.
Uji Ekstrak Tunggal Dengan Antibiotik Ampisilin. Suspensi bakteri uji
dipipet sebanyak 0,1 mL pada permukaan media TSA padat. Sebagai kontrol
positif digunakan kertas cakram berisi antibiotik ampisilin 0,10 mg/ml. Ekstrak,
kontrol positif serta kontrol negatif dipipet sebanyak 100 µL, diteteskan di atas
kertas cakram pada permukaan media yang telah mengandung bakteri uji. Ekstrak
diuji menggunakan bakteri gram negatif Escherchia coli8739 dan bakteri gram
positif Bacillus cereus ATCC10876 pada suhu 35⁰C diinkubasi selama 18-24 jam.
Aktivitas antibakteri diekspresikan dengan zona bening sebagai daerah hambat
pada bakteri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kadar Air dan Abu
Penentuan kadar air dilakukan berguna untuk mengetahui mutu dan daya
simpan bahan sehingga terhindar dari pengaruh aktivitas jamur atau mikrob yang
tumbuh pada daerah yang lembap atau pada bahan yang memiliki kadar air tinggi.
Kadar air juga digunakan untuk mengoreksi bobot suatu sampel. Berdasarkan
6
hasil penelitian, rerata kadar air pada daun kemangi sebesar 19,46% dan kadar air
pada daun tespong sebesar 12,91%. Menurut Winarno (1997), bila kadar air yang
terkandung dalam suatu bahan kurang dari 10%, maka kestabilan optimum akan
tercapai dan pertumbuhan mikroba dapat dikurangi. Berdasarkan literatur di atas,
daun kemangi dan daun tespong kurang baik apabila dilakukan penyimpanan
dalam waktu lama.
Penentuan kadar abu bertujuan menentukan kandungan mineral sisa hasil
pembakaran bahan organik. Mineral sebagai senyawaan anorganik akan tertinggal
dalam bentuk abu yang dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, kadar abu pada daun kemangi dan daun tespong
berturut-turut sebesar 13,78% dan 12,10%.Besarnya presentasi kadar abu dalam
suatu sampel dipengaruhi oleh banyaknya kandungan mineral dalam sampel
tersebut. Data hasil perhitungan kadar air dan kadar abu dapat dilihat pada
Lampiran 2 dan 3.
Ekstraksi
Ekstraksi merupakan salah satu cara pemisahan satu atau lebih komponen
dari suatu bahan atau jaringan tanaman. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu
metode maserasi. Metode maserasi adalah pemisahan zat aktif yang dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam pelarut yang sesuai selama
beberapa hari pada suhu kamar. Kelebihan metode ini yaitu sederhana, efektif,
dan aman.Metode maserasi biasanya digunakan untuk mengekstrak senyawa yang
kurang tahan panas dan digunakan untuk sampel yang belum diketahui
karakteristiknya.Rendemen ekstrak merupakan perbandingan antara berat ekstrak
dengan berat contoh dikalikan seratus persen. Besarnya rendemen ekstrak
dipengaruhi oleh kehalusan bahan, jenis pelarut dan lama ekstraksi (Bagem 2006).
Berdasarkan penelitian Amalia F (2012), rendemen ekstrak kasar terbesar
dihasilkan dari perendaman simplisia dengan pelarut etanol 30%. Oleh karena itu,
penelitian ini menggunakan pelarut etanol 30% dalam tiap simplisia. Sebanyak 50
gram simplisia yang di maserasi dihasilkan rendemen ekstrak daun kemangi
sebesar 12,93% dan rendemen ekstrak daun tespong sebesar 17,93%.
Analisis kualitatif Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit
sekunder yang terdapat dalam tanaman.Kandungan senyawa fitokimia yang
terdapat pada tanaman akan berpengaruh pada manfaat tanaman tersebut. Menurut
Harborne (1987) metode uji fitokimia didasarkan pada perubahan warna dan
terbentuknya endapan sebagai respon atas pereaksi tertentu. Kandungan fitokimia
ekstrak kasar daun kemangi dan daun tespong dapat dilihat pada Tabel 1.
7
Tabel 1Hasil uji fitokimia ekstrak kasar daun kemangi dan daun tespong
Komponen
Kemangi
Tespong
Flavonoid
+
+
Alkaloid
Saponin
Tanin/fenol
+
+
Steroid
Triterpenoid
Keterangan: (+) : terdeteksi; (-) : tidak terdeteksi
Berdasarkan uji analisis kualitatif fitokimia dari kedua jenis ekstrak positif
memiliki senyawa tanin dan flavonoid yang telah diketahui mempunyai khasiat
sebagai zat antibakteri. Keberadaan tanin dalam ekstrak dapat menyebabkan
terganggunya sintesis peptidoglikan sehingga pembentukan dinding sel bakteri
menjadi tidak sempurna. Selain itu, tanin dapat menyebabkan terjadinya
denaturasi protein apabila pada pH mendekati isoelektrik terjadi ikatan hidrogen
antara tanin dengan protein. Protein akan terendapkan, enzim menjadi inaktif,
metabolisme terganggu yang menyebabkan kerusakan pada sel bakteri. Tanin dan
flavonoid bekerja sama untuk menyerang gugus polar di dalam membran sel
bakteri yang menyebabkan fospolipid akan terurai menjadi gliserol, asam
karboksilat, dan asam fosfat. Hal ini mengakibatkan fospolipid tidak mampu
mempertahankan bentuk membran sel, akibatnya membran sel mengalami
kebocoran dan bakteri akan mengalami kematian (Gilman et al 1991).
Kurva standar pertumbuhan bakteri
Bakteri standar yang akan digunakan terlebih dahulu dihitung jumlah
koloni menggunakan metode hitung cawan. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah
koloni pada bakteri E.coli ATCC 8739 yaitu 4,90 x 107dan bakteri B.cereus
ATCC 10876 yaitu 3,20 x 107. Jumlah koloni bakteri E.coli ATCC8739 pada
media Triptic Soy Broth (TSB) lebih banyak tumbuh bila dibandingkan dengan
bakteri E.cereus ATCC10876. Hasil pengukuran nilai absorbansi dan perhitungan
jumlah koloni bakteri dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3.
Tabel 2 Hasil Perhitungan Jumlah Sel Bakteri E.coli ATCC8739
Absorbansi
No Pengenceran Absorbansi terkoreksi
jumlah sel/ml (107)
1
P1/1
0.846
0,836
4,90
2
P1/2
0.513
0,505
2,45
3
P1/4
0.278
0,270
1,23
4
P1/8
0.148
0,140
0,62
5
P1/16
0.078
0,070
0,31
log jumlah sel
7,690
7,389
7,090
6,792
6,491
8
Tabel 3 Hasil Perhitungan Jumlah Sel Bakteri B.cereus ATCC10876
Absorbansi
No Pengenceran Absorbansi terkoreksi
jumlah sel/ml (107) Log jumlah sel
1
P1/1
0.502
0,487
3,20
7,505
2
P1/2
0.276
0,261
1,60
7,204
3
P1/4
0.154
0,139
0,80
6,903
4
P1/8
0.084
0,069
0,40
6,602
5
P1/16
0.044
0,029
0,20
6,301
Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat dibuat kurva standar yang
menunjukkan hubungan antara jumlah sel bakteri dengan nilai absorbansi. Nilai
regresi dari kurva pertumbuhan bakteri E.coli ATCC8739 dan B.cereus
ATCC10876 yaitu 0,988 dan 0,997 hampir mendekati 1 (linier). Kurva standar
menghasilkan garis lurus yang dapat digunakan untuk perhitungan jumlah sel
bakteri pada setiap usia pertumbuhannya. Persamaan garis lurus kurva standar
bakteri E.coli 8739 yaitu y = 0,166x +0,048 dan persamaan garis lurus kurva
standar bakteri B.cereus ATCC 10876 yaitu y = 0,151x + 0,009, dengan y adalah
absorbansi dan x adalah jumlah sel. Tujuan dari pembuatan kurva standar yaitu
untuk mengetahui jumlah sel berdasarkan nilai absorbansi suatu bakteri.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa semankin tinggi nilai absorbansi
pada bakteri maka semakin banyak jumlah sel yang tumbuh.
0,6
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
y = 0,1511x + 0,0097
R² = 0,9976
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
Jumlah sel (x 10^7)
Gambar 1 Kurva Standar Pertumbuhan Bakteri E. Coli ATCC8739
9
1
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
0,9
y = 0,166x + 0,0484
R² = 0,9885
0,8
0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0
1
2
3
4
Jumlah sel (x 10^7)
5
6
Gambar 2 Kurva Standar Pertumbuhan Bakteri B.cereus ATCC10876
Pengujian aktivitas antibakteri
Pengujian antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode KirbyBauer. Metode ini merupakan salah satu metode difusi agar dalam uji antimikrob.
Prinsip kerja metode ini yaitu pengukuran sensitifitas antibiotik dengan metode
paper disk yang berisi agen antimikroba pada media yang telah ditanami bakteri
dan akan berdifusi kedalam media agar. Hasil dari uji dapat diamati dengan
adanya zona bening disekitar antibiotik. Metode ini paling efektif digunakan
dalam metode uji antimikrob karena hasil uji dapat diketahui dengan cepat. Selain
itu kelebihan dari metode ini yaitu lebih sederhana dan murah.
Gambar 3 Hasil uji aktivitas ekstrak daun tespong pada bakteri Bacillus cereus
ATCC10876
Tabel 4 Hasil uji aktivitas ekstrak tunggal daun kemangi dan daun tespong pada
berbagai konsentrasi terhadap bakteri E.coli ATCC8739
Diameter Daerah Hambat (mm)
Nama
0,03 0,1 6,25 12,5
25
50
100 200 250 1000
Ekstrak
mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
Kemangi
0
0
0
0
0
0
0
0
Tespong
0
0
0
0
0
0
0
0
Kloramfeni
0
0
kol
Ampicilin
0
10
Tabel 5 Hasil uji aktivitas ekstrak tunggal daun kemangi dan daun tespong pada
berbagai konsentrasi terhadap bakteri B.cereus ATCC10876
Diameter Daerah Hambat (mm)
Nama
0,03
0,1 6,25 12,5
25
50
100
200 250 1000
Ekstrak
mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ mg/ml mg/ mg/ mg/
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
ml
Kemangi
0
0
0
0
0
0
0
0
Tespong
0
0
0
0
0
0
0
0
Kloramfe
0
0
nikol
Ampicilin
0
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tidak adanya zona bening
yang dihasilkan dari kedua ekstrak dan antibiotik yang digunakan. Hal ini
dikarenakan kedua jenis bakteri resisten terhadap antibiotik alami dan sintesis.
Resistensi bakteri adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk
menahan efek antibiotik. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mampu
mengeluarkan gen resisten sehingga dapat mengurangi efektifitas dari suatu
ekstrak dan bahan kimia yang memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri.
Bakteri di dalam hidupnya mampu berevolusi untuk mempertahankan diri dari hal
yang dapat menggangu kelangsungan hidupnya. Bakteri yang resisten akan
tumbuh dan bereproduksi meski adanya antibiotik.
Penggunaan antibiotik kloramfenikol dan ampicilin tidak mampu
menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan B.cereus. Kloramfenikol diketahui
sebagai antibiotik yang memiliki spektrum yang luas dalam menghambat
pertumbuhan bakteri gram negatif dan gram positif. Menurut Nogrady et al
(2011), bakteri S. thypimurium dari animal tidak dapat dihambat pertumbuhannya
oleh antibiotik kloramfenikol. Hal ini terjadi karena adanya plasmid yang
menghasilkan enzim Chloramphenicol Acetyltransferase (CAT) yang mampu
mengaktivasi kloramfenikol (Balbi 2004). Adanya enzim CAT menyebabkan
hilangnya kemampuan kloramfenikol sebagai antibiotik. Berdasarkan penelitian
Sri B (2011), bakteri E.coli resisten terhadap antibiotik ampicilin dan
kloramfenikol dengan presentasi berturut-turut 73,75% dan 51,25%. Hal ini
terjadi karena terhadap antibiotik karena adanya perubahan struktur genetik pada
bakteri. Menurut Katzung (1982), resistensi E.coli terhadap ampicilin dapat
disebabkan oleh kemampuan bakteri menghasilkan enzim b-lactamase yang
disandi olen gen dalam plasmid faktor R.
Resistensi bakteri terhadap antimikrob dipengaruhi oleh adanya gen resisten
pada transposon, plasmid, dan kromosom bakteri. Transposon merupakan bagian
DNA yang dapat berpindah-pindah antar plasmid, antar plasmid dan kromosom.
Penyebab adanya gen resisten pada trosposon karena transposon berada dalam
satu plasmid yang sama, hal ini mengakibatkan terjadinya transfer gen resisten
multiple dalam satu konjugasi. Perpindahan gen resisten melalui transposon akan
mengakibatkan terjadi penyebaran gen resisten antibakteri yang lebih cepat dalam
populasi bakteri. Plasmid merupakan bagian dalam sel bakteri yang dalam
perkembangannya dapat dipengaruhi ataupun tidak oleh kromoson bakteri.
11
Resistensi plasmid terjadi apabila plasmid tidak dipengaruhi oleh kromosom
mampu mengendalikan gen resisten pada antibakteri yang disebut dengan plasmid
faktor R. Di dalam plasmid faktor R bakteri mampu menghasilkan enzim yang
dapat mengaktivasi antibiotik. Resistensi kromosom terjadi karena adanya mutasi
susunan asam nukleat dalam kromosom bakteri. Mutasi tersebut mengakibatkan
terjadinya sintesis protein atau makromolekul lain yang berbeda sehingga
menggangu aktivitas antimikroba terhadap sel inang. Beberapa penelitian
melaporkan bahwa gen resistensi antimikrob yang terdapat dalam plasmid lebih
mudah berpindah daripada yang terdapat dalam kromosom, karena plasmid dapat
dipindahkan antar sel baik sel bakteri baik maupun yang berbeda spesiesnya
(Courvalin 1994; Davies 1997). Berbeda dengan mekanisme resistensi terhadap
ampicilin, permeabilitas membran yang menyebabkan mutasi membran terluar
yang disandi secara kromosal lebih stabil dibandingkan dengan gen yang disandi
oleh plasmid (Katzung 1982).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan penelitian, pada kedua jenis ekstrak diketahui tidak adanya
sifat antibakteri. Hal ini terlihat dari tidak adanya zona bening yang dihasilkan.
Selain oleh ekstrak kasar dari daun kemangi dan daun tespong, bakteri yang
digunakan tidak dapat dihambat pertumbuhannya oleh antibiotik kloramfenikol
dan ampisilin. Kekebalan bakteri terhadap ekstrak dan antibiotik disebabkan
adanya gen resisten pada bakteri.
Saran
Perlu dilakukan uji antibakteri ekstrak daun Kemangi dan daun Tespong
terhadap bakteri selain E.coli dan B. cereus. Pemilihan antibiotik terhadap bakteri
dilakukan sebagai perlakuan awal untuk mengetahui keresistensian bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia F. 2012. Formulasi Ekstrak Kulit Buah Delima dan Duan Dewandaru
Sebagai Sediaan Antibakteri Dan Penggunaan Zeolit Untuk Menjaga
Stabilitas Formula [tesis]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
Amzu, Haryanto. 1990. Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Indonesia. Bogor:
Seminar Nasional Pelestarian Pemanfaatan Tanaman Obat.
Anand, Mohan M, Zafar S, Sharma A. 2011. Essential Oil Composistion And
Antimicrobial Activity of Three Ocimum Spesies From Uttarakhand (India).
Int J Pharm Sci (3): 223-225.
[AOAC] Association of Official Analytical and Chemistry. 2007. Official Method
of Analysis 18th.Marylan: Association of Official Analytical and Chemistry
Inc.
12
Bagem BS, Ma’mun, Edi IG. 2006. Pengaruh Kehalusan Bahan dan Lama
Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb).
Bul. Litro. Vol. XVII No. 2.53-58.
Budiarti Sri. 2011. Antibiotic Resistance Escherichia coli isolated from Faecal
Healthy Human. J.Int. Environmetal Application&Science (6): 359-364.
Courvalin P. 1994. Transfer of Antibiotic Resistance Genes Between Grampositive and Gram-negative Bacteria. Antimicrob. Agents Chemof 37: 855869.
Davies JE. 1997. Origins, Acquasition,and Dissemination of Antibiotics
Resistance Determinants. Ciba Found. Symp. 207: 15-35.
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Ed ke-2. Kosasih P, Iwang S, penerjemah; Bandung: ITB.
Terjemahan dari: Phytochemical Methods.
Hermani& Nurdjanah. 2009. Aspek Pengeringan dalam Mempertahankan
Kandungan Metabolit Sekunder pada Tanaman Obat. Perkembangan
Teknologi TRO 21(2): 33-39.
Jagtap, Deokule S, Pawar PK, Kuvalekar AA, Halsulkar AM. 2010.Antimicrobial
Activity of Some Crude Herbal Drugs Used for Skin Diseases by Pawra
Tribes of Nandurbar District. . Indian Journal of Natural Product and
Resources(2): 216-220.
Katzung BG. 1982. Basic and Clinical Pharmacology. California: Lange Medical
Publications
Kusumaningrum GS, Suranto, Setyaningsih Ratna. 2003. Aktivitas Penghambatan
Minyak Atsiri dan Ekstrak Kasar Biji Pala (Myristica fragrans Houtt dan
Myristica fattua Houtt) terhadap Pertumbuhan Bakteri Xanthomonas
campestris Oammel asal Tanaman Brokoli (Brassica oleracea var. Italica).
Biofarmasi 1: 20-24.
Kusumaningsih A. 2007. Profil Dan Gen Resistensi Antimikrob Salmonella
Eteritidis Asal Ayam, Telur, Dan Manusia [disertasi]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Meilisa. 2009. Aktivitas Antibakteri dan Formulasi dalam Sediaan Kapsul dari
Ekstrak
Etanol
Rimpang
Tumbuhan
Temulawak
(Curcumin
xanthorriza.Roxb) terhadap beberapa bakteri [skripsi]. Medan: Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Nogrady N, Gado I, Fekete PZ, Paszti J. 2011. Chloramphenicol resistance genes
in Salmonella enterica subsp. Serovar Thphimurium isolated from human
and animal sources in Hungary. Vet. Med- Czech 4: 164-170.
Pelczar MJ& ESC Chan.1979. Dasar-dasar Mikrobiologi. Hoediotomo RS dkk,
penerjemah; Jakarta: Universitas Indonesia. Terjemahan dari: Elements of
microbiology.
Prabhu N, Raj DT, Gowri Y, Siddiqua A, Innocent DP. 2010. Synthesis of Silver
Phyto Nanoparticels and Their Antibacterial Efficacy. Digest Journal Of
Nanomaterial Biostructure 5: 185-189.
Rostinawati T. 2010. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Tespong (Oenanthe
javanica D.C) terhadap Escherchia coli, Stapylococcus Aereus, dan Candida
albicans. Jatinangor: Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Tenover FC. 2006. Mechanism of Antimicrobial Resistance in Bacteria. The
American Journal of Medicine. 119:S3-S10.
13
Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
14
Lampiran 1 Bagan alir lingkup kerja penelitian
Preparasi sampel
Ekstraksi
Uji Fitokimia
Uji antibakteri
1.Penentuan Kadar Air
2.Penentuan Kadar Abu
15
Lampiran 2 Contoh Perhitungan kadar air daun kemangi
Tabel 6 Hasil uji kadar air daun kemangi
Ulangan
Bobot sampel (g)
Bobot setelah
pengeringan (g)
1
2,0177
1,6282
2
2,0148
1,6224
3
2,0198
1,6241
Rerata
Kadar Air (%)
19,30
19,48
19,59
19,46
Ulangan 1:
Kadar air (%)=
Bobot sampel−bobot setelah pengeringan
Bobot sampel
2,0177−1,6282
=
x 100%
2,0177
= 19,30%
Rerata kadar air (%)=
19,30+19,48+19,59
= 19,46%
3
x 100%
16
Lampiran 3 Contoh perhitungan kadar abu daun kemangi
Tabel 7 Hasil uji kadar abu daun kemangi
Ulangan
Bobot sampel Bobot sampel
(g)
terkoreksi
kadar air (g)
1
2,0034
1,6167
2
2,0048
1,6143
3
2,0012
1,6092
Rerata
Bobot Abu
(g)
Kadar Abu
(%)
0,2184
0,2258
0,2229
13,51
13,99
13,85
13,78
Ulangan 1:
Kadar Abu (%)=
=
Bobot Abu
x 100%
Bobot sampel terkoreksi
2,0034
x 100%
1,6167
= 13,51%
Rerata kadar abu (%) =
13,51+13,99+13,85
= 13,78%
3
17
Lampiran 4 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun kemangi terhadap bakteri
E.coli ATCC8739 dan B.cereus ATCC10876
(a)
(b)
Gambar 4 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun kemangi terhadap bakteri
E.coli ATCC8739 dan B.cereus ATCC10876. (a) uji antimikrob pada
bakteri E.coli ATCC 8739; (b) uji antibakteri pada bakteri B.cereus
ATCC10876
Lampiran 5 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun tespong terhadap bakteri
E.coli ATCC8739 dan B.cereus ATCC10876
(a)
(b)
Gambar 5 Contoh hasil uji antibakteri ekstrak daun tespong terhadap bakteri
E.coli ATCC8739 dan B.cereus ATCC10876. (a) uji antimikrob
pada bakteri E.coli ATCC8739; (b) uji antibakteri pada bakteri
B.cereus ATCC10876
18
19
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 19 Juni 1989 sebagai putri
kedua dari Bapak Sopandi dan Ibu N. Komariah. Penulis lulus dari Sekolah
Menengah Atas Negeri 6 Cimahi pada tahun 2007. Penulis dinyatakan lulus
seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Seleksi Masuk
IPB(USMI).
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam bidang akademik dan non
akademik. Di bidang akademik, penulis melakukan Praktik Lapangan di Pusat
Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, Bandung dengan judul laporan
“Pengaruh Penambahan Senyawa EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid) dan
DTPA (diethylenetriaminepentaacetic acid) terhadap Pelepasan Logam Cesium134 pada Tanah Andosol” pada tahun 2010. Di bidang non akademik, penulis juga
pernah menjabat sebagai pengurus himpunan profesi Ikatan Mahasiswa Kimia
(IMASIKA) sebagai Staf Profesional Pengembangan Sumber Daya Manusia
periode 2008/2009 dan sebagai Bendahara Umum IMASIKA periode 2009/2010.
Download