140 BAB V KESIMPULAN • Kolonialisme dan imperialisme bangsa

advertisement
BAB V
KESIMPULAN
•
Kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa merupakan satu masa yang
tidak dapat dihilangkan dari sejarah bangsa Indonesia, bahkan sejumlah
bangsa di beberapa belahan dunia. Nusantara adalah salah satu wilayah
yang tidak luput dari kolonialisme bangsa Eropa, kemudian lebih dikenal
dengan sebutan Hindia Belanda oleh bangsa kolonial. Pembentukan tanah
koloni di wilayah Hindia Belanda membutuhkan banyak sumber daya
manusia, baik sebagai tenaga kerja profesional maupun sebagai tentara
kolonial. Sumber daya manusia tersebut di didatangkan dari Eropa, maka
sejak itu banyak bangsa Eropa yang bermigrasi ke wilayah Hindia
Belanda.
•
Kedatangan pegawai-pegawai Eropa ke Hindia Belanda sejak awal abad
ke-17 tidak dapat terlepas dari masalah-masalah sosial. Pegawai-pegawai
Eropa yang bermigrasi ke Hindia Belanda kebanyakan merupakan lakilaki lajang yang mencoba peruntungan nasib di tanah koloni. Mereka
datang ke Hindia Belanda tanpa disertai keluarga, selain Karen perjalanan
ke Hindia Belanda yang sangat jauh hingga membutuhkan waktu
berbulan-bulan, kehidupan di Hindia Belanda masih sangat berat.
Kehidupan di Hindia Belanda masih jauh dari modern, fasilitas yang ada
belum dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Eropa yang mewah.
Pegawai-pegawai Eropa tersebut hanya bertujuan mengumpulkan harta
140
141
sebanyak-banyaknya, setelah itu mereka akan pulang ke negeri asal tanpa
berniat untuk menetap di negeri koloni.
•
Kesendirian pegawai-pegawai Eropa yang tanpa ditemani keluarga
maupun isteri di Hindia Belanda memunculkan masalah baru di dalam
masyarakat, yaitu praktik pergundikan. Laki-laki Eropa akan mengambil
seorang perempuan pribumi untuk menemani dan melayaninya dalam hal
kebutuhan rumah tangga. Perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh
laki-laki Eropa biasa disebut dengan ‘nyai’. Pengambilan nyai dilakukan
karena sedikitnya jumlah perempuan Eropa didatangkan ke Hindia
Belanda. Seorang nyai akan berfungsi sebagai pembantu rumah tangga
hingga pemuas kebutuhan seksual tuan Eropanya.
•
Seorang nyai dapat disuruh pergi kapan pun sang laki-laki Eropa
menginginkannya, hal ini dikarenakan di dalam praktik pergundikan tidak
terdapat ikatan pernikahan yang sah. Pengusiran ini dapat dilakukan
meskipun hubungan pergundikan telah menghasilkan seorang anak.
Hubungan yang demikian memposisikan nyai dalam ketidakpastian,
hingga terkadang seorang nyai akan berusaha melakukan hal-hal yang
sekiranya membuat tuan Eropanya selalu menginginkannya.
•
Fenomena kehadiran seorang nyai di tengah-tengah masyarakat Eropa ini
bukan berarti tidak menjadi kekhawatiran tersendiri. Tumbuh kuatnya
praktik pergundikan di Hindia Belanda bukan dikarenakan dukungan oleh
pemerintah maupun masyarakat. Justru karena beberapa kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintahan pada waktu itu yang mempengaruhi
142
pesatnya pertumbuhan pergundikan hungga berabad-abad lamanya.
Peraturan-peraturan atau kebijakan-kebijakan dari pemerintah Hindia
Belanda mengenai pergundikan sering berubah-ubah dan tidak konsisten.
Ada masanya praktik pergundikan benar-benar ditentang dengan keras,
namun dengan alasan menguntungkan pihak kolonial, pergundikan tidak
dilarang bahkan dianjurkan. Kebijakan tersebut antara lain kebijakan oleh
Jan Pieterszoon Coen, salah satu gubernur jenderal VOC. Coen sangat
menentang adanya praktik pergundikan di Hindia Belanda karena
dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas. Coen berambisi untuk
membangun koloni kulit putih di tanah jajahan, tanpa adanya percampuran
dengan pribumi. Terdapat beberapa peraturan kolonial mengenai
perkawinan campuran, yaitu Staatsblad 1898 No. 158 Besluit Kerajaan 29
Desember 1896 No. 23, S 1898/158.
•
Praktik pergundikan banyak terjadi dalam beberapa tempat yang memang
pada saat itu menjadi pusat-pusat pemerintahan atau perekonomian
pemerintah Hindia Belanda. Setiap tempat mempunyai karakteristik yang
berbeda, baik itu dalam pengambilan seorang nyai atau perlakuan terhadap
nyai. Perlakuan terhadap nyai ini akan berpengaruh terhadap peranan nyai
itu sendiri. Tempat-tempat tersebut antara lain dalam dunia masyarakat
sipil, di perkebunan-perkebunan swasta, serta di dalam tangsi-tangsi
militer yang menjadi basis keamanan dan pertahan pemerintah kolonial
Belanda.
143
•
Kebiasaan di antara orang-orang Eropa untuk tidak memanggil nyai yang
hidup
bersama
menggunakan
mereka
nama
dengan
kelompok.
nama
Hak
depannya,
tersebut
namun
dapat
cukup
menjelaskan
bagaimana hubungan di antara tuan Eropa dengan sang nyai. Di tengah
mayarakat sipil, para nyai sering dipanggil Mina. Di dalam tangsi-tangsi
militer, mereka disebut Sarina, sedangkan di perkebunan seorang nyai
dipanggil dengan sebutan Kartina. Kebanyakan anak yang lahir dari
hubungan pergundikan baru mengetahui nama asli ibu mereka ketika
sudah dewasa dan membaca akta pengakuan mereka. Sebelumnya mereka
hanya mendengar sebutan kelompok yang digunakan oleh ayah mereka.
•
Orang Eropa dikenal sebagai kelas sosial tertinggi yang sennatiasa
menjaga eksklusivitas dengan membatasi hubungan dengan kelas sosial
yang lebih rendah dalam tatanan masyarakat koloni. Pembatasan hubungan
dengan kelas sosial yang lebih rendah ternyata tidak dapat dipertahankan
oleh orang Eropa. Interaksi sosial antarkelas dalam kehidupan sehari-hari
sangat mustahil dihindari. Interaksi sosial yang terpaksa terjadi atau terjadi
secara alami dalam jangka waktu yang sangat lama akhirnya membentuk
kebiasan-kebiasaan atau budaya baru. Kebiasaan yang lahir dari dua
budaya yang berbeda, yaitu budaya Eropa dengan budaya pribumi. Secara
perlahan-perlahan budaya baru tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat
Eropa sendiri maupun pribumi.
•
Proses percampuran antara budaya pribumi dengan budaya Belanda yang
dilahirkan wujud atau budaya baru tersebut kemudian dinamakan
144
kebudayaan Indis. Kelestarian kebudayaan Indis pada hakikatnya tidak
dapat dilepaskan dari peran masyarakat pendukungnya yang mewujudkan
gaya hidup, meliputi seni bangunan, cara berpakaian, bahasa, dan
kebiasaan makan. Keberadaan budaya Indis adalah saling membutuhkan,
tergantung, dan menghidupi antar-keduanya.
•
Kebudayaan Indis muncul secara alami, laki-laki Eropa mengawini
perempuan-perempuan pribumi dan orang Eropa mengadopsi kebiasaan
orang pribumi, juga sebaliknya. Hubungan yang tidak dapat dihindari ini
akhirnya menuntut adanya perubahan dalam gaya hidup seperti bahasa,
cara berpakaian, cara makan, kelengkapan alat, perabot rumah tangga,
pekerjaan, kesenian, religi, dan penghargaan atas waktu.
•
Kehidupan bersama antara laki-laki Eropa dan perempuan pribumi telah
memunculkan
pengaruh
tersendiri
bagi
perkembangan
kehidupan
keduanya, terutama bagi para laki-laki yang kemudian lebih banyak
terkena pengaruh budaya si perempuan pribumi. Fenomena perkawinan
campuran
yang
telah
melahirkan
pembauran
kebudayaan
antara
kebudayaan pribumi dan Belanda, di samping membawa ide dan pranata
Barat ke Jawa, ketika itu orang-orang Belanda beradaptasi pula dengan
tradisi atau kebiasaan masyarakat pribumi. Sementara itu, kehidupan elite
pribumi pun ikut dipengaruhi budaya Indis. Akses hubungan dengan
orang-orang Belanda menjadi faktor masuknya pengaruh budaya Indis
dalam kehidupan para elite pribumi tersebut.
145
•
Para nyai biasanya dibiasakan oleh Tuan Eropanya untuk menjalani
kehidupan keseharian dalam suasana Eropa. Misalnya, mereka diajari
berbahasa asing, membaca buku-buku asing, hingga beretika hidup barat.
Proses pembaratan memang terjadi dalam kehidupan para nyai ini, nyainyai inilah perempuan-perempuan maju di zamannya. Seorang nyai akan
mendampingi tuan mereka dalam pergaulan, tidak seperti perempuanperempuan pribumi yang bersembunyi di balik dinding kamar atau dapur
untuk mencuri dengar pembicaraan kaum lelaki dengan tamu-tamu. Nyai
merupakan perempuan-perempuan pertama yang terpenetrasi oleh
kebudayaan baru yang dibawa tuan Eropanya. Peranan nyai sebagai
mediator budaya Jawa dan Eropa dapat dilihat dalam berbagai bidang
kehidupan, antara lain rijsttafel (kebiasaan makan), busana, bahasa, dan
gaya hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Arsip :
Staatsblad van Nederlandsch-Indië No. 158 Tahun 1898
Buku :
Ankersmith. 1984. Refleksi tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Arief Budiman. 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan
Sosilogi Tentang Peranan Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta:
Gramedia.
Baay, Reggie. 2010. Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jakarta:
Komunitas Bambu.
Bedjo Riyanto. 2000. Iklan dan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa
Masa Kolonial (1870-1915). Yogyakarta: Tarawang Press.
Blusse, Leonard. 2004. Persekutuan Aneh: Pemukiman Cina, Wanita Peranakan,
dan Belanda di Batavia VOC. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.
Boomgard, Peter. 2004. Anak Jajahan Belanda: Sejarah Sosial dan Ekonomi
Jawa 1795-1880. Jakarta: KITLV.
_________. 1989. Children of the Colonial State: Population Growth and
Economic Development in Java 1795-1880. Amsterdam: Free University
Press.
Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli, Politik Kolonial, Tuan Kebun dan
Kuli di Sumatera Timur Abad ke 20. Jakarta: Grafiti Press.
Brousson, Clockener. 2007. Batavia Awal Abad 20: Gedenschriften van Een Oud
Kolonial. Jakarta: Massup.
Burger, D.H. 1962. Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia Djilid 1. Jakarta:
Negara Pradnjaparamita.
Capt. R. P. Suyono. 2005. Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial:
Penelusuran Kepustakaan Sejarah. Jakarta: Grasindo.
Creutzberg dan van Laanen. 1987. Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta:
Yayasan Obor.
Djoko Soekiman. 2011. Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai
Revolusi. Jakarta: Komunitas Bambu.
146
147
Fadly Rahman. 2011. Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial
1870-1942. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gautama. 1973. Segi-Segi Hukum Peraturan Perkawinan Tjampuran (Staatsblad
1898 No 158). Bandung: Penerbit Alumni.
Gouda, Frances. 1995. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia
Belanda. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Hayu Adi Darmarastri. 2006. Nyai Batavia. Yogyakarta: Grafindo Litera Media.
Hellwig, Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Helius Sjamsuddin dan Ismaun. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta:
Depdikbud.
Hull, Terence H., Endang S. dan Gavin W. Jones. 1997. Pelacuran di Indonesia:
Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ingleson, John. 2013. Perkotaan, Masalah Sosial & Perburuhan di Jawa Masa
Kolonial. Jakarta: Komunitas Bambu.
Jurusan Pendidikan Sejarah. 2006. Pedoman Penulisan Tugas Akhir Skripsi.
Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri
Yogyakarta.
Kessel, Ineke Van. 2011. Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945. Jakarta:
Komunitas Bambu.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2009. Sejarah
Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Mukhlis PaEni. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Sistem Sosial, Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
Nugroho Notosusanto. 1971. Norma-Norma dan Penulisan Sejarah. Jakarta:
Departemen Pertahanan dan Keamanan.
_______. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer. Jakarta: Departemen
Pertahanan dan Keamanan.
Parakitri T. Simbolon. 2006. Menjadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Petrik Matanasi. 2007. KNIL: Koninklijk Nederlandsche Indische Leger Bom
Waktu Tinggalan Belanda. Yogyakarta: MedPress.
_______. 2011. Sejarah Militer: Munculnya Bibit-bibit Militer di Indonesia Masa
Hindia Belanda sampai Awal Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta:
Penerbit Narasi.
148
Pramoedya Ananta Toer. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.
Rahmat Ali. 2000. Nyai Dasima: Tragedi Wanita Asal Desa Kuripan. Jakarta:
Grasindo.
Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta.
Rush, James R. Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 13301985. Jakarta: Komunitas Bambu.
Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia:
Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
Sartono Kartodirdjo. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional
dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Scholten, Elsbeth Locher and Anke Niehof. 1987. Indonesian Women in Focus:
Past and Present Notions. U.S.A: Foris Publications.
Soerjono Soekanto. 1987. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo sampai
Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyono. R. P. 2004. Seks Kekerasan Pada Zaman Kolonial: Penelusuran
Kepustakaan Sejarah. Jakarta: Grasindo.
Gautama, S. 1973. Segi-segi Hukum Peraturan Perkawinan Tjampuran
(Staatsblad 1898 No 158). Bandung: Penerbit Alumni.
Paulus, B. P. 1979. Garis Besar Hukum Tata Negara Hindia Belanda. Bandung:
Penerbit Alumni.
Taylor, Jean Gelman. 1983. The Social World of Batavia: European and Eurasian
in Dutch Asia. England: The University of Wisconsin Press.
Thanh dan Dam Truong. 1992. Seks, Uang dan Kekuasaan: Pariwisata dan
Pelacuran di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES.
Volkstelling 1930. 1934 Deel II Inheemsche Bevolking Van West-Java en
Batavia: Census of 1930 In Netherlands India Volume I. Batavia:
Departement Van Economische Zaken.
_______. 1934. Deel II Inheensche Bevolking van Midden-Java En De
Vorstenlanden: Census of 1930 In Netherlands India Volume II Native
149
Population In Midden-Java And Natives States Of Java. Batavia:
Departement Van Economische Zaken.
_______. 1934. Dell III Inheemsche Bevolking Van Oost-Java: Census of 1930 In
Netherlands India Volume III Native Population In Eas-Java. Batavia:
Departement Van Economische Zaken.
Vreede, Cora dan De Stuers. 2008. Sejarah Perempuan Indonesia. Jakarta:
Komunitas Bambu.
Wieringa, Saskia E. 2010. Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di
Indonesia Pascakejatuhan PKI. Yogyakarta: Galangpress.
Wertheim, W. F. 1999. Masyarakat Indonesia Dalam Transisi: Studi Perubahan
Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Artikel dan Jurnal:
Hayu Adi Darmarastri. “Keberadaan Nyai di Batavia 1870-1928”. Lembaran
Sejarah Vol. 4 No. 2. 2002.
Linda Christanty. “Nyai dan Masyarakat Kolonial Hindia Belanda”. Prisma No.
10 Tahun XXIII Oktober 1994, hlm. 21-35.
Onghokham. “Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa
Kolonial”. Prisma No. 7 Tahun XX, Juli 1991, hlm. 15-23.
Siti Utami Dewi Ningrum. “Sarina dan Tentara Kolonial: Kekerasan terhadap
Nyai Tangsi pada Masa Kolonial Hindia Belanda di Jawa”. Histma
Vol.3/Desember 2013, hlm. 45-59.
Wieranta. “ Nyai Dasima dan Cerminan Posisi Wanita”. Basis Juni 1990 XXXIX
6, hlm. 258-263.
Tesis dan Skripsi:
Angger Tondo Asmoro. “Kesetiaan dan Resistensi: Pernyaian di Batavia, 18801900”. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM 2012.
Dwi Ratna Nurhajarini. “Perkembangan Gaya Pakaian Perempuan Jawa di Kota
Yogyakarta pada Awal Abad XX Sampai Akhir Masa Kolonial”.
Program Pasca Sarjana UGM 2003.
Lukitaningsih. “Buruh Perempuan di Perkebunan Karet Sumatra Timur 19001940”. Program Pasca Sarjana UGM 2003.
Mutiah Amini. “Kehidupan Perempuan Di Tengah Perubahan Kota Surabaya
Pada Awal Abad ke-20”. Tesis Pascasarjana UGM 2003.
150
Siti Utami Dewi Ningrum. “Perempuan-Perempuan Dalam Kehidupan Sosial
Tentara Kolonial di Jawa, 1830-1942”. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu
Budaya UGM 2013.
Internet:
Digital Image Library. Tersedia pada media-kitlv.nl/all-media, diakses pada
tanggal 21 Mei 2014, pukul 19.14 WIB.
Encyclopedia.
Politik
Etis.
Tersedia
www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2406/Politik-Etis,
pada tanggal 10 Mei 2014, pukul 14.35 WIB.
pada
diakses
Download