PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT

advertisement
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
OLEH MASYARAKAT KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT:
Studi Kasus di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan
Kecamatan Tambakdahan
MUTHIA SRI RAHAYU
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
RINGKASAN
MUTHIA SRI RAHAYU. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat
Kabupaten Subang, Jawa Barat: Studi Kasus di Kecamatan Jalancagak,
Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan. Dibimbing oleh
EDHI SANDRA dan AGUS HIKMAT.
Kabupaten Subang dibagi menjadi tiga zona berdasarkan topografinya, yaitu
daerah pegunungan dan dataran tinggi (Subang bagian selatan), daerah berbukit
dan dataran (Subang bagian tengah) dan daerah dataran rendah (Subang bagian
utara). Topografi yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan keanekaragaman
spesies tumbuhan yang tumbuh di dalamnya dan lebih lanjut menyebabkan
adanya perbedaan spesies tumbuhan yang dimanfaatkan untuk obat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat
Kabupaten Subang yang meliputi spesies tumbuhan obat, cara pemanfaatan
tumbuhan obat dan upaya pengembangan tumbuhan obat yang telah ada sebagai
langkah awal bagi upaya pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat di
Kabupaten Subang.
Penelitian dilakukan pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Jalancagak
(Subang bagian selatan), Kecamatan Dawuan (Subang bagian tengah) dan
Kecamatan Tambakdahan (Subang bagian utara). Pada masing-masing kecamatan
dipilih tiga desa yang diteliti. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli
2011. Penelitian dilakukan terhadap spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
masyarakat di sembilan desa di tiga kecamatan lokasi penelitian. Pengumpulan
data dilakukan dengan cara wawancara menggunakan panduan wawancara,
pengamatan di lapangan dan studi literatur. Responden ditentukan secara
purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 90 orang pada setiap kecamatan
atau sebanyak 270 orang pada tingkat Kabupaten Subang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah spesies yang dimanfaatkan
oleh responden sebanyak 228 spesies dari 66 famili. Masyarakat Kecamatan
Dawuan lebih banyak memanfaatkan spesies tumbuhan obat dibandingkan
masyarakat kecamatan lainnya. Namun, secara umum, spesies tumbuhan obat
yang dimanfaatkan di setiap kecamatan tidak terlalu berbeda. Kelompok penyakit
tulang, otot dan sendi merupakan kelompok penyakit yang banyak diobati
masyarakat dengan tumbuhan, yaitu sebanyak 64 spesies. Sirih (Piper betle)
merupakan spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi sebesar
35,19%. Cara pengolahan spesies tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten
Subang, yaitu direbus, diseduh, dituak, dicampurkan ke dalam makanan, direndam
dalam air dan lain-lain. Cara penggunaan spesies tumbuhan obat dipengaruhi oleh
letak organ yang akan diobati. Program pengembangan pemanfaatan tumbuhan
obat yang telah dilaksanakan di Kabupaten Subang, yaitu Batra (Upaya Pelayanan
Pengobatan Tradisional) dan Program Penanaman Pepaya. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Subang masih banyak memanfaatkan
tumbuhan dalam pengobatan, terutama untuk penyakit yang ringan dan sering
diderita.
Kata kunci : tumbuhan obat, pemanfaatan, wawancara, responden, purposive
sampling
SUMMARY
MUTHIA SRI RAHAYU. Medicinal Plants Utilization by Community of
Subang Regency, West Java: Case Study in Jalancagak District, Dawuan
District and Tambakdahan District. Under supervision of EDHI SANDRA
and AGUS HIKMAT.
Subang Regency is divided into three zone base on its topography which
include mountains and highlands area (South of Subang), hills and plains areas
(Downtown of Subang) and lowland areas (North of Subang). The topography
cause differences in diversity of plant species that grew in each area, which cause
different use of medicinal plants. The research aimed to identify the use of
medicinal plants by people of Subang Regency which included species of
medicinal plants, the use of herbal medicines and the existing efforts of plants
utilization for medicinal purpose.
The research was conducted in three districts, Jalancagak Districts
(Southern part of Subang), Dawuan District (Central part of Subang) and
Tambakdahan District (Northern part of Subang). Three villages were selected
from each district. The research was conducted on June to July 2011. Data was
collected through interview using interview guide, observation and literature
studies. Respondents were selected using purposive sampling method. There were
90 respondents selected from each district, with total number of 270 respondents
from Subang Regency.
The result showed that there were 228 species from 66 families used by the
respondents. Community of Dawuan District had more species of medicinal plants
used than other district. However, in general, there were only a slight difference in
the species of medicinal plats used in each district. As many as 64 species were
used to treat bone illnesses, muscle and joint pain. Sirih (Piper betle) had the
highest utilization frequency of 35,19%. People used medicinal plants through
boiling, brewing, tapping, mixing with food, soaking in water, etc. The way
people use the plants were depended on the location of the organs to be treated.
There were two existing program of medicinal plants utilization on Subang
Regency, which were Batra Program (the effort of illnesses treatment using
traditional medicines) and Papaya Planting Program. In conclusion, there were
many people in Subang Regency who used medicinal plants to treat their
illnesses, particulary for minor and frequently suffered illnesses.
Keywords: medicinal plants, utilization, interview, respondents, purposive
sampling
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
OLEH MASYARAKAT KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT:
Studi Kasus di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan
Kecamatan Tambakdahan
MUTHIA SRI RAHAYU
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Pemanfaatan
Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Kabupaten Subang, Jawa Barat: Studi Kasus di
Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan adalah
benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum
pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Nopember 2011
Muthia Sri Rahayu
NIM E34070066
Judul Skripsi
: Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Kabupaten
Subang, Jawa Barat: Studi Kasus di Kecamatan Jalancagak,
Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan
Nama
: Muthia Sri Rahayu
NIM
: E34070066
Menyetujui,
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Ir. Edhi Sandra, M.Si
Dr. Ir. Agus Hikmat, M.ScF
NIP.196610191993031002
NIP. 196209181989031002
Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor,
Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS.
NIP. 195809151984031003
Tanggal Lulus :
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan pada kehadirat Allah SWT karena
atas limpahan karunia dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skipsi yang
berjudul “Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Kabupaten
Subang, Jawa Barat: Studi Kasus di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan
Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai
pemanfaatan salah satu potensi sumberdaya Kabupaten Subang berupa tumbuhan
obat. Potensi berupa tumbuhan obat dan pemanfaatannya tersebut belum banyak
terungkap. Potensi tumbuhan obat bukan hanya meliputi spesies-spesies
tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pengobatan, namun juga berbagai cara
pemanfaatan tumbuhan obat tersebut oleh masyarakat serta berbagai habitat
tempat tumbuhan obat tersebut tumbuh. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi
suatu acuan bagi upaya pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat melalui
program-program, sehingga tumbuhan obat dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat Kabupaten Subang khususnya.
Begitu besar harapan penulis agar skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak yang membutuhkan data tentang pemanfaatan tumbuhan obat.
Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, Oleh karena itu, kritik
dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan
penulisan skripsi ini.
Bogor, Nopember 2011
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Muthia Sri Rahayu dilahirkan di Subang, 6 Oktober 1989.
Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan
Bapak Suhendar dan Ibu Sri Mulyani. Pendidikan formal
ditempuh di TK Tunas Karya, SD Negeri Sukasari I, SMP Negeri
1 Subang dan SMA Negeri 1 Subang. Pada tahun 2007, penulis
diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB
(USMI).
Selama perkuliahan, penulis aktif dalam Organisasi Mahasiswa Daerah
(OMDA) Forum Komunikasi Kulawarga Subang (FOKKUS) dan Himpunan
Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) sebagai
anggota Kelompok Pemerhati Flora (KPF) “Rafflesia”. Kegiatan-kegiatan
kemahasiswaan yang pernah penulis ikuti, yaitu Eksplorasi Flora, Fauna dan
Ekowisata Indonesia (Rafflesia) 2009 di Cagar Alam Rawa Danau, Kabupaten
Serang Banten pada tahun 2009, Rafflesia 2010 di Cagar Alam Gunung
Burangrang, Kabupaten Purwakarta pada tahun 2010 dan Studi Konservasi
Lingkungan (Surili) 2010 di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah pada
tahun 2010. Penulis juga merupakan asisten mata kuliah Konservasi Tumbuhan
Obat Hutan Tropika.
Pada tahun 2009, penulis melaksanakan Praktek Pengenalan Ekosistem
Hutan (P2EH) di Cagar Alam Gunung Papandayan dan Cagar Alam Sancang
Timur. Penulis melaksanakan Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) pada tahun 2010
di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi dan pada tahun 2011,
penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional
Meru Betiri, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember.
UCAPAN TERIMA KASIH
1. Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang begitu besar dan tidak
pernah henti diberikan;
2. Kedua orangtua (Bapak Suhendar dan Ibu Sri Mulyani) dan adik (Hibar
Taufikurachman) yang merupakan motivasi terbesar dalam penyelesaian
skripsi ini, serta seluruh keluarga besar di Subang atas segala dukungan yang
diberikan;
3. Bapak Ir. Edhi Sandra, M.Si dan Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F atas
bimbingannya selama penyusunan skripsi ini;
4. Ibu Ir. Oemijati Rachmatsjah selaku dosen penguji dan Bapak Dr.Ir.Agus
Priyono Kartono, M.Si selaku ketua sidang atas kritik dan saran bagi perbaikan
skripsi ini;
5. Kepala desa dan staf Desa Jalancagak, Desa Bunihayu, Desa Tambakmekar,
Desa Manyeti, Desa Rawalele, Desa Sukasari, Desa Tambakdahan, Desa
Rancaudik dan Desa Kertajaya atas semua bantuan selama pengambilan data;
6. Puskesmas Jalancagak, Puskesmas Rawalele dan Puskesmas Tambakdahan
atas bantuan data dan informasi yang diberikan;
7. Masyarakat Desa Jalancagak, Desa Bunihayu, Desa Tambakmekar, Desa
Manyeti, Desa Rawalele, Desa Sukasari, Desa Tambakdahan, Desa Rancaudik
dan Desa Kertajaya atas kesediannya memberikan informasi yang dibutuhkan
penulis;
8. Teman-teman dan sahabat, Woro, Asih, Risa, Dinar, Vio, Ovi, Rahmi, Neina,
Fina, Age, Ria, Rona, Windu, Lely, Sinta, Mariah dan Nda untuk kasih sayang,
keceriaan dan semangat yang diberikan;
9. Teman-teman KSHE 44 “KOAK”;
10. Teman-teman seperjuangan Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan;
11. Teman-teman Kelompok Pemerhati Flora (KPF) “Rafflesia” HIMAKOVA;
12. Teman-teman FOKKUS (Forum Komunikasi Kulawarga Subang);
13. Teman-teman seatap di Wisma Blobo;
14. Berbagai pihak yang turut membantu dan tidak dapat disebutkan satu persatu.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL……………………………………………………….
i
DAFTAR GAMBAR................................................................................
ii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………....
vi
BAB I PENDAHUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………..
1
1.2 Tujuan……………………………………………………...
2
1.3 Manfaat…………………………………………………….
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Obat…………………………………………….
4
2.2 Pemanfaatan Tumbuhan Obat……………………………...
5
2.3 Pengembangan Tumbuhan Obat…………………………...
6
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan waktu…………………………………………..
10
3.2 Objek dan Alat……………………………………………..
10
3.3 Metode Pengumpulan Data………………………………...
10
3.3.1 Jenis data…………………………………………….
10
3.3.2 Tahapan penelitian…………………………………..
11
3.3.3 Teknik pengambilan data……………………………
12
3.4 Analisis Data……………………………………………….
13
3.4.1 Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan
macam penyakit…………………………………...
13
3.4.2 Persen habitus……………………………………….
15
3.4.3 Persen bagian yang digunakan………………………
15
3.4.4 Persen tipe habitat tumbuhan obat…………………..
15
3.4.5 Persen frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat
15
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas……………………………………………
17
4.2 Iklim………………………………………………………
17
4.3 Topografi…………………………………………………
18
4.4 Potensi…………………………………………………….
19
4.5 Demografi………………………………………………...
19
4.6 Kecamatan Jalancagak…………………………………….
20
4.6.1 Desa Jalancagak……………………………………
20
4.6.2 Desa Bunihayu……………………………………..
21
4.6.3 Desa Tambakmekar………………………………..
21
4.7 Kecamatan Dawuan………………………………………
22
4.7.1 Desa Manyeti………………………………………
22
4.7.2 Desa Rawalele……………………………………..
22
4.7.3 Desa Sukasari……………………………………...
23
4.8 Kecamatan Tambakdahan………………………………...
23
4.8.1 Desa Tambakdahan………………………………...
23
4.8.2 Desa Rancaudik……………………………………
24
4.8.3 Desa Kertajaya……………………………………..
24
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden………………………………….
25
5.2 Spesies Tumbuhan Obat………………………………….
26
5.2.1 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
berdasarkan famili………………………………….
27
5.2.2 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
berdasarkan habitus………………………………...
36
5.2.3 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
berdasarkan bagian yang digunakan……………….
41
5.2.4 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
berdasarkan tipe habitat…………………………….
47
5.2.5 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
berdasarkan kelompok penyakit/penggunaan……...
51
5.2.6 Frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat oleh
masyarakat………………………………………….
61
5.2.7 Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat...
65
5.2.8 Potensi tumbuhan obat di sekitar lingkungan
Masyarakat………………………………………..
72
5.3 Cara Pemanfaatan Tumbuhan Obat……………………….
74
5.4 Tipe Pemanfaatan, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
79
Pemanfaatan dan Persepsi Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Oleh Masyarakat Kabupaten Subang…………………….
5.5 Program Pengembangan Pemanfaatan Tumbuhan Obat di
Kabupaten Subang………………………………………..
83
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan……………………………………………….
87
6.2 Saran……………………………………………………...
88
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................
89
LAMPIRAN……………………………………………………………..
92
i
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1.
Kecamatan dan desa-desa lokasi penelitian…………………...
10
2.
Jenis dan metode pengumpulan data………………………......
11
3.
Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan macam
penyakit………………………………………………………..
4.
Lima kelompok penyakit/penggunaan spesies tumbuhan obat
terbanyak di setiap kecamatan…………………………………
5.
61
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi di Kabupaten Subang……………….........................
8.
58
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi di setiap kecamatan…………………………………..
7.
52
Lima kelompok penyakit/penggunaan spesies tumbuhan obat
terbanyak pada tingkatKabupaten Subang…………………….
6.
14
64
Cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten
Subang…………………………………………........................
77
ii
DAFTAR GAMBAR
No.
1.
Halaman
Denah Kabupaten Subang dan kecamatan-kecamatan
lokasi penelitian……………………………………............
2.
Jumlah
spesies
dan
famili
dimanfaatkan di setiap
tumbuhan
obat
yang
kecamatan dan pada tingkat
Kabupaten Subang…………………………………...........
3.
oleh
masyarakat
Kecamatan
Jalancagak………………………………………………….
oleh
masyarakat
Kecamatan
Dawuan……………………………………………………..
31
Sepuluh famili terbanyak spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatakan
oleh
masyarakat
Kecamatan
Tambakdahan………………………………………………
8.
30
Spesies-spesies famili Euphorbiaceae yang dimanfaatkan
masyarakat: (a) mara dan (b) ki rapet……………………..
7.
29
Sepuluh famili terbanyak spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatakan
6.
28
Beberapa spesies tumbuhan obat famili Zingiberaceae: (a)
combrang dan (b) panglai…………………………………..
5.
27
Sepuluh famili terbanyak spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatakan
4.
18
31
Spesies-spesies tumbuhan obat famili Fabaceae yang hanya
ditemukan dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan
Tambakdahan: (a) jayanti dan (b) johar……………………
9.
32
Beberapa spesies sirih yang dimanfaatkan masyarakat
Kecamatan
(a)
sirih,
Jalancagak
(b)
sirih
dan
Kecamatan
merah
dan
Dawuan:
(c)
sirih
hitam…………………………………………....................
33
iii
10.
Beberapa spesies famili Musaceae yang dimanfaatkan
masyarakat Kecamatan Jalancagak: (a) pisang gemor dan
(b) pisang batu…………………………………..................
11.
34
Beberapa spesies famili Acanthaceae yang dimanfaatkan
masyarakat Kecamatan Tambakdahan: (a) daun tuju, (b)
kalingsir dan (c) handeuleum……........................................
12.
Sepuluh
famili
tumbuhan
obat
terbanyak
yang
dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang……………...
13.
setiap kecamatan
dan pada tingkat
Kabupaten
Subang……………………………………………………...
jarong,
(b)
pungpurutan
dan
(c)
harendong
bulu………………………………………………..............
Spesies-spesies
tumbuhan
obat
berhabitus
39
Spesies-spesies tumbuhan obat berupa pohon: (a) lame,
(b) pule dan (c) kanyere……………………………………
18.
38
herba:
(a) katapayan dan (b) surukan……………………………..
17.
38
Beberapa spesies tumbuhan obat berhabitus perdu:
(a) mustajab, (b) senggugu dan (c) ki greges………………
16.
37
Beberapa spesies tumbuhan obat yang berhabitus semak:
(a)
15.
36
Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan habitusnya
di
14.
35
40
Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan bagian yang
digunakan di setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten
Subang……………………………………………………...
19.
41
Spesies-spesies yang dimanfaatkan daunnya sebagai obat:
(a) kecubung gunung, (b) buntiris dan (c) jarum tujuh
bilah………………………………………………………...
20.
Spesies-spesies yang dimanfaatkan batangnya sebagai
obat: (a) bambu kuning,
(b) jarak jakarta dan (c)
bratawali……………………………………………...........
21.
42
43
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan bunganya, yaitu
korejat………………………………………………………
45
iv
22.
Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan getahnya; (a) jarak
pagar dan spesies tumbuhan yang dimanfaatkan umbinya
(b) singkong karet…………………………………………..
23.
46
Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan tipe habitat
pada setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten
Subang……………………………………………………...
24.
Spesies-spesies
tumbuhan
obat
yang
ditanam
48
di
pekarangan: (a) puring, (b) kenanga dan (c) kedongdong
cina………………………………………………………….
25.
Kebun, sawah dan sungai merupakan beberapa habitat
spesies
tumbuhan
obat
yang
dimanfaatkan
masyarakat………………………………………………….
26.
49
Hutan tanaman pinus yang menjadi lokasi pengambilan
tumbuhan
obat
oleh
masyarakat
Kecamatan
Jalancagak…………………………………………………..
27.
49
50
Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati
masyarakat di Puskesmas Wangunreja (sumber: Laporan
Tahunan Puskesmas Wangunreja, Kecamatan Dawuan
Tahun 2010)………………………………………………...
28.
53
Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati
masyarakat di Puskesmas Tambakdahan (sumber: Laporan
Tahunan
Puskesmas
Tambakdahan,
Kecamatan
Tambakdahan Tahun 2010)………………………………..
29.
55
Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati
masyarakat di Puskesmas Jalancagak (sumber: Laporan
Tahunan Puskesmas Jalancagak, Kecamatan Jalancagak
56
Tahun 2010)…………………………….............................
30.
Beberapa spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk
perawatan kesehatan ibu melahirkan: (a) jawer kotok, (b)
sirih, (c) sembung dan (d) pinang…………………………..
31.
Beberapa spesies
tumbuhan obat
57
dengan frekuensi
pemanfaatan tertinggi): (a) randu dan (b) saga…………….
65
v
32.
Sumber
pengetahuan
pemanfaatan
tumbuhan
obat
masyarakat Kecamatan Jalancagak…………………...........
33.
Sumber
pengetahuan
pemanfaatan
tumbuhan
obat
masyarakat Kecamatan Dawuan……………………............
34.
66
67
Obat yang dibuat dari tumbuhan obat yang dibuat dan
dikemas salah seorang dokter untuk mengobati kanker
payudara…………………………………………………….
35.
Sumber
pengetahuan
pemanfaatan
tumbuhan
obat
masyarakat Kecamatan Tambakdahan……………………..
36.
70
71
Potensi tumbuhan obat di sekitar lingkungan masyarakat
dibandingkan tumbuhan obat yang telah dimanfaatkan
masyarakat di setiap kecamatan dan pada tingkat
Kabupaten Subang……………………...............................
72
37.
Biduri yang ditemukan di Kecamatan Tambakdahan………
74
38.
Labu siam muda yang merupakan lalapan sekaligus obat
darah tinggi……………………………………...................
39.
Apotek
hidup
di
pekarangan
Puskesmas
Tambakdahan……………………………………………….
40.
76
85
Spanduk berisi anjuran menanam pepaya dan deretan
pohon pepaya di halaman salah satu kantor desa di
Kabupaten Subang………………………………………….
86
vi
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1.
Karakteristik responden………………………………………..
2.
Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat
Kabupaten Subang………………………..................................
3.
95
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi di setiap desa……………………...............................
4.
93
169
Sepuluh kelompok penyakit/penggunaan terbanyak yang
diobati
menggunakan
tumbuhan
obat
pada
setiap
desa……………………………………………………………
171
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan kini telah dipandang sangat penting bagi sebagian besar
masyarakat seiring dengan perkembangan peradaban yang juga melahirkan
banyaknya penyakit baru. Menurut Wakidi (2003), perwujudan perhatian yang
besar terhadap kesehatan dilihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang
berperilaku sehat, mulai dari lingkungan pemukiman dan cara hidup yang bersih
dan sehat serta makanan yang cukup dengan nilai gizi yang tinggi. Selain itu,
masyarakat pun telah mengetahui apa yang harus dilakukannya ketika sakit dan
agar sakitnya cepat sembuh. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat
yang terakhir tersebut, maka kebutuhan terhadap sarana kesehatan termasuk obat
pun harus cukup, baik jenis dan jumlahnya, aman penggunaannya dan mempunyai
mutu yang memenuhi persyaratan serta tersebar merata hingga dapat terjangkau
oleh masyarakat luas. Namun, tidak semua kalangan masyarakat mendapatkan
semua sarana kesehatan yang disediakan pemerintah maupun pihak swasta,
termasuk obat. Keterbatasan sejumlah masyarakat dalam mendapatkan sarana
kesehatan berkaitan erat dengan keterbatasan terhadap akses, mengingat
banyaknya masyarakat yang hidup di perdesaan di wilayah pelosok Indonesia.
Selain itu, semua sarana kesehatan yang bermutu membutuhkan biaya yang cukup
besar yang tidak semua masyarakat mampu membelinya.
Sebagian besar masyarakat Indonesia yang hidup di pelosok, hidup
berkelompok membentuk suku-suku tertentu dan masih memegang erat
pengetahuan atau kearifan lokal suku mereka termasuk cara pandang terhadap
sakit, penyebabnya dan cara mengobatinya. Cara mengobati sakit sebagian besar
dilakukan menggunakan tumbuhan yang berada di sekitar lingkungan mereka.
Tak hanya sebagai obat, tumbuhan pun menjadi bagian dari semua aspek
kehidupan mereka, mulai dari makanan, upacara adat dan sebagainya. Bila
ditelaah lebih lanjut, tumbuhan berkhasiat obat tersebut berpeluang besar untuk
dikembangkan, setidaknya dapat digunakan oleh masyarakat yang telah lama
memanfaatkanannya dan lebih jauh lagi pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan
2
oleh masyarakat kelompok lain. Persoalan mengenai akses dan biaya yang besar
terhadap kebutuhan obat dapat diatasi dengan obat yang berasal dari tumbuhan
yang mudah dan murah. Mudah karena untuk dapat menggunakannya, masyarakat
hanya tinggal mengambil dari pekarangan, kebun atau lingkungan sekitar mereka
serta mengolahnya di rumah. Cara tersebut tentu lebih murah bila dibandingkan
harus membawa si sakit ke rumah sakit.
Suku Sunda yang merupakan mayoritas suku yang tinggal di Jawa Barat,
diantaranya di Kabupaten Subang. Pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang
dimiliki masyarakat Suku Sunda merupakan salah satu pengetahuan yang dapat
dijadikan alternatif pengobatan disamping penggunaan obat kimia. Kabupaten
Subang dibagi menjadi tiga zona berdasarkan topografinya, yaitu daerah
pegunungan dan dataran tinggi (Subang bagian selatan), daerah berbukit dan
dataran (Subang bagian tengah) dan daerah dataran rendah (Subang bagian utara).
Perbedaan kondisi tersebut akan menyebabkan perbedaan spesies tumbuhan untuk
berbagai pemanfaatan. Salah satu pemanfaatan tumbuhan yang umum dilakukan
oleh masyarakat adalah untuk pengobatan. Pemanfaatan tumbuhan obat oleh
masyarakat Kabupaten Subang belum banyak terungkap. Oleh karena itu,
penelitian
ini
dilakukan
sebagai
langkah
awal
untuk
mengidentifikasi
pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini, yaitu
1. Mengidentifikasi spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Kabupaten Subang;
2. Mengidentifikasi cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten
Subang;
3. Mengidentifikasi upaya pengembangan pengobatan dengan tumbuhan obat di
Kabupaten Subang.
1.3 Manfaat
Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dan data dasar bagi upaya
pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat di Kabupaten Subang. Upaya
3
pengembangan yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan nilai manfaat
tumbuhan obat dan dapat menjadi alternatif pengobatan bagi masyarakat.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Obat
Sandra dan Kemala (1994) mengartikan tumbuhan obat sebagai semua
tumbuhan, baik yang sudah dibudidayakan maupun yang belum dibudidayakan
yang dapat digunakan obat. Sedangkan Zuhud et al. (1994) menyatakan bahwa
tumbuhan obat merupakan seluruh spesies tumbuhan obat yang diketahui dan
dipercaya mempunyai khasiat obat. Tumbuhan obat tersebut dikelompokan
menjadi :
1) Tumbuhan obat tradisional, yaitu spesies tumbuhan yang diketahui dan
dipercaya memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat
tradisonal;
2) Tumbuhan obat modern, yaitu spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah
dibuktikan mengandung senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan
penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis;
3) Tumbuhan obat potensial, yaitu spesies tumbuhan yang diduga mengandung
senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan secara
ilmiah-medis atau penggunaannya sebagai bahan tradisional sulit ditelusuri.
Zein (2005) mengatakan bahwa tumbuhan obat memiliki kelemahan sebagai
obat, yaitu
1) Sulitnya mengenali spesies tumbuhan dan berbedanya nama tumbuhan
berdasarkan daerah tempat tumbuh;
2) Kurangnya sosialisasi tentang manfaat tumbuhan obat, terutama di kalangan
profesi dokter;
3) Penampilan tumbuhan obat yang berkhasiat berupa fitofarmaka yang kurang
menarik dan kurang meyakinkan dibandingkan dengan penampilan obat paten;
4) Kurangnya penelitian yang komprehensif dan terintegrasi dari tumbuhan obat
ini di kalangan profesi dokter;
5) Belum adanya upaya pengenalan terhadap tumbuhan yang berkhasiat obat di
institusi pendidikan yang sebaiknya dimulai dari pendidikan dasar.
5
2.2 Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat merupakan komponen penting dalam pengobatan
tradisional yang telah digunakan sejak lama di Indonesia. Beberapa bukti yang
menunjukan hal tersebut adalah ditemukannya beberapa naskah yang berisi
pengetahuan mengenai pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan obat,
antara lain naskah pada daun lontar “Husodo” (Jawa),“Usada” (Bali), “Lontarak
Pabbuara” (Sulawesi Selatan) dan sebagainya (Aliadi & Roemantyo 1994).
Keuntungan obat tradisional yang langsung dirasakan oleh masyarakat
adalah kemudahan untuk memperolehnya dan bahan bakunya dapat ditanam di
pekarangan sendiri, murah dan dapat diramu sendiri di rumah, sehingga hampir
setiap orang Indonesia pernah menggunakan tumbuhan obat untuk mengobati
penyakit atau kelainan yang timbul pada tubuh selama hidupnya, baik ketika
masih bayi, anak-anak maupun setelah dewasa. Penggunaan tumbuhan obat tetap
besar di masyarakat karena manfaatnya secara langsung dapat dirasakan secara
turun-temurun, walaupun mekanisme kerjanya secara ilmiah masih belum banyak
diketahui. Selain manfaat yang dirasakan, penggunaan tumbuhan obat pun
dilatarbelakangi sulitnya jangkauan fasilitas kesehatan, terutama di daerah-daerah
pedesaan yang terpencil (Zein 2005).
Terdapat tiga kelompok masyarakat yang dapat dibedakan berdasarkan
intensitas pemanfaatan tumbuhan obat menurut Aliandi dan Roemantyo (1994),
yaitu
1. Kelompok
pertama
adalah
kelompok
masyarakat
asli
yang
hanya
menggunakan pengobatan tradisonal, umumnya tinggal di pedesaan atau
daerah terpencil yang tidak memiliki sarana dan prasarana kesehatan.
Kelompok ini berusaha mencari sendiri pengobatan untuk mengatasi berbagai
penyakit, sesuai dengan norma dan adat yang berlaku;
2. Kelompok kedua adalah kelompok masyarakat yang menggunakan pengobatan
tradisional dalam skala keluarga, umumnya tinggal di pedesaan yang memiliki
sarana dan prasarana terbatas. Pada daerah ini sudah tersedia puskesmas,
namun tenaga medis, peralatan dan obat-obatan yang tersedia terbatas. Selain
itu, kondisi ekonomi masyarakat pun umumnya masih rendah sehingga
pengobatan tradisional merupakan alternatif dalam pemenuhan kesehatan
6
masyarakat. Pada kelompok kedua ini, pemerintah telah memasyarakatkan
TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Program ini sesuai untuk kelompok
masyarakat yang menggunakan tumbuhan obat dalam skala keluarga dan
bertujuan untuk penanggulangan penyakit rakyat, perbaikan status gizi dan
melestarikan sumberdaya alam hayati;
3. Kelompok ketiga adalah kelompok industriawan obat tradisional.
Suku-suku bangsa di Indonesia telah banyak memanfaatkan tumbuhan obat
untuk kepentingan pengobatan tradisional. Pengetahuan yang dimiliki suku-suku
tersebut mengenai pengobatan tradisional berbeda-beda, termasuk pengetahuan
mengenai tumbuhan obat (Aliandi & Roemantyo 1994). Roosita et al. (2007)
mengatakan bahwa masyarakat Sunda memiliki ketergantungan yang cukup besar
terhadap obat tradisional. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang
dilakukan, yaitu masyarakat Sunda menggunakan obat tradisional untuk dua dari
tiga kasus gangguan kesehatan, baik melalui penggunaan sendiri (60,9%) maupun
dengan bantuan ahli pengobatan (6,5%).
Para ahli pengobatan yang menggunakan obat tradisional menurut Roosita
et al. (2007) menciptakan 96 terapi untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan
yang diklasifikasikan menjadi 23 kategori dengan menggunakan 117 spesies
tumbuhan. Menurut hasil penelitian tersebut, terdapat 257 spesies tumbuhan yang
digunakan untuk mengobati gangguan kesehatan. Penduduk Kampung Dukuh di
Garut Jawa Barat misalnya mengenal 137 spesies tumbuhan obat dari 52 suku.
Pemanfaatan terbesar tumbuhan obat di kampung ini adalah sebagai perawatan
kesehatan ibu melahirkan, yaitu sebanyak 41 spesies tumbuhan (Santhyami &
Sulistyawati 2011).
2.3 Pengembangan Tumbuhan Obat
Menurut Hamzari (2008), tumbuhan obat yang beranekaragam spesies,
habitus dan khasiatnya mempunyai peluang besar serta memberi kontribusi bagi
pembangunan dan pengembangan hutan. Karakteristik berbagai tumbuhan obat
yang menghasilkan produk berguna bagi masyarakat memberi peluang untuk
dibangun dan dikembangkan bersama dalam hutan di daerah tertentu. Berbagai
keuntungan yang dihasilkan dengan berperannya tumbuhan obat dalam hutan
7
adalah pendapatan, kesejahteraan, konservasi berbagai sumberdaya, pendidikan
nonformal, keberlanjutan usaha dan penyerapan tenaga kerja serta keamanan
nasional. Di Indonesia, pemanfaatan dan pemasaran bahan tumbuhan obat dapat
digolongkan menjadi bentuk jamu gendong, jamu kemasan modern dan
fitofarmaka (Sangat 2000).
Pengembangan obat bahan alam khas Indonesia yang dikenal sebagai
„jamu‟, dimana tanaman obat menjadi komponen utamanya memiliki arti strategis
dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dan kemadirian
Indonesia di bidang kesehatan. Hal tersebut mengingat saat ini Indonesia memiliki
ketergantungan yang besar terhadap obat dan bahan baku obat konvensional
impor yang nilainya mencapai US$ 160 juta per tahun (Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian 2007).
Sangat (2000) mengatakan bahwa pengembangan jamu dimulai dari
keberadaan usaha jamu gendong, yaitu jamu yang diramu dan dipasarkan dalam
gendongan yang merupakan warisan jaman kuno yang sampai saat ini masih
digemari masyarakat Indonesia, terutama orang Jawa. Jamu kemasan modern
merupakan dampak terhadap perubahan citra jamu gendong dengan pemberian
kemasan yang baik dalam bentuk serbuk, kapsul maupun pil. Jamu kemasan
modern telah memunculkan adanya industri-industri jamu, baik dalam skala kecil
maupun besar.
Industri jamu berkembang seiring dengan meningkatnya pemanfaatan
tanaman obat. Adanya industri tersebut, menuntut keberadaan bahan baku secara
kontinyu. Begitu pula dalam proses pembuatannya yang memerlukan tenaga ahli
dan tenaga kerja. Peningkatan kualitas sumberdaya produsen, yaitu petani
produsen tanaman obat harus mengikuti perkembangan IPTEK, seperti
penggunaan bibit yang unggul. Cara pembudidayaan yang sesuai untuk tanaman
obat adalah cara pembudidayaan secara organik tanpa menggunakan pestisida,
mengingat banyaknya tanaman obat yang langsung dikonsumsi tanpa diolah
terlebih dahulu (Hoesen 2000). Sedangkan dalam peningkatan perusahaan dan
pabrik, peningkatan kualitas jamu secara tidak langsung ditunjukan dengan
adanya ijin resmi dari pemerintah terhadap produk jamu yang dibuat. Contoh
perusahaan jamu skala besar yang produknya telah dikenal di dalam maupun di
8
luar negeri adalah Sido Muncul, Mustika Ratu, Sari Ayu, Air Mancur dan Nyonya
Meneer (Sangat 2000).
Fitofarmaka mengandung komponen aktif tertentu yang berasal dari
tumbuhan obat, mempunyai khasiat penyembuhan penyakit lebih khusus dan
dikemas
seperti
obat
modern.
Jika
berhasil
dikembangkan,
peluang
penggunaannya selain dapat dijual secara bebas juga dapat diperoleh melalui
resep dokter. Hal tersebut menyebabkan fitofarmaka dapat bersaing dengan obatobatan modern. Hingga saat ini, fitofarmaka belum banyak diproduksi. Industri
farmasi yang sudah memproduksi fitofarmaka, yaitu Kimia Farma dan Endo
Farma (Sangat 2000).
Tukiman (2004) mengatakan bahwa upaya pengobatan tradisional dengan
tumbuhan obat merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dan
penerapan teknologi tepat guna yang potensial untuk menunjang pembangunan
kesehatan. Dalam lingkup pembangunan kesehatan keluarga, upaya pengobatan
tradisonal dengan pemanfaatan tumbuhan obat dapat diwujudkan melalui apotik
hidup atau TOGA. TOGA adalah singkatan dari tanaman obat keluarga, yaitu
berbagai spesies tumbuhan yang dibudidayakan dengan memanfaatkan lahan di
halaman atau sekitar tempat tinggal dan merupakan persediaan obat bagi keluarga
atau
tetangga
sebelum
mendapat
pengobatan
dokter
atau
puskesmas.
Pengembangan TOGA atau apotek hidup ditujukan sebagai alternatif penggunaan
maupun pendamping obat kimia sintetik (Hoesen 2000).
Spesies tumbuhan obat yang ditanam di TOGA atau apotek biasanya
merupakan tumbuhan yang relatif mudah tumbuh tanpa perawatan intensif dan
biasanya digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit ringan yang sering
diderita anggota keluarga. Hoesen (2000) mengatakan bahwa Zingiberaceae
merupakan famili tumbuhan yang biasanya paling umum dan banyak ditanam
pada TOGA. Selain itu, sering juga dijumpai tumbuhan dari famili Euphorbiaceae,
Acanthaceae, Apocynaceae dan Lamiaceae. Tumbuhan-tumbuhan tersebut
biasanya dimanfaatkan untuk mengobati penyakit-penyakit, seperti batuk,
sariawan, sakit gigi, mencret, demam, pegal linu, sakit perut, cacingan, penyakit
kulit dan mimisan. Namun, tumbuhan TOGA pun dapat dimanfaatkan untuk
mengobati penyakit kronis, seperti ginjal, diabetes, asma, TBC, penyakit hati,
9
tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah. Selain untuk pengobatan,
tumbuhan TOGA ada yang berfungsi ganda sebagai sayuran, bumbu, tanaman
hias/pelindung rumah dan ada juga yang digunakan untuk menambah penghasilan
keluarga.
10
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di tiga kecamatan di Kabupaten Subang, yaitu
Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan. Pada
masing-masing kecamatan terdapat tiga desa yang menjadi lokasi pengambilan
data. Desa-desa yang menjadi lokasi penelitian pada setiap kecamatan disajikan
pada Tabel 1. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni hingga Juli 2011.
Tabel 1 Kecamatan dan desa-desa lokasi penelitian.
No
Kecamatan lokasi penelitian
Desa lokasi penelitian
1. Desa Jalancagak
1
Kecamatan Jalancagak
2. Desa Bunihayu
3. Desa Tambakmekar
1. Desa Manyeti
2
Kecamatan Dawuan
2. Desa Rawalele
3. Desa Sukasari
1. Desa Tambakdahan
3
Kecamatan Tambakdahan
2. Desa Rancaudik
3. Desa Kertajaya
3.2 Objek dan Alat
Objek penelitian adalah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
masyarakat dari sembilan desa di tiga kecamatan di Kabupaten Subang dengan
instrumen penelitian berupa panduan wawancara. Alat-alat yang digunakan, yaitu
kamera dan alat tulis.
3.3 Metode Pengumpulan Data
3.3.1 Jenis data
Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.
Data primer yang dikumpulkan adalah data-data pemanfaatan tumbuhan obat oleh
masyarakat di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan
Tambakdahan,
Kabupaten
Subang
dan
informasi
mengenai
program
pengembangan tumbuhan obat di Kabupaten Subang. Data sekunder yang
11
dikumpulkan terdiri dari data kondisi umum lokasi penelitian, demografi
masyarakat desa dan data kesehatan masyarakat dari puskesmas. Jenis dan teknik
pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini secara rinci disajikan pada
Tabel 2.
Tabel 2 Jenis dan metode pengumpulan data
No
Jenis
Data
1
Primer
2
Sekunder
Data dan Informasi yang Dikumpulkan
1. Pemanfaatan tumbuhan obat:
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh
masyarakat Kecamatan Jalancagak, Kecamatan
Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan yang
meliputi:
a. Nama lokal
b. Nama ilmiah
c. Famili
d. Habitus
e. Kegunaan
f. Bagian tumbuhan yang digunakan
g. Sumber/asal pengambilan tumbuhan
h. Cara penggunaan tumbuhan
i. Cara pengolahan tumbuhan
2.Potensi tumbuhan obat di sekitar tempat
tinggal/lingkungan
masyarakat
Kecamatan
Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan
Tambakdahan: spesies yang ditanam dan ditemukan
di sekitar tempat tinggal/lingkungan masyarakat
3. Upaya pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat
oleh masyarakat Kecamatan Jalancagak, Kecamatan
Dawuan
dan
Kecamatan
Tambakdahan:
Program/kegiatan yang dilakukan oleh Dinas
Kesehatan, lembaga kesehatan masyarakat, seperti
puskesmas, posyandu maupun lembaga sosial
masyarakat, seperti PKK dan lain-lain
1. Kondisi umum lokasi penelitian
2. Data demografi masyarakat desa
3. Data kesehatan masyarakat desa
Metode
Pengumpulan
Data
Wawancara dengan
masyarakat, studi
literatur dan
pengamatan
langsung
Pengamatan
langsung/observasi
, wawancara
dengan masyarakat
Wawancara dengan
masyarakat dan
lembaga terkait
Studi literatur
3.3.2 Tahapan penelitian
Tahapan penelitian dan aspek yang dikaji dalam kajian pemanfaatan
tumbuhan obat di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan
Tambakdahan dilakukan dalam empat tahapan utama, yaitu
Tahap 1 : Kajian pustaka terhadap beberapa literatur berupa laporan dan
dokumen lainnya yang terdapat di kantor setiap desa yang menjadi
lokasi penelitian di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan
12
Kecamatan Tambakdahan serta puskesmas pada masing-masing
kecamatan tersebut.
Tahap 2 : Pengamatan langsung dilakukan untuk melihat potensi tumbuhan obat
di sekitar tempat tinggal/lingkungan masyarakat dengan melihat
spesies tumbuhan obat yang ditanam dan ditemukan di sekitar tempat
tinggal/lingkungan masyarakat tersebut. Selain itu, pengamatan
langsung pun dilakukan untuk melihat kondisi masyarakat di lokasi
penelitian secara umum melalui pengamatan secara visual dan untuk
mengetahui masyarakat yang akan menjadi responden dan lokasi
tempat tinggalnya sehingga memudahkan dalam pengumpulan data.
Tahap 3 : Pengumpulan data pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat di
Kecamatan
Jalancagak,
Kecamatan
Dawuan
dan
Kecamatan
Tambakdahan Kabupaten Subang dengan melakukan wawancara
secara mendalam terhadap sejumlah responden di desa-desa yang
menjadi lokasi penelitian di tiga kecamatan tersebut.
Tahap 4 : Pengolahan dan analisis data terhadap semua data dan informasi yang
diperoleh dari tahap 1 hingga tahap 3.
3.3.3 Teknik pengambilan data
Pemilihan responden dilakukan dengan metode purposive sampling atau
teknik pemilihan responden dengan kriteria atau pertimbangan tertentu. Jumlah
responden untuk setiap kecamatan ditetapkan sebanyak 90 orang atau sebanyak 30
orang pada setiap desa, sehingga jumlah keseluruhan responden adalah 270 orang.
Terdapat dua kriteria responden berkaitan dengan pemanfaatan tumbuhan untuk
keperluan pengobatan, yaitu
1. Responden merupakan orang yang dianggap paling mengetahui dan
memanfaatkan tumbuhan obat di masyarakat. Jenis responden ini biasanya
memanfaatkan tumbuhan obat untuk membantu pengobatan masyarakat
lainnya, yaitu paraji (dukun beranak), dukun atau pengobat desa, tukang urut
dan lain-lain.
2. Responden merupakan masyarakat lain selain responden sebelumnya yang
juga
memanfaatkan
tumbuhan
obat.
Jenis
responden
ini
biasanya
13
memanfaatkan tumbuhan obat hanya terbatas untuk keperluan pengobatan
sendiri dan keluarga.
Metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara
mendalam (depth interview) dan pengamatan atau observasi. Wawancara secara
mendalam dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara yang berisi daftar
pertanyaan mengenai spesies-spesies tumbuhan yang digunakan sebagai obat,
bagian-bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat, cara penggunaan dan
pengolahan,
waktu
penggunaan,
sumber
informasi
penggunaan/sumber
pengetahuan, alasan penggunaan dan tempat tumbuh tumbuhan tersebut.
Pengamatan atau observasi dilakukan dengan berjalan tanpa menggunakan
batasan plot dan melakukan pengamatan secara langsung di lapangan bersama
responden atau guide. Pengamatan langsung dilakukan untuk mengetahui spesiesspesies tumbuhan yang ditanam dan tumbuh di sekitar tempat tinggal atau
lingkungan masyarakat. Untuk mendapatkan nama ilmiah dilakukan pengambilan
contoh
tumbuhan
(spesimen)
untuk
dibuat
herbarium
dan
selanjutnya
diidentifikasi nama ilmiahnya.
3.4 Analisis Data
Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Data yang
diperoleh dikelompokkan menjadi data spesies tumbuhan obat dan pemanfaatan
tumbuhan obat. Data pemanfaatan tumbuhan obat meliputi bagian tumbuhan yang
digunakan sebagai obat, kelompok penyakit/kegunaan tumbuhan obat dan cara
pemanfaatan tumbuhan obat tersebut oleh masyarakat.
3.4.1 Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan macam penyakit
Penyakit-penyakit yang merupakan kegunaan tumbuhan obat yang
dimanfaatkan
masyarakat
diklasifikasikan
ke
dalam
kelompok
penyakit/penggunaan berdasarkan sistem organ, organ yang diserang atau pun
berdasarkan penggunaan/penyakit tersendiri, sebagaimana tersaji pada Tabel 3.
14
Tabel 3 Klasifikasi kelompok penyakit/penggunaan dan macam penyakit
No
Kelompok penyakit/penggunaan
Khasiat/macam penyakit
1
Penyakit yang berhubungan dengan
sistem syaraf
sakit kepala, ayan/epilepsi, pikun
2
Penyakit saluran pernafasan
Batuk, sesak nafas, bronkhitis, asma, pendek
nafas
3
Penyakit saluran pencernaan
panas dalam, maag, perut kembung, diare, panas
perut, sariawan, disentri, amandel, muntah darah
4
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
5
Penyakit saluran pembuangan
6
Gangguan peredaran darah dan jantung
7
Penyakit dan perawatan kulit
8
Penyakit dan perawatan rambut
9
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu
hamil dan melahirkan
10
Penyakit dan perawatan wanita
keputihan, nyeri haid, radang rahim
11
Penyakit tulang, otot dan sendi
patah tulang, retak
reumatik, asam urat
12
Penyakit mata dan hidung
sakit mata, belekan, trakhoma, mimisan
13
Penyakit gigi dan gusi
14
Tonikum
15
Kanker dan tumor
16
Penyakit dan perawatan kaki
17
Perawatan setelah sakit
18
Panas, demam dan influenza
sakit gigi
menambah
nafsu
makan,
obat
kuat,
menyegarkan badan, menambah daya tahan
tubuh, menghangatkan badan
kanker rahim, kanker payudara, kista, anti
kanker
sakit pada telapak kaki, kaki pecah-pecah
mencegah penyakit tidak kambuh, perawatan
setelah operasi
panas, demam, influenza, panas dingin, masuk
angin
19
Perawatan tubuh
20
Sakit
akibat
pencegahannya
21
Lain-lain
sakit ginjal, batu ginjal, liver/sakit kuning,
kencing manis
ambeyen, melancarkan kencing, melancarkan
BAB, BAB berdarah, BAB berlendir
darah tinggi, darah rendah, kurang darah,
jantung, stroke
koreng, bisul, jerawat, panu, gatal-gatal,
menghaluskan kulit, cacar, luka, digigit
serangga, noda hitam pada wajah
melebatkan rambut, menumbuhkan kumis,
menyuburkan rambut, rambut tubuh gundul
jamu setelah melahirkan, agar mudah
melahirkan, agar darah tidak anyir setelah
melahirkan, mengeringkan luka dalam setelah
melahirkan, memperbanyak ASI, agar anak
lepas menyusui, singkayo/garis kehamilan,
memulihkan stamina setelah melahirkan
tulang,
melangsingkan badan, awet muda
binatang
dan
Sumber: Soenanto (2005) dengan modifikasi.
anti ular
lumpuh, terkena buluh bambu
pegal-pegal,
15
3.4.2 Persen habitus
Persen habitus (perawakan) dihitung untuk melihat banyaknya habitus
tertentu dari seluruh spesies tumbuhan obat yang diperoleh dari hasil penelitian
dan
dinyatakan
dalam
persen
(persentase).
Hasil
perhitungan
akan
memperlihatkan jumlah habitus terbanyak dan jumlah habitus yang paling sedikit
secara keseluruhan. Kelompok habitus yang digunakan, yaitu liana, pohon, perdu,
semak, herba, bambu dan kaktus. Analisis persen habitus dilakukan melalui
perhitungan dengan rumus :
Persen habitus tertentu =
∑ spesies habitus tertentu
x 100%
∑ seluruh spesies
3.4.3 Persen bagian yang digunakan
Persen bagian yang digunakan dihitung untuk mengetahui persentase setiap
bagian tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan
tumbuhan. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, batang, buah, bunga,
biji, akar, batang, buah, bunga, biji, kulit batang, rimpang, umbi, getah, semua
bagian dan bagian lainnya. Persen bagian yang digunakan dihitung menggunakan
rumus berikut:
Persen bagian tertentu yang digunakan =
∑ bagian tertentu yang digunakan
x 100%
∑ seluruh bagian yang digunakan dari seluruh spesies
3.4.4 Persen tipe habitat tumbuhan obat
Persen tipe habitat tumbuhan obat dihitung untuk mengetahui persentase
tumbuhan obat yang berasal dari habitat tertentu yang dimanfaatkan masyarakat.
Tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat dapat berasal dari hutan,
sawah, ladang, pekarangan, kebun dan lain-lain. Persen spesies tipe habitat
tumbuhan obat dihitung menggunakan rumus berikut:
Persen tipe habitat tumbuhan =
∑ spesies dari tipe habitat tertentu
x 100%
∑ seluruh spesies dari seluruh tipe habitat
3.4.5 Persen frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat
Persen frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat dihitung untuk
mengetahui frekuensi atau banyaknya spesies tumbuhan obat tertentu yang
dimanfaatkan oleh masyarakat dibandingkan dengan spesies tumbuhan obat
16
lainnya. Persen frekuensi pemanfaatan suatu spesies tumbuhan obat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut:
Persen pemanfaatan spesies tumbuhan obat tertentu
= ∑ responden yang memanfaatkan tumbuhan obat tertentu
∑ seluruh responden
x 100%
17
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas
Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di kawasan utara
provinsi Jawa Barat terletak diantara 107º 31' sampai dengan 107º 54' Bujur
Timur dan 6º 11' sampai dengan 6º 49' Lintang Selatan. Secara administratif,
Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang pada awalnya
tergabung dalam 22 kecamatan, tetapi berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah
kecamatan di Kabupaten Subang bertambah menjadi 30 kecamatan. Batas-batas
wilayah administratif Kabupaten Subang, yaitu sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Bandung Barat, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Purwakarta dan Kabupaten Karawang, sebelah timur dengan Kabupaten
Sumedang dan Kabupaten Indramayu dan sebelah utara berbatasan dengan Laut
Jawa.
Kabupaten Subang memiliki luas 205.176,95 hektar yang dibagi ke dalam
tiga zona, yaitu daerah pegunungan dan dataran tinggi (Subang bagian selatan),
daerah berbukit dan dataran (Subang bagian tengah) dan daerah dataran rendah
(Subang bagian utara). Daerah pegunungan dan dataran tinggi (Subang bagian
selatan) memiliki luas 41.035,09 hektar (20%), daerah berbukit dan dataran
(Subang bagian tengah) dengan luas 71.502,16 hektar (34,85%) dan daerah
dataran rendah (Subang bagian utara) memiliki luas 92.639 hektar (45,15%)
(Pemerintah Kabupaten Subang 2010).
4.2 Iklim
Secara umum wilayah Kabupaten Subang termasuk beriklim tropis. Curah
hujan rata-rata kabupaten Subang adalah 2.352 mm per tahun dengan jumlah hari
hujan sebanyak 100 hari. Kondisi iklim tersebut ditunjang dengan adanya lahan
yang subur dan banyaknya aliran sungai menjadikan sebagian besar wilayah
kabupaten Subang digunakan untuk pertanian (Pemerintah Kabupaten Subang
2010).
18
LAUT JAWA
Kabupaten Karawang
Kabupaten Subang
Kecamatan Tambakdahan
Kabupaten Indramayu
Kecamatan Dawuan
Kabupaten Purwakarta
Kecamatan Jalancagak
Kabupaten Sumedang
Kabupaten Bandung
Keterangan :
= kecamatan-kecamatan yang menjadi lokasi penelitian
Gambar 1 Denah Kabupaten Subang dan kecamatan-kecamatan lokasi penelitian.
4.3 Topografi
Berdasarkan topografinya, wilayah Kabupaten Subang dibagi ke dalam tiga
zona, yaitu
1. Daerah pegunungan (Subang bagian selatan)
Daerah ini memiliki ketinggian antara 500-1500 m dpl yang meliputi 20% dari
seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Kecamatan-kecamatan yang termasuk
ke dalam daerah pegunungan adalah Kecamatan Jalancagak, Ciater,
Kasomalang, Sagalaherang, Serangpanjang dan Tanjungsiang.
2. Daerah berbukit dan dataran (Subang bagian tengah)
Daerah ini memiliki ketinggian antara 50-500 m dpl yang meliputi 34,85% dari
seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Zona ini meliputi Kecamatan
Cijambe, Subang, Cibogo, Kalijati, Dawuan, Cipendeuy, sebagian besar
Kecamatan Purwadadi, Cikaum dan Pagaden Barat.
19
3. Daerah dataran rendah (Subang bagian utara)
Daerah ini memiliki ketinggian antara 0-50 m dpl yang meliputi 45,15% dari
seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Zona ini meliputi kecamatan
Pagaden,
Cipunagara,
Compreng,
Ciasem,
Pusakanagara,
Pusakajaya,
Pamanukan, Sukasari, Legonkulon. Blanakan, Patokbeusi, Tambakdahan dan
sebagian Pagaden Barat (Pemerintah Kabupaten Subang 2010).
4.4 Potensi
Potensi
Kabupaten
Subang
meliputi
bidang
pertanian
(pertanian,
perkebunan, kehutanan perikanan dan peternakan), pertambangan dan energi serta
industri. Pada bidang pertanian, Kabupaten Subang memiliki areal lahan sawah
terluas ketiga di Jawa Barat setelah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten
Karawang sekaligus merupakan penyumbang/kontributor produksi padi terbesar
ketiga di Jawa Barat. Selain tumbuhan pangan, Kabupaten Subang pun memiliki
potensi besar pada sektor pertanian lainnya berupa palawija dan sayur-sayuran
serta buah-buahan. Kabupaten Subang dikenal sebagai penghasil nanas si madu,
rambutan dan mangga.
Kabupaten Subang menjadi daerah perkebunan sejak sebelum kemerdekaan
Republik Indonesia dan hingga kini masih dijalankan, meliputi perkebunan karet,
teh dan tebu. Kabupaten Subang memiliki areal hutan seluas 20.703,97 hektar
pada tahun 2008 yang terdiri dari hutan produksi seluas 19.634,22 hektar dan
hutan lindung seluas 1.069,75 hektar.
Potensi perikanan Kabupaten Subang meliputi perikanan darat dan
perikanan laut. Kabupaten Subang merupakan sentra produksi ikan air tawar
dengan komoditi unggulan ikan mas dan nila. Perikanan laut di Kabupaten
Subang terdiri dari budidaya ikan laut dan ikan tangkapan (Pemerintah Kabupaten
Subang 2010).
4.5 Demografi
Penduduk Kabupaten Subang berjumlah 1.470.324 pada tahun 2009, dengan
komposisi 725.561 orang laki-laki dan 744.763 orang perempuan. Tingkat
kepadatan penduduk mencapai 717 jiwa per km2 . Kecamatan Subang merupakan
20
daerah dengan tingkat kepadatan tertinggi, yaitu 2.077 jiwa per km2, sedangkan
Kecamatan Legonkulon merupakan daerah yang paling rendah tingkat
kepadatannya, yaitu 318 per km2 (Pemerintah Kabupaten Subang 2010).
4.6 Kecamatan Jalancagak
Kecamatan Jalancagak termasuk daerah pegunungan dan dataran tinggi
(Subang bagian selatan) yang memiliki topografi pegunungan dengan ketinggian
700 m dpl dengan luas 416.891 hektar. Batas wilayah kecamatan ini, yaitu sebelah
utara Kecamatan Cijambe, sebelah selatan Kecamatan Ciater, sebelah timur
Kecamatan Kasomalang dan sebelah barat Kecamatan Sagalaherang. Kecamatan
Jalancagak terdiri dari tujuh kelurahan/desa, yaitu Bunihayu, Tambakmekar,
Kumpay, Jalancagak, Tambakan, Sarireja dan Curugrendeng (Pemerintah
Kabupaten Subang 2010).
4.6.1 Desa Jalancagak
Desa Jalancagak memiliki luas wilayah sebesar
638.421 hektar. Desa
tersebut berjarak 0,5 km dari ibu kota kecamatan dan 15 km dari ibu kota
kabupaten. Penduduk Desa Jalancagak berjumlah 8164 orang dengan rincian 4156
orang laki-laki dan 4008 orang perempuan. Kepadatan penduduk Desa Jalancagak
sebesar 44 orang/km. Sebagian besar penduduk Desa Jalancagak memiliki mata
pencaharian sebagai petani. Etnis Sunda merupakan etnis yang banyak tinggal di
Desa Jalancagak dibandingkan etnis lainnya
Desa Jalancagak memiliki curah hujan sebesar 415 mm/tahun dengan
jumlah bulan hujan sebanyak empat bulan. Desa tersebut terletak pada ketinggian
800 mdpl dan memiliki suhu rata-rata harian 28,33°C. Tingkat kemiringan lahan
sebesar 25° dengan bentang wilayah desa berbukit-bukit seluas 27.336 hektar.
Dalam bidang pertanian, tanaman pangan, tanaman buah-buahan dan tanaman
apotik hidup merupakan komoditas yang dimiliki Desa Jalancagak. Komoditas
hasil hutan Desa Jalancagak berupa kayu, bambu, kayu albazia, sarang burung
dan gula enau. Hutan di Desa Jalancagak merupakan hutan lindung seluas 2300
hektar. Dalam bidang peternakan, ternak ayam broiler dan domba merupakan dua
komoditas terbesar (Pendataan Profil Desa Jalancagak 2010).
21
4.6.2 Desa Bunihayu
Desa Bunihayu memiliki luas 960.355 hektar. Desa Bunihayu berjarak 3 km
dari ibukota kecamatan dan 15 km dari ibukota kabupaten. Penduduk Desa
Bunihayu berjumlah 5332 orang dengan rincian 2691 orang laki-laki dan 2641
orang perempuan. Sebagian besar penduduk Desa Bunihayu bermata pencaharian
sebagai petani. Desa Bunihayu memiliki curah hujan 2346,6 mm/tahun. Desa
tersebut berada pada ketinggian 550 mdpl dan memiliki suhu rata-rata harian
24,27°C.
Dalam bidang pertanian, komoditas Desa Bunihayu berasal dari tanaman
pangan, tanaman buah-buahan, tanaman apotik hidup dan perkebunan. Hutan di
desa tersebut merupakan hutan milik Perhutani seluas 60 hektar dengan hasil
hutan berupa arang dan getah pinus. Saat ini sebanyak 20 hektar dari hutan
tersebut dalam kondisi rusak karena dampak berubahnya fungsi hutan (Pendataan
Profil Desa Bunihayu 2010).
4.6.3 Desa Tambakmekar
Desa Tambakmekar memiliki luas 331,39 hektar. Jumlah penduduk Desa
Tambakmekar pada tahun 2010 sebanyak 5248 orang dengan rincian 2657 orang
laki-laki dan 2591 orang perempuan. Kepadatan penduduk Desa Tambakmekar,
yaitu 750 orang/km. Sebagian besar penduduk Desa Tambakmekar memiliki mata
pencaharian sebagai petani. Mayoritas penduduk Desa Tambekmekar berasal dari
etnis Sunda.
Desa Tambakmekar memiliki curah hujan 1177 mm/tahun dan suhu ratarata harian 22 – 24°C. Komoditas Desa Tambakmekar dalam bidang pertanian
berasal dari tanaman pangan, tanaman buah-buahan dan tanaman apotik hidup.
Hutan di Desa Tambakmekar merupakan milik negara dengan luas 9,60 hektar.
Selain itu juga terdapat hutan produksi seluas 88 hektar dan hutan lindung seluas
5,60 hektar. Hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat, yaitu kayu, bambu dan
cemara (Pendataan Profil Desa Bunihayu 2010).
22
4.7 Kecamatan Dawuan
Kecamatan Dawuan termasuk dataran rendah dengan ketinggian 37,17 - 700
m dpl dengan luas 7.032,72 hektar. Batas wilayah kecamatan ini, yaitu sebelah
utara Kecamatan Pagaden Barat, sebelah selatan Kecamatan Sagalaherang,
sebalah timur Kecamatan Subang dan sebelah barat Kecamatan Kalijati.
Kecamatan Dawuan memiliki 10 kelurahan/desa, yaitu Sukasari, Cisampih,
Dawuan Kaler, Dawuan Kidul, Jambelaer, Situsari, Rawalele, Manyeti, Batusari
dan Margasari (Pemerintah Kabupaten Subang 2010).
4.7.1 Desa Manyeti
Desa Manyeti memiliki luas 662 hektar. Desa Manyeti terletak pada
ketinggian 220 mdpl dengan suhu rata-rata harian 32°C. Desa Manyeti berjarak 3
km dari ibukota kecamatan dan 7 km dari ibukota kabupaten. Jumlah penduduk
Desa Manyeti pada tahun 2007 sebanyak 4396 orang yang terdiri dari 2150 orang
perempuan dan 2246 orang laki-laki. Kepadatan penduduk Desa Manyeti sebesar
55,80 jiwa per km. Penduduk Desa manyeti mayoritas merupakan petani.
Penduduk Desa Manyeti mayoritas merupakan etnis Sunda. Pertanian tanaman
pangan, tanaman buah-buahan dan peternakan meruapakan komoditas Desa
Manyeti (Pendataan Profil Desa Manyeti 2007).
4.7.2 Desa Rawalele
Desa Rawalele memiliki luas 63,9 hektar. Desa Rawalele terletak pada
ketinggian 200 mdpl. Desa tersebut berjarak 3 km dari ibukota kecamatan dan 7
km ke ibukota kabupaten. Penduduk Desa Rawalele berjumlah 4300 orang yang
terdiri dari 2135 orang laki-laki dan 2165 orang perempuan. Kepadatan penduduk
desa tersebut adalah 2,5 jiwa per km. Penduduk Desa Rawalele sebagian besar
bermata pencaharian sebagai buruh tani.
Curah hujan Desa Rawalele adalah 220 mm/tahun dengan suhu rata-rata
harian sebesar 28 – 32°C. Rambutan merupakan komoditas pertanian tanaman
buah-buahan
Desa
Rawalele,
sedangkan
karet
merupakan
komoditas
perkebunannya. Penduduk Desa Rawalele beternak ayam kampung, domba, sapi
dan kelinci (Pendataan Profil Desa Rawalele 2009).
23
4.7.3 Desa Sukasari
Desa Sukasari memiliki luas 250,5 hektar. Desa Sukasari terletak pada
ketinggian 200 mdpl. Desa tersebut berjarak 3 km dari ibukota kecamatan dan 7
km dari ibukota kabupaten. Penduduk Desa Sukasari berjumlah 3737 orang yang
terdiri dari 1681 orang laki-laki dan 2065 orang perempuan. Kepadatan penduduk
Desa Sukasari adalah 5 jiwa per km. Petani merupakan mata pencaharian
penduduk Desa Sukasari terbesar. Penduduk Desa Sukasari berasal dari etnis
Sunda, Jawa dan Minang/Padang dengan etnis Sunda sebagai mayoritas etnis
penduduk Desa Sukasari
Curah hujan Desa Sukasari adalah 200 mm/tahun dan suhu rata-rata harian
30°C. Padi merupakan komoditas pertanian tanaman pangan di Desa Sukasari.
Penduduk Desa Sukasari beternak ayam kampung, ayam broiler, domba, sapi,
bebek dan kelinci serta membudidayakan ikan mujair dan lele (Pendataan Profil
Desa Sukasari 2009).
4.8 Kecamatan Tambakdahan
Kecamatan
Tambakdahan
merupakan
kecamatan
pemekaran
dari
Kecamatan Binong berdasarkan Peraturan Daerah No.3 Tahun 2007 tentang
Pemekaran dan Pembentukan Wilayah Kecamatan di Lingkungan Pemerintah
Daerah Kabupaten Subang. Secara resmi, Kecamatan Tamabakdahan berdiri sejak
tanggal 12 Mei 2008. Kecamatan Tambakdahan termasuk dataran rendah dengan
ketinggian 5 – 10 m dpl. Kecamatan ini memiliki luas 5.568,391 hektar dan terdiri
dari sembilan desa yang disebut Sembilan Barisan Desa Agraris (SEMBADA).
Desa-desa tersebut, yaitu Desa Tambakdahan, Desa Bojongkeding, Desa
Bojonegara, Desa Kertajaya, Desa Rancaudik, Desa Mariuk, Desa Gardumukti,
Desa Wanajaya dan Desa Tanjungrasa (Pemerintah Kabupaten Subang 2010).
4.8.1 Desa Tambakdahan
Desa Tambakdahan memili luas 656.117 hektar. Desa tersebut berjarak 2
km dari ibukota kecamatan dan 30 km dari ibukota kebupaten. Penduduk Desa
Tambakdahan berjumlah 7400 orang yang terdiri dari 3690 orang laki-laki dan
3710 orang perempuan. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian
24
sebagai buruh tani. Penduduk Desa Tambakhan terdiri dari etnis Sunda, Jawa,
Madura, Batak, Minang/Padang dan Makasar/Bugis
Desa Tambakdahan berada pada ketinggian 15 mdpl dengan topografi
bentangan wilayah desa dataran rendah seluruhnya, yaitu seluas 656.117 hektar.
Curah hujan Desa tambakmekar sebesar 139 mm/tahun dengan suhu rata-rata
harian sebesar 26 °C. Komoditas pertanian tanaman pangan, tanaman buahbuahan, tanaman apotik hidup, perkebunan dan peternakan merupakan komoditas
Desa Tambakdahan (Pendataan Profil Penduduk Desa Tambakdahan 2010).
4.8.2 Desa Rancaudik
Desa Rancaudik memiliki luas 618.784 hektar. Desa tersebut berjarak 3 km
dari ibukota kecamatan dan 32 km dari ibukota kebupaten. Penduduk Desa
Rancaudik berjumlah 4740 orang yang terdiri dari 2281 orang laki-laki dan 2459
orang perempuan. Kepadatan penduduknya sebesar 130 jiwa per km. Petani
merupakan mata pencaharian mayoritas penduduk Desa Rancaudik. Penduduk
Desa Rancaudik mayoritas berasal dari etnis Sunda.
Padi merupakan komoditas pertanian tanaman pangan dan manggis
merupakan komoditas pertanian tanaman buah-buahan Desa Rancaudik.
Penduduk Desa Rancaudik beternak ayam kampung, bebek, domba dan angsa
(Pendataan Profil Desa Rancaudik 2010).
4.8.3 Desa Kertajaya
Desa Kertajaya memiliki luas 574.741,156 hektar. Desa Kertajaya berjarak
3 km dari ibukota kecamatan dan 32 km dari ibukota kebupaten. Penduduk Desa
Kertajaya berjumlah 3778 orang yang terdiri dari 1826 orang laki-laki dan 1952
orang perempuan. Penduduk Desa Kertajaya sebagian besar bermata pencaharian
sebagai buruh tani. Etnis Sunda merupakan etnis terbanyak penduduk Desa
Kertajaya. Desa Kertajaya terletak pada ketinggian 10 mdpl. Curah hujan di desa
tersebut adalah 200 mm/tahun dengan jumlah bulan hujan sebanyak empat bulan.
Padi merupakan komoditas pertanian tanaman pangan dan kelapa merupakan
komoditas perkebunan Desa Kertajaya. Penduduk beternak ayam kampung, ayam
broiler, domba, angsa dan kelinci (Pendataan Profil Desa Kertajaya 2010).
25
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1
Karakteristik Responden
Jumlah responden pada setiap desa adalah 30 orang dan 90 orang untuk
setiap kecamatan, sehingga jumlah responden untuk tingkat kabupaten sebanyak
270 orang. Perbandingan jumlah responden berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan pada setiap desa tidak merata. Jumlah responden laki-laki pada setiap
kecamatan lebih sedikit dibandingkan dengan perempuan. Kisaran umur
responden terbanyak, yaitu 41 – 50 tahun. Hal tersebut menunjukan bahwa
pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat banyak diketahui dan dilakukan oleh
masyarakat berumur 41 – 50 tahun, namun hal tersebut tidak menunjukan bahwa
jumlah spesies dan ramuan tumbuhan obat yang diketahui dan dimanfaatkan
masyarakat dengan kisaran umur tersebut lebih banyak dan beragam dibandingkan
kisaran umur masyarakat lainnya yang diwawancarai.
Responden termuda berumur 20 tahun yang diwawancarai di Desa
Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, sedangkan responden tertua berumur 96 tahun
yang tinggal di Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan. Hal tersebut menunjukan
bahwa tumbuhan obat ternyata dimanfaatkan oleh masyarakat dengan berbagai
umur, dari yang muda hingga tua. Meskipun tentu saja intensitas pemanfaatan dan
banyaknya pengetahuan pada setiap umur tersebut berbeda. Pada umumnya,
responden usia muda memiliki pengetahuan lebih terbatas dibandingkan
responden usia tua yang juga mempengaruhi tingkat pemanfaatan tumbuhan
obatnya.
Responden yang merupakan ibu rumah tangga merupakan masyarakat yang
lebih banyak diwawancarai dibandingkan masyarakat dengan mata pencaharian
lainnya. Pada tingkat kabupaten, responden yang merupakan ibu rumah tangga
berjumlah 150 orang. Responden tersebut mudah lebih mudah ditemui dan
merupakan responden yang banyak memanfaatkan tumbuhan obat. Responden
yang memanfaatkan tumbuhan obat tidak hanya untuk pengobatan sendiri, namun
juga untuk membantu orang lain, seperti paraji (dukun beranak), tukang urut dan
26
dukun tidak selalu ditemukan pada setiap lokasi. Jumlah responden tersebut pada
tingkat kabupaten sebanyak 14 orang.
Beberapa responden tidak bekerja karena alasan sakit dan lanjut usia.
Responden yang sakit banyak memanfaatkan tumbuhan obat sebagai salah satu
upaya penyembuhan sakitnya, terutama responden dengan riwayat sakit yang
lama. Responden dengan riwayat sakit yang lama pada umumnya telah mencoba
berbagai tumbuhan obat untuk pengobatan, beberapa diantaranya tidak manjur
sehingga responden terus mencoba tumbuhan lain. Selain itu, terdapat juga
beberapa spesies tumbuhan obat yang manjur, namun keinginan sembuh yang
besar menyebabkan responden terus mencari spesies tumbuhan lain untuk
mempercepat penyembuhan. Hal tersebut menyebabkan jumlah spesies tumbuhan
yang dimanfaatkan oleh responden yang sakit tersebut menjadi banyak.
Responden yang sudah lanjut usia pun banyak memanfaatkan tumbuhan obat,
meskipun penggalian pengetahuan spesies yang dimanfaatkan tersebut terkendala
dengan ingatan responden yang mulai berkurang.
Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD),
yaitu sebanyak 156 orang. Hal tersebut disebabkan keterbatasan akses pada
beberapa masyarakat menuju sekolah dan masih rendahnya tingkat ekonomi
masyarakat. Data responden selengkapnya tersaji pada Lampiran 1.
5.2 Spesies Tumbuhan Obat
Dilihat dari intensitas pemanfaatan tumbuhan obat berdasarkan Aliandi dan
Roemantyo (1994), masyarakat Kabupaten Subang termasuk pada kelompok
masyarakat kedua. Kelompok masyarakat kedua menggunakan pengobatan
tradisional dalam skala keluarga, umumnya tinggal di pedesaan yang sudah
memiliki sarana dan prasarana kesehatan, namun terbatas. Sarana dan prasarana
kesehatan pada lokasi penelitian berupa puskesmas di kecamatan dan posyandu,
mantri dan bidan desa pada setiap desa. Kelompok tersebut biasanya memiliki
kondisi ekonomi yang umumnya masih rendah, sehingga pengobatan tradisional
merupakan alternatif dalam pemenuhan kesehatan.
Dari penelitian yang dilakukan di tiga kecamatan yang mewakili masingmasing daerah wilayah Kabupaten Subang, yaitu Kecamatan Jalancagak,
27
Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan, jumlah tumbuhan obat yang
dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang berjumlah 228 spesies dari 66
famili. Masyarakat di Kecamatan Dawuan yang merupakan daerah berbukit dan
dataran (Subang bagian tengah) memanfaatkan spesies tumbuhan obat yang lebih
banyak dibandingkan masyarakat di zona lainnya. Masyarakat di kecamatan
tersebut memanfaatkan 185 spesies tumbuhan obat yang berasal dari 58 famili.
Spesies-spesies tumbuhan yang tumbuh di daerah tersebut lebih beragam
dibandingkan spesies tumbuhan yang tumbuh di daerah lainnya. Masyarakat
Kecamatan Tambakdahan yang termasuk daerah dataran rendah memiliki tingkat
pemanfaatan tumbuhan obat terendah, yaitu sebanyak 101 spesies dari 43 famili.
Meskipun jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan pada masing-masing
kecamatan berbeda, spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh
masyarakat Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan
Tambakdahan secara umum tidak terlalu berbeda.
Gambar 2
Jumlah spesies dan famili tumbuhan obat di setiap kecamatan dan
pada tingkat Kabupaten Subang.
5.2.1 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan berdasarkan famili
Spesies
tumbuhan
obat
yang
berasal
dari
famili
Zingiberaceae,
Euphorbiaceae dan Fabaceae lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di
semua kecamatan dibandingkan spesies dari famili lainnya. Sepuluh famili spesies
tumbuhan obat terbanyak yang dimanfaatkan masyarakat pada tingkat kecamatan
28
disajikan pada Gambar 3, Gambar 5 dan Gambar 7. Jumlah spesies tumbuhan obat
yang berasal dari famili Zingiberaceae terbanyak dimanfaatkan oleh masyarakat
Kecamatan Dawuan, yaitu sebanyak 14 spesies. Meskipun spesies famili
Zingiberaceae yang dimanfaatkan terbanyak di Kecamatan Dawuan, namun
Famili Zingiberaceae merupakan famili spesies tumbuhan obat yang banyak
dimanfaatkan masyarakat Kecamatan Jalancagak dibandingkan masyarakat pada
kecamatan lainnya, seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3
Sepuluh famili terbanyak spesies tumbuhan obat yang dimanfaatakan
oleh masyarakat Kecamatan Jalancagak.
Banyaknya pemanfaatan spesies-spesies tumbuhan dari famili Zingiberaceae
di Kecamatan Jalancagak karena kecamatan tersebut merupakan daerah dataran
tinggi yang memiliki suhu lebih rendah dari daerah lainnya, sehingga spesiesspesies tumbuhan obat famili Zingiberaceae yang beberapa diantaranya memiliki
sifat menghangatkan banyak dimanfaatkan. Beberapa spesies tumbuhan famili
Zingiberaceae pun memiliki sifat dingin. Spesies-spesies tumbuhan obat dengan
sifat tersebut banyak dimanfaatkan untuk mengobati kelompok penyakit demam,
panas dan influenza. Beberapa spesies tumbuhan yang bermanfaat mengobati
penyakit tersebut, yaitu combrang (Etlingera elatior) dan panglai (Zingiber
cassumunar).
29
Selain sebagai obat, penggunaan spesies-spesies famili Zingiberaceae untuk
keperluan lainnya, seperti sebagai bumbu masakan sulit dilepaskan oleh
masyarakat. Kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), kencur
(Kaempferia galanga) dan lengkuas (Alpinia purpurata) merupakan spesiesspesies famili Zingiberaceae yang biasanya digunakan masyarakat sebagai bumbu
masak. Pemanfaatan spesies-spesies tumbuhan tersebut sebagai obat pun umum
ditemukan pada masyarakat di semua kecamatan lokasi penelitian.
(a)
(b)
Gambar 4 Beberapa spesies tumbuhan obat famili Zingiberaceae: (a) combrang
dan (b) panglai.
Euphorbiaceae menurut Mwine dan Damme (2011) merupakan famili
tumbuhan obat yang penting. Anggota famili Euphorbiaceae banyak ditemukan
dan terdistribusi hampir di setiap belahan dunia dan mudah beradaptasi pada
berbagai jenis habitat, karena itu famili ini menghasilkan berbagai jenis varietas
yang mampu bertahan hidup. Hal tersebut yang diperkirakan menyebabkan
spesies-spesies tumbuhan obat famili Euphorbiaceae ditemukan dan dimanfaatkan
di semua daerah di Kabupaten Subang. Diantara ketiga kecamatan lokasi
penelitian, spesies-spesies tumbuhan obat yang berasal dari famili Euphorbiaceae
lebih banyak digunakan oleh masyarakat Kecamatan Dawuan, yaitu mencapai 15
spesies, lebih banyak dibandingkan spesies tumbuhan obat yang berasal dari
famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan masyarakatnya.
Masyarakat Kecamatan Dawuan seringkali memanfaatkan spesies-spesies
yang berasal dari famili Euphorbiaceae untuk mengobati penyakit kulit karena
sebagian besar memiliki getah yang berkhasiat untuk mengobati kelompok
penyakit dan perawatan kulit. Sebagai contoh, getah mara (Macaranga tanarius)
digunakan untuk mengobati bisul, getah nanangkaan (Euphorbia hirta) digunakan
30
untuk mengobati koreng dan mengeringkan luka sunat dan getah ki rapet
(Jatropha multifida) digunakan untuk mengobati luka.
Gambar 5
Sepuluh famili terbanyak spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
masyarakat Kecamatan Dawuan.
Mara merupakan pohon kini semakin sulit ditemukan di Kecamatan
Dawuan. Di Kecamatan Jalancagak, mara dapat ditemukan di hutan atau di kebunkebun yang berbatasan dengan hutan. Terdapat dua jenis mara, yaitu mara awewe
(mara perempuan) dan mara lalaki (mara lelaki). Mara yang biasa dimanfaatkan
sebagi obat adalah jenis mara awewe. Nanangkaan merupakan tumbuhan yang
hidup liar, biasanya menempel pada tembok atau di tanah. Sedangkan ki rapet
atau disebut juga bethadine dan panasilin di beberapa lokasi lain, kini sudah
dibudidayakan sebagai tanaman hias. Spesies tumbuhan ini memiliki bentuk daun
yang unik dan bunga berwarna merah.
31
Gambar 6
(a)
(b)
Spesies-spesies famili Euphorbiaceae yang dimanfaatkan masyarakat:
(a) mara dan (b) ki rapet.
Fabaceae merupakan famili tumbuhan obat terbesar kedua yang terdiri dari
lebih 490 spesies tumbuhan obat. Spesies-spesies dari famili tersebut mengandung
zat kimia yang penting bagi pengobatan dan kini telah banyak digunakan dalam
berbagai produk kesehatan (Gao et al. 2010). Spesies tumbuhan obat yang berasal
dari famili Fabaceae merupakan famili spesies tumbuhan obat terbanyak yang
dimanfaatkan oleh masyarakat di Kecamatan Tambakdahan, yaitu sebanyak
delapan spesies.
Gambar 7
Sepuluh famili tumbuhan obat terbanyak dimanfaatkan masyarakat
Kecamatan Tambakdahan.
Beberapa spesies tumbuhan obat famili Fabaceae hanya ditemukan
dimanfaatkan masyarakat di Kecamatan Tambakdahan, yaitu jayanti (Sesbania
sesban) dan johar (Cassia siamea). Daun jayanti merupakan obat untuk perawatan
32
kesehatan ibu melahirkan, melancarkan kencing dan mengobati sakit pinggang.
Sedangkan johar merupakan obat pegal-pegal dan sakit gigi. Selain itu, daun
muda johar merupakan obat lumpuh akibat stroke dengan direbus bersama akar
pepaya ranti (Carica papaya), daun jawer kotok (Coleus scutellaroides), akar
jambe (Areca catechu), akar alang-alang (Imperata cylindrica) dan gula batu.
Saga (Abrus precatorius) merupakan spesies tumbuhan obat famili Fabaceae yang
dimanfaatkan di semua kecamatan. Saga telah lama dikenal dan dimanfaatkan
masyarakat untuk mengobati sariawan, panas dalam dan batuk, bahkan spesies
tumbuhan ini telah diolah dan diproduksi secara modern dalam skala besar untuk
mengobati penyakit-penyakit tersebut.
(a)
(b)
Gambar 8 Spesies-spesies tumbuhan obat famili Fabaceae yang hanya ditemukan
dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Tambakdahan, yaitu
(a) jayanti dan (b) johar.
Piperaceae merupakan famili spesies tumbuhan obat yang banyak
dimanfaatkan di Kecamatan Jalancagak dan Kecamatan Dawuan. Beberapa
spesies yang dimanfaatkan, yaitu karuk (Piper sarmentosum), kemukus (Piper
cubeba), surukan (Peperomia pellucida) dan berbagai spesies sirih. Terdapat
empat spesies sirih yang dimanfaatkan masyarakat, yaitu sirih (Piper betle), sirih
merah (Piper crotatum), sirih putih (Piper betle var) dan sirih hitam (Piper
miniatum). Sirih merupakan sebutan yang umum diberikan masyarakat terhadap
spesies sirih yang berwarna hijau. Keempat spesies sirih tersebut memiliki
manfaat pengobatan yang hampir sama, namun menurut masyarakat tingkat
keampuhan beberapa spesies tersebut dalam mengobati suatu penyakit berbeda.
33
Sebagai contoh, untuk mengobati batuk, sirih hitam dipercaya lebih ampuh dari
pada sirih.
(a)
Gambar 9
(b)
(c)
Beberapa spesies sirih yang dimanfaatkan masyarakat Kecamatan
Jalancagak dan Kecamatan Dawuan: (a) sirih, (b) sirih merah dan
(c) sirih hitam.
Masyarakat di ketiga kecamatan lokasi penelitian yang mayoritas
merupakan Suku Sunda seperti masyarakat Suku Sunda lainnya juga menggemari
lalapan. Solanaceae dan Asteraceae merupakan dua famili tumbuhan yang spesies
tumbuhannya banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai lalapan dan juga
dimanfaatkan sebagai obat. Spesies-spesies famili Solanaceae yang dimanfaatkan
sebagai lalapan dan juga berkhasiat obat, yaitu leunca (Solanum nigrum), terong
bulat (Solanum sp.), terong ungu (Solanum melongena) dan takokak (Solanum
torvum). Keempat spesies tersebut dipercaya dan dimanfaatkan sebagai obat kuat.
Sedangkan takokak, terong bulat dan leunca juga dimanfaatkan masyarakat untuk
mengobati penyakit jantung koroner.
Spesies-spesies yang berasal dari familli Asteraceae umumnya memiliki bau
yang khas. Spesies-spesies famili tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat ketiga
kecamatan lokasi penelitian, meskipun tidak semua spesiesnya dimanfaatkan di
setiap kecamatan. Spesies famili Asteraceae yang umum dimanfaatkan di semua
kecamatan, yaitu sembung (Blumea balsamifera) dan beluntas (Pluchea indica).
Sambung nyawa (Gynura procumbens) yang oleh masyarakat salah satu desa di
Kecamatan Dawuan disebut daun dewa, selain dimanfaatkan sebagai lalapan, juga
merupakan obat reumatik dan pegal-pegal. Hal tersebut disebabkan karena
sambung nyawa memiliki sifat hangat. Selain sambung nyawa, sintrong
(Crassocephalum crepidioides) yang banyak tumbuh dan dimanfaatkan di
34
Kecamatan Jalancagak juga merupakan lalapan selain dimanfaatkan sebagai obat
darah tinggi.
Spesies-spesies
famili
Musaceae
banyak
dimanfaatkan
masyarakat
Kecamatan Jalancagak, yaitu sebanyak lima spesies. Kelima spesies tersebut,
yaitu pisang (Musa sp.), pisang gemor (Musa sp.), pisang muli (Musa sp.), pisang
batu (Musa brachycarpa) dan pisang emas (Musa sp.). Pisang merupakan sebutan
yang umum diberikan masyarakat untuk spesies pisang apapun yang dimanfaatkan
selain keempat spesies pisang lainnya. Sebagian besar spesies pisang-pisang
tersebut dimanfaatkan bagian batangnya, baik berupa getah maupun air yang
terdapat dalam batang. Pisang batu yang oleh masyarakat juga disebut pisang
mangala selain dimanfaatkan batangnya juga dimanfaatkan daun mudanya untuk
mengobati kelumpuhan akibat stroke. Berbeda dengan keempat spesies pisang
lainnya, pisang muli dimanfaatkan buah mudanya untuk mengobati muntaber.
Gambar 10
(a)
(b)
Beberapa spesies famili Musaceae yang dimanfaatkan masyarakat
Kecamatan Jalancagak: (a) pisang gemor dan (b) pisang batu.
Masyarakat Kecamatan Tambakdahan banyak memanfaatkan spesiesspesies yang berasal dari famili Acanthaceae. Spesies- spesies yang berasal dari
famili tersebut, yaitu daun tuju (Graptopyllum sp.), kalingsir (Clinacanthus nutans),
keji beling (Stachytarpheta mutabilis), handeuleum (Graptophyllum pictum) dan
sambiloto (Andrographis paniculata). Daun tuju dan kalingsir merupakan obat
sakit kepala yang membuat sakit pada mata. Daun tuju digunakan dengan cara
diteteskan pada mata, sedangkan kalingsir dengan cara diminum. Di Kecamatan
Dawuan, daun tuju yang dikenal sebagai tarebah dimanfaatkan untuk obat gatalgatal. Sedangkan kalingsir di Kecamatan Jalancagak merupakan obat sakit
pinggang.
35
Handeulem di desa-desa Kecamatan Tambakdahan merupakan spesies
tumbuhan obat yang belum lama dikenal. Masyarakat di suatu desa di kecamatan
tersebut yang memiliki suami dengan riwayat sakit ambeyen mendapatkan
informasi mengenai spesies tumbuhan tersebut dari teman, sedangkan masyarakat
di desa lainnya mengenal dan mengetahui manfaat spesies tumbuhan obat tersebut
dari kepala desanya. Kepala desa tersebut menanam handeuleum di depan kantor
desa dan menginformasikan manfaat tumbuhan tersebut. Maka sejak itu, banyak
masyarakat yang datang untuk mengambil daunnya. Hal tersebut menunjukan
bahwa tidak dimanfaatkannya suatu spesies tumbuhan obat bukan hanya karena
masyarakat mulai enggan menggunakan tumbuhan obat, namun juga karena
belum adanya informasi mengenai tumbuhan obat tersebut dan manfaatnya.
(a)
(b)
(c)
Gambar 11 Beberapa spesies famili Acanthaceae yang dimanfaatkan masyarakat
Kecamatan Tambakdahan: (a) daun tuju, (b) kalingsir dan
(c) handeuleum.
Pada tingkat kabupaten, famili Euphorbiaceae dan Fabaceae merupakan dua
famili spesies tumbuhan obat terbanyak yang dimanfaatkan masyarakat
dibandingkan
famili
lainnya.
Spesies
tumbuhan
famili
tersebut
yang
dimanfaatkan, yaitu sebanyak 16 spesies, lebih banyak satu spesies dibandingkan
spesies famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan. Meskipun famili Zingiberaceae
merupakan famili yang spesies tumbuhannya banyak dimanfaatkan hampir di
semua kecamatan, namun spesies tumbuhan yang dimanfaatkannya hampir sama
di setiap kecamatan. Sepuluh famili spesies tumbuhan obat terbanyak yang
dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang disajikan pada Gambar 12.
36
Gambar 12
5.2.2
Sepuluh famili tumbuhan obat terbanyak yang dimanfaatkan
masyarakat Kabupaten Subang.
Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan berdasarkan
habitus
Semak merupakan habitus tumbuhan obat terbanyak yang dimanfaatkan
masyarakat di semua kecamatan lokasi penelitian. Selain semak, spesies
tumbuhan berupa perdu, pohon dan herba merupakan habitus tumbuhan yang
banyak dimanfaatkan di semua kecamatan. Hal tersebut berbeda dengan spesies
tumbuhan berupa bambu, kaktus dan liana yang hanya dimanfaatkan di beberapa
kecamatan. Persentase spesies tumbuhan berdasarkan habitusnya pada setiap
kecamatan dan pada tingkat Kabupaten Subang disajikan pada Gambar 13.
Pemanfaatan spesies tumbuhan berupa bambu dan liana hanya ditemukan
dimanfaatkan masyarakat di Kecamatan Jalancagak dan Kecamatan Dawuan.
Spesies tumbuhan obat berupa bambu hanya terdapat di lokasi-lokasi yang masih
memiliki vegetasi alami dan masih banyak ditemukan kebun-kebun, begitu juga
dengan spesies tumbuhan berupa liana. Hal tersebut berbeda dengan kondisi
lingkungan Kecamatan Tambakdahan yang sudah sulit ditemukan kebun-kebun,
apalagi vegetasi alami berupa hutan. Sehingga masyarakat di Kecamatan
37
Tambakdahan lebih banyak memanfaatkan speises tumbuhan obat berupa semak,
perdu, herba dan pohon yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan mereka.
Gambar 13 Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan habitusnya di setiap
kecamatan dan pada tingkat Kabupaten Subang.
Spesies berhabitus semak mudah ditemukan di sekitar lingkungan
masyarakat, baik yang sengaja ditanam atau pun yang tumbuh liar, begitu juga
dengan spesies yang berupa perdu dan herba. Contoh spesies tumbuhan berupa
semak yang dimanfaatkan sebagai obat, antara lain harendong bulu (Clidemia
hirta), jarong (Stachytarpheta jamaicensis), jawer kotok (Coleus scutellaroides),
pungpurutan (Urena lobata), sambiloto (Andrographis paniculata) dan cangcang
kuda (Sida rhombifolia). Cangcang kuda merupakan kerabat sidaguri dari marga
Sida. Perbedaan kedua spesies tersebut terletak pada bentuk daunnya, cangcang
kuda memiliki daun yang lebih bulat dan kecil dibandingkan sidaguri. Spesies
tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Dawuan untuk mengobati
pegal-pegal.
38
(a)
Gambar 14
(b)
(c)
Beberapa spesies tumbuhan obat yang berhabitus semak:
(a) jarong, (b) pungpurutan dan (c) harendong bulu.
Spesies tumbuhan obat berupa perdu yang dimanfaatkan masyarakat, antara
lain kelor (Moringa oleoifera), ki greges (Leonitis nepetaefolia), suji (Pleomele
torvum), senggugu (Clerodendron serratum) dan mustajab (Abelmoschus
manihot). Mustajab memiliki nama yang berbeda-beda di setiap desa. Di desadesa di Kecamatan Tambakdahan, tumbuhan ini biasa disebut mustajab dan daun
mujarab. Daun dedi, daun dodi, padodi, padedi, sampeu arab atau sampeu mekah
merupakan sebutan bagi tumbuhan tersebut di desa-desa Kecamatan Jalancagak.
Sedangkan di desa-desa di Kecamatan Dawuan, tumbuhan ini lebih dikenal
dengan nama sasampeuan, sampeu arab, sampeu mekah, daun gedi, daun dedi, ki
sedi bahkan ada yang menyebutnya daun Dokter Edi. Dokter Edi merupakan
dokter spesialis anak di Kabupaten Subang. Dokter tersebut pernah menceritakan
pada pasiennya kalau ia memiliki tumbuhan yang dapat menurunkan panas, yaitu
mustajab.
(a)
(b)
(c)
Gambar 15 Beberapa spesies tumbuhan obat yang berhabitus perdu: (a) mustajab,
(b) senggugu dan (c) ki greges.
39
Spesies tumbuhan obat yang merupakan herba yang dimanfaatkan
masyarakat biasanya merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di pekarangan,
kebun atau pinggir jalan. Contoh spesies tumbuhan obat tersebut, antara lain
katapayan (Argyreia mollis), kamandilan (Nasturtium indicum) dan surukan
(Peperomia pellucida). Katapayan merupakan tumbuhan yang merambat di
pohon-pohon di hutan. Salah seorang masyarakat Desa Bunihayu, Kecamatan
Jalancagak membawanya dari hutan dan menanamnya di pekarangan rumah.
Daun katapayan bermanfaat untuk mengobati sakit pinggang.
(a)
(b)
Gambar 16 Spesies-spesies tumbuhan obat berhabitus herba: (a) katapayan dan
(b) surukan.
Spesies tumbuhan obat berupa pohon banyak ditemukan dimanfaatkan di
lokasi yang masih memiliki vegetasi alami, seperti hutan atau masih terdapat
banyak kebun yang cukup luas yang ditumbuhi pohon-pohon. Spesies-spesies
tumbuhan obat berupa pohon terbanyak dimanfaatkan masyarakat Kecamatan
Dawuan. Beberapa spesies tumbuhan obat berupa pohon yang dimanfaatkan
masyarakat kecamatan tersebut, yaitu mahoni (Swietenia macrophylla), mara
(Macaranga tanarius), kanyere (Bridelia monoica), lame (Alstonia scholaris) dan
duwet (Syzygium cumini).
40
Gambar 17
(a)
(b)
(c)
Spesies-spesies tumbuhan obat berupa pohon: (a) lame, (b) pule dan
(c) kanyere.
Kayu la me banyak dicari untuk membuat wayang golek, ukiran dan pahatan
karena kualitas kayunya yang baik, tidak mudah retak dan pecah jika dibuat
kerajinan-kerajinan tersebut. Hal tersebut yang diduga menyebabkan pohon lame
kini mulai sulit ditemukan. Menurut masyarakat, dahulu pohon lame banyak
ditemukan di kebun-kebun dan astana (pemakaman) yang memang biasanya
banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Pule (Alstonia spectabilis) merupakan
spesies tumbuhan obat berupa pohon yang masih merupakan kerabat lame dari
famili Apocynaceae. Pule yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Rancaudik,
Kecamatan Tambakdahan bukan merupakan pohon asli desa tersebut, namun
dibawa oleh salah seorang masyarakat etnis Jawa yang telah lama tinggal di desa
tersebut dari kampung halamannya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat juga
dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat, dalam hal ini berupa pengaruh dan
pengetahuan yang dibawa etnis lain.
Spesies-spesies tumbuhan berupa bambu hanya ditemukan dimanfaatkan di
Kecamatan Jalancagak dan Kecamatan Dawuan. Pada umumnya, di kecamatankecamatan tersebut masih ditemukan tegakan bambu atau terdapat rumpunrumpun bambu yang tumbuh di kebun-kebun masyarakat. Spesies tumbuhan yang
berupa bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu bambu (Bambusa sp.),
bambu kuning (Bambusa vulgaris) dan bambu betung (Dendrocalamus asper).
Spesies tumbuhan yang berupa kaktus yang dimanfaatkan sebagai obat
hanya ditemukan dimanfaatkan masyarakat Desa Rawalele, Kecamatan Dawuan
yaitu buah naga (Hylocereus undatus). Buah naga dimanfaatkan masyarakat untuk
41
mengobati darah tinggi. Informasi mengenai manfaat buah naga tersebut diperoleh
melalui kerabat (teman, saudara dan tetangga). Spesies tumbuhan berupa liana
yang dimanfaatkan masyarakat, yaitu ki koneng (Arcangelisia flava) dan
bratawali (Tinospora crispa).
5.2.3
Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan berdasarkan
bagian yang digunakan
Spesies tumbuhan yang digunakan sebagai pengobatan memiliki khasiat
obat pada satu, beberapa atau semua bagian tumbuhannya. Terkadang suatu
bagian tumbuhan memiliki khasiat berbeda dengan bagian lainnya dalam satu
spesies tumbuhan, bahkan suatu bagian tumbuhan dalam suatu spesies tumbuhan
dapat bersifat racun sementara bagian tumbuhan lainnya merupakan obat.
Perbedaan tersebut disebabkan berbedanya zat-zat yang dikandung pada bagianbagian tumbuhan. Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan bagian yang
digunakan di setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten Subang disajikan pada
Gambar 18.
Gambar 18
Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan bagian yang
digunakan di setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten
Subang.
42
Pada Gambar 18 terlihat bahwa bagian daun merupakan bagian tumbuhan
yang paling banyak digunakan di setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten
Subang. Pada tingkat kabupaten, bagian daun merupakan bagian yang banyak
digunakan dengan persentase 47% atau hampir setengahnya dari seluruh spesies
tumbuhan obat yang dimanfaatkan, digunakan bagian daunnya. Menurut Hamzari
(2008), bagian daun dari tumbuhan merupakan bagian yang paling mudah
diperoleh, mudah diolah dan mudah diramu dibandingkan bagian lainnya serta
merupakan bagian yang mengandung zat yang berkhasiat obat karena di bagian ini
terjadi proses pembuatan makanan. Selain itu, bagian tumbuhan yang lain pun
digunakan masyarakat untuk pengobatan, meskipun dengan persentase yang
berbeda dan tidak di semua kecamatan terdapat masyarakat yang memanfaatkan
bagian-bagian tumbuhan tersebut.
Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan daunnya sebagai obat, diantaranya
buntiris (Kalanchoe pinnata), jarum tujuh bilah (Peresia sacharosa), hanjuang
merah (Cordyline terminalis), durian (Durio zibethinus), kamandilan (Nasturtium
indicum) dan kecubung gunung (Brugmansia suaveolens). Buntiris dikenal dan
dimanfaatkan sebagai pereda panas, terutama untuk anak di setiap kecamatan.
Jarum tujuh bilah hanya ditemukan di Kecamatan Jalancagak. Menurut
masyarakat, spesies tumbuhan tersebut diperoleh oleh salah seorang warga
Kecamatan Jalancagak dari Malaysia. Kecubung gunung hanya ditemukan di
Kecamatan Jalancagak. Spesies tumbuhan tersebut merupakan spesies tumbuhan
khas yang tumbuhan di daerah dataran tinggi, seperti Kecamatan Jalancagak.
Gambar 19
(b)
(c)
(a)
Spesies-spesies yang dimanfaatkan daunnya sebagai obat:
(a) kecubung gunung, (b) buntiris dan (c) jarum tujuh bilah.
43
Selain daun, bagian batang merupakan bagian tumbuhan yang banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Dawuan. Bagian batang kurang mudah
digunakan dibandingkan daun. Untuk mendapatkan bagian batang masyarakat
harus memotong atau menebang tumbuhannya. Hal tersebut kurang praktis,
terutama bila spesies tumbuhan tersebut berukuran besar atau panjang. Spesiesspesies tumbuhan yang dimanfaatkan batangnya, antara lain bambu betung
(Dendrocalamus asper), bambu kuning (Bambusa vulgaris), bratawali (Tinospora
crispa), jarak jakarta (Gliricidia spepiuim), jambu batu (Psidium guajava.) dan talas
sente (Alocasia macrorrhiza). Air batang bambu betung, jambu batu dan talas
sente dapat mengobati batuk dengan cara dituak, yaitu dipotong batangnya hingga
airnya keluar dan ditampung. Batang jarak jakarta merupakan obat sakit mata dan
bratawali
memiliki
banyak khasiat,
diantaranya mengobati
pegal-pegal.
Penggunaan talas sente dan jarak jakarta untuk pengobatan hanya ditemukan di
Kecamatan Dawuan. Kedua spesies tumbuhan tersebut juga dapat digunakan
sebagai pakan ternak.
Gambar 20
(b)
(c)
(a)
Spesies-spesies tumbuhan yang dimanfaatkan bagian batangnya
sebagai obat: (a) bambu kuning, (b) jarak jakarta dan (c) bratawali.
Selain daun dan batang, buah merupakan bagian tumbuhan yang banyak
dimanfaatkan sebagai obat di setiap kecamatan. Spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatkan bagian buahnya, antara lain mengkudu (Morinda citrifolia), takokak
(Solanum torvum), sawo (Manilkara zapota), jambu batu merah (Psidium
guajava), pepaya (Carica papaya), mentimun (Cucumis sativus), terung ungu
(Solanum melongena) dan belimbing (Averhoa carambola).
Seringkali bagian yang berbeda suatu spesies tumbuhan obat memiliki
manfaat yang berbeda pula, misalnya mengkudu. Buah mengkudu dimanfaatkan
44
masyarakat untuk mengobati darah tinggi karena buah tumbuhan tersebut
mengandung flavonoid dan bersifat diuretik (Redaksi Agromedia 2008).
Sedangkan daunnya dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati sakit maag. Selain
itu, terdapat buah dengan tingkat kematangan dan ukuran berbeda yang
dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati penyakit yang berbeda pula, yaitu labu
siam (Sechium edule). Labu siam tua yang telah berukuran besar dimanfaatkan
masyarakat untuk mengobati sakit panas, sedangkan buah labu siam muda yang
berukuran kecil dapat mengobati darah tinggi. Penggunaan buah labu siam tua
untuk mengobati sakit panas hanya ditemukan di Kecamatan Jalancagak,
sedangkan penggunaan labu siam muda sebagai obat darah tinggi umum
ditemukan di setiap kecamatan.
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan rimpangnya merupakan semua
spesies tumbuhan yang berasal dari famili Zingiberaceae. Sebagian besar spesies
yang berasal dari famili tersebut memiliki khasiat pada bagian rimpangnya.
Penggunaan rimpang spesies-spesies famili Zingiberaceae untuk pengobatan
umum dilakukan di setiap kecamatan. Spesies-spesies famili Zingiberaceae yang
dimanfaatkan selain bagian rimpangnya untuk pengobatan, yaitu kapol (Amomum
cardamomum) dan combrang (Etlingera elatior). Daun kapol yang direbus
bersama kerang air tawar, seperti remis, tutut dan susuh dimanfaatkan oleh
masyarakat salah satu desa di Kecamatan Dawuan untuk mengobati sakit kuning.
Sedangkan batang combrang merupakan obat sakit panas dan bunga combrang
adalah obat sakit kepala.
Spesies-spesies tumbuhan yang dimanfaatkan bagian bunganya, yaitu
korejat (Isotoma longiflora), labu kuning (Cucurbita moschata) dan kelapa
(Cocos nucifera). Bunga korejat yang terlebih dahulu direndam dalam air dan
kemudian diteteskan pada mata dapat mengobati sakit mata. Menurut cerita
masyarakat, penggunaan bunga korejat sebagai obat mata memiliki efek sangat
pedih pada mata. Mungkin karena hal tersebut tumbuhan ini dinamakan korejat
yang kira-kira artinya dalam bahasa Indonesia adalah terbangun karena kaget
(ngorejat). Penggunaan bunga korejat sebagai obat sakit mata dikenal di semua
kecamatan.
45
Gambar 21 Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan bunganya, yaitu korejat.
Kelapa (Cocos nucifera) merupakan tumbuhan yang hampir semua
bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai obat, mulai dari akar, pelepah, buah hingga
bunga. Bunga kelapa yang dibakar dan ditumbuk serta ditambahkan minyak
kelapa dapat mengobati merah-merah pada kulit dengan cara dioleskan.
Sedangkan pelepah kelapa yang dibubuy, yaitu dimasukan ke dalam abu panas
dalam tungku hingga melunak, dikupas dan kemudian ditumbuk merupakan obat
penyakit koreng dengan cara dioleskan.
Bagian akar merupakan bagian tumbuhan yang seringkali dimanfaatkan
sebagai obat, meskipun tidak sebanyak bagian tumbuhan lainnya. Pemanfaatan
bagian tumbuhan tersebut agak sulit digunakan karena harus menggali spesies
tumbuhan yang bersangkutan hingga diperoleh akarnya. Ong et al. (2011) pun
mengatakan bahwa penggunaan bagian tumbuhan, seperti akar atau bagian
tumbuhan lainnya yang terletak di bagian bawah tumbuhan akan menyebabkan
rendahnya regenerasi pada suatu spesies tumbuhan obat karena bagian tersebut
merupakan bagian yang menopang tumbuhan pada tanah tempat tumbuhnya. Jika
bagian tersebut diambil, maka regenerasinya akan terhambat bahkan tumbuhan
dapat mengalami kematian. Terdapat ramuan yang komposisinya terdiri dari akarakar berbagai tumbuhan yang ditemukan di setiap kecamatan. Ramuan tersebut
terdiri dari akar alang-alang (Imperata cylindrica), akar pepaya ranti (Carica
papaya) dan akar pinang (Areca catechu). Akar pinang juga seringkali diganti
dengan akar kelapa (Cocos nucifera) atau akar aren (Arenga pinnata). Rebusan
akar ketiga jenis spesies tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati pegalpegal dan reumatik.
46
Penggunaan getah untuk pengobatan ditemukan dimanfaatkan setiap
kecamatan, kecuali Kecamatan Jalancagak. Spesies tumbuhan yang berasal dari
famili Euphorbiaceae banyak dimanfaatkan getahnya untuk pengobatan. Getah
yang berasal dari spesies famili tersebut seringkali dimanfaatkan masyarakat
untuk mengobati penyakit kulit. Selain getah yang berasal dari spesies-spesies
famili Euphorbiaceae tersebut, getah papaya (Carica papaya) juga dimanfaatkan
masyarakat untuk mengobati kanker dengan cara diseduh dengan air dan diminum
dan getah jarak pagar merupakan pereda panas pada anak-anak.
(a)
(b)
Gambar 22 Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan getahnya: (a) jarak pagar dan
spesies tumbuhan yang dimanfaatkan umbinya: (b) singkong karet.
Daun singkong karet (Manihot glaziovii) beracun bila salah dalam
mengolahnya, karena hal tersebut, masyarakat pun menyebut spesies singkong ini
sebagai singkong racun. Namun, ternyata umbi spesies tumbuhan tersebut dapat
mengobati penyakit. Umbi singkong karet menurut masyarakat di Kecamatan
Dawuan dapat mengobati kista, tumor dan kanker dengan cara dimakan langsung.
Selain jenis umbi akar, spesies berumbi lapis, yaitu bawang merah (Allium cepa)
dan bawang putih (Allium sativum) juga dimanfaatkan masyarakat sebagai obat.
Bawang merah yang dicampurkan dengan minyak kelapa merupakan obat panas
dan obat keseleo. Penggunaan bawang merah untuk mengobati penyakit tersebut
ditemukan di setiap Kecamatan. Bawang putih yang ditumbuk bersama lada, beras
dan ragi merupakan ramuan untuk perawatan kesehatan ibu melahirkan dengan
cara dibalurkan di Kecamatan Jalancagak dan bawang putih yang dimakan
langsung merupakan obat darah tinggi.
Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan semua bagiannya, antara lain
ceplukan (Physalis peruviana), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), senggang
47
beureum (Amarantus hybridis) dan cucuk riut (Mimosa pudica). Ceplukan
dimanfaatkan untuk obat darah tinggi dan pegal-pegal, sedangkan rumput mutiara
merupakan obat kista, keputihan, kanker rahim dan penyubur kandungan. Semua
bagian cucuk riut, semua bagian senggang beureum dan akar alang-alang yang
direbus dimanfaatkan masyarakat sebagai obat reumatik.
5.2.4 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan berdasarkan tipe
habitat
Persentase pemanfaatan spesies tumbuhan obat yang berasal dari
pekarangan pada setiap kecamatan berkisar antara 55 - 60%, yang berarti bahwa
lebih dari separuh spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat berasal
dari pekarangan. Selain pekarangan, masyarakat di semua kecamatan pun banyak
memanfaatkan spesies tumbuhan obat yang berasal dari kebun. Persentase spesies
tumbuhan obat berdasarkan tipe habitat di setiap kecamatan dan pada tingkat
Kabupaten Subang disajikan pada Gambar 23. Pemanfaatan spesies tumbuhan
obat dari kedua habitat tersebut menunjukan bahwa telah ada upaya budidaya
terhadap tumbuhan yang dirasakan memiliki manfaat dalam memenuhi keperluan
hidup oleh masyarakat, termasuk tumbuhan untuk keperluan pengobatan.
Pekarangan merupakan tipe habitat yang terletak lebih dekat dengan tempat
tinggal masyarakat dibandingkan dengan tipe habitat lainnya, sehingga
memudahkan masyarakat untuk mengambil suatu spesies tumbuhan obat tertentu
yang diperlukan. Spesies tumbuhan obat yang ditanam di pekarangan biasanya
memiliki fungsi lain, seperti untuk hiasan (tanaman hias), tanaman pagar, bumbu
masakan dan pangan. Contoh spesies tumbuhan obat yang juga merupakan
tanaman hias, yaitu melati (Jasminum sambac), jawer kotok (Coleus
scutellaroides), kemuning (Murraya paniculata), kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis), kenanga (Canangium odoratum), tapak dara (Catharanthus roseus) dan
puring (Codiaeum variegatum).
48
Gambar 23 Persentase spesies tumbuhan obat berdasarkan tipe habitat pada setiap
kecamatan dan pada tingkat Kabupaten Subang.
Kedongdong cina (Polyscias fructicosa) merupakan spesies tumbuhan yang
dimanfaatkan masyarakat sebagai lalapan. Efek dari memakan daun kedongdong
cina adalah beser atau banyak dan sering mengeluarkan air seni. Selain itu, air
seni yang dikeluarkan pun memiliki bau khas yang tajam. Karena hal tersebut,
masyarakat juga memanfaatkan spesies tumbuhan tersebut untuk melancarkan air
seni dan penyakit lain yang berhubungan dengan ginjal dan saluran kemih.
Kedongdong cina sering sengaja ditanam sebagai penghias dan pembatas
pekarangan masyarakat (pagar). Selain berbagai manfaatnya tersebut, ternyata
kedongdong cina dapat memberikan keuntungan berupa pendapatan bagi
masyarakat di daerah lain. Para petani di Sukabumi telah lama mengekspor
kedongdong cina ke berbagai negara di wilayah Asia Timur, seperti Cina, Korea
Selatan dan Jepang. Spesies tumbuhan tersebut dimanfaatkan sebagai tanam hias
dan dianggap dapat membawa keberuntungan menurut fengshui. Selain itu,
baunya yang khas dapat memberi kenyamanan dalam ruangan (Rayadie 2011).
Spesies-spesies famili Zingiberaceae, seperti kunyit (Curcuma domestica),
lengkuas (Alpinia galanga) dan jahe (Zingiber officinale) merupakan bumbu
masak selain juga merupakan tumbuhan obat. Sedangkan daun kapol (Amomum
cardamomum) digunakan sebagai pembungkus kue tradisional oleh masyarakat,
selain dimanfaatkan untuk mengobati sakit kuning.
49
(a)
(b)
(c)
Gambar 24 Spesies-spesies tumbuhan obat yang ditanam di pekarangan:
(a) puring, (b) kenanga dan (c) kedongdong cina.
Kebun ditanami masyarakat dengan tumbuhan buah-buahan, tumbuhan
penghasil kayu, pangan dan tumbuhan lainnya yang biasanya tidak dapat ditanam
di pekarangan. Spesies-spesies tumbuhan tersebut juga seringkali dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan. Contoh spesies tumbuhan obat yang ditanam di
kebun, yaitu jengkol (Archidendron pauciflorum), rambutan (Nephelium
lappaceum), sawo (Manilkara zapota), mangga (Mangifera indica) dan mahoni
(Swietenia macrophylla). Kulit buah jengkol merupakan obat darah tinggi, pucuk
rambutan dapat meredakan panas pada anak dan buah muda sawo adalah obat
kuat pria. Masyarakat juga memanfaatkan pucuk daun mangga untuk obat
sariawan, sedangkan kulit batang dan biji mahoni dimanfaatkan untuk obat
kencing manis.
Gambar 25 Kebun, sawah dan sungai yang merupakan beberapa habitat spesies
tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat.
Masyarakat Kecamatan Tambakdahan yang terletak di daerah dataran
rendah memanfaatkan spesies tumbuhan obat yang berasal dari sawah lebih
banyak dibandingkan kecamatan lainnya. Biji padi (Oryza sativa) yang disebut
beras merupakan salah satu spesies tumbuhan obat. Selain padi, tidak banyak
spesies tumbuhan obat yang diambil masyarakat dari sawah. Contoh spesies
50
tumbuhan obat yang berasal dari sawah selain padi, yaitu turi (Sesbania
grandiflora), alang-alang (Imperata cylindrica) dan randu (Ceiba pentandra).
Turi dan randu biasanya sengaja ditanam di pinggir-pinggir sawah sebagai
peneduh. Selain sebagai peneduh, daun turi juga merupakan makanan ternak.
Sedangkan alang-alang seringkali tumbuh liar di pinggir-pinggir sawah.
Hutan hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Jalancagak,
terutama masyarakat di Desa Jalancagak dan Desa Bunihayu. Hal tersebut
disebabkan letak kedua desa ini yang berada dekat dengan hutan. Kecamatan
Jalancagak merupakan satu-satunya kecamatan diantara kecamatan lokasi
penelitian lainnya yang masih memiliki wilayah hutan. Hutan yang sering
dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan tumbuhan obat berupa hutan
tanaman pinus. Keberadaan vegetasi alami, seperti hutan mempengaruhi
pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat sekitarnya. Masyarakat yang tinggal
di sekitar hutan sedikitnya akan tergantung pada sumberdaya yang terdapat di
dalam hutan tersebut, termasuk sumberdaya berupa tumbuhan yang berkhasiat
obat.
Gambar 26
Hutan tanaman pinus yang menjadi lokasi pengambilan tumbuhan
obat oleh masyarakat Kecamatan Jalancagak.
Spesies tumbuhan obat yang diambil masyarakat Kecamatan Jalancagak dari
hutan, antara lain ki koneng (Arcangelisia flava), jukut tiris, lame (Alstonia
scholaris), mara (Macaranga tanarius), combrang (Etlingera elatior) dan lamtoro
(Leucaena leucocephala). Beberapa masyarakat telah membudidayakan combrang
di pekarangan, namun masih ada juga masyarakat yang mengambilnya langsung
dari hutan. Lame dan mara juga dapat ditemukan di kebun-kebun masyarakat
yang berbatasan dengan hutan, hal tersebut diperkirakan karena lahan yang kini
51
dimanfaatkan sebagai kebun oleh masyarakat dahulu merupakan hutan. Menurut
masyarakat, lamtoro yang berasal dari hutan berbeda dengan lamtoro yang telah
ditanam masyarakat. Masyarakat menyebut lamtoro yang berasal dari hutan
dengan nama selong. Buah selong lebih pendek dibandingkan buah lamtoro. Biji
selong yang disangray, yaitu digoreng tanpa minyak, ditumbuk dan dibuat seperti
kopi serta digunakan dengan cara diseduh dapat mengobati cacingan.
Pemanfaatan spesies tumbuhan obat yang terdapat di pinggir sungai hanya
dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Dawuan. Ki buset (Mimosa pigra)
merupakan spesies tumbuhan yang ditemukan di pinggir sungai. Spesies
tumbuhan tesebut biasanya tumbuh di pasir-pasir sungai atau di sekitar sungai.
Akar ki buset dimanfaatkan untuk mengobati kencing manis.
Spesies-spesies tumbuhan obat yang tidak diperoleh dari habitat di sekitar
lingkungan masyarakat, diperoleh dengan cara membeli. Hal tersebut disebabkan
penggunaan spesies tumbuhan tersebut tidak dapat lagi dipisahkan dalam
pengobatan. Spesies-spesies tumbuhan tersebut, antara lain bawang merah (Allium
cepa) dan bawang putih (Allium sativum).
5.2.5
Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan berdasarkan
kelompok penyakit/penggunaan
Terdapat 21 kelompok penyakit/penggunaan yang diobati masyarakat
dengan memanfaatkan tumbuhan obat. Lima kelompok penyakit/penggunaan
spesies tumbuhan obat terbanyak pada setiap kecamatan tidak terlalu berbeda,
seperti terlihat pada Tabel 4. Kelompok penyakit gangguan peredaran darah dan
jantung, kelompok penyakit panas, demam dan influenza, kelompok penyakit
tulang, otot dan sendi, kelompok penyakit saluran pencernaan dan kelompok
penyakit ginjal, saluran kemih dan hati merupakan kelompok-kelompok penyakit
yang umumnya menjadi kelompok penyakit/penggunaan spesies tumbuhan obat
terbanyak. Perbedaan kelompok penyakit/penggunaan terbanyak pada setiap
kecamatan hanya terletak pada urutan kelompok penyakit/penggunaan dan jumlah
spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut.
52
Tabel 4
Lima kelompok penyakit/penggunaan spesies tumbuhan obat terbanyak
di setiap kecamatan
Lokasi
Kecamatan Jalancagak
Kecamatan Dawuan
Kecamatan Tambakdahan
No
Kelompok penyakit/penggunaan
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
Gangguan peredaran darah dan jantung
Panas, demam, influenza
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit tulang, otot dan sendi
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pembuangan
Panas, demam dan influenza
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Jumlah spesies
tumbuhan obat
34
33
33
25
24
55
50
45
42
30
19
19
19
18
13
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat diharapkan dapat
menjadi alternatif pengobatan bagi masyarakat selain obat kimia, khususnya untuk
mengobati penyakit yang banyak diderita masyarakat. Spesies tumbuhan obat
untuk mengobati penyakit yang banyak diderita tersebut bukan hanya dapat
menjadi alternatif pengobatan bagi masyarakat yang biasa memanfaatkannya,
namun juga dapat dimanfaatkan masyarakat di daerah Kabupaten Subang lainnya.
Kelompok penyakit gangguan peredaran darah dan jantung terdiri dari
penyakit darah tinggi, darah rendah dan jantung. Darah tinggi merupakan penyakit
yang termasuk ke dalam sepuluh penyakit yang banyak diderita masyarakat di
Kecamatan Jalancagak, Kecamatan Dawuan dan Kecamatan Tambakdahan pada
tahun 2010. Masyarakat Kecamatan Dawuan merupakan masyarakat yang banyak
menderita penyakit darah tinggi dibandingkan masyarakat di kedua kecamatan
lainnya, yaitu sebanyak 1014 penderita, seperti terlihat pada Gambar 27.
53
Gambar 27
Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati masyarakat di
Puskesmas Wangunreja (sumber: Laporan Tahunan Puskesmas
Wangunreja, Kecamatan Dawuan Tahun 2010).
Jumlah spesies tumbuhan obat untuk mengobati kelompok penyakit
gangguan peredaran darah dan jantung di kecamatan Dawuan cukup banyak, yaitu
sebanyak 50 spesies dan sebagian besar merupakan spesies tumbuhan obat untuk
mengobati penyakit darah tinggi. Sebagai contoh, di Desa Sukasari, Kecamatan
Dawuan, dari 35 spesies tumbuhan obat untuk kelompok penyakit gangguan
peredaran darah dan jantung, sebanyak 29 spesies diantaranya dimanfaatkan
masyarakat untuk mengobati darah tinggi.
Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kecamatan
Dawuan untuk mengobati darah tinggi, antara lain belimbing (Averhoa
carambola), mengkudu (Morinda citrifolia), ceplukan (Physalis peruviana),
pepaya (Carica papaya, (pinang (Areca catechu), ketumbar
(Coriadrum
sativum), pongporang (Arthrophyllum diversifolium) dan salak (Salacca zalacca).
Jika spesies-spesies tumbuhan obat tersebut dimanfaatkan masyarakat secara
maksimal, maka spesies-spesies tersebut akan menjadi alternatif pengobatan
penyakit darah tinggi yang mudah, murah dan relatif aman. Mudah karena
ternyata spesies-spesies tumbuhan obat tersebut tumbuh dan dapat ditemukan di
sekitar lingkungan masyarakat dan masyarakat dapat mengolahnya sendiri di
rumah. Biaya pengolahan spesies tumbuhan obat tersebut akan jauh lebih murah
dibandingkan pengobatan dengan obat kimia. Selain itu, obat tradisional yang
54
cenderung tidak memiliki efek samping relatif aman digunakan masyarakat.
Hanya saja, ternyata tidak semua spesies tumbuhan obat tersebut masih mudah
ditemukan hingga kini. Pongporang merupakan spesies tumbuhan yang sudah
sulit ditemukan saat ini. Masyarakat menganggap spesies ini kurang komersial
sehingga memilih untuk menebangnya dari lahan kebun atau pinggir sawah
mereka. Pemberian informasi mengenai pentingnya manfaat spesies tumbuhan
obat tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat akan kelestarian spesies
tumbuhan tersebut.
Kelompok penyakit panas, demam dan influenza merupakan kelompok
penyakit yang paling banyak diobati masyarakat Kecamatan Tambakdahan
menggunakan spesies tumbuhan obat, yaitu sebanyak 19 spesies. Meskipun
jumlah spesies tersebut masih lebih sedikit dibandingkan dengan yang
dimanfaatkan masyarakat Kecamatan Jalancagak untuk mengobati kelompok
penyakit yang sama, namun kelompok penyakit panas, demam dan influenza
termasuk ke dalam sepuluh penyakit yang banyak diderita masyarakat Kecamatan
Tambakdahan pada tahun 2010, sehingga adanya spesies tumbuhan obat untuk
mengobati penyakit tersebut sangat diharapkan dapat menjadi alternatif
pengobatan bagi masyarakat.
Masyarakat Kecamatan Tambakdahan biasanya terlebih dahulu mengobati
penyakit-penyakit kelompok penyakit panas, demam dan influenza dengan
tumbuhan obat, seperti mustajab (Abelmoschus manihot), kacapiring (Gardenia
augusta), randu (Ceiba pentandra), kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis),
salak (Salacca zalacca), lidah buaya (Aloe vera) dan pisang batu hitam (Musa
sp.). Setelah dengan pengobatan menggunakan tumbuhan obat tersebut penderita
tidak kunjung sembuh, biasanya penderita akan dibawa ke dokter atau puskesmas
untuk mendapat pengobatan lebih lanjut. Masyarakat dengan tipe pemanfaatan
tumbuhan obat seperti itu disebut tipe pemanfaatan pertolongan pertama.
55
Gambar 28 Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati masyarakat di
Puskesmas Tambakdahan (sumber: Laporan Tahunan Puskesmas
Tambakdahan, Kecamatan Tambakdahan Tahun 2010).
Penyakit yang termasuk ke dalam penyakit saluran pencernaan, antara lain
maag, perut kembung, sariawan dan diare. Maag merupakan penyakit yang
banyak diderita masyarakat setiap kecamatan. Spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit tersebut, antara lain (Persea gratissima
Gaertn.), bambu betung (Dendrocalamus asper), jukut bau (Ageratum
conyzoides), kunir putih (Curcuma zedoaria), kunir hitam (Curcuma aeruginosa)
dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Penyakit maag seringkali diobati
masyarakat dengan cara unik menggunakan tumbuhan, diantaranya dengan
menggunakan nasi yang dibiarkan sampai siang hari, hingga agak mengeras,
masyarakat menyebut nasi seperti ini sangu poe. Nasi yang telah mengeras
tersebut dibentuk bulat-bulat kecil dan langsung ditelan penderita maag, tanpa
dikunyah terlebih dahulu. Selain itu, daun jarak pagar (Ricinus communis) dan
pucuk hanjuang merah (Cordyline terminalis) yang digoreng dengan nasi juga
dipercaya dapat mengobati maag.
Diare merupakan penyakit yang termasuk ke dalam sepuluh kelompok
penyakit yang banyak diderita masyarakat di setiap kecamatan. Pada tahun 2010,
penderita penyakit ini mencapai 430 orang di Kecamatan Jalancagak, 1017 orang
di Kecamatan Dawuan dan 233 orang di Kecamatan Tambakdahan. Diare
56
memang termasuk penyakit yang ringan dan biasanya disebabkan oleh makanan
yang dikonsumsi dan kurang bersihnya lingkungan masyarakat, namun jika
dibiarkan penyakit tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami kekurangan
cairan tubuh dan dapat menyebabkan kematian.
Daun jambu batu (Psidium guajava) merupakan spesies tumbuhan obat
yang umum dimanfaatkan di setiap lokasi untuk mengobati diare. Penggunaan
jambu batu sebagai obat diare dapat berupa ramuan tunggal atau dengan
ditambahkan garam dan dapat juga merupakan ramuan dengan dicampur spesies
tumbuhan lain. Penambahan garam pada ramuan untuk mengobati diare tersebut
dimaksudkan untuk membunuh kuman-kuman penyebab diare. Sedangkan spesies
tumbuhan lain yang sering dicampurkan dengan daun jambu batu untuk
mengobati diare adalah kunyit (Curcuma domestica). Selain itu, kunci
(Boesenbergia pandurata), air kelapa (Cocos nucifera) dan air pada batang pisang
(Musa sp.) pun dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati diare.
Gambar 29
Sepuluh penyakit yang banyak diderita dan diobati masyarakat di
Puskesmas Jalancagak (sumber: Laporan Tahunan Puskesmas
Jalancagak, Kecamatan Jalancagak Tahun 2010).
Kelompok penyakit ginjal, saluran kemih dan hati, antara lain terdiri dari
penyakit kencing manis, batu ginjal dan sakit kuning. Kanyere (Bridelia
monoica), keji beling (Stachytarpheta mutabilis), kumis kucing (Orthosiphon
spicatus), alpukat (Persea gratissima), kacang gude (Cajanus cajan) merupakan
57
beberapa spesies tumbuhan untuk mengobati batu ginjal. Sedangkan bambu
kuning (Bambusa vulgaris), ki koneng (Arcangelisia flava), kapol (Amomum
cardamomum) dan seledri (Apium graveolens) dimanfaatkan untuk mengobati
sakit kuning. Seringkali warna suatu spesies tumbuhan dipercaya dapat mengobati
penyakit dengan gejala tertentu. Sebagai contoh, bambu kuning dan ki koneng
tersebut. Penggunaan kapol untuk obat sakit kuning harus dicampurkan dengan
kerang air tawar.
Spesies tumbuhan masih dimanfaatkan masyarakat di setiap kecamatan
untuk mengobati kelompok penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan. Jumlah spesies tumbuhan obat untuk kelompok penyakit dan
perawatan kesehatan ibu hamil dan melahirkan terbanyak terdapat di Kecamatan
Jalancagak, yaitu sebanyak 22 spesies. Spesies yang dimanfaatkan pada kelompok
penyakit tersebut, antara lain jawer kotok (Coleus scutellaroides), sembung
(Blumea
balsamifera),
kencur
(Kaempferia
galanga),
kunyit
(Curcuma
domestica), pinang (Areca catechu) dan sirih (Piper betle). Masing-masing
spesies tumbuhan tersebut memiliki fungsi tersendiri dalam perawatan kesehatan
ibu melahirkan, seperti jawer kotok sebagai anti septik yang menyembuhkan luka
dalam setelah melahirkan, kunyit yang berfungsi agar bau anyir darah setelah
melahirkan hilang dan menjaga kesehatan mata ibu.
(a)
Gambar 30
(b)
(c)
(d)
Beberapa spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk perawatan
kesehatan ibu melahirkan: (a) jawer kotok, (b) sirih, (c) sembung
dan (d) pinang.
Reumatik, sakit pinggang dan pegal-pegal merupakan penyakit-penyakit
yang banyak diderita masyarakat dan termasuk kelompok penyakit tulang, otot
dan sendi. Pada tingkat Kabupaten Subang, kelompok penyakit tersebut
merupakan kelompok penyakit terbanyak yang diobati masyarakat menggunakan
58
tumbuhan obat, yaitu sebanyak 64 spesies. Kelompok penyakit ini umum dialami
masyarakat yang tinggal di pedesaan, terutama masyarakat yang banyak
melakukan aktifitas fisik. Selain itu, faktor umur pun biasanya memacu timbulnya
penyakit-penyakit dari kelompok penyakit tersebut.
Tabel 5 Lima kelompok penyakit/penggunaan spesies tumbuhan obat terbanyak
pada tingkat Kabupaten Subang
No
Kelompok penyakit/penggunaan
Jumlah spesies
1
Penyakit tulang, otot dan sendi
64
2
Gangguan peredaran darah dan jantung
63
3
Penyakit saluran pencernaan
56
4
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
50
5
Panas, demam dan influenza
47
Sukun (Artocarpus communis) merupakan salah satu spesies tumbuhan obat
yang dimanfaatkan untuk mengobati reumatik. Menurut masyarakat, penggunaan
daun sukun tersebut cukup ampuh untuk mengobati reumatik, namun ramuan
tersebut juga memiliki efek samping. Permukaan daun sukun yang kasar dan
berbulu ternyata menyebabkan efek samping berupa sakit pada tenggorokan,
bahkan radang tenggorokan setelah meminum ramuan tersebut.
Ramuan yang terdiri dari 20 spesies tumbuhan obat, yaitu daun sambiloto
(Andrographis paniculata), kunyit (Curcuma domestica), temulawak (Curcuma
xanthorrhiza), beluntas (Pluchea indica), handeuleum (Graptophyllum pictum),
semua bagian nanangkaan (Euphorbia hirta), semua bagian meniran (Phyllanthus
niruri), akar pepaya ranti (Carica papaya), akar pinang (Arenga catechu),
bratawali (Tinospora crispa), daun saga (Abrus precatorius), akar alang-alang
(Imperata cylindrica), kunir hitam (Curcuma aeruginosa), sirih (Piper betle),
semua bagian anting-anting (Acalypha indica), akar ceplukan (Physalis
peruviana), daun alpukat (Persea gratissima), daun jarong (Stachytarpheta
jamaicensis), daun kumis kucing (Orthosiphon spicatus) dan daun keji beling
(Stachytarpheta mutabilis) yang direbus digunakan masyarakat Desa Rawalele,
Kecamatan Dawuan untuk mengobati penyakit-penyakit tulang, otot dan sendi,
yaitu sakit pinggang, pegal-pegal dan reumatik. Selain itu, ramuan tersebut juga
berkhasiat mengobati keputihan, ambeyen, sakit kencing, kencing berdarah dan
darah tinggi. Meskipun selama ini masyarakat sudah merasakan kemanjuran
59
ramuan tersebut bagi pengobatan dan belum adanya keluhan setelah
mengkonsumsi ramuan tersebut, namun sebaiknya pencampuran berbagai spesies
tumbuhan obat dalam suatu ramuan diperhatikan kandungan dan dosisnya
sehingga tidak membahayakan kesehatan.
Penyakit-penyakit dari kelompok penyakit saluran pencernaan dan
kelompok penyakit panas, demam dan influenza umumnya dianggap sebagi
penyakit ringan, meskipun pada kenyataannya penyakit-penyakit yang seringkali
diderita masyarakat tersebut kadangkala mengganggu aktifitas masyarakat.
Penyakit-penyakit yang ringan dan sering diderita masyarakat tersebut ternyata
masih banyak diobati masyarakat dengan menggunakan tumbuhan obat. Spesies
tumbuhan obat yang digunakan pun termasuk spesies-spesies yang mudah
ditemukan dan umum terdapat di sekitar lingkungan masyarakat. Spesies
tumbuhan obat untuk mengobati kelompok penyakit saluran pencernaan oleh
masyarakat Kabupaten Subang mencapai 56 spesies dan untuk kelompok penyakit
panas, demam dan influenza sebanyak 47 spesies, seperti terlihat pada Tabel 5.
Pada umumnya pemanfaatan tumbuhan obat untuk penyakit-penyakit tersebut
hanya sebagai pertolongan pertama sebelum penderita diobati lebih lanjut oleh
dokter, puskesmas dan lain-lain jika penggunaannya dianggap tidak manjur.
Diantara spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat
Kabupaten Subang, terdapat juga spesies tumbuhan yang dimanfaatkan untuk
mengobati penyakit-penyakit yang termasuk berat dan hingga di masa yang akan
datang akan tetap banyak diteliti serta dicari pengobatannya. Penyakit-penyakit
tersebut antara lain, kanker, jantung dan diabetes. Sebagian besar spesies
tumbuhan obat untuk mengobati kanker diketahui dari masyarakat dengan riwayat
penyakit tersebut. Selain itu, media cetak, media elektronik dan medis merupakan
sumber pengetahuan masyarakat mengenai spesies tumbuhan obat untuk
mengobati penyakit-penyakit tersebut. Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
masyarakat untuk mengobati penyakit tersebut, yaitu sirsak (Annona muricata),
kunir putih (Curcuma zedoaria), pepaya (Carica papaya), singkong karet
(Manihot glaziovii), tapak dara (Catharanthus roseus), benalu (Henslowia
frutescens) dari berbagai jenis tumbuhan dan lain-lain.
60
Benalu (Henslowia frutescens) atau tumbuhan yang hidup menumpang pada
tumbuhan lain yang biasa disebut masyarakat dengan katumpangan dan
mangandeuh merupakan spesies tumbuhan yang dapat mengobati kanker, tumor
atau sebagai pencegah kanker. Benalu pohon teh dimanfaatkan untuk mengobati
kista, sedangkan benalu mangga merupakan obat kanker payudara. Menurut salah
seorang warga yang banyak mengetahui mengenai tumbuhan obat dan
pemanfaatannya di Desa Manyeti, Kecamatan Dawuan, spesies tumbuhan yang
menumpang pada teh ataupun mangga sebenarnya sama, namun mungkin karena
menumpang pada spesies tumbuhan berbeda sehingga zat-zat yang terkandung di
dalam kedua jenis benalu tersebut juga menjadi berbeda. Sedangkan warga
masyarakat lain di Desa Tambakdahan, Kecamatan Tambakdahan mengatakan
bahwa benalu pada pohon delima putih dapat mengobati kanker pada stadium
awal dengan menghambat pertumbuhan kanker tersebut.
Penyakit jantung dapat diobati menggunakan daun coklat (Theobroma
cacao), terong bulat (Solanum sp.) dan takokak (Solanum torvum). Selain itu,
rebusan kulit batang duwet (Syzygium cumini) dengan kulit batang limus
(Mangifera foetida) dan rebusan akar kelapa (Cocos nucifera) pun merupakan
obat sakit jantung. Pengetahuan mengenai ramuan tersebut diperoleh dari
pengobat yang mendapatkannya melalui ilham. Kencing manis diobati masyarakat
dengan menggunakan daun jati (Tectona grandis), kulit batang duwet (Syzygium
cumini), kulit buah jengkol (Archidendron pauciflorum), akar pepaya ranti
(Carica papaya), batang serai (Cymbopogon nardus), daun salam (Syzygium
polyanthum), daun sirsak (Annona muricata) dan semua bagian sidaguri (Sida
rhombifolia). Pada umumnya, ramuan yang berasal dari spesies-spesies tumbuhan
tersebut berasa pahit.
Kelompok penyakit yang tidak selalu ditemukan diobati masyarakat
menggunakan tumbuhan obat di setiap kecamatan, antara lain kelompok penyakit
dan perawatan rambut, kelompok penyakit dan perawatan kaki dan luka karena
binatang dan pencegahannya. Hal tersebut disebabkan penyakit-penyakit tersebut
jarang diderita masyarakat. Sebagai contoh, spesies tumbuhan obat untuk
mengobati kelompok penyakit dan perawatan rambut hanya ditemukan
dimanfaatkan di tiga desa. Seledri (Apium graveolens), rambutan (Nephelium
61
lappaceum) dan kemiri (Aleurites moluccana) merupakan spesies tumbuhan obat
yang dimanfaatkan pada kelompok penyakit tersebut. Seledri digunakan untuk
menumbuhkan rambut, daun rambutan dapat menyuburkan rambut dan kemiri
merupakan spesies tumbuhan obat untuk menumbuhkan kumis dan janggut.
5.2.6 Frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat
Frekuensi pemanfaatan spesies tumbuhan obat merupakan banyaknya
jumlah masyarakat yang memanfaatkan spesies tumbuhan tertentu. Sebagai
contoh, frekuensi pemanfaatan mustajab yang tertinggi terdapat di Kecamatan
Jalancagak sebanyak 30%, artinya sebanyak 30% atau 27 orang dari jumlah
keseluruhan masyarakat yang diwawancarai di kecamatan tersebut (90 orang)
memanfaatkan mustajab. Sepuluh spesies dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi
di setiap kecamatan disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi
di setiap kecamatan
Lokasi
Kecamatan Jalancagak
Kecamatan Dawuan
KecamatanTambakdahan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
Spesies tumbuhan obat
Sirih (Piper betle)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Sembung (Blumea balsamifera)
Jambu batu (Psidium guajava)
Kunir hitam (Curcuma aeruginosa)
Bawang merah (Allium cepa)
Kunyit (Curcuma domestica)
Jawer kotok (Coleus scutellaroides)
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Kunyit (Curcuma domestica)
Sirih (Piper betle)
Saga (Abrus precatorius)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Murbei (Morus alba)
Jambu batu (Psidium guajava)
Kelapa (Cocos nucifera)
Alang-alang (Imperata cylindrica)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Sirih (Piper betle)
Kunyit (Curcuma domestica)
Jambu batu (Psidiun guajava)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Frekuensi
pemanfaatan
(%)
33,33
30,00
24,44
18,89
15,56
14,44
14,44
13,33
13,33
13,33
40,00
35,56
25,56
18,89
16,67
15,56
13,33
13,33
12,22
11,11
36,67
27,78
22,22
13,33
62
Tabel 6
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi
di setiap kecamatan (lanjutan)
Lokasi
No
Spesies tumbuhan obat
5
6
7
8
9
10
Ceplukan (Physalis peruviana)
Padi (Oryza sativa)
Saga (Abrus precatorius)
Pepaya ranti (Carica papaya)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
Frekuensi
pemanfaatan
(%)
12,22
10,00
10,00
7,78
7,78
7,78
Spesies-spesies tumbuhan obat yang memiliki frekuensi pemanfaatan
tertinggi di ketiga kecamatan tidak berbeda jauh. Sirih (Piper betle) dan kunyit
(Curcuma domestica) merupakan spesies-spesies tumbuhan obat yang termasuk
ke dalam sepuluh spesies tumbuhan obat tersebut di semua kecamatan. Hal
tersebut disebabkan kondisi masyarakat masing-masing desa di setiap kecamatan
lokasi penelitian yang dapat dikatakan telah maju dan memiliki akses yang mudah
ke daerah lain, sehingga informasi mengenai pemanfaatan suatu spesies yang
berkhasiat obat mudah menyebar dan mudah dibawa untuk dibudidayakan di
daerah lainnya. Oleh karena itu, spesies-spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatkan masyarakat cenderung sama.
Sembung (Blumea balsamifera) dan sirih (Piper betle) termasuk ke dalam
sepuluh spesies tumbuhan dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi di Kecamatan
Jalancagak. Frekuensi pemanfaatan sirih tertinggi terdapat di Kecamatan Dawuan
sebanyak 35,56%, sedangkan jumlah masyarakat yang banyak memanfaatkan
sembung terdapat di Kecamatan Jalancagak sebesar 24,44%. Kedua spesies
tumbuhan tersebut dikenal dan banyak dimanfaatkan untuk mengobati kelompok
penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan melahirkan dan kelompok
penyakit dan perawatan kewanitaan. Selain sembung dan sirih, jawer kotok
(Coleus scutellaroides) dan kunyit (Curcuma domestica) pun merupakan spesies
yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati kedua kelompok
penyakit tersebut. Jawer kotok dan kunyit juga dikenal dan dimanfaatkan untuk
mengobati penyakit lain. Jawer kotok dimanfaatkan sebagai obat batuk, obat sakit
mata dan obat tambah darah. Sedangkan kunyit, hampir di semua lokasi dikenal
dan dimanfaatkan sebagai obat maag.
63
Kunir hitam (Curcuma aeruginosa) kerabat kunyit dari famili Zingiberaceae
yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Jalancagak dengan
frekuensi pemanfaatan 15,56%. Kunir hitam dimanfaatkan untuk mengobati
maag, kurang darah, mengobati mencret pada bayi (indah) serta merupakan salah
satu spesies tumbuhan dalam ramuan untuk perawatan kesehatan ibu melahirkan.
Bawang merah (Allium cepa) yang dicampurkan dengan minyak kelapa atau
asam jawa (Tamarindus indica) merupakan obat untuk meredakan panas pada
anak. Bawang merah termasuk ke dalam sepuluh spesies tumbuhan dengan
frekuensi pemanfaatan tertinggi di Kecamatan Jalancagak dengan frekuensi
pemanfaatan sebesar 14,44%. Selain spesies tumbuhan tersebut, mustajab
(Abelmonchus manihot) juga merupakan spesies tumbuhan obat yang dapat
meredakan panas dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di kecamatan
Jalancagak dan Kecamatan Dawuan.
Murbei (Morus alba) atau masyarakat biasanya menyebutnya bebesaran
merupakan spesies tumbuhan obat yang termasuk ke dalam sepuluh spesies
tumbuhan obat yang banyak digunakan oleh masyarakat Kecamatan Dawuan.
Daun murbei memiliki banyak khasiat, yaitu darah tinggi, panas, sakit kepala,
sakit pinggang, batuk, maag, perut panas dan sesak nafas. Namun, khasiatnya
sebagai obat darah tinggi lebih dikenal dan banyak dimanfaatkan masyarakat di
semua kecamatan. Saga (Abrus precatorius) dikenal dan dimanfaatkan untuk
mengobati sariawan, panas dalam dan batuk di Kecamatan Dawuan dan
Kecamatan Tambakdahan. Frekuensi pemanfaatan saga oleh masyarakat
Kecamatan Dawuan mencapai 25,56%.
Pemanfaatan alang-alang (Imperata cylindrica), ceplukan (Physalis
peruviana) dan pepaya ranti (Carica papaya) biasanya disatukan dalam satu
ramuan. Ramuan yang terdiri dari akar alang-alang, akar atau seluruh bagian
ceplukan dan akar pepaya ranti dimanfaatkan untuk mengobati penyakit-penyakit
dalam kelompok penyakit tulang, otot dan sendi. Ramuan tersebut juga biasanya
ditambahkan akar kelapa, akar pinang atau akar aren dan ditemukan dimanfaatkan
hampir di lokasi. Penambahan ketiga spesies terakhir tersebut cenderung berbeda
di setiap lokasi. Desa-desa yang terletak di daerah pegunungan dan dataran tinggi
(Kecamatan Jalancagak) biasanya menggunakan akar aren, sedangkan akar kelapa
64
dan akar pinang banyak digunakan oleh masyarakat di desa-desa dataran dan
berbukit (Kecamatan Dawuan) dan masyarakat di daerah dataran rendah
(Kecamatan Tambakdahan). Kumis kucing (Orthosiphon spicatus) termasuk ke
dalam sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi tertinggi di semua
kecamatan dan dimanfaatkan mengobati penyakit-penyakit dalam kelompok
penyakit tulang, otot dan sendi, diantaranya sakit pinggang.
Sirih (Piper betle) merupakan spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
oleh masyarakat Kabupaten Subang dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi, yaitu
mencapai 35,19% atau sebanyak 95 orang responden memanfaatkan spesies
tumbuhan tersebut dari 270 orang responden yang diwawancarai. Pemanfaatan
sirih sebagai tumbuhan obat memang telah lama dikenal. Spesies ini memiliki
banyak khasiat bagi pengobatan. Spesies tumbuhan obat lainnya yang termasuk ke
dalam sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi
oleh masyarakat Kabupaten Subang dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi
pada tingkat Kabupaten Subang.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Nama spesies
Sirih (Piper betle)
Kunyit (Curcuma domestica)
Jambu batu (Psidium guajava)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Saga (Abrus precatorius)
Sembung (Blumea balsamifera)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Randu (Ceiba pentandra)
Ceplukan (Physalis peruviana)
Frekuensi pemanfaatan (%)
35,19
27,41
18,15
17,04
14,44
14,07
11,11
10,74
10,37
10,00
Spesies-spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi di
Kabupaten Subang pada umumnya digunakan oleh masyarakat untuk penyakitpenyakir ringan dan sering diderita masyarakat, seperti jambu batu (Psidium
guajava) untuk mengobati diare, mustajab (Abelmonchus manihot) dan randu
(Ceiba pentandra) untuk meredakan panas dan saga (Abrus precatorius) untuk
mengobati sariawan. Pengobatan yang dilakukan dengan spesies tumbuhan obat
tersebut pun lebih banyak merupakan pengobatan yang dilakukan dalam skala
rumah tangga atau pengobatan sendiri.
65
Gambar 31
(a)
(b)
Beberapa spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi: (a) randu dan (b) saga.
5.2.7 Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat
Terdapat sembilan sumber pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan
tumbuhan obat untuk pengobatan. Sumber-sumber pengetahuan tumbuhan obat
dapat pada setiap kecamatan dapat dilihat pada Gambar 32, Gambar 33 dan
Gambar 35. Sumber pengetahuan secara turun temurun mengenai tumbuhan obat
dan pemanfaatannya merupakan sumber pengetahuan terbanyak di setiap
kecamatan. Sumber pengetahuan secara turun-temurun diperoleh melalui orang
tua dan leluhur. Persentase sumber pengetahuan tersebut di setiap kecamatan
berkisar antara 58 – 84%. Artinya, lebih dari separuh spesies tumbuhan obat yang
dimanfaatkan berasal dari pengetahuan secara turun-temurun.
Banyaknya tumbuhan obat yang dikenal dan dimanfaatkan melalui
pengetahuan secara turun-temurun menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat
masih memegang dan melaksanakan pengetahuan yang diajarkan oleh orang tua
atau leluhurnya dalam pemanfaatan tumbuhan obat, meskipun tentu saja jumlah
spesies tumbuhan dan intensitas pemanfaatannya tidak sebanyak dahulu. Hal
tersebut disebabkan telah banyaknya spesies tumbuhan yang mulai sulit
ditemukan, bahkan sudah tidak ada lagi di sekitar lingkungan masyarakat. Selain
itu, telah banyaknya obat kimia yang mudah diperoleh dan lebih praktis
digunakan serta adanya fasilitas kesehatan yang dibangun di sekitar tempat tinggal
masyarakat pun membuat masyarakat mulai enggan menggunakan tumbuhan obat.
Biasanya pengetahuan secara turun-temurun yang masih dipegang masyarakat
berupa pengetahuan mengenai ramuan tumbuhan obat sederhana. Sederhana yang
dimaksud, yaitu tidak terlalu banyak spesies tumbuhan yang digunakan, sederhana
66
dalam mengolah dan dalam menggunakannya. Ramuan tumbuhan obat sederhana
tersebut biasanya dimanfaatkan untuk mengobati penyakit-penyakit ringan yang
sering diderita masyarakat.
Gambar 32 Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat
Kecamatan Jalancagak.
Sumber pengetahuan spesies tumbuhan obat dan pemanfaatannya yang
berasal dari kerabat merupakan sumber pengetahuan yang banyak dimanfaatkan
masyarakat di kecamatan-kecamatan lokasi penelitian. Masyarakat mudah
terpengaruh oleh perilaku, pemikiran dan perasaan warga lain dalam lingkungan
masyarakat tersebut atau oleh masyarakat lainnya terhadap suatu hal, karena
seringkali interaksi dalam dan antar masyarakat bersifat persuasif. Dalam hal
pemanfaatan tumbuhan obat, seringkali seorang warga ikut menggunakan suatu
tumbuhan obat karena melihat atau mendapat saran dari warga lainnya. Pengaruh
tersebut akan semakin besar seiring dengan semakin dekatnya hubungan warga
dalam suatu masyarakat atau dengan masyarakat lainnya. Kecamatan Jalancagak
memiliki persentase sumber pengetahuan dari kerabat terkecil. Hal tersebut
disebabkan terdapat daerah-daerah di Kecamatan Jalancagak yang terletak
berjauhan hingga interaksi antar masyarakat yang tinggal di dalamnya pun lebih
kecil dibandingkan di daerah lainnya.
67
Gambar 33
Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat
Kecamatan Dawuan.
Masyarakat yang mengetahui mengenai tumbuhan obat dan manfaatnya dari
pengobat (dukun, tukang urut, paraji dan lain-lain) tidak terlalu banyak.
Kecamatan Jalancagak merupakan kecamatan yang masyarakatnya paling sedikit
mengetahui tentang tumbuhan obat dan manfaatnya dari pengobat. Hal tersebut
disebabkan karena jumlah pengobat di kecamatan tersebut yang menggunakan
tumbuhan obat sebagai media penyambuhan tidak banyak, terutama pengobat
berupa dukun dan tukang urut. Paraji (dukun beranak) cukup banyak ditemukan di
Kecamatan Jalancagak, mencapai dua hingga tiga orang pada setiap desanya,
namun sudah banyak yang tidak menggunakan tumbuhan obat. Paraji yang
ditemui merupakan paraji terdidik yang bertugas mendampingi bidan desa dan
membantu merawat bayi. Namun, paraji-paraji tersebut masih diperbolehkan
menganjurkan penggunaan tumbuhan obat dalam merawat kesehatan ibu setelah
melahirkan.
Masyarakat juga mendapat pengetahuan mengenai tumbuhan obat dan
pemanfaatannya dari media cetak, berupa koran, buku, majalah dan lain-lain.
Jumlah masyarakat yang mendapat pengetahuan dari sumber tersebut cukup kecil,
yaitu hanya 2 – 5%. Hal tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan
masyarakat di kecamatan-kecamatan lokasi penelitian masih rendah. Masyarakat
68
yang mendapatkan pengetahuan mengenai spesies tumbuhan obat dan
pemanfaatannya dari media cetak biasanya merupakan masyarakat dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah dasar, karena masyarakat dengan tingkat
pendidikan tersebut lebih mudah mendapatkan akses terhadap sumber
pengetahuan tersebut. Media cetak yang dijadikan sumber pengetahuan tersebut,
diantaranya Majalah Trubus, Majalah Mangle dan Koran Giwangkara.
Seperti media cetak, masyarakat yang mendapat pengetahuan mengenai
tumbuhan obat dan pemanfaatannya dari media elektronik pun sedikit, hanya 1%
pada setiap kecamatannya. Hal tersebut disebabkan mulai berkurangnya acara
yang memberikan pengetahuan tentang tumbuhan obat dan pemanfaatanya di
media-media elektronik yang mudah diakses masyarakat, seperti TV dan radio.
Jika pun ada, masyarakat biasanya akan memilih tayangan lain yang dianggap
lebih menarik. TVRI merupakan salah satu stasiun televisi yang pernah diketahui
masyarakat menanyangkan acara mengenai pengobatan secara tradisional dengan
tumbuhan obat dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang
tersebut. Namun, banyak masyarakat yang sudah jarang atau bahkan tidak lagi
menonton saluran tersebut.
Media cetak dan media elektronik sebenarnya merupakan media yang
ampuh untuk penyebaran informasi terhadap masyarakat. Media elektronik
terutama dapat diakses semua kalangan masyarakat tanpa membedakan usia,
tingkat pendidikan, pekerjaan dan tingkat ekonomi. Pemberian pengetahuan
mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatannya akan sangat efektif dilakukan
melalui media ini, namun dengan pengemasan acara yang lebih menarik dan tetap
mendidik.
Sumber pengetahuan mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatanya melaui
ilham (mimpi, tirakat, salat dan lain-lain) tidak diperoleh oleh setiap orang dan
sembarangan orang. Masyarakat yang mendapat pengetahuan dari hal tersebut
biasanya merupakan masyarakat yang pernah memiliki riwayat sakit yang berat
dan pengobat. Masyarakat dengan riwayat sakit yang berat akan berupaya
melakukan berbagai cara untuk kesembuhannya. Salah satunya adalah dengan
rajin melaksanakan ibadah untuk memohon kesembuhan pada Tuhan. Pengobat di
Kecamatan Dawuan yang mendapatkan pengetahuan mengenai tumbuhan obat
69
dan pemanfaatannya dengan cara belajar, melalui ilham (mimpi, tirakat, shalat dan
lain-lain) dan dari pengetahuan secara turun temurun mengatakan bahwa penyakit
yang diderita seseorang dapat merupakan penyakit secara lahir atau penyakit
kebatinan.
Menurut pengobat tersebut, penyakit yang bersifat lahir atau pun kebatinan
dapat diobati menggunakan tumbuhan obat, namun untuk penyakit yang bersifat
kebatinan, selain menggunakan tumbuhan obat, pengobatannya pun memerlukan
ritual, bacaan atau syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi penderita selain
menggunakan tumbuhan obat. Sebagai contoh, pemanfaatan air rebusan bunga
labu kuning (Cucurbita moschata) dengan bunga atau daun senggugu
(Clerodendron serratum) dan daun salak (Salacca zalacca) yang dipakai mandi
dipercaya dapat mengobati penyakit ayan. Dalam penggunaannya, air rebusan
spesies-spesies tumbuhan tersebut harus dipakai mandi selama tujuh kali pada
setiap hari kelahiran penderita dan digunakan setiap pukul tujuh (pagi atau
malam) serta penderita harus dimandikan langsung oleh orangtuanya. Selain itu,
rebusan kulit batang kelor (Moringa oleoifera) dan turi (Sesbania grandiflora)
juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit reumatik. Untuk mempercepat
penyembuhan, penderita disarankan menendang-nendang batang kelor tersebut
setiap hari.
Mitos atau syarat-syarat yang melengkapi pemanfaatan tumbuhan obat oleh
masyarakat tersebut tentu saja perlu dianalisis lebih lanjut. Meskipun terdengar
tidak masuk akal, namun seringkali mitos atau syarat tersebut sebenarnya
mengandung arti yang dapat dijelaskan. Misalnya, dalam pemanfaatan daun
tertentu untuk obat disarankan jumlahnya ganjil atau dalam jumlah tertentu
tergantung hari kelahiran penderita (penderita yang lahir hari Senin menggunakan
dua lembar daun, penderita yang lahir pada hari Selasa menggunakan lima lembar
daun dan seterusnya). Mungkin saja, jumlah-jumlah daun tersebut sebenarnya
merupakan dosis yang tepat bagi pengobatan, mengingat tidak semua spesies
tumbuhan cocok digunakan oleh setiap orang.
Dokter, bidan dan mantri desa merupakan sumber pengetahuan pemanfaatan
tumbuhan obat yang dikelompokan sebagai medis. Spesies tumbuhan obat yang
disarankan oleh dokter, bidan dan mantri tersebut biasanya merupakan spesies
70
tumbuhan yang memang kandungannya telah diteliti secara ilmiah dan telah
terbukti berkhasiat obat. Daun sirsak misalnya, kini banyak diresepkan atau
sekedar dianjurkan oleh dokter. Hal tersebut disebabkan hasil riset di
mancanegara yang menginformasikan adanya senyawa aktif acetogenesis dalam
daun sirsak yang sangat manjur dan selektif mengatasi target sasaran dalam
pengobatan penyakit kanker (Duryatmo 2011). Terdapat juga dokter yang
membuat dan memberikan ramuan obat tradisional yang telah dikemas secara
modern dan siap pakai pada pasiennya. Salah seorang warga yang menderita
kanker payudara di Desa Tambakmekar, Kecamatan Jalancagak hingga kini masih
mengkonsumsi obat tersebut, disamping juga mengkonsumsi ramuan tumbuhan
obat yang dibuat sendiri yang diberitahukan dokter dan kerabatnya. Meskipun
pada akhirnya operasi tetap dilakukan, namun warga tersebut mengaku dengan
mengkonsumsi tumbuhan obat, kondisinya lebih baik.
Gambar 34 Obat yang terbuat dari tumbuhan obat yang dibuat dan dikemas oleh
salah seorang dokter untuk mengobati penyakit kanker payudara.
Komposisi salah satu obat kanker payudara yang dikonsumsi warga
tersebut, yaitu daun sirsak (Annona muricata), rimpang temulawak (Curcuma
xanthorrhiza), rimpang kunir putih (Curcuma zedoaria) dan daun jambu batu
(Psidium guajava). Masing-masing spesies tumbuhan tersebut, memiliki efek
farmakologis terhadap kanker payudara, misalnya kunir putih memiliki efek
menghentikan pertumbuhan sel kanker (sitostatika), menghentikan pendarahan
(hemostatika) dan menghilangkan rasa sakit (anti piretik). Obat lainnya terdiri dari
sambiloto dan temulawak. Temulawak memiliki efek farmakologis terhadap
kanker payudara, yaitu sebagai sitostatika, anti piretik, anti inflamasi,
menghilangkan atau menetralkan racun (anti toksik) dan meningkatkan daya tahan
tubuh (imunostimulan) (Winarto et al. 2007). Temulawak dapat diberikan bersama
71
daun sirsak kepada pasien kanker yang juga mengidap maag. Temulawak
melindungi lambung dari keasaman tinggi akibat konsumsi daun sirsak yang
bersifat asam (Wiguna 2011). Spesies-spesies tumbuhan obat yang merupakan
komposisi obat untuk kanker payudara tersebut terdapat di sekitar lingkungan
masyarakat dan seringkali juga dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati
penyakit tertentu. Sebenarnya masyarakat pun dapat membuat obat untuk penyakit
yang berat, seperti kanker dengan memanfaatkan spesies-spesies tumbuhan obat
tersebut. Hanya saja dalam pembuatannya perlu diperhatikan cara pengolahan
yang benar dan dosis yang tepat.
Warga yang mendapatkan pengetahuan mengenai tumbuhan obat dan
pemanfaatannya dengan belajar terdapat di Kecamatan Dawuan. Salah seorang
warga belajar dari orang yang mempunyai pengetahuan banyak mengenai hal
tersebut dan dari buku-buku. Menurutnya, pengobatan dengan menggunakan
tumbuhan obat itu bersifat ekstruktif, artinya reaksinya tidak cepat namun akurat
pada organ yang sakit. Hal tersebut yang menyebabkan pengobatan dengan
tumbuhan obat hampir tidak memiliki efek samping. Berbeda dengan obat kimia
yang bersifat destruktif. Pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang diperoleh
dari belajar dan buku-buku tersebut seringkali dibagikan pada masyarakat lainnya.
Gambar 35 Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat
Kecamatan Tambakdahan.
72
Sumber pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat lainnya berupa seminar
kesehatan dan melihat komposisi obat herbal dan jamu. Warga yang mendapatkan
pengetahuan mengenai tumbuhan obat dan manfaatnya melalui komposisi obat
herbal dan jamu pada awalnya merupakan pembeli produk-produk tersebut.
Setelah diamati pada bagian komposisinya, ternyata spesies tumbuhan obat yang
merupakan komposisi obat herbal dan jamu tersebut dapat ditemukan di sekitar
lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu, warga tersebut pun mulai membuat
sendiri ramuan tumbuhan obat sesuai komposisi yang tertulis pada obat herbal dan
jamu tersebut.
5.2.8 Potensi tumbuhan obat di sekitar lingkungan masyarakat
Tidak semua spesies tumbuhan yang tumbuh di sekitar lingkungan
masyarakat dimanfaatkan sebagai obat, meskipun beberapa diantaranya memiliki
khasiat tersebut. Spesies tumbuhan berkhasiat obat yang tumbuh di sekitar
lingkungan masyarakat adalah yang disebut sebagai potensi tumbuhan obat dalam
bahasan ini. Potensi tumbuhan obat di sekitar lingkungan masyarakat pada setiap
kecamatan dapat dilihat pada Gambar 36.
Gambar 36 Potensi tumbuhan obat di sekitar lingkungan masyarakat
dibandingkan tumbuhan obat yang telah dimanfaatkan masyarakat
di setiap kecamatan dan pada tingkat Kabupaten Subang.
73
Gambar 36 menunjukan bahwa spesies tumbuhan obat yang tumbuh di
sekitar lingkungan masyarakat memiliki perbedaan jumlah yang tidak terlalu besar
dengan spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat di setiap desa. Hal
tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat cenderung memanfaatkan spesies
yang telah ada atau mudah ditemukan di sekitar lingkungan mereka. Selain itu, hal
tersebut juga menunjukan bahwa telah adanya upaya budidaya oleh masyarakat
terhadap spesies tumbuhan obat, sehingga spesies yang ada dan yang
dimanfaatkan tidak jauh berbeda.
Kecamatan yang memiliki perbedaan yang cukup besar pada jumlah potensi
tumbuhan obat dengan jumlah tumbuhan obat yang dimanfaatkannya, yaitu
Kecamatan Tambakdahan. Habitat spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan
masyarakat kecamatan tersebut hanya terbatas pada pekarangan, kebun dan
sawah. Padahal pada habitat lain selain habitat-habitat tersebut pun banyak
ditemukan spesies tumbuhan berkhasiat obat. Selain itu, spesies tumbuhan obat
yang dimanfaatkannya pun sebagian besar merupakan hasil budidaya masyarakat.
Masyarakat tidak terlalu banyak memanfaatkan spesies tumbuhan obat yang hidup
liar.
Spesies tumbuhan obat yang tidak ditemukan dimanfaatkan, namun
ditemukan tumbuh di biasanya merupakan spesies tumbuhan yang lebih dikenal
dengan fungsi lain oleh masyarakat, seperti hiasan (tanaman hias), merupakan
tumbuhan liar dan tumbuhan yang terletak agak jauh dari lingkungan masyarakat
atau hidup pada tempat yang jarang dikunjungi masyarakat. Spesies tumbuhan
yang merupakan tanaman hias, seperti tapak dara (Catharanthus roseus), bunga
kertas (Bougainvillea glabra), bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) dan bunga
kancing (Gompherena globosa) umumnya tidak diketahui memilki fungsi lain
oleh masyarakat di kecamatan-kecamatan tertentu, meskipun spesies-spesies
tumbuhan tersebut sebenarnya memiliki khasiat obat. Tapak dara misalnya dapat
dimanfaatkan sebagai obat kencing manis.
Tumbuhan yang hidup liar juga banyak yang tidak dimanfaatkan masyarakat
sebagai obat. Sebagai contoh, genjer (Limnocharis flava), ki apus (Pistia
stratiotes) dan eceng (Monochoria vaginalis) sawah merupakan spesies-spesies
yang umum ditemukan di persawahan dan perairan lainnya, namun spesies ini
74
tidak ditemukan dimanfaatkan masyarakat. Padahal spesies-spesies tersebut
banyak ditemukan di Kecamatan Tambakdahan yang memiliki sawah lebih luas
dibandingkan kecamatan lainnya dan merupakan kecamatan dengan perbedaan
jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan potensi tumbuhan obatnya
besar. Selain tumbuhan liar yang sering ditemukan di sawah, tumbuhan liar yang
ditemukan di wilayah kecamatan tersebut namun jarang didatangi masyarakat pun
ada yang memiliki khasiat obat. Sebagai contoh, biduri (Calotropis gigantea)
yang ditemukan di pemakaman masyarakat. Ternyata spesies tumbuhan tersebut
memiliki banyak manfaat pada hampir semua bagian tumbuhannya, mulai dari
kulit akar, daun, bunga dan getahnya. Himansu et al. (2011) mengatakan bahwa
spesies tumbuhan ini mengandung berbagai jenis alkaloid, glikosida, flavanoid,
tanin, saponin, sterol dan triterpenoid dan memiliki sifat anti-inflamantory,
analgesic, anti-piretic, anti-oksidan, anti-convulsant dan anti-diarrhoeal agent
dalam mengobati penyakit.
Gambar 37 Biduri yang ditemukan di Kecamatan Tambakdahan.
Pemberian informasi mengenai spesies-spesies tumbuhan obat yang dapat
dimanfaatkan sangat penting bagi masyarakat. Selain membantu masyarakat
dalam memenuhi kebutuhan dalam bidang kesehatan, upaya tersebut juga dapat
mempertahankan dan melestarikan keberadaan spesies-spesies tumbuhan obat.
5.3
Cara Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Cara pemanfaatan terdiri dari cara pengolahan dan cara penggunaan. Cara
pengolahan merupakan suatu proses untuk menjadikan suatu spesies atau
75
beberapa spesies tumbuhan obat siap untuk digunakan. Roosita et al. (2011)
mengatakan bahwa cara pengolahan tumbuhan obat dari bahan segar merupakan
proses terpenting dalam pengobatan secara herbal. Cara pengolahan spesies
tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang, yaitu direbus, diseduh,
ditumbuk/dihaluskan, diremas, diparut, dikukus, dibubuy (dimasukan ke dalam
abu panas dalam tungku hingga melunak), dituak (dipotong dan air yang keluar
ditampung), disangray (digoreng tanpa minyak), dimasak/dicampurkan ke dalam
makanan dan direndam dalam air. Terdapat juga spesies tumbuhan obat yang
digunakan tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu atau dapat dimanfaatkan
langsung, yaitu dengan cara dimakan langsung, seperti pada biji mahoni yang
dimanfaatkan untuk mengobati sakit kepala.
Cara penggunaan tumbuhan obat merupakan suatu cara yang menjadikan
suatu spesies tumbuhan obat atau ramuan tumbuhan obat yang telah diolah dapat
dirasakan manfaatnya untuk pengobatan. Cara penggunaan dikategorikan ke
dalam empat cara, yaitu cara penggunaan secara oral atau dimasukan ke dalam
tubuh penderita, cara penggunaan pada bagian luar tubuh penderita, cara
penggunaan dengan memandikan penderita dengan air atau uap dari ramuan
tumbuhan obat dan gabungan dua atau beberapa cara penggunaan tersebut. Cara
penggunaan spesies tumbuhan obat atau ramuan tumbuhan obat secara
oral/dimasukan ke dalam tubuh penderita, yaitu dengan cara diminum dan
dimakan. Cara penggunaan dengan pada bagian luar tubuh penderita dilakukan
dengan cara dibalurkan, dioleskan dan ditempelkan/dikompreskan. Cara
pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang disajikan pada
Tabel 8.
Secara umum, cara penggunaan tumbuhan obat dipengaruhi oleh manfaat
spesies tumbuhan obat tersebut untuk pengobatan dan bagian organ tubuh yang
akan diobati. Sedangkan cara penggolahan cenderung dilakukan dengan sesuai
dengan kesukaan atau selera pengguna, namun tetap menunjang cara penggunaan
yang akan dilakukan. Pada Tabel 8 terlihat bahwa cara penggunaan tumbuhan
obat dengan cara diminum dan dimakan digunakan untuk mengobati penyakitpenyakit pada organ dalam, sedangkan cara penggunaan dengan dibalurkan,
76
dioles, ditempelkan dan diteteskan lebih digunakan pada pengobatan sakit luar
atau luka pada organ luar.
Cara penggunaan dengan cara diminum pada suatu spesies tumbuhan obat
atau ramuan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan cara pengolahan direbus,
dihaluskan, diseduh, dituak (batang tumbuhan dipotong dan ditampung airnya),
diparut, direndam air panas, dibubuy (dimasukan ke dalam abu panas dalam
tungku hingga melunak), digoreng, diperas dan dihancurkan (dijus). Sebagian
besar spesies tumbuhan obat yang digunakan dengan cara diminum oleh
masyarakat merupakan spesies tumbuhan yang bermanfaat untuk mengobati
penyakit organ dalam, seperti reumatik, kanker, diare, sakit pinggang dan jantung.
Terdapat juga spesies tumbuhan obat yang diminum untuk mengobati luka atau
sakit pada organ luar, namun pada dasarnya tetap penggunaan untuk penyakit
tersebut adalah untuk mengobati penyakit organ dalam, yaitu kencing manis.
Penderita kencing manis basah akan sulit sembuh jika terluka, masyarakat
menggunakan daun kopi (Coffea robusta) untuk mengeringkan luka tersebut.
Cara penggunaan dengan cara dimakan pada suatu spesies tumbuhan obat
atau ramuan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan cara dimakan langsung,
dikukus, dilalap mentah, direbus, digoreng atau dicampurkan pada makanan.
Spesies tumbuhan obat yang digunakan dengan cara dimakan biasanya juga
merupakan lalapan bagi masyarakat, baik yang dilalap mentah, direbus atau
dikukus terlebih dahulu. Contoh spesies tumbuhan tersebut antara lain, labu siam
muda (Sechium edule) yang dikukus untuk mengobati darah tinggi, kedongdong
cina (Polyscias pinnata) untuk melancarkan kencing dan daun kahitutan
(Paederia scandens) untuk melancarkan kentut.
Gambar 38 Labu siam muda yang merupakan lalapan sekaligus obat darah tinggi.
Tabel 8 Cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang
No
1
Cara penggunaan
Diminum
Cara pengolahan
1. direbus
2. diseduh
2
3
Dimakan
Dioleskan
Bagian yang
digunakan
daun
Kopi
daun
jantung
4. dibubuy
batuk
Mahoni, dadap, buni dan
mengkudu
Jeruk nipis
5. diparut
sakit kuning
Bambu kuning
6. dituak
7. diperas
8.disangray (digoreng tanpa
minyak)
1. direbus
2. dilalap mentah
3. dimasak/dimasukan ke
dalam makanan
4. dimakan langsung tanpa
pengolahan
5. dikukus
batuk
panas
Bambu bitung
Combrang
buah
batang muda
(rebung)
batang
batang
cacingan
Lamtoro
biji
melancarkan kencing
keputihan
Kedongdong cina
Jotang
daun
daun
memperlancar ASI
Pepaya dan katuk
daun
sakit kepala
Mahoni
biji
maag
menghilangkan noda hitam pada
wajah
menghilangkan merah-merah pada
kulit
bisul
perawatan kesehatan ibu
melahirkan
gatal-gatal terkena ulat
gatal-gatal
Kunci
rimpang
Binahong
daun
1. diremas
3. dipotong
Dibalurkan
sakit pinggang
mengeringkan luka akibat kencing
manis
Contoh spesies/ ramuan
tumbuhan obat
Murbei, kacapiring dan mustajab
3. ditumbuk
2. ditumbuk
4
Contoh kegunaan/manfaat
1. ditumbuk
Mara
bunga dan
minyak
getah
Lada, beras dan bawang putih
biji dan umbi
Singkong
Jahe
daun
rimpang
Kelapa
77
2. diremas
3. diparut
daun
78
Tabel 8 Cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Cara penggunaan
5
Ditempelkan/dikompreskan
6
Cara pengolahan
Contoh kegunaan/manfaat
Diteteskan
1. ditempelkan langsung
2. dibubuy
1. diremas
2. dipotong
3. direndam dalam air
panas
sakit kelenjar
belek
sakit mata
sakit mata
7
Dipakai mandi (uapnya)
direbus
reumatik
8
Diinjak-injak
direbus
sakit kaki
Contoh spesies/ ramuan
tumbuhan obat
Lidah buaya
Pisang batu
Katuk
Pacing
Korejat
Salam, sirsak, nangka,
galinggem dan serai
Pepaya
Bagian yang
digunakan
daun
buah
daun
batang
bunga
daun dan batang
(serai)
buah
78
79
Cara penggunaan dengan diteteskan digunakan pada pengobatan sakit mata.
Kandungan berbagai spesies tumbuhan obat yang ditemukan di sekitar lingkungan
masyarakat dapat mengobati penyakit tersebut terdapat pada bagian batang, buah,
bunga dan daun. Cara pengolahan spesies tersebut dilakukan dengan cara
pemotongan, seperti pada dadap cangkring (Erythrina fusca), diremas seperti pada
buah belimbing (Averhoa carambola) dan daun katuk (Sauropus androgynus) dan
direndam dalam air terlebih dahulu seperti bunga korejat (Isotoma longiflora).
Terdapat juga cara penggunaan spesies tumbuhan obat untuk pengobatan
dengan cara dipakai tidur. Cara tersebut digunakan masyarakat salah satu desa di
Kecamatan Jalancagak untuk mengobati kelumpuhan akibat stroke. Daun muda
pisang batu yang masih menggulung, dibuka dan dilapisi dengan minyak kelapa.
Daun tersebut dijadikan alas tidur penderita. Khasiat spesies tumbuhan tersebut
beserta cara pemanfaatannya perlu diteliti lebih lanjut.
Spesies tumbuhan obat yang cara penggunaannya dipakai mandi dan
dipergunakan uapnya cukup banyak ditemukan di setiap lokasi. Spesies tumbuhan
yang digunakan dengan cara dipakai mandi antara lain air pada batang pisang
gemor (Musa sp.) untuk mengobati panas. Sedangkan rebusan daun salam
(Sysygium polyanthum), sirsak (Annona muricata), galinggem (Bixa orellana) dan
serai (Cymbopogon citratus) dipergunakan uapnya untuk mengobati reumatik.
Penderita reumatik dan baskom berisi ramuan tersebut ditutupi dengan sarung,
sehingga seluruh tubuh penderita terkena uap dari ramuan tersebut. Ramuan ini
merupakan ramuan yang berasal dari pengobat di salah satu desa di Kecamatan
Dawuan.
5.4 Tipe Pemanfaatan, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan dan
Persepsi Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Kabupaten
Subang
Berdasarkan hasil penelitian, tidak setiap saat masyarakat Kabupaten
Subang memanfaatkan tumbuhan obat untuk pengobatan. Tipe pemanfaatan
spesies tumbuhan untuk pengobatan yang dilakukan masyarakat berbeda-beda.
Tipe pemanfaatan tersebut berbeda berdasarkan waktu pemanfaatan dan tujuan
80
pemanfaatan tumbuhan obat. Terdapat tiga tipe pemanfaatan tumbuhan bagi
pengobatan oleh masyarakat di Kabupaten Subang, yaitu
1. Pertolongan pertama, yaitu tumbuhan obat dijadikan pertolongan pertama
dalam mengobati suatu penyakit. Jika ternyata penyakitnya tidak kunjung
membaik atau semakin parah, maka pengobatan modern atau secara medis
menjadi solusi. Pada tipe pemanfaatan pertolongan pertama, biasanya spesies
tumbuhan obat yang digunakan merupakan tumbuhan obat untuk mengobati
penyakit-penyakit ringan.
2. Alternatif/pengganti, yaitu pengobatan dengan tumbuhan obat sebagai
pengganti pengobatan secara modern. Hal-hal
yang menjadi alasan
pemanfaatan tumbuhan obat sebagai alternatif/pengganti, yaitu kejenuhan
terhadap obat modern yang dianggap tidak manjur meskipun telah banyak dan
lama dikonsumsi, adanya beberapa warga masyarakat yang alergi terhadap obat
kimia dan mahalnya biaya untuk membeli obat modern sehingga obat-obatan
dari tumbuhan yang murah meriah menjadi solusi.
3. Pendamping, artinya tumbuhan obat dikonsumsi bersamaan dengan obat
modern sebagai upaya untuk mempercepat penyembuhan dari suatu penyakit.
Hal tersebut seringkali ditemukan pada masyarakat. Meskipun memungkinkan
penyembuhan suatu penyakit lebih cepat, namun hal tersebut juga dapat
membahayakan jika pemanfaatan tumbuhan obat yang bersamaan dengan
penggunaan obat modern/kimia tidak sesuai aturan.
Banyak pendapat dan persepsi masyarakat mengenai pengobatan dengan
tumbuhan obat. Beberapa masyarakat menyukai pengobatan dengan cara tersebut.
Hal-hal yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Subang memanfaatkan
tumbuhan untuk pengobatan, yaitu
1. Masyarakat mengetahui dampak negatif dari obat-obat kimia/modern, selain itu
masyarakat menilai bahwa pengobatan dengan obat kimia/moden hanya
sementara. Penyakit atau rasa sakit yang diderita hanya sembuh sementara
waktu dan akan terasa lagi beberapa waktu kemudian (kambuh);
2. Tumbuhan obat mudah diperoleh di sekitar lingkungan masyarakat dan murah,
bahkan tanpa biaya bila menanam sendiri atau meminta dari tetangga;
81
3. Tumbuhan obat dinilai tidak memiliki efek samping bagi tubuh bila digunakan,
sedangkan zat kimia yang terkandung dalam obat-obatan modern akan
berbahaya bagi tubuh bila digunakan terus menerus;
4. Adanya masyarakat yang resisten atau kebal terhadap obat kimia/modern,
sehingga tidak kunjung sembuh. Selain itu, terdapat juga masyarakat yang
alergi terhadap obat kimia/modern;
5. Riwayat sakit yang panjang dengan menggunakan pengobatan modern/kimia
menyebabkan kejenuhan masyarakat dalam mengkonsumsi obat kimia/modern
tersebut;
6. Pengobatan dengan tumbuhan obat dijadikan pendamping selain pengobatan
secara moden sebagai upaya masyarakat agar penyakit yang dideritanya lekas
sembuh.
Selain banyak masyarakat Kabupaten Subang yang menyukai dan
menggunakan lagi pengobatan dengan menggunakan tumbuhan obat, terdapat
juga masyarakat yang enggan bahkan tidak lagi memanfaatkan tumbuhan untuk
pengobatan. Hal-hal yang menyebabkan hal tersebut, yaitu
1. Efek
penggunaan
tumbuhan
obat
tidak
langsung
terlihat,
sehingga
penggunaannya harus secara rutin dan penuh dengan kesabaran;
2. Beberapa masyarakat merasa tumbuhan obat tidak memberikan pengaruh
apapun terhadap kesembuhan penyakit mereka. Hal tersebut disebabkan efek
penggunaan suatu spesies tumbuhan obat akan berbeda pada setiap orang;
3. Tumbuhan obat memiliki bau dan rasa tertentu yang tidak disukai setiap orang.
Terkadang bau dan rasa tersebut membuat masyarakat mual dan muntahmuntah;
4. Beberapa spesies tumbuhan obat sudah mulai sulit ditemukan di sekitar
lingkungan masyarakat;
5. Tumbuhan obat kurang praktis digunakan, sehingga sulit digunakan oleh
masyarakat yang membutuhkan penyembuhan cepat dan memiliki keterbatasan
waktu dalam mengolahnya.
Secara umum, berdasarkan hasil analisis terhadap perilaku pemanfaatan
tumbuhan obat di lokasi-lokasi penelitian, faktor-faktor yang mempengaruhi
pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat di Kabupaten Subang, yaitu
82
1. Umur. Umur seseorang mempengaruhi pemanfaatan tumbuhan obat karena
orang yang berumur lebih tua memiliki pengetahuan dan kepercayaan terhadap
tumbuhan obat yang lebih tinggi. Selain itu, pada masyarakat yang berumur
lebih tua terdapat motivasi untuk mempertahankan pengetahuan yang berasal
secara turun temurun. Namun, menurunnya kemampuan fisik dan ingatan
seseorang pada usia tua seringkali menjadi penyebab tidak dimanfaatkannya
lagi tumbuhan obat tersebut.
2. Tingkat pendidikan. Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah
memanfaatkan tumbuhan obat terbatas pada apa yang mereka warisi secara
turun temurun, informasi dari kerabat dan apa yang mereka lihat dari tayangan
di TV, acara radio dan media elektronik lainnya. Sedangkan masyarakat
dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, selain memanfaatkan tumbuhan
obat yang diketahui secara turun temurun, juga mendapatkan pengetahuan
mengenai tumbuhan obat dari acara seminar dan media cetak, seperti majalah,
buku, koran dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan terbukanya akses terhadap
semua sumber dan media yang memberikan pengetahuan baru pada masyarakat
dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Selain mengenai tumbuhan obat
dan manfaatnya, dari media-media tersebut pun masyarakat mengetahui
mengenai dampak negatif pengobatan secara kimia. Tumbuhan obat yang
diperoleh dari pengetahuan baru tersebut tidak terbatas pada spesies tumbuhan
obat yang biasa digunakan dan tumbuh di lingkungan sekitarnya, namun dapat
merupakan spesies baru.
3. Tingkat ekonomi. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah tentunya akan
memilih pengobatan dengan biaya yang murah seperti tumbuhan obat. Namun,
seringkali waktu mereka dihabiskan untuk bekerja sehingga waktu untuk
melakukan pengolahan tumbuhan obat terbatas dan lebih memilih obat kimia
yang lebih praktis dan mudah didapatkan.
4. Riwayat sakit. Masyarakat yang menderita penyakit tertentu akan berupaya
menyembuhkan penyakitnya dengan berbagai upaya, mulai dari pengobatan
secara medis hingga pengobatan tradisional dengan tumbuhan obat, bahkan
menggabungkan berbagai macam pengobatan tersebut. Hal tersebut dilakukan
untuk mempercepat penyembuhan. Riwayat sakit yang panjang kadang
83
membuat penderita jenuh, beberapa diantaranya menjadi resisten hingga alergi
terhadap
jenis
obat
kimia,
sehingga
pengobatan
tradisional
dengan
menggunakan tumbuhan obat pun menjadi alternatif.
5. Keberadaan vegetasi alami. Masyarakat yang tinggal di dekat vegetasi alami,
seperti hutan memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya yang terdapat di
dalamnya. Diantara sumberdaya yang dimanfaatkan tersebut berupa tumbuhan
yang berkhasiat obat. Sedangkan masyarakat yang tidak tinggal di dekat
vegetasi alami, berupaya melakukan budidaya tumbuhan obat atau pun
memperoleh tumbuhan obat dengan cara membeli.
6. Kondisi lingkungan sosial. Masyarakat yang tinggal berdekatan dengan
masyarakat lainnya yang masih memanfaatkan tumbuhan obat, biasanya juga
akan ikut memanfaatkan tumbuhan obat tersebut. Hal tersebut disebabkan
adanya interaksi diantara masyarakat yang dapat bersifat persuasif terhadap
suatu perilaku, termasuk perilaku pemanfaatan tumbuhan obat.
7. Sumber informasi. Pengetahuan mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatanya
secara turun temurun merupakan sumber pengetahuan utama bagi masyarakat.
Selain itu, masyarakat pun sangat mendapatkan pengetahuan dari sumber lain,
terutama pengetahuan berupa pemanfaatan spesies tumbuhan obat yang baru.
5.5 Program Pengembangan Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Kabupaten
Subang
Tukiman (2004) mengatakan bahwa upaya pengobatan tradisional dengan
tumbuhan obat merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dan
penerapan teknologi tepat guna yang potensial untuk menunjang pembangunan
kesehatan. Pembangunan kesehatan pada masyarakat dengan menggunakan
tumbuhan obat tidak serta merta tumbuh begitu saja, meskipun penggunaan
tumbuhan obat bagi pengobatan oleh masyarakat sudah sejak dahulu dilakukan
bahkan tanpa adanya program yang berkaitan dengan tumbuhan obat pun. Namun,
pemanfaatan tersebut terbatas pada spesies tumbuhan tertentu untuk penyakit yang
sering diderita dengan pengetahuan yang terbatas pada suatu kelompok
masyarakat tertentu saja.
84
Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat tersebut kini mulai pudar pada
generasi mudanya dan bukan tidak mungkin akan benar-benar hilang atau punah.
Suatu program pengembangan yang terencana, terstruktur dan terorganisir
mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatannya akan membuat pengetahuan
mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatannya tersebut terwadahi dan terhindar
dari kepunahan. Manfaat tumbuhan obatnya pun tidak hanya akan dirasakan
masyarakat tertentu yang sudah biasa memanfaatkan, namun juga dapat dirasakan
masyarakat lainnya, bahkan dapat juga terjadi suatu pertukaran informasi baru
mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatannya. Kampung Konservasi TOGA
merupakan suatu program yang dirasakan tepat bagi pengembangan pemanfaatan
tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang.
TOGA (Tanaman Obat Keluarga) menurut Aliandi dan Roemantyo (1994)
merupakan program yang sesuai untuk kelompok masyarakat yang menggunakan
tumbuhan obat dalam skala keluarga, seperti masyarakat di Kabupaten Subang.
Program tersebut bertujuan untuk penanggulangan penyakit rakyat, perbaikan
status gizi dan melestarikan sumberdaya alam hayati. Program TOGA dapat
dijadikan alternatif penggunaan maupun pendamping obat kimia sintetik (Hoesen
2000). Kampung Konservasi TOGA merupakan pengaplikasian program TOGA
dalam lingkup kampung atau desa sebagai salah satu unit terkecil dalam
masyarakat setelah keluarga. Program tersebut selain bertujuan untuk menjadikan
masyarakat mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya, juga merupakan
program yang memiliki tujuan untuk melestarikan berbagai ekosistem di
kampung/desa yang menjadi habitat tumbuhan obat, melestarikan pengetahuan
mengenai tumbuhan obat dan pemanfaatannya serta melestarikan berbagai spesies
tumbuhan obat.
Peran pemerintah melalui program pengembangan pemanfaatan tumbuhan
obat merupakan salah satu langkah dalam mewujudkan tumbuhan obat sebagai
alternatif
pengobatan.
Keberadaan
program
pengembangan
pemanfaatan
tumbuhan, khususnya tumbuhan obat di Kabupaten Subang menunjukan adanya
upaya pemerintah setempat untuk mengembangkan salah satu potensi daerahnya
tersebut, sekaligus memberikan solusi bagi upaya pengobatan masyarakat.
85
Terdapat dua program yang berkaitan dengan pemanfaatan tumbuhan obat di
Kabupaten Subang, yaitu
1. Batra
Batra atau singkatan dari Upaya Pelayanan Pengobatan Tradisional
merupakan salah satu program yang berkaitan dengan pemanfaatan tumbuhan
obat oleh masyarakat di Kabupaten Subang. Program tersebut disosialisasikan
oleh para pegawai puskesmas. Sebelum sosialisasi dilakukan, para pegawai
puskesmas diberi pelatihan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. Kegiatankegiatan dalam program ini, yaitu
1. Penyuluhan. Penyuluhan disampaikan melalui puskesmas keliling dan melalui
pertemuan rutin dengan masyarakat (minggon). Dalam penyuluhan tersebut
disampaikan manfaat tumbuhan obat, pentingnya menanami pekarangan
dengan tumbuhan berguna, diantaranya tumbuhan yang bermanfaat sebagai
obat dan lain-lain. Melalui penyuluhan tersebut diharapkan masyarakat dapat
menggunakan tumbuhan obat sebagai pertolongan pertama dalam mengobati
penyakitnya sebelum dibawa ke dokter atau puskesmas;
2. Penanaman spesies tumbuhan obat. Hal tersebut dilakukan di lahan pekarangan
puskesmas dan kantor desa. Tumbuhan obat yang ditanam dapat diambil dan
dimanfaatkan masyarakat. Namun, kini tumbuhan obat tersebut sudah banyak
yang mati dan kurang terurus. Spesies tumbuhan obat yang ditanam beragam
dan seringkali berbeda pada setiap puskesmas dan kantor desa.
Gambar 39 Apotek hidup di pekarangan Puskesmas Tambakdahan.
Program Batra yang dilakukan mendapat tanggapan yang cukup baik dari
masyarakat. Beberapa masyarakat sudah memenuhi anjuran untuk menanam dan
86
menggunakan tumbuhan obat. Namun, banyak juga masyarakat yang tidak
melaksanakannya.
2. Program penanaman pepaya
Program penanaman pepaya merupakan program yang dicetuskan pihak
Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Program tersebut tidak hanya menekankan
pentingnya kesehatan, namun juga merupakan program yang berisi anjuran untuk
merindangkan pekarangan dan lahan kosong. Pepaya dipilih karena memiliki
banyak manfaat hampir di setiap bagian tumbuhannya. Daun pepaya merupakan
lalapan yang lezat bagi masyarakat etnis Sunda di Kabupaten Subang dan dapat
juga diolah menjadi berbagai macam masakan. Buah pepaya rasanya enak dan
dapat melancarkan pencernaan serta sebagai sumber vitamin bagi masyarakat.
Akar pepaya merupakan salah satu spesies dari ramuan obat yang bermanfaat
menghilangkan pegal-pegal.
Gambar 40 Spanduk berisi anjuran menanam pepaya dan deretan pohon pepaya
di halaman salah satu kantor desa di Kabupaten Subang.
Program penanaman pepaya mewajibkan setiap instansi pemerintah hingga
ke tingkat desa untuk menanam tumbuhan tersebut di pekarangannya. Program
tersebut juga disosialisasikan pada masyarakat, namun pepaya merupakan
tumbuhan yang umum ditanam dan dimanfaatkan masyarakat sehingga sebelum
adanya program tersebut pun masyarakat sudah membudidayakannya.
87
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten
Subang, yaitu 228 spesies dari 66 famili. Kecamatan Dawuan yang terletak di
daerah berbukit dan dataran Kabupaten Subang memiliki jumlah spesies
tumbuhan obat yang dimanfaatkan terbesar, yaitu sebayak 185 spesies yang
berasal dari 58 famili. Namun, secara umum, spesies tumbuhan yang
dimanfaatkan di setiap kecamatan tidak jauh berbeda. Sirih merupakan spesies
tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan tertinggi di Kabupaten Subang.
2. Cara pemanfaatan tumbuhan obat terdiri dari cara pengolahan dan penggunaan.
Cara pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Kabupaten Subang, yaitu
direbus, diseduh, ditumbuk/dihaluskan, diremas, diparut, dikukus, dibubuy
(dimasukan ke dalam abu panas dalam tungku hingga melunak), dituak
(dipotong dan air yang keluar ditampung), disangray (digoreng tanpa minyak),
dimasak/dicampurkan ke dalam makanan dan direndam dalam air. Terdapat
juga spesies tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan langsung tanpa
pengolahan. Cara penggunaan dikategorikan ke dalam empat cara, yaitu cara
penggunaan secara oral atau dimasukan ke dalam tubuh penderita, cara
penggunaan pada bagian luar tubuh penderita, cara penggunaan dengan
memandikan penderita dengan air atau uap dari ramuan tumbuhan obat dan
gabungan dua atau beberapa cara penggunaan tersebut. Cara penggunaan
tumbuhan obat tersebut dipengaruhi oleh letak organ tubuh yang akan diobati.
3. Program pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat di Kabupaten Subang,
yaitu Batra (Upaya Pelayanan Pengobatan Tradisional) dan Program
Penanaman Pepaya.
88
6.2 Saran
1. Mengefektifkan program-program yang berkaitan dengan tumbuhan obat di
Kabupaten Subang oleh Pemerintah Daerah.
2. Pembentukan Kampung Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) di
desa-desa di
Kabupaten Subang, terutama
di
desa
yang memiliki
keanekaragaman spesies tumbuhan dan pengetahuan mengenai pemanfaatan
tumbuhan obat yang masih tinggi.
89
DAFTAR PUSTAKA
Aliadi A, Roemantyo HS. 1994. Kaitan Pengobatan Tradisional Dengan
Pelestarian Pemanfaatan Tumbuhan Obat. Di dalam: Zuhud EAM,
Haryanto, editor. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan
Obat Hutan Tropika Indonesia. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya
Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika Indonesia
(LATIN). hlm 16-50.
Duryatmo S. 2011. Dokter Bicara Daun Sirsak. Trubus Edisi 496 bulan Maret
2011.
Gao T, Yao H, Song J, Liu C, Zhu Y, Ma X, Pang X, Xu H, Chen S. 2010.
Identification of Medical Plants in Family Fabaceae Using a Potential DNA
Barcode ITS2. Journal of Ethnopharmacology 120. hlm 116-121.
Hamzari. 2008. Identifikasi Tanaman Obat-obatan Yang Dimanfaatkan Oleh
Masyarakat Sekitar Hutan Tabo-Tabo. Jurnal Hutan dan Masyarakat III (2)
: hlm 111-234.
Himanshu J, Gururaja MP, Suares D. 2011. Calotropis gigantea R. Br.
(Asclepiadaceae): A Review. International Journal of Pharmaceutical
Research (3): hlm 10-14.
Hoesen DSH. 2000. Apotik Hidup: Peranan dan Tantangan. Di dalam : Sutarno H,
Atmowidjojo S, penyunting. Meningkatkan Usaha Apotik Hidup Dengan
Prinsip Bersih Lingkungan. Bogor: Prosea Indonesia-Yayasan Prosea.
Karjono. 2011. Dosis Aman Daun Antikanker. Trubus Edisi 496 Maret 2011.
Mwine JT, Damme PV. 2011. Why Do Euphorbiaceae Tick As Medicinal Plants?
A Review Of Euphorbiaceae Family and Its Medicinal Featurs. Juornal of
Medicinal Plants Research 5(5): hlm 652-662.
Ong HC, Chua S, Millow P. 2011. Ethno-medicinal Plants Used by Temuan
Villagers in Kampung Jeram Kedah, Negeri Sembilan, Malaysia. Ethno
Med 5(2) : hlm 95-100.
Pemerintah Desa Bunihayu. 2010. Pendataan Profil Desa Bunihayu Tahun 2010.
Pemerintah Desa Jalancagak. 2010. Pendataan Profil Desa Jalancagak Tahun
2010.
Pemerintah Desa Kertajaya. 2010. Pendataan Profil Desa Kertajaya Tahun 2010.
Pemerintah Desa Manyeti. 2007. Pendataan Profil Desa Manyeti Tahun 2007.
90
Pemerintah Desa Tambakdahan. 2010. Pendataan Profil Desa Tambakdahan
Tahun 2010.
Pemerintah Desa Tambakmekar. 2010. Pendataan Profil Desa Tambakmekar
Tahun 2010.
Pemerintah Desa Rancaudik. 2010. Pendataan Profil Desa Rancaudik Tahun 2010.
Pemerintah Desa Rawalele. 2009. Pendataan Profil Desa Rawalele Tahun 2009.
Pemerintah Desa Sukasari. 2009. Pendataan Profil Desa Sukasari Tahun 2009.
Pemerintah Kabupaten Subang. 2010. Kabupaten Subang Dalam Angka.
http://subang.go.id [29 Maret 2011].
Puskesmas Jalancagak. 2011. Laporan Tahunan Puskesmas Jalancagak Tahun
2011.
Puskesmas Tambakdahan. 2011. Laporan Tahunan Puskesmas Tambakdahan
Tahun 2011.
Puskesmas Wangunreja. 2011. Laporan Tahunan Puskesmas Wangunreja Tahun
2011.
Rayadie A. 2011. “Si Bandel” Yang Merebut Hati [laporan khusus]. Pikiran
Rakyat edisi Senin, 28 Maret 2011.
Redaksi AgroMedia. 2008. 273 Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Aneka
Penyakit. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Roosita K, Kusharto CM, Sekiyama M, Fachrurozi Y, Ohtsuka R. 2007.
Medicinal Plants Used by Teh Villagers of a Sundanese Community in
West Java, Indonesia. http://www.sciencedirect.com [29 Maret 2011].
Sandra E, Kemala S. 1994. Tinjauan Permintaan Tumbuhan Obat Hutan Tropika
Indonesia. Di dalam: Zuhud EAM, Haryanto, editor.
Pelestarian
Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia.
Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan
Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN). hlm 71-117.
Sangat HM. 2000. Pemanfaatan dan Pemasaran Bahan Tanaman Obat. Di dalam:
Sutarno H, Atmowidjojo S, penyunting. Potensi dan Cara Pemanfaatan
Bahan Tanaman Obat. Bogor: Prosea Indonesia-Yayasan Prosea.
Sathyami, Sulistyawati E. 2011. Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat
Kampung Dukuh, Garut, Jawa Barat. School of Science & Technology,
Bandung Institute Technology, Indonesia.
91
Soenanto H. 2005. Musnahkan Penyakit Dengan Tanaman Obat. Jakarta: Puspa
Swara.
Tukiman. 2004. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Untuk Kesehatan
Keluarga. Bagian Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Wakidi. 2003. Pemasyarakatan Tanaman Obat Keluarga “TOGA” Untuk
Mendukung
Penggunaan
Sendiri
“Self
Medication”.
http://www.usudigititallibrary.com [29 Maret 2011].
Wiguna I. 2011. Berpadu Lebih Mujarab. Trubus Edisi 496 bulan Maret 2011.
Winarto WP, Tjahjadi VK, Fahmi EC, Jumantoro H, Syahril MN. 2007.
Pengobatan Herbal Untuk Kanker Payudara. Jakarta: Karyasari Herba
Media.
Zein U. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dalam Upaya Pemeliharaan
Kesehatan. http://e-usureporsitory.com [29 Maret 2011].
Zuhud EAM, Ekarelawan, Riswan S. 1994. Hutan Tropika Indonesia Sebagai
Sumber Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat. Di dalam: Zuhud
EAM, Haryanto, editor.
Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman
Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Bogor: Jurusan Konservasi
Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika
Indonesia (LATIN). hlm 1-15.
92
LAMPIRAN
93
Lampiran 1 Karakteristik responden
Kecamatan Jalancagak
No
1
2
3
4
Data
Responden
Desa
Jalancagak
Desa
Bunihayu
1
30
30
Jumlah (orang)
Perbandingan jenis kelamin (orang)
2
a. Laki-laki
6
1
b. Perempuan
24
29
Umur (tahun)
a. Kisaran umur
41- 51
21 - 40
terbanyak
3b. Umur
responden
20
23
termuda
c. Umur
78
75
responden tertua
Mata pencaharian (orang)
a. Petani dan
buruh tani
b. Pegawai
Negeri Sipil
c. Karyawan
perusahaan
pemerintah dan
swasta
d. Buruh
perusahaan
1
pemerintah dan
swasta
e. Wiraswasta
6
6
Kecamatan Dawuan
Desa
Tambakmekar
∑
30
4
26
Kabupaten
Subang
Kecamatan Tambakdahan
Desa
Manyeti
Desa
Rawalele
Desa
Sukasari
∑
Desa
Tambakdahan
Desa
Rancaudik
Desa
Kertajaya
∑
90
30
30
30
90
30
30
30
90
270
11
79
7
23
1
29
4
26
12
78
5
25
16
14
10
20
31
59
54
216
31 - 40
41-50
51-60
51-60
31-40
41-50
41-50
25
33
30
27
23
21
29
80
95
80
96
73
80
80
14
4
22
30
3
4
9
4
4
8
4
2
3
5
1
1
1
∑
1
1
3
15
1
1
2
1
4
8
5
5
18
37
93
94
Lampiran 1 Karakteristik responden (lanjutan)
Kecamatan Jalancagak
No
5
Data
Responden
Desa
Jalancagak
f. Staf dan
2
perangkat desa
g. Paraji, tukang
urut dan
1
pengobat desa
h. Ibu rumah
20
tangga
i. TNI/POLRI
j. Pensiunan
PNS/TNI/POLRI
k. Tidak bekerja
Tingkat pendidikan (%)
a. SD/ sederajat
19
b. SMP/ sederajat
6
c. SMA/
2
sederajat
d. Diploma 1, 2
dan 3
e. Strata 1 (S1)
Desa
Bunihayu
Desa
Tambakmekar
1
Kecamatan Dawuan
∑
3
Desa
Manyeti
Desa
Rawalele
3
2
2
3
6
21
22
63
15
1
1
1
24
Desa
Rancaudik
Desa
Kertajaya
∑
5
1
3
4
12
2
2
4
2
6
14
15
54
6
13
33
150
Desa
Sukasari
∑
Desa
Tambakdahan
14
∑
1
2
1
1
1
1
1
4
2
3
9
3
16
8
23
3
58
17
21
3
18
6
15
6
54
15
14
5
15
3
1
3
6
1
1
3
5
2
1
3
3
2
2
Kabupaten
Subang
Kecamatan Tambakdahan
2
1
3
13
15
3
44
11
156
43
1
4
15
1
3
6
1
3
94
95
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang
No
1
Nama
spesies
Adas
Nama
ilmiah
Foeniculum
vulgare Mill.
Nama
lain
adas
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
1. pegal-pegal sehabis
melahirkan
2. menghaluskan kulit bayi
dan anak
3. menjaga kesehatan mata
setelah melahirkan
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam, kemudian
dibalurkan
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam, kemudian
dibalurkan
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan pala, kemudian
dibalurkan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
1. reumatik
2
Alangalang
Imperata
cylindrica
(L.) Beauv.
eurih
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
5. sakit kencing
95
96
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
9. menguatkan daya tahan
tubuh
10. panas dingin
11. menguatkan stamina
tubuh
1. muntah berak
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
rebus daun benalu mangga dan akar alang-alang, kemudian minum ramuan tersebut
rebus akar alang-alang, daun kembang tembaga dan benalu (kanker payudara : benalu
teh, kista: benalu mangga) dengan 5 gelas air hingga menjadi 2 gelas, beri garam
seperlunya. Minum tiap hari pada pagi, siang dan malam masing-masing sebanyak
setengah gelas
rebus akar pinang, akar alang-alang dan akar pepaya ranti, kemudian minum ramuan
tersebut
rebus akar alang-alang dan akar pepaya ranti, kemudian minum ramuan tersebut
rebus akar pinang, akar alang-alang, semua bagian ceplukan, akar kelapa hijau dan akar
pepaya ranti, kemudian minum ramuan tersebut
remas-remas daun alpukat, saring dan minum
2. sakit pinggang
remas-remas daun alpukat, saring dan minum
3. darah tinggi
rebus daun alpukat dan minum
4. reumatik
1. keputihan
rebus daun alpukat dan minum
rebus daun kumis kucing, daun pecah beling dan daun alpukat, kemudian minum
ramuan tersebut
rebus daun antanan dan minum
2. sakit pinggang
rebus daun antanan dan minum
3. perut panas
dilalap mentah
4. reumatik
rebus daun antanan dan minum
5. pikun
dilalap mentah
6. sakit pinggang
7. kista
8. kanker/tumor
3
Alpukat
Persea
gratissima
Gaertn.
alpuket
5. batu ginjal
4
Antanan
Centella
asiatica,
(Linn),
Urban.
antanan
gede
Cara pemanfaatan
96
97
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
6. bronkhitis
7. mual
8. darah tinggi
9. asam urat
1. pegal-pegal
2. reumatik
3. sakit ginjal
5
Antinganting
Acalypha
indica L.
4. keputihan
5. ambeyen
Cara pemanfaatan
rebus 20 biji kemukus, 1 genggam semua bagian cecendet, 2 lembar daun pepaya ranti,
1 genggam daun antanan, temulawak dan satu butir gula batu
dimakan mentah/dilalap
dimakan mentah/dilalap
rebus daun sidaguri, daun nanangkaan, daun jarong, daun kumis kucing, daun alpukat
dan antanan atau dapat langsung dimakan mentah/dilalap
rebus semua bagian anting-anting dan minum
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali, daun
saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet,
daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
97
98
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
6. sakit kencing
7. sakit pinggang
6
7
8
Aren
Asam
jawa
Bunga
Desember
Arenga pinnata
(Wurmb.)
Merr.
Tamarindus
indica, Linn.
Haemanthus
multiflora
kawung
1. kanker
2. sakit pinggang
asem
kawak
Bakung,
bokor
1. panas
10
Bambu
Bambu
betung
Bambusa sp.
Dendrocalamus
asper (Schult.
f) Backer ex
Heyne
awi
awi bitung
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
rebus akar pepaya, akar alang-alang, akar aren, akar jambu batu dan akar bambu,
kemudian minum ramuan tersebut
rebus akar ilalang, akar ceplukan, akar aren dan daun sukun/daun klewih, kemudian
minum ramuan tersebut
remas daun buntiris, bawang merah dan asam jawa, kemudian dibalurkan
2. keseleo
3.menurunkan
kolesterol
hancurkan asam dengan air hangat, tambahkan minyak kelapa dan dibalurkan
ASI kering
kukus daun bakung, tempelkan pada payudara
rebus jahe merah dan asam jawa, kemudian minum ramuan tersebut
2. batuk
rebus akar pepaya, akar alang-alang, akar aren, akar jambu batu dan akar bambu,
kemudian minum ramuan tersebut
Dituak (potong batang dan tamping airnya)
3. mual
bakar batang bambu yang telah dijadikan tali pagar, campur dengan air dan minum
maag
minum air dari batang
1. kanker
9
Cara pemanfaatan
98
99
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
11
Bambu
kuning
Bambusa
vulgaris Schrad.
Haur
koneng
12
Bawang
merah
Allium cepa L.
bawang
beureum
13
14
15
16
17
Bawang
putih
Bayam
Belimbing
Belimbing
wuluh
Beluntas
Allium sativum,
L.
Amarantus spec.
div
Averhoa
carambola
Averrhoa
bilimbi L.
Pluchea indica
(L.) Less
bawang
bodas
bayem
balimbing
calingcing
baluntas
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
1. sakit kuning
parut batang muda bambu kuning (rebung), peras
2. kencing manis
parut batang muda bambu kuning (rebung), peras
tumbuk 3 lembar daun sirih, 3 siung bawang merah, setengah sendok makan biji
jinten dan 14 biji buah kemukus, tambahkan seperempat cangkir air. Diminum 2
kali sehari pada pagi dan sore
rebus temulawak, kacang hijau dan bawang putih dengan 3 gelas air hingga
menjadi setengah gelas
goreng bawang putih dan makan
jantung
1. maag
2. darah tinggi
3. mencegah kanker
rahim
rebus bawang putih dan minum air rebusan tersebut
darah rendah
haluskan bayam, tambahkan telur dan madu, kemudian minum ramuan tersebut
1. darah tinggi
2.menghilangkan
jerawat
3. panas
peras buah belimbing dan minum air perasan tersebut
4. sakit gigi
remas-remas daun belimbing, tambahkan garam dan seduh dengan air panas
5. sakit kepala
seduh daun belimbing, setelah dingin kompreskan pada kepala
6. sakit mata
remas buah belimbing yang telah busuk, teteskan airnya pada mata
darah tinggi
peras buah belimbing wuluh dan minum air perasan tersebut
1. reumatik
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
remas daun belimbing dan oleskan pada jerawat
parut buah belimbing dan minum airnya atau buah dapat dimakan langsung
99
100
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
5. sakit kencing
6. sakit pinggang
7. bau badan
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling, kemudian minum ramuan tersebut
2. rebus akar alang-alang dan daun beluntas, kemudian minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
kemudian minum
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
2. rebus daun kumis kucing, daun beluntas dan daun pecah beling, kemudian
minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang, bratawali,
daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar
cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling,
kemudian minum ramuan tersebut
rebus daun beluntas dan minum
100
101
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
1. seduh benalu the dan minum
18
Benalu
Henslowia
frutescens
Champ
kamaduan,
katumpangan,
mangandeuh
kista
19
Bengkuang
Pachyrhizus
erosus (L.) Urb.
bangkuang
maag
parut bengkuang, peras airnya dan minum
1. pegal-pegal
2. noda hitam pada
wajah
3.obat kuat lelaki
remas daun binahong dan minum
4. kista
rebus daun binahong dan minum
5. luka
remas daun binahong dan balurkan pada luka
6. darah tinggi
rebus daun binahong dan minum
7. kencing manis
rebus daun binahong dan minum
kencing manis
rebus daun bintinu dengan daun sukun, kemudian minum ramuan tersebut
Beta vulgaris L.
Hylocereus
undatus
Langerstroemia
indica L.
darah rendah
parut bit, peras dan minum air perasan tersebut
darah tinggi
makan buah naga
bisul
remas daun bungur dan tempelkan pada bisul
Antidesma
bunius (L.)
Spreng
1. keputihan
20
Binahong
21
Bintinu
22
Bit
23
Buah naga
24
Bungur
25
Buni
Anredera
cordifolia
(Ten.) Steenis
Melochlia
umbellata
(Hontt.) Stapf
manahong,
piahong
bintinu
huni
2. kanker rahim
2. rebus daun benalu mangga dan akar alang-alang, kemudian minum ramuan
tersebut
remas daun binahong dan oleskan pada wajah
rebus daun binahong dan minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, peras dan minum air perasan tersebut
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, peras dan minum air perasan tersebut
101
102
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
26
Nama
spesies
Buntiris
Nama ilmiah
Kalanchoe
pinnata (Lamk.)
Pers.
Nama lain
sosor bebek,
cocor bebek
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
3. anti kanker
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu/ peras dan minum air perasan tersebut
4. reumatik
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras airnya
5. jantung
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras airnya
1. remas daun buntiris, campur dengan minyak kayu putih dan bawang merah,
balurkan
panas
2. remas daun buntiris, bawang merah dan asam jawa, balurkan
3. remas daun buntiris, peras dan minum
27
Cabe jawa
28
Cangcang
kuda
29
Cengek
Piper
retrofractum
Vahl.
Sida
rhombifolia
Linn.
Capsicum
frutescens L.
cabe puyang
cabe rawit
menjaga kesehatan
mata setelah
melahirkan
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan pala
pegal-pegal
rebus daun cangcang kuda dan minum
sakit perut pada anak
1. kolesterol tinggi
30
Cengkih
Syzygium
aromaticum,
(Linn.) Merr.
2. batuk
3. flu
4. sakit gigi
1. tumbuk daun cengek dan balurkan, dapat juga ditambahkan kapur sirih
2. remas daun cengek dan daun kamandilan, peras dan minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih,
lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih,
lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih,
lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih,
lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
4 lembar daun cengkih, 4
4 lembar daun cengkih, 4
4 lembar daun cengkih, 4
4 lembar daun cengkih, 4
102
103
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
1. reumatik
31
Ceplukan
Physalis
peruviana,
Linn.
cecenet
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
5. sakit kencing
6. sakit pinggang
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar ceplukan, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
103
104
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
2. rebus akar alang-alang, akar ceplukan, akar aren dan daun sukun/daun klewih
7. asam urat
8. kencing manis
rebus semua bagian ceplukan
1. rebus batang pacing, semua bagian memeniran, semua bagian ceplukan, kunir
hitam dan semua bagian putri malu
2. rebus semua bagian ceplukan, minum
3. rebus akar ceplukan, minum
9. darah tinggi
10. bronkhitis
11. menguatkan
stamina tubuh
12. panas dingin
13. infeksi saluran
kencing
14. menyegarkan dan
memulihkan stamina
setelah melahirkan
15. gatal-gatal
32
33
Ceremai
Cincau
Phyllanthus
acidus [L.]
Skeels.
Cyclea barbata
cereme
camcau
1. rebus semua begian ceplukan dan minum
2. rebus akar pinang, akar pepaya, akar salak dan akar ceplukan
rebus 20 biji kemukus, 1 genggam semua bagian ceplukan, 2 lembar daun
pepaya ranti, 1 genggam daun antanan, temulaeak dan satu butir gula batu
rebus akar pinang, akar alang-alang, semua bagian ceplukan, akar kelapa hijau
dan akar pepaya ranti
rebus akar alang-alang, akar ceplukan, kulit batang lame dan akar sereh
rebus akar ceplukan dan akar pecah beling
rebus daun dan batang ceplukan dan minum
rebus semua bagian ceplukan, minum
16. jantung
rebus semua bagian ceplukan, minum
17. paru-paru
rebus semua bagian ceplukan, minum
1. borok/koreng
remas buah ceremai dan balurkan
2. darah tinggi
rebus buah ceremai, minum
panas dalam
remas daun, saring airnya, biarkan hingga mengeras dan makan
104
105
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
34
Nama
spesies
Coklat
Theobroma
cacao L.
Combrang
Etlingera
elatior (Jack) R.
M. Sm
35
36
37
38
Nama ilmiah
Dadap
cangkring
Dadap
serep
Daun tuju
Nama lain
honje, ares
(bunga)
Erythrina fusca
Lour.
Erythrina
lithosperma
Miq
Graptopyllum
sp.
tarebah
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
Jantung
rebus daun coklat dan minum
1. panas
1. rebus batang combarang, pakai untuk mandi
2. peras batang damn minum airnya
2. sakit kepala karena
darah tinggi
trakhoma (penyakit
mata)
1. panas
2. supaya penyakit
yang pernah diderita
tidak kambuh
3. sakit pinggang
remas bunga combrang (ares) dan teteskan airnya pada mata
potong akar pagi hari dan teteskan pada mata
remas daun dadap dan balurkan
rebus daun dadap dan airnya dipakai mandi
remas daun dadap dan minum
4. maag
remas daun dadap, seduh dengan air panas, tambahkan telur dan madu
5. reumatik
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras airnya
6. jantung
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras airnya
7. sakit ginjal
seduh daun salak dan daun dadap dengan air panas
8. sakit mata
9. menyuburkan
rambut
1. gatal-gatal
potong batang dadap dan teteskan pada mata yang sakit
2. sakit perut tajam
3. sakit mata yang
menyebabkan sakit
kepala
remas daun tuju dan minum
tumbuk daun dadap dan oleskan pada rambut
remas daun tuju, tambahkan garam dan sedikit minyak tanah
remas daun tuju dan teteskan pada mata
105
106
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
39
40
41
Nama
spesies
Delima
Delima
putih
Duku
Nama ilmiah
Punica
granatum L.
Punica
granatum L.
Lansium
domesticum
Corr
42
Durian
Durio
zibethinus
43
Duwet
Syzygium
cumini (Linn.)
Skeels
44
Gadung
45
Galinggem
46
Ginggiang
Nama lain
dalima
dalima bodas
dukuh
kadu
jamblang
Dioscorea
hispida Dennust
Bixa orellana L.
Leea aquata
Linn.
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
1. kanker payudara
rebus biji delima, minum
2. kencing manis
rebus setengah kulit buah dengan 4 gelas air menjadi 1 gelas air, minum
3. obat kuat pria
keringkan biji delima, digoreng tanpa minyak dan dibuat kopi, minum
4. pelangsing
rebus kulit buah delima, minum
1. keputihan
rebus bunga/daun/kulit buah/kulit batang delima, minum
2. cacingan
rebus akar delima putih, minum
3. epilepsi
rebus akar delima putih, minum
1. diabetes basah
rebus kulit batang duku, minum
2. stroke
rebus daun duku, minum
3. jantung
rebus daun duku, minum
panas
remas daun, tambahkan gula aren
1. kencing manis
rebus kulit batang duwet, minum
2. kista
rebus kulit batang duwet, minum
3. kurang darah
rebus kulit batang duwet dan kulit batang limus, minum
4. jantung
rebus kulit batang duwet dan kulit batang limus, minum
5. maag
rebus kulit batang duwet dan kulit batang limus, minum
6. sakit ginjal
rebus kulit batang duwet, minum
komplikasi
kesumba
reumatik
rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun nanangkaan dan
daun galinggem, pakai mandi air rebusan ramuan tersebut
sakit perut
remas daun sembung dan daun ginggiang, minum
106
107
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
47
Nama
spesies
Ginseng
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang diobati
2. pegal-pegal
seduh akar ginseng dengan air dingin, minum seduhan air tesebut. Ginseng
dapat digunakan beberapa kali hingga rasa pahitnya hilang
rebus akar ginseng atau rebus daun ginseng dan campurkan pada makanan
3. reumatik
daun ginseng dimasak sebagai makanan
4. darah tinggi
daun ginseng dilalap mentah
1. obat kuat
Talinum
paniculatum
(Jacq.) Gaertn.
1. sakit pinggang
Handeuleum
Graptophyllum
pictum [L.]
Griff.
Cara pemanfaatan
daun wungu
2. ambeyen
48
3. BAB berdarah
4. reumatik
1. rebus daun handeuleum, minum
2. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
1. rebus daun dengan 2 gelas air hingga mnjadi 1 gelas, minum ramuan 2 kali
sehari pada pagi dan sore hari
2. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun handeuleum, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
107
108
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
5. sakit ginjal
6. sakit kencing
7. keputihan
49
Hanjuang
50
Hanjuang
merah
51
Harendong
besar
52
Harendong
bulu
Cordyline
fruticosa (L.) A.
Chev
Cordyline
terminalis (L.)
Kunth
Astronia
spectabilis
Blume.
Clidemia hirta
DON
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
maag
goreng daun muda hanjuang, daun jarak dan kunyit dengan nasi dan makan
hanjuang
beureum
sakit ulu hati
kukus daun dan tempelkan pada bagian yang sakit
harendong
gede
muntah darah
seduh daun harendong besar dengan air panas, minum setelah dingin
1. anti kanker
2. keputihan
3. kanker rahim
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, tambahkan sedikit air, saring dan minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, tambahkan sedikit air, saring dan minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, tambahkan sedikit air, saring dan minum
108
109
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
53
Jagung
54
Jahe
Nama ilmiah
Zea mays L.
Zingiber
officinale Rosc.
Nama lain
jagong
Penyakit yang
diobati
sebagai
vitamin/suplemen
1. batuk
masak biji jagung sebagai makanan
2. reumatik
rebus lengkuas, jahe dan batang serai
3. panas
parut jahe, tambahkan minyak kelapa, balurkan
4. bengkak
parut jahe, tambahkan minyak kelapa, tempelkan pada bengkak
5. panas dingin
6. gatal
7. alergi dingin
8. menjaga daya tahan
tubuh
9. masuk angin
10. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
11. terkena duri
bambu
12. diare pada anak
13. menghangatkan
badan
55
Jahe merah
Zingiber
officinale Rosc.
Cara pemanfaatan
rebus jahe dan tambahkan gula aren, minum
1. parut jahe dan ditempelkan pada jempol kaki
2. tumbuk jahe, panglay, lada dan
balurkan/kompreskan
parut jahe dan balurkan pada bagian yang gatal
bawang
putih,
kemudian
parut jahe, peras, tambahkan gula aren dan minum
seduh kopi dan tambahkan perasan jahe
parut jahe, tambahkan gula aren dan seduh dengan air panas
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan sereh, tambahkan
sedit air, peras dan minum
parut, tambahkan gula merah dan balurkan pada bagian yang terkena duri
haluskan jahe dan minumkan
campur jahe yang telah diparut dengan kamper dan spirtus dan dibalurkan
14. lumpuh
beras direndam dan dicampur dengan kencur, spirtus, kamper, jahe, minyak
tanah dan minyak sayur, kemudian balurkan pada bagian yang lumpuh
1. menurunkan
kolesterol
rebus jahe merah dan asam jawa
109
110
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang diobati
2. pegal-pegal
56
Jambe
Areca catechu
L.
pinang
1. reumatik
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
Cara pemanfaatan
parut jahe, tambahkan sedit air dan minum
1.rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
2. rebus akar alang-alang, akar sembung, akar pepaya ranti dan akar pinang
3. rebus buah muda jambe dan minum
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
2. rebus daun jambe dan pakar air rebusan tersebut untuk membersihkan daerah
kewanitaan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
110
111
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
5. sakit kencing
6. sakit pinggang
7. sari rapet wanita
8. jamu setelah
melahirkan
9. darah tinggi
10. pegal-pegal
11. koreng
57
Jambu batu
Psidium
guajava L.
jambu
kulutuk
12. obat kuat
13. lumpuh karena
stroke
1. sakit perut
2. batuk
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus akar pinang, buah pinang muda, kapur sirih dan akar kelapa
1. rebus daun jambe dan pakar air rebusan tersebut untuk membersihkan daerah
kewanitaan
2. rebus semua bagian putri malu, kunyit, buah muda jambe dan sereh
rebus akar pinang, akar pepaya, akar salak dan akar ceplukan
1. rebus akar jambe dan minum
2. rebus akar jambe bersama semua bagian ceplukan, daun johar, akar alangalang
oleskan getah buah mudajambe ke koreng
direbus buah muda jambe dan minum
rebus akar jambe dengan akar gedang ranti, daun jawer kotok, pucuk johar, akar
alang-alang dan gula batu
rebus daun jambu, minum
1. potong batang jambu batu, tampung air yang keluar (dituak), minum air
tersebut
2. rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun cengkih, 4
lembar daun salam dan daun jambu batu
111
112
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
3. diare
Cara pemanfaatan
1. tumbuk kunyit dan daun jambu, tambahkan sedikit air, minum
2. diseduh dan tambahkan garam
3. makan langsung daun jambu batu muda
4. kanker
5. kolesterol
6. sakit gigi
7. flu
58
59
Jambu batu
merah
Jambu
mete
Psidium
guajava L.
Anacardium
occidentale
jambu
kulutuk
beureum
8. ngelay (selalu
mengeluarkan air liur)
1. batuk 100 hari
rebus akar pepaya, akar alang-alang, akar aren, akar jambu batu dan akar bambu
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun cengkih, 4
lembar daun salam dan daun jambu batu
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun cengkih, 4
lembar daun salam dan daun jambu batu
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun cengkih, 4
lembar daun salam dan daun jambu batu
tumbuk daun jambu batu, saring
potong batang jambu hingga keluar airnya, tampung
2. demam berdarah
haluskan buah jambu batu merah, minum
3. malaria
makan langsung buah jambu batu merah
1. obat mata
lalap mentah daun jambu mete
2. maag
lalap mentah daun jambu mete
peras buah jambu mete, minum
jambu mede
3. keputihan
lalap daun pepaya bersama daun jambu mete
4. sakit perut
lalap mentah daun jambu mete
5. sakit urat
6. menghangatkan
badan
lalap mentah daun jambu mete
lalap mentah daun jambu mete
112
113
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
60
Jarak
jakarta
61
Jarak
kepyar
62
Jarak pagar
Nama ilmiah
Gliricidia
spepiuim
H.B.K.
Jatropha
gossypifolia L.
Ricinus
communis Linn.
Nama lain
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
basiah, gamal
sakit mata
jarak
beureum
koreng
kukus daun jarak kepyar, tempelkan pada luka koreng
1. flu pada anak
ambil getah jarak dan oleskan pada ubun-ubun anak
2. maag
1. rebus daun jarak dan minum
jarak pager
potong batang jarak jakarta, teteskan air yang keluar pada mata
2. goreng daun muda hanjuang, daun jarak, kunyit dan nasi, makan
3. mual
goreng daun atau bunga jarak dengan nasi
4. panas pada anak
oleskan getah jarak pada dahi atau embun-embun anak
5. patah tulang
tempelkan kulit batang pada tulang yang patah, sangga dengan papan, ikat
6. muntaber
dimakan
7. sakit gigi
1. oleskan getah jarak pagar pada gigi yang sakit
2. air dari batang dipakai untuk kumur-kumur
8. sakit perut
63
Jarong
Stachytarpheta
jamaicensis (L.)
Vahl
pecut kuda
1. reumatik
2. asam urat
3. sakit ginjal
Rebus daun jarak dan minum
rebus daun sidaguri, daun nanangkaan, daun jarong, daun kumis kucing, daun
alpukat dan antanan, minum ramuan tersebut
rebus daun sidaguri, daun nanangkaan, daun jarong, daun kumis kucing, daun
alpukat dan antanan, minum ramuan tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
113
114
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
Penyakit yang
diobati
4. keputihan
5. ambeyen
6. sakit kencing
7. sakit pinggang
64
Jarum
tujuh bilah
Peresia
sacharosa
65
Jati
Tectona grandis
Linn. F
66
Jawer
kotok
Coleus
scutellaroides
(L.) Benth.
miana
1. panas dalam
2. sakit ginjal
3. sakit pinggang
1. darah tinggi
2. kencing manis
1. perut kembung
2. batuk
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
remas daun tujuh bilah, saring dan minum
remas daun tujuh bilah, saring dan minum
remas daun tujuh bilah, saring dan minum
seduh atau rebus daun muda jati dan minum
rebus daun atau kulit batang jati dan minum
rebus daun jawer kotok dan minum
masukan 3 lembar daun jawer kotok ke dalam plastik, kukus dan minum air
dalam plastik tersebut atau rebus daun jawer kotok dan minum
114
115
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
3. penyakit dan
perawatan ibu
melahirkan
4. darah rendah
4. darah rendah
5. keputihan
6. ambeyen
7. sakit kencing
8. sakit pinggang
9. sakit mata
10. gatal-gatal pada
vagina
Cara pemanfaatan
rebus daun jawer kotok dengan akar gedang gandul, akar jambe, pucuk johar,
akar alang-alang dan gula batu
kukus daun jawer kotok, peras dan minum air perasan tersebut
kukus daun jawer kotok, peras dan minum air perasan tersebut
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
2. rebus daun sirih dan daun jawer kotok
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua bagian
nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian antinganting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing dan daun
pecah beling
tuak jawer kotok dan teteskan pada mata
rebus daun jawer kotok dan minum atau pakai air rebusa tersebut untuk
membasuh vagina
115
116
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
67
Nama
spesies
Jayanti
Nama ilmiah
Nama lain
Sesbania sesban
Merr.
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
11. segala macam
penyakit
12. gatal-gatal pada
kulit
1. melancarkan darah
dan mengeluarkan
kotoran setelah
melahirkan
2. melancarkan kencing
rebus akar jambe, semua bagian ki urat, daun sembung, daun jawer kotok, daun
kumis kucing, akar jambe dan semua bagian cecendet
3. sakit pinggang
remas daun jayanti, saring dan minum
1. kencing manis
68
Jengkol
Archidendron
pauciflorum
(Benth.) Nielsn.
69
Jeruk
Citrus sinensis
70
Jeruk nipis
Citrus
aurantifolia
(Christm. &
Panz.) Swingle
71
Jeruk purut
Citrus hystrix
DC.
jeruk
sambel
tumbuk daun jawer kotok dan oleskan pada kulit yang gatal
rebus daun jayanti dan minum
remas daun jayanti, saring dan minum
1. rebus kulit buah jengkol dan minum
2. parut sepi (buah jengkol tua yang dikubur dalam pasir atau tanah selama
beberapa lama), rebus dan minum
2. paru-paru
rebus kulit buah jengkol dan minum
polip
1. batuk
rebus daun sembung dan daun jeruk, hisap uap dari ramuan tersebut
1. bubuy (masukan dalam abu panas pada tungku) buah jeruk nipis, peras dan
campur air perasan dengan kecap
2. rebus daun sirih, buah mengkudu yang telah dikeringkan dan tambahkan
perasan jeruk nipis, minum
2.singkayo (garis
kehamilan pada perut)
peras jeruk nipis, tambahkan kapur sirih dan balurkan pada perut
3. jerawat
peras jeruk nipis, tambahkan madu dan oleskan pada kulit berjerawat
polip
rebus daun sirsak, daun jeruk purut dan daun sembung, hisap uap dari ramuan
tersebut
116
117
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. kencing manis
3. melancarkan haid
rebus daun jinten dan minum
tumbuk 3 lembar daun sirih, 3 siung bawang merah, setengah sendok makan biji
jinten dan 14 biji buah kemukus, tambahkan seperempat cangkir air. Diminum 2
kali sehari pada pagi dan sore
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
4. kanker rahim
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
5. kanker payudara
2. sakit gigi
3. lumpuh karena
stroke
1. sakit perut pada anak
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
rebus daun johar, semua bagian cecendet, akar alang-alang dan akar jambe,
minum
remas daun johar, saring dan minum
rebus daun johar, akar pepaya ranti, daun jawer kotok, akar jambe, akar alangalang dan gula batu
remas daun jukut bau, balurkan pada perut yang sakit
2. luka
remas daun jukut bau, tempelkan pada luka
3. perut kembung
1. remas daun jukut bau, balurkan pada perut
72
Jinten
2. jantung
Plectranthus
amboinicus (L.)
Spreng
1. pegal-pegal
73
74
75
Johar
Jukut bau
Jukut tiris
Senna siamea
Ageratum
conyzoides
Cara pemanfaatan
2. tumbuk daun jukut bau dan kencur, balurkan pada perut
babandotan
4. reumatik
rebus daun jukut bau, minum
5. maag
rebus daun jukut bau, minum
6. mimisan
7. meluruhkan
lemak/kolesterol
gatal-gatal karena ulat
remas daun jukut bau, masukan ke dalam hidung
rebus semua bagian jukut bau, minum
remas daun jukut tiris, balurkan pada kulit yang gatal
117
118
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
76
Kacang
gude
Cajanus cajan
[Linn.] Millsp
hiris
batu ginjal
77
Kacang
hijau
Phaseolus
radiatus Linn.
kacang hejo
maag
Kacapiring
Gardenia
augusta Merr.
2. melancarkan kencing
3. maag
remas daun kacapiring, dan minum
4. sesak nafas
rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun mustajab, minum
5. perut panas
7. sakit buang air kecil
rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun mustajab, minum
remas daun kacapiring atau rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun
mustajab, minum
remas daun kacapiring, minum
susah kentut
makan mentah daun kahitutan
1. sakit pinggang
rebus daun katapayan dan daun kalingsir, minum
2. reumatik
remas daun kalingsir dan balurkan
3. beri-beri
rebus daun kalingsir dan minum
4. sakit kepala hingga
membuat mata sakit
remas daun kalingsir, saring atau diseduh air
6. sakit pinggang
79
80
Kahitutan
Kalingsir
Paederia
scandens
(Lour.) Merr.
Clinacanthus
nutans Lindau
sembukan
rebus atau makan mentah daun atau sangray(goreng tanpa minyak dan dibuat
kopi) biji kacang gude
rebus temulawak, biji kacang hijau dan bawang putih dengan 3 gelas air hingga
menjadi setengah gelas
remas daun kacapiring, dan minum atau remas daun kacapiring dan randu,
minum
remas daun kacapiring dan daun randu, minum
1. panas
78
Cara pemanfaatan
118
119
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
81
Nama
spesies
Kamandilan
Nama
ilmiah
Nasturtium
indicum DC.
Nama
lain
sasawian,
kokobakan,
sawi taneuh
Penyakit yang diobati
1. darah tinggi
2. melancarkan
kencing
3. sakit pinggang
Bridelia
monoica Merr.
82
Kanyere
83
Kapol
84
Karuk
Amomum
cardamomum
Auct. Non L
Katapayan
Argyreia mollis
(Burm.f.)
Choisy
kapulaga
86
87
Katuk
Katumbel
Sauropus
androgynus
rebus daun kamandilan atau kukus, lalu dilalap
rebus daun kamandilan atau kukus, lalu dilalap
rebus daun kamandilan atau kukus, lalu dilalap
4. sakit perut
remas daun kamandilan atau dengan daun cengek, balurkan
5. panas
remas daun kamandilan, balurkan
maag
rebus daun kanyere dan minum
sakit kuning
1. sesak nafas
rebus daun kapol dengan kerang-kerang air tawar (remis/ susuh/tutut), minum
airnya
1. remas daun karuk dan daun tangkil, balurkan atau minum
2. remas daun karuk dan daun tangkil, balurkan atau minum
2. batuk
85
Cara pemanfaatan
Tatapayan
rebus daun karuk, daun saga dan batang serai, minum
sakit pinggang
rebus daun katapayan dan daun kalingsir, minum
2. memperbanyak dan
memperlancar ASI
rebus/masak dan makan
3. menghaluskan muka
sakit perut
remas daun katuk dan oleskan pada muka
lalap mentah daun katumbel
119
120
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
1. pegal-pegal setelah
melahirkan
2. menghaluskan kulit
bayi
3. menjaga kesehatan
setelah melahirkan
1. keputihan
Kayu manis
88
89
90
91
Cinnamomum
burmanii J. Presl
Kecapi
Kecubung
gunung
Kedongdon
g
Sandoricum
kucape
Brugmansia
suaveolens (H. et
B.) B. et P.)
Spondias dulcis
Forst.
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan pala
seduh pucuk kecapi dan minum
sentul
kucubung
kadongdong
2. ambeyen
seduh pucuk kecapi dan minum
sesak nafas
remas pucuk kecubung, tambahkan minyak kelapa dan balurkan
1. pegal linu
rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
2. pusing
rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
3. darah tinggi
rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
4. kencing manis
rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
potong akar kedongdong dan teteskan air yang keluar adari akat tersebut pada
mata yang sakit
rebus daun kumis kucing, daun pecah beling dan semua bagian memeniran
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar pinang,
bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua bagian
anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis kucing
dan daun pecah beling, minum
5. sakit mata
6. batu ginjal
7. reumatik
120
121
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
10. kencing manis
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling,minum
lalap daun keji beling
melancarkan kencing
kukus dan lalap/makan
1. batu ginjal
rebus daun kumis kucing, daun keji beling dan daun alpukat, minum
2. sakit kencing
4. susah kencing
rebus daun kumis kucing, daun beluntas dan daun keji beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun keji beling, minum
5. batu ginjal
rebus daun kumis kucing, daun pecah beling dan semua bagian memeniran
8. keputihan
9. ambeyen
92
93
Kedongdong
cina
Keji beling
Polyscias
pinnata L.
(Lannea
coromandelica
(Houtt) Merr
Stachytarpheta
mutabilis, Vahl.
kadongdong
cina,
kadongdong
lalab
Cara pemanfaatan
pecah beling
3. sakit pinggang
121
122
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
9. kencing manis
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
lalap daun keji beling
kanker
rebus semua bagian keladi tikus dan minum
1. sari rapet wanita
rebus akar pinang, buah pinang muda, kapur sirih dan akar kelapa, minum
2. jantung
rebus akar kelapa, minum
3. diare
minum air buah kelapa muda
bakar 1 butir kelapa muda, ambil air dan dagingnya, campur dengan
remasan daun pecah beling
parut kunyit, seduhb dengan seperempat gelas air, saring, tambahkan kuning
telur itik atau entog, kocok dan campurkan dengan air kelapa muda
bakar bunga kelapa, tumbuk dan tambahkan minyak kelapa dan oleskan
pada kulit
6. reumatik
7. keputihan
8. ambeyen
94
95
Keladi tikus
Kelapa
Typhonium
Flagelliforme
Cocos nucifera,
Linn.
kuping tikus
kalapa
Cara pemanfaatan
4. sakit ginjal
5. ambeyen
10. merah-merah pada
kulit
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
122
123
No
Nama
spesies
Nama ilmiah
Nama lain
12. darah tinggi
remas bawang merah dan asam, tambahkan minyak kelapa, balurkan pada
seluruh badan
parut wortel, peras tambahkan air kelapa dan gula aren, minum
13. pegal linu
rebus akar kelapa, minum
14. obat mata
1. diare
2. menguatkan stamina
tubuh
3. sakit pinggang
parut kelapa, saring, campur dengan gula merah dan teteskan pada mata
parut seperempat buah kelapa, ambil airnya dan tambahkan putih telur
(anak-anak) atau telur semua bagian (orang tua)
minum air kelapa hijau
rebus akar pinang, akar alang-alang, semua bagian ceplukan, akar kelapa
hijau dan akar pepaya ranti dan minum
campur air kelapa hijau dan gula merah, minum
1. reumatik
rebus kulit batang turi dan kulit batang kelor, minum
2. sakit mata
3. pikun pada orang tua
potong batang kelor hingga keluar airnya dan teteskan pada mata
rebus daun kelor dan minum
Panas
rendam biji kemangi dan minum
11. panas
15. radang paru-paru
96
Kelapa
hijau
Cocos nucifera,
Linn.
97
Kelor
Moringa oleoifera,
Lamk
98
Kemangi
Ocimum sanctum
L.
kalapa hejo,
kopyor
surawung
3. sakit ginjal
remas daun kembang sepatu, minum atau balurkan atau rebus daun kembang
sepatu, minum
rebus daun kembang sepatu dan temulawak dengan 2 gelas air hingga
menjadi 1 1 gelas
rebus daun kembang sepatu dan temulawak dengan 2 gelas air hingga
menjadi 1 1 gelas
rebus daun tapak dara dengan jumlah sesuai hari lahir (senin:5 lembar,
selasa: 3 lembar, dll)
rebus daun tapak dara dan minum
4. kencing manis
rebus daun tapak dara dan minum
5. melancarkan haid
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
1. panas
2. kencing batu
99
Kembang
sepatu
Hibiscus rosasinensis
kembang
lalampuan
Cara pemanfaatan
Penyakit yang diobati
3. pegal-pegal
2. darah tinggi
123
124
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
101
Nama
spesies
Kemiri
Nama ilmiah
Aleurites
moluccana Willd
Nama lain
muncang
Penyakit yang diobati
6. kanker rahim
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
7. kanker payudara
menumbuhkan kumis
dan janggut
rebus 15 lembar daun tapak dara dengan biji jinten
Kemukus
1. darah tinggi
2. sakit gigi
3. digigit serangga
4. gatal-gatal
5. bengkak
remas daun kemuning dan tempelkan pada bagian yang sakit
remas daun kemuning dan tempelkan pada bagian yang sakit
tumbuk daun kemuning dan tempelkan pada bagian yang sakit
tumbuk daun kemuning dan tempelkan pada bagian yang sakit
1. sesak nafas
rebus setengah genggam bunga kenanga dan 1 sendok gula putih dengan 1
gelas air hingga menjadi setengah gelas
2. bronkhitis
rebus 2 kuntum bunga kenanga dengan 1 gelas air hingga menjadi setengah
gelas air
Piper cubeba, Linn
2. jantung
103
104
105
Kemuning
Kenanga
Kencur
Murraya
paniculata [L.]
Jack.
Canangium
odoratum, (Lamk.)
Hook & Thomas.
(Lat)
Kaempferia
galanga, Linn.
kananga
cikur
bakar kemiri dan oleskan
rebus 20 biji kemukus, 1 genggam semua bagian cecendet, 2 lembar daun
pepaya ranti, 1 genggam daun antanan, temulaeak dan satu butir gula batu
tumbuk 3 lembar daun sirih, 3 siung bawang merah, setengah sendok makan
biji jinten dan 14 biji buah kemukus, tambahkan seperempat cangkir air.
Diminum 2 kali sehari pada pagi dan sore
rebus daun kemuning dan minum
1. bronkhitis
102
Cara pemanfaatan
1. luka dalam setelah
melahirkan
2. batuk
tumbuk kunyit dan kencur
dimakan mentah dengan gula merah
3. keseleo
rendam beras,tumbuk, tambahkan kencur
4. penghangat badan
rendam beras,tumbuk, tambahkan kencur
124
125
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
5. sakit gigi
haluskan kencur, tempelkan pada gigi yang sakit
6.perawatan kesehatan
ibu melahirkan
1.rendam beras, campurkan kunyit dan kencur yang telah diperas
2. tumbuk beras ketan hitam dan kencur atau seduh beras ketan hitam dan
tambahkan air panas
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam,
balurkan
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa jam,
balurkan
7. pegal-pegal sehabis
melahirkan
8. menghaluskan kulit
bayi dan anak
9. menjaga kesehatan
mata setelah
melahirkan
10. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
11. perut kembung
106
107
110
Kentang
Ketan
hitam
Ki buset
Solanum tuberosum
L.
Oryza sativa var
Glutinosa
Mimosa pigra
Linn.
kumeli
ketan
hideung
Cara pemanfaatan
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan pala,
balurkan
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan sereh
tumbuk daun jukut bau dan kencur, balurkan
1. darah tinggi
parut kentang, peras, rebus dan minum
2. bisul
tempelkan kentang pada bisul
3. kencing manis
parut kentang, rebus, minum atau dapat dimakan langsung
tumbuk beras ketan hitam dan kencur, balurkan atau seduh beras ketan
hitam dan tambahkan kencur, minum
2. rebus daun ki baceta dan gunakan air rebusan tersebut untuk mandi
perawatan kesehatan
ibu melahirkan
2. maag
rebus daun ki baceta dan minum
kencing manis
rebus akar ki buset dan minum
125
126
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
111
Nama
spesies
Ki greges
112
Ki koneng
113
Ki manila
Nama ilmiah
Nama lain
Cassia alata, Linn
114
Ki rapet
Jatropha multifida
115
Ki seureuh
Piper aduncum L.
Cara pemanfaatan
1. gatal pada mata
remas daun ki greges, teteskan pada mata
2. sakit punggung
rebus daun ki greges dan minum
akar kuning
sakit kuning
rebus batang ki koneng dan bambu kuning, minum
ketepeng
cina
1. gatal-gatal karena
alergi
2. panu
Leonitis
nepetaefolia (L.) R.
Br.
Arcangelisia flava
Merr.
Penyakit yang diobati
betadhine
tangkal,
panasilin
luka
sakit mata
1. panas
remas daun manila dan balurkan pada kulit yang gatal
remas daun manila dan balurkan
oleskan getah dari batang ki rapet pada luka
potong batang ki seureuh, teteskan air yang keluar dari batang tersebut pada
mata
1. tumbuk daun ki urat, saring, dapat ditambahkan madu dan minum
2. remas daun ki urat dan balurkan
116
Ki urat
Plantago mayor L.
sesendokan,
cecentongan
daun sendok
3. tumbuk daun ki urat dan kurma, saring dan minum
2. asam urat
3. reumatik
4. segala macam
penyakit
1. rebus daun ki urat dan minum
2. tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu
dan 4 lembar daun salam, saring dan minum
rebus daun ki urat dan minum
tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu dan 4
lembar daun salam, saring dan minum
rebus akar jambe, semua bagian ki urat, daun sembung, daun jawer kotok,
daun kumis kucing, akar jambe dan semua bagian cecendet, minum
126
127
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
117
Kopi
118
Korejat
119
Krokot
120
Kukusutan
121
Kumis
kucing
Nama
ilmiah
Coffea robusta
Lindl. Ex De Will
Isotoma longiflora
(Wild.) Presl
Portulaca oleracea
L.
Hydrocotyle
sibthorpioides
Lamk.
Orthosiphon
spicatus B.B.S.
Nama
lain
Penyakit yang diobati
5. menurunkan
kolesterol
mengeringkan luka
akibat diabetes
bunga
bintang
antanan
leutik
Cara pemanfaatan
rebus daun ki urat dan minum
seduh daun kopi dan minum
sakit mata
rendam bunga korejat dalam air, lalu teteskan pada mata yang sakit
perawatan kesehatan
ibu melahirkan
1. sari rapet wanita
beras direndam dan dicampur dengan kencur, kunyit dan semua bagian
krokot
lalap kukusutan dan daun jambu mete
2. maag
lalap kukusutan
3. menghaluskan muka
lalap kukusutan
1. melancarkan kencing
rebus daun kumis kucing dan minum
2. sakit ginjal
rebus daun kumis kucing dan minum
3. sakit pinggang
rebus daun kumis kucing, daun jawer kotok dan daun pecah beling
1. rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling, minum
2. rebus daun keji beling dan kumis kucing, saring
kumis ucing
3. rebus daun kumis kucing dan akar pepaya ranti
4. kencing batu
rebus daun kumis kucing dan minum
127
128
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
6. batu ginjal
rebus daun sidaguri, semua bagian nanangkaan, daun jarong, daun kumis
kucing, daun alpukat dan antanan, minum
rebus daun kucing, daun pecah beling dan daun alpukat, minum
7. sakit kencing
8. segala macam
penyakit
9. panas
rebus daun kucing, daun pecah beling dan daun alpukat, minum
rebus akar jambe, semua bagian ki urat, daun sembung, daun jawer kotok,
daun kumis kucing, akar jambe dan semua bagian cecendet
tumbuk daun kumis kucing, saring dan minum
1. diare pada anak
bakar atau parut rimpang kunyit dan kunci, tumbuk, peras dan minum
2. awet muda
3. menambah nafsu
makan
4. perawatan kesehatan
ibu melahirkan
rebus daun pacar, kunci dan kunyit, minum
5. reumatik
122
Kunci
Boesenbergia
pandurata (Roxb.)
Schlechter
1. maag
123
Kunir
hitam
Curcuma
aeruginosa Roxb.
koneng
hideung
Cara pemanfaatan
2. reumatik
parut rimpang kunyit dan kunci, peras dan minum
rebus kunci dan makan
parut kunir hitam, peras, campur dengan air atau rebus kunir hitam,
tambahkan gula aren dan minum
parut kunir hitam, peras, campur dengan air
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
3. menambah nafsu
makan
parut kunir hitam, peras, campur dengan air
4. sakit ginjal
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
128
129
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
5. keputihan
6. ambeyen
7. sakit kencing
8. sakit pinggang
9. kencing manis
10. lulur setelah
melahirkan
11.luka dalam
12.sakit pinggang
13.mencret pada bayi
(indah)
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus batang pacing, semua bagian memeniran, semua bagian cecendet,
kunir hitam dan semua bagian putri malu
tumbuk kunir hitam dan lempuyang
tumbuk kunir putih, temulawwak dan kunir hitam
tumbuk kunir putih, temulawwak dan kunir hitam
remas kunir putih, peras dan minum
129
130
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
14. perawatan
kesehatan ibu
melahirkan (agar tidak
muncul singkayo)
15.kurang darah
16. perawatan
kesehatan ibu
melahirkan
1. sakit mata
124
Kunir
putih
125
Kunyit
Curcuma zedoaria
(Berg.) Rosc.
Curcuma
domestica, Rumph
koneng
bodas
koneng
temen
Cara pemanfaatan
rebus semua bagian putri malu, kunir hitam, buah muda pinang dan serai
parut kunir hitam, peras dan minum
tumbuk kunyit, kunir hitam dan kunir putih
parut kunir putih, peras airnya dan teteskan pada mata yang sakit
2. sakit kuning
rebus kunir hitam dan minum
3. luka dalam
tumbuk kunir putih, temulawak dan kunir hitam, peras dan minum
4. sakit pinggang
tumbuk kunir putih, temulawak dan kunir hitam, peras dan minum
5. kanker
rebus kunir putih dan minum
parut kunir putih, peras dan minum atau tumbuk kunir putih, peras dan
minum
parut kunir putih, peras dan minum
rebus temulawak, kunyit, kunir putih dan kunir hitam
potong-potong kunir putih, keringkan dan seduh
6. maag
7. tipus
8. beri-beri/liver
9. pencegah kanker
10. kanker rahim
11. perawatan
kesehatan ibu
melahirkan
1. luka dalam setelah
melahirkan
2. diare
rebus rumput mutiara, buah mahkota dewa dan kunir putih
tumbuk kunyit, kunir hitam dan kunir putih
tumbuk kunyit dan kencur atau parut kunyit atau makan mentah
tumbuk kunyit dan daun jambu atau parut kunci dan kunyit, peras dan
minum
tumbuk kunyit, ketumbar dan daun jambu
130
131
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
3. kurang darah
4. maag
5. borok
6. demam berdarah
7. reumatik
8. sakit ginjal
9. keputihan
10. ambeyen
Cara pemanfaatan
parut kunyit, peras, tambahkan madu telur yang bagian kuning/dilalap
mentah
parut kunyit, peras, tambahkan perasan daun saga dan gula, rebus dengan 1
liter air hingga menjadi 1 1gelas, minum atau dimakan mentah
parut kunyit, tambahkan minyak kelapa
tumbuk daun pepaya, semua bagian meniran merah, kunyit dan gram, seduh
dengan air matang dingin 1 1gelas
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
131
132
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
11. sakit kencing
12. sakit pinggang
13. maag
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, temulawak, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun kumis
kucing dan daun pecah beling
1. parut kunyit, peras dan minum airnya
2. parut kunyit, peras dan campurkan dengan air kelapa, minum
3. oreng daun muda hanjuang, daun jarak, kunyit dan nasi
14. menambah nafsu
makan
15. perawatan
kesehatan ibu
melahirkan
16. ambeyen
17. awet muda
18. mencegah kanker
rahim
19. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
20. beri-beri/liver
parut kunci dan kunyit, peras airnya
rendam beras, campurkan kunyit dan kencur yang telah diperas
parut kunyit, seduh dengan seperempat gelas air, saring, tambahkan kuning
telur itik atau entog, kocok dan campurkan dengan air kelapa muda
rebus daun pacar, kunci dan kunyit
rebus kunyit dan minum
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan sereh
rebus temulawak, kunyit, kunir putih dan kunir hitam
132
133
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
21. menjaga kesehatan
mata setelah
melahirkan
22. kanker
126
Kurma
127
Labu
kuning
128
129
130
Labu siam
Lada
Lame
Phoenix dactylifera
L.
Cucurbita
moschata, Dutc, ex
Poir
Sechium edule, S.W
Piper nigrum L.
Alstonia scholaris
(L.) R.Br.
korma
waluh
koneng
waluh
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan pala
haluskan daun sirih, batang serai dan kunyit
23. supaya tidak bau
anyir darah setelah
melahirkan
1. rebus kunyit dan diminum hingga 40 hari setelah melahirkan
24. sakit perut
rebus kunyit atau parut kunyit, minum
panas
remas daun ki urat, tambahkan kurma dan minum
1. darah tinggi
rebus bunga labu kuning dan makan
rebus bunga labu kuning, daun/bunga simugu, daun salak. Pakai ramuan
tersebut untuk mandi selama 7 kali pada hari lahir penderita pada jam 7
malah. Hal tersebut harus dilakukan sendiri oleh orang tua penderita
parut labu siam yang sudah tua dan singkong, peras ainya, campur dengan
kuning telur, susu kental manis dan larutan cap kaki tiga
2. epilepsi
1. tipus
2. darah tinggi
pedes
Cara pemanfaatan
2. tumbuk kunyit, kunir hitam dan kunir putih
rebus labu siam yang masih muda dan minum
3. panas
1. perawatan kesehatan
ibu melahirkan
2. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
1. pegal-pegal
parut labu siam yang sudah tua, peras dan kompreskan airnya
2. kencing batu
rebus kulit batang lame dan minum
3. panas dingin
rebus akar alang-alang, akar cecendet, kulit batang lame dan akar sereh
tumbuk lada, beras, bawang putih dan ragi, balurkan
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan sereh, minum
rebus kulit batang lame dan minum
133
134
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
131
132
133
134
135
136
137
138
Nama
spesies
Lamtoro
Landeuk
Lemo
Lempuyang
Lengkuas
Lengkuas
merah
Leunca
Lidah
buaya
Nama
ilmiah
Nama
lain
Leucaena
leucocephala, Lmk.
de wit
bandara,
selong
Cayratia
geniculata (Blume)
Gagn.
tarebah
Litsea cubeba L.
Persoon
Zingiber
aromaticum Vahl.
Alpinia galanga,
Linn., Wild
Alpinia purpurata
(Vieill.) K. Sch
Solanum nigrum L.
Aloe vera Linn.
lampuyang
laja
laja beureum
Penyakit yang diobati
1. cacingan
2. kencing manis
Cara pemanfaatan
goreng biji lamtoro tanpa minyak (disangray) atau keringkan,tumbuk dan
seduh, minum
goreng biji lamtoro tanpa minyak (disangray) atau keringkan,tumbuk dan
seduh, minum
1, sakit pinggang
remas daun landeuk, peras dan minum
2. melancarkan kencing
remas daun landeuk, peras dan minum
anti ular
bawa kulit batang lemo ketika pergi ke tempat yang dirasakan banyak
ularnya
1. lulur setelah
melahirkan
2. jerawat
tumbuk kunir hitam dan lempuyang, balurkan
parut rimpang lempuyang, peras dan minum
1. sakit ulu hati
parut rimpang lengkuas, peras, tambahkan gula batu dan minum
2. batuk
tuak batang lengkuas dan minum airnya
3. reumatik
rebus lengkuas, jahe dan batang serai, minum
4. parut
parut rimpang lengkuas dan oleskan pada panu
1. panu
parut rimpang lengkuas merah dan oleskan pada panu
2. reumatik
parut rimpang lengkuas merah, peras dan campurkan dengan ragi, minum
1. jantung koroner
makan mentah/lalap buah leunca
2. obat kuat
makan mentah/lalap buah leunca
1. panas
kerok daging daun lidah buaya, kompreskan atau diminum
134
135
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
2. menghitamkan
rambut bayi dan
menyuburkan
3. kencing manis
139
Limus
Mangifera foetida,
Lour
bacang
Phaleria
macrocarpa
(Scheff.) Boerl.
kerok daging daun lidah buaya, tambahkan air dan minum
kerok daging daun lidah buaya, makan
5. luka
oleskan lendir daun lidah buaya pada luka
6. diare
rebus daging daun lidah buaya, saring dan minum
7. panas dalam
kerok daging daun lidah buaya, yambahkan air dan madu, minum
1. kurang darah
rebus kulit batang jamblang dan kulit batang limus
2. jantung
rebus kulit batang jamblang dan kulit batang limus
3. maag
rebus kulit batang jamblang dan kulit batang limus
rebus buah mahkota dewa yang telah dikeringkan dan daun sambiloto,
minum atau dapat juga hanya rebusan buah mahkota dewa yang telah
dikeringkan
rebus rumput mutiara, buah mahkota dewa kering dan kunir putih, minum
2. kanker rahim
Mahkota
dewa
remas-remas daging daun lidah buaya dan balurkan pada rambut
4. maag
1. kencing manis
140
Cara pemanfaatan
3. darah tinggi
4. jantung
5. pegal-pegal
6. asam urat
7. maag
1. lalap mentah daun mahkota dewa
2. potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering,
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering,
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering,
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering,
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering,
dengan air panas dan minum atau lalap mentah daun mahkota dewa
seduh
seduh
seduh
seduh
seduh
135
136
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. kencing manis
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering, seduh
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering, seduh
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering, seduh
dengan air panas dan minum
potong-potong buah mahkota dewa, keringkan. Setelah kering, seduh
dengan air panas dan minum
sangray (goreng tanpa minyak) daun mahkota dewa, kencur dan nasi,
makan
makan biji mahoni atau rebus kulit batangnya
2. pegal-pegal
rebus biji atau kulit batang mahoni
3. sakit kepala
6. mual
makan bagian biji mahoni yang berwarna putih
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras
airnya, minum
tumbuk daun buni, daun dadap, daun mahoni dan daun mengkudu, peras
airnya, minum
makan bagian biji mahoni yang berwarna putih
7. perut kembung
makan bagian biji mahoni yang berwarna putih
8. stroke
2. sariawan
tumbuk daun mahoni, seduh dengan air dan minum
rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun nangkan
dan daun galinggem
makan daun muda mangga
1. darah tinggi
rebus daun manggis dan minum
2. kanker payudara
rebus kulit buah manggis dan minum
8. lemas-lemas
9. reumatik
10. gatal-gatal karena
alergi
11. kanker satdium
awal
12. sakit ulu hati
141
Mahoni
Swietenia
macrophylla Jacq.
4. reumatik
5. jantung
142
143
Mangga
Manggis
Mangifera indica
Linn.
Garcinia
mangostana L.
1. reumatik
buah
manggu
Cara pemanfaatan
136
137
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
144
Nama
spesies
Mangkokan
Nama
ilmiah
Nothopanax
scutellarium Merr.
Nama
lain
mamangkokan
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
1. darah tinggi
rebus daun mangkokan dan minum atau lalap daun mangkokan
2. kurang gizi
3. melancarkan
kencing
rebus daun mangkokan dan minum atau lalap daun mangkokan
rebus 7 lembar daun mangkokan, minum atau rebus daun mangkokan dan
daun puring, minum
rebus 5 lembar daun sirih, 5 lembar daun mangkokan dan 5 lembar batang
serai, pakai ramuan tersebut untuk mandi
4. pegal-pegal
145
Mara
Macaranga
tanarius Muell.
Arg.
146
Melati
Jasminum sambac
(L.) Ait
malati
sakit mata
147
Melinjo
Gnetum gnemon L.
tangkil
sesak nafas
148
Mengkudu
Morinda citrifolia
Linn.
cangkudu
bisul
1. darah tinggi
2. maag
3. pegal-pegal
4. reumatik
5. batuk
6. asam urat
7. sakit ginjal
oleskan getah mara pada bisul
remas daun melati dan tambahkan sedikit minyak kelapa (minyak kletik),
teteskan pada mata atau rendam bunga melati dalam air dan teteskan pada
mata
remas daun karuk dan daun melinjo, minum atau balurkan pada dada
rebus daun mengkudu, lalap/makan atau peras buah mengkudu yang
matang, minum
rebus daun mengkudu, lalap/makan atau peras buah mengkudu yang
matang, minum
remas daun mengkudu, minum
1. remas daun mengkudu, minum
2. tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu
dan 4 lembar daun salam, saring dan minum
seduh daun sirih, buah mengkudu yang telah dikeringkan dan jeruk nipis,
minum
tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu dan
4 lembar daun salam, saring dan minum
rebus daun mengkudu atau tumbuk buah mengkudu yang telah matang,
saring dan minum
137
138
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
8. sakit paru-paru
9. kencing manis
10. ketombe
11. borok-borok pada
kepala
149
Meniran
Phyllanthus niruri
L.
1. demam berdarah
memeniran
2. asam urat
3. reumatik
4. jerawat
5. sakit ginjal
6. keputihan
Cara pemanfaatan
rebus daun mengkudu atau tumbuk buah mengkudu yang telah matang,
saring dan minum
rebus daun mengkudu atau tumbuk buah mengkudu yang telah matang,
saring dan minum
tumbuk buah mengkudu yang telah matang dan balurkan pada kepala
tumbuk buah mengkudu yang telah matang dan balurkan pada kepala
tumbuk daun pepaya, semua bagian meniran merah, kunyit dan gram,
seduh dengan air matang dingin 1 1gelas
tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu dan
4 lembar daun salam, minum
1. tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun mengkudu
dan 4 lembar daun salam, minum
2. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
remas daun meniran, oleskan pada kulit
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
138
139
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
11. lumpuh
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun kumis kucing, meniran dan daun alpukat, minum
rebus batang pacing, semua bagian memeniran, semua bagian cecendet,
kunir hitam dan semua bagian putri malu, minum
rebus semua bagian meniran
1. darah tinggi
rebus/kukus mentimun, makan
2. panas
parut mentimun, balurkan pada tubuh atau minum
1. sakit pinggang
remas daun murbei, saring dan minum
7. ambeyen
8. sakit kencing
9. batu ginjal
10. kencing manis
150
151
Mentimun
Murbei
Cucumis sativus L.
Morus alba L.
bonteng
arben,
bebesaran
Cara pemanfaatan
rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun mustajab, minum
2. infeksi tubuh bagian
dalam
3. batuk
rebus daun murbei dan minum
rebus daun arbei, tambahkan ketumbar yang telah dihaluskan
4. panas
rebus daun murbei dan minum
5. sakit ulu hati
rebus daun murbei dan minum
6. sesak nafas
rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun mustajab, minum
7. perut panas
rebus daun murbei, daun kacapiring dan daun mustajab, minum
8. sakit kencing
rebus daun kumis kucing dan daun murbei, minum
139
140
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
9. sakit kepala
152
153
Mustajab
Nanangkaan
Abelmoschus
manihot L.
Euphorbia hirta L.
patikan kebo
remas daun murbei, saring dan minum
11. panas dalam
rebus daun murbei dan ketumbar atau remas daun murbei, saring dan
minum
remas daun murbei, saring dan minum
1. panas
remas daun mustajab, minum atau balurkan
2. panas dalam
remas daun mustajab, minum
3. sakit pinggang
remas daun mustajab, minum
1. koreng
oleskan getah nanangkaan pada koreng
1. rebus daun sidaguri, daun nanangkaan, daun jarong, daun kumis kucing,
daun alpukat dan antanan, minum ramuan tersebut
2. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sidaguri, daun nanangkaan, daun jarong, daun kumis kucing,
daun alpukat dan antanan, minum ramuan tersebut
10. darah tinggi
daun dedi,
padedi,
padodi,
sampeu arab,
sampeu
mekah,
sasampeuan,
ki sedi
Cara pemanfaatan
2. reumatik
3. asam urat
140
141
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
4. sakit ginjal
5. keputihan
6. ambeyen
7. sakit kencing
8. sakit pinggang
154
Nanas
Ananas comosus
(L.) Merr.
155
Nangka
Artocarpus
hererophyllus Lam
ganas
1. darah tinggi
2. menggugurkan
kandungan
1. reumatik
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
peras buah nanas dan minum airnya
tumbuk buah nanas yang masih muda, peras, campurkan airnya dengan
sprite dan minum
rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun nangkan
dan daun galinggem, pakai mandi uapnya
141
142
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
156
Nama
spesies
Pacar air
Nama
ilmiah
Nama
lain
Impatiens
balsamina Linn.
pacar
Penyakit yang diobati
2. sakit perut
makan buah muda nangka (tongtolang)
3. sakit urat
makan buah muda nangka (tongtolang)
awet muda
rebus daun pacar, kunci dan kunyit, minum
1. diabetes
157
Pacing
Padi
3. borok/koreng
4. batuk
potong batangnya dan tampung airnya, minum
5. gatal-gatal
kupas batang dan balurkan
6. terkena gigitan ular
diremas
Costus speciosus
J.E.Smith
Oryza sativa L.
pare
1. tumbuk batang pacing, peras airnya dan minum
2. rebus batang pacing dan akar pepaya ranti, minum
3. rebus batang pacing, semua bagian memeniran, semua bagian
cecendet, kunir hitam dan semua bagian putri malu, minum
tumbuk batang pacing, peras airnya atau tuak batang pacing dan teteskan
pada mata
parut batang pacing dan balurkan
2. obat mata
158
Cara pemanfaatan
1. jamu setelah
melahirkan
2. keseleo
3. penghangat badan
4. pegal-pegal setelah
melahirkan
5. menghaluskan kulit
bayi dan anak
1. tumbuk lada, beras (biji padi), bawang putih dan ragi, balurkan
2. rendam beras, tumbuk, campurkan dengan kunyit dan kencur yang
telah diperas dan minum
3. beras direndam dan dicampur dengan kencur, spirtus, kamper, jahe,
minyak tanah dan minyak sayur, balurkan
rendam beras,tumbuk, tambahkan kencur, seduh dan minum
rendam beras,tumbuk, tambahkan kencur, seduh dan minum
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa
jam, balurkan
tumbuk beras, kencur, adas dan kayu manis, peras dan simpan beberapa
jam, balurkan
142
143
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
8. lumpuh
beras yang telah dimasak (nasi)disimpan hingga tengah hari hingga
mengeras (sangu poe) dimakan 3 kali dan kemudian langsung minum air
putih
cuci beras dan tambahkan kencur daun ki remek yang sudah dihaluskan
beras direndam dan dicampur dengan kencur, spirtus, kamper, jahe,
minyak tanah dan minyak sayur, balurkan
luka
remas daun pakoasi dan tempelkan pada luka
6. perut kembung
7. pegal-pegal
159
Pakoasi
Chromolaena
odorata (L.) King
& H.E Robins
160
Pala
Myristica fragrans
menjaga kesehatan
mata setelah
melahirkan
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan
pala, balurkan
161
Pandan
Pandanus
amaryllifolius
Roxb.
darah tinggi
remas daun pandan, saring dan minum
162
Panglai
1. gatal-gatal
2. panas dingin
1. kencing manis
2. sakit mata
3. batuk
parut rimpang panglai, balurkan pada kulit
tumbuk jahe, panglay, lada dan bawang putih, balurkan atau kompreskan
rebus atau kukus buah pare, makan
remas daun pare, teteskan pada mata
remas daun pare, tambahkan garam dan minum
remas bawang merah, daun mustajab, asam jawa dan daun pare, balurkan
atau kompreskan
163
Pare
Zingiber
cassumunar
Momordica
charantia L.
kirinyuh
bengle
paria
4. panas
5. menambah nafsu
makan anak
6. menghitamkan
rambut bayi
164
Patah tulang
Euphorbia tirucalli
L.
sakit gigi
remas daun pare, saring dan minum
remas daun pare, saring dan minum
oleskan getah patah tulangpada gigi yang sakit
143
144
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
4. panas dingin
rebus 4 ekor kepiting sawah, 1 tangkai daun muda pepaya, seperempat
buah sukun yang telah matang, gula aren dan 5 iris temulawak, minum
masukan buah pepaya muda pada abu yang panas di tungku hingga
melunak (dibubuy), lalu injakan kaki pada buah pepaya tersebut
masukan buah pepaya muda pada abu yang panas di tungku hingga
melunak (dibubuy), lalu injakan kaki pada buah pepaya tersebut
remas daun pepaya dan minum
5. darah tinggi
1. rebus daun pepaya dan minum
1. liver
2. telapak kaki sakit
3. sakit ginjal
2. rebus akar pinang, akar pepaya, akar salak dan akar cecendet
6.melancarkan ASI
165
Pepaya
Carica papaya,
Linn.
gedang
7. kanker
8. kaki pecah-pecah
sayur buah muda pepeya dan daun katuk, makan
1. rebus akar pepaya, akar alang-alang, akar aren, akar jambu batu dan
akar bambu, minum
2. seduh getah pepaya dengan air dan minum
11. keputihan
oleskan getah pepaya pada kaki yang pecah-pecah
tumbuk daun pepaya, semua bagian meniran merah, kunyit dan gram,
seduh dengan air matang dingin 1 gelas, minum
oleskan getah pepaya pada kulit yang terkena duri, duri akan mudah
keluar
lalap daun pepaya bersama daun jambu mete
12. luka
remas daun muda pepaya, tempelkan pada luka
13. demam berdarah
14. menghangatkan
badan
15. melancarkan BAB
remas daun pepaya, tambahkan air dan minum
16. sakit kencing
makan buah pepaya matang
9. demam berdarah
10. tertusuk duri
makan/lalap daun pepaya
makan/lalap daun pepaya
144
145
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. reumatik
166
Pepaya ranti
Carica papaya,
Linn.
gedang
gandul,
gedang ranti
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
5. sakit kencing
Cara pemanfaatan
1. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
2. rebus bunga pepaya ranti, makan/minum
3. rebus akar alang-alang, akar sembung, akar pepaya ranti dan akar
pinang
4. rebus daun pepaya ranti, minum atau lalap daun pepaya ranti
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
1. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
145
146
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
6. sakit pinggang
2. rebus daun dan akar pepaya ranti, minum
1. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
2. rebus daun kumis kucing dan akar pepaya ranti, minum
7. kencing manis
rebus batang pacing dan akar pepaya ranti, minum
8. bronkhitis
rebus akar pinang, akar pepaya ranti dan akar kelapa, minum
rebus 20 biji kemukus, 1 genggam semua bagian cecendet, 2 lembar daun
pepaya ranti, 1 genggam daun antanan, temulaeak dan satu butir gula
batu, minum
9. menguatkan daya
tahan tubuh
rebus akar pinang, akar alang-alang dan akar pepaya ranti, minum
10. panas dingin
1.remas daun pepaya ranti, tambahkan garam, minum
2. rebus akar alang-alang dan akar pepaya ranti, minum
167
Pepaya
wulung
Carica papaya,
Linn.
gedang
wulung
11. batuk
rebus daun dan akar pepaya ranti, minum
12. sakit ulu hati
13. lumpuh karena
stroke
14. menguatkan
stamina tubuh
1. kanker
rebus bunga pepaya ranti, makan
rebus akar pepaya ranti dengan akar jambe, daun jawer kotok, pucuk
johar, akar eurih dan gula batu
rebus akar pinang, akar alang-alang, semua bagian ceplukan, akar kelapa
hijau dan akar pepaya ranti
rebus akar pepaya wulung
2. sakit kaki
rebus buah pepaya wulung dan injak-injak
146
147
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
168
169
Nama
spesies
Petai
Pisang
Nama
ilmiah
Parkia speciosa
Hassk
Musa sp.
Nama
lain
peuteuy
cau
Penyakit yang diobati
1. gatal-gatal
remas daun petai dan balurkan
2. luka akibat panas
3. luka yang keluar
akibat sakit panas
(karurawit)
4. cacar air
remas daun petai dan balurkan
5. koreng
kunyah-kunyah daun petai, tempelkan pada koreng
1. luka
oleskan getah pisang pada luka
2. terkena buluh bambu
oles-oleskan daun pisang pada bagian yang terkena buluh bambu
3. diare
2. sakit kelenjar
potong batang pisang hingga keluar airnya dan minum
oleskan bagian dalam daun yang masih menggulung dan berwarna putih
pada sariawan
bubuybuah pisang batu dan tempelkan pada bagian yang sakit
3. bulu tubuh gundul
potong batang pisang batu hingga keluar airnya dan dipakai mandi
4. luka
5. lumpuh karena
stroke
1. kanker
potong buah pisang batu dan oleskan pada luka
buka daun muda pisang batu yang masih menggulung, olesi dengan
minyak kelapa dan dipakai tidur oleh penderita
parut batang pisang batu hitam, tambahkan air dan minum
2. batuk dan flu
potong batang pisang batu hitam hingga keluar airnya dan minum
2. terkena air panas
potong batang pisang emas hingga keluar airnya dan minum
ambil air dalam batang pohon pisang gemor yang telah busuk dan minum
atau dipakai mandi
potong batang pisang gemor dan oles-oleskan airnya pada luka
diare
makan buah pisang muli yang masih mentah dengan kulitnya
1. sariawan pada bayi
170
171
172
173
174
Pisang batu
Musa brachycarpa
cau kulutuk,
cau mangala
Pisang batu
hitam
Musa sp.
Pisang emas
Musa sp.
batuk
Pisang
gemor
Musa sp.
1. panas
Pisang muli
Musa sp.
cau kulutuk
hideung
Cara pemanfaatan
tumbuk daun petai dan balurkan
kunyah-kunyah daun atau haluskan, balurkan
147
148
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
175
Pisitan
176
Pongporang
177
Pule
178
179
180
181
Pungpurutan
Puring
Putri malu
Rambutan
Nama
ilmiah
Lansium
domesticum Corr
Arthrophyllum
diversifolium
Blume
Alstonia spectabilis
R.Br
Nama
lain
Urena lobata L
Codiaeum
variegatum Bi.
Mimosa pudica
Linn.
Nephelium
lappaceum L.
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
sakit gigi
ambil cairan yang licin pada kulit batang pisitan dan oleskan pada gigi
yang sakit
darah tinggi
rebus kulit batang pongporang dan minum
perut kembung
rebus daun pule dengan adas pulasari dan gula batu
1. BAB berlendir
remas daun muda pungpurutan, saring dan minum
2. BAB berdarah
3. sakit perut
remas daun pungpurutan, saring dan tambahkan gula, minum
remas daun pungpurutan, saring dan tambahkan gula merah dan garam,
minum
4. disentri
seduh daun pungpurutan, tambahkan gula merah dan minum
5. maag
seduh daun pungpurutan dan minum
6. ambeyen
remas daun pungpurutan dan daun sirih, saring dan minum
melancarkan kencing
1. rebus atau kukus daun puring dan makan/lalap
2. kencing manis
2. rebus daun puring dan daun mangkokan, minum
rebus semua bagian senggang beureum, semua bagian putri malu dan
akar alang-alang, minum
rebus batang pacing, semua bagian memeniran, semua bagian cecendet,
rimpang kunir hitam dan semua bagian putri malu
1. panas
remas daun rambutan dan balurkan
2. menyuburkan rambut
3. sakit paru-paru
karena asap rokok
remas daun rambutan dan balurkan
4. sakit pinggang
remas daun rambutan, tambahkan air, saring dan minum
5. batuk
remas daun muda rambutan, seduh dengan air panas dan minum
1. reumatik
cucuk riut
remas daun rambutan, tambahkan air, saring dan minum
148
149
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. obat mata
182
Randu
2. melancarkan kencing
3. agar lancar
melahirkan
Ceiba pentandra
Gaertn.
Cara pemanfaatan
remas daun randu dan teteskan airnya pada mata atau teteskan air yang
keluar dari batang randu pada mata
remas daun kacapiring dan daun randu, saring dan minum
remas daun randu, saring dan minum pada usia kandungan 8 -9 bulan
1. remas daun randu dan balurkan
183
Rosela
Bixa orellana
Linn.
anggrem
4. panas
2. remas-remas kulit batang randu hingga keluar air dan minum
3. remas daun randu dan daun kacapiring, saring dan minum atau
kompreskan
segala macam penyakit
seduh bunga rosela yang telah dikeringkan
1. keputihan
2. kanker rahim
184
Rumput
mutiara
Hedyotis
corymbosa (L.)
Lamk.
jukut mutiara
3. anti kanker
4. kista
5. kanker payudara
185
Saga
Abrus
precatorius, Linn
cae
1. reumatik
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, tambahkan air, saring dan minum
1. tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan
daun harendong bulu, tambahkan air, saring dan minum
2. rebus semua bagian rumput mutiara, buah mahkota dewa dan rimpang
kunir putih, minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan daun
harendong bulu, tambahkan air, saring dan minum
rebus semua bagian rumput mutiara, minum
rebus semua bagian rumput mutiara, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
149
150
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
2. sakit ginjal
3. keputihan
4. ambeyen
5. sakit kencing
6. sakit pinggang
7. batuk
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum, semua
bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti, akar
pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih, semua
bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong, daun
kumis kucing dan daun pecah beling, minum
1. rebus daun sirih hitam dan daun saga, minum
2. rebus daun sembung dan daun saga, minum
3. rebus daun sirih, daun saga dan jahe, minum
rebus daun karuk, daun saga dan batang serai, minum
150
151
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
9. sakit tenggorokan
remas daun saga, tambahkan air panas, minum atau seduh daun saga
dan minum
remas daun saga, tambahkan air panas, minum
10. panas dalam
seduh daun saga dengan air panas dan minum
11. melancarkan BAB
2. panas
rebus daun sembung dan daun saga, minum
parut kunyit, peras, tambahkan perasan daun saga dan gula, rebus
dengan 1 liter air hingga menjadi 1 gelas, minum
kunyah-kunyah daun saga dan tempelkan pada gigi yang sakit atau
rebus daun saga dan minum airnya
rebus daun saga dan minum
rebus bunga labu, daun/bunga simugu, daun salak. Pakai ramuan
tersebut untuk mandi selama 7 kali pada hari lahir penderita pada jam
7 malah. Hal tersebut harus dilakukan sendiri oleh orang tua
penderita
remas daun muda salak, saring dan minum
3. sakit ginjal
seduh daun salak dan daun dadap dengan air panas
4. ambeyen
rebus batang muda salak dan makan
1. kencing manis
rebus daun salam dan minum
8. sariawan
12. maag
13. sakit gigi
14. panas
1. epilepsi
186
Salak
Salacca zalacca
(Gaertn.) Voss
Cara pemanfaatan
rebus daun salam dan batang serai, minum
rebus daun sirsak dan daun salam, minum
187
Salam
Syzygium
polyanthum Wigh
Walp
2. darah tinggi
rebus daun salam dan minum
rebus daun salam dan daun alpukat, minum
rebus daun salam dan sirih, minum
3. pegal-pegal
rebus daun sirsak dan daun salam, minum
151
152
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
4. reumatik
5. kolesterol tinggi
6. batuk
7. flu
8. sakit gigi
9. keputihan
10. kanker rahim
11. anti kanker
12. asam urat
13. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
14. sakit perut
Cara pemanfaatan
1. rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun
nangkan dan daun galinggem, pakai ramuan tersebut untuk mandi
(uapnya)
2. tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun
mengkudu dan 4 lembardaun salam, saring dan minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
1. rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
2. ambil bagian yang licin pada batang salam dan oleskan pada gigi
yang sakit
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan
daun harendong bulu, saring dan minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan
daun harendong bulu, saring dan minum
tumbuk semua bagian rumput mutiara, daun buni, daun salam dan
daun harendong bulu, saring dan minum
tumbuk daun ki urat, semua bagian meniran, 4 lembar daun
mengkudu dan 4 lembar daun salam, minum
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan sereh,
minum
makan/lalap daun muda salam
152
153
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. darah tinggi
2. kencing manis
3. gatal-gatal
188
Sambiloto
Andrographis
paniculata
(Burm.f.) Ness
4. reumatik
5. sakit ginjal
6. keputihan
7. ambeyen
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto dan minum
1. rebus atau seduh daun sambiloto dan minum
2. rebus buah mahkota dewa yang telah dikeringkan dan daun
sambiloto
rebus atau tumbuk daun sambiloto dan minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
153
154
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
10. kencing berdarah
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto dan daun kumis kucing, minum
11. maag
keringkan daun sambiloto, rebus/seduh dan minum
12. pegal-pegal
1. obat kuat
rebus semua bagian sambiloto, minum
rebus daun sambung nyawa dan makan atau dapat juga dilalap
mentah
rebus daun sambung nyawa dan makan atau dapat juga dilalap
mentah
tumbuk 7 buah sawo muda, saring dan minum
2. sakit perut
peras buah sawo muda, peras dan minum
3. kencing manis
rebus buah sawo dengan 4 gelas air hingga menjadi 1 gelas
8. sakit kencing
9. sakit pinggang
189
190
Sambung
nyawa
Gynura
procumbens Merr.
Sawo
Manilkara zapota
(L.) van Royen
1. reumatik
daun dewa
2. pegal-pegal
1. darah tinggi
191
Seledri
Apium graveolens
L.
saledri
Cara pemanfaatan
2. menumbuhkan
rambut
3. sakit kuning
4. menghitamkan
rambut bayi
rebus atau seduh daun dan batang seledri, minum
haluskan seledri dan waluh
remas seledri dan balurkan pada rambut
remas seledri, peras, saring dan minum
remas seledri dan balurkan pada rambut
154
155
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
1. jamu setelah
melahirkan
(mengempiskan rahim)
2. jamu setelah haid
(agar tidak berbau anyir
darah)
Sembung
rebus daun sirsak, daun jeruk purut dan daun sembung, hisap uapnya
reumatik
rebus daun sembung dan daun jeruk, hisap uapnya
rebus semua bagian senggang beureum, semua bagian putri malu dan
akar alang-alang, minum
1. remas daun senggugu, tambahkan kapur sirih, balurkan
7. kolesterol tinggi
8. flu
9. sakit gigi
Senggang
beureum
Amarantus hybridis
Lim
bayam duri
Senggugu
Clerodendron
serratum (L.) Spr.
simugu,
singugu
1. pegal-pegal
194
rebus daun sembung, minum
11. polip
5. reumatik
6. sakit perut
193
rebus daun sembung dan sirih, minum
10. perut kembung
4. melancarkan BAB
Blumea
balsamifera (L.) DC
rebus daun sembung, minum
1. rebus daun sembung dan daun saga
2, rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu
rebus daun sembung dan daun saga
rebus akar alang-alang, akar sembung, akar pepaya ranti dan akar
pinang
remas daun sembung dan daun ginggiang
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu
direbus
3. batuk
192
Cara pemanfaatan
2. rebus daun senggugu, minum
2. sakit pinggang
rebus daun senggugu, minum
155
156
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
3.epilepsi
1. kencing manis
2. reumatik
3. pegal-pegal
195
Serai
sereh
Cymbopogon
citratus (DC.) Stapf
4. lemah dan lesu
5. batuk
Cara pemanfaatan
rebus bunga labu, daun/bunga senggugu, daun salak. Pakai ramuan
tersebut untuk mandi selama 7 kali pada hari lahir penderita pada jam
7 malah. Hal tersebut harus dilakukan sendiri oleh orang tua
penderita
rebus daun salam dan batang serai, minum
rebus lengkuas, jahe dan batang serai, minum
rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun
nangkan dan daun galinggem, pakai mandi
1. rebus 5 lembar daun sirih, 5 lembar daun mangkokan dan 5 lembar
batang serai, pakai ramuan tersebut untuk mandi
2. rebus batang serai, minum
rebus 5 lembar daun sirih, 5 lembar daun mangkokan dan 5 lembar
batang serai, pakai ramuan tersebut untuk mandi
1. rebus daun karuk, daun saga dan batang serai, minum
2. potong batang serai, tampung airnya dan minum
6. jamu habis
melahirkan
7. mengembalikan
stamina setelah
melahirkan
8. panas dingin
9. kanker
10. menghangatkan
badan
3. rebus batang serai dan minum
rebus semua bagian putri malu, kunyit, buah muda pinang dan serai,
minum
tumbuk kencur, jahe, kunyit, beras, ketumbar, lada, salam dan serai,
minum
rebus akar alang-alang, akar ceplukan, kulit batang lame dan akar
serai, minum
haluskan daun sirih, batang serai dan kunyit, tambahkan air, saring
dan minum
rebus batang serai dan minum
156
157
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
11. sakit pinggang
rebus batang serai dan minum
12. sesak nafas
1. kencing manis
rebus batang serai dan minum
tumbuk batang serai, kunir putih dan sirih, tambahkan air, peras dan
minum
geprek batang serai, rebus, minum atau dapat juga digunakan untuk
merendam kaki
rebus semua bagian sidaguri, minum
2. darah tinggi
rebus semua bagian sidaguri, minum
3. menghitamkan rambut
haluskan daun sidaguri, balurkan
1. disentri
3. luka
parut umbi singkong, peras, tambahkan gula merah dan minum
parut labu siam dan singkong, peras ainya, campur dengan kuning
telur, susu kental manis dan larutan cap kaki tiga, minum
remas daun singkong dan tempelkan pada luka
4. maag
parut singkong, peras, tambahkan gula merah dan minum
5. gatal-gatal karena ulat
remas-remas daun singkong, beri sedikit air dan balurkan
6. sakit perut
1. parut singkong, peras dan minum
13. maag
196
Serai wangi
197
Sidaguri
198
Singkong
Cymbopogon
nardus (L.) Rendle
reumatik
Sida rhombifolia
Linn.
Manihot utulisima
sampeu
Cara pemanfaatan
2. tipus
2. makan umbi singkong mentah
7. terkena buluh bambu
remas-remas daun singkong, beri sedikit air dan balurkan
8. kurang darah
1. rebus umbi singkong setengah matang
2. makan mentah/lalap atau rebus daun muda singkong
9. panas
parut singkong, peras, tambahkan gula merah dan minum
10. encok
remas daun singkong, tambahkan apu, balurkan
157
158
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
11. mulas-mulas
12. BAB berdarah
199
200
Singkong
karet
Manihot glaziovii
M.A
Sintrong
Crassocephalum
crepidioides
sampeu racun
Piper betle, Linn
1. makan umbi singkong mentah
2. parut singkong, peras, tambahkan garam dan air, minum
rebus umbi singkong, makan
1. kista
makan umbi singkong mentah
makan umbi singkong mentah sebanyak 10 gr pada pagi dan malam
hari
2. kanker/tumor
darah tinggi
2. jamu setelah melahirkan
Sirih
umbi yang telah dibuat aci diseduh, tambahkan gula dan minum
13. kanker payudara
1. gatal setelah melahirkan
201
Cara pemanfaatan
seureuh
makan daun sintrong mentah atau dapat dijadikan lalapan
rebus daun sirih dan pakai airnya untuk membersihkan daerah
kewanitaan
1. rebus daun sembung dan daun sirih, minum
2. rebus daun sirih dan minum
3. muntah darah
4. batuk
5. keputihan
keringkan daun sirih, seduh dan minum
1. seduh daun sirih, buah mengkudu yang telah dikeringkan dan jeruk
nipis, minum
2. rebus 15 lembar daun sirih, tambahkan gula betu sebesar ibu jari
dengan 3 gelas air hingga menjadi 1 gelas , minum
1. remas daun sirih, seduh dan minum atau rebus daun sirih dan
minum
2. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
3. rebus daun sirih dan daun jawer kotok, minum
158
159
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
6. sariawan
7. kolesterol tinggi
8. batuk
Cara pemanfaatan
diremas, seduh dan minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
1. rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
2. rebus daun sirih, daun saga dan jahe, minum
3. rebus daun sirih dan daun saga
9. flu
10. sakit gigi
11. pegal-pegal
12. lemah dan lesu
13. jantung
14. maag
4. makan daun sirih mentah
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 2 lembar daun sembung, 3 lembar daun sirih, 4 lembar daun
cengkih, 4 lembar daun salam dan daun jambu batu, minum
rebus 5 lembar daun sirih, 5 lembar daun mangkokan dan 5 lembar
batang serai, pakai ramuan tersebut untuk mandi
rebus 5 lembar daun sirih, 5 lembar daun mangkokan dan 5 lembar
batang serai, pakai ramuan tersebut untuk mandi
tumbuk 3 lembar daun sirih, 3 siung bawang merah, setengah sendok
makan biji jinten dan 14 biji buah kemukus, tambahkan seperempat
cangkir air. Diminum 2 kali sehari pada pagi dan sore
1. seduh daun sirih dan daun beluntas
2. tumbuk kunyit dan daun sirih, peras dan minum
15. sakit setelah operasi
(pendarahan, gatal dan
mengeringkan luka
operasi)
16. obat mata
seduh daun sirih dan daun beluntas
kukus daun sirih, teteskan embun hasil kukusan pada mata
159
160
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
17. mencegah kanker
rahim
18. reumatik
19. sakit ginjal
20. ambeyen
21. sakit kencing
22. sakit pinggang
Cara pemanfaatan
rebus daun sirih dan minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
1. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
2. remas daun sirih dan daun pungpurutan, saring dan minum atau
dapat juga penderita berendam dalam bak atau baskom berisi ramuan
tersebut
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya
ranti, akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir
hitam, sirih, semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat,
daun jarong, daun kumis kucing dan daun pecah beling
160
161
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
23. jamu sehabis haid (agar
tidak bau)
24. membersihkan vagina
26. bau badan
rebus daun sirih, minum
haluskan daun sirih, batang serai dan kunyit, tambahkan air, saring
dan minum
remas daun sirih, tambahkan sedikit air dan teteskan pada mata
(sebaiknya tidak langsung diteteskan tanpa ditambahkan air)
rebus daun sirih, minum
29. sari rapet wanita
30. menjaga stamina
33. menguatkan rahim
rebus daun sirih, minum
rendam daun sirih dalam air panas, pakai air rendaman tersebut untuk
berkumur-kumur
remas daun sirih, tambahkan garam dan minum, oleskan ampasnya
ke tempat yang terkena gigitan binatang
rebus daun sirih dan sirih merah, minum
34. mimisan
remas daun sirih dan masukan ke dalam hidung
batuk
rebus daun sirih hitam dan daun saga, minum
31. sakit gigi
32. digigit binatang
Sirih hitam
203
Sirih merah
seureuh hideung
1. batuk
Piper crotatum
seureuh
beureum
rebus daun sirih, minum
rebus daun sirih, merica dan tambahkan kecap, minum
28. obat mata
202
rebus daun sirih, minum
25. mengeringkan rahim
27. kanker
Piper miniatum
Blume
Cara pemanfaatan
2. tidak nafsu makan
3. paru-paru
4. keputihan
rebus daun sirih merah dengan jumlah ganjil dengan menggunakan 4
gelas air, minum
rebus daun sirih merah dengan jumlah ganjil dengan menggunakan 4
gelas air, minum
rebus daun sirih merah dengan jumlah ganjil dengan menggunakan 4
gelas air, minum
rebus daun sirih merah dengan jumlah ganjil dengan menggunakan 4
gelas air, minum
161
162
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
5. stroke
6. diabetes
Cara pemanfaatan
seduh daun sirih merah sebanyak 3 atau 7 lembar, minum
1. seduh daun sirih merah sebanyak 3 atau 7 lembar, minum
2. rebus daun binahong dan daun sirih merah, minum
7. reumatik
remas daun sirih merah, minum
8. darah tinggi
1. remas daun sirih merah, minum
2. rebus daun binahong dan daun sirih merah, minum
204
205
Sirih putih
Sirsak
Piper betle var
Annona muricata,
Linn.
seureuh bodas
kadu (sebutan
sirsak di desadesa di
Kecamatan
Tambakdahan)
9. menguatkan rahim
rebus sirih merah dan sirih, minum
10. keputihan
rebus sirih merah, minum
1. sakit kepala
rebus sirih putih dan minum
2. keputihan
3. menjaga kesehatan
mata setelah
melahirkan
4. obat mata
rebus sirih putih dan minum
5. batuk
rebus sirih putih dan minum
1. darah tinggi
1. rebus daun sirsak dan daun salam, minum
tumbuk kayu manis, kunyit, kencur, adas, sirih putih, cabe puyang dan
pala, saring dan minum
remas sirih putih dan teteskan pada mata
2. rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
2. reumatik
3. kanker
4. asam urat
5. sakit kepala
1. rebus daun sirsak dan daun salam, minum
rebus daun salam, batang serai, daun sirsak, daun mangga, daun
nanangkan dan daun galinggem, minum
haluskan buah sirsak dan makan
makan buah sirsak matang
1. rebus daun sirsak, minum
162
163
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang diobati
Cara pemanfaatan
2. rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
6. diabetes
1. rebus daun sirsak, minum
2. rebus daun sirsak dan daun salam, minum
7. kista
8. sakit ginjal
9. pegal-pegal
206
Sisik naga
207
Suji
Drymoglossum
piloselloides (L.)
Presl.
Pleomele torvum N.E
Brown
duduitan
10. polip
rebus daun sirsak, daun jeruk purut dan daun sembung, hisap uapnya
11. kanker
rebus daun sirsak, minum
keputihan
tumbuk sisik naga, tambahkan air dan rebus, tambahkan garam kasar dan
minum
1. sakit pinggang
rebus daun suji dan minum
2. darah tinggi
rebus daun suji dan minum
1. liver
208
Sukun
rebus daun sirsak, minum
rebus 7 lembar daun sirsak dengan 2 gelas air hingga menjadi 1 gelas,
minum
1. rebus 7 lembar daun sirsak dengan 2 gelas air hingga menjadi 1 gelas,
minum
2. rebus daun sirsak, daun belimbing dan daun kedongdong, minum
Artocarpus communis
2. sakit pinggang
3. reumatik
4. diabetes
1. rebus 4 ekor kepiting sawah, 1 tangkai daun muda pepaya, seperempat
buah sukun yang telah matang, gula aren dan 5 iris temulawak, minum
2. rebus daun yang telah menguning atau kering dan minum
rebus akar ilalang, akar cecendet, akar aren dan daun sukun/daun klewih,
minum
rebus 3 lembar daun sukun, minum sebelum dan setelah bangun tidur
masing-masing setengah gelas
1. rebus daun sukun dengan 3 gelas air hingga menjadi 1 gelas
2. rebus daun sukun dan daun bintuni, minum
163
164
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
209
210
211
212
213
214
215
Nama
spesies
Suliga
Surukan
Takokak
Talas
Talas hitam
Talas sente
Tapak dara
Nama
ilmiah
Nama
lain
Belamcanda
chinensis (L.) Dc
Peperomia
pellucida L.
babayeman
Alocasia indica
(Lour) Koch.
taleus hideung
Alocasia
macrorrhiza
sente
Catharanthus
roseus (L.)
G.Don
rebus daun sukun dengan 3 gelas air hingga menjadi 1 gelas
1. sakit iga
remas daun suliga, balurkan
2. sakit pinggang
remas daun suliga, balurkan atau rebus daun suliga, minum
1. reumatik
rebus daun surukan, minum
2. asam urat
rebus daun surukan, minum
2. jantung koroner
taleus
makan buah takokak yang direbus atau lalap buah takokak mentah atau
campurkan pada masakan
makan buah takokak mentah
3. obat kuat
4. lumpuh (kurang
tenaga)
makan buah takokak mentah
1. batuk
potong batang talas hingga keluar airnya, tampung dan minum
2. luka
oleskan getah batang talas pada luka
1. ambeyen
2. menghentikan darah
pada luka
1. batuk
kukus daun talas hitam dan diduduki
2. sakit mata
2. sakit ginjal
potong batang talas hingga keluar airnya dan teteskan pada mata
rebus daun tapak dara dengan jumlah sesuai hari lahir (Senin:5 lembar,
Selasa: 3 lembar, dst) dan minum
rebus daun tapak dara dan minum
3. kencing manis
rebus daun tapak dara dan minum
1. darah tinggi
Kembang
tembaga
Cara pemanfaatan
5. darah tinggi
1. darah tinggi
Solanum torvum
Swartz
Colocasia
esculenta (L.)
Schott
Penyakit yang diobati
makan buah takokak mentah
oleskan getah batang talas hitam pada luka
potong batang talas hingga keluar airnya, tampung dan minum
164
165
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
216
Tapak liman
217
Teki
218
Tempuyung
Nama
ilmiah
Elephantopus
scaber L.
Nama
lain
Cyperus rotundus
Penyakit yang
diobati
penyakit kewanitaan
rebus akar tapak liman dan minum
1. sariawan berdarah
1. reumatik
rebus akar teki dan minum
remas akar teki, tambahkan minyak kelapa dan minyak tanah, oleskan
pada borok/koreng
rebus daun tempuyung dan minum
2. sakit pinggang
rebus semua bagian tempuyung dan minum
3. sakit ginjal
rebus semua bagian tempuyung dan minum
4. darah tinggi
rebus daun tempuyung dan minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
2. borok/koreng
Sonchus arvensis
L.
1. reumatik
219
Temulawak
Curcuma
xanthorrhiza
Roxb.
koneng gede
Cara pemanfaatan
2. sakit ginjal
3. keputihan
165
166
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang
diobati
4. ambeyen
5. sakit kencing
6. sakit pinggang
7. maag
8. kencing manis
9. bronkhitis
Cara pemanfaatan
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
1. rebus daun sambiloto, kunyit, kunyit besar, beluntas, handeuleum,
semua bagian nanangkaan, semua bagian memeniran, akar pepaya ranti,
akar pinang, bratawali, daun saga, akar alang-alang, kunir hitam, sirih,
semua bagian anting-anting, akar cecendet, daun alpukat, daun jarong,
daun kumis kucing dan daun pecah beling, minum
2. tumbuk kunir putih, temulawak dan kunir hitam, peras dan minum
rebus daun kembang sepatu dan temulawak dengan 2 gelas air hingga
menjadi 1 gelas, minum
1. rebus temulawak, tambahkan gula batu dan minum
2. rebus temulawak, kacang hijau dan bawang putih dengan 3 gelas air
hingga menjadi setengah gelas, minum
3. parut rimpang temulawak, peras dan minum
4. parut temulawak, tambahkan telur ayam kampung dan madu, minum
rebus temulawak dan minum
1. rebus 20 biji kemukus, 1 genggam semua bagian cecendet, 2 lembar
daun pepaya ranti, 1 genggam daun antanan, temulawak dan satu butir
gula batu, minum
2. rebus temulawak dan minum
166
167
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
Nama
spesies
No
Nama
ilmiah
Nama
lain
Penyakit yang
diobati
16. batuk
rebus 4 ekor kepiting sawah, 1 tangkai daun muda pepaya, seperempat
buah sukun yang telah matang, gula aren dan 5 iris temulawak, minum
tumbuk kunir putih, temulawak dan kunir hitam, peras dan minum
rebus daun kembang sepatu dan temulawak dengan 2 gelas air hingga
menjadi 1 gelas, minum
rebus daun kembang sepatu dan temulawak dengan 2 gelas air hingga
menjadi 1 gelas, minum
rebus temulawak, kunyit, kunir putih dan kunir hitam, minum
parut temulawak, peras dan seduh dengan air panas. Minum 2 kali
sehari pada pagi dan sore
tumbuk temulawak, peras dan minum
1. obat kuat
makan mentah/lalap terong
2. jantung koroner
makan mentah/lalap terong
batuk
bubuy buah muda terong ungu dan makan
1. influenza
2. melancarkan
kencing
menjaga kesehatan
mata
1. pegal linu
rebus daun teh yang telah dikeringkan dan minum
2. reumatik
rebus kulit batang turi dan kulit batang kelor, minum
1. bisul
2. menurunkan
kolesterol
BAB
berdarah/berlendir
remas daun ubi jalar dan tempelkan pada bisul
10. liver
11. luka dalam
12. kencing batu
13. pegal-pegal
14. beri-beri/liver
15. paru-paru
220
Terong
Solanum sp.
221
Terong ungu
Solanum
melongena L.
222
Teh
223
Tomat
224
Turi
Camellia sinensis
L.
terong buleud
enteh
Lycopersicum
esculentum
Sesbania
grandiflora
225
Ubi jalar
Ipomoea batatas
226
Waru
Hibiscus tiliaceus
L.
boled
Cara pemanfaatan
rebus atau seduh daun the yang telah dikeringkan dan minum
makan mentah buah tomat
rebus daun turi dan minum
kukus atau rebus daun ubi jalar dan makan
remas daun waru, saring dan minum
167
168
Lampiran 2 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Subang (lanjutan)
No
Nama
spesies
227
Waru merah
228
Wortel
Nama
ilmiah
Hibiscus tiliaceus
L.
Daucus carota L.
Nama
lain
Penyakit yang
diobati
Cara pemanfaatan
waru beureum
sakit perut
remas daun waru merah, saring dan minum
wortol
1. darah tinggi
rebus wortel dan makan
2. kurang darah
rebus wortel dan makan
168
169
Lampiran 3
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi di setiap desa
Lokasi
Desa Jalancagak
Desa Bunihayu
Desa Tambakmekar
Desa Manyeti
Desa Rawalele
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Spesies tumbuhan obat
Kunir hitam (Curcuma aeruginosa)
Sembung (Blumea balsamifera)
Sirih (Piper betle)
Bawang merah (Allium cepa)
Bandotan (Ageratum conyzoides)
Asam jawa (Tamarindus indica)
Buntiris (Kalanchoe pinnata)
Jawer kotok (Coleus scutellaroides)
Jambu batu (Psidium guajava)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Jambu batu (Psidium guajava)
Sirih (Piper betle)
Kunyit (Curcuma domestica)
Sembung (Blumea balsamifera)
Belimbing (Averhoa carambola)
Ceplukan (Physalis peruviana)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Jawer kotok (Coleus scutellaroides)
Saga (Abrus precatorius)
Sirih (Piper betle)
Kunyit (Curcuma domestica)
Sembung (Blumea balsamifera)
Antanan (Centella asiatica)
Lidah buaya (Aloe vera)
Singkong (Manihot asculenta)
Bawang merah (Allium cepa)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Jawer kotok (Coleus scutellaroides)
Kunyit (Curcuma domestica)
Ceplukan (Physalis peruviana)
Kelapa (Cocos nucifera)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Pepaya ranti (Carica papaya)
Sirih (Piper betle)
Alang-alang (Imperata cylindrica)
Murbei (Morus alba)
Jambu batu (Psidium guajava)
Kunir putih (Curcuma zedoaria)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Sirih (Piper betle)
Saga (Abrus precatorius)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Dadap serep (Erythrina lithosperma)
Alpukat (Persea gratissima)
Murbei (Morus alba)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Antanan (Centella asiatica)
Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
Frekuensi
Pemanfaatan
(%)
43,33
43,33
43,33
26,67
23,33
20,00
20,00
20,00
16,67
16,67
60,00
36,67
26,67
23,33
20,00
16,67
16,67
13,33
10,00
10,00
30,00
20,00
20,00
16,67
16,67
16,67
13,33
13,33
13,33
10,00
56,67
26,67
26,67
23,33
23,33
23,33
20,00
20,00
16,67
16,67
30,00
30,00
26,67
23,33
20,00
16,67
16,67
13,33
13,33
13,33
170
Lampiran 3
Sepuluh spesies tumbuhan obat dengan frekuensi pemanfaatan
tertinggi di setiap desa (lanjutan)
Lokasi
Desa Sukasari
Desa Tambakdahan
Desa Rancaudik
Desa Kertajaya
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Spesies tumbuhan obat
Kunyit (Curcuma domestica)
Sirih (Piper betle)
Saga (Abrus precatorius)
Jahe (Zingiber officinale)
Jambu batu (Psidium guajava)
Lidah buaya (Aloe vera)
Pepaya (Carica papaya)
Bawang merah (Allium cepa)
Jarak pagar (Ricinus communis)
Sembung (Blumea balsamifera)
Sirih (Piper betle)
Kunyit (Curcuma domestica)
Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
Benalu (Henslowia frutescens)
Kencur (Kaempferia galanga)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Padi (Oryza sativa)
Saga (Abrus precatorius)
Mustajab (Abelmonchus manihot)
Sembung (Blumea balsamifera)
Jambu batu (Psidium guajava)
Randu (Ceiba pentandra)
Kunyit (Curcuma domestica)
Ceplukan (Physalis peruviana)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Sirih (Piper betle)
Johar (Senna siamea)
Kumis kucing (Orthosiphon spicatus)
Pepaya (Carica papaya)
Sembung (Blumea balsamifera)
Kunyit (Curcuma domestica)
Sirih (Piper betle)
Kencur (Kaempferia galanga)
Lidah buaya (Aloe vera)
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Padi (Oryza sativa)
Randu (Ceiba pentandra)
Saga (Abrus precatorius)
Jambu batu (Psidium guajava)
Pepaya ranti (Carica papaya)
Frekuensi
Pemanfaatan
(%)
53,33
53,33
40,00
23,33
23,33
23,33
23,33
16,67
16,67
16,67
40,00
30,00
16,67
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
6,67
6,67
53,33
43,33
30,00
23,33
16,67
16,67
13,33
13,33
13,33
10,00
23,33
20,00
16,67
13,33
13,33
13,33
13,33
13,33
10,00
10,00
171
Lampiran 4 Sepuluh kelompok penyakit/penggunaan terbanyak yang diobati
menggunakan tumbuhan obat pada setiap desa
Lokasi
Desa
Jalancagak
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
Desa
Bunihayu
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
Desa
Tambakmekar
Desa Manyeti
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Desa Rawalele
1
2
3
4
5
6
Kelompok penyakit
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Gangguan peredaran darah dan jantung
Panas, demam dan influenza
Penyakit dan perawatan kulit
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit dan perawatan wanita
Penyakit yang berhubungan dengan sistem syaraf
pusat
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Gangguan peredaran darah dan jantung
Panas, demam dan influenza
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit mata dan hidung
Penyakit dan perawatan kulit
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit dan perawatan wanita
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Panas, demam dan influenza
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Tumor dan Kanker
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit mata dan hidung
Tonikum
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Tonikum
Panas, demam dan influenza
Penyakit dan perawatan kulit
Kanker dan tumor
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit saluran pembuangan
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit dan perawatan wanita
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit saluran pencernaan
Jumlah
spesies
tumbuhan
obat
24
22
21
20
15
11
8
7
5
5
20
19
17
17
10
10
7
5
5
3
22
18
16
13
12
9
9
9
8
6
30
26
21
19
18
14
13
13
12
12
74
52
40
21
19
16
172
Lampiran 4
Desa Sukasari
Sepuluh kelompok penyakit/penggunaan terbanyak yang diobati
menggunakan tumbuhan obat pada setiap desa (lanjutan)
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
Desa
Tambakdahan
Desa
Rancaudik
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
Desa
Kertajaya
3
4
5
6
7
8
9
10
Penyakit saluran pencernaan
Panas, demam dan influenza
Penyakit dan perawatan kulit
Penyakit mata dan hidung
Penyakit tulang, otot dan sendi
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit dan perawatan kulit
Panas, demam dan influenza
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Tumor dan kanker
Penyakit saluran pembuangan
Penyakit dan perawatan wanita
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Tumor dan kanker
Penyakit saluran pencernaan
Gangguan peredaran darah
Penyakit saluran pembuangan
Penyakit dan perawatan wanita
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Tonikum
Panas, demam dan influenza
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Panas, demam dan influenza
Penyakit saluran pembuangan
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Tonikum
Penyakit saluran pernafasan
Penyakit dan perawatan tubuh
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Gangguan peredaran darah dan jantung
Penyakit dan perawatan kesehatan ibu hamil dan
melahirkan
Penyakit saluran pencernaan
Kanker
Panas, demam dan influenza
Penyakit saluran pembuangan
Penyakit tulang, otot dan sendi
Penyakit ginjal, saluran kemih dan hati
Penyakit dan perawatan wanita
Lain-lain
16
9
8
4
45
35
34
27
24
21
18
17
14
13
13
11
8
8
7
7
6
6
5
4
19
19
16
12
11
11
8
7
6
5
16
9
9
8
8
8
8
5
4
4
Download