BAB 2 KERANGKA TEORETIS Museum kota dapat disebut sebagai

advertisement
BAB 2
KERANGKA TEORETIS
Museum kota dapat disebut sebagai jenis museum yang relatif muncul
lebih akhir. Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa
perkembangan permuseuman, khususnya tentang museum kota tidak seiring
dengan perkembangan jenis museum lain di Indonesia. Direktorat Museum
sebagai lembaga pemerintah yang mengurus bidang permuseuman misalnya
kurang memberi perhatian terhadap perkembangan museum kota di Indonesia.
Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah tidak adanya sebuah kebijakan
khusus tentang pedoman pelaksanaan pengelolaan museum kota sebagaimana
telah diterbitkannya sebuah kebijakan tentang pengelolaan museum situs cagar
budaya.
Sebelum pemahaman tentang konsep tematik pameran museum kota
sebagaimana fokus permasalahan pada penelitian ini terlebih dahulu diuraikan
tentang konsep museum kota. Uraian tentang konsep museum kota dibagi atas
empat, yaitu: sejarah perkembangan museum kota, pengertian dan kerangka kerja
museum kota, peran museum kota, dan contoh konsep tematik yang
dikembangkan pada museum kota di luar negeri. Diharapkan dari keempat uraian
tersebut dapat menghasilkan sebuah kesimpulan tentang unsur tema pameran yang
dapat ditampilkan oleh museum kota. Kerangka teoretis ini diakhiri dengan
sebuah kesimpulan tentang konsep tematik pameran museum, serta pembahasan
tentang konsep penyajian pameran.
2.1 Konsep Museum Kota
Dalam perkembangannya museum kota tidak terlepas dari perkembangan
jenis museum lain pada umumnya. Konsep museum kota itu sendiri berkembang
terus menerus sehingga berperan sangat signifikan bagi kota itu sendiri. Oleh
karena itu, perlu pemahaman tentang sejarah perkembangan museum kota,
pengertian dan kerangka kerja museum kota, pembahasan tentang peran museum
kota, serta contoh konsep tematik pameran yang dikembangkan oleh museum kota
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
22
yang ada di luar negeri. Uraian berikut ini dibagi atas empat pokok pembahasan
tersebut.
2.1.1 Sejarah Perkembangan Konsep Museum Kota
Pada abad ke-19 hingga abad ke-20, museum-museum baru banyak
didirikan di belahan dunia. Pendirian museum-museum baru ini tidak terlepas dari
timbulnya kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya dan alam serta
tingginya tingkat keingintahuan masyarakat terhadap masa lalu. Pada tahun 1808
di British Museum misalnya terjadi peningkatan pembatasan jumlah pengunjung
dari sebelumnya hanya 6 orang perhari menjadi 120 orang perhari. Selanjutnya,
pada tahun 1810 setiap orang yang berpakaian rapi diperbolehkan mengunjungi
museum (Hudson, 1987: 23). Meningkatnya pembatasan pengunjung ini
menunjukkan bahwa masyarakat Inggris saat itu telah memperlihatkan animo
yang besar untuk mengunjungi museum sehingga menuntut pengelola museum
untuk lebih terbuka bagi masyarakat. Alasan pendirian lain adalah guna
kepentingan ilmiah, baik itu merupakan objek-objek yang berkenaan dengan
sejarah, seni, alam atau ilmu pengetahuan (Noerhadi Magetsari, 2008: 5).
Tuntutan masyarakat terhadap pengelola museum sekaligus menjadi tuntutan
untuk mendirikan museum di berbagai belahan dunia.
Museum-museum baru kemudian banyak didirikan di kota-kota besar di
Eropa maupun Amerika. Pendirian museum di kota-kota inilah kemudian menjadi
embrio munculnya sebuah jenis museum baru yaitu museum kota. Disebut
demikian karena sebuah museum telah diberi nama sesuai dengan kota dimana
museum tersebut berada (Jhonson, 1995: 4).
Awal abad ke-duapuluh, dianggap sebagai gelombang awal perkembangan
museum kota terutama di Eropa dan Amerika Utara. Perkembangan awal yang
terjadi di Eropa pada saat itu adalah dengan bermunculannya organisasi
kemasyarakatan yang tertarik pada benda-benda arkeologi dan sejarah lokal dan
regional. Sementara itu, di Amerika, masyarakat yang tertarik pada sejarah lokal
bermunculan di kota-kota kecil dan kota-kota yang berkembang dengan cepat.
Ketertarikan masyarakat terhadap sejarah lokal ini dilandasi atas semangat
kebanggaan untuk mengetahui keberadaan mereka yang kemudian berusaha
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
23
merekonstruksi sejarah baru di sekitar mereka. Dengan demikian, organisasi
kemasyarakatan yang tertarik terhadap sejarah lokal dan upaya merekonstruksi
sejarah lokal menjadi langkah awal ke arah terbentuknya jenis museum baru yaitu
museum kota. Pada belahan dunia lain, organisasi kemasyarakatan seperti itu terus
tumbuh dengan subur bersamaan dengan pendirian museum-museum kota yang
lebih baru (Jhonson, 1995: 4).
Dalam lingkup internasional, perhatian terhadap pentingnya peran museum
kota diawali dengan diselenggarakannya sebuah simposium internasional yang
bertemakan “Reflecting Cities” pada tahun 1993 di “The Museum of London”.
Max Hebditch (1995), menyebut bahwa simposium ini adalah yang pertama
diselenggarakan oleh museum-museum yang memiliki perhatian khusus pada
koleksi yang berhubungan dengan sejarah kota. Salah satu wacana yang mendapat
perhatian khusus dalam diskusi tersebut, bahwa hal penting pertama harus
dilakukan untuk menjadi sebuah museum kota adalah mendefinisikan kota
tersebut (Hebditch, 1995: 7). Selanjutnya, pada Konferensi ICOM tahun 2004
yang diselenggarakan di Seoul pada bulan Oktober dibentuk sebuah komite
khusus yaitu Comitte for Collections and Activities of Museum of Cities
(CAMOC), komite yang terdiri atas museum-museum kota yang berasal dari 40
negara di antaranya Eropa, Asia dan Amerika (ICOM, 2010)
Berdasarkan sejarah perkembangannya,
latar belakang pentingnya
pendirian museum kota pada awalnya terbatas pada ketertarikan masyarakat
terhadap benda-benda arkeologi dan sejarah lokal di sekitar mereka. Alasan lain
adalah pentingnya pelestarian kota sebagai produk peradaban manusia.
Perkembangan selanjutnya pada dekade tahun 1990-an, museum kota dirancang
untuk mengkaji dan menginterpretasikan sebuah kota. Museum kota kemudian
mendapat perhatian khusus mengingat perkembangan kota yang berlangsung
sangat cepat baik dari segi demografi, lingkungan alami, bentang alam, bangunan
serta keragaman kebudayaan (Hebditch, 1995: 7). Perkembangan tersebut
tentunya berdampak terhadap kondisi sosial, budaya maupun fisik kota. Kondisi
inilah yang kemudian menjadi titik awal pentingnya peran museum kota.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
24
2.1.2 Pengertian dan Kerangka Kerja Museum Kota
Museum kota sering dianggap sebagai album sebuah kota, cermin sebuah
kota, atau miniatur sebuah kota. Hal ini karena museum kota dianggap memuat
tentang memori sebuah kota, dapat merefleksikan konteks kekinian budaya kota,
dan diharapkan mampu menampilkan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan
kota.
Pemahaman tersebut terkait erat dengan keunikan museum kota karena
definisi yang diemban oleh kota itu sendiri. Definisi kota telah banyak
dikemukakan oleh para ahli yang mengkaji tentang kota, akan tetapi secara umum
kota dapat didefinisikan dari aspek fisik maupun sosialnya. Istilah yang sering
digunakan untuk menyebut aspek fisik adalah “kota” (city), dan “urban” yang
mengandung pengertian sosial dan budaya (Hariyono, 2007: 16-17). Dengan
demikian, kota juga dapat dipandang dari aspek kebudayaan yang diwujudkan
dalam tiga hal, yaitu: ide, perilaku, dan hasil karya atau kebudayaan materi.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Hebditch (1995), bahwa terdapat
konsensus di antara para ilmuwan yang mengkaji perkotaan. Konsensus tersebut
menyatakan bahwa ada dua pendekatan untuk mengidentifikasi “sebuah kota”.
Pertama, pendekatan yang menekankan kepada aspek geografis, administratif dan
wilayah kota yang dibangun yang membentuk sebuah kota dan membedakannya
dengan wilayah pedesaan. Pendekatan kedua menekankan kepada bagaimana cara
masyarakat kota mengorganisir diri mereka sendiri dan hal tersebut membedakan
masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan (Hebditch, 1995: 7). Pada
dasarnya, bentuk pendekatan pertama mengandung pengertian aspek fisik kota
sedang bentuk pendekatan kedua memberikan pemahaman tentang aspek sosialbudaya.
Definisi museum sendiri mengalami perkembangan dengan adanya
perbedaan rumusan tentang definisi museum yang ditetapkan oleh International
Council of Museum (ICOM). Berdasarkan rumusan ICOM yang dideklarasikan
tahun 1974 di Copenhagen, Denmark menyebutkan :
A museum is a non-profit-making, permanent institution in the service of
society and its development, and open to the public, which acquires,
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
25
conserve, communicates and exhibits, for the purposes of study, education
and enjoyment, material evidence of man and its environment.
Sementara itu, rumusan tentang definisi museum sebagaimana ditetapkan
oleh ICOM pada konfrensi tahun 2004 di Seoul, Korea Selatan menyebutkan:
A museum is a non-profit-making, permanent institution in the service of
society and its development, and open to the public, which acquires,
conserve, researches, communicates and exhibits, for purposes of study,
education and enjoyment, the tangible and intangible evidence and their
environment.
Berdasarkan
kedua
rumusan
tersebut,
terdapat
penambahan
kata
“researches” dan “the tangible and intangible” pada rumusan ICOM yang
terakhir. Meski demikian sebelum penetapan tersebut sesungguhnya dalam praktik
pengelolaannya, museum sekaligus telah berfungsi sebagai lembaga penelitian.
Demikian halnya kata “the tangible and intangible”, merupakan penekanan
tentang aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya pelestarian bukti-bukti
manusia dan lingkungannya.
Mengadaptasi definisi museum yang telah ditetapkan oleh ICOM,
Amarezwar Galla (1995), mendefinisikan museum kota, yaitu:
A city museum is a non profit-making, dynamic and evolving permanent
institution or cultural mechanism in the service of the urban society and
its development, and open to the public, which co-ordinates, acquires,
conserves, researches, communicates and exhibits, for purposes of study,
education, reconciliation of communities and enjoyment, the tangible and
intangible, movable and immovable heritage evidence of diverse peoples
and their environment (Galla, 1995: 41).
Dalam pengertian tersebut, selain mendefinisikan museum dalam ruang
lingkup kota dan warganya sekaligus memposisikan museum kota sebagai sebuah
lembaga yang dinamis atau mekanisme kultural dalam melayani warga kota
beserta pengembangannya. Mekanisme kultural dalam hal ini, sebagaimana
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
26
disebutkan oleh Homer dan Swarbrooke (1996), bahwa museum harus berperan
sebagai sebuah forum, tempat terjadinya perdebatan dan kontroversi mengenai
materi dan muatan yang disajikan (Dananjaya Axioma, 2006: 14-15). Penekanan
lain pada definisi tersebut adalah museum berperan dalam pemulihan keragaman
warga kota.
Terkait dengan peran mekanisme kultural bagi museum kota dimaksudkan
sebagai pusat aktivitas yang terkoordinasi bagi representasi kebudayaan populasi
kota. Oleh karena itu, museum kota harus menyambut dan membuat pengunjung
dapat berpartisipasi dengan cara yang lebih mudah diakses, serbaguna dan penuh
informasi. Dalam konteks ini, museum kota bekerja sebagai fasilitator dan bekerja
sama dengan perorangan, kelompok, pihak pemerintah, swasta maupun
komunitas-komunitas budaya. Aspek-aspek yang terkait dengan peran museum
sebagai pusat aktivitas, mencakup: a) pergerakan seni kontemporer; b) festival dan
acara-acara yang signifikan; c) pemeliharaan yang berkelanjutan terhadap warisan
budaya; d) suara-suara, nilai-nilai dan tradisi-tradisi dari komunitas; dan e)
lingkungan yang lebih luas dengan mengembangkan sistem kebudayaan yang
berkelanjutan (Galla, 1995: 41, 42 dan 43). Dalam konteks inilah mekanisme
kultural museum kota diharapkan mampu berperan pada perkembangan kota
dalam sistem kebudayaan.
Sementara itu, kerangka kerja untuk menjawab pertanyaan tentang
bagaimana museum dapat menampilkan kota berikut penduduk, sejarah dan
warisan kota, serta apa yang dapat diperbuat museum untuk mengidentifikasi dan
menjelaskan
fenomena sosial perkotaan yang semakin kompleks (Hebditch,
1995: 7). Lebih lanjut, disebutkan bahwa jenis-jenis koleksi yang dapat digunakan
oleh museum kota untuk mengamati fenomena kota, terdiri atas:
a. Artefak, adalah salah satu dari jenis utama yang diciptakan dan/atau
dipergunakan oleh sebuah kota. Artefak dalam hal ini memiliki konteks
fungsional dan fitur yang memiliki konteks yang lebih spesifik bagi kota,
misalnya ruangan-ruangan atau bangunan-bangunan tertentu dengan ciri khas
masa tertentu. Jenis-jenis tersebut dapat diasosiasikan untuk membentuk
kelompok data – atau semacam kapsul waktu – istilah populernya.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
27
b. Bukti-bukti lingkungan. Museum dapat menyimpan dan mengkaji bukti-bukti
dampak kehadiran manusia dan eksploitasi yang dilakukan terhadap
lingkungan alami, baik sekarang maupun di masa lalu. Bukti-bukti yang dapat
dikumpulkan tersebut terdiri atas tinggalan-tinggalan flora maupun fauna,
serta material-material tulang manusia. Bukti-bukti ini dapat menunjukkan
relevansinya dengan isu-isu kajian lingkungan jaman sekarang dalam konteks
historis dan dapat ditangani oleh museum kota.
c. Catatan tentang tempat dan aktivitas. Penelitian dan pengumpulan data berupa
peta-peta historis dan rancangan kota serta bangunan kota, dan catatan-catatan
lain dari masa lalu adalah bagian dari penelitian museum dan proses
pengumpulan yang dilakukan oleh museum kota. Penelitian dan pengumpulan
data adalah cara terbaik untuk mengaitkan artefak “luar museum” dengan
artefak dan objek-objek lainnya yang dapat dikoleksi oleh museum. Data
seperti itu sangat penting untuk memahami distribusi spasial dalam kota, yang
dapat memberikan informasi tentang isu-isu seperti migrasi, perubahan
struktur sosial dan penggunaan lahan serta aktivitas ekonomi.
d. Testimoni. Ada dua bentuk pada jenis koleksi ini yaitu gambar (lukisan,
gambar, cetakan dan foto), dan testimoni dalam bentuk kesaksian lisan.
Informasi objektif tentang konteks fisik maupun sosial dari artefak yang
dimiliki museum dapat dideduksi dari kedua tipe tersebut, meski demikian
sejumlah besar nilai yang dimiliki testimoni tersebut terkandung dalam
interpretasi subjektif dari kota oleh pembuat testimoni serta perasaan yang
diekspresikan oleh orang yang mencatat tentang pendapat/kesan yang mereka
miliki tentang pekerjaan dan kehidupan mereka. Karya-karya penulisan juga
dapat berkontribusi terhadap bagian dari testimoni tentang sebuah kota namun
tidak selalu dapat dikumpulkan oleh museum (Hebditch, 1995: 8-9).
Keempat jenis koleksi tersebut saling melengkapi dalam memberikan
informasi tentang fenomena-fenomena perkotaan kepada pengunjung museum.
Hal terpenting adalah profesional museum harus melakukan interpretasi terhadap
jenis-jenis koleksi tersebut terlebih dahulu agar pengunjung dapat memperoleh
informasi yang utuh tentang pameran yang ditampilkan. Kerangka kerja seperti
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
28
ini, museum kota akan mampu menginterpretasi dan menjelaskan masyarakat kota
serta proses perubahan yang berlangsung dalam masyarakat. Dalam hal ini, peran
profesional museum adalah merangsang dan mensitesakan hasil pekerjaan dari
berbagai disiplin ilmu (Hebditch, 1995: 9). Dengan demikian, interpretasi yang
disampaikan pada akhirnya merupakan hasil interpretasi terhadap informasi
kontekstual perkotaan.
Pendapat yang sama dikemukakan Anne Marie Collins (1995), bahwa
museum dapat membuat pengunjung menyadari aspek-aspek yang beragam secara
aktif dengan menyampaikan pesan secara orisinal. Oleh karena itu, sumbersumber berupa perekaman suara dan latar dekorasi dapat menciptakan suasana
dimana elemen-elemen visual dan tekstual dapat dieksplorasi. Sementara itu,
rekaman visual, slide dan peralatan yang interaktif membuat pengunjung dapat
menyentuh, merasakan dan melihat, untuk mengenali diri mereka sendiri dan
untuk menanyakan sejumlah pertanyaan pada diri mereka ketika berhubungan
dengan kenyataan kota yang berbeda (Collins, 1995: 32).
2.1.3 Peran Museum Kota
Secara umum fungsi utama museum sebagaimana definisi yang ditetapkan
oleh ICOM adalah mengumpulkan,
melestarikan,
melindungi,
meneliti,
mengkomunikasikan dan memamerkan bukti-bukti bendawi manusia dan
lingkungannya. Sementara itu, peran museum diarahkan pada upaya pengkajian
dan penelitian tentang bukti-bukti manusia dan lingkungannya. Dengan demikian,
museum berperan sebagai pusat informasi berdasarkan kajian dan penelitian yang
dilakukannya.
Dalam kaitannya dengan peran museum kota, UNESCO dalam jurnal
“Museum International” yang membahas khusus tentang “City Museum”,
menyebutkan bahwa:
City museums are part and parcel of this volatile urban landscape and, as
the articles in this issue’s dossier reveal, they are striving to come to terms
with their new mandate and their new publics. The museum that speaks of
the city must now also speak to the city (UNESCO, 1995: 3).
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
29
Demikianlah, museum kota mengemban tugas baru yaitu sebagai bagian
dan bidang dari perubahan lansekap perkotaan. Dalam konteks ini, memberi
pemahaman bahwa museum kota hadir sebagai sebuah pendekatan baru sebagai
“urban advocacy”. Oleh karena itu, museum kota tidak hanya bicara tentang kota
akan tetapi saat ini harus bicara untuk kota.
Sementara itu, menurut Anne Marie Collins (1995), bahwa tugas utama
museum kota adalah untuk menyajikan sejarah dan evolusi kota baik kepada
masyarakat kota maupun kepada para pengunjung. Lebih lanjut, bahwa tugas
museum kota adalah memperkenalkan publik pada aspek-aspek kota yang
berbeda-beda sebagaimana kota itu sebenarnya, menempatkan konteks-konteks
urban, ekonomi, arsitektur, sosial dan budaya dari tiap-tiap periode sejarah ke
dalam perspektif dengan menggunakan segala jenis kegiatan promosi (Collins,
1995: 30). Oleh karena itu, museum kota merupakan titik awal bagi tur kota yang
aktual. Tema-tema yang diwakili dalam pameran tetap menjadi titik awal bagi
profesional museum untuk mengajak pengunjung mengenali karakteristik warna
dan atmosfer dari periode bersejarah kota dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
Ditambahkan lagi bahwa tema-tema pameran tetap akan mengajak pengunjung
untuk mengeksplorasi tempat-tempat atau wilayah-wilayah tertentu (Collins,
1995: 30) yang memiliki ciri khas bagi kota. Dengan demikian, museum kota
mengemban peran dalam penyebarluasan informasi sejarah, mendidik publik
untuk menumbuhkan kesadaran baru tentang karakter sejarah lingkungan,
bergerak keluar daerah institusinya dan berbaur dengan masyarakat dimana
mereka tinggal, bekerja atau mencari hiburan. Terakhir adalah berkolaborasi
dengan badan-badan lingkungan lain yang berpartisipasi dalam membawa dan
mempromosikan proyek ini untuk meningkatkan warisan budaya masa lalu dan
warisan budaya dalam pembuatannya (Collins, 1995: 34).
Pada dasarnya, peran museum kota telah tergambar pada pengertian
museum kota sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya. Bagian ini
dimaksudkan untuk menguraikan lebih jelas tentang peran museum kota. Lebih
khusus dapat disebut bahwa bagian ini akan menjelaskan peran museum kota
berdasarkan pandangan beberapa ahli. Uraian berikut ini disarikan dari beberapa
artikel dari jurnal Museum International yang membahas tentang peran museum
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
30
kota di antaranya: “Museums of Cities and Urban Futures: new approaches to
urban planning and the opportunities for museums of cities” oleh Duncan
Grewcock; “City Museums: do we have a role in shaping the global community?”
oleh Jack Lohman; dan “The City Museum and its Values” oleh Tatiana
Gorbacheva.
Dijelaskan oleh Duncan Grewcock (2006), bahwa museum kota dapat
berperan sebagai pendekatan baru dalam perencanaan kota. Masa depan museum
kota tidak dapat dilepaskan dengan masa depan kota itu sendiri. Oleh karena itu,
museum kota seharusnya dapat memberikan kontribusi yang dapat bertahan,
inklusif serta imajinatif dalam perencanaan dan rancangan pembangunan wilayah
perkotaan serta penempatan dan tata ruang kota (Grewcock, 2006: 33). Dalam hal
ini, Duncan Grewcock, menekankan tiga hal penting bagi peran museum dalam
perencanaan kota, yaitu: pertama, bahwa mempromosikan peran dari museum
kota dalam perencanaan pembangunan kota sebenarnya adalah salah satu bentuk
menghidupkan kembali serta memperbaharui peran museum itu sendiri dan bukan
merupakan bentuk atau peran baru dari museum; kedua, bahwa kultur serta
perencanaan pembangunan kota adalah perubahan yang menarik dan relevan
dengan tujuan dari museum itu sendiri; serta, ketiga, dalam banyak hal, museum
serta perencanaan pembangunan kota adalah bidang yang saling melengkapi
(Grewcock, 2006: 33).
Grewcock juga menjelaskan bahwa perubahan dalam perencanaan
pengembangan kota dapat dilihat dan dipahami secara lebih baik sebagai sebuah
re-evaluasi dari sudut sosial dan spasial kota, sifat-sifat sosial dan fisik dari
sebuah kota. Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan
pengaruh lingkungan; termasuk pengaruh-pengaruh sosial, partisipasi masyarakat,
demokrasi dan kekuasaan, masyarakat sipil, kesetaraan, identitas, masyarakat dan
kepemilikannya; spasial maupun akomodasi-akomodasi fisik lainnya dalam
kebutuhan sosial. Penjelasan atas perubahan-perubahan tersebut, Grewcock
mengambil contoh perubahan yang terjadi di Inggris dan menyebutkan bahwa
terdapat tiga contoh perubahan dalam perencanaan pengembangan kota. Pertama
adalah perubahan secara teoretis, yang ditarik dari berbagai pemicu sosial, kedua
adalah perubahan kebijakan dan ketiga perubahan dalam praktik-praktik yang
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
31
berkaitan dengan pengembangan yang mencoba untuk menciptakan hubungan
antara kebutuhan sosial dengan bentuk-bentuk spasial (Grewcock, 2006: 35).
Dalam kaitannya dengan contoh perubahan pertama, Grewcock mengutip
pendapat Sanderock tentang ringkasan analisisnya dan relevansi pandangan
tersebut dengan museum, sebagai berikut:
What the above discussion suggests is the need for a diversity of spaces
and places in the city: places loaded with visual stimulation, but also
places of quiet contemplation, uncontaminated by commerce, where the
deafening noise of the city can be kept out so that we can listen to the
‘noise of the stars’ or the wind and water, and the voice(s) within
ourselves. An essential ingredient of planning beyond the modernist
paradigm is a reinstatement of inquiry about the recognition of the
importance of memory, desire, and spirit, as vital dimensions of healthy
human settlements, and a sensitivity to cultural differences in the
expressions of each (Grewcock, 2006: 36).
Penjelasan atas contoh perubahan kedua, Grewcock mengambil kebijakan
pemerintah Inggris yaitu “The Thames Gateway”. Pada kebijakan tersebut,
perencanaan kota memiliki premis dasar yaitu keharusan untuk memindahkan
mobilitas pengembangan spasial dan ekonomi kota London ke wilayah lebih ke
timur, sepanjang sungai Thames. Dasar premis ini sendiri adalah upaya Inggris
dalam menghadapi Olimpiade London 2012. Unsur utama kedua adalah perluasan
pembangunan di sepanjang wilayah Inggris Selatan. Perluasan pembangunan ini
berupaya mengintegrasikan dengan konsep masyarakat mandiri atas pertumbuhan
perumahan yang kurang di wilayah tenggara Inggris. Dalam konteks yang lebih
luas kebijakan tersebut berdampak besar terhadap konsepsi ruang, masyarakat,
identitas serta kepemilikan. Dalam konteks museum, konsep masyarakat mandiri
ini mampu memberikan konteks baru dalam memahami dan mengadvokasi
konstribusi museum terhadap masyarakat. Perencanaan tersebut juga memberikan
kesempatan baru bagi museum untuk secara formal lebih menghubungkan diri
dengan pengembangan dan pembangunan dalam konteks perencanaan perkotaan.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
32
Perubahan ketiga adalah terjadinya transformasi dalam kebudayaan serta
praktik perencanaan pengembangan perkotaan di Inggris dalam bentuk
perencanaan spasial. Proses transformasi yang terjadi dalam praktik perencanaan
berdampak pada dimulainya kebijakan perencanaan regional di wilayah Eropa.
Dalam pandangan Grewcock, ada beberapa bahaya yang muncul sebagai akibat,
yaitu tanpa visi, koordinasi serta advokasi yang kuat, maka museum akan
mengalami marjinalisasi sebagai dampak dari pendekatan ini, atau kontribusi
potensial dari museum terhadap masyarakat akan keluar dari perencanaan
kultural.
Pada dasarnya, penjelasan atas beberapa contoh yang dikemukakan di atas,
Grewcock mengusulkan bahwa sesungguhnya bidang-bidang yang terlibat dalam
perencanaan perkotaan dapat saling mendukung untuk menggeser batas-batas dan
bekerjasama dalam batas-batas tersebut. Dengan perkataan lain, bidang-bidang
terkait dapat mengambil perannya masing-masing. Dalam konteks museum, hal
ini akan semakin membuka peluang museum kota untuk berkaitan langsung
dengan perencanaan tersebut dalam cara yang lebih formal dan lebih kreatif.
Tema kebersamaan dan keterkaitan antara pembangunan museum dengan
pengembangan perencanaan perkotaan dapat berupa tujuan yang lebih luas atau
integrasi, partisipasi dan tindakan bersama, yang berkaitan dengan pengembangan
atau pemberdayaan sebuah lokasi atau tempat.
Museum-museum kota, dalam bentuk paling idealnya, tidak lain
merupakan sebuah museum tempat. Dalam pengertian bahwa sebuah tempat harus
dipahami secara holistik, sebagai pembentuk masyarakat, baik pembentuk sosial
maupun kultural, memberikan makna yang signifikansinya yang sangat besar
terhadap masyarakat, dan oleh karena itu saling memiliki keterkaitan dan
ketergantungan dengan masyarakat (Grewcock, 2006: 39). Dalam hal ini, tempat
dipandang sebagai sebuah memori kolektif dimana museum dapat mengambil
peran untuk menjaga dan melestarikannya sebagai memori kolektif warga kota.
Kevin Lynch (1972), dalam karyanya What Time is this Place?,
memetakan dengan singkat peran dari museum dalam perencanaan perkotaan,
yaitu sarana untuk menampilkan perubahan masa kini yang dapat ditelaah,
perubahan masa lalu yang dapat dijelaskan dalam tempat-tempat tertentu, dengan
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
33
menggunakan kalimat “pada suatu masa”, sebuah tempat dimana kontinuitas
dengan masa depan berada, bentuk eksperimen diri, dan “museum masa depan”
dapat dikembangkan dari pilihan-pilihan di atas (Grewcock, 2006: 39).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran museum dalam
perencanaan kota adalah museum mampu menampilkan perubahan-perubahan
fisik yang terjadi serta faktor yang mempengaruhinya, sehingga publik mampu
melihat dan memahami perubahan tersebut dalam sudut pandang yang lebih luas.
Dalam hal ini, museum menjadi media yang mampu menjelaskan perubahan kota
dengan bantuan berbagai disiplin untuk kemudian dapat dipahami oleh publik.
Demikianlah, sebagaimana dijelaskan oleh Grewcock bahwa museologi dapat
bekerja sama dengan berbagai disiplin yang mengkaji perubahan kota.
Pandangan yang dikemukakan oleh Jack Lohman (2006), menyebutkan
bahwa museum kota dapat mengambil peran dalam membentuk masyarakat
global. Dalam perspektif ini, Lohman mengemukakan bahwa museum kota tidak
lepas dari peran sebagai pencari-jiwa manusia, sebagai cara untuk mencari makna
dan peran manusia dalam kehidupan. Lohman mengemukakan pandangan bahwa
identitas politik merupakan bentuk kepentingan yang saling bertikai, dan
merupakan penyerap dan juga dapat terserap oleh kebudayaan lain yang dominan
yang pada akhirnya menjadi bentuk pertikaian antar kekuatan politik (Lohman,
2006: 16).
Lohman dalam menjelaskan isu globalisasi mengutip pandangan Parker
bahwa tidak seperti apa yang kita yakini bahwa kita hidup dalam periode yang
khusus dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Namun,
dalam kenyataannya, dapat dicari ke dalam sejarah apa yang disebut Parker
sebagai “patterns and connections… trends and similarities”. Dengan demikian,
dapat disebut bahwa kenyataan yang ada saat ini dapat dihubungkan dengan
beragam kekayaan masa lalu manusia, cita-cita membentuk peradaban manusia
sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh nenek moyang manusia sejak dahulu
(Lohman, 2006: 17).
Selanjutnya, Lohman mengemukakan bahwa meningkatnya keragaman
dan konflik yang terjadi harus dihadapi dengan adanya dialog budaya.
Kebudayaan bukan hanya merupakan masalah identifikasi dan penyelamatan serta
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
34
menjaga setiap kebudayaan dalam bentuk isolasi saja, namun sebaliknya bentuk
perkembangan yang dimaksud adalah melakukan revitalisasi terhadap seluruh
kebudayaan untuk dapat menghindari terjadinya segresi dan mencegah terjadinya
konflik antar kebudayaan (Lohman, 2006:17). Hal ini sesuai dengan pernyataan
UNESCO dan posisinya dalam keragaman budaya bahwa “This cultural dialogue
has taken on a new meaning in the context of globalization and of the current
international political climate. Thus it is becoming a vital means of maintaining
peace and world unity” (Lohman, 2006: 17).
Dalam konteks keragaman, Lohman kembali mengutip pernyataan
UNESCO, bahwa “A museum works for the endogenous development of social
communities whose testimonies it conserves while lending a voice to their cultural
aspirations. Resolutely turned towards its public, community museums are
attentive to social and cultural change and help us to present our identity and
diversity in an ever changing world” (Lohman, 2006: 18). Lebih lanjut, Lohman
berpendapat bahwa terjadi perubahan peran museum berdasarkan definisi museum
yang terakhir, bahwa museum harus merubah perannya dari hanya sekedar
“stage” menjadi “actors”. Museum adalah bagian dari deretan “actors” yang lebih
besar dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, museum
tidak hanya sekedar “actors”, tetapi adalah “interactors” yang menampilkan
interaksi yang beragam dan majemuk antara alam, kebudayaan, sejarah, seni,
kerajinan serta apa saja yang membentuk manusia seperti sekarang ini (Lohman
2006: 18).
Penjelasan tentang peran museum sebagaimana dikemukakan oleh Jack
Lohman adalah menghadapi isu keragaman dan konflik budaya. Dalam hal ini,
museum kota harus dipandang sebagai mekanisme kultural untuk mengelola isu
tersebut untuk kemudian diarahkan pada isu kebersaman.
Perspektif yang berbeda dikemukakan oleh Tatiana Gorbacheva (2006),
bahwa museum kota harus mengedepankan pendekatan program dan berbagai
aktivitas agar museum kota dapat lebih berperan dalam hubungannya dengan
warga kota. Dalam hal ini, aktivitas kontemporer dari “The Moscow City
Museum”, diambil sebagai contoh untuk menjelaskan peran museum kota.
Gorbacheva kemudian membahas tiga aspek dari aktivitas museum tersebut,
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
35
yaitu: pertama, adalah aspek hubungan antara museum dengan lingkungan
perkotaan di sekitarnya, kedua, perubahan yang terjadi pada kota-kota sepanjang
waktu, dan ketiga, hubungan antara museum dan masyarakat pada jaman
sekarang.
Dalam kaitannya dengan aspek pertama, museum kota tidak lagi tetap
berada dalam kungkungan aktivitas tradisional yaitu museum hanya ditempatkan
pada sebuah gedung atau sebuah kompleks gedung yang terletak di pusat kota dan
menjadi basis bagi pameran-pameran artefak museum. Dalam hal ini, museum
baru didasarkan pada bekerja dengan ruang lebih luas yang berarti bahwa akan
banyak museum kota yang kini memiliki struktur yang kompleks terdiri dari
bukan hanya bangunanan-bangunan individual saja, melainkan terdiri dari
keseluruhan wilayah kota. Berdasarkan konsep kontemporer ini, “The Moscow
City Museum” kemudian membuka tujuh cabang aktivitas, beberapa di antaranya
berkembang pada wilayah yang jauh dari pusat kota historis (Gorbacheva,
2006: 51). Dalam hal ini, cabang-cabang aktivitas berada pada wilayah-wilayah
berdasarkan pada perkembangan kota, sehingga museum kota mampu mencapai
wilayah-wilayah yang berkembang lebih akhir dan menjadi pusat informasi bagi
wilayah-wilayah tersebut.
Pembentukan “The Museum of Culture at the Kuzminki Country Estate”
adalah salah satu contohnya. Sesuai dengan konsep kontemporer dari
pengembangan museum, “The Moscow City Museum” kemudian membentuk
pusat museum yang mengembangkan seluruh bentuk non-tradisional dari segala
kerja museum, berdasarkan pada upaya untuk menghidupkan kembali tradisi
kehidupan perumahan elit serta budayanya dan melibatkan museum dalam
kehidupan
sosial
kontemporer.
Pameran-pameran
dikhususkan
menampilkan sejarah, etnografi serta kehidupan sehari-hari dapat
untuk
dilihat dalam
pengelolaan Kuzminki. Program lain adalah dengan adanya festival tahunan untuk
taman bunga dan festival musik internasional, “Music of Noble Estates” yang
mengarah kepada konsep “Park of Historical Entertainment” serta menghidupkan
kembali “The Russian School of Riding” di istal-istal pada perumahan tersebut
(Gorbacheva, 2006: 51).
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
36
Pada uraian akhir tentang aspek hubungan antara museum dengan
lingkungan perkotaan, Gorbacheva memberi kesimpulan bahwa:
This museum reveals a specific trend in the development of museums: the
structure of museums has become complex and composite, and they are no
longer composed of buildings and artefacts, but encompass heritage as a
whole. The museum interpretation of space provides new value to the
sense of the place and of inhabiting it (Gorbacheva, 2006: 52).
Dengan demikian, konsep ini memberi pemahaman tentang adanya
kesamaan antara konsep museum kota dengan konsep museum situs. Dalam hal
ini, bangunan museum hanya berfungsi sebagai pusat informasi, koleksi museum
adalah kota itu sendiri.
Aspek kedua berpandangan bahwa kota berkembang seiring dengan
waktu, untuk itu dalam kategori filosofis akan mempengaruhi segala aktivitas dari
museum kota. Museum adalah refleksi dari masa lalu, kini dan masa depan
perkembangan kota itu sendiri beserta masyarakatnya. Dalam kaitannya dengan
refleksi tersebut, lingkungan perkotaan dan kehidupan kota, waktu tidak dibagi
menjadi masa lalu, kini, dan masa depan namun disatukan. Saat ini, warisan,
kehidupan kontemporer serta titik-titik kehidupan modern diperlihatkan dalam
kehidupan kota. Kantor-kantor modern, bank serta pertokoan terletak dan
ditempatkan pada kompleks-kompleks bangunan tua dimana secara bersama-sama
beroperasi dengan museum kota (Gorbacheva, 2006: 52).
Demikian halnya dalam menghadapi isu-isu publik, “The Moscow City
Museum”, pada tahun 2001 melaksanakan pameran ilmiah berskala internasional,
disebut dengan “The Moscow International Museum Forum” yang dijadwalkan
secara periodik. Pada tahun 2005
“The Moscow City Museum” mengadakan
proyek pameran “The World After the War”. Pameran ini tidak merefleksikan
kejadian perang tersebut, namun memperlihatkan konsekuensi perang terhadap
kota Moskow serta terhadap negara secara keseluruhan, berkaitan dengan
perkembangan dari negara-negara di Eropa serta perubahan dalam kebijakan
global. Lebih dari duapuluh museum di Moskow, Rusia dan Eropa berpartisipasi
dalam forum ini. Sebelas pameran dilakukan dalam waktu satu bulan, bersama-
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
37
sama dengan konferensi ilmiah serta acara-acara publik lainnya (Gorbacheva,
2006: 52).
Sementara itu, penekanan pada aspek ketiga adalah bahwa kompleksitas
permasalahan perkotaan khususnya aspek sosial menyebabkan fokus museum
kota sekaligus memperhitungkan masalah-masalah sosial dan moral dalam
perkembangan kota. Oleh karena itu, masalah-masalah seperti kriminalitas,
sektarian, dan ketegangan antar etnis atau terorisme harus dijadikan sebagai tema
pameran bagi museum kota. Dengan demikian, misi sosial dari museum adalah
bagaimana memperluas nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat
kota. Bentuk-bentuk program yang ditampilkan oleh “The Moscow City Museum”,
menghadapi tantangan ini adalah dengan berpartisipasi aktif dalam “City Days”
dan di “Moscow’s Historical and Cultural Heritage Days”. Dalam konteks ini,
museum kota dapat mewujudkan sebuah misi yaitu membantu masyarakat dalam
mengekspresikan diri sendiri serta untuk merawat dan mempertahankan artefakartefak material dan kebudayaan masyarakat dalam bentuk koleksi museum
(Gorbacheva, 2006: 52-53).
Berdasarkan uraian ketiga pandangan yang telah dikemukakan di atas,
dapat disimpulkan bahwa peran museum kota adalah sebagai mekanisme kultural
dalam merubah wajah fisik, sosial, maupun budaya perkotaan. Peran mekanisme
kultural ini dapat dilakukan dengan adanya keterlibatan antara museum dan
masyarakat sekitarnya.
Pandangan Duncan Grewcock misalnya, menekankan pada keterlibatan
museum dalam merubah wajah fisik perkotaan. Dalam hal ini, museum kota dapat
terlibat dalam perencanaan pengembangan kota yaitu sebagai media yang
menampilkan perubahan bentang alam perkotaan. Dalam uraian tentang
pandangan tersebut, Duncan Grewcock berkesimpulan bahwa:
….That is, as an open-ended, trusted democratic space, that can be
physically experienced as a quarter of the city, but also used as a site for
debate, discussion and experimentation on urban issues within the context
of a city’s past, present and future. This would see museums of cities as a
key element in the narrative of the city and as part of its ongoing story of
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
38
becoming: the museum as a networked, distributed conversation rather
than an inward-looking institution (Grewcock, 2006: 40).
Dalam konteks ini, peran museum kota disejajarkan dengan institusi yang
berperan dalam perencanaan dan pengembangan fisik perkotaan. Oleh karena itu,
titik awal untuk mengarahkan peran tersebut adalah menampilkan perubahan tata
ruang kota serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dengan
demikian, titik awal ini memberi peluang bagi museum kota untuk membuka
ruang demokratis bagi warga kota dalam bentuk penyusunan program yang
bertujuan sebagai forum perdebatan ilmiah atau diskusi yang membahas
perubahan-perubahan tata ruang perkotaan. Hasil pembahasan tersebut dapat
dijadikan rekomendasi untuk diajukan kepada stakeholder lain dalam kaitan
perencanaan pengembangan tata ruang kota.
Pandangan Jack Lohman lebih mengarahkan peran sosial museum kota,
peran tersebut dalam rangka menghadapi isu keragaman warga kota. Dalam hal
ini, museum kota dianggap mampu memberi pencerahan terhadap isu-isu yang
mengarah pada konflik budaya. Dalam uraian tentang pandangan tersebut, Jack
Lohman berkesimpulan bahwa:
…The challenge to museums to engage in issues such as the building of
national identity out of the fragments of diverse groups, to be agents for
change and peacebuilding, and help to address the challenge of poverty
reduction are all part of a brief which some would consider beyond our
ambit and capability (Lohman, 2006: 19).
Dalam konteks ini, peran museum kota diarahkan pada sebuah institusi
yang mampu memediasi dan memberi advokasi terhadap isu-isu konflik
keragaman warga kota. Oleh karena itu, titik awal untuk mengarahkan peran
tersebut adalah menampilkan dampak negatif dari konflik atau peristiwa masa
lalu. Dampak negatif dari peristiwa tersebut harus dimaknai sebagai pengalaman
sekaligus menjadi pelajaran dalam menghadapi isu-isu yang sama di masa yang
akan datang. Dengan demikian, titik awal ini memberi peluang bagi museum kota
untuk menyusun program kegiatan yang berkaitan dengan upaya mediasi dan
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
39
advokasi terhadap konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana
disebut sebagai ruang dialog. Peran seperti ini sekaligus memberi ruang bagi
museum kota dalam menghadapi isu-isu kekinian khususnya pada isu-isu sosial
perkotaan.
Pandangan Tatiana Gorbacheva lebih mengarahkan peran museum kota
dalam bentuk program kegiatan sebagai langkah konkret atau wujud aksi nyata
museum dalam menampilkan perannya kepada masyarakat. Titik perhatian pada
pandangan yang dikemukakan tersebut adalah peran museum kota dalam
melestarikan warisan budaya baik wujud artefak maupun tradisi-tradisi yang
tumbuh dan berkembang yang mengiringi perkembangan kota. Dalam uraian
tentang pandangan tersebut, Tatiana Gorbacheva mengemukan kesimpulan
bahwa:
…the city museum is currently developing into a complex structure,
including different objects and urban spaces. The dialogue of the museum
with the city community, and conducting large-scale social programmes
and projects has become the main task of museum activities, which are
based on humanitarian values and resist ideas of destruction and violence.
Museums change traditional methods of work, transforming into public
museums centres of social life and culture. And this evolution of our
museum practice is caused by the very dynamism of city life (Gorbacheva,
2006: 54).
Pandangan ini sekaligus menjadi kesimpulan dari ketiga pandangan yang
telah dikemukakan bahwa museum kota harus mengubah metode kerja tradisional
dan bertransformasi menjadi museum publik serta menjadi pusat dari kehidupan
dan kebudayaan kota. Peran tersebut, setidaknya dapat diwujudkan oleh museum
kota melalui pameran yang ditampilkan, sehingga membuka peluang bagi
museum untuk mengarahkan program kegiatannya pada peran mekanisme
kultural.
Dengan demikian, konsep museum kota yang dimaksudkan pada
penelitian ini diperoleh dari beberapa pendapat yang dikemukakan sebelumnya,
sehingga diperoleh pemahaman khusus tentang konsep pameran pada jenis
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
40
museum kota. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, konsep museum kota yang
terdiri atas pengertian dan kerangka kerja memberi pemahaman tentang aspek
yang menjadi fokus sebuah museum kota. Berdasarkan pada pengertiannya,
sebagaimana dikemukakan oleh Amareswar Galla (1995), bahwa museum kota
hadir untuk merepresentasikan bukti-bukti tinggalan manusia dan lingkungan
dalam ruang lingkup kota tertentu. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa museum kota
hadir untuk melayani masyarakat perkotaan dan pengembangannya. Aspek
penting lain dalam hal pameran museum kota, adalah aspek yang berkaitan
dengan pendekatan yang dilakukan oleh disiplin ilmu yang mengkaji sebuah kota
yaitu aspek fisik dan sosial. Dalam hal ini, aspek fisik dapat dilihat pada
pandangan yang dikemukakan oleh Duncan Grewcock bahwa museum dapat
berperan sebagai pendekatan baru dalam perencanaan kota. Arah peran museum
pada aspek tersebut, dapat diwujudkan melalui pameran sehingga masyarakat
memperoleh pemahaman tentang perubahan fisik kota. Sementara itu, aspek sosial
dapat dilihat pada pandangan yang dikemukakan oleh Jack Lohman bahwa
museum dapat berperan sebagai mediator dalam menghadapi konflik keragaman
warga kota. Arah peran museum pada aspek ini, dapat diwujudkan melalui
pameran sehingga masyarakat memperoleh pemahaman tentang keragaman warga
kota. Dengan demikian, titik perhatian museum kota dalam menjelaskan
perubahan kota adalah pada aspek perubahan fisik dan perubahan sosial.
Pandangan lain dikemukakan oleh Tatiana Gorbacheva, bahwa museum kota
harus aktif dalam upaya mendekatkan diri pada komunitas yaitu warga kota
berupa bentuk-bentuk program untuk melestarikan warisan budaya baik wujud
artefak maupun tradisi-tradisi. Demikian halnya dikemukakan oleh Max Hebditch
tentang kerangka kerja museum kota memberi pemahaman bahwa museum kota
dapat menjelaskan perubahan kota melalui objek yang ditampilkan, yaitu artefak,
bukti-bukti lingkungan, catatan tentang tempat, dan testimoni. Melalui objekobjek
tersebut,
museum
kota
dapat
melakukan
interpretasi
kemudian
menampilkan kepada masyarakat. Pemahaman inilah yang kemudian dijadikan
sebagai landasan konsep untuk menghasilkan sebuah konsep ideal tentang
pameran museum kota.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
41
Selanjutnya untuk melengkapi landasan konsep sebagaimana dikemukakan
di atas, diperlukan sebuah perbandingan tentang konsep pameran yang telah
dikembangkan oleh museum kota. Dalam hal ini, konsep pameran dimaksud
adalah konsep pameran pada “The Museum of London”, salah satu museum kota
yang ada di Inggris.
2.1.4 Konsep Pameran “The Museum of London”
Pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan uraian tentang konsep
pameran yang diterapkan oleh salah satu museum kota yaitu “The Museum of
London” (The Museum of London, 2010). Pilihan terhadap konsep pameran “The
Museum of London”, karena beberapa pertimbangan, yaitu; museum ini dianggap
berhasil dalam mengembangkan konsep pameran sebuah museum kota khususnya
tentang aspek masa lalu dan kontemporer perkembangan kota; beberapa
pandangan para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya adalah para profesional
yang bekerja di museum ini sehingga dapat dikatakan bahwa museum ini adalah
pelopor bagi konsep ideal museum kota; dan museum ini memberi perhatian
terhadap perkembangan permuseuman khususnya museum kota, salah satu yang
dapat dikemukakan adalah merintis dan menyelenggarakan sebuah simposium
bertaraf international untuk pertama kalinya dengan tema “Reflecting the City”.
Konsep pameran “The Museum of London” terbagi atas dua yaitu pameran
fisik dan pameran virtual. Pameran fisik terbagi atas; Pameran Tetap (Permanent
Exhibition), Pameran Khusus (Special Exhibition), dan Community Exhibition and
Project. Sementara pameran virtual dikhususkan untuk menampilkan pameran
berbasis web. Konsep lain yang ditampilkan museum ini adalah sebuah pameran
yang menghadirkan keterlibatan masyarakat pada pameran yang disebut
“Community Exhibition and Project”. Konsep pameran museum ini berdasarkan
pada misi, yaitu: menginspirasi sebuah semangat bagi London melalui:
a. Menghubungkan sejarah London, arkeologi, dan budaya kontemporer dengan
dunia yang lebih luas;
b. Mengambil bagian dalam diskusi tentang London; dan
c. Memfasilitasi dan memberi konstribusi pada budaya luar dan jaringan
pendidikan London (The Museum of London, 2010).
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
42
Pada pameran tetap “The Museum of London”, di antaranya menampilkan
tema yang memuat tentang:
a.
London before London, tema ini mengeksplorasi kehidupan Lembah Thames
dan sepanjang sungai Thames hingga terbentuknya London pada 50 M.
Informasi yang ditampilkan adalah hubungan antara masyarakat dan
lingkungannya, terdapat lebih dari 300 koleksi yang ditampilkan dan terbuat
dari perunggu dan besi. Salah satu koleksi yang ditampilkan adalah kerangka
yang berumur 5.640 dan 5.100 tahun serta sebuah rekonstruksi wajah
berdasarkan kerangka tersebut.
b.
London Romawi, tema ini menampilkan kisah tentang terbentuknya kota
London pada jaman Romawi, di antaranya pembangunan jembatan sungai
Thames serta jaringan jalan yang menghubungkan dengan wilayah sekitarnya.
Tema ini menampilkan sejarah kota London sekitar 50 M hingga 410 M, pada
periode inilah awal munculnya kerajaan Britannia yang dipimpin oleh Ratu
Elizabeth I. Koleksi yang ditampilkan di antaranya ratusan alat kerajinan,
gerabah dan kapal kaca. Pada tema ini ditampilkan sebuah kamar yang
direkonstruksi dan menggambarkan kehidupan warga London. Koleksi yang
ditampilkan pada tema ini adalah sebuah patung marmer dari Kuil Mithras,
salah satu karya seni terbaik yang ditemukan pada masa Britania.
c.
Medieval London, tema ini menampilkan kehidupan abad pertengahan kota
London, sekitar 410 hingga 1558 M. Tema ini sekaligus menampilkan kisah
penyerangan orang-orang Viking dan Penaklukan Norma pada 1066 M.
Koleksi yang ditampilkan di antaranya barang-barang kerajinan abad
pertengahan dan barang hasil perdagangan luar negeri, di antaranya bros, ikat
pinggang, lencana dan sepatu kulit. Koleksi-koleksi tersebut menjadikan tema
ini sebagai galeri untuk mempelajari kostum dan gaya populer abad
pertengahan.
d.
Expanding City: 1660-1850s, tema ini mengeksplorasi kisah pembangunan
kembali kota London setelah peristiwa kebakaran. Tema ini sekaligus
menampilkan informasi tentang masa kejayaan Britania dengan pengaruh
global. Koleksi-koleksi yang ditampilkan di antaranya barang-barang dari
Kashmir (India) dan China. Periode ini juga merupakan periode kedatangan
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
43
para imigran dengan keterampilan baru yang mendukung perkembangan
bisnis dan budaya kota.
e.
People’s City: 1850s-1940s, tema ini menampilkan kehidupan kota London
dimana pertumbuhan penduduk menciptakan pemisahan antara penduduk
yang miskin dan kaya. Periode ini menciptakan kota London yang kaya, dan
di sisi lain mengorbankan penduduknya sehingga menciptakan kesenjangan
sosial. Tema ini menggambarkan kehidupan kontras penduduk kota London,
sebuah peta yang mem-visualisasi-kan peta kemiskinan yang dibuat oleh
Charles
Booth
ditampilkan
pada
tema
ini.
Tema
ini
sekaligus
menggambarkan kisah saat konflik sosial terjadi di kota London, dimana para
pekerja bersatu untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
f.
World City: 1950s-today, tema ini menampilkan periode peremajaan kota
London menuju kota modern. Periode ini menggambarkan pencapaian
teknologi di kota London di antaranya bidang kelistrikan, telekomunikasi, dan
otomotif. Tema ini sekaligus menampilkan perubahan bentuk-bentuk rumah
dan jalan-jalan kota. Periode ini juga menggambarkan heterogenitas kota,
dimana pada akhir abad ke-20 kota London merupakan kota yang
multikultural dan disatukan oleh identitas London. Tema ini diakhiri sebuah
gambar besar yang memberikan bayangan tentang London di masa depan.
g.
The City Galery, Tema ini berada pada ruang khusus yang menyediakan
sebuah jendela besar yang memungkinkan pengunjung melihat ke arah luar
yaitu panorama kota London. Galeri ini juga menampilkan display yang
menggambarkan karakter unik kontemporer. Kehidupan masyarakat kota dan
kegiatan yang terkait dengan bagian dapat dilihat pada beberapa koleksi yang
ditampilkan di antaranya seragam polisi, lencana sherif dan topi sekolah yang
dikenakan di asrama Freemen’s School 1945-1952. Galeri ini sekaligus
digunakan untuk menampilkan pameran khusus yang ditampilkan “The
Museum of London”.
h.
The Sackler Hall, adalah sebuah aula besar sebagai tempat istirahat yang
menampilkan beberapa koleksi lukisan dan karya seni. Sebuah layar besar
dipasang pada ruangan ini untuk memutar film-film tentang kehidupan kota
London. Karya seni elektronik ini berupa layar berbentuk bulat panjang,
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
44
sehingga membentuk patung instalasi yang mengesankan dan menjadi ruang
media yang dinamis dalam museum, media elektronik ini sekaligus
dihubungkan dengan jaringan internet. Ruangan ini sekaligus merupakan
media untuk menampilkan pameran khusus yang berubah sepanjang tahun.
i.
War, Plague and Fire, tema menampilkan kisah tentang dampak Perang Sipil
Inggris dan dampak bencana serta wabah besar pada tahun 1665 serta
kebakaran besar pada tahun 1666 (The Museum of London, 2010).
Pameran khusus (Special Exhibition) “The Museum of London”,
menampilkan beragam tema yang berubah secara teratur setiap tahun. Tema
berikut adalah uraian tema yang ditampilkan “The Museum of London” saat ini.
Tema-tema yang ditampilkan di antaranya;
a.
Thomson and Craighead, adalah sebuah instalasi interaktif karya seniman
digital Thomson & Craighead yang ditempatkan di London Wall yang
memuat kolase kata-kata dan gambar tentang kota London. Instalasi interaktif
ini terinspirasi oleh jaringan global sebuah media baru untuk membuat seni
berbassi web seperti internet yang mampu mengubah cara pandang terhadap
dunia.
b.
LDN24 by The Light Surgeons, tema ini ditampilkan di The Sackler Hall,
yaitu pemutaran film yang menggambarkan kehidupan kota London. Filmfilm yang diputar adalah pemenang dari kompetisi film yang diselenggarakan
oleh museum untuk memberi kesempatan seniman multimedia paling
inovatif.
c.
The Singh Twins, tema ini menampilkan karya seniman kembar keturunan
India (Amrit dan Rabindra Singh). Karya yang ditampilkan adalah sebuah
lukisan dengan campuran sejarah dan kontemporer yang mengembangkan
citra dan tokoh-tokoh terkenal yang menyentuh diaspora India di daratan
Inggris.
d.
Copper and Silk: Prints by Keith Coventry, tema ini menampilkan karya
Keith Coventry seorang seniman di pusat seni rupa kontemporer di London.
Karya seniman ini fokus pada hasil cetakan pada bahan tembaga sutra. Salah
satu karya yang ditampilkan adalah sebuah sketsa abstrak yang berasal
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
45
sebuah peta yang ditemukan di perkebunan di kota London (The Museum of
London, 2010).
Bentuk lain dari pameran “The Museum of London” adalah proyek
pameran yang melibatkan warga kota. Salah satu tema yang ditampilkan adalah
“Brixton Riots”, yang menggambarkan sebuah peristiwa kerusuhan yang terjadi di
kota London pada April 1981. Pameran dirancang untuk menampilkan kesaksiankesaksian dalam bentuk audio-visual yang mengisahkan dan menggambarkan
peristiwa tersebut. Pada proyek pameran ini, penduduk kota London diberi
kesempatan untuk memberi kesaksian tentang peristiwa tersebut yang kemudian
direkam, hasil dari rekaman tersebut sekaligus ditampilkan sebagai koleksi
museum (The Museum of London, 2010).
Berdasarkan uraian tentang konsep pameran “The Museum of London”
tampak bahwa pameran yang ditampilkan pada pameran tetap dikhususkan pada
tema sejarah pertumbuhan kota baik aspek sosial, budaya maupun fisik.
Sementara pada pameran khusus, tema yang ditampilkan lebih kepada fungsi
fasilitator museum terhadap seni-seni kontemporer. Konsep lain adalah dengan
ditampilkannya sebuah pameran yang melibatkan warga kota khususnya pada isuisu yang akrab bagi warga kota. Dengan demikian, konsep pameran sebagaimana
yang dilakukan oleh “The Museum of London”, dapat dijadikan acuan konsep
karena berbagai hal, di antaranya:
a. Khusus pada konsep pameran tetap, museum menampilkan sejarah
pertumbuhan kota secara diakronik sehingga dapat menjelaskan proses
pertumbuhan kota berdasarkan aspek fisik dan sosial;
b. Melalui pameran khusus, museum mampu menampilkan konteks kontemporer
sebuah kota khususnya pada bidang seni;
c. Melalui proyek pameran komunitas, museum melakukan kerja sama dengan
melibatkan masyarakat.
d. Konsep pameran tersebut menjadikan museum sebagai mekanisme kultural
bagi pengembangan masyarakat.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
46
2.2 Konsep Tematik Pameran Museum Kota
Berikut ini adalah uraian tentang konsep tematik pameran museum kota,
uraian ini didasarkan pada pembahasan sebelumnya tentang konsep museum kota.
Pembahasan tentang pameran menjadi penting karena pameran adalah salah satu
produk museum dalam memberikan beragam pengalaman yang dapat memenuhi
suatu kebutuhan manusia akan pengetahuan dan rekreasi. Wujud produk museum
yang lain adalah seminar, tur, maupun program-program kegiatan lainnya.
Melalui produk inilah museum berupaya untuk mencapai tujuan pendiriannya,
sementara itu, tujuan pendirian sangat tergantung pada jenis serta visi dan misi
museum. Dengan demikian, dapat disebutkan bahwa pameran adalah salah satu
instrumen penting bagi museum, dan tema pameran yang ditampilkan merupakan
titik awal pengembangan produk-produk lainnya.
Dalam kaitannya dengan pameran, terdapat perbedaan pendekatan antara
new museum konsep yang berorientasi kepada educational exhibition dengan
konsep museum tradisional yang lebih berorientasi kepada objek dan unsur
estetika (Wanny Rahardjo dan Irmawati Johan, 2009: 106). Konsep museum baru
lebih terpusat pada pendekatan tematik yang akan dimunculkan dalam bentuk
“ingatan kolektif” masyarakat bagi keperluan
kontemporer (Hauenschild,
1988: 13). Hal inilah yang kemudian dijadikan sebagai pemahaman awal bagi
profesional yang bekerja di museum untuk menentukan apa yang pantas untuk
ditampilkan di museum. Oleh karena itu, pada tataran bagaimana pameran dapat
memengaruhi pengalaman pengunjung, dilakukan kajian museologi tentang tematema apa yang seharusnya ditampilkan oleh museum. Dengan demikian, makna
museum menurut pandangan museologi diukur dari manfaat intelektual dan
psikologis yang mampu disampaikan kepada masyarakat (Noerhadi Magetsari,
2009: 3).
Konsep museum baru pada akhirnya menjadi pedoman dalam pengelolaan
museum, dan konsep ini diterapkan dengan memerhatikan jenis dan bentuk
museum itu sendiri. Jika konsep museum baru hendak dibawa ke dalam konteks
museum kota, maka fungsi museum bagi warga kota masih harus terus
dikembangkan. Harapan masyarakat terhadap museum kota mampu menjadi
ruang yang mempertemukan sejarah dan identitas kota dengan kesadaran
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
47
warganya, tidak hanya tentang masa lalu tetapi juga identitas kekinian. Dalam
konteks ini, museum hendaknya menyimpan berbagai jejak masa lalu ihwal
sejarah perjalanan kota, bersama warga kota di dalamnya (Pikiran Rakyat, 2009).
Demikian, berdasarkan uraian sebelumnya tentang konsep museum kota
serta pentingnya pendekatan tematik bagi pameran museum, maka perlu
dirumuskan tentang unsur tema pameran museum kota. Unsur tema dimaksud di
antaranya terkait dengan; awal pertumbuhan kota, identitas masyarakat dan kota,
aspek budaya dan sosial perkotaan, dan struktur tata ruang kota.
2.2.1 Awal Pertumbuhan Kota
Tema yang terkait dengan sejarah terbentuknya kota adalah unsur penting
yang harus ditampilkan museum kota. Unsur ini dimaksudkan untuk memberi
pemahaman tentang bagaimana sebuah kota terbentuk serta informasi tentang
sejarah yang melatarinya. Setiap kota tentunya memiliki sejarah tersendiri yang
berbeda dengan sejarah kota yang lain. Unsur tema ini sekaligus menjadi sebuah
pengantar bagi pengunjung museum untuk memahami awal terbentuknya sebuah
kota.
Pemahaman tentang sejarah terbentuknya kota mampu membentuk
kesadaran sehingga persoalan kota dapat dipahami sebagai sebuah proses.
Kesadaran bahwa kota mempunyai semacam ciri khas akan semakin jelas ketika
memperoleh pemahaman tentang komparasi berbagai tipe kota serta persoalan
peradaban sebuah kota (Paulus Haryono, 2007: 41). Dalam konteks museum,
informasi tersebut dapat ditampilkan kepada pengunjung untuk kemudian
memperoleh pemahaman sejarah pertumbuhan dan perkembangan sebuah kota.
Pemahaman lain yang diharapkan dengan menampilkan unsur tema sejarah
terbentuknya kota dapat memberi kesadaran kepada masyarakat pentingnya
pelestarian warisan budaya dari sebuah kota.
2.2.2 Identitas Masyarakat Kota
Pemahamana tentang pengertian identitas dikemukakan oleh Alo Liliweri
(2007), dengan mengutip Webster New World Dictionary menyebutkan bahwa
kata identitas berasal dari kata Identity, yang berarti (1) kondisi atau kenyataan
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
48
tentang sesuatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain; (2) kondisi
atau fakta tentang sesuatu yang sama di antara dua orang atau dua benda; (3)
kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama di antara dua orang
atau dua kelompok atau benda; (4) pada tataran teknis. Dengan demikian,
pengertian ini hanya sekedar menunjukkan tentang suatu kebiasaan untuk
memahami identitas dengan kata “identik” (Liliweri, 2002: 69). Selanjutnya,
disebutkan bahwa pengertian identitas pada tataran hubungan antarmanusia akan
memberikan pemahaman tentang sesuatu yang lebih konseptual. Oleh karena itu,
pada tataran ini, identitas harus dipahami sebagai cara mengidentifikasi, atau
merinci sesuatu yang dilihat, didengar, diketahui, atau yang digambarkan,
termasuk mengidentifikasi sebuah spesimen biologis, bahkan mengidentifikasi
pikiran seseorang dengan madzhab yang mempengaruhi, merinci aspek-aspek
psikologis (Liliweri, 2002: 70).
Demikianlah, uraian di atas memberikan pemahaman bahwa konsep
identitas berada pada dua tataran yaitu pada tataran teknis yang sering dipahami
sebagai sesuatu yang mirip dengan menggunakan kata identik. Sementara itu,
tataran
yang
lebih
konseptual
bahwa
identitas
adalah
upaya
untuk
mengidentifikasi sesuatu. Dengan demikian, kaitan dengan identitas kota, konsep
identitas memberikan dua pemahaman yaitu; pertama, apa yang harus
diidentikkan dengan kota, dan kedua, bagaimana mengidentifikasi kota.
Selanjutnya, dapat dijelaskan bahwa identitas kota pada pemahaman
pertama dapat berupa wujud fisik dan sesuatu yang abstrak pada pemahaman yang
kedua. Manneke Budiman (2009), menjelaskan bahwa bangunan, desain dan
infrastruktur dapat dikaitkan dengan konstruksi identitas dan memori kolektif
(Abidin Kusno, 2009: xx). Dengan demikian, wujud fisik identitas kota dapat
dilihat pada bangunan, desain dan infrastruktur, sementara itu, hal yang abstrak
adalah makna dari wujud fisik tersebut. Demikianlah, identitas kota yang
dimaksud dalam hal ini adalah apa dan bagaimana kota dapat diidentifikasi oleh
pihak luar.
Kaitannya dengan museum kota, ruang lingkup selanjutnya adalah warga
kota itu sendiri, dengan demikian, identitas warga kota harus ikut ditampilkan.
Pemahaman ini berlandaskan pada masyarakat kota yang heterogen, multietnis
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
49
dan multikultur. Dalam hal ini, identitas warga kota yang dimaksud adalah
identitas berdasarkan etnis, agama, dan budaya.
Berdasarkan uraian di atas, aspek penting yang menjadi perhatian terhadap
unsur tema ini adalah:
a. Kaitan dengan identitas pada tataran teknis
bahwa
kota sering “di-
identik-kan” dengan ruang (bangunan maupun landmark). Sementara itu, pada
tataran kontekstual identitas kota dapat dilihat pada wujud bangunan karena
dibalik wujud fisiknya terdapat sebuah konsep atau makna simbolis yang
melatari pendirian bangunan tersebut.
b. Aspek lain adalah identitas masyarakat kota. Aspek ini menjadi penting ketika
peran museum kota dihadapkan pada kenyataan masyarakat kota yang
heterogen. Oleh karena itu, identitas yang terkait dengan budaya, etnis,
maupun keagamaan adalah unsur tema yang penting untuk ditampilkan oleh
museum kota.
2.2.3 Aspek Budaya dan Sosial Perkotaan
Konsep kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990), berarti keseluruhan
gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta
keseluruhan dari hasil budi dan karyanya. Sementara itu, kata “kebudayaan”
berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang
berarti “budi” atau “akal”, sehingga kebudayaan diartikan “hal-hal yang
bersangkutan dengan budi dan akal”. Dalam bahasa Inggris kebudayaan berasal
dari kata Latin Colere, yang berarti “mengolah, mengerjakan”, sehingga
berkembang arti culture, sebagai segala daya dan usaha manusia merubah alam.
Lebih lanjut, disebutkan bahwa kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu: pertama,
sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan
dan sebagainya; kedua, sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari
manusia dalam masyarakat; dan ketiga, sebagai benda-benda hasil karya manusia
(Koentjaraningrat, 1990: 9 dan 5). Dengan demikian, dapat disebut bahwa
kebudayaan adalah sistem dimana wujud ide berpengaruh pada wujud sosial, dan
kedua wujud tersebut berpengaruh pada wujud fisik. Kaitan dengan budaya kota
maka dapat disimpulkan bahwa budaya kota adalah keseluruhan sistem dimana
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
50
wujud ide berpengaruh pada aktivitas sosial warga kota dan kemudian
memengaruhi wujud fisik kota. Demikian halnya wujud fisik dapat memengaruhi
wujud perilaku warga kota.
Demikian, maka kota menyerupai suatu sistem, saling berkaitan dan
berpengaruh. Misalnya, masyarakat kota cenderung memiliki lebih banyak
kebutuhan sehingga di kota akan lebih banyak (jenis) pekerjaan sehingga terdapat
ragam profesi, pusat perbelanjaan, dan fasilitas kota untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat (Paulus Hariyono, 2007: 16). Sistem inilah kemudian yang
membentuk budaya kota.
Budaya kota seringpula dikaitkan dengan peradaban dimana pembangunan
fisik diikuti dengan pembangunan mental warga kota. Peradaban itu sendiri
menjadi ciri kota dengan adanya perkembangan sosio-kultural, teknologi dan
modernisasi. Dalam pengertian yang berbeda, budaya kota dikaitkan dengan
istilah urbanisasi yang memiliki pengertian pokok adalah apakah warganya
mampu memiliki ciri-ciri sebagai warga kota, menyesuaikan dengan kebudayaan
kota dengan pola-pola tertentu dalam memanfaatkan suatu ruang, sarana dan
prasarana kota (Paulus Hariyono, 2007: 89-93).
Dalam hal ini, museum kota diharapkan mampu membaca budaya kota
sebagai teks yang dapat di-narasi-kan dan kemudian ditampilkan. Kajian cultural
studies dalam hal ini menyebutkan bahwa:
konsep teks bukan hanya mengacu pada kata tertulis, meski ini adalah
salah satu dari kata itu, melainkan semua praktik yang mengacu pada
makna (to signify). Termasuk pembentukan makna melalui berbagai citra,
bunyi, objek, dan aktivitas. Karena citra, bunyi, objek dan praktik
merupakan sistem tanda, yang mengacu pada suatu makna dengan
mekanisme yang sama dengan bahasa, maka semua itu dapat disebut
dengan teks kultural (Barker, 2008: 12).
Penjelasan lebih lanjut bahwa hal yang sangat penting adalah makna
diproduksi dalam interaksi antara teks dan pembacanya sehingga momen
konsumsi juga merupakan momen produksi yang penuh makna (Barker,
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
51
2008: 12). Dalam konteks museologi dapat dijelaskan sebagai proses interpretasi
atas interpretasi yang disampaikan museum.
Aspek lain pada unsur tema ini adalah sosial perkotaan. Istilah sosial
perkotaan dikaitkan dengan permasalahan sosial yang timbul akibat hubungan
sosial antar warga kota. Oleh karena itu, muncul pula istilah isu-isu sosial
perkotaan yang dikaitkan dengan kemiskinan, kriminalitas dan kekerasan. Aspek
ini menjadi penting ketika museum kota dihadapkan pada peran sosial bahwa
museum kota diharapkan mampu melakukan advokasi dan memediasi konflik
sosial maupun konflik budaya.
2.2.4 Struktur Tata Ruang Kota
Sebagaimana telah disebutkan bahwa kajian terhadap kota membahas dua
aspek penting yaitu; aspek sosial-budaya dan aspek fisik. Istilah struktur tata
ruang kota sendiri mengandung aspek sosial (mis: dengan adanya istilah ruang
sosial) dan aspek fisik (yang nampak pada wujud fisik kota, mis: bangunan,
jaringan jalan, taman, dll). Pemahaman lain terhadap struktur tata ruang kota
adalah pemanfaatan ruang yang terbentuk akibat perubahan fisik yang terjadi pada
perkembangan kota. Dalam hal ini, unsur tema struktur tata ruang kota lebih
dimaksudkan pada aspek fisik perkembangan kota.
Wujud fisik kota pada dasarnya terbentuk dari hasil interaksi manusia
terhadap lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Demikian halnya, bahwa
pembangunan fisik kota dimaksudkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan
warganya. Aspek lain bahwa perubahan-perubahan fisik kota memberikan
dampak signifikan terhadap perkembangan kota. Konteks ini memberikan
pemahaman bahwa kota adalah “artefak peradaban terbesar”, hal ini memberi
kesempatan kepada museum kota bahkan tanggung jawab untuk terlibat dan
membantu masyarakat memahami serta secara aktif merubah bentuk lingkungan
perkotaan (Grewcock, 2006: 32-33). Dengan demikian, unsur tema tentang
struktur tata ruang kota penting ditampilkan ketika museum kota dihadapkan pada
perannya dalam perencanaan dan pengembangan kota.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
52
2.3
Konsep Penyajian Pameran
Museologi sebagai payung teori dalam pekerjaan permuseuman,
membawa konsekuensi terhadap pelaksanaan pekerjaan permuseuman, di
antaranya; terhadap ahli museologi, terhadap bentuk museum, dan terhadap
pameran (Noerhadi Magetsari, 2009: 7). Oleh karena fokus penelitian mengkaji
tentang pameran museum maka uraian berikut ini hanya membahas tentang
konsekuensi penerapan museologi terhadap pameran.
Pameran menurut Gary Edson dan David Dean (1996), dapat disusun
berdasarkan tujuan dan maksudnya, sekaligus merupakan wujud penafsiran
dengan presentasi yang lengkap, tidak hanya objek tetapi juga konteks,
maksud/arti, sejarah-sejarah, arti penting dan lain-lain (Edson dan Dean, 1996:
149). Dalam wacana cultural studies representasi dan makna kultural memiliki
materialitas tertentu yang diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam
konteks sosial tertentu pula (Barker, 2008: 9). Dengan demikian, pameran tidak
sekadar menampilkan benda mati yang tanpa makna, akan tetapi harus
menampilkan koleksi yang sebelumnya telah dilakukan proses pemaknaan koleksi
yang disebut dengan proses musealisasi. Dalam konteks ini, Umberto Eco dalam
Travels in Hyperreality menyebut bahwa pameran selain sebagai acara
pengumpulan barang dan koleksi objek-objek simbolis, juga merupakan
instrumen pendidikan, termasuk memperjelas hal-hal yang ilmiah (Mikke
Susanto, 2004:8). Terdapat dua tipe atau gaya pendekatan utama berdasarkan
karya dari suatu pameran, yaitu:
a. Tipe/gaya dengan pendekatan yang estetik merupakan pameran yang
berkonsentrasi pada pandangan bahwa objek memiliki nilai yang intrinsik
yang dengan sendirinya berbicara untuk dirinya sendiri.
b. Tipe/gaya dengan pendekatan rekonstruktif, adalah suatu pendekatan yang
menghadirkan objek sebagai suatu yang memiliki arti secara etnografi dan
berusaha untuk menginformasikan budaya latarnya (Mikke Susanto, 2004:
45-46).
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
53
Sementara itu, pameran didefinisikan oleh Verhaar dan Meeter,
sebagaimana yang disebutkan dalam bukunya Project Model Exhibition,
mengatakan bahwa:
Sebuah pameran adalah alat komunikasi yang mengarah kepada kelompok
publik yang lebih besar, dengan metode yang khusus bersifat visual dan
dipajang dalam ruangan, dapat menyampaikan berbagai informasi, gagasan,
dan perasaan yang berhubungan dengan kesaksian materi yang terdapat pada
manusia dan lingkungannya (Verhaar dan Meeter, 1989: 32).
Dijelaskan lebih lanjut oleh Verhaar dan Meeter, bahwa kata komunikasi
diartikan sebagai pengiriman informasi dan gagasan dengan tekad sadar untuk
menyebabkan terjadinya perubahan tertentu sesuai dengan keinginan si pengirim,
dalam diri si penerima, khususnya dalam pengetahuannya, pendapatnya, sikap
dan/atau tingkah lakunya (Verhaar dan Meeter, 1982: 32). Lebih lanjut,
dikemukakan bahwa tipe pameran dapat digambarkan dalam bentuk skala
perbandingan objek dan informasi, sebagaimana tampak pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Skala Perbandingan Objek dan Informasi
Sumber: Verhaar dan Meeter, 1989.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
54
Berdasarkan skala perbandingan ini hubungan antara objek dan informasi
dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu:
a. Pameran yang terarah pada objek, yang menjadi pusat ialah objeknya. Jenis ini
khususnya didapatkan dalam museum benda seni dan di beberapa museum
yang lebih tradisional di bidang sejarah dan pengetahuan.
b. Pameran yang terarah pada konsep, yang menjadi pusat ialah “ceritanya”,
yaitu penyampaian informasi. Untuk penyampaian “cerita” itu lewat objek,
dapat menggunakan sarana bantu seperti teks, media audio-visual, teori teknis
mengenai komposisi, dan sebagainya (Verhaar dan Meeter, 1989: 34).
Lebih lanjut, Verhaar dan Meeter, menjelaskan pada skala tersebut bahwa
perbedaan di antara keduanya tidak besar, yang terpenting adalah bahwa pilihan
ditentukan secara sadar, tergantung dari apa yang ingin dicapai pada masyarakat
(Verhaar dan Meeter, 1989: 34-35). Meski demikian, dalam perkembangan yang
lebih akhir sebagaimana konsep museum baru, bentuk penyajian informasi lebih
dikedepankan sebagai upaya peningkatan pelayanan yaitu memberi pengetahuan
kepada publik.
Selain tipe dan jenis pameran sebagaimana dijelaskan di atas, Noerhadi
Magetsari (2009), mengemukakan bahwa terdapat tiga pilihan sudut pandang
dalam penerapan museologi dalam penyajian pameran, yaitu:
a. Positivistik. Sudut pandang ini memberi alternatif kepada ahli museologi
untuk menyajikan message-nya dengan metode dedaktik. Dalam hal ini,
pengunjung diatur untuk bergerak mengikuti alur “cerita”. Alur ini disajikan
secara urut sehingga memungkinkan pengunjung untuk memperoleh sebuah
pengetahuan yang menyeluruh tentang sajian tersebut. Sudut pandang ini
memberikan pengetahuan kepada pengunjung melalui berbagai sajian yang
disampaikan secara sistematis.
b. Interpretatif. Sudut pandang ini mengundang kepada pengunjung untuk
melakukan sendiri interaksi dengan berbagai sajian yang ditampilkan. Metode
interpretasi, di luar masalah label, merangsang pengunjung untuk berpikir
tentang makna, simbolisme, dan informasi faktual tentang apa yang
dipamerkan.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
55
c. Emansipatoris. Menurut sudut pandang ini pengunjung dibentuk persepsinya
melalui sajian yang ditampilkan, khususnya yang berkaitan dengan fenomena
sosial yang berkenaan dengan ketidakadilan atau ketidaksetaraan. Ditinjau dari
kerangka berpikir ini, maka yang disajikan bukan lagi objek, melainkan
maknanya yang ditampilkan secara logis sehingga makna itu pada gilirannya
dapat ditangkap dan dimengerti pengunjung. Dengan demikian, maka pameran
museum di satu pihak menantang dan merangsang pengunjung dengan cara
yang menggairahkan tetapi juga menyenangkan, sedangkan di lain pihak juga
sekaligus membantu membentuk kesadaran pengunjung (Noerhadi Magetsari,
2009: 12-13).
Demikian, akhir dari pembahasan pada bab ini memberi pemahaman baru
tentang konsep museum kota, yaitu: sejarah perkembangan konsep museum kota,
pengertian dan kerangka kerja museum kota, serta pandangan tentang peran
museum kota. Berdasarkan pada uraian tentang konsep museum kota, maka
diperoleh sebuah landasan konsep tentang pameran museum kota. Landasan
konsep tersebut, di antaranya: pameran museum kota hadir untuk menampilkan
bukti-bukti manusia dan lingkungan dalam ruang lingkup kota; pameran museum
kota menampilkan perubahan kota berikut manusia yang ada di dalamnya; titik
perhatian pameran museum kota adalah perubahan aspek fisik dan sosial
perkotaan; agar dapat menjelaskan proses perubahan kota, museum kota harus
melakukan interpretasi terhadap berbagai objek yang dapat dipamerkan yaitu
artefak, bukti-bukti lingkungan, catatan tentang tempat dan aktivitas, serta
testimoni. Selanjutnya, berdasarkan konsep pameran pada salah satu museum kota
yaitu “Museum of London”, diperoleh pemahaman bahwa pameran museum kota
harus menjelaskan perubahan kota secara diakronik, museum kota menampilkan
konteks kontemporer melalui pameran khusus, serta museum bekerja sama
dengan masyarakat melalui pameran komunitas. Berdasarkan landasan konsep
tersebut, selanjutnya diperoleh pemahaman lain tentang unsur-unsur tema yang
dapat ditampilkan oleh museum kota, yaitu: awal pertumbuhan kota, identitas
masyarakat kota, aspek budaya dan sosial perkotaan, serta struktur tata ruang kota.
Pemahaman lain, bahwa konsep pameran berorientasi pada educational
exhibition, yaitu pameran yang informatif sehingga diperoleh manfaat intelektual
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
56
dan psikologis. Pemahaman terhadap konsep pameran informatif, membawa
konsekuensi pada penyajian pameran yaitu pameran adalah wujud penafsiran
dengan presentasi kontekstual yaitu maksud, sejarah, arti penting dan lain-lain.
Oleh karena itu, berkaitan dengan penelitian ini maka diperlukan sebuah evaluasi
terhadap Museum Kota Makassar sebagai studi kasus pada penelitian ini.
Universitas Indonesia
Konstruksi baru..., Syahruddin Mansyur, FIB UI, 2010.
Download