BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Pemikiran

advertisement
10
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
2.2
Tinjaun Umum Perlindungan Hukum
2.2.1 Pengertian Perlindungan Hukum
Kata Perlindungan hukum menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia
berarti tempat berlindung atau merupakan perbuatan (hal) melindungi,
misalnya memberikan perlindungan kepada orang yang lemah.15
15
W.J.S Poerbadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan IX. (Jakarta: Balai Pustaka, 1986),
hal.600.
11
Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak
asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan
kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang
diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah
berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum
untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari
gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.16
Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat,
serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek
hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai
kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari
hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan
perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan
tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.17
Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya
untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh
penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan
ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk
menikmati martabatnya sebagai manusia.18
Menurut Philipus M. Hadjon, bahwa sarana perlindungan Hukum ada dua
macam, yaitu :
1. Sarana Perlindungan Hukum Preventif
Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan
kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu
keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya sengketa. Perlindungan hukum preventif sangat besar
artinya bagi tindak pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak
karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah
16
Satjipto Rahardjo. Ilmu Hukum. (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1991), hlm. 74
Philipus M. Hadjon. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia. (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1987),
hlm. 25
18
Setiono. Rule of Law (Supremasi Hukum). Surakarta. Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret. 2004. hlm. 3
17
12
terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang
didasarkan pada diskresi. Di indonesia belum ada pengaturan khusus
mengenai perlindungan hukum preventif.
2. Sarana Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan
sengketa. Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan
Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum
ini. Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan
bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hakhak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep
tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia
diarahkan
kepada
pembatasan-pembatasan
dan
peletakan
kewajiban
masyarakat dan pemerintah. Prinsip kedua yang mendasari perlindungan
hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip negara hukum. Dikaitkan
dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia,
pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat
tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.19
Pengertian perlindungan menurut ketentuan Pasal 1 butir 6 UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
menentukan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan
pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau
Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang ini.
Keadilan dibentuk oleh pemikiran yang benar, dilakukan secara adil
dan jujur serta bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Rasa
keadilan dan hukum harus ditegakkan berdasarkan Hukum Positif untuk
menegakkan keadilan dalam hukum sesuai dengan realitas masyarakat yang
menghendaki tercapainya masyarakat yang aman dan damai. Keadilan harus
dibangun sesuai dengan cita hukum (Rechtidee) dalam negara hukum
(Rechtsstaat), bukan negara kekuasaan (Machtsstaat). Hukum berfungsi
19
Philipus M. Hadjon. Op Cit. hlm. 30
13
sebagai perlindungan kepentingan manusia, penegakkan hukum harus
memperhatikan 4 unsur :
a. Kepastian hukum (Rechtssicherkeit)
b. Kemanfaat hukum (Zeweckmassigkeit)
c. Keadilan hukum (Gerechtigkeit)
d. Jaminan (Doelmatigkeit).20
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa
perlindungan hukum adalah segala bentuk upaya pengayoman terhadap
harkat dan martabat manusia serta pengakuan terhadahak asasi manusia di
bidang hukum. Prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia bersumber
pada Pancasila dan konsep Negara Hukum, kedua sumber tersebut
mengutamakan pengakuan serta penghormatan terhadap harkat dan martabat
manusia. Sarana perlindungan hukum ada dua bentuk, yaitu sarana
perlindungan hukum preventif dan represif.
2.3
Pengaturan Mengenai Perjanjian
2.3.1 Pengertian Perjanjian
Perjanjian
dalam
Kitab
Undang-Undang
Hukum
Perdata
(KUHPerdata) diatur dalam buku ke III tentang perikatan. Kata “Perikatan”
mempunyai arti yang lebih luas dari kata “Perjanjian”. Sebab dalam buku ke
III itu, diatur juga perihal hubungan hukum yang sama sekali tidak bersumber
pada persetujuan atau perjanjian, yaitu perihal perikatan yang timbul akibat
perbuatan yang melawan hukum dan perihal perikatan yang timbul dari
pengurusan kepentingan orang lain yang tidak berdasarkan persetujuan, akan
tetapi sebagian besar dari buku ke III ditujukan pada perikatan-perikatan yang
timbul dari persetujuan atau perjanjian.21
Dalam pasal 1313 KUHPerdata disebutkan bahwa perjanjian adalah
suatu perbuatan yang mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
20
21
Ishaq. Dasar-dasar Ilmu Hukum. (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 43
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata. (Jakarta: PT Intermasa, 2003), hal.122
14
terhadap satu orang lain atau lebih.22 Sedangkan menurut Subekti, perjanjian
adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau
dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal, dari
peristiwa itu timbul suatu hubungan antara dua orang tersebut yang
dinamakan perikatan.23
2.3.2 Syarat Sahnya Perjanjian
Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan oleh undang-undang, sehingga mempunyai kekuatan
hukum yang mengikat. Menurut pasal 1320 KUHPerdata, suatu perjanjian
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian;
3. Mengenai suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.
Dua syarat pertama dinamakan syarat-syarat subyektif, karena
mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian,
sedangkan dua syarat terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena
mengenai perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang
dilakukan itu. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu mengenai syarat-syarat
tersebut :
1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
Kesepakatan antara para pihak yang membuat perjanjian
berarti terjadinya pertemuan atau kesesuaian kehendak yang terjadi
diantara para pihak.24 Kedua subyek yang mengadakan perjanjian itu
harus bersepakat atau setuju mengenai hal-hal yang pokok dari
perjanjian yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang
satu dikehendaki pula oleh pihak lain. Mereka menghendaki sesuatu
yang sama secara timbal balik, misalnya dalam perjanjian jual beli, si
penjual menginginkan
sejumlah
uang sedangkan
si pembeli
menginginkan suatu barang dari si penjual.
22
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek), diindonesiakan oleh R.Subekti.
(Jakarta: PT Praditya Paramita. 2004), Pasal 1313.
23
Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: PT Intermasa, 2005), hal.1.
24
Akhmad Budi Cahyono dan Surini Akhlan Sjarif, Mengenal Hukum Perdata, (Jakarta: CV Gitama
Jaya, 2008), hal.129.
15
Kesepakatan yang dimaksud tersebut harus diberikan secara
bebas, artinya bebas dari paksaan, kekhilafan, dan penipuan
sebagaimana tercantum dalam pasal 1321 KUHPerdata. Paksaan yang
dimaksud baik paksaan rohani atau paksaan jiwa dan juga paksaan
badan. Bentuk paksaan jiwa misalnya salah satu pihak diancam akan
dibongkar rahasia pribadinya makan dipaksa menyetujui suatu
perjanjian. Sedangkan bentuk paksaan fisik misalnya dengan
melakukan penganiayaan guna mendapat persetujuan pihak yang
dianiaya atau dilukai.
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
Untuk membuat suatu perjanjian, parra pihak harus cakap
menurut hukum. Pada asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau
akilbalig dan sehat pikirannya, adalah cakap menurut hukum. Pasal
1330 KUHPerdata telah menentukan siapa saja para pihak yang tidak
cakap, yaitu :
1. Orang-orang yang belum dewasa;
2. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;
3. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh
undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian
tertentu.
Orang
yang
belum
dewasa
dianggap
tidak
mampu
bertanggung jawab atas perjanjian yang dilakukannya. Sementara itu
orang yang di taruh dibawah pengampuan menurut hukum tidak dapat
berbuat bebas atas harta kekayaannya. Ia berada dibawah pengawasan
pengampuan.
3) Suatu Hal Tertentu
Suatu hal tertentu adalah obyek perjanjian atau prestasi yang
diperjanjikan harus jelas, dapat dihitung, dan dapat ditentukan
jenisnya. Dalam perjanjian jual beli misalnya, hal tertentu adalah
harga dan barang, jadi dalam perjanjian jual beli tidak di mungkinkan
untuk membuat perjanjian tanpa di tentukan harganya dan jenis
barang yang di jual, meskipun barang yang dijual tidak harus telah
16
ada pada saat perjanjian disepakati. Dengan demikian dimungkinkan
barang yang diperjanjikan baru ada di kemudian hari sesuai dengan
yang diperjanjikan.25
4) Suatu Sebab yang Halal
Syarat terakhir dalam syarat sahnya perjanjian adalah sebab
yang halal. Dengan sebab ini yang dimaksud adalah perjanjian. Sebab
yang halal maksudnya adalah isi suatu perjanjian tidak boleh
bertentangan
dengan
undang-undang,
ketertiban
umum,
dan
kesusilaan. Pengertian tidak boleh bertentangan dengan undangundang disini adalah undang-undang yang bersifat melindungi
kepentingan umum.26
2.3.3 Azaz-Azaz Perjanjian
Di dalam suatu hukum kontrak terdapat 5 (lima) asas yang dikenal
menurut ilmu hukum perdata. Kelima asas itu antara lain adalah: asas
kebebasan
berkontrak
(freedom
of
contract),
asas
konsensualisme
(concsensualism), asas kepastian hukum (pacta sunt servanda), asas itikad
baik (good faith) dan asas kepribadian (personality).
1) Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract)
Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah
adanya paham individualisme yang secara embrional lahir dalam
zaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan
berkembang pesat dalam zaman renaissance melalui antara lain
ajaran-ajaran Hugo de Grecht, Thomas Hobbes, John Locke dan J.J.
Rosseau. Menurut paham individualisme, setiap orang bebas untuk
memperoleh apa saja yang dikehendakinya.
Dengan demikian yang harus dipahami dan perlu menjadi
perhatian, bahwa atas kebebasan berkontrak sebagaimana yang
tertuang dalam Pasal 1338 ayat (1) BW tersebut hendaknya
25
Ibid., hal 132.
Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, cet. 2, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1996), hal. 99.
26
17
dibaca/diinterpretasikan dalam kerangka pikir yang menempatkan
posisi para pihak dalam keadaan seimbang – proporsional.27
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan
Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, yang berbunyi: “Semua perjanjian
yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya.”
Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan
kepada para pihak untuk:
a. Membuat atau tidak membuat perjanjian;
b. Mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
c. Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya;
d. Menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
2) Asas Konsensualisme (Concensualism)
Asas konsensualisme Pasal 1338 (1) BW yang mengatakan
bahwa : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah (garis bahwa oleh
penulis)
berlaku
sebagai
undang-undang
bagi
mereka
yang
membuatnya.” Istilah “secara sah” bermakna bahwa dalam pembuatan
perjanjian yang sah (menurut hukum) adalah mengikat (vide Pasal
1320 BW).28
Asas konsensualisme mempunyai hubungan yang erat dengan
asas kebebasan berkontrak dan asas kekuatan mengikat yang terdapat
di dalam Pasal 1338 (1) BW.29
3) Asas Kepastian Hukum (Pacta Sunt Servanda)
Asas pacta sunt servanda terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1)
KUHPerdata. Pada dasarnya janji itu mengikat (pacta sunt servada)
sehingga perlu diberikan kekuatan untuk berlakunya. Unutk
memberikan kekuatan daya berlaku atau daya mengikatnya kontrak,
makan kontrak yang dibuat secara sah dan mengikat serta
dikualifikasikan mempunyai kekuatan mengikat setara dengan daya
berlaku dan mengikatnya undang-undang.30
27
Prof. Dr. Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial,
(Jakarta: Prenadamedia Group, 2010), hal 120.
28
Ibid.
29
Ibid., hal 121.
30
Ibid., hal 124.
18
4) Asas Itikad Baik (Good Faith)
Sebagaimana diketahui bahwa dalam Pasal 1338 (1) BW
tersimpula asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme serat daya
mengikatnya perjanjian. Terkait dengan daya mengikatnya perjanjian
berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya
(pacta sunt servanda), pada situasi tertentu daya berlakunya
(strekking) dibatasi, antara lain dengan itikad baik.31
Asas itikad baik juga tercantum dalam Pasal 1338 ayat (3)
KUHPer yang berbunyi: “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad
baik.”
5) Asas Kepribadian (Personality)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa
seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya
untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam
Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPerdata. Pasal 1315 KUH Perdata
menegaskan: “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan
perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti ketentuan
ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang
tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri.
Pasal 1340 KUHPerdata berbunyi: “Perjanjian hanya berlaku
antara pihak yang membuatnya.” Hal ini mengandung maksud bahwa
perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka
yang membuatnya. Namun demikian, ketentuan itu terdapat
pengecualiannya sebagaimana dalam Pasal 1317 KUH Perdata yang
menyatakan: “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan
pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau
suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat
semacam itu.”
Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUHPerdata, tidak hanya
mengatur perjanjian untuk diri sendiri, melainkan juga untuk
kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh
hak daripadanya.
31
Ibid., hal 134.
19
Jika dibandingkan kedua pasal itu maka Pasal 1317
KUHPerdata mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga,
sedangkan dalam Pasal 1318 KUHPerdata untuk kepentingan dirinya
sendiri, ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak dari
yang membuatnya. Dengan demikian, Pasal 1317 KUHPerdata
mengatur
tentang
pengecualiannya,
sedangkan
Pasal
1318
KUHPerdata memiliki ruang lingkup yang luas.
2.3.4 Hubungan Antara Perikatan dan Perjanjian
Mengenai definisi perjanjian dapat dilihat ketentuan pasal 1313 KUH
Perdata yang menyebutkan “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan
mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau
lebih.”32
Sedangkan Prof. Subekti, S.H. memberikan pengertian dari suatu
perjanjian sebagai berikut : “ Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana
seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling
berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”33
Dari peristiwa ini timbul suatu hubungan antara dua orang tersebut
yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara
dua orang yang membuatnya. Dengan demikian, hubungan antara perikatan
dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Dengan
kata lain perjanjian adalah salah satu sumber dari perikatan.
2.4
Hukum Perikatan Pada Umumnya
2.4.1 Pengertian Perikatan
Buku ketiga KUH Perdata tidak memberikan suatu definisi dari hukum
perikatan. Menurut ilmu pengetahuan hukum, dianut definisi bahwa perikatan
adalah hubungan hukum yang terjadi di antara dua orang atau lebih, yang
terletak di dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak
atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.34
32
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, pasal 1313.
R.Subekti, Hukum Perjanjian, ( Jakarta: PT Intermasa, 2004 ), hal.1.
34
Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, S.H, Hukum Perikatan dalam KUH Perdata. Buku ketiga,
(Jakarta: Citra Aditya Bakti, 2015). hal.9.
33
20
Pengertian perikatan itu sendiri oleh para ahli hukum diartikan
bermacam-macam. R.Subekti mengatakan bahwa karena undang-undang
tidak memberikan sutu definisi, arti perikatan harus disimpulkan dari
keterangan undang-undang yang mengatur mengenai perikatan. Istilah
perikatan diartikannya sebagai berikut :
“Suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak,
berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak
yang lain dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.”35
2.4.2 Sumber Perikatan
Doktrin
pada
umumnya
sependapat
bahwa
sumber
perikatan
sebagaimana yang diatur oleh Pasal 1233 KUH Perdata kurang lengkap. Di
luar dari apa yang tercantum dalam Pasal 1233 KUH Perdata itu, masih
banyak lagi sumber perikatan, yaitu ilmu pengetahuan Hukum Perdata,
hukum yang tidak tertulis, dan keputusan hakim (Yurisprudensi).36
Perikatan yang bersumber dari undang-undang semata-mata adalah
perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, ditetapkan
melahirkan suatu hubungan hukum (perikatan) di antara pihak-pihak yang
bersangkutan, terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut.37
Perikatan yang lahir dari suatu perbuatan hukum yang sah, yang
sebagai akibatnya undang-undang menetapkan hak dan kewajiban para pihak,
tanpa kesepakatan para pihak tersebut, misalnya mengurus kepentingan orang
lain secara sukarela (Pasal 1534 KUH Perdata) dan dari perbuatan melawan
hukum (Pasal 1365 KUH Perdata).38
2.4.3 Unsur-Unsur Hukum Perikatan
Unsur-unsur hukum perikatan terdiri dari empat komponen39, yaitu :
1. Subjek hukum
a. Kreditur
35
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: PT Intermasa, 2004), hal 1.
Ibid.,hal 10.
37
Ibid.
38
Ibid.
39
Ibid., hal 12.
36
21
Di dalam perikatan terdapat pihak yang aktif yang
dinamakan
debitur.
Lazimnya
kreditur
ditentukan
secara
individual.
Pihak yang berhak atas prestasi, pihak yang aktif, adalah
kreditur atau si ber piutang dan pihak yang wajib memenuhi
prestasi, pihak yang pasif, adalah debitur atau si berutang. Mereka
ini yang disebut subjek perikatan.40
b. Debitur
Seorang debitur harus selamanya diketahui karena
seseorang tentu tidak dapat menagih dari seseorang yang tidak
dikenal. Debitur bersifat tertentu dan individual karena mengenai
pribadi debitur. Berdasarkan kepentingan itu, maka untuk
pengalihan utang diisyaratkan adanya persetujuan dari kreditur.41
2. Hubungan Hukum
Hubungan hukum terjadi antara dua lalu lintas masyarakat di
antara dua orang atau lebih. Hukum meletakan hak pada satu pihak
dan meletakan kewajiban pada pihak lainnya.42
3. Kekayaan
Yang dimaksudkan dengan kriteria kekayaan itu adalah
ukuran-ukuran yang dipergunakan terhadap sesuatu hubungan hukum
sehingga hubungan hukum itu dapat disebutkan suatu perikatan.43
4. Objek hukum perikatan
Yang merupakan objek hukum perikatan adalah sesuatu yang
merupakan hak kreditur dan kewajiban debitur. Objek perikatan ini
dinamakan prestasi. Prestasi diatur dalam Pasal 1234 KUH Perdata.44
2.4.4 Yang Dapat Membuat Hapusnya Perikatan
Pasal 1381 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyebutkan
sepuluh cara hapusnya suatu perikatan.45 Cara-cara tersebut :
1. Pembayaran
40
Ibid.
Ibid., hal 15.
42
Ibid., hal 16.
43
Ibid., hal 17.
44
Ibid.
45
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
41
22
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan penitipan
3. Pembaharuan hutang
4. Perjumpaan hutang atau kompensasi
5. Percampuran hutang
6. Pembebasan Hutang
7. Musnahnya barang yang terhutang
8. Kebatalan/pembatalan
9. Berlakunya suatu syarat batal dan
10. Lewatnya waktu
Cara-cara hapusnya perikatan itu akan dibahas lebih lengkapnya
seperti dibawah ini:
1. Pembayaran
Menurut pasal 1322 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
bahwa suatu perikatan dapat dipenuhi juga oleh seorang pihak ketiga
yang tidak mempunyai kepentingan asal saja orang pihak ketiga
bertindak atas nama dan untuk melunasi hutangnya si berhutang, atau
jika ia bertindak atas namanya sendiri asal ia tidak menggantikan hakhak si berpiutang.
Pembayaran harus dilakukan kepada si berpiutang (kreditur)
atau kepada seorang yang dikuasakan olehnya atau juag kepada
seorang yang dikuasakan hakim atau oleh Undang-undang untuk
menerima pembayaran-pembayaran bagi si berpiutang. Pembayaran
yang dilakukan kepada seorang yang tidak berkuasa menerima bagi si
berpiutang adalah sah, sekedar si berpiutang telah menyetujuinya atau
nyata-nyata telah mendapat manfaat karenanya. Si debitur tidak boleh
memaksa krediturnya untuk menerima pembayaran hutangnya
sebagian demi sebagian, meskipun hutang itu dapat dibagi-bagi.
Mengenai tempatnya pembayaran, pasal 1933 Kitab Undangundang Hukum Perdata menerangkan sebagai berikut :
“Pembayaran harus dilakukan di tempat yang
ditetapkan dalam perjanjian, jika dalam perjanjian
tidak ditetapkan suatu tempat, maka pembayaran
yang mengenai suatu barang tertentu, harus dilakukan
di tempat di mana barang itu berada sewaktu
perjanjian dibuat.”
23
Di luar kedua hal tersebut, pembayaran harus dilakukan di
tempat tinggal si berpiutang,selama orang itu terus menerus berdiam
dalam keresidenan di mana ia berdiam sewaktu dibuatnya perjanjian,
dan di dalam hal-hal lainnya di tempat tinggalnya si berhutang”.
Ketentuan dalam ayat pertama yang menunjuk pada tempat di
mana barang berada sewaktu perjanjian ditutup adalah, sama dengan
ketentuan dalam pasal 1477 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
dalam jual beli , dimana juga tempat tersebut ditunjuk sebagai tempat
dimana barang yang dijual harus diserahkan. Memang sebagai mana
sudah diterangkan “pembayaran” dalam arti yang luas juga ditujukan
pada pemenuhan prestasi oleh si penjual yang terdiri atas penyerahan
barang yang telah diperjual belikan.
Ketentuan dalam ayat kedua, berlaku juga dalam pembayaranpembayaran di mana yang dibayarkan itu bukan suatu barang tertentu,
jadi uang atau barang yang dapat dihabiskan, teristimewa ketentuan
tersebut adalah penting untuk pembayaran yang berupa uang. Dengan
demikian maka hutang-hutang yang berupa uang pada azasnya harus
dibayar di tempat tinggal kreditur,dengan perkataan lain pembayaran
itu harus dihantarkan. Hutang uang yang menurut undang-undang
harus dipungut di tempat tinggalnya debitur hanyalah hutang wesel.
Sesuai dengan ketentuan tersebut di atas maka oleh pasal 1395
ditetapkan
bahwa
biaya
yang
harus
dikeluarkan
untuk
menyelenggarakan pembayaran harus dipikul oleh debitur.
2. Penawaran Pembayaran Tunai Diikuti Penyimpanan atau
Penitipan
Ini adalah suatu cara pembayaran yang harus dilakukan
apabila si berpiutang (kreditur) menolak pembayaran. Caranya
sebagai berikut: barang atau uang yang akan dibayarkan itu
ditawarkan secara resmi oleh seorang notaris atau seorang juru sita
pengadilan. Notaris atau juru sita membuat suatu perincian dari
barang-barang atau uang yang akan dibayarkan itu dan pergilah ia ke
rumah atau tempat tinggal kreditur, kepada siapa ia memberitahukan
24
bahwa ia atas perintah debitur datang untuk membayar hutangnya
debitur
tersebut,
pembayaran
mana
akan
dilakukan
dengan
menyerahkan (membayarkan) barang atau uang yang telah diperinci
itu. Notaris atau juru sita tadi sudah menyediakan suatu proses verbal.
Apabila kreditur suka menerima barang atau uang yang ditawarkan
itu, maka selesailah perkara pembayaran itu. Apabila kreditur
menolak yang biasanya memang sudah dapat diduga maka notaris
atau juru sita akan mempersilahkan kreditur itu menandatangani
proses verbal tersebut dan jika kreditur tidak suka menaruh tanda
tangannya maka hal itu akan dicatat oleh notaris atau juru sita di atas
surat proses verbal tersebut.
3. Pembaharuan Hutang atau Novasi
Menurut pasal 1413 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
ada tiga macam jalan untuk melaksanakan suatu pembaharuan hutang
atau novasi itu, yaitu :
a. Apabila seorang yang berhutang membuat suatu perikatan
hutang baru guna orang yang akan menghutangkan kepadanya,
yang menggantikan hutang yang lama yang dihapuskan
karenanya.
b. Apabila seorang berhutang baru ditunjuk untuk menggantikan
orang berhutang lama, yang oleh si berpihutang dibebaskan
dari perikatannya.
c. Apabila sebagai akibat dari suatu perjanjian baru seorang
kreditur baru ditunjuk untuk menggantikan kreditur yang
lama,
terhadap
siapa
si
berhutang
dibebaskan
dari
perikatannya.
Novasi yang disebutkan pada (A) , dinamakan novasi obyektif,
karena yang diperbaharui adalah obyeknya perjanjian, sedangkan
yang disebutkan pada (b) dan (C) dinamakan novasi subyektif , karena
yang diperbaharui di situ adalah subyekti-subyeknya atau orangorangnya dalam perjanjian. Jika yang diganti debiturnya (b) maka
novasi itu dinamakan subyektif pasif, sedangkan apabila yang diganti
itu kreditur (c) novasi dinamakan subyektif aktif.
25
4. Perjumpaan Hutang atau Kompensasi
Jika dua orang saling berhutang satu sama lain maka terjadilah
antara mereka satu perjumpaan dengan mana antara kedua orang
tersebut dihapuskan,demikianlah diterangkan oleh pasal 1424 Kitab
undang-Undang
Hukum
Perdata.
Pasal
tersebut
selanjutnya
mengatakan bahwa perjumpaan itu terjadi demi hukum, bahkan
dengan setidak tahunya orang-orang yang bersangkutan dan kedua
hutang itu yang satu menghapuskan yang lain dan sebaliknya pada
saat hutang-hutang itu bersama-sama ada, bertimbal balik untuk suatu
jumlah
yang
sama.
Agar
supaya
dua
hutang
dapat
diperjumpakan,maka perlulah bahwa dua hutang itu seketika dapat
ditetapkan besarnya atau jumlahnya dan seketika dapat ditagih.
Perjumpaan terjadi dengan tidak dibedakan dari sumber apa
hutang-pihutang antara kedua belah pihak itu telah dilahirkan,
terkecuali :
a. Apabila dituntutnya pengembalian suatu barang yang secara
berlawanan dengan hukum dirampas dari pemiliknya.
b. Apabila dituntutnya pengembalian barang sesuatu yang
dititipkan atau dipinjamkan.
c. Terdapat sesuatu barang yang bersumber kepada tunjangan
nafkah yang telah dinyatakan tak dapat disita (alimentasi).
Demikianlah dapat dibaca dari pasal 1429 Kitab UndangUndang Hukum Perdata. Maksudnya adalah terang jika kita
memperkenankan perjumpaan dalam hal-hal yang disebutkan
di atas, maka itu akan berarti mengesahkan seorang yang main
hakim sendiri atas ketentuan hukum.
Maka dari itu pasal tersebut di atas mengadakan larangan
kompensasi dalam hal-hal yang disebutkan itu.
5. Percampuran Hutang
Apabila kedudukan sebagai orang berpihutang (kreditur) dan
orang yang berhutang (debitur) berkumpul pada satu orang, maka
terjadilah demi hukum suatu percampuran hutang dengan mana utang
26
puiutang itu diapuskan. Misalnya, si debitur dalam suatu testamen
ditunjuk sebagai waris tunggal oleh krediturnya atau si debitur kawin
dengan krediturnya dalam suatu persatuan harta kawin. Hapusnya
hutang pihutang dalam hal percampuran ini, adalah betul-betul “demihukum” dalm arti otomatis.
6. Pembebasan Hutang
Menurut pasal 1438 KUH Perdata : “ pembebasan suatu utang
tidak dipersangkakan, tetapi harus dibuktikan.”
Keabsahan suatu pembebasan utang harus didukung oleh alat
bukti. Alat bukti yang dapat dipergunakan adalah alat bukti yang
diatur di dalam Pasal 1865 dan 1866 KUH Perdata.46
7. Musnahnnya Barang yang Terhutang
Apabila benda yang menjadi objek dari suatu perikatan
musnah, tidak lagi dapat diperdagangkan, atau hilang, maka berarti
telah terjadi suatu “keadaan memaksa” atau “force majeure” sehingga
undang-undang perlu mengadakan peraturan tentang akibat-akibat
dari perikatan tersebut.47
Menurut Pasal 1444 KUH Perdata, maka untuk perikatan
sepihak dalam keadaan yang demikian itu, hapuslah perikatannya,
asal barang itu musnah atau hilang di luar salahnya debitur, dan
sebelum ia lalai menyerahkannya.48
8. Kebatalan/ Pembatalan
Meskipun disini disebutkan kebatalan dan pembatalan, tetapi
yang benar adalah “pembatalan” saja, dan memang kalau kita melihat
apa yang diatur oleh pasal 1446 dan selanjutnya dari Kitab UndangUndang Hukum Perdata ,ternyatalah bahwa ketentuan-ketentuan
disitu kesemuanya mengenai “pembatalan”. Kalau suatu perjanjian
batal demi hukum maka tidak ada suatu perikatan hukum yang
46
Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, Hukum Perikatan dalam KUH Perdata Yurisprudensi,
Doktrin, serta Penjelasan, (Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, 2015), hal 188.
47
Ibid., hal 191.
48
Ibid., hal 192.
27
dilahirkan karenanya, dan barang sesuatu yang tidak ada suatu
perikatan hukum yang dilahirkan karenanya, dan barang sesuatu yang
tidak ada tentu saja tidak dihapus.
Yang diatur oleh pasal 1446 dan selanjutnya adalah
pembatalan perjanijan-perjanjian yang dapat dimintakan pembatalan
(vernietigbaar atau voidable). Syarat-syarat untuk suatu perjanjian
yang sah (Pasal 1320) Meminta pembatalan perjanjian yang
kekurangan syarat subyektifnya itu dapat dilakukan dengan dua cara:
pertama, secara aktif menurut pembatalan perjanjian yang demikian
itu dimuka hakim. Kedua, secara pembelaan yaitu menunggu sampai
digugat di muka hakim untuk memenuhi perjanjian dan sisitulah baru
memajukan tentang kekurangannya perjanjian itu.
9. Berlakunya Suatu Syarat-Batal
Dalam Pasal 1265 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata :
“Suatu perikatan adalah syarat yang apabila dipenuhi, menghentikan
perikatan, dan membawa segala sesuatu kembali, pada keadaan
semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan.”
Dengan demikian maka syarat batal itu mewajibkan si
berhutang untuk mengembalikan apa yang telah diterimanya, apabila
peristiwa yang dimaksudkan terjadi.
10. Lewatnya Waktu
Menurut pasal 1946 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
yang dinamakan “daluwarsa” atau “lewat waktu”ialah suatu upaya
untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan
dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang
ditentukan oleh undang-undang daluwarsa untuk memperoleh hak
milik atas suatu barang dinamakan daluwarsa “acquisitip” sedangkan
daluwarsa untuk dibebaskan dari suatu perikatan (Atau suatu tuntutan)
dinamakan daluwarsa “extinctip”. Daluwarsa dari macam yang
pertama tadi sebaiknya dibicarakan berhubungan dengan hukum
benda. Daluwarsa dari macam yang kedua dapat sekedarnya
dibicarakan di sini meskipun masalah daluwarasa itu suatu masalah
28
yang memerlukan pembicaraan tersendiri. Dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata masalah daluwarsa itu diatur dalam Buku IV
bersama-sama dengan soal pembuktian49.
Menurut pasal 1967 maka segala tuntutan hukum, baik yang bersifat
kebendaan maupun yang bersifat perseorangan, hapus karena daluwarsa
dengan lewatnya waktu 30 tahun, sedangkan siapa yang menunjukan akan
adanya daluwarsa itu tidak usah mempertunjukkan suatu atas hak, lagi pula
tak dapat dimajukan terhadapnya sesuatu tangkisan yang didasarkan kepada
itikadnya yang buruk.
Dengan lewatnya waktu tersebut di atas hapuslah setiap perikatan
hukum dan tinggal pada suatu “perikatan bebas” (natuurlijke verbintenis)
artinya kalau dibayarkan boleh tetapi tidak dapat dituntut di muka hakim.
Debitur jika ditagih hutangnya atau dituntut di muka pengadilan dapat
mengajukan eksepsi tentang kadaluwarsanya piutang dan dengan demikian
mengelakkan atau menangkis setiap tuntutan.
2.5
Wanprestasi
2.5.1 Pengertian Wanprestasi
Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang artinya
prestasi buruk. Wanprestasi adalah suatu sikap dimana seseorang tidak
memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagai mana yang telah
ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dan debitur. 50
Yahya Harahap mendefinisikan wanprestasi sebagai pelaksanaan
kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut
selayaknya. Sehingga menimbulkan keharusan bagi pihak debitur untuk
memberikan atau membayar ganti rugi (schadevergoeding), atau dengan
adanya wanprestasi oleh salah satu pihak, pihak yang lainnya dapat menuntut
pembatalan perjanjian.
Sedangkan menurut Rutten, “wanprestasi merupakan species dari
genus perbuatan melawan hukum yaitu mengenai pelanggaran terhadap hak
49
50
Kitab Undang-undang Hukum perdata
Abdul R Saliman, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 15
29
subjektif.“ Dengan perkataan lain wanprestasi dan perbuatan melanggar
hukum adalah merupakan ’Lex Specialis Derogat Legi Generali.51
2.5.2 Ruang Lingkup Wanprestasi dalam KUH Perdata52
1. Bentuk-bentuk wanprestasi:
a. Debitur tidak melaksanakan prestasi sama sekali
b. Debitur berprestasi tetapi tidak tepat waktu
c. Debitur berprestasi tetapi tidak sesuai atau keliru
2. Tata cara menyatakan debitur wanprestasi:
a) Sommatie: Peringatan tertulis dari kreditur kepada debitur secara
resmi melalui Pengadilan Negeri.
b) Ingebreke Stelling: Peringatan kreditur kepada debitur
tidak
melalui Pengadilan Negeri.
3. Isi Peringatan:
a. Teguran kreditur supaya debitur segera melaksanakan prestasi
b. Dasar teguran
4. Akibat Hukum bagi Debitur yang Wanprestasi:
a. Pemenuhan/pembatalan prestasi
b. Pemenuhan/pembatalan prestasi dan ganti rugi
c. Ganti rugi
5. Bentuk Khusus Wanprestasi:
a. Dalam suatu perjanjian jual beli, salah satu kewajiban Penjual
menanggung adanya cacat tersembunyi, jika ini tidak terpenuhi
berarti prestasi tidak terlaksana.
b. Cacat tersembunyi merupakan bentuk wanprestasi khusus karena
akibat wanprestasi ini berbeda dengan wanprestasi biasa.
6. Akibat Wanprestasi bentuk khusus:
a. Actio redhibitoria : Barang dan uang kembali
b. Actio quantiminoris : Barang tetap dibeli, tetapi ada pengurangan
harga
51
Rosa Agustina, Perbuatan Melawan Hukum, (Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia,
2003) hal 25.
52
R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian, (Jakarta: Putra Abadin, 1999), cet. Ke-6. hal.18
30
Berdasarkan ketentuan pasal 1234 KUH Perdata53, maka penggantian
kerugian dapat dituntut menurut kitab UU, yaitu berupa :
1. Biaya-biaya yang sesungguhnya telah dikeluarkan (konsten), atau
2. kerugian yang sesungguhnya menimpa harta benda si berpiutang
(schaden),
3. Kehilangan keuntungan (interessen), yaitu keuntungan yang akan
didapat seandainya si berutang tidak lalai.
2.6
Ganti Rugi Perspektif Hukum Positif
2.6.1 Ganti Rugi Perdata Perspektif Hukum Positif
Menurut pasal 1243 KUH Perdata54, pengertian ganti rugi perdata
lebih menitikberatkan pada ganti kerugian karena tidak terpenubinya suatu
perikatan, yakni kewajiban debitur untuk mengganti kerugian kreditir akibat
kelalaian pihak debitur melakukan wanprestasi. Ganti rugi tesebut meliputi:
1. Ongkos atau biaya yang telah dikeluarkan.
2. Kerugian yang sesungguhnya karena kerusakan, kehilangan benda
milik kreditur akibat kelalaian debitur.
3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan.
2.6.2 Ganti Rugi Pidana Perspektif Hukum Positif
Ganti kerugian adalah suatu kewajiban yang dibebankan kepada orang
yang telah bertindak melawan hukum dan menimbulkan kerugian pada orang
lain karena kesalahannya tersebut. Pada masa ini telah dikenal adanya
“personal reparation”, yaitu semacam pembayaran ganti rugi yang akan
dilakukan oleh seseorang yang telah melakukan tindak pidana atau
keluarganya terhadap korban yang telah dirugikan sebagai akibat tindak
pidana tersebut.
Pada masa belum adanya pemerintahan, atau dalam masyarakat yang
masih berbentuk suku-suku ini (tribal organization) bentuk-bentuk hukuman
seperti ganti rugi merupakan sesuatu yang biasa terjadi sehari-hari. Pada masa
ini terlihat, sanksi ganti kerugian merupakan suatu tanggung jawab pribadi
53
54
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1234.
Subekti, KUH Perdata, (Jakarta: PT. AKA, 2004), cet. Ke-34, hlm. 324
31
pelaku tindak pidana kepada pribadi korban. Dewasa ini sanksi ganti kerugian
tidak hanya merupakan bagian dari hukum perdata, tetapi juga telah masuk ke
dalam
hukum
Pidana.
Perkembangan
ini
terjadi
karena
semakin
meningkatnya perhatian masyarakat dunia terhadap korban tindak pidana.
2.6.3 Konsep Ganti Rugi Menurut Hukum Perdata
Menurut ketentuan pasal 1243 KUH Perdata, ganti kerugian karena
tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan apabilah debitur
setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau
sesuatu yang harus diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah
dilampaukannya.55
Yang dimaksud kerugian dalam pasal ini ialah kerugian yang timbul
karena debitur melakukan wanprestasi (lalai memenuhi perikatan). Kerugian
tersebut wajib diganti oleh debitur terhitung sejak ia dinyatakan lalai.
Menurut M Yahya Harahap, kewajiban ganti-rugi tidak dengan sendirinya
timbul pada saat kelalaian. Ganti-rugi baru efektif menjadi kemestian debitur,
setelah debitur dinyatakan lalai dalam bahasa belanda disebut dengan ”in
gebrekke stelling” atau ”in morastelling”. Ganti kerugian sebagaimana
termaktub dalam pasal 1243 di atas, terdiri dari tiga unsur yaitu:
1. Ongkos atau biaya yang telah dikeluarkan, misalnya ongkos cetak,
biaya materai, biaya iklan.
2. Kerugian karena kerusakan, kehilangan benda milik kreditur akibat
kelalaian debitur, misalnya busuknya buah-buah karena kelambatan
penyerahan, ambruknya rumah karena kesalahan konstruksi sehingga
merusakkan prabot rumah tangga.
3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan, misalnya bunga yang
berjalan selama piutang terlambat diserahkan (dilunasi), keuntungan
yang tidak diperoleh karena kelambatan penyerahan bendanya.
Menurut Abdul Kadir Muhammad, dalam ganti kerugian itu tidak
selalu ketiga unsur tersebut harus ada. yang ada mungkin kerugian yang
sesungguhnya, atau mungkin hanya ongkos-ongkos atau biaya, atau mungkin
kerugian sesungguhnya ditambah dengan ongkos atau biaya.
55
Subekti, KUH Perdata, (Jakarta: PT. AKA, 2004), cet. Ke-34, hlm. 324
32
Dengan demikian untuk menghindari tuntutan sewenang-wenang
pihak kreditur, undang-undang memberikan batasan-batasan ganti kerugian
yang harus di penuhi oleh debitur sebagai akibat dari kelalaiannya
(wanprestasi) yang meliputi:
1. Kerugian yang dapat diduga ketika membuat perikatan (pasal 1247
KUH Perdata).56
2. Kerugian sebagai akibat langsung dari wanprestasi debitur, seperti
yang ditentukan dalam pasal 1248 KUH Perdata. Untuk menentukan
syarat ”akibat langsung” dipakai teori adequate.57 Menurut teori ini,
akibat langsung ialah akibat yang menurut pengalaman manusia
normal dapat diharapkan atau diduga akan terjadi. Dengan timbulnya
wanprestasi, debitur selaku manusia normal dapat menduga akan
merugikan kreditur.
3. Bunga dalam hal terlambat membayar sejumlah hutang (pasal 1250
ayat 1 KUH Perdata). Besarnya bunga didasarkan pada ketentuan
yang ditetapkan oleh pemerintah. Tetapi menurut Yurisprudensi, pasal
1250 KUH Perdata tidak dapat diberlakukan terhadap perikatan yang
timbul karena perbuatan melawan hukum.
2.7
Sita Jaminan
2.7.1 Pengertian Sita Jaminan
Sita jaminan adalah penyitaan yang dilakukan oleh pengadilan atas
barang bergerak atau tidak bergerak, milik penggugat atau tergugat untuk
menjamin adanya tuntutan hak dari pihak yang berkepentingan atau pemohon
sita. Penyitaan ini merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat
dilaksanakannya putusan perdata.
Barang-barang yang disita untuk
kepentingan penggugat dibekukan, berarti bahwa barang-barang itu disimpan
untuk jaminan dan tidak boleh dialihkan atau dijual menurut Pasal 197 ayat 9,
Pasal 199 HIR. Serta Pasal 212, dan 214 Rbg.
56
57
Subekti, KUH Perdata, (Jakarta: PT. AKA, 2004), cet. Ke-34, hlm. 325
33
2.7.2 Macam-Macam Sita yang diatur di dalam HIR adalah :
1) Sita revindicatoir (Pasal 226 HIR)
Pemilik barang bergerak yang barangnya ada di tangan orang
lain dapat minta, baik secara lisan maupun tertulis, kepada Ketua
Pengadilan Negeri di tempat orang yang memegang barang tersebut
tinggal, agar barang tersebut disita.
Barang yang disita secara revindicatoir adalah barang bergerak
dan terperinci milik penggugat. Untuk dapat mengajukan permohonan
sita revindicatoir tidak perlu ada dugaan yang beralasan, bahwa
seseorang yang berhutang selama belum dijatuhkan putusan, mencari
akal akan menggelapkan atau melarikan barang yang bersangkutan.
Akibat hukum sita ini adalah penggugat tidak dapat menguasai
barang yang telah disita, sebaliknya tergugat dilarang untuk
mengalihkannya. Apabila gugatan penggugat dikabulkan, maka
dinyatakan sah dan berharga, sedangkan kalau gugatan ditolak, maka
sita revindicatoir itu dinyatakan dicabut.
2) Sita Conservatoir (Pasal 227 HIR)
Penyitaan (beslag) ini merupakan tindakan persiapan dari
pihak penggugat dalam bentuk permohonan kepada Ketua Pengadilan
Negeri untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata
dengan menjual barang tergugat yang disita guna memenuhi tuntutan
penggugat.
Barang yang disita secara conservatoir adalah barang bergerak
dan tidak bergerak milik tergugat. Penyitaan ini hanya dapat terjadi
berdasarkan perintah Ketua Pengadilan Negeri atas permintaan
penggugat (Pasal 227 ayat 1 HIR, 261 ayat 1 Rbg).
Untuk mengajukan sita jaminan ini harus ada dugaan yang
beralasan, bahwa seorang yang berhutang selama belum dijatuhkan
putusan oleh hakim atau selama putusan belum dijalankan mencari
akal untuk menggelapkan atau melarikan barangnya. Apabila gugatan
penggugat dikabulkan, maka dinyatakan sah dan berharga, sedangkan
kalau gugatan ditolak, maka sita conservatoir itu dinyatakan dicabut.
34
Setiap saat tergugat dapat mengajukan permohonan kepada
hakim yang memeriksa pokok perkara yang bersangkutan, agar sita
jaminan atas barangnya dicabut, apabila dikabulkan maka tergugat
harus menyediakan tanggungan yang mencukupi.
3) Sita Ekesekutoir (Pasal 197 HIR)
Penyitaan yang dilakukan sesudah putusan hakim mempunyai
kekuatan hukum yang tetap. Penyitaan dilakukan oleh panitera
Pengadilan Negeri, yang wajib, yang membuat berita acara tentang
pekerjaannya itu serta memberitahukan isinya kepada tersita kalau ia
hadir, dan penitera dibantu oleh dua orang saksi yang ikut serta
menandatangani berita acara.
Barang yang disita adalah barang bergerak dan tidak bergerak,
kecuali barang atau hewan yang digunakan untuk mencari nafkah.
Untuk barang tidak bergerak, dibuat Berita Acara, diumumkan dan
dicatat oleh Kepala Desa, salinannya didaftarkan pada Kantor
Pendaftaran Tanah.
3.8
Badan Hukum
Dalam ilmu hukum, subyek hukum (legal subject) adalah setiap pembawa
atau penyandang hak dan kewajiban dalam hubungan-hubungan hukum. Subyek
hukum dapat merupakan orang atau natuurlijkpersoon (menselijkpersoon)dan bukan
orang (rechtspersoon). Rechtspersoon biasa disebut badan hukum yang merupakan
persona ficta atau orang yang diciptakan oleh hukum sebagai persona.
Pandangan demikian dianut oleh Carl von Savigny, C.W.Opzoomer,
A.N.Houwing dan juga Langemeyer. Mereka badan hukum adalah hanyalah fiksi
hukum. Oleh karena itu pendapat ini disebut teori fiktif atau teori fiksi.58
3.8.1 Peseroan Sebagai Badan Hukum
Dalam Pasal 1 Undang- undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas menjabarkan apa yang dimaksud dengan PT sebagai berikut :
“Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan,
adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal,
58
http://www.jimly.com/pemikiran/view/14. Tanggal 26 Januari 2016. Pukul 20.40 pm
35
didirikan berdasarkan perjanjian, melkaukan kegiatan usaha
dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham
dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undangundang ini serta peraturan pelaksananya.”
3.8.2 Organ Perseroan Terbatas
Di dalam perseroan, terdapat organ perseroan untuk dapat
menjalankan perseroan tersebut, organ-organ perseroan tersebut, seperti
tercantum dalam pasal 1 ayat 2 No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, yaitu terdiri atas :
1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan organ
perseroan yang memiliki kewenangan eksklusif. Kewenangan ini,
sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat 4 UUPT 2007, tidak akan
pernah diberikan atau dialihkan kepada komisaris ataupun direksi.
RUPS merupakan sebuah forum yang mewakili seluruh pemegang
saham
perseroan,
kewenangan
utama
dimana
untuk
para
pemegang
memperoleh
saham
memiliki
keterangan-keterangan
mengenai perseroan, baik komisaris maupun direksi.
2. Komisaris
Komisaris atau biasa disebut dewan komisaris bertugas
melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi
berdasarkan anggaran dasar perseroan. Pengawasan oleh komisaris
meliputi pengawasan atas kebijakan direksi dalam melakukan dan
menjalankan pengurusan perseroan, baik mengenai perseroan maupun
kegiatan usaha perseroan.
3. Direksi
Pengertian direksi yang terdapat dalam pasal 5 Undangundang No.40 tahun 2007, yang berbunyi :
“Direksi adalah organ perseroan yang berwenang
dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan
Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai
dengan maksud dan tujusn perseroan serta mewakili
Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan
sesuai dengan ketentuan anggaran dasar ”.59
59
Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas
36
Sebagai pengurus perseroan, direksi mewakili perseroan baik
di dalam pengadilan maupun di luar pengadilan sesuai dengan
ketentuan anggaran dasar. Kewenangan tersebut dimiliki direksi
secara tidak terbatas, dan tidak bersyarat, selama tidak bertentangan
dengan undang-undang dan anggaran dasar serta keputusan RUPS.
3.8.3 Tanggung Jawab RUPS dalam Organ Perseroan Terbatas
Menurut Pasal 3 ayat (1) UU PT, pemegang saham Perseroan
Terbatas (“Perseroan”) tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan
yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian
Perseroan melebihi saham yang dimiliki. Ketentuan di dalam pasal ini
mempertegas ciri dari Perseroan bahwa pemegang saham hanya bertanggung
jawab sebesar setoran atas seluruh saham dan tidak meliputi harta kekayaan
pribadinya.
Namun, masih ada kemungkinan pemegang saham harus bertanggung
jawab hingga menyangkut kekayaan pribadinya berdasarkan Pasal 3 ayat (2)
UU PT yang menyatakan bahwa ketentuan di dalam Pasal 3 ayat (1) tidak
berlaku apabila:
1) persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak
terpenuhi;
2) pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak
langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk
kepentingan pribadi;
3) pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau
4) pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak
langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan,
yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk
melunasi utang Perseroan.
Selain itu berkaitan dengan masalah likuidasi, menurut Pasal 150 ayat
(5) UU PT pemegang saham wajib mengembalikan sisa kekayaan hasil
likuidasi secara proporsional dengan jumlah yang diterima terhadap jumlah
tagihan. Kewajiban untuk mengembalikan sisa kekayaan hasil likuidasi
37
tersebut wajib dilakukan oleh pemegang saham apabila dalam hal sisa
kekayaan hasil likuidasi telah dibagikan kepada pemegang saham dan
terdapat tagihan kreditor yang belum mengajukan tagihannya.
3.8.4 Tanggung Jawab Direksi dalam Organ Perseroan Terbatas
Direksi
merupakan
organ
perseroan
yang
bertugas
dan
bertanggungjawab penuh untuk menjalankan pengurusan perseroan. Dengan
kata lain, direksi merupakan personifikasi dari perseroan itu sendiri.
Kedudukan direksi dalam perseroan adalah sebagai eksekutif, dimana
tindakan-tindakannya dibatasi oleh anggaran dasar perseroan.
Seperti diketahui direksi bertanggung jawab terhadap kegiatan PT.
Oleh karena itu, bila ada kerugian karena direksi tidak menjalankan tugas
dengan penuh itikad baik, kerugian yang diderita oleh PT menjadi tanggung
jawba pribadi Direksi. Hal ini secara tegas dijabarkan dalam pasal 97 UUPT
sebagai berikut60 :
1) Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) .
2) Pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilaksanakan
setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.
3) Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas
kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai
menjalankan
tugasnya
sesuai
dengan
ketentuan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (2).
4) Dalan hal Direksi terdiri atas 2 (dua) anggota Direksi atau lebih,
tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku secara
tanggung renteng bagi setiap anggota Direksi.
5) Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) apabila dapat membuktikan :
a. Kerugian tersebut bukan karena keslahan atau kelalaiannya.
b. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehatihatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan.
60
Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan tentang Perseroan Terbatas, (Bandung: Nuansa Aulia,
2012). Hal 101.
38
c. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung
maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang
mengakibatkan kerugian; dan
d. Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau
berlanjutnya kerugian tersebut.
e. Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling
sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui
pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang karena
kesalahan atas kelalaiannya menimbulkan kerugian pada
Perseroan.
f. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak
mengurangi hak anggota Direksi lain dan/atau anggota Dewan
Komisaris untuk mengajukan gugatan atas nama Perseroan.
2.9
Piercing The Corporate Veil
Berkaitan dengan doktrin piercing the corporate veil ini, dapat dikemukakan
pendapat Henry Campbell Black61, yang menyatakan :
“menyingkap tabir perseroan. Proses hukum yang dilaksanakan
pengadilan biasanya dengan mengabaikan kekebalan umum pejabat
perusahaan atau pihak tertentu perusahaan dari tanggung jawab
aktivitas perusahaan : misalnya ketika dalam hal perusahaan
dengan
sengaja
melakukan
kejahatan.
Doktrin
yang
ada
berpendapat bahwa struktur perusahaan dengan adanya tanggung
jawab terbatas pemegang saham dapat mengabaikan tanggung
jawab pemegang saham, pejabat perusahaan dan direktur
perusahaan. Pengadilan dalam masalah tersebut akan memandang
perusahaan hanya dari sisi kegagalan pembelaan atas tindak
kejahatan atau kesalahan atau pemberian sanksi hukuman.”62
61
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary. 6th ed. St.Paul, Minn, West Publishing Co, 1990.
Try Widiono, Direksi Perseroan Terbatas Keberadaan, Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab,
(Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), hal 82.
62
39
Peralihan tanggung jawab pemegang saham, komisaris, dan direksi perseroan
dari semula terbatas menjadi tidak terbatas, antara lain disebabkan oleh doktrin
piercing the corporate veil.63 Dalam hal ini, dikemukakan terjadinya piercing
corporate veil atau lifting the veil adalah sebagai berikut.
1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.
2. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung
dengan itikad buruk (tekwaadetrouw atau badfaith) memanfaatkan perseroan
semata-mata untuk kepentingan pribadi.
3. Pemegang saham terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan
oleh perseroan.
4. Pemegang saham, baik langsung maupun tidak langsung, secara melawan
hukum menggunakan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk
melunasi utang perseroan atau ( pasal 3 ayat 2 UUPT) (I.G. Rai Wijaya,
2000: 146
63
Ibid.
Download