BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Diri 1. Pengertian Konsep

advertisement
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Diri
1. Pengertian
Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh,
menyangkut fisik, emosi, intelektual, social dan spiritual (Sunaryo, 2004).
Termasuk didalamnya adalah persepsi individu tentang sifat dan potensi yang
dimilikinya, interksi individu dengan orang lain maupun lingkungannya, nilainilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, serta tujuan, harapan dan
keinginannya.
Konsep diri dikembangkan melalui proses yang sangat kompleks yang
melibatkan banyak variabel citra tubuh, ideal diri, penampilan peran dan
identitas diri. Konsep ini juga sebagai respresentasi fisik seorang individu,
pusat inti dimana semua persepsi dan pengalamanan terorganisasi. Konsep diri
memberikan kontinuitas, keutuhan dan konsistensi pada seseorang. Konsep
diri yang sehat mempunyai tingkat kestabilan yang tinggi dan membankitkan
perasaan negative atau positif yang ditjukan pada diri.
Menurut Stuart (2013) konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan, dan
kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan
mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
11
waktu lahir , tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam
dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia.
Rogers (1959 dalam Feist & Feist, 2009) juga mengemukakan bahwa
konsep diri mencakup semua aspek-aspek untuk menjadi individu, dan
pengalaman seseorang yang dirasakan sebagai suatu kesadaran (meskipun
tidak selalu akurat) oleh individu.
Konsep diri didefinisikan sebagai totalitas dari pemikiran individu dan
perasaan memiliki referensi untuk dirinya sendiri sebagai obyek. Ini adalah
persepsi individu dan perasaan terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain,
konsep diri individu terdiri dari sikap individu terhadap diri yang individu itu
pegang (Hawkins, Mothersbaugh, & Best, 2007).
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan
kepercayaan yang merupakan pngetahuan individu tentang dirinya dan
mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart, 2013). Konsep diri
memberikan kerangka acuan yang mempengaruhi manajemen terhadap situasi
dan hubungan dengan orang lain. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika
banyak hal secara continue mempengaruhi konsep diri, jika seorang anak
mempenyai masa kanak-kanak yang aman dan stabil. Ketidaksesuaian antara
aspek tertentu dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi sumber stress.
Respon konsep diri sepanjang rentang sehat-sakit berkisar dari status
aktualisasi diri yang paling adaptif sampai status kerancuan penampilan peran
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
12
yang lebih maladaptife. Selanjutnya, dipersonalisasi kerawanan identitas
merupakan suatu kegagalan individu untuk menginegrasikan sebagai
identifikasi masa kanak-kanak kedalam psikososial dewasa yang harmonis.
Dari berbagai penjelasan mengenai konsep diri maka dapat disimpulkan
bahwa konsep diri merupakan suatu kepercayaan individu tentang diri sendiri
yang akan mempengarhi lingkungan atau masyarakat.
2. Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri yang dimiliki oleh manusia tidak terbentuk secara instan,
melainkan dalam proses belajar sepanjang hidup manusia. Ketika individu
lahir, individu tidak memiliki pengetahuan tentan dirinya, tidak memiliki
harapan yang ingin dicapainya serta tidak memiliki penilaian terhadap dirinya.
Konsep diri berasal dan berkembang sejalan pertumbuhan, terutama akibat
berhubungan dengan individu lain. Dalam berinteraksi, setiap individu akan
menerima tanggapan. Tanggapan yang diberikan dijadikan cerminan bagi
individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Dimana pada
akhirnya individu mulai biasa mengetahui siapa dirinya, apa yang diinginkan
serta dapat melakukan penilaian terhadap dirinya (Sudarmaji, 2002).
3. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart, (2013) ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangn
konsep
diri.
Faktor-faktor
tersebut
terdiri
dari
teori
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
13
perkembangan, orang yang terpenting atau terdekat (significant other) dan
persepsi diri sendiri (self perception).
a. Teori perkembangan
Konsep diri berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai
mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan
kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan
berkembang memalui kegitan eksplorasi lingkungan melalui bahasa,
pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pengalaman budaya
dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai
oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan
merealisasikan potensi yang nyata.
b. Orang yang terpenting atau yang terdekat (significant other)
Konsep diri dipelajari melalui konak dan pengalaman dengan orang
lai. Belajar dengan sendirinya melalui cermin orang lain yaitu dengan cara
menginterprestasikan diri pada pandangan orang lain terhadap dirinya.
Remaja dipengaruhi oleh orang lain yang paling dekat dengan dirinya,
pengaruh budaya dan sosialisasi sepanjang siklus hidup.
c. Persepsi diri sendiri (self perception)
Yaitu persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaiannya,
serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu.
Konsep diri dapat dibentuk melalui pengalaman yang positif. Konsep diri
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
14
merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu
dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat
dilihat dari kemampuan interpersonal, intelektual dan penguasaan
lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari
hubungan individu dan sosial yang terganggu.
4. Komponen Konsep Diri
Konsep diri dapat digambarkan dalam istilah rentang diri kuat sampai
lemah atau positif sampai negatif yang kesemuanya tergantung pada kekuatan
individu dari kelima komponen konsep diri (Stuart, 2013), kelima komponen
konsep diri tersebut adalah sebagai berikut :
a. Citra Tubuh
Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari atau
tidak disadari meliputi persepsi masa lalu atau masa sekarang mengenai
ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh. Citra tubuh
sangat dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan persepsi
dalam pengalaman-pengalaman baru. Citra tubuh harus realistis karena
semakin dapat menerima dan menyukai tubuhnya individu akan lebih
bebas dan merasa aman dari kecemasan (Suliswati, dkk, 2005).
Citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara
internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang
ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
15
tentang karakteristik dan kemampuan fisik serta persepsi dari pandangan
orang lain (Perry & Potter, 2005). Konsep diri yang baik tentang citra
tubuh adalah kemampuan seseorang menerima bentuk tubuh yang dimiliki
dengan senang hati dan penuh rasa syukur serta selalu berusaha untuk
merawat tubuh dengan baik.
b. Identitas
Kesadaran akan keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian
dan observasi diri sendiri. Hal ini mencakup keutuhan internal individu,
konsistensi individu tersebut sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi.
Identitas menunjukan ciri khas seseorang yang membedakannya dengan
orang lain, tetapi menjadikannya unik.
Seseorang yang memiliki identitas yang kuat akan memandang dirinya
berbeda dengan orang lain, dan tidak ada keduanya. Kemandirian timbul
dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Dalam identitas
diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri,
mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri (Suliswati, dkk,
2005).
c. Peran
Peran adalah suatu pola sikap, nilai dan tujuan yang diharapkan dari
seseorang yang berdasarkan posisinya dimasyarakat. Sementara untuk
posisi tersebut merupakan identifikasi dari status atau tempat seseorang
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
16
dalam suatu sistem sosial dan merupakan perwujudan aktualisasi diri.
Peran juga diartikan sebagai serangkaian perilaku yang diharapkan oleh
lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dalam berbagai
kelompok sosial. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam
kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan
memvalidasi pada orang yang berarti (Suliswati, dkk, 2005).
d. Ideal Diri
Idela diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya
bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan
dengan tipe orang yang diinginkan atau sejumlah inspirasi, tujuan, nilai
yang diraih. Idela diri akan mewujudkan cita-cita atau pengharapan diri
berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut
melahirkan penyesuaian diri. Seseorang yang memiliki konsep diri yang
baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu bertindak dan berperilaku
sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan sesuai dengan apa
yang diinginkannya.
Pembentukan ideal diri dimulai pada masa kanak-kanak dipengaruhi
oleh orang yang penting pada dirinya yang memberikan harapan atau
tuntutan
tertentu.
Seiring
dengan
berjalannya
waktu
individu
menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dasar dari
ideal diri (Suliswati, dkk, 2005).
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
17
e. Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal
dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai,
dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila
sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga
dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau
diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri
karena adanya tantangan baru, ketidakmampuan fisik, kehilangan perasaan
dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri
yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukan
keberadaannya dibutuhkan oleh orang banyak, dan menjadi bagian yang
dihormati oleh lingkungan sekitar.
Berupa penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Penilaian harga diri
didasarkan pada factor internal dan eksteral, serta harga diri tentang nilai
diri.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
18
5. Rentang Respon Konsep Diri
Aktualisasi
Diri
Konsep
Diri Positif
Harga
Diri Rendah
Kerusakan
Identitas
depersonalisasi
Gambar 2.1. Rentang Respon Konsep Diri
Sumber : Stuart (2013)
a. Aktualisasi Diri
Keinginan untuk mewujudkan diri atau keinginan untuk menjadi apapun
yang seseorang mampu untuk mencapainya.
b. Konsep diri positif
Individu yang dapat mengeksplorasi dunianya secara terbuka dan jujur
karena latar belakng penerimaannya sukses, konsep diri positif berasal dari
pengalaman yang positif yang mengarah pada kemampuan pemahaman
(Suliswati, dkk, 2005).
c. Harga diri rendah
Dapat digambarkan sebagai perasaan negative terhadap diri sendiri
termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri(Stuart, 2013).
d. Kerusakan identitas
Merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai
identifikasi masa kanak-kanak ke dalam kepribadian psikososial dewasa
yang harmonis (Stuart, 2013)
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
19
e. Depersonalisasi
Suatu perasaan tidak realistis dan merasa asing dengan diri sendiri (Stuart,
2013).
6. Jenis – Jenis Konsep Diri
Menurut Rola (2006) dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua, yaitu :
a. Konsep diri positif
Konsep diri positif lebih kepada penerimaan diri, bukan sebagai suatu
kebanggaan yang besar tentang diri. Konsep diri positif bersifat stabil dan
bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang
tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta
yang sangat bermacam-macam tentang dirinya, sehingga evaluasi terhadap
dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain.
b. Konsep diri negatif
Kosep diri negatif terbagi dua tipe yaitu, dimana pandangan individu
tentang dirinya benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan
kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa
dirinya,
kekuatan
dan
kelemahannya
atau
yang
dihargai
dalam
kehidupannya.
Menurut Nur & Ekasari (2008) pada junal penelitiannya ada hubungan
yang signifikan antara konsep diri dengan kecerdasan emosional. Selanjutnya
dari hasil penghitungan koefisien determinan diperoleh angka sebesar 27.5%,
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
20
artinya variabel konsep diri (X) memberikan sumbangan sebesar 27.5% untuk
variabel kecerdasan emosional (Y). Dari hasil penelitian Setyarini(2012)
Hubungan Komponen Dasar Kecerdasan Emosional dengan Proses Adaptasi
Mahasiswa Tinggal Di Asrama STIKES Santo Barromeus didapatkan bahwa
responden dengan proses adaptasi pada kategori baik 8 orang (11,6%) dan tidak
baik 61 orang (88,4%).
Nurhadi (2013) dari jumlah sampel 111 orang menghasilkan penelitian
menunjukkan masih banyak remaja yang memiliki konsep diri negatif dan sangat
negatif (55%). Masih banyak remaja yang memiliki penyesuaian diri buruk dan
sangat buruk (51%). Ada hubungan positif signifikan antara konsep diri dan
penyesuaian diri remaja, dengan nilai Rxy = 0,668 dengan p = 0.000 < 0.05
artinya jika konsep diri remaja positif maka penyesuaian diri akan baik. Jika
konsep diri remaja negatif maka penyesuaian diri akan buruk.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutris (2008) yang sejak tahun 1998
terjun mengelola sekolah berasrama (boarding school) didapatkan data bahwa
hampir 75 % siswa yang sekolah boarding adalah kemauan dari orang tua siswa
bukan dari siswa itu sendiri. Akibatnya, dibutuhkan waktu yang lama (rata-rata 4
bulan) untuk siswa menyesuaikan diri dan masuk kedalam konsep pendidikan
boarding yang integratif.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
21
B. Kecerdasan Emosional
1. Konsep Kecerdasan
Maramis (2006) kecerdasan adalah gambaran abstrak yang disaring dari
observasi perilaku dalam bermacam-macam keadaan atau suatu kontruksi
hipotesis dan hanya dapat diduga dari tanda-tanda perilaku. Sehingga
bagaimanapun juga, kecerdasan ada sangkut pautnya dengan kemampuan
menangkap hubungan yang abstrak dan rumit, serta kemampuan memecahkan
masalah dan belajar dari pengalaman. Kemudian berkembanglah pemahaman
tentang jenis-jenis kecerdasan yang lain selain kecerdasan intelektual seperti
kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan lain sebagainya.
Pada umumnya kecerdasan dapat dilihat dari kesanggupan seseorang
dalam bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah, dengan
keadaan diluar dirinya yang biasa mauppun yang baru. Jadi dengan kata lain
perbuatan cerdas dapat dicirikan dengan adanya kesanggupan bereaksi
terhadap berbagai situasi. Kecerdasan bekerja dalam suatu situasi yang
berlainan tingkat kesukarannya. Kecerdasan tidak bersikap statis tetapi
kecerdasan manusia selalu mengalami perkembangan. Berkembangnya
kecerdasan sedikit banyak sejalan dengan kematangan seseorang (Ahmadi,
2009).
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
22
2. Konsep Emosi
a.
Pengertian Emosi
Martin (2003) menjelaskan emosi berasal dari bahasa latin ‘movore’ yang
artinya menggerakan, sehingga emosi berarti sesuatu yang mendorong
terjadinya perubahan, dimana suatu keadaan emosi dapat dijelaskan dalam
tiga pengertian. Pertama, emosi adalah suatu reaksi tubuh menghadapi situasi
tertentu. Kedua, emosi adalah hasil proses persepsi terhadap situasi. Ketiga,
hasil reaksi kognitif (berfikir) terhadap situasi yang spesifik.
Pengertian emosi lebih lengkap dijelaskan oleh Atkinson & Hilgard
(2003) emosi merupakan suatu keadaan psikologis yang disebabkan oleh
peristiwa, objek atau orang yang secara khusus meliputi penilaian secara
kognitif (interpretasi individu terhadap suatu peristiwa), pengalaman subjektif
(emosi yang disarankan individu), kecenderungan berfikir dan bertindak
(individu berfikir tentang respon emosi apa yang akan ditampilkannya),
perubahan tubuh secara internal (adanya perubahan fisiologis akibat emosi
yang muncul seperti detak jantung, pernafasan dan tekanan darah), ekspresi
wajah (emosi yang disarankan dapat ditunjukkan melalui ekspresi wajah, yang
terlihat dari mata, bibir, hidung, dll) dan respon terhadap emosi (bagaimana
individu menunjukan emosi yang disarankannya melalui tingkah laku, atau
nada suara).
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
23
b.
Macam-macam Emosi
Goleman (2002) mengemukakan beberapa macam emosi yaitu
amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan
malu. Mayer (1990 dalam Goleman, 2002) menyebutkan bahwa orang
cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi
emosi mereka, yaitu sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan
pasrah. Melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki
kecerdasan emosi agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak
menjadikan hidup yang dijalani menjadi sia-sia.
3. Konsep Kecerdasan Emosional
a.
Pengertian Kecerdasan Emosional
Solovey & Mayer, (1993 dalam Shapiro, 1998) mendefinisikan
kecerdasan emosional atau sering disebut Emotional Quotion (EQ)
sebagai: himpuanan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan
kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan
pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi
ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Goleman (2002) mengatakan bahwa kecerdasan emosional merujuk
kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang
lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola
emosi dengan baik pada diri sendiridan dengan hubungan dengan orang
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
24
lain. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan-kemampuan kognitif
murni yang diukur dengan Intelegence Quotion (IQ).
Gardner, (1993 dalam Goleman, 2000) mengungkapkan bahwa
kecerdasan pribadi terdiri dari: kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan
untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana
mereka berkerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan,
sedangkan kecerdasan intara pribadi adalah kemampuan yang korelatif,
tetapi terarahkedalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan
membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri
serta kemampuan untuk menggunakan modal sebagai alat untuk
menempuh kehidupan secara efektif (Goleman, 2002).
Goleman (2002) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan
intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya melalui
keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan
keterampilan sosial.
Dapat
disimpulkan
bahwa
kecerdasan
emosional
adalah
kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri, mengelola emosi diri,
memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan
sosial dengan orang lain.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
25
b.
Komponen Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional terbagi dalam beberapa wilayah kemampuan
yang
membentuknya.
Wilayah-wilayah
kemampuan
kecerdasan
emosional tidak seragam untuk setiap ahli tergantung dari sudut pandang
dan pemahaman. Goleman (2000) membagi kecerdasan emosional
menjadi lima wilayah yang membentuk kecerdasan, kelima wilayah
tersebut meliputi :
1. Mengenali emosi diri
Mengenali emosi diri adalah kesadaran diri yaitu tentang
perasaan sewaktu perasaan terjadi, kemampuan mengenali emosi diri
merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri berarti
waspada baik terhadap suasana hati.kesadaran diri berarti dapat
menjadi pemerhatiyang tidak reaktif dan tidak menghakimi keadaankeadaan bathin. Waspada berarti berada diatas aliran emosi bukan atau
berada dalam aliran emosi.
Kekurangan waspadaan terhadap perasaan diri dapat membawa
bahaya yang besar karena dapat menjadi mudah larut dalam aliran
emosi. Situasi kekerasan yang terjadi sedikit banyak merupakan hasil
perbudakan emosi. Perbudakan emosi dapat dihindari jiki kita
memiliki pemahaman tentang perasaan emosi. Kemampuan mengenali
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
26
emosi merupakan persyaratan penting untuk mengenali emosi,
pemahaman akan perasaan memudahkan untuk mengendalikan emosi.
Goleman (2002) mengatakan
bahwa kesadaran diri adalah
waspada terhadap suasana hati maupun pemikiran tentang suasana
hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam
aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Ketidakmampuan untuk
mencerminkan perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada
dalam kekuasaan perasaan, sehingga tidak peka akan perasaan yang
sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambian keputusan
masalah (Mutadin, 2002).
2. Mengelola dan mengekspresikan emosi
Mengelola emosi berarti mengenali perasaan agar perasaan
terungkap sesuai dengan kesadaran diri. Mengelola emosi juga berarti
menguasai diri yaitu kemampuan untuk menghadapi badai emosi yang
terjadi dan bukan budak nafsu. Goleman (2000) mengatakan yang
dikehendaki adalah emosi yang wajar, keselarasan antara perasaan dan
lingkungan. Apabila emosi terlampau ditekan maka akan tercipta
kebosanan.
Emosi yang tidak dikendalikan atau terlampau ekstrim dapat
menjadi sumber penyakit. Jika kemampuan diatas dapat dikuasai dan
dapat dikelola dengan baik akan memberikan keuntungan. Orang yang
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
27
mampu mengelola emosi dengan baik dapat melawan emosi murung,
marah, serta lebih mampu cepat menguasai perasan-perasaan dan
bangkit kembali dalam kehidupan emosi yang normal. Individu yang
rendah
emosinya
cenderung
pesimis
terus-menerus,
bertarung
melawan perasaan murung dan mudah marah.
3. Memotivasi diri
Orang yang mampu memotivasi diri sendiri adalah orang yang
memiliki ciri-ciri mampu mengendalikan kecemasan, memiliki pola
piikir yang positif, optimis, mampu mencapai keadaan flow yaitu
keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap kedalam apa yang
sedang dikerjakannya, perhatiannya hanya berfokus pada apa yang
sedang dikerjakanya, serta kesadaran menyatu dengan tindakan
(Goleman, 2000). Kemampuan memotivasi diri dalamhal ini diartikan
sebagai kemampuan-kemampuan untuk membangkitkan dorongandorongan dan minat-minat agar dapat mencapai tujuan yang ingin
dicapai.
4. Mengenali emosi orang lain (Empati)
Goleman (2002) mengatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukan kemampuan
empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih
mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
28
mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih
mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan
orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
Orang-orang yang mampu menbaca perasaan dan isyarat non
verbal lebih mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih
populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka (Goleman, 2002). Anakanak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan
baik akan terus menerus merasa frustasi. Seseorang yang mampu
membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran yang tinggi.
Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan
mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut
mempunyai
kemampuan untuk membaca persaan orang lain (Goleman, 2002).
5. Membina hubungan
Membina hubungan dengan orang lain adalah keterampilanketerampilan untuk berhubungan dengan orang lain yang merupakan
kecakapan emosional yang mendukung keberhasilan dalam bergaul
dengan orang lain. Keterampilan membina hubungan merupakan
keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan
keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002). Individu yang hebat
adalah keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang
berhubungan dengan pergaulan interaksi dengan orang lain.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
29
Orang-orang yang hebat dalam ketrampilan membina hubungan
ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan
karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orangorang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang
menyenangkan karena kemampuannya bekomunikasi (Goleman,
2002). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat
dijadikan petunjuk positif bagaimana perawat mampu membina
hubungan dengan orang lain.
Berdasakan uraian di atas, penulis mengambil komponenkomponen utama dari kecerdasan emosional sebagai faktor utama
mengembangkan instrumen kecerdasan emosional.
Dalam penelitian Anissa & Handayani (2012) menunjukan besarnya
koefisien determinasi diketahui sebesar 0,363, yang berarti bahwa sumbangan
efektif dari variabel konsep diri dan kematangan emosi terhadap penyesuaian
diri sebesar 36,3%, sedangkan sisanya 63,7% dipengaruhi oleh faktor lain
yang tidak ditelit, seperti: komunikasi interpersonal, persepsi, sikap,
intelegensi, kepribadian, pola asuh orangtua, lingkungan sosial.
Selanjutnya, hasil analisis korelasi parsial diperoleh koefisien korelasi
rx1y-2 = 0,362 dengan p = 0,005 (p < 0,01). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa ada hubungan positif dan sangat signifikan antara konsep diri dengan
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
30
penyesuaian diri istri yang tinggal bersama keluarga suami dengan
mengendalikan kematangan emosi, sehingga hipotesis minor yang pertama
diterima. Diperoleh koefisien korelasi rx2y-2 = 0,336 dengan p = 0,009 (p <
0,01).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan sangat
signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian diri istri yang tinggal
bersama keluarga suami dengan mengendalikan konsep diri, sehingga
hipotesis minor yang kedua diterima.
Dari hasil penelitian Ningrum, dkk (2011) yang dilakukan pada remaja
usia 12-15 tahun diperoleh hasil 52,4% anak yang berkategori cerdas dan
47,6% anak berkategori kurang cerdas. Ini menunjukan sebagian besar anak
remaja dikelurahan Timbangan sudah mampu mengontrol emosionalnya
dengan baik. Baik itu dalam hal kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi,
empati, maupun keterampilan sosial, namun tidak sedikit responden yang
kurang cerdas ini terlihat dari hampir setengah dari semua jumlah responden
yang memiliki kecerdasan emosional yang kurang baik.
Nur & Ekasari (2008) melakukan penelitian hubungan antara konsep diri
dengan kecerdasan emosional dan didapatka hasil T hitung sebesar 4.696
dengan T tabel (0.05;68) = 1.671. jadi dapat disimpulkan bahwa T hitung > T
tabel (1.671), maha Ho ditolak dan Ha diterima artinya bahwa ada hubungan
yang signifikan antara konsep diri dengan kecerdasan emosional. Selanjutnya
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
31
dari hasil penghitungan koefisioensi determinan diperoleh angka sebesar
27.5%, artinya variabel konsep diri (X)
memberikan sumbangan sebesar
27.5% untuk variabel kecerdasan emosional (Y).
Penelitian ini mendukung pendapat Mutadi yang mengatakan bahwa
remaja dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi bila terlihat
dalam hal-halseperti bagaimana remaja mampu memberi kesan yang baik
tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri,
berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan
perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan
kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan
lancar dan efektif.
C. Adaptasi
1. Pengertian Adaptasi
Menurut Roy, (1960 dalam Rasmun, 2009) mengatakan menyesuaikan diri
dengan kebutuhan atau tuntutan baru; yaitu suatu usaha untuk mencari
keseimbangan kembali kedalam keadaan norma. Penyesuaian terhadap
kondisi lingkungan; modifikasi dari organisme atau penyesuaian organ secara
sempurna untuk dapat eksis pada kondisi lingkungan tersebut.
Hawari (2001) mendefinisikan adaptasi adalah cara bagaimana organisme
mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme
yang mam beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk : memperoleh
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
32
air, udara dan nutrisi (makanan), mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti
temperatur cahaya dan panas, mempertahankan hidup darimusuh alaminya,
berproduksi, merespon perubahan yang terjadi disekitarnya.
2. Model Konsep Adaptasi
Model konsep adaptasi pertama kali dikembalikan oleh Roy (1960)
konsepnya dikembalikan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti
diuraikan dibawah ini, asumsi dasar model adaptasi “Roy” adalah :
1.
Manusia adalah keseluruhan dari bio-psikologi dan sosial yang terus
menerus berinteraksi dengan lingkungan.
2.
Manusia
menggunakan
mekanisme
pertahanan
untuk
mengatasi
perubahan-perubahan bio-psikologi.
3.
Terdapat 3 macam rangsangan yang menyebabkan terjadinya perubahan.
a. Focal,
yaitu rangsangan yang berhubungan langsung dengan
perubahan lingkungan misalnya polusi udara dapat menyebabkan
infeksi paru, kehilangan suhu pada bayi yang baru lahir.
b. Kontekstual, yaitu berasal dari sumber lain, baik internal maupun
eksternal yang mempunyai pengaruh negatif yang dapat rangsang
focal, misalnya: kemiskinan menimbulkan ibu-ibu hamil atau balita
menjadi anemia dan isolasi sosial, yang merupakan rangkaian dari
mata rantai.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
33
c. Residual stimuli, yaitu kepercayaan, sikap dan pembawaan dari
individu yang dibawa dari perkembangan sikap masa lalu yang tidak
mau berterus terang, misalnya untuk sesaat seseorang dapat menerima
rasa sakit punggung tanpa komplain, tetapi kemudian ia membutuhkan
bantuan, karena tidak tahan merasakan sakit.
d. Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas
kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan
respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif.
e. Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik
positif maupun negatif.
Setiap orang mempunyai kemampuan yang digunakan untuk menjaga
integritas baik fisik maupun psikologis, Sistem adaptasi memiliki 4 model
adaptasi yang berdampak terhadap respon adaptasi diantaranya, sebagai
berikut :
1. Fisik (Physiological)
Adaptasi yang digunakan untuk tetap bersatunya fungsi sistem tubuh,
yaitu reaksi fisik terhadap adanya stressor yang masuk kedalam tubuh,
berupa adanya, penolakan tubuh terhadap stressor, baik secara alami
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
34
(reaksi imunitas), maupun yang dipelajari yaitu tindakan menghindar
atau berlindung menangkis untuk menolak untuk mengurangi stressor.
2. Konsep Diri (Self consept)
Yaitu yang menyangkut persepsi diri, yang mengakibatkan aktivitas
mental dan pengungkapan perasaan diri. Konsep diri itu ada lima
yaitu:
a.
Identitas diri yaitu yang berhubungan dengan ciri-ciri diri yang
dipersepsikan.
b.
Ideal diri yaitu hal yang terkait dengan persepsi diri terhadap citacita, keinginan, harapan hidup yang dipersepsikan.
c.
Peran diri yaitu persepsi terhadap peran dirinya di lingkungan
sosial masyarakat misalnya: peran sebagai kepala keluarga,
jabatan sosial di masyarakat.
d.
Gambaran diri yatu hal yang terkait dengan persepsi dirinya
terhadap keseluruhan bentuk fisik yang dipersepsikan.
e.
Harga diri yaitu persepsi terhadap keberadaan nilai dirinya
didalam lingkungan sosial.
3. Fungsi Peran (Role function)
Yaitu keseluruhan dari fungsi psikososial yang diperankan diberbagai
peran dimasyarakat, keberadaannya sebagai kepala keluarga, tokoh
masyarakat, tokoh agama, pejabat negara dan lain-lain. Dari peran
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
35
yang dimiliki bagaimana individu dapat menjaga integritas diri melalui
proses adaptasi.
4. Kemandirian (Interdependence)
Yaitu keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian didalam
mencapai sesuatu.
3. Mekanisme Adaptasi
Individu mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kesehatan, dan
menggunakan energinya untuk beradaptasi secara positif. Terdapat 3 sub
sistem yang berperan didalam konsep adaptasi yaitu antara lain:
a. Mekanisme Koping
Pada sistem ini terdapat dua mekanisme yaitu pertama mekanisme koping
bawaan yang prosesnya secara tidak disadari manusia tersebut, yang
ditentukan secara genetik atau secara umum dipandang sebagai prosesyang
otomatis pada tubuh. Kedua yaitu mekanisme koping yang didapat dimana
coping tersebut diperoleh melalui pengembangan atau pengalaman yang
dipelajarinya.
b. Sub Sistem regulator
Sub sistem dari manusia yang menangani terhadap adanya rangsangan dari
luar yaitu melalui sistem saraf dan hormonal, contoh misalnya bagaimana
seseorang yang mengalami stimulus respon emosional, kemudian tubuh
menyesuaikan diri dengan mengealuarkan hormon adrenalin yang berefek
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
36
pada mempercepat denyut nadi, berubah irama denyut nadi, pernafasan
yang meningkat.
c. Sub sistem kognator
Sob system yang menangani stimulus dengan melalui pengelolaan
persepsi, proses informasi, pembelajaran, pertimbangan dan emosi ; artinya
adaptasi dengan cara mengaktifan fungsi-fungsi kognitif
untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Skema di bawah ini menjelaskan
fungsi adaptasi.
Input
Contol proses
Coping
mechanisme
Stmuli
Adaptasi
Level
Ineffective
Regulator
Effectors
Out-put
Physiological
function Self
consept Rote
interdependens
Adaptasi
and
function
Cognator
ieffective
Responses
Skema 2.2. Mekanisme adaptasi Roy (1984 dalam Rasmun, 2009)
Hasil akhir dari upaya koping adalah suatu kondisi adaptasi, yaitu perilaku
baru dari modifikasi selama proses adaptasi. Sedangkan kegagalan dari
upaya adaptasi adalah prilaku mal adaptif, adaptasi merupakan upaya untuk
mencapai keseimbangan terhadap tuntutan atau oleh adanya setres.
Melakukan
adaptasi
artinya
melakukan
modifikasi
situasi
untuk
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
37
mendapatkan suasana baru, berubah atau merbada dari yang sebelumnya.
Adaptasi adalah suatu proses berubah yang dilakukan individu satu atau
lebih dimensi sebagai responnya terhadap setres atau adanya tuntutan
dalam kehidupan.
4. Dimensi adaptasi
Dimensi dari manusia yang terlibat dalam proses adaptasi adalah meliputi
system secara keseluruhan dari manusia, yaitu melibatkan dimensi fisik atau
biologik psikologis dan sosial budaya
1. Dimensi fisik atau biologik
Adaptasi dapat berupa : penyusuaian atas tuntutan terhadap perubahan fisik
biologik misalnya bertambah besarnya otot-otot setelah melakukan latihan
yang terus menerus-menerus, bertambahnya kapasitas jantung, paru setelah
latihan dalam waktu yang lama.
2. Dimensi psikologis
Adaptasi yang terjadi adalah berupa telah berubahnya sikap perilaku
individu oleh karena adanya upaya terus menerus dilakukan misalnya:
berhenti merokok merubahan pada gaya hidup atau pola hidup karena
menjadi kaya atau menjadi miskin, sedangkan perubahan kearah maladaptif
misalnya: menjadi akohollisme, adiksi obat-obatan terlarang dll.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
38
3. Dimensi sosial budaya
Terjadinya perubahan perilaku yang berkaitan dengan norma dan
keyakinan terhadap budaya baru misalnya, berbahasa asing karena tinggal
di Negara baru.
5. Karakteristik Respon Adaptif
Adalah acara atau bentuk reaksi yang di timbulkan dari adanaya stimulus
terhadap individu secara holistic (menyeluruh):
1. Semua respon adaktif mengarah dan berusaha mempertahankan kearah
keseimbangan.
2. Adaptasi adalah totalitas resposdari tubuh atau manusia secara keseluruhan
( holistik)
3. Respon adaptif terbatas: physiologis lebih terbatas dari pada psikososial,
psikososial perubahannya lebih luas.
4. Adaptasi memerluka waktu, artinya perubahan itu tidak instan atau tidak
mudah,
karena
memerlukan
ketekunan
dan
kesungguhan
untuk
melakukannya.
5. Memampuaan adaptasi antar individu berbeda-beda, individu yang sehat
lebih banyak mempunyai sumber untuk adaptasi,individu yang fleksibel
selalu siap meruh respond an memekai strategi koping yang bervariasi dan
lebih luas.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
39
6. Respon adaktif mungkin tidak adekuat atau axsesif misalnya, respon
inflamasi terhadap infeksi, mungkin tubuh dapat mengatasi sendri tanpa
pemberian antibiotik.
D. Teman Sebaya
1. Pengertian Teman Sebaya
Teman sebaya memainkan peranan penting dalam perkembangan
psikologis dan sosial remaja. Menurut Santrock (2002) teman sebaya adalah
anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama. Mappiare
(1982 dalam Puhar, 2007) mengatakan bahwa kelompok teman sebaya
merupakan lingkungan sosial pertama dimana seorang remaja belajar untuk
hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Selanjutnya
dikatakan bahwa lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok yang
baru, yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang sama, yang jauh berbeda
dengan ciri norma, kebiasaan yang ada dalam lingkungan keluarga remaja.
Pada dasarnya, setiap individu dalam bertingkah laku dimotivasi oleh
kebutuhanuntuk diterima oleh kelompok atau orang-orang sekitarnya
Mappiare (1982 dalam Puhar 2007). Di dalam kelompok teman sebaya timbul
persahabatan yang merupakan ciri khas pertama di dalam pergaulan, dimana
penerimaan atau penolakan teman serta akibat-akibatyang ditimbulkan
merupakan hal yang penting, sebab hal ini akan menciptakan perilaku yang
akan dibawanya dalam masa dewasa. Tidak adanya penerimaan teman sebaya
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
40
akan menimbulkan gangguan perkembangan psikis dan sosial dari remaja
yang bersangkutan.
Remaja merasa nyaman bersama teman sebayanya, karena melalui
teman-temannya remaja akan mendapatkan dukungan sehingga mereka
merasa dihargai dan dapat mengembangkan konsep diri yang positif melalui
dukungan tersebut (safaria, 2005). Mussen (1989 dalam Puhar, 2007)
mengatakan bahwa pada umumnya remaja yang diterima oleh teman
sebayanya diamati sebagai orang yang disukai orang lain, toleran, fleksibel,
simpati, berperilaku apa adanya, tidak sombong, mempunyai inisiatif,
kegembiraan dan dorongan untuk merencanakan kegiatan kelompok. Selain
itu remaja yang diterima oleh kelompok sebayanya adalah remaja yang suka
menolong, perhatian, baik hati, mudah memahami perasaan orang lain
(Safaria, 2005).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulakan bahwa penerimaan
teman sebayaaadalah sikap yang ditandai oleh sekelompok teman yang
memiliki ciri, norma, kebiasaan, usia, dan kematangan yang kurang lebih
sama kepada seorang remaja.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
41
2. Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Teman Sebaya
Menurut Mappiare (1982 dalam Puhar, 2007), faktor-faktor yang
mempengaruhi penerimaan teman sebaya adalah :
a.
Penampilan dan perbuatan, meliputi tampang yang baik, aktif dalam
kegiatan-kegiatan kelompok.
b.
Sikap, sifat dan perasaan, meliputi bersikap sopan, memperhatikan orang
lain, penyabar atau dapat menahan marah jika berada dalam keadaan yang
tidak menyenangkan dirinya.
c.
Pribadi, meliputi jujur, dapat dipercaya, menaati peraturan-peraturan
kelompok, mampu menyesuaikan diri secara tepat dalam berbagai situasi
dan pergaulan sosial.
d.
Kemampuan pikir, meliputi mempunyaiinisiatif, banyak memikirkan
kepentingan kelompok dan mengemukakan buah pikirannya.
3. Aspek Penerimaan Teman Sebaya
Aspek-aspek penerimaan teman sebayayang dikemukakan oleh Parker (1993
dalam Puhar, 2007) yaitu :
a. Pengakuan dan kepedulian, adalah suati tingkat dimana suatu hubungan
dikarakteristikkan sebagai bentuk kepedulian, dukungan, dan memberi
perhatian
b. Companionship, suatu hubungan dimana teman-teman menghabiskan
waktu bersama mereka dengan nyaman di dalam maupun di luar kampus.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
42
c. Help and guidance, meliputi usaha seseorang untuk membantu satu
samalain dengan segala rutinitas atau tuga.
d. Intimate exchange, meliputi dimana suatuhubungan yang karakteristik
olehketerbukaan akan informasi dan perasaan pribadi.
Dari hasil penelitian Setyarini (2012) di Asrama STIKes Santo Barromeus
di Kota Baru Parahyangan didapatkan bahwa responden dengan proses
adaptasi pada kategori baik 8 orang (11,6%) dan tidak baik 61 orang (88,4%).
Kusdiyati, dkk (2011) meneliti tentang penyesuaian diri pada siswa kelas
XI dan didapat hasil bahwa sebanyak 86 siswa (47,5%) dapat menyesuaikan
diri dengan baik, dan 95 siswa (52,5%) tidak dapat menyesuaikan diri dengan
baik. Peneliti mengambil penelitian ini karena peneliti ingin mengetahui
seberapa banyak siswa yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik di
kelas XI SMA Pasundan 2 Bandung.
Dari hasil survey di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Purwokerto didapatkan hasil dengan responden 10 orang 3 orang mengatakan
dapat beradaptasi dengan cepat dan 7 orang lainnya mengatakan
membutuhkan proses untuk dapat beradaptasi dengan lingkungn dan teman
baru.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
43
E. Kerangka Teori Penelitian
Sistem adaptasi memiliki 4 model adaptasi yang berdampak terhadap respon
adaptasi yaitu fisik (physiological), konsep diri (self consept), fungsi peran (role
function) dan kemandirian (interdependence). Individu mempunyai kemampuan
untuk
mempertahankan
kesehatan,
dan
menggunakan
energinya
untuk
beradaptasi secara positif. Terdapat 3 sub sistem yang berperan didalam konsep
adaptasi yaitu antara lain adaptasi Mekanisme koping, Sub sistem regulator
terdapat sistem dan hormonal, subsistem kognator terdapat pengelolaan persepsi,
proses informasi, pembelajaran, pertimbangan dan emosi. Disini tidak semuanya
diteliti, dalam penelitian ini variabel bebasnya yaitu konsep diri (self consept),
dan kecerdasan emosional (emosi).
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
44
Sistem adaptasi memiliki 4
model adaptasi yang berdampak
terhadap respon adaptasi:
1. fisik (physiological)
2. fungsi peran (role function)
3. kemandirian
4. konsep diri (self consept)
Adaptasi
3 sub sistem yang berperan
didalam konsep adaptasi:
1. Mekanisme koping
2. Sub sistem regulator:
a. Sistem saraf
b. Hormonal
3. Sub sistem kognator:
a. Pengelolaan persepsi
b. Proses informasi
c. Emosi
d. Pembelajaran
e. Pertimbangan
Keterangan :
3
= Variabel yang diteliti
4
= Variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.3 kerangka teori hubungan konsep diri, dan kecerdasan emosional
dengan adaptasi teman sebaya pada mahasiswa semester III di Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto Roy (1984 dalam Rasmun,
2009)
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
45
F. Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Bebas
Variabel Terikat
konsep diri
(self consept)
Adaptasi
Kecerdasan
emosional
Gambar 2.4 Kerangka konsep hubungan konsep diri, dan kecerdasan
emosional dengan adaptasi teman sebaya pada mahasiswa semester III di
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto
G. Hipotesis
Berdasarkan tujuan penelitian tentang hubungan konsep diri, dan kecerdasan
emosi dengan adaptasi, maka hipotesis penelitiannya adalah: Ada hubungan
antara konsep diri, dan kecerdasan emosional dengan adaptasi teman sebaya pada
mahasiswa semester III di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.
Hubungan Konsep Diri..., Nafissatun Nisari, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
Download