tinjauan hukum terhadap instrumen penyertaan (saham) pada pasar

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal secara tegas
mewajibkan setiap perusahaan yang menawarkan efeknya melalui pasar modal atau
disebut emiten untuk mengungkapkan seluruh informasi mengenai keadaan usahanya,
termasuk keadaan keuangan, aspek hukum, manajemen, dan harta kekayaan
perusahaan (full disclosure) kepada masyarakat. 1
Profesi
penunjang
pasar
modal
turut
bertanggung
jawab
dalam
mengembangkan pasar modal. Pekerjaan utama dari profesi penunjang pasar modal
adalah membantu emiten dalam proses go public dan dalam memenuhi persyaratan
mengenai keterbukaan yang sifatnya terus menerus. Profesi penunjang pasar modal,
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, perlu memiliki pengetahuan yang memadai
mengenai Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya serta ikut
bertanggung jawab terhadap kepatuhan atau ketaatan emiten yang menjadi pengguna
jasanya dalam rangka mematuhi ketentuan pasar modal yang berlaku, dan secara aktif
memberikan nasihat kepada nasabahnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku. 2
Integritas, profesionalisme dan independensi profesi penunjang pasar modal sangatlah
penting. Salah satu tolak ukur yang dipakai untuk menilai profesionalisme yang
dimiliki oleh profesi penunjang pasar modal adalah kemampuan untuk memberikan
1
Adrian Sutedi, Segi-Segi Hukum Pasar Modal, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 4.
Jusuf Anwar (1), Pasar Modal sebagai Sarana Pembiayaan dan Investasi, (Bandung: PT.
Alumni, 2008), hlm. 127.
2
Universitas Sumatera Utara
informasi kepada masyarakat investor mengenai nilai wajar harta kekayaan
perusahaan yang go public. 3
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 64 ayat (1)
menyatakan bahwa Profesi Penunjang Pasar Modal terdiri dari: 4
a.
b.
c.
d.
e.
Akuntan
Konsultan hukum
Penilai
Notaris, dan
Profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
Profesi penunjang pasar modal yang sering menjadi sorotan pelaku bursa
adalah akuntan publik. Akuntan publik adalah pihak yang memiliki kewenangan
memeriksa laporan keuangan emiten, guna memberikan pendapat atas laporan
keuangan yang dipublikasikan oleh emiten. Akuntan publik juga selalu menjadi
narasumber atas kebenaran laporan keuangan emiten dalam periode akhir tahun
pembukuan. Meskipun profesi akuntan publik lebih banyak membantu emiten,
pemodal bisa memanfaatkan akuntan publik sebagai sumber informasi tentang
laporan keuangan emiten. Laporan keuangan merupakan informasi penting, karena
pengambilan keputusan investasi dimulai dari indikator keuangan ini. Sehingga
pemodal sangat berkepentingan dengan pendapat yang dibuat akuntan publik. 5
Menurut John A. Prasetio, setiap perusahaan yang go public secara periodik
harus melaporkan pertanggungjawaban atas pengelolaan berbagai sumber ekonomi
3
Ibid., hlm. 131.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
5
Aristides Katoppo, Pasar Modal Indonesia (Retrospeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ),
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 161-162.
4
Universitas Sumatera Utara
yang dikuasai oleh perusahaan tersebut. Laporan pertanggungjawaban itu diperiksa
oleh pihak yang independen yaitu akuntan publik. Laporan tersebut disusun dengan
aturan yang berlaku yaitu standar akuntansi keuangan dan peraturan lainnya. Sebelum
go public, kebanyakan perusahaan adalah milik keluarga. Biasanya sistem
pertanggungjawaban keuangannya dibuat oleh internal auditor, masih sederhana, dan
tidak memakai standar akuntansi tertentu. Laporan keuangan yang disajikan secara
sederhana sering tidak akurat dan tidak konsisten. Sehingga, kata John, sebelum go
public perusahaan-perusahaan itu selalu melakukan restrukturisasi operasional,
modal, termasuk perombakan sistem akuntansi mereka. Akuntan membantu agar
mekanisme kerja manajemen dari segi pelaporan keuangannya menjadi lebih efisien
dan baik.
Laporan keuangan sebenarnya merupakan tanggung jawab manajemen
perusahaan, sedangkan tanggung jawab akuntan publik terletak pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan hasil audit. Pada umumnya akuntan
publik melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan
Akuntan
Indonesia
(IAI).
Standar
tersebut
mengharuskan
akuntan
publik
merencanakan dan melaksanakan audit agar akuntan publik memeroleh keyakinan
yang memadai bahwa laporan keuangan konsolidasi itu bebas dari salah saji secara
material. 6
Akuntan publik adalah pihak yang memberikan pendapat atas kewajaran
dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, serta arus kas sesuai
6
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 7 Pemilihan akuntan publik didasarkan
pada beberapa faktor, yaitu pengalaman berhubungan dengan Badan Pengawas Pasar
Modal dan menguasai proses penawaran umum, serta mempunyai reputasi yang
baik. 8 Akuntan yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal wajib terlebih dahulu
terdaftar di Bapepam untuk mendapatkan Surat Tanda Daftar Profesi Penunjang Pasar
Modal untuk akuntan publik. Akuntan publik berperan dalam mengungkapkan
informasi keuangan perusahaan dan memberikan pendapat mengenai kewajaran atas
data yang disajikan dalam laporan keuangan. 9
Akuntan publik memberikan laporan atau penilaian kelayakan laporan
keuangan emiten. Laporan-laporan tersebut antara lain: neraca, laporan rugi laba,
laporan perubahan emiten. Akuntan publik yang melakukan tugas ini harus yang
dianggap kredibel. Hasil penelitian oleh akuntan publik kemudian diumumkan
kepada masyarakat dan akan dijadikan pedoman pihak-pihak pengambil keputusan di
pasar modal, terutama investor. 10
Akuntan publik melakukan pemeriksaan terhadap segala aspek keuangan dan
pembukuan perusahaan bukan hanya untuk tahun buku yang sedang berjalan, tapi
juga beberapa tahun sebelum penawaran umum tersebut dilaksanakan. Akuntan juga
melakukan penelitian segala aspek keuangan perusahaan, laporan keuangan beberapa
tahun sebelumnya dan estimasi-estimasi di bidang keuangan dan juga rencana cash7
Adrian Sutedi., Op. cit., hlm. 30.
Asril Sitompul, Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya), (Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2004), hlm. 52.
9
Adrian Sutedi., Loc. cit.
10
Mandala Manurung dan Prathama Rahardja, Uang, Perbankan, dan Ekonomi Moneter,
(Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), hlm. 67.
8
Universitas Sumatera Utara
flow (aliran kas) perusahaan. Pada masa penawaran umum ini perusahaan penilai
(appraisal) akan menilai perusahaan (valuation) dan untuk itu, akuntan harus
memperhatikan dengan teliti jalannya penilaian ini untuk menghindarkan
kemungkinan terjadinya penipuan dalam penilaian tersebut, antara lain dengan
melakukan “mark up” yaitu menaikkan nilai perusahaan dari nilai yang sebenarnya
atau “overstated” yaitu penggelembungan laba perusahaan ataupun dengan “windowdressing” atau perbaikan pembukuan perusahaan dengan mencantumkan angka-angka
yang tidak benar agar perusahaan tampak sehat. 11 Akuntan publik, dengan
memperlihatkan keterbatasan yang ada di dalam proses pemeriksaan, harus
melaksanakan pemeriksaan sedemikian rupa, termasuk antisipasi kemungkinan
adanya kekeliruan atau penyelewengan. Pemeriksaan ini tidak saja dilakukan atas
catatan dan bukti yang diterima dari emiten, tetapi mencakup prosedur lain seperti
pengkajian analitis, inspeksi, pengamatan, tanya jawab, konfirmasi dan prosedur lain
yang perlu. Pemeriksaan ini tidak menjamin ditentukannya semua kekeliruan dan
penyelewengan. Apabila pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan norma
pemeriksaan akuntan maka tanggung jawab profesional Akuntan Publik telah
terpenuhi. Akuntan Publik akan dianggap lalai, bila gagal menemukan kecurangan
yang terjadi karena kelalaiannya untuk mematuhi norma pemeriksaan. 12
Tanggung jawab Akuntan Publik atas laporan keuangan yang diperiksa berada
pada pernyataan pendapat yang diberikan. Tujuan pemeriksaan adalah untuk
11
Asril Sitompul (1), Due Diligence dan Tanggung Jawab Lembaga-Lembaga Penunjang
pada Proses Penawaran Umum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 38-39.
12
Ibid., hlm. 206.
Universitas Sumatera Utara
memberikan pendapat apakah laporan keuangan itu mencerminkan secara wajar
posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan perusahaan sesuai
dengan Prinsip Akuntansi Indonesia, yang diterapkan secara konsisten. Perlu disadari
bahwa
emiten
dapat
memerintahkan
karyawannya
untuk
mencatat
atau
menyembunyikan transaksi dengan cara tertentu, sehingga menghasilkan laporan
keuangan yang menyesatkan atau, melakukan penyelewengan, apabila ia dengan
sengaja melanggar prosedur pengendalian intern yang ada. Di sini, kita dihadapkan
dengan integritas emiten. Pemeriksaan tidak akan berjalan baik apabila emiten telah
kehilangan integritasnya. 13
Beberapa contoh dimana Akuntan Publik harus bertanggung jawab atas
laporan keuangan yang overstated di pasar modal adalah pada skandal keuangan
besar-besaran yang menimpa perusahaan-perusahaan raksasa Amerika Serikat mulai
dari Enron, WorldCom, AOL, Walt Disney, Vivendi Universal, Merck, Global
Crossing, Xeroc, Tyco, yang melibatkan lembaga investment bank seperti CSFB, JP
Morgan, dan Merrill Lycnh, dan tentu saja tidak lepas dari peranan kantor akuntan
publik yang sebelumnya mengaudit perusahaan-perusahaan tersebut. 14
Contoh di Indonesia yang juga melibatkan akuntan publik yang harus
bertanggung jawab atas laporan keuangan yang overstated di Pasar Modal adalah PT.
Kimia Farma. PT. Kimia Farma diindikasikan melakukan mark up (overstated)
13
Sawidji Widoatmodjo, Teknik Memetik Keuntungan di Pasar Bursa Efek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 1996), hlm. 204-206.
14
Telaah Kritis Pasar Modal Syariah, sebagaimana dimuat dalam http://jurnalekonomi.org/2003/12/20/telaah-kritis-pasar-modal-syariah/., diakses tanggal 28 Maret 2011 pukul
10.00 WIB.
Universitas Sumatera Utara
jumlah keuntungan dalam laporan keuangannya pada tahun 2001 dimana perusahaan
melaporkan laba bersih Rp. 132,263 milyar padahal laba bersih sesungguhnya adalah
Rp. 99,594 milyar, sehingga ada kelebihan pencatatan laba bersih sebesar Rp. 32,66
milyar; 15 selain itu, PT Kereta Api Indonesia, pada tahun 2005, mengumumkan
bahwa keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar telah diraihnya, padahal sebenarnya
menderita kerugian sebesar Rp. 63 milyar. 16 Contoh lain yakni PT Indofarma, kasus
ini bermula saat perusahaan yang memproduksi 80% (delapan puluh persen) obat
generik itu mengalami kerugian sebesar Rp. 20,097 milyar pada tahun 2002, padahal
hingga kuartal III tahun yang sama, laba bersih indofarma mencapai Rp. 88,57
milyar. 17
Latar belakang diatas menarik perhatian penulis untuk melakukan Penelitian
tentang “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated
di Pasar Modal”.
B. Permasalahan
Permasalahan yang akan diteliti dan dianalisis dalam penelitian ini
berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana independensi akuntan publik di pasar modal?
15
Hamud M. Balfas, Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Tatanusa, 2012), hlm. 256.
Contoh-contoh
kasus
pelanggaran
etikasebagaimana
dimuat
dalam
http://liaaaajach.wordpress.com/2013/01/19/contoh-contoh-kasus-pelanggaran-etika-profesi-akuntansi/
diakses tanggal 17 juni 2013.
17
Rizka Ardhianty Armein, Analisis Kasus Laporan Keuangan PT. Indofarma, Tbk,
sebagaimana dimuat dalam http://dspace.library.uph.edu:8080/bitstream/123456789/912/2/lw-04-032005-analisis_kasus_laporan_keuangan.pdf diakses tanggal 17 juni 2013.
16
Universitas Sumatera Utara
2. Bagaimana penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar
modal?
3. Bagaimana tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated
di pasar modal?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian tesis ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui independensi akuntan publik di pasar modal.
2. Untuk mengetahui penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di
pasar modal
3. Untuk mengetahui pengaturan tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan
keuangan yang overstated di pasar modal.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis. Atas dasar tujuan tersebut
diatas, maka penelitian hukum positif yang berhubungan dengan “Tanggung Jawab
Akuntan Publik Atas Laporan Keuangan Yang Overstated Di Pasar Modal” akan
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis akan memberikan sumbangan pemikiran pada ilmu hukum,
khususnya dalam hukum bisnis, lebih khusus lagi dalam hukum pasar modal
mengenai “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang overstated
Universitas Sumatera Utara
di Pasar Modal” dan memberikan tambahan wawasan kepada kalangan yang berminat
pada hukum bisnis, khususnya hukum pasar modal dan pihak-pihak serta lembagalembaga yang terkait di pasar modal.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis, sebagai wadah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teori yang
telah dipelajari selama kuliah, serta semakin menambah wawasan dan pengetahuan
tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di
pasar modal.
b. Bagi Akuntan Publik, sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati dan secara teliti
dalam melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan yang akan terlibat
di pasar modal agar pendapat yang dihasilkan tidak menyesatkan para investor.
c. Bagi Emiten, sebagai bahan pertimbangan agar memberikan segala informasi yang
dibutuhkan akuntan publik dalam hal laporan keuangan perusahaan dan
mengungkapkan segala informasi tersebut secara menyeluruh agar memberikan
jaminan dan menarik para investor untuk berinvestasi di perusahaan.
d. Bagi investor, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang laporan
keuangan yang dikeluarkan oleh akuntan publik, dan harus lebih berhati-hati
dalam berinvestasi di pasar modal serta memberikan perlindungan bagi investor
karena adanya peraturan di bidang pasar modal.
e. Bagi Pembuat Kebijakan, sebagai bahan untuk dapat melengkapi peraturan yang
berkaitan dengan tanggung jawab akuntan publik dan dapat menciptakan
Universitas Sumatera Utara
penegakan hukum demi terciptanya iklim usaha yang adil dan kondusif serta
menjamin kepastian hukum bagi para pelaku usaha.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian ini didasarkan pada ide, gagasan serta pemikiran penulis secara
pribadi dengan melihat perkembangan hukum di bidang bisnis khususnya pada
permasalahan “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang
Overstated di Pasar Modal”. Berdasarkan pengamatan dan penelusuran kepustakaan
yang dilakukan di lingkungan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara terhadap
penelitian-penelitian yang ada, ternyata belum ada yang melakukan penelitian
mengenai “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated
di Pasar Modal”. Berdasarkan hasil penelusuran yang telah dilakukan, ada beberapa
penelitian yang memiliki topik yang sama, namun dalam hal permasalahannya dan
pembahasannya berbeda dengan isi penelitian ini, yaitu:
1. Mukhti, 2008, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan
Pencatatan (Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia dengan
rumusan masalah sebagai berikut: 18
a. Bagaimana aspek hukum dalam pelaksanaan penghapusan pencatatan
(delisting) pada kegiatan pasar modal indonesia?
18
Mukhti, 2008, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan Pencatatan
(Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia sebagaimana dimuat dalam
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/5061/1/08E00722.pdf, diakses tanggal 18 Maret 2013.
Universitas Sumatera Utara
b. Bagaimana mekanisme perlindungan hukum yang dilakukan oleh Bapepam
bagi investor publik dalam proses penghapusan pencatatan (delisting) saham
bagi kegiatan pasar modal Indonesia?
c. Apakah ketentuan di bidang pasar modal yang ada telah memberikan
perlindungan hukum bagi investor publik manakala terjadi penghapusan
pencatatan (delisting) saham pada kegiatan pasar modal Indonesia?
2. Tandi Pada Palayukan, 2012, Analisis terhadap Larangan Praktik Insider Trading
di Pasar Modal dengan rumusan masalah sebagai berikut: 19
a. Bagaimanakah karakteristik perdagangan orang dalam (insider trading) dalam
pasar modal?
b. Bagaimanakah ketentuan larangan praktik insider trading dalam pasar modal?
c. Bagaimanakah
pengawasan
terhadap
praktik
insider
trading
dalam
perkembangan pasar modal?
3. Mega Kartika, 2009, Peran dan Tanggung Jawab Underwriter dalam Perjanjian
Full Commitment di Pasar Perdana dengan rumusan masalah sebagai berikut: 20
a. Bagaimana peran dan tanggung jawab underwriter dalam perjanjian full
commitment di pasar perdana?
b. Apa saja yang dikategorikan sebagai penyimpangan oleh underwriter pada
proses penawaran umum perdana dan bagaimana akibat hukumnya?
19
Tandi Pada Palayukan, Analisis terhadap Larangan Praktik Insider Trading di Pasar
Modal, (Medan: Pasca Sarjana Ilmu Hukum USU, 2012), hlm. 15.
20
Mega Kartika, Peran dan Tanggung Jawab Underwriter dalam Perjanjian Full
Commitment di Pasar Perdana, (Medan: Pasca Sarjana Ilmu Hukum USU, 2009), hlm. 13.
Universitas Sumatera Utara
c. Bagaimana penyelesaian sengketa antara underwriter dan emiten?
Berdasarkan judul penelitian dan permasalahan diatas penelitian ini dapat
dikategorikan sebagai penelitian baru dan keasliannya dapat dipertanggungjawabkan
secara akademis berdasarkan nilai objektivitas dan kejujuran.
F. Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual
1. Kerangka Teoritis
Kerangka Teoritis dalam penelitian karya ilmiah hukum mempunyai 4
(empat) ciri, yaitu (a) teori-teori hukum, (b) asas-asas hukum, (c) doktrin hukum dan
(d) ulasan pakar hukum berdasarkan pembidangan kekhususannya. 21
Teori merupakan tujuan akhir dari ilmu pengetahuan. Hal tersebut dapat
dimaklumi, karena batasan dan sifat hakikat suatu teori adalah “…seperangkat
konstruk (konsep), batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan
sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel,
dengan tujuan menjalankan dan memprediksi gejala-gejala itu”.
Rumusan diatas, mengandung 3 hal, pertama, teori merupakan seperangkat
proposisi yang terdiri atas variabel-variabel yang terdefenisikan dan saling
berhubungan. Kedua, teori menyusun antar hubungan seperangkat variabel dan
dengan demikian merupakan suatu pandangan sistematis mengenai fenomenafenomena yang dideskripsikan oleh variabel-variabel itu. Akhirnya, suatu teori
21
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 79.
Universitas Sumatera Utara
menjelaskan fenomena. Penjelasan itu diajukan dengan cara menunjuk secara rinci
variabel-variabel tertentu yang berkaitan dengan variabel-variabel tertentu lainnya. 22
Penelitian ini menggunakan teori Tanggung Jawab Profesional (Professional
Liability). Dalam Black Law Dictionary,
Profession is A vocation or occupation requiring special, usually advanced,
education, knowledge, and skill; e.g. law or medical profession.
Professional is One engaged in one of learned professions or in an occupation
requiring a high level of training and proficiency. 23
Profesi adalah pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan, pengetahuan, dan
keterampilan khusus, biasanya pada tingkat lanjut, misalnya profesi hukum atau
kedokteran. Ciri utama dari seorang profesi adalah mempunyai pendidikan khusus,
keterampilan khusus, dan dalam tingkat lanjut, contohnya akuntan publik.
Sedangkan profesional adalah seseorang yang terlibat suatu pekerjaan yang
perlu belajar terlebih dahulu untuk dapat mengerjakannya, atau suatu pekerjaan ynag
mensyaratkan pelatihan dan keahlian pada tingkat yang tinggi. Dengan demikian
professional dalam professional liability berarti orang yang memberi jasa tertentu dan
tanggung jawab dari pemberi jasa/pengemban profesi atau jasa yang diberikannya. 24
Secara teoritik, di dalam Undang-undang perlindungan konsumen diatur
beberapa macam tanggung jawab (liability), salah satunya Professional Liability.
22
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008), hlm. 42-43.
23
Black Law Dictionary.
24
Hukum Pertanggungjawaban Profesi (Professional Liability), sebagaimana dimuat di
http://www.docstoc.com/docs/3844817/HUKUM-PERTANGGUNGJAWABAN-PROFESIdalam
(PROFFESIONAL-LIABILITY)-DAN, diakses tanggal 28 Maret 2013.
Universitas Sumatera Utara
Professional Liability menyatakan bahwa dalam hal tidak terdapat hubungan
perjanjian antara pelaku usaha dengan konsumen, tetapi prestasi pemberi jasa tersebut
tidak terukur sehingga merupakan perjanjian ikhtiar (inspanningverbintenis), maka
tanggung
jawab
pelaku
usaha
didasarkan
pada
professional
liability
(pertanggungjawaban profesional), yang menggunakan tanggung jawab perdata
secara langsung (strict liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami
konsumen akibat memanfaatkan jasa yang diberikannya. Sebaliknya, dalam hal
terdapat hubungan perjanjian antara pelaku usaha dengan konsumen, dan prestasi
pemberi jasa tersebut terukur sehingga merupakan perjanjian hasil (resultants
verbintennis), maka tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada professional
liability, yang menggunakan tanggung jawab perdata atas dasar perjanjian
(contractual liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami konsumen akibat
memanfaatkan jasa yang diberikannya. 25
Menurut Komar Kantaatmaja sebagaimana dikutip oleh Shidarta menyatakan
tanggung jawab profesional adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam
hubungan dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien. Tanggung jawab
profesional ini timbul karena mereka (para penyedia jasa profesional) tidak
memenuhi perjanjian yang mereka sepakati dengan klien mereka atau akibat dari
25
Harjono, Perlindungan Hukum Konsumen yang Menderita Kerugian dalam Transaksi
Properti Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen (Studi pada Pengembangan Perumahan
PT. Fajar Bangun Raharja Surakarta), Yustisia Edisi Nomor 68 Mei-Agustus 2006, hlm. 5,
sebagaimana dimuat dalam
http://eprints.uns.ac.id/808/1/perlindungan_hukum_terhadap_konsumen_yang_menderita_kerugian.pd
f, diakses tanggal 15 Agustus 2013.
Universitas Sumatera Utara
kelalaian penyedia jasa tersebut mengakibatkan terjadinya perbuatan melawan
hukum. 26
Tanggung jawab profesional (Professional Liability) merupakan pekerjaan
yang
dalam
melaksanakan
tugasnya
memerlukan
dan
menuntut
keahlian,
menggunakan tehnik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari
lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang
dapat dipertanggungjawabkan. Ciri-ciri dari profesi, yaitu: 27
1. Standar untuk kerja
2. Lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan pelaku profesi tersebut dengan
standar kualitas akademik yang bertanggung jawab.
3. Organisasi profesi
4. Etika dan kode etik profesi
5. Sistem imbalan
6. Pengakuan masyarakat
Berdasarkan pengertian diatas, Tanggung jawab professional (Professional
Liability) adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam hubungan dengan jasa
profesional yang diberikan kepada klien. Jenis jasa yang ditawarkan bisa pada 2 hal,
yaitu: 28
26
Yoan Budiyanto, 2012, Jurnal Perlindungan Hukum bagi Perusahaan Lembaga
Pembiayaan Selaku Kreditor terhadap Musnah atau Dialihkannya Objek Jaminan Fidusia, (Malang:
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya), hlm. 20, sebagaimana dimuat dalam
http://hukum.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/yohanjadi.pdf, diakses tanggal 15 Agustus 2013.
27
Tanggung Jawab Profesional, http://rendi-gumelar.blogspot.com/2011/10/normal-0-falsefalse-false-en-us-x-none.html, diakses tanggal 28 Maret 2012.
28
Hukum
Perlindungan
Konsumen,
sebagaimana
dimuat
di
dalam
http://kuliahade.wordpress.com/category/hukum-perlindungan-konsumen/, diakses tanggal 28 Maret
2012.
Universitas Sumatera Utara
1. Menjanjikan menghasilkan sesuatu (resultaat verbintenis), yaitu Jasa yang
menjanjikan untuk menghasilkan sesuatu, misalnya tanggung jawab dokter gigi
atas hasil pekerjaannya menambal gigi pasien.
2. Mengupayakan sesuatu (inspanningsverbintenis), yaitu Jasa yang memperjanjikan
untuk mengupayakan sesuatu, misalnya tanggung jawab profesional seorang
pengacara untuk mengupayakan agar kepentingan kliennya dapat dilindungi
seoptimal mungkin. 29
Tanggung jawab profesional (Professional Liability) terdiri dari 2 (dua)
macam, yaitu: 30
1. Tanggung jawab profesional (Professional Liability) berdasarkan kode etik
organisasi profesi yang bersangkutan (intern). Contohnya akuntan yang melanggar
kode etik akuntan publik akan dicabut dari organisasi profesi akuntan publik.
2. Tanggung jawab profesional (Professional Liability) berdasarkan hukum (ekstern)
merupakan tanggung jawab profesional berdasarkan hukum (legal liability),
diartikan sebagai tanggung jawab hukum pemberi jasa/pengemban profesi atas
jasa yang diberikannya kepada kliennya atau tanggung jawab hukum pengemban
profesi terhadap pihak ketiga.
Profesi akuntan publik diatur dalam sebuah aturan yang disebut sebagai kode
etik profesi akuntan publik. Dalam kode etik profesi akuntan publik ini diatur
29
Product Liability, Professional Liability, sebagaimana dimuat di dalam
http://tipsmotivasihidup.blogspot.com/2013/02/product-liability-professional-liability.html,
diakses
tanggal 14 Mei 2013.
30
Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam http://ekamulyani.blogspot.com/2013/01/kewajiban-dan-tanggung-jawab-hukum.html, diakses tanggal 28 Maret
2013.
Universitas Sumatera Utara
berbagai masalah, baik masalah prinsip yang harus melekat pada diri akuntan publik,
maupun standar teknis pemeriksaan yang juga diikuti oleh akuntan publik, juga
bagaimana ketiga pihak melakukan komunikasi atau interaksi. 31 Adapun fungsi dari
kode etik profesi akuntan publik adalah: 32
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas
yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan
3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika
dalam keanggotaan profesi.
Dinyatakan dalam kode etik yang berkaitan dengan masalah prinsip bahwa
akuntan harus menjaga, menjunjung dan menjalankan nilai-nilai kebenaran dan
moralitas, seperti bertanggung jawab (responsibility), berintegritas (integrity),
bertindak secara objektif (objectivity) dan menjaga indenpendensinya terhadap
kepentingan berbagai pihak (independence), dan hati-hati dalam menjalankan profesi
(due care). Setiap akuntan publik harus mempertahankan integritas, objektivitas dan
independensi dalam menjalankan tugasnya. Seorang akuntan publik yang
mempertahankan integritas, akan bertindak jujur dan tegas dalam mempertimbangkan
fakta, terlepas dari kepentingan pribadi.
Etika akuntan yang dalam Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) tahun 2011
yang disusun oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) disebut sebagai norma
akuntan menjadi patokan resmi para akuntan publik Indonesia dalam berpraktek.
31
Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam http://ekamulyani.blogspot.com/2013/01/kewajiban-dan-tanggung-jawab-hukum.html, diakses tanggal 28 Maret
2013.
32
Kode Etik Profesi dan Kewajiban Hukum, sebagaimana dimuat di dalam
http://kozekosasih.blogspot.com/p/kode-etik-profesi-dan-kewajiban-hukum.html, diakses tanggal 28
Maret 2013.
Universitas Sumatera Utara
Norma-norma dalam SPAP tersebut yang menjadi acuan dalam penentuan tiga
standar utama dalam pekerjaan akuntan publik, antara lain:
1. Akuntan publik harus memiliki keahlian teknis, independen dalam sikap mental
serta kemahiran profesional dengan cermat dan seksama.
2. Akuntan publik wajib menemukan ketidakberesan, kecurangan, manipulasi dalam
pengauditan.
Hal yang paling ditekankan dalam SPAP adalah betapa esensialnya
kepentingan publik yang harus dilindungi serta sifat independensi dan kejujuran
seorang akuntan publik dalam berprofesi. Namun sulit untuk menentukan fungsi dan
etika pengauditan yang secara teknik dapat mendeteksi jika ada penyelewengan pada
sistem pemerintahan baik untuk penyusunan anggaran maupun aktivitas keuangan
lainnya. IAPI mempunyai tugas dan kewajiban terhadap anggotanya yang terlibat
dalam proses pemeriksaan akuntan (auditing) agar tetap menjunjung tinggi
profesionalisme mereka. Tuntutan profesionalisme bagi akuntan publik antara lain:
1. Mengembangkan ilmu dan seni akuntansi
2. Menjaga kepercayaan publik kepada profesi
3. Mengadakan dan menjalankan setiap program dan kegiatan profesi yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas jasa yang diberikan profesi
Sebagai organisasi profesional di samping harus mampu membina
anggotanya, IAPI harus mampu mengawasi dan menindak anggotanya yang
melanggar kode etik profesi akuntan publik. Kewajiban lain yang harus dipikul IAPI
agar dapat menjadi salah satu “pillars of integrity” adalah menjadi salah satu agen
Universitas Sumatera Utara
yang mempromosikan good governance. Promosi ini dilakukan pada dasarnya untuk
“menyuarakan” adanya keterbukaan dan akuntabilitas dalam berbagai aktivitas
masyarakat. Peran lain yang dapat IAPI ambil untuk mendukung gerakan anti korupsi
yang merupakan salah satu elemen gerakan untuk menciptakan good governance
adalah dengan memberikan dukungan teknis kepada lembaga atau gerakan anti
korupsi. 33
Adapun yang menjadi prinsip etika profesi akuntan publik Indonesia, adalah
sebagai berikut: 34
1. Tanggung jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional harus senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam
masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab
kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu
bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk
mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan
menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif
semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2. Kepentingan publik
Akuntan sebagai anggota IAPI berkewajiban untuk senantiasa bertindak
dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepentingan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi
adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran
yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari
klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan
keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan
dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini
menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik.
3. Integritas
33
Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam http://ekamulyani.blogspot.com/2013/01/kewajiban-dan-tanggung-jawab-hukum.html, diakses tanggal 28 Maret
2013.
34
Prinsip Etika Profesi Akuntan Publik Indonesia, sebagaimana dimuat dalam
http://adhebadriah.blogspot.com/2012/10/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html, diakses tanggal
28 Maret 2013.
Universitas Sumatera Utara
Akuntan sebagai seorang profesional, dalam memelihara dan meningkatkan
kepercayaan publik, harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya tersebut dengan
menjaga integritasnya setinggi mungkin. Integritas adalah suatu elemen karakter yang
mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang
melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota
dalam menguji keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota
untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan
rahasia penerima jasa.
4. Obyektifitas
Dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya, setiap akuntan sebagai anggota
IAPI harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam
pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang
memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas
mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak
berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh
pihak lain. Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus
menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktek
publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota
yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa
audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri,
pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang
ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus
melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.
5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh
kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat
dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi,
dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten
dengan tanggung jawab profesi kepada publik.
6. Kerahasiaan
Akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau
hukum untuk mengungkapkannya. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa
standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat
panduan mengenai sifat-sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai
keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat
atau perlu diungkapkan. Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati
kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa
Universitas Sumatera Utara
profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah
hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir
7. Perilaku profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten
selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesinya. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat
mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung
jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja
dan masyarakat umum.
8. Standar teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan
mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan
dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Standar teknis dan standar professional
yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan
perundang-undangan yang relevan.
Penelitian ini juga menggunakan prinsip keterbukaan (disclosure). Menurut
Bacelius Ruru keterbukaan (disclosure) adalah kewajiban perusahaan atau emiten
untuk menyampaikan laporan perusahaan, baik dalam bentuk laporan keuangan
berkala maupun laporan kejadian penting lainnya. Informasi tersebut harus akurat,
tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun demikian, untuk yang
namanya tindakan membeli efek, maka sektor hukum mensyaratkan untuk
keterbukaan (disclosure) lebih dari yang berlaku untuk membeli barang biasa. Cukup
banyak pemikiran telah tercurahkan dan cukup banyak aturan main yang telah
digulirkan hanya untuk menjamin agar unsur transparansi tersebut benar-benar
muncul ke permukaan. Pentingnya eksistensi dan kedudukan unsur keterbukaan
(disclosure) dalam pasar modal sehingga kalau belum bisa menjamin unsur
keterbukaan ini, maka hukum pasar modal tersebut dianggap masih belum apa-apa.
Universitas Sumatera Utara
Keterbukaan (disclosure) informasi di pasar modal diperlukan karena informasi itu
harus dijamin kebenarannya sehingga masyarakat pemodal dapat memahami keadaan
perusahaan sebelum mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli efek. 35
Menurut Undang-Undang Pasar Modal Pasal 1 angka 25: 36
“Prinsip keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten,
Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk
menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh
informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh
terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari Efek
tersebut.”
Fungsi dari prinsip keterbukaan dalam pasar modal adalah sebagai berikut: 37
a. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk memelihara kepercayaan publik terhadap
pasar.
Tidak adanya keterbukaan dalam pasar modal membuat investor tidak percaya
terhadap mekanisme pasar. Sebab prinsip keterbukaan mempunyai peranan penting
bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi karena
melalui keterbukaan bisa terbentuk suatu penilaian (judgement) terhadap investasi,
sehingga investor secara optimal dapat menentukan pilihan terhadap portofolio
mereka. Makin jelas informasi perusahaan, maka keinginan investor untuk
kekurangan serta ketertutupan informasi dapat menimbulkan ketidakpastian bagi
investor, dan konsekuensinya menimbulkan ketidakpercayaan investor dalam
melakukan investasi melalui pasar modal.
35
Adrian Sutedi,, Op. cit., hlm. 5.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
37
Bismar Nasution, Keterbukaan dalam Pasar Modal, (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas
Indonesia Program Pascasarjana, 2006), hlm. 7.
36
Universitas Sumatera Utara
b. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien.
Filosofi ini didasarkan pada konstruksi pemberian informasi secara penuh
sehingga menciptakan pasar modal yang efisien, yaitu harga saham sepenuhnya
merupakan refleksi dari seluruh informasi yang tersedia. Prinsip keterbukaan dapat
berperan dalam meningkatkan supply informasi yang benar, agar dapat ditetapkan
harga pasar yang akurat, hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan pasar modal
sebagai lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan informasi. Tanpa informasi
peserta pasar tidak dapat mengevaluasi produk-produk lembaga keuangan. Kalau
informasi mengenai saham sedikit, maka investor yang melakukan investasi relatif
kecil. Bisa juga terjadi bahwa suatu saham yang kualitasnya baik akan tetapi
mempunyai harga yang rendah dari semestinya, hal ini dapat terjadi apabila informasi
mengenai saham tersebut tidak tersedia secara luas dan akurat, dengan perkataan lain,
informasi saham yang mutunya rendah dapat mengakibatkan harga saham itu menjadi
lebih rendah dari semestinya. Manajemen perusahaan harus menjaga pasar untuk
menjual saham pada pasar primer dan pasar sekunder. Artinya semua informasi yang
relevan mengenai apa yang ada dan akan ada harus dikemukakan, jika tidak mereka
akan kehilangan kesempatan menjual sahamnya.
c. Prinsip keterbukaan penting untuk mencegah penipuan (fraud) 38
Pencapaian tujuan prinsip keterbukaan untuk perlindungan investor ini dapat
terpenuhi, sepanjang informasi yang disampaikan kepada investor mengandung
38
Ibid., hlm. 8-9.
Universitas Sumatera Utara
kelengkapan data keuangan emiten dan informasi lainnya yang mengandung fakta
materiel. Penyampaian informasi yang demikian kepada investor berguna untuk
menghindarkan investor dari bentuk penipuan atau manipulasi. 39
Max Weber pernah mengatakan bahwa konsistensi dalam penerapan hukum
mutlak bagi proses industrialisasi suatu bangsa. Hukum yang berkenaan dengan
industri pasar modal yang berlaku sekarang harus dikaji kembali, mengingat
konsistensi dan penerapan hukum pasar modal di Indonesia masih menghambat
penciptaan pasar modal yang efisien, sebab pasar modal telah lama dipandang
sebagai barometer dalam hakikat bisnis. Isu utama yang harus dicermati dalam pasar
modal adalah prinsip keterbukaan menjadi persoalan inti di pasar modal dan sekaligus
merupakan jiwa pasar modal itu sendiri, sebab keterbukaan tentang fakta material
sebagai jiwa pasar modal didasarkan pada keberadaan prinsip keterbukaan yang
memungkinkan tersedianya bahan pertimbangan bagi investor sehingga ia secara
rasional dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian atau penjualan
saham. 40
Pentingnya prinsip keterbukaan dalam pasar modal didasarkan kepada
beberapa teori yang saling berkaitan, artinya teori yang belakangan merupakan reaksi
atau perbaikan dari teori sebelumnya.
39
40
Ibid., hlm. 61.
Adrian Sutedi., Op. cit., hlm. 100.
Universitas Sumatera Utara
Teori pertama yang berkaitan dengan informasi yang mempengaruhi harga
saham adalah hipotesis pasar modal yang efisien (efficient capital market hypothesis).
Pada mulanya efficient capital market hypothesis (ECMH) muncul dalam literatur
ekonomi dan kemudian menjadi alat bagi ahli hukum serta menjadi bahan untuk
membuat pendapat hukum. Karena tidak adanya suatu penjelasan yang sama
mengenai pasar yang efisien, hal itu menjadi suatu persoalan serius bagi para hakim,
ahli hukum dan pembuat peraturan, yang akan memakai pendekatan ECMH sebagai
dasar kebijakan dalam pengaturan.
Pendekatan ECMH sama dengan teori pasar efisien, yaitu menentukan
“securities prices reflect a significiant amount of information from many different
source in the securities market” atau “prices at any time ‘fully reflect’ all available
information”. “Informasi yang dapat dipercaya direfleksikan ke harga saham secara
cepat dan mempengaruhi suatu kesempatan yang tidak bisa dieksploitasi secara
sistematis.
Suatu harga saham harus didasarkan pada pernyataan yang akurat dari
manajemen perusahaan. Artinya informasi itu tidak merupakan pernyataan yang
menyesatkan. Penyampaian informasi yang tidak akurat dapat mengakibatkan pasar
modal tidak efisien. Maka dalam hal ini keterbukaan artinya, suatu informasi tidak
mengandung misrepresentation atau omission. 41
41
Bismar Nasution., Op. cit., hlm. 12-13.
Universitas Sumatera Utara
Melalui pendekatan ECMH melahirkan fraud on the market theory yang
berkenaan dengan tanggung jawab tergugat. Mahkamah Agung Amerika Serikat
dalam Basic Inc v. Levinsion, 485 U.S. 224 (1988) menetapkan:
The fraud on the market theory is based on the hypothesis that, in an open end
developed securities market, the price of a company’s stock is determined by
the available material information regarding the company and its business…
Misleading statement will therefore defraud purchasers of stock even if the
purchasers do not directly rely on the misstatement…
Inti suatu gugatan dalam penipuan pasar modal berdasarkan fraud on the
market theory adalah apabila terjadi misrepresentation dan informasi itu masuk ke
pasar yang secara cepat dapat merubah harga saham. Untuk merubah suatu harga
saham, informasi yang salah tersebut harus dapat mempengaruhi orang-orang yang
mempunyai kapasitas yang dapat mempengaruhi harga saham yang diperdagangkan.
Orang-orang yang mempunyai kapasitas seperti itu menjadi ukuran dalam penentuan
adanya penipuan. Sebab dalam pasar saham yang modern harga saham bukan
ditentukan oleh investor profesional. Dengan perkataan lain, suatu informasi yang
salah tidak dapat merubah harga saham, apabila informasi itu tidak dipercaya oleh
investor potensil yang profesional. Berdasarkan teori ini adalah melawan hukum bagi
setiap orang, baik langsung maupun tidak langsung, barang siapa yang membuat
pernyataan yang menyesatkan atau tidak menyatakan suatu fakta materiel. 42
Oleh karena itu, penekanan prinsip keterbukaan dalam kaitannya dengan
efficient capital market hypothesis dan fraud on the market theory, perlu didekati
42
Ibid., hlm. 13-14.
Universitas Sumatera Utara
dengan teori mengenai standar penentuan fakta materiel (materialitas). Misalnya
dalam SEC v Texas Gulf Sulphur, 401 F. 2d, 833, (2d. Cir. 1968), mengenai apakah
suatu fakta bersifat material, yaitu apabila dengan fakta tersebut investor memutuskan
untuk membeli, menjual atau menahan saham yang ada dimilikinya. Tes lainnya,
apakah fakta tersebut menimbulkan akibat terhadap harga saham secara substansial. 43
2.
Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah penggambaran antara konsep-konsep khusus
yang merupakan kumpulan dalam arti yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti
dan/atau diuraikan dalam karya ilmiah. 44 Landasan konseptual ini dibuat untuk
menghindari pemahaman dan penafsiran yang keliru dan memberikan arahan dalam
penelitian, maka dengan ini dirasa perlu untuk memberikan beberapa konsep yang
berhubungan dengan judul dalam penelitian ini, yaitu:
a. Tanggung Jawab adalah sebagai suatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan
peranan, baik peranan itu merupakan hak maupun kewajiban 45 dan kewajiban
memikul kerugian yang diderita oleh pihak lain bila dituntut, baik dalam hukum
maupun administrasi.
b. Akuntan publik adalah Akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri dan
terdaftar di Bapepam. 46
43
Ibid.
Zainuddin Ali., Op. cit., hlm. 79.
45
Pengertian Tanggung Jawab, sebagaimana dimuat di dalam http://www.sekedarkabar.
blogspot. com/2012/05/pengertian-tanggung-jawab.html, diakses tanggal 28 Maret 2013.
46
Penjelasan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
44
Universitas Sumatera Utara
c. Tanggung jawab profesional adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam
hubungan dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien (pengguna jasa
profesional). 47
d. Tanggung jawab akuntan publik adalah tanggung jawab profesional (Professional
Liability) berdasarkan hukum (legal liability), diartikan sebagai tanggung jawab
hukum pemberi jasa/pengemban profesi atas jasa yang diberikannya kepada
kliennya atau tanggung jawab hukum pengemban profesi terhadap pihak ketiga. 48
e. Laporan keuangan adalah laporan tertulis yang memberikan informasi kuantitatif
tentang posisi keuangan dan perubahan-perubahannya, serta hasil yang dicapai
selama periode tertentu. 49
f. Overstated adalah penggelembungan dana atau laba/keuntungan perusahaan.
g. Laporan keuangan yang overstated adalah penggelembungan laba/keuntungan
dalam laporan keuangan perusahaan.
h. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan
perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. 50
47
Hukum
Perlindungan
Konsumen,
sebagaimana
dimuat
di
dalam
http://kuliahade.wordpress.com/category/hukum-perlindungan-konsumen/, diakses tanggal 28 Maret
2012.
48
Hukum
Perlindungan
Konsumen,
sebagaimana
dimuat
di
dalam
http://kuliahade.wordpress.com/category/hukum-perlindungan-konsumen/, diakses tanggal 28 Maret
2012.
49
Lili M. Sadeli, Dasar-Dasar Akuntansi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 18.
50
Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Universitas Sumatera Utara
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang
bersifat deskriptif analitis. Menurut Whitney, metode deskriptif adalah pencarian
fakta dengan interpretasi yang tepat. 51 Tujuan penelitian deskriptif adalah
menggambarkan secara tepat, sifat individu, suatu gejala, keadaan atau kelompok
tertentu. Deskriptif analitis berarti bahwa penelitian ini menggambarkan suatu
peraturan hukum dalam konteks teori-teori hukum dan pelaksanaannya, serta
menganalisis fakta secara cermat tentang penggunaan peraturan perundang-undangan
tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di
pasar modal. 52
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum
Normatif. Penelitian Hukum Normatif disebut juga Penelitian Hukum Doktrinal.
Penelitian Hukum Doktrinal Hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis di dalam
peraturan perundang-undangan (law in the books) atau hukum dikonsepkan sebagai
kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap
pantas. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif untuk meneliti norma-
51
Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Rieneka Citra, 1999), hlm. 21.
Mukhti, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan Pencatatan
(Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia. (Medan: Pasca Sarjana Ilmu Hukum, 2008),
hlm. 27.
52
Universitas Sumatera Utara
norma hukum yang berlaku terkait dengan tanggung jawab akuntan publik atas
laporan keuangan yang overstated di pasar modal.
2. Sumber Data
Penelitian hukum yang normatif menggunakan data sekunder, yang terdiri
atas (1) bahan hukum primer; (2) bahan hukum sekunder; (3) serta bahan hukum
tersier. 53
a. Bahan Hukum Primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya
mempunyai otoritas. 54 Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan dan
peraturan yang berkaitan dengan akuntan publik, yaitu Undang-undang Nomor 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Undang-undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang
Akuntan Publik, Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
17/PMK.01/2008 Tahun 2008 tentang Jasa Akuntan Publik, Peraturan Pemerintah
dan peraturan yang lainnya yang terkait dengan Akuntan Publik.
b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks
(textbooks) yang ditulis para ahli hukum yang berpengaruh (de herseende leer), 55
semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen
resmi, 56 termasuk skripsi, tesis, dan disertasi hukum dan jurnal-jurnal hukum. 57
53
Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang: UMM PRESS,
2009), hlm. 127.
54
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 141.
55
Johnny Ibrahim, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia
Publishing, 2005), hlm. 241-242.
56
Peter Mahmud Marzuki., Loc. Cit.
57
Ibid., hlm. 155.
Universitas Sumatera Utara
c. Bahan Hukum Tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti
kamus hukum, encyclopedia, dan lain-lain. 58
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur sistematis dan standar untuk memperoleh
data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data
dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah memberi arah dan
mempengaruhi metode pengumpulan data. Banyak masalah yang dirumuskan tidak
akan bisa terpecahkan karena metode untuk memperoleh data yang digunakan tidak
memungkinkan. 59 Penelitian ini menggunakan Penelitian Hukum Normatif, oleh
karena itu Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah Studi Kepustakaan.
Studi Kepustakaan merupakan metode tunggal yang dipergunakan dalam
penelitian hukum normatif. 60 Tujuan dan kegunaan studi kepustakaan pada dasarnya
adalah menunjukkan jalan pemecahan permasalahan penelitian. Apabila penulis
mengetahui apa yang telah dilakukan oleh penulis lain, maka penulis akan lebih siap
dengan pengetahuan yang lebih dalam dan lengkap.
Secara singkat studi kepustakaan dapat membantu penulis dalam berbagai
keperluan, misalnya: 61
58
Johnny Ibrahim., Loc. cit.
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 174.
60
Ibid., hlm 17.
61
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2003), hlm. 112-113.
59
Universitas Sumatera Utara
1. Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan
berkaitan dengan permasalahan.
2. Mendapat metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang
digunakan.
3. Sebagai sumber data sekunder.
4. Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya.
5. Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat
digunakan.
6. Memperkaya ide-ide baru.
7. Mengetahui siapa saja penulis lain di bidang yang sama dan siapa pemakai
hasilnya.
4. Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih
mudah dibaca dan diinterpretasikan. 62 Penelitian ini menggunakan metode yuridis
normatif secara kualitatif dengan beberapa langkah. Pertama, menginventarisir dan
mengidentifikasikan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang relevan. Kedua,
melakukan sistematisasi keseluruhan bahan hukum, asas-asas hukum, teori-teori,
konsep-konsep, dan bahan rujukan lainnya dengan cara melakukan seleksi bahan
hukum kemudian melakukan klasifikasi menurut penggolongan bahan hukum dan
menyusun data hasil penelitian secara sistematis yang dilakukan secara logis dengan
menghubungkan dan mengaitkan antara bahan hukum yang satu dengan bahan
hukum lainnya.
63
Ketiga, analisis bahan hukum yang telah dikumpulkan dilakukan
menurut cara-cara analisis dan penafsiran gramatikal serta sistematis di mana
interpretasi dilakukan dengan menafsirkan undang-undang sebagai bagian dari
62
Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai, (Jakarta: Pustaka LP3ES
Indonesia, 2008), hlm. 263.
63
Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 160.
Universitas Sumatera Utara
keseluruhan sistem perundang-undangan dengan menghubungkannya dengan
undang-undang lain secara logis dan sistematis.
64
Keempat, hasil penelitian yang
diperoleh akan dianalisis secara kualitatif. Kelima, penarikan kesimpulan dilakukan
secara deduktif yaitu pemikiran dimulai dari hal yang umum kepada hal yang
khusus. 65
64
Hadin Muhjad dan Nunuk Nuswardani, Penelitian Hukum Indonesia Kontemporer,
(Yogyakarta: Genta Publishing, 2012), hlm. 163.
65
Syamsul Arifin, Falsafah Hukum, (Medan: Uniba Press, 2011), hlm. 57.
Universitas Sumatera Utara
Download