- Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

advertisement
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap
lingkungan. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat pembangunan dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu setiap kegiatan atau aktivitas
yang diperkirakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan
diwajibkan melakukan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau
Dokumen UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup-Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup), yang bertujuan agar perubahan lingkungan akibat
pembangunan tidak menurunkan atau menghapuskan kemampuan lingkungan
untuk mendukung kehidupan pada tingkat kualitas yang lebih tinggi. Oleh sebab
itu perusahaan yang merubah bentang alam diwajibkan untuk membuat laporan
secara berkala sesuai dengan dokumen yang sudah dibuatnya kepada
pemerintahan (BLHD).
Dokumen Amdal dan dokumen UKL-UPL bukan untuk mendapat izin usaha
saja tetapi setelah mendapatkan izin, pengelolaan lingkungan wajib dilaksanakan
oleh perusahaan tersebut sesuai dengan dokumen UKL-UPL. Tetapi kenyataan
selama ini menunjukkan bahwa pada beberapa kasus hanya tinggal dokumen saja,
artinya dokumen tersebut dibuathanya sekedar mendapatkan izin usaha saja.
Tetapi setelah itu kegiatan pengelolaan lingkungan yang seharusnya dilaksanakan
oleh perusahaan sesuai dengan dokumen UKL dan UPL, belum dilaksanakan
sepenuhnya ataupun pelaksanaannya belum efektif. Masih ada perusahaan yang
belum melaporkan kegiatan pengelolaan lingkungan secara rutin ke Badan
1
Lingkungan Hidup Daerah. Ini jua terjadi di Badan Lingkungan Hidup Daerah
Provinsi Jambi.
Badan Lingkungan Hidup (BLHD) Provinsi Jambi merupakan suatu intansi
yang yang diberikan kewenangan dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup di Provinsi Jambi, yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam
melakukan pengawasan terhadap ketaan perusahaan dalam pengelolaan
lingkungan hidup.
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Bukit Bintang Sawit (PT.BBS) adalah salah
satu perusahaan yang memiliki izin usaha dibidang PKS seluas 1.600 ha, sesuai
dengan perundang-undangan PT.BBS diwajibkan memiliki Dokumen UKL-UPL.
Sejak tahun 2009 sampai sekarang PT.BBS belum pernah menyerahkan laporan
pengelolaan lingkungan hidup.
Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaduan dari bidang Penataan dan
Konservasi Lingkungan kepada Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan BLHD Provinsi Jambi, bahwa PT.BBS belum pernah menyerahkan
laporan evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup perusahaan ke BLHD Provinsi
Jambi. Oleh karena itu maka BLHD Provinsi Jambi melakukan pengawasan ke
PT. BBS.
1.2. Tujuan
Pelaksanaan kegiatan Pengalaman Praktek Kerja Mahasiswa atau PKPM
bertujuan untuk :
1.
Mempelajari proses pengawasan lingkungan yang dilakukan oleh Badan
Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Jambi.
2
2.
Untuk memantau dan mengevaluasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup
di PT. Bukit Bintang Sawit.
1.3. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh melalui penyelenggaraan kegiatan
Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa ( PKPM ) Politeknik Pertanian Negeri
Payakumbuh antara lain :
1. Mahasiswa mendapatkan pengalaman lapangan dan ilmu baru tentang tata
cara pengawasan Lingkungan Hidup oleh BLHD Provinsi Jambi.
2. Mahasiswa dapat meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan diri dalam
menghadapi dunia kerja.
3
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL)
Upaya Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah pengelolaan dan
pemantauan tehadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdamapak penting
terhadap lingkungan yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Setiap usaha dan/atau kegiatan
yng
tidak termasuk kedalam kriteri Wajib Amdal masuk wajib memiliki UKL-UPL
(Peraturan Lingkungan Hidup nomor 13 Tahun 2010).
UKL-UPL merupakan salah satu yang wajib dipenuhi dalam pelaksanaan
penerbitan izin lingkungan, sehingga bagi usaha dan/atau kegiatan yang UKLUPLnya ditolak dan pejabat pemberi izin wajib menolak penerbitan izin bagi
usaha dan/atau kegiatan bersangkutan (Peraturan Lingkungan Hidup nomor 13
Tahun 2010).
2.2. Pengawasan Lingkungan
Pengawasan lingkungan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara
langsung atau tidak langsung oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup
(PPLH/inspektur) dan PPLH daerah untuk mengetahui tingkat ketaatan kegiatan
terhadap ketentuan lingkungan hidup( KepmenLH no. 57 tahun 2002).
Menurut Kepmen LH No 56 Tahun 2002, kunjungan Pengawasan
dilakukan untuk mengetahui ketaatan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan. Tujuan melakukan pengawasan lingkungan hidup
4
adalah untuk memantau, mengevaluasi dan menetapkan status ketaatan suatu
usaha dan atau kegiatan . Sedangkan sasaran dari pengawasan ini adalah untuk
mendapatkan data dan informasi secara umum berupa fakta-fakta yang
menggambarkan kinerja atau status ketaatan suatu usaha dan atau kegiatan
terhadap
perundang-undangan
di
Bidang
Pengendalian
Kerusakan
dan
Pencemaran Lingkungan.
Menurut Kepmen LH No 9 Tahun 2003, yang menjadi pemikiran perlunya
pengembangan alternatife kegiatan pengawasan ini didasari beberapa faktor:
a. Masih rendahnya tingkat penataan perusahaan karena belum efektifnya
berbagai instrument penataan yang ada.
b. Meningkatnya tuntutan transparansi dan keterlibatan publik dalam
pengelolaan lingkungan
c. Adanya kebutuhan pembinaan terhadap upaya pengelolaan lingkungan
yang dilakukan oleh perusahaan, demi menciptakan nilai tambah
pengelolaan lingkungan.
Berdasarkan Kepmen Lingkungan Hidup nomor 57 Tahun 2002, didalam
melakukan pengawasan mengikuti
Standar Operation Procedure (SOP)
pengawasan dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini.
5
Star
Sumber Kegiatan
Pos Pengaduan dan Rencana Kegiatan
Tahunan
Petugas melakukan persiapan untuk
kelokasi.
1. PPLHD
2. Menyiapkan Safety Equipment
3. Menyiapkan peralatan Lab
4. Menyiapkan kendaraan roda 4
5. Berangkat Kelokasi
6. Pertemuan awal dengan pihak
perusahaan.
7. Telaah dokumen.
8. Inspeksi Lapangan.
9. Pertemuan akhir dan
pembuatan Berita Acara.
10. Menyerahkan sampel ke
Laboratorium.
PELAPORAN
1. Membuat nota dinas hasil
inspeksi
PENANDATANGANAN BA
2. Membuat analisis yuridis hasil
inspeksi lapangan (menentukan
status ketaatan perusahaan
terhadappengelolaan
lingkungan
SELESAI
Gambar 1. SOP Pengawasan Lingkungan Oleh BLHD Provinsi Jambi
Untuk lebih jelasnya keterangan Gambar 1 bisa dilihat pada Lampiran 1.
6
2.3. Pabrik Kelapa Sawit PT.Bukit Bintang Sawit
Pada tahun 2008 tercatat produktivitas kebun kelapa sawit yang
melibatkan 168.053 rumah tangga petani ini mencapai 3.307 ton TBS/Ha
dengan komposisi 114,778 Ha tanaman belum menghasilkan (TBM), 363.869
Ha tanaman menghasilkan (TM) dan sisanya 5.490 Ha tanaman tua atau tidak
produktif. Pada saat ini terdapat 33 buah pabrik CPO di Provinsi Jambi dari
26 perusahaan yang tersebar pada 7 kabupaten. Kapasitas produksi belum
digunakan secara optimal karena baru mencapai 83,75% dari kapasitas terpasang
tetapi seiring dengan semakin luas areal kebun dan meningkatnya produksi TBS
maka pada tahun-tahun mendatang akan menjadi penuh dan bahkan perlu
penambahan jumlah pabrik CPO (Novra. A, 2010).
Berdasarkan berita acara pengawasan dari BLHD Jambi, PT. Bukit
Bintang Sawit berlokasi di KM 35, desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan,
Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Luas lahan yang dimiliki PT. Bukit
Bintang Sawit sampai saat ini adalah seluas ± 1.600 Ha. Kapasitas pabrik minyak
kelapa sawit adalah 45 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam. Dalam pengolahan
TBS dihasilkan air limbah dalam jumlah banyak. Berdasarkan material Balance.
Bahwa setiap pengolahan 1 ton TBS akan dihasilkan limbah rata-rata 0,6 𝑚3 .
Kapasitas olah pabrik 45 Ton/jam dan lama rata-rata operasional 17 jam/hari,
sehingga jumlah TBS terolah 765 ton/hari. Jumlah hari kerja/bulan 25 hari,
sehingga jumlah TBS terolah 19125 Ton perbulan. Dengan ratio TBS dan air
limbah 0,6 sehingga air limbah yang dihasilkan perhari sebanyak 459 𝑚3 .
Untuk mengolah limbah yang dihasilkan tersebut PT.Bukit Bintang Sawit
membuat kolam IPAL, kolam yang di miliki adalah sebanyak 13 kolam IPAL
7
yaitu terdiri dari 1 kolam Aerator, 3 kolam indikator, 2 kolam anaerobik, 3 kolam
aerobik , 1 kolam acidifikasi, 2 kolam sedimentasi dan 1 kolam deoling (Berita
Acara Pengawasan Lingkungan).
2.4. Limbah Cair Sawit
Limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) adalah salah satu produk
samping dari pabrik minyak kelapa sawit yang berasal dari kondensat dari proses
sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air
pencucian pabrik (Rahardjo,2009).
Limbah cair dari pabrik minyak kelapa sawit ini umumnya berwarna
kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid dan residu
minyak dengan BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen
Demand) yang tinggi. Apabila limbah cair ini langsung dibuang ke perairan dapat
mencemari lingkungan. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke perairan, maka
sebagian akan mengendap, terurai secara perlahan, mengkonsumsi oksigen
terlarut, menimbulkan kekeruhan, mengeluarkan bau yang tajam dan dapat
merusak ekosistem perairan. Sebelum limbah cair ini dapat dibuang ke
lingkungan terlebih dahulu harus diolah agar sesuai dengan baku mutu limbah
yang telah di tetapkan(Rahardjo,2009).
2.5. Proses Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan bangunan yang
digunakan untuk memproses air limbah buangan pabrik agar lebih aman pada saat
dibuang ke lingkungan dan kesungai atau lebih sesuai dengan baku mutu
lingkungan (Rahardjo,2009).
8
Desain kolam IPAL dengan kontruksi tanah yang dipadatkan (dasar dan
dinding kolam ). Kolam limbah yang dibangun berfungsi sebagai sebagai tempat
aktifitas berkembang biak nya bakteri, sehingga mengurangi senyawa-senyawa
organik komplek menjadi lebih sederhana (Rahardjo,2009).
Limbah cair yang dihasilkan tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak
menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dibuat
tindakan pengendalian limbah cair melalui sistem kolam yang kemudian dapat
diaplikasikan ke lahan (Rahardjo,2009).
Menurut Rahardjo (2009), ada beberapa pilihan dalam pengelolaan limbah
cair PKS setelah diolah di kolam pengelolaan limbah (IPAL) diantaranya adalah
a. Pembuangan limbah cair ke badan sungai, bisa dilakukan dengan syarat
telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan perundangan.
Alternatif ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya:
1. Pengelolaan limbah cair sehingga menjadi layak dibuang ke badan
sungai (BOD dibawah 100 ppm ), secara teknis bisa dilakukan tetapi
memerlukan biaya dan teknologi yang tinggi di samping waktu retensi
efluen yang panjang di kolam-kolam pengelolaan.
2. Tidak ada nilai tambah baik bagi lingkungan maupun bagi perusahaan
3. Merupakan potensi sumber konflik oleh masyarakat karena perusahaan
dianggap membuang limbahnya ke badan sungai adalah berbahaya
walaupun limbah tersebut mempunyai BOD di bawah 100 ppm.
b. Dengan mengaplikasikan ke areal pertanaman kelapa sawit (land
application), sebagai sumber pupuk dan air irigasi. Banyak lembaga penelitian
yang melaporkan bahwa efluen banyak mengandung unsur hara yang cukup
9
tinggi. Potensi ini menjadi semakin penting artinya dewasa ini karena harga pupuk
impor yang meningkat tajam serta kerap terjadinya musim kemarau yang
berkepanjangan.
2.6. Standar Baku Mutu Limbah Cair Sawit
Baku Mutu adalah suatu peraturan pemerintah yang resmi yang harus
dilaksanakan, yang berisi mengenai spesifikasi dari jumlah bahan tercemar yang
boleh dibuang (Suratmo, 2003).
Sedangkan baku mutu limbah cair adalah ukuran batas atau kadar unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam limbah cair yang akan dibuang
atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha atau kegiatan (Peraturan Mentri
Lingkungan Hidup No.5 Tahun2014).
Baku mutu limbah cair yang diberlakukan pada limbah cair dari pabrik
kelapa sawit ditetapkan melalui Peraturan Mentri Lingkungan Hidup No.5 Tahun
2014 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri dapat dilihat pada
Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah Pada Pabrik Pabrik Kelapa Sawit
Parameter
BOD5
COD
TSS
Minyak Lemak
Total N
pH
Konsentrasi maksimal (mg/L)
100
350
250
25
50
6.0 —9.0
(Sumber : Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun2014)
a. Biological Oxygen Demand (BOD)
Kebutuhan oksigen hayati yang diperlukan untuk merombak bahan
organik sering digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan kualitas limbah.
10
Semakin tinggi
nilai
BOD
air limbah
maka daya
saingnya
dengan
mikroorganisme atau biota yang terdapat pada badan penerima semakin tinggi.
Hal ini semakin jelas kelihatan pada badan penerima limbah seperti sungai
memiliki oksigen terlarut yang kecil akan tergantung kehidupan biota jika
dicemari dengan limbah. (Kusnoputranto, 1997).
b. Chemical Oxygen Demand (COD)
Kelarutan oksigen kimiawi ialah oksigen yang diperlukan untuk
merombak bahan organik dan anorganik, oleh sebab itu nilai COD lebih besar dari
nilai BOD (Kusnoputranto, 1997).
c. Total Suspended Solid (TSS)
Merupakan padatan melayang dalam cairan limbah. Pengaruh suspended
solid lebih nyata pada kehidupan biota dibandingkan dengan total solid. Semakin
tinggi TSS maka bahan organik membutuhkan oksigen untuk perombakan yang
lebih tinggi (BOD), oleh sebab itu diupayakan TSS lebih kecil (Hanum,2009).
d. Total N
Semakin tinggi kandungan Total Ndalam cairan limbah, ini akan
menyebabkan keracunan pada biota. Oleh sebab itu parameter ini dicantumkan
pada spesifikasi mutu limbah (Hanum,2009).
e. Minyak lemak
Kandungan minyak yang masuk kedalam kolam akan mempengaruhi
aktifitas bakteri, yaitu minyak tersebut berperan sebagai isolasi antara substrat
11
dengan bakteri. Minyak yang tidak larut dalam air akan mengambang diatas
permukaan air yang tercemar (Hanum,2009).
f. pH Cairan Limbah
Ditetapkannya parameter pH 6-9, ini bertujuan agar mikroorganisme dan
biota yang terdapat pada penerima tidak terganggu, dan bahkan diharapkan
dengan pH alkalis dapat menaikkan pH badan penerima seperti sungai yang
umumnya digunakan sebagai badan penerima (Hanum,2009).
2.7. Dasar Hukum
Sebagai dasar hukum pelaksanaan pengawasan pengelolaan lingkungan
oleh oleh perusahaan dalam aspek kepemilikan dokumen atau izin linkungan,
pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan
adalah sebagai berikut :
1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Linkungan Hidup.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan Limbah
Bahan berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 31, Tambahan lembaran Negara Nomor 3815).
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991
Nomor 31, Tambahan lembaran Negara Nomor 385).
4) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang izin Linkungan.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas
Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik Indonesia
12
Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan lembaran NegaraRepublik Indonesia
Nomor 4162).
6) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku mutu
limbah cair
7) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 9 Tahun 2003, Kunjungan
Pengawasan lapangan
8) Peraturan Gubernur Jambi No. 20 Tahun 2008 Tentang Pengawasan
Pencemaran Air di Wilayah Privisi Jambi.
13
III.
METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan kegiatan PKPM ini dilaksanakan dari Maret 2015 sampai
dengan Juni 2015 di Badan Lingkungan Hidup (BLHD) Provinsi Jambi Jalan
K.H. Agus Salim No. 07 Koto Baru Jambi.
Kegiatan Pengawasan Limbah cair dan pengambilan sampel di PT. Bukit
Bintang Sawit di Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro
Jambi, Provinsi Jambi dilakukan pada tanggal 17 Maret 2015 dan hasil sampel
keluar setelah 1 bulan pemeriksaan. Pengawasan dilakukan oleh Bidang
Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan.
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Tabel 2. Alat yang Digunakan
No
1.
2.
3.
4.
Alat
Alat tulis
Kertas lakmus
Derigen
Spidol
4.
5.
Camera
Laptop
6.
APD
Fungsi
Mencatat informasi
Mengukur pH
Tempat sampel
Pembuat
nama
sampel
Dokumentasi
Membuat
berita
acara
Melindungi diri dari
kecelakaan kerja
Kebutuhan
1
1
4
1
Satuan
Buah
Kotak
Buah
Buah
1
2
Buah
Buah
3.2.2. Bahan
a. Laporan UKL-UPL PT.Bukit Bintang Sawit.
b. Surat Perintah Jalan dari BLHD Provinsi Jambi.
c. Sampel Limbah
14
3.3. Pelaksanaan
Metode Pelaksanaan Kegiatan magang meliputi seluruh kegiatan yang
menyangkut proses pengawasan dan aspek teknis dilapanganstudi kasus pada PKS
PT.Bukit Bintang Sawit.
3.3.1. Mekanisme Kegiatan Pengawasan di PT.Bukit Bintang Sawit :
1. Membuat rencana pengawasan, dasar penetapan terhadap perusahaan yang
akan diawasi adalah adanya laporan dari Bidang Penataan dan Konservasi
Lingkungan.
2. Membentuk Tim Pengawasan di tambah dengan perwakilan dari BLH Muaro
Jambi, yang disahkan berdasarkan surat Keputusan (SK) Kepala BLHD
Provinsi Jambi.
3. Penyiapan alat dan bahan yang akan di bawa ke lokasi, seperti Safety
Equipment (Masker, topi, Sepatu, baju lapangan dan kacamata hitam) serta
peralatan laboratorium (Kertas Lakmus dan dirigen ).
4. Inspeksi Lapangan yang terdiri dari tahapan inspeksi:
a. Melakukan pertemuan awal dengan pihak PT.Bukit Bintang Sawit.
Sebelum memulai kegiatan inspeksi atau pemeriksaan lapangan, kita
harus melakukan pertemuan pendahuluan untuk:

Perkenalan dengan asisten manager PT.Bukit Bintang Sawit.

Menjelaskan kewenangan inspektur dan intansinya

Menjelaskan cara pelaksanaan pengawasan
b. Telaah dokumen, Seperti Dokumen UKL-UPL PT.Bintang Sawit.
c. Pemeriksaan fisik lapangan (pengamatan lapangan, pemotretan dan
pemeriksaan lapangan) seperti :
15

Pergi ke pabrik pengolahan sawit dan melihat keadaan pabrik tersebut
seperti: limbah cair yang dihasilkkan PT. Bukit Bintang Sawit yaitu
limbah dari hasil pencucian dan perebusan sawit.

Melihat penampungan limbah dari pabrik yang akan di salurkan ke
IPAL

Peninjauan IPAL

Melihat dan menilai inlet dan outlet indikator, Land Aplication (LA)
dan sumur pantau di perkebunan sawit tersebut.
d. Pengambilan Sampel Uji
Selanjutnya melakukan pengambilan sampel uji terhadap inlet dan outlet
indikator, LA dan sumur pantau, dengan menggunakan deregen saja karena
tempat pengambilan sampel masih terjangkau. Cara pengambilan sampel uji yaitu
menggunakan derigen , karena lokasinya terjangkau.
e. Melakukan uji pH terhadap masing-masing sampel.
f. Pembuatan Berita Acara
Setelah tim mendapatkan informasi yang akurat baik dari hasil wawancara
telaah dokumen dan fakta lapangan, tim membuat suatu rumusan hasil
temuan pengawasan yang dituangkan dalam bentuk Berita Acara
Pengawasan Sesuai Format baku yang telah ditentukan.
g. Penandatanganan berita acara oleh kedua pihak
h. Berpamitan dan kembali menuju BLHD Provinsi Jambi
i. Memberikan sampel yang diambil ke UPTB Laboratorium BLHD
Provinsi Jambi
16
j. Setelah ± 1 bulan hasil analisa atau uji sampel bisa diambil ke
laboratorium
3.3.2. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer yang didapat melalui :
a. Pengukuran pH.
b. Parameter BOD, COD, TSS, N Total dan Minyak Lemak di uji di UPTB
Laboratorium Lingkungan Daerah BLHD Provinsi Jambi.
c. Wawancara secara langsung dengan informan. Ditetapkan sebagai informan
yaitu Bapak Supriadi selaku yaitu Asisten Pabrik Pt. Bukit Bintang Sawit.
2. Data Sekunder
Laporan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) PT.Bukit Bintang Sawit.
17
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Perusahaan
4.1.1. Sejarah BLHD Provinsi Jambi
Sejarah legal atau formal BLHD Provinsi Jambi selaku lembaga yang
mengkoordinasikan pengendalian dampak lingkungan di Provinsi Jambi berdiri
sejak tahun 1998, yaitu setelah dikeluarkannya KEPRES No. 77 tahun 1994
tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kemudian diatur lebih lanjut
melalui keputusan Menteri Dalam Negeri (KEPMENDAGRI) No. 98 tahun 1996
tentang pedoman pembentukan, organisasi, dan Tata Kerja Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan Daerah dan Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 tahun
1996 tersebut datas diperkuat lagi dengan keputusan Menteri Dalam Negeri No.99
tahun 1998 tanggal 7 Juli 1998 Pembentukan Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) tingkat Jambi
Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Jambi yang
sebelumnya
adalah
Badan
Pengendalian
Dampak
Lingkungan
Daerah
(BAPEDALDA) berpedoman pada KEPRES dan KEPMENDAGRI tersebut,
maka dengan peraturan daerah (PERDA) Provinsi Jambi No. 6 tahun 1998 tanggal
19 Oktober disahkan pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) Provinsi Daerah
Tingkat 1 Jambi No. 6 tahun 1998. Kemudian di era reformasi terjadilah
restrukturisasi organisasi sehingga mengalami perubahan struktur oragnisasi yang
dituangkan PERDA Provinsi Jambi No. 5 tahun 2000 dan dijabarkan uraian tugas
dalam keputusan Gubernur Jambi No.230 tahun 2001 tentang uraian tugas dan
18
fungsi satuan-satuan organisai pada Lembaga Teknis Daerah provinsi Jambi.
Kemudian pada bulan Januari tahun 2009 disahkanlah nama baru menjadi BLHD
(Badan Lingkungan Hidup Daerah) berdasarkan peraturan Daerah PERDA No.15
tahun 2008. Peratutan Daerah (PERDA) tersebut dibentuk berdasarkan atas
Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 tahun 2007.
Untuk menjamin kualitas lingkungan hidup diperlukan pembinaan dan
pengawasan dalam pengolahan lingkungan hidup, untuk itu diperlukan
pengukuran kualitas lingkunagan hidup.Dalam rangka meningkatkan pelayanan
dalam pengukuran kualitas diperlukan adanya Pengendalian kerusakan dan
Pencemaran Lingkungan.
Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan memiliki 2
Sub Bidang yaitu Sub Bidang Pengendalian Pencemaran dan Sub Bidang
Pengendalian Kerusakan Lingkungan .Berdasarkan Pergub No 28 tahun 2013
Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan memiliki tugas dan
fungsi (tupoksi). Salah satu tugas dan fungsi dari Bidang Pengendalian Kerusakan
dan Pencemaran Lingkunganyaitu melaksanaan pemantauan kualitas Lingkungan
dan pengawasan pencemaran lingkungan. Berdasarkan tupoksi bidang PKPL
melakukan pengawasan air limbah di PT.Bukit Bintang Sawit, Muaro Jambi,
Provinsi Jambi. Kegiatan penulis lakukan dalam rangka pelaksanaan PKPM di
BLHD Provinsi Jambi.
4.1.2. Struktur Organisasi BLHD Provinsi Jambi
Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Jambi yang dibentuk
berdasarkan Peraturan Daerah No 4 tahun 2013.Badan Lingkungan Hidup
mempunyai 1 Sekretariat, 1 UPTB Laboratorium, 4 bidang dalam kaitan dengan
19
tugas pokok dan fungsi BLHD, yaitu Bidang penataan Hukum Lingkungandan
B3, Bidang Komunikasi dan Informasi Lingkungan
dan Pemberdayaan
Masyarakat, Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan, dan Bidang
Penataan dan konservasi Lingkungan.
Untuk stuktur organisasi BLHD Provinsi Jambi dapat di lihat pada
Lampiran 2.
4.1.3. Visi dan Misi BLHD provinsi Jambi
1. Visi
Mewujudkan BLHD Provinsi Jambi yang handal dan proaktif dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup menuju Jambi emas tahun 2015.
2. Misi

Mewujudkan
tata
kelola
pemerintahan
yang
baik
(Good
Governance) serta mengembangkan kapasitas kelembagaan yang
bertanggung jawab dalam pelestarianfungsi lingkungan hidup

Melaksanakan pengendalian pencemaran & perusakan lingkungan
hidup yang bersifat kooperatif dan berkesinambungan.

Mewujudkan pengelolaan SDA yang berlandasan prinsip-prinsip
konservasi, rehabilitasi dan pemulihan yang benar.

Meningkatkan
peran
aktif
masyarakat
dalam
pengelolaan
lingkungan

Mengembangakan sistem informasi dan teknologi sebagai dasar
pengelolaan lingkungan.
20
4.1.4. Uraian tugas pada Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran
Lingkungan
Berdasarkan Peraturan Gubernur Jambi Nomor 28 Tahun 2013
menyatakan bahwa tugas dari Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran
Lingkungan adalah :
1) Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan dan koordinasi
pelaksanaan dibidang pengendalian kerusakan dan pengendalian pencemaran.
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang
Pengendalaian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan mempunyai fungsi :
a. Penyusunan remusan kebijakan pelaksanaan dibidang Pengendalian
Kerusakan Lingkungan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan.
b. Pelaksanaan koordinasi pelaksanaan dibidang Pengendalian Kerusakan
Lingkungan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan.
c. Pelaksanaan fungsi tekni dibidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan.
d. Pelaksanaan
pemantauan
kualitas
Lingkungan
dan
Pengawasan
pencemaran lingkungan
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan
3) Bidang Pengendalian Kerusakan Dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
terdiri dari:
1. Bidang kerusakan Lingkungan Mempuyai Tugas :
a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan dibidang pengendalian Kerusakan
Lingkungan
21
b. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang Pengendalian
Kerusakan Lingkungan
c. Pelaksanaan fungsi teknis perlindungan, pencegahan, penanggulangan dan
pengelolaan lingkungan hidup melalui pemantaun dan pengawasan pada
bidang keanekaragaman hayati Pengendalian kerusakan lahan, kerusakan
ekosistem perairan darat dan perairan pesisir dan laut.
d. Pelaksanaan fungsi teknis pengelolaan kualitas air
e. Pelaksanaan analisis, evaluasi dan pelaporan Sub Bidang Pengendalian
Kerusakan Lingkungan
f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan
2. Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan mempunyai fungsi :
a. Penyiapan bahan perumusan kebijkan Pengendalian Pencemaran Lingkungan.
b. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan pemantauan kualitas lingkungan
c. Pelaksanaan fungsi teknis Pengendalian Pencemaran Lingkungan melalui
pemantauan dan pengawasan meliputi pengelolaan pencemaran air dan udara
pada industri dan nonindustri dan juga pengendalian pencemaran udara
sumber bergerak
d. Pelaksanaan analisis, evaluasi dan pelapora pencemaran lingkungan.
22
4.2. Pengawasan Lingkungan PT.Bukit Bintang Sawit (PT. BBS)
4.2.1. Pos Pengaduan dan Rencana Kegiatan
a. Pos Pengaduan
Pengaduan di BLHD Provinsi Jambi terbagi atas dua bagian yaitu
pengaduan secara langsung-tidak langsung dan pengaduan tertulis-tidak tertulis.
1. Pengaduan secara langsung
Pengaduan secara langsung seperti bicara dari mulut saja. Jika pengaduan
secara lisan langsung kepada petugas penerima pengaduan, Pengadu mengisi
formulir isian pengaduan sesuai format Peraturan Menteri No 09 Tahun 2010,
yang terdapat pada Lampiran 3.
2. Pengaduan tidak langsung
Pengaduan tidak langsung seperti melalui surat, sms, telepon dan
faksimile.
3. Pengaduan tertulis
Pengaduan secara tertulis disampaikan melalui antara lain : Surat, Surat
elektronik, Faksimile dan Layanan pesan singkat. Pengaduan tertulis memuat
informasi :
a.
Identitas pengadu yang paling sedikit memuat informasi nama, alamat, dan
nomor telepon yangbisa dihubungi
b.
Lokasi terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
c.
Dugaan sumber pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
d.
Waktu terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
e.
Media lingkungan hidup yang terkena dampak.
23
4. Pengaduan tidak tertulis atau lisan
Pengaduan tidak tertulis disampaikan dengan cara antara lain :
a. langsung kepada petugas penerima pengaduan
b. melalui telepon.
Pada pengawasan pada PT.BBS ini pengaduan dilakukan secara langsung
oleh Ketua Bidang Penataan Dan Konservasi Ligkungan kepada Ketua Bidang
Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan (PKPL) dan tidak tertulis.
Oleh sebab itu bidang PKPL melakukan pengawasan dan penataan terhadap
ketaatan PT.BBS terhadap pengelolaan lingkungan hidup.
Pos
pengaduan
lingkungan
adalah
wadah
atau
media
tempat
menyampaikan pengaduan kasus lingkungan yang dapat disampaikan melalui
surat, sms, telepon, faksimile, atau langsung ke petugas Pos Pengaduan dengan
mengisi formulir pengaduan dan/atau pengaduan kasus lingkungan, yang terbit
dimedia massa maupun media elektronik untuk ditindaklanjuti/diawasi.
Pengawasan ini merupakan kegiatan rutin Bidang Pengendalian Kerusakan
dan Pencemaran Lingkungan (PKPL) untuk melakukan pembinaan dan
pemantauan lingkungan di PT. Bukit Bintang Sawit (PT.BBS).
b.
Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan yang dilakukan olehPejabat Pengawas Lingkungan
Hidup (PPLH/inspektur) adalah
1. Menilai dokumen UKL-UPL PT.BBS
2. Melihat laporan hasil uji air limbah PT.BBS
3. Pemeriksaan fasilitas proses produksi
4. Melihat keadaan pabrik PT.BBS
24
5. Memantau Pengendalian pencemaran
limbah cair yang dihasilkan
PT.BBS
6. Memantau kondisi IPAL PT.BBS
7. Pengambilan sampel
8. Pengukuran pH
9. Pembuatan berita acara.
4.2.2. Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH)
PPLHD adalah Pegawai negeri sipil pada intansi yang bertanggungjawab
yang memenuhi persyaratan tertentu dan diangkat oleh Gubernur atau
Bupati/Walikota.
Tim pengawas ke PT.BBS terdiri dari tiga orang dari BLHD Provinsi
Jambi dan satu orang dari BLH Muaro Jambi yang memiliki Surat Perintah Tugas
dari BLHD Provinsi Jambi. Nama-nama PPLH pengawasan ke PT.BBS dapat
dilihat di Surat Perintah Tugas yang terdapat dilampiran 4.
4.2.3. Menyiapkan Safety Equipment
Safety Equipment adalah Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh
petugas yang melakukan kegiatan pemantauan. APD yang disiapkan atau yang
akan dipergunakan pada saat turun kelapangan adalah :
a. Masker : untuk alat melindungi mulut dari bau yang ditimbulkan dari
limbah.
b. Sepatu : Sepatu yang digunakan PPLH adalah sepatu yang aman dibawa
kelapangan.
c. Penutup kepala : topi untuk melindungi kepala.
25
d. Pakaian lapangan : pakaian lapangan yang telah diberikan oleh BLHD
Provinsi Jambi yang dipakai untuk kegiatan lapangan.
e. Kaca mata : Untuk melindungi mata.
f. Sarung tangan : Untuk melindungi tangan saat dilapangan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4 dibawah ini.
Gambar 2. APD yang dipakai PPLH
Dari gambar diatas dapat kita lihat bahwa PPLH tidak menggunakan
semua alat pelindung diri tersebut tapi hanya dibawa saja. Sebaiknya PPLH
memakai semua alat yang dibawa, untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Alat
pelindung diri seperti pelampung dan tali juga sebaiknya dibawa untuk berjagajaga apabila turun kelapangan tapi pada saat melakukan pengawasan ke PT.BBS
tidak dibawa.
4.2.4. Menyiapkan Kendaraan Roda 4
Untuk pergi melakukan pengawasan ke Perusahaan atau pabrik
membutuhkan kendaraan roda 4 atau mobil. Pada saat melakukan pengawasan ke
PT.BBS mobil yang digunakan adalah mobil yang disediakan oleh BLHD
Provinsi Jambi.
26
4.2.5. Berangkat ke Lokasi
Setelah semua persiapan yang diperlukan untuk pengawasan, maka
selanjutnya berangkat terlebih dahulu ke BLH Muaro Jambi untuk meminta satu
perwakilan atau staf dari BLH Muaro Jambi untuk melakukan pengawasan.
Selanjutnya baru berangkat ke lokasi.
Gambar 3. BLHD Muaro Jambi
4.2.6. Pertemuan Awal Pihak Perusahaan
Pertemuan
pembukaan
atau
pendahuluan
perlu
dilakukan
agar
kegiatan pengawasan dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan. Dalam
pertemuan pembukaan ini ketua tim pengawas yang ditunjuk.
1.
Memperkenalkan Tim Pengawas.
a. Memperkenalkan anggota tim pengawas kepada pihak perusahaan/pabrik.
Dalam hal ini PT.BBS diwakili dengan Bapak Sapriadi selaku Asisten
Pabrik.
b. Menyerahkan Surat Perintah Tugas dari BLHD provinsi Jambi. Surat
Perintah Tugas dapat dilihat pada Lampiran 3.
2.
Menjelaskan maksud dan tujuan pengawasan.
27
Ketua tim pengawas menjelaskan secara ringkas kepada asisten
pabrik tentang
tujuan
pengawasan
serta menjelaskan bahwa pengawasan
tersebut dilaksanakan berkaitan dengan pengawasan rutin dan pengaduan dari
Bidang Penataan Lingkungan Hidup, bahwa PT. BBS tidak menyerahkan laporan
pengelolaan lingkungan hidup ke BLHD Provinsi Jambi.
3.
Menjelaskan Cara Pelaksanaan Pengawasan.
Tim pengawas perlu menyampaikan cara pelaksanaan pengawasan sesuai
dengan rencana pengawasan. Rencana
pengawasan
tersebut
antara
lain
pemeriksaan fasilitas proses produksi, pengendalian pencemaran air dan
pengambilan contoh uji limbah. Penjelasan cara pelasanaan pengawasan ini
diperlukan
untuk memudahkan koordinasi dengan petugas pendamping dan
situasi nyata yang ada di PT.BBS ini.
Pengawasan
dapat
didiskusikan
dengan
Asisten Menager PT.BBS
termasuk kemungkinan kendala-kendala yang dihadapi. Namun demikian tim
pengawas yang memutuskan unit/lokasi yang akan diperiksa. Asisten Maneger
diminta untuk menjelaskan kegiatan yang ada di lapangan nanti yaitu pada pabrik
dan pada Pengolahan limbah cair serta menyediakan data tersebut untuk
dievaluasi oleh tim pengawas. Data tersebut berupa hasil uji sampel limbah cair
PT. BBS.
Gambar 4. Pertemuan Awal dengan pihak perusahaan
28
4.2.7. Telaah Dokumen
Setelah tim pengawas memperoleh penjelasan tentang proses produksi
dan sistem pengendalian pencemaran air serta memperoleh data terkait
dengan haltersebut, maka tim pengawas wajib melakukan telaahan (review)
terlebih dahulu terhadap penjelasan dan data tersebut.
Pada saat dilakukan pengawasan, dokumen UKL-UPL PT.BBS tidak
berada di perusahaan tapi dibawa oleh Menager Pabrik yang pada saat itu tidak
berada di pabrik, dan juga PPLH tidak membawa Dokumen UKL-UPL maka
PPLH hanya melihat surat izin pengolahan limbah , Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) dan
laporan hasil uji limbah PT.BBS.
1. Status perizinan lingkungan
Dari surat perizinan lingkungan yang berkaitan dengan pengendalian
pencemaran air dan status perizinan ke lahan. Didalam pemeriksaan surat ini
terdapat beberapa hal yang tidak sesaui yaitu :
a. Parameter hasil analisis uji sampel untuk Land Aplication tidak sesuai
dengan parameter yang ditentukan oleh peraturan.
b. Didalam surat perizinan terdapat PT.BBS harus melakukan pengujian
parameter limbah setiap 3 bulan sekali tapi masih belum rutin.
c. Belum melakukan pemeriksaan air sungai sesui dengan izin yang
dimiliki.
d. Belum melakukan pelaporan pelaksanaan pemantauan dan pengelolaan
lingkungan hidup setiap 6 bulan sekali ke BLHD Provinsi Jambi.
Terakhir pelaporan adalah semester I 2014.
29
e. Data yang dimiliki kurang lengkap dan PT.BBS tidak memeriksa
semua parameter kualitas air limbah setiap 3 bulan sekali. Sedangkan
di surat perizinan terdapat bahwa pengujian air limbah wajib dilakukan
setiap 3 bulan sekali.
Contoh surat perizinan dilampirkan pada Lampiran 5.
2. Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Dari SPPL didapatkan ketidaktaan perusahaan terhadap janji yang dibuat
terdapat pada poin 2 yaitu kebersihan dan keindahan lingkungan usaha tidak
terjaga, diperebusan terdapat tandan-tandan buah sawit yang membusuk dan
belum diolah, di sekitar pabrik jalannya becek dan terdapat genangan limbah cair.
SPPL dilampirkan di Lampiran 6.
Gambar 5. Tandan Buah Sawit Yang Tidak dimanfaatkan dan Keadaan Becek
Karena Dokumen UKL-UPL tidak berada ditempat maka informasi yang
didapat hanya dari asisten Pabrik saja. Untuk mengolah limbah yang dihasilkan
tersebut PT.Bukit Bintang Sawit membuat kolam IPAL, kolam yang di miliki
adalah sebanyak 13 kolam IPAL yaitu terdiri dari 1 kolam Aerator, 3 kolam
indikator, 2 kolam anaerobik, 3 kolam aerobik , 1 kolam acidifikasi, 2 kolam
sedimentasi dan 1 kolam deoling.
30
4.2.8. Inspeksi Lapangan
1.
Melihat keadaan pabrik PT.BBS pada saat melakukan proses produksinya.
Pt.BBS memiliki 1 unit boiler dan 2 unit tungku bakar. Di dalam pabrik
terdapat unit ginset berkapasitas 500 KVA.
Gambar 6. Boiler, Tungku Bakar dan Ginset PT.Bukit Bintang Sawit
2. Pemeriksaan Fasilitas Pengendalian Pencemaran Air
Pemeriksaan
terhadap
fasilitas
pengendalian
pencemaran
air
merupakan kegiatan kunci dalam pengendalian pencemaran air. Untuk itu,
beberapa hal penting berikut yang dilaksanakan oleh PPLH/PPLHD dalam
pemeriksaan kegiatan pembuangan air limbah:
A. Pemeriksaan terhadap sumber-sumber limbah cair
Kolam untuk proses pengolahan limbah terletak di sekitar perkebunan
sawit.Sludge yang dipompa dari tempat penampungan didistribusikan kolam
tersebut. Pengolahan yangdilakukan terhadap limbah cair dalam kolam dilakukan
dengan memanfaatkan bakteri aerob dananaerob yang ditumbuhkan pada setiap
kolam. Adanya kedua bakteri ini dapat mengubah sludge menjadi pupuk ( Land
Aplication).
31
Limbah cair yang dihasilkan oleh PT. BBS Muaro Jambi selama proses
produksi yaitu sludge. Sludge dihasilkan pada proses klarifikasi minyak. Sludge
didapat dari proses pemisahan minyak ataupun dari proses pembersihan alat dan
lantai produksi. Sludge yang berasal dari proses pembersihan alat dan lantai
produksi diendapkan dahulu kedalam fat pit Pond untuk diambil kembali minyak
yang terkandung di dalamnya. Pada kolam ini bau yang ditimbulkan limbah
sangat menyengat hidung. Setelah dari fat pit, limbah tersebut dialirkan dahulu ke
penampungan baru setelah itu dipompakan ke kolam IPAL.
Keadaan penampungan air limbah pada PT ini mengalami Pelimpahan
sehingga tanaman yang berada di sekitar tempat penampungan mati. Hal ini
diakibatkan karena limbah yang dihasilkan melampai batas dan penampungan air
limbah yang kurang besar.
Gambar 7. Penampungan Air Limbah Mengalami Pelimpahan
Sedangkan sludge yang dihasilkan dari proses pemisahan minyak langsung
masuk kepenampungan untuk dipompa kekolam IPAL.
Peta Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT.Bukit Bintang Sawit
dapat dilihat pada Gambar 8 dibawah ini.
32
Gambar 8. Peta Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT.Bukit Bintang
Sawit
1. Kolam Deolling Pond ( Kolam Pengutipan Minyak )
Deolling Pond berfungsi untuk pengutipan kadar minyak kembali yang
sebelumnya sudah dikutip dikolam fatpit.
2. Acidification Pond ( Kolam Pengasaman )
Kolam pengasaman yang dimiliki oleh PT.Bukit Bintang sawit memiliki
kapasitas 18.000 𝑚3 . Limbah yang segar mengandung senyawa organik yang
mudah dihidrolisa dan menghasilkan senyawa asam. Agar senyawa ini tidak
mengganggu
proses
pengendalian
limbah
maka
dilakukan
pengasaman
(acidification).
3. Anaerobic Pond ( Kolam Anaerobik )
PT. Bukit Bintang Sawit memiliki 2 kolam anaerobik, yaitu kolam
Anaerobik berkapasitas 3000 𝑚3 dan 16.500 𝑚3 . Kolam anaerob ini berfungsi
untuk menurunkan BOD, dan COD serta minyak dan lemak dari limbah pabrik
sawit.
33
4. Kolam Aerasi ( Aerator )
Kolam Aerasi yang dimiliki oleh PT. BBS memiliki kapasitas 7.500 𝑚3 .
Sistem aerasidigunakan dengan maksud untuk mengurangibau yang mungkin
timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna dan untuk membunuh bakteri
anaerobik, yaitu dengan cara menyemburkan air limbah dengan menggunakan
aerator.
5. Aerobic Pond ( Kolam Aeribik )
PT.Bukit Bintang Sawit Memiliki 3 kolam aerobik, yaitu kolam aerobik
yang berkapasitas 6000 𝑚3 , 6000 𝑚3 dan 7.000 𝑚3 . Kolam berfungsi dalam
penurunan TSS secara cepat karena kinerja bakteri aerobik yang sangat
membutuhkan pasokan oksigen dalam melakukan aktifitasnya. Didalam kolam ini
juga terdapat aerator.
6. Sedimentation Pond (Kolam Pengendapan)
PT. BBS Memiliki 2 kolam pengendapan yang berkapasitas 3000 𝑚3 dan
200 𝑚3 . Kolam sedimentasi berfungsi sebagai memisahkan cairan lumpur secara
kontinyu dalam keadaan aerob. Waktu penahan selama 4 hari, dan dilanjutkan
pada kolam pengendapan ke 2.
7. Indikator
PT. BBS Memiliki 3 kolam indikator. Fungsi kolam indikator ini adalah
untuk uji kualitas effluent pengolahan limbah dengan indikator biologis. effluent
adalah uji kualitas air limbah tersebut menggunakan indikator biologis. Indikator
biologis yang digunakan disini adalah ikan nila.Dari kolam indikator ini lalu di
buang ke sungai Berembang.
34
B. Pengambilan Sampel Air Limbah
Pada saat melihat keaadaan IPAL PT.BBS maka dilakukan pengambilan
sampel terhadap Inlet IPAL, outlet IPAL, outlet LA dan sumur pantau. Pada saat
pengambilan sampel ini PPLH hanya melakukan pengambilan sampel hanya
dengan derigen saja, hal ini dikarenakan sampel yang diambil dangkal dan tempat
pengambilan sampelnya mudah.
C. Pengukuran pH Sampel Air Limbah
Pengukuran
pH
pada
masing-masing
sampel
dilakukan
dengan
menggunakan kertas lakmus. Langkah pengukuran pH menggunakan kertas
lakmus adalah sebagai berikut :

Pertama-tama ambil sampel limbah

Masukkan limbah tersebut kedalam diregen 2 L

Ambil kertas lakmus dan celupkan kertas lakmus kedalam limbah tersebut

Keluarkan kertas lakmus dan goyangkan sedikit.

Lihat perubahan warna pada kertas lakmus ukur dengan kotak kertas lakmus
tersebut

Baca dan catat hasilnya.
Gambar 9. Pengukuran pH
35
Hasil dari pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Hasil Uji pH Sampel PT.BBS
No
1.
2.
3.
4.
Lokasi
Inlet IPAL
Outlet IPAL
Outlet LA
Sumur Pantau
pH
5
9
9
6
BML
6-9
Dari Tabel 3 diatas dapat kita lihat bahwa nilai pH mengalami peningkatan
dari keadaan asam berubah menjadi basa. Peningkatan pH ini disebabkan kerena
terjadinya aktivitas biologi pada limbah selama proses IPAL.
4.2.9. Pertemuan Akhir dan Pembuatan Berita Acara
Pada saat turun kelapangan dibuat berita acara. Berita acara adalah naskah
dinas yang berisi keterangan atau suatu hal dari kegiatan yang dilaksanakan dalam
melakukan pengawasan dan ditandatangani secara bersama-sama oleh tim
pengawas dan pihak perusahaan. Berita acara pada PT. Bukit Bintang Sawit (PT.
BBS) adalah sebagai berikut :
a. PT.BBS memiliki doumen UKL-UPL berdasarkan persetujuan SK Bupai
Muaro Jambi Nomor 660/720/Eko tanggal 05 November 2003. Luas lahan
yang dimiliki saat ini 1.600 ha yang berlokasi di Kecamatan Kumpeh
Kabupaten Muaro Jambi. Dan kapasitas pabrik minyak kelapa sawit
dengan kapasitas 45 ton TBS/jam.
b. PT.BBS memiliki izin pembuangan air limbah ke air atau sumber air dari
pengelolaan minyak kelapa sawit berdasarkan SK Bupati Muaro Jambi
Nomor : 263/Kep.Bup/LH/2012 yang berlaku selama 5 Tahun.
c. Lokasi lahan Aplikasi berada di blok A1 dan A1b dan sudah memiliki 1
sumur pantau.
36
d. Memiliki izin pemanfaatan air limbah ke lahan aplikasi yang dikeluarkan
oleh Bupati muaro Jambi No: 102 Tahun 20111 tentang izin pemanfaatan
Air Limbah Pabrik. Kelapa sawit pada tanah perkebunan kelapa sawit PT
Bukit Bintang Sawit tanggal 14 Maret 2011 berlaku selama 5 ( lima )
Tahun. Sebelum dikeluarkannya izin pemanfaatan limbah kelahan
aplikasi, perusahaan telah membuat dokumen kajian lahan aplikasi pada
tahun 2010.
e. PT BBS memiliki 13 ( tiga belas ) kolam IPAL dan kolam yang digunakan
untuk lahan Aplikation ( LA) adalah kolam Aerobik I dan kolam outlet
yang dibuang ke badan air adalah kolam indikator yaitu kolam 13.
f. Telah melakukan pemantauan limbah cair yang dibuang ke badan air
namun belum setiap bulan dengan hasil diatas baku mutu lingkungan
untuk parameter BOD dan COD yaitu pada bulan Juli 2014 berdasarkan
Peraturan Gubernur Jambi Nomor 20 Tahun 2007
g. Dari hasil vertifikasi dilapangan hasil analisa limbah cair outlet pada
semester II tahun 2014 hanya dilakukan pada bulan Juli dan Agustus
sedangkan pada bulan Februari dan Maret 2015 sampel
diantar ke
Laboratorium namun hasilnya belum diambil oleh pihak perusahaan.
h. Telah melakukan pemantauan limbah cair untuk outlet Lahan Aplikasi (
LA) setiap bulan namun parameter yang diukur belum sesuai dengan
keputusan Menteri LH Nomor 28 dan 29 Tahun 2003 tentang Pedoman
Teknis Pengkajian dan Pemanfaatan Air Limbah dari Industri Minyak
Sawit pada tanah perkebunan Kelapa Sawit Syarat Dan Tata Cara
Perizinan Pemanfaatan Air Limbah dan Industri Minyak Kelapa Sawit.
37
i. Belum terdapat papan indikator yang memuat informasi tentang titik
penataan beserta koordinatnya pada areal limbah outlet baik outlet ke
Badan air dan Outlet Lahan Aplikasi.
j. Telah melakukan pemeriksaan sumur pantau, sumur kontrol setiap 3 bulan
sekali ( sesuai dengan izin yang dimiliki ), namun belum melakukan
pemeriksaan terhadap air sungai.
k. Sumur pantau yang terdapat pada lahan aplikasi maupun lahan non
aplikasi belum ditutup sehingga berpotensi bercampur dengan air hujan.
l. Pada Outlet air limbah untuk kelahan aplikasi dan outlet ke badan perairan
telah dipasang Meteran Air. Meteran Air berfungsi sebagai pengukur
volume air yang mengalir.
m. Perusahaan sudah melaporkan pelaksanaan pemantauan dan pengelolaan
lingkungan setiap 6 bulan sekali ke BLHD Kab. Muaro Jambi, terkhir
laporan semester I ( periode Juni 2014) tembusan ke BLHD Provinsi
Jambi.
Untuk lebih jelasnya berita acara pengawasan dapat dilihat pada Lampiran 7.
Dari berita acara diatas dapat kita lihat bahwa PT.BBS sudah memiliki izin
pembuangan air limbah ke air dan memiliki izin pemanfaatan air limbah ke lahan
aplikasi. Tapi pada saat melakukan pengawasan, pengawas masih menemui
ketidaktaatan perusahaan seperti :
1. PT.BBS belum melakukan pemantauan limbah cair setiap bulannya,
sedangkan berdasarkan Peraturan Gubernur Jambi Nomor 20 tahun 2007
menyatakan bahwa pemantauan limbah cair industri harus dilakukan setiap
1 kali dalam sebulan.
38
2. Pada analisa limbah cair outlet badan air pada hanya dilakukan pada
semester II tahun 2014 hanya dilakukan bulan Juli dan Agustus dan pada
tahun 2105 hanya dilakukan pada bulan Januari 2015 sedangkan pada
bulan pebruari sudah diantar ke laboratorium lingkungan tapi belum
diambil pihak perusahaan.
3. Pihak perusahaan telah melakukan pemantauan limbah cair untuk outlet
Lahan Aplikasi ( LA) setiap bulan namun parameter yang diukur belum
sesuai dengan keputusan Menteri LH Nomor 28 dan 29 Tahun 2003.
4. Belum terdapat papan indikator yang memuat informasi tentang titik
penataan beserta koordinatnya pada areal limbah outlet baik outlet ke
Badan air dan Otlet Lahan Aplikasi. Pihak BLHD menyuruh pihak
perusahaan membuat papan indikator beserta koordinat aeralnya supaya
mudah untuk menentukan areal tersebut.
5. Pihak perusahaan belum melakukan pemeriksaan terhadap air sungai dan
sebaiknya
perusahaan
melakukan
pemeriksaan
air
sungai
untuk
mengetahui apakah PT.BBS menimbulkan dampak pada air sungai yang
akan berdampak bagi masyarakat.
6. Pihak perusahaan belum melaporkan pelaksanaan pemantauan dan
pengelolaan lingkungan pada tahun 2015.
7. Pada Outlet air limbah untuk kelahan aplikasi dan outlet ke badan perairan
telah dipasang Meteran Air, tapi data dari volume air tersebut tersebut
tidak dicatat.
39
8. Pada
Land
Aplication
ini
tidak
ditanami
tanaman
lain
untuk
perbandindingan apakah pada lahan aplikasi tersebut tidak mengandung
racun tapi langsung di aplikasikan ke sawit.
Gambar 10. Pembuatan Berita Acara
Dari berita acara diatas maka pihak BLHD Provinsi Jambi memberikan
rekomendasi kepada pihak pabrik yaitu :
1. Pihak BLHD memberikan masukan agar pihak PT. BBS harus melakukan
pemantauan limbah cair, air sungai setiap bulan dan melaporkannya ke
Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi.
2. Hasil dari paremeter uji sampel menyatakan bahwa masih ada parameter
yang belum sesuai dengan standar baku mutu, oleh karena itu pihak
BLHD memberikan wewenang agar perusahaan memperbaiki IPAL.
3. Pihak pengawas memberikan kelonggaran kepada pihak PT. BBS bahwa
pihak BLHD memberikan waktu selama 1 bulan untuk memperbaiki
semua kegiatan, kalau tidak berubah juga maka pihak BLHD bisa
mengambil keputusan.
4. Sebaiknya data debit dari flowmeter dicatat dan di laporkan juga.
40
Karena PT.Bukit Bintang Sawit belum taat pada peraturan, berdasarkan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 58 Tahun 2002 menyatakan
bahwa, apabila dari hasil pengawasan menunjukkan ketidaktaatan terhadap
peratuaran-peraturan perundang-undangan dibidang lingkungan hidup, maka
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mengusulkan kepada pejabat yang memberi penugasan dan memberikan
peringatan dan atau teguran berdasarkan kewenangan dan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Memberikan saran tindak kepada badan/pimpin instansi pemberi izin
usaha dan atau kegiatan untuk dilakukan pencabutan izin.
c. Memberikan saran tindak kepada Gubernur/Bupati/Walikota untuk
melakukan paksaan pemerintahan.
d. Memberikan saran tindak penyelesaian secara perdata di pengadilan , atau
diluar pengadilan terdapat konflik antara masyarakat dengan penanggung
jawab usaha dan atau kegiatan akibat dampak yang ditimbulkannya
e. Memberikan saran tindak penyelesaian melalui penegakan hukum pidana.
4.2.10. Menyerahkan Sampel ke Laboratorium BLHD Provinsi Jambi
Sampel-sampel yang diambil dilapangan diserahkan ke Laboratorium
BLHD Provinsi Jambi untuk di uji. Penyerahan sampel harus disertai dengan
berita acara penyerahan sampel. Berita acara penyerahan sampel dapat dilihat
pada Lampiran 8.
Hasil uji sampel dapat diambil setelah kurang lebih 1 bulan. Dari hasil
laboratorium tersebut didapatkan hasil pada Lampiran 9.
41
Gambar 11. UPTB Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi
Jambi
4.2.11. Membuat Nota Dinas Hasil Inspeksi
Naskah dinas intern dilingkungan unit kerja yang dibuat oleh seorang
pejabat dalam melaksanakan tugas guna menyampaikan laporan pelaksanaan
kegiatan. Laporan adalah Penyampaian hasil pelaksanaan kegiatan secara tertulis
yang ditujukan kepada Kepala Badan untuk mengetahui output kegiatan
pengawasan yang dilakukan.
Laporan dari PPLH pengawasan di PT. BBS ini ditanda tangani oleh
Ketua Badan Bidang Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan. Laporan
Pengawasan diberikan tanggal 25 maret 2015, hal ini sesuai dengan Surat Perintah
Tugas yang menyatakan bahwa PPLHD harus menyampaikan laporan paling
lambat 7 hari kerja setelah tugas dilaksanakan. Laporan PPLH pengawasan di PT.
BBS dapat dilihat pada Lampiran 10.
4.2.12. Membuat Analisis Yuridis Hasil Inspeksi Lapangan
Analisis yuridis adalah Acuan Peraturan Perundangan yang berlaku yang
dibuat berdasarkan fakta dan temuan lapangan untuk menentukan status ketaatan
perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan. Analisis Yuridis pengawasan pada
42
PT.Bukit Bintang Sawit dapat dilihat pada halaman 3 Laporan Pengawasan pada
Lampiran 10.
4.2.13. Hasil Uji Parameter Sampel Air Limbah
Untuk pengukuran parameter-parameter kimia seperti BOD, COD, TSS, N
Total dan Minyak lemak dilakukan pada UPTB Laboratorium Lingkungan Daerah
BLHD Provinsi Jambi. Setelah ± 1 bulan sampel dapat diambil di Laboratorium.
Data uji sampel tersebut adalah
Tabel 4. Hasil Uji Laboratorium Sebelum Pengolah- an (inlet) dan Setelah
Pengolahan (outlet) di IPAL di PT.Bukit Bintang Sawit 2015
Satndar
Kadar
Evektivtas
No
Parameter
Inlet
Outlet
Baku
penurunan
(%)
Mutu
1 pH
6
9
6-9
2 BOD5 (mg/l)
16890
564
100
16326
96,7
3 COD (mg/l)
54720
1584
350
53136
97,1
4 TSS (mg/l)
19940
144
250
19796
99,3
Minyak dan
5
56
26
25
53,6
Lemak (mg/l)
30
N - Total
6
85
48
50
43,52
(mg/l)
37
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa parameter BOD5, COD, TSS, minyak dan
lemak serta N Total setelah mengalami proses pengolahan mengalami penurunan.
Penurunan kadar parameter ini disebabkan oleh adanya proses fisik dan biologi
selama limbah berada di IPAL. Nilai pH mengalami peningkatan dari suasana
asam berubah menjadi basa. Peningkatan pH ini disebabkan karena terjadinya
aktivitas biologi pada limbah selama proses di IPAL. Reaksi biologi yang dapat
meningkatkan pH adalah denitrifikasi, pemecahan nitrogen organik dan reduksi
sulfat (Kusnoputranto,1997).
Efektivitas pengelolaan limbah cair tersebut dapat diketahui dengan cara
membagi penurunan kadar parameter kualitas limbah cair dengan kadar sebelum
43
di olah pada IPAL. Hasil perhitungan pada Tabel 4 di atas terlihat bahwa IPAL di
PT. Bukit Bintang Sawit telah dapat menurunkan kadar polutan lebih dari 80 %
untuk parameter BOD5, COD, TSS, minyak dan lemak serta lebih dari 50 % untuk
parameter N total.
Walaupun efektivitas sudah lebih dari 40% namun kadar
polutan tersebut masih terdapat penyimpangan dari baku mutu yang telah
ditetapkan oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor: Kep-51/MENLH
/10/1995 tentang baku mutu limbah cair untuk kegiatan industri kelapa sawit.
Penyimpangan parameter dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Penyimpangan Parameter Kualitas Limbah Cair dari BML dan Hasil Uji
antara Nilai Parameter Outlet IPAL dengan BML
No
Parameter
Outlet
BML
Penyimpangan
1 pH
9
6-9
2 BOD5 (mg/l)
564
100
464*
3 COD (mg/l)
1584
350
1234*
4 TSS (mg/l)
144
250
5 Minyak dan Lemak(mg/l)
26
25
1
6 N - Total (mg/l)
48
50
Keterangan: * ada perbedaan yang signifikan dengan BML
Dari Tabel 5 menunjukkan bahwa pH limbah cair pada outlet IPAL berada
dalam kisaraan BML. Perubahan pH ini disebabkan oleh proses asidifikasi selama
biodegradasi anaerob yang menghasilkan asam-asam yang bersifat asam sehingga
menyebabkan pHsistem berubah. Parameter BOD5, COD, minyak dan
lemakmasih berada diatas BML dan N total serta TSS sudah berada dibawah
BML.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai parameter BOD5, COD ,minyak dan
lemak menunjukkan angka yang signifikan atau terdapat perbedaan yang nyata
dengan baku mutu. Penurunan kandungan COD ini menunjukkan bahwa
mikroorganisme telah beradaptasi dengan limbah yang akan diolah dan mampu
mendegradasi bahan organik yang terdapat di dalam limbah . Sedangkan untuk
parameter N total dan TSS telah efektif karena kadar N Total dan TSS lebih
44
rendah dari baku mutu. Sedangkan untuk parameter BOD5, COD, minyak dan
lemak belum dinilai efektif karena masih berada diatas baku mutu. Untuk
parameter pH masih berada dalam kisaran baku mutu (6-9).
Dan hasil analisa uji outlet LA dapat dilihat pada Tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6. Penyimpangan Parameter Kualitas Limbah Cair dari BML dan Hasil Uji
antara Nilai Parameter OutletLA dengan BML
No
Parameter
Outlet
BML
Penyimpangan
1 pH
9
6-9
2 BOD5 (mg/l)
241
100
141
3 COD (mg/l)
452
350
102
4 TSS (mg/l)
32
250
5 Minyak dan Lemak(mg/l)
8.0
25
6 N - Total (mg/l)
25
50
Dari Tabel 6 menunjukkan bahwa,pH limbah cair pada outlet LA berada
dalam kisaraan BML. Parameter BOD5 dan COD yang masih berada di bawah
BML , tapi penyimpangannya sudah tidak terlalu tinggi lagi. Sedangkan
minyaklemak sudah berada dibawah BML. Sedangkan untuk parameter N total
dan TSS telah efektif karena kadar N Total dan TSS lebih rendah dari baku mutu.
Sedangkan untuk parameter BOD5, COD, minyak dan lemak belum dinilai efektif
karena masih berada diatas baku mutu. Untuk parameter pH masih berada dalam
kisaran baku mutu (6-9).
45
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Dari pembuatan Laporan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM)
ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Pengawasan yang dilakukan pada PT. Bukit Bintang Sawit ( PT. BBS)
berjalan dengan baik dan sesuai dengan Standar Operation Proses (SOP)
Pengawasan.
b. Dari hasil pangawasan ditemukan hal-hal yang menunjukkan ketidaktaan PT.
BBS pada peraturan, seperti laporan yang belum diberikan ke BLHD
Provinsi Jambi, penampungan limbah yang kecil, sumur pantau yang belum
ditutup, parameter uji limbah yang belum Sesuai Standar Baku Mutu dan
juga Dokumen UKL-UPL yang tidak berada di perusahaan.
5.2. Saran
Dari pembuatan Laporan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM)
ini dapat diambil beberapa saran sebagai berikut:
a. Sebaiknya PPLH dalam melaksanakan pengawasan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD) supaya tidak terjadi suatu kesalahan ataupun
kecelakaan pada saat pengawasan.
b. Sebaiknya PT.Bukit Bintang sawit memperbaiki semua kinerja dari
pabrikdan juga Intalansi Pengolahan Air Limbah serta dokumen-dokumen
berada dilokasi yang telah disarankan oleh BLHD Provinsi Jambi.
c. Sebaiknya BLHD Provinsi Jambi mengambil tindakan tegas terhadap
perusahaan yang belum taat terhadap peraturan.
46
DAFTAR PUSTAKA
Berita Acara Pengawasan Lingkungan Hidup, Badan Lingkungan Hidup Daerah
Provinsi Jambi, PT. Bukit Bintang Sawit, 2015
Hanum,F.,2009.Pengolahan Limbah Cair Pabrik Cair, http://repository.usu.ac.id/
bitstream/123456789/25994/5/Chapter%20I.pdf. Akses Mei 2015
Kepmen LH No 9 Tahun 2003, Tentang Kunjungan Pengawasan Lapanagan
Kepmen LH No 56 Tahun 2002, Pedoman Umum Pengawasan Penataan
Lingkungan Hidup Bagi Pejabat Pengawas
KepmenLH no. 57 tahun 2002, Pedoman Umum Pengawasan Penataan
Lingkungan Hidup
Kusnoputranto,H., 1997.Air Limbah,Direktor Jendral
Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan,Jakarta
Pendidikan
Tinggi
Rahardjo,N.,2009.Teknik Intalasi Pengolahan Air Limbah Pabrik Minyak Kelapa
Sawit,http://ejournal.uinsuska.ac.id/index.php/sitekin/article/view/529/50
4 adalah 529.Pdf.Akses, Mei 2015
Peraturan Gubernur Jambi Nomor 20 Tahun 2007
Peraturan Mentri Lingkungan Hidup No.5 Tahun2014, Tentang Baku Mutu
Limbah Cair
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 13 Tahun 2010, Tentang Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup Dan Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Dan Pemantauan
Lingkungan Hidup.
Suratmo.G, 2003. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.Gadjah Mada
University Press.Bogor. 233 Hal
Novra. A, 2010.Kajian Efektifitas Teknologi IPAL Industri CPO Provinsi
Jambi,Bidang Pengembangan Dan Penerapan IptekBalitbangda Provinsi
Jambi,Jambi.
47
Download