Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan Agriculture Sebelum

advertisement
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan Agriculture
Sebelum dan Sesudah dan Pada Saat Krisis Ekonomi Global di
Bursa Efek Indonesia
Ervita Safitri, Arniza Nilawati, Putri Widyastuty
Universitas Muhammadyah Palembang
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstract : This research target to know the difference of share performance of at company Agriculture of before and
at the time of global economic crisis in Effect Exchange Indonesia. Sum up the company becoming population in this
research amount to 15 company of Agriculture. Technique of intake sample of this research use the purposive
sampling, that is intake sample by using certain criteria. Up to standard company to become the sample of this
research amount to 10 company. Pursuant to analysis which writer conduct hence share performance at company
Agriculture have the difference of before crisis and at the time of global economic crisis with the calculation of
method Sharpe and Jansen. But if use method Treynor do not own difference of before crisis and at the time of global
economic crisis. The same things of with the examination use test the paired sample T test each the method Sharpe
and Jansen have the difference of share performance before and the time time Global Economic Crisis . But if use
method Treynor have difference of before crisis and at the time of global economic crisis with the value tcount of sharpe
=-10,076, tcount of treynor=-0,950, tcount of jensen= -4,074 by t is tabels of= -2,262.
Keywords : difference of share performance, company agriculture.
Abstrak : Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat krisis ekonomi global di
BEI. Kinerja saham dari berbagai saham dapat diukur menggunakan metode Sharpe, Treynor dan Jansen. Ketiga
metode ini mengasumsikan adanya hubungan linear antara pengembalian portofolio dengan pengembalian dari
beberapa indeks pasar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kinerja saham pada perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis ekonomi global di Bursa Efek Indonesia. Jumlah perusahaan yang menjadi
populasi dalam penelitian ini berjumlah 15 perusahaan Agriculture. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu.
Perusahaan yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel pada penelitian ini berjumlah 10 perusahaan. Berdasarkan
analisa yang penulis lakukan maka kinerja saham pada Perusahaan Agriculture memiliki perbedaan sebelum dan
pada saat krisis ekonomi global dengan perhitungan metode Sharpe dan Jansen sedangkan perhitungan metode
Treynor tidak memiliki perbedaan sebelum dan pada saat krisis menggunakan pengujian One Way ANOVA. Sama
halnya dengan pengujian menggunakan uji paired sample T test perhitungan metode Sharpe dan Jansen memiliki
perbedaan kinerja saham antara sebelum dan pada saat krisis sedangkan metode Treynor tidak memiliki perbedaan
kinerja saham sebelum dan pada saat krisis dengan nilai thitung,Sharpe=-10,076, thitung Treynor= -0,950, thitung,Jensen=-4,074
dengan ttabel=-2,262.
Kata kunci : perbedaan kinerja saham, perusahaan agriculture
1.
PENDAHULUAN
Krisi global yang dirasakan sejak semester
kedua tahun 2008 ternyata berdampak pada Krisis
ekonomi yang berawal dari Amerika Serikat dan
kemudian meluas menjadi krisis ekonomi secara
Hal - 26
negara-negara Asia termasuk Indonesia. Krisis yang
bermula ketika The Fed (Bank Sentral Amerika
Serikat) menaikkan suku bunga pada saat sektor
properti mengalami booming mengakibatkan banyak
nasabah yang mengalami default (gagal bayar)
sehingga sekuritas yang terkait nilainya anjlok yang
Vol. 3 No. 1 September 2013
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
mengakibatkan sebagian besar investor menjual
portofolionya untuk menutup kerugian. Ditambah
kebangkrutan yang dialami lembaga keuangan
Amerika Serikat (Lechman Brother) membuat pasar
bertambah panik sehingga muncul ekspektasi
terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global
yang membuat harga minyak dan komoditi lainnya
cenderung menurun karena di dorong ekspektasi
perlemahan permintaan dunia.
Bagi Indonesia dampak krisis yang paling
terasa adalah timbulnya sentimen negatif bagi pasar
keuangan Indonesia, yang tercermin dari anjloknya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga level
1.200 yang secara simultan menekan nilai tukar
Rupiah melewati batas psikologis Rp9.500,00 per
$US. Adanya tekanan bagi ekspor nasional dan
investasi asing, serta hal ini juga mengakibatkan
nilai ekspor beberapa Perusahaan Indonesia
mengalami penurunan dan adanya ketidakpastian
terhadap harga komoditas yang akan berpengaruh
terhadap prospek inflasi.
Ketidakpastian terhadap harga komoditas
menyebabkan hampir semua sektor penggerak
perekonomian
Indonesia
tertekan,
tidak
terkecuali bagi sektor Agriculture (perkebunan,
peternakan dan perikanan). Sektor Agriculture
yang selama ini menjadi sektor utama bagi
perekonomian Indonesia pun mengalami resesi
pertumbuhan akibat krisis ekonomi global.
Resesi ini dapat dibuktikan dari persentase
pertumbuhan laba perusahaan yang bergerak di
sektor
ini
yang
mengalami
penurunan
dibandingkan tahun sebelumnya bahkan ada
beberapa
perusahaan
yang
persentase
pertumbuhannya mencapai angka minus.
Penurunan pertumbuhan laba perusahaan
selain menurunkan capital gain perusahaan juga
berdampak pada investasi saham sektor Agriculture,
dimana banyak investor yang melepas sahamnya
setelah mengetahui pertumbuhan laba Perusahaan
Agriculture yang mengalami penurunan, sehingga
menyebabkan nilai jual (harga) saham Perusahaan
Agriculture pun anjlok pada saat krisis. karena pada
dasarnya investor yang melakukan investasi akan
berusaha untuk menanamkan dananya pada sahamsaham perusahaan yang mampu memberikan
Vol. 3 No. 1 September 2013
pengembalian (return) tertinggi baik berupa deviden
maupun capital gain serta resiko (risk) terendah.
Evaluasi atas kinerja saham yang telah
dibentuk dapat dilihat dari tingkat pengembalian
yang diharapkan maupun terhadap tingkat resiko
yang ditanggung. Adapun tujuan dari penilaian
kinerja saham atau portofolio adalah untuk
mengetahui dan menganalisis apakah portofolio
yang dibentuk telah dapat meningkatkan
kemungkinan tercapainya tujuan investasi sehingga
dapat diketahui portofolio mana yang memiliki
kinerja yang lebih baik jika ditinjau dari tingkat
pengembalian dan resikonya masing-masing.
Penilaian
ini
dilakukan
dengan
cara
membandingkan kinerja berbagai portofolio dari
berbagai saham dapat di ukur dengan menggunakan
metode Sharpe, Treynor maupun metode Jansen.
Kinerja saham yang baik mutlak diperlukan bagi
perusahaan agar dapat menarik para investor.
Sektor Agriculture mengalami penurunan
harga saham ketika krisis ekonomi global melanda
yang menjadi indikasi penurunan kinerja saham.
Menyadari betapa pentingnya kinerja saham bagi
suatu perusahaan serta perbedaan kinerja saham
yang terjadi pada Perusahaan Agriculture sebelum
dan pada saat krisis ekonomi global maka
penelitian ini memfokuskan analisis masalah pada
Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan
Agriculture Sebelum dan Pada Saat Krisis Ekonomi
Global di Bursa Efek Indonesia.
2.
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
Return merupakan hasil yang diperoleh dari
investasi. Return dapat berupa return realisasi yang
sudah terjadi dan return ekspektasi yang belum
terjadi (Jogiyanto,2009:199). Return realisasi
dihitung menggunakan data historis. Return
realiasasi penting karena digunakan sebagai salah
satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return
realisasi atau return historis ini juga berguna sebagai
dasar penentuan return ekspektasi (expected return)
dan resiko di masa yang akan datang. Perhitungan
Hal - 27
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
return realisasi ini menggunakan return total. Return
total merupakan keseluruhan dari suatu investasi
dalam suatu periode tertentu.
Menurut Jogiyanto (2009: 243) “return
realisasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari
return-return realisasi dari masing-masing sekuritas
tunggal di dalam portofolio”. “return ekspektasi
portofolio adalah rata-rata tertimbang dari returnreturn ekspektasi tiap-tiap sekuritas tunggal di
dalam portofolio”. Risiko merupakan besarnya
penyimpangan antara tingkat pengembalian yang
diharapkan (expected return) dengan tingkat
pengembalian aktual (actual return). Semakin besar
penyimpangannya berarti semakin besar pula
tingkat risikonya. (Halim,2005:42). Risiko dapat
dibedakan menjadi Risiko sistematik (systematic
risk) dan Risiko tidak sistematis (unsystematic risk).
Menurut Jogiyanto (2009:245) Risiko portofolio
adalah varian return sekuritas-sekuritas yang
membentuk portofolio tersebut. Salah satu
pengukur risiko adalah deviasi standar atau varian
yang merupakan kuadrat dari deviasi standar.
Menurut Halim (2005:68) kinerja saham
merupakan tingkat pencapaian total return bulanan
dari tiap-tiap saham dalam portofolio saham.
Menurut Sorensen, Miller dan Ooi (2000:47)
kinerja saham dibedakan menjadi dua:
1) Kinerja saham yang lebih unggul (out perform)
Saham yang memiliki hasil perbandingan atau
pengurangan yang bernilai positif disebut juga
saham berkinerja baik.
2) Kinerja saham lebih rendah (under perform)
Saham yang memiliki hasil perbandingan atau
pengurangan yang bernilai negatif disebut juga
saham berkinerja tidak baik.
Dengan berdasarkan teori pasar modal,
beberapa ukuran kinerja portofolio sudah
memasukkan faktor return dan risiko dalam
perhitungannya. Beberapa metode pengukuran
kinerja saham menurut Halim (2005: 68) adalah
sebagai berikut:
1) Metode Sharpe
Dalam metode ini kinerja portofolio diukur
dengan cara membandingkan antara premi
Hal - 28
resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat
pengembalian portofolio dengan rata-rata
tingkat bunga bebas resiko) dengan resiko
portofolio yang dinyatakan dengan standar
deviasi (total resiko). Hasil perhitung adalah
kemiringan (slope) garis yang menghubungkan
portofolio yang beresiko dengan bunga bebas
resiko. Kemiringan garis tersebut dinyatakan
dengan (Rp-Rf)/ p. Dengan demikian,
semakin besar kemiringan garis tersebut berarti
semakin baik portofolio yang membentuk garis
tersebut. Karena, semakin besar rasio premi
risiko portofolio terhadap standar deviasi dapat
dikatakan bahwa kinerja portofolio tersebut
semakin baik.
2) Metode Treynor
Dalam metode ini kinerja portofolio diukur
dengan cara membandingkan antara premi
resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat
pengambilan portofolio dengan rata-rata bunga
bebas risiko) dengan risiko portofolio yang
dinyatakan dengan beta (resiko pasar atau risiko
sistematis).
Hasil perhitungan adalah kemiringan garis
yang menghubungkan portofolio
yang
berisiko dengan bunga bebas risiko. Kemiringan
garis tersebut dinyatakan dengan (Rp- Rf)/ p.
dengan demikian, semakin besar kemiringan garis
tersebut berarti semakin baik portofolio yang
membentuk garis tersebut.
Karena, semakin
besar rasio premi risiko portofolio terhadap beta,
dapat dikatakan bahwa kinerja portofolio tersebut
semakin baik.
3) Metode Jensen
Metode ini didasarkan pada konsep garis pasar
sekuritas (security market line-SML) yang
merupakan garis
yang
menghubungkan
portofolio pasar dengan kesempatan investasi
yang bebas resiko, sehingga secara matematis
dirumuskan Rp = Rf + (Rm-Rf) p. Kemiringan
SML dinyatakan sebagai (Rm-Rf)/ p dan
konstantanya adalah Rf. Dalam keadaan
equilibrium semua portofolio diharapkan berada
pada SML. Jika terjadi penyimpangan artinya
jika dengan resiko yang sama tingkat
pengembalian pada SML, maka perbedaan
Vol. 3 No. 1 September 2013
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
tersebut disebut dengan indeks Jensen dimana
risikonya dinyatakan dalam beta (risiko pasar
atau risiko sistematis). Apabila tingkat
pengembalian aktual dari suatu portofolio lebih
besar dari tingkat pengembalian yang sesuai
dengan persamaan SML, berarti indeks Jensen
akan bernilai positif. Sebaliknya, apabila tingkat
pengembalian aktual dari suatu portofolio lebih
kecil dari tingkat pengembalian yang sesuai
dengan persamaan SML, berarti indeks Jensen
akan bernilai negatif.
Penelitian Ruminih (2009) berjudul
Evaluasi Kinerja Saham dengan menggunakan
Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen di Jakarta
Islamic Index di Bursa Efek Indonesia periode
tahun 2007-2008. Berdasarkan analisis kinerja
saham-saham JII dengan menggunakan metode
Sharpe, Treynor dan Jensen diperoleh hasil dengan
menggunakan metode Sharpe dan metode Jensen,
terdapat empat saham yang berkinerja tidak baik
dengan nilai Sharpe dan nilai Jensen negatif yaitu
BNBR, TLKM, BTEL, dan CTRA. Sementara
sembilan saham lainnya berkategori baik dengan
nilai Sharpe dan nilai Jensen positif. Diukur
menggunakan metode Treynor, terdapat sembilan
saham yang berkinerja baik dan empat lainnya
berkinerja tidak baik.
Penelitian lain Analisis Kinerja Portofolio
Saham dengan Metode Sharpe, Treynor dan Jensen
Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003
sampai
2007
oleh
Agustin
Sulistyorini
(2009).Berdasarkan hasil analisis bahwa Indeks
kinerja Sharpe, Treynor dan Jensen menunjukkan
ada 4 saham LQ-45 dari tahun 2003 sampai tahun
2007 yang selalu menunjukkan indeks kinerja
bernilai negatif paling banyak yaitu; BCA (Bank
Central Asia Tbk), INDF (Indofood Sukses Makmur
Tbk), ISAT (Indosat Tbk), TLKM (Telekomunikasi
Indonesia Tbk), Pengukuran kinerja portofolio
dengan metode Sharpe, Treynor, maupun Jensen
akan memiliki karakteristik angka indeks yang
berbeda satu sama lain sehingga tidak dapat
dibandingkan satu dengan lainnya secara logis
sehingga diperlukan standarisasi ukuran kinerja yang
dapat digunakan untuk membandingkan pengukuran
kinerja portofolio yang menggunakan metode
Sharpe, Treynor, maupun Jensen yaitu dengan
Vol. 3 No. 1 September 2013
transformasi Z-score (Standardized). Hasil dari
transformasi Z-score menunjukkan bahwa indeks
Sharpe dan Jensen menempatkan portofolio PTBA
(Tambang Batubara Bukit Asam Tbk), yang terjadi
pada tahun 2007 sebagai peringkat pertama.
Sedangkan indeks Treynor menghasilkan portofolio
ASII (Astra International Tbk) yang terjadi di tahun
2005 akan menjadi rangking pertama.
Hasil pengujian perbedaan pengukuran
kinerja portofolio menggunakan metode Sharpe,
Treynor, maupun Jensen dengan uji Kruskal Wallis
tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan dalam mengukur kinerja dengan
menggunakan metode Sharpe, Treynor, maupun
Jensen. Sedangkan uji antar treatment terhadap
ketiga metode juga tidak menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan diantara ketiganya.
Pengukuran selisih mean rank maka metode
Treynor adalah yang paling menunjukkan
konsistensi terhadap ketidakbedaan antar ketiga
pengukuran, karena Treynor memiliki selisih mean
rank yang paling rendah terhadap Sharpe maupun
Jensen.
2.2 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dapat
dikemukakan hipotesis: adanya perbedaan kinerja
saham pada Perusahaan Agriculture sebelum dan
pada saat krisis ekonomi global di Bursa Efek
Indonesia.
3. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada Perusahaan
Agriculture di Bursa Efek Indonesia. Datanya
diambil melalui website dengan alamat situs
www.idsaham.com. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh perusahaan Agriculture di Bursa
Efek Indonesia. Adapun jumlah perusahaan yang
menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah 15
Perusahaan Agriculture.
3.1 Penentuan Sampel
Adapun teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan purposive sampling,
Hal - 29
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
yaitu teknik pengambilan sampel
menggunakan
kriteria-kriteria
(Sugiono,2008).
dengan
tertentu
Adapun kriteria yang digunakan untuk
menentukan sampel pada penelitian ini yaitu
perusahaan yang secara rutin melaporkan laporan
harga saham bulanan selama periode 2007-2009.
Berdasarkan kriteria tersebut maka perusahaan
yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel pada
penelitian ini berjumlah 10 perusahaan. Berikut ini
adalah nama-nama perusahaan yang menjadi
sampel pada penelitian ini :
Tabel 1 : Daftar Perusahaan Sampel Penelitian
No
o
1.
2.
Nama Perusahaan
Kode
Tunas Baru Lampung Tbk.
SMART Tbk.
3.
Dhama Samudera Fishing Industries Tbk
DSFI
4.
London Sumatra Tbk.
LSIP
5.
Inti Agri Resources Tbk.
IIKP
6.
7.
8.
9.
Bakrie Sumatera Plant Tbk.
Bumi Teknokultura Unggul Tbk.
Astra Agro Lestari Tbk
Central Proteinaprima Tbk
UNSP
BTEK
AALI
CPRO
10.
Cipendawa Tbk
CPDW
TBLA
SMAR
Sumber : Penulis, 2012
Data yang digunakan dalam penelitian ini,
menurut sumbernya, adalah data sekunder
(Sugiono,2008). Jenis data yang dikumpulkan adalah:
a. Laporan keuangan dan harga saham Perusahaan
Agriculture periode 2007-2009.
b. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode
2007-2009.
c. Suku bunga SBI periode 2007-2009.
d. Metode Sharpe adalah data harga saham setiap
akhir bulan selama periode 2007-2009.
e. Metode Treynor adalah data harga saham setiap
akhir bulan selama periode 2007-2009.
f. Metode Jensen adalah data harga saham setiap
akhir bulan selama periode 2007-2009.
3.2 Operasionalisasi Variabel
Dalam penelitian ini variabel yang diteliti
adalah sebagai berikut :
Tabel 2 : Operasionalisasi Variabel
No
Variabel
Definisi Operasional
1.
Kinerja saham
Tingkat pencapaian total return
bulanan dari saham-saham dalam
portofolio saham pada Perusahaan
Agriculture di Bursa Efek Indonesia.
Indikator
a. Metode Sharpe
b. Metode Treynor
c. Metode Jensen
Sumber: Penulis, 2012
Hal - 30
Vol. 3 No. 1 September 2013
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
1) Mencari nilai Aktual Return:
3.3 Teknik Analisis
Pengertian dan batasan dari variabelvariabel yang digunakan dalam analisis adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan kinerja masing-masing perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan
menggunakan metode Sharpe.
Rit
( Pt
Pt 1 ) Dt
Pt 1
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian
Portofolio:
Rpi
1) Mencari nilai Aktual Return:
Rit
( Pt
Rit
n
3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI:
Pt 1 ) Dt
Pt 1
R fi
E (R f )
Notasi : Ri
Pt
Pt-1
Dt
: Return saham
: Harga saham pada saat t
: Harga saham pada saat t-1
: Deviden kas pada akhir periode
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian
Portofolio:
n
3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI
dengan rumus :
n
4) Menentukan Standar Deviasi Portofolio dengan
rumus :
SDpi
( Ri
( Ri Ri )( Rm Rm)
saham
( Rm Rm) 2
Ri )
Metode Treynor =
Rpi
Rf
saham
c. Menentukan Kinerja masing-masing perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan
menggunakan Metode Jensen.
R fi
E (R f )
4) Menentukan Beta Saham dengan rumus :
5) Menentukan nilai kinerja berdasarkan Metode
Treynor:
Rit
Rpi
n
2
1) Mencari nilai Aktual Return:
Rit
( Pt
Pt 1 ) Dt
Pt 1
(n 1)
5) Menentukan nilai kinerja berdasarkan Metode
Sharpe:
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian
Portofolio:
Rpi
Metode Sharpe =
( Rpi Rf )
SDpi
b. MenentukanKinerja masing-masing perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan
menggunakan metode Treynor.
Vol. 3 No. 1 September 2013
Rit
n
3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI:
E (R f )
R fi
n
Hal - 31
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
4) Menentukan Return Market:
Rm
Rm
n
5) Menentukan Beta Saham dengan rumus :
( Ri Ri )( Rm Rm)
saham
( Rm Rm) 2
Kriteria pengujian :
6) Menentukan nilai kinerja berdasarkan metode
Jensen :
Ja
( Rpi Rf ) ( Rm Rf )
saham
3.4 Pengujian Hipotesis
Uji T (Paired Sample T-Test)
Setelah mendapatkan nilai kinerja saham
Perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat
krisis dengan metode Sharpe, Treynor dan
Jensen, untuk menjawab pertanyaan adakah
perbedaan kinerja saham pada Perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis
ekonomi global di Bursa Efek Indonesia maka
dapat diketahui juga dengan melakukan
pengujian beda rata-rata untuk variabel data
yang berpasangan (paired sample T-test) dengan
menggunakan program komputer SPSS 16.0.
Program yang akan digunakan untuk
menguji adalah statistical product and service
solution (SPSS) dengan pengujian hipotesis
paired sample T- Test yaitu untuk mengetahui
ada atau tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih
dari dua kelompok sampel yang tidak
berhubungan. (Dwi Priyatno, 2008: 106).
Dengan hipotesis :
Ho: Tidak ada perbedaan kinerja saham pada
perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat
krisis ekonomi global di BEI.
Ha: Ada perbedaan kinerja saham pada perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis
ekonomi global di BEI.
Hal - 32
Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan
tingkat signifikansi = 5%. Tingkat signifikansi dalam
hal ini berarti kita mengambil resiko salah dalam
mengambil keputusan untuk menolak hipotesis yang
benar sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 5% atau
0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan
dalam penelitian). Menentukan t tabel Dengan
menggunkan tingkat keyakinan 95%, = 5%, df1=
(jumlah variabel -1) dan df2 (n-2).
- Ho diterima bila –ttabel < thitung < t tabel
- Ho ditolak bila thitung > t tabel atau thitung < - t tabel
Kemudian Membandingkan thitung dengan t tabel
4.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Dari perhitungan metode Sharpe, Treynor dan
Jansen sebelum dan pada saat krisis, ternyata dari 10
sampel saham perusahaan Agriculture kinerja saham
dinilai dari ketiga metode secara keseluruhan memiliki
kinerja tidak baik dikarenakan tidak ada satu pun
perusahaan yang memiliki nilai positif berdasarkan
perhitungan dari ketiga metode tersebut. Akan tetapi
jika dilihat dari perhitungan masing-masing metode
secara parsial antara sebelum krisis dan pada saat krisis
kinerja beberapa saham bernilai baik berdasarkan
perhitungan metode Sharpe,yaitu SMART,LSIP,IIKP
dan AALI. Dengan metode Treynor hanya SMART
dan DSFI sedangkan metode Jansen terdapat satu
perusahaan saja yang posif yaitu LSIP
Pengukuran kinerja saham dalam penelitian ini
diukur menggunakan metode Sharpe, metode Treynor
dan metode Jansen. Metode Sharpe mengukur market
performance dengan membagi excess return terhadap
standar deviasi return, metode Treynor mengukur
market performance dengan membagi excess return
terhadap risiko pasar atau risiko sistematis, sedangkan
metode Jansen menambahkan rata-rata return masa
lalu dengan required return. Penilaian ketiga model ini
memiliki kesamaan dalam pengambilan keputusan.
Ketiganya sama-sama menganggap semakin tinggi
nilai yang dihasilkan, maka semakin baik kinerja suatu
saham. Saham yang mempunyai nilai positif adalah
saham yang dalam ketiga model ini pantas untuk dibeli
atau dimasukkan dalam portofolio investasi.
Vol. 3 No. 1 September 2013
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
Tabel 3 : Kinerja Saham Perusahaan Agriculture Sebelum dan Pada Saat Krisis Ekonomi Global
Saham
TBLA
SMART
DSFI
LSIP
IIKP
UNSP
BTEK
AALI
CPRO
CPDW
Kinerja Saham Sebelum Krisis
Sharpe
Treynor
Jansen
0,2691 -28,9369
7,6574
0,2665
74,9662
4,9299
-0,0013
0,5639
0,0164
0,3181 -78,8798
4,2210
0,3085
-8,0671
11,2490
0,2742 -31,3089
4,4838
0,4401 -19,2877
16,6410
0,3724 -72,1141
5,3109
0,1480
17,9900
6,4441
-0,1271
20,6413
-1,4878
Kinerja Saham Pada Saat Krisis
Sharpe
Treynor
Jansen
-0,1244
-1,8396
-3,2397
0,0055
0,1596
-0,7037
-0,4675
50,2629
-1,0470
0,0505
0,8758
0,2243
0,0057
0,2404
-0,1649
-0,0776
-1,3067
-3,6793
-0,1469
-5,7263
-2,9044
0,0357
0,6683
-0,0506
-0,1968
-3,5388
-5,8978
-0,7309
-860,8964
-0,6532
Sumber : Hasil pengolahan data, 2012
Dari total 10 saham Perusahaan Agriculture
sebelum krisis
ekonomi global yang diteliti,
ternyata sebanyak 8 saham Perusahaan Agriculture
yang memiliki Sharpe rasio positif dengan nilai
rasio tertinggi 0,4401 yang dimiliki oleh saham
perusahaan BTEK. Sedangkan yang memiliki
Sharpe rasio negatif sebanyak 2 saham Perusahaan
Agriculture dengan nilai Sharpe rasio terendah
sebesar -0,1271 yang dimiliki oleh saham CPDW.
Sedangkan pada saat krisis ekonomi global,
ternyata 4 perusahaan Agriculture memiliki sharpe
rasio positif dengan nilai rasio tertinggi 0,0505
yang dimiliki oleh saham perusahaan LSIP.
Sedangkan yang memiliki Sharpe rasio negatif
sebanyak 6 saham Perusahaan Agriculture dengan
nilai Sharpe rasio terendah sebesar -0,7309 yang
dimiliki oleh saham CPDW.
Saham dari 10 Perusahaan Agriculture
sebelum krisis ekonomi global yang diteliti,
ternyata sebanyak 4 saham perusahaan Agriculture
yang memiliki Treynor rasio positif dengan nilai
rasio tertinggi 74,9962 yang dimiliki oleh saham
perusahaan SMART. Sedangkan yang memiliki
Treynor rasio negatif sebanyak 6 saham perusahaan
Agriculture dengan nilai Treynor rasio terendah
sebesar -78,8798 yang dimiliki oleh saham
LSIP.Sedangkan pada saat krisis ekonomi global,
ternyata 5 perusahaan Agriculture memiliki
Treynor rasio positif, dengan nilai rasio tertinggi
Vol. 3 No. 1 September 2013
50,2629 yang dimiliki oleh saham perusahaan
DSFI. Sedangkan yang memiliki nilai Treynor rasio
negatif sebanyak 5 Perusahaan Agriculture, dengan
nilai rasio terendah -860,8964 yang dimiliki oleh
saham perusahaan CPDW.
Saham 10 Perusahaan Agriculture sebelum
krisis
ekonomi global yang diteliti, ternyata
sebanyak 9 saham Perusahaan Agriculture yang
memiliki Jensen rasio positif dengan nilai rasio
tertinggi 16,641 yang dimiliki oleh saham
perusahaa BTEK. Sedangkan yang memiliki Jansen
rasio negatif sebanyak 1 saham Perusahaan
Agriculture dengan nilai Jansen rasio terendah
sebesar -1,488 yang dimiliki oleh saham CPDW.
Pada saat krisis ekonomi global, ternyata
1 perusahaan Agriculture memiliki Jensen rasio
positif dengan nilai rasio tertinggi 0,224 yang
dimiliki oleh saham perusahaan LSIP. Sedangkan
yang memiliki Jansen rasio negatif sebanyak 9
saham Perusahaan Agriculture dengan nilai
Jansen rasio terendah sebesar -5,898 yang dimiliki
oleh saham CPRO.
Berdasarkan hasil peringkat kinerja masingmasing saham perusahaan Agriculture dihitung
menggunakan metode Sharpe, Treynor dan Jansen,
ternyata dengan menggunakan metode Sharpe dan
Jansen sebelum krisis saham perusahaan Bumi
Teknokultura Unggul,Tbk. (BTEK) yang bergerak di
Hal - 33
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
bidang pertanian memiliki kinerja baik dengan
menduduki peringkat pertama, dengan nilai 0,4401
dan 16,641. Dilihat dengan menggunakan metode
Treynor sebelum
krisis saham perusahaan
SMART,Tbk. yang bergerak di bidang perkebunan
memiliki kinerja baik dengan menduduki peringkat
pertama, dengan nilai 74,9662.
baik dengan menduduki peringkat pertama, dengan
nilai 50,2629.
Berbeda halnya dengan menggunakan
metode Sharpe, Treynor dan Jansen pada saat krisis
ekonomi global, saham perusahaan London
Sumatera,Tbk. (LSIP) yang bergerak di bidang
perkebunan memiliki kinerja baik dengan
menggunakan metode Sharpe dan Jansen
menduduki peringkat pertama, dengan nilai 0,0505
dan 0,224. Dilihat dengan menggunakan metode
Treynor pada saat krisis ekonomi global saham
perusahaan Darma Samudera Fishing,Tbk (DSFI)
yang bergerak di bidang perikanan memiliki kinerja
Dari perhitungan dengan menggunakan
pengujian paired sample T-Test diperoleh bahwa
nilai thitung (to) adalah -10,076, sedangkan untuk
nilai ttabel diperoleh dengan t /2, n-1. Karena nilai
= 0,05 dan n = 10 maka t 0,025, 9 = -2,262.
Karena thitung < -ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
kinerja saham pada perusahaan Agriculture
memiliki perbedaan antara kinerja saham
sebelum dan pada saat krisis ekonomi global
dilihat dari metode Sharpe.
Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan
Agriculture
a. Perbedaan Kinerja Saham Metode Sharpe
Tabel 4 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Sharpe
Sumber : Hasil pengolahan data, 2012
b. Perbedaan Kinerja Saham Metode Treynor
Tabel 5 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Treynor
Sumber : Hasil pengolahan data, 2012
Hal - 34
Vol. 3 No. 1 September 2013
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
Dari perhitungan dengan menggunakan c. Perbedaan Kinerja Saham Metode Jansen
pengujian paired sample T-Test diperoleh
Hasil perhitungan dengan menggunakan
bahwa nilai t hitung (t o ) adalah -0,950, sedangkan
pengujian
paired sample T-Test diperoleh bahwa
untuk nilai t tabel diperoleh dengan t /2, n-1.
nilai
t
(t
hitung o) adalah -4,074 sedangkan untuk nilai t
Karena nilai = 0,05 dan n = 10 maka t 0,025, 9 =
-2,262. Karena –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho tabel diperoleh dengan t /2, n-1. Karena nilai = 0,05
diterima dan Ha ditolak. Sehingga dapat dan n = 10 maka t 0,025, 9 = -2,262. Karena thitung < disimpulkan bahwa kinerja saham pada ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga
perusahaan
Agriculture
tidak
memiliki dapat disimpulkan bahwa kinerja saham pada
perbedaan antara kinerja saham sebelum dan perusahaan Agriculture memiliki perbedaan antara
pada saat krisis ekonomi global dilihat dari kinerja saham sebelum dan pada saat krisis ekonomi
global dilihat dari metode Jansen.
metode Treynor.
Tabel 6 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Jansen
Sumber : Hasil pengolahan data, 2012
5.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kinerja
saham
pada
Perusahaan
Agriculture memiliki perbedaan sebelum krisis dan
pada saat krisis ekonomi global menggunakan
perhitungan metode Sharpe dan Jansen. Sedangkan
perhitungan metode Treynor
tidak memiliki
perbedaan sebelum dan pada saat krisis ekonomi
global dengan nilai thitung,Sharpe=-10,076, thitung
Treynor= -0,950, thitung,Jensen=-4,074 dengan ttabel=2,262. Jadi dari hasil pengujian terhadap ketiga
metode. Pengukuran selisih mean t test maka
metode Treynor adalah yang paling menunjukkan
konsistensi terhadap ketidakbedaan antar ketiga
pengukuran, karena Treynor memiliki selisih mean
t test yang paling rendah terhadap Sharpe maupun
Jensen
Bagi perusahaan Agriculture diharapkan
agar dapat memperbaiki kinerja sahamnya agar
dapat menarik minat investor untuk berinvestasi
di perusahaan tersebut. Bagi calon investor yang
tertarik untuk membeli saham perusahaan
Vol. 3 No. 1 September 2013
Agriculture sebaiknya dilakukan berbagai
pertimbangan dikarenakan kinerja saham
perusahaan
Agriculture
kurang
begitu
menjanjikan karena sebagian produknya untuk
import.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Abdul Halim. 2005, Analisis Investasi, Jakarta
: Salemba Empat.
[2] Agustin Sulistyorini. 2009, Analisis Kinerja
Portofolio Saham dengan Metode Sharpe,
Treynor dan Jensen Saham LQ-45 di Bursa
Efek Indonesia , Tesis.
[3] Dwi Priyatno. 2008, Mandiri Belajar SPSS,
Yogyakarta : Mediakom.
[4] Jogiyanto. 2009. Teori Portofolio dan Analisis
Investasi, Edisi Keenam, Yogyakarta : BPFE.
Hal - 35
Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP
[5] Ruminih. 2009, “Evaluasi Kinerja Saham
dengan menggunakan Metode Sharpe,
Treynor, dan Jensen di Jakarta Islamic Index
di Bursa Efek Indonesia”, Tesis, UIN-Malang.
[6] Sorensen, Miller dan Ooi, 2000, “The
Decision Tree Approach to Stock Selection”,
The Journal of Portofolio Management, pg.
42-52.
.
[7] Sugiyono. 2008,
Metodologi Penelitian
Bisnis, Bandung : Alfabeta.
[8] Sulisyani. 2001, Dasar-Dasar Teori Portofolio
dan Analisis Sekuritas,
Edisi
Ketiga,
Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Hal - 36
Vol. 3 No. 1 September 2013
Download