Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat Dengan Menggunakan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Komunikasi Kelas pkap X3 Smkn 2 Bukittinggi Oleh: Nanik Tri Sumarti 05667/2008 PROGRAM STUDI EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI PADANG Wisuda Periode Juni 2013 Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat Dengan Menggunakan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Komunikasi Kelas PKAP X 3 SMKN 2 Bukittinggi Nanik Tri Sumarti Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang Email: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukitinggi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X PKAP 3 yang bejumlah 39 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan dua kali pertemuan pada setiap siklusnya. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda dan lembar pengamatan aktivitas guru. Hasil penelitian dari dua siklus yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan rata-rata ketuntasan klasikal sebesar 59,97% naik menjadi 84,62% dan mencapai batas KKK yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan hasil belajar komunikasi siswa kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi Tahun Ajaran 2012/2013. Kata kunci : pendekatan Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, Hasil Belajar ABSTRACT This research aims to improve of student in adducing argument with cooperative approach type of Jigsaw and learning result in communication subject in X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi. The kind of research is classroom action research. The subject in X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi as many as 39 students. This research is done in two cycles with two meetings each of cycle. Equipment of data collecting is objective test and observation teacher activity paper. The result of research from two cycle have done show that learning result of student have improving from first cycle to second cycle with classical pass average 59,97% up to 84, 62% and achieve the limit of KKK as wished. As result of researches are resumed that using cooperative approach type of Jigsaw can improve ability of student in adducing argument and learning result of student in X PKAP 3 classes SMKN 2 Bukittinggi 2012/2013 learning years. Keyword : cooperative learning approach, Jigsaw, Learning Result 1 seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi dengan baik”. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia, karena dengan pendidikan manusia memperoleh pengetahuan, nilai dan keterampilan. Melalui pendidikan kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan, sehingga memiliki kemampuan dan keteranpilan untuk membawa bangsa ini kea rah yang lebih baik. Salah satu upaya yang di lakukan adalah meningkatkan profesionalisme guru. Peningkatan profesionalisme guru dapat dilakukan dengan menambah wawasan dan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat iskandar (2011:1) “Salah satu tugas pokok guru dan dosen adalah melakukan pembelajaran mulai dari merancan, menyajikan dan sampai kepada evaluasi proses dan hasil pembelajaran agar diperoleh hasil pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang direncanakan”. Pelaksanaan pembelajaran dirancang sebaik mungkin dengan menggunakan pendekatan, metode dan model pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa. Dalam pembelajaran kooperatif guru perlu menumbuhkan aktivitas siswa dalam berfikir maupun berbuat, pembelajaran yang berorientasi pada kreativitas siswa, kesan yang diterima tidak berlalu begitu saja, melainkan dapat disimpan oleh siswa dalam waktu yang lama. Menurut Nur Asma (2008: 2) dengan pembelajaran kooperatif, siswa dapat belajar bekerja sama dalam kelompok dan sekaligus masingmasing bertanggung jawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya, sehingga 2 Salah satu model pembelajaran yang bias mengaktifkan siswa dalam pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Menurut Savage dalam Rusman (2010: 203) mengemukakan bahwa kooperatif learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerjasama dalam kelompok. Sedangkan menurut Nurulhayati dalam Rusman (2010:203) pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah model belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti yang diungkapkan oleh Lie dalam Rusman (2010:216) bahwa “pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerjasama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Mata pelajaran komunikasi merupakan salah satu mata pelajaran yang lebih banyak dituntut kepada siswa untuk bisa berbicara. Mengharuskan siswa bekerja dengan metode pembelajaran kooperatif atau teknik khusus untuk mempelajarinya. Untuk itu, guru komunikasi harus tepat dalam menggunakan dan mengkombinasikan model atau teknik dalam mengajar, sehingga pembelajaran dapat lebih menyenangkan dan hasil belajar siswa ikut meningkat. Dalam model kooperatif Jigsaw ini, siswa-siswa bekerja sama untuk menyelasaikan tugas kooperatifnya dalam: (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopic bagiannya, (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan. kurang memberi peluang kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Namun kadangkala guru memberikan pelajaran dengan metode diskusi tetapi masih belum juga mampu meningkatkan keterampilan mengemukakan pendapat siswa di kelas tersebut. Penyebabnya antara lain yaitu adanya dominasi dari siswa-siswa tertentu yang tidak berani mengemukakan ide dan gagasan, banyak diantara siswa tersebut yang tidak focus dan konsentrasi dengan materi pelajaran, adapula siswa yang ingin mengemukakan pendapatnya tetapi tidak memiliki keberanian dalam menyampaikannya. Pada saat sekarang ini, guru umumnya hanya menggunakan strategi pembelajaran yang bersifat konvensional dalam mengajar misalnya menggunakan metode ceramah dan siswa hanya menjadi pendengar dengan kata lain siswa hanya bersikap pasif dalam proses pembelajaran sehingga berdampak terhadap hasil belajar siswa yang rendah. Berdasarkan observasi selama melaksanakan praktek lapangan kependidikan pada semester I tahun ajaran 2012/2013, diketahui bahwa siswa kurang berani mengemukakan pendapat karena malu dan dominannya siswa-siswa yang aktif. Guru kurang dalam memotivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Guru lebih banyak memberi informasi, pengetahuan dan pemecahan masalah. Selain itu guru kurang memberi pemerataan pada siswa dalam mengemukakan pendapat mereka. Rendahnya hasil belajar mata pelajaran komunikasi terlihat dari hasil ulangan harian 1 semester ganjil siswa kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi tahun ajaran 2012/2013. Dari observasi awal yang dilakukan diketahui bahwa persentase siswa yang tuntas pada mata pelajaran komunikasi pada kelas X PKAP 3 adalah 41,03%. Hal ini jauh lebih rendah dari kriteria ketuntasan klasikal (KKK) yaitu 80%. Kendala yang ditemui dikelas X PKAP 3 adalah keterampilan siswa dalam mengemukakan pendapat waktu pembelajaran siswa dalam mengemukakan sangat minim karena adanya dominasi dari beberapa orang siswa yang menyebabkan siswa yang lainnya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Permaalahan ini terlihat dari guru, melakukan pembelajaran searah yang Dari permasalan-permasalahan yang terjadi pada pembelajaran komunikasi pada kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi, maka perlu satu pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa, hasil belajar pun akan meningkat. Pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang tepat digunakan untuk mengatasi permasalahan ini karena dalam pembelajaran yang tepat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dipilih untuk mengatasi permasalahan ini karena dalam pembelajaran siswa dituntut untuk menyampaikan ide, gagasan, pendapat atau apapun yang ingin diungkapkan. 3 Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui sejauhmana pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan hasil belajar siswa, sehingga dilakukanlah penelitian mengenai “Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat dengan Menggunakan Pendapat Kooperatif Tipe Jigsaw dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Komunikasi Kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi”. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Sumber data yang diperoleh yakni dari siswa dan guru. Subjek peneliti pada penelitian ini adalah siswa kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi yang berjumlah 39 orang, 4 orang siswa putra dan 35 orang siswa putrid. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah berupa tes ganda dan observasi. Penelitian ini dilakukan dalam siklus. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan (planning), Tindakan (Action), Pengamatan (observasi), dan refleksi (reflection). Hasil yang didapat pada siklus I akan direfleksikan untuk pelaksanaan siklus II yaitu, hasil penelitian pada siklus I dievaluasi dan direnungkan dengan melihat kelemahan-kelemahan dan kelebihankelebihan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Setelah diketahui kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I maka diusahakan untuk menghindari dan memperbaikinya pada siklus II. 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Dari hasil penelitian diperoleh bahwa menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat terhadap hasil belajar kedua siklus yang telah dilaksanakan sebagai berikut: Siklus I Lembar observasi aktivitas digunakan oleh guru untuk melihat kegiatan atau aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw. Aktivitas siswa yang akan dinilai oleh guru adalah peningkatan aktivitas belajar dalam mengemukakan pendapat. Pada siklus I aktivitas belajar siswa dalam mengemukakan pendapat pada pertemuan I adalah 47, 22% dan pada pertemuan II mengalami peningkatan menjadi 57,69%. Sedangkan hasil pengamatan dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I untuk hasil belajar siswa diperoleh data sebagai berikut: Tabel Hasil Belajar Siswa Kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi pada Siklus I Keterangan Jumlah siswa Nilai min Nilai max nilai siswa X nilai siswa Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Persentase siswa yang tuntas Jumlah 39 45 85 2805 71,92 23 16 Tabel Hasil Belajar Siswa Kelas X PKAP 3 SMKN 2 Bukittinggi pada Siklus II Keterangan Jumlah siswa Nilai min Nilai max nilai siswa X nilai siswa Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Persentase siswa yang tuntas Jumlah 39 50 100 3210 82,31 33 6 84,62% 58,97 Sumber: Pengolahan data primer 2012 Sumber: Pengolahan data primer 2012 Berdasarkan Tabel di atas dapat diketahui nilai rendah adalah 45 dan nilai tertinggi 85, siswa yang tidak tuntas pada siklus I sebanyak 16 orang siswa dengan persentase 41,03% dan siswa yang tuntas 23 dengan persentase 58,97% dengan rata-rata kelas 71,92. Hasil yang diperoleh pada siklus I belum sesuai dengan apa yang peneliti harapkan dari penelitian tindakan kelas(PTK) ini, yaitu 80% siswa mencapai nilai KKM yang ditetapkan sebesar 75. Oleh karena itu penelitian akan dilanjutkan ke siklus II. Siklus II Pada siklus II pada pertemuan I aktivitas siswa dalam mengemukakan pendapat adalah 64,96% dan pada pertemuan II adalah 77,56%. Dari pertemuan I ke pertemuan pada siklus II aktivitas siswa dalam mengemukakan pendapat mengalami kenaikan sebesar 12,60%. Sedangkan untuk hasil belajar siswa pada siklus II untuk pertemuan I dan II dapat dilihat data sebagai berikut: Berdasarkan diatas tabel dapat diketahui bahwa hasil tes yang peneliti lakukan pada siklus II dengan penerapan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw sudah mencapai nilai yang memuaskan dengan nilai rata-rata kelas sudah melebihi KKM yaitu 75, dan siswa telah memenuhi KKK yang ditetapkan yaitu lebih dari 80% siswa telah mencapai batas KKM yang ditetapkan yaitu sebesar 75. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 82,31. Pada siklus II jumlah siswa tuntas 33 orang, siswa yang tidak tuntas 6 orang di dalam tes. Dari data yang peneliti peroleh dan menurut pendapat peneliti bahwa pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar komunikasi siswa. PEMBAHASAN Pelaksanaan tindakan yang dilakukan peneliti pada pertemuan pertama siklus I adalah memberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan awal dari siswa sebelum menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan kepada siswa tentang konsep komunikasi yang dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi tersebut. 5 Kemudian setelah itu guru memberikan penjelasan kepada siswa cara-cara pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran tipe Jigsaw. Guru membagi siswa dalam delapan kelompok dan setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Setiap kelompok diberi tugas sejumlah anggota kelompok dan masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan tugas yang berbeda. Siswa yang mendapatkan tugas yang sama untuk berkumpul membentuk kelompok baru sebagai kelompok ahli dan mendiskusikan tugas yang telah diberikan. Saat diskusi berlangsung guru memantau hasil kerja siswa dan memberikan bimbingan jika diperlukan. Setiap siswa yang mewakili kelompoknya harus memahami dan mencatat semua hasil dari diskusi pada kelompok ahli. Setelah selesai mereka kembali ke kelompok asal dan menjelaskan semua hasil diskusinya sebagai diskusinya sebagai kelompok ahli kepada kelompok asalnya secara bergantian tentang tugas dan materi yang mereka kuasai. Setelah seluruh siswa selesai melaporkan hasil diskusinya, wakil dari anggota kelompok mempresentasikan hasil kelompoknya dan ditanggapi oleh kelompok yang lain. Selanjutnya dibahas bersamasama guru dengan siswa. Langkah selanjutnya menyimpulkan hasil diskusi dan diteruskan dengan tes ulangan harian untuk mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menyerap materi yang dikerjakan masing-masing individu. Berdasarkan hasil observasi dari pelaksanaan tindakan pertama sampai tindakan ketiga pada siklus I terlihat bahwa siswa belum menunjukkan adanya respon mereka masih terlihat bingung dan asing dalam menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw sehingga menyebabkan terjadinya sedikit kegaduhan dan juga siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti 6 proses pembelajaran dengan model pembelajaran tipe Jigsaw yang berdampak pada aktivitas dan hasil belajarnya. Aktivitas siswa dalam mengemukakan pendapat pada siklus I hanya sebesar 10,47%. Jika dilihat dari hasil belajar pertemuan pertama diperoleh hasil sebesar 58,97 dan juga dilihat dari cara kinerja guru. Adapun kegagalan dan keberhasilan yang terjadi pada siklus pertama adalah sebagai berikut: 1. Siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar yang menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw mereka masih terlihat binggung dalam melakukannya sehingga timbul kesulitan dan kegaduhan dalam proses pembelajaran. 2. Siswa menunjukkan rasa senang dan ketertarikan dalam pembelajaran, mereka menyimak atau mendengarkan penjelasan dari guru. 3. Siswa belum mempunyai kemampuan untuk menyatakan, mengajukan dan menjawab pertanyaan serta dalam mengerjakan tugas dengan teliti masih kurang. 4. Hasil tes ulangan harian dan aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw sudah mencapai predikat baik. Hal ini tidak sesuai sejalan dengan teori pembelajaran Jigsaw karena dalam model pembelajaran Jigsaw mengharapkan, yaitu (1) siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang di dapat, (2) dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, (3) anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajarinya, (4) dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain. Untuk mempertahankan keberhasilan dan memperbaiki kelemahan yang telah di capai pada siklus I, maka pada pelaksanaan siklus II, dapat dibuat suatu perencanaan sebagai berikut: 1. Memberikan penjelasan bagianbagian yang siswa masih bingung melakukannya supaya mereka dapat mengikuti model pembelajaran ini dengan lebih serius dan sungguhsungguh. 2. Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih berpartisipasi dan aktiff dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw. 3. Memberikan penghargaan atau reward kepada kelompok yang melakukan aktivitas tertinggi.. Pelaksanaan proses pembelajaran dan banyak riset telah dilakukan yang berkaitan dengan pendekatan kooperatif dengan dasar Jigsaw. Penelitian ini berkaitan dengan penelitianterdahulu yang diteliti oleh: (1) Penelitian Yetti Elfina (2010) yang berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar IPS dengan Menggunakan Metoda Cooperative Learning Model Jigsaw di Kelas IV SDN 38 Lubuk Buaya Padang”. Hasil penelitiannya adalah dengan penggunaan metoda cooperative learning tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN 38 Lubuk Buaya Padang. (2) Penelitian Raddona (2011) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Biologi Siswa dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw di kelas VII 3, SMPN 1 Kecamatan Luak Kabupaten Lima Puluh Kota”. Hasil penelitiannya adalah dengan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa VII 3, SMPN 1 Kecamatan Luak Kabupaten Lima Puluh Kota”. Dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lie dalam Rusman (1994:218) “ menyatakan bahwa Jigsaw merupakan salah satu tipe atau pendekatan yang fleksibel. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dan pembahasan pada BAB IV terhadap penerapkan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pada mata pelajaran komunikasi pada siswa kelas X PKAP 3 SMKN 2 B ukittinggi, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi pada kelas X PKAP 3 di SMKN 2 Bukittinggi, hal ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara klasikal yang dicapai pada siklus I yaitu sebesar 71,92% kemudian rata-rata ketuntasan belajar secara klasikal tersebut meningkat pada siklus II yaitu menjadi 84,62%, ini berarti adanya peningkatan hasil belajar siswa sebesar 12,74%. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa telah mencapai batas KKK (Kriteria Ketuntasan Klasikal) yang ditetapkan yaitu, 80% siswa telah mendapatkan nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Hal ini sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. 7 SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dibuat, maka disarankan kepada guru untuk menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw sebagai salah satu alternative dalam meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi, kemudian bagi siswa disarankan untuk meningkatkan keberanian, rasa percaya diri dan keinginan terutama dalam mengajukan pertanyaan, menanggapi pertanyaan dan menyempurnakan jawaban yang diajukan guru ataupun teman. DAFTAR PUSTAKA Iskandar. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada Pers. Nur Asma. 2008. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP Press. Rusman. 2010. Model Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada 8