Desain Pembelajaran Menghapal di Madrasah Ibtidaiyah

advertisement
Desain Pembelajaran Menghapal
di Madrasah Ibtidaiyah berdasarkan Desain Pembelajaran Dick and Carey
oleh
Nurul Malikah 1
Abstrak :
Memorizing hadith is one that is specified in the standards of competence and basic
competences competencies subjects al quran hadith. Memorize a skill for constant practice
raises damapk positive. A frequent problem is that students easily memorize and easily lost, it
is difficult to memorize because of fear and difficult to memorize because it uses a foreign
language. Such problems make it difficult for students to retain rote in a long time. The
tendency of teachers to teach rote repetition hadith is continuously independently and
students imitate. Conventional memorize tedious process and the learning outcomes of
students memorizing low. This article designing instructional design to memorize in
Madrasah Ibtidaiyah to add references teach rote memorizing structured to gain experience
can be stored for long periods.
A. Latar Belakang Perbaikan Desain.
Metode yang dikembangkan bertujuan meningkatkan kwalitas pembelajaran. hasil
pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai pencapaian kemampuan. Dalam
pembelajaran hadist sering mengunakan metode menghapal karena hasil yang diharapkan
adalah kemampuan menghapal. Peraturan Permenag No 2 tentang Standar Kompetensi
Lulusan mencantumkan kemampuan siswa diantaranya adalah menghafal, memahami arti,
dan mengamalkan hadis-hadis pilihan tentang akhlak dan amal salih dalam mata pelajaran al
Quran Hadist. Persiapan pembelajaran dan
proses pembelajaran menghapal belum
menunjukan tujuan menghapal secara maksimal. Guru kesulitan merealisasikan proses
menghapal karena langkah – langkah konvensional menghapal monoton yang menyebabkan
semangat menghapal rendah. Rendahnya bantuan guru terhadap siswa berakibat pada
kesulitan untuk kesegeraan menghapal. Guru jarang memperhatikan kecemasan siswa ketika
proses menghalangi siswa untuk segera berkonsentrasi menghapal hadist.
1
Dosen Tetap INSURI Ponorogo
Pengelolaan
persiapan pembelajaran guru masih mengutip perencanaan sebelumnya.
Perbaikan perencanaan pembelajaran setiap semester belum maksimal karena guru merasa
kesulitan akhirnya mengunakan perencanaan semester sebelumnya yang sama. Sebagian
guru menganggap mudah membuat rencana pembelajaran akan tetapi sulit merealisasikan di
kelas pembelajaran. Kesulitan ini berdampak pada hasil pembelajaran pada setiap peserta
didik yang tidak mencapai tujuan pembelajaran. ketidakcapaian ini terjadi karena proses
pembelajaran menghapal tidak sesuai dengan perencanaan yang dibuat guru sehingga
menghapal merupakan pembelajaran yang tidak menyenangkan. Pengendalian meminimalisir
kesulitan pembelajaran menghapal perlu pemantaban desain pembelajaran sebagai landasan
kegiatan pembelajaran. Desain pembelajaran bertujuan agar langkah kegiatan pembelajaran
secara sistematis dengan langkah langkah yang testruktur.
B. Pembelajaran Menghapal Hadist
Dale S Schunk (2012:41) menjelaskan tentang pengolahan informasi yang
diterima tidak sama
dengan informasi yang akan dikirim. Berdasarkan hal ini
Romiszowski (1981:226) mengamati bahwa reaksi memanggil kembali informasi
merupakan bagian ketrampilan untuk mengenali stimulus, memiliki kemampuan mengali
informasi dalam ingatan dan memilki konsep dan prinsip yang relevan dalam ingatan.
Realisasi konsep memanggil
informasi menurut Sandra Bochner (2003:51) sebagai
komponen penting harus mengintegrasikan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan
sosial, wawasan siswa tentang dunia nyata dan kemampuannya menghubungkan anatara
dunia object dan peristiwa serta kemampuan siswa mengaquisisi simbol- simbol yang
dapat dikomunikasikan maknanya dengan siswa lainnya. Setidaknya Winfreed (1990
:286) mengungkap tiga tempat penyimpanan pertama, yaitu register sensorik, dimana
dapat menyimpan respon semua indra respon yang menyimpan sangat singat kurang dari
seperduapuluh detik per duabelas huruf, kedua memori jangka pendek, atau memori
kerja yang hanya lebih lama beberapa detik dari sensor register yang keluar masuk data
yang di inggat bukan karena pengulangan atau rehearseal akan tetapi karena data lama
yang digantikan dengan data yang baru, ketiga penyimpanan jangka panjang, merupakan
tempat yang memilki kapsitas yang luas tanpa batas yang dapat dipanggil ulang sewaktu
waktu. Jika ada informasi yang tidak dapat di panggil, data itu tidak hilang akan tetapi
tidak dapat ditemukan sehingga memerlukan strategi untuk memanggil data yang hilang
di penyimpanan jangka panjang.
Collen Rose dan Malcom (1997:73)
ada lima tipe kerja memori yang
mengambarkan tentang kerja otak diantaranya adalah pertama work kedua implisit
memori implisit, ketiga remote atau jangka panjang keempat Episodic terletak kelima
semantic ingatan.
Anas al Khasanul Wajhi (2009:43) Pertama, metode Muroja’ah yaitu hapalan
dilakukan dengan mengulang ayat sesering mungkin yang dibantu dengan teks tulisan
sampai siswa dapat mengulang tanpa bantuan teks. Kedua, metode sorongan bil ghaib
adalah hapalan yang dilakukan dengan menshahihkan hapalan yang telah diperoleh siswa
dengan menghapalkan sendiri sedangkan guru mengarahkan hapalannya dan
menshahihkan hapalan yang tartil saja. Jihad Sabili ( 2011 ) menjelaskan, Ketiga, metode
isyarat tangan merupakan hapalan yang memerlukan isyarat tangan untuk mempermudah
hapalan, dengan mengerakkan tangan yang dianggap memiliki makna. Pengembangan
metode ini salah satunya adalah metode menghapal dengan tersenyum.
Memori adalah pola yang dibekukan yang menunggu sebuah sinyal yang
beresonansi untuk membangunkannya sehingga dapat menciptakan pola yang penting
yang dibutuhkan untuk mengases data. Proses berulang dan berkelanjutan yang
diarahkan selama pembelajaran dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang
yang merupakan kegiatan mengingat untuk menghapalkan sesuatu. Hapalan merupakan
kemampuan mengingat yang diapresiasikan melalui ungkapan dalam bentuk kata
maupun kalimat. Hapalan mengukur sensibilitas kekuatan intelektual dengan
meningkatkan kesadaran tentang kemampuan pikiran dan perhatian. Diantaranya dengan
kemampuan memperhatikan peristiwa yang terjadi di sekitar lingkungan yang kemudian
dicatat dan diberi nama. Pencatatan mempermudah proses keterkaitan antara prinsip,
objek, kejadian dan tingkah laku. Bagian dari proses menghapal yang bertujuan
menghubungkan konsep yang yang dijadiakan perhatian utama. Upaya memperbaiki
proses hapalan hadist maka perbaikan langkah pembelajaran menghapal melalui
penegasan langkah desain pembelajaran menghapal hadist.
C. Analisis Temuan Data
Guru cenderung melakukan pengulangan berkali – kali dan siswa menirukannya harus
sama dengan hadist yang diredaksikan. Hal ini dilakukan agar kemampuan siswa dalam
menghapal dapat dicapai sesuai dengan tujuan . Berdasarkan survey di Madrasah Ibtidaiyah
tentang belajar Menghapal hadist menemukan data yang mengunakan cara menghapal
konvensional. Temuan di kelas ini menunjukan adanya upaya guru mengarahkan
pembelajaran menghapal hadis secara individu dengan berbagai macam respon dari peserta
didik. Kondisi ini ditengarahi menghambat proses menghapal karena komponen
pembelajaran tidak diaktifkan keseluruhan. Guru tidak melibatkan siswa sebagai komponen
utama dalam pembelajaran.
Temuan Pembelajaran Hapalan melalui instrumen dipersiapkan untuk mengali data
yang berkaitan dengan metode menghapal yang dimanfaatkan guru. Instrumen tersebut
mewakili sebagian kegiatan pembelajaran menghapal konvensional. Adapaun hasil lapangan
pembelajaran menghapal Konvensional adalah sebaga berikut :
Bagan Pelaksanaan Menghapal Konvensional
NO
INTRUMEN TES
Ya
Tidak
Ket
1
2
3
4
Mengajar mata pelajaran hadist merupakan tanggung
jawab saya
Saya merupakan lulusan s1 pgmi
Pembelajaran hadist yang sering saya gunakan adalah
menghapal
Saya perlu persiapan lama agar mengkondisikan siswa
untuk segera menghapal hadist
13
0
1
12
12
1
100
7,692
92,31
5
8
38,46
5
6
7
8
9
10
Saya memerlukan bantuan siswa yang telah hapal dalam 8
membimbing sejumlah siswa di kelas untuk cepat
menghapal
5
Guru adalah satu satunya orang yang dapat 5
membimbing siswa menghapal
Dalam pembelajaran menghapal hadist , siswa yang 8
telah hapal dikondisikan untuk dapat membantu siswa
yang belum hapal
8
Guru perlu bantuan untuk mempercepat hapalan hadist 11
siswa
Siswa memerlukan waktu yang lama dalam menghapal 11
hadist
2
Saya merasa memerlukan metode atau model lain 12
dalam pembelajaran menghapal hadist
1
61,54
38,46
5
61,54
84,62
2
84,62
92,31
11
12
Siswa sulit memiliki
konsentrasi lama ketika 12
menghapal hadist
Pada jadwal yang sama, banyaknya jumlah siswa yang 1
memiliki kecepatan menghapal hadist mencapai 50 %
dari jumlah siswa dikelas
1
92,31
12
7,6
13
Jika siswa segera hapal maka hapalan tersebut juga
segera hilang
11
2
84,62
Adapun kelengkapan data prosentasi dari 13 guru al Quran Hadis menyatakan bahwa
proses pembelajarannya adalah sebagai berikut. Hasil angket di Bagan 1 (satu) menunjukan
semua guru memilki 100 % tanggungjawab mengajar hadist artinya semua resiko proses
pembelajaran diupayakan solusi yang paling disesuaikan dengan kondisi anak. Akan tetapi
7,6 % saja yang benar – benar lulusan Sarjana Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. Pada saat
mengajar hapalan hadist 92% guru mengunakan cara menghapal agar siswa menirukan
gurunya secara berulang – ulang. Jarang guru mengalami kesulitan dalam mempersiapkan
cara mengajar menghapal hanya 38 % guru yang mempersiapkan kegiatan pembelajarannya
lebih lama dari guru lainnya.
Guru yang melibatkan siswa berpartisipasi untuk membantu teman yang belum
menghapal dengan mengulang–ulang materi 61% dan hanya 61 % guru mempersiapkan anak
yang telah hapal untuk menjadi teman yang belum menghapal. Guru yang menganggap
dirinya sebagai sumber belajar dan mampu membimbing dalam menghapal 38 % tanpa
bantuan orang lain. 84 % memerlukan bantuan dalam pembelajaran menghapal termasuk 84
% juga memerlukan waktu yang lama ketika membantu siswa menghapal hadist. 92 % guru
merasa kesulitan mempersiapkan agar siswa memiliki konsentrasi ketika menghapal hadist.
Maka dari itu hanya 7,6 % guru saja yang mampu mencapai prestasi menghapal sejumlah 50
% sejumlah anak di kelas. 92 % guru memerlukan model menghapal lainnya yang baru,
termasuk 84 % guru menyatakan bahwa metode konvensional jika mudah dihapalkan maka
hapalan siswa juga akan segera hilang.
Dari tabel pelaksanaan Metode menghapal konvensional diabtraksikan bahwa
instrumen dikategorikan input, proses dan output. Pada kategori input guru memiliki sikap
pedagogik dengan melaksanakan tanggungjawabnya sebagai guru. Tanggungjawab yang
dilakukan adalah datang tepat waktu, memiliki RPP, memberikan motivasi, pembelajaran
menghapal hadist dengan mengulang dan melakukan penilaian. Sedikit guru yang tidak lulus
Sarjana sebagai syarat guru profesional dan layak mendapat tunjangan profesional.
Asumsinya setiap guru menguasai banyak metode pembelajaran untuk menghapal hadis.
Banyaknya metode menghapal dapat di gunakan agar terjadi variasi menghapal hadist.
Termasuk munculnya kesadaran guru memerlukan bantuan orang lain dalam mempercepat
hapalan siswa mulai dari teman dan orang tua dengan persiapan pembelajaan menghapal
tidak memerlukan waktu yang lama.
Klasifikasi output Pembelajaran menghapal bertujuan agar siswa mampu menghapal.
Pengulangan memiliki kelebihan sebagai metode yang sering dimanfaatkan. Metode
menghapal dengan mengulang agar mempercepat hapalan hadist.
Guru mengaktifkan
anggota kelas untuk berpatisipasi supaya menghindari kebosanan. Pengelompokan siswa
yang hapal dilakukan untuk membantu siswa yang kesulitan menghapal. Bantuan dilakukan
agar siswa yang kesulitan merasa diperhatikan oleh guru dan tidak terasing di kelasnya
sendiri. Tujuan pemberian bantuan adalah mempercepat hapalan sehingga siswa mampu
meminimalisir hambatan menghapal hadist. Hambatan Pembelajaran menghapal adalah 1)
kemampuan siswa mempertahankan hapalan lebih lama 2) siswa memerlukan waktu yang
lama ketika menghapal 3) siswa kesulitan berkonsentrasi lebih lama dalam menghapal.
Klasifikasi output berangkat dari hambatan pembelajaran menghapal, guru
menyarankan adanya model atau metode pembelajaran yang mempermudah siswa menghapal
hadist. Sebagian besar guru mengharapkan adanya modifikasi cara pembelajaran menghapal.
Hasil pembelajar menghapal konvensional hanya mencapai kurang dari 50 % jumlah siswa di
kelas yang segera menghapal. Jangka panjang mempertahankan hasil menghapal juga
menjadi temuan data dalam menghapal.
Tabel : Hasil Pembelajaran Menghapal di sekolah
120
100
80
60
Series1
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13
Berdasarkan analisis Tabel hasil Pembelajaran menunjukan jawaban ‘YA’ memiliki
prosentase tinggi baik pertanyaan dengan positif maupun negatif . Deskripsi jawaban tersebut
adalah guru memiliki tanggungjawab untuk menuntaskan mencapai tujuan yang direncanakan
ketika kegiatan pembelajaran menghapal konvensional. Akan tetapi guru di Madrasah
Ibtidaiyah yang memiliki latar belakang yang sesuai dengan profesionalnya hanya 7,6 %
yang sisanya merupakan guru yang berlatar belakang pendidikan bukan PGMI. Sebagian
besar guru mengajar hapalan hadist dengan menghapal individu tanpa mengunakan strategi
kelompok antar siswa. Sebagian kecil guru yang melibatkan peserta didik untuk membantu
temannya yang belum hapal yang sifatnya membimbing temannya untuk segera hapal.
Adapun kesulitan guru untuk mengarahkan siswa berkonsentrasi dalam kegiatan menghapal
maka bantuan diupayakan bagi siswa yang mengalami rendahnya konsentrasi menghapal.
Rendahnya konsentrasi siswa menghapal konvensional berdampak pada capaian
tujuan hasil menghapal dengan data siswa yang tidak hapal lebih banyak daripada siswa
yang hapal, artinya siswa yang hapal kurang dari 50% siswa yang tidak hapal. Guru
memerlukan sumber belajar atau lingkungan belajar yang mampu mendukung ketercapaian
proses menghapal konvensional. Tidak ada masalah dalam kegiatan merencanakan kegiatan
pembelajaran, sebagian besar perencanaan pembelajaran tidak memerlukan waktu yang lama
karena proses pembelajaran hanya sekedar mengulang – ulang dan dianggap mudah bagi
guru. Akan
tetapi mudahnya merencanakan berdampak langkah – langkah proses
pembelajaran yang melemahkna konsentrasi siswa.
Guru mengharapkan adanya sebuah model menghapal yang mampu membantu siswa
mempercepat hapalannya sehingga guru dapat menumbuhkan konsentrasi siswa untuk
mempercepat hapalan dan dapat disimpan dalam waktu yang lama. Dampak
model
pembelajaran menghapal konvensional belum mengarahkan pada hasil yang tuntas karena
peserta didik yang cepat hapal belum dijamin untuk hapal dalam jangka panjang. Model
pembelajaran yang baru berdampak positif kepada siswa dan diharapkan memabantu
meningkatkan konsentrasi menghapal secara kelompok yang melibatkan siswa hubungan
interaksi dikelas. Dukungan Model pembelajaran menghapal baru yang memihak peserta
didik untuk melihat seberapa pentingnya model perlu dimodifikasi untuk mempercepat
menghapal dan menyimpan hasil hapal dalam waktu yang lebih lama. Instrumen dibawah
diharapkan dapat mengali data tentang kelemahan pembelajaran sebelumnya.
Data tersebut menunjukan bahwa kemampuan guru mengajar, rasa tertarik siswa
terhadap mata pelajaran dan kehangatan teman yang sanggup membantu ternyata masih
belum cukup untuk mempercepat hapalan hadis yang direncanakan. Selama pengamatan di
Madrasah Ibtidaiyah, peneliti menemui cara pembelajaran menghapal Hadist secara
konvensional, tenaga ekstra yang menguras energi guru tidak sebanding dengan hasil yang
dicapai. Kegiatan pembelajaran konvensional dalam mata pelajaran Hadist di Madrasah
Ibtidaiyah, melalui langkah kegiatan sebagai berikut yaitu :
1) Kegiatan yang dilakukan guru dengan cara mengulang mengulang hadis dengan suara
keras agar dapat didengar oleh peserta didik dalam satu kelas. Cara ini dilakukan untuk
membenarkan mahhroj al huruf nya dan tajwidnya.
2) Peserta didik menirukan Hadist yang dilafalkan guru secara bersama sama dengan suara
keras, yang dibantu dengan melihat tulisannya.
3) Tulisan ayat dan matan tersebut sebagai panduan hapalan dengan bacaan benar dan tepat
bagi yang sudah dapat membaca tulisan arab sedangkan yang belum dapat membaca
bacaan adalah dengan mendengarkan ayat dan matan dari guru ,
4) Tulisan ini disampaikan dengan cara berurutan dari awal sampai akhir dan ada pula yang
memotong setiap kata (mufrod) yang ditulis di kertas dan diacak.
5) Siswa diminta untuk mengabungkan kata (mufrod) yang ditulis secara urut dan benar
baru kemudian dihapalkan bersama – sama,
6) Jika telah diulang beberapa kali dan memenuhi aspek kecukupan maka siswa mengulang
kembali tanpa harus melihat tulisannya atau potongan kertas,
7) Pembelajaran ini berhenti jika sudah ada beberapa peserta didik yang hafal dan peserta
didik yang sudah hapal jarang membantu peserta didik yang belum hapal.
Kelemahan yang ada pada guru diantaranya adalah 1) Guru merasa kesulitan untuk
memberikan perhatian keseluruh peserta didik yang memilki kemampuan beragama. 2) Guru
yang bersemangat dalam mengajar tidak selalu diimbangi dengan motivasi peserta didik, 3)
Rendahnya kemampuan guru untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru
hanya memanfaatkan metode individual dan belum mencoba dengan metode kerjasama dan
partisipasif dalam menghapal. 4) persepsi guru dalam mengasumsikan mata pelajaran al
Quran hadist sebagai mata pelajaran yang harus diajarkan dengan menirukan dengan
mengulang – ulang.
D. Penerapan Desain Pembelajaran Dick and Carey untuk Pembelajaran Menghapal.
Pembelajaran Menghapal dikembangkan berdasarkan desain Dick and Carey sebagai
berikut 1) Identifikasi tujuan khusus, 2) Analisis pembelajaran, 3) Menentukan karakter
peserta didik,
penilaian,
4) Menentukan performance khusus,
5) Mengembangkan instrumen
6) Mengembangkan strategi pembelajaran melalui a) langkah – langkah
pembelajaran menghapal, b) Tujuan dari pembelajaran menghapal , c) Instrumen penilaian.
7) Memilih bahan ajar 8) Mengevaluasi evaluasi formativ
9) Revisi pembelajaran, 10 )
Merancang pola evaluasi sumatif untuk memperhatikan.
Maka muncul desain menghapal hadist yang dikembangkan untuk kelas rendah di
Madrash Ibtidaiyah.
Tahapa
Desain Dick and Carey
Langkah Pembelajaran Menghapal
n
1
Identifikasi tujuan
Identfikasi tujuan siswa dapat menghapal
2
Analisis tujuan pembelajaran
Menentukan tujuan menghapal sebagai aspek
ketrampilan berarti ada nilai melatih diri
mempercepat hapalan.
3
Analisis karakter peserta didik.
Mengidentifikasi
Kemampuan
keterampilan
melalui Bekerjasama.
4
Menetapkan tujuan khusus
Siswa dapat menghapalkan hadist lebih cepat
dengan penyusunan penggalan ayat..
5
Pengembangan
instrumen Siswa lebih cepat menghapal melalui lisan
penilaian
6
Mengembangkan
pembelajaran,
strategi Strategi menghapal melalui :
a. Guru menetapkan semua siswa dapat
menghapal.
b.
Guru mengajar dengan mengulangmengulang hadist.
c. Guru membuat kelompok belajar untuk
menghapal.
d. Guru menilai anak yang menghapal cepat
membantu siswa yang belum menghapal.
7
Mengembangkan dan memilih Guru memilih hadist yang dihapalkan sesuai
penyampaian materi ajar
dengan pedoman kurikulum yaitu hadist tentang
tema silaturahmi dan tanda orang yang munafik.
8
Mendesain
pembelajaran formatif.
evaluasi Siswa berani menghapal didepan kelas dengam
lancar.
9
Revise Instruction.
Revisi
dilakukan
berdasarkan
kondisi
dan
tuntutan lapangan.
10
Merancang
sumatif.
pola
evaluasi Evaluasi formatif dalam bentuk instrumen tes
uraian dan lisan.
Tabel : Desain Pembelajaran Menghapal
Tujuan
a. Siswa mempercepat
hapal
b. Mempertahanan
hapalan
c. Berani menghapal
Treatment
(tercapainya tujuan )
Siswa mengulang-ulang materi.
Hasil
Siswa dapat menghapal
dengan cepat.
Siswa memperhatikan orang yang
telah hapal.
Siswa mengajak teman untuk
menghapal bersama – sama.
Siswa mendengarkan hapalan
teman – temannya.
Siswa mampu menunjukan
hapalannya di depan orang lain.
E. Kesimpulan
Kesulitan pembelajaran menghapal hadist tidak hanya terletak pada proses
pembelajaran akan tetapi tahapan langkah pembelajaran yang diperhatikan untuk
mempermudah menghapal hadist. Hal ini didukung input pembelajaran yang memiliki
kekuatan untuk dimanfaatkan dan mengikuti langkah pembelajaran secara sistematis.
Dalam proses pembelajaran menghapal hadist bukan hanya dengan cara mengulangulang hadist akan tetapi diupayakan tahapan struktur yang meningkatkan kekuatan
hapalan agar tidak segera hilang. Desain yang tepat berangkat dari tujuan hapalan yang
dicapai, proses menghapal menerapkan keterampilan berlatih kerjasama dalam kelompok
untuk menghindari kecemasan dan kesulitan menghapal. Bentuk kerjasamanya adalah
lafadz yang dihapalkan di penggal kemudian dibagi dengan anggota kelompk lainnya.
Anggota kelompok bergantian (lukiran) menyebutkan penggalan lafadz. Bila setiap anak
telah mendapatkan penggalan ayat maka tugas selanjutnya adalah siswa mengurutkan
penggalan ayat yang telah diperoleh.
Urutan hadist yang diperoleh disajikan siswa didepan kelas. Setiap siswa tampil
mempresentasikan hasil hapalannya secara mandiri di hadapan para teman – temannya
karena dilakukan dengan senang hati dan berkelompok. Proses pembelajaran menghapal
tersebut diharapkan dapat mempertahankan hapalan lebih lama daripada proses
pembelajaran konvensional.
Daftar Pustaka
Anas al Khasanul Wajhi 2009 https://jihadsabili.wordpress.com/2011/06/04/metode- hafalanuntuk-balita/
Bochner, Sandra. 2003. Child Laguage Development Learning to Talk. London. Whoors
Publisers Collen Rose dan Malcom 1997 Colin rose dan malcolm J Nicholl, 1997
Accelerated learning for 21st Century Judy Piatkus london
Carey, Lou. Dick, Walter. Carey, James. 2009. The Systemics design of Instructional. Ohio :
Pearson
Schunk, Dale. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. New York, Allyn Bacon
Naim, Ngainun. 2010. Rekontruksi Pendidikan Nasional. Teras Yogjakarta:
Winfreed F Hill 1990 Learning : A Survey Of Psychology Interpretations Harpers Collin
Download