BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEDUDUKAN ANAK LUAR

advertisement
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KEDUDUKAN ANAK LUAR KAWIN
BERDASARKAN HUKUM KELUARGA DI INDONESIA
A. Kedudukan Anak Luar Kawin Dalam Hubungan Kekerabatan
Kedudukan anak diatur di dalam Undang-Undang Perkawinan dalam Bab
IX Pasal 42 sampai Pasal 43. Masalah kedudukan anak ini, terutama adalah dalam
hubungannya dengan pihak bapaknya, sedangkan terhadap pihak ibunya secara
umum dapat dikatakan tidak terlalu susah untuk mengetahui siapa ibu dari anak
yang dilahirkan tersebut. Untuk mengetahui siapa ayah dari seorang anak, masih
dapat menimbulkan kesulitan. Bagi seseorang, anak dianggap selalu mempunyai
hubungan hukum dengan ibunya. Dengan pihak bapak, anak tidaklah demikian.
Anak tidak mempunyai hubungan hukum dengan pihak ayah yang telah
membenihkannya.8
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dengan perkawinan
suami isteri memperoleh keturunan. Yang dimaksudkan dengan “keturunan”
disini adalah hubungan darah antara bapak, ibu dan anak-anaknya. Jadi antara
bapak dan ibu serta anak ada hubungan biologis. Anak-anak yang dilahirkan dari
hubungan biologis ini dan ditumbuhkan sepanjang pekawinan adalah anak-anak
sah (wettige of echte kinderen).9
Sedangkan anak-anak lainnya, yakni anak yang mempunyai ibu dan bapak
yang tidak terikat dengan perkawinan, dinamakan anak tidak sah, atau anak di luar
nikah juga sering disebut anak anak alami atau onwettige onechte of natuurlijke
8
Darmabrata dan Sjarif, op.cit., hal. 131.
Martiman Prodjohamijojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Cet.II, (Jakarta: Indonesia Legal
Center Publishing, 2007), hal . 53.
9
11FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
kinderen. Jadi terhadap anak yang lahir di luar nikah terdapat hubungan biologis
hanya dengan ibunya tetapi tidak ada hubungan biologis dengan ayahnya.10
Berdasarkan Pasal 272 K.U.H.Perdata pengertian anak luar kawin dibagi
menjadi dua yaitu dalam arti luas dan sempit. Anak luar kawin dalam arti luas
meliputi anak zina, anak sumbang dan anak luar kawin lainnya. Sedangkan anak
luar kawin dalam arti sempit, artinya tidak termasuk anak zina dan anak sumbang,
anak luar kawin dalam arti sempit ini yang dapat diakui. Sedangkan dalam Islam
anak luar kawin disebut sebagai anak zina.
Anak zina adalah anak yang lahir dari suatu hubungan kelamin antara lakilaki dengan perempuan yang tidak terikat dalam nikah yan sah meskipun ia lahir
dalam suatu perkawinan yang sah dengan laki-laki yang melakukan zina atau lakilaki lain. Meskipun anak zina itu mempunyai status hukum yang sama dengan
anak li’an yaitu sama-sama tidak sah, namun perbedaan antara keduanya adalah
bahwa anak zina telah jelas statusnya dari awal, seperti lahir dari perempuan yang
tidak bersuami sedangkan anak li’an lahir dari perempuan yang bersuami, namun
tidak diakui anak tersebut oleh suaminya. Anak zina itu tidak mempunyai
hubungan nasab dengan laki-laki yang menyebabkan ia lahir.11
Menurut Undang-Undang Perkawinan dalam Pasal 42 Anak sah adalah
anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Sedangkan
anak yang dilahirkan di luar perkawinan, merupakan anak luar kawin dan hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya (Pasal 43
Undang-Undang Perkawinan). Artinya si anak tidak mempunyai hubungan hukum
dengan ayahnya, baik yang berkenaan dengan pendidikan maupun warisan.
Dalam Undang-Undang Perkawinan Pasal 43 ayat (2) dikatakan bahwa
kedudukan anak luar kawin selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Akan tetapi sampai saat ini Peraturan Pemerintah yang dimaksud tersebut belum
juga diterbitkan. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 yang merupakan
peraturan pelaksanaan Undang-Undang tersebut tidak mengatur mengenai status
anak tersebut.
Anak luar kawin tersebut tidak dapat dinasabkan kepada bapaknya
sehingga ia tidak akan mempunyai hubungan baik secara hukum maupun
10
Ibid..
Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, Cet. II, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hal. 148.
11
12FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
kekerabatan dengan bapaknya. Sehingga secara yuridis formal ayah tidak wajib
memberikan nafkah kepada anak itu, walaupun secara biologis anak itu adalah
anaknya sendiri. Jadi hubungan kekerabatan hanya berlangsung secara manusiawi
bukan secara hukum.
Dengan adanya ketentuan dalam Undang-Undang Perkawinan yang
menyatakan bahwa anak luar kawin hanya mempunyai hubungan hukum dengan
ibunya maupun juga antara keluarga ibu dengan anak yang dilahirkan di luar
perkawinan tersebut, maka secara hukum anak tersebut berada dalam asuhan dan
pengawasan ibunya sehingga timbul kewajiban dari ibunya untuk memelihara dan
mendidik, serta berhak untuk memperoleh warisan yang timbul baik antara ibu
dan anak maupun dengan keluarga ibu dan anak.
Undang-Undang Perkawinan tidak mengenal anak luar kawin terhadap
ibunya, oleh karena anak yang lahir di luar perkawinan adalah anak dari ibu yang
melahirkannya, asas mana didasarkan pada asas yang terdapat dalam hukum adat.
Memang bagaimanapun juga lahirnya anak tidak dapat dielakkan bahwa anak
tersebut adalah anak dari ibu yang melahirkannya. Tidak mungkin anak lahir
tanpa ibu. Anak itu mempunyai hubungan perdata dengan ibu yang melahirkannya
dan keluarga dari ibunya itu, tetapi tidak ada hubungan perdata dengan laki-laki
yang membenihkannya.12
B. Kedudukan Anak Luar Kawin Dalam Hubungan Kewarisan
Kalau kita lihat di dalam lingkungan Hukum Adat, Hukum Islam, maupun
di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), anak-anak dari si
peninggal warisan merupakan golongan yang terpenting dan yang utama. Dr.
Wirjono dalam bukunya Hukum Waris di Indonesia, antara lain menyebutkan
bahwa oleh karena mereka (anak-anak) pada hakikatnya merupakan satu-satunyan
golongan ahli waris, artinya sanak kelurga tidak menjadi ahli waris apabila si
peninggal warisan meninggalkan anak-anak13
Maka dari itu kedudukan seorang anak dalam masalah hubungan
kewarisan sangat penting karena anak merupakan keturunan atau penerus dari
12
Darmabrata dan Sjarif, op.cit., hal. 135.
Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga, Cet.II, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004),
hal.31.
13
13FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
orang tuanya, dimana orang tua juga mempunyai kewajiban untuk mengurus dan
menafkahi anak mereka, sudah selayaknya jika seorang anak menjadi ahli waris
pertama yang didahulukan untuk mendapat bagian warisan dari orang tuanya.
Tetapi dengan adanya pembedaan status anak antara anak sah dengan anak luar
kawin diakui maka tentu saja pembagian diantara keduanya juga berbada.
Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya saja karena itu anak luar kawin hanya akan memperoleh
warisan dari ibunya maupun keluarga ibunya saja. Tidak berhak atas warisan dari
bapaknya karena tidak mempunyai hubungan perdata dengan bapaknya.
Pengaturan mengenai Hukum Waris di Indonesia masih beraneka ragam
karena adanya sifat pluralistik dengan berlakunya tiga sistem hukum kewarisan,
yaitu Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam, dan Hukum Waris Kitab UndangUndang Hukum Perdata.
Dikarenakan bahwa sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat di dunia
ini memiliki kondisi kekeluargaan yang berbeda-beda, dari inilah keadaan warisan
dari masyarakat itu tergantung dari masyarakat tertentu yang ada kaitannya
dengan kondisi kekeluargaan serta membawa dampak pada kekayaan dalam
masyarakat tersebut.14
Mengenai masalah kewarisan di Indonesia belum ada Undang-Undang
yang mengatur secara spesifik mengenai hal tersebut, maka berdasarkan ketentuan
Pasal 66 UU No.1 Tahun 1974 yang mengatakan:
“Untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan
berdasarkan atas Undang-Undang ini, maka dengan berlakunya Undang-Undang ini
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk
Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijk Ordonnantie Christen
Indonesiers S. 1933 No. 74), Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de gemengde
Huwelijken S. 1898 No. 158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang
perkawinan sejauh setelah diatur dalam undang-undang ini, dinyatkan tidak berlaku”.
Dengan ketentuan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
mengenai Hukum Waris yang terdapat dalam K.U.H.Perdata hanya berlaku bagi
mereka yang tunduk atau menundukkan diri kepada Kitab Undang-Undang
hukum Perdata, khususnya bagi Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa dan
14
Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris di Indonesia, Cet. IV, (Jakarta: 2006), hal. 5.
|
14FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
Eropa dan ketentuan dalam K.U.H.Perdata masih dapat diterapkan karena belum
ada Undang-Undang yang secara khusus mengaturnya.
Mengenai masalah kewarisan bagi anak luar kawin, hukum di Indonesia
memberikan solusi agar anak luar kawin dapat memperoleh bagian warisan dari
ayahnnya, yaitu dengan cara diakuinya anak tersebut oleh ayahnya. Namun
pengakuan anak luar kawin ini hanya diperuntukkan bagi golongan keturunan
Tionghoa yang diatur dalam K.U.H.Perdata.
Dalam K.U.H.Perdata hak waris anak luar kawin yang diakui diatur pada
Pasal 862-866 dan Pasal 867 ayat (1). Ahli Waris anak luar kawin timbul jika
pewaris mengakui dengan sah anak luar kawin tersebut.
Syarat agar anak luar kawin dapat mewaris ialah bahwa anak tersebut
harus diakui dengan sah oleh orang tua yang membenihkannya. Dalam
K.U.H.Perdata dianut prinsip bahwa, hanya mereka yang mempunyai hubungan
hukum dengan pewaris yang berhak mewaris. Hubungan hukum antara anak luar
kawin dengan ayah ibunya, timbul sesudah ada pengakuan dari ayah ibunya
tersebut. Hubungan hukum tersebut bersifat terbatas, dalam arti hubungan hukum
itu hanya ada antara anak luar kawin yang diakui dengan ayah ibu yang
mengakuinya saja (Pasal 872 K.U.H.Perdata).15
Bagian seorang anak yang lahir di luar perkawinan, tetapi diakui (erkend
natuurlijk), itu tergantung dari berapa adanya anggota keluarga yang sah. Jika ada
ahli waris dari golongan pertama maka bagian anak yang lahir di luar perkawinan
tersebut sepertiga dari bagian yang akan diperolehnya seandainya ia dilahirkan
dari perkawinan yang sah. Dan jikalau ia bersama-sama mewaris dengan anggotaanggota keluarga dari golongan kedua, bagiannya menjadi separoh dari bagian
yang akan diperolehnya seandainya ia dilahirkan dari perkawinan yang sah.
Pembagian warisan, harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga anak yang lahir di
luar perkawinan itu, harus dihitung dan dikeluarkan lebih dahulu barulah sisanya
dibagi antara ahli waris yang lainnya, seolah-olah sisa warisan itu utuh. Contoh:
jika ada 2 orang anak yang lahir di luar perkawinan, di disamping 3 orang anak
yang sah, maka yang pertama itu akan menerima masing-masing 1/3 x 1/5 = 1/15
atau bersama-sama 2/15. Bagian ini harus diambilkan terlebih dahulu, dan sisanya
15
Surini Ahlan Sjarif dan Nurul Elmiyah, Hukum Kewarisan Perdata Barat, Cet. II, (Jakarta:
Kencana Media Group), hal. 87.
15FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
13/15 dibagi antara anak-anak yang sah yang karenanya masing-masing mendapat
13/30 bagian dari warisan. Juga terhadap anak yang lahir di luar perkawinan,
Undang-Undang memuat pasal-pasal perihal “penggantian” (plaatsvervulling),
sehingga apabila ia meninggal lebih dahulu ia dapat di gantikan oleh anakanaknya sendiri.16
Jika pewaris hanya meninggalkan waris yang lebih jauh dari
waris yang disebut diatas maka ia mendapat 3/4 warisan. Pembagian tersebut di
atur dalam Pasal 863 K.U.H.Perdata dalam hal jika pengakuan anak luar kawin
dilakukan sebelum perkawinan. Dalam Pasal 272 K.U.H.Perdata, Jika pengakuan
anak luar kawin dilakukan pada saat perkawinan, maka anak luar kawin mendapat
bagiannya sama dengan anak sah.
Sedangkan apabila pengakuan anak luar kawin dilakukan sepanjang
perkawinan, maksudnya pengakuan dilakukan suami atau istri yang mengakui
anak itu sewaktu dalam suatu ikatan perkawinan, maka pengakuan tersebut tidak
boleh merugikan istri dan anak-anak dari perkawinan pada waktu pengakuan
dilakukan.
P = Pewaris melakukan hubungan di luar nikah dan mempunyai anak D.
Kemudian P menikah dengan A dan mempunyai anak C dan B.
Sepanjang perkawinan antara P dan A, maka P mengakui anak luar kawin
(D). Dalam hal ini pengakuan P terhadap D tidak boleh merugikan A,C,B, yaitu
istri dan anak-anaknya. Menurut Pasal 285 K.U.H.Perdata, maka D tidak
mendapatkan bagian warisan, warisan tetap dibagi tanpa memandang adanya D,
16
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cet. XXXI, (Jakarta: PT Intermasa, 2003), hal. 100.
16FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
untuk tidak merugikan istri dan anak-anak (A, C, B). Dengan demikian harta
dibagi antara A, C, B dan masing-masing mendapatkan 1/3 bagian. Lain halnya
apabila anak luar kawin yang diakui Ayahnya, yaitu Pewaris sebelum perkawinan
dengan istrinya B, seperti bagan dibawah ini :
X adalah anak luar kawin yang diakui sah sebelum Pewaris melakukan
perkawinannya dengan B. Dalam hal ini X mendapat warisan. X boleh merugikan
istri Pewaris, yaitu B dan anak-anak Pewaris, yaitu M dan N. Kalau pengakuan
tidak merugikan istri/suami dalam perkawinan si orang tua yang mengakuinya
terikat, dan tidak merugikan anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan
tersebut, maka pengakuan itu dapat menguntungkan anak luar kawin tersebut,
artinya anak luar kawin tersebut dapat mewaris dari orang tua yang mengakuinya.
C
D
P
A
B
P = Pewaris mempunyai anak luar kawin B. P kemudian menikah dengan
A, dan tidak mempunyai anak. Dalam perkawinannya dengan A, P mengakui B.
Kemudian A meninggal dunia, baru kemudian P. Pada waktu P meninggal ahli
warisnya ada B, C dan D (orang tua P). Dalam hal ini tidak ada masalah
merugikan A (istri) dan anak-anak. Oleh karena itu B dapat mewaris. B bagiannya
1/2 C dan D masing-masing 1/4 bagian (1/2 x 1/2).17
Apabila ada kemungkinan bahwa pewaris tidak meninggalkan ahli waris
selain anak luar kawin tersebut, Pasal 865 K.U.H.Perdata secara garis besar
menentukan bahwa anak luar kawin mewaris seluruh harta warisan.
17
Sjarif dan Elmiyah, op.cit., hlm. 84.
17FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
Mengenai anak-anak yang lahir di luar kawin dan tidak diakui terdapat 2
golongan18:
a). Anak-anak yang lahir dalam zinah, yaitu anak yang lahir dari
perhubungan orang lelaki dan orang perempuan, sedangkan salah satu
dari mereka atau kedua-duanya berada di dalam perkawinan dengan
orang lain.
b).
Anak-anak yang lahir dalam sumbang, yaitu anak yang lahir dari
perhubungan orang lelaki dan orang perempuan, sedangkan di antara
mereka terdapat larangan kawin, karena masih sangat dekat hubungan
kekeluargannya (Pasal 30).
Anak-anak sebagaimana tersebut di atas memuat Pasal 283 K.U.H.Perdata
tidak dapat diakui. Mengenai hak waris anak-anak ini Pasal 867 K.U.H.Perdata
menentukan, bahwa mereka itu tidak dapat mewaris dari orang yang
membenihkannya. Mereka hanya dapat nafkah untuk hidup.19
Pasal 868 K.U.H.Perdata menentukan bahwa nafkah ditentukan menurut
kekayaan si ayah atau si ibu, serta jumlah dan keadaan para waris yang sah.
Adapun status dari anak-anak tersebut bukanlah sebagai waris tapi sebagai
seorang yang berpiutang.
Pasal 873 K.U.H.Perdata ayat 2 mengatakan jika anak luar kawin
meninggal dunia yang dapat mewaris adalah:
1).
Keturunannya dan isteri (suami)nya, kalau ini tidak ada;
2).
Bapak dan/atau ibu yang mengakuinya dengan saudara-saudara
beserta keturunannya, kalau ini tidak ada;
3).
Keluarga yang terdekat dari ayah dan/atau ibu yang mengakuinya.
Dan dalam Pasal 871 menjelaskan bahwa pasal ini mengatur barangbarang yang berasal dari warisan orang tuanya dahulu. Dimana jika anak luar
kawin pernah mewaris barang-barang dari orang tuanya, dan barang-barang itu
masih terdapat dalam wujudnya, maka jika ia meninggal dunia dan ia tidak
meninggalkan keturunan atau isteri (suami), barang itu kembali kepada keturunan
sah dari ayah atau ibu. Ketentuan ini juga berlaku bagi tuntutan untuk minta
18
Ali Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian, Cet.IV, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2004), hal. 43.
19
Ibid.
18FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
kembali sesuatu barang yang telah dijual tapi belum dibayar. Adapun barangbarang lainnya dapat diwaris oleh saudara-saudaranya atau keturunannya.
C. Penyebab Terjadinya anak luar kawin
1. Adanya Pengingkaran (penyangkalan) yang dilakukan oleh suami
Sebagaimana dengan ketentuan Pasal 42 UU Perkawinan bahwa anak yang
lahir dalam perkawinan yang sah antara suami-isteri dianggap anak yang sah dari
kedua orang tuanya. Akan tetapi dalam Pasal 44 Ayat (1) UU Perkawinan
memberi hak kepada si suami untuk dapat menyangkal atas keabsahan anak yang
lahir dalam perkawinan.
Menurut Hukum BW penyangkalan keabsahan anak, secara limitatife
disebutkan ada 1 hal, yaitu20:
1).
Apabila anak dilahirkan sebelum hari ke 180, terhitung dari hari
dilangsungkannya perkawinan (Pasal 251 K.U.H.Perdata).
2).
Apabila si suami sejak hari ke 300 sampai hari ke 180 sebelum
lahirnya anak baik karena perpisahan maupun sebagai akibat
sesuatu kebetulan berada dalam ketakmungkinan yang nyata untuk
bersetubuh dengan isterinya (Pasal 252 K.U.H.Perdata).
3).
Apabila si isteri melakukan zinah dan menyembunyikan kelahiran
anaknya bagi si suami(Pasal 253 K.U.H.Perdata).
4).
Apabila anak dilahirkan 300 hari setelah hari keputusan perpisahan
meja dan tempat tidur memperoleh kekuatan mutlak (Pasal
K.U.H.Perdata).
Suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan
oleh isterinya
karena berzina dan pengadilan akan memberikan keputusan tentang sah tidaknya
anak itu. Yang menjadi pertanyaan apakah kata ‘berzina’ atau ‘perzinaan’ dalam
UU No. 1-1974 itu sama dengan pengetian berzina (overspel, bermukah) dalam
Pasal 284 K.U.H.Pidana yang dikaitkan dengan Pasal 27 K.U.Perdata (asas
monogami) ataukah berzina menurut pengertian hukum adat atau agama? Apabila
Pasal 44 UU No. 1-1974 itu dikaitkan dengan Pasal 63 tentang pengadilan, maka
yang diartikan berzina adalah berdasarkan K.U.H.Perdata bagi perkawinan yang
20
Prodjohamidjojo, op.cit , hal.55.
19FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
beragama Kristen atau orang-orang Cina yang akan diselesaikan pada Pengadilan
Negara, sedangkan bagi perkawinan yang beragama Hindu Budha, berzina
diartikan menurut pengertian agama masing-masing dan diselesaikan pada
pendeta/Dewan Pandita masing-masing atau ke Pengadilan Negara, sedangkan
bagi perkawinan menurut agama Islam yang diartikan berzina adalah berdasarkan
Hukum Islam yang diselesaikan Pengadilan Agama21.
Penyangkalan yang dilakukan oleh suami terhadap anak yang dilahirkan
dari hasil hubungan zina isterinya dengan laki-laki lain tersebut beban pembuktian
dalam ketentuan ini oleh hukum dibebankan pada suami yang melakukan
penyangkalan. Adapun yang harus dibuktikannya adalah anak tersebut adalah
akibat perzinaan yang dilakukan oleh isteri dengan laki-laki lain yang menjadi
sebab kelahiran anak tadi. Apabila suami atau ayah dari anak tersebut tidak dapat
menunjukkan bukti-bukti yang kuat, maka penyangkalan tidak dapat dilakukan.
Bahkan Pengadilan mewajibkan yang berkepentingan untuk mengucapkan
sumpah berkaitan dengan keputusan yang akan dikeluarkan tentang sah/tidaknya
anak tersebut (Pasal 44 ayat (1), dan (2) Undang-Undang Perkawinan).
Namun demikian, K.U.H.Perdata Pasal 254 juga memberikan hak kepada
isteri untuk mengemukakan segala bukti, baik dari peristiwa, saksi, atau bukti lain
yang bisa membuktikan bahwa suaminyalah bapak dari anak tersebut.
Alat bukti yang digunakan berkaitan dengan pembuktian adalah:
a).
Akta Kelahiran anak (yang telah dibukukan dalam register Catatan
Sipil;
b).
Saksi-saksi, hal ini dapat dilakukan bila tidak ada akta kelahiran.
Pembuktian denagn saksi ini hanya boleh dilakukan apabila telah
ada bukti permulaan dengan tulisan, dugaan-dugaan dan petunjukpetunjuk tersimpul dari peristiwa-peristiwa yang tidak dapat
disangkal lagi kebenarannya;
c).
Pengadilan mewajibkan yang berkepentingan untuk mengucapkan
sumpah (Penjelasan Pasal 44 UU Perkawinan);
d).
Melakukan tes DNA. Tes ini dapat membuktikan jenis darah dari
pihak yang mengingkari dan yang diingkari, yang kemudian dapat
21
Hilmam Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut: Perundangan, Hukum Adat,
Hukum Agama, Cet.III, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hal. 125.
20FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
dipakai untuk memperkirakan adanya hubungan darah antara
keduanya.
Hukum Islam juga mempunyai lembaga penyangkalan yang disebut
dengan istilah “li’an”. Yang berarti suami menuduh isterinya berbuat zina dengan
laki-laki lain, dengan tujuan untuk menyangkal kehamilan yang sedang dikandung
oleh isteri sebagai kehamilan yang bukan hasil benih yang ditanamkan si suami
pada rahim isteri. Li’an itu juga bertujuan untuk menyangkal, bahwa anak yang
dilahirkan si isteri bukan anak yang sah dari kami tetapi adalah anak yang
diperoleh isteri dari hasil perbuatan zina dengan laki-laki lain.
Sekarang kalau kita bertanya cara bagaimanakah penyangkalan itu
dilakukan. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 ini sama sekali tidak ada mengatur
cara-cara
penyangkalan
dimaksud.
Apakah
semata-mata
terserah
pada
kebikjasanaan peradilan, jika demikian halnya maka penyangkalan anak atas dasar
zina, bagi mereka yang beragama Islam dengan sendirinya berlaku ketentuanketentuan Li’an yang diterangkan di atas. Sebab masalah yang menyangkut
perkawinan, perceraian hadlanah dan status anak sesuai dengan Undang-Undang
No. 32/1954 adalah wewenang Peradilan Agama. Maka dengan demikian
ketentuan hukum penyangkalan yang akan dipergunakan ialah lembaga ”li’an”
yang diatur dalam hukum syariat Islam22.
Dan bagi mereka yang tunduk di luar Peradilan Agama, cara dan
prosedurnya wewenang dari Pengadilan Negeri. Oleh karenanya baiknya jika cara
dan prosedurnya sesuai dengan acara yang diatur dalam proses hukum perdata
dengan meletakkan beban pembuktian pada suami, mengingat Pasal 44 ayat (1)
UU
Perkawinan
telah
menentukan
sendiri
pembebanan
bukti
dalam
penyanglkalan anak zina terletak pada si penyangkal.
Meskipun UU Perkawinan tidak menjelaskan secara tegas kapan seorang
bapak dapat mengingkari anaknya, namun dalam K.U.H.Perdata memberi batas
waktu sebagai berikut:
a).
Satu bulan jika ia tinggal di tempat kelahiran si anak atau sekitarnya;
22
M.Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, Cet.III, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005),
hal. 191.
21FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
b).
Dua bulan setelah pulang kembalinya, jika ia berada dalam keadaan
tidak hadir;
c).
Dua bulan setelah tipu muslihat diketahuinya, jika kelahiran anak
tersebut disembunyikan darinya.
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 102 K.U.H.Perdata memberi batas
waktu pengajuan pengingkaran anak ke Pengadilan Agama adalah:
a).
180 hari sesudah lahir si anak;
b).
360 hari sesudah putusnya perkawinan;
c).
Setelah suami mengetahui bahwa isterinya melahirkan anak dan
berada di tempat yang memungkinkan dia mengajukan
perkaranya ke Pengadilan Agama.
Pengingkaran seorang suami terhadap anak yang dilahirkan oleh isterinya,
meskipun dalam Undang-Undang Perkawinan tidak diatur, namun dalam
K.U.H.Perdata di atur dalam Pasal 256.
Prosedur mana adalah sebagai berikut:
1).
Suami tadi haruslah memasukkan tuntutan perdata ke Pengadilan dalam
tenggang waktu dua bulan. Kalau suami tadi meninggal perkara dapat
diteruskan oleh ahli warisnya.
2).
Pengingkaran ini harus dilakukan dalam batas-batas waktu yang telah
ditentukan (seperti yang telah dijelaskan di atas).
3).
Penuntutan-penuntutan di muka hakim harus dilakukan terhadap seorang
sebagai tergugat yang harus ditetapkan lebih dahulu oleh hakim selaku
wali dari anak itu, sedangkan ibu anak pun dalam perkara harus dipanggil
dengan sah untuk didengar keterangannya ( Pasal 260 K.U.H.Perdata).
2. Perkawinan di bawah tangan
Meski masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, praktek
perkawinan bawah tangan hingga kini masih banyak terjadi. Padahal perkawinan
bawah tangan sangat merugikan bagi perempuan.
Perkawinan bawah tangan dikenal dengan berbagai istilah lain seperti
’kawin siri’ atau ’nikah siri’. Perkawinan bawah tangan adalah perkawinan yang
dilakukan hanya berdasarkan aturan agama atau adat istiadat dan tidak dicatatkan
22FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
di kantor pencatat nikah (Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam,
Kantor Catatan Sipil bagi yang beragama non muslim). Meski secara atau adat
istiadat dianggap sah, namun perkawinan yang dilakukan diluar pengetahuan dan
pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memiliki ketetapan hukum dan
dianggap tidak sah dimata hukum.
Sistem hukum Indonesia tidak mengenal istilah ’kawin bawah tangan’ dan
tidak mengatur secara khusus dalam sebuah peraturan. Namun secara istilah ini
diberikan bagi perkawinan yang tidak dicatatkan dan dianggap dilakukan tanpa
memenuhi ketentuan Undang-Undang yang berlaku, khususnya tentang
perkawinan yang diatur dalam UU Perkawinan Pasal 2 ayat (2).
Perkawinan bawah tangan berdampak sangat merugikan bagi isteri dan
perempuan umumnya, baik secara hukum maupun sosial. Secara Hukum:
1.
Tidak dianggap sebagai isteri yang sah;
2.
Tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami jika ia meninggal;
3.
Tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perpisahan, karena secara
hukum perkawinan dianggap tidak pernah terjadi.
Secara Sosial akan sulit bersosialisasi karena perempuan yang melakukan
perkawinan di bawah tangan sering dianggap telah tinggal serumah dengan lakilaki tanpa ikatan (kumpul kebok) atau dianggap menjadi isteri simpanan.
Sementara terhadap anak, tidak sahnya perkawinan bawah tangan menurut
negara memiliki dampak negatif bagi status anak yang dilahirkan di mata hukum,
karena perkawinan bawah tangan akan menimbulkan status anak luar kawin.
Status anak yang dilahirkan dianggap sebagai anak tidak sah.
Konsekuensinya hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga
ibu. Artinya tidak mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya (Pasal 42 dan
Pasal 43 UU Perkawinan, Pasal 100 KHI).
Di dalam akta kelahirannyapun statusnya dianggap sebagai anak luar
kawin, sehingga hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkan saja. Keterangan
berupa status sebagai anak luar kawin dan tidak tercantumnya nama ayah dalam
akta kelahiran akan berdampak sangat mendalam secara sosial dan psikologis.
Yang jelas merugikan adalah, anak tidak berhak atas biaya kehidupan dan warisan
dari ayahnya.
23FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
Terhadap laki-laki atau suami hampir tidak ada dampak yang
mengkhawatirkan atau merugikan bagi diri laki-laki atau suami. Yang terjadi
malah dapat menguntungkannya karena suami bebas untuk menikah lagi, karena
perkawinan sebelumnya yang dianggap tidak sah dimata hukum. Suami bisa
berkelit dan menghindar dari kewajibannya memberikan nafkah isteri maupun
kepada anak-anaknya.
Apabila perkawinan di bawah tangan ini sudah terlanjur terjadi, maka yang
dapat dilakukan adalah: Bagi yang beragama Islam dapat mengajukan
permohonan itsbat nikah (penetapan nikah) kepada Pengadilan Agama (Kompilasi
Hukum Islam Pasal 7). Tetapi untuk perkawinan bawah tangan, hanya
dimungkinkan itsbat nikah dalam rangka penyelesaian perceraian. Itsbat nikah
dalam beberapa hal hanya dimungkinkan bila berkenaan dengan:
a.
Dalam rangkaian penyelesaian perceraian;
b.
Hilangnya akta nikah;
c.
Adanya keraguan tentang tidak adanya salah satu syarat perkawinan;
d.
Perkawinan terjadi sebelum berlakunya UU No.1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan;
e.
Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai
halangan perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974.
Satu dari kelima alasan di atas yang dapat dipergunakan, dapat segera
mengajukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama, dan apabila telah
memiliki akta nikah harus segera mengurus kelahiran anak-anak ke Kantor
Catatan Sipil setempat agar status anak menjadi sah di mata hukum.
Selain itu, juga dapat melakukan perkawinan ulang yang dilakukan
layaknya perkawinan menurut agama Islam dan perkawinan harus disertai dengan
pencatatan perkawinan oleh pejabat yang berwenang pencatat perkawinan (KUA).
Pencatatan ini penting agar ada perubahan status bagi perkawinannya. Namur,
status anak-anak yang lahir dalam perkawinan bawah tangan akan tetap dianggap
sebagai anak luar kawin, karena perkawinan tidak berlaku surut terhadap status
anak yang dilahirkan sebelum perkawinan dilangsungkan. Oleh karenanya, dalam
akta kelahiran, anak yang dilahirkan sebelum perkawinan ulang tetap sebagai anak
24FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
luar kawin, sebaliknya anak yang lahir dalam perkawinan ulang statusnya sebagai
anak sah yang lahir dalam perkawinan.
Bagi yang beragama non-Islam dapat melakukan perkawinan ulang dan
pencatatan perkawinan. Perkawinan ulang dilakukan menurut ketentuan agama
yang dianut, dan setelah perkawinan ulang selesai dilaksanakan, perkawinan harus
dicatatkan di muka yang berwenang. Dalam hal ini di Kantor Catatan Sipil. Jika
Kantor Catatan Sipil menolak menerima pencatatan itu, maka dapat digugat di
PTUN (Peradilan Negara).
Jika dalam perkawinan telah lahir anak-anak, maka dapat diikuti dengan
pengakuan anak. Yakni pengakuan yang dilakukan oleh bapak atas anak yang
lahir di perkawinan yang sah menurut hukum. Pada dasarnya, pengakuan anak
dapat dilakukan baik oleh ibu maupun bapak. Namur berdasarkan Pasal 43 UU
No. 1 Tahun 1974 intinya menyatakan bahwa anak yang dilahirkan di luar
perkawinan tidak mempunyai hubngan perdata dengan ayahnya, maka untuk
mendapatkan hubungan perdata, seorang ayah dapat melakukan pengakuan anak.
Namur, bagaimanapun pengakuan hanya dapat dilakukan dengan persetujuan ibu,
sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 284 K.U.Perdata.
D.
Sebab-sebab lain terjadinya anak luar kawin
Selain karena adanya penyangkalan (pengingkaran) yang dilakukan oleh
seorang suami terhadap anak yang dilahirkan oleh isterinya dan adanya praktek
perkawinan bawah tangan, terjadinya anak luar kawin juga bisa disebabkan oleh
hal-hal berikut ini:
1).
Anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang tidak diketahui bapaknya,
misalnya kehamilan yang diakibatkan karena perkosaan atau adanya
praktek pelacuran. Kebanyakan anak yang dilahirkan dari akibat
tersebut di atas tidak dikehendaki oleh ibunya karena dianggap
membawa aib dan beban bagi ibunya maupun keluarga ibunya.
2).
Anak yang dilahirkan yang dikehendaki oleh ibu dan bapaknya, tetapi
orang tua tersebut memang menghendaki untuk hidup bersama tanpa
ikatan perkawinan atau yang biasa disebut di masyarakat dengan
kumpul kebok.
25FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
3).
Anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang masih dalam masa iddah
setelah percerainnya, namun bukan merupakan anak dari suaminya
tetapi sebagai hasil hubungan dengan laki-laki lain.
4).
Anak yang dilahirkan dari seorang perempuan dan laki-laki yang akibat
dari ketentuan agama tidak dapat menikah, misalnya dalam ajaran
Katolik dimana terdapat ketentuan yang mengatakan tidak mengenal
cerai hidup.
5).
Anak yang dilahirkan dari seorang ibu dan seorang laki-laki yang akibat
hukum perdata atau menurut hukum negara tidak dapat nikah,
misalnya seoran WNA menikah dengan seorang WNI, tetapi tidak
mendapat izin
dari kedutaan karena masih terikat dengan perkawinan
lain di negaranya.
6).
Anak yang sama sekali tidak diketahui siapa orang tuanya sebagai anak
temuan.
7).
Anak yang dilahirkan dimana ke dua orang tuanya berada dalam
perkawinan yang dilangsungkan secara adat saja.
26FH UI., 2009.
Peranan notaris ..., Rr. Murdiningsih Hayu Perwitasari,
Universitas Indonesia
Download