BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya terdiri dari berbagai
macam suku bangsa atau kelompok etnis. Keberagaman suku bangsa atau
etnis ini di suatu sisi membawa pengaruh positif untuk kekayaan kebudayaan,
seni, serta dinamika sosial kehidupan masyarakat Indonesia. Namun di sisi
lain keberagaman etnis menjadi bumerang bilamana di dalam masyarakat
masih terdapat individu yang mengagung - agungkan sikap primordialisme
dan etnosentrisme. Primordialisme adalah rasa kesukuan yang berlebihan,
yang diikuti dengan sikap ,memegang teguh hal - hal yang dibawa sejak kecil,
seperti tradisi, adat - istiadat, kepercayaan, dan segala sesuatu yang ada di
lingkungan pertamanya. Etnosentrisme ialah suatu kecenderungan yang
menganggap nilai - nilai dan norma - norma kebudayaannya sendiri sebagai
sesuatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakan sebagai tolok ukur
untuk menilai dan membedakan dengan kebudayaan lain. 1 Setiap
individu
memiliki
kecenderungan
untuk
mengidentifikasikan dirinya dengan etnis tertentu. Sementara itu individu lain
memiliki self concept atas etnisnya dan etnis diluar etnisnya, seringkali juga
1
Soewaryo Wangsanegara. “Ilmu Sosial Dasar”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1986, hal. 47 1 menilai perilaku orang lain terkait dengan latar belakang etnis dan
kesukubangsaannya. Ketika individu telah memiliki pandangan bahwa
etnisnya merupakan etnis yang lebih baik daripada suatu etnis tertentu, maka
ia akan memandang lebih rendah terhadap etnis yang menjadi lawan
perbandingannya. Dalam hubungannya dengan etnis - etnis lain seringkali
berkembang sejumlah stereotype. Stereotype antar etnis sesekali dapat
muncul dalam suatu interaksi yang sedang terjadi. Seringkali, timbul
prasangka rasial yang menyebabkan keterbatasan interaksi terhadap suatu
etnis tersebut yang pada akhirnya akan menimbulkan jarak sosial dan akan
menghambat terjadinya proses integrasi sosial dalam masyarakat yang multi
etnis. Prasangka diartikan sebagai sikap negatif terhadap sesuatu.2 Prasangka
etnis erat kaitannya dengan diskriminasi rasial dan stereotype etnis.
Dalam kehidupan sehari - hari, interaksi antara Etnis Jawa dan Etnis
Tionghoa seringkali menjadi terbatas karena adanya stereotype. Etnis Jawa
memiliki stereotype tersendiri atas Etnis Tionghoa. Begitu juga sebaliknya,
Etnis Tionghoa pun memiliki stereotype tersendiri atas Etnis Jawa. Pengaruh
stereotype pada individu yang memiliki prasangka sangat besar dalam
interaksi sosialnya. Karena dapat mengubah perilaku atau attitude individu
tersebut terhadap individu lain yang dikenai suatu stereotype.
Stereotype adalah pemberian atribut, label, atau stigma tertentu kepada
sekelompok atau golongan tertentu. Stereotype ini pada awalnya muncul
2
Ibid, hal. 43 2 karena adanya prototype. Prototype yaitu pengetahuan mengenai orang orang atau kelompok tertentu dan kaitannya dengan atribut tertentu.
Stereotype yang menjustifikasi suatu etnis tertentu perlu diselidiki
kebenarannya, apakah stereotype tersebut memang benar, sehingga perlu
dipikirkan bagaimana cara berinteraksi yang baik dan sesuai dengan karakter
mereka, atau justru stereotype tersebut salah sehingga setiap orang yang
berasal dari luar etnisnya tidak perlu was was, resah, dan membatasi diri
bilamana ingin berhubungan dengan mereka.
Prasangka dan diskriminasi tidak dapat dipisahkan. Perbedaan
diskriminasi dengan prasangka, diskriminasi lebih merujuk pada suatu
tindakan nyata. Seseorang yang memiliki prasangka rasial, biasanya bertindak
diskriminatif terhadap ras yang diprasangkainya. Walaupun begitu, bisa saja
seseorang bertindak diskriminatif tanpa berlatar belakang pada suatu
prasangka. Demikian juga sebaiknya, seseorang yang berprasangka dapat saja
berperilaku tidak diskriminatif.3
Faktor - faktor yang berkaitan dengan timbulnya prasangka yaitu
kepribadian, tingkat intelegensi, dan faktor lingkungan. Semakin tinggi
tingkat intelegensi seseorang maka ia akan bersifat dan bersikap lebih kritis
sehingga lebih sukar untuk berprasangka. Sedangkan semakin rendah tingkat
intelegensi seseorang maka memiliki kecenderungan lebih mudah untuk
berprasangka. Faktor kondisi lingkungan yang tidak mapan juga berpeluang
3
Ibid, hal. 44 3 untuk menimbulkan prasangka. Yang disebut dengan kondisi lingkungan
yang tidak mapan disini ialah kondisi lingkungan dimana terdapat persaingan
untuk mencapai akumulasi materiil tertentu (persaingan ekonomi), persaingan
untuk meraih status sosial tertentu (persaingan sosial), serta pada suatu
lingkungan atau wilayah dimana norma - norma dan tata hukum dalam
kondisi goyah.4
Latar belakang sejarah, perkembangan sosio - kultural dan situasional,
serta faktor kepribadian juga dapat menjadi sebab - sebab timbulnya
prasangka dan diskriminasi.5 Latar belakang sejarah misalnya, pada masa
lampau orang - orang Cina datang ke Indonesia untuk berdagang. Mereka
menawarkan barang dagangannya ke Indonesia, dan melakukan ekspansi
pasar di Indonesia. Ketika usahanya berhasil dan menjadi besar di Indonesia
mereka tidak jarang mengambil orang Indonesia asli atau pribumi untuk
menjadi tenaga kerjanya. Pendatang Cinapun menjadi pemimpin, dan orang
pribumi menjadi pekerja di negerinya sendiri. Pada akhirnya orang - orang
pribumi memiliki prasangka negatif terhadap orang Cina bahwa orang Cina
memiliki keinginan untuk menguasai perekonomian di Indonesia. Kegiatan
perdagangan yang sejak dahulu digeluti oleh orang - orang Cina sebagai mata
pencahariannya telah membuat orang - orang Cina distereotipkan sebagai
orang memiliki sifat - sifat pelit, tidak mau merugi, dan mengambil untung
sebanyak - banyaknya. Walaupun tidak semua orang Cina memiliki sifat 4
Ibid 5
Ibid 4 sifat tersebut. Begitu juga sebaliknya dengan orang Cina yang sejak zaman
dahulu kala menjadikan indonesia sebagai pasar yang strategis untuk
menawarkan barang dagangannya, pada akhirnya menjadikan orang Cina
memiliki prasangka bahwa orang - orang Indonesia (pribumi) adalah orang
yang konsumtif dan boros. Kenyataan bahwa sedikit sekali orang Indonesia
yang mampu mengembangkan usahanya hingga besar, memimpin usahanya
sendiri, dan lebih memilih untuk menjadi pekerja di perusahaan milik orang orang Cina daripada mencoba membangun usahanya sendiri membuat orang
Cina memiliki prasangka bahwa orang pribumi tidak ulet berusaha, berdaya
juang rendah, malas, dan miskin. Stereotype - stereotype tersebut belum sirna
sampai dengan generasi saat ini.
Faktor kepribadian dan keadaan frustasi dari beberapa orang atau
kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup berpeluang untuk
menimbulkan tingkah laku agresif. Faktor ini juga dapat berpontensi menjadi
pemicu timbulnya prasangka dan diskriminasi. Para ahli beranggapan bahwa
prasangka lebih dominan disebabkan oleh tipe kepribadian orang - orang
tertentu. Tipe authoritarian personality atau kepribadian authoritarian adalah
sebagai ciri kepribadian seseorang yang penuh dengan prasangka, dengan ciri
- ciri bersifat konservatif dan tertutup. Perbedaan latar belakang keyakinan,
kepercayaan, agama, perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi
juga turut menjadi faktor pemicu timbulnya prasangka dan diskriminasi.6
6
Ibid, hal. 46 5 Di Indonesia keturunan Cina sebagai kelompok minoritas sering
menjadi sasaran prasangka rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi
Warga Negara Indonesia.7 Begitu juga sebaliknya, keturunan Cinapun juga
seringkali memiliki prasangka rasial terhadap kaum pribumi. Sikap
berprasangka jelas tidak adil, karena sikap yang diambil hanya berdasarkan
pada pengalaman atau apa yang didengar. Lebih - lebih lagi bila sikap
berprasangka itu muncul dari jalan pikiran sepintas, untuk kemudian
disimpulkan dan dibuat pukul rata sebagai sifat dari seluruh anggota
kelompok sosial tertentu. Apabila muncul suatu sikap berprasangka dan
diskriminatif terhadap suatu suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi
akan menimbulkan pertentangan - pertentangan sosial yang lebih luas. Suatu
contoh, beberapa peristiwa yang semula menyangkut beberapa orang saja
seringkali menjadi luas, melibatkan sejumlah orang. Akan menjadi lebih
riskan lagi apabila peristiwa itu menjalar lebih luas, sehingga melibatkan
orang - orang di suatu wilayah tertentu, yang diikuti dengan tindakan tindakan kekerasan dan destruktif dengan berakibat mendatangkan kerugian
yang tidak kecil.8
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas
kebudayaan yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras
tersebut dalam kehidupan sehari - hari bertingkah laku sejalan dengan norma
- norma, nilai - nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan tersebut.
7
Ibid, hal.44 8
Ibid, hal.45 6 Suku bangsa, ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka
sebagai sesuatu yang prima, riil logis, sesuai dengan kodrat alam dan
sebagainya. Segala yang berbeda dengan kebudayaan yang mereka miliki
dipandang sebagai sesuatu yang kurang baik, kurang estetis, bertentangan
dengan kodrat alam, dan sebagainya.9
Cara pandang individu terhadap etnis lain dan etnis tertentu akan
menentukan bagaimana ia bersikap terhadap individu atau kelompok yang
berasal dari etnis tersebut. Yang selanjutnya cara pandang tersebut biasanya
akan diturunkan kepada anak - anaknya. Sehingga anak - anaknya memiliki
pola pikir dan cara pandang yang secara nyata cenderung sama dengan orang
tuanya. Apabila cara pandang negatif yang ditransfer oleh orang tua kepada
anak - anaknya, maka pemikiran - pemikiran dan pandangan negatif pula
yang akan diadopsi oleh anak - anaknya. Dalam ranah pergaulan sosial yang
lebih luas hal itu berpotensi menghancurkan kesatuan dan memperburuk
hubungan sosial diantara kedua etnis yang berbeda.
Ada tiga macam sikap individu ketika berhadapan dengan individu
atau kelompok yang berasal dari etnis lain, yaitu meliputi sikap antipati, sikap
setengah terbuka, dan sikap terbuka.
Sikap antipati yaitu sikap ketidaksukaan terhadap individu atau
kelompok yang berasal dari etnis lain atau etnis tertentu. Yang selanjutnya
sikap ini akan bermuara dan memproduksi perilaku sosial yang berupa
9
Ibid, hal.47 7 serentetan penolakan terhadap kehadiran etnis lain atau etnis tertentu.
Individu yang memiliki sikap antipati terhadap etnis lain atau etnis tertentu
biasanya memiliki kecenderungan mengeksklusifkan diri dengan etnisnya
sendiri. Bentuk perilaku nyata dari sikap antipati terhadap etnis lain ini
biasanya ditunjukkan dengan perilaku menjauhkan diri dari segala hal yang
berhubungan dengan etnis lain. Baik dalam pergaulan sosial, kesenian,
pendidikan, budaya, maupun interaksi - interaksi lainnya yang bersifat
multidimensional. Disini pembauran tidak akan terjadi.
Sikap setengah terbuka menunjukkan adanya penerimaan dalam
derajat tertentu terhadap kehadiran individu atau kelompok dari etnis lain
maupun etnis tertentu. Orang yang memiliki sikap setengah terbuka mau
berinteraksi dan berhubungan dengan individu atau kelompok dari etnis lain
maupun etnis tertentu, untuk hal - hal tertentu. Bentuk perilaku nyata dari
sikap setengah terbuka misalnya kerjasama dalam bidang edukasi, bisnis,
seni, dan ekonomi.
Sikap terbuka ialah sikap menerima secara penuh terhadap kehadiran
dan segala sesuatu yang berhubungan dengan individu atau kelompok dari
etnis lain maupun etnis tertentu. Orang yang memiliki sikap terbuka mau
berinteraksi dan berhubungan dengan individu atau kelompok dari etnis lain
maupun etnis tertentu untuk berbagai macam hal, tidak dibatasi untuk hal hal tertentu saja. Bentuk perilaku nyata dari sikap terbuka misalnya
mengadopsi anak dari keturunan etnis yang berbeda, membentuk keluarga
dengan pasangan yang berasal dari etnis yang berbeda, dalam bentuk
8 pernikahan atau perkawinan. Disini pembauran akan terjadi, dengan tingkat
derajat pembauran yang tinggi.
Masalah pembauran etnis merupakan masalah yang kerap ditemui
dalam interaksi - interaksi sosial yang luas dan kompleks. Dalam suatu kasus,
masih terdapat kelompok masyarakat etnis tertentu di suatu daerah yang
menutup diri terhadap kehadiran etnis lain. Dan di banyak kasus anggota
kelompok dari suatu etnis mengizinkan untuk terjadinya interaksi dan
pertukaran sosial maupun ekonomis antar etnis yang sifatnya saling
menguntungkan kedua belah pihak. Namun menolak dengan tegas dan keras
adanya pernikahan antara dua etnis yang berbeda dengan pertimbangan dan
pemikiran subjektif bahwa individu dan orang - orang dari kelompok etnisnya
sendiri memiliki kualitas diri yang lebih baik, budaya yang lebih mulia, serta
derajat yang lebih tinggi daripada etnis lain atau etnis tertentu. Padahal,
dalam pengkajian ilmu sosial dinyatakan bahwa perbedaan etnis merupakan
salah satu bentuk diferensiasi sosial, bukan merupakan bentuk dari stratifikasi
sosial. Yang mana tentunya tidak akan terdapat segmentasi etnis ke dalam
tingkatan - tingkatan yang menyatakan bahwa satu etnis lebih tinggi maupun
lebih rendah dibanding etnis lain. Di Indonesia semua etnis adalah satu
kesatuan, yang memiliki derajat yang sama, dengan keunikan kekurangan dan
keunikan kelebihannya masing - masing.
Pernikahan antar etnis membutuhkan kemampuan adaptasi yang lebih
baik antar sesama pasangannya dibanding dengan pernikahan inter etnis. Hal
ini terjadi karena setiap etnis memiliki adab, tata susila, tata krama,
9 kesopanan, dan nilai tingkah laku yang berbeda - beda. Suatu perilaku yang
dianggap baik di suatu kelompok etnis belum tentu dapat dibilang baik di satu
etnis lainnya. Dan mungkin bisa jadi perilaku yang dianggap baik tersebut
justru merupakan perilaku yang buruk dalam kacamata etnis yang berbeda.
Sehingga pemahaman akan adab, tata susila, tata krama, kesopanan, nilai
tingkah laku, dan budaya menjadi sangat urgent dalam hal ini. Etnis Jawa
misalnya, yang distereotipkan sebagai etnis yang memiliki tutur kata yang
halus, unggah - ungguh yang kental, pribadi yang dianggap kurang memiliki
daya juang. Dan Etnis Tionghoa misalnya, yang distereotipkan sebagai etnis
yang memiliki daya kerja tinggi, oportunis, dan bersifat material. Padahal,
semua sifat - sifat itu tidak bergantung dari etnisnya, tapi bergantung watak
dan kepribadian yang melekat pada diri masing - masing individu. Banyak
individu dari Etnis Jawa yang tidak berbicara dengan unggah - ungguh yang
semestinya dan tutur kata yang halus, terutama pada generasi muda yang
sudah “ilang jawane” dan banyak juga individu dari Etnis Jawa yang pekerja
keras, sehingga ia mampu memperoleh kesuksesannya. Begitu pula
sebaliknya, banyak individu dari Etnis Tionghoa yang memiliki budi yang
baik, tidak hanya mengejar satu tujuan materi semata dalam setiap hubungan
sosialnya, disisi lain juga membangun hubungan dan interaksi yang hangat
dan berkualitas. Mereka pun punya rasa kemanusiaan yang sama di dalam
nuraninya. Yang perlu diketahui disini, bahwa sikap kerja keras dan materiil
yang seringkali ditampakkan orang - orang dari etnis Tionghoa merupakan
“caranya” ketika ia berhadapan dan menekuni apa yang disebut dengan dunia
10 kerja. Pemahaman - pemahaman dan pengertian yang mendalam inilah yang
perlu dimengerti oleh semua individu sebagai anggota masyarakat yang
memiliki kultur multi etnis.
Pernikahan antar etnis sendiri masih merupakan suatu bentuk abstinasi
atau pantangan untuk beberapa etnis yang masih sangat kental memegang
tradisi budayanya. Pernikahan antar etnis seringkali merupakan suatu bentuk
pengorbanan diri. Biasanya orang yang menikah antar etnis seringkali
mendapat celaan dari keluarganya. Dan dalam tingkatan yang lebih ekstrim
lagi sanksi sosial biasanya berupa pengucilan dan bahkan tidak diakui
keberadaannya dalam lingkup keluarga yang diperluas (extended family),
maupun dalam lingkup pergaulan etnis. Karena pernikahan antar etnis
seringkali masih dianggap suatu abnormalitas atau penyimpangan dari
kebiasaan adat. Adanya pernikahan campur antar etnis seharusnya tidak
membuat hubungan antara si pelaku pernikahan campur dengan keluarganya
menjadi retak. Seringkali terjadi bahwa suku - suku bangsa yang ada di
Indonesia ini telah mengaku sebagai satu bangsa. Karena itu perbedaan perbedaan yang ada seharusnya tidak dipandang sebagai pembenaran untuk
melabeli, memisah - misahkan, atau menonjolkan jurang pemisah antara suku
bangsa yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi justru dengan mengetahui
adanya perbedaan - perbedaan tersebut dapat dicari jembatan - jembatan yang
dapat lebih mempersatukan.
Bila dipandang dan disikapi secara positif, dalam pernikahan campur
justru akan terjadi peleburan yang baik. Biasanya, dalam suatu pernikahan
11 yang telah berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama, watak dan perilaku
antara suami dan istri akan saling pengaruh - mempengaruhi. Yang mana bila
keunggulan dan sifat - sifat yang baik dari kedua individu dari etnis yang
berbeda tersebut digabungkan, maka akan menghasilkan perilaku campuran
baru yang bercorak dinamis dan saling melengkapi. Keluarga pernikahan
campur merupakan suatu arena sosialisasi yang berpengaruh terhadap
pewarisan sejumlah nilai kepada anak - anaknya. Di satu pihak anak - anak
diajarkan nilai - nilai yang berasal dari etnis ayahnya, di lain pihak diajarkan
nilai - nilai yang berasal dari etnis ibunya.10 Anak - anak yang terlahir dari
keturunan pernikahan multi etnis akan memiliki cara pandang yang lebih
global dan baru. Ia akan bersikap terbuka dan open minded
terhadap
perbedaan - perbedaan etnis dan budaya yang ada di sekelilingnya.
Oleh karena banyaknya suku bangsa atau etnis yang ada di Indonesia
pada umumnya serta di Yogyakarta pada khususnya, mengingat bahwa etnis
Jawa, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik adalah etnis yang paling
besar jumlahnya, serta mengingat pula bahwa suku bangsa atau Etnis
Tionghoa meskipun jumlahnya tidak sebanyak etnis Jawa namun cukup besar
partisipasinya dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam hal perdagangan
serta perekonomian, yang mana hal ini mau tidak mau menimbulkan
terjadinya lebih luas lagi interaksi yang dibangun dan dijaga antara kedua
etnis tersebut, yaitu Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa, maka penelitian ini
10
Saadah Soepono dan F.X Tito Adonis, “Dampak Perkawinan Campuran terhadap Tatakrama Daerah : Studi Kasus pada Komuniti Perkotaan Yogyakarta”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1989, hal.5 12 dikhususkan terhadap Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa dengan cakupan
wilayah Kotamadya Yogyakarta.
Jumlah
penduduk
Yogyakarta
menurut
latar
belakang
etnis
berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2000, adalah sebagai berikut:11
Daftar Tabel 1 : Jumlah Penduduk Yogyakarta Berdasarkan Etnis Tahun 2000
NO
S U K U
J U M L A H
1
Jawa
3.020.157
2
Sunda
17.539
3
Melayu
10.706
4
Tionghoa
9.942
5
Batak
7.890
6
Minang
3.504
7
Bali
3.076
8
Madura
2.709
9
Banjar
2.639
10
Bugis
2.208
11
Betawi
2.018
12
Banten
156
13
Lain - lain
36.789
Sumber : Badan Pusat Statistik Yogyakarta tahun 2000
11
Badan Pusat Statistik Yogyakarta, Data Statistik Tahun 2000 13 Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta dengan alasan objektif
bahwasanya masyarakat Yogyakarta adalah masyarakat yang heterogen, serta di
Yogyakarta pembauran masyarakat Tionghoa cukup baik. Hal ini ditandai dengan
adanya kampung pecinan, namun tidak membuat masyarakat Tionghoa
mengasingkan diri dan tertutup. Mereka membaur dan berinteraksi dengan baik.
Wilayah yang dijadikan objek penelitian ialah wilayah dengan pembauran
Tionghoa - Jawa yang cukup baik karena kondisi tersebut memungkinkan
terjadinya pernikahan campur. Bila pembaurannya buruk, maka cenderung tidak
terjadi pernikahan campur. Sedangkan alasan subjektif penelitian ini dilakukan di
Yogyakarta karena peneliti berdomisili di Yogyakarta, sehingga hal ini
mempermudah proses penelitian.
14 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka permasalahan
yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah :
“Bagaimana Pandangan Orang Jawa dan Orang Tionghoa terhadap
pernikahan campur antara Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa dengan adanya
stereotype yang ada pada masing - masing etnis?”
Yang dimaksud dengan pernikahan campur dalam tulisan ini adalah
penikahan antar etnis, khususnya pernikahan antara Etnis Jawa dan Etnis
Tionghoa.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut :
1. Memahami pandangan Orang Jawa dan Orang Tionghoa terhadap
pernikahan campur antara Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa dengan adanya
stereotype yang melekat pada masing - masing etnis. Dimana kedua etnis
tersebut merupakan etnis yang telah lama tinggal di Kota Yogyakarta dan
memiliki stereotype yang berbeda. Penelitian ini juga bertujuan untuk
inventarisasi informasi tentang pernikahan campur antara Etnis Jawa dan
Etnis Tionghoa.
15 2. Mengetahui stereotype Etnis Jawa terhadap Etnis Jawa
3. Mengetahui stereotype Etnis Jawa terhadap Etnis Tionghoa
4. Mengetahui stereotype Etnis Tionghoa terhadap Etnis Jawa
5. Mengetahui stereotype Etnis Tionghoa terhadap Etnis Tionghoa
D. Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1.
Dapat memberikan gambaran awal bagi para peneliti yang ingin
mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai stereotype antar etnis
dalam memaknai pernikahan campur antara Etnis Jawa dan Etnis
Tionghoa.
2.
Dapat memberikan tambahan wawasan bagi semua pihak yang
mempunyai perhatian terhadap permasalahan - permasalahan etnis,
khusunya mengenai stereotype antar etnis dalam memaknai pernikahan
campur antara Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa.
3.
Memberikan informasi tentang stereotype masing - masing etnis, dan
pernikahan campur. Yang nantinya tulisan ini diharapkan dapat
dijadikan salah satu literatur.
16 E. Kerangka Teori
Indonesia
adalah
negara
multietnis,
yaitu
negara
yang
masyarakatnya terdiri dari beragam suku bangsa. Beberapa diantaranya ialah
Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa. Dalam interaksi antar etnis ini, timbul
stereotype tentang masing - masing etnis. Stereotype dapat mempengaruhi
pikiran dan tingkah laku individu terhadap yang dikenai stereotype. Stereotype
merupakan suatu bentuk konstruksi sosial. Ini akan dilihat melalui teori
konstruksi sosial. Inti dari Teori konstruksi sosial ialah masyarakat sebagai
kenyataan objektif dan kenyataan subyektif. Yang mana proses konstruksi
sosial di dalam masyarakat berlangsung dalam suatu proses dengan tiga
momen yang simultan, yaitu eksternalisasi, internalisasi, dan objektivikasi.12
Margaret M. Poloma, dalam “Sosiologi Kontemporer”, menyatakan
konstruksi sosial adalah proses sosial melalui tindakan dan interaksi yang mana
individu menciptakan secara kontinyu suatu realitas yang dimiliki dan dialami
bersama para pelaku sosial secara subjektif.13
Peter L. Berger dalam “Tafsir Sosial atas Kenyataan. Risalah tentang
Sosiologi Pengetahuan" menyatakan bahwa “social reality is constructed”,
yaitu realitas sosial merupakan hasil ciptaan manusia buatan interaksi
12
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. “Tafsir Sosial atas Kenyataan. Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan", Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Jakarta, 1990, hal.xx 13
Margaret M. Poloma. “Sosiologi Kontemporer”, Rajawali. Jakarta, 1984 17 intersubyektif
melalui
konstruksi
sosial
terhadap
dunia
sosial
di
sekelilingnya.14
Realitas sosial (lebenswelt) mengandung pengertian “dunia” atau
“semesta” yang kecil, rumit, dan lengkap yang terdiri atas lingkungan fisik,
lingkungan sosial, interaksi antar manusia (intersubyektifitas) dan nilai - nilai
yang dihayati. Lebenswelt (terjemahan Inggris “life world” sedang terjemahan
Indonesia “dunia kehidupan”) merupakan realitas sosial orang - orang biasa
(orang awam, “the man in the street”). Dalam lebenswelt terdapat gejala –
gejala sosial yang musti dideskripsikan.15
Kenyataan didefinisikan sebagai suatu kualitas yang terdapat dalam
fenomena - fenomena yang kita akui sebagai memiliki keberadaan (being) yang
tidak
tergantung
kepada
kehendak
kita
sendiri
(Kita
tidak
dapat
meniadakannya dengan angan - angan). Kenyataan ini dibangun secara sosial.16
Kenyataan sosial adalah kenyataan ganda dari pada suatu kenyataan
tunggal. Kenyataan sehari - hari memiliki dimensi - dimensi objektif dan
subjektif. Kenyataan hidup sehari - hari merupakan kenyataan yang tertib dan
tertata. Kenyataan hidup sehari - hari ini sudah diobjektifikasi. Artinya, sudah
dibentuk oleh suatu tatanan objek - objek.17
14
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, Op.Cit, hal.xxi 15
Ibid, hal.xiv 16
Ibid, hal.1 17
Ibid, hal. 32 18 Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui
proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan objektif mempengaruhi kembali
manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan
subyektif). Masyarakat sebagai produk manusia, dan manusia sebagai produk
dari masyarakat. Kenyataan objektif dibangun untuk mengatur pengalaman pengalaman individu yang berubah - ubah, sehingga masyarakat terhindar dari
kekacauan dan dari situasi tanpa makna.18
Struktur - struktur objektif masyarakat dalam pandangan sosiologi
pengetahuan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann tidak pernah menjadi
produk akhir dari suatu interaksi sosial, suatu bentuk baru internalisasi yang
akan melahirkan suatu proses - proses eksternalisasi yang baru lagi.19
Kenyataan sosial selain menampilkan dimensi objektif (tradisi
Durkeimian) juga sekaligus memiliki dimensi subyektif. Karena apa yang
dinamakan masyarakat itu adalah buatan kultural dari masyarakat dari
masyarakat itu sendiri. Manusia sekaligus pencipta dari dunianya sendiri
(lingkungan fisik, organisasi sosial, serta sistem nilainya). Kenyataan sosial
tersirat dalam pergaulan sosial, yang diungkapkan secara sosial, melalui
tindakan sosial seperti berkomunikasi lewat bahasa, bekerja sama lewat bentuk
- bentuk organisasi sosial, dan sebagainya. Kenyataan sosial ini ditemukan
dalam pengalaman intersubyektif. Melalui intersubyektifitas itu dijelaskan
18
Ibid, hal. xxi 19
Ibid, hal. xxii 19 bagaimana kehidupan masyarakat dibentuk secara terus menerus. Konsep
intersubyektifitas merujuk pada dimensi struktur kesadaran umum ke
kesadaran individu dalam suatu kelompok khusus yang sedang saling
berintegrasi dan berinteraksi. Kenyataan sosial yang paling penting ditemukan
saat berkomunikasi atau berinteraksi tatap muka, yang mana hal itu merupakan
proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial tingkat mikro, dalam
kehidupan sehari - hari. Sedangkan kenyataan sosial lainnya merupakan
terjemahan atau perluasan dari kenyataan tatap muka itu.20
Dunia kehidupan sehari - hari tidak hanya diterima begitu saja sebagai
kenyataan oleh anggota masyarakat biasa dalam perilaku yang mempunyai
makna subyektif dalam kehidupan mereka. Ia merupakan satu dunia yang
berasal dari pikiran - pikiran dan tindakan mereka, dan dipelihara sebagai yang
“yang nyata” oleh pikiran dan tindakan itu.21
Stereotype yang ada dan tercipta antara Etnis Jawa dan Etnis
Tionghoa dilihat sebagai suatu realitas sosial hasil ciptaan manusia subyektif
melalui konstruksi sosial di sekelilingnya, yang mana kebenarannya bersifat
nisbi, dan berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh para pelaku
sosialnya. Dengan adanya stereotype - stereotype yang ada dan berkembang di
kedua etnis tersebut, akan diungkapkan seperti apa pandangan - pandangan
20
Ibid, hal. xv ‐ xvi 21
Ibid, hal.29 20 individu - individu Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa tentang pernikahan silang
antar etnis.
Hubungan antara teori ini dengan permasalahan yang sedang kita
bahas yaitu bahwa teori ini memberikan penjelasan mengenai konstruksi sosial
masyarakat dalam bentuk stereotype, yang mana stereotype tersebut pada
awalnya merupakan hasil ciptaan manusia yang sifatnya subjektif, kemudian
dieksternalisasi
di
dalam
masyarakat.
Kemudian
set el ah
mengalami
objektifikasi, diinternalisasi oleh individu - individu yang ada di dalam
masyarakat itu sendiri. Stereotype ini menjadi faktor yang disorot dalam
mencari tahu bagaimana pandangan dan pendapat informan mengenai
pernikahan antar etnis.
Asumsi dasar Teori Konstruksi Sosial yaitu :
(1) Realitas sosial merupakan hasil ciptaan kreatif manusia melalui konstruksi
sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya
(2) Hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran
itu timbul, bersifat berkembang dan dilembagakan,
(3) Kehidupan masyarakat itu dikonstruksi secara terus menerus
(4) Membedakan antara realitas dan pengetahuan. Realitas diartikan sebagai
kualitas yang terdapat di dalam kenyataan yang diakui memiliki kebenaran atau
being yang tidak bergantung kepada kehendak kita sendiri. Sementara
21 pengetahuan diartikan sebagai kepastian bahwa realitas itu nyata dan memiliki
karakteristik yang spesifik.22
Proses konstruksi sosial di dalam masyarakat berlangsung dalam
suatu proses dengan tiga momen yang simultan, yaitu eksternalisasi,
internalisasi, dan objektivikasi.23.
Eksternalisasi ialah proses penyesuaian diri dengan dunia sosio kultural sebagai produk manusia. Eksternalisasi terjadi di mana semua individu
yang mengalami mengalami sosialisasi secara tidak sempurna, bersama - sama
membentuk kenyataan sosial yang baru.24
Internalisasi ialah proses dimana individu mengidentifikasi diri
dengan lembaga - lembaga atau organisasi - organisasi sosial - kultural tempat
individu menjadi anggotanya Internalisasi terjadi dalam proses sosialisasi di
kehidupan masyarakat. Individu - individu di dalam perjalanannya di dunia
sosial mengalami proses sosialisasi untuk menjadi anggota organisasi sosial.
Proses sosialisasi manusia berlangsung dalam dua tahapan, yaitu tahap
sosialisasi primer dan tahap sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer dialami
individu pada masa kecil (masa pra sekolah dan masa sekolah). Sosialisasi
22
Ibid 23
Ibid, hal.xx 24
Ibid, hal.xxiii 22 sekunder dialami individu pada usia dewasa dan memasuki dunia publik dan
dunia pekerjaan dalam linigkungan sosialisasi yang lebih luas.25
Pada umumnya proses sosialisasi pada tahap primer dan tahap
sekunder berlangsung tidak sempurna. Karena kenyataan sosial yang komples
tidak dapat diserap dengan sempurna oleh setiap individu. Setiap individu
menyerap satu bentuk tafsiran tentang kenyataan sosial secara terbatas, sebagai
cermin dari dunia objektif. Ada hubungan simitris antara kenyataan sosial
objektif dan kenyataan sosial subjektif, namun keduanya tidak sama, tidak
identik. Dalam proses internalisasi, setiap individu mengalami proses yang
berbeda - beda dalam dimensi penyerapan. Ada yang lebih menyerap aspek
ekstern, dan ada yang lebih meyerap bagian intern. Tidak semua individu dapat
menjaga keseimbangan dalam penyerapan di mana dimensi objektif dan
dimensi subjektif dalam kenyataan sosial itu.26
Objektifikasi ialah proses interaksi sosial dalam dunia intersubyektif
yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Peter L. Berger
menerima adanya dunia institusi sosial obyektif. Usaha setiap masyarakat
untuk melembagakan pandangan atau pengetahuan mereka tentang masyarakat
mencapai tingkat generalitas yang paling tinggi, di mana dibangun suatu dunia
dalam arti simbolik yang universal, yang dinamakan pandangan hidup atau
ideologi. Pandangan hidup yang diterima umum ini dibentuk untuk menata dan
25
Ibid, hal.xxvi 26
Ibid, hal. xxii ‐ xxiii 23 memberi legitimasi pada konstruksi sosial yang sudah ada, serta memberikan
makna pada berbagai bidang pengalaman mereka sehari - hari. Berpartisipasi
dalam pandangan hidup tertentu adalah salah satu bentuk objektivasi dari
individu, yang menerima kenyataan objektif yang mempengaruhi hidupnya.27
Kenyataan hidup sehari - hari adalah kenyataan yang tertib dan tertata. Artinya,
sudah diobjektifikasi dan dibentuk oleh suatu tatanan objek - objek.28
Kemampuan ekspresi diri manusia mampu mengadakan objektivasi
(objectivation). Artinya ia memanifestasikan diri dalam produk - produk
kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen - produsennya maupun
bagi orang lain sebagai unsur - unsur dari dunia bersama. Objektivasi itu
merupakan isyarat - isyarat yang sedikit banyaknya tahan lama dari proses proses subjektif para produsennya, sehingga memungkinkan objektivasi itu
dapat dipakai sampai melampaui situasi tatap muka di mana mereka dapat
dipahami secara langsung.29
Satu kasus yang khusus tetapi sangat penting dari obyektivasi adalah
signifikasi, yakni pembuatan tanda - tanda oleh manusia. Sebuah tanda (sign)
dapat dibedakan dari objektivasi - objektivasi lainnya, karena tujuannya yang
eksplisit untuk digunakan sebagai isyarat atau indeks bagi makna - makna
27
Ibid, hal.xxiii ‐ xxiv 28
Ibid, hal.32 29
Ibid, hal.49 24 subyektif. Semua obyektivasi dapat digunakan sebagai tanda, meskipun mereka
semula tidak dibuat untuk maksud itu.30
Tanda - tanda dikelompokkan dalam sejumlah sistem. Maka ada
sistem tanda tangan, sistem gerak gerik badan yang berpola, sistem berbagai
perangkat artefak material, dan sebagainya. Tanda - tanda dan sistem - sistem
tanda merupakan objektivasi dalam arti dapat digunakan melampaui batas
ekspresi maksud - maksud subyektif “di sini dan sekarang”.31
Adanya stereotype yang berkembang tentang suatu etnis adakalanya
menjadi berperan, meskipun stereotype tersebut belum tentu benar adanya.
Dalam bukunya Social, Cultural, and Cognitive Factors in Stereotype
Formation Craig Mc Garty et all menjelaskan bahwa stereotype adalah
pikiran tertentu mengenai individu tertentu atau cara - cara tertentu dalam
melakukan
sesuatu.32
Dalam
lingkup
antar
kelompok,
stereotype
mencerminkan keyakinan tentang karakteristik anggota kelompok yang
dianggap berbeda dari karakteristik anggota kelompoknya. Stereotype
menyebabkan prasangka rasial ketika orang bereaksi emosional terhadap
suatu kelompok. Stereotype pada umumnya negatif.33
30
Ibid, hal.50 31
Ibid, hal.51 32
Craig Mc Garty, Vincent Y Yzerbyt, Russel Spears, “Social, Cultural, and cognitive factor in stereotype formation”, Cambridge University Press, 2002, hal.1 33
Don Operario, Susan T. Fiske, “Stereotypes: Content, Structures, Processes, and Context”, Malden MA : Blackwell, 2002, hal. 22‐44 25 Jadi stereotype pada dasarnya merupakan konsepsi mengenai sifat
atas suatu golongan yang berdasarkan prasangka subjektif dan sifatnya tidak
selalu tepat. Apabila suatu etnis memiliki citra dan stereotype yang lebih
banyak baiknya, maka kita cenderung memiliki perasaan dan pikiran yang
positif terhadap individu dari etnis tersebut. Yang selanjutnya pikiran dan
perasaan tersebut akan menentukan bagaimana kita akan bersikap dengan
individu tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila suatu etnis memiliki citra
dan stereotype yang lebih banyak kurang baiknya, maka kita cenderung
memiliki perasaan dan pikiran yang negatif terhadap individu dari etnis
tersebut. Yang selanjutnya pikiran dan perasaan tersebut akan megarahkan
bagaimana kita akan bersikap dengan individu tersebut. Ketika dihadapkan
dengan fenomena pernikahan campur atau pernikahan silang dengan etnis
tersebut, kita akan cenderung merespon secara negatif pula. Respon negatif
itu bisa berupa respon penolakan atau tidak menyetujui terhadap terjadinya
pernikan silang antar etnis. Meskipun pada kenyataannya apa yang terdapat
pada seorang individu termasuk sifat, karakter, watak, kepribadian, dan hal hal lain yang melekat dan ada pada dirinya tidak selalu sesuai dengan apa
yang di stereotypekan orang - orang berdasarkan asal etnis individu tersebut.
Berdasarkan hasil interview dengan responden - responden dalam
penelitian ini, individu - individu dari etnis Tionghoa sebagian besar
dipandang dan di stereotypekan sebagai Individu dengan penghargaan yang
tinggi terhadap kekayaan material, sehingga banyak diantara mereka yang
meraih kesuksesan finansial. Kesuksesan finansial tersebut tidak terlepas dari
26 karakter - karakter mereka yang hemat, perhitungan, dan teliti dalam
memegang, mengatur, dan mengembangkan uang. Yang mana tidak jarang
disalahartikan menjadi “pelit” oleh orang Jawa.
Individu - individu dari etnis Jawa memiliki penghargaan yang besar
terhadap kekuasaan dan kedudukan di dalam masyarakat. Yang mana
kekuasaan dan kedudukan tersebut menjadi suatu harga diri atau prestise
untuk mereka. Karena dengan kedudukan yang baik, di dalam kehidupan
bermasyarakat orang Jawa akan merasa bangga, meskipun secara finansial
dapat dikatakan pas - pasan. 27 DAFTAR
GAMBAR
1
:
BAGAN
TEORI
KONSTRUKSI
SOSIAL
Etnis Jawa
Eksternalisasi
Pikiran, pandangan, perasaan
Setuju atau tidak setuju terhadap
Proses Sosial, Interaksi
Konstruksi Sosial
menjadi landasan
dan perbuatan terhadap
pernikahan campur antara
Bergaul, Berbaur
Stereotype
dan mempengaruhi
etnis sendiri dan etnis lain
Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa
Internalisasi
Etnis Tionghoa
Sumber : Pemikiran Peneliti, 2013
28 F. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif. Dalam
penelitian ini dipilih menggunakan metode dan model penelitian kualitatif
karena data atau informasi yang ingin dicari dan ditemukan untuk menjawab
pertanyaan dalam rumusan masalah sifatnya unik, kompleks, merupakan
gejala sosial dalam arti bukan merupakan gejala fisis, tidak berbentuk angka,
namun berupa sikap, pendapat, dan pandangan. Gejala sosial ini tidak dapat
dianalisis dengan metode yang dipinjam dari ilmu eksakta, dalam pengertian
ini adalah metode dan model penelitian kuantitatif. Hal ini sesuai dengan
tulisan Soeprapto, S.U (2011) dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif
yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif merujuk pada sesuatu yang
berkaitan dengan kualitas dan biasanya tidak berbentuk angka seperti sikap,
tingkah laku, pendapat, dan sebagainya. Jadi penelitiaan kualitatif memiliki
arti sebagai jalan atau cara untuk mencari kembali sesuatu yang bukan berupa
angka, atau sesuatu yang tidak diangkakan.34
Dengan menggunakan metode dan model kualitatif dirasa juga akan
memudahkan penulis dalam mengeksplorasi konsep - konsep yang ada,
menggali data lebih dalam, memperkecil resiko tingkat kesalahan, lebih
fleksibel terhadap waktu, serta dapat dilakukan pengecekan ulang apabila
masih meragukan data yang diperoleh.35
34
Soeprapto, “Metode Penelitian Kualitatif”, Universitas Terbuka, Yogyakarta, 1986, hal.1.3 35
Ibid, hal.1.11 29 a. Lokasi Penelitian
Pemilihan wilayah penelitian dikhususkan dan dipilih di
Kotamadya Yogyakarta dengan pertimbangan objektif bahwa masyarakat
di Yogyakarta merupakan masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang
tinggi, yang tidak hanya dipadati orang Jawa dan orang Yogyakarta asli
saja. Yogyakarta sebagai daerah tujuan pelajar telah menyebabkan
Yogyakarta banyak didatangi oleh orang - orang dari luar daerah untuk
tinggal baik untuk sementara waktu maupun dalam jangka waktu yang
lama. Adanya heterogenitas ini diharapkan mampu memberikan jawaban
yang beragam dan memuaskan untuk menjawab rumusan masalah dalam
penelitian ini.
Alasan yang kedua dipilihnya Kotamadya Yogyakarta sebagai
daerah penelitian adalah karena pembauran masyarakat Tionghoa di
Kotamadya Yogyakarta yang cukup baik. Di sini memang ada kampung
pecinan di daerah Pajeksan dan sekitaran Jalan Ahmad Yani Mallioboro
Yogyakarta, namun dengan adanya kampung pecinan itu tidak lantas
membuat masyarakat Tionghoa mengasingkan diri dan tertutup untuk
interaksi - interaksinya dengan masyarakat Yogyakarta pada umumnya
dan masyarakat setempat pada khususnya. Mereka berbaur dan menjalin
hubungan dengan baik dengan warga - warga lainnya. Wilayah yang
dijadikan objek penelitian ialah wilayah dengan pembauran Tionghoa Jawa yang cukup baik karena kondisi tersebut memungkinkan terjadinya
30 pernikahan campur. Bila pembaurannya buruk, maka cenderung tidak
terjadi pernikahan campur
Sedangkan alasan terakhir atau alasan subjektif dipilihnya Daerah
Istimewa Yogyakarta sebagai wilayah penelitian adalah karena peneliti
telah lama tinggal di Yogyakarta, dan bersekolah di daerah yang terletak di
tengah - tengah kampung pecinan, sehingga sedikit banyak telah memiliki
gambaran awal bagaimana pola interaksi yang terjadi antara individu dari
suku Tionghoa dengan individu dari suku Tionghoa, serta interaksi yang
terjadi antara individu dari suku Tionghoa dengan individu dari suku Jawa.
Adanya teman atau relasi dari penulis dari kedua suku ini di Kota
Yogyakarta, diharapkan dapat membantu mempermudah jalannya proses
penelitian dalam mengumpulkan dan mencari informan, walaupun jumlah
teman atau relasi peneliti untuk kalangan suku Tionghoa belum sebanyak
jumlah teman atau relasi peneliti untuk kalangan suku Jawa.
b. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini ialah orang - orang dari etnis Jawa
dan etnis Tionghoa yang sudah menikah dan belum menikah, yang bekerja
atau tinggal di Kotamadya Yogyakarta. Jumlah informan yang
diwawancarai 16 orang, dengan rincian 8 orang informan dari etnis Jawa,
6 orang sudah menikah dan 2 orang belum menikah. Serta 8 orang dari
31 etnis Tionghoa, dengan rincian 6 orang sudah menikah, 1 orang sudah
menikah tetapi saat ini sedang bercerai, dan 1 orang tidak menikah.
Informan diteliti dengan cara setelah peneliti melakukan
pengamatan langsung dan wawancara tatap muka.
c. Cara Menentukan Informan
Pengambilan informan terhadap informan kunci (key informan)
dilakukan secara purposif. Informan kunci sudah ditentukan terlebih
dahulu siapa yang dapat diambil sebagai informan kunci berdasarkan
tujuan penelitian. Pemilihan terhadap informan kunci dari Etnis Jawa dan
Etnis Tionghoa dilakukan dengan melihat frekuensi tingkat interaksi
informan dengan individu atau kelompok di luar etnisnya. Informan kunci
dipilih yang memiliki tingkat interaksi yang tinggi dengan individu atau
kelompok di luar etnisnya, dengan tujuan agar informan yang
diwawancarai memiliki kekayaan wawasan dan pengetahuan yang luas
mengenai etnis lawan, serta memiliki pengalaman bergaul yang memadai
dengan etnis di luar etnisnya. Selanjutnya, informan diambil secara
snowball.
32 Adapun kriteria wajib untuk informan adalah sebagai berikut :
Untuk etnis Jawa :
1. Informan berasal dari etnis Jawa. Yang dimaksud dengan etnis Jawa
disini merujuk pada pengertian :
a. Individu yang lahir di wilayah Pulau Jawa, yang menggunakan
Bahasa Jawa sebagai bahasa daerahnya. Etnis Jawa mencakup
sebagian besar wilayah Pulau Jawa bagian Tengah dan Pulau Jawa
bagian Timur.
b. Individu yang memiliki garis keturunan / ayah dan ibu yang berasal
dari etnis Jawa.
2. Informan berumur minimal 17 Tahun, serta tidak terdapat batasan
untuk usia maksimal. Usia terbawah ditetapkan usia 17 tahun dengan
pertimbangan bahwa usia bahwa usia 17 Tahun merupakan usia
dimana seorang individu telah menuju kedewasaan dan telah
diperbolehkan untuk menikah, sebagaimana yang terdapat dalam
Undang Undang Pernikahan Indonesia. Dengan begitu, pada usia ini
seorang individu dinilai telah memiliki pandangan tentang pernikahan.
Untuk etnis Tionghoa :
1. Informan berasal dari etnis Tionghoa, yang meliputi Tionghoa Totok
dan Tionghoa Peranakan. Yang dimaksud dengan etnis Tionghoa
tersebut disini merujuk pada pengertian :
33 a. Individu yang lahir di wilayah negara Cina, yang masih
menggunakan bahasa mandarin / bahasa Cina sebagai bahasa sehari hari di dalam berinteraksi dengan keluarganya (Tionghoa totok)
b. Individu yang lahir di Jawa, namun memiliki garis keturunan (ayah,
dan atau ibu) yang berasal dari etnis Tionghoa, atau memiliki asal usul dari Tionghoa. (Tionghoa peranakan)
2. Informan telah berumur sekurang-kurangnya 17 Tahun, serta tidak
terdapat batasan untuk usia maksimal. Usia terbawah ditetapkan usia
17 tahun dengan pertimbangan bahwa usia bahwa usia 17 Tahun
merupakan usia dimana seorang individu telah menuju kedewasaan
dan telah diperbolehkan untuk menikah, sebagaimana yang terdapat
dalam Undang Undang Pernikahan Indonesia. Dengan begitu, pada
usia ini seorang individu dinilai telah memiliki pandangan tentang
pernikahan.
d. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua macam data yaitu
data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung
(first hand) melalui wawancara dengan informan dan observasi
langsung. Data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan dari literatur literatur yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
34 e. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan alat pedoman wawancara
penelitian yang berupa interview guide yang telah disusun rapi sebelum
terjun ke lapangan. Peneliti melakukan sendiri proses penelitian
lapangan dan observasi terhadap kondisi dan situasi obyek secara
langsung. Obyek yang diteliti didudukkan sebagai manusia yang
sejajar, bukan sebagai obyek yang lebih tinggi atau lebih rendah
kedudukannya
Pengumpulan data dilakukan dengan cara deskriptif dan dalam
kondisi yang alamiah (natural setting). Pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara
terhadap subjek penelitian, selain itu juga menggunakan data sekunder
yang didapat dari studi literatur dan juga dilakukan observasi. Peneliti
mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar,
sebagaimana adanya.
Untuk melakukan wawancara, disusun daftar pertanyaan (interview
guide) yang dititikberatkan untuk menjawab rumusan permasalahan
dalam penelitian. Hal ini untuk memperlihatkan adanya konsekuensi
bahwa penelitian yang dilakukan bersifat kasus yang datanya diperoleh
dari informan, dan bukan responden. Dengan demikian tidak digunakan
sejumlah kuesioner dan tidak diambil sejumlah sampel untuk
memperoleh datanya sebagaimana penelitian survey.
35 Wawancara dilakukan secara bebas terstruktur. Yang mana proses
wawancara dikarakterkan tidak ketat dan dapat dikembangkan sesuai
dengan situasi yang dihadapi di lapangan, namun tetap berpedoman
pada inti - inti pertanyaan penting yang terdapat pada interview guide
yang telah dirancang sebelumnya. Karena apabila dikarakterkan terlalu
saklek dikhawatirkan akan sulit digunakan untuk merumuskan gejala
sosial yang bervariasi dan sulit untuk diprediksi.
Guna mendapatkan informasi lebih mengenai stereotype dan
pernikahan silang antara Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa, ditempuh
dengan melakukan studi literatur. Literatur berasal buku - buku serta
skripsi milik alumnus Universitas Gadjah Mada yang memiliki
keterkaitan tema dengan penelitian ini. Buku - buku tersebut digunakan
untuk memperoleh data teori, menilik keadaan geografis maupun
keadaan penduduk Kota Yogyakarta, kondisi budaya, kebiasaan kebiasaan dan prinsip hidup Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa, serta
tinjauan historis dan kondisi hubungan antara kedua etnis tersebut.
Selain wawancara dan studi literatur, observasi terhadap informan
juga dilakukan untuk menggali data atau informasi yang tersembunyi
dan jawaban yang sulit diungkapkan oleh informan. Karena seringkali
sebuah pernyataan diikuti dengan ungkapan dan bahasa tubuh yang
menimbulkan makna berbeda dengan apa yang dicatat di dalam lembar
jawaban daftar pertanyaan. Yang diobservasi mencakup mimik wajah,
bahasa tubuh, perilaku, ungkapan atau ucapan dari informan.
36 Soeprapto, S.U (2011) dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif
menyatakan bahwa kenyataan sosial dapat diamati melalui bahasa
tubuh, perilaku, ungkapan, atau ucapan informan sendiri.36
f. Analisis Data
Setelah memperoleh data, dilakukan analisa data dari data
yang telah didapatkan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan
penelitian. Metode analisa digunakan untuk menguraikan masalah yang
ditarik dari bermacam - macam fakta. Metode yang digunakan bersifat
kualitatif yaitu secara deskriptif analitis. Prinsip metode ini adalah
peneliti berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian
dengan menganalisa dari hubungan sebab akibat dan faktor - faktor
tertentu yang berhubungan dengan apa yang sedang diteliti, yaitu untuk
mengetahui bagaimana cara pandang Orang Jawa dan Orang Tionghoa
yang memiliki stereotype tertentu atas dirinya sendiri dan stereotype
tertentu atas masing - masing etnis dalam memaknai pernikahan silang
antara Etnis Jawa dan Etnis Tionghoa.
Dalam penelitian ini untuk melakukan analisa data digunakan
cara induktif, yang berarti data - data yang didapat tidak digunakan
untuk membuktikan hipotesa, tetapi lebih pada pembentukan abstraksi.
36
Ibid, hal.1.7 37 Data - data yang telah diperoleh dikumpulkian dan dilakukan
pengelompokkan untuk memudahkan proses analisa data. Proses
analisa data dilakukan pada saat mulainya pengumpulan data di
lapangan dan terus berkelanjutan hingga penulisan laporan (on going
proses).
Tahapan - tahapan dalam analisis dan interpretasi data yaitu
tahap pertama mengumpulkan data - data lapangan yang berupa hasil
observasi dan hasil wawancara. Selanjutnya tahapan kedua dilakukan
pengolahan data berupa reduksi data dan kategorisasi data terhadap data
- data lapangan yang berupa hasil observasi dan hasil wawancara
tersebut. Reduksi data ialah mengurangi atau menyeleksi terhadap data
yang telah diperoleh peneliti, yang mana merujuk pada proses
penyempurnaan data.37 Miles dan Huberman (1994) sebagaimana yang
ditulis oleh Soeprapto,S.U dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif
menyatakan bahwa reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan,
pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan
transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan - catatan tertulis
selama di lapangan.38
37
Ibid, hal.7.4 38
Ibid 38 Setelah dilakukan reduksi data, tahapan ketiga yaitu
melakukan kategorisasi data setelah data direduksi. Data yang ada
dikelompokkan menurut kategori - kategori tertentu.
Setelah dilakukan pengolahan data berupa reduksi data dan
kategorisasi data, tahapan keempat yaitu dilakukan penyajian data yang
mana menyajikan data setelah diolah. Data disajikan dalam bentuk
tabel, kemudian diberi penjelasan teks naratif. Hal ini sebagaimana
dikemukakan oleh Soeprapto, S.U dalam bukunya Metode Penelitian
Kualitatif yang menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif,
penyajian data biasanya tersaji dalam bentuk teks naratif, dan tidak
jarang pula berbentuk tabel, sejauh yang ditabulasikan adalah
pernyataan naratif informan, yang mana sajiannya tidak dilakukan
dalam bentuk - angka. Tabulasi merupakan langkah yang dilakukan
peneliti dengan cara menyatukan data atau informasi yang diperoleh
dari masing - masing subyek penelitian ke dalam suatu daftar atau tabel,
sehingga menjadi lebih mudah dibaca. Dalam bentuk yang sederhana
penyajian data merupakan uraian deskriptif yang merupakan kumpulan
dari sejumlah data yang diperoleh peneliti dan siap untuk dianalisis
serta diinterpretasi untuk menuju pada kesimpulan - kesimpulan.39
Setelah melakukan penyajian data dalam bentuk tabel yang
dilengkapi teks narasi, tahap kelima ialah melakukan analisis data.
39
Ibid, hal.7.6 39 Analisis data dilakukan secara induktif, yaitu data yang telah didapat
dan diolah tidak digunakan untuk membuktikan hipotesa, tetapi lebih
kepada pembentukan abstraksi. Analisis data dilakukan secara
deskriptif analitis, yaitu data yang telah didapat dan diolah dianalisis
untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian dengan
menganalisa hubungan sebab - akibat dan factor - factor tertentu yang
berhubungan dengan apa yang diteliti.
Setelah melakukan analisis data, tahap keenam ialah
melakukan interpretasi data, yaitu mencari makna atas data - data yang
terlihat, setelah data tersebut dianalis.
Setelah melakukan interpretasi data, tahap ketujuh atau tahap
terakhir ialah melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi dari data
- data yang telah diinterpretasi. Penarikan kesimpulan atau verifikasi ini
merupakan tahap akhir dari serangkaian tahap analisis dan interpretasi
data yang ada. Penarikan kesimpulan merupakan langkah untuk
menangkap makna dari serangkaian sajian data, yang dituangkan dalam
bentuk kalimat yang ringkas, singkat, dan padat. Sementara verifikasi
meunjuk pada upaya meninjau kembali hasil penelitian.40
Skema analisis dan interpretasi data dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
40
Ibid, hal. 7.12 40 G A M B A R
2
:
A N A L I S I S
Pengolahan data
Hasil
pengamatan
Hasil
wawancara
Data
Reduksi
lapangan
data
Kategorisasi
data
Penyajian
data
dalam
bentuk
tabel
dan
teks
D A N
I N T E R P R E T A S I
Induktif
- Data tidak digunakan untuk membuktikan hipotesis,
tetapi lebih kepada pembentukan abstraksi.
Analisis -Data dikumpulkan dan dikelompokkan.
data
Interpretasi
data
Deskriptif Analitis
- Menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian dengan
menganalisa hubungan sebab akibat dan faktor - faktor
tertentu yang berhubungan dengan apa yang diteliti.
Sumber : Pemikiran Penulis, 2013
41 D A T A
Kesimpulan
dan
verifikasi
Download