Damai - Pdt. Budi Asali,M.Div.

advertisement
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
KEBAKTIAN
PERSEKUTUAN ‘GOLGOTA’
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 2 September 2007, pk 17.00
PDT. BUDI ASALI, M. DIV.
DAMAI
Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan
belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan
mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun
ringan.’”.
Yoh 14:27 - “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan
kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia
kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.
Ada sesuatu yang diinginkan oleh setiap manusia, dan itu adalah damai dalam hati.
Baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, pasti
menginginkan untuk memiliki damai dalam hati.
Tetapi adalah suatu fakta bahwa pada umumnya manusia justru tidak memiliki
damai dalam hatinya.Yang ada dalam dirinya adalah kekuatiran, kekecewaan,
kecemasan, ketakutan, kesumpekan, hati yang kosong, dan sebagainya.
Illustrasi: badut dan pendeta / dokter.
Bdk. Amsal 14:13 - “Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat
berakhir dengan kedukaan”.
I) Cara-cara yang banyak ditempuh manusia untuk mencari damai.
Manusia yang tidak memiliki damai itu lalu berusaha untuk mendapatkan damai,
dan mereka berusaha dengan bermacam-macam cara, seperti:
1) Manusia berusaha untuk bebas.
1
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Mereka berpendapat bahwa yang menyebabkan mereka tidak bahagia / tidak
damai adalah batasan-batasan dalam hidup mereka.
• Di sekolah, guru-guru / dosen-dosen membatasi.
• Di rumah, orang tua membatasi.
• Di tempat kerja, boss / atasan membatasi.
• Dalam negara, sebagai anggota masyarakat, undang-undang membatasi.
• Di gereja dan dalam kehidupan sehari-hari, Firman Tuhan membatasi.
Mereka mengira bahwa ini yang menyebabkan hidup mereka tidak enak, tidak
bahagia, tidak damai. Mereka mengira bahwa kalau semua batasan itu
dibuang, maka hidup menjadi senang, bahagia, dan damai. Jadi, mereka lalu
membuang semua batasan-batasan itu. Mereka ingin bebas, dalam segala
hal. Hidup semau gue, free sex, dan sebagainya.
Tetapi betulkah hidupnya lalu menjadi enak, senang, bahagia, dan damai? Di
negara-negara barat, dimana kebebasan jauh lebih besar dari di Indonesia,
justru tambah banyak orang yang sakit jiwa. Seorang dokter mengatakan
kepada saya, bahwa tak ada obat penenang / obat tidur yang tidak laku!
Bdk. Pkh 2:10-11 - “(10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang
dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab
hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih
payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan
tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah,
lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang
tak ada keuntungan di bawah matahari”.
2) Manusia berusaha untuk mengejar kepandaian.
Mereka mengira bahwa yang menyebabkan hidup itu tidak enak, tidak
bahagia, tidak damai, adalah karena mereka tidak mempunyai kepandaian.
Mereka mengira bahwa kalau mereka pandai, mempunyai banyak
pengetahuan / ilmu, maka mereka akan senang, bahagia, dan damai. Lalu
mereka belajar / sekolah mati-matian. Apa hasilnya? Mereka menjadi orangorang yang pinter, yang kepalanya penuh, tetapi hatinya kosong! Saya yakin
bahwa saudara mengenal / mengetahui banyak orang-orang yang sangat
pinter dan terpelajar, tetapi hidupnya sama sekali tidak bahagia / tidak damai!
Bdk. Pkh 1:17-18 - “(17) Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami
hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari
bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, (18) karena di dalam banyak
hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan,
memperbanyak kesedihan”.
Catatan: tentu yang dimaksud hikmat dan pengetahuan di sini, adalah hikmat
dan pengetahuan duniawi / sekuler.
3) Manusia berusaha untuk menjadi populer / kaya.
Mereka mengira bahwa mereka tidak bahagia / tidak damai, karena mereka
tidak terkenal, dan mereka miskin. Bagi orang-orang yang tidak terkenal dan
miskin, segala sesuatu repot. Mau sekolah repot, mau cari pacar repot, mau
2
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
cari kerja repot. Jadi mereka lalu berusaha untuk menjadi terkenal dan kaya.
Betulkah setelah menjadi terkenal dan kaya mereka menjadi senang, bahagia
dan damai? Saya yakin saudara juga tahu / kenal orang-orang yang terkenal /
kaya yang sama sekali tidak bahagia / tidak damai!
Mohammad Ali, siapa yang lebih terkenal dan kaya dari dia? Apakah dia
damai? Dalam suatu percakapan dengan George Foreman, ia pernah
mengatakan bahwa ia tidak mempunyai damai, dan Foreman menginjili dia,
dengan mengatakan bahwa Ali harus datang kepada Kristus untuk bisa
mendapatkannya.
Merlyn Monroe, bintang film, sex bom yang paling top pada tahun 1950an. Ia
bintang film pertama yang berani main telanjang. Ia cantik, terkenal, dan pasti
kaya. Tetapi ia mati bunuh diri!
Bdk. Pkh 2:4-11 - “(4) Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan
bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; (5) aku
mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya
dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; (6) aku menggali bagiku kolam-kolam
untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda. (7) Aku membeli budakbudak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku;
aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang
pernah hidup di Yerusalem sebelum aku. (8) Aku mengumpulkan bagiku juga
perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku
biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak
manusia, yakni banyak gundik. (9) Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan
lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku;
dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. (10) Aku tidak merintangi
mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari
sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah
buah segala jerih payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah
dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan
jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring
angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari”.
4) Manusia berusaha untuk mencari kesenangan-kesenangan.
Mereka berpikir bahwa hati yang tidak bahagia / tidak damai ini harus dihibur.
Dan itu bisa dilakukan dengan macam-macam hal, seperti: pesta, makan,
diskotik, film / bioskop, shopping, jalan-jalan / piknik, sex, dan bahkan dengan
narkoba!
Memang pada waktu mereka sedang melakukan hal-hal itu, mungkin hatinya
bisa senang, tetapi kesenangan itu hanya kesenangan daging / lahiriah, yang
bersifat semu dan sementara! Pada waktu semua itu selesai, ketidak-damaian
/ kekosongan hati itu kembali lagi.
Bdk. Pkh 2:8,10-11 - “(8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas,
harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan
dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni
banyak gundik. ... (10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang
dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab
3
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih
payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan
tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah,
lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang
tak ada keuntungan di bawah matahari”.
5) Manusia berusaha untuk mencari kesibukan.
Mereka merasakan bahwa kalau mereka sedang menganggur, maka ketidakdamaian, kegelisahan, kesumpekan / kekosongan hati itu makin terasa.
Karena itu mereka lalu berpikir untuk mengatasinya dengan terus menerus
menyibukkan diri.
Mereka bisa menyibukkan diri dengan macam-macam hal, seperti:
• bekerja / sekolah / belajar.
• main game.
• olah raga.
• membaca buku, seperti novel, majalah, buku silat, dan sebagainya.
• keluyuran.
Bisakah hal-hal ini memberi kebahagiaan / kedamaian? Tidak, orang Jawa
bilang paling-paling mereka ‘keslimur’ untuk sementara. Begitu mereka
nganggur, ketidak-damaian dsb itu datang kembali.
Secara sadar atau tidak, setiap manusia pernah melakukan cara-cara tersebut di
atas untuk memperoleh damai. Tetapi cara-cara itu tidak mungkin memberikan
damai yang sejati. Untuk bisa mendapatkan damai yang sejati, mula-mula kita
perlu tahu apa yang menjadi sumber / menyebabkan ketidak-damaian itu.
II) Mencari sumber ketidak-damaian dan usaha untuk membereskannya.
1) Sumber ketidak-damaian.
Apa sebabnya manusia menjadi tidak damai? Apakah pada saat Allah
menciptakan manusia, sudah demikian halnya? Tidak! Allah menciptakan
manusia tanpa penderitaan, baik fisik maupun batin.
Kej 1:31 - “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat
baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam”.
Jadi, mula-mula semua baik, manusia bahagia dan damai. Tetapi dalam Kej 3,
dosa lalu masuk ke dalam dunia, dan lalu apa akibatnya? Mereka putus
hubungan dengan Allah, karena Allah yang suci itu tak bisa bersekutu dengan
manusia yang berdosa! Dan putusnya hubungan dengan Allah ini
menyebabkan mereka lalu mengalami ketakutan, rasa malu, dan segala
sesuatu dalam hati yang bersifat negatif! Manusia memang direncanakan
untuk hidup bersekutu dengan Allah, dan selama manusia hidup sesuai
dengan rencana itu, mereka bahagia dan damai. Tetapi begitu mereka hidup
tidak sesuai dengan rencana itu, mereka akan kehilangan damai.
Illustrasi: sepeda motor direncanakan oleh pabriknya menggunakan ban yang
diisi angin. Kalau kita menggunakannya sesuai rencana itu, maka akan enak.
4
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Tetapi kalau kita menggunakannya tidak sesuai dengan rencana itu, misalnya
kita isi dengan semen, supaya tidak bisa gembos, maka tidak akan enak!
Kej 3:6-10 - “(6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk
dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena
memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan
diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan
suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan
mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara
dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN
Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,
bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara
pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu
dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’ (10) Ia menjawab: ‘Ketika
aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena
aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’”.
Yes 48:22 - “‘Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!’ firman
TUHAN”.
Yes 57:20-21 - “(20) Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang
berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan
sampah dan lumpur. (21) Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,’ firman
Allahku”.
Amsal 28:1 - “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi
orang benar merasa aman seperti singa muda”.
Im 26:14-17,36-37 - “(14) ‘Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan
tidak melakukan segala perintah itu, (15) jikalau kamu menolak ketetapanKu
dan hatimu muak mendengar peraturanKu, sehingga kamu tidak melakukan
segala perintahKu dan kamu mengingkari perjanjianKu, (16) maka Akupun
akan berbuat begini kepadamu, yakni Aku akan mendatangkan kekejutan
atasmu, batuk kering serta demam, yang membuat mata rusak dan jiwa merana;
kamu akan sia-sia menabur benihmu, karena hasilnya akan habis dimakan
musuhmu. (17) Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan
dikalahkan oleh musuhmu, dan mereka yang membenci kamu akan menguasai
kamu, dan kamu akan lari, sungguhpun tidak ada orang mengejar kamu. ... (36)
Dan mengenai mereka yang masih tinggal hidup dari antaramu, Aku akan
mendatangkan kecemasan ke dalam hati mereka di dalam negeri-negeri musuh
mereka, sehingga bunyi daun yang ditiupkan anginpun akan mengejar mereka,
dan mereka akan lari seperti orang lari menjauhi pedang, dan mereka akan
rebah, sungguhpun tidak ada orang yang mengejar. (37) Dan mereka akan jatuh
tersandung seorang kepada seorang seolah-olah hendak menjauhi pedang,
sungguhpun yang mengejar tidak ada, dan kamu tidak akan dapat bertahan di
hadapan musuh-musuhmu”.
5
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Ul 28:15,65-67 - “(15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN,
Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya,
yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang
kepadamu dan mencapai engkau: ... (65) Engkau tidak akan mendapat
ketenteraman di antara bangsa-bangsa itu dan tidak akan ada tempat berjejak
bagi telapak kakimu; TUHAN akan memberikan di sana kepadamu hati yang
gelisah, mata yang penuh rindu dan jiwa yang merana. (66) Hidupmu akan
terkatung-katung, siang dan malam engkau akan terkejut dan kuatir akan
hidupmu. (67) Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam
sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi
sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat
matamu”.
Ratapan 1:20 - “Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa
gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui
batas aku memberontak; di luar keturunanku dibinasakan oleh pedang, di
dalam rumah oleh penyakit sampar”.
Yes 59:8 - “Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak
ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang
yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai”.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yes 59:8): “‘The way of peace they know
not.’ - whether in relation to God, to their own conscience, or to their fellow-men
(Isa. 57:20-21)” (= ).
Barnes’ Notes (tentang Yes 59:8): “‘The way of peace they know not.’ The
phrase ‘way of peace’ may denote either peace of conscience, peace with God, peace
among themselves, or peace with their fellow-men. Possibly it may refer to all these;
and the sense will be, that in their whole lives they were strangers to true
contentment and happiness. From no quarter had they peace, but whether in
relation to God, to their own consciences, to each other, or to their fellow-men, they
were involved in continual strife and agitation” (= ).
Wycliffe Bible Commentary (tentang Yes 59:8): “Peace with others demands a
loving good will of which the ungodly are incapable; nor can they ever enjoy
contentment or peace in their own hearts” (= ).
Yer 8:14-15 - “(14) Mengapakah kita duduk-duduk saja? Berkumpullah dan
marilah kita pergi ke kota-kota yang berkubu dan binasa di sana! Sebab
TUHAN, Allah kita, membinasakan kita, memberi kita minum racun, sebab kita
telah berdosa kepada TUHAN. (15) Kita mengharapkan damai, tetapi tidak
datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada
hanya kengerian!”.
Yer 12:5 - “‘Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau
telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan
jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan
engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?”.
6
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Yer 12:12-13 - “(12) Para pembinasa telah datang melintasi segala bukit gundul
di padang gurun; sebab pedang TUHAN mengamuk makan dari ujung negeri
yang satu ke ujung lain; tidak ada damai bagi segala yang hidup. (13) Mereka
telah menabur gandum, tetapi yang dituai adalah semak duri; mereka telah
bersusah payah, tetapi usaha mereka tidak berguna; mereka malu karena hasil
yang diperoleh mereka, akibat dari murka TUHAN yang menyala-nyala.’”.
Yer 16:5 - “Sungguh, beginilah firman TUHAN:
perkabungan, dan janganlah pergi meratap dan
dengan mereka, sebab Aku telah menarik damai
pada bangsa ini, demikianlah firman TUHAN,
kasihanKu”.
Janganlah masuk ke rumah
janganlah turut berdukacita
sejahtera pemberianKu dari
juga kasih setia dan belas
2) Usaha membereskan sumber ketidak-damaian itu.
Kalau sekarang kita sudah mengetahui bahwa sumber ketidak-damaian itu
adalah dosa, maka kita harus berusaha untuk membereskannya. Selama
dosa itu belum beres, maka ketidak-damaian itu tetap ada.
Illustrasi: pegawai bunuh bebek, menjadi takut kepada pegawai yang lain
selama dosa itu belum dibereskan.
Sekarang, bagaimana caranya?
Dosa itu tidak bisa dibereskan dengan:
a) Membenarkan diri / tak mengakui dosa tersebut.
Lihat Adam dan Hawa yang melakukan hal ini. Itu tidak akan
membereskan dosa mereka.
Bdk. Maz 32:1-5 - “(1) Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah
orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! (2)
Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN,
dan yang tidak berjiwa penipu! (3) Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku
menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; (4) sebab siang malam
tanganMu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti
oleh teriknya musim panas. Sela (5) Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan
kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengaku
kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni
kesalahan karena dosaku. Sela”.
b) Menutupinya dengan perbuatan baik.
Illustrasi: Menutupi dosa dengan perbuatan baik, bisa diibaratkan seperti
orang yang berkeringat, sehingga bau, lalu menutupinya dengan minyak
wangi!
c) Menutupinya dengan segala macam kesenangan, kekayaan, kesibukan
dan sebagainya.
7
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Sumber ketidak-damaian itu harus dibereskan. Kalau dosa beres, maka
hubungan dengan Allah menjadi baik, dan kita akan damai. Tetapi sekarang,
persoalannya jadi sukar, karena tidak ada orang yang bisa membereskan
dosanya sendiri!
Illustrasi: monyet yang masuk rawa tak bisa mengeluarkan dirinya sendiri,
kecuali seseorang di luar menarik dia.
Jadi, jelaslah bahwa kalau saudara mau memiliki damai dengan cara dan
usaha saudara sendiri, maka saudara pasti gagal, karena bagaimanapun
juga, saudara tidak akan bisa membereskan dosa saudara sendiri.
III) Cara yang Allah sendiri berikan.
Tetapi puji Tuhan, Dia telah menyediakan cara / jalanNya! Pada Natal yang
pertama Allah telah menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, dan Ia telah menderita
dan mati di salib untuk menebus / membereskan dosa-dosa kita, yang
merupakan penyebab putusnya hubungan kita dengan Allah, dan sekaligus
merupakan penyebab ketidak-damaian tersebut.
Di atas kayu salib, Yesus berseru: ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30), untuk
menunjukkan bahwa dosa-dosa kita, semuanya telah dibereskan!
Nah saudara, Yesus sudah melakukan bagianNya, sekarang apa yang harus kita
lakukan supaya damai yang telah Dia sediakan itu bisa menjadi milik kita?
1) Kita harus datang / percaya kepada Yesus.
Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban
berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang
dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu
akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan
bebanKupun ringan.’”.
Perhatikan beberapa hal:
• Yesus mengundang orang yang letih lesu, dan berbeban berat, orangorang yang menderita, yang tidak bahagia, yang gelisah, yang tidak damai
untuk datang kepadaNya. ‘Marilah kepadaKu’! Dan Ia berjanji untuk
memberikan kelegaan / damai kepada mereka yang mau datang
kepadaNya! Mengapa orang yang datang kepada Yesus bisa mengalami
damai? Karena dengan datang kepada Yesus, mereka diperdamaikan
dengan Allah.
Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam
damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus’.
• Ingat bahwa Ia berkata ‘Marilah kepadaKu’. Bukan datang kepada
pendeta, penginjil, gereja, baptisan, orang Kristen dsb, tetapi datang
kepada Yesus sendiri!
8
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
• Undangan ini berlaku untuk semua orang, karena Yesus mengatakan
‘Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat’.
Illustrasi: seorang gadis diundang ke pesta dansa, dan waktu mau
mengambil rok untuk pesta itu ia bertemu dengan pendetanya, yang lalu
memberitakan Injil kepadanya. Ia menjadi marah, dan tetap pergi ke pesta.
Selesai pesta ia pulang, tetapi tidak merasakan damai. Kata-kata
pendetanya terus mendengung di telinganya. Ia lalu datang kepada
pendetanya, dan ia disuruh untuk percaya dan menerima Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamatnya. Ia bertanya: Apa Yesus mau menerima aku,
aku terlalu banyak dosa. Pendeta itu berkata: Datanglah sebagaimana
adamu, Ia mau menerima kamu.
Ia pulang, lalu berdoa kepada Yesus, dan menerimaNya sebagai Tuhan
dan Juruselamatnya, dan ia mendapatkan damai dari Tuhan.
Ia lalu mengambil pena dan kertas dan menulis syair, yang lalu menjadi
lagu yang berjudul ‘Just as I am’ / ‘Sebagaimana Adaku’.
Saudara yang kekasih, lakukan apa yang dilakukan gadis itu. Datanglah
kepada Kristus, dan saudara akan mendapatkan damai yang sejati.
Ayat-ayat pendukung:
Yes 28:16 - “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: ‘Sesungguhnya, Aku
meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu
penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan
gelisah!”.
1Pet 2:6 - “Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku
meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal,
dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’”.
2) Kita harus taat kepada Yesus.
Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban
berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang
dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu
akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan
bebanKupun ringan.’”.
Perhatikan ay 29nya. Memikul kuk berarti kita harus mentaati Dia! Kalau
setelah datang kepada Yesus, kita tidak mau mentaati Dia, maka hubungan
dengan Allah, sekalipun tidak putus, tetapi menjadi renggang. Dan ini
menyebabkan kita kembali tidak damai!
Yes 48:18 - “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka
damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan
kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang
tidak pernah berhenti”.
Im 26:3,6 - “(3) Jikalau kamu hidup menurut ketetapanKu dan tetap berpegang
pada perintahKu serta melakukannya, ... (6) Dan Aku akan memberi damai
sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak
dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu,
dan pedang tidak akan melintas di negerimu”.
9
Damai – Pdt. Budi Asali, M.Div.
Yes 60:1-2,15,17 - “(1) Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang,
dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (2) Sebab sesungguhnya, kegelapan
menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN
terbit atasmu, dan kemuliaanNya menjadi nyata atasmu. ... (15) Sebagai ganti
keadaanmu dahulu, ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi
seorangpun, sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi,
menjadi kegirangan turun-temurun. ... (17) Sebagai ganti tembaga Aku akan
membawa emas, dan sebagai ganti besi Aku akan membawa perak, sebagai ganti
kayu, tembaga, dan sebagai ganti batu, besi; Aku akan memberikan damai
sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu”.
Kesaksian: saya dulu sering merasa hati kosong, seperti ada pisau mengiris-iris,
padahal kalau dilihat hidup saya seharusnya bahagia. Tetapi setelah saya datang
kepada Yesus, saya mempunyai damai!
Maukah saudara datang / percaya kepada Yesus, dan mentaatiNya? Tuhan
memberkati saudara.
-AMINPengutipan dari artikel ini harus mencantumkan:
Dikutip dari
http://www.geocities.com/thisisreformedfaith/artikel/pi_damai.html
10
Download