perbandingan konsep ketuhanan kristen dengan

advertisement
PERBANDINGAN KONSEP KETUHANAN KRISTEN
DENGAN KETUHANAN SAPTA DARMA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Moch. Agus Khoerul Ikhsan
NIM: 1112032100031
JURUSAN STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H./2017 M.
i
ii
iii
ABSTRAK
Moch. Agus Khoerul Ikhsan
Perbandingan Konsep Ketuhanan Kristen dengan Ketuhanan Sapta
Darma
Sejak dulu hingga kini keingintahuan manusia tentang Tuhan tidak
pernah berhenti. Tuhan masih merupakan misteri terbesar dalam kehidupan
manusia yang belum pernah terpecahkan, sehingga konsep Ketuhanan
merupakan bagian paling penting dalam setiap agama, termasuk Sapta Darma
dan Kristen yang penulis angkat menjadi skripsi ini.
Sapta darma dipilih karena merupakan salah satu bahasan yang sangat
menarik dan sapta darma juga salah satu dari warisan budaya nenek moyang
bangsa Indonesia yang sangat berharga dan sudah seharusnya kita lestarikan.
Adapun Kristen dipilih sebagai perbandingan karena merupakan salah satu
agama terbesar di dunia dan memiliki konsep ketuhanan yang cukup kompleks.
Objek yang diteliti adalah semua buku yang bertemakan konsep
ketuhanan Kristen dan Sapta Darma. Selain itu, untuk melengkapi penelitian,
penulis juga mengkaji buku-buku perihal materi pendukung lainnya, serta
dilakukan juga wawancara dengan tokoh dan penganut Sapta Darma.
Penulis menggunakan jenis penelitian studi pustaka dengan pendekatan
teologis, serta metode wawancara langsung terhadap objek penelitian, yang
dalam hal ini Sapta Darma, bahkan penulis juga turut serta mengikuti
peribadatan mereka guna memperkaya pengetahuan dasar serta menghayatinya.
Selanjutnya, digunakan analisis data kualitatif komparatif dengan teknik
pelaporan yang bersifat deskriptif.
Setelah melakukan penelitian dan wawancara, akhirnya diketahuilah
bahwa dari masing-masing konsep ketuhanan yang ada pada Sapta Darma, ada
juga di konsep ketuhanan Kristen. Namun, tentu lebih banyak perbedaannya.
Maka, konsep ketuhanan setiap agama tidak bisa digeneralisir. Karena
menyederhanakan (menyamaratakan) padangan mereka berarti menghapuskan
identitas dan keragaman pandangan dari masing-masing agama.
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang senantiasa
melimpahkan rahmat serta karunianya dalam segala hal, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Sekripsi ini dengan judul “Perbandingan Konsep Ketuhanan
Kristen dengan Ketuhanan Sapta Darma”. Sholawat serta selam selalu
terlimpah curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya,
para Sahabatnya, serta kepada umatnya hingga akhir zaman. Amin ya rabbal
alamin.
Penulisan skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Strata Satu pada Program Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Jakarta. Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat
banyak kesan dan pelajaran dalam setiap proses yang amat panjang dalam
menyelesaikannya. Selesainya skripsi ini bukanlah semata-mata hasil kerja keras
penulis sendiri. Penulis menyadari, skripsi ini tidak akan selesai jika tidak ada
dukungan dari berbagai pihak.
Maka dari itu sudah selayaknya penulis ingin memberikan ucapan terima
kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang turut membantu dalam
setiap proses untuk menyelesaikan skripsi ini. Baik berupa dukungan, bantuan,
serta ucapan semangat yang tiada henti hentinya kepada penulis. Oleh karena itu
setelah rampungnya penulisan skripsi ini, penulis ingin menyebutkan beberapa
nama yang teramat berkesan dihati penulis, yaitu:
1.
Dr. Hamid Nasuhi, MA selaku dosen pembimbing yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, yang tidak pernah bosan
memberikan saran dan motivasi, bimbingan, do’a, dan kepercayaan yang
sangat berarti bagi penulis.
2.
Dr. Media Zainul Bahri, MA, dan Dra. Halimah Mahmudy, MA, selaku ketua
dan sekretaris jurusan Setudi Agama-agama, yang telah membantu dan
memberikan masukan serta saran yang bermanfaat bagi penulis.
v
3.
Prof. Dr. Masri Mansoer, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.
Segenap jajaran dosen dan guru besar Setudi Agama-agama, Dr. Hamid
Nasuhi, MA, Ismatu Ropi, Ph.D, Dr. Ahmad Ridho, DESA, Pros. Dr. Kautsar
Azhari Noer, Prof. Dr. Ridwan Lubis, MA, Dra. Hermawati, MA, Drs. M.
Nuh Hasan, MA, Dr. Amin Nurdin, MA, Dr. Abdul Muthalib dan Dra. Siti
Nadroh, MA, yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi
penulis.
5.
Staf dan karyawan Perpustakaan Fakultas, Perpustakaan Utama Uin Syarif
Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Nasional, yang telah membantu
menyediakan referensi yang dibutuhkan penulis.
6.
Persatuan Warga Sapto Darmo (PERSADA) Kabupaten Pemalang terkhusus
untuk Bapak Rahmat Purwantoro selaku Ketua PERSADA Jawa Tengah, dan
juga kepada Bapak Sarnoto Selaku Ketua PERSADA Kabupaten Pemalang,
serta kepada Saudara Anindita Purwira Nugraha, dan Bapak Susilo, yang
telah memberikan banyak kontribusinya kepada penulis untuk menyelesaikan
tugas akhir.
7.
Keluarga Besarku, Ayahanda tercinta Moch Idris Musthofa, Almarhum
Ibunda tercinta Siti Khotimah yang menjadikan pacuan penulis untuk tidak
patah semangat. Kakak-kakaku Siti Muzaroah, Moch. Subhan, Siti Nurhayati,
Siti Adawiyah, Siti Nikmatun Hasanah, Moch. Agus Syukron Musthofa, Siti
Naela Nathofa Nitof, dan Moch. Agus Hamid Musthofa yang selalu
membantu dan memberi dukungan baik doa maupun materi.
8.
Tak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada Keluarga besar Hajah
Tsamrotul Fuaddiyah dan Almarhum Bapak H. Solehudin, serta kepada M.
Sultoni, Nur Etikah, Nur Afidah, Nur hikmawati, dan Nur Azizah Selaku
Keluarga Kedua penulis yang selalu memberikan dukungan baik motifasi,
saran dan Doa.
9.
Serta tidak terlewatkan ucapan banyak terima kasih kepada kekasih tercinta
Qurotul Aeni yang sudah 8 Tahun menemani penulis dalam suka maupun
vi
duka. Dan untuk semua Sahabat-sahabatku Ardiansyah, Haris, Eki, Adel,
Heri yang banyak berkontribusi dalam menyelesaikan skripsi ini, dan
keluarga besar Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemalang - Jakarta (IMPP-J)
Wildan Dzil Afkar, Nofal Ulinuha, Sinatria Abdul Jabar, Aslakhul Fathi,
Ulya Azmi, dan para senior IMPP-J Zaenun Numan, Agus Syukur, Tamam
Al Khadik, dan Zuhdan Ali yang tiada bosan memberikan semangat dan
menemani hari-hari penulis penuh dengan keceriaan.
10. Teman-teman Setudi Agama-agama angkatan 2012, yang telah memberikan
semngat, kritikan, saran dan motifasi kepada penulis selama menimba ilmu di
Fakultas Ushuluddin.
11. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) Simpati yang telah memberikan
arti pengalaman kerja sama tim di desa kecil Leuweung Kolot Kabupaten
Bogor
Semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua yang
membacanya, Kritik dan saran akan penulis terima dengan lapang dada.
Jakarta, 2 Mei 2017
Moch. Agus Khoerul Ikhsan
vii
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................
i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ..........................................
ii
LEMBAR PERNYATAAN .........................................................................
iii
ABSTRAK ...................................................................................................
iv
KATA PENGANTAR .................................................................................
v
DAFTAR ISI ................................................................................................ viii
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................
1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 11
C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 12
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 12
E. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 12
F. Metode Penelitian .................................................................... 13
G. Sistematika Penulisan .............................................................. 14
BAB II: KONSEP KETUHANAN KERISTEN
A. Sejarah Kristen .......................................................................... 15
B. Konsep Ketuhanan Kristen ....................................................... 22
BAB III: KONSEP KETUHANAN SAPTA DARMA
A. Sejarah Sapta Darma ................................................................. 51
B. Ajaran Pokok Sapta Darma....................................................... 58
C. Konsep Ketuhanan Sapta Darma .............................................. 65
viii
BAB IV: ANALISIS PERBANDINGAN
A. Analisis Persamaan Konsep Ketuhanan Keristen Dan
Sapta Darma. ............................................................................ 72
B. Analisis Perbedaan Konsep Ketuhanan Keristen Dan
Sapta Darma.. ............................................................................ 79
BAB V: PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 87
B. Saran ........................................................................................ 88
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 90
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam dunia ini ada banyak hal yang dapat kita kenal dan ketahui,
dan hal ini sejalan dengan banyaknya hal yang ingin kita kenal dan ketahui
juga. Ini dibuktikan dengan adanya banyak fakultas dan akademi pada
perguruan tinggi, di mana orang dapat berkecimpung memuaskan hatinya
mengadakan penyelidikan pada bidang yang ia gemari.
Sekarang ini manusia tengah mencurahkan perhatiannya kepada ilmu
pengetahuan modern, dunia dan segala rahasianya. Usaha mengetahui hal-hal
tersebut hanya mungkin dapat dilakukan dengan cara mengerahkan segenap
tenaga dan pikiran. Tanpa itu tidak mungkin kita dapat mendapatkan
pengetahuan-pengetahuan tersebut.1
Begitu pula adanya dengan keinginan manusia untuk mengetahui
Tuhan sebagai bagian dari misteri terbesar dalam kehidupan manusia yang
tidak dan belum terpecahkan dari dulu hingga sampai saat ini. Hampir semua
umat manusia mempercayai adanya Tuhan yang mengatur alam raya ini.
Orang-orang Yunani kuno menganut paham politeisme (keyakinan akan
banyak Tuhan), bintang adalah Tuhan (Dewa), Venus adalah Tuhan (Dewa
Kecantikan), Mars adalah Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa
Kekayaan, sedangkan Tuhan tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari.2
1
Harun Hadiwijono, Firman Hidup: Seri 6 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1971), h. 12.
Iwan Taunuzi, Monoteisme Kriten dalam Perdebatan: Mengurai Doktrin Ketuhanan
menurut Jamaat Allah Global Indonesia (JAGI) Semarang (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan Agama,2009), h. 2-3.
2
1
2
Konsep ketuhanan yang penulis anggap paling kompleks dalam
agama-agama besar adalah konsep ketuhanan Kristen. Bagaimana tidak,
sepanjang sejarahnya dalam internal Kristen sendiri terjadi banyak perdebatan
mengenai tuhan yang bahkan sampai saat ini masih belum dianggap selesai
sepenuhnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya aliran-aliran atau sekte-sekte
Kristen yang sangat banyak jika dibandingkan dengan agama lainnya,
misalnya Islam. Dan terutama penulis ketahui bahwa perdebatan mereka
bukanlah dalam masalah yang bersifat cabang, melainkan dalam hal-hal yang
bersifat fundamental, yaitu tuhan. lain halnya dengan Islam yang kebanyakan
perdebatannya hanya di sekitar cabang, bukan fundamental ketuhanan.
Dalam Kristen kita kenal ada yang disebut dengan Trinitas atau
Tritunggal. Ini juga termasuk ajaran gereja Roma Katolik sebagaimana yang
tercantum dalam Kredo Iman Rasuli, yaitu Tritunggal yang terdiri dari Allah
Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Ketiga-tiganya adalah pribadi Allah dan
ketiga-tiga pribadi tersebut adalah Allah.3 Semuanya Maha kudus, Maha
sempurna, Maha tahu, Maha kuasa dan kekal. Oleh karena itu ketiga-tiganya
disembah dengan cara yang sama. Sekalipun terdiri dari tiga pribadi, namun
hanya satu Allah, yang masing-masing memiliki suatu pengetahuan Illahi,
satu kehidupan Illahi, sehingga disebut dengan Tritunggal yang Maha kudus.
Untuk dapat mengetahui rahasia ajaran Tritunggal tersebut manusia
memerlukan akal-illahi yang justru tidak dimiliki oleh manusia. Maka,
manusia dapat mengetahui bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi itu adalah
3
Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa ketiganya memiliki pribadi masing-masing,
bukan satu pribadi yang sama.
3
karena Yesus Kristus mewahyukan rahasia tersebut kepada manusia. Umat
Kristen pada umumnya bersyukur kepada Allah Tritunggal karena Allah Bapa
adalah Pencipta segala sesuatu, Allah Putera adalah Sang Penebus dosa
manusia dan Roh Kudus adalah Yang menyucikan manusia.4
Di dalam Alkitab ada beberapa ayat yang mengungkapkan
ketritunggalan itu secara langsung. Kita mendengar perintah Tuhan Yesus
untuk membaptiskan di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat.
28:19); Rasul Paulus mengucapkan berkatnya sebagai “Kasih karunia Tuhan
Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus” (2 Kor. 13:13),
yang secara lebih luas lagi disebutkan dalam 1 Kor. 12:4-6; Ep.4:4-6; 1 Ptr.
1:1-2; Yud. 20,21.
Secara tidak langsung ada banyak juga ayat di dalam Perjanjian Baru
yang menunjuk kepada ketritunggalan itu. Di dalam berita tentang kelahiran
Tuhan Yesus kita telah mendengar perkataan malaikat, bahwa anak Maria itu
disebut Anak Allah Yang Maha tinggi, serta bahwa Roh Kudus akan turun
atas Maria, serta kuasa Allah Yang Maha tinggi akan menaunginya (Luk.
1:32,35). Pada waktu Tuhan Yesus dibaptis, kita membaca bahwa Roh Allah
turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan bahwa Tuhan Allah berfirman:
“Inilah Anak yang Kukasihi” (Mat. 3:16,17; Mrk. 1:10,11; Luk. 3:22).
Selain daripada itu, Tuhan Yesus sendiri mengaku di hadapan
Sanhedrin bahwa Ia adalah Anak Allah (Mat. 27:43; Mrk. 14:61). Di hadapan
orang Yahudi Ia menyebut Tuhan Allah Bapanya (Yoh. 5:19, 23-26; 10-30),
4
Djam’annuri, “Agama Kristen” dalam Mukti Ali (Ed), Agama-agama di Dunia
(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), h. 362.
4
sedang orang lain menyebut Dia Anak Allah (Mat. 4:3,6 oleh Iblis; Mrk.
3:11; 5:7; oleh Petrus di Mat. 16:16,17). Mengenai Roh Kudus disebutkan
bahwa Allah Yesus akan mengutus Roh-Nya dari pada Bapa (Yoh. 15:26;
14:16,17) dan sebagainya.5
Menurut Origenes (meninggal pada tahun 254 M), Tuhan Allah
menjadi sebab segala sesuatu yang ada. Dengan perantara Logos atau Firman,
Tuhan Allah, yang Roh adanya, berhubungan dengan dunia benda. Logos ini
berdiri sendiri sebagai suatu zat yang memiliki kesadaran illahi dan asas-asas
duniawi. Ia adalah gambaran Allah yang sempurna. sejak kekal ia dilahirkan
dari Allah. Karena kekuasaan kehendak Illahi ia terus menerus dilahirkan dari
Zat Illahi. Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa Ia satu dengan Allah. Akan tetapi, sebagai yang keluar dari
Allah Bapa, ia lebih rendah daripada Allah Bapa. Ia adalah pangkat pertama
dari perpindahan dari “Yang Esa” kepada “Yang Banyak”, atau pangkat
kedua di dalam Zat Allah.
Aktivitas Logos atau Anak ini juga lebih rendah dibanding dengan
aktivitas Bapa. Ia adalah pelaksana kehendak Allah Bapa, yang melaksanakan
intruksi Allah Bapa.
Roh Kudus dianggapnya juga sebagai Zat yang ada pada Allah, yaitu
pangkat ketiga di dalam Zat Allah itu. Roh Kudus ini adanya karena Anak.
Hubungannya dengan Anak sama dengan hubungan Anak dengan Bapa.
Bidang kerja-Nya juga lebih sempit dibanding dengan bidang kerja Anak.
5
Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), h. 103.
5
Bapa adalah asas beradanya segala sesuatu, sedang Roh Kudus adalah asas
penyucian segala sesuatu.
Jadi, ketritunggalan Allah dipandang sebagai berpangkat-pangkat.
Oleh karena itu, ajaran ini disebut Subbordinasianisme. Di sini perdebatan di
antara Bapa, Anak dan Roh Kudus dipertahankan, dan keesaan atau
kesatuannya ditiadakan.6
Di samping itu ada pula ayat yang justru memperkuat paham Allah
Esa: “Inilah hidup yang kekal itu, bahwa mereka mengenal Engkau satusatunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus.” (Yohanes 17:3).
Ayat di atas adalah bagian dari doa Yesus untuk murid-muridnya
menjelang penyalibannya di Golgota. Dalam doa terakhir itu Yesus hendak
menyimpulkan semua pengajarannya yang telah diberikan kepada murid
selama misinya di dunia. Salah satunya tentang dasar iman Kekristenan yang
mengakui bahwa Tuhan itu Esa, “Engkau satu-satunya Allah “dan “Yesus
Kristus yang Engkau utus.”7
Di sepanjang sejarah Gereja tampaklah pergumulan Gereja yang
masih muda itu untuk merumuskan kepercayaannya mengenai Tuhan Allah.
Di dalam pergumulannya tadi kita menyaksikan bagaimana Gereja di satu
pihak berusaha untuk menghindarkan diri dari hanya mempertahankan
keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalannya. Artinya bahwa orang
sedemikian menekankan kepada ajaran bahwa Allah adalah esa, sehingga
6
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, h.107.
Iwan Taunuzi, Monoteisme Kriten dalam Perdebatan: Mengurai Doktrin Ketuhanan
menurut Jamaat Allah Global Indonesia (JAGI) Semarang, h. 52.
7
6
sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus seolah-olah hanya dipandang sebagai
sifat-sifat Allah saja. Di lain pihak kita menyaksikan bagaimana Gereja
bergumul
untuk
menghindarkan
diri
dari
bahaya
mempertahankan
ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaannya. Artinya bahwa orang
sedemikian menekankan kepada perbedaan di antara Bapa, Anak dan Roh
Kudus, hingga ketiganya itu seolah-olah berdiri sendiri-sendiri tanpa ada
kesatuan.8
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukan hanya milik
agama-agama besar, namun juga merupakan warisan budaya spiritual Bangsa
Indonesia. Kepercayaan ini telah lama dihayati oleh nenek moyang kita dan
menjadi ciri utama dari kebudayaan bangsa jauh sebelum agama-agama yang
ada dan berkembang sekarang ini di Indonesia.
Aliran
kebatinan
atau
kepercayaan
masyarkat
sudah
diakui
keberadaaannya di Indonesia dan dicantumkan dalam GBHN tahun 1978
yang diwadahi dalam sayap kata “Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha
Esa.”9
Tidak dapat disangkal bahwa semenjak proklamasi kemerdekaan
Negera Republik Indonesia, bermunculanlah bermacam-macam aliran
kebatinan. Rahmat Subagyo di dalam bukunya, “Kepercayaan, Kebatinan,
kerohanian, Kejiwaan dan Agama memuat suatu daftar dengan 285 aliran
Kebatinan. Sekalipun disebutkan bahwa di antara aliran-aliran itu ada yang
8
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, h. 104.
Abas Sambas, Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma (Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan Agama, 2011), h. 1.
9
7
terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Biak dan Lombok,
namun sebagian besar dari aliran-aliran itu terdapat di Jawa.10
Kebatinan merupakan hasil pemikiran dari angan-angan manusia yang
menimbulkan suatu aliran kepercayaan bagi penganutnya dengan melakukan
ritual-ritual tertentu. Mereka berusaha untuk mencapai derajat tertinggi,
dimana ketenangan batin dan kesempurnaan hidup akan tercapai. Dalam
kebatinan, manusia adalah ciptaan Tuhan. Jika manusia berusaha dengan
sungguh-sungguh, maka manusia bisa mengadakan kontak dengan Tuhan. Ini
berarti bahwa setiap manusia bisa menerima wahyu. Wahyu dalam kebatinan
itu sendiri pada dasarnya adalah untuk menunjukkan jalan bagaimana
manusia bisa bersatu dengan Tuhan.Sehingga manusia dapat memperoleh
kebahagiaan sejati.11 Oleh karena itu, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa
tuhan merupakan bagian yang paling penting dalam sebuah agama atau
kepercayaan.
Dalam
penulisan
skripsi
ini,
di
samping
memfokuskan
pembahasannya pada ketuhanan Kristen, penulis juga membuat analisis
perbandingan dengan konsep ketuhanan Sapta Darma. Penulis pilih Sapta
Darma, karena penulis anggap paling dapat mewakili ajaran kebatinan.
Sapta Darma adalah salah satu aliran terbesar yang ada di Indonesia
dan aliran termuda, yang didirikan di Pare oleh Hardjosapoero yang mendapat
10
Harun Hadiwijono, Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa (Jakarta: Sinar
Harapan, 1983), h. 102.
11
Abas Sambas, Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma (Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan Agama, 2011), h. 1-3.
8
gelar Panutan Agung Sri Gutama, yang dianugerahkan langsung oleh Hyang
Maha Kuasa.
Nama Sapta Darma diambil dari bahasa Jawa; “Sapto” artinya tujuh
dan “Darmo” artinya kewajiban suci. Jadi, Sapta Darma artinya tujuh
kewajiban suci. Ajaran Sapta Darma diwahyukan kepada pendirinya pada
tanggal 27 Desember 1952 pukul satu malam. Pada waktu itu dengan
sekonyaong-konyong Hardjosapoero digerakkan seluruh tubuhnya dengan
gerak yang sekarang dijadikan pedoman bagi persujudan Sapta Darma sambil
mengucapkan segala kalimat yang sekarang juga dipergunakan pada upacara
persujudan itu.12
Menurut Sri Pawenang S.H., yaitu pemimpin yang sekarang dari
aliran Sapta Darma, segala istilah yang dipergunakan Sapta Darma adalah asli
(original), karena didapatkan dari wahyu, bukan pengambilan dari sumber
lain.
Pada tanggal 27 Desember 1955 Hardjosapoero yang sementara itu
sudah dapat gelar resi Brahmono dijejerkan (ditahbiskan) menjadi Sri
Gutomo dengan disertai adanya hujan lebat semalam suntuk. Pada tanggal 19
Agustus 1956, gelar itu diperluas oleh Illahi dengan sebutan Panutan Agung,
sehingga sebutan lengkapnya adalah Panutan Agung Sri Gutomo. Ada suatu
keajaiban pada waktu jenazah Sri Gutomo dimandikan, matahari dilingkari
oleh pelangi di atas jenazahnya.
12
Rolly Rahman, Konsepsi Sujud Dalam Ajaran Sapta Darma (Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan Agama, 2013), h. 4-5.
9
Intisari ajaran Sapta Darma seperti yang dijelaskan oleh Sri Pawenang
di dalam buku kecil “Wewerah Agama Sapta Darma”13 adalah hendak
menghayu-hayu bahagianya buwana, yang artinya akan membimbing
manusia untuk mencapai suatu kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.14
Dalam Sapta Darma ada cara ibadah wajib satu kali dalam 24 jam
yang dilakukan dengan sujud. Sujud dasar Sapta Darma ini terdiri dari tiga
kali sujud.15 Hasil dari sujud Sapta Darma diantaranya adalah dapat bersatu
dengan Tuhan.16 Manusia dapat bersatu dengan Tuhan karena Manusia
dipandang sebagai suatu kombinasi dari roh dan benda. Roh, yaitu jiwa
manusia, berasal daripada Allah. Roh itu adalah sinar cahaya Allah yang
dipandang sebagai sama dengan hawa murni yang ada di sekitar dan di dalam
manusia, yang memberikan hidup kepada manusia. Roh ini juga disebut Yang
Maha Suci dan Roh Suci, yang dapat berhubungan dengan Allah yang Maha
Kuasa.17
Kita beribadah kepadah Tuhan karena menurut ajaran Sapta Darma
bahwa manusia hidup karena diberi hidup oleh Hyang Maha Kuasa berupa
sinar cahaya Hyang Maha Kuasa yang menjadi getaran-getaran yang meliputi
pribadi manusia. Segala sesuatu yang hidup diberi sinar ini dan tidak
memakai perantara siapa pun. Panuntun Agung Sri Gutama hanyalah sebuah
13
Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 28-29.
Suwarno Imam S, Konsep Tuhan, Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 233.
15
Rahnip, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan.(Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997), h. 75.
16
Rahnip, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan, h. 77.
17
Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 31.
14
10
petunjuk jalan saja. Dalam ajaran Sapta Darma diyakini bahwa Tuhan adalah
Zat yang mutlak pangkal segala sesuatu, serta pencipta segala yang ada.18
Tiap makhluk yang hidup diberi hidup oleh Allah. tetapi ada
perbedaan antara manusia dan makhluk lainnya. Manusia diberi hidup yang
sempurna sedemikian rupa hingga manusia memiliki nafsu, budi dan pikiran.
Maka manusia adalah makhluk yang tertinggi dan ia berkewajiban bersujud
kepada Allah Yang Maha Kuasa. Makhluk yang lebih rendah daripada
manusia adalah binatang, yang diberi hidup yang kurang sempurna. Hal ini
berarti bahwa binatang hanya diberi nafsu dan budi. Makhluk yang paling
rendah dari semuanya adalah tumbuh-tumbuhan, karena hanya diberi hidup
yang tidak sempurna.19
Sapta Darma termasuk aliran kebatinan yang sederhana. Oleh
karenanya, maka ajarannya tentang Allah juga singkat sekali. Dalam
pembicaraan tentang Allah, Sri Pawenang berkata: “Tuhan yang juga kami
sebut Yang Maha Kuasa atau Allah atau Sang Hyang Widi ialah Zat mutlak
yang Tritunggal, pangkal segala sesuatu, serta pencipta segala yang terjadi
serta mempunyai 5 sifat keagungan mutlak, ialah: Maha Agung, Maha
Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa (Maha Kuasa) dan Maha Langgeng
(Maha Kekal).”
Di sini disebutkan bahwa Allah adalah Zat yang Mutlak, pangkal
segala sesuatu, serta pencipta segala yang terjadi. Jika kita mengingat akan
sebutan: Zat yang Mutlak, pangkal segala sesuatu, kita mendapat kesan
18
Rolly Rahman, Konsepsi Sujud Dalam Ajaran Sapta Darma, h. 27.
Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 32.
19
11
bahwa Tuhan adalah Yang Mutlak dalam arti falsafah, artinya bahwa Ia
adalah Zat yang bebas dari pada segala hubungan, nisbah serta sebab-sebab.
Tetapi jika mengingat akan tambahan: pencipta segala yang terjadi, kita
mendapat kesan bahwa Tuhan itu berpribadi, artinya jika “Pendipta” itu
diartikan sebagai yang menjadikan segala sesuatu tanpa bahan, bukan
emanasi, pengaliran dari Tuhan.
Tambahan selanjutnya, yang menyebutkan sifat Tuhan sebagai Yang
Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wawesa dan Maha
Langgeng, agaknya menjuruskan pemikiran kita ke arah pandangan tentang
Tuhan seperti yang ada pada orang Islam dan Kristen.
Sifat Tuhan yang Maha Agung diterangkan sebagai sifat Allah yang
melebihi segala makhluk. Tidak ada yang menyemai Tuhan dalam kelurusan
hati-Nya. Maha Rokhim berarti bahwa tidak ada yang menyamai-Nya dalam
belas kasih-Nya. Maha Adil berarti bahwa tidak ada yang menyamai-Nya
dalam keadilan-Nya. Maha Wawesa dan Langgeng berarti bahwa Tuhan
adalah kekal dalam arti mutlak, tidak ada yang menyamai-Nya (tidak ada
yang setara dengan-Nya).20
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka skripsi ini akan membatasi
permasalahan tentang bagaimana perbandingan konsep ketuhanan Kristen
dengan Sapta Darma?
20
Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 28.
12
C. Tujuan Penelitian
Mengetahui konsep ketuhanan Kristen dan konsep ketuhanan Sapta
Darma, serta memahami dan membuktikan bahwa memang ada persamaan
antara konsep ketuhanan dalam Sapta Darma dengan Kristen.
D. Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat yang ingin dicapai, diantaranya yaitu manfaat
skripsi ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan pembaca pada
umumnya, khususnya memberikan dan membuka wawasan baru bagi para
pelaku dan peneliti yang berkecimpung baik di bidang agama Kristen, Sapta
Darma, aliran kepercayaan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Serta
khususnya lagi untuk menambah kepustakaan Ushuluddin.
Selain itu manfaat lain yang ingin dicapai adalah skripsi ini dapat
dijadikan rujukan bagi masyarakat pada umumnya dan pemerintahan
khususnya, agar dapat lebih menghargai Sapta Darma dan beberapa aliran
kepercayaan lainnya sebagai sebuah agama layaknya Kristen.
E. Tinjauan Pustaka
Ada beberapa kajian terdahulu yang membahas mengenai topik yang
penulis ambil ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Diantaranya
ada sebuah skripsi yang ditulis oleh dua mahasiswa program studi
Perbandingan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
yaitu Abas Sambas, yang berjudul “Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta
Darma” dan Rolly Rahman, yang berjudul “Konsepsi Sujud dalam Ajaran
Sapta Darma.”
13
Dari skripsi tersebut, penulis dapat mengambil beberapa hasil dari
penelitian yang mereka lakukan mengenai Sapta Darma dan mengolahnya
kembali, serta lebih memfokuskan pembahasan kepada konsep ketuhanannya
dan membandingkannya dengan kosep ketuhanan Kristen.
F. Metode Penelitian
Dalam rangka menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis diharapkan
dapat menemukan beberapa data informasi dan menuliskannya dengan
menggunakan metode deskriptif dan analitis. Deskriptif digunakan agar
mampu memahami dan memberikan gambaran yang jelas mengenai
permasalahan yang terkait dengan isi skripsi ini serta dapat menyusun skripsi
ini dalam bentuk yang sistematis. Sedangkan analitis digunakan agar dapat
memberikan pendapat-pendapat yang argumentatif perihal data-data yang
penulis temukan.
Selain itu, penulis juga menggunakan beberapa metode lainnya, yaitu
studi kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian atas buku-buku
bacaan, diktat-diktat, jurnal, majalah, artikel, surat kabar dan bahan-bahan
informasi lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. Dengan
menyatukan metode-metode tersebut, maka akan ditemukan penjelasan yang
membuahkan pencerahan bagi para pembaca, dan dapat memberikan
kesimpulan yang benar.
14
G. Sistematika Penulisan
Dalam Penulisan skripsi ini, Penulis menggunakan buku Pedoman
Akademik Program Strata 1 tahun 2012/2013 UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Tepatnya pada Bab Pedoman Penulisan Skripsi.
BAB II
KONSEP KETUHANAN KRISTEN
A. Sejarah Kristen
Sesuai dengan petunjuk sejarah, Yesus Kristus adalah pembawa
agama Kristen. Ia lahir kurang lebih pada tahun ke-4 SM, tetapi sebagian ada
yang berpendapat antara tahun 7-5 SM. Yesus Kristus berasal dari Nazaret.
Ketika berumur kurang lebih 27 tahun, ia mulai mengajar di Galilea dan
kemudian meluas di kalangan penduduk Palestina. Ia dipercayai membawa
kabar gembira tentang penebusan dosa di samping memperbuat banyak
mukjizat. Untuk kelanjutan ajaran yang dibawanya ia mengangkat 12 orang
rasul. Satu tahun kemudian ia meninggal dunia di kayu salib pada 7 April 30
M. Ketika ia berusia kurang lebih 30-31 tahun, Yesus telah membentuk gereja
di Yerussalem, yaitu ketika ia menunjuk Petrus, salah seorang muridnya yang
dua belas, sebagai tempat ia mendirikan gereja. Dalam Injil Matius (16-18)
disebutkan: “Dan aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di
atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak
akan menguasainya.” Bahkan, Yesus mengangkat Petrus sebagai kepala
Gereja yang tertinggi, sebagaimana diisyaratkan dalam Injil Yahya (21-17).
Akan tetapi, sebenarnya “kelahiran Gereja” secara resmi diakui berdiri
baru pada hari Pentakosta, yaitu pada hari kelimapuluh setelah kebangkitan
Yesus Kristus dari kuburnya atau pada hari keempat puluh setelah kenaikan
Yesus, yang kemudian duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Pada hari
15
16
Pentakosta itu, Roh Kudus diyakini turun kepada para Rasul untuk
memberikan semangat kepada mereka untuk menyampaikan kabar gembira
tentang Yesus Kristus. Sebagaimana yang telah disinggung di atas, Pertuslah
yang menjadi juru bicaranya. Berkat usaha para rasul tersebut, banyak orang
Yahudi yang dipermandikan.
Pada awal mulanya, jemaat Kristen terdiri dari orang-orang Yahudi.
Merekalah yang disebut dengan jemaat Purba atau jemaat Yerussalem, atau
ada pula yang menyebut mereka dengan jemaat Nazaret. Pada tahun 42 M,
Petrus pindah ke Roma dan menjadi paus pertama. Petrus menjabat sebagai
paus selama 25 tahun dan meninggal dunia pada tahun 67 M. Petrus adalah
orang pertama dalam Gereja dan dianggap sebagai pemimpin jemaat induk di
Yerussalem.1
Pada tahun 54-57 M diperkirakan agama Kristen sudah terorganisasi
dengan baik di Roma, di mana Paulus dibawa sebagai tawanan pada tahun 60
M. Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai peranan besar dalam
penyiaran agama Kristen. Ia berasal dari Tartus di Sisilia, tetapi juga orang
Yahudi, sebagaimana halnya Petrus. Pada mulanya ia menjadi penentang
agama Kristen. Pada tahun 36 M, ia pergi ke Damaskus untuk mencari orangorang Kristen yang hendak ia siksa. Tetapi di depan pintu gerbang kota
tersebut, konon Yesus menampakkan diri kepadanya sehingga ia jatuh
pingsan. Dalam sejarah hidupnya, disebutkan bahwa ia menyiarkan agama
1
Mukti Ali (Ed). Agama–agama di Dunia. (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988),
h.342-343.
17
Kristen karena mendapat wahyu dari Tuhan, sekalipun ia bukan murid Yesus
dan belum pernah berjumpa dengannya.
Paulus menyebarkan Kristen sampai ke Yunani dan Eropa. Ia
membentuk jemaat gereja. Dia menempuh kebijaksanaan yakni pada setiap
daerah yang ada kelompok Kristennya dia mengangkat seorang pemuka
sebagai pemimpinnya, sementara dia sendiri sebagai koordinator atau kuasa
uskup. Ketika berada di Korintus, Paulus mengirim surat ke Roma, dan ada
petunjuk bahwa gereja-gereja di Yerussalem mengadakan kontak yang
intensif dengan gereja Roma.2
Sementara itu, kelahiran Protestan banyak dipengaruhi oleh latar
belakang perkembangan masyarakat Eropa Barat pada abad-abad menjelang
kelahirannya, yaitu abad ke-16. Secara fundamental dan radikal terjadi
pembaharuan masyarakat sesudah zaman pertengahan; dan mulailah zaman
renaisans selama abad 15 sampai abad 16. Pertumbuhan individualisme dan
humanisme merupakan faktor yang sangat penting, karena di satu pihak
menimbulkan pertumbuhan-pertumbuhan kebudayaan bangsa Eropa, akan
tetapi di lain pihak gereja yang mapan terkena akibatnya. Kemerosotan moral
pada lapisan pimpinan mulai dari paus sampai raja-raja. Perpecahan pada
tingkat kepausan terjadi, sebaliknya raja-raja mempunyai pengaruh yang lebih
kuat, sehingga wibawa Paus menjadi merosot di benua Eropa.
Rohaniawan telah kehilangan monopoli mereka dalam kehidupan
masyarakat sehingga kehidupan gereja mendapatkan kritik-kritik yang
2
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h.343-345.
18
mendasar di tengah-tengah nasyarakat luas. Pada puncaknya, ketika
penyalahgunaan wewenang gereja merajalela tanpa memedulikan tanggung
jawab mereka, yaitu dengan adanya penjualan surat indulgensia. Hal ini
menimbulkan pertentangan, protes dan kejengkelan dari para anggota jemaat
gereja di berbagai negara.
Kondisi demikian dirasakan oleh Martin Luther sebagai titik tolak
untuk memulai pembaharuan gereja. Luther adalah anggota ordo Agustin,
suatu ordo yang sangat ketat dan keras di bawah pimpinan Johan Van
Staupitz. Luther adalah seorang doktor teologia dari Universitas Wittenberg.
Tugasnya sampai tahun 1517 adalah menafsirkan Alkitab meliputi Mazmur,
Surat-surat Paulus kepada Jemaat Roma dan Galatia, dan surat kepada orangorang
Ibrani.
Melalui
studinya
terhadap
Alkitab,
ia
merasakan
penghayatannya terhadap Tuhan secara baru, sehingga corak keadaan yang
dihadapi dalam kehidupan gereja tidak bisa tidak harus diubahnya.
Luther menjadikan peristiwa penjualan surat-surat penghapusan dosa
(indulgensia) sebagai pokok pembicaraan antara sarjana-sarjana teologi.
Untuk itu ia merumuskan 95 dalil mengenai penghapusan siksa. Pada tahun
1517, dalil-dalil tersebut diperkenalkan dan ditempelkan pada dinding pintu
gereja di Wittenberg. Sejak itu, gereja Roma Katolik menuduh Luther sebagai
penyesat ajaran gereja.3
Dengan berbagai cara dan siasat, gereja Roma Katolik berusaha
memadamkan gerakan dan ajaran Luther. Akan tetapi, ajaran-ajarannya
3
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h. 383-385.
19
mendapatkan sambutan di mana-mana, sementara usaha memadamkan dan
menghancurkannya tidak berhasil. Cara dan siasat gereja Roma Katolik
tersebut antara lain berbentuk ancaman pengucilan. Akhirnya, pada tahun
1529, diadakan “Reichstag” (Rapat Negara) di Speyer, yang dihadiri oleh
raja-raja yang terpengaruh oleh ajaran Luther. Sidang tersebut mengambil
keputusan untuk mengapuskan Edicta Warms tahun 1926, dan mengeluarkan
dektrit pelanggaran gerakan reformasi disertai pemberian kebebasan membuat
misa kudus bagi gereja Katolik di daerah gereja Reformasi. Raja-raja yang
pro Luther (Injili) membuat protes keras secara resmi. Dari tindakan protes
itulah, lahir nama agama Protestan. Gerakan mereka juga melahirkan
pembaharuan di Swiss yang dipelopori oleh Ulrich Zwingli, seorang pastor
dari Einsedeln. Gerakan Protestan ini sebagai bagian dari reformasi gereja,
kemudian lebih disempurnakan oleh Calvin di Prancis yang kemudian
mengembangkan ajarannya di Swiss hingga meninggal pada tahun 1564.4
Di Indonesia, agama Kristen juga dimasukkan oleh kolonialisme
Barat. Pengaruhnya masih dapat dilihat, misalnya Portugis yang berpengaruh
kuat dalam perkembangan agama Katolik Romawi, dan Belanda (VOC) yang
berpengaruh terhadap perkembangan agama Kristen Protestan.
Perkembangan agama Kristen Protestan di Indonesia dapat dilihat
dalam dua periode besar, yaitu periode VOC (1595-1799) dan periode
sesudah VOC (1800 hingga sekarang). Pada tahun 1596 Belanda datang ke
Indonesia, dan pada tahun 1602 didirikan VOC. Ambon adalah daerah
4
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h. 385.
20
pertama yang diduduki oleh VOC, menyusul kemudian Minahasa dan Sangir.
Daerah-daerah ini adalah bekas jajahan Portugis. Di daerah-daerah baru
tersebut gereja Protestan mengalami kemajuan atas dukungan VOC. Semua
pemeluk Katolik dipaksa untuk memeluk Protestan. Sekalipun demikian,
jumlah pemeluk Protestan pada periode ini masih sedikit karena kebijakan
VOC lebih ditekankan pada kepentingan perdagangan daripada kepentingan
gereja.
Pada tahun 1800 pemerintah Hindia Belanda mengambil alih
kekuasaan VOC seraya tetap melanjutkan kebijaksanaan VOC di bidang
gereja, sehingga gereja menjadi gereja negara. Langkah-langkah yang diambil
pemerintah Hindia Belanda antara lain memelihara jemaat gereja Protestan
Indonesia. Pendeta ditambah terus menerus. DI kota-kota besar diangkat
pendeta-pendeta dari Eropa, dan guru-guru jemaat digaji oleh pemerintah.
Pada
abad
ke-20,
setelah
organisasi
gereja
Protestan
mengalami
pembaharuan, yakni berupa dilepaskannya gereja dari negara, maka
terbentuklah gereja-gereja lokal, milsanya gereja Kristen Maluku (1935),
Gereja Kristen Indonesia Barat (1945), dan lainnya. Akibatnya, gereja
menjadi berpuluh-puluh, yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, pada
tahun 1950 didirikan organisasi Dewan Gereja Indonesia (DGI), yang
kemudian pada tahun 1980-an diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja
Indonesia (PGI).5
5
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h. 402-403.
21
Organisasi ini tampaknya merupakan bagian dari upaya gereja seDunia dalam rangka memulihkan kesatuan yang telah dilaksanakan oleh
Dewan Gereja-gereja se-Dunia sejak abad ke-19. Peristiwa pertama untuk
melahirkan kesatuan gereja-gereja (disebut “oikumene”) terjadi dalam
Konferensi Pekabaran Injil se-Dunia di Edinburg (1910). Konferensi ini
merupakan titik tolak yang penting untuk gerekan oikumenis pada masa ini
hingga lahirnya Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1948. Hingga
dewasa ini, gerakan oikumenis telah mampu menyatukan 200 gereja lebih,
yang meliputi gereja-gereja Protestan dan gereja-gereja Ortodoks Timur,
termasuk juga Gereja Rusia Ortodoks. Gereja Katolik Romawi menolak
gerekan ini, karena baginya “oikumene” adalah semata-mata takhluk pada
Paus di Vatikan, bukan yang lain.
Problema yang dihadapi gereja-gereja di Indonesia antara lain adalah:
1) Tentang keesaan gereja
Di Indonesia banyak sekali organisasi gereja, baik yang besar maupun
yang kecil, yang kaya maupun yang miskin, dengan perbedaan ajaran dan
organisasi, sehingga dirasakan sebagai suatu persoalan yang perlu
diwujudkan dengan keesaan gereja.
2) Banyaknya anggota yang dibaptis tanpa persiapan yang wajar.
3) Hubungan antara agama Kristen dan kebudayaan serta masyarakat
Indonesia yang kurang erat.6
6
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h. 403.
22
B. Konsep Ketuhanan Kristen
1. Permasalahan Konsep Trinitas
Ajaran ketuhanan dalam agama Kristen termasuk gereja Roma Katolik
adalah
sebagaimana
tercantum
dalam
Kredo
Iman
Rasuli,
yaitu
Trinitas/Tritunggal, yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus.
Ketiga-tiganya adalah pribadi Allah dan ketiga-tiganya adalah Allah.
Semuanya mahakudus, Mahasempurna, Mahatahu, Mahakuasa dan kekal.
Oleh karena itu, ketiga-tiganya disembah dengan cara yang sama. Sekalipun
terdiri dari tiga pribadi, namun hanya satu Allah, yang masing-masing
memiliki suatu pengetahuan ilahi, satu kehendak ilahi, satu kehidupan ilahi,
sehingga disebut dengan Tritunggal yang Mahakudus.
Untuk dapat mengetahui rahasia ajaran Tritunggal tersebut, manusia
memerlukan akal-ilahi yang justru tidak dimiliki oleh manusia. Manusia
dapat mengetahui bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi karena Yesus Kristus
mewahyukan rahasia tersebut kepada manusia. Umat Kristen pada umumnya
bersyukur kepada Allah Tritunggal karena Allah Putra telah menebus dosa
manusia, dan karena Roh Kudus telah mensucikan manusia.7
Namun, sebagaimana yang telah kita singgung di dalam latar belakang
skripsi ini, bahwa pemahaman konsep ketuhanan dalam Kristen tidak hanya
Trinitas, tetapi ada juga umat Kristiani yang memercayai bahwa Tuhan
mereka adalah satu, bukan tiga.8 Maksudnya ialah, ada beberapa sekte Kristen
yang tidak mempercayai, bahwa Yesus bukan bagian dari trinitas. Di mana,
7
Ali (Ed). Agama–agama di Dunia, h. 362.
Iwan Taunuzi, Monoteisme Kriten dalam Perdebatan: Mengurai Doktrin Ketuhanan
menurut Jamaat Allah Global Indonesia (JAGI) Semarang, h. 52.
8
23
Yesus hanyalah seorang Nabi dan Rasul, yang di utus oleh Allah untuk
bangsa Israel. Kodrat Yesus terpisah dari kodrat Allah, hal ini yang
dipercayai oleh Saksi Yehuwa.
Pertama-tama, penting untuk dicatat bahwa ajaran tentang Trinitas
tidak berasal dari sumber-sumber non-Kristen sebagaimana disangkakan
orang pada masa lampau.9 Dalam hal ini masih terjadi perdebatan, antara
Kristen yang pro terhadap trinitas dan Kristen yang kontra terhadap trinitas.
Bagi yang pro, mereka mengklaim bahwa trinitas berdasarkan Alkitab,
sedangkan yang kontra, berpendapat bahwa landasan trinitas tidak ada dalam
Alkitab.
Perhatian utamanya adalah untuk memlihara monoteisme dalam
Kekristenan. Kaum Monarkis berpendapat bahwa masalah itu dapat
diselesaikan dengan memahami keilahian Anak sebagai yang sekedar
dijabarkan, atau dengan melihat dalam Anak hanya sebagai sekedar mode
atau cara penampilan Bapa.
Selain itu, ada juga sistem gnostik yang berkembang di abad ke-2 M,
yang juga mempengaruhi pembentukan ajaran gereja menganai Trinitas.
Adalah
benar
kalau
dikatakan
bahwa
kaum
gnostik10
tidak
memperkembangkan ajaran mereka sendiri mengenai Trinitas. Yang mereka
lakukan adalah mencakupkan Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus di
9
Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1963),
h. 46.
10
Gnostik adalah sebuah aliran (agama) yang meyakini gnosis (pengetahuan) sebagai satusatunya jalan keselamatan. Untuk memahami ketuhanan, kaum gnostik mempelajarinya sendiri
tanpa bantuan atau perantara rabbi, pendeta, uskup, imam atau pemimpin agama yang lain.
(https://deuteronomi.wordpress.com/tentang-gnostik/)
24
antara aeon-aeon mereka yang banyak. Menurut sistem gnostik, Kristus
hanyalah mempunyai satu tubuh maya dalam dunia ini, yang Ia tinggalkan
lagi sebelum penyaliban-Nya. Karena itu bukan Kristus, Anak Allah itu yang
mati, tetapi hanya seorang manusia Yesus.
Menjelang akhir abad ke-2 M, suatu penjelasan yang lebih besar
diperkenalkan ke dalam ajaran tentang Allah. Diantara tokoh-tokohnya adalah
sebagai berikut:
a) Irenaeus
Ireneus adalah Uskup Lyons. Dalam pembicaraannya mengenai
Allah ada dua segi dasar yang menonjol. 1) ia berkata-kata tentang
keberadaan Allah yang bersifat batiniah, dan 2) tentang penyingkapan
Allah yang besifat progresif dalam sejarah keselamatan (Heilsgshichte).
Ireneus menekankan begitu kuat tentang keesaan Allah. Anak dan Roh itu
hanya sekedar penampilan-penampilan dari satu Allah. Dengan cara ini
Irenaeus berharap untuk menghindari setiap ungkapan yang bersifat
pluralisits dengan pengacuan terhadap Allah. Irenaeus memiliki pendapat
yang sama dengan kaum apologis dari gereja purba, khususnya Theofilus
dari Antiokhia, ketika ia mengajarkan bahwa Allah sejak dari kekal telah
bersama-sama dengan Firman dan Hikmat-Nya. Inilah yang disebut
hypostasis. Ia melahirkan Firman dan Hikmat-Nya sebelum segala sesuatu
dijadikan. Anak dildahirkan sebelum adanya waktu. Iranaeus menolak
25
setiap spekulasi yang mencoba untuk menembus misteri mengenai
kelahiran Anak ini.11
b) Tertullianus
Tertullianus hidup di Kartago dan seorang teolog gereja yang
pertama menulis dalam bahasa Latin. Ia mengungkapkan hal serupa
dengan Irenaeus mengenai ajaran tentang Allah.Ia berkata bahwa tiga
pribadi ada dalam satu substansi, namun tetaplah hanya ada satu Allah.
Tetapi bagi sejarah keselamatan, terdapatlah perbedaan yang bersisi tiga
dari kesatuan itu. Dalam suatu pernyataan yang diformulasikan dengan
ketepatan yang akurat Tertullianus berkata bahwa pribadi-pribadi itu
dibedakan bukan dalam kondisi, tetapi dalam derajat; bukan dalam
substansi, tetapi dalam bentuk; bukan dalam kuasa, tetapi dalam aspek.
c) Origenes (w. 254 M)
Ajaran Origenes mengenai Trinitas sama seperti Irenaeus dan
Tertullianus, ia memberikan tekanan besar pada keesaan Allah. Origenes
berpendapat, oleh karena Allah Bapa itu adalah sempurna dalam kebaikan
dan kuasa-Nya, maka Ia mestinya senantiasa telah mempunyai sasaransasaran bagaimana melaksanakan kebaikan dan kuasa. Atas dasar
praanggapan ini Origines mengajarkan ajaran yang meingatkan kita pada
sistem-sistem gnostik tertentu, yaitu bahwa sebelum penciptaan kosmos,
Allah telah lebih dulu menciptakan suatu dunia yang terdiri dari makhlukmakhluk spiritual yang sedari kekal bersama-sama dengan Dia.
11
Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, h. 51-55.
26
Dunia sejarah diciptakan Allah hanyalah pada saat dunia
makhlukmakhluk spiritual itu jatuh. Selanjutnya makhluk-makhluk kekal
ini sejak semula telah tunduk kepada Allah Bapa. Dengan demikian,
seorang perantara antara kesatuan mutlak Allah dengan keberagaman
makhluk itu dibutuhkan. Perantara tersebut adalah Anak.12
d) Arius (w. 336 M)
Arius berasal dari Mazhab Lucian Antiokhia. Perhatian utama
Arius adalah pkeunikan dan transendensi Allah. Anak adalah suatu ciptaan
yang sempurna, tetapi Ia bukanlah ciptaan lainnya. Kesatuan Bapa dan
Anak secara substansial tidak lah ada. Bagi Arius, ini merupakan bidat
terburuk. Namun, Allah itu tidaklah senantiasa sebagai Bapa, ada saatnya
Dia sendirian dan belum merupakan Bapa. Terhadap Anak juga tidak
dapat diterapkan kata kekekalan seperti halnya terhadap Bapa. Memang
Anak itu dapat saja dipanggil Allah, namun keillahian-Nya bukanlah
merupakan atribut terhadap keberadaan-Nya. Hal itu hanyalah sesuatu
yang dilimpahkan kepada-Nya oleh anugerah Allah.13
Selain tokoh-tokoh di atas, masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya
yang masing-masing dari mereka memiliki banyak pertentangan pendapat,
sampai akhirnya diadakan Konsili-konsili hampir selama lima dasawarsa.
Bahkan sampai di zaman modern ini pun masih terdapat perbedaan pendapat
dari masing-masing gereja maupun tokoh perseorangan, diantaranya penulis
ambil Harun Hadiwijono.
12
Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, h. 51-55.
Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, h. 55-59.
13
27
Harun Hadiwijono memiliki penafsiran yang sedikit berbeda terhadap
kata “esa”. Di dalam Perjanjian Baru, kata “esa” atau “satu” tidak
menekankan kepada angka satu secara tematik. Kitab Suci Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru, senantiasa mementingkan konsekuensi dari
penyembahan kepada satu-satunya yang boleh disebut Allah. Penyembahan
kepada Allah yang satu-satunya itu membawa konsekuensi secaraetis.
Misalnya, kepada pemuda yang kaya, pemuda yang merasa telah memenuhi
segala hukum Allah, Tuhan Yesus berkata: “Masih tinggal satu hal lagi yang
harus kau lakukan, juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu
kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga,
kemudian datanglah ke sini dan ikutlah bersama-Ku.”
Yang dimaksud Tuhan Yesus ialah bahwa jika pemuda tersebut
sungguh-sungguh mengasihi Allah, ia harus mengasihi-Nya dengan seluruh
eksistensinya, dengan seluruh miliknya, bahkan jika perlu semua ynga
menjadi miliknya harus dapat dipersembahkan kepada Allah. Tuntunan yang
demikian itu juga dikemukakan Tuhan Yesus kepada Marta, saudara Maria:
“Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak
perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang
terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” (Luk. 10:41-42). Marta masih
memikirkan banyak sekali perkara, tetapi belum juga menyerahkan dirinya,
atau belum menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Tuhan. Di sekitar
Kristus dan di sekitar Allah, hanya ada satu hal saja yang perlu, yaitu kasih
28
yang sedalam-dalamnya, yang dinyatakan dengan seluruh eksistensi atau
seluruh kehidupan manusia.
Di dalam Perjanjian Baru, hal ini semua mendapat arti yang jauh
mendalam lagi. Sebab satu-satunya Allah yang benar-benar Allah itu ternyata
telah memberikan kesempurnaan kasih-Nya di dalam firman dan karya-Nya,
yaitu di dalam mengutus anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus. Maka
konsekuensi etis dari penyembahan kepada Allah yang benar-benar Allah
tadi, bagi hidup bersama ialah, bahwa orang beriman harus sehati dan sejiwa
(Kis. 4:32; Flp. 2:2,3; dll).14
Menurut Kitab Suci, percaya bahwa hanya ada Allah satu memang
baik sekali. Tetapi jika hanya berhenti di situ saja, jauh belum mencukupi.
Pengakuan bahwa Allah adalah satu atau esa membawa konsekuensi. Di Yak.
2:19 disebutkan: “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik
! Tetapi setan juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yang penting
ialah menaati perintah Allah, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati,
segenap jiwa dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama seperti
mengasihi diri kita sendiri. Lahir dan batin hidup manusia harus
dipersembahkan kepada Allah dan kepada sesamanya.
Allah yang satu-satunya itu di dalam Kitab Suci memperkenalkan diriNya kepada umat-Nya sebagai Allah yang Mahakuasa, yang Mahakudus,
yang Mahaadil dan sebagainya, tetapi juga memperkenalkan diri-Nya sebagai
Bapa, sebagai Anak dan sebagai Roh Kudus.
14
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 197-198.
29
Sejak semula, harus kita pegang teguh, bahwa jika kita mengakui
bahwa Allah yang satu-satunya itu memperkenalkan diri-Nya sebagai yang
Mahakuasa, yang Mahakudus, dan yang Mahaadil, umpamanya kita tidak
bermaksud mengakui bahwa ada tiga Allah yang lebih. Demikian juga halnya
dengan pengakuan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa,
sebagai Anak dan sebagai Roh Kudus. Dengan pengakuan itu, kita tidak
bermaksud mengakui bahwa ada tiga Allah.15
Supaya lebih jelas, kita harus mengingat kembali apa yang telah
diuraikan mengenai kedudukan Allah sebagai Bapa, Kristus sebagai Anak,
dan Roh Kudus. Di sini kita akan merangkumkan apa yang telah
dikemukakan mengenai semuanya itu.
1.
Pertama-tama harus dikemukakan bahwa pengertian Bapa, Anak dan Roh
Kudus harus diartikan secara dinamis, artinya bahwa kedudukan sebagai
Bapa, Anak dan Roh Kudus itu diungkapkan di dalam firman dan karyakarya Allah, dengan Allah membuktikan kepada umat-Nya, bahwa Ia
adalah Sekutu umat-Nya.
2.
Allah disebut Bapa Israel, sebab Dialah yang menciptakan Israel, yang
menyebabkan Israel dapat hidup sebagai bangsa (Ul. 32:6; Yes. 64:8),
dan Dialah yang telah memilih Israel untuk menjadi sekutu-Nya, dan
karena Dialah yang telah mengangkat Israel menjadi Anak-Nya. Dengan
nama Bapa itu Allah memperkenalkan kepada Israel bahwa Ia adalah
Penciptanya dan Pemeliharanya.
15
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 198-199.
30
Di dalam Perjanjian Baru, Allah disebut Bapa orang beriman, dalam
arti yang sama dengan di dalam Perjanjian Lama. Hanya harus ditambahkan
bahwa Allah menjadi Bapa orang beriman itu karena karya penyelamatan
Kristus.16 Dalam Perjanjian Lama, untuk mendapatkan tebusan dosa, mereka
biasa menyembelih hewan yang darahnya di aliri, sedangkan di dalam
Perjanjian Baru, penebusan dosa harus melalui Yesus, karena Yesus sendiri,
lebih dari penebus dosa, yaitu sebagai penyelamat.
Kristus sebagai Penyelamat umat-Nya menyebut Allah juga Bapa.
Akan tetapi kedudukan Allah sebagai Bapa Kristus berbeda sekali dengan
kedudukan Allah sebagai Bapa orang beriman, sebab di antara Allah sebagai
Bapa dan Kristus sebagai Anak Allah ada hubungan yang erat sekali. Di Yoh.
10:30 disebutkan bahwa Kristus dan Bapa adalah satu. Akan tetapi kesatuan
itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Apa yang difirmankan
Kristus diterima-Nya dari Allah sebagai Bapa-Nya (Yoh. 14:24) dan yang
diajarkan oleh Bapa kepada-Nya (Yoh. 8:28). Apa yang dikerjakan Kristus
adalah apa yang dikerjakan Allah sebagai Bapa (Yoh. 5:19; 8:28; 10:32;
17:4).
Demikianlah kebapaan Allah terhadap Kristus, adalah kebapan yang
dibuktikan di dalam firman dan karya-Nya. Kesatuan Allah sebagai Bapa
dengan Kristus sebagai Anak-Nya adalah kesatuan dalam firman dan karyaNya.
16
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 199-200.
31
3.
Di dalam Perjanjian Lama, sebutan anak Allah dikenakan kepada Israel
karena Israel adalah sekutu Allah. Oleh karena itu, Israel sebagai anak
Allah atau sebagai sekutu Allah harus menampakkan hidup Ilahi di
dalam hidupnya. Hal itu hanya dapat dilaksanakan jika Israel menaati
segala
perintah
Allah.
Sebagai
anak
Allah,
Israel
harus
mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah, Bapanya.
Di dalam Perjanjian Baru, orang beriman diangkat menjadi anak Allah
(Yoh. 3:16) atau Anak Allah sendiri (Rm. 8:3). Seperti yang telah
dikemukakan di atas mengenai Allah sebagai Bapa Kristus, kedudukan
Kristus sebagai Anak erat sekali antara Kristus dan Allah, hubungan yang
begitu erat, sehingga keduanya disebut satu. “Aku dan Bapa adalah satu”
(Yoh. 10:30). Tetapi juga di sini kesatuan itu adalah kesatuan dalam firman
dan karya-Nya17 Jadi, baik kedudukan sebagai Bapa maupun kedudukan
sebagai Anak, keduanya diuangkapkan dalam firman dan karya, keduanya
bersifat dinamis bukan statis.
Jika Kristus disebut Anak Allah yang sejati, hal ini disebabkan karena
Dialah yang dapat menunaikan tugas menjadi Anak Allah, yaitu
mencerminkan hidup Ilahi di dalam hidup-Nya, dengan menaati segala
perintah Allah. Adam gagal, begitu juga dengan Israel. “Makanan-Ku ialah
melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya.” Demikian pernyataan Tuhan Yesus (Yoh. 4:34). Ketaatan kepada
kehendak Allah sebagai Bapa-Nya itu dilakukan sedemikian rupa hingga Ia
17
Keterangan tentang Allah sebagai Bapa Kristus diantaranya ada di Yoh. 14:24; 8: 28;
5:19; 10:25,32; 17:4).
32
mati di kayu salib. Di Flp. 2:8 disebutkan bahwa dalam keadaan sebagai
manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan hingga
Ia mati di kayu salib. Sebagai Anak Allah yang sejati, Kristus adalah Sekutu
Allah yang sejati, sebab Dialah yang memenuhi secara sempurna fungsi
“menjadi sekutu Allah.”18
Hal ini dapat dijelaskan lebih mudah dengan perumpamaan sebagai
berikkut:
A membenci B, dan bermaksud membunuhnya. Tetapi A tidak
melaksanakannya secara langsung, ia memperalat C. Akhirnya C lah yang
membunuh B. Maka, C adalah alat pelaksana kehendak A, yang pada
hakikatnya di dalam diri C itu A sendirilah yang membunuh B.
Perumapamaan
di
atas
sekarang
kita
terapkan
pada
karya
penyelamatan Allah terhadap umat-Nya. Ia memakai alat Tuhan Yesus. Karya
penyelamatan Kristus itu menampakkan isi Tuhan Allah, yaitu sebagai
penyelamat umat-Nya. Atau dapat dikatakan bahwa di dalam karya
penyelamatan Kristus itu tampak kebapaan Allah terhadap umat-Nya. Itu
sebabnya dalam Yoh. 14:9 Tuhan Yesus dapat berkata: “Barang siapa yang
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Itulah juga sebabnya Tuhan Yesus
disebut bayang-bayang Allah (Kol. 1:14,15), atau zat Allah yang kelihatan
(Ibr. 1:1) atau gambar Allah. Menjadi gambar Allah menurut Alkitab berarti
terpanggil untuk mencerminkan hidup ilahi di dalam hidupnya. Tugas sebagai
gambar Allah sama dengan tugas menjadi anak Allah, yaitu menceminkan
18
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 197-202.
33
hidup Bapanya. Hal ini hanya dapat terlaksana jika anak menaati kehendak
Bapanya.
Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus adalah gambar Allah yang di
dalam hidupnya menampakkan hidup ilahi secara sempurna, yaitu bahwa
Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya atau penyelamat umat-Nya. Oleh
karena di dalam karya Tuhan Yesus itu Tuhan Allah sendiri yang datang
berbuat, maka Kristus selain disebut Anak Allah juga disebut Allah, dan
sebagainya. Maka, dapat dikatakan bahwa Tuhan Allah adalah Bapa di dalam
karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya, serta mengambil inisiatif atau prakarsa
untuk menyelamatkan umat-Nya, serta memanggil umat-Nya untuk menjadi
sekutu-Nya dengan hidup sebagai anak-anak-Nya.
Tuhan Yesus adalah Anak Allah di dalam karya-Nya untuk
merealisasikan hakikat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, yaitu
menyelamatkan umat-Nya. Di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah sendiri
berbuat. Di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah sendiri betindak sebagai
Anak Allah, yaitu menampakkan karya penyelamatan Allah.19
Demikianlah di dalam diri Kristus dipenuhi fungsi Allah sebagai
“Sekutu Allah.” Jelaslah bahwa di dalam diri Kristus itu Allah sendiri datang
untuk menyelamatkan umat-Nya. Di dalam diri Kristus, yang adalah Anak
Allah, Allah berfungsi sebagai Anak yang menyelamatkan.
4.
Mengenai Roh Kudus telah ditunjukkan bahwa Roh Kudus adalah nafas
Allah atas hidup Ilahi, yang juga dinyatakan di dalam firman dan karya
19
Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), h. 147-148.
34
Allah yang dinamis. Roh inilah daya pencipta Allah yang menampakkan
diri sebagai daya hidup firman yang menciptakan (Mzm. 33:6). Roh ini
jugalah yang menjadikan orang diperbaharui hidupnya. Demikianlah
menurut Perjanjian Lama, Roh Allah adalah Allah sendiri sebagai daya
hidup yang dinamis, yang menciptakan, baik di bidang jasmani maupun
di bidang rohani. Juga di dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus adalah daya
hidup Ilahi yang menghidupkan. Hanya saja, di dalam Perjanjian Baru,
karya Allah yang menghidupkan juga dihubungkan dengan diri Kristus.
Di dalam Kristuslah Allah menjadi Roh yang menghidupkan. Hal ini
tampak dari pembicaraan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan
Samaria (Yoh. 4:24).20
Di Yes. 11:2, disebutkan bahwa Roh Tuhan akan ada pada Mesias
sebagai Hamba Tuhan, yaitu roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan
keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan. Demikianlah, di dalam
diri Mesias telah terangkum seluruh umat Allah. Itulah sebabnya karya
Kristus sebagai Anak Allah berlaku bagi umat-Nya, sebab Ia mewakili umatNya di dalam segala karya-Nya.21
Karya Kristus yang dilakukan atas nama Allah Bapa adalah karya
Allah Bapa sendiri di dalam penyelamatan-Nya itu dapat juga dipandang
sebagai pelaksanaan Roh atau kekuatan Ilahi yang dinamis di dalam
menyelamatkan umat-Nya. Dengan demikian, ada hubungan yang erat sekali
antara karya Kristus sebagai Anak Allah atau sebagai pelaksana karya
20
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 202-203.
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 202-203.
21
35
penyelamatan Allah sebagai Bapa, dengan karya Roh Kudus sebagai
kekuatan Ilahi atau sebagai daya Ilahi. Hubungan itu sedemikian eratnya,
hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus (1 Ptr. 1:11). Kristus mendatangi
para orang milik-Nya di dalam Roh (Yoh. 14:18; Mat. 28:20). Demikianlah
Kitab Suci menyamakan Roh Kudus dengan Kristus. Di 2 Kor. 3:17
disebutkan bahwa Tuhan (yaitu Kristus yang telah dimuliakan) adalah Roh,
dan di mana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan. Hal ini cocok juga
dengan Mzm. 33:6 di mana Firman Allah diidentikkan dengan Roh-Nya.
Berdasarkan hal itu, maka dapat dikatakan bahwa di dalam Roh Kudus itu
Tuhan Yesus Kristus hadir dan berbuat.
Telah dikemukakan bahwa Anak adalah Allah dalam karya
penyelamatan-Nya, sedangkan Roh Kudus adalah Anak dalam karya-Nya
menjadikan orang beriman menikmati hasil karya penyelamatan Kristus.
Berdasarkan hal ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Allah memperkenalkan diri sebagai Bapa dalam karya penciptaan dan
pemeliharaan-Nya.
2) Allah memperkenalkan diri sebagai Anak dalam karya penyelamatannNya.
3) Allah memperkenalkan diri sebagai Roh Kudus dalam karya-Nya untuk
menjadikan
orang
beriman
menikmati
membebaskan umat-Nya.22
22
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 203-204.
karya
penyelamatan-Nya
36
Demikianlah Allah adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam karyaNya sebagai Pencipta, Penyelamat dan Pembebas umat-Nya. Dengan karyakarya-Nya ini Allah yang satu-satunya Allah itu membuktikan diri-Nya
sebagai sekutu umat-Nya.
Allah adalah esa, dalam arti bahwa tiada Allah yang lain kecuali
Tuhan, sebab tiada Allah yang seperti Tuhan, yang karena kasih karunia-Nya
telah sanggup menyelamatkan manusia dari dosa, menyelamatkan anak-Nya
yang memberontak itu, hingga sampai kepada kesempurnaan.23
2. Sifat-sifat Utama Tuhan Allah
a. Tuhan Allah adalah Esa
Sifat Tuhan Allah Yang Mahaesa tidak perlu penulis bahas lagi,
karena dalam pembahasan mengenai trinitas di atas telah dijelaskan secara
panjang lebar.
b. Tuhan Allah adalah Mahatinggi
Di Mzm. 2:4 disebutkan bahwa Tuhan bersemayam di Sorga.
Ungkapan
ini
pertama-tama
menunjukkan
bahwa
Tuhan
Allah
tersembunyi bagi manusia, sebab Sorga disebut “tinggi sekali” atau “jauh
dari bumi” (Ayb. 22:12; Mzm. 103:11). Tuhan disebutka bersemayam di
Sorga menunjukkan pada adanya jarak antara Allah dan manusia, karena
jauhnya, hingga manusia tidak dapat melihat Tuhan.
Tuhan Allah adalah tinggi, bukan karena Ia gaib dalam arti taidak
berjasad (berupa Roh, bukan benda), juga bukan karena tabiat ilahi-Nya
23
Hadiwijono, Inilah Sahadatku, h. 204.
37
atau ketuhanan-Nya tidak mungkin ditembus oleh akal manusia. Sebab,
jika Israel bersaksi akan ketinggian Allah itu bukan karena ia berspekulasi
tentang Allah, bukan karena Israel berpikir dengan memakai hukum akal,
melainkan karena Israel mengenal Allahnya dari Firman dan karya-Nya.
Kepada Israel senantiasa ditekankan bahwa Allah berbeda dengan
manusia. Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai
Yang
tersembunyi, karena Tuhan Allah tidak menghendaki Israel terlalu dekat
dengan Tuhan-Nya seperti yang terjadi di antara orang kafir dengan
dewa-dewanya. Jarak di antara Allah dengan manusia harus tetap
dipelihara, karena Tuhan bukanlah manusia. Inilah juga sebabnya di
Horeb, ketika Tuhan Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa, Ia
menyebut nama-Nya bukan dengan bentuk kata nama benda, melainkan
dengan bentuk kata kerja, “Aku berada dengan berbuat.” Tuhan tidak
menghendaki nama-Nya disalahgunakan oleh Israel seperti halnya dengan
nama dewa-dewa yang dijadikan mantera oleh pengikut-pengikut-Nya.
Tuhan Allah adalah Mahatinggi bukan hanya menunjukkan
perbedaan-Nya dengan manusia, melainkan juga kasih-Nya, sebab Tuhan
Allah jauh lebih tinggi daripada manusia, dan lebih mulia. Di dalam
Mzm. 2 dikatakan bahwa Ia tertawa atau menertawakan segala perbuatan
manusia yang memberontak kepada-Nya, dan mengolok-olok mereka.
“Dia yang bersemayam di Sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka,”
(Mzm. 2:4). Jadi, Tuhan mahatinggi dan Mahamulia berarti bahwa Ia
memiliki segala kekuasaan yang mutlak atas segala kejadian di dunia ini,
38
bahwa Ia sebagai Raja di Raja bersemayam di atas singgasana-Nya,
dengan nyata-nyata memerintah umat-Nya dan segala makhluk di bumi.24
Hakikat Allah yang Mahatinggi dan Mahamulia itu mengungkapkan
karya-Nya atas dunia ini. Dan karya itu ditujukan untuk keselamatan
umat-Nya. Tuhan menertawakan mereka yang memusuhi umat-Nya.
Maka, nyatalah bahwakemahatinggian-Nya itu dipakai untuk menyatakan
kasih-Nya kepada umat-Nya. Bahkan ini tampak terlihat lebih jelas lagi di
dalam Perjanjian Baru, sebab di dalam Kristus yang Mahatinggi itu sudah
menghampakan
Diri-Nya
menjadi
sama
dengan
manusia
demi
keselamatan manusia (Fil. 2:6-11). Itulah sebabnya ketika Kristus
dilahirkan para malaikat memuji, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang
mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan
kepada-Nya.” (Luk. 2:14)
c. Tuhan Allah adalah Kudus
Menurut Alkitab, Tuhan Allah adalah kudus. Ini bukan hasil
pemikiran (akal ) manusia, melainkan karena pengalaman Israel di dalam
pergaulannya dengan Allah.
Kata kudus berasal dari pokok kata Ibrani, yang berarti
memisahkan. Jika Tuhan Allah disebut kudus, hal ini berarti bahwa Ia
dipisahkan dari segala yang dosa. Oleh karena itu, maka di 1 Sam. 2:2
disebutkan: “Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang
lain kecuali Engkau.”
24
Harun Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1974), h.
40-41.
39
Jadi, kekudusan Tuhan Allah pertama-tama menunjukkan akan
perbedaan-Nya dengan manusia. Tuhan bukan manusia, Ia jauh lebih
tinggi dari manusia, serta terpisah dari manusia yang yang berdosa. Tetapi
kelainan Tuhan yang disebabkan karena kekudusan-Nya itu tampak di
dalam Firman dan karya-Nya, di dalam pergaulan-Nya dengan umat-Nya
di dalam sejarah. Dari segaka Firman dan karya-Nya tampaklah bahwa
Allah tidak dapat bersekutu dengan yang dosa.25
Dari yes. 57:15 kita dapat mengetahui bahwa kekudusan Tuhan
Allah dihubungkan dengan kemahatinggian-Nya, sebab di situ disebutkan
bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia dan Yang
Mahakudus nama-Nya (Bnd. Yes. 6:2).
Meskipun demikian, hakikat Allah yang kudus itu bukan hanya
menunjukkan bahwa Ia terpisah dari manusia yang bedosa, tetapi
kekudusan Tuhan Allah itu justru menjadi jalannya Israel mendapat
keselamatan. Dari Kitab Hosea umpamanya, kita dapat mengetahui
bagaimana Israel pada waktu itu menghinakan kekudusan Tuhannya
dengan menyeret diri ke dalam upacara-upacara kebaktian bangsa kafir
(Hos. 14:1 dbr). Oleh karena itu Israek dihukum oleh Tuhan.26
Akan tetapi Tuhan yang sudah menghukum Israel itu akan
menyembuhkannya lagi dengan alasan: “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku,
belas kasihan-Ku berbalik serentak. Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang menyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali.
25
Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah, h. 41.
Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah, h. 41-42.
26
40
Sebab aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengahtengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” (Hos. 11:8,9).
Ancaman hukuman Allah di sini diganti dengan pernyataan yang
mengharukan akan kasih Tuhan Allah terhadap Israel. Tuhan tidak akan
dapat membinasakan Israel karena kasih-Nya akan bangsa itu. Kasih ini
menahan Tuhan Allah untuk mencurahkan muraka-Nya secara sempurna.
Tidak dapat disangkal bahwa hukuman Tuhan benar-benar mendatangi
Israel, tetapi tidak sampai menghanguskannya. Sebabnya ialah: “Sebab
Aku ini Allah dan bukan manusia.” Ia adalah Yang Kudus di tengahtengah Israel. Sebagai Yang Kudus, Tuhan Allah berlainan sekali jika
dibandingkan dengan manusia yang berdosa. Manusia di dalam murkanya
sering tidak mengenal kasihan, sering ia hanya terseret oleh nafsunya saja.
Akan tetapi Tuhan Allah bukan manusia, oleh karena itu Tuhan dapat
berbuat yang berlainan sekali dari perbuatan manusia. Di dalam
kemurkaan-Nya, Ia tidak terseret oleh daya-daya dosa. Di dalam murkaNya, Tuhan juga ingat akan kasih-Nya.
Demikianlah
hakikat
Tuhan
Allah
yang
mengungkapkan
kekudusan-Nya itu menjadi jaminan akan perjanjian-Nya dengan umatNya. Justru karena Tuhan itu kudus Ia akan tetap menjadi Sekutu umatNya, dan akan mencari keselamatan umat-Nya. (Bnd. Yes. 41:14; 43:3;
49:7).
Kasih Tuhan yang diungkapkan di dalam kekudusan-Nya tampak
dengan jelas di dalam hal bahwa Yang Kudus itu didosakan (dijadikan
41
dosa). Di dalam korban Kristus, kalam yang menjadi manusia, keadilan
dan kebaikan, kekudusan dan belaskasihan Tuhan dijadikan satu.
Pengungkapan yang termulia dari kekudusan Allah ialah b ahwa Tuhan
membenarkan orang durhaka (Rm. 4:5; 1:17; Mzm. 97:11, 12).27
d. Tuhan Allah adalah Kekal
Di Kej. 21:33 disebutkan bahwa di Bersyeba Abraham mamnggil
nama Tuhan Allah Yang Kekal. Menurut Alkitab, ungkapan “kekal”
menunjukkan kepada waktu yang panjang, sejak dahulu hingga sekarang
dan sampai selama-lamanya. Hal ini terlihat jelas dari Ul. 33:27 yang
menyebutkan bahwa sudah dari dahulu (kekal) Allah adalah perlindungan
Israel. Dan juga dari Kej. 9:16 yang menyebutkan bahwa Tuhan allah
akan mengingat janji-Nya yang kekal (tanpa akhir) antara Allah dan
segala makhluk yang hidup yang ada di bumi. Oleh karena itu di Yes.
44:6 disebutkan bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang
terkemudian, dan bahwa tiada Allah lain kecuali Tuhan. Di Why. 1:8 juga
disebutkan bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang
sudah ada, dan yang akan datang.
Akan tetapi harus diingat bahwa Tuhan Allah disebut kekal
bukanlah hasil dari pemikiran Israel yang berdaasrkan hukum akal,
melainkan atas dasar pengalaman Israel di dalam pergaulannya dengan
Tuhan Allah. Tuhan Allah kekal tidak berarti bahwa Tuhan Allah sudah
27
Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah, h. 42-43.
42
ada sejak dahulu kala secara statis (tanapa bergerak dan mandeg) seperti
halnya matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.
Kehadiran Tuhan yang ada sejak dahulu kala itu adalah kehadiran
yang aktif di daam firman dan karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya.
Kekekalan Allah itu diungkapkan di dalam Firman dan karya-Nya. Hal ini
jelas terlihat dari Ul. 33:27 tadi, yaitu bahwa dahulu kala Allah adalah
pelindung Israel dengan lengan yang kekal. Adapun ungkapan yang
mengatakan bahwa Tuhan Allah sejak dahulu adalah pelindung Israel,
berarti bahwa sejak dahulu kala terus-menerus Ia menjadi tempat
berlindung Israel. Tuhan yang kekal memberi jaminan kepada Israel
bahwa Israel untuk selama-lamanya boleh berlindung pada Tuhan
Allahnya.28
Menurut Yes. 40:28 disebutkan bahwa Tuhan yang kekal berarti
juga bahwa Tuhan tidak pernah menjadi lelah dan lesu. Meskipun sudah
sekian abad lamanya Tuhan melindungi Israel, akan tetapi tiada satu
saatpun Tuhan tidak mampu melanjutkan perlindungan-Nya. Sebagai
Yang kekal, Yang tidak terbatas oleh waktu, Tuhan hidup selamalamanya. Tuhan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan waktu atau
zaman. Bagaimana pun keadaannya, Tuhan akan tetap secara terusmenerus menjadi Sekutu umat-Nya. Tuhan bukanlah Allah yang
kekuasaan-Nya serba terbatas. Ia mengatasi segala zaman. Keadaan boleh
silih berganti, dan Israel boleh sajadipengaruhi oleh keadaan yang
28
Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah, h. 43.
43
berganti-ganti, tetapi keadaan itu tidak akan dapat mengubah sikap Tuhan
Allah, sebab Tuhan Allah adalah kekal. Ia adalah Yang Mahakudus dari
sejak dulu (Hab. 1:12).
Dari sini terlihat jelas bahwa hakikat Allah yang mengungkapkan
kekekalan-Nya berhubungan dengan karya-Nya yang ditujukan kepada
umat-Nya. Kekekalan Allah memisahkan Allah dari umat-Nya, namun
juga menghubungkan Allah dengan manusia di dalam kasih-Nya.
Kekekalan Allah juga jelas berhubungan erat sekali dengan kekudusan,
keestiaan serta kemahakuasaan-Nya.
Hal yang demikian diajarkan juga di dalam Perjanjian Baru. Di sini
jelas bahwa Yang kekal, Yang meliputi segala zaman dan waktu di dalam
Diri Tuhan Yesus Kristus sudah menjadi terikat dengan waktu
(ditakhlukkan dan dibatasi oleh waktu) demi untuk mengungkapkan
kasih-Nya sebagai Sekutu umat-Nya. Berdasarkan hal itu, maka hakikat
Tuhan Allah yang kekal itu juga diungkapkan di dalam Diri Tuhan Yesus
Kristus, sehingga Yesus Kristus oleh Alkitab disebut, “Tiada berubah,
baik kemarin, baik hari ini dan selama-lamanya” (Ibr. 13:8; Ibr. 1:10).29
29
Hadiwijono, Apa dan Siapa Tuhan Allah, h. 43-44.
BAB III
KONSEP KETUHANAN SAPTA DARMA
A. Sejarah Sapta Darma
1. Riwayat Hidup Pendiri Sapta Darma
Hardjosapoero yang bergelar Sri Gautama dilahirkan di Desa Pare
Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 27
Desember 1914. Hardjosapoero merupakan anak pertama dari pasangan
suami istri Soehardjo dan Soelijah. Ia juga mempunyai adik kandung yang
bernama Jatimah. Ayahnya adalah mantan pegawai kantor pos dan telepon,
Kawedaan Pare. Hardjosapoero bekerja sebagai tukang cukur, di samping itu
ia juga memiliki usaha lain di bidang perdagangan.
Hardjosapoero
selaku
Panutan
Agung
Sapta
Darma,
dalam
melaksanakan tugas peruatan dan penyebaran ajaran Sapta Darma,
membangun Sanggar (tempat ibadah) yang diberi nama Sanggar Agung
Ajaran Sapta Darma. Sapuro, nama kecil Hardjosapoero, sejak usia satu
tahun sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia hidup dengan Ibunya yang
bernama Soleijah dan diasuh oleh nenek dan kakeknya yang bernama
Kartodinomo.
Pada tahun 1920 Sapuro mulai mengenyam pendidikan dasar dan
lulus pada tahun 1925. Setelah lulus Sekolah Dasar, Sapuro tidak dapat
melanjutkan sekolahnya, karena kakeknya meninggal. Ia berusaha membantu
51
52
ibu dan neneknya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya seharihari.1
Pada tahun 1939 tepatnya pada usia 25 tahun, Hardjosapoero
melaksanakan pernikahan dengan Nona Sarijem. Setelah menikah, nama
Sapuro diganti menjadi Hardjosapoero, dan dikaruniai tujuh orang anak.
Uuntuk mencukupi kebutuhan keluarganya, Hardjosapoero bekerja sebagai
tukang cukur dan pedagang kecil, jual beli emas berlian. Ia adalah orang yang
suka bekerja keras, sedangkan ibu Sarijem membantu usaha suaminya untuk
mencukupi kebutuhan keluarganya dengan berjualan bunga.
Setelah melalui perjuangan hidup yang cukup berat, akhirnya pada
tanggal 27 Desember 1952, Hardjosapoero menerima wahyu ajaran Sapta
Darma, dan wahyu nama Sri Gautama sebagai Panuntun agung ajaran Sapta
Darma serta wahyu penyebaran ajaran Sapta Darma, maka ia sepenuhnya
melaksanakan tugas dari Allah Hyang Maha Kuasa.
Dengan begitu, ia tidak dapat lagi bekerja sebagai tukang cukur dan
pedagang kecil. Hardjosapoero harus melaksanakan tugas dari Allah Hyang
Maha Kuasa, yaitu untuk menerima wahyu ajaran Sapta Darma secara
lengkap dan menyebarkannya. Oleh karena itu, sejak 27 Desember 1952 ibu
Sarijem berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sampai
akhir hayatnya.
1
Abas Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma. (Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan Agama, 2011). h. 10-11.
53
Hardjosapoero meninggal dunia pada Rabu pahing, 16 Desember
1964 pukul 12:10 di Pare keidir Jawa Timur. Tugas dan perjuangan beliau
diteruskan oleh Ibu Sri Pawenang.2
2. Masa Turun Wahyu
Di Pandean, Gang Koplakan, Hardjosapoero tinggal. Selama
hidupnya, ia tidak pernah mendalami ajaran agama apapun dan tidak
mempercayai cara-cara perdukunan, ia hanya percaya kepada adanya Hyang
Maha Kuasa yang memberi kehidupan terhadap seluruh umatnya.
Pada hari Kamis pon, 26 Deesmber 1952, Hardjosapoero sepanjang
hari berada di rumahnya dan tidak bekerja seperti biasanya sebagai tukang
cukur, sebab hatinya gelisah, sekalipun tidak ada beban batin maupun pikiran.
Sore harinya, ia menghadiri undangan ke rumah temannya. Meskipun
di tempat tersebut sidah banyak orang berkumpul, tapi kegelisahan batin yang
dialaminya tidak hilang, bahkan semakin terasa. Menjelang pukul 24:00 ia
pamit pulang. Setelah sampai di rumah, ia mengambil tikar yang digelar di
atas dipan untuk dipindahkan ke lantai dengan maksud digunakan untuk
berbaring agar dapat meredakan kegelisahannya. Tepat pukul 01:00 malam,
tiba-tiba badannya dibangnkan dan digerakkan oleh suatu daya berupa
getaran yang kuat yang menempatkan dirinya dalam keadaan duduk
menghadap timur dengan kaki bersila dan kedua tangan bersidakep.3
Meskipun demikian, alam pikirannya masih dalam keadaan sadar,
sehingga ada keinginan untuk melepaskan diri dari gerakan dan getaran
2
3
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 11-12.
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 12-13.
54
tersebut. Namun, ia tidak mampu. Maka, dia pun pasrah dan bersedia untuk
mati pada saat itu. Kemudian, di luar kontrolnya, ia mengucapkan suatu
kalimat dengan suara keras, yaitu:
Allah Hyang Maha Agung
Allah Hyang Maha Rokhim
Allah Hyang Maha Adil
Dalam keadaan masih bergetar dan bergerak, badannya merasa
bergerak membungkuk dengan sendirinya, sehingga dahinya menyentuh
tanah/tikar, seraya mengucapkan kalimat:
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa
Kemudian duduk dan
membungkuk kembali, sehingga dahi
menyentuh tikar dan meneriakkan:
Kesalahan Hyang Maha Suci
Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuawasa
Kesalahane Hyang Maha Suci
Nyuhun Kapura Hyang Maha Kuwasa
Kesalahane Hyang Maha Suci
Nyuwun Ngapura Maha Kwasa4
4
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 13.
55
3. Berdirinya Ajaran Sapta Darma
Ajaran ini diberi nama Sapta Darma karena mengandung tujuh macam
Wewerah Suci yang merupakan kewajiban bagi penganut ajaran Sapta Darma
yang tidak boleh ditinggalkan. Sapta Darma diartikan sebagai tujuh
kewajiban, atau tujuh amal suci. Kamil Kartapradja mengartikan Sapta Darma
adalah tujuh tuntunan atau pedoman.
Maka, Sapta Darma adalah aliran yang menganut tujuh kewajiban
yang tidak boleh ditinggalkan oleh para penganutnya, karena hal itu
merupakan pokok dari ajaran Sapta Darma. Jika para penganut ajaran Sapta
Darma mengamalkan Wewerah, pasti akan mendapatkan kesempurnaan
pribadi serta kebahagiaan hidup di dunia dan alam langgeng.
Pada saat penerimaan wahyu, nama lengkap ajaran kerohanian atau
aliran
kepercayaan
Sapta
Darma
adalah
“Agama
Sapta
Darma.”
Hardjosapoero menjelaskan istilah agama bagi Sapta Darma mempunyai
pengertian yang khusus, yaitu:
A
: Asal mula manusia
GA
: Gama atau Kama (air suci)
MA
: Maya atau sinar Cahaya Allah
Jadi, definisi agama menurut ajaran Sapta Darma adalah “asal mula
manusia dari kama dan maya.”
Akan tetapi, sejak dikeluarkannya PANPRES no. 1/1965 tentang
pencegahan penyalahgunaan dan pedoman agama, nama “Agama Sapta
56
Darma” disesuaikan menjadi “Kerohanian atau Aliran Kepercayaan Sapta
Darma.”5
Hardjosapoero merupakan tokoh utama yang tidak dapat dipisahkan
dari sejarah kelahiran dan perkembangan aliran Sapta Darma. Walaupun
menurut namanya Sapta Darma adalah nama yang berdiri sendiri dan sama
sekali tidak mengandung unsur-unsur dari nama Hardjosapoero, tapi
Hardjosapoero dapat dikatakan sebagai pendiri aliran Sapta Darma, sebab
aliran Sapta Darma didirikan atas dasar sabda yang diterima atas perantara
Hardjosapoero, dan disaksikan oleh enam penganutnya yang kemudian
bertindak sebagai pengurus Tuntunan Agung Sapta Darma. Adapun
kedudukan Hardjosapoero dalam Sapta Darma adalah sebagai Panuntun
Agung Sri Gutama.
Sebagai suatu organisasi, Sapta Darma didirikan pada tanggal 27
Desember 1952 atas perintah Allah Hyang Maha Kuasa, kemudian
terbentuklah susunan tuntunan agung yang terdiri dari:
1) Panuntun Agung Sri Gutama (Hardjosapoero)
2) Juru bicara Tuntunan Agung (Ibu Sri Pawenang), sekaligus sebagai
Tuntunan Wanita, yang berwenang menyiarkan dan memberikan
keterangan mengenai ajaran Sapta Darma
3) Staf Panuntun Agung Sri Gutama (Soedomo Poerwodihardjo), yang
diharapkan dapat membantu Panuntun Agung maupun juru bicara
Panuntun Agung dalam melaksanakan tugasnya.6
5
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 22-23.
57
Berikut ini adalah tugas-tugas pokok Tuntunan Agung, yang
bersumber pada fatwa Panuntun Agung Sri Gutama, baik secara tertulis
maupun tidak tertulis:
1) Mampu tidaknya Tuntunan melaksanakan tugasnya adalah tergantung
pada kemauan, keinsyafan dan keikhlasannya.
2) Menjadi tuntunan berarti mengabdi pada warganya, untuk memenuhi dan
mengajar, serta membimbing para warganya untuk berdarma dalam
hidupnya, demi tercapainya cita-cita luhur Satria Utama.
3) Usahakan tugas Tuntunan harus dilaksanakan.
4) Para Tuntunan dapat berdarma sesuai kemampuan dari nafsu, budi dan
pakartinya.
5) Tuntunan harus mengadakan penyelidikan dan penelitian terhadap
pengolahan dan pelaksanaan ajaran kerohanian Sapta Darma.
6) Fatwa yang tertulis adalah yang dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 8
Februari 1964 dalam rangka mengembangkan dan menentukan sujud
penggalian intisari kerohanian Sapta Darma.
Pada saat itu juga Panuntun Agung berpesan kepada para stafnya
sebagai berikut:
1) Bapak Panuntun Agung Sri Gutama telah mengangkat juru bicara, yaitu
Ibu Sri Pawenang yang bertugas menerbitkan sistematika ajaran Sapta
Darma, baik kepada pemerintah maupun masyarakat.
6
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 23-24.
58
2) Bapak Panuntun Agung telah mensejajarkan staf beliau yang bertugas
mewakili
Sri
Pawenang
untuk
menghadap
pemerintah
apabila
dibutuhkan.
3) Materi sujud penggalian belum selesai, akan diteruskan kemudian hari.
4) Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuh (kepribadian yang asli).7
Adapun intisari dan tujuan ajaran Sapta Darma yang tercantum dalam
kitab sucinya penulis uraikan dalam penjelasan di bawah ini.
B. Ajaran Pokok Sapta Darma
1. Sujud
Warga Sapta Darma diwajibkan sujud dalam sehari semalam (24 jam)
sedikitnya sekali. Lebih dari itu lebih baik, dengan pengertian bahwa yang
penting bukan banyaknya ia melakukan sujud, tetapi kesungguhan sujudnya
(Jawa: emating
sujud). Bila sujud dilakukan di sanggar (tempat sujud
bersama/umum), dapat dilakukan bersama-sama dengan Tuntunan Sanggar
sewaktu-waktu. Namun, akan lebih baik apabila waktu untuk sujud bersamasama tersebut ditentukan.8
2. Racut
Racut berarti memisahkan rasa dengan perasaan (pangrasa: Jawa),
dengan tujuan menyatukan diri dengan Sinar Netral atau Roh Suci bersatu
dengan Sinar Netral. Ini berarti pada waktu racut dapat digunakan
menghadapkan Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke hadapan Hyang Maha
7
Sambas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma, h. 24-25.
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewewrah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama. (Yogyakarta: Sekretariat Tuntunan Agung Kerokhanian Sapta Darma Unit
Penerbitan, 2010), h. 165.
8
59
Kuasa. Jadi selagi kita masih hidup di dunia, supaya berusaha dapat
menyaksikan dimana dan bagaimana tempat kita kelak bila kembali ke alam
abadi/langgeng. Dengan demikian, benarlah apa yang tersirat dalam kata-kata
“Manusia harus dapat dan berani mati dalam hidup, supaya dapat
mengetahui/ mengenal rupa dan rasanya,” bahasa aslinya (Jawa) “Wania
mati sajroning urp kareben weruh rupa lan rasane.” Maksudnya, yang
dimatikan adalah alam pikiran/angan-angan atau gagasannya, sedang rasanya
tetap hidup. Maka, ketika racut kita dapat mengetahui roh kita sendiri naik ke
alam abadi (Surga) menghadap Hyang Maha Kuasa. Namun, roh kita juga
tetap dapat mengetahui jasmani yang kita tinggalkan sementara terbaring di
bawah.
3. Simbul Pribadi Manusia, Wewerah Tujuh dan Sesanti
a) Simbul Pribadi Manusia
Simbul berarti gambar atau lambang. Simbul Sapta Darma (simbul
pribadi manusia) menggambarkan asal mula terjadinya, sifat serta pribadi
manusia. Di samping itu juga mengandung petunjuk bagaimana harus
berdarma/ berbuat dan ke mana tujuan hidup manusia.
60
Keterangan:
a)
Bentuk belah ketupat, bersudut empat buah menunjukkan asal mula manusia,
yaitu:
- Sujud di atas dari Sinar Cahaya Allah.
- Sujud di bawah dari sari-sari bumi.
- Sujud kanan dan kiri, dari perantara ayah dan ibu.
b) Tepi belah ketupat berwarna hijau tua, menggambarkan wadag (raga/jasmani)
manusia.
c)
Dasar berwarna hijau maya menggambarkan Sinar Caya Allah.9
d) Segitiga sama sisi serta berwarna putih dengan tepi kuning emas
menunjukkan asal tes dumali manusia dari Tri Tunggal, yaitu:
e)
- Sudut atas
: Sinar Cahaya Allah (Nur Cahaya)
- Sudut kanan
: Air sarinya Bapak (Nur Rasa)
- Sudut kiri
: Air sarinya Ibu (Nur Buat)
Segitiga sama sisi yang berwarna putih dengan tepi kuning emas tertutup oleh
lingkaran dan berbentuk tiga segi tiga dan sebangun masing-masing memiliki
tiga sudut, sehingga jumlah sudutnya ada sembilan, menunjukkan bahwa
manusia memiliki babahan hawa sanga, yaitu mata (2), hidung (2), telinga
(2), mulut (1), kemaluan (1), dan pelepasan (1).
f)
Lingkaran menggambarkan keadaan yang senantiasa berubah-ubah (anyakra
manggilingan). Manusia akan kembali ke asalnya, apabila selama hidup di
9
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 169-172.
61
dunia berjalan di jalan Tuhan atau berperilaku luhur. Rohani akan kembali ke
alam langgeng dan jasmani akan kembali ke bumi.
g) Lingkaran warna putih yang berada di tengah tertutup oleh gambar Semar,
menunjukkan lubang ubun-ubun manusia. Jadi sebenarnya pada diri manusia
memiliki lubang yang berjumlah sepuluh, tetapi lubang yang kesepuluh ini
dalam keadaan tertutup, karenanya disebut juga Pundak Sinumpet.
h) Gambar Semar, mengkiaskan budi luhur dan juga Nur Cahaya, maksudnya
warga Sapta Darma supaya berusaha memiliki keluhuran budi seperti Semar.
Meskipun jelek rupanya tetapi luhur budi pekertinya, maka dari itu
diperibahasakan Semar adalah dewa yang menjelma.
i)
Tulisan huruf jawa, maksdunya adalah “Nafsu, Budi dan Pakarti”10
b) Wewerah Tujuh
Berisi tujuh kewajiban setiap warga Sapta Darma, yaitu:
1) Setia tuhu kepada adanya Pancasila
2) Dengan jujur dan suci hati, harus setia melaksanakan perundang-undangan
negara
3) Turut serta menyingsingkan lengan baju, menegakkan berdirinya Nusa dan
Bangsanya
4) Menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa mengaharapkan sesuatu
balasan, melainkan berdasarkan rasa cinta dan kasih
5) Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri
10
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 172-174.
62
6) Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan, harus susila besertas
halusnya budi pakarti, selalu merupakan penunjuk jalan yang mengandung
jasa serta memuaskan
7) Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi, melainkan selalu berubahubah (hanyakra manggilingan).11
c) Sesanti (Semboyan)
“Ing ngendi bae marang sapa bae warga Sapta Darma kudu sumunar
pindha baskara.”, artinya: Kepada warga Sapta Darma di mana saja, harus
bersinar laksana surya.
4. Saudara Dua Belas
Menurut ajaran Agama Sapta Darma manusia hidup memiliki Saudara
Dua Belas yang terdapat di dalam tubuhnya. Saudara Dua Belas mempunyai
hubungan dan sesuai pula dengan proses keberadaan manusia itu sendiri,
yaitu sebenarnya umur manusia di dalam kandungan seorang ibu adalah 12
bulan lamanya. Hal ini dapat dibuktikan pada adat tata cara upacara temu
pengantin (perkawinan) di Jawa Tengah. Pada saat akan bertemunya kedua
mempelai, didahului dengan tindakan balang sadak (saling melempar sadak).
Kiasan saling melempar sadak mempunyai pengertian tempuknya sinar
cahaya antara bakal suami istri tersebut, yang lamanya tiga bulan. Sedangkan
orang biasa mengatakan bahwa umur manusia dalam kandungan seorang ibu
selama sembilan bulan.
11
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 174-175.
63
5. Tali Rasa
Manusia hidup memiliki tali rasa hidup. Di beberapa tempat,
simpul-simpul tali rasa tersebut mewujudkan simpul atau sentral rasa
setempat. Di seluruh tubuh manusia ada 20 simpul/sentral tali rasa, dan
ditandai dengan abjad huruf Jawa.
Bila warga Sapta Darma menolong untuk menyembuhkan orang
sakit/ lemah urat sarafnya, seperti lumpuh, mati separuh dan sebagainya,
dilaksanakan sebagai berikut. Setelah ening meluhurkan Tiga Asma allah
(Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha
Adil), kemudian dirasakan pada ujung jari tangan/ penunggul tangan kanan,
setelah terasa ada getaran, maka simpul-simpul tali rasa pada bagian tubuh
yang lumpuh tadi diguyar-guyar (Jawa: diuyeg-uyeg), apabila telah dirasa
cukup lalu diakhiri dengan sabda “Waras!” (sembuh).12
6. Wasiat Tiga Puluh Tiga
1
Sapujagat
18 Kaca Kencana
2
Kucing Putih
19 Kurungan Kencana
3
Jeruk Purut
20 Kidang Kencana
4
Payung Suci
21 Sarine Kencana
5
Kembang Jayakusuma
22 Sarine Geni
6
Singa Barong
23 Sarine Ban yu
7
Mustikaning Manik
24 Sarine Pangan
12
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 179-181.
64
8
Rembulan
25 Bala Srewu
9
Wit Waringin
26 Candhabirawa
10 Jaran Sembrani
27 Patidhur lan Kasur
11 Upase Nagatahun
28 Barisan Ula
12 Mliwis Putih/ Hitam
29 Barisan Banaspati
13 Piring Kencana
30 Barisan Kethek
14 Mangkok Kencana
31 Barisan Uler (Ulat)
15 Cupu Kencana
32 Barisan Setan
16 Topeng Kencana
33 Barisan lan Guling13
17 Tropong Kencana
7. Wejangan Dua Belas
Pada tanggal 12 Juli 1955 setelah para warga Sapta Darma berkumpul
di sanggar/rumah Bapak Hardjosapoero, lalu diadakan sujud bersama dalam
rangka memperingati hari diterimanya Wahyu Simbol Pribadi Manusia,
Wewerah Tujuh dan Sesanti. Dalam sujud bersama yang dilanjutkan dengan
ening Bapak Hardjosapoero mendapat perintah dari Allah Hyang Maha Kuasa
supaya menyampaikan Wejangan Dua Belas sebagai penjelasan bahwa ajaran
budi luhur manusia telah lengkap dan bilamana diajarkan sudah dapat
mencapai Jejering Satria Utama.14
13
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 182.
14
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewerah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun Agung Sri
Gutama Edisi Pertama, h. 182-183.
65
C. Konsep Ketuhanan Sapta Darma
Sapta Darma termasuk aliran kebatinan yang sederhana, oleh
karenanya, ajaran tentang Tuhan juga sangat singkat. Dalam pembicaraan
tentang Allah, Sri Pawenang berkata:
Tuhan yang juga kami sebut Yang Mahakuasa atau Allah atau Sang
Hyang Widi, ialah Zat mutlak yang Tunggal, pangkal segala sesuatu,
serta pencipta segala yang terjadi. Tuhan mempunyai lima sifat
keagungan mutlak, yaitu: Mahaagung, Maharokhim, Mahaadil,
Mahawawesa (Mahakuasa) dan Mahalanggeng (Mahakekal).
Di sini disebutkan bahwa Allah adalah Zat yang Mutlak, pangkal segala
sesuatu, serta pencipta segala yang terjadi. Jika kita mengingat akan sebutan
Zat yang Mutlak, pangkal segala sesuatu, kita mendapat kesan bahwa Tuhan
adalah Yang Mutlak. Ia adalah Zat yang bebas dari segala hubungan, nisbah
serta sebab-sebab. Tetapi, jika mengingat akan tambahan pencipta segala
yang terjadi, kita mendapat kesan bahwa Tuhan itu berpribadi, yaitu
“pencipta” yang diartikan sebagai yang menjadikan segala sesuatu tanpa
bahan. Tambahan selanjutnya, yang menyebut sifat Tuhan sebagai Yang
Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wawesa dan Maha
Langgeng, menjuruskan pemikiran kita ke arah pandangan tentang Tuhan
seperti pemahaman orang Islam dan Kristen.
Sifat Maha Agung diterangkan sebagai sifat Allah yang melebihi segala
makhluk. Tidak ada yang menyamai Tuhan dalam kelurusan hati-Nya. Maha
Rokhim berarti bahwa tidak ada yang menyamai-Nya dalam belas kasih-Nya.
Maha adil berarti bahwa tidak ada yang menyamai-Nya dalam keadilan-Nya.
Maha Wawesa berarti bahwa Tuhan Mahakuasa. Maha Langgeng berarti
66
bahwa Tuhan adalah kekal dalam arti yang mutlak, tidak ada yang menyamaiNya. Kelima sifat Tuhan itu disebut Panca Sila Allah.15
Pancasila Allah adalah sebagai berikut:
Semua warga Sapta Darma harus mengakui kewajiban dari yang di bawah ini:
1. Beriman kepada Allah
a) Allah Maha Agung
b) Allah Maha Rokhim
c) Allah Maha Adil
d) Allah Maha Wawesa
e) Allah Maha Langgeng
Allah yang maha kuasa itu memiliki sifat keluhuran atau sifat
perwujudan, yaitu berbentuk lima perkara di atas. Artinya lima perkara
tersebut adalah hakikat yang tidak bisa diserupai atau menyerupainya.
a.
Allah yang maha Agung, artinya tidak ada satu pun yang memiliki sifat
yang sama dengan Allah tersebut. Maka dari itu, manusia harus memiiki
watak berbudi luhur sesama umat seperti apa yang dimiliki sifat oleh Allah
yang maha Agung.
b.
Allah yang maha Rokhim, artinya tidak ada yang bisa menyerupai kasih
sayang. Maka dari itu, manusia harus memiliki watak kasih sayang kepada
sesama umat.
c.
Allah yang maha Adil, artinya tidak ada yang bisa menyamai keadilan
Allah tersebut. Maka manusia harus memiliki keadilan kepada siapa saja
dan tidak boleh membeda-bedakan sesama umat.
15
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 24-25.
67
d.
Allah yang maha Wasesa, artinya Allah adalah penguasa alam dan tidak
ada yang menyerupai kekuasaannya. Maka dari itu, kita manusia diberikan
kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.
e.
Allah yang maha Langgeng, artinya Allah itu memiliki sifat yang abadi
dan tidak ada yang bisa menyamai keabadiannya. Maka dari itu manusia
harus memiliki sifat keabadian rohani dari rohani asal sinar cahaya Allah
dan jasmani asal dari sari-sari bumi. Serta manusia harus belajar supaya
memiliki sifat budi yang luhur.
Keluhuran itu mempertahankan nama. Bila nanti rohani telah
meninggalkan jasmani, keluhuran nama tetap terkenal, namun jasmani yang
asal mulanya dari sari-sari bumi akan kembali ke asalnya semula, yaitu ke
bumi. Dan rohani kembali ke alam abadi atau pusatnya.16
Warga Sapta Darma wajib melakukan sujud sehari semalam paling
sedikit satu kali. Bila ada di sanggar melakukannya secara bersama-sama
dengan tuntunan, namun itu ditentukan dalam waktu yang senggang dan
waktunya ditentukan bersama.
Cara melakukan sujud:
Melakukan duduk menghadap timur dengan kaki bersila. Kalau untuk
perempuan bertumpu kakinya. Untuk seterusnya bisa mengambil posisi yang
enak.
16
Sri Pawenang. Buku Wewerah Kerokhanian Sapta Darma Jilid 1. (Yogyakarta:
Sekretariat Tuntunan Agung Unit Penerbitan Surokarsan, 1968), h. 12.
68
Keterangan sujud:
1.
Sujud pertama mengucapkan Allah maha Agung, Rokhim dan Adil, yang
mengutamakan keluhuran nama Allah. Supaya ingat terhadap sifat
keluhuran yang maha kuasa. Itu pun diucapkan di dalam hati, tidak hanya
sebagai awalan sujud, namun seluruh warga Sapta Darma mengawali hal
penting untuk melakukan sabda dan salah satunya mengimani Allah.
2.
Sujud yang kedua mengucapkan yang maha suci sujud kepada yang maha
kuasa, memaknai Roh Suci itu adalah kita sendiri dari asal mula sinar
cahaya Allah yang meliputi seluruh tubuh kita sendiri. Maha kuasa sama
dengan meliputi kesucian yang ada dalam pribadi kita di dalam sujud
kepada yang Maha Kuasa. Yang Maha Kuasa adalah yang menguasai alam
semesta dan isinya termasuk manusia itu sendiri. Jadi, kesimpulannya Roh
Suci kita berserah diri dan kuasanya terhadap yang maha kuasa.
3.
Sujud yang ketiga. Kesalahan yang maha suci (kita) meminta ampun
kepada yang maha kuasa, artinya seluruh kesalahan Roh Suci meminta
pengampunan kepada yang Maha kuasa. Setelah Roh Suci sujud, lalu kita
teliti kesalahan-kesalahan (dosa) di setiap harinya. Kemudian pasrah minta
ampunan terhadap yang maha kuasa, segala dosa-dosa atau kesalahan di
masa lampau. Roh suci bertobat kepada yang Maha Kuasa. Setelah
meminta ampun, lalu bertobat, dan berjanji tidak akan mengulangi dosadosa lagi.17
17
Pawenang. Buku Wewerah Kerokhanian Sapta Darma Jilid 1, h. 29-30.
69
Perlu diketahui bahwa dalam ajaran Sapta Darma manusia adalah suatu
persekutuan antara sinar cahaya Allah dan sari bumi. Di dalam persekutuan
ini, karena manusia makan daging dan sayur-mayur, maka manusia
ditakhlukkan oleh segala nafsunya. Maka dalam ajaran Sapta Darma dikenal
istilah kelepasan. Kelepasan terdiri dari kelepasan roh dari penindasan
nafusnya dan pengembalian roh itu kepada asalnya. Tetapi hal ini tidak
berarti bahwa manusia harus menjauhkan diri dari segala macam makanan.
Kelepasan manusia terdiri dari kelepasan roh atau jiwa dari kekuasaan
hawa nafsunya agar roh bisa bersatu dengan Tuhannya kembali, supaya sinar
cahaya Allah dapat kembali kepada sumbernya, yaitu Allah sendiri. Jalan
kelepasan bukan terdiri dari menghindarkan diri dari segala makan, sebab
tindakan yang demikian menurut Sapta Darma tidak sesuai dengan kodrat
manusia.
Sapta Darma tetap berpendapat bahwa manusia harus makan sesuai
dengan kodratnya. Jika manusia tidak makan, ia akan berbuat sesuatu yang
bertentangan dengan kodratnya. Yang menjadi persoalan ialah apakah orang
mau diperbudak oleh getarannya yang jahat. Membiarkan getarannya yang
jahat adalah sumber segala dosa. Maka menurut ajaran Sapta Darma, agar
manusia dapat menggapai kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat, ia
harus bersujud (berbakti) kepada Allah serta benar-benar menjalankan dan
mengamalkan isi dari Wewerah Pitu (Tujuh Petuah).18
18
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 32-33.
70
Jalan kelepasan yang tidak bertentangan dengan kodrat manusia adalah
jalan sujud. Pada pokoknya, sujud terdiri dari membangkitkan air suci atau
minyak tala atau sari hidup (sperma) serta menaikkannya dari tempatnya yang
semula, yaitu di tulang tungging, menuju otak besar melalui sendi-sendi
tulang belakang. Dengan demikian, maka sinar cahaya Allah atau Nur Cahaya
atau Nur Petak atau Hyang Mahasuci, yaitu hawa bersih dapat bersekutu
dengan Allah.
Buah dari sujudi ialah bahwa manusia dilepaskan dari kekuasaan segala
nafsunya dan bahwa manusia mendapatkan suatu kekuatan yang mengatasi
atau melebihi kodrat (supernatural), yaitu atom berjiwa. Kekuatan ini dapat
dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit, untuk berhubungan dengan
roh yang baik maupun yang jahat, serta untuk mengalami mati di dalam hidup
(mati sajroning urip) dengan singkat, karena kelepasan itu manusia mendapat
bagian dari sifat-sifat Allah.
Jika kita meneliti segala keterangan mengenai Allah, kita mendapatkan
kesan bahwa Allah oleh Sapta Darma dipandang sebagai suatu Oknum, sebab
kepada Allah dikenakan sifat Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha
Wawesa dan Maha Langgeng. Oleh karena itu, maka mengherankan sekali
bahwa di dalam ajarannya tentang manusia terdapat keterangan mengenai diri
Allah itu sendiri. Sebab diterangkan bahwa jiwa manusia, yaitu roh, rasa, Nur
Petak, dan sebagainya, sebagai sinar cahaya Allah, adalah hawa murni, yang
ada di sekitar dan di dalam manusia.
71
Hawa, bagaimana pun bersih dan murinya adalah benda yang dapat
diukur berat dan volumenya, suatu substansi bendani atau yang berjasad.
Sekalipun sinar berbeda dari sumber sinarnya, seperti halnya matahari lain
dari sinarnya, atau api adalah lain dari sinarnya, akan tetapi keduanya tidak
dapat dipisahkan. Jika sinar cahaya Allah adalah hawa, sekalipun murni
bersih, namun tetap hawa, suatu substansi yang jasmaniah, timbullah
pertanyaan, apakah keterangan Sapta Darma yang mengenai jiwa itu tidak
membahayakan ajaran Sapta Darma tentang Allah? Bukankah dengan itu
orang mendapat kesan seolah-olah Allah itu bersifat jasmaniah? Harun
Hadiwijono tidak bermaksud mengatakan bahwa Sapta Darma mengajarkan
demikian, dia hanya menunjukkan bahaya yang dihadapi Sapta Darma
dengan ajarannya tentang cahaya Allah itu.19
19
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 40-41.
BAB IV
ANALISIS KOMPARASI
A. Analisis Persamaan Konsep Ketuhanan Kristen dan Sapta Darma
1. Konsep Emanasi
Emanasi adalah teori tentang terciptanya alam ini dari pancaran
Tuhan.1 Kata emanasi, berasal dari bahasa Inggris emanation yang berarti
proses munculnya sesuatu dari pemancaran, bahwa yang dipancarkan,
substansinya sama dengan yang memancarkan. Sedangkan dalam filsafat,
emanasi adalah proses terjadinya ujud yang beraneka ragam, baik langsung
atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, berasal dari ujud yang
menjadi sumber dari segala sesuatu yakni Tuhan, yang menjadi sebab dari
segala yang ada karenanya setiap ujud ini merupakan bagian dari Tuhan.
Emanasi juga berarti: realitas yang keluar dari sumber (Tuhan, seperti
cahaya keluar dari matahari). Dengan beremanasi itu The One tidak
mengalami perubahan, emanasi itu terjadi tidak di dalam ruang dan waktu.
Ruang dan waktu terletak pada tinggkat yang paling bawah dalam proses
emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda.
Untuk menjadikan alam, Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari
kekekalan-Nya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energiNya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta ini. Waktu berisi
kehidupan yang bermacam-macam, waktu bergerak terus sehingga
menghasilkan waktu lalu, sekarang, dan akan datang.
1
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. Filsafat Umum: dari Metologi sampai
Teosofi. (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h.460.
72
73
Ajaran emanasi juga beranggapan bahwa segala yang lebih tinggi
berkembang kepada yang lebih rendah; dari yang tak berakhir kepada yang
berakhir; secara demikian rupa, di mana pengaliran dari yang tak berakhir
adalah secara bertahap menuju kebenaran yang berakhir.
Sedangkan emanasi menurut Plotinus, yaitu:
Yang satu adalah semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu
pun dari barang yang banyak itu. Dasar daripada yang banyak tidak bisa
yang banyak itu sendiri. Sebaliknya, yang satu itu adalah semuanya berarti
bahwa yang banyak itu adalah padanya. Di dalam yang satu itu yang
banyak itu belum ada, tetapi yang banyak itu akan ada. Sebab di dalamnya
yang banyak itu tidak ada, yang banyak itu datang dari Dia. Oleh karena
Yang satu itu sempurna, tidak mencari apa-apa, tidak memiliki apa-apa,
dan tidak memerlukan apa-apa, maka keluarlah sesuatu dari Dia dan
mengalir menjadi barang-barang yang ada.
Yang demikian tadi dikatakan emanasi dari Dia, datang dari Dia. Oleh
Plotinus dalam filosofi.
Dalam filosofi klasik Yang Asal itu dikemukakan sebagai yang
bekerja atau penggerak pertama. Di situ selalu dihadapkan dua yang
bertentangan seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, semangat dan benda,
pencipta dan yang diciptakan. Penggerak yang pertama itu tempatnya di luar
alam yang lahir, sifatnya transedental.
Pengertian ini mengisyaratkan adanya realitas tertinggi yang menjadi
sumber segala sesuatu, yaitu Tuhan, yang kemudian muncul dalam realitas
lain dalam sumber itu dengan jalan melimpah. Dunia manusia merupakan
74
emanasi dari jiwa sedangkan jiwa itu emanasi dari Roh (Nous), dan roh itu
emanasi yang pertama dari yang satu (To Hen). Dunia bersatu, karena
dirasuki oleh Jiwa Dunia sebagai emanasi dari Jiwa. Dunia dan manusia
dibedakan, akan tetapi pada dasarnya semuanya dire sapi oleh daya dan
sinar sumbernya, yaitu Yang Satu. Bagi masing¬masing yang ada juga sifatsifatnya diemanasikan dari intinya.
Pemunculan kemudian dari yang asal ini merupakan tabiat dari yang
asal sebagaimana munculnya panas dari bara api atau munculnya terang dari
sumber cahaya. Yang asal itu menjadi sebab dan dasar dari segala-galanya,
dan yang kemudian muncul dari yang asal itu dengan sendirinya tanpa
bergerak, tanpa dikehendaki, tanpa disetujui.2
Baik Sapta Darma maupun Kristen, keduanya mengajarkan bahwa
Tuhan Allah pada hakikatnya tidak dapat dilihat dan tidak dapat diketahui
oleh manusia. Selain itu, kedua-duanya mengenal konsep emanasi (pancaran
cahaya Tuhan). Maksudnya adalah bahwa alam ini, khususnya manusia
adalah bagian dari Tuhan.
Perlu diketahui bahwa dalam ajaran Sapta Darma manusia adalah
suatu persekutuan antara sinar cahaya Allah dan sari bumi. Di dalam
persekutuan ini, karena manusia makan daging dan sayur-mayur, maka
manusia ditakhlukkan oleh segala nafsunya. Maka dalam ajaran Sapta
Darma dikenal istilah kelepasan. Kelepasan terdiri dari kelepasan roh dari
penindasan nafusnya dan pengembalian roh itu kepada asalnya. Tetapi hal
ini tidak berarti bahwa manusia harus menjauhkan diri dari segala macam
2
http://www.referensimakalah.com/2012/07/pengertian-emanasi-pengantar.html. Diakses
pada tanggal 15 Mei 2017, pukul 19:01 WIB.
75
makanan. Kelepasan manusia terdiri dari kelepasan roh atau jiwa dari
kekuasaan hawa nafsunya agar roh bisa bersatu dengan Tuhannya kembali,
supaya sinar cahaya Allah dapat kembali kepada sumbernya, yaitu Allah
sendiri.3
Disebutkan bahwa segitiga sama sisi serta berwarna putih dengan tepi
kuning emas dalam lambang Sapta Darma menunjukkan asal tes dumali
manusia dari Tri Tunggal, yaitu:

Sudut atas
: Sinar Cahaya Allah (Nur Cahaya)

Sudut kanan
: Air sarinya Bapak (Nur Rasa)

Sudut kiri
: Air sarinya Ibu (Nur Buat)
Kemudian, salah satu sifat tuhan Allah dalam Sapta Darma adalah
maha Langgeng, artinya Allah memiliki sifat yang abadi dan tidak ada yang
bisa menyamai keabadiannya. Maka dari itu manusia harus memiliki sifat
keabadian rohani dari rohani asal sinar cahaya Allah dan jasmani asal dari
sari-sari bumi. Serta manusia harus belajar supaya memiliki sifat budi yang
luhur.
Keluhuran itu mempertahankan nama. Bila nanti rohani telah
meninggalkan jasmani, keluhuran nama tetap terkenal, namun jasmani yang
asal mulanya dari sari-sari bumi akan kembali ke asalnya semula, yaitu ke
bumi. Dan rohani kembali ke alam abadi atau pusatnya.4
Dalam Kristen dikenal doktrin Citra Allah. Citra Allah adalah sebutan
bagi manusia, baik laki-laki dan perempuan yang dipanggil untuk
mewujudkan cinta ilahi. Dalam 2 Kor 4:4 dan Kol 1:15, citra Allah yang
3
4
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 32-33.
Pawenang. Buku Wewerah Kerokhanian Sapta Darma Jilid 1, h. 12.
76
utama adalah Kristus. Dalam doktrin Kristen, manusia adalah citra Allah
untuk berkuasa atas semua mahluk sebagai wakil yang mewakilkan sang
Pencipta. Tugas dari manusia sebagai citra Allah selain berkuasa, juga
mengusahakan agar seluruh ciptaan memuliakan Allah. Keberadaan
manusia sebagai citra Allah merupakan sebuah anugerah sekaligus tugas
bagi setiap manusia.5
Di dalam ajaran Kristen, citra Allah dibedakan menjadi:
1) Citra Allah yang istimewa atau khusus ialah pengetahuan, kebenaran
dan kesucian.
2) Citra Allah yang umum ialah segala sifat manusia yang membedakan
manusia dari makhluk lainnya.
Ajaran citra Allah dalam doktrin Kristen berkaitan dengan kejatuhan
umat manusia. Sejak kejatuhan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa,
citra Allah menjadi rusak, namun hal citra itu dikembalikan lagi hanya
melalui keselamatan oleh Yesus Kristus. Beberapa tokoh yang memegang
ajaran ini antara lain Calvin, Bruner, John Baillie, Bavinck, dan Berkouwer.
Teologi citra Allah Calvin dikenal sebagai Imago Dei.6
Teologi Citra Allah ini juga didasari oleh Alkitab: Berfirmanlah
Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,
supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang
merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-
5
A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2004), h. 23.
https://id.wikipedia.org/wiki/Citra_Allah#cite_note-Ensiklopedi-1. Diakses pada tanggal
21 Februari 2017, pukul 11:03 WIB.
6
77
Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka. (Surat Kejadian 1: 26-27).
Manusia memiliki keserupaan moral dengan Allah, karena mereka
tidak berdosa dan kudus, memiliki hikmat, hati yang mengasihi dan
kehendak untuk melakukan yang benar (Ef 4:24). Mereka hidup dalam
persekutuan pribadi dengan Allah yang meliputi ketaatan moral (Kej 2:1617) dan hubungan yang intim. Ketika Adam dan Hawa berdosa, keserupaan
moral dengan Allah ini tercemar (Kej 6:5). Dalam proses penebusan, orang
percaya harus diperbaharui kepada keserupaan moral itu lagi (Ef 4:22-24;
Kol 3:10).7
Yesus adalah karya penyelamatan Allah terhadap umat-Nya. Allah
menjadikan Tuhan Yesus sebagai alat. Karya penyelamatan Kristus itu
menampakkan isi Tuhan Allah, yaitu sebagai penyelamat umat-Nya. Atau
dapat dikatakan bahwa di dalam karya penyelamatan Kristus itu tampak
kebapaan Allah terhadap umat-Nya. Itu sebabnya dalam Yoh. 14:9 Tuhan
Yesus dapat berkata: “Barang siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat
Bapa.” Itulah juga sebabnya Tuhan Yesus disebut bayang-bayang Allah
(Kol. 1:14,15), atau zat Allah yang kelihatan (Ibr. 1:1) atau gambar Allah.
Menjadi gambar Allah menurut Alkitab berarti terpanggil untuk
mencerminkan hidup ilahi di dalam hidupnya. Tugas sebagai gambar Allah
sama dengan tugas menjadi anak Allah, yaitu menceminkan hidup Bapanya.
Hal ini hanya dapat terlaksana jika anak menaati kehendak Bapanya.
7
http://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=kejadian%201:26-28.Diakses pada tanggal
21 Februari 2017, pukul 11:23 WIB.
78
Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus adalah gambar Allah yang di
dalam hidupnya menampakkan hidup ilahi secara sempurna, yaitu bahwa
Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya atau penyelamat umat-Nya. Oleh
karena di dalam karya Tuhan Yesus itu Tuhan Allah sendiri yang datang
berbuat, maka Kristus selain disebut Anak Allah juga disebut Allah, dan
sebagainya. Maka, dapat dikatakan bahwa Tuhan Allah adalah Bapa di
dalam karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya, serta mengambil inisiatif atau
prakarsa untuk menyelamatkan umat-Nya, serta memanggil umat-Nya untuk
menjadi sekutu-Nya dengan hidup sebagai anak-anak-Nya.
Tuhan Yesus adalah Anak Allah di dalam karya-Nya untuk
merealisasikan hakikat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, yaitu
menyelamatkan umat-Nya. Di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah sendiri
berbuat. Di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah sendiri betindak sebagai
Anak Allah, yaitu menampakkan karya penyelamatan Allah.8
2. Pancasila Allah
Sapta Darma menyebutkan bahwa ada lima sifat utama Allah, yaitu
Mahaagung, MahaRokhim, Mahaadil, Mahawawesa, dan Mahalanggeng.
Meskipun Kristen tidak menyebutkan secara sama persis, namun kelima
sifat tersebut juga diyakini oleh umat Kristiani melekat pada Tuhannya.
3. Penyebutan nama Tuhan Allah
Baik Kristen maupun Sapta Darma, keduanya sama-sama menyebut
Tuhan mereka dengan pengucapan yang sama, yaitu Allah (dengan “a”
Alla(a)h, bukan “o” Alla(o)h). Meskipun penulis telah mengetahui bahwa di
8
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 147-148.
79
negara-negara yang berbahasa Arab, baik Kristiani maupun Muslim, samasama mengucapkan Alla(o)h. Namun, khusus di Indonesia penulis meyakini
bahwa umat Kristiani mengucapkan Alla(a)h adalah sebagai uapaya untuk
memberikan identitas pembeda antara Tuhan Allahnya dengan Allahnya
umat muslim.
B. Analisis Perbedaaan Konsep Ketuhanan Kristen dan Sapta Darma
a) Konsep Tritunggal
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam Kristen dikenal istilah
Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Meskipun ada banyak persepsi
dalam arti kata tritunggal di golongan Kristen sendiri, namun tetap yang
banyak dipahami oleh masyrakat atau bahkan umat Kristiani sendiri pada
umumnya adalah tiga pribadi berbeda. Untuk penjelasan lengkapnya sudah
dibahas di bab awal. Beda halnya dengan Sapta Darma, ia hanya mengenal
ajaran tentang Tuhan yang tunggal saja tanpa ada tambahan keterangan
tentang tritunggal ataupun dewa-dewa. Sri Pawenang berkata:
Tuhan yang juga kami sebut Yang Mahakuasa atau Allah atau Sang Hyang
Widi, ialah Zat mutlak yang Tunggal, pangkal segala sesuatu, serta
pencipta segala yang terjadi. Tuhan mempunyai lima sifat keagungan
mutlak, yaitu: Mahaagung, Maharokhim, Mahaadil, Mahawawesa
(Mahakuasa) dan Mahalanggeng (Mahakekal). 9
b) Hakikat Tuhan Allah
Baik Sapta Darma maupun Kristen, keduanya mengajarkan bahwa
Tuhan Allah pada hakikatnya tidak dapat dilihat dan tidak dapat diketahui
9
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 24-25.
80
oleh manusia. Namun, bagi Sapta Darma, Tuhan Allah lebih dipadandang
sebagai Yang Mutlak dalam arti falsafah. Oleh karena itu Tuhan Allah
hanya mewujudkan suatu cita atau ide saja, yang tidak dapat ditembus oleh
akal manusia.
Meskipun Sapta Darma memberikan sifat-sifat kepada Allah yang
secara positif, yaitu Mahaagung, Maharokhim, Mahaadil, Mahawawesa
dan Mahalanggeng. Akan tetapi justru dari keterangan mengenai sifat-sifat
tersebut kita mendapat kesan bahwa segala sifat positif itu dikenakan
kepada Allah dalam perkembangan-Nya yang lebih rendah atau kepada
pangkat emanasi Allah yang yang lebih rendah seperti halnya dengan para
Brahman dan Apara Brahman di dalam agama Hindu. Oleh karena itu,
Tuhan Allah dalam hakikat-Nya yang sebenarnya tidak dapat dikenal oleh
manusia. Orang tidak dapat mengenal Allah dalam keadaan-Nya Yang
Mutlak itu. Penguraian tentang Tuhan Allah dalam hakikatnya yang tidak
pernah jelas, serta mengandung banyak keterangan yang terdengar saling
bertentangan tanpa mendapatkan pemecahan yang harmonis.
Adapun cara Kristen menguraikan keadaan Tuhan Allah berbeda
sekali dengan cara Sapta Darma. Harus diakui bahwa Injil juga
menekankan bahwa Tuhan Allah tidak dapat dihampiri, dan bahwa tidak
seorang pun pernah melihat Dia, karena manusia memang tidak dapat
melihat Dia (1 Tim. 6:16). Akan tetapi penguraian Allah Kristen tidak
dilakukan secara falsafah, disebabkan para penulis Alkitab bukan
berfalsafah mengenai Tuhan Allah, mereka tidak memakai akalnya untuk
berspekulasi (mengotak-atik) tentang Tuhan Allah, melainkan mereka
81
bersaksi akan Allahnya. Mereka sudah menjumpai Tuhan Allah di dalam
hidupnya. Mereka sudah bergaul dengan Allahnya, dan atas dasar
pengalamannya itulah mereka menyaksikan Allah.
Itulah sebabnya penguraian para penulis Alkitab mengenai Allah itu
adalah penguraian yang didasarkan atas karya atau perbuatan Allah di
dalam sejarah umat-Nya. Jika mereka bersaksi bahwa Allahnya adalah
Allah yang esa, hal itu tidak diartikan secara matematis, tetapi keesaan itu
didasarkan atas karya Allah yang ditujukan kepada umat-Nya. Di dalam
sejarah sejarah umat-Nya, di dalam pergaulan-Nya dengan umat-Nya,
terbuktilah bahwa Allah Bapa adalah satu-satunya yang benar-benar Allah,
yang lain itu bukanlah Allah. Itulah sebabnya juga bahwa para penulis
Alkitab tidak merasa aneh untuk di satu pihak mengemukakan bahwa
Tuhan Allah adalah esa, dan di lain pihak memperkenalkan Allah sebagai
Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebab pengertian Bapa, Anak dan Roh Kudus
oleh para penulis Alkitab tidak diartikan secara falsafah, tidak diartikan
secara ontologis. Allah diakui sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus
didasarkan kepada karya Allah di dalam sejarah umat-Nya.
Demikianlah, baik keesaan maupun ketritunggalan Allah di dalam
Alkitab berlainan sekali dari yang diajarkan oleh Sapta Darma. Dengan
caranya menguraikan tentang Allah yang demikian itu, para penulis
Alkitab lebih jelas menonjolkan Tuhan Allah sebagai Pribadi yang
berhadapan dengan manusia sebagai pribadi yang lain.10
10
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 173-175.
82
c) Allah Menjadi Manusia
Jika kita tinjau secara mendalam, sebenarnya Sapta Darma maupun
Kristen mengajarkan bahwa Allah menjadi manusia. Namun, di dalam diri
Roh Suci (ajaran Sapta Darma), baik Ia dipandang sebagai pletikan Allah
maupun sebagai sinar cahaya Allah, sebenarnya Yang Mutlak menjelma
menjadi manusia. Dalam Kristen dapat dikatakan bahwa Yang Mutlak
menjadi daging. Ia dipenjara di dalam tubuh. Ia tetap Allah adanya, tetapi
karena suasana yang gelap dan sempit di dalam tubuh itu, Yang Mutlak
tidak dapt menikmati hidup. Ia merasa tidak enak karena ada banyak
rintangan dan gangguan yang merintangi serta menggangu pelaksanaan
kecakapannya. Ia tidak dapat bergerak dengan bebas.
Kristen juga mengajarkan tentang Allah yang menjadi manusia,
yaitu di dalam Firman yang menjadi daging atau menjadi manusia (Yoh,
1:4). Ia yang walaupun dalam rupa Allah dan tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, telah
mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi
sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia itu Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib (Flp. 2:6-8).
Perlu diketahui bahwa alasan Allah menjadi manusia bukan karena
nasib buruk yang menimpa-Nya yang harus diperangi supaya Ia dapat
lepas darinya, tetapi karena Ia hendak melepaskan manusia yang dikuasai
oleh dosa. Ia sendiri tidak memerlukan kelepasan itu. Ia adalah
pengungkapan kasih Allah kepada umat manusia, yang tidak dapat
83
memenuhi panggilan-Nya untuk memantulkan hidup ilahi. Ia adalah
gambar Allah yang sejati, yang dapat memantulkan hidup ilahi di dalam
hidup-Nya. Di dalam Dia itulah gambar Allah yang rusak pada manusia
dapat diperbaharui.
Oleh karena manusia tidak berdaya untuk melepaskan dirinya dari
kekuasaan dosa, maka Tuhan Allah mengutus Anak-Nya sendiri di dalam
daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa (Rm.
8:3). Di dalam daging ituah Kristus memantulkan hidup ilahi dengan cara
yang sempurna. Artinya, Ia hidup di dalam suasana kudus, benar dan
kasih, serta menaati kehendak Allah. Dengan menjadi daging itu, Ia
merendahkan diri-Nya agar Ia mewakili kita di dalam pengadilan Allah.
Dengan cara demikian itulah Ia memperbaharui manusia sehingga manusia
menjadi serupa dan segambar dengan Allah, yaitu hidup di dalam
kebenaran dan kekudusan.
Dengan demikian, teranglah bahwa hal Firman yang menjadi
daging atau menjadi manusia jika ditinjau lebih dalam itu berlainan
dengan ajaran Sapta Darma perihal cahaya Allah. Anak Allah dalam hidup
sebagai manusia justru hidup di dalam ketaatan kepada kehendak Allah
untuk mengalahkan dosa. Tetapi di dalam Sapta Darma Allah justru
dikuasai oleh dosa di dalam keadaan-Nya sebagai manusia.
Menurut Kristen, Anak Allah di dalam keadaan manusia itu
mengungkapkan kasih Allah kepada manusia, yaitu dengan memasuki
kesengsaraan-Nya, tetapi Sapta Darma mengajarkan bahwa Roh Suci
karena terpenjara di dalam tubuh. Akhirnya, menurut Kristen, Anak Allah
84
di dalam keadaan manusia itu mati bagi dosa, sekali untuk selamanya,
tetapi Sapta Darma mengajarkan bahwa Roh Suci terus-menerus menjadi
manusia.11
d) Kelepasan Manusia
Baik Sapta Darma maupun Kristen mengajarkan bahwa manusia
dapat mendapatkan kelepasan. Sapta Darma mengajarkan bahwa manusia
dapat dilepaskan dari menjadi permainan hawa nafsunya, sehingga ia
dapat bersekutu dengan Tuhan. Jalan yang harus ditempuh manusia adalah
bahwa pertama ia harus mengenal dirinya sendiri. Ia harus tahu terlebih
dahulu bahwa ia berasal dari Tuhan Allah, baik sebagai pletikan-Nya
maupun sebagai sinar cahaya-nya ataupun sebagai bayangan-Nya. dari sini
ia akan menyadari betapa celaka ia, karena dioermainkan oleh hawa
nafsunya. Selanjutnya, ia harus “bertobat”, mengubah tujuan hidup, yaitu
dari mengarahkan hidupnya ke luar menjadi mengarahkan hidupnya ke
dalam. Akunya yang rendah harus diselamkan dari bagian hidupnya yang
sadar ke dalam bagian hidupnya yang tidak sadar, yang tidak dapat
diketahui, yang gelap, sunyi dan kosong. Di situlah ia akan bertemu
dengan intisari hidupnya dan bersekutu dengan Yang Mutlak, Yang Suci,
dan Kosong. Di situ akan terjadi peleburan kawula Gusti, peleburan hamba
dan Tuhan, di mana hamba akan dilarutkan ke dalam Tuhannya.
Kristen juga mengajarkan bahwa manusia dapat dilepaskan dari
kekuatan dosa, sehingga dapat bersekutu dengan Tuhannya. Kristen juga
mengajarkan bahwa manusia dikuasai oleh dosa, sehingga manusia
11
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 178-179.
85
hidupdengan berakar di dalam dosa. Akan tetapi, Kristen tidak
mengajarkan bahwa sebenarnya masih ada bagian manusia suci. Kristen
ttidak mengajarkan adanya dua macam aku, yaitu aku yang rendah dan aku
yang tinggi.
Sapta Darma mengajarkan bahwa ada jalan kembali yang dapat
diusahakan oleh manusia sendiri untuk menemuai Allahnya, sedangkan
Kristen mengajarkan bahwa jalan yang demikian itu tidak ada. Manusia
tidak dapat menemukan ataupun membuat jalan kembali kepada Allah.
Keselamatan manusia hanya bergantung kepada Tuhan Allah. Tuhan
Allahlah yang karena kekayaan kemurahan-Nya sudah mendamaikan diriNya sendiri dengan manusia berdosa, yaitu di dalam Anak-Nya, Yesus
Kristus, Manusia tinggal menerimanya, yaitu dengan imannya. Dilihat dari
pihak manusia, iman adalah alat untuk menerima keselamatan dari Allah,
tetapi dilihat dari pihak Allah iman adalah pemberian anugerah Tuhan
Allah.
Ciri khas iman ialah, bahwa mata orang bukan harus diarahkan ke
dalam, melainkan ke luar. Dengan iman orang bukan harus menyelam dari
kesadarannya ke dalam bawah sadarnya yang sunyi dan kosong,
melainkan orang harus menyerahkan mata rohaninya senantiasa kepada
Tuhannya. Sebab segera seteah mata itu mengembara dari Tuhannya
kepada hal-hal yang lain, maka orang akan jatuh ke dalam dosa.
Buah kelepasan atau buah perdamaian Allah adalah bahwa
manusia
diperkenankan
bersekutu
dengan
Tuhan
Allah.
Tetapi
persekutuan ini bukan peleburan hamba dan Tuhan, di mana tiada lagi
86
perbedaan antara yang menyembah dan yang disembah. Di dalam
persekutuan ini manusia bukan dilarutkan ke dalam Zat Tuhan, sebab
manusia tetap manusia, yaitu makhluk, dan Tuhan tetap Tuhan, yang
berbeda sekali dari manusia.
Hal ini tidak berarti bahwa orang beriman di dalam dunia ini sudah
mendapat kesempurnaan. Sebab menurut Injil, hari kemerdekaan
kemuliaan para anak Allah itu baru akan dinyatakan kelak pada akhir
zaman, yaitu jika Tuhan Yesus datang kembali untuk menghakimi orang
yang hidup dan yang mati (Rm. 8:18-23). Oleh karena itu, perjalanan
orang beriman sekarang ini baru dengan iman, bukan dengan penglihatan
(2 Kor. 5:7). Sekarang ini orang beriman baru melihat dalam cermin
gambaran yang samar-samar, tetapi nanti akan melihat muka dengan
muka, sekarang ia hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti ia
kan mengenal dengan sempurna, seperti ia sendiri dikenal (1 Kor. 13:12).
Menurut Kristen, apa yang akan dianugerahkan dengan sempurna
pada akhir zaman adalah lanjutan dari apa yang sekarang sudah
dianugerahkan kepada orang beriman. Oleh karena itu, maka persekutuan
dengan Allah yang secara sempurna, yang kelak akan dianugerahkan itu,
bukan peleburan hamba dan Tuhan. Juga di situ masih ada perbedaan
antara yang menyembah dan yang disembah. Sbeba Tuhan adalah Tuhan,
dan manusia adalah makhluk-Nya.12
12
Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, h. 179-182
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep ketuhanan Sapta Darma dengan Kristen jelas berbeda. Jika
Sapta Darma mempercayai konsep Tuhan yang satu, maka Kristen ada
konsep
tritunggal.
Namun
tetap
ada
sisi
persamaannya
meskipun
persamaannya bersifat general (juga dimliki dalam konsep ketuhanan agama
lain), yaitu perihal sifat-sifat utama (baik) Tuhan yang ada di dalam Sapta
Darma maupun didalam Kristen yaitu penyebutan sifat Tuhan; Mahaagung,
yang dimaksud Mahaagung disini adalah tidak ada satu pun yang memiliki
sifat yang sama dengan Allah tersebut. Maka dari itu, manusia harus memiiki
watak berbudi luhur sesama umat seperti apa yang dimiliki sifat oleh Allah
yang maha Agung itu sendiri,
MahaRokhim, yang dimaksud Maharohim disini adalah tidak ada
yang bisa menyerupai kasih sayang. Maka dari itu, manusia harus memiliki
watak kasih sayang kepada sesama umat. Mahaadil, yang dimaksud Mahaadil
disini adalah tidak ada yang bisa menyamai keadilan Allah tersebut. Maka
manusia harus memiliki keadilan kepada siapa saja dan tidak boleh
membeda-bedakan sesama umat.
Mahawawesa, yang dimkasud Mahawasesa disini adalah Allah
Merupakan penguasa alam dan tidak ada yang menyerupai kekuasaannya.
Maka dari itu, kita manusia diberikan kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan
87
88
jasmani
dan
rohani.
dan
Mahalanggeng.
Yang
dimaksud
dengan
Mahalanggeng disini adalah Allah itu memiliki sifat yang abadi dan tidak ada
yang bisa menyamai keabadiannya. Maka dari itu manusia harus memiliki
sifat keabadian rohani dari rohani asal sinar cahaya Allah dan jasmani asal
dari sari-sari bumi. Serta manusia harus belajar supaya memiliki sifat budi
yang luhur. Keduanya memiliki persamaan dalam memaknai sifat-sifat Tuhan
tersebut. Selain itu, juga baik Kristen maupun Sapta Darma, keduanya samasama menyebut Tuhan mereka dengan pengucapan yang sama, yaitu Allah
(dengan “a” Alla(a)h, bukan “o” Alla(o)h). Serta keduanya menyebutkan
bahwa konsep emanasi, alam ini, khususnya manusia adalah bagian dari
Tuhan menurut konsep Kristen dan Sapta darma keduanya adalah suatu
tindakan dari Tuhan itu sendiri, dimana dalam Sapta Darma dan Kristen
menyatakan Manusia berasal dari Roh Suci (Pancaran Tuhan), sehingga
manusia memiliki sifat Tuhan itu sendiri.
B. Saran
Harus diakui bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, terutama
dalam pemilihan temanya yang kurang menarik bagi masyarakat luas. Penulis
menyarankan untuk siapa saja yang membaca skripsi ini agar dapat melihat
kekurangan skripsi ini untuk selanjutnya dilengkapi dengan skripsi atau karya
tulis lainnya, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pembaca lainnya yang
kurang puas dengan skripsi ini.
Saran penulis bagi pembaca yang hendak melakukan penelitian
lanjutan berkaitan dengan skripsi ini adalah ambil materi unik dan menarik
89
(berbeda) yang tidak ada di agama-agama besar, seperti halnya mengenai
Racut. Ini sangat menarik, karena seolah-olah kita diajak untuk dapat
merasakan kematian dan bertemu Tuhan dalam kondisi hidup. Ini akan
menjadi materi yang segar dan lebih inspiratif dari skripsi ini.
Namun, penulis tetap berharap setidaknya skripsi ini dapat
memberikan wawasan baru bagi pembaca dan menambah khazanah
pengetahuan bidang Studi Agama-agama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hakim, Atang dan Beni Ahmad Saebani. Filsafat Umum: dari Metologi
sampai Teosofi. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Ali, Mukti (Ed). Agama –agama di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga
Press, 1988.
Al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi Ilmu Pengetahuan. Bandung: Al-Mizan, 2009.
Al-Maliki, Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi. Hasyiyah al-Allamah Al-Showi 'ala
Tafsir Al-Jalalain Juz I. Jeddah: Al-Haramain, t.t.
Browning, W.R.F. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.
Hadiwijono, Harun. Apa dan Siapa Tuhan Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1974.
_______________. Firman Hidup: Seri 6. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1971.
_______________. Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
_______________. Inilah Sahadatku. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981.
_______________. Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Jakarta:
Sinar Harapan, 1983
______________. Kebatinan dan Injil. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.
______________. Kebatinan dan Injil. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
______________. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
1980.
Herdiansyah, Haris. Metodologi
Humanika, 2012.
Penelitian Kualitatif.
Jakarta:
Salemba
Heuken, SJ. A. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2004.
Djam’annuri. “Agama Kristen” dalam Mukti Ali (ed). Agama-agama di Dunia
Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988.
Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen.Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1963.
Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perbandingan.
Jakarta: UI-Press, 2010.
Pawenang, Sri. Buku Wewerah KerokhanianSapta Darma Jilid 1. Yogyakarta:
Sekretariat tuntunan Agung Unit Penerbitan Surokarsan, 1968.
Quthb, Sayyid. Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an: Di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid
1.Jakarta: Rabbani Press, 2011.
90
91
Rahnip. Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan. Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997.
Rahman, Rolly. Konsepsi Sujud Dalam Ajaran Sapta Darma. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan
Agama, 2013.
Sejarah Penerimaan Wahyu Wewewrah Sapta Darma dan Perjalanan Panuntun
Agung Sri Gutama Edisi Pertama. Yogyakarta: Sekretariat Tuntunan
Agung Kerokhanian Sapta Darma Unit Penerbitan, 2010.
Sou’yb, Joesoef. Agama-agama Besar di Dunia. Jakarta: Al husna Zikra, 1996.
S, Suwarno Imam. Konsep Tuhan, Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan
Jawa. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Sambas, Abas. Konsepsi Wahyu dalam Ajaran Sapta Darma. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Perbandingan
Agama, 2011.
Sutrisno, Hadi. Metodologi Riset. Yogyakarta: Andi Ofset, 1982.
Suprayogo, Imam dan Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2003.
Taunuzi, Iwan. Monoteisme Kriten dalam Perdebatan: Mengurai Doktrin
Ketuhanan menurut Jamaat Allah Global Indonesia (JAGI) Semarang.
Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Program
Studi Perbandingan Agama, 2009.
Situr Internet:
http://alkitab.sabda.org
https://id.wikipedia.org
https://mahbubrisad.wordpress.com
https://deuteronomi.wordpress.com/tentang-gnostik/
http://www.referensimakalah.com/2012/07/pengertian-emanasi-pengantar.html
Software:
Kamus 2.04
KBBI offline 1.5.exe
Download