linkage keuangan - Kota Tanpa Kumuh

advertisement
KUMPULAN MODEL
LINKAGE KEUANGAN
ANTARA PINJAMAN DANA BERGULIR PNPM MANDIRI
DAN LEMBAGA KEUANGAN
Tim Penyelia: Rudi Prawiradinata, Magdalena, Safriza Sofyan, Agus Manshur, Risfan Munir, Arief Rahadi, Hari Prasetyo,
Kusnan Effendi
Tim Penulis: Cynthia Clarita Kusharto (ed.), Indriana Nugraheni, Upik Sabainingrum, Dwi Wahyu Hadiwijono
Agus Supriyadi
Tim Desain Grafis: Media Art
Analisa, interprestasi, dan kesimpulan yang terdapat dalam buku ini adalah produk dari tim studi Proyek Percontohan
PDB PNPM Mandiri dan tidak mewakili PSF, maupun institusi lainnya yang disebutkan dalam buku ini
Buku ini diterbitkan oleh Kelompok Kerja (Pokja) PNPM Mandiri bekerjasama dengan PNPM Support Facility (PSF)
Cetakan Pertama: Agustus 2014
KUMPULAN MODEL
LINKAGE KEUANGAN ANTARA
PINJAMAN DANA BERGULIR
PNPM MANDIRI DAN
LEMBAGA KEUANGAN
Dilaksanakan di:
Sumatera Barat - Jawa Tengah - DI. Yogyakarta - Nusa Tenggara Timur
Tim Studi Linkage - Proyek Percontohan Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri
PNPM Support Facility (PSF)
KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan petunjuk-Nya sehingga buku “Kumpulan Model Linkage Keuangan antara
Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan” ini dapat disusun.
Buku ini merupakan kumpulan dari pengalaman Unit Pengelola Kegiatan dan
Unit Pengelola Keuangan di lokasi-lokasi PNPM Mandiri yang telah memulai inisiasi
linkage (kerjasama) keuangan dengan lembaga-lembaga keuangan formal. Inisiasi-inisiasi
yang muncul di lapangan merupakan upaya dari pelaku-pelaku PNPM Mandiri untuk
tetap membantu masyarakat miskin dalam penyediaan layanan pinjaman dana secara
berkelanjutan.
Sebagaimana diketahui, program pinjaman dana bergulir (selanjutnya disebut
Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat atau DAPM) PNPM Mandiri telah banyak
membantu masyarakat miskin mendapatkan akses pendanaan yang kemudian digulirkan
untuk melayani warga miskin lainnya. Linkage keuangan yang difasilitasi PNPM Mandiri
dengan lembaga-lembaga keuangan telah menghubungkan penerima manfaat DAPM
PNPM Mandiri untuk mendapatkan akses pendanaan yang lebih besar dan berkelanjutan
melalui kerjasama dengan lembaga keuangan.
Temuan di lapangan menunjukkan, fasilitasi linkage dapat membantu menjembatani
penerima manfaat DAPM yang belum layak menjadi nasabah bank karena berbagai kendala
untuk dapat mengakses layanan keuangan. Linkage juga mendorong terjadinya inklusi
keuangan, melalui akses terhadap layanan jasa keuangan yang bervariasi baik layanan
tabungan, asuransi, dan jasa pembayaran lainnya yang diperlukan bagi pengembangan dan
keberlanjutan UMKM. Kasus-kasus yang terekam dalam studi ini dimaksudkan dapat
menjadi masukan bagi pengembangan model linkage keuangan di PNPM Mandiri, dan
dapat diterapkan sesuai kondisi daerah masing-masing.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
v
Pokja Pengendali PNPM Mandiri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Tim Teknis Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat (DAPM), pemerintah
daerah, dan pelaku PNPM Mandiri di lapangan, yang mendukung penyusunan buku
kumpulan studi kasus ini.
Jakarta, Juli 2014
Deputi Menko Kesra
Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
Selaku Ketua Pokja Pengendali PNPM Mandiri
Sujana Royat
vi
Kementerian PPN/
BAPPENAS
KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan berkah,
rahmat dan hidayah Nya sehingga buku Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara
Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan ini akhirnya dapat
diselesaikan dengan baik.
Penerbitan buku kumpulan model linkage ini bertujuan untuk mendokumentasikan
berbagai model linkage keuangan yang telah dilakukan antara pengelola pinjaman dana
bergulir PNPM Mandiri dan lembaga keuangan di 4 (empat) provinsi, yaitu Sumatera
Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur.
Dengan adanya dokumentasi ini diharapkan para pengelola pinjaman dana bergulir
PNPM Mandiri lainnya dapat mempelajari berbagai model linkage keuangan yang telah
dilakukan selama ini sehingga mereka akan memperoleh pengalaman (lessons learned) yang
dapat diterapkan dalam menjalin kerjasama linkage keuangan dengan lembaga keuangan.
Selanjutnya, dokumentasi ini diharapkan juga akan mendorong berbagai lembaga
keuangan baik bank maupun non bank untuk menjalin kerjasama linkage keuangan yang
lebih intensif dengan pengelola pinjaman dana bergulir PNPM Mandiri dalam jangka
panjang.
Akhir kata, kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Tim
Penyusun serta Tim Teknis Pengembangan DAPM PNPM Mandiri yang merupakan
representasi dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian PPN/
Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Sekretariat Tim
Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Development Foreign Affair
and Trade (DFAT) Pemerintah Australia dan PNPM Support Facility (PSF) atas dedikasi
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
vii
dan kerja kerasnya sehingga mampu menyelesaikan buku kumpulan model linkage ini
secara bersama-sama. Semoga buku kumpulan model linkage ini bermanfaat bagi upaya
pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan secara nasional.
Jakarta, 11 Juli 2014
Deputi Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan UKM
Kementerian PPN/Bappenas
Rahma Iryanti
viii
Kementerian Dalam Negeri
Republik Indonesia
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terlaksananya kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan, sehingga memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat banyak.
Dari perjalanan panjang pelaksanaan program tersebut, saat ini dapat disusun sebuah buku
yang berisikan pembelajaran penyelenggaraa kegiatan dana bergulir.
Program Simpan Pinjam untuk kelompok Perempuan (SPP), yang dilaksanakan
PNPM Mandiri Perdesaan telah banyak membantu masyarakat miskin untuk mendapatkan
akses bantuan keuangan dalam jumlah terbatas. Pinjaman pola dana bergulir dari PNPM
telah banyak membantu masyarakat miskin untuk mengembangkan penghidupan mereka
dan merintis kegiatan-kegiatan ekonomi skala mikro dan kecil di wilayah perdesaan.
Tidak hanya sampai disitu, kerjasama bidang keuangan yang diinisiasi dan difasilitasi
oleh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dengan lembaga-lembaga keuangan telah
menghubungkan para penerima manfaat PNPM Mandiri untuk mendapatkan layanan
dasar keuangan lainnya yang tidak dilayani dalam program PNPM Mandiri, seperti jasa
tabungan dan asuransi.
Pembelajaran dan pengalaman dari lapangan yang beraneka ragam dalam buku ini
diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan bagi para pemangku kebijakan dan
pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dalam mengembangkan kerjasama keuangan
untuk memperkuat pengelolaan pinjaman pola dana bergulir PNPM Mandiri Perdesaan.
Beberapa pengalaman yang terekam dalam buku ini dapat menjadi masukan bagi
pengembangan kebijakan kemitraan yang lebih luas dengan pihak non-PNPM Mandiri
Perdesaan untuk pengembangan program.
Jakarta, Juli 2014
DIREKTUR JENDERAL
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
Ir. TARMIZI A. KARIM, MSc
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
ix
Kementerian Pekerjaan Umum
Republik Indonesia
KATA PENGANTAR
Kegiatan pinjaman dana bergulir (PDB) PNPM Mandiri Perkotaan merupakan sarana
pembelajaran warga miskin untuk meningkatkan pendapatan keluarga melalui berbagai
jenis kegiatan ekonomi produktif. Untuk menghilangkan hambatan akses terhadap sumber
permodalan usaha, maka dalam penyaluran pinjaman dana bergulir, tidak mensyaratkan
adanya agunan, tetapi lebih menitikberatkan kepada kepercayaan, kejujuran dan rekam
jejak peminjam.
Untuk memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan nilai pinjaman, BKM
sebagai pengelola pinjaman dana bergulir telah melakukan berbagai upaya kemitraan
dengan berbagai pihak, seperti Dinas Teknis Pemda, perbankan, Koperasi, Asuransi dan
lembaga keuangan mikro lainnya. Beberapa perbankan yang telah melakukan kemitraan
dengan BKM/LKM di antaranya BRI, Bank Mandiri, Bank Nagari, Bank Sumut Syariah,
BNI, BPR, Dinas Koperasi dan sebagainya.
Buku “Kumpulan Model Linkage Keuangan antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri dan Lembaga Keuangan“ telah menggambarkan dengan baik tentang kemitraan
dana bergulir ini. Semoga dapat dijadikan referensi bagi para pemerintah daerah dan
stakeholder lainnya untuk menjalin kemitraan dengan BKM/LKM sebagai pengelola
Pinjaman Dana Bergulir.
Jakarta, Juli 2014
Direktur Jenderal Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum
Imam S. Ernawi
x
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
xi
Daftar Singkatan dan Akronim
AD
AJRP
APBN-P
AO
APHT
ART
ASKUM
Bappeda
BEJ
BKAD
BKK: BLH
BLKI
BLM
BMPK
BNI
BPD
BPKB
BPR
BRI
BUKP
BUMD
BUMN
CSR
diklat
DOK
DPK
faskab
faskel
faskeu
FGD
FK
FT
xii
: anggaran dasar
: Asuransi Jasa Raharja Putra
: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan
: account officer
: Akta Pemberian Hak Tanggungan
: anggaran rumah tangga
: Asuransi Kredit Kumpulan
: Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
: Bursa Efek Jakarta
: Badan Koordinasi Antardaerah
: Badan Kredit Kecamatan
: Badan Lingkungan Hidup
: Balai Latihan Kerja Industri
: Bantuan Langsung Masyarakat
: batas maksimum pemberian kredit
: Bank Negara Indonesia
: Bank Pembangunan Daerah
: Buku Pemilik Kendaraan Bermotor
: Bank Perkreditan Rakyat
: Bank Rakyat Indonesia
: Badan Usaha Kredit Perkotaan
: Badan Usaha Miliki Daerah
: Badan Usaha Milik Negara
: corporate social responsibility
: pendidikan dan latihan
: Dana Operasional Kegiatan
: dana pihak ketiga
: fasilitator kabupaten
: fasilitator kelurahan
: fasilitator keuangan
: focus group discussion atau diskusi kelompok terarah
: fasilitator kecamatan
: fasilitator teknik
GMIT
IPTW
KBP
KITAS
KK
KKLK
KMW
korkot
KPKL
KPUM
KSM
KSP
KTP
KUD
Kupedes KUR
KYD
LKBB
LKM
LKMA
MAD
MAK
NBH
NPL
NPWP
NTT
P2KP
PA
PBL
PAD
PD (BPR BKK)
PDB
pemda
: Gereja Masehi Injili Timor
: insentif pembayaran tepat waktu
: komunitas belajar perkotaan
: kartu izin tinggal terbatas
: kartu keluarga
: kredit kepada lembaga keuangan
: konsultan manajemen wilayah
: kordinator kota
: kelompok pedagang kaki lima
: kredit peduli usaha mikro
: kelompok swadaya masyarakat
: kelompok simpan pinjam
: kartu tanda pengenal
: koperasi unit desa
: Kredit Usaha Pedesaan
: kredit usaha rakyat
: kredit yang diberikan
: lembaga keuangan bukan bank
: lembaga keswadayaan masyarakat
: Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis
: musyawarah antardesa
: musyawarah antardesa/kelurahan
: Nunnbaun Delha
: non performing loan/kredit macet
: nomor pokok wajib pajak
: Nusa Tenggara Timur
: Program Penanggulanan Kemiskinan Perkotaan
: per annum
: Penataan Bangunan dan Lingkungan
: pendapatan asli daerah
: perusahaan daerah
: pinjaman dana bergulir
: pemerintah daerah
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
xiii
PKBL
: Program Kemitraan Bina Lingkungan
PKK
: Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
PKL
: pedagang kaki lima
: Persatuan Kelompok Pedagang Kaki Lima
PKPL
PNPM GSC
: PNPM Generasi Sehat dan Cerdas
PNPM MP
: PNPM Mandiri Perdesaan/Perkotaan
PNPM PEM
: PNPM Penguatan Ekonomi Masyarakat
PNPM
: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Podes
: Potensi desa
PPK
: pejabat pembuat komitmen
PPK
: Program Pengembangan Kecamatan
PPKPB
: pedoman pelaksanaan kegiatan pinjaman bergulir
PPOB
: Payment Point On Line Bank
PT
: Perseroan Terbatas
PTO
: petunjuk teknis operasional;
PU
: Pekerja Umum
rakor
: rapat koordinasi
Raskin
: Program Beras untuk Masyarakat Miskin
RLF
: revolving loan fund (program dana bergulir)
RPJM
: rencana pembangunan jangka menengah
RT: rukun tetangga:
RTM
: rumah tangga miskin
RW
: rukun warga
RWT
: rembug warga tahunan
satker : satuan kerja
SBD
: Sumba Barat Daya
SDM
: sumber daya manusia
SHM
: sertifikat hak milik
SHU
: sisa hasil usaha
: surat izin mengemudi
SIM
Simpedes
: Simpanan Pedesaan
SIUP
: surat izin usaha perdagangan
SKMHT
: surat kuasa memasang hak tanggungan
SMS
: sertifikat masal swadaya
SNVT BPL
: Satua Kerja Non Vertikal Tertentu
SOP
: standard operating procedures
SPC
: surat penetapan camat
SPH
: surat pengakuan hutang
SPP
: Simpan Pinjam Perempuan
SPPP
: surat perjanjian pemberian kredit
xiv
SPPT
STNK
TDF
TLM
TTS
TTU
TV
UEP
UK
UKM
UMKM
UP
UPK
UPK
UPL Mikro
UPL
UPS
USPD
YMTM
: surat pemberitahuan pajak terhutang
: surat tanda nomor kendaraan
: tanda daftar perusahaan
: Tanaoba Lais Manekat
: Timor Tengah Selatan
: Timor Tengah Utara
: team verifikasi
: unit ekonomi produktif
: Unit Kemitraan
: usaha kecil dan menengah
: usaha mikro, kecil dan menengah
: unit pengelola
: unit pengelola kegiatan – PNPM Perdesaan
: unit pengelola keuangan – PNPM Perkotaan
: unit pelayanan langsung
: unit pengelola lingkungan
: unit pelaksana sosial
: unit simpan pinjam desa
: Yayasan Mitra Tani Mandiri
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
xv
Daftar Isi
Kata Pengantar Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat ............................................................................................................... v
Kata Pengantar Deputi Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan UMKM,
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional ................................... vii
Kata Pengantar Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa,
Kementerian Dalam Negeri ................................................................................................... ix
Kata Pengantar Direktur Jenderal Cipta Karya,
Kementerian Pekerjaan Umum............................................................................................. x
Daftar Singkatan dan Akronim.............................................................................................. xii
Daftar Isi ........................................................................................................................................ xvi
Pendahuluan ............................................................................................................................... 1
Studi Linkage Antara Bank Nagari (BPD Sumbar) dan LKM Ampang Saiyo,
Kota Padang, Sumatera Barat................................................................................................ 5
Studi Linkage Antara Asuransi Jiwa Bumiputera 1912 dan UPK Rangkiang
Mandiri, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat......................................................... 17
Studi Linkage Antara PKBL Bank Mandiri dan LKM Arta Murti,
Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta ....................................................................................... 27
Studi Linkage Antara Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 dan UPK Jetis,
Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta ...................................................................................... 37
xvi
Studi Linkage Antara CV. Betta Ikasindo dan LKM Maju Sejahtera,
Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta ....................................................................................... 49
Studi Linkage Antara PD BPR-BKK Karangmalang Cabang Kalijambe dan
UPK Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ......................................................... 59
Studi Linkage Antara PD BPR Bank Daerah Pati dan BKM-UPK Pelangi Jaya,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah ............................................................................................... 71
Studi Linkage Antara Program Swamitra Bank Bukopin dan BKM Mitra
Sejahtera, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ................................................................. 79
Studi Linkage Antara BRI Cabang Brebes dan LKM Budi Luhur,
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.......................................................................................... 89
Studi Linkage Antara PD BPR BKK Pati Kota dan BKM UPK Ngesti Rahayu,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah .............................................................................................. 99
Studi Linkage Antara BRI Cabang Bumi Ayu dan BKM UK Maju Sejahtera,
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ......................................................................................... 107
Studi Linkage Antara PD BPR-BKK Kebumen dan UPK Kebumen,
Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.................................................................................... 117
Studi Linkage Antara Bank NTT Cabang Bajawa dan BKM Wiu Riwu,
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ......................................................................... 127
Studi Linkage Antara Asuransi Jasa Raharja Putera dan UPK Ende Timur,
Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ............................................................................ 139
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
xvii
Studi Linkage Antara Yayasan Mitra Tani Mandiri dan UPK Nekmese,
Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur................................................ 151
Studi Linkage Antara P.T. BPR Tanaoba Lais Manekat dan BKM UPK Nunbaun
Delha, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur....................................................................... 163
Linkage Antara BNI 46 dan BKM-UPK Trikora, Kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur ............................................................................................................... 173
Studi Linkage Antara Bank BRI Unit Elopada dan UPK Wewewa Utara,
Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur ................................................. 185
xviii
PENDAHULUAN
Program pinjaman dana bergulir (PDB) berbasis masyarakat di bawah PNPM
Mandiri dan proyek-proyek sebelumnya, yakni Program Pengembangan Kecamatan (PPK)
dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), telah menyediakan
layanan kredit bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang memiliki akses terbatas atau
tidak memiliki akses terhadap kredit dari lembaga keuangan formal. Program PDB telah
mendukung kegiatan peningkatan pendapatan bagi rumah tangga miskin dan memfasilitasi
pengembangan kegiatan usaha mikro dan kecil. Namun, dalam operasionalisasinya
skema PDB mendapat tantangan yang signifikan dalam memastikan pertumbuhan dan
penyediaan layanan keuangan yang berkelanjutan bagi masyarakat sasaran. Salah satu
solusi potensial untuk menciptakan layanan keuangan yang berkelanjutan adalah dengan
memperkuat linkage antara PDB PNPM Mandiri dan lembaga keuangan formal yang
memiliki minat untuk memperluas layanan keuangan mikro.
Temuan awal dari lapangan menunjukkan bahwa sudah ada kerja sama atau linkage
keuangan (linkage) antara PDB PNPM Mandiri dan lembaga-lembaga keuangan formal.
Namun, hal tersebut belum secara sistematis tercatat dan terdokumentasi dengan baik.
Catatan dan dokumentasi mengenai linkage tersebut diharapkan dapat memberikan
wawasan yang berharga dan penting tentang linkage dan dapat dipergunakan untuk
berbagi pengetahuan secara lebih luas di antara para pemangku kepentingan PNPM dan
para penyedia layanan keuangan formal. Selain itu, pelajaran yang didapat bisa membantu
PDB dan unit pengelola keuangan dalam mendorong dan mengembangkan inovasi bagi
layanan PDB yang lebih baik.
Buku “Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri dan Lembaga Keuangan” ini adalah salah satu hasil rekaman dari studi lapangan
mengenai model-model linkage yang terjadi di lokasi PNPM Mandiri. Studi dilakukan
antara bulan Desember 2011 hingga Mei 2012 oleh Tim Studi Proyek Percontohan PDB
PNPM Mandiri. Studi linkage ini merupakan kumpulan hasil wawancara mendalam
terhadap para pelaku yang menginisiasi dan melaksanakan linkage keuangan di lapangan,
termasuk di antaranya dari para konsultan dan fasilitator PNPM, UPK, pejabat pemerintah
daerah, bank umum, perusahaan asuransi, dan para nasabah/pemanfaat PDB seperti
kelompok peminjam dan individu.
Adapun temuan dari model-model linkage ini kemudian dianalisa bersama dengan
hasil survei pemetaan linkage keuangan (2012) yang hasilnya telah diterbitkan dalam
buku “Laporan Hasil Studi Linkage Antara PNPM Mandiri Pinjaman Dana Bergulir dan
Lembaga Keuangan” (2013). Berikut adalah ringkasan temuan dan hasil analisa utama dari
laporan hasil studi tersebut:
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
1
Membangun kemitraan (partnership) bukanlah hal yang baru dalam PNPM. Secara
umum, para pelaku PNPM sudah akrab dengan konsep kemitraan dengan para pemangku
kepentingan di luar program PNPM. Misalnya, para konsultan dan fasilitator PNPM
Perkotaan, khususnya di bawah program PNPM/P2KP Advance, sudah terbiasa dengan
konsep channeling yang merujuk pada kemitraan dengan pihak ketiga mana pun untuk
mendukung kemandirian dan keberlanjutan PNPM. Hal ini termasuk kemitraan dengan
program keuangan dan non-keuangan. Di PNPM Perdesaan, para pelaku PNPM sudah
memulai kemitraan dengan sektor swasta dengan menggunakan program Corporate Social
Responsibility (CSR) untuk mendukung program PNPM bagi pemberdayaan masyarakat
dan pengentasan kemiskinan. Kemitraan-kemitraan dalam PNPM Mandiri telah
mendorong dan memfasilitasi munculnya linkage dengan lembaga-lembaga keuangan
formal.
Salah satu faktor yang mendorong terjadinya linkage antara UPK dan lembagalembaga keuangan, khususnya untuk kredit, adalah kebutuhan akan pinjaman dalam
jumlah yang lebih besar dan tersedia terus menerus bagi para pemanfaat PDB. Pengalaman
linkage pada PNPM Perkotaan dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memfasilitasi dan
mencari sumber kredit lainnya bagi para mantan pemanfaat PDB. Dalam banyak kasus,
para mantan pemanfaat PDB yang sudah tidak memenuhi syarat untuk meminjam lagi
dari PDB mengalami kesulitan untuk langsung “naik kelas” menjadi nasabah lembaga
keuangan formal. Salah satu hambatan utamanya adalah kewajiban menyediakan
agunan sebagai jaminan untuk mendapatkan akses dari kredit komersial. Sementara
pada PNPM Perdesaan, kasus linkage kredit ditemukan di lokasi pasca PNPM, seperti
di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Linkage dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan
untuk mendapatkan modal tambahan bagi dana yang dikelola UPK. Kebutuhan akan
linkage dengan lembaga-lembaga keuangan kemudian menyebabkan sejumlah pelaku/
orang menjadi pemrakarsa terjadinya linkage (champion). Pelaku tersebut seringkali adalah
konsultan atau fasilitator PNPM, anggota UPK, atau anggota BKM/BKAD yang peduli
terhadap keberlanjutan akses akan kredit bagi masyarakat.
Studi menemukan tiga model linkage yang sudah terjadi antara UPK dan lembaga
keuangan. Model-model ini dapat dibedakan berdasarkan peran dan risiko yang ditanggung
UPK selama pelaksanaan linkage. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai peran UPK
yang ditemukan dalam linkage yang telah terjadi:
• Model pertama, UPK bertindak sebagai nasabah langsung dari bank atau sebagai
pelaksana linkage (executing). Beberapa karakteristik utama dari model ini adalah
adanya surat pengakuan hutang/perjanjian kredit antara bank dan UPK, yang
menyatakan UPK sebagai peminjam. Selain itu, studi juga menemukan ada dua
subvarian pengelolaan pinjaman berdasarkan model ini, yaitu: pertama, pinjaman
bank dikelola langsung di bawah manajemen UPK, dan yang kedua, pinjaman bank
2
•
•
dikelola melalui unit keuangan baru yang dibentuk di bawah BKM, seperti Unit
Kemitraan (UK) yang ditemukan dalam kasus linkage antara PNPM Perkotaan dan
Bank Rakyat Indonesia.
Model kedua, UPK bertindak sebagai agen penyalur (channeling) bank atau lembaga
keuangan bukan bank (LKBB). Dalam model ini, UPK menjadi perpanjangan
tangan layanan keuangan. Sebagai imbalannya, UPK menerima jasa manajemen dari
lembaga keuangan sebagai insentif untuk layanan yang disediakan. Dalam model ini
nota kesepahaman (MOU) biasanya ditandatangani antara lembaga keuangan dan
UPK, yang mengatur peran masing-masing pihak dalam kerja sama tersebut. Studi
ini menemukan bahwa linkage melalui peran UPK sebagai penyalur (channeling)
bank atau LKBB dapat ditemukan dalam berbagai jenis produk keuangan, seperti
kredit, asuransi, dan layanan jasa pembayaran.
Model ketiga, UPK bertindak sebagai pemberi rekomendasi bagi para nasabah
dan mantan nasabah PDB. Rekomendasi dari UPK biasanya untuk pengajuan
permohonan kredit atau pembukaan rekening tabungan (kelompok) di bank.
Rekomendasi tersebut dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. Namun, jenis
kemitraan ini kurang formal karena tidak ada perjanjian tertulis atau MOU antara
lembaga keuangan dan UPK. Studi juga menemukan bahwa rekomendasi lisan terjadi
karena telah adanya hubungan yang erat dan informal antara anggota UPK dan staf
lembaga keuangan, di mana sudah ada rasa saling percaya telah berkembang di antara
anggota kedua lembaga tersebut. Model linkage dengan cara pemberian rekemendasi
lisan dari staf UPK adalah yang paling dominan ditemukan pada kasus-kasus linkage
di PNPM Perdesaan dan PNPM Perkotaan.
Sementara dari sudut pandang lembaga keuangan, komitmen untuk melakukan
linkage dengan PNPM didorong oleh dua pendekatan, yaitu: (i) murni komersial, di mana
bank terlibat dalam linkage untuk memperoleh keuntungan finansial, dan (ii) tanggung
jawab sosial, di mana bank terlibat dalam linkage sebagai tanggung jawab sosial perusahaan
(CSR). Dalam banyak kasus linkage kredit, bank-bank komersial seperti Bank Mandiri,
BRI dan BNI menggunakan sumber dana dari program CSR, program kemitraan dan bina
lingkungan (PKBL), atau menggunakan kredit usaha rakyat (KUR) untuk memfasilitasi
nasabah baru yang belum layak menjadi nasabah bank komersial (unbankable). Bankbank ini kemudian membantu UPK dan para pemanfaat PDB-nya untuk secara perlahan
bergerak ke skema komersial. Contoh kasus linkage yang menggunakan CSR, PKBL dan
KUR sebagian besar ditemukan di lokasi PNPM Perkotaan.
Studi juga menemukan belum ada arahan strategis dan minimnya bimbingan teknis
dari PNPM untuk membangun dan mengelola linkage dengan lembaga-lembaga keuangan.
Belum adanya strategi linkage dapat menimbulkan permasalahan serius dalam membangun
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
3
dan mengembangkan kerjasama keuangan lebih lanjut. Studi juga mengidentifikasi
beberapa tantangan untuk mengembangkan linkage diantaranya, kurangnya informasi
untuk memulai program linkage dilaporkan telah menghambat inisiasi linkage. Selama
pelaksanaan studi, baik pelaku PNPM maupun UPK menyatakan bahwa mereka memiliki
informasi yang terbatas mengenai lembaga keuangan yang berpotensi untuk kerjasama
dan produk-produk keuangan yang bisa mereka tindak lanjuti untuk linkage. Sementara,
lembaga-lembaga keuangan juga melaporkan bahwa mereka memiliki informasi yang
terbatas mengenai program PDB PNPM dan cara mengakses program tersebut. Ketika
ditanya tentang inisasi linkage, staf UPK umumnya mengaku memiliki keterbatasan
akan pengetahuan dan pengalaman untuk memfasilitasi linkage dan membutuhkan
pendampingan khusus dari program untuk memulai linkage.
Linkage antara UPK dan lembaga-lembaga keuangan, khususnya terkait kredit, telah
memberikan kontribusi bagi penguatan dana operasional PDB. Alhasil, linkage dapat
mengurangi ketergantungan UPK pada dana hibah dan subsidi dari pemerintah. Di lokasilokasi pasca PNPM di mana dana hibah program PNPM telah dihentikan dan UPK harus
mengelola keuangan mereka dengan dana yang ada, program linkage dapat memberikan
alternatif sumber dana tambahan untuk operasional PDB. Sementara, di lokasi-lokasi
PNPM yang masih berjalan namun portofolio PDB-nya terbatas, linkage dengan lembagalembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit dapat membantu mengurangi daftar
tunggu (antrian) peminjam yang panjang untuk penyaluran kredit, seperti pada BKM-UPK
PNPM Perkotaan di Kabupaten Brebes dan Pati di Jawa Tengah. Selain itu, khususnya bagi
para pemanfaat dan mantan pemanfaat PDB, linkage juga dapat memberikan mereka akses
yang lebih luas untuk mendapatkan layanan produk-produk keuangan lainnya, seperti
tabungan, asuransi, dan layanan pembayaran. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat
untuk akses terhadap layanan jasa keuangan yang lebih berkelanjutan perlu difasilitasi
dengan mendorong lebih banyak lagi linkage dengan lembaga-lembaga keuangan.
4
Kota Padang
Sumatera Barat
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Malaysia
Singapore
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
Bank Nagari (BPD Sumbar) dan
LKM Ampang Saiyo, Kota Padang,
Sumatera Barat
RINGKASAN
Linkage ini terjalin karena terbatasnya modal awal yang dimiliki oleh LKM UPK,
sementara warga miskin yang harus dilayani untuk mendapatkan PDB cukup
banyak. Skema kredit yang digunakan oleh Bank Nagari dalam linkage ini adalah
skema penyaluran dana KUR. Linkage antara LKM Ampang Saiyo dan Bank Nagari
tertuang dalam nota kesepahaman tertanggal 11 Mei 2011. Linkage ini menggunakan
model chanelling, di mana LKM UPK berperan sebagai koordinator (agent) dalam hal
penyeleksian calon nasabah dan Bank Nagari berperan melakukan analisis kelayakan
usaha dan verifikasi untuk persetujuan dan pencairan pinjaman modal. Dalam model
chanelling ini, LKM UPK juga melakukan penagihan angsuran untuk selanjutnya
disetorkan ke Bank Nagari. Melalui kemitraan ini, LKM Ampang Saiyo memperoleh
imbalan (fee) sebesar 1,5% dari bunga tertagih setiap bulannya.
Linkage antara LKM Ampang Saiyo dan Bank Nagari telah memberikan akses
pinjaman modal yang lebih besar bagi warga untuk meningkatkan usaha dan
kesejahteraan keluarga. Linkage ini telah memberikan kesempatan bagi anggota KSM
yang sebelumnya telah mengakses pinjaman ke LKM UPK dan telah “naik kelas” dapat
mengakses pinjaman yang lebih besar dari 2 juta rupiah. Pada tahap pertama linkage,
telah disetujui dan dicairkan pinjaman modal usaha untuk 24 nasabah dengan total
pinjaman 341 juta rupiah.
Beberapa pelajaran berharga yang bisa dipetik di antaranya (1) keterbatasan modal telah
mendorong LKM untuk mencari lembaga mitra keuangan, (2) dengan model channeling,
LKM UPK Ampang Saiyo menjadi agent untuk menyeleksi dan menyalurkan calon
penerima manfaat KUR, dan (3) bekas anggota KSM dapat mengakses layanan kredit
yang berkelanjutan dari program KUR di Bank Nagari. Selain itu, potensi perluasan
linkage dengan LKM UPK lain dan pengembangan linkage dengan model executing
menjadi kian terbuka. Meski demikian, terdapat beberapa tantangan utama saat ini
yang dihadapi dari linkage ini, yakni persoalan pergantian kepemimpinan, integritas,
dan ketelitian pengurus dan anggota LKM Ampang Saiyo dalam pengelolaan linkage.
6
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan
Antara Bank Nagari (BPD Sumbar) dan LKM Ampang Saiyo, Kelurahan
Ampang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang,
Sumatera Barat
17 – 18 Februari 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kelurahan Ampang
Kelurahan Ampang memiliki luas wilayah 705 ha yang terbagi menjadi 8 RW dan 24 RT.
Kelurahan Ampang memiliki batas wilayah di sebelah utara dengan Keluruhaan Gunung
Sarik, di sebelah selatan dengan Batang Air Kuranji, di sebelah barat dengan Kelurahan
Kalumbuk dan di sebelah timur dengan Kelurahan Kuranji. Jumlah penduduknya
mencapai 5.734 jiwa, 2.931 perempuan dan 2.803 laki-laki. Penduduk miskinnya
mencapai 1.380 orang.
Karena letaknya yang berada di dekat pusat kota, Kelurahan Ampang menjadi kawasan
potensial untuk perdagangan. Potensi ini dipengaruhi juga oleh dominasi penduduknya
yang sebagian besar bermata pencaharian dagang/wiraswasta. Untuk meningkatkan
aktivitas perdagangan, pemerintah perlu membangun dan menambah fasilitas pendukung
untuk sektor industri dan perdagangan seperti fasilitas perekonomian untuk usaha
perdagangan, akomodasi dan rumah makan, industri pengolahan, usaha persewaan, dan
usaha formal dan nonformal. Ruko-ruko yang ada menjadi bukti adanya usaha skala kecil
dan besar di kelurahan ini.
1.2. Profil LKM Ampang Saiyo
Pimpinan kolektif LKM UPK ditentukan dengan melibatkan semua elemen masyarakat
baik pemerintah kelurahan, masyarakat, dan kelompok peduli setempat. Pemilihan dan
pembentukan pimpinan kolektif LKM UPK periode pertama dilaksanakan pada 23
November 2008 dan terpilih 13 orang, 9 laki-laki dan 4 perempuan. LKM Ampang
Saiyo disahkan melalui Akta Notaris Dra. Butet, S.H dengan Nomor Akta 509.11/D.
Tet.Not/2008, tertanggal 27 November 2008. Setelah masa periode pertama berakhir,
pemilihan pimpinan kolektif ini dilakukan kembali dengan jumlah anggota pimpinan
sebanyak 11 orang untuk periode 2012–2014. Profil kinerja dan layanan dari LKM
Ampang Saiyo pertanggal 31 Januari 2012 adalah sebagai berikut:
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
7
1.
Modal awal dana RLF
Rp30.000.000
2.
Total aset LKM
Rp38.022.273
3.
Pinjaman ke KSM (RLF)
Rp25.900.000
4.
Dana di bank
Rp12.584.972
5.
Jumlah KSM aktif
6 KSM
6.
Jumlah penerima manfaat
41 orang
7.
Besar pinjaman
Rp500.000 – 2.000.000/anggota KSM
8.
Bunga pinjaman
1,5% per bulan flat
9.
Non-Performing Loan (NPL)/
kredit macet
0%
10.
Prosentase pengembalian
100%
11.
Jam layanan LKM
2 x dalam seminggu, pukul 09.00 - 11.00 dan 16.00 – 18.00
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat secara resmi berdiri pada 12 Maret 1962
dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat. Pendirian tersebut
dipelopori oleh pemerintah daerah beserta tokoh masyarakat dan tokoh pengusaha swasta
di Sumatera Barat atas dasar pemikiran perlunya suatu lembaga keuangan yang berbentuk
bank yang secara khusus membantu pemerintah dalam pembangunan di daerah.
Berdasarkan Undang-Undang No.13 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank
Pembangunan Daerah, dasar hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat diganti
dengan Peraturan Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Barat No. 4 sehingga PT. Bank
Pembangunan Daerah Sumatera Barat diubah menjadi Bank Pembangunan Daerah
Sumatera Barat. Pada 1996 melalui Perda No. 2/1996 telah disahkan penyebutan namanya
sebagai Bank Nagari dengan maksud untuk lebih dikenal, membangun brand image, dan
sekaligus mengimpresikan tatanan sistem pemerintahan di Sumatera Barat.1
Saat ini Bank Nagari telah berstatus sebagai bank devisa serta telah memiliki unit
usaha syariah. Bank Nagari juga merupakan bank pembangunan daerah pertama yang
1
Bank DKI, Bank Jabar-Banten, Bank Jateng, Bank Jatim, BPD Yogyakarta, Bank NTB, Bank Sulut, Bank Kalbar, Bank Kalsel,
Bank Kalteng, Bank Maluku, dan Bank Papua
8
membuka kantor cabang di luar daerah, yaitu dengan dibukanya cabang di Jakarta pada
1996 dan di Bandung, serta kota-kota besar lain.
2.2. Produk dan Skema Lembaga Mitra
Dalam hal penyaluran kredit mikro, Bank Nagari memiliki dua skema kebijakan yaitu
Kredit Peduli Usaha Mikro (KPUM) dan KUR. Bank Nagari adalah suatu bank yang
telah lama memiliki perhatian khusus terhadap usaha mikro melalui program kredit
mikro. Salah satu contohnya adalah program kredit peduli usaha mikro yang diluncurkan
sejak 2006 dengan maksimal pinjaman lima juta tanpa agunan. Untuk Skema KUR,
Bank Nagari mulai mengimplementasikannya sejak Juni 2010. Bank Nagari merupakan
salah satu dari 13 BPD2 yang mendapatkan mandat dari pemerintah untuk menyalurkan
KUR.3
Dari dua skema penyaluran kredit mikro di atas, yang dimanfaatkan untuk program
linkage antara Bank Nagari dan LKM Ampang Saiyo adalah melalui skema KUR. Program
linkage tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman antara LKM Ampang Saiyo,
Kelurahan Ampang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang dan BPD Sumatera Barat Cabang
Utama Padang tertanggal 11 Mei 2011. Nota kesepahaman ini menjadi dasar penyaluran
dana KUR dari Bank Nagari.
Fitur pinjaman KUR Bank Nagari adalah (1) tanpa jaminan (agunan); (2) bunga
ringan (9% per tahun atau 0,75% per bulan); (3) bebas biaya provisi dan administrasi; (4)
jumlah pinjaman sampai dengan 20 juta rupiah; dan (5) jangka waktu pinjaman mulai
enam bulan hingga tiga tahun. Sedangkan persyaratan pengajuan pinjamannya adalah (1)
surat keterangan usaha dari lurah; (2) salinan kartu keluarga dan KTP (suami – istri); (3)
pas foto ukuran 4 x 6 (suami-istri); (4) tidak sedang meminjam di lembaga keuangan lain
(surat pernyataan diketahui lurah); dan (5) individu atau kelompok dengan jumlah lima
sampai sepuluh orang.
3. Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinya Linkage
PNPM Mandiri Perkotaan yang merupakan kelanjutan dari P2KP pada 2009 memiliki
program keberlanjutan dan kemandirian yang dikhususkan untuk wilayah/lokasi sasaran
lama. Program ini dikenal dengan nama PNPM Perkotaan Advanced atau biasa disebut
juga dengan P2KP Advanced.4 LKM Ampang Saiyo termasuk salah satu sasaran dalam
2
Bank DKI, Bank Jabar-Banten, Bank Jateng, Bank Jatim, BPD Yogyakarta, Bank NTB, Bank Sulut, Bank Kalbar, Bank Kalsel,
Bank Kalteng, Bank Maluku, dan Bank Papua
3
Keputusan Menko Bidang Perekonomian Nomor KEP-07/M.EKON/01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha
Rakyat.
4
PNPM Perkotaan Advanced merupakan:
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
9
PNPM Advanced di Kota Padang. Dalam penentuan lokasi sasaran untuk program ini di
KMW satu Provinsi Sumbar, salah satu syaratnya adalah tingkat pengembalian PDB dari
KSM ke LKM UPK adalah minimal 90%.
Dalam kerangka program keberlanjutan dan kemandirian, PNPM Mandiri Perkotaan
di Kota Padang menjalin program linkage dengan berbagai pihak, baik pemerintah
lokal (termasuk dinas dan badan), bank, lembaga donor/NGO, dan pihak-pihak lain.
Linkage dalam hal layanan keuangan dengan pihak perbankan merupakan suatu hal yang
diupayakan oleh LKM UPK dan pemangku kepentingan dalam PNPM Perkotaan. Di
sisi yang lain, adanya aturan PDB PNPM Perkotaan bahwa maksimal penerima manfaat
meminjam sebanyak empat kali dengan nilai pinjaman antara 500 ribu hingga 2 juta
rupiah, linkage dengan pihak perbankan/lembaga keuangan mikro menjadi salah satu
solusi yang tepat warga dapat mengakses layanan keuangan.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Sebelum terjadi linkage keuangan, LKM Ampang Saiyo telah menerima dana CSR dari
BFI pada 2009 sebesar 150 juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk membangun
Ampang Community Center sebagai pusat perekonomian, pusat promosi, pusat informasi,
dan pusat pendidikan. Karena belum rampungnya pembangunan Community Center
tersebut, pimpinan LKM Ampang Saiyo berupaya mencari informasi ke lembaga lain,
salah satunya Bank Nagari pada Agustus 2010. Di bank ini LKM Ampang Saiyo telah
membuka rekening untuk penyerapan BLM PNPM Perkotaan.
Pada mulanya LKM berharap dapat memperoleh dana CSR dari Bank Nagari, namun
yang ditawarkan justru pinjaman kredit mikro untuk penyaluran KUR dengan bunga 9%
per tahun. Tawaran ini disambut positif pimpinan LKM mengingat beberapa anggota yang
biasa meminjam dari LKM UPK membutuhkan pinjaman yang lebih besar dari dua juta
rupiah untuk kebutuhan modal pengembangan usahanya.
Pimpinan LKM berhasil meyakinkan Bank Nagari bahwa LKM Ampang Saiyo adalah
suatu lembaga milik masyarakat dan dibentuk melalui program pemerintah, dengan salah
satu kegiatannya adalah menggulirkan pinjaman dana kepada masyarakat melalui KSM.
Selama ini dana yang digulirkan melalui LKM selalu dapat dikembalikan tepat waktu dan
tidak ada yang menunggak atau tingkat NPL di bawah 1%. Lagi pula LKM hanya bisa
memberikan pinjaman maksimal sebesar 1,5 juta rupiah dengan bunga 15% per tahun.
Pihak Bank Nagari tertarik dan meminta semua data mengenai LKM termasuk AD/ART,
akta notaris, laporan keuangan, dan profil pengurus LKM untuk ditelaah terlebih dahulu.
Setelah berkonsultasi dengan kantor pusat, Bank Nagari akhirnya menyetujui melakukan
- Program pendampingan untuk kemandirian dan keberlanjutan program penanggulangan kemiskinan
- Suatu proses “naik kelas” dari wilayah pendamping Program P2KP. Dalam P2KP Advanced terdapat sejumlah intervensi kegiatan
melalui program, antara lain, PAKET, Channeling, Replikasi, PLPBK dan kegiatan Pilot Program lain
10
linkage keuangan dengan LKM Ampang Saiyo. Penandatanganan nota kesepahaman
dilakukan pada 11 Mei 2011
4. Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Dalam linkage ini bentuk kerja samanya adalah dengan menggunakan model chanelling,
di mana pembayaran angsuran dari penerima manfaat dikoordinasi oleh LKM UPK dan
mendapat jasa sebesar 1,5% dari bunga angsuran tertagih dalam sebulannya. Sampai saat
ini dengan jumlah penerima manfaat dalam linkage sebanyak 24 orang dan nilai total
pinjaman sebesar 341 juta rupiah, LKM Ampang Saiyo memperoleh jasa sebesar 35–38
ribu rupiah per bulan.
Terkait pengajuan pinjaman, LKM Ampang Saiyo akan menyeleksi calon penerima
manfaat yang membutuhkan pinjaman yang lebih besar. Hasil seleksi tersebut akan
diserahkan ke Bank Nagari untuk diproses lebih lanjut. Pada pengajuan tahap pertama,
LKM Ampang Saiyo telah menyeleksi dan menyerahkan 32 nama kepada Bank Nagari.
Setelah diproses dan diverifikasi oleh Bank Nagari, terdapat 26 nama yang disetujui.
Namun, sebelum pencairan pinjaman dilakukan, satu nama mengundurkan diri dan
satu nama lagi diketahui telah berbohong terkait dengan usahanya. Dengan demikian,
hanya 24 orang yang memperoleh pinjaman dari KUR. Jumlah pinjaman total adalah
sebesar 341 juta rupiah, terdiri dari 14 nama yang dulunya merupakan anggota KSM dan
meminjam dana bergulir ke LKM UPK, sedangkan 10 nama adalah nasabah yang tidak
pernah meminjam ke LKM UPK. Akad kredit untuk pencairan pinjaman ini di lakukan di
Bank Nagari pada 29 Juli 2011.
4.2. Produk dan Skema Linkage
Sesuai dengan kondisi lokal yang ada di Sumatera Barat di mana mayoritas penduduknya
beragama Islam, pola syariah dan konvensional adalah pola umum yang dipakai. Namun,
dalam menjalin linkage dengan LKM Ampang Saiyo ini, Bank Nagari menggunakan pola
konvensional dengan menerapkan besaran bunga kredit 9% untuk penerima manfaat.
Mengingat linkage ini menggunakan model chanelling, LKM UPK belum memberikan
layanan keuangan untuk kelompok KSM, baru sebatas untuk individu.
Skema produk yang telah diterapkan oleh Bank Nagari dalam penyaluran KUR
sebenarnya memiliki model executing, yaitu dengan menyalurkan pinjaman ke suatu
lembaga, kemudian lembaga tersebut menyalurkan ke penerima manfaat sesuai dengan
ketentuan yang dibuat oleh lembaga itu sendiri. Untuk model executing ini, Bank Nagari
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
11
menerapkan bunga pinjaman sebesar 14% dengan maksiman pinjaman sebesar 2 miliar
rupiah. Contoh lembaga yang telah bermitra dengan Bank Nagari dengan model ini
adalah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA), yang memberikan dukungan
dalam layanan keuangan kepada kelompok-kelompok tani dan telah menerima pinjaman
dari Bank Nagari sekitar 300 juta rupiah. Untuk lembaga yang memperoleh pinjaman
dengan skema KUR dengan model executing, penyaluran ke penerima manfaat tidak boleh
menerapkan bunga pinjaman lebih dari 22% per tahun, sebagaimana ketentuan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah.
Dalam linkage dengan LKM Ampang Saiyo, selain menerapkan bunga rendah
sebesar 9%, Bank Nagari juga tidak mensyaratkan adanya agunan (collateral). Karena telah
mempercayakan proses seleksi awal pengajuan oleh LKM Ampang Saiyo, Bank Nagari
juga menerapkan (1) analisis terhadap usaha calon penerima manfaat; (2) calon penerima
manfaat adalah orang asli setempat; (3) kerja sama dengan wali nagari (lurah setempat),
dan (4) kunjungan/survei ke calon penerima manfaat.
4.3. Cakupan Linkage
Linkage antara LKM Ampang Saiyo dan Bank Nagari dalam memperoleh layanan kredit
dari skema penyaluran KUR, sampai saat ini masih sebatas pinjaman untuk individu
yang dulunya merupakan anggota KSM yang mengakses pinjaman PDB LKM UPK.
Saat ini pembayaran angsuran berjalan lancar dan tidak pernah ada tunggakan. Bank
Nagari sendiri merasa puas dengan hasil linkage ini dan berniat untuk menambah jumlah
penerima manfaat. Saat studi dilakukan, sudah ada 12 orang lagi yang berminat untuk
mengajukan pinjaman ke Bank Nagari. mereka mengumpulkan berkas persyaratan dan
menyerahkannya ke LKM. LKM kemudian menyerahkannya ke Bank Nagari untuk
dilakukan analisis kelayakan usaha dan verifikasi dengan kunjungan ke lokasi calon
penerima manfaat. Diharapkan setelah semua proses terlaksana, pencairan tahap kedua
disetujui untuk penerima manfaat dalam linkage ini.
Linkage ini juga diharapkan dapat diperluas ke beberapa LKM UPK lain dalam
PNPM Perkotaan mengingat linkage dengan LKM Ampang Saiyo telah berjalan lebih
dari enam bulan dan tidak ada kendala berarti. Semua angsuran penerima manfaat juga
berjalan lancar. Saat ini, pihak Korkot Kota Padang sedang menyiapkan LKM di Kelurahan
Lolong Belanti untuk bermitra dengan Bank Nagari. LKM tersebut telah melakukan
pesiapan selama 2 bulan untuk menjalin linkage dengan Bank Nagari. Pada akhir Januari
2012, LKM di Kelurahan Lolong Belanti tersebut bertemu dengan Bank Nagari untuk
membahas tentang kerja sama dalam hal layanan keuangan.
12
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
5.1. Pak Ulisman, Peternak Jangkrik
Pak Ulisman (58 tahun) memiliki usaha sebagai peternak jangkrik dan tinggal di RT01/
RW07, Kelurahan Ampang Kota Padang. Usaha beternak jangkrik ini dimulai 2004.
Sebelumnya ia bekerja di bengkel mobil sejak 1982 sampai 2004. Selama dua tahun usaha
Pak Ulisman cukup lancar meski modal terbatas.
Pada 2009 ia memperoleh informasi dan sosialisasi tentang pinjaman dana bergulir
dari PNPM Perkotaan. Pak Ulisman lalu bergabung dalam KSM Usaha Jaya dan
mengajukan pinjaman ke LKM Ampang Saiyo. Ia kemudian mendapatkan pinjaman 500
ribu. Pinjaman tersebut digunakan untuk menambah modal usahanya, terutama untuk
menambah kotak-kotak kayu sebagai tempat ternak jangkriknya. Setelah setahun lunas, ia
pun mengajukan lagi pinjaman sebesar 1 juta rupiah ke LKM UPK pada 2010. Pinjaman
tersebut juga digunakan untuk menambah kotak-kotak kayu untuk ternak jangkriknya
agar lebih banyak lagi.
Pada 2011 Pak Ulisman mendapat informasi bahwa Bank Nagari bisa memberikan
pinjaman dalam jumlah besar kepada anggota KSM PNPM Perkotaan yang memiliki
catatan pengembalian pinjaman yang lancar di LKM UPK. Ia pun mengajukan pinjaman
10 juta rupiah. Setelah dilakukan analisis dan verifikasi oleh Bank Nagari, Pak Ulisman
pun mendapat pinjaman dari skema KUR sebesar 10 juta rupiah dan dengan jangka
waktu pinjaman selama tiga tahun. Pinjaman ini digunakan untuk memperluas tempat
peternakan jangkrik dan penambahan kotak-kotak untuk jangkrik.
5.2. Ibu Hartati, Warung Kelontong dan Peternak Jangkrik
Ibu Hartati (35 tahun) memiliki usaha warung kelontong dan peternakan jangkrik. Ia
tinggal di RT01/RW07, Kelurahan Ampang. Usaha warung kelontong dijalani oleh Ibu
Hartati sejak 2007, sedangkan usaha ternak jangkring sejak beberapa bulan sebelum
mengakses pinjaman dari Bank Nagari.
Sebelum mengakses pinjaman, Ibu Hartati merupakan anggota KSM Usaha Jaya dan
pernah meminjam PDB ke LKM UPK sebanyak dua kali. Pinjaman pertama sebesar 500
ribu rupiah pada 2009 untuk menambah modal warung kelontongnya. Setelah melunasi
pinjaman pertama, Ibu Hartati kembali mengajukan pinjaman sebesar satu juta rupiah
pada 2010 untuk menambah modal warung kelontong dan untuk merintis usaha ternak
jangkrik.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
13
Setelah memperoleh sosialisasi tentang pinjaman Bank Nagari dari LKM dan UPK
di Kelurahan Ampang pada 2010, Ibu Hartati tertarik untuk meminjam dana yang lebih
besar guna lebih mengembangkan usaha warung kelontong dan juga ternak jangkriknya. Ia
pun melengkapi semua persyaratan yang diperlukan dan menyerahkannya ke LKM UPK.
Pada saat pengajuan ke Bank Nagari, Ibu Hartati mengajukan pinjaman sebesar 20 juta
rupiah.
Setelah semua pengajuan terkumpul, termasuk dari Ibu Hartati, LKM UPK
meneruskan pengajuan tersebut ke Bank Nagari. Setelah dianalisis kelayakan usaha dan
diverifikasi, Ibu Hartati termasuk salah satu dari 24 nama yang disetujui untuk memperoleh
dana pinjaman KUR. Ia mendapat pinjaman 15 juta rupiah untuk pengembangan modal
usahanya. Jangka waktu pinjaman selama dua tahun dan setiap bulan Ibu Hartati harus
mengangsur sebesar 747 ribu rupiah.
5.3. Pak Eko Fajri, Warung Kelontong
Pak Eko Fajri (35 tahun) memiliki usaha warung kelontong sejak 2008. Ia tinggal di RT01/
RW07 Kelurahan Ampang. Pak Eko memulai usaha warung kelontong secara kecil-kecilan.
Barang dagangan yang dijual pada saat itu masih sangat sedikit karena terbatas modal.
Beberapa bulan setelah membuka usaha warung kelontong, Pak Eko memperoleh
informasi tentang pinjaman untuk warga miskin dari program PDB PNPM Perkotaan yang
disosialisasikan oleh LKM Ampang Saiyo. Selanjutnya Pak Eko bersama anggota warga
miskin yang lain membentuk KSM dengan nama Usaha Jaya. Melalui basis kelompok
inilah, Pak Eko mengajukan permohonan pinjaman pertama kali sebesar 500 ribu rupiah
pada 2009.
Setelah melunasi pinjaman yang pertama, ia mengajukan pinjaman lagi sebesar satu
juta rupiah pada 2010. Sama seperti pinjaman sebelumnya, pinjaman yang kedua ini juga
digunakan untuk untuk menambah modal warungnya yang semakin besar dan meningkat.
Bila sebelumnya barang dagangan yang ada di warung masih sedikit dan terbatas, setelah
dua kali memperoleh pinjaman dari LKM UPK PNPM Perkotaan, barang dagangan dalam
warung semakin banyak dan omzetnya juga meningkat.
Seiring dengan adanya linkage keuangan antara LKM Ampang Saiyo dan Bank
Nagari, lewat sosialiasi pengurus LKM Ampang Saiyo Pak Eko pun memperoleh informasi
adanya pinjaman modal usaha dari skema KUR. Ia pun mengajukan pinjaman lagi sebesar
20 juta rupiah. Setelah dinilai kelayakan usahanya dan diverifikasi, Bank Nagari akhirnya
menyetujui pengajuan pinjaman tersebut dengan masa pinjaman 18 bulan. Dari pinjaman
tersebut, Pak Eko harus mengangsur sebesar Rp1.261.000 setiap bulan. Angsuran tersebut
dibayarkan melalui LKM UPK, yang kemudian disetorkan ke Bank Nagari Kantor Capem
Gubernuran. Kini usaha warung kelontong Pak Eko semakin meningkat dengan omzet
yang sebelum meminjam ke Bank Nagari sebesar 1 juta rupiah, kini meningkat menjadi 2
juta rupiah per hari.
14
Harapan Pak Eko ke depan adalah dapat semakin memperbesar usaha warung
kelontongnya untuk meningkat menjadi semacam grosir karena di daerah sekitar tempat
tinggalnya masih belum tersedia. Untuk itu, setelah nanti melunasi pinjamannya, Pak Eko
berharap untuk dapat meminjam lagi dengan nilai pinjaman lebih besar.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Berikut ini beberapa pembelajaran yang dapat dipetik dari linkage antara LKM Ampang
Saiyo dan Bank Nagari.
• Keterbatasan modal yang dimiliki oleh LKM Ampang Saiyo dari PNPM Perkotaan
yang hanya sebesar 30 juta rupiah telah mendorong BKM untuk mencari lembaga
mitra guna memfasilitasi kebutuhan akses terhadap layanan keuangan bagi warga yang
memerlukannya di Kelurahan Ampang. LKM Ampang Saiyo telah menunjukkan
suatu keberhasilan dalam menjalin linkage dengan Bank Nagari.
• Dengan linkage model chanelling, Bank Nagari mempercayakan LKM UPK sebagai
koordinator untuk menyeleksi calon penerima manfaat untuk penyaluran KUR dari
Bank Nagari. Hal lain dari model ini adalah LKM Ampang Saiyo juga melakukan
penagihan angsuran dari nasabah KUR. Untuk itu, Bank Nagari memberikan
imbalan sebesar 1,5% dari bunga tertagih setiap bulannya.
• Para penerima manfaat linkage ini yang sebelumnya merupakan anggota KSM
yang meminjam ke LKM UPK dapat memperoleh akses untuk layanan keuangan
dari Bank Nagari. Kesempatan untuk mendapatkan pinjaman dengan skema KUR
Bank Nagari menjadikan mereka mampu meningkatkan kesejahteraan ekonominya
melalui fasilitasi kredit lunak dari bank pemerintah untuk peningkatan usaha bagi
rakyat.
6.2 Potensi dan Peluang Linkage
Beberapa hal yang dapat dijadikan potensi dan peluang ke depan meningkatkan linkage
dengan pihak perbankan/lembaga keuangan mikro.
• Adanya potensi dan peluang untuk memperluas kerja sama linkage dengan LKM
UPK lain di Kota Padang. Kesempatan ini sangat terbuka bagi LKM dan UPK yang
memiliki profil bagus. Sebagaimana saat ini sedang dijalin linkage dengan LKM di
Kelurahan Lolong Belanti.
• Peluang untuk model linkage antara Bank Nagari dan LKM UPK dalam executing,
sebagaimana penyaluran KUR Bank Nagari ke LKMA dan BPR dengan bunga per
tahun sebesar 14% dan lembaga mitra dapat menyalurkan ke penerima manfaat
hingga maksimal 22% per tahun. Model executing menjadikan LKM UPK memiliki
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
15
kewenangan sendiri dalam menyalurkan dana bergulir dengan basis kelompok (KSM)
dan tanpa agunan.
6.3 Tantangan dalam Linkage
Sejumlah tantangan yang mungkin muncul dalam proses linkage antara LKM Ampang
Saiyo dan Bank Nagari.
• Pergantian kepemimpinan di LKM Ampang Saiyo hendaknya tidak menjadi
hambatan bagi LKM yang baru terpilih untuk meneruskan kerja sama linkage dengan
Bank Nagari. Kepengurusan LKM yang baru diharapkan dapat meningkatkan linkage
dengan menjangkau penerima manfaat yang lebih banyak untuk memperoleh akses
layan keuangan dengan skema KUR dari Bank Nagari.
• LKM Ampang Saiyo dalam menjalankan tugas penagihan angsuran untuk disetorkan
ke Bank Nagari harus memiliki integritas, ketelitian dan kesabaran, serta penyadaran
bagi penerima manfaat akan kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tepat waktu.
Dengan kepercayaan yang diberikan oleh Bank Nagari dalam linkage dengan model
chanelling, hasil kerja dari LKM UPK bisa dijadikan tolok ukur untuk peningkatan
dan perluasan linkage, baik dengan LKM UPK lain maupun dalam jumlah penerima
manfaat.
16
Kabupaten Tanah Datar
Sumatera Barat
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Asuransi
Jiwa Bumiputera 1912 dan UPK
Rangkiang Mandiri, Kabupaten
Tanah Datar, Sumatera Barat
RINGKASAN
Linkage antara UPK Rangkiang Mandiri dan AJB Bumiputera 1912 dalam hal asuransi
jiwa kredit bagi anggota SPP telah disahkan dan disepakati dalam nota kesepahaman
pada 13 Oktober 2010. Linkage ini merupakan prakarsa kedua belah pihak baik AJB
Bumiputera 1912 maupun UPK Rangkiang Mandiri. Prakarsa linkage dipicu oleh
kasus meninggalnya dua anggota SPP pada 2008 di mana ahli warisnya diminta
bertanggung jawab mengembalikan pinjaman ke UPK. Proses persetujuan untuk
melakukan linkage dengan AJB Bumiputera dimulai dengan sosialisasi berjenjang dari
tingkat UPK, Forum Musyawarah Antarnagari (MAN), hingga ke tingkat pengurus
dan anggota SPP. Linkage ini menerapkan model chanelling di mana UPK berperan
sebagai koordinator (agent) dalam proses sosialisasi ke pengurus SPP, penandatanganan
nota kesepahaman linkage dengan pihak asuransi, dan fasilitasi proses pengajuan klaim
oleh keluarga atau ahli waris.
Semua anggota SPP yang meminjam ke UPK telah menjadi peserta asuransi. Hingga
saat ini terdapat 99 SPP dengan jumlah anggota 2.393 orang. Mengingat tingkat
pengembalian dari SPP ke UPK selama ini adalah sangat baik (100%), keberadaan
asuransi jiwa kredit yang memberikan pertanggungan bila ada anggota SPP yang
meninggal akan semakin menjamin tingkat pengembalian pinjaman aset dana bergulir.
Dengan demikian, akses layanan keuangan dengan pemberian pinjaman modal usaha
bagi warga miskin yang tergabung dalam SPP akan dapat terjaga dan berlanjut terus.
Terdapat sejumlah pembelajaran penting dari kasus linkage ini di antaranya, perluasan
linkage yang awalnya hanya terbatas untuk para fasilitator PNPM Perdesaan, kini
meningkat ke UPK dan anggota SPP. Pengalaman linkage kedua lembaga ini berpotensi
untuk diperluas kepada UPK lain dan skema produknya pun dapat ditingkatkan ke
skema yang lebih tinggi nilai pertanggungannya. Selain pembelajaran dan peluang,
terdapat pula tantangan utama dari linkage ini di antaranya besarnya perbedaan
premi akibat usia yang berbeda, sekalipun jumlah pinjaman yang sama, berpotensi
menimbulkan kecemburuan atau kesenjangan antara anggota SPP
18
Studi Kasus Linkage pada Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri
Perdesaan Antara Asuransi Jiwa Bumiputera 1912 dan UPK Rangkiang
Mandiri Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar,
Sumatera Barat
21 – 22 Februari 2012
1. Lokasi Studi
1.1 Profil Kecamatan Rambatan
Kecamatan Rambatan merupakan salah satu dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten
Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Luas wilayah Kecamatan Rambatan adalah 129,15
km2. Secara topografis kecamatan ini terletak pada daerah berbukit, sebagian merupakan
daerah lembah dan tanah datar. Secara administratif, Kecamatan Rambatan berbatasan
dengan Kecamatan Lima Kaum di sebelah utara, dengan Kabupaten Solok di sebelah
selatan, dengan Kecamatan Tanjung Emas di sebelah timur dan Kecamatan Batipuh dan
Kecamatan Pariangan di sebelah barat.
Kecamatan Rambatan memiliki 5 nagari (desa) yang mencakup 33 jorong. Jumlah
penduduknya 36.118 jiwa. Sebagian besar penduduknya adalah petani, dan sisanya adalah
pedagang dan pegawai. Kecamatan ini juga terkenal sebagai salah satu penghasil batu bata
berkualitas sangat baik tidak hanya di Kabupaten Tanah Datar, tetapi juga kabupaten lain
di Sumatera Barat.
1.2 Profil UPK Rangkiang Mandiri
Sejak ditetapkannya Kecamatan Rambatan sebagai salah satu dari lima kecamatan lokasi
PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Tanah Datar pada 2007, UPK Rangkiang Mandiri
langsung dibentuk pada 3 September 2007. Total dana BLM yang telah dikelola UPK
hingga 2011 mencapai 6,85 miliar rupiah. Dana ini dimanfaatkan untuk peningkatan
kapasitas, pembangunan, dan rehabilitasi sarana/prasarana dasar perdesaan, kegiatan
pendidikan dan kesehatan, serta kegiatan ekonomi melalui PDB.
Kegiatan PDB yang dikelola oleh UPK ini dilakukan melalui skema SPP dan hingga
Februari 2011 telah dilakukan sebanyak delapan kali perguliran SPP yang ditetapkan
melalui SPC. Berikut ini profil kinerja dan layanan UPK Rangkiang Mandiri per 31
Januari 2012.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
19
1.
Modal awal RLF SPP
Rp1.685.000.000
2.
Total aset UPK SPP
Rp2.192.514.841
3.
Piutang ke SPP
Rp2.190.000.000
4.
Dana di bank
Rp2.514.841
5.
Jumlah SPP aktif
99 SPP
6.
Jumlah penerima manfaat
2.393 Orang
7.
Besarnya pinjaman
Maksimal 5.000.000 / anggota SPP
8.
Bunga pinjaman
9 % per tahun (termasuk IPTW 2%)
9.
Non Performing Loan (NPL)/kredit macet
0%
10.
Persentase pengembalian
100 %
11.
Jam layanan UPK
Senin – Jum’at (Pukul 09.00 – 15.00) dan
Sabtu (Pukul 09.00 – 12.00)
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi jiwa nasional yang pertama di
Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 12 Februari 1912 di Magelang, Jawa Tengah.
Pada saat didirikan namanya adalah Onderlinge Levensverzekering Maatschapij PGHB
disingkat dengan O.L Mij. PGHB umumnya lebih dikenal dengan sebutan untuk Asuransi
Jiwa Bersama. Pada Januari 1966, perusahaan mengubah namanya menjadi Asuransi Jiwa
Bersama (AJB) Bumiputera 1912.
AJB Bumiputera 1912 adalah perusahaan asuransi mutual yang dimiliki oleh
pemegang polis Indonesia dan dioperasikan untuk kepentingan pemegang polis Indonesia.
Perusahaan asuransi ini dibangun berdasarkan tiga pilar, yakni: idealisme, mutualisme,
dan profesionalisme.5 AJB Bumiputera 1912 menyadari pentingnya hubungan personal
antara nasabah dan penasehat finansial mereka, serta menyediakan akses yang mudah
untuk mendapatkan solusi khusus untuk memenuhi semua kebutuhan asuransi nasabah.
Termasuk di dalamnya adalah dalam hal layanan klaim asuransi bagi nasabah atau ahli
waris agar memberikan layanan yang mudah dan cepat. AJB Bumiputera 1912 sebagai
salah satu asuransi yang ada di Indonesia tunduk dan diatur melalui UU No. 2 tahun 1992
tentang Usaha Perasuransian.
http://www.bumiputera.com/pages/default/our_company/company_profile/0
5
20
2.2. Produk Lembaga Mitra
AJB Bumiputera 1912 menyediakan berbagai produk dan layanan asuransi. Secara
umum jenis produk yang ditawarkan adalah asuransi jiwa perorangan dan asuransi jiwa
kumpulan. Selain skema konvensional, juga dalam bentuk syariah. Untuk asuransi jiwa
kumpulan, terdapat beberapa skema antara lain asuransi kredit, asuransi ekawaktu, asuransi
kecelakaan, mitra medicare (kesehatan), program kesejahteraan karyawan, asuransi idaman,
dan anuitas.
Awal linkage dengan PNPM Perdesaan mulai dilakukan saat pihak AJB Bumiutera
1912 melayani produk asuransi jiwa kumpulan dengan skema untuk kecelakan dan
kesehatan. Asuransi ini disediakan untuk FK/FT dan juga faskab/faskeu PNPM Perdesaan.
Linkage ini dimulai pada 2008. Selain dengan fasilitator, AJB Bumiputera 1912 juga telah
bekerja sama dengan UPK untuk asuransi jiwa dan kesehatan. Hal inilah yang membuka
peluang untuk menjalin linkage dengan UPK dalam hal asuransi kredit untuk kelompok
peminjam.
Asuransi kredit yang merupakan skema produk dalam linkage dengan UPK Rangkiang
Mandiri dirancang untuk memberikan perlindungan bagi mereka yang berhutang kepada
lembaga keuangan. Perlindungan dari asuransi jenis ini ditawarkan melalui tiga produk
yang berbeda, yaitu Asuransi Jiwa Ekawaktu Proteksi Kredit Kumpulan, Asuransi Jiwa
Kredit Cicilan Bulanan Kumpulan, dan Asuransi Jiwa Kredit Cicilan Bulanan Annuitas
Kumpulan.
3. Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinya Linkage
Terjadinya linkage antara UPK Rangkiang Mandiri dan AJB Bumiputera 1912 diawali
dari presentasi oleh pihak asuransi pada tingkat FK di Kabupaten Tanah Datar yang
dilanjutkan ke setiap UPK yang ada di Tanah Datar. Pada saat presentasi ke UPK, pihak
AJB Bumiputera 1912 menawarkan asuransi jiwa kredit untuk PDB SPP. UPK Rangkiang
Mandiri menyambut positif tawaran tersebut mengingat pentingnya manfaat asuransi
jiwa kredit tersebut bilamana ada anggota SPP yang meninggal. Hal ini didasari pada
pengalaman sebelumnya pada 2008, di mana terdapat dua anggota SPP yang meninggal
dan ahli waris dan kelompoknya harus mengembalikan pinjaman ke UPK.
Sebelumnya, pengurus UPK Rangkiang Mandiri telah menjadi peserta asuransi
kesehatan dan kecelakaan AJB Bumiputera 1912 sejak 2009. Dengan demikian beberapa
informasi penting tentang manfaat asuransi telah diketahui oleh UPK. Demikian pula,
pihak AJB Bumiputera 1912 telah mengenal para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan
melalui kerja sama penyediaan asuransi bagi FK/FT dan Faskab pada 2008.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
21
Agar produk asuransi jiwa kredit ini dapat diterima dan disetujui oleh pelaku PNPM
Perdesaan, pihak AJB Bumiputera 1912 melakukan sosialisasi pada semua tingkat dari
tingkat forum MAN, pengurus UPK dan bahkan ke pengurus setiap SPP. Pengurus SPP
kemudian melanjutkan sosialisasi ke anggota pada saat rapat rutin bulanan. Dari sosialisasi
berjenjang sampai tingkat penerima manfaat/anggota SPP inilah, akhirnya produk asuransi
jiwa kredit dapat diterima oleh seluruh anggota SPP di Kecamatan Rambatan.
3.2. Proses Linkage
Setelah menjalin kerja sama asuransi jiwa dengan para pelaku PNPM Perdesaan baik di
tingkat kabupaten, pihak AJB Bumiputera 1912 pun melihat peluang untuk menawarkan
asuransi jiwa kredit kepada UPK, termasuk UPK Rangkiang Mandiri yang menyambut
positif tawaran ini. Pada 2010 pihak AJB 1912 melakukan sosialisasi pada forum MAN.
Setelah disetujui untuk menerima asuransi jiwa kredit bagi anggota SPP, UPK pun
mensosialisasikannya ke SPP melalui pengurus SPP.
Dalam sosialisasi tersebut UPK menjelaskan tentang manfaat penting dari asuransi
jiwa kredit. Bilamana ada anggota SPP yang meninggal dunia karena suatu sebab, ahli
waris dan keluarga tidak perlu menanggung dan mengembalikan sisa pinjaman ke UPK
karena telah diberikan perlindungan oleh AJB Bumiputera 1912. Pada saat sosialisasi juga
diberikan format isian asuransi dan tabel premi yang harus dibayar sesuai dengan besarnya
pinjaman dan usia peminjam. Pengurus SPP lalu melanjutkan sosialisasi ini ke anggota
pada saat rapat rutin bulanan masing-masing SPP atau saat ada pembayaran angsuran ke
pengurus SPP. Hasil dari sosialisasi ke anggota SPP ini, penerapan asuransi jiwa kredit
akhirnya dapat diterima secara keseluruhan oleh SPP. Proses linkage lalu dilanjutkan dengan
implementasi surat perjanjian kerja sama antara UPK dengan AJB Bumiputra 1912 pada
September 2011 yang akan mengikat anggota SPP yang sedang meminjam ke UPK.
Setelah implementasi linkage berjalan selama sebulan, nota kesepahaman antara UPK
Rangkiang Mandiri dengan AJB Bumiputera 1912 ditandatangani pada 13 Oktober 2010.
Nota kesepahaman ini bertujuan agar bila terjadi sesuatu perselisihan dan tidak dapat
diselesaikan secara baik-baik, prosesnya dapat dibawa ke ranah hukum. Linkage ini memiliki
kekuatan secara hukum dan masing-masing pihak dapat melaksanakan hak dan kewajiban
sebagaimana yang tertuang dalam nota kesepahaman dan surat perjanjian kerja sama.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Bila melihat proses dan implementasinya, model yang digunakan adalah model chanelling
di mana UPK Rangkiang Mandiri berperan sebagai agen atau koordinator, baik dalam
hal melakukan sosialisasi tentang manfaat asuransi, menyediakan data peserta asuransi
22
berdasarkan anggota SPP yang meminjam dana bergulir, menandatangani kerja sama
dengan pihak asuransi (baik nota kesepahaman maupun Polis), dan memfasilitasi proses
pengajuan klaim oleh keluarga atau ahli waris.
Jika ada peserta asuransi jiwa kredit SPP meninggal, ahli waris menyerahkan syarat
pengajuan klaim, seperti salinan KTP, surat meninggal dari nagari (atau dari rumah sakit,
bila meninggalnya di rumah sakit), mengisi format yang disediakan oleh pihak asuransi.
Ahli waris dapat menyerahkan berkas yang diperlukan melalui UPK, dan selanjutnya
UPK yang akan meneruskan proses klaim asuransi. Proses pencairan klaim paling cepat
seminggu dan paling lama satu bulan.
4.2. Produk Linkage
Perlindungan yang ditawarkan dalam asuransi jiwa kredit mencakup tiga produk yang
berbeda, yaitu:
• Ekawaktu Perlindungan Kredit Kumpulan. Asuransi ini memberikan jaminan/
santunan sebesar nilai pinjaman awal jika peserta asuransi meninggal dunia dalam
periode asuransi. Pertanggungan senilai jumlah pinjaman ke UPK;
• Cicilan Bulanan Kumpulan. Asuransi ini memberikan jaminan/santunan sebesar nilai
sisa pinjaman yang menurun setiap bulan dan penurunan dihitung secara proporsional.
Jika peserta asuransi meninggal dunia dalam periode asuransi, pertanggungan hanya
sisa pokok pinjaman.
• Cicilan Bulanan Annuitas Kumpulan. Asuransi ini memberikan jaminan/santunan
sebesar nilai sisa pinjaman yang menurun setiap bulan dan penurunan dihitung
berdasarkan jumlah cicilan, yang tergantung pada bunga pinjaman jika peserta
asuransi meninggal dunia dalam masa periode asuransi (pertanggungan senilai sisa
pokok pinjaman dan bunga).
Dari ketiga produk di atas, produk kedua yang diterapkan dalam linkage antara
UPK Rangkiang Mandiri dengan AJB Bumiputera 1912, yaitu Asuransi Jiwa Kredit
Cicilan Bulanan Kumpulan. Produk ini dipilih melalui kesepakatan bersama antara UPK
Rangkiang Mandiri dan kelompok peminjam dalam SPP, dengan mempertimbangkan
manfaat yang akan diperoleh dan besaran premi yang harus dibayarkan ke AJB Bumiputera
1912.
Untuk premi asuransi, diterapkan berdasarkan usia dan jumlah pinjaman dan pihak
asuransi telah menyediakan tabel asuransi SPP untuk memudahkan besaran premi yang
harus dibayar. Sebagai contoh, untuk peminjam dengan usia 20 tahun dengan pinjaman
1 juta rupiah, premi yang dikenakan sebesar Rp1.607. Pinjaman yang sama tetapi bila
usianya 50 tahun, premi yang dikenakan sebesar Rp5.683.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
23
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
5.1. Ibu Zuraida, Produsen Batu Bata
Ibu Zuraida (janda, 64 tahun) tinggal di Jorong Rambatan, Nagari Rambatan dan memiliki
tiga orang anak. Ia adalah ketua SPP Bata Jaya dan menjadi salah satu pengurus kelompok
peminjam ke UPK. Ia telah meminjam sebanyak empat kali sejak 2008, dengan besaran
pinjaman secara berurutan dua juta, tiga juta, empat juta, dan terakhir lima juta rupiah
pada 2011.
Pinjaman-pinjaman yang diperoleh digunakan untuk modal usaha pembuatan batu
bata karena sebagian besar anggota kelompok SPP Bata Jaya memiliki usaha pembuatan
batu bata. Pinjaman terakhir digunakan untuk pembuatan atap bedeng untuk penyimpanan
batu bata. Batu bata yang dihasilkan dijual oleh Ibu Zuraida ke konsumen dengan harga
jual Rp500 per batu bata. Kebanyakan konsumen pembeli batu bata adalah warga pemilik
toko bangunan sekitar Nagari Rambatan.
Informasi awal tentang asuransi jiwa kredit dari AJB 1912 diperoleh Ibu Zuraida
melalui sosialisasi UPK ke pengurus SPP. Ia dan pengurus kelompok SPP yang lain
kemudian meneruskan informasi tersebut ke anggota kelompoknya di SPP Bata Jaya. Para
anggota SPP Bata Jaya menyambut positif penjelasannya dan memutuskan untuk ikut
dalam asuransi jiwa kredit tersebut.
Besarnya premi asuransi yang harus dibayar Ibu Zuraida tergantung dari besarnya
pinjaman dan usianya. Untuk pinjaman sebesar lima juta rupiah, ia harus membayar premi
sebesar Rp98.100 untuk jangka waktu pinjaman selama 12 bulan. Dengan mengikuti
asuransi jiwa kredit ini, ia merasa lebih tenang dalam menjalankan usaha dan merasa
terlindungi dalam hal pengembalian pinjaman bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak
diinginkannya.
5.2. Ibu Asmah, Produsen Batu Bata
Ibu Asmah (52 tahun) tinggal bersama suami dan anaknya di Jorong Ladang Laweh Nagari
Rambatan. Ia adalah salah satu anggota SPP Usaha Bunda. Selama menjadi anggota SPP
tersebut, ia telah meminjam ke UPK sebanyak dua kali, dengan jumlah pinjaman masingmasing dua juta pada 2010. Pinjaman terakhir sebesar tiga juta pada 2011. Kelompok
peminjam SPP Usaha Bunda memiliki 30 orang anggota dengan jumlah pinjaman ke UPK
sebesar 70 juta rupiah.
Ia dan suaminya juga memiliki usaha pembuatan batu bata. Pinjaman yang diperoleh
digunakan untuk mengembangkan usaha batu bata. Sebagian besar anggota kelompok SPP
Usaha Bunda juga memiliki usaha pembuatan batu bata. Hasil batu bata di Jorong Ladang
Laweh Nagari Rambatan memiliki kualitas yang terbaik di Kabupaten Tanah Datar,
sehingga tidak heran banyak konsumen dari luar daerah seperti Solok, Padang Panjang,
24
Padang Pariaman, dan daerah lain tertarik untuk membeli batu bata warga Jorong Tanah
Laweh Nagari Rambatan.
Ibu Asmah memperoleh informasi awal tentang asuransi jiwa kredit dari pengurus
kelompoknya di SPP Usaha Bunda. Ketua kelompok SPP Usaha Bunda menyampaikan
informasi tersebut ke anggota-anggotanya, termasuk ke Ibu Asmah. Informasi tentang
asuransi jiwa kredit diperoleh pengurus kelompok dari UPK Rangkiang Mandiri.
Terkait premi asuransi, Ibu Asmah yang telah berusia 52 tahun dan mendapatkan
pinjaman sebesar 3 juta rupiah dikenakan premi sebesar Rp20.250 untuk jangka waktu
pinjaman selama 12 bulan. Ia mengaku tidak keberatan karena memahami akan manfaat
asuransi jiwa kredit ini.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Pembelajaran yang dapat dipetik dari linkage antara UPK Rangkiang Mandiri dengan AJB
Bumiputera 1912 adalah sebagai berikut:
• Linkage yang awalnya terbatas untuk fasilitator PNPM Perdesaan telah meningkat
menjadi linkage antara AJB Bumiputera dan UPK dalam hal asuransi jiwa kredit.
• Proses penerimaan linkage antara UPK Rangkiang Mandiri dan AJB Bumiputera
1912 dilakukan melalui sosialisasi intensif secara berjenjang dari tingkat UPK, forum
MAN untuk pengambilan kebijakan hingga pengurus dan anggota SPP. Persetujuan
linkage ini melalui penyadaran ke berbagai pihak.
6.2. Potensi dan Peluang
Beberapa potensi dan peluang untuk meningkatkan linkage antara UPK dan AJB
Bumiputera 1912:
• Linkage ini dapat diperluas ke UPK lain melalui sosialisasi ke semua pelaku PNPM
Perdesaan agar dapat diterima dan disetujui dengan penuh kesadaran akan manfaat
penting dari asuransi tersebut.
• Skema produk yang digunakan dalam linkage, yaitu asuransi jiwa kredit cicilan
bulanan (pertanggungan untuk sisa pokok pinjaman), dapat ditingkatkan ke skema
yang lebih tinggi nilai pertanggungannya, misalnya annuitas dengan pertanggungan
sisa pinjaman dan bunga.
• Skema premi berdasarkan usia menciptakan rentang perbedaan premi (gap) yang
cukup tinggi antara anggota SPP usia muda dan yang usia lanjut. Hal ini perlu
dinegosiasikan ulang oleh UPK ke pihak asuransi agar premi yang harus dibayar
tidak berbeda jauh antara peminjam usia muda dengan yang usia tua. Premi bisa juga
ditentukan menurut persentase dari nilai pinjaman anggota SPP.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
25
6.3. Tantangan linkage
Tantangan linkage yang mungkin/telah muncul dalam proses implementasi linkage antara
UPK Rangkiang Mandiri dan AJB Bumiputera 1912 dalam asuransi jiwa kredit mencakup:
• UPK harus memberikan informasi dan sosialisasi yang cukup ke semua anggota SPP
terkait manfaatnya, besaran premi, nilai pertanggungannya, dan pengajuan klaim
asuransi dengan segala persyaratan-persyaratan yang diperlukan, bila terjadi keadaan
meninggal dunia. Sosialisasi ini juga perlu diteruskan ke keluarga dari anggota SPP
agar terdiseminasi dengan baik; dan
• besarnya premi yang berbeda meski jumlah pinjaman yang sama karena perbedaan
usia dapat menimbulkan kecemburuan atau kesenjangan antara anggota SPP. Perlu
sosialisasi dan penjelasan secara baik dan terus-menerus dari pihak AJB Bumiputera
1912 ke anggota SPP dan pelaku PNPM Perdesaan.
26
Kabupaten Bantul
DI Yogyakarta
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
PKBL Bank Mandiri dan
LKM Arta Murti, Kabupaten Bantul,
DI. Yogyakarta
RINGKASAN
Linkage antara PKBL Bank Mandiri dan LKM Arta Murti adalah salah satu
contoh upaya menjembatani KSM/individu yang telah “naik kelas” dan memerlukan
akses pinjaman modal yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya. Dalam
linkage ini, Bank Mandiri belum secara langsung melakukan linkage dan membuat
nota kesepahaman dengan LKM Arta Murti karena terkendala status hukumnya.
Melalui fasilitasi yang dilakukan oleh Disperindagkop Kabupaten Bantul, LKM Arta
Murti menjalin linkage dengan PKBL Bank Mandiri yang dituangkan dalam nota
kesepahaman antara Bank Mandiri dan Disperindagkop pada 26 Juli 2010. Atas
dasar nota kesepahaman itulah, LKM Arta Murti dapat bermitra dengan PKBL Bank
Mandiri karena Disperindagkop telah bekerja sama dengan Bank Mandiri sejak 2006.
Model linkage yang diterapkan baru sebatas pada pemberian rekomendasi untuk kredit
mikro dari LKM/UPK kepada anggota KSM. Terdapat 11 orang anggota KSM dari
Desa Trimurti yang berhasil mengakses pinjaman dari PKBL Bank Mandiri untuk
beragam usaha. Jumlah pinjaman yang diperoleh berkisar antara 10 hingga 20 juta
rupiah per individu.
Terdapat beberapa pelajaran berharga dari linkage ini di antaranya peran penting
dan strategis dari Disperindagkop dalam memfasilitasi linkage dan peningkatan sikap
kritis dan selektif dari masyarakat dalam mengakses dana perbankan. Linkage ini juga
telah menciptakan sejumlah peluang di antaranya kesempatan yang luas bagi penerima
manfaat dan KSM untuk mengakses pinjaman di luar PNPM. LKM Arta Murti juga
berpeluang dijadikan model percontohan LKM/BKM dalam membangun linkage
dengan berbagai pihak. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan di antaranya,
minimnya manfaat ekonomis dari linkage ini untuk LKM Arta Murti, keaneragaman
skema kredit perbankan yang menuntut kecermatan yang tinggi dari LKM UPK,
upaya agar akses pinjaman beragunan minimal atau bebas agunan, penyusunan nota
kesepahaman yang menuntut keahlian dalam hal hukum bagi LKM UPK, dan upaya
untuk mendorong model executing dalam linkage dengan perbankan.
28
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri Perkotaan Antara PKBL Bank Mandiri dan LKM Arta Murti
Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DI.
Yogyakarta
20-21 Desember 2011
1. Lokasi Studi
1.1 Profil Desa Trimurti
Desa Trimurti berada di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Desa
ini memiliki 19 pedukuhan yang terbagi dalam 135 RT. Desa Trimurti terletak di dataran
rendah, beriklim tropis, dan luas wilayahnya 618.831,3 ha. Jumlah penduduknya 17.766
jiwa, yang terdiri dari 8.705 laki-laki dan 9.061 perempuan, dan jumlah KK-nya 5.220.
Jumlah penduduk miskinnya 1.076 KK. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor
perdagangan dan industri kecil, seperti industri tempe, bakpia, tahu, mie, dan lain-lain.
Dalam hal akses jasa layanan keuangan, di desa ini terdapat dua lembaga perbankan
seperti BRI dan BPD DIY. Selain itu, terdapat juga lembaga keuangan syariah seperti BMT
Mitrama, BMT Arta Sejahtera, dan BMT Harapan Kita.
1.2. Profil LKM Arta Murti
Pada 1999 Desa Trimurti telah menjadi salah satu sasaran pelaksanaan P2KP. P2KP
memiliki beberapa siklus kegiatan di tingkat masyarakat dan salah satunya adalah
pembentukan BKM. BKM Arta Murti di Desa Trimurti dibentuk pada 19 Februari 2000.
Pada 2 Februari 2009 dilakukan rembug warga kesembilan dengan agenda perubahan
BKM menjadi LKM. Dalam rembug ini, dilakukan pula pemilihan 13 orang pimpinan
kolektif LKM Arta Murti periode 2009 – 2011. Pimpinan kolektif yang terpilih terdiri
dari sembilan laki-laki dan empat perempuan dengan beragam profesi dan latar belakang
seperti guru, pedagang, wiraswasta, buruh, dan ibu rumah tangga. Koordinator LKM
dipilih melalui musyawarah mufakat oleh para anggota LKM terpilih. Perubahan LKM
Arta Murti diaktanotariskan pada 26 Mei 2009 dengan nomor Akta: 03.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
29
Profil kinerja dan layanan LKM Arta Trimurti per 30 November 2011:
1.
Total aset UPK
Rp1.059.636.100
2.
Pinjaman ke KSM (RLF)
Rp741.890.616
3.
Dana di Bank
Rp167.417.936
4.
Jumlah KSM aktif
224 KSM (anggota KSM minimal 3 orang)
5.
Jumlah penerima manfaat
1225 orang
6.
Besarnya pinjaman
Rp500.000 – Rp2.000.000 / anggota KSM
7.
Bunga pinjaman
1,5% per bulan flat
8.
Kredit macet (NPL)
3%
9.
Prosentase pengembalian
97%
10.
Tanggal pencairan
Pada tanggal 5, 10, 15, dan 20 setiap bulan
11.
Jam layanan UPK
08.00 – 14.00 WIB (Senin – Jum’at)
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi
perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada Juli 1999, empat bank
pemerintah, yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia,
dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri. Masing-masing dari
keempat legacy banks memainkan peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan
perekonomian Indonesia.6 Bank Mandiri mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada
pertengahan 1999.
Secara umum produk yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri untuk UMKM, terdiri
dari dua yaitu pelayanan untuk bisnis (business banking) dan untuk mikro (micro banking).
Produk pelayanan bisnis terdiri dari beberapa produk, antara lain: kredit tunai, kredit
nontunai, kredit program, produk dana, dan mandiri bisnis. Sedangkan produk pelayanan
mikro untuk UMKM, Bank Mandiri telah membaginya menjadi tiga jenis skema yaitu: (1)
KUM (Unit Usaha Mikro), (2) BPR (Orang Unit Credit) dan (3) PKBL.
Sejarah singkat Bank Mandiri, http://www.bankmandiri.co.id/corporate01/about_profile.asp
6
30
2.2. Produk dan Skema Lembaga Mitra
Dalam linkage antara Bank Mandiri dan LKM Arta Murti, skema dan produk yang
ditawarkan adalah PKBL. Fitur pinjaman PKBL mencakup (1) batas pinjaman maksimal
30 juta rupiah untuk perorangan dan maksimal 100 juta rupiah untuk koperasi/kelompok
usaha, (2) jangka waktu pinjaman maksimal tiga tahun, (3) suku bunga tidak bertingkat
(sebesar 6% per tahun), dan (4) bebas provisi dan administrasi. Syarat-syaratnya adalah (1)
WNI, (2) memenuhi kriteria usaha kecil, (3) belum pernah menerima pinjaman dari Bank
Mandiri, bank atau BUMN lain, dan (4) telah menjalankan usaha minimal satu tahun
(perorangan) dan dua tahun (badan usaha/koperasi/kelompok usaha) serta mempunyai
prospek untuk dikembangkan. Diutamakan kepada usaha kecil/koperasi/kelompok usaha
yang belum memiliki akses perbankan (belum bankable), mempunyai aset maksimal 200
juta/omzet per tahun maksimal satu miliar rupiah. Manfaat yang diperoleh adalah suku
bunga yang ringan, persyaratan pinjaman hanya 6% per tahun, dan jaminan pinjaman
yang ringan. Agunan yang digunakan dalam PKBL ini tidak seketat yang digunakan dalam
skema KUM dan BPR. Agunan yang digunakan tidak harus sertifikat rumah/tanah, cukup
dengan jaminan BPKB mobil/motor untuk para debitur penerima manfaat PKBL.
PKBL dirancang oleh Bank Mandiri sebagai program CSR dengan keuntungan yang
terbilang kecil atau hanya 2% atau 3% dari laba karena tujuan utama dari program ini
adalah untuk memberdayakan pengusaha kecil dan meningkatkan pembangunan kapasitas.
Meski demikian, Bank Mandiri membatasi pemberian kredit untuk satu individu atau
kelompok, dan tidak lebih dari dua periode selama lima tahun. PKBL juga tersedia untuk
petani dan nelayan.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinya Linkage
PNPM Perkotaan pada 2009 memiliki program keberlanjutan dan kemandirian yang
dikhususkan untuk wilayah sasaran lama, termasuk LKM Arta Murti di Desa Trimurti di
bawah program P2KP Advance.7 Dalam kerangka program keberlanjutan dan kemandirian
itu, PNPM Mandiri Perkotaan di Kabupaten Bantul berupaya untuk menjalin program
linkage dengan berbagai pihak, seperti pemerintah lokal termasuk dinas dan badan, bank,
lembaga donor/ NGO, dan pihak lain.
Linkage ini merupakan salah satu upaya untuk membangun keberlanjutan program
atau yang dikenal dengan program neighborhood development (ND). Linkage dalam layanan
7
PNPM Perkotaan Advanced merupakan:
- Program pendampingan untuk kemandirian dan keberlanjutan program penanggulangan kemiskinan
- Suatu proses “Naik Kelas” dari program pendampingan Program P2KP. Dalam P2KP Advanced terdapat sejumlah intervensi kegiatan melalui program antara lain: PAKET, Channeling, Replikasi, PLPBK, dan termasuk kegiatan Pilot Program lainnya
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
31
keuangan dengan pihak perbankan dan LKBB merupakan jalan untuk memfasilitasi
anggota KSM yang telah ‘naik kelas’. Adanya aturan PDB PNPM Perkotaan yang mengatur
maksimal hanya empat kali mendapat pinjaman dan dengan nilai pinjaman antara 500
ribu rupiah sampai dua juta rupiah, telah membuat linkage dengan pihak perbankan dan
LKBB menjadi jalan untuk mengakses layanan keuangan.
3.2. Proses Terjalinya Linkage
Linkage antara PKBL Bank Mandiri dan LKM Arta Murti tidak terlepas dari sejarah kerja
sama antara Disperindagkop Kabupaten Bantul dan Bank Mandiri pada 2006. Kerja
sama ini bermula dari keterlibatan beberapa BUMN dalam mendukung program fasilitasi
industri rumah tangga. BUMN yang pernah berpartisipasi mendukung program tersebut
di antaranya: Bank Mandiri, BTN, Askes, dan lain-lain. Kerja sama ini merupakan tindak
lanjut dari kerja sama dengan BLKI di mana Disperindagkop berperan memberikan
pembinaan dan pelatihan ke pengrajin/wirausaha. Bila ada pengrajin/wirausaha yang
memerlukan akses pinjaman modal, dapat dihubungkan dengan pihak PKBL Bank
Mandiri.
Dalam linkage ini, LKM difasilitasi oleh Disperindagkop melalui nota kesepahaman
antara Bank Mandiri dan Disperindagkop di mana Disperindagkop kemudian
menjalin kerja sama dan nota kesepahaman dengan pihak PNPM Mandiri Perkotaan.
Disperindagkop mulai memfasilitasi pembiayaan dengan skema PKBL dengan melakukan
sosialisasi ke sepuluh LKM di tahap awal pada 28 Mei 2010 dan terdapat sembilan BKM
yang telah siap menandatangani nota kesepahaman dengan Disperindagkop pada 26 Juli
2010. Bank Mandiri belum secara langsung melakukan nota kesepahaman dengan LKM,
karena LKM dianggap lemah status hukumnya.
Disperindagkop memfasilitasi linkage antara LKM dan PKBL Bank Mandiri
karena didorong oleh keinginan menjalin kerja sama yang lebih baik dengan pelaku
PNPM Perkotaan dan membangun kepercayaan antara pelaku PNPM dengan pihak
Disperindagkop. Disperindagkop pun memberikan kepercayaan penuh ke pelaku PNPM,
termasuk dalam hal memberikan rekomendasi yang diajukan oleh LKM untuk diusulkan
ke PKBL melalui Disperindagkop.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Dalam hal layanan keuangan dengan pihak perbankan, LKM Arta Murti telah
mengimplementasi linkage dengan pihak bank melalui kerja sama dengan PKBL Bank
Mandiri.
32
Model pelaksanaan linkage-nya berupa pemberian surat rekomendasi, di mana LKM
berperan sebagai lembaga yang memberikan rekomendasi terhadap anggota KSM yang
telah ‘naik kelas’ untuk diajukan ke PKBL Bank Mandiri sebagai lembaga mitra. Karena
linkage dengan PKBL melibatkan Disperindagkop, pengajuan rekomendasi dilakukan
melalui Disperindagkop yang selanjutnya diteruskan ke PKBL.
Rekomendasi yang disediakan oleh LKM Arta Murti adalah rekomendasi tertulis
yang ditandatangani dan distempel oleh LKM. Syarat yang diperlukan oleh anggota KSM
untuk memperoleh rekomendasi antara lain:
• membayar angsuran tepat waktu selama meminjam ke UPK;
• telah meminjam lebih dari dua kali (disarankan ke lembaga mitra) dari UPK;
• mengajukan permohonan langsung ke LKM; dan
• lolo dari survei lokasi yang dilakukan oleh UPK
Ada pun proses seleksi awal dilakukan oleh LKM UPK Arta Murti. Setelah menerima
pengajuan proposal, PKBL Bank Mandiri akan melakukan proses penilaian kelayakan dan
verifikasi hingga proses persetujuan pinjaman ke nasabah. Setelah disetujui, dilakukan
akad kredit sebagai bentuk ikatan hukum antara PKBL Bank Mandiri dan nasabah. Dalam
hal angsuran, nasabah yang akan menyetorkan ke Bank Mandiri atau pihak Bank Mandiri
yang akan melakukan penagihan ke nasabah. Dalam model pemberian rekomendasi ini,
LKM UPK tidak memperoleh imbalan (fee) dari PKBL Bank Mandiri.
4.2. Skema Produk Linkage
Produk pinjaman dari PKBL Bank Mandiri adalah fasilitas pinjaman baru untuk
kebutuhan modal kerja atau investasi yang diberikan kepada calon mitra binaan mandiri
yang feasible namun belum bankable. Program kerja sama dalam skema PKBL bertujuan
untuk menghindari konflik dalam memperoleh pelanggan antara PKBL dan program lain
seperti KUM dan BPR. Karena itu, PKBL menggunakan wilayah sasaran di luar radius
15 km, di mana KUM dan BPR beroperasi dalam radius 15 km. Bank Mandiri juga
menerapkan kebijakan persentase penggunaan dana PKBL, yakni:
• 10% untuk skema kredit perorangan; dan
• 90% untuk kelompok, inti-plasma, koperasi, dan keterkaitan (anak perusahaan
korporasi pelanggan setia Bank Mandiri).
Bank Mandiri juga menyediakan polis asuransi jiwa untuk program PKBL yaitu
sebesar 0.005% dari batas kredit dan juga meminta nasabahnya untuk membuka rekening
tabungan penyimpanan dana, yang Rencana Mandiri Tabungan. Nasabah dari PKBL
juga memperoleh manfaat dan dukungan lain dari Bank Mandiri, yaitu memperoleh
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
33
kesempatan dan ruang untuk bergabung pameran di tingkat lokal, nasional, maupun
internasional. Kesempatan ini diberikan dalam rangka untuk mengenalkan hasil produk
usaha ke wilayah/negara lain agar memiliki pangsa pasar yang lebih luas dan berpotensi
untuk pengembangan usaha yang lebih besar.
4.3. Cakupan Linkage
Linkage antara LKM Arta Murti dan Disperindagkop dalam hal layanan kredit dari skema
PKBL Bank Mandiri, hingga saat ini masih terbatas pada pinjaman untuk individu/
anggota KSM, bukan kelompok.
Terdapat 11 orang anggota KSM dari Desa Trimurti yang telah mengakses pinjaman
dari PKBL Bank Mandiri untuk beragam usaha seperti berdagang beras dan kedelai,
berdagang kelontong, industri rumah tangga (tahu, emping melinjo, dan roti), usaha
rumah makan, usaha ternak ayam kampung atau ayam pedaging, dan usaha salon/rias.
Jumlah pinjaman yang diperoleh berkisar antara 10 hingga 20 juta rupiah per individu.
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
5.1. Ibu Painem, Pedagang Beras dan Kedelai
Ibu Painem (56 tahun) adalah pedagang beras dan kedelai sejak 1975. Ia pernah mengakses
pinjaman dari LKM Arta Murti sebanyak tiga kali dan tergabung dalam KSM Aneka
Usaha. Pinjaman pertama sebesar satu juta rupiah pada 2000, pinjaman kedua sebesar dua
juta rupiah pada 2001, dan pinjaman ketiga sebesar tiga juta rupiah pada 2003. Pinjaman
tersebut digunakan untuk menambah modal usaha. Seiring dengan peningkatan usahanya,
ia pun memerlukan dana pinjaman yang lebih besar agar dapat digunakan untuk modal
usahanya.
Informasi tentang akses pinjaman dari PKBL Bank Mandiri ia peroleh dari putrinya
yang bekerja sebagai staf di LKM Arta Murti. Melalui fasilitasi dan rekomendasi LKM
Arta Murti, ia mengajukan proposal pinjaman ke PKBL sebesar 20 juta rupiah melalui
Disperindagkop. Rekomendasi dari LKM Arta Murti diperoleh karena ia dinilai memiliki
catatan pengembalian yang baik dan lancar saat masih meminjam ke UPK. Ia memperoleh
dana pinjaman sebesar 20 juta rupiah pada November 2009. Pinjaman tersebut untuk
jangka waktu dua tahun dengan bunga per tahun 6% dan menggunakan sertifikat tanah
atas nama suaminya sebagai agunan pinjaman,. Dari pinjaman tersebut, setiap bulannya ia
mengangsur sebesar Rp930.000.
Pinjaman tersebut ia gunakan untuk pengembangan usahanya, di antaranya
dengan membeli beras dan kedelai langsung dari distributor/grosir secara tunai sehingga
memperoleh harga pembelian yang lebih murah daripada dengan berhutang terlebih
dahulu. Dengan membeli cara tunai, ia dapat memperoleh kualitas beras dan kedelai lebih
34
baik. Dengan demikian, ia dapat menjual lagi ke pasar dengan keuntungan Rp200 dari
setiap kg beras yang dijual.
5.2. Pak Muji Rahardjo, Produsen Tahu
Pak Muji Rahardjo (50 tahun) memiliki usaha sebagai produsen tahu sejak 1990. Ia adalah
salah satu penerima yang dapat mengakses layanan keuangan melalui program linkage
antara Disperindagkop dan PKBL Bank Mandiri. Sebelum akses ke PKBL Bank Mandiri,
Pak Muji adalah mantan anggota KSM Ngudi Lestari di Desa Trimurti dan memiliki
pengalaman meminjam sebanyak tiga kali dari LKM UPK Arta Murti saat itu. Pinjaman
pertama sebesar satu juta rupiah pada 2000, disusul pinjaman kedua sebesar 1,5 juta rupiah
pada 2001, dan kemudian pinjaman ketiga sebesar dua juta rupiah pada 2003. Pinjamanpinjaman yang diperoleh tersebut digunakan untuk menambah modal usahanya.
Pada 2010 ia memperoleh informasi tentang adanya pinjaman dari Bank Mandiri
dalam jumlah yang lebih besar. Berbekal rekam jejak yang baik selama meminjam ke UPK
dan rekomendasi dari LKM Arta Murti, ia pun mengajukan pinjaman ke PKBL Bank
Mandiri melalui Disperindagkop. Setelah meneliti kelengkapan persyaratan pengajuan
pinjaman, Disperindagkop lalu meneruskan proposal pinjaman ke Bank Mandiri. Ia
akhirnya menerima pinjaman dari PKBL Bank Mandiri sebesar 20 juta rupiah pada
Agustus 2010 dengan jaminan sertifikat rumah dan jangka waktu pinjaman selama tiga
tahun, serta suku bunga 6% per tahun. Setiap bulannya ia membayar angsuran sebesar
Rp650.000.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Terdapat sejumlah pembelajaran yang dapat dipetik dari linkage yang terjalin antara LKM
Arta Murti dan PKBL Bank Mandiri, yaitu:
• Peran Disperindagkop dalam memfasilitasi linkage antara BKM dengan PKBL Bank
Mandiri menjadi sangat penting dan strategis untuk mendorong pengembangan
UMKM dan membangun kepercayaan dengan pelaku PNPM Mandiri Perkotaan.
• Bank Mandiri memberikan fasilitas pinjaman melalui PKBL kepada individu/
anggota KSM menjadi pembelajaran penting bagi calon mitra binaan mandiri yang
feasible namun belum bankable.
• Masyarakat semakin selektif dan kritis dalam mengakses dana dari lembaga perbankan.
LKM Trimurti sebenarnya telah melakukan linkage dengan USP Swamitra Bank
Bukopin, namun karena bunga pinjamannya tinggi (1,6% perbulan), lembaga ini
kurang diminati oleh masyarakat.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
35
6.2. Potensi dan Peluang
Beberapa potensi dan peluang dalam upaya meningkatkan linkage dengan pihak perbankan/
lembaga keuangan mikro yang didapat dari hasil linkage di atas:
• Adanya peluang untuk memberikan kesempatan yang luas pada penerima manfaat
dan KSM untuk mengakses pinjaman di luar PNPM. Peluang untuk memperluas
linkage dengan LKM UPK lain yang belum terikat kerja sama dengan Disperindagkop
semakin luas.
• LKM Arta Murti memiliki potensi dan peluang besar untuk dijadikan model atau
percontohan dalam membangun linkage dengan berbagai pihak. Model dan inisiasi
linkage oleh LKM Arta Murti dapat diadopsi oleh LKM/BKM lain sebagai upaya
untuk mengkases layanan keuangan bagi kelompok miskin yang telah ‘naik kelas.’
6.3. Tantangan linkage
Berikut ini sejumlah tantangan yang mungkin atau telah muncul dalam proses dan
implementasi linkage antara LKM dengan pihak bank/lembaga keuangan mikro:
• Secara ekonomis, linkage dengan bank selama ini belum secara langsung membawa
keuntungan bagi LKM UPK karena tidak mendapat imbalan dari kerja sama tersebut.
• Berbagai skema kredit yang ada dari perbankan dan lembaga keuangan lain dan bunga
pinjaman yang bervariasi memerlukan pencermatan tersendiri dari UPK dan LKM
yang menjalin linkage dan bagaimana melakukan sosialisasinya ke KSM/individu.
• Bagaimana mengupayakan akses pinjaman dengan agunan seminimal mungkin atau
bahkan tanpa agunan dan memfasilitasi KSM/individu dalam masa transisi untuk
‘naik kelas’ (dari sebelumnya peminjam di UPK menjadi feasible untuk meminjam
di bank).
• Proses penyusunan nota kesepahaman dengan lembaga mitra/perbankan memerlukan
keahlian, khususnya dalam hal hukum agar LKM UPK memiliki posisi tawar dan
saling menguntungkan satu sama lain. Tidak semua LKM UPK memiliki pemahaman
yang cukup tentang hukum dan peraturan.
• Jalinan linkage yang terbangun, tidak hanya dengan model pemberian rekomendasi
atau pun chanelling, namun ke depan diupayakan dalam bentuk executing sehingga
LKM UPK memiliki kewenangan dalam menyalurkan dana bergulir, menggunakan
basis kelompok (KSM), dan memberikan pinjaman tanpa dikenakan jaminan bagi
penerima manfaat.
36
Kabupaten Bantul
DI Yogyakarta
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Asuransi Jiwa
Bersama Bumiputera 1912 dan UPK
Jetis, Kabupaten Bantul,
DI. Yogyakarta
RINGKASAN
Linkage keuangan antara Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Jetis dan lembaga
Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 sudah dimulai sejak 2008. Linkage
ini didorong oleh kebutuhan akan perlunya asuransi dalam mengatasi terputusnya
pembayaran angsuran oleh beberapa rumah tangga miskin penerima manfaat PDB
untuk mengembalikan sisa angsuran karena yang bersangkutan meninggal dunia.
Kasus meninggalnya penerima manfaat PDB ini akhirnya mengilhami Ketua UPK
Kecamatan Jetis untuk menginisiasi linkage ini.
Linkage ini telah memberikan peran kepada UPK sebagai koordinator yaitu memfasilitasi
individu anggota kelompok dengan AJB Bumiputera dalam hal pendaftaran polis
asuransi dengan UPK sebagai pihak pemegang polis asuransi. Demikian pula, ketika
terjadi klaim asuransi, UPK akan memfasilitasi proses pengajuan klaim hingga
pencairan uang pertanggungan untuk ahli waris. Pada periode pencairan perguliran
Juli 2008, kesepakatan awal antara UPK dan AJB Bumiputera Askum Yogyakarta
dimulai dengan setiap penyaluran pinjaman ke kelompok akan dilindungi oleh asuransi.
Semenjak terjalinnya linkage antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912
pada Juli 2008 hingga November 2011 telah terjadi 27 kali penandatanganan polis
asuransi. Hingga November 2011, modal dana bergulir UPK ini meningkat dua kali
lipat dalam kurun waktu hampir lima tahun.
Terdapat sejumlah pembelajaran penting dari pengalaman praktik linkage keuangan
antara UPK Kecamatan Jetis dan lembaga AJB Bumiputera 1912, di antaranya yang
utama adalah (1) memberikan perlindungan finansial bagi ahli waris peminjam, (2)
mendorong pembayaran yang tepat waktu, (3) meningkatkan pemahaman tentang
pentingnya asuransi di masyarakat, dan (4) pentingnya peran petugas UPK terkait
pembinaan dan sosialisasi dan dukungan dari MAD dan BKAD. Meski demikian
terdapat sejumlah tantangan operasional dan teknis terkait dengan keberlanjutan
linkage ini di antaranya adalah masalah pembinaan UPK dalam rangka keberlanjutan
linkage, kejelasan tentang posisi UPK itu sendiri, perlunya pencantuman klausul
tentang asuransi pada surat perjanjian kredit (SPK) antara UPK dan kelompok sebagai
pengikat dan kebutuhan dana tambahan untuk dana bergulir.
38
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri PedesaanAntara Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 dan
UPK Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta
23 Desember 2011
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Jetis
Kecamatan Jetis terletak di Kabupaten Bantul-Provinsi DIY dan memiliki empat desa
yaitu Desa Patalan, Desa Canden, Desa Sumberagung, dan Desa Trimulyo dengan
64 pedukuhan. Kecamatan Jetis adalah salah satu kecamatan yang mengalami dampak
terburuk dari bencana gempa bumi pada 2006. Jumlah penduduknya pada 2008 adalah
51.455 orang yang terdiri dari 25.048 laki-laki dan 26.407 perempuan dan sekitar 41,6%
penduduknya adalah petani.8
Di Kecamatan Jetis terdapat sekitar 20 bank dan lembaga keuangan seperti BRI,
BPD, BUKP, Bank Pasar, dan sekitar 10 BMT termasuk empat LKMdi setiap kelurahan
yang melayani simpan pinjam. Kecamatan Jetis merupakan salah satu kecamatan phaseout PNPM Perdesaan di mana sejak 2008 tidak lagi menerima bantuan PDB menyusul
bencana gempa bumi pada 2006. Saat ini PNPM Perdesaan di Kecamatan Jetis sudah
tidak memiliki fasilitator kecamatan sehingga pendampingan langsung ditangani oleh
faskab Bantul.
1.2. Profil UPK Kecamatan Jetis
UPK PNPM Perdesaan Kecamatan Jetis dibentuk pada 27 Mei 2006 dalam rangka
merespons bencana gempa bumi pada 2006. UPK ini dijalankan oleh tiga orang yang
terdiri dari ketua UPK dan dibantu oleh seorang bendahara dan seorang sekretaris.
UPK ini beroperasi setiap hari mulai 08.00 hingga 14.00, kecuali Minggu. Sebelumnya
di Kecamatan Jetis telah terdapat UPK dan BKM di setiap kelurahan sejak 2003 yang
termasuk dalam PNPM Mandiri Perkotaan.
Program SPP melalui UPK dinilai telah membantu masyarakat untuk bangkit dari
keterpurukan usahanya pascabencana. Selain itu, program SPP juga membantu program
lantainisasi 9 rumah warga miskin dengan dana dari keuntungan (surplus) UPK. Keuntungan
Sumber Bag. Tata Pemerintahan : http://bantulkab.go.id/datapokok/0505_kepadatan_penduduk_jenis_kelamin.html
Lantainisasi adalah inovasi program yang dprakarsai oleh UPK Jetis untuk merehabilitasi rumah milik anggota SPP miskin dari
rumah berlantai tanah menjadi rumah berlantai semen atau tegel. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan dan kesehataan
rumah anggota SPP, selain itu program ini ditujukan untuk mempromosikan kegiatan SPP ke warga miskin lainnya.
8
9
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
39
lain dari program SPP adalah tersedianya bantuan beasiswa bagi anak-anak penerima manfaat
dana bergulir yang didapat dari keuntungan UPK. Manfaat lain SPP adalah pembelajaran
masyarakat untuk merubah pola pikir yang mengandalkan bantuan dan menganggap bahwa
semua bantuan dari pemerintah adalah hibah dan tidak perlu dikembalikan.
Sejak awal pendiriannya pada 2006 hingga November 2011, modal dana bergulir
UPK ini meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu hampir lima tahun. UPK ini
menerapkan bunga pinjaman sebesar 1,5% per bulan dan memberikan IPTW sebesar 3%
per tahun sesuai yang tertuang pada PTO PNPM Perdesaan. Dalam pelaksanaan PDB,
UPK tidak pernah mengalami dana tersisa. Bahkan, dalam praktiknya hanya mampu
melayani sekitar 75% permintaan kelompok dari keseluruhan jumlah kelompok yang
mengajukan pinjaman (uraian lengkap lihat tabel berikut).
Per November 2011, UPK ini hanya memiliki tunggakan PDB oleh kelompok
sebesar Rp888.000 dari nilai total 1,3 miliar rupiah. Rencananya tunggakan ini akan
segera ditindaklanjuti oleh badan pengawas UPK. Kecilnya tunggakan ini tidak lepas dari
penerapan prinsip-prinsip kepedulian baik dari BKAD, maupun juga dari badan pengawas
dan pengurus UPK. Wujud nyata dari kepedulian dimaksud adalah melalui pelayanan
secara langsung atau pun kunjungan langsung kepada kelompok oleh badan pengawas
yang beranggotakan tokoh masyarakat. Secara rutin badan pengawas meminta laporan
dari UPK setiap minggu mengenai data penunggak. BKAD Kecamatan Jetis sendiri baru
mulai dibentuk pada 2010 atau empat tahun setelah pembentukan UPK Kecamatan Jetis.
Sebelum dibentuknya BKAD, UPK dijalankan dengan mengikuti keputusan-keputusan
yang ditetapkan melalui MAD dan diawasi oleh badan pengawas UPK.
Ringkasan Profil UPK PPK Kecamatan Jetis Per 30 November 2011:
Jumlah kelompok
134 kelompok
Jumlah penerima manfaat laki-laki
-
Jumlah penerima manfaat perempuan
1.474 orang
Modal awal:
a. Program 2006
Rp457.450.000
b. Program 2007
Rp144.000.000
c. Proyek Percontohan Sistem Pembangunan Partisipatif (P2SPP) 2008
Rp70.000.000
Total modal awal
Rp671.450.000
Jumlah dana:
40
a. Di rekening bank
Rp176.893.105
b. Di masyarakat
Rp1.143.046.750
Total dana per November 2011
Rp1.319.939.855
Prosentase tingkat pengembalian
99,7%
Jumlah dana macet (pokok) sejak 2008 atas satu kelompok
Rp888.000
Jumlah tunggakan angsuran pada November (pokok) termasuk Jumlah
dana macet
Rp3.072.250
Besar pinjaman:
a. Terbesar diterima kelompok
Rp35.000.000
b. Terkecil diterima kelompok
Rp4.000.000
c. Terbesar diterima anggota
Rp3.000.000
d. Terkecil diterima anggota
Rp300.000
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
Linkage keuangan antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912 Kantor
Pusat Yogyakarta Divisi Asuransi Kelembagaan atau Kumpulan (Askum) adalah terkait
dengan keuangan mikro. AJB Bumiputera 1912 merupakan satu-satunya perusahaan
asuransi di Indonesia yang berbentuk usaha mutual atau usaha bersama yang berarti
bahwa kepemilikan perusahaan 100% berada di tangan pemegang polis, sesuai UU No.
2 Tahun 1992. AJB Bumiputera 1912 didirikan pada 12 Februari 1912 di Magelang oleh
tiga orang anggota Perserikatan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB). AJB Bumiputera
1912 adalah perusahan asuransi jiwa dengan jumlah aset 12 triliun rupiah dan terbesar
di Indonesia. Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912 Yogyakarta meliputi wilayah kerja
Yogyakarta, Purworejo, Magelang dan Temanggung. Askum yang melayani lembaga dan
korporasi berada di bawah divisi Askum yang berkantor di Yogyakarta sehingga asuransi
kelembagaan untuk keempat wilayah tersebut ditangani oleh kantor pusat Yogyakarta.
Kantor cabang AJB Bumiputera lain hanya melayani asuransi keuangan.
2.2. Produk Lembaga Mitra
AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi yang menyediakan jasa layanan
produk untuk asuransi jiwa dan sudah diperkenalkan sejak 1990-an. Sasarannya adalah
lembaga-lembaga yang menyalurkan kredit ke masyarakat termasuk UPK. Selain itu,
AJB Bumiputera 1912 merupakan satu-satunya asuransi yang berani menanggung klaim
meninggal dunia akibat gempa bumi 2006 di Yogyakarta.
Selain asuransi jiwa, melalui Divisi Askum, AJB Bumiputera 1912 juga menawarkan
asuransi jiwa karena kecelakaan dengan memberikan pertanggungan dua kali lipat dari nilai
pinjaman. Produk asuransi jiwa akibat kecelakaan ini juga ditawarkan kepada UPK. AJB
Bumiputera 1912 juga memiliki asuransi yang menanggung pengobatan serta kesehatan,
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
41
namun dengan perhitungan tersendiri. Ke depannya produk asuransi pengobatan akibat
kecelakaan akan ditawarkan kepada UPK untuk mengakomodasi permintaan kelompok.
Kerja sama antara AJB Bumiputera 1912 dan PNPM bertujuan membantu
meringankan beban ahli waris rumah tangga miskin dan lembaga pemberi pinjaman
dengan menyediakan pertanggungan sebesar jumlah pinjaman. Selain itu, untuk lebih
memasyarakatkan asuransi kepada masyarakat berpenghasilan kecil dan menghapus kesan
bahwa produk asuransi jiwa kredit ‘mahal’, pembayaran premi hanya dilakukan satu kali
dalam masa pinjaman dengan nilai hanya sebesar 1% dari jumlah pokok pinjaman.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Linkage keuangan antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912 didasari oleh
pertimbangan bahwa risiko pinjaman kepada penerima manfaat akan ditanggung bersama
anggota kelompok dalam sistem tanggung renteng. Sesuai aturan yang tertuang dalam
PTO PNPM Perdesaan, apabila terdapat anggota kelompok yang tidak sanggup membayar
angsuran ataupun meninggal dan apabila ahli warisnya tidak sanggup melunasinya,
anggota kelompok lain harus menanggung utangnya. Menyadari risiko tersebut dan
berdasarkan pengalaman kelompok, UPK mengusulkan pertama kali kepada kelompok
dan selanjutnya kepada BKAD lewat MAD untuk ikut serta program asuransi pada 2008.
Dengan demikian, tidak hanya ahli waris individu yang bebas dari beban sisa angsuran,
kelompok pun dan terlebih kinerja UPK tetap dapat berjalan.
Dari sisi ahli waris dan kelompok, manfaat linkage ini nyata pada terbebasnya ahli
waris dan kelompok dari tanggungan sisa angsuran. Dari sisi UPK, linkage ini membantu
terbebas dari tunggakan angsuran sehingga dana dapat terus digulirkan. Manfaat lain adalah
mengajarkan kepada masyarakat untuk memahami tentang asuransi beserta manfaatnya
dan belajar bersikap siap terhadap risiko yang mungkin terjadi.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Linkage antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912 merupakan tindak
lanjut pertemuan awal pihak AJB Bumiputera 1912 dan Koordinator Provinsi PNPM
Perdesaan pada 2007. Selanjutnya, koordinator provinsi mengundang seluruh koordinator
kabupaten untuk mendengarkan presentasi asuransi kecelakaan dari AJB Bumiputera 1912
pada 2007. Dalam pertemuan tersebut juga didiskusikan asuransi jiwa kredit. Karena
tertarik, para koordinator kabupaten pun mengundang pihak AJB Bumiputera untuk
melakukan presentasi di kabupatennya dengan mengundang UPK-UPK. AJB Bumiputera
1912 menindaklanjuti dengan melakukan sosialisasi tentang asuransi jiwa kredit ke lima
42
kabupaten di Yogyakarta pada 2008. Namun hingga 2011 hanya PNPM Perdesaan
Kabupaten Bantul dan Sleman yang menindaklanjutinya.
Selain tindak lanjut pertemuan di kantor Koordinator Provinsi, dukungan juga
tampak pada pembicaraan tentang kebutuhan asuransi pada saat diklat yang dilakukan
untuk para pengelola UPK oleh Forum UPK Kabupaten Bantul pada akhir 2007. Usai
diklat bagi Forum UPK Kabupaten Bantul pada akhir 2007 di Kecamatan Jetis, salah
seorang individu penerima dana bergulir SPP meninggal dunia. Kejadian tersebut
mengilhami Ketua UPK Kecamatan Jetis untuk mencari informasi mengenai asuransi
kepada fasilitator yang pernah ditemui di diklat.
Setelah mendapat persetujuan dari MAD untuk mengikuti program asuransi jiwa
kredit yang tertuang pada berita acara MAD, UPK mengundang pihak AJB Bumiputera
untuk mengadakan sosialisasi kepada ketua kelompok dan anggotanya di Kecamatan Jetis.
Meski awalnya terjadi pro-kontra perlunya linkage dengan asuransi, semua akhirnya sepakat
dan bersedia mengikuti asuransi untuk pencairan pinjaman berikutnya. Kelompok yang
kontra umumnya memandang bahwa asuransi tersebut mahal dan merasa masih ‘muda’
untuk meninggal sehingga merasa tidak membutuhkan asuransi jiwa. Namun, jumlah
kelompok yang setuju untuk mengikuti program asuransi lebih besar daripada kelompok
yang tidak setuju. Tercapai kesepakatan bersama bahwa uang premi asuransi diambil
dari uang IPTW kelompok (jika ada) sehingga tidak perlu memotong uang pinjaman.
Aturan ini juga diharapkan mendorong kelompok untuk tepat waktu dalam pembayaran
pinjaman. Di awal program asuransi, dari 134 kelompok hanya dua kelompok yang hingga
2010 tidak ikut serta program asuransi karena menganggap belum memerlukan asuran
dan masih merasa muda. Namun, pada 2010 kedua kelompok yang awalnya menolak
bergabung dalam program asuransi memutuskan untuk ikut setelah mengetahui ada
anggota kelompoknya yang meninggal.
Pada periode pencairan perguliran Juli 2008, terjadilah kesepakatan awal antara UPK
dan AJB Bumiputera Askum Yogyakarta di mana setiap penyaluran pinjaman ke kelompok
akan dilindungi oleh asuransi. Linkage layanan asuransi antara UPK Kecamatan Jetis dan
AJB Bumiputera 1912 ini terjalin setiap kali terjadi periode putaran PDB, yang jangka
waktu berlaku preminya adalah selama umur pinjaman, biasanya satu tahun. Semenjak
terjalinnya kemitraan antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912 pada Juli
2008 hingga November 2011 telah terjadi 27 kali 10 penandatanganan polis asuransi.
Linkage antara AJB Bumiputera 1912 dan PNPM Perdesaan masih terbatas di
Kabupaten Bantul yaitu: UPK Kecamatan Jetis dan UPK Kecamatan Pundong. Linkage
PPK UPK kecamatan Jetis biasanya melakukan pencairan dana bergulir delapan kali dalam setahun, yaitu pada Januari, Februari,
Maret, April, Juli, Agustus, September, dan November. Apabila dalam satu tahun terjadi delapan kali pergiliran, sejak 2008 telah
terjadi 27 kerja sama asuransi, kecuali pada 2011 terjadi penggabungan perguliran pada Maret dan April.
10
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
43
AJB Bumiputera 1912 dan PNPM Perkotaan terlihat pada BKM Pawirodirjan di Kota
Yogyakarta dan pada BKM Catur Tunggal di Depok dan BKM Condong Catur di
Kabupaten Sleman. Masih sedikitnya jumlah linkage antara UPK dan perusahaan asuransi
adalah akibat dari anggapan masyarakat bahwa asuransi mahal dan masyarakat belum
“melek” asuransi. Ke depannya AJB Bumiputera mengharapkan kerja sama yang lebih luas
lagi dengan PNPM baik Perdesaan maupun Perkotaan.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage keuangan mikro yang terjalin antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB
Bumiputera 1912 merupakan model linkage yang menjadikan UPK sebagai koordinator.
UPK berperan menjembatani kelompok dan anggotan penerima manfaat dana bergulir
UPK dengan AJB Bumiputera. Bentuk koordinasi yang dilakukan oleh UPK adalah
sebagai berikut, yakni:
• melakukan sosialisasi atau pembinaan kepada kelompok peminjam tentang asuransi
dan programnya;
• menghubungi pihak AJB Bumiputera untuk proses pendaftaran dan pembuatan
polis asuransi kumpulan (Askum) yang terdiri dari individu penerima manfaat dana
bergulir;
• menyiapkan data dan dokumen individu peserta asuransi kumpulan untuk diberikan
kepada AJB Bumiputera;
• bertindak sebagai pemegang polis asuransi kumpulan tersebut dan seluruh berkas
asuransi ditandatangani oleh ketua UPK;
• memfasilitasi individu ke AJB Bumiputera apabila ada anggota yang meninggal
dunia; dan
• UPK merupakan pihak yang menerima uang pertanggungan dari AJB Bumiputera
sebesar uang pertanggungan individu. Uang ini akan diserahkan oleh UPK kepada
ahli waris/individu setelah dikurang pokok sisa pinjaman. Selanjutnya, ahli waris
akan menerima sisa uang pertanggungan sebesar pokok dari cicilan pinjaman yang
telah dibayarkan oleh peminjam kepada UPK.
4.2. Produk Linkage
Berikut ini rincian program asuransi yang diikuti oleh UPK Kecamatan dalam linkage
keuangan dengan AJB Bumiputera 1912:
• Kredit Eka Waktu, kredit yang diberikan kepada ahli waris individu peminjam yang
meninggal dunia melalui lembaga tempat meminjam dengan nilai premi sebesar 1%
dari jumlah pokok pinjaman yang dibayarkan satu kali.
44
•
•
Personnal Accident Risk A adalah program asuransi jiwa lain yang diikuti oleh kelompok
UPK Kecamatan Jetis apabila individu meninggal akibat kecelakaan. Untuk setiap
nilai pinjaman, premi yang dibayarkan adalah sebesar 0,1% dari jumlah pinjaman
dengan jangka waktu 1 tahun. Besarnya nilai pertanggungan yang diberikan AJB
Bumiputera kepada ahli waris adalah dua kali dari nilai pinjaman.
Santunan akibat bencana gempa bumi yang pernah disediakan AJB Bumiputera
kepada kelompok di UPK Kecamatan Jetis.
4.3. Skema Produk Linkage
Premi diambil dari IPTW kelompok lama, sementara kelompok baru harus membayarkan
premi di awal pinjamannya. Mengingat IPTW hanya diberikan kepada kelompok yang
melakukan pembayaran tepat waktu dan tepat jumlah, kelompok yang tidak memiliki
IPTW juga harus membayarkan premi di awal pinjaman. Perjanjian linkage antara pihak
AJB Bumiputera 1912 dan UPK diwakili oleh ketua UPK sebagai pemegang polis asuransi.
Besarnya nilai pertanggungan tidak dibatasi oleh AJB Bumiputera karena tergantung
besarnya nilai pinjaman yang diberikan oleh UPK kepada tiap individu penerima manfaat.
Kesepakatan keikutsertaan kelompok pada asuransi hanya tertuang pada berita
acara MAD. Berkas surat perjanjian kredit hanya dilampirkan daftar peserta Askum AJB
Bumiputera yang ditandatangani oleh setiap individu penerima manfaat dana bergulir. Ke
depannya, UPK akan mulai mencantumkan klausul tentang keikutsertaan asuransi dalam
surat perjanjian kredit dengan kelompok.
Apabila ada individu anggota kelompok yang meninggal, ahli waris dapat melakukan
klaim dengan menyertakan syarat-syarat, yaitu:
• salinan KTP suami dan istri;
• salinan kartu keluarga;
• surat keterangan meninggal dunia dari kelurahan; dan
• surat keterangan meninggal dunia dari dokter/rumah sakit (apabila meninggal di
rumah sakit)
Jika persyaratan pengajuan klaim telah lengkap, proses klaim akan memakan
waktu kurang lebih tiga minggu. Uang pertanggungan tunai akan diserahkan oleh AJB
Bumiputera langsung kepada UPK. Setelah UPK melakukan perhitungan sisa angsuran
yang dihitung dari pokok pinjaman saja, sisanya akan diserahkan kepada ahli waris. Sejak
linkage keuangan terbentuk, UPK Kecamatan Jetis telah melakukan klaim asuransi jiwa
kepada AJB Bumiputera 1912 sebanyak delapan kali untuk individu penerima manfaat
yang meninggal dunia.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
45
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage sebagai Ahli
Waris
Profil dan informan utama penerima manfaat linkage keuangan asuransi ini adalah Iswanto.
Beliau adalah ahli waris salah satu individu penerima manfaat program dana bergulir SPP
UPK Kecamatan Jetis yang mengikuti program asuransi kredit AJB Bumiputera 1912 yaitu
almarhumah Mujiasih. Mujiasih semasa hidupnya adalah ketua kelompok SPP, memiliki
usaha warung soto, dan sudah tiga kali meminjam melalui kelompok SPP kepada UPK.
Pada awalnya pinjaman pertama dari UPK sebesar satu juta rupiah untuk usaha emping
melinjo. Namun, karena usahanya kurang berhasil, beliau berpindah ke usaha warung
makanan soto. Pinjaman kedua dan ketiga sebesar Rp1.250.000 dan Rp1.500.000 untuk
menambah modal warung sotonya. Beliau menjalankan usaha warung soto bersama
temannya.
Pada saat pinjaman ketiga pada 13 Desember 2010, Mujiasih meninggal dunia karena
penyakit kanker payudara. Padahal PDB baru dibayar pada angsuran kelima. Pada Januari
2011, sang ahli waris mengajukan dokumen syarat klaim asuransi ke UPK karena harus
menanggung pembayaran angsuran Mujiasih yang keenam melalui kelompok. Dengan
dibantu oleh UPK dan syarat-syarat klaim telah dipenuhi, dalam waktu kurang lebih satu
bulan sejak berkas disampaikan, dana pertanggungan telah cair dan diberikan kepada UPK
sebesar pinjaman ketiga atau Rp1.500.000. UPK memotong dana tersebut sebesar sisa
pokok pinjaman Mujiasih dan sisa uang pertanggungan sebesar pokok angsuran yang telah
dibayarkan.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Pembelajaran dari linkage keuangan antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera
1912 adalah sebagai berikut.
• Asuransi memberikan perlindungan finansial kepada ahli waris pada saat peminjam
tidak mampu melunasi utangnya karena meninggal.
• Pembayaran premi asuransi yang diambil dari IPTW kelompok mendorong setiap
kelompok untuk yang membayar pinjamannya tepat waktu.
• Ditanggungnya sisa angsuran pinjaman anggota kelompok yang meninggal, ahli
waris, kelompok maupun UPK tidak menanggung beban sisa angsuran.
• Masyarakat belajar tentang pentingnya memiliki asuransi untuk menanggung risiko
tak terduga seperti meninggal dunia atau kecelakaan.
46
•
•
•
Pentingnya peran petugas UPK dalam rangka pembinaan atau sosialisasi ke
masyarakat dan koordinasi rutin antara petugas UPK dan petugas asuransi dalam
memfasilitasi kebutuhan kelompok/individu penerima manfaat untuk mewujudkan
kemitraan asuransi.
Pentingnya dukungan dari MAD dan BKAD dalam kemitraan dengan pihak asuransi
untuk mendapat kepercayaan dari kelompok dan individu.
Potensi pengembangan linkage asuransi adalah pengembangan fasilitas asuransi yang
ditawarkan bertambah menjadi asuransi pengobatan apabila terjadi kecelakaan dan
sakit yang menyebabkan ketidakmampuan membayar utang.
6.2. Tantangan Linkage
Tantangan keberlanjutan linkage antara UPK Kecamatan Jetis dan AJB Bumiputera 1912
adalah sebagai berikut:
• Kemungkinan tidak akan berlanjutnya kelompok lama yang tidak mendapatkan
IPTW maupun kelompok baru untuk mengikuti program asuransi karena setiap
terjadi perguliran kelompok, kelompok yang mendapatkan dana bergulir bisa berbeda
sehingga masing-masing harus membayar premi di awal pinjamannya.
• Pembinaan harus dilakukan terus menerus dan berkelanjutan tentang program
asuransi terutama kepada kelompok dan individu baru.
• Perlu dicantumkannya klausul tentang asuransi pada surat perjanjian kredit (SPK)
antara UPK dan kelompok agar terdapat perjanjian yang mengikat tentang program
asuransi.
• Kebutuhan dana tambahan untuk dana bergulir difasilitasi dengan pemberian akses
kepada lembaga keuangan di luar UPK. Dalam hal ini pembiayaan dari lembaga
keuangan lain bisa tidak menyertakan fasilitas asuransi.
• Kejelasan tentang posisi UPK sebagai kegiatan phase-out PNPM akan mempengaruhi
keberlanjutan UPK, khususnya pada keberlanjutan linkage dengan pihak asuransi.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
47
48
Kabupaten Bantul
DI Yogyakarta
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
CV. Betta Ikasindo dan LKM Maju
Sejahtera, Kabupaten Bantul,
DI. Yogyakarta
RINGKASAN
Linkage antara LKM Maju Sejahtera dan CV. Betta Ikasindo dimulai dari adanya
gagasan untuk menambah pelayanan LKM kepada masyarakat umum. Ketika usaha
jasa pembayaran tagihan listrik dan tagihan lain sedang marak, peluang usaha ini pun
dilirik oleh LKM Maju Sejahtera. Dengan dukungan modal dari kas desa, LKM Maju
Sejahtera mulai membuka usaha Payment Point On Line Bank (PPOB)1 pada April
2009.
Usaha jasa pelayanan pembayaran listrik atau PPOB dimulai pada April 2009. Untuk
setiap transaksi pembayaran listrik dari pelanggan, LKM Maju Sejahtera mendapat
keuntungan sebesar Rp800. Setelah beberapa bulan berjalan, CV. Betta Ikasindo
memutuskan untuk menjalin linkage langsung dengan LKM Maju Sejahtera tanpa
melalui perantara agar keuntungan yang dapat diperoleh LKM Maju Sejahtera dapat
lebih besar karena tidak lagi dipotong untuk jasa tenaga pemasaran. Pada 1 Januari
2010 ditandatangani perjanjian linkage antara CV. Betta Ikasindo dan LKM Maju
Sejahtera yang diwakili oleh Koordinator LKM Maju Sejahtera.
Kegiatan ini memang tidak berhubungan dengan keberadaan PDB UPK, namun
memberikan banyak manfaat kepada LKM yaitu memperluas informasi mengenai
keberadaan LKM dan kegiatan-kegiatannya di masyarakat, dan memberikan
keuntungan yang bisa digunakan untuk membiayai kegiatan LKM yang tidak bisa
dibiayai oleh program PNPM Mandiri. Linkage ini bisa menjadi salah satu contoh
kegiatan yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan LKM. Potensi
yang dapat dikembangkan antara lain adalah penyediaan jasa pembayaran lainnya
seperti jasa pengiriman dan penerimaan uang, jasa pembayaran leasing kendaraan
bermotor, pembayaran tagihan TV kabel, dan lain sebagainya. Terdapat pula dua
tantangan dari linkage ini di antaranya: bagaimana mengembangkan usaha yang telah
ada agar menghasilkan keuntungan untuk membiayai kegiatan LKM, menambah
modal deposit, mengembalikan pinjaman modal ke kas desa, dan bagaimana mensiasati
usaha agar tetap bertahan menghadapi kompetisi dengan banyaknya usaha yang sejenis.
PPOB adalah sistem pembayaran tagihan listrik dan tagihan lainnya secara on line yang memanfaatkan jasa bank
1
50
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri Perkotaan Antara CV. Betta Ikasindo dan LKM Maju Sejahtera
di Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul,
DI. Yogyakarta
12 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Desa Potorono
Desa Potorono merupakan salah satu dari delapan desa/kelurahan di Kecamatan
Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY dengan luas 389.2550 ha. Sebagian besar
wilayah tersebut merupakan tanah persawahan. Desa Potorono merupakan salah satu
wilayah yang dekat dengan perbatasan Kota Yogyakarta sisi timur sehingga menjadi salah
satu tujuan pemukiman masyarakat. Tidaklah mengherankan bila banyak lahan pertanian
yang beralih fungsi menjadi areal pemukiman. Di satu sisi terdapat nilai positif jika
dikaitkan dengan laju perkembangan perekonomian desa, tapi di sisi lain alih fungsi lahan
pertanian akan mengancam persedian bahan pangan, berkurangnya rata-rata kepemilikan
lahan pertanian, serta rawan timbulnya konflik pemanfaatan lahan/ruang.
Desa Potorono terdiri dari sembilan pedukuhan, yaitu: Dusun Potorono, Salakan,
Prangwedanan, Nglaren, Mertosanan Wetan, Condrowangsan, Mertosanan Kulon, Balong
Lor, dan Banjardadap, dengan 78 RT. Berdasarkan data 2006, jumlah penduduknya 9.680
jiwa dan berdasarkan data penerima Raskin 2006, jumlah penduduk miskin mencapai
2507 orang atau 26% dari total penduduknya pada 2006.
1.2. Profil LKM Maju Sejahtera
Pada 2008 Desa Potorono menerima PNPM Mandiri Perkotaan dengan ditandai berdirinya
LKM Maju Sejahtera. LKM ini berdiri pada 19 November 2008 dengan akta notaris No.
10 Tanggal 19 November 2008.
PDB dikelola oleh UPK. Berdasarkan data 31 Maret 2012, jumlah KSM yang saat
ini melakukan pinjaman di UPK adalah sebanyak 43 KSM. UPK LKM Maju Sejahtera
merupakan UPK yang termasuk dalam kategori sehat berdasarkan beberapa indikator
seperti tingkat pengembalian, tingkat risiko KSM menunggak, tingkat laba yang dihasilkan
dibandingkan dengan nilai investasi, tingkat pendapatan dibanding biaya (efisiensi).
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
51
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
CV. Betta Ikasindo merupakan badan usaha milik perseorangan yang didirikan pada 7 Mei
2009 di hadapan notaris Yusuf di Yogyakarta. CV. Betta Ikasindo merupakan badan usaha
yang ditunjuk oleh PT. Valuestream Internasional yang berlokasi di Bandung sebagai agen
pemasaran dengan sistem PPOB untuk area Yogyakarta, Muntilan, Magelang, Temanggung
dan Purworejo. Dalam pelaksanaan pembayaran rekening listrik sistem PPOB, CV. Betta
Ikasindo bekerja sama dengan Bank Danamon Syariah.
Dalam menjalankan usahanya, CV Betta Ikasindo mengacu pada sistem berbasis
syariah yang menjadikan usaha ini saling menguntungkan semua pihak. Setiap lembar
transaksi akan disalurkan Rp20,- untuk dana infaq. Untuk menjadi loket PPOB tidak
harus berbadan usaha seperti PT, CV, KUD, koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha,
BMT, BPR, BPR Syariah, tapi juga bisa perorangan.
Syarat yang diperlukan adalah:
• salinan KTP dan KK;
• surat izin usaha dan akta pendirian (bila badan usaha);
• salinan rekening Bank Danamon Syariah;
• denah dan foto lokasi yang akan dijadikan loket PPOB (diharapkan memiliki tempat
pelayanan yang memadai dan nyaman, meliputi bangunan layak, lokasi mudah
dijangkau pelanggan, dan tersedia tempat duduk untuk menunggu);
• peralatan meliputi komputer, printer, dan modem (koneksi internet); dan
• mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran sebesar 300 ribu
rupiah.
Jika permohonan untuk menjadi loket PPOB disetujui, fasilitas yang diberikan oleh
CV. Betta Ikasindo adalah spanduk, kertas struk 500 lembar, dan pemasangan software.
Pada saat ini, terdapat kurang lebih 350 loket PPOB di bawah naungan CV. Betta Ikasindo
dengan jumlah transaksi sekitar 176.000 (data April 2012). Tidak ada pembatasan jumlah
transaksi untuk setiap loketnya.
CV. Betta Ikasindo berusaha menjalankan usahanya seefisien mungkin dengan tidak
mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan. Jumlah karyawan yang ada hanya sembilan
orang. Untuk teknisi dan administrator dibayar dengan sistem gaji, sedangkan untuk
tenaga marketing dibayar dengan sistem komisi di mana mereka akan mendapatkan Rp100
untuk setiap transaksi pembayaran tagihan di loket yang menjadi areanya pemasarannya.
Kantor CV. Betta Ikasindo beralamat di Perum Pesona Kotagede No. B5 Singosaren
52
Banguntapan Bantul dan mempunyai kantor cabang pemasaran beralamat di Jl. Perintis
Kemerdekaan Gg.Mangga UH V/675 Umbulharjo Yogyakarta. Telp: 0274-8341786 /
0274-7445436/085743490607/ 087838374959 / 08122769191. Email: bettaikasindo@
yahoo.com. Website: www.betta-ikasindo.com.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Linkage LKM Maju Sejahtera dan CV. Betta Ikasindo bermula dari gagasan Pak Dekrit,
selaku koordinator LKM Maju Sejahtera, untuk menambah pelayanan LKM kepada
masyarakat umum. Saat itu ia memiliki cita-cita agar LKM dapat beroperasi seperti KUD
yang memiliki berbagai unit usaha dalam melayani masyarakat. Ketika berada di Jakarta, ia
mendengar info mengenai jasa pelayanan pembayaran listrik. Setelah kembali, ia berusaha
mencari info tersebut dan kemudian berkenalan dengan tenaga pemasaran dari CV. Betta
Ikasindo yang memiliki info mengenai jasa pelayanan pembayaran listrik (PPOB).
Setelah beberapa kali pembicaraan akhirnya disepakati bahwa LKM dapat
memberikan jasa pelayanan pembayaran listrik. Untuk memulai usaha tersebut, LKM
harus memiliki modal yang cukup besar untuk membeli peralatan (komputer, printer,
dan modem internet) dan modal dasar sebagai deposit di bank. Koordinator LKM Maju
Sejahtera lalu berbicara dengan kepala desa. Kepala desa beserta perangkatnya yang sejak
awal mendukung keberadaan program PNPM di desa memberikan dukungan dan bersedia
memberikan pinjaman sebesar 11 juta rupiah dari kas desa. Dari uang tersebut, 2,5 juta
rupiah digunakan untuk membeli peralatan dan 8,5 juta rupiah digunakan sebagai deposit
yang harus disetorkan ke rekening PT. Valuestream International di Bank Danamon
Syariah.
Akhirnya usaha jasa pelayanan pembayaran listrik atau PPOB dimulai pada April
2009. Untuk setiap transaksi pembayaran listrik dari pelanggan, LKM Maju Sejahtera
mendapat keuntungan sebesar Rp800. Setelah beberapa bulan berjalan, terdapat masalah
dengan tenaga pemasaran yang menghubungkan LKM Maju Sejahtera dengan CV. Betta
Ikasindo. Akhirnya CV. Betta Ikasindo memutuskan untuk menjalin linkage langsung
dengan LKM Maju Sejahtera tanpa melalui perantara agar keuntungan yang dapat
diperoleh LKM Maju Sejahtera dapat lebih besar karena tidak lagi dipotong untuk jasa
tenaga pemasaran. Pada 1 Januari 2010, ditandatangani perjanjian linkage antara CV. Betta
Ikasindo dan LKM Maju Sejahtera yang diwakili oleh Koordinator LKM Maju Sejahtera.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
53
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Linkage yang terjalin antara LKM Maju Sejahtera dan CV. Betta Ikasindo telah memberikan
manfaat bagi LKM Maju Sejahtera. Selain mendapat keuntungan materi, kegiatan ini juga
turut menyebarluaskan keberadaan LKM Maju Sejahtera dan program-programnya.
Dalam linkage ini, jasa yang dapat diberikan LKM Maju Sejahtera adalah sebagai
berikut:
• Pembayaran listrik pascabayar di mana dalam linkage tersebut LKM Maju Sejahtera
akan mendapat keuntungan sebesar Rp1.025 untuk setiap transaksi pembayaran
listrik dari pelanggan.
• Pembelian pulsa listrik prabayar dengan keuntungan sebesar Rp1.025.
• Pembayaran Telkom grup: telepon rumah (telkom), telkom fleksi pascabayar, telkom
speedy, telkomnet instan dengan keuntungan sebesar Rp1.425.
• Pembayaran nontagihan listrik yaitu pasang listrik baru, naik daya atau turun daya
dengan keuntungan sebesar Rp1.025.
Untuk setiap pembayaran terdapat biaya administrasi yang dibebankan kepada
pelanggan yaitu sebagai berikut:
• Biaya administrasi untuk pembayaran listrik pascabayar : Rp1.600
• Biaya administrasi untuk pembayaran listrik pascabayar : Rp1.600
• Biaya administrasi untuk pembayaran Telkom Grup
: Rp3.000
• Biaya administrasi untuk pembayaran nontagihan listrik: Rp1.600
Sistem pembayarannya adalah sebagai berikut. Sebelum melakukan transaksi, LKM
Maju Sejahtera harus mendepositkan sejumlah uang tertentu di rekening PT. Valuestream
International di Bank Danamon Syariah. Jumlah deposit yang dimiliki akan berpengaruh
terhadap kemampuan untuk bertransaksi. PT. Valuestream International dan CV. Betta
Ikasindo menetapkan kebijakan deposit awal pendirian PPOB dan sisa deposit minimum
yang harus dimiliki PPOB adalah tiga juta rupiah untuk deposit minimum awal dan 200
ribu rupiah untuk sisa deposit minimum.
Setiap bulan LKM Maju Sejahtera akan mendapat daftar tagihan listrik yang diberikan
secara on line oleh CV. Betta Ikasindo. Ketika ada pelanggan yang akan membayar tagihan
listrik, transaksi tersebut dimasukkan ke komputer yang akan secara on line melaporkan
ke PT. Valuestream International dan CV. Betta Ikasindo. PT. Valuestream International
akan secara otomatis mendebet transaksi tersebut ke sejumlah uang yang sebelumnya telah
54
didepositkan oleh LKM Maju Sejahtera. Jika deposit yang ada sudah habis, maka transaksi
tidak dapat lagi dilakukan. LKM Maju Sejahtera harus kembali mendepositkan sejumlah
uang tertentu ke rekening PT. Valuestream International di Bank Danamon Syariah.
Pembagian keuntungan dari pembayaran listrik pasca bayar dan prabayar adalah
sebagai berikut: misalnya pelanggan membayar tagihan listrik sejumlah Rp90.000.
Di dalam tagihan tersebut, terdapat biaya administrasi bank sebesar Rp1.600. Biaya
administrasi bank inilah yang menjadi keuntungan jasa penagihan tersebut. Biaya ini akan
dibagi kepada PT. Valuestream International, CV. Betta Ikasindo, Bank Danamon Syariah,
dan LKM Maju Sejahtera yang menerima sebesar Rp1.025.
Pembagian keuntungan dari pembayaran Telkom, Fleksi dan Speedy adalah sebagai
berikut. Pelanggan dikenakan biaya administrasi bank sebesar Rp3.000. Biaya ini akan
dibagikan kepada PT. Valuestream International, CV. Betta Ikasindo, Bank Danamon
Syariah dalam jumlah tertentu (data tidak diberikan oleh nara sumber) dan untuk LKM
Maju sejahtera sebesar Rp1.425.
Untuk pembayaran listrik secara kolektif, LKM Maju Sejahtera memberikan
keuntungan sebesar Rp200 per tagihan kepada penyetor sehingga mengurangi keuntungan
yang diperoleh LKM Maju Sejahtera menjadi Rp1.025 – Rp200 = Rp825. Sebagai contoh
Pak A membayarkan 25 tagihan listrik, maka Pak A mendapat keuntungan dari LKM
Maju Sejahtera sebesar Rp200 x 25 = Rp5.000. Strategi ini dilakukan untuk menarik lebih
banyak pelanggan.
Pelayanan loket dibuka dari tanggal 6 sampai dengan tanggal 20 setiap bulannya,
pada Senin-Kamis jam 8.30 - 13.30, pada Jumat – Sabtu 8.30 – 11.30. Petugas loket
terdiri dari 2 orang yaitu satu orang dari UPK dan satu orang petugas khusus untuk loket.
Pembukuan untuk PPOB ini terpisah dari pembukuan UPK.
Menurut penuturan seorang staf CV. Betta Ikasindo, jumlah pelanggan yang
membayar di loket LKM Maju sejahtera cukup banyak yaitu sekitar 800 pelanggan
sehingga keuntungan yang diperoleh LKM Maju sejahtera berkisar Rp800 ribuan setiap
bulannya. Keuntungan tersebut ditransfer setiap tanggal 10 setiap bulannya ke rekening
pribadi Koordinator LKM. Keuntungan digunakan untuk membayar honor dua orang
petugas loket pembayaran listrik (Rp15.000/hari x 2 orang x hari kerja efektif ) dan biaya
operasional loket pembayaran listrik (pembelian kertas struk, pemberian keuntungan
pembayaran listrik secara kolektif, transport petugas loket ke bank, uang makan petugas
loket, denda keterlambatan, dll). Laba bersih yang diperoleh setelah dikurangi pengeluaranpengeluaran tersebut berkisar 250-300 ribu rupiah setiap bulannya. Setelah laba bersih
terkumpul, sebagian besar laba bersih tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan LKM
Maju Sejahtera. Selama ini PPOB sudah menyerahkan empat juta rupiah kepada LKM
Maju Sejahtera yang perinciannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
55
Alokasi Laba Bersih PPOB dan Pengeluarannya untuk LKM Maju Sejahtera:
Laba bersih
Jumlah
Pengeluaran untuk
kegiatan LKM
Jumlah
April 2009 hingga
Desember 2011
Rp2.426.100
Agustus 2011
Rp3.467.450.
Diserahkan ke LKM
12 Agustus 2011
Rp2.000.000 (pembelian seragam pengurus LKM dan unit pelaksana sejumlah
Rp2.500.000)
Saldo Desember 2011 Rp2.118.050
Diserahkan ke LKM
26 Desember 2011
Rp2.000.000
(studi banding ke LKM Ponjong, Wonosari
Rp1.300.000)
Saldo Maret 2012
Rp753.050
Kendala yang dihadapi oleh LKM Maju Sejahtera dalam memberikan pelayanan
ini adalah modal untuk deposit di rekening PT. Valuestream International. Umumnya di
bawah tanggal 15 tidak banyak masyarakat yang membayar tagihan. Pada tanggal tersebut
transaksi hanya berkisar 2-3 juta rupiah per hari. Di atas tanggal 15, semakin ramai
masyarakat yang membayar tagihan. Transaksi bisa mencapai 4-8 juta rupiah per hari.
Tanggal 19-20 adalah tanggal teramai. Transaksi pernah mencapai hingga 22,5 juta rupiah
per hari. Yang menjadi kendala adalah modal deposit hanya di bawah 5 juta rupiah sehingga
ketika transaksi sedang ramai dan mencapai limit 5 juta rupiah, petugas loket harus segera
menyetor uang yang diperolehnya pada hari itu ke rekening PT. Valuestream International
di Bank Danamon Syariah agar pendebetan tetap bisa berjalan. Pada tanggal 19-20,
petugas loket biasa bolak balik ke bank hingga 3-4 kali untuk menyetor uang. Khusus
untuk tanggal 20, semua transaksi harus bisa dilakukan sebelum jam operasional bank
tutup yaitu jam 15.00 karena jika tidak, akan berlaku denda keterlambatan pembayaran
yang harus ditanggung oleh LKM Maju Sejahtera (pembayaran listrik setelah tanggal 20
akan dikenakan denda keterlambatan).
Pada 2011, LKM Maju Sejahtera pernah menanggung denda keterlambatan
sebesar Rp325 ribu dikarenakan terlambat menyetor uang ke rekening PT. Valuestream
International sehingga terjadi kegagalan pendebetan. Untuk mensiasati hal tersebut,
LKM melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk membayar sebelum tanggal 15 sehingga
tidak terjadi penumpukan pembayaran di tanggal-tanggal akhir. Namun, ternyata
beberapa pelanggan malah lari dan membayar di tempat lain sehingga akhirnya LKM
membiarkan apa adanya. Agar tidak lagi terjadi kegagalan pendebetan, petugas loket tidak
lagi membiarkan uang tunai menumpuk di loket, dan segera menyetornya ke rekening
PT.Valuestream International, terlebih di tanggal-tanggal akhir. Walaupun demikian
petugas loket harus 3-4 kali pergi ke bank. Biasanya petugas loket menyetornya ke BRI
yang berjarak kurang lebih tiga km, lebih dekat daripada harus ke Bank Danamon Syariah
yang berjarak kurang lebih tujuh km.
56
5. Profil Pemanfaat Layanan
Salah satu pemanfaat layanan atau pengguna jasa loket PPOB ini adalah Pak Waluyu, usia
55 tahun, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan abdi keraton, alamat Kranginan Kedukuhan
Mertosanan Kulon RT 06. Beliau adalah seseorang yang bertugas untuk mengumpulkan
pembayaran tagihan listrik secara kolektif di wilayahnya di RT 06. Tugas ini sudah beliau
lakukan sejak 1989. Sebelum ada loket PPOB dari LKM Maju Sejahtera, ia membayarkan
tagihan ini ke KUD. Hal ini berlangsung dari 1989 hingga 2009. Dari setiap pelanggan, ia
mendapatkan upah yang bervariasi tergantung keikhlasan pelanggan.
Pada 2009 loket PPOB LKM Maju Sejahtera dibuka. Pak Waluyu mendapat
penawaran dari loket PPOB LKM Maju Sejahtera bahwa untuk setiap pembayaran tagihan
listrik, ia akan mendapat keuntungan sebesar Rp200 dari LKM. Ketika hal ini diutarakan
ke KUD, pihak dari KUD tidak bisa memberikan penawaran yang lebih tinggi sehingga
akhirnya Pak Waluyu pindah ke loket PPOB LKM Maju Sejahtera. Setelah enam bulan
berjalan, pihak KUD menawarkan upah yang sama, namun ia menolak untuk kembali ke
KUD karena sudah nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh LKM Maju Sejahtera.
Selang beberapa lama, KUD pun mati dan ditutup karena tidak lagi menghasilkan
keuntungan.
Tugas mengumpulkan pembayaran tagihan listrik dilakukan Pak Waluyu pada tanggal
17,18,19 setiap bulannya. Beliau berkeliling dari rumah ke rumah pada tanggal-tanggal
tersebut. Sebelum berkeliling, beliau sudah terlebih dahulu menempelkan kertas yang
berisi jumlah tagihan kepada pelanggan di papan pengumuman di mesjid lingkungannya.
Jumlah tagihan tersebut didapatnya dari loket PPOB LKM Maju Sejahtera. Biasanya ada
sekitar 36 orang yang membayarkan tagihan listrik kepada Pak Waluyo. Pada Mei 2012 ini,
beliau sudah menerima pembayaran dari 36 orang pelanggannya dengan jumlah tagihan
sebesar Rp2.052.618. Upah yang diterima dari loket PPOB LKM Maju Sejahtera adalah
sebesar Rp7.200. Jumlah ini memang tidak banyak. Menurut Pak Waluyo, jika ditambah
dengan upah yang diterima dari tiap pelanggan, cukup untuk menambah penghasilannya.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
•
PPOB merupakan kegiatan sampingan yang dilakukan oleh LKM Maju Sejahtera.
Kegiatan ini memang tidak berhubungan dengan keberadaan program pinjaman
dana bergulir yang dilakukan oleh UPK namun kegiatan ini memberikan banyak
manfaat kepada LKM yaitu memperluas informasi mengenai keberadaan LKM dan
kegiatan-kegiatannya di masyarakat, memberikan peluang pekerjaan kepada beberapa
orang untuk mendapat penghasilan sebagai petugas PPOB, memberikan keuntungan
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
57
•
•
yang bisa digunakan untuk membiayai kegiatan LKM yang tidak bisa dibiayai oleh
program PNPM Mandiri. Linkage ini bisa menjadi salah satu contoh kegiatan yang
dapat dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan LKM.
Dibutuhkan kejelian-kejelian untuk menangkap peluang linkage bukan hanya dengan
lembaga keuangan namun juga lembaga lain yang dapat memberikan keuntungan
kepada LKM.
Dibutuhkan keberanian untuk melakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin tidak
terdapat dalam pedoman operasional program, namun tidak menyalahi aturan dan
tidak mengganggu jalannya program.
6.2. Potensi yang Dapat Dikembangkan dari Linkage
•
Memperluas jasa dengan tidak hanya melayani pembayaran tagihan listrik tapi juga
penyediaan jasa pembayaran lainnya seperti jasa pengiriman dan penerimaan uang,
jasa pembayaran leasing kendareaan bermotor, pembayaran tagihan TV kabel, dan
lain-lain.
6.3. Tantangan Linkage
•
•
58
Bagaimana mengembangkan usaha yang telah ada sehingga menghasilkan
keuntungan yang tidak hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan LKM tapi
juga menambah modal deposit dan mengembalikan pinjaman modal ke kas desa.
Mensiasati usaha agar tetap bertahan menghadapi banyaknya perorangan atau
lembaga yang membuka usaha sejenis.
Kab. Sragen
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
PD BPR-BKK Karangmalang Cabang
Kalijambe dan UPK Kalijambe,
Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
RINGKASAN
Kehadiran program PDB melalui UPK Kalijambe telah banyak membantu masyarakat
setempat dalam mengembangkan usahanya. Kesadaran ini telah mendorong UPK
Kalijambe melakukan penjajagan linkage dengan pihak PD BPR-BKK Karangmalang
Cabang Kalijambe dan berhasil. Tawaran linkage dengan PD BPR-BKK adalah
penyediaan pinjaman yang lebih besar dari yang dapat disediakan oleh UPK kepada
individu nasabah PDB selama ini. Tawaran linkage ini disambut positif. Beberapa
individu nasabah PDB dari UPK Kalijambe telah berhasil mendapatkan pinjaman
dari PD BPR-BKK. UPK Kalijambe pun menjalin linkage dengan bank umum lain
seperti BRI, Bank Mandiri dan bank lain yang berada di sekitar UPK.
Dalam linkage ini, UPK berperan memberikan rekomendasi lisan dua arah yaitu
kepada individu nasabah UPK yang membutuhkan pinjaman dari BPR-BKK dan
kepada BPK-BKK tentang riwayat nasabah yang direkomendasikan. Selain itu, UPK
juga berperan sebagai tempat konsultasi dalam hal pembuatan proposal pinjaman ke
bank, cara perhitungan suku bunga pinjaman, dan masalah keuangan lain terkait
pengajuan pinjaman dan memfasilitasi proses pengajuan pinjaman individu kepada
bank. Saat ini terdapat empat orang mantan penerima manfaat PDB UPK Kalijambe
yang telah mendapatkan dukungan pinjaman yang lebih besar dari BPR BKK
Karangmalang Cabang Kalijambe dan BRI.
Sejumlah pelajaran penting dari linkage ini, antara lain, model rekomendasi lisan
menjadi salah satu model yang dapat membantu kelompok atau individu penerima
manfaat mendapatkan akses layanan dari bank atau lembaga keuanga nonbank. Selain
itu, peran UPK dalam menyediakan informasi tentang calon debitur kepada bank
memberi arti penting terhadap keberhasilan linkage ini. Meski demikian, terdapat dua
tantangan utama yakni pertama tidak adanya kerangka hukum yang jelas sehingga
menghambat UPK untuk membuat nota kesepahaman dengan pihak bank/lembaga
keuangan nonbank dan kedua, individu yang telah mampu mengakses bank, namun
masih tetap aktif menjadi peminjam PDB di UPK Kalijambe membuat akses pinjaman
untuk keluarga miskin lain menjadi berkurang.
60
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perdesaan antara PD BPR-BKK Karangmalang
Cabang Kalijambe dan UPK Kalijambe Kecamatan Kalijambe,
Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
3 Desember 2011
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Kalijambe
Kecamatan Kalijambe adalah salah satu dari 20 kecamatan di wilayah Kabupaten Sragen
Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki 14 desa dengan luas wilayah 4.696 km2
yang berbatasan dengan Kecamatan Gemolong di sebelah utara, Kecamatan Pupuh di
sebelah timur, Kabupaten Karang Anyar di sebelah selatan dan Kabupaten Boyolali di
sebelah baratnya. Berdasarkan data Podes 2010, jumlah penduduknya 49.673 jiwa dengan
mata pencaharian umumnya adalah bertani, buruh pabrik, dan wiraswasta.
Terdapat beberapa lembaga penyedia layanan keuangan formal yang mendukung
kegiatan perekonomian masyarakat di Kecamatan Kalijambe seperti BRI Unit, PD BPRBKK, BMI BUS dan beberapa koperasi. Sejak 1996 melalui Inpres 3/1996, masyarakat di
Kecamatan Kalijambe sudah mengenal dan membentuk kelompok simpan pinjam melalui
program Kukesra maupun Takesra.11 Sayangnya, program tersebut telah berakhir.
1.2. Profil UPK Kalijambe
UPK Kalijambe dibentuk pada 9 Agustus 2003 dengan modal awal sebesar 85 juta rupiah
dan berlokasi di Jalan Sangiran 19 B, Kalijambe, Sragen. UPK ini dijalankan oleh lima
orang yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan dibantu oleh dua orang staf. Sesuai
dengan PTO PNPM Perdesaan, UPK Kalijambe berada di bawah BKAD yang merupakan
lembaga pengambil kebijakan tertinggi yang dilakukan melalui MAD. MAD terkait
evaluasi kinerja UPK dilakukan pada setiap semester, sedangkan pertanggungjawabannya
dilakukan setahun sekali.
Untuk mengoptimalkan pelayanan, UPK Kalijambe membuka layanan untuk
nasabahnya setiap Senin sampai Sabtu mulai pukul 07:30 – 14:00 WIB, kecuali pada
Jumat dan Sabtu jam layanan lebih terbatas. Banyaknya transaksi penerimaan setoran
Kukesra (Kredit Usaha Keluarga Sejahtera) dan Takesra (Tabungan Keularga Kesesahtera) adalah program pemerintah untuk
meningkatkan pendapatan keluarga miskin dengan bantuan permodalan maupun kebiasaan menabung yang diprakarsai oleh Kantor
Menteri Negara Kependudukan/BKKBN melalui pembentukan kelompok-kelompok di perdesaan.
11
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
61
angsuran maupun realisasi PDB membuat intensitas pelayanan menjadi tinggi. Pelayanan
penyaluran atau perguliran PDB di UPK ini telah dilaksanakan sesuai kebutuhan
masyarakat yang disesuaikan dengan ketersediaan dananya, sebagaimana tertuang pada
SOP tertanggal 2 Mei 2010.
Per 30 November 2011, total aset keuangan mikro UPK ini mencapai 5,020 miliar
rupiah dengan saldo PDB sebesar Rp3,899 miliar rupiah dan tingkat pengembalian sebesar
100%. Jumlah kelompok yang bisa dilayani sebanyak 232 kelompok, 69 kelompok UEP
dan 163 kelompok SPP. Jumlah individu peminjam mencapai 1.592 orang dan jumlah
PDB untuk individu berkisar dari 500 ribu sampai 10 juta rupiah dengan tingkat suku
bunga 1,5 % per bulan flat serta insentif berupa IPTW 1,5% per tahun dari bunga.
Proses pencairan PDB di UPK Kalijambe diawali dengan pengajuan pinjaman oleh
kelompok peminjam yang direkomendasi oleh lurah/kepala desa kepada UPK. UPK
lalu melakukan analisis kelayakan usahanya. Jika layak, TV akan melakukan kunjungan
lapangan. Verifikasi ini dilakukan baik pada kelompok maupun anggotanya. Jika dinilai
layak, rekomendasi pendanaan akan diberikan untuk disetujui oleh tim pendanaan.
Anggota tim pendanaan terdisi atas dua grup. Grup pertama untuk pinjaman kelompok di
bawah 100 juta rupiah dan anggotanya meliputi TV, FK, FT, dan UPK. Untuk pinjaman
di atas 100 juta rupiah, anggota tim pendanaan meliputi TV, FK, FT, UPK dan BKAD.
Bila telah disetujui tim pendanaan, kelompok calon peminjam menerima informasi
persetujuan pinjaman dan bersepakat untuk menentukan waktu pengikatan dan pencairan
pinjaman serta aspek lain.
UPK juga menyelenggarakan sejumlah program pendukung seperti: (1) pelatihan
dasar kelompok untuk memperkuat kelompok yang mencakup pelatihan administrasi/
pembukuan kelompok dan pelatihan manajemen keuangan kelompok; (2) pelatihan
pengembangan usaha yang mencakup pelatihan pengembangan jiwa kewirausahaan,
pelatihan manajemen usaha kecil, pelatihan teknis usaha (pengembangan produk,
kemasan, perizinan); (3) warung konsultasi di kantor UPK yang menyediakan bimbingan
dan konsultasi bagi kelompok, menghimpun masukan dari masyarakat dalam potensinya
agar bisa bekerja sama dengan pihak lain; dan (4) bimbingan konsultasi ke lapangan secara
rutin pada saat pertemuan kelompok dengan materi sesuai kebutuhan.
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
PD BPR-BKK Karangmalang Cabang Kalijambe berdiri pada 2006 dan merupakan salah
satu dari 14 cabang yang dimiliki PD BPR-BKK Karangmalang. Pada awalnya lembaga
ini bernama Badan Kredit Kecamatan Karangmalang dengan modal awal pinjaman pada
28 Oktober 1974 sebesar satu juta rupiah yang didapat dari APBD Jawa Tengah dengan
bunga pinjaman 12% per tahun selama lima tahun. Modal awal tersebut telah lunas pada
62
20 Maret 1979. Program ini dilaksanakan oleh penanggung jawab proyek Jawa Tengah atas
kuasa Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.
Status BKK pada 1981 ditingkatkan menjadi BUMD melalui Perda 11 Tahun 1981.
Pada 8 Oktober 1991 BKK Karangmalang berubah statusnya menjadi BPR
dengan nama BPR-BKK Karangmalang. Sejalan dengan perkembangan usahanya,
pada 1 September 2006 Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Gubernur Jawa Tengah
memutuskan untuk menggabungkan 14 PD BPR-BKK sekabupaten Sragen menjadi PD
BPR-BKK Karangmalang yang kantor pusatnya berada di PD BPR-BKK Karangmalang
berdasarkan Keputusan Deputi Gubernur BI No.8/9/KEP.DpG/2006 dan Keputusan
Gubernur Jawa Tengah No.503/63/2006.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Produk jasa yang ditawarkan BPR-BKK Karangmalang adalah pinjaman dalam bentuk
kredit untuk pegawai, umum, musiman, kelompok, perumahan/KPR, dan pelayanan
lain berupa rekening koran dan dana talangan haji. Lembaga ini juga melayani simpanan
tabungan dan deposito.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Linkage antara UPK Kalijambe dan BPR-BKK Karangmalang didorong oleh meningkatnya
kebutuhan akan PDB oleh individu atau nasabah UPK. Sayangnya, layanan PDB yang
tersedia masih terbatas karena adanya kebijakan BMPK. Sesuai SOP perguliran, maksimum
pinjaman individu adalah 10 juta rupiah. Kondisi inilah yang mendorong ketua UPK
untuk melakukan linkage dengan lembaga bank.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Terjalinnya linkage bermula dari komunikasi rutin antara individu penerima manfaat dengan
UPK. Dari komunikasi ini diketahui adanya potensi usaha individu pemanfaat yang terus
berkembang dan membutuhkan pinjaman yang lebih besar. Karena dananya terbatas dan
juga karena individu tersebut sudah tidak lagi dikategori sebagai target penerima pinjaman
UPK, manajer UPK akhirnya melakukan pendekatan dengan manajer BPR-BKK Cabang
Kalijambe. Selain itu, BPR-BKK ini telah berperan menampung aktifitas keuangan UPK
berupa dana tabungan kelompok, angsuran kelompok, maupun aktifitas keuangan lain.
Lokasinya yang berada tidak jauh dari UPK Kalijambe juga menjadi salah satu alasan kuat
bagi UPK untuk melakukan linkage dengan lembaga ini. Komunikasi tentang linkage
antara ketua UPK dan manager BPR-BKK telah diprakrasai oleh ketua UPK sejak 2009
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
63
dan baru pada 2010 linkage antara individu penerima manfaat PDB dengan BPR-BKK
Cabang Kalijambe dapat terwujud.
Dalam linkage ini, UPK berperan memberikan rekomendasi lisan dua arah yaitu
kepada individu nasabah UPK yang membutuhkan pinjaman dari BPR-BKK dan kepada
BPK-BKK tentang riwayat nasabah yang direkomendasikan. Dalam membantu proses
pengajuan pinjaman, UPK memberikan informasi terkait riwayat pinjaman individu
selama menjadi nasabah UPK yang terdiri dari: kemampuan pengembalian pinjaman,
kemampuan mengelola usaha, dan ketersediaan jaminan. Bila BPR-BKK telah yakin
tentang calon debiturnya, maka pihak bank langsung berkomunikasi dengan calon debitur
tersebut. Keputusan diterima atau tidak usulan pinjaman tersebut sepenuhnya tergantung
pertimbangan internal pihak bank.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin adalah berupa penyediaan rekomendasi lisan yang didukung
dengan pemberian informasi daftar riwayat peminjam oleh UPK kepada BPR-BKK. Wujud
linkage-nya belum tertuang dalam nota kesepakatan antara UPK dengan pihak lembaga
mitra. UPK juga menjadi tempat konsultasi bagi individu dalam hal pembuatan proposal
pinjaman ke bank, suku bunga, dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah keuangan lain.
4.2. Produk Linkage
Produk yang ditawarkan oleh PD BPR-BKK kepada peminjam PDB PNPM tidak
berbeda dengan produk BPR-BKK yang ditawarkan kepada masyarakat umum. Produk
itu mencakup kredit/pinjaman dan simpanan dana masyarakat berupa tabungan maupun
deposito. Untuk produk jasa perkreditan, lembaga ini memberlakukan skema dan
persyaratan pinjaman sebagai berikut:
• Suku bunga (flat) 1,75% per bulan untuk pinjaman di atas 20 juta rupiah dengan
waktu pencairan satu hari.
• Suku bunga 1,5% per bulan untuk jumlah pinjaman kurang dari 20 juta rupiah dan
batas waktu pencairan dua hari. Pinjaman ditambah biaya administrasi 1% sekaligus
dengan periode pinjaman maksimal 36 bulan
• Jaminan berupa sertifikat kepemilikan aset tetap (SHM, SHGB, kios) dengan nilai
likuidasi 70% dan sertifikat kepemilikan kendaraan (BPKB) dengan nilai likuidasi
50% dari harga pasar wajar pada appraisal dasar bank.
64
4.3. Rencana ke depan
Saat ini linkage antara UPK dan BPR-BKK terjadi tanpa perjanjian tertulis. Akibatnya,
UPK tidak memperoleh manfaat ekonomis. Menurut ketua UPK, selama UPK masih
berupa proyek PNPM Mandiri Perdesaan, linkage ini akan tetap dijaga sesuai dengan
filosofi program. Dalam rangka program linkage yang lebih strategis, maka diperlukan
kerangka hukum dan regulasi yang lebih kuat lagi agar tidak timbul pertanyaan baik
dari lembaga mitra maupun masyarakat. Dua hal fundamental ini seyogyanya dimiliki
seiring dengan perkembangan UPK yang pada akhir 2012 menargetkan pertumbuhan laba
menjadi 1,5 miliar rupiah.
Selain linkage dengan BPR-BKK, UPK Kecamatan Kalijambe berinisiatif
menjembatani masalah akses pembiayaan dengan bank atau lembaga keuangan nonbank
lain. Hal ini mungkin dilakukan karena kuatnya karakter dan kemampuan para debitur
penerima manfaat PDB. Upaya UPK untuk mencarikan lembaga bank/nonbank yang
mempunyai sistem pengembalian yang sama seperti diterapkan oleh UPK amat diperlukan
agar para calon debitur dapat langsung beradaptasi dengan sistem yang tersedia di
perbankan tersebut. Beberapa bank yang mempunyai sistem pengembalian yang sama
dengan UPK adalah PD BPR-BKK, BRI, dan Bank Mandiri.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
Saat ini terdapat empat orang mantan penerima manfaat PDB dan telah mendapatkan
dukungan pinjaman yang lebih besar dari BPR BKK Karangmalang Cabang Kalijambe
dan BRI. Individu-individu tersebut masih belum bersedia untuk menanggalkan statusnya
sebagai nasabah UPK Kalijambe. Berikut ini adalah profil tiga dari empat orang tersebut.
5.1. Profil Individu Penerima Manfaat Linkage Pertama
a.
Profil Usaha Pak Wakidi
Pak Wakidi memiliki usaha pembuatan berbagai macam jenis mebel yang dirintis sebelum
UPK berdiri. Tempat tinggalnya sekaligus menjadi lokasi usahanya terletak di Saren RT 11
Kalijambe. Produk mebelnya berupa kursi tamu, kursi makan, almari, tempat tidur dan
lain-lain. Usahanya dibantu oleh puteranya dan dua orang pembantu. Hasil produksinya
berupa dua jenis yaitu produk barang jadi (20%) dan produk barang setengah jadi (80%).
Produk barang jadi berasal dari pesanan khusus, sedangkan produk setengah jadi dibuat
secara masal untuk disetorkan kepada pengepul yang ada di sepanjang jalan raya Kalijambe.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
65
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK ke BPR-BKK Cabang Kalijambe
Pinjaman pertama dari UPK diperoleh Pak Wakidi bersama kelompoknya di UEP
Mandala. Pinjaman ini dimotivasi oleh peningkatan permintaan pasar dan kebutuhan
tambahan modal untuk pembelian bahan baku yang diperoleh dari daerah sekitar
Kecamatan Kalijambe. Pinjaman pertama pada 2009 sebesar tiga juta rupiah dan pinjaman
kedua diperoleh pada 2010. Perjanjian pinjaman dilakukan antara UPK dan kelompok
untuk jangka waktu pinjaman 12 bulan. Sistem pengembalian angsuran pokok dan bunga
dilakukan secara flat dengan suku bunga 1,5% per bulan dan tanpa jaminan harta tetap/
bergerak. Insentif yang diberikan UPK berupa IPTW sebesar 1,5% per bulan dari bunga.
Sampai saat ini Pak Wakidi masih tetap aktif meminjam di UPK.
Selain pinjaman dari UPK, Pak Wakidi juga memperoleh pinjaman dari PD BPRBKK Karangmalang Cabang Kalijambe pada 2011 sebesar 15 juta rupiah. Perjanjian kredit
tersebut dilakukan secara notarial antara Pak Wakidi dan lembaga tersebut untuk jangka
waktu pinjaman 36 bulan. Sistem pengembalian pokok dan bunga dilakukan secara flat
pada tingkat suku bunga sebesar 1,6% per bulan dan ditambah biaya provisi 1% sekaligus.
Pinjaman ini disertai dengan jaminan harta tetap.
5.2. Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a.
Profil Usaha Ibu Anita Ratnawati
Ibu Anita memiliki usaha konveksi pembuatan pakaian jadi, seragam sekolah, kaos, sablon
dan tas berdasarkan pesanan. Usaha ini berlokasi di Sentulan RT 02 Kalimacan Kalijambe.
Dalam mengelola usahanya, ia dibantu suami dan seorang karyawan bagian sablon dan
dua orang bagian jahit. Sebagian besar produksinya merupakan hasil pesanan pelanggan
yang langsung datang ke rumahnya maupun melalui telepon dan faksimili. Sebagian
pelangganya datang dari luar Jawa seperti dari Rokan Hulu-Riau, Parepare-Sulsel dan
Kalimantan.
Ibu Anita juga aktif sebagai ketua kelompok SPP PKK RT 02 Sentulan, Desa
Kalimacan, Kecamatan Kalijambe yang beranggotakan lima orang. Penentuan
keanggotaan didasarkan pada letak wilayah atau berdasarkan RT. Sebagai ketua kelompok,
ia bertanggung jawab atas kinerja kelompoknya. Oleh karena itu, ia selalu memantau
kinerja anggota kelompoknya dengan cara mengadakan pertemuan rutin sekali sebulan
guna membahas dinamika kelompok. Bersama kelompok inilah ia mendapat pinjaman
pertamanya dari UPK sampai sekarang.
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK ke BPR-BKK Cabang Kalijambe
Pinjaman pertama diperolehnya dari UPK sebesar tiga juta rupiah pada 2007, kemudian
pada 2008 jumlahnya menjadi empat juta rupiah, dan selanjutnya secara berturut-turut
meningkat menjadi enam juta rupiah pada 2009 dan tujuh juta rupiah pada 2010.
Sebagaimana mekanisme pemberian pinjaman, sebelum dicairkan diadakan perjanjian
66
antara UPK dan Ibu Anita bersama kelompoknya yang dilakukan secara internal. Jangka
waktu pinjaman adalah 12 bulan dengan sistem pengembalian angsuran pokok dan bunga
secara flat dan dengan tingkat suku bunga 1,5% per bulan tanpa jaminan harta tetap/
bergerak maupun biaya lain. Insentif yang diberikan oleh UPK berupa IPTW 1,5 % per
bulan dari bunga.
Meskipun ia masih aktif menjadi individu penerima PDB di UPK Kalijambe,
pada 2010 ia juga memperoleh pinjaman sebesar 15 juta rupiah dari PD BPR-BKK
Karangmalang Cabang Kalijambe. Perjanjian kredit antara Ibu Anita dengan pihak
bank dilakukan secara notarial untuk jangka waktu pinjaman selama 24 bulan. Sistem
pengembalian angsuran pokok dan bunga secara flat dengan tingkat suku bunga 1,6%
per bulan dan ditambah biaya provisi 1% sekaligus. Ibu Anita juga memberikan jaminan
berupa harta tetap kepada BPR-BKK Cabang Kalijambe.
5.3. Individu Penerima Manfaat Linkage Ketiga
a.
Profil Usaha Ibu Maryati
Ibu Maryati memiliki usaha berdagang bakso di Kota Karawang, Jawa Barat. Meski
demikian, ia masih tetap tercatat sebagai penduduk di Blagungrejo RT 14 Wonorejo
Kalijambe. Usahanya di kota Karawang dikelola oleh suaminya. Pada 2004 banyak warga
Kalijambe, termasuk suaminya pindah ke kota Karawang untuk menjadi pedagang bakso.
Berbekal ketekunan, usaha dagang bakso mengalami banyak kemajuan. Saat ini ia sudah
tidak lagi menjadi pedagang bakso keliling karena telah mempunyai dua warung di dua
lokasi tetap dan mempekerjakan tujuh orang karyawan.
Peran Ibu Maryati dalam mendukung usaha suaminya adalah melalui partisipasinya
sebagai ketua kelompok Dasa Wisma Mawar 3 yang mendapatkan akses PDB dari UPK.
Sebagai ketua kelompok, ia bertanggung jawab terhadap kinerja kelompoknya. Agar
kinerja kelompoknya tetap bagus, ia mengadakan pertemuan kelompok secara rutin sekali
sebulan. Bersama kelompok inilah, ia akhirnya mendapat pinjaman pertama kalinya dari
UPK.
b.
Sejarah Pembiayaan dari UPK ke Bank
Riwayat pinjaman Ibu Maryati dari UPK yang pertama adalah pinjaman sebesar satu
juta rupiah pada 2004. Ini adalah pengalaman pertamanya. Pada 2005 pinjaman di UPK
meningkat menjadi empat juta rupiah, kemudian pada 2006 naik menjadi lima juta rupiah
dan terus meningkat pada 2007 menjadi enam juta rupiah. Antara 2008-2010, ia mendapat
pinjaman sebesar delapan juta rupiah dan baru pada 2011 PDB yang diperolehnya dari
UPK meningkat menjadi 10 juta rupiah, nilai maksimal pinjaman yang bisa diberikan
UPK. Seperti halnya dua individu penerima dana bergulir UPK Kalijambe di atas, berlaku
mekanisme perjanjian antara UPK dengan kelompok untuk jangka waktu pinjaman 12
bulan dan dengan sistem pengembalian angsuran pokok dan bunga secara flat 1,5% per
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
67
bulan serta tanpa adanya jaminan fisik maupun biaya lain. Insentif yang diberikan oleh
UPK berupa IPTW 1,5% per bulan dari bunga. Sampai saat ini pun ibu Maryati masih
tetap aktif sebagai individu penerima manfaat dana bergulir di UPK Kalijambe.
Karena dibatasi oleh aturan besarnya pinjaman maksimal, atas rekomendasi UPK ia
mengajukan pinjaman kepada bank. Pada 2010 ia memperoleh pinjaman dari BRI sebesar
50 juta rupiah dan berikutnya pada 2011 mendapatkan pinjaman lagi sebesar 50 juta
rupiah. Perjanjian pinjaman antara Ibu Maryati dan BRI tertuang secara notarial dengan
lama pinjaman 36 bulan dengan sistem pengembalian angsuran pokok dan bunga secara
flat pada tingkat suku bunga 1,6% per bulan ditambah biaya provisi 1% sekaligus. Untuk
mendapatkan fasilitas pinjaman tersebut, ia memberikan jaminan harta tetapnya.
Meski mendapat fasilitas pinjaman dari BRI, ia tetap menjadi nasabah UPK. Hal
ini karena ia ingin berbalas budi atas jasa pinjaman PDB UPK Kalijambe yang telah
membantu membesarkan usahanya. Ia berencana terus mengembangkan usaha suaminya
dan membuat lokasi-lokasi baru yang strategis di kota Karawang. Hingga saat ini ia tetap
menetap di Kalijambe karena meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pemerintah
setempat kepadanya. Selain menjadi ketua kelompok, ia juga menjadi pelatih dalam hal
pemberdayaan masyarakat.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Terdapat sejumlah pembelajaran yang dapat diambil dari model linkage di atas dan juga
berdasarkan pengalaman para individu penerima manfaat yang telah merasakan linkage
tersebut.
• UPK berperan penting dalam memberikan informasi tentang calon debitur potensial
kepada mitra penyedia layanan keuangan, baik bank maupun lembaga keuangan
nonbank.
• Model rekomendasi lisan bagi kelompok atau anggota kelompok PDB merupakan
salah satu model yang dapat membantu kelompok atau individu penerima manfaat
mendapatkan akses layanan dari bank atau lembaga keuangan nonbank.
• Terjalinnya hubungan yang saling menguntungkan antara UPK dengan bank di mana
UPK mendapatkan layanan transaksi keuangan secara aman dan menguntungkan
dalam rekening tabungan. Rekening tabungan tersebut digunakan untuk menampung
mutasi pembayaran SPP dan UEP, tabungan kelompok dan lainnya. Dari sisi bank
walaupun tanpa adanya nota kesepahaman antara bank dengan UPK, bank tetap
akan mendapatkan manfaat yang besar yaitu dengan adanya pertambahan debitur
maupun nasabah bank. Pada gilirannya, bank akan mendapatkan laba yang lebih
besar akibat efisiensi biaya pengelolaan yang berguna bagi keberlanjutan lembaganya.
68
•
Dengan adanya fasilitas pinjaman dari perbankan, terjadi peningkatkan usaha,
pendapatan, jaringan usaha baru, memberikan kesempatan kepada tenaga baru
maupun pembelajaran tentang bagaimana mengelola keuangan yang lebih baik bagi
individu penerima manfaat.
6.2. Tantangan Linkage
Meskipun telah terjalin linkage dengan model rekomendasi lisan, untuk meningkatkan
linkage yang menguntungkan antara UPK dengan pihak perbankan sejumlah tantangan
berikut perlu mendapat perhatian penting.
• UPK terkendala dengan kerangka hukum dan status kelembagaannya yang belum jelas
sehingga sulit merealisasikan linkage yang bisa dituangkan dalam nota kesepahaman
antara UPK dengan pihak bank atau lembaga keuangan nonbank.
• Individu yang telah mampu mengakses bank masih tetap aktif menjadi peminjam
program dana bergulir di UPK Kalijambe. Akibatnya akses kepada target PDB untuk
keluarga miskin lain menjadi berkurang. Selain itu, individu peminjam tersebut
tercatat sebagai peminjam di dua institusi dalam waktu yang bersamaan. Hal ini
berpengaruh pada resiko pengembalian.
• Tantangan yang dihadapi oleh individu peminjam terkait linkage ini adalah
pengembangan usaha dan persaingan mendapatkan tenaga kerja, khususnya usaha
konveksi yang bersaing dengan permintaan tenaga kerja untuk pabrik. Untuk itu
pihak perbankan perlu memberikan perannya dalam membantu individu untuk
kesinambungan usahanya.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
69
70
Kab. Pati
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
PD BPR Bank Daerah Pati dan
BKM-UPK Pelangi Jaya,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah
RINGKASAN
Linkage yang terjalin antara BKM-UPK Pelangi Jaya dan PD BPR Bank Daerah Pati
adalah model di mana BKM-UPK bertindak sebagai pelaksana (executing). Linkage
ini terjalin karena adanya upaya inisiasi untuk memberikan informasi yang cukup
akurat dari ketua UPK kepada PD BPR Bank Daerah Pati terkait kinerja BKMUPK. Kepedulian koordinator BKM-UPK untuk bersedia memberikan jaminan harta
tetapnya (sertifikat hak milik) memperkuat terbentuknya linkage ini. Faktor utama
yang mendorong terjalinnya linkage ini adalah adanya daftar tunggu PDB yang cukup
tinggi dan permohonan pinjaman yang tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan
sumber dana di BKM-UPK. Pertumbuhan modal UPK yang terbatas juga belum
memungkinkannya menjadi sumber dana bagi PDB.
Pagu pinjaman yang diterima dari PD BPR Bank Daerah Pati pertama kali sebesar
22 juta rupiah untuk waktu 10 bulan dengan bunga 0,9 % per bulan secara flat.
Fasilitas ini dijual kembali ke penerima manfaat PNPM dengan harga 1,5 % flat
per bulan. Dengan direalisasikan linkage ini, bank telah memberikan kepercayaannya
kepada BKM-UPK untuk mengelola risiko kredit yang mungkin akan timbul. Jangka
waktu yang disepakati adalah 10 bulan sejak Januari 2011 hingga fasilitas ini lunas
pada November 2012.
Meskipun linkage ini telah menghasilkan suatu sistem yang lebih formal di antara
pelaku di tingkat bank maupun BKM-UPK, terdapat beberapa tantangan yang perlu
dipecahkan. Tantangan tersebut adalah bagaimana mewujudkan kepercayaan BPR
kepada BKM-UPK agar linkage tersebut bisa diakses dengan tanpa menggunakan
jaminan tambahan berupa barang bergerak atau tidak bergerak. Linkage tersebut juga
perlu menyediakan jumlah pinjaman yang lebih besar bagi penerima manfaat PNPM.
Tantangan lain adalah bagaimana memastikan keberlanjutan PDB UPK ke depan.
Salah satunya dengan mengembangkan linkage ini secara luas melalui saluran informasi
yang ada sehingga linkage dapat berjalan dengan lebih banyak lembaga keuangan.
72
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara PD BPR Bank Daerah Pati dan
BKM-UPK Pelangi Jaya di Desa Plangitan, Kecamatan Pati,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah
7 - 8 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Desa Plangitan
Desa Plangitan adalah salah satu desa di antara 29 desa di Kecamatan Pati. Desa ini
berbatasan dengan Desa Ngarus di sebelah utara, Kelurahan Pati Kidul di sebelah timut,
Desa Puri di sebelah barat dan Kecamatan Margorejo di sebelah selatan. Desa Plangitan
terletak di dataran rendah dengan ketinggian 14 m di atas permukaan laut. Desa ini
memiliki 2 RW dan 29 RT. Menurut data Podes April 2012, jumlah penduduknya 3.349
jiwa, dengan 1.504 laki-laki dan 1.745 perempuan dan jumlah KK sebanyak 943. Mata
pencaharian penduduk sangat beragam mulai dari petani, buruh, pedagang, PNS, dan
lainnya.
1.2. Profil BKM-UPK Pelangi Jaya
BKM-UPK Pelangi Jaya berdiri pada 1 Desember 2007 dan dikuatkan dengan akta Notaris
PPAT Mirah Setyanti SH. BKM-UPK Pelangi Jaya dipimpin oleh seorang koordinator dan
dibantu oleh 12 orang anggota relawan di luar sekretaris. Seperti lazimnya BKM-UPK di
PNPM Perkotaan, BKM-UPK Pelangi Jaya menjalankan organisasinya dengan dilengkapi
oleh UPL, UPS dan UPK.
Pengelolalaan PDB BKM-UPK Pelangi Jaya dimulai sejak 2008. PDB ini dikelola
oleh UPK dengan modal awal dari BLM sebesar 58,5 juta rupiah. Struktur pengurus UPK
terdiri dari ketua, kasir dan staf pembukuan. Pada laporan keuangan per 30 April 2012,
posisi kekayaan/aset BKM-UPK Pelangi Jaya mencapai 113,9 juta rupiah. PDB saat ini
dinikmati oleh 18 KSM dengan 90 anggota yang semuanya berada di kolektibilitas 1
(lancar tanpa tunggakan).
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
73
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
PD BPR Bank Daerah Pati berlokasi di Jl. Supriyadi 71 Pati dipimpin oleh seorang
direktur utama dan seorang direktur. PD BPR Bank Pati adalah perusahaan daerah dengan
nama Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Kabupaten Daerah Tingkat II Pati yang
berkedudukan di Kecamatan Pati berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Pati,
Nomor 9 Tahun 1994 Tanggal 31 Agustus 1994. Keberadaan PD BPR ini didukung pula
oleh Akte No. 188/361/1994 Tanggal 28 September 1994 tentang Perusahaan Daerah
Bank Perkreditan Rakyat Kabupaten Daerah Tingkat II Pati.
PD BPR Bank Daerah Pati didirikan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan
perekonomian demi meningkatkan taraf hidup masyarakat Kabupaten Pati. Perusahaan
memiliki komitmen untuk terus melakukan perbaikan, mengembangkan usaha dan
tumbuh bersama dengan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pati.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Produk PD BPR Bank Daerah Pati berupa tabungan dengan nama Tabunganku, Tabungan
Berlian, dan Tabungan Berlian Hari Tua serta deposito berjangka. Produk kredit dibagi
menjadi tiga, yaitu kredit pegawai, kredit umum musiman, dan kredit umum bulanan.
Persyaratan Kredit Pegawai adalah (1) mengisi aplikasi permohonan pinjaman; (2)
mengisi surat kuasa bermeterai dan surat pernyataan pemotongan gaji; (3) menyerahkan
salinan identitas diri dan suami/istri (jika sudah berkeluarga) yang masih berlaku (KTP,
SIM, Kitas, dsb); (4) menyerahkan salinan KK; (5) menyerahkan salinan SK terbaru;
(6) menyerahkan salinan rincian gaji/gaji terbaru; dan (7) membayar angsuran melalui
mekanisme potong gaji lewat bendahara yang ditunjuk.
Sedangkan persyaratan kredit umum musiman, adalah (1) memiliki usaha yang
bersifat mandiri; (2) keuntungan dan kepemilikan usaha yang dapat dibuktikan secara
faktual dan atau yuridis (akta pendirian usaha, SIUP, TDP, NPWP, dsb); (3) mengisi
aplikasi permohonan kredit umum untuk nasabah yang telah direkomendasi oleh tim
kredit; (4) menyerahkan salinan identitas diri dan suami/istri (jika sudah berkeluarga) yang
masih berlaku (KTP, SIM, Kitas, dsb); (5) menyerahkan salinan KK; (6) menyerahkan
salinan agunan yang diajukan seperti STNK dan BPKB untuk agunan barang bergerak dan
sertifikat dan SPPT untuk agunan barang tak bergerak; dan (7) bersedia untuk disurvei.
74
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Faktor yang mendorong terjalinnya linkage ini adalah adanya daftar tunggu PDB yang
tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan sumber dana di BKM-UPK. Pertumbuhan
modal UPK juga belum memungkinkan untuk menyediakan sumber dana bagi PDB.
3.2. Proses Terjadinya Linkage
Bermula dari adanya daftar tunggu beberapa kelompok dan pertanyaan tentang
kemungkinkan realisasi dari daftar tunggu tersebut, maka ketua BKM-UPK berkoordinasi
dengan koordinator BKM-UPK tentang kemungkinan mengakses sumber dana di luar
BLM dan tambahan modal perguliran dari laba. Keprihatinan tersebut disampaikan oleh
ketua UPK kepada Direktur PD BPR Bank Daerah Pati yang adalah eks-muridnya semasa
aktif sebagai guru akutansi. Setelah melalui proses komunikasi intensif, pihak PD BPR
Bank Daerah Pati akhirnya sepakat mengevaluasi kinerja UPK selama beberapa periode
serta mengevaluasi jaminan yang akan diserahkan untuk melindungi fasilitas pinjamannya
nanti. BKM-UPK Pelangi Jaya akhirnya menyerahkan jaminan berupa sertifikat atas nama
koordinatornya.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin antara BKM-UPK Pelangi Jaya dan PD BPR Bank Daerah
Pati adalah model pelaksana (executing) di mana UPK Pelangi Jaya bertindak sebagai
pelaksana atas dana yang diterima dari BPR. Saat ini fasilitas pinjaman telah lunas
sehingga keberlanjutan program ini amat bergantung pada kesediaan BKM-UPK untuk
melanjutkan atau tidak mengingat agunan yang digunakan untuk menjamin linkage adalah
milik koordinator BKM-UPK Pelangi Jaya.
4.2. Produk Linkage
Produk atau fasilitas yang dinikmati dalam linkage ini adalah pinjaman/kredit umum yang
ada pada fitur PD BPR Bank Daerah Pati. Besar pinjaman yang diberikan 22 juta rupiah
untuk jangka waktu 10 bulan dan dengan tingkat suku bunga 0,9 % per bulan secara flat.
Selanjutnya, fasilitas tersebut dijual kepada penerima manfaat PNPM dengan suku bunga
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
75
1,5 % per bulan. Fasilitas tersebut dijamin dengan serifikat atas nama kordinator BKMUPK Pelangi Jaya, yang pengikatannya dilakukan dengan SKHMT Direktur Umum PD
BPR Bank Daerah Pati.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
5.1. Profil Individu
Ibu Sri Wahyuni mempunyai latar belakang pendidikan SLTP dan bertempat tinggal
di RT6/RW2 Desa Plangitan. Usaha yang ditekuni adalah membuat dan menjual nasi
kucing. Semula ia menjual di halaman rumah dengan hasil yang tidak menentu. Pada 2007
ia mengetahui adanya PDB PNPM Mandiri Perkotaan dari berita melalui majalah dinding
desa. Ia lalu membentuk kelompok yang dinamakan KSM Sakura dan mendapatkan
pinjaman dari BKM-UPK Ngesti Rahayu. Sejak saat itu ia dapat membeli gerobak dorong
untuk menjajakan daganganya secara berkeliling di Desa Plangitan. Pendapatan bersih Ibu
Sri Wahyu mengalami peningkatan dari 10 ribu rupiah per hari pada sebelum 2009 dan
kini menjadi 80 ribu rupiah per hari.
5.2. Sejarah Pinjaman dari UPK
Fasilitas PDB pertama diperoleh Ibu Sri Wahyuni dari BKM-UPK Ngesti Rahayu Desa
Plangitan sebesar 250 ribu rupiah pada 2007, PDB kedua pada 2008 sebesar 500 ribu
rupiah untuk tambahan modal kerja, PDB ketiga sebesar 750 ribu rupiah pada 2009,
dan PDB keempat sebesar satu juta rupiah pada 2010 yang digunakan untuk modal kerja
dan investasi berupa sepeda motor. Saat ini pinjaman yang sedang dinikmati adalah PDB
kelima sebesar Rp1.250.000. Semua pinjaman tersebut dikenakan bunga 1,5 % per bulan.
Ia berharap suatu saat nanti ia dapat membuka tempat jualan yang lebih besar dengan
mengajukan PDB lebih dari dua juta rupiah.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Pembelajaran yang dapat petik dari linkage yang terjalin antara BKM-UPK Pelangi Jaya
dan PD BPR Bank Daerah Pati dan dari pengalaman penerima manfaat PNPM adalah
sebagai berikut.
• Linkage dengan model BKM-UPK sebagai pelaksana atas fasilitas pinjaman dari BPR
telah menguntungkan kedua belah pihak.
76
•
•
•
Kepedulian Ketua UPK dan Koordinator BKM merupakan faktor penentu utama
terjadinya linkage antara BKM-UPK Pelangi Jaya dan PD BPR Bank Daerah Pati.
BKM-UPK dalam menjalankan fungsi penghubung (intermediary) antara penerima
manfaat PNPM dengan lembaga mitra bank/nonbank diharapkan lebih besar
perannya dalam mengedukasi para kelompok PDB agar mereka benar-benar telah
siap jika diperlukan untuk langsung berhubungan dengan lembaga keuangan.
Keberadaan linkage dapat dirasakan dampaknya oleh penerima manfaat PNPM
dalam bentuk peningkatan skala usaha, pendapatan maupun pengetahuan tentang
sistem keuangan inklusi.
6.2. Tantangan Linkage
Walaupun kerja sama linkage ini telah menghasilkan suatu sistem yang lebih formal antara
pelaku di tingkat bank maupun BKM, beberapa tantangan yang masih harus dipecahkan
ke depan adalah:
• mewujudkan kepercayaan BPR kepada BKM-UPK agar linkage tersebut bisa diakses
tanpa menggunakan jaminan tambahan berupa barang tetap maupun barang
bergerak; dan
• bagi debitur, tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan keberlanjutan
usahanya karena BKM-UPK akan terus mendukung usaha debitur sepanjang usaha
tersebut terus berkembang.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
77
78
Kab. Boyolali
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
Program Swamitra Bank Bukopin
dan BKM Mitra Sejahtera,
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
RINGKASAN
Linkage antara BKM Mitra Sejahtera dan Swamitra-Bank Bukopin merupakan
tindak lanjut atas prakarsa tim PNPM Perkotaan - Bank Dunia dan Kantor Bank
Bukopin Pusat di Jakarta pada 2010 untuk membuat suatu linkage keuangan mikro
antara PNPM Mandiri Perkotaan dan bank atau lembaga keuangan. Di Kabupaten
Boyolali inisiatif ini kemudian ditindaklanjuti dengan suatu pertemuan antara Forum
BKM, pemda Kabupaten Boyolali, dan Bank Bukopin yang menghasilkan sebuah nota
kesepahaman. Isi nota kesepahaman tersebut belum menjelaskan secara rinci bentuk
linkage yang akan dilakukan, hanya secara umum menerangkan bahwa Bank Bukopin
bersedia bekerja sama dengan PNPM Mandiri Perkotaan.
Linkage antara BKM Mitra Sejahtera dan Swamitra-Bank Bukopin berkaitan dengan
pemberian fasilitas pinjaman untuk kegiatan ekonomi produktif. Bentuk linkage yang
terjalin telah memberikan peran kepada BKM Mitra Sejahtera untuk mengidentifikasi
individu-individu yang memiliki catatan pinjaman yang baik dan sudah lulus
dari PNPM Mandiri dan kemudian merekomendasikannya kepada Swamitra agar
individu-individu tersebut dapat memperoleh pinjaman. Namun linkage ini tidak
berjalan dengan mulus karena suku bunga 1,4 – 1,5% per bulan yang diberikan
Swamitra masih dirasakan cukup tinggi oleh masyarakat dan keharusan memberikan
jaminan atau agunan yang dipersyaratkan oleh Swamitra dinilai cukup menyulitkan
karena sebagian besar tidak memiliki jaminan atau agunan.
Pembelajaran penting dari linkage ini adalah bahwa BKM-UPK dapat berperan
efektif sebagai sumber informasi awal mengenai akses layanan keuangan yang bisa
dimanfaatkan anggota KSM dan masyarakat. Selain itu, BKM-UPK pun dapat
membantu pembuatan proposal pinjaman, atau hal-hal lain yang dapat membantu
proses pinjaman. Namun, terdapat pula tantangan utama dari linkage ini ke depan
yakni bagaimana membuat linkage antara BKM Mitra Sejahtera dan Swamitra dapat
memberikan manfaat terhadap kedua belah pihak dan menyediakan layanan pinjaman
dengan suku bunga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
80
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara Program Swamitra Bank Bukopin dan
BKM Mitra Sejahtera di Desa Mudal, Kecamatan Boyolali,
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
2 Desember 2011
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Desa Mudal
Desa Mudal adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Boyolali, dengan luas
wilayah 315,6276 ha. Desa ini terbagi menjadi empat padukuhan, empat RW, dan 37
RT. Jumlah penduduknya 5373 jiwa dengan 1426 KK. Berdasarkan kriteria kemiskinan
yang disusun oleh kader masyarakat, tim pemetaan swadaya, dan BKM, jumlah penduduk
miskin di Desa Mudal adalah 1.956 jiwa dengan jumlah KK miskin 666.
1.2. Profil BKM Mitra Sejahtera
Di desa ini sejak 2005 telah terbentuk BKM hasil bentukan PNPM Mandiri Perkotaan
yang bernama BKM Mitra Sejahtera. BKM ini beralamat di Jl. Tentara Pelajar Km. 4 Telp.
(0276) 322520 Desa Mudal, Kecamatan Boyolali. BKM ini telah berbadan hukum melalui
pencatatan di depan Notaris Adang Tri Sunoko,SH pada 29 September 2005. BKM ini
dipimpin oleh seorang koordinator dan dibantu seorang sekretaris dan dengan anggota
sebanyak 12 orang. Terdapat 3 unit pengelola dalam BKM yang terdiri atas UPK, UPL,
dan UPS.
UPK merupakan unit yang menangani PDB yang dibuka tiap hari Senin sampai
Jumat pada pukul 09:00-13:00. Saat ini terdapat sekitar 40-an KSM yang aktif meminjam
dana bergulir pada UPK ini. Mayoritas anggota KSM ini adalah pedagang yang berjualan di
pasar. Rata-rata jumlah anggota setiap KSM berkisar 5 – 15 orang. KSM yang anggotanya
banyak adalah KSM yang dibentuk pada tahun-tahun awal (2005).
Dalam hal pembayaran pinjaman, umumnya KSM-KSM ini lancar mengembalikan
pinjaman. Namun 3-4 bulan terakhir ini agak terhambat karena sejumlah faktor seperti
gagal panen dan banyak acara hajatan.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
81
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
Swamitra adalah unit simpan pinjam milik koperasi yang dibina secara langsung oleh Bank
Bukopin. Dengan dukungan Bank Bukopin, Swamitra beroperasi secara real time online
melalui jaringan teknologi (network) Bank Bukopin. Dengan pemanfaatan teknologi
canggih serta dukungan sistem dan prosedur yang teruji, Swamitra mampu memberikan
pelayanan transaksi keuangan yang lebih luas dan aman.
Dalam operasionalnya, Swamitra Boyolali didukung oleh 11 orang karyawan yang
terdiri dari: seorang manajer, dua orang koordinator operasional, satu orang teller, dua
orang Credit Investigation (CI ), 3 orang marketing, dan 2 orang kolektor lapangan.
Secara umum, layanan Swamitra terdiri dari simpanan harian, simpanan berjangka
dan pinjaman. Bunga simpanan harian dihitung berdasarkan saldo harian dengan saldo
minimal Rp.10.000 dan setoran minimal Rp.2000. Simpanan berjangka memiliki suku
bunga kompetitif yaitu 7% per bulan dan tanpa membedakan jangka waktu. Pilihan jangka
waktunya antara lain sebulan, tiga bulan dan 12 bulan. Untuk pinjaman, terdapat tiga jenis
pinjaman yakni pinjaman modal kerja, pinjaman investasi dan pinjaman konsumtif
Untuk memperoleh pinjaman,beberapa syarat yang dibutuhkan, yakni: (1) salinan
KTP suami istri, (2) salinan KK, (3) salinan surat nikah, (4) salinan jaminan yang berupa
sertifikat tanah atas nama sendiri, BPKB, dan surat izin pendirian kios, dan (5) salinan
SPPT/PBB.
3.Sejarah Linkage
3.1. Terjalinnya Linkage di Tingkat Pusat
Linkage antara PNPM Mandiri Perkotaan dan Bank Bukopin dimulai pada 2010. Ketika
itu Kepala Divisi Supervisi Penjualan Mikro Bank Bukopin sering melakukan pertemuan
dengan tim dari PNPM Mandiri Perkotaan Bank Dunia. Ide linkage yang berkembang
adalah linkage antara Program Swamitra dan PNPM Mandiri Perkotaan. Linkage ini
berupa pemberian layanan pinjaman bagi individu-individu yang sudah lulus dari PNPM
Mandiri Perkotaan dan/atau membutuhkan dana pinjaman yang lebih besar. Mereka
adalah individu-individu yang tergolong kategori feasible tapi belum bankable. Mereka
masih menemui kendala untuk meminjam secara langsung ke bank yaitu dalam hal
prosedur dan persyaratan sehingga akhirnya mereka difasilitasi oleh layanan Swamitra.
Linkage antara program Swamitra dan PNPM Mandiri Perkotaan diawali dengan
ujicoba di empat lokasi BKM yang terletak di Bekasi dan Tangerang. Linkage berupa
pemberian fasilitas kedit bagi individu-individu yang lulus dari BKM yang ditandai bukti
berupa kartu/rekomendasi lulus. Umumnya bunga kredit yang diberlakukan di lapangan
82
berkisar antara 1.6 – 1,7% flat per bulan dengan maksimal plafon kredit yang bisa diberikan
oleh Swamitra sebesar Rp.150 juta. Sasaran pemberian kredit adalah 80% untuk kegiatan/
sektor ekonomi produktif dan 20% untuk kredit konsumsi.
Hingga saat ini linkage sudah berkembang ke beberapa lokasi di Jawa Tengah dan DI
Yogyakarta. Namun linkage ini tidak berjalan mulus karena di banyak tempat belum ada
ikatan hukum yang menyertai linkage antara Swamitra dan PNPM Mandiri Perkotaan
setempat sehingga realisasinya tidak bisa optimal.
3.2. Terjalinnya Linkage di Tingkat Daerah
Linkage antara BKM Mitra Sejahtera dan Swamitra di daerah merupakan tindak lanjut atas
prakarsa di tingkat pusat. Di Kabupaten Boyolali insiatif ini kemudian ditindaklanjuti dengan
suatu pertemuan antara Forum BKM, Pemda Kabupaten Boyolali, dan Bank Bukopin yang
menghasilkan sebuah nota kesepahaman. Isi nota kesepahaman tersebut belum menjelaskan
secara rinci bentuk linkage yang akan dilakukan, hanya secara umum menerangkan bahwa
Bank Bukopin bersedia bekerja sama dengan PNPM Mandiri Perkotaan.
Setelah nota kesepahaman tersebut ditandatangani, sekitar Agustus atau September 2010
diadakan sosialiasi di tingkat kabupaten yang dihadiri oleh Bank Dunia, KMW, Koordinator
Kota, Forum BKM, Pemda, Bank Bukopin dan Swamitra. Setelah sosialisasi ini berlangsung,
Forum BKM bersama-sama Swamitra membuat draft kesepakatan linkage yang salah satu
isinya adalah Swamitra akan memberikan suku bunga yang lebih rendah kepada peminjam
yang berasal dari PNPM Mandiri Perkotaan yaitu sebesar 1,5% per bulan. Kesepakatan ini
ditandatangani oleh Swamitra dan Ketua Forum BKM di Desa Benda, Boyolali.
Selanjutnya, diadakan sosialisasi di masing-masing kecamatan yang dilakukan oleh
Forum BKM dengan mengundang BKM-BKM yang ada di kecamatan setempat. Jika
ada BKM yang berminat, tim PNPM Mandiri Perkotaan Advance akan memfasilitasinya
dengan mempertemukan BKM dengan Swamitra Boyolali Kota. Dalam pertemuan
tersebut, Swamitra menjelaskan secara rinci prosedur pinjaman, tingkat suku bunga,
jaminan atau agunan yang dibutuhkan dan hal-hal lain.
Saat itu ada lima BKM yang berminat dan kemudian bertemu langsung dengan
Swamitra Boyolali Kota yaitu BKM Tenggung, BKM Mudal, BKM Dengungan, BKM
Kopen, dan BKM Dibal. Terbatasnya jumlah BKM yang berminat terhadap linkage yang
ditawarkan ini disebabkan karena pertama, BKM merasa linkage tersebut kurang membawa
keuntungan baik material maupun immaterial bagi BKM, dan hanya menguntungkan
Swamitra saja dan kedua, BKM tidak rela melepaskan individu-individu yang selama ini
memiliki catatan pinjaman yang baik. BKM berharap mereka dapat terus melayani KSM
maupun individu-individu yang memiliki catatan baik.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
83
Lima BKM yang berminat untuk melakukan linkage kemudian mensosialisasikan
informasi yang didapatnya kepada KSM-KSM yang ada di bawahnya. Namun, banyak
KSM yang tidak tertarik untuk meminjam dari Swamitra sehingga linkage ini tidak bisa
berlanjut. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor: pertama, Swamitra menawarkan
pinjaman dengan tingkat suku bunga yang tinggi dan keharusan adanya jaminan atau
agunan dan kedua, beberapa bank atau lembaga keuangan menawarkan pinjaman dengan
tingkat suku bunga yang lebih rendah dan lebih mudah diakses oleh peminjam PNPM
Mandiri. Kecuali di Kecamatan Sawit dan Ngempak, di mana PPK pernah dilaksanakan
dan PDB-nya masih aktif berjalan, Swamitra kemudian menjadi satu alternatif bagi
individu jika mereka memerlukan pinjaman.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin antara BKM Mitra Sejahtera dan Swamitra adalah pemberian
rekomendasi/referensi. BKM berperan memberikan rekomendasi individu peminjam
PNPM Mandiri yang sudah lulus dari PNPM Mandiri kepada Swamitra. Swamitra
kemudian menindaklanjuti rekomendasi tersebut dengan mengunjungi langsung individu
dan menawarkan kerja sama dengan individu tersebut.
Dalam linkage ini belum ada petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis yang
mengatur pelaksanaan linkage antara PNPM Perkotaan dan Swamitra, dan perlakuan
bagi nasabah PNPM Mandiri adalah sama dengan nasabah umum lainnya. Semua harus
memiliki agunan atau jaminan dan harus lolos survei kelayakan yang dilakukan oleh
Swamitra. Bila dinilai sesuai dan layak, maka pinjaman akan diberikan. Namun khusus
untuk nasabah PNPM Mandiri, ada kebijakan pengurangan bunga pinjaman sebesar
0,1%, yaitu dari 1,6% menjadi 1,5% perbulan dengan denda keterlambatan sebesar 5%
dihitung dari tiga hari setelah jatuh tempo.
Nasabah PNPM Mandiri terbiasa meminjam ke PNPM Mandiri tanpa persyaratan
dan jaminan. Pinjaman ke Swamitra membutuhkan persyaratan dan jaminan. Awalnya ada
resistensi dari masyarakat yang terbiasa meminjam dari PNPM Mandiri ketika dihimbau
untuk mengajukan pinjaman ke Swamitra. Mereka kuatir akan direpotkan oleh prosedur
yang rumit. Ada pula individu yang ditolak Swamitra karena tidak memiliki jaminan,
Usahanya dinilai tidak feasible dan beberapa alasan lain.
Merubah cara pandang dan sikap nasabah ini tidaklah mudah. Salah satu upaya
yang dilakukan Bank Bukopin/Swamitra adalah dengan melakukan pelatihan mengenai
perbankan. Bank Bukopin/Swamitra pernah mengadakan pelatihan di DI Yogyakarta
dengan mengundang perwakilan BKM dengan harapan agar BKM dapat memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai tata cara dan prosedur peminjaman dari perbankan
dan dengan demikian linkage antara Swamitra dan PNPM Mandiri dapat terus berlanjut.
84
4.2.`Produk Linkage
Swamitra menawarkan produk pinjaman sebagai unggulannya. Pinjaman ini dibatasi
sampai Rp.150 juta. Sasaran bisnis dari Swamitra adalah mereka yang disebut miskin
produktif. Mereka adalah kelompok yang sudah memiliki usaha atau usaha tersebut
baru berjalan beberapa tahun dan menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik namun
belum memiliki aset yang dapat dijadikan agunan untuk meminjam ke bank. Swamitra
dapat menjadi alternatif bagi nasabah PNPM Mandiri yang usahanya sudah maju dan
membutuhkan pinjaman yang lebih besar dari yang diberikan oleh PNPM Mandiri.
Proses pengajuan pinjaman di Swamitra tergantung dari jumlah pinjamannya.
• Pinjaman > 30 juta
: diputuskan oleh AO Supervisi, lama proses 3 hari.
• Pinjaman 30-50 juta
: diputuskan oleh Manajer Bisnis Mikro, lama proses 7 hari
• Pinjaman 50-150 juta : diputuskan oleh rapat komite, lama proses sekitar 2
minggu.
Swamitra berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan
meminjam kepada Swamitra, pada akhirnya SHU dari Swamitra akan kembali ke nasabah
peminjamnya.
Linkage dengan Swamitra di Desa Mudal diawali dengan pengajuan pinjaman dari
BKM Mitra Sejahtera untuk seorang nasabah PDB PNPM Mandiri Perkotaan pada awal
2011. Setelah itu, tidak ada pengajuan lagi dari peminjam lain di BKM Mitra Sejahtera.
Swamitra menunggu linkage berikutnya dari BKM Mitra Sejahtera. Manfaat linkage sendiri
untuk Swamitra adalah menambah kredit yang dibayarkan (KYD) dan jika penerima kredit
puas dengan pelayanan Swamitra, diharapkan mereka dapat bercerita ke teman-temannya
yang lain sehingga menambah jumlah pelanggan Swamitra.
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
Ibu Sukini adalah individu yang pernah menerima manfaat PDB PNPM Mandiri
Perkotaan dan sekarang mendapatkan pinjaman dari Swamitra-Bank Bukopin. Ia adalah
mantan anggota kelompok KSM Rejeki, yang memiliki anggota sekitar 7-8 orang. Usaha
yang dimilikinya adalah membuat kerupuk. Ia memiliki pabrik kerupuk yang cukup
memadai yang terletak di sebelah rumahnya. Usaha ini merupakan usaha keluarga yang
sudah dijalankan sejak lama. Beberapa tahun yang lalu, usaha ini sempat mengalami
kemunduran akibat banyaknya persaingan.
Walaupun mengalami kemunduran, ia tidak pernah menyerah dan tetap menjalankan
usahanya. Ketika sedang mengalami masa kemunduran inilah, ia mendengar bahwa di desa
ada lembaga yang menawarkan pinjaman bagi masyarakat yang membutuhkan. Lembaga
tersebut adalah PNPM Mandiri Perkotaan. Untuk mendapatkan pinjaman, setiap individu
harus membentuk kelompok dan ia pun membentuk satu kelompok yang bernama KSM
Rejeki.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
85
Pada 2007 untuk pertama kalinya, ia meminjam uang dari PNPM Mandiri
sebesar Rp.500.000. Uang ini digunakan untuk menambah modal usahanya dan harus
dicicilnya setiap bulan selama setahun. Setelah setahun melunasi pinjamannya, ia kembali
meminjam dari PNPM Mandiri sebesar Rp.750.000 pada 2008. Pinjaman ini berhasil
dikembalikan tepat waktu sehingga tahun berikutnya ia dapat meminjam lebih besar lagi
yaitu Rp.1.500.000 pada 2009. Tahun 2010, ia kembali meminjam Rp.2.000.000 dan
ini adalah jumlah maksimal yang dapat dipinjam dari UPK. Berkat kegigihannya, usaha
kerupuk akhirnya dapat kembali berjalan lancar dan semakin maju.
Dalam aturan PNPM Mandiri, setelah seorang anggota meminjam sebanyak empat
kali, anggota tersebut tidak bisa lagi meminjam dari PNPM Mandiri. Dengan semakin
berkembangnya usaha kerupuknya, Ibu Sukini membutuhkan modal usaha yang lebih besar.
Ia kemudian berusaha mencari informasi ke BKM-UPK mengenai lembaga keuangan yang
dapat membantu memberikan modal usaha. BKM-UPK menindaklanjuti keinginan Ibu
Sukini dengan menghubungkannya dengan Swamitra. Swamitra kemudian menawarkan
jasa pinjaman kepada Ibu Sukini. Ia tertarik dan mengajukan pinjaman 25 juta rupiah
dengan agunan tanah dan bangunan rumah yang dimilikinya. Tanah dan bangunan rumah
tersebut memiliki luas sekitar 700-800 M2. Pengajuan pinjaman tersebut disetujui dan
dana cair pada 25 Februari 2011. Pinjaman 25 juta rupiah tersebut sudah ditanggung oleh
asuransi. Uang tersebut harus dicicil Rp. 1.131.000 perbulan selama 3 tahun. Sebesar 70%
dari pinjaman tersebut ia gunakan untuk membeli mesin dan peralatan dan sisanya untuk
membeli bahan baku krupuk.
Dulu sebelum permintaan meningkat, produksi kerupuk tidak dilakukan setiap
hari sehingga karyawan juga tidak bekerja setiap hari. Sekarang dengan meningkatnya
permintaan, dibutuhkan mesin dan peralatan yang lebih memadai. Dengan mesin dan
peralatan baru tersebut, produksi kerupuk dapat dilakukan setiap hari. Karyawan masuk
setiap hari dari jam 02.00 sampai jam 14.30 dengan upah Rp.30.000/hari. Pembuatan
kerupuk membutuhkan panas sinar matahari sehingga karyawan bekerja dini hari agar
kerupuk bisa langsung dijemur pada pagi hingga siang hari. Saat ini produksi kerupuk untuk
satu bulan adalah sekitar dua ton dengan keuntungan bersih kurang lebih Rp.6.000.000.
Kerupuk buatan Ibu Sukini dijual di pasar-pasar dengan radius paling jauh 30 km
untuk menghindari biaya transportasi yang tinggi yang dapat mengakibatkan menurunnya
keuntungan. Harga jual kerupuk mentah per kilogram adalah Rp.10.000 sedangkan
kerupuk goreng dijual dengan harga Rp.70 per buah. Pembayaran untuk kerupuk mentah
dilakukan secara tunai sedangkan untuk kerupuk goreng secara kredit atau dibayar setelah
kerupuk laku dijual (konsinyasi). Keuntungan yang diperoleh dari setiap satu ton bahan
baku adalah rata–rata Rp. 3.390.000.
86
6. Pembelajaran, Potensi dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
•
•
•
•
Suku bunga yang rendah dan kompetitif merupakan salah satu daya tarik bagi
masyarakat untuk menggunakan jasa layanan kredit mikro.
Masyarakat masih mengharapkan pinjaman tanpa agunan/jaminan.
BKM-UPK dapat berperan efektif sebagai sumber informasi awal mengenai akses
layanan keuangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
BKM-UPK pun dapat membantu pembuatan proposal pinjaman atau hal-hal lain
yang dapat membantu proses pinjaman.
6.2. Potensi Linkage
•
Banyaknya individu peminjam PNPM Mandiri yang sudah atau akan lulus dari
PNPM Mandiri dan usahanya mengalami perkembangan tentunya membutuhkan
kredit atau pinjaman yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya. Potensi ini
bisa dimanfaatkan untuk pengembangan linkage layanan keuangan.
6.3. Tantangan Linkage
•
•
Menyebarluaskan informasi mengenai keberadaan lembaga Swamitra sebagai mitra
BKM Mitra Sejahtera.
Bagaimana membuat linkage yang sudah terjalin antara BKM Mitra Sejahtera dan
Swamitra menjadi hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak, antara
lain melibatkan BKM bukan hanya sebatas pemberi rekomendasi namun BKM
menjadi menjadi koordinator atau pelaksana dalam linkage tersebut.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
87
88
Kab. Brebes
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
BRI Cabang Brebes dan
LKM Budi Luhur, Kabupaten Brebes,
Jawa Tengah
RINGKASAN
Terjalinnya linkage antara LKM Budi Luhur dan BRI Cabang Brebes didorong oleh
tingginya permintaan dana KSM yang tidak bisa penuhi oleh LKM Budi Luhur. LKM
ini kemudian memutuskan untuk menjalin linkage dengan BRI Cabang Brebes melalui
penandatanganan nota kesepahaman kerja sama. Nota kesepahaman ini tak lepas dari
peran koordinator LKM Budi Luhur sebagai salah satu pemrakarsa, penandatangan,
maupun pelopor realisasi linkage.
Linkage keuangan ini menempatkan LKM Budi Luhur sebagai executor pengelolaan
risiko kredit atas pinjaman yang diterima dari BRI. Produk yang ditawarkan adalah
Kredit Kemitraan. Kredit ini merupakan bagian dari PKBL yang kebijakan strategisnya
ditentukan oleh Menteri BUMN. Kerja sama linkage ini sudah berlangsung dua tahap.
Tahap pertama dimulai pada 10 Juni 2011 dengan realisasi kredit 25 juta rupiah
untuk 13 individu penerima manfaat dan tahap kedua pada 8 Mei 2012 dengan
realisasi kredit 40 juta rupiah untuk 20 individu penerima manfaat. Program ini
secara khusus bertujuan untuk melayani kebutuhan kelompok atau pun perorangan
yang belum bankable atau yang belum memenuhi persyaratan bank. Ini merupakan
tahap persiapan bagi calon peminjam kelompok miskin produktif (cluster 2) agar
nantinya bisa mengakses kredit komersial (bankable). Oleh karena itu, pinjaman ini
tidak meminta jaminan tambahan. Besar pinjaman yang bisa diberikan kurang dari
5 juta rupiah.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari praktik linkage ini antara lain: (1) pentingnya
sosialisasi tentang manfaat linkage kepada para stakeholder, (2) UK sebagai unit
baru dalam BKM diyakini telah mampu mendorong debitur nonbankable menjadi
bankable, (3) peran edukasi bagi kelompok PDB oleh BKM atau LKM-UK perlu lebih
nyata, dan (4) keberadaan linkage secara nyata mendorong peningkatan skala usaha,
pendapatan, dan pengetahuan tentang sistem keuangan inklusi. Sejumlah tantangan
yang mengemuka dari linkage ini yakni tersedianya aturan main internal yang lebih
fleksibel, penguatan kelembagaan, dan kapasitas SDM pengelola BKM atau LKM-UK,
dan isu tentang keberlanjutan linkage.
90
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara BRI Cabang Brebes dan
LKM Budi Luhur Desa Kedung Uter, Kecamatan Brebes,
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah,
16 - 17 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Desa Kedung Uter
Desa Kedung Uter merupakan salah satu dari 23 kelurahan di Kecamatan Brebes yang
berbatasan wilayah dengan Desa Pagejugan di sebelah utara, Desa Sigambir di sebelah
selatan, Desa Tengki dan Kaliwlingi di sebelah barat dan Kelurahan Pasar Batang di
sebelah timur. Desa Kedung Utere terletak di dataran dengan luas area 331,87 ha dan
terbagi menjadi 3 RW dan 24 RT. Jumlah penduduknya mencapai 6.754 jiwa. Mayoritas
penduduknya adalah buruh tani, dan sisanya adalah petani tanaman pangan, nelayan,
buruh, peternak, petambak, dan lain-lain.
1.2. Profil LKM Budi Luhur
LKM Budi Luhur didirikan pada 2007 dengan modal BLM pertama sebesar 300 juta
rupiah. Modal pertama untuk PDB sebesar 78,5 juta rupiah. LKM Budi Luhur mempunyai
13 anggota dengan seorang koordinator dan seorang sekretaris. Selain Unit Pengelola
Lingkungan (UPL) dan Unit Pengelola Keuangan (UPK), strukur organisasi LKM Budi
Luhur juga mencakup Unit Kemitraan (UK) dan pendirian LKM Budi Luhur ini tercatat
dalam akta notaris Nurlailani, S.H. melalui Akta 45/Leg/2011 pada 4 April 2011.
Keberadaan LKM Budi Luhur tidak dapat dipisahkan dari kinerja koordinator LKM,
Budi Prabowo. Selain menjabat sebagai koordinator LKM Budi Luhur, ia juga menjadi
koordinator forum komunikasi BKM Kabupaten Brebes serta beberapa jabatan lain seperti
Wakil ketua forum BKM Keresidenan Pekalongan, ketua bidang kemitraan di Provinsi
Jawa Tengah. Nota kesepahaman kerja sama dengan BRI cabang Brebes ini pun tak lepas
dari peran beliau sebagai salah satu pemrakarsa, penandatangan, dan pelopor realisasi kerja
sama linkage antara LKM PNPM Mandiri Perkotaan dan BRI di Kabupaten Brebes.
Seperti semangat awalnya bahwa sebagian (diperkirakan 20%) BLM dialokasikan
sebagai modal dana bergulir untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di cluster 2
melalui kegiatan ekonomi produktif. Namun, banyaknya permintaan masyarakat untuk
mendukung usaha produktif mereka belum dapat terlayani oleh LKM-UPK akibat
sumber dana dari perguliran belum mencukupi serta belum adanya tambahan dari BLM.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
91
Permintaan masyarakat akan dana bergulir tersebut diadministrasikan dalam daftar tunggu.
Karena itulah, keberlanjutan dana bergulir ini perlu mendapat dukungan sumber dana lain
dengan cara bermitra dengan lembaga penyedia linkage baik dengan lembaga perbankan
maupun nonbank.
Berkaitan dengan alasan tersebut di atas, LKM memandang perlu untuk membangun
unit baru yang disebut Unit Kemitraan (UK) yang kemudian terbentuk pada 4 Februari
2011 dengan melegitimasi pengelola UK melalui SK LKM Budi Luhur No 46/SK/II/
LKM-BDL/2011 yang ditandangani oleh koordinator LKM dan Kepala Desa Kedung
Uter. Saat studi dilakukan secara verbal tugas UK adalah mendata, mencatat calon/
potensial debiturnya yang berasal dari UK maupun UPK. Untuk debitur UK, tugas UK
adalah mengadminitrasikan transakasi linkage (saat ini masih dengan BRI), monitoring/
pembinaan, melakukan penagihan jika diperlukan. Untuk peran sebagai marketing
maupun peran yang lebih strategis, masih dipegang koordinator LKM.
Sampai saat ini UK belum mempunyai manual sehingga operasional UK masih
mengikuti model UPK meski tanggung jawabnya secara mandiri. Dengan demikian, sejak
4 Februari 2011, UK adalah unit yang dirancang untuk dapat mandiri guna melayani
kebutuhan masyarakat yang naik kelas dari cluster 2 (debitur/penerima manfaat UPK) ke
cluster 3 (debitur UK). Bentuk pertanggungjawaban dana bergulir yang dikelola LKM Budi
Luhur tercermin pada neraca dan laba rugi baik UPK, UK, maupun secara konsolidasi
keduanya. Hasil kinerja keuangan per 30 April 2012 adalah baki debit PDB UPK sebesar
100, 9 juta rupiah (54 KSM) dengan 448 individu penerima manfaat) dan baki debet
PDB UK sebesar 5,6 juta rupiah (1 KSM dengan 13 individu penerima manfaat). Dengan
demikian, total PDB secara konsolisasi mencapai 106,5 juta rupiah (55 KSM dengan 561
individu penerima manfaat).
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
Bank Rakyat Indonesia atau yang disingkat BRI adalah bank milik pemerintah yang
didirikan oleh Raden Aria Wiriatmaja pada 1896 di Purwekerto, Jawa Tengah dengan
nama DePurwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Tujuannya saat
itu adalah untuk mengelola dana masjid untuk disalurkan kepada masyarakat dengan
cara yang sederhana. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah RI mengubah
nama lembaga keuangan ini menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 22 Februari 1946.
BRI kemudian menjadi bank pertama yang dimiliki pemerintah Indonesia dan berperan
aktif dalam membangun ekonomi kerakyatan.
Sejak pendiriannya, BRI tetap memegang fokus pada pemberdayaan ekonomi
kerakyatan. Segmen utama BRI ialah bisnis UMKM. BRI mencatatkan 30% sahamnya
untuk menjadi perusahaan terbuka di BEJ pada 10 November 2003. Hingga 31 Desember
92
2008, Pemerintah memegang kendali 56.79% saham BRI, sedangkan sisanya dimiliki oleh
pemodal.
BRI memiliki 5.400 unit kerja, di mana sejumlah 400 unit merupakan satuan kerja
yang baru dibentuk pada 2008. Sebanyak 3.879 unit saling terhubung melalui online
system. Unit kerja BRI dapat diuraikan sebagai berikut : kantor wilayah sebanyak 14 unit,
kantor cabang dalam negeri sebanyak 372, kantor cabang khusus sebanyak 1 unit, kantor
cabang luar negeri sebanyak 3 unit dan kantor cabang pembantu sebanyak 337 unit. Selain
itu, layanan BRI juga didukung oleh 179 kantor kas, 4.417 BRI Unit, 76 Pos Pelayanan
Desa, 45 kantor pelayanan Syariah dan 1.798 ATM. Salah satu kantor cabang BRI adalah
kantor cabang Brebes berlokasi di Jl. Dr. Wahidinn No. 1 Brebes.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Seperti layaknya bank umum nasional, BRI menawarkan produk dana pihak ketiga yang
berupa tabungan, giro dan deposito (baik berjangka maupun sertifikat deposito). Produk
Syariah juga termasuk dalam dana pihak ketiga (DPK), yaitu berupa giro wadiah, tabungan
mudharabah dan deposito berjangka mudharabah.
Secara umum profil bisnis BRI mempunyai lima kategori yaitu bisnis mikro,
kecil dan menengah, bisnis konsumer, bisnis komersial, bisnis kelembagaan dan bisnis
internasional dan treasury. Porsi yang terbesar dari portofolio BRI adalah bisnis UMKM
dengan porsi kurang lebih 81%. Bisnis ini merupakan kekuatan utama BRI. Bahkan, BRI
telah memegang peranan penting sebagai konsultan microfinance internasional. Untuk
terus mempertahankan posisi utama dalam segmen ini, BRI menempuh strategi perluasan
jangkauan pelayanan nasabah hingga ke pelosok negeri serta penetrasi ke kantong-kantong
wilayah berpenduduk padat di perkotaan.
Salah satu produk yang ditawarkan di luar produk bisnis di atas adalah produk
linkage. Alasan mengapa produk linkage ini tidak terdapat dalam fitur umum BRI karena
sumber dana kredit linkage ini berasal dari sebagian laba setelah penyisihan pajak 2%.12
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Terjalinnya linkage antara LKM Budi Luhur dan BRI Cabang Brebes terjadi karena
adanya permintaan dana dari para KSM yang tidak bisa dilayani dengan segera oleh UPK
LKM Budi Luhur karena keterbatasan dana di UPK. Akibatnya, LKM berusaha mencari
sumber dana dari luar dengan cara menjalin linkage dengan BRI cabang Brebes.
12
Peraturan MENEG BUMN No. PER-05/MBU/2007
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
93
3.2. Proses Terjalinya Linkage
Kerja sama linkage ini merupakan sebuah program yang dicanangkan oleh PNPM Perkotaan
sejak sebelum 2010 yang terus disosialisasikan oleh team korkot. Informasi tersebut terus
digulirkan saat pembahasan bersama KBP Kabupaten Brebes dan akhirnya melahirkan
surat permohonan kemitraan kepada Direktur Utama BRI di Jakarta. Surat permohonan
ini ditandatangi oleh Ketua LKM, Ir. Masruri, ST, MT dan diketahui oleh Bupati Brebes
(a.n. Agung Widiyantoro, SH, MSi.) dengan nomor surat 003/KBP/I/11 tertanggal
Januari 2010. Berikut ini kronologi proses dan rententan kegiatan yang dilakukan guna
merealisasikan kerja sama tersebut.
• Pada Oktober 2010, Bapak Bupati mewakili Pemda Brebes bertemu dengan pimpinan
BRI Pusat dan jajaran komisaris.
• Pada November – Desember 2010, dilakukan komunikasi hasil pertemuan dan
rencana tindak lanjut pada pihak terkait termasuk KBP dan PNPM Mandiri
• Pada Desember 2010 – Januari 2011 dimulai penyusunan dan pengajuan proposal
linkage ke BRI Pusat oleh KBP & PNPM Mandiri
• Pada Januari 2011, sosialisasi linkage dari BRI Cabang Brebes kepada BKM di
Kabupaten Brebes.
• Pada Januari 2011, penyusunan nota kesepahaman linkage dana bergulir antara
Kepala BRI Cabang Brebes dan Koordinator Forum Komunikasi BKM Cabang
Brebes.
• Pada Februari 2011 rapat koordinasi dan sosialisasi antarpemangku kepentingan.
• Pada Juni 2011realisasi kredit linkage I (10 Juni 2011) berdasarkan permohonan dari
LKM dan pelatihan motivasi dan teknis pembukuan program linkage oleh BRI pada
16 Juni 2012.
4. Pelaksanaan Linkage
4.1. Model dan Keberlanjutan Linkage
Model linkage yang terjalin antara LKM UK Budi Luhur Desa Brebes dan BRI Cabang
Brebes adalah sebuah model executing, di mana LKM UK menjadi pelaksana dan
bertanggung jawab atas risiko kredit pinjaman linkage yang diterima dari BRI. Karena itu,
LKM UK diperkenankan untuk menjual dana linkage tersebut sesuai perhitungan internal
LKM UK agar bisa mendapatkan laba yang cukup untuk membiayai keberlanjutan
dan pengembangan usahanya. Keberlanjutan sumber dana linkage dengan BRI sudah
ditentukan dengan Permen. Karena itu agar linkage ini berdampak luas, diperlukan peran
aktif para pelaku dalam menindaklanjuti program ini.
94
4.2. Produk Linkage
Produk yang sedang dinikmati oleh kelompok masyarakat PNPM Mandiri Perkotaan
melalui LKM UK Budi Luhur adalah produk Kredit Kemitraan. Kredit ini merupakan
bagian dari PKBL yang kebijakan strategisnya ditentukan oleh Menteri BUMN. Sumber
dana program ini berasal dari 2% laba yang disisihkan dari masing-masing BUMN dengan
tingkat suku bunga 6% per tahun atau 0,5% per bulan.
Menurut Kepala BRI Cabang Brebes, Dwi Kusmaryoto, BRI menyediakan pagu
Kredit Kemitraan ini sebesar 1,6 miliar rupiah. Jika dana tersebut tidak habis terserap
oleh BRI Cabang Brebes, sisa pagu yang ada akan diberikan kepada cabang lain. Kredit
Kemitraan merupakan suatu program yang dirancang untuk mendanai kelompokkelompok miskin produktif yang terkendala untuk mengakses pembiayaan yang bankable.
Dengan demikian, Kredit Kemitraan ini pada prinsipnya diberikan tanpa jaminan/agunan
tambahan secara fisik.
Pencairan Kredit Kemitraan pertama pada 10 Juni 2011 diberikan kepada LKM Budi
Luhur Desa Kedung Uter berdasarkan pengajuan proposal Kredit Kemitraan dari LKM/
BKM dengan plafon kredit 25 juta rupiah untuk 13 orang anggota. Proposal tersebut
melampirkan pula surat rekomendasi LKM tentang kelayakan 13 calon debitur ; indentitas
anggota kelompok dan jumlah kredit yang diminta; surat kuasa dari anggota kelompok
kepada LKM/koordinator dan anggota LKM.
Realisasi Kredit Kemitraan dengan surat pengakuan hutang (SPH) No. 164-ADK/
SPH/06/2011 mencapai 25 juta rupiah untuk jangka waktu 10 bulan dan angsuran
bulanan dengan tingkat suku bunga 6% per tahun. Kredit kemitraan ini melibatkan BRI
Cabang Brebes sebagai kreditur dan Budi Prabowo dan Sumisro dengan jaminan tambahan
berupa sertifikat tanah tambak SHM no 721 (tidak mengikat/jaminan moral).
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
5.1. Individu Penerima Manfaat Linkage Pertama
a.
Profil Usaha Bapak Rintab
Bapak Rintab adalah pengusaha kios rumahan yang beralamat di RT 6 RW 1 Desa Kedung
Uter. Usahanya dibantu oleh istrinya. Barang dagangan beraneka ragam, seperti makanan
kecil, tepung, beras dan sayuran. Sebelum memulai usaha ini, Bapak Rintab membuka
usaha warung makan yang dirintis sejak 1995 dengan modal awal 500 juta rupiah. Kondisi
usahanya amat bergantung pada musim tanam bawang. Bila musim bawang tiba, warungnya
ramai dikunjungi orang. Meski demikian, keadaan ini hanya berlangsung selama satu
bulan. Karena itu, pada 2007 Bapak Rintab memutuskan untuk berganti usaha dengan
membuka kios kelontong termasuk sayuran. Semula omzet usahanya mencapai 500 ribu
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
95
per hari dengan keuntungan bersih 20-30 ribu rupiah. Dengan tambahan modal baru dari
BKM UPK, UK dan BRI, omzetnya mencapai 2 juta per hari dengan keuntungan bersih
100 ribu per hari.
b.
Sejarah Pinjaman dari LKM UPK-UK/BRI dan Bank Lain
Untuk mendukung perkembangan usahanya, Bapak Rintab memperoleh pembiayaan dari
LKM UPK melalui tawaran dari Ketua UPK pada 2008 dengan besar pinjamam 500 ribu
rupiah. Pinjaman kedua sebesar 600 ribu rupiah diperoleh pada 2009 dan pinjaman ketiga
sebesar 700 ribu rupiah diperoleh pada 2010. Semua pinjaman tersebut diberikan UPK
untuk jangka waktu 10 bulan, 10 kali angsuran, dan tingkat suku bunga 1,5% flat per
bulan.
Pada saat dana Kredit Kemitraan cair pada September 2011, Bapak Rintab memperoleh
tambahan fasilitas pinjaman dari BKM UK sebesar 2 juta rupiah untuk jangka waktu 12
bulan, 12 kali angsuran dan tingkat suku bunga 2% per bulan flat. Semua fasilitas PDB
dari BKM UPK maupun UK Budi Luhur digunakan untuk menambah modal kerja.
Selain pinjaman dari BKM UPK, pada 2008 Bapak Rintab memperoleh pinjaman
pertama dari BRI sebesar 20 juta rupiah yang digunakan untuk membeli motor Tosa
seharga 20 juta rupiah untuk mendukung mobilisasi usahanya. Pinjaman kedua sebesar 20
juta rupiah diperolehnya untuk membeli sepeda motor Mega Pro seharga 20,5 juta rupiah.
Bapak Rintab berharap bisa menambah pinjaman baik dari BKM UK maupun BRI untuk
persediaan barang dagangan.
5.2. Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a.
Profil Usaha Ibu Umayah
Ibu Umayah adalah pengusaha kayu bakar yang menggunakan halaman rumahnya sebagai
lokasi usahanya. Ia menetap di RT 3 RW 3. Usahanya dikelola oleh suaminya, Bapak
Abdul Kolik, seorang pensiunan perangkat desa dengan jabatan Kepala Urusan Kesra Desa
Kedung Uter. Usaha ini dikelola sejak 1997. Perdagangan kayu bakar ini ditekuni karena
sebagian besar masyarakat masih membutuhkan kayu bakar untuk keperluan rumah
tangga. Bahan baku kayu bakar berasal dari sisa penggergajian dari daerah Kecamatan
Bumi Ayu dan Paguyang. Selain itu, ini merupakan satu-satunya usaha kayu bakar yang
ada di Desa Kedung Uter. Usaha ini dimulai dengan omzet awal sebesar 400 ribu rupiah
untuk 1 minibus colt dengan laba bersih rata-rata mencapai 300 ribu rupiah.
b.
Sejarah Pinjaman dari LKM UPK – UK/BRI
Ibu Umayah memperoleh pinjaman pertama sebesar 500 ribu rupiah dari LKM UPK
pada 2008. Pinjaman kedua diperoleh pada 2009 sebesar 600 ribu rupiah dan pinjaman
96
ketiga 1 juta rupiah. Semua dana pinjaman tersebut dimanfaatkan untuk modal pembelian
persediaan kayu bakar. Tingkat bunga pinjaman yang diterima sebesar 1,5% flat per bulan
dengan jangka waktu 10 bulan.
Pinjaman ketiga diperoleh dari LKM UK sebesar 2 juta rupiah pada 2011 dengan
bunga 2% per bulan untuk jangka waktu 12 bulan. Sebagian besar atau 1,2 juta rupiah dari
pinjaman tersebut dimanfaatkan untuk menambah modal kerja usaha, sedangkan sisanya
digunakan untuk membiayai usaha bawang merah dengan luas lahan 2.500 m2
5.3. Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a.
Profil Usaha Bapak Jarodin
Bapak Jarodin beralamat di RT 03 RW 03. Usaha yang ditekuninya adalah mencari dan
berdagang ikan belanak, udang, dan kepiting laut. Dalam mengelola usahanya, ia dibantu
oleh istrinya. Istrinyalah yang menjual ikan dengan cara berkeliling. Selain didapat dari
jualan keliling, omset usahanya juga diperoleh dari pesanan dari daerah sekitar.
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK – UK/BRI
Pinjaman pertama diperoleh dari LKM UPK pada 2008 sebesar 500 ribu rupiah. Pinjaman
kedua diperoleh 1 juta rupiah pada 2009 dan pinjaman ketiga 1 juta rupiah pada 2010.
Ketiga pinjaman tersebut untuk jangka waktu pinjaman 10 bulan dengan tingkat suku
bunga 1,5% per bulan flat. Pinjaman selanjutnya dilakukan pada 2011 dan diperoleh dari
UPK UK sebesar 2 juta rupiah untuk jangka waktu pinjaman 12 bulan dan tingkat suku
bunga 2% flat per bulan.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Pembelajaran yang dipetik dari linkage yang terjalin antara PNPM Perkotaan-LKM UK
dan BRI Cabang Brebes dan pengalaman para individu penerima manfaat yang merasakan
linkage tersebut adalah sebagai berikut.
• Pentingnya peran PNPM Perkotaan melalui tim koordinator kabupaten dan
tim fasilitatornya untuk menyampaikan informasi secara terus menerus tentang
pentingnya linkage kepada para pemangku kepentingan merupakan langkah awal
yang mewujudkan linkage ini.
• UK sebagai unit baru di dalam LKM beserta pengembangannya diyakini mampu
memecahkan kesenjangan pada masa transisi dari debitur yang nonbankable (cluster
2) menjadi bankable melalui pemberian fasilitas yang lebih besar dari 2 juta rupiah.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
97
•
•
BKM atau LKM-UK dalam menjalankan fungsi intermediary (penghubung) antara
individu penerima manfaat dan lembaga mitra bank/nonbank dituntut agar lebih
besar perannya dalam mengedukasi para kelompok PDB agar benar-benar siap jika
diperlukan.
Keberadaan linkage dapat dirasakan dampaknya oleh individu penerima manfaat
dalam bentuk peningkatan skala usaha, pendapatan, dan pengetahuan tentang sistem
keuangan inklusi.
6.2. Tantangan Linkage
Walaupun kerja sama linkage ini telah menghasilkan suatu sistem yang lebih formal di
antara pelaku di tingkat provinsi maupun kota, berikut ini beberapa tantangan yang masih
harus dipecahkan.
• Linkage yang terjalin antara BRI Cabang Brebes dan LKM UK Budi Luhur Desa
Kedung Uter diharapkan bisa melahirkan sebuah aturan main internal yang lebih
fleksibel, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas SDM dalam menjawab
tantangan keberlanjutan PDB, dan pengembangan kerjasama linkage yang lebih luas.
• Bagi debitur, tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan keberlanjutan
usahanya karena LKM UK telah dipersiapkan untuk memfasilitasi keberlanjutan dan
pengembangan usaha pada kelompok dan individu penerima manfaat.
98
Kab. Pati
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
PD BPR BKK Pati Kota dan BKM UPK
Ngesti Rahayu, Kabupaten Pati,
Jawa Tengah
RINGKASAN
Linkage antara PD BPR BKK Pati Kota dan BKM UPK Ngesti Rahayu berawal dari
banyaknya daftar tunggu permintaan PDB yang tidak dapat dipenuhi UPK karena
keterbatasan dana. Keterbatasan dana ini dipengaruhi oleh dua faktor yakni belum
tersedianya BLM yang mencukupi dan belum berkembangnya modal UPK. Keadaan
ini membuat BKM berupaya mencari sumber dana tambahan dengan menjalin linkage
dengan lembaga mitra agar dapat mengakses langsung layanan keuangan baik dari
bank maupun nonbank.
Model linkage yang diterapkan dalam kerja sama antara BKM UPK Ngesti Rahayu
dan PD BPR BKK Pati Kidul adalah model executing di mana BKM UPK bertindak
sebagai pelaksana dan pengelola dana pinjaman yang disediakan oleh PD BPR BKK
Pati Kidul. Sumber dana linkage ini berasal dari dana program pemerintah daerah
melalui Dinas Koperasi atau dinas lain. Dengan linkage ini, UPK dapat menyediakan
dana murah bagi masyarakat setempat dengan selisih bunga dari bank kepada individu
penerima manfaat melalui kelompok. Meski dana tambahan dari pemerintah daerah
tidak lagi tersedia, fasilitas pinjaman ini masih terus berjalan dan masih dapat
dinikmati anggota kelompok KSM di BKM UPK Ngesti Rahayu.
Pembelajaran yang didapat dari linkage ini adalah kerja sama dan komitmen pengurus
BKM UPK sangat penting dan mempengaruhi keberhasilan linkage. Selain itu, linkage
ini juga menjadi sumber pembelajaran tidak hanya bagi BPR dan BKM UPK, tapi juga
bagi kelompok dan anggota masyarakat untuk mendorong peningkatan skala usaha,
pendapatan, maupun pengetahuan mereka tentang sistem keuangan inklusi. Meski
demikian, perluasan, pengembangan dan keberlanjutan linkage yang tetap berpihak
pada masyarakat kecil menjadi tantangan utama dalam linkage ini. Tantangan lain
adalah upaya untuk mencari dan mewujudkan peluang baru untuk membangun
linkage dengan lembaga lain dalam rangka mencari sumber dana baru bagi kelompok
atau anggota masyarakat yang membutuhkan pinjaman.
100
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara PD BPR BKK Pati Kota dan
BKM UPK Ngesti Rahayu Kelurahan Pati Kidul, Kecamatan Pati,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah
9 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kelurahan Pati Kidul
Kelurahan Pati Kidul adalah salah satu dari 21 desa/kelurahan di Kecamatan Pati,
Kabupaten Pati. Kelurahan ini merupakan dataran rendah dengan luas wilayah 67 ha dan
berbatas dengan Kelurahan Pati Lor di sebalah utara, Desa Plangitan di sebelah barat,
Desa Blaru dan Desa Plangitan di sebelah selatan dan Kelurahan Pati Wetan di sebelah
timur. Selain itu, Kelurahan Pati Kidul terdiri dari lima dukuh atau rukun warga. Jumlah
penduduknya 7.442 jiwa, 52% adalah perempuan dan 69% penduduknya berada pada
usia produktif. Mata pencaharian utama adalah pegawai negeri (40 %) dan sisanya pegawai
swasta, pedagang, dan PKL. Kelurahan Pati Kidul terletak di tengah kota Pati sehingga
mudah dalam akses infrastruktur ekonomi.
1.2. Profil BKM UPK Ngesti Rahayu
BKM UPK ini berdiri pada 16 November 2007 dan dikuatkan melalui akta Notaris PPAT
Mirah Setyanti pada 30 November 2007. Struktur pengelola BKM UPK ini terdiri atas
seorang koordinator dan dibantu oleh sembilan orang anggota yang semuanya merupakan
relawan. Sebagaimana lazimnya BKM di PNPM Perkotaan, dalam menjalankan
organisasinya BKM ini juga dilengkapi dengan UPL, UPS dan UPK. Kegiatan operasional
UPK berada di kantor kelurahan yang pelaksanaannya tergantung dengan situasi.
Pengelola PDB ini adalah ketua, kasir, dan seorang pencatat. Sesuai laporan keuangan per
30 April 2012, aset totalnya mencapai 113, 9 juta di mana 58% berupa PDB yang sedang
dinikmati oleh 19 KSM atau 123 individu pemanfaat yang semuanya berada pada kategori
kolektibilitas satu (lancar tanpa tunggakan).
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
101
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
PD BPR BKK Pati Kota mempunyai 19 kantor cabang yang tersebar di Kabupaten Pati
dengan kantor pusatnya di Jl. Pemuda No 296 Pati. PD BPR BKK Pati Kidul dipimpin
oleh seorang direktur utama dan dibantu oleh seorang direktur yang lain. Total stafnya
mencapai 273 orang dengan 44 di antaranya berada di kantor pusat.
Total aset BPR pada 31 Mei 2012 mencapai 119 miliar di mana 78%-nya berupa
kredit kepada 10.092 debitur dengan besar kredit antara 500 ribu sampai 250 juta rupiah.
BMPK mencapai lebih dari 1 miliar rupiah. Berdasarkan pemanfaatannya, 30% kredit
untuk perdagangan, 40% untuk konsumsi, 20 % untuk pertanian dan peternakan, dan
20 % lainnya.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Seperti umumnya produk utama yang dimiliki di BPR adalah tabungan seperti Tamades,
deposito, dan kredit. Jenis kredit yang dikembangkan berupa kredit UKM, pertanian,
perdagangan, pegawai, jasa, pensiunan dan SMS dengan sistem pembayaran bulanan dan
musiman.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Timbulnya linkage antara PD BPR BKK Pati Kota dan BKM Ngesti Rahayu didorong
oleh faktor banyaknya daftar tunggu permintaan PDB yang tidak dapat dipenuhi karena
keterbatasan dana. Keterbatasan sumber dana ini dipicu oleh dua hal yakni belum
tersedianya BLM yang mencukupi dan belum berkembangnya modal UPK. Keadaan
ini membuat BKM berupaya mencari dana tambahan dengan menjalin linkage dengan
lembaga mitra agar dapat mengakses langsung layanan keuangan baik dari bank maupun
lembaga nonbank.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
BKM UPK Ngesti Rahayu mengetahui adanya dana kredit murah yang dapat diakses dari
program pemerintah daerah. Dana tersebut harus diakses melalui PD BPR BKK Pati Kota.
Mengingat ketua BKM UPK Ngesti Rahayu adalah pegawai Dinas Koperasi, proses linkage
pun menjadi lebih mudah dilakukan. Hal ini karena sumber dana tersebut disediakan oleh
Dinas Koperasi.
102
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin adalah model executing di mana UPK Ngesti Rahayu, bertindak
sebagai pelaksana atas dana yang diterima dari BPR BKK. Program ini telah berjalan sejak
2003 hingga 2010. Fasilitas yang hingga kini masih dinikmati oleh anggota kelompok
KSM di BKM UPK Ngesti Rahayu berasal dari sumber dana pada 2010 yang masih tersisa.
Program ini saat ini sudah tidak diperpanjang lagi.
4.2. Produk Linkage
Produk linkage yang sedang dinikmati oleh anggota BKM UPK Ngesti Rahayu adalah
produk kredit/pinjaman khusus program pemerintah daerah yang disediakan melalui
dinas-dinas di lingkungan Pemda Kabupaten Pati dan penyalurannya dilakukan melalui
PD BPR BKK Pati Kota. Syarat pengajuan kredit adalah dengan mengajukan proposal
atas nama kelompok yang disertai jaminan tambahan atau agunan sebagai barang jaminan.
Pengajuan kredit dana bergulir dapat disertai dengan surat rekomendasi dari camat
setempat.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
5.1. Profil Individu Penerima Manfaat Linkage Pertama
a. Profil Usaha Ibu Aring
Ibu Aring (34 tahun) berpendidikan SLTA dan bertempat tinggal di RT03/RW01 Kauman,
Pati Kidul. Ia tinggal bersama suami yang bekerja sebagai karyawan pabrik Kacang Garuda
bersama dua orang anaknya. Sehari-harinya ia berjualan semanggi dan makanan seperti
asem-asem, bothok, pepes dan lain-lain. Usaha ini telah dimulai sejak 2004 dengan modal
pemberian dari ibunya. Waktu berjualan dari Senin hingga Sabtu sejak pukul 11:30 sampai
dengan pukul 14:00. Ia membuka usaha di lahan saudaranya yang berada dekat jalan.
b. Sejarah Pinjaman dari UPK
Ibu Aring adalah ketua kelompok KSM Pandan Wangi yang beranggotakan empat orang.
Semuanya tinggal berdekatan dan dalam RT yang sama. Rembug kelompok dilakukan
sebulan sekali saat pembayaran angsuran. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa Ketua RT
ketika PDB mulai diperkenalkan di Kelurahan Pati Kidul.
Pada 2009 ia menerima pinjaman pertama dari UPK sebesar 500 ribu rupiah dan
digunakan untuk membeli peralatan dan tempat berjualan. Dalam sehari omzet hasil
penjualannya mencapai sekitar 100 ribu rupiah sehari dengan keuntungan bersih 30 ribu
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
103
rupiah. Pada 2010, ia menerima pinjaman kedua sebesar 750 ribu rupiah yang digunakan
untuk membeli persediaan bahan menghadapi saat lebaran. Dalam sehari omzet hasil
penjualannya meningkat hingga 250 ribu sehari dengan keuntungan bersih yang didapat
menjadi 50 ribu rupiah Pada pinjaman ketiga ia menerima sebesar satu juta rupiah
yang digunakan untuk renovasi tempat usaha serta menambah bahan dagangan. Omzet
penjualannya pun meningkat menjadi 600-750 ribu per hari dengan laba bersih mencapai
200 ribu per hari. Pinjaman dari UPK tersebut diangsur selama 10 bulan dengan tingkat
suku bunga 1,5 % flat per bulan.
Pada saat pinjaman ketiga dilakukan, ia juga meminjam dana dari PKK RT sebesar
Rp1.650.000 yang diangsur lima kali selama 5 bulan dengan bunga 1% per bulan. Dana
ini ia gunakan untuk membeli gerobag dorong. Ia berencana untuk mengajukan pinjaman
sebesar lima juta rupiah untuk membeli etalase dari kaca-alumunium dan untuk menyewa
lokasi usaha.
5.2. Profil Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a. Profil Usaha Ibu Sri Hayati
Ibu Sri Hayati berlatar belakang pendidikan SLTA dan bertempat tinggal di RT01/
RW03 Kelurahan Pati Kidul. Ia tinggal bersama suami, anak dan seorang cucu. Usaha
yang ditekuninya adalah membuat dan menjual kue dan nasi bungkus seperti nasi kucing,
nasi kuning, nasi rames, tahu bacem, telur bacem, onde-onde, sus, dan lemper. Ia menjual
daganganya melalui sistem konsinyasi dengan cara menitipkanya di Toko Kue Luwes,
kantin Rumah Sakit Keluarga Sehat Hopital dan beberapa penjual atau bakul tenongan.
Usaha ini dilakukan setiap hari.
Harga barang dagangannya berkisar dari Rp1.200 hingga Rp3.000. Rata-rata omzet
penjualannya mencapai 600 ribu rupiah per hari dengan laba bersih bisa mencapai 300
ribu per hari. Selain usaha rutin, ia juga menerima pesanan katering untuk pesta khitanan,
aqikah dan lain-lain.
b. Sejarah Pinjaman dari UPK
Ibu Sri Hayati adalah salah satu anggota kelompok KSM Melati 1 yang beranggotakan
empat orang. Semuanya tinggal berdekatan dalam lingkup RT yang sama. Rembug
kelompok dilakukan sekali sebulan saat pembayaran angsuran. Kelompok ini juga dibentuk
atas prakarsa dan masukan dari Ketua RT ketika PDB diperkenalkan di Kelurahan Pati
Kidul.
Ibu Sri mendapatkan tiga kali pinjaman dari UPK Ngesti Rahayu, masing-masing
sebesar 500 ribu rupiah pada 2009, 750 ribu rupiah pada 2010 dan satu juta rupiah pada
104
2011. Jangka waktu pembayaran semua pinjaman tersebut berlangsung selama 10 bulan
dengan 10 kali angsuran dan dikenakan bunga 1,5% per bulan. Selain karena prosedurnya
rumit, ia mengaku tidak ingin mengajukan pinjaman ke bank juga karena tidak bersedia
memberikan jaminan. Ia juga menolak meminjam ke rentenir atau yang kerap disebut
sebagai bank plecit/thithil.
Ia berharap mendapatkan hibah murni untuk membeli atau memiliki peralatan
masak (oven) yang lebih besar agar kapasitas produksinya lebih banyak sehingga waktu
produksi bisa lebih efektif. Untuk tambahan modal kerja yang lebih besar, ia yakin bisa
mendapatkan bantuan modal UPK atau lembaga lain yang tidak mempersyarakan agunan
atau bunga yang tinggi.
5.3. Profil Individu Penerima Manfaat Linkage Ketiga
a.
Profil Usaha Ibu Darti
Ibu Darti (32 tahun) berlatar belakang pendidikan SLTA dan tinggal di Rogowongso
RT02/RW02, Kelurahan Pati Kidul. Ia tinggal bersama suami dan dua orang anaknya.
Usaha yang dilakukannya adalah membuka warung kopi dan teh. Rumahnya berada
dekat dengan pasar dan para pelanggan umumnya para penjual dan pembeli yang datang
ke pasar. Usaha warung ini ditekuni sejak 2003. Dalam mengelola usahanya, ibu Darti
dibantu oleh suaminya yang juga membuka usaha penitipan sepeda dan sepeda motor
dengan penghasilan rata-rata 35 ribu rupiah per hari. Total penghasilan sehari yang didapat
dari usaha warung kopi dan teh tersebut bisa mencapai 105 ribu rupiah.
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK Ngesti Rahayu
Ibu Darti adalah salah satu dari anggota kelompok KSM Ekonomi Maya Lestari I.
Anggota kelompoknya tinggal berdekatan dalam satu RT yang sama. Rembug kelompok
dilakukan sekali sebulan saat pembayaran angsuran. Tidak berbeda dengan kelompok
lainnya, kelompok ini juga dibentuk atas prakarsa dan masukan dari Ketua RT-nya ketika
PDB diperkenalkan di Kelurahan Pati Kidul..
Ibu Darti mengaku tiga kali mengakses pinjaman dari UPK Ngesti Rahayu. Pinjaman
pertama sebesar 500 ribu rupiah pada 2009 yang digunakan untuk membeli peralatan
warung seperti termos dan gelas. Pinjaman kedua sebesar 750 ribu rupiah pada 2010 yang
digunakan untuk tambahan modal membeli sepeda motor. Dan pinjaman ketiga sebesar
satu juta pada 2011 yang digunakan untuk tambahan membeli freezer besar seharga dua
juta rupiah. Freezer ini bertujuan untuk mensuplai kebutuhan es batu bagi pedagang ikan
di sekitar pasar. Jangka waktu pinjaman ketiga adalah 10 bulan dengan 10 kali angsuran
dan dikenakan bunga 1,5% per bulan.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
105
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Berikut ini pembelajaran yang dapat dipetik dari linkage yang terjalin antara UPK Ngesti
Rahayu dan PD BPR BKK Pati Kota dan dari pengalaman para individu penerima manfaat
yang merasakan linkage.
• Linkage ini terwujud berkat kerja sama dan komitmen yang kuat dari pengurus BKM
dan UPK bersama kepala kelurahan yang menyediakan jaminan berupa sertifikat.
• Linkage ini menjadi sarana pembelajaran bagi BKM UPK sebagai lembaga penghubung
antara BPR dan kelompok masyarakat maupun anggotanya untuk mendorong
peningkatan usaha, pendapatan, dan pengetahuan tentang sistem keuangan inklusi.
• Perlunya peran aktif team fasilitator dalam menemukan informasi tentang linkage
serta mendorong agar linkage tersebut bisa terwujud secara luas.
6.2. Tantangan Linkage
Walaupun linkage ini telah menghasilkan kerja sama antara BKM UPK dan bank penyedia
pinjaman, terdapat sejumlah tantangan masa depan. Berikut ini sejumlah tantangannya.
• Perluasan dan keberlanjutan linkage yang tetap berpihak pada masyarakat
berpenghasilan rendah dan berpengetahuan terbatas, agar mereka bisa lebih
memahami sektor keuangan inklusif.
• Pengembangan linkage dengan lembaga bank lain dalam rangka memperluas linkage
dengan model executing.
• Bagi individu penerima pemanfaat, tantangan ke depan adalah bagaimana mengelola
dan mengembangkan keberlanjutan usahanya melalui akses informasi yang berkaitan
dengan sistem keuangan inklusif.
106
Kab. Brebes
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara
BRI Cabang Bumi Ayu dan
BKM UK Maju Sejahtera,
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
RINGKASAN
Linkage antara BRI Bumi Ayu dan BKM UK Maju Sejahtera menempatkan BKM
ini sebagai pelaksana dalam mengelola risiko kredit atas pinjaman yang diterima dari
BRI Cabang Bumi Ayu. Terjalinnya linkage ini dipicu oleh tingginya permintaan dana
dari para KSM yang tidak bisa dilayani dengan segera oleh UPK BKM Maju Sejahtera
karena keterbatasan sumber dana di UPK. BKM akhirnya berupaya mencari sumber
dana dari luar dengan cara menjalin linkage dengan BRI Cabang Bumi Ayu.
Model linkage yang diterapkan adalah model executing dengan BKM Unit Kemitraa
(UK) menjadi pelaksana tanggung jawab risiko kredit atas pinjaman kemitraan yang
diterima dari BRI. Karena itu, BKM UK diizinkan untuk menjual dana kemitraan
tersebut sesuai perhitungan internal BKM UK agar bisa mendapatkan laba yang cukup
untuk membiayai keberlanjutan dan pengembangan usahanya. Kerja sama linkage ini
baru berada pada tahap satu dan direalisasikan sejak 21 September 2012 dengan besar
pinjaman 25 juta rupiah untuk 13 individu penerima manfaat.
Pembelajaran yang dapat dipetik dari praktik linkage ini adalah: pertama, UK sebagai
unit baru di dalam BKM diyakini mampu memecahkan kesenjangan pada masa transisi
dari debitur yang nonbankable menjadi bankable melalui pemberian fasilitas pinjaman
di atas dua juta rupiah, kedua, BKM-UK dalam menjalankan fungsi intermediary
(penghubung) antara individu penerima manfaat dan lembaga mitra bank/nonbank
dituntut agar lebih besar perannya dalam mengedukasi para kelompok PDB, dan
ketiga, linkage dapat dirasakan dampaknya oleh penerima manfaat PNPM dalam
bentuk peningkatan skala usaha, pendapatan maupun pengetahuan tentang sistem
keuangan inklusi. Selain itu, terdapat dua tantangan utama yang perlu diantisipasi
di masa depan yakni: linkage ini diharapkan bisa melahirkan sebuah aturan main
internal yang lebih fleksibel, mendukung penguatan kelembagaan dan kapasitas SDM
dalam menjawab tantangan keberlanjutan PDB, serta mendukung perkembangan
linkage yang lebih luas.
108
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara BRI Cabang Bumi Ayu dan
BKM UK Maju Sejahtera di Desa Kali Sumur, Kecamatan Bumi Ayu,
Kabupaten Brebes
16 - 18 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Desa Kali Sumur
Desa Kali Sumur merupakan salah satu dari 15 desa/kelurahan di Kecamatan Brebes yang
berbatasan dengan Desa Kalinusu di sebelah utara, Desa Kalilangkap di sebelah selatan,
Desa Pamijen di sebelah timur, dan Desa Kalilangkap di sebelah barat. Desa ini terletak
di dataran dengan luas area 85,6 ha yang terbagi menjadi 3 RW dan 9 RT. Jumlah
penduduknya 2.609 jiwa. Mata pencaharian penduduknya adalah pegawai negeri, buruh
tani, petani, dan peternak, dan pedagang.
1.2. Profil BKM Maju Sejahtera
BKM Maju Sejahtera didirikan pada 2007 dengan modal BLM pertama sebesar 200 juta,
dari jumlah tersebut 17,5% atau 35 juta rupiahnya dialokasikan untuk kegiatan PDB.
BKM ini memiliki delapan anggota team yang dipimpin oleh seorang koordinator dan
didukung oleh seorang sekretaris. Dalam strukur organisasinya, selain memiliki UPL, UPK
BKM Budi Luhur, juga memiliki Unit Kemitraan atau UK.
Terkait linkage dengan BRI Bumi Ayu, keberadaan linkage ini tidak dapat dipisahkan
dari komitmen ketua forum BKM Kabupaten Brebes dan pimpinan BRI Bumi Ayu yang
merealisasikan nota kesepahaman kerja sama antara BKM Maju Sejahtera dan BRI Cabang
Bumi Ayu.
Banyak permintaan masyarakat belum bisa terlayani oleh BKM-UPK karena
terbatasnya sumber dana PDB. Karena itu, dukungan sumber dana lain melalui linkage
dengan lembaga bank maupun nonbank amat diperlukan. Keadaan ini telah mendorong
BKM untuk membentuk unit baru yang disebut Unit Kemitraan (UK) sejak realisasi
pinjaman dari BRI dimulai. Tugas UK adalah mendata dan mencatat calon debitur
potensial yang berasal dari UK (PS2) maupun UPK. Sedangkan untuk debitur UK, tugas
UK adalah mengadminitrasikan transakasi kerja sama (saat ini masih dengan BRI) dan
melakukan monitoring/pembinaan dan penagihan jika diperlukan. Urusan pemasaran dan
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
109
peran lebih strategis lain masih di bawah tanggung jawab koordinator BKM.
Sampai saat ini UK belum mempunyai manual sehingga operasional UK masih
mengikuti operasional UPK walaupun tanggung jawabnya secara mandiri. Dengan
demikian, mulai 21 September 2011 UK adalah unit yang dirancang untuk mandiri guna
melayani kebutuhan masyarakat yang telah ‘naik kelas’ dari kluster 2 (debitur UPK) ke
kluster 3 (debitur UK) di mana bentuk pertanggungjawaban dana bergulir yang dikelola
BKM Budi Luhur tercermin pada neraca rugi laba baik pada UPK, UK, maupun secara
konsolidasi.
Hasil kinerja keuangan per 30 April 2012 memperlihatkan baki debit PDB UPK
sebesar 119,9 juta rupiah (44 KSM dengan 385 individu penerima manfaat), sedangkan
PDB UK sebesar11,4 juta rupiah (1 KSM dengan 13 individu penerima manfaat). Dengan
demikian, total PDB secara konsolidasi mencapai 130,9 juta rupiah (45 KSM dengan 389
individu penerima manfaat).
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
Bank Rakyat Indonesia atau yang disingkat dengan BRI, adalah bank milik pemerintah
yang didirikan oleh Raden Aria Wiriatmaja pada 1896 dengan nama DePurwokertosche
Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden di Purwokerto, Jawa Tengah. Bank ini
didirikan untuk mengelola dana masjid untuk disalurkan kepada masyarakat dengan
cara sederhana. Setelah merdeka, Pemerintah RI mengubah nama lembaga keuangan ini
menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 22 Februari 1946. BRI kemudian menjadi
bank pertama yang dimiliki pemerintah dan berperan aktif dalam membangun ekonomi
kerakyatan.
Sejak pendiriannya, BRI tetap berfokus pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Segmen utama BRI ialah bisnis UMKM. BRI mencatatkan 30% sahamnya untuk
menjadi perusahaan terbuka di BEJ pada 10 November 2003. Hingga 31 Desember 2008,
Pemerintah memegang kendali 56.79% saham BRI, sedangkan sisanya dimiliki oleh
pemodal.
BRI memiliki 5.400 unit kerja, 400 di antaranya merupakan satuan kerja yang baru
dibentuk pada 2008. Sebanyak 3.879 unit saling terhubung melalui online system. Unit
kerja BRI dapat diuraikan sebagai berikut: 14 unit kantor wilayah, 372 kantor cabang
dalam negeri, 1 kantor cabang khusus, 3 kantor cabang luar negeri, dan 337 kantor
cabang pembantu. Unit kerja ini didukung oleh 179 kantor kas, 4.417 BRI Unit, 76 pos
pelayanan desa, 45 kantor pelayanan syariah dan 1.798 ATM. Salah satu kantor cabang
BRI, terdapat di Jl. Dr. Wahidinn No. 1 Brebes.
110
2.2. Produk Lembaga Mitra
BRI menawarkan produk dana pihak ketiga yang berupa tabungan, giro dan deposito (baik
berjangka maupun sertifikat deposito). Produk syariah yang termasuk dalam DPK yaitu
giro wadiah, tabungan mudharabah dan deposito berjangka mudharabah.
Secara umum profil bisnis BRI mempunyai lima kategori yaitu bisnis UMKM, bisnis
konsumer, bisnis komersial, bisnis kelembagaan dan bisnis internasional dan treasury.
Porsi terbesar dari portofolio BRI adalah pada bisnis UMKM dengan porsi kurang lebih
81%. Bisnis ini merupakan kekuatan utama BRI, bahkan BRI telah memegang peranan
penting sebagai konsultan microfinance internasional. Untuk terus mempertahankan posisi
utama dalam segmen ini, BRI menempuh strategi perluasan jangkauan pelayanan nasabah
hingga ke pelosok negeri serta penetrasi ke kantong-kantong wilayah berpenduduk padat
di perkotaan.
Salah satu produk yang ditawarkan di luar produk bisnis di atas adalah produk
linkage dengan BKM. Alasan utama mengapa produk ini tidak terdapat dalam fitur umum
BRI karena sumber dana produk kredit ini berasal dari sebagian laba (setelah potong pajak)
yang disisihkan dengan besar 2%.13
3. Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Terjalinnya linkage antara BKM Maju Sejahtera dan BRI Cabang Bumi Ayu didorong
tingginya permintaan dana dari para KSM yang tidak bisa dilayani dengan segera oleh
BKM UPK Maju Sejahtera karena keterbatasan dana. BKM akhirnya berupaya mencari
sumber dana dari luar dengan cara menjalin linkage dengan BRI Cabang Bumi Ayu.
3.2. Proses Terjadinya Linkage
Terjadinya linkage antara BKM Maju Sejahtera dan BRI Cabang Bumi Ayu tidak lepas
dari kerja sama dan komitmen semua pihak seperti ketua forum BKM Kabupaten Brebes,
team Korkot PNPM Perkotaan, Ketua KBP, Bupati Brebes, koordinator forum komunikasi
BKM, dan pihak lain yang turut mendukung pembentukan linkage ini. Proses dimulainya
linkage ini dimulai dari kunjungan Bupati Brebes kepada BRI Pusat pada Oktober 2010
hingga realisasi kredit hasil linkage ini pada 21 September 2011. Serangkaian kegiatan,
pertemuan, dan sosialisasi terus dilakukan selama proses pembantukan linkage ini hingga
realisasi kredit.
13
Peraturan MENEG BUMN No. PER-05/MBU/2007.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
111
Kerja sama linkage ini sesungguhnya sudah dicanangkan dan disosialisasikan oleh
team korkot PNPM Perkotaan sejak sebelum 2010. Informasi tersebut terus digulirkan dan
dibahas bersama KBP Kabupaten Brebes sehingga menghasilkan surat permohonan kerja
sama (linkage) kepada Direktur Utama BRI di Jakarta. Surat permohonan bernomor 003/
KBP/I/11 tertanggal Januari 2010 tersebut ditandatangi oleh ketua KBP dan diketahui
oleh Bupati Brebes.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin adalah model executing, di mana BKM UK sebagai pelaksana
bertanggung jawab atas risiko kredit dari pinjaman kemitraan yang diterima dari
BRI. Karena itu, BKM UK diizinkan untuk menjual dana kemitraan tersebut sesuai
perhitungan internal BKM UK agar bisa mendapatkan laba yang cukup untuk membiayai
keberlanjutan dan pengembangan usahanya. Keberlanjutan sumber dana linkage dengan
BRI sudah diatur dalam PERMEN. Agar linkage ini berdampak luas, diperlukan peran
aktif para pelaku dalam menindaklanjuti program ini.
4.2. Produk Linkage
Produk yang dinikmati oleh kelompok masyarakat PNPM Mandiri Perkotaan melalui
BKM UK Maju Sejahtera adalah produk Kredit Kemitraan. Kredit ini merupakan bagian
dari program PKBL yang kebijakan strategi ditentukan oleh Menteri BUMN. Sumber
dana kredit ini berasal dari 2% laba yang disisihkan dari masing-masing BUMN dan
dengan tingkat suku bunga 6% per tahun atau 0,5% per bulan. BRI Cabang Bumi Ayu
menyediakan sebesar 700 juta rupiah untuk pagu kredit ini. Jika dana ini tidak habis
terserap, sisa pagu akan diberikan ke cabang lainnya.
Kredit Kemitraan merupakan program yang dirancang untuk mendanai kelompokkelompok miskin produktif yang terkendala untuk akses pada pembiayaan yang bankable.
karena kredit ini pada prinsipnya diberikan tanpa menggunakan jaminan/agunan fisik.
Pencairan kredit yang pertama dilakukan pada 21 Sepetember 2011. Kredit diberikan
kepada BKM Maju Sejahtera berdasarkan pengajuan proposal kredit kemitraan dari LKM/
BKM dengan plafon 25 juta rupiah untuk 13 orang anggota. Di dalam proposal, terlampir
pula antara lain: surat rekomendasi BKM atas kelayakan 13 calon debitur; indentitas anggota
kelompok dan jumlah kredit yang diminta; dan surat kuasa dari anggota kelompok kepada
BKM/Koordinator dan Anggota BKM. Realisasi kredit ini disertai dengan Surat Perjanjian
Pemberian Pinjaman (SPPP) No. -/KC-VIII/09/2011 sebesar 25 juta rupiah untuk jangka
waktu 12 bulan. Pembayaran angsuran dilakukan setiap bulan dengan tingkat suku bunga
6% per tahun antara BRI Cabang Bumi Ayu sebagai kreditur dan BKM Maju Sejahtera.
112
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
5.1. Individu Penerima Manfaat Pertama
a.
Profil Usaha Ibu Siti Astuti
Ibu Siti Astuti beralamat di RT01/RW01, Desa Kali Sumur, Kecamatan Bumi Ayu,
Kabupaten Brebes. Suaminya adalah kepala dusun Dukuh Margadadi. Sebagai kepala
dusun, suaminya menerima honor setiap tiga bulan sekali yang besarnya satu juta rupiah.
Pekerjaan sampingan suaminya adalah penarik ojek dengan penghasilan antara 20 ribu
sampai 40 ribu rupiah.
Dengan modal Rp300.000 pemberian orangtuanya, Ibu Siti memulai usaha warungnya
dengan menjual kupat tahu pada 2007. Usaha warungnya telah berkembang. Tidak hanya
menjual kupat tahu, ia juga menjual nasi, kue dan gorengan serta beberapa minuman
ringan. Ia pernah meminjam 200 ribu rupiah dari bank keliling. Pinjaman tersebut harus
dikembalikan dengan cara mengansur 10 ribu per hari dengan 28 kali angsuran dan bunga
sebesar 40%. Pinjaman tersebut dinikmatinya sampai dua kali putaran. Sejak memperoleh
PDB dari UPK Maju Sejahtera, usahanya terus mengalami perkembangan sehingga saat
ini hasil penjualan setiap harinya telah mencapai 300 ribu rupiah dan keuntungan bersih
mencapai 50 ribu rupiah.
b.
Sejarah Pinjaman dari LKM UPK-UK dan BRI Cabang Bumi Ayu
Ibu Siti mendapat pinjaman pertama dari BKM UPK Maju Sejahtera sebesar 500 ribu
rupiah pada 2009. Pinjaman ini dipergunakan untuk menambah modal usaha. Omzet
penjualannya menjadi 150 ribu rupiah per hari dan laba bersih yang didapat 30 ribu.
Pada 2010 Ia menerima pinjaman kedua sebesar 1 juta rupiah yang dipergunakan untuk
membeli peralatan (meja, kursi, dispenser, dan galon). Omzet penjualan pun meningkat
menjadi 200 ribu rupiah dengan laba bersih 40 ribu rupiah per hari. Pinjaman pertama
dan kedua dari BKM UPK tersebut berjangka waktu 10 bulan dan diangsur 10 kali dengan
bunga 1,5% flat per bulan. Ia juga menerima pinjaman ketiga sebesar dua juta rupiah
dari Unit Kemitraan (UK BKM) pada September 2011. Tingkat suku bunga pinjaman ini
sebesar 1,5% flat per bulan dengan jangka waktu 12 bulan dan 12 kali angsuran.
Menjelang pinjaman berakhir, Ibu Siti Astuti berniat mengajukan tambahan fasilitas
pinjaman menjadi lima juta rupiah untuk memperbesar usahanya. Bila tidak dapat
meminjam ke BKM UK Maju Sejahtera, ia berencana mengajukan kredit langsung ke BRI
dengan jaminan sertifikat tanah milik orang tua.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
113
5.2. Individu Penerima Manfaat Kedua
a.
Profil Usaha Ibu Waipah
Ibu Waipah beralamat di RT03/RW01, Desa Kali Sumur, Kecamatan Bumi Ayu,
Kabupaten Brebes. Ia tinggal bersama suami dan seorang anaknya yang masih duduk di
bangku SMA. Suaminya bekerja sebagai penjual es kelililing dengan penghasilan bersih 25
ribu per hari. Sedangkan Ibu Waipah sendiri adalah penjual jamu gendong yang dijajakan
secara berkeliling di area RW01 Desa Kali Sumur. Pendapatan kotor yang diperolehnya
setelah dipotong dengan modal kerja mencapai 25 ribu rupiah per hari.
b.
Sejarah Pinjaman dari LKM UPK-UK dan BRI Cabang Bumi Ayu
Pinjaman pertama yang diperoleh Ibu Waipah dari BKM UPK Maju Sejahtera pada 2009
berkat bantuan ketua UPK. Besar pinjaman pertama yang diperoleh sebesar 500 ribu
rupiah. Pinjaman kedua sebesar 500 ribu rupiah pada 2010. Kedua pinjaman tersebut
diangsur selama 10 bulan dengan 10 kali angsuran dan dengan tingkat suku bunga 1,5%
per bulan secara flat. Pinjaman ketiga diperoleh dari BKM UK sebesar dua juta rupiah.
Pinjaman dari BKM UK tersebut dikenakan bunga 1,5% per bulan secara flat untuk
jangka waktu pinjaman 12 bulan dengan 12 kali angsuran. Ia berencana membuka kios es
dan makanan kecil di depan rumahnya dari dana tersebut.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Berikut ini pembelajaran yang dapat petik dari linkage dan dari pengalaman para penerima
manfaat yang merasakan hasil linkage ini:
• Pentingnya peran tim koordinator kabupaten dan tim fasilitator PNPM Perkotaan
yang terus menerus menyampaikan informasi tentang pentingnya linkage hingga
linkage ini bisa terwujud.
• UK sebagai unit baru di dalam BKM diyakini mampu memecahkan kesenjangan pada
masa transisi dari debitur yang nonbankable menjadi bankable melalui pemberian
fasilitas pinjaman di atas dua juta rupiah.
• BKM-UK dalam menjalankan fungsi intermediary (penghubung) antara individu
penerima manfaat dan lembaga mitra bank/nonbank dituntut agar lebih besat
perannya dalam mengedukasi para kelompok PDB.
• Linkage dapat dirasakan dampaknya oleh penerima manfaat dalam bentuk
peningkatan skala usaha, pendapatan maupun pengetahuan tentang sistem keuangan
inklusi.
114
6.2.Tantangan Linkage
Berikut ini beberapa tantangan yang perlu diantisipasi untuk pemecahan di masa datang:
• Linkage antara BRI Cabang Bumi Ayu dan BKM UK Maju Sejahtera diharapkan bisa
melahirkan sebuah aturan main internal yang lebih fleksibel, mendukung penguatan
kelembagaan dan kapasitas SDM dalam menghadapi tantangan keberlanjutan PDB,
serta mendorong perkembangan linkage yang lebih luas.
• Bagi debitur, tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan keberlanjutan
usahanya.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
115
116
Kab. Kebumen
Jawa Tengah
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara PD BPRBKK Kebumen dan UPK Kebumen,
Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
RINGKASAN
UPK Kecamatan Kebumen adalah UPK yang sejak 2007 sudah tidak lagi mendapatkan
dana BLM. Melalui dana ini, UPK ini terdorong melakukan terobosan baru dengan
memutuskan untuk memiliki gedung sendiri yang berlokasi di tempat strategis dan
keberadaannya dinilai cukup representatif baik di tingkat kecamatan maupun di
tingkat Kabupaten Kebumen.
Selain karena minimnya penyaluran dana dari UPK kepada penerima manfaat,
terobosan di atas juga menjadi salah satu alasan yang mendorong PD BPR BKK
Kebumen berinisiatif memberikan kepercayaannya kepada UPK Kecamatan Kebumen
untuk mengakses pembiayaan sebesar 100 juta rupiah melalui model kerja sama
linkage secara executing dengan UPK Kecamatan Kebumen sebagai pelaksana. Dengan
demikian, UPK Kecamatan Kebumen telah mendapat tanggung jawab penuh dalam
mengelola risiko kredit atas pinjaman yang diterimanya dari PD BPR BKK Kebumen.
Kinerja keuangan UPK ini per 30 April 2012 ditunjukkan dengan total aset sebesar
2,33 miliar rupiah yang meliputi dana bergulir sebesar 2,122 miliar rupiah.
Terdapat beberapa pembelajaran penting dari pengalaman praktik linkage antara PD
BPR-BKK Kebumen dan UPK Kecamatan Kebumen di antaranya akses informasi
antara UPK dengan bank telah membuat bank mempunyai persepsi positif terhadap
kinerja kelembagaan UPK, jaminan fisik yang dimiliki UPK memberi indikasi kesiapan
untuk mengelola risiko kredit secara langsung dan telah mendorong peningkatan
usaha, pendapatan, jaringan, dan lain-lain. Meski demikian masih terdapat sejumlah
tantangan linkage yang bersumber dari isu-isu internal UPK seperti (1) masalah
kejelasan status hukum UPK dan PDB; (2) masalah bagaimana mempertahankan
dan mengembangkan keberlanjutan UPK dengan tetap menjaga model usaha (business
model) yang berbasis pemberdayaan masyarakat berbasis kelompok; (3) bagaimana
memberikan inovasi produk yang sesuai pemintaan masyarakat kebutuhan; (4)
bagaimana meningkatkan kemampuan pengelolaan UPK sesuai dengan sistem
keuangan inklusi yang sudah mulai dipahami oleh sebagian masyarakat.
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri Perdesaan antara PD BPR-BKK Kebumen dan UPK
Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
14 – 15 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Kebumen
Kecamatan Kebumen adalah salah satu dari 26 kecamatan di wilayah Kabupaten Kebumen,
Provinsi Jawa Tengah dengan lima kelurahan dan 24 desa. Kecamatan ini memiliki luas
wilayah 4.693 km2, berbatasan dengan Kecamatan Aliyan di sebelah utara, Kecamatan
Kutowinangun di sebelah timur, Kecamatan Bulus Pesantren di sebelah selatan dan
Kecamatan Pejagoan di sebelah barat. Jumlah penduduknya mencapai 127.310 jiwa, lebih
dari 50 % wanita. Mata pencaharian utama penduduknya adalah petani. Sebagian adalah
PNS, buruh, pedagang, pengusaha, dan lain-lain (Podes 2011).
Kecamatan Kebumen berada dalam kota Kebumen. Letaknya yang strategis atau
dekat dengan pusat perekonomian telah membuat posisi Kecamatan Kabumen menjadi
terkoneksi dengan berbagai lembaga penyedia layanan aktifitas keuangan seperti perbankan,
BPR, serta lembaga keuangan nonbank seperti koperasi atau lembaga pembiayaan lain.
Beberapa lembaga penyedia layanan keuangan terletak tidak jauh atau hanya terpaut 2-3
km dari UPK Kecamatan Kebumen. Di antaranya adalah beberapa bank umum seperti
BRI, BNI 46, BCA, Danamon Jateng, CIMB Niaga, Mandiri, BTPN, dan SAS Kebumen,
beberapa BPR seperti PD Bank Pasar Kebumen, BKK Kebumen, Arta Mertoyudan, Dana
Mitra Sejahtera, Anugerah dan Gunung Merapi, beberapa BMT seperti Al Iksan, Alfa
Nusa, Republika, beberapa KSP seperti Nasari, Margi Utama, Arta Mulya, Bumen Maju
Bersama serta beberapa lembaga lain.
1.2. Profil UPK Kecamatan Kebumen
UPK Kecamatan Kebumen berdiri sejak 1998 dengan modal awal sebesar 101 juta rupiah.
UPK ini dikelola oleh empat orang dengan sruktur kepengurusan meliputi ketua, sekretaris,
bendahara dan petugas lapangan. Pada 2007 UPK Kecamatan Kebumen telah memiliki
kantor sendiri yang terletak di Jalan Tentara Pelajar No. 27 Kebumen. Kantor UPK Kecamatan
Kebumen juga pernah menerima kunjungan dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
(Menko Kesra) RI beserta menteri-menteri terkait pada 30 Agustus 2007.
UPK Kecamatan Kebumen masuk sebagai kategori UPK terbaik tingkat nasional. Atas
prestasi tersebut manajer UPK Kecamatan Kebumen diundang dalam acara Temu Nasional
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
119
PNPM Mandiri di Jakarta dan datang ke Istana Negara bersama para pelaku UPK terbaik
setanah air untuk menerima pengarahan dan ucapan selamat dari Presiden RI.
Kinerja keuangan per 30 April 2012 ditunjukkan dengan total aset sebesar 2,33 miliar
rupiah yang meliputi dana bergulir sebesar 2,12 miliar rupiah yang terdistribusikan pada
166 kelompok aktif (SPP 69 dan UEP 97) atau individu penerima manfaat untuk usaha
di bidang perdagangan, industri rumah tangga, peternakan, pertanian, konveksi, warung/
pedagang kaki lima. Besar PDB yang disalurkan kepada individu mulai dari satu juta
hingga 10 juta rupiah dengan tingkat suku bunga 1,5 % per bulan flat serta insentif berupa
IPTW 1,5 % per bulan dari pokok yang diberikan setiap 6 bulan.
Perguliran per bulan mencapai antara 300 hingga 400 juta rupiah yang terdiri dari
8 sampai dengan 15 kelompok dengan besar pinjaman antara satu juta sampai dengan 10
juta rupiah per anggota kelompok.
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
PD BPR–BKK merupakan salah satu BPR Perusahaan Daerah Jawa Tengah yang didirikan
pada 1971 dengan nama BKK Kebumen. Pada 1991 dengan izin usaha dari Departemen
Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan RI No. KEP.383/KM.13/1991 Tanggal 8
Oktober 1991 BKK Kebumen diubah menjadi PD BPR BKK.
Pada 20 Agustus 2008 Keputusan Gubernur BI No. 10/11/KEP.DpG/2008
menetapkan penggabungan 20 PD BPR-BKK di Kabupaten Kebumen menjadi satu
dengan kantor pusat operasional di PD BPR BKK Kebumen. Dengan demikian, PD BPR
Kebumen memiliki satu kantor pusat operasioal yang didukung oleh 19 kantor cabang.
Susunan organisasi terdiri atas dua orang anggota dewan pengawas dan tiga orang
anggota direksi yakni direktur utama, direktur umum, dan direktur pemasaran. Secara
keseluruhan, SDM di PD BPR BKK Kebumen berjumlah 243 orang yang terdiri dari 5
orang pengurus bank, 24 orang pejabat eksekutif, 150 orang pegawai tetap, dan 64 orang
pegawai kontrak.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Umumnya produk jasa yang ditawarkan oleh PD BPR BKK Kebumen tidak berbeda
dengan produk BPR pada umumnya. Berikut ini produk jasa yang dimaksud:
• Produk dana berupa tabungan dengan nama Tamades Wajib, Tamades Pelajar,
Tamades Umum, Tamades Plus, Tamades Haji, Tamades Harapan, dan deposito
berjangka.
120
•
Produk kredit seperti kredit umum/modal kerja (fasilitas pinjaman untuk membantu
pengembangan usaha kecil/mikro), kredit pegawai (fasilitas pinjaman untuk
kebutuhan konsumsi), kredit perumahan (fasilitas pinjaman untuk pembangunan
rumah untuk debitur yang berpenghasilan maksimal 2,5 juta rupiah per bulan),
kredit laptop, kredit TKI (fasilitas pinjaman untuk calon tenaga kerja yang akan
bekerja keluar negeri), kredit mitra tirta (fasilitas pinjaman untuk pembiayaan
pemasangan PDAM), kredit perangkat (fasilitas pinjaman untuk perangkat desa
di Kabupaten Kebumen), kredit lembaga (fasilitas pinjaman untuk lembaga swasta
maupun pemerintah), kredit kesejahteraan (fasilitas pinjaman untuk kesejahteraan
karyawan PD BPR BKK Kebumen) dan kredit musiman (fasilitas pinjaman untuk
perorangan tanpa angsuran).
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Pada mulanya PD BPR BKK Kebumen mendapat informasi bahwa sebagian besar dana
di UPK belum disalurkan kepada penerima manfaat. BPR pun berinisiatif memberikan
tawaran kepada UPK agar dana tersebut dititipkan dan dikelola oleh BPR. Alasan tawaran
linkage ini didorong oleh kemudahan akses yang dapat diberikan oleh BPR mengingat 20
cabang yang dimilikinya dan biaya administrasi yang relatif murah yaitu hanya sebesar
1.500 rupiah per bulan. Selain untuk memobilisasi dana masyarakat, inisiatif di atas juga
merupakan salah satu misi yang diemban oleh BPR yakni menghasilkan laba dari hasil
pengelolaan pinjaman yang sehat dan jangkauan yang luas.
Seiring dengan tujuan di atas, UPK pun perlu dipertahankan dan dikembangkan
karena banyaknya permintaan pinjaman dari masyarakat yang belum dapat dilayani atau
masih tertampung pada daftar tunggu. Selain itu, perlunya linkage dengan BPR juga
karena pertimbangan keterbatasan sumber dana yang dimiliki UPK. Beberapa sumber
dana untuk pengelolaan UPK antara lain dari (1) BLM yang sudah tidak ada lagi sejak
2007; (2) pertumbahan modal karena bagian dari laba berjalan; dan (3) pinjaman dari
lembaga keuangan yang berada diluar UPK dengan proses relatif bisa dilaksanakan dengan
harga yang terjangkau.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Berdasarkan informasi minimnya penyaluran dana oleh UPK tersebut, pada Februari
2010 BPR melakukan sosialisasi kepada UPK-UPK sekabupaten Kebumen tentang
kemungkinan kerja sama linkage yang bisa dilakukan dengan PD BPR BKK Kebumen baik
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
121
linkage di bidang penempatan dana maupun fasilitas pinjaman yang bisa diberikan baik
pada UPK maupun stafnya. Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi tersebut, pada Juni 2010
UPK mengirimkan surat permohonan kredit sebesar 200 juta rupiah kepada PD BPR
BKK Kebumen dengan jaminan sertifikat tanah No. 02014, NIB : 11.23.12.13.00419
berserta bangunan di atasnya.
Seperti ditegaskan oleh Kepala Kantor Pusat Operasional PD BPR-BKK Kebumen,
Sutrisno, pada neraca per 30 April 2012, total dana yang berhasil dihimpun oleh PD.
BPR-BKK Kebumen dari UPK-UPK di Kabupaten Kebumen telah mencapai 8,3 miliar
rupiah.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin antara UPK Kecamatan Kebumen dan PD BPR BKK
Kebumen adalah model di mana UPK Kecamatan Kebumen bertindak sebagai pelaksana
(executing) dengan tanggung jawab atas risiko kredit yang diterima dari PD BPR BKK
Kebumen. Dengan demikian, UPK dibebaskan dari beban pengembalian dana pinjaman
sesuai perhitungan internal UPK Kecamatan Kebumen dan selanjutnya bisa mendapatkan
laba yang cukup untuk membiayai keberlanjutan usahanya.
4.2. Produk Linkage
Sebelum memutuskan pemberian pinjaman pada calon debitur, bank terlebih dulu
menganalisis kemampuan calon debitur baik dari aspek karakter, kapasitas pengelolaan
usaha dan keuangan, kondisi perekonomian secara umum sehubungan dengan rencana
pembiayaan, dan permodalan yang dimilikinya. Analisis pelengkapnya adalah analisis
terhadap jaminan yang akan digunakan sebagai jalan terakhir jika pinjaman yang diberikan
menjadi bermasalah. Hal ini karena pinjaman tersebut berasal dari dana masyarakat yang
harus dipertanggungjawabkan.
Sehubungan dengan latar belakang tersebut, produk yang sedang dinikmati oleh UPK
Kecamatan Kebumen sejak September 2010 ini dinamakan Kredit Lembaga dengan pagu
sebesar 100 juta rupiah dan pengembaliannya dilakukan secara mengangsur 60 kali (60
bulan, sejak 23 September 2010 hingga 23 Agustus 2015) dengan tingkat suku bunga 1%
per bulan flat. Selanjutnya, sumber dana ini dijual kembali kepada kelompok-kelompok
masyarakat dengan bunga 1,5% serta jangka waktu 12 bulan. Selain bunga pinjaman,
biaya yang dibebankan kepada UPK adalah biaya provisi dan administrasi masing-masing
1% sekaligus dari pagu yang diberikan.
122
Sebagai jaminan atas diterimanya pinjaman ini, UPK Kecamatan Kebumen
menyerahkan jaminan harta tetap (tanah dan bangunan yang berdiri di atas tanah seluas
127 meter persegi) dengan alas hak berupa Sertifikat Hak Milik No. 02014 atas nama
Lasimin SE (Ketua UPK Kecamatan Kebumen). Harta tetap ini sesuai surat keterangan
pada akta jual belinya adalah milik UPK Kecamatan Kebumen. Agunan ini diikat dalam
dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).
4.3. Rencana ke Depan
Terkait linkage yang telah terjalin, bank akan memperluas dukungannya baik dalam
pembiayaan yang berupa penambahan pagu pinjaman terhadap lembaga UPK,
maupun pemberian kepada personal (SDM) UPK dan pemangku kepentingan UPK
Kecamatan Kebumen. Selain pinjaman tersebut, tentunya linkage juga diwujudkan
dalam pemobilisasian dana masyarakat melalui pemangku kepentingan UPK Kecamatan
Kebumen.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
Berikut adalah profil tiga orang yang sedang menerima PDB dari UPK Kecamatan
Kebumen yang sebagian sumber dananya berasal dari PD BPR-BKK Kebumen dengan
cara linkage.
5.1. Individu Penerima Manfaat Linkage Pertama
a.
Profil Usaha Ibu Warsinah
Ibu Warsinah merupakan penduduk tetap yang beralamat di Gang Sumbing RT 05 RW
2 Kutosari, Kecamatan Kebumen dan berlatar belakang pendidikan sekolah menengah
ekonomi (SME). Ia telah memilih menekuni usaha menjadi penjahit semenjak masih
remaja. Sejak itu, diakuinya usaha menjahit mengalami pasang surut. Dengan berbekal
mesin jahit tua peninggalan orangtuanya, pada 2007 ia kembali mencoba merintis usaha
menjahit dengan serius.
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK Kecamatan Kebumen
Karena terbatasnya modal untuk mengembangkan usahanya, pada Oktober 2008 Ibu
Warsinah mendapatkan dukungan PDB untuk pertama kalinya dari UPK Kecamatan
Kebumen sebesar 500 ribu rupiah dan mendapatkan laba usaha bersih yang bisa mencapai
250 ribu rupiah per bulan. Pinjaman kedua diperolehnya pada September 2009 sebesar
2 juta rupiah dan pada saat itu ia sudah mampu mempekerjakan satu orang karyawan
yang dibayar dengan borongan per potong dan laba usahanya menjadi 250 ribu rupiah
per bulan. Pinjaman ketiga sebesar 3,5 juta rupiah diperoleh pada Oktober 20010 untuk
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
123
membiayai modal kerja yaitu persediaan yang berupa paiyet, kancing, benang, retsleting
dan juga untuk menambah satu tenaga kerja lagi sebagai tukang soom serta membeli mesin
jahit baru seharga 800 ribu rupiah. Ia juga menerima hasil bersih 300 ribu rupiah per
bulan. Pinjaman keempat diperoleh pada Juli 2011 sebesar 5 juta rupiah yang digunakan
untuk membiayai supply, upah 2 orang tenaga kerja, dan pembelian mesin border (bekas)
seharga 1,5 juta rupiah dan mesin roll/obras seharga 3,5 juta rupiah. Pinjaman dari UPK
tersebut masing-masing untuk jangka waktu 12 bulan dengan tingkat suku bunga 1,5%
per bulan flat dengan IPTW 1,5% per bulan dari pokok yang diberikan setiap 6 bulan
sekali.
Saat ini, selain berencana mempunyai sebuah lemari kaca yang aman untuk barang
persediaan, salah satu cita-cita Ibu Warsinah yang ingin dicapainya adalah mendapatkan
informasi di daerah sekitar Kebumen tentang kursus atau pelatihan tentang design busana
agar nanti hasilnya akan berdampak baik pada pendapatan maupun reputasi Ibu Warsinah.
5.2. Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a.
Profil Usaha IbuTri Setiati
Ibu Tri Setiati adalah pengusaha pembuat dan penjual kue basah (lemper, dadar gulung,
dan lain-lain) dan berlatar belakang pendidikan sekolah menengah atas (SMA). Ia tinggal
di Gang Bengawan No. 47 RT 6 RW 2 Kertosari dan merupakan salah satu anggota
kelompok Bengawan II. Setiap hari ia mulai usahanya pada sekitar jam 3 pagi hingga 6
pagi, dan selanjutnya mengantarkan ke pelanggan di Kantin Pondok Pesantren, Toko Roti
Bathi, dan Swalayan Rita.
b.
Sejarah Pinjaman dari UPK Kecamatan Kebumen
Pinjaman pertama diperoleh dari UPK Kecamatan Kebumen pada 2010 sebesar 1 juta
rupiah yang digunakan untuk membeli peralatan masak dan bahan baku (tepung, telur,
gula, dan sebagainya). Pinjaman kedua diperoleh pada 2011 sebesar 2 juta rupiah. Total
hasil penjualan per minggu mencapai 1,2 juta rupiah per bulan dengan keuntungan bersih
240 ribu rupiah per bulan. Pinjaman dari UPK tersebut masing-masing untuk jangka
waktu 12 bulan, tingkat suku bunga 1,5% per bulan flat, dan IPTW 1,5% per bulan dari
pokok yang diberikan setiap 6 bulan sekali. Saat ini keinginan Ibu Tri Setiati adalah agar
bisa meningkatkan fasilitas jumlah pinjaman dari UPK sebesar 3 juta rupiah.
5.3. Individu Penerima Manfaat Linkage Ketiga
a.
Profil Usaha Bapak Tahrir
Bapak Tahrir bertempat tinggal di RT 6 RW 1 Desa Wonosari. Ia merupakan salah satu
pengusaha furniture. Usahanya dilakukan di lingkungan tempat tinggalnya dan dibantu
124
oleh dua orang tukang kayu. Peran utamanya dalam usaha ini adalah mendesign bentuk
dan memesan bahan baku kayu (jati, akasia, mahoni) dari Kecamatan Poncowinangun. Ia
adalah anggota kelompok Berdikari yang beranggotakan 5 orang.
b. Sejarah Pembiayaan dari UPK
Pinjaman yang digulirkan dari UPK Kecamatan Kebumen kepada Bapak Tahrir sudah
berlangsung delapan kali pinjaman. Pinjaman pertama pada Maret 2004 sebesar 500 ribu
rupiah. Pinjaman kedua dilakukan pada 2005 sebesar 2,5 juta rupiah. Pinjaman ketiga
dilakukan pada Agustus 2006 sebesar 3 juta rupiah. Pinjaman keempat pada September
2007 sebesar 3,5 juta rupiah. Pinjaman kelima pada Agustus 2008 sebesar 4 juta rupiah.
Pinjaman keenam dan ketujuh masing pada Agustus sebesar 5 juta rupiah pada 2009
serta 2010. Pinjaman ke delapan juga pada Agustus 2011. Pinjaman dari UPK tersebut
masing-masing untuk jangka waktu 12 bulan, tingkat suku bunga 1,5% per bulan flat,
dan IPTW 1,5% per bulan dari pokok yang diberikan setiap 6 bulan sekali. Bapak Tahrir
sedang merencanakan pengembangan khususnya untuk meubel yang terbuat dari bambu
wulung.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Beberapa hal berikut adalah pembelajaran yang dapat diambil dari model linkage yang
terjalin antara UPK Kecamatan Kebumen dan PD BPR-BKK Kebumen dan pengalaman
para individu penerima manfaat dari linkage:
• Akses informasi antara UPK dengan bank telah membuat bank mempunyai persepsi
positif terhadap kinerja kelembagaan UPK dan bank bisa menerima kehadiran UPK.
Linkage ini berlanjut pada pengembangan jaringan kerja sama yang bermuara pada
kerja sama yang saling menguntungkan termasuk dalam hal edukasi keuangan inklusif
baik untuk UPK maupun kelompok dan individu pemanfaat.
• Keberadaan jaminan fisik berupa sertifikat hak milik UPK yang diberikan kepada
PD BPR-BKK Kebumen dalam kerja sama linkage telah menempatkan UPK sebagai
pelaksana (executor) bagi bank dan hal ini merupakan langkah penting dan maju
karena mengindikasikan bahwa UPK telah siap dalam mengelola risiko kredit secara
langsung.
• Adanya fasilitas pinjaman dari perbankan telah mendorong peningkatkan usaha,
pendapatan, jaringan usaha baru, memberikan kesempatan kepada tenaga baru
maupun pembelajaran tentang bagaimana mengelola keuangan yang lebih baik bagi
individu penerima manfaat maupun kelompok terutama pada berbagi informasi.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
125
6.2. Tantangan Linkage
Meskipun telah terjalin linkage dengan model UPK sebagai pelaksana (executor), untuk
meningkatkan kerja sama yang lebih menguntungkan antara UPK dan pihak perbankan,
terdapat beberapa tantangan yang dihadapi:
• Masalah kerangka hukum dan status kepemilikan UPK yang rentan terhadap
keberlanjutannya. Ketidakjelasan hukum tentang kelembagaan UPK menyebabkan
posisi UPK menjadi rentan jika MAD mengambil keputusan tidak sesuai dengan tata
kelola bagi pengelolaan UPK.
• Masalah tentang bagaimana UPK meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan
kemampuan pengelolaan biaya dan risiko operasional di tengah mahalnya nilai
informasi yang harus ditanggung.
• Masalah tentang bagaimana mempertahankan dan mengembangkan keberlanjutan
usahanya.
126
Kab. Ngada
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Bank NTT
Cabang Bajawa dan BKM Wiu Riwu,
Kabupaten Ngada,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Terjalinnya linkage dengan Bank NTT (dulu dikenal dengan BPD NTT) pertama kali
tercetus melalui pembicaraan informal dalam rapat dengar pendapat antara Kepala
Bappeda dan DPRD Kabupaten Ngada pada 2010 yang juga dihadiri oleh pimpinan
Bank NTT Cabang Bajawa. Pembicaraan awal antara BKM Wiu Riwu dan Bank
NTT mulai dilakukan pada akhir 2010. Linkage dengan Bank NTT juga terjalin
berkat dorongan tim korkot ketika sembilan kelurahan PNPM Mandiri Perkotaan di
Kabupaten Ngada tidak menerima BLM pada 2010.
Linkage antara Bank NTT dan BKM Wiu Riwu ini adalah linkage dalam hal
pemberian kredit mikro. Kredit ini masuk dalam skema kredit serba usaha dengan
model pelayanan kredit melalui Unit Pelayanan Langsung (UPL) Mikro Bank NTT.
Linkage ini mensyaratkan dibentuknya UPL mikro yang mengelola pendataan anggota
kelompok untuk pengajuan kredit dan memantau pembayaran angsuran bulanan.
BKM Wiu Riwu lalu membentuk UPL mikro. Dari lima kelompok yang diajukan,
Bank NTT dan BKM bersama pengurus UPL mikro baru menyepakati untuk
melakukan ujicoba terhadap kelompok pertama yang terdiri dari tujuh orang penerima
kredit. Jumlah kredit yang diberikan masing-masing dua juta rupiah dengan jangka
waktu pembayaran selama 12 bulan dan tingkat bunga efektif sebesar 22% per tahun.
Terdapat sejumlah pembelajaran penting dari linkage ini. Pertama, dukungan dan
peran pemda melalui Bappeda telah membuka kesempatan linkage antara Bank NTT
dan program PNPM. Kedua, ketersediaan layanan keuangan mikro di bank daerah
telah memungkinkan kelompok binaan PNPM mengakses kredit dari bank. Ketiga,
pembentukan UPL mikro untuk pengelolaan dana linkage memberikan pengendalian
yang lebih baik dalam BKM. Terdapat pula sejumlah tantangan penting lainnya
dengan hadirnya UPL mikro, sebagai unit baru yang ada di BKM. Kehadiran UPL
mikro mensyaratkan pengaturan tambahan dalam AD/ART BKM terkait mekanisme
pelaporan kepada BKM, mekanisme penerimaan, dan mekanisme penggunaan imbalan
jasa dari Bank NTT. Tantangan lain yang dihadapi adalah pelaksanaan kerja UPL
mikro yang belum optimal sehingga terbuka kemungkinan penggabungan antara UPL
mikro dan UPK yang telah ada.
128
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara Bank NTT Cabang Bajawa dan
BKM Wiu Riwu Kelurahan Trikora, Kecamatan Bajawa,
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur
12-15 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kelurahan Trikora
Kelurahan Trikora terletak di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT.
Kelurahan ini berbatasan dengan Kelurahan Susu di sebelah utara, Kelurahan Kisanata
di sebelah selatan, Kelurahan Jawameze di sebelah barat dan Kelurahan Lebijaga dan
Kelurahan Ngedukelu di sebelah timur. Kelurahan Trikora terbagi dalam tiga lingkungan
yang terdiri dari 19 RT.
Menurut data administrasi di Kelurahan Trikora, jumlah penduduknya 2.565 jiwa
yang terdiri dari 1.188 laki-laki dan 1.377 perempuan. Mayoritas mata pencaharian
penduduknya adalah sebagai pegawai baik pegawai negeri maupun swasta dan wirausaha.
Jumlah keluarga miskin di Kelurahan Trikora adalah 133 KK dengan jumlah 1049 jiwa.
Keberadaan BLM di Kelurahan Trikora diawali pada 2006 saat pelaksanaan Program
P2KP. Sejak 2006 sampai 2010, melalui BKM Wiu Riwu Kelurahan Trikora menerima dan
mengelola dana BLM sebesar 715 juta rupiah. Namun, pada 2010 saat program PNPM
Mandiri Perkotaan mulai dilaksanakan, BKM Wiu Riwu tidak lagi menerima BLM.
Sebagai gantinya, PDB bersumber dari perguliran dana BLM yang sudah ada sebelumnya.
Baru pada 2011, BKM Wiu Riwu menerima BLM dari dana APBN-P.
1.2. Profil BKM Wiu Riwu
BKM di Kelurahan Trikora dibentuk pada 25 November 2006 dan disahkan dengan akta
notaris Emmanuel Mali, SH bernomor 273/W/2006 dengan nama BKM Wiu Riwu. Wiu
Riwu berarti saling mengatur dan saling mengerti. Terdapat 11 anggota pimpinan kolektif
BKM yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan satu orang perempuan dan dipimpin oleh
seorang koordinator.
Pada Desember 2006 BKM Wiu Riwu menetapkan pembentukan tiga unit pengelola
(UP) termasuk UPK yang dikelola tiga orang yang terdiri atas manajer, seorang kasir dan
seorang staf yang memegang pembukuan dan penagihan di UPK. BKM-UPK Wiu Riwu
memiliki ruang kerja di kantor Kelurahan Trikora. Menurut keterangan manajer UPK,
ruang kerja ini hanya dibuka sebulan sekali pada saat rapat bulanan BKM setiap tanggal 5.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
129
Hingga April 2012 secara keseluruhan BKM-UPK Wiu Riwu telah menyalurkan
alokasi BLM untuk kegiatan PDB sebesar Rp73.700.000 dan mengelola perguliran sebesar
Rp42.300.000 yang disalurkan kepada 45 KSM dengan 444 anggota. Jumlah KSM aktif
yang dilayani saat ini adalah tujuh KSM yang beranggotakan 54 orang.
Selain mengelola dana BLM, BKM Wiu Riwu dengan tiga UP-nya juga melakukan
linkage dengan beberapa dinas yaitu Dinas BLH pada 2009 untuk pembuatan pupuk
kompos dengan jumlah bantuan sebesar 90 juta rupiah dan pada 2010 untuk pemasaran
pupuk kompos dengan jumlah bantuan sebesar sembilan juta rupiah. Pada 2010, BKM
Wiu Riwu juga menerima bantuan sebesar 65 juta rupiah dari Dinas PU untuk pembuatan
jalan beton. Dalam rangka penambahan modal usaha KSM, BKM melakukan linkage
dengan Bank NTT pada 2011 dan memperoleh dana sebesar 14 juta rupiah untuk tujuh
anggota. Lembaga keuangan lain yang berlokasi tidak jauh dari BKM dan berpotensi
untuk melakukan linkage adalah BNI dan BRI.
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Bank NTT
Bank NTT adalah penyebutan singkat dari P.T. Bank NTT atau yang dulu dikenal sebagai
Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur. Bank ini didirikan berdasarkan Akta
Pendirian No. 12 tertanggal 18 Oktober 1961 dan mulai beroperasi pada 17 Juli 1962
dengan kedudukan tempat usaha di Kupang ibu kota Provinsi NTT. Pada 1963 bank ini
mengubah status hukumnya dari perseroan terbatas menjadi perusahaan daerah melalui
Peraturan Daerah Tingkat I NTT No.01/pd/DPRD-GR/1963 Tanggal 12 Maret 1963.
Namun pada 1999 status hukumnya berubah kembali dari perusahaan daerah menjadi
perseroan terbatas mengikuti Peraturan Menteri Dalam Negeri No.1 Tahun 1998 Tanggal
4 Februari 1998 tentang Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah. Perubahan tersebut
tertuang pada Peraturan Daerah Tingkat I NTT No.03 Tahun 1999 Tanggal 26 Maret
1999.
Bank NTT yang kini berstatus sebagai bank umum dengan logo Bank NTT telah
menjangkau kepulauan NTT dan memiliki dua kantor cabang utama, satu kantor cabang
khusus dengan seluruh pegawainya perempuan, 17 kantor cabang, 23 kantor cabang
pembantu, 25 kantor kas, 11 kas mobil, serta 50 unit simpan pinjam yang berada di
tingkat kecamatan.
Bank NTT Cabang Bajawa telah berdiri sejak 1990 yang awalnya merupakan cabang
pembantu Bajawa untuk wilayah kerja Ende. Sejak 2003 status cabang pembantu Ende
berubah menjadi Bank NTT Cabang Bajawa yang hingga kini dikelola oleh 27 karyawan
untuk melayani wilayah Kabupaten Ngada. Selain kantor cabang tersebut, terdapat satu
kantor cabang pembantu Aimere dan satu kantor kas yang terletak di RSUD Bajawa serta
130
tiga unit simpan pinjam desa (USPD) yang tersebar di Kecamatan Golewa, Kecamatan
Soa, dan Kecamatan Riung yang didirikan sejak Desember 2011. Tujuan dibentuknya
USPD ini adalah untuk mendekatkan diri kepada masyarakat agar mudah menabung dan
selanjutnya dapat membentuk kelompok penerima kredit.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Bank NTT memiliki produk layanan keuangan yang ditawarkan kepada masyarakat
umum. Produk tersebut terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: (1) produk dana yang berupa
deposito, giro, dan berbagai macam tabungan, (2) produk kredit, dan (3) produk jasa
layanan lain. Khusus produk kredit, Bank NTT menawarkan berbagai macam skema
kredit berupa kredit modal kerja dan investasi, kredit sindikasi, kredit konstruksi, kredit
stand by loan, kredit konsumsi, kredit KPR, garansi bank serta berbagai macam kredit
usaha mikro, kecil, dan menengah seperti kredit Bank NTT Peduli, kredit Pundi Putri,
dan Pelayanan Kredit melalui UPL mikro. Tiga skema kredit terakhir ditawarkan dengan
plafon maksimal antara 10 – 500 juta rupiah.
Produk pelayanan kredit melalui UPL mikro memiliki plafon maksimal 50 juta rupiah
per orangnya. Kredit dalam produk ini terbagi menjadi tiga macam skema, yaitu skema
usaha tani terpadu, skema usaha rumput laut, dan skema serba usaha informal. Ketiga jenis
skema kredit ini menetapkan tingkat suku bunga sebesar 22% efektif per tahun equivalen
12.3% flat dengan jangka waktu kredit paling lama adalah 12 bulan.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Linkage antara BKM Wiu Riwu dan Bank NTT Cabang Bajawa terjalin karena adanya
kebutuhan untuk memenuhi permintaan dari kelompok yang belum terlayani UPK.
Jumlah daftar tunggu KSM yang mengakses dana bergulir di BKM-UPK Wiu Riwu
Kelurahan Trikora pada 2011 sebanyak tiga KSM. Inilah yang mendorong BKM Wiu Riwu
melakukan linkage dengan Bank NTT. Selain itu, arahan tentang cara-cara membangun
chanelling dengan pihak swasta dari korkot pada saat pelatihan bagi BKM juga telah
mendorong terbentuknya linkage ini.
Dari sisi Bank NTT, linkage ini merupakan pelaksanaan dari kebijakan “Grand Target
2009-2013” yang ditetapkan sejak 2009. Salah satu targetnya adalah dapat berperan aktif
dalam program penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di Provinsi NTT melalui
pembiayaan usaha produktif pada skala mikro, kecil, dan menengah. Dari target tersebut
tercipta beberapa skema kredit antara lain adalah kredit untuk kelompok. Untuk mencapai
misi dan target kebijakannya, pimpinan Bank NTT Cabang Bajawa menegaskan bahwa
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
131
lembaganya siap dan berkomitmen untuk berperan aktif mengakomodasi keinginan
kelompok-kelompok yang mengajukan kredit sehingga dapat memenuhi target penurunan
angka kemiskinan dan pengangguran di NTT.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Linkage antara BKM Wiu Riwu dengan Bank NTT diawali dengan adanya pembicaraan
secara informal antara Kepala Bappeda Kabupaten Ngada dan pimpinan Bank NTT
Cabang Bajawa pada 2010 saat rapat dengar pendapat dengan DPRD. Penyajian tentang
upaya peningkatan ekonomi rakyat kecil dan upaya pengentasan kemiskinan oleh Bank
NTT memberikan gambaran kepada Kepala Bappeda dan juga PNPM Mandiri Perkotaan
tentang skema produk layanan keuangan yang tersedia bagi masyarakat. Kepala Bappeda
yang juga merupakan sekretaris KBP di Kabupaten Ngada menyampaikan kemungkinan
linkage atau channeling dengan pihak Bank NTT dalam salah satu pertemuan KBP. Linkage
ini juga terjalin berkat dorongan dari tim korkot agar BKM-BKM di Kabupaten Ngada
mengakses linkage dengan pihak ketiga saat sembilan kelurahan PNPM Mandiri Perkotaan
di Kabupaten Ngada tidak menerima BLM pada 2010. BKM Wiu Riwu menyambut
dorongan dari tim korkot tersebut.
Dalam rapat rutin koordinasi BKM Wiu Riwu pada 6 Desember 2010 tercetus ide
untuk bermitra dengan Bank NTT. Selanjutnya pada 15 Desember 2010 BKM Wiu
Riwu mengundang pimpinan Bank NTT Cabang Bajawa untuk menghadiri rembug
warga tahunan (RWT) 2010 di aula kantor Kelurahan Trikora. Dalam RWT tersebut
pihak Bank NTT menjelaskan tentang produk layanan keuangan dan skema produk yang
bisa diakses oleh penerima manfaat PNPM serta bentuk linkage yang dapat dijalin. Bank
NTT mensyaratkan adanya unit tersendiri yang mengelola kredit yang diberikan. Pada
pertengahan Februari 2011 BKM Wiu Riwu menindaklanjuti penawaran Bank NTT
untuk menjalin linkage, setelah menerima pelatihan tematik di bidang pengembangan
ekonomi dari pimpinan Bank NTT.
Pada 14 Februari 2011 seluruh anggota BKM Wiu Riwu bersepakat untuk
membentuk UPL mikro sebagai syarat membangun linkage dengan Bank NTT untuk
pemberian jasa kredit mikro bagi KSM. UPL mikro akan menjadi wadah untuk membantu
BKM dalam melakukan linkage dengan Bank NTT. Kesepakatan pembentukan UPL
mikro tertuang pada berita acara rembug BKM Wiu Riwu yang ditandatangani seluruh
anggota BKM. 132
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin antara BKM UPL Mikro Wiu Riwu dan Bank NTT masih
sebatas pada pemberian rekomendasi tertulis. Mengingat linkage ini baru berjalan sembilan
bulan dan masih dianggap sebagai ujicoba, hak imbalan jasa sebagai UPL Mikro Bank
NTT belum direalisasikan oleh pihak Bank NTT dan belum ada mekanisme yang
mengatur pengelolaan dan pencatatan imbalan jasa dari Bank NTT. Dengan demikian,
linkage ini belum bisa dikatakan sebagai linkage yang menempatkan BKM dengan UPL
mikronya sebagai agen atau koordinator.
4.2. Skema Produk Linkage
Produk linkage yang diperoleh merupakan produk dari layanan kredit melalui UPL mikro
dan masuk dalam skema kredit serba usaha informal berdasarkan aneka jenis usaha yang
dijalankan oleh nasabah penerima kredit. Dari lima kelompok/KSM yang diajukan, Bank
NTT, BKM dan UPL mikro kemudian bersepakat untuk memilih salah satu kelompok
sebagai ujicoba linkage. Kelompok atau KSM yang mendapat kesempatan untuk menerima
layanan kredit adalah Kelompok Anggrek yang beranggotakan delapan orang. Dari
delapan nama yang direkomendasikan tujuh di antaranya mendapat persetujuan pinjaman
dari Bank NTT dengan masing-masing mendapatkan pinjaman sebesar dua juta rupiah
sedangkan satu orang lainnya tidak lolos verifikasi karena masih memiliki pinjaman
dengan bank lain.
Suku bunga yang diberlakukan adalah 22% efektif per tahun equivalen 12.3% flat
selama 12 bulan sejak 18 Agustus 2011. Biaya yang dibebankan kepada ketujuh orang
tersebut hanyalah biaya administrasi sebesar Rp25.000 dan dipotong langsung dari nilai
kredit yang diberikan. Bank NTT menanggung biaya penjaminan sebesar Rp85.000 per
nasabah apabila nasabah meninggal. Dengan dibentuknya UPL mikro sebagai syarat untuk
mengakses kredit, Bank NTT pun menyediakan dana untuk pembuatan papan nama
UPL mikro. Namun hingga saat studi dilakukan, BKM dengan UPL mikronya belum
mengajukan biaya pembuatan papan nama ke Bank NTT.
Persyaratan yang harus dilengkapi oleh calon penerima kredit serba usaha informal
Bank NTT adalah:
• mengisi formulir permohonan kredit mikro yang diverifikasi oleh pengurus UPL
mikro dan disetujui oleh suami atau istri calon peminjam;
• surat keterangan usaha yang ditandatangani kepala kelurahan;
• salinan KK; dan
• salinan KTP calon peminjam dan suami/istrinya.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
133
Pembayaran angsuran dilakukan melalui ketua kelompok setiap bulannya pada
tanggal 18 dengan jumlah angsuran Rp205.000 untuk setiap anggota peminjam. Jumlah
angsuran tersebut terdiri atas cicilan kepada Bank NTT sebesar Rp187.300 dan tambahan
biaya untuk UPL mikro sebesar Rp17.700. Ketua kelompok kemudian melaporkan dan
sekaligus menyetor tambahan biaya untuk UPL mikro dari tujuh orang peminjam kepada
bendahara UPL mikro untuk disimpan di kas UPL mikro. Setelah melaporkan kepada
UPL mikro, ketua kelompok menyetorkan seluruh pembayaran angsuran kepada Bank
NTT dan bukti setor angsuran kelompok dari bank disimpan oleh UPL mikro. Besarnya
angsuran yang harus dibayar oleh tiap anggota peminjam dengan penambahan biaya untuk
kas UPL mikro telah melalui kesepakatan seluruh anggota Kelompok Anggrek.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
Profil penerima manfaat yang ditampilkan di sini dimulai dengan profil dari UPL mikro
yang mengelola pembayaran angsuran anggota Kelompok Anggrek yang menerima kredit
dari Bank NTT. Dari tujuh anggota yang menerima kredit dari Bank NTT, belum ada satu
pun yang pernah menjadi peminjam di UPK atau termasuk dalam daftar tunggu di UPK.
Namun demikian, daftar anggota di empat kelompok lain yang sudah direkomendasikan
kepada Bank NTT terdapat individu-individu yang pernah mengakses PDB PNPM di
UPK.
5.1. Profil UPL Mikro
Bank NTT mensyaratkan pembentukan UPL mikro sebagai lembaga independen yang
dibentuk oleh lembaga masyarakat, tokoh agama, dan/atau tokoh adat masyarakat
setempat dengan susunan pengurus yang terdiri dari penasehat, ketua, dan sekretaris. UPL
mikro di Kelurahan Trikora dibentuk oleh BKM Wiu Riwu pada 14 Februari 2011 dengan
susunan pengurus terdiri dari seorang ketua, sekretaris, dan dua orang anggota. Tugas yang
diberikan Bank NTT kepada pengurus UPL mikro meliputi hal-hal berikut:
• Memberikan layanan informasi produk mikro Bank NTT.
• Mendampingi pembina/aparat memberikan penyuluhan kepada usaha mikro.
• Melakukan verifikasi dan merekomendasikan permohonan kredit yang diajukan di
wilayah kerjanya.
• Meneruskan permohonan nasabah yang telah diverifikasi (memenuhi persyaratan)
kepada Bank NTT terdekat.
• Membantu dan mendampingi pembina melakukan penagihan kepada nasabah yang
menunggak
134
•
•
•
•
•
•
•
Memimpin rapat unit pelayanan mikro
Mencatat, menyimpan, dan mengelola kas
Mengadministrasikan pinjaman secara tertib dan teratur
Memonitoring seluruh kegiatan usaha nasabah secara berkala
Melaporkan kondisi nasabah yang menghadapi permasalahan usaha
Membantu penyelesaian kredit-kredit yang bermasalah
Membantu pembina dalam melakukan akses kepada nasabah.
Selain tugas yang dibebankan tersebut, UPL mikro memiliki hak dan wewenang dalam hal:
• menerima imbalan jasa layanan kredit mikro yang diberikan;
• berhak atas informasi mengenai peminjam-peminjam yang menjadi binaannya;
• mendapatkan penyuluhan dan pembinaan dari Bank NTT mengenai produk-produk
kredit mikro Bank NTT;
• menggunakan imbalan jasa yang diterima dari Bank NTT untuk kepentingan
operasional UPL mikro;
• mendapatkan aplikasi-aplikasi kredit termasuk brosur dan peraturan-peraturan kredit
mikro;
• menandatangani daftar nominatif permohonan pinjaman UPL mikro; dan
• menandatangani surat keluar UPL mikro.
Imbalan jasa yang diperoleh UPL mikro dalam linkage dengan Bank NTT adalah berupa
imbalan berikut.
• Imbalan jasa untuk proses dan verifikasi pinjaman sebesar Rp5.000 per aplikasi yang
disetujui
• Imbalan jasa triwulan. Imbalan jasa dihitung per triwulan yaitu pada Maret, Juni,
September, Desember. Untuk fasilitas kredit yang realisasi pencairannya kurang dari
satu bulan, pembayaran imbal jasa akan dibayarkan pada bulan berikutnya. Ketentuan
imbal jasa triwulan adalah sebagai berikut:
• 5% PA dari realisasi pembayaran bunga kredit selama tiga bulan, pembayaran
dilakukan setiap tiga bulan, ketentuan NPL pada akhir triwulan di bawah 3%.
• 2.5% PA dari realisasi pembayaran bunga kredit selama tiga bulan, pembayaran
dilakukan setiap tiga bulan, ketentuan NPL pada akhir triwulan sebesar 3%-5%.
• NPL di atas 5% tidak mendapat imbalan jasa pembinaan.
• Imbalan jasa tahunan Imbalan jasa tahunan dihitung setiap akhir tahun buku
dan dapat dibayarkan pada bulan berikutnya. Untuk fasilitas kredit yang realisasi
pencairannya kurang dari 12 bulan, pembayaran imbal jasa tahunan dihitung secara
proporsional sesuai dengan jumlah periode bulan yang diterima. Ketentuan imbal
jasa tahunan adalah sebagai berikut.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
135
• 5% PA dari realisasi pembayaran bunga kredit selama 12 bulan dengan ketentuan
NPL pada akhir tahun maksimum 3%.
• NPL di atas 3% tidak mendapat imbalan jasa pembinaan tahunan.
Hingga Mei 2012 UPL mikro belum pernah menerima imbalan jasa dari Bank NTT.
Menurut pihak Bank NTT, hal ini karena UPL mikro masih dalam masa percobaan,
demikian pula dengan linkage-nya.
5.2. Individu Penerima Manfaat Pertama
Bapak Emanuel Milkiades adalah ketua Kelompok Anggrek yang turut menerima
pinjaman dari Bank NTT. Usahanya adalah membuka kios di lokasi tempat tinggalnya
di wilayah RT05/RW01 Kelurahan Trikora. Ia pernah melakukan pinjaman kepada
BRI pada 2003 dan belum pernah meminjam melalui UPK. Pinjaman sebesar dua juta
rupiah dipergunakan untuk tambahan modal kiosnya. Usaha kiosnya telah dimulai sejak
1999. Pinjaman ini telah meningkatkan omzet penjualan meskipun tidak terlalu banyak
karena persaingan cukup ketat dengan kios lain di lingkungan tempat tinggalnya. Setiap
bulannya, ia menyetor angsuran sebesar Rp205.000 melalui UPL mikro. Ia juga bertindak
sebagai penyetor angsuran kelompok ke Bank NTT setiap tanggal 19 untuk angsuran
sebesar Rp187.300 per peminjamnya.
5.3. Individu Penerima Manfaat Kedua
Pak Hendrikus Nono Kesu yang juga bertempat tinggal di wilayah RT05/RW01 merupakan
salah satu penerima manfaat dari linkage antara BKM-UPL mikro dengan Bank NTT. Ia
memiliki usaha penggilingan kopi di Pasar Inpres Bajawa. Usaha ini telah dirintis sejak
2001. Pada awalnya ia masih menggunakan dua mesin untuk menggiling kopi atau jagung.
Tiga hari setelah mendapat pinjaman dari Bank NTT, ia membeli mesin penggilingan
baru seharga 3,5 juta rupiah. Dengan tambahan mesin baru, ia memiliki mesin khusus
untuk menggiling kopi yang tidak tercampur dengan jagung. Hal ini memberikan dampak
peningkatan pendapatan bersih per hari sebesar kurang lebih Rp25.000. Pelanggan tidak
perlu lagi menunggu lama untuk menggiling kopi mengingat banyak penggiling kopi
lain di pasar tersebut. Omzet per harinya mencapai Rp150.000 – Rp200.000 dengan
pendapatan bersih antara Rp75.000 – Rp80.000 per hari setelah dikurangi biaya-biaya
termasuk biaya tenaga pembantu satu orang.
Pak Hendrikus mengetahui adanya kredit mikro Bank NTT dari sosialisasi yang
diadakan oleh BKM di kelurahan di mana seluruh warga diundang pada sosialisasi tersebut.
Manfaat yang dirasakan dari pinjaman ini adalah menambah modal dan membuka peluang
untuk mendapat kemudahan pinjaman kembali dari Bank NTT dengan jumlah yang lebih
136
besar. Ia berharap bila ada anggota yang mengalami kredit macet di kemudian hari, hal
tersebut tidak mempengaruhi kesempatan anggota atau kelompok lain untuk mengakses
kredit di Bank NTT. Pak Hendrikus juga belum pernah menerima pinjaman dari UPK
sebelumnya dan belum pernah memiliki riwayat kredit dengan bank mana pun.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Beberapa pembelajaran dari model linkage antara BKM Wiu Riwu dan Bank NTT.
• Dukungan dan peran pemda khususnya melalui Bappeda sebagai koordinator dinasdinas pemerintah telah membuka kesempatan linkage antara Bank NTT dan program
PNPM.
• Terjalinnya linkage melalui RWT, rembug pengurus BKM untuk pembahasan tentang
linkage, dan untuk pembentukan UPL mikro.
• Pembentukan unit tersendiri untuk pengelolaan dana linkage memberikan
pengendalian yang lebih baik dalam BKM.
• Adanya imbalan dari pihak mitra (Bank NTT) dapat memberikan penambahan
pendapatan lain bagi kelangsungan operasional BKM dan unit-unitnya.
6.2. Tantangan Linkage
Beberapa tantangan linkage antara BKM Wiu Riwu dan Bank NTT:
• Pelaksanaan kerja UPL mikro belum optimal dan dimungkinkan untuk
digabungkannya antara UPL mikro dengan UPK yang telah ada, meskipun unit ini
merupakan wadah tersendiri untuk menangani linkage dengan Bank NTT.
• Belum dimasukkannya UPL mikro dalam AD/ART BKM Wiu Riwu.
• Perlunya dibuatkan mekanisme penerimaan dan penggunaan imbalan jasa dari bank
NTT agar dapat dipergunakan untuk kelangsungan operasional BKM dan unitunitnya.
• Belum jelasnya mekanisme penentuan individu calon pengakses kredit Bank NTT
yang merupakan eksnasabah UPK karena masih bercampur dengan individu lain,
tidak termasuk warga miskin.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
137
138
Kab. Ende
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Asuransi Jasa
Raharja Putera dan UPK Ende Timur,
Kabupaten Ende,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Linkage antara UPK Kecamatan Ende Timur dan Asuransi Jasa Raharja Putra (AJRP)
telah diikat dalam nota kesepahaman terkait kepesertaan anggota kelompok SPP dalam
asuransi jiwa kredit. Linkage ini diprakarsai oleh AJRP dan pengurus PNPM Mandiri
Perdesaan di Kabupaten Ende. Linkage ini bertujuan untuk menjamin aset PDB yang
dikelola oleh UPK, untuk memberikan akses layanan keuangan bagi warga miskin
dan kelompok perempuan, dan untuk melindungi anggota kelompok SPP bila terjadi
keadaan meninggal dunia agar ahli waris tidak perlu mengembalikan sisa pinjaman
ke UPK. Sosialisasi linkage ini dilakukan secara berjenjang dari tingkat UPK, forum
MAD/K, hingga ke kelompok SPP.
Total peserta asuransi hingga Mei 2012 mencapai 45 kelompok SPP dengan total
295 nasabah. Jumlah kredit yang diasuransikan mencapai Rp1.118.500.000 dengan
total premi yang telah dibayar ke AJRP secara keseluruhan sebesar Rp5.088.715.
Skema produk dalam linkage ini menggunakan jenis asuransi kumpulan (askum),
di mana pertanggungan dari pihak asuransi adalah senilai sisa pokok pinjaman dari
anggota SPP. Premi yang harus dibayar oleh peserta asuransi adalah tergantung dari
usia dan nilai pinjaman dari anggota SPP, serta jangka waktu pinjaman. Linkage
ini menggunakan model chanelling, di mana UPK berperan sebagai koordinator/agen
mulai dari sosialisasi ke pengurus SPP, menandatangani kerja sama dengan pihak
asuransi, dan memfasilitasi proses pengajuan klaim.
Dua pelajaran penting dari kasus linkage ini. Pertama, peningkatan cakupan linkage
asuransi dari semula hanya dirancang untuk staf UPK, meningkat menjadi linkage
asuransi jiwa kredit untuk kelompok SPP. Kedua, sosialisasi berjenjang tentang
asuransi ini telah mendorong kesadaran semua pelaku PNPM Perdesaan tentang
manfaat asuransi jiwa kredit hingga ke kelompok SPP. Beberapa peluang yang
dapat dikembangkan di antaranya replikasi terhadap UPK lain dan peningkatan
skema produk yang lebih tinggi nilai pertanggungannya agar ahli waris tidak lagi
menangggung bunga pinjaman. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan linkage,
yakni: lamanya waktu proses pencairan klaim dan perlunya sosialisasi dan penyediaan
informasi yang intensif dan memadai tentang asuransi ini kepada anggota SPP yang
baru dan ahli waris anggota SPP.
140
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Pedesaan antara Asuransi Jasa Raharja Putera dan
UPK Kecamatan Ende Timur Kabupaten Ende, NTT
11 – 12 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Ende Timur
Kecamatan Ende Timur merupakan salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Ende
Provinsi, Provinsi NTT dengan pembagian batas wilayah geografis sebagai berikut: di
bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Ende Tengah, di selatan berbatasan dengan
Ende Selatan, di bagian timur dengan Kecamatan Ndona, dan di bagian utara dengan
Kecamatan Ende Utara.
Cakupan wilayah Kecamatan Ende Timur terdiri dari tiga kelurahan (Kelurahan
Mautapaga, Rewarangga, dan Rewarangga Selatan) dan tiga desa (Kede Bodu, Ndungga,
dan Tiwu Tewa) dengan pembagian wilayah sebanyak 14 lingkungan dan 10 dusun. Jumlah
penduduknya 16.904 jiwa yang terdiri dari 3.647 KK. Mata pencaharian masyarakat
Ende Timur adalah petani, buruh tani, pedagang, dan sebagian kecil adalah PNS/pegawai
swasta, TNI/Polri.
Topografi wilayah Kecamatan Ende Timur didominasi oleh daerah perbukitan yang
subur dengan jenis tanaman umur panjang dan bernilai ekonomis cukup tinggi seperti
kopi, cengkeh, kelapa, kemiri dan lain-lain. Karena sejumlah faktor, baik eksternal maupun
internal, harga komoditas pertanian tersebut seringkali tidak sebanding dengan harapan
para petani karena seringkali anjlok di pasaran. Tidak mengherankan jika jumlah warga
miskin dan berpenghasilan rendah pun meningkat.
Karena persoalan-persoalan di atas, sejak 2009 pemerintah melaksanakan PNPMMP di Kecamatan Ende Timur. Pendekatan yang digunakan adalah melalui pemberdayaan
masyarakat, dengan salah satu kegiatannya adalah memfasilitasi pengembangan ekonomi
lokal PDB PNPM Perdesaan. Pengelolaan PDB ini dilakukan oleh UPK, dengan tetap
memperhatikan prioritas usulan kegiatan dari masyarakat yang tergabung dalam kelompok
peminjam SPP. Program ini diharapkan dapat mengurangi kemiskinan di wilayah
Kecamatan Ende Timur.
1.2. Profil UPK Kecamatan Ende Timur
PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Ende Timur mulai dilaksanakan sejak 2009
dengan alokasi dana sejak 2009 hingga 2011 yang mencapai dua miliar rupiah dan pada
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
141
2012 bertambah 900 juta rupiah sehingga totalnya mencapai 2,9 miliar rupiah. Dana
tersebut digunakan untuk beberapa bidang kegiatan seperti SPP, fisik sarana prasarana,
dan pendidikan nonfisik. Berdasarkan hasil kegiatan kelompok SPP, dana BLM yang
sudah disalurkan kepada penerima manfaat mencapai 1,425 miliar rupiah. Kegiatan PDB
untuk SPP sudah dilakukan sejak 2010 kepada kelompok SPP lama yang sudah pernah
meminjam dana ke UPK.
Pelaksanaan kegiatan SPP tidak selalu berjalan sesuai rencana. Terdapat sejumlah
kendala dalam pengembalian angsuran ke UPK, di antaranya pengembalian angsuran
tidak tepat waktu, peminjam pergi merantau ke daerah lain, usaha anggota kelompok
tidak berjalan baik, peminjam sakit atau meninggal. Sejumlah strategi untuk menurunkan
jumlah kredit macet sudah dilakukan seperti pembinaan kelompok, menjemput uang
langsung ke kelompok, dan melakukan linkage dengan AJRP untuk menjamin dana
program apabila ada peminjam yang meninggal.
UPK Kecamatan Ende Timur berdiri pada 27 Juli 2009 dan pengurusnya dipilih
melalui forum MAD/K. Kepengurusan UPK sendiri terpilih berdasarkan usulan dari setiap
desa/kelurahan yang mengirimkan wakilnya dan akhirnya terpilih tiga orang pengurus
yang berasal dari Desa Tiwu Tewa, Desa Ndungga, dan Kelurahan Mautapaga. Struktur
pengurus UPK Kecamatan Ende Timur mencakup seorang ketua, yang dibantu oleh
seorang bendahara dan seorang sekretaris. Struktur pengurus MAD(K)/BKAD mencakup
seorang ketua, seorang bendahara, dan seorang sekretaris.
Profil Kinerja UPK Kecamatan Ende Timur per 30 April 2012
142
1.
Modal awal PDB SPP
Rp1.425.000.000
2.
Total Asset UPK SPP
Rp2.287.604.844
3.
Piutang ke SPP
Rp1.256.421.752
4.
Piutang ke UEP
Rp242.429.430
5.
Dana di bank
Rp788.753.662
6.
Jumlah SPP aktif
45 SPP
7.
Jumlah penerima manfaat
295 Orang
8.
Besarnya pinjaman
Maksimal 10.000.000 / anggota SPP
9.
Bunga pinjaman
1,5 % per bulan atau 18% per tahun (termasuk IPTW 1,5%)
10. non-performing loan (NPL)/tingkat
kredit macet
32 %
11. Prosentase pengembalian
68 %
12. Jam Layanan UPK
Senin – Sabtu (Pukul 08.00 – 14.00)
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
PT. Jasa Raharja Putera Insurance didirikan pada 27 November 1993 di Jakarta dan PT.
AJRP merupakan anak Perusahaan PT. Jasa Raharja (Persero). AJRP telah memberikan
layanan asuransi yang luas kepada masyarakat di seluruh Indonesia selama satu setengah
dasawarsa dan saat ini telah memiliki 27 kantor cabang dan 96 kantor pemasaran.
AJRP memperoleh dukungan reasuransi dari perusahaan-perusahaan reasuransi
dalam maupun luar negeri seperti: PT Reasuransi Internasional Indonesia ( REINDO),
PT Reasuransi Nasional Indonesia (NASRE), PT Tugu Jasatama Reasuransi Indonesia
(TUGURE), PT Maskapai Reasuransi Indonesia (MAREIN) dan Swiss Reinsurance
Company, Zurich-Swiss (Swissre).
2.2. Produk Lembaga Mitra
Produk yang dimiliki dan ditawarkan oleh AJRP adalah sebagai berikut:
• JP ASTOR merupakan produk asuransi untuk menjamin risiko kerusakan dan/atau
kehilangan kendaraan
• JP BONDING untuk memberikan perlindungan bagi proyek pembangunan yang
sedang dikerjakan
• JP ASPRI, untuk memberikan perlindungan dari resiko kecelakaan.
• JP GRAHA, untuk melindungi asset bangunan dan harta benda di dalamnya dari
kerugian dan kerusakan akibat kebakaran atau peristiwa lain yang dijamin oleh polis
dan perluasannya.
• JP ASKRED, memberikan proteksi terhadap risiko kerugian transaksi perdagangan
akibat sejumlah piutang (outstanding amount) yang tidak dibayar oleh debitur
(buyers) karena mengalami protracted default dan insolvensi.
• ASKUM adalah suatu program asuransi yang memberikan penggantian sebesar
maksimal nilai kredit bagi nasabah yang tidak melakukan pembayaran cicilan akibat
nasabah tersebut meninggal dunia. Manfaat asuransi diberikan sebesar sisa pokok
kredit.
Dalam linkage antara UPK Kecamatan Ende Timur dan AJRP, produk yang digunakan
adalah askum. Manfaat askum adalah untuk memberikan perlindungan bagi kelompok
SPP bila ada anggota kelompok yang meninggal dunia. Melalui perlindungan asuransi ini,
ahli warisnya tidak perlu mengembalikan sisa pinjaman ke UPK.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
143
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Terjalinya linkage antara UPK Kecamatan Ende Timur dan AJRP berawal ketika ada rakor
asosiasi UPK di tingkat Kabupaten Ende pada Desember 2010. Pada saat itu, ada sosialisasi
dari AJRP kepada UPK sekabupaten Ende untuk produk kesehatan dan kecelakaan.
Dalam rangka sosialisasi tersebut, Faskeu Kabupaten Ende kemudian mengorganisasi
setiap pengurus UPK kecamatan untuk mengikuti asuransi perlindungan. Hal ini karena
pekerjaan pengurus UPK yang sangat padat dan sering berada di lapangan sehingga
dipandang perlu untuk memperoleh perlindungan dari asuransi jiwa.
Pada saat sosialisasi tersebut AJRP juga menyampaikan produk lain yang bisa diikuti
oleh UPK, seperti perlindungan dana milik program yang dikelola oleh UPK. UPK
Kecamatan Ende Timur berpendapat hal ini penting mengingat selama ini tidak ada
perlindungan khusus yang disiapkan oleh program untuk menjaga dana SPP apabila si
peminjam meninggal dunia.
Setelah dilakukan konsultasi dan koordinasi dengan faskeu terdahulu, PJOK dan
fasilitator kecamatan, sosialisasi ini dilanjutkan pada forum MAD pada Februari 2011
untuk memperoleh persetujuan. Selanjutnya dilakukan sosialiasi oleh UPK ke kelompok
SPP agar dapat diterima program asuransi kredit jiwa ini. Mengingat pentingnya manfaat
asuransi tersebut, kelompok SPP sepakat untuk menjadi peserta asuransi kredit jiwa.
3.2 Proses Terjalinnya Linkage
Sosialisasi bagi setiap kelompok SPP untuk mengikuti linkage dengan AJRP dilakukan
pada saat kelompok ini diverifikasi dan didampingi oleh FK dan UPK. Saat itu FK bersama
UPK mensosialisasikan manfaat asuransi tersebut bagi anggota kelompok SPP. Sosialisasi
selanjutnya dilakukan di kantor lurah saat ada kegiatan musyarawah atau rapat PNPMMP. Kelompok menerima dengan baik dan antusias untuk mengasuransikan diri mereka
yang berusia di bawah 55 tahun untuk mengikuti asuransi kredit jiwa dari AJRP.
UPK Kecamatan Ende Timur mulai bekerja sama dengan AJRP setelah adanya
nota kesepahaman antara UPK dan pihak AJRP pada Maret 2011. Jumlah kelompok
dan anggota yang sudah menjadi peserta AJRP sampai dengan 30 April 2012 mencapai
45 kelompok SPP (21 kelompok penerima dana BLM dan 24 kelompok penerima dana
perguliran) dengan jumlah jiwa yang diasuransikan 295 jiwa.
Pembayaran uang premi asuransi dilaksanakan pada saat penyaluran dana SPP baik
dana BLM maupun perguliran. Usai penyerahan dana dari bendahara UPK kepada setiap
anggota kelompok, pengurus kelompok mengumpulkan dana dari masing-masing anggota
sesuai umur tertanggung dan setelah terkumpul diserahkan kepada pengurus UPK untuk
dibuatkan perjanjian kerja sama dengan AJRP.
144
Saat ini manfaat asuransi jiwa bagi anggota kelompok SPP di Kecamatan Ende Timur
sudah mulai dirasakan. Hal ini terbukti ketika ada anggota kelompok yang meninggal
dunia, UPK sudah mengajukan klaim pembayaran sisa pinjaman kepada pihak AJRP dan
asuransi sedang memproses pembayarannya.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model Linkage yang diterapkan adalah model chanelling, di mana UPK Kecamatan Ende
Timur berperan sebagai agen/koordinator. UPK berperan mulai dari sosialisasi tentang
manfaat asuransi, menyediakan data peserta asuransi berdasarkan anggota SPP yang
meminjam PDB, menandatangani kerja sama dengan pihak asuransi, dan memfasilitasi
proses pengajuan klaim oleh ahli waris, termasuk jika ada anggota kelompok SPP yang
meninggal.
Syarat pengajuan klaim bila ada anggota kelompok yang meninggal antara lain:
• surat pengajuan klaim oleh UPK PNPM;
• pengisian formulir klaim (formulir LK-1) dari AJRP yang disahkan oleh pengelola;
• salinan akad kredit dari UPK PNPM;
• surat kematian dari instansi yang berwenang (rumah sakit/kelurahan);
• salinan KTP si peminjam dan suaminya (ahli waris), serta kartu keluarga;
• sertifikat askum atas nama UPK (debitur);
• bukti pembayaran premi;
• laporan polisi (bila meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas)
Dengan model ini, bila ada pengajuan klaim dari UPK karena ada anggota SPP yang
meninggal maka nilai pertanggungan asuransi sebesar sisa pokok pinjaman akan dicairkan
langsung (transfer) ke UPK. Proses penyelesaian klaim selambat-lambatnya tujuh hari
setelah persyaratan pengajuan klaim dinyatakan lengkap. Setelah pencairan uang klaim
diterima UPK, pihak ahli waris dapat diberitahu oleh UPK bahwa sisa pokok pinjaman
telah lunas. Namun, ahli waris masih memiliki kewajiban untuk membayar bunga
pinjaman ke UPK sesuai dengan akad kredit yang telah disepakati.
4.2 Skema Produk dalam Linkage
Linkage antara UPK Kecamatan Ende Timur dan AJRP terjadi melalui pemanfaatan
produk askum. Program ini merupakan suatu program asuransi yang memberikan
penggantian sebesar maksimal nilai kredit bagi peserta yang meninggal dunia. Manfaat
asuransi diberikan sebesar sisa pokok kredit (uang pertanggungan menurun).
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
145
Jaminan perlindungan asuransi berlaku 24 jam selama peserta berada dalam batas
wilayah negara Republik Indonesia. Bila dilihat dari skema produk, askum AJRP ini
mempunyai batasan usia untuk tertanggungn maksimum 55 tahun.14
Besarnya premi yang harus dibayar oleh peserta bergantung dari usia peserta, besarnya
pinjaman, dan jangka waktu pinjaman. Sebagai ilustrasi, untuk peserta anggota SPP dengan
usia maksimal 40 tahun, pinjaman kredit satu juta rupiah dan jangka waktu pinjaman
satu tahun, besarnya premi asuransi kredit adalah sebesar Rp1.000.000 x Rp 3,55/000 =
Rp33.550. Untuk memudahkan besaran premi, pihak AJRP menyediakan tabel sampai
dengan maksimum usia 55 tahun, dengan jangka waktu sampai tiga tahun. Maksimum
besarnya kredit untuk askum ini dibatasi tidak lebih dari 200 juta rupiah per peserta.
5. Profil Penerima Manfaat
5.1. Kelompok SPP Flamboyan
Kelompok SPP Flamboyan sudah berdiri sejak 2000. Pada awalnya kelompok ini
dibentuk oleh ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Mautapaga bersama-sama dengan
beberapa kelompok lain dengan nama Dasa Wisma Flamboyan untuk mempersatukan
dan membina kelompok ibu-ibu melakukan arisan, simpan pinjam, dan pemberdayaan
perempuan di kelompok. Tetapi dalam perjalanan, karena beberapa kendala, kelompok
ini tidak lagi berkembang. Pada 2009 sejak PNPM Perdesaan muncul di Kecamatan Ende
Timur, kelompok ini aktif lagi dengan kepengurusan kelompok yang baru. Setelah aktif
kembali kurang lebih dua tahun, pada 2011, pengurus dan anggota kelompok sepakat
untuk mengajukan permohonan dana pinjaman UPK Kecamatan Ende Timur.
Keanggotaan kelompok SPP ini terdiri dari ibu-ibu yang berprofesi sebagai ibu
rumah tangga dan memiliki usaha sampingan untuk mendukung ekonomi keluarga.
Seluruh anggota kelompok berasal dari golongan kurang mampu. Kemudahan akses dana
PNPM-MP melalui UPK telah membantu anggota kelompok mendapatkan modal usaha
tanpa harus meminjam ke lembaga keuangan lain yang mensyaratkan jaminan, proses
yang cukup rumit, dan bunga pinjaman yang besar. Sebagai bentuk apresiasi atas fasilitas
pinjaman ini, kelompok bersepakat dan bertekad untuk selalu membayar tepat waktu dan
tidak menunggak pembayaran angsuran setiap bulan.
Total pinjaman Kelompok SPP Flamboyan ke UPK sebesar 20 juta rupiah yang
dicairkan pada 7 Juni 2011 dengan jumlah anggota tujuh orang peminjam. Pinjaman
setiap anggota berkisar antara 500 ribu hingga 6 juta rupiah. Dari total pinjaman dan
bunga 1,5% per bulan, kelompok ini mengangsur setiap bulan sebesar 3,6 juta rupiah
selama 12 bulan jangka waktu pinjaman. Pinjaman dimanfaatkan untuk usaha seperti kios,
Perjanjian kerja sama antara UPK PNPM Kecamatan Ende Timur dan pihak AJRP, batasan usia tertanggung adalah maksimum 64
tahun.
14
146
tenun ikat, jual sembako, jual kue, mejahit, dan warung makan/kantin. Kelompok ini juga
menjadi peserta asuransi kredit jiwa AJRP bersamaan dengan pencairan pinjaman.
Kelompok Flamboyan selalu mengangsur tepat waktu dan tidak pernah macet. Ini
semua berkat ketekunan dan kerja sama yang baik dalam kelompok. Namun tanpa diduga,
pada 23 Januari 2012 salah satu anggota SPP berusia 50 tahun meninggal dunia karena
sakit. Yang bersangkutan adalah sekretaris dalam kelompok dengan jumlah pinjaman 6
juta rupiah. Ahli warisnya telah melengkapi dokumen persyaratan pengajuan klaim dan
diserahkan ke UPK Kecamatan Ende. Surat pengajuan klaim tertanggal 30 Januari telah
dikirim ke AJRP Kabupaten Ende untuk diproses lebih lanjut.
Pihak AJRP lalu melakukan verifikasi atas dokumen pengajuan klaim dan ke
lapangan sebagai bagian dari proses pencairan klaim. Dalam verifikasi tersebut, salah satu
persyaratan belum dilengkapi yaitu surat keterangan kematian yang dikeluarkan oleh pihak
rumah sakit. Dengan dibantu oleh pihak AJRP, surat keterangan kematian diperoleh pada
April 2012. Selanjutnya pihak AJRP melanjutkan proses pengajuan klaim dan sampai
dengan 12 Mei 2012 saat studi ini dilakukan, pencairan klaim belum bisa dilakukan karena
masih menunggu persetujuan dari kantor pusat AJRP Jakarta. Kantor Perwakilan AJRP
Kabupaten Ende menyatakan pencairan klaim akan dilakukan sekitar akhir Mei 2012.
5.2. Kelompok SPP Wua Mesu
Kelompok SPP Wua Mesu terbentuk karena anggota kelompok bermukim dalam satu
wilayah RT di Kelurahan Rewarangga Selatan Kecamatan Ende Timur. Sebagian besar
anggota kelompok berprofesi sebagai pedagang atau papalele di Pasar Wolowana. Para
anggota kelompok berasal dari golongan kurang mampu yang membutuhkan tambahan
modal usaha. Sebelum bergabung dalam SPP, anggota kelompok sering mengalami
hambatan dalam usaha karena kekurangan modal usaha.
Prospek usaha anggota kelompok cukup baik sehingga pada saat verifikasi, usaha
kelompok ini dinyatakan layak untuk menerima dana SPP. Pinjaman dimanfaatkan untuk
modal usaha dan diperoleh tanpa perlu jaminan. Total pinjaman kelompok SPP Wua
Mesu mencapai 25 juta rupiah yang dicairkan pada 7 Juli 2011, dengan jumlah anggota
peminjam sebanyak lima orang. Setiap anggota kelompok memperoleh pinjaman sebesar
lima juta rupiah. Pinjaman ini dimanfaatkan untuk modal usaha seperti kios, ternak ayam
pedaging, dan papalele di Pasar Wolowana. Dengan bunga sebesar 1,5% setiap bulannya,
kelompok ini mengangsur ke UPK sebesar 4,5 juta rupiah selama 12 bulan jangka waktu
pinjaman.
Kelompok ini juga menerima dan ikut menjadi peserta asuransi kredit jiwa AJRP
setelah mengikuti sosialisasi yang diselenggarakan oleh pengurus UPK dan AJRP.
Keikutsertaan anggota kelompok SPP ini menjadi peserta asuransi kredit jiwa AJRP
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
147
bersamaan dengan pencairan pinjaman ke kelompok pada 7 Juli 2011. Keikutsertaan
anggota kelompok dalam asuransi ini didorong oleh kesadaran akan manfaat penting yang
dapat diperoleh anggota, terutama jika ada anggota meninggal dunia.
Pada 7 Januari 2012, salah satu anggota SPP meninggal dunia. Ia meninggal dalam usia
47 tahun karena sakit. Ia bergabung dalam SPP Wua Mesu sebagai ketua dengan jumlah
pinjaman lima juta rupiah. Suaminya, yang bertindak sebagai ahli waris, telah melengkapi
dokumen persyaratan pengajuan klaim dan telah diserahkan ke UPK Kecamatan Ende
Timur. Surat pengajuan klaim tertanggal 30 Januari telah dikirim ke AJRP Kabupaten
Ende. Pihak AJRP selanjutnya melakukan verifikasi atas dokumen pengajuan klaim dan ke
lapangan sebagai bagian dari proses pencairan klaim. Pihak AJRP menjanjikan pencairan
klaim akan dilakukan pada akhir Mei 2012.
Penilaian UPK Kecamatan Ende Timur terhadap kinerja Kelompok Wua Mesu
selama ini cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya tunggakan terhadap angsuran
pinjaman. Angsuran kelompok saat ini telah memasuki bulan kesembilan dari jangka
waktu pinjaman selama 12 bulan.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Beberapa pembelajaran yang dapat dipetik dari linkage ini.
• Linkage yang awalnya terbatas antara AJRP dan UPK Kecamatan Ende Timur
untuk asuransi jiwa dan kecelakaan staf UPK, telah meningkat menjadi linkage yang
menyediakan asuransi jiwa kredit untuk kelompok SPP.
• Proses linkage dengan AJRP dilakukan melalui sosialisasi berjenjang dari tingkat UPK,
forum MAD untuk pengambilan kebijakan, dan kelompok SPP. Proses semacam ini
telah mendorong penyadaran berbagai pelaku PNPM Perdesaan tentang manfaat
penting perlindungan asuransi jiwa kredit ke kelompok SPP yang meminjam dana
ke UPK.
6.2. Potensi dan Peluang Linkage
Beberapa hal yang dapat dijadikan potensi dan peluang ke depan:
• Pihak faskab dan faskeu Kabupaten Ende dapat mengevaluasi linkage ini dalam hal
efektifitas dan kecepatan pengajuan klaim. Bila dinilai baik, akan direplikasi ke UPK
lain di Kabupaten Ende untuk bermitra dengan AJRP.
• Skema produk yang digunakan dalam linkage ini dapat dinegosiasikan dan
ditingkatkan ke skema yang lebih tinggi nilai pertanggungannya, misalnya dengan
pertanggungan sisa pinjaman dan bunga agar ahli waris tidak perlu lagi untuk
mengembalikan bunga pinjaman ke UPK.
148
6.3. Tantangan Linkage
Tantangan yang muncul dalam implementasi linkage ini, antara lain:
• Proses pengajuan klaim yang memakan waktu dan harus terus menerus dipantau
perkembangannya hingga pencairan klaim. Hal ini disebabkan proses pencairan
klaim bergantung pada kelengkapan administrasi seperti surat keterangan meninggal
dunia dari rumah sakit;
• UPK harus memberikan informasi dan sosialisasi yang cukup ke semua anggota SPP
termasuk anggota baru tentang manfaatnya, besaran premi, nilai pertanggunagan,
dan pengajuan klaim asuransi dengan segala persyaratan yang diperlukan bila terjadi
keadaan meninggal dunia. Sosialisasi ini juga perlu diteruskan ke keluarga dari
anggota SPP agar terdiseminasi dengan baik; dan
• Karena pertanggungan asuransi hanya pada sisa pokok pinjaman, UPK dan AJRP
perlu melakukan sosialisasi ulang tentang hal ini agar bila ada kejadian meninggal,
ahli waris dan kelompok SPP masih memiliki tanggungan untuk mengembalikan
bunga pinjaman ke UPK.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
149
150
Kab. Timor Tengah Utara
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Yayasan Mitra
Tani Mandiri dan UPK Nekmese,
Kabupaten Timor Tengah Utara,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Meskipun tingkat pengembalian kelompok UEP pada UPK Nekmese kurang dari
80%, pada 2009 UPK Nekmese menerima kepercayaan dari Yayasan Mitra Tani
Mandiri (YMTM) untuk menggulirkan dana hibah sebesar 100 juta rupiah kepada
kelompok yang belum mengakses dana bergulir baik melalui UEP maupun SPP.
Linkage yang terjalin antara UPK Nekmese dan YMTM dilandasi oleh kesamaan
visi mengenai kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dalam rangka mempercepat
penanggulangan kemiskinan berdasarkan pendekatan pemberdayaan dan partisipasi
aktif masyarakat.
Linkage yang terjalin ini dimaksudkan untuk memberikan akses pinjaman bergulir
kepada anggota kelompok tani dampingan YMTM yang belum menjadi nasabah
UPK Miomaffo Barat baik yang ada di desa dampingan YMTM maupun di desa
non dampingan YMTM. Program ini dinamakan PNPM untuk penguatan ekonomi
masyarakat (PNPM-PEM). Sebanyak 81% dana hibah ini dimanfaatkan untuk
pinjaman kelompok dan 19% sisanya untuk biaya operasional. Dalam linkage ini
UPK bertindak sebagai pelaksana perguliran dana. Mekanisme perguliran dana
mengadopsi mekanisme yang sudah berlaku di PNPM. Berdasarkan hasil MAD
di Kecamatan Miomaffo Barat, dari tiga desa di kecamatan ini disepakati: dua
desa yaitu Desa Fatuneno dan Desa Manusasi menjadi desa yang mendapatkan
tambahan pendampingan dari YMTM, sedangkan Desa Lemon tidak mendapatkan
pendampingan YMTM, namun menjadi desa penerima PNPM reguler.
Linkage ini memberikan pembelajaran bahwa kelompok peminjam dana bergulir
juga perlu mendapatkan bimbingan teknis tentang pengelolaan dana dan pemasaran
produk pertanian. Linkage dengan LSM yang ada di wilayah binaan PNPM menjadi
penting artinya untuk meningkatkan akses kelompok masyarakat miskin terhadap
PDB sehingga mendukung program PNPM dalam mempercepat penanggulangan
kemiskinan. Tantangan utama dari linkage ini adalah bahwa PDB dari dana hibah
YMTM bersifat tidak mengikat UPK secara moral dalam hal kewajiban pengembalian
dana kepada lembaga pemberi pinjaman. Akibatnya, penekanan kepada kelompok
peminjam yang menunggak juga menjadi lemah.
152
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Pedesaan antara Yayasan Mitra Tani Mandiri dan
UPK Nekmese Kecamatan Miomaffo Barat,
Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
23-24 Februari 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Miomaffo Barat
Kecamatan Miomaffo Barat merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten TTU, Provinsi
NTT. Kecamatan ini memiliki luas wilayah 199,63 km2 dan terdiri atas dua kelurahan dan
sepuluh desa. Kecamatan Miomaffo Barat berbatasan dengan kecamatan Bikoni Nilulat
dan Negara Timor Leste di sebelah utara, dengan Kabupaten TTS di sebelah selatan,
dengan kecamatan Neomuti, Miomaffo Tengah, dan Musi di sebelah timur, dan dengan
Kecamatan Mutis di sebelah barat.15
Berdasarkan data sensus penduduk 2010, jumlah penduduk kecamatan Miomaffo
Barat adalah 14.432 jiwa yang terdiri dari laki-laki 6.913 jiwa dan perempuan 7.519 jiwa.16
Mata pencaharian utamanya adalah pertanian dan peternakan dengan produk unggulan
pertanian berupa bawang putih dan sayur mayur. Di kecamatan ini tersedia BRI dan
merupakan satu-satunya lembaga keuangan formal yang ada.
PNPM Mandiri Perdesaan mulai dilaksanakan di kecamatan ini pada 1997. Hingga
akhir 2011, kecamatan ini telah menerima BLM sebesar Rp22.099.400.000. Berdasarkan
laporan UPK per Januari 2012, 95% dari dana tersebut dipergunakan untuk mendukung
kegiatan di bidang sarana dan prasarana, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Pada 2007
dan 2008, UPK Nekmese tidak menerima dana BLM selain dari dana untuk program
PNPM Generasi. Namun demikian, kegiatan dana bergulir tetap dilaksanakan dengan
perguliran dana pengembalian kelompok dari tahun-tahun sebelumnya (1999 s/d 2006).
1.2. Profil UPK Nekmese
UPK di Kecamatan Miomaffo Barat dibentuk pada November 1998 dengan nama UPK
Nekmese yang per Januari 2012. UPK ini memiliki 285 kelompok binaan yang terdiri dari
221 kelompok UEP dengan anggota 1.766 orang dan 64 kelompok SPP dengan anggota
451 orang. UPK Nekmese memiliki lima orang pengurus yang dipimpin oleh seorang
15
16
TTU Dalam Angka 2009
www.bps.go.id/hasilsp2010/ntt/
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
153
ketua dan dibantu oleh seorang sekretaris dan dua orang bendahara serta seorang tenaga
lapangan sebagai penagih. UPK Nekmese memberikan layanan kepada masyarakat setiap
hari dan membuka kantornya dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00.
Jumlah maksimal pinjaman yang digulirkan oleh UPK Nekmese untuk satu
kelompok adalah 100 juta rupiah. Jumlah anggota kelompok berkisar antara 10-20 orang
dan maksimal pinjaman individu anggota kelompok sebesar 10 juta rupiah. Per Januari
2012 UPK Nekmese telah menyalurkan dana bergulir untuk kelompok UEP sebesar
Rp5.619.100.000 dan untuk kelompok SPP sebesar Rp1.911.000.000. Saldo pinjaman
dana bergulir untuk kelompok UEP sebesar Rp2.750.776.315 dan untuk kelompok SPP
sebanyak Rp962.744.212. Persentase pengembalian untuk kelompok UEP mencapai 54%
dan kelompok SPP mencapai 75%.
Dalam setahun UPK Nekmese melakukan perguliran sebanyak dua kali yaitu pada
April dan November. UPK Nekmese memberlakukan sistem jaminan kepada kelompok
peminjam berupa sertifikat tanah atau surat BPKB. Jaminan kelompok ditetapkan sendiri
oleh kelompok dan nilai jaminannya disesuaikan dengan besarnya pinjaman dan nilai
jual aset yang dijaminkan. Apabila nilai jaminan awal yang diberikan tidak mencukupi,
maka jaminan harus ditambah atau nilai pinjaman yang disetujui akan lebih rendah dari
jumlah yang diusulkan. Dengan demikian jaminan yang diberikan dapat berupa beberapa
sertifikat tanah atau surat BPKB dari beberapa anggota dalam satu kelompok peminjam.
Jaminan kelompok tersebut tertuang dalam bentuk surat pernyataan yang merupakan
satu kesatuan dengan surat perjanjian pinjaman yang menyebutkan bentuk dan besar
jaminannya. Seluruh berkas surat jaminan disimpan oleh UPK. Selain itu setiap peminjam
wajib menandatangani surat pernyataan ahli waris yang mengetahui adanya pinjaman ke
UPK.
Seperti halnya sistem penjaminan di UPK, kelompok pun juga memberlakukan
sistem jaminan kepada anggotanya sebagai syarat mendapatkan pinjaman. Contoh
jaminannya berupa sapi. Jaminan sapi ini dikontrol keberadaannya oleh kelompok setiap
bulan. Perjanjian di dalam kelompok ini juga menyebutkan bentuk dan besar jaminan
anggota dalam surat perjanjian pinjaman anggota.
Tingkat suku bunga yang diberlakukan oleh UPK Nekmese kepada kelompok
UEP atau SPP sebesar 1% dan biasanya kelompok memberlakukan bunga 2% kepada
anggotanya, dengan pembagian 1% untuk dibayarkan kepada UPK dan 1% kepada
kelompok.
Meskipun tingkat pengembalian kelompok UEP pada UPK Nekmese
kurang dari 80%, pada 2009 UPK Nekmese mendapatkan kepercayaan untuk melakukan
linkage dengan YMTM dengan memanfaatkan dana hibah sebesar 100 juta rupiah untuk
disalurkan kepada kelompok tani binaan YMTM yang belum mengakses dana bergulir,
baik melalui UEP maupun SPP.
154
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
YMTM adalah yayasan yang dibentuk pada 1988 oleh kelompok mahasiswa Fakultas
Pertanian Universitas Cendana NTT yang pada awalnya bernama Yayasan Geo Meno.
YMTM memfokuskan pada pengembangan wanatani dengan memperhatikan aspek
pemberdayaan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup. YMTM memiliki visi untuk
mewujudkan kemandirian, kesejahteraan, dan keadilan masyarakat di pedesaan dan daerah
marginal dengan mengutamakan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan berdasarkan
semangat kemitraan. YMTM saat ini telah melaksanakan programnya di lima kabupaten
di NTT yaitu di Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Timor Tengah Utara,
Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Belu.
2.2. Program Lembaga Mitra
YMTM memiliki empat fokus program yang meliputi:
• Pengembangan wanatani, yang meliputi konservasi tanah dan air, pengembangan
tanaman umur panjang, pengembangan ternak, dan pengembangan sayur mayur.
• Pengembangan usaha ekonomis, program ini berupaya memfasilitasi organisasi petani
agar bisa memasarkan komoditas secara adil dan mendapatkan keuntungan yang lebih
baik dan pengembangan usaha bersama simpan pinjam (UBSP) agar membiasakan
petani menabung, meminjam dan mengembangkan usaha-usaha ekonomi produktif.
• Pengembangan pelatihan dan konsultasi untuk meningkatkan ketrampilan dan
pengetahuan di bidang pertanian, peternakan, kehutanan kesehatan melalui
pendekatan masyarakat, penguatan institusi petani, pemberdayaan aparatur desa,
penyusunan peraturan desa dan RPJM desa, gender, manajemen program dan kerja
sama multipihak.
• Pengembangan institusi petani, institusi lembaga, kawasan konservasi, advokasi dan
jaringan kolaboarasi multipihak.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Linkage yang terjalin antara PNPM Mandiri Perdesaan khususnya UPK Nekmese dan
YMTM dilandasi oleh kesamaan visi untuk kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Linkage ini juga bertujuan untuk mendorong upaya penanggulangan kemiskinan melalui
pemberdayaan dan partisipasi aktif masyarakat.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
155
YMTM mendorong kerja sama yang sinergis antara PNPM Mandiri Perdesaan dan
Program YMTM di Kabupaten TTU dalam upaya pengembangan usaha ekonomis dari
kelompok tani binaan YMTM. YMTM juga mendorong kolaborasi terpadu yang sangat
kuat antara pemerintah dan LSM. PNPM Mandiri Perdesaan dianggap telah memiliki
sistem dan alur kerja yang telah berjalan dengan baik di masyarakat perdesaan terkait
dengan penyaluran dana bergulir.
Dengan dukungan dana dari ANTARA-AusAID, YMTM menyediakan dana
hibah sebesar 100 juta rupiah kepada UPK Nekmese untuk dapat disalurkan sebagai
PDB kepada kelompok tani binaan YMTM yang belum menjadi nasabah UPK, namun
memenuhi persyaratan sebagai kelompok peminjam PDB. Linkage tersebut dilaksanakan
untuk menjalankan Proyek Pengembangan Pertanian Berkelanjutan dan Pemasaran yang
Adil di Kabupaten Timor Tengah Utara yang diintegrasikan ke dalam Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat yang dinamakan PNPM-PEM.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Koordinasi awal melalui pembicaraan antara Direktur YMTM dan Faskab TTU pada
2009 telah dilakukan selama tiga minggu. Saat itu UPK yang disepakati sebagai mitra
linkage adalah UPK Nekmese di Kecamatan Miomaffo Barat karena dinilai berkinerja
baik. Pemilihan lokasi ini juga mempertimbangkan wilayah Miomaffo Barat sebagai
wilayah binaan YMTM di Kabupaten TTU. Pemilihan tiga desa yang menerima PDB
tersebut diputuskan bersama masyarakat di tingkat UPK di Kecamatan Miomaffo Barat.
Kesepakatan awal yang ditetapkan hanya memutuskan bahwa dua desa merupakan desa
dampingan YMTM dan satu desa lain merupakan nondampingan YMTM atau merupakan
desa sasaran PNPM.
Dua desa yang menjadi kelompok binaan YMTM adalah Desa Fatunenao dan Desa
Manunasi, sedangkan satu desa lainnya, yaitu: Desa Lemon tidak mendapatkan binaan
dari YMTM karena pertimbangan kedekatan lokasi dengan pusat kecamatan. Pemilihan
Desa Lemon sebagai desa nondampingan YMTM bertujuan untuk mendapatkan nilai
pembanding mengenai kualitas dampingan yang telah dilakukan YMTM terhadap
desa dampingan YMTM. Yang membedakan adalah kelompok binaan YMTM bukan
merupakan kelompok baru, melainkan kelompok yang telah mapan dan pernah menerima
binaan.
Sebelum terbentuknya linkage dengan YMTM, tiga desa terpilih telah menerima
PDB dari PNPM Mandiri Perdesaan. Namun kelompok yang disetujui dan lolos verifikasi
belum pernah menerima PDB.
156
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model dan Produk Linkage
Model linkage melalui pemberian dana hibah dari YMTM kepada UPK Nekmese
memberikan peran UPK sebagai pelaksana dalam penyaluran PDB dari YMTM. Sesuai
perjanjian yang ditandatangani Direktur YMTM dan Ketua UPK, dari total dana 100
juta rupiah tersebut, 81%-nya akan dikelola oleh UPK sebagai dana PDB dan sisanya
19% dipergunakan sebagai biaya operasional UPK seperti biaya insentif pengurus UPK
dan fasilitator lapangan, transportasi pengurus UPK dan fasilitator lapangan, musyawarah
dusun dan desa, pelatihan kelompok yang menerima pinjaman dan monitoring.
Pengelolaan dana hibah tersebut sepenuhnya mengadopsi sistem PNPM. Dana hibah
tersebut dicatat dalam pembukuan UPK sebagai modal UPK yang dicatat dengan akun
dana hibah pihak ketiga.
Sebagai pelaksana dalam linkage ini, UPK berkewajiban melaksanakan hal-hal berikut:
• Mengelola seluruh administrasi dan dana kegiatan PNPM-PEM di tingkat desa
dengan tetap berpedoman pada prinsip dan nilai yang dimiliki oleh PNPM dan
YMTM.
• Menggunakan dana sesuai dengan tujuan program sebagaimana yang tercantum
dalam usulan program yang disetujui bersama antara kedua belah pihak mitra.
• Membuat dan melaksanakan evaluasi dua bulanan di tingkat kecamatan/kabupaten
mengenai perkembangan pelaksanaan kegiatan dengan tim koordinasi kecamatan,
kabupaten dan pelaku lain yang terlibat dalam PNPM-PEM.
• Menyampaikan laporan kegiatan dan penggunaan dana secara berkala.
4.2. Skema Produk Linkage
Dalam linkage antara UPK dan YMTM disepakati bahwa seluruh mekanisme dan sistem
penyaluran pinjaman didasarkan pada PDB PNPM Mandiri Perdesaan. Namun demikian,
dalam pencairan dana hibahnya, YMTM menerapkan tiga termin pencairan kepada UPK.
Termin pertama sebesar 50% dari total dana setelah penandatanganan kontrak, termin
kedua sebesar 40% setelah hasil seleksi proposal atau penetapan desa/kelompok sasaran
dan termin ketiga sebesar 10% pada triwulan kedua atau pada Januari 2010.
Untuk menerima dana hibah ini, UPK Nekmese wajib membuka rekening khusus atas
nama lembaga. Dana hibah ini telah disalurkan kepada tiga kelompok UBSP di tiga desa
terpilih. Skema yang diterapkan mengikuti skema pinjaman yang diterapkan oleh program
PNPM Mandiri Perdesaan di UPK Nekmese. Pada Januari 2012, desa yang menerima
pinjaman PDB YMTM bertambah satu, yaitu Desa Neopeso yang juga merupakan desa
dampingan YMTM. Berikut hibah dana YMTM bagi desa-desa penerima.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
157
Tabel 1. Hibah Dana YMTM
No
Nama
Desa
Nama
Kelompok
Jumlah
penerima
manfaat
(orang)
Pokok Pinjaman (Rp)
Jangka
waktu
Pinjaman
(bulan)
Bunga Tanggal
Pinja- Realisasi
man
pinjaman
(%)
Status Pinjaman per
Des 2011
1.
Manusasi
Moen Mese
5
20.000.000
12
1%
22 Okt 2009
menunggak
2.
Fatuneno
UBSP Suka
Mandiri
8
25.000.000
12
1%
21 Okt 2009
Lunas
3.
Lemon
Rajawali
8
40.000.000
12
1%
06 Des 2010 menunggak
4.
Noepesu
Tunas Baru
6
60.000.000
12
1%
07 Feb 2012 aktif
5. Profil Penerima Manfaat Linkage
Profil penerima manfaat yang ditampilkan pada laporan ini dimulai dengan profil kelompok
usaha bersama yang mewadahi kedua individu yang merupakan dua dari delapan individu
penerima manfaat pinjaman PDB hibah YMTM kepada UPK Nekmese. Keduanya berasal
dari Desa Fatuneno.
5.1. Profil UBSP Suka Mandiri
UBSP Suka Mandiri dibentuk pada 2004 yang awalnya beranggotakan 19 orang dengan
modal Rp190.000. Latar belakang dibentuknya UBSP adalah kebutuhan modal anggota
petani untuk mengembangkan pertanian maupun usaha paronisasi (penggemukan sapi).
Setiap anggota wajib memberikan iuran anggota per bulan, simpanan pokok, simpanan
wajib, dan simpanan sukarela.
Per 2011 modal UBSP telah menjadi Rp180 juta dengan total jumlah anggota 178
orang. Syarat keanggotaan UBSP adalah minimal berusia 10 tahun, baik laki-laki maupun
perempuan. Dengan demikian dalam satu rumah tangga bisa terdapat lebih dari satu
yang menjadi anggota UBSP, baik suami, istri dan anak. Diikutsertakannya anak mereka
sebagai anggota UBSP oleh orang tuanya dimaksudkan untuk memiliki dana simpanan
meskipun tanggung jawab sebagai anggota berada di tangan orang tuanya. Tujuan utama
keikutsertaan mereka adalah untuk belajar menabung.
Selain persyaratan umur minimal, setiap anggota baru UBSP wajib mengikuti
orientasi anggota di enam bulan pertama. Bentuk orientasinya adalah berupa keharusan
mengikuti pertemuan rutin setiap bulan, mengikuti kegiatan kelompok setiap minggu
berupa kegiatan perkebunan bergiliran ke kebun kelompok lain dan mengikuti pelatihan
yang diadakan YMTM seperti pelatihan penguatan kelompok. Khusus untuk anggota
yang berumur 10 tahunan, orientasi anggota menjadi tanggung jawab orangtuanya.
158
UBSP Suka Mandiri memiliki jadwal rutin rapat anggota bulanan yang diadakan
setiap tanggal 12 di malam hari karena siang harinya hampir semua anggota bekerja di
kebun. Rapat tersebut dilaksanakan bergilir oleh keduabelas kelompok di rumah salah satu
anggota kelompok apabila balai desa tidak mungkin dipergunakan.
Selain simpanan, produk yang dikembangkan di dalam UBSP Suka Mandiri mencakup
pinjaman. Besarnya pinjaman yang dapat diberikan oleh UBSP kepada anggotanya maksimal
tiga kali nilai simpanan sukarela (tabungan) anggota. Sebagai contoh apabila tabungan di
UBSP sebesar 100 ribu rupiah, maksimal pinjaman adalah 300 ribu rupiah.
Dari total 178 anggota UBSP, terdapat delapan di antaranya yang mendapat
pinjaman PDB hibah YMTM. Sebagai jaminan atas pinjaman sebesar 25 juta rupiah dari
UPK, kelompok UBSP Suka Mandiri menyerahkan BPKP motor ketua kelompok sebagai
jaminan. Penetapan penerima dan besarnya PDB yang diterima oleh penerima didasarkan
atas kesepakatan seluruh anggota kelompok UBSP, selain berdasar pada permohonan dan
minat dari anggota tersebut. Disepakati apabila telah menerima pinjaman, anggota tidak
dapat lagi meminjam di UBSP. Bunga yang dikenakan UBSP Suka Mandiri atas pinjaman
dana bergulir hibah YMTM adalah 2% dengan pembagian 1% pembayaran bunga ke UPK
dan 1% diberikan ke UBSP. Selanjutnya penerima manfaat PDB akan menerima pelatihan
pembukuan dari UPK. Berikut profil dua dari delapan anggota UBSP Suka Mandiri yang
menerima dana bergulir hibah YMTM.
5.2. Individu Penerima Manfaat
Pak Yasintus Nale telah menjadi anggota kelompok UBSP Suka Mandiri sejak
2004. Dari 25 juta rupiah PDB yang diterima dari UPK untuk delapan orang anggota
UBSP Suka Mandri, ia dapat mengakses sebesar delapan juta rupiah. Besarnya jumlah
pinjaman individu diputuskan dalam rapat kelompok UBSP. Besarnya nilai pinjaman ini
didorong oleh besarnya kebutuhan biaya yang akan ia keluarkan untuk program paronisasi
(penggemukan sapi). Bunga yang dibayarkan adalah sebesar 1% atau 80 ribu rupiah per
bulan. Bila ditambah dengan angsuran per bulan (Rp667.000), setiap bulan ia harus
membayar Rp747.000 kepada UPK. Ia juga harus membayar bunga 1% kepada UBSP.
Pinjaman tersebut dipergunakan untuk membeli empat ekor sapi yang diperlihara
selama dua hingga tiga minggu. Biasanya sapi dibeli di pasar perbatasan Naekaki dan dijual
ke penadah di Desa Eban di Miomaffo Barat. Dari empat ekor sapi yang dibeli pada 2009
dengan modal 8 juta rupiah, ia berhasil menjual dengan harga total 11 juta rupiah atau
mendapat keuntungan sebesar tiga juta rupiah. Semenjak itu, ia tetap melakukan jual-beli
sapi untuk usaha paronisasi-nya dan hingga saat ini tetap bertahan.
Meskipun telah lama menjadi anggota UBSP, baru pada 2009 ia mendapat pinjaman
melalui UPK. Hal ini karena kurangnya informasi tentang adanya pinjaman dari UPK
yang bisa diakses. Ia juga tidak pernah memiliki pengalaman meminjam di lembaga
keuangan formal.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
159
5.3. Individu Penerima Manfaat Kedua
Pak Emilius Naben adalah ketua kelompok UBSP Suka Mandiri yang bertempat tinggal di
Desa Fatuneno. Ia sudah menjadi ketua selama dua tahun dari tiga tahun masa jabatannya
dan terpilih melalui musyawarah anggota UBSP. Sebagai ketua kelompok, sebelum tanggal
7 setiap bulannya ia telah menerima pembayaran angsuran untuk dibayarkan kepada UPK.
Ia mendapatkan pinjaman sebesar lima juta rupiah dari UPK. Pinjaman ini dipergunakan
untuk menambah modal usaha kios atau penjualan bahan-bahan kelontong. Kiosnya
berada di depan rumah dan dikelola bersama istrinya. Kios ini baru dibuka pada 2010.
Pinjaman melalui UPK adalah pengalaman pertama di luar dari pinjaman di UBSP
dengan nilai tinggi. Manfaat yang diperoleh dari pinjaman PDB hibah YMTM adalah
memberikan modal yang cukup besar untuk usaha kiosnya sehingga barang dagangan
menjadi bervariasi. Hingga saat ini belum ada pesaing di sekitar tempat tinggalnya. Usaha
ini menjadi penambah penghasilan rumah tangganya selain dari penghasilan utamanya
sebagai petani sayuran di atas lahan seluas 0,5 hektar.
Pak Emilius kini telah memiliki simpanan di UBSP sebesar Rp3.670.000, selain dari
tabungan di BRI Unit Eban atas namanya dan atas nama putri pertamanya. Ia tidak lagi
memiliki niat untuk meminjam di BRI karena masih menjadi peminjam di UBSP. Ia juga
berencana mengajukan pinjaman sebesar 10 juta rupiah ke UPK melalui kelompok SPP
yang diikuti istrinya.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
•
•
•
•
160
Linkage dengan LSM yang ada di wilayah binaan PNPM dapat meningkatkan akses
kelompok masyarakat miskin terhadap dana bergulir sehingga mendukung program
PNPM dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Menerima bantuan teknis pendampingan kelompok, termasuk program PNPM-PEM
walaupun tidak secara intensif dalam bidang pemasaran produk dan hasil pertanian.
Kelompok dampingan YMTM mendapat keterampilan pengelolaan keuangan dari
program PNPM.
Para pelaku program PNPM, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, belajar
bekerja sama dan bersinergi dengan program-program pembangunan lain. Mereka
juga belajar bekerja sama dengan pihak ketiga, baik yang ada di tingkat kecamatan
maupun di kabupaten.
6.2. Tantangan dari Linkage
Tantangan dari linkage yang terjalin antara UPK dan YMTM.
• Linkage ini berupa hibah yang bersifat tidak mengikat UPK dalam hal kewajiban
pengembalian dana kepada lembaga pemberi pinjaman sehingga tekanan kepada
kelompok peminjam yang menunggak juga menjadi lemah.
• Perjanjian kerja sama yang berupa hibah dan hanya berlangsung selama satu tahun
telah berdampak pada lemah atau kurangnya komunikasi tentang linkage dan
capaiannya.
• Bantuan teknis secara intensif hanya sebatas pada desa dampingan YMTM, sedangkan
desa nondampingan YMTM hanya dimonitor.
• Tunggakan PDB dari hibah YMTM terjadi karena usaha paronisasi belum berhasil.
PNPM harus memiliki mekanisme khusus untuk mengelola peminjam dengan
karakteristik usaha pertanian.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
161
162
Kota Kupang
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara P.T. BPR
Tanaoba Lais Manekat dan BKM
UPK Nunbaun Delha, Kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Terjalinnya linkage antara individu penerima manfaat PDB BKM UPK NBD dan
P.T. BPR NBD terjadi akibat tingginya kebutuhan dana yang lebih besar, namun tidak
bisa dilayani oleh BKM UPK NBD karena individu penerima manfaat tersebut sudah
bukan lagi menjadi target pasar BKM UPK NBD. Kebutuhan ini disadari oleh PNPM
Mandiri Perkotaan. Melalui pejabat pembuat komitmen (PPK) di tingkat Provinsi
NTT dan P.T. BPR Tanaoba Lais Manekat (TLM), PNPM Mandiri Perkotaan
membuat pilot program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui layanan simpanan
dan pijaman mikro dengan plafon antara 2,5 juta hingga 15 juta rupiah per debitur
serta bunga pinjaman yang cukup terjangkau. Nota kerja sama tersebut ditandatangani
pada 11 November 2010. Sebagai komitmen, P.T. BPR TLM menyediakan pagu
program sampai 15 miliar rupiah.
Setelah penandatanganan nota kerja sama, beberapa agenda sosialisasi baik di P.T. BPR
TLM maupun di 45 desa di Kota Kupang telah dilaksanakan. Hingga awal tahun
2012 ini, realisasi program hanya mencapai 273,5 juta rupiah dengan 24 debitur atau
sebesar 2% saja dari pagu program yang disediakan. Khusus untuk program linkage
antara PNPM Perkotaan dan P.T. BPR TLM, BPR menawarkan kredit individual
dengan tingkat suku bunga yang lebih menarik dan dengan perhitungan yang berbeda
jika dibandingkan produk bank maupun BPR pada umumnya. Perbedaan yang
dimaksud adalah berupa tingkat suku bunga sebesar 21% per tahun yang dihitung
secara menurun. Selain itu, keistimewaan lain yang diberikan adalah penyediaan
asuransi jiwa kredit dengan biaya premi ditanggung BPR.
Pelajaran penting yang didapat dari linkage ini adalah pentingnya prakarsa dan
partisipasi aktif satker dan fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan dan keberadaan
payung hukum terkait linkage. Selain itu, fungsi intermediatery BKM UPK perlu lebih
besar mengedukasi kelompok PDB. Tantangan ke depan linkage ini adalah bagaimana
PNPM Mandiri Perkotaan melalui fasilitatornya bisa mendorong realisasi ini sehingga
keberadaan dan manfaat program bisa dirasakan secara lebih luas.
164
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara P.T. BPR Tanaoba Lais Manekat dan
BKM UPK Nunbaun Delha Kelurahan Nunbaun Delha, Kecamatan Alak,
Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
21 – 22 Februari 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kelurahan NBD
Kelurahan NBD merupakan satu dari sebelas kelurahan yang ada di Kecamatan Alak yang
berbatasan dengan laut di sebelah utara, dengan Kelurahan Manutapen di sebelah selatan,
dengan Kelurahan Nunbaun Sabu di sebelah barat dan Kelurahan Nunhila di sebelah
timur. Kelurahan NBD terletak di dataran dengan ketinggian 20 meter di atas permukaan
laut dan luas area 16 ha. Kelurahan ini terdiri atas 12 RW dan 23 RT. Jumlah penduduknya
3.052 jiwa, dengan mayoritas (72%) berusia dewasa. Mata pencaharian umumnya adalah
nelayan, pegawai, tukang, buruh, dan pedagang.
Prasarana ekonomi untuk menunjang aktifitas keuangan seperti bank tersedia di luar
wilayah Kelurahan NBD dengan jarak kurang lebih 1 km. Beberapa bank yang dimaksud
adalah BNI Cabang Kuanino, BNI Kelurahan Tode, dan BRI Unit Pasar Solor.
1.2. Profil BKM UPK NBD
BKM UPK NBD berdiri pada 2006 dengan modal awal dari PDB sebesar 70 juta rupiah.
Struktur kepengurusan BKM UPK NBD terdiri atas satu orang koordinator yang dibantu
oleh seorang sekretaris dan seorang pengelola di BKM UPK. Prestasi awal yang dicapai
pengurus BKM pada 2010 adalah mengaktenotariskan pendirian BKM NBD melalui
notaris Imanel Mali No 149/W/2011 dan penyebutan nama baru menjadi LKM Damai
Tapi Gersang.
Prestasi lain yang sudah dicapai di antaranya memberikan rekomendasi atas
kinerja individu penerima manfaat untuk dapat mengakses dana dari P.T. BPR TLM
dan membuat program celengan untuk meringankan penerima manfaat ketika hendak
membayar kewajiban angsuran PDB-nya ke BKM UPK. Program kerja BKM ke depan
adalah merencanakan program bantuan untuk masyarakat yang kurang mampu melalui
penyediaan gerobak bagi penjual buah dan ikan di pinggir jalan NBD dan merintis
pendirian koperasi.
Pada akhir Januari 2012 jumlah PDB BKM UPK NBD sebesar 50 juta rupiah
dan diberikan kepada 38 KSM dengan 131 anggota PDB. Bunga pinjaman PDB ini
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
165
sebesar 1,5% flat disertai insentif berupa tabungan 25% dari bunga per bulan yang bisa
diambil pada saat PDB lunas. Ratio pengembalian sebesar 84%. Tunggakan umumnya
akibat kondisi cuaca yang membuat nelayan tidak bisa melaut dan kebutuhan biaya anak
sekolah. Dalam rangka membantu meringankan pembayaran angsuran PDB, BKM UPK
NBD telah membuat program celengan yang ditempatkan di rumah masing-masing
individu penerima manfaat dan pengisiannya dilakukan setiap hari dengan jumlah sesuai
kemampuan masing-masing. Pada saat pembayaran kewajiban PDB ke BKM UPK, dana
angsuran PDB tersebut sudah tersedia di celengan.
Kegiatan administrasi BKM UPK NBD berpusat di kantor Kelurahan NBD yang
buka setiap hari kecuali Minggu dan dikelola oleh seorang pengurus BKM UPK. Pengurus
tersebut juga membantu melakukan pemantauan dan pembinaan secara langsung pada
individu penerima manfaat PDB. Untuk pemantauan dalam rangka kelancaran pembayaran
angsuran PDB, pengurus BKM UPK selalu proaktif mendatangi individu penerima
manfaat segera setelah diketahui ada penerima manfaat yang mulai menunggak. Upaya
proaktif ini membuat pengurus mampu mendeteksi alasan tunggakan dan selanjutnya
mencari jalan keluar dengan melibatkan keaktifan peran BKM. Pengurus BKM UPK
mendapat insentif dari BKM sebesar 250 ribu rupiah per bulan.
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
P.T. BPR TLM didirikan pada Februari 2007 dengan pemegang saham utama adalah
Yayasan Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Visinya adalah pengembangan usaha usaha
kecil dan mikro di seluruh NTT. Produk yang ditawarkan adalah kredit, tabungan, dan
deposito. P.T. BPR TLM didukung oleh 21 staf yang tersebar di bidang layanan pelanggan,
bidang pinjaman, bidang pendanaan, bidang hukum maupun remedial (penagihan).
Seperti bank pada umumnya, pendapatan utama P.T. BPR TLM berasal dari pemberian
kredit umum dengan besar pinjaman di bawah 100 juta rupiah dan tingkat suku bunga
24% per tahun.
Total aset pada saat BPR ini berdiri sebesar 22 miliar rupiah. Pada Desember 2011,
total aset telah berkembang menjadi 64 miliar rupiah atau meningkat sebesar 191%
dengan kredit yang diberikan (KYD) sebesar 49 miliar rupiah dan jumlah total debitur
1.095. Jenis-jenis produk jasa kredit yang ditawarkan oleh P.T. BPR TLM adalah pinjaman
kelompok, pinjaman individu, paronisasi sapi, dan pinjaman lain dengan persyaratan
umum pemberian kreditnya sebagai berikut:
• Pemohon harus memiliki kartu identitas resmi. Indentitas harus menunjukkan
wilayah tempat tinggal saat ini masih dalam wilayah pelayanan P.T. BPR TLM
sekurang-kurangnya enam bulan.
166
•
Pemohon harus menunjukkan kepemilikan suatu usaha atau memiliki pendapatan
tetap per bulan. Usaha klien setidaknya telah dikelola minimal enam bulan sejak
permohonan diajukan.
• Usia pemohon antara 18 tahun sampai 63 tahun (untuk memungkinkan asuransi
kredit dan alasan hukum).
• Pemohon bersedia membuka rekening di BPR TLM.
• Pemohon menginformasikan secara jujur jika memiliki pinjaman di tempat lain. P.T.
BPR TLM tidak mengharuskan mereka melunasi utang yang lain. Hal ini dilakukan
untuk kepentingan analisis usaha dan penilaian kemampuan klien membayar kembali
semua pinjamannya.
• Usaha klien yang sekarang harus dapat menutupi pembayaran cicilan dan bunga
pinjaman yang akan diberikan.
Selain menawarkan produk pinjaman, P.T. BPR TLM juga menerima simpanan dana
masyarakat yang berupa tabungan maupun deposito. Sesuai dengan visi TLM yang
melayani masyarakat kecil, metode yang dipakai dalam mengembangkan usahanya adalah
dengan cara melakukan sosialisasi bersama komunitas melalui acara lomba, bakti sosial,
atau acara lain. Metode ini dianggap paling efektif dibandingkan dengan memasang iklan
maupun metode yang lain. Dengan berdialog langsung dengan para komunitas, P.T. BPR
TLM bisa mengetahui dengan cepat kebutuhan yang diinginkan para pelanggan potensial.
Acara sosialisasi yang dilakukan P.T. BPR TLM sudah mencapai delapan puluhan kali.
2.2. Produk Lembaga Mitra
Khusus untuk program linkage antara PNPM Perkotaan dan P.T. BPR TLM, BPR
menawarkan kredit individual dengan tingkat suku bunga yang lebih menarik dan dengan
perhitungan yang berbeda jika dibandingkan produk bank maupun BPR pada umumnya.
Tawaran yang menarik tersebut adalah berupa tingkat suku bunga sebesar 21% per tahun
yang dihitung secara menurun. Keistimewaan lain yang diberikan adalah pemasangan
asuransi jiwa kredit dengan biaya premi ditanggung BPR.
3.Sejarah Linkage
3.1. Dasar Terjalinnya Linkage
Terjalinnya linkage antara individu penerima manfaat PDB BKM UPK NBD dan P.T.
BPR NBD terjadi karena adanya kebutuhan dana para individu penerima manfaat yang
lebih besar dari dua juta rupiah, namun tidak bisa dilayani oleh BKM UPK NBD karena
individu tersebut sudah bukan lagi menjadi target pasar BKM UPK NBD. Kondisi tersebut
tertuang dalam aturan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pinjaman Bergulir (PPKPB) PNPM
Mandiri Perkotaan.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
167
3.2. Proses Terjadinya Linkage
Terjadinya linkage adalah karena adanya kesamaan visi antarpemangku kebijakan di tingkat
pemerintah daerah (PPK), PNPM Mandiri Perkotaan, dan P.T. BPR TLM. Kesamaan visi
tersebut diketahui karena adanya komunikasi dalam pertemuan antarkomunitas umat
kristiani pada saat acara kebaktian yang diadakan secara regular. Kesamaan visi tersebut
dirasa perlu dituangkan dalam sebuah wadah kerja sama antara P.T. BPR TLM sebagai
bank penyedia layanan kuangan dan program PNPM Mandiri Perkotaan yang diwadahi
oleh Satker (PPK) di tingkat provinsi. Kerja sama ini sangat diperlukan terutama oleh P.T.
BPR TLM sebagai legitimasi ketika BPR berinteraksi dengan masyarakat di kelurahan.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Model linkage yang terjalin antara BKM UPK NBD dan P.T. BPR TLM adalah sebuah
model yang terlahir dari prakarsa pemangku kebijakan di tingkat provinsi. Prakrasa
model linkage ini tertuang dalam nota kerja sama dalam program pemberdayaan ekonomi
masyarakat melalui layanan simpan pinjam. Selanjutnya secara teknis implementasinya
dilakukan di tingkat mikro atau BKM UPK di kelurahan.
Setelah nota kerja sama ditandatangani bersama dengan PPK Provinsi NTT, P.T. BPR
TLM melakukan sosialisasi pertama dengan mengundang seluruh lurah di kantor P.T.
BPR TLM kota Kupang. Sosialisasi kedua dilakukan langsung ke masing-masing di 45
kelurahan kota Kupang yang dihadiri oleh PNPM Mandiri Perkotaan dengan pembicara
Direktur Utama P.T. BPR TLM.
Secara teknis sebelum permohonan diajukan kepada P.T. BPR TLM, terlebih dahulu
calon debitur BPR harus mendapat rekomendasi dari BKM dan PNPM Mandiri Perkotaan
(kordinator kota). Hal yang penting dalam rekomendasi tersebut adalah rekaman
pinjaman di PNPM Mandiri dan persyaratan administrasi yang lain. Setelah rekomendasi
diserahkan pada P.T. BPR TLM, keputusan selanjutnya tergantung analisis internal P.T.
BPR TLM. Jika sudah disetujui dan dicairkan, pembayaran pinjaman kepada P.T. BPR
TLM dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan berjalan.
4.2. Produk Linkage
Program yang ditawarkan oleh P.T. BPR TLM prinsipnya sama dengan produk perbankan/
BPR pada umumnya, yaitu produk kredit dan simpanan dana masyarakat yang dikemas
dalam bentuk khusus yang disebut TLM Mandiri. Program ini dirancang oleh BPR dalam
rangka memperluas jangkauan dan labanya melalui individu penerima manfaat BKM
UPK.
168
Besar kredit yang ditawarkan mulai dari 2,5 hingga 15 juta rupiah dengan tingkat
suku bunga secara menurun (sliding) 21% per tahun, beserta provisi 2% dan ongkos periksa
100 ribu rupiah untuk jangka waktu pinjaman maksimal sampai 60 bulan. Jaminan yang
dipersyaratkan adalah 20% dari plafon kredit yang diberikan dan disisihkan dalam bentuk
tabungan beku selama kredit masih berjalan. Fasilitas lain yang diberikan kepada debitur
adalah asuransi jiwa kredit yang ditanggung oleh BPR.
Menurut Direktur Utama P.T. BPR TLM, Robert Fanggidae, pada saat program
TLM mandiri ini disepakati pada November 2010 telah tersedia pagu sebesar kurang lebih
15 miliar rupiah. Namun kenyataannya realisasi program pada awal tahun 2012 hanya
mencapai 273,5 juta rupiah atau hanya sebesar 2% saja dengan 24 debitur. Menurutnya,
PNPM Perkotaan seharusnya memberi target kinerja kepada setiap fasilitator kelurahan
(faskel) tentang jumlah orang yang didorong untuk mengakses layanan P.T. BPR TLM
dan mereka tidak lagi bergantung pada program pemerintah. Rencana ke depan terkait
kinerja program adalah agar masukan-masukan yang telah disampaikan ditinjau kembali
dan dilakukan evaluasi bersama antara PNPM dan P.T. BPR TLM, setidaknya setiap
tribulan.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
5.1. Individu Penerima Manfaat Linkage Pertama
a.
Profil Usaha Bapak Deny Aryanto Nalle
Bapak Denny bertempat tinggal di Kelurahan NBD RT 09/RW IV kota Kupang dan
memiliki usaha kios di Pasar Induk Oebaba kota Kupang. Kios tersebut mempunyai luas
lahan 12 meter persegi dan berada di depan lahan parkir dengan biaya sewa lahan 500
ribu per tahun. Ia memulai usahanya sejak 1992 sebagai pedagang sayur dan bumbubumbu dengan omzet per bulan di bawah satu juta rupiah. Namun, pada 2006 usahanya
berkembang lambat. Ia kemudian memutuskan mengganti usaha kios dengan barang
consumer goods yang banyak dibutuhkan misalnya minuman ringan, sabun mandi,
sabun cuci, makanan ringan, kecap, minyak goreng kemasan, telur, dan lain-lain. Barang
dagangan tersebut diperoleh dari toko di seberang pasar, sedangkan pelanggannya berasal
dari sekitar pasar induk tersebut.
Saat ini Bapak Deny tidak lagi menjadi debitur PDB BKM UPK NBD dan bahkan
telah menjadi debitur P.T. BPR TLM. Sejak mendapatkan pinjaman dari P.T. BPR TLM,
usaha Bapak Deny terus mengalami kemajuan dan menghasilkan pendapatan bersih satu
juta rupiah per bulan di luar penghasilan dari dagang sayuran yang mendapat keuntungan
kurang lebih dua juta rupiah per bulan. Kemajuan ini diduga kuat akibat dari adanya modal
yang lebih besar yang didapat dari P.T. BPR TLM sejak Agustus 2011. Selain kemajuan
usaha, Bapak Deny kini telah memiliki sebuah sepeda motor Supra dan simpanan lima juta
rupiah di P.T. BPR TLM.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
169
b.
Sejarah Pinjaman dari BKM UPK ke P.T. BPR TLM
Sejak dimulainya program BKM UPK di NBD pada 2006, Bapak Deny mulai membentuk
kelompok untuk mengikuti program PDB di BKM UPK NBD. Bersama dengan tiga
orang temannya Bapak Deny menerima pertama kali PDB BKM UPK NBD pada 2007
sebesar 500 ribu rupiah yang digunakan untuk tambahan modal kerja usaha kiosnya.
Selama menjadi debitur, kinerja pembayaran Bapak Deny dinilai baik dan pada 2008
pinjaman dari PDB meningkat menjadi satu juta rupiah. Selanjutnya secara berturut turut
PDB tersebut ditingkatkan menjadi 1,5 juta rupiah pada 2009 dan dua juta rupiah pada
2010. Jangka waktu PDB di BKM UPK NBD rata-rata hanya mencapai 10 bulan dengan
tingkat suku bunga 1,5% per bulan flat di mana 25% dari tingkat suku bunga tersebut
dialokasikan oleh BKM UPK menjadi tabungan kelompok yang akan dibagikan pada saat
akhir angsuran jika tingkat pengembaliannya lancar.
Karena kegigihannya, usahanya secara perlahan-lahan meningkat. Akibatnya, PDB
sebesar dua juta rupiah tampaknya sudah tidak memadai lagi untuk mengimbangi
perkembangan usahanya. Secara kebetulan pada pertengahan 2011, P.T. BPR TLM
mengadakan sosialisasi program TLM Mandiri di Kelurahan NBD. Pada saat itu Bapak
Deny mengajukan kredit sebesar 15 juta rupiah kepada P.T. BPR TLM dan pada Agustus
2011 pengajuan tersebut disetujui sebanyak 10 juta rupiah untuk jangka waktu 60 bulan
dan dengan tingkat suku bunga secara sliding 21% per tahun. Jaminan yang diberikan
Bapak Deny adalah tabungan beku sebesar 2,5 juta rupiah sedangkan 7,5 juta rupiah
digunakan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan modal kerja kios. Biaya yang
dikenakan utuk pengurusan kredit ini mencakup biaya provisi sebesar 2% secara sekaligus,
ongkos periksa sebesar 100 ribu rupiah dan insentif dari BPR berupa asuransi jiwa kredit.
Sejak memperoleh kredit dari P.T. BPR TLM, PDB di BKM UPK NBD telah dilunasi dan
aktifitas keuangan Bapak Deny telah dititikberatkan ke BPR.
5.2. Profil Individu Penerima Manfaat Linkage Kedua
a.
Profil Usaha Bapak Rocky Franklin Riwu
Bapak Rocky yang bertempat tinggal Jl. Kecapi No 25 di Kelurahan NBD RT 09/RW IV
kota Kupang mempunyai usaha ayam di pasar Inpres Pasar Kasih Naikoten kota Kupang.
Usaha tersebut dilakukan di lahan seluas 13.5 meter persegi. Bapak Rocky memulai
usahanya sejak 1982 dan menjual ayam kampung dengan modal pinjaman dari saudaranya.
Namun, pada akhirnya Bapak Rocky memilih lebih menekuni usaha perdagangan ayam
potong sebab perputaran usahanya sangat cepat. Omzet usaha Bapak Rocky antara 50
sampai 100 ekor ayam dalam satu minggu.
Ayam potong sangat rentan terhadap cuaca dan kondisi tertentu. Karena kondisi
inilah Bapak Rocky selalu membutuhkan modal usaha yang cukup. Pembelian ayam 50
hingga 100 ekor secara tunai dilakukan di Tilong dan Gokong. Meski kandangnya mampu
menampung 300 ekor ayam, untuk mengantisipasi risiko maksimum pembelian hanya
170
100 ekor. Untuk menjual ayamnya, Bapak Rocky hanya mengandalkan pelanggan yang
datang ke pasar dan dengan cara pembayaran tunai.
Walaupun kondisi usahanya penuh ketidakpastian, Bapak Rocky akan terus menekuni
usaha ini. Ia sudah merasa nyaman karena kebutuhan keluarganya sudah tercukupi dan
dapat berkumpul dalam satu rumah dengan 20 orang anggota keluarganya. Saat ini ia
sudah tidak lagi menjadi debitur PDB BKM UPK NBD melainkan debitur P.T. BPR
TLM.
b.
Sejarah Pinjaman dari BKM UPK ke P.T. BPR TLM
Bapak Rocky mendapatkan pinjaman untuk pertama kalinya berupa PDB dari BKM UPK
NBD sebesar 500 ribu rupiah pada 2008. Karena kinerja pembayarannya baik, pada 2009
PDB-nya dinaikkan menjadi satu juta rupiah dan pinjaman yang terakhir pada 2010 telah
menjadi dua juta rupiah. Jangka waktu PDB di BKM UPK NBD rata-rata hanya mencapai
10 bulan dengan tingkat suku bunga 1,5% per bulan secara flat, di mana 25% dari tingkat
suku bunga tersebut dialokasikan oleh BKM UPK menjadi tabungan kelompok yang akan
dibagikan pada saat akhir angsuran jika tingkat pengembaliannya lancar.
Karena kebutuhan dana cadangan yang lebih besar untuk mengantisipasi
ketidakpastian hidup dan pada pertengahan 2011 P.T. BPR TLM mengadakan sosialisasi
program TLM Mandiri di Kelurahan NBD, Bapak Rocky mendapat kesempatan
mengajukan kredit sebesar 15 juta rupiah. Pada Agustus 2011 pengajuan tersebut disetujui
dengan jumlah pinjaman 10 juta rupiah untuk jangka waktu 60 bulan dan tingkat suku
bunga secara sliding 21% per tahun. Jaminan yang diberikan Bapak Rocky adalah tabungan
beku sebesar tiga juta rupiah sedangkan tujuh juta rupiah untuk kebutuhan modal kerja
usaha perdagangan ayam potong. Biaya-biaya yang dikenakan utuk memproses kredit ini
adalah provisi sebesar 2%, ongkos periksa 100 ribu rupiah, dan insentif dari BPR berupa
asuransi jiwa kredit.
Sejak memperoleh kredit dari P.T. BPR TLM, aktivitas keuangan Bapak Rocky telah
dititikberatkan ke P.T. BPR TLM. Saat ini tabungan yang berupa tabungan beku sebesar tiga
juta rupiah tidak pernah dipantau maupun diaktifkan karena ia lebih senang menabung di
rumah saja. Untuk menjaga reputasinya dan mempercepat pelunasan pinjaman kreditnya
di P.T. BPR TLM, Bapak Rocky setiap bulan selalu membayar tiga kali angsuran.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Berikut ini adalah pembelajaran yang dapat petik dari linkage yang terjalin antara PNPM
Perkotaan, BKM UPK NBD dan P.T. BPR TLM serta pengalaman para individu penerima
manfaat yang merasakan linkage tersebut:
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
171
•
•
•
•
Pentingnya peran PNPM Perkotaan melalui PPK atau satkernya dalam memprakarsai
dan memberikan payung hukum yang dapat menimbulkan rasa aman baik bagi BPR,
BKM UPK maupun debitur (penerima manfaat PDB) dalam mengimplementasikan
linkage khususnya di Kota Kupang sebagai pilot Provinsi NTT.
Fasilitator berperan sangat penting dalam membangun komunikasi antara P.T. BPR
TLM dan BKM UPK guna mensukseskan program TLM mandiri untuk pilot di
Kota Kupang.
BKM UPK dalam menjalankan fungsi intermediary (penghubung) antara individu
penerima manfaat dan lembaga mitra bank/nonbank dituntut agar lebih besar
perannya mengedukasi kelompok PDB sehingga benar-benar siap untuk linkage.
Keberadaan linkage dapat dirasakan dampaknya secara nyata oleh individu penerima
manfaat dalam bentuk pencapaian peningkatan skala usaha, pendapatan, dan
pengetahuan tentang sistem keuangan inklusi.
6.2. Tantangan Linkage
Walaupun kerja sama linkage ini telah menghasilkan suatu sistem yang lebih formal antara
pelaku di tingkat provinsi maupun kota, beberapa tantangan yang masih harus dipecahkan
ke depan.
• Perwujudan realisasi linkage yang lebih nyata antara PNPM Perkotaan melalui
fasilitatornya sehingga pagu program yang disediakan bisa digunakan secara efektif
dan dapat menjangkau masyarakat di cluster 2 naik ke cluster 3.
• Bagi debitur, tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan keberlanjutan
usahanya karena P.T. BPR TLM akan terus mendukung usaha debitur sepanjang
usaha tersebut terus berkembang.
172
Kota Kupang
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Linkage Antara BNI 46 dan
BKM-UPK Trikora, Kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Sebelum menjalin linkage dengan BNI, BKM-UPK Trikora telah menjalin linkage
dengan Dinas PU Kota Kupang untuk kegiatan perbaikan lingkungan dan sanitasi.
Linkage ini telah mendorong BKM-UPK untuk bermitra dengan pihak lain, termasuk
untuk kegiatan ekonomi produktif dan pengembangan usaha mikro. Linkage antara
BKM-UPK Trikora dan BNI terbentuk berkat adanya koordinasi dan hubungan
yang baik antara konsultan PNPM Perkotaan dan BNI. Linkage ini terjalin karena
didorong oleh keterbatasan modal awal UPK yang didapat dari PNPM Perkotaan,
sementara anggota KSM yang masuk dalam kategori telah ‘naik kelas’ memerlukan
pinjaman dana yang lebih besar dari 2 juta rupiah. Skema kredit yang digunakan oleh
BNI dalam linkage ini adalah dari produk PKBL untuk BUMN.
Model linkage yang diterapkan adalah melalui rekomendasi tertulis dari BKM-UPK
untuk anggota-anggota KSM terpilih dan dinilai memiliki catatan pengembalian
yang lancar dan usahanya telah meningkat. Pencairan kredit PKBL ke individu yang
sebelumnya telah meminjam ke UPK mencapai 14 orang dengan jumlah total kredit
240 juta rupiah. Besaran kreditnya bervariasi antara 10 hingga 20 juta rupiah dengan
jangka waktu pinjaman dari satu hingga tiga tahun dan dengan jasa bunga sebesar 6%
per tahun. Setelah implementasi linkage ini dilakukan, pada 10 April 2012 melalui
nota kesepahaman antara BNI Kantor Cabang Kupang dan Dinas Pekerjaan Umum
SNVT PBL Provinsi NTT disahkan. Nota kesepahaman tersebut tidak secara khusus
menyebutkan tentang linkage antara BNI dan BKM-UPK Trikora, namun lebih
mencakup linkage yang lebih luas dengan PNPM Perkotaan.
Pengalaman Linkage antara BKM-UPK dan BNI ini berpeluang untuk direplikasi di
BKM-UPK lain yang berada di bawah BNI Cabang Kota Kupang karena tersedianya
payung nota kesepahaman antara keduanya. Linkage ini juga berpotensi untuk
meningkatkan kerjasama di luar layanan keuangan, seperti pemberian pelatihan
untuk UPK, KSM, dan juga bentuk dukungan lain yang akan diberikan oleh BNI
untuk PNPM Perkotaan. Meski demikian, terdapat pula tantangan terkait dengan
peran penting BKM-UPK Trikora untuk selalu mengingatkan nasabah akan kewajiban
mengembalikan pinjaman tepat waktu.
174
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir
PNPM Mandiri Perkotaan antara BNI dan BKM-UPK Trikora di
Kelurahan Air Mata, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur
7 – 9 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kelurahan Air Mata
Kelurahan Air Mata terletak di Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, NTT. Kelurahan
ini terbagi atas empat RW dan delapan RT. Jumlah penduduknya 2958 jiwa dengan lakilaki 2039 orang dan perempuan 919 orang dan KK-nya berjumlah 408. Kelurahan Air
Mata berbatasan dengan Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) di sebelah utara, dengan
Kelurahan Mantasi di sebelah selatan, dengan Kelurahan Fatufeto di sebelah barat, dan
Kelurahan Fontein di sebelah timur.
Kelurahan ini terletak di dataran dengan ketinggian 3 meter di atas permukaan laut
dan memiliki iklim tropis. Mata pencaharian masyarakat di kelurahan ini umumnya adalah
berdagang , sopir, nelayan, tukang ojek, tukang kayu, dan buruh. Kelurahan Air Mata
merupakan salah satu lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan yang mulai dilaksanakan
pada 2006.
1.2. Profil BKM-UPK Trikora
BKM-UPK Trikora terbentuk pada 30 November 2006 dengan jumlah anggota pimpinan
kolektif BKM-UPK sebanyak 11 orang. Pemilihan anggota pimpinan kolektif ini
melibatkan seluruh elemen masyarakat secara partisipatif. BKM-UPK Trikora disahkan
melalui Akta Notaris Emanuel Mali, SH. Pada 18 Desember 2010, dilakukan rembug
warga tahunan (RWT) dengan salah satu agendanya adalah pemilihan anggota pimpinan
kolektif untuk periode ketiga dan terpilih anggota sebanyak 11 orang dengan jumlah
perempuan lima orang dan laki-laki enam orang dan seorang koordinator.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
175
Profil kinerja dan layanan BKM-UPK Trikora pertanggal 30 April 2012
1.
Modal awal PDB
Rp81.000.000
2.
Total aset UPK
Rp83.869.055
3.
Pinjaman ke KSM (PDB)
Rp257.587.204 (termasuk kredit dari linkage dengan BNI)
4.
Dana di bank
Rp37.942.694
5.
Jumlah KSM aktif
31 KSM
6.
Jumlah penerima manfaat
274 Orang
7.
Besarnya pinjaman
Rp500.000 – Rp2.000.000/anggota KSM
8.
Bunga pinjaman
1,5 % per-bulan flat
9.
Tingkat kredit macet atau NPL
8%
10.
Prosentase pengembalian
92 %
11.
Jam layanan UPK
Setiap hari Senin, pukul 08.00 - 12.00 dan pelayanan di
rumah UPK setiap hari
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
BNI berdiri sejak 1946 dan merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh
Pemerintah Indonesia. BNI mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang
dikeluarkan Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Oeang Republik Indonesia pada malam
menjelang 30 Oktober 1946, hanya beberapa bulan sejak pembentukannya. Hingga kini,
tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sementara hari pendiriannya
yang jatuh pada 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional.17
Menyusul penunjukan De Javsche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah
Belanda sebagai Bank Sentral pada 1949, pemerintah membatasi peranan BNI sebagai
bank sirkulasi atau bank sentral. Sehubungan dengan penambahan modal pada 1955,
status BNI diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini bertujuan
untuk pelayanan yang lebih baik dan luas bagi sektor usaha nasional. Sejalan dengan
Sejarah singkat Bank Negara Indonesia diambil http://www.bni.co.id/id-id/tentangkami/sejarah.aspx
17
176
keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama
BNI 1946 resmi digunakan mulai akhir 1968. Perubahan ini menjadikan BNI lebih
dikenal sebagai ‘BNI 46’. Agar mudah diingat penyebutannya pun diubah menjadi ‘Bank
BNI’ yang ditetapkan bersama dengan perubahaan identitas perusahaan 1988.
Pada 1992 status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia
(Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui
penawaran saham perdana di pasar modal pada 1996. Kemampuan BNI untuk beradaptasi
terhadap perubahan dan kemajuan lingkungan, sosial-budaya dan teknologi dicerminkan
melalui penyempurnaan identitas perusahaan yang berkelanjutan dari masa ke masa. Hal
ini juga menegaskan dedikasi dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja
secara terus-menerus. Pada 2004, identitas perusahaan diperbaharui dan sebutan Bank
BNI dipersingkat menjadi BNI, sedangkan tahun pendirian - ‘46’ - digunakan dalam logo
perusahaan.
2.2. Produk Lembaga Mitra
BNI memiliki produk layanan kredit untuk modal usaha di antaranya, (1) KUR, (2)
BNI Wirausaha, (3) Kredit Kepada Lembaga Keuangan (KKLK), dan (4) PKBL. BNI
merupakan salah satu bank yang ditunjuk pemerintah untuk menjadi pelaksana penyaluran
KUR bagi UMKM. KUR ini merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses oleh
UMKM dan koperasi terutama yang memiliki usaha yang layak namun belum bankable,
yakni usaha tersebut memiliki peluang bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk
mengembalikan pinjaman dana bank. Fasilitas kredit BNI-KUR dapat bernilai sampai
dengan 500 juta rupiah untuk usaha produktif dalam bentuk kredit modal kerja dan kredit
investasi dengan jangka waktu kredit maksimal lima tahun.
BNI Wirausaha adalah fasilitas kredit antara 50 hingga 1 miliar rupiah yang diberikan
untuk usaha produktif dalam bentuk kredit modal kerja dan kredit investasi dengan jangka
waktu kredit maksimal lima tahun. KKLK adalah fasilitas kredit yang disalurkan kepada
lembaga keuangan (BPR dan koperasi) untuk dipinjamkan kepada nasabah (end user)
dengan pola executing. Sasaran pembiayaan adalah untuk BPR dan koperasi (koperasi
simpan pinjam dan koperasi pegawai yang memiliki unit simpan pinjam).
Program Kemitraan merupakan salah satu program PKBL dari BNI dan merupakan
produk kredit bergulir dalam bentuk pinjaman lunak bagi pengusaha mikro/usaha kecil
yang dianggap belum memenuhi persyaratan pinjaman dana bank (belum bankable).
Program Kemitraan berada di bawah pengawasan Divisi Komunikasi Perusahaan dan
Kesekretariatan dan Divisi Usaha Kecil (USK) serta dikelola melalui Sentra Kredit Kecil
dan Kantor Cabang Stand Alone. Program ini digunakan oleh BNI untuk menjalin linkage
dengan BKM-UPK Trikora.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
177
3.Sejarah Linkage
3.1 Dasar Terjalinya Linkage
PNPM Mandiri Perkotaan yang merupakan kelanjutan dari P2KP pada 2009 memiliki
program keberlanjutan dan kemandirian yang dikhususkan untuk wilayah sasaran lama.
Program ini dikenal dengan nama PNPM Perkotaan Advanced atau biasa disebut juga
dengan P2KP Advanced.18 Dalam kerangka program keberlanjutan dan kemandirian,
PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Kupang berupaya untuk menjalin linkage dengan
berbagai pihak, baik pemerintah lokal (dinas dan badan), bank, lembaga donor/ NGO,
dan pihak lain.
Mengingat modal PDB yang dimiliki oleh UPK cukup terbatas dan banyaknya rumah
tangga miskin yang harus dilayani, linkage dalam hal layanan keuangan dengan pihak
perbankan menjadi agenda penting untuk diupayakan oleh BKM-UPK dan konsultan
di PNPM Perkotaan. Sementara itu, aturan PDB PNPM Perkotaan bahwa maksimal
pinjaman sebanyak empat kali dengan nilai pinjaman 500 ribu hingga dua juta rupiah
untuk anggota KSM telah membatasi akses terhadap pinjaman yang lebih besar.
Sebagai salah satu BUMN, BNI tunduk pada berbagai peraturan khusus di
antaranya Undang-undang No. 19/2007 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dan keputusan Menteri BUMN No. SE-433/2003, untuk melibatkan masyarakat dengan
target pembiayaan tertentu, yaitu antara 1% sampai 4% dari pendapatan bersih. Sejalan
dengan peraturan ini, BNI menjalankan Program Kemitraan dan PKBL. PKBL merupakan
bagian program CSR dari BNI.
Sesuai dengan visi dan misi serta arahan kementerian BUMN dalam hal pembangunan
masyarakat (SE-433/MBU/2003 tanggal 16 september 2003 tentang Dana Pembangunan
Masyarakat, program CSR BNI merupakan perwujudan dari komitmen bank yang kuat
untuk meningkatkan ekonomi, sosial dan kelestarian lingkungan di masyarakat. Dasar
inilah yang digunakan oleh BNI sebagai landasan untuk bermitra dengan BKM-UPK
Trikora, dalam hal penyaluran kredit dalam Program Kemitraan sebagai bagian dari
produk PKBL.
3.2. Proses Terjalinnya Linkage
Sebelum menjalin linkage dengan BNI, BKM-UPK Trikora telah menjalin kemitraan
dengan Dinas PU Kota Kupang untuk kegiatan perbaikan lingkungan dan sanitasi.
Linkage ini telah mendorong BKM-UPK untuk bermitra dengan pihak lain, termasuk
PNPM Perkotaan Advanced merupakan:
Program pendampingan untuk kemandirian dan keberlanjutan program penanggulangan kemiskinan
Sebagai bagian proses “naik kelas” dari wilayah pendampingan program P2KP.
Dalam P2KP Advanced terdapat sejumlah intervensi kegiatan melalui program antara lain : PAKET, channeling, replikasi, PLPBK,
dan termasuk kegiatan pilot program lain.
18
178
untuk kegiatan ekonomi produktif dan pengembangan usaha mikro. Linkage dalam hal
layanan kredit bagi anggota KSM berhasil dilakukan oleh BKM-UPK Trikora dengan
menjalin linkage dengan pihak BNI.
Proses awal terjalinya linkage antara BKM-UPK Trikora dan BNI bermula dari
presentasi KUR oleh BNI melalui Forum Bantuan Teknis pada Mei 2011 di Hotel Silvia
Kupang. Pasca presentasi tersebut, pihak KMW Provinsi NTT melakukan koordinasi dan
pendekatan ke BNI di Kota Kupang untuk mempelajari berbagai skema kredit mikro yang
ada di BNI.
Hasil dari koordinasi dan pendekatan dengan BNI ternyata ada skema program
kemitraan dari produk PKBL BNI. Skema ini dianggap paling cocok oleh KMW dan
BNI untuk melakukan linkage melalui layanan kredit mikro bagi anggota KSM yang
sebelumnya meminjam ke UPK dan dinilai telah layak “naik kelas”. Atas permintaan dari
BKM-UPK Trikora, BNI dan KMW kemudian melakukan sosialisasi kepada BKM-UPK
di Kelurahan Pasir Panjang dan Air Mata pada Agustus 2011. Pada sosialisasi tersebut
dijelaskan tentang program kemitraan dari PKBL BNI untuk anggota KSM yang dinilai
bagus pengembaliannya ke UPK dan memerlukan pinjaman yang lebih besar.
Dalam sosialisasi tersebut juga disampaikan tentang persyaratan pinjaman. Hanya
BKM-UPK Trikora di Kelurahan Air Mata yang menanggapi positif sosialisasi ini dan
antusias untuk menjalin linkage dengan BNI. BKM-UPK Trikora melihat linkage sebagai
peluang untuk memberikan kesempatan dan penghargaan (reward) bagi anggota KSM
yang lancar membayar serta membutuhkan pinjaman dana lebh besar dikemudian hari.
Akhirnya linkage dapat disepakati pada September 2011. Setelah melalui tahapan yang
berjenjang, pencairan kredit untuk anggota KSM yang direkomendasi oleh BKM-UPK
Trikora dimulai pada Desember 2011.
4.Pelaksanaan Linkage
4.1. Model Linkage
Linkage ini mulai dilaksanakan pada Desember 2011 dengan model rekomendasi tertulis
dari BKM-UPK. Setelah sosialisasi tentang PKBL dan disepakati penerapan Program
Kemitraan dari BNI pada September 2011, anggota KSM yang telah terpilih mengajukan
proposal ke BKM-UPK. Proposal tersebut selanjutnya diverifikasi oleh BKM-UPK Trikora
untuk dinilai kelayakan dan dicek kinerja pengembaliannya atau “rekam jejak” selama
menjadi anggota KSM. Selanjutnya BKM-UPK menyerahkan hasil verifikasi dengan
membuat rekomendasi secara tertulis untuk anggota KSM yang pernah meminjam ke
UPK untuk diajukan ke BNI.
Pengajuan rekomendasi oleh BKM-UPK diteruskan ke Korkot dan KMW untuk
diverifikasi lagi sebelum diajukan ke BNI. Total proposal yang diajukan sampai dengan
studi ini dilakukan sebanyak 20 dari orang anggota KSM. Setelah diverifikasi oleh pihak
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
179
BNI, 14 proposal disetujui dengan total nilai kredit 240 juta rupiah. Besaran kreditnya
bervariasi antara 10 juta hingga 20 juta rupiah, dengan jangka waktu pinjaman dari satu
tahun sampai tiga tahun dan jasa bunga sebesar 6% per tahun.
Setelah pelaksanaan linkage ini, pada April 2012 kerjasama baru diikat dengan nota
kesepahaman antara BNI Kantor Cabang Kupang dan Dinas Pekerjaan Umum SNVT
PBL Provinsi NTT. Dalam nota kesepahaman tersebut tidak secara khusus menyebutkan
tentang linkage antara BNI dan BKM-UPK Kelurahan Trikora, namun lebih mencakup
linkage yang lebih luas dengan PNPM Perkotaan.
4.2. Skema Produk Linkage
Dalam linkage ini, BNI menggunakan produk PKBL dengan skema Program Kemitraan.
Program ini merupakan salah satu program PKBL dari BNI dengan skema kredit bergulir
dalam bentuk pinjaman lunak bagi pengusaha mikro/usaha kecil yang dianggap belum
bankable. Pinjaman tanpa jaminan ini memiliki tingkat suku bunga yang sangat rendah.
Kredit dalam program ini disalurkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang dinilai
feasible, namun kesulitan mendapat akses perbankan, dengan syarat yang mudah dan bunga
lunak sebesar 6 persen per tahun. Syarat usaha mikro dan kecil yang bisa mendapatkan
dana kredit linkage adalah sudah berjalan minimal setahun, beromzet kurang dari satu
miliar rupiah dan memiliki aset kurang dari 200 juta rupiah.
Persyaratan untuk meminjam dalam mengakses dana Program Kemitraan dari PKBL
BNI ini cukup mudah, antara lain: (1) proposal pengajuan pinjaman, (2) salinan KTP, (3)
surat keterangan usaha dari kelurahan, (4) akte kelahiran anak sebagai jaminan pinjaman,
dan (5) rekomendasi dari BKM-UPK dan KMW
4.3. Cakupan Linkage
Individu yang menjadi nasabah dan mengakses pinjaman terkait linkage antara BKM-UPK
Trikora dan BNI adalah anggota KSM yang telah ‘naik kelas’. Mereka adalah anggota KSM
yang pernah menerima manfaat dari PDB melalui UPK.
5. Profil Penerima Manfaat
5.1. Usaha Subagen Travel
Pak Umar (50 tahun) memiliki usaha subagen travel yang berlokasi di Kelurahan Air Mata.
Usaha ini dirintis sejak 2008 karena ia pernah bekerja sebagai karyawan ticketing selama
13 tahun di perusahaan kargo dan ekspedisi. Ia juga memiliki usaha kelontong pada 2007
yang menjadi awal ia berwiraswasta.
180
Riwayat pinjaman Pak Umar melalui PDB UPK dimulai pada 2007 saat pertama
kali bergabung dalam KSM Melati sebagai anggota dan meminjam ke UPK sebesar 500
ribu rupiah. Pinjaman tersebut digunakan untuk usaha kelontong sembako. Pada 2008,
ia kembali meminjam ke UPK sebesar satu juta rupiah. Pinjaman kedua ini digunakan
untuk menambah modal usaha kelontong sembako. Namun, pada tahun yang sama ia juga
mulai merintis usaha subagen travel.
Berbekal pengalaman sebagai ekskaryawan ticketing, usaha sub agen travel mengalami
kemajuan. Sosialisasi tentang linkage antara BKM-UPK Trikora dan BNI mendorongnya
untuk mengajukan proposal pinjaman yang lebih besar. Setelah memperoleh rekomendasi
dari BKM-UPK, proposal pengajuannya diteruskan oleh BKM-UPK ke korkot dan KMW
untuk diverifikasi. Selanjutnya KMW mengajukan ke BNI untuk diproses lebih lanjut.
Pada 22 Desember 2012 ia memperoleh persetujuan pencairan pinjaman sebesar 20
juta rupiah dari BNI. Jangka waktu pinjaman 36 bulan dengan bunga sebesar 0,5% setiap
bulannya. Ia mengangsur setiap bulan Rp655.556. Pinjaman tersebut digunakan untuk
memperbesar usaha subagen travel pada PT. Adil Utama di Kota Kupang, yang merupakan
perusahaan agen tour dan travel.
5.2. Usaha Tenun Ikat
Ibu Katerina Kedo (36 tahun) memiliki usaha tenun ikat yang dirintis sejak 2003.
Ketrampilan menenun diperoleh dari orang tuanya. Melalui usaha ini ia dapat membantu
ekonomi keluarganya. Sebelum memperoleh pinjaman dari BNI, ia adalah anggota KSM
yang pernah meminjam ke UPK sebanyak empat kali pada 2007, 2008, 2009 dan 2010
dengan jumlah pinjaman masing-masing secara berurutan 500 ribu rupiah, satu juta
rupiah, 1,5 juta rupiah, dan dua juta rupiah. Pinjaman tersebut digunakan untuk membeli
bahan-bahan tenun ikat seperti benang, obat benang, dan bahan lain terkait usaha tenun
ikat.
Seiring dengan lunasnya pinjaman keempat, Ibu Katerina dipilih oleh BKM-UPK
menjadi salah satu anggota KSM yang diundang mengikuti sosialisasi tentang Program
Kemitraan dari BNI. Ia kemudian tertarik untuk mengajukan proposal pinjaman yang
lebih besar ke BNI. Ia lalu melengkapi semua persyaratan pengajuan. Semua persyaratan
tersebut diserahkan ke BKM-UPK. BKM-UPK lalu mengeluarkan rekomendasi untuk Ibu
Katarina bersama rekomendasi untuk anggota KSM lain yang terpilih. Pemilihan tersebut
didasarkan atas kelancaran dan ketepatan waktu saat mengangsur ke UPK, serta kebutuhan
pinjaman dana yang lebih besar untuk pengembangan usaha. Ia mendapatkan pinjaman
sebesar 10 juta rupiah pada 24 Desember 2011 dengan jangka waktu 36 bulan dan bunga
sebesar 0,5% setiap bulan. Angsuran, setiap bulan sebesar Rp337 ribu.
Jika sebelumnya Ibu Katerina hanya mampu menghasilkan 3-4 lembar tenun ikat,
setelah memperoleh pinjaman dari BNI ia dapat meningkatkan produksi tenun ikat
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
181
sebanyak 8-10 lembar per bulannya. Hasil tenun ikat tersebut selanjutnya dijual ke
Toko Sinar Baru di Kota Kupang dan ke pembeli yang langsung datang ke rumahnya.
Peningkatan produksi ini berdampak pada semakin meningkatnya penghasilan dari Ibu
Katerina dari usaha tenun ikat.
5.3. Usaha Kue
Ibu Hajiba Hamdon (27 tahun) memiliki usaha membuat dan menjual kue sejak 2007.
Ketrampilan membuat kue diperoleh melalui orang tuanya secara turun-temurun sejak
1997 ketika belum menikah. Suaminya bekerja sebagai tukang ojek dan kadang-kadang
juga bekerja serabutan.
Sebelum mengakses pinjaman dari BNI, ia pernah bergabung sebagai anggota KSM
Eforbia dan memiliki riwayat PDB ke UPK sebanyak empat kali. Pinjaman tersebut
diterima pada 2007, 2008, 2009, dan 2010 dengan jumlah pinjaman masing-masing
secara berurutan sebesar 500 ribu rupiah, 750 ribu rupiah, satu juta rupiah, dan dua juta
rupiah. Pinjaman tersebut digunakan untuk membeli bahan-bahan kue.
Setelah melunasi pinjaman keempat dengan lancar dan tepat waktu, Ibu Hajiba
diundang oleh BKM-UPK untuk memperoleh sosialisasi tentang Program Kemitraan dari
BNI. Sosialisasi ini membuatnya tertarik dan mengajukan proposal pinjaman yang lebih
besar kepada BNI mengingat usahanya semakin meningkat. Ia pun melengkapi semua
persyarataan untuk diajukan ke BKM-UPK dan untuk memperoleh rekomendasi.
Proses berikutnya adalah verifikasi oleh tim korkot dan KMW. Setelah verifikasi
dilakukan, semua pengajuan yang telah direkomendasikan BKM-UPK diteruskan ke
BNI untuk dilakukan survei dan analisis kelayakan usaha. Ibu Hajiba adalah salah satu
yang memperoleh persetujuan pencairan dari BNI sebesar Rp20 juta pada Januari 2012.
Pinjaman tersebut berjangka waktu 36 bulan dan dengan bunga sebesar 0,5%. Angsuran
bulanan sebesar Rp655.556. Saat ini usaha kuenya meningkat menjadi 21 jenis kue dengan
jumlah yang bertambah. Ia juga telah memiliki dua kereta yang digunakan untuk menjual
kue.
6. Pembelajaran, Potensi, dan Tantangan Linkage
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Berikut ini pembelajaran dari linkage antara BKM-UPK Trikora dengan BNI.
• Keterbatasan modal PDB PNPM Perkotaan telah mendorong BKM-UPK untuk
mencari lembaga mitra guna memfasilitasi kebutuhan akan akses terhadap layanan
keuangan bagi anggota KSM yang telah ‘naik kelas’ dan memerlukan pinjaman dana
yang lebih besar.
182
•
Proses pengajuan diterapkan secara berjenjang mulai dari pengajuan syarat ke BKMUPK, rekomendasi BKM-UPK untuk anggota KSM terpilih, proses verifikasi oleh
tim korkot dan tim KMW dan disurvei dan dianalisis oleh BNI. Proses berjenjang
ini untuk memastikan bahwa calon penerima pinjaman dari BNI adalah layak dan
memiliki rekam jejak yang baik.
6.2. Potensi dan Peluang
Beberapa potensi dan peluang ke depan dalam upaya meningkatkan linkage dengan
perbankan/lembaga keuangan mikro.
• Linkage antara BKM-UPK dan BNI dapat diperluas cakupannya dengan BKM-UPK
lain di wilayah Kupang, di Pulau Timor, dan pulau Sumba yang menjadi wilayah
kerja BNI Kupang dengan payung nota kesepahaman pada April 2012
• Linkage ini juga berpotensi untuk penambahan layanan di luar pinjaman dana, seperti
pemberian pelatihan untuk UPK, KSM, dan juga bentuk dukungan lain yang akan
diberikan oleh BNI untuk PNPM Perkotaan.
6.3. Tantangan Linkage
Tantangan-tantangan yang muncul dalam proses dan implementasi linkage antara BKMUPK Trikora dan BNI.
• BKM-UPK Trikora perlu mengingatkan nasabah akan kewajiban mengembalikan
pinjaman tepat waktu. Kepercayaan yang diberikan oleh BNI dalam linkage ini bisa
dijadikan tolok ukur untuk peningkatan dan perluasan linkage, baik dengan LKM/
UPK lain maupun jumlah penerima manfaat. Nota kesepahaman yang ditandatangani
pada April 2012 dapat menjadi alat pendorong perluasan cakupan linkage secara
kewilayahan maupun jenis-jenis linkage-nya.
• Besarnya uang UPK di bank dari angsuran seharusnya dapat digunakan oleh BKMUPK untuk memberikan pinjaman ke KSM-KSM yang belum pernah meminjam
maupun yang sudah pernah dengan catatan pengembalian yang baik.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
183
Kab. Sumba Barat Daya
NTT
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Thailand
Palau
Philippines
India
Brunei
Singapore
Malaysia
Indonesia
Papua New
Guinea
Timor-Leste
Australia
Studi Linkage Antara Bank BRI Unit
Elopada dan UPK Wewewa Utara,
Kabupaten Sumba Barat Daya,
Nusa Tenggara Timur
RINGKASAN
Linkage yang terjalin antara UPK Wewewa Utara dan Bank BRI Unit Elopada
berbentuk pemberian rekomendasi untuk membuka rekening tabungan kelompok
di BRI Unit Elopada Waikabubak. UPK Wewewa Utara menyarankan kelompokkelompok SPP untuk membuka rekening tabungan sebagai prasyarat mendapatkan
pinjaman dari UPK. Tabungan yang ada di rekening bank minimal sebesar 10% dari
nilai pengajuan pinjaman kelompok ke UPK. Gagasan pembukaan rekening tabungan
bersama sebagai prasyarat pinjaman timbul akibat rendahnya tingkat pengembalian
di tiga kecamatan terdahulu yang menerima PDB PNPM Mandiri Perdesaan dari
2008 – 2010.
Pembukaan rekening dilakukan sendiri oleh kelompok SPP yang diwakili oleh ketua
dan sekretaris dan/atau bendahara kelompok dengan mendatangi langsung BRI
Unit Elopada dan dengan membawa surat rekomendasi yang ditandatangani kepala
desa. Surat rekomendasi tersebut menjelaskan bahwa nama yang tertera pada surat
tersebut adalah benar-benar ketua, bendahara, dan sekretaris kelompok SPP yang
ada di desanya. Selanjutnya, buku tabungan tersebut diserahkan kepada UPK dan
disimpan oleh UPK sebagai jaminan pinjaman. Terdapat 77 dari 80 kelompok SPP
yang membuka rekening di BRI Unit Elopada pada 2011 dan kini bertambah 69
kelompok pada 2012.
Terdapat sejumlah pembelajaran dan tantangan dari linkage ini. Pembelajaran
penting yang dimaksud adalah pengenalan tentang kebiasaan menabung dan caracara mengakses layanan keuangan di lembaga keuangan perbankan kepada kelompok
dan masyarakat. Sedangkan tantangan utama linkage ini adalah menurunnya nilai
tabungan kelompok di BRI akibat potongan biaya administrasi bulanan yang tidak
tertutupi oleh bunga yang diperoleh. Selain masih rendahnya kebiasaan menabung di
kalangan kelompok, tantangan lain adalah tidak adanya penyetoran tambahan nilai
tabungan dari kelompok karena buku tabungan disimpan di UPK.
186
Studi Kasus Linkage pada Program Pinjaman Dana Bergulir PNPM
Mandiri Perdesaan antara Bank BRI Unit Elopada dan
UPK Wewewa Utara di Kecamatan Wewewa Utara,
Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur
15-19 Mei 2012
1. Lokasi Studi
1.1. Profil Kecamatan Wewewa Utara
Kecamatan Wewewa Utara merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten
Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT. Kabupaten SBD sendiri merupakan kabupaten
baru hasil pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat yang mulai berdiri pada 22 Mei 2007.
Kecamatan Wewewa Utara terdiri dari enam desa dan berbatasan dengan Kecamatan Loura
di sebelah utaranya, dengan Kabupaten Sumba Barat di sebelah selatan dan timur, dan
dengan Kecamatan Wewewa Timur di sebelah barat.
Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Kecamatan Wewewa
Utara 11.649 jiwa yang terdiri dari 5.937 orang laki-laki dan 5.712 orang perempuan.
Jumlah rumah tangga mencapai 1.895, 85% -nya merupakan RTM dengan rata-rata
anggota rumah tangganya berjumlah 6.15 orang per rumah tangga atau termasuk yang
terbesar di antara kecamatan-kecamatan lain di SBD. Mata pencaharian utama penduduk
di Kecamatan Wewewa Utara adalah petani dengan produk pertanian unggulan adalah
biji jambu mete dan kemiri. Produk pertanian lain berupa kelapa, pisang, sirih, dan salak.
PNPM Mandiri Perdesaan baru mulai dilaksanakan di Kecamatan Wewewa Utara
pada 2011. Namun demikian, pada 2006 dan 2007 saat masih menjadi bagian dari
Kabupaten Sumba Barat, Kecamatan Wewewa Utara telah menerima PPK.
1.2. Profil UPK Kecamatan Wewewa Utara
Dengan masuknya PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Wewewa Utara pada 2011,
UPK Kecamatan Wewewa Utara langsung dibentuk pada 7 Februari 2011. UPK ini
dikelola oleh tiga orang pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara UPK.
UPK ini membuka kantornya selama lima hari dalam seminggu dari Senin sampai Sabtu
mulai pukul 08.00 – 16.00. Sejak masuknya PNPM Mandiri Perdesaan, selama enam
bulan pertama pengurus UPK masih mengelola dana operasional kegiatan (DOK) karena
dana BLM baru diterima pada bulan ke enam.
Dari enam desa yang ada di Kecamatan Wewewa Utara, terdapat satu desa yaitu Desa
Wanotala yang menerima dana program Anggur Merah. Karena itu, pada 2011 dana BLM
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
187
hanya diberikan kepada lima desa lain yaitu Desa Puu Potto, Desa Wee Paboba, Desa
Mataloko, Desa Wee Namba, dan Desa Mali Mada.
Pada 2011 dan 2012, Kecamatan Wewewa Utara mendapatkan dana BLM setiap
tahunnya tiga miliar rupiah dan 75% dananya diperuntukkan pembangunan sarana
dan prasarana, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan 25%-nya untuk kegiatan SPP
kelompok. Jumlah kelompok SPP yang dilayani oleh UPK pada penyaluran dana
bergulir pada 2011 sebanyak 77 kelompok dengan total penerima manfaat sebanyak 742
orang perempuan, dan pada awal 2012 terdapat 69 kelompok SPP yang dilayani UPK.
Keberadaan PNPM telah membantu masyarakat untuk membuka akses jalan yang selama
ini tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Salah seorang informan
kepala desa menyebutkan bahwa kehadiran PNPM telah membuat desanya dapat diakses
oleh kendaraan roda empat.
2. Latar Belakang Lembaga Mitra
2.1. Profil Lembaga Mitra
BRI Unit Elopada terletak di Kecamatan Wewewa Timur dan telah berdiri sejak 1971.
Wilayah kerja BRI Unit Elopada mencakup Kecamatan Wewewa Timur, Wewewa Utara,
Wewewa Selatan, dan Wewewa Tengah. Jumlah karyawannya delapan orang termasuk,
yang terdiri dari seorang kepala unit, dua orang kasir, dua orang pemegang buku, dan tiga
orang mantri BRI. Salah satu mantri perempuan memegang KUR dan dua orang mantra
laki-laki mengelola kupedes.
2.2. Produk Lembaga Mitra
BRI unit Elopada menawarkan beberapa produk layanan keuangan berupa simpanan
dengan program simpedes, giro, dan deposito serta transfer dan kirim uang dari luar negeri
antara lain dari negara tujuan TKI seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Korea dan
Jepang. Untuk produk keuangan kredit, BRI Unit Elopada menawarkan Kupedes dan
KUR.
Besarnya pinjaman kupedes berkisar dari Rp25.000 sampai 100 juta rupiah per orang
dengan jangka waktu maksimal lima tahun. Tingkat suku bunga yang ditawarkan pun
ringan antara 1% - 2% flat. Kupedes merupakan salah satu unggulan BRI karena syarat
mudah dan bunga bersaing. Selain itu, agunan yang diberikan calon debitur tidak harus
tersertifikat serta angsuran dapat dibayarkan sesuai dengan kemampuan yaitu bulanan
atau musiman sehingga kredit ini sangat cocok untuk para petani dan nelayan. Selain itu,
produk ini juga memberikan bonus untuk pembayaran tepat waktu dan juga dilindungi
dengan asuransi jiwa kredit, kesehatan, dan kecelakaan.
188
3.Sejarah Linkage
Linkage antara UPK Wewewa Utara dan BRI Unit Elopada didasari oleh ketentuan UPK
agar kelompok SPP membuka rekening untuk menyimpan tabungan tanggung renteng
milik kelompok SPP. Selain telah dilakukan verifikasi, tujuan pembukaan rekening
tabungan adalah sebagai jaminan bagi UPK terhadap pinjaman yang diberikan kepada
kelompok SPP demi mencegah tingkat pengembalian pinjaman yang rendah dan menjaga
kelanggengan usaha kelompok.
Pembukaan rekening tabungan kelompok minimal sebesar 10% dari nilai usulan
pinjaman kepada UPK. Mengingat BRI Unit Elopada di Kecamatan Wewewa Utara
merupakan satu-satunya lembaga keuangan yang relatif dekat dan dapat diakses oleh
kelompok, UPK kemudian memutuskan agar kelompok SPP membuka rekening tabungan
di BRI Unit Elopada.
Gagasan pembukaan rekening tabungan bersama sebagai prasyarat pinjaman timbul
dari pengalaman di tiga kecamatan terdahulu yang menerima PDB PNPM Mandiri
Perdesaan dari 2008 – 2010, yaitu Kecamatan Kodi, Kodi Bangade dan Kodi Utara.
Tingkat pengembalian di tiga kecamatan itu sangat rendah sekitar 14%-20% per tahun.
Tabungan tanggung renteng tersebut diharapkan menjadi solusi atas msalah tersebut dan
sekaligus menjadi jaminan kelompok kepada UPK. Hal ini telah dibahas dan diputuskan
dalam forum koordinasi antara fasilitator dengan satker di Kabupaten SBD.
4.Pelaksanaan Linkage
Persyaratan pinjaman melalui pembukaan rekening di bank dan menyimpan sebesar
minimal 10% dari dana pinjaman yang diajukan menjadi alasan bagi kelompok SPP di
Kecamatan Wewewa Utara untuk membuka rekening Simpedes di BRI Unit Elopada.
Sebelum penyaluran dana bergulir pertama kali dilakukan pada 18 Oktober 2011,
beberapa bulan sebelumnya UPK telah menghimbau kepada kelompok SPP untuk
membuka rekening dan memiliki simpanan tersebut. Dari 80 kelompok SPP yang akan
mengajukan pinjaman terdapat 77 kelompok yang setuju dan bersedia membuka tabungan
di BRI Unit Elopada.
Ke-77 kelompok tersebut datang sendiri ke BRI Unit Elopada untuk membuka
rekening dan menyetorkan tabungannya dengan membawa surat rekomendasi yang
ditandatangani oleh kepala desa yang menjelaskan bahwa kelompok tersebut adalah
benar-benar kelompok SPP yang mengakses dana PNPM Mandiri Perdesaan di desanya.
Rekening dibuka atas nama kelompok dan ditandatangani oleh dua orang wakil kelompok
yaitu ketua dan bendahara/sekretaris. Selanjutnya buku tabungan simpedes tersebut
diserahkan kepada UPK. Berdasarkan penjelasan dari anggota kedua kelompok, alasan
untuk membuka rekening tabungan di BRI selain sebagai persyaratan pinjaman ke UPK
juga karena tabungan tersebut adalah tetap merupakan dana milik kelompok.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
189
Hingga saat studi ini dilakukan, belum ada satu kelompok pun yang menambahkan
nilai tabungan di rekening kelompoknya. Simpanan kelompok di BRI ini dikenakan biaya
administrasi sebesar Rp5.000 per bulannya. Jumlah ini tidak seimbang dengan bunga
yang diterima dari simpanan yang ada sehingga setiap bulan jumlah tabungan kelompok
semakin berkurang bila tidak dilakukan penambahan jumlah tabungan.
Model linkage yang terjadi antara UPK Wewewa Utara dan BRI Unit Elopada
menempatkan UPK sebagai pemberi rekomendasi secara tidak langsung karena
rekomendasi tertulis disahkan oleh kepala desa dari masing-masing kelompok.
5. Profil Penerima Manfaat Program Linkage
Profil berikut adalah profil kelompok SPP yang telah melakukan pembukaan tabungan
tanggung renteng di BRI Unit Elopada. Terdapat dua desa yang dijadikan lokasi studi
dengan metode kelompok diskusi terarah atau FGD yaitu dua kelompok SPP di Desa
Mataloko dan dua kelompok SPP di Desa Puu Potto.
5.1. Kelompok SPP Desa Mataloko
Kelompok Melati dan Kelompok Ole Dadi merupakan dua dari 13 kelompok SPP di desa
Mataloko. Keduanya dibentuk pada 2010 dalam bentuk kelompok arisan yang berkumpul
sebulan sekali. Ibu-ibu kedua kelompok ini memiliki usaha antara lain menjadi papalele
berbagai macam sayuran di pasar, memiliki kios yang menjual bahan kelontong, memiliki
rental ojek, menenun, membuat kue-kue, dan membuka beden atau menanam sayur mayur
di kebun. Pinjaman dari UPK tersebut dipergunakan sebagai tambahan modal usaha.
Kelompok Melati beranggotakan lima orang dan melakukan pertemuan bulanan
kelompok setiap tanggal 22. Kelompok Melati mendapat pinjaman UPK sebesar 10
juta rupiah dan masing-masing anggotanya mendapat pinjaman sebesar dua juta rupiah
pada 24 Oktober 2011 dengan bunga 1.5% per bulan untuk jangka waktu 12 bulan.
Kelompok Melati membuka tabungan tanggung rentengnya di BRI unit Elopada pada 25
Agustus 2011 sebesar Rp250.000. Selanjutnya pada 27 Oktober 2011 atau tiga hari setelah
menerima pencairan dana dari UPK, kelompok Melati menambahkan tabungannya
sebesar Rp750.000 sehingga secara keseluruhan tabungannya menjadi 10% dari nilai total
pinjaman.
Demikian pula dengan Kelompok Ole Dadi. Kelompok ini menerima pinjaman dari
UPK sebesar sembilan juta rupiah untuk empat anggotanya dari keseluruhan enam anggota
kelompok. Besarnya bunga dan jangka waktu pinjaman tidak berbeda dengan Kelompok
Melati. Setelah membuka rekening di BRI Unit Elopada dengan nilai pembukaan sebesar
Rp700.000, Kelompok Ole Dadi kemudian menambahkan Rp200.000 setelah menerima
pencairan pinjaman dari UPK demi melengkapi minimal tabungan tanggung rentengnya
sebesar 10% dari nilai pinjaman.
190
Ibu-ibu dari kedua kelompok tersebut rata-rata sudah memiliki pengalaman
melakukan transaksi dengan lembaga keuangan bukan bank, antara lain dengan pegadaian
di daerah Elopada, Waikabubak, dan Waitabula. Namun demikian, pengalaman meminjam
dalam jumlah besar sering dilakukan ibu-ibu anggota kelompok kepada perorarangan atau
rentenir di wilayah mereka yang biasanya mengenakan bunga tinggi yaitu 25% per bulan,
dan bunga akan menambah pokok pinjaman apabila terlambat melakukan pembayaran
di bulan sebelumnya. Pinjaman seperti ini biasanya dilakukan untuk keadaan mendesak
seperti untuk upacara adat kematian.
5.2. Kelompok SPP Desa Puu Potto
Kelompok SPP yang menjadi fokus studi berlokasi di Desa Puu Potto adalah Kelompok
Ana Mila dan Kelompok Melati. Keduanya merupakan dua dari 16 kelompok SPP yang
ada di Desa Puu Potto. Kelompok Melati berasal dari kelompok tani yang telah berdiri
sejak 2007 dengan anggota laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam Kontak Tani
Nelayan Andalan (KTNA) dan berjumlah 49 orang. Kelompok tani ini memiliki program
simpan pinjam bagi anggota dengan bunga 2% per bulan.
Kelompok Melati memutuskan untuk meminjam melalui UPK karena akses
pinjaman bunganya lebih rendah. Pinjaman ini digunakan untuk menambah modal usaha
pembuatan makanan kering dari jagung (tortilla) yang dikelola bersama beberapa anggota
kelompok Melati. Kelompok Melati mendapatkan pinjaman UPK sebesar 10 juta rupiah
untuk 10 orang anggota masing-masing sebesar Rp1.000.000.
Kelompok kedua dari Desa Puu Potto adalah Kelompok Ana Mila. Kelompok ini
juga dibentuk pada 2010 dengan anggota sebanyak 10 orang. Anggota kelompok Ana Mila
memiliki usaha di bidang papalele, penggemukan babi dan kambing, kios dan pembuatan
tenun ikat. Kelompok Ana Mila juga mendapatkan pinjaman sebesar 10 juta rupiah
dari UPK untuk 10 orang anggotanya yang masing-masing mendapat pinjaman sebesar
Rp1.000.000.
6. Pembelajaran dan Tantangan Linkage
Meskipun program tabungan tanggung renteng bukan merupakan program baru sejak
PPK dan PNPM, pelaksanaan tabungan tanggung renteng di UPK Kecamatan Wewewa
Utara memberikan pelajaran dan tantangan tersendiri seperti diurai berikut ini.
6.1. Pembelajaran dari Linkage
Model linkage dengan pemberian rekomendasi dari kepala desa kepada kelompok untuk
pembukaan rekening tabungan memberikan beberapa pembelajaran berikut.
Kumpulan Model Linkage Keuangan Antara Pinjaman Dana Bergulir PNPM Mandiri dan Lembaga Keuangan
191
•
•
•
•
Model tabungan tanggung renteng yang disimpan di bank mengajarkan kepada
kelompok tentang tanggung jawab moral sebagai peminjam.
Mengenalkan kebiasaan menabung kepada kelompok khususnya dan masyarakat
pada umumnya.
Mengenalkan kepada masyarakat tentang lembaga keuangan sebagai lembaga yang
memberikan layanan keuangan tidak hanya tabungan namun jasa keuangan lain
seperti transfer dan kredit.
Memperkenalkan kepada masyarakat lembaga keuangan yang dapat memberikan
pinjaman dengan bunga pasar yang wajar dan terjangkau sehingga diharapkan dapat
mengurangi besarnya pinjaman kepada individu tertentu yang memberlakukan
bunga sangat tinggi khususnya untuk keperluan upacara adat.
6.2. Tantangan dari Linkage
Berikut ini sejumlah tantangan dalam linkage.
• Biaya administrasi yang tidak sebanding dengan bunga tabungan yang diperolah
menyebabkan nilai tabungan menjadi terus berkurang setiap bulannya.
• Perlunya dicari lembaga keuangan atau bank yang memberikan biaya administrasi
yang lebih ringan atau bahkan tanpa biaya administrasi tabungan agar tidak
mengurangi nilai tabungan kelompok.
• Pemberian akses kepada kelompok untuk menambah jumlah tabungan kelompoknya
dengan diberi kesempatan menggunakan buku tabungan yang dititipkan di UPK.
• Jarak tempuh bank yang cukup jauh dari beberapa desa di Kecamatan Wewewa
Utara yang membutuhkan biaya ojek yang cukup besar (Rp40.000 per orang pulangpergi dari Desa Puu Potto ke BRI Unit Elopada) untuk mengakses ke bank terdekat
menyebabkan keengganan untuk sering mengakses bank.
192
Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat
Jl. Medan Merdeka Barat No. 3
Jakarta Pusat 10110 Indonesia
Phone (62-21) 3459077
Fax (62-21) 3459077
PNPM Support Facility
Jl. Diponegoro No. 72 Menteng
Jakarta Pusat 10310 Indonesia
Phone (62-21) 3148175
Fax (62-21) 3190209
Download