MANUSKRIP LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN

advertisement
MANUSKRIP
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN HAMBATAN MOBILITAS FISIK PADA Tn. J DI
RUANG FLAMBOYAN II RSUD KOTA SALATIGA
Oleh :
FABIA DANILA VICENTE
0141950
PRODI DIPLOMA III KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2017
Universitas Ngudi Waluyo
Karya Tulis Ilmiah,2017
Fabia Danila Vicente*,Gipta Galih Widodo**,Priyanto***
Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik Pada Tn.J Dengan Stroke Hemoragik Di Flamboyan
RSUD Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah
Xi 57 +4Tabel +2Lampiran
ABSTRAK
Stroke hemoragik adalah gangguan fungsional otak akut fokal maupun global akibat
terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan atau sumbatan dengan gejala dan tanda
sesuai bagian otak yang terkena sempurna ,sembuh dengan cacat, atau kematian.pasien stroke
yang mengalami hemiparese yang tidak mendapatkan penaganan yang tepat dapat menimbulkan
komplikasi gangguan fungsional,gangguan mobilisasi,gangguan aktivitas sehari hari dan cacat
yang tidak dapat disembuhkan .
Metode yang penulis digunakan dalam teknik pemgumpulan data adalah
wawancara,observasi,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Hasil dari pengelolaan hambatan mobilitas fisik selama 3 hari didapatkan masalah teratasi
sebagian ,lanjutkan intervensi yaitu memberikan ROM atau atau memantau aktivitas pasien ,dan
ahli baring.
Penilaian kekuatan otot yang meliputi kekuatan otot yang meliputi kekuatan bahu, siku,
pergelangan tangan, paha, lutut dan pergelangan kaki dapat menunjukan peningkatan setelah
diberi latihan mobilisasi dini. Penilaian pada kemampuan fungsional motorik pasien pasca stroke
iskemik yang mengalami hemiparese meliputi kemampuan pasien miring kesisi yang sehat,
perubahan posisi terlentang ke duduk, menjaga keseimbangan duduk dan kemampuan duduk ke
berdiri pada kedua kekompakan menunjukan ada peningkatan merata kemampuan.
Saran bagi perawat di Rumah Sakit agar tetap memberikan pendidikan kesehatan
tentang pasein stroke hambatan pada mobilitas fisik.
Kata Kunci : Stroke Hemoragik Hambatan Pada Mobilitas Fisik
Kepustakan : 57 (2007-2017 )
PENDAHULUAN
Stroke
adalah
gangguan
fungsional otak akut fokal maupun
global akibat terhambatnya aliran darah
ke otak karena perdarahan ataupun
sumbatan dengan gejala dan tanda
sesuai bagian otak yang terkena, yang
dapat sembuh sempurna, sembh egan
cacat, atau kematian. (Junaidi,2009)
Di Indonesia usia penderita
stroke umumnya berkisar pada usia 45
tahun ke atas. Gaya hidup yang modern
dan serba instanisasi seperti sekarang
ini berpeluang besar bagi seseorang
yang terserang stroke di usia muda, baik
wanita maupun pria produktif.Stroke
berkaitan erat dengan tekanan darah
tinggi yang mempengaruhi munculnya
kerusakan dinding pembuluh sehingga
dinding
pembuluh
darah
tidak
merata.Akibatnya , zat-zat yang terlarut
seperti kolesterol , kalsium dan lain
sebagainya akan mengendap pada
dinding
pembuluh
darah.
Bila
penyempitan pembuluh darah terjadi
dalam waktu lama,akan mengakibatkan
suplai darah ke otak berkurang, bahkan
terhenti yang selanjutnya menimbulkan
stroke. (Pudiastuti,2011)
Menurut Fadluloh,Upoyo,dan
Hartanto
(2014)
Di
Indonesia
mengalami stroke secara biologis, lakilaki lebih beresiko terkena stroke
dibangdinkan perempuan. Usia yang
paling banyak berada pada kelompok
60-65 tahun sebanyak 12 orang
(38,8%).Usia responden paling banyak
berada pada kelompok usia 60-65 tahun
telah berada pada kategori lanjut usia
(elderly). Peningkatan kejadian stroke
pada lansia akibat proses degenerative
seperti penurunan elastisitas pembuluh
darah dan fungsi endotel menyebabkan
peningkatan resistansi perifer sehingga
meningkatkan elevasi tekanan darah
yang dapat menimbulkan gangguan
aliran darah dan beresiko terhadap
kejadian stroke . sebagian besar jenis
kelamin laki-laki sebanyak 25 orang
(80,6%). Penderita jenis kelamin laki-laki
lebih besar dibandingkan perempuan.
Peneliti beramsumsi bahwa laki-laki
memiliki lebih banyak faktor resiko
stroke dibandingkan perempuan. Faktor
yang dapat meningkatkan resiko
terjadinya stroke meliputi kurangnya
aktivitas dan kebiasaan merokok.
Masalah yang sering dialami
oleh pasien stroke dan yang paling
ditakuti adalah gangguan gerak. Pasien
mengalami kesulitan saat berjalan
karena mengalami kesulitan saat
berjalan karena mengalami gangguan
pada kekuatan otot, keseimbangan dan
koordinasi gerak. (Victoria,Kristiawati
dan Arif 2014).
Secara klinis gejala yang sering
muncul adalah hemiparese atau
hemiplegi. Penderita stroke yang
mengalami hemiparese dan tidak
segera mendapatkan penaganan yang
tepat
dapat
menimulkan
komplikasi,salah
satunya
adalah
kontraktur.
Kontraktur
dapat
menyebabkan terjadinya penuruan
rentang
gerak
sendi,
gangguan
fungsional,
gangguan
mobilisasi,
gangguan aktivitas sehari hari dan cacat
yang tidak dapat disembuhkan.
Mobilisasi atau rehabilitasi dini di
tempat tidur merupakan suatu program
rehabilitasi stroke. Tujuanya adalah
untuk mencegah terjadinya kekautan
otot (kontraktur), mengoptimalkan
pengobatan
serta
menyediakan
bantuan psikologis pasien dan keluarga.
Pasien pasca stroke akan
mengalami perbaikan struktur otak
sehingga pengetahuan dan analisa
tentang gerak meningkat. Dengan
latihan yang teratur dapat mengajarkan
kembali gerakan yang disadari kepada
pasien lebih cepat.Penilaian kekuatan
otot yang meliputi kekuatan otot yang
meliputi
kekuatan
bahu,
siku,
pergelangan tangan ,paha, lutut dan
pergelangan kaki dapat menunjukan
peningkatan setelah diberi latihan
mobilisasi
dini.
Penilaian
pada
kemampuan fungsional motorik pasien
pasca stroke iskemik yang mengalami
hemiparese
meliputi
kemampuan
pasien miring kesisi yang sehat,
perubahan posisi terlentang ke duduk,
menjaga keseimbangan duduk dan
kemampuan duduk ke berdiri pada
kedua kekompakan menunjukan ada
peningkatan
merata
kemampuan.
(Gusty , 2012)
Dari uraian diatas dapat,
disimpulkan bahwa masalah stroke
menjadi masalah yang serius. Salah satu
bentuk masalah hambatan pada
mobilitas fisik yang berakibat cacat
pada seumur hidup. Maka dari itu
penulis tertarik untuk mengangkat
Karya Tulis Ilmiah dengan judul asuhan
keperawatan hambatan mobilitas fisik
pada Tn J dengan stroke hemoragik di
ruang Falmaboyan II RSUD Kota
Salatiga.
METODE
Metode yang digunakan adalah
memberikan asuhan keperawatan
berupa perawatan kepada pasien untuk
menjaga terjadinya kontraktur pada
otot dan memberikan teknik relaksasi
dan Rom.
Pengelolaan
asuhan
keperawatan
hambatan mobilitas fisik pada Tn J ini
dilakukan pada selama 3 hari dan 6 kali
pertemuan. Teknik pengumpulan data
ini dilakukan dengan cara teknik
wawancara dan observasi , setelah
penulis mendapatkan data dari hasil
pengkajian , penulis mengangkat
diagnosa hambatan mobilitas fisik
sebagai masalah utama.
HASIL
Hasil asuhan keperawatan
hambatan
mobilitas
fisik
tidak
memyebabkan masalah lain akibat
hamabatan mobilitas fisik, dan pasien
akan dapat mengontrol dan akan terus
terapi agar pasien dapat mengulang
teknik yang diajarkan kepada pasien
dan mampu melakuan dengan aktivitas
dengan secara mandiri.
PEMBAHASAN
Berdasarkan tinjauan kasus
yang dilakukan , penulis akan
membahas
suatu
proses
dari
pengumpulan data dan komunikasi data
tentang pasien yang mencakup dua
langkah yaitu pengumpulan data dari
sumber primer (klien ) dan sumber
sekunder
(keluarga
dan
tenaga
kesehatan )serta analisis pengkajian
pada Tn.J dilakukan pada tanggal 10 mei
2017 di Ruang Flamboyan II RSUD Kota
Salatiga, data diperoleh dari klien dan
keluarga yang mendampingi klien
selama di rawat. Dari hasil pengkajian
didapatkan data antara lain yaitu: Tn J
umur 60 tahun, alamat Kalijat Rejosari
Bencak, agama Islam dengan diagnosa
medis Stroke Hemoragik. Pada riwayat
penyakit, keluhan utama saat di kaji,
anak klien mengatakan klien tidak bisa
menggerakan kedua extremitas atas
dan bawah.
Pada pengkajian kesehatan
masa lalu, didapatkan bahwa pasien
mempunyai riwayat hipertensi sejak 2
tahun yang lalu. Menurut penulis
hipertensi merupakan faktor resiko
yang sering mengakibatkan stroke. Data
ini didukung oleh penulis, tekanan
darah tinggi/ hipertensi merupakan
salah satu faktor yang paling besar
dalam penyakit stroke sekitar 50-70%
kasus stroke disebabkan hipertensi.
Penurunan diastole 5-6 mmhg dan
systole 10-12 mmhg selama 2 sampai 3
tahun akan menurunkan resiko stroke
antar 4-7%. Pasien dengan hipertensi
yang lama akan berpengaruh pada
kerusakan
arteri,
penebalan
arterosklerosis atau arteri dapat pecah
ruftur.
Pada pola fungsional yang Tn. J
didapatkan data pola mobilisasi bahwa
anak klien mengatakan sebelum sakit
pasien beraktivitas secara normal, bisa
pergi ke sawah dan mengarap ladangya.
Saat sakit pasien tidak bisa beraktivitas
dengan normal. Pasien mengalami
keterbatasan pada extremitas atas dab
bawah. Hal ini dibuktikan dengan saat
pengkajian pasien hanya bisa berbaring
di tempat tidur.
Diagnosa keperawatan adalah
merupakan suatu pernyataan yang
mampu mengguraikan respon aktual
atau potensial terhadap masalah
kesehatan
dan
perawat
yang
mempunyai izin yang berkompeten
untuk mengatasinya. Respon aktual dan
potensial klien didapatkan dari data
pengkajian tinjauan literature yang
berkaitan, catatan medis masa lalu,
konsultasi dengan professional yang
lain, yang semuanya dikumpulkan
selama pengkajian. Hal yang terakhir
adalah respon aktual dan potensial klien
yang membutuhkan intervensi dari
domain praktik keperawatan.
Menurut potter&perry Dari
hasil pengkajian yang didapatkan oleh
penulis, penulis akan membahas lebih
dalam tentang masalah keperawatan
yang dialami oleh Tn J dengan stroke
hemoragik. Gangguan mobilitas fisik
yang dialami klien membuat klien tidak
bisa beraktivitas secara normal. Adanya
perubahan mobilisasi sangat tergantung
dari faktor umum klien, kondisi
kesehatan secara menyeluruh, serta
tingkat imobilisasi yang dialami.
Terjadinya gangguan mobilitas
fisik merupakan salah satu masalah
utama
didalam
individu
yang
mengalami stroke hemoragik. Dimulai
dari vassopasme arteri serebral atau
pelebaran
saraf
serebral
akan
berdampak
pada
terjadinya
iskemik/infark pada sistem sirkulasi
yang memberikan dampak secara
general pada seluruh sistem tubuh. Baik
sistem neurologi, pernafasan, sirkulasi,
dan sistem tubuh vital yang lain. Defisit
neurologi mempunyai dampak pada
tingkat kesadaran individu akibat
beberapa faktor yaitu : pada tingkat
sistem iskemik, dengan atau tanpa
perdarahan araknoid, ventrikel sampai
hematoma serebral hingga hemiasis
serebral yang pada akhirnya akan
berpengaruh pada peningkatan tekanan
intracranial. Terjadinya gangguan pada
hemiparese kanan/ kiri terjadinya
gangguan pada hemiparese akan
berpengaruh pada aktivitas motorik dan
simpatis bagian tubuh kiri, dengan
gangguan
bagian
tubuh
kiri
menyebabkan individu mengalami
hemiparese. Sedangkan gangguan pada
hemiparese
kanan/kiri
berakibat
hemiparese/plegi anggota tubuh.
Dengan terjadinya hemiparese
kanan/kiri akan mempengaruhi aktivitas
mobilitas fisik pada individu. Kehilangan
kendali
motorik
pada
bagian
tubuh,akan memberikan keterbatasan
mobilitas individu dimana dengan
terjadinya
gangguan
itu
segala
pergerakan mobilitas otot dan sistem
pendukung yang lain berakibat pada
kelemahan dan penurunan fungsi setiap
sistem dalam tubuh.
Munculnya
diagnosa
keperawatan ini didukung oleh data
subyetif: keluarga klien mengatakan
pasien mengalami kelumpuhan di
extremitas atas dan bawah kiri pasien
tidak bisa beraktivitas atas dan bawah
kiri pasien tidak bisa beraktivitas
dengan normal. Dan data obyektif :
klien nampak hanya bisa berbaring di
tempat tidur, lemas dan sangat
tergantung pada keluarga.
Intervensi menentukan masalah
keperawatan selanjutnya menyusun
intervensi atau rencana keperawatan
untuk mengatasi masalah pada Tn.J
intervensi adalah berbagai rencana
keperawatan
yang
berdasarkan
penilaian klinis dan pengetahuan yang
dilakukan
oleh
perawat
untuk
meningkatkan hasil dari pasien. Dalam
menentukan perencanan perlu adanya
kriteria hasil yang harus dicapai oleh
perawat yang mengacu pada Nursing
Outcome Classification (NOC)2013 dan
pada perencanan keperawatan ini
penulis
mengacu
pada
Nursing
Intervention Classification (NIC) 2013
sebuah
taksonomi
tindakan
keperawatan yang berbasis bukti untuk
di berbagai perawatan (Herdman,2015).
Penulis mencantumkan tujuan
atau kriteria hasil setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan hambatan mobilitas fisik
dan kriteria hasil tekakan darah systole
dapat ditinkatkan dan latih gerak dapat
ditingkatkan dengan baik dan kesadaran
juga membaik.
Rencana keperawatan pada Tn.J
pada hari selasa 9 Mei 2017 pukul :
10:00 wib di Ruang Flamboyan di
Rumah Sakit Kota Salatiga. Yang
pertama ukur tanda –tanda vital yang
berupa tekana darah, pernapasan
dengan satu menit, nadi dalam satu
menit serta suhu.
Dalam pengukuran tanda-tanda
vital ini dapat memberikan informasi
yang dapat digunakan sebagai acuan
penulis dalam pemberian perawatan
pada pasien. Dengan pemeriksaan ini
dapat mendeteksi adanya perubahan
sistem tubuh dan sirkulasi darah pada
arteri serebri yang dikaitkan pada nadi,
pengukuran
pernafasan
dapat
menunjukan fungsi pernapasan (Bakara
dan Warsito).
Intervensi
kedua
yaitu
memonitor aktivitas pasien pada
extremitas bawah dan atas karna
adanya hambatan pada aktivitasnya dan
yang berkaitan pada anggota gerak
tidak bisa digerakan dan pemantaunya
lebih dalam lagi.
Pemberian posisi ahli baring
untuk peningkatkan rentang gerak sendi
dapat mengaktifkan gerak volunter, dan
memperbaiki tonus otot maupun reflex
tendon kearah normal yaitu dengan
cara memberikan stimulus terhadap
otot-otot maupun pada persendian.
Intervensi
selanjutnya
memberikan carah latih gerak sesuai
dengan kebutuhan pasien. Tujuan
dalam memberikan cara latihan gerak
atau (ROM) ini digunakan untuk
mengatasi atau melancarkan kekuatan
otot dan hal terutama dalam
kemampuan
mobilisasi.
Untuk
memberikan ROM berperan penting
sebagai proses untuk mengembalikan
kekuatan otot yang kaku yang tidak bisa
digerak dan yang harus terpenuhi untuk
menghindari kerusakan jaringan yang
berakibat pada kekuatan otot apabila
berlangsung lama dapat mengakibatkan
kematian jaringan.(Potter&Perry).
Dari hasil pengkajian penulis
merumuskan intervensi keperawatan
untuk mengatasi gangguan mobilitas
yang dialami Tn.J dengan intervensi
yang pertama yaitu kaji kemampuan
motorik pasien yang bertujuan untuk
mengindentifikasi kekuatan /kelemahan
dan memberikan informasi mengenai
pemulihan (Doenges,2000) intervensi
yang kedua yaitu ajarkan ROM yang
bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi
dan mencegah kontraktur pada
exrtremitas
yang
mengalami
kelemahan.
Implementasi
setelah
menentukan intervensi keperawatan
penulis sudah melakukan implementasi
sesuai dengan intervensi keperawatan,
implementasi dilakukan pada tanggal 11
Mei 2017 yaitu implementasi yang
pertama mengkaji kemampuan motorik
pada pasien yang bertujuan untuk
mengedalikan kekuatan/kelemahan dan
memberikan
informasi
mengenai
pemulihan.
Implementasi
kedua
yaitu
melakukan pemeriksaan tanda vital
karena dapat membantu menentukan
implementasi keperawatan selanjutnya.
Respon yang didapat adalah tekanan
darah 190/100mmgh Nadi 84x/menit
Respiration rate 20x/menit dan suhu 36
celcius.
Implementasi yang dilakukan
selanjutnya adalah mengajarkan Range
of Motion (ROM), pada pasien dengan
tujuan untuk meningkatkan sirkulasi
darah dan mencegah terjadinya
kontraktur pada extremitas yang
mengalami kelemahan.
Menurut penulis mengajarkan
ROM
minimal
3x/hari
akan
memaksimalkan proses penyembuhan.
Hal ini didukung oleh Teori Bakara
(2016), yang mengatakan bawah
melakukan ROM dapat memaksimalkan
proses penyembuhan mengembalikan
fungsi fisik, mencegah terjadinya
komplikasi,
seperti
kelumpuhan,
kontraktur,atropi, serta kehilangan
tonus otot. Respon yang didapatkan
yaitu pasien nampak menganjurkan
untuk meluruskan badan di tempat
yang bertujuan mencegah terjadinya
edema dan kontraktur fleksi pada
pergelangan serta mencegah footdrop
dan
kontraktur
fleksi
bahu.
Implementasi selanjutnya anjurkan
keluarga klien untuk membantu
aktivitas dari klien bertujuan untuk
membantu memenuhi klien selama
sakit.
Pada hari kedua 11 Mei 2017
implementasi yang dilakukan penulis
yaitu
memberikan
manitol
125
ml.pemberian
diuretic
osmotic
(Manitol) merupakan jenis diuretic yang
paling banyak digunakan, manitol
adalah suatu hiperosmotik agent yang
digunakan dengan segera meningkatkan
volume plasma untuk meningkatkan
aliran darah otak dan mengantar
oksigen.(Tarwoto 2013).
Respon yang dapat dari pasien
yaitu pasien koperatif namun belum
ada tanda-tanda kemajuan dari pasien.
Pasien masih memerlukan bantuan
untuk semua kebutuhanya, hanya bisa
berbaring di tempat tidur. Implementasi
selanjutnya yaitu melanjutkan latih
gerak
ROM
untuk
membantu
extremitas yang mengalami kelemahan.
Respon yang didapat dari pasien yaitu
pasien koperatif, pasien nampak baik
dan terlihat senang ketika penulis
melakukan latih gerak ROM.
Dari beberapa implementasi
diatas
terdapat
satu
intervensi
keperawatan yang tidak dilakukan
penulis yaitu kolaborasi dengan ahli
terapi dalam terapi gerak dikarenakan
waktu yang kurang untuk berkolaborasi
dengan ahli terapi.
Dalam mengatasi masalah
gannguan mobilitas fisik penulis
menemukan beberapa masalah antara
lainya yaitu : faktor usia yang sudah
lanjut menghambat dalam latih gerak
ROM karena mengalami perubahan
status
fungional
sekunder
(Potter&Perry, 2010). Alternatif dari
pemecahan
masalah
penulis
memberikan kompres hangat di setiap
persendian sebelum melakukan latih
gerak menganjurkan keluarga untuk
selalu melakukan latih gerak ROM pada
pasien, member motivasi pada pasien
dan
keluarga
dalam
proses
keperawatan khususnya latih gerak
ROM. Faktor pendukung yaitu keluarga
nampak koperatif dalam setiap
tinadakan keperawatan yang dapat
mengurangi kelemahan pada pasien.
Penulis memperkirakan dari hasil
intervensi dan implementasi gangguan
mobilitas fisik pasien dapat berkurang
sejumlah 30% dan dibantu dengan
pemberian terapi obat sebesar 25%
sehingga gangguan mobilitas fisik belum
teratasi.
Hal ini didukung dengan data
setelah
melakukan
tindakan
keperawatan selama 3x24 jam.
Simpulan
Dalam bab ini penulis akan
membuat kesimpulan dan juga saran
tentang pengelolaan pada Tn.J dengan
masalah
keperawatan
dengan
Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang
Flamboyan II Kota Salatiga. Dalam
pengelolaan
pada
Tn.J
penulis
melakukan selama tiga hari dimulai hari
rabu 10 Mei 2017 sampai jumat 13 Mei
2017 melalui lima proses keperawatan
yang terjadi dari pengkajian cara
autoanamnesa dan alloanamnesa,
perumusan masalah keperawatan,
perencanan
keperawatan
yang
disesuaikan
dengan
kondisi
pasien,implementasi
keperawatan
sesuai dengan rencana yang sudah
ditetapkan dan terakhir melakukan
evaluasi.
Bagi penulis dari penyususn
karya tulis ilmiah ini, diharapkan agar
penulis dapat memberikan hasil yang
optimal pada penyusun karya tulis
ilmiah
selajutnya
yang
tetap
berpedoman pada kaidah penulisan
serta teori yang ada. Bagi masyarakat
individu, keluarga atau masyarakat
dapat mengenali manifestasi klinis dari
Hambatan Mobilitas Fisik dan tentunya
setelah mengenal dapat memanfaatkan
fasilitas pelayan kesehatan. Sehingga
dapat menekan prevalensi stroke
hemoragik di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Bakara dan Warsito (2016). Latihan
range of motion (ROM) pasif
terhadap rentang sendi pasien
pasca stroke
Cavalcante et al (2011). Nursing
intervations for stroke patients : an
intergrative literature review.
http://www.ee.usp.br/reeup.com
Fadlulloh, Upoyo, dan Hartanto, ( 2014
)Hubungan tingkat ketergantungan
dalam
pemenuhan
aktivitas
kehidupan
sehari-hari
(AKS)
dengan harga diri penderita Stroke
di
poliklinik
syaraf
RSUD
PROF.DR.MARGONO
SOEKARJO
PURWAKERTO
http://jks.fikes.unsoed.ac.id/index.
php/jks/article/view/579(diakses
tgl 6 maret 2017 jam 19:00pm)
Fadlulloh, Upoyo, dan Hartanto, ( 2014
)Hubungan tingkat ketergantungan
dalam
pemenuhan
aktivitas
kehidupan
sehari-hari
(AKS)
dengan harga diri penderita Stroke
di
poliklinik
syaraf
RSUD
PROF.DR.MARGONO
SOEKARJO
PURWAKERTO
http://jks.fikes.unsoed.ac.id/index.
php/jks/article/view/579(diakses
tgl 6 maret 2017 jam 19:00pm)
Gusty, ( 2012) Efektivitas pemberian
mobilisasi dini terhadap tonus otot,
kekuatan otot,dan kemampuan
motorik
fungsional
pasien
hemiparese paska stroke iskemik
http://www.ejurnal.com/2015/12/efektivitaspemberian-mobilisasidini.html(diakses tgl 4 maret 2017
jam: 21:00 pm)
Herdman et.all (2015) . nursing
outcomes
classifications.
Yogyakarta : mocomedia
Junaidi, (2011). Stroke Waspadai
Ancamanya, Ed.I.Yogyakarta : ANDI
Kristiyawati, dan Arif, ( 2014) Pengaruh
latihan lateral prehension grip
terhadap peningkatan luas gerak
sendi (LGS) Jari tangan pada pasien
Stroke di RSUD Dr. SOEWONDO
KENDAL
http://pmb.stikestelogorejo.ac.id/e
journal/index.php/ilmukeperawata
n/article/view/208(diakses tgl 6
maret 2017 jam 20:00pm)
Middleton et al (2014). Triage,
Treatment, And Transfer EvidenceBased
Clinical
Practice
Recommendation And Models Of
Nursing Care For The First 72 Hours
Of Admission To Hospital For Acute
Stroke.
http://stroke.ahajournals.org
Moorhead et.all (2013). Nursing
Interfantion
Classification.
Yogyakarta : mocomedia
NandaI
2015-2017
Keperawatan
Diagnosis
Pinzon,R , Assanti, L, Sugianto,
Kriswanto.
2010.
Stroke
:
Pengertian, Gejala, Tindakan,
Perawatan
&
Pencegahan.
Yogyakarta : Penerbit ANDI
Potter & Perry, (2009). Fundamental
keperawatan edisi 7 buku 1.
Jakarta : Salemba Medika
Potter & Perry, (2010). Fundamental
Keperawatan edisi 7 buku 2.
Jakarta : Salemba Medika
Pudiastuti, (2011). Penyakit Pemicu
Stroke, Dilengkapi Posyandu Lansia
dan Posbindu PTM, Nuha Medika
Yogyakarta
Utami (2009). Pengaruh Latihan Rom
Aktif
Terhadap
Kemampuan
Mobilisasi Pada Lansia Dengan
Gangguan Musculoskeletal Dip Anti
Sosial Tresna Werdha Budi Mulia
03 Ciracas Jakarta Timur.
Download