makna sesungguhnya dari sisa hasil usaha - E

advertisement
Ramudi Ariffin, Makna Sesungguhnya Sisa Hasil Usaha Koperasi
53
MAKNA SESUNGGUHNYA DARI
SISA HASIL USAHA KOPERASI
Ramudi Ariffin
Institut Manajemen Koperasi Indonesia
[email protected]
ABSTRAK
Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi cenderung disamaartikan dengan laba. Padahal bila diurut
secara konsisten berdasarkan nilai, norma dan prinsip-prinsip Koperasi, maka makna saja
menjadi berbeda dengan laba pada perusahaan kapitalistik.
ABSTRACT
Sisa Hasil Usaha (SHU) is considered the same as profit . When in fact if ordered by the values,
norms and principles of cooperatives , the sense will be different from the profit in the capitalistic
enterprise .
1. PENDAHULUAN
Terminologi Sisa Hasil Usaha (SHU) biasa
dipergunakan oleh Gerakan Koperasi di
Indonesia. Dalam beberapa literatur Koperasi
dijumpai pula sebutan Cooperative’s Profit
(Laba Koperasi) disertai dengan beberapa
penjelasan untuk membedakannya dengan
laba perusahaan bukan Koperasi. Tetapi,
lembaga-lembaga internasional seperti ICA,
ILO dan beberapa lainnya cenderung menggunakan terminologi surplus-defisit. Memang
dirasakan masih terdapat perbedaan persepsi
dan nama terhadap apa yang disebut dengan
SHU Koperasi tersebut. P.R. Dubhashi (1970),
ahli Koperasi pada Institut Manajemen Koperasi
Poona, India, secara tegas menyatakan
ketidaksetujuannya
terhadap
penggunaan
istilah profit di dalam Koperasi. Melalui uraianuraiannya yang cukup mendalam. Djubhashi
merekomendasikan untuk digunakan terminologi surplus dan defisit di dalam Koperasi.
Mengenai pemaknaan terhadap SHU
memang belum banyak dipersoalkan dan
menuntut pemikiran yang rasional di dalam
mendefinisikannya. Hasil pemikiran tersebut
sangat diperlukan. Berpikir adalah proses
menalar untuk membangun pengertian didalam
mencari kebenaran, meskipun kebenaran yang
didapatkan bersifat nisbi (terbatas). Kebenaran
yang diyakini saat ini, mungkin tidak benar
pada masa lalu atau masa depan. Kebenaran
yang diterima di suatu tempat mungkin tidak
diterima atau diragukan di tempat lain, sejauh
kebenaran itu adalah hasil manusia di dalam
berpikir yang menggunakan logika. Karena itu
dalam hal mencari kebenaran makna dari SHU
Koperasi perlu didekati dengan logika yang
tersusun secara konsisten dan runut. Mengenai
cara berpikir seperti ini, sangat boleh jadi
uraiannya menjadi panjang-lebar dan mungkin
juga menjadi membosankan. Karena itu, di
dalam tulisan ini penguraiannya hanya bersifat
garis besar yang berisikan inti pemikiran untuk
sampai pada kesimpulan tentang pemaknaan
SHU yang sesungguhnya menurut karakteristik
Koperasi.
2. MUNCULNYA IDE BERKOPERASI
Munculnya ide berkoperasi dimulai di Eropa
pada abad 18. Didahului dengan diterimanya
paham individualisme dan berkembang menjadi
liberalisme dan dalam bidang usaha menjadi
kapitalisme. Atas dasar pemikiran bahwa setiap
individu bebas mengejar kesejahteraan hidupnya berdasarkan kemampuannya masingmasing. Dengan ditemukannya mesin uap
pertama kali mendorong modernisasi industri
berteknologi mesin uap dan berbasis pada
modal. Tenaga manusia diganti dengan mesin
yang lebih produktif dan efisien. Pengangguran
menjadi tinggi dan bila masih ada kesempatan
untuk bekerja maka buruh akan menerima upah
54
Coopetition, Vol VII, Nomor 1, Maret 2016, 53 - 58
yang sangat rendah. Petani, perajin, industri
rumah dan kaum marjinal lainnya juga
menghadapi tekanan situasi yang sama di
dalam kancah sistem ekonomi pasar tersebut.
Tekanan ekonomi yang memberatkan itu
mendorong para pemikir mencari cara untuk
keluar dari kesulitan. Prinsipnya, didalam
sistem ekonomi pasar yang liberal-kapitalistik
tidak akan ada pihak lain yang peduli terhadap
nasib mereka kecuali mereka harus mampu
menolong dirinya sendiri. Bentuk perusahaan
yang disebut Koperasi mulai diperkenalkan dan
dipraktekkan. Prinsip dasarnya adalah mampu
menolong diri sendiri (self help) percaya pada
kemampuan sendiri (self reliance) dan mampu
bertanggungjawab sendiri (self responsibility).
Tugas pokok Koperasi bukan memupuk laba,
melainkan sebagai alat memecahkan kesulitankesulitan ekonomi secara bersama-sama
sehingga setiap individu anggota mampu
memperbaiki kehidupannya masing-masing.
Kesimpulannya, ide berkoperasi dimunculkan untuk mengatasi kegagalan sistem
ekonomi pasar bagi mereka yang terdesak,
bekerja bersama-sama atas kekuatan sendiri.
kesulitan-kesulitan ekonomi anggota dapat
dihilangkan atau dikurangi melalui layanan
perusahaan Koperasi yang menunjang perekonomian mereka. Untuk menjamin tugas
Koperasi tersebut, dirumuskan seperangkat
nilai, norma dan prinsip-prinsip Koperasi untuk
dilaksanakan dan ditaati bersama.
3. PARTISIPASI ANGGOTA, BASIS KEKUATAN KOPERASI
Di dalam sistem ekonomi kapitalistik, modal
adalah pemegang kekuasaan. Pendayagunaan
modal menghasilkan manfaat ekonomi, karena
itu disebut capital base firms (perusahaan
berbasis modal). Perusahaan adalah subyek
dan konsumen adalah obyeknya. Konsumen
dieksploitasi untuk laba guna memperbesar
modal dan memperkuat perusahaan. Ilmu
ekonomi perusahaan dibangun atas dasar
pemikiran ini. Rapat pemegang saham
merupakan
kekuasaan
tertinggi
tetapi
pemegang saham terbesar memiliki hak suara
terbesar pula.
Berbeda bila perusahaan itu berbentuk
Koperasi. Anggota adalah pemilik yang
sekaligus sebagai pelanggan perusahaan
Koperasi. Tidak mungkin anggota sebagai
pelanggan dieksploitasi oleh Koperasi karena
pelanggan itu adalah pemilik perusahaan
Koperasi. Tugas perusahaan Koperasi adalah
menjalankan fungsi-fungsi kegiatan ekonomi
yang
berdampak
terhadap
peningkatan
kesejahteraan sosial ekonomi anggota. Untuk
menjamin terwujudnya fungsi ini maka tata
kelola organisasi dan perusahaan Koperasi
harus berjalan secara demokratis, satu anggota
satu suara di dalam Rapat Anggota, besarnya
kontribusi modal setiap anggota diabaikan.
Artinya, makna dari Rapat Anggota di dalam
Koperasi berbeda dengan Rapat Pemegang
Saham di dalam perusahaan kapitalistik.
Rapat Anggota adalah pemegang kekausaan tertinggi di dalam Koperasi. Keputusankeputusan Rapat Anggota wajib dijalankan oleh
semua aparat penyelenggara organisasi dan
perusahaan Koperasi. Artinya, manajemen
Koperasi adalah mandataris dari Rapat
Anggota, setelah mandat itu dilaksanakan,
hasilnya harus dilaporkan pada Rapat Anggota
berikutnya dan begitu seterusnya.
Anggota sebagai pemilik ditunjukkan oleh
partisipasi mereka di dalam mengambil keputusan-keputusan, memberikan kontribusi modal
dan biaya-biaya yang dibutuhkan oleh
Koperasi, mengendalikan gerak Koperasi agar
tetap berada dalam koridor kepentingan
ekonomi anggota dan seterusnya. Aktivitas
layanan Koperasi didasarkan pada keputusan
seluruh anggota di dalam Rapat Anggota.
Artinya, layanan-layanan dari perusahaan
Koperasi wajib dimanfaatkan oleh seluruh
anggota dalam kedudukannya sebagai pelanggan Koperasi. Menurut logika, Koperasi tidak
akan menjadi bangkrut manakala partisipasi
anggota, baik sebagai pemilik maupun
pelanggan, cukup tinggi.
4. PARTISIPASI FINANSIAL ANGGOTA
Partisipasi finansial Anggota dapat dilihat
dengan jelas pada saat anggota menggunakan
layanan perusahaan Koperasi, pada tingkat
harga Koperasi yang ditetapkan. Di dalam
harga Koperasi, terkandung biaya pokok untuk
barang/ jasa dan marjin harga sebagai sumber
pendapatan Koperasi. Mengikuti pandangan
principle of cost coverage (Jens Jokisch; 1994),
Koperasi bekerja pada posisi menutupi biayanya, yaitu menutupi biaya-biaya organisasi di
luar biaya pokok barang/ jasa. Itulah sebabnya
Anggaran Belanja Koperasi harus mendapat
persetujuan dan pengesahan dari Rapat
Ramudi Ariffin, Makna Sesungguhnya Sisa Hasil Usaha Koperasi
Anggota. Penerapan dari prinsip menutupi
biaya adalah untuk menjamin agar Koperasi
mampu memberikan manfaat ekonomis,
langsung atau tidak langsung, kepada seluruh
anggota dalam upaya menjalankan fungsinya
sebagai
alat
mempromosikan
ekonomi
anggota. Manfaat ekonomis Koperasi antara
lain dapat diukur dari perbedaan harga di
antara harga di Koperasi dengan harga di pasar
di luar Koperasi. Bila anggota berada pada
posisi membeli maka harga di Koperasi lebih
murah dibanding harga di pasar. Bila anggota
berada pada posisi menjual maka mereka
menerima harga yang lebih tinggi dari
Koperasinya. Begitu pula halnya dengan bunga
pinjaman di Koperasi Simpan Pinjam.
Anggota sebagai pemilik Koperasi bertanggungjawab untuk menanggung semua biaya
organisasi Koperasi. Pengertian prinsip menutupi biaya berarti anggota harus menanggung
biaya pokok barang/ jasa plus marjin harga
Koperasi untuk menutupi biaya organisasi
(biaya rapat anggota, menyusun laporan, gaji/
upah, honorarium, bunga kredit biaya resiko,
biaya pengembangan dan sebagainya) Jumlah
total penerimaan Koperasi dari marjin harga
biasanya disebut pendapatan Koperasi dipergunakan
untuk
menutupi
semua
biaya
organisasinya. SHU muncul dengan mengurangkan pendapatan Koperasi terhadap biaya
riil organisasi. Berdasarkan alur berpikir seperti
ini, maka pendapatan Koperasi diartikan
sebagai partisipasi finansial anggota terhadap
biaya organisasi Koperasi. SHU tidak lain
adalah Sisa Partisipasi Finansial Anggota.
Contoh hipotesis berikut ini ditampilkan agar
memperjelas pengertiannya.
Contoh 1: Koperasi pembelian, posisi anggota
adalah pembeli barang/ jasa.
Diasumsikan Koperasi membeli barang X
dari pasar pada harga beli Rp.1.100 untuk
memenuhi kebutuhan anggota. Harga beli X
sebesar Rp.1.000 merupakan biaya pokok bagi
Koperasi. Koperasi menetapkan harga X
sebesar
Rp.1.000
kepada
anggotanya.
Kelebihan harga sebesar Rp. 100 (disebut
marjin harga Koperasi) dipergunakan oleh
Koperasi untuk menutupi semua biaya
organisasinya dan menjadi kewajiban anggota
sebagai pelanggan. Anggota membayar X
sebesar Rp.1.100 , disebut sebagai partisipasi
bruto anggota. Karena biaya pokok sebesar
55
Rp.1000 sudah keluar dari Koperasi, maka
yang tersisa di Koperasi hanya sebesar Rp.
100 dan disebut partisipasi neto anggota.
Dengan demikian partisipasi neto anggota
adalah kontribusi anggota terhadap biaya-biaya
organisasi Koperasi. Besarnya kontribusi
anggota
tergantung pada jumlah X yang
dimanfaatkan oleh masing-masing anggota,
tentu menjadi berbeda-beda antara yang satu
dengan yang lainnya.
Contoh 2 : Koperasi Penjualan, posisi anggota
adalah penjual barang/jasa.
Diasumsikan Koperasi menampung produk
Y yang dihasilkan oleh para anggotanya untuk
dijual ke pasar pada harga jual sebesar Rp
1.100,- Harga jual sebesar Rp 1.100,- tersebut
merupakan partisipasi bruto anggota. Koperasi
membayar Rp 1.000,- kepada anggota untuk
setiap satuan produk Y dan Koperasi
mencatatnya sebagai biaya (harga) pokok.
Koperasi memperoleh marjin Rp 100 untuk
setiap produk Y dan dipergunakan menutupi
semua kebutuhan biaya organisasinya.
Pendapatan Koperasi dari marjin harga
sebesar Rp 100,- tidak lain merupakan
kontribusi anggota (sebagai pemilik) untuk
membiayai organisasi Koperasi dan disebut
sebagai partisipasi neto anggota. Besarnya
kontribusi anggota tergantung pada jumlah
produk Y yang dipasok oleh masing-masing
anggota kepada Koperasi, sehingga kontribusinya menjadi berbeda-beda antara yang
satu dengan yang lainnya.
Contoh 3 : Koperasi Simpan Pinjam, posisi
anggota adalah peminjam uang.
Diasumsikan seorang anggota menarik
pinjaman Rp 10 juta berjangka waktu satu
tahun dengan bunga 10% setahun. Koperasi
mencatat Rp 10 juta sebagai beban pokok.
Anggota membayar kembali ke Koperasi
sebesar pokoknya Rp 10 juta ditambah Rp 1
juta bunganya.
Nilai setoran anggota sebesar Rp 11 juta
(pokok plus bunga) merupakan Partisipasi bruto
anggota sebagai pelanggan. Partisipasi neto
anggota sebesar Rp 1 juta adalah kontribusi
anggota (sebagai pemilik) untuk ikut serta
menanggung biaya organisasi Koperasi.
Karena jumlah penarikan pinjaman untuk setiap
anggota berbeda-beda, maka partisipasi neto
setiap anggota menjadi berbeda-beda.
Kesimpulan analisis berlogikanya bahwa:
56
Coopetition, Vol VII, Nomor 1, Maret 2016, 53 - 58
1. Semakin efisien Koperasi di dalam
mengorbankan biaya-biayanya, semakin
mengecil marjin harga (partisipasi neto
anggota) yang dibebankannya kepada
anggota.
2. Semakin mengecil marjin harga Koperasi,
semakin besar manfaat ekonomis (harga)
yang diberikan oleh Koperasi kepada
anggota.
3. Semakin besar manfaat ekonomis Koperasi,
semakin
meningkatkan
kesejahteraan
ekonomi anggota.
4. Semakin besar manfaat ekonomis Koperasi
yang mendorong peningkatan kesejahteraan
anggota, semakin besar pula partisipasi
anggota, baik sebagai pemilik maupun
sebagai pelanggan.
5. Semakin tinggi partisipasi anggota, semakin
kokoh eksistensi Koperasi dan semakin
mampu mempertahankan kelangsungan
hidupnya.
6. Semakin kokoh dan kuat kehadiran Koperasi
di masyarakat, semakin terwujud peran dan
fungsinya sebagai sokoguru perekonomian
nasional dan seterusnya.
.
5. SISA HASIL USAHA KOPERSI
Ditegaskan kembali bahwa terminologi SHU
yang sangat familier di dalam praktek
berkoperasi di Indonesia itu, bila diurut secara
konsisten atas dasar tujuan Koperasi
mempromosikan ekonomi anggota dapat
dijelaskan bahwa :
1. SHU berhubungan dengan interaksi antara
layanan Koperasi dan partisipasi anggota
sebagai pelanggan yang di dalamnya
terkandung kewajiban anggota sebagai
pemilik
Koperasi
untuk
membiayai
organisasi Koperasi agar koperasi mampu
menjalankan fungsi dan perannya sebagai
alat
untuk
mempromosikan
ekonomi
anggota.
2. Kewajiban anggota untuk membiayai organisasi Koperasi diimplementasikan dalam
wujud memberikan marjin harga kepada
setiap satuan layanan Koperasi dan disebut
partisipasi neto anggota.
3. Total partisipasi neto anggota dalam satu
tahun kerja dipergunakan oleh Koperasi
untuk menutupi semua keperluan biaya
organisasinya.
4. Besarnya marjin harga atau partisipasi neto
anggota ditetapkan berdasarkan besarnya
Anggaran Belanja organiasi Koperasi dan
karena itu Anggaran Belanja Koperasi harus
mendapat persetujuan dari Rapat Anggota.
Realisasi penggunaan anggaran belanja
yang bersangkutan harus dipertanggungjawabkan pada Rapat Anggota berikutnya.
Selisih antara pendapatan Koperasi dengan
biaya riil organisasi, menunjukkan SHU
yang di dalam tulisan ini cenderung
digunakan terminologi Surplus dan Defisit.
5. Surplus menunjukkan jumlah total partisipasi
neto anggota lebih besar daripada jumlah riil
biaya organisasi. Disebut defisit di dalam
pengertian sebaliknya. Baik surplus maupun
defisit merupakan Sisa Partisipasi Anggota
di dalam keikutsertaannya membiayai
organisasi Koperasi. Mengikuti prinsip
menutupi biaya, maka sisa partisipasi
tersebut dikembalikan kepada setiap anggota yang telah berpartisipasi, sebanding
dengan besarnya partisipasi masing-masing
anggota (baca : SHU dibagikan kepada
anggota sebanding dengan jasa masingmasing anggota).
6. Kesulitan praktis cenderung terjadi ketika
Koperasi mengembalikan defisit kepada
anggota . Karena itu, ketika yang terjadi
adalah surplus, maka tidak seluruh surplus
dikembalikan kepada anggota.
Sekian
persen dari surplus (menurut norma atau
keputusan Rapat Anggota) disisihkan
terlebih dahulu sebagai Dana Cadangan
Koperasi.
Fungsi dana cadangan adalah untuk
menutupi difisit ketika terjadi. Bila defisit tidak
terjadi, maka dana cadangan berputar sebagai
modal sendiri.
6. BISNIS KOPERASI DENGAN BUKAN
ANGGOTA
Bila perusahaan Koperasi melakukan transaksi dengan bukan anggota harus diberi
pengertian sebagai bisnis murni, sebab
terhadap bukan anggota maka semua nilai,
norma dan prinsip-prinsip Koperasi menjadi
tidak berlaku. Secara normatif Koperasi tidak
memiliki kewajiban meningkatkan kesejahteraan bukan anggota. Meskipun demikian nilainilai
Koperasi
memang
mengharuskan
Koperasi untuk peduli terhadap lingkungan
kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan
pemeliharaan lingkungan hidup.
Ramudi Ariffin, Makna Sesungguhnya Sisa Hasil Usaha Koperasi
Dalam hal ini, perlu dibedakan di antara
interaksi Koperasi dengan anggota dan bukan
anggota. Interaksi Koperasi dengan anggota
berada di dalam sistem Koperasi berdasarkan
mekanisme Koperasi yang sarat dengan nilai,
norma dan prinsip-prinsip Koperasi, yang harus
ditaati dan diterapkan secara bersama-sama.
Sedangkan interaksi antara Koperasi dengan
bukan anggota berada di dalam sistem pasar
dan berdasarkan mekanisme pasar. Identitas
anggota sebagai pemilik sekaligus pelangan
membangun mekanisme Koperasi sedangkan
mekanisme pasar terjadi karena pemiik
perusahaan tidak identik sebagai pelanggan
(pemilik dan pelanggan merupakan dua pihak
yang terpisah).
Ketika Koperasi berbisnis dengan bukan
anggota maka Koperasi berubah fungsi menjadi
perusahaan kapitalistik yang berorientasi kepada laba. Karena itu, keputusan Koperasi untuk
melakukan bisnis dengan bukan anggota perlu
dilakukan dengan hati-hati agar tidak kehilangan jatidirinya sebagai Koperasi yang
mengemban tugas pokok untuk mempromosikan ekonomi anggota. Pada dasarnya,
Koperasi tidak dilarang untuk melakukan bisnis
dengan bukan anggota dengan syarat seluruh
kepentingan dan kegiatan ekonomi anggota
yang diambil-alih Koperasi dari anggotanya
telah dijalankan dengan sebaik-baiknya dan
ternyata masih terdapat kelebihan kapasitas
usahanya. Untuk menghindari kerugian, Koperasi dapat menggunakan kelebihan kapasitas
tersebut dengan berbisnis terhadap bukan
anggota.
Hasil bisnis Koperasi dengan bukan anggota
ditampilkan dalam bentuk Laporan Laba/Rugi.
Dengan demikian pencatatan aktivitas Koperasi
dalam melayani anggota dan bisnis Koperasi
dengan bukan anggota perlu dipisahkan. Hal ini
perlu dilakukan karena :
1. Interaksi Koperasi dengan anggota berhubungan dengan partisipasi angota sebagai
pelanggan. Interaksinya mengikuti sistem
atau mekanisme Koperasi.
2. Interaksi Koperasi dengan bukan anggota
adalah bisnis seperti pada umumnya,
mengikuti sistem atau mekanisme pasar.
3. Distribusi sisa partisipasi anggota didasarkan pada besar-kecilnya kontribusi masingmasing anggota terhadap pembiayaan
organisasi Koperasi, mengikuti sistem
Koperasi. Sedangkan distribusi Laba/Rugi
57
didasarkan pada kontribusi modal dari
masing-masing anggota, mengikuti sistem
kapatalistik.
7. KLAIM ANGGOTA TERHADAP ASET
KOPERASI
Bahasan tentang SHU Koperasi tentu
berkaitan langsung dengan aspek-aspek
finansial lainnya seperti modal, asset,
solvabilitas dan sebagainya. Dalam hal pajak
pendapatan badan misalnya, Undang-Undang
pajak menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan pendapatan badan (perusahaan)
adalah keuntungan yang diperoleh. Secara
teoritis, berarti pajak pendapatan Koperasi
dikenakan pada laba yang dihasilkan dari bisnis
Koperasi dengan bukan anggota. Perlakuan
pajak mestinya berbeda terhadap SHU di
dalam pengertian sebagai sisa partisipasi
anggota yang tidak dapat diartikan persis sama
dengan laba.
Ketika kontribusi modal dari angota relatif
tidak mencukupi kebutuhan Koperasi akan
modalnya, maka pembentukan Dana Cadangan
merupakan salah satu jalan keluar untuk
mengatasi kelemahan modal tersebut. Dana
cadangan berasal dari SHU atau sisa
partisipasi anggota yang tidak dikembalikan
kepada
anggota
kontributornya.
Dana
cadangan adalah bagian dari ekuitas (asset
tetap) Koperasi. Banyak Koperasi yang mampu
berkembang menjadi besar karena didukung
oleh pemupukan dana cadangan tersebut
sehingga Koperasi memiliki asset yang cukup
kuat.
Di dalam posisinya sebagai pemilik
Koperasi, maka secara teoritis anggota memiliki
klaim terhadap kekayaan bersih Koperasi,
misalnya pada saat Kopersi dilikuidasi atau
pada saat anggota menyatakan keluar dari
keanggotaannya di Koperasi. Dalam hal ini,
Koperasi perlu memiliki acuan normatif untuk
mengukur penyetaraan modal anggota.
Nilai nominal modal yang disetor oleh setiap
anggota perlu disetarakan terhadap perubahanperubahan
kekayaan
bersih
Koperasi,
Logikanya, bila kekayaan bersih Koperasi
berkembang semakin besar, maka klaim
anggota terhadap nominal modal yang telah
disetornya ke Koperasi menjadi lebih besar dari
nominalnya setorannya. Begitu juga terjadi
sebaliknya.
58
Coopetition, Vol VII, Nomor 1, Maret 2016, 53 - 58
Untuk menghitung modal penyetaraan
anggota, perlu diketahui nilai indek penyetaraannya terlebih dahulu. Contoh sederhananya:
dimisalkan setoran nominal simpanan pokok
dan simpanan wajib seluruh anggota sebesar
Rp 400 juta. Kekayaan bersih Koperasi (nilai
seluruh aset dikurangi seluruh hutangnya)
sebesar Rp 1.600 juta, maka indek penyetaraan berilai 4 dihitung dari Rp 1.600 juta dibagi
dengan Rp 400 juta Bila seorang anggota telah
menyetor simpanan pokok dan simpanan wajib
sebesar Rp 500 ribu, maka nilai penyetaraannya adalah Rp 2 juta.. Akan terjadi
sebaliknya bila nilai kekayaan bersih Koperasi
merosot menjadi hanya Rp 300 juta, maka
indek penyetaraan menjadi 0,75. Nilai nominal
setoran yang Rp 500 ribu itu disetarakan
menjadi Rp 375 ribu. Sebagai catatan, nilai
penyetaraan modal tersebut hanya bersifat
administrasi, tidak dapat ditarik setiap saat
kecuali anggota menyatakan ke luar dari
keanggotaan dan tidak dimungkinkan untuk
mendaftarkan keanggotaannya kembali atau
bila Koperasi dalam keadaan dilikuidasi.
8. DEFINISI PERUSAHAAN KOPERASI
Dimulai dengan bahasan tentang arti
sesungguhnya dari SHU dan berimplikasi
terhadap aspek-aspek finansial lainnya, maka
definisi Koperasi sebagai perubahaan dapat
dirumuskan, yaitu Perusahaan Koperasi adalah
perusahaan yang didirikan, dimodali/dibiayai,
dikelola, dikendalikan dan dimanfaatkan sendiri
oleh anggotanya.
Posisi anggota yang mendirikan, memodali/
membiayai, mengelola dan mengendalikan
perusahaan Koperasi menunjukkan statusnya
sebagai pemilik perusahaan. Posisi anggota
yang memanfaatkan sendiri layanan-layanan
perusahaan Koperasi menunjukkan statusnya
sebagai pelanggan Koperasi. Dengan demikian, ciri khas perusahaan Koperasi terletak
pada identitas anggotanya yaitu sebagai
pemilik sekaligus sebagai pelanggannya (users
own firm, perusahaan yang dimiliki pelanggan).
Bila pemilik perusahaan tidak identik sebagai
pelanggan maka ia bukan perusahaan Koperasi
melainkan perusahaan kapitalistik. Dengan
demikian, karakteristik koperasi dapat dijelaskan dan perbedaan-perbedaan intrinsiknya
dengan perusahaan kapitalistik menjadi lebih
teridentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Blumle, Ernst B. 1985. Methods of Measuring
Success and Effects in a Cooperative.
Quiller Press, London
Dubhashi, PR.1970. Principle and Philosophy
of Cooperation, Vaikunth Mehta National
Institute of Cooperative Management.
Poona, India.
Dulfer,
Eberhard,1994.
Evaluation
of
Cooperative
Organizations.
Dalam
International Handbook of Cooperative
Organizations. Vandenhoeck & Ruprecht.
Cottingen.
Download