potensi tanaman dalam menyerap co2 dan co untuk mengurangi

advertisement
POTENSI TANAMAN DALAM MENYERAP CO2 DAN CO
UNTUK MENGURANGI DAMPAK PEMANASAN GLOBAL
Oleh: Nanny Kusminingrum
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Jl. AH. Nasution 264 Ujungberung, Bandung
E-mail : [email protected]
Tanggal masuk naskah : 09 Mei 2008, Tanggal revisi terakhir: 09 Juni 2008
Abstrak
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfir, laut dan
daratan bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ±0.18°
C selama seratus tahun terakhir. IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change)
menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak
pertengahan abad ke 20 kemungkinan besar disebabkan oleh menigkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca akibat aktifitas manusia. Gas-gas rumah kaca, antara lain : uap air,
karbondioksida dan metana. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi
gelombang yang dipancarkan bumi, sehingga panas tersebut akan tersimpan pada
permukaan bumi. Hal ini akan terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata
tahunan bumi terus meningkat. Ada beberapa cara yang dapat mengurangi peningkatan
temperatur bumi tersebut, antara lain melalui : penambahan ruang terbuka hijau.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu kiranya dilakukan penelitian manfaat tanaman
untuk meminimasi pemanasan global yang dewasa ini sedang mencuat. Pada penelitian
ini dikaji besarnya reduksi CO oleh berbagai jenis pohon, jenis perdu dan jenis semak
secara mandiri, maupun kombinasi ketiganya. Metoda yang digunakan adalah metoda
experimental melalui teknik observasi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa reduksi CO terbesar untuk : a) jenis pohon yaitu tanaman Ganitri (Elaeocarpus
sphaericus) sebesar 81.53 % (0.587 ppm) ; b) jenis perdu yaitu Iriansis (Impatien sp)
sebesar 88.61 % (0.638 ppm) ; c) jenis semak yaitu: Philodendron (Philodendron sp)
sebesar 92.22 % ( 0.664 ppm); serta d) tanaman gabungan, yaitu Galinggem + Kriminil
Merah dengan perbandingan 2 : 1 sebesar 79.22 % (0.244 ppm). Dari penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa setiap tanaman mempunyai kemampuan yang berbeda dalam
menyerap polutan CO, demikian pula apabila tanaman–tanaman tersebut dikombinasikan.
Untuk itu, dapat dipilih jenis tanaman yang sesuai dengan maksud dan tujuan
pemilihannya, kemudahan didapatnya, kemudahan dalam pemeliharaannnya.
Kata kunci : Tanaman , polusi udara, pemanasan global
Abstract
Global warming is a process of the average temperature increase of the earth’s
atmosphere, ocean, and land. The average global temperature on earth surface has
increased 0.74 ± 0.18° C over the last century. IPCC (Intergovermental Panel on Climate
Change) concludes that: most of the average global temperature increase since the
middle of the 20th century is caused by the increase of greenhouse - gases concentration
as a result from human activities.
Examples of Greenhouse - gases are : aqueous steam, carbon dioxide and methane.
These gases absorb and reflect radiation - wave from the earth. Back to earth, and the
96
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
heat remains on earth surface. This process occurs repeateadly and keeps the annual
earth temperature increasing. There are some ways to reduce the global warming and for
example: by adding more green open spaces. Therefore, research .is needed to elaborate
the benefits of vegetation to minimize the effect global warming. This research aims to
identify the amount of CO reduction by many kinds of: trees, bushes and shrubs,
singularly or a combination of the three. The method used in this research is experimental
method through observation in the laboratory. The result shows that the which species
that reduce CO the most for ; a) trees is Ganitri (Elaeocarpus sphaericus) by 81.53 %
(0.587 ppm) ; b) for bushes is Iriansis (Impatien sp) by 88.61 % (0.638 ppm) ; c) shrubs
is Philodendron (Philodendron sp) by 92.22 % ( 0.664 ppm); and d); combination of
Galinggem + Kriminil Merah ( 2 : 1) by : 79.22 % (0. 244 ppm). The conclusion of this
research is that each vegetation has different ability to absorb (and reduces) CO and they
also have different ability if combined. Therefore, we can easily choose any kind of
vegetations, depending on the purpose, as long as we can easily get and treat them.
Key words:
Vegetation, air pollution , global warming
PENDAHULUAN
Menurut
Wikipedia Indonesia (----)
pemanasan global adalah adanya
proses peningkatan suhu rata-rata
atmosfir, laut dan daratan bumi.
Segala sumber energi yang terdapat di
bumi berasal dari matahari. Sebagian
besar dari energi tersebut dalam bentuk
radiasi gelombang pendek. Ketika energi
ini mengenai permukaan bumi, berubah
dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan
menyerap
sebagian
panas
dan
memantulkan kembali sisanya. Namun
sebagian dari panas tetap terperangkap
di bumi akibat menumpuknya jumlah
gas rumah kaca antara lain : uap air,
karbondioksida dan metana. Gas-gas ini
menyerap dan memantulkan kembali
radiasi gelombang yang dipancarkan
bumi, sehingga panas tersebut akan
tersimpan pada permukaan bumi. Hal
tersebut terjadi berulang-ulang dan
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan
bumi terus meningkat.
Suhu rata-rata global pada permukaan
bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18° C
selama
seratus
tahun
terakhir
Potensi Tanaman dalam …. (Nanny K.)
Intergovermental
Panel on Climate
Change (IPCC) yang disiir oleh Wikipedia
Indonesia (----) menyimpulkan bahwa :
sebagian besar peningkatan temperatur
rata-rata global sejak pertengahan abad
ke 20 kemungkinan besar disebabkan
oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca akibat aktivitas manusia.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh
proyek
IPCC
menunjukkan
suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 –
6.4 ° C antara tahun 1990 dan 2100.
Meningkatnya suhu global diperkira-kan
akan menyebabkan perubahan-perubahan, misalnya meningkatnya intensitas
fenomena cuaca yang ekstrim, naiknya
permukaan
air
laut
(Wikipedia
Indonesia,----).
Soedomo
(2001),
bahkan menambahkan bahwa pengaruh
pemanasan global dalam setengah abad
mendatang diperkirakan akan terjadi :
 Perubahan pola angin
 Bertambahnya populasi dan jenis
organisme penyebab penyakit dan
dampaknya terhadap kesehatan
masyarakat
 Perubahan pola curah hujan dan
siklus hidrologi
 Meningkatnya badai atmosferik
97

Perubahan ekosistem hutan, daratan
dan ekosistem alami lainnya
Ada beberapa solusi untuk menghadapi
pemanasan global ini, antara lain :
pembangunan ruang terbuka hijau,
Untuk itu, perlu dikaji jenis-jenis
tanaman yang dapat meminimasi
dampak yang terjadi.
TINJAUAN
PUSTAKA
Transportasi Merupakan Salah
Satu Penyebab Bertambahnya
Konsentrasi CO di Udara
Sektor transportasi merupakan penyumbang utama pencemaran udara di
daerah perkotaan. Dalam tahun 1990,
transportasi darat bertanggung jawab
terhadap setengah dari total emisi
partikulat (debu), dan untuk sebagian
besar Timbal, CO, HC dan NOX di
daerah perkotaan, dengan konsentrasi
utama terdapat di daerah lalu lintas
yang padat, dimana tingkat pencemaran
udara
sudah
dan
atau
hampir
melampaui Standard kualitas udara.
Gangguan kesehatan dapat diakibatkan
oleh konsentrasi yang berlebihan dari
pencemar-pencemar utama ini (KLH,
1997).
Selanjutnya
menambahkan
bahwa, sejalan dengan pertumbuhan
pada
sektor
transportasi
yang
diproyeksikan sekitar 6 – 8 % per tahun,
maka penggunaan bahan bakar di
Indonesia
diproyeksikan
bertambah
sebesar 2.1 kali konsumsi 1990 pada
tahun 1998, sebesar 4.6 kali pada tahun
2008, dan 9 kali pada tahun 2018
(World Bank, 1993 cit KLH, 1997). Pada
98
tahun 2020, setengah dari jumlah
penduduk Indonesia akan menghadapi
permasalahan pencemaran udara perkotaan, yang didominasi oleh emisi dari
kendaraan bermotor.
Sumber gas CO berasal dari sumber
alami dan sumber antropogin. Sumber
antropogin gas CO seluruhnya berasal
dari pembakaran bahan organik. Pembakaran bahan organik ini dimaksudkan
untuk mendapat energi kalor yang
kemudian digunakan untuk berbagai
keperluan, antara lain: transportasi,
pembakaran batu bara, dll. Menurut
Suhardjana (1990), sumber antropogin
gas CO di udara yang terbesar disumbangkan oleh kegiatan transportasi
yaitu dari kendaraan bermotor berbahan
bakar bensin, sebesar 65.1 %
Pada
bensin
purna,
Reaksi
berikut
mesin kendaraan bermotor,
yang teroksidasi dengan semmenghasilkan H2O dan CO2.,
oksidasi bensin adalah sebagai
:
Tahap I : 2 C n H(2n+2) + (2n+1) O2
- 2n CO +2 (n+1) H2O
Tahap II 2 CO + O2 - 2 CO2
Namun apabila jumlah O 2 dari udara
tidak cukup atau tidak tercampur baik
dengan bensin, maka pada pembakaran
ini akan selalu terbentuk gas CO yang
tidak teroksidasi.
Di bawah ini disajikan hubungan antara
gas CO yang dihasilkan dengan
kecepatan kendaraan.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Laju Emisi CO Kendaraan Penumpang
90
80
CO (g/Km)
70
60
50
40
30
20
10
0
0
20
40
60
80
100
120
140
Kecepatan rata-rata (Km/jam)
Gambar 1. Laju Emisi Karbon Monoksida Kendaraan Penumpang
Sumber : Environmental Assessment, DOT, UK., 1994
Beberapa hal yang masih diperdebatkan
para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan
terjadi di masa depan dan bagaimana
pemanasan serta perubahan-perubahan
yang terjadi tersebut. Tentunya akan
bervariasi dari satu daerah ke daerah
lainnya. Namun yang lebih penting
adalah tindakan yang harus dilakukan
untuk mengantisipasi nya ataupun untuk
beradaptasi
terhadap
konsekwensikonsekwensi yang ada.
Ada beberapa solusi untuk menghadapi
pemanasan global ini, antara lain :
pembangunan ruang terbuka hijau.
ALTERNATIF
SOLUSI
Ruang Terbuka Hijau
Setiap kota harus memiliki 30 % Ruang
Terbuka Hijau. (menurut Undangundang nomor 26 tahun 2007 tentang
Potensi Tanaman dalam …. (Nanny K.)
Penataan Ruang) Sehingga bagi kota
yang belum memenuhi kriteria tersebut
seyogianya melakukan penambahan
ruang terbuka hijau, dengan
mempertimbangkan pemilihan jenis-jenis
tanaman yang mempunyai fungsi ganda,
yaitu selain tanaman dapat memberikan
O2 , juga dapat mereduksi CO.
Setiap orang memerlukan 0.5 kg
Oksigen (O2) per hari (leaflet Dinas
Pertamanan dan Pemakaman Bandung).
Sedangkan sebuah pohon pelindung
berguna untuk memenuhi kebutuhan
oksigen untuk dua orang (Ahda Imran ,
2002). Sehingga dalam penataan Ruang
Terbuka Hijau dapat di integrasikan
antara
kebutuhan
akan
oksigen
terhadap peraturan Ruang Terbuka
Hijau yang harus diacu.
99
Pengurangan CO2 oleh Tanaman
Melalui Proses Fotosintesa
Tanaman membutuhkan CO2 untuk
pertumbuhannya. Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir antara lain akan
merangsang proses fotosintesa, meningkatkan
pertumbuhan
tanaman
dan
produktivitasnya tanpa diikuti oleh
peningkatan kebutuhan air (transpirasi)
Fotosintesa umumnya
terjadi pada
semua tumbuhan hijau yang memiliki
kloroplast atau pada semua tumbuhan
yang memiliki zat warna. Secara umum
proses fotosintesa adalah pengikatan
gas karbon-dioksida (CO2) dari udara
dan molekul air (H2O) dari tanah dengan
bantuan energi foton cahaya tampak,
akan
membentuk
gula
heksosa
(C6H12O6) dan gas oksigen (O2) sbb :
6 CO2 + 6 H2O + 48 hv
- C6H12O6 + 6 O2
CO
Berdasarkan hal tersebut di atas, berarti
CO2 dapat dimanfaatkan oleh tanaman,
melalui proses fotosintesa. Untuk reaksi
oksidasi bensin yang tidak sempurna
(jumlah O2 di udara yang tidak cukup),
akan selalu terbentuk gas CO yang tidak
teroksidasi. Untuk hal ini, Pusat Litbang
Jalan dan Jembatan telah melakukan
penelitian untuk meminimasi konsentrasi
CO tersebut dengan meneliti jenis-jenis
tanaman yang berpotensi positif (baik).
Hal inipun sebenarnya secara tidak
langsung
merupakan suatu solusi
100
Kebutuhan Pohon Pelindung
Saat ini di Indonesia, masih banyak
kota-kota
yang
belum
memenuhi
kebutuhan manusia akan oksigen.
Sebagai contoh di kota Bandung dengan
jumlah penduduk sekitar 2.400.000 jiwa,
memerlukan pohon pelindung sebanyak
1.200.000 pohon. Pohon pelindung yang
ada sekarang (di pinggir jalan,pinggir
kali, taman kota maupun pada lahan
penduduk ), hanya sekitar 800.000
pohon (Leaflet Dinas Pertamanan dan
Pemakaman, 2007). Jadi untuk bernafas
penduduk
kota
Bandung,
masih
kekurangan 400.000 pohon.
Kebutuhan tanaman akan oksigen pada
suatu area, dapat dihitung sebagai
berikut :
Jumlah jiwa X 0.5 Kg O2
Reaksi tersebut terurai menjadi 3 proses
utama: pertama pembentukan O 2 bebas,
kedua reaksi NADP, dan ketiga
pengubahan CO2 menjadi C6H12O6. Dua
proses yang pertama membutuhkan
energi cahaya, sedangkan proses yang
ke tiga dapat berlangsung di dalam
gelap.
Pengurangan Konsentrasi
oleh Tanaman
pengurangan konsentrasi CO2.
1.2 Kg O2
X 1 pohon
Keterangan :
0.5 Kg O2 adalah oksigen yang
diperlukan manusia un-tuk bernafas
dalam satu hari 1.2 Kg O2 adalah
oksigen yang dihasilkan oleh
satu
pohon pelindung setiap hari
METODOLOGI
Metoda
Metoda yang digunakan adalah metoda
experimental melalui teknik observasi.
Pengukuran polutan CO menggunakan
metoda analisis Non Dispersive Infra
Red (NDIR)
Persiapan
a. Bahan kimia
b. Peralatan
c. Tanaman
- Pemilihan tanaman:
- Volume kerimbunan rata² untuk
1. Penelitian mandiri
- Jenis pohon: 40 dm³
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
- Perdu : 40 dm³
- Semak : 20 dm³
2. Penelitian gabungan :
- Pohon : 20 dm³ , 40 dm³
; Perdu : 10 dm³ , 20
dm³ , 40 dm³
- Semak : 5 dm³ , 10 dm³
, 20 dm³
d. Laboratorium
- Dipersiapkan ruangan kaca
dengan ukuran :
2 m X 2m X 2m
- Pra penelitian dengan mengatur :
waktu hembusan, interval hembusan dan flow, sehingga
diperoleh : CO awal rata² untuk
penelitian mandiri
= 0.72 ppm
Penelitian gabungan = 0.308
ppm
Pelaksanaan
a. Tanaman yang sudah disiapkan
dimasukkan dalam ruangan yang
sudah ditentukan secara random
sampling
b. Dilakukan
penghembusan
pada
setiap ruangan dengan generator
berbahan bakar solar
HASIL PENELITIAN
Dibawah ini disajikan hasil penelitian
yang meliputi :
1. Tanaman secara mandiri (11 jenis
pohon, 16 jenis perdu dan 12 jenis
semak)
2. Tanaman gabungan (jenis pohon +
jenis perdu + jenis semak)
Tanaman secara Mandiri
a. Untuk Jenis Pohon
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Tabel 1.
Konsentrasi CO pada Ruangan dengan Tanaman Jenis Pohon
(Konsentrasi CO Rata-rata pada Kontrol = 0.72 ppm)
RATA-RATA
PENGURANGAN CO
JENIS TANAMAN
(ppm)
(%)
Ganitri (Elaeocarpus sphaericus)
0.587
81.53
Bungur (Lagerstroemia flos-reginae)
0.567
78.75
Cempaka (Michellia champaca)
0.528
73.33
Kembang Merak (Caesalpinia pulcherrima)
0.508
70.56
Saputangan (Maniltoa grandiflora)
0.506
70.28
Tanjung (Mimusops elengi)
0.501
69.58
Kupu-kupu (Bauhinia sp)
0.501
69.58
Acret (Spathodea campanulata)
0.428
59.44
Asam kranji (Pithecellobium dulce)
0.267
37.08
Felicium (Filicium decipiens)
0.207
28.75
Galinggem (Bixa orellana)
0.169
23.47
KETERANGAN ;
a. Sumber : Nanny Kusminingrum,
dkk. 1997. Pengaruh Tanaman
Jalan Terhadap Baku Mutu
Lingkungan Jalan. Puslitbang
Jalan dan Jembatan
b. Jenis pohon adalah tanaman
tahunan berkayu dan berbatang
Potensi Tanaman dalam …. (Nanny K.)
tinggi dengan dahan dan ranting
jauh di atas permukaan tanah
c. Ruangan penelitian berukuran
2m X 2m X 2m
d. Volume kerimbunan daun terhadap
volume ruangan adalah 0.5 %
101
b. Untuk Jenis Perdu
Tabel 2. Konsentrasi CO pada Ruangan dengan Tanaman Jenis Perdu
(Konsentrasi CO Rata-rata pada Kontrol = 0.72 ppm)
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
JENIS TANAMAN
Iriansis (Impatien sp)
Dawolong (Acalypha compacta)
Nusa Indah Merah (Mussaenda erythrophylla)
Saliara (Lantana camara)
Oleander (Nerium oleander)
Kacapiring (Gardenia jasminiodes)
Harendong (Melastoma malabathricum)
Wilkesiana Merah (Acalypha wilkesiana)
Anak Nakal (Durante erecta)
Walisongo (Schefflera arborícola)
Pecah beling (Sericocalyx crispus)
Sadagori (Tumera ulmifolia)
Lolipop merah (Pachystachys coccinea)
Azalea (Rhododendron indicum)
Teh-tehan (Acalypha capillipes)
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
KETERANGAN ;
a. Sumber : Nanny Kusminingrum,
dkk. 1997. Pengaruh Tanaman
Jalan
terhadap
Baku
Mutu
Lingkungan Jalan. Puslitbang Jalan
dan Jembatan
b. Jenis perdu adalah tanaman
berkayu yang bercabang banyak,
c.
RATA-RATA
PENGURANGAN CO
(ppm)
0.638
0.626
0.590
0.580
0.580
0.580
0.567
0.557
0.484
0.483
0.481
0.465
0.408
0.388
0.386
0.236
(%)
88.61
86.94
81.94
80.56
80.56
80.56
78.75
77.36
67.22
67.08
66.81
64.58
56.67
53.89
53.61
32.78
tanpa sesuatu batang yang jelas
dan pada umumnya tanaman
tahunan
c. Ruangan penelitian berukuran 2m
X 2m X 2m
d. Volume kerimbunan daun terhadap
volume ruangan adalah 0.5 %
Untuk Jenis Semak
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
102
Tabel 3. Konsentrasi CO pada Ruangan dengan Tanaman Jenis Semak
(Konsentrasi CO Rata-rata pada Kontrol = 0.72 ppm)
RATA-RATA
JENIS TANAMAN
PENGURANGAN CO
Philodendron (Philodendron sp)
Graphis merah (Hemigraphis bicolor)
Myana (Eresine herbstii)
Maranta (Maranta sp)
Pentas (Pentas lanceolada)
Mutiara (Pilea cadierei)
Babayeman Merah (Aerva sanguinolenta)
Gelang (Portulaca grandiflora)
Plumbago (Plumbago auriculata)
(ppm)
0.664
0.634
0.551
0.529
0.518
0.499
0.490
0.489
0.431
(%)
92.22
88.06
76.53
73.47
71.94
69.31
68.06
67.92
59.86
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
NO.
10.
11.
12.
RATA-RATA
PENGURANGAN CO
JENIS TANAMAN
(ppm)
0.372
0.296
0.253
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Pacing (Costus malortianus)
Kriminil Merah (Althernanthera ficoidea)
KETERANGAN ;
a. Sumber : Nanny Kusminingrum,
dkk. 1997. Pengaruh Tanaman Jalan
terhadap Baku Mutu Lingkungan
Jalan.
Puslitbang
Jalan
dan
Jembatan
b. Jenis semak adalah tanaman yang
lebih kecil dari perdu dan hanya
(%)
51.67
41.11
35.14
dahan-dahan utamanya saja yang
berkayu
c. Ruangan penelitian berukuran 2m X
2m X 2m
d. Volume kerimbunan daun terhadap
volume ruangan adalah 0.5 %
Tanaman Gabungan (pohon + perdu + semak)
Tabel 4. Konsentrasi CO pada Ruangan (dengan CO Awal Rata-rata -= 0.308 ppm)
JENIS TANAMAN
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Galinggem + Kriminil Merah
Felicium + Kriminil Merah + Maranta
Galinggem + Maranta
Felicium + Maranta
Wilkesiana + Maranta
Wilkesiana + Kriminil merah+ Maranta
Azalea + Maranta
Galinggem + Kriminil merah+ Maranta
Azalea + Kriminil merah + Maranta
Felicium + Kriminil Merah
Cempaka + Kriminil Merah
Azalea + Kriminil Merah
Cempaka + Maranta
Cempaka + Kriminil Merah + Maranta
Wilkesiana + Kriminil Merah
Cempaka + Azalea + Wilkesiana
Galinggem + Azalea + Wilkesiana
Galinggem + Wilkesiana
Felicium + Azalea + Wilkesiana
Cempaka + Azalea
Galinggem + Azalea
Felicium + Wilkesiana
Cempaka + Wilkesiana
Felicium + Azalea
Felicium + Maranta
Felicium + Kriminil Merah
Wilkesiana + Maranta
Galinggem + Kriminil merah
Wilkesiana + Kriminil merah
Potensi Tanaman dalam …. (Nanny K.)
PENGURANGAN
POLUTAN CO
(ppm)
PERBAND
VOLUME
RIMBUN
DAUN
VOL.RIMBUN
PER
VOL.RUANG
(%)
INTERVAL *)
RATA² *)
2:1
4:1:1
2:1
2:1
2:1
4:1:1
2:1
4:1:1
4:1:1
2:1
2:1
2:1
2:1
4:1:1
2:1
2:1:1
2:1:1
1:1
2:1:1
1:1
1:1
1:1
1:1
1:1
2:1
2:1
2:1
2:1
2:1
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.375
0.500
0.500
0.500
0.500
0.500
0.500
0.500
0.500
0.500
0.750
0.750
0.750
0.750
0.750
0.127 – 0.361
0.132 – 0.320
0.113 – 0.334
0.100 – 0.342
0.030 – 0.396
0.010 – 0.396
0.071 – 0.255
0.025 – 0.296
0.053 - 0.264
0.030 – 0.279
0.074 – 0.205
0.065 – 0.204
0.005 – 0.250
0.054 – 0.186
0.020 – 0.218
0.021 – 0.410
0.128 – 0.292
0.089 – 0.327
0.060 – 0.356
0.034 – 0.357
0.114 – 0.269
0.087 – 0.282
0.019 – 0.346
0.007 – 0.319
0.087 – 0.365
0.078 – 0.375
0.033 – 0.408
0.106 – 0.321
0.032 – 0.354
0.244
0.226
0.223
0.221
0.213
0.203
0.163
0.160
0.159
0.154
0.139
0.135
0.128
0.120
0.119
0.215
0.210
0.208
0.208
0.195
0.191
0.185
0.183
0.163
0.226
0.226
0.220
0.213
0.193
103
JENIS TANAMAN
NO
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
PERBAND
VOLUME
RIMBUN
DAUN
Galinggem + Maranta
Cempaka + Kriminil Merah
Cempaka + Maranta
Azalea + Maranta
Azalea + Kriminil Merah
Galinggem + Azalea
Cempaka + Azalea
Galinggem + Wilkesiana
Cempaka + Wilkesiana
Felicium + Wilkesiana
Felicium + Azalea
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
VOL.RIMBUN
PER
VOL.RUANG
(%)
0.750
0.750
0.750
0.750
0.750
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
PENGURANGAN
POLUTAN CO
(ppm)
INTERVAL *)
0.029
0.057
0.064
0.038
0.054
0.156
0.058
0.107
0.004
0.049
0.021
–
–
–
–
–
–
–
–
–
–
–
0.325
0.291
0.267
0.292
0.235
0.323
0.343
0.246
0.347
0.286
0.273
RATA² *)
0.117
0.174
0.166
0.165
0.145
0.239
0.200
0.176
0.175
0.168
0.147
KETERANGAN :
a. Sumber Nanny Kusminingrum, dkk.
1998. Pengaruh Tanaman Jalan
terhadap polusi udara akibat lalu
lintas kendaraan. Puslitbang jalan
dan Jembatan.
b. Volume rimbun per volume ruang =
perbandingan volume kerimbunan
daun terhadap volume ruang yang
ada.
c. Volume ruang yang ada = 2 m X 2m
X 2m = 8 m³
d. *)= interval pengurangan polutan
CO = nilai pendugaan selang
e. **) = nilai rata-rata dari pendugaan
selang = pendugaan titik
dengan perbandingan
2 : 1
sebesar 79.22 % (0.244 ppm)
2. Apabila digunakan tanaman Galinggem (Bixa orellana) secara mandiri, tanaman ini hanya mampu
mereduksi CO dibawah 25 %, yaitu
sebesar 23.47 % (0.169 ppm)
3. Penelitian dengan tanaman gabungan
memberikan
besaran
reduksi CO yang bervariasi antara
lain tergantung dari : jenis tanaman
yang digabungkan, besarnya volume
rimbun daun serta % volume rimbun
per volume ruang.
PEMBAHASAN
Untuk meng-antisipasi
atau untuk
beradaptasi
terhadap
konsekwensikonsekwensi
terjadinya
pemanasan
global di ruas-ruas jalan dan daerah
permukiman, antara lain dapat diminimasi
melalui
Penanaman, dapat dipilih
jenis tanaman :
 Yang sesuai dengan peruntukannya
/ tujuan penanamannya
 Berdasarkan: tingkat konsentrasi CO
yang ingin diminimasi dan tingkat
produksi oksigen yang ingin dicapai
 Kemudahan mendapatkan tanaman
yang dipilih
 Kemudahan dalam pemeliharaan
 Keindahan warnanya
Berdasarkan Tabel 1 sampai dengan 4 di
atas, dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Reduksi CO terbesar untuk :
a) Jenis pohon yaitu tanaman
Ganitri (Elaeocarpus sphaericus)
sebesar 81.53 % (0.587 ppm);
b) Jenis perdu yaitu
Iriansis
(Impatien sp)
sebesar 88.61
% (0.638 ppm) ;
c) Jenis semak
yaitu Philodendron (Philodendron sp) sebesar
92.22 % ( 0.664 ppm); sertad)
tanaman
gabungan,
yaitu
Galinggem + Kriminil Merah
104
KESIMPULAN
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
DAFTAR PUSTAKA
Ahda Imran, 2002. Penduduk Bandung
Bisa Terkena Gangguan Jantung
dan Pernafasan. Koran Pikiran
Rakyat, tanggal 16 Juni 2002,
halaman 4 kolom 1 – 5.
Kantor Menteri Negara Lingkungan
Hidup, 1997. Agenda 21 Indonesia.
Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan
Nanny Kusminingrum, dkk. 1997.
Pengaruh Tanaman Jalan terhadap
Baku Mutu Lingkungan Jalan.
Puslitbang Jalan dan Jembatan
Nanny Kusminingrum, dkk. 1998.
Pengaruh Tanaman Jalan terhadap
Polusi Udara Akibat Lalu Lintas
Kendaraan. Puslitbang Jalan
dan
Jembatan
Potensi Tanaman dalam …. (Nanny K.)
Environmental Assessment, DOT. UK.,
1994
Soedomo, M., Dr. Ir., MSc., DEA. 2001.
Pencemaran Udara. Penerbit ITB
Bandung
Tania June (----). Kenaikan CO2 dan
Perubahan Iklim : implikasinya
terhadap Pertumbuhan Tanaman.
http://members.tripod.com/buletin/
tania/tania1.htm)
Satker GERHAN Kota Bandung, 2007.
Leaflet Dinas Pertamanan dan
Pemakaman Kota Bandung.
WikipediaIndonesia,----.
Pemanasan
Global.http://id.wikipedia.org/wiki/P
emanasan_global#Penyebab
pemanasan global
105
POTENSI RUANG TERBUKA HIJAU DALAM PENYERAPAN CO2
DI PERMUKIMAN
Studi Kasus : Perumnas Sarijadi Bandung dan Cirebon
Oleh: Elis Hastuti dan Titi Utami
Pusat Litbang Permukiman Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kab. Bandung 40393
E-mail: [email protected]
Tanggal masuk naskah : 28 Desember 2007, Tanggal revisi terakhir: 21 Mei 2008
Abstrak
Kondisi pembangunan perumahan di perkotaan yang sangat pesat cenderung
meminimalkan dan melakukan alih fungsi ruang terbuka hijau (RTH). Penghijauan
diperlukan untuk peningkatan kualitas ekosistem perkotaan, dengan menciptakan iklim
mikro yang sehat dan nyaman melalui peningkatan luasan hijau sebagai penyerap emisi
CO2 dan polutan udara.Melalui penelitian perumahan berdasarkan karakter lokasi,
aktivitas penduduk, dan potensi pengembangan RTH, maka dilakukan pemilihan sampel
perumahan di Bandung dan Cirebon, yang menunjukkan perbedaan karakteristik RTH.
Pendekatan analisis untuk pengembangan RTH dilakukan berdasarkan kebutuhan luasan
hijau dan potensi penyerapan CO2. Di Perumnas Sarijadi, Bandung, menunjukkan tingkat
penanaman tanaman dengan luas lahan hijau per rumah sekitar 2,46 m2/orang, dengan
luas lahan hijau di setiap rumah
berkisar antara 0-20 %. Sementara di Perumnas
Burung-Gunung dan GSP mempunyai tingkat luasan hijau per rumah yaitu 1,02 – 1,84
m2/orang, dengan prosentasi luas lahan hijau setiap rumah sekitar 0-20 %. Di lokasi RW
08 dan RW 09, Perumnas Gunung, saat ini RTH yang ada hanya 7 -10 % dari luas
kawasan dengan luasan hijau sekitar 3,33 - 4,25 m2/orang. Untuk meningkatkan kualitas
lingkungan di permukiman, maka selain peningkatan luasan hijau, juga diperlukan
keanekaragaman sesuai fungsi serapan, kondisi tanah, ataupun segi sosial. Penataaan
bangunan dengan rumah susun harus mulai digalakkan sehingga untuk ruang terbangun
yang dialokasikan 60 % di Perumnas Sarijadi agar dapat mememuhi standar kebutuhan
lahan hijau dengan minimum RTH sekitar 33 %. Sementara di Perumnas Gunung,
penerapan konsep ‘roof garden’ atau penghijauan vertikal dapat menjadi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan lahan hijau penduduk dan penyerapan polutan kendaraan karena
peningkatan luas RTH tidak mencukupi dari sisa lahan yang ada jika area terbangun
dialokasikan 65 %, maka kebutuhan RTH mencapai lebih dari 35 %.
Kata Kunci : Ruang terbuka hijau, perumahan
Abstract
The housing development tends to minimize the urban greenery open space, and convert
to built environment. City greenery is needed in increasing healthy and comfort of urban
ecosystem, including to regulate the micro climate and reduce CO2 and air pollutant
emission. In this research, housing areas in Bandung and Cirebon were selected to know
the greenery characteristics and develop its design. The purposive sampling was taken
with consideration on topographical differences, human activity and greenery
development. This study evaluated green areas in housing built by the (perumnas) of
Sarijadi, Bandung, which shows a coverage of green area of 2,46 m2/capita with
percentage of greenery in a house around 0-20 %. The study in Perumnas Burung106
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Gunung and GSP (Cirebon) shows a coverage of housing greenery of 1,02-1,84 m2 /cap,
with a percentage of greenery in a house of 0-20 %. In RW 08 and RW 09 Perumnas
Gunung, greenery open spaces are about 7-10 % with coverage of green area 3,33 - 4,25
m2/cap. To raise the quality of environment of urban settlement, appart from increasing
greenery areas, also introducing tree varieties concerning on absorption, conservation,
soil condition, utilitarian, or social functions is necessary. Therefore when built
environment allocated about 60 % in Perumnas Sarijadi, it has to accompanied by
greenery open space of 33 %. Beside site efficiency and horizontal greenery, the use of
vertical greenery is recommended in Perumnas Gunung. When built environmen allocated
65 %, it will need the greeenery open space of more than 35 % to achieve the greenery
standard.
Key Words : Green open space, housing
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dampak perubahan iklim global dapat
dirasakan diIndonesia akibat meningkatnya aktifitas yang mengemisikan Gas
Rumah Kaca (GRK) serta deforestasi
yang
telah mengurangi kemampuan
hutan dalam menyerap karbon dioksida
(CO2). Karbon dioksida merupakan gas
terpenting dalam meningkatkan efek
rumah kaca, dimana pada tahun 1994,
83% peningkatan radiasi gas rumah
kaca disebabkan oleh CO 2, 15 % oleh
methana dan sisanya N2O, NOx dan CO
(KLH, 2001).
Kondisi pembangunan perumahan di
perkotaan yang sangat pesat cenderung
untuk meminimalkan ruang terbuka
hijau (RTH). Pelaksanaan penghijauan di
perkotaan Indonesia pun yang pada
umumnya dibatasi oleh padatnya
bangunan, dan tidak memperhatikan
kondisi tanah dan keanekaragaman
tanaman. Kurangnya kebijakan Pemerintah Daerah dan kesadaran masyarakat
yang masih rendah akan pengelolaan
RTH menyebabkan
banyaknya alih
fungsi RTH di permukiman perkotaan
(Tamin, 2005). Kondisi demikian dapat
mengganggu keseimbangan ekosistem
perkotaan akibat menyebabkan meningkatPotensi Ruang Terbuka … (Elis H. & Titi U.)
nya suhu udara di perkotaan, serta
pencemaran udara. Kehadiran zat zat
pencemar di udara dapat tersebar
meluas dan terkumpul dalam berbagai
konsentrasi di suatu tempat yang
merupakan hasil pengaruh berbagai
faktor yaitu sumber emisi, karakteristik
zat, kondisi meteorologi, klimatologi,
topografi dan geografi. Akumulasi GRK
di perkotaan menyebabkan beberapa
faktor meteorologis telah mengalami
perubahan dalam sirkulasi udara yang
terjadi akibat perubahan karakteristik
pemanasan pada permukaan, perubahan
penyinaran/kecepatan
angin
serta
meningkatnya
intensitas
gumpalan
panas.
UntukAmengantisipasiAdana meminimkan dampak dari perubahan iklim, maka
diperlukan upaya untuk menstabilkan
konsentrasi CO2 dengan memperluas
CO2 Sink alami dengan penghijauan di
permukiman (Sarmiento,2003). Keberadaan gas CO2 dan polutan
di udara,
menuntut bahwa fungsi penghijauan di
perumahan ditekankan sebagai penyerap
CO2, penghasil oksigen, penyerap
polutan (logam berat, debu, belerang),
peredam kebisingan, penahan angin dan
peningkatan
keindahan
(PP
RI
no.63/2002). Penelitian berlokasi di
Bandung dan Cirebon sesuai dengan
107
karakter perubahan lingkungan yang
berbeda,
sebagai
akibat
proses
perkembangan kota yang berperan
dalam meningkatkan dampak perubahan
iklim mikro maupun makro. Disain
penghijauan dalam peningkatan CO2
Sink di perumahan sangat diperlukan
dengan peningkatan penghijauan sesuai
fungsi, kondisi tanah, ataupun segi
sosial untuk memenuhi
persyaratan
keseimbangan lingkungan antara ruang
terbangun dan ruang terbuka secara
proposional
pada
suatu
kawasan
lingkungan kota.
Tujuan
Tujuan penulisan
ini adalah untuk
mengevaluasi kondisi penghijauan dan
potensinya sebagai penyerap emisi CO2
serta menyusun arahan pengembangan
penghijauan dalam kaitannya untuk
meningkatkan fungsi penghijauan di
lingkungan permukiman.
Tinjauan Teoritis
Secara umum bentuk RTH dapat berupa
lahan kawasan hutan atau lahan non
Kawasan Hutan seperti taman, jalur
hijau,
lahan
pekarangan,
kebun
campuran atau penghijauan di atap dan
disamping bangunan. Menurut Departemen
Kehutanan
dan
Peraturan
Pemerintah PP No. 63/2002, RTH dapat
dikategorikan ke dalam hutan kota,
yakni suatu hamparan lahan yang
bertumbuhan
pohon-pohon
yang
kompak dan rapat di dalam wilayah
perkotaan baik pada tanah negara
maupun tanah hak, yang ditetapkan
sebagai hutan kota oleh pejabat yang
berwenang. karakteristik penghijauan di
perumahan disarankan : pohon-pohon
dengan perakaran kuat, ranting tidak
mudah patah, daun tidak mudah gugur
serta pohon-pohon penghasil bunga
/buah /biji yang bernilai ekonomis.
Selain itu akar yang menghujam ke
108
dalam tanah akan tahan terhadap
terpaan angin yang besar, memiliki
kerapatan daun yang cukup, hingga 50 60 %, tinggi dan lebar jalur hutan kota
cukup besar, sehingga dapat melindungi
wilayah yang diinginkan dengan baik
(Grey and Deneke, 1978,Zoeraini, 2003).
Peranan
tumbuhan
hijau
sangat
diperlukan untuk menjaring CO2 dan
melepas O2 kembali ke udara. Namun
tumbuhan juga melakukan respirasi
dengan melepaskan CO2 tetapi bukti
menunjukkan
bahwa
CO2
yang
terbentuk dapat digunakan dalam
fotosintesis.
Pada keadaan yang
menguntungkan, proses fotosintesis
terjadi cukup tinggi, sehingga tumbuhan
menghasikan oksigen jauh lebih banyak
daripada
yang
dipakainya,
dan
menggunakan
CO2
lebih
banyak
(Sutarmi, 1983). Setiap tumbuhan
mempunyai karakteristik yang berbeda
dalam mengabsorpsi gas-gas tertentu di
udara, sehingga dapat merupakan
penyangga
yang
baik
terhadap
pencemaran udara. Pemilihan jenis
tanamanpun dapat disesuaikan, selain
sebagai penyerap CO2 juga penyerap
polutan
lainnya,
selain
dapat
melambangkan kekhasan daerah, akan
tetapi
harus memperhatikan kondisi
lingkungan atau tanah setempat juga
dari segi sosial (Green for life, 2003).
Penentuan Luas RTH
Besaran luas RTH kota agar dapat
memenuhi persyaratan keseimbangan
dapat dihitung berdasarkan beberapa
pendekatan sbb:
1) Kebutuhan RTH kota ditetapkan
berdasarkan luasan kota, jumlah
penduduk dengan segala aktifitas
yang terjadi dan aspek aspek lain
berdasarkan
pada
pemenuhan
ruang ruang kota lain. Menurut KTT
Bumi di Rio de Janeiro bahwa
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
2)
3)
4)
alokasi lahan terbuka hijau untuk
suatu kawasan perkotaan adalah 30
% dari luas kota.
Menurut SNI 1733-2004, kebutuhan luas lahan RTH berdasarkan
kapasitas pelayanan dan jumlah
penduduk adalah:
a) taman untuk unit RT  250
penduduk, standar 1 m2/
penduduk.
b) taman untuk unit RW  2.500
penduduk, standar 0,5 m2/
penduduk
c) taman dan lapangan olah raga
untuk unit kelurahan  30.000
penduduk, standar 0,3 m2/
penduduk.
d) taman dan lapangan olah raga
untuk unit kecamatan 120.000
penduduk, standar 0,2 m2/
penduduk.
e) jalur hijau seluas 15 m2
/penduduk.
Secara umum dibutuhkan ± 17,3
m2/jiwa untuk memenuhi kebutuhan RTH kota (KLH, 2001). Bila
mengacu pada kepmen PU no 378
tahun 1987, maka kebutuhan RTH
perkotaan adalah :
 Fasilitas umum (kawasan hijau)
adalah 2,3 m2/jiwa
 Penyangga lingkungan kota
(ruang hijau) adalah 15 m2/jiwa
 Mempunyai akses RTH pada
jarak < 300 m dari tempat
tinggal
 Mempunyai akses RTH dengan
luasan 20 ha pada jarak 2 km
dari rumah, akses terhadap
luas RTH 100 ha pada jarak 5
km dan akses terhadap luas
RTH 500 ha pada jarak 10 km
dari rumah (Selman, 2000
Kepmen PU 1987, KLH, 2001)
Berdasarkan kemampuan tanaman
dalam serapan CO2, mereduksi
Potensi Ruang Terbuka … (Elis H. & Titi U.)
CO2 :
a. Menurut Tome, 2005, satu
hektar daun-daun hijau dapat
menyerap 8 kg CO2 per jam
atau 0,8 gr/m2/jam, yang
setara dengan CO2 yang
dihembuskan manusia sebanyak
200 orang dalam waktu yang
sama.
b. Tanaman dapat menyerap 200
ton/ha/ tahun (2,8 gr/m2/jam)
METODOLOGI
Metoda Pengumpulan Data
Pemilihan sampel dilakukan
secara
sengaja (purposive sampling) dengan
tujuan membedakan perumahan di
dataran tinggi dan dataran rendah, serta
mempunyai aktivitas penduduk yang
bervariasi, terbuka akan lalu lintas
umum, berdekatan dengan sumber
penyerap CO2 alami.
Penelitian
dilakukan di RW 07 Perumnas Sarijadi,
RW 08-09 Perumnas Gunung Cirebon,
dengan pengumpulan data sbb :
- Penentuan luas RTH/rumah diperoleh
dari pengukuran langsung di masing
masing perumahan lokasi survei
dengan pengamatan 100 rumah setiap
lokasi. Sementara luas RTH kawasan
diperoleh dari pengukuran dari denah
kawasan perumahan di lokasi survei.
- Jenis tanaman dikelompokkan dalam
kategori tanaman penutup, hias,
perdu, dan pohon, yang diamati di
lahan hijau pekarangan, jalur hijau
dan taman kawasan.
Metoda Analisis
Pendekatan disain penghijauan di
perumahan dalam mereduksi emisi CO 2,
memenuhi persyaratan keseimbangan
lingkungan antara ruang terbangun dan
ruang terbuka secara proposional pada
suatu kawasan, adalah sbb:
109
Kebutuhan luas lahan ruang terbuka
hijau berdasarkan kapasitas pelayanan sesuai jumlah penduduk menurut
SNI 1733 dan memenuhi kebutuhan
RTH kota yaitu 17,3m2/jiwa untuk
-
bola kerimbunan x % volume
kerimbunan
 Perkiraan kemampuan tanaman
dalam mereduksi CO2
HASIL DAN ANALISIS
(KLH, 2001).
Pencapaian luas RTH menggunakan
luasan hijau tajuk (LAI/Leafes Area
Index) (KLH, 2001)
Perkiraan kemampuan rata rata
penyerapan CO2 perrumah/kawasan,
berdasarkan volume
kerimbunan
daun dan
luasan hijau. Metoda
perhitungan berdasarkan bentuk
tajuk pohon, c/ untuk tajuk bola :
 Asumsi jumlah rata rata perkiraan
diameter horizontal dan vertikal
 Perhitungan
volume
bola
kerimbun-an daun (4/3пr3)
 Asumsi % volume kerimbunan
 Volume kerimbunan = volume
-
-
1. Karakterisitk Penghijauan Perumnas
Sarijadi
dan
GunungBurung-GSP
Studi
dilakukan
di
Perumnas
Sarijadi, Bandung dan Perumnas
Burung-Gunung dan GSP, Cirebon,
sebagai contoh kasus permukiman
pada dataran tinggi dan dataran
rendah. Karakteristik penghijauan
ditinjau dari luas lahan hijau
kawasan dan kapling serta luasan
hijau per orang, disajikan pada tabel
berikut:
Tabel 1. Luas Lahan Hijau
Luas Lahan Hijau
m2/orang
Kawasan
Rumah
Kawasan
(ha)
RTH
(m2)
rumah
(m2)
pddk
Kawasan
Sarijadi
80
2000
84 – 112
12897
4.12
2,46
Griya Suniaraji Permai (GSP)
13
182,5
60 – 120
2718
1.98
1,02
Perumnas Burung-Gunung
31
1015
60 -140
27487
2.29
1,84
Lokasi
Sumber : Hasil survei dan analisis, 2004-2005
Pengendalian pencemaran udara ambien
di kawasan Sarijadi sangat penting
karena terlalui oleh transportasi umum.
Sementara komposisi tanaman banyak
didominasi
tanaman hias dan perdu.
Tanaman keras yang terdapat di setiap
rumah
terutama
didominasi
oleh
tanaman buah-buahan. Tanaman dalam
pot banyak mendominasi di perumnas
Sarijadi karena lahan yang seharusnya
110
menjadi taman telah banyak diperkeras
untuk lahan parkir.
Kecenderungan penduduk di perumahan
Sarijadi dengan
tingkat penanaman
tanaman yaitu dengan luas lahan hijau
per rumah sekitar 2,46 m2/orang,
sedangkan luas lahan hijau di kapling
berkisar antara 0-20 % (gambar 1).
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
RTH kapling (%)
70
60
50
40
30
20
1
0
Sarijadi
P. ung/Burung
0–5
5 – 10
36.08
GSP
55.70
25.77
18.99
60.67
22.47
10-20
35.05
3.09
20.25
5.06
14.60
2.25
> 20
Gambar 1. Prosentase Luas lahan Hijau per rumah
Perumnas Burung-Gunung dan GSP
mempunyai
tingkat penanaman tanaman per rumah yaitu 1,02 – 1,84 m2
/orang, dengan dominan prosentasi luas
lahan hijau setiap rumah sekitar 0-5 %
dari luas total. Standar lahan hijau yang
ada
masih
memenuhi kebutuhan
standar lahan hijau yang dibutuhkan
untuk kebutuhan lahan hijau tingkat RT
(1 m2/orang).
mengantisipasi polusi udara atau suhu
udara yang panas akibat
padatnya
bangunan, iklim lokal atau pergerakan
transportasi
lokal.
Terutama
di
perumnas Burung
dengan aktivitas
transportasi yang tinggi sehingga
peningkatan kerimbunan dan luasan
lahan hijau sangat dibutuhkan.
Pada
gambar
2,
menunjukkan
rendahnya
areal
bervegetasi
di
perumahan GSP sehingga potensi
penyerapan CO2 pun lebih rendah dari
lokasi lain.
Sementara kebutuhan lahan hijau
tingkat kawasan belum memenuhi
standar sehingga kemampuan penyerapan CO2 rendah dan kurangnya keanekaragaman tanaman yang mampu
GSP
Gunung
-Burung
Sarijadi
Kerimbunan di kawasan (m3)
24.36
102
60
10000
50
8000
40
6000
30
4000
20
2000
10
0
0
1.19
2.18
CO2 serapan di kapling ( ton/thn)
CO2 serapan di kawasan (ton/thn)
45.63
12000
4.70
kerimbunan per kapling(m3)
kawasan
kapling
Sumber: hasil survei dan analisis, 2004-2005
Gambar. 2 Potensi Pernyerapan CO2 di Kawasan dan Kapling
Potensi Ruang Terbuka … (Elis H. & Titi U.)
111
2. Arahan Disain Penghijauan
a. Lokasi RW 07 Perumnas
Sarijadi
Di lokasi RW 07 Perumnas Sarijadi
memiliki aktivitas penduduk yang
bervariasi, kawasan terbuka lalu lintas
umum, berdekatan dengan sumber
penyerap CO2 alami. Karakteristik
penghijauan di dua lokasi RW di Sarijadi
dan Cirebon tertera tabel 2.
Tabel 2. Identifikasi dan Arahan Disain Penghijauan Bandung
(Perumnas Sarijadi-RW 07)
No
1
2
3
Parameter
Luas (ha)
Jumlah penduduk
RTH Kawasan
a. luas (m2)
- luas taman RW , m2
- luas taman per RT , m2
- jalur hijau, m2
b. luasan/orang (m2/orang)
c. jml pohon
- taman RW
- per taman RT
- dijalur hijau
d. akses terhadap RTH (m)
e. Serapan CO2 (kg/th)
4
RTH Kapling
a. luas rumah(m2)
b. jumlah rumah/unit
c. Luas perkerasan
d. rata rata luasan rth (%)
e. luasan/ orang (m2/org)
f. luas total rth, m2
g. jumlah pohon
- per kapling
- total kapling
h. Serapan CO2 (kg/th)
5
RTH kawasan & kapling
a. total luas (m2)
b. jumlah pohon
c. luasan per orang (m2/org)
d. serapan CO2 (kg/th)
Catatan ; standar taman unit rw = 0,5 m2/org
standar taman unit rt = 1 m2/org
standar jalur hijau = 15 m2/org
eksisting
454.00
Alt 1
166.00
288.00
0.29
155.72
77.86
8.46
10.19
1-100
14634.87
84-120
361.00
92016.35
0-15
1.76
2761.65
90.00
303.00
50075.20
35.31
20.62
33607.80
0.48
96.62
2.90
0.39
140.72
19353.64
3215.65
296.44
2.05
33988.51
%
9.52
1630.00
11517.00
785.00
151.50
9520.00
1209.77
438.63
40.00
7.72
336.87
1 - 500
242133.41
Sejalan dengan penerapan konsep
Pembangunan Bandung sebagai kota
Jasa, maka untuk peningkatan kualitas
ekosistem perkotaan yang sehat dan
nyaman, maka selain luas kawasan hijau
yang perlu ditingkatkan juga jenis
tanaman sebaiknya disesuaikan dalam
penyerapan
polutan
udara.
RTH
kawasan hanya tersedia 3 %. Alih fungsi
RTH
memang
banyak
dilakukan
terutama sekitar lokasi tangki septik
komunal dan sempadan sungai. Lokasi
112
%
9.52
1570.00
5.65
1712.50
942093.85
3.38
Alt 2
%
9.52
1630.00
12.10
52.60
35.30
11935.00
785.00
203.75
9520.00
1253.68
459.93
40.00
10.38
336.87
1 - 500
250921.44
45-90
376.00
43030.40
42.27
24.68
40234.60
12.54
45.20
42.26
5.45
2050.17
1127856.31
45124.80
47.40
52169.60
2151.13
2510.10
27.68
32.01
1184227.26
1378777.75
serapan CO2 = 0,8 gr/m2/jam
standar luas/jiwa( kepmen PU) = 17,3 m2/org
lempeng pohon = 5-20 m
54.80
studi yang berada di kawasan resapan
air seharusnya memiliki lahan dengan
tanaman yang dapat menyerap air
disamping fungsinya sebagai pengatur
iklim mikro. Maka arahan penataan lebih
penggunaan bangunan rumah tingkat
sehingga untuk penggunaan lahan
bangunan yang dialokasikan 60 % dapat
mememuhi standar kebutuhan lahan
hijau apabila minimum RTH 33 %.
Perumnas Sarijadi dengan pola jalan
yang memungkinkan banyak terlewati
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
kendaraan umum dengan kecepatan
sedang maka kemungkinan pencemaran
partikel timbal dan NO tinggi. Hasil
survei menunjukkan perkerasan di RW
07 telah melebihi 90 % dan lahan hijau
b. Lokasi
RW
08
Perumnas
Gunung
Kawasan penghijauan di kawasan
perumnas Gunung semakin berkurang
baik sebagai taman kawasan ataupun
jalur hijau. Ruang terbuka yang
dialokasikan sebagai ruang hijau pada
awalnya telah tertutup sebagian untuk
fasilitas umum seperti parkir, posyandu,
gedung RW atau mesjid. Demikian pula
dengan
ruang
terbuka
kapling,
umumnya diperkeras untuk memperluas
teras bangunan atau menjadi tempat
usaha. Namun keterbatasan lahan yang
ada di kapling rumah atau kawasan
tidak membatasi masyarakat perumnas
gunung dalam minatnya terhadap
tanaman. Penanaman banyak dilakukan
dengan mengambil lahan jalan untuk
jalur hijau, atau menggunakan pot.
Keanekaragaman
tanaman
di
perumahan banyak dijumpai, tanaman
produktif seperti mangga lebih disukai
ditanam juga tanaman perdu dan hias.
Secara umum bentuk RTH dapat berupa
lahan kawasan hutan atau lahan non
Kawasan Hutan seperti taman, jalur
hijau,
lahan
pekarangan,
kebun
campuran atau penghijauan di atap dan
disamping bangunan. Di lokasi survei
RW 08, kebutuhan peningkatan luas dan
keanekaragaman
tanaman
sebagai
penyerap CO2 dan polutan-polutan udara
lainnya, sangat dibutuhkan karena
kawasan dilalui kendaraan umum dan
berdekatan dengan aktivitas pasar.
Seperti pada tabel 3, saat ini RTH yang
ada hanya 7 % dari luas kawasan
dengan luasan per orang sekitar 4,25
m2/orang.
Tabel 3. Identifikasi dan Arahan Disain Penghijauan Cirebon (Perumnas Gunung, RW 8)
No
1
2
3
4
5
Parameter
Luas (ha)
Jumlah penduduk
RTH Kawasan
a. luas (m2)
- luas taman RW , m2
- luas taman per RT , m2
- jalur hijau, m2
b. luasan/orang (m2/orang)
c. jml pohon
- taman RW
- per taman RT
- dijalur hijau
d. akses terhadap rth (m)
e. Serapan CO2 (kg/th)
RTH Kapling
a. luas rumah(m2)
b. jumlah rumah/unit
c. Luas perkerasan
d. rata rata luasan rth (%)
e. luasan per orang (m2/org)
f. luas total rth di kapling, m2
g. jumlah pohon
- per kapling
- total kapling
h. Serapan CO2 (kg/th)
RTH kawasan dan kapling
a. total luas (m2)
b. jumlah pohon
Potensi Ruang Terbuka … (Elis H. & Titi U.)
eksisting
5.47
1308.00
1574.20
0.00
0.00
0.00
2.64
%
2.88
Alt 1
5.47
1308.00
8239.75
13897.50
654.00
163.50
13080.00
2541.23
562.82
33.32
8.33
462.85
1 - 500
292181.04
200.00
324.00
51752.80
0-20
4.94
3240.00
35547.20
273.00
35547.20
10.00
4.01
5243.30
91.20
5.92
1.02
165.10
308847.97
4814.20
165.10
%
25.41
65.00
9.59
0.98
267.17
146980.19
8.80
19140.80
829.99
Alt 2
5.47
1457.00
12566.63
728.50
182.13
11656.00
2297.88
523.82
37.12
9.28
412.46
1 - 500
264200.72
21875.20
364.00
21875.20
40.00
9.01
13125.12
%
22.98
40.00
37.02
1.84
668.80
367923.36
35.00
25691.75
1192.61
46.98
113
No
Parameter
eksisting
c. luasan per orang (m2/org)
7.58
d. serapan CO2 (kg/th)
317087.72
catatan : standar taman unit rw = 0,5 m2/org
standar taman unit rt = 1 m2/org
standar jalur hijau = 15 m2/org
Melalui
penataan
bangunan
dan
penerapan rumah susun, maka lahan
terbuka akan bertambah. Pada tabel 3
tersebut, alokasi lahan minimum untuk
taman di RW atau RT sebagai kawasan
yang didisain sesuai kebutuhan.Jumlah
pohon
dan
keanekaragamannya
disesuaikan dengan lokasi RTH dan
memperhatikan pula aspek sosial
setempat. Acuan luasan dan kriteria
disain diatas, dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam disain proyeksi,
terutama
untuk
memperkirakan
kemampuan kawasan dalam serapan
emisi CO2 dan kebutuhan lahan hijau
penduduk baik sebagai produksi O 2 atau
penyerap polutan sekitarnya.
Pada tabel 3, jika area terbangun
dialokasikan lebih dari 60 %, maka
kebutuhan RTH akan lebih dari 35 %
untuk memenuhi standar 17,3 m 2/orang.
Oleh karena itu penerapan penghijauan
vertikal dapat menjadi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan lahan hijau.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Meningkatkan proses penangkapan
CO2 secara alamiah sangat penting
untuk mendukung upaya reduksi
gas rumah kaca dan polutan udara
lainnya. Pada umumnya kebutuhan
lahan hijau per kapling di lokasi
Perumnas Sarijadi dan Gunung telah
memenuhi standar RTH, namun
secara kawasan belum memenuhi
standar.
2. Alokasi lahan minimum
untuk
taman di RW atau RT sebagai
kawasan penyangga, serta RTH di
114
%
Alt 1
%
Alt 2
14.63
17.63
439161.23
632124.09
serapan CO2 = 0,8 gr/m2/jam
standar luas/jiwa( kepmen PU) = 17,3 m2/org
lempeng pohon = 5-20 m
%
kapling, dapat didisain sesuai
kebutuhan ruang hijau per orang.
Sementara itu kebutuhan jumlah
pohon dan keanekaragamannya
disesuaikan dengan luasan, fungsi
yang
ingin
dicapai,
aspek
hortikultura/fisik dan sosial.
3. Penerapan konsep ‘roof garden’ atau
penghijauan vertikal sangat penting
untuk Perumnas Gunung, sebagai
alternatif RTH.
DAFTAR PUSTAKA
Green for Life, 2003. www.wwf.or.id
Heriansyah, Ika, Potensi Hutan Tanaman
Industri
Dalam
Mensequester
Karbon-Studi Kasus di Hutan
Tanaman
Akasia
dan
Pinus,
Vol.3/XVII/Maret, Iptek, 2005.
Irwan, Djamal, Zoeraini, Msi, Ir, Dr,
Prof, Prinsip Prinsip Ekologi dan
Organisasi Ekosistem, Komunitas
dan Lingkungan, Sinar Grafika
Offset, Jakarta, 2003.
KLH, 2001. Kebijakan dan Strategi
Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau,
Jakarta
Sarmiento, L., Jorge and Gruber,
Nicolas, Sinks for Anthropogenic
Carbon, American Institute of
Physics, Physics Today, 2003.
Tjitrosomo, Sutarmi, Siti, H., Ir, MSc, Dr,
Prof,
Botani Umum, Angkasa,
Bandung, 1983.
Tamin, D, Ridwan, dan Poernomo, B.,
Heirma, Udara Perkotaan dalam
Pembangunan
Kota
yang
berkelanjutan,
Subur
Printing,
Jakarta, 2005.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
PENGARUH EMISI CO2 DARI SEKTOR PERUMAHAN PERKOTAAN
TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN GLOBAL
Oleh:
Siti Zubaidah Kurdi
Pusat Litbang Permukiman Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan Kab.-Bandung 40393
E-mail: [email protected]
Tanggal masuk naskah : 18 Desember 2007, Tanggal revisi terakhir: 03 September 2008
Abstrak
Pembangunan perumahan telah menyumbang emisi gas rumah kaca khususnya gas
CO2 dalam jumlah yang cukup besar. Emisi CO2 yang ditimbulkan secara langsung
maupun tidak langsung antara lain berasal dari energi yang digunakan untuk berbagai
aktivitas yang dapat dikelompokan dalam aktivitas domestik, transportasi, limbah
padat dan cair dan bahan bangunan untuk hunian dan sarana dan prasarana
lingkungan. Perubahan alih fungsi lahan juga berpengaruh terhadap timbulan gas
CO2. Pepohonan, kawasan hijau dan badan air berfungsi negatif terhadap CO2 karena
berfungsi sebagai zink gas tersebut. Pengembangan rumah melebihi Koefisien Dasar
Bangunan (KDB) menurunkan kenyamanan lingkungan dan meningkatkan emisi CO2.
Tulisan ini membahas jumlah emisi CO2 yang ditimbulkan oleh pembangunan suatu
lingkungan perumahan perkotaan. Metoda analisis deskriptif dan eksploratif digunakan
untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu emisi CO2. Hasil penelitian menunjukan
bahwa makin banyak rumah yang dikembangkan makin banyak gas yang teremisikan.
Emisi gas CO2 terbesar berasal dari energi listrik yang digunakan untuk kegiatan
domestik. Kenyamanan lingkungan perumahan akan dicapai apabila dapat terjadi
keseimbangan antara gas yang timbul dan daya serap lingkungan. Salah satu usaha
penurunan emisi CO2 dapat dilakukan melalui perencanaan dan perancangan
bangunan dan kawasan.
Kata kunci: emisi karbondioksida, pemanasan global, perkotaan, perumahan dan
permukiman
Abstract
Housing contruction contributes CO2 in a significant amount. The direct and indirect
emission of this gass draw from domestic activity, transportation, liquid and hard waste
and building material for houses and infrastructure. Land convertion is also generates the
CO2. However, plans, greeneries and water bodies are the CO2 sinks. A house that is
extented over the standard of building coverage will degrade the environment, since the
living areas become inconvinience and increase the CO2 emission. This paper discusses
the amount of CO2 emitted from urban housing construction. Descriptive and explotative
are the methodes that utilized to identify determinant factors of CO2 emission. The result
shows that the more new houses the more CO2 will be emited. The most emission derives
from electricity needed for domestic activities. Better living environment can be generate
if we can create a balance condition between the gasses producer and the absorber.
Planning and design of housing, settlement areas and other land purposes are considered
to be the tools to reduce CO2 emission.
Keywords:
carbondioxide emission, global warming, urban areas, housing and
settlements
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
137
PENDAHULUAN
Perubahan
iklim
dan
kenaikan
temperatur udara secara global akibat
Gas Rumah Kaca (GRK) adalah sebuah
fenomena yang secara luas dimengerti
dapat berpengaruh pada kehidupan
manusia dan mahluk hidup lainnya. Gas
Rumah Kaca antara lain terdiri dari CO2,
CH4, N2O, PFC, HFC, SF6 dan uap air.
Volume gas CO2 di dalam GRK
menempati urutan kedua setelah uap
air. Gas CO2 merupakan gas penyebab
terpenting efek rumah kaca yang
umumnya dihasilkan dari pembakaran
bahan bakar fosil untuk transportasi,
memasak, pembangkit listrik, industri,
dll. Aktivitas peternakan, pertanian,
kehutanan, dan perubahan tata guna
lahan juga menjadi sumber lain dari
GRK. Dalam Protokol Kyoto telah dibuat
kesepakatan antar negara-negara yang
peduli
dengan
lingkungan
untuk
menjaga laju penambahan konsentrasi
emisi GRK khususnya CO2 dan gas-gas
lain bahwa sebelum tahun 2012 jumlah
emisi CO2 total perlu dikurangi sebesar
5,2 persen dari jumlah pada tahun 1990.
Perkembangan kegiatan manusia atau
antropogenik telah meningkatkan jumlah
emisi CO2 yang diakibatkan oleh
banyaknya jumlah bahan bakar yang
digunakan secara langsung maupun
tidak langsung. Pada tahun 2002, The
Inter-governmental Panel on Climate
Change (IPCC) mengeluarkan The Third
Assesment Report yang menyatakan
bahwa pemanasan global disebabkan
oleh ulah manusia, dan diperkirakan
akan terjadi peningkatan suhu global
antara 1,4 sampai 5,8 derajat celcius
pada abad ini. Hal ini berdasarkan pada
bukti baru dan kuat hasil pengamatan
selama lima puluh tahun terakhir.
pada ekosistem perkotaan. Kehadiran
zat-zat pencemar di udara dapat
tersebar meluas dan terkumpul dalam
berbagai konsentrasi di suatu tempat
yang
merupakan
hasil
pengaruh
berbagai faktor yaitu sumber emisi,
karakteristik zat, kondisi meteorologi,
klimatologi, topografi dan geografi
(Sudomo, 1999).
Aktivitas manusia berkaitan erat dengan
energi yang dapat bersumber dari apa
saja. Makin banyak aktivitas yang
dilakukan manusia makin besar jumlah
energi yang dibutuhkan. Energi sangat
berperan dalam kehidupan manusia.
Penggunaan energi yang berlebihan
mempunyai dampak negatif yaitu
meningkatkan
jumlah
emisi
CO2.
Menurut para ahli, emisi CO2 yang
berlebihan
dapat
menyebabkan
kerusakan lingkungan. Kejadian yang
telah terasa saat ini adalah bergesernya
siklus musim dan meningkatnya panas
bumi.
Tulisan ini membahas tentang besaran
faktor-faktor perumahan perkotaan yang
berpengaruh terhadap emisi CO2.
Pembahasan ini dimaksudkan sebagai
rona awal yang dapat digunakan sebagai
penelitian selanjutnya yaitu mencari
alternatif perencanaan dan perancangan
perumahan rendah emisi CO2 sekaligus
juga
hemat
energi.
Diharapkan
pembahasan ini dapat menggambarkan
problem
lingkungan
di
sektor
perumahan dan permukiman yang
dihadapi
kawasan
perkotaan
di
Indonesia dan upaya yang mungkin
dilakukan sebagai kontribusi perbaikan
lingkungan secara lokal yang dapat
berdampak pada perubahan iklim global.
Meningkatnya suhu dan pencemaran
udara banyak mengakibatkan perubahan
138
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
TINJAUAN PUSTAKA
berbasis rendah emisi CO2.
- Perumahan dan emisi CO2
Selain sebagai salah satu kebutuhan
dasar
manusia,
perumahan
dan
permukiman berfungsi strategis di dalam
mendukung
terselenggaranya
pendidikan dan upaya membangun
manusia
Indonesia
seutuhnya.
Pembangunan
perumahan
dan
permukiman merupakan kegiatan yang
diprogramkan sebagai bagian dari
proses pembangunan berkelanjutan.
sehingga perlu dukungan sumber daya
alam dan sumber daya buatan yang
tepat dan memadai.
Penyediaan
perumahan
dan
permukiman
berdampak
terhadap
timbulan emisi CO2. Hal ini terjadi mulai
dari penyediaan lahan dimana terjadi
peralihan fungsi lahan hijau karena
pohon dan tetumbuhan menyerap CO2
dan menghasilkan oksigen (Sabilal
Fahri: 2004). Menurut Sudomo (1999),
masak memasak adalah aktivitas rumah
tangga terpenting yang menimbulkan
emisi zat pencemar. Lebih jauh,
Gambar 1. memperlihatkan kondisi di
Indonesia tahun 2004 dimana sekitar
39% dari emisi CO2 total adalah akibat
dari listrik untuk rumah tangga
(Statistik PLN, 2003).
Perumahan dan permukiman yang
ramah lingkungan telah menjadi utopia
bersama.
Masyarakat
perkotaan
cenderung menggunakan energi lebih
banyak, sehingga akan mempercepat
kerusakan lingkungan. Dalam rangka
memberikan
kontribusi
terhadap
Pemecahan Masalah Lingkungan Dunia
di bidang perkotaan diperlukan adanya
citra perkotaan masa depan abad 21
atau ”future urban image-2100” di
negara
berkembang
yang
perencanannya memperhatikan emisi
CO2.
Dalam rangka menunjang pembangunan
berkelanjutan maka setiap perencanaan
perumahan dan permukiman harus
mempertimbangkan
keseimbangan
terpadu dalam memanfaatkan sumber
daya yang ada dan terbatas dan
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
Industri konstruksi termasuk salah satu
industri yang banyak mengkonsumsi
energi dan menghasilkan emisi sehingga
industri konstruksi perlu mendapat
perhatian. Studi tentang estimasi emisi
CO2 pada bangunan rumah tinggal telah
dilakukan oleh Seo dan Hwang (2001).
Temuannya menunjukan bahwa emisi
CO2 dihasilkan sejak tahap manufaktur
bahan
bangunan,
pelaksanaan
konstruksi, penggunaan bangunan oleh
penghuni dan demolisi bangunan
(Gambar 2). Hal ini diperkuat oleh
Kobayashi (2004) yang mengemukakan
bahwa 1/3 jumlah konsumsi energi di
seluruh dunia dibutuhkan oleh sektor
pembangunan baik perumahan maupun
pekerjaan umum sipil.
139
Energi terjual per kelompok pelanggan th.2004 (MVA)
2% 2%
15%
2%
39%
Rumah Tangga
Industri
Bisnis
Sosial
40%
GD. Kantor Pemerintahan
Penerangan Jln Umum
Sumber: Statistik PLN 2005
Gambar 1. Komposisi Penggunaan Listrik untuk Berbagai Kegiatan
CO2
CO2
CO2
CO2
Manufaktur material
bangunan
Konstruksi
Penggunaan
Demolisi
Energi
Energi
Energi
Energi
Sumber: Seo dan Hwang 2001
Gambar 2 Kalkulasi CO2
Studi-studi di atas dapat menunjukan
besarnya
kontribusi
penyediaan
perumahan dan permukiman. Untuk
mengetahui besaran CO2 pada tahaptahap tersebut maka
seyogyanya
diketahui
faktor-faktor
yang
mempengaruhinya. Pada tulisan ini hal
yang akan ditelaah dibatasi pada saat
konstruksi dan penggunaan bangunan.
Hal yang diperhitungkan pada saat
konstrusi
adalah
jumlah
bahan
bangunan yang digunakan untuk lantai,
dinding
dan atap yang proses
pembuatannya
dilakukan
dengan
140
pembakaran. Sedangkan pada tahap
penghunian adalah memperhitungkan
jumlah energi yang dibutuhkan untuk
melakukan kegiatan sehari-hari di dalam
rumah (domestik) dan transportasi
untuk menunjang kegiatan di luar
rumah.
-
Sink dari CO2
Pada dasarnya ada dua elemen utama
yang dapat menurunkan CO2 secara
alami, yaitu penghijauan dan badan air
seperti sungai atau danau. Penghijauan
dapat berupa hutan kota, jalur hijau,
taman kota, kebun dan halaman
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
berfungsi sebagai salah satu langkah
pengendalian
pencemaran
udara
ambien.
Tanam-tanaman
akan
menyerap
CO2
dalam
proses
photosynthesis. Sedangkan kolam air
atau
danau
dan
sungai
dapat
mengabsorpsi
CO2
dan
berfungsi
sebagai bak pencucian (sink) yang
besar.
Fungsi penghijauan di perumahan
ditekankan sebagai penyerap CO 2,
penghasil oksigen, penyerap polutan
(logam berat, debu, belerang), peredam
kebisingan,
penahan
angin
dan
peningkatan
keindahan
(PP
RI
No.63/2002). Adapun faktor faktor yang
berpengaruh terhadap potensi reduksi
zat pencemar dan adalah daerah hijau,
jenis
tanaman,
kerimbunan
dan
ketinggian tanaman. Menurut Read
(2001), penghijauan dunia dan tanah
telah mampu menyerap sekitar 40% dari
total CO2 dari aktivitas manusia.
Diperkirakan angka ini akan menurun
drastis menjadi 25% pada tahun 2050
karena
banyaknya
praktek-praktek
penyalahgunaan hutan dan pola bertani.
Perkiraan
kerugian
yang
harus
ditanggung masyarakat Indonesia pada
tahun 2070 akibat dampak perubahan
iklim adalah 10 rupiah dari setiap 100
rupiah pendapatan penduduk Indonesia
(Sari, 2001)
METODOLOGI
Sumber emisi yang diperhitungkan
adalah emisi antropogenik, yaitu emisi
CO2 yang berkaitan dengan aktifitas
manusia. Adapun emisi yang berasal dari
kegiatan non-antropogenik misalnya
respirasi tumbuhan tidak termasuk
dalam lingkup kajian ini.
- Metoda Pengumpulan Data
Penelitian
dilakukan
di
kawasan
perkotaan yang saat ini dihuni oleh lebih
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
dari 60% penduduk. Perkotaan di
Indonesia dapat dibagi dalam beberapa
kelompok, salah satu pengelompokan
membagi menjadi: kota kecil, kota
menengah, kota besar dan kota
metropolitan. Kota-kota yang relatif lebih
mapan
dan
masih
terlihat
pertumbuhannya
adalah
kota-kota
dalam kelompok kota menengah dan
kota besar. Pendekatan induksi dipakai
sebagai pertimbangan pemilihan 7 kota
lokasi survei. Penentuan lokasi penelitian
ditentukan berdasarkan beberapa aspek
antara lain kelas, tingkat perkembangan
ekonomi, bentuk geografis, aksesibilitas
dan lokasi kota seperti pada Tabel 1.
Tujuh kota yang dipilih sebagai lokasi
survei dikelompokan sebagai berikut:
-
-
Kawasan
tepi
air:
Cirebon,
Semarang,
Mataram,
Makassar,
Banjarmasin
Kawasan bukan tepi air: Bandung
dan Malang
Pengambilan data primer dilakukan di 13
kawasan perumahan perkotaan yang
dibangun Perumnas dan kawasan lain
yang
karakter
fisik
dan
sosial
penghuninya
setara.
Data
primer
didapat melalui wawancara kepada
penghuni
rumah
menggunakan
kuesioner terstruktur ke rumah tangga
yang meliputi karakteristik penghuni
rumah, karakteristik bangunan (luas
bangunan, jenis dan volume bahan yang
dipakai), kapling (luas, tata ruang dalam
kapling, Koefisien Dasar Bangunan),
aktivitas domestik yang menggunakan
energi
(jumlah
dan
jenis)
dan
karakteristik pergerakan (tujuan, jarak,
frekuensi, moda dan jumlah bahan
bakar
yang
digunakan).
Jumlah
responden per lokasi survei dianggap
cukup mewakili populasi penelitian yang
karakteristiknya homogen. Pengamatan
141
lingkungan
juga
dilakukan
memnunjang analisi data.
untuk
Berdasarkan jumlah variabel yang akan
dianalisis, jumlah populasi dan metoda
analisis yang akan digunakan, maka
jumlah
sampel
di
setiap
lokasi
pengamatan ditentukan untuk masing-
masing kota adalah 100 responden.
Jumlah responden per lokasi survei
dianggap cukup mewakili populasi
penelitian
yang
karakteristiknya
homogen. Total responden adalah 700
dengan rincian seperti pada Tabel 2.
Tabel 1.
Karakteristik Kota Dari Beberapa Aspek
Tipe Kota
Berbatasan dengan air
Tidak berbatasan dengan air
Tingkat perkembangan
Tingkat perkembangan
Tinggi
Sedang
Rendah
Tinggi
Sedang
Rendah
Kelompok
kota
Besar
Menengah
Kecil
Jakarta
Surabaya
Medan
Bekasi
Batam
Makassar
Semarang
Palembang
Padang
Denpasar
PekanBaru
Menado
Banjarmasin
Bandung
Malang
Bogor
Palangkaraya
Yogyakarta
Cirebon
Mataram
Tabel 2.
Lokasi Survei dan Jumlah Responden
Nama Kota
1. Bandung
2. Cirebon
3. Semarang
4. Malang
5. Mataram
6. Makassar
7. Banjarmasin
-
Nama Kawasan Perumahan
-
Metoda analisis
Untuk mengetahui pengaruh emisi CO2,
alat analisis yang akan dipergunakan
adalah SPSS dengan analisis frekwensi
dan deskripsi.
142
Jumlah Responden (rumah)
Perumnas Antapani
Perumnas Sarijadi
Komplek Griya Sunyaragi Permai
Perumnas Gunung
Kompleks Plamongan Indah
Perumnas Banyumanik
Perumnas Sawojajar
Perumahan Sweta Indah
Perumnas Pagutan Permai
Perumnas Panakkukang
Kompleks Bumi Tamalanrea Permai
Perumnas Beruntung Jaya
Perumahan HKSN
Total:responden
50
50
50
50
50
50
100
50
50
50
50
50
50
700
DATA DAN PEMBAHASAN
Data hasil wawancara menggunakan
kuesioner
terstruktur dikelompokan
berdasarkan kesamaan sifat dalam 4
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
variabel utama yang masing-masing
terdiri dari variabel turunan yaitu:
1. Kegiatan domestik
a) Emisi CO2 dari pemakaian listrik
(kg/tahun)
b) Emisi
CO2
dari
kegiatan
memasak (kg/tahun)
2. Transportasi
a) Emisi CO2 dari pemakaian bensin
(kg/tahun)
b) Emisi CO2 dari pemakaian solar
(kg/tahun)
3. Bahan bangunan
a) Emisi CO2 dari ubin keramik
(Kg/thn)
b) Emisi CO2 dari bata (Kg/thn)
c) Emisi CO2 dari genteng keramik
(Kg/thn)
4. Penghijauan
Dari 4 kelompok variabel, kelompok 1
sampai dengan 3 berhubungan langsung
dengan jumlah emisi CO 2 , sedangkan
kelompok
4
merupakan
variabel
penyerap emisi CO2. seperti pada Tabel
3. Ke 4 kelompok variabel ini terdiri dari
7 variabel turunan.
Tabel 3.
Jenis variabel
Kalompok
variabel
Keg. domestik
Variabel utama
Variabel turunan
1. Emisi CO2 dari pemakaian listrik
(kg/tahun)
-
Transportasi
Bahan
bangunan
2. Emisi CO2 dari kegiatan memasak
(kg/tahun)
-
Emisi CO2 dari biaya untuk perjalanan
dan untuk membeli bensin (kg/tahun)
-
1. Emisi CO2 dari ubin keramik
(Kg/thn)
2. Emisi CO2 dari bata (Kg/thn)
3. Emisi CO2 dari genteng keramik
(Kg/thn)
Penghijauan
Luas ruang terbuka hijau (M2)
Hasil analisis menunjukan bahwa jenis
bahan bakar untuk kegiatan memasak
yang
dominan
digunakan
oleh
masyarakat yang tinggal di perumahan
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
Biaya rata-rata per bulan (Rp)
Jumlah pemakaian per bulan
(KWH)
peralatan electronik yang
digunakan
jenis bahan bakar
jumlah pemakaian bahan bakar per
bulan
tempat tujuan
jarak tempuh
moda transport yang dipakai
kendaraan yang dimiliki
frekwensi pemakaian
biaya untuk bahan bakar per bulan
luas lantai
jenis penutup lantai
luas dinding
luas bukaan
bahan dinding
luas atap
bahan struktur atap
bahan penutup atap
luas ruang terbuka
luas perkerasan
jenis tanaman/perdu
perumnas secara berurutan adalah gas,
minyak tanah dan gabungan antara gas
dan minyak tanah seperti pada Gambar
3
143
60
Jmlh responden
50
40
30
20
10
0
BDG
SMRG
MTRM
BJ.MSN
Lokasi survei
Gas
M.tnh
Gas+M.tnh
Sumber: hasil perhitungan
Gambar 3. Jenis Bahan Bakar untuk Kegiatan Domestik Memasak
Variasi jumlah energi listrik yang
digunakan di tiap rumah tangga yang
dominan berkisar antara 51-100 kwh per
bulan ditunjukan pada Gambar 4. Grafik
ini menunjukan adanya penggunaan
energi listrik di dalam bangunan yang
cukup efisien. Menurut artikel Tarif
Untuk responden di Bandung dan
Malang pemakaian listrik lebih banyak di
bandingkan kota-kota lainnya. Sumber
energi listrik di Indonesia menggunakan
3 jenis sumber yaitu batubara, LPG dan
gas. Berdasarkan data dari Departemen
ESDM,
masing-masing
bahan
menimbulkan emisi karbon sebesar 26,2
ton C per Joule, 17,2 ton C per Joule
dan 15,3 ton C per Joule. Sebagian
besar sumber energi di pembangkit
listrik berasal dari batubara, sehingga
juga berarti bahwa emisi CO2 yang
ditimbulkan oleh pembankit listrik juga
besar.
Listrik Progresif Pelanggan PLN Mulai
Berlaku
http://www.dexton.adexindo.com/artikel
-tarif-pln.html), pelanggan dengan daya
900 VA memupunyai batas maksimum
pemakaian insentif sebesar 92 kwh per
bulan. Apabila pemakaian per bulan
melebihi 92 kwh maka dikategorikan
sebagai pelanggan disinsentif dan akan
dikenakan tarif lebih mahal.
40
Jmlh responden
35
30
25
20
15
10
5
0
BDG
CRBN
SMRNG
MLNG
MTRM
MKSR
BJ.MSN
Lokasi survei
<50 kwh
51-100 kwh
101-150 kwh
250-300 kwh
>301 kwh
Tdk menjwb
151-200 kwh
102-250 kwh
Sumber: hasil perhitungan
Gambar 4. Konsumsi Energi Listrik untuk Aktivitas Rumah Tangga
144
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Gambar 5 menunjukan penggunaan
bensin untuk kegiatan sehari-hari ke
tempat kerja, sekolah, belanja, dan
rekreasi. Pemakaian bensin cukup
rendah, di kota Cirebon, Semarang dan
Makassar sebagian besar masyarakatnya
mengeluarkan biaya untuk bensin
berkisar antara 25 sampai 50 liter per
bulan.
Berdasarkan perhitungan data lapangan
dari 13 lokasi perumahan di 7 kota, total
emisi
CO2
yang
dihasilkan
dari
pemakaian bahan bangunan untuk
masing-masing komponen bangunan
dapat dilihat pada Tabel 4. Angka total
menunjukan jumlah keseluruhan emisi
CO2
yang
ditimbulkan
akibat
pembangunan rumah. Dengan asumsi
bahwa usia bangunan Perum Perumnas
direncanakan mencapai 15 tahun, maka
jumlah emisi CO2 per tahun dapat
diketahui dengan cara membagi jumlah
emisi total dengan 15 tahun (Gambar 6)
50
45
Jmlh responden
40
35
30
25
20
15
10
5
0
BDG
CRBN
SMRG
MLNG
MTRM
MKSR
BJMSN
Lokasi survei
0-25 Ltr
26-50 Ltr
51-75 Ltr
76-100 Ltr
>100 Ltr
Tdk tahu
Sumber: hasil perhitungan
Gambar 5. Penggunaan Bensin untuk Transpotasi
Tabel 4.
Jumlah emisi CO2 dari Komponen Lantai, Dinding dan Atap
No
1.
2.
Lokasi
survei
Bandung
Cirebon
Jumlah
responden
(rmh.tg)
99
100
Jumlah Emisi CO2 dari 3
komponen bangunan (Kg/15
thn)
Lantai
Dinding
Atap
169.665
70.487
26.112
110.188
59.621
22.114
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
Total CO2
(Kg/15thn)
Total
CO2
(Kg/thn)
266.264
191.923
17.751
12.795
145
No
3.
4.
5.
6.
7.
Lokasi
survei
Jumlah
responden
(rmh.tg)
Semarang
Malang
Mataram
Makassar
Banjarmasin
Total
101
100
102
100
97
699
Jumlah Emisi CO2 dari 3
komponen bangunan (Kg/15
thn)
Lantai
Dinding
Atap
109.529
61.312
11.675
121.340
70.623
21.426.
135.816
72.464
43.309
114.732
50.484
23.287
90.677
46.064
10.294
851.948
431.055
158.218
Total CO2
(Kg/15thn)
Total
CO2
(Kg/thn)
182.516
213.389
251.589
188.503
147.035
1441.221
12.168
14.226
16.773
12.569
9.802
96.081
18
16
Total CO2 (Kg/thn)
14
12
10
8
6
4
2
0
BDG
SMRG
MTRM
BJMSN
Lokasi survei
Sumber: hasil perhitungan
Gambar 6. Jumlah Emisi CO2 dari Bahan Bangunan Tegel, Bata dan Genteng
- Ruang terbuka hijau sebagai sink
CO2
Komponen yang berperan positif dalam
menurunkan jumlah emisi CO2 adalah
ruang terbuka hijau, sedangkan yang
ditutup
dengan
perkerasan
tidak
berfungsi sebagai penyerap emisi CO2.
Menurut Tome, (2005), satu hektar
daun-daun hijau dapat menyerap 8 kg
CO2 per jam yang setara dengan CO2
yang dihembuskan manusia sebanyak
146
200 orang dalam waktu yang sama.
Sementara satu hektar ruang terbuka
hijau, mampu menghasilkan 0,6 ton
oksigen guna dikonsumsi 1.500 manusia
perhari. Luasan taman di perumahan
dipengaruhi pula oleh karakter dan
minat penduduk terhadap tumbuhan.
Berdasarkan standar tersebut di atas
maka penyerapan ruang hijau di lokasi
perumahan yang di survei diuraikan
pada Tabel 5 dan Gambar 7.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Tabel 5.
Kemampuan Penyerapan CO2 oleh Tumbuhan
Kerimbunan
No
Lokasi survei
1
2
3
4.
5
6
7
Bandung
Cirebon
Semarang
Malang
Mataram
Makasar
Banjarmasin
Kawasan
(m3)
3620
289,23
2558
18244
15307,95
8595,6
15340
Penyerapan CO2
Rumah
(m3)
9,58
3,37
6,45
1,57
7,60
1,33
4,91
Kawasan
(Ton/thn)
39639,00
3167,07
28010,10
199771.80
167622,06
14121,82
167973,00
Keterangan : 1m3 daun dapat menyerap 1,25 kg CO2/jam
Sumber
: hasil perhitungan
Rumah
(Ton/thn)
104,91
36,90
70,63
17,19
83,22
14,57
53,77
Total
(Ton/thn)
39743,91
3203,97
28080,73
199788,99
167705,28
14136,39
168026,77
Daya serap CO2 (Ton/thn)
200000
150000
100000
50000
0
BDG
SMRG
MTRM
BJMSN
Lokasi survei
Sumber: hasil perhitungan
Gambar 7. Perbandingan Daya Serap Kawasan Secara Total
Besar daya serap ruang hijau untuk
masing-masing lokasi perumahan dapat
dilihat pada Gambar 6. Gambar ini
menunjukan kemampuan daya serap
CO2 secara total dari penghijauan di
dalam lahan kapling dan dipenghijaun di
daerah umum. Kawasan yang paling
besar daya serapnya adalah perumahan
di perumnas Sawojajar Malang yang
berasal dari ruang terbuka umum.
Sedangkan di Bandung dan Semarang
kemampuan serap di dalam kapling
cukup tinggi tetapi karena kemampuan
serap kawasannya rendah maka secara
total menjadi rendah.
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
- Sumber emisi CO2 yang dominan
Statistik deskriptif berusaha menjelaskan
atau
menggambarkan
berbagai
karakteristik data dan menyajikannya
dalam bentuk table. Sebuah table akan
berguna untuk mengetahui hubungan
antar beberapa variabel.
Untuk dapat mengetahui sumber emisi
CO2 terbesar maka tiga variabel utama
perlu dibandingkan, demikian juga
dengan variabel serap CO2 oleh ruang
terbuka hijau. Hasil analisis statistik
deskripsi dari data yang didapat di 13
lokasi perumahan untuk 4 variabel
utama dan 7 variabel turunan diuraikan
pada Tabel 6.
147
Tabel 6.
Statistik Deskripsi
Deskripsi
1. Emisi CO2 dari Pemakaian Listrik
(Kg/thn)
2. Emisi CO2 dari Pemakaian M.
Tanah (Kg/thn)
3. Emisi CO2 dari Pemakaian Gas
(Kg/thn)
4. Emisi CO2 dari Pemakaian Bensin
(Kg/thn)
5. Emisi CO2 dari Pemakaian Solar
(Kg/thn)
6. Emisi CO2 dari Ubin Keramik
(Kg/thn)
7. Emisi CO2 dari Bata (Kg/thn)
8. Emisi CO2 dari Genteng Keramik
(Kg/thn)
Emisi CO2 Total (Kg/thn)
Serap CO2 (Kg/thn)
N
Min.
Max.
Sum
Mean
Std.
Deviation
700
.00
2837.65
261943.80
374.21
291.56
468
.01
3651.70
96392.20
205.97
222.55
700
.00
864.00
58700.51
83.86
91.22
700
.00
4790.06
200868.28
286.95
358.40
700
.00
1949.09
11658.00
16.65
139.22
700
0
108.00
9718.00
13.88
11.48
700
0
43.00
4993.00
7.13
5.23
700
0
20.00
1822.00
2.60
3.25
700
19.95
6442.20
646094.84
922.99
605.37
700
.00
3.61
213.01
0.30
.39
Keterangan: N = jumlah responden
Berdasarkan Tabel di atas, nilai rata-rata
(Mean) sumber emisi terbesar berasal
dari
kegiatan
di
dalam
rumah
(domestik). Tenaga listrik merupakan
sumber energi yang digunakan paling
banyak, Minyak tanah ada diurutan
kedua yang dapat menggambarkan
bahwa
minat
dan
kemampuan
masyarakat untuk menggunakan kompor
minyak tanah masih tinggi. Jumlah emisi
CO2 yang berasal dari bensin cukup
besar. Hal ini dapat menunjukan
beberapa kemungkinan bahwa mobilitas
penduduk cukup tinggi atau kendaraan
bermotor yang digunakan tidak efisien
atau rendahnya minat untuk jalan kaki
karena tidak tersedianya prasarana
untuk pelajan kaki yang aman dan
nyaman. Pembuatan 3 jenis bahan
bangunan (ubin, bata merah dan
148
genteng keramik) menyumbang emisi
relatif sangat kecil.
Jumlah emisi CO2 yang dapat diserap
secara total oleh daerah hijau di masingmasing perumahan sangat kecil yaitu
0,30 Kg/tahun, sedangkan emisi yang
ditimbulkan oleh pembangunan 13
perumahan jauh lebih besar yaitu
922,99
Kg/thn.
Hal
ini
dapat
menunjukan bahwa walaupun ruang
terbuka di dalam masing-masing kapling
dan di 13 lingkungan perumahan masih
ada tetapi daerah yang dihijaukan
sangat
sedikit.
Kalaupun
ada
penghijauan tetapi fungsinya tidak
optimal.
Dari hasil analisis deskripsi, secara detail
variabel yang signifikan untuk masingmasing perumahan di 7 kota dapat
dilihat pada Tabel 7.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Pagutan
Panakukang
Tamalan Rea
HKSN
Perumnas
Rata2
sumber
emisi
dominan
di 13
lokasi
studi
Sweta Indah
Bj. masin
Sawojajar
Makassar
Banyumanik
Mataram
Plamongan
Malang
GSP
Semarang
Perumnas
Cirebon
Sariajdi
Bandung
Antapani
Nomor Variabel
Nama Lokasi
Perumahan
Tabel 7.
Urutan Faktor Sumber Emisi di Tiap-Tiap Lokasi Survei
2a
1a
1a
1a
1a
1a
1a
2a
1a
1a
1a
2a
1a
1a
1a
2a
1b
2a
2a
2a
2a
1a
2a
1b
2a
1a
2a
2a
1b
1b
2a
1b
1b
1b
1b
1b
1b
2a
1b
1b
1b
1b
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
1c
3a
3a
3a
3a
2b
3a
2b
3a
2b
3a
2b
2b
2b
3a
2b
3b
3b
3b
3a
3b
3a
3b
3a
3b
3a
3a
3a
2b
3b
3c
3c
3c
3b
2b
3b
3c
3b
3c
3c
3b
3b
3b
3c
4
4
4
3c
3c
3c
4
3c
4
3b
3c
3c
3c
4
2b
2b
2b
4
4
4
2b
4
2b
4
4
4
4
Keterangan nama variabel:
1. Emisi CO2 dari energi domestik
(Kg/thn):
1a. Emisi CO2 dari Pemakaian
Listrik
1b. Emisi CO2 dari Pemakaian M.
Tanah
1c. Emisi CO2 dari Pemakaian Gas
2. Emisi CO2 dari bahan bakar untuk
transportasi (Kg/thn):
2a. Emisi CO2 dari Pemakaian
Bensin
2b. Emisi CO2 dari Pemakaian solar
3. Emisi CO2 dari Bahan Bangunan
(Kg/thn)
3a. Emisi CO2 dari Ubin Keramik
3b. Emisi CO2 dari Bata
3c. Emisi CO2 dari Genteng Keramik
4. Penyerapan CO2 oleh penghijauan
(Kg/thn)
Kesimpulan
Penyediaan suatu lingkungan perumahan menimbulkan emisi CO2yang cukup
besar. Emisi CO2 yang ditimbulkan
Pengaruh Emisi Co2 dari .... (Siti Zubaidah K.)
secara langsung yaitu dari penggunaan
minyak tanah dan gas untuk masak
serta
bensin
dan
solar
untuk
transportasi. Jumlah ini lebih besar dari
emisi CO2 yang ditumbulkan secara tidak
langsung dari pemakaian listrik dan
energi untuk membuat bahan bangunan.
Hal ini mungkin karena jumlah bahan
bangunan yang diperhitungkan hanya
tiga jenis. Sehingga untuk mandapatkan
hasil yang lebih mewakili kondisi yang
ada di lapangan maka jenis bahan
bangunan
yang
dianalisis
perlu
ditambah.
Jumlah emisi CO2 yang dapat diserap
adalah sangat kecil dibandingkan
dengan jumlah yang ditimbulkan yang
menunjukan bahwa jumlah ruang
terbuka hijau sangat kecil dibandingkan
dengan ruang terbangun. Hampir semua
rumah sudah dikembangkan melebihi
ketentuan koefisien dasar bangunan
(KDB). Hal yang terburuk adalah
penutupan semua ruang terbuka dengan
perkerasan.
Penghijaun
dilakukan
149
dengan membuat tanaman dalam pot
yang secara fungsional tidak berfungsi
sebagai
daerah
resapan
air.
Pengurangan ruang terbuka hijau pun
terjadi di dalam skala lingkungan.
Hal yang perlu ditinjau lebih jauh adalah
mekanisme pengawasan pengembangan
bangunan
sehingga
lingkungan
perumahan yang ada tetap dapat
dikembangkan sesuai dengan konsep
perencanaan awal.
Saran
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai rona awal untuk penelitian
selanjutnya
tentang
perkembangan
perumahan
dan
permukiman
di
perkotaan
kaitannya
dengan
berkurangnya dan hilangnya daerah
terbuka hijau dan badan air sebagai
penyerap CO2.
DAFTAR PUSTAKA
BPPT. 2002. Realitas Dunia Untuk
Selamat dari Ancaman Bencana
Akibat Pemanasan Global.
http://greenturtles.org/ : Green-peace
menghadang pengiriman batu bara
serta
menyerukan
G8
untuk
menghentikan penggunaan batubara
sebagai sumber energi (diakses: 2
Agustus 2008)
http://www.wwf.or.id (Daya Konservasi
Individu Rendah Biaya – Efisiensi
Listrik Kurangi Emisi CO2, Press
Realese 14 Oktober 2003).
http://www.dexton.adexindo.com/
artikel-tarif-pln.html - Tarif Listrik
Progresif Pelanggan PLN Mulai
Berlaku (diakses 2 September 2008)
Kementrian Lingkungan Hidup. 2001.
Kebijakan dan Strategi Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau, Jakarta.
150
Kobayashi, Hideyuki. 2004. Pengukuran
Emisi CO2 di Sektor Permukiman
Perkotaan - Pendekatan secara
Makro. Makalah disajikan dalam
diskusi teknik di Puslitbang Pusat
Litbang Permukiman.
Prasetio, Sulung. 2003. Hemat Listrik
Selamatkan Bumi. Sinar Harapan, 2
Agustus 2003. (diakses: 2 Agustus
2008).
Puslitbang Permukiman. 2007. Alternatif
Bentuk
Perencanaan
Kawasan
Permukiman
Perkotaan
dengan
Pemikiran Emisi CO2 di Kota
Bandung. Departemen PU.
Puslitbang Permukiman. 2007. Alternatif
Bentuk
Perencanaan
Kawasan
Permukiman
Perkotaan
dengan
Pemikiran Emisi CO2 di Kota Cirebon.
Departemen PU.
Puslitbang Perrmukiman. 2006. Faktorfaktor Penentu Emisi CO2 pada
Perumahan
dan
Permukiman
Perkotaan,
Laporan
Penelitian,
Departemen PU.
Read, David. 2001. The Role Of Land
Carbon Sinks In Mitigating Global
Climate Change. The Royal Society.
London.
Sari, Agus P. 2002. Indonesia Harus
Waspada, Dampak Perubahan Iklim
Sudah di Depan Mata. (diakses, 3
April 2008).
Seo, S., dan Hwang, Y. 2001.“Estimation
of CO2 Emission in Life Cycle of
Residential Buildings“, Journal of
Construction
Engineering
and
Management, Vol. 127, No. 5, 414-
418.
Soedomo, M. 1999. Pencemaran Udara.
Kumpulan
Karya
Ilmiah.
ITB.
www.earthtrends.wri.org (diakses 30
January 2007
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
MITIGASI DAN ADAPTASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI HIJAU
Oleh: Nana Terangna Ginting
Pusat Litbang Permukiman Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan Kab.-Bandung 40393
E-mail : [email protected]
Tanggal masuk naskah : 07 Agustus 2008, Tanggal revisi terakhir: 26 Agustus 2008
Abstrak
Perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global merupakan tantangan yang
paling serius dihadapi oleh negara-negara di dunia pada abad ke 21 ini.. Pada tahun 2100
diperkirakan suhu meningkat 1,5 0 4,5 derajat Celsius dan permukaan air laut akan naik
hingga 15 – 95 cm. Dampak yang diperkirakan terjadi antara lain es dan glazier di kutub
mencair, sejumlah pulau dan sebagian kota pantai tenggelam, berbagai keaneragaman
hayati musnah, kerusakan terumbu karang, frekuensi bencana banjir, angin topan hujan
badai, dan banjir, frekuensi kebakaran meningkat, penyebaran penyakit bertambah,
hama penyakit tanaman bertambah. Di Indonesia pemanasan global akan berdampak
kepada hambatan pertumbuhan ekonomi, menurunnya ketahanan pangan, meningkatnya
gangguan kesehatan. Hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa masalah pemanasan
global terjadi karena tindakan manusia yang dimulai sejak revolusi industri 50 tahun
terahir ini. Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya adaptasi dan mitigasi dampak
pemanasan global. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya yang perlu
dikembangkan sebagai upaya adaptasi dan mitigasi pemanasan global tersebut. Berbagai
teknologi hijau telah tersedia dan telah diterapkan oleh beberapa negara maju dan
negara berkembang. Khusus pada bidang pelestarian sumber air dan pengolahan air
limbah tersedia beberapa teknologi hijau antara lain teknologi taman biologi, taman
buangan air limbah dan sanitasi ekologi.
Keywords: Pemanasan global, pembangunan berkelanjutan, teknologi hijau
Abstract
The global warming which results the climate change is the most serious challenges by all
countries in 21 century. In the year 2100, the global temperature estimated increased
between 1.5 to 4.5 degree Celsius and the sea level rise between 15 to 95 cm .Therefore
the estimated impact are the ice and glacier of the Antarctic melted. A number of islands
and several coastal city sank, biodiversity are destroyed, ridge of rock at low tide
damaged, increasing the frequency of flood disasters, hurricanes and storms, increasing
fire frequency, increasing of spreading diseases as well as plant diseases. In Indonesia,
the global worming will slow the economic grow, weakening food endurance, and
increasing the health problems. The recent research indicated than the global worming
happened because of the human activities since industrial revolution. Therefore it is
necessary to put the several efforts on adaptation and mitigation of the global worming
impact. The green technology has been developed and implemented by some develop
and developing countries. In the area of water resources conservation and wastewater
treatment already available several green technology such as: Bio-Park, wastewater
garden, and eosin.
Keywords: Global warming, sustainable development, green technology.
Mitigasi dan Adaptasi …( Nana Terangna G. )
129
PENDAHULUAN
Pemanasan Global dan Dampaknya bagi Indonesia
Pada abad ke 21 ini, perubahan iklim
yang diakibatkan oleh pemanasan global
merupakan permasalahan yang paling
serius dihadapi Negara-negara di seluruh
dunia. Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyatakan
bahwa kenaikan suhu bumi selama
tahun 1990 – 2005 antara 0.13 – 0.15
derajat celcius. Apabila tidak ada upaya
pencegahan, pada tahun 2050 – 2070
suhu Bumi akan naik sekitar 4,2 derajat
Celcius. (KPKC Roma, 2002). Pada
tahun 2100,
suhu atmosfir akan
meningkat 1,5 – 4,5 derajat Celcius.
Dampak pemanasan global yang akan
terjadi antara lain:
a. Musnahnya
berbagai
jenis
keanekaragaman hayati.
b. Meningkatnya
frekuensi
dan
intensitas hujan badai, angin topan,
dan banjir.
c. Mencairnya es dan glasier di kutub.
d. Meningkatnya tanah kering yang
potensial menjadi gurun karena
kekeringan yang berkepanjangan.
e. Kenaikan permukaan laut hingga
menyebabkan banjir yang luas. Pada
tahun 2100 diperkirakan permukaan
air laut naik hingga 15 – 95 cm.
f. Kenaikan suhu air laut menyebabkan
terjadinya pemutihan karang (coral
bleaching) dan kerusakan terumbu
karang di seluruh dunia.
g. Meningkatnya frekuensi kebakaran
hutan.
h. Menyebarnya
penyakit-penyakit
tropis, seperti malaria ke daerahdaerah baru karena bertambahnya
populasi serangga (nyamuk).
i. Daerah-daerah tertentu menjadi
padat karena terjadinya arus pengungsian.
130
Bagi Indonesia dampak pemanasan
global yang timbul antara lain kenaikan
permukan air laut sampai 90 cm yang
mengakibatkan tenggelamnya sekitar
2000 pulau, penurunan pH air laut dari
8,2 menjadi 7,8 yang akan menghambat
pertumbuhan sampai mematikan biota
dan terumbu karang sehingga akan
berdampak pada pertumbuhan ekonomi
akibat terjadinya penurunan populasi
ikan dan hasil laut lainnya. Selanjutnya
dampak ekonomi dan sosial akan terjadi
akibat terendamnya sebagian besar
kota-kota di wilayah pesisir. Dampak
pada ketahanan pangan akan terjadi
akibat
menurunnya
produktivitas
tanaman karena terganggunya akibat
perobahan pola presipitasi, penguapan,
air limpasan dan kelembaban tanah.
Selain itu pemanasan global juga
berisiko terjadinya ledakan hama dan
penyakit tanaman. Peningkatan suhu
Bumi akan menyebabkan curah hujan
yang semakin lebat sehingga banjir akan
lebih besar. Dampak pada kesehatan
masyarakat akan meningkat karena
peningkatan suhu akan memperpendek
siklus hidup beberapa vektor penyakit
dan masa inkubasi penularan menjadi
lebih singkat terutama malaria dan
Demam Berdarah, serta penyakit lainnya
seperti Diarhe, Leptospirosis, kanker
kulit, dll. (Kompas, 2007).
Penyebab Pemanasan Global
Sejumlah bukti baru dan kuat dalam
hasil penelitian mutakhir menunjukkan
bahwa masalah pemanasan global yang
terjadi saat ini disebabkan karena
tindakan manusia. Dalam era revolusi
industri 50 tahun terahir ini penduduk
dunia telah menggunakan sekurangkurangnya lebih dari setengah dari
sumber energi yang tak terpulihkan dan
telah merusak 50% dari hutan dunia.
Penggundulan hutan telah menghilangkan kemampuan untuk menyerap emisi
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
karbon sehingga memacu terjadinya
perubahan iklim. Sejak Perang Dunia II
jumlah kenderaan bermotor di dunia
bertambah dari sekitar 40 juta menjadi
680 juta, yang merupakan kontibutor
emisi carbon dioksida pada atmosfer
.Enam tindakan manusia yang dikenal
sebagai “Tragedy of Commons” sebagai
penyebab utama perubahan iklim global
adalah: (Gany, A.H.A, 2008)
1. Meningkatnya kadar karbon dioksida
(CO2) di atmosfir.
2. Perobahan terhadap siklus bio-kimia
global dari nitrogen dan elemenelemen lainnya.
3. pembentukan
dan
pelepasan
komponen organik secara terus
menerus seperti chlorofluorocarbon.
4. Perubahan besar-besaran dalam
tataguna lahan dan vegetasi tutupan
permukaan.
5. Perburuan
dan
perambahan
sejumlah besar sumber daya alam
dan
kehidupan
predator
dan
konsumen.
6. Invasi keanekaragaman hayati oleh
species asing.
Konsep Teknologi Hijau (Green
Technology)
Green Technology (Teknologi Hijau),
diartikan
sebagai
suatu
ilmu
pengetahuan praktis / teknologi yang
dapat digunakan untuk melaksanakan
pembangunan yang dapat mewujudkan
tatanan infrastuktur untuk memenuhi
kebutuhan manusia secara berkelanjutan (sustainable development), tanpa
merusak atau mengganggu sumber daya
alam. Secara singkat, teknologi yang
dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan generasi saat ini dan tidak
mengganggu ketersediaan kebutuhan
generasi
mendatang.
(Green
Tecnology, 2008)
Mitigasi dan Adaptasi …( Nana Terangna G. )
Keberadaan
teknologi hijau ini diharapkan dapat menjadi inovasi bagi
manusia untuk merobah gaya hidupnya
seperti kegandrungan manusia saat ini
akan information technology (IT). Beberapa ciri Teknologi Hijau antara lain;
berkelanjutan
(sustainable),
menggunakan sumber alam yang terbarui
(reclaimed), menghasilkan produk yang
bermanfaat kembali (re-used), mengurangi produk limbah dan bahan
pencemar, menggunakan proses terdaur
ulang (recycle), inovatif tidak berbahaya
bagi kesehatan dan lingkungan, menciptakan kegiatan dan produk yang bermanfaat bagi lingkungan atau dapat
melindungi bumi.
METODA
Penyusunan karyatulis ini mnggunakan
metoda penelusuran pustaka dan
informasi ilmiah dari buku, jurnal,
laporan penelitian, dan internet. Ulasan
terbatas kepada teknologi hijau bidang
pelestarian sumber air, pengolahan
limbah, pengolahan sampah dan pengendalian erosi dan longsoran tebing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknologi
Air
Pelestarian
Sumber
Taman Biologi (Bio – Park)
Bio-Park merupakan salah satu teknologi
hijau yang digunakan untuk memperbaiki kualitas sumber-sumber air
yang tercemar seperti air saluran, sungai
dan danau. Proses reduksi bahan-bahan
pencemar dalam
Bio-Park terjadi
melalui siklus rantai makanan dalam
ekosistem akuatik atau ekoteknologi. Di
Jepang, teknologi Bio-Park diterapkan
untuk memperbaiki kualitas air danau
antara lain Danau Tsuchiura, Kibagata,
Koishikawa, dan Haruno (Gambar 1).
131
Sumber: Top Ecology, Co, Ltd
Gambar 1. Bio-Park Danau Kibagata
Teknologi
Bio-Park
juga
telah
dimodifikasi sebagai taman atap ( Roof
Top Bio-Park) di perumahan Canon
Housing .(Gambar2)
dampak pemanasan global dengan
karakteristik sbb:
a. Menanam vegetasi
b. Memperbaiki kualitas air yang
tercemar secara efisien tanpa bahan
kimia.
c. Memanfaatkan
lumpur
sebagai
pupuk organic
d. Tidak menghasilkan limbah kimiawi
e. Bio-Park adalah “zero emission
System”
Sumber: Top Ecology, Co, Ltd
Gambar 2. Rooftop Bio-Park
di Perumahan Canon Jepang
Saat ini teknologi Roof Top Bio-Park
dikembangkan dalam rangka mitigasi
permasalah pemanasan global
yang
terjadi di daerah perkotaan. Dalam 5
tahun terahir, teknologi Bio-Park telah
diperkenalkan ke Thailand, China dan
Brazil melalui bantuan teknik pemeritah
Jepang. Karena menggunakan proses
ekosistem alami, teknologi Bio-Park
merupakan upaya adaptasi dan mitigasi
132
Teknologi
Bio-Park
mendapat
penghargaan dari WHO pada tahun
1997 sebagai teknologi masa depan
pengendalian pencemaran danau. Pada
tahun 2002 , Bio_park memenangkan
peringkat terbaik pada “ Environmental
Contest” di Jepang. Pada tahun 1998,
Bio-Park telah terdaftar hak paten
dengan merk dagang BIO-PARK dan
nama paten : Hydrophonic Biofilter
System. Hak paten dipegang oleh Top
Ecology.Co.Ltd.
Di Indonesia, percobaan lapangan
penerapan
teknologi
hijau
untuk
pelestarian kualitas air danau telah
dimulai oleh Pusat Litbang Sumber Daya
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Air pada tahun 2003 di Waduk Saguling
dengan
nama
EKOTEKNOLOGI.
Penelitian masih berlangsung sampai
saat ini dan diharapkan teknologi ini
dapat dipersiapkan untuk diterapkan
oleh pemeritah dan masyarakat.
Teknologi Pengolahan Air Limbah
Domestik
Ecological Sanitation
Ecological
sanitation
(Ecosan),
merupakan
teknologi
hijau
yang
diharapkan menjadi revolusi baru untuk
peningkatan
kesehatan
masyarakat
melalui upaya pengolahan limbah
domestik. Ecosan didasarkan kepada
tiga prinsip yaitu: (Gambar 3)
a. Pencegahan pencemaran lebih baik
daripada melakukan pengendalian
dan pengawasan setelah terjadi
pencemaran.
b. Perbaikan sanitasi tinja dan urine
c. Pemanfaatan produk Ecosan untuk
pertanian
Sumber: GTZ
Gambar 3. Prinsip Pengolahan Limbah Domestik dengan Ecosan
Pada saat ini 40 % penduduk dunia
tidak memiliki sarana sanitasi yang
memadai. Sekitar satu milyar penduduk
dunia terutama anak-anak terinfeksi
parasit dan mengalami kekurangan gizi
serta hambatan dalam pertumbuhannya,
dan sekitar 6000 anak meninggal setiap
harinya karena penyakit perut yang
disebabkan buruknya kondisi sanitasi
(Winblad U .et.al, 2004). Di Indonesia
sebanyak 19,7% dari total penduduk
belum memiliki jamban. Fasilitas sanitasi
Mitigasi dan Adaptasi …( Nana Terangna G. )
dengan sistem perpipaan (sewerage
system) baru dibangun di 7 kota,
dengan cakupan pelayanan total 5,57%.
Jumlah rumah tangga yang memiliki
fasilitas sanitasi dengan menggunakan
tangki septik baru mencapai sekitar
40%. Pelayanan fasillitas air minum
melalui sistem perpipaan baru mencapai
44,4% di perkotaan dan hanya 9,4% di
pedesaan. (Dit.Jen Cipta Karya,
2008). Menurut laporan Bank Dunia,
Indonesia termasuk salah satu negara
133
yang memiliki tingkat pelayanan sanitasi
terendah di Asia. Sebagai akibatnya
wabah penyakit yang ditularkan melalui
air terjadi secara rutin, dan insiden
penyakit tipus di Indonesia, merupakan
yang tertinggi di Asia. Kerugian
ekonomis yang diakibatkan oleh isu ini,
secara konservatif diperkirakan US$ 4,7
milyar per tahun, atau 2% dari GDP,
yang setara dengan US$ 12 per rumah
tangga per bulan (World Bank, 2003).
Pada saat ini banyak tempat di dunia
menderita kekurangan air dan dalam 50
tahun terahir ini penggunaan air dunia
meningkat tiga kalinya. Diperkirakan
pada tahun 2030 separuh dari penduduk
dunia akan kekurangan air. Pembuangan
limbah, yang berasal dari Instalasi
Pengolah Limbah (IPAL) baik yang terpusat maupun yang setempat (on-site)
merupakan penyebab utama pencemaran sumber-sumber air yang belum
dapat diatasi. Selain mencemari sumber
air permukaan limpasan dan bocoran zat
pencemar tersebut juga mencemari air
tanah.
Penerapan teknologi Ecosan diharapkan
dapat mengatasi tantangan yang belum
dapat ditanggulangi pada bidang sanitasi
terutama dalam mengatasi masalah
sanitasi saat ini dan menghadapi
perkembangan penduduk dunia dimasa
yang akan datang.
Keunggulan
Ecosan
dalam
upaya
mitigasi dan adaptasi pemanasan global
adalah:
a. System daur ulang tertutup (closed
loop) yang sempurna dalam siklus
rantai makanan manusia sehingga
seluruh
buangan
dimanfaatkan
kembali tanpa ada sisa limbah yang
terbuang.
b. Menghemat penggunaan air dan
pembuangan air dalam siklus hidup
manusia
134
c.
Mencegah pencemaran lingkungan
dan konservasi potensi kualitas
sumber-sumber air.
d. Mengembalikan unsur hara tanah,
memperbaiki stuktur tanah pertanian dan mengurangi penggunaan
bahan kimia sebagai pupuk.
e. Mencegah terjadinya penyakit yang
ditularkan melalui air (waterborne
desease)
f. Sederhana dan murah sehingga
memungkinkan untuk dilaksanakan
seluruh lapisan masyarakat
Taman
Buangan
Air
(Wastewater Garden)
Limbah
Wastewater Garden (WWG) adalah
teknologi hijau yang digunakan untuk
mendaur ulang sisa zat pencemar dari
unit pengolahan limbah perumahan,
hotel, restoran, atau perkantoran. WWG
merupakan 100% ekologis, murah dan
mudah dalam pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaannya. Tanpa
memerlukan peralatan mekanis dan
bahan kimia, air limbah di daur ulang
secara gravitasi
ke taman, kebun
sayuran, ataupun buah-buahan. WWG
pada awalnya dikembangkan untuk
melindungi pantai dari pencemaran
limbah penduduk.
Kontribusi penerapan teknologi WWG
dalam mitigasi dan adaptasi dampak
pemanasan global karena:
a. menanam vegetasi
b. meningkatkan kualitas effluent ke
lingkungan tanpa bahan kimia dan
peralatan mekanis
c. Ekologis, mudah dan murah
Tenologi
WWG
dikembangkan
oleh
Planetary Reef Foundation dan telah
berhasil diterapkan di Meksiko, Bali,
Bahama, Belize, Perancis, Polandia,
Pilpina, Amerika Serikat dan Australia.
WWG yang terbesar saat adalah Xpu-Ha
EcoPark di Meksiko yang dirancang
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
untuk
mengolah
limbah
1500
pengunjung per hari. Di Indonesia,
teknologi WWG telah di uji coba pada
beberapa kantor pemerintah daerah dan
diterapkan pada beberapa hotel di
kawasan Nusa Dua ( Gambar 4)
serta tidak menggunakan bahan kimia
dan peralatan mekanis. SANITA telah
diteliti oleh Pusat Litbang Permukiman
sejak tahun 2004 dan saat ini telah
disusun pedoman tata cara pembangunannya
sebagai
kelengkapan
Standar Nasional Indonesia tentang Tata
Cara Pembangunan Tangki Septik. Salah
satu
percobaan
lapangan
berada
kampus Pusat Litbang Permukiman
seperti terlihat pada Gambar 5.
Sumber: Planetary Reef Foundation
Gambar 4. Wastewater Garden di Bali
Sanitasi Taman (SANITA)
Sanitasi Taman (SANITA), adalah
Teknologi Hijau untuk memperbaiki
kualitas effluent tangki septik konvensional agar tidak mencemari air
tanah. Effluen septik tank konvensional
masih mengandung bakteri Fecal Coli
yang cukup tinggi dan beresiko
mencemari air sumur dangkal yag
terletak berdekatan, terutama pada
permukiman yang padat. Sebagian besar
penduduk
perkotaan
masih
mengkonsumsi
air
tanah
dangkal
sebagai sumber air minum dan rumah
tangga sehingga mereka berisiko tinggi
terjangkit penyakit perut (waterborne
deseases). SANITA mampu menurunkan
bakteri Fecal Coli pada effluent tangki
septik sampai dengan lebih dari 99%
sehingga diharapkan tidak mencemari
air tanah. Penerapan SANITA pada
permukiman akan menambah vegetasi
permukaan yang merupakan salah satu
upaya adaptasi dan mitigasi dampak
perobahan iklim. Selain itu SANITA juga
mudah dan murah dalam pembangunan,
pengoperasian dan pemeliharaannya,
Mitigasi dan Adaptasi …( Nana Terangna G. )
Gambar 5. SANITA di Kampus Puskim
KESIMPULAN
1. Perubahan Iklim yang diakibatkan
oleh
Pemanasan
Global
telah
dirasakan
dampaknya
dalam
kehidupan manusia. Apabila tidak
dilakukan
upaya
pencegahan,
dampak pemanasan global di masa
yang akan datang
merupakan
ancaman yang sangat serius bagi
kehidupan semua makhluk di bumi.
2. Dalam menghadapi dampak Pemanasan Global diperlukan upayaupaya mitigasi dan adaptasi yang
melibatkan masyarakat.
3. Teknologi Hijau merupakan salah
satu upaya adaptasi dan mitigasi
dampak Pemanasan Global yang
sejalan dengan prinsip pembangunan
yang
berkelanjutan
(sustainable
development)
4. Berbagai Teknologi Hijau di bidang
pelestarian
sumber
air
dan
135
pengolahan air limbah telah tersedia
untuk
diterapkan
dalam
pembangunan
5. Perlu adanya upaya pemerintah dan
masyarakat untuk mengkampanyekan penggunaan teknologi hijau
secara luas.
DAFTAR PUSTAKA
Top Ecology, 2008, Product and Service
Bio-Park (internet).
Planetary Coral Reef Foundation, 2008,
Wastewater Garden,
Winblad U and Hebert M.S, 2004,
Ecological Sanitation,
Stockholm
Environment Institute, Stockholm,
Sweden.
Kelompok Kerja Pemanasan Global,
2002, Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim, Promotor KPKC,
Jakarta.
Harian Kompas, 01.12.2007, Dampak
Pemanasan Global Bagi Negara Kita,
Jakarta.
Gany, A.H.A, 2008, Implikasi Multi
Dimensional Perubahan Iklim Global
Menyongsong Pengelolaan Sumber
Daya Air Terpadu, makalah kunci
136
pada Kolokium Hasil-Hasil Litbang
Sumber Daya Air, Bandung 23 -24
Juli 2008.
Green Technology, 2008, Strategy and
Leadership
Sustainable
for
Clean
and
Communities, http://
www.green-technology.org
Christine Werner et.al, 2005, Panning
and Imlementation of Ecological
sanitation Projects, GTZ
Pusat Litbang Sumber Daya Air. 2003.
Penelitian
dan
Pengembangan
Ekoteknologi
untuk
Pelestarian
Sumber-sumber
Air”
Bandung:
Badan
Litbang
Depertemen
Pekerjaan Umum
Water and Sanitation Program-East Asia
and the Pacific (WSP-EAP), 2007,
Economic Impacts of sanitation in
South East Asia Summary, World
Bank East Asia and the Pacific
Region.
Nana Terangna, 2006, Pengelolaan Air
Limbah Rumah Tangga , Bahan
Ceramah pada Pertemuan Dharma
Wanita se-Indonesia, Bandung, 7
Juni 2006
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
MENGURANGI PEMANASAN BUMI DENGAN POLA
HIDUP HEMAT ENERGI
Oleh : Purwito
Pusat Litbang Permukiman Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan – Kab. Bandung 40393
E-mail : [email protected]
Tanggal masuk naskah : 14 Desember 2007, Tanggal revisi terakhir: 21 Mei 2008
Abstrak
Pada tahun 2001 Panel Perubahan Cuaca Antarpemerintah atau IPCC (Intergovernment
Panel on Climate Change) yang dalam salah satu laporannya menegaskan, beberapa
dampak yang terjadi dari perubahan iklim (climate change) di daerah tropis Asia.
Diprediksi daerah ini sangat rentan atau mudah terserang oleh dampak yang ditimbul
oleh perubahan iklim dan khususnya risikonya akan sangat tinggi pada daerah–daerah
banjir sekalipun dalam musim kemarau. Selama abad yang lalu manusia pada dasarnya
sudah menambah atau meningkatkan gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer, dengan
membakar minyak bumi untuk menjalankan mobil, pabrik, utilitas serta peralatan untuk
kegiatan sehari-hari, sehingga terjadi penambahan gas karbon dioksida dan metane yang
memberikan kontribusi kenaikan suhu bumi dan perubahan cuaca. Dua puluh tahun yang
lalu sebetulnya kita sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan dampak yang banyak
dirasakan oleh masyarakat dunia adalah, terjadinya kenaikan suhu bumi, kenaikan muka
air laut, banjir, angin topan, berkembangnya penyakit demam berdarah dll. Beberapa
perusahaan besar di dunia dalam pengolahan produknya, secara sukarela bekerja sama
dengan WWF sudah mulai mengurangi emisi CO2 dengan melakukan penggantian
peralatan produksi serta bahan bakar minyak ke bahan bakar alternatif yang ramah
lingkungan seperti, angin, biomass, energi geotermal dll. Keuntungannya yaitu sebesar $
100 juta dan ini merupakan prospek ke depan yang bagus dalam rangka pengurangan
emisi CO2 yang ditargetkan pada tahun 2010 dapat mencapai 10 ton per-tahun atau
setara dengan 10 juta mobil yang sedang beroperasi di jalan.
Apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mulai sedikit merubah pola hidup di rumah dan
sekitarnya, melalui penghematan penggunaan energi listrik, air, bensin, menciptakan
desain rumah serta penggunaan bahan bangunan yang hemat energi serta ikut menjaga
kelestarian lingkungan sekitar, hutan dan polusi udara. Partisipasi masyarakat yang
sekecil apapun jika dilakukan secara global akan memberikan arti yang cukup besar
dalam mengurangi pemanasan global.
Kata kunci: Perubahan iklim, efek gas rumah kaca.
Abstract
The 2001 Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) report estimates with a high
degree of confidence several impacts of climate change in tropical Asia. The report
predicts that climate change will increase tropical Asian countries vulnerability to extreme
climate events, particularly the risk is high in flood prone areas even in dry seasons.
During the past century humans have substantially added to the amount of greenhouse
gases in the atmosphere by burning fossil such as coal, natural gas, oil and gasoline to
power our cars, factories, utilities and appliances. The added gases primarily carbon
dioxide and methane are adding the natural greenhouse effects, and are likely to
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
79
contributie to the increase of global average temperature and related climate changes.
We have know this since 20 year ago and thus. we must act now to prevent it from
happening. Warmer the earth’s atmosphere, floods, sea level rises, climate change,
cyclones, and waterborne disease become more frequent or intensive which is the impact
of climate changes. Leading Corporations are partnering with WWF (World Wild Fund) to
establish ambitious targets to reduce their greenhouse gas emissions voluntarily through
upgrading and replacing the production equipments with energy alternativs such as wind,
biomass, geothermal etc. The benefit around $ 100 million, this is a good prospect for
the missions target to reduce 10 ton emission CO2 per year in 2010 which is equivalent
with 10 million car in operation on the road. What can we do? We have to start by
making small changes in our home and surroundings through economizing the use of
electric, water, fuel, create the eco housing and use eco building materials and active
participation in controlling our environmental, forest and air pollution. Small community
participation in global action can the global warming effects.
Key words; climate change, green house effects
PENDAHULUAN
Isu utama dalam beberapa rubrik media
pada saat ini adalah, pemanasan global
(global warming) atau perubahan iklim
(Climate change). Salah satu badan atau
lembaga antara pemerintah untuk
perubahan
cuaca
(Intergovernment
Panel on Climate Change) dalam
laporannya (The physical Science Basis
’2007) dan Al Gore pada penyerahan
penghargaan
Nobel
secara
tegas
menyebutkan, peningkatan emisi gas
rumah kaca (GRK)
menjadi faktor
utama penyebab pemanasan global
yang disebabkan ulah manusia, dimana
terjadinya peningkatan suhu bumi
dengan level yang sudah membahayakan dengan kenaikan antara 1º – 3º C
dan sudah merupakan isu yang
mendasar (basic need) bagi seluruh
dunia. Terbukti dengan meningkatnya
suhu di atmosfer, meningkat pula
jumlah angin topan di beberapa wilayah,
naiknya permukaan air laut (sea level
rises) selain juga penguapan air (berlebihan) yang mengakibatkan kekeringan.
80
Kesepakatan untuk mengurangi gas
rumah kaca yang telah beberapa kali
dilakukan sejak 22 tahun lalu, mulai dari
Konvensi Wina (1985) yang mengakui
kerusakan lapisan ozon merupakan
masalah
paling
berbahaya
yang
berdampak global. Tahun 1987 ditindak
lanjuti dengan penandatanganan The
Montreal Protocol untuk penghapusan
penggunaan zat perusak lapisan ozon
(ODS) secara global ( Indonesia sudah
ikut). Tahun 1992 meratifikasi Wina
Convention dan Montreal Protocol) dan
Indonesia sepakat untuk menghentikan
bahan perusak ozon yang kemudian
dilanjuti dengan Kyoto Protocol.
United Nation Framework Convention on
Climate Change (UNFCCC) yang sedang
berlangsung di Bali diharapkan dapat
berdampak positif pada perubahan
perilaku manusia (diwakili oleh 200
negara), khususnya perilaku destruktif
terhadap lapisan ozon menjadi perilaku
yang bersahabat dengan lingkungan.
Mudah-mudahan dengan diselenggarakannya konperensi ini (conference of
Parties 13 di Bali) Indonesia dapat
menjembatani negara maju dan berJurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
kembang
dalam
menegosiasikan
kesepakatan untuk mengurangi emisi
gas rumah kaca, terutama negaranegara industri seperti Amerika yang
mengemisi
karbondioksida
(CO2)
sebanyak 36.1% dari total emisi negaranegara maju lainnya. Alasannya adalah,
pengurangan emisi CO2 akan menghambat
pertumbuhan
ekonomi
negaranya.
Terlepas dari usaha-usaha yang sedang
dilakukan oleh pemerintah, ternyata
beberapa produsen barang jadi sudah
mulai berupaya mengurangi emisi CO2
dengan melakukan berbagai perubahanperubahan cukup dramatis, terutama
dalam penggunaan bahan bakar minyak
dan sistem produksinya.
Hal ini tentu merupakan tantangan bagi
negara berkembang lainnya terutama
Indonesia, dimana penebangan hutan
sangat besar terkait dengan deforestasi
yang menjadi salah satu penyebab
terjadinya pemanasan bumi (global
warming).
Kemajuan teknologi yang memanjakan
manusia
serta
kemudahan
untuk
mendapatkannya
menjadikan
kita
masyarakat
konsumtif.
Hal
ini
berdampak pada penggunaannya yang
tidak terkendali, mulai dari penggunaan
bahan bakar untuk kegiatan domestik
secara langsung (bahan bakar untuk
transportasi seperti mobil, motor dll)
serta penggunaan secara tidak langsung
seperti penggunaan listrik untuk mesin
cuci, TV, Radio, AC, lemari es dan
kegiatan lain.
Energi listrik yang digunakan oleh
masyarakat berasal dari pusat listrik
(power plant) yang juga menggunakan
bahan bakar sebagai sumber energinya
seperti, batu bara, air, uap, diesel dll.
Semua energi tersebut memberikan
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
sumbangan emisi CO2 ke planet yang
kita tempati ini.
Permasalahannya adalah; Energi yang
digunakan untuk keperluan manusia
sehari-hari
dan
kalangan
industri
menggunakan bahan bakar fosil (minyak
bumi, gas dan batubara) sedangkan
energi lain yang ramah lingkungan
belum dimanfaatkan.
Pertanyaannya
adalah,
bagaimana
masyarakat dapat berpartisipasi dalam
mengurangi emisi CO2 secara serius
dengan
berlaku
bijak,
supaya
dampaknya tehadap manusia tidak
berimbas ke sisi-sisi lain seperti ekonomi
dan politik sebagai global citizen.
Dengan dimulai dari lingkungan sendiri
atau secara nasional dampak yang lebih
besar dapat dicegah minimal dikurangi.
TERJADINYA PEMANASAN BUMI
Pemanasan
bumi
disebut
juga
pemanasan global, yang diakibatkan
oleh kerusakan ozon (O3) yang terus
meningkat. Kerusakan ozon yang dipicu
oleh kian tingginya konsentrasi gas
rumah kaca (GRK) di atmosfer,
mengatrol temperatur bumi yang
diprediksi mencapai 1º - 3º Celsius.
Kerusakan ozon yang tinggi di atmosfer
(stratosfer) berpotensi mengubah pola
cuaca secara ekstrim dan perubahan
iklim.
Peningkatan gas rumah kaca (GRK)
seperti CO2, metana, dinitro oksida dan
CFC (Chlorofluorocarbons) dihasilkan
dari penggunaan bahan bakar minyak
seperti,
alat
untuk
transportasi,
pembangkit listrik, styrofoam, perlengkapan kosmetika dan perusakan hutan.
Disamping itu juga penggunaan AC yang
mengandung klorin (CFC) dimana sudah
menjadi kebutuhan pada
mobil,
ruangan dalam rumah, hotel, kantor,
81
bioskop, rumah sakit dll, kian memperburuk efek rumah kaca dan
mencederai lapisan ozon.

Abad
industrialisasi
ikut
merusak
keseimbangan
atmosfer,
karena
mengeluarkan milyaran ton gas karbon
ke udara yang dilakukan oleh negaranegara industri dan berjuta-juta ton gas
metana disemburkan dari eksplorasi gas
bumi. Akhirnya udara atmosfer menjadi
perangkap panas yang bermetamorfosa
menjadi selimut rumah kaca yang
menyekap panas sinar matahari dan
mendorong naiknya panas bumi.
EFEK GAS RUMAH KACA

Gas rumah kaca dianggap sebagai
penyebab utama perubahan iklim atau
pemanasan global.
Menurut para ahli, ini disebabkan
meningkatnya gas karbon dioksida dan
partikel polutan lainnya di atmosfer
bumi, yang diibaratkan selimut-selimut
gas tersebut menghalangi energi panas
yang dipantulkan kembali oleh bumi ke
ruang angkasa.
Beberapa efek dari gas rumah kaca
adalah sebagai berikut;
 Radiasi matahari
Sinar matahari merambat menembus
atmosfir. Sebagian diserap permukaan bumi dan sebagian lagi
dipantulkan ke angkasa. Panas sinar
matahari yang merambat sebesar
343 watt per m2 setara dengan 403
trilyun bola lampu 60 watt. Jumlah
panas yang diserap sebesar 168
watt per m2 atau setara dengan 197
trilyun bola lampu 60 watt.
Sedangkan
yang
dipantulkan
sebesar 103 watt per m2 setara
dengan 121 trilyun bola lampu 60
watt.
82

Radiasi infra merah
Panas matahari yang dipantulkan
terperangkap di dalam atmosfir,
yang mengakibatkan permukaan
bumi mengalami perubahan suhu
dan semakin panas karena radiasi
infra merah. Pembakaran bahan
bakar fosil seperti batu bara, minyak
bumi dan gas alam yang melepas
karbon dioksida (CO2) dan gas-gas
lainnya mengakibatkan emisi gas
rumah kaca (GRK) ke atmosfir yang
semakin kaya dengan gas-gas
rumah kaca akan menjadi insulator
yang menahan lebih banyak panas
matahari yang dipancarkan ke bumi.
Efek umpan balik
Efek-efek dari agen penyebab
pemanasan global juga dipengaruhi
oleh berbagai proses umpan balik
yang dihasilkannya. Apakah ini akan
mengurangi atau meningkatkan gas
rumah kaca. Umpan balik hanya
dapat dibalikkan secara perlahanlahan, karena CO2 memiliki usia
yang panjang di atmosfir. Tanpa
umpan
balik,
manusia
akan
merasakan jumlah CO2 yang lebih
besar di atmosfer akibatnya, terjadi
peningkatan temperatur bumi ratarata naik 1.2º Celsius.
Uap air
Pada kasus pemanasan akibat
bertambahnya gas-gas rumah kaca
seperti CO2, pemanasan pada
awalnya akan menyebabkan lebih
banyaknya air yang menyerap ke
atmosfer. Karena uap air sendiri
merupakan
gas
rumah
kaca,
pemanasan akan terus berlanjut dan
menambah jumlah uap air di udara
hingga tercapainya suatu keseimbangan konsentrasi uap air. Efek gas
rumah kaca yang dihasilkannya lebih
besar dibandingkan oleh akibat gas
CO2 sendiri. Umpan balik ini
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008

meningkatkan
kandungan
air
absolut di udara sehingga kelembaban relatif udara hampir konstant
atau bahkan lebih menurun karena
udara menjadi penghangat.
Laut es
Umpan balik penting lainnya adalah
hilangnya kemampuan memantulkan
cahaya (albedo) oleh es. Ketika
temperatur global meningkat, es
yang berada di dekat kutub mencair
dengan kecepatan yang terus
meningkat.
Bersamaan
dengan
melelehnya es tersebut, daratan
atau air di bawahnya akan terbuka.
Baik daratan maupun air memiliki
kemampuan memantulkan cahaya
lebih sedikit dibandingkan dengan es
dan akibatnya akan menyerap lebih
banyak radiasi matahari. Hal ini
akan menambah pemanasan dan
menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair yang akan menjadi
suatu siklus yang berkelanjutan.

Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan
tersebut akan memantulkan sinar
matahari dan radiasi infra merah ke
angkasa, sehingga meningkatkan efek
pendinginan. Efek nettonya pemanasan
atau pendinginan tergantung pada
beberapa detail-detail tertentu seperti
tipe dan ketinggian awan tersebut
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
DARI GAS RUMAH KACA

Awan
Efek-efek umpan balik karena
pengaruh awan sedang menjadi
objek penelitian saat ini. Bila dilihat
dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke
permukaan
sehingga
akan
menaikkan efek pemanasan.
Beberapa radiasi
matahari
dipantulkan oleh
bumi dan atmosfer
Beberapa radiasi dari inframerah lewat
melalui atmosfer dan sebagian
terserap dan dipancarkan ke segala
arah oleh molekul gas rumah kaca.
Efeknya terjadinya pemanasan di
permukaan bumi dan di bawah
atmosfer
Radiasi
matahari lewat
atmosfer yang
bersih
Permukaan bumi
menjadi panas karena
menyerap seluruh
radiasi
Radiasi infra merah hilang dari
permukaan bumi
Gambar1. Efek rumah kaca
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )

Keuntungannya:
Pada kondisi normal, efek rumah
kaca
adalah
”baik”
karena
memberikan kehangatan kepada
bumi. Manusia dan makhluk lainnya
dapat
hidup
di
muka
bumi
sebetulnya atas jasa dari efek rumah
kaca. Bisa dibayangkan jika tidak
ada rumah kaca, bagian bumi yang
tidak terkena sinar matahari akan
menjadi sangat dingin dengan
temperatur seperti di dalam lemari
es (-18ºC).
Rumah kaca sudah ada sejak jaman
dahulu, seiring dengan proses
terbentuknya bumi sehingga manusia
bisa hidup di dalamnya.
Kerugiannya:
Jika kandungan gas-gas di atmosfer
bumi semakin meningkat, akan
mengakibatkan
bumi
semakin
panas. Akibatnya akan terjadi
pencairan es di daerah kutub yang
akan
menyebabkan
naiknya
permukaan air laut, yang akan
menenggelamkan sebagian daratan
tempat manusia dan makhluk darat
lainnya hidup. Ini akan sangat
berdampak bagi Indonesia yang
merupakan
negara
kepulauan
dimana kota-kota tepi pantainya
(coastal
cities), banyak yang
tingginya kurang dari 1 meter.
Akibat naiknya permukaan air laut
maka air sungai tidak dapat
83
mengalir
ke
laut
dan
akan
menyebabkan banjir di daratan.
Hal yang sangat merugikan adalah,
Indonesia merupakan negara agraris
yang dengan adanya perubahan
iklim, akan mengganggu pola tanam
pada produksi pertanian disamping
juga timbulnya penyakit tropis yang
semakin
bertahan
di
daerah
endemik atau ada kemungkinan
daerah endemik baru akan muncul.

Pertanian
Terjadinya pergeseran musim dan
perubahan
pola
hujan
yang
menyebabkan terlambatnya panen.

Kehutanan
Peningkatan suhu yang cukup lama
menyebabkan panjangnya musim
kemarau di sekitar lingkungan hutan
dan
mengakibatkan
kebakaran
hutan (daerah gambut) yang cukup
luas.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Bagi Indonesia dampak perubahan iklim
bukan lagi sebatas wacana tetapi sudah
menjadi kenyataan dengan sering
terjadinya bencana banjir, kekeringan,
curah hujan yang tinggi, pasang air laut
dll. Beberapa dampak lain adalah;
 Temperatur
Temperatur akibat dari gas rumah
kaca yang semakin panas akan
berdampak pada perubahan iklim
yang akan mengganggu pola tanam
pada produksi pertanian. Selain itu
juga timbulnya penyakit tropis yang
semakin
bertahan
di
daerah
endemik bahkan daerah endemik
baru akan muncul.

Wilayah pantai
Merusak ekosistem laut, menurunkan produksi ikan dan udang serta
mengancam kehidupan masyarakat
pesisir pantai dimana akibat dari
abrasi, garis pantai akan lebih
menjorok ke darat.
Perkembangan tanah berpaya (tepi
laut) terhadap naiknya muka air laut
dapat dilihat pada gambar 2 di
bawah ini.
Saat ini
5000 thn yang lalu
M.A.L (baru)
M.A.L
Tanah paya hilang sejalan
dengan rumah yang berpindah
M.A.L (lama)
Tanah paya hilang jika rumah sudah
dilindungi oleh tanggul penahan air laut
M.A.L masa depan
M.A.L (lama)
Sedimentasi
Tumbuhan
rawa
Gambar 2. Hilangnya daerah pesisir akibat naiknya muka air laut
84
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008

Permukaan air laut
Air laut naik setinggi 1.8 mm pertahun pada tahun 1960-2003 dan
meningkat menjadi 3.1 mm pertahun pada tahun 1993-2003 karena
pencairan salju, es di Arktik dan
pegunungan gletser. Diperkirakan
peningkatan suhu yang merata
antara 0,15˚ - 0,30˚ C di seluruh
bagian bumi selama tahun 1990 –
2005 yang kemungkinan berlanjut,
pada tahun 2040 Indonesia akan
kehilangan 2000 pulau.

Kesehatan
Peningkatan
frekuensi
penyakit
tropis (demam berdarah, malaria)
karena naiknya suhu udara yang
menyebabkan masa inkubasinya
pendek dan mengakibatkan berkembang biaknya nyamuk.
Berkembangnya penyakit pernapasan akibat polusi udara dari bahan
bakar kendaraan yang beroperasi.

Habitat
Akan terjadi pergantian beberapa
spesies flora dan fauna bahkan
sebagian akan terancam punah dan
keaneragaman hayati akan hilang.
POSISI INDONESIA DI DALAM
KONTRIBUSI EMISI CO2
Berdasarkan data dari World Resources
Institute 2003, Indonesia masuk pada
deretan ke 18 penghasil emisi CO2 di
dunia.
Di bawah ini disebutkan emisi CO2 yang
dihasilkan oleh negara-negara di dunia:
Tabel 1. Emisi Karbon Dioksida PerKapita Per Negara
Rank
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Countries
United states
China
Russia
Japan
India
Germany
United Kingdom
Canada
Italy
Mexico
France
Ukraine
South Africa
Australia
Brazili
Spain
Poland
Indonesia
Amount
5,762,050
3,473,600
1,540,360
1,224,740
1,007,980
837,425
558,225
521,404
446,596
385,075
363,484
348,357
344,590
332,377
327,858
304,882
303,778
286,027
Sumber: World Resources Institute 2003.
Gambar 3. Pengukuran gas karbon monoksida
dari knalpot kendaraan

Sumber air
Akibat kenaikan air laut akan
memperburuk kualitas air
tanah
karena
terjadi
intrusi
atau
perembesan air laut yang semakin
luas. Diprediksi pada tahun 2070,
50% dari masyarakat dunia tidak
lagi memiliki sumber air minum.
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
Dari tabel diatas terlihat bahwa,
penyumbang emisi CO2 terbesar adalah
negara-negara industri.
Pada KTT iklim di Nairobi 2006,
Indonesia termasuk negara no 3
penyumbang emiter CO2 di dunia, yang
turut
memberikan
kontribusi
ke
pemanasan global. Kedudukan Indonesia
naik dari peringkat 21 ke peringkat 3 di
bawah USA (no-1) dan China (no-2)dan
ini
terjadi
ketika emisi CO2 dari
85
kebakaran
lahan
gambut
di
perhitungkan.
Perhitungan
Delft
Hidraulics
Belanda
dan
Wetlands
International memperkirakan sekitar
2000 juta ton CO2 diemisikan ke udara
per tahun akibat dari kebakaran dan
konversi
lahan
gambut.
Padahal
berdasarkan konvensi perubahan iklim,
Indonesia termasuk ke dalam negara
non-Annex I yang artinya, tidak terlalu
bertanggung jawab dalam mengurangi
emisi CO2 karena, jumlah emisinya kecil
yaitu 0,4%.
Namun demikian Indonesia perlu lebih
memperhatikan kebakaran gambut yang
selalu terjadi setiap tahun yang
umumnya mengganggu daerah sekitar
bahkan sampai ke negara tetangga.
USAHA - USAHA MENGURANGI
EMISI CO2 OLEH PRODUSEN DI
NEGARA MAJU
Beberapa produsen besar di dunia
bekerjasama dengan World Wild Fund
(WWF), sudah mulai melakukan usaha
dengan memobilisasi perusahaannya
dalam rangka mengurangi emisi CO2
(carbon dioxide) dari produk yang
dihasilkan. Targetnya adalah, pada
tahun 2010 emisi CO2 dapat dikurangi
sebesar lebih dari 10 ton per-tahun atau
setara dengan 2 juta mobil yang sedang
beroperasi di jalan.
Dengan peng-efisiensian itu perusahaan
dapat menghemat $ 100 juta sehingga
selain
ikut
mencegah
kerusakan
lingkungan, diharapkan menimbulkan
iklim yang sehat dalam berusaha.
Beberapa produsen (pabrik) di negaranegara maju tersebut adalah,
 Johnson-Johnson
Perusahaan ini merupakan ke dua
terbesar di Amerika. Bekerjasama
dengan WWF membuat kesepakatan
86

untuk mengurangi gas rumah kaca,
menjadi kurang dari 7% pada tahun
2010 berarti di bawah level tahun
1990 (7%).
Perusahaan ini menggunakan tenaga
matahari (solar photovoltaic energy)
serta tenaga angin pada tahun
2005. Energi ramah lingkungan
seperti tenaga surya, angin, low
impact hydro dan energy yang dapat
diperbaharukan (renewable) hampir
30% digunakan. oleh perusahaanperusahaan di Amerika (berbeda
dengan di Eropa yang hanya
setengahnya menggunakan tenaga
ini).
Banyak inovatif teknologi dihasilkan
dalam pengembangan energi untuk
fasilitas cabang perusahaannya di
seluruh dunia. Di perusahaan
farmasi Alza (Mountain View,
California) gas methane dikumpulkan dari tanah urugan lokal dan
digunakan untuk pembakaran yang
menghasilkan 3 megawatt power
sehingga mengurangi 7000 ton
metrik carbon dioxide per tahunnya.
Dalam masa 10 tahun perusahaan
dapat menghemat $30 juta.
IBM
Dari tahun 1990 sampai 1997
perusahaan
ini
sudah
dapat
mengurangi emisi CO2 sebesar 20%
atau menghemat $115 juta. Tahun
1998 mengurangi emisi CO2 sebesar
1.28 juta ton atau setara dengan
51.600 mobil yang beroperasi di
jalan.
Penghematan
diperoleh
dari
berbagai proyek termasuk pemasangan mesin otomatis detektor untuk
penerangan kamar mandi (bath
room), ruang copi (copier room),
sistem pendingin, (cooling system),
penjernihan air sistem pompa di
dalam produksinya.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Perusahaan ini mengeluarkan biaya
sebesar 132.000 megawatt hour
untuk energi ramah lingkungan dan
akan meningkat 200.000 megawatt
per hour pada tahun 2006.
Pengurangan emisi CO2 mencapai
103.000 ton metrik.

Xanterra
Pengurangan
emisi
CO2
dari
perusahaan ini turun sebesar 50%
dari tahun 1994 sampai 2004.
Perusahaan iini bergerak di bidang
perhotelan, perumahan, penyewaan
rumah, restoran dan beroperasi di
18 negara bagian di Amerika.
Perusahaan ini menggunakan energi
rendah emisi sebesar 6.011.723
kilowatt hour dengan menggunakan
energi
angin,
matahari
dan
geothermal.
Yang telah dilakukan adalah,dengan
mengadakan perubahan-perubahan
darimulai jenis bahan bakar yang
digunakan (bahan bakar minyak ke
propane sejenis metane), program
strategi konservasi, sistem pengontrolan, energi dalam ruangan hotel dan
fasilitasnya termasuk penggantian
27.000 sistem penerangan.


Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
Nike
Perusahaan ini bergabung dalam
program pengurangan emisi CO2
tahun 2001. Target yang dicapai
adalah 13% dari produksi dan bisnis
travelnya pada tahun 2005.
Nike menggunakan energi rendah
emisi kurang lebih 20% dari semua
energi yang digunakan dalam
pengoperasian perusahaannya. Di
Eropa Nike mengoperasikan 6 turbin
yang digerakan angin, dengan
kapasitas sebesar 2 juta feet metrik
bekerjasama dengan perusahaan
listrik lokal (local power supplier).
Untuk mengganti biaya tadi, Nike
mengambil dari business lain yaitu
kerjasama
dengan
perusahaanpenerbangan pengangkut produk
(air carriers), perusahaan rental
mobil (rental car companies),
departemen energi dan pasar eceran
karbon dioksida.
Polaroid
Dari tahun 1994 sampai 2004
perusahaan ini telah mengurangi
emisi CO2 sebesar 50%.
Ketika Polaroid kerjasama dalam
program pengurangan emisi CO2,
mereka
mentargetkan
dapat
mengurangi emisi CO2 sebesar 25%
dibawah level 1994 pada tahun
2010. Pada tahun 2004 telah
dikurangi sebesar 14% kurang lebih
hampir 50% di bawah garis ambang
1994.
Cara yang ditempuh adalah dengan
memperbaharui atau mengganti
kompresor (compressors), sistem
penyejuk
(Chilllers),
sistem
penguapan
(boilers),
sistem
pamanas air (hot water system),
sistem
penerangan
dan
penggeraknya (lighting), membeli
energi rendah emisi dan mengganti
bahan
bakar
minyak
serta
membersihkan semua peralatan
produksi.

Catalyst
Produsen kertas ini merupakan
perusahaan terkemuka dalam kertas
printing mekanik yang dipakai untuk
direktori, majalah, katalog dan
kertas koran di Amerika dan di
seluruh dunia dan sampai saat ini
telah mengurangi emisi CO2 sebesar
71% di bawah level 1994.
Yang dilakukan adalah, merubah
energi yang digunakan dari bahan
bakar minyak ke bahan biomass.
Sejak tahun 2002 telah dilakukan
pengurangan emisi CO2 sebesar
46% yang sebanding dengan
87
690.000 barel minyak. Ini berarti
penghematan sebesar $13 juta.
Catalyst berharap dapat menghemat
lagi $4 juta dengan mengurangi
penggunaan listrik sebesar 2% di
tahun 2006.

Lafarge
Perusahaan ini merupakan penghasil
bata
semen.
Dengan
75.000
karyawan di 75 negara termasuk
16.500 karyawan yang ada di
Amerika
Lafarge
merupakan
perusahaan bata semen terbesar di
dunia.
Sejak
tahun
1990
pengurangan emisi sudah mencapai
12.7% dan diharapkan mencapai
20% pada 2010.
Perusahaan ini juga telah melakukan
pengurangan absoluts gross emissions
di beberapa anak-anak perusahaan
sebesar 8.3%.
Yang dilakukan adalah, memperbaiki
alat untuk lebih mengefisiensikan
energi yang dipakai pada pabrik
semen, dengan melakukan substitusi
abu terbang (fly-ash) dan slag.
Yang dilakukan adalah merubah
penggunaan bahan bakar minyak
ke bahan limbah (limbah industri,
ban, minyak, plastik dan bahan
pelarut) serta biomass (sekam padi,
kulit kopi dan makanan ternak).
Selain
itu
juga
mendanai
penggunaan
tenaga
angin
di
Maroko, limbah dari kelapa sawit di
Malaysia, Kenia, Uganda, Brazil, dan
Philipina.

The Collins Companies
Perusahaan
ini
bergerak
di
bidang perkayuan dan berusaha
untuk mengurangi emisi CO2
sebesar 15% dibawah level 1990
pada tahun 2009 dimana sekarang
ini telah mencapai 11.7% (sesuai
dengan rencana).
88

Sesuai dengan kesepakatan dalam
program pengurangan emisi CO2,
perusahaan baru maupun maupun
yang sudah ada telah digunakan
energi yang ramah lingkungan
(environmentally
friendly)
dan
energi yang efisien sehingga dapat
menghemat $5 juta.
Sejumlah proyek baru juga telah
menggunakan energi dan bahan
yang ramah lingkungan termasuk
dalam penggunaan produk jadi,
dengan merubah formula resin yang
digunakan dalam produknya serta
mengurangi
jumlah
angkutan
truknya dengan sistem transportasi
yang
lebih
baik.
Perubahan
dilakukan pula pada penggunaan
lampu penerangan di banyak lokasi,
mengganti
motor-motor
listrik
dengan motor yang lebih efisien dan
mengurangi penggunaan listrik.
Penggunaan
biomass
secara
komputerisasi ikut mengurangi emisi
CO2 secara signifikan.
Transport Communication
Sagawa
Sebagai perusahaan yang bergerak
di bidang
pengiriman barang
(delivery company) mereka telah
menghemat dan mengurangi emisi
CO2 dengan mengurangi/membuang
jumlah kendaraan yang tidak
terpakai.
Perusahaan
ekspedisi
Sagawa Ekspres adalah perusahaan
terbesar di Asia dan sudah sepakat
mengurangi emisi CO2 sebesar 6%
dibawah level 2002 pada tahun
2012,
dengan
memperkenalkan
7.000 kendaraan transport baru
yang menggunakan gas alam yang
dikempa (Compressed Natural Gas
atau
CNG).
Perusahaan
Ini
merupakan perusahaan transportasi
yang pertama kali kerjasama dalam
program pengurangan emisi CO2.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Tahun
2005
perusahaan
ini
memperkenalkan 2.600 kendaraan
dengan bahan bakar CNG. Untuk
mendukung programnya perusahaan ini membangun 6 stasiun gas
alam untuk kendaraan yang menggunakan bahan bakar CNG dan
memperkenalkan pembakaran generasi
sistem pembakaran tenaga matahari.
Sagawa telah mengurangi sebanyak
2.49% emisi CO2 pada tahun 2004
atau menghemat 10.000 liter bahan
bakar setiap tahun yang
setara
dengan
bahan
bakar
yang
digunakan untuk 560 truk tangki.
Jika dihitung dengan uang sekitar
dapat menghemat $5.413.066 (700
juta yen) setiap tahun.


sepakat mengurangi emisi CO2 yang
sejak tahun 2002 sudah mengurangi
penggunaan energi yang dibutuhkan
sebanyak 15% dari kebutuhan untuk
setiap paket, di 53 perkebunan
seluruh dunia. Selama 5 tahun mendatang berusaha untuk mencapai
10% dengan memperbaiki dan
mengganti energi yang sudah dipakai dan menambah penggunaan
energi yang dapat diperbaharukan
(renewable energy).
Hasilnya
Tetra
Pack
dapat
mengurangi dampak dari perubahan
iklim (climate change) sebesar 10%
dari tanaman yang tumbuh. Pengiriman makanan dilakukan dalam
keadaan bersih dan sehat, efisien
serta aman
sehingga banyak di
konsumsi oleh pembeli di seluruh
dunia karena bebas hama penyakit.
Novo Nordisk
Sebagai perusahaan farmasi mereka
sepakat untuk mengurangi emisi
CO2 sebesar 10%. Perusahaan ini
banyak
bergerak
dibidang
penanggulangan penyakit diabetes
dan telah sepakat untuk mengurangi
emisi
CO2
dari
pengolahan
produknya sebanyak 10% dibawah
level 2004 pada tahun 2014. Dalam
program pengurangan emisi CO2
Novo Nordisk berusaha untuk
mencapai 67% selama beberapa
periode.
Pengurangan
dilakukan
dengan
mencampur energi efisien dengan
hasil proyek energi yang dapat
diperbaharukan yang dilaksanakan
oleh Novo Nortdisk.
Tetra Pack
Tetra Pack merupakan perusahaan
yang bergerak di bidang perbelanjaan (supermarket) dengan karyawan
sebanyak 20.000 orang. Sebagai
perusahaan
terkemuka
dalam
pengolahan makanan, pengepakan
dan sistem distribusi, perusahaan ini
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )

Sony
Sony
merupakan
perusahaan
elektronik terkemuka akan berusaha
mengurangi emisi CO2 sebesar 7%
pada 2010 lebih dari yang sudah
dilakukan sebesar 2.183.765 tons
metrik pada tahun 2000. Sony
bermaksud menggunakan energi
yang efisien pada semua fasilitas
peralatan produknya dan mengganti
dari bahan bakar minyak ke bahan
bakar yang dapat diperbaharukan
atau gas alam. Dilakukan juga
penggantian beberapa produk yang
banyak menimbulkan emisi CO2
dengan menggunakan bahan bakar
yang lebih ramah lingkungan di
cabang-cabang perusahaan yang
ada di Japan, China, Eropa dan
Amerika.
Karyawan-karyawan Sony mendukung
program ini dan diharapkan dapat
menjaga kondisi temperatur bumi
dibawah ambang batas 2ºC.
89
BEBERAPA
TEMUAN
DAPAT DIMANFAATKAN
YANG
Problematika pemanasan global telah
menjadi agenda masyarakat dunia tak
terkecuali Indonesia. Sejauh ini, pola
pembangunan yang menjadi acuan
pelbagai negara khususnya negaranegara utara adalah,
peningkatan
kapasitas produksi dan perluasan pasar
ekonomi, dengan menihilkan efek
destruktif yang ditanggalkan atas
lingkungan hidup. Walaupun demikian
sebagian besar negara industri sebagai
penyumbang terbesar dalam emisi CO2
telah mulai merubah sistem atau
teknologi dengan memanfaatkan bahan
alternatif yang ramah lingkungan.
Sementara
masyarakat
Indonesia
sampai saat ini masih beraktifitas
dengan menggunakan bahan bakar
energi fosil, belum lagi penebangan dan
kebakaran kayu baik yang dilakukan
dengan sengaja maupun tidak sengaja
dimana Indonesia memainkan peranan
penting, dengan hutan tropisnya yang
merupakan salah satu paru-paru dunia
terbesar.
Mengapa ini Tejadi?
Lebih dari separuh penduduk Indonesia
ternyata tidak menyadari masalah
ancaman pemanasan global (global
warming), padahal tanpa disadari
bencana yang akhir-akhir ini banyak
terjadi
banyak
diakibatkan
oleh
pemanasan global.
Hasil polling yang dilakukan oleh Roy
Morgan Research, survei sindikasi
terbesar di Indonesia dengan lebih dari
27,000 responden per tahun, mewakili
90%
dari
populasi
Indonesia
mengungkapkan hasil sebagai berikut;
Dari sejumlah responden umur 14 tahun
ke atas di 16
provinsi terbesar
Indonesia,
ketika
ditanya
apakah
90
pemanasan global merupakan ancaman
bagi lingkungan, sebanyak 68 juta orang
menjawab ”Ya” dan hanya 8 juta orang
yang menjawab ”Tidak”. Namun di luar
angka ini ada sebanyak 64 juta orang
yang menjawab ”Tidak tahu” dan
berdomisili di pulau Jawa, yang memang
merupakan pulau terpadat.
Bahan Bakar Penyebab Utama
Konstribusi terbesar dari gas rumah kaca
yang komposisi terbesarnya terdiri dari
Nitrogen (78%), Oksigen (21%) dan
Uap air (3%), diakibatkan oleh
pemakaian bahan bakar fosil seperti
batu bara, gas dan minyak bumi.
Ketiga jenis bahan bakar tersebut
sekarang ini merupakan bahan bakar
yang paling murah dibandingkan dengan
energi lain sehingga pemakaiannya
setiap tahun meningkat apalagi setelah
terjadinya revolusi industri. Konsekwensinya jika kadar gas polutan (CO2, CH4,
O3, NOx, dan CFC) di udara melebihi
ambang batasnya, Iklim global akan
berubah.
Penggunaan batubara pada pembangkit
listrik akan menghasilkan emisi yang
cukup besar, disamping juga kerusakan
lingkungan yang ditimbulkan.
Oleh karena itu mengganti penggunaan
batubara atau diesel menjadi gas, bisa
menghasilkan penurunan emisi GRK
yang signifikan.
Bahan Bakar Alternatif
Beralih menggunakan sumber energi
terbarukan bisa mengurangi emisi GRK
dalam jumlah yang lebih besar. Dengan
semakin tingginya harga minyak bumi,
sumber energi terbarukan menjadi
pilihan yang semakin menarik.
Beberapa bahan alternatif yang sudah
dan banyak digunakan adalah; tenaga
matahari (solar photovoltaic energy),
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
tenaga angin, propane sejenis metane,
geothermal, gas alam yang dikempa
(Compressed Natural Gas atau CNG),
bahan limbah (limbah industri, ban,
minyak, plastik dan bahan pelarut) serta
biomass (sekam padi, kulit kopi dan
makanan ternak).
Penggunaan bahan alternatif ini masih
tergolong mahal karena perlu modifikasi
peralatan.
Sejauh ini, kesukaran mereduksi emisi
berlebih disebabkan oleh keengganan
negara-negara industri besar dalam
mengurangi pembakaran minyak bumi
bagi keberlangsungan perekonomian
mereka. Hal ini tak sebanding dengan
pola pembangunan di negara-negara
berkembang padahal, berkurangnya
perubahan iklim hanya dapat teratasi
melalui usaha global.
Oleh karena itu, dekarbonisasi menjadi
hal yang mungkin untuk diterapkan di
negara-negara industri maju sambil
mendorong negara-negara berkembang
meningkatkan kapasitas pembangunan
yang ramah lingkungan. Hal ini harus
dilakukan
tanpa
mengesampingkan
kesejahteraan dan keberlanjutan hidup
warganya.
Dekarbonisasi sangat
potensial bagi
negara - negara berkembang, terutama
daerah yang memiliki nilai efisiensi tinggi
dan produktif, baik dari segi ekonomis
maupun ekologis. Penghematan biaya
dari efisiensi energi dapat digunakan
untuk
mendorong
pengembangan
teknologi terpadu energi terbarukan.
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
BEBERAPA USAHA YANG DAPAT
DILAKUKAN
DALAM RANGKA
IKUT MENGURANGI EMISI CO2
Merubah Penggunaan Bahan Bakar
Pembangkit Tenaga Listrik
 Listrik sebagai energi utama dalam
kehidupan masyarakat harus dapat
diproduksi dengan bahan bakar
yang lebih ramah lingkungan,
sehingga
penggunaan batubara
perlu pertimbangan lingkungan dan
mendapat porsi yang seimbang
dengan ekonomi dalam rencana
pembangunan (Nasrullah Salim,
peneliti energi
Indonesia).


Yayasan
Pelangi
Sebagai contoh, untuk tiap MWh
listrik
yang
dihasilkan,
oleh
pembangkit batubara menghasilkan
934 kg CO2, maka total emisi CO2
yang dihasilkan tidak kurang dari 21
juta ton setiap tahunnya.
Penggunaan
geothermal
untuk
pembangkit tenaga listrik akan lebih
menguntungkan karena Indonesia
memiliki 40% dari total potensi
geotermal dunia, yaitu 27 MW yang
tersebar di 151 lokasi, yang saat ini
baru
270
ribu
Watt
yang
dimanfaatkan.
Penelitian
pada
satu
industri
manufaktur di Cilegon menunjukkan,
mengubah penggunaan bahan bakar
diesel
ke
gas
alam
dapat
menurunkan emisi GRK pabrik
tersebut sebanyak 31%.
Biodiesel menjadi alternatif yang
perlu dipertimbangkan. Penggunaan
biodiesel yang sekarang mulai
berkembang untuk bahan bakar
transportasi,
tipe
B10
(10%
biodiesel, 90% diesel) juga bisa
digunakan sebagai bahan bakar
industri dan bisa mengurangi emisi
GRK
tanpa
perlu
modifikasi
peralatan.
91

Cara lain mengurangi emisi GRK
adalah partisipasi sektor industri
untuk mengefisiensikan penggunaan
listrik
sebanyak
11%
dengan
mengurangi listrik pada motor
dengan menggunakan teknologi
yang lebih efisien.
untuk mengoptimalkan masuknya
cahaya matahari yang masuk (untuk
penerangan) ke dalam ruangan
serta
memudahkan
pergantian
udara sehingga temperatur ruangan
sejuk. Selain juga menghemat
penghematan penggunaan lampu
dan alat penyejuk (AC) dll untuk
daerah panas. Desain ruangan
sesuai dengan fungsinya sehingga,
memudahkan mobilitas penghuni.
Kemiringan atap yang cukup,
dengan sudut lebih dari 30º, akan
memberikan
kondisi
ruangan
nyaman.
Jika rumah menggunakan penyejuk
atau pendingin (AC), periksa semua
bagian dinding bangunan terhadap
kebocoran yang mengakibatkan
udara luar masuk. Kebocoran akan
mengakibatkan penambahan tenaga
(power) dan energi yang dipakai.
Mengurangi Emisi dari Berbagai
Aktivitas Kita
 Melakukan sedikit perubahan pada
pola hidup di rumah dan di sekitar
lingkungan sendiri, kita dapat
membantu mengurangi gas rumah
kaca serta menghemat pengeluaran
uang belanja harian.
 Menggunakan
produk
dengan
teknologi hemat energi.


Membeli barang atau peralatan
rumah tangga selain bentuk yang
menarik
juga
harus
dilihat
spesifikasinya, terutama yang dapat
mengurangi emisi CO2 serta polusi
udara. Produk dari plastik bentuk
kemasan, kantong-kantong atau
peralatan alat rumah tangga lainnya
merupakan
bahan
yang
sulit
membusuk selain proses produksinya memerlukan energi yang tinggi.
Memelihara
peralatan
menggunakan energi listrik
Rumah
sebaiknya
direncanakan
selain kuat, indah, sehat tetapi
hemat energi (green house) dengan
bukaan untuk penerangan dan
sirkulasi udara (cross ventilation)
yang cukup. Maksudnya adalah,
92
bahan
bangunan
Gunakan bahan bangunan yang
tidak
menyerap
panas
pada
komponen atap atau dinding karena
penggunaan bahan
bangunan
seperti, seng, aluminium, asbes plat,
akan mengakibatkan panas di dalam
ruangan selain kandungan emisi
CO2 nya cukup besar.
Hasil penelitian di Korea menyatakan, bahwa jumlah emisi CO2 yang
dihasilkan dari beberapa bahan
bangunan yang umum dipakai
adalah sbb:
yang
Pemeliharaan peralatan secara rutin
seperti AC, pemanas air atau
peralatan lain yang menggunakan
peralatan tambahan seperti filter dll,
perlu dirawat dan dibersihkan
sehingga selalu berfungsi dengan
baik dan tidak menambah beban
pada waktu digunakan.
Desain rumah hemat energi
Penggunaan
rendah emisi

Tabel 2. Jumlah Emisi CO2 dari Bahan
Bangunan yang Umum Dipakai
No
1
2
3
4
Jumlah emisi CO2
yang dihasilkan
Kg – C/kg
Pasir
0.00049
Kerikil atau batu pecah
0.00173
utk beton
Batu pondasi
0.00095
Bata blok dari semen
0.01140
Nama bahan
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
No
5
6
7
8
9
10
11
Nama bahan
Beton siap pakai
Semen
Conblok
Asbestos semen
Kayu
Plywood
Genteng keramik
(berglasir)
12 Kaca
13 Besi
14 Ubin keramik
Jumlah emisi CO2
yang dihasilkan
Kg – C/kg
0.01245
0.22040
0.01900
0.01085
0.02624
0.19957
0.13111

Sumber :Seo dan Hwang(2001)
Pilihan sedapat mungkin di arahkan
pada bahan bangunan yang kecil
kandungan emisi CO2 nya, kecuali jika
belum ada bahan bangunan lain yang
dapat menggantikannya.
Sebagai contoh untuk;
- Dinding menggunakan bata atau
conblock,
- Lantai menggunakan beton tumbuk,
- Penutup atap menggunakan genteng keramik tidak berglasir,
- Pondasi menggunakan batu kali,
- Dinding pagar menggunakan bata
atau batako.
Bahan-bahan tersebut pada proses pengolahannya di pabrik tidak menggunakan energi yang tinggi.
 Memanfaatkan tenaga alam
Sumber tenaga dari alam seperti
angin dan matahari, sangat ramah
lingkungan sehingga pemanfaatannya
harus
dilakukan
secara
maksimal.
 Menghijaukan halaman rumah
Tanami halaman dengan tumbuhtumbuhan seperti rumput, bunga
atau pohon perdu sehingga dapat
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
Menggunakan air secara efisien
Penghematan air terutama air dari
PDAM sangat membantu dalam
penghematan energi yang dipakai
dalam pengolahan serta distribusinya. Bersihkan saluran air serta
kloset yang digunakan sehingga
berfungsi dengan baik. Saluran yang
tersumbat akan memerlukan banyak
air dalam operasinya.
0.22685
0.42559
0.20610
Dari tabel tersebut di atas terlihat
bahwa, besi, kaca, semen, plywood,
ubin
keramik,
genteng
keramik
(berglasir), menempati urutan tertinggi
dalam menyumbang emisi CO2.
menyerap panas dan air hujan.
Penataan halaman yang baik akan
menghemat energi, uang dan
menyeap emisi CO2 di lingkungan
sekitar.

Transportasi
Mengurangi penggunaan bahan
bakar untuk bepergian dengan
kendaraan pribadi jika tersedia alat
transportasi lain seperti sepeda.
Adaptasi terhadap
yang Terjadi
Perubahan
Perubahan iklim sudah mulai terjadi
dengan berbagai dampaknya dan kita
harus bisa menyesuaikan diri dengan
perubahan – perubahan yang
terjadi
sesegera mungkin. Perubahan pola
musim hujan dan kering dalam 10 tahun
terakhir yang semakin singkat dengan
intensitas lebih tinggi serta musim
kemarau yang semakin panjang, ikut
berperan meningkatnya insiden banjir
dan kekeringan di Indonesia. Untuk
beradaptasi, perlu dibuat pengelolaan
resapan
air
dengan
bendunganbendungan kecil di daerah hulu, untuk
menyimpan air sehingga mengurangi
risiko banjir di daerah hilir sekaligus
meningkatkan persediaan air di musim
kemarau.
Naiknya permukaan air laut berpotensi
menenggelamkan 50 meter daratan dari
garis pantai kepulauan Indonesia, yang
panjangnya 81.000 km. Diperkirakan
lebih dari 405.000 hektar daratan
93
Indonesia akan tenggelam, ribuan pulau
kecil akan hilang dari peta Indonesia,
ratusan ribu hektar tambak atau sawah
di daerah pasang surut akan hilang,
abrasi pantai dan intrusi air laut akan
mengancam penduduk. Untuk itu
diperlukan kajian untuk mengidentifikasi
daerah pantai yang rentan terhadap
perubahan iklim kemudian menentukan
strategi adaptasi yang paling sesuai.
5.
6.
KESIMPULAN
1. Beberapa
usaha
yang
telah
dilakukan oleh para produsen di
negara maju perlu ditiru oleh
pengusaha Indonesia karena cukup
menguntungkan dari segi komersial
produk serta penurunan gas rumah
kaca (GRK).
2. Dengan
menggunakan
energi
alternatif yang sangat berlimpah
(matahari, angin, air dll) serta
kemajuan teknologi yang ada dapat
membantu
pemerintah
dalam
penyediaan bahan baku minyak
yang dirasakan semakin mahal
disamping ikut melestarikan potensi
energi dan lingkungan.
3. Semua pihak baik masyarakat
maupun pemerintah, harus sadar
dan jangan mengabaikan kenaikan
suhu bumi yang terjadi karena,
masyarakat
miskin
di
negara
berkembang yang paling rentan
terhadap dampak perubahan iklim.
Ini
dikarenakan
kemampuan
beradaptasi masyarakat yang rendah
serta minimnya sumber daya yang
mereka miliki disamping kehidupan
mereka yang cenderung bergantung
pada sumber daya yang rentan
terhadap kondisi iklim.
4. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa
kasus pembalakan hutan secara
ilegal
merupakan
salah
satu
94
7.
8.
penyumbang efek rumah kaca
sehingga pengawasannya
harus
dilakukan secara terpadu yang
melibatkan pemerintah (instansi
terkait) dan masyarakat.
Perlu kegiatan-kegiatan rehabilitasi
lahan kritis dengan cara reforestasi,
melarang illegal logging, penangkapan ikan dengan racun, serta hemat
air,
Sebelum berkontribusi lebih lanjut
untuk mengatasi bersama masalah
global, langkah konkrit yang harus
dilakukan
adalah,
memberikan
sosialisasi mengenai permasalahan
yang berkaitan dengan pemanasan
bumi (global warming). Hal ini
diperlukan mengingat lebih dari
separuh masyarakat Indonesia hidup
dalam ketidaktahuan akan bahaya
pemanasan global karena Issue
pamanasan bumi (global warming)
sudah bukan merupakan wacana lagi
tetapi sudah menjadi kenyataan
sehingga,
diperlukan
partisipasi
masyarakat untuk ikut menanggulangi
sesuai dengan sumber daya dan
alam yang dipunyai.
Penanganan masalah gobal warming
perlu dimasukkan ke dalam rencana
pembangunan, terutama di bidang
yang rentan dampak perubahan
iklim seperti pertanian, perikanan,
kesehatan,kehutanan dan sumberdaya air.
Keserakahan manusia terutama atas
peng-eksploitasian sumber daya
alam secara sistematis akan menetaskan sejumlah masalah global yang
tidak bisa diatasi dalam waktu
singkat serta akan menghancurkan
kehidupan, sehingga tanah, air,
udara dan laut telah beralih fungsi
dari sistem-sistem yang mendukung
kehidupan, menjadi gudang limbah
di tengah pasar global.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
DAFTAR PUSTAKA
IPCC, 2001 IPCC, 2001; Climate Change
2001; Impacts, Adaptation and
Vulnerability.
Contribution
of
working Group II to the Third
Assessment
Report
of
the
Intergovernmental Panel on Climate
Change (Mc Carthy,J,J., O.F.
Canziani.,N.A Learly, D.J.Dokken,
and K.S.White (eds). Cambridge
University Press, Cambridge, United
Kingdom,
and
New
York,
NY,USA,1032 pp. Coastal Zone and
Sea Level Rise Information in
chapter 4 and chapter 6.
FEMA, 1991: Projected Impact of
Relative Sea Level Rise on the
National Flood Insurance Program
(PDF, 70 pp.,690 KB, about PDF)
October 1991.
EPA, 1989: The Potential Effects of
Global Climate Change on the
United State. Report to Congress.
Mengurangi Pemanasan Bumi .... ( Purwito )
Washington D.C: U.S.Environmental
Protection Agency. EPA 230-05-89052.
Tahun 2040 = 2.000 Pulau Tenggelam
http:/www.walhi.or.id/kampanye/energi/iklim/070724rbhn - iklim_cu
Hari
Bumi
2006:
Solusi Bagi
Perubahan Iklim. Yayasan Pelangi
Indonesia, 21 April, 2006.
Seo, S,. Hwang, “ Estimation of CO2
Emission in life cycle of Residential
Buildings”, Jurnal of Construction
Engineering
and
Management.
Vol.127,No.5. September-Oktober,
2001.
Seo.S., and Hwang, M (1996). “ Global
Warming and Global Dioxide
Emission: An empirical study.”
Jurnal
Environmental
and
Management., London, 46, 327343.
95
KAJIAN PERUBAHAN TINGKAT PELAYANAN JALAN DAN KUALITAS
UDARA DI ZONA TIDAK SESUAI UNTUK PERUMAHAN
Oleh :
Rina Marina Masri, Santun R.P. Sitorus, Kooswardhono Mudikdjo,
Lilik Budi Prasetyo, Hartrisari Hardjomidjojo
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor Jl. Darmaga, Bogor 16680
E-mail: [email protected]
Tanggal masuk naskah : 04 Desember 2007, Tanggal revisi terakhir: 15 April 2008
Abstrak
Dampak perkembangan Kawasan Bandung Utara di zona tidak sesuai untuk perumahan
meningkatkan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian masyarakat,
menurunkan kualitas lingkungan yang ditandai dengan menurunnya tingkat pelayanan
jalan dan kualitas udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola perubahan
volume lalulintas dan tingkat pelayanan jalan; mengetahui hubungan pola perubahan
volume lalulintas dan pencemaran udara terhadap indeks kualitas lingkungan; dan
mengusulkan pilihan kebijakan dalam pengelolaan lalu lintas. Pengumpulan data primer
diperoleh dari pengamatan fisik kimia udara dan lalu lintas dari lapangan serta data
sekunder dari instansi-instansi berwenang. Analisis sistem dampak pembangunan
perumahan terhadap kinerja jalan dan pencemaran udara menggunakan software Excel for
Windows 2003 dan Powersim versi 2.5C. Hasil yang diperoleh adalah : (i) peningkatan
volume lalu lintas di sepanjang koridor jalan serta menurunnya kinerja tingkat pelayanan
jalan dengan kategori D,E, F (>0,85), (ii) penurunan indeks kesehatan lingkungan
(peningkatan jumlah kematian dini akibat pencemaran udara); (iii) pengelolaan dampak
lingkungan dengan memprioritaskan kebijakan perbaikan kapasitas jalan,rasio volume
dengan kecepatan kendaraan melalui penambahan lajur jalan dan lebar jalan.
Kata kunci : Perubahan tingkat pelayanan jalan, kualitas udara, zona tidak sesuai untuk
perumahan
Abstract
Regional development impact of North Bandung in the unsuitable zone for residential
increase economic and population growth and decrease environmental quality which
indicated by its present level of services of road and air quality decrease. The objectives of
this research are evaluating changing pattern of traffic volume and Level of Services (LOS)
of road; knowing the correlation of changes pattern of traffic volume and air pollution to
index of environmental quality; and proposing alternative of policy in traffic management.
System Analysis of housing development impact to road performance and air pollution are
using Excel for windows 2003 and Powersim 2.5C version software. The result which
gained are: (i) Traffic volume increased along road corridor and level of services of road
decreased with D,E,F categorized (>0,85); (ii) environmental health index decreased and
early death amount increased by air pollution and (iii) environmental impact by
prioritioning policies impact on road capacity, ratio of volume and velocity of vehicles
through the increase of row and width of road increased.
Key words: Changes in the services of road, air quality, unsuitable zone for housing
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
115
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan perumahan di Kawasan
Bandung Utara yang memiliki kondisi
ekologis yang nyaman karena berada
pada ketinggian di atas 750 meter dpl
memacu peningkatan mobilitas penduduk
di sekitar kawasan tersebut. Intensitas
kegiatan yang semakin tinggi menimbulkan konsentrasi kegiatan disepanjang
koridor utama menjadi meningkat.
Pembangunan ekonomi di kawasan ini
cenderung mendominasi pembangunan
politik dan pembangunan lingkungan.
Pemilik lahan dan pengusaha hanya
melihat tanah sebagai faktor produksi
dengan tuntutan produksi yang tinggi
dan berkembang menjadi tanah sebagai
komoditas yang dapat saling dipertukarkan dalam organisasi pasar seperti
layaknya komoditas ekonomi lainnya.
Kompetisi penggunaan lahan sejalan
dengan kaidah “The highest and best use
of land”, yang pada akhirnya menggeser
aktivitas yang sewa (land rent) lahannya
lebih rendah dan diganti oleh aktivitas
yang lebih produktif (Barlowe,1978)
Pembangunan di kawasan ini akhirnya
berdampak terhadap beban jalan yang
mempengaruhi kelancaran, keselamatan
dan kepadatan lalu-lintas yang dapat
dilihat dari volume lalu-lintas yang lebih
padat. Biasanya besar bangkitan lalulintas dipengaruhi oleh luas perumahan
dan tingkat pengisiannya. Semakin besar
luas perumahan dan tingkat pengisian
maka semakin besar pula bangkitan lalulintasnya. Disamping itu pembangunan
perumahan
meningkatkan
tarikan
penduduk sehingga menambah volume
kendaraan di koridor jalan. Secara garis
besar permasalahan yang timbul adalah
bangkitan pergerakan penduduk, yang
membebani dan menambah volume lalu
lintas di ruas jalan yang berada di
116
wilayah pengaruh kawasan ini serta
kemacetan dan penurunan tingkat
pelayanan jalan.
Gagasan yang diajukan dalam penelitian
untuk mengevaluasi dampak pembangunan khususnya dampak pembangunan
perumahan terhadap tingkat pelayanan
jalan dan pencemaran udara adalah
penggunaan sistem dinamis yaitu suatu
sistem
yang
mampu
menjelaskan
pandangan antisipatif ke depan dan
merupakan salah satu upaya mengisi
perspektif yang cenderung terabaikan
dalam melihat kejadian jangka panjang,
disamping berpikir konvensional tentang
kebijakan masa lampau yang kurang
cocok lagi dipakai untuk pemecahan
dinamika persoalan sekarang dan masa
datang (Muhammadi, 2001).
Perumusan Masalah
Bagaimanakahpembangunan perumahan
di Kawasan Bandung Utara berdampak
pada penurunan tingkat pelayanan jalan
dan penurunan kualitas udara di
sepanjang koridor ruas jalan LembangKH.Mustopha-Cilengkrang yang merupakan jalan arteri primer dan berfungsi
sebagai trought traffic kota Bandung
serta merupakan jalur lalu lintas ke arah
Subang dan Cirebon.
Tujuan Penelitian
(1) Mengevaluasi
pola
perubahan
volume
lalulintas
dan
tingkat
pelayanan jalan;
(2) Mengetahui hubungan pola perubahan volume lalulintas dan pencemaran
udara terhadap indeks kualitas
lingkungan;
(3) Mengusulkan pilihan kebijakan dalam
pengelolaan lingkungan akibat pembangunan perumahan di Kawasan
Bandung Utara.
Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai dampak pembangunJurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
an perumahan di Kawasan Bandung
Utara terhadap tingkat pelayanan jalan
dan
pencemaran
udara
memiliki
kegunaan yaitu sebagai acuan model
perubahan lingkungan akibat pembangunan kawasan perumahan yang memudahkan para perencana, masyarakat
dan para pengambil keputus-an dalam
merencanakan,
membangun
dan
memantau
kegiatan
pembangunan
perumahan di lapangan.
METODOLOGI
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif. Penelitian
deskriptif
adalah
penelitian
yang
didasarkan atas data deskripsi suatu
status, keadaan, sikap, hubungan atau
suatu sistem pemikiran yang menjadi
objek penelitian. Metode deskriptif difokuskan pada masalah aktual yang ada
pada waktu penelitian. Data yang
dikumpulkan, disusun, dianalisis dan
diinterpretasikan
sangat
bergantung
pada teknik penelitian yang digunakan.
Metode deskriptif penelitian ini adalah
studi kasus, yaitu penelitian yang
ditandai oleh penelitian pada satu unit
atau kasus saja tetapi lebih mendetail
atau mendalam. Unit objek penelitian
dapat berbentuk suatu kelompok orang
atau masyarakat tertentu, suatu desa
atau permukiman.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian dilaksanakan di Kawasan
Bandung Utara. Kegiatan dilakukan dari
bulan Januari 2006 sampai dengan
Januari 2007 melalui pengumpulan data
primer dari lapangan serta data sekunder
dari instansi-instansi berwenang. Data
primer diperoleh dari pengamatan fisik
lalu lintas di sepanjang koridor ruas jalan
Lembang - KH.Mustopha – Cilengkrang.
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
Metode Analisis Data
Analisis data meliputi; (1) analisis kinerja
lalu lintas melalui penilaian tingkat
pelayanan jalan (LOS); (2) analisis
perubahan lingkungan dan (3) analisis
sistem
dampak
pembangunan
perumahan terhadap kinerja jalan.
Software yang digunakan adalah Excel
for Windows 2003 dan Powersim versi
2.5C.
Analisis penilaian kinerja jalan dimulai
dengan melihat kondisi eksisting lalu
lintas di kawasan sekitar pembangunan
perumahan,
menghitung
kapasitas
jaringan jalan serta Vact dan tingkat
pelayanan
jalan
(LOS)
dengan
menggunakan persamaan :
C = Co x FCw x FCSP x FCSF x FCCS…
Vact = Vo.0,5{1+(1-Q/C)0,5 ………………..
Level of Service(LOS)= V/C ……………….
(1)
(2)
(3)
dimana C adalah kapasitas aktual
(smp/jam), Co adalah kapasitas dasar
(smp/jam), FCw adalah faktor penyesuai
lebar jalan, FCSP adalah faktor arah
(hanya untuk undivided road), FCSF
adalah gesekan samping dan penyesuaian bahu/kerb jalan dan FCCS adalah
faktor besarnya kota, Vact adalah
kecepatan pada pergerakan sebenarnya
(km/jam),
Vo
adalah
kecepatan
pergerakan bebas (km/jam), Q/C adalah
pergerakan sebenarnya (smp/jam), LOS
atau
tingkat pelayanan jalan adalah
rasio volume per kapasitas dan V adalah
volume lalu lintas.
Analisis dampak lingkungan akibat
pembangunan
perumahan
terhadap
kinerja jalan dengan melihat pola
perubahan volume lalu lintas yang harus
ditanggung setelah kawasan tersebut
beroperasi
dengan
menggunakan
persamaan :
Vt = Vo ( 1+ r)t …………………………. (4)
117
Dimana Vt adalah trend pertumbuhan
volume lalu lintas pada tahun ke n, Vo
adalah volume lalu lintas awal, r
adalah rate pertumbuhan arus lalu lintas,
t adalah tahun ke n.
(Vo/Co) adalah rasio tingkat pelayanan
yang diinginkan, C adalah
kapasitas
jalan, Co adalah kapasitas dasar jalan.
Selanjutnya adalah melihat keterkaitan
antara
volume
lalu-lintas
dengan
pencemaran udara di wilayah pengaruh
kawasan ini. Pencemaran udara yang
tinggi
menyebabkan
menurunnya
kualitas udara yang akan berdampak
pada kesehatan penduduk. Indikator
kesehatan lingkungan udara dihitung
dengan menggunakan persamaan :
Jaringan Jalan
IKLu = IKU*(BPu) ……………………
JkaPU = JK*(FKPu)……………………
Kinerja Jalan
(5)
(6)
Dimana IKLu adalah indeks kesehatan
lingkungan udara, IKU adalah indeks
kualitas udara, Bpu adalah bobot
pencemaran udara, JkaPU adalah jumlah
kematian akibat pencemaran udara, JK
adalah jumlah kematian dan FKPu adalah
Fraksi kematian akibat pencemaran
udara.
Alternatif solusi terhadap dampak lalu
lintas yang timbul dari pembangunan
perumahan di Kawasan Bandung Utara
yang terbagi menjadi dua bagian yaitu
penanganan dari sisi jaringan jalan
dengan cara melakukan penambahan
kapasitas jaringan jalan disesuaikan
dengan penambahan beban jalan yang
harus ditanggung oleh ruas jalan
tersebut, dan penanganan dari sisi
manajemen penggunaan lahan wilayah
studi untuk meredam pertumbuhan
bangkitan
lalu
lintas
dengan
menggunakan persamaan :
Ct = V/(Vo/Co) ……………..……………………
Penambahan Jumlah Lajur = C/Co……….
(6)
(7)
Penambahan Lebar Jalan =
= Jumlah Lajur x 3,5 …………………. (8)
Dimana Ct adalah kapasitas yang
dibutuhkan, V adalah volume lalu lintas,
118
TINJAUAN PUSTAKA
Jaringan jalan merupakan kumpulan
ruas-ruas yang saling berpotongan dan
terdiri atas dua bagian yaitu link/ruas
dan node/simpul/simpang.
Hirarki jalan tertinggi dalam jaringan
jalan adalah jalan dengan fungsi arteri,
kolektor, kemudian lokal hingga ke persil.
Kinerja jalan secara kualitatif diukur
dengan menggunakan variabel kecepatan kendaraan yaitu kecepatan yang bias
dikembangkan oleh pengemudi, sedangkan ukuran minimal batas kecepatan
operasional harus sesuai dengan ciri-ciri
fungsi jalan. Selain variabel kecepatan,
kinerja jalan diukur dari variabel volume
(V) yang terjadi dibandingkan dengan
daya tampung atau kapasitas jalan
tersebut yang disebut dengan derajat
kejenuhan (D) = V/C. Derajat kejenuhan
yang disarankan tidak melebihi 0,85,
apabila nilai tersebut dilampaui maka
arus lalu lintas mulai tersendat-sendat.
Ciri Lalu Lintas Perkotaan
Ciri-ciri lalu lintas kendaraaan di
perkotaan yang spesifik diantaranya
adalah :
 Pola fluktuasi volume lalu lintas yang
hampir sama,
 Volume lalu lintas tinggi dibanding
antar kota,
 Kecepatan kendaraan rendah,
 Jenis moda lebih banyak kendaraan
lokal atau kendaraan penumpang
dengan jarak tempuh yang pendek
dan
 Beban muatan kendaraan relatif
ringan.
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Kualitas Udara
Indeks kualitas udara (IKU) dipengaruhi
oleh jumlah lalu lintas. Semakin tinggi
jumlah lalu lintas maka semakin tinggi
emisi gas buang kendaraan. Semakin
tercemar udara maka indek kualitas
udara semakin menurun. Penurunan
indek kualitas udara disebabkan oleh
emisi gas buang kendaraan. Indeks
kualitas udara yang menurun berdampak
pada menurunnya indeks kesehatan
lingkungan udara. Menurunnya indeks
kesehatan lingkungan udara berdampak
pada meningkatnya jumlah kematian.
Beberapa polutan yang dianggap menjadi
masalah pada saat konsentrasinya secara
lokal mempengaruhi kualitas udara
diantaranya adalah NOx yang dipengaruhi
oleh beban dan kecepatan putaran mesin
kendaraan pada saat mesin bekerja
dengan beban yang berat, waktu
penyalaan api pada mesin bensin dan
temperatur yang tinggi. Parameter SPM
10, partikulat ini dihasilkan akibat proses
mekanis yang dapat menghasilkan abu
dari pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna dari kendaraan, kontribusi
sumber transportasi dalam mengemisikan partikulat lebih dari 51 % dari total
emisi partikulat dan sisanya dari aktifitas
lain. Parameter hidrokarbon,
yang
merupakan pencemar utama yang
diemisikan oleh kendaraan bermotor dari
padatnya lalu lintas di sepanjang ruas
jalan. Kemacetan kendaraan di ruas jalan
ini meningkatkan kadar hidrokarbon di
udara.
Analisis Sistem Dinamis
Sistem merupakan sekumpulan individu
yang merupakan bagian dari populasi,
sekumpulan populasi yang merupakan
bagian dari komunitas dan sebagainya.
Sistem dengan skala serta tingkat
ketelitian yang berbeda dapat dikaji
menggunakan seperangkat prinsip dan
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
teknik yang umum digunakan dengan
teori sistem secara umum (Grant, et
al.,1998).
Sistem Dinamis digunakan untuk mencari
penjelasan permasalahan sosial jangka
panjang yang terjadi secara berulangulang di dalam struktur internal. Umpan
balik (feed-back) merupakan konsep inti
yang digunakan dalam sistem dinamis
untuk memahami struktur sistem.
Diasumsikan bahwa keputusan secara
sosial atau individu dibuat berdasarkan
informasi tentang keadaan sistem atau
lingkungan disekitar pengambil keputusan berada (Gordon, 1989).
Hartrisari (2007) mengemukakan bahwa
pengambilan keputusan yang efektif
dari permasalahan kompleks di dunia
nyata menyebabkan kita harus mengkaji
permasalahan secara holistik dengan
menggunakan pendekatan sistem.
Syarat awal untuk memulai berpikir
sistemik adalah adanya kesadaran untuk
mengapresiasi dan memikirkan suatu
kejadian
sebagai
sebuah
sistem
(systemic approach). Hal ini relevan dan
penting dalam menghadapi tantangan
kerumitan dan perubahan cepat dari
lingkungan domestik dan global dalam
abad 21 (Muhammadi, 2001).
Diagram Alir
Diagram alir (flow chart) merupakan
model fungsional dari diagram sebab
akibat yang dirancang pada tahap
sebelumnya dan membutuhkan informasi
mengenai klasifikasi variabel-variabel
dalam diagram alir berdasarkan identitas,
dimensi satuan, sifat kumulatif dan sifat
hubungan. Klasifikasi variabel-variabel
dalam diagram alir dapat dikelompokkan
menjadi :
a. Bak penampung (reservoir, level)
b. Aliran masuk (inflow, rate input)
c. Aliran keluar (outflow, rate output)
119
d. Besar aliran yang berubah-ubah
(auxiliary)
e. Besar aliran yang tetap (constanta)
Sifat kumulatif hanya dimiliki oleh
variabel bak penampung dan hanya
dapat dihubungkan oleh aliran masuk
dan aliran keluar (flow) yang fungsi
matematisnya adalah fungsi integral
(Flow = + d (Reservoir/d(time). Auxiliary
dihubungkan dengan auxiliary, constanta
dan reservoir oleh arrow (panah) yang
tidak
terhambat
(non-delay)
dan
terhambat (delay).
Reservoir
Inflow
Auxiliary
Outflow
Auxiliary_2
Constant_2
Simbol-simbol yang digunakan
diagram alir (Muhammadi, 2001)
pada
DATA DAN ANALISIS
Data Lalu Lintas
Wilayah pengaruh perkembangan akibat
pembangunan perumahan di Kawasan
Bandung Utara adalah ruas jalan
Lembang-KH.
Mustopha-Cilengkrang,
persimpangan jalan Bojong Koneng,
Cimuncang,
Padasuka
dan
jalan
Jatihandap yang sebelumnya memang
mempunyai volume lalu lintas yang
cukup tinggi. Selain itu arus lalu lintas di
ruas jalan pengaruh merupakan arus
menerus menuju ke kawasan pusat kota
dan juga merupakan arus pergerakan
lokal yang dihasilkan oleh kegiatan yang
berada di wilayah studi.
120
Tabel 1. Wilayah Pengaruh
Pembangunan Bandung Utara
Lebar
Kapasita
Ruas Jalan
Jalan (m)
s (smp)
Bojong Koneng
7.5
3366
Cimuncang
8.8
3770
Padasuka
9
3960
Jatihandap
11.4
6009
Cilengkrang
8.8
3402
Lembang
8.8
3527
Sumber : Hasil Perhitungan 2007
Volume lalu lintas terbesar pada ruas
jalan K.H. Mustopha-Jatihandap adalah
5461 smp per jam pada jam sibuk pagi
dan 8017 smp per jam pada jam sibuk
sore untuk masing-masing arah.
Tabel 2. Volume Lalu Lintas Kawasan
Bandung Utara
Ruas Jalan
Pagi
Sore
Bojong Koneng
3009
3473
Cimuncang
4125
4681
Padasuka
5269
4073
Jatihandap
5461
8017
Cilengkrang
2429
2760
Lembang
2694
3873
Sumber : Hasil Survey Lapangan 2007
Pola fluktuasi volume lalu lintas dari
semua ruas jalan mendekati pola yang
sama pada waktu jam puncak pagi,
siang, sore dan malam. Pola berbeda
terlihat pada ruas jalan PPH MustophaJatihandap.
Gambar 1. Pola Fluktuasi Volume Lalu Lintas
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Data Parameter Kualitas Udara
Hasil pemantauan parameter fisik kimia
udara menunjukkan kualitas udara di
Kecamatan Cimenyan untuk parameter
NOx, Debu (TSP), HC dan kebisingan
kualitasnya sudah diatas baku mutu
sedangkan di Kecamatan Cilengkrang
hanya parameter hidrokarbon dan
kebisingan kualitasnya sudah diatas baku
mutu yang ditetapkan. Kualitas udara di
Kecamatan Lembang hanya parameter
Debu (TSP), HC dan kebisingan sudah
diatas baku mutu yang ditetapkan.
Tabel 4. Hasil Pemantauan Parameter
Fisik Kimia Udara
Nilai Pengamatan
Sta.1
Sta.2
Sta.3
SO2
0,02
0,02
0,03
CO
2,99
2,04
2,21
Nox
0,12
0,04
0,04
O3
0,04
0,05
0,06
TSP
231
152
377
SPM10
148
64
109
HC
1,02
2,51
1,01
Kebisingan
78
69
69
Temperatur
27
24
26
Kelembaban
68
81
61
Arah Angin
Utara
Utara
Utara
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2007
Parameter
Kualitas udara menunjukkan parameter
kebisingan, HC, NOx dan Pb
memiliki
nilai di atas baku mutu yang telah
ditetapkan.
di ruas jalan Lembang- Setiabudhi
(tingkat pelayanan jalan kelas B).
Tabel 5. Tingkat Pelayanan Jalan
Kawasan Bandung Utara
Ruas Jalan
Pagi
Sore
Bojong Koneng
0,89
1,03
Cimuncang
1,09
1,24
Padasuka
1,33
1,03
Jatihandap
0,91
1,33
Cilengkrang
0,71
0,81
Lembang
0,76
1,10
Sumber : Hasil Perhitungan 2007
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
Cikutra-Bojong Koneng
Pada jam sibuk pagi, ruas jalan
Cikutra-Bojongkoneng menunjukkan
tingkat pelayanan D berarti mendekati
arus lalu lintas tidak stabil dan
kecepatan rendah. Sedangkan pada
jam sibuk siang sampai malam
menunjukkan tingkat pelayanan jalan
kelas F artinya arus sudah terhambat,
kecepatan kendaraan rendah, volume
lalu lintas di atas kapasitas jalan,
kendaraaan banyak berhenti. Grafik
tingkat pelayanan jalan dapat dilihat
pada gambar 2.
3600
3500
3400
Sedangkan parameter Debu (SPM), SO2,
CO dan O3 memiliki nilai di bawah baku
mutu tetapi menunjukkan pola perubahan yang meningkat.
3300
3200
3100
3000
Analisis Data
2900
Hasil analisis tingkat pelayanan jalan
menunjukkan sudah tidak ada lagi arus
jalan yang lancar, volume lalu lintas
rendah dan kendaraan tidak dapat
dikemudikan dengan kecepatan tinggi.
Arus lalu lintas stabil dengan kecepatan
terbatas serta volume sesuai untuk jalan
luar kota hanya pada jam sibuk malam
2800
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
2700
Pagi
Siang
Bojong Koneng
Sore
Malam
Kapasitas
Gambar 2. Tingkat Pelayanan Jalan CikutraBojongkoneng
121
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
PPH Mustopa-Cimuncang
Ruas jalan PPH.Mustopa-Cikutra pada
jam sibuk pagi sampai malam
menunjukkan tingkat pelayanan jalan
kelas F artinya arus sudah terhambat,
kecepatan kendaraan rendah, volume
lalu lintas di bawah kapasitas jalan
dan kendaraan banyak berhenti.
Tingkat pelayanan jalan di ruas jalan
PPH.
Mustopa-Cimuncang
dapat
dilihat pada gambar 3.
5000
4000
3000
2000
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
PPH. Mustopa-Jatihandap
Ruas jalan PPH.Mustopa-Jatihandap
pada jam sibuk pagi dan sore
menunjukkan tingkat pelayanan jalan
F artinya arus sudah terhambat,
kecepatan rendah, volume di atas
kapasitas dan kendaraaan banyak
berhenti. Pada jam sibuk malam
tingkat pelayanan D berarti mendekati
arus lalu lintas tidak stabil dan
kecepatan rendah.
Dan pada jam
sibuk siang menunjukkan tingkat
pelayanan jalan E artinya arus lalu
lintas tidak stabil, kecepatan rendah
dan volume mendekati kapasitas.
1000
0
Pagi
Siang
Sore
Cimuncang
Malam
Kapasitas
Gambar 3. Tingkat Pelayanan Jalan PPH
Mustopha-Cimuncang
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
PPH.Mustopa-Padasuka
Ruas jalan PPH.Mustopa-Padasuka
pada jam sibuk pagi dan sore
menunjukkan tingkat pelayanan jalan
F artinya arus sudah terhambat,
kecepatan rendah, volume di atas
kapasitas dan kendaraaan banyak
berhenti. Pada jam sibuk malam
tingkat pelayanan D berarti mendekati
arus lalu lintas tidak stabil dan
kecepatan rendah. Tingkat pelayanan
jalan di ruas jalan PPH. MustopaPadasuka dapat dilihat pada gambar
4.
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0
Pagi
Siang
Padasuka
Sore
Gambar 5. Tingkat Pelayanan Jalan PPH
Mustopha-Jatihandap
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
Raya Ujung Berung-Cilengkrang
Hasil analisis menunjukkan ruas jalan
Raya Ujungberung-Cilengkrang pada
jam sibuk pagi, siang dan malam
tingkat pelayanan jalan adalah kelas C
yang berarti arus lalu lintas stabil
tetapi kecepatan dipengaruhi oleh lalu
lintas dan volume masih sesuai untuk
jalan kota. Sedangkan pada jam sibuk
sore ada penurunan menjadi kelas D
berarti ruas jalan mendekati arus lalu
lintas tidak stabil dan kecepatan
kendaraan rendah.
Malam
Kapasitas
Gambar 4. Tingkat Pelayanan Jalan PPH
Mustopha-Padasuka
122
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
P agi
Si ang
Ci l engkr ang
Sor e
M al am
K apasi t as
Gambar 6. Tingkat Pelayanan Jalan Raya
Ujung Berung-Cilengkrang
 Tingkat Pelayanan Ruas Jalan
Lembang-Setiabudhi
Pada jam sibuk pagi, ruas jalan
Lembang-Setiabudhi tingkat pelayanan jalan adalah kelas C yang berarti
arus lalu lintas stabil tetapi kecepatan
dipengaruhi oleh lalu lintas dan
volume masih sesuai untuk jalan kota.
Pada jam sibuk siang meningkat
menjadi kelas E dimana arus tidak
stabil, kecepatan kendaraan rendah
dan volume mendekati kapasitas.
Sedangkan tingkat pelayanan jalan,
pada jam sibuk sore menjadi kelas F
artinya
arus
sudah
terhambat,
kecepatan rendah, volume di bawah
kapasitas dan kendaraaan banyak
berhenti. Arus lalu lintas kembali stabil
dengan kecepatan terbatas serta
volume sesuai untuk jalan luar kota
hanya pada jam sibuk malam di ruas
jalan Lembang- Setiabudhi (kelas
tingkat pelayanan B).
Pola fluktuasi tingkat pelayanan dari
semua ruas jalan hampir mendekati
pola yang sama dengan adanya
waktu jam puncak pagi, siang, sore
dan malam. Pada jam sibuk pagi, ruas
jalan Lembang- Setiabudhi dan Raya
Ujung Berung-Cilengkrang tingkat
pelayanan jalan adalah kelas C yang
berarti arus lalu lintas stabil tetapi
kecepatan dipengaruhi oleh lalu lintas
dan volume masih sesuai untuk jalan
kota.
Pada ruas persimpangan antara
Cikutra-Bojongkoneng menunjukkan
tingkat pelayanan D berarti mendekati
arus lalu lintas tidak stabil dan
kecepatan rendah. Pada ruas jalan
PPH. Mustopa-Jatihandap tingkat
pelayanan jalan E artinya arus lalu
lintas tidak stabil, kecepatan rendah
dan volume mendekati kapasitas.
Sedangkan di ruas jalan PPH
Mustopa-Cimuncang
dan
PPH
Padasuka tingkat pelayanan jalan F
artinya
arus
sudah
terhambat,
kecepatan rendah, volume di bawah
kapasitas dan kendaraaan banyak
berhenti. Gambar pola fluktuasi
tingkat pelayanan jalan dapat dilihat
pada Gambar 8.
1.6
1.4
1.2
1
4500
4000
0.8
3500
0.6
3000
2500
0.4
2000
0.2
1500
1000
0
Pagi
500
Siang
Sore
Malam
0
Pagi
Siang
Lembang
Sore
Malam
Bojong Koneng
Cimuncang
Padasuka
Jatihandap
Cilengkrang
Lembang
Kapasitas
Gambar 7. Tingkat Pelayanan Jalan Raya
Lembang-Setiabudhi
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
Gambar 8. Pola fluktuasi Tingkat Pelayanan
Jalan Kawasan Bandung Utara
123
 Pola Perubahan Volume Lalu
Lintas
Pola Perubahan tingkat pelayanan
jalan akibat penambahan bangkitan
lalulintas diprediksi dengan menggunakan Powersim 2,5C. Tambahan
bangkitan lalu lintas menunjukkan
bahwa di ruas jalan seputar Kecamatan Cimenyan Kawasan Bandung Utara
terbesar dibandingkan dengan Kecamatan Cilengkrang dan Lembang.
Jalan sudah melampaui kapasitas jalan
yang ada, sehingga tingkat pelayanan
jalan di masing-masing ruas jalan di
ketiga kecamatan tersebut mengalami
penurunan dan menyebabkan kemacetan lalu lintas serta ketidaknyamanan
para pengguna jalan.
Perubahan Volume Lalu Lintas
8,000
7,000
4
6,000
1
6
4
5,000
3
6
4,000
14
2
3,000
3
16
6
2
5
2
3
4
1
2
35
1
5
2
6
Kapasitas_Jalan_Cimenyan_
Kapasitas_Jalan_Cilengkrang
Kapasitas_Jalan_Lembang
Volume_LL_Cimenyan
Volume_LL_Cilengkrang
Volume_LL_Lembang
5
2,000
3
6
9
12
Time
Gambar 9. Pola Perubahan Volume Lalu Lintas
 Pola Perubahan Kualitas Udara
Pola
perubahan
kualitas
udara
menunjukkan parameter kebisingan,
debu, Pb mengalami kenaikan. Parameter CO, NOx, O3 dan HC memiliki
pola turun naik sedangkan parameter
SO2 menunjukkan pola menurun. Nilai
kebisingan di atas baku mutu untuk
kawasan perumahan. Hal ini disebabkan tidak seimbangnya pertumbuhan luas jalan dan jumlah
kendaraan dan banyaknya persimpangan jalan dan lampu lalu lintas
serta pertemuan jalan yang sempit
dan lebar di sepanjang ruas jalan
PPH. Mustopa- Padasuka.
124
Parameter debu memiliki kecenderungan pola meningkat. Partikulat ini
dihasilkan akibat proses mekanis yang
dapat menghasilkan abu dari pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna dari kendaraan. Kontribusi
sumber transportasi dalam mengemisikan partikulat lebih dari 51%
total emisi partikulat dan sisanya dari
aktifitas lain.
Parameter Hidrokarbon memiliki nilai
di atas baku mutu, merupakan
pencemar utama yang diemisikan oleh
kendaraan bermotor dari padatnya lalu
lintas di sepanjang ruas jalan
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
PPH.Mustopa-Padasuka.
NOx memiliki nilai diatas baku mutu,
O3 memiliki pola perubahan naik
karena memiliki laju kenaikan yang
tinggi sedangkan hasil pengukuran
parameter
SO2
sedangkan
menunjukkan pola menurun.
Model Dinamis Dampak Pembangunan Perumahan Terhadap
Lingkungan
Kajian perubahan lingkungan akibat
pembangunan perumahan menghasilkan
model diagram alir dengan pola
hubungan: Penduduk-Kebutuhan Lahan
Perumahan
Lalu
Lintas-Pencemaran
Udara-Kesehatan Lingkungan-Penduduk.
Pembangunan perumahan di Kawasan
Bandung Utara menimbulkan bangkitan
pergerakan penduduk, yang berakibat
bertambahnya volume lalu lintas di
ruas jalan. Selain menyebabkan kemacetan dan penurunan tingkat pelayanan jalan, berdampak pula pada
meningkatnya pencemaran udara. Pencemaran udara yang tinggi menyebabkan menurunnya kesehatan penduduk.
Gambar 10. Model Diagram Alir
Hasil simulasi model menunjukkan
pertambahan jumlah penduduk yang
meningkat dari 7751 orang (1995)
menjadi 29.549 orang (2032), jumlah
penduduk 190.660 orang (1995) menjadi
782.507 orang (2032). Indek kualitas
udara (IKU) akan mengalami penurunan
dari 75,35 (1995) menjadi 2,51 (2031)
dan 0 (2032).
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
Indek kualitas udara (IKU) dipengaruhi
oleh jumlah lalu lintas. Semakin tinggi
jumlah lalu lintas maka semakin tinggi
emisi gas buang kendaraan. Semakin
tercemar udara maka indek kualitas
udara semakin menurun. Penurunan
indek kualitas udara disebabkan oleh
emisi gas buang kendaraan.
125
Gambar 11. Pola Pengaruh Jumlah Lalu Lintas Terhadap Indeks Kualitas Udara
Indeks
kualitas
udara
menurun
berdampak pada menurunnya indeks
kesehatan lingkungan udara. Menurunnya indeks kesehatan lingkungan udara
berdampak pada meningkatnya jumlah
kematian.
Indeks kesehatan lingkungan udara akan
menurun dari 48,98 (1995) menjadi 0
(2032). Indek kualitas lingkungan udara
dipengaruhi oleh indeks kualitas udara
juga dipengaruhi oleh bobot pencemaran
udara.
Jumlah kematian dini akibat pencemaran
udara bertambah dari 1 orang (1995)
menjadi 4 orang (2045). Semakin
tercemar udara akibat emisi gas buang
kendaraan maka semakin besar jumlah
kematian dini akibat pencemaran udara.
Jumlah Kematian Dini Akibat
Pencemaran Udara
Jumlah Kematian (orang)
Nilai Indeks Kesehatan
Lingkungan Udara
Indeks Kesehat an Lingkungan Udara
40
30
20
10
3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0
2,000
2,010
2,020
Tahun
2,030
2,040
2,000
2,010
2,020
2,030
2,040
Tahun
Gambar 12. Pola Pengaruh Indeks Kesehatan Udara terhadap Pertambahan
Jumlah Kematian Dini Akibat Pencemaran Udara
126
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Akibat Pembangunan Perumahan
Alternatif solusi terhadap dampak lalu
lintas yang timbul dari pembangunan
perumahan di Kawasan Bandung Utara
yang terbagi menjadi dua bagian yaitu
penambahan jumlah lajur jalan dan
penambahan lebar jalan di tiap ruas
jalan.
Tabel 5. Alternatif Kebijakan
Penambahan Lajur dan Lebar Jalan
Ruas Jalan
Jumlah Lajur Lebar Jalan
Bojong
1
4
Koneng
1
5
Cimuncang
2
5
Padasuka
2
6
Jatihandap
1
3
Cilengkrang
1
4
Lembang
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
2.
3.
Pembangunan
perumahan
di
Kawasan Bandung Utara berdampak
pada meningkatnya volume lalu
lintas dan menurunnya kinerja jalan
di sepanjang koridor jalan Lembang
–Cimenyan – Cilengkrang dengan
kategori D,E,F (>0,85).
Indek Kualitas Udara (IKU) akan
mengalami penurunan dari 75,35
dan 0 (2032). Indeks Kesehatan
Lingkungan Udara (IKLU) menurun
dari 48,98 (1995) menjadi 0 (2032)
dan meningkatkan jumlah kematian
dini akibat pencemaran udara dari 1
orang menjadi 4 orang.
Pengelolaan lingkungan Kawasan
Bandung Utara dapat berhasil
dengan baik jika Pemerintah Daerah
memprioritaskan kebijakan perbaikan tingkat pelayanan jalan dengan
meningkatkan kapasitas jalan, rasio
volume dan kecepatan kendaraan
Kajian Perubahan Tingkat … (Rina Marina Masri, dkk)
melalui penambahan lajur jalan dan
lebar jalan.
Saran
1.
2.
Peningkatan kinerja tingkatpelayanan jalan membutuhkan penataan
ulang rute dan kapasitas jalan.
Pengembangan bidang lingkungan
dan transportasi dengan simulasi
sistem dinamis sebaiknya dilakukan
penelitian lanjutan dengan datadata sekunder secara berseri
sebagai pembanding yang lebih
lengkap dan akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Amien,
M.
1992.
Studi
Tipologi
Kabupaten.
Direktorat Tata Kota
dan
Tata
Daerah,
Direktorat
Jenderal Cipta Karya, Departemen
Pekerjaan Umum. Ujung Pandang.
Bappeda Kabupaten Daerah Tingkat II
Bandung, 2002-2005. Basis Data
Pembangunan Daerah Kabupaten
Bandung 2002-2005, Pemerintah
Kabupaten Daerah Tingkat II
Bandung.
Barlowe, R. 1978. Land Resource
Economics. Prentice-Hall Inc. New
Jersey.
Canter, W.L. 1981. Handbook of Variable
for
Environmental
Impact
Assessment. Ann Arbor Science.
Michigan.
Chavarria,
S.2002.
Transportation
System Management in Champaign,
Illinois. Department of Urban and
Regional Planning University of
Illinois. Urbana Champaign: pp1-7.
6. Ditjen Bina Marga. 1997. Manual
Kapasitas Jalan. Jakarta.
Gordon, G. 1989. System Simulation.
Prentice-Hall,
New
Delhi.
IndiaGrant.
W.E., E.K. Pedersen and S.L. Marin.
1998. Ecology and Natural Resource
127
Management : System Analysis and
Simulation. John Wiley and Sons,
Inc. Canada.
Hartrisari,2007. Sistem Dinamik : Konsep
Sistem dan Pemodelan untuk
Industri dan lingkungan .Seameo
Biotrop, Bogor.
Muhammadi, E. Aminullah dan B. Soesilo.
2001. Analisis Sistem Dinamis, UMJ
Press. Jakarta.
Suratmo, F.G. 2002. Analisis Mengenai
Dampak lingkungan. Gadjahmada
University Press. Jogyakarta.
128
Tamin, O.Z. 1997. Perencanaan dan
Permodelan Transportasi. Jakarta
_____
2005.
Beberapa
Alternatif
Pemecahan Masalah Transportasi
Perkotaan di Kota-kota Besar
Indonesia. URDI. 4. URDI. Jakarta.
Tim Penyusun Agenda 21 Sektoral, 2001,
Agenda
Permukiman
untuk
Pengembangan
Kualitas
Hidup
Berkelanjutan,
KLH,
Jakarta
Jurnal Permukiman Vol. 3 No. 2 Juli 2008
Download